Sejak Kapan Gereja disebut Gereja Katolik?

16

Istilah 'katolik' merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[1] bahkan pada jaman para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata "Ekklesia Katha Holos". Ayatnya berbunyi, "Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus." (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, "Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus."

Namun nama 'Gereja Katolik' baru resmi digunakan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8, untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus Kristus, untuk membedakannya dari para heretik pada saat itu -yang juga mengaku sebagai jemaat Kristen- yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia. Ajaran sesat itu adalah heresi/ bidaah Docetisme dan Gnosticisme. Dengan surat tersebut, St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, "…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik...."[2]. Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

Kata 'Katolik' sendiri berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya "keseluruhan/ universal"; atau "lengkap". Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti, yaitu bahwa: 1) Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup 'keseluruhan' keluarga Tuhan yang ada di 'seluruh dunia', yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). 2) Kata 'katolik' juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat pribadi, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang "meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus." (Kol 1:25, 28)

Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah Pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

Namun demikian, nama "Gereja Katolik" tidak untuk dipertentangkan dengan istilah "Kristen" yang juga sudah dikenal sejak zaman para rasul (lih. Kis 11:26). Sebab 'Kristen' artinya adalah pengikut/murid Kristus, maka istilah 'Kristen' mau menunjukkan bahwa umat yang menamakan diri Kristen menjadi murid Tuhan bukan karena sebab manusiawi belaka, tetapi karena mengikuti Kristus yang adalah Sang Mesias, Putera Allah yang hidup. Umat Katolik juga adalah umat Kristen, yang justru menghidupi makna 'Kristen' itu dengan sepenuhnya, sebab Gereja Katolik menerima dan meneruskan seluruh ajaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul, yang dilestarikan oleh para penerus mereka.


CATATAN KAKI:
  1. Disarikan dari New Catholic Encyclopedia, Buku ke-3 (The Catholic University of America, Washington, DC, copyright 1967, reprinted 1981), hal. 261 []
  2. St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, 8 []
Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

16 Comments

  1. Dionisius Ganesha on

    Ytk, Saudaraku Stefanus Tay & Ingrid Tay
    Anda adalah orang-orang yang dipakai Allah melalui Tuhan Yesus untuk memberikan pencerahan imani dan rohani, tetapi dalam hal ini anda belum mengupas yang sesungguhnya bahwa kehidupan dijaman ROMAWI sejak Kaisar NERO
    sampai masuknya agama kristen yang dibawa oleh para rasul hingga sekarang bahwa disana sesungguhnya telah terjadi penyimpangan-penyimpangan moral yang dilakukan oleh para “Gembala-Gembala” kristen yang Katolik. Dan ingat waktu Paus Yohanes II kalau tidak salah awal tahun 2000 dalam kotbahnya menyampaikan “Permohonan Maaf” kepada dunia atas segala perbuatan yang sudah dilakukan oleh umat kristen sebelumnya. Waktu itu saya sempat berpikir apa yang sesungguhnya terjadi pada umat kristen, tetapi setelah saya bayak mendapat pengetahuan tentang sejarah gereja dan sejarah peradaban manusia melalui media cetak, elektronik, dan internet bahkan saya pernah mengikuti kursus katekese. Jelas sudah dalam hal ini kita tidak bisa mengatakan bahwa “Agama A, Agama B, dan agama-agam lainnya yang paling benar, paling syah” dan bahkan sampai-sampai ada “seorang GEMBALA” dapat mengatakan “kamu sudah berdosa”, karena tidak mengikuti ajaran agama “KATOLIK”. Tdak ada satu ayatpun didalam KITAB SUCI INJIL mengatakan dengan kata “Katolik” tetapi kalau kata “KRISTEN” jelas ada (Kis.11 ayat 26).
    Istilah ‘katolik‘ merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[1] bahkan pada jaman para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus. Jelas ungkapan anda disini sangatlah tendensius seakan-akan “GEREJA KATOLIK” identik dengan agama katolik, sedangkan pemahaman saya mengenai gereja katolik adalah sekumpulan orang-orang kristen yang beriman katolik yang artinya memiliki :
    1. Nilai-nilai kegembalaan yang konsisten dan konsekuen.
    2. Kemauan untuk melayani umat tanpa pernah berhitung untung/rugi.
    3. Sifat-sifat kerelaan dan keikhlasan dalam melayani
    4. Keinginan untuk tidak membeda-bedakan status sosial pada manusia.
    5. Jiwa dan raga serta iman yang tangguh untuk tidak berbeda karena manusia diciptakan dan terlahir dari satu kuasa Yang ESA, yaitu ALLAH BAPA PENCIPTA LANGIT DAN BUMI.

    [dari katolisitas: Silakan menjawab, apakah Kristus mendirikan Gereja Katolik atau tidak dan apakah alasannya.]

    • Dionisius Ganesha on

      Shalom Mr. Tay,
      Secara fisik Yesus tidak mendirikan gereja katolik, tetapi “Gereja Katolik” artinya Umat atau Pengikut yang beriman Katolik, Bukan agama katolik !!! di mana di dalamnya terdiri dari orang-orang yang dengan tulus, penuh dengan kasih untuk melayani sesama tanpa mengharap imbalan baik moril dan materil. Dan pengikut Yesus terlebih-lebih dia seorang romo tidak mudah untuk memvonis seseorang berdosa apalagi sampai memarahi sesamanya, Baca kembali curhat yang disampaikan oleh sdri. kita Fransisca

      • Shalom Dionisius,

        Saya akan memberikan beberapa pertanyaan. Bagaimana anda membedakan antara Gereja Katolik dan Gereja Katolik sebagai umat yang beriman Katolik. Apakah maksud dari pernyataan anda “secara fisik Yesus tidak mendirikan Gereja Katolik? Jadi, apakah bentuk dari Gereja Katolik dalam pandangan anda? Apakah kalau seseorang tidak menjalankan iman Katolik dengan baik, maka secara otomatis dia bukan menjadi anggota Gereja Katolik? Dan sampai seberapa jauh batasan imannya yang memungkinkan seseorang tetap berada di dalam Gereja Katolik? Apakah dalam contoh seorang pastor yang mengatakan bahwa seseorang berdosa “zinah” karena perkawinannya tidak sah, berarti tidak termasuk dalam Gereja Katolik? Bagaimana anda mengartikan Mat 16:16-19? Bagaimana anda menyikapi daftar Paus, mulai dari rasul Petrus sampai Paus Benediktus XVI? Semoga pertanyaan-pertanyaan ini dapat mengungkap konsep ekklesiologi.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  2. Herman Jay on

    Sejarah Gereja
    Ada banyak aspek dari kehidupan gereja sejak berdirinya pada Hari Pentekosta. Namun, isi buku-buku konvensional/klasik sejarah gereja katolik,lebih banyak bercerita mengenai perkembangan misi.
    Pertanyaan:
    1.apakah ada buku sejarah gereja yang komprehensif mencakup seluruh aspek perkembangan gereja?
    2.apakah sylabus kuliah sejarah gereja telah membantu para imam untuk menangani masalah pastoral-liturgi dewasa ini?
    3.apakah ada buku sejarah liturgi yang lengkap berbahasa Indonesia?
    4.apakah buku serial sejarah setiap sakramen yang diakui dan diimani oleh gereja katolik?
    5.bukankah umat perlu memahami sejarah banyak aspek kehidupan menggereja dalam rangka meningkatkan pengetahuan iman dan dengan demikian dapat lebih mempertahankan imannya. bukankah sekarang banyak umat lebih berpatokan :”pokok – e saya katolik dan tetap katolik”, namun di lain pihak karena banyak umat buta sejarah, maka sekali mendapat serangan “fatal” dari ajaran iman nonkatolik, lantas langsung tewas dan menyerah?
    6.Aspek apa pun dari kehidupan gereja pasti ada sejarahnya. Oleh karena itu semua aspek pengetahuan iman yang diajarkan oleh gereja pasti ada sejarah pemikiran dan penghayatannya. Jadi pada intinya konsep “sejarah gereja” yang layak dipahami dan dimiliki oleh segenap umat beriman ialah pemahaman historis dari setiap aspek kehidupan beriman. Dengan demikian “sejarah gereja” bukan lagi sejarah gereja dalam arti sempit sebagaimana dijadikan mata kuliah khusus di seminari, melainkan seluruh mata kuliah yang diajarkan di seminari pada hakekatnya adalah sejarah gereja.Inilah hakekat “sejarah gereja” dalam arti seluas-luasnya dan selengkap-lengkapnya. Sekarang gereja ( imam dan umat ) banyak melupakan sejarah gereja, sehingga imannya mudah goyah. Ada baiknya , umat diingatkan akan motto “JASMERAH” dari Bung Karno: Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Ini berlaku bagi kita sebagai bangsa Indonesia sekaligus sebagai umat katolik Indonesia-Universal( 100% Katolik, 100% Indonesia )

    • Yohanes Dwi Harsanto, Pr on

      Salam Herman Jay,

      Ada banyak buku sejarah Gereja. Pada sisi Sejarah Gereja Indonesia, Mgr Muskens menyusun Sejarah Gereja Indonesia dengan judul “ragi carita”, di era 1970an. Tahun 2006 Penerbit Kanisius menerbitkan “Millennium The Story of Christianity – Menelusuri Jejak Kristianitas” terjemahan dari buku susunan Michael Collins dan Matthew A. Price.

      Tim Penyusun Sejarah Gereja Indonesia yang dipimpin Prof Dr A. Eddy Kristiyanto OFM sedang menggarap buku sejarah Gereja Indonesia dalam rangka 50 tahun Hierarki Gereja Indonesia, dan tahun ini akan terbit.

      Banyak buku sejarah Gereja yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Portugal, Italia, namun diakui masih sedikit yang berbahasa Indonesia dan lengkap sampai detil yang ada di Indonesia. Biasanya buku sejarah menyoroti aspek tertentu saja, misalnya dari sisi liturgi, budaya, tokoh tertentu, periode tertentu, kawasan tertentu, keuskupan tertentu, masa kepausan tertentu dan semacamnya. Begitu kaya sejarah Gereja, sehingga hampir tak mungkin dirangkum keseluruhannya secara serentak dan komprehensif hingga detil.

      Dari sisi pastoral, membaca sejarah sangat perlu agar tidak mudah terjebak dalam kesalahan yang sama dan meningkatkan mutu iman dan perwujudannya di masa kini dan ke depan. Saya setuju bahwa himbauan “jasmerah” itu selalu penting.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

      • Salam, Herman Jay

        Sebagai tambahan, apabila anda masih haus akan penelusuran sejarah Gereja, anda dapat mencari karya-karya Bapa-bapa Gereja di abad awal Gereja. Salah satu rangkuman sejarah Gereja yang ditulis pertama kali adalah Historia Ecclesiae karya Eusebius Pamphillius. Sakramen sendiri telah menjadi penghayatan dalam kehidupan Gereja dan terekam dalam beberapa karya seperti Didache, tulisan-tulisan St. Irenaeus, surat-surat St. Ignatius Antiokhia dan berbagai Bapa-bapa Gereja lainnya. Akan tetapi, memang diperlukan sikap hati-hati untuk memahami apa yang tertulis dalam setiap karya tersebut. Salah satu sumber tulisan-tulisan tersebut ada di :
        link to earlychristianwritings.com

        Perlu diperhatikan bahwa banyak tulisan bidaah di masa Gereja Awal juga termuat dalam situs tersebut. Berhati-hati dalam mencari mana yang anda perlukan. Semoga membantu.

        Pacem,
        Ioannes

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Chery,

      Saya teruskan pertanyaan Anda ke Romo Prof. Dr. Eddy Kristiyanto OFM, ahli sejarah kita, dan beliau menjawab demikian: ” Mungkin bisa dicari di penerbit “Bina Media” di Medan, (penerbit milik OFMCap). Agak sulit mendapatkan buku yang dimaksud karena belum ada karya yang ditulis secara komprehensif yang mengulas tentang misionaris Gereja Kristen Katolik di Sumatera Utara. Di lingkungan Kristen Protestan ada tokoh Nomensen. Tetapi di sana-sini ada kisah-kisah menarik tentang Gereja Katolik di Sumut. Coba dilihat di Karel Steenbrink cs. (eds.), ” A History of Christianity in Indonesia”. Leiden-Boston: Brill, 2009″.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

      • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

        Sdr Chery, seorang imam di Medan menambahkan bahwa sebaiknya ke Provinsialat Ordo Kapusin (OFMCap) di Medan untuk mendapatkan informasi mengenai perjalanan para misionaris Katolik di Sumatera Utara yang dimaksud.

        Salam
        Yohanes Dwi Harsanto Pr

        • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

          Tambahan dari pastor Simon L Cahyadi Pr: “Ada dua orang yang bisa memberikan info tentang Sejarah Gereja Sumut, khususnya yang di daerah Tapanuli dan sekitarnya. Yang pertama adalah P. Leo Joosten OFM, yang dulu pernah bertugas di Kabanjahe (atau Brastagi?).Sayang beberapa bukunya yang saya kenal masih berbahasa Belanda, sementara buku dalam bahasa Indonesia kurang kuketahui. Yang kedua adalah (alm) Rm R. Kurris SJ, yang menulis buku “PELANGI DI BUKIT BARISAN” diterbitkan Kanisius. link to bookoopedia.com Ini buku memoir-popular, bukan buku sejarah dalam arti serius, namun tetap menarik”.

          Salam
          Yohanes Dwi Harsanto Pr

  3. Shalom Ibu Inggrid & Pak Stef,
    Sepertinya kalau menyebut KATOLIK jadi seperti sesuatu yang eksklusif , beda , tiada duanya jadi hanya Katolik sajalah yang bener…sedih kalau saya mendengar seperti itu.
    Padahal istilah kristen ada di alkitab malah sangat universal bahkan di negara ini disebut kristen katolik, jadi katolik adalah bagian dari kristen bukan sebaliknya.
    Apalagi soal liturgi , saya membayangkan gereja mula-mula apakah seperti sekarang ini pake hosti, tabernakel , ada monstran dll . Padahal yang saya baca gereja mula2 seperti aturan Yahudi karena akarnya memang dari Yahudi. Apalagi banyak rasul2 pertama yang mewartakan injil keluar yerusalem shg terpencar-pencar & pasti tidak punya perlengkapan2 tsb.
    belum lagi katolik ada ortodoks, katolik roma, anglikan , katolik rusia yang tidak mengakui paus, jadi katolik sendiri pecah.
    kalau saya lihat sekarang banyak orang katolik sekarang yang “pikirannya terbuka” setelah melihat perkembangan kristen yang dinamis tidak kaku seperti di gereja KATOLIK.
    Saya percaya bukan gerejanya tapi iman kita pada Yesus…itu yang terpenting dan terutama. Sebab bila kita bertemu kelak denganNYA tidak ditanya dari gereja mana tapi apakah Tuhan Yesus mengenal kita anak-anakNya dan melakukan kehendakNya.

    [dari katolisitas: Anda telah memberikan beberapa point diskusi. Kalau memang anda mau, silakan mulai dari apakah Yesus mendirikan satu Gereja atau banyak gereja? Apakah dasarnya? Setelah kita berdikusi topik ini secara mendalam, maka kita dapat masuk ke diskusi yang lain. Atau anda juga dapat memberikan argumentasi yang berbeda terhadap artikel yang pernah saya buat tentang mengapa kita memilih Gereja Katolik di sini – silakan klik.]

  4. Syalom ibu Ingrid,
    Di luar Gereja Katolik yang pusatnya di Roma (Gereja Katolik Roma?) sepertinya juga terdapat Gereja Katolik lain, (Gereja Katolik Ritus Timur ?). Gereja Katolik apa lagi yang ada? Perbedaannya apa? Di mana mereka itu? Bagaimana hubungan mereka dengan Gereja Katolik Roma?

    Terima kasih atas informasinya.
    Soenardi

    [dari Katolisitas: silakan membaca terlebih dahulu artikel “Perbedaan utama gereja Orthodox dengan Gereja Katolik”, silakan klik dan silakan mengajukan pertanyaan lebih lanjut jika ada, berdasarkan artikel tersebut]