Definisi Agama, Keprihatinan dan Tantangannya

11

Tanya jawab ini adalah untuk melihat definisi agama, apa yang memprihatinkan dan membanggakan dari kehidupan beragama, serta bagaimana menciptakan hidup beragama yang ideal. Mari kita mengupasnya satu persatu.

I. Definisi agama

Ada beberapa definisi tentang agama. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai “Ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya: — Islam; — Kristen; — Buddha;” Dari sini, kita melihat adanya dimensi iman, ibadah, moralitas di dalamnya. Dimensi yang sama ini, juga diberikan oleh kamus Webster, yang mendefinisikan agama sebagai “Religion, in its most comprehensive sense, includes a belief in the being and perfections of God, in the revelation of his will to man, in man’s obligation to obey his commands, in a state of reward and punishment, and in man’s accountableness to God; and also true godliness or piety of life, with the practice of all moral duties. It therefore comprehends theology, as a system of doctrines or principles, as well as practical piety; for the practice of moral duties without a belief in a divine lawgiver, and without reference to his will or commands, is not religion.” Dalam Glossary Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa agama adalah “A set of beliefs and practices followed by those committed to the service and worship of God. The first commandment requires us to believe in God, to worship and serve him, as the first duty of the virtue of religion” atau “Satu perangkat kepercayaan dan tindakan yang diikuti oleh mereka yang berkomitmen untuk melayani dan menyembah Allah. Perintah pertama menuntut kita untuk percaya pada Tuhan, untuk menyembah dan melayani Dia, sebagai tugas pertama dari kebajikan agama.”
KGK 2135 “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti ” (Mat 4:10). Menyembah Allah, berdoa kepadaNya, menyampaikan penghormatan yang wajar kepada-Nya, dan memenuhi janji serta ikrar yang telah dibuat kepada-Nya, adalah tindakan-tindakan kebajikan agama, yang ada di bawah ketaatan terhadap perintah pertama.

Dari beberapa definisi ini, maka kita melihat bahwa agama mengajarkan satu perangkat kepercayaan atau iman dan bagaimana mewujudkan iman atau kepercayaan ini, baik dengan doa, ritual atau liturgi yang mengatur bagaimana untuk menyembah Tuhan yang dipercayai, maupun dengan satu pengajaran moral yang mengatur bagaimana untuk hidup dengan baik sesuai dengan apa yang dipercayai.

Itu adalah agama dalam arti yang sangat luas. Kalau kita melihat sumbernya, ada agama atau kepercayaan berdasarkan kebijaksanaan manusia maupun berdasarkan wahyu Allah. Agama berdasarkan wahyu Allah adalah agama Yahudi, agama Islam dan agama Kristen. Dalam agama wahyu, maka Allah yang berbicara kepada umat-Nya, memperkenalkan Diri-Nya sehingga umat dapat tahu secara lebih mendalam tentang siapakah Allah yang mereka sembah, serta memberikan perintah kepada umat-Nya. Dalam konteks agama Kristen, maka kita melihat bagaimana Allah telah berfirman mulai dari Perjanjian Lama melalui perantaraan para nabi, dan digenapi dengan kedatangan Kristus, yang datang ke dunia untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa serta memberikan contoh bagaimana seharusnya menjadi umat Allah. Dan dalam konteks agama Katolik, maka tugas untuk meneruskan ajaran ini dilanjutkan oleh Gereja Katolik melalui Magisterium Gereja, yang senantiasa mendasarkan pengajarannya pada Kitab Suci dan Tradisi Suci. Anda dapat membaca artikel mengapa memilih Gereja Katolik ini – silakan klik.

II. Yang memprihatinkan dan membanggakan dalam agama

Dari pengertian agama di atas, maka kita dapat melihat bahwa orang yang mengikuti agama kodrat (natural religion) mendasarkan kepercayaannya pada kebijaksanaan seseorang atau satu tradisi. Agama yang bersifat kodrat ini merupakan perwujudan dari kodrat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, yang mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi pencipta-Nya. Namun, di satu sisi, karena pemikiran orang dapat salah, maka orang yang mengikuti agama atau kepercayaan ini dapat juga salah.

Di sisi lain, ada orang yang mengatakan bahwa agamanya adalah “free thinker“. Namun, kalau kita meneliti, sungguh sulit menjadi free thinker yang sesungguhnya, karena seseorang dalam satu tatanan sosial mempunyai satu aturan atau kebiasaan yang harus diikuti oleh orang yang tergabung dalam masyarakat tersebut. Orang yang tidak mempunyai agama juga dapat didorong oleh alasan karena tidak mau terikat oleh satu tatanan – baik iman maupun moral – dari satu agama. Orang seperti ini adalah orang yang mengedepankan pemikiran sendiri, atau dengan kata lain, agamanya adalah apa yang dia pandang baik menurut dirinya sendiri. Namun, dalam sejarah umat manusia, telah dibuktikan bahwa ada banyak orang yang salah dengan pemikirannya, juga termasuk kaum cerdik pandai. Jadi, orang dalam kategori ini mempunyai resiko untuk mempercayai apa yang salah.

Di kategori lain adalah orang-orang yang mempercayai agama berdasarkan wahyu Allah. Setiap orang harus mempelajari dan mempertanyakan agamanya masing-masing, apakah memang Allah sendiri yang mewahyukan Diri-Nya secara lengkap? Gereja Katolik mempercayai bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik, karena Allah secara lengkap telah mewahyukan Diri-Nya dari Perjanjian Lama dan dipenuhi dalam diri Yesus, dan Yesus – yang sungguh Allah dan sungguh manusia, yang juga adalah Kepala Gereja – telah mendirikan Gereja dan memberikan kuasa kepada Gereja Katolik, yang adalah Tubuh Mistik Kristus. Kebanggaan dan tanggung jawab ini harus disertai dengan pembinaan umat Allah, sehingga mereka dapat dengan tekun dan setia menjalankan apa yang diajarkan oleh Kristus melalui Gereja. Dan Gereja akan semakin bersinar dengan orang-orang kudus yang hidup sepanjang sejarah Gereja. Orang akan semakin mengerti pengajaran Gereja Katolik, ketika seseorang melihat yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta, St. Maximilian Kolbe yang mengurbankan dirinya untuk keselamatan orang lain, St. Damien yang melayani orang-orang kusta sampai akhirnya dia sendiri meninggal karena penyakit ini. Sebaliknya, Gereja akan berduka jika anggotanya ada yang tidak menjalankan apa yang diajarkan. Kita dapat melihat bahwa dalam kehidupan banyak umat Katolik justru dapat menjadi batu sandungan. Contoh-contoh ini merupakan keprihatinan dari Gereja, yaitu ketika ada jurang antara iman dan kehidupan nyata sehari-hari atau dengan kata lain, ada orang yang percaya, namun tidak tercermin dalam tindakan sehari-hari.

III. Menciptakan kehidupan beragama

Kehidupan beragama yang baik bukanlah berdasarkan toleransi yang semu, yang mempunyai tendensi untuk mengatakan bahwa semua agama sama saja. Gereja Katolik tetap menghormati agama-agama yang lain, mengakui adanya unsur-unsur kebenaran di dalam agama-agama yang lain, namun tanpa perlu mengaburkan apa yang dipercayainya, yaitu sebagai Tubuh Mistik Kristus, di mana Kristus sendiri adalah Kepala-Nya. Oleh karena itu, Gereja Katolik tetap melakukan evangelisasi, baik dengan pengajaran maupun karya-karya kasih. Dengan kata lain, Gereja terus mewartakan Kristus dengan kata-kata dan juga dengan perbuatan kasih. Konsili Vatikan II dalam dokumen Nostra Aetate menuliskan demikian:

Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci di dalam agama-agama ini. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.

Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.

Jadi, kehidupan beragama yang baik, hanya dapat terlaksana jika terjadi suasana dan lingkungan yang memberikan kebebasan beragama dan setiap umat dapat melaksanakan agama masing-masing dengan bijaksana. Pada saat yang bersamaan, maka umat Katolik juga harus tetap berakar pada doktrin yang kuat, serta bijaksana dalam proses evangelisasi. Evangelisasi yang paling efektif adalah dengan memberikan kesaksian akan Kristus dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam perjuangan untuk hidup kudus.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

11 Comments

  1. Bimomartens on

    Shalom bapak/ibu Tay,

    Saya sebenarnya sering memikirkan hal ini. Kenapa Tuhan membuat banyak agama? Anggap saja manusia yang membuat agama, tetapi bukankah itu juga dari izin Tuhan? Sejarah yahudi dan kristen bisa selaras, namun muncul lagi agama lain yang ‘membatalkan’ keselarasan ini.

    Perbedaan yang terjadi dari 1 agama dengan agama lain menciptakan sejarah kelam, seperti perang salib, bom bali, perang saudara di india thailand philipina dan sebagainya.

    Ada yang mengatakan, berbedaan itu indah. Bukankah pelangi itu indah dengan ke-7 warnanya yang berbeda, dan akan buruk jika ada yang berusaha ‘menyeragamkan’ warna2 tersebut menjadi 1 warna saja. Namun, kenapa harus ada perbedaan iman dan ajaran dalam tiap agama, yang dapat menjadi alasan peperangan dan perseteruan antara sesama manusia.

    Kata John Lennon : ” .. Nothing to kill or die for, And no religion too, Imagine all the people living life in peace”. Saya bukannya setuju hidup tanpa agama, namun dengan banyaknya agama yang mempunyai perbedaan tersebut. Misteri apakah ini? Bagaimana kita bisa mempercayai rencana Tuhan jika didalam rencana itu tertumpah-ruah darah ribuan atau jutaan umat manusia? Apakah iblis juga ada andil dalam hal ini?

    Terus terang, saya hidup di lingkungan non-kristen. Radius 5 Km lebih, jumlah pengikut Kristus lebih sedikit daripada jumlah jari2 di tangan saya. Kami siap menjadi martir jika mereka menginginkan kepala saya, kepala istri saya, ataupun kepala anak2 saya. Namun, saya tetap tidak habis pikir, kenapa Tuhan menciptakan buah terlarang jika Tuhan sendiri tahu pasti kalau Adam akan memakannya. Seperti halnya agama, kenapa harus muncul ‘berjibun’ agama kalau nantinya akan menimbulkan perseteruan? Misteri inilah yang kadang membuat mata saya ‘merem-melek’ diwaktu tidur saya. Rencana Tuhan, atau rencana iblis?

    Semoga anda bisa menangkap maksud kebingungan saya yang kurang jelas ini, hahaha. Terima kasih sebelumnya. Berkah dalem.

    • Shalom Bimo,

      Memang tidak ada sesuatupun di dunia ini terjadi tanpa seizin Tuhan. Dalam konteks ini, maka kita melihat bahwa unsur-unsur kebenaran di dalam agama lain menjadi persiapan untuk menerima kabar gembira. Dan di sisi yang lain, beberapa agama menjadi kesempatan bagi seluruh umat beriman untuk berlomba-lomba dalam perbuatan kasih yang dilandasi akan kasih kepada Allah. Tentu saja, dari sisi manusia, ada pengaruh kehendak bebas terhadap terjadinya perpecahan-perpecahan agama.

      Ada sebagian orang mengatakan bahwa agama menjadi sumber konflik. Namun, kita jangan melupakan sisi yang lain, bahwa begitu banyak terjadi pembunuhan tanpa latar belakang agama. Kita melihat pembunuhan oleh Pol Pot, Mao Zedong, dll.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. Irwan Saragih, Paroki Leo Agung on

    Dear All,

    Agama-agama itu ibarat aneka bunga di taman. Maka hendaklah setiap bunga kuntum indah dan mekar mewangi supaya tidak ditebas dan dibakar Sang Empunya Taman. Mengapa aneka bunga? Itulah ororitas Sang Empunya Taman. Sy Katolik sejak lahir. Religiositas sy di kilomter hidup sy sekarang ini demikian. Tak harus ikut sy tentunya. GBU

    • Shalom Irwan Saragih,

      Kami di Katolisitas tidak dapat menyampaikan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah disampaikan oleh Magisterium Gereja Katolik dalam hal ini.

