Apakah Krisma = Sidi? Mengapa Krisma tidak ‘terasa’?

8

Pertanyaan:

Sakramen krisma bagi umat katolik pada dasarnya sama dengan sidi bagi umat kristen protestan (non katolik). apakah pernyataan tersebut benar?
Efektivitas pengaruh Roh Kudus pada saat pemberian krisma kepada umat yang menerima, kelihatannya tidak terasa. Hanya berupa upacara liturgis yang tidak menimbulkan efek nyata, bahkan terkesan ritual belaka. Mengapa demikian?

Herman Jay

Jawaban:

Salam Herman Jay,
Dari segi makna dan sejarahnya, tentu saja sidi tidak sama dengan Sakramen Krisma. Sidi tidak diberikan oleh uskup yang mempunyai suksesi apostolik sejak para rasul. Sidi pun bukan sakramen. Pendek kata, sejak kaum protestan memisahkan diri dari Gereja yang satu, kudus, katolik, apostolik, (abad 16) maka mereka sudah berbeda sama sekali secara hakikat dan martabat Gerejawi. Namun demikian, saling mengetahui tetap bisa ada bagusnya, untuk upaya dialog dan pemahaman yang sehat, serta untuk mewartakan iman Katolik yang jernih.
Sakramen Krisma dan ketujuh sakramen memiliki substansi ex opere operato dan ex opere operantis. Ex opere operato artinya, daya guna sakramen itu sendiri ada ketika sakramen itu diterimakan secara sah sesuai maksud Gereja. Ex opere operantis artinya, si pelayan sakramen dan penerima sendiri akan mengalami daya guna sakramen jika layak menyambutnya, yaitu mempersiapkan diri, berdisposisi baik, tidak dalam dosa berat, dan setelah menerima sakramen membuka hati terhadap rahmat Allah yang dianugerahkan melalui dan dalam sakarmen tersebut. Dalam hal ini, bukan soal perasaan. Mengapa? Karena perasaan selalu tak bisa dipercaya konsistensinya, subjektif dan sesaat.
Bolehlah saya berbagi pengalaman. Saya menerima sakramen Krisma tahun 1985 di gereja Salib Suci stasi  gunung Sempu, Paroki Pugeran, Yogyakarta dari tangan Mgr Julius Darmaatmadja, uskup Keuskupan Agung Semarang waktu itu. Jujur saja, perasaan saya waktu itu, gembira karena bertemu teman-teman dan karena mau dipestakan. Apalagi ketika itu juga ada perayaan peresmina gereja tersebut yang dihadiri bupati Bantul. Kami pun siap dengan aneka kesenian dan penampilan. Yang kami pikirkan itu saja, bukan pertama-tama hakikat sakramen krisma. Ketika menerima minyak krisma di dahi dan ditepuk pipi saya oleh uskup, saya tidak merasakan “resting in the spirit” atau ledakan suka cita luar biasa dalam hati saya. Tidak sama sekali. Yang saya perhatikan waktu itu ialah bahwa saya senang bisa berjumpa uskup sedekat ini dan beliau memandang saya dengan penuh kasih sambil mengucapkan forma sakramen Krisma, “Terimalah tanda karunia Roh Kudus”. Lalu saya menjawab “Amin”. Bapa uskup tersenyum dan menepuk pundak kiri saya, saya pun tersenyum kepada beliau. (Pas waktu itu lampu blitz menyala, dan foto itu tersimpan sampai kini sebagai kenangan). Begitu saja. Selesai. Kembali ke tempat duduk, berdoa dalam hati, mengenangkan betapa baiknya Tuhan, diiringi lagu-lagu liturgi dari koor yang memang isinya pujian – permohonan pada Roh Kudus dan nadanya sangat membantu doa. Dalam beberapa kali latihan sebelum hari-H, katekis selalu menekankan bahwa dalam liturgi Sakramen Krisma, Roh Kudus benar-benar melantik saya menjadi Saksi Kristus, bahwa saya sudah menjadi Katolik mandiri yang harus belajar iman Katolik dan mewartakan Kristus dengan penuh kasih tanpa disuruh-suruh lagi oleh orangtua atau guru agama. Itu saja. Tidak ada deru angin taufan ataupun perasaan “wow”. Biasa saja kok. Dalam perjalanan waktu, karena kebiasaan berdoa, menerima ekaristi, menerima sakramen tobat, aktif di lingkungan dan OMK, aktif di organisasi pemuda di , maka kesadaran akan “kedewasaan iman” itu berkembang. Maka saya bisa mengalami tuntunan Roh Kudus itu bukan hanya sesaat, namun sepanjang waktu dalam proses hidup sehari-hari. Sampai kini, buah sakramen Krisma itu selalu saya alami: semangat, damai, suka cita, kemurahan hati,… dst berselang-seling tanpa perasaan euforia. Perasan euforia karena daya Roh Kudus yang memancar dari dalam diri saya alami sekali saja ketika tahun 1990 mengalami resting in the Spirit dalam suatu retret ketika SMA  itupun hanya 15 menit.
Selebihnya Roh Kudus membimbing dengan halus dalam hidup rutin yang manusiawi dan  bermartabat. Sampai akhirnya saya berjumpa beberapa kali dalam wawancara pribadi dengan Mgr Julius Kardinal Darmaatmadja di Seminari. Saya ingat bahwa Sakramen Krisma telah saya terima melalui beliau.  Beliau tentu saja lupa, karena begitu banyak yang menerima Sakramen Krisma melalui beliau. Ketika saya pindah ke Jakarta tahun 2008, saya menjumpai beliau sebagai uskup Keuskupan Agung Jakarta, dan saya sudah menjadi imam 8 tahun. Dan ketika beliau memberi saya “celebret” (surat kewenangan memberikan pelayanan sakramen di wilayah keuskupan), saya mengingat proses mengagumkan bagaimana Roh Kudus menuntun saya, bahwa saya menerima sakramen Krisma melalui beliau ini. Semua  bukan oleh perasaan euforia, melainkan lebih-lebih melalui ketekunan dan ketaatan. Damai dan suka cita terjadi di dalam proses hidup itu.
Salam: Yohanes Dwi Harsanto Pr
Share.

About Author

Imam Keuskupan Agung Semarang dan bertugas sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia/KWI.

8 Comments

  1. Syalom Romo dan tim pengasuh

    Bukankah kalau mau menerima sakramen krisma harus belajar dulu ? Tapi saya lihat kalau ada misa pembaptisan, sakramen krisma langsung diberikan juga. Apakah itu berarti para baptisan baru tersebut sudah menerima sakramen krisma?

    Terima kasih.

    Nico

    • Shalom Nico,

      Ya, benar, bahwa untuk menerima sakramen Krisma, seseorang harus dipersiapkan dengan menerima pengajaran terlebih dahulu. Kalau seseorang dibaptis saat bayi, maka sebelum ia menerima Krisma di usia remaja, ia akan menjalani masa persiapan ini terlebih dahulu, umumnya selama beberapa minggu. Namun pada penerimaan Baptis dewasa, masa persiapan ini digabungkan dengan masa Katekumenat, sehingga pada saat menerima Baptisan, dapat juga diterimakan sakramen Krisma dan sakramen Ekaristi.

      Demikian ketentuannya dalam Katekismus:

      KGK 1298 Apabila upacara Penguatan dirayakan terpisah dari Pembaptisan, seperti yang berlaku dalam ritus Roma, maka ritus Sakramen mulai dengan pembaharuan janji Pembaptisan dan pengakuan iman dari mereka yang menerima Penguatan. Dengan demikian jelaslah bahwa Penguatan berhubungan dengan Pembaptisan (Bdk. SC 71). Kalau seorang dewasa dibaptis, maka ia langsung menerima Penguatan dan ikut serta dalam Ekaristi (Bdk. KHK, Kan. 866).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. syalom katolisitas,,

    saya mau tanya, apakah roh kudus tidak bekerja dalam diri kita sebelum menerima sakramen krisma? atau apakah dengan atau tanpa krisma roh kudus tetap bekerja??

    mengapa proses penerimaan sakramen krisma harus ditampar oleh uskup?? alkitabiahkah??

    mohon jawabannya, terima kasih

    • Shalom Xells,

      Rahmat Allah, yang merupakan karya Roh Kudus, tetap dapat bekerja dalam diri semua manusia, entah seseorang itu menerima Baptisan atau tidak, atau apakah ia telah menerima sakramen Krisma atau tidak. Rahmat yang bekerja pada waktu-waktu tertentu dalam diri setiap manusia, untuk mendorong mereka melakukan kebaikan, adalah actual grace (rahmat pembantu). Namun demikian, mereka yang telah menerima sakramen, yang dimulai dari sakramen Baptis, menerima rahmat yang istimewa, yang membuat Roh Allah tinggal/ berdiam di dalam dirinya (lih. 1Kor 6:19), dan ini disebut sanctifying grace (rahmat pengudusan). Rahmat pengudusan ini akan tetap ada dalam diri seseorang yang dibaptis, asalkan ia tidak melakukan dosa berat. Dosa berat mengakibatkan ia kehilangan rahmat pengudusan itu, dan untuk memperolehnya kembali, ia perlu mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa.

      Sakramen Krisma, maksudnya adalah untuk meningkatkan/ menguatkan rahmat pengudusan yang telah diterima dalam sakramen Baptis, dan dengan demikian menguatkan juga ikatan kasih kita dengan Kristus. Juga melalui sakramen Krisma, kita menerima rahmat sakramental untuk menjadi seseorang yang dewasa di dalam Kristus, serta kita menerima meterai rohani menjadi milik Kristus dan saksi Kristus. Selanjutnya tentang sakramen Krisma, silakan membaca di sini, silakan klik.

      Hal tepukan di pipi atau di bahu oleh Uskup pada saat ia menerimakan sakramen Krisma, itu maksudnya adalah untuk mengingatkan orang yang menerimanya bahwa sebagai saksi Kristus ia harus siap untuk mengikuti teladan Kristus, yaitu berani berkorban/menderita, bahkan sampai rela wafat demi Dia, dan demi melakukan kebaikan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah.

      “Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” (1 Ptr 2:20-21)

      “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia.” (1 Ptr 3:14)

      “Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” (1 Ptr 4:16)

      “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” (1 Ptr 4:19)

      “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yoh 3:16)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. bagi saya perbedaan sakramen dan non sakramen bukanlah menjadi masalah tetapi harus dimengerti bahwa sebenarnya agama KATOLIK dan KRISTEN PROTESTAN ADALAH agama yang sama, namun hanya dibedai dari cara penyampaiannya dan cara beribadah ? berdoa…. HARUS diperhatikan bahwa kita semuah menyembah dan menyerahkan kepada yg SATUU…….

    [dari katolisitas: Mungkin yang perlu dipertanyakan pada awalnya adalah apakah Yesus mendirikan Gereja atau tidak. Kalau mendirikan Gereja, maka Gereja yang mana?]

  4. Bernardus Aan on

    Salam Damai Kristus Romo Yohanes Dwi Harsanto Pr,

    Terimakasih atas jawabannya dan sharing pengalamannya. Saya membenarkan sharing anda karena sayapun juga mengalami tuntunan Roh Kudus seperti yang anda rasakan dalam kehidupan saya….. Halleluya.

    Yang ingin saya tanyakan Romo, apakah sama antara Roh Kebijaksanaan yang disebutkan di Kitab Amsal dan Kebijaksanaan Salomo dengan Roh Kudus? Mohon penjelasannya.

    Terimakasih dan TUHAN memberkati.

    Banyak salam dalam Kasih Karunia Kristus Tuhan,
    Bernardus Aan

    • Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. on

      Shalom Bernardus Aan,
      Roh Kudus yang satu dan sama, memberikan daya ilahi berupa karunia-karunia-Nya kepada siapapun pada zaman apapun. Maka, kebijaksanaan yang mengalir dari Allah dalam Roh Kudus-Nya, selalu sama. Hasilnya ialah buah-buah roh yang baik seperti damai, suka cita, persatuan, kebaikan, kesetiaan, penguasaan diri, dsb dalam Gal 5:22. Kata “Kebijaksanaan” sendiri mengacu pada kebijaksanaan Ilahi, yang keputusanNya selalu diimani sebagai baik dan adil, dan menyelamatkan umat manusia.
      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

  5. Sakramen krisma bagi umat katolik pada dasarnya sama dengan sidi bagi umat kristen protestan (non katolik). apakah pernyataan tersebut benar?
    Efektivitas pengaruh Roh Kudus pada saat pemberian krisma kepada umat yang menerima, kelihatannya tidak terasa. Hanya berupa upacara liturgis yang tidak menimbulkan efek nyata, bahkan terkesan ritual belaka. Mengapa demikian?

    [Dari Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply