Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 4-Selesai) ?

95

Pendahuluan

Jika kita bekerja di suatu perusahaan, mungkin perusahaan tersebut memberikan asuransi kesehatan, dan mungkin juga termasuk asuransi kesehatan gigi. Bayangkan kalau kita menerima asuransi kesehatan gigi, yang memungkinkan agar kita ke dokter gigi tanpa membayar, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan secara teratur datang ke dokter gigi meminta agar dokter tersebut memeriksa dan membersihkan gigi kita? Ataukah kita akan datang ke dokter gigi hanya kalau kita merasa kesakitan yang luar biasa pada gigi kita?

Keadaan ini adalah sama seperti prinsip dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Dosa adalah suatu penyakit rohani. Dan Yesus yang diwakili oleh pastor di dalam Sakramen Tobat adalah dokter dari segala dokter. Kita tahu, bahwa setiap hari kita melakukan dosa ringan, bahkan terkadang melakukan dosa berat. Kita juga tahu, bahwa dosa berat dapat membuat kita kehilangan keselamatan kita dan juga kalau dosa ringan terus dibiarkan, akan berkembang menjadi dosa berat. Nah, pertanyaannya, apakah kita juga mau datang kepada pastor untuk mengaku dosa pada waktu dosa yang kita buat masih belum terlalu berat, ataukah kita menunggu sampai dosa menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan? Mari kita bersama-sama melihat dan mengerti bahwa Sakramen Tobat ini diinstitusikan oleh Yesus untuk keselamatan kita, sehingga kita dapat mencapai kehidupan kekal.

General confession adalah suatu awal yang baik

Bayangkan kalau kita beberapa tahun tidak pernah ke dokter gigi. Mungkin kita tidak merasakan sakit pada gigi kita, namun benih-benih penyakit pasti ada disana. Karena hal tersebut, kita perlu datang ke dokter gigi dan minta “general cleaning“. Begitu juga dalam kehidupan spiritual kita, kita perlu mengadakan general cleaning. General cleaning dapat diumpamakan seperti “general confession”.

General confession adalah suatu pengakuan dosa yang bukan hanya terbatas dalam periode tertentu, namun mengakukan seluruh dosa dalam hidup kita sejauh yang dapat kita ingat. Ini adalah suatu “general check-up“, yang memungkin seorang dokter untuk mengetahui seluruh sejarah kesehatan kita. Alangkah baiknya kalau kita dapat membuat general confession kepada bapa pengakuan dan sekaligus juga bapa pembimbing (spiritual director) kita.[1]

Karena biasanya general confession memerlukan waktu yang lama – biasanya sekitar setengah sampai satu jam -, mintalah waktu secara khusus dari pastor, dan katakan kepada pastor untuk dapat menerima general confession. Pastikan juga bahwa kita benar-benar melakukan pemeriksaan batin secara sungguh-sungguh.

Biasakan untuk melakukan general confession setial tahun. St. Ignatius dari Loyola mengatakan dalam bukunya spiritual exercise Meskipun seseorang yang mengakukan dosa setiap tahun tidak diharuskan untuk membuat general confession, namun dengan melakukannya, seseorang menimba banyak sekali manfaat yang diperoleh dari penyesalan yang sungguh-sungguh atas segala dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang tersebut dalam seluruh kehidupannya.”

Berapa sering kita mengakukan dosa kita?

Memang dalam peraturan Gereja, kita minimal sekali dalam satu tahun harus mengakukan dosa kita.[2] Seperti kasus kebersihan gigi, kalau kita hanya ke dokter gigi setahun sekali, maka kemungkinan besar, gigi kita akan banyak yang rusak karena terbentuknya karang gigi. Demikian juga dengan pengakuan dosa, semakin jarang kita mengaku dosa, maka akan semakin tumpul kepekaan kita dalam menolak dosa. Dengan dasar inilah, kita seharusnya mengaku dosa secara teratur dan lebih sering, sebagai contoh, satu bulan sekali. Sebagai perbandingan, Paus Yohanes Paulus II dan Mother Teresa mengaku dosa seminggu sekali. Kalau sosok seperti mereka mengaku dosa setiap minggu, kita seharusnya mengikuti teladan mereka, karena kemungkinan besar atau pasti, kita melakukan lebih banyak dosa daripada mereka.

Mari kita lihat beberapa petunjuk praktis dibawah ini, agar kita dapat membuat pengakuan dosa yang baik.

Kebenaran-kebenaran hakiki yang perlu kita pegang

1. Tuhan sangat mengasihi kita

  • Tuhan sangat mengasihi kita, dan menginginkan agar kita memperoleh kebahagiaan abadi.
  • Kita memperoleh kebahagiaan abadi hanya jika menggunakan kebebasan kita dengan hidup menurut kehendakNya.

2. Dosa memisahkan kita dari Tuhan

  • Segala penolakan untuk berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan adalah suatu DOSA, yang tingkatannya tergantung dari: a) perbuatan yang kita lakukan atau kita hilangkan, b) derajat kesadaran, maksud, dan kebebasan kita, c) segala situasi dan keterbatasan kita.
  • Sebagai penolakan terhadap kasih Tuhan, dosa adalah suatu bentuk ketidak- bersyukuran, kesombongan dan pemberontakan terhadapNya.
  • Ketika berdosa, kita berbalik dari Tuhan, memberikan perhatian dan cinta yang seharusnya diberikan kepada Tuhan, kepada diri kita sendiri atau mahluk ciptaan lainnya.
  • Karena itu, kita telah merusak diri dan orang lain karena telah melawan keteraturan yang ditentukan oleh Sang Pencipta.
  • Akibat dari dosa berat adalah maut, sehingga kita: a) kehilangan rahmat Tuhan, b) kehilangan tempat di surga, c) memilih untuk masuk dalam penderitaan abadi di neraka, d) memilih untuk menolak kasih Tuhan yang abadi.[3]

3. Pertobatan adalah kunci untuk kembali kepada Tuhan

  • Dengan kasihNya, Allah selalu ingin mengampuni kita. Ia tak pernah berhenti untuk memanggil kita kembali kepadaNya dan pada perilaku yang benar.
  • Untuk menikmati pengampunan Tuhan, kita harus: a) Berhenti berbuat dosa, b) Menghindari situasi dosa, c) Kembali kepada Tuhan dengan hati bertobat.
  • Kita harus mencari pengampunan Tuhan melalui pelayanan yang diberikan Gereja, sesuai dengan pemikiran Yesus ketika Ia memberikan kepada Rasul-rasulNya kuasa untuk mengampuni dosa-dosa. (Yoh 20:22-23)
  • Penerimaan pengampunan Tuhan melaui Sakramen Pengakuan Dosa membawa pada kita kebangkitan spiritual: kita bangkit lagi untuk menerima hidup baru dalam kasih. Melalui sakramen ini kita didamaikan dengan Allah, Gereja, sesama dan dengan diri sendiri.

LANGKAH- LANGKAH YANG HARUS DIAMBIL SEBELUM MENGAKU DOSA

  1. Yang terpenting bukanlah untuk ‘pergi mengaku dosa’, tapi bagaimana mengaku dosa yang baik’:
    • Mendekati sakramen ini dengan pertobatan yang tulus atas dosa-dosa kita.
    • Mengaku dosa-dosa kita dengan kerendahan hati dan kejujuran.
    • Berkemauan keras untuk menghindari dosa tersebut di kemudian hari dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan,
  2. Untuk melakukan hal-hal ini, langkah yang penting adalah melalui pemeriksaan batin, yaitu:
    • Sadar akan tingkat beratnya dan jumlah/ frekuensi dosa kita, baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan, baik dalam perbuatan salah yang kita lakukan atau perbuatan baik yang harusnya kita lakukan tetapi tidak kita lakukan (sin of omission).
    • Sadar bahwa karena dosa kita, kita menyakiti hati Tuhan, menyebabkan sengsara dan wafat Kristus, dan menyebabkan hal yang buruk bagi diri dan sesama.
  3. Hal yang sangat membantu dalam pemeriksaan batin adalah:
    • Berdoa kepada Roh Kudus mohon penerangan dan ketulusan hati.
    • Membaca teks Kitab suci untuk membantu kita merenungkan akibat dosa, besarnya kasih Tuhan dan kesediaanNya untuk mengampuni kita.
    • Memeriksa diri dengan menjawab pertanyaan- pertanyaan mengenai tugas kita kepada Tuhan, sesama dan diri sendiri.

DOA SEBELUM PEMERIKSAAN BATIN

… Datanglah, O Roh Kudus, ke dalam jiwaku, Dan bantulah aku mengetahui dosa-dosaku, menyesali semua dosaku dan mengakukannya dengan kerendahan hati, agar aku dapat menikmati pengampunan Allah Bapa.

Dengan terangMu, terangi kegelapan pikiranku.
Dengan api RohMu, hangatkan dinginnya hatiku,

Dengan kasihMu, isilah aku dengan cinta dan kekuatan, sehingga aku dapat menyadari kesalahan yang kuperbuat dan kebaikan yang gagal kulakukan. Tolong aku agar sungguh bertobat, dan kuatkan niatku untuk menghindari dosa-dosa di kemudian hari, dan untuk hidup dalam cintaMu, damaiMu dan sukacitaMu. … Amin.

BEBERAPA TEKS KITAB SUCI UNTUK DIRENUNGKAN

Sebelum pemeriksaan batin, pilih dan baca salah satu dari teks berikut ini dan kemudian renungkan dalam doa teks yang baru saja dibaca.

  • Mat 5: 17-19
  • Mat 5: 20-48
  • Mat 7: 1-5
  • Mat 25: 31-46
  • Luk 15: 1-7
  • Luk 15: 11-32
  • Wah 3:20

KERANGKA PEMERIKSAAN BATIN

Ada beberapa metode dalam pemeriksaan batin, yaitu berdasarkan 10 perintah Allah dan nilai-nilai Kristiani. Berdasarkan 10 perintah Allah, maka kita harus melihat berapa sering dan gagal kita melaksanakannya, Berdasarkan Nilai-nilai Dasar Kristiani, kasih kepada Tuhan dan sesama, kesabaran, kemurnian, kejujuran, dll, dan lihatlah apakah kita melakukan-nya atau tidak. Atau kita juga dapat mengadakan pemeriksaan batin berdasarkan delapan sabda bahagia (Mat 5:3-12).

Apapun caranya, yang terpenting adalah menempatkan diri kita dalam hadirat Allah dan tanyakanlah pada diri sendiri dengan kejujuran total, apakah kita telah menyenangkan hati Tuhan, jika tidak, mengapa?

Pertanyaan Awal:

  1. Kapan terakhir aku mengaku dosa? Apakah itu pengakuan dosa yang baik?
  2. Apakah aku berjanji sesuatu kepada Allah pada kesempatan itu? Apakah janji itu kutepati?
  3. Apakah aku melakukan dosa berat setelah pengakuan dosa yang terakhir?

PERTANYAAN-PERTANYAAN BERDASARKAN KESEPULUH PERINTAH ALLAH

1. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

  • Apakah aku ragu akan keberadaan Tuhan?
  • Apakah aku kurang bersyukur atas segala berkat-berkat yang Tuhan limpahkan?
  • Apakah aku sering menggerutu dalam menjalankan kehendak Tuhan dalam hidupku?
  • Apakah aku menolak untuk menerima permasalahan yang datang dalam hidupku sebagai cara untuk mendatangkan keselamatan?
  • Apakah aku mengabaikan suara Kristus dalam jiwaku ketika Dia meminta kepadaku untuk berkorban sesuatu?
  • Apakah aku sering kuatir dalam kehidupan karena kekurangpercayaanku terhadap penyelenggaraan Allah?
  • Apakah aku melalaikan tugasku sebagai mahluk ciptaan kepada penciptaku?
  • Apakah aku gagal untuk menjadi saksi Kristus, baik dengan perkataan maupun perbuatan?
  • Apakah aku meremehkan, bahkan mengejek ajaran Gereja Katolik?
  • Apakah saya melemahkan iman orang lain, dengan cara menghina agama, Gereja, para imam, dll?
  • Apakah aku malu untuk menunjukkan identitasku sebagai orang Katolik?
  • Apakah aku menjadi anggota dari suatu organisasi yang melawan ajaran Katolik?
  • Apakah aku tidak mengaku dosa paling sedikit satu tahun sekali?
  • Apakah aku lupa untuk melakukan penitensi dari pengakuan dosa yang sebelumnya?
  • Apakah aku lupa untuk berpuasa dan berpantang pada hari-hari yang telah ditentukan?
  • Apakah aku sungguh-sungguh dalam berdosa dan berusaha dengan sepenuh hati untuk melawan godaan?
  • Apakah aku tidak setia dalam doa harianku?
  • Apakah aku tidak membuat prioritas dan mencoba dengan sekuat tenaga untuk hidup kudus?
  • Apakah Tuhan adalah yang paling penting dalam kehidupanku?
  • Apakah aku ragu-ragu tentang iman Katolik?
  • Apakah aku membaca buku atau menonton film yang bertentangan dengan iman Katolik?
  • Apakah aku percaya tahayul, atau pergi ke tukang ramal, percaya ramalan bintang, ramal telapak tangan, atau percaya ilmu gaib/ sihir?
  • Apakah aku selalu percaya kepada Tuhan, terutama dalam kemalangan dan pencobaan?
  • Apakah ada allah-allah lain di hidupku: uang, kesenangan, seks, keberhasilan, popularitas, kekuasaan, terobsesi dengan penampilan ….?

2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat

  • Apakah aku menggunakan nama Tuhan dengan tidak hormat?
  • Apa aku menggunakan nama Tuhan dalam kemarahan atau kutukan?
  • Apa aku berbohong di bawah sumpah?
  • Apakah aku menepati janjiku kepada Tuhan?
  • Apakah aku berkata yang tidak hormat tentang Yesus, Maria dan orang-orang Kudus?

3. Ingatlah dan kuduskanlah Hari Tuhan

  • Apakah aku setia mengikuti misa kudus pada hari Minggu atau hari-hari tertentu yang ditetapkan dalam kalendar Gereja? Apakah aku datang tepat waktu?
  • Apakah aku mengikuti misa dengan penuh perhatian dan penuh iman?
  • Apakah aku berdoa secara teratur, setidaknya pagi dan sore/ malam hari?
  • Apakah aku membaca Kitab suci setiap hari?
  • Seberapa minatku untuk mengetahui imanku dan membantu orang lain, termasuk teman-teman dan saudara-saudari/ kerabat?

4. Hormatilah ayahmu dan ibumu.

Untuk anak-anak:

  • Apakah aku gagal untuk mengasihi orang tua dan saudara- saudariku?
  • Apakah aku tidak menghormati dan tidak taat kepada mereka?
  • Apakah aku membantu mereka di saat aku bisa?
  • Apakah aku mengecewakan hati mereka? Bagaimana?
  • Apakah aku menghormati guru, pastor paroki dan orang-orang lain ada di atas otoritas-ku?
  • Apakah aku mentaati peraturan sekolah-ku?

Untuk orang tua:

  • Apakah aku membesarkan anak-anak dengan sepenuh hati dan dengan cinta yang tulus?
  • Apakah aku terlalu keras atau terlalu lembek terhadap mereka?
  • Apakah aku memberi contoh yang buruk kepada mereka dengan caraku berbicara atau bertindak?
  • Apakah aku memberi contoh yang baik untuk melaksanakan kewajiban religius dan kewajibanku sebagai warga negara?
  • Apakah aku mengusahakan agar anak-anakku mendapat pengajaran religius yang pantas dan aktif terlibat dalam kegiatan komunitas kristiani dan organisasi?
  • Apakah aku memotivasi mereka untuk terlibat dalam kegiatan Gereja dan kemasyarakatan?

5. Jangan membunuh

  • Apakah aku melukai seseorang dengan perkataanku atau perbuatanku?
  • Apakah aku menolak untuk membantu sesama yang membutuhkan ketika aku diberi kesempatan dan sesungguhnya dapat menolongnya?
  • Apakah aku menyebarkan rumor/ gosip tentang seseorang?
  • Apakah aku memberi contoh buruk? Apakah aku berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya?
  • Apakah aku mengumpat/ mengomel?
  • Apakah aku meminta maaf segera dan dengan tulus ketika aku menyakiti seseorang?
  • Apakah aku memimpin/ menyebabkan orang lain berdosa dengan perkataan dan perbuatanku?
  • Apakah aku tidak menghormati pendapat ataupun kepercayaan orang lain?
  • Apakah aku mencabut hidup orang lain?
  • Apakah aku menyebabkan kecelakaan fisik, moral atau problem keuangan orang lain? Apakah aku telah memperbaikinya?
  • Apakah aku menjadi anggota organisasi kekerasan?
  • Apakah aku setuju atau mengizinkan, merekomendasikan, mencari atau terlibat dalam proses aborsi?
  • Apakah aku turut andil dalam polusi lingkungan atau penggunaan sumber alam secara egois?
  • Apakah aku memperhatikan kesehatanku: fisik dan mental?
  • Apakah aku menggunakan obat terlarang, merokok, minum minuman keras berlebihan, dan melakukan apa saja yang membahayakan kesehatanku dan kesehatan orang lain?
  • Pada saat ada kesempatan, apakah aku tidak melakukan sesuatu untuk melawan dosa atau kejahatan?

6 dan 9. Jangan berzinah, dan jangan mengingini istri sesamamu.

Untuk semua:

  • Apakah aku melihat gambar, pertunjukan atau film, buku-buku dan publikasi lainnya yang tidak sopan dan membangkitkan fantasi seksual dan mengarahkanku kepada dosa ketidakmurnian?
  • Apakah aku memakai pakaian yang tidak sopan?
  • Apakah aku mengikuti pikiran yang kotor atau keinginan-keinginan yang tidak suci?
  • Apakah aku melakukan perbuatan yang tidak murni terhadap diri sendiri atau dengan sesama?
  • Apakah aku bertindak bijaksana terhadap sesama yang berlainan jenis kelamin, baik terhadap yang sudah menikah atau tidak/ belum menikah?
  • Apakah aku melontarkan cerita/humor kotor?
  • Apakah aku terlibat dalam pergaulan bebas, seks pranikah, atau aktivitas seksual yang diper-bolehkan hanya untuk suami istri?

Untuk pasangan yang sudah menikah:

  • Apakah aku setia kepada istri/ suamiku, baik di dalam pikiran maupun perbuatan?
  • Apakah aku menggunakan pil, alat-alat KB lainnya untuk menghalangi kehamilan? Apakah aku menganjurkan orang lain untuk melakukan hal itu?
  • Apakah aku menggunakan pernikahanku untuk mengekspresikan kasihku yang tulus kepada istri/ suamiku ataukah hanya untuk melampiaskan gairah seksual?

7 dan 10. Jangan mencuri. Jangan mengingini milik sesamamu.

  • Apakah aku menghormati milik orang lain?
  • Apakah aku merusak barang milik publik?
  • Apakah aku mencuri sesuatu? Apakah aku mengembalikan yang kucuri dan membayar sesuai dengan jumlahnya?
  • Apakah aku menyontek di sekolah, atau berbuat curang dalam bisnis? Apakah aku jujur dalam pekerjaan dan melakukannya dengan cara yang terbaik?
  • Apakah aku adil dalam membayar gaji bawahan-ku, pajak dan segala kewajibanku?
  • Apakah aku iri hati terhadap milik dan kesuksesan orang lain?
  • Apakah aku menyia-nyiakan waktu dan kesempatan?
  • Apakah aku serakah?

8. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

  • Apakah aku berbohong karena kesombonganku atau berbohong untuk mencelakakan orang lain?
  • Apakah aku bersaksi dusta di pengadilan?
  • Apakah aku menyebarkan rumor/ gosip yang dapat merusak reputasi/ nama baik sesamaku?
  • Apakah aku membocorkan rahasia yang dipercayakan kepadaku?
  • Apakah aku membocorkan rahasia kesalahan orang lain?
  • Apakah aku menuduh seseorang sembarangan?
  • Apakah aku menghakimi orang lain?
  • Apakah aku seorang yang berprasangka?
  • Apakah aku dapat menjaga keseimbangan antara kebenaran dan tindakan kasih?

SEGERA SEBELUM PENGAKUAN DOSA

Setelah pemeriksaan batin selesai, dan menyadari berapa sering dan berapa banyak anda telah menyakitkan hati Tuhan, sesama dan diri sendiri, maka:

  1. Dengan rendah hati dan tulus memohon pengampunan Tuhan dan kemampuan untuk menghindari dosa di kemudian hari.
  2. Berusaha untuk menemukan akar penyebab dosa- dosa anda: kecenderungan yang salah, kelemahan, kebiasaan buruk…, dan lihat apakah anda dapat menghilangkan setidak-tidaknya satu dari akar penyebabnya. Ini berarti berusaha menjadi orang yang lebih baik dengan membuang sedikitnya satu keburukan moral atau dengan memperkuat satu kualitas moral yang baik. Bayangkan kalau kita dapat menghilangkan satu kebiasaan buruk dalam satu tahun, maka kehidupan spiritual kita akan berkembang dengan pesat.

3. mohon agar Tuhan membantu anda untuk mengaku dosa dengan baik.

PADA SAAT PENGAKUAN DOSA

  1. Buatlah tanda salib dan berkata: “Berkatilah saya, Pastor, sebab saya telah berdosa.”
  2. Biarkan Pastor memberkati anda dan apapun perkataannya, dengarkan dengan hati terbuka, lalu katakan:
    • Pengakuan dosa saya yang terakhir adalah…. waktu yang lalu. Sejak itu aku melakukan dosa sebagai berikut…..
    • Mengakulah dengan jujur dan tulus segala dosa anda mulai dari yang terberat dan yang paling memalukan. Jika anda gugup, atau tak begitu jelas akan dosa tertentu, mintalah bantuan Pastor
    • Ingat, untuk sebisanya menyebutkan jumlah frekuensi dosa berat, dan keadaannya untuk memperjelas tingkat keseriusan dosa tersebut.
  3. Setelah selesai menyebutkan dosa-dosa anda, katakanlah:
    • Untuk semua dosa-dosa saya ini terutama dosa melawan… (misal: kasih, kejujuran, kemurnian, dll) aku mohon pengampunan dan penitensi dari Pastor.
  4. Pastor akan memberi anda beberapa saran. Ia juga akan memberikan penitensi yang harus dipenuhi setelah sakaramen pengakuan. Setelah itu, ucapkanlah doa tobat baik dengan perkataan sendiri, atau doa tobat sebagai berikut:
    • O Tuhanku, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan maha baik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmatMu hendak memperbaiki hidupku dan tidak berbuat dosa lagi. Allah yang maha rahim, ampunilah aku, orang berdosa. Amin
  5. Setelah mengucapkan doa tobat, terimalah absolusi dengan rendah hati dan penuh syukur. Ikutilah doa Pastor, yang diakhiri dengan kata penutup “Amin!”

SETELAH PENGAKUAN DOSA

  1. Berlututlah di depan altar atau sakramen Maha Kudus atau gambar/ patung Tuhan Yesus, dan berterimakasihlah padaNya atas karunia pengampunan dosa, Perbaharui niat anda dan mohon pertolonganNya untuk mengatasi segala godaan.
  2. Jika penitensi diberikan dalam bentuk beberapa doa, ucapkanlah doa-doa tersebut dengan tenang dan penuh iman.
  3. Jika penitensi diberikan dalam bentuk tindakan kasih, maka harus dilaksanakan secepat mungkin.
  4. Tersenyumlah pada Yesus, dengan penuh rasa syukur. Bangkitlah dengan suka cita dan percaya diri: Tuhan sudah berbelas kasihan kepadamu. Ia merayakan kembalimu kepadaNya dan meng-inginkan anda termasuk dalam bilangan para kudusNya. Hiduplah untuk Dia, pada setiap saat kehidupanmu, dan biarkanlah orang-orang lain melihat betapa indahnya melayani Tuhan, dan hidup sesuai dengan kehendakNya!

Kesimpulan

Semua hal di atas adalah petunjuk-petunjuk praktis untuk mengaku dosa. Kita semua diingatkan kembali bahwa dosa sungguh menyedihkan hati Tuhan, karena melawan kasih dan hukum Tuhan, dengan akibat rusaknya hubungan kita dengan Tuhan dan Gereja. Hanya pertobatan, dan juga menerima Sakramen Pengampunan Dosa yang dapat mengembalikan keharmonisan hubungan kita dengan Allah. Dengan menerima Sakramen Tobat, kita akan dikuatkan untuk berusaha dengan sepenuh hati dan pikiran untuk hidup kudus, hidup untuk semakin memuliakan nama Tuhan.


[1] Francis De Sales, Introduction to the Devout Life (Image, 1972), p.38

[2] Council of Trent, Session 14; Canon 8.

[3] Ibid., p.37-38.

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

95 Comments

  1. oktavianus Bora Tamo Ama, S.Sos on

    Syalom, ketidaktaatan kita secara jujur kepada TUHAN YESUS yang selalu melakukan pelanggaran baik secara pikiran, perbuatan, tingkalaku baik sadar maupun tidak sadar. Disitulah yang membuat kita terkesan tidak mengontrol hawa nafsu. Pengakuan dosa merupakan cara hidup yang bermula untuk menjadi milik TUHAN YESUS. Oktavianus Bora Tamo Ama, S.Sos asal kupang.

  2. Dear Katolisitas,

    Sebelumnya saya mau berterima kasih kepada Katolisitas, karena website ini banyak membantu saya untuk mempelajari iman Katolik dan belajar Katolik, karena sebelumnya saya Protestan. Setelah diterima dalam gereja Katolik saya lebih banyak mengikuti misa harian dan mingguan di paroki lain, bahkan pengakuan dosa pertama saya bukan di paroki saya (waktu itu saya sungguh merasa sesak dan butuh sekali sakramen Tobat, jadi saya datang ke gereja katolik dekat tempat saya bekerja untuk minta sakramen tobat), yang mau tanyakan apakah ada kemungkinan saya diekskomunikasi, …maafkan sebelumnya atas rendahnya pengetahuan saya.

    salam
    Pri

    • Shalom Pri,

      Anda dapat mengikuti perayaan Ekaristi ataupun menerima sakramen Tobat di paroki lain, yang bukan paroki Anda. Itu bukan perbuatan dosa, apalagi kesalahan yang dapat menerima hukuman ekskomunikasi. Walaupun idealnya Anda mengikuti perayaan Ekaristi di paroki Anda, karena dengan demikian Anda terhubung dengan saudara-saudari seiman yang tinggal di sekitar Anda, dan juga dengan pastor paroki Anda yang merupakan gembala rohani Anda, namun, jika ada keadaan khusus, misalnya karena paroki lain itu letaknya lebih dekat ke tempat kerja Anda, sehingga lebih memungkinkan bagi Anda untuk mengikuti Misa harian di sana sebelum Anda bekerja, ataupun pertimbangan lainnya yang masuk akal, maka tentu Anda dapat mengikuti Misa di sana. Gereja Katolik adalah Gereja universal, maka Anda akan tetap Katolik, jika mengikuti Misa di salah satu paroki Gereja Katolik di luar kota atau di luar negeri.

      Sangsi ekskomunikasi hanya diberlakukan untuk pelanggaran berat, seperti yang berkaitan dengan penyebaran ajaran sesat, ataupun ketidaktaatan kepada pihak otoritas Magisterium Gereja. Umumnya sangsi ini diberlakukan sebagai langkah terakhir, jika pihak yang bersangkutan tetap berkeras dalam pendiriannya, bahkan setelah diperingati beberapa kali oleh pihak otoritas Gereja. Silakan membaca selanjutnya di sini, silakan klik, tentang ekskomunikasi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

        • Shalom Pri,
          Sedikit menegaskan sekali lg bahwa Gereja Katolik ialah universal. Jadi selama yg anda masuki ialah Gereja Katolik sama sekali bukan dosa malahan itu sebuah kelakuan yg amat sangat baik. Sama dengan saya, saya sering misa harian di Gereja Katolik di dkt tmpat kerja saya krn lebih dekat kl pulang kerja walau di dekat rumah saya juga ada Gereja Katolik dan ada juga misa harian.Bahkan terkadang saya misa malam minggu di Gereja Katolik dekat kantor dan besok paginya saya misa pagi di Gereja Katolik dekat rumah dan sorenya misa di salah satu Gereja Katolik yg agak jauh dr rumah saya. Tergantung situasi dan kondisi waktu kita pada saat itu saja, jadi sah-sah saja.

          salam
          Bambang

  3. Dear Katolisitas,

    Saya mohon maaf atas kesalahan saya memposting pertanyaan saya disini, karena hal yang saya tanyakan tidak berhubungan dengan isi buku tamu ini. Sekali lagi saya mohon maaf. Akan tetapi saya membutuhkan penjelasan tentang hal yang saya tanyakan ini, soalnya saya sedang bingung, sewaktu saya menerima Sakramen Tobat tadi saya tidak mendaraskan Doa Tobat, karena langsung diberikan berkat pengampunan dosa, tidak melalui Doa Tobat terlebih dahulu. Apakah pengakuan saya itu sah atau bagaimana ? Mohon pencerahannya.

    Terima kasih,

    Salam kasih dan Damai sejahtera.

    Libertus.

    [dari katolisitas: Yang harus dilakukan, kalau Anda tidak mendoakan doa tobat di dalam bilik pengakuan doa, maka Anda dapat melakukan doa tersebut pada saat Anda mendoakan doa penitensi. Kalau Anda belum melakukannya, maka silakan melakukannya secepatnya. Keabsahan dari Sakramen Tobat adalah karena pengampunan yang diberikan oleh Kristus kepada pastor dan dari pihak kita, karena kita berdosa dan menyesalinya. Penyesalan ini mensyaratkan bahwa kita tidak mau melakukan dosa tersebut di kemudian hari. Tentu saja dengan bantuan rahmat Allah. Jadi, selama ada pengampunan, dosa dan penyesalan, maka Sakramen Tobat adalah sah]

  4. Shalom Katolisitas,

    Puji Tuhan, saya bersyukur bisa lebih mendalami kasih Tuhan didalam artikel ini, terimakasih untuk Katolisitas.

    Pertanyaan yang ingin saya tanyakan, general confession, saya masih kurang mengerti tentang general confession ini, pengakuan dosa dalam periode sepanjang apa yang dimaksud? apakah dosa-dosa yang sudah diakui didalam sakramen pengakuan dosa juga disebutkan kembali?
    kedua bagaimana sikap kita terhadap perbuatan kita, saya akui pribadi terkadang merasa bahwa dikit-dikit berdosa (rasa berdosa yang berlebihan) kadang saya merasa sebaliknya karena saya memiliki “rasa” berdosa yang berlebihan saya menjadi tidak hati-hati, akhirnya dosa beneran. terimakasih, Tuhan berkati

    • Shalom Stefanus,

      Sebenarnya, pengertian dari general confession adalah Pengakuan akan semua dosa terutama dosa-dosa besar yang pernah dilakukan -sepanjang yang dapat kita ingat- sejak age of reason (mungkin sekitar 7-8 tahun) sampai sekarang. Maksudnya adalah untuk membuang keterikatan dosa, terutama terhadap dosa besar yang sudah pernah kita lakukan. Jika dosa tersebut sudah pernah diakui dalam sakramen Pengakuan dosa, sebenarnya memang sudah diampuni, tetapi jika keterikatannya terhadap dosa tersebut masih ada sampai sekarang, maka dosa tersebut dapat diakui/ disebutkan kembali. Prinsipnya, sakraman Pengakuan dosa itu adalah sarana bagi kita untuk menerima rahmat penyembuhan/ pemulihan terhadap sakit rohani, maka segala bentuk dosa/ keterikatan terhadap dosa diakui, agar kita menerima rahmat Tuhan yang dapat menyembuhkan kita.

      Perasaan dosa yang berlebihan/ ‘sedikit-sedikit sudah merasa berdosa’ umum dikenal dengan istilah scrupulosity, yang kadang memang dapat menjadi tidak kondusif terhadap pertumbuhan rohani. Sebab walaupun sepertinya baik, jadi kita berusaha menjauhi dosa sekecil apapun, tapi seringkali malah menjerumuskan kita kepada ekstrim lainnya, yaitu entah menjadi sombong rohani (merasa lebih baik dari orang lain, dan mudah menghakimi orang lain yang tidak mempunyai ‘ketelitian’ sedemikian untuk menghindari dosa) atau malah karena terpusat memikirkan dosa yang kecil-kecil, malah membuat kita jatuh dalam dosa yang besar.

      Maka agaknya yang di sini perlu kita minta kepada Tuhan adalah rahmat kebijaksanaan (prudence), supaya kita dapat menghindari dosa, tanpa harus jatuh ke dalam sikap ekstrim sedemikian, sehingga menganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah dosa.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Katolisitas,
        Terimakasih atas jawabannya, betul sekali saya mengakui “Kesombongan” adalah penyakit atau akar dosa,terimakasih atas sarannya Katolisitas.
        Semoga kita semua semakin mendalami dan menghargai kasih Allah, dengan kebijaksanaan dan kerendahan hati kita, berjuang BERSAMA TUHAN bukan dengan kekuatan kita, Amin

  5. Saudari – saudari Katolik sekalian,
    Saya hanya ingin berbagi cerita dari Paus Fransiskus.
    —————————
    He told a story, of an elderly widow he encountered during a Mass for the sick celebrated in connection with a visit of the image of Our Lady of Fatima. “I went to confession during the Mass,” he said, “and near the end – I had to go to do confirmations afterward, and an elderly lady approached me – humble [she was] so very humble, more than eighty years old. I looked at her, and said, ‘Grandmother,’ – where I come from, we call elderly people grandmother and grandfather – ‘would you like to make your confession?’ ‘Yes,’ she said – and I said, ‘but, if you have not sinned…’ and she said, ‘we all have sinned.’ [I replied], ‘if perhaps He should not forgive [you]?’ and, sure, she replied, ‘The Lord forgives everything.’ I asked, ‘How do you know this for sure, madam?’ and she replied, ‘If the Lord hadn’t forgiven all, then the world wouldn’t [still] be here.’ And, I wanted to ask her, ‘Madam, did you study at the Gregorian (the Pontifical Gregorian University, founded in 1551 by St Ignatius Loyola, the oldest Jesuit university in the world)?’ – because that is wisdom, which the Holy Spirit gives – interior wisdom regarding the mercy of God. Let us not forget this word: God never tires of forgiving us,” he repeated, “but we sometimes tire of asking Him to forgive us.” Pope Francis went on to say, “Let us never tire of asking God’s forgiveness.”
    ———————-

    Hal ini sangat mengena bagi saya, karena seringkali kita bosan minta pengampunan. Seringkali dosa kita ya itu lagi itu lagi.

    Yuk cari romo untuk ngaku dosa.
    Salam,
    Edwin ST

    Source : link to news.va

    • Salam, Edwin ST

      Terima kasih atas sharing cerita anda yang luar biasa. Ijinkan saya menerjemahkan secara bebas untuk pengunjung situs yang kesulitan memahami cerita tersebut.
      —————————
      Ia menceritakan sebuah kisah mengenai seorang janda tua yang ia temui selama Misa untuk orang sakit, yang diselenggarakan sehubungan dengan kunjungan Sang Perawan dari Fatima. “Aku pergi ke pengakuan selama Misa,” katanya,”dan menjelang akhir misa, aku harus pergi untuk memberikan Krisma setelahnya. Kemudian seorang wanita tua mendekatiku. Ia sangat rendah hati, sangat-sangat rendah hati, dan berusia lebih dari 80 tahun. Aku melihatnya lalu berkata,”Nek (di tempat asalku, kita memanggil orang tua dengan sebutan ‘nenek’ atau ‘kakek’), apakah anda ingin mengaku dosa?”. “Ya”, jawabnya.

      “Tapi kalau anda tidak melakukan dosa?”

      “Kita semua telah berdosa.”

      “kalau misalnya Ia tidak mengampuni anda?”

      “Tentu saja Tuhan mengampuni semua.”

      ” Bagaimana anda bisa bisa yakin tentang hal ini, nyonya?”

      Lalu, ia menjawab,”Jika Tuhan tidak mengampuni semua, dunia tidak akan tetap ada seperti sekarang.” Aku jadi ingin bertanya padanya,”Nyonya, apakah anda sekolah di The Gregorian? (Universitas Gregorian Kepausan dan adalah Universitas Yesuit tertua di dunia, didirikan taun 1551 oleh St. Ignatius Loyola.)

      “Apa yang ia katakan adalah kebijaksanaan, yang diberikan oleh Roh Kudus, kebijaksanaan batin mengenai Kerahiman Ilahi. Mari kita selalu ingat bahwa : Allah tidak pernah lelah mengampuni kita”,kata Sri Paus,”Namun, kita yang sering lelah meminta Allah mengampuni kita.” Paus Fransiskus melanjutkan,”Jangan pernah lelah meminta pengampunan Allah”.
      ———————-

      Pacem,
      Ioannes

      • Terima kasih Ioannes sudah menerjemahkan dengan baik.
        Sekarang gantian saya yang ijin pinjam terjemahannya untuk dipakai ulang.
        Salam,
        Edwin ST

  6. damai kristus beserta kita,

    terimakasih atas thread mengenai pengakuan dosa sebagai cara rekonsiliasi kita yang berdosa ini untuk dapat bersatu dgn Kristus dalam Gereja-Nya yaitu persekutuan umat dan Yesus Kristus….,
    saya mengalami pergulatan batin, penyesalan dan pertanyaan dalam hati dan pikiran saya atas pengakuan tobat saya terakhir yang bisa jadi bukan yang baik:

    1. Dalam thread yang bapak/romo/ibu tulis di sini disebutkan disarankan dan seharusnya tidak menyambut Tubuh darah kristus /Komuni selama belum mengaku dosa dahulu, namun saya telah seringkali menerima komuni walaupun telah berdosa berat dan setelah itu menerima sakramen tobat. Apakah saya berdosa berat kepada Roh Kudus, kehilangan rahmat keselamatan abadi Allah Bapa serta cinta kasih Tuhan atas kesalahan ttp menerima sakramen komuni walau telah berdosa berat dan belum menerima sakramen Tobat ? dan Bagaimana cara saya kembali mendapat rahmat keselamatan abadi Tuhan Yesus setelah saya salah dalam menerima sakramen Tobat?

    2. Saya seringkali jatuh dalam dosa berat kemurnian dan kayaknya yang saya takutkan menjadi kebiasaan walaupun telah berjanji lewat penitensi…..apakah saya dipulihkan dari dosa berat apalagi dalam thread ini disebutkan kalau hati kita bertambah keras hati apabila dosa telah menjadi kebiasaan dan akan banyak semakin terlarut dengan dosa2 lain yang lebih buruk ? karena saya takut ditinggalkan & tidak dianggap oleh Tuhan…

    3. Dosa2 berat saya masih menghantui saya apakah ini normal?

    4. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk memaafkan kesalahan sesama kita, berkaitan dengan penintensi dan tindakan nyata atas pengungkapan iman lewat perbuatan yaitu memaafkan kesalahan sesama kita namun Jika sesama kita tidak mau memaafkan kesalahan kita, walaupun kita telah memaafkan kesalahannya terhadap kita ….apakah ini berdampak pada hilangnya rahmat keselamatan saya yang telah diperoleh lewat sakaramen Tobat??

    Terima kasih + dan saya harapkan kesediaan romo/ibu/bapak untuk menjawab pertanyaan yg menghantui saya selama ini…

    • Shalom August,

      Terima kasih atas pertanyaan Anda. Kita harus waspada akan tipu muslihat si jahat, yaitu yang dapat membuat kita merasa tidak perduli dan juga dapat merasa senantiasa bersalah. Sebelum mengaku dosa, si jahat dapat saja mempengaruhi kita bahwa dosa yang kita buat tidaklah apa-apa dan semua orang melakukan, sehingga dapat menyeret kita kepada ketidakpedulian, suam-suam kuku dalam hal rohani, sampai akhirnya kita mengeraskan hati, yang membawa kepada kehancuran. Selanjutnya, setelah mengaku dosa, si jahat dapat juga mempengaruhi kita, sehingga kita merasa bersalah. Dia dapat mempengaruhi kita sampai akhirnya kita berputus asa, dengan cara meyakinkan kita bahwa setelah mengaku dosa, kita juga dapat berbuat dosa lagi dan kita tidak mempunyai kekuatan apapun untuk menolak dosa. Jadi, kita harus menghindari dua hal ekstrem ini, karena ketidakpedulian dan keputusasaan dapat membawa kepada kehancuran – yaitu kehilangan keselamatan kekal. Walaupun si jahat dapat mempengaruhi kita, namun kalau kita berdosa, maka sesungguhnya, kita sendiri berdosa, karena kita yang secara bebas mengikuti godaan tersebut. Menjawab situasi Anda, maka berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

      1. Dosa berat menghancurkan kasih dan merusak hubungan kita dengan Tuhan. Oleh karena itu, tidak selayaknya kita menerima komuni – yang adalah persatuan dengan Kristus – sebelum kita memperbaiki hubungan yang telah kita rusak. Cara memperbaikinya adalah dengan menerima Sakramen Tobat. Kalau sampai Anda belum mengakukan dosa berat yang dilakukan dan tetap menerima komuni, maka yang harus Anda lakukan adalah mengakukan dosa berat yang Anda lakukan dan pada saat yang bersamaan mengaku bahwa Anda telah menerima komuni dalam kondisi berdosa berat. Setelah pengakuan dosa yang dilakukan dengan penyesalan dan semangat pertobatan yang sungguh-sungguh, maka yakinlah bahwa Anda telah mendapatkan pengampunan dari Tuhan. Dari sini, Anda kemudian berniat untuk mengasihi Tuhan lebih daripada apapun di dunia ini, termasuk kesenangan diri kita sendiri. Dan bertekunlah senantiasa dalam doa, sakramen dan hidup menggereja.

      2. Kalau dosa telah menjadi kebiasaan, maka memang sering dibutuhkan waktu untuk memperbaikinya. Kalau setelah mengaku dosa dengan sungguh-sungguh, Anda masih melakukan dosa yang sama, maka tidak perlu berputus asa. Yang terpenting, pada waktu kita berbuat dosa, maka kita mengakukan dosa dan bangkit kembali dengan semangat yang baru. Kita menyadari bahwa kita memang makhluk ciptaan yang lemah, yang tidak mungkin hidup kudus tanpa rahmat Allah. Hal ini akan melatih kita dalam hal kerendahan hati. Cobalah mengaku dosa pada pastor yang sama, sehingga dia dapat memberikan penitensi dan nasehat secara lebih baik dan detail. Silakan membaca topik kemurnian di sini – silakan klik.

      3. Kalau dosa-dosa berat masih menghantui Anda walaupun Anda telah mengaku dosa dengan sungguh-sungguh, maka sesungguhnya tidaklah baik dalam perkembangan hidup spiritual. Yakinlah bahwa tidak ada dosa yang terlalu berat untuk diampuni oleh Kristus. Untuk dosa-dosa saya, dosa-dosa Andalah, maka Kristus merelakan diri-Nya menderita dan wafat, sehingga kita dapat memperoleh keselamatan. Jadi, buanglah perasaan bersalah dan gantilah dengan semangat bagaimana untuk membalas kasih Kristus, dengan cara mengasihi sesama kita.

      4. Dalam memaafkan, kita tidak dapat memaksa seseorang untuk memaafkan kita. Yang dapat kita lakukan adalah berdoa agar Tuhan sendiri melembutkan hatinya, serta berusaha agar orang tersebut dapat membuka pintu maaf bagi kita. Kita juga dapat belajar dari kejadian ini, agar di masa mendatang kita tidak menyakiti orang lain. Sebaliknya, memaafkan seseorang adalah bagian kita yang dapat kita lakukan dengan bantuan rahmat Allah. Jadi, kalau Anda telah memaafkan seseorang, maka Anda telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai umat Allah.

      Akhirnya, jangan berputus asa dalam proses pertobatan dan pertumbuhan. Kekudusan di dunia ini bukanlah satu kejadian, namun merupakan proses yang harus kita alami, yang diwarnai dengan jatuh bangun. Yang terpenting bangkit dan arahkan pandangan kita kepada Kristus dan kasih-Nya, sehingga kasih-Nya akan mengubah kita dan memberikan kekuatan kepada kita dalam perjuangan kita untuk hidup kudus. Mari kita bersama-sama terus berjuang dalam kekudusan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Shalom
    saya bersyukur sekali dapat mengenal situs ini karena ternyata sangat banyak hal yang tidak saya ketahui mengenai kebenaran Ajaran Katolik yang merupakan tulang punggung dan benteng kokoh dalam meneruskan kabar gembira keselamatan dan ajaran Kristus Tuhan kita…

    mengenai sakramen pengakuan dosa ada yang ingin saya tanyakan, mohon dibantu :
    1. Apakah bila seseorang pernah melakukan suatu dosa berat tapi tidak sempat menyampaikan pengakuan dosa itu saat melakukan pengakuan dosa (mungkin lupa pernah melakukan atau lupa menyampaikan), dosa berat itu tetap ada? bahkan bila dosa berat itu tidak sempat diakukan sampai ajalnya, apakah ia tidak diselamatkan? sebab hal ini mungkin saja terjadi pada seorang Katolik.
    2. Saya pernah mengaku dosa yang cukup berat dan telah diberikan panetensi oleh Pastor untuk melakukan suatu tindakan kasih, tetapi saya baru teringat ternyata saya tidak melakukan hal itu sampai sekarang (mungkin karena saat itu saya kurang fokus sehingga tidak memperhatikan ada perintah untuk melakukan hal tersebut dan saya hanya melakukan panetensi doanya saja). Apakah dengan begitu sakramen pengakuan dosa saya itu tidak sah?

    saya setelah mengenal situs ini seakan mendapat semangat baru untuk memperbaiki hidup saya dan ingin mendekatkan diri dengan Gereja. Saya memang telah mencintai Iman Katolik saya sebelumnya yang saya kenal dari teladan Ibu saya (sekarang sudah meninggal) yang sebelumnya Protestan lalu ikut Ayah saya menjadi Katolik dan juga diturunkan dari keluarga2 saya. Tetapi pemahaman Iman Katolik saya sangat dangkal, mungkin karena kurangnya sumber dan intensitas pengajaran mengenai itu di lingkungan saya bahkan dari Pastor kami dan saya juga telah menjalani hidup yang banyak tidak kudus dan melawan kasih.

    Saya berniat untuk membagikan artikel2 yang ada di Situs Katolisitas ini kepada umat di paroki kami (saya berada di daerah kepulauan perbatasan Indonesia) mungkin dengan membuat hard copy dari artikel2 ini (tanpa bayaran tentunya). Saya yakin Tim Katolisitas akan memahami maksud saya ini.
    Sekali lagi terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus dan kepada Tim Katolisitas
    Salam damai
    Arto

    • Shalom Arto,

      Terima kasih atas dukungan Anda untuk karya kerasulan ini. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan Anda. Menjadi kewajiban kita untuk mempersiapkan hati sebelum mengaku dosa, sehingga kita dapat mengaku dosa dengan baik, menyadari mana dosa berat dan mana dosa ringan yang kita lakukan. Kalau kita melakukan pengakuan dosa secara teratur  – misal 1 bulan sekali – maka sebenarnya tidak mungkin kita lupa mengakukan dosa berat. Yang terpenting adalah kita benar-benar melakukan pemeriksaan batin dengan sebaik-baiknya, sehingga kita dapat mengakukan semua dosa kita. Dan kalau sampai kita lupa mengakukan beberapa dosa – terutama dosa berat, maka secepatnya kita mengaku dosa kembali.

      Selain pengakuan dosa, dosa berat juga dapat diampuni dengan penyesalan sempurna (perfect contrition), yaitu sesal karena cinta atau dengan kata lain sesal bukan karena takut hukuman, namun sesal karena telah menyedihkan hati Tuhan. Dengan demikian, kalau sampai ajal ada orang yang belum mengakukan dosanya dalam Sakramen Tobat, namun menyesali semua dosa-dosa berat yang dilakukannya dengan sesal sempurna serta mempunyai niat untuk mengaku dosa secepatnya kepada pastor jika kondisi memungkinkan, maka kita percayakan orang tersebut pada belas kasih Allah, yang juga melihat penyesalan hati. Namun, menjadi kerinduan kita semua, agar sebelum meninggal kita dapat menerima viaticum (lih. KGK 1524-1525) dan juga Sakramen Perminyakan (lih. KGK 1511-1523).

      Kalau Anda lupa untuk melakukan penitensi, maka silakan mengaku dosa kembali dan mengatakan bahwa Anda lupa melakukan penitensi yang diberikan pada pengakuan dosa tersebut. Setelah itu, lakukan penitensi tersebut beserta dengan penitensi yang baru yang diberikan oleh pastor.

      Akhirnya, silakan juga memakai artikel dan tanya jawab di situs ini sejauh bukan untuk kepentingan komersial dan mencantumkan sumbernya yaitu: http://www.katolisitas.org, sehingga orang yang mau memberikan masukan dan bertanya lebih lanjut dapat menyampaikannya kepada kami.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. Syalom..
    dikatakan ada beberapa metode dalam pemeriksaan batin, yaitu berdasarkan 10 perintah Allah, nilai-nilai Kristiani, dan 8 sabda bahagia.. Bolehkah minta tolong dijelaskan tentang metode yg nilai-nilai kristiani dan 8 sabda bahagia? Terima kasih atas kesediaannya… Tuhan memberkati.. ^^

    [Dari Katolisitas: silakan membaca artikel berikut ini, silakan klik]

  9. Kepada Tim Katolisitas yang dikasihi Tuhan,
    Salam.

    Saya, Tyo, Seorang seminaris Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan ingin menanyakan hal – hal yang berkaitan dengan injil Lukas, yaitu:
    1. Saya diberi tugas untuk menafsirkan perumpamaan tentang anak yang hilang, salah satu perumpamaan yang katanya hanya satu – satunya dari keempat injil yang ada. Nah, mungkin apakah dari Tim katolisitas sendiri bisa memberikan beberapa hal yang bisa menjadi bahan untuk tafsiran perumpamaan tersebut?
    2. Lalu, mengapa perumpamaan tentang anak yang hilang itu tidak ada di Injil – injil yang lain? apa sebenarnya yang disasar oleh Lukas sendiri dengan menuliskan perumpamaan tersebut?

    Terima kasih atas kerjasamanya. Saya sangat menunggu jawaban dari tim katolisitas secepatnya.

    • Shalom Tyo,

      Terima kasih atas kesediaan anda untuk menjawab panggilan Tuhan menjadi seorang imam. Dan semoga masa persiapan di seminari dapat dijalankan dengan baik. Karena pertanyaan anda adalah untuk tugas, maka kami tidak dapat memberikan jawaban yang terlalu detil. Interpretasi tentang anak yang hilang dapat dilihat dalam artikel di atas – silakan klik. Salah satu interpretasi dari ayat tersebut adalah dengan melihat dua orang anak tersebut, sebagai Kerajaan Israel Utara sebagai anak yang bungsu dan Kerajaan Israel bagian Selatan sebagai anak yang sulung. Kita tahu bahwa Kerajaan Israel Utara dijajah dan kemudian menyembah berhala, namun kemudian mereka berbalik kepada Allah. (lih. Ezek 37:21-23; Hos 11:1-3, 11; Yer 31:18-20) Kalau mau diinterpretasikan lebih jauh, kita juga dapat melihat anak sulung sebagai umat Yahudi dan kemudian anak bungsu sebagai bangsa-bangsa non-Yahudi.

      Sedangkan pertanyaan mengapa hanya Injil Lukas yang memberikan cerita ini, mungkin anda dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut ini: Sebagai prinsip umum, kita harus melihat bahwa tidak menjadi masalah bahwa satu perikop hanya disebutkan di salah satu Injil, dua Injil maupun ke-empat Injil, karena semuanya adalah merupakan Sabda Allah. Kita melihat ada ada beberapa hal yang disebutkan di Lukas, namun tidak disebutkan di dalam Injil yang lain, seperti: orang Samaria yang baik, Anak yang hilang, Kabar gembira dari Malaikat Gabriel kepada Maria, Kanak-kanak Yesus di Bait Allah, serta beberapa doa yang begitu indah: Magnificate, Kidung Zakaria, Doa Simeon (Nunc Dimittis).

      Kalau kita mau meneliti lebih jauh, maka kita akan melihat bahwa Injil menurut Lukas mempunyai pesan “keselamatan untuk seluruh dunia, termasuk di luar bangsa Yahudi.” Kita melihat bahwa Simeon mengatakan bahwa Yesus adalah “Terang bagi bangsa-bangsa lain.”(Luk 2:32) Dengan pesan yang sama, maka perumpamaan anak yang hilang juga merupakan pesan bagi seluruh bangsa non-Yahudi, bahwa Allah Bapa-pun menunggu mereka dan membuka keselamatan bagi seluruh bangsa. Silakan mengembangkan topik ini lebih jauh lagi. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  10. Shalom,
    Saya mau bertanya, sebelum menerima komuni pertama, anak-anak calon penerima komuni pertama diwajibkan untuk mengaku dosa. Nah, pengakuan dosa anak-anak tersebut termasuk dalam general confession kah? Karena menurut saya, mereka adalah anak – anak yg masih polos dan biasanya kalau berdosa pun bukan dosa yang berat….
    Terima kasih sebelumnya.

    • Shalom Dewi,

      Sebelum menerima komuni pertama, maka sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mempersiapkan anaknya untuk mengaku dosa dengan baik. Mulailah dengan doa dan kemudian bercakap-cakap dengan anak tersebut tentang dosa yang pernah dilakukannya sejauh yang dia bisa ingat, seperti: egois tidak mau berbagi mainan dengan saudaranya, sikap kurang hormat terhadap guru dan orang tua, kurang mengasihi saudara, tidak menuruti perintah orang tua, malas, dll. Semakin anak dipersiapkan dengan baik untuk mengaku dosa, maka anak tersebut akan semakin tahu pikiran, perkataan dan perbuatan yang masuk dalam kategori dosa – baik dosa ringan maupun dosa berat. Pengakuan dosa yang pertama ini memang dapat dikatakan adalah general confession, karena mereka mengakukan semua dosa sejauh yang dapat mereka ingat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  11. Shalom,

    Saya ditanya sama seorang Protestan tentan pengakuan dosa dan saya agak bingung jawabnya. Pertanyaannya : apa salah dan dosa bagi umat Katolik kalo mengaku dosa langsung ke Tuhan saja (bukan melalui sakramen Pengakuan Dosa di hadapan Pastor)? atau di hadapan bukan Pastor, misalnya Suster atau Pendeta atau di hadapan banyak orang? Intinya apa hanya ada satu cara untuk mengaku dosa?

    (Saya sudah baca arsip artikel bagian pertama yang menerangkan mengapa Gereja menggunakan perantara saat mengaku dosa dan saya sudah terangkan mengenai para Pastor sebagai penerus murid2 Yesus..pertanyaan ini muncul setelah itu..ditambah, dengar dari beberapa orang, penerus murid Yesus yang mendapat karunia Roh Kudus hingga sekarang ini kan bukan hanya para Pastor..). Kalau mengaku dosa harus lewat Pastor, apa itu berarti semua yang Protestan berdosa karena tidak pernah mengaku dosa?

    Terima kasih banyak.

    [dari katolisitas: silakan membaca dulu artikel Sakramen Pengakuan Dosa - bagian 2 - silakan klik]

    • Shalom,

      Saya sudah baca, dan apakah kutipan ini “Dengan ini, maka dapat disimpulkan bahwa mengaku dosa bukan hanya kepada Allah, namun juga melalui perantara yang ditunjuk oleh Allah, seperti Rasul Paulus, Rasul Yakobus, dll.” berarti mengaku dosa tidak harus dengan satu cara (kepada perantara / para Pastor)?

      Terima kasih banyak,

      • Shalom Ucha,

        Tentang pengampunan dosa terdapat tiga kebenaran yang saling berhubungan:

        1. Sesungguhnya memang hanya Allah-lah yang dapat mengampuni dosa manusia. Oleh karena itu, ketika Yesus menyembuhkan orang sambil berkata, “Dosamu sudah diampuni” (Mat 9:2; Luk5:20), itu membuat gusar orang- orang Farisi/ ahli Taurat, karena dengan demikian Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah Allah.

        2. Walaupun hanya Allah-lah yang berkuasa mengampuni dosa, namun Allah memberikan kuasa mengampuni dosa ini kepada para rasul (lih. Yoh 20: 21-23).

        3. Karena penyertaan Allah (termasuk rahmat pengampunan-Nya) ini diberikan Allah kepada manusia sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20), maka kuasa mengampuni dosa ini juga diberikan kepada para penerus rasul, yaitu para imam-Nya.

        Dengan pemahaman ini, maka jika kita sungguh-sungguh bertobat dan ingin memperoleh rahmat pengampunan dosa, sebagaimana dikehendaki oleh Allah, maka kita mengaku dosa kepada Allah di hadapan imam-Nya – yaitu di dalam sakramen Pengakuan Dosa. Tentu kita dapat mengaku dosa secara langsung kepada Allah dalam doa-doa pribadi kita, tetapi jika kita ingin melaksanakan kehendak Tuhan sepenuhnya tentang pengakuan dosa, maka selayaknya kita mengakui dosa-dosa kita di hadapan imam-Nya. Hal ini mensyaratkan kerendahan hati, dan kemungkinan hal kerendahan hati inilah yang sangat dikehendaki Allah, sebelum kita dapat memperoleh rahmat pengampunan-Nya, dan kekuatan untuk menolak dosa yang sama ini di kemudian hari. Sebab pada dasarnya, dosa terjadi sebagai akibat kesombongan kita, untuk menentukan sendiri dan melakukan apa yang kita kehendaki -bukan apa yang Allah kehendaki. Sehingga untuk menyembuhkannya diperlukan kebajikan lawannya, yaitu kerendahan hati yang membuat kita bersedia untuk melakukan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak Allah, termasuk mengaku dosa di hadapan imam-Nya.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. shalom,
    saya ingin bertanya, saat saya pengakuan dosa, saya suka merasa agak gugup dan jadi seperti blank. sehingga saya menjadi lupa, dan dosa yang saya ungkapkan tidak semuanya terungkapkan di depan pastor, seperti yang telah saya persiapkan sebelumnya.
    apa yang harus saya lakukan?
    apa hanya dosa yang diungkapkan saja saat pengakuan, yang diampuni?
    semoga pertanyaannya bisa dimengerti.. hehe
    terimakasih :) Tuhan Yesus memberkati

    • Shalom Maria,
      Untuk menghindari rasa gugup/ ‘blank’ saat mengaku dosa, silakan menuliskan point-point dosa Anda pada secarik kertas, sebelum masuk ke dalam bilik Pengakuan Dosa. Anda dapat melakukannya pada saat pemeriksaan batin, dan mohonlah kepada Roh Kudus untuk membantu Anda mengingat kembali dosa- dosa Anda yang pernah Anda lakukan sejak Pengakuan Dosa Anda yang terakhir sebelum ini. Jika waktu itu ada dosa yang terlewat/ lupa Anda sebut pada Pengakuan yang terdahulu, silakan Anda sebutkan kali ini.
      Sebenarnya Sakramen Pengakuan Dosa diadakan untuk kepentingan kita, yaitu agar kita dapat disembuhkan dari penyakit rohani kita, yaitu dosa- dosa kita. Seperti halnya jika kita ke dokter jasmani, maka kitapun menyebutkan penyakit kita secara spesifik, lalu dokter memberi obat/ perawatan terhadap penyakit itu. Demikian pula pada saat kita mengaku dosa kepada Tuhan di hadapan imam-Nya. Jika Anda lupa menyebutkan dosa tertentu pada saat mengaku dosa di hadapan imam, padahal dosa tersebut adalah dosa berat, maka silakan datang kembali mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa; silakan melihat jadwal pengakuan dosa di paroki; sebab umumnya pada masa biasa dibuka kesempatan mengaku dosa minimal seminggu sekali, bahkan di paroki-paroki tertentu setiap hari, terutama pada masa menjelang Paska dan Natal. Namun jika itu dosa ringan, Anda dapat mengakukannya secara pribadi dan dosa tersebut dapat dihapuskan dalam Sakramen Ekaristi. Untuk mengetahui apakah itu dosa berat atau dosa ringan, silakan membaca di sini, silakan klik; sedangkan untuk langkah- langkah pemeriksaan batin, klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas

  13. Yth. Katolisitas

    saya seorang katolik sejak kecil namun baru sekitar 2,3 tahun ini saya mendapat pencerahan sehingga saya mulai sedikit demi sedikit memperdalam iman dan pengetahuan saya tentang katolik,salah satunya lewat katolisitas.selama saya katolik “KTP” saya belum pernah melakukan pengakuan dosa di hadapan imam.saya banyak melakukan dosa berat bahkan hampir melepas iman katolik saya karena ajakan teman lain agama dan karena kurangnya pengetahuan saya tentang katolik dan juga karena banyaknya agama yang mengganggap agama mereka yang paling benar ato karena umumnya opini masyarakat yang mengatakan klo semua agama sama.untungnya hal tersbt tdk terjadi.saat mau mengaku dosa saya menyebutkan dosa saya sebelumnya ato dosa yang terakhir diucapkan di hadapan imam.saya tidak ingat dosa terakhir yang saya sebutkan karena saya terakhir mengaku dosa saat sakramen krisma,sekitar 15 tahun yang lalu.apakah bagian tersebut bisa saya skip ato apa yang harus saya lakukan?
    terima kasih atas dijawabnya pertanyaan saya.

    • Shalom Desy,

      St. Fransiskus dari Sales menganjurkan kepada semua orang yang sungguh ingin memulai kehidupan rohani dengan lebih baik, untuk memulainya dengan mengadakan Pengakuan Dosa menyeluruh (general confession), tentu didahului oleh pemeriksaan batin yang baik, seperti yang sudah diuraikan di artikel di atas. Akuilah segala dosa- dosa sejak masa kecil (sejauh yang masih dapat diingat) sampai pada saat ini. Maka, jika anda belum pernah melakukan hal ini, silakan anda lakukan. Selanjutnya, buatlah komitmen untuk lebih serius dalam kehidupan rohani anda, dengan menyediakan waktu untuk berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci serta menerima sakramen- sakramen, terutama Ekaristi dan Pengakuan Dosa. Usahakanlah untuk mengikuti Ekaristi lebih dari sekali seminggu (jika memungkinkan setiap hari) dan rutin mengaku dosa, misalnya sebulan sekali, usahakanlah mengaku dosa kepada satu pastor yang sama, yaitu bapa pengakuan/ spiritual director anda. Dengan demikian, anda dapat dibantu untuk keluar dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan anda, dan anda dapat terdorong untuk memperbaikinya. Selanjutnya, teruslah menimba pengetahuan tentang iman Katolik, agar anda semakin menghayatinya dan dapat bertumbuh di dalamnya. Bergabunglah juga dalam komunitas umat beriman di paroki anda, agar anda dapat berbagi dan menerima, saling membangun di dalam Gereja.

      Mari bersama melakukan bagian kita untuk bekerjasama dengan rahmat Allah yang kita terima melalui Gereja Katolik, agar kehidupan kita dapat turut memancarkan terang kemuliaan Tuhan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  14. Budi Darmawan Kusumo on

    Syalom Tim Katolisitas,

    Saya ingin bertanya tentang tobat. Sebelum mengikuti Misa di dalam liturginya ada SERUAN TOBAT yang isinya, “saya mengaku…..”. Nah yang menjadi pertanyaan saya :

    1.Apakah seruan tobat ini sama dengan Sakramen Tobat ? kalau beda, bedanya apa ?
    2.Apa betul gunanya seruan tobat ini adalah untuk menghapus dosa – dosa ringan kita sehingga kita layak menerima tubuh kristus ? kalau betul, apa bedanya dengan Sakramen Tobat yang juga bisa menghapus dosa baik berat maupun ringan ?

    Tuhan Yesus memberkati & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA.

    • Shalom Budi,
      1. Seruan Tobat pada awal misa tidak sama dengan Sakramen Tobat.
      2. Jika seseorang masih dalam keadaan berdosa berat ia harus mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa.
      3. Silakan anda baca KGK

      KGK 1394 Seperti halnya makanan jasmani perlu untuk mengembalikan lagi kekuatan yang sudah terpakai, demikianlah Ekaristi memperkuat cinta yang terancam menjadi lumpuh dalam kehidupan sehari-hari. Cinta yang dihidupkan kembali ini menghapus dosa ringan (Bdk. Konsili Trente: DS 1638). Kalau Kristus menyerahkan Diri kepada kita, Ia menghidupkan cinta kita dan memberi kita kekuatan, supaya memutuskan hubungan dengan kecenderungan yang tidak teratur kepada makhluk-makhluk dan membuat kita berakar di dalam Dia.
      “Karena Kristus telah wafat untuk kita karena cinta, maka setiap kali kita merayakan peringatan akan kematian-Nya, kita mohon pada saat persembahan, agar cinta itu diberi kepada kita oleh kedatangan Roh Kudus. Kita mohon dengan rendah hati, supaya berkat cinta, yang dengannya Kristus rela wafat untuk kita, kita pun setelah menerima rahmat Roh Kudus, memandang dunia sebagai disalibkan untuk kita dan kita sebagai disalibkan untuk dunia…. Marilah kita, karena kita telah menerima cinta itu secara cuma-cuma, mati untuk dosa dan hidup untuk Allah” (Fulgensius dari Ruspe, Fab. 28,16-19).

      Jadi perayaan Ekaristi, sejak dari seruan tobat di awal misa sampai penerimaan Ekaristi di akhir misa secara keseluruhan menghapuskan dosa- dosa ringan. Tetapi untuk dosa berat, pengampunannya melalui Sakramen Pengakuan Dosa. Ini jelas disebut dalam KGK 1385

      KGK 1385 Untuk menjawab undangan ini, kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang begitu agung dan kudus. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan pemeriksaan batin: “barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1 Kor 11:27-29) Siapa yang sadar akan sebuah dosa besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  15. Shalom katolisitas.org

    Belum lama ini, saya mendapatkan pertanyaan dari seseorang mengenai hal berikut, yang dikutip dari “Duties and Dignities of the Priest” St. Alphonsus Ligouri:

    Sehubungan dengan tubuh mistik Kristus, yaitu segenap umat beriman, imam memiliki kuasa kunci, atau kuasa untuk membebaskan para pendosa dari neraka, membuat para pendosa layak akan Firdaus, dan mengubah para pendosa dari budak setan menjadi anak-anak Allah. Dan Tuhan Sendiri wajib tunduk pada penghakiman para imam-Nya, baik mengampuni atau tidak mengampuni dosa, sesuai dengan apakah imam menolak atau memberikan absolusi, dengan mengandaikan si peniten layak untuk itu. “Begitulah kuasa penghakiman yang diserahkan kepada Petrus,” kata St Maximus dari Turin, “bahwa keputusan tersebut membawa serta dengannya keputusan Allah.”
    (kutipan dari yesaya[dot]indocell[dot]net/id1042[dot]htm)

    Saya pun jadi ingin bertanya, apakah ada kejanggalan dalam teks St. Ligouri itu? Bagaimana menjelaskan ini?

    Terima Kasih. Tuhan memberkati.

    • Shalom Yohanes,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang tulisan dari St. Alphonsus Liguori dalam “The dignity and duties of the Priest” yang dapat dilihat di sini – silakan klik. Dan di bagian III – Grandeur of the Priestly Power dikatakan:

      With regard to the mystic body of Christ, that is, all the faithful, the priest has the power of the keys, or the power of delivering sinners from Hell, of making them worthy of Paradise, and of changing them from the slaves of Satan into the children of God. And God Himself is obliged to abide by the judgment of His priests, and either not to pardon or to pardon, according as they refuse or give absolution, provided the penitent is capable of it. “Such is,” says St. Maximus of Turin, “this judiciary power ascribed to Peter that its decision carries with it the decision of God.” The sentence of the priest precedes, and God subscribes to it, writes St. Peter Damian. Hence, St John Chrysostom thus concludes: The sovereign Master of the universe only follows the servant by confirming in Heaven all that the latter decides upon earth.” Priests are the dispensers of the Divine graces and the companions of God.” Consider the priests,” says St. Ignatius, Martyr, “as the dispensers of Divine graces and the associates of God.” “They are,” says St. Prosper, “the glory and the immovable columns of the Church; thay are the doors of the eternal city; through them all reach Christ; they are the vigilant guardians to whom the Lord has confided the keys of the kingdom of Heaven; they are the stewards of the king’s house, to assign to each according to His good pleasure His place in the hierarchy.”

      Sebenarnya, tulisan ini hanyalah merupakan manifestasi dari Sakramen Pengampunan Dosa. Anda dapat membaca tentang Sakramen Tobat di sini – bagian 1, 2, 3, 4. Sakramen Tobat adalah merupakan manifestasi dari perintah Kristus yang diberikanNya di Mt 16:19 “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” dan Yoh 20:23 “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Dengan demikian, kita melihat bahwa kekuasaaan untuk mengampuni yang diberikan kepada Petrus dan penerusnya (Paus) dan kepada para murid dan penerusnya (para uskup yang dibantu oleh para imam) adalah berasal dari Kristus sendiri. Tanpa kekuasaan yang diberikan oleh Kristus, maka para imam tidak dapat melakukan apapun. Namun, karena Kristus sendiri yang telah memberikan kuasa kepada para imam, maka sebagai umat Allah kita harus mentaatinya. Bahkan kita harus bersyukur, karena melalui para imam – yang bertindak sebagai Kristus (in persona Christi) – maka rahmat Allah dapat tercurah kepada umat Allah dengan cara yang begitu istimewa dan pada saat yang bersamaan, umat Allah mendapatkan kepastian rahmat itu dari sakramen-sakramen. Mari, kita bersama-sama bersyukur atas 7 sakramen yang diberikan oleh Kristus sendiri.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Shalom katolisitas.org,

        Terima kasih atas jawaban anda sebelumnya.
        Namun, yang menjadi penekanan tersendiri oleh penanya, adalah mengapa Tuhan bisa sampai “wajib tunduk” atau “to be obliged to abide” kepada keputusan manusia (imam) mengenai pengampunan dosa ini?

        Saya sendiri secara pribadi cukup memahami bagaimana seorang imam memiliki kuasa mengampuni itu, namun apakah keputusannya tidak dibawah kehendak Allah, yang membuat St. Alphonsus Liguori mengatakan bahwa Allah-pun wajib tunduk akan keputusan imam-Nya?

        Terima kasih, dan
        Tuhan memberkati.

        • Shalom Yohanes,

          Mengapa Tuhan sampai tunduk kepada keputusan imam? Karena Kristus sendiri telah memberikan kuasa kepada para imam. Kalau Kristus memberikan kuasa, maka Dia serius dengan kuasa yang dilimpahkan kepada para imam dan tidak setengah-setengah. Kalau Dia tidak serius dengan kuasa yang diberikan, mengapa Dia mengatakan apa yang diikat di dunia akan terikat di Sorga dan apa yang dilepaskan di dunia ini akan dilepaskan di Sorga? Inilah sebabnya, dalam kapasitasnya, para imam bertindak sebagai Kristus (in persona Christi), sehingga para imam – melalui sakramen-sakramen – dapat menyalurkan rahmat Allah kepada umat Allah. Kuncinya adalah para imam bertindak sebagai Kristus, bukan di atas Kristus. Tindakan ini adalah merupakan manifestasi dari kekuasaan yang diberikan oleh Kristus. Semoga dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • Shalom katolisitas.org,

            Terima kasih banyak atas jawabannya.
            Sekarang saya sudah cukup mengerti mengenai posisi imam dalam sebuah pengampunan dosa. Namun yang masih menjadi pertanyaan saya, mengapa digunakan pemahaman “Allah wajib tunduk” yang menunjukkan bahwa keputusan imam di atas Allah? Yang secara logika [saya probadi secara subjektif] bahwa Pencipta tidak mungkin tunduk kepada ciptaan. Bagaimana menjelaskan ini?

            Terima kasih, dan
            Tuhan memberkati.

            • Shalom Yohanes,

              Perkataan “Allah wajib tunduk kepada kebijakan imam- imamNya / God Himself is obliged to abide by the judgment of His priests” tidak dapat dilepaskan daari konteks yang sedang dibicarakan. Sebab yang dimaksud di sini adalah kebijakan/ penilaian akan sesuatu itu adalah dosa yang dapat diampuni atau tidak, atas dasar ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja, yang menerapkan ketentuan yang berasal dari Tuhan sendiri. Sehingga di sini memang kata ‘tunduk’ bukan semata- mata Tuhan tunduk terhadap kehendak manusia yang terlepas dari kehendak Tuhan; tetapi karena Tuhan tidak dapat menyangkal kehendak-Nya sendiri, seperti yang telah ditetapkan-Nya bagi Gereja-Nya. Sebab Kristus telah memberikan kuasa kepada para rasul dan para penerus mereka untuk “mengikat dan melepaskan” (Mat 16:19; 18:18) dalam hal ini adalah untuk menentukan pengajaran tentang iman dan moral, yaitu menentukan sesuatu sebagai dosa atau tidak, dan dalam hal pengampunan dosa, berdasarkan ketentuan dari Tuhan yang diajarkan oleh Gereja-Nya. Jadi di sini konteksnya keputusan imam itu tidak mungkin berada di atas kehendak Allah, karena biar bagaimanapun imam itu hanya melaksanakan kehendak Allah, dan menilai segala sesuatunya berdasarkan ketentuan dari Allah sendiri. Katekismus mengajarkan:

              KGK 1461    Karena Kristus telah percayakan pelayanan perdamaian kepada Rasul-rasul-Nya (Bdk. Yoh 20:23; 2 Kor 5:18), maka pengganti-penggantinya, para Uskup dan rekan kerja mereka, para imam, terus melaksanakan pelayanan ini. Para Uskup dan imam telah menerima wewenang, berkat Sakramen Tahbisan, untuk mengampuni segala dosa atas nama Bapa dan Putera, dan Roh Kudus”.

              KGK 1463    Dosa tertentu yang sangat berat dihukum dengan ekskomunikasi, hukuman Gereja terberat. Ia [dosa berat] melarang penerimaan Sakramen-sakramen dan pelaksanaan kegiatan Gereja tertentu. Karena itu pengampunannya, sesuai dengan hukum Gereja, hanya dapat diberikan oleh Paus, Uskup setempat atau oleh seorang imam yang diberi kuasa untuk itu (Bdk. CIC, cann. l331; 1354-1357; CCEO, cann. 1431; 1434; 1420). Namun dalam keadaan bahaya kematian, setiap imam, juga apabila ia tidak memiliki wewenang untuk memberi Pengakuan, dapat mengampuni setiap dosa (Bdk. CIC, can. 976; CCEO, can. 725. dan setiap ekskomunikasi).

              KGK 1465    Kalau imam menerimakan Sakramen Pengakuan, ia memberi pelayanan gembala yang baik, yang mencari domba yang hilang; pelayanan orang Samaria yang baik, yang membalut luka-luka; pelayanan sang bapa, yang menantikan anak yang hilang dan menerimanya dengan penuh kasih sayang setelah ia kembali; pelayanan hakim yang benar, yang tanpa memandang bulu menjatuhkan keputusan yang sekaligus benar dan rahim. Pendeknya, imam adalah tanda dan alat cinta Allah yang penuh belas kasihan kepada orang berdosa.

              KGK 1466    Bapa Pengakuan bukan tuan, melainkan pelayan pengampunan Allah. Pelayan Sakramen ini harus mempersatukan diri dengan niat dan cinta Kristus (Bdk. PO 13). Ia harus mengetahui dengan pasti, bagaimana seorang Kristen harus hidup, ia harus mempunyai pengalaman dalam masalah-masalah manusiawi dan harus menghormati orang yang telah jatuh dan memegang teguh tugas Gereja untuk mengajar dan harus membimbing peniten dengan sabar menuju penyembuhan dan kematangan penuh. Ia [imam] harus berdoa untuk dia [peniten] dan membuat silih dan menyerahkan dia kepada kerahiman Allah.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Romo Yohanes Indrakusuma O Carm pernah mengatakan dalam rekamannya mengenai Ekaristi: “Karena janji-Nya, dan hanya oleh karena janji-Nya itu, maka Yesus tak pernah menolak jika imam membuat ekaristi,. maka Dia hadir dalam Ekaristi, tak peduli betapa imamnya kurang persiapan. Memang sebaiknya imamnya harus persiapan. Juga dalam sakramen-sakramen yang lain. Itu karena janjiNya sendiri, dan Dia tak pernah ingkar janji”. Demikianlah tambahan informasi dari yg pernah saya dengar. Terima kasih. Salam saya: Isa Inigo.

            [Dari Katolisitas: Pernyataan ini benar. Selanjutnya dapat juga dibaca di sini, silakan klik, tentang apakah Misa yang dipersembahkan oleh imam yang berdosa/ jahat tetap adalah Misa yang sah]

  16. Paulus Wahyudi on

    Salam Damai.
    Terima kasih, saya sangat terbantu dengan ulasan ini.
    Namun ada beberapa pertanyaan:
    1. Untuk Pengakuan pribadi, di luar Masa Adven atau Masa Prapaskah. Bagaimanakah membuat janji untuk Pengakuan kepada pastor? Apakah ada aturannya? Apakah membuat janji terlebih dahulu adalah keharusan?
    2. Apakah sebelum Misa, kita dapat mengajukan permohonan untuk Pengakuan pribadi? Setiap Pastor akankah melayaninya? Kadang kala, kita terbentur dengan jadwal Pastor yang padat. Atau waktu kita yang tidak pas.
    3. Di beberapa kali Pengakuan di Masa Adven atau Masa Prapaskah, oleh karena jumlah umat yang banyak dan Pastor yang melayani terbatas, maka ada kesan Pastor menghendaki agar proses Pengakuan berlangsung cepat dan ringkas. Saya merasa kurang puas dan khidmat karena situasi ini. Apakah ini hanya kesan Saya saja?

    Terima kasih.
    Berkah Dalem.

    • Shalom Paulus Wahyudi,

      Terima kasih atas pertanyannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan. Untuk pengakuan dosa di luar masa adven maupun masa prapaskah, biasanya setiap paroki mempunyai jadwal pengakuan dosa. Silakan bertanya kepada administrasi paroki. Cara yang paling baik adalah kalau Romo berada di kamar pengakuan dosa setengah jam sebelum misa harian maupun misa mingguan, sehingga setiap saat, umat yang membutuhkan pengakuan dosa dapat mengaku dosa. Namun, kalau ini tidak ada dan tidak ada jadwal tetap pengakuan dosa, maka setiap umat berhak untuk menghubungi pastor dan mendapatkan Sakramen Pengakuan Dosa. Kalau ada misa harian, maka biasanya setelah misa, pastor mempunyai waktu untuk menerimakan pengakuan dosa. Intinya, jangan sampai karena kesibukan pastor, maka umat tidak dapat mengakukan dosanya, karena Sakramen Pengakuan Dosa adalah merupakan sakramen yang begitu penting untuk pertumbuhan spiritualitas kita. Seharusnya kita mengaku dosa minimal sebulan sekali, sehingga kita akan semakin peka terhadap dosa-dosa yang kita perbuat serta mendapatkan kekuatan untuk dapat menolak dosa.

      Memang, karena banyak yang mengaku dosa pada masa prapaskah dan adven, maka pastor mempunyai keterbatasan waktu agar orang-orang yang mau mengaku dosa dapat mengakukan dosanya. Akibatnya, dapat saja terjadi pengakuan dosa menjadi terburu-buru, meskipun tidak seharusnya demikian. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama mengakukan dosa kita secara teratur dan bukan hanya pada masa adven atau prapaskah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      TAMBAHAN DARI ROMO WANTA:

      Paulus Yth

      Tiap paroki memiliki kebiasaan sebagai ketentuan untuk penerimaan sakramen pengakuan dosa, Silakan anda datang di luar jam misa mingguan meminta rama paroki atau rekan rama paroki untuk bisa meluangkan waktu memberikan sakramen rekonsiliasi pengakuan dosa. Pasti dilayani. Jika tidak dilayani anda bisa ke Pastoran Unio Indonesia Jalan Kramat VII no 10 Jakpus. Ada banyak rama yang bisa melayani anda. tidak benar pengakuan secara cepat dan ringkas, tidak boleh terjadi hal itu. Penerimaan sakramen pengakuan dosa diberi waktu yang cukup dan kapan saja bisa anda mintakan pada pastor paroki atau rekan. Saya yakin mereka melayani anda dengan baik.

      salam
      Rm wanta

  17. Shalom…
    Saya pernah membaca, kalau dosa yg dilakukan sebelum kita dibaptis, otomatis akan dihapus setelah dibaptis, ibaratnya kita membuka lembaran baru.
    Apakah betul seperti itu, dan apakah dosa2 tersebut perlu kita sebutkan lagi setelah dibaptis?
    Terima kasih.

    • Shalom Cecil,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Sakramen Baptis memberikan begitu banyak karunia dan jalan untuk menuju keselamatan. Silakan melihat konsep tentang Sakramen Baptis di sini – silakan klik. Kalau anda mau melihat diskusi panjang tentang hal ini, silakan membacanya di sini – silakan klik. Salah satu rahmat dari Sakramen Baptis adalah dosa adal dihapuskan dan dosa-dosa pribadi yang dilakukan sebelum dibaptis juga dihapuskan. Dengan demikian, anda tidak perlu untuk mengakukan dosa-dosa sebelum dibaptis, karena dosa-dosa tersebut telah diampuni. Namun, kalau anda masih terganggu oleh dosa-dosa tersebut, silakan datang kepada pastor dan ceritakan kesulitan anda. Yang penting sekarang adalah menatap masa depan, dan mengikuti apa yang dikatakan oleh rasul Paulus “13 aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Fil 3:13-14). Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  18. theresia t. on

    salam damai Kristus,
    saya mau tanya apakah boleh mengcopy tanya-jawab yg ada di sini untuk diposting di facebook (khususnya saya tertarik berbagi soal pengakuan dosa) karena banyak orang katolik kurang menyadari pentingnya sakramen tobat dan menganggap sakramen tobat tidak penting.
    terimakasih. berkat Tuhan

    • Shalom Theresia T,
      Ya, silakan anda meng-copy tanya jawab di sini di facebook anda, asalkan anda sebutkan sumbernya, dari katolisitas.org. Harapannya agar jika ada yang mau bertanya atau menyampaikan masukan, dapat menghubungi kami.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid & Stef- katolisitas.org

  19. apakah berciuman dengan pacar itu dosa…?? karena di jaman sekarang banyak sekali remaja tanpa status perkawinan melakukan hal tersebut, termasuk saya… terimakasih atas penjelasannya … berkah dalem..

    • Shalom Danang,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang apakah berciuman dengan pacar adalah suatu dosa. Secara prinsip, kita harus mengerti bahwa tindakan seksualitas – termasuk melakukan rangsangan seksualitas – harus dilakukan dalam konteks perkawinan, karena tindakan seksual bukanlah hanya untuk meningkatkan keintiman hubungan suami istri, namun juga harus terbuka terhadap kelahiran. Oleh karena itu, kalau kita terapkan prinsip ini, maka semua tindakan dalam masa persiapan perkawinan yang dapat memberikan rangsangan seksual harus dihindari. Dengan demikian, maka ciuman yang dapat menimbulkan rangsangan seksual jangalah dilakukan, karena dapat meningkat kepada tindakan-tindakan lebih lanjut yang tidak dapat dibenarkan. Namun, ciuman untuk mengungkapkan kasih tentu saja dapat dibenarkan. Semoga prinsip umum ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  20. shallom kepada semua..
    saya larry dari malaysia..saya sungguh tertarik membaca tentang Sakramen Pengakuan dosa ini..saya seorang yang telah banyak melakukan dosa..saya ingin sekali mengikuti Sakramen Pengakuan Dosa ini..saya bukan seorang katolik.. bolehkah seseorang yang bukan katolik mengikuti Sakramen Pengakuan dosa?
    trima kasih ya…

    • Shalom Larry,

      Terima kasih atas kunjungannya. Kita semua adalah orang yang berdosa. Dan kesadaran bahwa kita adalah orang berdosa merupakan suatu rahmat Roh Kudus, karena Roh Kudus sendirilah yang menyingkapkan dosa-dosa kita. Namun, kenyataan ini tidak membuat kita berputus asa, karena menyadari bahwa Tuhan begitu mengasihi umat-Nya, sehingga Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk membebaskan manusia dari ikatan dosa. Dalam kebijaksanaan dan rencana-Nya, Yesus sendiri telah memberikan Sakramen Tobat kepada umat Allah, sehingga kita dapat mengakukan dosa dan mendapatkan pengampunan.

      Namun, Sakramen Tobat adalah merupakan suatu Sakramen bagi umat dari Gereja Katolik, yang dapat diterima kalau orang tersebut telah dibaptis dan berada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik. Kalau anda ingin melakukan pengakuan dosa kepada pastor, maka anda dapat memintanya kepada pastor di paroki terdekat. Namun, pengakuan dosa ini bukan merupakan suatu sakramen namun sebagai suatu konsultasi.

      Kalau suatu saat Larry masuk ke dalam Gereja Katolik, maka anda dapat menerima Sakramen Tobat dan sakramen-sakramen lain, seperti Ekaristi, Penguatan, Perminyakan, dll. Silakan melihat beberapa artikel tentang sakramen:

      Liturgi tak perpisahkan dengan sakramen. Ada 7 sakramen dalam Gereja Katolik. Dari tujuh sakramen Gereja, 3 yang pertama – Baptis, Ekaristi (1, 2, 3, 4), Penguatan – adalah sakramen inisiasi yang menjadi sakramen-sakramen dasar bagi kehidupan orang Kristen. Sakramen Urapan Orang Sakit dan Sakramen Tobat (bagian 1, 2, 3, 4), diberikan untuk kesembuhan baik fisik maupun rohani. Dan akhirnya, Sakramen Perkawinan (bagian 1, 2) dan Imamat diberikan untuk menguatkan kita dalam menjalankan misi di dunia ini dalam mencapai tujuan akhir, yaitu Kristus.

      Dan silakan juga membaca artikel tentang Gereja Katolik di sini – silakan klik.

      Kalau masih ada pertanyaan tentang iman Katolik, silakan menyampaikannya kepada kami, dan kami akan menjawab semampu kami. Tuhan memberkati anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply