Teologi kemakmuran: ajaran gampang tapi salah!

79

Berikan sumbangan, maka engkau akan menerima kembali berlipat ganda.

Seruan untuk memberikan sumbangan finansial kepada misi evangelisasi dengan iming-iming untuk mendapatkan kembali apa yang diberikan secara berlipat ganda, seperti yang sering didengungkan oleh para televangelists yaitu para evangelis yang melakukan pewartaan melalui media televisi. Di satu sisi, mendukung misi evangelisasi adalah baik, namun kalau dilakukan dengan motivasi untuk mendapatkan kembali berlipat ganda apa yang akan diberikan, maka motivasi ini keliru. Dalam hal ini, seolah-olah sumbangan dilakukan bukan dengan alasan kasih, namun menjadi suatu urusan bisnis, yang dilihat dari segi untung dan rugi. Pemikiran seperti ini adalah suatu gambaran akan maraknya teologi kemakmuran.

Dalam artikel ini, kita akan melihat latar belakang dari teologi kemakmuran, pengaruh materialisme pada teologi kemakmuran. Lebih lanjut kita akan menelaah bahwa teologi seperti ini justru bertentangan dengan: 1) Alkitab, 2) jemaat perdana, 3) kehidupan para santa-santo, 4) akal sehat, 5) dimensi eskatologi. Dan pada akhirnya, kita akan melihat tentang apakah sebenarnya yang dimaksud dengan “hidup berkelimpahan“, yang sering didengung-dengungkan oleh banyak orang, terutama oleh penganut teologi kemakmuran. Dengan memahami makna  “hidup berkelimpahan” secara benar, maka kita dapat menempatkan nilai-nilai kekristenan dan semangat Injil di tempat yang semestinya. Yaitu,  hidup berkelimpahan ini terutama menyangkut hal spiritual dan mengarah pada tujuan akhir manusia, yaitu persatuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga, tanpa melihat apakah orang tersebut kaya maupun miskin secara jasmani.

I. Definisi dan sejarah teologi kemakmuran

1. Latar belakang teologi kemakmuran.

Teologi kemakmuran mulai dipopulerkan di Amerika pada waktu belakangan ini, terutama dengan menjamurnya televangelist yang cukup populer, dengan gaya penginjilan yang khas dan berapi-api. Secara prinsip, teologi kemakmuran mengajarkan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan berkat spiritual, namun terutama adalah berkat kesehatan dan kekayaan. Dan kerap kali kesehatan dan kekayaan dapat diterima sebagai akibat dari tindakan menabur (seeding), yaitu dengan memberikan perpuluhan. Bahkan dikatakan bahwa kekayaan adalah suatu tanda bahwa akan kasih Tuhan kepada umat-Nya.

Kita dapat melihat akan beberapa pernyataan dari beberapa televangelist maupun pendeta-pendeta terkenal, salah satunya adalah Joel Osteen yang mengatakan di salah satu kotbahnya:

Bagaimana untuk hidup dalam kemenangan total? Yesus yang mati, telah bangkit pada hari ke-tiga. Yesus berkata “karena saya hidup, maka engkau juga akan memperoleh kehidupan.” Diinterpretasikan bahwa Yesus menginginkan kita semua untuk mendapatkan hidup yang berkelimpahan: hidup yang bukan dipenuhi dengan kebiasaan buruk, bukan hidup yang biasa-biasa saja. Bukan kemenangan setengah-setengah, di mana kita mempunyai keluarga yang baik, kesehatan yang baik, namun senantiasa mempunyai masalah dengan masalah keuangan. Ini bukanlah kemenangan yang total. Kalau Tuhan melakukan sesuatu di satu area, Dia akan melakukan juga di area yang lain. Orang yang mengalami masalah kesehatan dan menerimanya sebagai sebuah salib, adalah tidak benar, karena Yesus telah membayar semuanya, sehingga kita dapat bebas secara total – yang berarti bebas dari kebiasaan buruk maupun kecanduan, bebas dari ketakutan dan kekuatiran, bebas dari kemiskinan dan kekurangan, bebas dari kerendahan diri. Karena Yesus telah membayar harga agar kita bebas, maka kita harus bebas secara total. Untuk dapat bebas, maka kita harus tahu siapa diri kita, yang adalah anak-anak Allah, yang bukan orang-orang yang biasa, telah direncanakan oleh Allah sebagai pemenang, yang mempunyai kesehatan yang baik, dan juga banyak uang untuk membayar tagihan-tagihan, …

