Apakah Sola Scriptura/ “Kitab Suci saja” cukup?

98

Pendahuluan

Dalam diskusi antara umat Katolik dan non- Katolik perihal Kitab Suci, sering timbul perkataan demikian, “Mari setuju dulu bahwa Kitab Suci adalah pegangan satu-satunya dalam iman kita”. Seharusnya, jika kita mendengar pernyataan sedemikian, kita harus menjawab, “Tidak”. Sebab Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Pandangan yang mengutamakan “hanya Kitab Suci saja” (Sola Scriptura) atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, adalah pandangan yang menolak Tradisi Suci dan otoritas Gereja, dan hal ini tidak sesuai dengan pengajaran Kristus dan para rasul.

Apa itu Sola Scriptura?

Sola Scriptura adalah doktrin Protestan yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah “sumber otoritas yang terutama dan absolut, keputusan akhir dalam menentukan, untuk semua doktrin dan praktek (iman dan moral)” dan bahwa “Kitab suci, tidak lebih dan tidak kurang, dan tidak ada lagi yang lain- yang diperlukan untuk iman dan moral.”[1]

Apakah yang ajaran Gereja Katolik dalam hal ini?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God) dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan secara lisan dari Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul.[2]Pengajaran yang bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri.[3].

Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:

KGK 82    Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci]harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).

Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.

Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci

Jika “Sola Scriptura” adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita baca dari Kitab Suci:

1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)

2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran Kristus terekam dalam Kitab Suci.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.

3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa Yesus adalah sungguh- sungguh Tuhan.

4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan Kristus oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, Kristus memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.

5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat, contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan Kristus sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh Kristus dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran Kristus.

6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15) Kristus mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh Kristus untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.

7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan. Kristus itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.

Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja

Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.

Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damasus I pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthage (397) dan Chalcedon (451) seperti yang pernah ditulis di artikel ini, silakan klik. Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.

Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja

Sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli mempunyai banyak perbedaan pandangan dalam hal Ekaristi Kudus dalam menginterpretasikan perikop Yoh 6, hal Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari para pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab? Belum lagi dalam hal- hal lain seperti apakah Pembaptisan itu perlu atau hanya simbol saja, hal Pembaptisan bayi, Pembaptisan dalam nama Allah Trinitas atau dalam nama Yesus saja, dan seterusnya. Tiap-tiap kelompok yang bertentangan mengklaim bahwa Alkitab saja cukup jelas untuk menentukannya, namun terjadi bermacam- macam interpretasi. Maka secara fakta harus diakui bahwa Alkitab saja tidak cukup jelas mengajarkannya, dan diperlukan peran otoritas Magisterium untuk menginterpretasikannya.

Hal ini mirip dengan yang terjadi di setiap negara, yang mempunyai konstitusi, namun juga mempunyai kekuasaan yudikatif untuk menginterpretasikannya dengan benar. Jika setiap warga dapat mengartikan sendiri konstitusi ini, tanpa adanya kuasa otoritas yang menjaga dan melestarikannya, maka dapat terjadi kekacauan. Tuhan pastilah lebih bijaksana daripada para bapa pendiri negara dalam hal ini. Ia tidak mungkin hanya meninggalkan dokumen tertulis sebagai pedoman tanpa otoritas untuk menjaga dan menginterpretasikannya dengan benar.

Kalau memang “hanya Alkitab” saja cukup, dan dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, sebagaimana tertuang dalam salah satu dokumen Konsili Vatikan II, yaitu Dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio).

Tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja

Jika kita telah mengetahui bahwa Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Alkitab itu sendiri, maka kita dapat melihat pula bahwa sebenarnya Kristus telah menentukan tiga pilar kebenaran yang tidak terpisahkan yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, bagian 3, silakan klik.

Ayat yang umumnya digunakan untuk menyatakan pandangan Sola Scriptura

Sekarang mari kita melihat kepada ayat-ayat yang sering digunakan sebagai dasar Sola Scriptura[4]:

1. 2 Tim 3:16-17  “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Ada banyak orang menginterpretasikan bahwa karena ayat ini, maka mereka hanya membutuhkan Kitab suci untuk menjadi umat Kristen yang baik. Padahal pada saat surat kepada Timotius ini ditulis, kanon Kitab Suci belum ada. Jadi di kalangan jemaat masih beredar berbagai tulisan, dan jemaat tidak dapat tahu dengan pasti, mana tulisan yang “diilhami oleh Allah”, dan mana yang tidak.

Lihatlah juga bahwa “sesuatu yang bermanfaat” itu bukan berarti hanya satu-satunya yang kita perlukan, atau segalanya yang kita butuhkan. Sesuatu dapat bermanfaat, tetapi tidak menjadi satu-satunya yang kita butuhkan. Misalnya, cahaya matahari diperlukan untuk tanaman agar tumbuh, tetapi tanaman juga memerlukan air dan tanah agar dapat bertumbuh dengan baik.

Juga perkataan “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” juga tidak dapat dijadikan dasar bahwa Kitab Suci secara total mencukupi semuanya. Rasul Paulus pada 2 Tim 2:19-21 juga menggunakan frasa yang sama, pada waktu mengatakan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (pan ergon agathon- dalam bahasa Yunani). Jika logika yang sama dipakai untuk mengartikan ayat ini, maka pandangan tersebut mengatakan bahwa perbuatan menyucikan diri adalah “cukup”, tanpa kasih karunia, iman dan pertobatan, dan ini adalah kesimpulan yang keliru.

2. Ul 4:2 “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya….”

Ada orang yang berpendapat, dengan adanya ayat ini maka Kitab Suci sudah cukup, dan segala “tambahan” di luar Kitab Suci berarti tidak diilhami Tuhan. Namun jika logika ini yang dipakai, maka semua kitab dalam Kitab Suci selain kitab Ulangan dianggap sebagai “tambahan” Wahyu Allah yang hanya sampai pada kitab Ulangan. Dan tentu ini tidak benar, karena Inkarnasi Kristus, yaitu panggenapan Wahyu Allah tersebut, malah ada berabad- abad setelah kitab Ulangan ditulis.

3. Mat 4:1-11 Tiga kali Yesus menanggapi pencobaan Iblis dengan Kitab Suci, “Ada tertulis….”

Ada yang berpendapat, bahwa dari ayat ini Kristus mengacu hanya kepada Kitab Suci, dan tidak kepada Tradisi Suci atau Gereja. Namun sebenarnya Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (ay.4) Namun Kitab Suci juga mengatakan bahwa tidak semua perkataan Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, sebab banyak di antaranya juga sampai kepada kita lewat pengajaran lisan (lih. Yoh 21:25; Kis 20:27; 2 Tes 2:14-15, 3:6; 2 Tim 2:2). Dan jangan kita lupa, bahwa Kristus sendiri adalah Sabda Allah (Yoh 1:1, 14) yang tidak dapat dibatasi oleh tulisan dan lembaran-lembaran Kitab Suci.

Maka di sini Yesus tidak sedang mengajarkan Sola Scriptura, tetapi sedang mengajarkan kita untuk berpegang pada semua pengajaran yang dikatakan-Nya, tidak hanya yang tertulis di Kitab Suci. Lagipula jangan lupa, Iblispun mengutip Kitab Suci untuk maksud yang tentu saja keliru dan jahat. Jadi kita harus memahami Kitab Suci dan menginterpretasikannya dengan benar. Ingatlah pesan Rasul Petrus pada saat mengomentari surat Rasul Paulus, “Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16)

4. Mat 15:3 “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (lih. Mrk 7:7-9, Kol 2:8)

Di sini kita melihat tradisi/ paradosis yang dikecam oleh Yesus dan Rasul Paulus adalah tradisi manusia yang bertentangan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Mereka tidak sedang mengecam semua tradisi/ paradosis, sebab Rasul Paulus mengatakan juga demikian,

“Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran [tradisi/ paradosis] yang kuteruskan kepadamu.” (1 Kor 11:2)

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran [tradisi/ paradosis] yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. (2 Tes 2:15)

5. Why 22: 18-19: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Ada pula yang mengartikan ayat ini dengan mengatakan bahwa Gereja Katolik menambahkan Tradisi Suci kepada Kitab Suci, sehingga ini tidak benar. Namun pada ayat ini yang dimaksud dengan “kitab ini” adalah kitab Wahyu itu sendiri, dan bukan Kitab Suci secara keseluruhan. “Kitab ini” juga mengacu kepada “scroll“/ gulungan naskah di mana kitab dituliskan. Maka perintah ini mengacu kepada larangan agar jangan mengadakan perubahan pada salinan teks kitab Wahyu ini, dan ini juga berlaku pada kitab-kitab lainnya.

Kesimpulan

Sola Scriptura” atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, bukanlah merupakan pengajaran yang bersumber dari Kitab Suci. Kitab Suci adalah sebagian dari Tradisi Suci Gereja, sehingga Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci secara keseluruhan, yang dijaga dan dilestarikan oleh otoritas Magisterium Gereja Katolik. Kristus mendirikan Gereja untuk mengajar, menyucikan dan memimpin umat manusia dalam nama-Nya, sampai kepada akhir jaman. Maka jika kita menolak otoritas dari Tuhan ini, yang diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, maka sesungguhnya kita menolak Kristus (lih. Luk 10:16). Gereja Katolik menerima Kitab Suci sebagai salah satu pedoman iman (lihatlah kepada Katekismus dan hasil- hasil Konsili yang mengutip banyak sekali ayat Kitab Suci sebagai landasan ajarannya), dan karenanya, menerima otoritas Kitab Suci sebab Kitab Suci merupakan Sabda Allah. Namun umat Katolik tidak dapat menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman (Sola Scriptura), terutama karena Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Selain itu, Sola Scriptura juga bertentangan dengan sejarah, karena pada faktanya Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Kitab Suci, dan kitab-kitab mana yang tidak. Akhirnya, Sola Scriptura juga bertentangan dengan akal sehat dan membawa perpecahan, karena bahkan di kehidupan sehari-haripun, kita mengetahui bahwa setiap peraturan tertulis (contohnya konstitusi negara) memerlukan otoritas yang menjaga, menjamin dan menginterpretasikannya dengan benar. Jika tidak, tentu terjadi kekacauan, karena tiap pribadi dapat mempunyai pandangan yang berbeda. Dan ini sungguh telah terbukti dengan adanya sekitar 28.000 jumlah denominasi gereja Protestan. Jika kita memakai prinsip yang diajarkan Kristus untuk menilai apakah pohon itu baik atau tidak dari buahnya (Mat 12:33, Luk 6:44), maka kita akan mengetahui apakah ajaran Sola Scriptura itu baik atau tidak.

Semoga Roh Kudus sendiri menerangi kita untuk mengetahui kebenaran ini, bahwa memang Kitab Suci adalah sangat perlu dan sangat penting untuk menuntun dan menumbuhkan iman kita, namun Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman kita. Sebab Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita Magisterium Gereja yang menyampaikan juga ajaran lisan dari-Nya dan para rasul -yaitu Tradisi Suci, dan Magisterium ini dengan setia menginterpretasikan semua ajaran itu dalam terang Roh Kudus sesuai dengan ajaran Kristus dan para rasul.



CATATAN KAKI:
  1. diterjemahkan dari Geisler, Norman L. dan MacKenzie, Ralph E., Roman Catholics and Evangelicals: Agreements and Differences (Grand Rapids: Baker, 1995) []
  2. lih. Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9 []
  3. lih. Katekismus Gereja Katolik no. 80, 81, Dei Verbum 9 []
  4. disarikan dari Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, (Farmington: San Juan Catholic Seminars, 2003), hl. 17-19 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

98 Comments

  1. Shalom Katolisitas,
    tks tanggapan Katolisitas atas pertanyaan saya sebelumnya. kesempatan ini saya ingin bertanya tentang tradisi suci gereja katolik, apakah tradisi ini sebatas sampai dengan masa hidup para rasul atau sampai kapan ? lalu hal-hal apa saja yang termasuk dalam bagian tradisi suci ini. mohon penjelasannya terima kasih Tuhan memberkati.

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca terlebih pengertian Tradisi Suci menurut Katekismus, silakan klik.]

  2. shalom katolisitas…
    saya bukan seorang katolik tapi suka membaca artikel/tulisan tentang ajaran katolik… saya turut bersyukur kalo melihat ajaran katolik yang terpelihara dengan begitu baiknya dan begitu mudahnya bagi kaum awam saat ini untuk bisa mendapatkan penjelasan terperinci, sistimatis tentang sejarah,dogma gereja dll. dewasa ini begitu banyak pernyataan dari para hamba Tuhan yang menyampai-nyampaikan tentang ajaran sesat ! jika melihat/mendengar dari yang satu yang lain nampaknya salah…begitu pula sebaliknya… yang saya heran keduaanya menggunakan sumber yang sama yaitu alkitab ! bagaimana hal ini bisa terjadi dan bagaiman sesungguhnya bagi kaum awam dapat dengan mudah membeda-bedakannya ? mohon penjelasannya … Tuhan Yesus memberkati kita sekalian… amin.

    [Dari Katolisitas: Hal tersebut disebabkan karena gereja-gereja non Katolik berpegang kepada ketentuan “Sola Scriptura” (hanya Kitab Suci saja) dalam menginterpretasikan ayat-ayat Kitab Suci. Dengan prinsip ini, maka setiap orang dapat mengartikan suatu ayat dalam Kitab Suci menurut pemahamannya sendiri, walaupun dapat mengatakan itu atas inspirasi Roh Kudus. Hal inilah yang menyebabkan ada banyak sekali denominasi dari gereja-gereja non Katolik, karena terdapat kecenderungan, bahwa jika ada ketidaksetujuan terhadap suatu interpretasi, maka sejumlah orang yang kemudian membentuk suatu denominasi baru. Gereja Katolik tidak mengajarkan tentang “Sola Scriptura” ini. Silakan membaca artikel di atas, silakan klik, mengapa demikian.]

    • Santosa Wijaya on

      Benarlah kamu Devoti. Syukurlah. Dlm suasana akur tetap belajar agama. Ini link contoh, akur namun belajar. Berkenanlah klik http://www.chnetwork.org .Mengapa mereka mau menjadi Katolik? Menarik hati karena mencari dan menemukan kebenaran bukan karena alasan sosial sajah… Aresta itu kalo ditanya mengenai topik-topik imannya pasti bingung jika dasarnya hanya Alkitab. Di Protestan tak ada penjelasan yg satu dan sama benar seperti di Katolik. Shaloom. SW.

  3. Dalam Why 3:20 dikatakan:” Lihat Aku berdiri di muka pintu dan mengetok. Jika kamu mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya. Aku akan makan bersama dengan dia dan dia bersama Aku”. Syarat pertama yang dibutuhkan adalah orang itu mendengar dan membuka pintu (hati), agar Yesus masuk ke dalam dan mendapatkan. Dengan kata lain pula, dituntut semacam kerendahan hati dan ketulusan hati di dalam berdialog di dalam rangka menumbuhkembangkan keimanan. Kerendahan hati akan membuka setiap sentuhan hati dari mana datangnya. Mari belajar dari ibu Maria yang selalu menyimpan segala perkara di dalam hatinya, tidak harus diungkapkan secara meledak-ledak di dalam diskusi tentang keimanan. Sharing itu baik, tapi mari duduk dengan kerendahan hati kita masing-masing, sehingga sharing itu menjadi bermanfaat. God bless you all.

  4. Berbagi (sharing) iman itu baik sekali dalam rangka makin menjadikan kepekaan serta menumbuhkembangkan keimanan kita. Seseorang yang makin beriman, seharusnya makin menghargai orang lain, dan tentu saja makin berbela rasa. Tentang menumbuhkan keimanan dapat dicapai dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan pedang Roh Kudus yakni Firman Tuhan sendiri. Makin sering seseorang membaca Firman serta merenungkannya dan mengaplikasikaannya dalam kehidupan sehari-hari, makin seseorang itu menghayati akan pentingnya bersaudara, dan bagaimana menghayati hidup ini untuk berbela rasa terhadap sesama. Kalau diri kita sendiri masih memiliki sifat egois (menang sendiri, benar sendiri), maka yang demikian menurut hematku imannya belum bertumbuh dan berkembang, apalagi makin bersaudara dan makin berbela rasa. Maaf nimbrung sedikit saja. Salam dan doa.

    [Dari Katolisitas: Mari memusatkan perhatian bukan untuk menilai orang lain, tetapi lebih kepada memeriksa diri sendiri. Dalam dialog pencarian kebenaran, kita memang perlu mendengarkan, namun juga tidak berarti kita harus menyetujui segala sesuatu yang disampaikan, terutama jika itu tidak sesuai dengan ajaran iman kita. Tantangannya adalah untuk menjaga keseimbangan antara menyampaikan pengajaran kebenaran iman kita, dan menyampaikannya dengan kasih tanpa memaksakannya kepada orang lain.]

  5. yusup sumarno on

    Berikut ini kutipan dari buku “rome Sweet Home”, yang kontra dengan sola scriptura:

    “Dr. Gerstner, aku pikir persoalan utamanya adalah apa yang diajarkan Alkitab mengenai Sabda Allah, sebab tidak disebut di mana pun juga Ia membatasi Sabda Allah hanya pada Alkitab saja. Sebaliknya Injil mengatakan kepada kita di banyak tempat bahwa Sabda Allah yang benar harus ditemukan dalam Gereja: Tradisinya (2 Tes 2: 15; 3:6)seperti dalam kotbah dan ajarannya ( 1 Ptr 1:25; 2 Ptr 1:20-21; Mat 18:17). Karena itu aku berpendapat, Injil mendukung prinsip Katolik yaitu sola verbum Dei (Sabda Allah saja) daripada slogan Protestan sola scriptura (alkitab saja).

  6. saudara2,,,, apa yang dikatakan oleh Aresta saya rasa tidak salah kalau kt jadikan sebagai bahan perenungan.

    APA YANG SUDAH KITA LAKUKAN SEBAGAI WUJUD KASIH ?????????

    [Dari Katolisitas: Kita memang harus selalu berbuat kasih, tetapi bukan berarti kita tidak perlu mencari kebenaran. Kita harus mencari kebenaran (lih. Mat 6:33), namun pencarian kebenaran ini jangan sampai mengaburkan kasih. Itulah yang kami usahakan di situs ini. Mari bersama kita mengusahakannya.]

    • dear katolisitas

      okey kalau begitu.
      “namun pencarian kebenaran ini jangan sampai mengaburkan kasih.” Aku setuju dngn kalimat ini. Hal ini juga yang terus bergejolak dalam diri saya, jangan sampai saya dan kita semua hanya menjadi thinkers semata.
      ———-
      Pertanyaan:
      – Apa artinya “kebenaran” yang tertulis dalam Mat.6:33.

      • Shalom Yayo,

        Yesus adalah “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Maka “Kerajaan Allah dan kebenarannya” yang dimaksud dalam Mat 6:33 adalah Kristus sendiri. Keseluruhan Kristus dipercayakan kepada Gereja, yaitu baik dalam ajaran-ajaranNya yang lisan maupun tertulis, termasuk juga segala hal yang diperbuat-Nya, untuk menyatakan kehadiran-Nya di tengah Gereja-Nya sampai kepada akhir zaman.

        Kitab Suci mengatakan bahwa Gereja/ jemaat Allah yang hidup adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15). Kepada para Rasul dan penerus mereka (Paus dan para uskup), Yesus berjanji, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:16). Demikian pula Yesus berjanji untuk membimbing Gereja-Nya sampai kepada kepenuhan kebenaran (lih. Yoh 16:12-13). Dengan demikian, kepenuhan kebenaran itu ada dalam Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus, dan para penerus mereka, yang kini ada dalam Gereja Katolik. Adapun tiga pilar kebenaran yang menjadi sumber ajaran Gereja Katolik adalah Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, sebagaimana pernah dibahas di sini, silakan klik.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Halo Ibu Ingrid..

    ada teman Protestan yang juga menggunakan ayat Amsal 30:5-6 untuk membenarkan paham Sola Scriptura ini ( terutama ayat 6: “Jangan menambahi firmanNya,supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta ).

    Saya sendiri percaya, bahwa yang dimaksud dengan ‘firmanNya’ disini bukan hanya firman tertulis [Alkitab], bahwa Firman Tuhan juga disampaikan dalam bentuk lain, yaitu secara lisan, yang kita sebut sebagai Tradisi Suci, yang telah melahirkan Sakramen-Sakramen, pengajaran para bapa Gereja, Credo, dan mungkin ada bentuk lain? bahwa Firman Tuhan selain Alkitab itu pun bisa dipercaya dan tidak dapat salah.

    Berikut ini pertanyaan teman Protestan tsb tentang:
    1. tolok ukur apa, atau standar apa yang kita pakai untuk mengetahui yang mana Firman Tuhan dan yang mana yang bukan Firman Tuhan?

    2. Otoritas mana yang dapat mensahkan sebuah kelompok tertentu bahwa apa yang diyakininya itu tidak menambah-nambahi Firman Tuhan?

    Mohon bantuan utk menjelaskan hal ini dengan benar sesuai iman Katolik.
    Terima kasih banyak…Tuhan Yesus memberkati…

    • Shalom Yenny,

      Sebelum saya menjawab pertanyaan Anda, perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa Kristus tidak pernah menuliskan Firman-Nya dalam sebuah buku. Yang dilakukan-Nya adalah mengajar secara lisan kepada para rasul-Nya, dan lalu sejumlah rasul dan murid mereka menuliskannya. Maka di sini saja terlihat bahwa Firman Tuhan pertama-tama itu diberikan kepada Gereja (yaitu para rasul dan para murid mereka), sehingga Gerejalah yang paling berhak untuk memberikan penafsiran Firman Tuhan itu dengan benar.

      Dengan demikian, jika ditanya:

      Tolok ukur apa, atau standar apa yang kita pakai untuk mengetahui yang mana Firman Tuhan dan yang mana yang bukan Firman Tuhan? Otoritas mana yang dapat mensahkan sebuah kelompok tertentu bahwa apa yang diyakininya itu tidak menambah-nambahi Firman Tuhan?

      Jawabannya adalah sederhana, tolok ukurnya adalah apakah yang diajarkan oleh Gereja, yaitu para rasul dan para murid mereka. Hal ini kita ketahui dari Tradisi Suci, yaitu dari tulisan para Bapa Gereja, yang kemudian ditetapkan oleh otoritas Gereja, yaitu Magisterium (yaitu Paus yang adalah penerus Rasul Petrus dan para uskup dalam kesatuan dengannya). Kepada Rasul Petrus Kristus telah memberi kuasa untuk ‘mengikat dan melepaskan’ (Mat 16:18-19), yang artinya, menentukan ajaran iman dan moral manakah yang mengikat umat beriman dan mana yang tidak. Atas kuasa yang diberikan oleh Kristus kepada Rasul Petrus dan para penerusnya (sebab Kristus berjanji akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20)), maka Paus Damasus I, selaku penerus Rasul Petrus, menetapkan kanon Kitab Suci (382) yang kemudian diteguhkan oleh Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397). Atas penentuan ini maka kita memperoleh Kitab Suci yang kita kenal sekarang, yang terdiri dari kitab-kitab yang ditulis atas ilham Roh Kudus. Magisteriumlah yang menentukan kitab-kitab itu -dari begitu banyaknya kitab yang ada pada abad tersebut- sebagai kitab-kitab yang menuliskan Firman Tuhan, walaupun tidak semua Firman Tuhan itu dituliskan. Magisterium sampai sekarang tetap menjalankan tugas dan wewenang mengajar Gereja, dan bertugas untuk melestarikan ajaran iman dan moral sebagaimana dikehendaki oleh Allah.

      Silakan membaca lebih lanjut, di artikel ini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. YANUAR HADA on

    salam Aresta

    hanya iman…. inilah kepercayaan yang dianut oleh orang-orang Protestan, saya memaklumi itu, tapi perlu anda ketahui apakah jadinya iman tanpa perbuatan, dan itulah yang disampaikan oleh admin di situs ini.

    Salam juga saudari Maria
    perlu anda ketahui bahwa Gereja Katolik bukan hanya sekedar sarana melainkan tubuh mistik Kristus, Gereja Katolik adalah Gereja yang didirkan oleh Yesus Kristus dan penerus karya keselamatan Kristus yang dipimpin oleh Petrus dan penerusnya yaitu Sri Paus (Mat:16:18). Dan anda sepertinya juga harus memahami EXTRA ECCLESIAM NULLA SALUS. Dan anda juga harus mengetahui bahwa Gereja Katolik melarang umatnya menganut paham indiferentisme, yaitu ajaran toleransi semu yang menganggap semua agama benar dan sama saja, karena ajaran semacam inilah yang mengabaikan Karya Kristus dan peran Gereja-Nya dalam karyakeselamatan.

    dan perlu juga anda ketahui nasehat supaya jangan saling menjatuhkan, masalah menghargai, masalah mengasihi, masalah menghormati, itu adalah pelajaran yang sangat dasar di dalam Gereja Katolik, dan anak usia lima tahun juga dapat memahami itu. Namun apakah anda mengetahui perbedaan itu, dan mengapa terjadi perbedaan dan apakah anda perlu mengetahui itu dan apakah Yesus Kristus menginginkan perbedaan itu. Lalu apakah artinya doa Yesus “semoga mereka bersatu”.

    [dari katolisitas: Penjelasan tentang EENS silakan melihatnya di sini – silakan klik.]

  9. harusnya kalau kalian sungguh-sungguh mengamalkan ajaran Isa Almasih tentunya kalian saling menhargai, mengasihi, dan memaafkan serta sama-sama bergandengan tangan untuk membawa suara kebenaran di tengah-tengah kegelapan dunia. tetapi yang terjadi sekarang adalah gereja sibuk dengan doktrin dan teologinya yang kadang jadi batu sandungan bagi mereka yg belum mengenak Isa Almasih. hai Katolik!, hai Protestan!BERTOBATLAH KALIAN!!!! jika kehidupanm keagamaanmu tidak lebih baik daripada ahli-ahli taurat zaman para nabi apalah gunanya kau klem dirimu sebagai pemilik warisan kerajaan Allah?????

    • Shalom Aresta,

      Memang ada sebagian orang yang memandang dialog tentang iman seperti percuma saja dan tidak diperlukan. Padahal kalau dialog ini dilakukan dengan semangat kasih dan kebenaran, maka dialog iman adalah sungguh berguna. Di dalam disiplin ilmu manapun diperlukan dialog untuk mencari kebenaran. Hal ini juga berlaku dalam masalah iman. Berdialog dengan hormat dan lemah lembut (lih. 1Pet 3:15) namun tidak mengaburkan kebenaran dapat membawa seseorang kepada kedalaman iman, yang pada akhirnya dapat menuntun seseorang kepada keselamatan. Namun, kalau Anda tidak setuju, kami juga tidak akan memaksa. Tujuan dari situs katolisitas adalah untuk memaparkan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef- katolisitas.org

    • Bung Aresta,
      Dengan rendah hati, saya pribadi mohon di beritahu ajaran Isa Almasih yg mana yg tidak di amalkan sehingga disimpulkan kami tidak saling menghargai, mengasihi dan memaafkan ?. Siapakah yg tidak kami hargai itu ?. Kadang menjadi pertanyaan saya, benarkah anda mempunyai keinginan untuk mendengar yg lain ?. Kalau benar saling menghargai, mari secara terbuka bicara, apa yg anda ketahui dan tafsirkan tentang kami, sehingga kami pun bisa introspeksi diri. Mungkin bisa juga di jelaskan gereja mana yg sibuk dgn doktrinnya. Apakah web Katolisitas ini anda interpretasikan sebagai Gereja juga ?. Yg di maksud doktrin menurut anda itu apa saja, dan bagian manakah yg menjadi batu sandungan bagi yg belum mengenal Isa Almasih tersebut, supaya ini menjadi perhatian kami. Apakah anda merasa “doktrin” yang anda ketahui, menjadi wajib di ikuti orang lain ?. Terima kasih untuk telah mengingatkan kami untuk bertobat. Saya pribadi bersyukur kalau anda bisa mengajarkan secara spesifik pertobatan spt apa yg harus kami lakukan, sementara anda sendiri, pertobatan seperti apa yg sudah anda lakukan ?. Apakah pertobatan itu membawa anda menjadi superior atau membawa anda kepada kerendahan hati ?. Apakah sedemikian penting bagi anda, ketika melakukan sesuatu, orang lain harus tahu apa yang anda lakukan ?. Ketika anda mengetahui kebaikan orang lain, apakah persepsi anda tentang orang tersebut, apalagi kalau orang tersebut tidak satu agama denganmu ?. Ketika anda tidak mengetahui kebaikan yg dilakukan orang lain, haruskah anda menyimpulkan sendiri sesuai persepsi anda, seolah menghakimi ?. Secara duniawi, manusia sering ingin pergi tamasya ke tempat tempat yg lain, hanya untuk dapat melihat dunia dari berbagai jendela di tempat yg dikunjungi tersebut (tentu anda ndak perlu bawa jendela anda terus, karena ditempat baru sudah ada jendelanya), yg ternyata memberi panorama berbeda …. kemudian mengucap syukur, ternyata semua indah adanya. Menjadi refleksi, kalau kita bisa tamasya bathin juga !!!! ….. sudahkah anda ????.

      • bung Lintang,
        kayaknya anda sudah esmosi tuh,jangan begitu bos,,,,pertanyaan anda cukup banyak ya kira2 ada 11 pertanyaan dari satu seruan untuk bertobat. bertobat yang saya maksud berhenti mempersalahkan yang lain, mengabaikan jemaat yang terlantar,.siapa yg dihargai adalah sesamamu manusia apapun agamanya bahkan ateis sekalipun. n. pertobatan bkn superior tapi dari cara anda membuat pertanyaan menunjukkan anda superior! anda harus tahu membedakan menghakimi dan menyerukan, kalau anda mau tahu pergilah ke NTT, Kalbar dimana kehidupan gereja Katholik dan gereja Protestan seperti kucing yang berantam taipi perlu diingat saya tdk mengatak secara universal tetapi ada diantaranya mereka kehidupannya seperti itu. kalau anda bertanya tentang saya apa yang telah saya perbuat saya tidak pernah berfikir bahwa saya berbuat dengan tujuan diketahui orang lain. sekrang saya mau tanya kepada anda. di kalbar banyak umat kathgolik yang hidupnya dipedalaman tidak ada tokoh katholik yang mau membimbing mereka secara rohani apalagi pelayanan holistik apakah anda siap hidup melayani di pedalaman? kebetulan kami sedang membutuhkan guru bimbel di daerah pedalaman karena kami baru 3orang. mengapa saya bilang anda superior anda sudah tahu web ini bukan gereja tapi anda bertanya apakah ini yang dimaksud dengan gereja, anak sd juga tahu ini adalah web, bukan gereja??? doktrin itu tidak selalu benar karena itu menurut hemat saya adalah pribadi anda tidak diselamatkan karena doktrin tapi oleh iman apakah sekali selamat tetap selamat? tergamntung pada pertobatan seseorang bukan pada doktrin keselamatannya. sory kalo saya agak keras, saya tidak bermaksud berdebat. tetapi dengan pertanyaan anda yang bertubi tubi membuat saya berfikir tentang anda,,,tapi kalau anda tersinggung dengan tulisan ini ya syukurlah itu artinya anda masih normal.

        [dari katolisitas: Lintang dan Aresta, silakan diskusi berfokus pada topik. Aresta, kalau Anda ingin berdiskusi tentang pengajaran tentang keselamatan, silakan melihat beberapa topik diskusi ini – silakan klik]

        • Makasih Bung Aresta atasan jawabannya….maafkan saya kalau terlihat saya emosi, ternyata saya masih harus banyak belajar lagi.
          Sebenarnya saya bukan bertanya, hanya ingin mendengar anda mengelaborasi pertanyaan pertama sekali yg anda buat…. sembari ingin introspeksi thd diri saya sendiri …itu juga kalau anda ijinkan. Siapalah saya ini dibanding anda yg sudah ke NTT dan Kalbar apalagi anda pemberi bimbingan disana.
          Sebagai seorang Katholik, saya sangat sangat bersyukur dengan ajaran katholik, dimana tidak hanya Kitab Suci, tapi juga Tradisi dan Hak Mengajar Magisterium gereja…. yang menjadi pegangan iman saya. Dan sangat percaya, ajaran ini adalah kebenaran tanpa negosiasi.
          Setelah membaca ulang baik pertanyaan anda maupun pertanyaan saya, hanya senyum yg dapat saya berikan kepada anda…. maafkan saya.

    • Dari sdr Aresta:

      “harusnya kalau kalian sungguh-sungguh mengamalkan ajaran Isa Almasih tentunya kalian saling menhargai, mengasihi, dan memaafkan serta sama-sama bergandengan tangan untuk membawa suara kebenaran di tengah-tengah kegelapan dunia. tetapi yang terjadi sekarang adalah gereja sibuk dengan doktrin dan teologinya yang kadang jadi batu sandungan bagi mereka yg belum mengenak Isa Almasih. hai Katolik!, hai Protestan!BERTOBATLAH KALIAN!!!! jika kehidupanm keagamaanmu tidak lebih baik daripada ahli-ahli taurat zaman para nabi apalah gunanya kau klem dirimu sebagai pemilik warisan kerajaan Allah?????
      ****
      ****
      Sebetulnya komentar-komentar seperti inilah yang disebut klaim-klaim tanpa dasar. “Kebenaran yang sejati” tentunya malah harus ditunjukkan dan dibicarakan, dicari dan didiskusikan, sehingga ditemukan dan menjadi jelas. Kalau kita yakin pada apa yang sudah kita temukan sebagai kebenaran, mustinya kita juga tidak boleh ragu untuk membicarakannya dan tak perlu cemas ia akan bisa dibantah oleh orang lain, sebab akan terbukti bahwa kebenaran itu justru takkan terbantahkan.

      Nah,saya meyakini Kebenaran Sejati itu ada dalam diri Kristus Tuhan, yang diajarkan oleh Gereja Katolik, yang pengajarannya “dalam hal ini” ingin disampaikan oleh situs ini. Kalau sdr Aresta atau siapa saja ingin menyampaikan kebenaran, dan mau mengatakan ajaran Gereja Katolik salah, malah mustinya siap datang ke sini untuk berdiskusi dengan baik, bukannya membuat klaim-klaim seperti itu. Di sini kesempatan untuk berdiskusi diberikan secara baik sekali. Dan saya kira itulah yang selalu ditunggu-tunggu oleh semua orang, terutama yang haus akan kebenaran sejati.

      Salam.

  10. salam damai kristus
    saya seorang katolik. saya tidak membela atau menyalahkan kedua pihak (katolik dan non-katolik) tapi sudah sepantasnya bagi kedua belah pihak untuk tidak saling menjatuhkan atau menghujat. apa salahnya kita saling mengasihi dan menghormati perbedaan (tata cara dan tradisi masing2 tanpa memperdebatkan satu sama lain dan mengatakan ini yang benar dan itu yang salah atau sebaliknya). kita manusia sampai kapanpun tidak akan pernah dapat memahami keilahian ALLAH. tidak ada juga di dunia ini sebuah agama dapat menjamin seseorang masuk surga. agama adalah sarana dan tata cara kita berdoa kepada ALLAH TRI TUNGGAL MAHA KUDUS (BAPA PUTRA DAN ROH KUDUS).
    dan memang betul, setiap agama memiliki cara dan tradisinya masing2 untuk berdoa kepada ALLAH yang di ikuti dari para pendahulunya serta sejarahnya.
    jadi mari kita bersama dengan segala kerendahan hati dan pikiran berdoa dan bertobat akan dosa2 kita karna kita memang penuh dosa.

    [dari katolisitas: Silakan melihat FAQ EENS ini – silakan klik]

    • @MAria
      salam damai kristus
      admin di sini tidak menghujat atau menjatuhkan justru coment saudara-saudara yang non katolik yang melakukanya
      admin di sini hanya menjawab sesuai dengan ajaran katolik.
      jika kalian keberatan ya gak usa coment di sini kan masih banyak forum lain yang sesuai dengan kepercayaanmu

    • buat Maria;
      jika anda mengatakan didunia ini tidak ada agama yang dapat menjamin seseorang masuk surga,saya menyayangkan iman anda. lalu utk apa Yesus mendirikan gerejanya.

      [Dari Katolisitas: Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya sebagai sarana dan tujuan keselamatan. Namun tidak berarti bahwa kalau kita sudah dibaptis Katolik dan menjadi anggota Gereja Katolik, artinya kita dijamin pasti masuk surga. Kita masih perlu membuktikan iman kita dengan perbuatan kasih dan pertobatan yang terus menerus sampai akhir hidup kita, agar kita dapat memperoleh janji keselamatan itu. Tentang topik ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Namun walaupun bukan jaminan, Gereja Katolik yang didirikan Kristus ini merupakan sarana yang pasti, yang melaluinya seseorang dapat diselamatkan.]