Perkawinan in fieri dan in facto esse

68

Prinsip dasar Perkawinan

Allah sendiri menetapkan perkawinan dan meneguhkannya dengan hukum-hukum-Nya (bdk. Kej. 1: 27-28; 2; 18-24). Tugas Gereja adalah menjaga lembaga perkawinan itu dan mempertahankan hukum-hukum perkawinan baik yang bersifat kodrati, ilahi maupun yang positif. Gereja tidak bisa mengubah ketetapan itu tetapi dia bisa mencapai suatu pemahaman yang lebih lengkap akan hukum-hukum itu. Selain bermaksud untuk mencegah perkawinan yang tidak sesuai dengan hukum Gereja. Prinsip dasar perkawinan dapat dilihat dalam isi kanon 1055, KHK 1983:

§1: Perjanjian (foedus) perkawinan dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah kepada kesejahteraan suami-isteri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen,

§2: Karena itu antara orang-orang yang dibaptis tidak dapat ada kontrak perkawinan sah yang tidak dengan sendirinya sakramen.

Perkawinan ditetapkan sebagai suatu kebersamaan seluruh hidup (communio totius vitae), yang dibangun antara seorang pria dan seorang wanita, yang karena kodratnya diarahkan pada kebahagiaan dari pasangan itu sendiri dan pada kelahiran dan pendidikan anak. Persatuan antara seorang laki-laki dan perempuan itulah yang menjadikan suatu perkawinan sehingga memenuhi syarat sebagai prinsip dasarnya.

Kebersamaan itu mengandung pemberian diri dari pasangan yang bersangkutan, yang mengandaikan adanya saling menerima dan memberi antara satu dengan yang lain, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun kebersamaan itu tidak bisa ditetapkan secara mutlak sebab kebersamaan itu bisa digambarkan sebagai hubungan antara suami-isteri yang menurut penilaian umum suatu budaya tempat pasangan itu hidup dan dihayati secara manusiawi.

Allah memberikan pada persatuan ini tidak hanya strukturnya yang tidak bisa diubah, tetapi juga fungsi persisnya. Dia melengkapi persatuan itu dengan kebaikan dan tujuannya sendiri. Kebaikannya terletak dalam nilai-nilai yang membuat suatu hidup perkawinan itu layak dipilih. Tujuannya adalah tanggungjawab yang harus dipenuhi. Kebaikan (bonum) bagi pasangan bertepatan dengan dan dapat dirangkum dalam dua hal yakni kebahagiaan pasangan itu dan kebahagiaan

Persatuan hati

Persatuan hati atas dasar cinta suami-isteri merupakan core (inti/nucleus) dari perkawinan, bisa dikatakan sebagai kekuatan rohani untuk saling belajar memahami, memberi dan menerima, mendukung dan memberi perhatian, saling mengampuni dan membantu pasangan mencapai kepenuhan manusiawi. Persatuan hati dari pasangan membentuk persekutuan seluruh hidup, baik secara fisik (physical intimacy) maupun emosi (emotional intimacy) dan bahkan spiritual (spiritual intimacy). Hidup perkawinan menjadi utuh jika 3 dimensi tersebut dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari pasangan suami istri. Persatuan hati itu nyata dalam hal dialog, persatuan fisik dan dalam doa bersama dengan pasangannya, termasuk dengan anak-anak mereka.

Perkawinan in fieri dan in facto esse

Perkawinan in fieri adalah jalan masuk ke dalam status menikah melalui perjanjian perkawinan. Inti dari perkawinan in fieri adalah kesepakatan nikah. Sedangkan perkawinan in facto esse adalah status perkawinan itu sendiri. Perkawinan in facto esse intinya adalah hubungan (relasi) suami isteri yang menjadi sumber hak dan kewajiban mereka.

Kanon 1055, §1, menegaskan kembali ajaran Gereja yang dipandang sebagai salah satu butir iman Katolik, bahwa perjanjian perkawinan dari dua orang yang dibaptis telah diangkat oleh Kristus ke martabat sakramen. Hal itu berarti bahwa, Kristus sendiri telah menentukan bahwa perjanjian perkawinan dari dua orang kristen tak hanya harus dihidupi menurut pola persatuan Kristus sendiri dengan Gereja-Nya yang setia tak terputuskan dan tanpa syarat, tetapi juga harus menjadi gambaran dari hubungan itu. Pasangan suami isteri tersebut berada dalam keadaan siap berpartisipasi dengan cara baru dalam aliran rahmat yang menghidupkan hubungan itu dan mengarahkan mereka untuk menemukan persatuan dengan Tuhan dalam perkawinan mereka.

Ketika mereka menyatakan kesepakatan nikah (matrimonium in fieri) mereka merupakan simbol kemiripan baru dengan Kristus. Mereka saling memberikan diri dan menerima untuk hidup sebagai suami isteri. Mereka menjadi model konkrit hubungan Kristus dengan Gereja-Nya. Hubungan suami isteri yang nyata dalam hidup sehari-hari (matrimonium in facto esse) menandakan sakramentalitas perkawinan yang menjadi tindakan kultis dan menyelamatkan dari Kristus. Suami isteri menerima rahmat dari Kristus bukan karena iman penerima sakramen melainkan karena keunggulan kuasa ilahi yang diberikan Kristus dalam ibadat perayaan imam (ex opere operato). Sakramen perkawinan yang diterima itu bukan otomatis menerima rahmat. Perlu juga kehendak untuk menerimanya, untuk mendatangkan buah berlimpah. Maka kehidupan perkawinan kristiani yang diangkat ke martabat sakramen adalah jalan pengudusan untuk suami isteri dan anak-anak mereka.

Namun sebaliknya jika salah satu pasangan nikah dapatkah menjadi sakramen jika terjadi salah satu yang dibaptis itu tidak mempunyai iman? Maka seruan apostolik Familiaris Consortio, no. 68, dari Paus Yohanes Paulus II dapat menjawab persoalan itu. Inilah pegangan pastoral kita: sakramen perkawinan memiliki unsur khas yang membedakan dari sakramen lainnya yakni sakramen yang tercakup dalam tata penciptaan sendiri. Perjanjian nikah sendiri yang diadakan oleh sang Pencipta “pada awal mula”. Maka dari itu keputusan seorang laki-laki atau perempuan untuk menikah sesuai dengan rencana ilahi. Dengan kata lain, keputusan kedua mempelai melalui persetujuan nikah tidak dapat ditarik kembali. Mereka mempertaruhkan seluruh hidup dalam cinta kasih yang tidak terpisahkan serta kesetiaan tanpa syarat. Akan tetapi jika segala usaha pasangan-pasangan tunangan menunjukkan bahwa secara eksplisit dan formal menolak apa yang dimaksudkan oleh Gereja, gembala jiwa tidak dapat menerima mereka untuk merayakan pernikahan. Oleh karena itu, syarat iman menjadi penting karena menjadi arah perjalanan pasangan suami-isteri sesuai dengan ketulusan intensi mereka. Sudah pasti rahmat Kristus akan mendukung dan menopang kehidupan mereka.

Share.

About Author

Romo RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. adalah Hakim Tribunal Keuskupan Denpasar dan Regio Gerejawi Nusra, Sekretaris Komisi Seminari KWI, BKBLII dan pengurus UNIO Indonesia. Lulusan Fakultas Hukum Gereja di Universitas Pontifikal Urbaniana, Roma 2001.

68 Comments

  1. Ibu Ingrid.
    Shalom..sekali lagi saya ingin menanyakan sumber kuasa bagi pasangan yang berkawin dalam gereja katolik untuk mendpatkan surat nikah gereja ?

    • Shalom Adrain,
      Mohon maaf saya kurang paham atas pertanyaan Anda. Sebab menurut saya adalah sesuatu yang wajar, jika pasangan sudah menikah secara sah di gereja Katolik (menurut ketentuan hukum Gereja Katolik), maka otomatis paroki yang bersangkutan akan mengeluarkan surat Perkawinan, yang menyebutkan tanggal perkawinan, nama pasangan, nama imam, nama para saksi, dan ditandatangani oleh imam yang bersangkutan. Silakan Anda menanyakan hal ini kepada imam/ pastor paroki Anda.

      Mohon Anda perjelas apakah maksud Anda dengan istilah “sumber kuasa”? Sebab jika segala persyaratan sudah dipenuhi, maka tidak ada yang menghalangi pasangan itu untuk memperoleh surat perkawinan mereka.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Ponsianus Oloan Aritonang on

    1.) Saya seorang pria, 40 tahun dan sudah menjadi Katolik sejak saya bayi. Pada usia 38 tahun saya menikah dengan wanita pilihan saya sendiri. Akan tetapi, saya menikahi wanita yang berasal dari Gereja di luar Katolik. Dan saya menikah di Gereja itu. Walau bukan di Gereja Katolik, pernikahan saya dilakukan oleh Romo, sekaligus oleh Pendeta Gereja itu.
    Yang menjadi pertanyaan saya, apakah saya sudah termasuk menerima “Sakramen Pernikahan?”, mengingat saya tidak menikah di Gereja Katolik, tapi saya tetap dilayani oleh Romo dan Pendeta.
    Mohon bimbingannya ?

    2.) Setelah pernikahan berjalan 6 tahun, saya baru menyadari, ternyata akta nikah yang dikeluarkan oleh Gereja itu, ada terdapat kesalahan di bagian JANJI SUAMI (kata kata yang diketik di JANJI ISTRI, di “Copy-Paste” dan tidak diperiksa lagi, dijadikan JANJI SUAMI.
    Sudah 3 minggu yang lalu sejak hari ini, saya menginformasikan tentang kesalahan ini, tapi hingga sekarang belum ada jawaban dari pihak GEREJA. Apa yang harus saya lakukan ? Apakah saya harus menuntut GEREJa itu atau Bagaimana ?

    Tolong saya yang sedang bingung ini.
    Terima kasih.

    • Ponsianus Yth,

      Pernikahan Anda yang diteguhkan di luar Gereja Katolik harus mendapat dispensasi dari Uskup, selain itu perlu izin menikah karena pada prinsipnya seorang yang Katolik dilarang menikah dengan orang yang non- Katolik/ berbeda gereja dengannya (perkawinan campur). Nah apakah saat itu sudah dilakukan ke dua hal ini? Silakan ditanyakan ke pastor yang mendampingi pendeta ketika perkawinan Anda diteguhkan oleh pendeta di Gereja Protestan.

      Prinsipnya, perkawinan tetap eksis dan berjalan dengan sah, selama belum ada bukti yang menggagalkan keabsahan perkawinan itu. Oleh karena itu jangan cemas dan bingung. Demikian pula soal dokumen yang keliru tersebut, tidak mengubah keabsahan perkawinan Anda jika semua terpenuhi sesuai norma kanonik, dalam hal ini, jika Anda telah menerima dari pihak Keuskupan dispensasi dari forma kanonik dan izin menikah beda gereja tersebut.

      Oleh karena itu, cobalah tanyakan kepada pastor yang mendampingi atau pastor paroki di mana anda mengaplikasikan permohonan peneguhan perkawinan pada saat dilakukan penyelidikan kanonik. Paroki mana? Tanyakanlah apakah ada arsip surat dispensasi dan izin saat Anda menikah di Gereja Protestan. Jika surat tersebut ada, maka perkawinan Anda sah secara hukum kanonik Gereja Katolik, tetapi jika surat tersebut tidak ada, maka silakan Anda melakukan konvalidasi biasa perkawinan dengan memperbaharui janji perkawinan di hadapan pastor paroki Anda sekarang. Dengan kata lain, jika halangan dan larangan tadi memang terjadi pada perkawinan Anda (ternyata Anda belum memperoleh dispensasi dan izin dari Keuskupan, padahal Anda menikah dengan istri yang non- Katolik) maka Anda perlu mengurus konvalidasi perkawinan. Namun konvalidasi ini tidak diperlukan, jika sekarang istri Anda sudah Katolik, dan Anda dahulu telah memperoleh dispensasi dan izin dari Keuskupan.

      Intinya kalau tidak ada dispensasi perkawinan dari Keuskupan, diperlukan konvalidasi biasa dengan syarat halangan dan larangan dibereskan. Tanpa itu konvalidasi tidak bisa berjalan. Jika kedua pihak sudah Katolik, tentu tidak perlu lagi tapi kiranya demi kenyamanan dan kepuasan batin konvalidasi dapat dilakukan dengan pembaruan perkawinan. Banyak pasutri melakukan ini meskipun sudah dibaptis pasangan yang non-katolik. Sebaiknya ketika mau dibaptis langsung diadakan konvalidasi.

      Harap memahami, kedua unsur penting normatif yuridis dan pastoral praktis demi kebahagiaan umat.

      Saya yakin pastor paroki Anda tahu baik tentang hal-hal yang saya katakan jadi tak perlu cemas. Bila ada kesulitan tanyakan lagi kepada saya.

      salam
      Rm Wanta

  3. syalom katolisitas,,

    sehubungan dengan kasus pernikahan dalam agama katolik, saya mohon tim katolisitas dapat memberikan solusi atas beberapa kasus dibawah ini :

    1. si A(pria) katolik menikah dengan C yang juga katolik dengan pernikahan katolik. entah dengan alasan apa si C (istri A) meninggalkan A dan menikah dengan Z tetangganya yang non-katolik dengan cara non-katolik (ikut suami baru)hingga kini….

    si A kini sendiri…

    2. Si B (wanita) katolik menikah dengan D (non katolik)dengan cara non-katolik. si B dan D bercerai lalu B menikah dengan E non-katolik dengan cara katolik, dan romo men-sahkan pernikahannya….sehingga si E menjadi katolik.
    si E yang sudah katolik ini meninggalkan si B dan menikah lagi dengan F non-katolik…

    si B kini sendiri dan ingin menikah dengan dengan A(kasus no-1) dengan cara katolik, tetapi tidak diizinkan romo….

    pertanyaan :

    1. bagaimana solusi untuk si A terhadap istrinya yang meninggalkan dia? karena tampaknya dia tidak akan bisa menikah lagi, kecuali si C mati… kasihan….

    2. bagaimana solusi untuk B supaya bisa menikah dengan A?

    3. apakah yang dilakukan oleh romo dalam pernikahan kedua B (dengan E) adalah benar secara agama?

    4. apakah romo (dan gereja) tidak memiliki wewenang (secara hukum agama) untuk memperkarakan si C ? karena rupanya sanksi hanya diberikan kepada yang masih katolik…

    5.(pertanyaan pribadi) apakah gereja tidak kasihan dengan A yang ditinggalkan istrinya dan harus menunggu istrinya mati?

    maaf jika pertanyaan terlalu banyak, sebab kasus ini memang benar-benar terjadi tanpa solusi dari gereja…. dan saya berharap tim katolisitas dapat memberikan solusi bukan sekedar mengatakan boleh dan tidak…..

    terimakasih,,

    • Shalom Xeliz,

      Pertama- tama mohon dipahami bahwa izin pembatalan perkawinan diberikan atas pemeriksaan kasus per kasus, dan harus dibuktikan terlebih dahulu bahwa memang terdapat dasar- dasar yang menunjukkan bahwa perkawinan tersebut memang tidak sah sejak semula. Tanpa adanya dasar ini, dan tanpa adanya para saksi dan bukti- bukti yang menunjukkan ketidaksah-an perkawinan tersebut, maka Tribunal Kekuskupan tidak dapat memberikan izin pembatalan perkawinan.

      Kedua, perlu diketahui bahwa Katolisitas bukan Tribunal perkawinan, jadi kami tidak dapat memberi keputusan apakah perkawinan tersebut dapat dibatalkan atau tidak, apalagi memberikan solusi pada perkawinan bermasalah tersebut. Yang berhak memberikan izin pembatalan adalah pihak Tribunal Keuskupan dan yang dapat mengusahakan jalan keluar/ solusi adalah masing-masing pihak yang terkait, tentu setelah meninjau permasalahan mereka menurut perintah Tuhan dan hukum Gereja.

      1. Keterangan yang Anda berikan tidak lengkap, sehingga tidak diketahui dalam perkawinan antara A dan C, adakah halangan/ cacat yang perkawinan? Silakan membaca di sini untuk melihat hal-hal apakah yang membatalkan perkawinan menurut hukum Gereja Katolik, silakan klik.

      Silakan ditanyakan kepada yang bersangkutan (dalam hal ini, A) apakah ada halangan/ cacat dalam perkawinannya tersebut? Jika ada, silakan menulis surat permohonan pembatalan perkawinan ke Tribunal Keuskupan tempat di mana perkawinan diteguhkan. Jika tidak ada halangan/ cacat, maka sesungguhnya perkawinan tidak dapat dibatalkan.

      2. Keterangan Anda juga tidak lengkap. Fakta bahwa B dapat menikah dengan E di Gereja Katolik, kemungkinan karena B tidak mengatakan sebelumnya kepada romo bahwa ia sudah pernah menikah sebelumnya dengan D. Sebab jika B memberitahukan kepada Romo bahwa ia sudah pernah menikah, maka pihak Gereja Katolik tidak dengan begitu saja mau memberkati perkawinannya dengan E. B harus meminta izin pemutusan ikatan perkawinan kepada pihak keuskupan, atas dasar perkawinannya tidak sah, karena cacat kanonik, karena tidak dilakukan menurut hukum Gereja Katolik (tidak secara Katolik di hadapan imam dan 2 orang saksi). Jika izin ini sudah diberikan oleh Keuskupan, dan baru kemudian perkawinan diberkati, maka sesungguhnya perkawinannya dengan E adalah perkawinan yang sah menurut hukum Gereja Katolik.

      3. Nah, kalau perkawinan B dan E itu sudah sah, maka tidak dapat dibatalkan. Maka tidak heran, kalau Romo tidak mengizinkan B menikah dengan A, karena status perkawinan mereka; atau dengan kata lain, di hadapan Allah, keduanya masih terikat dengan pasangan masing- masing dalam perkawinan mereka yang terdahulu (A dengan C, dan B dengan E).

      Maka:

      1. Kalau tidak ada halangan/ cacat perkawinan A dengan C, maka perkawinan tersebut tetap sah di hadapan Tuhan, meskipun faktanya C telah meninggalkan A. 

      2. Jika kedua perkawinan (A dengan C dan B dengan E) keduanya sah, maka nampaknya, secara hukum kanonik, sesungguhnya A dan B tidak dapat menikah lagi.

      3. Jika sudah diperoleh surat izin pemutusan ikatan perkawinan sebelumnya dari Tribunal Keuskupan atas dasar cacat kanonik [karena perkawinan tersebut, walau melibatkan seorang yang Katolik namun dilakukan secara non Katolik], maka apa yang dilakukan Romo adalah benar.

      4. Romo ataupun Gereja Katolik tidak dapat menuntut ke pengadilan/ memperkarakan seseorang yang melakukan dosa. Jika Gereja diperbolehkan menuntut, semua dari kita itu akan dituntut, sebab semua dari kita berdosa di hadapan Allah. Maka Gereja tidak dapat menuntut C; walaupun demikian, nanti C akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan dalam Pengadilan Terakhir.

      5. Tentu Gereja berbelas kasihan dengan A, namun tidak berarti bahwa sebagai solusinya Gereja dapat menyetujui perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik yang menjunjung tinggi hakekat perkawinan, yang monogam dan setia sampai akhir.

      Paus Yohanes Paulus II dalam Surat Ekshortasi Apostolik-nya yang berjudul Familiaris Consortio (Peran Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern), menyebutkan kasus orang-orang yang bercerai, demikian:

      “83. Sayangnya, bermacam alasan dapat mengarahkan kepada perpisahan yang tak tertanggulangi dari perkawinan-perkawinan yang sah. Ini termasuk saling salah paham dan ketidakmampuan untuk memasuki hubungan antar pribadi. Jelaslah, perpisahan harus dianggap menjadi jalan terakhir, setelah segala upaya yang masuk akal bagi rekonsiliasi telah terbukti sia-sia.

      Kesendirian dan kesulitan-kesulitan lainnya sering membebani pasangan-pasangan yang berpisah, terutama pihak yang tidak bersalah. Komunitas-komunitas gerejawi harus mendukung orang-orang semacam ini secara lebih lagi. Komunitas harus memberi mereka penghormatan, solidaritas, pengertian dan bantuan praktis, sehingga mereka dapat mempertahankan kesetiaan bahkan di dalam situasi yang sulit: dan komunitas harus membantu mereka untuk menumbuhkan kebutuhan untuk mengampuni yang melekat kepada kasih Kristiani, dan untuk menjadi siap, kemungkinan untuk kembali kepada kehidupan perkawinan mereka yang dulu.

      Situasi tersebut adalah serupa bagi orang-orang yang telah mengalami perceraian, tetapi karena sadar bahwa ikatan perkawinan yang sah tidak dapat diputuskan, tidak melibatkan diri di dalam persatuan yang baru dan mengarahkan hati mereka terutama untuk melaksanakan tugas-tugas keluarga dan tanggungjawab kehidupan Kristiani. Di dalam kasus-kasus ini, teladan hidup mereka tentang kesetiaan dan konsistensi Kristiani mencapai nilai yang khusus sebagai saksi di hadapan dunia dan Gereja. Di sini, bahwakan lebih lagi Gereja perlu memberikan kasih dan bantuan yang terus menerus, tanpa menjadi penghalang bagi penerimaan sakramen-sakramen.

      84. Sayangnya, kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa orang-orang yang bercerai umumnya berkeinginan untuk menjalin hubungan yang baru, yang tentunya tidak dapat disahkan secara Katolik. Karena hal yang salah/ ‘evil’ ini mempengaruhi orang-orang Katolik, maka masalah ini juga harus diberi jalan keluarnya. Sinode Uskup telah mempelajari hal ini. Gereja, yang didirikan untuk memimpin semua orang untuk mencapai keselamatan, terutama mereka yang telah dibaptis, tidak dapat mengabaikan mereka yang telah dibaptis namun yang telah menikah yang kedua kali. Maka, Gereja akan terus mengadakan usaha yang tidak mengenal lelah untuk menyediakan bagi mereka sarana untuk mencapai keselamatan.

      Para imam harus mengetahui bahwa, demi kebenaran, mereka harus dengan bijaksana menyikapi keadaan ini. Ada perbedaan antara mereka yang dengan tulus telah berusaha untuk menyelamatkan perkawinan yang pertama dan yang telah disingkirkan dengan tidak adil, dengan mereka yang oleh kesalahan mereka yang besar telah merusak sebuah perkawinan yang sah. Akhirnya, ada pula orang-orang yang menikah kedua kali demi membesarkan anak-anak, dan yang kadang-kadang di dalam hati nurani mereka yakin secara subyektif bahwa perkawinan mereka yang terdahulu dan yang tak terselamatkan itu bukan merupakan perkawinan yang sah.

      Bersama dengan Sinode para Uskup, saya menganjurkan pada para imam, dan seluruh komunitas umat beriman untuk membantu mereka yang telah bercerai, dan dengan perhatian yang sungguh untuk meyakinkan mereka bahwa mereka tidak terpisah dari Gereja, sebab sebagai orang-orang yang telah dibaptis, mereka dapat dan bahkan harus turut serta di dalam hidup Gereja. Mereka harus didorong untuk mendengarkan Sabda Tuhan, menghadiri Misa Kudus, bertekun di dalam doa, tergabung dalam kegiatan kasih dan usaha komunitas dalam hal menegakkan keadilan, dalam mendidik anak-anak di dalam iman Kristiani, menerapkan semangat dan pertobatan, dan dengan demikian hari demi hari memohon rahmat Tuhan. Biarlah Gereja mendoakan mereka, mendorong mereka, dan menjadi bagi mereka seperti seorang ibu yang berbelas kasih, yang menopang mereka dalam iman dan pengharapan.

      Walaupun demikian, Gereja menegaskan kembali praktek pelaksanaannya yang berdasarkan Kitab Suci, yaitu tidak memperbolehkan mereka yang telah bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni Kudus. Mereka tidak dapat menerima Komuni, berdasarkan kondisi kehidupan mereka yang secara objektif bertentangan dengan kesatuan kasih antara Kristus dan Gereja-Nya yang ditandai dan diakibatkan oleh Ekaristi. Di samping itu, ada pula alasan pastoral lain: Jika orang-orang seperti ini diperbolehkan menerima Ekaristi, umat beriman yang lain dapat dipimpin pada kesalahan dan kebingungan mengenai hal ajaran Gereja tentang Perkawinan yang tak terceraikan.

      Sakramen Tobat, yang membuka jalan kepada Ekaristi, hanya dapat diberikan kepada mereka, yang menyesal telah menghancurkan tanda Perjanjian dan kesetiaan Kristus, dan secara tulus siap untuk menjalankan cara hidup yang tidak lagi bertentangan dengan prinsip perkawinan yang tak terceraikan. Hal ini, dalam pelaksanaannya, adalah, ketika untuk alasan yang serius, misalnya demi membesarkan anak-anak, seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak dapat menjalankan keharusan untuk berpisah, maka mereka dapat menjalankan hidup di dalam kesucian yang penuh, yaitu dengan berpantang terhadap segala perbuatan yang layak dilakukan oleh suami istri. [Tambahan saya: Sehingga dalam hal ini pasangan tidak hidup sebagaimana layaknya suami istri melainkan sebagai kakak dan adik. Sebab di mata Tuhan, perkawinan yang sah adalah perkawinan yang pertama. Untuk kemurnian kasih sebagai kakak dan adik inilah, maka pasangan diharapkan untuk memohon rahmat dari Tuhan. Namun, hal ini bukannya sesuatu yang tidak mungkin, sebab kepada orang-orang tertentu, seperti kepada para imam dan biarawati, Tuhan telah memberikan rahmat untuk hidup kudus yang seperti ini].

      Demikianlah, demi  menghormati makna Sakramen Perkawinan, untuk pasangan tersebut, dan keluarga mereka, dan juga semua komunitas umat beriman, maka para imam dilarang, dengan alasan apapun juga, bahkan dengan alasan pastoral, untuk memimpin upacara dalam bentuk apapun juga kepada mereka yang telah bercerai dan menikah lagi. Upacara semacam itu akan memberikan kesan akan perayaan Perkawinan sah yang baru, dan akan memimpin orang-orang kepada anggapan yang salah tentang sifat Perkawinan sah yang tidak terceraikan.

      Dengan bertindak demikian [seperti yang disebutkan di dalam keseluruhan perikop di atas], Gereja menyatakan kesetiaannya kepada Kristus, dan kepada kebenaran-Nya. Pada saat yang sama ia menyatakan perhatian kasih keibuannya kepada anak-anaknya, terutama mereka yang bukan karena kesalahannya sendiri, telah disingkirkan oleh pasangan mereka yang sah.
      Dengan keyakinan yang teguh, ia [Gereja] percaya bahwa mereka yang telah menolak perintah Tuhan dan tetap hidup dalam keadaan ini, akan tetap dapat memperoleh dari Tuhan rahmat pertobatan dan keselamatan, asalkan mereka tetap bertekun di dalam doa, tobat, dan kasih.” (Familiaris Consortio 83- 84)

      Demikian tanggapan saya, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • syalom bu ingrid, terima kasih atas tanggapannya…
        saya minta maaf bila pertanyaan saya rupanya salah alamat. Namun alasan saya menanyakan hal ini karena rupanya tidak ada lagi yang bisa memberikan semacam nasehat atau-dalam pertanyaan saya-’solusi’ atas masalah-masalah perkawinan. maaf apabila saya kemudian bertanya panjang lebar…

        tafsiran ibu atas pertanyaan saya yang menurut ibu kurang lengkap itu (karena menghindari kalimat yang terlalu panjang) rupanya sudah pas. Memang semua perkawinan yang dilakukan oleh pihak A dan B adalah sah secara katolik(tidak cacat). Hanya tidak ada solusinya.

        kasus diatas juga rumit karena melibatkan 2 agama. dimana dari katolik dapat mensahkan perkawinan dari janda non katolik, dan agama lain yang juga mensahkan (secara agamanya) perkawinan dari wanita katolik yang tidak (mungkin) bercerai…

        dan kalau hanya menunggu hukuman dijatuhkan pada pasangan yang tidak setia di akhir jaman kelak, rasanya berat… malah bisa stres dan bunuh diri…

        Maka, kemudian timbul dalam pikiran saya behwa perkawinan (katolik) menjadi alasan ‘populer’ bagi muda-mudinya untuk berpindah haluan, lantaran takut karena tidak ada solusi dalam masalah tersebut. Hasilnya, perkawinan akan menjadi batu sandungan bagi iman katolik.

        romo paroki yang ditanya pun hanya bisa memberikan jawaban “tidak bisa, tidak boleh, pokoknya tidak!” bukankah hidup ditinggal pasangan yang menikah lagi begitu menyakitkan, ini manusiawi saja…..

        yang perlu dketahui adalah tidak semua orang mampu berbuat seperti yang dianjurkan oleh bapa suci dalam jawaban ibu. Apa lagi hanya menganggap kakak adik…maaf, kalu boleh saya katakan disini, banyak juga para imam/romo yang kemudian menikah dengan biarawatinya.

        saya hanya bingung ketika mulai dicemooh bahwa agama katolik tidak mampu memberikan solusi atas masalah perkawinan (tidak seperti agama lain) seperti kasus dalam pertanyaan saya. Hal ini seringkali menggoyahkan iman.

        saya tidak mampu membayangkan bagaimana perasaan si A, ketika melihat istrinya (yang menikah lagi) berjalan mesra dengan suami dan anaknya..(hasilnya sekarang si A pergi merantau)

        saya pernah mendengar bahwa, perkawinan katolik dapat dipisahkan (bukan dibatalkan) oleh bapa suci, artinya orang katolik boleh bercerai dengan alasan tertentu melalui kuasa Paus. apakah ini benar? kalau iya,bagaimana caranya? apalagi ketika membandingkan dengan pernikahan katolik di(film) barat, sering kawin cerai…

        sekiranya masalah saya disini juga mungkin kurang pas untuk dijawab bagi tim katolisitas, saya mohon bimbingannya dengan rujukan situs atau lainya yang lebih berwenang. terimakasih.

        • Shalom Xellz,

          Tidak ada salahnya bertanya, tetapi sejujurnya memang Katolisitas tidak mempunyai wewenang apapun untuk memberikan solusi dalam permasalahan tersebut. Sebab pada akhirnya masalah perkawinan itu harus diselesaikan oleh pasangan itu sendiri. Dari pihak luar, kita hanya dapat memberi masukan, tetapi kata akhir ada di tangan mereka sendiri.

          Solusi yang Anda inginkan yaitu agar mereka dapat menikah lagi secara sah, memang sejujurnya tidak mungkin, jika kita berpegang kepada hukum perkawinan Gereja Katolik. Adapun hukum perkawinan ini didasari atas ajaran Kristus dalam Kitab Suci bahwa memang perkawinan adalah antara seorang pria dan seorang wanita, dan apa yang sudah disatukan Allah ini tak dapat diceraikan oleh manusia sampai seumur hidup sebagaimana disampaikan dalam Mat 19:1-12.

          Maka yang Anda anggap solusi adalah restu dari Gereja agar pasangan dapat bercerai dan menikah lagi, maka tentu ini tidak dapat dilakukan Gereja, karena itu sama saja mau membuat Gereja mengingkari ajaran Kristus. Kekecualian adalah kalau memang dapat dibuktikan bahwa perkawinan memang sudah tidak sah sejak awal mula. Gereja bukannya tidak peduli terhadap kesulitan seseorang yang ditinggal pasangannya karena pasangannya itu tidak setia. Namun kepedulian Gereja tidak harus disamakan dengan Gereja harus mengorbankan ajaran Kristus, atau ajaran itu harus bisa dimanipulasikan sedemikian sehingga dapat memberikan solusi yang umum diinginkan manusia. Tidak demikian. Gereja mempunyai tanggungjawab di hadapan Kristus untuk mempertahankan kemurnian ajaran-Nya sepanjang segala abad. Maka memang mungkin cara yang dilakukan oleh Romo tersebut terdengar keras (“pokoknya tidak bisa”) tetapi nampaknya ia hanya melakukan tugasnya untuk setia kepada pengajaran yang dipercayakan kepadanya.

          Memang berat apa yang dihadapi oleh A, dan semoga ia dapat memperoleh dukungan dari komunitas gerejawi di lingkungan tempat tinggalnya yang baru. Jika Anda mengenal A dengan baik, silakan Anda terus mendoakan dan memberikan penghiburan kepadanya.

          Saya tidak tahu dari mana Anda memperoleh informasi itu, namun ajaran Gereja Katolik jelas, sebagaimana disebutkan dalam Katekismus, bahwa perkawinan Katolik itu – jika sudah sah diberikan- tidak dapat diceraikan oleh manusia, dalam hal ini oleh Paus sekalipun.

          KGK 1614    Dalam pewartaan-Nya, Yesus mengajarkan dengan jelas arti asli dari persatuan pria dan wanita, seperti yang dikehendaki Pencipta sejak permulaan; izin yang diberikan oleh Musa untuk menceraikan isteri adalah suatu penyesuaian terhadap ketegaran hati; (Bdk. Mat 19:8) kesatuan perkawinan antara pria dan wanita tidak tercerai – Allah sendiri telah mempersatukan mereka; “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:6).

          Perceraian yang ada di film-film Barat tidak dapat dijadikan patokan, sebab film-film itu sering memang diproduksi untuk mendisreditkan Gereja Katolik dan sering disengaja untuk menampilkan keadaan yang memojokkan Gereja Katolik. Jelas kawin cerai tidak pernah dibenarkan oleh Gereja Katolik, dan kalau sampai terjadi di film-film, ya itu merupakan pelanggaran. Sikap Gereja Katolik tentang perpisahan ini, jika sampai tidak terhindarkan (misalnya karena sudah membahayakan nyawa pasangan dan anak-anak, ataupun alasan genting lainnya):

          KGK 1649    Tetapi ada situasi, di mana hidup bersama dalam keluarga, karena alasan-alasan yang sangat bervariasi, praktis tidak mungkin lagi. Dalam keadaan semacam ini Gereja mengizinkan, bahwa suami isteri secara badani berpisah dan tidak perlu lagi tinggal bersama. Tetapi Perkawinan dari suami isteri yang berpisah ini tetap sah di hadirat Allah; mereka tidak bebas untuk mengadakan Perkawinan baru. Dalam situasi yang berat ini perdamaian merupakan penyelesaian yang terbaik, jika mungkin. Jemaat Kristen harus membantu orang-orang ini, agar dapat menanggulangi situasi hidup mereka ini secara Kristen dan dalam kesetiaan kepada ikatan Perkawinannya yang tak terpisahkan (Bdk. FC 83; CIC, cann. 1151-1155).

          KGK 1650    Dalam banyak negara, dewasa ini terdapat banyak orang Katolik yang meminta perceraian menurut hukum sipil dan mengadakan Perkawinan baru secara sipil. Gereja merasa diri terikat kepada perkataan Yesus Kristus: “Barang siapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah” (Mrk 10:11-12). Karena itu, Gereja memegang teguh bahwa ia tidak dapat mengakui sah ikatan yang baru, kalau Perkawinan pertama itu sah. Kalau mereka yang bercerai itu kawin lagi secara sipil, mereka berada dalam satu situasi yang secara obyektif bertentangan dengan hukum Allah. Karena itu, mereka tidak boleh menerima komuni selama situasi ini masih berlanjut. Dengan alasan yang sama mereka juga tidak boleh melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam Gereja. Pemulihan melalui Sakramen Pengakuan hanya dapat diberikan kepada mereka yang menyesal, bahwa mereka telah mencemari tanda perjanjian dan kesetiaan kepada Kristus, dan mewajibkan diri supaya hidup dalam pantang yang benar.

          KGK 1651    Kepada orang-orang Kristen yang hidup dalam situasi ini dan yang sering kali mempertahankan imannya dan ingin mendidik anak-anaknya secara Kristen, para imam dan seluruh jemaat harus memberi perhatian yang wajar, supaya mereka tidak menganggap diri seakan-akan terpisah dari Gereja, karena mereka sebagai orang yang dibaptis dapat dan harus mengambil bagian dalam kehidupannya.
          “Hendaklah mereka didorong untuk mendengarkan Sabda Allah, menghadiri kurban Ekaristi, tabah dalam doa, menyumbang kepada karya-karya cinta kasih dan kepada usaha-usaha jemaat demi keadilan, membina anak-anak mereka dalam iman Kristen, mengembangkan semangat serta praktik ulah tapa, dan dengan demikian dari hari ke hari memohon rahmat Allah” (FC 84).

          Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf jika apa yang kami sampaikan tidak sesuai dengan kehendak Anda. Kami sungguh tidak dapat menyampaikan ajaran yang berbeda dengan apa yang sudah disampaikan oleh Magisterium Gereja Katolik, sebab kami percaya ajaran tersebut adalah yang dikehendaki oleh Kristus sejak awal mulanya, dan kami sungguh tidak mempunyai kuasa apapun untuk mengubahnya ataupun mengusulkan pandangan yang lain.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • syalom bu ingrid dan tim katolisitas..

            sebenarnya saya agak sedikit kecewa (atau bangga)…

            kecewa karena katolik, rupanya tidak mampu memberikan solusi yang benar-benar melegakan kedua belah pihak….namun bangga karena ukuran yang dipakai, bukan keegoisan manusia, namun kemurnian Allah (yang menunjukan kemurnian Agama itu sendiri) yang sekuat tenaga berusaha menerima hukum Tuhan (yang menyenangkan dan yang tidak) terutama masalah pernikahan.

            Ah, rupanya Tuhan juga tidak selalu membuat manusia bahagia…entahlah apa dan bagaimana kebahagiaan itu menurut Tuhan….

            [Dari Katolisitas: Mungkin lebih tepatnya adalah: sebab seringkali definisi kebahagiaan menurut manusia berbeda dengan kebahagiaan menurut Tuhan. Namun jika kita menyerahkan diri kita ke dalam pimpinan Tuhan, maka Ia akan memberikan kekuatan dan kemampuan kepada kita untuk menemukan kebahagiaan kita yang sesungguhnya, yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Mungkin jalannya tidak mudah menurut mata manusia, namun bukannya tidak mungkin untuk dilakukan, sebagaimana telah disampaikan oleh saudari kita Agatha. Dan sungguh nyatalah kasih setia Tuhan kepada orang-orang yang dengan taat membuktikan iman dan kasih kepada-Nya, tanpa menghiraukan banyaknya pandangan dunia yang mencemoohkannya.]

        • Salam Xellz,

          Masalah seperti ini memang berat, dan saya sendiri mengalaminya.

          Suami saya menikah lagi dengan perempuan lain di KUA, dan sekarang telah memiliki 1 orang anak, dan setelah semua terbongkar, kami putuskan bahwa kami tidak bisa melanjutkan pernikahan kami, dan akhirnya kami cerai secara sipil.

          Dan keluarga suami yang juga Katolik, saat ini telah menerima perempuan itu sebagai istri yang sah dari suami saya (padahal pernikahan mereka tidak sah, karena pernikahan itu diadakan pada saat suami masih terikat pernikahan dengan saya).

          Saya dapat merasakan beratnya permasalahan ini, apalagi saya sudah memiliki 3 orang anak.

          Saya yakin tidak akan dapat melewati semua permasalahan ini kalau saya tidak mendapatkan dukungan dari keluarga saya sendiri, dan memasrahkan diri kepada Kristus.

          Jujur, sampai saat ini saya masih sangat membenci suami saya (sempat hilang setelah saya mengaku dosa), tapi perasaan benci itu baru baru ini muncul lagi setelah mengetahui bahwa keluarga suami telah menerima perzinahan itu.

          Tapi saya yakin, dengan bantuan doa dari segenap keluarga saya dan team katolisitas, saya akan mampu menghadapi semua itu.

          Saran saya adalah: tetaplah mendampingi dan memberikan kekuatan bagi si A agar dia dapat bertahan dalam segala permasalahan yang dia hadapi, dan tetap bertahan dalam imannya kepada Kristus, tidak mengorbankan keselamatan kekalnya demi kesenangan di dunia ini. Yakinkan si A bahwa dalam segala permasalahan yang dihadapinya, Tuhan pasti tetap mencintainya dan selama kita bersandar padaNya, kita pasti akan kuat.

          Maaf, kalau bukan solusi yang saya berikan, tetapi saya berharap jangan sampai karena keinginan duniawi, kita melupakan keselamatan kekal yang harusnya kita dapatkan. Jangan sampai iblis memenangkan jiwa kita.

          Salam

          [Dari Katolisitas: Terima kasih sekali atas kesaksian Anda, Agatha. Sungguh kesaksian Anda ini berbicara lebih lantang daripada jawaban kami kepada Xellz. Doa kami untuk Anda dan anak-anak Anda, dan semoga suatu saat nanti suami Anda dapat kembali ke jalan yang benar yang sesuai dengan kehendak Tuhan.]

          • syalom Agatha,,

            saya mengucapkan terimakasih anda mau memberikan sebuah kesaksian.

            Saya merasa bangga dengan orang Katolik seperti anda, teguh dalam iman. Saya ingn sekali mendoakan anda, namun saya merasa tidak mampu untuk berdoa dengan iman saya yang rapuh ini, apa yang mau saya katakan kepada Allah????

            tampaknya saya harus belajar kepada anda, sebagai remaja, saya merasa sulit mencapai pendewasaan rohani…

            • Salam, Xellz

              Saya sungguh bersyukur anda telah memulai perjalanan pencarian iman. Saya mendoakan anda supaya Allah boleh berkenan menganugerahkan iman pada anda.

              Kalau boleh berbagi kisah hidup, Xellz tidak perlu khawatir tentang iman yang sedang bertumbuh. Iman adalah anugerah Allah yang ditanggapi kerjasama manusia. Setiap hari, pertumbuhan iman adalah kewajiban semua Katolik. Banyak orang mempelajari ajaran Katolik tanpa membuka hati (bekerjasama) dengan rahmat Allah sehingga mereka tidak melihat kebenaran Ilahi. Namun, kenyataan pula bahwa Allah sebenarnya selalu mencurahkan rahmat yang lebih dari cukup untuk memampukan kita untuk menemukan kebenaranNya. Untuk itu, senantiasalah berdoa memohon anugerah iman agar hati kita siap menerima anugerah iman tersebut. Mari bersama-sama kita atasi kerapuhan iman kita dan bertumbuh menuju kedewasaan rohani seiring denyut kasih Bapa.

              Xellz juga tidak perlu takut berdoa walaupun masih sedang mencari keteguhan iman karena selain memuat iman, doa juga memuat kasih dan harapan dalam Kristus. Kasih Xellz dan kita semua pada Agatha juga memampukan kita untuk memohon berkat dan kasih Allah bagi Agatha, termasuk siapapun yang lainnya. After all, kita semua adalah pengemis di hadapan Bapa, sebesar apapun kesucian kita, seteguh apapun iman kita.

              Semoga Bapa berkenan mengikat kita dengan keindahan iman, kelembutan kasih, dan ketenangan harapan dalam Kristus. Amin.

              Pacem,
              Ioannes

  4. Jul Em Las Simanungkalit on

    pastor yang terkasih saya mau tanya,,,
    Jika seorang Katolik menikah dengan seorang kristen protestan (yang sdh dibaptis secara kristen)dan perkawinan dilangsungkan secara katolik, apakah itu termasuk sakramen?

    terimaksih. Tuhan memberkati

    • Shalom Jul El,

      Jika salah satu dari pihak yang menikah (suami atau istri) Katolik, maka pasangan itu terikat oleh hukum kanonik Gereja Katolik, dan seharusnya mereka menikah di Gereja Katolik. Namun jika karena satu dan lain hal, ini tidak dapat dilakukan [perkawinan tersebut hendak diberkati secara Kristen non-Katolik), maka pihak yang Katolik harus meminta izin kepada pihak Ordinaris (yaitu Keuskupan) agar walaupun diberkati di gereja non- Katolik, namun perkawinan tetap dapat dianggap sah. Jika izin ini diperoleh, maka perkawinan sah secara kanonik, dan kelak pihak yang Katolik tetap diperkenankan untuk menerima Komuni di Gereja Katolik. Tentu hal di atas didasari atas asumsi bahwa baptisan pasangan yang non-Katolik tersebut diakui oleh Gereja Katolik [gerejanya termasuk dalam daftar gereja-gereja PGI]. Jika kondisi di atas terpenuhi, maka perkawinan tersebut adalah sakramen, yaitu merupakan tanda dan sarana keselamatan bagi pasangan tersebut, sehingga tidak terceraikan. Dasarnya adalah ajaran Katekismus Gereja Katolik dan Kitab Hukum Kanonik 1983:

      KGK  1683   “Perjanjian Perkawinan, dengan mana pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-isteri serta pada kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan Perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat Sakramen” (KHK kan. 1055 §1).

      KHK Kan. 1055

      § 1 Perjanjian (foedus) perkawinan, dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen.

      § 2 Karena itu antara orang-orang yang dibaptis, tidak dapat ada kontrak perkawinan sah yang tidak dengan sendirinya sakramen.

      Atas dasar prinsip ini, maka Gereja Katolik juga mengakui perkawinan kedua orang yang non- Katolik yang baptisannya sah, yang diadakan di gereja non-Katolik. Oleh karena itu, jika karena satu dan lain hal pasangan ini berpisah, dan kemudian salah satunya ingin menikah lagi di Gereja Katolik, ini tidak diperkenankan, karena Gereja Katolik menghargai ikatan perkawinannya yang terdahulu, yang merupakan sakramen, sehingga tidak terceraikan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Jul Em Las Simanungkalit on

        terimakasih bu ingrid atas penjelasannya…ini saya tanyakan untuk memperjelas, karena teman saya mengatakan perkawinannya belum sakramen karena istrinya masih protestan (padahal gerejanya masuk dalam PGI).
        untuk kasus seperti yang ibu utarakan (diberkati di protestan tetapi mendapat persetujuan dari uskup setempat,sehingga dapat dikatakan sakramen dan salah satu pasangan yang katolik tetap bisa komuni, jika suatu saat pasangan yang non katolik mau menjadi katolik, apakah mereka harus pemberesan perkawinan juga…

        terimakasih. Tuhan memberkati

        • Shalom Jul Em,

          Sebenarnya yang perlu diperiksa adalah apakah sebelum menikah, teman Anda telah meminta izin ke pihak keuskupan bahwa perkawinannya itu akan diberkati di gereja istrinya itu. Jika ini sudah dilakukan dan ia telah menerima surat pemberian izin dari pihak keuskupan, maka sesungguhnya perkawinannya dengan istrinya itu telah sah menurut hukum Gereja Katolik, meskipun dilakukan di gereja non-Katolik. Dengan surat izin ini, perkawinan tersebut sah, dan sakramen, karena diadakan antara dua orang yang dibaptis secara sah (karena baptisan istrinya diakui sah oleh Gereja Katolik). Namun jika izin ini tidak diperoleh, maka perkawinan tersebut sesungguhnya cacat secara kanonik; dan dalam keadaan sedemikian, sesungguhnya pihak yang Katolik tidak boleh menerima Komuni Kudus. Dalam kondisi ini, perkawinan tersebut walau diadakan di antara dua orang yang terbaptis, menjadi tidak sah (cacat kanonik), karena tidak sesuai dengan ketentuan hukum Gereja Katolik. Mengapa? Karena perkawinan Katolik tidak terpisahkan dari Misteri hubungan kasih antara Kristus dengan Gereja sebagai mempelai-Nya; sehingga harus dilakukan atas sepengetahuan, izin, dan ketentuan Gereja.

          Seandainya surat izin ini tidak ada, dan kemudian istrinya yang non-Katolik ingin diteguhkan menjadi Katolik, maka sebelum diteguhkan, perlu diadakan pemberesan perkawinan terlebih dahulu. Istilahnya adalah konvalidasi perkawinan, untuk menjadikan perkawinan tersebut sah secara kanonik. Silakan menghubungi Romo paroki untuk mengetahui lebih lanjut tentang hal ini.

          Nah, jika ternyata setelah diperiksa, surat izin tersebut ada, artinya perkawinan itu sudah sah; dan kalau sudah sah, maka tidak perlu disahkan lagi. Jika pihak istrinya yang non- Katolik, ingin menjadi Katolik, silakan menunjukkan surat izin itu kepada pihak Romo paroki, seharusnya tidak menjadi masalah.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

           

  5. Malam Romo…
    Saya mau sharing dan minta petunjuk Romo… Mohon petunjuknya..
    Saya pernah menikah secara kristen dan sekarang telah bercerai. Dan sekarang saya telah menjalin kasih dengan seorang jejaka yang beragama Katholik. dan hubungan kami serius sehingga kami ingin menikah …….. [dari Katolisitas: pesan berikut disatukan karena terputus]

    maaf kurang lengkap…
    sehingga kami ingin menikah secara Katholik..
    yang ingin saya pertanyakan :
    1. bagaimana prosedur menikah secara Katholik sedangkan saya berasal dari agama kristen dan telah di baptis secara kristen. tetapi saya bersedia masuk ke agama Katholik secara sungguh2 dan bersedia belajar serius. apa saja yg harus saya lakukan??
    2. brapa lama saya harus mengikuti pelajaran pernikahan Katholik secara umum??? apakah bisa di persingkat dikarenakan kami berlainan kota… dan jarang bertemu…
    Trima kasih Romo dan saya mohon penjelasannya..

    • Michelle yth

      Kemauan anda luar biasa silakan anda datang ke paroki dimana anda tinggal (domisili tetap) bawa surat baptis gereja kristen anda dan sampaikan bahwa anda mau menjadi katolik; umumnya perlu belajar berapa minggu. Nanti akan diberikan petunjuk. Kemudian soal perkawinan anda sebelumnya anda bisa ceritakan dalam surat tertulis agar bisa dibaca dan kemudian ajukan permohonan pemutusan ikatan anda dengan mantan pasangan anda. Apakah sudah mendapat keputusan dari pengadilan sipil ttg perceraian anda? kalau sudah lampirkan surat tersebut di bawa ke pastor paroki Gereja Katolik nanti akan diurus (mudah- mudahan), ajaklah pasangan anda.

      salam
      Rm Wanta

      • Romo..terima kasih buat penjelasannya..
        surat keputusan dr catatan sipil sdh keluar dari beberapa tahun lalu romo..
        saya dan pasangan yg skrg tinggal berlainan kota dan frekuensi bertemu saya sangat jarang… jadi kemungkinan besar saya mengurus sendiri.. tapi romo saya benar2 tidak tau tentang katholik..krn saya dr kecil bersekolah di sekolah kristen (singkat kata saya nol ttg katholik). semoga saya bisa mengikuti dengan maksimal…
        Romo satu hal lagi yg ingin saya tanyakan : butuh waktu berapa lama untuk permohonan pemutusan ikatan saya dengan mantan pasangan??? ( umumnya brapa lama??)

        terima kasih romo forum ini sangat membantu banyak orang..
        God Bless U…

        • Michelle Yth

          Meskipun mengurus sendiri cobalah ke paroki Gereja katolik yang dimana anda tinggal. Kedua tentang berapa lama saya tidak bisa menjawab karena sangat tergantung dari para romo dan petugas yang mengurusnya. Bisa cepat dan bisa lambat, semoga bisa cepat minimal sekitar 6 bulan. Jangan buru buru menikah buatlah fondasi hidup perkawinan dengan kokoh kuat jika ada badai dan goncangan rumah keluargamu tidak roboh.

          salam
          Rm Wanta

Add Comment Register



Leave A Reply