Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2)

47

Yesus tidak menulis Kitab Suci

Pernahkah anda bertanya dalam hati: “Mengapa Yesus sendiri tidak menulis Kitab Suci?” Bukankah hal ini lebih baik, sehingga tidak ada pertanyaan tentang asal usul Kitab Suci di kemudian hari? Demikianlah, mungkin hingga saat ini banyak orang mempertanyakannya, bahkan sampai pada titik menolak untuk percaya kepada Kitab Suci dan kepada pesan Keselamatan yang tertulis di dalamnya; bahwa Yesus, Sang Putera Allah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Mari merenungkan hal ini: Yesus adalah Sang Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14). Pribadi-Nya sendiri adalah Sabda Allah: Dia-lah “Kitab Suci” yang hidup. Maka dapat dimengerti jika Yesus tidak menulis Kitab Suci, karena Ia tidak ingin membatasi Diri-Nya hanya pada ajaran dan peraturan yang tertulis oleh huruf-huruf. Ia tidak menulis Kitab Suci karena Ia menghendaki semua orang untuk melihat dan membaca Pribadi-Nya yang tak terbatas. Di sanalah tertulis segala kesempurnaan ajaran, teladan, dan gambaran Allah sendiri. Bukankah bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui bahwa seorang pemimpin, seniman ataupun guru yang terbesar adalah ia yang berhasil membentuk murid-muridnya untuk menjadi pemimpin, seniman, ataupun guru yang besar juga? Demikianlah, dalam kebijaksanaan-Nya, Allah membentuk manusia, untuk mengikuti teladan-Nya untuk mencapai kehidupan kekal seperti yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus. Untuk mewujudkan rencana-Nya, Allah memilih orang-orang beriman tertentu yang dibimbing secara khusus oleh Roh Kudus-Nya, untuk menuliskan rencana Keselamatan-Nya ini.

Asal usul Kitab Suci

Maka umat Kristiani percaya bahwa Kitab Suci bukan merupakan kitab yang ‘jatuh’ dari surga, ataupun kitab yang dituliskan oleh Kristus, melainkan Kitab yang terdiri dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang pilihan Allah yang diilhami Roh Kudus. Nah, pertanyaannya, dari mana kita tahu bahwa kitab-kitab tertentu diilhami oleh Roh Kudus, sedangkan ada banyak kitab lainnya ‘hanya’ merupakan karya manusia? Sejarah menunjukkan bahwa yang menentukan apakah suatu kitab tertentu diilhami Roh Kudus atau tidak adalah Gereja Katolik. Hal ini mungkin karena kita percaya bahwa Gereja Katolik dipimpin oleh para rasul dan para penerusnya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Karena Roh Kudus ini adalah Roh yang sama dengan Roh yang mengilhami penulisan kitab-kitab itu, maka peneguhan yang ditetapkan oleh Gereja tentang kitab-kitab tersebut tidak mungkin keliru, karena Roh Kudus tidak mungkin mempertentangkan Diri-Nya sendiri.

Jika kita tidak mempercayai hal ini, kita sama saja dengan mempertanyakan janji Kristus yang mengatakan akan menyertai para rasul-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20). Kita tahu, bahwa para rasul semuanya telah wafat, sehingga janji penyertaan-Nya sampai akhir zaman hanya mungkin diartikan bahwa Yesus akan menyertai para pengganti rasul- rasul tersebut, dan menjaga mereka dari kesesatan dalam kapasitasnya memimpin Gereja dan melestarikan ajaran Kristus. Maka, dengan mengimani janji Kristus itu, kita percaya bahwa para pengganti rasul diilhami oleh Roh Kudus untuk meneguhkan kitab-kitab mana yang diilhami Roh Kudus, yang kemudian membentuk Kitab Suci.

Wahyu Ilahi diberikan kepada beberapa orang pilihan-Nya untuk dituliskan

Allah memberikan wahyu Ilahi kepada banyak orang pilihan-Nya, tidak hanya kepada satu orang saja, untuk dituliskan. Justru karena penulisan Alkitab melibatkan banyak orang selama jangka waktu ribuan tahun, maka secara objektif kita melihat campur tangan Allah dalam hal ini. Wahyu Ilahi ini diberikan dalam sejarah manusia, yaitu kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan selanjutnya diteruskan oleh para rasul dan para muridnya untuk menyampaikan penggenapan Perjanjian Lama dalam diri Kristus dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja, namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang bisa saja tidak saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya menunjuk dan membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat kita tertunduk kagum. Betapa indahnya rencana keselamatan Allah yang melibatkan umat-Nya. Keikutsertaan manusia dalam rencana keselamatan Allah ini tidak mengurangi kemuliaan-Nya, namun semakin melipat-gandakannya. Ia membuktikan DiriNya Mahakuasa, karena Ia memampukan manusia yang lemah untuk mengambil bagian dalam rencana Keselamatan-Nya; baik dalam menuliskan, menyebarluaskan dan melestarikan Kitab Suci, dan tentu saja, dalam melaksanakannya, jika manusia mau bekerjasama dengan Dia.

Peran Gereja Katolik

Dari bukti sejarah kita melihat adanya banyak kitab yang menceritakan tentang Allah. Tentu orang berhak bertanya, mana kitab yang benar, mana yang tidak. Semua orang tentu dapat mempunyai penilaian sendiri-sendiri, namun berbahagialah kita yang percaya bahwa Allah menyertai Gereja-Nya dengan Roh Kudus-Nya, sehingga Gereja yang bertindak atas nama Kristus itulah yang paling berwewenang untuk menentukan kitab mana yang otentik diilhami Roh Kudus, dan kitab mana yang tidak. Karena bimbingan Roh Kudus pada Gereja Katolik inilah, maka kita percaya bahwa kitab-kitab yang ditetapkan oleh Gereja adalah sungguh yang ditetapkan oleh Allah sendiri.

Bukti sejarah ini sungguh membuka mata kita bahwa sesungguhnya Kitab Suci yang kita kenal sekarang ada karena Gereja Katolik, yang menetapkan kanon Kitab Suci. Kata ‘kanon’ sendiri berarti ‘batang pengukur’ atau ‘standar’. Jadi kanon Kitab Suci adalah daftar kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus yang membentuk Kitab Suci, yang ditentukan oleh tradisi apostolik Gereja Katolik.[1]

Kitab Suci saja (‘Bible alone’) tidak cukup

Ada kelompok orang-orang yang mengatakan bahwa hanya Kitab Suci yang menjadi sumber satu-satunya iman Kristen. Namun, pendapat ini tidak dapat menjelaskan bagaimana kita dapat tahu dengan pasti bahwa kitab-kitab tertentu termasuk dalam Kitab suci sedangkan kitab yang lainnya tidak. Sebab, kanon Kitab Suci tidak diketahui dari Kitab Suci itu sendiri. Di dalam Kitab Suci (dari Kejadian sampai Wahyu) tidak disebutkan bahwa kitab ini dan itu termasuk Kitab Suci, sedang kitab yang lain tidak. Maka, secara objektif sesungguhnya dapat kita lihat, bahwa berpegang pada Kitab Suci saja tidaklah cukup. Peran Gereja menjadi sangat penting, karena Gereja lahir terlebih dahulu dari Kitab Suci. Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus-lah yang menjadi saksi otoritatif yang dapat menentukan apakah kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus atau tidak. Peran Gereja Katolik ini diakui juga oleh pendiri gereja Protestan, Martin Luther, yang mengatakan, “Kita diwajibkan untuk bersandar pada Gereja Katolik- bahwa mereka memiliki Sabda Tuhan yang kita terima dari mereka, jika tidak, kita tidak dapat mengetahui apapun tentang itu.”[2]

Kanon Kitab Suci menurut Gereja Katolik

Kanon Kitab Suci yang ditetapkan menurut tradisi apostolik Gereja adalah Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.[3] Mungkin kita pernah mendengar bahwa Gereja Katolik dikatakan ‘menambahkan’ 7 kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yudit, Barukh, Tobit, 1 dan 2 Makabe (beserta tambahan Kitab Daniel dan Esther), yang dikenal dengan Kitab Deuterokanonika.[4] Tetapi sesungguhnya, ketujuh kitab tersebut sudah ada sejak jemaat awal. Baru sekitar 1500 tahun kemudian, Martin Luther memisahkan ketujuh kitab ini dari kanon Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini digabungkan dengan kitab-kitab lain yang umum disebut sebagai kitab Apokrif/ “Apocrypha” oleh Gereja Protestan.

Berikut ini adalah daftar kanon Kitab Suci sejak pertama kali ditetapkan oleh Paus Damasus (382), yang sudah memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika:

Keseluruhan teks dekrit Paus Damasus I itu adalah [kitab-kitab PL dicetak tebal]:

“It is likewise decreed: Now, indeed, we must treat of the divine Scriptures: what the universal Catholic Church accepts and what she must shun. The list of the Old Testament begins: Genesis, one book; Exodus, one book: Leviticus, one book; Numbers, one book; Deuteronomy, one book; Jesus Nave [Joshua], one book; of Judges, one book; Ruth, one book; of Kings, four books [1&2 Samuel; 1&2 Kings] Paralipomenon [1&2 Chronicles], two books; One Hundred and Fifty Psalms, one book; of Solomon, three books: Proverbs, one book; Ecclesiastes, one book; Canticle of Canticles, one book; likewise, Wisdom, one book; Ecclesiasticus (Sirach), one book;
Likewise, the list of the Prophets: Isaiah, one book; Jeremias, one book [Barukh considered part of Jeremiah]; along with Cinoth, that is, his Lamentations; Ezechiel, one book; Daniel, one book; Osee, one book; Amos, one book; Micheas, one book; Joel, one book; Abdias, one book; Jonas, one book; Nahum, one book; Habacuc, one book; Sophonias, one book; Aggeus, one book; Zacharias, one book; Malachias, one book.
Likewise, the list of histories: Job, one book; Tobias, one book; Esdras, two books [Ezra & Nehemiah]; Esther, one book; Judith, one book; of Maccabees, two books [1&2 Maccabees].

Likewise, the list of the Scriptures of the New and Eternal Testament, which the holy and Catholic Church receives: of the Gospels, one book according to Matthew, one book according to Mark, one book according to Luke, one book according to John. The Epistles of the Apostle Paul, fourteen in number: one to the Romans, one to the Corinthians [2 Corinthians is not mentioned], one to the Ephesians, two to the Thessalonians, one to the Galatians, one to the Philippians, one to the Colossians, two to Timothy, one to Titus one to Philemon, one to the Hebrews.
Likewise, one book of the Apocalypse of John. And the Acts of the Apostles, one book.
Likewise, the canonical Epistles, seven in number: of the Apostle Peter, two Epistles; of the Apostle James, one Epistle; of the Apostle John, one Epistle; of the other John, a Presbyter, two Epistles; of the Apostle Jude the Zealot, one Epistle. Thus concludes the canon of the New Testament.

Likewise it is decreed: After the announcement of all of these prophetic and evangelic or as well as apostolic writings which we have listed above as Scriptures, on which, by the grace of God, the Catholic Church is founded, we have considered that it ought to be announced that although all the Catholic Churches spread abroad through the world comprise but one bridal chamber of Christ, nevertheless, the holy Roman Church has been placed at the forefront not by the conciliar decisions of other Churches, but has received the primacy by the evangelic voice of our Lord and Savior, who says: “You are Peter, and upon this rock I will build My Church, and the gates of hell will not prevail against it; and I will give to you the keys of the kingdom of heaven, and whatever you shall have bound on earth will be bound in heaven, and whatever you shall have loosed on earth shall be loosed in heaven.”

Dengan demikian, tidak benar jika dikatakan bahwa Gereja Katolik menambah-nambahi Kitab Suci. Sebaliknya, kitab-kitab selengkapnya, termasuk kitab-kitab Deuterokanonika, itu sudah ditetapkan sejak awalnya di tahun 382.

Kanon Perjanjian Lama (PL)[5]

Kanon Perjanjian Lama gereja Protestan diambil berdasarkan kanon kaum Yahudi yang berbahasa Ibrani di Palestina. Sedangkan kanon Perjanjian Lama Gereja Katolik berdasarkan atas kanon kaum Yahudi yang berbahasa Yunani (Alexandria) di seluruh Mediterania, termasuk di Palestina. Alexandria adalah kota di Mesir yang mempunyai perpustakaan terbesar pada jaman itu, di bawah kepemimpinan Raja Ptolemy II Philadelphus (285-246 BC). Maka keseluruhan Kitab Suci Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh 70 atau 72 orang ahli kitab Yahudi. Terjemahan ini selesai pada tahun 250-125 BC, dan dari sanalah kita mengenal kata “Septuagint” yaitu kata Latin dari 70 (LXX), sesuai dengan jumlah para penerjemah itu.

Pada jaman Yesus hidup, bahasa Ibrani adalah bahasa yang mati/ tidak digunakan. Orang-orang Yahudi di Palestina pada saat itu umumnya bicara dengan bahasa Aramaic. Sedangkan pada waktu itu, bahasa Yunani merupakan bahasa yang umum dipergunakan di seluruh dunia Mediteranian. Maka tak mengherankan bahwa yang Alkitab yang dipergunakan oleh Yesus adalah terjemahan Septuagint/ Yunani, dan terjemahan Septuagint ini pula yang dipergunakan oleh para penulis kitab Perjanjian Baru.

Pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali.[6] Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Mengapa PL menurut Septuagint berisi 46 kitab sedangkan kanon Ibrani 39 kitab

Kanon Ibrani ditetapkan oleh para rabi Yahudi di Javneh/Jamnia, Palestina, pada sekitar tahun 100, yang kemungkinan disebabkan oleh reaksi mereka terhadap Gereja yang menggunakan kanon Yunani (Alexandria). Alasan mereka tidak memasukkan seluruh kitab ini ke dalam kanon mereka adalah karena mereka tidak dapat menemukan ke-7 kitab Deuterokanonika tersebut dalam versi Ibrani. Namun Gereja Katolik tidak mengakui keputusan para rabi Yahudi tersebut. Jangan kita lupa, bahwa mereka (para rabi Yahudi) tidak pernah menerima Kristus, ajaran Kristiani maupun Perjanjian Baru yang sudah ada sebelum kanon Ibrani ditetapkan. Bagaimana kita dapat mempercayai keputusan para rabi Yahudi untuk menentukan kanon Kitab Suci? Atau mengakui bahwa mereka dipimpin oleh Roh Kudus, padahal mereka malah telah menolak Kristus?

Memang harus diakui bahwa karena wahyu ilahi diberikan pertama-tama melalui bangsa Yahudi, maka tak mengherankan jika Alkitab kita mengandung kitab-kitab suci yang diakui juga oleh kaum agama Yahudi. Menurut The Pontifical Biblical Commision, on The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible, (I, E, 3.Formation of the Christian Canon), disebutkan:

“Di Gereja- gereja Timur pada jaman Origen (185-253) ada usaha untuk menyesuaikan dengan kanon Ibrani…. [Namun] usaha untuk menyesuaikan teks Ibrani dalam kanon Ibrani tidak menghalangi para pengarang Kristen di gereja-gereja Timur untuk menggunakan kitab-kitab yang tidak termasuk dalam kanon Ibrani, atau yang mengikuti teks Septuagint. Maka pendapat bahwa – kanon Ibrani yang seharusnya dipilih oleh umat Kristiani- tidak dipilih oleh gereja-gereja Timur, atau setidak-tidaknya tidak ada kesan yang mendukung ke arah itu. Di gereja-gereja Barat, penggunaan Septuagint adalah umum dan dipertahankan oleh St. Agustinus (354-430). Ia melandaskan pandangannya pada praktek yang telah berlangsung lama dalam Gereja.”

