Apakah berhala itu?

64

[Berikut ini adalah kelanjutan dari tanya jawab yang ada di sini, silakan klik. Namun karena pertanyaan ini menyebutkan topik baru yaitu pengertian "berhala", maka kami memutuskan untuk memisahkannya menjadi artikel tersendiri. Pertanyaan ini ditulis oleh Hamba Tuhan, dan jawaban yang menyampaikan ajaran Gereja Katolik, disampaikan oleh Ingrid]

Pertanyaan:

[dari Katolisitas Feb 14, 2010: Sebenarnya beberapa kalimat dari Hamba Tuhan awalnya tidak kami tampilkan, karena kami menghormati keinginannya bahwa dia ingin berdiskusi dengan tidak ingin diketahui berasal dari agama lain/non-Katolik. Namun, karena Hamba Tuhan menyatakan keberatannya, maka kami memutuskan untuk menampilkan seluruh pesannya sebagai berikut, yang berwarna biru.  Kembali saya ingin menekankan, bahwa tidak ada orang yang menganggap bahwa anda sedang merusak iman Katolik.]

Untuk berikutnya saya berharap anda tidak mengidentifikasikan saya sebagai salah satu umat agama tertentu (walaupun sebenarnya memang saya adalah penganut satu agama yg taat) agar tidak membuat orang2 yg tidak mengerti dengan diskusi kita malah menyangka saya yg dari luar katolik berusaha untuk merusak iman katolik. anggap saja saya adalah orang yg sedang mencari kebenaran ajaran katolik, atau domba tersesat yg harus anda selamatkan. jadi anda harus bisa menyelamatkan saya dengan membuat saya mengerti dengan argumen2 anda tentang ajaran katolik. ok kita mulai dengan keluaran dulu, yaitu dengan nama apa Tuhan Musa memperkenalkan diri. ok kita mulai dengan keluaran dulu, yaitu dengan nama apa Tuhan Musa memperkenalkan diri.
keluaran 3:
(13) Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? –apakah yang harus kujawab kepada mereka?”
(14) Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
(15) Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

Jadi bisa dikatakan bahwa Tuhan Musa mempunyai nama dan identitas yg sama seperti dengan Tuhannya Abraham, Ishak dan Ya’kub. jadi Allah adalah nama Tuhan. jadi Allah adalah Tuhan yg Maha Esa sama dengan Allah Abraham, Ishak Yakub, dan Allah tidak mempunyai nama dan identitas lain untuk selama2nya. jadi kalau berbicara Allah, maka itulah nama dan identitas satu2nya Tuhan yg disembah oleh Musa, Abraham, Ishak dan Yakub.
Allah Musa hanya menampakkan diri kepada Musa dan tidak kepada umat Israel, maka ada kekhawatiran dari Musa bahwa bangsa Israel tidak akan mempercayainya, maka Allah memberikan Mukjizat2 untuk membuktikan kenabian musa kepada bangsa Israel. lihat kel 4: 1-9
lalu kemudian berikutnya pada kel 32 dijelaskan bahwa Musa pergi kegunung sinai dalam waktu yg lama sehingga bangsa Israel kehilangan pengajaran Allah, maka mereka menginginkan adanya bentuk Allah secara langsung, karena Musa yg selama ini menjadi penghubung mereka dengan Allah tidak diketahui rimbanya. kel 32
1) Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir–kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.”

lalu harun membuatkan sebuah perwujudan Allah yg berbentuk lembu dan dikatakan bahwa inilah Allah Musa yg telah menyelamatkan mereka dari mesir, kel 32:
(2) Lalu berkatalah Harun kepada mereka: “Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku.”
3) Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun
(4) Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: “Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!”

Dalam menyembah patung lembu tersebut, bangsa Israel tetap memiliki kesadaran bahwa Tuhan mereka adalah Allah, yg telah menyelamatkan mereka dari Mesir. jadi yg mereka sembah bukan patung lembunya, melainkan Allah dalam bentuk/wujud patung lembu.
Jadi sampai disini bisa dikatakan bahwa Tidak ada manusia yg menyembah patung. yg mereka sembah adalah patung lembu sebagai Simbol/Perwujudan Allah dan dijadikan sarana beribadah kepada Allah. Maka yg dikatakan Allah2 yg lain dalam kel 20:3 adalah perwujudan2 Allah yg dibuat oleh manusia dalam bentuk ciptaanNya, baik itu patung maupun manusia. Allah sangat mencemburui bentuk2 yg dibuat manusia itu karena bentuk2 Allah tidaklah seperti itu. yg diketahui bahwa Allah adalah Roh, bukan seperti bentuk2 yg dibuat oleh manusia.
Maka kembali kepada kesimpulan semula bahwa Berhala adalah “perwujudan/simbolisasi wujud Allah dalam bentuk2 ciptaanNya baik itu patung maupun bentuk manusia” dan sungguh sangat lugu kalo memang benar2 ada orang yg menyembah benda tak bergerak seperti patung yg mereka buat sendiri. yg mereka sembah adalah berhala/perwujudan Allah yg dibuat patung yg kemudian disembah2.
bila ada yg salah silahkan dikoreksi, dan sengaja saya tidak membahas yg lain dulu biar kita bisa fokus dengan masalah “berhala”.

[dari Katolisitas: Pertanyaan berikut ini disatukan karena masih satu topik]
————————————————————————————————————————–
Mohon maaf saya tidak sependapat dengan ini karena tidak ada agama manapun yg mengajarkan penyembahan kepada Uang, Kekuasaan, pestapora, kenikmatan seksual, bahkan TV sebagai Tuhan, dan dengan membuat ritual2 penyembahan kepada hal2 tersebut diatas. manusia hanya memiliki kesadaran bahwa yg patut disembah adalah Tuhan/Allah. sedangkan hal2 diatas hanyalah bentuk2 yg membuat kita lalai dalam menyembah atau mengingat Tuhan/Allah. orang yg gila harta, kekuasaan, pesta pora tidak mungkin menyatakan bahwa harta, kekuasaan, pestapora adalah Tuhan/Allah yg menciptakan mereka sebagai manusia. silahkan anda pahami kembali arti “berhala” dalam alkitab. bila saya salah silahkan anda koreksi… Hamba Tuhan

Jawaban:

Shalom Hamba Tuhan,

1. Ya benar, Allah Musa adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Yakub, yaitu Allah yang satu, yang dikenal sebagai Allah (YHWH/ Yahweh). Istilah "Aku adalah Aku" (I am who am) (Kel 3:14) itu menunjukkan kebesaran Allah, di mana Ia tidak tergantung oleh sesuatu yang lain; Ia adalah Diri-Nya sendiri, permulaan dan akhir segala sesuatu, kekal, sumber segala sesuatu. Perkataan ini "I am" (diterjemahkan sebagai: "Aku ada") ini juga diucapkan oleh Yesus ketika Ia menjelaskan siapa Diri-Nya kepada orang-orang Yahudi, "....sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." (Yoh 8:58). Dengan perkataan-Nya ini, Yesus menyatakan Dia sudah ada sebelum Abraham. Untuk topik ini mungkin dapat kita bahas lebih lanjut di waktu yang akan datang.

2. Kita mengetahui bahwa Allah Abraham, Ishak,Yakub, Musa ini mensyaratkan penyembahan hanya kepada-Nya saja, sebab Ia adalah Allah yang Esa. Hal memang merupakan pengajaran yang menjadi pergumulan bagi bangsa Israel yang pada saat itu hidup dikelilingi oleh banyak bangsa yang mempunyai banyak allah. Penemuan arkeologis tahun 1929 yang ditemukan di Ugarit, Siria, mencatat bahwa pada zaman Perjanjian Lama (mulai 1550 BC), terdapat banyak "allah" yang dikenal pada bangsa-bangsa Kanaan pada masa itu (El, allah tertinggi; Baal, allah hujan; Asyera, dewi laut dan istri El; Anat, istri dan adik Baal; Astarte, allah/ dewi kesuburan). Penemuan ini cukup penting untuk mempelajari kisah Perjanjian Lama, dan mengapa bangsa Israel berkali-kali jatuh dalam dosa penyembahan berhala.

Kitab para nabi menjabarkan kepada kita bahwa Allah mensyaratkan bangsa Israel untuk menyembah Allah saja, dengan tidak menyembah allah- allah lain. Namun kita mengetahui betapa bangsa Israel jatuh berkali-kali dalam penyembahan kepada allah- allah lain ini, seperti yang dilakukan oleh bangsa- bangsa di sekitar tanah Kanaan ini. Dengan perkataan lain, bangsa Israel melihat bangsa-bangsa lain yang menyembah allah- allah ini, [umumnya digambarkan dengan patung]; dan ingin juga mempunyai allah seperti ini. Maka inilah yang dikisahkan pada kitab Kel 32 tersebut. Sayang memang Kitab Suci terjemahan bahasa Indonesia tidak memberikan terjemahan yang se- akurat bahasa aslinya, sehingga kemungkinan ada orang- orang berkesimpulan bahwa pada saat itu orang Israel 'hanya' membuat patung anak lembu untuk melambangkan Allah. Tetapi sebenarnya, jika kita melihat ke bahasa aslinya, maka kita mengetahui bahwa kisahnya tidak demikian.

Ketika Musa lama berada di atas gunung, bangsa Israel menjadi tidak sabar, dan mereka ingin membuat bagi mereka allah mereka sendiri, yang berbeda dari Allah Musa. Harun tak kuasa menahan keinginan mereka, dan ia akhirnya menuruti kemauan bangsa Israel. Jadi pada saat mereka melebur semua perhiasan emas, mereka sudah mempunyai niatan untuk membuat bagi mereka allah emas dan yang bukan Allah Israel. Inilah yang membuat Allah marah besar. Teks aslinya seperti pada Kitab Suci Vulgate, yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dalam Douay Rheims ataupun RSV, adalah demikian:

Exodus 32:1-11

1. When the people saw that Moses delayed to come down from the mountain, the people gathered themselves together to Aaron, and said to him, "Up, make us gods, who shall go before us; as for this Moses, the man who brought us up out of the land of Egypt, we do not know what has become of him."
2. And Aaron said to them, "Take off the rings of gold which are in the ears of your wives, your sons, and your daughters, and bring them to me."
3. So all the people took off the rings of gold which were in their ears, and brought them to Aaron.
4. And he received the gold at their hand, and fashioned it with a graving tool, and made a molten calf; and they said, "These are your gods, O Israel, who brought you up out of the land of Egypt!"
5.  When Aaron saw this, he built an altar before it; and Aaron made proclamation and said, "Tomorrow shall be a feast to the LORD."
6. And they rose up early on the morrow, and offered burnt offerings and brought peace offerings; and the people sat down to eat and drink, and rose up to play.
7. And the LORD said to Moses, "Go down; for your people, whom you brought up out of the land of Egypt, have corrupted themselves;
8.  they have turned aside quickly out of the way which I commanded them; they have made for themselves a molten calf, and have worshiped it and sacrificed to it, and said, 'These are your gods, O Israel, who brought you up out of the land of Egypt!'"
9.  And the LORD said to Moses, "I have seen this people, and behold, it is a stiff-necked people;
10.  now therefore let me alone, that my wrath may burn hot against them and I may consume them; but of you I will make a great nation."
11.  But Moses besought the LORD his God, and said, "O LORD, why does thy wrath burn hot against thy people, whom thou hast brought forth out of the land of Egypt with great power and with a mighty hand?

Perhatikan ayat ke- 1 di mana bangsa Israel menyatakan ketidak-sabaran mereka dan keinginan mereka untuk membuat allah- allah yang lain (gods, dalam bentuk jamak) seperti allah-allah pada bangsa-bangsa lain. Maka sejak awal mereka mempunyai maksud untuk membuat patung, untuk disembah sebagai allah lain itu. Sayangnya Harun tak meluruskan pandangan yang sesat itu, tapi malah mengikuti kehendak mereka, dengan melebur perhiasan emas mereka dan membuat patung anak lembu tuangan, seperti lambang Baal. Harun terlihat jadi "rancu" sendiri saat mengatakan "inilah allah- allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir." (ay. 4). Sebab ia sendiri tentu mengetahui bahwa bukan allah- allah lain yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, tetapi Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Harun memang mengatakan bahwa esoknya adalah Hari Tuhan (ay. 5), tetapi ini tidak mengubah kenyataan bahwa maksud awal dari bangsa Israel adalah membuat bagi mereka allah emas, yang lain dari Allah (Yahwe), dan inilah yang membuat Allah marah. Sebab dengan membuat patung emas itu, bangsa Israel melanggar perintah Allah yang pertama dalam ke 10 perintah Allah, yaitu, "Akulah Tuhan (dalam bentuk tunggal), Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir....Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." (Kel 20:2-3) Jangan kamu membuat di samping-Ku allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu." (Kel 20:23)

Perintah Allah inilah yang jelas- jelas dilanggar oleh bangsa Yahudi. Mereka sudah tahu bahwa hanya Allah (bentuk tunggal) yang membawa mereka keluar dari Mesir dan yang menyembuhkan mereka (lih. Kel 15:26). Namun mereka masih menginginkan untuk membuat bagi diri mereka allah emas, seperti yang mereka lihat pada bangsa-bangsa lain. Maka  di jawaban saya sebelumnya saya mengatakan bahwa penyembahan berhala mereka terletak pada kenyataan bahwa mereka membuat patung untuk disembah sebagai allah. Maka Allah berkata kepada Musa, "Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah allah-allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir." (ay. 8)

Jadi jelas di sini Allah marah kepada bangsa Israel karena : 1) mereka mempunyai allah lain di hadapan-Nya; 2) mereka membuat patung dan menyembah patung itu sebagai allah lain itu. Maka di sini kita dapat menangkap esensi penyembahan berhala, yaitu menyembah sesuatu ciptaan sebagai allah lain, sehingga menggeserkan kedudukan Allah yang seharusnya menempati tempat terutama di dalam hidup kita. Memang benar kata anda bahwa patung umumnya dibuat untuk menggambarkan sesuatu, dan justru itulah maka tidak bisa dilepaskan dari maksud pembuatannya. Dalam hal ini, mungkin kita perlu melihat, bahwa menyembah patungnya atau allah lain yang digambarkan oleh patung itu, keduanya merupakan kesatuan dalam kasus Kel 32. Karena dari awal mereka sudah bermaksud membuat patung untuk disembah sebagai allah lain. Dengan demikian mereka menggantikan Allah dengan allah lain itu, dan inilah yang tidak berkenan kepada Allah.

Prinsip ini menyampaikan kepada kita pengertian selanjutnya, yaitu bahwa membuat patung saja tidak langsung dapat dikatagorikan sebagai menyembah berhala, sebab jika tidak disembah sebagai allah, itu bukanlah penyembahan berhala. Kita melihat contohnya dalam keadaan sehari- hari, bahwa patung- patung dibuat untuk pelajaran biologi, atau untuk obyek seni rupa, atau dalam rupa mainan anak- anak, 'patung' dibuat dengan bahan plastik, karet atau busa. Namun sepanjang patung tidak disembah, misalnya dengan korban-korban bakaran, maka hal itu tidak dapat dikatakan sebagai penyembahan berhala.

Dari Kitab Suci kita mengetahui bahwa penyembahan berhala dapat dilakukan dalam bentuk penyembahan kepada matahari, bulan dan bintang (Ul 4:19, Yer 8:2, Yeh 8:16) patung berhala/ patung tuangan (Kel 34:17, Im 19:4; Bil 33:52), allah emas (Kel 32:31; 2 Taw 13:8), allah buatan tangan manusia (Ul 4:28, Mzm 115:4-7), Baal, Asyera (Bil 33:52; 2 Raj 17:16; 21:3; 2 Taw 33:3), atau disebut sebagai dewa-dewa asing/ allah lain (Kej 35:2,4; Yos 24:20; Hak 2:12,17; 1Raj 14:9) dengan mengorbankan anak- anak manusia (Yer 7: 17-20, 2Raj 3: 26-27; 16:3; 17:17-18) dan melakukan ramalan dengan memanggil roh arwah (2 Raj 21:5-6; 1 Sam 28:14-15).

Jika kita membaca seluruh Kitab Perjanjian Lama, kita akan menemukan betapa Allah membenci "penyembahan berhala" ini dalam kehidupan bangsa Israel. Sebab penyembahan berhala ini melanggar perintah Tuhan yang utama dan pertama. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 2112    Perintah pertama mengecam keberhalaan. Diminta dari manusia supaya hanya beriman kepada Allah, dan bukan kepada allah-allah lain, dan supaya tidak menghormati allah-allah lain di samping Allah yang Esa. Kitab Suci mendesak terus-menerus untuk menolak berhala-berhala. Berhala-berhala ini "hanyalah emas dan perak, buatan tangan manusia. "Mereka mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berbicara, mempunyai mata tetapi tidak dapat melihat". Berhala-berhala yang tidak bertenaga ini membuat orang menjadi tidak bertenaga: "Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya" (Mzm 115:4-5, 8) Bdk. Yes 44:9-10; Yer 10:1-16; UI 14,1-30; Bar 6; Keb 13:1-15:19.. Sebaliknya Allah adalah "Allah yang hidup" (umpamanya Yos 3: 10 dan Mzm 42:3), yang memberi hidup dan yang campur tangan di dalam sejarah.

KGK 2114     Dalam penyembahan kepada Allah yang Esa, kehidupan manusia menjadi satu keutuhan. Perintah supaya menyembah hanya satu Tuhan, menjadikan manusia itu sederhana dan menyelamatkan dia dari kehancuran berkeping-keping yang tidak ada akhirnya. Pemujaan berhala adalah satu penyelewengan perasaan religius yang dimiliki manusia. Siapa yang mengabdi kepada dewa-dewa, "mengarahkan kerinduan yang tak terhapus akan Allah kepada sesuatu yang lain dari Allah" (Origenes, Cels. 2,40).

3. Selanjutnya Gereja Katolik, berdasarkan pengajaran Kitab Suci, tidak membatasi "penyembahan berhala" hanya kepada penyembahan kepada patung-patung tuangan dan dewa dewi. Tetapi juga kenyataan bahwa manusia dapat menempatkan sesuatu/ seseorang di tempat Allah dan ini adalah bentuk 'berhala' masa kini.

KGK 2113     Pemujaan berhala tidak hanya ditemukan dalam upacara palsu di dunia kafir. Ia juga merupakan satu godaan yang terus-menerus bagi umat beriman. Pemujaan berhala itu ada, apabila manusia menghormati dan menyembah suatu hal tercipta sebagai pengganti Allah, apakah itu dewa-dewa atau setan-setan (umpamanya satanisme) atau kekuasaan kenikmatan, bangsa, nenek moyang, negara, uang, atau hal-hal semacam itu. "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" demikian kata Yesus (Mat 6:34). Banyak martir yang meninggal karena mereka tidak menyembah "binatang" (Bdk Why l3-l4).; malahan mereka juga menolak menyembahnya, walaupun hanya dengan berpura-pura saja. Pemujaan berhala tidak menghargai Allah sebagai Tuhan yang satu-satunya; dengan demikian ia mengeluarkan orang dari persekutuan dengan Allah (Bdk Gal 5:20; Ef 5:5).

Dari tanggapan anda, saya mengetahui bahwa anda tidak setuju dengan prinsip ini (bahwa menggantikan Allah dengan sesuatu ciptaan adalah berhala), namun sesungguhnya prinsip ini sangatlah sederhana, dan bahkan ada dalam kamus/ dictionary. Jika anda ketik "worship" di dictionary.com, dikatakan demikian pada point 3: "adoring reverence or regard: excessive worship of business success." pengertian yang demikian, mempunyai sinonim "idolatry"/ berhala, seperti juga tertulis demikian di sana :honor, homage, adoration, idolatry. Maka jika seseorang mengisi pikiran dan hati hanya untuk mencari uang saja, dari bangun tidur sampai malam, sepanjang hari yang dipikir hanya bagaimana supaya mendapat uang banyak; ia mengarahkan segenap tenaga, pikiran dan hati hanya kepada uang. Di sini, sebenarnya ia bukan saja "lalai" dalam mengingat/ menyembah Allah, tetapi ia telah menempatkan uang di tempat utama dalam kehidupannya, dan menggeserkan tempat Tuhan. Maka, ia "mengabdi kepada Mamon"/ dewa uang, walaupun tidak melakukan korban bakaran. Maka Rasul Paulus mengajarkan,

"Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah." (Ef 5:5)

Di sini jelas dikatakan bahwa orang yang menomorsatukan uang/ serakah dan kecemaran/ kenikmatan seksual di atas segala- galanya, adalah penyembah berhala, yang tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Sebab perintah Allah yang utama seperti diajarkan oleh Kristus adalah, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu." (Mrk 12:30, lih. Mat 22:37, Luk 10:27). Maka jika seseorang mengarahkan segenap hati, jiwa, akal budi, kekuatan, hanya untuk mengejar 'ciptaan' saja (uang, kekuasaan, kenikmatan duniawi), maka ia dapat dikatakan "menyembah berhala" karena menggantikan kedudukan Tuhan dengan ciptaan itu. Ia memang tidak usah mengakui bahwa uang, kekuasaan, atau kenikmatan itu adalah Sang Pencipta, atau memberikan korban bakaran kepada uang, kekuasaan, kenikmatan itu; namun dengan sikap hidupnya yang menggantikan tempat Tuhan dengan hal- hal itu, itu sudah merupakan penyembahan berhala. Demikianlah yang diajarkan oleh Kitab Suci, dan oleh Gereja Katolik.

4. Namun demikian mengenai penyembahan dan penghormatan ini, Gereja Katolik menegaskan ada dua macam pengertian yaitu:

1. Latria (penyembahan) yang hanya ditujukan kepada Allah Tritunggal (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus)
2. Dulia (penghormatan) yang ditujukan kepada:
- Para orang Kudus, termasuk Bunda Maria (kadang kepada Maria, disebut hyper-dulia)
- Penghormatan kepada benda tertentu yang melambangkan Allah ataupun Para Kudus dan Maria. Contohnya yaitu salib (crucifix), patung Bunda Maria, Patung santa-santo, dll. Penghormatan ini kadang disebut sebagai dulia- relatif.

Kata ‘latria’ dan ‘dulia’ ini memang tidak secara eksplisit tertera di dalam Kitab Suci, tetapi, kita dapat melihat penerapannya dengan jelas. Misalnya:
1. Perintah Tuhan yang pertama pada kesepuluh Perintah Allah adalah perintah untuk menyembah Allah saja dan jangan sampai ada allah lain yang kita sembah selain Dia. Di sini maksudnya adalah ‘latria’ (Kel 20: 1-6).
2. Penghormatan Yusuf kepada ayahnya Yakub. Yusuf sujud sampai ke tanah untuk menghormati ayahnya Yakub (Kej 48:12), itu ‘dulia’.

Penghormatan 'dulia' ini tidak dapat dikatakan sebagai menyembah berhala, sebab prinsip penghormatan ini tidak untuk menjadikan obyeknya sebagai saingan Allah. Prinsip penghornatan "dulia" hanya seperti menghormati seorang juara kelas di sekolah, atlet yang menang olimpiade, ataupun seorang pahlawan negara, yang dihormati karena kesempurnaan yang dicapai oleh mereka. Dalam hal rohani, kita menghormati Bunda Maria dan para santo/ santa atas kesempurnaan kerjasama mereka dengan rahmat Allah dalam kehidupan mereka. Jadi mereka bukan "saingan" Allah seperti Baal dan Asyerah, tetapi mereka adalah rekan sekerja Allah, sehingga penghormatan kepada mereka merupakan juga penghormatan kepada Allah yang telah menciptakan mereka.

5. Tentang definisi anda bahwa penyembahan berhala adalah juga penyembahan Allah yang berinkarnasi (Allah yang menjelma menjadi manusia), itu tidak dalam konteks yang sedang dibicarakan di sini, karena jika anda membaca ayat-ayat Kel 32 tersebut, yang ada adalah penyembahan terhadap patung lembu emas, yang kemungkinan besar melambangkan Baal [walau tidak disebutkan di sini secara eksplisit], namun yang jelas bukan Allah Israel, sehingga Allah marah besar melihatnya.

Demikian yang dapat saya tanggapi dari pertanyaan dan pernyataan anda. Semoga tulisan ini dapat menjadi masukan buat anda, tentang "berhala" ini, menurut ajaran Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

64 Comments

  1. Dalam Yesaya 42 ayat 8 : Aku ini Tuhan, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaanku kepada yang lain atau kemasyhuranku kepada patung.
    Apa maksud ayat tersebut ?

    • Shalom Tomy,

      Untuk menginterpretasikan Yes 42:8 kita harus membacanya dalam kaitannya dengan keseluruhan perikop itu, yang berbicara perihal nubuat tentang sang Mesias, yang digambarkan sebagai ‘Hamba Tuhan’ yang atasnya Allah akan menaruh Roh-Nya. Dalam perikop ini, di bab 42 ayat 1 sampai 7, Nabi Yesaya menjabarkan nubuat tentang rencana penyelamatan Allah kepada manusia, yang akan dilakukan oleh ‘Hamba-Nya’ itu. Maka ayat Yes 42:8 adalah ayat untuk menyatakan bahwa ‘Hamba-Nya’ itu adalah sungguh seorang pilihan-Nya dan bukan dalam wujud yang lain, atau dalam wujud patung.

      1. Nubuat di Yes 42:1-4, digenapi oleh Yesus, saat Ia mengajarkan hukum/ perintah Allah kepada para pendengar-Nya. Yesus mengajar dengan kelemahlembutan dan tidak berteriak-teriak di jalan-jalan. Ia tidak pernah berbantahan kepada orang-orang Farisi yang kerap mencari kesempatan untuk menjatuhkan Dia. Yesus yang mengetahui maksud hati semua orang, tidak membalas kekejian hati mereka, Ia hanya menyingkir dari mereka. Walaupun Ia menyembuhkan semua orang yang dibawa kepada-Nya, Yesus tidak memegahkan diri, dan menyuruh orang tidak memberitahukan siapa Dia yang menyembuhkan mereka. Maka Yesus menggenapi apa yang dikatakan oleh Nabi Yesaya (Yes 42:1-4) ini dalam Mat 12:15-21:

      “Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.”

      2. Perkataan sabda Allah di Yes 42:5, juga dikutip dalam Kis 17:24-25, “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang…”

      Perkataan ini diucapkan oleh Rasul Paulus kepada orang-orang Athena yang menyatakan ibadah mereka kepada dewa-dewa yang digambarkan dengan patung-patung ciptaan kesenian yang terbuat dari emas, perak atau batu (lih. Kis 17:29). Rasul Paulus mengajarkan kepada mereka bahwa Allah yang sesungguhnya adalah Allah yang akan menghakimi dunia dengan adil, “oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” (Kis 17:29) Nah, “seorang yang telah ditentukan Allah ini, dan yang telah bangkit dari antara orang mati ini, adalah Yesus Kristus.

      3. Sedangkan sabda Allah dalam Yes 42:6, yang berbicara tentang Mesias sebagai terang bagi bangsa-bangsa, dikutip dalam Luk 2:32, yaitu yang diucapkan oleh Simeon ketika melihat Yesus Sang Mesias, dan menatang-Nya, saat Ia dipersembahkan di bait Allah. Kis 13:47, 26:23. Rasul Paulus (dan Barnabas) juga berkata mengacu kepada nubuat Nabi Yesaya ini, untuk menegaskan bahwa rencana keselamatan Allah ditujukan juga kepada bangsa-bangsa lain, tidak hanya kepada bangsa Yahudi.  Sedangkan nubuat yang disebutkan dalam Yes 42:7, yang menyerupai Yes 61:1-2, juga digenapi saat Yesus membacakan teks tersebut (lih. Luk 4:16-19).

      Nah dengan dipahaminya bahwa semua ayat yang mendahului ayat ke-8 ini mengacu kepada penggenapannya di dalam Kristus, maka maksud Yes 42:8 adalah: bahwa tiada yang lain, selain Sang Mesias yang digambarkan sebagai “Hamba Tuhan”, yang akan menyampaikan rahmat keselamatan kepada bangsa-bangsa. Sang Penyelamat itu adalah Yesus Kristus, Sang Mesias, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:6-11).

      Hanya dalam kesatuan dengan Yesus Kristus, yang mengambil rupa hamba inilah, Allah dimuliakan; bukan dengan allah- allah yang lain, atau dewa-dewa yang lain, yang disembah oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dalam rupa patung-patung.

      Demikianlah makna ayat Yes 42:8.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. shalom tim katolisitas,
    saya sering melihat di gereja, sehabis perayaan ekaristi banyak orang membakar lilin di depan patung bunda maria dan Tuhan Yesus kemudian berlutut dan berdoa di hadapan patung2 tersebut..saya ingin bertanya apakah ini bentuk pujian atau sudah masuk ke penyembahan? di manakah letak perbedaan antara memuji atau menghormati seperti yang diajarkan gereja dan penyembahan yang dilarang dalam Alkitab terhadap patung-patung tersebut?
    Terima kasih sebelumnya atas penjelasannya…

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel ini terlebih dahulu, silakan klik. Yang dihormati adalah pribadi yang digambarkan oleh patung itu, dan bukan patungnya itu sendiri.]

  3. Shalom Alecheim Katholisitas.org

    Saya mohon sekali bimbingan keagamaan untuk saya tentang berhala menurut Kaum kita yaitu Kaum Katholik/Nasrani secara singkat.

    Terima kasih.

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca sekali lagi artikel di atas. Secara prinsip berhala adalah menempatkan ciptaan di tempat Allah Pencipta. Maka menyembah berhala artinya menyembah suatu ciptaan sebagai allah, dan bukan menyembah Allah Pencipta, dan dengan demikian melanggar perintah pertama dari kesepuluh perintah Allah (lih. Kel 20:3-5).]

  4. Bedson Gultom on

    Salam Damai…untukmu saudaraku.
    saya mencoba untuk membantu memberikan sedikit gambaran tentang pertanyaan saudaraku.
    1.apa agama kita Katholik ini bisa dibilang menyembah berhala dengan adanya patung patung buatan tangan manusia?
    jawabannya tidak, patung patung itu adalah suatu bentuk apresiasi manusia kepada Tuhan ataupun Bunda Maria sehingga seseorang itu dapat melukiskan atau mengukirkan Tuhan itu dengan Gaya seninya sendiri walaupun sebenarnya rupa ALLAH itu adalah ROH dan rupa Allah itu ada pada Tuhan Yesus sendiri…..kembali ke topiknya dan sebenarnya tergantung bagaimana umat menilainya, dan saya memberikan kembali pertanyaan kepada saudara, apa tujuan saudara pergi ke gereja ?
    Sebenarnya di pertanyaan itu sudah ada jawaban yang kongkrit.

    Menurut saya apakah berhala itu?
    Berhala itu adalah suatu benda mati atau pun benda hidup sperti pohon atau sejenisnya baik buatan tangan manusia atau benda lainnya ciptaan TUHAN baik itu yang ada di bawah laut ataupun yang ada di atas bumi atau yang ada atas langit (matahari/bulan) yang diagung-agungkan melebih kecintaannya kepada TUHAN.

    Orang Katolik Tidak menyembah patung?
    saya jawab TIDAK dan itu tergantung bagaimana saudara menyikapinya dan menilainya. jika saudara tidak nyaman berdoa di depan patung jangan lakukan ikuti kata hatimu.
    “permudahlah dirimu atas tangan dan pikiran mu untuk TUHAN”
    semoga dengan ini saudara mendapatkan paling tidak sedikit gambaran dan pencerahan dari pertanyaan yang saudara lakukan. ini menurut saya dan saya tidak tahu bagaimana menurut gambaran dan pandangan saudara seiman lainnya.

    Terima kasih TUHAN YESUS Memberkati.

  5. ada sedikit pertanyaaan soal berhala yg menggangu saya karena belum memperoleh jawabannya.
    1. kenapa di perjanjian lama Allah menentang keras tentang penyembahan berhala itu? apa karena manusia yg menyembah berhala ga ada yg baik atau kenapa?

    kalau berdasarkan perkiraan saya karena injil Keluaran 20: 5
    5)Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci aku.

    2. berdasarkan konsili vatican 2 agama katolik mempercayai ada wujud keselamatan lain diluar kristen.
    kalau begitu agama2 yg menyembah patung disetujui bahwa ada keselamatan disana dan hal itu jelas bertentangan dengan injil keluaran

    • Shalom Charles,

      1. Allah menentang keras penyembahan berhala karena perbuatan itu menentang perintah utama, yaitu agar kita mengasihi Allah dengan segenap hati dan kekuatan (Mrk 12:30; Luk 10:27). Berhala artinya menjadikan suatu ciptaan sebagai allah lain, dan dengan demikian menggeserkan tempat Allah Pencipta. Atau bahasa gaulnya mungkin adalah, dengan berhala, maka manusia “pindah ke lain hati”. Allah tidak berkenan akan hal ini, sebab tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia dapat bersatu dalam Kasih-Nya di surga, dan hal ini sungguh tidak dapat tercapai jika di dalam hati manusia ada allah lain yang mengambil tempat Allah. Maka dalam Kitab Suci digambarkan bahwa kasih Allah kepada umat-Nya adalah seperti kasih seorang suami kepada istrinya, tentu bukan untuk diartikan secara lahiriah, tetapi secara rohaniah, sebab kasih yang dikehendaki Allah adalah kasih yang total dan eksklusif, tidak terbagi dengan allah-allah lain.

      Dalam Perjanjian Lama, allah-allah lain ini adalah dewa-dewa bangsa-bangsa non-Yahudi (Kej 35:2,4; Yos 24:20; Hak 2:12,17; 1Raj 14:9), dan patung-patung mereka (Kel 34:17, Im 19:4; Bil 33:52), seperti Baal dan Asyera (Bil 33:52; 2 Raj 17:16; 21:3; 2 Taw 33:3), sebagaimana telah diuraikan di artikel di atas. Dalam Perjanjian Baru, berhala ini diartikan lebih luas, yaitu: “segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala” (Kol 3:5). Rasul Yohanes menyebutkan bahwa hal-hal duniawi ini menyangkut tiga hal, “yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yoh 2:16).

      Dengan demikian untuk memahami perintah, “Jangan menyembah berhala”, maka perlu dilihat perintah Allah secara keseluruhan yang tercatat dalam Kel 20:3-5, terutama ayat yang ke-3, yaitu kalimat perintah yang pertama, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”, dan ayat-ayat berikutnya (ay. 4 dan 5) adalah untuk menjelaskan ayat yang ke-3.

      2. Konsili Vatikan II tidak mengubah ajaran Gereja tentang keselamatan. Silakan membaca tentang ajaran Gereja tentang keselamatan ini, di artikel ini, silakan klik.

      Maka Gereja tidak menyetujui ajaran penyembahan berhala yang diajarkan oleh ajaran agama/ keperayaan yang belum mengenal Allah yang satu. Namun Gereja mengakui bahwa dari agama/ kepercayaan tersebut, tetap terdapat berkas-berkas kebenaran (dalam hal ini bahwa mereka tetap mengakui adanya Allah/ Sang Pencipta/ atau Dia yang mengatasi manusia, walaupun mereka tidak mengenalinya sebagai Allah Tritunggal). Gereja menganggap hal ini sebagai persiapan Injil. Tentang hal ini, jelas diajarkan dalam Konsili Vatikan II, Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan Kristiani, Nostra Aetate, 2, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org