Kalimat-kalimat di atas adalah merupakan gambaran tentang teologi kemakmuran, yang ingin mengedepankan kesuksesan dan kemakmuran di dunia ini, seperti: relasi sesama yang baik, keluarga yang baik, punya harga diri yang baik, kesehatan yang baik, dan juga mempunyai kekayaan – sebagai manifestasi dari kebebasan yang total, yang seolah-olah ditawarkan oleh Yesus, karena Yesus telah membayar lunas seluruhnya. Dikatakan, dengan pengorbanan Kristus, maka seluruh umat Allah harus hidup dalam kelimpahan, termasuk dalam urusan kesehatan dan kekayaan. Namun, apakah benar bahwa pesan ini adalah sesuai dengan semangat Injil?

2. Pengaruh materialisme terhadap teologi kemakmuran.

Kalau kita melihat secara lebih cermat, maka kita dapat melihat bahwa materialisme yang melanda dunia ini mempengaruhi teologi kemakmuran. Dunia yang dilanda materialisme – paham di mana kesuksesan, kehormatan dan kemampuan seseorang menjadi parameter apakah seseorang menjadi berharga atau tidak, masuk ke dalam teologi kemakmuran. Hal ini dapat dibuktikan dengan perkembangan teologi kemakmuran yang baru marak di abad ke-20 ini, di mana materialisme melanda dunia dalam segala bidang.

Materialisme – paham yang percaya bahwa yang benar-benar ada adalah sesuatu yang bersifat materi – memberikan pengaruh kepada teologi kemakmuran. Rahmat Allah yang terbesar – yaitu janji akan kebahagiaan Sorgawi – direduksi menjadi kebahagiaan yang bersifat duniawi dan bersifat material, seperti rumah, kesehatan, kekayaan. Dengan demikian, efek dari pengorbanan Kristus di kayu salib direduksi menjadi kebahagian semu yang ada di dunia ini. Alasan untuk mendapatkan kebahagiaan material yang dibayar dengan pengorbanan Kristus, rasanya menjadi terlalu murah dan terlihat menjadi kesia-siaan, karena memang Kristus bukan datang ke dunia untuk memberikan kebahagiaan duniawi namun kebahagiaan sorgawi. Mari kita membandingkan teologi kemakmuran dengan prinsip-prinsip Alkitab.

II. Teologi kemakmuran salah dalam menangkap pesan Alkitab dan tidak didukung oleh kesaksian jemaat perdana.

1. Teologi kemakmuran bertentangan dengan Alkitab.

a. Memang ada bagian di Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan akan memberikan kemakmuran bagi orang-orang pilihan-Nya. Dikatakan “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” (Ul 8:18). Kita juga melihat bagaimana kitab Amsal mengatakan “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Ams 10:22).

b. Namun di satu sisi, Alkitab juga mengatakan bahwa penderitaan – kurangnya kekayaan dan kesehatan – bukan sebagai bukti bahwa Allah tidak mengasihi umat-Nya. Kita melihat di kitab Ayub, di mana diceritakan bahwa Ayub yang saleh dan jujur serta takut akan Tuhan (lih. Ay. 1:1), tertimpa bencana. Dia kehilangan semua yang dimilikinya, termasuk kekayaannya, ternaknya, termasuk keluarganya, dan juga kesehatannya. Dan teman-teman Ayub mempergunakan teologi kemakmuran, dengan mengatakan “7 Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? 8  Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.” (Ay. 4:7-8). Teman-teman Ayub melihat bahwa kesengsaraan Ayub adalah sebagai akibat dari dosa-dosanya, karena dalam pemikiran mereka, Allah akan memberikan kelimpahan materi, kesehatan yang baik, serta kehidupan keluarga yang baik, bagi orang-orang yang menjalankan perintah Allah. Namun, pemikiran ini tidak dibenarkan oleh Allah (lih. Ay 42:7). Dari kitab Ayub ini, kita sebetulnya melihat dimensi lain dari penderitaan, yang bukan sebagai hukuman atas dosa, namun sebagai penderitaan yang innocent, yang selayaknya diterima sebagai suatu misteri.[1] Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Salvific Doloris, menyingkapkan penderitaan sebagai kesempatan untuk pertobatan, yang membangun kebaikan dari orang yang mengalaminya.[2] Dengan demikian, pengajaran teologi kemakmuran, yang melihat bahwa penderitaan fisik (jasmani maupun kemiskinan) sebagai sesuatu yang salah, seolah menutup adanya rahmat Allah yang dapat bekerja secara istimewa kepada orang-orang yang sedang mengalami penderitaan fisik.

Walaupun Kristus mengatakan “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mt 6:33), yang sering menjadi ayat andalan dari teologi kemakmuran, namun di ayat-ayat yang lain, Kristus juga memperingatkan para murid untuk berhati-hati terhadap bujukan mamon. Dikatakan “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mt 6:24). Bahkan ditegaskan sekali lagi “Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Lk 18:25). Dengan demikian, penekanan bahwa Tuhan pasti akan memberikan berkat-berkat material sebagai tanda kasih-Nya kepada umat manusia, tidaklah menyampaikan kebenaran penuh akan pesan Kristus. Hal ini  bahkan dapat menyesatkan, terutama jika Kristus kemudian seolah digambarkan sebagai tokoh semacam ‘sinterklas’ yang membagi- bagi hadiah.

2. Teologi kemakmuran bertentangan dengan kehidupan jemaat perdana.

Kalau kita menganalisa sejarah kekristenan, maka kita akan dapat melihat bahwa pada masa awal kekristenan, bukan kekayaan materi dan kesehatan yang baik, yang mereka dapatkan, namun justru dikejar-kejar oleh penguasa. Kita dapat melihat contoh mulai dari Yesus yang akhirnya meninggal di kayu salib, para rasul yang juga menderita dan mati dalam penganiayaan, para jemaat perdana yang juga menderita dan banyak yang meninggal dalam mempertahankan iman mereka. Tubuh mereka bukannya mendapat kesehatan yang baik, namun sering berakhir pada perut singa-singa yang buas. Mereka inilah yang dengan setia memegang dan menjalankan pengajaran Kristus sampai pada titik mengorbankan diri mereka. Mereka mencintai kebenaran yang diwartakan oleh Kristus lebih daripada harta kekayaan mereka, melebihi tubuh mereka dan melebihi nyawa mereka. Bahkan dikatakan bahwa Gereja dibangun di atas darah para martir.

3. Teologi kemakmuran bertentangan dengan kehidupan para santa-santo.

Kalau kita mempelajari kehidupan para santa-santo, maka kita melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang dipakai oleh Tuhan dengan begitu luar biasa. Mereka senantiasa bekerjasama dengan rahmat Tuhan, sehingga menghasilkan buah-buah yang limpah, dalam membawa banyak orang kepada Tuhan, melalui doa- doa dan  karya kerasulan mereka. Namun, apakah mereka mempunyai kesehatan yang baik serta kekayaan yang berlimpah? Mayoritas dari kehidupan para santa-santo diwarnai dengan begitu banyak penderitaan. Namun demikian mereka tetap memiliki keberanian untuk mengasihi Kristus dalam kondisi tersulit apapun. Kita melihat Santo Fransiskus dari Asisi, yang meninggalkan kekayaannya demi untuk mengikuti Kristus secara lebih total. Dia menjadi santo yang besar dalam sejarah Gereja, bukan karena kekayaannya, namun karena keberaniannya dalam mengikuti Kristus, termasuk dalam hal kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Lihatlah kehidupan Santo Thomas Moore dari Inggris, yang memilih kehilangan keluarga, kekayaan dan jiwanya untuk tetap setia pada Kristus dengan setia terhadap pengajaran Gereja Katolik.

4. Teologi kemakmuran bertentangan dengan akal sehat.

Kalau kasih Kristus kepada umat-Nya diukur dari seberapa banyak umat-Nya menerima berkat finansial, maka sungguh sangat disayangkan, dan bahkan tidak sesuai dengan akal sehat. Bayangkan nasib dari begitu banyak penduduk miskin di dunia. Menurut data tahun 2001, ada 1,1 milyar orang masuk dalam garis kemiskinan yang ekstrim dan 2,7 milyar masuk dalam garis kemiskinan, yang hidup kurang dari US$ 2 (Rp 18,000) per hari. Ini berarti ada sekitar 40% dari populasi dunia berada di bawah garis kemiskinan. Bahkan dikatakan bahwa 6 juta anak-anak meninggal setiap tahun atau sekitar 17,000 meninggal setiap hari. Kalau kekayaan material adalah identik dengan kasih Tuhan, maka bagaimana mungkin, kita dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak mengasihi orang-orang miskin dan anak-anak yang meninggal setiap hari karena kemiskinan? Bagaimana mungkin bahwa Tuhan pilih kasih dan memberikan hukuman kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan, dan sebagian bukanlah akibat kesalahan mereka sendiri…

5. Teologi kemakmuran menghilangkan dimensi eskatologi.

Dengan memberikan penekanan pada kemakmuran material di dunia ini, maka teologi kemakmuran secara tidak langsung mengaburkan dimensi eskatologi – yaitu yang berhubungan dengan akhir zaman. Penekanan yang terlalu banyak akan kebahagiaan material dari teologi kemakmuran membuat seseorang berfokus pada apa yang terjadi di dunia ini dan mengaburkan apa yang menjadi tujuan akhir dari seorang Kristen, yaitu berkumpul bersama dengan Allah untuk selamanya di dalam Kerajaan Sorga.

Kita tahu bahwa seorang Kristen hidup di dunia ini, namun bukan dari dunia ini. Seorang Kristen harus mempunyai kesadaran bahwa apa yang dialami di dunia ini hanyalah bersifat sementara, karena pada saatnya nanti ketika kemah kita di dunia ini dibongkar, maka Allah telah menyediakan tempat kediaman abadi di Sorga (lih. 2Kor 5:1). Seorang Kristen harus tahu bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kebahagiaan material, namun kebahagiaan spiritual, yang akan diterima dan dialami secara penuh pada saat kita masuk dalam Kerajaan Sorga.

III. Arti yang sesungguhnya dari “hidup berkelimpahan“.

Kalau teologi kemakmuran menekankan kemakmuran material, maka sebenarnya tidak ada yang salah dengan kata “kemakmuran“, namun yang menjadi masalah adalah penekanan kemakmuran pada hal-hal yang bersifat material. Berjuang untuk memperbaiki taraf hidup, tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun tentang hasilnya, apakah kita menjadi kelimpahan atau tidak secara duniawi, bukanlah yang menjadi fokus utama dalam kehidupan umat beriman. Sebab bukan itu yang menjadi janji Tuhan yang terutama. Kalau Tuhan memberi rejeki duniawi berkelimpahan, puji Tuhan. Kalau tidak, juga tetap puji Tuhan! Tuhan mengetahui yang terbaik bagi kita. Tuhan memang tidak melarang, bahkan mengajarkan kita untuk memohon rejeki/ makanan secukupnya setiap hari, dan ini kita ucapkan dalam Doa Bapa Kami. Janji inilah yang ditepati-Nya pada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Namun Tuhan tidak menjanjikan kelimpahan materi kepada setiap orang. Memang Yesus mengatakan “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10). Rasul Paulus juga menekankan hidup yang berkelimpahan, namun bukan berkelimpahan dari sisi material, namun berkelimpahan dalam kasih karunia (lih. Rm 5:20; Ef 2:7) dan oleh kekuatan Roh Kudus, kita dapat hidup berlimpah-limpah dalam pengharapan (lih. Rm 15:13), serta kelimpahan akan iman, kebajikan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih (lih. 2Pet 1:6-8).

Dengan demikian, kita melihat bahwa kasih karunia Allah dicurahkan secara melimpah kepada umat yang terus bekerjasama dengan rahmat Allah. Namun, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan kelimpahan material, walaupun Dia juga akan memberikan rejeki kepada orang-orang yang mencari Kerajaan Allah dan bertanggung jawab terhadap panggilan hidupnya. Dia mengatakan kepada para murid yang telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Mt 19:29). Apakah “seratus kali lipat” adalah merupakan janji untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat material (harta, kedudukan, kesehatan, dll) ataukah sesuatu yang bersifat spiritual? Untuk melihat ini, maka kita dapat melihat apa yang terjadi pada para rasul. Apakah para rasul mendapatkan kekayaan? Tidak sama sekali. Bahkan, semua rasul mendapatkan penderitaan dan kematian karena mengikuti dan mengajarkan kebenaran Kristus. Namun, di tengah-tengah penderitaan mereka, mereka tetap menerima rahmat yang berkelimpahan, yaitu rahmat spiritual – kegembiraan dalam menghadapi penderitaan dan rahmat pengharapan yang tak pernah surut, karena percaya akan janji Kristus.

Dengan demikian, makna dari hidup berkelimpahan sebagai rahmat yang mengalir sebagai orang yang percaya dan senantiasa bekerjasama dengan rahmat Allah adalah senantiasa bermakna spiritual, entah orang tersebut kaya maupun miskin. Atau kita harus menyetujui bahwa rahmat spiritual adalah lebih penting daripada rahmat material, karena spiritual adalah lebih utama dan kekal daripada material yang bersifat hanya sementara. Dengan demikian, hidup berkelimpahan terbuka bagi siapa saja, baik bagi yang kaya maupun yang miskin, yang berarti Tuhan memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang. Bahkan orang-orang yang miskin mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan hidup yang berkelimpahan, karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengandalkan belas kasih Tuhan. Dikatakan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mt 5:3) Dengan memberikan penekanan bahwa keutamaan hidup berkelimpahan adalah sesuatu yang bersifat spiritual, maka umat Allah akan senantiasa berfokus pada sesuatu yang spiritual dan mengarahkan pandangan pada tujuan akhir, yaitu persatuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga tanpa juga melupakan kebaikan badan yang harus dipenuhi selama kita berada di dunia ini.

Kesimpulan:

Dari pemaparan di atas, maka terlihat bahwa teologi kemakmuran adalah teologi yang berfokus pada sesuatu yang bersifat material dan sementara, yang bertentangan dengan pesan Kristus sendiri – yang senantiasa mengutamakan rahmat spiritual dan tujuan akhir dari manusia, yaitu persekutuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga. Dengan demikian, teologi kemakmuran terlalu menyederhanakan – mungkin lebih tepatnya membelokkan – pesan Injil. Teologi kemakmuran menjadi sangat berbahaya di tengah-tengah kehidupan yang didominasi oleh materialisme, karena seolah-olah mereka mendapatkan pembenaran dari orientasi mereka ke hal-hal yang bersifat material.

Para Bapa Gereja dan jemaat Kristen awal, tidak pernah mengajarkan tentang penekanan terhadap kemakmuran jasmani. Sebaliknya, yang diajarkan mereka adalah untuk menunjukkan kasih kita kepada Tuhan sampai ke titik darah penghabisan: menyebarkan Injil meski di dalam keadaan kekurangan dan penganiayaan, dan bahkan berani menyerahkan nyawa demi mempertahankan iman.

Sesuatu yang perlu direnungkan adalah buah- buah dari pengajaran Teologi sukses itu. Apakah umat jadi mau prihatin dan lebih berbelas kasih kepada sesama, atau malah cenderung menjadi sombong, dan menganggap bahwa orang miskin itu ‘layak’ miskin karena dosa mereka, sehingga mereka tidak diberkati? Bukankah ini namanya menghakimi? Hubungannya dengan Tuhan bisa seperti hubungan ‘dagang’, seolah mau memberi sekian persen penghasilan dengan harapan menerima berlipat ganda dari Tuhan, semacam investasi saja. Belum lagi kalau Teologi ini membuat umat menjadi terikat dengan kenikmatan materi, dan ini sudah pasti tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci, sebab malah dikatakan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Tim 6:10); atau bahkan Tuhan Yesus mengajarkan agar menjadi sempurna seseorang dipanggil untuk memberikan semua harta miliknya kepada orang miskin dan kemudian mengikuti Dia (Mat 19:21).

Selayaknya kita mengingat bahwa Tuhan Yesus sendiri memilih untuk lahir sebagai orang miskin, untuk mengajarkan kepada kita untuk hidup ‘miskin di hadapan Allah’ (Mat 5:3). Semoga kita sebagai murid- murid Kristus dapat diberi kebijaksanaan untuk menilai mana ajaran yang berasal dari Tuhan, dan mana yang bukan. Dan agar jangan sampai kita memilih- milih ajaran, yang mudah dan enak didengar kita terima, tetapi yang sulit kita tolak. Kita harus berdoa agar kita dimampukan oleh Tuhan untuk melaksanakan “segala sesuatu yang diperintahkan oleh-Nya” (lih, Mat 28:20) dan bukan untuk memilih- milih ajaran sesuai dengan kehendak sendiri.


CATATAN KAKI:
  1. Paus Yohanes Paulus II, Salvifici Doloris, 11 []
  2. ibid, 13 []
Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

79 Comments

  1. Pak Stef, mohon penjelasannya karena saya kurang bisa memahami. Apakah artinya orang Katolik tidak boleh kaya? Sedangkan dg kekayaan materi kita bisa membantu sesama, bisa membantu pembangunan gereja dll? Misalnya seperti Maria Magdalena & beberapa ibu2 di jaman itu yg menjadi pendukung Yesus dalam hal pendanaan?
    Bagaimana Gereja Katolik memandang hal tsb?

    Terima kasih, salam damai,
    Maria

    • Shalom Maria,

      Maksud dari artikel di atas sebenarnya untuk mengungkapkan bahwa besarnya berkat Allah tidak berbanding lurus dengan kekayaan. Tuhan dapat mencurahkan berkat-berkat jasmaniah kepada kita, namun Dia juga dapat memilih untuk tidak memberikan berkat-berkat jasmani yang berlimpah dengan tetap memberikan berkat-berkat rohani yang sungguh berlimpah. Jadi, tidak salah untuk menjadi kaya, dan ini juga merupakan berkat Tuhan. Yang salah adalah dengan mengatakan bahwa orang yang tidak kaya berarti tidak diberkati Tuhan. Bahkan orang yang diberkati Tuhan dengan kekayaan dapat membantu begitu banyak kegiatan Gereja, termasuk dalam evangelisasi dan karya-karya misi lainnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. budiaryotejo on

    Malah ada di Semarang tahun 2010 an klo kaga salah, ada gereja non Katolik beriklan di Koran Suara Merdeka bagi yang datang ke gereja tersebut dapat kupon undian berhadiah pertama Mercy dan hiburan lain yg menarik lho….

    Dunia sudah gila, bahwa harta sudah menjadi berhala dan ukuran…..keberhasilan berkat Tuhan……alias Kemakmuran.

    Menurut saya, mereka sudah melecehkan keadilan Tuhan akan rahmatnya bagi semua orang baik kaya,miskin,sehat sakit, bebas terbelenggu dsb…..

    Itulah akibatnya mengintepretasikan dan mengimplementasikan firman Tuhan sesuka sukanya….Waspadalah…Waspadalah….

    [Dari Katolisitas: Memang sudah menjadi kehendak Tuhan agar kita hidup menurut panggilan kita sebagai anak-anak Allah. Dan sebagai anak-anak Allah ini kita selayaknya berjuang untuk melakukan semua perintah-Nya sebagaimana diperintahkan oleh Kristus (lih. Mat 28:19-20). Semua perintah ini, termasuk juga perintah untuk memikul salib yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita, dan bukan hanya mau meminta berkat-berkat-Nya. Namun selanjutnya, adalah panggilan kita untuk menyampaikan kebenaran ini, dengan lemah lembut, dan tidak dengan prasangka buruk ataupun menuduh orang lain.]

    • Salam Damai Sejahtera

      Menanggapi sdr.budi
      “Yah bgtulah,namun biar saja,yg penting kita tidak ikt”an,klo mau menasehati dng sikap dn tingkah laku kita yg smakin baik saja”

      Namun untuk masukan saja ini,mohon pnjelasan dn saran yah kpd tim katolisitas dn pr romo,sdikit mnyimpang dr tema diskusi ini

      Di smg ini bnyk skali grj” Kristen prot. Yg mdoktrin para muda mudi nya untuk menarik para OMK masuk ke sel mereka..sbg ketua OMK di paroki sy
      prihatin,sudah usaha namun ttp bobol,krn 2 anggota OMK gereja kami akir nya menyebrang T.T
      Sy smpat berdiskusi dng bbrp dewan grj d paroki dn frater serta rm d paroki,dr diskusi itu sy mnyimpulkan bhwa gereja Kristen prot.lbh memfasilitasi dn mdukung keg. Para youth(muda mudi kristen),sedang d Gereja Katolik sendiri,t’bukti pd saat kolasi taun lalu di sala3 para awam dn rm d bbrp paroki sgt mnyoroti dn prihatin dng p’kembangan mudika (OMK) yg dr taun smakin mnyusut dn bahkan d bbrp paroki sudah hilang OMK nya,hal ini pun mnjdi tgs kita smua sbg warga Gereja untuk m’atasi p’maslahan ini,krn klo smpe d biarkan trus mnrus OMK tidak berkembang bgmn kelanjutan Gereja ke dpn nya?krn mnrt sy pr OMK inilah ujung tombak Gereja pd nanti nya.

      Ada 1 hal lg yg sy soroti bbrp hri blkgan ini,ttg p’kembangan PD Kharismatik Katolik,krn pr anggota nya seolah” m’ekslusif kan diri,ngga mau ikt gabung dng OMK maupun keg.di lingkungan” sungguh prihaytin dng keadaan ini,bahkan kmrn sy bru saja m’antar Rm paroki sy untuk rapat dng slh 1 ketua wilayah d paroki yg umat nya smakin habis krn lbh condong ikt ke keg.Kharismatik dn mninggalkan keg.lingkungan nya,smpai ketua lingk. Nya(org kharismatik)melepas jabatan sbg ketua lingk.untuk lebih fokus kpd keg.kharismatik nya…
      Apakah di benarkan hal” macam ini?krn mnrt pndangan sy tlalu bnyk PD” Kharismatik akan mnimbulkan efek” samping yg sdikit merugikan…
      Trima Kasih,mohon ptunjuk nya

      Berkah Dalem

      • Shalom Michael,

        Sebenarnya aktifitas kegiatan yang datang dari Kristen non-Katolik dapat menjadi pemacu kita juga. OMK harus memikirkan banyak hal secara serius. Ada banyak kegiatan-kegiatan dari OMK di Gereja Katolik yang terlalu bersifat hura-hura, takut bahwa kalau kegiatan terlalu serius, maka tidak ada yang datang. Namun, di satu sisi, kita melupakan bahwa ada sebagian OMK yang justru merindukan kegiatan-kegiatan yang lebih bersifat pendalaman Kitab Suci, sharing, pendalaman iman Katolik, dll. Dengan kata lain, memang kegiatan seperti olahraga, musik adalah baik untuk OMK, namun jangan juga melupakan kegiatan yang justru menjadi inti dari kegiatan OMK, yaitu pembentukan karakter dan spiritualitas dari masing-masing pribadi.

        Tentang anggota OMK yang ikut kegiatan karismatik namun meninggalkan komunitas basis lingkungan, maka paroki harus memikirkan strategi dengan pendekatan yang menyeluruh. Secara prinsip, seseorang yang aktif di dalam gereja, memang pada akhirnya harus memilih kegiatan yang harus dia ikuti. Dia tidak bisa mengikuti semua kegiatan. Oleh karena itu, paroki harus menentukan strategi, apakah lebih menekankan komunitas basis di lingkungan dan sampai seberapa jauh mengakomodasi kegiatan-kegiatan yang bersifat teritorial. Memang dari pengalaman, seseorang yang aktif di dalam kegiatan kategorial karismatik, mereka cukup sibuk dengan berbagai macam acara. Akhir kata, memang untuk menghidupkan umat basis di lingkungan, dibutuhkan strategi yang jitu dari semua elemen, termasuk dengan misa lingkungan dan wilayah, dll. Menjadi tantangan bagi OMK di lingkungan untuk membuat kegiatan yang berdaya pikat dan berdaya guna bagi OMK, sehingga OMK di lingkungan juga hidup.

        Mungkin ada pembaca yang dapat memberikan masukan?

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  3. “semakin banyak saya menderma, semakin murah rezeki datang kepada saya” apakah ini juga salah satu konsep Teologi Kemakmuran?

    [dari katolisitas: Semakin kita berderma demi kasih kita kepada Allah, maka kita akan mendapatkan balasan dari Tuhan, yang dapat terjadi di dunia ini maupun di kehidupan mendatang. Kalau kita berderma hanya untuk mendapatkan balasan dari Tuhan di dunia ini, maka telah masuk di dalam teologi kemakmuran.]

    • cynthia saputra on

      Ini saya stuju sangat stuju gini ya KRISTEN PRO jaman skarang banyak yg kasi teologi kemakmuran gini gitu sorry rada keras ngomongnya saya tapi emank itu yg saya rasakan saat ini. Waktu itu saya pernah ke greja kristen pro yg mengandung teori carilah dahulu kerajaan ALLAH dan kebenaranNYA maka semuaNYA itu akan di tambahkan ooh ternyata baru skarang saya ngerti ternyataa….tapi PUJI TUHAN saya menyaksikan kebaikan TUHAN bahwa mama saya mengajak ke SEMINAR HIDUP BARU DALAM ROH MELALUI PDKK HATI KUDUS YESUS lalu mengajak saya ke BCM hari ini dan di situ banyak skali dibahas mengenai gereja gereja yg mengandung teori KEMAKMURAN bahwa itu salah dan bertentangan dengan KITAB SUCI maka pada hari ini saya menyaksikan TUHAN BAIK KEMBALI MENYELAMATKAN SAYA untuk kembali kepada KOMUNITAS KATOLIK….DAN TUHAN baikNYA lagi menyelamatkan saya melalui ROMO YOHANES DWI HARSANTO….PUJI TUHAN…

  4. Pro katolisitas.
    Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pada katolisitas karena telah memelekkan mata hati dan pikiran saya tentang Yesus semakin jelas. Saya menikmati sekali diskusi ini yang membuat saya makin kaya dan lebih senang lagi bila ada saudara seiman non katolik yang mengajukan pendapatnya, seperti saudara Sherly, Yunita dan lain-lain sebab dari sanggahan mereka dan jawaban katolisitas makin banyak yang dapat saya ketahui baik tentang saudara seiman non katolik dan tentu saja tentang kekatolikan. Hanya saya agak kecewa/ kurang puas karena sering kali diskusi tidak tuntas, misalnya waktu Stef atau Inggrit minta mereka menjawab pertanyaannya atau mengungkapkan pendapatnya, mereka tidak merespon tapi cenderung mengalihkan topik pembicaraan. Apakah saya keliru bila sikap diam ini tanda setuju? Kalo iya tolong dijawab setuju dan bila tidak berikan argumrntasi. Dengan demikian diskusi ini menjadi semakin indah. Atau saya boleh menyarankan saudara-daudara non katolik membentuk juga semacam tim pemikir agar topik yang diajukan semakin berbobod. Trimakasih salam damai dalam Yesus Kristus.

    • Shalom Frans,

      Memang ada begitu banyak dinamika dalam diskusi secara tertulis. Kendala diskusi juga terjadi karena keterbatasan waktu. Oleh karena itu, dalam diskusi panjang, katolisitas membatasi diskusi sekitar 3 x putaran. Kami ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan, sehingga keberatan-keberatan yang disampaikan dapat juga diberikan dasar-dasarnya. Dengan demikian, mudah-mudahan diskusi dapat berkembang semakin baik dan dapat mengupas topik semakin mendalam. Kami juga menghindari diskusi yang merupakan pengulangan, sehingga kami juga sering merujuk kepada diskusi yang telah ada agar dapat dibahas secara lebih mendalam. Yang terjadi, ada banyak yang ingin berdiskusi namun belum membaca arsip katolisitas, sehingga bertanya atau berdiskusi mengenai topik yang sama. Semoga kita semua dimampukan Tuhan untuk dapat menerangkan iman kita dengan baik dan benar.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply