Bersyukurlah, ada Api Penyucian!

Percaya atau tidak, Api Penyucian itu ada

Sewaktu saya tinggal di Filipina, saya pernah menonton sebuah talk-show dari saluran EWTN (Eternal Word Television Network), yang topiknya adalah Api Penyucian. Saya masih ingat, waktu itu pembicaranya yang bernama Mother Angelica, menerima pertanyaan dari pemirsa, yang rupanya tidak percaya akan adanya Api Penyucian, karena tidak ada kata “Api Penyucian” disebut di dalam Alkitab. Mother Angelica menjawab bahwa, memang kata “Api Penyucian” tidak secara eksplisit tercantum di dalam Alkitab, seperti juga kata ‘Trinitas’, atau ‘Inkarnasi’, namun kita percaya akan maksud dari kata-kata tersebut. Yang terpenting adalah ajarannya, bukan istilahnya. Dengan senyumnya yang khas Mother Angelica berkata dengan bijak, “Although you do not believe it, dear, it does not mean that it does not exist.” (Meskipun kamu tidak percaya, itu tidak berarti Api Penyucian tidak ada).

Apa itu Api Penyucian

Api Penyucian atau ‘purgatorium’ adalah ‘tempat’/ proses kita disucikan. Catatan: ‘Disucikan’ bukan ‘dicuci’, oleh sebab itu disebut Api Penyucian (bukan Api Pencucian). Gereja Katolik mengajarkan hal ini di dalam Katekismus Gereja Katolik # 1030-1032, yang dapat disarikan sebagai berikut:

1) Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

2) Pemurnian di dalam Api Penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka.

3) Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka.

Api Penyucian ada karena keadilan Allah: Dosa selalu membawa konsekuensi

Ada orang-orang yang berpikir bahwa jika Allah mengampuni, maka tidak ada lagi yang harus dipikirkan mengenai ‘akibat dosa’ sebagai konsekuensinya. Namun kenyataannya, hampir seluruh bagian Kitab Suci menceriterakan sebaliknya. Selalu saja ada konsekuensi yang ditanggung oleh manusia, jika ia berdosa terhadap Allah, meskipun Allah telah memberikan pengampunan. Kita melihat hal demikian, misalnya, pada Adam dan Hawa, setelah diampuni dosanya, diusir dari taman Eden (Kej 3:23-24). Raja Daud yang diampuni oleh Allah atas dosanya berzinah dengan Betsheba dan membunuh Uria, tetap dihukum oleh Tuhan dengan kematian anaknya (lihat 2 Sam 12:13-14). Nabi Musa dan Harun yang berdosa karena tidak percaya dan tidak menghormati Tuhan di hadapan umat Israel akhirnya tidak dapat masuk ke tanah terjanji (Bil 20:12). Nabi Zakharia, yang tidak percaya akan berita malaikat Gabriel, menjadi bisu (Luk 1:20). Dan masih banyak contoh lain, yang menunjukkan bahwa, selalu ada konsekuensi dari perbuatan kita.

Keponakan saya yang berumur 4 1/2 tahun mempunyai ‘problem’ kebiasaan (maaf) ‘pipis dan pupu’ di celana, dan tampaknya sering dilakukannya dengan sengaja. Sampai akhirnya sepupu saya mendidiknya demikian: setelah celananya kotor, keponakan saya itu disuruh mencuci sendiri celananya. Dengan hukuman ini, maka ia belajar bertanggung jawab, agar kelak ia tidak mengulangi perbuatan itu. Jika kita yang manusia saja mendidik anak-anak dengan mengajarkan adanya ‘konsekuensi’ demi kebaikan mereka, maka Allah yang jauh lebih bijaksana, juga mendidik kita dengan cara demikian, namun tentu saja dengan derajat keadilan yang sempurna. Sebab pada akhirnya, yang diinginkan Allah adalah kita menjadi benar-benar kudus, sehingga siap untuk bersatu dengan Dia yang Kudus di surga. Kekudusan ini harus menjadi milik jiwa kita sendiri dan bukan seolah-olah kita hanya ‘diselubungi’ oleh kekudusan Kristus, padahal di balik selubung itu jiwa kita masih penuh dosa. Allah menginginkan kita agar kita menjadi kudus dan sempurna (lih. Im 19:2; Mat 5:48). Maka, jika kita belum sepenuhnya kudus, pada saat kita meninggal, kita masih harus disucikan terlebih dahulu di Api Penyucian, sebelum dapat bersatu dengan Tuhan di surga. Pengingkaran akan adanya Api Penyucian sama dengan pengingkaran akan keadilan Tuhan. Padahal Keadilan –sama seperti Kasih dan Kesetiaan- adalah hakekat Tuhan, yang tidak dapat disangkal oleh Tuhan sendiri (lih. 2 Tim 2:13).

Api Penyucian ada karena keadilan Allah: Ada perbedaan antara dosa berat dan dosa ringan

Selain masalah konsekuensi dosa, ada pula pengertian dasar mengenai dosa berat dan dosa ringan yang penting kita ketahui untuk memahami pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ada orang berpendapat bahwa semua dosa sama saja, namun Alkitab tidak mengatakan demikian. Pembedaan dosa berat dan dosa ringan disebutkan di dalam surat Rasul Yohanes. Dosa ringan dikatakan sebagai dosa yang tidak mendatangkan maut, sedangkan dosa berat, yang mendatangkan maut (1 Yoh 5: 16-17). Rasul Yakobus juga membedakan kedua jenis dosa; dengan membedakan dosa yang awal dan dosa yang matang (Yak 1:14-15). Untuk pembahasan lengkap tentang dosa berat dan dosa ringan, silakan membaca artikel ini (silakan klik).

Konsekuensi dari pengajaran ini adalah jika kita meninggal dalam keadaan sempurna dalam rahmat Allah, maka kita dapat langsung masuk surga. Namun, jika kita meninggal dalam keadaan berdosa berat dan tidak bertobat, maka kita masuk neraka. Jika kita dalam keadaan di tengah-tengah: meninggal dalam rahmat, namun masih mempunyai dosa ringan atau masih menanggung konsekuensi dari dosa-dosa yang sudah diampuni, maka kita masuk ke ‘tempat’ yang lain, yaitu, Api Penyucian.

Api penyucian ada karena keadilan Allah: Kita diselamatkan bukan hanya karena iman saja, tetapi oleh kasih karunia Allah, yang harus diwujudkan dalam perbuatan kasih.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia Allah oleh iman (lih. Ef 2:8, Tit 2:11; 3:7). Dan iman ini harus dinyatakan dan disertai dengan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka iman kita itu mati (lih. Yak 2:17, 24, 26). Perbuatan kasih yang didasari iman inilah yang menjadi ukuran pada hari Penghakiman, apakah kasih kita sudah sempurna sehingga kita dapat masuk surga atau sebaliknya, ke neraka. Ataukah karena kasih kita belum sempurna, maka kita perlu disempurnakan dahulu di dalam suatu tempat/ kondisi yang ketiga, yaitu yang kita kenal sebagai Api Penyucian.

Sedangkan pada saat kita masih hidup, perbuatan kasih ini dapat dinyatakan dalam bentuk tindakan langsung, kata-kata atau dengan doa. Doa syafaat yang dipanjatkan dapat dinyatakan dengan mendoakan sesama yang masih hidup di dunia, maupun mendoakan mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, maka Gereja Katolik mengajarkan akan adanya Api Penyucian, dan bahwa kita boleh, atau bahkan harus mendoakan jiwa-jiwa yang masih berada di dalamnya, agar mereka dapat segera masuk dalam kebahagiaan surgawi.

Dasar dari Kitab Suci

Keberadaaan Api Penyucian bersumber dari ajaran Kitab Suci, yaitu dalam beberapa ayat berikut ini:

1. “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus (Is 6:3). Maka kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16), sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri jika Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.

2. Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “…tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

3. Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada akhirnya segala pekerjaan kita akan diuji oleh Tuhan. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15) Api ini tidak mungkin merupakan api neraka, sebab dari api neraka tidak ada yang dapat diselamatkan. Api ini juga bukan surga, sebab di surga tidak ada yang ‘menderita kerugian’. Sehingga ‘api’ di sini menunjukkan adanya kondisi tengah-tengah, di mana jiwa-jiwa mengalami kerugian sementara untuk mencapai surga.

4. Rasul Petrus juga mengajarkan bahwa pada akhir hidup kita, iman kita akan diuji, “…untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan… pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Pet 1:7). Rasul Petrus juga mengajarkan,

“Kristus telah mati untuk kita … Ia, yang yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan oleh Roh, dan di dalam Roh itu pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara, yaitu roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah…” (1 Pet 3: 18-20). Roh-roh yang ada di dalam penjara ini adalah jiwa-jiwa yang masih terbelenggu di dalam ‘tempat’ sementara, yang juga dikenal dengan nama ‘limbo of the fathers’ (‘limbo of the just‘). Selanjutnya Rasul Petrus juga mengatakan bahwa “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati supaya oleh roh, mereka dapat hidup menurut kehendak Allah” (1 Pet 4:6). Di sini Rasul Petrus mengajarkan adanya tempat ketiga selain surga dan neraka, yaitu yang kini disebut sebagai Api Penyucian.

5. Kitab 2 Makabe 12: 38-45 adalah yang paling jelas menceritakan dasar pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ketika Yudas Makabe dan anak buahnya hendak menguburkan jenazah pasukan yang gugur di pertempuran, mereka menemukan adanya jimat dan berhala kota Yamnia pada tiap jenazah itu. Maka Yudas mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem, untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Perbuatan ini dipuji sebagai “perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan” (ay.43); sebab perbuatan ini didasari oleh pengharapan akan kebangkitan orang-orang mati. Korban penebus salah ini ditujukan agar mereka yang sudah mati itu dilepaskan dari dosa mereka (ay. 45).
Memang saudara-saudari kita yang Protestan tidak mengakui adanya Kitab Makabe ini, namun ini tidak mengubah tiga kenyataan penting: Pertama, bahwa penghapusan Kitab Makabe ini sejalan dengan doktrin Protestan yang mengatakan bahwa keselamatan hanya diperoleh dengan iman saja atau “Sola Fide, Salvation by faith alone”, walaupun Alkitab tidak menyatakan hal itu. Sebab kata ‘faith alone’/ ‘hanya iman’ yang ada di Alkitab malah menyebutkan sebaliknya, yaitu “…bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”/ not by faith alone (Yak 2:24). Maka, berdoa bagi orang meninggal yang termasuk sebagai perbuatan kasih, menurut Luther tidak mempengaruhi keselamatan, sedangkan menurut Gereja Katolik itu merupakan hal yang mulia, yang jika dilakukan di dalam iman, akan membawa kita dan orang-orang yang kita doakan kepada keselamatan oleh karena kasih karunia Tuhan Yesus.
Kedua, tradisi berdoa bagi jiwa orang-orang yang sudah meninggal merupakan tradisi Yahudi, yang dimulai pada abad ke-1 sebelum Masehi, sampai sekarang. Maka, tradisi ini juga bukan tradisi yang asing bagi Yesus. Ketiga, Kitab Makabe ini bukan rekayasa Gereja Katolik, sebab menurut sejarah, kitab ini sudah selesai ditulis antara tahun 104-63 sebelum masehi. Karena itu kita dapat meyakini keaslian isi ajarannya. Lebih lanjut tentang hal ini, silakan klik di sini.

6. Rasul Paulus mendoakan sahabatnya Onesiforus yang rajin mengunjunginya sewaktu ia dipenjara, agar Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada sahabatnya itu ‘pada hari penghakiman’ (lihat 2 Tim 1:16-18). Rasul Paulus berdoa agar Tuhan berbelas kasihan kepada jiwa sahabatnya itu pada saat kematiannya.[1] Hal ini tentu tidak masuk akal jika doa yang dipanjatkan untuk orang yang meninggal tidak ada gunanya. Sebaliknya, ini merupakan contoh bahwa doa-doa berguna bagi orang-orang yang hidup dan yang mati. Tradisi para rasul mengajarkan demikian. Selanjutnya tentang Onesiforus (bahwa ia sudah wafat) sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Selanjutnya, keberadaan Api Penyucian berkaitan dengan Gereja Katolik tentang dua macam ‘hari penghakiman’.[2] Yang pertama, ‘particular judgment’ (pengadilan khusus), yaitu sesaat setelah kita meninggal, saat kita masing-masing diadili secara pribadi oleh Yesus Kristus; dan kedua adalah ‘general/ last judgment’ (pengadilan umum/ terakhir), yaitu pada akhir zaman, saat kita diadili oleh Yesus Kristus di hadapan semua manusia:

1. Segera setelah kita meninggal, kita akan diadili, dan ini dikenal sebagai ‘pengadilan khusus’. “…manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibr 9:27) Kisah orang kaya dan Lazarus juga menggambarkan akibat penghakiman yang diadakan segera setelah kematian (Luk 16:19-31). Setelah diadili secara pribadi, jiwa-jiwa ditentukan untuk masuk Surga, Api Penyucian atau Neraka sesuai dengan perbuatan manusia tersebut. Jika kita didapati oleh Tuhan dalam keadaan kudus, maka jiwa kita dapat segera masuk surga. Jika belum sepenuhnya kudus, karena masih ada faktor ‘cinta diri’ yang menghalangi persatuan sepenuhnya dengan Tuhan, maupun masih ada akibat dosa yang harus kita tanggung, maka jiwa kita disucikan dulu di Api Penyucian. Jika kita didapati oleh Tuhan dalam keadaan berdosa berat dan tidak bertobat maka keadaan ini membawa jiwa kita ke neraka.

2. Pada akhir jaman, setelah kebangkitan badan, kita (jiwa dan badan) akan diadili dalam Pengadilan Umum/ Terakhir. Pada saat inilah segala perbuatan baik dan jahat dipermaklumkan di hadapan semua mahluk, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak diketahui dan diumumkan.”(Luk 8: 17). Pada saat itu, seluruh bangsa akan dikumpulkan di hadapan tahta Kristus, dan Dia akan mengadili semua orang: yang baik akan dipisahkan dengan yang jahat seperti memisahkan domba dan kambing (lih. Mat 25: 32-33). Hasil Pengadilan itu akan membawa penghargaan ataupun penghukuman, bagi jiwa dan badan. Tubuh dan jiwa manusia bersatu di Surga, apabila ia memang layak menerima ‘penghargaan’ tersebut; inilah yang disebut sebagai kebahagiaan sempurna dan kekal di dalam Tuhan. Atau sebaliknya, tubuh dan jiwa manusia masuk ke neraka, jika keadilan Tuhan menentukan demikian, sesuai dengan perbuatan manusia itu sendiri; inilah yang disebut sebagai siksa kekal.

Setelah akhir jaman, yang ada tinggal Surga dan Neraka, tidak ada lagi Api Penyucian, sebab semua yang ada di dalam Api Penyucian akan beralih ke Surga.

Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja dan Tradisi Suci Gereja

1. Tertullian (160-220), mengajarkan agar para istri mendoakan suaminya yang meninggal dan mendoakannya dengan Misa Kudus, setiap memperingati hari wafat suaminya.[3]

2. St. Cyril dari Yerusalem (315-386) mengajarkan agar kita mempersembahkan permohonan bagi orang-orang yang telah meninggal, dan mempersembahkan kurban Kristus [dalam Misa Kudus] yang menghapus dosa-dosa kita dan mohon belas kasihan Allah kepada mereka dan kita sendiri.[4]

3. St. Yohanes Krisostomus (347-407) mengajarkan agar kita rajin mendoakan jiwa sesama yang sudah meninggal.”Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh Bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka.[5]

4. St. Agustinus (354-430) mengajarkan, bahwa hukuman sementara sebagai konsekuensi dari dosa, telah dialami oleh sebagian orang selama masih hidup di dunia ini, namun bagi sebagian orang yang lain, dialami di masa hidup maupun di hidup yang akan datang; namun semua itu dialami sebelum Penghakiman Terakhir. Namun, yang mengalami hukuman sementara setelah kematian, tidak akan mengalami hukuman abadi setelah Penghakiman terakhir tersebut.[6]

5. St. Gregorius Agung (540-604),“Kita harus percaya bahwa sebelum Pengadilan [Terakhir] masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, ‘di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, [sedangkan dosa] yang lain di dunia lain.”[7]

6. Konsili Firenze (1439) dan Trente (1563), menjabarkan doktrin tentang Api Penyucian ini.[8] Konsili Firenze menyebutkan, “Dan jika mereka bertobat dan meninggal dalam kasih Tuhan sebelum melunasi penitensi dosa mereka…, jiwa mereka dimurnikan setelah kematian dalam Api Penyucian. Untuk membebaskan mereka, tindakan-tindakan silih (suffragia) dari para beriman yang masih hidup dapat membantu mereka, yaitu: Kurban Misa, doa-doa, derma, dan perbuatan kudus lainnya yang diberikan untuk umat beriman yang lain, sesuai dengan praktek Gereja. Hal demikian dinyatakan kembali dalam
Konsili Trente, yang menegaskan keberadaan Api Penyucian, perlunya tindakan-tindakan silih (suffragia) dari para beriman untuk mendoakan jiwa-jiwa yang ada di dalamnya, terutama dengan Misa Kudus.

Terlihat di sini bahwa pengajaran tentang Api Penyucian bukanlah ‘karangan’ manusia, melainkan berdasar pada Kitab suci dan diturun temurunkan dengan setia oleh Gereja. Jika kita manusia harus memilih, tentu lebih ‘enak’ jika tidak ada konsekuensi yang harus kita bayar. Misalnya, pada anggapan: ‘Pokoknya sudah beriman pasti langsung masuk surga. Sekali selamat, pasti selamat.’ Gereja Katolik, yang setia pada pengajaran para rasul, tidak mengajarkan demikian. Walau kita telah menerima rahmat keselamatan melalui Pembaptisan, kita harus menjaga rahmat itu dengan setia menjalani segala perintah Tuhan sampai akhir hidup kita. Jika kenyataannya kita belum sempurna, namun kita sudah ‘keburu’ dipanggil Tuhan, maka ada kesempatan bagi kita untuk disucikan di Api Penyucian, sebelum kita dapat masuk ke surga. Bukankah kita perlu bersyukur untuk hal ini? Sebab jika tidak ada Api Penyucian, betapa sedikitnya orang yang dapat masuk surga!

Jadi, ingatlah ketiga hal ini tentang Api Penyucian

  1. Hanya orang yang belum sempurna dalam rahmat yang dapat masuk ke dalam Api Penyucian. Api Penyucian bukan merupakan kesempatan kedua bagi mereka yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat dari dosa berat.
  2. Api Penyucian ada untuk memurnikan dan memperbaiki. Akibat dari dosa dibersihkan, dan hukuman/ konsekuensi dosa ‘dilunasi’.
  3. Api Penyucian itu hanya sementara. Setelah disucikan di sini, jiwa-jiwa dapat masuk surga. Semua yang masuk Api Penyucian ini akan masuk surga. Api Penyucian tidak ada lagi pada akhir jaman, sebab setelah itu yang ada hanya tinggal Surga dan neraka.

Jangan ragu mendoakan jiwa-jiwa yang ada di dalam Api Penyucian

Ayah saya meninggal pada tahun 2003 yang lalu. Saya selalu mengenangnya, terutama akan segala teladan iman dan kasihnya semasa hidupnya. Saya bersyukur bahwa sebelum wafatnya, ia sempat menerima sakramen Pengurapan orang sakit dan menerima Komuni Suci. Sejak saat meninggalnya sampai sekarang, saya mengingatnya dalam doa-doa saya, saat saya mengikuti Misa kudus, dan secara khusus saya mempersembahkan ujud Misa baginya, yaitu pada saat memperingati hari wafatnya, hari arwah, dan hari ulang tahunnya. Saya percaya, bahwa sebagai anggota Tubuh Kristus, maka tidak ada yang dapat memisahkan kami, sebab kami dipersatukan di dalam kasih Kristus. Tentu saya berharap agar ayah saya sudah dibebaskan dari Api Penyucian, dan dengan demikian, Tuhan dapat mengarahkan doa saya untuk menolong jiwa- jiwa yang lain.

Dengan mendoakan mereka yang sudah meninggal, saya diingatkan bahwa suatu saat akan tiba bagi saya sendiri untuk dipanggil Tuhan. Dan saat itu sayapun membutuhkan doa-doa dari saudara/i seiman. Semoga mereka yang telah saya doakan juga akan mendoakan jiwa saya, jika tiba saatnya nanti. Demikianlah, indahnya kesatuan kasih antara umat beriman. Kita saling mendoakan, bukan karena menganggap kuasa Tuhan kurang ‘ampuh’ untuk membawa kita kepada keselamatan. Melainkan karena kita menjalankan perintah-Nya, yaitu agar kita saling mendoakan dan saling menanggung beban, untuk memenuhi hukum Kristus (Gal 6:2); dan dengan demikian kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan. Sebab di dalam Kristus, kita semua memiliki pengharapan akan kasih Tuhan yang mengatasi segala sesuatu. Maka kita dapat berkata bersama Rasul Paulus, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom 8:38-39).


[1] Dom Bernard Orchard MA, A Catholic Commentary on Holy Scripture, general editor, (Thomas Nelson and Sons, New York, 1953), p. 1148, ayat ini menunjuk kepada kematian Onesiforus.

[2] Spirago-Clarke, The Catechism Explained, an Exhaustive Explanation of the Catholic Religion, TAN Books and Publishers, Inc.,1921, reprint 1993, p. 256, 270.

[3] Tertullian, “On Monogamy”, Chap 10, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers (Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, original print by Herder and Herder, 1966) p. 457.

[4] Lihat St. Cyril dari Yerusalem, Catecheses, 23:10, seperti dikutip oleh John R. Willis, Ibid., p. 418.

[5] St. Yohanes Krisostomus, Homili 1 Kor 4:1,5, seperti dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik 1032.

[6] Lihat St. Agustinus, The City of God, Bk 21, Chap. 13, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, Ibid., p. 456-457.

[7] St. Gregorius Agung, Dial 4, 39, seperti dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik 1031.

[8] J. Neuner, SJ- J. Dupuis, SJ, The Christian Faith in the Doctrinal Documents of the Catholic Church, (Theological Publications in India, Bangalore, 7th revised and enlarged edition, 2001), p. 1020-1021.

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

153 Komentar to Bersyukurlah, ada Api Penyucian!

  1. Andika Stefhanus June 11, 2013 at 12:05 am

    Dear Katolisitas,..saya ingin bertanya, misalkan pada saat akhir zaman yang dikatakan bahwa tidak akan ada lagi api penyucian melainkan hanya ada surga dan neraka tetapi,apabila ada diantara orang2 penuh dosa tersebut ada yang masih punya niat untuk kembali ke jalan yang terang dan benar meskipun ia masih berdosa? namun ia belum sempat melakukan laku tobat apakah ia akan masuk kedalam neraka karena tidak ada lagi Api penyucian?

    • Shalom Andika,

      Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa Api Penyucian ada karena pada prinsipnya manusia tidak dapat menghadap Allah tanpa melewati masa pemurnian. Dengan kata lain, agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi, kita harus secara sempurna dimurnikan terlebih dahulu. Masa pemurnian ini dapat dialami sejak hidup di dunia, sebagaimana dinyatakan dalam Perjanjian Lama dengan persyaratan persembahan untuk pemurnian, maupun dalam Perjanjian Baru, saat para Rasul mengalami penganiayaan karena mewartakan Injil. Masa pemurnian inipun kita alami dalam kehidupan setiap manusia, entah lewat berbagai kesulitan, penyakit ataupun bencana yang dialami, yang seharusnya membawa kita kepada pertumbuhan iman.

      Demikianlah, kita ketahui melalui Kitab Suci bahwa menjelang akhir dunia, akan terjadi perang, kelaparan, kesesatan, kedurhakaan, penganiayaan bagi Gereja/ orang percaya, namun siapa yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat (lih. Mat 24:7-13). Dengan demikian, kita percaya bahwa mereka yang hidup sampai pada akhir dunia, akan mengalami masa penganiayaan yang dahsyat ini, yang menjadi semacam masa pemurnian bagi mereka. Maka terhadap orang-orang ini sudah diberikan kesempatan untuk berbalik kepada Tuhan (bertobat) sebelum wafat di akhir dunia. Jika mereka memutuskan untuk percaya, maka mereka akan masuk surga, sedang jika mereka tetap memutuskan untuk tidak percaya, maka atas keputusan mereka sendiri mereka masuk ke neraka, yaitu dalam keterpisahan kekal dengan Allah.

      Bagi orang percaya, kedatangan Kristus yang kedua mengacu kepada kedatangan Kerajaan Allah dalam arti yang penuh, di mana Tuhan meraja di dalam semua, sehingga tidak ada lagi masa pemurnian, sebab segalanya telah sempurna di dalam Allah. Katekismus mengajarkan:

      KGK 1060    Pada akhir zaman Kerajaan Allah akan sampai pada kesempurnaannya. Lalu orang-orang benar akan dimuliakan dengan jiwa dan badan, akan memerintah bersama Kristus sampai selama-lamanya, dan alam semesta material akan diubah. Lalu dalam kemuliaan itu Allah akan “menjadi semua di dalam semua” (1 Kor 15:28) dalam kehidupan kekal.

      Di atas semua itu, mari kita tetap mengingat bahwa Allah kita adalah Allah yang maha adil dan maha kasih, yang pasti maha mengetahui dan akan memberikan segala sesuatu yang terbaik dan adil bagi semua mahluk ciptaan-Nya. Maka jika seseorang itu memang mempunyai hati yang bertobat, besar harapan kita bahwa Tuhan akan memberikan kesempatan kepadanya untuk bertobat sebelum wafatnya. Semoga demikian yang terjadi pada kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas

  2. sejauh ini, tentang api penyucian masih menjadi pertanyaan bagi saya,
    makna api penyucian bagi kita sebagai orang yang sudah percaya yang telah disucikan/ diselamatkan oleh darah kristus, itu seperti apa..?

    [dari katolisitas: Silakan membaca artikel Api Penyucian ini - silakan klik]

  3. antonius irawan March 10, 2013 at 10:49 am

    pengasuh katolisitas yg baik

    yg saya dengar sampai saat ini,bahwa banyak orang menganggap surga,api penyucian dan neraka adalah,,TEMPAT,,.akan tetapi pendamping saya seorang imam mengatakan bahwa surga,api penyucian dan neraka adalah SITUASI.artinya orang masuk sorga bukan masuk ketempat yg serba mewah apa2 serba gratis(seperti pendapat banyak orang yg katanya ada BIDADARI nya segala).akan tetapi BERSATUNYA orang itu dng TUHAN (KRISTUS) itulah yg disebut SORGA dimanapun tempatnya,.sebagai contoh ttg kesaksia Maria Sima yg sering didatangi orang2 di Api Penyucian utk(mohon) didoakan.ini berarti orang2 itu tdk diam disuatu tempat ,tapi bisa pergi (kluyuran)ke mana2..jadi katanya Sorga,Api Penyucian dan Neraka adalah SITUASI bukan TEMPAT,,MOHON PENJELASANYA TERIMA KASIH..BERKAH DALEM

    • Shalom Antonius,
      Pertama-tama, mari kita pahami prinsip dasarnya terlebih dahulu, yaitu seseorang yang meninggal dunia, artinya jiwanya terpisah dengan tubuhnya. Tubuhnya tinggal di dunia ini dan mengalami kerusakan, sedangkan jiwanya tetap hidup. Jiwanya inilah yang setelah kematian itu, segera diadili oleh Tuhan Yesus, ini disebut sebagai Pengadilan Khusus. Tentang Pengadilan Khusus dan Pengadilan Umum/ Pengadilan Terakhir ini, silakan membaca di artikel ini, silakan klik.

      Setelah Pengadilan khusus ini, jiwa ini akan ditentukan: 1) entah masuk surga, jika sudah sempurna, 2) atau masuk neraka, jika ia menolak Tuhan dengan dosa-dosanya, 3) atau masuk Api Penyucian, jika walaupun wafat dalam keadaan rahmat/ berdamai dengan Tuhan namun masih belum sempurna, sebagaimana telah disebutkan di atas. Nah, maka yang diadili dalam Pengadilan khusus ini, dan yang kemudian menerima konsekuensinya, adalah jiwa, dan bukan tubuh. Sedangkan jiwa sifatnya adalah kekal dan tidak memerlukan ruang karena tidak mengandung materi. Oleh karena itu secara prinsip, memang setelah Pengadilan khusus itu, yang ada tiga jenis ‘keadaan’ yang menjadi konsekuensinya, yaitu 1) keadaan sempurna bersatu dengan Allah, yaitu Surga; 2) keadaan terhukum, karena terpisah secara total dengan Allah, yaitu neraka; 3) keadaan pemurnian, karena belum sepenuhnya sempurna untuk bersatu dengan Allah, yaitu Api Penyucian. Nah, namun, dalam definisi Api Penyucian yang ada dalam Catholic encyclopedia, digunakan juga istilah ‘tempat’ atau ‘keadaan’ pemurnian setelah kematian agar orang beriman yang wafat dalam keadaan rahmat namun masih belum sempurna ini dapat memperoleh kekudusan yang disyaratkan untuk masuk dalam sukacita surgawi. Maka ‘tempat’ di sini, tidak untuk diartikan seperti tempatdi dunia (yang ada batas-batas fisiknya), namun sebagai suatu keadaan yang benar-benar ada, walaupun bukan di dunia ini.

      Namun setelah kebangkitan badan di akhir zaman, dan diadakan Pengadilan Umum/ Terakhir, maka Api Penyucian tidak ada lagi, yang ada hanya tinggal Surga dan Neraka. Mengingat bahwa setelah kebangkitan badan, tubuh dan jiwa bersatu kembali, entah dalam kemuliaan kekal di Surga, maupun dalam kebinasaan kekal di Neraka, maka kedua keadaan tersebut juga layak dideskripsikan sebagai “tempat”, sebab keadaan tersebut mencakup juga suatu ruang, walaupun kita tidak dapat menjelaskan dengan persis seperti apakah tempat dan keadaan itu. Katekismus menjabarkan keadaan Surga setelah akhir zaman tersebut dengan istilah “langit dan bumi yang baru”, sebagaimana telah kami jabarkan di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shaloom bu Ingrid,

        Bu,saya pernah tanya kepada seorang teman. Api penyucian itu seperti apa?karena sebelumnya,saya mengira api penyucian itu seperti tempat yg penuh dg lidah2 api utk memurnikan jiwa2.
        tapi teman saya bilang,api penyucian bkn seperti itu,api penyucian adalah suatu keadaan dimana jiwa2 bisa melihat,mendengar,tapi tdk bisa melakukan apa2. dan keadaan seperti itu sangat menderitakan/menyengsarakan jiwa2 tsb,shg mereka yg dlm api penyucian sangat2 mengharapkan pertolongan(doa) dari kita yg masih hidup utk membantu meringankan penderitaan dan mempercepat pemurnian mereka utk masuk ke terang(surga) dengan cara mendoakan mereka.

        Apa betul seperti itu Bu?
        Mohon pencerahannya.

        Berkah Dalem

        • Shalom Caecilia,

          Mari kita ingat prinsip utamanya terlebih dahulu, yaitu, bahwa jika seseorang wafat, diadili dan kemudian ditentukan untuk masuk ke dalam Api Penyucian, maka yang masuk ke sana adalah jiwanya saja, dan bukan badannya (sebab badannya tertinggal di bumi). Maka yang disucikan/ dimurnikan di Api Penyucian, setelah wafatnya itu, adalah jiwanya. Maka di dalam Api Penyucian tidak ada api fisik/ api jasmani, sebab yang dimurnikan di sana, bukan sesuatu yang bersifat jasmani, tetapi rohani (yaitu jiwa manusia). Adanya penggambaran lidah-lidah api itu hanya untuk melukiskan proses pemurnian itu, sebagaimana disebutkan oleh Rasul Paulus: “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Kor 3:15). Di Api Penyucian tersebut, jiwa akan dimurnikan, ‘seperti dari dalam api’, sebab api sering digunakan sebagai lambang sesuatu yang memurnikan, seperti halnya dalam pemurnian logam. Maka teman Anda benar, bahwa Api Penyucian tidak mengindikasikan tempat, namun adalah adanya suatu keadaan pemurnian, di mana Tuhan melenyapkan sisa-sisa ketidaksempunaan.

          Selanjutnya tentang Api Penyucian, dan mengapa doa-doa kita yang masih hidup dapat mendukung saudara-saudari kita yang sedang berada dalam Api Penyucian, silakan membaca teks Audiensi Umum Paus Yohanes Paulus II tanggal 4 Agustus 1999, yang selengkapnya dapat dibaca di link ini, silakan klik:

          3. At times, to reach a state of perfect integrity a person’s intercession or mediation is needed. For example, Moses obtains pardon for the people with a prayer in which he recalls the saving work done by God in the past, and prays for God’s fidelity to the oath made to his ancestors (cf. Ex 32: 30, 11-13). The figure of the Servant of the Lord, outlined in the Book of Isaiah, is also portrayed by his role of intercession and expiation for many; at the end of his suffering he “will see the light” and “will justify many”, bearing their iniquities (cf. Is 52: 13-53, 12, especially vv. 53: 11)….

          5. In following the Gospel exhortation to be perfect like the heavenly Father (cf. Mt 5: 48) during our earthly life, we are called to grow in love, to be sound and flawless before God the Father “at the coming of our Lord Jesus with all his saints” (1 Thes 3: 12f.). Moreover, we are invited to “cleanse ourselves from every defilement of body and spirit” (2 Cor 7: 1; cf. 1 Jn 3: 3), because the encounter with God requires absolute purity.

          Every trace of attachment to evil must be eliminated, every imperfection of the soul corrected. Purification must be complete, and indeed this is precisely what is meant by the Church’s teaching on purgatory. The term does not indicate a place, but a condition of existence. Those who, after death, exist in a state of purification, are already in the love of Christ who removes from them the remnants of imperfection (cf. Ecumenical Council of Florence, Decretum pro Graecis:  DS 1304; Ecumenical Council of Trent, Decretum de iustificatione:  DS 1580; Decretum de purgatorio:  DS 1820).

          It is necessary to explain that the state of purification is not a prolungation of the earthly condition, almost as if after death one were given another possibility to change one’s destiny. The Church’s teaching in this regard is unequivocal and was reaffirmed by the Second Vatican Council which teaches:  “Since we know neither the day nor the hour, we should follow the advice of the Lord and watch constantly so that, when the single course of our earthly life is completed (cf. Heb 9: 27), we may merit to enter with him into the marriage feast and be numbered among the blessed, and not, like the wicked and slothful servants, be ordered to depart into the eternal fire, into the outer darkness where “men will weep and gnash their teeth’ (Mt 22: 13 and 25: 30)” (Lumen gentium, n. 48).

          6. One last important aspect which the Church’s tradition has always pointed out should be reproposed today:  the dimension of “communio”. Those, in fact, who find themselves in the state of purification are united both with the blessed who already enjoy the fullness of eternal life, and with us on this earth on our way towards the Father’s house (cf. CCC, n. 1032).

          Just as in their earthly life believers are united in the one Mystical Body, so after death those who live in a state of purification experience the same ecclesial solidarity which works through prayer, prayers for suffrage and love for their other brothers and sisters in the faith. Purification is lived in the essential bond created between those who live in this world and those who enjoy eternal beatitude.

          Gereja Katolik mengajarkan Gereja yang satu, yaitu Gereja yang masih berziarah di dunia, Gereja yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian dan Gereja yang sudah jaya di Surga. Sebagai Satu Tubuh Mistik Kristus; kita dapat saling mendukung dalam doa. Tentu, mereka yang sudah berada di Surga tidak memerlukan lagi dukungan doa kita. Sebaliknya kitalah yang memerlukan dukungan doa mereka, agar kitapun kelak dapat masuk dalam Kerajaan Surga. Namun kepada jiwa-jiwa yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian itu, doa-doa kita sungguh dibutuhkan untuk mendukung mereka agar mereka dapat segera digabungkan dengan para kudus di Surga. Kelak pada saat mereka telah mencapai Surga, mereka-pun akan mendoakan kita. Demikianlah dipenuhi hukum Tuhan, saat kita saling bertolong-tolongan untuk memikul beban kita (lih. Gal 6:2).

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Shaloom bu Ingrid,

            Terimakasih sekali atas penjelasannya.
            Saya semakin bersyukur,api penyucian adalah bukti kasih Allah yg tak habis2nya utk manusia yg sungguh penuh dosa supaya kalo bisa semua manusia masuk dlm kerajaanNya.
            Syukur juga atas anugerah iman katholik.
            Saya merasa rasa persaudaraan Satu Tubuh Mistik Kristus benar2 kuat,kita benar2 sperti saudara dekat satu sama lain :)
            Saya skrg secara pribadi menjadi lebih peduli dg sungguh2 mendoakan jiwa2 di api penyucian.
            Tak ada hal yg lebih membahagiakan selain mengetahui bahwa kita diselamatkan,dan tak ada hal lain yg lebih mebuat kita bersukacita selain mengetahui bahwa Allah mengasihi kita :)

            Katolisitas menjadi ‘oase’ bagi umat Katholik yg imannya kerdil seperti saya.
            Semoga katolisitas semakin diberkati dan menjadi berkat buat kita semua. Amin

            Berkah Dalem

  4. Kenapa harus terus menerus mendoakan santo2 / orang2 kudus? Sudah ratusan tahun bahkan ada lebih dari seribu tahun. Logika : doa2 orang2 katolik dari dulu sampai sekarang terus mendoakan orang2 kudus yang ada di api penyucian, jadi adanya api penyucucian tidak berguna dan alias tidak ada, krn org2 kudus di api penyucian tidak pernah bisa ke sorga. Buktinya sampai sekarang detik ini, orang2 masih terus mendoakan seakan mereka belum masuk ke sorga.

    • Shalom Chairman,

      Terima kasih atas tanggapan Anda. Ada baiknya Anda dapat membaca terlebih dahulu artikel tentang Api Penyucian di atas – silakan klik. Gereja Katolik melihat bahwa umat Allah yang berada di dunia ini, umat Allah yang berada di Api Penyucian dan yang berada di Sorga terikat dalam satu kesatuan dalam ikatan kasih Kristus (lih. Rom 8:35-39). Dengan demikian, umat Allah yang berada di dunia ini mohon doa dari para kudus yang telah berada di Sorga dan umat Allah yang berada di Sorga dan di dunia dapat mendoakan umat Allah yang ada di Purgatorium.

      Dari logika Anda, maka sebenarnya ada dua hal yang perlu dipertanyakan: (1) Darimana Anda tahu bahwa jiwa-jiwa di Api penyucian tidak pernah masuk ke Sorga? Bukankah kalau seseorang dari Api Penyucian telah masuk ke Sorga namun terus didoakan, maka Tuhan juga dapat menggunakan doa tersebut untuk orang-orang yang membutuhkan?; (2) Darimana Anda tahu bahwa waktu yang ada di dunia adalah sama seperti waktu di Purgarorium? Yang ada di purgatorium adalah jiwa-jiwa dan tidak mempunyai tubuh, dengan demikian, mereka tidak memerlukan waktu sebagaimana manusia.

      Semoga pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat juga membawa pada diskusi yang lebih mendalam.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  5. Dear Katolisitas

    ada yang ingin saya tanyakan mengenai Api Penyucian (Purgatory) saya sudah membaca dari artikel di sini mengenai hal ini, tapi masih menyisakan pertanyaan yaitu:
    1. Api penyucian ini di peruntukkan untuk siapa saja? apakah untuk umat
    Katolik saja yang percaya akan adanya api penyucian.
    2. Tidak semua umat yang percaya kepada Yesus percaya akan Api Penyucian.
    Apakah orang yang tidak percaya akan Api Penyucian tidak terselamatkan?
    3. Apakah Api Penyucian itu suatu tempat lain selain Surga dan Neraka?
    ataukah semuanya itu hanya sebuah keadaan/kondisi seperti yang
    dinyatakan oleh Bapa Paus.
    4. kapankah Api Penyucian itu ada atau diadakan atau disediakan apakah
    sebelum Tuhan Yesus Terangkat ke Surga atau sesudah Nya atau saat Adam
    dan Hawa jatuh ke dalam dosa?

    saya sangat berharap memperoleh jawaban ini selain untuk menguatkan saya, saya pun ingin berbagi dengan saudara/i di Lingkungan saya.

    Terimakasih

    Tuhan Yesus Memberkati

    • Shalom Roni,

      Penjelasan tentang Api Penyucian dapat Anda lihat di artikel ini – silakan klik. Dan berikut ini adalah tanggapan atas beberapa pertanyaan Anda: Api Penyucian ini diperuntukkan bagi siapa saja yang meninggal dalam rahmat Tuhan namun masih belum sempurna dalam kasih. Jadi, Api Penyucian ini bukan hanya untuk umat Katolik namun juga untuk semua umat dari agama lain, termasuk mereka-mereka yang tidak percaya akan keberadaan Api Penyucian ini. Api Penyucian bukanlah tempat, sebagaimana pengertian “tempat” yang kita kenal sekarang. Semua yang berada di Api Penyucian hanya mempunyai jiwa, karena kebangkitan badan hanya terjadi pada akhir zaman dan pada akhir zaman ini tidak ada lagi Api Penyucian. Keberadaan Api Penyucian ada sebelum Yesus datang ke dunia ini, sehingga diceritakan di dalam Kitab Makabe tentang persembahan doa bagi orang-orang yang meninggal karena perang – yang terjadi sebelum Yesus datang ke dunia ini. Kapan persisnya keberadaan Api Penyucian? Minimal ketika manusia yang telah meninggal memerlukan penyucian sebelum masuk ke “Tempat Penantian” atau “Pangkuan Abraham”. Di mana ketika Kristus naik ke Sorga, maka tempat penantian ini tidak ada lagi dan hanya ada Sorga, Api Penyucian dan neraka. Dan ketika akhir zaman, maka hanya ada Sorga dan neraka. Semoga dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Terimakasih atas Pencerahannya, senang sekali membaca penjelasan ini. Bolehkah saya mengambil artikel ini. saya ingin sekali berbagi di lingkungan saya. karena banyak warga lingkungan yang bertanya mengenai Api Penyucian ini dan saya kurang memiliki pengetahuan untuk hal ini. tapi dengan artikel ini saya mempunyai harapan untuk memberikan penjelasan bagi warga lingkungan saya.

        jadi saya minta ijin untuk mengambil artikel ini.
        Bolehkah?

        Salam Kasih Dalam Yesus

        Roni YN

        [Dari Katolisitas: Silakan mengambil artikel ini, jika dipandang berguna, untuk Anda bagikan kepada warga linkungan Anda, namun mohon disertakan sumbernya, yaitu http://www.katolisitas.org. Terima kasih.]

      • Ytk…Stef…Saya seorang sr…dan saya mau mendalamkan iman saya.dn mau mengerti tentang semua ini…kapan hari lalu ada seseorang tanya sya…sr..apakah anak kecil klo meninggal itu lansung di selamatkan dan lansung naik ke Surga kah??? menurut iman dan kepercayaannya sya dan dengan pemahaman saya akan ajaran Agama Katolik kalau anak kecil juga walaupun mereka tidak pernah berbuat Dosa yg sangat besar dan mereka blm mngerti tentang Iman dan Hidup tapi…mereka juga punya Dosa Asal(Adam dan Hawa) dan Dosa keturunan dari Ke_2 orangtuanya..mngenai penyelamatan itu hal pribadi..tapi kita percaya Yesus adalah Jalan..Kebnaran dan Hidup siapa yg percaya KepadaNya…pasti mendapatkan kehidupan yg kekal..Apalagi untuk anak2 Kecil yg sangat Bersih baik hati maupun pikirannya…olehnya itu kita juga harus Berdoa untuk anak2 kecil yg sudah mninggal biar klo mrka masuk surga dan jadi Malaikat bisa berDoa untuk kita di Dunia ini…Ytk Stef ini adalah Penjelasan yg saya berikan…Dan jujur sr sangat terharu dan tertarik dengan penjelasa2 kamu tentang Iman..Sya mohon kita bisa berbagi demi mendalam Iman dan pengetahuan sya dalam Yesus Kristus Tuhan kita…

        [dari katolisitas: Terima kasih atas kunjungannya ke situs katolisitas ini Suster. Mohon doanya untuk karya kerasulan ini. Jawaban atas pertanyaan yang suster ajukan dapat dilihat di sini - silakan klik.]

    • 1 Yohanes 1:9
      Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

      bukankah dalam Alkitab berkata, kalau kit bersungguh – sungguh mengakui akan dosa kita kepada Tuhan, Dia adalah Setia dan Adil dan Tuhan akan mengampuni dosa kita? Tuhan tidak melihat dosa masa lalu kita ketika kita memohon ampun dan bertekad untuk merubah hidup kita.

      apakah Tuhan menganjurkan kepada kita untuk melalui api penyucian terlebih dahulu?

      bagaimana dengan 1 yohanes 1:9?

      [dari katolisitas: Apakah Anda sudah membaca argumentasi tentang Api Penyucian di atas - silakan klik. 1Yoh 1:19 menuliskan: Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Orang-orang yang di Api Penyucian adalah telah diampuni dosanya. Dan karena Allah juga adil, maka Dia juga menuntut kita untuk dimurnikan. Dan inilah Api Penyucian]

  6. Dear Katolisitas,

    Kapankah/bila manakah jiwa jiwa di api penyucian masuk ke surga?
    Apakah lamanya / menunggunya bergantung pada banyaknya dosa dosa mereka?
    Ataukah semua menunggu pengadilan umum dulu, baru semua secara serentak / bersamaan masuk surga?

    mohon tanggapan. terima kasih.

    [dari Katolisitas: Umumnya memang kita tidak mengetahui kapankah jiwa-jiwa di Api Penyucian dapat masuk ke dalam surga. Hal ini ditentukan oleh Allah sendiri menurut kebijaksanaan-Nya terhadap jiwa-jiwa tersebut tergantung dari kesiapan mereka untuk bersatu dengan Allah. Hanya kepada beberapa orang tertentu yang memiliki karunia khusus tentang hal ini (contohnya kepada Padre Pio dan Maria Simma), Allah dapat memberitahukan tentang beralihnya jiwa-jiwa tersebut ke dalam Surga. Maka jiwa-jiwa tersebut, jika sudah dipandang siap untuk memandang Allah (lih. 1Yoh 3:2), akan beralih ke Surga, tidak perlu menunggu sampai Pengadilan Umum. Pada saat Pengadilan Umum, mereka yang telah masuk surga akan diadili kembali di hadapan segala mahluk, dan kebaikan mereka akan diumumkan kepada sekalian ciptaan tersebut. Sesudah itu jiwa-jiwa tersebut akan bersatu dengan tubuh mereka yang dibangkitkan dan akan masuk ke dalam kemuliaan kekal dalam langit dan bumi yang baru.]

    • Dear katolisitas
      Jadi pengumuman kebaikan dan kejelekan itu terjadi sebeum penyatuan jiwa danbadan ya? Ooo saya kira badan dan jiwa disatukan dulu baru diumumkan. Terima kasih

      [Dari Katolisitas: Nampaknya pengertian Anda keliru. Silakan membaca artikel di atas terlebih dahulu, silakan klik. Segera setelah kita wafat, kita diadili oleh Kristus (ini disebut Pengadilan khusus), hasilnya tidak diumumkan. Baru setelah terjadi kebangkitan badan di akhir zaman, diadakan Pengadilan Umum (Terakhir) di hadapan segala mahluk, dan di sini hasil Pengadilan itu diumumkan, dan setiap manusia, tubuh dan jiwanya menerima tujuan akhir hidupnya, entah di Surga atau neraka]

  7. Pengasuh Katolisitas yang terkasih,

    Meskipun bahan ini sudah mulai disajikan sejak 3 tahun yang lalu, ternyata saya masih mempunyai 1-2 pertanyaan. Sesudah saya coba saya lakukan browsing seperlunya, semoga betul dugaan saya bahwa hal yang saya angkat ini memang belum ada yang mengangkatnya, kecuali bila saya ternyata terlewat membacanya.

    Mengenai rujukan ke 2 Mak.12:38-45, manakah ayat yang dilukiskan sebagai “yang paling jelas menceritakan dasar pengajaran mengenai Api Penyucian” sepert dituiskan di atas? Apakah yang dimaksudkan adalah ayat 44 yang berbunyi: “Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-oarng mati”. Apakah itu buka pertama-tama karena jasa orang yang mati itu sendiri, dan bukan jasanya orang yang menodakan mereka seperti yang merupakan inti dari uraian di atas yang mengajak kita untuk mendoakan mereka yang sudah mrninggal? Dengan kata lain orang yang sudah meninggal itu memiliki jasa-jasa sendiri di masa hidupnya yang memberikan mereka hak untuk bangkiat (dan masuk surga)? Sepertinya itu bukan memberikan peran dari doa-doa yang dipanjatka oleh ereka yang masih hidup.

    Demikian juga sepertinya rujukan kepada Yak2:24 secara lebih jelas menunjuk pada jasa orang yang meninggal itu sendiri karena dtuliskan bahwa “Jadi kamu lihat bahwa manusia manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan karena iman” yang dapat disambung dengan; DAN BUKAN KARENA DOA ORANG LAIN JUGA.

    Bila jalan pikiran itu demikian tidakkan semestinya tidak }Sola Fide” atau “Not by faith alone” tetapi mestinya “By faith alone but by one’s deeds” juga. Tapi sepertinya bukan dari “other people’s prayers”.

    Apakah tidak begtu seharusnya?

    Syalom

    • Shalom Pak Soenardi,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang Api Penyucian. Dalam 2Mak 12:38-45 dituliskan sebagai berikut [penekanan huruf tebal dari saya]:

      38    Kemudian Yudas mengumpulkan bala tentaranya dan pergilah ia ke kota Adulam. Mereka tiba pada hari yang ketujuh. Maka mereka menyucikan diri menurut adat dan merayakan hari Sabat di situ.
      39    Pada hari berikutnya waktu hal itu menjadi perlu pergilah anak buah Yudas untuk membawa pulang jenazah orang-orang yang gugur dengan maksud untuk bersama dengan kaum kerabat mereka mengebumikan jenazah-jenazah itu di pekuburan nenek moyang.
      40    Astaga, pada tiap-tiap orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh hukum Taurat. Maka menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu gugur.
      41    Lalu semua memuliakan tindakan Tuhan, Hakim yang adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi.
      42    Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu.
      43    Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan.
      44    Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.
      45    Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.

      Kutipan dari 2Mak di atas, memberikan salah satu dasar tentang adanya Api Penyucian. Yang gugur adalah pahlawan-pahlawan perang bangsa Israel dan ditemukan adanya jimat-jimat berhala di jubah mereka (ay. 38-40). Jadi, mereka adalah orang-orang yang berjasa namun pada saat yang bersamaan juga berdosa, karena menyimpan jimat. Dengan pemikiran ini, maka Yudas Makabe yang mempercayai kebangkitan orang mati (ay.42) mengadakan korban penebus salah untuk orang yang telah mati (43-45). Untuk apakah korban penebus salah ini? Dikatakan di ayat 45: supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka. Kita tahu bahwa tidak ada pengampunan di neraka dan tidak ada dosa di Sorga. Dengan demikian, kita melihat bahwa perikop tersebut mempertegas adanya Api Penyucian, di mana jiwa-jiwa dimurnikan yang pada akhirnya akan menuju Sorga. Dan ditunjukkan juga bahwa doa-doa mereka (yang masih hidup) dapat membantu mereka.

      Yak 2:17,24,26 hanya ingin menunjukkan bahwa kalau keselamatan bukan hanya iman SAJA,  namun juga yang diwujudkan dalam perbuatan. Karena perbuatan kita sering tidak menunjukkan kasih yang sempurna, maka untuk mencapai Sorga kita perlu dimurnikan. Jadi, ayat ini memang bukan untuk membuktikan keberadaan Api Penyucian, namun untuk menunjukkan bahwa perbuatan kasih menjadi parameter penghakiman terakhir, yang mempunyai implikasi adanya pemurnian – yang kita percaya adalah Api Penyucian.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. Salam damai Kristus Yesus Tuhan kita
    Buat Pak Stef dan Bu Ingrid, atau siapapun yang membaca dan membalas surat saya ini, saya menemukan website ini ketika saya search di google,tentang kejadian setelah kita meninggal,karena pada tgl 1 Agustus 2012 mama saya telah meninggal, dan sebelumnya papa saya jg telah meninggal 16th yg lalu.
    Saya merasa sangat kehilangan,karena belum sempat membalas budi baik yg telah mama lakukan kepada saya,menjelang akhir hayatnya pun dia tidak ingin merepotkan saya.
    Melalui website ini saya akhirnya mengetahui bahwa ditengah-tengah neraka dan surga ada api penyucian,meskipun saya tidak mengetahui di “zona” manakah mama dan papa saya berada,tp saya selalu berdoa agar Tuhan Yesus berkenan mengampuni dan semua dosa2 dan memberikan tempat yang paling indah.
    Saya ingin bertanya apakah kita dapat bertemu kembali dengan keluarga kita setelah kita meninggal nanti?banyak sekali kata2 yg sering kita dengar, “sampai nanti kita bertemu kembali disurga”, bagaimana menurut ajaran dan iman Katholik mengenai hal tersebut?
    Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.

    • Shalom Yuli Rosa,

      Umat Kristiani percaya bahwa Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan dan sampai kepada pengetahuan akan kebenaran (lih. 1 Tim 2:4); sehingga Allah mengutus Putera-Nya, Sang Kebenaran itu sendiri, yaitu Yesus Kristus, untuk menjelma menjadi manusia. Maka, umat Kristiani mempunyai iman dan pengharapan bahwa suatu saat nanti semua orang yang mengimani Kristus dan yang setia mengimani-Nya sampai akhir hidupnya akan dapat masuk dalam Kerajaan Surga. Maka bagi yang sama-sama masuk dalam Kerajaan-Nya, tentu akan berjumpa lagi di surga. Sebab jika semua orang yang di surga mempunyai pengetahuan dan kasih yang sempurna, maka ikatan kasih antara sesama anggota keluarga yang sudah dialami di dunia, akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak saat segala sesuatunya dipersatukan oleh Allah sendiri di dalam Kristus Putera-Nya.

      Nah, namun kenyataannya, ada banyak juga orang, yang entah karena kesalahannya sendiri, atau bukan kesalahannya sendiri, tidak sempat mengenal Kristus dan Gereja-Nya semasa hidupnya. Pada akhirnya, memang hanya Tuhan yang mengetahui bagaimanakah keadaan mereka setelah kehidupan mereka di dunia ini. Namun khusus untuk mereka yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya ini, Gereja Katolik mengajarkan bahwa mereka juga mempunyai kemungkinan menerima keselamatan, asalkan selama hidupnya terus mencari Tuhan sesuai dengan tuntunan suara hatinya, dan mengamalkan kasih. Jika ini terjadi, keselamatan yang diperolehnya tetap adalah keselamatan yang diperoleh karena jasa pengorbanan Kristus.

      Oleh karena itu, Gereja Katolik tetap menganjurkan kita untuk mendoakan orang tua, saudara ataupun kerabat yang telah mendahului kita, walaupun jika mereka tidak seiman dengan kita. Sebab kita tetap mempunyai pengharapan bahwa Tuhan yang berbelas kasih dapat melihat ke kedalaman hati mereka dan jika memang bukan karena kesalahan mereka sendiri mereka tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya, namun hidup mereka berkenan di hadapan Allah, maka Allah tetap dapat memberikan anugerah keselamatan kepada mereka, walaupun mungkin saja mereka didapati tidak sempurna dalam iman, harapan dan kasih, saat mereka wafat. Untuk itu kita yang masih hidup dapat mendoakan jiwa-jiwa mereka agar jika mereka sedang dimurnikan, mereka memperoleh belas kasihan Tuhan dan dapat segera digabungkan dengan jiwa-jiwa para orang kudus di surga.

      Bagi umat Katolik, cara yang terbaik untuk mendoakan jiwa-jiwa yang berada dalam Api Penyucian itu adalah dengan mengajukan intensi/ ujud dalam perayaan Ekaristi, yang adalah perayaan akan kurban Kristus. Karena kita percaya bahwa kurban Kristus adalah kurban yang sempurna, yang mendamaikan umat manusia dengan Allah, maka kita memohon belas kasihan Allah atas jasa pengorbanan Kristus. Karena oleh Dialah, Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya… sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib-Nya (Kol 1:20). Maka sebagai anak yang mengasihi orang tua, kita dapat terus mendoakan jiwa orang tua kita yang telah mendahului kita, sambil menantikan dengan penuh harap, semoga kita kelak dapat kembali bertemu dengan mereka di surga, setelah kita semua disatukan di dalam Kristus.

      Selanjutnya, silakan membaca artikel-artikel berikut ini:

      Bersyukurlah ada Api Penyucian!
      Mengapa kita mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal?
      Doa bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian
      Apakah hanya orang Katolik yang diselamatkan?
      Siapa saja yang diselamatkan?
      Apakah itu Baptis Rindu menurut St. Thomas
      Apakah itu “Implicit Desire for Baptism?”

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. yusup sumarno June 1, 2012 at 7:14 am

    Dear katolisitas,

    Saya pernah membaca sebuah buku “Jeritas dari Salib” karangan seorang pendeta di Amerika (saya lupa namanya). di sana dikatakan antara lain bahwa kata kata Yesus pada salah satu penyamun: “Aku berkata kepadamu,sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama dengan aku di Firdaus” dijadikan dasar untuk mengatakan (“menyerang” Katolik) bahwa itu adalah bukti bahwa:
    1. tidak ada api penyucian (karena “hari ini juga..”)
    2. penyamun itu tidak perlu dibaptis dulu tapi diselamatkan
    3. penyamun itu tidak perlu mengikuti Ekaristi sudah diselamatkan
    4. penyamun itu tidak minta tolong pada Maria (BundaNya) dulu yang ada di dekat salib, tapi diselamatkan.

    mohon tanggapan dari Katolisitas untuk memberikan argumentasi balasan bila orang kristen nonkatolik “menyerang” dengan dasar tersebut. mohon juga semua pertanyaan saya sebelum ini diposting (lama menunggu tidak apa yang penting diposting).
    terima kasih

    [dari katolisitas: Coba anda mencari di fasilitas pencarian dengan kata kunci: penjahat yang bertobat . Dan sebelum bertanya, cobalah juga untuk menggunakan fasilitas pencarian, sehingga anda dapat langsung membaca jawaban yang mungkin sudah ada di arsip katolisitas.]

    • yusup sumarno June 4, 2012 at 6:12 am

      dear katolisitas,

      setelah saya masukkan kata kunci ‘penjahat yang bertobat’ dan membaca artikel tersebut, ternyata artikel tersebut tidak menjawab pertanyaan saya “mengapa awalnya Yesus berkata: ‘ya Bapa ampunilah…..’ namun setelah itu Ia katakan: ‘ Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini jua kamu akan bersama dengan Aku di dalam Firdaus”.

      Saat Ia katakan “Ya bapa ampunilah…” seolah Yesus tidak punya kuasa mengampuni. Namun saat ia katakan : “sesungguhnya hari ini juga..” Ia punya kuasa mengampuni. Mengapa hal ini bisa terjadi. Inilah yang saya tanyakan, bukan soal iman dan perbuatan (versi kristen vs katolik).

      mohon penjelasan.

      Submitted on 2012/06/04 at 6:19 am | In reply to yusup sumarno.

      Maksud saya, pertanyaan saya yang berikut ini belum diposting/dijawab.
      (Saat Ia katakan “Ya bapa ampunilah…” seolah Yesus tidak punya kuasa mengampuni. Namun saat ia katakan : “sesungguhnya hari ini juga..” Ia punya kuasa mengampuni. Mengapa hal ini bisa terjadi?)

      • Shalom Yusup Sumarno,

        Dalam Luk 23:34 dituliskan “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ayat tersebut bukan menyatakan bahwa Yesus tidak mempunyai kuasa mengampuni dosa, karena Yesus telah menunjukkan bahwa Dia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, seperti yang ditunjukkan-Nya ketika Dia menyembuhkan orang lumpuh (lih. Mat 9:2,6; Mrk 2:5; Luk 5:20; 7:48). Tujuan Yesus datang ke dunia adalah untuk menebus dosa manusia, menjadi pengantara antara manusia dengan Bapa yang sebelumnya terpisah oleh dosa. Jadi, ketika Yesus disalib, maka Dia mewakili seluruh umat manusia meminta pengampunan kepada Allah dengan harga yang dibayar dengan mahal – yaitu kematian-Nya. Dari sini, kita juga melihat adanya kebenaran akan Kristus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Semoga jawaban singkat ini dapat menjawab pertanyaan Anda.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

         

  10. Stefanus Freydy May 25, 2012 at 9:58 am

    Shaloom..

    Ibu Inggrid apa sudah tepat jika setiap hari saya Novena
    saya menyisipkan doa
    “mohon bantuan untuk jiwa-jiwa di APi penyucian”
    Apakah itu sudah tepat??

    trims

    [dari katolisitas: Adalah hal yang baik, kalau kita mendoakan jiwa-jiwa di Api Penyucian dalam Novena maupun doa-doa kita. Bahkan, doa baku setelah makan dalam bahasa Inggris dituliskan sebagai berikut "We give Thee thanks for all Thy benefits, O Almighty God, who livest and reignest world without end. Amen. May the souls of the faithful departed, through the mercy of God, rest in peace. Amen."]

  11. Pengasuh Katolisitas yg terkasih,
    saya punya sahabat Katolik, mereka dua2nya cerai (pisah), dan sekarang mereka tinggal bersama tanpa menikah, dan mereka juga aktif ke gereja, ikut komunitas doa
    kami dibingungkan dgn masalah ini, karna mereka merasa diundang Tuhan dlm kerohanian meskipun mereka tinggal bersama. Bagaimana menjawab persoalan semacam ini?
    apakah mereka masuk di api penyucian?
    terimaksih untuk penjelasannya.

    salam,
    kristin

    • Shalom Kristin,

      Dua orang Katolik yang telah bercerai dan kemudian dua orang ini tinggal bersama tanpa adanya ikatan apapun serta aktif dalam banyak kegiatan, dapat menjadi batu sandungan. Hal pertama yang perlu dilakukan oleh kedua orang tersebut adalah  mencoba membereskan perkawinan mereka, terutama dengan melalui konseling keluarga atau kalau memang dipandang bahwa perkawinan mereka sebenarnya tidak sah, maka mereka dapat mengurus anulasi atau pembatalan perkawinan. Namun, bukan berarti bahwa orang-orang ini tidak boleh bertumbuh secara rohani. Justru orang-orang seperti ini memang membutuhkan doa dan sakramen-sakramen. Sakramen Tobat adalah sakramen yang dapat mereka terima terlebih dahulu. Tentu saja, karena Sakramen Tobat mensyaratkan dosa yang disesali – yang berarti harus meninggalkan dosa yang telah dilakukan – maka sudah seharusnya dua orang tersebut tidak boleh melanjutkan kehidupan mereka yang sekarang serta memutuskan untuk hidup terpisah.

      Dalam kondisi tinggal bersama bukan dengan pasangan mereka yang sah (yang berarti diasumsikan terlibat dalam hubungan suami istri bukan dengan istri atau suami mereka yang sah), maka mereka sebenarnya telah melakukan dosa berat. Dan kalau kondisi ini terus berlanjut, maka sebenarnya hal ini dapat membahayakan keselamatan kekal mereka. Dengan demikian, kalau mereka adalah sahabat anda, maka ada baiknya dalam kesempatan yang baik, bicarakan hal ini dengan suasana kasih. Kalau sulit bagi anda untuk berbicara dengan mereka, minimal cobalah membuat usulan kepada mereka agar mereka dapat menghadap pastor dan mencoba untuk berbicara dengan pastor tentang masalah ini. Intinya, kalau kita mengasihi seseorang, maka kita menginginkan yang terbaik bagi mereka, yang berarti agar mereka juga dapat hidup dalam kebenaran, sehingga mereka pada akhirnya akan mendapatkan keselamatan kekal. Jangan lupa juga mendoakan mereka.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  12. Mungkin Link ini bagus untuk menambah pemahaman kita:

    link to all-about-the-virgin-mary.com

  13. Shaloom,
    saya ingin bertanya. Bagi saudara-saudara kita yg selama hidupnya berbuat baik tetapi mereka tidak mengenal Tuhan contoh untuk saudara-saudara kt yg non Katolik/Kristen. Lalu setelah meninggal, mereka akan masuk ke mana? Terus terang saya masih bingung mengenai hal ini. Terima kasih untuk waktu dan jawabannya,Tuhan memberkati

    [dari katolisitas: silakan melihat tanya jawab ini - silakan klik]

    • linknya bagus, namun juga belum menjawab apakah kunci untuk memasuki surga? apakah yakin dapat memasuki surga? tanpa harus membahas umat lain terlebih dahulu, istilahnya bercermin pada diri sendiri

      [Dari Katolisitas: Pada akhirnya memang hanya Allah saja yang menentukan apakah kita dapat masuk surga. Yang disampaikan di situs ini bukan penghakiman dari Tuhan, melainkan patokan ajaran iman Kristiani yang diajarkan oleh Gereja Katolik untuk mengarahkan manusia ke surga. Sebagai umat Kristiani kami mempunyai iman dan pengharapan akan dapat sampai ke surga, namun dengan kerendahan hati kami mengakui bahwa pada akhirnya Tuhan yang menentukan. Di sini tidak dibahas ajaran agama lain atau umat lain, namun hanya berfokus kepada ajaran iman Katolik. Semoga dipahami.]

  14. Salom saudara2ku yg terkasih dalam nama Tuhan Yesus. Ijinkan saya memberi pendapat di sini dan semoga saudara dapat berpikir dengan jernih dan berdoalah agar kita dipimpin oleh Roh Kudus agar kita mendapat kebenaran atas persoalan2 kita. dan saya mohon maaf bila nanti pendapat saya tidak berkenan dihati saudara. Menurut saya API PENYUCIAAN itu tidak berlaku lagi bagi kita yg sudah mati. Karna apa di Alkitab sendiri tidak ada satu ayatpun yahng mengatakan bahwa orang kristen yg mati tapi masih ada sedikit dosanya atau karna dosa kecil akan masuk kedalam api penyucian. tapi Alkitab sudah menjelaskan bahwa UPAH DOSA ADALAH MAUT. TIDAK PEDULI BESAR ATAU KECILNYA DOSA yang KITA LAKUKAN, dosa adalah dosa. dan bacalah diAlkitab bahwa kita dituntut untuk hidup bersih tanpa cela dan kerut dihadapan Tuhan 2 YOH 3:11. dan bacalah di Alkitab mulai dari KORINTUS sampai dengan di WAHYU, bahwa kita harus hidup bersih dan kudus sebab Tuhan kita adalah KUDUS dan menyangkal diri kita didalam hal2 kedagingan. Jadi menurut saya orang kristen itu di sucikan agar sempurna dihadapan ALLAH selama orang tersebut masih hidup, dengan jalan mengakui dosa kita, mengampuni orang lain dan meninggalkan perbuatan2 lama/ bertobat dan berusaha tekun dalam doa pujian dan penyembahan.Dan diAlkitab banyak sekali ajakan dan nasehat supaya bertobat dan mematuhi ajaranNYA bagi orang yang masih hidup. Bukan untuk orang mati ajakan bertobat tersebut. Dan kita hendaklah rajin membaca kitab suci sendiri agar kita memahami ajaran Tuhan yg sesungguhnya. Dan ingat Tuhan kita adalah Tuhan yang pencemburu, DIA menginginkan diri kita yang seutuhnya bukan setengah baik setengah jahat. Dan Tuhan juga memperingatkan kita untuk berjaga-jaga setiap saat agar kita jangan terkejut pada saat kedatanganNYA atau tiba2 kita mati menemui ajal sedangkan kita berbuat dosa atau masih hidup didalam dosa, dan mendapatkan diri kita didalam api kekal. Demikianlah pendapat saya semoga bermanfaat.

    [dari katolisitas: Diskusi tentang hal ini telah dilakukan cukup panjang lebar. Jadi, silakan membaca artikel di atas - silakan klik, dan cobalah untuk membuat argumentasi berdasarkan artikel di atas, sehingga tidak terjadi pengulangan argumentasi.]

  15. apakah Surga, api penyucian, dan neraka diciptakan Allah secara bersamaan?

    • Shalom Fransiscus,

      Sepanjang pengetahuan saya tidak disebutkan secara eksplisit kapan sebenarnya Surga, neraka dan Api Penyucian tersebut diciptakan Tuhan. Namun pada prinsipnya ketiga hal tersebut ada, sehubungan dengan keadaan yang layak bagi mahluk ciptaan-Nya.

      Demikian jawaban yang kami peroleh dari Dr. Lawrence Feingold STD, pembimbing Teologis situs katolisitas.org:

      It would seem to me that heaven, hell, and purgatory were created when creatures merited to enter those states. Heaven and hell thus would have been created when the angels merited heaven and hell. This would have been in the moment after their creation when they made their free response to God, either of conformity with His will in faith, hope, and charity; or, on the other hand, rebellion and a rejection of faith, hope, and charity. The angels were not created in heaven, but had to merit heaven through an act of faith, hope, and charity.
      Since the angels are pure spirits, it would seem that heaven is a purely spiritual state in which they receive the beatific vision. Likewise, hell would be a spiritual state in which they are forever deprived of the beatific vision.
      As for purgatory, it would have been created, I would think, when a human being died in a state of grace but still needing to purge the temporal punishment for their sins. This would probably have been the case for Adam and Eve and many of their children and children’s children.

      After Adam and Eve and others finished being purged in purgatory, they would have gone to a place of consolation which was not yet heaven, and in which they did not yet gain the vision of God. Jesus refers to this place of consolation as the bosom of Abraham. Only after Christ’s death on Calvary was heaven opened, as Jesus descended to “hell” on Holy Saturday to bring to heaven those who were awaiting Him. “Hell” here refers to the bosom of Abraham, also spoken of as the “limbo of the just.”

      Terjemahannya:

      “Nampaknya bagi saya, Surga, neraka dan Api Penyucian diciptakan ketika mahluk ciptaan layak untuk memasuki keadaan itu. Karena itu, Surga dan neraka diciptakan ketika para malaikat layak untuk masuk Surga dan neraka. Ini terjadi pada saat penciptaan mereka, ketika mereka membuat tanggapan yang bebas kepada Tuhan, entah itu kesesuaian/ ketaatan terhadap kehendak-Nya di dalam iman, harapan dan kasih; atau di sebaliknya, pemberontakan, dan penolakan iman, harapan dan kasih. Para malaikat tidak diciptakan di Surga (tempat adanya beatific vision), namun harus menjadi layak masuk Surga melalui sebuah tindakan iman, harapan dan kasih.

      Karena para malaikat adalah mahluk rohani yang murni, maka Surga adalah keadaan rohani yang murni di mana mereka menerima “beatific vision” (pandangan surgawi). Sebaliknya, neraka adalah keadaan rohani di mana mereka yang di sana selamanya tidak memperoleh “beatific vision” /pandangan surgawi. Sedangkan untuk Api Penyucian, keadaan itu diciptakan, menurut hemat saya, ketika seorang manusia wafat di dalam kondisi rahmat, namun masih perlu dimurnikan dengan hukuman sementara atas dosa- dosa mereka (lih. KGK 1030-1031). Ini kemungkinan terjadi pada Adam dan Hawa dan banyak anak- anak mereka dan keturunannya.

      Setelah Adam dan Hawa dan yang lainnya selesai dimurnikan di Api Penyucian, mereka beralih ke tempat penghiburan yang belum merupakan Surga, dan yang di dalamnya mereka belum memperoleh pandangan/ penglihatan akan Tuhan. Yesus menyebut tempat penghiburan ini sebagai “pangkuan Abraham.” Hanya setelah wafatnya Yesus di Kalvari, Surga terbuka, dan Yesus turun ke tempat penantian ini pada hari Sabtu Suci, untuk membawa ke Surga jiwa- jiwa yang menantikan-Nya di sana. Tempat penantian ini mengacu kepada “pangkuan Abraham”, yang juga disebut sebagai “limbo of the just” (limbo orang- orang benar)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • dan berikut ini adalah ringkasan kesaksian dari seseorang yg dibawa Tuhan ke neraka bernama VICTORIA NAHALE:
        Kunjungan ke-2 di Neraka
        Pada 18 Oktober 2005 Saya terbangun pada jam 05H30 tetapi saya tak dapat pergi bekerja. Saya merasa lemah dan mabuk; Saya tak bisa bergerak atau berbalik badan di tempat tidurku, kehadiran Tuhan sangat-lah kuat dalam ruangan itu. Saya bergetar dan merasakan listrik diseluruh tubuhku. Tuhan datang membawa-ku tepat sebelum jam 08H00 sebab ku-perhatikan jam tangan, pukul 07H48, dan Dia tiba saat itu. Dia menyalamiku dan berkata kita harus pergi lagi sebab waktunya terburu habis. Saya berdiri dan mulai berjalan. Cara kami berjalan saat ini berbeda dari saat yang lain; walaupun kaki kami bergerak, kami seperti terapung daripada berjalan. Sementara dalam perjalanan, Yesus berkata bahwa semua dosa adalah buruk dan tak ada dosa kecil atau dosa besar. Semua dosa membawa pada kematian, tak peduli besar atau kecil. Tuhan mengatakan padaku bahwa kami akan mengunjungi neraka lagi lalu bertanya jikalau saya ketakutan. Saya menjawab bahwa saya takut.
        Dia berkata,”Roh ketakutan bukan dari Bapa-Ku atau Dari-Ku, namun dari iblis. ketakutan akan menyebabkan-mu melakukan hal yang menibakan-mu di Neraka.”
        Tanpat Iman tidak mungkin berkenan pada Allah dan ketakutan berlawanan dengan Iman. Sangat jelas bahwa ketakutan tidak berkenan pada Allah sebab merusakkan satu Iman. Selama kami dalam perjalanan, kami berjalan bersama tetapi saat kami tiba di gerbang neraka, Dia memegang tanganku dan menggenggamnya setiap detik kami di Neraka. Saya sangat bersukacita bahwa Tuhan memegang tangan-ku sebab kepalan tangan-Nya menghalau segala ketakutan dari padaku.Tempat itu masih sama: tak ada perbedaan dari awal. Ada serangga, cacing, sangat panas, bau, tengkorak, jeritan: segala sesuatu sama seperti pada awal kunjungan. Kami masuk gerbang kotor itu dan Tuhan membawaku pada kelompok yang satu. Banyak orang yang kukenal selama mereka hidup di bumi. Orang-orang malang berada dalam kesengsaraan; mereka terlihat putus asa dan menderita tetapi yang terburuk adalah wajah –wajah yang terlihat putus harapan.
        Tuhan tunjukan seorang wanita setengah usia yang kukenal sebelum mati. Dia alami kecekaan mobil awal tahun 2005. Saya terkejut melihatnya di Neraka sebab kami mengenalnya sebagai seorang yang takut akan Allah dan mencintai Allah. Tuhan katakan bahwa wanita ini cinta Tuhan dan Tuhan-pun mencintainya;Dia melayani Tuhan saat di bumi;Membimbing banyak orang pada Tuhan dan mengetahui Firman Tuhan dengan baik. kasih pada yang miskin dan membutuhkan; memberi dan menolong mereka dalam banyak hal.dia hamba Tuhan yang baik hampir disemua hal.
        Perkataan itu sangat mengejutkanku dan saya bertanya pada Tuhan mengapa Dia membiarkan seseorang yang melayani Tuhan sangat baik berada dalam Neraka. Tuhan memandangku dan berkata bahwa wanita ini telah percaya tipuan si-jahat. Walaupun wanita ini tahu benar Firman Tuhan dengan baik, dia percaya tipuan setan bahwa ada dosa besar dan dosa kecil. Dia berpikir bahwa dosa ‘kecil’ tak akan membawanya ke neraka sebab, bagaimanapun juga, dia adalah orang kristen.
        Tuhan melanjutkan, “Aku pergi menemui-nya beulang- kali dan mengatakan untuk berhenti melakukan apa yang dibuatnya namun banyak kali dia ber-alasan bahwa apa yang dilakukan-nya sangat kecil dan dia menyimpulkan peringatan-Ku sebagai perasaan bersalah-nya saja. Ada saat dia berhenti untuk sementara namun kemudian dia menguatkan dirinya sendiri bahwa peringatan itu bukan dari-Ku tetapi suara-nya sendiri sebab dosa itu terlalu kecil untuk mendukakan Roh Kudus.”
        Saya bertanya pada Tuhan dosa apakah yang diperbuatnya dan Tuhan menjawab, “Wanita ini mempunyai seorang teman suster di RS Oshakati. Kapan saja wanita ini sakit, dia tak akan pergi ke RS dan membayar kartu RS sebagai praktek biasa; dia akan menelepon temannya dan mengatakan agar menyiapkan obat-obatnya dari bagian apotek. Temannya selalu merasa dipaksa melakukannya dan meminta wanita ini mengambil obat pada jam yang ditentukan. Pertama, dia putuskan menerimah tipuan si-jahat tentang dosa kecil dan besar dan menolak kebenaran-Ku;dia menyebabkan orang lain berdosa dan mencuri baginya namun yang lebih buruk dari semuanya, DIA MENDUKAKAN ROH KUDUs. Inilah yang menyebabkannya di Neraka.Tak perduli jika kau membawa milyaran jiwa pada Tuhan;ada kemungkinan masuk neraka sebab mendukakan Roh Kudus. Kamu tak harus perduli dengan keselamatan orang lain namun kamu harus berhati-hati tak lupa jiwamu sendiri. Peka-lah pada Roh Kudus setiap saat”Setelah itu Tuhan berkata kami harus kembali.
        Banyak orang Kristen mendengar cerita ini mendapatinya sebagai persoalan. Mereka akan bertanya padaku, “bagaimana dengan jastifikasi, Rahmat dan Anugerah?” dan “Adakah kemungkinan kehilangan keselamatan itu setelah menerimanya?” “Bukankah hal itu sedikit keras?” “Dapatkah Allah sedemikian kasar?”
        Baiklah,seperti ku-sampaikan dimana-mana dalam buku, Saya tak membawah ajaran teologia disini. Saya hanya menyampaikan padamu apa yang telah Tuhan tunjukan dan katakan pada-ku dan yang Tuhan ijinkan ku-alami. Tolong pelajari Alkitab anda bagi semua jawaban. Perhatikan fasal-fasal berikut ini dan adili dirimu sendiri.
        “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri di tolak”. (1Korintus 9:27)

        “Jika demikian,apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?sekali-kali tidak!bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup didalamnya?(Roman 6:1-2)
        “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi didalam tubuhmu yang fana,supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” (Roman 6:12)
        “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran,maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa kita, tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dasyat yang akan menghapuskan semua orang durhaka.” (Ibrani 10:26 –27)
        Dapatkah aku keneraka setelah melayani Tuhan dan membawa jiwa bagi-Nya? Engkau-lah hakimnya!

        • Shalom Torina,

          Terima kasih atas kesaksian yang anda sharingkan. Terus terang, saya tidak tahu tujuan anda untuk memberikan kesaksian ini kepada kami. Kalau tujuan anda adalah untuk berdiskusi tentang dosa berat dan dosa ringan, maka silakan memberikan dasar dari Kitab Suci yang kita yakini bersama dan bukan berdasarkan penglihatan atau kesaksian seseorang yang sangat sulit dibuktikan kebenarannya. Dalam diskusi seperti ini, penglihatan seseorang tidak akan memberikan bobot apapun. Ada begitu banyak kesaksian dari para santa-santo di dalam Gereja Katolik, namun tidak perlu saya kemukakan, karena anda juga tidak akan mempercayainya. Silakan membaca tanggapan kami terhadap kesaksian-kesaksian seperti ini di sini – silakan klik. Jadi, kalau anda ingin meneruskan diskusi tentang dosa berat dan dosa ringan, silakan membaca link-link ini – silakan klik, klik ini dan klik ini, dan kemudian silakan menanggapinya.

          Dengan adanya pembagian dosa berat dan dosa ringan, bukanlah dimaksudkan agar umat Katolik dapat berbuat dosa ringan sebanyak mungkin. Sebaliknya, umat Katolik dituntut untuk hidup dalam kekudusan – silakan klik. Namun, hidup kudus adalah satu perjuangan, yang diwarnai jatuh bangun. Dan perjuangan hidup kudus ini harus dilalui, baik oleh umat Katolik maupun non-Katolik. Semoga dapat diterima.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  16. Syaloom,

    di artikel pengenalan akan Kitab Suci Bag 2 ditulis

    “Perlu juga diketahui bahwa Luther mempertanyakan keaslian kitab 2 Makabe, dari segi historis dan karena di kitab tersebut juga berisi dasar doktrin Api Penyucian, yang bertentangan dengan prinsip-nya “Salvation by faith alone””

    Mao tanya, Apakah Api penyucian sebenarnya cuma ada di PL dan di PB Harus nya tidak ada? Apa dasar nya Gereja Katolik yakin di PB Api Penyucian tetap exist?

    Terima Kasih.

    [dari katolisitas: silakan membaca artikel di atas - silakan klik, dengan lebih teliti lagi, karena di artikel tersebut disebutkan dasar-dasar dari PL, PB, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.]

    • Syaloom,

      Terima kasih atas petunjuknya Saya sudah baca lagi. Dan saya punya pertanyaan lagi

      Di jaman PL sebelum Tuhan Yesus datang, ada jiwa2 yang meninggal dan telah masuk ke api penyucian dan setelah selesai dimurnikan akan masuk ke “pangkuan Abraham” baru ketika Tuhan Yesus wafat dan turun ke tempat penantian, Dia mengabarkan Injil kepada orang2 yang sudah dimurnikan oleh api penyucian? Atau sebaliknya yaitu Tuhan mengabarkan Injil terlebih dahulu baru jiwa – jiwa tersebut dimurnikan oleh api penyucian?

      Apakah seperti itu?

      Terima Kasih

      • Shalom Leonard,

        Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau kita melihat urutan waktu yang kita alami, memang dapat saja dalam Perjanjian Lama ada Api Penyucian dan juga Tempat Penantian. Bagaimana persisnya kedua hal ini berhubungan kita tidak tahu secara persis, apalagi kalau ditambah bahwa Api Penyucian tidak berada dalam waktu yang kita kenal. Dengan demikian, berapa lama orang-orang yang dibenarkan dalam PL melalui tahap pemurnian di Api Penyucian ini, kita juga tidak pernah tahu, karena lamanya bukan berada dalam waktu yang kita kenal. Yang kita tahu, Tuhan mengabarkan Injil kepada orang-orang yang ada di Tempat Penantian. Semoga dapat membantu.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  17. syaloom,

    saya mau nanya…apakah org2 yg sudah mengaku dosanya sebelum meninggal akan langsung ke surga atau harus melewati api penyucian…dan bagaimana kita mengetahui atau membedakan org yg masuk surga, neraka, dan api penyucian….

    • Shalom Elis,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang pengakuan dosa dan Api Penyucian. Orang yang benar-benar menyesal atas dosanya, mengaku dosa sebelum dia meninggal – yang artinya dia meninggal tidak dalam kondisi dosa berat – maka orang tersebut tidak akan masuk neraka, namun akan masuk Sorga secara langsung atau Api Penyucian. Namun, kalau dia masuk ke dalam Api Penyucian, maka dia akan masuk Sorga. Walaupun kita dapat memberikan kondisi seseorang masuk ke tiga hal tersebut, namun kita tidak dapat mengetahui secara persis apakah seseorang masuk Sorga, neraka atau Api Penyucian. Secara prinsip, seseorang masuk ke Sorga ketika dia telah berada dalam kesempurnaan kasih, neraka kalau orang tersebut menolak kasih, dan Api Penyucian kalau kasihnya masih belum sempurna. Semoga jawaban singkat ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  18. Stefanus freydy August 2, 2011 at 10:55 am

    Maaf ibu mengenai api penyucian, jujur saya masih bingung, karena dari kecil saya tahunya cuma kalau kita meninggal masuk surga atau neraka, tidak ada masuk api penyucian. Tapi jujur saya mempercayai bahwa memang itu ada sejak pengalaman teman saya.

    Saya punya teman,. setahu saya sewaktu ibunya mengandung, janinnya hampir tak terselamatkan dan sempat meninggal. Sampai akhirnya ibunya berdevosi kepada Santa Margareta Maria Alacoque dan akhirnya teman saya ini terlahir walaupun susah, dan nama teman saya pun diambil dari nama santa kudus tersebut.

    Teman saya ini dari kecil memang bisa melihat atau berbicara pada mahluk yang tidak nyata (dalam hal ini saya tidak tahu apakah itu hantu, arwah atau apapun). Ia seorang Katolik juga. Kalau saya tidak salah kelebihan ini ia dapatkan memang dari kecil. Namun ia pernah menceritakan kepada saya pernah suatu hari ia sedang melewati pemakaman umum, di mana di situ merupakan pemakaman umum Tionghua dan Katolik. Di sana teman saya bertemu dengan arwah di sana. Arwah perempuan itu bernama “Aching”. Katanya begini, dia meninggal dalam usia 20 tahunan. Saat ini ia sedang sedih karena ia meninggal sakit dan anggota keluarganya yang Kristen (bukan Katolik) tidak mendoakannya/Misa seperti kita mendoakan orang yang sudah meninggal, jadi sekarang ia belum tenang. Makanya teman saya itu sering mendoakan arwah ini dengan rosario. Banyak orang yang menganggap teman saya itu berbohong dan menganggap itu setan!!

    Teman saya juga banyak kedatangan arwah yang mengaku dari api penyucian, misalnya arwah nenek-nenek yang meminta untuk didoakan karena arwah tersebut masih berada di api penyucian. Arwah itu sengaja datang ke teman saya karena ia tahu teman saya bisa melihatnya dan berkomunikasi pada arwah2. Namun ia tidak meminta makanan atau apapun, ia cuma minta didoakan.

    Saya ingin bertanya, apa pendapat tim Katolisitas tentang kelebihan teman saya itu?? Saya sungguh tidak mengarang2 cerita ini, apalagi tentang api penyucian. Justru saya mengetahui ada api penyucian dari arwah yang datang pada teman saya tersebut, baru kemudian saya mencari artikelnya di sini dan juga telah membaca kesaksian Maria Simma. Sungguh membingungkan.

    Terimakasih. Mohon tanggapannya atas cerita teman saya tadi.

    • Shalom Stefanus,

      Memang ada beberapa orang yang mempunyai kesempatan untuk melihat jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian. Hal ini dialami oleh beberapa santa-santo, seperti Padre Pio, juga dialami oleh Maria Simma. Dan mungkin saja teman anda mengalaminya. Bagi orang-orang yang mengalaminya, maka yang terpenting adalah mendoakan jiwa-jiwa yang malang tersebut, sehingga atas kemurahan Tuhan, maka jiwa-jiwa tersebut dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah iman kita tidak tergantung dari kesaksian-kesaksian di atas. Iman kita berdasarkan pada tiga pilar kebenaran, yaitu: apa yang dituliskan dalam Kitab Suci, dalam Tradisi Suci dan dirumuskan oleh Magisterium Gereja. Adalah hal yang wajar, kalau kesaksian-kesaksian tersebut dapat memperkuat iman kita. Namun, tanpa ada kesaksian-kesaksian di atas, tidak berarti bahwa kita mempercayai iman yang salah. Justru, kekokohan iman kita adalah bersumber dari tiga pilar kebenaran di atas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Stefanus freydy August 3, 2011 at 7:36 am

        Terima kasih Bapak….saya banyak belajar dari situs ini, semoga makin maju dan memberikan artikel2 penting lain, salam damai.. Jbu

  19. Syaloom Pengurus Katolisitas,,

    Dulu pas di SMA saya dijelaskan begini oleh guru agama saya. Dia bilang ketika kita hidup kita terdiri dr daging dan roh jadi kita masi bisa di ampuni karena kita masih daging sehingga ketika kita terima Yesus dan di hapus dan ditanggung dosa kita, kita telah di sucikan roh nya jadi ketika kita mati daging sudah tidak ada tp roh masi ada. Berbeda dengan malaikat yang jatuh ke dalam dosa. Karena dia Roh dia sudah tidak bisa diampuni. Kalau kita manusia terdiri dr daging dan roh jadi bisa diampuni.

    Kira2 seperti itu. Saya mikir nya betul jg knapa Malaikat yg jatuh ke dosa tidak bertobat? padahal dia takut sama Tuhan. Nah kalau ada api penyucian, knapa Malaikat yg jatuh ke dosa tidak di sucikan saja lagi?

    Terima Kasih
    Tuhan Berkati

    • Shalom Leonard,

      Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa dan jiwanya bersifat spiritual. Pada saat kita bertobat, dibaptis dan mengikuti Kristus, maka Tuhan memampukan kita untuk menjalankan perintah-Nya atau berjuang dalam kekudusan, sampai akhirnya kita dapat mencapai Kerajaan Sorga. Ketika kita meninggal, maka jiwa kita akan diadili dan pada akhir zaman, jiwa kita akan bersatu dengan tubuh yang telah dimuliakan.

      Tentang pengampunan Tuhan: Kalau Tuhan masih mengampuni umat manusia pada waktu manusia berbuat dosa adalah karena kodrat dari manusia, yang memang tidak mempunyai pengetahuan yang lengkap serta kelemahan manusia adanya kecenderungan berbuat dosa (concupiscence). Bagaimana dengan malaikat? Kita harus mengingat bahwa malaikat adalah murni spiritual (pure spiritual), yang berarti cara mereka mendapatkan pengetahuan bukanlah bertahap, namun mempunyai pengetahuan yang penuh pada saat diciptakan. Oleh karena itu, malaikat yang melawan Allah tidak dapat diampuni, karena perbuatan dosa yang dilakukannya adalah dilakukan dengan pengetahuan yang penuh, baik terhadap dosa tersebut dan kesadaran akan perlawanan mereka terhadap Allah. Jadi, Api Penyucian tidak berguna bagi para malaikat yang jatuh, karena tidak ada penyesalan di dalam diri malaikat yang jatuh. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: