PL digenapi di PB dengan tokoh yang berbeda?

8

Pertanyaan:

oya… dari saya membaca-baca website ini… saya bertanya-tanya…. sebenarnya perjanjian lama digenapi di perjanjian baru itu kok seperti perjanjian lama terulang di perjanjian baru tetapi dengan tokoh-tokoh yang berbeda.

seperti… tabut perjanjian di perjanjian lama sedangkan di perjanjian baru adalah bunda maria,
Alexander

Jawaban:

Shalom Alexander,

Para Bapa Gereja memang mengajar kita untuk membaca kitab Perjanjian Baru dengan terang Perjanjian Lama demikian pula sebaliknya, untuk melihat bahwa Perjanjian Baru merupakan penggenapan dari Perjanjian Lama. Maka, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 129     Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (Bdk. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama (Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11.) Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: "Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet" (Agustinus, Hept. 2,73, Bdk. Dei Verbum 16).

Maka dengan melihat 'benang merah' antara PL dan PB, kita dapat memahami rencana keselamatan Allah sebagai suatu kesatuan. Pada awalnya di PL masih merupakan gambaran samar-samar, namun di PB menjadi lebih jelas. Hal ini memang terlihat dalam perbandingan tokoh-tokoh, contohnya antara lain:

- Adam (PL) dibandingkan dengan Kristus sebagai Adam yang baru (PB);
- Hawa (PL) dibandingkan dengan Bunda Maria sebagai Hawa yang baru (PB);
- Tabut Perjanjian Lama yang berisi dua loh batu 10 perintah Allah, kitab Taurat Musa, tongkat imamat Harun dan roti manna (PL) merupakan gambaran dari Tabut Perjanjian Baru yaitu Bunda Maria (PB) yang mengandung Kristus Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, Sang Roti Hidup, Sang Imam Agung tertinggi.
- Imam Agung Melkisedek, Raja Salem (PL), menjadi gambaran Kristus yang adalah Imam Agung Tertinggi, Raja Damai (PB).
- Eliyakim yang diberikan kunci kerajaan Daud, sebagai pemimpin rumah tangga kerajaan Daud (PL) menjadi gambaran dari Rasul Petrus, yang diberikan kunci Kerajaan Surga oleh Kristus Sang Raja keturunan Daud, sebagai pemimpin Gereja-Nya (PB).

Namun, hubungan penggambaran/ tipologi ini juga terlihat dalam kejadian-kejadian seperti:

- Penyertaan Allah atas bangsa Israel ke Tanah Perjanjian (PL) menggambarkan penyertaan Allah atas bangsa pilihan Allah yaitu Gereja-Nya ke Surga (PB).
- Pemeliharaan Allah atas umat Israel di padang gurun yang dinyatakan dengan menjatuhkan roti manna dari langit (PL) dan pemeliharaan Allah atas Gereja-Nya dinyatakan dengan Ekaristi di mana Kristus Sang Roti Hidup hadir dalam rupa hosti kudus (PB).
- Bahtera Nuh (PL) menggambarkan keselamatan dengan Baptisan (PB) (lih. 1 Pet. 3:18-22, KGK 1219)
- Penyeberangan Laut Merah yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan (PL) menggambarkan Pembaptisan yang membebaskan seseorang dari perbudakan dosa. (lih. KGK 1221).
- Perjamuan Paskah adalah gambaran dari kurban Kristus (lih. 1 Kor. 5:7).
- Sunat dianggap sebagai gambaran dari Pembaptisan (lih. Kol. 2:11-12).
- Penyeberangan sungai Yordan yang menghantar bangsa Israel ke Tanah Perjanjian (PL) merupakan gambaran dari janji kehidupan kekal yang dimulai dari Baptisan (PB) (lih. KGK 1222).
- Pergulatan Yakub dengan Allah (PL) menggambarkan Pentakosta (PB), seperti pernah dibahas di sini, silakan klik.
- Kisah cinta Kidung Agung (PL) menggambarkan Inkarnasi (PB), seperti pernah dibahas di sini, silakan klik.
- Yesus menggunakan analogi ular tembaga yang ditinggikan, sebagai gambaran akan penyaliban-Nya di atas bukit (Yoh 3:14; lih. Bil 21:8-9).

Perbandingan-perbandingan tokoh maupun kejadian semacam ini banyak sekali; mungkin suatu saat dapat dibahas dalam artikel-artikel terpisah. Intinya adalah Perjanjian Lama memang merupakan gambaran/ tipologi dari Perjanjian Baru, sehingga jika dipahami dalam terang Kristus/ PB, maka kisah-kisah Perjanjian Lama menjadi semakin 'make sense'. Jadi menurut hemat saya, bukan berarti bahwa kejadian di PL terulang kembali di PB dengan tokoh-tokoh yang berbeda, tetapi kejadian-kejadian di dalam PL yang tadinya samar-samar maknanya, menjadi semakin jelas setelah dibandingkan dengan penggenapannya dalam PB. Dengan pemahaman ini, maka kita akan semakin menghargai penggenapan rencana keselamatan Allah dalam PB.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

8 Comments

    • Shalom Yusuf Sumarno,

      2 Kor 3:11 hendaknya dilihat dalam kaitannya dengan perikop keseluruhan yaitu 2 Kor 3:1-18, secara khusus ayat sebelumnya yaitu ayat ke-10:

      “Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti. Sebab, jika yang pudar itu disertai dengan kemuliaan, betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan… ” (2Kor 3:10-11)

      Perikop itu menjabarkan tentang besarnya keyakinan para Rasul kepada Allah oleh karena Kristus. Sebab Kristuslah yang mereka wartakan dalam Perjanjian Baru, di mana tidak terdiri dari hukum-hukum yang tertulis, tetapi dari Roh Allah sendiri, yaitu Kristus. Sebab Kristus itu adalah Sang Sabda Allah yang menjadi manusia (lih. Yoh 1:14). Maka, oleh Perjanjian Baru, kita umat-Nya tidak mengikuti hukum semata, atau kitab atau tulisan huruf-huruf, tetapi kita mengikuti Seorang Pribadi, yaitu Kristus.

      Maka hukum yang tertulis pada loh-loh batu seperti pada Perjanjian Lama itu diberikan oleh Allah untuk mempersiapkan umat-Nya akan penggenapannya di dalam Kristus. Di zaman Perjanjian Lama, hukum itu diberikan, agar manusia mengetahui konsekuensi dari segala perbuatan dosa, yaitu kematian. Namun di zaman Perjanjian Baru oleh Kristus, kita mengetahui bahwa Ia adalah Sang Sabda yang menjelma untuk menebus kita dari dosa dan kematian, dan untuk membawa kita kepada hidup yang kekal.

      Nah, pemberian hukum pada Perjanjian Lama itu dahulu dianggap mulia, meskipun hukum itu mengarah kepada kutuk dan kematian (lih. Gal 3:10). Ini ditandai dengan bersinarnya wajah Nabi Musa pada saat menerima hukum-hukum itu, dan bagaimana Allah menyertai Nabi Musa sebagai pelayan Perjanjian Lama. Namun kemuliaan Musa ini sesungguhnya merupakan sesuatu yang pudar, bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kemuliaan Kristus. Jika pelayanan terhadap hukum yang menghantar kepada kutuk dan kematian itu saja disertai dengan kemuliaan, betapa lebih besar lagi makna pelayanan Roh yang tak dapat pudar itu, yang menghantar kepada kehidupan kekal, pastilah disertai kemuliaan yang jauh melebihi kemuliaan yang dahulu menyertai Nabi Musa. Itulah sebabnya para Rasul, sebagai para pelayan Perjanjian Baru, bertindak dengan penuh keberanian (lih. 2 Kor 3:12) sebab di dalam Roh Allah itu, ada kemerdekaan yang membuat para murid itu tidak takut dan tidak menyelubungi muka mereka. Sebab pada mereka tercerminlah kemuliaan Allah, dan oleh Allah mereka diubah untuk menjadi semakin serupa dengan gambar-Nya (lih 2 Kor 3:18).

      Sekilas tentang hubungan PL dan PB, silakan membaca artikel di atas, klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Shalom Robert,

      Menurut penjelasan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, OSB, ed. yang dimaksud dengan Kis 15:15-17 adalah:

      Ayat tentang Pondok Daud mengacu kepada nubuat Nabi Amos 9:11-12, “Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala supaya mereka menguasai sisa-sisa bangsa Edom dan segala bangsa yang Kusebut milik-Ku,” demikianlah firman TUHAN yang melakukan hal ini.” Maka di sini dikatakan janji Tuhan bahwa para bangsa yang dahulu berada di bawah kekuasaan Raja Daud akan digabungkan/ direstorasi di zaman Mesianis. Namun ini diartikan dengan dihubungkan dengan keseluruhan pesan Kitab Suci Perjanjian Lama sebagaimana dikutip dalam kitab Septiaginta. Artinya seluruh kerajaan [Kerajaan Allah] akan dipulihkan, sehingga seluruh umat manusia akan mencari Tuhan, dan seluruh bangsa akan menerima panggilan untuk masuk ke dalamnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  1. Yulius Santoso on

    Dalam PL dan dimengerti dalam terang PB, kelihatannya ada benang merah yang perlu mendapatkan penjelasan dari Bu Ingrid Listiati, sbb. :

    Abraham menyatakan kesediaannya mengorbankan Ishak,
    Tuhan memberikan anak domba sebagai korban pengganti sekaligus tanda dimulainya karya keselamatan. Tuhan mengikat perjanjian bahwa Ia akan menjadikan keturunan Abraham sebagai bangsa yang besar dan melalui keturunannya semua bangsa akan mendapatkan berkat,
    Siapa dan apakah yang dimaksud dengan keturunannya dan berkat disini?.

    Apakah ada kaitannya dengan : ribuan tahun kemudian Tuhan memberikan lagi Yesus Kristus Sang Anak Domba Allah (Agnus Dei) sebagai korban salib yang menjadi puncak karya keselamatan.

    Terima kasih atas saringnya.
    Julius Santoso.

    • Shalom Julius Santoso,
      Benang merah antara PL dan PB dalam kisah Abraham, adalah sebagai berikut:
      1. Abraham yang rela mengorbankan Ishak merupakan gambaran dari Allah Bapa sendiri yang rela mengorbankan Kristus, Putera-Nya sendiri untuk menebus dosa- dosa manusia.
      2. Ishak merupakan putra Abraham yang kedua setelah Ismail, melambangkan bahwa Kristus adalah Adam yang kedua. Adam yang pertama mendatangkan dosa, Adam yang kedua (Kristus) mendatangkan penebusan dosa (lih. Rom 5: 12-21)
      3. Seperti halnya Tuhan memberikan anak domba sebagai korban pengganti Ishak, dan dengan korban ini dimulailah perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya; maka Kristus adalah Sang Anak Domba Allah yang menandai perjanjian Allah dengan umat beriman sebagai keturunan Abraham.
      4. Janji keselamatan Allah diberikan atas iman Abraham, dan demikianlah kita sebagai umat beriman perlu untuk mempunyai iman seperti Abraham agar dapat diselamatkan.
      5. Keturunan Abraham di sini adalah keturunannya (semua anak, cucu, buyut dan seterusnya yang membentuk bangsa Israel) dan semua orang beriman. Sebab Kitab suci mengatakan, “…. janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua….” (Rom 4:16).
      6. Allah berjanji kepada Abraham, “Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat…. ” (Kej 22:18): 1) Oleh keturunan Abraham yaitu bangsa Israel, semua bangsa diberkati 2) Kristus yang dilahirkan sebagai keturunan Abraham/ dari bangsa Israel menjadi berkat bagi semua bangsa, dengan memberikan rahmat keselamatan kepada umat manusia (lih. Yoh 3:16); 3) Keturunan Abraham yaitu Gereja sebagai bangsa pilihan Allah yang baru, merupakan berkat bagi dunia. Gereja merupakan “sakramen keselamatan, tanda dan sarana persekutuan dengan Allah dan di antara manusia.” (KGK 780)
      Demikianlah sekilas yang dapat saya tuliskan untuk menjawab pertanyaan anda.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan, Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  2. Alexander Pontoh on

    oya… dari saya membaca-baca website ini… saya bertanya-tanya…. sebenarnya perjanjian lama digenapi di perjanjian baru itu kok seperti perjanjian lama terulang di perjanjian baru tetapi dengan tokoh-tokoh yang berbeda.
    seperti… tabut perjanjian di perjanjian lama sedangkan di perjanjian baru adalah bunda maria,
    Alexander

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]