Tuhan Yesus tidak mendirikan Gereja?

14

[Berikut ini adalah pernyataan Shinta yang mewakili pandangan umum dari umat Protestan, yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus tidak mendirikan Gereja (Church) tetapi jemaat (ekklesia). Pandangan ini rancu dan tidak benar, dan Ingrid akan menjawabnya mengapa demikian]

Pertanyaan:

Salam Damai

YESUS tidak pernah mendirikan gereja ataupun church, yang Dia dirikan adalah ekklesia alias jemaat

gereja sudah ada sejak doeloe kala, berikut kutipannya:

Douay-Rheims Bible, Challoner Revision [catholic version]

Num 19:20 If any man be not expiated after this rite, his soul shall perish out of the midst of the church: because he hath profaned the sanctuary of the Lord, and was not sprinkled with the water of purification.
Num 20:4 Why have you brought out the church of the Lord into the wilderness, that both we and our cattle should die?
Deut 23:1 An eunuch, whose testicles are broken or cut away, or yard cut off, shall not enter into the church of the Lord.
Deut 23:2 A mamzer, that is to say, one born of a prostitute, shall not enter into the church of the Lord, until the tenth generation.
Deut 23:3 The Ammonite and the Moabite, even after the tenth generation shall not enter into the church of the Lord for ever:
Deut 23:8 They that are born of them, in the third generation shall enter into the church of the Lord.
Neh 13:1 And on that day they read in the book of Moses in the hearing of the people: and therein was found written, that the Ammonites and the Moabites should not come in to the church of God for ever:
Ps 22:22 I will declare thy name to my brethren: in the midst of the church will I praise thee.
Ps 22:25 With thee is my praise in a great church: I will pay my vows in the sight of them that fear him.
Ps 26:12 My foot hath stood in the direct way: in the churches I will bless thee, O Lord.
Ps 35:18 I will give thanks to thee in a great church; I will praise thee in a strong people.
Ps 40:9 I have declared thy justice in a great church, lo, I will not restrain my lips : O Lord, thou knowest it.
Ps 68:26 In the churches bless ye God the Lord, from the fountains of Israel.
Ps 89:5 The heavens shall confess thy wonders, O Lord: and thy truth in the church of the saints.
Ps 107:32 And let them exalt him in the church of the people: and praise him in the chair of the ancients.
Ps 149:1 Sing ye to the Lord a new canticle: let his praise be in the church of the saints.
Prov 5:14 I have almost been in all evil, in the midst of the church and of the congregation.
Lam 1:10 Jod. The enemy hath put out his hand to all her desirable things: for she hath seen the Gentiles enter into her sanctuary, of whom thou gavest commandment that they should not enter into thy church.
Joel 2:16 Gather together the people, sanctify the church, assemble the ancients, gather together the little ones, and them that suck at the breasts: let the bridegroom go forth from his bed, and the bride out of her bride chamber.

Salam,
Shinta

Jawaban:

Shalom Shinta,

1. Asal kata ‘church’/ ekklesia = ‘qahal’

Kata ‘church‘/ ‘ekklesia’ dalam Perjanjian Lama berasal dari kata aslinya yaitu ‘qahal‘ (Yunani), yang artinya adalah ‘kumpulan orang- orang’, atau diterjemahkan di Alkitab LAI sebagai ‘jemaah’ (Bil 19:20; 20:4; Ul 23:1-4; Neh 13:1, Mzm 22:22, 26, 26:12, 35:18, 40:10, 68:27, 89:6, 149:1; Ams 5:14; Rat 1:10; Yl 2:16).

2. ‘Church’/ ‘qahal’ sudah ada sejak jaman PL

Nah, ‘qahal‘, atau ‘kumpulan orang- orang’ atau ‘jemaah’ ini, menurut konteks masyarakat Yunani dan Yahudi adalah perkumpulan yang dibentuk atas dasar penyembahan, berdasar atas kesatuan yuridis ataupun politik (menurut L. Rost, H. Schlier, “Ekklesiologie des Neuen Testaments”, in Mysterium Salutis 4, I (1972), 101-214). Dalam konteks Perjanjian Lama, ‘kumpulan orang- orang’ ini mengacu kepada jemaah Allah yang kepadanya Allah telah membuat perjanjian, ditandai dengan perjanjian Sinai di bawah pimpinan Nabi Musa. Perjanjian jemaah ini (bangsa Israel) dengan Allah ditandai dengan darah anak domba Paska yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, dan selama 40 tahun kemudian menerima roti manna dari surga sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Kumpulan orang- orang ini adalah bangsa pilihan Allah yang tetap bertahan, walau abad- abad berikutnya tercerai berai, mengalami pembuangan di Babilon, restorasi pada jaman nabi Ezra, sampai pada jaman Perjanjian Baru.

Kata ‘ekklesia’ yang diterjemahkan sebagai ‘jemaat’ oleh LAI, berasal dari ‘qahal‘ ini, namun maknanya tidak lagi terbatas secara yuridis maupun politis, namun berdasarkan arti spiritual dan eskatologis. Kata ‘ekklesia’ inilah yang umum dikenal sebagai Gereja yang memang adalah kata lain dari jemaat Allah yang hidup (1 Tim 3:15). Gereja ini adalah umat/ jemaat Allah yang hidup karena dihidupkan oleh tanda perjanjiannya dengan Allah, yaitu: Darah Kristus Sang Anak Domba Allah, dan oleh santapan rohani yaitu Kristus Sang Roti Hidup dalam Ekaristi, untuk menuju kehidupan kekal di Tanah Perjanjian yaitu Kerajaan Sorga.

Jadi jika anda katakan bahwa ‘church‘/ jemaah itu sudah ada sejak Perjanjian Lama, itu memang benar. Walaupun demikian, jemaah di Perjanjian Lama hanya merupakan gambaran awal dari Gereja / jemaat pada Perjanjian Baru, yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus (Mat 16:18). Pembahasan mengenai hal ini ada di sini, silakan klik, dan tentang ‘Petros’ dan ‘petra’ di sini, silakan klik. Gereja/ ekklesia di sini memang bukan berarti bangunan gedung gereja, tetapi adalah kumpulan umat Allah yang bersifat universal, tidak terbatas oleh suku, bangsa atau bahasa; dan yang berkumpul dan memperoleh hidup dari Kristus sendiri, melalui Sabda-Nya dan Tubuh dan Darah-Nya dalam Ekaristi.

3. Yesus mendirikan Gereja-Nya

Dengan demikian, adalah suatu ke-salah pahaman, jika mengatakan Yesus tidak mendirikan Gereja. Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus, sebagaimana dikatakan-Nya:

Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18)

“That thou art Peter; and upon this rock I will build my church, and the gates of hell shall not prevail against it. (Mat 16:18, Douay Rheims- Vulgate)

Jadi Gereja/ ekklesia maksudnya adalah kumpulan umat Allah, yaitu bangsa pilihan Allah yang baru, yang merupakan penggenapan dari bangsa pilihan Allah di jaman Perjanjian Lama, karena jasa Kristus yang menjadi Sang Anak Domba Perjanjian Baru. Gereja Katolik lahir, tumbuh dan dihidupkan oleh Sabda Allah, dan Tubuh dan Darah Kristus. Peran Sabda dan Ekaristi ini dikisahkan dalam penampakan Yesus di Emaus (Luk 24:13-32), dalam kisah para rasul, dan jemaat pertama (lih. Kis 2:42), yang terus dilestarikan sampai sekarang dalam setiap Perayaan Ekaristi. Peran Sabda dan Ekaristi ini menyempurnakan perjanjian dengan bangsa Israel yang ditandai dengan sabda Allah yang tertulis di dua loh batu, darah anak domba, dan oleh roti manna di padang gurun.

Dengan demikian, makna Gereja dalam Perjanjian Baru memang tidak terlepas dengan makna ‘jemaah’ dalam Perjanjian Lama karena PL dan PB memang berhubungan satu dengan yang lainnya; dengan PB sebagai penggenapan PL. Dengan demikian, Gereja mempunyai makna yang jauh lebih mendalam daripada hanya sekedar kumpulan orang- orang yang memuji Tuhan. Sebab Gereja telah dirintis oleh Allah sejak masa PL, namun kemudian disempurnakan dalam PB; dengan dijiwai dan diberi hidup oleh Kristus sendiri, agar dapat sampai kepada kehidupan yang kekal (Yoh 6: 54).

Maka, Gereja merupakan kumpulan orang- orang yang dibentuk oleh Tuhan sendiri, dipersiapkan sedemikian sejak jaman Perjanjian Lama, untuk mencapai penggenapannya dalam Perjanjian Baru oleh Kristus. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah kita mau sepenuhnya bergabung dengan Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri ini?

4. Gereja yang didirikan oleh Yesus ini adalah Gereja Katolik

Kata “ekklesia” ini dijabarkan maknanya dengan lebih mendalam,  dalam perikop Ef 5:22-33. Di sana dikatakan bahwa hubungan Yesus dengan Gereja (jemaat)-Nya ini digambarkan sebagai hubungan suami istri. Dalam Mat 19, Yesus mengajarkan tentang kesucian perkawinan yang ditandai oleh penyerahan diri yang total antara seorang  suami dan seorang  istri, dan tentu Ia sendiri memberikan contoh teladan dalam hal ini, dengan hanya mendirikan satu Gereja. Gereja yang didirikan-Nya di atas Rasul Petrus ini, sekarang tetap berlanjut dalam Gereja Katolik, yang tetap bertahan dari jaman para rasul sampai sekarang, sekitar 2000 tahun lamanya.

Silakan jika anda belum membaca, untuk membaca artikel seri Gereja dalam situs ini:

Tulisan ini menjabarkan Gereja Katolik sebagai Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri, dan bahwa Gereja telah direncanakan oleh Allah sejak awal penciptaan dunia (Bagian 1). Gereja juga menjadi tujuan akhir manusia sekaligus sarana untuk mencapai tujuan itu (Bagian 2). Untuk itu Gereja menyampaikan keutuhan rencana Allah (Bagian 3), sebagai Tanda Kasih- Nya untuk semua manusia (Bagian 4). Kebenaran ini merupakan karunia, tetapi juga membawa tugas bagi kita sebagai orang Katolik (Bagian 5). Dan Kebenaran akan Gereja Katolik sebagai sakramen keselamatan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

14 Comments

  1. Dalam kotbah-kotbah di radio, banyak pendeta mengatakan Kristen bukanlah agama.
    1. Apakah pernyataan demikian dapat diterima secara umum baik oleh umat kristen katolik maupun umat Kristen Protestan karena mempunyai kebenaran teologis?
    2. Apakah ada maksud khusus dengan menekankan pernyataan tersebut berulang-ulang di radio?

    [Dari Katolisitas: Agaknya, kuncinya ada pada definisi agama yang diambil sebagai patokan. Silakan membaca terlebih dahulu artikel ini, silakan klik dan klik di sini.
    Tentang apakah maksud pengulangan pernyataan-pernyataan di radio bahwa Kristen bukan agama, silakan ditanyakan maksudnya kepada pihak pengelola radio tersebut.]

  2. Terima kasih atas panggilan saudara, telah aktif dalam melayani Tuhan. Maju trus Yesus kepala Gereja akan memberkati para murid-Nya sampai kesudahan alam. Maranatha.

    • Santosa Wijaya on

      Shaloom Shinta dan teman Protestan lainnya, penjelasan bu Ingrid makin gamblang. Dalam bahasa Inggris ada website yang menerangkan soal ini pula. Silahkan klik link to chnetwork.org Juga klik link to chnetwork.org kisah seorang Ahli Sejarah beragama Protestan menyingkapkan Sejarah Gereja dan karena itu menemukan bahwa pengajaran di gereja Protestan meloncat 1500 tahun sejak Kisah Para rasul langsung ke Marthin Luther, Zwingli, dst. Dia terbuka akan kebenaran ketika menyelidiki sejarah, lalu menjadi Katolik. Silahkan klik link to calvin2catholic.com Dialah pak David Anders PhD. Kaum protestant harus tahu John Kardinal Henry Newman mantan Protestan (Inggris) dan meangapa jadi Katolik, silahkan teliti kutipan kata-kata beliau di link to en.wikiquote.org Di siru tertulis salah satunya: “To be deep ini history is to cease to be protestant” (dalam tulisan beliau tentang “perkembangan ajaran Gereja” tahun 1845, pengantar bagian 5). Terjemahan bebas saya ialah: Berhenti menjadi protestan ialah cara bagi beliau agar ikut dalam kebenaran sejarah dan sejarah kebenaran! Cobalah
      Saya sendiri eks Protestan. Tapi saya mau menjadi Katolik karena melihat bahwa kalau saya ke pedalaman Kalimantan, Papua, atau Sumatera Utara, saya tidak menemukan gereja protestan aliran saya yang saya selalu hadir dalam kebaktian di Jakarta. Setelah saya membaca “Rome Sweet Home” karangan Scott dan Kimberly Hahn, barulah saya tahu bahwa pendeta saya telah memutus sejarah kebenaran ini. Tapi mereka selalu bilang: Katolik salah karena memanipulasi Alkitab dan membunuh banyak orang Protestan di Irlandia dan Eropa pada masa Martin Luther. Tapi kini saya tahu siapa yang memanipulasi kebenaran. Memang Katolik mengakui secara sosial politik telah melakukan kesalahan, maka Paus Yohanes Paulus II meminta maaf pada dunia tahun 2000. Tapi kesalahannya bukan ajaran, melainkan perilaku, misalnya pernah korupsi, main politik kotor, main perempuan, pedofil, dsb. Tapi mereka tidak berani mengubah doktrin. Sedangkan Protestan kesalahannya ialah “MENGUBAH DOKTRIN”. Ini kebablasan. Mengapa hanya dengan melihat paus korupsi dalam pembangunan Vatikan lalu mengubah doktrin? Kebablasan! Ini seperti orang yang mau mengubah landasan negara PANCASILA menjadi ajaran lain, hanya karena melihat pemerintah korupsi. Kebablasan! Protestan pernahkan minta maaf? Tentu tidak dapat karena tak punya pemimpin sedunia. Siapa pemimpin protestan sedunia? Tak ada! Bagaimana Katolik bisa punya pemimpin sedunia? Karena didirikan oleh Kristus sendiri! Sekarang Paus benediktus ialah paus yg ke – 265. Bisa ditelusur satu persatu mundur ke zaman Yesus yg melantik St Petrus sebagai Paus yang ke-1. Terus terang, sebagai protestan tahun 2005, saya melongo membaca kebenaran sejarah ini, apalagi kebenaran bahwa gerejaku di Jakarta dengan ajarannya tak kutemukan di Kalimantan, Papua, maupun Sumatera Utara. Banyak gereja protestan di nusantara ini, tetapi ajarannya beda-beda, tak ada katekismus yang satu dan jelas jadi pegangan. Ada yang Natalan mulai tanggal 1 Desember, ada yang mulai 23 Desember, dll. Ada yang Perjamuan Kudus hari Jumat Agung, ada yang setiap bulan. Ada yang boleh membaptis bayi, ada yang melarang membaptis bayi.. wah ribet. Padahal temanku yang Katolik dengan enak pada hari Minggu mencari gereja Katolik di mana-mana gampang Atau jika tak ada gereja Katolik pun, dia tak mau ke gereja protestan kendati kubujuk. Dengan itu saya sadar mengapa ada ajaran pendeta saya beda dengan pendeta gereja lainnya. Kini di Katolik saya tahu, romo pastor/ imam Gereja Katolik uskup, dan paus hanya berbeda gaya, tetapi tak beda dalam pengejaran kebenaran. Ada romo yang serius, ada pula yang bikin enek kalau kotbah, ada yang lihai bikin lucu-lucu, tapi tiada beda ajarannya satu sama lainnya. Saya selalu mencatat kotbah/homili pastor saat misa dengan waktu kotbah yang hanya maksimal 10 menit (di Jakarta memang misa sangat singkat di badingkan kebaktian protestan, apalagi kotbahnya). Tetapi sejak kalimat pertama sampai akhir saya selalu mendapatkan inti kalimat yang bagus untuk spiritualitas saya. Saya pernah pula mencatat apa inti kotbah pendeta. Ternyata tiada hal baru yang kudapat dan sampai 60 menit kotbah pun sering catatan saya kosong. Saya pernah tanya ke pendeta protestan dan pastor Katolik dalam perbedaan mempersiapkan kotbah hari Minggu. Pendeta Protestan menetapkan tema lalu membuka Alkitab. Dia cari mana nats-nats yg mendukung idenya dia. Pastor Katolik pertama-tama membuka kalendarium dan membaca teks-teks Alkitabnya, baru setelah itu membuat renungan berdasarkan Sabda Tuhan yang hanya tiga bacaan itu (Perjanjian Lama, Surat-Surat Perjanjian Baru, Injil. Jadi, kebalik caranya. Mana yang lebih menuruti kehendak Tuhan? Saya kira jelas! Jelas pula bedanya mengapa saya bisa menulis apa yang dikotbahkan pastor daripada pendeta yg sering cari-cari gaya kotbah agar menarik namun mati gaya di hadapan mataku. Maka saya minta supaya orang Katolik tak usah mengeluh dengan kotbah pastor yang kalian mengeluh mengenai gayanya yang bosan. Bagi saya tidak. Cobalah selalu menulis apa yang kalian dengar dari homili/kotbah pastor di gereja pada hari Minggu atau misa harian itu. Pasti tidak bosan. Sedangkan gaya-gaya pendeta biasanya menarik luaran, tetapi isi yang keluar sama saja: Yesus, Alleluia, Amen, semua beres dalam Yesus…” Seolah hanya beriman saja maka beres. Itulah “Sola Fides” atau “Hanya Iman” saja cukup yang seolah tak perlu inspirasi bagi usaha manusia. Sorry, tetapi memang demikianlah. Tak ada inspirasi baru karena pendeta tiada juga tahu sejarah penulisan Alkitab, konteks tiap Alkitab. Tak punya magisterium dan dokumen gereja serta kisah santo-santa yg bisa mereka kutip. Sorry, ini adalah pengalaman pribadi saya saja. Mohon maaf bila ada yang tak berkenan.
      Terimakasih pembaca katolisitas telah membaca sharing saya. Terimakasih Ingrid dan Tay yang memuat sharing dan tanggapan saya.Semua orang Katolik dan bahkan Protestan harusnya membaca katolisitas ini agar semua tinggal di dalam kebenaran satu ajaran!
      Syaloom
      Santosa Wijaya

      [Dari Katolisitas: Terima kasih Santosa, atas sharing Anda. Selamat bergabung dalam kesatuan Gereja Katolik dan mari saling membangun sebagai satu saudara di dalam Kristus.]

      • Shalom, Sdr. Santosa Wijaya. Terima kasih untuk sharing imannya yang sangat meneguhkan dan menguatkan. Saya semakin gembira dan bangga menjadi orang Katolik. Semoga kebenaran iman Katolik makin membuka mata hati banyak orang untuk lebih mencintai iman Katolik dan semakin banyak pula yang menggabungkan diri dalam Gereja Katolik yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Amin.
        Semangat selalu untuk pengasuh katolisitas yang luar biasa ini! GBU always!

  3. salam damai,
    sangat setuju dengan apa yang di tulis di atas, bahwa gereja sudah ada sejak dulu
    namun gereja yang di sebutkan di bangun diatas petrus sesungguhnya yang seperti apa?
    berdebat mengenai arti tidak akan pernah ada habisnya, tapi fungsi dan tugas gereja yang sesungguhnya,itulah yang bumi butuhkan saat ini. berbicara mengenai fungsi dan tugas gereja tidak lepas dari mandat sosial dan mandat pemuridan (amanat agung), sudahkah pemuridan itu berfungsi dengan baik di dalam gereja sebagai sebuah gedung dengan tembok pembatasnya? sedikit dari yang saya baca bahwa church>qahal>jamaah>ekklesia> di panggil untuk memerintah, pemerintahan yang seperti apa? pemerintahan yg di daulat TUHAN untuk menaklukan bumi dan memuridkan isinya demi nama YESUS, sekali lagi sudahkah gereja sebagai sebuah gedung sudah melakukannya dengan baik?
    yang menghasilkan murid ( bukan hanya pengikut) adalah gereja sebagai suatu pemerintahan yang beraksi dan berbuah. jadi pada intinya, murid ( bukan pengikut) terlahir karena adanya gereja sebagai sebuah aksi yang berotoritas, yaitu membawa gereja itu masuk kepada sesorang, bukan hanya membawa orang masuk ke gereja sebagai gedung, yang justru keberadaan gedung dan institusi seringkali membatasi keluwesan kita dalam usaha pemuridan.
    kita adalah orang2 yang terlahir karena telah terpilih sekaligus di bebani tanggung jawab amanat agung, setiap kita, bukan hanya orang2 tertentu dengan jabatan agamawi tertentu, setiap individu diciptakan sempurna, bahkan serupa dengan ALLAH, dan bahkannnnnn, nyarisssss sederajat dengan ALLAH.
    lalu untuk apa ALLAH melakukan semua itu? apakah untuk kemudian di degradaasi peringkat keagamaan dan kesalehan? TIDAK… kita semua memiliki kuasa,tugas,kapasitas yang sama, kita bisa menjadi imam dimana kita berada, di tempat kerja kita sekalipun. maaf.. bukankah pendeta, pastor,imam2, cedekiawan muslim,kyai, dsb… bukankah mereka juga manusia yang di ciptakan sama dengan kita semua? lalu apakah kita harus membatasi diri dengan gelar ciptaaan manusia?
    mari, daripada berdebat soal arti, mari kita berlomba tentang tugas kita = pemuridan, tanpa harus dibatasi, di regulasi, dan di hirarki. pandanglah tuaian yang sudah menguning, waktunya tinggal sebentar lagi

    • Shalom Abdi dalem,

      Terima kasih atas tanggapannya tentang Gereja. Secara prinsip Gereja yang dimaksudkan di sini adalah Gereja yang mempunyai dualitas: sebagai tujuan (kekudusan, ekaristi, persatuan dengan Tuhan, dll) serta sebagai cara untuk mencapai tujuan. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

      Gereja sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir hidup manusia

      (lih. Ef 4:7,12-16, 1 Tim 3:15, LG 1, 4, KGK 765-768)

      Sekarang, mari kita lihat peran Gereja sebagai sarana menuju tujuan akhir manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, supaya kita beroleh keselamatan dan dapat dipersatukan dengan Allah. Untuk itu, Kristus mendirikan Gereja-Nya pada hari Pentakosta oleh kuasa Roh Kudus, supaya oleh Roh yang sama Ia senantiasa dapat menguduskan Gereja-Nya, untuk membawa umat manusia kepada keselamatan dalam persekutuan dengan Allah Bapa. Ini adalah suatu karunia rahmat, bukan usaha manusia sendiri. Karunia keselamatan ini diberikan melalui perantaraan Gereja, yang adalah Tubuh Kristus, sehingga Gereja juga disebut ‘sakramen keselamatan,’[5] yaitu tanda/ sarana untuk menyalurkan rahmat keselamatan dari Tuhan. Perlu kita ingat bahwa Kristus sendiri adalah Sakramen (Tanda) Kasih Allah, dan Gereja adalah sakramen Kristus. Dengan demikian, Gereja sebagai tanda Kasih Allah terjadi karena hubungan Gereja dengan Kristus.

      Sebagai ‘sakramen’, Gereja terus-menerus menghadirkan secara nyata karya keselamatan Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Kristus terus menerus hadir dan berperan aktif dengan cara yang kelihatan di dalam dan melalui Gereja-Nya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Jadi di dalam GerejaNya, Kristus sendirilah yang mengajar, menguduskan, dan melayani Gereja melalui para uskup. Hal ini sesuai dengan janjiNya kepada para rasul, “Engkau akan menerima kuasa Roh Kudus…. dan engkau akan menjadi saksi-saksiKu di Yerusalem….” (Kis 1:8). Telah menjadi kehendak Yesus bahwa setelah kenaikanNya ke surga, Ia akan tetap berkarya di dalam Gereja, agar kita diberi kasih karunia untuk keperluan pembangunan Tubuh-Nya sampai kita bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:7,12-13). Yesus berkarya melalui perantaraan manusia yang dipilihNya, yaitu para rasul dan penerus mereka yaitu para uskup, yang secara turun temurun diurapi dengan kuasa Roh KudusNya sendiri.[6]

      Jelaslah bahwa selain dijiwai oleh Tuhan Yesus, Gereja juga melibatkan peran serta manusia, misalnya, Gereja dipimpin oleh manusia (Paus dan para uskup, imam), beranggotakan kita manusia, yang kesemuanya tidak terlepas dari dosa. Karenanya, Tuhan menyediakan sarana pengudusan, di mana Ia sendiri yang bertindak menguduskan lewat perantaraan para imam-Nya melalui sakramen-sakramen. Melalui sakramen, rahmat Tuhan yang tidak kelihatan disalurkan melalui simbol-simbol yang kelihatan. Maka dalam dimensi manusiawi ini terdapat dua hal yang penting, yaitu hal kepemimpinan/ struktur Gereja dan hal sakramen sebagai saluran rahmat Tuhan yang melibatkan perantaraan manusia dan benda-benda lahiriah.

      Pada saat kita membicarakan hirarki maupun gedung, semuanya itu adalah suatu sarana untuk mencapai tujuan. Pada saat kita hanya melihat Gereja sebagai suatu sarana tanpa mempertimbangkan Gereja sebagai tujuan, maka kita kehilangan arti pentingnya Gereja, sebagai Tubuh Mistik Kristus yang tidak terpisahkan dari Kristus (lih. Ef 5), yang bertujuan untuk membawa umat beriman kepada tujuan akhir, yaitu Sorga. Gereja sebagai tujuan dan Gereja sebagai sarana tidaklah terpisahkan, sama seperti kodrat manusia yang mempunyai tubuh dan jiwa, atau sama seperti kodrat Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Dengan demikian, kita harus melihat Gereja dalam dualitas ini, dan kita harus dapat membedakan antara keduanya.

      Dengan dualitas seperti yang diuraikan di atas, maka Gereja yang adalah Tubuh Kristus adalah tak terpisahkan dari Kristus sendiri, karena Gereja adalah didirikan oleh Kristus sendiri (Mt 16:16-19) dan merupakan mempelai wanita (Ef 5). Dengan demikian, Gereja dapat dilihat sebagai sakramen keselamatan untuk mengantar manusia kepada persatuan abadi dengan Allah. Jadi, Gereja bukan hanya dipanggil untuk memerintah, bahkan mempunyai fungsi sebagai imam, nabi, dan raja. Dan dalam kapasitas yang berbeda, tiga tugas ini juga diemban oleh seluruh umat beriman, sebagai konsekuensi dari baptisan yang telah diterima. Baptisan ini juga yang membawa seseorang kepada persatuan dengan Tubuh Mistik Kristus. Dengan demikian, maka seseorang memang melalui baptisan di dalam Gereja Katolik bergabung dalam Tubuh Mistik Kristus, yang adalah Gereja Katolik.

      Di satu sisi, hirarki mungkin dalam beberapa kondisi terlihat membatasi gerak penginjilan. Namun, di sisi yang lain, hirarki justru membuat kegiatan evangelisasi menjadi lebih efektif, sebagai contoh: program yang terkoordinir, menyampaikan doktrin yang sama, memberikan jangkauan yang lebih luas, dll.

      Sebagai kesimpulan, Gereja sebagai pemberian dari Kristus, tidak dapat dibuat, namun hanya dapat diterima. Dan pertanyaannya adalah Gereja manakah yang didirikan oleh Kristus. Bagi umat Katolik, maka Gereja Katoliklah yang didirikan oleh Kristus. Mengesampingkan pertanyaan hakiki seperti ini adalah menghindari kebenaran utama dan terlalu berfokus pada aspek-aspek yang praktis, yang pada akhirnya akan membawa keruntuhan karena tidak mempunyai fondasi yang kokoh.

      Dalam tugas penginjilan, setiap orang mempunyai kapasitas yang berbeda-beda, yang tidak sama, sama seperti tubuh yang mempunyai berbagai bagian tubuh. Sama seperti Tuhan telah memilih 12 rasul secara khusus, dan Petrus sebagai pemimpin, maka kita juga dapat melihat struktur yang sama, yaitu Paus dan para uskup. Mereka memegang peran yang khusus, sama seperti 12 rasul mempunyai peran khusus, yang berbeda dengan para murid yang lain. Dan kita harus mengakui perbedaan ini. Bahwa setiap individu diciptakan menurut gambaran Allah adalah benar. Namun, kita tidak dapat mengatakan bahwa kita nyaris sederajat dengan Allah, karena Pencipta dan ciptaan tidak akan pernah sama. Semoga saja diskusi ini dapat berguna. Akan lebih baik lagi kalau diskusi menjadi lebih spesifik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Saya kurang setuju karna yang membentuk gereja itu memeng Yesus dan Yesus juga yang membentuk jemaat pada saat Yesus membentuk Gereja di saat 50 hari setelah paskah (kamatian Yesus). Jadi Yesus lah yang membentuk Gereja.

      • Shalom Liisna,

        Agaknya ada kesalahpahaman di sini. Sebab kami di Katolisitas juga tidak setuju akan pernyataan yang mengatakan bahwa Yesus tidak mendirikan Gereja. Yesus jelas mendirikan Gereja (ekklesia/ jemaat), yang secara resmi berdiri pada hari Pentakosta. Yang menyampaikan pernyataan bahwa Yesus tidak mendirikan Gereja adalah salah seorang pembaca situs ini, dan kami sudah menanggapi pernyataan tersebut dengan tegas, sebagaimana telah kami sampaikan di atas. Jika ada yang belum jelas dari pernyataan kami, kami mohon maaf. Silakan Anda memberitahukan kepada kami di bagian mana pernyataan kami yang kurang jelas. Tetapi pemahaman Anda sesungguhnya tidak berbeda dengan apa yang kami sampaikan, bahwa memang Yesuslah yang mendirikan Gereja, dan Gereja-Nya itu didirikan-Nya di atas Rasul Petrus.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Aquilino Amaral on

    Shalom kaum beriman,

    Terima kasih kepada teman kita non-Katolik, yang telah memperdebat katak “Ecclesia/gereja”. Dalam Kita suci tertulis dengan Jelas bahwa Yesus mendirikan GerejaNya di atas Petrus yang kepadanya diberikan kunci kerajaan Surga dan Bumi, dan menyertai GerejaNya sampai pada akhir zaman.

    Jadi mengapa kita harus mendebatkan tentang apa yang telah dengan jelas sekali tertulis dalam kitab suci oleh para rasul dan murid Yesus pada waktu itu?

    para kaum non katolik sebaiknya menyikapi isi kitab suci dengan rendah hati dan hati yang lapang dan memohon kepada Roh Kudus untuk selalu membimbing dalam menafsirkan ayat-ayat tertentu yang sangat janggal untuk dipahami. Oleh karena itu saya saran kepada anda non katolik untuk tidak mengintrepretasi ayat demi ayat menurut kehendak anda sendiri. karena semua ayat harus ditafsirkan lewat bimbingan roh kudus yang hanya bisa dilakukan oleh para magisterium karena kepada mereka dikarunia roh kebenaran.

    Salam buat kaum beriman
    semoga Kristus Yesus selalu menyertai kita sampai pada akhir Zaman.

    Aquilino Amaral

  5. Felix Sugiharto on

    Shalom…

    Terima kasih kepada team katolisitas.org yang telah begitu jelas memaparkan asal muasal penggunaan kata “ekklesia” dalam kitab suci yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “jemaat”…..

    Penjelasan kata “ekklesia” ini makin mengkokohkan pandangan bagi kita semua bahwa Tuhan Yesus benar2 telah mendirikan Gereja-Nya yang satu, yaitu Gereja Katolik, Dia ingin Gereja ini berkembang hingga kedatangan-Nya kembali dan sesuai janji-Nya: “….. Aku akan menyertai kamu sampai pada akhir zaman”seperti yang telah di tuluskan di dalam Kitab Suci:

    Pengalaman saya….
    Pada akhir tahun 2009 yang lalu, saya mengikuti sebuah seminar tentang “akhir zaman” Gereja Protestan di kota Bandung (jawa Barat), dalam ceramah pendetanya berkata: kata “jemaat” dalam alkitab berasal dari kata “ekklesia” (bahasa Yunani) yang pada waktu itu adalah sebutan bagi tentara Kerajaan Romawi… jadi kata dia, ekklesia yang di terjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata “jemaat” sebenarnya mencerminkan ke inginan Kristus agar kita-kita sebagai umat-Nya menjadi “tentara bagi Sang Raja – yaitu Kristus” dan dan kapan saja siap berperang setiap waktu…. dst…. dst. (di jawab teriakan umat waktu itu: Amin.. Amin.. Amin..)

    Setelah saya menangkap apa yang di kotbahkan pendeta ini, langsung saya berpikir “semua ajaran Yesus Kristus dalam Alkitab di dasarkan oleh “KASIH” dan bukan menyebarkan ajaran yang sifatnya bermusuhan… dan enak benar pendeta ini berkhotbah seperti itu… ?? apa dampaknya bagi pendengar umat yang imannya belum dewasa (gampang di goyahkan) serta umat yang wawasannya yang cetek…? Lalu siapa “musuh” yang dia maksudkan itu…? Jika musuh itu adalah “iblis” haruslah semua umat perlu waspada bahwa “Musuh Terbesar dalam diri kita adalah kita sendiri.. yang selalu mengundang godaan dari iblis, disebabkan oleh sifat kedagingan kita” (Waspadalah kita umat Kristiani)

    Saya langsung teringat sebuah ayat dalam alkitab: (ay 7) Celakalah dunia dengan segala penyesatannya; memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. (dalam perikop: Siapa yang menyesatkan orang – Mat 18:7)

    Dengan berpegang kpd ay20: dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah. Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman. (Mat 28: 20)

    Komentar dan pendapat saya…..
    Saya berterima kasih sekali kepada team katolilisitas begitu gamblang menguraikan sejarah penggunaan kata “ekklesia” yang telah di gunakan sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.

    Penggunaan kata jemaat Allah adalah tertuju kepada umat Katolik sangat mempunyai dasar yang kuat. Baik dinilai sisi sejarah Gereja di dunia, pengajaran oleh Gereja Katolik maupun berdasarkan Alkitab. (pemahaman Alkitab dalam bahasa Indonesia hendaknya dibandingkan (compare) dengan alkitab bahasa Inggris)

    Pemahaman Alkitab dalam bahasa Indonesia yang melalui proses pengalihan bahasa dari bahasa Yunani ke Bahasa Inggris kemudian Bahasa Indonesia kerap kali terdapat menyampaian secara umum karena keterbatasan penyampaiannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

    Penyampaian dalam khotbah oleh siapapun meskipun didukung oleh ayat2 Alkitab hendaknya menjadi pertimbangan bagi kita semua dan memohon “bimbingan dan tuntunan Roh Kudus”. sebab khotbah yang bagus belum tentu berasal dari Tuhan dan sudah sesuai dengan ajaran Yesus Kristus dan seperti yang di harapkan-Nya dari semula.

    Demikian yang bisa saya tuliskan berdasarkan kesan saya pribadi, dan mudah2an bisa membangun bagi pembaca katolisitas.org

    Salam sejahtera
    Felix Sugiharto

  6. Salam Damai

    YESUS tidak pernah mendirikan gereja ataupun church, yang Dia dirikan adalah ekklesia alias jemaat
    gereja sudah ada sejak doeloe kala, berikut kutipannya:

    Douay-Rheims Bible, Challoner Revision [catholic version]

    Num 19:20 If any man be not expiated after this rite, his soul shall perish out of the midst of the church: because he hath profaned the sanctuary of the Lord, and was not sprinkled with the water of purification.
    Num 20:4 Why have you brought out the church of the Lord into the wilderness, that both we and our cattle should die?…….

    Salam, Shinta

    [Dari Katolisitas: pertanyaan selengkapnya dan jawabannya telah disampaikan di atas, silakan klik]

    • syalom> santosa wijaya.kayaknya anda perlu jabarkan pendapat sesuai ayat Alkitab baru bisa dikatakan Alkitabiah, apa yang anda paparkan sangat subjektif dan terkesan tidak objektif.
      ini saya copas kata2 anda di atas

      “Saya sendiri eks Protestan. Tapi saya mau menjadi Katolik karena melihat bahwa kalau saya ke pedalaman Kalimantan, Papua, atau Sumatera Utara, saya tidak menemukan gereja protestan aliran saya yang saya selalu hadir dalam kebaktian di Jakarta. Setelah saya membaca “Rome Sweet Home” karangan Scott dan Kimberly Hahn, barulah saya tahu bahwa pendeta saya telah memutus sejarah kebenaran ini. Tapi mereka selalu bilang: Katolik salah karena memanipulasi Alkitab dan membunuh banyak orang Protestan di Irlandia dan Eropa pada masa Martin Luther. Tapi kini saya tahu siapa yang memanipulasi kebenaran. Memang Katolik mengakui secara sosial politik telah melakukan kesalahan, maka Paus Yohanes Paulus II meminta maaf pada dunia tahun 2000. Tapi kesalahannya bukan ajaran, melainkan perilaku, misalnya pernah korupsi, main politik kotor, main perempuan, pedofil, dsb. Tapi mereka tidak berani mengubah doktrin. Sedangkan Protestan kesalahannya ialah “MENGUBAH DOKTRIN”. Ini kebablasan. Mengapa hanya dengan melihat paus korupsi dalam pembangunan Vatikan lalu mengubah doktrin? Kebablasan! Ini seperti orang yang mau mengubah landasan negara PANCASILA menjadi ajaran lain, hanya karena melihat pemerintah korupsi. Kebablasan! Protestan pernahkan minta maaf? Tentu tidak dapat karena tak punya pemimpin sedunia. Siapa pemimpin protestan sedunia? Tak ada! Bagaimana Katolik bisa punya pemimpin sedunia? Karena didirikan oleh Kristus sendiri! Sekarang Paus benediktus ialah paus yg ke – 265. Bisa ditelusur satu persatu mundur ke zaman Yesus yg melantik St Petrus sebagai Paus yang ke-1. Terus terang, sebagai protestan tahun 2005, saya melongo membaca kebenaran sejarah ini, apalagi kebenaran bahwa gerejaku di Jakarta dengan ajarannya tak kutemukan di Kalimantan, Papua, maupun Sumatera Utara. Banyak gereja protestan di nusantara ini, tetapi ajarannya beda-beda, tak ada katekismus yang satu dan jelas jadi pegangan.”

      Sedangkan Protestan kesalahannya ialah “MENGUBAH DOKTRIN”, buktikan kalau protestan mengubah doktrin?

      [dari katolisitas: Bagaimana kalau anda mulai dari diskusi di bawah ini:]

      1. Sembilan point diskusi dengan Sherly – silakan klik

      a. Hidup selibat bagi para imam – silakan klik

      b. Maria tetap perawan – silakan klik

      c. Maria, ratu Sorga – silakan klik

      d. Mengapa menyebut paus sebagai Bapa Suci – silakan klik

      e. Tentang Api Penyucian – silakan klik

      f. Apakah Gereja Katolik menyembah berhala – silakan klik

      g. Tentang Sakramen Ekaristi – silakan klik

      h. Tentang Yesus mendirikan Gereja Katolik – silakan klik

      i. Tentang Sakramen Pengakuan Dosa – silakan klik

      2. Sembilan point diskusi dengan Indah – silakan klik

      a. Tentang Sakramen Ekaristi – silakan klik

      b. Apakah Gereja Katolik menyembah berhala – silakan klik

      c. Tentang doa berulang (rosario) – silakan klik

      d. Tentang persekutuan para kudus – silakan klik

      e. Tentang konsep Gereja (ekklesiologi) – silakan klik

      f. Tentang Gereja yang kudus – silakan klik

      g. Tentang mukjizat santa-santo – silakan klik

      h. Tentang nubuat – silakan klik

      i. Tentang agama – silakan klik

      • Dokrin apa sih yang diubah-ubah sama protestan? Tuduhan serius, dosa besar kalo tidak bisa membuktikannya!!

        Seumbar benang di mata orang lain terlihat jelas olehmu.. tp gajah di depan mata mu tak dapat kau lihat!!

        [dari katolisitas: Coba mulai dari satu topik, misalkan Apakah Maria tetap perawan. Silakan membaca apa yang dituliskan oleh Martin Luther dan bandingkan dengan apa yang dipercayai oleh umat Protestan secara umum. Silakan membaca topik ini di sini - silakan klik.]

    • Sinta, kamu ga paham apa arti gereja, ekklesia, jemaat
      dan darimana kata ‘jemaat’ itu diterjemahkan

      lihat di naskah aslinya, bukan yg sekedar terjemahan

Add Comment Register



Leave A Reply