Maka berdasarkan penggunaan kitab-kitab yang telah lama berakar di Gereja, Gereja Katolik menetapkan kanon Kitab Suci pada Konsili di Hippo 393 dan Carthage 397, yaitu 46 kitab dari kanon Yunani (Septuagint) sebagai kanon Perjanjian Lama/PL dan 27 kitab Perjanjian Baru/ PB termasuk di sini adalah ketujuh kitab di PL yang disebut sebagai Deuterokanonika. Para Bapa Gereja, baik sejak jaman Kristen abad pertama, Polycarpus, Irenaeus, Clement dan Cyprian mengutip kitab-kitab Deuterokononika tersebut dalam pengajaran mereka[7], sebab mereka menganggap kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus, sama dengan kitab-kitab PL lainnya. Sejak saat diresmikannya kanon Kitab Suci pada abad ke-4, Septuagint ini diterima oleh umat Kristiani, kecuali oleh mereka yang kemudian menolaknya pada sekitar tahun 1529 bersamaan dengan pemisahan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja Katolik. Jadi tidak benar bahwa Kitab Deuterokanonika baru ditambahkan pada tahun 1546 pada Konsili Trente; ini adalah mitos yang sangat keliru!

PL menurut Martin Luther dan gereja Protestan

Dengan berpegang pada kanon Ibrani berdasarkan Konsili Jamnia dan pendapat St. Jerome, gereja Protestan menganggap ke- 39 kitab sebagai kanon Perjanjian Lama. Namun demikian sebenarnya alasan ini tidak cukup kuat, karena walaupun St. Jerome pernah menyatakan pendapatnya yang menolak status kanonik kitab Yudit, Tobit, Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan, ia pada akhirnya dengan rendah hati tunduk pada keputusan Gereja, dengan memasukkan kitab-kitab tersebut ke dalam terjemahan Kitab Suci berbahasa Latin, “the Vulgate”. Juga penelitian terakhir dari the Dead Sea Scroll di Qumran menunjukkan ditemukannya copy naskah berbahasa Ibrani dari beberapa kitab yang dipermasalahkan (Sirakh, Yudit dan 1 Makabe- yang tadinya dianggap tidak termasuk kanon Ibrani).[8] Penemuan naskah Ibrani pada sebagian besar kitab Sirakh/ Ecclesiaticus di Mesir memperkuat anggapan para ahli kitab suci bahwa kitab Sirakh tersebut diterjemahkan ke bahasa Yunani dari bahasa Ibrani.[9]

Bukti-bukti ini sesungguhnya memperkuat bahwa Septuagint adalah terjemahan awal yang lengkap dan otentik, hanya saja dengan berselangnya waktu, naskah Ibrani dari beberapa kitab ini tidak dapat ditemukan seluruhnya. Jika suatu saat nanti ditemukan semua naskah Ibraninya, barangkali semua menjadi lebih jelas. Namun dengan ditemukannya sebagian saja dari naskah Ibrani kitab tersebut, itu sudah menunjukkan bahwa alasan mencoret keberadaan kitab Deuterokanonika dari kanon hanya karena tidak dapat ditemukan naskah Ibrani-nya, sesungguhnya bukan merupakan alasan yang kuat. Sebab, jika suatu saat dapat ditemukan semua naskah Ibrani-nya, bagaimana mempertanggungjawabkan pendapat ini?

Juga perlu direnungkan, mengapa gereja Protestan mengambil dasar konsili Jamnia sebagai dasar penentuan kanon PL, sebab konsili itu tidak umum diketahui oleh kaum Yahudi dan hasil konsili tersebut tidak diterima oleh segenap kaum Yahudi. Kaum Saduki dan Samaria tidak menerimanya, bahkan kaum Yahudi di Ethiophia sampai sekarang mempunyai kitab PL yang sama dengan yang kanon PL Gereja Katolik.

Sekarang mari kita melihat fakta sejarah.[10] Walaupun Luther mempertanyakan penetapan 46 kitab dalam kanon PL, namun ia sendiri tetap menyertakan Kitab Deuterokanonika tersebut dalam terjemahan Alkitab pertamanya dalam bahasa Jerman pada tahun 1530. Kitab Deuterokanonika juga ditemukan dalam edisi pertama King James Version pada tahun 1611, dan pada saat pertama Alkitab dicetak. Maka kitab Deuterokanonika memang sudah termasuk dalam semua Alkitab (setidak-tidaknya sebagai appendix dalam Alkitab Protestan) sampai pada tahun 1825, yaitu saat Komite Edinburgh dari the British Foreign Bible Society ‘memotongnya’. Maka terlihat bahwa bukan Gereja Katolik yang menambahkan Kitab Deuterokanonika, melainkan gereja Protestan yang menguranginya dari keseluruhan Kitab Suci.

Perlu juga diketahui bahwa Luther mempertanyakan keaslian kitab 2 Makabe, dari segi historis dan karena di kitab tersebut juga berisi dasar doktrin Api Penyucian, yang bertentangan dengan prinsip-nya “Salvation by faith alone”. Pandangan inilah yang sering dianggap sebagai alasan mengapa Luther memisahkan kitab Deuterokanonika sebagai “Apokrif ‘Apocrypha’, yaitu kitab-kitab yang tidak dianggap sama seperti Kitab Suci lainnya namun sebagai kitab yang berguna dan baik untuk dibaca.”[11] Sayangnya, setelah jaman Reformasi, arti ‘apocrypha’ –yang terjemahan bebasnya adalah ‘tersebunyi’ ini memperoleh konotasi negatif, sehingga diartikan sebagai ‘salah/ sesat’.

Kanon PL mana yang kita pilih?

Jika kita memilih untuk berpegang pada Kitab Suci yang mengandung ketujuh kitab tersebut, artinya, kita mengikuti tradisi para rasul, para penulis kitab Perjanjian Baru dan para jemaat awal. Namun jika kita berpegang pada Kitab Suci yang tidak mencantumkan ketujuh kitab itu, artinya kita mengikuti tradisi para rabi Yahudi non-Kristen yang kemudian diikuti oleh gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Baru (PB)

Mengenai hal kanon PB, baik Gereja Katolik maupun Protestan setuju, bahwa terdapat 27 kitab di dalam kitab Perjanjian Baru. Kitab pertama PB dituliskan sekitar tahun 50, yaitu Injil Matius dan Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika (1 Tesalonika), dan yang terakhir, Wahyu, pada tahun 90-100. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana sampai diperoleh Kitab Perjanjian Baru tersebut, jika pada waktu yang sama dituliskan kitab-kitab lain, yang mengundang perbedaan pendapat dalam kelompok jemaat mengenai hal ke-otentikan kitab sebagai yang diilhami Roh Kudus. Misalnya ada yang berpendapat bahwa kitab Ibrani, Yudas, Wahyu dan 2 Petrus itu tidak diilhami Roh Kudus, sedangkan sebaliknya ada yang berpendapat bahwa kitab Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat Barnabas dan Klemens adalah tulisan yang diilhami Roh Kudus. Gereja memahami situasi ‘kebingungan’ ini maka pada akhir abad ke- 4 dimulailah suatu konsili dan dekrit yang memutuskan Kanon seluruh Kitab Suci, sebagai berikut:

  1. Tahun 382, Paus Damasus I, didorong oleh Konsili Roma, menulis dekrit yang menentukan ke 73 kitab, PL dan PB.
  2. Tahun 393, Konsili Hippo di Afrika Utara menyetujui adanya ke-73 kitab tersebut dalam kanon Kitab Suci, PL dan PB.
  3. Tahun 397, Konsili Carthage/ Carthago, Afrika Utara, kembali menyetujui kanon PL dan PB tersebut. Banyak gereja Protestan yang menganggap konsili ini sebagai yang menentukan secara otoritatif kanon Perjanjian Baru.
  4. Tahun 405, Paus St. Innocentius I (401-417) menulis surat kepada Uskup Exsuperius dari Toulouse, menetapkan ke 73 kitab seperti yang disetujui oleh Konsili Hippo dan Carthage.
  5. Tahun 419, Konsili ekumenikal di Florence secara resmi mendefinisikan daftar ke-73 kitab yang sama tersebut dalam kanon Kitab Suci.
  6. Tahun 1546, Konsili ekumenikal di Trente meneguhkan lagi kanon Kitab Suci yang terdiri dari ke-73 kitab tersebut.
  7. Tahun 1869, Konsili ekumenikal Vatikan I kembali meneguhkan daftar kitab yang disebutkan dalam Konsili Trente.

Maka kita ketahui dalam waktu 40 tahun dari tahun 382 sampai 419 diadakan beberapa konsili dan keputusan Bapa Paus tentang Kanon Kitab Suci sampai akhirnya ke-73 kitab tersebut diterima secara umum oleh Gereja pada sekitar tahun 450.

Gereja Katolik menggunakan wewenang mengajarnya untuk meneguhkan kanon Kitab Suci tersebut, dan kita patut bersyukur atas campur tangan Roh Kudus yang memimpin Gereja Katolik dalam hal ini. St. Agustinus berkata, “Saya tidak akan percaya pada Injil seandainya otoritas Gereja Katolik tidak mengarahkan saya untuk itu”.[12] Maka St. Agustinus mengakui bahwa kepastian akan keaslian kitab tertentu sebagai yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus adalah dengan menerima ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja Katolik, dan dengan demikian mengakui juga otoritas Gereja Katolik. Suatu permenungan adalah: jika kita meragukan otoritas Gereja Katolik, maka kita sesungguhnya juga menentang Para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus. Adakah kita lebih pandai dan lebih diilhami Roh Kudus daripada mereka?

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa Kitab Suci berkaitan erat dengan Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Lama ditetapkan berdasarkan terjemahan yang diakui oleh Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Baru ditulis, diperbanyak, dikumpulkan dan dilestarikan oleh Gereja Katolik. Dari kanon yang ditetapkan oleh Gereja Katolik inilah semua gereja yang lain memperoleh Kitab Suci. Namun bukan berarti bahwa otoritas Gereja Katolik-lah yang menciptakan Kitab Suci, sebab Roh Kuduslah yang memberi inspirasi kepada para penulis Kitab Suci. Yang benar adalah, Gereja Katolik diberi kuasa ilahi oleh Yesus Kristus sendiri untuk secara resmi meneguhkan dan menentukan secara dogmatis daftar kitab-kitab tertentu sebagai kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Penentuan ini tidak mungkin salah, sebab Gereja dipimpin oleh Roh Kudus yang tidak mungkin salah. Mari bersama, kita dengan rendah hati mensyukuri rahmat bimbingan Roh Kudus terhadap Gereja Katolik yang olehnya kita memperoleh Kitab Suci. Mari kita tunjukkan ketaatan iman kita kepada Kristus dengan mempercayai ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja yang didirikan-Nya. Dan akhirnya, mari bersama-sama kita belajar lebih tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja Katolik.


[1]Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK) 120: Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci.

[2] Martin Luther, Commentary on St. John, chapter 16, “We are obliged to yield many things to the Papists [Catholics]- that they possess the Word of God which we received from them, otherwise we should have known nothing at all about it.”

[3] Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK) 120: Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.

Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, dua buku Samuel, dua buku Raja-Raja, dua buku Tawarikh, Esra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, dua buku Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.

Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Kisah para Rasul, surat-surat Paulus: kepada umat di Roma, surat pertama dan kedua kepada umat Korintus, kepada umat di Galatia, kepada umat di Efesus, kepada umat di Filipi, kepada umat di Kolose, surat pertama dan kedua kepada umat di Tesalonika, surat pertama dan kedua kepada Timotius, surat kepada Titus, surat kepada Filemon, surat kepada orang Ibrani, surat. Yakobus, surat pertama dan kedua Petrus, surat pertama, kedua, dan ketiga Yohanes, surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes.

[4] Daniel 3:24-90 dan 13, 14; Ester 10:4- 16:24 (atau A-F)

[5] Disarikan dari tulisan Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, How to Read the Bible, (Farmington, NM, San Juan Catholic Seminars, 2003), p.11- 15.

[6] Gleason Archer dan G. C. Chirichigno, Old Testament Quotations in the New Testament: A Complete Survey (Chicago, IL: Moody Press, 1983), xxv-xxxii.

[7] Kitab Kebijaksanaan dikutip dalam 1 Clement dan Barnabas …. Polycarpus mengutip Tobit, Didache mengutip Sirakh. Irenaeus mengutip Kebijaksanaan, Sejarah Susanna, Bel dan Naga (dalam Tambahan Kitab Daniel) dan Barukh. Bahkan Tertullian, Hippolytus, Cyprian dan Clement dari Alexandria sangat sering mengutip kitab Deuterokanonika tersebut, sehingga tidak perlu dicantumkan di sini (Early Christian Doctrines, 53-54).

[8] New Catholic Commentary on Holy Scripture, (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 1975), p.22.

[9] Menurut NewAdvent Catholic Encyclopedia, http://www.newadvent.org/cathen/09627a.htm “Here mention should be made of the non-Massoretic Hebrew manuscripts of the Book of Ecclesiasticus. These fragments, obtained from a Cairo genizah (a box for wornout or cast-off manuscripts), belong to the tenth or eleventh century of our era. They provide us with more than a half of Ecclesiasticus and duplicate certain portions of the book. Many scholars deem that the Cairo fragments prove Hebrew to have been the original language of Ecclesiasticus (see “Facsimiles of the Fragments hitherto recovered of the Book of Ecclesiasticus in Hebrew”, Oxford and Cambridge, 1901).

[10] Lihat selengkapnya di http://www.catholic.com/thisrock/2000/0009sbs.asp

[11] Hartmann Grisar, Martin Luther: His Life and Work (Maryland: Newman Press, 1950),p. 264.

[12] St. Augustine, Against the Epistle of Manichaeus Called Fundamental, 5,6, “I would put no faith in the Gospels unless the authority of the Catholic Church directed me to do so.”

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

47 Comments

  1. salam damai tim Katolisitas …saya ingin bertanyakan beberapa soalan disini..saya ada seorang rekan beragama kristian protesten mengatakan yg agama katolik

    1.menambah nambahkan alkitab

    2.membuat tanda salib di tubuh sedangkan tidak ada tertulis dalam alkitab

    3.kenapa seorang katolik tidak boleh sembayang ke gereja lain

    4.mengapa non katolik setelah meningal dunia tidak boleh di kuburkan di tanah perkuburan org katolik

    5.kenapa seorang Imam tidak boleh bernikah sedangkan dalam alkitab perjanjian lama ada tertulis beranak cuculah dan bertambah banyaklah kamu

    6.kenapa seorang katolik harus mengakui dosa sebelum merayakan misa.

    ini sahaja soalan saya. Saya amat berharap Katolisitas bisa membantu saya.

    [dari katolisitas: Silakan anda mencari artikel dan tanya jawab di katolisitas, karena banyak pertanyaan yang sebetulnya telah dijawab. Silakan memasukkan kata kunci: deuterokanonika, tanda salib, imam tidak menikah, mengaku dosa. Cobalah berfokus pada satu topik terlebih dahulu.]

    • Shalom Bambang Ella

      Nampaknya anda perlu memperjelas pertanyaan anda. Sebab jika dikatakan sebagai Teologi Perjanjian Baru, nampaknya seperti memisahkannya dari Perjanjian Lama, padahal Teologi mempelajari keduanya, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahkan juga apa yang diajarkan di sepanjang Tradisi Suci Gereja. Jika maksudnya Teologi dengan mempelajari Kitab Perjanjian Baru, maka mungkin yang dimaksud adalah mempelajari tentang apa yang diwahyukan Allah tentang diri-Nya di dalam Perjanjian Baru, yaitu bagaimana nubuat para nabi digenapi di dalam Kristus, yaitu Sang Putera Allah yang menjelma menjadi manusia. Dengan demikian, dapat diketahui kebenaran tentang Yesus menurut sejarah, yang sama dengan Kristus yang kita imani, seperti yang dikisahkan dalam kitab- kitab Perjanjian Baru (Injil, surat- surat para rasul, Kisah para rasul dan Kitab Wahyu). Di sini dipelajari tentang Inkarnasi, bukti sejarah tentang Kristus, teks Injil dan latar belakangnya, dan ajaran- ajaran prinsip dalam Kitab- kitab Perjanjian Baru.

      Sedangkan Eksegesis Biblis (Biblical Exegesis) adalah bidang Teologi yang menyelidiki dan menyatakan arti- arti yang benar tentang Kitab Suci. Maka para eksegesis tidak mempermasalahkan kitab- kitab mana yang termasuk dalam Kitab Suci, atau meneliti apakah teks kitab suci tersebut benar- benar asli. Para eksegesis menerima teks Kitab Suci seperti telah ditentukan oleh Magisterium Gereja, dan kemudian menelaah teks tersebut. Selanjutnya tentang eksegesis, silakan anda membaca di link ini, silakan klik. Jadi dalam eksegesis ini dipelajari teks Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Shalom Katolisitas,

    Terimakasih kepada tim katolisitas yang selama ini membantu saya untuk lebih memahami dan mengasihi iman Katolik. Maju terus katolisitas!

    Namun, saya agaknya punya beberapa kebingungan dalam masalah Alkitab ini. Saya ingin bertanya mengenai Vulgata. Di dalam sebuah artikel Wikipedia ada tertulis :

    “Dalam prolognya, Hieronimus menganggap kitab-kitab yang termasuk dalam Septuaginta namun tidak ditemukan dalam Alkitab Ibrani, sebagai non-kanonik; kitab-kitab itu disebutnya apokripa.”

    Apakah St. Hieronimus tidak mengikuti kanon yg ditetapkan Gereja Katolik? Sedangkan St. Hieronimus sendiri ditugaskan oleh Paus Damasus I.

    sumber:
    link to id.wikipedia.org

    Saya sendiri punya 3 Alkitab :
    - Kitab Suci Komunitas Kristiani – edisi pastoral katolik
    - the New Revised Standard Version – catholic edition
    - Alkitab terbitan LAI.

    Melihat Kitab Suci Komunitas Kristiani menggunakan kata-kata yg berbeda jika dibandingkan Alkitab terbitan LAI, alkitab mana yg sebaiknya saya gunakan?

    Terimakasih,
    Krisma

    • Shalom Krisma,

      1. Mengenai komentar St. Jerome tentang Deuterokanonika

      Memang St. Jerome (St. Hieronimus) dikenal dalam sejarah, sebagai seorang Bapa Gereja yang berjasa menerjemahkan Kitab Suci ke bahasa Latin, yang dikenal dengan sebutan Vulgata (Vulgate). Vulgata ini yang kemudian digunakan sebagai Kitab Suci dalam Gereja Katolik.

      Sampai tahun 390-391, St. Jerome menganggap bahwa keseluruhan kitab Septuaginta [termasuk kitab- kitab Deuterokanonika] sebagai kitab- kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Namun kemudian, saat ia mempelajari pengaruh Yahudi dalam teks Kitab Suci, ia banyak berhubungan dengan para rabbi Yahudi; sehingga ia mengubah pandangannya, seperti pandangan para rabbi Yahudi tersebut, yang mengganggap bahwa kitab- kitab yang diinsiprasikan oleh Roh Kudus hanya kitab- kitab Ibrani saja, [dan dengan demikian tidak termasuk kitab- kitab Deuterokanonika]. Hal ini terlihat dalam komentarnya terhadap kitab- kitab Yudit, Tobit dan Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo. Kemungkinan, komentar ini yang kemudian dikutip oleh saudara- saudari kita yang Kristen non Katolik, yang juga menolak kitab- kitab Deuterokanonika. Walaupun demikian berbeda dengan sikap mereka, pada akhirnya St. Jerome dengan rendah hati menyerahkan penilaian dan keputusan kepada otoritas Gereja, dan akhirnya memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika tersebut di dalam Kitab Suci terjemahan Latin yang disusunnya, yaitu kitab Vulgata (Vulgate).

      Berikut ini adalah tanggapan yang dituliskan St. Jerome tentang bagaimana ia mempertahankan perikop- perikop yang termasuk dalan kitab- kitab Deuterokanonika, yang ditulisnya pada tahun 401/402:

      “What sin have I committed if I follow the judgment of the churches? But he who brings charges against me for relating [in my preface to the book of Daniel] the objections that the Hebrews are wont to raise against the story of Susannah [Dan. 13], the Song of the Three Children [Dan. 3:24-90], and the story of Bel and the Dragon [Dan. 14], which are not found in the Hebrew volume, proves that he is just a foolish sycophant. I was not relating my own personal views, but rather the remarks that they are wont to make against us. If I did not reply to their views in my preface, in the interest of brevity, lest it seem that I was composing not a preface, but a book, I believe I added promptly the remark, for I said, ‘This is not the time to discuss such matters’” (Against Rufinius 11:33 [A.D. 401]).

      Terjemahannya:

      “Dosa apakah yang kulakukan jika aku mengikuti keputusan Gereja- gereja? Tetapi dia yang menuntut aku karena mengemukakan [di dalam pendahuluan saya sebelum Kitab Daniel] keberatan- keberatan bahwa orang- orang Yahudi biasanya menentang kisah Susana [Dan 13] dan Lagu pujian ketiga pemuda [Dan 3:24-90] dan kisag Dewa Bel dan Naga [Dan 14], yang tidak ditemukan di kitab Yahudi, membuktikan dirinya sendiri sebagai seorang anak kemarin sore yang bodoh. Saya tidak mengemukakan pandangan- pandangan pribadi saya, tetapi komentar- komentar yang umumnya mereka tujukan untuk menentang kita. Jika saya tidak menanggapi pandangan- pandangan mereka di dalam [tulisan] pendahuluan ini, demi keringkasan, sebab jika tidak, kelihatannya saya sedang menuliskan bukan pendahuluan tetapi sebuah buku, saya percaya, saya telah menambahkan dengan segera komentar itu, sebab saya berkata, ‘Sekarang ini bukan waktunya untuk mendiskusikan hal- hal tersebut’ ” (Against Rufinus 11:33, ditulis oleh St. Jerome kepada Pammachius dan Marcella dari Betlehem pada sekitar tahun 401/ 402)

      Maka kita ketahui di sini, bahwa pada akhirnya, St. Jerome juga menerima kanon Kitab Suci yang ditetapkan oleh Paus Damasus I (382), Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397) yang memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika sebagai bagian dari Perjanjian Lama.

      2. Mengenai beberapa Edisi Kitab Suci

      Secara umum, adalah baik jika kita memiliki beberapa edisi Kitab Suci, karena semuanya dapat saling melengkapi dan memperkaya pemahaman kita akan maksud teks Kitab Suci. Edisi Kitab Suci yang baik, adalah edisi yang setia menerjemahkan sesuai dengan teks aslinya. Sejauh ini yang saya ketahui, Gereja Katolik di Indonesia menyetujui terjemahan LAI, tentu yang memuat kitab- kitab Deuterokanonika, dan juga Kitab Suci Komunitas Kristiani [yang merupakan terjemahan dari the Christian Community Bible, yang diterjemahkan oleh Pastor Benardo Hurault, di Chile (1960) dari teks Ibrani dan Yunani, diterbitkan oleh Claretian Publications, yang ditujukan untuk negara- negara berkembang, karena menggunakan bahasa yang lebih umum digunakan, dan disertai juga dengan komentar/ penjelasan teks kitab suci]. Maka baik Kitab Suci dari LAI dan kitab suci Komunitas Kristiani keduanya dapat dipergunakan.

      Sedangkan dari yang saya ketahui, untuk Kitab Suci berbahasa Inggris, terjemahan yang baik adalah:

      Douay Rheims Bible, (merupakan terjemahan dari Vulgate)
      Revised Standard Version (RSV)- Catholic edition
      Jerusalem Bible

      Sedangkan untuk New Revised Standard Version, sebetulnya mirip dengan RSV, tetapi ada beberapa penyesuaian teks dengan gaya bahasa inclusive, yaitu melibatkan faktor gender wanita. Sehingga sering misalnya teks yang berkata, ‘sons of God’, diterjemahkan sebagai ‘children of God’. Walaupun tidak mengubah makna keseluruhan Kitab Suci, namun menurut hemat saya, RSV tetap lebih sesuai dengan teks aslinya daripada NRSV.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Marcellus Rudy on

    wah.. Terima kasih para Defender of Catholic Faith..

    saya jadi lebih terbuka wawasan dan amat sangat tertarik dengan sejarah panjang Gereja Katolik mengajarkan ajaran Kristus yang tidak berubah selama hampir 2000 tahun…

    Terima Kasih kepada Gereja Katolik yang memegang kemurnian ajaranNya… Saya semakin kagum dan ‘heran’ dengan keakuratan sejarah ini.. dan saya semakin mencintai Gereja Katholik…

    Trima Kasih pak Stef dan bu Inggrid… teruskan perjuangan anda..jangan lelah ya!!!! GBU!!!

    • Saya juga kagum kepada kedua pengasuh web ini. Saya selama ini belum ucapkan terimakasih, maka pada kesempatan ini saya ingin ucapklan terimakasih utk Bapak Stef dan Ibu Ingrid atas usahanya yang tak kenal waktu menjelaskan semua doktrin Gereja Katolik sehingga menambah iman kita akan kebenaran Gereja yang dibangun oleh Kristus.

      Salam

      Dela

  4. Dear katolisitas,

    Saya ingin bertanya kepada rekan2 sekalian :

    Ada isu yang mengatakan bahwa Injil Matius mengalami penambahan 12 ayat, dan dalam injil sering ditemukan tanda [...]. Apakah benar Injil pernah mengalami penambahan?

    Ada isu yang beredar bahwa pada zaman raja nabukadnezar banyak naskah injil yang dibakar, sehingga ada yang meragukan keaslian Injil. Bagaimana menjelaskan hal tersebut?

    Saya tidak meragukan keaslian Injil tetapi saya pernah diajukan pertanyaan seperti ini. Mohon bimbingan rekan2.
    Terima kasih.

    • Shalom Chen,

      1. Adanya tanda kurung di dalam Injil Matius ataupun di bagian lain dalam Kitab Suci, bukan merupakan penambahan, tetapi karena adanya perbedaan manuskrip- manuskrip pada saat penyalinan kitab tersebut.

      Kita ketahui bahwa setelah dituliskan oleh pengarangnya, maka kitab – kitab tersebut disalin oleh para rahib ke dalam manuskrip- manuskrip. Sebagai contohnya, terdapat beberapa manuskrip Perjanjian Lama, yaitu the Samaritan Pentateuch (430 SM), Aramaic: The Targums (450 SM), Greek: The Septuagint (300 SM – 200 SM) , Aquila’s Version (120 M), Aquila’s Version (128 M), Theodotion’s Version (180 M), Symmachus’s Version (200 M), Origen’s Hexapha atau Sixfold Version (250 M). Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah: Syriac (150 M), Latin: Old Latin (150 M), Italic (abad ke-4), Vulgate (383-405), Egyptian or Coptic (250), Ethiopic (abad ke-4), Gothic (350), Armenian (400), Gerogian (570), Arabic (abad ke-8), Slavonic (870). Sedangkan Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus adalah manuskrip Yunani tertua dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Codex Sinaiticus ditemukan di Gunung Sinai, di biara St. Catherine. Manuskrip ini hampir sama dengan Codex Vaticanus. Kedua-duanya diperkirakan ditulis abad ke-4. Codex Sinaiticus tersimpan di British Library dan Codex Vaticanus tersimpan di Vatican Library. Dead Sea Scroll adalah manusrip sebagian Perjanjian Lama dan beberapa manuskrip yang lain, yang ditulis dalam bahasa Ibrani, Aram dan Yunani. Manuskrip ini dipercaya ditulis sekitar tahun 150BC – 70AD.

      Dari hasil penyalinan ini adakalanya terdapat perbedaan, yang dinyatakan dengan tanda kurung. Hal itu bukan karena ada ayat yang baru ditambahkan, tetapi merupakan pernyataan penegasan dari apa yang telah disebutkan pada ayat- ayat sebelumnya, yang dapat tertulis di satu manuskrip, namun tidak tertulis di manuskrip yang lain.

      Sebagai contohnya, ayat 1 Yoh 5:7-8, seperti yang sudah pernah dituliskan di jawaban ini, silakan klik.

      2. Mengenai apakah semua kitab Injil dibakar pada jaman Raja Nebukadnezar (605-562 BC) itu tidak benar.

      Pertama- tama pernyataan tersebut menunjukkan ketidaktahuan dari yang membuat pernyataan. Karena, keempat kitab Injil baru dituliskan pada abad pertama Masehi, oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Maka tidak mungkin kitab Injil tersebut dibakar oleh Raja Nebukadnezar pada abad ke 7-6 sebelum Masehi; karena pada saat itu kitab Injilnya saja belum dituliskan, jadi tidak mungkin dibakar.

      Jika yang dimaksud adalah Kitab Perjanjian Lama, memang ada saja kemungkinan bahwa sebagian dari kitab- kitab suci dibakar pada jaman raja Nebukadnezar tersebut, tetapi tidak semuanya. Sebab kenyataannya pada zaman Raja Antiokhus Epifanes (215- 164 BC), seperti tertulis dalam Kitab Makabe, Raja tersebut juga memerintahkan pembakaran kitab- kitab suci (lih. 1 Mak 1:56-57); yang artinya bahwa sampai pada abad ke- 2 sebelum Masehi, kitab- kitab suci Perjanjian Lama masih eksis. Kitab Makabe juga mengisahkan bagaimana bahwa setelah dihancurkan oleh raja Antiokhus, bangsa Yahudi berhasil membangun kembali bait Allah, dan mereka terus tekun mempertahankan hukum- hukum Taurat seperti yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Sekitar abad tersebut (abad 3-2 SM) disusun pulalah kitab Septuagint, yang merupakan terjemahan Kitab Suci PL ke dalam bahasa Yunani. Di sini terlihat bahwa keotentikan Kitab Suci terus terjaga, terutama juga karena proses penyalinannya pun tidak sembarangan.

      H.S. Miller dalam bukunya, General Biblical Introduction from God to us, (Houghton, N.Y: The Word-Bearer Press, 1950), hal 184-185 menjabarkan bagaimana cara penyalinan manuskrip di abad-abad awal. Ada dua kelas manuskrip, yaitu Synagogue rolls dan Private or common. Untuk menuliskan manuskrip Synagogue rolls, yang dipakai dalam bait Allah, maka ada aturan-aturan ketat yang harus diikuti. Aturan-aturan ini dituliskan di dalam Talmud:

      1) Media penulisan harus terbuat dari kulit binatang yang tidak najis, dan harus dipersiapkan oleh seorang Yahudi. Dan kulit binatang yang menjadi media penulisan harus diikat dengan tali yang diambil dari binatang yang tidak najis.

      2) Setiap kolom harus tidak boleh kurang dari 48 dan tidak boleh lebih dari 60 baris. Seluruh salinan harus ada di dalam garis yang telah dipersiapkan sebelumnya. Jika ada tiga kata yang ditulis tidak di dalam garis, maka salinan tersebut tidaklah berharga apapun.

      3) Tinta yang digunakan harus menggunakan warna hitam, yang dibuat dengan bahan-bahan yang telah ditetapkan.

      4) Tidak boleh ada kata maupun huruf yang ditulis berdasarkan ingatan; Penyalin harus mempunyai otentik salinan di depannya dan dia harus membaca dan menyerukan dengan keras setiap kata sebelum menuliskannya.

      5) Penyalin harus secara hormat mengelap alat tulis yang dipakainya sebelum menuliskan kata “Tuhan” dan dia harus membersihkan seluruh tubuhnya sebelum menuliskan kata “Yahweh”, karena takut nama yang kudus tercemari.

      6) Aturan-aturan yang keras diberikan mengenai bentuk dari huruf, spasi antar huruf-huruf, kata-kata, dan bagian-bagian, penggunaan alat penulis, dan juga warna dari media penulisan, dll.

      7) Revisi dari sebuah gulungan yang disalin harus dibuat dalam 30 hari setelah pekerjaan selesai; kalau tidak maka salinan tersebut dianggap tidak berharga. Satu kesalahan di satu lembaran, membuat lembaran tersebut tak berguna. Jika ada tiga kesalahan ditemukan di dalam halaman manapun, seluruh salinan tidak berharga.

      8) Setiap kata dan setiap huruf dihitung, dan jika sebuah huruf dihilangkan, atau sebuah huruf ditambahkan, atau jika satu huruf bersinggungan dengan huruf yang lain, manuskrip tersebut tidak berharga dan dihancurkan saat itu juga.

      9) Dan masih begitu banyak lagi peraturan-peraturan ketat yang harus mereka jalankan dalam menyalin manuskrip, yang kadang di telinga kita terdengar tidak masuk akal.

      Oleh karena itu, walaupun salinan Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani adalah yang tertua adalah dari tahun 700-1000, tetapi kita tetap yakin akan keaslian dari text tersebut. Ini dapat dilihat dari aturan mereka menyalin manuskrip, di mana mereka percaya bahwa mereka menulis kata-kata yang sakral, sehingga setiap huruf dan kata diperhitungkan.

      3. Jika anda ingin membaca selanjutnya tentang kebenaran Kitab Suci, silakan klik di sini, Dan topik apakah Injil itu dipalsukan Paulus, silakan klik di sini. Lihatlah tabel perbandingan di sana, antara Kitab Suci dengan karya- karya tulis lain pada abad- abad awal. Jika kita membandingkan Kitab Injil dan Perjanjian Baru dengan karya tulis apapun di abad pertama kita akan mengetahui bahwa walaupun Kitab Suci tidak pernah mengalami proses standarisasi, tetapi kenyataanya salinan Kitab Suci secara umum tetap konsisten. Ahli Kitab Suci Norman Geisler and William Nix menuliskan demikian, “The New Testament, then, has not only survived in more manuscripts that any other book from antiquity, but it has survived in a purer form than any other great book-a form that is 99.5 percent pure.

      Demikian, semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Alexander Pontoh on

    dari link to answersingenesis.org

    saya menemukan istilah muratorian canon. apakah itu?

    dari wikipedia saya mendapatkan :

    The Muratorian fragment is a copy of perhaps the oldest known list of the books of the New Testament.

    bukankah sebelum tahun 390an, tidak ada PB? atau tahun 390an adalah tahun peresmian kitab-kitab yang termasuk kanon?

    • Shalom Alexander,

      1. Muratorian canon adalah list kanon Kitab Perjanjian Baru seperti yang tertulis dalam fragmen manuskrip yang umum dikenal dengan Muratorian fragment. Fragmen ini sendiri dituliskan dalam bahasa Latin sekitar abad ke delapan yang berasal dari biara Columban di Bobbio, dan yang sekarang ada di the Bibliotheca Ambrosiana/ Perpustakaan Ambrosian di Milan. (Fragmen ini ditemukan oleh Fr. Ludivico Antonio Muratori (1670-1750) sehingga nama kanon ini mengikuti namanya). Fragmen tersebut mengandung keterangan- keterangan yang dituliskan di Roma pada sekitar tahun 180-200. Kemungkinan bahasa aslinya adalah Yunani, yang kemudian diterjemahkan ke Latin.

      Yang disampaikan oleh kanon ini bukan hanya daftar kitab suci, tetapi sebuah survey, tentang waktu historis dan informasi lain mengenai setiap kitab. Sampai saat ini tidak diketahui siapa pengarang Muratorian Canon, namun ada beberapa nama yang sering disebut sebagai orang yang mungkin menyusunnya, seperti: Papias, Hegesippus, Caius dari Roma, Hippolytus dari Roma, Rhodon dan Melito dari Sardis. Silakan klik di sini untuk membaca tentang kanon ini lebih lanjut.

      2. Jika kita membaca cara terbentuknya Kitab Suci khususnya Perjanjian baru, kita mengetahui bahwa sejak abad pertama, sudah mulai dituliskan ke- empat Injil dan surat- surat Rasul. Namun kitab- kitab ini belum dijadikan satu menjadi satu buku yang dikenal dengan kitab Perjanjian Baru. Kitab- kitab ini sudah ada (bersamaan juga dengan kitab- kitab injil yang tidak otentik seperti kitab- kitab Gnostik yang dikecam oleh rasul Paulus dan rasul Yohanes)

      Seiring dengan berjalannya waktu maka pihak otoritas Gereja merasa perlu untuk menentukan dan menyatukan kitab- kitab mana yang sungguh- sungguh ditulis atas inspirasi Roh Kudus, agar tidak membingungkan umat, karena kitab- kitab lain yang di luar keempat Injil (dan surat- surat rasul) menyampaikan ajaran yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Kristus. Penentuan kanon ini dimulai dari penetapan oleh Paus Damasus I (382) yang diikuti oleh Konsili Hippo (393) dan Carthage (397), setelah pihak otoritas Gereja menyelidiki keotentikan tulisan tersebut. Tidak mengherankan jika dalam proses itu, para Bapa Gereja memperhitungkan teks yang dikutip dalam Muratorian canon itu (yang aslinya ditulis tahun 180-200), walaupun manuskrip itu sendiri baru ditemukan berabad kemudian (abad 17) yang berasal dari abad ke-8.

      Jadi sesungguhnya Kitab- kitab yang menyusun Perjanjian Baru sudah ada sebelum abad ke-4 tersebut, namun memang masih terpisah- pisah. Atau ada yang sudah mulai menyatukannya (seperti yang terdapat dalam Muratorian canon tersebut), namun belum resmi dikenal secara luas, karena belum disahkan oleh pihak Magisterium Gereja. Baru setelah ditetapkan oleh Paus Damasus I dan konsili- konsili berikutnya terdapat konsensus terhadap kanon Perjanjian Baru. Selanjutnya tentang asal usul kanon Kitab suci PL dan PB, silakan klik di sini.

      Demikian jawaban saya, semoga menjawab pertanyaan anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. saya ingin bertanya mohon sedikit jawabanya bagi pengasuh jika bisa dan tau jawabannya karena pertannyaan saya udah terpendam puluhan tahun di kepala saya karena pertannyaan ini timbul saat saya masih muda dan mendengar beberapa orang tua membicarakannya,pertannyaan saya adalah” Benarkah ada Alkitab Hitam(alkitab original yang ditemukan sebelum di sadur/di pilah menjadi alkitab yang ada sekarang) menurut yang kudengar saat itu bahwa sesungguhnya ada isi alkitab yang tidak di publikasikan karena dianggap bisa meresahkan dan penemuan -penemuan lain yang berhubungan dengan Alkitab yang di simpan dalam vatican roma,,saat itu saya belum mengerti namun pembicaraan mereka masih terngiang dan terkadang membuat kepercayaan saya oleng,di tambah dengan beberapa hal yg ada contoh film Davinci Code dan lain lain..dan sampai sekarang masih belum menemukan jawabannya walau telah bertanya ke beberapa orang ahli agama..mohon jawabannya ya….(saya sudah baca isi situs ini tapi tidak menemukan apa yg kucari..maaf jika ada yg terlewat(tidak baca)..mohon jawabannnya ya>>>….

    • Shalom Jhoan,
      Sebelum ada Kitab Suci yang kita kenal sekarang, yang ada adalah kitab- kitab yang terpisah- pisah. Pada jaman itu (abad 1- 4), memang dikenal adanya banyak tulisan/ kitab yang tidak termasuk dalam Kitab Suci, seperti contohnya ada banyak Injil lain di luar ke-empat Injil yang ditentukan dalam kanon Kitab Suci oleh Magisterium Gereja Katolik.
      Tentu saja keberadaan kitab Injil yang lain ini ada yang malah bertentangan dengan ajaran Kristus, seperti juga telah disampaikan oleh Rasul Paulus (lihat 2 Kor 11:4, Gal 1:6). Maka kemudian para penerus rasul, yang dipelopori oleh Paus Damasus I (382) dilanjutkan dengan para uskup dalam Konsili Hippo (393) dan Carthage (397), menetapkan kanon Kitab Suci atas ilham Roh Kudus, untuk menentukan kitab- kitab mana yang sesuai dengan ajaran Kristus (kitab- kitab yang ditulis atas ilham Roh Kudus) dan mana yang tidak.
      Memang sejak abad- abad awal, sudah ada orang- orang yang mengajarkan Injil-injil yang lain (ajaran Gnostik dan Docetism) dan ini ditentang oleh para rasul sendiri. Oleh karena itu, para Bapa Gereja berkumpul di abad ke-4 untuk memutuskan kanon Kitab Suci. Silakan membaca lebih lanjut di artikel di atas untuk mengetahui asal usul Kitab Suci, silakan klik. Sedangkan untuk kisah “the Lost Gospel”, silakan klik di sini.
      Jadi di sini terlihatlah secara obyektif peran penting Magisterium Gereja Katolik dalam menjaga kemurnian ajaran Kristus dan para rasul. Sebab tanpa ditentukannya kanon Kitab Suci, kita tidak dapat mengetahui tulisan mana yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus, mana yang tidak. Demikianlah kita ketahui bahwa Kitab Suci lahir dari Tradisi Suci para rasul, yang disampaikan oleh Magisterium (kuasa mengajar) Gereja.
      Semoga ulasan singkat ini berguna bagi anda.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan, Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan karena ini sangat penting. Apakah para penulis Kitab2 telah menuliskan sendiri Bab-bab dan Ayat-ayat dalam Alkitab? Kalau tidak siapakah yang membagi kitab2 itu dalam bab2 dan ayat2 tahun berapakah Alkitab dibagi dalam bab2 dan ayat? Mohon penjelasannya. Terima Kasih

    • Shalom Dela,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang kapan dimulainya pembagian bab dan ayat di dalam Kitab Suci. Pembagian bab berasal dari Cardinal Stephen Langton di tahun 1205, yang membagi Alkitab “Latin Vulgate” (yang diterjemahkan oleh St. Jerome atas perintah Pope Damasus tahun 374) ke dalam bab-bab. Dan kemudian Robert Estienne (Robert Stephanus) membagi bab dengan ayat-ayat, dimana Perjanjian Baru dengan pembagian tersebut dicetak tahun 1551 dan Perjanjian Lama pada tahun 1571. Dela dapat membaca link ini (silakan klik), untuk mempelajarinya secara lebih detail. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • Salam Katolisitas. St Jerome itu dalam bahasa Indonesia disebut St Hieronimus. Apakah benar? Jika benar, sebaiknya di katolisitas nama itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi St Hieronimus lalu di dalam kurung (St Jerome). Hal yang sama usul saya, dituliskan pula untuk nama-nama tokoh-tokoh lainnya, khususnya yang nama asingnya sangat berlainan dengan nama yg dikenal oleh umat Katolik Indonesia. Terima kasih Pak Stef dan Bu Ingrid atas kesetiaannya memandu kami dalam ajaran iman Katolik yang penuh berlimpah rahmat Tuhan Yesus. Tuhan menyertai katolisitas dan tim. Salam saya: isa inigo

        • Shalom Isa Inigo,
          Terima kasih atas usulannya. Memang dalam bahasa Indonesia, St. Jerome adalah St. Hieronimus (Lt. Hieronymus). Kami akan coba jalankan usulan anda di tulisan-tulisan mendatang. Mohon doanya, agar karya kerasulan ini dapat membantu umat Katolik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  8. Alexander Pontoh on

    Terima Kasih sudah menjawab pertanyaan saya ttg Septuagint
    ________________________________________________________________________

    berdasarkan link to en.wikipedia.org
    ________________________________________________________________________
    Dead Sea Scrolls

    The discovery of many Biblical fragments in the Dead Sea scrolls that agree with the Septuagint rather than the Masoretic Text proved that many of the variants in Greek were also present in early Semitic manuscripts.[18]

    Many of the oldest Biblical fragments among the Dead Sea Scrolls, particularly those in Aramaic, correspond more closely with the LXX than with the Masoretic text (although the majority of these variations are extremely minor, e.g. grammatical changes, spelling differences or missing words, and do not affect the meaning of sentences and paragraphs).[2][19][20] This confirms the scholarly consensus that the LXX represents a separate Hebrew-text tradition from that which was later standardized as the Masoretic text.[2][21]
    ________________________________________________________________________
    skrg saya ingin bertanya, apakah pernyataan saya di bawah ini benar, atau salah?
    ________________________________________________________________________
    dari wikipedia sepertinya penelitian terakhir membuktikan bahwa Septuagint adalah terjemahan dari Dead Sea Scrolls (kitab suci dalam bahasa ibrani) sehingga alasan untuk tidak menerima Septuagint (dimana terdapat Deuterokanonika) karena tidak ditemukan bahasa ibraninya, tidak relevan lagi.

    banyak dari potong-potongan Kitab Suci yg terdapat di Dead Sea Scrolls, apalagi yg berbahasa aram (bahasa yg digunakan oleh Yesus), lebih “nyambung” dengan Septuagint daripada Masoretic text (Bahasa Ibrani dari Kitab Suci Yahudi). ini menegaskan scholarly consensus bahwa Septuagint mewakili teks-teks Yahudi, yg dikemudian hari distandarisasi menjadi Masoretic text. Jadi… Kitab Suci agama Yahudi yaitu Tanakh (Taurat, Kitab Taurat, Perjanjian Lama) pun sebenarnya (secara tidak langsung) berdasarkan Septuagint
    ________________________________________________________________________

    Selesai, mohon bantuan untuk menganalisa pengertian saya apakah sudah sesuai dengan ajaran Gereja Katolik atau tidak. Jik ada pengertian saya yg salah (misal, ttg Tanakh) mohon pengarahannya.

    Terima Kasih,
    Alexander Pontoh

    sekedar untuk menambahkan refrensi yg saya pakai disurat saya yg sebelumnya.

    link to en.wikipedia.org
    link to en.wikipedia.org
    link to id.wikipedia.org

    • Shalom Alexander,
      Septuagint, yang merupakan terjemahan Yunani teks Kitab Perjanjian Lama yang berbahasa Ibrani, disusun sekitar abad 3 BC sampai sebelum 132 BC. Sedangkan Masoretic texts merupakan penyalinan dari teks Ibrani yang dibuat dan disebarkan sekitar tahun 700 – 1000. Maka dapat dimengerti jika manuskrip dari Septuagint sebenarnya lebih baik/ otentik, jika dibandingkan dengan Masoretic text. Karena, harus diakui, selama sekian waktu jeda antara penyusunan Septuagint dan Masoretic Text tersebut telah terdapat perubahan, penambahan, pengurangan, ataupun transposisi dari teks Septuagint. Belum lagi kenyataan adanya konsili Jamnia/ Javneh, yang mungkin juga mempengaruhi, sehingga Masoretic text tersebut tidak memasukkan teks kitab-kitab Deuterokanonika.

      Silakan membaca lebih lanjut tentang Septuagint, di link ini, silakan klik.

      Fakta yang menujukkan bahwa teks yang ada di Dead Sea Scroll lebih cocok/ sesuai dengan teks (terjemahan) Septuagint jika dibandingkan dengan teks Masoretik, menunjukkan keaslian teks Septuagint, walaupun Septuagint merupakan terjemahan teks dalam bahasa Yunani. Kesesuaian terjemahan ini sendiri sudah merupakan bukti yang sangat kuat akan keotentikan Septuagint. Belum lagi ditambah kenyataan bahwa pada teks Dead Sea Scroll, didapatkan tulisan teks dalam bahasa Ibrani, Aramaic dan Yunani, sehingga tidak benar bahwa kitab suci yang “asli” harus semua tertulis dalam bahasa Ibrani. Penemuan Dead Sea Scroll di Qumran membuktikan bahwa teks Septuagint diterjemahkan dari teks- teks Ibrani yang memang sungguh eksis pada saat itu (abad 3 BC), yang serupa dengan yang ditemukan di Qumran. Teks- teks Ibrani inilah yang kemudian digabung, diedit dan disebarkan menjadi Masoretic texts. Jadi mungkin lebih tepat dikatakan bahwa sesungguhnya Septuagint dan Masoretic texts disusun berdasarkan teks/ manuskrip Ibrani yang ada pada saat itu, namun terjemahan Septuagint adalah lebih mendekati teks aslinya, daripada Masoretic texts, walaupun Masoretic texts sama-sama dituliskan dalam bahasa Ibrani. Kemungkinannya adalah terjadi semacam distorsi dari rentang yang cukup lama antara keberadaan teks aslinya (abad ke 3 BC) dan dengan pengumpulan dan pengeditannya, yang baru diadakan berabad- abad sesudahnya (abad 7-10 AD), sedangkan teks Septuagint merupakan terjemahan teks yang langsung dibuat pada masa teks Ibrani tersebut masih ada.

      2. Tanakh itu merupakan akronim dari huruf Ibrani, jadi semacam ringkasan dari Torah, Nevi’im dan Ketuvim. Berikut ini saya sertakan kutipannya:

      The Tanakh (Hebrew: תַּנַ”ךְ‎, pronounced [taˈnax] or [təˈnax]; also Tenakh or Tenak) is a name used in Judaism for the Hebrew Bible. The Tanakh is also known as the Masoretic Text or the Miqra. The name “Tanakh” is a Hebrew acronym formed from the initial Hebrew letters of the Masoretic Text’s three traditional subdivisions: The Torah (“Teaching”, also known as the Five Books of Moses), Nevi’im (“Prophets”) and Ketuvim (“Writings”)—hence TaNaKh. The name “Miqra” (מקרא) is a Hebrew word for the Tanakh, meaning “that which is read”, derived from the word qara “קרא” meaning to read aloud. The elements of the Tanakh are incorporated in various forms in Christian Bibles, in which, with some variations, it is called the “Old Testament“.

      Jadi Tanakh itu sebenarnya adalah nama lain dari Alkitab Yahudi. Isinya adalah kelima kitab Taurat Musa, ajaran para Nabi, dan tulisan- tulisan lainnya. Sebagian dari Tanakh ini termasuk dalam Alkitab Kristiani, yaitu di dalam Perjanjian Lama. Namun orang Yahudi sendiri tidak mengenal istilah “Perjanjian Lama”, justru karena mereka menolak Perjanjian Baru yang merupakan penggenapan dari Perjanjian Lama, oleh penjelmaan Kristus, Sang Allah Putera.

      Demikian keterangan saya, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  9. Hai Pak Stefanus dan Bu Inggrid,

    Kalian pernah tau kitab Perjanjian Baru terbitan Arnoldus Ende Flores kan? Yang dari dulu sampai sekarang jadi salah satu senjata utama para muslim untuk menyatakan Alkitab sudah dipalsukan. Kata-kata “ayat ini palsu” atau “ayat ini agaknya palsu” tidak saya temukan dalam penafsiran Alkitab katolik yang lain seperti Douay Rheims Bible dan New American Bible. Apakah uskup Ende salah memilih kosakata? Ayat-ayat yang tidak ada di naskah Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus, itu siapa yang menambahkan? Oknum Gereja Katolik kah? (Kita tau bahwa yang meng-kanonisasi Perjanjian Baru adalah Gereja Katolik sendirian) Kenapa seberani itu oknum tersebut?

    Tolong jelaskan secara singkat apa itu Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus. Mana yang lebih asli Codex Sinaiticus atau Codex Vaticanus?

    Boleh tidak merayakan Natal sebelum 25 Desember bersama umat denominasi lain (kristen lain)? Semua pastor yang saya tanya selalu melarang saya. Alasannya tidak memuaskan saya, misal “Merusak tatanan liturgi”, “Ibarat ulang tahun, tidak bisa dirayakan sebelum harinya”, dan sebagainya. Padahal perayaan Natal bersama denominasi lain kan tidak tergolong liturgi katolik. Kenapa malah dicampur-baurkan dengan masalah liturgi kita. Sewaktu saya tanya “Romo, emangnya ada to larangan resmi dari Vatikan untuk merayakan Natal sebelum 25 Desember sekalipun dengan umat denominasi lain”. Tolong jelaskan kepada saya. Saya perlu kepastian. Apakah dilarang oleh Katekismus Gereja Katolik? Apakah dilarang oleh Kitab Hukum Kanonik? Atau dilarang oleh dokumen Gereja yang lain? Saya perlu ajaran Gereja yang resmi dan definitif tentang larangan tersebut.

    Terima kasih.

    • Shalom Andreas,
      Pertama- tama maaf atas keterlambatan jawaban kami.

      1. Mengenai komentar Kitab Suci Perjanjian Baru terbitan Ende.

      Berikut ini tanggapan Romo Wanta akan Kitab Suci terbitan Ende Flores tersebut:

      “Setahu saya yang disetujui KWI terbitan bersama LAI dan LBI sekarang masih dalam editing dan perbaikan terjemahan Deuterokanonika. Terbitan Ende zaman dulu jadi mungkin rujukan ke sana, sekarang kurang dipakai meski ada catatan kakinya dan Depag Bimas Katolik pernah mencetaknya lagi. Pakailah selalu yang ada aprobasi dari LBI (KWI).”

      Terus terang, walaupun saya dan Stef pernah mendengar tentang kitab Perjanjian Baru terbitan Ende tersebut, namun kami tidak memilikinya, sehingga kami tidak bisa memberi komentar dengan lebih detail. Kami juga tidak tahu siapakah yang menyusun komentar yang berani mengatakan, “ayat ini agaknya palsu” dst, karena tidak seharusnya dikatakan demikian.

      2. Tentang Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus itu memang merupakan kumpulan naskah Kitab Suci yang diperkirakan ditulis pada abad ke- 4. Pada jaman abad awal tersebut, memang keberadaan kitab-kitab suci itu diturunkan dengan cara disalin di papyrus, dan melibatkan lebih dari satu orang penyalin. Maka memang wajar jika terdapat beberapa set salinan Kitab Suci. Sebagian ahli Kitab Suci memperkirakan bahwa Codex Vaticanus ditulis di Roma atau di Asia Kecil, namun umumnya para ahli mengatakan bahwa Codex Vaticanus ditulis di Mesir. Para ahli Alkitab, seperti Armitage Robinson percaya bahwa kedua Codex (Vaticanus dan Sinaiticus) ada bersama-sama di perpustakaan kuno. Codex Sinaiticus juga demikian, diperkirakan ditulis di abad ke -4, dan ditemukan di Bukit Sinai di St. Catherine’s Monastery oleh Constantine Tischendorf pada abad ke 19. Maka jika ditanya mana yang lebih asli, maka keduanya dapat dikatakan asli.

      Namun demikian, jika kita melihat fakta obyektif, Codex Vaticanus tetap merupakan kumpulan naskah yang terlengkap jika dibandingkan dengan Codex Sinaiticus. Walaupun begitu, Codex Sinaiticus sangat berguna karena dapat melengkapi teks asli yang “hilang”/ missing pada Codex Vaticanus, yaitu perikop Kej 1-46:28, 2 Sam 2: 5-7, 10-13, Mzm 27-136.

      Septuagint edisi Roma (1587) ditulis berdasarkan Codex Vaticanus, demikian pula edisi Cambrige, yang menggunakan Codex Sinaiticus dan Alexandrinus pada bagian-bagian yang kurang pada Codex Vaticanus. Selanjutnya tentang Codex Vaticanus, silakan membaca link ini, silakan klik; dan tentang Codex Sinaiticus, silakan klik di sini. Mohon maaf saya tidak dapat menerjemahkan semuanya, karena banyaknya pertanyaan lain yang masuk.

      3. Tentang boleh atau tidaknya merayakan Natal sebelum 25 Desember.

      Sepanjang pengetahuan saya, memang tidak ada peraturan tertulis yang melarang umat Katolik merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Yang ada adalah ketentuan memperingati Minggu Adven yang memang jelas diperingati setiap tahun, yang paling jelas terlihat di teks liturgi pada masa Adven dan pada teks Ibadat Harian (the Liturgy of the Hour). Pada Misa Masa Adven kita tidak menyanyikan/ menyebutkan Gloria (Kemuliaan) sampai pada Misa Malam Natal. Doa Ibadat Harian seminggu (7 hari, sejak 17 Desember) sebelum Natal juga menunjukkan satu rangkaian doa penantian akan kelahiran Mesias; sehingga jika Natal sudah dirayakan sebelum tanggal 25 Desember, maka akan terasa janggal. Maka benar ungkapan Romo yang anda tanya, bahwa perayaan Natal sebelum waktunya merusak tatanan liturgi. Dan kalau anda menjadikan liturgi sebagai bagian hidup rohani anda sendiri, maka akan dapat memahami mengapa umat Katolik tidak merayakan Natal sebelum waktunya. Para Bapa Gereja, seperti Paus St. Leo (440-461) dalam homili-nya yang ke-8 mengajarkan tentang masa Adven sebelum menyambut Natal, dan masa ini disebutnya sebagai masa persiapan untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus pada hari Natal, untuk diisi dengan puasa dan derma. Pengajaran yang serupa disampaikan oleh St. Caesarius, Uskup Arles (502-542) dan St. Gregorius Agung (590-604).

      Kitab Hukum Kanonik kann. 1249- 1253 memang tidak menyebutkan Masa Adven sebagai masa pantang dan puasa seperti pada masa Prapaska, namun Gereja Katolik tetap melestarikan pengajaran para Bapa Gereja tentang Masa Adven ini, yang intinya adalah mempersiapkan hati umat untuk meresapkan misteri Inkarnasi, yaitu Tuhan Yesus yang menjelma menjadi manusia (lih. Yoh 1:14, KGK 461) sehingga memang tidak dibenarkan jika umat Katolik merayakan Natal tanpa mempersiapkan diri secara rohani dengan pertobatan.

      Dengan adanya masa persiapan Natal yang merupakan masa pertobatan ini, maka konsekuensi logisnya adalah memang kita tidak merayakan Natal sebelum waktunya, karena jika kita melakukannya maka kita tidak mengindahkan makna masa penantian selama 4 minggu yang telah ditentukan oleh Gereja Katolik. Ini lebih kepada hal disipliner daripada doktrinal. Kita ketahui bersama bahwa adakalanya diadakan perayaan Natal ekumene, di kantor ataupun bersama keluarga, yang diadakan sebelum tanggal 25 Desember. Jika ini tidak dapat dihindari (karena bukan anda yang berhak menentukan waktunya atau anda tidak dalam kapasitas untuk menentukan harinya) maka menurut hemat saya, anda tetap dapat menghadirinya, demi mendukung semangat ekumene. Namun demikian, sebaiknya ini dilakukan setelah anda mempersiapkan diri sendiri terlebih dahulu secara rohani untuk menyambut Natal dengan menerima Sakramen Tobat. Selanjutnya, jika anda dalam kapasitas untuk menentukan tanggal perayaan Natal, misalnya anda ingin mengundang keluarga dan kerabat anda, atau anda aktif dalam kepengurusan di paroki ingin mengadakan Natal bagi para manula atau anak-anak; maka anda harus mengikuti ketentuan yang ditentukan oleh Gereja Katolik.

      Demikian informasi yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Saya punya kitab Perjanjian Baru terbitan Arnoldus Ende tersebut. Dan saya memang membaca kata-kata “ayat ini palsu” atau “ayat ini agaknya palsu” atau “ayat tidak asli”. Saya heran. Ada imprimaturnya segala juga. Saya yakin catatan-catatan kaki pengundang konflik tersebut disetujui penuh oleh Uskup Agung Ende.

        Ayat (berbahasa Indonesia) ini pun lolos dari filter LBI dan disetujui oleh KWI:
        Gal. 2:16 … tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. …
        (Kuedit seperlunya saja, untuk menunjukkan dan menekankan kata “hanya” yang ditambah-tambahi oleh LAI). Para uskup di KWI setuju-setuju saja. Bahkan mereka (para uskup Indonesia) mungkin nggak pernah berpikir bagaimana akibat lolosnya terjemahan ayat yang seenaknya tersebut. Itulah kenyataannya. Berapa banyak jiwa Katolik yang tersesat hanya demi mentoleransi saudara-saudara kita (putera-puteri Martin Luther).

        Kesan saya: para uskup Indonesia seluruhnya bersikap apatis pada pertumbuhan iman putera-puteri Gereja. Saya iri dengan gembala aliran-aliran Kristen yang sangat-sangat perhatian pada umatnya. Terus terang saya sangat sakit hati dengan perilaku para uskup Indonesia.

        • Andreas Yth

          Saya kira kita harus bijaksana untuk menyatakan bahwa Para Uskup bersikap apatis dalam pertumbuhan iman katolik. Itu tidak benar saya pribadi yang bekerja di KWI dan bersama teman-teman berusaha untuk bekerja keras dalam menumbuhkan iman umat lewat perangkat, animasi, menfasilitasi dan memberikan informasi yang berguna bagi umat di Keuskupan se Indonesia. Perihal Kitab Suci terjemahan yang dikeluarkan Arnoldus Ende saya minta anda menulis jelas pada Injil atau surat apa pasal berapa ayat berapa, dibagian mana, halaman kalau ada kepada saya. Supaya saya tanyakan ke LBI. Sekali lagi teks yang kita miliki sekarangpun belum sempurna terjemahannya jadi masih terus diadakan perbaikan. Saat ini tim gabungan LBI dan LAI bersama mengoreksi terjemahan yang salah dan LBI menggarap bagian Deuterokanonika, karena terbatasnya ahli dan waktu maka agak lama. Jika anda berada di Jakarta silakan datang ke KWI Cut Meutia 10 bertemu dengan saya di Lantai III Komisi Seminari nanti akan saya jelaskan jika pertanyaan anda jelas bagian mana. Saya yakin ayat tersebut juga belum pernah dibaca serius oleh seluruh umat katolik bahkan mereka tidak mengerti ada perbedaan ada kekeliruan. Kita yang paham hendaknya memberikan pengajaran yang benar ttg agama Katolik meskipun ada terjemahan yang masih keliru, tapi iman katolik diajarkan tidak boleh keliru. Karena ada dugaan bahwa yang menyesatkan pertama bukan letak kesalahan teks tapi orang yang mengajarkan yang menyesatkan. Demikian jawaban saya semoga anda masih bisa menerima penjelasan saya ini. Tuhan memberkatimu.

          salam
          Rm Wanta

  10. Y. Kristiawan on

    Selamat sore Ibu Inggrid Listiati dan juga semua suadaraku dalam Kristus…
    Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus karena telah menemukan situs ini. Banyak hal yang bisa dipelajari dari situs ini, memperkuat pengetahuan dan iman kita.
    Secara tidak benar saya mendownload isi situs ini dan membaca pada saat jenuh dijam kerja..semoga Tuhan berkenan mengampuni saya.
    Namun kerinduan saya untuk mengetahui lebih dalam terus ada.
    Bagi ibu Inggrid saya haturkan terima kasih dan salut..pengetahuan anda luar biasa. Dan bagi para penanya, saya juga mengucapkan terima kasih banyak, karena jawaban Ibu Inggrid kepada anda sangat berguna dan baik untuk dibaca dan dipahami.
    Tetap semangat dalam Yesus Tuhan kita yang hidup, agung dan kekal…
    Semoga Tuhan Yesus memberkati Ibu Inggrid dan saudara semua besrta keluarga.
    Amin.

    • Shalom Y. Kristiawan,
      Terima kasih atas kunjungan anda. Jika anda mau mengucapkan salut, sampaikanlah salut anda itu kepada Tuhan Yesus. Sebab pengetahuan yang ada pada kita tidak ada apa-apanya dengan kenyataan yang sesungguhnya yang ada pada Kristus. Kasih dan pengajaran Kristus sungguh melampaui segala akal, dan kita sebagai umat Katolik selayaknya bersyukur tanpa henti bahwa kasih dan pengajaran Kristus dijaga dan diteruskan dengan murni dan seutuhnya di dalam Gereja Katolik.
      Segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Tuhan.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  11. Julius Santoso on

    Ibu Inggrid yang dikasihi Tuhan.

    Ayah saya almarhum, pernah cerita, bahwa dia pernah melihat Alkitab dimana judul tulisan awal bukan ditulis Perjanjian Lama melainkan Wasiat Lama dan Perjanjian Baru ditulis Wasiat Baru (-/+ pada thn. 50 an).
    Kalau saya pikir kata wasiat adalah penentuan hak atas suatu benda (harta/warisan) yang dilakukan dengan kehendak yang memberi wasiat(= ditentukan oleh satu pihak saja).
    Sedangkan perjanjian dibuat oleh duabelah pihak untuk membuat perjanjian.

    Wasiat baru berlaku sesudah kematian yang memberi wasiat. Begitu pula dengan Alkitab, sesudah kematian Kristus, janji-janji Allah luhur didalamnya itu berlaku sepenuhnya bagi orang-orang beriman. Alkitab berisikan keselamatan dan kehidupan dan janji-janji Nya didunia ini untuk menuju kehidupan kekal. RasulPaulus dalam suratnya Ibr. 9:16-17 tidak mengatakan istilah perjanjian tetapi Wasiat :“Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup. Ibr. 9:16-17.

    Sedangkan di Perjanjian Lama maupun Baru banyak sekali dipakai istilah perjanjian, mungkin saja dalam hal ini karena terjemahan bahasa saja yang membedakannya.

    Pertanyaan saya :
    1. Sebetulnya pemakaian kata mana yang tepat : memakai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru atau Warisan Lama dan Warisan Baru ?. mohon disertakan bahasa asli dan perbedaannya.
    2. Mengapa Rasul Paulus memakai istilah Wasiat ?.

    Terima kasih atas penjelasannya.

    Salam Kasih Dalam Tuhan Yesus Kristus.
    Dari : Julius Santoso.

    • Shalom Julius,
      Sebenarnya "Perjanjian" di sini adalah terjemahan dari kata "Testament/ covenant" (Bahasa Inggris) atau berîth (Ibrani), atau diatheke (Yunani), yang menandai perjanjian yang dilakukan oleh Allah pertama kali dengan Abraham, dan kemudian dengan bangsa Israel, yang kemudian berlangsung terus dalam bangsa pilihan Allah yang baru yaitu Gereja-Nya. Perjanjian (diatheke) ini mempunyai arti yang mendalam sebab bukan berupa perjanjian biasa antara dua orang, tetapi merupakanpmerjanjian yang tidak dapat dibatalkan oleh kedua belah pihak.
      Pada jaman Rasul Paulus, memang kata diatheke juga dapat berkonotasi sebagai "last will". "Last will" inilah yang diterjemahkan sebagai "wasiat" dalam bahasa Indonesia, yang disebut dalah Ibr 9:16-17. Untuk makna "last will/ wasiat" inilah maka ayat 17 menjadi "make sense" yaitu bahwa supaya wasiat itu dapat diberikan, maka sang pemberi wasiat harus wafat terlebih dahulu. Demikian halnya, maka Kristus Putera Allah, Sang Pemberi Wasiat, wafat di kayu salib, agar Warisan-Nya yaitu penghapusan dosa dan kehidupan kekal dapat diberikan kepada umat manusia. Jadi Rasul Paulus menggunakan kata "wasiat" itu untuk menjelaskan makna "Perjanjian" tersebut dari sisi pandang yang lain, namun sebenarnya konteksnya tetap sama, yaitu Perjanjian antar Allah dan manusia.
      Maka dalam Ibr 9: 16-17 ini kata "Perjanjian" dijelaskan dari dua sisi, yaitu dari sisi makna ketetapannya (dari Nabi Abraham sampai seterusnya) dan dari sisi syaratnya, yaitu Sang Pemberi wasiat yang memberikan nyawa-Nya agar pihak kedua (umat manusia) dapat menerima apa yang dijanjikan.
      Jadi, terdapat dua konotasi kata diatheke tersebut, namun tetaplah lebih tepat kita menggunakan konotasi yang pertama yaitu "Perjanjian"/ testament/ covenant, karena itu yang lebih umum digunakan untuk menggambarkan makna diatheke di dalam Alkitab. Dalam Septuagint LXX, kata diatheke yang mengacu pada "Perjanjian"/ testament/ covenant digunakan sebanyak 350 kali. Maka saya rasa, lebih tepat menggunakan kata "Perjanjian" daripada "Warisan" untuk PL dan PB.
      Demikian keterangan dari saya, semoga bermanfaat.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

    • Shalom Wahyu,
      Pertama-tama, perlu diketahui bahwa istilah "Deuterokanonika"  ini baru lahir setelah abad ke 16, setelah jaman Reformasi Protestan. Sejak saat itu, Gereja Protestan menolak beberapa kitab dalam kanon Alkitab Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh Gereja Katolik sejak abad ke-4, yaitu sejak Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397). Jadi sebenarnya bukan Gereja Katolik yang ‘menambahkan’ kitab-kitab ini ke dalam Alkitab, tetapi sebenarnya, gereja Protestan yang mencoretnya/ mengeluarkannya dari Alkitab.
      Silakan membaca lebih lanjut di artikel di atas, untuk memperoleh gambaran umum tentang mengapa sampai terjadi perbedaan kanon Alkitab Katolik dengan Protestan (silakan klik)

      Kitab-kitab yang termasuk dalam kitab Deuterokanonika ini adalah:
      1) Tobit
      2) Yudit
      3) Kebijaksanaan Salomo
      4) Sirakh
      5) Barukh
      6) 1 Makabe
      7) 2 Makabe
      8) Kitab Pelengkap (disebut sebagai ‘tambahan’): Esther,
      9) Kitab Pelengkap (disebut sebagai ‘tambahan’): Daniel

      Alasan umumnya penolakan ini, karena menurut gereja Protestan kitab-kitab ini tidak asli, dan dituliskan dalam bahasa Yunani dan bukan Ibrani. Namun sebenarnya, anggapan ini tidak benar, sebab kitab Tobit dan Yudit dituliskan aslinya dalam bahasa Aramaic, mungkin juga dalam Ibrani, Barukh dan 1 Makabe ditulis dalam bahasa Ibrani, walaupun sebagian Kebijaksanaan dan 2 Makabe dalam bahasa Yunani. Tambahan Esther juga kemungkinan dituliskan dalam bahasa Ibrani, walaupun Tambahan Daniel dalam bahasa Yunani. Selengkapnya silakan klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Salam Damai.
        Mohon penjelasan lanjutan, kenapa kita harus menerima istilah Deuterokanonika? yang notabene adalah kitab yang dibuang oleh protestan? Jadi seakan-akan deuterokanonika adalah kitab2 yang ditambahkan kemudian oleh gereja Katolik.

        • Shalom Adhi FX,

          Sebenarnya pada abad ke- 16 saat lahirnya gereja Protestan, para tokoh Protestan membuang beberapa kitab dari kitab Perjanjian Lama, karena dipandang tidak sesuai dengan Teologi mereka. Mereka menyebut kitab- kitab ini dengan istilah yang berkonotasi negatif sebagai kitab- kitab Apokrif/ Apocrypha. Sedangkan Gereja Katolik lebih memilih untuk menggunakan istilah Deuterokanonika, yang terjemahan bebasnya adalah ‘kanon yang kedua’. Mengapa? Karena memang kitab- kitab ini pernah menjadi bahan perdebatan di abad- abad awal, dan kanonisisasinya ditetapkan kemudian setelah kitab- kitab lainnya dalam Perjanjian Lama (yang dikenal sebagai proto-canon).

          Namun pada saat kitab Perjanjian Lama dan Baru dikanonisasikan pada tahun 393 oleh Konsili Hippo dan 397 oleh Konsili Carthage (setelah didahului oleh dekrit dari Paus Damasus I), kitab- kitab Deuterokanonika tersebut sudah termasuk di dalam kanon Perjanjian Lama. Jadi tidak benar bahwa kitab- kitab Deuterokanonika tersebut baru ditambahkan kemudian. Sebab pada saat ditetapkannya keseluruhan Kitab Suci, kitab- kitab Deuterokanonika tersebut sudah ada dan menjadi kesatuan dengan keseluruhan kitab- kitab Perjanjian Lama.

          Adanya ‘perbedaan’ paham tentang kanon kitab- kitab Deuterokanonika tersebut terjadi pada abad pertama- kedua, dengan diadakannya kanon kitab- kitab Perjanjian Lama menurut para rabi Yahudi. Mereka berkumpul di Javneh/ Jamnia sekitar tahun 100, yang kemungkinan disebabkan oleh reaksi mereka terhadap Gereja yang menggunakan kanon Yunani (Alexandria). Alasan mereka tidak memasukkan seluruh kitab ini ke dalam kanon mereka (kanon Ibrani) adalah karena mereka tidak dapat menemukan ke-7 kitab Deuterokanonika tersebut dalam versi Ibrani. Sebagai catatan, para rabi ini juga menolak kitab- kitab Injil dan tidak memasukkan Injil ke dalam kanon kitab suci mereka.

          Gereja Katolik tidak mengakui keputusan para rabi Yahudi tersebut. Jangan kita lupa, bahwa mereka (para rabi Yahudi) tidak pernah menerima Kristus, ajaran Kristiani dalam kitab Injil maupun kitab- kitab Perjanjian Baru lainnya yang sudah ada sebelum kanon Ibrani ditetapkan. Bagaimana kita dapat mempercayai keputusan para rabi Yahudi untuk menentukan kanon Kitab Suci? Atau mengakui bahwa mereka dipimpin oleh Roh Kudus, padahal mereka malah telah menolak Kristus? Namun ironisnya, para tokoh reformasi Protestan mengacu kepada konsili Javneh sebagai salah satu dasar bahwa mereka membuang kitab- kitab Deuterokanonika tersebut.

          Demikian semoga menjadi jelas, bahwa bukan Gereja Katolik yang menambahkan kitab- kitab Deuterokanonika tersebut, melainkan gereja- gereja Protestan yang telah membuangnya dari Kitab Suci. Silakan membaca selanjutnya tentang kitab- kitab Deuterokanonika tersebut di artikel ini, silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. Pak Stef, Bu Ingrid,

    Saya rasa juga perlu dijelaskan bagaimana mengenalkan kitab suci kepada anak-anak, karena mengenalkan kitab suci kepada anak-anak sangat penting dalam pertumbuhan iman anak.

    Terima kasih

    Chris

    • Shalom Chris,

      Terima kasih atas usulannya untuk mengenalkan Kitab Suci kepada anak-anak. Saya tidak tahu apakah di Indonesia ada bahan-bahan untuk mengajarkan pokok-pokok iman Katolik kepada anak-anak. Kalau di Amerika, tersedia begitu banyak buku dan video yang mengajarkan tentang iman Katolik.  Buku ini disusun dengan metode cerita, dengan gambar-gambar yang menarik, dan bahasa yang dapat dipahami oleh anak-anak. Kadang di sini, saya juga beberapa kali membacakan cerita ini kepada keponakan- keponakan saya. Dan mereka sangat senang dengan cerita-cerita tersebut. Jadi, mungkin perlu dicari buku-buku yang mengajarkan iman Katolik kepada anak-anak yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Cobalah cari di toko buku Obor. Hal lain yang dapat dilakukan adalah mencari Alkitab untuk anak-anak, sehingga orang tua juga dapat menerangkan tentang Yesus dari cerita-cerita di Alkitab. Atau kalau mungkin juga mencari video-video  tentang Yesus, santa-santo, dll, sehingga anak-anak mempunyai ketertarikan terhadap iman Katolik.

      Pada dasarnya, kita harus memberikan beberapa pesan moral dan juga pada saat yang bersamaan memberikan pokok-pokok iman Katolik.

      1) Sebagai contoh, kalau anak kecil bertanya tentang peristiwa penyaliban, maka kita harus mencoba untuk memberikan fakta bahwa ada perbuatan jahat yang dilakukan manusia, dan ada perbuatan kasih yang dilakukan oleh Tuhan. Kalau anak telah berada pada “age of reason” atau mungkin 7-9 tahun, maka dia dapat membedakan baik dan buruk.

      2) Hal ini bisa diberikan beberapa analogi, kalau misalkan si anak sakit, seorang ayah atau seorang ibu akan bersedia melakukan apa saja agar anaknya dapat sembuh, termasuk kalau si orang tua harus bekerja lebih keras untuk membiayai anaknya ke rumah sakit. Atau kalau memungkinkan, orang tua bersedia menggantikan anaknya yang sakit, kalau itu dapat membawa kesembuhan kepada anak tersebut.

      3) Kita sebagai manusia tidak dapat melakukan hal ini, tapi Tuhan dapat melakukan apa saja. Dan inilah yang dilakukan oleh Yesus, yaitu memberikan kasih-Nya – yang jauh lebih besar dari kasih orang tua kepada anaknya – sehingga orang-orang di dunia ini mendapatkan kesembuhan dari sakit yang diakibatkan oleh dosa. Kita ingin menanamkan kepada anak tersebut, bahwa kasih Yesus begitu besar dan sempurna, dan kita harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Yesus dalam kapasitas kita masing-masing. Berikan contoh kepada si anak, bagaimana mengasihi dengan lebih baik: baik kepada saudara, teman, taat kepada guru, orangtua, dll.
      Dari sinilah kemudian kita harus menghubungkan bahwa dosa menyedihkan hati Tuhan, dan kita semua berusaha, termasuk si anak tersebut agar dapat melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk.

      4) Kita melihat bahwa hubungan antara orang tua dan anak dapat sering digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan manusia. Oleh karena itu, anak yang berada dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih akan dapat menerima konsep Tuhan yang penuh kasih – sampai mengorbankan Anak yang dikasihi-Nya untuk menebus dosa dunia (Yoh 3:16) – dengan lebih mudah.

      Demikian pemaparan singkat yang dapat saya berikan. Kalau ada yang bersedia dan mempunyai kemampuan untuk mengajarkan Yesus dan iman Katolik kepada anak-anak, maka saya dengan senang hati akan membuka satu bagian di katolisitas.org secara khusus untuk pengajaran bina iman. Saya minta maaf, pada saat ini kami belum dapat memenuhi untuk menulis artikel untuk anak-anak, karena keterbatasan waktu dan tenaga. Semoga suatu saat ada yang bersedia membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan
      stef – http://www.katolisitas.org

  13. shalom,

    sebagai warga katolik yg baru, saya masih pengin memperdalam kasih katolik dan iman katolik aku.
    Semoga romo, saudari Ingrid dan sodara Stefanus bisa membantu saya dalam mempertahankan iman katolik sewaktu diajuin pertanyaan oleh sodara2 dari gereja tetangga.

    Adapun pertanyaan aku adalah:

    1. Yohanes itu adalah murid terakhir dari Yesus yg menggantikan Yudas Iskariot. Tapi saya pernah membaca di alkitab, nama dari sang murid itu adalah Matias. Apakah matias itu adalah Yohanes?

    2. Tentang purgatory, sperti saya sangat yakin kalo purgatory itu adalah bener2 ada (ada pengalaman pribadi). Nah, saya sendiri selalu meyakinkan ke temen2 dari gereja tetangga soal purgatory, mereka tidak pernah percaya. Hanya ada satu org yg mulai percaya akan iman katolik, tapi dia masih ragu. Kembali dia menanyakan kepada saya; apakah binatang itu mati akan masuk ke api penyucian? Hal ini karena saya memberikan rangkuman soal buku Maria Simma (walau saya sendiri belom sempat membacanya). Bagaimana saya harus menjawabnya?

    3. Mengenai mujizat, yang sering sekali diagung-agungkan oleh gereja karismatik (baek karismatik katolik dan karismatik gereja tetangga ataupun gereja tetangga). Apakah mujizat itu segampang itu terjadi? Saya sendiri agak tidak setuju soal ini, karena napa mereka selalu membuat pas di acara gereja, seolah2 jd alat marketing. Bknkah Yesus pernah berpesan kepada kita, berdoalah di tempat yg sepi, maka Tuhan akan mendengarkan kita. Dan apakah saya salah kalo tidak setuju ama hal mujizat yg selalu dilakukan oleh gereja karismatik? Setau saya, gereja Katolik itu lebih menekankan penyembahan kepada Tuhan.

    Kalo ada hal yg salah, tolong diperbaikin. Sebab saya masih perlu belajar banyak.

    Terima kasih.
    felix

    • Shalom Felix,
      Berikut ini jawaban untuk pertanyaan anda:
      1) Apakah Yohanes murid terakhir = Mathias?
      Jawab: Dalam urutan kedua-belas rasul yang dipilih oleh Yesus, Yohanes disebut sebagai saudara Yakobus, anak Zebedeus (lih. Mat 10: 2; Mrk 3:17; Luk 6:14). Maka dalam urutan kedua belas rasul, Yohanes bukan disebut sebagai urutan yang terakhir; sebab di urutan terakhir adalah Yudas Iskariot. Namun setelah Yudas meninggal karena gantung diri, maka para murid memilih seorang yang lain untuk menggantikan tenpat Yudas. Hal ini diceritakan dalam Kisah Para Rasul 1: 15-26. Akhirnya yang dipilih adalah Mathias. Namun demikian, di antara para rasul, Yohanes adalah rasul yang paling akhir wafat, yaitu sekitar tahun 100, di pulau Patmos, di mana ia menuliskan kitab Wahyu.
      2) Apakah binatang bisa masuk surga? Purgatory?
      Jawab: Alkitab tidak menyebutkan dengan jelas tentang jiwa binatang setelah kematian. Sebab yang menjadi fokus dalam pemberitaan Injil adalah Keselamatan manusia, mahluk yang diciptakan Tuhan menurut gambaran-Nya (lih, Kej 1:27). Maka dapat dimengerti jika menurut St. Thomas Aquinas,  surga hanya ditujukan bagi mahluk spiritual, sehingga yang ada di sana adalah mahluk ciptaan Tuhan yang mempunyai jiwa rational yang bersifat abadi dan tentu, Tuhan sendiri. Sekarang pertanyaannya adalah apakah binatang mempunyai jiwa rational yang bersifat abadi [yang secara filosofis disebut sebagai 'subsistent']?
      Untuk ini kita melihat dahulu pengertian ‘substistent’ secara filosofis, yaitu: 1) eksistensinya berdiri sendiri; 2) bersifat abadi; 3) yang menentukan sifat individu dari substansinya.
      Dari pengertian di atas, St. Thomas menjawab, bahwa jiwa binatang tidak bersifat subsistent. St. Thomas dalam Summa Theologica I, q. 75, a. 3, mengutip
      De Eccl. Dogm. xvi, xvii: mengatakan, "Kita percaya bahwa hanya manusia saja yang mempunyai jiwa yang subsistent; sedangkan jiwa binatang tidak subsistent." Dalam hal ini ia mengambil dasar filosofis dari  Plato dan Aristoteles, namun menyempurnakannya atas dasar iman Kristiani. Maka, manusia adalah satu-satunya mahluk yang mempunyai jiwa spiritual,  yang dapat melakukan kegiatan akal budi, kehendak bebas, dan kemampuan perasa (intellect, will and sense) berdasarkan ratio. Binatang juga mempunyai jiwa, namun jiwa mereka merupakan komposit dengan badan mereka, sehingga hanya mempunyai kemampuan perasa (sense) berdasarkan naluri/ instinct.
      Kita mengetahui hanya manusia sajalah yang dapat mempunyai kemampuan untuk mengenal dan mengasihi Pencipta-Nya yaitu Tuhan Allah; dan memang kondisi inilah yang ada di surga saat kita memandang Allah Bapa di dalam Allah Putera (lih. 1 Yoh 3:2), oleh kuasa Roh Kudus-Nya. Kehidupan persekutuan dengan Allah Tritunggal ini merupakan kebahagiaan yang sempurna bagi kita manusia, dan ini tidak dapat dicapai oleh binatang, karena jiwa mereka tidak bersifat abadi, mereka tidak memiliki akal budi dan kehendak bebas yang memungkinkan mereka untuk mengenal dan mengasihi Tuhan Pencipta mereka, dan sebab mereka tidak diciptakan Tuhan menurut gambaran Allah, sehingga mereka tidak dapat menikmati persekutuan dengan Allah di surga seperti yang dialami oleh manusia. Dari Alkitab kita mengetahui bahwa kebahagiaan manusia di surga adalah sempurna, (lihat 1 Kor 2:9), maka kebahagiaan itu tidak berkurang dengan tidak adanya binatang di surga, atau seandainya ada binatang sekalipun, itu juga tidak menambah kebahagiaan kita. Karena jika Allah sudah ada di dalam kita, bersama dengan para orang kudus-Nya maka tidak ada lagi yang kita butuhkan. Jika seandainya ternyata ada binatang di surga (karena hal ini memang tidak dikatakan secara eksplisit di Alkitab), maka hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa yang dapat bersatu dengan Allah hanyalah manusia.
      Mengenai purgatory (Api Penyucian), saya sudah pernah menuliskannya di sini (silakan klik).
      3) Tentang mukjizat di ibadah karismatik. Tentang diskusi karismatik sudah pernah panjang lebar dibahas, dan berikut adalah jawaban penutup dari diskusi ini (silakan klik). Yang terpenting memang jangan kita mencari-cari dan mengagung-agungkan mukjizat jasmani, sebab yang terpenting bagi kita pengikut Kristus adalah sejauh mana kita diperbaharui di dalam iman, pengharapan dan kasih, dan terus bertumbuh di dalam Kristus, menuju kekudusan (tentang Apa itu Kekudusan, silakan klik di sini ) Karena pada akhirnya, hanya dengan kekudusan itulah kita dapat masuk surga dan memandang Allah
      (lih Ibr 12:14). Namun demikian, bukannya mukjizat itu tidak ada lagi sekarang ini. Mukjizat itu memang tetap ada, saya juga pernah mengalami, namun mukjizat itu bukan segala-galanya. Mukjizat itu hanya dipakai oleh Allah untuk membuka mata hati kita akan kuasa Allah yang mengatasi segalanya. Kita semua, baik yang menyaksikan, yang mengalami sendiri, atau yang dipakai Tuhan untuk menyalurkan berkat mukjizat dalam nama Yesus, harus semakin bertumbuh di dalam kerendahan hati. Kita harus menyadari bahwa mukjizat adalah pemberianTuhan semata-mata, dan bukan karena jasa manusia. Maka selanjutnya, yang terpenting adalah bagaimana membalas kasih Tuhan itu, dan dengan demikian kita dapat lebih mengasihi Tuhan dan sesama, demi kasih kita kepada Tuhan. Bagi kita orang Katolik, karunia kasih Allah yang sempurna kita terima di dalam Ekaristi, sehingga jika kita mau sungguh bertumbuh dan berakar di dalam Tuhan, kita harus lebih tekun mengikuti Misa Kudus; tentu dengan persiapan batin yang baik.

      Maka kembali ke soal mukjizat, mari, jangan jadikan mukjizat sebagai seolah-olah ‘marketing’ kegiatan Gereja, tetapi jadikan hidup kita yang penuh kasih sebagai alat ‘marketing’ nya (jika kata ini maksudnya adalah untuk menarik orang datang kepada Yesus), sebab itulah sendiri yang dipesankan oleh Yesus, "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh 13:35). Ini suatu tantangan bagi kita semua, baik yang sudah lama menjadi murid Kristus, ataupun yang masih baru: Apakah hidup kita sudah sesuai dengan pesan Yesus ini?
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  14. Yth Katolisitas,

    Saya ingin bertanya mengapa Yohanes bisa menjadi murid yang paling dikasihi Yesus?

    terima kasih

    Tuhan memberkati:)

    Chris

    • Shalom Chris, Terima kasih atas pertanyaan mengapa rasul Yohanes dapat menjadi murid yang paling dikasihi Yesus, mungkin lebih tepatnya “murid yang dikasihi Yesus“. 1) Kita dapat melihat dalam beberapa referensi di Alkitab yang menyatakan bahwa rasul Yohanes menyebut dirinya sebagai murid yang dikasihi-Nya, sebagai contoh:

      Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.” (John 13:23)

      Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” (Yoh 19:26)

      Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” (Yoh 20:2)

      Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.” (Yoh 21:7)

      2) Hanya rasul Yohanes yang mengatakan bahwa dia adalah murid yang disayangi oleh Yesus, seperti yang terlihat di ayat-ayat di atas. Hal ini bukan berarti bahwa Yesus tidak menyayangi murid-murid yang lain. Namun pernyataan ini adalah suatu pernyataan dan ekpresi akan adanya suatu hubungan yang begitu erat dan penuh dengan intimasi antara Yesus dan rasul Yohanes. Sama seperti saya dapat mengatakan bahwa saya adalah anak yang dikasihi oleh orang tua saya. Kepercayaan ini lahir karena saya mempunyai hubungan yang khusus dengan orang tua saya, dimana saya yakin bahwa mereka mengasihi saya dan saya juga mengasihi mereka. Inilah kepercayaan yang lahir dari hubungan kasih. Hubungan kasih yang murni inilah, yang menyebabkan rasul Yohanes, bersama dengan Bunda Maria dan Maria Magdalena dapat teguh berdiri di kaki salib Kristus. Kasih ini juga yang menyebabkan Yesus mempercayakan  Bunda Maria, ibu-Nya yang sangat dikasihi-Nya, kepada Yohanes, yang merupakan wakil dari semua orang yang percaya kepada Kristus.

      3) Namun, apakah Yesus mengasihi Yohanes lebih dari murid-murid yang lain? Saya tidak tahu. Namun satu hal yang pasti bahwa Tuhan mengasihi seluruh ciptaan-Nya, namun dengan derajat yang berbeda-beda. Kita akan lebih mudah menerima kalau Tuhan lebih mengasihi manusia daripada tumbuhan, binatang, dan alam raya. Namun apakah Tuhan mengasihi manusia secara sama atau dengan derajat yang berbeda? St. Thomas Aquinas menjawab “Tuhan mengasihi manusia dengan derajat yang berbeda“, seperti yang diuraikannya di dalam Summa Theologica, I, q. 20, a. 3; q. 4, a. 3. Oleh karena itu, maka orang yang mempunyai karunia yang lebih disebabkan karena Tuhan memberikan karunia yang berlimpah kepada orang tersebut dan bukan karena perbuatan orang tersebut. Kita dapat melihat pada perumpamaan talenta, dimana Tuhan secara bebas dan dalam kebijaksanaan-Nya memberikan talenta yang berbeda-beda kepada tiap-tiap orang. Dan pada akhir dari perumpamaan tersebut, kita dapat melihat bahwa karunia, kasih, talenta yang diberikan disertai dengan tanggung jawab untuk mengembangkannya. Orang mungkin akan terkejut kalau mendengan bahwa Santo Fransiskus dari Asisi yang diberi karunia oleh Tuhan secara berlimpah berkata bahwa dia adalah orang yang paling berdosa di dunia ini. Namun lebih lanjut dia mengatakan bahwa seandainya Tuhan memberikan karunia yang sama kepada orang lain seperti yang dia terima, mungkin orang lain tersebut akan dapat mengembangkannya dengan lebih baik lagi. Konsep ini membuka suatu kenyataan bahwa “Tuhan adalah segalanya” dan “kita bukanlah apa-apa“. Kesadaran inilah yang disebut “kerendahan hati“, karena kita menyadari bahwa apa yang ada pada kita sesungguhnya semua adalah berupa ‘pemberian’/ karunia. Oleh karena itu, menjadi suatu misteri apakah seseorang dikasihi oleh Tuhan melebihi yang lain, karena ini adalah kebijaksanaan Tuhan. Yang kita lakukan adalah bersyukur bahwa seseorang dikasihi Tuhan lebih daripada kita, karena orang tersebut dapat memberikan kontribusi lebih untuk kebaikan bersama, membangun Gereja, dan yang terpenting adalah memuliakan Tuhan. Kita juga harus beryukur akan kasih Tuhan kepada masing-masing dari kita, yang dibuktikan-Nya dengan kerelaan-Nya untuk mati di kayu salib untuk kita. Mari bersama-sama kita mensyukuri kasih Tuhan, dan meniru teladan rasul Yohanes untuk mempercayai-Nya dengan keyakinan penuh. Mari, kita membiarkan kasih Tuhan untuk meraja di dalam hati kita, sehingga memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa membalas kasih Tuhan, dengan cara melakukan seluruh perintah-Nya, yang dapat disarikan dalam “hidup kudus“, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama demi kasih kita kepada Tuhan. Salam kasih dalam Kristus Tuhan, 

      stef – http://www.katolisitas.org

  15. Hai,
    1.Terima kasih di atas artikelnya,sangat menarik dan membantu.
    2. Minta pandangan saudara untuk hujah Ahmed Deedat yang mengatakan bahawa ‘pelbagai versi mennyebabkan ketulenan Kitab suci diragui’.Beliau mempersoalkan adakah Kitab suci ini Firman Allah sedangkan dalam masa yang sama ada versi Katolik,versi protestan dan versi Raja James.

    Terima kasih.

    • Shalom Semang,
      Jika kita mengakui bahwa Alkitab ditulis dengan melibatkan banyak orang pilihan Allah dalam kurun waktu ribuan tahun seperti yang telah saya tuliskan dalam artikel Perkenalan dengan KS bagian 1, maka sebenarnya kita dapat mengerti mengapa terjadi perbedaan-perbedaan dalam salinan teks Kitab Suci. Namun kita perlu bersyukur, bahwa perbedaan tersebut bukan sesuatu yang bersifat fatal, dan tidak mengubah makna Alkitab, dan kita tetap percaya bahwa Kitab Suci adalah Sabda Tuhan. Memang, dalam sejarahnya, terdapat upaya orang-orang menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bermacam bahasa, dan di sinilah terjadi sedikit perbedaan-perbedaan cara menyampaikannya. Sesungguhnya hal ini akan terjadi pada semua karya tulis yang diterjemahkan, tidak saja pada Kitab Suci, sebab terjemahan dapat melibatkan sedikit pergeseran arti yang tidak sama persis dengan maksud bahasa aslinya.
      Fakta sejarah menyatakan bahwa dari Gereja Katolik-lah kita memperoleh Alkitab yang kita kenal sekarang (46 kitab PL dan 27 kitab PB). Umat Protestan, mengikuti pendapat Martin Luther, memiliki Kitab Suci yang berbeda dari Katolik, hanya dari segi jumlah kitabnya saja, yaitu mereka hanya mengakui 39 kitab PL, selebihnya sama. Hanya saja kekecualian, pada terjemahan dibuat oleh Luther, untuk ayat Rom 3:28, ia menambahkan kata, "alone/ saja", sehingga bunyinya demikian, "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman saja (tambahan Luther), dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat."
      Tetapi hal ini tidak nampak dalam Alkitab kita sekarang (edisi bahasa Indonesia, maupun edisi bahasa Inggris secara umum), yang tetap diterjemahkan tanpa kata "saja", seperti pada teks aslinya.
      Mengenai Alkitab versi King James, kita ketahui bahwa versi itu baru ditulis pada sekitar tahun 1604, dicetak 1611, atas perintah Raja Inggris Henry VIII. Raja Henry sendiri memutuskan untuk keluar dari kesatuan dengan Gereja Katolik dan mendirikan sendiri gereja Inggris, dan ia sendiri menjadi kepalanya. Maka dituliskanlah versi King James atas perintahnya, yang setahu saya, tidak banyak berbeda dengan Alkitab Katolik (perbedaannya lebih pada gaya bahasanya); hanya saja jumlah kitab pada PL hanya 39, seperti dalam kitab Protestan lainnya.
      Saya percaya kitab suci manapun jika diterjemahkan dalam bermacam bahasa akan mengalami hal yang sama. Bahkan sekarang kita melihat Kitab Suci terjemahan bahasa sehari-hari, yang sudah pasti tidak persis sama dengan aslinya. Namun, itu tidak mengubah kenyataan bahwa prinsip pengajaran yang disampaikan berasal dari Allah, dan karenanya kita mengakui bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah. Aneka bentuk terjemahan hanyalah upaya manusia untuk menyampaikannya kebenaran tersebut. Oleh karena itu, bagi kita umat Katolik, kita tidak hanya mengandalkan Kitab Suci, namun juga Tradisi Suci dan Magisterium (pihak wewenang mengajar Gereja) yang menjamin bahwa warta kebenaran itu diartikan dengan benar sesuai dengan maksud Kitab Suci itu ditulis.

      Untuk membaca lebih lanjut tentang topik ini, Stefanus pernah menjawabnya di sini (silakan klik).

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati

  16. Yth Katolisitas,

    Banyak orang mengatakan 666 adalah angka sesat. Tapi apakah kita harus antipati dengan angka 666 itu? dan menganggap angka 666 itu adalah angka sesat? Seperti dalam Kitab Wahyu 13 : 1 – 18 yang isinya sulit dimengerti. Sebetulnya apa maksud dari ayat tersebut? Terima kasih.

    Tuhan memberkati:)

    • Shalom Chris,
      Ya memang terdapat bermacam tafsiran mengenai angka 666 yang terdapat dalam Wahyu 13:18 itu, dan sesungguhnya tafsiran kitab Wahyu secara keseluruhan. Saya menganjurkan agar kita memegang apa yang menjadi tafsiran Gereja Katolik.
      Berikut ini adalah penjelasan Wahyu 13:18, yang saya ringkas dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. by Dom Orchard, p. 1203- 1205:

      1. Seekor binatang yang keluar dari dalam laut dengan 7 kepala dan 10 tanduk adalah Kerajaan Kota Roma.  Tujuh kepala di sini bermakna ganda: 1) 7 gunung di Roma 2) 7 raja-raja Romawi, mulai dari Kaisar Agustus, Tiberius, Gaius, Claudius dan Nero(n), dilanjutkan oleh Vespasian dan Titus. Domitian adalah yang ke-8, ialah yang hidup pada jaman Rasul Yohanes menuliskan kitab Wahyu, dan ialah yang dikenal sebagai "Kaisar Nero yang hidup kembali" karena kekejamannya yang menyerupai Nero.
      Kesepuluh tanduk di sini (seperti yang juga disebutkan dalam Dan 7:7) adalah kerajaan-kerajaan sekutu Roma.

      2. Hujat yang disebutkan (ay.5) oleh kaisar ini (contohnya Domitian) adalah menganggap dirinya Allah.

      3. Binatang lain yang disebutkan pada ay. 11 adalah kekuasaan sipil dan religius di Asia.

      4. Tanda-tanda yang dashyat pada ay. 13-15: Menurut hasil penemuan patung-patung Mithraic, ditemukan tabung-tabung di dalam patung tersebut yang membuat seolah patung-patung itu mengeluarkan api. Alexander Abonoteichos, orang Asia yang hidup dalam jaman Rasul Yohanes, membuat patung naga yang besar, dengan topeng yang membuatnya seolah-olah dapat berbicara.

      5. ay. 16. Semua orang Yahudi yang tunduk pada kaisar pada waktu itu diberi tanda cap dewa Dionysos. Ini adalah tanda yang menjadi lawan kontras dari tanda cap di jiwa kita yang kita terima melalui Pembaptisan.

      6. ay. 17. Orang Kristen yang tidak mempunyai cap tersebut, dikucilkan/ diboykot.

      7. ay. 18. Arti angka 666 tidak terlepas dari kenyaaan bahwa huruf Yunani dan Ibrani juga menunjukkan angka. Contohnya alpha/ aleph =1, beta/ beth=2, dst. Maka nama Yesus atau IESOUS menurut huruf Yunani jika dijumlahkan adalah 888. Nah 666 menunjuk jumlah huruf Kaisar Neron (666). Nah menurut arti angka dalam Kitab Suci, 7 adalah angka sempurna, namun 8 adalah angka yang jauh melebihi kesempurnaan yang merupakan angka Messianic. Diulangnya 3 kali itu untuk menunjukkan kepenuhan/ tingkat kelengkapan. Maka angka 666 diartikan sebagai angka yang tidak sempurna, ketidak sempurnaannya diperkuat dengan pengulangan sebanyak 3 kali; walaupun kelihatannya mendekati sempurna. Angka 666 diartikan sebagai angka Anti-Kristus, yang mengacu pada Kaisar Neron dan Kaisar Domitian yang diberi julukan sebagai ‘Kaisar Nero yang hidup kembali’ karena kekejamannya menyerupai Nero. Maka, angka 666 melambangkan juga untuk semua kaisar, penindas, atau siapapun yang mengambil peran sebagai Anti-Kristus sepanjang jaman. 

      Demikian yang dapat saya sampaikan tentang penjelasan singkat tentang Wahyu 13:1-18. Maka dengan melihat makna 666 yang sedemikian, memang kita sebaiknya tidak bermain-main dengan angka tersebut, bukan karena tahayul, tetapi karena justru kita memahami maknanya di dalam Alkitab yang maksudnya adalah Anti-Kristus.

      Semoga uraian di atas menjawab pertanyaan Chris.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan, 
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Yth Katolisitas,

        Terima kasih info/penjelasan tentang angka 666 tersebut. Web ini stngguh berguna bagi saya. Tuhan memberkati

        christianto

      • Shalom B. Ingrid,
        Bisakah kitab Wahyu dianggap sebagai ramalan/nubuat untuk masa yang akan datang? Jadi sebelum kedatangan Tuhan Yesus yang kedua akan ada penyesatan dan kesengsaraan yang luar biasa, lalu ada pertempuran besar tentara surgawi dengan bala tentara setan dan kemudian Tuhan Yesus datang dan semuanya menjadi baru? Saya mendengar (tidak tahu kebenarannya berapa persen) bahwa ada upaya manusia untuk memasukkan microchips ke dalam tangan kanan manusia (mungkin nantinya juga di dahi). Chips itu bisa berisi segala informasi identitas orang tsb dan sebagainya, sehingga seperti yang dikatakan oleh Kitab Wahyu bahwa jika orang yang tidak mempunyai tanda tersebut maka orang tsb tidak bisa membeli atau menjual (Why 13:16-18) atau ada yang mengatakan bahwa tanda itu adalah bar code dimana kode batang awal, tengah dan akhir dari setiap bar code adalah angka 6. Semuanya itu hanya dicocok-cocokkan saja atau memang sudah diramalkan/dinubuatkan di Kitab Wahyu? Terima kasih

        • Shalom Chandra,
          Memang sejauh ini kita melihat beragam interpretasi dari Kitab Wahyu, terutama mengenai perikop Why 13:1-18. Adanya bermacam interpretasi ini juga diakui oleh komentator dalam buku A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard yang saya kutip di jawaban saya terdahulu kepada Chris. Namun sejauh yang saya ketahui, interpretasi yang dipegang oleh para komentator Katolik adalah seperti yang dipaparkan dalam buku tersebut, yang telah saya jabarkan sebelumnya. Jadi hal mengenai chips yang dimasukkan di tubuh, dan ada bar code, dst. itu sebenarnya merupakan interpretasi dari kalangan non-Katolik. Karena memang Kitab Wahyu ini sarat dengan simbol-simbol dan gaya bahasanyapun banyak memakai kiasan, maka banyak para ahli kitab suci berusaha menafsirkannya, dan dapat mempunyai pengertian yang berbeda-beda. Memang secara khusus, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada ajaran resmi Magisterium yang berhubungan dengan perikop ini, namun menurut hemat saya, cukuplah bagi kita untuk memegang interpretasi yang disetujui oleh pihak otoritas Gereja Katolik, yang dalam hal ini telah saya kutip dari Buku Dom Orchard tersebut.

          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          Ingrid Listiati

  17. Julius Santosa on

    Apakah Konsili di Javneh/Jamnia dan Kanon Perjanjian lama tersebut diatas resmi?. Ataukah sebagai motos konsili saja?.

    Karena setelah kehancuran Yerusalem (A.D.70), sebuah perserikatan guru-guru agama didirikan di Jabneh; badan ini dianggap menggantikan Sanhedrin, meskipun [badan ini] tidak memiliki karakter perwakilan atau otoritas nasional. Tampaknya salah satu subyek yang didiskusikan diantara para rabbi adalah status dari buku-buku Alkitab tertentu (sebagai contoh, Pengkhotbah dan Kidung Agung) yang kanonitas-nya masih terbuka untuk dipertanyakan pada abad pertama. Pandangan bahwa pada sinode Jabneh tertentu, yang diadakan sekitar 100 AD, yang dengan final menetapkan batasan-batasan dari kanon Perjanjian Lama, diutarakan oleh H.E. Tyle; meskipun [pandangan tersebut] beredar luas, tidak ada bukti yang meneguhkannya”

    Menurut Oxford Dictionary of the Christian Church, “konsili” di Javneh pada tahu 90 bahkan bukanlah suatu konsili “resmi” dengan otoritas mengikat untuk membuat keputusan seperti itu.

    • Shalom Julius,
      Ya, memang ‘konsili’ Javneh/ Jamnia tersebut tidak terlalu populer bahkan di kalangan kaum Yahudi sendiri. Ditinjau dari segi resmi atau tidaknya, maka kita perlu mendefinisikan dulu arti kata resmi. Jika resmi diartikan sebagai menyuarakan pendapat semua kaum Yahudi tentang kanon Kitab suci PL, maka jawabannya tidak, demikian juga jika kita tinjau dari sisi Gereja Katolik, konsili ini tidak resmi, karena bukan merupakan konsili Gereja Katolik. Jika resmi diartikan sebagai hasil ketetapan Sanhedrin, maka hasil ketetapan itu mungkin dapat dikatakan resmi bagi kelompok tersebut. Memang karena terbatasnya kaum Yahudi yang mengetahui hasil pertemuan Javneh ini, maka sulit dicari peneguhannya. Sebenarnya malah kata ‘konsili’ di sini tidak tepat, sebab yang diadakan bukan pertemuan yang diadakan berkala dari para pemimpin Yahudi secara umum (seperti arti konsili dalam Gereja Katolik), namun merupakan sekelompok pemimpin Yahudi yang dikatakan sebagai Sanhedrin dari sekolah rabbi. Sejarah tidak mencatat tahun yang pasti, ada yang mengatakan tahun 90 ada yang hanya mengatakan sebelum tahun/ sekitar tahun 100.

      Terima kasih atas tambahan keterangan anda.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati

Add Comment Register



Leave A Reply