Hubungan suami istri yang tawar

36

Pertanyaan:

Syalom,
beberapa pertanyaan menyangkut setelah perkawinan :
-Bagaimana cara pengaturan keuangan berdasarkan hukum katolik dalam hubungan suami istri sebaiknya?
-Bagaimana seorang wanita karir dalam menemui klien baik pria maupun wanita dalam pekerjaan dan teman gaul nya berdasarkan cara yg sebenarnya, karena dipandang umum hal menemui pria yg katanya tidak pantas dimata umum, jadi harus bagaimana menemui seorang teman pria jika tidak di tempat umum,karena ketika suami diajak serta tidak bersedia.?
-Bagaimana sebaiknya sebuah perkawinan yang harmonis? jika selama ini si istri yang payah kerja mengejar tanggung jawab hidup, malas berkonflik dan menuruti ego suami supaya lebih gampang jadi si istri kadang jenuh, dan mencari hiburan sendiri karena selama perkawinan si suami tidak seberapa peduli hiburan batin si istri? contoh malas refreshing keluar kota takut capek, malas melakukan hub sex (keduanya) takut capek karena kerja shg menghambat kesuburan untuk punya anak.?
-Apakah si istri bersalah jika pada awal perkawinan menghindari konflik dengan suami soal uang dan sampai berjalan 9 th tidak pernah membahas nya sehingga timbul dampak psikologis pada istri yang sangat ingin dimanja oleh laki2 meskipun semua pernah dibelinya sendiri?
-Apakah yang sebaiknya dilakukan pasangan suami istri yang selama 9th tidak mengalami perkembangan dalam perkawinan nya : tidak punya anak dan Jenuh hidup berdua terus? mau adopsi juga malas karena faktor tanggung jawab dan biaya yang tidak kompak.?
-Bagaimana jika suami pada awal perkawinan suka menceritakan hubungan suami istri pada teman kerja atau orang lain dan cenderung pendiam di rumah sendiri, terkesan tanpa komunikasi, jika di ajak berbicara sedikit seperti orang tertuduh dan ngotot, setahu saya karena seringnya pengaruh dari luar baik teman sekerja maupun yang tidak seagama?

[Dari Katolisitas: pertanyaan ini disatukan karena satu topik]

Syalomm,
Apa yg harus dilakukan seorang istri jika
-tidak di beri uang rutin selama 9th?(istri msh bekerja) mungkin pelit
-tidak diberi kebahagiaan (tidak ada niat suami membahagiakan istri) mungkin lupa
-tidak boleh berteman terlalu akrab dgn orang lain selain suami (cemburu berat)
-tidak boleh sekolah lagi (menimba ilmu) dengan tuduhan negatif terhadap istri.
-tidak boleh sering mengunjungi rumah ortu yg berdekatan.
-harus menurut aturan suami krn menurut dia baik. jam tidur harus tidur meskipun masih ingin buka laptop.
karena saya senang belajar apa saja supaya tidak bosan hidup.
– jenuh karena hiburan monoton dan tidak berubah yg dikunjungi.
– suami tidak mau diajak sosialisasi dgn keluarga isri. (cenderung menjauh jika ada acara keluarga)
– suami hanya sayang ortu nya sendiri bukan mertua.

Jawaban:

Shalom Agusta,

Saya turut prihatin dengan kondisi anda sekarang. Nampaknya ada yang kurang dalam hal komunikasi antara anda dan suami. Saya tidak tahu apakah anda pernah mendengar tentang retret Tulang Rusuk, Marriage Encounter ataupun Couples for Christ? Saya pikir ada baiknya anda berdua mengikuti retret semacam itu. Rekreasi bersama boleh juga, namun retret yang saya sebutkan di atas lebih berguna dalam artian untuk memperbaiki hubungan anda sebagai suami dan istri.

Berikut ini saya sampaikan prinsipnya saja dari apa yang anda tanyakan:

1. Pengaturan keuangan pasangan suami istri

Tidak ada hukum tertulis mengenai hal ini. Namun yang dianjurkan adalah harta bersama antara suami istri, di mana keduanya dapat mengetahui jumlah tabungan, dan jika ada sejumlah dana yang dikeluarkan, harus atas persetujuan bersama. Jika karena satu dan lain hal keduanya memutuskan untuk mempunyai ‘rekening/ harta terpisah’ karena urusan kepemilikan perusahaan yang berbeda, sesungguhnya harus tetap diusahakan agar baik suami dan istri dapat mengetahui jumlah tabungan yang mereka miliki dan dana yang dikeluarkan salah satu pihak.

Dengan pengaturan rekening bersama, maka tidak perlu dikuatirkan apakah suami memberi uang secara rutin kepada istri atau tidak karena secara otomatis uang sudah terkumpul untuk keperluan bersama.

2. Hubungan suami istri

Hubungan suami istri adalah sesuatu yang agung dan sakral, karena mengikuti teladan hubungan kasih antara Kristus (Mempelai Pria) dan Gereja-Nya (mempelai wanita). Suami adalah kepala istri, dan harus mengasihi istrinya seperti mengasihi dirinya sendiri; dan istri harus taat kepada suami. Ini disebutkan dalam Efesus 5:22-33.

Silakan anda membaca artikel perkawinan berikut ini:
Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik
Seks dan perkawinan dalam hubungannya dengan Magisterium Gereja
Humanae Vitae itu benar!

Jika anda berpikir suami lupa/ tidak ada niat untuk membahagiakan istri, maka pertanyaan yang sama perlu anda tanyakan sendiri: “Apakah aku sudah berusaha untuk membahagiakan suamiku?”

3. Cara seorang wanita karir menemui klien pria

Pertemuan yang demikian sebaiknya diadakan di tempat publik, di mana ada banyak orang, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu.
Carilah waktu yang wajar untuk bertemu, misalnya jika itu urusan kantor, maka bertemu pada jam- jam kantor yang wajar, jangan pergi di luar jam kantor pada malam hari atau pada hari Sabtu atau Minggu.
Usahakanlah agar anda tidak menemui klien anda sendirian, jika memungkinkan ajaklah rekan sekerja anda yang terkait dengan urusan klien anda.

Jika anda tidak melakukan hal ini (anda bertemu dengan klien pria berdua saja), pada waktu- waktu dan tempat yang tidak wajar, maka sesungguhnya dapat dimengerti jika suami anda berkeberatan.

4. Bagaimana supaya perkawinan harmonis?

Supaya perkawinan harmonis, diperlukan komunikasi yang baik antara suami dan istri. Jangan pula dilupakan, yang terpenting juga adalah komunikasi suami dan istri dengan Tuhan, sehingga penting diadakan doa bersama suami dan istri, baik jika dapat dilakukan setiap hari, dan juga pergi ke gereja bersama- sama pada hari Minggu. Jika hal ini dilakukan diharapkan komunikasi yang terjadi melibatkan juga komunikasi batin, sehingga apa yang menjadi pergumulan dan keinginan istri dapat dipahami oleh suami dan demikian juga sebaliknya. Dengan rasa saling pengertian antara suami istri, maka hubungan suami istri dihidupkan, sehingga tidak merasa bosan.

Jika sekarang hubungan sudah terlanjur hambar, datanglah kepada Tuhan, untuk memohon pertolongan-Nya. Tuhan Yesus yang sudah mempersatukan anda, akan mampu membantu anda untuk mengusahakan kasih untuk kembali hadir dalam perkawinan anda.

5. Istri bersalah karena tidak terbuka dalam hal keuangan?

Jika ada kemacetan komunikasi dalam perkawinan, maka sebenarnya terdapat kesalahan di kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Namun harap dimengerti, dengan perannya sebagai kepala keluarga, maka para suami cenderung mengharapkan penghargaan dari istrinya. Maka, walaupun posisi istri dalam pekerjaan lebih ‘maju’ sekalipun, ia harus tetap tunduk kepada suaminya, demi membangun semangatnya dalam bekerja ataupun dalam memimpin keluarga anda. Tidak jarang, dengan penghargaan dari sang istri, maka suami dapat memperoleh kepercayaan dirinya dan memperoleh sukses dalam pekerjaannya dan dalam segi kehidupan lainnya.

Maka, jika istri merasa tidak dihargai oleh suaminya, yang harus dilihat pertama kali adalah, apakah ia juga sudah menghargai suaminya. Sebab seharusnya, jika itu dilakukan, maka suami akan menghargai istrinya juga. Ingatlah bahwa sakramen perkawinan telah mempersatukan suami dan istri, sehingga tidak benar untuk mencari perhatian dan kasih sayang dari pria lain yang bukan suami [atau perempuan lain yang bukan istri].

6. Bagaimana jika tidak mempunyai anak setelah kawin 9 tahun?

Sudahkah anda dan suami memeriksakan diri ke dokter spesialis, untuk mengetahui penyebabnya? Maksudnya jika ada penyakit yang dapat disembuhkan dapat dilakukan. Namun jika ternyata secara medis anda berdua tidak mungkin mempunyai anak, itu memang fakta yang tidak mudah. Saya dapat memahaminya, karena saya dan Stef juga tidak mempunyai anak setelah menikah selama 14 tahun. Setidaknya, kurang lebih saya dapat memahami perasaan anda. Namun, jika anda berdua memiliki komunikasi yang baik, dan berakar kokoh pada Tuhan, maka anda berdua akan dapat menyikapi realita ini dengan sikap yang positif. Walau anak adalah berkat Tuhan dalam perkawinan, namun tidak berarti bahwa pasangan yang tidak mempunyai anak tidak diberkati Tuhan.

Adopsi memang merupakan suatu alternatif yang dapat dipikirkan, tetapi itu bukan satu- satunya jalan. Anda dapat membicarakannya dengan suami untuk menyepakati sesuatu, agar walaupun anda tidak mempunyai anak, namun itu tidak mengganggu hubungan kasih antara anda berdua.

7. Jika suami lebih mudah bicara di luar rumah daripada di dalam rumah

Ini juga perlu menjadi bahan anda memeriksa diri sendiri, kiranya, apakah sebabnya? Apakah di luar rumah suami merasa lebih diterima dan lebih diakui keberadaannya daripada di rumah? Apakah di rumah ia merasa sering dipersalahkan/ dituduh? Jika ya, mengapa? Jika tidak, mengapa ia tetap merasa dituduh?

Jika komunikasi dengan berbicara sudah sulit, mungkin ada baiknya anda menulis surat kepada suami. Sampaikan perasaan anda dengan menuliskannya pada secarik kertas/ buku. Fokusnya jangan memarahi, tetapi hanya menyampaikan perasaan anda, terutama jika anda merasa kesepian dan sedih. Sebelum menuliskannya, berdoalah terlebih dahulu, semoga Tuhan membimbing anda untuk mulai mengusahakan komunikasi yang baik dengan suami anda.

8. Suami melarang anda sekolah lagi?

Sebenarnya yang perlu ditanyakan adalah apakah alasan di balik larangan itu. Sebab misalnya, jika dengan posisi anda sekarang saja, suami sudah merasa kurang dihargai, apalagi jika setelah anda selesai sekolah dengan gelar tambahan tertentu. Anda akan lebih dapat memahami ini, jika anda membayangkan bahwa anda berada di posisi suami anda. Lagipula, umumnya sekolah S2 ataupun S3 menuntut energi yang tinggi, untuk mengerjakan tugas- tugas kuliah, sehingga mungkin suami melarang juga karena sayang pada anda, agar anda tidak jatuh sakit kelelahan.

Belajar adalah sesuatu yang baik dan memang kita akan terus belajar sampai mati. Tetapi jangan sampai belajar itu menyita waktu sampai anda tidak ada waktu lagi untuk memperhatikan suami. Jangan juga terobsesi dengan belajar/ sekolah lagi sampai seolah kalau tak tercapai menjadi bosan hidup. Ada banyak hal yang dapat anda lakukan dalam hidup, tidak hanya belajar/ sekolah. Belajarlah untuk mengasihi dengan tulus, baik kepada Tuhan dan sesama, terutama orang- orang terdekat anda (suami), dan anda akan memperoleh makna hidup.

9. Hiburan monoton, suami tak mau diajak sosialisasi, hanya sayang ortu sendiri

Ini adalah sesuatu yang dapat anda bicarakan dengan suami secara terbuka. Harapannya adalah, setelah anda dapat berkomunikasi dengan baik maka hal- hal semacam ini dapat diatasi. Jika keduabelah pihak mau memahami apa yang disukai dan tidak disukai oleh pasangannya, maka tidak ada masalah untuk menentukan jenis rekreasi bersama, dan semoga dapat menikmati kebersamaan dengan teman- teman ataupun keluarga/ ortu pasangan.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan menanggapi pertanyaan anda. Di atas semua itu mohonlah kekuatan dari Tuhan dan dukungan doa dari Bunda Maria. Ingatlah bahwa atas permohonan Bunda Maria, maka Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur pada perkawinan di Kana. Semoga oleh doa syafaat Bunda Maria, maka hubungan anda berdua yang tawar ini diubah oleh Tuhan Yesus sehingga menjadi manis kembali.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

36 Comments

  1. Salam damai,,

    Saya ingin minta pendapat berkenaan sebagai isteri yang sedang hamil:

    1.Bagaimana untuk mengawal perasaan marah ketika hamil?
    2.Apakah sepatutnya tindakan suami terhadap isteri yang sangat mudah marah ketika hamil?
    3.Bagaimana menghadapi suami yang panas baran/cepat marah?

    Terima kasih..Tuhan memberkati kita semua

    • Shalom Nani,

      1. Bagaimana untuk mengawal perasaan marah ketika hamil?

      Sesungguhnya perasaan marah dapat menjangkiti siapapun, dalam keadaan apapun, jadi tidak khusus terjadi pada wanita yang sedang mengandung. Memang menurut sejumlah artikel kedokteran, dikatakan bahwa meningkatnya hormon dapat mempengaruhi emosi sang ibu yang sedang mengandung, walaupun hal ini tidak berlaku mutlak pada setiap wanita yang mengandung.

      Nah, mengingat bahwa kecenderungan untuk marah merupakan suatu gejala umum yang dapat terjadi pada wanita atau pria, terutama mereka yang mempunyai temperamen tertentu, maka cara mengatasinya juga sesungguhnya bersifat umum. Tentang bagaimana mengatasi sifat pemarah, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

      Secara umum orang dapat marah, jika melihat sesuatu yang tidak sejalan dengan apa yang diinginkannya. Khusus bagi ibu yang sedang mengandung, kecenderungan ini dipicu oleh meningkatnya tingkat hormon, dan perasaan yang tidak/ kurang nyaman dengan segala perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Namun sesungguhnya, keadaan yang kurang nyaman ini, sang wanita tersebut sesungguhnya dapat menggunakan kesempatan tersebut sebagai doa mempersembahkan segala ketidaknyamanan-nya itu sebagai bentuk partisipasinya dalam penderitaan Tuhan Yesus pada saat menebus dosa-dosa umat manusia, termasuk dosanya. Penderitaan yang dialaminya tersebut, pastilah tetap tidak sebanding dengan penderitaan Kristus, namun jika dipersembahkan dalam kesatuan dengan kurban Kristus, hal itu dapat mendatangkan buah yang positif bagi keselamatannya dan keselamatan orang-orang yang didoakannya. Maka sesungguhnya setiap kita diizinkan Tuhan mengalami sakit penyakit atau penderitaan, sesungguhnya itu adalah masa pemurnian bagi kita, yang dapat kita maknai sebagai kesempatan untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus agar kelak kita diperkenankan juga untuk mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya. Bagi sang wanita yang sedang mengandung, dapat pula ia mengarahkan mata hatinya kepada pengharapan, bahwa setelah genap waktunya, ia akan melahirkan seorang manusia yang baru. Sehingga pengorbanannya akan membuahkan suka cita yang besar dengan kelahiran anaknya tersebut. Semoga dengan penghayatan dan pengharapan ini, maka ia akan dapat menguasai emosinya dan dapat menjalani masa kehamilannya dengan hari yang lapang dan tidak mudah terbawa emosi kemarahan. 

      Doa memohon dukungan dari Bunda Maria juga adalah sesuatu yang sangat baik. Dengan melihat kepada teladan Bunda Maria, yang juga pernah mengalami kehamilan dan melahirkan justru dalam keadaan yang sangat berkekurangan, mungkin dapat membuka mata hati, bahwa keadaannya sekarang seungguhnya masih jauh lebih baik daripada keadaan Bunda Maria pada saat itu. Bunda Maria menerima semua keadaan tersebut dan merenungkannya di dalam hatinya (lih. Luk 2:19, 51). Semoga dalam menghadapi segala hal yang belum sepenuhnya kita pahami, kita dapat meniru teladan Bunda Maria ini, sehingga kita dapat selalu memiliki damai sejahtera di dalam hati.

      2. Apakah sepatutnya tindakan suami terhadap isteri yang sangat mudah marah ketika hamil?

      Yang terbaik tentunya memberi pengertian dan tetap mengasihi. Sebab kasih yang tulus memang dibuktikan justru pada saat-saat yang sulit, di mana jika menurut kata hati, memang tidak ingin mengasihi. Tetapi jika suami tetap mengasihi dan memberi pengertian, ia sesungguhnya sedang membuktikan secara nyata janji perkawinan yang pernah diucapkannya di hadapan Tuhan, yaitu untuk setia kepada istrinya, dalam untung dan malang, dalam waktu sehat dan sakit. Percayalah, bahwa kesetiaan yang ditunjukkannya juga akan membawa buah yang baik bagi perkawinannya dengan istrinya itu.

      3. Bagaimana menghadapi suami yang panas baran/cepat marah?

      Jawaban singkatnya juga adalah sama dengan jawaban pada point. 2.

      Perkawinan dapat menjadi sarana bagi Tuhan untuk menguduskan suami maupun istri, yaitu agar keduanya dapat tetap mengasihi tanpa syarat dalam keadaan apapun. Untuk ini memang dibutuhkan bantuan rahmat Tuhan, agar kedua pihak tidak mengutamakan emosi dan ego sendiri, tetapi mendahulukan kepentingan pasangannya, demi kasihnya kepada Tuhan. Oleh sebab itu, betapa pentingnya bahwa keduanya (baik suami maupun istri) bersama menimba kekuatan dari Kristus dalam Ekaristi, dan juga dalam doa bersama sebagai suami istri setiap hari. Suami dan istri yang bersama-sama menghadap Tuhan dan memohon kekuatan dari-Nya, akan selalu memperoleh bantuan yang mereka perlukan untuk tetap setia satu sama lain, tetap mengasihi dan menjaga kesatuan di antara mereka, dan antara mereka dan anak-anak.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Shalom…..

    Saat ini saya sedang dilanda kegelisahan dan ketakutan. Mohon saran dan pencerahan dari team untuk mengatasi masalah dalam rumah tangga saya.
    Saya seorang istri. Perkawinan kami menginjak 8 thn. Masalah yang terjadi adalh perselingkuhan suami. Ada seorang perempuan (yg jelas bukan org baik2), betinitial “K” ingin mengganggu kerukunan rumah tangga kami.
    Saya tahu dari blackberry messanger / bbm hp suami saya. Bbrp bulan lalu sy memeriksa bbm suami. Tentunya tanpa sepengetahuan suami. Ternyata suami sy telah melakukan ML (maaf) dengan suami saya dengan tarif yg tinggi. “K” ini adalah wanita simpanan pria berinitial “M”. Biaya hidup “k” ditanggung oleh “M”. Dari rumah kontrakan juga mobil, kartu kredit. “M” ini sudah bekeluarga. Tinggal tidak satu kota dengan “K” . “M” Datang 4-5x dslam 1 bln untuk melakukan ML.

    Nah, minggu yg lalu sy baca bbm suami, bahwa “M” ssudah memutuskan hubungan dengan “k”. Bingunglah “k” bagaimana cara membiayai hidupnya. Sepertinya biaya akan dibebankan pd suami sy. “K” beberapa kali menghubungi suami saya untuk bertemu. Pastinya, terakhir dia minta ML dengan suami saya. Saya sudah menghapus kontak bbmnya, tetapi masih juga “k” mengontak suami saya. Sikap suami sy sih tidak berubah. Pulang kerja tepat waktu, sikap terhadap anak2 jg tidak berubah. Seolah2 seperti tidak ada apa2.
    Saya sangat bingung. Setiap hari hanya bisa menangis. Ingin suami kembali pada saya dan menjauhi wanita itu.
    Salam damai……

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Vincencia,

      Kami ikut berprihatin dengan permasalahan yang sedang Anda hadapi. Saran kami, bicarakanlah persoalan ini secara terbuka dengan suami Anda. Pertama-tama adalah bahwa perkawinan Anda harus diselamatkan terlebih dahulu, dengan sepenuhnya melibatkan Tuhan. Carilah waktu yang tepat dan suasana yang tenang di mana Anda berdua bisa berbicara dengan leluasa dari hati ke hati tanpa ada interupsi dari orang atau urusan lain. Sebelumnya berdoa mohon ketenangan dan kekuatan dari Tuhan dan agar pembicaraan Anda berdua sepenuhnya diterangi oleh kasih-Nya. Bergantung kepada bagaimana selama ini Anda berdua boleh saling mengetahui percakapan BBM satu sama lain dengan pihak lain, ada baiknya pertama-tama Anda meminta maaf karena telah membaca BBM suami tanpa sepengetahuannya. Lalu sampaikanlah niat hati Anda untuk mempertahankan perkawinan Anda berdua dan kesungguhan hati Anda untuk percaya bahwa suami Anda pun mempunyai niat yang sama demi janji perkawinan di hadapan Tuhan dan demi kebaikan anak-anak serta masa depan mereka.

      Bila saat ini Anda telah sempat berbicara secara terbuka dengan suami Anda mengenai masalah ini, ajaklah dia melakukan upaya konkrit bersama-sama untuk menyatukan kembali semua aspirasi dan tujuan hidup berdua demi keutuhan rumah tangga. Berikanlah pengampunan kepada suami Anda, Tuhan pasti memberi kekuatan pada Anda. Lalu sedapat mungkin luangkanlah waktu untuk datang kepada Tuhan bersama-sama yaitu dalam doa harian, Misa Kudus, dan menerima Sakramen Tobat, sehingga suami berkesempatan untuk memulihkan relasinya dengan Anda, dengan keluarga, dan dengan Tuhan. Berilah waktu yang cukup agar semua luka hati dihapuskan olehNya dan segala kesalahpahaman, jika itu ada, dapat diluruskan kembali. Mungkin Anda memerlukan bantuan pihak ketiga dalam hal ini. Jangan ragu menghubungi pastor paroki atau konselor perkawinan atau kerabat yang Anda percayai untuk membantu rekonsiliasi dalam rumah tangga ini tercapai. Mungkin ada pola komunikasi yang harus diperbaiki, mungkin ada kebiasaan-kebiasaan yang harus diubah, semuanya perlu ditelusuri dan diselesaikan bersama demi keutuhan relasi suami istri yang Anda berdua bina. Pokok permasalahan selayaknyalah dipulihkan dahulu sehingga masalah perselingkuhan tidak lagi mendapat kesempatan untuk masuk dalam kehidupan Anda berdua.

      Setelah relasi Anda berdua dipulihkan, sekarang Anda dan suami dapat berfokus bagaimana menghadapi kemungkinan persoalan yang datang dari wanita yang sempat mempunyai relasi khusus dengan suami tersebut. Suami adalah rekan satu tim, bersama-sama Anda lebih kuat untuk saling menjaga keutuhan rumah tangga. Akan sangat membantu kalau Anda dapat mendoakan juga wanita tersebut, agar Tuhan dapat masuk untuk menyentuh hatinya dan membawanya kepada kasih-Nya yang sejati, yang selama ini telah dicarinya di tempat yang salah. Maka peristiwa ini adalah juga sebuah kesempatan yang sangat baik untuk mendekatkan relasi Anda dan suami kepada Tuhan. Dalam doa-doa harian dan perenungan Sabda Tuhan, bawalah semua kekhawatiran Anda, mohon kekuatan untuk bisa terus saling setia dan saling mengisi sebagai suami istri dan sebagai orangtua, serta mohon petunjuk Tuhan untuk menghadapi wanita tersebut yang mungkin mempunyai tuntutan finansial terhadap suami Anda untuk membiayai hidupnya. Hikmat Tuhan memampukan dan memberikan jalan keluar terbaik. Ia bekerja di dalam dan melalui segala sesuatu untuk kebaikan kita, maka Tuhan juga sedang bekerja membentuk keluarga Anda sejalan dengan rancangan kasih setiaNya, tinggal bagian Anda dan keluarga untuk membuka diri dan membiarkan Dia bekerja. Semoga Tuhan menyertai dan memulihkan rumah tangga Anda.

      Teriring doa dan kasih kami di Katolisitas,
      Triastuti dan Ingrid Listiati – katolisitas.org

  3. Syalom Romo, mohon saran & dukungan atas masalah saya ini. Sy wanita bekerja, suami tdk bekerja sejak 1998, praktis sy menjadi tulang punggung keluarga hingga saat ini. Tmpt kerja saya pun 5 thn terakhir ini sering berpindah, dan 2 thn belakangan ini rupanya mulai ada perbaikan bg pekerjaan & sy mndpt kesempatan utk trs dipromosikan. Tmpt kerja saat ini lumayan jauh dr rmh, sktar 35 km, sy tempuh dgn naik angkutan umum pp, shg seringkali saya kelelahan setiba di rmh ( oya usia sy 48 saat ini, suami 46 ), dan sering menginginkan bisa istirahat tenang di rmh. Suami yg notabene pny bnyk wkt di rmh kdg kala juga membantu pek rmh sy, tetapi saat suami kesal dgn sy yg tdk bisa “melayani kebutuhan biologis” nya, saya selalu diacuhkan, dan ini sering terjadi. Smtara sy juga tdk suka diacuhkan, sy lelah & butuh istirahat krn bekerja utk keluarga , bukan utk diri sendiri. Seplg bekerja, suami sdh kasih punggung, tak pernah menyapa sedikitpun, besok mw brngkat kerja pun msh bgtu. Romo, saya sebenarnya jg tdk suka di perlakukan begini, tp sy tdk pernah mampu menegur suami ( sy selalu menjaga spy suami tdk tersinggung krn dia tdk memenuhi tgg jwb nya selaku suami & kepala keluarga ), jd sy lbh banyak diam dan mendiamkan maslah ini. Utk mengisi wkt, sy banyak ikut kegiatan pelayanan gereja dg ikut latihan koor gereja, wisata rohani, dll, yg selalu suami tdk pernah terlibat di dlm nya. Akhirnya Romo, saat ini masalah itu menjadi memuncak,suami saya mengeluarkan kata2 : ” kamu bukan istri saya lagi, kamu cuma istri diatas kertas, kalau gereja memungkinkan sdh saya proses ( cerai ) dari dulu. Saya menyesal kawin dgn kamu!! “.
    Sbg info, kata2 itu dikeluarkannya tepat di hari ultah perkawinan kami yg ke 22 Romo, tragis, sangat menyakitkan saya, tp saya wkt itu sdh tdk bisa menangis lg di depannya, tak berdaya. Malah bbrp hr terakhir ini, dia berkomunikasi pd sy menyebut2 hal itu via email domain kantor saya ( bayangkan Romo kalau itu terbaca oleh org yg tdk berkepentingan, saya dipermalukan, perut sy mules & deg degan tiap buka email itu ).
    Lalu apa yg sy lakukan? Saya hny cm bisa berdoa mohon kekuatan & jalan keluar terbaik, sy sempat curhat pd seorg tua yg dlu jd saksi perkawinan secara catatan sipil (beliau katakan, suami sy dikuasai Iblis & kuasa jahat). Singkat cerita Romo, saya tertekan dgn keadaan ini tp sy tdk mungkin minta pertolongan dr org lain, tolonglah saya Romo, sy sdh mengampuni & memaafkan suami sy, jauh sejak dia tdk bisa berpenghasilan bagi keluarga. Terima kasih Romo atas dukungan doa & sarannya.

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Sri,

      Pertanyaan Anda kami pindahkan dari rubrik Pojok Doa ke artikel ini sebab pesan Anda menuliskan lebih dari sebuah permohonan ujud doa. Ijinkan dalam hal ini saya turut berbagi penguatan yang semoga dapat bermanfaat bagi Sri dalam menghadapi persoalan di dalam rumah tangga saat ini. Kami mendoakan Anda, dan telah pula mengirimkan ujud doa Anda kepada Rm Krist dan tim doanya.

      Sebagai seorang istri dan sesama wanita, saya sangat mengagumi kekuatan Anda untuk mau mengampuni suami Anda dan bersyukur kepada Tuhan atas teladan kasih dan pengampunan Anda. Tuhan sendiri yang telah selalu berkarya di dalam diri Anda untuk mampu memiliki sikap pengampunan sedemikian. Dan adalah wajar jika bagaimanapun Anda mendambakan suasana saling menghargai dan komunikasi yang baik dengan suami Anda. Ya, komunikasi memang sangatlah penting dalam relasi antar manusia, khususnya dan terlebih relasi perkawinan sepasang suami isteri. Sebelum situasinya berkembang sejauh seperti sekarang, bagaimanakah kebisaan komunikasi dan saling mengungkapkan isi hati di antara Anda dan suami? Nampaknya kebiasaan komunikasi dua arah yang sehat dan lancar telah berkurang dari relasi Anda berdua. Adalah sangat berguna jika hal ini diusahakan dan dimulai kembali. Jika direnungkan lagi, bagaimana perasaan suami Anda selama ini dengan situasi Anda sebagai pencari nafkah keluarga dan apakah ada alasan tertentu mengapa suami tidak bekerja? Apakah ia tidak ingin bekerja lagi atau karena belum ada kesempatan untuk kembali bekerja? Mungkinkah selama ini ia juga ada perasaan minder /tertekan karena tidak bekerja?

      Dalam kehidupan perkawinan, kadangkala kita menghindari topik-topik pembicaraan yang tidak menyenangkan atau yang berpotensi memunculkan rasa tidak enak atau ganjalan di hati kita dan pasangan. Kita mungkin juga khawatir jika sesuatu hal dibicarakan nanti malah akan menimbulkan pertengkaran atau “membangunkan macan tidur”. Tetapi sebetulnya tergantung bagaimana cara kita saling menyampaikan maksud hati dan tergantung juga dari niat baik dari kita untuk mencari kesepahaman yang terbaik bagi kedua belah pihak dan bagi keutuhan rumah tangga. Persoalan-persoalan yang sebenarnya ada tetapi tidak dibicarakan dan “disapu saja di bawah karpet” sehingga semuanya seakan baik-baik saja, sebetulnya membuat ganjalan yang telah ada semakin membesar dan pada saat ada pemicu dari peristiwa yang tidak menyenangkan, ganjalan itu dapat muncul dalam bentuk kata/sikap yang melukai dan memicu ketegangan yang lebih serius. Mungkinkah sebuah kebiasaan saling berkomunikasi dan pembicaraan hati ke hati dalam suasana hati dan kepala dingin dimunculkan kembali dalam perkawinan Anda? Barangkali Anda mempunyai ide yang baik bagaimana cara terbaik untuk memulainya. Karena semangat pengampunan yang Anda berikan akan menemukan kekuatannya menjangkau hati suami Anda (dan bahkan mungkin mengubahnya), jika juga disertai usaha nyata penuh kasih dan kerendahan hati untuk berusaha memulai lagi sesuatu yang baik di antara Anda dan suami, yang mungkin selama ini telah lama tidak/belum dilakukan.

      Dalam hidup ini kita sering tidak bisa mengendalikan / mengubah situasi dan keadaan yang diakibatkan oleh sikap dan perbuatan orang lain yang membuat kita menderita, tetapi kita selalu bisa melakukan sesuatu dari pihak kita sendiri, dan bersama Tuhan, kita dimampukan tetap memandang dunia yang kadang pahit ini dengan semangat optimisme, niat baik, dan harapan. Jika keadaan tidak bekerja ikut membuat perasaan tertekan dan pahit pada suami Anda selama ini, mungkin ada yang bisa dilakukan bersama-sama untuk membantu suami bekerja kembali? Apakah alternatif seperti misalnya membuka usaha sendiri juga bisa dibuka wacananya? Setidaknya semoga semangat Anda untuk memulai lagi semua yang baik di antara berdua dapat menyemangati suami untuk ikut mengusahakan hal yang sama. Sesungguhnya suami Anda membutuhkan Anda untuk memahami dan membantunya menemukan kekuatan dan semangatnya lagi dalam mempertahankan perkawinan. Tetaplah berdoa mohon kekuatan dan pertolongan Tuhan untuk perkawinan ini dan untuk usaha baik Anda, kiranya kasih Kristus dan doa Bunda Maria selalu bersama Sri dan suami.

      Teriring doa kami di Katolisitas,
      Triastuti – katolisitas.org

  4. Dear team Katolisitas,
    Saat ini saya sedang mengalami kegelisahan hati, semoga team bs membantu saya utk pencerahan diri. Perkawinan saya sdh 19th berjalan dan dikaruniai 2 anak, problem yg skr sy hadapi adalah sy sering membaca sms/memori tlp suami ke teman cewek atau sebaliknya memakai kata2 sayank, kekasihku pokoknya yg mesra2, setahu sy temennya itu sdh berkeluarga beragama Katolik juga hny blm pny anak. Sy sdh berusaha tny sm suami apakah ada yg special namun jwbnya selalu sahabat krn ini memang sdh berlangsung lama (15 th) dl teman satu kantor, sy minta dikenalkan jg tdk mau akhirnya pertengkaran demi pertengkaran yg berlangsung dan kepercayaan sm suami akhirnya pudar mesti sy memang blm pernah pergoki mereka kencan berdua, tolong sy harus bagaimana?? Tkasih atas bantuannya sy sangat menunggu jawabannya.

    Salam,

    Chris

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Chris,

      Saya mencoba turut memahami perasaan Anda, kami turut mendoakan semoga komunikasi Anda dengan suami dapat dipulihkan, terutama menyangkut ganjalan yang Anda rasakan terhadap relasi suami dengan teman lamanya di kantor.

      Dalam suatu perkawinan, masing-masing dari pasangan suami istri bisa kadang-kadang tetap mempunyai teman baik dan sahabat, terutama dan sebaiknya sahabat dari sesama jenis, karena relasi pertemanan dengan lawan jenis kadangkala menimbulkan perasaan kasih yang berkembang menjadi perasaan kasih yang bersifat romantisme. Hal itu tidak pada tempatnya, sebaiknya dihentikan karena berpotensi mengganggu keharmonisan relasi suami dan istri.

      Kodrat hubungan antara lawan jenis umumnya adalah untuk saling tertarik secara seksual/romantis sedangkan relasi dengan sesama jenis adalah kodratnya membentuk persahabatan yang bukan merupakan relasi romantik atau seksual. Di antara suami dan istri selayaknya sudah sedemikian dekat dan lengkap relasi di antara keduanya, sehingga tentunya relasinya tidak terbatas pada relasi seksual dan romantisme tetapi juga relasi antara dua sahabat baik di mana keterbukaan, kebersamaan, saling mengetahui selengkap-lengkapnya kehidupan dan pergumulan satu sama lain dan saling menghormati perasaan satu sama lain, dijunjung tinggi dan dipupuk terus.

      Sebenarnya dapat saja dalam perkawinan, kita mempunyai teman baik dari lawan jenis, asalkan rambu-rambu tetap dijaga dengan baik, dan pasangan kita mengenal dengan baik teman kita itu. Semua bentuk percakapan, kontak, dan tatap muka dengan teman kita itu harus diketahui sebaik-baiknya oleh pasangan hidup kita. Mereka yang mempunyai kecenderungan mudah tergoda dengan lawan jenis sebaiknya tidak mempunyai teman baik dari lawan jenis, karena persahabatan itu dapat mengarah kepada perselingkuhan. Memang jika tidak ada sesuatu yang keliru atau merupakan suatu tindakan dosa, seharusnya tidak ada yang harus disembunyikan terhadap satu sama lain. Ini prinsip dasar dan sederhana dari relasi suami istri dalam perkawinan. Sebagai suami dan istri, teman-teman baik suami selayaknyalah adalah juga teman-teman baik istri dan demikianlah pula sebaliknya, sebab suami dan istri sudah menjadi satu, dipersatukan oleh kasih Tuhan dalam pernikahan kudus.

      Saat ini suami Anda sedang memerlukan bantuan, untuk meletakkan relasi pertemanannya tersebut pada proporsinya, dan untuk teguh di jalan Tuhan serta tidak membiarkan dirinya jatuh ke dalam pencobaan dosa. Kemungkinan ia berada dalam suasana hati yang peka dan mudah tersinggung karena di dalam hatinya ia mungkin sekali menyadari bahwa tindakannya itu keliru dan rasa bersalah itu memberikan tekanan tersendiri dalam hatinya. Maka yang selalu dapat Anda lakukan saat ini adalah menjadi teman sejati bagi suami Anda. Mungkin pertama-tama, tenangkan diri Anda dan bawalah pada Tuhan semua kegelisahan Anda dalam doa dan sakramen. Bantuan paling besar dan ampuh adalah mendoakan suami Anda. Mohon kepada Tuhan agar Tuhan menjaga dia dari semua bentuk godaan untuk berselingkuh, walau baru lewat kata-kata atau pikiran. Mohon Tuhan melembutkan hatinya untuk dapat taat kepada bisikan Roh Kudus agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Berdoalah juga bagi diri Anda agar tetap sabar dan kuat serta optimis di dalam menghadapi konflik ini, karena Tuhan selalu bersama Anda dan rumah tangga Anda takkan pernah ditinggalkanNya.

      Ini juga bisa menjadi saat-saat untuk merenung dan mereview kembali apa yang perlu untuk diperbaiki dan dikembangkan lagi dari relasi perkawinan Anda dan suami selama 19 tahun selama ini. Mohon rahmat Tuhan agar Tuhan membuka mata hatinya dan mata hati Anda untuk bisa sama-sama melihat kelemahan dan kelebihan masing-masing, permasalahan apa yang mungkin sudah lama ada tetapi belum sempat dibahas dan dicari jalan keluarnya yang mungkin mereduksi kekompakan dan kelancaran komunikasi berdua, sehingga segala bentuk miskomunikasi dapat diluruskan dan potensi-potensi yang baik dari relasi berdua dapat dikembangkan lagi.

      Setelah Anda menenangkan diri dan mendapatkan kekuatan Tuhan sepenuhnya, cobalah untuk berkomunikasi dalam suasana keterbukaan dan kasih yang tulus dengan suami Anda. Bisa dicari saat-saat santai atau kesempatan liburan di mana anak-anak sedang tidak ikut, untuk membicarakan dengan lembut perasaan dan kegelisahan Anda mengenai relasinya dengan teman kantornya itu. Anda dapat mengingatkan juga niat Anda berdua sejak awal pernikahan dulu, untuk membangun rumah tangga yang baik dan harmonis hingga akhir hayat, sehingga semua bentuk ganjalan selayaknya dibicarakan dan diselesaikan dengan baik. Tekankan juga bahwa Anda pun bersedia untuk berubah bila ada hal-hal yang masih harus Anda perbaiki dari pihak Anda atau dikembangkan lagi menjadi lebih baik. Sebisa mungkin hindari sikap yang bersifat konfrontatif atau menuduh dan menyalahkan, karena suami Anda mungkin malah menjadi keras hati dan menghindar. Jika percakapan langsung ini belum memungkinkan, bagaimana kalau Anda menuliskannya di sebuah diary untuk berdua atau menulis surat? Yang juga penting adalah tetap menunjukkan kasih yang tulus dan semangat siap mengampuni kepada suami Anda. Kekuatan kasih teramat berarti, apalagi kalau itu kita timba dari Tuhan sendiri. Perasaan diterima, diampuni, serta dikasihi terus, adalah pengalaman yang amat indah yang dibutuhkan oleh setiap insan di bumi ini.

      Baik juga jika Anda ikut mendoakan teman suami Anda itu supaya ia pun dijaga oleh Tuhan dalam semangat kemurnian dan kesetiaan kepada suaminya. Juga baik untuk Anda berdoa bersama dengan anak-anak, memohon karunia keutuhan kasih dalam keluarga. Bukan tidak mungkin, jika suami melihat ketekunan istri berdoa dengan anak-anak, hatinya akan luluh dan sungguh akhirnya ia memberikan keutuhan kasihnya kepada keluarganya.

      Kiranya Tuhan Bapa di Surga yang Mahabaik senantiasa menyertai keluarga Anda dan memulihkan cinta kasih tulus di antara Anda dan suami, serta bimbingan Roh Kudus selalu meraja di dalam keluarga Anda. Teriring doa kami di Katolisitas bagi Anda dan keluarga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Triastuti – katolisitas.org

  5. Alexander Agung on

    Syaloom
    Terima Kasih karena dapat membaca katolisitas.org yang sangat membantu, saya punya beberapa permasalahan dan sudah dibicarakan baik secara baik baik, konsul ke beberapa teman psikolog, tetapi saya berfikir ada baiknya mencari yang katolik:
    1.bagaimana menghadapi istri yang selalu menghina pekerjaan suami ? (dia ingin saya kerja di kantor dan bergaji besar, tetapi panggilan hidup saya bekerja sebagai dosen, bagi dia dosen adalah pekerjaan orang bodoh dan tidak berprospek.. profesi saya adalah dosen di PTN terkenal di jakarta dan sudah pegawai tetap)

    2. bagaimana berkomunikasi dengan istri, sudah dipancing agar pembicaraan lebih hangat misalnya ada rekan kantor yang suka mengajar, dikatakan, enak punya suami kaya istri tinggal ongkang kaki di rumah (saat ini istri juga bekerja di perusahaan cukup baik)

    3. saking panasnya selalu dimaki tong kosong bunyi nyaring, saya menjadi workholic, menulis buku dan diterbitkan bisa 3-4 dalam sebulan untuk membuktikan bahwa pekerjaan dosen adalah pekerjaan berprospek, mempunyai patent berstandar internasional, tetap mindset istri selama tidak punya uang banyak adalah pekerjaan bodoh.bagaimana mengatasi itu ?

    4. sering meneror dan sms orang tua saya jika berantem dengan kata kata tidak pantas seperti cowo matre, keluarga pembohong bahkan bapak yang sudah meninggal pun kena dikatai sebagai ex seminaris yang gagal mendidik anaknya sehingga jadi sperti sekarang

    5. semua saya tahan selama 2 tahun dengan diam sampai saya terserang hipertensi dan sekarang ketika dia marah, saya lawan dengan lebih marah dan daripada terjadi lebih parah saya keluar rumah dan menyepi untuk menenangkan diri

    6. pernah saya mengurangi kegiatan karena dia mengeluh repot, saya juga memberikan bulanan tambahan dengan menguras tabungan, tetap dikatakan gembel, tidak berprospek, sampai naik genteng membetulkan rumah pun kursi digeser dan lupa ketika suami ada diatas genteng (untung saya masih hidup dan tidak jatuh kebawah)

    7. pernah saya diusir dan dimaki disuruh keluar dari rumah karena rumah itu milik dia dan uang dia, juga bahasa inggris disamakan dan dikatakan kalah dengan seorang supir taksi sehingga saya belajar keras dan mendapatkan toefl 600 dan ielts 8.5 sebagai ajang pembuktian bahwa saya tidak sebodoh yang dia lecehkan.

    saya capek menghadapi komplainan dia, sudah saya coba dari cara sabar tetap tidak berubah sampai cara marah marah, ibu saya sudah kena stroke ringan dan trauma takut nomor hp diketahui dia..

    belum lama dia menghapus kontak bb teman teman saya dengan alasan waktu itu ada teman membicarakan keris dan barang antik dan dia tidak suka, juga mengatai saya goblok tidak tahu kerja yang pandai dan disebar di facebook dan twitter .

    Syukurlah sampai saat ini saya tidak membalas semua perbuatan dia, saya jika marah hanya melakukan keluar rumah dan menyepi di rumah saya sendiri. Saya pernah mendengar tentang ME dan mengajak dia ikut itu, dia mengatakan solusi itu bodoh, kata dia ikut bootcamp mlm katanya jauh lebih bermutu daripada yang katolik, bahkan pastor pun ikut mlm itu, jadi saya dikatakan bodoh jika tidak mau mlm. Mohon solusi dari permasalahan saya

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Alexander,

      bila saya diijinkan turut berbagi, membaca pergumulan Anda, saya merasa bersimpati dan turut prihatin atas ketegangan relasi yang Anda alami dengan istri Anda. Sejujurnya saya mensyukuri kesabaran dan kerendahan hati Anda, untuk terus berusaha mencari jalan keluar yang sehat dan berusaha tidak membalas perbuatan istri yang menyakiti hati Anda, walaupun Anda merasa marah dan lelah dalam menghadapi semua ini, hal yang teramat dapat dimengerti. Saya bersyukur bahwa Anda masih terus berusaha dan tidak kehilangan harapan. Memang Anda perlu terus mencari upaya yang sehat agar istri Anda menemukan kedamaian dalam relasi perkawinan berdua dan agar Anda sendiri tidak menjadi semakin habis karena kelelahan fisik maupun mental.

      Saya ingin menyemangati Anda bahwa Anda tidak sendirian dalam menghadapi semua ini, ada Orang ketiga dalam perkawinan Anda, yang kepada-Nya Anda dapat menaruh seluruh harapan, kekuatan, daya upaya dan kelelahan hati, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang sudah mempertemukan Anda dengan istri Anda dan mempersatukan Anda berdua dalam ikatan perkawinan kudus yang tak terceraikan. Jika Anda selalu melibatkan Tuhan dalam setiap permasalahan kehidupan, Dia pasti tak akan tinggal diam dan Tuhan dapat mengubah hal-hal yang buruk dan kepedihan menjadi sarana berkat yang memberi kekuatan dan pertumbuhan. Sesungguhnya saya meyakini bahwa kekuatan dan kesabaran Anda selama ini adalah bagian dari rahmat Tuhan yang selalu memberikan kekuatan yang Anda perlukan.

      Menurut yang saya yakini, dalam hidup ini Tuhan membentuk kita lewat berbagai peristiwa dan proses. Perkawinan menurut hemat saya adalah salah satu bentuk terkuat dari pembentukan karakter dan pematangan pribadi manusia dalam iman dan kasih yang sejati di dalam Kristus. Karena ada berlimpah kesempatan di dalamnya yang meminta kita untuk berubah dari kebiasaan kita yang tidak kondusif demi kebahagiaan bersama sekeluarga. Bersama pasangan, kita saling mendukung untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih peka kepada sapaan kasih Tuhan. Suami dibentuk oleh istri dan istri dibentuk oleh suami, saling memperkaya dan mengisi apa yang kurang pada pasangan supaya keduanya mencapai kepenuhan yang semakin sempurna dalam kasih Kristus yang mempersatukan dan menyelamatkan. Demikian dekatnya relasi suami dan istri baik secara jiwa maupun raga, sehingga diungkapkan dalam 1 Kor 7:4, “Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.” Perkawinan menurut ajaran iman Katolik dipandang sebagai penggenapan persekutuan kasih antara Tuhan dan umat pilihan-Nya yaitu Gereja-Nya, yang bersifat total, ekslusif,tak terceraikan. Ini dapat kita hayati melalui Ef 5:23, “Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.“ Betapa indah dan mulia rancangan Tuhan dalam perkawinan manusia.

      Bagaimanapun sulitnya memperjuangkan kedamaian dari relasi kita dengan pasangan kita karena berbagai masalah dalam perkawinan, tentu ada sisi-sisi dari hidup pasangan kita, yang membantu kita menyempurnakan kekurangan kita sendiri dan memperkaya jiwa kita, sehingga kita bisa terus bertumbuh dan makin menyerupai pribadi Kristus yang penuh belaskasihan dan cinta. Bagi Anda, tantangan dalam menghadapi sikap istri yang tidak puas dengan penghasilan keluarga serta kurang mampunya ia melihat dan mensyukuri segenap prestasi Anda yang sangat berharga dalam karir Anda sebagai dosen, justru meneguhkan Anda dan memacu Anda untuk berkarya dengan sebaik-baiknya. Renungkanlah lebih lanjut sisi-sisi lain dari kehidupan Anda bersamanya, yang sudah membuat Anda menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh di dalam Tuhan. Jadikanlah itu kekuatan Anda untuk juga melihat sisi-sisi positif istri Anda di dalam kehidupan Anda bersamanya, dan kembangkanlah kebaikan-kebaikan itu agar menjadi kekuatan yang bisa menjadi pijakan bagi pertumbuhan berdua.

      Sementara itu, dengan selalu berusaha melakukan bagian Anda selama ini untuk memenuhi harapnnya, Anda telah ikut membantu istri agar dia juga melakukan bagiannya, untuk menghormati suami, sebagaimana Tuhan menghendakinya dalam 1 Kor 7:3, “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.“

      Namun bahwa usaha Anda masih belum membuahkan hasil yang diharapkan, mungkin harus dicari lebih jauh, apa sebenarnya yang menjadi akar kepahitan dalam diri istri Anda. Apakah ada suatu hal dari masa lalunya yang membuat istri Anda sulit untuk mengalami sukacita dan haus akan kekayaan materi semata? Hal-hal apa yang membuatnya merasa bahwa kekayaan materi adalah segalanya dan bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih lewat berlimpahnya kekayaan materi? Mungkin anggota keluarganya bisa membantu Anda? Apakah ada usaha-usaha dalam konseling dengan psikolog yang bisa membantu menggali kerinduan terdalam dari istri Anda yang tidak terpenuhi, hal-hal yang membuatnya merasa tidak aman atau merasa terancam? Yang lalu memanifestasi dalam sikapnya yang menolak untuk menghargai karir dan karya Anda apa adanya, bahkan yang telah diusahakan begitu istimewa? Usaha untuk berdialog dengan istri dalam komunikasi yang tenang dan baik perlu dikembangkan terus menerus. Apakah ada saat-saat yang nyaman bagi Anda berdua untuk bisa saling berbicara dari hati ke hati? Saat-saat santai di mana Anda berdua sedang tidak disibukkan pekerjaan masing-masing. Mungkin bisa sambil berlibur ke tempat yang menyenangkan di luar rutinitas sehari-hari? Gali dan renungkan lagi kiranya hal apa yang umumnya membuat istri Anda bergembira? Mungkin hanya hal kecil saja, tapi Anda bisa berangkat dari situ untuk terlibat dalam hal-hal yang membuatnya bahagia dan dengan begitu Anda menunjukkan bahwa aspek kebahagiaan itu luas sekali dan tidak hanya ditentukan dari kekayaan materi. Mungkin juga ada hal-hal yang perlu Anda ubah atau perbaiki dari diri Anda supaya penelusuran untuk saling berbagi kebahagiaan ini bisa dicapai? Introspeksi diri tetap perlu karena sebagai manusia kita semua mempunyai area yang harus diperbaiki.

      Di atas semua usaha, kekuatan doa harus menjadi kekuatan Anda yang utama, supaya Anda dimampukan untuk bertahan dalam kesabaran dan pengertian, dan karena hanya kuasa kasih Tuhan yang sanggup mengetuk dan mengubah hati manusia. Doa-doa dan ketekunan kita akan menguatkan proses itu dan meneguhkan kita sendiri supaya tidak menjadi putus asa. Percayalah Tuhan tidak sekejappun meninggalkan Anda dalam pergumulan ini. Sebagaimana Anda terus berusaha mengusahakan yang terbaik, demikianlah Tuhan juga merindukan kedamaian Anda berdua dan selalu bekerja untuk membantu perkawinan Anda berhasil. Andalkan Tuhan dalam setiap usaha Anda. Supaya kesabaran Anda diteguhkanNya setiap hari. Walau perubahan dan kesadaran umumnya terjadi dalam suatu proses, dan tidak bisa selalu cepat, Tuhan selalu hadir dan selalu memberikan Anda kekuatan. Bersabarlah menantikan waktu Tuhan yang tidak pernah terlambat. Apakah istri Anda juga seorang Katolik? Ajaklah dia dan ingatkan dengan kasih agar sama-sama bertekun dalam sakramen dan doa, supaya kuasa kasih Kristus semakin dinyatakan dalam hidup relasi Anda berdua. Doa kami mengiringi usaha dan ketekunan Anda demi kebahagiaan yang sejak semula dicita-citakan Tuhan bagi Anda berdua melalui perkawinan Anda.

      Salam kasih dan doa dalam Kristus Tuhan
      Triastuti – katolisitas.org

    • Shalom Alexander,

      Sy menarik nafas panjang saat membaca tulisan anda dan hanya bisa sedikit memberi masukan utk anda, kl bisa sebaiknya anda berdoa dan punya devosi kpd St Yosef dlm pergumulan anda ini. Hanya itu yg bisa sy sarankan, semoga dgn ini anda bisa menjalaninya seturut teladanNYA.

      Salam Kasih dlm Kristus,
      Yindri

    • dear Alexander.
      saya ikut prihatin dengan masalah anda. anda begitu sabar menghadapi istri anda. tidak terbayangkan oleh saya, seandainya anda temperamental seperti suami saya, mungkin dia sudah babak belur.

      Kalau anda merasa teraniaya sebagai suami, saya merasa pernah teraniaya sebagai istri. yg saya lakukan mirip anda. dia marah, memaki dan saya diam, itu berlangsung trus sepanjang perkawinan kami yang saat ini hampir 30 th. amazing kan?

      kekuatan saya hanya 1. DOA, DOA dan DOA kepada Tuhan Yesus, sumber kekuatan saya. mungkin anda bisa melakukan apa yang saya lakukan. syaloom..

      [Dari Katolisitas: Terima kasih atas sharing pengalaman Anda. Ya, memang Tuhan Yesus adalah sumber kekuatan kita. Semoga kesaksian Anda ini dapat berguna bagi pembaca sekalian.]

  6. Saya seorang istri yg sdh menikah selama 2thn (suami saya juga Katolik).
    Bulan Maret 2012, saya dinyatakan hamil, tetapi bulan Mei sayaa keguguran. Hasil lab menyatakan benih awal dari bayi kami kurang bagus sehingga memang tidak akan bisa bertahan. Sejak keguguran, saya belum hamil lagi. Saya sempat down sampai beberapa bulan setelah keguguran, tetapi saya sepertinya tidak bisa berbagi/share perasaan saya ini ke suami. karena suami mengganggap saya harusnya sudah tidak sedih lagi setelah 3bulan kejadian keguguran. Hati saya bukan sperti robot yg bisa disetel berdasar waktu.
    Singkat kata, suami saya sangat tidak mau mendengar pendapat saya utk hal-hal besar (misal: pembelian rumah). Saya maunya ambil KPR di bank, tp suami maunya bayar cash keras. Saya bukannya tdk percaya bhwa suami akan bisa menyediakan uangnya, tetapi saya mau lebih terencana. setelah keguguran, saya memang tdk mau memikirkan hal2 yg terlalu berat, dlm arti pembelian rumah dgn KPR akan lbh ‘santai’ dan teratur dalam mengatur keuangan. Kalau cash keras, pasti akan lebih ‘buru-buru’ utk kumpulkan uangnya. Pernah sekali waktu, saya membayar cicilan kurang dr jumlah yg seharusnya, hal ini memang krn uang kami hanya sekian sementara kekurangan jumlahnya dr penghasilan suami dr pekerjaan lain blm turun honornya.
    Tekanan kerja dikantor suami saya memang tinggi, dan saat sedang in high pressure, saya sedang ujian kuliah S2 juga. Sebelum ambil S2, saya sdh minta ijin & minta pendapat dr suami. Tetapi suami tdk memberi jawaban apakah boleh/tdk saya lanjut S2. Hanya bertanya,”Kamu mampu ga kuliah S2, nyampe ga pemikirannya?”. Sekarang saat saya di akhir masa study, malah suami mempermasalahkan ini. Suami mengungkit bahwa saya lebih pentingkan kuliah sehingga bayi kami meninggal.
    Sepertinya suami menyalahkan saya sepenuhnya atas keguguran saya. Dia anggap krn saya sibuk kuliah (pekerjaan saya adalah dosen), maka bayi kami tdk bisa bertahan hidup. Astaga, padahal hasil lab sudah jelas & kita semua tahu, hidup & mati hanya Tuhan yang tahu.
    Saya tau memang tdk mudah membagi konsentrasi antara kuliah, bekerja & mengurus rumah tangga. Tetapi suami saya hanya maunya jg diperhatikan terus, tdk pernah mau tau apa yg saya rasakan.
    Sekarang dan sudah bbeberapa kali, suami saya menyinggung kata cerai..dan suami sdh tdk mau membahas utk cari jalan keluar. Sementara saya ucapkan, saya bertahan tdk mau cerai krn sy masih pegang janji saya yg diucapkan di Gereja, didpn Romo & orang tua kami.
    Saya rasanya sedih sekali, tetapi saya bertahan krn ingat anak kami di surga tdk mau lihat orang tuanya berpisah.

    Mungkin diluar saya terlihat ceria, tetapi didalam hati….sedih & hancur.
    Mohon peneguhannya…

    • Shalom Maria,

      Kami turut berduka cita atas meninggalnya janin dalam kandungan Anda bulan Mei 2012 yang lalu. Memang tidak mudah bagi seorang wanita untuk melupakan janin yang telah pernah dikandungnya. Para pria yang tidak mengalami kehamilan mungkin tidak dapat memahami sepenuhnya perasaan wanita yang mengalaminya, dan nampaknya ini yang terjadi pada suami Anda. Terimalah keadaan ini sebagai perbedaan antara pria dan wanita, yang tidak khusus hanya tertuju kepada suami Anda saja, sehingga Anda dapat lebih obyektif dalam menyikapi masalah perbedaan ini.

      Ada banyak hal yang mempengaruhi sehingga keguguran dapat terjadi, namun fakta bahwa hal itu sudah terjadi janganlah terus diungkit dan dijadikan topik perselisihan. Yang lebih penting adalah mengusahakan keadaan yang lebih dapat diterima kedua belah pihak, agar hubungan kasih antara Anda dan suami dapat kembali dibangun. 

      Menimba ilmu setelah menikah memang memiliki tantangan tersendiri, terutama bagi istri. Sebab tak mudah menjalankan peran sebagai istri, apalagi jika sementara sekolah juga bekerja di kantor, dan juga begitu pulang ke rumah harus melayani suami, melakukan tugas-tugas rumah tangga sementara mempersiapkan tugas-tugas kuliah dan ujian. Sesungguhnya hal-hal serupa ini perlu didiskusikan secara terbuka dengan suami sebelum Anda mengambil S2. Yang perlu dibicarakan bukan hanya semata apakah suami memberikan izin Anda mengambil S2, tetapi apakah suami bersedia “bertenggang rasa” dengan Anda sepanjang Anda mengambil program tersebut. Pertanyaan berikut yang harus Anda renungkan dengan suami adalah, apakah memang pengambilan program S2 itu merupakan sesuatu yang krusial bagi Anda berdua. Apakah nafkah dari suami Anda saja tidak cukup sehingga Anda juga harus bekerja, dan untuk itu Anda harus mengambil program S2? Anda perlu mendengarkan pandangan termasuk jika ada keberatan dari pihak suami Anda, sebab biar bagaimanapun ia adalah kepala rumah tangga, kepala Anda (Ef 5:23). Maka sebagai istri, Anda perlu mendengarkan suami Anda terlebih dahulu, sebelum mengharapkan ia mendengarkan Anda. Tangkaplah dari tanggapan suami Anda, apa yang tersirat daripada apa yang tersurat/ terucap. Maka Anda akan dapat mengetahui sesungguhnya apakah suami mendukung Anda dalam mengambil S2 atau tidak. Selanjutnya, perlu dipertimbangkan juga masih berapa lama lagikah Anda menyelesaikan program tersebut, sudah hampir luluskah, atau belum? Sebab jika Anda sudah hampir lulus, mungkin akan lebih mudah untuk meminta pengertian suami. Sementara itu usahakan dan lakukanlah sesuatu agar suami tidak merasa dinomorduakan atau tidak/ kurang diperhatikan.

      Maria, masalah Anda tidak dengan mudah diselesaikan dengan hanya Anda menulis di situs ini. Anda perlu berkomunikasi dengan baik dengan suami Anda. Jika perlu, silakan konseling/ meminta bantuan penasehat perkawinan di paroki Anda. Namun di atas semua itu, diperlukan sikap kerendahan hati untuk memeriksa diri dengan jujur dan kehendak yang kuat untuk memperbaikinya. Gereja Katolik tidak mengenal perceraian, maka benar, jika Anda berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan perkawinan Anda. Untuk mengusahakan hal ini memang tak jarang kedua pihak harus mau berkorban, dan mulailah memeriksa diri Anda, dalam hal apakah Anda dapat berkorban, agar suami Anda dapat merasakan dikasihi oleh Anda. Dengan demikian, Anda sungguh melaksanakan janji perkawinan Anda di hadapan Tuhan, yaitu untuk mengasihi suami Anda dalam keadaan untung dan malang, sehat dan sakit…. termasuk dalam keadaan di mana sangat sulitlah bagi Anda untuk mengasihi, di saat Anda mungkin merasa sakit atau disakiti.

      Semoga Kristus yang Anda terima dalam Sakramen Ekaristi menguatkan Anda untuk mengasihi suami Anda tanpa batas. Semoga rahmat sakramen Perkawinan Anda menguatkan Anda untuk menjadi istri yang setia dan mengasihi suami Anda walaupun itu dapat berarti mengorbankan keinginan pribadi Anda. Mohonlah dukungan doa dari Bunda Maria, agar Anda dapat menjadi istri yang baik bagi suami Anda. Semoga dengan taat melaksanakan peran Anda sebagai istri dengan kasih yang total, kehidupan perkawinan Anda dipulihkan, dan Anda berdua dapat menjalani kehidupan suami istri yang saling mengasihi sampai selamanya.

      Teriring doa dari kami di Katolisitas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Salam damai…
    Saya mau sharing mengenai perkawinan saya dan mohon bantuan agar melalui forum ini bs mendapat jawabannya.
    Saya br menikah sktr 4bln lalu dg wanita non katolik.
    Saya sudah berpacaran 8thn dan sblmnya kehidupan rohani kami baik2 sj hingga menikah.
    Kami saling menghargai bahkan istri sy semasa pacaran mau hadir menemani sy dlm misa di gereja.
    Setelah menikah tnyta ada bbrp perubahan dr dirinya.
    Dulu dia tdk perna sholat 5 wkt tetapi stlh nikah dia sgt rajin.
    Mungkin dikarenakan dl sewaktu berpacaran dia tdk spt itu jd selama itu pula sy tdk melihat ada yg perlu dikhawatirkan.
    Namun seiring waktu berjalan saya merasa tdk nyaman akan kondisi tersebut.
    Pada dasarnya sy tdk ingin melarang dia beribadah menurut ajarannya namun di hati sy tdk berkenan.
    Sejujurnya sy ingin dia bs mengikuti sy dlm membangun keluarga kristiani. Sblm menikah pun dia pernah mengungkapkan akan melihat perkembangan seiring waktu berjalan dan tdk menutup kemungkinan untuk ikut dalam kasih Kristus.
    Pada intinya sy tdk ingin pasangan sy mengikuti saya dg hati yg terpaksa
    Yang sy ingin konsultasikan adalah bagaimana sy hrs menghadapi situasi ini dan bagaimana sy hrs bersikap agar tdk menyakiti hatinya dan bs mengajak pasangan sy ke dalam kasih Kristus.
    Terima kasih.

    • Romo Wanta on

      Ray Yth

      Sebagai umat beriman Katolik yang memegang teguh ajaran Gereja Katolik dan konsekuensi dari perkawinan beda agama, maka anda harus menghargai agama istri anda. Jika dia semakin rajin tentu anda harus memberikan semangat untuk lebih memberikan kesaksian sebagai orang Katolik sehingga anda bisa menarik dia. Kembali ke masalah pacaran, sebaiknya saat masa pacaran digunakan untuk membicarakan persoalan beda agama. Komitmen anda dulu dan dia perlu dikembangkan dan prinsip menghargai perbedaan itu juga baik, karena ada perkawinan beda agama, sampai akhir hidup harmonis sejahtera dan saling membahagiakan. Anda sebagai orang Katolik harus memberikan contoh teladan sebagai orang Katolik sebagai saksi Kristus. Semoga dalam perjalanan hidup perkawinan istri anda menjadi orang Katolik. Prinsipnya menghormati istri anda yang beriman lain yang berbeda dengan anda.

      salam
      RD Wanta

    • Dear Ray,
      Menikah beda agama bukanlah suatu hal yang ideal. Tetapi menikah dengan yang Katolik pun tidak jaminan langgeng sampai tua. Kunci dalam hubungan saya rasa adalah komunikasi dan saling menghormati. Hidup dengan orang yang berbeda agama apalagi satu atap tentu tidak mudah.

      Dulu semasa kuliah saya pernah punya teman sekamar yang Islam di kosan dan dia rajin shalat. Tak jarang kita berdiskusi/berdebat mengenai agama. Tetapi dia tetap teman yang baik.

      Mother Teresa pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah berharap semua orang yang dilayaninya menjadi seiman dengan dia, jikalau dia Hindu baiklah dia menjadi Hindu yang baik, jikalau dia Islam baiklah dia menjadi Islam yang baik. Hal ini tentunya sejalan dengan ajaran Bapa Suci Benediktus XVI dalam ensikliknya Deus Caritas Est (Allah adalah Kasih) bahwa saat perbuatan kasih dilakukan Allah hadir di situ tanpa memandang siapa yang melakukannya. Baiklah Anda dan Istri berlomba – lomba untuk menunjukkan kasih yang lebih besar.

      Perlu diingat Yesus mengasihi kita tanpa syarat, sekalipun saat kita belum mengenal dan mengasihi dia. Hal ini juga yang dituntut dari Anda. Kasihilah istrimu dengan tanpa syarat walaupun dia belum mengenal Yesus. Kiranya Ray sebagai imam dalam keluarga dapat menjadi saluran kasih Kristus bagi istrimu. Berdoalah senantiasa biar Yesus sendiri yang menyentuh hatinya, janganlah mengandalkan kekuatan manusia (baca: dirimu sendiri).

      Balik ke kawan muslim saya, semangat dia untuk shalat 5 waktu membuat saya tidak mau kalah. Saya lebih rajin misa harian, doa Rosario, doa Koronka, baca Kitab Suci dan baca dokumen Gereja supaya sewaktu – waktu bila dia bertanya mengenai iman Katolik. Saya bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya percayai. Kita tinggal bersama hampir 2 tahun. Sekarang kita sama2 menunaikan S3, dia di Inggris saya di Australia.

      Damai Kristus,
      Edwin ST

  8. Purwono S. Wahyudi on

    Salam Damai Sejahtera Dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,

    Singkat saja, yang sekarang sedang saya alami :
    1. Saya merantau bekerja di Kalimantan, sedangkan keluarga (istri dan anak-anak, pada saat itu) berada di jawa;
    2. Sekitar bulan Oktober atau Nopember 2011 istri saya berkenalan dengan laki-laki di bengkel saat service motor;
    3. Bulan Pebruari 2011 istri saya menggelapkan uang di tempat kerjanya sebesar 100 juta rupiah;
    4. Bulan Maret dan Mei 2011 saya pulang jumpai dia, saya terima pernyataan hubungan perkawinan kami tidak dapat dilanjutkan, saya bawa anak-anak bersama saya;
    5. Bulan September 2011, saya terima kabar dia dan laki-laki itu menikah “siri”, mereka terlibat tindak pidana pencurian dan sekarang berada di penjara;

    Yang ingin saya tanyakan :
    Apakah saya harus berdiam diri ataukah saya harus berbuat sesuatu? Saya berserah pada Allah Bapa di sorga;
    Yang saya pikirkan sekarang adalah nasib anak-anak saya, kehilangan figur seorang ibu, saya berharap mereka bisa bertumbuh selayaknya keluarga lain yang utuh;
    Saya pun berharap istri saya mau bertobat dan kembali pada kehendak Allah, SIAPA YANG BISA MEMBANTU SAYA?;
    Saya berusaha demikian karena pada akhirnya saya berharap Bapa juga mau mengampuni dosa-dosa saya.

    Terima kasih

    • Rm Agung, MSF on

      Sdr. Purwono,

      Pertama-tama saya ingin mengatakan pada anda, lakukan yang terbaik untuk anak-anak anda yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Usahakan supaya kehilangan figur seorang ibu (mudah-mudah hanya untuk sementara waktu) ini tidak menjadi hambatan bagi pertumbuhan kepribadian mereka.

      Kedua, biarlah proses hukum atas kesalahan istri anda dan “suaminya” berjalan sesuai dengan hukum negara yang berlaku. Apapun alasannya pencurian adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan baik secara hukum apalagi secara moral.

      Ketiga, jika memungkinkan dan anda sudah “siap hati” suatu saat anda kunjungi mereka berdua di penjara, selain untuk mengetahui kondisi dan kabar mereka juga memberikan peneguhan agar mereka menyadari kesalahannya dan bertobat, terlebih untuk istri anda agar ia bisa bertobat dari segala kesalahannya dan kembali kepada keluarganya.

      Agar anda mampu melakukan semua itu, jangan lupa berdoalah selalu memohon ke hadirat Allah agar Ia membantu dan memberikan kekuatan pada anda untuk memperbaiki keadaan yang saat ini sedang tidak baik.

      In amore Sacrae Familiae

      Agung P. MSF

  9. Salam, saya ingin berkongsi masalah..saya buntu dgn masalah rumah tangga saya ini..dipendekkan cerita..suami saya ada scandal dgn pompuan 1 opis dgnnya. Saya dpt tau malam hari raya..setelah saya meminjam hp..dan saya terlihat sms yg amat mengecewakan saya sebagai istri. Lalu berlakulah pergaduhan antara kami…suami saya balik lewat pagi..hanya balik utk mengantar anak kami yg sulung ke sekolah. Selepas itu dia trus pergi kje..dan tidak balik ke rumah sampailah awal pagi baru balik..sebab antar anak kami ke sekolah. Begitulah selalunya..pada mulanya saya tanggung sorang2 penderitaan ini..tapi saya dah x tahan lalu saya ceritakan pada bapa mertua saya. Tapi keadaan tdk saya harapkan..bapak mertua saya ..salahkan saya..tapi keadaan tetap sama..sehinggalah saya beritau adk beradiknya…saya ingatkan itu jalan yang terbaik utk kami tapi sebaliknya plak yang terjadi..suami saya kata saya aibkan dia..dan sejak itu saya trus dibenci.. dihina..dan kami tdk duduk sebumbung lagi..karana dia nkad ingin melepaskan saya..kini sudah sebulan lebih kami dok asing..dia ttp tiada perasaan rindu syg cinta sama saya lagi..apa yg harus saya lakukan..anak kami ada 3 org ..sulong 6thn..no 2..3thn..no 3..5bln..

    • Rm Agung, MSF on

      Sdri Ryna,

      Pengingkaran atas ketidaksetiaan pada janji perkawinan memang sangat menyakitkan, tetapi bukanlah suatu alasan yang bisa dipakai untuk melakukan perceraian. Perceraian mungkin akan memberi kebebasan pada anda berdua, karena merasa tidak “terkekang” lagi. Tetapi anak-anak akan menjadi korban. Mereka akan mengalami kesulitan dan gangguan di masa-masa pertumbuhan kepribadiannya.
      Maka walaupun ada rasa sakit dalam hati, anda wajib menyelamatkan perkawinan dari kehancuran atau perceraian. Jika anda bisa melakukan dialog dari hati ke hati dengan suami untuk menyelesaikan perkara ini, selesaikanlah berdua. Tetapi jika mengalami kesulitan, carilah bantuan orang ketiga sebagai mediator untuk membicarakan masalah yang sedang anda alami saat ini. Carilah orang yang bersikap netral, sehingga bisa bersikap obyektif dalam menanggapi masalah anda berdua.
      Semoga bisa memberikan pencerahan

      In amore Sacrae Familiae

      Agung P. MSF

  10. Syalom,
    Saya sudah 5 tahun berumah tangga, namun dengan 2 anak. Saya memiliki sebagian masalah rumah tangga yang hampir serupa dengan Agustha.
    Untuk Agustha, mungkin sebaiknya anda meluruskan dulu dan memiliki kesepakatan rumah tangga dahulu sebelum memiliki anak, karena jika sudah ada anak seperti saya, maka masalahnya akan bertambah pelik.

    Sulitnya adalah suami saya adalah seorang non Katolik, dan ini menyulitkan saya dalam membawa keluarga terutama anak-anak dalam kehidupan Kristiani yang harmonis. Saya tidak pernah tahu sebelumnya, jika menikah dengan seseorang yang non Katolik ternyata begini besar tantangannya, dan betapa banyaknya perbedaan di antara kami.

    Saya pun, sama seperti Agustha adalah wanita karir yang mandiri, karena orang tua saya mengajarkan nilai2 kemandirian, semangat maju, dan pantang menyerah dalam iman Katolik, namun tidak demikian halnya dengan suami.
    Kalau dibilang harus pasrah menuruti suami saja, tentu bisa2 anak-anak kami tidak makan dan sekolah, karena tidak dipungkiri bahwa hidup kan perlu uang, dan suami saya sejak dahulu juga tidak maju-maju, karena hidup yang tidak disiplin, dan ambisi yang kurang, di samping menurut saya tidak punya iman. Suami saya penganut Budha, akan tetapi, yang tidak saya mengerti, tidak pernah sekalipun ke Wihara, perginya ke Klenteng, demikian pula dengan keluarga suami. Entah dari aliran apa ini. Secara rutin mereka melakukan sembahyangan kepada dewa dewa dan orang yang sudah meninggal.

    Untuk rumah tangga, baik sehari2 maupun tabungan proyeksi masa depan, saya yang menanggungnya. Selama pernikahan tidak pernah sekalipun suami memberikan uang belanja pada saya. Adapun semua ini tidak membuat suami tergelitik untuk berusaha dan mencari kesempatan untuk lebih maju, baik secara personal maupun finansial, tapi malah sepertinya keenakan. Hampir semua pekerjaan yang diperolehnya adalah berkat jasa dikenalkan orang lain atau saudara. Masa iya, saya harus menuntun, untuk mencari pekerjaan dan kesempatan sementara yang namanya pekerjaan itu berkaitan dengan personal passion. Dahulu saya pernah melakukan menulis CV nya, dan mengirimkan ke sana ke mari. Kini hal itu tidak saya lakukan lagi, selain karena kesibukan dengan pekerjaan dan anak2, juga saya merasa dengan treatment seperti itu suami saya tidak pernah menjadi dewasa. Dalam halnya masalah ekonomi, suami selalu fokus dan memposisikan diri dalam kekurangan, padahal saya selalu mengatakan, sebagai orang tua kita harus berjuang demi anak2..atas segala keterbatasan, tentunya harus menjadi motivasi kita agar di masa depan bisa lebih maju dan mengakomodasi segala kekurangan di hari ini.

    Bagi saya, hari ini harus lebih baik dari kemarin.

    Saat ini kami masih tinggal di rumah mertua. Saya berusaha mati-matian sehingga akhirnya bisa membeli rumah sendiri, pada awalnya suami tidak menghargai upaya saya. Malah seolah sengaja terus berulah yang menyebabkan kami sulit pindah ke rumah sendiri. Tinggal di rumah mertua terus terang membuat saya lama2 tidak tahan. Intervensi mertua terhadap suami sangat besar, seolah-olah suami masih anak SD saja dan saya pun tidak dapat menjalankan peran istri secara sepenuhnya, itulah sebabnya saya sangat ngotot memiliki rumah sendiri.
    Pada saat hendak tandatangan Akad Kredit, suami malah datang terlambat dari jam yang dijadwalkan. Beruntung rumah tersebut dibeli atas nama saya, sehingga tanda tangan saya saja sudah cukup sah.

    Saat ini karena tahun depan kami hendak memulai hidup baru di rumah yang baru, saya hendak mendaftarkan sekolah anak di sebuah sekolah Katolik yang bagus kualitasnya. Sejak setahun yang lalu saya sudah menyampaikan review beberapa sekolah pada suami, bahkan beberapa kali mengajaknya survei sekolah, tapi ia menolak. Ketika pendaftaran sekolah telah tiba, dan anak sudah kami daftarkan bersama, mendadak suami menolak untuk memasukkan anak ke sana, hanya dengan alasan sekolahnya tidak ber-AC, jadi rugi bayar uang sekolah mahal kalau sekolahnya tidak ber AC.
    Sekolah tersebut memiliki segala fasilitas yang baik bagi proses belajar anak dan pertumbuhan iman Katoliknya, sangat tidak masuk akal buat saya jika kualitas pendidikan dikalahkan dengan AC. Sekolah dan pendidikan yang berkualitas sekarang ini memang mahal, makanya sebagai orang tua harus berusaha…bukannya pasrah pada nasib dan menyekolahkan anak sembarang saja asal murah.

    Sungguh, saya sudah sangat lelah. Saya menengarai suami bermaksud mengarahkan untuk memasukkan anak ke sebuah sekolah Budha di dekat rumah mertua yang baru saja dibuka, karena pernah hal itu terucap secara tidak sengaja. Sekarang suami menuduh saya tidak transparan atas pilihan sekolah yang saya tidak tahu apa alasannya (di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini tidak ada yang dapat disembunyikan, semua bisa diperoleh dengan browsing dan bertanya, yang mana buat saya ini membuktikan kepicikan suami). Saya juga dituduh tidak mempertimbangkan pilihannya. Lha, pilihan yang mana ? Kalau pilihan masuk ke Sekolah Budha buat saya bukan pilihan, karena pada saat menikah kami sudah mengucap janji di altar untuk mendidik anak-anak yang lahir dari perkawinan kami secara Katolik dan atas dasar iman Katolik. Menyuruh suami ikut retret jelas tidak mungkin, karena yang bersangkutan tidak percaya.
    Saya saat ini hanya bisa berdoa saja, novena, rosario, dan beberapa doa Katolik lainnya, setidaknya agak saya menjadi kuat dan agar pendidikan Katolik anak-anak saya berjalan lancar.

    Bagaimana juga sebagai seorang Katolik saya harus bersikap, jika suami seolah tak mau maju, masa iya saya harus ikutan slow moving dan santai-santai jalan lambat bersama, dan masa saya harus menuntunnya seperti guru TK untuk mengembangkan talentanya dan meraih tiap kesempatan yang ada…sementara yang bersangkutan santai2 saja tidak peduli hari esok, tidak mau cari rejeki, hanya mengharap rejeki jatuh sendiri ke tangannya.
    Tuhan memang sudah mengatur rejeki tiap orang, tapi kalau kita mau mencarinya dan membuka jalan bukannya rejeki itu lebih cepat datang & dapat di manfaatkan secara optimal ? Semakin hari saya jadi semakin tidak respek terhadap suami saya, karena kalau saya merendah, kok ya, malah diinjak..omongan di putarbalikkan dan dituduh yang tidak2.

    Kalau sampai, misalnya, harus berpisah dengan suami yang non Katolik di mana pada saat menikah hanya menerima pemberkatan, bukan sakramen, bagaimanakah hukumnya.
    Terima Kasih.

    • Shalom Belle,

      Saya prihatin dengan kasus perkawinan anda. Namun menurut hemat saya, yang anda perlukan sekarang adalah bukan mengurus perpisahan dengan suami, tetapi mengusahakan segala cara untuk mengembalikan kasih di antara Anda berdua, yang dulu pernah ada; dan pada kasus anda, agar suami dapat memahami tanggung jawabnya sebagai suami dan kepala keluarga. Saya mengasumsikan pada saat mau menikah, Anda sudah memohon dispensasi kepada pihak keuskupan karena Anda menikah dengan seorang yang non- Katolik. Dan jika dispensasi diberikan dan faktanya Anda menikah di Gereja Katolik (walau pasangan Anda tetap non- Katolik), maka perkawinan anda sesungguhnya sudah sah. Perkawinan yang sudah sah diberikan tidak dapat dibatalkan. Apalagi sekarang anda telah memiliki dua orang anak, sehingga memang tidak semudah itu untuk memutuskan perpisahan, sebab pasti akan memberi dampak negatif kepada perkembangan anak- anak Anda.

      Sekilas dari cerita Anda nampaknya Anda mempunyai problema komunikasi dengan suami Anda. Karena itu, jika memungkinkan memang ada baiknya Anda mengatur untuk menghadiri week-end Marriage Encounter, atau retret Tulang Rusuk oleh Romo Yusuf Halim. Retret ini tidak mengharuskan pesertanya Katolik, sehingga nampaknya tidak ada yang perlu dirisaukan dengan keadaan Anda dan suami yang non- Katolik. Ada banyak perkawinan yang ‘tertolong’ melalui retret semacam ini, dan saya percaya Anda dan suami  dapat mengalaminya. Berdoalah dengan sungguh kepada Tuhan, agar Tuhan melembutkan hati suami Anda, agar ia mau diajak untuk mengikuti Retret ini. Walau dia awalnya skeptis tidak apa, silakan ikut saja, semoga nanti di sana anda dapat bertemu dengan tim pasangan suami istri yang dapat membantu anda.

      Namun jika mengikuti retret sama sekali tidak mungkin, Anda mungkin dapat mencoba mengutarakan isi hati Anda kepada suami dengan sebuah surat (secara tertulis), jika komunikasi langsung/verbal tidak memungkinkan, karena berpotensi memicu pertengkaran. Dalam surat anda itu sampaikanlah isi hati Anda (namun jangan marah), terutama ungkapkanlah kesedihan Anda dan kerinduan hati Anda untuk keadaan yang manis dan membahagiakan di tengah keluarga Anda, sebagaimana di awal perkawinan Anda. Nyatakanlah juga bahwa anda tetap mau mengasihi dia, sebagaimana telah anda janjikan di hadapan Tuhan di hari perkawinan Anda. Semoga dengan ungkapan yang tulus dari Anda, suami dapat lebih terbuka dan mendengarkan Anda.

      Silakan juga anda mengikuti kegiatan di paroki Anda, sebab bukannya tidak mungkin Anda akan bertemu dengan pasangan suami istri yang kasusnya serupa dengan kasus Anda. Bukan rahasia umum bahwa di paroki terdapat juga banyak kawin campur (beda agama) sehingga para istri yang tergabung dalam satu kegiatan paroki dapat saling menguatkan dan mendukung satu sama lain dengan doa. Saya mempunyai kenalan juga yang tidak sedikit, atas kesetiaan istri berdoa untuk suaminya, akhirnya sang suami dapat menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, dengan dibaptis menjadi Katolik.

      Atau jika Anda pikir berguna, dapat pula Anda meminta bantuan kerabat/ sahabat yang dekat dengan suami, agar dapat membantu Anda atau membuka pikiran suami, minimal agar ia menjadi lebih bersemangat di dalam menjalani peran sebagai kepala keluarga. Ingatlah bahwa mungkin pada saat ini peran anda adalah sungguh sebagai ‘penolong’ bagi suami anda, untuk mengarahkannya menjadi seorang pribadi yang lebih baik di hadapan Tuhan dan keluarga anda. Walaupun mungkin memang berat bagi Anda, dan sungguh menuntut kesabaran, pengertian dan pengorbanan Anda, namun percayalah semua jerih payah Anda jika didasari kasih, akan membuahkan hasil yang positif bagi Anda sekeluarga. Ingatlah akan pengajaran Rasul Paulus, “Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu. Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya ….” (1Kor 7:13-14). Maka anggaplah segala tugas yang anda emban sekarang ini sambil terus mendukung suami agar dapat melaksanakan tanggungjawabnya, adalah suatu bentuk pengabdian kepada Tuhan, karena Anda melaksanakan perintah-Nya.

      Demikianlah Belle, hadapilah pergumulan Anda ini dengan kekuatan yang dari Tuhan. Keputusan anda untuk menyekolahkan anak Anda di sekolah Katolik sudah merupakan keputusan yang baik. Anda juga dapat menggabungkan anak- anak ke dalam kelompok Bina Iman di paroki anda. Semoga anak- anak yang bertumbuh dengan baik di dalam iman dan kasih dapat melembutkan hati ayah mereka. Tetaplah dengan tekun berdoa novena dan rosario, dan mohonlah pertolongan Tuhan dan dukungan Bunda Maria senantiasa. Semoga Tuhan memberkati dan membuka jalan bagi Anda untuk mencapai keluarga yang harmonis seperti yang Anda harapkan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  11. shallom,,,
    saya ada pertanyaan yang memang agak sulit pemecahannya:
    1. apakah seorang istri dengan 1 anak yang sudah tidak di nafkahi selama 2 tahun lebih, bisa mengajukan pembatalan perkawinan karena masalah yang tidak bisa di selesaikan sampai di konseling keluarga di katedral dan sudah mengajukan ke romo paroki??
    2. keinginan saya untuk cerai karena suami tidak pernah menghargai,terbuka dan komunikasi dengan istri tentang masalah apapun yang menyangkut kehidupan berkeluarga. dan saya sebagai istri sudah berusaha untuk mengerti tapi suami tetap tidak mau tau tentang istri dan anak. sehingga anak yang jadi korban tidak di biayai hidupnya sama sekali. apa dan bagaimana hukum keluarga dalam gereja katolik kalo saya lihat seorang istri selalu jadi tempat masalah dan tempat salah tanpa boleh membela diri???
    3. apakah ada hukum gereja untuk seorang ayah tidak membiayai hidup anaknya selama 2 tahun lebih dan tanpa mau tau kondisi anak???

    • Florencia Yth.

      Jawaban saya bisa, saya kira masuk akal jika anda mencoba menulis surat permohonan pembatalan perkawinan seperti yang pernah kami berikan dalam tulisan di katolisitas.org.
      Hukum Gereja selalu mengutamakan pastoral supaya rujuk kembali, sedangkan jalan proses pengadilan adalah jalan terakhir, jika segala cara untuk rujuk kembali tidak membuahkan hasil. Maka jika anda tidak keberatan mintalah waktu dan bertemu dengan pastor paroki anda menceritakan masalah ini agar Pastor mengetahui umatnya sendiri. Salah satu sebab perpisahan suami isteri adalah tanggungjawab dalam hal biaya hidup ekonomi apalagi di zaman sekarang yang serba uang/materi. Maka, cobalah untuk menyadarkan suami, jika tidak bisa maka jalan akhir mohon kasus dibawa ke pengadilan Gereja. Silakan juga ke pengadilan sipil itu semua hak anda.

      salam
      Rm Wanta

  12. Francis & Ignas on

    Syaloom,
    Kami pasutri 3 tahun berumah tangga. Di tahun pertama perkawinan kami bahagia walaupun kami tidak selalu bertemu karena suami bekerja diluar negeri.
    Memasuki tahun kedua perkawinan kami masalah mulai muncul. Suami berhubungan lagi dg mantan pacarnya atas suruhan ibunya tanpa sepengetahuan saya istrinya. Perlu ibu ketahui sebelum menikah kami buat kesepakatan bahwa kami tidak akan berhubungan dg mantan pacar. Sebagai istri saya tidak terima dg kejadian itu akhirnya kami bertengkar. Dalam pertengkaran itu ibu mertua saya ikut menyalahkan atas sikap saya. Alasannya karena mantan pacar suami orang yang baik. Sejak itu hubungan saya dg ibu mertua memburuk. Banyak cacian yang saya terima. Puji Tuhan suami selalu mendukung saya dan dia telah berubah sejak kami bertengkar pertama kali itu. Selama ini kami diam terutama saya dan saya telah meminta maaf pada beliau kalau sikap saya salah dan sudah menjelaskan kenapa saya tidak terima dg kejadian kemarin tetapi tetap tidak diterima. Akhirnya kami diam dg segala sikap,perkataan ibu mertua saya.
    Hingga memasuki tahun ketiga saya dinyatakan hamil. Kami sangat bahagia karena ini yang sangat kami nanti-nantikan. Kami mengabarkan kabar bahagia ini kepada semua keluarga kami. Mereka sangat bahagia tetapi tidak dg ibu mertua saya. Justru dia membuat kami shock dg pertanyaan beliau dan sikap beliau . Perlu ibu ketahui juga bahwa ibu mertua saya pengikut kuasa kegelapan(merdukun, ngalap berkah, temperamental,pernah kerasukan roh orang mati,ditengarai ada roh harimau di dalam dirinya) sejak suami saya masih anak-anak walau ia pun pengikut gerakan karismatik. 3 bulan kehamilan saya,saya mengalami keguguran yang sampai sekarang tidak diketahui penyebabnya secara medis. Akhirnya ada teman yang menanyakan pada seorang kejawen dan orang itu mengatakan kalau janin saya dibunuh oleh ibu mertua saya. Tetapi kami tidak percaya begitu saja. Setelah saya sehat kami datang keseorang Romo yang mempunyai karunia khusus dan menceritakan semuanya kepada beliau. Kesimpulan dari Romo bahwa ibu mertua punya luka batin yang sangat dalam. Dan kami disuruh untuk mengampuni beliau.

    Pertanyaan kami,
    1.Bagaimana kami menyikapi sikap ibu mertua saya yang seperti itu?
    2.Bagaimana menyadarkan beliau supaya meninggalkan kuasa kegelapan?
    Perlu ibu ketahui bahwa ibu mertua tinggal di Bali dan kami ada di Jawa Tengah. Beliau juga punya kebiasaan tertutup tidak mau berkomunikasi dg orang yang tidak disukainya.

    • Rm Agung MSF on

      Sdr. Francis dan Ignaz
      Syukurlah bahwa anda berdua sebagai suami-istri akhirnya bisa saling membantu dan menjaga kesetiaan perkawinan anda. Ingat, perkawinan adalah sakramen cintakasih Allah yang menyelamatkan. Kesetiaan anda terhadap pasangan adalah salah satu bentuk konkret sakramentalitas perkawinan yang menyelamatkan itu.
      Sebaiknya anda mendoakan secara khusus ibu (ibu mertua) anda agar diberi terang Roh Kudus, dan mau melepaskan dari segala bentuk tahayul dan magic seperti yang anda ceritakan. Kalau ibu anda mempunyai luka batin yang dalam, mohonkanlah dalam doa anda berdua, agar ibu anda disembuhkan dari luka-lukanya itu.
      Juga sebaiknya anda tidak mudah berprasangka buruk bahwa keguguran itu adalah akibat ulah ibu anda. Kita manusia yang mempunyai berbagai macam keterbatasan, sehingga tidak tepat bila kita menghakimi orang secara negatf, padahal kita tidak tahu yang sebenarnya. Berdoalah selalu agar tidak mudah menghakimi orang secara negatif. Apalagi dengan cara yang anda sendiri tidak setuju dan tidak percaya (seperti kata teman yang meminta petunjuk dari orang yang “pinter” kejawen).
      Jika anda sendiri merasa kesulitan untuk menyadarkan ibu agar tidak melakukan segala bentuk tahayul itu, mungkin anda bisa meminta tolong seseorang yang dekat atau disegani ibu anda untuk mengingatkannya. Selebihnya, bawa ibu anda dalam setiap doa. Bagaimanapun ibu anda itu juga anak Allah, maka kita serahkan ia kepada Bapa-nya agar diberi penerangan dan kebijaksanaan ilahi melalui kehadiran Roh Kudus-Nya.

      In amore Sacrae Familiae
      Agung P. MSF

  13. Ibu Inggrid,

    Saya sangat senang sekali dengan kehadiran situs ini, karena banyak hal yang bisa dipelajari.
    Ibu menyebutkan salah satu kegiatan Couple for Christ, bisa tolong dijelaskan mengenai kelompok ini.
    Terima kasih atas kesediaan ibu menjawab pertanyaan ini.

    [Dari katolisitas: Anda dapat melihat website Couple for Christ international di sini - silakan klik, dan CFC Indonesia di sini - silakan klik.]

  14. Thank Ibu Inggrid..
    syalom,
    diskus dari saya sebagai sama2 wanita :
    saya merasa wanita meskipun lebih unggul dari pria tetap akan kalah dan wanita yang memilih menikah adalah siap mengalah dalam hal apapun karena cinta, namun mengapa si Pria tetap kurang,
    apakah yang dikehendaki seorang pria dalam perkawinan:
    apakah si wanita harus menundukan kepalanya terhadap suami seperti di negara jepang?
    apakah tangan si pria minta di cium sebagai Bapa seperti di negara Arab?
    apakah si wanita harus menuruti permintaan suami seperti manusia kloning yang tidak punya kemauan dan perasaan?
    apakah si wanita setelah perkawinan tidak boleh berkawan dengan siapapun kecuali suami?

    saya tidak menyalahkan agama yang saya anut dalam hal ini : yang menjadi pertanyaan bagaiman peran gereja dalam mengatur umatnya jika suami bertindak se wenang2 terhadap istri?
    fakta yang ada di masyarakat :
    perkawinan katolik maka si wanita akan di tinggalkan suaminya tanpa mengurus pembatalan perkawinan secara katolik yang mereka tau pasti gak akan di setujui gereja, hal itu menimbulkan konotasi jelek di masyarkat umum bahwa wanita katolik lemah posisi. dan kebanyakan wanita kawin lagi secara agama lain, itupun sangat mengurangi populasi dalam gereja katolik sendiri.
    karena nya harus ada team khusus semacam pengadilan gereja dalam memutuskan boleh tidaknya pembatalan perkawinan sehingga umat tidak terlantar.
    ini berkaitan dengan sistem hukum perkawinan di Indonesia yg harus di Link kan dengan sipil.

    tidak selamanya perkawinan sempurna, apalagi sebelumnya kita tidak tau bagaimana pasangan kita, setelah beberapa tahun dijalani kita baru tau yg sebenarnya.

    kalau ada yang bilang ‘harus tau sebelum merried” berarti orang tsb pasti tau isi hati orang lain.(alias orang sakti).

    • Shalom Agustha,

      Nampaknya anda memerlukan konseling perkawinan, sebab apapun jawaban yang saya sampaikan di sini tidak akan secara tuntas menjawab pertanyaan anda. Walaupun demikian, saya mencoba menjawabnya dan jika masih ada pertanyaan, saya persilakan anda menghubungi pastor paroki anda, ataupun seksi kerasulan keluarga di paroki anda.

      1. Sejauh mana istri harus tunduk pada suami.

      Yang diajarkan di dalam Kitab Suci adalah bahwa suami adalah kepala istri, dan bahwa suami sebagai kepala harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi Gereja-Nya dan menyerahkan diri-Nya baginya (lih. Ef 5:24-25). Memang seringnya, orang menekankan bahwa istri harus tunduk kepada suami, tetapi kurang menyadari bahwa suami sesungguhnya harus juga memenuhi panggilannya untuk mengasihi istrinya dan rela berkorban baginya bahkan sampai mati, demi kasih kepada istrinya, seperti teladan Kristus kepada Gereja-Nya. Maka sesungguhnya, hal tunduk kepada suami ini berkaitan dengan dimensi yang lain, yaitu, bahwa suami harus taat kepada Tuhan dan menjalankan perannya sebagai kepala rumah tangga dengan baik sesuai dengan hukum Tuhan.

      Maka hal ketaatan istri kepada suami bukan ketaatan yang hanya kelihatan dari luar, soal menundukkan kepala, atau cium tangan. Ketaatan istri lebih merupakan suatu keputusan dari pihak istri untuk membiarkan suami memimpin dirinya [dan anak- anak] agar dapat bersama- sama semakin mengenal dan mengasihi Tuhan. Bagaimana jika suami tidak tahu/ tidak menyadari perannya ini? Inilah yang perlu diusahakan, yaitu agar suami dapat menyadari perannya di dalam keluarga, misalnya melalui konseling, retret, ataupun usaha- usaha kecil dari anda sendiri untuk mendorong suami agar menyadari panggilannya ini. Tentu semua ini harus didukung oleh doa- doa anda.

      Jika hal ini sudah dilakukan, maka tidak ada masalah jika suami dan istri tetap memiliki teman- teman biasa di luar perkawinan. Jadi tidak berarti bahwa seorang perempuan yang sudah menikah lalu tidak boleh punya teman laki-laki. Selama hubungan pertemanan masih wajar, tentu tidak ada salahnya.

      2. Peran Gereja jika suami sewenang- wenang terhadap istri?

      Tidak benar bahwa Gereja Katolik tidak peduli jika terjadi perlakuan semena- mena terhadap perempuan dalam perkawinan. Jika memang kasusnya serius, apalagi sampai sampai membahayakan keselamatan, silakan melapor kepada pastor paroki. Apalagi, jika akar permasalahan ini sudah ada sejak sebelum perkawinan. Dalam keadaan ini, pihak istri dapat mengajukan surat permohonan pembatalan perkawinan ke pihak Tribunal di mana perkawinan tersebut diteguhkan. Selanjutnya pihak Tribunal akan memeriksa kasus tersebut, dan jika ditemukan bukti- bukti, permohonan dapat dikabulkan. Romo Wanta yang menjadi salah satu penulis tetap di situs ini adalah salah satu anggota Tribunal keuskupan Bali. Anda dapat menanyakan kasus- kasus perkawinan kepada beliau di situs ini.

      Jika perkawinan sudah dinyatakan sah, memang tidak dapat diceraikan ataupun dibatalkan. Ini sesuai dengan Mat 19:6. Namun, jika sejak awal telah ditemukan hal- hal yang membuat perkawinan tidak dapat dikatakan sah, maka perkawinan dapat dibatalkan. Silakan anda membaca terlebih dahulu tentang ketiga hal yang dapat membatalkan perkawinan di sini, silakan klik. Ketiga hal yang dapat dinyatakan sebagai dasar dari anulasi/ pembatalan perkawinan adalah: 1) halangan kapasitas menikah, 2) cacat konsensus, 3) cacat forma kanonika (tidak dilakukan sesuai dengan cara yang disyaratkan oleh Gereja Katolik)
      Selanjutnya tentang halangan menikah, silakan klik di sini ; tentang cacat konsensus dan cacat forma kanonika, silakan klik di sini.

      3. Tidak selamanya perkawinan sempurna?

      Memang di dunia ini umumnya tidak ada yang sempurna, termasuk perkawinan. Namun bukan berarti karena tidak sempurna lalu dengan mudah dapat dibubarkan. Jika anda mengikuti retret suami istri, anda akan mengetahui bahwa bukan anda sendiri yang mengalami masalah perkawinan. Ada banyak juga pasangan lain yang juga memiliki masalah, namun tetap memilih untuk menghadapinya bersama- sama dengan pertolongan Tuhan. Dan dengan campur tangan Tuhan, maka tidak ada yang mustahil.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Salam dalam damai Agustha

      Saya mempunyai cerita tentang kakak saya wanita, mungkin dapat menjadikan inspirasi bagi anda. Cerita anda mirip dengan kakak saya. Penyebab semua itu adalah hilangnya cinta. Sikap dan perilaku tersebut hanyalah efek dari hilangnya cinta tersebut. Maka yang anda terima banyak hal yang menyakitkan. Menimbulkan cinta kembali bukan masalah mudah. Ibu Ingrid telah menjelaskan banyak, terutama saran dari ibu Ingrid “datanglah pada Tuhan”. Saya ingin membagikan cerita, mungkin dapat menjadi inspirasi bagi anda. Sebelumnya coba sedikit tengok ke belakang. Apakah anda pernah melakukan suatu dosa yang besar. Contohnya apakah pada masa lalu anda pernah menyakiti pria atau pacar atau bahkan melawan orang tua, atau juga pernah mengkhianati sebuah kesetiaan atau janji dihadapan Tuhan. Saya tidak tahu. namun banyak hal dosa itu mengikat.
      Dalam keadaan seperti itu akhirnya kakak saya hanya berpasrah dengan memohon ampun atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Dalam perkawinan adalah suatu hal yang lengkap dengan kehadiran seorang anak. Kakak saya memilih diam. Dia lakukan banyak hal seperti air yang mengalir. Tidak membantah suaminya, tidak melawan, yang dilakukan hanyalah melakukan seperti wajibnya seorang wanita seperti apapun yang ia terima.
      Setiap malam, tepat tengah malam kakak saya keluar sendirian ke kebun rumah. Di kebun dia berdoa Rosario dan Litani Hati Kudus Yesus. Memohon ampun akan dosa yang telah diperbuat dihadapan Tuhan. Juga dia mohon agar hadir seorang anak yang dapat menyatukan dan memunculkan cinta kembali. Pelan meski sangat lambat suaminya menjadi lebih lunak. Berkat Tuhan Yesus dan Bunda Maria pada umur 38 tahun, kakak saya wanita melahirkan seorang bayi melalui operasi. Dan secara perlahan pula hubungan mereka membaik sampai sekarang.

      Tuhan memberkati

      [Dari Katolisitas: Terima kasih atas sharing yang indah ini, semoga dapat menjadi inspirasi buat Agustha dan para pembaca lainnya]

  15. Syalom,
    beberapa pertanyaan menyangkut setelah perkawinan :
    -Bagaimana cara pengaturan keuangan berdasarkan hukum katolik dalam hubungan suami istri sebaiknya?
    -Bagaimana seorang wanita karir dalam menemui klien baik pria maupun wanita dalam pekerjaan dan teman gaul nya berdasarkan cara yg sebenarnya, karena dipandang umum hal menemui pria yg katanya tidak pantas dimata umum, jadi harus bagaimana menemui seorang teman pria jika tidak di tempat umum,karena ketika suami diajak serta tidak bersedia.?
    -Bagaimana sebaiknya sebuah perkawinan yang harmonis? ……

    [Dari Katolisitas: pertanyaan ini selengkapnya dan jawabannya sudah ditayangkan di atas, silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply