Hari Raya Orang Kudus & Hari Arwah

15

1. Sejarah perayaan All Saints Day/ Hari orang kudus 1 November

Pada hari raya orang kudus (1 November) Gereja Katolik merayakan hari para orang kudus, baik mereka yang telah dikanonisasikan/ diakui Gereja sebagai Santo/ Santa, maupun para orang kudus lainnya yang tidak/ belum dikenal. Gereja telah mulai menghormati para Santo/ Santa dan martir sejak abad kedua. Hal ini terlihat dari catatan kemartiran St. Polycarpus di abad kedua sebagai berikut: “Para Prajurit lalu,…. menempatkan jenazahnya [Polycarpus] di tengah api. Selanjutnya, kami mengambil tulang- tulangnya, yang lebih berharga daripada permata yang paling indah dan lebih murni dari emas, dan menyimpannya di dalam tempat yang layak, sehingga setelah dikumpulkan, jika ada kesempatan, dengan suka cita dan kegembiraan, Tuhan akan memberikan kesempatan kepada kita untuk merayakan hari peringatan kemartirannya, baik untuk mengenang mereka yang telah menyelesaikan tugas mereka, maupun untuk pelatihan dan persiapan bagi mereka yang mengikuti jejak mereka.” (St. Polycarpus, Ch. XVIII, The body of Polycarp is burned, 156 AD). Para Bapa Gereja, antara lain St. Cyril dari Yerusalem (313-386) mengajarkan demikian tentang penghormatan kepada para orang kudus: “Kami menyebutkan mereka yang telah wafat: pertama- tama para patriarkh, nabi, martir, bahwa melalui doa- doa dan permohonan mereka, Tuhan akan menerima permohonan kita …. (Catechetical Lecture 23:9)

Pada awalnya kalender Santo/ Santa dan Martir berbeda dari tempat yang satu ke tempat lainnya, dan gereja- gereja lokal menghormati orang- orang kudus dari daerahnya sendiri. Namun kemudian hari perayaan menjadi lebih universal. Referensi pertama untuk merayakan hari para orang kudus terjadi pada St. Efrem dari Syria. St. Yohanes Krisostomus (407) menetapkan hari perayaannya yaitu Minggu pertama setelah Pentakosta, yang masih diterapkan oleh Gereja- gereja Timur sampai sekarang. Gereja Barat, juga kemungkinan pada awalnya merayakan demikian, namun kemudian menggeserkannya ke tanggal 13 Mei, ketika Paus Bonifasius IV mengkonsekrasikan Pantheon di Roma kepada Santa Perawan Maria dan para martir pada tahun 610. Perayaan hari para orang kudus pada tanggal 1 November sekarang ini kemungkinan ditetapkan sejak zaman Paus Gregorius III (741) dan pertama kali dirayakan di Jerman. Maka hari perayaan ini tidak ada kaitannya dengan perayaan pagan Samhain yang dirayakan di Irlandia. Perayaan 1 November sebagai hari raya (day of obligation) ditetapkan tahun 835 pada jaman Paus Gregorius IV. Tentang oktaf perayaan (1-8 November) ditambahkan oleh Paus Sixtus IV (1471-1484) (C. Smith The New Catholic Encyclopedia 1967: s.v. “Feast of All Saints”, p. 318.)

2. Perayaan All Souls Day/ Hari Arwah, 2 November

Sehari setelah hari perayaan orang kudus disebut sebagai hari arwah (All Souls day) yaitu hari yang ditetapkan untuk mengenang dan mempersembahkan doa- doa atas nama semua orang beriman yang telah wafat. Mengingat makna antara keduanya demikian dekat, maka tak mengherankan bahwa Gereja merayakannya secara  berurutan. Setelah kita merayakan hari para orang kudus, kita mendoakan para saudara- saudari kita yang telah mendahului kita, dengan harapan agar merekapun dapat bergabung dengan para orang kudus di surga.

Umat Kristiani telah berdoa bagi para saudara/ saudari mereka yang telah wafat sejak masa awal agama Kristen. Liturgi- liturgi awal dan teks tulisan di katakomba membuktikan adanya doa- doa bagi mereka yang telah meninggal dunia, meskipun ajaran detail dan teologi yang menjelaskan praktek ini baru dikeluarkan kemudian oleh Gereja di abad berikutnya. Mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal telah tercatat dalam 2 Makabe 12:41-42. Di dalam kitab Perjanjian Baru tercatat bahwa St. Paulus berdoa bagi kawannya Onesiforus  (lih. 2 Tim 1:18) yang telah meninggal dunia. Para Bapa Gereja, yaitu Tertullian dan St. Cyprian juga mengajarkan praktek mendoakan jiwa- jiwa orang yang sudah meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa jemaat Kristen perdana percaya bahwa doa- doa mereka dapat memberikan efek positif kepada jiwa- jiwa yang telah wafat tersebut. Berhubungan dengan praktek ini adalah ajaran tentang Api Penyucian. Kitab Perjanjian Baru secara implisit mengajarkan adanya masa pemurnian yang dialami umat beriman setelah kematian.  Yesus mengajarkan secara tidak langsung bahwa ada dosa-dosa yang dapat diampuni setelah kehidupan di dunia ini, (lih. Mat 12:32) dan ini mengisyaratkan adanya tempat/ keadaan yang bukan Surga -karena di Surga tidak ada dosa; dan bukan pula neraka -karena di neraka sudah tidak ada lagi pengampunan dosa. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan, “tetapi seolah melalui api” (1 Kor 3:15). Para Bapa Gereja, termasuk St. Agustinus (dalam Enchiridion of Faith, Hope and Love dan City of God), merumuskannya dalam ajaran akan adanya pemurnian jiwa setelah kematian.

Pada hari- hari awal, nama- nama jemaat yang wafat dituliskan di atas plakat diptych. Di abad ke-6, komunitas Benediktin memperingati jiwa- jiwa mereka yang meninggal pada hari perayaan Pentakosta. Perayaan hari arwah menjadi peringatan universal, di bawah pengaruh rahib Odilo dari Cluny tahun 998, ketika ia menetapkan perayaan tahunan di rumah- rumah ordo Beneditin pada tanggal 2 November, yang kemudian menyebar ke kalangan biara Carthusian. Sekarang Gereja Katolik merayakannya pada tanggal 2 November, seperti juga gereja Anglikan dan sebagian gereja Lutheran.

Dari keterangan di atas, tidak disebutkan mengapa dipilih bulan November dan bukan bulan- bulan yang lain. Namun jika kita melihat kepada kalender liturgi Gereja, maka kita mengetahui bahwa bulan November merupakan akhir tahun liturgi, sebelum Gereja memasuki tahun liturgi yang baru pada masa Adven sebelum merayakan Natal (Kelahiran Kristus). Maka sebelum mempersiapkan kedatangan Kristus, kita diajak untuk merenungkan terlebih dahulu akan kehidupan sementara di dunia; tentang akhir hidup kita kelak, agar kita dapat akhirnya nanti tergabung dalam bilangan para kudus di surga. Kita juga diajak untuk merenungkan makna kematian, dengan mendoakan para saudara- saudari kita yang telah mendahului kita. Juga, pada bulan November ini, bacaan- bacaan Misa Kudus adalah tentang akhir dunia, yaitu untuk mengingatkan kita tentang akhir hidup kita yang harus kita persiapkan dalam persekutuan dengan Kristus. Harapannya adalah, dengan merenungkan akhir hidup kita di dunia, kita akan lebih dapat lagi menghargai Misteri Inkarnasi Allah (pada hari Natal) yang memungkinkan kita untuk dapat bergabung dalam bilangan para kudus-Nya dalam kehidupan kekal di surga.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

15 Comments

  1. Dear Rm Boli and Katolisitas

    Saya mohon pencerahan dan penegasan.

    Minggu lalu kami ada “berdebat” soal misa Peringatan Mulia Arwah Semua Umat Beriman, yang tahun ini jatuh pada hari Sabtu. Di paroki kami Misa hari Minggu itu ada 3 kali: Sabtu Sore, Minggu jam 06.00 dan jam 08.30.

    Peringatan arwah merupakan Hari Raya. Jadi disamakan dengan hari Minggu. Ada teman tak setuju misa peringatan arwah itu dibuat pada hari Sabtu, karena hari Sabtu itu misa hari Minggu. Sekedar catatan, kami tidak mungkin merayakannya pada pagi hari, karena kesibukan umat dengan kerja. Bisanya sore, namun sore itu sudah terhitung hari Minggu, demikian pendapat teman saya. Karena itu, mereka mengusulkan misa peringatan arwah dibuat hari Senin, 4 Nov.

    Saya kurang setuju. Karena banyak umat paroki yang dari luar kota dan luar pulau sudah datang untuk tujuan ini. Mereka berpikir misa diadakan persis tanggal 2 Nov, hari Sabtu. Saya mengusulkan, tetap saja dibuat Sabtu Sore, mengingat status peringatan arwah ini adalah hari raya. Kepada umat diingatkan bahwa misa Sabtu Sore itu adalah misa peringatan arwah, bukan misa hari minggu. Untuk menggantikan misa hari minggu yang hilang, bisa digantikan pada minggu sore. Untuk mendukung pendapat saya ini, saya mengambil contoh misa malam natal dan misa malam paskah.

    Nah, bagaimana masalah ini bisa diselesaikan dengan bijak menurut ketentuan liturgi?

    Terima kasih, salam

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Brian,

      Dalam kasus khusus ini, dipakai bacaan pertama dan Injil dari hari Minggu, bacaan kedua bisa dipilih bacaan yg berkaitan dengan arwah, intensi misanya untuk para arwah, satu dua ujud doa umat untuk para arwah, Doa Syukur Agung sebaiknya dipakai Doa Syukur Agung VII.

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

        • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

          Salam Brian,

          Iya, dengan latar belakang situasi yang digambarkan, sebagai suatu situasi khusus. Tetapi yang ideal adalah Misa peringatan arwah dibuat pada pagi atau siang hari Sabtu, sedangkan yang sore, menjelang malam Misa Hari Minggu Adven.

          Salam dan doa. Gbu.
          Rm Boli.

  2. Salam Katolisitas,

    Saya seorang pria katholik (27 th) sedang dlm proses untuk melangsungkan pernikahan. Setelah diskusi keluarga,tanggal yg ditentukan adalah tgl 2 november 2013 tepat pada hari raya arwah. Apakah diperbolehkan untuk menikah pada tanggal 2 november,pada hari raya arwah? Apakah benar anggapan bahwa tidak baik menikah pada saat umat katholik seluruh dunia berdoa untuk arwah orang meninggal?
    Bagaimana menurut ajaran Katholik mengenai hal ini?
    Terima kasih

    [Dari Katolisitas: Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada hari pantangan bagi kita umat Katolik untuk mengadakan perkawinan, kecuali memang tidak dianjurkan untuk mengadakan perkawinan pada Masa Prapaska dan Adven, karena masa tersebut dimaksudkan untuk masa pertobatan. Silakan menghubungi paroki dan imam yang akan diharapkan untuk memberkati perkawinan Anda, jika ia bersedia, dan tidak ada acara khusus di paroki pada hari itu sehingga gedung dapat dipakai, maka dapat saja dilangsungkan pada tanggal tersebut].

  3. Katolisitas Yth,

    Tiga hari lalu saya ikut pastor ke stasi. Di sana ada misa arwah. Setelah doa pelepasan jenasah dari rumah duka, jenasah dibawa ke gereja untuk misa arwah.

    Waktu jenasah mau datang, seorang katekis datang ke pastor menanyakan posisi jenasah. Sekedar diketahui, jenasah diletakkan persis di depan altar. Nah, yang jadi persoalannya adalah, kepala jenasah dekat ke altar atau kakinya?

    Menurut katekis itu kakinya yang mengarah/dekat ke altar, karena ia umat awam. Jika yang mati itu imam atau uskup baru kepalanya yang mengarah/dekat altar.

    Kebetulan pastor kami masih muda. Dia tidak tahu persis aturan seperti itu. Saya juga tidak tahu. Pastor menjawab bahwa berdasarkan pengalamannya, kepala yang dekat altar, sedangkan kaki jenasah terarah ke umat. Sang Pastor tidak membedakan antara imam dan awam. Dia bilang, sejak Konsili Vatikan II, Gereja bukan lagi piramida melainkan umat Allah.

    Terus terang saya sendiri bingung. Mungkin Katolisitas bisa membantu saya. Mana yang benar posisi jenasah saat misa arwah? Apakah memang ada aturannya?

    Sekian dan terima kasih. GBU!!!

    • Romo Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Brian,
      Benar bahwa dalam ekaristi, posisi fisik imam karena tahbisannya menjadi berbeda dengan umat. Ketika masih hidup aktif, posisi fisik imam ketika memimpin ekaristi menghadap ke umat, posisi umat menghadap ke altar. Dalam norma Liturgi Pemberkatan Jenazah, posisi ini dipertahankan. Memang, semuanya ialah Umat Allah namun umat Allah memiliki fungsi dan peran masing-masing. Dengan memperhitungkan peran masing-masing inilah semua lalu membentuk kesatuan sebagai Gereja Tubuh Kristus.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

      • Terima kasih banyak romo atas infonya. Saya akan sosialisasikan ini di paroki. Karena berdasarkan info ini, apa yang pernah terjadi di paroki bulan lalu (bukan yang kemarin ini) keliru. Dengan info ini maka kekeliruan selama ini akan segera dibenahi.

        Sekali lagi terima kasih. Salam dan GBU!!!

  4. Shalom Katolisitas,

    Saya ingin bertanya, bolehkah merayakan Ekaristi Pemakaman pada HR Semua Orang Kudus, tanggal 1 November?

    Terima kasih, sebelumnya.

    • Romo Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Phiner,

      Merayakan Ekaristi pemakaman pada Hari Raya Semua Orang Kudus selalu boleh. Salah satunya bisa menjadi misal, hari ini 1 November 2012, diadakan Ekaristi pemberkatan jenazah dan pemakaman jenazah alm. Romo G. Widyo-Soewondo MSC, diberkati di gereja Kemakmuran dan dimakamkan di Karawang.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  5. Jul Em Las Simanungkalit on

    Selamat pagi team Katolisitas yang terkasih,
    saya mau tanya mengenai misa arwah. yang saya saya lihat selama ini di gereja tempat saya tinggal ada kebiasaan memasang foto-foto keluarga yang sudah meninggal di panti imam (di depan altar)pada saat misa peringatan arwah semua orang ber iman (2 Nov). yang menjadi masalah ketika foto itu banyak semua ingin agar foto keluarganya yang kelihatan, sementara tempat di depan altar cukup sempit.
    pertanyaan saya: apakah ada aturan yang mewajibkan memajang foto yang sdh meninggal di altar, apakah dengan menuliskan nama dan didoakan itu tidak cukup?

    terikasih.
    Jul’s

    • Shalom Jul Em,
      Agaknya perlu dipahami, manakah yang esensial dan mana yang tidak esensial dalam suatu tradisi yang dilakukan dalam perayaan liturgi. Yang esensial adalah, bahwa kita mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal tersebut, pada misa arwah, dengan mengajukan intensi Misa Kudus. Namun hal memasang foto di depan altar itu bukan merupakan hal yang esensial bahkan sepanjang pengetahuan saya, tidak ada sesungguhnya dalam rubrik liturgi, sehingga jangan sampai hal-hal semacam ini malah menjadi sesuatu yang mengundang keributan. Silakan Anda mendiskusikannya dengan pastor paroki dan seksi liturgi jika menjumpai masalah seperti ini.

      Dalam menyelesaikan berbagai masalah, mari mengingat prinsip yang diajarkan oleh Rasul Paulus, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kol 3:14). Sepantasnya kita menyadari bahwa semua orang bermaksud baik, dan karena itu, mari mengenakan kasih, agar apapun bentuk perbedaan dan kesulitan yang ada dapat dicari jalan keluarnya yang dapat diterima semua pihak.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. syalom, tim katolisitas yang diberkati tuhan
    baru-baru ini saya membaca sebuah buku mengatakan bahwa kita tidak boleh meminta pertolongan kepada malaikat dan para orang kudus untuk menolong kita karena pertolongan hanya pada tuhan ALLAH (Mzm 121:1-2) dan (Kel 20:3-6). bagaimana pandangan katolik mengenai hal ini?
    makasih

    [dari katolisitas: Silakan melihat tanya jawab ini - silakank klik.]

  7. Ikut melengkapi jawanan atas pertanyaan sdr. Herman Jay :

    1. Hari raya Orang Kudus, 1 November :…..
    [Dari Katolisitas: Kami edit...... Menurut dari data yang kami ketahui, perayaan 1 November sebagai Hari orang Kudus pertama kali dilakukan di Jerman, oleh Paus Gregorius III (741). Jadi perayaan ini tidak diadopsi dari festival Sahmuin di Irlandia yang kemudian diubah oleh Charlemagne (sekitar tahun 800 an)]

    Tahun 835 Putra Charlemagne, Lous le Piaux, menetapkan Perayaan untuk semua Orang Kudus tanggal 1 November di Prancis, yang mana Perayaan untuk Orang Kudus ini telah ada di Roma dan di Gereja Timur (sebagaimana penjelasan Inggrid di atas). Lambat laun semua Gereja Barat mengadopsi tanggal 1 November sebagap perayaan untuk semua Orang Kudus.
    Tahun 1580, Paus Sixtus IV menetapkan 1 November sebagai Hari Raya besar dalam Gereja. Dan Paus Pius X (+ 1914) menetapkan Hari Raya ini sebagai Hari Raya Wajib : artinya Gereja wajib merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November dalam Ekaristi Kudus, walaupun tanggal 1 November tidak jatuh pada hari Minggu (untuk konteks kita, Gereja Indonesia, Konferensi Wali Gereja memindahkan Hari Raya ini ke Hari Minggu). Maka untuk Gereja di Eropa 1 November sebagai perayaan besar dan beberapa negara menetapkannya sebagai hari libur nasional, yang disebut Toussaint di Prancis.

    2. Tentang Peringatan Arwah Umat Beriman, 2 November : untuk mempertahankan karakter perayaan Semua Orang Kudus tanggal 1 November, maka dipandang perlu, sebagai kelanjutan perayaan ini, mendoakan dan memperingati Para Arwah Orang Beriman. Maka pada tahun 998, Santo Odilon, Abas, kepala biara Benediktin, Cluny di Prancis, mewajibkan para anggota biaranya untuk mendoakan dan memperingati para arwah kaum beriman, pada tanggal 2 November. Praktek ini akhirnya menyebar ke tengah umat dan ke seluruh Eropa. Paus Leo IX (masa kepausan tahun 1049 – 1054) menyambut baik ketetapan dari Santo Odilon ini dan praktek yang sudah menyebar, beliau memasukannya ke dalam liturgi Gereja dan menjadi perayaan universal Gereja.
    Tahun 1998, Paus Yohanes Paulus II, mengirim pesannya kepada Mgr.Raymond Séguy, Uskup Autun, Chalon-sur-Saône – Mâcon, dan Abbé de Cluny, Prancis, untuk memperingati 1000 tahun ketetapan Peringatan Arwah Umat Berimat dari Santo Odilon.

    3. Suatu perayaan yang menjadi rangkaian dari kedua perayaan sebelumnya di atas, yakni 9 November, Perayaan Pemberkatan Basilika St. Yohanes Lateran. Perayaan ini dimaknai sebagai perayaan bagi kita, Gereja yang masih hidup dan berjuang di dunia ini. Di beberapa negara/tempat dimaknai juga sebagai perayaan ulang tahun Gereja² setempat.

    Gereja adalah persekutuan umat beriman, yang terdiri dari : Gereja yang sudah jaya, Para Kudus di surga ; Gereja yang masih dalam proses pemurnian di Api Pencucian (purgatory), yang sangat mendambahkan bantuan doa² kita ; dan Gereja, yang adalah kita kaum beriman yang masih hidup dan berjuang di dunia ini. Maka ketiga perayaan di atas merupakan rangkaian perayaan Gereja sebagai persekutuan umat beriman dimana Kristus sendiri sebagai kepalanya. Semoga dengan merayakan perayaan² ini dalam liturgi Gereja, iman kita semakin kuat, cinta kasih kita semakin subur dan harapan kita semakin direguhkan.

    Mengapa bulan November ? Apakah kebetulan, jika melihat proses terjadinya perayaan² tersebut ? Kita maknai saja sebagai anugerah dari Roh Kudus. Apa lagi liturgi Gereja pada akhir Tahun Liturgi di bulan November, menceritakan tentang kehidupan kekal, kedatangan Tuhan, penghakiman terakhir, dst. Yang akan ditutup dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam.

    Salam.

  8. 1 Nopember :Hari Raya Semua Orang Kudus dan 2 Nopember : Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

    Mohon info tentang kapan penetapan kedua tanggal liturgis istimewa tersebut dalam gereja katolik.
    Apa yang menjadi latar belakang penetapannya.
    Siapa yang menetapkan tanggal tersebut.
    Mengapa tanggalnya justru berurutan ? Mengapa di bulan nopember dan bukan di bulan yang lain.

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply