Sekilas ajaran Gereja tentang Bunda Maria

60

Pembahasan

I. Menuju Yesus melalui Bunda Maria

Ad Jesum per Mariam” (Menuju Yesus melalui Bunda Maria) adalah istilah yang sering kita dengar. Namun sudahkah kita menghayati pepatah ini, dan menjadikannya sebagai semboyan hidup sendiri? Barangkali proses pemahaman tentang hal ini akan memakan waktu sepanjang hidup kita, dan semoga hari demi hari Tuhan menambahkan kepada kita pemahaman yang semakin mendalam.

Pemahaman tentang ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria tidak terlepas dari apa yang dipaparkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang juga diteruskan dalam Tradisi Suci, yang dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Peran Bunda Maria telah digambarkan secara samar- samar dalam Kitab Perjanjian Lama. Jadi, dengan melihat tipologi, kita dapat melihat kaitan antara penggambarannya di Perjanjian Lama dan penggenapannya di Perjanjian Baru.

2. Peran Bunda Maria disampaikan secara eksplisit dalam Kitab Suci terutama dalam Injil.

3. Peran Bunda Maria kemudian banyak disampaikan oleh Tradisi Suci, yaitu dari ajaran yang disampaikan oleh para Bapa Gereja, dan yang dilestarikan juga dalam liturgi suci dan oleh pengajaran Magisterium, yang menunjukkan bahwa Bunda Maria selalu menjadi bagian dalam sejarah kehidupan Gereja di sepanjang jaman.

Ad Jesum per Mariam“, pepatah ini berguna bagi pemahaman akan inti penghormatan kita kepada Bunda Maria. Mengapa? Karena penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak terlepas dari penghormatan kita kepada Yesus. Kita menuju Yesus melalui Bunda Maria. Maka, secara prinsip, dapat dikatakan demikian:

1. Seluruh gelar dan kehormatan Maria yang diberikan Allah kepadanya adalah demi kehormatan Yesus Kristus Putera-Nya, dan penghormatan ini selalu berada di bawah penghormatan kepada Kristus.

2. Dasar penghormatan kepada Bunda Maria adalah karena perannya sebagai Bunda Allah.

3. Sebagai Bunda Allah, Maria dikuduskan Allah dan mengambil peran istimewa dalam keseluruhan rencana keselamatan Allah.

a. Untuk itu Maria dipersiapkan Allah, dengan dibebaskan dari dosa asal sejak terbentuknya di dalam kandungan (Immaculate Conception). Pemahaman akan kaitan makna penggambaran Perjanjian Lama dalam penggenapannya dengan Perjanjian Baru menjelaskan kekudusan Maria ini sebagai: i) Sang Hawa Baru yang bekerjasama dengan Kristus Sang Adam yang baru; dan ii) Sang Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus, yang adalah Tanda Perjanjian Baru.

b. Bunda Maria menjalankan perannya sebagai Bunda Allah dan bekerjasama dalam rencana keselamatan Allah. Kerjasama Maria ini terlihat dari ketaatan-Nya dalam mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Oleh sebab itu, kerjasama Bunda Maria ini tidak hanya terbatas oleh kesediaannya untuk mengandung dan melahirkan Yesus; namun juga kesetiaannya dalam membesarkan dan mendampingi Yesus dalam menjalankan misi keselamatan Allah. Maria juga menjadi mediatrix/ pengantara yang menghantar orang- orang kepada Kristus, [dan ini dilakukannya tidak saja selama hidupnya di dunia, tetapi juga saat ia telah kembali ke surga].

c. Kerjasama Bunda Maria dengan rahmat Allah yang diterimanya, menghasilkan: i) persatuannya dengan Kristus, baik saat ia hidup di dunia ini, maupun pada saat ia beralih dari dunia ini dan sesudahnya dalam kehidupan kekal; ii) Oleh jasa pengorbanan Kristus, Bunda Maria diangkat ke surga; iii) Maria menjadi bunda semua umat beriman, karena Kristus telah memberikannya kepada kita sebagai ibu kita juga; iv) Setelah ia diangkat ke surga, Bunda Maria tetap menjadi pengantara kita kepada Kristus dengan doa- doa syafaatnya; v) Bunda Maria diangkat oleh Allah menjadi Ratu Surga.

4. Pengaruh doktrin Maria kepada kita umat beriman.

a. Ketaatan dan kekudusan Bunda Maria adalah teladan bagi kita umat beriman.
b. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita umat beriman.
c. Maria adalah Ibu dan Perawan, maka Gereja juga adalah ibu dan perawan.
d. Pengangkatan Bunda Maria ke surga adalah gambaran akhir bagi kita kelak.

II. Seluruh gelar dan kehormatan Maria adalah demi Putera-Nya Yesus dan selalu berada di bawah penghormatan kepada Yesus.

Cardinal Newman mengatakan “the Glories of Mary are for the sake of her Son”[1]. Ini berarti bahwa apapun gelar dan penghormatan kepada Maria selalu “secondary” (berada di bawah) setelah Puteranya, Yesus Kristus. Ini juga berarti bahwa semua penghormatan dan gelar yang diberikan kepada Maria, senantiasa berakar pada hubungannya yang begitu istimewa dengan Tritunggal Maha Kudus. Ia menjadi puteri Allah Bapa, Bunda Allah Putera dan mempelai Roh Kudus. Sebagai puteri Allah Bapa, Bunda Maria senantiasa taat dan senantiasa melaksanakan kehendak Allah Bapa di sepanjang langkah hidupnya. Sebagai puteri Allah Bapa, Maria menunjukkan ketaatannya untuk bekerjasama dengan Allah dalam karya keselamatan. Sebagai bunda Allah Putera, Maria berpartisipasi dalam karya penyelamatan manusia dan senantiasa membawa seluruh umat Allah kepada Puteranya. Sebagai mempelai Allah Roh Kudus, Maria menjadi sosok yang kudus dan tak bercela.

Konsili Vatikan II mengajarkan tentang hal ini demikian:

“Karena pahala putera-Nya ia ditebus secara lebih unggul, serta dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan. Ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi….” (Lumen Gentium, 53)

Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi. Pengaruh tersebut mengalir dari kelimpahan pahala Kristus, bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.” (Lumen Gentium 60)

Sebab tiada makluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah terpancarkan secara nyata kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan cara yang berbeda-beda, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mereka aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber. Adapun Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang berada di bawah Kristus seperti itu. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka ditopang oleh perlindungan Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat.” (Lumen Gentium 62)

III. Dasar penghormatan kepada Bunda Maria adalah karena perannya sebagai Bunda Allah (Theotokos)

Kepenuhan rahmat Tuhan dalam diri Maria dan martabatnya diperoleh dari perannya sebagai Bunda Allah. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh gelar tentang Maria bersumber pada kenyataan bahwa Maria adalah Bunda Allah, bunda Sang Penebus. Oleh karena itu, semua gelar Maria senantiasa bersumber pada misteri Inkarnasi Kristus. Jadi, seluruh gelar Maria adalah untuk semakin memperkuat pengajaran tentang Inkarnasi Kristus.

III.1. Dasar Kitab Suci: Theotokos:

1. Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Janji ini tentang ‘perempuan itu (the woman) dan keturunannya’ mengacu kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, ibu yang melahirkan-Nya.

2. Lukas 1:42-43, Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.” Elisabeth juga menyebutkan Maria sebagai seseorang yang terberkati di antara wanita, oleh karena ia mengandung Yesus.

3. Yesaya 7:14; Matius 1:23, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.”

4. Lukas 1:35: Kata malaikat itu, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.

5. Matius 2:11. “Maka masuklah mereka … dan melihat Anak itu bersama dengan ibu-Nya.

6. Galatia 4:4: “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.

III.2. Dasar Tradisi Suci: Theotokos

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan bahwa Maria adalah sungguh Bunda Allah:

1. St. Irenaeus (180): “Perawan Maria, yang taat kepada Sabda-Nya menerima dari kabar gembira malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan.”[2].

2. St. Petrus dari Alexandria (260-311): “Kami mengakui kebangkitan orang mati, di mana Yesus kristus Tuhan kita menjadi yang pertama; Ia mempunyai tubuh yang sungguh, bukan hanya kelihatan sebagai tubuh, tetapi tubuh yang diperoleh dari Maria Bunda Allah.[3]

3. St. Cyril dari Jerusalem (350): “Banyaklah saksi sejati tentang Kristus. Allah Bapa memberi kesaksian tentang Putera-Nya dari Surga, Roh Kudus turun dengan mengambil rupa seperti burung merpati: Penghulu malaikat memberikan kabar gembira kepada Maria: Perawan Bunda Allah memberikan kesaksian …..”[4]

4. St. Athanasius (365): “Sabda Allah Bapa di tempat yang Maha tinggi, …. adalah Ia yang dilahirkan di bawah ini, oleh Perawan Maria, Bunda Allah.[5]

5. St. Epifanus (374): Ia [Kristus] membentuk manusia menjadi sempurna di dalam Diri-Nya sendiri, dari Maria Bunda Allah, melalui Roh Kudus.”[6]

6. St. Ambrosius (378): “Biarkan hidup Maria …. memancar seperti penampakan kemurnian dan cermin bentuk kebajikan…. Hal utama yang mendorong semangat dalam proses belajar adalah kebesaran sang guru. Apakah yang lebih besar daripada Bunda Tuhan?[7]

7. St. Jeromus/ Jerome (384): “Jadikan teladanmu, Maria yang terberkati, yang karena kemurniannya yang tak tertandingi menjadikannya Bunda Allah.”[8]

8. St. Gregorius Naziansa (382) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga secara manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia).[9]

9. St. Yohanes Cassian (430): “….Kami akan membuktikan oleh kesaksian Ilahi bahwa Kristus adalah Allah dan bahwa Maria adalah Bunda Allah.”[10].

10. St. Cyril dari Alexandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?”[11].

11. St. Vincent dari Lerins (450): “Semoga Tuhan melarang siapapun yang berusaha merampas dari Maria yang kudus, hak- hak istimewanya yaitu rahmat ilahi dan kemuliaannya. Sebab dengan keistimewaannya yang unik dari Tuhan, ia disebut sebagai Bunda Allah [Theotokos] yang sungguh dan yang sangat terberkati. Santa Maria adalah Bunda Allah, sebab di dalam rahimnya yang kudus digenapilah misteri yang karena kesatuan Pribadi yang unik dan satu- satunya, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, sehingga manusia itu adalah Tuhan dan di dalam Tuhan.[12]

12. St. Yohanes Damaskinus (749): “Biarkanlah Nestorius menjadi malu dan menutup mulutnya. Anak ini adalah Allah. Bagaimana mungkin ia yang melahirkan-Nya bukan Bunda Allah?”[13].

III.3. Pengajaran Magisterium Gereja: Theotokos

Gereja Katolik mengajarkan:
“Maria adalah sungguh- sungguh Bunda Allah” (De fide)[14].

Doktrin Maria sebagai Bunda Allah/ “Theotokos” ……. dinyatakan Gereja melalui Konsili di Efesus (431) dan Konsili keempat di Chalcedon (451). Pengajaran ini diresmikan pada kedua Konsili tersebut, namun bukan berarti bahwa sebelum tahun 431, Bunda Maria belum disebut sebagai Bunda Allah. Kepercayaan Gereja akan peran Maria sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru sudah berakar sejak abad awal. Keberadaan Konsili Efesus yang mengajarkan “Theotokos” tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius. Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus, tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan, sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia. Konsili Efesus mengajarkan:

“Jika seseorang tidak mengakui bahwa Emmanuel adalah Tuhan sendiri dan oleh karena itu Perawan Suci Maria adalah Bunda Tuhan (Theotokos); dalam arti di dalam dagingnya ia [Maria] mengandung Sabda Allah yang menjelma menjadi daging [seperti tertulis bahwa "Sabda sudah menjadi daging"], terkutuklah ia.” (D113)

Bahwa Maria adalah Bunda Allah adalah pengajaran Gereja sepanjang sejarah dan ini ditegaskan kembali dalam Konsili Vatikan II:

“Sebab perawan Maria, yang sesudah warta Malaikat menerima Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan [Bunda] penebus yang sesungguhnya.” (Lumen Gentium 53)

IV. Sebagai Bunda Allah, Maria dikuduskan Allah dan mengambil peran istimewa dalam rencana keselamatan Allah.

Karena peran Bunda Maria sebagai Bunda Allah ini maka ia dipersiapkan dan dikuduskan oleh Allah. Peran sebagai Bunda Allah dalam rencana keselamatan ini menjadikan Maria sebagai Hawa yang baru, yang bekerja sama dengan Kristus sang Adam yang baru, untuk menyelamatkan manusia. Hal- hal yang berkaitan dengan keistimewaan Bunda Maria sebagai Bunda Allah, dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok: a) persiapan Allah untuk menjadikan Maria sebagai Bunda-Nya b) kerja sama Bunda Maria dalam rencana keselamatan Allah c) buah/hasil yang diterima Maria dari perannya sebagai Bunda Allah.

IV.1 Persiapan Bunda Maria sebagai Bunda Allah

Kepenuhan rahmat Tuhan dalam diri Maria dan martabatnya diperoleh dari perannya sebagai Bunda Allah. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru, dan Tabut Perjanjian Baru. Keberadaan Bunda Maria telah dinubuatkan sejak awal mula, yaitu setelah kejatuhan Adam dan Hawa. Jika melalui Hawa, manusia memperoleh maut, maka melalui Maria, manusia memperoleh hidup kekal di dalam Kristus Tuhan yang dilahirkannya. Untuk misi utamanya sebagai Hawa Baru dan Ibu Tuhan, maka Maria dikuduskan Allah. Dikuduskan di sini artinya dibebaskan dari noda dosa asal, dan karenanya Maria tidak berdosa dan tetap perawan sepanjang hidupnya.

IV.1.a Dasar Kitab Suci: Maria telah dipersiapkan Allah

1. Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” ‘Perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan ular (Iblis) ini adalah Bunda Maria. Karena perannya sebagai sang perempuan yang mengalahkan Iblis ini, maka Maria oleh Allah dibebaskan dari noda dosa; sebab jika ia berdosa/ tercemar oleh Iblis, bagaimana mungkin ia mengalahkan Iblis, seperti disebut dalam Kej 3:15.

Yohanes 2:4; 19:26, juga menyebutkan Maria sebagai ‘perempuan’, dan dengan demikian mengacu pada ‘perempuan’ yang dijanjikan Allah yang akan melahirkan keturunan yang akan meremukkan kepala Iblis, seperti disebutkan pada Kej 3:15.

2. Wahyu 11:19- 12:1-2: Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru

Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.

Selanjutnya, berikut ini adalah ayat-ayat yang menunjukkan perbandingan antara tabut perjanjian lama dengan Maria

2 Sam 6:7; 1 Taw 13:9-10; Tabut Allah adalah sesuatu yang kudus. Pada PL, ketika Uza karena keteledorannya menyentuh tabut itu, Allah menghukumnya dan Uza wafat seketika.

2 Sam 6:16 dengan Luk 1:41: Seperti halnya Raja Daud, Yohanes Pembaptis melompat kegirangan di hadapan Tabut Allah (Bunda Maria).

2 Sam 6:9: “Bagaimana tabut Tuhan itu dapat sampai kepadaku?” dengan Luk 1:43: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

2 Sam 6:11, 1 Taw 13:14 dengan Luk 1:56: Bunda Maria tetap tinggal di rumah persinggahannya selama tiga bulan.

3. Lukas 1:28: Bunda Maria dikatakan sebagai ‘full of grace/ penuh rahmat’ [kecharitomene -bahasa Yunani] pada saat menerima Kabar Gembira dari Malaikat. Kecharitomene sendiri artinya adalah diubahkan seluruhnya oleh rahmat Tuhan, jadi artinya Maria telah disucikan seluruhnya oleh Tuhan sendiri. Dengan demikian Maria dikuduskan bukan baru pada saat menerima kabar gembira (sebab jika demikian ia tidak seluruhnya diubah/ dipenuhi oleh rahmat Allah) melainkan sejak awal mula konsepsinya di dalam rahim ibunya, Allah telah menguduskan dan membebaskannya dari segala noda dosa.

Hal ini diperoleh Maria oleh karena jasa pengorbanan Kristus, hanya saja ia memperoleh lebih dahulu, sebelum orang- orang yang lain, dan bahkan sebelum korban salib Kristus terjadi. Allah yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu berhak memberikan rahmat-Nya menurut kebijaksanaan-Nya.

4. Lukas 1:34: Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami (“I know not man“)?” (Douay Rheims Bible- terjemahan Vulgate)

5. Keluaran 13:2,12; 34:19 dan Lukas 2:7: Anak sulung artinya adalah anak pertama yang lahir dari rahim ibu. Sulung tidak berarti anak pertama dari banyak anak yang lain.

6. Yehezkiel 44:2 “Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab Tuhan Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu harus tetap tertutup.” Nabi Yehezkiel bernubuat bahwa tak seorangpun boleh melalui gerbang yang olehnya Tuhan masuk ke dunia.

7. Markus 6:3: Yesus selalu dikenal sebagai “the son of Mary”/ anak Maria satu- satunya (“the“/ ‘sang’ anak Maria) bukan sekedar “a son of Mary” (anak Maria). Sayangnya perkataan ‘the‘ ini tidak diterjemahkan dalam Kitab Suci terjemahan LAI

8. Lukas 2:41-51: Pada saat Yesus diketemukan di Bait Allah, tidak disebut adanya saudara- saudara Yesus yang lain.

9. Yohanes 19:26-27: Tidak mungkin Yesus menitipkan Ibu-Nya kepada sahabat-Nya (murid yang dikasihi-Nya) jika Ia masih mempunyai saudara kandung.
Yoh 19:25, “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria istri Klopas dan Maria Magdalena.” Ayat ini menjelaskan bahwa karena Maria istri Kleopas adalah saudara Bunda Maria, maka anak Maria istri Kleopas, yang bernama Yakobus dan Yusuf (Mat 27:56 dan Mrk 15:47) adalah saudara sepupu Yesus. Mat 27:61, 28:1 menyebutkan bahwa Maria istri Kleopas sebagai ‘Maria yang lain’/ the other Mary.

IV.1.b. Dasar Tradisi Suci: Maria telah dipersiapkan Allah – Tanpa dosa dan perawan

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan Bunda Maria sebagai seorang yang dipenuhi rahmat Tuhan, Tabut Perjanjian Baru, dan karena itu tidak berdosa. Para Bapa Gereja mengajarkan demikian:

1. St. Irenaeus (180): “Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa]mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, … Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa]mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia…. Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”[15]

2. St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.”[16]

3. Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu- satunya”[17].

4. St. Gregorius (213-270): “Mari menyanyikan melodi yang diajarkan kepada kita oleh inspirasi harpa Raja Daud dan berkata, “Bangunlah, O Tuhan, kepada peristirahatanmu; Engkau, dan tabut tempat kudus-Mu.” Sebab sesungguhnya Sang Perawan Suci adalah sebuah tabut, yang dilapisi emas dari dalam dan luar, yang telah menerima keseluruhan harta dari tempat kudus.”[18]

5. St. Ephraim (361): ”Engkau sendiri dan Bunda-Mu adalah yang terindah daripada semua yang lain, sebab tidak ada cacat cela di dalam-Mu ataupun noda pada Bunda-Mu…[19] “Biarkan para wanita memuji-Nya, Maria yang murni.”[20]

6. St. Athanasius (373), “O, Perawan yang terberkati, sungguh engkau lebih besar daripada semua kebesaran yang lain. Sebab siapakah yang sama dengan kebesaranmu, O tempat kediaman Sang Sabda Allah? Kepada ciptaan mana, harus kubandingkan dengan engkau, O Perawan? Engkau lebih besar daripada semua ciptaan, O Tabut Perjanjian, yang dilapis dengan kemurnian, bukannya dengan emas! Engkau adalah Tabut Perjanjian yang didalamnya terdapat bejana emas yang berisi manna yang sejati, yaitu: daging di mana Ke-Allahan tinggal.”[21]

7. St. Epifanius (376): “Barangsiapa yang menghormati Tuhan, menghormati juga bejana kudus-Nya; mereka yang tidak menghormati bejana kudus itu, juga tidak menghormati Pemiliknya. Maria itulah adalah Perawan yang kudus, yaitu sang bejana kudus itu.”[22]

8. St. Ambrose (387): “Angkatlah tubuhku, yang telah jatuh di dalam Adam. Angkatlah aku, tidak dari Sarah, tetapi dari Maria, seorang Perawan, yang tidak saja tidak bernoda, tetapi Perawan yang oleh rahmat Allah telah dibuat tidak bersentuh dosa, dan bebas dari setiap noda dosa[23]”.

9. St. Gregorius Nazianza (390): “Ia [Yesus] dikandung oleh seorang perawan, yang terlebih dahulu telah dimurnikan oleh Roh Kudus di dalam jiwa dan tubuh, sebab seperti seseorang yang mengandung layak untuk menerima penghormatan, maka pentinglah bahwa ia yang perawan layak menerima penghormatan yang lebih besar.”[24]

10. St. Agustinus (415): “Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya, yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa.”[25]

11. Theodotus (446): “Seorang perawan, yang tak berdosa, tak benoda, bebas dari cacat cela, tidak tersentuh, tidak tercemar, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti setangkai lili yang berkembang di antara semak duri.”[26].

12. Proclus dari Konstantinopel (446): “Seperti Ia [Yesus] membentuknya [Maria] tanpa noda dari dirinya sendiri, maka Ia dilahirkan daripadanya tanpa meninggalkan noda.[27]

13. St. Severus (538): “Ia [Maria] …sama seperti kita, meskipun ia murni dari segala noda, dan ia tanpa noda.”[28].

14. St. Germanus dari Konstantinopel (733), mengajarkan tentang Maria sebagai yang “benar- benar terpilih, dan di atas semua, … melampaui di atas semua dalam hal kebesaran dan kemurnian kebajikan ilahi, tidak tercemar dengan dosa apapun.”[29]

Para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa selain Maria tidak berdosa, ia juga tetap perawan seumur hidupnya, baik sebelum, pada saat, dan setelah melahirkan Kristus. Demikian tulisan mereka:

1. St. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233), Hilarius dari Poiters (m. 367) dan St.Gregorius Nissa (m. 394), mengajarkan tentang keperawanan Bunda Maria.[30]

2. Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.”[31]

3. St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin.[32]

4. St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….”[33]

5. St. Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf.[34]

6. St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya.[35]

“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).”[36] Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.

Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.”[37]

7. St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan”[38]. Paus St. Leo Agung (440-461) :“a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.”[39]. St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: "Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ‘sulung’…. arti kata ‘sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.”[40]

IV.1.c Pengajaran Magisterium Gereja: Maria disucikan dan tetap perawan seumur hidupnya

Atas perannya sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru, Bunda Maria dipersiapkan Allah, sebagai berikut:

1. Maria dikandung tanpa noda, dibebaskan dari dosa asal (De fide)  ((lih. Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, ed. James Canon Bastible, D.D, (Rockford, Illinois: TAN books and publishers, Inc. 1974) p.203)).

Pembebasan dari dosa ini adalah persyaratan yang layak bagi seorang perempuan dan keturunannya, yang akan melawan Iblis (lih. Kej 3:15). Bagaimanakah sang perempuan itu dapat melawan Iblis, jika ia sendiri telah jatuh ke dalam perangkap Iblis itu?

Maka pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX dalam Bulla, “Ineffabilis Deus” mengajarkan doktrin untuk diimani oleh semua umat beriman:

“Dengan rahmat yang unik dan hak istimewa yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh jasa Yesus Kristus Sang Penebus umat manusia, Perawan Maria yang tersuci pada saat konsepsinya, dibebaskan dari segala noda dosa asal.” (D 1641)

2. Sejak di kandungan, Maria dibebaskan dari concupiscence /kecenderungan berbuat dosa (Sententia communis).

Walaupun hal ini bukan merupakan pengajaran de fide, namun para teolog secara umum mengajarkan demikian berdasarkan ajaran St. Thomas Aquinas dalam ST III q. 27, a.3.

3. Akibat dari rahmat yang istimewa dari Tuhan, Maria dibebaskan dari setiap dosa sepanjang hidupnya (Sententia fidei proxima). Konsili Trente (1545-1563) mengajarkan:

“Tidak ada orang yang benar dapat untuk sepanjang hidupnya menghindari semua dosa, bahkan dosa- dosa ringan, kecuali atas dasar hak istimewa dari Tuhan, yang diyakini Gereja diberikan kepada Perawan Maria yang terberkati.” (D 833)

Paus Pius XII dalam surat ensikliknya, Mystici Corporis, tentang Perawan dan Bunda Tuhan, bahwa: “Ia tidak berdosa, baik dosa pribadi maupun dosa asal yang diturunkan.”

4. Maria adalah Perawan, sebelum pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus (De fide).

Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”.[41]

Konsili ini merangkum ajaran-ajaran penting sehubungan dengan ajaran bahwa Yesus, adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Termasuk dalam ajaran ini adalah tentang keperawanan Maria.

Selanjutnya, pemahaman tentang Maria dikuduskan Allah diperoleh dengan memahami perbandingannya dengan Tabut Perjanjian di PL. Jika Tabut Perjanjian Lama saja begitu dikuduskan Allah, betapa Allah akan lebih lagi secara istimewa menguduskan Maria, Tabut Perjanjian Baru, yang mengandung dan melahirkan Kristus, Sang Sabda yang telah menjadi daging, Sang Roti Hidup dan Sang Imam Agung. Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan:

“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan]dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)

Keperawanan Maria termasuk 1) keperawanan hati, 2) kemerdekaan dari hasrat seksual yang tak teratur dan 3) integritas fisik. Namun doktrin Gereja secara prinsip mengacu kepada keperawanan tubuh/ fisik Maria.[42]

5. Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa campur tangan manusia (De fide)

Ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel (lih. Luk 1: 35). Maria mengandung dari Roh Kudus dinyatakan dalam Syahadat Aku Percaya, “Qui conceptus est de Spiritu Sancto.” (D 86, 256,993)

6. Maria melahirkan Putera-Nya tanpa merusak keperawanannya (De fide)

Keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus termasuk dalam gelar, “tetap perawan” yang diberikan kepada Maria oleh Konsili Konstantinopel (553) (D214, 218, 227). Doktrin ini diajarkan oleh Paus Leo I dalam Epistola Dogmatica ad Flavianum (Ep 28,2), disetujui oleh Konsili di Kalsedon, dan diajarkan dalam Sinode Lateran (649). Prinsipnya adalah ajaran dari St. Agustinus (Enchiridion 34) yang mengajarkan dengan analogi- Yesus keluar dari kubur tanpa merusaknya, Ia masuk ke dalam ruangan terkunci tanpa membukanya, menembusnya sinar matahari dari gelas, lahirnya Sabda dari pangkuan Allah Bapa, keluarnya pikiran manusia dari jiwanya.

7. Setelah melahirkan Yesus, Maria tetap perawan (De fide).

Konsili Konstantinopel (553) dan Sinode Lateran menyebutkan gelar “tetap perawan”(D 214, 218, 227). St. Agustinus dan para Bapa Gereja mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34) (Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.

8. Konsili Vatikan II mengajarkan demikian:

“Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula Tradisi yang terhormat, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas … Dalam terang itu ia [Maria] sudah dibayangkan secara profetis dalam janji yang diberikan kepada leluhur pertama [Adam dan Hawa] yang jatuh berdosa. Ia adalah Perawan yang mengandung dan melahirkan seorang Anak laki- laki, yang akan diberi nama Imanuel (lih. Yes 7:14; bdk. Mi 5:2-3; Mat 1:22-23).” (Lumen Gentium 55)

Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dahulu seorang wanita mendatangkan maut, maka kini seorang wanitalah yang mendatangkan kehidupan. Itu secara amat istimewa berlaku tentang Bunda Yesus, yang telah melimpahkan kepada dunia Hidup sendiri yang membaharui segalanya, dan yang oleh Allah danugerahkan kurnia-kurnia yang layak bagi tugas seluhur itu. Maka mengherankan juga, bahwa di antara para Bapa suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus…” (Lumen Gentium 56)

IV.2 Bunda Maria menjalankan perannya sebagai Bunda Allah dan bekerjasama dalam rencana keselamatan Allah.

Dengan menyatakan kesediaannya untuk mengandung dan melahirkan Anak Allah, Bunda Maria bekerjasama dengan Allah dalam rencana keselamatan-Nya. Namun sebelum mengandung Kristus, sesungguhnya ia telah terlebih dahulu mengandung Dia di dalam hatinya. Selanjutnya, Bunda Maria tidak hanya mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus, namun ia juga membesarkan-Nya, menghantar orang lain kepada-Nya, dan dengan setia menyertai-Nya sampai di bawah kaki salib-Nya.

IV.2.a. Dasar Kitab Suci: kerjasama Maria dalam rencana keselamatan Allah

1. Lukas 1:38: Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Ayat ini menunjukkan kesediaan Maria untuk bekerjasama dengan rencana keselamatan Allah.

2. Lukas 2:51: Lalu Ia [Yesus] pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Ayat ini menunjukkan tentang keterlibatan Maria [dan Yusuf]dalam mengasuh dan membesarkan Tuhan Yesus.

3. Yohanes 2:3,5: Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”…. Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

Ayat ini menunjukkan kepedulian Maria akan kebutuhan sesama dan membawa kebutuhan tersebut agar menjadi perhatian Yesus. Selanjutnya Maria menunjukkan agar manusia taat kepada Kristus Puteranya.

4. Markus 3:33-35; Matius 12:46-50; Lukas 8:19-21: Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” …. “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus memuji Maria, pertama- tama sebagai orang yang melakukan kehendak Allah, maka ia dipilih Allah untuk menjadi ibu-Nya.

5. Yohanes 19:25: Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.

Ayat ini menunjukkan kesetiaan Maria menyertai Yesus sampai di kaki salib-Nya.

6. Kejadian 18:22-26, membicarakan tentang perantaraan/ kerja sama Abraham Keluaran 32:30-32, membicarakan tentang perantaraan Nabi Musa yang memohon atas nama bangsa Israel. Jika para nabi ini dapat dipakai Allah untuk menjadi pengantara, maka tidak terkecuali Bunda Maria, yang adalah Ibu Tuhan Yesus sendiri.

7. 1 Korintus 3:9: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Jika para rasul adalah kawan sekerja Allah, apalagi Maria ibu Yesus sendiri.

8. 1 Timotius 2:5;Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Kristus Yesus; Kolose 1:24: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Ayat- ayat ini menunjukkan bahwa Pengantaraan Kristus yang satu- satunya itu melibatkan juga pengantaraan anggota- anggota tubuh-Nya yang lain (secara khusus adalah ibu-Nya sendiri), demi menghantar keseluruhan tubuh kepada keselamatan kekal.

IV.2.b Dasar Tradisi Suci: kerjasama Maria dalam rencana keselamatan Allah

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan Bunda Maria sebagai Hawa yang baru, yang bekerjasama dengan Kristus sebagai Adam yang baru, untuk mendatangkan keselamatan bagi dunia. Maria bekerjasama dengan Kristus, dan mendukung Pengantaraan Kristus dengan doa- doa syafaatnya bagi umat beriman:

1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. “Sebab Hawa yang perawan tak bernoda, percaya kepada perkataan sang ular, [sehingga]membawa ketidaktaatan dan maut. Sedangkan Perawan Maria menerima dengan iman dan suka cita ketika malaikat Gabriel memberikan kabar gembira bahwa Roh Kudus akan turun atasnya dan kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi dia, dan karena itu Putera yang dilahirkannya adalah Putera Allah…[43]

2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”[44]

“Sebab seperti Hawa telah terpedaya oleh perkataan malaikat [fallen angel] untuk melarikan diri dari Tuhan, maka Maria dengan perkataan malaikat menerima kabar gembira bahwa ia akan melahirkan Tuhan dengan menaati Sabda-Nya. [Perempuan] yang pertama terpedaya untuk tidak menaati Tuhan, tetapi [perempuan]yang kemudian terdorong untuk menaati Tuhan, sehingga Perawan Maria dapat menjadi pembela bagi perawan Hawa. Seperti umat manusia ditundukkan kepada kematian melalui [tindakan]seorang perawan, demikianlah umat manusia diselamatkan oleh seorang perawan.”[45]

3. Tertullian (212): “Sebab ketika Hawa masih perawan, perkataan yang sesat merasuki telinganya sehingga membangun kematian. Dengan cara serupa, ke dalam jiwa seorang perawan, haruslah diperkenalkan Sabda Allah yang membangkitkan kehidupan; sehingga apa yang telah dihancurkan oleh jenis kelamin ini, dapat, oleh jenis kelamin yang sama, dipulihkan menuju keselamatan…[46].

4. St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria); sebab oleh karena Hawa kita jatuh, namun karena Maria kita berdiri; karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib Yesus), sebab Kristus tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…” [47].

5. St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.”[48].

6. St. Germanus dari Konstantinopel (733): “Tak seorangpun mencapai keselamatan tanpa melalui engkau, …O yang terkudus. Tak seorangpun menerima karunia rahmat tanpa melalui engkau …O yang termurni.[49]

“Maria, yang tetap Perawan… mediatrix/ pengantara pertama- tama melalui kelahiran yang ilahi [inkarnasi Yesus]dan kini karena doa syafaat bantuan keibuannya– dimahkotai dengan berkat yang tidak pernah berakhir ….[50]

7. St. Yohanes Damaskinus (749): “Hari ini kami tetap di dekatmu, O Bunda Allah dan Perawan. Kami mengikatkan jiwa kami kepada pengharapanmu, seperti kepada jangkar yang paling teguh dan tak terpatahkan, menyerahkan kepadamu, pikiran, jiwa, tubuh dan keseluruhan diri kami dan menghormatimu, sebanyak mungkin, dengan mazmur, lagu pujian dan lagu rohani.”[51]

8. St. Ambrose Autpert (778): “Mari mempercayakan diri kita dengan segala kasih jiwa kita kepada perantaraan Bunda Maria: mari kita, dengan seluruh kekuatan kita memohon perlindungannya, agar, ketika di dunia kita mengelilinginya dengan penghormatan, ia di surga akan berkenan mendukung kita dengan doa- doanya yang khusuk…”[52]

IV.2.c Pengajaran Magisterium Gereja: kerjasama Maria dalam rencana keselamatan Allah

1. Maria adalah Mediatrix/ Pengantara semua rahmat, dengan kerjasamanya di dalam Inkarnasi/ Mediatio in universali (Sententia certa).

Gelar Maria sebagai Co-redemptrix seperti yang muncul di dalam dokumen Gereja di bawah pimpinan Paus Pius X tidak untuk diartikan bahwa tindakan Maria setara dengan tindakan Kristus untuk menebus dunia, sebab hanya Kristus satu- satunya Pengantara (1 Tim 2:5). Bunda Maria sendiri membutuhkan Penebusan Kristus, sebab oleh jasa Kristuslah ia dibebaskan dari noda dosa. Kerjasamanya dalam penebusan Kristus adalah secara tidak langsung, yaitu dengan mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani Sang Penebus, dan di bawah salib Kristus, Maria turut menderita, dan berkorban bersama Kristus.

Konsili Vatikan II (1965) mengajarkan:

“Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia [Maria] memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh S. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia”. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati meyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya” Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria” (Lumen Gentium 56).

“Berdasarkan rencana penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi Hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita bengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.” (Lumen Gentium 61).

Selain mengajarkan bahwa Maria adalah Hawa Baru, para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa Maria adalah pengantara segala rahmat:

St. Bernardus seperti dikutip oleh St. Pius X (1903-1914): “Kristus adalah Sang sumber…. Namun demikian, seperti diajarkan oleh St. Bernard, Maria adalah salurannya, atau ia adalah leher yang menghubungkan Tubuh dengan Kepalanya dan yang menyalurkan kuasa dan kekuatan dari Kepala kepada Tubuh. Sebab ia [Maria] adalah leher dari Kepala kita, yang melaluinya semua karunia- karunia rohani diteruskan dari KepalaNya.”[53].

2. Maria adalah Mediatrix/ Pengantara semua rahmat, dengan doa syafaatnya di Surga/ Mediatio in speciali (Sententia pia et probabilis).

Walaupun belum didefinisikan secara de fide, namun Maria sebagai pengantara segala rahmat telah diajarkan oleh banyak Paus:

Paus Leo XIII (1891), “Dari semua harta rahmat yang telah diberikan Allah, tak ada yang menurut kehendak Tuhan, datang kepada kita kecuali melalui Maria…” (Octobri mense)- D 1940

Paus Pius X (1903): Maria adalah “pembagi (dispenser) semua rahmat, yang telah diperoleh dari Kristus bagi kita oleh kematian dan darah-Nya (D 1978).

Paus Benedict XV (1919), “Semua karunia … diberikan melalui tangan Bunda Maria” (AAS 9, 1917, 266), Maria adalah, “mediatrix semua rahmat.” (AAS 11, 1919, 227)

Paus Pius XI (1937), mengutip St. Bernard, “Adalah kehendak Tuhan bahwa kita menerima segala sesuatu melalui Bunda Maria.” (Ingravescentibus malis, AAS 29, 1937, 373)

3. Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Keibuan Maria dalam tatanan rahmat ini dimulai dengan persetujuannya yang ia berikan di dalam iman pada saat anunsiasi (saat menerima kabar gembira dari malaikat) dan yang dipertahankannya tanpa goyah di kaki salib-Nya, dan berakhir sampai penggenapan kekal dari semua orang terpilih. Setelah diangkat ke surga , ia tidak mengesampingkan tugas penyelamatan, tetapi dengan dosa syafaatnya yang tak terputus, terus menerus membawa bagi kita karunia- karunia keselamatan kekal. Dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air surgawi yang penuh kebahagiaan. Oleh karena itu dalam Gereja Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela, Pembantu, Penolong, Perantara. Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun tidak menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara.” (Lumen Gentium 62)

IV.3. Buah yang diterima Bunda Maria setelah menunaikan tugasnya sebagai Bunda Allah

Peran Bunda Maria sebagai Bunda Allah memberikan buah yang membahagiakan, walaupun tak lepas juga dari penderitaan yang harus ditempuhnya demi kesatuannya dengan Kristus Putera-Nya. Persekutuan yang sempurna antara Bunda Maria dengan Kristus inilah yang membuatnya menjadi kudus, yang paling berbahagia di antara segala yang diciptakan, dan hal ini sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci. Bunda Maria yang dikandung tanpa noda, dan hidup tanpa dosa, kemudian diangkat ke surga oleh Kristus di akhir hidupnya, dan kini dimuliakan di Surga bersama Kristus. Namun bagi kita umat Katolik, hal penghargaan kepada Bunda Maria ini sesungguhnya bukan semata berpusat kepada Maria. Sebab, segala yang terjadi di dalam kehidupan Maria oleh karena rahmat kasih karunia Tuhan merupakan penggenapan janji Allah, yang bukan hanya diperuntukkan bagi Bunda Maria saja, tetapi juga bagi kita semua sebagai anggota Gereja-Nya, pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

Dengan demikian secara garis besar, buah yang diterima oleh Bunda Maria dari perannya sebagai Bunda Allah adalah: a) persatuannya yang sempurna dengan Kristus, yang membuahkan kemiripannya dengan Kristus; b) Maria dimuliakan oleh Kristus, diangkat ke surga dan menjadi ratu Surga; c) Maria menjadi Bunda Gereja, ibu bagi para orang percaya.

IV.3.a. Dasar dari Kitab Suci: hal- hal yang diterima Maria setelah menunaikan tugasnya

1. Mazmur 132:8: “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!”. Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus akan selalu bersama-Nya. Jika Henokh dan nabi Elia dapat diangkat ke surga (lih. Kej 5:24, Ibr 11:5. 2 Raj 1:11-12, 1 Mak 2:58) maka terlebih lagi Kristus dapat melakukan hal itu terhadap Ibu-Nya.

2. Lukas 1:48-49: “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” Peran Maria sebagai Bunda Allah akan menjadikannya dihormati oleh semua orang sepanjang jaman.

3. Lukas 2: 35: Lalu Simeon berkata kepada Maria….” dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Namun Sebagai Bunda Allah, suka citanya tidak terlepas juga dari persatuannya dengan Kristus dalam perderitaan-Nya.

4. Yohanes 19:25-27: Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Tuhan Yesus memberikan Ibu-Nya kepada kita murid- murid yang dikasihi-Nya agar menjadi ibu mereka juga.

5. Yakobus 1:12: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Mahkota kehidupan ini juga disebutkan oleh Rasul Petrus dan Yohanes (1 Pet 5:4; Why 2:10). Mahkota kehidupan inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus kepada umat beriman yang setia sampai mati (Why 2:10). Maria yang telah membuktikan ketaatan imannya sampai akhir, telah menerima mahkota kehidupan itu.

6. Wahyu 12:1: Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.
“Perempuan” yang disebutkan di sini mengacu kepada “perempuan” yang disebutkan pada Kej 3:15 dan Yoh 2:4; 19:26. Seperti halnya Hawa adalah ibu dari segala yang ciptaan yang lama, Maria adalah ibu dari segala mahluk ciptaan yang baru.

Wahyu 12:17: Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.

7. 1 Raja-raja 2: 17-20; Mazmur 45:9, Ratu pada jaman Kerajaan Salomo (anak Daud) bukanlah istri Raja, namun ibunya, yaitu Batsyeba. Ratu Batsyeba mempunyai kedudukan yang penting dalam Kerajaan Salomo, dan ia duduk di sebelah kanan Raja. Bunda Maria adalah Ibu Yesus, Sang Raja keturunan Daud yang dijanjikan Allah. Maka Bunda Maria juga menempati kedudukan istimewa di samping Kristus sang Raja (lih. Neh 2:6).

IV.4.b Dasar Tradisi Suci: hal-hal yang diterima Maria setelah menunaikan tugasnya

1. Persatuan Maria dengan Kristus

a. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan demikian[54]:

“Maria menjaga kesatuannya dengan Putera-Nya bahkan sampai di kayu salib-Nya dengan iman yang sama saat ia menerima kabar gembira dari malaikat. Pada saat itu ia juga mendengar perkataan: “Ia akan menjadi besar …. dan akan disebut Anak Allah yang Maha Tinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja… sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33).

Dan kini, berdiri di kaki salib itu, Maria menjadi saksi, dari sisi pandangan manusia, penyangkalan total dari perkataan ini. Betapa besar, betapa heroik, ketaatan iman yang ditunjukkan Maria dalam menghadapi kebijaksanaan Tuhan yang tak terselidiki! Betapa totalnya ia “memasrahkan dirinya kepada Tuhan” tanpa ada yang ditahan, mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya” kepada Allah yang “jalan- jalan-Nya tak terselidiki” (Rom 11:33)!…

Dengan iman ini Maria bersatu secara sempurna dengan Kristus dalam pengosongan diri-Nya. Sebab Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia,” dan tepatnya di Golgota, “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (lih. Flp 2:5-8). Pada kaki salib itu, Maria mengambil bagian melalui iman, misteri pengosongan diri yang mencengangkan ini. Ini mungkin merupakan “kenosis” iman yang terdalam di dalam sejarah manusia. Melalui iman, Bunda mengambil bagian di dalam kematian Putera-nya yang menyelamatkan; tetapi berbeda dengan iman para rasul yang melarikan diri, imannya jauh lebih terang. Di Golgota, Yesus melalui Salib-Nya jelas meneguhkan bahwa ia menjadi “tanda yang menimbulkan perbantahan” seperti yang dinubuatkan oleh Simeon. Pada saat yang sama, juga di Golgota tergenapi nubuat Simeon atas Maria, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri juga”.[55]

b. Persatuan Yesus dan Bunda Maria terjadi tidak saja pada saat mereka hidup di dunia, namun juga dalam kematiannya, dan seterusnya dalam kehidupan kekal. Origen[56], St. Ephrem[57], St. Jerome[58], St. Agustinus[59] menyebutkan tentang kenyataan tentang kematian Bunda Maria secara sekilas. Namun St. Epiphanus yang menyelidiki tentang kehidupan Bunda Maria mengatakan demikian, “Tidak ada yang tahu bagaimana ia berangkat pergi dari dunia ini.” Namun pada umumnya para Bapa Gereja dan Teolog menerima bahwa Maria, sepertihalnya Tuhan Yesus, juga mengalami kematian; dan hal ini juga ditegaskan dalam liturgi Gereja.

2. Maria diangkat ke surga

a. Pseudo- St. Melito (300): Oleh karena itu, jika hal itu berada dalam kuasaMu, adalah nampak benar bagi kami pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit dengan mulia, maka Engkau seharusnya mengangkat tubuh Bundamu dan membawanya dengan-Mu, dengan suka cita ke dalam surga. Lalu kata Sang Penyelamat [Yesus]: “Jadilah seperti perkataanmu”.[60]

b. Timotius dari Yerusalem (400)
Oleh karena itu Sang Perawan [Maria] tidak mati sampai saat ini, melihat bahwa Ia yang pernah tinggal di dalamnya memindahkannya ke tempat pengangkatannya.[61]

c. Yohanes Sang Theolog (400)
Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dan dari Roh Kudus. Setiap jiwa yang memanggil namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belas kasihan dan ketenangan dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di dunia yang akan datang, di dalam kehadiran Bapa-Ku di Surga”… Dan dari saat itu semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan yang berharga itu telah dipindahkan ke surga[62]

d. St. Gregorius dari Tours (575)
Para Rasul mengambil tubuhnya [jenazah Maria]dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, mengharapkan Tuhan [Yesus] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu diangkat di awan ke surga: di mana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para terpilih Tuhan …[63]

e. Theoteknos dari Livias (600)
Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak, diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia untuk sementara dan diangkat ke surga dengan kemuliaan, dengan jiwanya yang menyenangkan Tuhan.[64]

f. Modestus dari Yerusalem (sebelum 634)
Sebagai Bunda Kristus yang termulia… telah menerima kehidupan dari Dia [Kristus], ia telah menerima kekekalan tubuh yang tidak rusak, bersama dengan Dia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya kepada Diri-Nya dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya.[65]

g. Uskup Theoteknos dari Livias (650)
Adalah layak …. bahwa tubuh Maria yang tersuci, tubuh yang mengandung Tuhan, tempat kediaman Tuhan, yang dijadikan ilahi, tidak rusak, [namun]diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh…. dititipkan sejenak di dunia dan kemudian diangkat ke surga dengan mulia, dengan jiwanya menyenangkan Tuhan.[66]

h. St. Germanus dari Konstantinopel (683)
Engkau adalah ia, …. yang nampak dalam kecantikan, dan tubuhmu yang perawan adalah semuanya kudus, murni, keseluruhannya adalah tempat tinggal Allah, sehingga karena itu dibebaskan dari penguraian menjadi debu. Meskipun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam kehidupan surgawi yang tidak dapat musnah, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan mengambil bagian dalam kehidupan yang sempurna.[67]

i. St. Yohanes Damaskinus (697)
Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya. Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya, dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan.[68].

j. Gregorian Sacramentary (795)
“Terhormat bagi kami, O Tuhan, perayaan hari ini, yang memperingati Bunda Allah yang kudus yang meninggal dunia untuk sementara waktu, namun tetap tidak dapat dijerat oleh maut, yang telah melahirkan Putera-Mu, Tuhan kami yang menjelma dari dirinya.”[69]

k. Gallican Sacramentary (abad ke-8)
“Sebuah misteri yang tak terlukiskan yang paling layak untuk dipuji seperti diangkatnya Perawan Maria ke surga, adalah sesuatu yang unik di antara umat manusia.”[70]

l. Liturgi Byzantin (abad ke-8)
“Tuhan, Raja semesta alam, telah memberikan rahmat yang melampaui kodrat. Seperti Ia telah memelihara keperawananmu pada saat kelahiran-Nya, Ia menjaga tubuhmu agar tidak rusak di kubur dan telah memuliakannya dengan perbuatan-Nya yang ilahi dengan memindahkannya dari kubur.”[71]

3. Maria menjadi ibu Gereja

a. Origen (244)
Putera Maria hanya Yesus sendiri; dan ketika Yesus berkata kepada Ibu-Nya, “Lihatlah, anakmu,” seolah Ia berkata, “Lihatlah orang ini adalah Yesus sendiri, yang engkau lahirkan.” Sebab setiap orang yang dibaptis, hidup tidak lagi dirinya sendiri, tetapi Kristus hidup di dalamnya. Dan karena Kristus hidup di dalamnya, perkataan kepada Maria ini berlaku baginya, “Lihatlah anakmu- Kristus yang diurapi.”[72]

b. St. Ephrem dari Syria (306- 373)
“Kelahiran-Mu yang ilahi, O Tuhan, melahirkan semua ciptaan;
Umat manusia dilahirkan kembali darinya [Maria], yang melahirkan Engkau.
Manusia melahirkan Engkau di dalam tubuh; Engkau melahirkan manusia di dalam roh…”[73]

c. St. Agustinus (416)
“Maria adalah sungguh ibu dari anggota- anggota Kristus, yaitu kita semua. Sebab oleh karya kasihnya umat manusia telah dilahirkan di Gereja, [yaitu]para umat beriman yang adalah Tubuh dari Sang Kepala, yang telah dilahirkannya ketika Ia menjelma menjadi manusia.”[74]

d. Paus Pius X (1903- 1914)
“Bukankah Maria adalah Bunda Yesus? Oleh karena itu ia adalah bunda kita juga…. Maria yang mengandung Sang Juruselamat dalam rahimnya, dapat dikatakan juga mengandung mereka yang hidupnya terkadung di dalam hidup Sang Juruselamat. Karenanya, kita semua … telah dilahirkan dari rahim Maria sebagai tubuh yang bersatu dengan kepalanya. Oleh karena itu, dalam pengertian rohani dan mistik, kita disebut sebagai anak- anak Maria, dan ia adalah Bunda kita semua.[75]

4. Maria menjadi Mediatrix (perantara) dengan doa syafaatnya di Surga

1. St. Irenaeus (180):
“Sebab Hawa terpedaya oleh perkataan malaikat [Iblis = fallen angel] untuk lari dari Tuhan, memberontak melawan Sabda-Nya, namun Maria menerima dengan gembira perkataan malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan, dengan menaati Sabda-Nya. Yang pertama terpedaya untuk tidak taat kepada Tuhan, sedangkan yang kedua terpengaruh untuk menaati Tuhan, sehingga Perawan Maria dapat menjadi pembela bagi perawan Hawa. Seperti umat manusia tunduk kepada kematian melalui tindakan seorang perawan maka ia diselamatkan oleh seorang perawan.[76]

2. Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir, (abad ke 3):
“Di bawah belas kasihanmu kami berlindung, O bunda Allah. Jangan menolak permohonan kami di dalam kekurangan, tetapi bebaskan kami dari bahaya, (o engkau) satu- satunya yang murni dan terberkati.”[77]

3. St. Gregory Nazianza (379)
“Ingatlah akan hal- hal ini dan kesempatan- kesempatan yang lain dan mohonlah kepada Perawan Maria untuk memberikan bantuan, sebab ia juga, adalah seorang perawan dan pernah berada di dalam bahaya ….”[78]

4. St. Cyril dari Alexandria (380)
“Salam kepadamu Maria, Bunda Allah, kepadamu dibangun gereja- gereja jemaat sejati, di desa- desa dan pulau- pulau.”[79]

5. St. Basil dari Seleucia (459)
O Perawan yang kudus …. Lihatlah kepada kami dan berbaik hatilah kepada kami. Pimpinlah kami di dalam kedamaian … ke sisi kanan Putera-Mu…[80]

6. Theoteknos dari Livias (560)
“Diangkat ke surga, ia tetap menjadi tempat pertahanan yang tak tergoyahkan bagi umat manusia, [sebagai]pendoa syafaat bagi kita di hadapan Allah Putera.”[81]

7. St. Germanus dari Konstantinopel (733)
“Maria tetap Perawan — pertama- tama sebagai mediatrix (pengantara) melalui peristiwa melahirkan [Kristus] yang supernatural, dan sekarang sebagai mediatrix karena bantuan keibuannya melalui doa syafaat—[82]

8. St. Yohanes Damaskinus (749)
“Kini kami tetap di dekatmu, … O Bunda Allah dan Perawan. Kami mengikatkan jiwa kami kepada pengharapanmu, seperti kepada jangkar yang teguh dan tak terpatahkan, menyerahkan kepadamu akal budi, jiwa, tubuh dan segalanya, untuk menghormatimu…[83].

9. Ambrosius Autpert (778)
Marilah kita mempercayakan diri kita dengan kasih jiwa kita kepada doa syafaat Perawan yang terberkati: dengan segenap kekuatan kita, memohon perlindungannya agar, ketika di dunia kita mengelilinginya dengan penghormatan, ia sendiri di surga dapat berkenan mendukung kita dengan doa- doanya….[84]

IV.4.c Pengajaran Magisterium Gereja: hal-hal yang diterima Maria setelah menunaikan tugasnya[85]

1. Maria meninggal dunia sementara/ a temporal death (Sententia. communior).

Walaupun pengajaran ini tidak bersifat de fide, namun banyak teolog memperkirakan bahwa ia wafat sementara sebelum diangkat ke surga. (St. Augustine, in Ioan tr.8, 9) Bagi Maria yang tidak berdosa, kematian yang dialaminya bukan karena akibat dosa asal ataupun dosa pribadi. Namun adalah layak bagi tubuh Maria, yang secara kodrati bersifat mortal/ tidak abadi, harus sesuai dengan yang terjadi pada tubuh Putera-Nya, yang juga tunduk kepada kematian. Dengan demikian Bunda Maria mengalami apa yang juga dialami oleh Kristus.

2. Maria diangkat tubuh dan jiwanya ke Surga (De fide)

Paus Pius XII dalam Konstitusi Apostoliknya yaitu Munificentissimus Deus (dipromulgasikan 1 November 1950) mengajarkan:

“Maria, Bunda yang tak bernoda dan tetap Perawan Bunda Allah, setelah selesai hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.”

Di sini memang tidak disebutkan apakah Bunda Maria wafat terlebih dahulu sebelum diangkat ke surga atau ia diangkat tanpa mengalami kematian.

3. Maria, Bunda Allah, dihormati secara khusus, dengan istilah Hyperdulia (Sententia certa).

Penghormatan kepada Maria disebabkan karena perannya sebagai Bunda Allah. Hal ini diajarkan oleh St. Cyril dari Alexandria pada Konsili Efesus (431). Namun tentu saja penghormatan ini harus dibedakan dengan penyembahan. St. Epiphanus (403) mengajarkan, “Maria harus dihormati, tetapi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus harus disembah. Tak seorangpun boleh menyembah Maria.”[86].

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Berkat rahmat Allah Maria diangkat di bawah Puteranya, di atas semua malaikat dan manusia, sebagai Bunda Allah yang tersuci, yang hadir pada misteri-misteri Kristus; dan tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan penghormatan yang istimewa. Memang sejak zaman kuno Santa Perawan dihormati dengan gelar “Bunda Allah”; dan dalam perlindungannya umat beriman memperoleh perlindungan dari bahaya serta kebutuhan mereka.” (Lumen Gentium 66)

4. Maria adalah Mediatrix/ Pengantara semua rahmat, dengan doa syafaatnya di Surga (Mediatio in speciali). Ini diperolehnya karena persatuannya yang sempurna dengan Kristus.

Konsili Vatikan II mengajarkan:

Setelah diangkat ke surga , ia tidak mengesampingkan tugas penyelamatan, tetapi dengan doa syafaatnya yang tak terputus, terus menerus membawa bagi kita karunia- karunia keselamatan kekal…” (Lumen Gentium 62).

“Karena kurnia serta peran keibuannya yang ilahi, yang menyatukannya dengan Puteranya Sang Penebus, pun pula karena segala rahmat serta tugas-tugasnya, Santa Perawan juga erat berhubungan dengan Gereja. Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus.” (Lumen Gentium 63)

5. Maria dihormati di surga sebagai Ratu alam semesta

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (Lumen Gentium 59)

6. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda umat beriman.

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Ia [Maria] dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi. Namun sebagai keturunan Adam, ia termasuk golongan semua orang yang harus diselamatkan. Bahkan “ia [Maria] memang Bunda para anggota (Kristus). Karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu”. Oleh karena itu ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Menganut bimbingan Roh Kudus Gereja Katolik menghadapinya penuh rasa kasih-sayang sebagai bundanya yang tercinta.” (Lumen Gentium 53)

“Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia [Maria] menjadi Bunda kita.” (Lumen Gentium 61)

V. Pengaruh doktrin Maria kepada kita umat beriman

V.1 Ketaatan dan kekudusan Maria: teladan kita

Ketaatan Maria menjadi contoh bagi kita, demikian juga dengan kekudusannya.

1. Ketaatan iman Maria ini bahkan dapat dibandingkan dengan ketaatan Bapa Abraham, sebagai bapa umat beriman. Ketaatan iman Abraham menandai Perjanjian Lama, sedangkan ketaatan Maria menandai Perjanjian Baru. Ketaatan iman Maria sampai di kaki salib Kristus mendorong kita juga untuk taat sampai akhirnya, bahkan ketika ‘tidak ada dasar untuk berharap’ (lih. Rom 4:18).

Ketaaatan Bunda Maria ini mencakup ketaatan dalam mendengarkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya (lih. Luk 8:21). Kita patut mencontoh Bunda Maria yang taat dan setia sepanjang hidupnya, ketaatan yang membawanya berdiri mendampingi Yesus sampai di kaki salib-Nya.

2. Kekudusan Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru juga menjadi teladan bagi kita. Sebab dengan tingkatan yang berbeda, sebenarnya kitapun menjadi tabut/ bait Allah (1 Kor 3:16; 6:19), terutama pada saat kita menyambut Kristus dalam Ekaristi kudus. Seharusnya, seperti Maria yang bergegas melayani Elizabeth, maka kita, setelah ‘mengandung’ Kristus di dalam tubuh kita, selayaknya bergegas melayani sesama yang membutuhkan.

Tentang Maria sebagai teladan ketaatan dan kekudusan bagi umat beriman, Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Namun sementara dalam diri Santa perawan Gereja telah mencapai kesempurnaannya yang tanpa cacat atau kerut (lih. Ef 5:27), kaum beriman kristiani sedang berusaha mengalahkan dosa dan mengembangkan kesuciannya. Maka mereka mengangkat pandangannya ke arah Maria, yang bercahaya sebagai pola keutamaan, menyinari segenap jemaat para terpilih.” (Lumen Gentium 65)

V.2. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita umat beriman

Ajaran tentang Tubuh Mistik Kristus yang disampaikan oleh Rasul Paulus (lih. Kol 1:18, Ef 4:15) menyatakan bahwa Kristus adalah Sang Kepala dan Gereja adalah Tubuh Kristus. Oleh karena itu, Maria, dengan mengandung Kristus, juga mengandung semua umat beriman yang adalah anggota dari Tubuh yang sama. Dengan demikian, Maria disebut sebagai Bunda rohani kita.

Bunda rohani di sini tidak saja dalam arti ibu yang melahirkan kita secara rohani, tetapi juga ibu yang memelihara dan membimbing kita. Saat ini Bunda Maria masih menyertai kita dengan doa- doa syafaatnya untuk membimbing kita sampai ke surga.

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Hendaklah segenap Umat kristiani sepenuh hati menyampaikan doa-permohonan kepada Bunda Allah dan Bunda umat manusia, supaya dia, yang dengan doa-doanya menyertai Gereja pada awal-mula, sekarang pun di sorga – dalam kemuliaannya melampaui semua para suci dan para malaikat, dalam persekutuan para kudus – menjadi pengantara kepada Puteranya, sampai semua keluarga bangsa-bangsa, entah yang ditandai dengan nama kristiani, entah yang belum mengenal Sang Penyelamat, dapat dihimpun bersama dengan kebahagiaan dalam damai dan kerukunan menjadi satu Umat Allah, demi kemuliaan Tritunggal yang Mahakudus dan Esa yang tak terbagi.” (Lumen Gentium 69).

V.3 Karena Maria adalah Ibu dan Perawan, maka Gereja juga adalah Ibu dan Perawan

Roh Kudus yang menaungi Bunda Maria, juga turun pada saat Pembaptisan. Rahmat ini memberikan kekuatan kepada mereka yang dipanggil kepada hidup selibat bagi Allah. Kehidupan semacam ini merupakan gambaran utama persatuan yang murni antara kodrat ilahi dan manusia di dalam rahim Sang Perawan dan misteri Gereja yang agung. Inilah yang dimaksud oleh St. Ambrosius ketika ia mengatakan: “Tuhan menampakkan diri-Nya di dalam daging dan di dalam diri-Nya menggenapi perkawinan antara Tuhan dan kemanusiaan dan sejak itu keperawanan kekal dari kehidupan surga telah menemukan tempatnya di antara manusia. Bunda Kristus adalah seorang Perawan, dan karena itu, mempelai-Nya, yaitu Gereja, juga adalah Perawan.”[87]

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut Bunda dan perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu.” (Lumen Gentium 63)

“Adapun Gereja sendiri – dengan merenungkan kesucian Santa Perawan yang penuh rahasia serta meneladan cinta kasihnya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dengan patuh, dengan menerima sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan, Gereja melahirkan hidup baru yang kekal-abadi bagi putera-puteri yang dilahirkannya dalam Pembaptisan, yang dikandung oleh Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun adalah perawan, yang dengan utuh murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai [yaitu Kristus]. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan keutuhan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya.” (Lumen Gentium 64)

Keperawanan Gereja secara khusus digambarkan/ dinyatakan oleh keperawanan mereka yang memilih jalur hidup selibat untuk Kerajaan Allah. Hal ini diajarkan oleh St. Gregorius Nissa,

“…bahwa kemurnian adalah indikasi yang penuh tentang kehadiran Tuhan dan kedatangan-Nya, dan tak seorangpun pada kenyataannya yang dapat menjamin hal ini, tanpa ia mengasingkan diri dari nafsu kedagingan. Apa yang terjadi pada Maria yang tidak bernoda ketika kepenuhan Allah Bapa yang ada di dalam Kristus bersinar melalui dia, hal itu terjadi pada setiap jiwa yang memilih jalan hidup selibat/ keperawanan.”[88]

Dengan demikian, para religius mempunyai peran yang sangat penting untuk menjadi gambaran teladan keibuan dan keperawanan Gereja. Dengan kaul keperawanan, para religius secara khusus mengikuti teladan Bunda Maria, yang mempersembahkan seluruh hidup dan kasihnya kepada Allah; dan dengan demikian menjadi gambaran kasih ilahi itu sendiri yang melibatkan pemberian diri seutuhnya, baik kepada Allah dan sesama.

V.4. Pengangkatan Maria: gambaran akhir kita kelak

Pengangkatan Bunda Maria dan dimahkotainya di Surga, memberi gambaran akan penerapan rahmat kemenangan yang diperoleh Kristus kepada Bunda Maria, yang merupakan murid-Nya yang terbesar. Pengangkatan dan pemberian mahkota ini juga memberikan gambaran akan apa yang akan dan dapat kita peroleh (tentu dengan derajat yang lebih rendah dengan yang dicapai oleh Bunda Maria) di akhir nanti, jika kitapun setia menjadi murid Kristus. Pengangkatan Bunda Maria memberi gambaran akan kebangkitan badan di akhir jaman (lih. Yoh 6:39; lih. Munificentissimus Deus 42). Peristiwa Maria dimahkotai di surga memberikan gambaran akan pemberian mahkota surgawi/ mahkota kehidupan kepada anak- anak Allah yang berhasil memenangkan perlombaan iman, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus (lih 1 Kor 9:24-25; 2 Tim 4:8), dan oleh Rasul Yakobus (Yak 1:12) dan Rasul Yohanes (Why 2:10).

Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Sementara itu, seperti halnya Bunda Yesus yang telah di muliakan di sorga dengan badan dan jiwanya, adalah gambaran dan permulaan Gereja yang harus mencapai kesempurnaannya di masa yang akan datang, begitu pula di dunia ini ia [Maria] menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan (lih. 2Ptr 3:10).” (Lumen Gentium 68)

VI. Appendix:

A. Ayat- ayat Kitab Suci yang paling sering dikutip untuk mempertanyakan kekudusan dan keperawanan Maria

1. Matius 13:55, Markus 6:3 “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?”

Di dalam Alkitab, istilah “saudara” dipakai untuk menjelaskan banyak arti. Kata “saudara” memang dapat berarti saudara kandung, namun dapat juga berarti saudara seiman (Kis 21:7), saudara sebangsa (Kis 22:1), ataupun kerabat, seperti pada kitab asli bahasa Ibrani yang mengatakan Lot sebagai saudara Abraham (Kej 14:14), padahal Lot adalah keponakan Abraham.

Jadi untuk memeriksa apakah Yakobus dan Yusuf itu adalah saudara Yesus, kita melihat kepada ayat-ayat yang lain, yaitu ayat Matius 27:56 dan Markus 15:40, yang menuliskan nama-nama perempuan yang ‘melihat dari jauh’ ketika Yesus disalibkan. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat 27:56); atau Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda, Yoses dan Salome (Mrk 15:40). Alkitab menunjukkan bahwa Maria ibu Yakobus ini tidak sama dengan Bunda Maria. Maria ibu Yakobus dan Yoses (Yusuf) dicatat dalam Alkitab sebagai salah satu wanita yang menyaksikan penyaliban Kristus (Mt 27:56; Mk 15:40) dan kubur Yesus yang kosong/ kebangkitan Yesus (Mk 16:1; Lk 24:10)

Mungkin yang paling jelas adalah kutipan dari Injil Yohanes, yang menyebutkan bahwa yang hadir dekat salib Yesus adalah, Bunda Maria, saudara Bunda Maria yang juga bernama Maria, istri dari Klopas, dan Maria Magdalena (Yoh 19:25). Jadi di sini jelaslah bahwa Maria (saudara Bunda Maria) ini adalah istri Klopas/ Kleopas[89], yang adalah juga ibu dari Yakobus dan Yoses. Kesimpulannya, Yakobus dan Yoses ini bukanlah saudara kandung Yesus.

2. Matius 1:24-25: Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki …

Banyak saudara-saudari kita dari gereja lain mengartikan ayat ini bahwa Maria tidak lagi perawan setelah melahirkan Yesus. Kata kuncinya di sini adalah kata ’sampai’. Di dalam Alkitab, kata ‘sampai‘ ini tidak selalu berarti diikuti oleh perubahan kondisi setelah itu. Kata sampai (‘heos’- Yunani) hanya mau menunjukkan bahwa ada kondisi yang terjadi sampai satu titik tertentu. Contoh, pada 1 Kor 15:25, dikatakan, “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.” Hal ini tidak bermaksud bahwa setelah Yesus mengalahkan musuh-Nya Ia tidak lagi menjadi Raja.

Lihat juga konteks serupa pada ayat 1 Tim 4:13; agar jemaat bertekun membaca Kitab Suci, dalam pengajaran sampai kedatangan Rasul Paulus. Tetapi tidak berarti bahwa setelah Rasul Paulus datang, lalu umat tidak lagi perlu tekun membaca Kitab Suci dan dalam pengajaran.  Juga pada Mat 28:19-20 dikatakan pada pesan terakhir Yesus sebelum naik ke surga kepada para rasul-Nya, “….. Ketahuilah bahwa Aku akan menyertaimu senantiasa sampai kepada akhir jaman”. Ini juga tidak untuk diartikan bahwa setelah kedatangan-Nya kembali pada akhir jaman, lalu kemudian Ia tidak akan menyertai para rasul-Nya. Ada banyak lagi ayat di Kitab Suci yang mempergunakan kata “sampai” namun tidak berarti bahwa setelah terpenuhi, lalu kondisi yang mensyaratkannya tidak lagi berlaku.

St. Yohanes Krisostomus (370) mengajarkan, “…ia [Yusuf] tidak bersetubuh dengan dia [Maria] sampai ia melahirkan seorang anak laki- laki (Mat 1:23). Kata ‘sampai’ digunakan di sini, [namun]jangan kamu kira bahwa sesudahnya Yusuf bersetubuh dengan Maria, tetapi bahwa sebelum kelahiran, sang Perawan seutuhnya tidak pernah disentuh oleh laki- laki.”[90]

3. Lukas 2:7: …dan ia (Maria) melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin…

Kata kunci di sini adalah, ’sulung’. Sulung di sini tidak berarti bahwa Yesus kemudian mempunyai adik-adik. ‘Sulung’ di dalam Alkitab menerangkan hak istimewa dari seseorang. Contoh, pada Kitab Mazmur, Allah menyebut Daud ‘anak sulung’ (Mzm 89:28), meskipun Daud adalah anak ke-8 dari Isai (1 Sam 16).

Allah menyebut bangsa Israel disebut sebagai anak yang sulung (Kel 4:22). Kristus disebut ’sulung’ adalah untuk menunjukkan bahwa Ia adalah ‘Israel’ yang baru, yang menjadi yang sulung dari banyak saudara (Rom 8:29), yang sulung dari segala ciptaan (Kol 1:15).

4. Roma 3:23: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…”

Ayat ini sering dikutip oleh umat Protestan untuk menyatakan bahwa semua orang berdosa, termasuk Bunda Maria. Namun sebenarnya kita perlu melihat konteksnya. Sebelum Rom 3:23, di ayat 9 dan 10 Rasul Paulus mengatakan, “mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Sebenarnya di sini Rasul Paulus mengutip Mazmur 14, khususnya ayat 3, “Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Mazmur 14 ini ditulis Raja Daud yang menyampaikan ratapannya tentang besarnya pemberontakan bangsa Israel. Sebab musuh Raja Daud pada saat Mazmur itu ditulis, tidak lagi hanya bangsa-bangsa non Yahudi, tetapi bangsa Yahudi itu sendiri, bahkan orang terdekat dan anggota keluarganya sendiri, Saul dan Absolom. Maka Raja Daud menggunakan kata “semua” adalah dalam konteks menyatakan semua golongan, baik Yahudi maupun non Yahudi- dan bukan bermaksud untuk menyatakan semua orang. Jadi di sini digunakan gaya bahasa hiperbolisme. Kita ketahui demikian, karena segera sesudah menyebutkan “semua orang melakukan kejahatan”, Raja Daud menyebutkan “umat-Ku” (ay. 4) dan “angkatan yang benar” (ay.5). Kalau semua orang (dalam arti setiap orang tanpa kecuali) adalah jahat seperti yang disebutkan pada ayat 3 tersebut, siapa yang disebut Raja Daud sebagai “angkatan yang benar” tersebut? Sama konteksnya dengan perkataan Raja Daud, Rasul Paulus juga mengatakan “semua” dalam ayat Rom 3:23 dalam arti semua golongan telah berdosa terhadap Tuhan, tidak hanya orang-orang non- Yahudi, namun orang Yahudi juga. Jadi yang ingin disampaikan di sini adalah, tidak adanya beda antara orang yang bersunat dan tidak bersunat, kedua kelompok itu mempunyai dosa- dosa yang dilakukan oleh pribadi- pribadi di dalamnya, dan keduanya memerlukan kasih karunia Allah untuk dibenarkan di dalam iman akan Yesus Kristus.

Jadi perikop ini tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa” dalam arti mutlak. Sebab Yesus adalah perkecualiannya, dan anak- anak yang di bawah umur (under the age of reason) juga demikian. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria juga termasuk kekecualian dalam hal ini. Dengan demikian, gaya bahasa yang digunakan di sini adalah hiperbolisme, dengan pesan utama yang hendak disampaikan, bahwa secara umum manusia dari segala golongan, telah berbuat dosa.

5. Matius 15:1-9 dan Yohanes 19:27: Dalam Injil Matius bab 15, Yesus mengecam orang-orang Farisi yang mempersembahkan korban tetapi kemudian menelantarkan orang tua mereka. Hukum pada Perjanjian Lama seharusnya mewajibkan seorang anak untuk menanggung orang tuanya, sehingga praktek orang Farisi yang melanggar hal ini membuat Yesus menyebut mereka sebagai ‘munafik’ (Mat 15:1-7).

Dalam Yoh 19:26-27, pada saat Yesus disalibkan, Yesus memberikan Maria ibu-Nya kepada Yohanes (anak Zebedeus) rasul yang dikasihi-Nya, yang bukan saudara-Nya. Seandainya Yesus mempunyai adik-adik, seperti yang dianggap oleh gereja Protestan, perbuatan Yesus ini sungguh tidak masuk di akal. Yesus yang mengecam orang Farisi yang menelantarkan orang tuanya, tidak mungkin menyebabkan saudara-Nya sendiri menelantarkan ibu-Nya. Kenyataan bahwa Yesus mempercayakan Maria kepada Yohanes adalah karena Ia tidak mempunyai saudara kandung, karena Bapa Yusuf-pun telah meninggal dunia, dan Yesus tidak mau meninggalkan ibu-Nya sebatang kara.

6. Lukas 1:34: Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?”

Ayat ini sesungguhnya merupakan terjemahan dari, “How shall this be, since I have no husband” (RSV) atau, “I am a virgin” (Jerusalem Bible), atau “I know not man” (Duoay -Rheims terjemahan dari Vulgate). Sesungguhnya terjemahan yang benar adalah aku tidak bersuami (jika mengikuti RSV), atau aku seorang perawan (Jerusalem Bible) atau aku tidak mengenal/ berhubungan dengan laki-laki (D-R). Kalimat ini hanya masuk akal jika Maria telah memiliki kaul keperawanan -meskipun pada saat itu ia sudah bertunangan dengan Yusuf- karena, jika tidak demikian, pernyataan ini akan terdengar ‘ganjil’. Sebagai contoh, jika seseorang ditawari rokok, dan ia menjawab ’saya tidak merokok’, maka maksudnya adalah ’saya tidak pernah merokok’, dan bukan ’saya tidak sedang merokok sekarang’.[91]

B. Pengajaran dari para pendiri gereja Protestan tentang Bunda Maria:

Banyak orang tidak menyangka bahwa sebenarnya para pendiri gereja Protestan sesungguhnya juga menghormati Bunda Maria. Berikut ini beberapa cuplikan ajaran mereka, seperti yang saya kutip dari buku karangan Robert Payesko[92]

Martin Luther:

Maria Bunda Allah:

“Rasul Paulus (Gal 4:4) mengatakan, “Tuhan mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan.” Perkataan ini yang kupegang sebagai kebenaran, sungguh- sungguh menegaskan dengan teguh bahwa Maria adalah Bunda Allah.”[93]

“Konsili tersebut [Efesus] tidak menyampaikan sesuatu yang baru tentang iman, tetapi telah memperkuat iman lama, melawan kesombongan baru Nestorius. Artikel iman ini- bahwa Maria adalah Bunda Allah- sudah ada di dalam Gereja sejak awal dan bukan merupakan kreasi baru dari Konsili, tetapi presentasi dari Injil dan Kitab Suci.”[94]

“Ia [Maria] layak disebut tidak saja sebagai Bunda Manusia, tetapi juga Bunda Allah … Adalah pasti bahwa Maria adalah Bunda dari Allah yang nyata dan sejati.”[95]

Maria Tetap Perawan:

“Adalah artikel iman bahwa Maria adalah Bunda Tuhan dan tetap Perawan.”[96].

Kepada Helvidius yang meragukan keperawanan Maria, dengan menganggap bahwa Maria mempunyai anak- anak lain selain Yesus, Luther menjelaskan bahwa mereka bukan saudara kandung Yesus:

Setelah Maria “mengetahui bahwa ia adalah Bunda dari Allah Putera, ia tidak ingin untuk menjadi ibu dari anak manusia, tetapi ia tetap di dalam rahmat karunia itu.”[97]

“Tidak diragukan lagi, tidak ada seorangpun yang begitu berkuasa yang, menggantungkan pada pemikirannya sendiri, tanpa Kitab Suci, akan beranggapan bahwa ia [Maria] tidak tetap perawan.”[98]

Maria dikandung tanpa noda:

“Tetapi konsepsi yang lain, yaitu pada saat penghembusan jiwa, adalah layak dan khidmat untuk dipercaya, ia tidak mempunyai dosa, sehingga ketika jiwanya dihembuskan, ia [Maria] pada saat yang sama dibersihkan dari dosa asal dan dikurniai karunia- karunia Tuhan untuk menerima jiwa yang dihembuskan. Oleh karena itu, pada saat ia mulai hidup, ia tidak mempunyai dosa sedikitpun….”[99]

“Tuhan telah membentuk tubuh dan jiwa Perawan Maria penuh dengan Roh Kudus, sehingga ia tanpa segala dosa, sebab ia telah mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus.”[100].

Maria diangkat ke surga:

“Tidak dapat diragukan lagi bahwa Perawan Maria berada di surga. Bagaimana sampai terjadi demikian, kita tidak tahu.”[101]

Penghormatan kepada Maria:

“Penghormatan kepada Maria tertulis dalam kedalaman hati manusia yang terdalam.”[102].

“Apakah hanya Kristus sendiri yang patut disembah? Atau apakah Bunda Tuhan yang suci tidak patut dihormati? Ini adalah sang perempuan yang menghancurkan kepala Sang Ular [Iblis]. Dengarkanlah kami. Sebab Putera-Mu tidak akan menolak apapun dari-Mu.”[103].

Gambar Maria

Seseorang tidak dapat memahami hal- hal spiritual kecuali jika gambar- gambar dibuat tentang mereka.”[104]

“Tidak ada yang lain yang dapat disimpulkan dari perkataan: “Jangan kamu mempunyai allah- allah lain di hadapan-Ku”, kecuali apa yang berkaitan dengan berhala. Tetapi gambar- gambar ataupun patung-patung dibuat tanpa berhala, pembuatan benda- benda tersebut tidak dilarang.”[105]

“Kalau saya telah melukis gambar di dinding dan saya melihatnya tanpa berhala, maka hal itu tidak dilarang bagi saya, dan seharusnya tidak diambil dari saya.”[106]

Maria Bunda semua orang Kristen

“Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan bunda kita semua. Kalau Kristus adalah milik kita, kita harus berada di mana Ia berada; dan semua yang menjadi milik-Nya pasti menjadi milik kita, dan oleh karena itu ibu-Nya juga adalah ibu kita.”[107].

“Kita semua adalah anak- anak Maria.”[108].

John Calvin

Maria Bunda Allah

“Elisabet memanggil Maria Bunda Allah, karena kesatuan kedua kodrat dalam pribadi Kristus adalah sedemikian sehingga manusia yang mortal yang ada dalam rahim Maria adalah juga pada saat yang sama Allah yang kekal.”[109].

Maria tetap perawan

“Helvidius telah menunjukkan dirinya sendiri sebagai seorang yang bebal, dengan mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak- anak, sebab ada disebutkan dalam beberapa perikop tentang saudara- saudara Kristus.”[110]

Calvin sendiri mengartikan “saudara- saudara” ini artinya saudara sepupu atau saudara bukan saudara kandung (relatives).

Penghormatan kepada Maria

“Tidak dapat diingkari bahwa Tuhan, dengan memilih dan menentukan Maria sebagai Bunda Putera-Nya, telah mengaruniakannya penghormatan yang tertinggi.”[111].

“Sampai pada saat ini kita tidak dapat menikmati rahmat yang diberikan kepada kita di dalam Kristus, tanpa pada saat yang sama berpikir bahwa Tuhan telah memberikan sebagai hiasan dan penghormatan kepada Maria, dengan menghendakinya sebagai ibu dari Putera-Nya yang tunggal.”[112]

Teladan Maria

“Mari bertindak seperti Bunda Maria dan berkata, “Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” …. Kita melihat di sini pengajaran yang diberikan kepada kita oleh Perawan Maria yang menjadi bagi kita seorang guru yang baik, asalkan kita mengambil keuntungan dari pelajaran- pelajarannya sebagai pengajaran bagi kita.”[113]

Zwingli

Maria Bunda Allah

“Telah diberikan kepada-Nya apa yang tidak dimiliki oleh ciptaan yang lain, bahwa di dalam dagingnya, Ia melahirkan Allah Putera.”[114]

“Aku sangat yakin bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil sebagai seorang Perawan murni yang melahirkan bagi kita Putera Allah dan pada saat melahirkan dan setelah melahirkan selamanya tetap murni, tetap perawan.[115]

Maria Tetap Perawan

“Saya sangat menghargai Bunda Allah, Sang Perawan Maria yang tidak bernoda dan tetap perawan.”[116].

“Kristus… dilahirkan dari Perawan yang paling tidak bernoda.”[117]

“Adalah layak bahwa Sang Anak yang kudus harus mempunyai seorang Bunda yang kudus.”[118]

“Semakin banyak penghormatan dan kasih Kristus berkembang di antara manusia, makin banyak penghargaan dan penghormatan kepada Maria harus berkembang juga.”[119].

John Wesley

Maria Tetap Perawan

“Saya percaya bahwa Ia (Allah Putera) telah menjelma menjadi manusia, menggabungkan kodrat manusia dengan ke-Allahan di dalam satu pribadi, dikandung oleh perbuatan tunggal dari Roh Kudus, dan dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang sesudah maupun pada saat melahirkan-Nya, tetap perawan yang murni dan tidak bernoda.”[120]

C. Beberapa link dengan topik pembahasan tentang Bunda Maria di situs Katolisitas:

Bunda Maria, Co- Redemptrix
Maria, Bunda Allah
Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah?
Maria Dikandung Tanpa Noda: Apa Maksudnya?

Mei dan Oktober sebagai bulan Maria
Luk 11:27-28, Yesus menentang Maria?
Di sisi mana Bunda Maria duduk di surga?
Bisakah Yesus tanpa saingan?
Peran Maria dalam mukjizat di Kana
Yesus dan sanak saudara-Nya Luk 8:19-21
Siapa perempuan dalam Wahyu 12?
Tanggapan terhadap tuduhan penyembahan Maria
Doa Rosario, doa yang sungguh Alkitabiah
Lourdes, Garabandal, HSDA, Kerahiman Ilahi
Maria Tabut Perjanjian Baru, dan benarkah Yesus menyangkal Maria 3 kali?
Kerjasama antara rahmat dan kehendak bebas dalam diri Bunda Maria
Tanggapan mengenai ajaran Bapa Gereja tentang Maria= Hawa baru
Sekali lagi kesalahpahaman tentang Bunda Maria
Apakah umat Katolik harus berdoa melalui Bunda Maria?
Tentang Novena Tiga Salam Maria
Tentang Maria diangkat ke Sorga dan Maria adalah Ratu Sorga
Sejak kapan Protestan percaya bahwa Bunda Maria adalah orang kudus?
Tentang Bunda Maria dan St. Yusuf
Pertanyaan sdr/i Protestan tentang ajaran Katolik mengenai Bunda Maria
Apa dasar ajaran Gereja Katolik: Bunda Maria diangkat ke surga?
Apakah ajaran Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja ada dalam Alkitab?
Bunda Maria sama saja dengan tokoh Alkitab yang lain?
Maria adalah perempuan yang disebutkan di dalam Kitab Kejadian
Bagaimana mungkin Maria dikandung tanpa noda?
Penghormatan terhadap Maria, Santa dan Santo

Catatan: Bahan ini adalah materi yang digunakan untuk seminar, dengan tema: Memaknai gelar-gelar Maria dalam spiritualitas pelayanan, dengan judul: Maria dalam Kitab Suci. Seminar ini adalah seminar untuk Ikatan biarawan-biarawati Keusukupan Agung Jakarta.


CATATAN KAKI:
  1. Cardinal Henry Newman, Sermon, 1849 []
  2. St. Irenaeus, Against Heresies, 5:19:1 []
  3. St. Petrus, Letter to All Non-Egyptian Bishops 12 []
  4. St. Cyril dari Jerusalem, Catechetical Lectures, X:19 – c. A.D. 350 []
  5. St. Athanasius, Penjelmaan Sabda Allah 8 []
  6. St. Epiphanus, The man well-anchored, 75 []
  7. St. Ambrose, On Virginity, 2:15 []
  8. St. Jerome, Epistle to Eustochium 22:19, 38 []
  9. Lihat St. Gregory Nazianzus, To Cledonius, 101 []
  10. John Cassian, The Incarnation of Christ, II:2 []
  11. Lihat St. Cyril dari Alexandria, Epistle ro the Monks of Egypt, I []
  12. St. Vincent dari Lerins, The Commonitoriy for the Antiquity and Universality of the Catholic Faith, 15 []
  13. St. Yohanes Damaskinus, seperti dikutip dalam Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume 2, (Queenship Publishing company, California, USA, 1996), p. 2-181 []
  14. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 196 []
  15. Lihat St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24 []
  16. St. Hippolytus, Orations Inillud, Dominus pascit me []
  17. Origen, Homily 1 []
  18. St. Gregorius the Wonder Worker, Homily on the Annunciation to the Holy Virgin Mary []
  19. St. Ephraim, Nisibene Hymns 27:8 []
  20. St. Ephraim, Hymns on the Nativity, 15:23 []
  21. St. Athanasius, Homily of the Papyrus of Turin, 71:216 []
  22. St. Epiphanius, Panarion, 78:21 []
  23. St. Ambrose, Commentary on Psalm 118: Sermon 22, no.30, PL 15, 1599 []
  24. St. Gregorius, Sermon 38 []
  25. St. Augustine, Nature and Grace 36:42 []
  26. Theodotus, Homily 6:11 []
  27. Proclus, Homily 1 []
  28. St. Severus, Hom. cathedralis, 67, PO 8, 350 []
  29. Germanus dari Konstantinopel, Marracci in S. Germani Mariali []
  30. Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume II, p. 2-155 []
  31. Tertullian, On Monogamy, 8 []
  32. St. Athanasius, Discourses Against the Arians, 2, 70, Jurgens, Vol.1, n. 767a []
  33. St. Epiphanus, Well Anchored Man, 120 []
  34. St. Jerome, The Perpetual Virginity of Blessed Mary, Chap 21, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers ((Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, original print by Herder and Herder, 1966) p. 358 []
  35. Lihat St. Augustine, Sermons, 186, Heresies, 56; Jurgens, vol.3, n. 1518 dan 1974d []
  36. St. Augustine, Letters no. 137., seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers, p. 360 []
  37. St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005 []
  38. St. Petrus Kristologus, Sermon 117 []
  39. Paus St. Leo Agung, On the Feast of the Nativity, Sermon 22:2 []
  40. St. Yohanes Damaskinus, Orthodox Faith, 4:14 []
  41. Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume II, Mary in Scripture and the Historic of Christian Faith, (Queenship Publishing Company, CA, 1998), p.2-155, Salah satu butir pengajaran untuk menjawab ajaran yang keliru tentang Bunda Maria di dalam Konsili Konstantinopel II, butir 6,“If anyone declares that it can be only inexactly and not truly said that the holy and glorious ever-virgin Mary is the mother of God, or says that she is so only in some relative way, considering that she bore a mere man and that God the Word was not made into human flesh in her, holding rather that the nativity of a man from her was referred, as they say, to God the Word as he was with the man who came into being; if anyone misrepresents the holy synod of Chalcedon, alleging that it claimed that the virgin was the mother of God only according to that heretical understanding which the blasphemous Theodore put forward; or if anyone says that she is the mother of a man or the Christ-bearer, that is the mother of Christ, suggesting that Christ is not God; and does not formally confess that she is properly and truly the mother of God, because he who before all ages was born of the Father, God the Word, has been made into human flesh in these latter days and has been born to her, and it was in this religious understanding that the holy synod of Chalcedon formally stated its belief that she was the mother of God: let him be anathema.” []
  42. lih. Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, Ibid., p.204 []
  43. Lihat St. Yustinus Martir, Dialogue with Trypho the Jew, 155 AD, p.100 []
  44. lih. St. Irenaeus, Against Heresies, 3:22:24 []
  45. St. Irenaeus, Against Heresies, V:19,1 []
  46. Tertullian, Flesh of Christ, 17 []
  47. Lihat Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume 2, (Queenship Publishing company, California, USA, 1996), p. 2-180 []
  48. St. Agustinus, Sermon, dikutip dalam John Rotelle, OSA.ed. Mary’s Yes, Meditations on Mary through the ages (Ann Arbor, Michigan: Redeemer Books, Servant Publications, 1988), p. 30 []
  49. St. Germanus, Or. 9,5, Lesson of the Office of the Feast []
  50. St. Germanus, Homily on the Liberation of Constantinople, 23 []
  51. St. John of Damascene, Homily 1 on the Dormition, 14 []
  52. St. Ambrose Autpert, Assumption of the Virgin []
  53. St. Pius X, Ad diem illum Laetissimum []
  54. Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater 18 []
  55. Tentang partisipasi Maria dalam kematian Yesus, lihat tulisan St. Bernardus, In Dominica infra octavam Assumptionis Sermo, 14: S. Bernardi Opera, V, 1968, 273 []
  56. Origen, In Ioan 2,12; fragm. 31 []
  57. St. Ephrem, Hymnus 15,2 []
  58. St. Jerome, Adv. Ruf II, 5 []
  59. St. Agustinus, In Ioan tr 8, 9 []
  60. The Passing of the Virgin 16:2-17 []
  61. St. Timothy of Jerusalem, Homily on Simeon dan Anna, 400 []
  62. John the Theologian, The Dormition of Mary []
  63. Gregory of Tours, Eight Books of Miracles 1:4 []
  64. Theoteknos, Homily on the Assumption []
  65. Modestus, Encomium in dormitionnem Sanctissimae Dominae nostrae Deiparae semperque Virginis Mariae []
  66. Theoteknos of Livias, Homily on the Assumption []
  67. St. Germanus, Sermon I (PG 98, 346 []
  68. Yohanes Damascene, Dormition of Mary, PG (96, 741) []
  69. Gregorian Sacramentary, Veneranda, sebelum 795 []
  70. Gallican Sacramentary, dari Munificentis simus Deus, abad ke-8 []
  71. Byzantine Liturgy, dari Munificentis simus Deus, abad ke- 8 []
  72. Origen, Commentary on John I,4, 23, PG 14, 32 []
  73. St. Ephrem, Hymn 3 on the Birth of the Lord, v.5., ed. Lamy, II, pp 464 f []
  74. St. Augustine, De sancta virginitate, 6 (PL 40, 399) []
  75. Paus Pius X, Ad diem illum Laetissimum []
  76. St. Irenaeus, Against Heresies, V: 19,1 []
  77. Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir []
  78. St. Gregory Nazianzen, Oration 24:11 []
  79. St. Cyril dari Alexandria, Homily 11 []
  80. Basil of Selucia, PG 85: 452 []
  81. Theoteknos of Livias, Assumption 291 []
  82. Germanus of Konstantinopel, Homily on the Liberation of Constantinople, 23 []
  83. John Damascene, Homily 1 on the Dormition, 14 []
  84. Ambrose Autpert, Assumption of the Virgin []
  85. sumber: Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 207-209, 215 []
  86. St. Epiphanus, Haer 79,7 []
  87. Hugo Rahner, Our Lady and the Church, Michigan: Zaccheus Press, 2004, p. 33 []
  88. Gregory of Nyssa, On Virginity, 2 []
  89. Kleopas adalah salah satu dari murid-murid Yesus yang berjalan ke Emmaus dan mengalami penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya (Luk 24:18) []
  90. John Chrysostom, Homily on Matthew 5:5 []
  91. Lihat Rene Laurentine, A Short Treatise on the Virgin Mary, (Washington, New Jersey: AMI Press, 1991),p 285 []
  92. Robert Payesko, The Truth about Mary, volume 1, (Santa Barbara: Queenship publication, 1996), p. I-51-58 []
  93. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 50, p. 592, line 5 []
  94. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works, English translation by J. Pelikan (St. Louis: Concordia), vol 7, 572. []
  95. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works, English translation by J. Pelikan (St. Louis: Concordia), vol 24, 107 []
  96. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), vol 11, 319-320 []
  97. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 11, p. 320 []
  98. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 11, p. 320 []
  99. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), Vol 4, 694 []
  100. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), Vol 52, 39 []
  101. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 10, p.268 []
  102. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 10, III, p.313 []
  103. Martin Luther, ibid., vol 51, p. 128-129 []
  104. Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works, (translation by William J Cole) 46, p. 308 []
  105. Martin Luther, ibid., 18, p. 69 []
  106. Martin Luther, ibid., 28, p. 677 []
  107. Luther Works, (Weimar), 29:655:26-656:7 []
  108. Luther Works, (Weimar), 11:224:8 []
  109. John Calvin, Calvini Opera (Braunshweig- Berlin, 1863-1900), volume 45, 35 []
  110. Bernard Leeming, “Protestants and Our Lady”, Marian Library Studies, January 1967, p.9 []
  111. John Calvin, Calvini Opera (Braunshweig- Berlin, 1863-1900), volume 45, 348 []
  112. John Calvin, A Harmony of Matthew, Mark and Luke (St. Andrew’s Press, Edinburgh, 1972),p.32 []
  113. John Calvin, Calvini Opera, op.cit., Vol I, 320 ff []
  114. Ulrich Zwingli, Zwingli Opera, Opera Completa (Zurich, 1828-42), Vol. 6, I, 639 []
  115. Ulrich Zwingli, Zwingli Opera, Corpus Reformatum, Vol. I, 424 []
  116. E. Stakemeier, De Mariologia et Oecumenismo, K. Balic, ed. (Rome, 1962), 456 []
  117. Ibid. []
  118. Ibid. []
  119. Ulrich Zwingli, Zwingli Opera, Corpus Reformatum, Vol.I, 427- 428 []
  120. John Wesley, Letter to a Roman Catholic []
Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

60 Comments

  1. apakah ada buku atau bahan yang membahas segala sesuatu tentang bunda maria? tentang kelahiran, peristiwa di kitab suci, perjalanan hidupnya setelah pentakosta? terangkat ke surga? penampakan dan devosinya? mohon bantuan referensi dari Katolisitas. Kami sangat membutuhkannya

    • Shalom Kevin,

      Ada banyak buku yang membahas tentang Bunda Maria, namun umumnya buku-buku tersebut membahasnya dalam kaitannya dengan ajaran iman. Silakan Anda ke toko buku Katolik “Obor” untuk menemukan banyak buku tentang Bunda Maria, atau klik di Amazon.com atau Ignatius press, untuk menemukan bagitu banyak buku tentang Bunda Maria dalam bahasa Inggris.

      Kelahiran Bunda Maria dirayakan oleh Gereja Katolik pada tanggal 8 September. Menurut tradisi Gereja Katolik, Bunda Maria dilahirkan dari pasangan St. Anna dan St. Yoakim. Tentang penjelasan peristiwa- peristiwa di Kitab Suci tentang Bunda Maria, dapat Anda baca di buku-buku Catholic Commentary on Holy Scriptures/ penjelasan kitab Injil.

      Memang perjalanan hidup Bunda Maria setelah Pentakosta tidak ditulis dalam Kitab Suci. Tentang wafat dan diangkatnya Bunda Maria ke Surga ditulis dalam tulisan De Obitu S. Dominae, yang diatributkan kepada St. Yohanes (abad ke 4-5), dan De Transitu Virginis, yang diatributkan kepada St. Melito dari Sardis. St. Yohanes Damaskus (P.G., I, 96) merumuskannya sebagai tradisi Gereja di Yerusalem:

      “St. Juvenal, Uskup Yerusalem, pada Konsili Kalsedon (451) memberitahukan kepada Kaisar Marcian dan Pulcheria, yang ingin memiliki jenazah Bunda Allah, bahwa Maria wafat di tengah kehadiran semua Rasul, namun bahwa kuburnya, ketika dibuka atas permintaan St. Thomas, ditemukan kosong. Dengan demikian para Rasul menyimpulkan bahwa jenazahnya telah diangkat ke Surga.”

      Silakan klik di sini untuk membaca beberapa tulisan Apokrif tentang diangkatnya Bunda Maria ke surga. Mohon maaf, karena keterbatasan waktu dan tenaga, kami belum dapat menerjemahkannya.

      Tentang apa itu devosi kepada Bunda Maria, klik di sini.

      Sekilas tentang penampakan Bunda Maria, klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Salam, saya kemaren telah menyampaikan beberapa pertanyaan Kritis kepada pengolah situs ini tentang Maria yang disejajarkan oleh TUHAN dalam segala, namun belum jg mendapatkan tanggapan. Sebab Maria Katolik (selanjutnya saya singkat MaK) sangat berbeda dengan Maria dalam Alkitab. Mengapa demikian sebab Maria hanyalah sekedar alat yang dipakai TUHAN untuk melahirkan putraNya bukan malah untuk disejajarkan atau pararel dengan TUHAN YESUS. Namun jika ditanya demikian umat Katolik selalu berkelit bahwa penghormatan kepada Maria tidaklah lebih besar daripada penghormatan kepada YESUS. Namun saya harap Katolik mau menjawab beberapa pertanyaan Kritis dibawah ini:

    1. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa mengatakan bahwa semua doanya tidak mungkin ditolak oleh KRISTUS atau Tuhan sendiri ?

    2. Kalau MaK tidak disejajarkan dengan KRISTUS mengapa memberikan atribut “souvereign” kepadanya yang hanya eklusif milik Allah saja ?

    . Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan YESUS mengapa dia bisa menyelamatkan jiwa seseorang dari kebinasaan ? (By Mary’s prayers, she delivers souls from death (CCC #.966).

    4. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa ia memiliki atribut seperti yang dimiliki semua oleh KRISTUS ?

    5. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa Tuhan khusus hanya meninggikan dia sehingga “conformed” (To correspond in form or character; be similar.) dengan KRISTUS,bisa mengalahkan dosa dan kebinasaan (exalted by the Lord as Queen over all things, so that she might be the more fully conformed to her Son, the Lord of lords and conqueror of sin and death – CCC #966).

    6. Kalau MaK tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS darimana pula pembenarannya bahwa ia menyediakan tempat tinggal bagi kita di surga (“This mother…is waiting and preparing your home for you” (Handbook for Todays Catholic, p.31).. Yang mana hanya YESUS yang disebutkan oleh Kitab Suci mengenai hal ini.

    7. Kalau MaK tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa pula gereja mengangkatnya lebih tinggi derajatnya dari manusia dan malaikat (“Mary has by grace been exalted above all angels and men to a place second only to her Son” (Vatican Council II, p. 421). Hanya Tuhan saja yang berada diatas Manusia dan Malaikat.

    8. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa gereja merubah statusnya menjadi tidak berdosa seperti KRISTUS ,berbeda dengan semua manusia lainnya keturunan Adam ?

    9. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa pula gereja meninggikan dia dengan mengatakan tubuh dan jiwanya terangkat kesorga padahal dia sudah meninggal dibumi,dan kuburannya juga ada.

    10. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan Allah mengapa ia disebut spouse (partner in a marriage) of The Holy Spirit ?

    11. Kalau Maria Katolik bukan Tuhan mengapa pula dia bisa menjadi satu satunya perantara keselamatan antara manusia dengan Tuhan YESUS : “Mary is the intermediary through whom is distributed unto us this immense treasure of mercies gathered by God, for mercy and truth were created by JESUS CHRIST. Thus as no man goeth to the Father but by the Son, so no man goeth to CHRIST but by His Mother.” (Vatican Website: Encyclical of Pope Leo 13th on the Rosary, Octobri Mense, Pope Leo 13th, 1903-1914)

    12. Kalau MaK bukan Tuhan mengapa melayani dia sama dengan melayani Tuhan ? St. Bernardine of Siena argues this way: There are just as many creatures serving Mary as there are serving God. For since Angels and human beings, all things in Heaven and earth, are under God’s dominion, so they are at the same time under Mary’s dominion.

    Bagaimana anda menjelaskan semua hal tersebut diatas berdasarkan ajaran YESUS dan para Rasul ???

    • Shalom Erica,

      Bunda Maria yang diajarkan oleh Gereja Katolik tidak berbeda dengan Bunda Maria yang tertulis di dalam Kitab Suci. Namun demikian, memang Gereja Katolik tidak hanya mendasarkan ajarannya tentang Bunda Maria pada apa yang tertulis pada Kitab Suci, tetapi juga apa yang diajarkan oleh para Bapa Gereja, sebagai para penerus para Rasul, dan ini yang umum dikenal sebagai Tradisi Suci. Dasar Kitab Suci dan Tradisi Suci tentang ajaran-ajaran mengenai Bunda Maria, dapat dibaca di artikel-artikel tentang Maria di rubrik FAQ (Frequently Asked Questions) di situs ini, silakan klik.

      Berikut ini adalah tanggapan kami terhadap pertanyaan Anda (Pertanyaan Anda kami cetak biru, dan jawaban kami dalam huruf hitam):

      1. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa mengatakan bahwa semua doanya tidak mungkin ditolak oleh KRISTUS atau Tuhan sendiri ?

      Tentang hal ini sudah kami tanggapi secara terpisah, di sini, silakan klik.

      2. Kalau Maria menurut Gereja Katolik tidak disejajarkan dengan KRISTUS mengapa memberikan atribut “sovereign” kepadanya yang hanya eklusif milik Allah saja ?

      Tanggapan kami:

      Sesungguhnya kalau kita melihat kepada kamus bahasa Inggris, kata ‘sovereign‘ itu tidak hanya untuk ditujukan kepada Allah, ataupun eksklusif milik Allah saja. Silakan membaca di sini, silakan klik, tentang arti kata ‘sovereign‘. Kata ‘sovereign‘ dapat ditujukan kepada seorang raja, ratu atau pemimpin pemerintahan lainnya, atau seseorang yang mempunyai kuasa. Nah, maka kata ‘sovereign’ dapat ditujukan, misalnya kepada Raja ataupun Ratu Inggris ataupun pemimpin negara lainnya, tanpa kita perlu mensejajarkan mereka dengan Allah.

      Bahwa jika kata ‘sovereign‘ itu ditujukan kepada Bunda Maria itu berhubungan dengan peran yang diberikan oleh Allah kepadanya, yaitu sebagai seorang ibu yang melahirkan Kristus Sang Putera Allah, Raja Semesta Alam. Kitab Suci mencatat bahwa Raja Salomo menghormati ibunya dengan menyediakan tahta untuk bundanya Batsyeba untuk duduk di sisi kanannya (lih. 1Raj 2:19); demikian pula Tuhan Yesus, Ia juga pasti menghormati ibu-Nya dan tidak akan melakukan sesuatu yang lebih kecil jika dibandingkan dengan Raja Salomo.

      Tetapi selanjutnya, menurut pengetahuan saya, andaikata ada perkataan ‘sovereign‘ ditujukan untuk Bunda Maria dalam teks doa atau tulisan tentang Bunda Maria, namun kata itu tidak digunakan dalam definisi dogma Gereja Katolik dan Katekismus tentang Bunda Maria, maupun dalam dokumen ajaran tentang Bunda Maria dalam Konsili Vatikan II.

      3. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan YESUS mengapa dia bisa menyelamatkan jiwa seseorang dari kebinasaan ? (By Mary’s prayers, she delivers souls from death (CCC #966).

      Di Katekismus #966, memang dikatakan, “O, Mother of God ….. You conceived the living God and, by your prayers, will deliver our souls from death” (O Bunda Allah…. Engkau telah mengandung Allah yang hidup, dan dengan doa-doamu, akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian). Untuk lebih memahami makna pernyataan ini, mari kita membaca keseluruhan kutipan Katekismus tersebut, agar dapat kita ketahui konteks dan maksudnya:

      KGK 966    “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG 59, Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.

      “Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau telah mengandung Allah yang hidup dan akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).

      Kalimat ini tidak menunjukkan kesetaraan Bunda Maria dengan Tuhan. Kalimat ini hanya menjelaskan pernyataan di atasnya yang menunjukkan kekhususan keikutsertaan Bunda Maria dalam kebangkitan Yesus, sehingga setelah Bunda Maria diangkat ke surga, maka di surga itulah ia mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah, dengan doa-doanya, untuk membebaskan jiwa-jiwa dari kematian. Di sana tidak dikatakan bahwa Bunda Maria ‘membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan kuasanya sendiri’ atau ‘membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian’ [tanpa keterangan lanjutan, sehingga mengindikasikan kesetaraannya dengan Allah]. Tetapi di sana jelas dikatakan: ‘dengan doa-doanya’. Maka yang dilakukan oleh Bunda Maria adalah mendoakan jiwa-jiwa kita agar dibebaskan dari kematian kekal, dan doa-doa Maria ini yang dikabulkan oleh Allah.

      4. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa ia memiliki atribut seperti yang dimiliki semua oleh KRISTUS ?

      Tanggapan kami:

      Nampaknya Anda perlu lebih spesifik di sini atribut apa yang Anda maksud di sini, sehingga Anda menyimpulkan bahwa Gereja Katolik mensejajarkan Bunda Maria dengan Kristus.

      Sebab dengan jelas, Konsili Vatikan II mengajarkan demikian:

      Sebab tiada makluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah terpancarkan secara nyata kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan cara yang berbeda-beda, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mereka aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber.

      Adapun Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang berada di bawah peran Kristus ini. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka ditopang oleh perlindungan Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat….” (Konsili Vatikan II, tentang Gereja, Lumen Gentium, 52)

      5. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa Tuhan khusus hanya meninggikan dia sehingga “conformed” (To correspond in form or character; be similar) dengan KRISTUS, bisa mengalahkan dosa dan kebinasaan (exalted by the Lord as Queen over all things, so that she might be the more fully conformed to her Son, the Lord of lords and conqueror of sin and death – CCC #966).

      Tentang point 5 ini, kami menanggapinya secara terpisah di sini, silakan klik.

      6. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS darimana pula pembenarannya bahwa ia menyediakan tempat tinggal bagi kita di surga (“This mother…is waiting and preparing your home for you” (Handbook for Todays Catholic, p.31). Yang mana hanya YESUS yang disebutkan oleh Kitab Suci mengenai hal ini.

      Tanggapan kami:

      Berikut ini mari kita baca kutipannya yang lebih lengkap, agar kita dapat mengerti konteks yang sedang dibicarakan:

      Like a mother waiting up for her grown children to come home, Mary never stops influencing the course of our lives. Vatican II says: “She conceived, gave birth to, and nourished Christ, she presented him to the Father in the temple, shared his sufferings as he died on the cross….For this reason she is a mother to us in the order of grace” (Dogmatic Constitution on the Church, 61) [484-507]. “By her motherly love she cares for her Son’s sisters and brothers who still journey on earth surrounded by dangers and difficulties, until they are home” (Dogmatic Constitution on the Church, 62) …. This mother, who saw her own flesh-and-blood son die for the rest of her children, is waiting and preparing your home for you. She is, in the words of Vatican II, your “sign of certain hope and comfort” (Dogmatic Constitution on the Church, 68). (Redemptorist Pastoral Publication (2010-08-31). Handbook for Today’s Catholic (Kindle Locations 567-574). Liguori Publications. Kindle Edition).

      Maka, jika dikatakan bahwa Bunda Maria ‘menunggu dan menyiapkan rumah bagimu di surga’, itu disebabkan karena perannya sebagai ibu bagi kita semua umat beriman menurut ketentuan rahmat. Sebab Kristus memberikan Bunda Maria agar menjadi ibu bagi murid-murid yang dikasihi-Nya (lih. Yoh 19:26-27). Maka sebagaimana seorang ibu yang selalu menantikan anak-anaknya pulang ke rumah, dan mempersiapkannya dengan baik, demikian pula, Bunda Maria menantikan penuh harap dengan doa-doanya, agar semua anaknya di dalam Kristus, dapat sampai ke surga.

      Maka ungkapan ‘menantikan dan menyiapkan rumah di surga’ adalah ungkapan yang dihubungkan dengan analogi yang umum dilakukan oleh seorang ibu di dunia. Ungkapan ini sendiri bukan ajaran resmi/ definitif dari Gereja Katolik yang disebut dalam keempat dogma tentang Bunda Maria, namun hanya penjelasan yang disampaikan di buku tersebut, untuk menjelaskan gambaran peran Bunda Maria sebagai ibu rohani bagi kita orang percaya. Di Surga, Bunda Maria terus mengusahakan, dengan doa-doanya agar kita dapat sampai ke surga, seturut dengan rencana Allah. Mohon dipahami bahwa hal ‘menantikan dan menyiapkan rumah bagi kita’ tersebut tidak akan berarti jika kita tetap menolak untuk masuk ke dalamnya. Namun bagi mereka yang beriman, menghidupi imannya dengan kasih dan mengharapkan kehidupan kekal di surga, maka Bunda Maria menjadi tanda penghiburan dan pengharapan yang pasti, sebab ia sudah sampai terlebih dahulu di surga, dan sebagai seorang ibu, ia juga menantikan kedatangan kita di sana.

      7. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa pula gereja mengangkatnya lebih tinggi derajatnya dari manusia dan malaikat (“Mary has by grace been exalted above all angels and men to a place second only to her Son” (Vatican Council II, p. 421). Hanya Tuhan saja yang berada di atas Manusia dan Malaikat.

      Tanggapan kami:

      Kalimat itu sendiri sudah menunjukkan bahwa Bunda Maria tidak setara dengan Kristus. Sebab dikatakan bahwa Bunda Maria berada di tempat yang kedua setelah Kristus Puteranya. Dengan demikian Bunda Maria tidak setara dengan Allah, yang berada di tempat pertama.

      Bunda Maria berada di atas para malaikat, karena perannya sebagai Bunda  yang melahirkan Kristus Sang Putera Allah.

      8. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa gereja merubah statusnya menjadi tidak berdosa seperti KRISTUS, berbeda dengan semua manusia lainnya keturunan Adam ?

      Tentang ini, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      9. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan KRISTUS mengapa pula gereja meninggikan dia dengan mengatakan tubuh dan jiwanya terangkat ke sorga padahal dia sudah meninggal di bumi, dan kuburannya juga ada.

      Tanggapan kami:

      Dogma Bunda Maria diangkat ke surga, berhubungan dengan dogma Bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa (Immaculate Conception). Karena Maria dikuduskan Allah dan dibebaskan dari noda dosa sejak di dalam kandungan ibunya, maka tubuh Maria dibebaskan dari kerusakan akibat dosa, dan tubuh dan jiwanya diangkat ke surga. Tentang hal ini, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Bahwa kubur Maria ada, tidak mengherankan, sebab memang terdapat tradisi yang mengatakan bahwa seperti halnya Kristus yang juga mengalami kematian sebelum bangkit dan naik ke surga; demikian pula, Bunda Maria juga mengalami kematian, sebelum tubuh dan jiwanya diangkat Allah ke surga. Namun yang jelas, tidak ada relikwi/ jenazah Bunda Maria ditemukan di manapun, tidak seperti jenazah para rasul/ martir yang pernah ditemukan di dalam kubur mereka.

      10. Kalau Maria Katolik tidak bisa disejajarkan dengan Allah mengapa ia disebut spouse (partner in a marriage) of The Holy Spirit ?

      Tanggapan kami:

      Maria disebut sebagai mempelai Allah Roh Kudus, karena Maria mengandung dari Roh Kudus (Mat 1:18). Namun tentu, Bunda Maria tidak ‘menikah’ dengan Roh Kudus dengan pengertian perkawinan duniawi. Maka di sini ikatan antara Bunda Maria dan Roh Kudus adalah secara rohani, sebagaimana yang diandaikan sebagai ikatan Kasih antara Kristus dengan Gereja dalam Ef 5:22-33, yang digambarkan sebagai ikatan suami istri.

      11. Kalau Maria Katolik bukan Tuhan mengapa pula dia bisa menjadi satu satunya perantara keselamatan antara manusia dengan Tuhan YESUS : “Mary is the intermediary through whom is distributed unto us this immense treasure of mercies gathered by God, for mercy and truth were created by JESUS CHRIST. Thus as no man goeth to the Father but by the Son, so no man goeth to CHRIST but by His Mother.” (Vatican Website: Encyclical of Pope Leo 13th on the Rosary, Octobri Mense, Pope Leo 13th, 1903-1914)

      Tanggapan kami:

      Untuk memahami pernyataan tersebut, mari kita mengutip dengan lebih lengkap pernyataan Paus Leo XIII tersebut:

      The Eternal Son of God, about to take upon Him our nature for the saving and ennobling of man, and about to consummate thus a mystical union between Himself and all mankind, did not accomplish His design without adding there the free consent of the elect Mother, who represented in some sort all human kind, according to the illustrious and just opinion of St. Thomas, who says that the Annunciation was effected with the consent of the Virgin standing in the place of humanity. With equal truth may it be also affirmed that, by the will of God, Mary is the intermediary through whom is distributed unto us this immense treasure of mercies gathered by God, for mercy and truth were created by Jesus Christ. Thus as no man goeth to the Father but by the Son, so no man goeth to Christ but by His Mother. How great are the goodness and mercy revealed in this design of God! (Pope Leo XIII, Octobri Mense, 4)

      Dengan membaca paragraf tersebut, maka kita akan mengetahui bahwa konteks yang dibicarakan di sana adalah:

      1) Tuhan menghendaki agar penjelmaan-Nya menjadi manusia itu terjadi setelah persetujuan dari Bunda Maria, dan dengan demikian rencana keselamatan Allah terjadi dengan melibatkan perantaraan Bunda Maria. Melalui peristiwa Anunsiasi (Kabar Gembira dari malaikat), Bunda Maria menjadi pengantara, yang melaluinya disampaikanlah belas kasih dan kebenaran Tuhan, sebab melalui Maria, Putera Allah yang kekal dan Sang Kebenaran itu sendiri, mengambil rupa manusia, dan dengan demikian menyatukan diri-Nya dengan seluruh umat manusia. Melalui Maria disampaikanlah rahmat keselamatan Allah yang terbesar yaitu Yesus Kristus, kepada manusia.

      2) Dengan demikian, sebaliknya, untuk sampai kepada Kristus, tak ada jalan yang terbaik daripada melalui Bunda Maria, yang melaluinya Allah telah menyampaikan Kristus kepada dunia.

      12. Kalau Maria Katolik bukan Tuhan mengapa melayani dia sama dengan melayani Tuhan? St. Bernardine of Siena argues this way: There are just as many creatures serving Mary as there are serving God. For since Angels and human beings, all things in Heaven and earth, are under God’s dominion, so they are at the same time under Mary’s dominion.

      Tanggapan kami:

      Anda mungkin mengutip pernyataan tersebut dari tulisan St. Alfonsus Liguori, yang membicarakan tentang peran Bunda Maria sebagai Ratu surga yang berbelas kasih (Queen of mercy). St. Alfonsus mengutip perkataan St. Bernardus dari Siena, untuk menjelaskan bahwa sebagaimana seorang ratu juga mempunyai kemuliaan sepertihalnya kemuliaan raja, maka demikianlah juga dengan Bunda Maria yang adalah bunda Sang Raja mempunyai kemuliaan sepertihalnya kemuliaan Kristus Sang Raja Semesta Alam.

      Nah, kemuliaan Maria dalam hal ini tidak terpisah dari kemuliaan Kristus; sebagaimana sifat belas kasihan Maria, tidak terpisahkan dari belas kasihan Kristus, sebab keduanya telah bersatu secara sempurna di surga. Maka jika dikatakan bahwa ‘ada banyak mahluk ciptaan melayani Bunda Maria seperti melayani Tuhan’ itu adalah dalam konteks bahwa keduanya ada bersama-sama di surga, sebagaimana Raja dan Ratu semesta alam, yang menerima penghormatan dari para mahluk ciptaan.

      Selanjutnya, St. Alfonsus Liguori menyatakan, bahwa sebagai Ratu, Bunda Maria adalah Ratu yang berbelas kasih, sehingga dengan belas kasihnya inilah ia melaksanakan perannya sebagai pendamping Raja semesta alam itu (Kristus). Maka kata ‘Mary’s dominion‘ ini mengacu kepada belas kasihan Bunda Maria, yang melingkupi kita umat manusia, yang dinyatakan dengan dukungan doa-doanya bagi kita.

      Dengan mamahami kesatuan yang unik antara Bunda Maria dan Kristus Puteranya, umat Katolik tidak menganggap Bunda Maria sebagai saingan Kristus ataupun mensejajarkan Bunda Maria dengan Kristus. Keduanya tidak setara, namun keduanya mempunyai hubungan persatuan yang begitu erat, sehingga apa yang menjadi kehendak Yesus, itulah juga yang dikehendaki oleh Bunda Maria. Oleh sebab itu di dalam Gereja Katolik, ada gerakan gerejawi yang disebut sebagai Legio Mariae (pasukan Maria) yang kalau diartikan sekilas sepertinya ‘melayani Maria’, namun yang mereka lakukan semuanya adalah perbuatan belas kasih kepada sesama, yang diajarkan oleh Tuhan Yesus (lih. Mat 25:31-46), terutama perbuatan kasih secara rohani, yaitu mendoakan, menghibur, mengajar, dst. Perbuatan belas kasih ini ditujukan terutama kepada mereka yang terkecil dan tersisihkan seperti para penderita sakit, orang miskin, cacat, anak-anak, yatim piatu, narapidana, dst, untuk membawa mereka semua kepada Kristus. Dengan demikian, mereka yang tergabung dalam Legio Mariae sesungguhnya bukan melayani Bunda Maria, tetapi melayani Kristus, dengan meniru teladan Bunda Maria yang dengan kasih keibuannya, berbelas kasihan kepada semua orang yang memerlukan pertolongan.

      Hal inilah sebenarnya salah satu inti devosi kepada Bunda Maria, yang diajarkan oleh banyak Santa dan Santo, yaitu agar kita meniru teladan Bunda Maria, untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan dan menghantar mereka untuk semakin dekat kepada Kristus. Teladan hidup Bunda Maria inilah yang mendorong para orang kudus (Santa Santo) itu memberikan hidup mereka secara total kepada Kristus, sebagaimana yang dilakukan oleh Bunda Maria sampai akhir hidupnya.

      Demikianlah tanggapan saya, Erica. Harus diakui bahwa mungkin ada banyak kesalahpahaman dari umat Kristen non-Katolik sehubungan dengan ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria. Banyak di antara kesalahpahaman itu disebabkan karena seringkali kutipan yang diambil sebagai dasar argumen dilepaskan dari konteks keseluruhan penjelasannya, sehingga diartikan berbeda dari maksud penulisannya. Padahal kalau dibaca sesuai dengan konteksnya dan dalam kesatuan dengan doktrin yang resmi dikeluarkan oleh Gereja Katolik tentang Bunda Maria, maka sesungguhnya tidak ada yang aneh ataupun bertentangan dengan Kitab Suci, sebab semua pernyataan ajaran itu mengambil dasar dari Kitab Suci.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  3. Shalom umat Katolik, saya seorang Protestan mau ikut ningbrung kritisi doktrin Katolik.

    Pentingnya sebuah doktrin dapat dilihat dari IMPLIKASINYA BAGI KEHIDUPAN dan NASIB KEKEKALAN MANUSIA.

    Doktrin Mariologi, dilihat dari IMPLIKASINYA, dapat dikatakan :

    1. IMPLIKASI BAGI KESELAMATAN MANUSIA : Tidak Ada.
    Seorang manusia tidak akan mendapatkan implikasi KESELAMATAN apa-apa jika ia TIDAK PERCAYA MARIA, karena satu-satunya yang berimplikasi pada KESELAMATAN manusia adalah TUHAN YESUS KRISTUS.

    2. IMPLIKASI BAGI KEHIDUPAN
    Implikasi hanya mungkin terjadi bagi mereka yang mau mencontoh Maria dan devosi dalam tingkat yang luar biasa. Tetapi mengingat Maria adalah manusia biasa, maka devosi demikian mau tidak mau HARUS KELUAR DARI KONDISI NORMAL. Karena penerapan Maria sebagai manusia biasa TIDAK AKAN PERNAH VALID dalam sistem demikian. Itulah sebabnya DIBUTUHKAN MARIA YANG LAIN dari sekedar wanita baik yang dipilih ALLAH menjadi Ibu YESUS KRISTUS. Untuk menunjang Maria sebagaimana diinginkan umat KATOLIK, maka harus ada teranformasi dari MARIA Ibu Tuhan YESUS KRISTUS menjadi MARIA SOSOK YANG BARU.

    adi bagaimana transofrmasi itu bisa terjadi? MANUSIALAH YANG HARUS MENCIPTAKAN MARIA TERSEBUT.

    Jadi Maria yang sekarang ini didevosi sebenarnya MARIA YANG SUDAH DICIPTAKAN melalui serangkaian kepercayaan-kepercayaan, perumusan doktrin, penegasan, penguatan, pemberian nilai, dan mekanisme hidup beriman dari mereka yang INGIN MEMULIAKAN MARIA tersebut.

    dan HASIL BALIK dari semua PROSES PENCIPTAAN itulah yang akan memiliki dampak pada kehidupan.Orang Katolik TELAH BERHASIL MENCIPTAKAN GAMBARAN DARI MANUSIA YANG SUDAH MELAMPAUI HAKEKAT MANUSIA SEJATI.

    salam

    • Shalom Shinta,

      Terima kasih atas tanggapan anda. Saya ingin memberikan tanggapan dari sisi yang berbeda dalam melihat Bunda Maria. Sebagai murid Kristus, maka kita harus mengasihi Kristus. Bukti kasih kita kepada Kristus adalah dengan melaksanakan semua perintah Kristus tanpa pandang bulu (lih. 1Yoh 2:3; Mat 28:19-20) dan juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Kristus. Kita tidak akan pernah berfikir bahwa Kristus tidak menghormati bapak dan ibu-Nya, karena Tuhan sendiri telah memberikan perintah ke-4 dalam 10 perintah Allah. Kalau kita sungguh-sungguh mau mengikuti dan mengasihi Kristus, maka kita mengikuti teladan Kristus, yaitu dengan menghormati ibu-Nya. Kalau Bunda Maria dipilih oleh Allah secara sadar dan bijaksana sebagai Bunda Allah dan dipandang baik oleh Allah sebagai Bunda Allah, maka siapakah kita yang tidak mau menghormati Bunda Maria? Dan kalau Bunda Maria telah diberikan kepada murid yang dikasihi-Nya (lih. Yoh 19:27) – yang mewakili seluruh umat beriman – maka mengapa kita yang ingin menjadi murid kesayangan Yesus, menolak apa yang diberikan Yesus? Kalau Yesus telah memberikan Bunda Maria kepada kita, maka pemberian tersebut bukanlah sesuatu yang tidak berharga, bahkan sungguh sangat berharga, karena diberikan pada saat-saat nafas terakhirnya.

      Yesus tahu, bahwa kita membutuhkan figur ibu – yang juga mewakili figur Gereja – yang perawan dan juga sekaligus ibu. Jadi, kalau seseorang tidak mempercayai dan menghormati Maria padahal Kristus telah memberikannya kepada kita, maka apakah dapat dikatakan bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus? Kalau kita mau belajar dari Maria, maka anda dapat melihat hasilnya, yaitu santa-santo dalam sejarah Gereja. Coba anda lihat kehidupan Bunda Teresa dari Kalkuta. Itulah hasil dari seseorang yang mengasihi Yesus dan Maria.

      Umat Katolik tahu bahwa Bunda Maria adalah makhluk ciptaan dan Gereja Katolik tidak menempatkan Maria sebagai saingan Yesus. Walaupun Maria adalah manusia, namun sesungguhnya dia telah dipilih oleh Tuhan menjadi manusia yang luar biasa dan terberkati, karena di seluruh kehidupan manusia hanya ada satu yang dapat menjadi Bunda Allah dan Allah telah memilih Bunda Maria. Gereja Katolik melihat        bahwa Bunda Allah bukanlah saingan dari Yesus, santa-santo bukanlah saingan dari Yesus, namun Bunda Allah dan santa-santo adalah ibu dan teman-teman Yesus. Karena kita mengasihi Kristus secara menyeluruh, maka ibu Yesus adalah ibu kita dan teman-teman Yesus adalah teman-teman kita.

      Karena anda seorang Protestan, apakah anda pernah membaca apa yang ditulis oleh Martin Luther, John Calvin dan Zwingli tentang Bunda Maria? Kalau belum, silakan membacanya di sini – silakan klik. Minimal, kalau anda tidak mau mendengar penjelasan dari Gereja Katolik, cobalah meresapkan apa yang ditulis oleh para pendiri gereja Protestan. Dalam salah satu tulisannya, Martin Luther menuliskan “Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan bunda kita semua. Kalau Kristus adalah milik kita, kita harus berada di mana Ia berada; dan semua yang menjadi milik-Nya pasti menjadi milik kita, dan oleh karena itu ibu-Nya juga adalah ibu kita.” (Luther Works, (Weimar), 29:655:26-656:7) Jadi, kalau anda juga menghormati pendiri Protestan, maka sudah seharusnya anda juga dapat mempertimbangkan apa yang telah ditulisnya. Mari, kita bersama-sama menempatkan Maria sebagaimana mestinya, yaitu sebagai Bunda Allah dan sebagai bunda kita, yang patut kita hormati, karena Allahpun menghormati Bunda Maria. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Salam,

    Pak Stef dan Bu Inggrid, saya ingin menanyakan beberapa hal mengenai Bunda Maria :

    1. Saya pernah mempelajari tradisi Gereja (saya tidak yakin ini Tradisi Suci) yang menyatakan bahwa Bunda Maria adalah manusia pertama yang percaya Yesus telah bangkit sekalipun belum melihatNya sehingga Tuhan Yesus berkenan mendatangi Bunda terlebih dahulu setelah bangkit.

    Memang hal ini tidak tampak dalam Kitab Suci secara eksplisit, namun umat beriman dapat memulai dugaan ketika menemui bahwa tidak satupun penulis Injil Suci menyertakan Bunda dalam kunjungan pagi hari para wanita ke kubur Yesus. Dugaan dapat berkembang menjadi dua : Bunda terlalu sedih untuk berkunjung atau Bunda telah melihat Tuhan bangkit.

    Kesaksian di abad awal berasal dari Sedulius yang menjelaskan bahwa Tuhan Yesus mengunjungi Bunda Maria langsung setelah bangkit (Paschale carmen, 5, 357-364). Selain itu, di berbagai kidung pujian karya lampau, seperti Los Set Gotxs dalam Llibre Vermel de Montserrat, juga terekam artikel iman serupa.

    Apakah Gereja memiliki sikap resmi mengenai tradisi ini? Seberapa jauh otoritas kekayaan iman ini dalam Ajaran Iman Katolik?

    2. Thomas Aquinas menyatakan manusia tanpa dosa memiliki Sanctifying Grace dan 4 Preternatural Gifts. Apakah hal ini berlaku pula untuk Yesus dan Bunda Maria? Apabila berlaku serupa, saya sulit menjelaskan antara penderitaan Yesus dan Bunda dengan anugerah adikodrati yang menyebabkan manusia tanpa dosa tidak dapat menderita. Bukankah penderitaan merupakan nilai permata dari pengorbanan mereka dalam Misteri Penebusan?

    3. Saya ingin menanyakan pula mengenai pesan Our Lady of All Nations, yang menurut situs dibawah ini telah disahkan oleh Gereja.
    link to motherofallpeoples.com
    Apa sesungguhnya isi pesan Bunda dalam penampakan tersebut? Apakah penampakan tersebut benar otentik?

    Terima kasih.

    Pacem,
    Ioannes

    • Shalom Ioannes,

      1. Tentang Yesus menampakkan Diri kepada Bunda Maria setelah kebangkitan

      Memang dari tradisi, kita mengetahui bahwa Yesus telah menampakkan diri kepada Bunda Maria. Hal ini ditulis oleh Sedulius di abad ke-5. Tulisan dari Sedulius ini juga dikutip dalam audiensi umum Paus Yohanes Paulus II tanggal 21 Mei 1997 – silakan klik. Tradisi yang dituliskan dalam beberapa naskah tersebut, sesungguhnya memang merupakan tradisi yang baik. Hal ini bersumber pada Maria adalah yang terlebih dahulu dalam perjalanan iman, sehingga dia dapat menjadi contoh perjalanan iman bagi seluruh umat Allah. Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Redemptoris Mater tahun 1987 menuliskan dengan begitu indah bahwa Bunda Maria-lah yang terlebih dahulu dalam perjalanan iman dengan Sang Putera: dia yang terlebih dahulu menerima kabar gembira, menerima Sang Sabda, melahirkan Sang Sabda, hidup setiap hari dengan Sang Sabda yang telah menjadi daging, mengalami karya publik Yesus, menemani dalam penderitaan dan kematian Kristus. Dan menjadi masuk akal, kalau Maria juga yang terlebih dahulu menerima sapaan dari malaikat Gabriel akan kedatangan Kristus, juga yang terlebih dahulu menerima pemberitaan tentang kebangkitan Kristus. Dengan demikian, walaupun tidak tertulis di dalam Kitab Suci, namun, memang sungguh tidak masuk di akal bahwa Maria tidak hadir bersama-sama dengan perempuan lain yang mengunjungi makam Yesus, kalau Yesus sendiri tidak menampakkan diri kepada Maria sebelumnya. Alasan ketidakhadiran Bunda Maria pada Minggu pagi karena kesedihan sebenarnya kurang kuat, mengingat wanita yang sama adalah wanita yang sebelumnya berdiri (catatan: bukan tersungkur) di depan kayu salib menyaksikan penderitaan Kristus dan pada saat yang bersamaan mengalami penderitaan menyaksikan Orang yang disayanginya wafat.

      Namun demikian, Gereja tidak mengeluarkan satu pernyataan tentang hal ini – baik di tingkat credenda, tenenda, obsequium maupun servandi. Jadi, para teolog dapat mendiskusikan hal ini. Tentu saja beberapa tulisan dari Paus Yohanes Paulus II dapat memberikan bobot yang lebih akan pengajaran ini. Pengajaran ini memberikan penekanan bahwa Maria menyaksikan dan turut serta dalam misteri Paskah Kristus, yang termasuk di dalamnya adalah: penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Dalam oktaf Paskah ini, bersama-sama dengan Gereja, kita dapat menyerukan: Regina Caeli, laetare. Alleluia! Queen of heaven rejoice. Alleluia! Kegembiraan ini yang juga kita serukan dalam oktaf Paskah ini.

      2. Tentang dosa, penderitaan, dan kematian

      Memang St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa sebelum manusia berdosa, maka manusia mempunyai rahmat pengudusan (sanctiying grace) dan 4 preternatural gifts: tidak dapat menderita (freedom of suffering), tidak dapat mati (immortality), infused knowledge, dan tunduknya kedagingan terhadap akal budi (gift of integrity). Kalau memang Kristus mempunyai rahmat pengudusan dan 4 preternatural gifts, mengapa Kristus dapat menderita dan wafat. Untuk menjawab hal ini, maka kita harus melihat maksud dari Inkarnasi, yang keterangannya dapat dibaca di artikel ini – silakan klik. Dalam artikel tersebut dikupas bahwa kasih, pengampunan, keadilan dan kebijaksanaan Tuhan adalah penyebab dari Inkarnasi. Karena Tuhan adalah sempurna, maka manifestasi dari kasih dan pengampunan serta keadilan dan kebijaksanaan Tuhan dinyatakan secara sempurna. Kasih dan belas kasih Tuhan dinyatakan secara sempurna dalam peristiwa salib dan kematian Kristus, yang memberikan Diri untuk keselamatan dunia. Dan keadilan Tuhan mensyaratkan silih bagi dosa-dosa manusia. Semuanya itu dilakukan dengan kebijaksanaan yang sempurna, yaitu dengan peristiwa Inkarnasi.

      Dari sini, maka kita dapat mengerti apa yang dikatakan oleh rasul Paulus di Ibr 4:15 “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Yesus walaupun tidak berdosa – yang berarti tidak seharusnya mengalami penderitaan dan kematian – namun karena kasih-Nya kepada manusia, maka Dia turut mengalami penderitaan dan kematian seperti yang dialami oleh umat manusia. Namun, penderitaan dan kematian Yesus memberikan pembebasan kepada umat manusia dan pada saat yang bersamaan memberikan harapan dengan kebangkitan-Nya. Dengan penderitaan dan kematian yang dialami Yesus, Dia – yang dicobai hanya tidak berbuat dosa – ingin menunjukkan bahwa penderitan dan kematian bukanlah dosa, namun sebagai akibat dari dosa. Dan akibat dari dosa ini, telah diubah oleh Kristus sehingga mendatangkan kebahagiaan dan kehidupan kekal bagi seluruh umat Allah.

      Sedangkan Maria yang terlebih dahulu mendahului kita dalam perjalanan iman memberikan contoh kepada kita bagaimana untuk mengikuti jejak Puteranya secara sempurna, sehingga pada akhirnya dia juga diangkat ke Sorga dan menerima mahkota abadi di Sorga. Ini juga yang memberikan harapan kepada seluruh umat manusia, bahwa dengan iman, pengharapan dan kasih seperti yang ditunjukkan oleh Bunda Maria, kitapun akan diangkat dan menerima mahkota abadi di Sorga.

      3. Pertanyaan anda yang lain tentang pesan Our Lady of All Nations, tidak dapat saya jawab secara mendetail karena  keterbatasan waktu. Secara prinsip, iman kita tidak tergantung dari penampakan-penampakan. Jadi, JIKA Vatikan mengakui bahwa satu penampakan atau wahyu pribadi adalah otentik, maka umat beriman dapat mempercayainya. Walaupun demikian, semua wahyu pribadi bersifat tidak mengikat. KGK, 67 menuliskannya sebagai berikut:

      Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja.Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

      Gelar yang diusulkan dalam website tersebut, seperti: Mary Coredemptrix, Mediatrix, Advocate sebenarnya memang mempunyai dasar teologis yang kuat. Kami pernah menuliskan tentang hal ini secara sekilas di artikel ini – silakan klik. Semoga penjelasan ini dapat berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Salam,

        Terima kasih atas balasan pak Stef. Akan tetapi, maaf, saya masih belum terlalu memahami mengenai preternatural gifts yang ada dalam Bunda Maria dan Tuhan Yesus. Saya hanya dapat membayangkan beberapa penjelasan :

        1. Tuhan Yesus menjelma menjadi manusia layaknya kita, yakni manusia yang dalam keadaan telah kehilangan seluruh rahmat tersebut sehingga dapat menderita dan wafat. Hal ini saya kira lebih masuk akal karena Tuhan menampakkan tubuh kemuliaanNya setelah kebangkitanNya, tubuh yang sama yang akan dianugerahkan pada kita apabila kita setia. Hal ini juga tampak pada Bunda Maria.

        2. Tuhan menjelma menjadi manusia dan memiliki seluruh rahmat tersebut, termasuk imortalitas dan impasibilitas. Namun, karena Allah mencurahkan kasihNya pada manusia tanpa menahan sesuatu apapun, Ia memeluk kematian dan penderitaanNya dengan rela demi pengorbanan kasihNya pada manusia. Apabila yang terjadi seperti ini, berarti Bunda Maria dianugerahi rahmat serupa.

        Yang manakah yang terjadi? atau masih ada pemahaman saya yang salah? Mohon diperbaiki. Terima kasih.

        Pacem,
        Ioannes

        • Shalom Ioannes,

          Maaf agak lama menjawabnya. Secara prinsip memang Yesus dan Maria yang dilahirkan tanpa dosa asal mempunyai preternatural gifts (infused knowledge, tidak dapat menderita dan mati, gift of integrity) sama seperti Adam dan Hawa sebelum jatuh ke dalam dosa. Namun demikian, karunia tersebut (tidak dapat menderita dan tidak dapat mati) tidak mendukung misi keselamatan yang diemban oleh Kristus. Dengan mengedepankan misi keselamatan, maka karunia tersebut tidak diberikan kepada Yesus. Kalau kita melihat, preternatural gifts diberikan kepada Adam dan Hawa di taman Firdaus untuk membantu mereka dalam misi ketaatan mereka, sehingga akhirnya mereka mendapatkan keselamatan. Dengan demikian, kalau karunia tersebut (seperti penderitaan, kematian) bertentangan dengan Misi keselamatan Kristus, maka karunia tersebut tidak diberikan kepada Kristus. Jadi, Kristus yang memang datang untuk menderita dan wafat untuk mendatangkan keselamatan bagi umat manusia, tidak diberikan karunia “tidak dapat tidak menderita dan tidak dapat mati”, namun tetap mempunyai infused knowledge dan the gift of integrity. Bagaimana dengan Bunda Maria? Karena Bunda Maria berpartisipasi secara istimewa dan penuh dalam karya keselamatan Kristus, maka apa yang dialami oleh Puteranya, Bunda Maria juga turut berpartisipasi secara sempurna. Dengan demikian, Bunda Maria mengikuti jejak Puteranya, mengalami penderitaan dan juga kematian. Semoga hal ini dapat memperjelas.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

      • 1.Dikatakan Peran Bunda Maria kemudian banyak disampaikan oleh Tradisi Suci, yaitu dari ajaran yang disampaikan oleh para Bapa Gereja, dan yang dilestarikan juga dalam liturgi suci dan oleh pengajaran Magisterium,
        Sepanjang Firman Tuhan yg saya baca tidak banyak dibicarakan apa peran Maria sedangkan Alkitab memperlihatkan bahwa Maria tdk mengerti apa Tujuan Yesus datang ke bumi ini, boleh saya tahu tradisi gereja (siapa rasul yg menceritakan tentang Maria dan mengajarkan utk menghormati Maria)

        Ke 2.yang menunjukkan bahwa Bunda Maria selalu menjadi bagian dalam sejarah kehidupan Gereja di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja. Ada dua hal yg saya dapatkan menunjuk bahwa umat tdk memerlukan Roh Kudus tp umat hanya memerlukan keputusan dari Magisterium ke dua ketika hamba Tuhan non Katolik mendapatkan pewahyuan dari Tuhan sudah sepertinya juga harus ada persetujuan dari MG

        • Shalom Kay Roven,

          1. Dari beberapa diskusi dengan anda,  maka saya melihat tendensi bahwa anda tidak mau melihat beberapa artikel yang sudah ditulis. Sebagai contoh, anda bertanya Tradisi Gereja (siapa rasul yg menceritakan tentang Maria dan mengajarkan utk menghormati Maria). Kalau anda menuntut bahwa tulisan tersebut harus dari kedua belas rasul, maka anda juga seharusnya tidak boleh mempercayai Trinitas dan sola scriptura, karena para rasul juga tidak pernah menyebut kata Trinitas dan sola scriptura. Kalau anda mau membaca artikel di atas – silakan klik, maka anda akan melihat bahwa ada begitu banyak tulisan dari para Bapa Gereja bahwa kita harus menghormati Maria, karena terlebih dahulu Tuhan yang menyapa Maria, memberikan rahmat begitu besar kepada Maria sehingga Maria dapat menjadi Bunda Allah, dan Kristus hidup di bawah bimbingan Maria di masa kecil-Nya. Sebaliknya, dapatkah anda menunjukkan dari Tradisi Suci, yang menunjukkan kita tidak perlu menghormati Maria? Silakan anda melihat tulisan dari Martin Luther dan John Calvin tentang Maria.

          2. Anda mengatakan bahwa umat tidak memerlukan Roh Kudus tapi hanya berpegang pada keputusan Magisterium. Yang anda lupakan adalah Roh Kudus berkarya di dalam diri semua umat yang telah dibaptis dan secara istimewa kekuasaan mengajar diberikan kepada Magisterium Gereja (lih. Mat 16:16-19; Yoh 20:21-23). Ketika hamba non-Katolik mendapatkan pewahyuan dari Tuhan, mereka tidak perlu persetujuan dari Magisterium Gereja. Namun, kalau seorang Katolik ingin mempercayai wahyu pribadi, maka umat Katolik berpaling pada Magisterium Gereja, untuk melihat apakah sebuah wahyu benar-benar berasal dari Tuhan, dari diri sendiri atau dari setan. Bahkan kondisi yang sama berlaku untuk wahyu-wahyu pribadi yang diterima oleh anggota Gereja Katolik sendiri. Dengan cara ini, maka tidak ada kesimpangsiuran pengajaran.

          Semoga keterangan di atas dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  5. Wolfrannus Haryo Yudhanto on

    Mohon informasi / penjelasan tentang St.Anna, apakah hanya sekedar Ibunda dari Bunda Maria saja, atau mempunyai peran-peran tertentu pada jaman-Nya.
    Terima kasih.

    [dari Katolisitas: Silakan membaca kisah selengkapnya mengenai Santa Anna, termasuk perannya dalam masa-masa kehidupan Yesus, di Catholic Encyclopedia, silakan klik di sini. Mohon maaf kalau kami belum mempunyai kesempatan untuk menterjemahkannya bagi Anda. Semoga dapat dipahami dan dapat bermanfaat.]

  6. Antonius Wahyu on

    salam Damai Kristus,
    saya adalah seorang seminaris, Seminari Menengah Mertoyudan. Saya mau bertanya beberapa hal:
    1. Seputar Bunda Maria, ada berapa gelar yang diberikan kepada Bunda Maria. lalu mengapa Maria disebut Bunda yang terkandung tak bernoda.
    2. mohon dijelaskan sedikit mengenai hari Kebangkitan pada akhir jaman.
    Terima kasih atas bantuannya
    Berkah Dalem

    [dari Katolisitas: Untuk berbagai gelar Bunda Maria, Anda dapat membaca penjelasan di situs Gema Warta berikut  link to gemawarta.wordpress.com dan Litani Loreto yang menjadi salah satu dasar penetapan gelar Bunda Maria silakan disimak di situs Yesaya ini link to indocell.net Kemudian mengenai mengapa Maria disebut Bunda yang terkandung tak bernoda, silakan dibaca di artikel "Maria Dikandung Tanpa Noda: Apa Maksudnya?", silakan klik dan "Bagaimana mungkin Maria dikandung tanpa noda?", silakan klik . Tentang kebangkitan pada akhir jaman, silakan dibaca di artikel "Kebangkitan Badan", silakan klik].

  7. Shallom sdr2ku umat katolik…. Umat katolik mempercayai bahwa orang yg percaya pada Allah setelah meninggal mampir dulu ke api penyucian/ tempat penyiksaan krn ada api yg sangat panas, bisa masuk sorga dgn cara bantuan doa orang2 kudus atau menanti saat kedatangan Kristus, menurut saya api penyucian itu tidak ada yang ada adalah Hades/ tempat penyiksaan: adalah tempat bagi arwah2 yg tidak percaya pd Allah/ Kristus dan nanti setelah hari penghakiman dicampakkan ke Neraka/ lautan api. berikutnya adalah firdaus adalah tempat bagi arwah2 yg percaya pd Allah/ Kristus dan setelah hari penghakiman masuk sorga.

    Dasar ayatnya:
    Lukas 16: 22 “Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham”
    Lukas 23: 43 “Kata Yesus kepadanya: /”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
    2 korintus 5:1 “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.”.

    ayat2 diatas sudah jelas tentang masa depan orang2 yg percaya pd Kristus yg telah menjadi umat tebusan yg dibeli dgn darah kristus yg mahal dan sudah ada jaminannya yaitu Roh Allah sekaligus sbg meterai keselamatan. apa masih kurang…. jadi menurut sy keyakinan mampir dulu ke api penyucian itu menunjukkan masih meragukan Kurban Kristus, padahal kurban Kristus adalah sempurna.

    sekian, thank

    [dari katolisitas: silakan membaca link ini - silakan klik, beserta dengan dialog di bagian bawah. Argumentasi di atas telah di jawab di dalam dialog di link tersebut. Cobalah membaca dulu, sehingga tidak terjadi pengulangan argumentasi. Semoga dapat dimengerti.]

  8. Shallom sdr2ku…pada kesempatan ini saya mau menyampaikan masukan pd sdr2 umat katolik, karena dogma umat katolik menempatkan bunda Maria yg tidak selaras dgn firman Tuhan, yaitu:
    1. Maria suci/ tidak berdosa sehingga tdk butuh penebusan dosa/ tdk butuh juruselamat.
    Hal ini tidak selaras dgn firman Tuhan yg tertulis dlm:
    Galatia 4: 4,5
    “ setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
    Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”
    Masmur 14: 2,3
    “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.
    Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”
    Lukas 1: 47
    “dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”
    2. Maria ratu semesta alam; Maria ratu sorga dan bumi
    Tentang hal ini tdk usah dijelaskan panjang lebar sdh byk yg tau bahkan anak kecilpun tahu, bahwa yg berkuasa atas alam semesta; yg berkuasa atas sorga dan bumi adalah Tuhan Allah sendiri bukan Maria, Tuhan Allah tidak akan memberikan kemuliaan-Nya pd yang lain, dulu malaikat Lucifer sbg makluk ciptaan Allah yg sempurna dan penuh dgn kemuliaan dicampakkan dari sorga krn sombong/ membrontak/ ingin menyamai Allah. Demikian jg Adam/ Hawa krn bujukan iblis di taman firdus ingin seperti Allah, akibatnya Adam/ Hawa diusir dr taman firdus dan menanggung penderitaan akibat dosa.
    Kitab suci memberi kesaksian bahwa bunda Maria pribadi yg taat dan takut akan Tuhan tdk berbuat seperti Lucifer. Oleh karena itu ketika umat katolik menempatkan bunda Maria sbg ratu semesta alam/ ratu sorga dan bumi itu namanya bukan menghormati bunda Maria tapi justru menduakan Tuhan dan membuat Maria tdk bahagia justru sedih.
    3. Maria / para santo sang penolong/ perantara
    Saya jg percaya para nabi/ rasul/ Maria tidak mati tapi hidup, namun orang2 tsb sdh meninggalkan dunia ini dan orang2 yg sudah meninggalkan dunia ini sdh tidak bisa berkomunikasi dgn orang yg masih didunia ini atau memberi penjelasan dan itu tdk perlu karena di bumi sdh ada pengajaran para nabi. Tuhan telah berfirman supaya kita tdk boleh berpaling pd arwah, seperti yg tertulis dlm Imamat 19: 31 “
    Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.” Jika itu dilanggar yg datang bukan arwah/ roh yg dimaksud tapi iblis yg menyamar , jadi dgn meminta bantuan doa pd Maria/ para santo akan membuka celah akan hadirnya kuasa gelap. Memang saat Tuhan Yesus mengalami transfigurasi di gunung Tabor Tuhan Yesus bercakap cakap dgn Musa dan Elia, kita tahu siapa Yesus Dia adalah Allah yg Mahakuasa yg menguasai segala roh, tapi kita manusia biasa.
    Oleh karena itu: dogma2 ttg bunda Maria yg diyakini umat katolik menurut sy perlu dikaji ulang dgn berlandaskan firman Tuhan, silakan menggunakan tradisi/ budaya/pendapat orang2 dulu tapi kalau tradisi/ budaya/pendapat orang2 dulu tidak selaras dgn firman Tuhan jangan dipakai, jangan sebaliknya firman Tuhan harus tunduk pada tradisi.
    thank

    • Shalom Kirmadi,

      1. Apakah Maria tidak membutuhkan Juru Selamat?

      Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa Bunda Maria tidak butuh Juru Selamat. Sebab keadaan Bunda Maria yang dibebaskan dari dosa tersebut adalah hanya mungkin karena buah penebusan Kristus sebagai Juru Selamatnya. Hanya saja, Tuhan Yesus memberikan buah penebusan-Nya terlebih dahulu kepada Bunda Maria, Ibu-Nya, karena Ia adalah Allah yang mengatasi segala ruang dan waktu, dan Ia berhak memberikan hasil penebusan-Nya kepada Bunda Maria sebelum korban penebusan-Nya itu terjadi menurut kronologis manusia. Sebab dalam kapasitas-Nya sebagai Allah, Ia tidak mengenal batasan waktu (masa lampau, sekarang dan masa datang), namun semuanya tampil di hadapan-Nya sebagai ‘saat ini’. Maka tak ada yang mustahil bagi-Nya untuk memberikan buah penebusan-Nya kepada Maria seturut kehendak-Nya.

      2. Maria Ratu Sorga/ Ratu alam semesta

      Anda benar sewaktu mengatakan bahwa yang berkuasa atas surga dan bumi adalah Tuhan. Oleh sebab itu, Tuhan pula yang berkuasa untuk menentukan segala sesuatu, tanpa meminta ‘persetujuan’ kita, apakah menurut kita masuk akal atau tidak. Sebab penobatan Bunda Maria sebagai ratu Surga itu bukannya berdasarkan atas kehendak manusiawi umat Katolik, tetapi menurut apa yang diwahyukan oleh Tuhan sendiri kepada Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik. Ajaran ini disampaikan melalui Tradisi Suci yang didukung oleh pengajaran dari Kitab Suci. Yang dimaksud dengan Tradisi Suci di sini bukanlah tradisi/ budaya/ pendapat orang- orang dulu, seperti yang anda sangka. Sebab Tradisi Suci yang dimaksud adalah pengajaran yang berasal dari ajaran lisan para rasul dan para penerus mereka yang mereka peroleh dari ilham Roh Kudus. Maka Tradisi suci inilah yang dimaksud oleh rasul Paulus sebagai, “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15)

      Maria diangkat ke surga, dan menjadi ratu surga berhubungan dengan panggilan istimewanya sebagai Bunda Allah. Kedudukan Maria ini tidak pernah setara dengan Allah, dan tidak menduakan Allah. Silakan klik di sini dan di sini untuk membaca sekilas dasar- dasarnya.

      Anggapan anda bahwa Bunda Maria bersedih karena dinobatkan menjadi Ratu Surga, kemungkinan adalah pendapat anda sendiri, atau karena anda mendengar wahyu pribadi dari Angelica Zambrano yang ramai dibicarakan orang belakangan ini. Jika anda memperhatikan wahyu- wahyu pribadi semacam ini, mengapa anda tidak memperhatikan juga wahyu- wahyu pribadi banyak orang kudus dari Gereja Katolik, yang menyatakan sebaliknya? Silakan anda klik di sini untuk membaca tanggapan kami akan hal ini.

      3. Maria dan para santo sebagai penolong/ perantara.

      Anda benar sewaktu mengatakan bahwa anda percaya bahwa semua orang beriman yang telah wafat itu sesungguhnya tetap hidup. Sesungguhnya atas dasar inilah kami umat Katolik percaya bahwa ikatan kasih antara umat beriman tidak terputus oleh maut. Selanjutnya, perlu dipahami bahwa dengan menghormati para orang kudus itu, umat Katolik tidak berpaling kepada arwah, roh peramal ataupun memanggil arwah. Yang dilakukan umat katolik hanya mengarahkan pandangan ke surga, di mana Allah ada dikelilingi oleh para malaikat dan orang kudus-Nya, dan kita memohon orang kudus tersebut mendukung kita dengan doa- doa mereka kepada Allah. Jadi mereka tidak kami pandang sebagai saingan Allah, tetapi sebagai sesama saudara seiman, namun yang sudah jaya di surga; semacam ‘kakak kelas’ yang memang telah diijinkan Tuhan untuk mendoakan kita.

      Jadi nampaknya ada perbedaan pandangan di sini tentang peran Pengantaraan Kristus. Pemahaman anda adalah pengantaraan Yesus sifatnya eksklusif, sedangkan menurut ajaran Gereja Katolik, Pengantaraan Yesus yang satu- satunya itu (1 Tim 2:5) bersifat inklusif. Hal ini sudah pernah dijabarkan di sini, silakan klik.

      Demikianlah Kirmadi, nampaknya pandangan yang perlu dikaji ulang adalah pandangan yang menyatakan bahwa ajaran Gereja Katolik perlu dikaji ulang. Karena orang yang menyatakan demikian sepertinya mau mengatakan bahwa para rasul dan para penerusnya selama berabad- abad telah keliru mengajar, dan dia sendirilah yang lebih memahami ajaran yang benar daripada para rasul dan para penerus rasul (Bapa Gereja) tersebut. Gereja Katolik tidak dapat setuju dengan pandangan ini, sebab kami percaya bahwa justru kepada merekalah Tuhan Yesus memberikan Sabda-Nya, baik yang kemudian ditulis dalam Kitab Suci, maupun yang lisan, yang kemudian dipelihara dengan seksama dalam Tradisi Suci secara turun temurun. Pengajaran lisan inilah yang disebut oleh Rasul sebagai yang juga harus dipelihara oleh jemaat, “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15). Sebab apa yang tertulis dalam Kitab Suci juga sebenarnya berasal dari ajaran lisan Kristus dan para rasul, maka Tradisi suci tidak bisa dipertentangkan dengan Sabda Allah. Sebab Tradisi Suci itu juga adalah Sabda Allah. Oleh karena sama- sama berasal dari Allah, maka Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak pernah saling bertentangan namun saling mendukung dan melengkapi. Keduanya merupakan pilar kebenaran Gereja, di samping kuasa mengajar Gereja (Magisterium) yang menginterpretasikannya dengan benar dan otentik. Itulah sebabnya Gereja Katolik tetap eksis selama 2000 tahun lebih sampai sekarang, dan mempunyai kesatuan pengajaran, karena Roh Kudus sendiri menjaganya, sesuai dengan janji Kristus dalam Mat 16:18 dan 28:19-20.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Bernardus Aan on

        Salam Damai Kristus Bu Ingrid,

        Bu Ingrid ternyata sdr. Kirmadi ini temannya sdr. Pemirsa. Lihat saja di comment no. 12 sdr Pemirsa dan no. 13 sdr Kirmadi…kalimat pertamanya sama persis hanya kalimat akhir saja yang berbeda. Silahkan dilihat bersama-sama :

        12pemirsa says:link to katolisitas.org
        March 24, 2011 at 9:32 pm

        Shallom sdr2ku…pada kesempatan ini saya mau menyampaikan masukan pd sdr2 umat katolik, karena dogma umat katolik menempatkan bunda Maria yg tidak selaras dgn firman Tuhan, yaitu:
        1. Maria suci/ tidak berdosa sehingga tdk butuh penebusan dosa/ tdk butuh juruselamat.
        Hal ini tidak selaras dgn firman Tuhan yg tertulis dlm:
        Galatia 4: 4,5
        “ setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
        Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”
        Masmur 14: 2,3
        “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.
        Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”
        Lukas 1: 47
        “dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”
        2. Maria ratu semesta alam; Maria ratu sorga dan bumi
        Tentang hal ini tdk usah dijelaskan panjang lebar sdh byk yg tau bahkan anak kecilpun tahu, bahwa yg berkuasa atas alam semesta; yg berkuasa atas sorga dan bumu adalah Tuhan Allah sendiri bukan Maria, dulu malaikat Lucifer sbg makluk ciptaan Allah yg sempurna dan penuh dgn kemuliaan dicampakkan dari sorga krn sombong/ membrontak/ ingin menyamai Allah. Demikian jg Adam/ Hawa krn bujukan iblis di taman firdus ingin seperti Allah, akibatnya Adam/ Hawa diusir dr taman firdus dan menanngung penderitaan akibat dosa.
        Kitab suci member kesaksian bahwa bunda Maria pribadi yg taat dan takut akan Tuhan tdk berbuat seperti Lucifer. Maka ketika umat katolik menempatkan bunda Maria sbg ratu smesta alam/ ratu sorga dan bumi itu namanya bukan menghormati bunda Maria tapi justru melakukan penyembahan berhala/ menduakan Tuhan dan membuat Maria tdk bahagia justru sedih.
        3. Maria / para santo sang penolong/ perantara
        Saya jg percaya para nabi/ rasul/ Maria tidak mati tapi hidup, namun orang2 tsb sdh meninggalkan dunia ini dan orang2 yg sudah meninggalkan dunia ini sdh tidak bisa berkomunikasi dgn orang yg masih didunia ini atau memberi penjelasan dan itu tdk perlu karena di bumi sdh ada pengajaran para nabi. Tuhan telah berfirman supaya kita tdk boleh berpaling pd arwah, seperti yg tertulis dlm Imamat 19: 31 “
        Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.” Jika itu dilanggar yg datang bukan arwah/ roh yg dimaksud tapi iblis yg menyamar , jadi dgn meminta bantuan doa pd Maria/ para santo membuka celah akan hadirnya kuasa gelap. Memang saat Tuhan Yesus mengalami transfigurasi di gunung Tabor Tuhan Yesus bercakap cakap dgn Musa dan Elia, kita tahu siapa Yesus Dia adalah Allah yg Mahakuasa yg menguasai segala roh, tapi kita manusia biasa.
        Oleh karena itu: dogma2 ttg bunda Maria menurut sy perlu dikaji ulang dgn berlandaskan firman Tuhan, silakan menggunakan tradisi/ budaya tapi kalau tradisi tsb tidak selaras dgn firman Tuhan jangan dipakai, jangan sebaliknya firman Tuhan harus tunduk pada tradisi. Terus terang dogma2 tsb membahayakan jiwa.
        thank

        dibandingkan ini :

        13 kirmadi says:
        March 31, 2011 at 9:22 pm

        Shallom sdr2ku…pada kesempatan ini saya mau menyampaikan masukan pd sdr2 umat katolik, karena dogma umat katolik menempatkan bunda Maria yg tidak selaras dgn firman Tuhan, yaitu:
        1. Maria suci/ tidak berdosa sehingga tdk butuh penebusan dosa/ tdk butuh juruselamat.
        Hal ini tidak selaras dgn firman Tuhan yg tertulis dlm:
        Galatia 4: 4,5
        “ setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
        Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”
        Masmur 14: 2,3
        “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.
        Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”
        Lukas 1: 47
        “dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”
        2. Maria ratu semesta alam; Maria ratu sorga dan bumi
        Tentang hal ini tdk usah dijelaskan panjang lebar sdh byk yg tau bahkan anak kecilpun tahu, bahwa yg berkuasa atas alam semesta; yg berkuasa atas sorga dan bumi adalah Tuhan Allah sendiri bukan Maria, Tuhan Allah tidak akan memberikan kemuliaan-Nya pd yang lain, dulu malaikat Lucifer sbg makluk ciptaan Allah yg sempurna dan penuh dgn kemuliaan dicampakkan dari sorga krn sombong/ membrontak/ ingin menyamai Allah. Demikian jg Adam/ Hawa krn bujukan iblis di taman firdus ingin seperti Allah, akibatnya Adam/ Hawa diusir dr taman firdus dan menanggung penderitaan akibat dosa.
        Kitab suci memberi kesaksian bahwa bunda Maria pribadi yg taat dan takut akan Tuhan tdk berbuat seperti Lucifer. Oleh karena itu ketika umat katolik menempatkan bunda Maria sbg ratu semesta alam/ ratu sorga dan bumi itu namanya bukan menghormati bunda Maria tapi justru menduakan Tuhan dan membuat Maria tdk bahagia justru sedih.
        3. Maria / para santo sang penolong/ perantara
        Saya jg percaya para nabi/ rasul/ Maria tidak mati tapi hidup, namun orang2 tsb sdh meninggalkan dunia ini dan orang2 yg sudah meninggalkan dunia ini sdh tidak bisa berkomunikasi dgn orang yg masih didunia ini atau memberi penjelasan dan itu tdk perlu karena di bumi sdh ada pengajaran para nabi. Tuhan telah berfirman supaya kita tdk boleh berpaling pd arwah, seperti yg tertulis dlm Imamat 19: 31 “
        Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.” Jika itu dilanggar yg datang bukan arwah/ roh yg dimaksud tapi iblis yg menyamar , jadi dgn meminta bantuan doa pd Maria/ para santo akan membuka celah akan hadirnya kuasa gelap. Memang saat Tuhan Yesus mengalami transfigurasi di gunung Tabor Tuhan Yesus bercakap cakap dgn Musa dan Elia, kita tahu siapa Yesus Dia adalah Allah yg Mahakuasa yg menguasai segala roh, tapi kita manusia biasa.
        Oleh karena itu: dogma2 ttg bunda Maria yg diyakini umat katolik menurut sy perlu dikaji ulang dgn berlandaskan firman Tuhan, silakan menggunakan tradisi/ budaya/pendapat orang2 dulu tapi kalau tradisi/ budaya/pendapat orang2 dulu tidak selaras dgn firman Tuhan jangan dipakai, jangan sebaliknya firman Tuhan harus tunduk pada tradisi.
        thank

        Jadi tulisan mereka cuma copy paste ajaran tertentu yang bukan berasal dari hati.

        Perlu anda ketahui sdr. Pemirsa bahwa kami umat Katolik menghayati iman kami kepada Kristus Tuhan dengan melibatkan Bunda Maria dalam kehidupan kami. Dan Alleluia…. Melalui Bunda Maria kami dekat dengan Kristus dan hal tersebut benar-benar menjadi pengalaman iman kehidupan kami bukan pengalaman iman copy paste.

        TUHAN memberkati kita semua,

        Banyak-banyak salam dalam Kasih Karunia Kristus Tuhan,
        Bernardus Aan

        [Dari Katolisitas: Terima kasih atas kejelian anda mengamati. Ya, mungkin kedua pembaca ini mengutip dari sumber yang sama. Namun yang penting, hal yang disampaikan tidak menggoyahkan iman kita].

  9. Shallom sdr2ku…pada kesempatan ini saya mau menyampaikan masukan pd sdr2 umat katolik, karena dogma umat katolik menempatkan bunda Maria yg tidak selaras dgn firman Tuhan, yaitu:
    1. Maria suci/ tidak berdosa sehingga tdk butuh penebusan dosa/ tdk butuh juruselamat.
    Hal ini tidak selaras dgn firman Tuhan yg tertulis dlm:
    Galatia 4: 4,5
    “ setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
    Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”
    Masmur 14: 2,3
    “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.
    Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”
    Lukas 1: 47
    “dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”
    2. Maria ratu semesta alam; Maria ratu sorga dan bumi
    Tentang hal ini tdk usah dijelaskan panjang lebar sdh byk yg tau bahkan anak kecilpun tahu, bahwa yg berkuasa atas alam semesta; yg berkuasa atas sorga dan bumu adalah Tuhan Allah sendiri bukan Maria, dulu malaikat Lucifer sbg makluk ciptaan Allah yg sempurna dan penuh dgn kemuliaan dicampakkan dari sorga krn sombong/ membrontak/ ingin menyamai Allah. Demikian jg Adam/ Hawa krn bujukan iblis di taman firdus ingin seperti Allah, akibatnya Adam/ Hawa diusir dr taman firdus dan menanngung penderitaan akibat dosa.
    Kitab suci member kesaksian bahwa bunda Maria pribadi yg taat dan takut akan Tuhan tdk berbuat seperti Lucifer. Maka ketika umat katolik menempatkan bunda Maria sbg ratu smesta alam/ ratu sorga dan bumi itu namanya bukan menghormati bunda Maria tapi justru melakukan penyembahan berhala/ menduakan Tuhan dan membuat Maria tdk bahagia justru sedih.
    3. Maria / para santo sang penolong/ perantara
    Saya jg percaya para nabi/ rasul/ Maria tidak mati tapi hidup, namun orang2 tsb sdh meninggalkan dunia ini dan orang2 yg sudah meninggalkan dunia ini sdh tidak bisa berkomunikasi dgn orang yg masih didunia ini atau memberi penjelasan dan itu tdk perlu karena di bumi sdh ada pengajaran para nabi. Tuhan telah berfirman supaya kita tdk boleh berpaling pd arwah, seperti yg tertulis dlm Imamat 19: 31 “
    Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.” Jika itu dilanggar yg datang bukan arwah/ roh yg dimaksud tapi iblis yg menyamar , jadi dgn meminta bantuan doa pd Maria/ para santo membuka celah akan hadirnya kuasa gelap. Memang saat Tuhan Yesus mengalami transfigurasi di gunung Tabor Tuhan Yesus bercakap cakap dgn Musa dan Elia, kita tahu siapa Yesus Dia adalah Allah yg Mahakuasa yg menguasai segala roh, tapi kita manusia biasa.
    Oleh karena itu: dogma2 ttg bunda Maria menurut sy perlu dikaji ulang dgn berlandaskan firman Tuhan, silakan menggunakan tradisi/ budaya tapi kalau tradisi tsb tidak selaras dgn firman Tuhan jangan dipakai, jangan sebaliknya firman Tuhan harus tunduk pada tradisi. Terus terang dogma2 tsb membahayakan jiwa.
    thank

    • Shalom Pemirsa,

      O rupanya ini argumen anda. Berikut ini saya menanggapinya, (pandangan anda saya tulis warna biru) 

      1. Anda berkata, Maria suci/ tidak berdosa sehingga tdk butuh penebusan dosa/ tdk butuh juruselamat.

      Rupanya anda belum membaca dengan seksama ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik memang mengajarkan bahwa Bunda Maria tidak berdosa, namun tidak mengajarkan bahwa ia tidak butuh Juru Selamat. Maria justru membutuhkan Yesus sebagai Juru Selamat-Nya, karena hanya karena jasa Yesus-lah maka Maria dibebaskan dari dosa. Hanya saja, Maria menerima buah penebusan Kristus mendahului semua manusia yang lain, sehubungan dengan tugas istimewa yang diembannya sebagai Bunda Kristus. Jadi, Bunda Maria sangat membutuhkan Yesus sebagai Juru Selamat-nya, sebab justru hanya karena kuasa Kristuslah maka Bunda Maria dapat dikandung tanpa noda sejak conception dan dibebaskan dari dosa seumur hidupnya. Jadi hal ‘tidak berdosa’ ini bukan disebabkan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena rahmat Allah. Pengudusan Maria ini terjadi bukan sebelum conception dan juga bukan sesudah conception, tetapi pada saat conception. Keistimewaan ini memang hanya diberikan kepada Bunda Maria, dan hal ini diberikan secara antisipatif (sebelum Yesus wafat dan bangkit dari kematian-Nya) karena sebagai Allah, kuasa Kristus tidak terbatas oleh waktu dan tempat, dan Ia dapat memberikan kuasa-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

      Ayat yang anda berikan yaitu Gal 4:4-5, Mzm 14:2-3 dan Luk 1:47, juga kami amini, jadi tidak ada yang menentang ayat-ayat tersebut.

      2. Anda berkata Maria ratu semesta alam; Maria ratu sorga dan bumi: yg berkuasa atas sorga dan bumi adalah Tuhan Allah sendiri bukan Maria.

      Benar, yang berkuasa di surga adalah Tuhan Allah. Namun Allah yang berkuasa di surga berada tidak sendirian, melainkan dikelilingi oleh para malaikat dan para kudus-Nya. Dalam konteks inilah kita memahami kedudukan Maria di Surga. Maria adalah Bunda Kristus yang adalah Allah Putera, maka kedudukannya tidak akan sama dengan semua manusia yang lain yang bukan bunda Kristus. Jika raja Salomo saja memuliakan ibunya Batsyeba sebagai Ratu, maka Kristuspun yang adalah Raja Semesta alam akan memuliakan ibu-Nya. Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      3.  Anda berkata: Perantaraan para Santo/a dan Bunda Maria: Tuhan telah berfirman supaya kita tdk boleh berpaling pd arwah, seperti yg tertulis dlm Imamat 19: 31

      Anda keliru jika menyamakan penghormatan umat Katolik kepada para Santa/o dengan ‘berpaling kepada arwah dan kepada roh peramal’ seperti yang disebutkan dalam Im 19:31. Sebab yang kami lakukan bukan memanggil arwah seperti yang dilakukan oleh Raja Saul seperti yang pernah dibahas di sini, silakan klik, melainkan kami hanya memohon dukungan doa para kudus tersebut, karena kami percaya bahwa doa-doa mereka -sebagai orang- orang yang telah dibenarkan oleh Allah di surga- besar kuasanya. Maka keadaannya serupa dengan jika kita memohon dukungan doa dari para sesama saudara seiman.

      Silakan anda membaca terlebih dahulu, dasar ajaran Gereja Katolik tentang Pengantaraan Kristus, di sini, silakan klik, dan juga:

      Tanya jawab tentang orang- orang kudus, di sini (silakan klik di judul berikut ini)

      Benarkah kita tak bisa mohon para kudus untuk mendoakan kita?
      Apakah jemaat perdana percaya akan persekutuan para kudus?
      Belajar dari St. Thomas Aquinas tentang memohon dukungan doa orang kudus

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Shallom semuanya….saya tanya pada Romo/ sdr2ku katolik? dogma katolik percaya/ meyakini bahwa bunda Maria memiliki gelar sbb:

    ~ Bagi Maria yang tidak berdosa, kematian yang dialaminya bukan karena akibat dosa asal ataupun
    dosa pribadi
    ~ Maria telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta
    ~ Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela, Pembantu, Penolong, Perantara
    ~ Sekarang Bunda Maria berada di surga. Ia adalah ratu surga dan bumi

    apa gelar2 tersebut sdh selaras dgn firman Tuhan? menurut sy itu tidak sesuai dgn frman Tuhan dan dogma seperti itu bisa membahayakan umat.

    thank.

    • Shalom Pemirsa,

      Sebelum saya menanggapi, silakan anda menyebut dahulu argumen anda mengapa anda berpikir bahwa gelar- gelar Bunda Maria itu “tidak sesuai dgn frman Tuhan dan dogma seperti itu bisa membahayakan umat.” Silakan anda sebutkan terlebih dahulu keberatan anda.

      Sebelum itu, saya mengundang anda untuk membaca Arsip Artikel dan Tanya Jawab tentang Bunda Maria, klik di sini karena di sana sudah ada banyak penjelasan mengenai dasar pengajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria. Silakan anda membaca terlebih dahulu di sana.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  11. Shallom semuanya… menurut sy pemimpin2 greja katolik mula2 telah melebih lebihkan posisi Maria, Maria mendapat gelar Ratu Sorga, Ratu alam semesta…. itu tidak benar. Yang berhak mengenakan gelar Ratu Sorga maupun Ratu alam semesta hanya : Tuhan Allah sendiri saya ulangi lagi hanya Tuhan Allah sendiri yg telah menyatakan diri dlm Kristus.

    Artikel ini juga menyatakan Maria tidak berdosa/ dibebaskan dari dosa asal, menurut sy ini juga tdk benar buktinya: dlm artikel ini diceritakan Maria mengalami kematian itu bukti bahwa Maria jg berdosa sebab upah dosa adalah maut ,dan jg selaras dgn kitab suci seperti ada tertulis Maria takluk pd hukum Taurat dan semua manusia berdosa.

    • Shalom Kirmadi,
      Pemimpin Gereja Katolik hanya mengajarkan apa yang mereka terima dari para pendahulu mereka, yaitu mereka yang menjadi para penerus para rasul, yaitu para Bapa Gereja.

      Peran Bunda Maria dan segala gelarnya, tidak pernah disejajarkan dengan peran Tuhan Yesus, namun hanya mendukungnya. Silakan, jika anda tertarik untuk membaca pengertian tentang Pengantaraan Yesus ini menurut ajaran Gereja Katolik, silakan klik.
      Tentang Maria diangkat ke surga dan Ratu surga, silakan klik di sini.

      Bahwa Maria mengalami kematian (sebelum diangkat ke surga), ini tidak disebabkan oleh dosa asal, tetapi karena persatuannya dengan Kristus Puteranya, yang juga mengalami kematian sebelum Ia bangkit dan naik ke surga. Kristus juga mengalami mati, bukan karena ia berdosa, tetapi karena Ia menanggung dosa manusia, untuk menebusnya dengan nyawa-Nya sendiri.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. chandra christian on

    salam damai..,,,

    saya mau tanya tolong donk ayat dalam injil yang mengajar kan kita untuk berdevosi kepada bunda maria .,,
    tolong rincian ayat nya yah buu..
    tolong dbalas secepatnya….

    [Dari Katolisitas: Silakan anda membaca terlebih dahulu artikel di atas, yang menjelaskan secara sekilas tentang dasar ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria, silakan klik. Di sana ada dasar- dasar dari Kitab Suci dan Tradisi Suci, mengapa Gereja menghormati Bunda Maria. Jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya kembali]

  13. budiaryotejo on

    Halo mister Tristan..[edit],

    Saya mau tahu jawaban/ respon anda atau setidaknya pandangan anda untuk menjawab peryataan pak Stef di point I, II , III ( yang tercetak merah ).
    Tolong disertai dengan referensinya yaa…… yang mendukung argumentasi anda.
    Jangan…[edit]…….sehingga diskusi enak di tonton.

    Saya tunggu bro…

    Shalom semuanya….

  14. budiaryotejo on

    itulah penafsiran protestan zaman sekarang perihal Maria, tanpa ada dasar yang jelas…..
    Lho wong gurunya ( Luther,Calvin dan kawan2 ) aja ngajarin dan mengakui Bunda Maria je….
    Lha ini muridnya khok kaga ngakuin Bunda Maria…….
    Mungkin dapat ilham atau ilmu baru kali yee…..Coba kalian jelaskan darimana ambil argument atu ilmu baru itu ? [Dari Katolisitas: ....kami edit]

    Salom semuanya…..

  15. Shalom, katolisitas.org

    Saya mendengar beberapa pernyataan dari saudara/i kami, umat Protestan, sebagai berikut, dan saya mohon tanggapan dari umat Katolik, terutama pihak katolisitas.org dalam hal ini:

    1) “Katolik menganggap bahwa Maria adalah Ibu kita semua. Namun, sesungguhnya tidak Alkitabiah. Ketika Yesus mengatakan kepada Yohanes, Inilah ibumu, itu mengacu karena tugas Yesus telah selesai, dan Maria perlu dirawat oleh seseorang, yaitu murid kesayangannya. Hal ini didahului oleh pernyataan Yesus menyebut Maria sebagai “perempuan” yang membuktikan bahwa sesungguhnya Maria sudah bukanlah “berperan” sebagai Ibu Yesus, maka diserahkan kepada Yohanes.”

    2) “Lalu, mengenai pernyataan Martin Luther pada saat satu homili, ketika ia mengatakan bahwa Maria merupakan Ibu kita semua, dikatakan bahwa Martin Luther masih dipengaruhi oleh keuskupan setempat dan ajaran Gereja Katolik saat itu.”

    3) “Lalu, mengapa umat Katolik berdoa di depan patung (dalam hal ini Maria), dengan keberadaan patung itu memberi perasaan yang berbeda daripada tanpa patung, sehingga patung tersebut mempengaruhi hati kita saat berdoa?”

    4) “Dan, darimana asal Alkitab, bahwa kita boleh berdoa kepada Maria (dan juga para Kudus), bukan kepada Allah saja?”

    Terima Kasih, semoga tidak merepotkan anda-anda sekalian, dan semoga saya bisa mendapat pengertian yang lebih lagi mengenai Gereja Yesus ini.

    Dominus vobiscum.

    • Shalom Yohanes,

      1. Maria adalah Ibu kita semua, ini tidak Alkitabiah?

      Sebenarnya, dasar mengapa Maria disebut sebagai ibu umat beriman itu adalah karena Bunda Maria melahirkan Kristus yang adalah Kepala jemaat (Ef 5:23, Ef 1:22-23); sebab Kristus adalah Kepala Tubuh (Kol 1:18) dan kita semua yang percaya kepada-Nya adalah anggota- anggota-Nya (lih. Rom 12:5). “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” (1 Kor 12:12).

      Maka karena kita adalah anggota- anggota Tubuh Kristus yang tidak terpisah dari Kepala-Nya, maka kalau Kristus Sang Kepala dilahirkan oleh Bunda Maria, maka kitapun secara rohani dilahirkan olehnya. Persatuan kita dengan Kristuslah yang mengikat kita juga dengan ibu-Nya.

      Kristus adalah yang sulung dari banyak saudara (Rom 8:29), dan kita semua adalah saudara- saudari angkat Yesus (lih. Rom 8:14-17; Gal 4:4-7) oleh karena Baptisan yang kita terima. Oleh karena Baptisan kita digabungkan dengan Kristus menjadi saudara- saudari-Nya. Hal ini juga digambarkan dalam penglihatan Rasul Yohanes di Kitab Wahyu, di mana ia melihat seorang perempuan (Bunda Maria) yang melahirkan Yesus (Why 12:5) dan keturunannya yang lain (Why 12:17).

      Jadi ketika Yesus memberikan Ibu-Nya kepada Yohanes yang mewakili murid- murid yang dikasihi-Nya (Yoh 19:26-27), memang itu adalah salah satu dasar ayat Kitab Suci, bahwa Yesus mempercayakan Bunda Maria kepada para murid-Nya; namun bukan itu satu- satunya dasar ayat Kitab Suci yang menyebabkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria adalah Bunda Gereja.

      Bahwa Yesus menyebut “perempuan/ Woman” kepada Maria itu bukan untuk mengecilkan peran Maria sebagai Ibu Yesus, tetapi karena ungkapan “Woman/ perempuan” ini mengacu kepada “Woman/ perempuan” yang sama, yang dijanjikan Allah sejak awal mula, yaitu di Kej 3:15, yaitu perempuan yang keturunannya akan meremukkan Iblis. Itulah sebabnya, di dalam Kitab Suci, Yesus beberapa kali memanggil ibu-Nya dengan kata “Woman/perempuan”, seperti juga pada peristiwa mukjizat pertama di Kana (lih. Yoh 2:4).

      Selanjutnya anda dapat membaca di sini, silakan klik.

      Semoga anda dapat melihat bahwa ajaran Bunda Maria sebagai Bunda umat Kristiani adalah sangat Alkitabiah, karena justru didasari oleh persatuan kita sebagai anggota Kristus, dengan Kristus yang adalah Sang Kepala, seperti yang diajarkan dalam Alkitab.

      2. Luther mengajar bahwa Maria adalah Ibu kita semua, karena ia masih terpengaruh oleh ajaran Katolik?

      Luther mengkhotbahkan tentang Maria sebagai Bunda rohani umat Kristen dalam khotbahnya pada tahun 1522 dan 1529. Kedua khotbahnya ini adalah khotbah setelah ia memisahkan diri dari kesatuan dengan Gereja Katolik pada tahun 1517. Maka tidak benar bahwa khotbahnya tentang Maria sebagai Ibu umat Kristen ini diajarkannya sewaktu ia masih dipengaruhi oleh Gereja Katolik.

      Luther mengajarkan demikian:

      It is the consolation and the superabundant goodness of God, that man is able to exult in such a treasure. Mary is his true Mother .. (Sermon, Christmas, 1522)

      Terjemahannya:
      Adalah merupakan penghiburan dan kebaikan Allah yang melimpah, sehingga seseorang dapat bergembira di dalam kekayaan yang sedemikian. Maria adalah ibunya yang sejati…. (Khotbah Natal 1522)

      Mary is the Mother of Jesus and the Mother of all of us even though it was Christ alone who reposed on her knees . . . If he is ours, we ought to be in his situation; there where he is, we ought also to be and all that he has ought to be ours, and his mother is also our mother. (Sermon, Christmas, 1529).

      Terjemahannya:
      Maria adalah Ibu Yesus dan Ibu kita semua, meskipun hanya Kristus saja yang beristirahat di lututnya….. Jika Ia [Yesus] adalah milik kita, maka kita harus berada di dalam keadaannya; maka di mana Ia berada, kita juga harus berada dan semua yang menjadi milik-Nya harus menjadi milik kita juga, dan Ibu-Nya juga adalah Ibu kita. (Khotbah Natal, 1529).

      Jika seseorang menyangka bahwa semakin jauh dari tahun 1517 maka Luther akan semakin tidak menghormati Maria, maka dugaannya keliru. Sebab pada tahun- tahun berikutnya Luther masih berkhotbah demikian:

      [She is the] highest woman and the noblest gem in Christianity after Christ . . . She is nobility, wisdom, and holiness personified. We can never honor her enough. Still honor and praise must be given to her in such a way as to injure neither Christ nor the Scriptures. (Sermon, Christmas, 1531).

      No woman is like you. You are more than Eve or Sarah, blessed above all nobility, wisdom, and sanctity. (Sermon, Feast of the Visitation, 1537).

      Penghormatan Luther kepada Maria tetap berlangsung sampai akhir hayatnya. Kenyataannya, Luther dimakamkan dalam kubur yang dihiasi oleh patung yang menggambarkan Bunda Maria dimahkotai di Surga oleh Allah Trinitas.

      3. Mengapa orang Katolik berdoa di depan patung Bunda Maria?

      Patung itu bagi umat Katolik hanya alat bantu, tidak lebih. Tidak ada patung juga umat Katolik tetap dapat berdoa. Namun adanya patung hanya untuk menggambarkan pribadi yang kita hormati. Tentang patung sudah dibahas panjang lebar di artikel ini:

      Orang Katolik tidak menyembah patung
      Tentang Patung, Bunda Maria dan Pengakuan Dosa

      Tanya jawab tentang patung/ berhala:
      Jawaban kepada Indah, di sini
      Jawaban kepada Sherly, di sini

      Tentang Apakah berhala itu?

      4. Tentang berdoa kepada orang Kudus

      Hal ini sudah pernah dibahas panjang lebar di sini:

      Apakah jemaat perdana percaya akan persekutuan para kudus?
      Benarkah kita tak bisa mohon para kudus untuk mendoakan kita?
      Penghormatan terhadap Maria, Santa dan Santo

      Untuk selanjutnya, silakan anda mencari topik yang ingin anda ketahui di Rubrik Arsip, atau gunakanlah fasilitas pencarian di pojok kanan webpage. Silakan ketik kata kuncinya, dan semoga anda dapat menemukan artikel/ tanya jawab tentang topik yang ingin anda ketahui. Jika belum ada, silakan bertanya kembali, dan kami akan berusaha untuk menjawabnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom,
        Sewaktu sekolah, saya punya teman akrab. Tidak hanya dengan teman saya itu, tapi juga dengan keluarganya juga saya akrab dan kadang – kadang saya menganggap ibunya seperti ibu saya sendiri. Kalau dengan seorang teman biasa kita bisa akrab dan menghormati ibunya, kenapa terhadap ibunya Tuhan Yesus harus “merasa alergi”.
        Tentang penyembahan, patung, berhala, dll saya pikir itu issu klasik yang membosankan. Orang Katolik bisa dengan jelas membedakan antara menghormati bunda Maria dengan menyembah Tuhan.

  16. Tambahan:

    Jawaban No 3 ditulis demikian: Apapun yang ada pada Bunda Maria, entah itu kuasa, pengetahuan dan belas kasihan, dst., itu disebabkan karena rahmat yang diberikan oleh Allah Bapa kepadanya. Oleh sebab itulah maka Bunda Maria disebut sebagai “full of grace“/ “kecharitomene” (Yunani) yang terjemahannya adalah “penuh rahmat.” (Luk 1:28). Dengan demikian semua hal yang diterima oleh Maria tidak akan pernah terlepas dari Putera-Nya, karena Maria sendiri tidak akan pernah mempunyai kuasa apapun terlepas dari Kristus.

    saya curious ttg kata “full of grace” sebagai terjemahan dari “kecharitomene” yang kata dasarnya adalah “charitoo”. Sebab dari beberapa Alkitab terjemahan bhs Inggris yg saya baca, kata “charitoo” TIDAK diterjemahkan sebagai “full of grace” melainkan “favor”

    Lukas 1:28

    KJV
    Luke 1:28 And the angel came in unto her, and said, Hail, thou that art highly favoured, the Lord is with thee: blessed art thou among women.

    NAS
    Luke 1:28 And coming in, he said to her, “Hail, favored one! The Lord is with you.”

    NIV
    Luke 1:28 The angel went to her and said, “Greetings, you who are highly favored! The Lord is with you.”

    RSV
    Luke 1:28 And he came to her and said, “Hail, O favored one, the Lord is with you!”

    4 Alkitab terjemahan bhs Inggris utk charitoo tdk ada yg menggunakan kata “full of grace”.

    Mohon diberikan referensi Alkitab terjemahan bahasa Inggris yg menterjemahkan charitoo sebagai “full of grace”

    Sebab tentunya berbeda makna antara favored one dengan full of grace.
    Thanks..

    Salam

    • Shalom Tristan,

      Kitab Suci bahasa Inggris yang dengan tepat menerjemahkan “kecharitomene” adalah Douay- Rheims Bible, yang merupakan terjemahan Vulgate (dari St. Jerome 347-420) dari bahasa Latin ke dalam bahasa Inggris.

      Demikian terjemahannya:

      Luk 1:28

      Bahasa Inggris:
      And the angel being come in, said unto her: Hail, full of grace, the Lord is with thee: blessed art thou among women.

      Bahasa Latin:
      et ingressus angelus ad eam dixit have gratia plena Dominus tecum benedicta tu in mulieribus

      Gereja Katolik memegang teks asli Vulgate dan terjemahannya yaitu “penuh rahmat”. Oleh karena kepenuhan rahmat Allah inilah maka di dalam diri Maria tidak ada “ruang” untuk dosa.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Ibu Ingrid, mari kita lanjutkan diskusi kita.

        Tidak ada ruang untuk dosa…?

        Berikut akan saya kutip:

        1 Raja-raja 8:46 Apabila mereka berdosa kepada-Mu — karena tidak ada manusia yang tidak berdosa — dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri musuh yang jauh atau yang dekat,
        2 Tawarikh 6:36 Apabila mereka berdosa kepada-Mu — karena tidak ada manusia yang tidak berdosa — dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat
        Roma 3:10 seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.”
        Pengkotbah 7:20 Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!
        Roma 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

        Alkitab telah menuliskan hal tersebut, bahwa tidak ada manusia yang tidak berdosa, Jadi hal ini juga berlaku bagi maria bukan?

        Salam

        • Shalom Tristan,

          Ayat 1 Raj 8:46, 2 Taw 6:36, Rom 3:10, Pkh 7:20, Mzm 14:3, Rom 3:23, memang kurang lebih mengatakan bahwa semua manusia berdosa. Namun ini adalah untuk menyatakan keadaan manusia secara umum. Sebab kita mengetahui bahwa ada kondisi kekecualian yang tidak disebutkan di ayat- ayat tersebut. Kekecualian itu adalah Tuhan Yesus, yang dalam penjelmaan-Nya adalah manusia (meskipun Ia juga adalah Allah) dan anak- anak yang di bawah umur (under the age of reason). Mereka tidak dapat dikatakan sebagai ‘telah melakukan dosa’. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria juga termasuk kekecualian dalam hal ini. Dasarnya mengapa Gereja Katolik mengajarkan demikian, tertulis dalam artikel Bunda Maria dikandung tanpa noda, mungkinkah?, silakan klik, dan dari pengajaran para Bapa Gereja yang telah kami sebutkan di artikel di atas.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  17. Kalau disurga ada penderitaan untuk apa orang berusaha masuk surga? Gak salah tuh yang menulis buku itu?
    Lucu….[dari Katolisitas: diedit].!!!

  18. Tambahan, bagaimana dengan Link ini: [dari katolisitas: link dihapus]

    saya kutip bagian mengenai Maria :

    We began to ride again and arrive at a door that was half-opened, and the Lord said, “Servant come here, come here because behind this door is Mary. Get close and hear what she is saying, so you can go and tell My people, so you can tell the people how Mary is suffering.” I got closer and saw a young lady, such a beautiful young lady, so beautiful, her face was so pretty. She was looking through a very tiny window. She was kneeling down and looking to the face of the Earth, crying with tremendous pain.

    She said, “Why are you worshiping me? Why, if I do not have any power! Why are you worshiping me? I do not do anything! Do not worship me! Do not bow before me! For I cannot save you! The only one that can save, the only one that can redeem you is JESUS, who died for all mankind! Many people say that I have power, that I can perform miracles, but that is a lie! I do not do anything! Almighty God was satisfied with me and He used my womb so that JESUS could be born and save everyone, but I don’t have any power. I cannot do anything! Do not bow before me! Do not worship me! For I am not worthy of worship. The only one that is worthy, the only one that you bow before and adore is JESUS! He is the only one that heals and saves!”

    I could see how that young lady was in such tremendous pain, full of anguish and crying. She said, “No! No! Do not worship me! Why do you bow before me? I don’t do anything!” You see dear brothers, it was a tremendous thing to look at this young lady, how she was crying with such pain and sadness.

    Translate Indonesia :

    Kami …. tiba pada sebuah pintu yang setengah terbuka, Tuhan berkata, “Hamba kemarilah, sebab dibalik pintu ini adalah Maria. Mendekatlah dan dengar apa yang sedang dikatakannya, supaya kau dapat pergi dan katakan pada Umat-Ku, katakanlah pada mereka bagaimana Maria sedang menderita.” Saya mendekat dan melihat seorang gadis muda, yang sangat cantik, dan sangat elok parasnya. Sedang melihat melalui suatu jendela yang kecil. Dia sedang bertelut dan melihat kebawah memandang bumi, menangis karena deritanya.

    Maria berkata, “Mengapa kamu menyembah aku? mengapa, Jika aku tidak memiliki Kuasa! Mengapa kamu menyembahku? Aku tidak melakukan sesuatu apapun! Jangan menyembahku! Jangan bertelut padaku! Aku tak dapat menyelamatkanmu! Yang hanya dapat menyelamatkan, yang hanya dapat menebusmu ialah YESUS, yang telah mati untuk semua manusia! Banyak orang mengatakan aku memiliki kuasa, bahwa aku dapat mendatangkan mujizat-mujizat, tetapi semua itu tipu muslihat! aku tidak dapat berbuat apapun! Allah yang Maha Kuasa berkenan denganku dan menggunakan rahimku agar YESUS dapat lahir dan menyelamatkan setiap orang, tetapi aku tidak memiliki kuasa apapun. Aku tak dapat melakukan apapun! Jangan bertelut padaku! Jangan menyembahku! Sebab aku tak layak disembah. Hanya satu Yang layak, yang disembah dan didambahkan adalah YESUS! Dialah satu-satuNya yang menyembuhkan dan menyelamatkan!”

    Saya dapat melihat wanita muda itu sangat menderita, penuh dengan kesedihan dan tangisan. Dia berkata, “Tidak! Tidak! Jangan menyembahku! Mengapa kamu bertelut padaku? Aku tidak melakukan apapun!” Saudara/i terkasih, sangat luarbiasa dapat melihat wanita muda ini, bagaimana dia menangis dalam penderitaan dan kesedihan.

    Ditujukan kepada siapa ini? Apakah kepada Gereja Katolik?

    Salam

    • Shalom Tristan,

      Terima kasih atas komentarnya. Saya ingin mengusulkan kepada anda, agar diskusi dapat berfokus pada satu topik dan selesaikan diskusi sampai selesai (sekitar 3 putaran). Saya juga ingin mengusulkan bahwa diskusi tidak dapat berdasarkan suatu vision dari seseorang – dalam hal ini vision dari Janes Balderas Canela, Puerto Rico. Jadi, kalau anda mengutip kesaksian dari site tersebut yang menyatakan bahwa Maria menderita di Sorga, maka hal ini tidak menguatkan argumentasi anda namun justru memperlemah argumentasi anda dengan dua alasan:

      1. Pertama, tidak semua mempercayai vision tersebut. Kita tahu bahwa wahyu pribadi dapat salah, karena wahyu yang dialami seseorang dapat dari Tuhan, setan maupun dari diri sendiri. Saya yakin bahwa iman anda juga tidak dibangun berdasarkan wahyu-wahyu pribadi seperti ini. Dan dengan keyakinan yang sama, maka anda tidak perlu menggunakan wahyu-wahyu pribadi ini untuk memojokkan iman agama Katolik, karena hal ini dapat dengan mudah dijawab “Saya tidak percaya akan wahyu pribadi tersebut.” Dengan jawaban tersebut, maka diskusi tersebut akan berkembang pada analisa apakah memang wahyu di site tersebut benar atau tidak, dan bukan pada esensi diskusi tentang Bunda Maria. Sebaliknya, ada begitu banyak kesaksian dari orang kudus sepanjang sejarah Gereja Katolik yang mempunyai wahyu pribadi tentang Bunda Maria di Sorga. Namun, hal ini tidak pernah kami kemukakan dalam dialog seperti ini, karena pasti anda tidak percaya. Dan iman Katolik juga bukan tergantung dari wahyu-wahyu seperti ini. Dengan demikian, mari tetap berfokus pada diskusi berdasarkan sumber-sumber yang jelas dan bukan berdasarkan vision-vision yang sulit dibuktikan kebenarannya.

      2. Alasan ke dua, ada kontradiksi dari wahyu tersebut. Pertama, apakah anda percaya bahwa Bunda Maria ada di Sorga? Martin Luther percaya bahwa Maria ada di Sorga, sehingga dia mengatakan “Tidak dapat diragukan lagi bahwa Perawan Maria berada di surga. Bagaimana sampai terjadi demikian, kita tidak tahu.” (Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 10, p.268 )

      Kalau kita percaya bahwa Maria ada di Sorga dan kita juga percaya bahwa Sorga adalah kebahagiaan sejati tanpa henti dalam persatuan abadi dengan Tritunggal Maha Kudus, maka bagaimana seseorang dapat melihat Maria menangis dan menderita di dalam Kerajaan Sorga? Mengapa ada penderitaan di dalam Kerajaan Sorga? Apakah dengan demikian di Sorga tidak terdapat kebahagiaan yang sejati?

      Demikian usulan saya untuk dialog mendatang. Semoga hal ini dapat diterima oleh Tristan, sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik dan membangun.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Alexander Pontoh on

        ada begitu banyak kesaksian dari orang kudus sepanjang sejarah Gereja Katolik yang mempunyai wahyu pribadi tentang Bunda Maria di Sorga. Namun, hal ini tidak pernah kami kemukakan

        –>

        banyak mujizat, pengelihatan, dll dari anggota Gereja Katolik. tetapi tidak terlalu di ekspos. mungkin karena peristiwa-peristiwa seperti itu tidak untuk dijadikan mesin pencari uang.

        [dari Katolisitas: diedit]

      • Shalom Bpk Stef ijinkanlah saya melanjutkan diskusi tentang Maria.

        saya persoalkan disini adalah penularan sifat Ilahi YESUS kepada Maria hanya ajaran yang berbau pemberhalaan.

        Sifat Ilahi YESUS bersifat kekal tidak pernah berubah,sedangkan sifat manusianya dulu tidak pernah ada,tetapi menjadi ada hanya karena dikandung oleh rahim Maria yang dipilih berdasarkan kehendak Allah (bukan Maria) didalam waktu.

        • Ibrani 10:5 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki — tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku –.

        Walau YESUS sewaktu didunia mempunyai dua sifat ilahi dan manusia tetapi keduanya tidak bercampur aduk sehingga keilahian Nya tidak mungkin bisa menular kepada Maria.

        Mempertahankan dua sifat yang tidak bercampuraduk membuat keilahian YESUS tetap murni menjadi hak exclusive yang hanya dimiliki oleh Allah saja.

        Hanya didalam sifat manusianya saja YESUS sehakekat dengan Maria,tetapi didalam status keilahian Nya Maria menyembah YESUS sebagai juruselamatnya.

        Katolik melebih2kan Status ke ibu-an MAria

        Lukas 11:27,28 adalah pengajaran Alkitab untuk tidak melebih-lebihkan status keibuan Maria melebihi yang seharusnya.

        Saya ingin membongkar semua ajaran yang bukan dari Alkitab melainkan Sola Pope.

        • Alkitab mengajarkan hanya satu perantara dan tidak pernah menyatakan ada partner bagi YESUS didalam keilahian Nya yang eklusif.
        • Hanya Tuhan dalam hal ini YESUS yang tidak berdosa. Mengatakan Maria tidak berdosa sama dengan mempersamakannya dengan Tuhan
        • Mengatakan Maria tetap perawan sama dengan mengangkat derajatnya tidak lumrah manusia lagi melainkan lebih tinggi dari hakekat manusia biasa.
        • Mengatakan Maria yang disebut sebagai “Mediatrix of all graces” ,sama dengan mengompreng kemuliaan Tuhan karena karunia/anugerah hanya datang dari Tuhan saja
        • Mengatakan Maria Queen of Heaven,sama dengan mengangkatnya menjadi ilahi ditambah lagi berdoa kepadanya lebih menguatkan konsep pengangkatan Maria ini. Karena konsep Ratu Surga ini sangat dimurkai Tuhan.

        Ajaran Maria Ratu Sorga dari segi Alkitab

        1. Tidak diajarkan oleh YESUS
        2. Tidak ditulis oleh Rasul
        3. Tidak pernah diakui Maria
        4. Dibenci oleh Tuhan didalam PL

        Apakah semua yang saya katakan diatas tidak alkitabiah ? Coba buktikan !

        Kalau mengenai apa yang diajarkan Lukas :

        1. Didukung oleh ajaran ketiga Injil lainnya
        2. Lulus test kanonisasi yang dipimpin ROH KUDUS

        Sedangkan ajaran perawan abadi

        1. Tidak diajarkan oleh YESUS
        2. Tidak pernah diakui oleh Maria
        3. Tidak pernah ditulis oleh Rasul

        Bisakah anda membedakan otoritas ajaran tersebut disini ?

        Salam

        • Shalom Tristan,

          Terima kasih atas tanggapannya. Mari kita melanjutkan diskusi kita tentang Maria. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:

          I. Sifat Ilahi Yesus dan Maria

          Anda mengatakan “saya persoalkan disini adalah penularan sifat Ilahi YESUS kepada Maria hanya ajaran yang berbau pemberhalaan. Sifat Ilahi YESUS bersifat kekal tidak pernah berubah,sedangkan sifat manusianya dulu tidak pernah ada,tetapi menjadi ada hanya karena dikandung oleh rahim Maria yang dipilih berdasarkan kehendak Allah (bukan Maria) didalam waktu.

          a. Seperti penjelasan saya sebelumnya, Gereja Katolik tahu secara persis bahwa Maria adalah mahluk ciptaan Allah, namun diciptakan begitu sempurna, karena dia telah dipersiapkan sedemikian rupa oleh Allah, sehingga dia dapat menjadi ibu Tuhan. Jadi, tidak ada yang mengatakan bahwa Maria mempunyai “sifat Ilahi” terlepas dari Kristus, sama seperti kita mengetahui bahwa kodrat dari jiwa manusia adalah kekal dan kekekalan ini adalah salah satu sifat Ilahi. Namun, kalau kita melihatnya dalam konteks yang benar, maka kita tahu bahwa kekekalan Allah tidak diciptakan, namun kekekalan jiwa manusia diciptakan oleh Allah. Jadi, walaupun jiwa manusia kekal, namun kekekalan ini adalah merupakan partisipasi dalam kekekalan Allah yang tak berawal dan tak berakhir (unmoved mover dan uncaused cause). Jadi, kalau anda melihat seolah-oleh sifat Ilahi Yesus ditularkan kepada Maria, maka anda dapat mencoba melihatnya dalam konteks ini.

          b. Tentang kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, anda dapat membaca penjelasan lengkap dalam artikel Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia – silakan klik. Silakan bandingkan dengan pandangan Protestant Kenotic Christology. Anda benar dengan mengatakan “Mempertahankan dua sifat yang tidak bercampuraduk membuat keilahian YESUS tetap murni menjadi hak exclusive yang hanya dimiliki oleh Allah saja.” Namun, di satu sisi, mempertahankan kedua kodrat ini tanpa melihatnya dalam konteks hipostatic union, dapat menjadi sesuatu yang salah, karena pada akhirnya dapat menjadikan Yesus seolah-olah menjadi dua pribadi yang terpisah.

          Jadi, kalau anda menyatakan “Hanya didalam sifat manusianya saja YESUS sehakekat dengan Maria,tetapi didalam status keilahian Nya Maria menyembah YESUS sebagai juruselamatnya.” maka seolah-olah Yesus mempunyai dua pribadi yang berlainan tanpa ada kesatuan yang tak terpisahkan dalam hypostatic union. Maria tidak akan pernah sehakikat dengan Yesus, karena Maria adalah mahluk ciptaan dan Yesus adalah Tuhan. Yesus adalah sehakikat dengan Allah Bapa dan Allah Putera, karena mereka terikat dalam satu hakekat (essence) dalam tiga pribadi (person) dan Maria tidak akan pernah dibandingkan dengan Yesus, karena yang pertama adalah mahkluk ciptaan dan yang lain adalah pencipta dan Tuhan. Justru dengan perjabaran yang anda berikan, anda dapat terjebak pada kesalahan kristologi.

          II. Katolik melebih-lebihkan stasus Maria

          Anda mengatakan “Katolik melebih2kan Status ke ibu-an MAria. Lukas 11:27,28 adalah pengajaran Alkitab untuk tidak melebih-lebihkan status keibuan Maria melebihi yang seharusnya.

          a. Status keibuan Maria sebagai bunda Allah adalah sesuatu yang nyata terjadi dalam sejarah, sama nyatanya dengan Inkarnasi Yesus yang terjadi dalam sejarah manusia. Dan karena Yesus sendiri adalah Tuhan, maka Maria menjadi Bunda Tuhan. Status ini, seharusnya dilihat bukan untuk meninggikan Maria, malah sebaliknya untuk melindungi kodrat Yesus sendiri yang adalah Tuhan, yang pada waktu itu ditentang oleh bidaah Arians.

          b. Anda mengggunakan Lk 11:27-28 yang mengatakan “27 Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” 28 Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” untuk memberikan argumentasi bahwa kita tidak boleh melebih-lebihkan Maria.

          1. Apakah menurut anda, di ayat tersebut anda ingin mengatakan bahwa Yesus menegur Maria atau bahkan menyangkal ibu-Nya? Apakah anda ingin mengatakan bahwa di ayat tersebut, Yesus menegur orang-orang karena mereka telah menghormati Maria? Kalau demikian, bagaimana mungkin Yesus yang mengajarkan untuk menghormati orang tua dapat menyangkal ibu-Nya?

          2. Keberataan tentang Lk 11:27-28 telah dijawab di sini – silakan klik, yang menuliskan:

          Berikut adalah penjelasan yang saya peroleh dari penjelasan the Navarre Bible:

          “Perkataan ini merupakan pujian kepada sikap batin Bunda Maria. Konsili Vatikan II mengatakan, “Dalam pewartaan Yesus, ia [Maria] menerima sabda-Nya, ketika Puteranya mengagungkan Kerajaan di atas pemikiran dan ikatan akan daging dan darah, dan Ia menyatakan bahagia mereka yang mendengar dan melakukan sabda Allah (lih. Mrk 3:35; Luk 11:27-28), seperti yang dijalankan Maria dengan setia (lih. Luk 2:19 dan 51).” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 58). Oleh karena itu, dengan menjawab demikian Yesus tidak menolak pujian dari wanita yang berseru memuji Bunda-Nya, melainkan Ia menerima pujian itu dan bahkan menjelaskan lebih jauh bahwa yang menjadikan Maria berbahagia adalah secara khusus adalah karena ia telah mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya. Maka perkataan-Nya ini adalah pujian kepada ketaatn Maria Ibu-Nya (lih. Luk 1: 38). Ia menerapkan ketaatan itu dalam hidupnya, dengan tulus, dengan murah hati tanpa perhitungan, memenuhi setiap akibatnya, tetapi tanpa keriuhan/ digembar-gemborkan, tetapi secara tersembunyi, dan dalam keheningan pengorbanan setiap hari.”

          Pujian serupa yang dikatakan Yesus kepada Maria ini juga dikatakan-Nya, ketika Bunda Maria dan para saudara Yesus mencari-Nya pada saat Ia mengajar. Yesus menjawab, Ibu-Ku dan saudara- saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19, lih. Mat 12:49-50, Mrk 3: 31-35)

          Di sini Yesus juga tidak bermaksud menghina ataupun menyangkal ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. Sebaliknya Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Bapa-Nya adalah anggota keluarga-Nya dalam kerajaan Allah. [Perhatikan bahwa di sini Yesus menggunakan bentuk tunggal pada kata Ibu (jadi bukan ibu- ibu-Ku), sehingga dimaksudkan bahwa kata pujian 'yang mendengarkan dan melakukan firman Allah' pertama- tama ditujukan kepada ibu-Nya (Maria) dan saudara- saudara-Nya yang mendengarkan dan melakukan firman Tuhan]. Maka yang Yesus ajarkan di sini adalah keutamaan agar seseorang melakukan kehendak Allah. Ungkapan ini merupakan pujian kepada Bunda Maria, sebab Yesus mengakui bahwa Bunda Maria pertama-tama adalah seseorang yang melakukan kehendak Allah Bapa. Maria pertama- tama telah mengandung-Nya (Sang Firman Allah) dalam hatinya sebelum ia mengandung Kristus Sang Firman di dalam tubuhnya (Yoh 1:14). Ketaatan Maria kepada kehendak Bapa inilah yang menyatukannya dengan Kristus melebihi dari hubungan darah. Maka ayat di atas tidak untuk diartikan bahwa Yesus menyangkal ibu-Nya, melainkan untuk mengatakan bahwa Maria layak untuk dihormati bukan saja karena ia telah melahirkan Yesus tetapi karena ia pertama-tama menaati kehendak Allah.

          c. Kalau anda mengatakan bahwa Gereja Katolik melebih-lebihkan Maria, maka cobalah untuk melihat dari sisi yang lain, apakah gereja-gereja non-Katolik telah menempatkan Maria – yang turut berperan dalam karya keselamatan Kristus – dengan semestinya? Cobalah anda merefleksikan, berapa banyak tokoh-tokoh di Alkitab yang telah dibahas dan dikupas dalam ibadah hari Minggu, termasuk tokoh-tokoh wanita di dalam Perjanjian Lama. Namun, berapa kali anda pernah mendengar kotbah tentang Maria di dalam ibadah-ibadah Kristen non-Katolik? Padahal pendiri-pendiri Protestan, seperti Martin Luther, Calving, Zwingli, Wesley sangat menghormati Maria dan tidak malu-malu untuk berkotbah dan menulis sesuatu yang istimewa tentang Maria.

          III. Sola Pope?

          Bagian ini adalah jawaban atas keberatan anda tentang apa yang yang anda anggap sebagai “sola pope” yang tidak pernah diajarkan oleh Gereja Katolik. Mungkin anda dapat memberikan argumentasi mengapa anda menyebutkan “sola pope” dan kaitannya dengan doktrin Gereja Katolik? Dapatkah anda membedakan apakah ex-cathedra atau bukan atau apakah anda melihat semua keputusan paus adalah sama? Dapatkah anda memberikan argumentasi kapan Gereja Katolik mulai menjalankan sola pope seperti yang anda sebutkan?

          1. Anda mengatakan “Alkitab mengajarkan hanya satu perantara dan tidak pernah menyatakan ada partner bagi YESUS didalam keilahian Nya yang eklusif.” Topik ini telah didiskusikan secara cukup panjang lebar di sini – silakan klik (diskusi dengan Anton), diskusi dengan Esther dapat dilihat di sini – silakan klik dan diskusi dengan Machmud dapat dilihat di sini – silakan klik. Silakan melanjutkannya di link-link yang telah saya berikan. Beberapa pertanyaan yang mungkin perlu anda renungkan: Apakah dengan satu-satunya Yesus sebagai perantara, maka menutup orang lain untuk berpartisipasi dalam perantaraan Kristus? Apakah diperbolehkan meninta bantuan doa kepada pendeta atau anggota keluarga? Kalau boleh mengapa meminta bantuan kepada Bunda Maria tidak boleh? Kalau karena mereka telah dianggap mati, bukankah orang-orang yang percaya kepada Kristus akan hidup walaupun dia telah mati (lih. Yoh 11:25)? Apakah yang dilakukan oleh orang-orang di Sorga? apakah mereka turut serta dalam tugas perantaraan Kristus atau mereka tidak memperdulikan apapun selain menikmati kebahagiaan di Sorga? Apakah arti dari ayat “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” (Kol 1:24) dan apakah arti dari kawan sekerja Allah di 1Kor 3:9?

          2. Anda mengatakan “Hanya Tuhan dalam hal ini YESUS yang tidak berdosa. Mengatakan Maria tidak berdosa sama dengan mempersamakannya dengan Tuhan.” Dalam hal ini, anda setuju bahwa anda membuat perkecualian atas ayat Rm 3:23 yang mengatakan “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Kita menyetujui bahwa Yesus tidak berdosa, walaupun Dia adalah sungguh manusia, karena kita juga tahu bahwa Yesus adalah Tuhan. Pertanyaannya adalah apakah orang-orang yang berada di Sorga dapat berdosa atau tidak dapat berdosa?

          a. Saya yakin anda akan menjawab bahwa orang-orang yang berada di Sorga tidak akan mungkin dalam kondisi berdosa dan tidak akan dapat berbuat dosa, karena mereka adalah orang-orang yang telah dibenarkan oleh Tuhan. Dan keselamatan ini adalah mengalir dari misteri Paskah Kristus (penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke Sorga). Misteri Paskah Kristus yang dilakukan dalam sejarah manusia, mengatasi waktu, karena efek dari misteri ini berpengaruh pada sebelum, pada saat dan setelah misteri Paskah. Dengan demikian, tidak ada yang aneh, ketika Allah sendiri mempersiapkan Maria untuk mengemban tugas sebagai Bunda Allah, sehingga dia terlahir tanpa dosa. Terlahirnya Maria tanpa dosa bukan karena kekuatannya sendiri, namun dipersiapkan oleh Allah. Sama seperti orang-orang di Sorga tidak berdosa karena disucikan oleh Allah, maka Maria juga disucikan oleh Allah dengan cara dilindungi dari dosa asal dan dosa pribadi. Kalau anda ingin berdiskusi tentang topik ini secara mendalam, silakan memberikan komentar lebih lanjut setelah membaca artikel tentang Bunda Maria dikandung tanpa noda di sini – silakan klik.

          b. Kalau anda tidak mempercayai argumentasi yang saya berikan, dapatkan anda mempertimbangkan dan menerangkan kesalahan argumentasi (kalau anda pandang salah) yang diberikan oleh Martin Luther tentang Maria yang dikandung tanpa noda di bawah ini?

          It is a sweet and pious belief that the infusion of Mary’s soul was effected without original sin; so that in the very infusion of her soul she was also purified from original sin and adorned with God’s gifts, receiving a pure soul infused by God; thus from the first moment she began to live she was free from all sin” (Sermon: “On the Day of the Conception of the Mother of God,” 1527).

          She is full of grace, proclaimed to be entirely without sin- something exceedingly great. For God’s grace fills her with everything good and makes her devoid of all evil.” (Personal {“Little”} Prayer Book, 1522).

          3. Anda mengatakan “Mengatakan Maria tetap perawan sama dengan mengangkat derajatnya tidak lumrah manusia lagi melainkan lebih tinggi dari hakekat manusia biasa.Mengapa kita tidak dapat menerima bahwa Maria adalah manusia yang secara luar biasa dipersiapkan oleh Allah? Mengapa kita tidak dapat menerima bahwa peristiwa Inkarnasi adalah memang tidak lumrah, sehingga Tuhan yang menjelma menjadi manusia harus lahir dengan cara yang tidak lumrah – yaitu dari rahim seorang perawan Maria? Jadi, mengapa kita tidak dapat mengakui bahwa derajat Maria memang lebih tinggi dari manusia biasa, karena dia telah dipersiapkan oleh Allah untuk mengemban misi sebagai Bunda Allah? Ada begitu banyak orang di dunia ini, namun hanya satu yang dapat menjadi Bunda Allah. Dengan demikian, sudah seharusnya kita menghormati keputusan Allah, yang terlebih dahulu telah memilih, mempersiapkan dan menjadikannya Bunda Allah, Bunda Sang Penebus. Salah satu persiapan menjadi Bunda Allah adalah Maria tetap perawan, karena merupakan pemenuhan nubuat dari PL (lih. Yes 7:14). Silakan memberikan argumentasi lebih lanjut tentang topik ini di artikel Maria tetap perawan – silakan klik.

          Kalau anda tidak mempercayai argumentasi yang saya berikan, dapatkah anda mempercayai dan mempertimbangkan para pendiri Gereja Protestan (Martin Luther, John Calvin, Ulrich Zwingli, John Wesley), yang semuanya menyetujui bahwa Bunda Maria adalah tetap perawan?

          1. Martin Luther (1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. Kristus, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’).”[15]

          2. John Calvin (1509-1564): “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)… Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”[16]

          John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.[17]

          3. Ulrich Zwingli (1484-1531): “Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (‘forever remained a pure, intact Virgin’).”[18]

          4. John Wesley (1703-1791)menulis: “Saya percaya bahwa Dia (Tuhan Yesus) telah menjadi manusia, menyatukan kemanusiaan dengan keilahian dalam satu Pribadi; dikandung oleh satu kuasa Roh-Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang setelah melahirkan-Nya tetap murni dan tetap perawan tak bernoda.”[19]

          4. Anda menuliskan “Mengatakan Maria yang disebut sebagai “Mediatrix of all graces” ,sama dengan mengompreng kemuliaan Tuhan karena karunia/anugerah hanya datang dari Tuhan saja.

          Untuk mengerti konsep tentang mediatrix of all graces, maka kita harus tahu tentang co-redemptrix, yang dapat dibaca di artikel ini – silakan klik.

          Menurut arti bebasnya, Co- artinya adalah ‘dengan’. Maka menurut definisinya yang dikenal dalam Mariologi, Co-Redemptrix mengacu kepada partisipasi Bunda Maria yang tidak langsung namun sangat penting dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Dalam arti inilah Bunda Maria bekerja sama dengan Yesus dalam rencana Keselamatan Allah. Namun, partisipasi Maria dalam karya keselamatan ini sepenuhnya tergantung dan berada di bawah peran Kristus Putera-Nya.

          Maka, dengan mengatakan Maria sebagai Co-Redemptrix, kita tidak menjadikan Bunda Maria sejajar dengan Yesus dalam karya Keselamatan. Bunda Maria sendiri tetap memerlukan Yesus sebagai Juru Selamatnya, dalam hal ini untuk menjadikannya kudus tanpa noda sejak dalam kandungan, dan karena itu tidak mungkin Bunda Maria memiliki kedudukan yang sama dengan Yesus.

          Dengan pemikiran ini, di mana Bunda Maria berperan secara istimewa dalam membawa Sang Penebus ke dunia dan berjalan bersama dengan Sang Penebus, sampai di kayu salib, tempat rahmat dicurahkan dengan sehabis-habisnya, maka Bunda Maria – yang tidak pernah terlepas dari Kristus – turut membagikan rahmat kepada manusia. Sama seperti melalui Bunda Maria, rahmat penebusan datang ke dunia, karena Sang Penebus dikandung oleh Bunda Maria. Jadi, semua gelar Maria harus dilihat dalam kaitannya dengan Kristus.

          Dalam konteks yang lebih kecil, sebenarnya kita dapat menerima dalam kehidupan spiritual bahwa kita sering menerima rahmat Tuhan lewat orang lain, sebagai contoh: menerima kesembuhan lewat orang yang diberika karunia kesembuhan, mendapatkan kelegaan setelah didoakan, dll. Kita tidak mempersoalkan hal ini, karena kita melihat bahwa orang-orang tersebut hanyalah merupakan saluran rahmat dari rahmat Tuhan sendiri. Dalam konteks yang sama dan lebih luas, maka kita melihat Maria sebagai mediatrix of all graces. Bukan karena dia mempunyai sifat ilahi, namun karena dia dipilih secara khusus dalam karya keselamatan manusia, yang melahirkan Sang Penebus ke dunia dan mendampingi Kristus dalam kehidupan pribadi, karya publiknya, setia pada saat Kristus mati di kayu salib, dan menjadi ibu dari seluruh umat beriman. Jangan lupa, bahwa doa-doa dari hamba-hamba Tuhan adalah doa dari para hamba Tuhan, namun doa Maria adalah doa dari seorang Ibu Tuhan.

          5. Anda menuliskan “Mengatakan Maria Queen of Heaven,sama dengan mengangkatnya menjadi ilahi ditambah lagi berdoa kepadanya lebih menguatkan konsep pengangkatan Maria ini. Karena konsep Ratu Surga ini sangat dimurkai Tuhan.

          a. Gelar ratu sorga ini mempunyai hubungan yang erat dengan Maria sebagai ibu dari Yesus, yang telah diberikan kepada umat Allah. Kalau Kol 1:18 dan Ef 4:15 mengatakan bahwa Yesus adalah kepala dari Tubuh, dan Gereja adalah Tubuh Kristus. Karena Maria melahirkan Sang Kepala dari Gereja, maka Maria juga menjadi ibu dari seluruh umat beriman. Martin Luther juga meyakini hal ini, sehingga dia mengatakan “Adalah sebuah penghiburan dan kebaikan Allah yang sangat berlimpah, bahwa manusia dapat bersuka ria dalam hal kekayaan [rohani] ini. Maria adalah ibunya, Kristus adalah Saudaranya, dan Tuhan adalah Bapanya. (Sermon, Natal, 1522) Maria adalah Bunda Kristus, dan Bunda semua dari kita, meskipun hanya Kristus sendiri yang beristirahat di lututnya…. Jika Ia [Kristus] adalah milik kita, maka kita harus berada di dalam keadaan-Nya’; di manapun Ia berada kitapun berada, dan semua yang menjadi milik-Nya adalah milik kita juga, dan ibu-Nya juga menjadi ibu kita.“(Sermon, Natal, 1529).

          b. Bahwa Maria menjadi ibu kita adalah karena perintah dari Kristus sendiri yang mengatakan “26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” 27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” (Yoh 19:26-27). Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa Maria adalah ibunya. Oleh karena itu, mengikuti apa yang dikatakan oleh Yesus, kita harus menerima Maria sebagai ibu spiritual kita.

          c. Dan kalau Maria sebagai ibu dari Yesus yang menjadi raja di dalam Kerajaan Sorga, maka secara otomatis Maria menjadi ratu Sorga, karena dalam konteks kerajaan pada waktu itu, seorang ratu adalah ibu dari raja. Hal ini sama seperti kalau Yesus menjadi kepada dari Gereja, maka Maria menjadi ibu Gereja.

          d. Dengan menerima Maria sebagai ratu sorga, maka kita harus juga menerima Maria sebagai ibu spiritual umat beriman. Dengan menerima Maria sebagai ibu, maka kita dapat dengan kepercayaan meminta doa-doa dari ibu kita, yang pasti mengasihi anak-anak-nya. Dan hal ini dapat berpengaruh kepada keselamatan kita, karena doa orang yang benar adalah besar kuasanya (Yak 5:16).

          e. Lebih lanjut anda mengatakan “Ajaran Maria Ratu Sorga dari segi Alkitab: 1. Tidak diajarkan oleh YESUS, 2. Tidak ditulis oleh Rasul 3. Tidak pernah diakui Maria
          4. Dibenci oleh Tuhan didalam PL
          ” Silakan anda memberikan argumentasi dari apa yang telah saya paparkan di atas. Kalau Yesus – sebagai ungkapan kasih-Nya kepada umat-Nya – memberikan Maria kepada seluruh umat beriman, maka siapakah kita sehingga kita menolak pemberiaan yang begitu berharga ini? Kalau Maria dianggap baik dan layak oleh Tuhan untuk menjadi Bunda Penebus, maka siapakah kita, sehingga kita tidak dapat menerima rencana dan kebijaksanaan Tuhan? Kalau anda membaca argumentasi di atas, maka anda akan melihat bahwa Maria Ratu Sorga, bersumber pada suatu kenyataan bahwa Maria adalah Bunda Sang Penebus, Bunda Allah. Dengan demikian kenyataan ini adalah sungguh Alkibiah. Dan Yesus bukan saja mengajarkan bahwa Maria adalah Bunda-Nya, namun Dia justru memberikan Bunda-Nya kepada seluruh umat beriman, dengan tindakannya menunjuk Maria sebagai ibu Yohanes – mewakili umat Allah yang dikasihi-Nya. Dan semuanya ini tertulis di dalam Injil dan tidak terbantahkan oleh siapapun. Kalau yang dituntut adalah pembuktian kata “Maria, Ratu Sorga”, maka memang tidak ada perkataan tersebut di dalam Alkitab, sama tidak adanya perkataan “Trinitas” “Sola Scripura” “Sola Fide” di dalam Alkitab. Namun, walaupun perkataan Trinitas tidak ada di dalam Alkitab, bukankah anda mempercayainya?

          Anda mengatakan “Apakah semua yang saya katakan diatas tidak alkitabiah ? Coba buktikan !” Silakan melihat argumentasi di atas, dan silakan anda memberikan argumentasi lebih lanjut untuk membuktikan bahwa argumentasi yang anda berikan adalah Alkitabiah. Pada tahap ini, anda belum memberikan argumentasi yang mendalam tentang topik-topik di atas. Yang anda berikan adalah tuduhan-tuduhan yang belum mempunyai dasar-dasar argumentasi yang baik.

          6. Anda mengatakan “Kalau mengenai apa yang diajarkan Lukas : 1. Didukung oleh ajaran ketiga Injil lainnya, 2. Lulus test kanonisasi yang dipimpin ROH KUDUS

          Saya tidak tahu apakah argumentasi yang anda berikan berasal dari forum tertentu atau merupakan pemikiran anda sendiri. Pada point ini, terlihat ini ketidakjelasan suatu argumentasi. Dalam konteks apakah mengenai apa yang diajarkan Lukas? Apakah anda baru percaya akan Firman Allah setelah ayat-ayat tersebut dituliskan di empat Injil? Apakah kalau ayat-ayat yang hanya tertulis di satu Injil dianggap tidak dapat dipercaya dan oleh karena itu tidak layak menjadi bagian dari Kanon Alkitab? Parameter dari siapakah ini? Kalau anda meneliti “harmony of the gospel“, maka anda akan melihat bahwa ada cukup banyak ayat-ayat yang hanya disebutkan di salah satu Injil, terutama Injil Yohanes. Apakah dengan demikian, anda tidak menerima Injil Yohanes?

          7. Anda mengatakan “Sedangkan ajaran perawan abadi: 1. Tidak diajarkan oleh YESUS; 2. Tidak pernah diakui oleh Maria; 3. Tidak pernah ditulis oleh Rasul; Bisakah anda membedakan otoritas ajaran tersebut disini ?

          Silakan melihat argumentasi point III. 3. Semoga anda dapat melihat dasar keperawanan Maria, yang tidak perlu didengung-dengungkan oleh Maria, namun didukung oleh Firman Allah dan juga pengajaran dari para Bapa Gereja, bahkan para pendiri Protestan. Dapatkah anda menerangkan mengapa para pendiri gereja-gereja Protestan seperti Martin Luther, Calvin, Zwingli, Wesley mengajarkan keperawanan Maria dan kemudian 500 tahun kemudian hampir semua denominasi menolaknya? Mengapa terjadi perbedaan, walaupun Alkitab yang dipakai adalah sama? Otoritas manakah yang anda pakai ketika menafsirkan ayat-ayat di dalam Alkitab?

          IV. Kesimpulan.

          Menurut saya, diskusi akan lebih dapat berjalan dengan baik, kalau anda dapat memilih satu topik bahasan dan kemudian menyusun argumentasi secara runtut. Terlihat argumentasi yang diberikan seperti copy and paste, yang mungkin diambil dari forum, yang ditulis oleh beberapa orang dengan gaya bahasa yang berbeda-beda. Dengan cara ini, maka diskusi tidak dapat memberikan subsansi diskusi yang baik. Anda dapat saja mengambil beberapa tulisan dari beberapa orang, namun cobalah untuk menyusunnya secara terstruktur, sehingga menjadi satu kesatuan argumentasi. Saya juga mohon, kalau anda ingin melanjutkan diskusi ini, cobalah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya berikan (dalam warna merah). Semoga dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, maka kita dapat mendiskusikan topik-topik di atas secara lebih mendalam. Semoga dapat diterima.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

    • Shalom Tristan,

      Saya yakin, Anda pasti memegang teguh “Sola Scriptura”. Katanya hanya Alkitab satu-satunya sumber kebenaran. Kalau begitu, saya tak habis pikir, kenapa vision di atas menjadi begitu penting, yang walaupun akan Anda sangkal: vision di atas telah dianggap sebagai suatu kebenaran.

      Salam,
      Lukas Cung

      • setuju dengan Lukas Cung:
        1.Sola Scriptura tidak dijalankan dengan penuh oleh pengikutnya dan terjadi standar ganda sekaligus ketidak konsistenan.
        2. Gambaran surga dengan penghuninya yang menangis tidak sesuai dengan gambaran alkitab tentang surga. Jadi tidak alkitabiah.

    • Thomas Vernando on

      hhm…
      “menyembah”?
      Dengan kata itupun saya pribadi sudah mempertanyakan kebenaran wahyu pribadi tersebut. Maaf, cuma yang saya yakini, umat Katolik tidak menyembah Bunda Maria. Kami menghormatinya sebagai pengantara kami kepada Anak-nya..
      makasih.

    • Sdr Tristan:
      Ada benarnya pendapat Simon diatas: bukankah di surga sudah tidak ada penderitaan?asumsi buku itu keliru sekali, bertolak belakang dengan isi Alkitab dan sungguh TIDAK ALKITABIAH!Bukalah alkitab anda mengenai gambaran surga.

      Anda kog lebih percaya satu buku itu yang memuat “kesaksian” yang belum tentu benar [edit] dan anda membuang jauh jauh ratusan buku tulisan Bapa Bapa Gereja tentang Maria dan pengajaran Gereja tentang Maria yang benar, bahkan anda mengabaikan kata kata Tuhan Yesus bahwa Ia akan melindungi GerejaNya dan kuasa alam maut tidak akan menguasainya,, termasuk apa yang diajarkan oleh GerejaNYa mengenai BundaNya. Yesus mencintai BundaNya dan Dia juga mau murid2Nya mencintai BundaNYa dengan menyerahkan BundaNya kepada Yohanes. Pertanyaannya yang sangat jarang ditanyakan orang adalah : Mengapa Yohanes? Mengapa bukan dititipkan ke Maria Magdalena(pasti ada hutang nyawa yang besar karena pernah diselamatkan Yesus saat mau dirajam ) atau Maria istri Kleopas saja yang sama sama wanita dan saudara Maria , biar ada temannya buat Bunda Maria?Mengapa Yohanes? Yohanes adalah murid yang paling dikasihi Yesus. Ia juga mau BundaNya berada dalam keadaan yang paling dikasihi oleh umatNya.Yohanes adalah murid yang paling dikasihi oleh Yesus dan Gereja adalah gambaran sebagai murid [dari katolisitas: dan juga mempelai wanita]yang paling dikasihi Yesus pada jaman sekarang….

  19. Shalom pengasuh katolisitas yang baik hati, mengenai doktrin Maria, saya ingin tanya apakah Maria memiliki Kuasa yang tak terbatas? Pengetahuan yang tidak terbatas? dan Kebijaksanaan yang tidak terbatas? Sebab saya menyimpulan demikian ketika membaca doa Novena sbb:

    Pengharapanku yang besar ini, berdasarkan atas kuasa yang tak terbatas yang dianugerahkan oleh Allah Bapa kepadamu……

    engkau dianugerahi pengetahuan Ilahi yang tak terhingga oleh Puteramu, sebagai makhluk yang paling sempurna untuk dapat menerimanya ….

    …kebijaksanaanmu yang tiada bandingnya, yang dikaruniakan oleh Puteramu melalui Sabda Ilahi kepadamu.

    Paling tidak ada tiga definisi yang diberikan kpd bunda Maria.

    1. kuasa yang tidak terbatas
    2. pengetahuan yang tidak terbatas
    3. kebijaksanaan yang tidak terbatas

    Dalam matematis, sesuatu yang tidka terbatas (infinity) itu digambarkan spt angka delapan yang lagi bobo ( Tertidur)

    dua definisi diatas bila dirangkum dg bahasa umum yg sering kita dengar dan pakai adalah :

    1. maha kuasa
    2. maha mengetahui

    bila diterjemahkan kedalam bahasa asing maka menjadi

    1. omnipotent
    2. omniscience

    kurang satu atribut lagi : omnipresent

    sepanjang sepengetahuan saya, ketiga gelar diatas hanya dimiliki oleh Tuhan.

    Bila 2 hal diatas (kuasa tak terbatas dan pengetahuan tak terbatas) diberikan kepada bunda Maria, apakah yang tertinggal pada si pemberi?

    1 – 1 = 0
    2 – 2 = 0
    3 – 3 = 0
    4 – 4 = 0
    5 – 5 = 0
    6 – 6 = 0
    7 – 7 = 0
    8 – 8 = 0
    9 – 9 = 0
    .
    .
    .
    1000 – 1000 = 0
    .
    .
    .
    1000000 – 1000000 = 0
    .
    .
    .
    1000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000- 1000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 = 0
    .
    .
    .

    {tak terbatas } dikurangi {tak terbatas} = ?

    salam

    • Shalom Tristan,

      Terima kasih atas komentarnya tentang Bunda Maria. Anda mencoba untuk menggambarkan kekuasaan dan pengetahuan yang tak terbatas yang diberikan kepada Maria terlepas dari Tuhan. Dan kemudian menggambarkan kuasa yang tak terbatas dari Tuhan dikurangi dengan kuasa yang tak terbatas dari Maria, sehingga seperti rumus matematika, akhirnya menjadi kosong hasilnya. Saya akan memberikan tiga argumentasi berikut ini:

      1. Ada banyak hal di dalam spiritualitas bukanlah merupakan perhitungan empiris dan matematis seperti yang coba anda gambarkan. Sebagai contoh: Apakah dengan Yesus mengasihi umat-Nya sehabis-habisnya – yang dibuktikan-Nya dengan mati di kayu salib – kemudian membuat Yesus kehabisan kasih? Semakin kasih diberikan, maka semakin kasih di dalam hati seseorang akan bertumbuh dengan lebih baik dan bukan berkurang seperti rumus matematika yang anda berikan. Kalau saya mengikuti rumus matematika yang anda berikan dalam hal spiritualitas, maka orang yang makin banyak mengasihi menjadi tidak lagi mempunyai kasih karena dengan memberi kasih kepada orang lain kasihnya menjadi berkurang atau bahkan habis.

      2. Kekekalan jiwa manusia sebagai gambaran akan kuasa tak terbatas yang diberikan oleh Maria. Kita tahu bahwa jiwa manusia adalah kekal dan kita juga tahu bahwa Tuhan adalah kekal. Apakah dengan demikian kekekalan Tuhan menjadi kosong, karena telah memberikan kekekalan jiwa kepada seluruh umat manusia? Kita harus dapat melihat bahwa kekekalan jiwa manusia terjadi karena Tuhan memelihara (sustain) jiwa manusia. Demikian juga dengan kuasa, pengetahuan dan belas kasih Maria yang tak terbatas harus dilihat bahwa ketidakterbatasan ini adalah merupakan karunia Allah – yang tidak terbatas secara absolut. Ketidakterbatasan Maria bukanlah ketidakterbatasan absolut, namun dikarenakan rahmat yang diterimanya dari Tuhan sendiri.

      3. Apapun yang ada pada Bunda Maria, entah itu kuasa, pengetahuan dan belas kasihan, dst., itu disebabkan karena rahmat yang diberikan oleh Allah Bapa kepadanya. Oleh sebab itulah maka Bunda Maria disebut sebagai “full of grace“/ “kecharitomene” (Yunani) yang terjemahannya adalah “penuh rahmat.” (Luk 1:28). Dengan demikian semua hal yang diterima oleh Maria tidak akan pernah terlepas dari Putera-Nya, karena Maria sendiri tidak akan pernah mempunyai kuasa apapun terlepas dari Kristus.

      Semoga tiga alasan ini dapat memberikan gambaran yang jelas tentang posisi umat Katolik dalam penghormatannya kepada Bunda Maria. Umat Katolik dapat membedakan mana yang menjadi ciptaan (Maria) dan mana yang menjadi pencipta (Tuhan). Dengan demikian, umat Katolik dapat menempatkan diri Maria sebagai mana adanya, yaitu tidak terlepas dari Putera-Nya, yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Semoga dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

          • Bergembiralah selagi bisa bergembira krn pada saat akhir nanti jangan sampai kegembiraan kalian menjadi gertakan gigi tp masi ada waktu utk kembali kepada kebenaran Firm Tuhan Yohanes 14:13-14 dan apa juga yang kamu minta dlm namaKu, Aku akan melakukannya, supaya BAPA dipermuliakan di dalam Anak 14. Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya. Jelas sekali Firman Tuhan memberitahukan kepada murid2Nya utk tdk meremehkan Firman Tuhan, kalian membuat maria terlihat sama mulia dengan Tuhan Yesus dan kalian membuat Yesus tdk mau mendengar doa anak2Nya dan membuat sepertinya Tuhan Yesus tidak mau melakukan apa2 jadi kalian dengan berharap kpd maria agar doa2 kalian di dengar.

            • Shalom Kay Roven,

              Terima kasih atas tanggapannya. Saya mencoba mengerti bahwa tanggapan yang anda berikan adalah berdasarkan niat baik anda agar umat Katolik – yang anda pandang tidak Alkitabiah – juga dapat turut diselamatkan. Namun, kesimpulan ini adalah berdasarkan asumsi bahwa Gereja Katolik memberikan pengajaran yang salah tentang Bunda Maria. Namun, asumsi ini perlu dibuktikan lebih lanjut kebenarannya. Oleh karena itu, saya menyarankan agar anda membaca artikel di atas, kemudian memberikan argumentasi yang jelas di bagian manakah dari pengajaran Gereja Katolik tentang Maria adalah salah. Cobalah juga anda membaca apa yang dikatakan oleh pendiri Protestan, seperti Martin Luther, Calvin, Zwingli, dll. tentang Bunda Maria. Para pendiri Protestan bahkan sangat menghormati Bunda Maria. Pertanyaan yang perlu anda pikirkan adalah, bagaimana mungkin pendiri Protestan mengajarkan tentang keperawanan Maria, Maria tanpa noda, Bunda Allah, dll., kemudian dapat berkembang menjadi Maria yang seolah-olah menjadi sama seperti manusia lain dan tidak mempunyai tempat tersediri di dalam rencana keselamatan Allah?

              Kalau anda menganggap bahwa umat Katolik sesat karena berdoa bersama dengan Maria, maka silakan anda bergabung dalam diskusi tentang topik ini. Topik ini telah didiskusikan secara cukup panjang lebar di sini – silakan klik (diskusi dengan Anton), diskusi dengan Esther dapat dilihat di sini – silakan klik dan diskusi dengan Machmud dapat dilihat di sini – silakan klik. Silakan melanjutkannya di link-link yang telah saya berikan.

              Sebagai kesimpulan, silakan untuk mempelajari apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik sebelum anda menarik kesimpulan bahwa pengajaran Gereja Katolik adalah salah. Bahkan kalau anda pelajari lebih lanjut, pengajaran Gereja Katolik justru sangat Alkitabiah. Gereja Katoliklah yang mengkanonkan Alkitab. Oleh karena itu, tidak mungkin Gereja Katolik tidak menghormati Alkitab. Semoga hal ini dapat diterima.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

              • Keselamatn adalah pilihan, soal pengajaran harus dinyatakan oleh kebenaran Firman Tuhan, Apakah saya harus selalu setuju dengan pendiri protestan? Saya setuju maria tanpa noda karena memang dia belum berhubungan badan dengan Yusuf atau orang lain, sebelum bertemu Yusuf maria adalah perawan saya setuju…. Lalu dikatakan maria suci tidak memiliki dosa awal, bagai mana mkn Tuhan Yesus aja blm mati dikayu salib masa maria udah bebas dari dosa awal.
                Kalo saya baca artikel diatas Gereja katolik tdk setuju dengan Firman Tuhan di Yohanes 14:13-14 dan apa juga yang kamu minta dlm namaKu, Aku akan melakukannya, supaya BAPA dipermuliakan di dalam Anak 14. Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya. Didalam Firman ini ada ketegasan dan jawaban kepastian dari Yesus” minta pada Ku Aku akan melakukannya” (apa perlu maria)

                Submitted on 2010/11/20 at 7:23am

                Tambahan diartikel di atas berjudul MENUJU YESUS MELALUI BUNDA MARIA berarti Yohanes 14 :6 tidak berlaku di pengjaran gereja katolik mengapa saya tanya dengan Yoh 14:6 dan Yohanes 14:13-14 semenjak manusia di ajari utk tidak boleh mendua dan supaya ada keelasan mana yg benar dan yang harus diimanai.

                • Shalom Kay Roven,

                  1. Keselamatan adalah pilihan?

                  Keselamatan adalah dari Tuhan (Yun 2:9), sehingga tidak semata- mata pilihan manusia. Jadi pernyataan anda, “Keselamatan adalah pilihan“, itu tidak sepenuhnya benar. Sebab keselamatan kita peroleh pertama- tama dari kasih karunia Allah, yaitu oleh iman (Ef 2:8-9) yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6). Nah hal beriman kepada Allah inilah yang melibatkan juga kehendak bebas manusia: manusia dapat memilih untuk beriman kepada Tuhan yang menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus atau tidak. Selanjutnya, manusia dapat memilih untuk menerima pengajaran Kristus yang dinyatakan oleh Gereja-Nya, atau tidak.

                  2. Pengajaran harus dinyatakan oleh kebenaran Firman Tuhan?

                  Maka tentu benar pernyataan anda bahwa ‘pengajaran harus dinyatakan oleh kebenaran Firman Tuhan‘. Namun justru di sini masalahnya. Sepanjang sejarah Gereja sudah terjadi banyak orang yang menginterpretasikan Firman Tuhan menurut pemahamannya sendiri, yang berbeda dengan pengajaran para rasul dan para penerus mereka. Padahal yang dijamin tidak mungkin salah oleh Tuhan Yesus, adalah pengajaran para rasul-Nya, yang telah diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk “mengikat dan melepaskan” (Mat 16:19, 18:18); yang artinya menentukan pengajaran iman dan moral yang bersifat mengikat baik di bumi dan di surga. Maka dalam hal ini sesungguhnya mereka yang tidak mendengarkan ajaran para rasul, mereka sebenarnya menolak mendengarkan Kristus dan Allah Bapa yang mengutus-Nya (lih. Luk 10:16).

                  3. Bagaimana mungkin Maria dapat dibebaskan dari dosa asal?

                  Anda mempunyai kesulitan untuk mempercayai bahwa Maria dibebaskan dari noda dosa (termasuk dosa awal) karena memang pada saat konsepsi Maria di dalam rahim ibunya (St. Anna), Yesus belum mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Argumen ini umum diajukan oleh mereka yang membatasi Allah dengan kerangka pikir manusia, yang memahami segala sesuatu menurut urutan waktu kejadian secara kronologis. Namun ada perbedaan yang sangat besar antara Tuhan dan manusia. Tuhan tidak terbatas oleh waktu dan ruang, sehingga rencana keselamatan-Nya juga tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Semua kejadian baik lampau maupun di masa datang, terpampang di mata Tuhan sebagai “saat ini”, sebab Ia tidak terbatas oleh waktu di bumi yang dihitung dari periode perputaran bumi terhadap matahari. Maka tidak menjadi masalah bagi Tuhan, bahwa kejadian korban Yesus belum terjadi (menurut waktu manusia) sewaktu Maria terbentuk di rahim ibunya. Sebab prinsipnya adalah, sehubungan dengan peran Bunda Maria sebagai Bunda Putera-Nya, maka Maria dikuduskan oleh Tuhan dan dibebaskan dari dosa (termasuk dosa asal) sejak di dalam kandungan, atas jasa pengorbanan Kristus yang memang secara kronologis waktu manusia baru terjadi pada sekian tahun berikutnya. Dalam hal ini, Maria telah menerima buah/ hasil pengorbanan Kristus sebelum semua orang di dunia menerimanya.

                  Silakan anda membaca lebih lanjut tentang topik ini di sini, silakan klik dan di sini, silakan klik.

                  4. Gereja Katolik tidak setuju Yoh 14:13-14?

                  Di Yoh 14:13-14, Yesus mengatakan, “…. dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”

                  Tentu saja Gereja Katolik menyetujui ayat ini. Sebab memang permohonan doa- doa kita umat beriman dikabulkan di dalam nama Tuhan Yesus. Tuhan Yesuslah Pengantara kita satu- satunya kepada Allah Bapa (lih. 1 Tim 2:5). Namun pengantaraan Yesus ini juga melibatkan anggota- anggota Tubuh-Nya, yang mendukung pengantaraan Kristus sebagai Sang Kepala. Nah, di sinilah letak peran pengantaraan Bunda Maria dan para orang kudus. Maka pengantaraan Maria dan para orang kudus tidak berdiri sendiri dan tidak terlepas dari Pengantaraan Kristus. Mereka bukan saingan Kristus, tetapi mereka adalah para pendukung Kristus. Silakan membaca lebih lanjut di sini tentang pengantaraan Kristus, silakan klik.

                  Jadi doa orang Katolik tetap ditujukan kepada Allah, dan kelirulah jika ada pandangan yang mengatakan seolah umat Katolik tidak dapat berdoa langsung kepada Allah Bapa. Silakan klik di sini untuk membaca tentang topik ini.

                  5. Menuju Yesus melalui Bunda Maria bertentangan dengan Yoh 14:6?

                  Banyak orang salah paham dengan menyangka bahwa orang Katolik menyembah Maria, dan karenanya mereka men-cap umat Katolik ‘mendua hati’ dan melanggar perintah Allah untuk menyembah Tuhan saja. Namun orang Katolik tidak menyembah Maria, melainkan hanya menghormatinya. Alasannya sederhana, karena Allah lebih dahulu menghormati Maria dan memilihnya untuk menjadi ibu Tuhan Yesus. Maka jika umat Katolik menghormati Maria, itu adalah karena mengikuti teladan Allah sendiri, yang memang memerintahkan kita untuk menghormati ayah dan ibu kita. Bunda Maria adalah ibu Yesus dan karena kita adalah anggota- anggota Kristus, maka Bunda Maria adalah ibu rohani kita. Oleh karena itu, kita layak menghormatinya.

                  Jika kita menghormati orang tua kita, tidak berarti kita otomatis menduakan Tuhan. Tidak demikian. Karena biar bagaimanapun penghormatan kita kepada orang tua tidak pernah sama dengan penghormatan kita kepada Tuhan. Demikian pula dengan penghormatan umat Katolik kepada Bunda Maria. Umat Katolik hanya memohon dukungan doa Bunda Maria, dan tidak berdoa di dalam nama Maria. Umat Katolik berdoa kepada Allah Bapa, di dalam nama Tuhan Yesus, dalam persekutuan dengan Allah Roh Kudus. Kepada Maria dan para kudus lainnya kami hanya mohon didoakan, mengingat mereka adalah orang- orang yang sudah dibenarkan Allah di surga sehingga besarlah kuasa doa mereka (lih. Yak 5:16).

                  Maka Gereja Katolik tetap mengamini Yoh 14:6, bahwa Kristus adalah jalan, kebenaran dan hidup, dan tak ada seorangpun datang kepada Bapa tanpa melalui Kristus. Sebab banyak orang mengenal Kristus yang akan menghantar mereka kepada Allah Bapa, melalui Bunda Maria. Bunda Maria tidak pernah mencari perhatian dan kemuliaan bagi dirinya sendiri, melainkan hanya mengarahkan umat beriman kepada Kristus Puteranya. Dengan demikian Maria tidak pernah menjadi saingan Kristus, ataupun sejajar dengan Kristus. Konsili Vatikan II mengajarkan:

                  Sebab tiada makluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah terpancarkan secara nyata kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan cara yang berbeda-beda, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mereka aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber.

                  Adapun Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang berada di bawah peran Kristus ini. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka, ditopang oleh perlindungan Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat.” (Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium 62)

                  Demikian, maka penghormatan umat Katolik kepada Bunda Maria dimaksudkan untuk mempererat kesatuan mereka dengan Kristus Sang Penyelamat dan bukan malah sebaliknya, yaitu ‘menduakan Tuhan Yesus’ seperti yang anda kira. Saya mengundang anda untuk membaca kisah kesaksian Hany Widjaja, yang memperoleh mukjizat kesembuhan dari Tuhan melalui dukungan doa Bunda Maria, klik di sini, dan klik di sini. Silakan temukan di sana bahwa kedekatannya dengan Bunda Maria malah mempererat kesatuannya dengan Tuhan Yesus, dan semakin mendorongnya untuk bersyukur kepada Tuhan dan memuliakan nama-Nya! Kisah kesaksian itu hanya salah satu contoh saja dari sekian banyak kesaksian yang dialami oleh umat Katolik di sepanjang sejarah Gereja.

                  Semoga uraian di atas dapat menjadi masukan bagi anda.

                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                  Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Bpk Stve, berikut tanggapan saya

        Raja memberi kekuasaan untuk kerajaan Inggris pada parlemen. Jadi Parlemenlah yang berhak membuat undang2 di Inggris.

        Apa Raja masih boleh menentukan undang2 di Inggris?

        Apa Raja masih punya kekuasaan absolute?

        Salam

        • Shalom Tristan,

          Terima kasih atas tanggapan anda. Menjawab pertanyaan anda, setiap negara mempunyai sistem masing-masing. Dalam kasus di negara Inggris, maka raja atau ratu adalah kepala negara, juga kepala dari militer – yang dapat mengatakan perang atau perang telah usai, dan tugas-tugas yang lain. Tentu saja kalau kekuasan untuk membuat peraturan diberikan kepada parlemen, maka parlemenlah yang membuat peraturan sesuai dengan fungsinya. Kalau anda mau mengkaitkan dengan Gereja Katolik, maka diskusi menjadi lebih mendalam dan terarah kalau anda dapat membuktikan, bahwa Paus beserta para uskup seharusnya tidak boleh membuat peraturan apapun dan membuktikan bahwa ada ajaran yang bertentangan dengan Alkitab. Dan silakan membuktikan apakah Paus mempunyai kuasa absolut yang dapat bertentangan dengan Alkitab? Dan doktrin manakah yang dikeluarkan oleh Paus yang bertentangan dengan Alkitab? Dapatkan anda memberikan doktrin/dogma yang diberikan oleh Paus, namun tidak pernah diajarkan oleh Alkitab dan tidak mempunyai dasar dari tulisan para Bapa Gereja di abad-abad awal?

          Dalam perumpamaan yang anda berikan, dapatkah anda memperjelas untuk analogi siapakah raja dan parlemen di sini, sehingga saya tidak perlu mengira-ngira? Seperti yang kita ketahui, Inggris memakai sistem parliamentary monarchy. Apakah alasan anda untuk mengambil sistem ini dalam hubungannya dengan sistem Gereja Katolik? Apakah sistem ini juga dapat diterapkan dalam kondisi gereja-gereja non-Katolik? Dapatkah anda menjelaskan sistem negara (parliamentary republics, executive presidency, presidential republics, presidential republics full, parliamentary constitutional monarchies, constitutional monarchies, absolute monarchies, dll.) manakah yang paling dekat dengan apa yang terjadi dengan gereja-gereja Kristen non-Katolik? Dapatkah anda menjelaskan dalam kaitannya dengan diskusi ini, bagaimana hubungan antara eksekutif, yudikatif dan legislatif? Silakan membandingkannya dengan apa yang terjadi dengan gereja-gereja non-Katolik. Siapakah yang menjadi eksekutif, yudikatif maupun legislatif? Siapakah yang menjalankan fungsi eksekutif? Dan siapakah yang menjalankan fungsi legislatif, serta siapakah yang menjalankan fungsi yudikatif – jika terjadi perbedaan paham atau interpretasi dari hukum yang dikeluarkan oleh legislatif? Sekali lagi, pertanyaan-pertanyaan yang ini juga dapat membuka bahwa gereja-gereja non-Katolik tidak terlepas dari masalah, bahkan mempunyai masalah yang lebih besar, terutama karena dalam sejarah gereja terbukti bahwa ada 28,000 denominasi.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

        • Shalom Pak Tristan,

          Doktrin2 tentang Bunda Maria bisa dibilang sudah tua sekali, setua sejarah kekristenan, kalau Anda mempertanyakannya, bisa dibilang seperti mempertanyakan kekristenan itu sendiri. Apakah Anda tidak sependapat dengan umat Kristen awal? Ataukah mungkin menurut Anda para Bapa Gereja itu mengajarkan kesesatan?

          Saya yakin, pertanyaan2 Anda ini mungkin pada abad2 /tahun2 sebelumnya sudah pernah ada yg menanyakan, dalam pandangan saya seperti gelombang yang menerpa silih berganti, tapi kenapa doktrin tentang Maria ini masih tegap berdiri?

          Mungkin itu juga perlu Anda tanyakan, mengapa doktrin ini bisa sampai sedemikian kokohnya. Dibangun diatas pondasi apakah doktrin ini? koq bisa sampai kokoh berabad-abad lamanya? Biasanya pak, pondasi kuat menentukan bangunan yg kuat.

          Bagus juga sih Anda menanyakannya kepada katolisitas.org, kami para pemirsa jadi mengetahui pola pikir kedua belah pihak (dalam hal ini Katholik dan Protestan), dan itu jelas-jelas menambah wawasan kami.

          Saya juga berterimakasih kepada pengurus katolisitas.org terutama karena penjelasannya yang sangat logis dan dengan demikian dapat dicerna oleh akal sehat, sehingga para pembaca katolisitas.org bisa lebih menerima dan mencintai Tuhan dengan segenap hati dan segenap akal budi.

          GBU.

          • Agus Belyanan on

            JANGAN LAGI SAKITI BUNDA MARIA

            Terkadang dalam permenungan, saya berdoa dan bertanya dalam hati:
            TUHAN YESUS, mengapa sebagian orang-orang di dunia ini sangat membenci Maria yang adalah seorang Ibu yang pernah melahirkan-Mu? Sudah tidak adakah rasa takut akan Dikau dari orang-orang ini ? Jika memang sulit bagi mereka untuk menerima ajaranMu lewat para Rasul dan penerusnya, dapatkah sedikit saja hati dan sikap mereka menjadi lunak untuk jangan lagi menghina Maria Bunda-Mu? Bukankah akan lebih manusiawi jika mereka menolak dalam hati dan merenungi sendiri tanpa harus mengeluarkan kata protes dengan nada-nada fitnaan kepada Bunda-Mu ?
            Saya sungguh percaya bahwa memang jika tidak lewat rahim Mariapun Engkau bisa datang dengan cara-Mu sendiri, karena Engkau adalah Allah yang berkuasa dan dapat melakukan apa saja. Tapi jika Engkau sendiri datang dengan memilih rahim Maria sebagai cara bagaimana Engkau mau menjumpai kami dan menyelamatkan kami, lalu apa yang sebenarnya Engkau ajarkan kepada kami tentang peran Maria sebagai Bunda-Mu ini kepada kami yang mengimani-Mu sebagai Tuhan Penyelamat? Bukankah dengan ini Engkau menunjukan bahwa Maria adalah yang pantas karena kesempurnaan imannya? Apakah kami mempunyai HAK untuk mempersoalkan pilihanMu ini? Dan Pantaskah kami memaksakan kehendak-Mu ini menyesuaikan dengan kehendak kami ? Bukankah Engkau Pencipta dan kami hanyalah ciptaan? Bukankah akan logis dan adil jika Engkau yang menunjukan dan kami hanya mengikuti, Engkau yang memberi dan kami hanya menerima ?
            ,,, Sebagian orang selalu berbangga diri karena mampu menghafalkan semua FirmanMu yang tertulis di Kitab Suci dan lebih lagi mengandalkan kemampuan akal budi dan pengetahuan mereka yang tinggi-tinggi supaya dapat dikatakan sebagai orang beriman sejati.,, Bukankah ini sama halnya dengan para ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi pada zamannya yang sangat membenci dan menolak Engkau karena cara mereka menafsirkan Kitab Suci? Bukankah bertahun-tahun mereka merindukan Mesias tetapi ketika Engkau hadir di depan mereka sebagai Mesias dari Allah mereka justru menyalibkan Engkau ?,,
            Bahkan dengan ego yang tinggi mereka tidak merasa malu sedikitpun untuk memaksakan firmanMu yang berkuasa agar harus sesuai dengan keinginan pribadi mereka. Bukankah hal ini juga sama dengan peristiwa kejatuhan Adam dan Hawa leluhur kami yang tidak menghormati Engkau dengan tidak taat karena mencoba untuk menentang hukum-hukum-Mu?
            ,,Padahal Engkau mengajarkan bahwa beriman sejati jauh lebih bermakna bila hanya ada unsur penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah yang adalah kehendak-Mu. Bahkan lebih indah lagi jika kehidupan iman kami dihiasi dengan penderitaan-penderitaan, di mana kami diberi kesempatan mendapat bagian istimewa untuk sedikit merasakan apa yang dulu Engkau rasakan waktu menebus dosa-dosa kami.,, Bukankah inilah yang dijalani oleh orang-orang pilihanMu yang istimewa: Bunda Maria, Para Rasul dan santo-santa yang hidupnya berkenan dan dibenarkan oleh-Mu?
            ,,,Saya rasa Engkau mengerjakan karya-karya penyelamatan demi keselamatan manusia dan sama sekali tidak membutuhkan penilaian dari pihak manusia.,, Tapi mengapa kami yang lain-lain ini begitu angkuh dan sombong dengan karunia-karunia yang adalah kepunyaan-Mu yang Sah ? Beginikah sikap ‘kami’ yang tidak tahu malu menggunakan karunia-karunia-Mu itu untuk kembali menentangMu?
            Sungguh,, saya merasa sangat sedih dan menangis bahkan terkadang sangat marah di dalam hati (maafkan saya Tuhan Yesus) mendengar orang-orang ini yang sangat tidak sopan terus-menerus menghina Bunda Maria.
            Saya memang sudah dari kecil diajarkan bahwa Maria adalah Ibu Tuhan Yesus sendiri. Karena itu, saya tidak bisa dan tak akan pernah bisa melupakan Bunda Maria dalam hidupku. Jika saya mencitai Engaku Tuhan Yesus maka sudah sepantasnya saya juga harus mencitai Ibu-Mu. Dengan alasan apakah saya harus meniadakan Ibu-Mu ?
            Saya berpikir: MENERIMA Anaknya dan MEMBUANG Ibu-Nya adalah tindakan yang tidak adil dalam keluarga manusia. Apalagi Keluarga Kudus Nasaret sebagai cermin/gambaran yang benar akan Keluarga Kerajaan Allah kelak. Meski kebenaran harus tetap dan tidak berubah sampai kapanpun bahwa Yesus adalah tetap TUHAN dan Ibu-Nya Maria tetaplah seorang MANUSIA, namun seorang manusia yang sangat istimewa di mata Tuhan. Karena dari padanyalah (Maria) semua bangsa manusia di bumi mengenal Allah. Sementara Ia (Maria) lah manusia yang pertama di bumi ini yang mengenal Allah, dan membawaNya dalam dirinya selama 9 bulan dan hidup bersamaNya selama 33 tahun. Dalam masa-masa ini pasti Ia (Maria) membuktikan kasih seorang ibu yang laur biasa bagi anaknya, dan perannya sebagai ibu ini tak pernah digantikan oleh ibu siapapun di dunia ini dalam memelihara Yesus.
            Tuhan,, Saya tidak cukup pandai cara menafsirkan dengan benar Kitab Suci, dan sampai saat inipun saya tidak pernah menghafal salah satu bab atau ayat dari kitab Suci (dan jika ada yang bertanya maka saya pasti buta untuk menyebut bab dan ayat Kitab Suci—maaf atas ketidakmampuanku),
            ,,namun saya membaca dan menemukan bahwa tak sekalipun Engkau membenci Maria seperti orang-orang ini yang mengakui diri dengan bangga dan semangat yang berkobar-kobar sebagai murid-Mu dan Tuhan-Mu padahal mereka sangat membenci Bunda-Mu Maria. Di manakah ARTI ‘murid’ yang tidak sejalan dengan Sang Gurunya ?,,
            ,,Mereka bahkan dengan merasa mual, risih, sinis hanya karena mendengar nama Ibu-Mu ini jika disebutkan terkait dengan rencana dan karya keselamatan yang Engkau sendiri rancangkan. Padahal Engkau datang dengan secara penuh melibatkan Maria, dan dengan setia Maria menjagaMu hingga sampai usia dewasa bahkan saat di mana Engkau harus kembali kepada Allah dengan cara yang mengerikan dan menyedihkan. Engkau sungguh tahu bahwa di saat itulah hati Bunda Maria hancur melihat Anak-Nya tergantung dan mati di kayu salib. Engkaulah yang mengajarkan tentang Allah sebagai BAPA KAMI DI SURGA yang dulu MEMILIH Perawan Maria sebagai Bunda-Mu di dunia ini lewat malaikat Gabriel. Namun bagi mereka: itu seakan-akan tidak penting dan menolak bahkan tidak sedikit yang menghina, mereka membuang jauh-jauh pilihan-Mu ini dari kehidupan iman mereka. Mereka dengan tegas bahkan berusaha memaksakan supaya Maria ibu-Mu dipisahkan bahkan dihapuskan dari hubungan yang berlebihan dengan-Mu, seolah-olah merekalah yang pernah mengandung dan melahirkan Engkau dan bukan Bunda Maria. Mereka menganggap Bunda-Mu ini penghalang besar dalam berhubungan dengan-Mu dengan menutup mata dan menguburkan dalam diri mereka kenyataan 2000 tahun lalu seorang Perawan yang menyerahkan rahimnya supaya Engkau hadir sebagai IMANUEL untuk hidup mereka sendiri. Inikah namanya murid yang setia dan sejati? Meskipun Engkau adalah Tuhan yang berkuasa yang mengatasi segala ciptaan dengan kuasaMu yang besar tapi Engkau menghormati Maria sebagai seorang Ibu. Dengan ini Engkau mengajarkan supaya kami mengikuti teladan suci ini, dan GerejaMu yang Satu, kudus, Katolik dan Apostolik memeliharan contoh teladan ini kepada kami hingga hari ini.
            Tuhan Yesus,,sesungguhnya kami hanyalah manusia-manusia pendosa yang tidak memahami jalan-jalanMu. Engkau sendiri memilih Maria sebagai Bunda-Mu yang adalah Bunda Allah karena Engkau sendirilah Allah kami, dan kami tidak punya alasan yang baik untuk menolak apalagi memprotes selain daripada taat dan tunduk untuk menerima bahwa tidak ada manusia lain yang lebih pantas untuk melahirkan-Mu kecuali Maria satu-satunya yang pantas untuk menjadi Bunda-Mu. Karenanya berilah kami kekuatan dan kesadaran untuk:
            • Jika mereka terus-menerus menganggap Bunda Maria tidak penting, biarlah Kami terus-menerus menganggap Bunda Maria sangat penting bagi kami, Sebab Engkau yang adalah Allah sudah terlebih dahulu menganggap Bunda Maria sebagai pilihan yang penting dalam rencana karya keselamatan untuk kami.
            • Jika mereka terus-menerus tidak menghormati Bunda Maria, biarlah kami terus-menerus menghormatinya dalam kehidupan kami. Karena Engkau sendiri yang terlebih dahulu menghormatinya sebagai ibu-Mu ketika masih hidup bersama sebagai satu keluarga manusia di Nasaret.
            • Jika mereka terus-menerus membenci dengan sikap dan kata-kata yang sinis, risih, dan pelbagai sikap penghinaan lainnya terhadap Bunda Maria, biarlah kami terus-menerus mengasihi Bunda Maria sebagai Ibu kami. Supaya dengan demikian, Kami terus-menerus meminta pertolongan doa-doanya, karena bunda Maria memiliki hubungan yang lebih dekat dan istimewa dengan Engkau daripada kami. Dan Engkau tidak pernah menolak permintaan BundaMu itu, jika permohonan-permohanan kami itu sesuai dengan kebijaksanaanMu.
            • Jika mereka terus-menerus men-cap kami ‘Penyebah berhala’ biarlah itu hanyalah pandangan pribadi mereka dan itu tidak benar dalam praktek hidup keimanan kami. Dan biarlah Kami terus-menerus mempersembahkan waktu-waktu khusus untuk menghormati pilihan-Mu (bunda Maria) ini dengan mendaraskan doa-doa, nyanyian-nyanyian, permohanan-permohonan kami melalui Bunda Maria untuk menghantar kepada-Mu, sebagai tanda syukur dan kagum kami akan perannya sebagai Bunda Allah dan bersama dengannya kami menyembah dan memuliakan Nama-Mu yang Kudus yang datang dari Bapa yang mempersatukan kami dengan Roh Kudus sebagai Keluarga Allah.
            • Jika mereka terus-menerus memprotes ajaran para Rasul-Mu dan para Penerusnya tentang peranan Bunda Maria ini, biarlah Engkau terus-menerus menyertai Gereja dengan Roh Kudus-Mu agar ajarannya tetap teguh terpelihara dan tetap dalam pengajarannya yang benar dan semakin lantang diajarkan lagi.
            Akhirnya, YA TUHAN jangan tanggungkan kesalahan ini kepada mereka. Karena sesungguhnya mereka juga tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Semoga dengan mereka, Kami hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang sudah seharusnya kami lakukan, yaitu menyampaikan KEBENARAN yang sudah berabad-abad lamanya, yang berasal dari-Mu, diturunkan kepada Para Rasul dan dilestarikan di dalam GerejaMu yang kudus. Semoga semua kebencian mereka itu jika boleh ditujukan kepada kami, tapi janganlah ditujukan kepada ajaran Gereja-Mu yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik dan Bunda GerejaMu yang Kudus yakni Perawan Maria selamanya.
            Pesan untukmu saudaraku yang membenci Bunda Gereja:
            ,,Ingatlah dengan baik, “Jika kamu terus-menerus memprotes apa yang diajarkan oleh Yesus yang diteruskan oleh para Rasul dan Penerusnya sebagai Jalan Kebenaran dan Kehidupan, maka sebenarnya kamu telah dan sedang terus-menerus memaksakan Yesus mencabut bagianmu dari keluarga Allah,,.
            ,,,Melakukan Protes kepada Dunia adalah Hak anda, karena Anda berhak untuk membangun Dunia. Tetapi jika melakukan Protes terhadap IMAN itu sesungguhnya bukan hak Anda, karena Iman adalah Pemberian dan Anda hanyalah Penerima, sehingga hanya akan menghasilkan ketidaktaatan kepada Allah.,,
            “Orang yang hanya menerima Pribadi YESUS dan mengimani-Nya dalam hati tetapi membuang seluruh ajaran-Nya yang diajarkan oleh Gereja-Nya, maka ia tidak lebih dari seorang munafik yang hanya pandai berbicara tentang Yesus tetapi tidak melakukan perkataan-Nya, dengan sendirinya ia MENOLAK SALIB sebagai JALAN KESELAMATAN.,,
            Kamu tidak akan pernah sampai ke Surga untuk tinggal selamanya dengan Kristus sebagai satu keluarga Allah, jika Kamu tidak pernah RENDAH HATI seperti Bunda Maria untuk berkata dalam hidupmu; “aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.’’

            Salam

            • Shalom Agus,

              Sejujurnya, tidak semua saudara-saudari kita yang Kristen non-Katolik membenci Bunda Maria, seperti yang Anda tuliskan itu. Mungkin beberapa kali Anda mengalami memang ada sejumlah dari mereka yang nampak seperti anti kepada Bunda Maria, sehingga Anda berkesimpulan seperti itu. Tetapi sebenarnya, ada juga sejumlah dari saudara/i kita yang non-Katolik, yang juga menghormati Bunda Maria, hanya saja memang tidak secara eksplisit seperti kita umat Katolik. Maka mungkin ada baiknya jika Anda juga terbuka terhadap kenyataan ini, sehingga Anda tidak terlalu bersikap negatif terhadap semua saudara-saudari kita yang non-Katolik.

              Sepanjang pengetahuan saya, ganjalan terbesar dari mereka yang menolak Bunda Maria, adalah karena mereka menganggap kita umat Katolik menyetarakan Bunda Maria dengan Kristus. Padahal ini tidak pernah terjadi, sebab sebagai umat Katolik kita tahu membedakan keduanya. Kepada Kristus Tuhan, kita menyembah, namun kepada Bunda Maria, kita menghormati. Penyembahan tertinggi kita umat Katolik adalah perayaan Ekaristi, dan di dalam perayaan Ekaristi fokusnya adalah Kristus dan melaluinya kepada Allah Bapa dalam kuasa Roh Kudus (bukan kepada Bunda Maria).

              Selanjutnya, jika boleh saya menyarankan, janganlah Anda membalas perlakuan sesama yang salah paham dengan ajaran Gereja Katolik itu, dengan ancaman apapun. Sebab hal itu bukan hak kita. Hanya Tuhan yang mengetahui isi hati mereka, apakah mereka melakukan kecaman itu karena sengaja, atau tidak sengaja, apakah dengan pengetahuan penuh atau tidak. Hal menghakimi adalah hak Tuhan, dan biarlah kita menjalankan apa yang menjadi bagian kita, yaitu menyampaikan apa yang kita ketahui sebagai kepenuhan kebenaran kepada mereka, dengan motivasi kasih. Kalau tetap tidak diterima, ya kita tidak usah memaksa. Ini juga melatih kita untuk menjadi rendah hati, karena mengetahui bahwa urusan mengubah hati, itu bukan bagian kita, tetapi bagian Tuhan. Yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah mendoakan mereka, agar suatu saat, jika Tuhan berkenan, Ia dengan cara-Nya sendiri, menyatakan kebenaran-Nya kepada mereka, terutama kepada mereka yang secara tulus mencari Tuhan. Kita harus percaya akan kekuatan Kebenaran itu sendiri, yang menarik orang dengan sendirinya, sebab Truth speaks for itself. Itulah sebabnya, jika orang yang dengan tulus mencari Tuhan dan Kebenaran-Nya, ia akan sampai kepada Gereja Katolik.

              Mari kita saling mendoakan, dan mari kita menumbuhkan semangat saling menghormati, meskipun kepada sesama yang berbeda pandangan dengan kita. Sebab dengan demikian kita dapat menunjukkan bahwa kita taat kepada kebenaran yang kita wartakan. Mari kita mengingat apa yang dikatakan oleh Rasul Petrus:

              “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu…” (1Ptr 1:22)

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

              • Agus Belyanan on

                syalom juga, maaf sedikit terlambat menjawab.
                Terima kasih bu Ingrid atas koreksi dan masukannya, mungkin sedikit terbawa dgn situasi di mana saya berada bhw bahasa dan isi tulisan saya kedengaran menyakitkan, namun itu mungkin sesuai dgn karakter kami di Papua yang memang kadang harus tegas. Tempat di mana saya bertugas ini, sebenarnya merupakan daerah mayoritas katolik, namun karena satu dan lain hal (yg tdk bisa saya jelaskan di sini) akhirnya kini katolik menjadi minoritas. Sebetulnya saya adalah seorang Katekis utusan keuskupan Agats-Asmat, namun entah bagaimana saya tdk mengontrol tulisan tsb shingga terkesan menghakimi. Namun saya kira ini masukan yang sangat baik utk perkembangan diri saya, jadi sekali lagi terima kasih. Mungkin saya harus banyak belajar dari pihak katolisitas, terutama menyangkut kesabaran dan kerendahan hati. Tolong doakan saya dlm hal ini. salam damai Kristus

                [Dari Katolisitas: Terima kasih juga atas keterbukaan Anda untuk menerima masukan kami. Semoga Tuhan memberkati Anda juga dalam karya pelayanan Anda di Papua.]

Add Comment Register



Leave A Reply