      Dalam deklarasi Dominus Iesus (terjemahan teks selengkapnya, klik di sini) jelas tidak dikatakan bahwa Gereja Katolik membenarkan teori tentang pluralisme agama seolah semua agama sama saja.

      Sebaliknya dikatakan demikian:

      “4. Dewasa ini, pewartaan misionaris Gereja yang tetap berlangsung diancam oleh teori-teori yang mencari pembenaran terhadap pluralisme agama, tidak hanya secara de facto, tetapi de iure (secara prinsip). Akibatnya, terdapat kebenaran- kebenaran tertentu yang dianggap kuno, contohnya: kepenuhan dan kelengkapan wahyu Yesus Kristus, kodrat/ ciri iman Kristiani dibandingkan dengan agama lain; ciri ilahi kitab-kitab dalam Alkitab; kemanunggalan Pribadi antara Sabda Ilahi dan Yesus dari Nazareth, keunikan dan keselamatan bagi semua umat manusia dalam Yesus Kristus, perantaraan Gereja yang universal dalam keselamatan, kesatuan yang tak terpisahkan – namun juga menyadari perbedaannya- antara Kerajaan Allah, Kerajaan Kristus dan Gereja, keberadaan satu Gereja Kristus dalam Gereja Katolik….

      14. Karena itu, juga harus diimani dengan teguh sebagai sebuah kebenaran iman Katolik bahwa kehendak Allah yang Satu dan Trinitas akan keselamatan [umat manusia] secara universal ditawarkan dan digenapi satu kali dan selama-lamanya di dalam misteri Inkarnasi, kematian dan kebangkitan Putera Allah.

      Dengan memegang artikel iman ini, dewasa ini teologi, di dalam permenungannya atas keberadaan pengalaman-pengalaman religius yang lain dan atas makna semua itu di dalam rencana keselamatan Tuhan, diundang untuk meneliti apabila dan di dalam hal apa tokoh- tokoh sejarah dan elemen-elemen positif dari agama-agama ini dapat masuk di dalam rencana ilahi tentang keselamatan. Konsili Vatikan II, telah menyatakan bahwa: “begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada makhluk-makhluk aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber” (Lumen gentium, 62). Isi dari partisipasi pengantaraan ini harus diteliti dengan lebih mendalam, tetapi harus tetap konsisten dengan prinsip pengantaraan Kristus yang unik: “meskipun bentuk- bentuk partisipasi dalam pengantaraan di berbagai cara dan derajatnya tidak diabaikan, mereka memperoleh maknanya dan nilainya hanya dari Pengantaraan Kristus sendiri, dan mereka tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang sejajar ataupun melengkapi terhadap Pengantaraan Kristus” (Redemptoris missio, 5). Oleh karena itu, solusi-solusi tersebut yang mengusulkan sebuah tindakan penyelamatan Allah yang melampaui Pengantaraan Kristus yang satu- satunya, bertentangan dengan iman Kristiani dan iman Katolik.”

      Anda boleh saja membuat analogi, namun tidak ada keharusan bagi kami untuk menerima dan setuju dengan pandangan Anda. Kami berpegang kepada ajaran Magisterium Gereja Katolik di atas. Sejauh ini, Anda telah berkali-kali mengirimkan pandangan Anda yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Magisterium tersebut. Mohon maaf, ini adalah terakhir kalinya kami memasukkan pandangan Anda tentang topik ini. Kami tidak dapat menayangkan sesuatu yang sudah terlalu sering diulang-ulang. Adalah hak Anda jika Anda tidak setuju dengan apa yang kami sampaikan, namun tetap adalah hak kami unuk menyampaikan apa yang jelas tertulis dalam dokumen ajaran Gereja, dan bukan atas pemahaman sendiri dengan analogi yang kami buat secara pribadi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Dear Katolisitas,
    Saya pernah membaca di beberapa situs tentang, HARAM hukumnya bagi kita umat Katolik. memaksa/mengajak non-Kristen untuk menjadi Katolik apakah benar? Jika benar ada dimanakah peraturan ini di cantumkan?

    • Shalom Fero,

      Salah satu kebebasan mendasar yang harus dipenuhi oleh semua negara adalah agar warganya dapat mempunyai kesempatan untuk menentukan agamanya secara bebas. Anda dapat melihat di Katekismus Gereja Katolik (KGK), 2104-2109. Dalam satu artikelnya, dituliskan sebagai berikut:

      KGK, 2106.    Kebebasan beragama berarti “di dalam hal-hal keagamaan tidak seorang pun dipaksa untuk bertindak melawan suara hatinya, dan dihalangi untuk bertindak sesuai dengan hati nuraninya, baik secara privat maupun di depan umum, baik sendirian maupun bersama dengan orang lain” (DH 2). Hak ini didasarkan atas kodrat manusia, yang martabatnya menuntut agar ia menyetujui dengan sukarela kebenaran ilahi, yang melampaui tata sementara. Karena itu hak ini bertahan, “juga pada mereka, yang tidak memenuhi kewajiban mereka mencari kebenaran” (DH 2).

      Dalam dokumen Dignitatis Humanae dari Vatikan II, dituliskan sebagai berikut:

      10. (Kebebasan dan faal iman)
      Salah satu pokok amat penting ajaran katolik, yang tercantum dalam sabda Allah dan terus-menerus diwartakan oleh para Bapa Gereja[7], yakni: manusia wajib secara sukarela menjawab Allah dengan beriman; maka dari itu tak seorang pun boleh dipaksa melawan kemauannya sendiri untuk memeluk iman[8]. Sebab pada hakekatnya kita menyatakan iman kita dengan kehendak yang bebas, karena manusia – yang ditebus oleh Kristus Sang Penyelamat, dan dengan perantaraan Yesus Kristus dipanggil untuk diangkat menjadi anak Allah[9], – tidak dapat mematuhi Allah yang mewahyukan Diri, seandainya Bapa tidak menariknya[10], dan ia tidak dengan bebas menyatakan kepada Allah ketaatan imannya yang menurut nalar dapat dipertanggungjawabkan. Jadi sama selaras dengan sifat iman, bahwa dalam hal keagamaan tidak boleh ada bentuk paksaan mana pun juga dari pihak manusia. Oleh karena itu ketetapan tentang adanya kebebasan beragama sangat membantu untuk memelihara kondisi hidup, yang memungkinkan manusia dengan mudah diajak menerima iman kristiani, memeluknya secara suka rela, dan secara aktif mengakuinya dengan seluruh cara hidupnya.

      Dari dua dokumen ini sangat jelas, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat memaksakan satu agama kepada orang yang tidak mau memeluknya. Namun, menjadi tugas bagi kita semua agar dapat mewartakan Kristus dengan baik, sehingga banyak orang dapat melihat alasan di balik iman yang kita percayai. Dengan demikian, kalau kita dapat menjelaskan kepada saudara/i kita dari Kristen non-Katolik tentang iman kita dan secara bebas mereka mau menjadi Katolik, maka itu adalah sesuatu yang baik dan tidak dilarang. Yang dilarang adalah kalau mereka tidak mau masuk ke Gereja Katolik, namun kita memaksa mereka.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. JULIUS LAHAGU on

    Salam dalam Kristus Yesus.
    Mengingat akhir-akhir ini banyak perselisihan atas nama agama, maka saya dibuat penasaran dengan pertanyaan hati kecilku. Maka saya mohon bantuan untuk bisa memberi penceraan kepada saya:
    1. Apakah orang bisa mengimani Tuhan tanpa agama? Mohon juga jawaban diteruskan ke email saya.
    Terimakasih

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Julius,

      Maaf, saya artikan “agama” dalam istilah Anda adalah Gereja Katolik. Menurut Gereja Katolik, beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus itu diperoleh dalam dan melalui pewartaan serta penghayatan Gereja Katolik. Iman dimulai dari pendengaran dan pendengaran terjadi karena pewartaan. Siapa yang mewartakan? Iman akan Allah Tritunggal Mahakudus (Bapa, Putra dan Roh Kudus), diwartakan oleh Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus.
      Lumen Gentium artikel 14 sangat jelas, bahwa Gereja Katolik adalah sarana yang perlu untuk keselamatan.
      Sedangkan iman itu bisa diwujudkan dan diungkapkan serta disikapi, seperti telah dijelaskan juga di sini, silakan klik

      Pertentangan antar agama memang ada faktor keangkuhan orang beragama (misalnya agama Katolik) dalam menanggapi agama lain yang ia anggap lebih rendah derajad “kebenaran” ajaran-nya. Dengan dialog antar agama seperti diajarkan Konsili Vatikan II  hal ini bisa diatasi. Namun lebih banyak faktor konflik itu karenafaktor politisasi agama. Maka, tak ada alasan hanya karena ada konflik lalu beranggapan yang penting beriman tanpa agama. Hal itu absurd menurut ajaran Katolik. Beriman kepada Kristus tak mungkin tanpa Gereja.

      Salam

      Yohanes Dwi Harsanto, Pr

       

  5. Paulus Sutikno Panuwun on

    Dear Vonia .
    Saya tertarik untuk memberi komentar buat pertanyaan anda.
    1. Saya pikir yang paling memprihatinkan dalam kehidupan beragama sudah kita lihat dan dengar sehingga begitu banyak peperangan dll karena agama ; dan itu disebabkan pandangan sbb ;
    a. hanya agama saya yang benar ; yang lain salah sehingga hanya kitalah yang selamat dan lainnya masuk ke neraka jahanam.
    b. kita sibuk mencari cari kesalahan / ketidakcocokan pada kepercayaan agama lain dengan dasar kitab sucinya maupun kitab suci agama lain tsb .
    c. pembelaan kepada agama dengan mengabaikan hak azasi sesamanya
    d. hampir pasti, terutama pada zaman modern ini, pertentangan tsb sebenarnya akar masalahnya dari akar dari dosa yaitu” keinginan duniawi – akan kekuasaan; kekayaan; kehormatan ” dll ,
    2. Sedang yang membanggakan menurut saya seperti diuraikan oleh pak Stef ; pada Konsili Vatikan II Gereja Katolik mengatakan : bahwa keselamatan juga ada di luar Gereja. Dan yang membanggakan bila kita melihat tokoh2 seperti Paus Yohannes Paulus II; Yohannes XXIII, Mother Teresa ; semata-mata karena mereka manusia yang mempunyai kasih, kerendahan hati, kesederhanaan; karena keberhasilan mereka melakukan pekerjaan pekerjaan Gurunya.
    3. Saya pikir memberi definisi apakah agama itu sendiri juga telah menimbulkan masalah dan pertentangan ; apalagi kalau salah satunya dasarnya : Keesaan Tuhan ; Kitab suci nya ; Nabinya tidak cocok dengan yang mayoritas, wah bisa gawat.
    4.Saya pikir yang utama untuk mendapatkan hidup agama yang ideal adalah :
    Melakukan apa yang diminta oleh Gurunya, Tuhannya, Nabinya.
    Pastilah semua akan jadi indah.
    Beberapa hal yang sama pada semua agama dan kepercayaan adalah :
    a. Bahwa alam semesta, bumi seisinya telah diciptakan sempurna dan indah sehingga buat semua manusia wajib mencintai lingkungannya, dan melestarikannya.
    b. Bahwa manusia adalah mahluk yang sempurna (menurut agama samawi – manusia adalah citra Allah ) ; sehingga sewajarnyalah kalau setiap manusia beragama mencintai sesamanya ; dan ini mestinya adalah kehendak yang Maha Kuasa yang terutama.
    c. Bahwa yang menyebabkan manusia gagal memenuhi kehendak Gurunya, Tuhannya, Nabinya adalah semata-mata karena keinginan dirinya (ingatlah : Cinta akan uang adalah akar dari dosa )
    b. Bahwa manusia perlu juga menggunakan akal budinya ; karena akal budinya juga berasal dari yang Maha Kuasa, dan semuanya telah diciptakan indah dan pastilah akan tetap baik.

    Sekian, semoga berguna

    • Shalom Paulus,

      Terima kasih atas komentarnya. Berikut ini adalah tanggapan umum yang dapat saya berikan:

      1. Menyakini bahwa agama yang dianut adalah yang terbaik tidaklah salah. Yang terpenting, setiap umat beragama senantiasa mendalami iman agamanya, dan dengan tanpa ragu mempertanyakan dan mempelajarinya secara lebih mendalam. Dan tentu saja, setiap penganut agama harus tetap menjalankan kasih. Keyakinan akan agamanya tentu saja bukan berarti memaksakan seseorang untuk masuk ke agama tersebut dengan kekerasan, karena masuknya seseorang ke satu agama harus dibuat berdasarkan keinginan bebasnya.

      2. Anda telah salah menyimpulkan tentang Konsili Vatikan II, yang anda kutip sebagai “bahwa keselamatan juga ada di luar Gereja.” Silakan melihat kutipan dari Lumen Gentium 14 dan 16 sebagai berikut:

      LG, 14: Maka terutama kepada umat beriman Katoliklah Konsili suci mengarahkan perhatiannya. Berdasarkan Kitab suci dan Tradisi, Konsili mengajarkan bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.

      Dimasukkan sepenuhnya ke dalam sertifikat Gereja, mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalm cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”. Pun hendaklah semua putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras.

      Para calon babtis, yang karena dorongan Roh Kudus dengan jelas meminta supaya dimasukkan kedalam Gereja, karena kemauan itu sendiri sudah tergabung padanya. Bunda Gereja sudah memeluk mereka sebagai putera-puteranya dengan cinta kasih dan perhatiannya.

      LG, 16: Akhirnya mereka yang belum menerima Injil dengan berbagai alasan diarahkan kepada Umat Allah. Terutama bangsa yang telah dianugerahi perjanjian dan janji-janji, serta merupakan asal kelahiran Kristus menurut daging (lih. Rom 9:4-5), bangsa terpilih yang amat disayangi karena para leluhur; sebab Allah tidak menyesali kurnia-kurnia serta panggilan-Nya (lih. Rom 11:28-29). Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; di antara mereka terdapat terutama kaum muslimin, yang menyatakan bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat. Pun dari umat lain, yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran, tidak jauhlah Allah, karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (lih. Kis 17:25-28), dan sebagai Penyelamat menhendaki keselamatan semua orang (lih. 1Tim 2:4). Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan. Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada Sang Pencipta (lih. Rom 1:21 dan 25). Atau mereka hidup dan mati tanpa Allah di dunia ini dan menghadapi bahaya putus asa yang amat berat. Maka dari itu, dengan mengingat perintah Tuhan: “Wartakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15), Gereja dengan sungguh-sungguh berusaha mendukung misi-misi, untuk memajukan kemuliaan Allah dan keselamatan semua orang itu.

      Semoga kutipan di atas dapat memberikan gambaran yang lengkap.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. Saya mau menanyakan beberapa hal.. Mungkin ini agak sedikit menyimpang dari akar dosa, dll..
    1. Apa hal2 yang memprihatinkan dan membanggakan dlm hidup beragama?
    2. Apa pengertian agama sesungguhnya?
    3. Hal apa yg dapt dilakukan untuk menciptakan hidup beragama yang ideal?
    Terima kasih

    [dari katolisitas: silakan melihat tanya jawab di atas - silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply