Bersyukurlah, ada Api Penyucian!

183

Percaya atau tidak, Api Penyucian itu ada

Sewaktu saya tinggal di Filipina, saya pernah menonton sebuah talk-show dari saluran EWTN (Eternal Word Television Network), yang topiknya adalah Api Penyucian. Saya masih ingat, waktu itu pembicaranya yang bernama Mother Angelica, menerima pertanyaan dari pemirsa, yang rupanya tidak percaya akan adanya Api Penyucian, karena tidak ada kata “Api Penyucian” disebut di dalam Alkitab. Mother Angelica menjawab bahwa, memang kata “Api Penyucian” tidak secara eksplisit tercantum di dalam Alkitab, seperti juga kata ‘Trinitas’, atau ‘Inkarnasi’, namun kita percaya akan maksud dari kata-kata tersebut. Yang terpenting adalah ajarannya, bukan istilahnya. Dengan senyumnya yang khas Mother Angelica berkata dengan bijak, “Although you do not believe it, dear, it does not mean that it does not exist.” (Meskipun kamu tidak percaya, itu tidak berarti Api Penyucian tidak ada).

Apa itu Api Penyucian

Api Penyucian atau ‘purgatorium’ adalah ‘tempat’/ proses kita disucikan. Catatan: ‘Disucikan’ bukan ‘dicuci’, oleh sebab itu disebut Api Penyucian (bukan Api Pencucian). Gereja Katolik mengajarkan hal ini di dalam Katekismus Gereja Katolik # 1030-1032, yang dapat disarikan sebagai berikut:

1) Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

2) Pemurnian di dalam Api Penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka.

3) Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka.

Api Penyucian ada karena keadilan Allah: Dosa selalu membawa konsekuensi

Ada orang-orang yang berpikir bahwa jika Allah mengampuni, maka tidak ada lagi yang harus dipikirkan mengenai ‘akibat dosa’ sebagai konsekuensinya. Namun kenyataannya, hampir seluruh bagian Kitab Suci menceriterakan sebaliknya. Selalu saja ada konsekuensi yang ditanggung oleh manusia, jika ia berdosa terhadap Allah, meskipun Allah telah memberikan pengampunan. Kita melihat hal demikian, misalnya, pada Adam dan Hawa, setelah diampuni dosanya, diusir dari taman Eden (Kej 3:23-24). Raja Daud yang diampuni oleh Allah atas dosanya berzinah dengan Betsheba dan membunuh Uria, tetap dihukum oleh Tuhan dengan kematian anaknya (lihat 2 Sam 12:13-14). Nabi Musa dan Harun yang berdosa karena tidak percaya dan tidak menghormati Tuhan di hadapan umat Israel akhirnya tidak dapat masuk ke tanah terjanji (Bil 20:12). Nabi Zakharia, yang tidak percaya akan berita malaikat Gabriel, menjadi bisu (Luk 1:20). Dan masih banyak contoh lain, yang menunjukkan bahwa, selalu ada konsekuensi dari perbuatan kita.

Keponakan saya yang berumur 4 1/2 tahun mempunyai ‘problem’ kebiasaan (maaf) ‘pipis dan pupu’ di celana, dan tampaknya sering dilakukannya dengan sengaja. Sampai akhirnya sepupu saya mendidiknya demikian: setelah celananya kotor, keponakan saya itu disuruh mencuci sendiri celananya. Dengan hukuman ini, maka ia belajar bertanggung jawab, agar kelak ia tidak mengulangi perbuatan itu. Jika kita yang manusia saja mendidik anak-anak dengan mengajarkan adanya ‘konsekuensi’ demi kebaikan mereka, maka Allah yang jauh lebih bijaksana, juga mendidik kita dengan cara demikian, namun tentu saja dengan derajat keadilan yang sempurna. Sebab pada akhirnya, yang diinginkan Allah adalah kita menjadi benar-benar kudus, sehingga siap untuk bersatu dengan Dia yang Kudus di surga. Kekudusan ini harus menjadi milik jiwa kita sendiri dan bukan seolah-olah kita hanya ‘diselubungi’ oleh kekudusan Kristus, padahal di balik selubung itu jiwa kita masih penuh dosa. Allah menginginkan kita agar kita menjadi kudus dan sempurna (lih. Im 19:2; Mat 5:48). Maka, jika kita belum sepenuhnya kudus, pada saat kita meninggal, kita masih harus disucikan terlebih dahulu di Api Penyucian, sebelum dapat bersatu dengan Tuhan di surga. Pengingkaran akan adanya Api Penyucian sama dengan pengingkaran akan keadilan Tuhan. Padahal Keadilan –sama seperti Kasih dan Kesetiaan- adalah hakekat Tuhan, yang tidak dapat disangkal oleh Tuhan sendiri (lih. 2 Tim 2:13).

Api Penyucian ada karena keadilan Allah: Ada perbedaan antara dosa berat dan dosa ringan

Selain masalah konsekuensi dosa, ada pula pengertian dasar mengenai dosa berat dan dosa ringan yang penting kita ketahui untuk memahami pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ada orang berpendapat bahwa semua dosa sama saja, namun Alkitab tidak mengatakan demikian. Pembedaan dosa berat dan dosa ringan disebutkan di dalam surat Rasul Yohanes. Dosa ringan dikatakan sebagai dosa yang tidak mendatangkan maut, sedangkan dosa berat, yang mendatangkan maut (1 Yoh 5: 16-17). Rasul Yakobus juga membedakan kedua jenis dosa; dengan membedakan dosa yang awal dan dosa yang matang (Yak 1:14-15). Untuk pembahasan lengkap tentang dosa berat dan dosa ringan, silakan membaca artikel ini (silakan klik).

Konsekuensi dari pengajaran ini adalah jika kita meninggal dalam keadaan sempurna dalam rahmat Allah, maka kita dapat langsung masuk surga. Namun, jika kita meninggal dalam keadaan berdosa berat dan tidak bertobat, maka kita masuk neraka. Jika kita dalam keadaan di tengah-tengah: meninggal dalam rahmat, namun masih mempunyai dosa ringan atau masih menanggung konsekuensi dari dosa-dosa yang sudah diampuni, maka kita masuk ke ‘tempat’ yang lain, yaitu, Api Penyucian.

Api penyucian ada karena keadilan Allah: Kita diselamatkan bukan hanya karena iman saja, tetapi oleh kasih karunia Allah, yang harus diwujudkan dalam perbuatan kasih.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia Allah oleh iman (lih. Ef 2:8, Tit 2:11; 3:7). Dan iman ini harus dinyatakan dan disertai dengan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka iman kita itu mati (lih. Yak 2:17, 24, 26). Perbuatan kasih yang didasari iman inilah yang menjadi ukuran pada hari Penghakiman, apakah kasih kita sudah sempurna sehingga kita dapat masuk surga atau sebaliknya, ke neraka. Ataukah karena kasih kita belum sempurna, maka kita perlu disempurnakan dahulu di dalam suatu tempat/ kondisi yang ketiga, yaitu yang kita kenal sebagai Api Penyucian.

Sedangkan pada saat kita masih hidup, perbuatan kasih ini dapat dinyatakan dalam bentuk tindakan langsung, kata-kata atau dengan doa. Doa syafaat yang dipanjatkan dapat dinyatakan dengan mendoakan sesama yang masih hidup di dunia, maupun mendoakan mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, maka Gereja Katolik mengajarkan akan adanya Api Penyucian, dan bahwa kita boleh, atau bahkan harus mendoakan jiwa-jiwa yang masih berada di dalamnya, agar mereka dapat segera masuk dalam kebahagiaan surgawi.

Dasar dari Kitab Suci

Keberadaaan Api Penyucian bersumber dari ajaran Kitab Suci, yaitu dalam beberapa ayat berikut ini:

1. “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga]sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus, dan kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16). Sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri, bahwa Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.

2. Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “…tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

3. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada akhirnya segala pekerjaan kita akan diuji oleh Tuhan. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15) Api ini tidak mungkin merupakan api neraka, sebab dari api neraka tidak ada yang dapat diselamatkan. Api ini juga bukan surga, sebab di surga tidak ada yang ‘menderita kerugian’. Sehingga ‘api’ di sini menunjukkan adanya kondisi tengah-tengah, di mana jiwa-jiwa mengalami kerugian sementara untuk mencapai surga.

4. Rasul Petrus juga mengajarkan bahwa pada akhir hidup kita, iman kita akan diuji, “…untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan… pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Pet 1:7). Rasul Petrus juga mengajarkan,

“Kristus telah mati untuk kita … Ia, yang yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan oleh Roh, dan di dalam Roh itu pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara, yaitu roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah…” (1 Pet 3: 18-20). Roh-roh yang ada di dalam penjara ini adalah jiwa-jiwa yang masih terbelenggu di dalam ‘tempat’ sementara, yang juga dikenal dengan nama ‘limbo of the fathers’ (‘limbo of the just‘). Selanjutnya Rasul Petrus juga mengatakan bahwa “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati supaya oleh roh, mereka dapat hidup menurut kehendak Allah” (1 Ptr 4:6). Di sini Rasul Petrus mengajarkan adanya tempat ketiga selain surga dan neraka, yaitu yang kini disebut sebagai Api Penyucian.

5. Kitab 2 Makabe 12: 38-45 adalah yang paling jelas menceritakan dasar pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ketika Yudas Makabe dan anak buahnya hendak menguburkan jenazah pasukan yang gugur di pertempuran, mereka menemukan adanya jimat dan berhala kota Yamnia pada tiap jenazah itu. Maka Yudas mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem, untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Perbuatan ini dipuji sebagai “perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan” (ay.43); sebab perbuatan ini didasari oleh pengharapan akan kebangkitan orang-orang mati. Korban penebus salah ini ditujukan agar mereka yang sudah mati itu dilepaskan dari dosa mereka (ay. 45).
Memang saudara-saudari kita yang Kristen non-Katolik tidak mengakui adanya Kitab Makabe ini, namun ini tidak mengubah tiga kenyataan penting: Pertama, bahwa penghapusan Kitab Makabe ini sejalan dengan doktrin Protestan yang mengatakan bahwa keselamatan hanya diperoleh dengan iman saja atau “Sola Fide, Salvation by faith alone”, walaupun Alkitab tidak menyatakan hal itu. Sebab kata ‘faith alone’/ ‘hanya iman’ yang ada di Alkitab malah menyebutkan sebaliknya, yaitu “…bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”/ not by faith alone (Yak 2:24). Maka, berdoa bagi orang meninggal yang termasuk sebagai perbuatan kasih, menurut Luther tidak mempengaruhi keselamatan, sedangkan menurut Gereja Katolik itu merupakan hal yang mulia, yang jika dilakukan di dalam iman, akan membawa kita dan orang-orang yang kita doakan kepada keselamatan oleh karena kasih karunia Tuhan Yesus.
Kedua, tradisi berdoa bagi jiwa orang-orang yang sudah meninggal merupakan tradisi Yahudi, yang dimulai pada abad ke-1 sebelum Masehi, sampai sekarang. Maka, tradisi ini juga bukan tradisi yang asing bagi Yesus. Ketiga, Kitab Makabe ini bukan rekayasa Gereja Katolik, sebab menurut sejarah, kitab ini sudah selesai ditulis antara tahun 104-63 sebelum masehi. Karena itu kita dapat meyakini keaslian isi ajarannya. Lebih lanjut tentang hal ini, silakan klik di sini.

6. Rasul Paulus mendoakan sahabatnya Onesiforus yang rajin mengunjunginya sewaktu ia dipenjara, agar Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada sahabatnya itu ‘pada hari penghakiman’ (lihat 2 Tim 1:16-18). Rasul Paulus berdoa agar Tuhan berbelas kasihan kepada jiwa sahabatnya itu pada saat kematiannya.[1] Hal ini tentu tidak masuk akal jika doa yang dipanjatkan untuk orang yang meninggal tidak ada gunanya. Sebaliknya, ini merupakan contoh bahwa doa-doa berguna bagi orang-orang yang hidup dan yang mati. Tradisi para rasul mengajarkan demikian. Selanjutnya tentang Onesiforus (bahwa ia sudah wafat) sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Selanjutnya, keberadaan Api Penyucian berkaitan dengan Gereja Katolik tentang dua macam ‘hari penghakiman’.[2] Yang pertama, ‘particular judgment’ (pengadilan khusus), yaitu sesaat setelah kita meninggal, saat kita masing-masing diadili secara pribadi oleh Yesus Kristus; dan kedua adalah ‘general/ last judgment’ (pengadilan umum/ terakhir), yaitu pada akhir zaman, saat kita diadili oleh Yesus Kristus di hadapan semua manusia:

1. Segera setelah kita meninggal, kita akan diadili, dan ini dikenal sebagai ‘pengadilan khusus’. “…manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibr 9:27) Kisah orang kaya dan Lazarus juga menggambarkan akibat penghakiman yang diadakan segera setelah kematian (Luk 16:19-31). Setelah diadili secara pribadi, jiwa-jiwa ditentukan untuk masuk Surga, Api Penyucian atau Neraka sesuai dengan perbuatan manusia tersebut. Jika kita didapati oleh Tuhan dalam keadaan kudus, maka jiwa kita dapat segera masuk surga. Jika belum sepenuhnya kudus, karena masih ada faktor ‘cinta diri’ yang menghalangi persatuan sepenuhnya dengan Tuhan, maupun masih ada akibat dosa yang harus kita tanggung, maka jiwa kita disucikan dulu di Api Penyucian. Jika kita didapati oleh Tuhan dalam keadaan berdosa berat dan tidak bertobat maka keadaan ini membawa jiwa kita ke neraka.

2. Pada akhir jaman, setelah kebangkitan badan, kita (jiwa dan badan) akan diadili dalam Pengadilan Umum/ Terakhir. Pada saat inilah segala perbuatan baik dan jahat dipermaklumkan di hadapan semua mahluk, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak diketahui dan diumumkan”(Luk 8: 17). Pada saat itu, seluruh bangsa akan dikumpulkan di hadapan tahta Kristus, dan Dia akan mengadili semua orang: yang baik akan dipisahkan dengan yang jahat seperti memisahkan domba dan kambing (lih. Mat 25: 32-33). Hasil Pengadilan itu akan membawa penghargaan ataupun penghukuman, bagi jiwa dan badan. Tubuh dan jiwa manusia bersatu di Surga, apabila ia memang layak menerima ‘penghargaan’ tersebut; inilah yang disebut sebagai kebahagiaan sempurna dan kekal di dalam Tuhan. Atau sebaliknya, tubuh dan jiwa manusia masuk ke neraka, jika keadilan Tuhan menentukan demikian, sesuai dengan perbuatan manusia itu sendiri; inilah yang disebut sebagai siksa kekal.

Setelah akhir jaman, yang ada tinggal Surga dan Neraka, tidak ada lagi Api Penyucian, sebab semua yang ada di dalam Api Penyucian akan beralih ke Surga.

Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja dan Tradisi Suci Gereja

1. Tertullian (160-220), mengajarkan agar para istri mendoakan suaminya yang meninggal dan mendoakannya dengan Misa Kudus, setiap memperingati hari wafat suaminya.[3]

2. St. Cyril dari Yerusalem (315-386) mengajarkan agar kita mempersembahkan permohonan bagi orang-orang yang telah meninggal, dan mempersembahkan kurban Kristus [dalam Misa Kudus]yang menghapus dosa-dosa kita dan mohon belas kasihan Allah kepada mereka dan kita sendiri.[4]

3. St. Yohanes Krisostomus (347-407) mengajarkan agar kita rajin mendoakan jiwa sesama yang sudah meninggal.”Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh Bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka.[5]

4. St. Agustinus (354-430) mengajarkan, bahwa hukuman sementara sebagai konsekuensi dari dosa, telah dialami oleh sebagian orang selama masih hidup di dunia ini, namun bagi sebagian orang yang lain, dialami di masa hidup maupun di hidup yang akan datang; namun semua itu dialami sebelum Penghakiman Terakhir. Namun, yang mengalami hukuman sementara setelah kematian, tidak akan mengalami hukuman abadi setelah Penghakiman terakhir tersebut.[6]

5. St. Gregorius Agung (540-604),“Kita harus percaya bahwa sebelum Pengadilan [Terakhir] masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, ‘di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, [sedangkan dosa]yang lain di dunia lain.”[7]

6. Konsili Firenze (1439) dan Trente (1563), menjabarkan doktrin tentang Api Penyucian ini.[8] Konsili Firenze menyebutkan, “Dan jika mereka bertobat dan meninggal dalam kasih Tuhan sebelum melunasi penitensi dosa mereka…, jiwa mereka dimurnikan setelah kematian dalam Api Penyucian. Untuk membebaskan mereka, tindakan-tindakan silih (suffragia) dari para beriman yang masih hidup dapat membantu mereka, yaitu: Kurban Misa, doa-doa, derma, dan perbuatan kudus lainnya yang diberikan untuk umat beriman yang lain, sesuai dengan praktek Gereja. Hal demikian dinyatakan kembali dalam Konsili Trente, yang menegaskan keberadaan Api Penyucian, perlunya tindakan-tindakan silih (suffragia) dari para beriman untuk mendoakan jiwa-jiwa yang ada di dalamnya, terutama dengan Misa Kudus.

Terlihat di sini bahwa pengajaran tentang Api Penyucian bukanlah ‘karangan’ manusia, melainkan berdasar pada Kitab Suci dan diturun temurunkan dengan setia oleh Gereja. Jika kita manusia harus memilih, tentu lebih ‘enak’ jika tidak ada konsekuensi yang harus kita bayar. Misalnya, pada anggapan: ‘Pokoknya sudah beriman pasti langsung masuk surga. Sekali selamat, pasti selamat.’ Gereja Katolik, yang setia pada pengajaran para rasul, tidak mengajarkan demikian. Walau kita telah menerima rahmat keselamatan melalui Pembaptisan, kita harus menjaga rahmat itu dengan setia menjalani segala perintah Tuhan sampai akhir hidup kita. Jika kenyataannya kita belum sempurna, namun kita sudah ‘keburu’ dipanggil Tuhan, maka ada kesempatan bagi kita untuk disucikan di Api Penyucian, sebelum kita dapat masuk ke surga. Bukankah kita perlu bersyukur untuk hal ini? Sebab jika tidak ada Api Penyucian, betapa sedikitnya orang yang dapat masuk surga!

Jadi, ingatlah ketiga hal ini tentang Api Penyucian

  1. Hanya orang yang belum sempurna dalam rahmat yang dapat masuk ke dalam Api Penyucian. Api Penyucian bukan merupakan kesempatan kedua bagi mereka yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat dari dosa berat.
  2. Api Penyucian ada untuk memurnikan dan memperbaiki. Akibat dari dosa dibersihkan, dan hukuman/ konsekuensi dosa ‘dilunasi’.
  3. Api Penyucian itu hanya sementara. Setelah disucikan di sini, jiwa-jiwa dapat masuk surga. Semua yang masuk Api Penyucian ini akan masuk surga. Api Penyucian tidak ada lagi pada akhir jaman, sebab setelah itu yang ada hanya tinggal Surga dan neraka.

Jangan ragu mendoakan jiwa-jiwa yang ada di dalam Api Penyucian

Ayah saya meninggal pada tahun 2003 yang lalu. Saya selalu mengenangnya, terutama akan segala teladan iman dan kasihnya semasa hidupnya. Saya bersyukur bahwa sebelum wafatnya, ia sempat menerima sakramen Pengurapan orang sakit dan menerima Komuni Suci. Sejak saat meninggalnya sampai sekarang, saya mengingatnya dalam doa-doa saya setiap hari, saat saya mengikuti Misa kudus, dan secara khusus saya mempersembahkan ujud Misa baginya, yaitu pada saat memperingati hari wafatnya, hari arwah, dan hari ulang tahunnya. Saya percaya, bahwa sebagai sesama anggota Tubuh Kristus,  tidak ada yang dapat memisahkan kami, sebab kami dipersatukan di dalam kasih Kristus. Tentu saya berharap agar jiwa ayah saya sudah dibebaskan dari Api Penyucian, dan dengan demikian, Tuhan dapat mengarahkan doa saya untuk menolong jiwa- jiwa yang lain.

Dengan mendoakan mereka yang sudah meninggal, saya diingatkan bahwa suatu saat akan tiba bagi saya sendiri untuk dipanggil Tuhan. Dan saat itu sayapun membutuhkan doa-doa dari saudara/i seiman. Semoga mereka yang telah saya doakan juga akan mendoakan jiwa saya, jika tiba saatnya nanti. Demikianlah, indahnya kesatuan kasih antara umat beriman. Kita saling mendoakan, bukan karena menganggap kuasa Tuhan kurang ‘ampuh’ untuk membawa kita kepada keselamatan. Melainkan karena kita menjalankan perintah-Nya, yaitu agar kita saling mendoakan dan saling menanggung beban, untuk memenuhi hukum Kristus (Gal 6:2); dan dengan demikian kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan. Sebab di dalam Kristus, kita semua memiliki pengharapan akan kasih Tuhan yang mengatasi segala sesuatu. Maka kita dapat berkata bersama Rasul Paulus, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom 8:38-39).


[1] Dom Bernard Orchard MA, A Catholic Commentary on Holy Scripture, general editor, (Thomas Nelson and Sons, New York, 1953), p. 1148, ayat ini menunjuk kepada kematian Onesiforus.

[2] Spirago-Clarke, The Catechism Explained, an Exhaustive Explanation of the Catholic Religion, TAN Books and Publishers, Inc.,1921, reprint 1993, p. 256, 270.

[3] Tertullian, “On Monogamy”, Chap 10, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers (Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, original print by Herder and Herder, 1966) p. 457.

[4] Lihat St. Cyril dari Yerusalem, Catecheses, 23:10, seperti dikutip oleh John R. Willis, Ibid., p. 418.

[5] St. Yohanes Krisostomus, Homili 1 Kor 4:1,5, seperti dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik 1032.

[6] Lihat St. Agustinus, The City of God, Bk 21, Chap. 13, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, Ibid., p. 456-457.

[7] St. Gregorius Agung, Dial 4, 39, seperti dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik 1031.

[8] J. Neuner, SJ- J. Dupuis, SJ, The Christian Faith in the Doctrinal Documents of the Catholic Church, (Theological Publications in India, Bangalore, 7th revised and enlarged edition, 2001), p. 1020-1021.

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

183 Comments

  1. Sakramen Perminyakan dan Peringatan Jiwa-jiwa di Api Penyucian ( 2 November )
    1. Pada umumnya umat katolik beranggapan, calon almarhum/ah yang sempat diberi Sakramen Perminyakan menjelang ajalnya , akan menerima pengampunan atas dosa-dosanya sehingga bisa melenggang masuk surga.
    2. Di lain pihak , gereja masih memberikan fasilitas “peringatan jiwa-jiwa di api penyucian ( mana yang benar : pencucian??) bagi para almarhum/ah yang belum mendapatkan pengampunan penuhmdan belum masuk surga.
    3. Apa perlunya mendoakan lagi para almarhum/ah yang sudah menerima sakramen perminyakan menjelang ajalnya? Bukankah dosa mereka sudah diampuni ketika menerima sakramen perminyakan? Jadi mereka juga tomatis sudah masuk surga?

    • Shalom Herman Jay,

      Secara prinsip tanpa kekudusan (kesempurnaan kasih) tidak seorangpun akan melihat Allah (lih. Ibr heb 12:14). Jadi, dengan Sakramen Perminyakan dan juga pengampunan dosa, maka seseorang dapat diampuni dosa-dosanya serta dipersiapkan untuk menghadap Allah. Dalam kondisi rahmat (berdamai dengan Allah dan tidak dalam kondisi dosa berat), maka seseorang terhindari dari siksa dosa kekal di neraka. Namun, kalau dia tidak mempunyai kesempurnaan kasih, maka masih perlu disucikan di dalam Api Penyucian.

      Sedangkan indulgensi adalah sarana bagi umat Allah di dunia ini untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan Allah, dengan cara melakukan doa, kasih, misa, pengakuan, dan perbuatan yang disyaratkan untuk dapat membantu jiwa-jiwa di Api Penyucian atau dapat juga ditujukan untuk diri sendiri. Silakan membaca artikel tentang Api Penyucian dan indulgensi di katolisitas. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. rafael kevin on

    Shalom katolisitas

    saya mohon penjelasan mengenai api penyucian, sampai kapankah orang berada di api penyucian, sampai ia benar2 suci atau sampai hari penghakiman terakhir? Dan
    Almarhum Ibu saya dahulu pernah bernazar, bahwa jika dirinya diberi kendaraan untuk berobat oleh Tuhan, maka ia akan mengunjungi orang2 sakit tetapi karena kondisi mama saya yg saat itu tidak memungkinkan, sehingga belum bisa melawat orang2 yg sakit hingga akhirnya setelah 4 minggu ibu saya mendapatkan mobil,ia wafat dan belum menjalankan nazarnya, apakah mengingkari nazar/janji dengan Tuhan termasuk dosa berat?

    GBU

    • Shalom Rafael,

      Penjelasan tentang sampai kapan jiwa seseorang berada di Api Penyucian dapat dilihat di sini:

      Umumnya, kita tidak akan pernah tahu sampai berapa lama jiwa-jiwa mengalami pemurnian di Purgatorium sebelum akhirnya mereka dapat beralih ke Surga. Hanya Allah saja yang tahu saatnya bahwa jiwa-jiwa tersebut telah murni dan serupa dengan Dia, sehingga layak untuk memandang-Nya di dalam Kerajaan Surga. Ada kekecualian memang pada orang-orang tertentu yang diberi rahmat khusus oleh Allah, untuk mengetahui bahwa jiwa-jiwa tertentu yang didoakan olehnya telah beralih ke Surga. Hal ini misalnya kita ketahui dari pengalaman beberapa orang kudus. Namun pada umumnya, kita tidak mengetahui, apakah atau kapankah jiwa-jiwa yang kita doakan beralih ke Surga. Oleh karena itu, kita yang masih berziarah ini tetap dianjurkan untuk terus mendoakan jiwa-jiwa tersebut. Sebab sekalipun mereka telah beralih ke Surga, doa-doa kita akan tetap dapat membantu jiwa-jiwa lainnya, yang masih berada di Api Penyucian.

      Please log in to rate this.

      0 people found this helpful.


      Category: 4 Hal Terakhir, Purgatorium, Syahadat
      Tags:

      ← FAQ dan Komentar

      Please log in to rate this.

      0 people found this helpful.
      Permalink


      Tentang situasi khusus dari ibu Anda, maka memang kalau kita telah berjanji dan apalagi janji tersebut adalah di hadapan Tuhan dan sesuatu yang baik dan mungkin dilakukan, maka kita harus melakukannya. Bahwa akhirnya, ibu Anda tidak dapat memenuhi janji tersebut sampai akhir hidupnya, Tuhan akan memperhitungkannya. Namun, dalam kerahiman-Nya, Dia juga akan memperhitungkan keinginan baik dari ibu Anda dan segala kondisi, sehingga hal yang baik tersebut tidak dilakukan.

      Kalau memang Anda tergerak, Anda juga dapat melakukan janji yang ibu Anda lakukan. Anda lakukan kunjungan orang sakit, bukan hanya karena memenuhi janji ibu Anda, namun juga didorong oleh kasih Anda kepada Yesus. Yesus sendiri yang berkata “ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” (Mat 25:36). Silakan membawa terus ibu Anda di dalam doa-doa Anda serta indulgensi yang ditujukan untuk jiwa ibu Anda. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. Shalom pak Stef & bu Inggrid

    1. Adanya api penyucian kan diyakini oleh umat Katolik, sedangkan untuk umat Kristen mereka tidak meyakini hal tersebut. Sebenarnya apa yang membuat umat Kristen berbeda pemikiran dan keyakinannya terhadap api penyucian ?
    2. Apakah api penyucian ini alkitabiah atau tidak ? jika iya, kenapa? dan jika tidak, kenapa ?

    terimakasih sebelumnya :)

    [Dari Katolisitas: Mohon membaca kembali artikel di atas, silakan klik. Tentu Api Penyucian adalah ajaran yang Alkitabiah, sebab Kitab Suci mengajarkan tentang adanya pemurnian setelah kematian, walaupun memang tidak secara eksplisit menyebutnya ‘Api Penyucian’. Umat Kristen non-Katolik tidak meyakininya, kemungkinan besar karena mereka tidak mengakui Kitab 2 Makabe, yang paling jelas menyebutkan adanya proses pemurnian jiwa-jiwa yang telah meninggal, dan bagaimana orang yang masih hidup di dunia dapat dan dianjurkan untuk mendoakan jiwa-jiwa tersebut.]

  4. Marianus Yadi on

    Apakah sebutan bagi eks Katolik yang berpindah agama dan menganut agama lain? Apakah disebut kafir atau murtad. Lalu jika sebaliknya seseorang masuk ke dalam agama Katolik apakah dosa-dosanya terdahulu sewaktu hidup di agama yang lama diampuni? Terima kasih, Allah memberkati.

    • Shalom Marianus Yadi,

      Bagi orang-orang Katolik yang mengingkari sebagian dari imannya, maka disebut heretic atau bidat. Namun, bagi umat Katolik yang kemudian meninggalkan seluruh imannya dapat disebut apostasy in faith atau murtad dalam iman. Tidak ada kata terlambat bagi orang yang bertobat. Langkah awal bagi orang-orang yang melakukan dosa ini adalah untuk mengakukan dosanya di dalam Sakramen Tobat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  5. Octavian Nababan on

    Shalom Pak Stef,

    Saya turut bersyukur untuk Ayah Bapak yang sempat diurapi dan menerima komuni. Beda halnya dengan Ayah saya yang meninggal di pangkuan Ibu ketika di perjalanan menuju rumah sakit, lalu setiba di rumah saya mendaraskan doa rosario untuk beliau dan ada misa arwah dari Romo Paroki. Saya tidak ingat kapan terakhir beliau menerima sakramen tobat. Semasa hidupnya, hidup dan iman katoliknya cukuplah saya gambarkan menjadi panutan saya sampai sekarang ini, maksud saya, tidak ingin menyebutkan detail ini dan itu.
    Saya mau bertanya,
    1. Bagaimana dengan kasus Ayah saya? Neraka atau Purgatorium?
    2. Saya mendapatkan kisikan dari semacam paranormal bahwa Ayah saya meninggal karena diguna-guna. Pandangan GK sendiri tentang guna-guna?

    Terimakasih, pak Stef.
    Pace e bene

    • Shalom Octavian,

      Sebagai umat Katolik, kita mengharapkan agar sebelum meninggal kita dapat diberi kesempatan untuk menerima sakramen Pengurapan orang sakit yang memberikan viaticum, yaitu Komuni kudus sebelum ajal, sebagai bekal rohani dalam perjalanan menuju kehidupan kekal. Namun nyatanya, tidak semua dari kita memperoleh kesempatan ini, entah karena penyakit datang demikian tiba-tiba, atau karena sebab lainnya. Nampaknya ini yang terjadi pada ayah Anda. Namun demikian, percayalah bahwa Tuhan yang Maha baik, memahami keadaan ayah Anda itu, terutama, jika sepanjang hidupnya ia tekun berdoa dan telah menunjukkan teladan iman dan kasih yang baik, sehingga dapat menjadi panutan bagi anak-anaknya, termasuk Anda. Dengan teladan iman ini, kita dapat berharap bahwa ia wafat dalam pertobatan sejati, walaupun ia belum sempat menerima sakramen tobat. Dengan sakramen Baptis yang sudah diterimanya, dan dengan tobat yang sejati sebelum wafatnya, artinya ayah Anda meninggal dalam persahabatan dengan Allah, dan tidak memisahkan diri dari Allah. Dengan demikian, kita dapat berharap bahwa Allah akan memberikan pengampunan kepadanya. Katekismus mengajarkan bahwa Allah memang mengikatkan keselamatan dengan sakramen Baptis, namun Ia sendiri tidak terikat oleh sakramen-sakramen-Nya (lih. KGK 1257). Dengan demikian, kitapun percaya bahwa rahmat Allah tetap dapat bekerja pada orang-orang yang sungguh mengasihi Dia, walaupun mereka, oleh karena keadaannya, tidak dapat menerima sakramen sesaat sebelum wafatnya. Hanya saja, sebenarnya kita tidak boleh menjadikan hal ini sebagai alasan untuk tidak mengusahakan penerimaan sakramen, sebab kita telah mengetahui bahwa cara yang dikehendaki oleh Allah adalah kita menerima sakramen-sakraman itu, untuk memperoleh rahmat keselamatan-Nya.

      Rahmat Allah yang diterima dalam Baptisan membuat orang yang dibaptis menjadi milik Kristus. Rahmat Baptisan membebaskan orang yang dibaptis dari dosa dan setan (lih KGK 1237). Maka sepanjang orang tersebut tidak membawa dirinya sendiri untuk kembali bermain-main dengan kuasa kegelapan, seharusnya ia tak perlu takut dengan kuasa setan tersebut, sebab dengan Baptisan ia sudah dimeteraikan oleh Kristus menjadi milik-Nya.

      Guna-guna, dan semua bentuk magis dikecam oleh Gereja. Katekismus mengajarkan:

      KGK 2117    Semua praktik magi dan sihir, yang dengannya orang ingin menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan supaya mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang lain – biarpun hanya untuk memberi kesehatan kepada mereka – sangat melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah. Tindakan semacam itu harus dikecam dengan lebih sungguh lagi, kalau dibarengi dengan maksud untuk mencelakakan orang lain, atau kalau mereka coba untuk meminta bantuan roh jahat. Juga penggunaan jimat harus ditolak. Spiritisme sering dihubungkan dengan ramalan atau magi. Karena itu Gereja memperingatkan umat beriman untuk tidak ikut kebiasaan itu. Penerapan apa yang dinamakan daya penyembuhan alami tidak membenarkan seruan kepada kekuatan-kekuatan jahat maupun penghisapan orang-orang lain yang gampang percaya.

      Akhirnya, jika boleh kami menyarankan, janganlah terlalu kuatir dengan segala bisikan negatif tentang apa yang dilakukan orang terhadap ayah Anda. Kehidupan kita adalah pemberian Alah: Allah yang memberi dan Allah pula yang berhak mengambilnya kembali. Maka jika seseorang berpulang/ wafat, itu karena izin Allah. Namun kita percaya bahwa Allah Maha adil dan Maha kasih, dan Ia akan memberikan segala yang baik dan sesuai, kepada mereka yang mengasihi Dia. Kita tidak tahu apakah orang-orang yang kita kasihi yang telah mendahului kita, dapat langsung masuk Surga atau masih perlu dimurnikan dahulu dalam Api Penyucian. Oleh karena itu bagian kita adalah mendoakan jiwa-jiwa mereka. Semoga Tuhan berkenan mengampuni dosa-dosa mereka dan segera menggabungkan mereka ke dalam Kerajaan-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Syalom..

    1) Apakah api penyucian juga berlaku untuk orang2 kristen non katolik yang ‘baik’ sementara mereka tidak percaya api penyucian?

    2) Apakah orang2 yang tidak tahu dan tidak percaya siapa itu Roh Kudus (karena mereka bukan kristen) dan karena itu menentang Roh Kudus juga tidak akan dapat diampuni?

    Jadi katolik berpandangan bahwa kasih harus dinyatakan dalam iman dan perbuatan. Sedangkan saya pernah baca kalau protestan hanya percaya mereka diselamatkan melalui semata2 iman saja. Wajar kalau begitu setiap hari tetangga protestan saya menyetel lagu2 rohani dengan sound keras pagi sampai sore tapi masih bisa saja ‘mendzalimi’ orang katolik dan merendahkan orang katolik tersebut dengan sikap dan perkataan yang tidak pantas. Ya biar hanya Tuhan yang membalas.

    • Shalom Axel,

      Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan atas beberapa pertanyaan yang Anda ajukan:

      1. Apakah Purgatorium hanya untuk umat Katolik saja atau berlaku untuk umat yang tidak percaya akan keberadaan Purgatorium? Sama seperti neraka bukan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang percaya akan keberadaan neraka, maka Purgatorium juga tidak hanya diperuntukkan bagi umat Katolik yang mempercayai adanya Purgatorium. Baik percaya atau tidak akan adanya Purgatorium, seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan rahmat atau tidak dalam keadaan berdosa berat, namun belum sempurna di dalam kasih, akan masuk ke Purgatorium sebelum dapat bersatu dengan Allah di Surga.

      2. Dosa menentang Roh Kudus: Penjelasan dosa menentang Roh Kudus bukanlah seperti yang Anda berikan, namun dapat dilihat dalam tanya jawab ini – silakan klik.

      3. Hubungan antara iman dan perbuatan: Dapat dilihat di tanya jawab ini – silakan klik. Perlu menjadi catatan adalah tantangan untuk hidup kudus adalah juga termasuk kita semua yang beragama Katolik. Hal ini justru semakin memacu kita agar terus berjuang dalam kekudusan dengan terus bekerjasama dengan rahmat Allah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Shalom Katolisitas

    Saya tertarik dengan api penyucian, seperti kita tahu bahwa Gereja Katolik mengakui/mempercayai adanya api penyucian.

    Apakah orang yang beragama selain Katolik, ketika meninggal tidak dalam dosa berat, masuk juga dalam api penyucian seperti halnya orang Katolik ?

    Mohon pencerahannya
    Salam kasih.

    [Dari Katolisitas: Jika berpegang kepada prinsip yang diajarkan oleh iman Katolik, nampaknya demikian, asalkan bukan karena kesalahan sendirilah yang mengakibatkan orang tersebut tidak mengenal tentang Kristus dan Gereja-Nya.]

    • Salam Sejahtera untuk kita semua. Saya ingin bertanya, apa perspektif Iman Katolik mengenai Neraka? Apakah gambaran Neraka menurut Iman Katolik sama saja dengan Iman Islam? Apa yang terjadi jika kita meninggal dalam keadaan belum menjadi Katolik. Sekian pertanyaan saya, mohon dijawab

      Shalom

      • Shalom Ilham,

        Silakan membaca di artikel ini, tentang Apakah yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang neraka, silakan klik.

        Situs ini adalah situs Katolik dan fokus kami di sini adalah menyampaikan tentang ajaran iman Katolik. Jika Anda ingin mengetahui mengenai ajaran agama yang lain, silakan Anda bertanya kepada situs yang menyampaikan ajaran agama yang bersangkutan.

        Gereja Katolik mengajarkan bahwa tidak ada seorangpun yang telah ditentukan lebih dahulu (‘ditakdirkan’) oleh Tuhan supaya masuk neraka. Hanya orang yang dengan kehendak bebasnya, terus mengingkari Tuhan (yaitu dengan berdosa berat) sampai akhir dan tidak berobat, yang sampai ke sana. Maka, untuk keadaan orang yang meninggal tetapi belum menjadi Katolik, pertanyaannya adalah, apakah ia wafat dalam keadaan berdosa berat/ mengingkari Tuhan? Apakah ia sudah tahu bahwa Allah telah mengutus Kristus Putera-Nya dan mendirikan Gereja-Nya, untuk menyelamatkan umat manusia? Selanjutnya tentang topik ini, silakan membaca artikel ini, silakan klik.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Shalom pak Stef & bu Ingrid yg t’kasih…

    Saya b’setuju skiranya kta dajar ttg kberada’n purgatorium ni. Tp yg m’bingung’n sya, klu skiranya tmpat ni wjud, buknkah spt mnafi’n tjuan kmatian Kristus d kayu salib..? Bukn kh Kristus mati utk mnebus dosa2 mnusia..? Jd scara logika, x mugkin wjud mati dlm rhmat pnuh @ stengah… Krna kranya kta mati pd ktika b’iman & prcya kpd Kristus, kn dosa2 kta akn otomatis dampuni..? Krna buknkh atas tjuan ni Yesus dtang k dunia..?

    @ adakh b’mksud purgatori ni tmpat utk m’hapus’n sgala k’inginan hati kta atas sgala yg jhat..? Tp klu bgtu sptnya mlawan ‘free will’ yg Tuhan beri’n kpd kta..?

    Sya kurng mngerti dasar utk apkh tmpat ni wjud… Sptnya x s’jlan dgn tjuan pnebusan dr Kristus, bhwa stiap orng yg prcya kpdaNya akn b’oleh hdup kekal…

    Dpatkh pak & bu m’nangkap mksd soaln sya ni.? Mhon p’jelasan…
    Thanx in advance…
    God bless…

    • Shalom John,

      Kita percaya akan kesempurnaan karya penebusan Kristus, karena karya tersebut dilakukan oleh Kristus yang adalah sungguh Allah. Kristus melakukannya atas dasar kasih yang sempurna, sampai rela menyerahkan nyawa- Nya untuk kita sahabat-sahabat-Nya (lih. Yoh 15:13). Namun, kesempurnaan penebusan Kristus tidak menjadikan kita, umat-Nya cukup berpangku tangan saja. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi kawan sekerja Allah (lih. 1Kor 3:9). Rasul Paulus bahkan mengatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24). Jadi, walaupun karya penebusan Kristus sungguh sempurna, namun kita semua dipanggil untuk turut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk pertumbuhan Gereja. Inilah sebabnya, seluruh umat Allah juga turut dipanggil untuk mendoakan anggota-anggota Gereja yang masih berada di dalam proses pemurnian di Purgatorium.

      Alasan berikutnya adalah, karena kesempurnaan penebusan Kristus tidak otomatis diiringi dengan kesempurnaan kasih umat yang ditebus-Nya, yang harus diwujudkan dengan kasih kepada Allah dan sesama. Padahal, sudah menjadi kebijaksanaan ilahi bahwa Surga adalah kesempurnaan kasih. Dan karena Allah itu sempurna adanya, maka untuk bersatu dengan-Nya, kita-pun harus sempurna (lih. Mat 5:48). Dengan demikian, orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan rahmat, namun belum sempurna dalam kasih, masih perlu dimurnikan terlebih dahulu, sebelum dapat bersatu dengan Allah di Surga. Proses pemurnian ini disebut Purgatorium. Dengan demikian, Purgatorium bukanlah mencerminkan ketidaksempurnaan penebusan Kristus, namun sebaliknya, justru menunjukkan kesempurnaan karya ilahi yang menyempurnakan manusia dari dalam sehingga pada saatnya, orang-orang pilihan ini dapat menjadi kudus seperti Kristus (lih. 1Yoh 3:2).

      Pertanyaan yang lain adalah tentang free will. Keinginan bebas yang bertanggungjawab atau yang baik bukanlah memilih baik dan jahat, namun memilih baik dan baik. Dengan kata lain, Api Penyucian justru memurnikan keinginan bebas manusia, sehingga manusia secara bebas dapat bersatu dengan Allah Tritunggal Maha Kudus.

      Mohon lain kali untuk dapat menulis tanpa ada singkatan, sehingga kami tidak perlu menerka-nerka maksud Anda. Semoga jawaban singkat di atas dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Shalom pak Stef yg t’kasih…

        Trima kasih atas p’jelasannya. & mohon maaf jg atas ksilapan sya yg sering m’guna singkatan… Utk m’jimatkn ruang, pak… Skali lg trima kasih jg atas saranannya…

        God bless…

  9. Shalom,
    Romo dan teman-teman seiman.

    Saya mau tanya dalam setahun, berapa kali kita boleh melakukan pengakuan dosa? Dan apabila setelah melakukan pengakuan dosa, apakah kita benar-benar diampuni dan dosa-dosa kita sebelumnya tidak diperhitungkan di dalam api penyucian nanti?
    Terima kasih atas perhatian dan mohon dijawab ya.

    God Bless You

    Jean

    • Shalom Jean,

      Persyaratan yang ditentukan oleh Gereja adalah seseorang mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa sebanyak minimal sekali setahun. Namun jika kita mau bertumbuh secara rohani, memang sebaiknya kita mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan secara lebih teratur, misalnya sebulan sekali. Konon Paus Yohanes Paulus II dan Mother Teresa mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan dosa seminggu sekali, bahkan ada yang mengatakan setiap hari. Ini menunjukkan bahwa semakin seseorang dekat dengan Tuhan, maka ia akan menjadi semakin peka terhadap dosa.

      Melalui sakramen Pengakuan Dosa, dosa kita benar-benar diampuni, artinya hubungan kita dengan Allah, yang telah dirusak oleh dosa, dipulihkan kembali oleh rahmat Allah yang diterima dalam sakramen tersebut. Bahkan dosa yang terberat sekalipun, jika sudah diakui dalam sakramen Pengakuan Dosa, akan diampuni oleh Tuhan, sehingga orang yang berdosa tersebut terbebas dari siksa dosa kekal di neraka.

      Namun siksa dosa sementara tetap ada, yang harus ditanggung oleh orang yang telah berdosa. Siksa dosa sementara ini adalah konsekuensi/ akibat dari dosa tersebut, yang menurut kebijaksanaan Tuhan tetap harus ditanggung oleh orang yang bersangkutan. Contohnya banyak dalam Kitab Suci, seperti ketika Raja Daud telah sungguh bertobat dari dosanya berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria, maka Allah mengampuni Daud, dan membebaskannya dari kematian selamanya di neraka, namun Daud tetap harus menanggung siksa dosa sementara, sebagai akibat dari dosanya, yaitu anaknya dari Batsyeba itu akhirnya mati (lih. 2 Sam 12:13-14). Atau jauh sebelumnya, Adam dan Hawa, menerima konsekuensi diusir dari taman Eden, karena tidak taat kepada perintah Allah (Kej 3:23). Demikian pula Musa dan Harun yang tidak sepenuhnya taat kepada-Nya, menerima konsekuensi bahwa mereka tidak dapat masuk ke Tanah Terjanji Kanaan, namun hanya memandangnya dari kejauhan (Ul 32: 52). Atau, Zakaria yang tidak percaya akan pemberitaan dari malaikat Allah, lalu menjadi bisu (Luk 1:20). Nah, maka siksa dosa/ konsekuensi dosa itu selalu ada, walaupun orang yang melakukannya sudah bertobat; dan karena ia sudah bertobat maka konsekuensi ini sifatnya sementara. Jika konsekuensi itu belum dilunasi dalam kehidupan di dunia ini, maka hal itu akan dilunasi di kehidupan selanjutnya, yaitu di Api Penyucian. Namun pemurnian dari konsekuensi dosa sementara ini sama sekali berbeda dengan siksa di neraka.

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

      KGK 1030    Siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan keselamatan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga.

      KGK 1031    Gereja menamakan penyucian akhir para terpilih, yang sangat berbeda dengan siksa para terkutuk, purgatorium [api penyucian]. Ia telah merumuskan ajaran-ajaran iman yang berhubungan dengan api penyucian terutama dalam Konsili Firence (Bdk. DS 1304. dan Trente Bdk. DS 1820; 1580). Tradisi Gereja berbicara tentang api penyucian dengan berpedoman pada teks-teks tertentu dari Kitab Suci (Bdk. misalnya 1 Kor 3:15; 1 Ptr 1:7)

      “Kita harus percaya bahwa sebelum pengadilan masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seseorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, yang lain di dunia lain” (Gregorius Agung, dial. 4,39).

      KGK 1032    Ajaran ini juga berdasarkan praktik doa untuk orang yang sudah meninggal tentangnya Kitab Suci sudah mengatakan: “Karena itu [Yudas Makabe] mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya” (2 Mak 12:45). Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi (Bdk. DS 856). untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.
      “Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya (Bdk. Ayb 1:5), bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka” (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41,5).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Shalom Pak Stefanus dan bu Ingrid,

    Saya terus terang menyukai website ini, banyak informasi informasi yang berkaitan dengan iman katolik yang saya butuhkan secara spiritual. Saya harap website ini tetap ada terutama bagi mereka mereka yang bimbang dengan iman katolik mereka. Saya mau menanyakan satu hal tentang Lukas 16:20-31, tentang orang kaya dan Lazarus. Kenapa Yesus tidak menunjukkan secara implisit tentang api penyucian? apa karena Ia menggunakan istilah ‘pangkuan Abraham’ maka istilah purgatorium di tiadakan? kenapa orang kaya langsung masuk ke neraka? apakah dia memang layak masuk di sana karena perbuatan di dunia sangatlah jahat atau super jahat sehingga tidak ada pengampunan lagi. Ayat ini sering digunakan oleh saudara saudara kita umat Protestan untuk menyebutkan bahwa tidak ada api penyucian, mereka beralasan hanya ada surga dan neraka.

    Terima kasih atas respon yang baik dari pak Stefanus dan bu Ingrid.

    Tuhan Yesus memberkati.

    • Shalom Wahyu,

      Perikop tentang orang kaya dan Lazarus memang tidak untuk menceritakan tentang Api Penyucian. Jadi, kalau tidak diceritakan di satu perikop, maka bukan berarti ajaran tersebut tidak benar, karena sebenarnya ada banyak ayat-ayat yang mendukung keberadaan Api Penyucian, seperti yang terlihat dalam artikel di atas.

      Tentang istilah pangkuan Abraham, tidaklah sama dengan Api Penyucian. Pangkuan Abraham adalah tempat penantian bagi orang-orang yang dibenarkan oleh Allah namun belum dapat naik ke Surga, karena Surga masih tertutup sampai Kristus naik ke Surga. Semoga dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  11. Dear Katolisitas.

    Ibu Ingrid / Bpk Stef

    Mohon pencerahan, saya pernah mendengar bahwa purgatory itu ada tingkatannya, Apakah benar ? jika benar, bagaimana penjelasannya ?

    Terima Kasih.

    • Shalom Yohanes,

      Kita tidak tahu apakah Purgatorium ada tingkatannya atau tidak. Namun, istilah tingkatan mungkin ingin menggambarkan bahwa ada sebagian jiwa ada mengalami pemurnian “lebih lama” dari sebagian jiwa yang lain.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  12. Dear Ibu Ingrid / Bpk.Stef

    Mohon Penjelasan tentang Sheol, Hades, Gehena,
    Apakah itu ada hubungannya dengan Purgatory ??
    Apakah dalam ajaran Gereja Katolik mengenal tentang Sheol, Hades, dan Gehena ??

    Yang saya tahu Gehena adalah Neraka Jahanam. Sedangkan Sheol dan Hades itu apa ya..? apakah itu kata lain dari Purgatory
    Mohon penjelasan.

    Terima Kasih.

    Hormat saya,
    Yohanes 777

    • Shalom Yohanes 777,

      Berikut ini adalah tanggapan yang saya sarikan dari link ini, silakan klik untuk membaca selengkapnya di sana:

      Sejujurnya, kata Latin infernus, dan kata Yunani, Hades, dan kata Ibrani, Sheol itu memang sering dihubungkan dengan kata Hell dalam bahasa Inggris. Infernus, berasal dari akar kata ‘in’, berkonotasi suatu tempat di dalam, di bawah bumi. Haides, dari akar kata ‘fid’, mengacu kepada tempat yang tak kelihatan, tersembunyi dan gelap, menyerupai arti kata hell. Sheol, kemungkinan berasal dari kata yang berarti ‘tenggelam, menjadi kosong/ lubang’, sehingga mengacu kepada semacam gua, tempat di dalam bumi.

      Di dalam Perjanjian Lama kata Sheol umumnya digunakan sebagai tempat semua orang yang sudah meninggal -disebut dunia orang mati- entah orang baik (lih. Kej 37:35) ataupun orang jahat (Bil 16:30). Maka ini termasuk neraka (bagi jiwa-jiwa orang-orang jahat), dan juga tempat pangkuan Abraham (atau disebut limbo of the just, bagi jiwa-jiwa orang-orang yang baik). Tetapi, karena tempat pangkuan Abraham berakhir pada saat Yesus naik ke Surga (karena dengan kenaikan-Nya ke Surga, Yesus membawa serta semua jiwa-jiwa di pangkuan Abraham itu untuk masuk ke Surga) maka sejak itu kata Hades mengacu kepada neraka, tempat penghukuman jiwa-jiwa yang jahat. Sebab setelah kenaikan Yesus ke Surga, orang-orang benar tidak lagi turun ke tempat penantian, tetapi mereka akan masuk ke Surga (2 Kor 5:1). Namun demikian, dalam kitab Perjanjian Baru, istilah Gehenna dipergunakan lebih sering daripada istilah Hades, untuk menggambarkan penghukuman bagi orang-orang yang jahat.

      Nah, maka Sheol ataupun Hades  tidaklah sama dengan Purgatorium (Api Penyucian). Sheol ataupun Hades mengacu kepada arti dunia orang mati secara umum. Sedangkan Purgatorium mengacu kepada suatu tempat/ keadaan pemurnian terakhir bagi orang-orang yang wafat dalam keadaan rahmat, namun belum sempurna, sebelum mereka dapat bersatu dengan Allah di Surga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Dear Katolisitas

    Saya menemukan beberapa ayat yg saya tafsirkan pribadi sebagai Api Penyucian adapun ayat2 tsb adalah:

    Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas. Mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan menjawab mereka. Aku akan berkata: Mereka adalah umat-Ku, dan mereka akan menjawab: TUHAN adalah Allahku! ” (Zacharia 13:9)

    Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak (Mzm 66:10)

    Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan. (Yes 48:10)
    Sebagian dari orang-orang bijaksana itu akan jatuh, supaya dengan demikian diadakan pengujian, penyaringan dan pemurnian di antara mereka, sampai pada akhir zaman; sebab akhir zaman itu belum mencapai waktu yang telah ditetapkan. (Dan 11:35)

    Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya. (Dan 12:10 )

    Karena setiap orang akan digarami edengan api (Mrk 9:49)

    Apakah menurut Katolisitas ayat2 diatas berbicara tentang Api penyucian?

    Salam Kasih

    • Shalom Willy,

      Terima kasih atas tambahan ayat-ayat tersebut untuk pengajaran tentang Api Penyucian.

      1. Zac 13:9 “Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas. Mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan menjawab mereka. Aku akan berkata: Mereka adalah umat-Ku, dan mereka akan menjawab: TUHAN adalah Allahku!” Sekolah Rabbi Shammai di abad awal, menginterpretasikan ayat ini sebagai pendukung pengajaran bahwa jiwa-jiwa akan dimurnikan karena belas kasih dan kebaikan Allah sebelum masuk dalam kehidupan abadi.
      2. Beberapa ayat di dalam Perjanjian Lama juga mendukung bahwa kaum Yahudi mempercayai adanya pemurnian jiwa, seperti di ayat: Mzm 66:10-12; Yes 48:10; Dan 11:35; 12:10; dan masih begitu banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan pemurnian.
      3. Markus 9:49 “Karena setiap orang akan digarami dengan api”, juga dapat menjadi salah satu pendukung ayat tentang Purgatorium, terutama kalau kita menghubungkan dengan 2 Mak 12:42-46.

      Terima kasih atas tambahan-tambahan ayatnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org