Saksi Yehuwa bukanlah saksi Kristus

172

Pendahuluan

Ketika, saya tinggal di Jakarta, suatu hari saya mendengar ketukan pintu rumah. Dan ternyata yang datang berkunjung adalah dua orang wanita, yang tersenyum ramah, serta mengatakan ingin bersaksi tentang kebaikan Allah. Tentu saja saya menyambut baik kedatangan mereka. Mereka memperkenalkan diri mereka, bahwa mereka adalah anggota Saksi Yehova. Dan seperti biasa yang pernah saya dengar, mereka mulai mempertanyakan keadaan dunia ini yang terlihat menyedihkan dengan begitu banyak penderitaan dan kejahatan. Mereka telah mempersiapkan brosur yang berisi kegiatan dan pengajaran dari Saksi Yehovah, termasuk mendiskusikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Ini sungguh menyedihkan, namun di dalam hati, saya sungguh memuji kesungguhan hati mereka untuk mewartakan ajaran-ajaran yang dipercaya oleh kelompok Saksi Yehovah ini. Di sisi yang lain, saya merasa bahwa pewartaan yang tidak mewartakan kebenaran secara penuh, atau malah bertentangan dengan kebenaran, bukanlah pewartaan Kabar Gembira yang sejati. Mewartakan dimensi manusia dari Kristus tanpa mewartakan dimensi Ilahi-Nya adalah tidak lengkap dan bertentangan dengan kebenaran. Hal ini juga diperparah dengan ajaran lain yang menyimpang dari akal budi, prinsip keadilan, dan Alkitab, seperti ajaran tentang: tujuan akhir manusia, konsep antropologi yang salah, dll. Dalam tulisan ini, kita akan melihat sejarah berdirinya sekte ini, pengajaran mereka, dan memaparkan bahwa beberapa prinsip ajaran mereka adalah tidak benar.

Tentang Saksi Yehova

Pada tahun 1872, Charles Taze Russell (1852-1916) mendirikan satu sekte yang dinamakan Saksi Yehova atau Saksi Yehuwa (Jehovah’s witnesses). Charles T. Russell mempunyai latar belakang aliran Protestan (Congregationalism), dan kemudian dia mengikuti aliran Adventisme (Adventism), sebelum akhirnya mendirikan the Watchtower Bible and Tract Society, yang mengontrol perkembangan dan pengajaran dari Saksi Yehova, yang berpusat di Brooklyn, USA. Dari latar belakang ini, maka dapat dimengerti kalau beberapa doktrin yang dianutnya adalah dari Protestan dan juga dari Adventisme.[1] Beberapa doktrin Protestan yang dianut oleh Saksi Yehova adalah: penolakan terhadap beberapa pengajaran Katolik, seperti Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat, Api Penyucian, Perantaraan Para Kudus, dll. Silakan melihat beberapa artikel bagaimana mempertanggung-jawabkan iman Katolik di topik apologetik (silakan klik) dan di beberapa artikel dan arsip tanya jawab apologetik Kristen (silakan klik). Pengaruh dari Adventisme  dapat terlihat dari beberapa ajaran Saksi Yehuwa, seperti akhir jaman, Roh Kudus bukan pribadi, Yesus bukan Tuhan namun Malaikat Mikael – yang lebih rendah dari Allah, dll. Mari sekarang kita membahas beberapa pengajaran pokok dari Saksi Yehuwa yang sebenarnya bertentangan dengan Kitab Suci, akal budi, dan prinsip keadilan.

  1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.
  2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menempatkan Pencipta menjadi ciptaan.
  3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.
  4. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.
  5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.
  6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.
  7. Pengajaran bahwa tidak ada neraka yang kekal menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.

Salah satu pengajaran dari Saksi Yehuwa yang sungguh berbeda dibandingkan dengan pengajaran agama Kristen adalah mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Bagi mereka Tuhan adalah Yehuwa, dan bukan Trinitas – Satu Tuhan dalam tiga pribadi. Kalau ditelusuri, sebenarnya ajaran ini telah diajarkan oleh Arius, yang pada tahun 318 mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Dan para Bapa Gereja akhirnya dapat memusnahkan ajaran sesat ini pada tahun 325 melalui konsili Nicea, walaupun pengaruh ajaran Arius masih terus berlangsung sampai kurang lebih abad ke- 5. Di dalam kunjungan mereka ke rumah-rumah, biasanya, pada awalnya, mereka tidak terlalu membahas tentang identitas Yesus yang bukan Tuhan (dalam pengertian pribadi ke-2 dalam Trinitas). Mereka akan menceritakan tentang Yesus yang sungguh-sungguh memberikan jalan dan pengajaran yang begitu luar biasa kepada manusia, bahkan kadang-kadang mereka mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Namun, kalau ditanya lebih lanjut, apakah Yesus adalah Allah dalam pengertian Trinitas, Satu Allah dalam tiga pribadi, di mana Yesus adalah pribadi yang ke-dua, maka mereka akan mengatakan tidak. Saksi-saksi Yehuwa memberitakan setengah kebenaran, yaitu kemanusiaan Yesus, tanpa memberitakan kebenaran yang lain, yaitu ke-Allahan Yesus. Di dalam sejarah kekristenan, ajaran sesat yang berhubungan dengan kristologi, senantiasa menekankan sisi yang satu tanpa melihat sisi yang lain.[2] Untuk menjawab keberatan mereka tentang ke-Allah Yesus, maka silakan untuk membaca beberapa artikel tentang Kristologi yang telah ditulis oleh katolisitas.org:

Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia. Dan Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.

Berikut ini adalah beberapa pembuktian dari tulisan di atas, yang membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Pernyataan Yesus ini dilakukan dengan berbagai cara dan dalam berbagai kesempatan:

  1. Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
  2. Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
  3. Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
  4. Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi, sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
  5. Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner, mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
  6. Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
  7. Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
  8. Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
  9. Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
  10. Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
  11. Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
    • Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
    • Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
    • Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
    • Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
    • Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
    • Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.
    • Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    • Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
  12. Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
  13. Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
  14. Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
  15. Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
  16. Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menjadikan Pencipta menjadi seorang ciptaan.

Kalau bukan Tuhan, bagaimana Saksi Yehuwa mempercayai Yesus? Mereka mempercayai bahwa Yesus, Adam ke-dua, adalah penghulu malaikat Mikael.[3] Ajaran ini kalau ditelurusi merupakan suatu modifikasi dari ajaran agama gereja Mormon, yang percaya bahwa malaikat Mikael adalah Adam[4] Kalau kita dapat membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ajaran bahwa Yesus adalah malaikat Mikael adalah tidak mempunyai dasar. Oleh karena itu, silakan melihat beberapa artikel Kristologi dan argumentasi di atas. Kalau Yesus adalah Tuhan, maka tidak mungkin dia berhenti menjadi Tuhan, dan kemudian menjadi malaikat, mahluk yang diciptakan.

3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.

Salah satu pengaruh dari Adventisme kepada Saksi -saksi Yehuwa adalah meramalkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan akhir dunia. Mari kita melihat beberapa ramalan yang diberikan, yang saya ambil dari site Catholic Answer (silakan klik):

  • 1889: “Peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa (Why 6:14), dimana akan berakhir di tahun 1914 ..” (Studies, Vol. 2, 1908 edition, 101) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1891: “Dengan berakhirnya tahun 1914, apa yang Tuhan sebut Babilonia, dan apa yang orang-orang sebut Chistendom, akan berlalu, seperti yang telah ditunjukkan dalam nubuat” (Studies, Vol. 3, 153)
  • 1894: “Akhir dari tahun 1914 bukanlah hari untuk permulaan, namun untuk berakhirnya masa kesukaran” (WT Reprints, 1-1-1894, 1605 and 1677)
  • 1897: “Tuhan kita sekarang hadir, sejak Oktober 1874” (Studies, Vol. 4, 1897 edition, 621)
  • 1916: “Enam masa 1000 tahun yang bermula dari Adam telah berakhir, dan masa hari ke tujuh, 1000 tahun dari pemerintahan Kristus telah dimulai di tahun 1873” (Studies, Vol. 2, p. 2 of foreword)
  • 1917: “Alkitab … membuktikan bahwa kedatangan Kristus ke dua telah terjadi di musim gugur 1874” (Studies, Vol. 7, 68)
  • 1918: “Oleh karena itu, dengan penuh keyakinan kita boleh berharap bahwa 1925 akan menandai kembalinya Abraham, Isak, Yakub, dan nabi-nabi yang setia dari masa dulu” (Millions Now Living Will Never Die, 89) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1922: “Tahun 1925 adalah tahun yang lebih diindikasikan oleh Alkitab secara lebih nyata daripada tahun 1914” (WT, 9-1-1922, 262).
  • 1923: “Tahun 1925 secara pasti telah ditegaskan di dalam Alkitab. Seperti kepada nabi Nuh, umat Kristen sekarang mempunyai sesuatu yang lebih untuk mendasarkan imannya daripada yang dipunyai oleh nabi Nuh ketika dia mendasarkan imannya akan kedatangan banjir besar” (WT, 4-1-1923, 106).
  • 1925: “Tahun 1925 telah tiba…. umat kristen seharusnya tidak terlalu kuatir tentang apa yang mungkin terjadi tahun ini” (WT, 1-1-1925, 3).
  • 1931: “Ada bukti kekecewaan dari anggota Yehuwa di dunia tentang tanggal [prediksi]1914, 1918 dan 1925, dimana kekecewaan hanya sementara. Kemudian para pengikut belajar bahwa tanggal-tanggal tersebut telah ditetapkan secara pasti di dalam Alkitab; dan mereka juga telah belajar untuk tidak menentukan tanggal yang pasti….” (Vindication, 388, 389). [catatan: nubuat akhir jaman yang diramalkan tahun 1914, 1918, 1925 tidaklah terbukti]
  • 1939: “Bencana dari Armagedon sudah dekat” (Salvation, 361).
  • 1941: “Armagedon pasti telah dekat … segera… dalam beberapa tahun” (Children, 10).
  • 1946: “Armagedon… akan terjadi sebelum 1972” (They Have Found a Faith, 44). [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1966: “Enam ribu tahun dari saat manusia diciptakan akan berakhir di tahun 1975, dan periode ke tujuh dari seribu tahun dari sejarah manusia akan dimulai di tahun 1975” (Life Everlasting in Freedom of the Sons of God, 29).
  • 1968: “Akhir dari enam ribu tahun dari sejarah manusia di musim gugur tahun 1975 bukanlah [bersifat]sementara, namun diterima sebagai suatu tanggal yang pasti” (WT, 1-1-1968, 271). [catatan: Hal ini tidak terbukti]

Dari sini, kita melihat bahwa ramalan-ramalan yang dilakukan oleh Saksi Yehuwa tidaklah terbukti, seperti ramalan-ramalan tentang akhir dunia dan armagedon. Dan kita tahu bahwa seorang nabi yang perkataannya tidak terbukti bukanlah nabi yang benar, seperti yang dikatakan di dalam Kitab Ulangan “apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ul 18:22; lihat juga Yer 23:16; 28:9). Dan ramalan tentang akhir dunia yang dibuat oleh Saksi Yehuwa tidak terjadi, bahkan bukan hanya gagal sekali, namun berkali-kali. Kalau Saksi Yehuwa membuat kesalahan doktrin tentang akhir jaman, maka pertanyaannya, bagaimana kita dapat percaya akan doktrin-doktrin yang lain?

5. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.

Ajaran pokok yang lain dari Saksi Yehuwa adalah hanya 144,000 orang yang dapat masuk dalam Kerajaan Sorga.[5] Yang termasuk dalam kelompok 144,000 orang ini disebut “yang diurapi” (the anointed), sedangkan orang-orang lain yang dibenarkan oleh Allah disebut “domba yang lain” (the other sheep). Kelompok yang diurapi dipercaya mulai dari para rasul sampai tahun 1935. Ini berarti orang-orang kudus di dalam Perjanjian Lama tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga, namun hanya akan hidup di dalam dunia yang penuh kebahagiaan, seperti yang dipercayai oleh Saksi Yehuwa. Mereka mendasarkan pengajaran ini dari Wahyu 7:1-8 dan Wahyu 14:1-5. Dikatakan “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” (Why 7:4) dan “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya” (Why 14:1). Dan mereka mengajarkan bahwa jumlah 144,000 harus diartikan secara harafiah/literal. Mari kita membahas, bahwa sebenarnya pengajaran ini sesungguhnya tidak masuk di akal dan tidaklah Alkitabiah.

  1. Kalau kita melihat di Wahyu 14:3-4 “3 Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. 4  Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.
  2. Kalau mereka ingin konsisten dengan pengertian harafiah 144,000 di ayat 3, maka seharusnya mereka juga mengartikan ayat empat secara harafiah. Karena ayat 4 mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan, maka 144,000 orang yang masuk Sorga adalah laki-laki yang hidup selibat. Namun yang terjadi adalah mereka mengatakan jumlahnya harus diartikan secara harafiah, namun siapa yang masuk Sorga dapat diartikan secara simbolik (tidak hanya laki-laki yang hidup selibat). Oleh karena itu, penafsiran ini menjadi tidak konsisten.
  3. Hal ini juga terjadi pada penafsiran berikut ini “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” (Why 7:4). Terlihat bahwa Saksi Yehuwa tidak konsisten dalam menafsirkan ayat ini, karena jumlah 144,000 diartikan secara harafiah, namun suku keturunan Israel diartikan secara simbolik, yakni tidak terbatas pada suku Israel saja – termasuk anggota Saksi-saksi Yehuwa dari bangsa Amerika.
  4. Anggaplah bahwa ajaran tentang Saksi Yehuwa adalah benar, bahwa hanya 144,000 orang saja yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga, mulai dari para rasul sampai tahun 1935. Yang perlu dipertanyakan di sini adalah, bagaimana mereka memperhitungkan jemaat perdana yang meninggal karena mempertahankan iman mereka dan menjadi martir, seperti pada jaman pemerintahan Nero (begitu banyak jumlah martir), Diocletian (20,000 martir), Shapur II (1,200 martir), Henry VIII (72,000), Nazi di Polandia (3,000), Tokugawa Leyasu di Jepang (37,000), dan masih  begitu banyak daftar martir-martir yang meninggal karena mempertahankan iman kekristenan mereka, bukan hanya ribuan, namun ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang. Bagaimana dengan para santa-santo, yang kurang lebih berjumlah 10,000 orang. Kalau benar-benar hanya 144,000 orang yang masuk dalam kerajaan Sorga, maka mungkin tidak ada anggota Saksi Yehuwa yang masuk Sorga, karena Saksi Yehuwa baru didirikan pada tahun 1872 dan Sorga telah terisi dengan para martir dan santa-santo yang telah meninggal sebelum tahun 1872. Kita tahu bahwa para martir telah melaksanakan perintah Yesus yang terutama “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39). Dan kehilangan nyawa untuk mempertahankan iman hanyalah mungkin kalau didasari oleh kasih yang tulus. Mungkin ada baiknya kita semua merenung, apakah kita semua – termasuk anggota Saksi Yehuwa – mempunyai kasih kepada Allah dalam derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan para martir?
  5. Anggaplah bahwa hanya 144,000 orang saja (yang anggotanya mulai dari para rasul sampai tahun 1935) adalah benar, seperti yang diajarkan oleh Saksi Yehuwa. Pertanyaannya adalah bagaimanakah nasib para nabi di dalam Perjanjian Lama, seperti Abraham, Musa, Elia, Henokh, dan banyak nabi lai sebelum Kristus – termasuk Yohanes Pemandi? Apakah mereka tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah Abraham yang menjadi bapa orang beriman (lih. Rm 4:16), sahabat Allah (Yak 2:23) tidak dapat masuk Sorga? Apakah Musa yang berbicara dengan Tuhan muka dengan muka, sebagaimana layaknya seorang teman (lih Kel 33:11) dan berbicara dengan Yesus pada peristiwa transfigurasi, tidak dapat masuk Sorga? Apakah Henokh yang berkenan kepada Allah, tidak meninggal dan diangkat ke Sorga tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga (lih. Ib 11:5). Apakah Elia yang diangkat ke Sorga (lih. 2 Raj 2:11) dan yang berbicara dengan Yesus pada transfigurasi (lih. Mat 17:3-4; Mrk 9:4; Lk 9:30) tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah Yohanes Pembaptis yang kedatangannya telah dinubuatkan sebelumnya (lih. Yes 40:3; Mal 4:5-6), yang mempersiapkan kedatangan Tuhan (lih. Mt 3;1-3; Mk 1:4; Lk 3:2-3; Yoh 1:6-8) tidak juga dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah semua nabi yang disebutkan di atas kurang iman dan suci dibandingkan dengan pendiri dan umat dari Saksi Yehuwa?

Mari sekarang kita melihat Wahyu 7 dan 14. Di atas telah dijelaskan bagaimana Saksi Yehuwa tidak konsisten dalam menginterpretasikan Alkitab. Mari sekarang kita melihat lebih mendalam tentang Kitab Wahyu ini. Saksi Yehuwa mengatakan bahwa 144,000 adalah orang-orang yang berada di Sorga. Namun, kalau kita melihat Wahyu 7:1-8, maka sebenarnya jumlah 144,000 orang ini berada di dunia. Dikatakan “Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.” (Why 7:1). Dan kemudian di ayat 4 dikatakan “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa jumlah 144,000 berada di dunia. Kalau demikian, berapakah jumlah yang masuk dalam Kerajaan Sorga? Wahyu 7:9 menyebutkan “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” Oleh karena itu, yang berada di Sorga adalah tidak terhitung banyaknya, dan bukan hanya 144,000.

5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.

Saksi Yehuwa mengajarkan bahwa hanya 144,000 yang diurapi[6], yang tentu saja adalah anggota dari Saksi Yehuwa, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga dan memerintah bersama dengan Tuhan. Anggota Saksi Yehuwa yang lain, yang disebut kumpulan besar (great crowd) akan menikmati kebahagiaan di dunia, sama seperti kebahagiaan Adam dan Hawa di Taman Eden. Namun doktrin ini sungguh tidak dapat dipertanggungjawabkan, dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tidak ada pembatasan jumlah orang yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Mt 5:11-12 mengatakan “11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Lebih lanjut rasul Paulus menegaskan “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” (Fil 3:20) Dari sini kita tahu bahwa tidak ada pembatasan jumlah umat beriman yang dapat masuk dalam kerajaan Sorga.
  2. Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah untuk dapat melihat Allah muka dengan muka (lih. 1 Kor 13:12) adalah merupakan kebahagiaan yang sempurna, yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan kebahagiaan kita di dunia ini – walaupun dengan kondisi seperti Taman Firdaus. Oleh karena itu, kebahagiaan di dunia yang dijanjikan oleh Saksi Yehuwa di luar 144,000 orang, tetaplah tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan di Sorga. Karena orang-orang yang mempunyai kebahagiaan di dunia tidaklah mungkin sebahagia mereka yang di Sorga, maka kebahagiaan di dunia adalah kebahagiaan yang tidak sempurna, kebahagiaan kelas dua. Lebih lagi, karena penentuan kebahagiaan ini adalah berdasarkan tahun kelahiran (karena yang menjadi bilangan dari 144,000 adalah dari jaman para rasul sampai tahun 1935), maka hal ini benar-benar menyalahi prinsip keadilan. Bagaimana mungkin, karena seseorang dilahirkan setelah tahun 1935, maka orang tersebut tidak dapat masuk dalam Kerajaan Sorga, walaupun orang tersebut adalah orang kudus, martir, dll. Bayangkan bahwa Bunda Teresa dari Kalkuta tidak dapat masuk sorga, sedangkan anggota Saksi Yehuwa sebelum tahun 1935 dapat masuk ke Sorga, meskipun kehidupan mereka kurang kudus dibandingkan dengan Bunda Teresa dari Kalkuta.
  3. Sungguh sulit dimengerti bahwa ada orang yang mau untuk melepaskan kewarganegaraan di Sorga (lih. Fil 3:20) dan hanya cukup dengan menikmati kebahagiaan abadi di dunia ini. Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Tesalonika – yang berfikir bahwa orang yang meninggal sebelum kedatangan Kristus yang kedua tidak beruntung – bahwa sebenarnya semua umat beriman, baik yang meninggal sebelum atau sesudah kedatangan Kristus yang kedua akan diangkat dan memperoleh kebahagiaan di dalam Kerajaan Sorga.

Membedakan tujuan akhir dari manusia – di Sorga berjumlah 144,000 dan di dunia yang beranggotakan umat Saksi Yehuwa – adalah seperti sistem kasta berdasarkan tahun, yaitu tahun dari para rasul sampai 1935. Dan sungguh sulit dimengerti bagaimana manusia yang seharusnya mempunyai kewarganegaraan di Sorga dapat menerima dan menukar kebahagiaan Sorga dengan kebahagiaan duniawi.

6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.

Saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa manusia tidak bersifat spiritual dan kekal, namun jiwa manusia adalah badan. Oleh karena itu, pada waktu seseorang meninggal, maka jiwanya juga lenyap. Dan pada akhir zaman, maka jiwa manusia diciptakan kembali dari sesuatu yang tidak ada untuk masuk ke Sorga maupun kebahagiaan di dunia. Kita dapat membuktikan bahwa jiwa manusia adalah kekal berdasarkan filosofi dan juga Alkitab.

  1. Kalau kita mengamati, maka ada begitu banyak aktivitas manusia yang dilakukan bukan sebatas aktivitas tubuh atau material, seperti: berfikir, menginginkan, melakukan pemeriksaan batin, menyadari keberadaannya, keinginan bebas, dll. Semua ini bukanlah aktivitas tubuh, namun lebih bersifat spiritual. Sesuatu yang bersifat spiritual (bukan material) tidak mungkin dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat material, namun harus dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat spiritual.Sesuatu yang bersifat material, seperti tubuh kita, terdiri dari bagian (part). Dan pada waktu mati, maka bagian-bagian itu menjadi terpisah dan terurai. Namun, sesuatu yang bersifat spiritual (seperti jiwa kita) tidak mungkin mati, karena sesuatu yang spiritual tidak mempunyai bagian.  Oleh karena itu, sesuatu yang bersifat spiritual menjadi kekal dan tidak mungkin mati.
  2. Alkitab juga menyediakan bukti-bukti bahwa jiwa manusia adalah bersifat kekal dan tidak mungkin mati.[7]
    • Kej 1:27 menceritakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah. Karena Allah adalah murni bersifat spiritual (lih. Jn 4:24), maka pasti ada elemen dari manusia yang bersifat spiritual.
    • 1 Sam 28 menceritakan bagaimana Samuel yang telah meninggal menampakkan diri kepada Saul. Ini berarti roh Samuel tidak musnah, namun masih tetap hidup.
    • Mt 10:28 menegaskan bahwa tentang jiwa yang kekal dan badan yang bersifat sementara, karena Yesus mengatakan bahwa tidak perlu kuatir kepada manusia yang dapat membunuh tubuh, namun bukan jiwa.
    • Mt 17:1-8 menggambarkan peristiwa transfigurasi, dimana Yesus bercakap-cakap dengan Musa dan Elia. Karena Musa diceritakan telah meninggal (lih. Ul 34:5), maka kematian tidak membuat Musa menghilang.
    • Lk 16 menceritakan bahwa Abraham, Lazarus dan orang kaya telah meninggal, namun diceritakan masih hidup di dunia yang lain.
    • Why 6:9-10 menyatakan tentang jiwa-jiwa yang telah dibunuh, namun masih hidup dan bercakap-cakap dengan Penguasa yang Kudus.

7. Pengajaran bahwa tidak adanya neraka menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

Selain jiwa manusia tidak bersifat kekal, Saksi-saksi Yehuwa juga percaya bahwa tidak ada neraka kekal. Kalau demikian, apa yang terjadi dengan jiwa-jiwa yang jahat maupun setan? Saksi-saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa-jiwa tersebut dimusnahkan dan tidak ada lagi. Hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan dan bertentangan dengan Alkitab dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tuhan telah menciptakan jiwa manusia maupun malaikat, yang bersifat kekal, seperti yang telah di bahas pada point di atas. Kalau Tuhan telah menciptakan jiwa yang kekal dan kemudian memusnahkannya dan membuatnya tidak ada, maka sebenarnya Tuhan mengkontradiksi rencana-Nya sendiri. Karena Tuhan tidak mungkin mengkontradiksi Diri-Nya sendiri, maka tidak mungkin jiwa yang bersifat kekal dimusnahkan dan menjadi tidak ada.
  2. Kita juga melihat bahwa ajaran tidak ada neraka sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab.
    • Mt 3:12 mengatakan “Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (lih. juga Lk 3:17). Api yang tak terpadamkan ini mengacu kepada neraka yang abadi.
    • Mk 9:43 menegaskan “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan” (lih. juga Mt 18:8). Ayat ini juga mengacu kepada neraka, dimana lebih baik kita kehilangan semua hal yang bersifats sementara daripada mendapatkan hukuman abadi di neraka dan dimasukkan ke dalam api yang tak terpadamkan.
    • Mt 25:46 mengatakan “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” Dari ayat ini, kita menyadari bahwa bagi mereka yang benar akan masuk dalam hidup yang kekal, sebaliknya orang-orang yang tidak benar akan mendapatkan siksa abadi di neraka.

Dari ekpresi yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut di atas, seperti: api yang tak terpadamkan, siksaan yang kekal, maka kita mengetahui bahwa neraka adalah sesuatu yang nyata. Dan kenyataan ini bukan hanya sementara, namun berlangsung untuk selamanya. Kalau di ayat Mt 25:46 dibandingkan antara kehidupan kekal dan siksaan kekal, maka akan menjadi tidak konsisten kalau kita mau menerima konsep kehidupan kekal namun tidak mau menerima adanya konsep siksaan kekal. Kalau seseorang percaya akan kehidupan kekal dari Alkitab, maka seseorang juga harus percaya akan siksaan kekal, yang juga diwahyukan oleh Allah kepada manusia.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka banyak ajaran dari Saksi-saksi Yehuwa yang bertentangan dengan Alkitab, akal budi, dan bahkan bertentangan dengan keadilan. Memberitakan Kristus yang bukan Tuhan, bukanlah ajaran Kristen, karena kekristenan mendasarkan iman, pengharapan dan kasih pada Kristus yang adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia. Kalau Kristus bukan Tuhan dan ‘hanya’ malaikat Mikael, maka sia-sialah pengharapan kita, karena kita hanya berharap pada ciptaan dan bukan pada Pencipta. Kalau kita tidak mempunyai tujuan ke Sorga dan bersatu dengan Tuhan untuk selama-lamanya di dalam Kerajaan Sorga, maka sia-sialah semua yang dilakukan di dunia ini. Kalau tidak ada pengadilan terakhir dan tidak ada neraka, maka keadilan yang seadil-adilnya tidak dapat ditegakkan. Kalau ada yang mau kita pelajari dari Saksi Yehuwa, maka kita tidak boleh percaya akan pengajaran mereka, namun kita harus meniru semangat mereka untuk memberitakan Injil. Bahkan pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), Mother Angelica mengatakan “Berikan kepadaku 10 orang Katolik, yang mempunyai semangat seperti Saksi Yehuwa, dan aku dapat merubah dunia.” Mari, kita semua, yang menjadi umat Gereja Katolik – Gereja mempunyai kepenuhan kebenaran -, kita harus dengan giat dan penuh semangat memberitakan kebenaran Kristus dan Gereja-Nya. Semoga Roh Kudus memberikan kebijaksanaan kepada kita semua, agar kita dapat mempertahankan kebenaran dan bertumbuh terus di dalam kebenaran.

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39).

CATATAN KAKI:
  1. Adventisme mengacu kepada gerakan keagamaan yang sangat kuat di sekitar tahun 1800-an, seperti the Mormons, the Seventh Day Adventists / Tujuh Hari Adven []
  2. Ajaran yang menolak kemanusiaan Yesus: Docetism, Gnosticism, Manichaeism, Apollinarism, Monophisitism. Ajaran yang menolak ke-Allahan Yesus: Adoptionism, Arianism. []
  3. lih. Aid to Bible Understanding, p. 1152, yang mengatakan “Michael the Archangel, the first creation of Jehovah, before He came to earth and returned to the identity of Michael after his ressurection.“; lihat juga United in Worship, p. 29 yang mengatakan “Michael the Archangel is no other than the only begotten son of God, now Jesus Christ. That Jehovah directly created only one thing, Michael the arch angel and that Michael created all other things.“ []
  4. Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 3, mengambil sumber dari Brigham Young, Journal of Discourse []
  5. Reasoning from the Scriptures (Reasoning) [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1985], 166 []
  6. Insight on the Scriptures (Insight), 2 vols. [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1988], 786 []
  7. Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 14-15 []
Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

172 Comments

  1. Budi Nurgraha on

    parah.. Sampai kapan anda tetap bilang bahwa injil Yohanes itu tentang Neraka adalah benar. Pasti itu disisipkan oleh oknum Zaman Dahulu atau salah pengartian. Masa muncul tiba2 sedangkan dalam perjajian lama tak ada. bukankah budaya waktu itu tentang neraka adalah bangsa Romawi? Dan Yesus tak mungkin Salah dalam mengartikan sesuatu. Lagi Orang Yahudi tak mungkin mencampur adukan Budaya mereka dengan budaya Asing.

    [dari katolisitas: Saya menghapus semua komentar yang lain. Silakan berfokus pada satu topik bahasan seperti tentang neraka. Silakan membaca terlebih dahulu link ini - silakan klik]

  2. Budi Nurgraha on

    hmm. Neraka lagi. Jika bagi Anda Neraka adalah keadilan Allah maka anda adalah orang tua yang kejam bagi Anak anda. Mungkin anda akan tak segan – segan mengusir Anak anda dari rumah anda dan memutuskan hubungan darah dengan anak anda. Lalu di manakah arti ayat ini :> “jika Kamu yang jahat tahu yang baik untuk anak mu Apalagi Bapa mu di Surga”?

    [dari katolisitas: Apakah Anda telah membaca argumentasi kami di atas tentang keberadaan neraka? Kalau sudah, silakan memberikan argumentasi yang lebih terstruktur, sehingga terjadi diskusi yang baik dan membangun]

  3. Mohon dengan sangat hormat.
    Kalau situs ini hanya diperuntukan bagi mereka yang beragama katolik saja.maka katakanlah dengan jelas.
    Misalnya:Situs ini tidak menerima komentar dari mereka yang beragama lain selain mereka yang beragama katolik.

    Sebab,saya pikir agak aneh. Mengapa?

    Mengaku dosa kepada manusia,tidak tercatat dalam firman Allah.

    Kalau ada seorang yang beragama Katolik bertanya:Ibu Ingrid,ada yang mengatakan,bahwa “mengaku dosa kepada manusia itu tidak benar dan juga manusia yang berdosa tidak dapat mengampuni dosa”
    Saya tidak dapat menjawabnya. Yang bertanya,bukan beragama katolik.
    Ibu Ingrid memberi penjelasannya.

    Beberapa hari kemudian,ia kembali bertanya kepada Ibu:Bagaimana saya harus menjawabnya Bu Ingrid:Orang itu minta saya bukti alkitab dan saya tidak dapat memperlihatkannya.

    Kalau Ibu Ingrid mempunyai jawabannya untuk semua pertanyaan yang menyangkut kebenaran firman Allah,mengapa jawabanya harus melalui seorang yang beragama katolik dan mengapa tidak membuka situs ini untuk semua orang apa pun agamanya.Jadi tidak perlu bertele-tele.
    Orang katolik yang tidak dapat menjawab dan bertanya kepada Ibu itu dapat memberi situs Ibu untuk bertnya kepada Ibu.

    Ibu Ingrid percaya bahwa Elia naik ke sorga dalam angin badai,tetapi alkitab mengajarkan :Lalu sampailah kepadanya sebuah surat dari nabi Elia yang bunyinya:…… [2 Taw.: 21 : 12] Juga Yoh.3 : 13 mengatakan:Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga,selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga.
    Nabi Elia tidak naik ke sorga,tetapi hanya dipindahkan ke tempat lain.

    Kalau seorang yang bertanya mengenai Elia.maka tetap saja jawaban Ibu tidak akan selaras dengan alkitab.

    Maka bagaimana.Ibu mengatakan tidak menyemunyikan kebennar.

    Kalau misalnya komentar ini,Ibu tidak tayangkan,apakah tidak berarti Ibu telah menyembunyikan kebenaran alkitab?

    Terima kasih.

    • Shalom Guest,

      Situs ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Katolik saja, namun memang fokusnya adalah menyampaikan ajaran Gereja Katolik. Maka dapat saja pembaca berkomentar, namun tidak ada keharusan dari pihak kami untuk menerima ataupun menyetujuinya. Ini adalah sesuatu yang wajar, dan sejujurnya, ini terjadi juga pada situs-situs lainnya, bukan hanya pada situs katolisitas. Maka, kalau pembaca mempunyai niat yang tulus untuk berdialog, kami akan menanggapinya. Kami tidak memaksakan bahwa setiap pembaca harus menerima apa yang kami sampaikan. Tetapi setidaknya, para pembaca dapat mengetahui bahwa ajaran Katolik mempunyai dasar-dasarnya, yaitu dari Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium.

      Atas prinsip ini saya menanggapi pertanyaan Anda:

      1. Mengaku dosa kepada manusia, tidak tercatat dalam firman Allah?

      Kita memang mengaku dosa kepada Allah, tetapi Allah sendiri, melalui Kristus memberikan kuasa kepada para rasul untuk mengampuni dosa manusia. Silakan Anda baca Yoh 20:21-23. Tentang hal ini sudah panjang lebar dibahas di artikel ini, silakan klik, silakan membaca terutama subjudul: Keberatan 1. Mohon maaf, saya tidak dapat mengulanginya di sini.

      Memang bukan manusia, yaitu imam yang bertindak sebagai para penerus rasul itu yang mengampuni dosa, tetapi Allah yang mengampuni melalui para imam-Nya itu.

      2. Tentang nabi Elia.

      Tentang Nabi Elia dan Henokh, sudah pernah diulas di sini, silakan klik.

      Sejujurnya terdapat banyak pandangan tentang ke manakah sebenarnya Nabi Henokh dan Elia diangkat. Di artikel itu kami menyampaikan kemungkinan interpretasinya. Salah satu kemungkinan interpretasi,  adalah bahwa Nabi Henokh dan Elia diangkat ke suatu ‘tempat yang lain’, yaitu tempat bagi orang-orang benar di tempat penantian, sementara mereka menantikan Yesus yang membukakan pintu Surga sebagai yang Sulung dari segala sesuatu (lih. Kol 1:15-20).

      Sedangkan tentang ayat 2 Taw 21:12, yaitu bahwa ada surat dari Nabi Elia yang sampai kepada raja Yoram, sejumlah ahli Kitab Suci menginterpretasikannya secara berbeda. Haydock Catholic Commentary on Holy Scripture antara lain menuliskannya demikian:”…. [para ahli lainnya] berpandangan bahwa Nabi Elia telah menulis surat itu sebelum ia undur dari pembicaraan dengan manusia [sebelum ia diangkat oleh Tuhan], beberapa tahun sebelumnya. Menubuatkan kejahatan Yoram, Nabi Elia meninggalkan surat kepada Elisa, untuk dikirimkan kepada Raja Yoram. Tetapi pandangan yang lebih umum adalah Nabi Elia menuliskannya di firdaus, dan dikirimkannya kepada Raja oleh seorang malaikat (Seder. xvii.  Bellarmine). Nabi Elia diangkat di tahun ke-18 masa pemerintahan Yosafat; sehingga ia menunjukkan perhatian khususnya terhadap Yoram dan kerajaannya, bertahun-tahun setelah ia diangkat. Karena para orang kudus di surga [firdaus] mempunyai perhatian untuk membela kita/ menegakkan keadilan…. (lih. 2 Mak 15:13-16).

      Guest, tidak ada niatan dari pihak saya untuk menyembunyikan kebenaran. Hanya harus diakui, bahwa patokan yang kita gunakan sebagai dasar pemahaman kita, itu berbeda. Anda mendasari pandangan Anda mungkin dari pandangan pribadi Anda, atau pandangan pengajar Anda, yang menginterpretasikan ayat Kitab Suci berbeda dari interpretasi yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Kalau Anda tidak setuju dengan apa yang kami sampaikan, itu hak Anda, tetapi mungkin lain kali tak perlu menuduh kami menyembunyikan kebenaran.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org.

    • yusup sumarno on

      Guest, bersyukurlah bahwa pengasuh situs ini sangat terbuka pada siapa pun. Karenanya Anda dapat menulis komentar dan ditayangkan. jika situs ini memenuhi harapan Anda maka komentar Anda justru tidak ditayangkan, karena jelas Anda bukan k*t*l*k.

  4. John, ajaran neraka itu memang tidak masuk akal. Kita tidak akan membakar orang hidup-hidup selama satu jam, hanya karena ia berbuat salah pada kita. Membakar orang satu menit saja kita sudah dianggap gila. Ini benar, pada bangsa manapun berlaku, universal, tidak ada yang bisa membantah.
    Berdasarkan kebenaran itu, apakah Tuhan yang menciptakan kita dengan sifat-sifat baik, membakar manusia berdosa dalam neraka?

    [Dari Katolisitas: Neraka pada hakekat-Nya adalah keterpisahan total dengan Allah, yang digambarkan dengan siksaan api kekal. Tuhan tidak pernah mendorong orang agar masuk neraka, namun orang itu sendiri yang memilih untuk memisahkan diri dari Tuhan. Allah hanya menghormati keputusan orang tersebut, sebab oleh karena kasih-Nya yang begitu besar, Allah tidak mau memaksa orang itu. Sebab kasih yang memaksa, itu sebenarnya bukan kasih. Allah memang menciptakan manusia dengan sifat-sifat baik, namun karena akibat dosa asal, maka manusia juga mempunyai kecenderungan berbuat dosa. Dosa inilah yang memisahkan manusia dari Allah, dan jika manusia itu tidak bertobat sampai wafatnya, artinya manusia itu sendiri yang memilih untuk menjadi terpisah dari Allah. Dari pihak Allah, Allah telah melakukan segalanya agar manusia dapat kembali kepada-Nya, yaitu dengan mengutus Putera-Nya untuk menebus dosa-dosa manusia. Namun dari pihak manusia, iapun harus bekerja sama untuk mau menerima rahmat penebusan Kristus itu. Namun jika orang itu terus berkeras hati untuk menolak Allah sampai akhir hidupnya, maka artinya ia sendiri yang menolak untuk diselamatkan. Dengan demikian bukan Allah yang memasukkan dia ke neraka, namun ia sendiri yang memilih neraka sebagai tujuan akhir hidupnya.]

  5. Salam, saya adalah salah seorang yg jg belajar Alkitab dgn Saksi Yehuwa & ingin berkomentar mengenai artikel ini. Dikatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dengan bukti ayat2 yg sdh dicantumkan di atas. Penulis pasti juga tahu bahwa Allah memiliki nama yg di manuskrip jaman dahulu tertulis dengan 4 huruf Ibrani, yg jika diterjemahkan dengan huruf latin menjadi “YHWH”, atau Yahweh, atau Yehuwa / Jehovah (nama yg skrg lazim digunakan). Saya ingin tny apabila Yesus adalah Tuhan, apakah berarti Tuhan Yesus = Tuhan Yahweh? Atau apakah maksud dr Tritunggal adl Yehuwa terdiri dari 3 pribadi, yaitu Allah Yehuwa, Allah Yesus, & Allah Roh Kudus? Jika Anda berniat menjawab dengan menyuruh saya membaca artikel tentang Tritunggal & konsep substansi, maaf jika saya memilih utk dijelaskan scr langsung di sini, krn saya tidak dapat memahami konsep tsb meskipun saya sudah baca.

    Lalu bbrp ayat2 di atas spt nya mendukung konsep Tritunggal, misal ayat2 tentang mukjizat yg dilakukan Yesus, termasuk ayat Mat 28:18 “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi…” Jadi siapa yg memberikan kuasa di surga & di bumi kpd Yesus? Pasti Allah Bapa yg memberikan. Tapi jika Allah itu esa tapi di dalamnya ada 3 pribadi, bagaimana 3 pribadi itu = 1 kodrat yaitu Tuhan, maka bgmn mgkn pribadi yang satu bisa memberikan kuasa pd pribadi yg lain?

    Kmdn ttg ayat di Matius pasal 5 ttg 8 sabda bahagia, di artikel ini dituliskan bhw Yesus berbicara dalam namaNya sendiri. Namun ada ayat lain yaitu:
    -Yoh 14:10 “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.” Yesus bilang apa yg Dia katakan tdk dari diriNya sendiri, tapi Bapa yg diam dlm diriNya. Mungkinkah jg frase “Bapa yg diam di dalam Aku” dimaksudkan kias? Artinya hubungan Yesus & BapaNya begitu erat sehingga mrk memiliki satu pikiran, sejalan dlm prinsip, visi misi, tujuan, shg seakan2 Bapa ada di dlm Yesus & begitu jg sebaliknya. Spt msl nya nasehat Yesus ttg perkawinan di Mat 19:5-6 yg mengatakan bhw ketika menikah, 2 manusia mjd 1 daging. Bgmn memutuskan bahwa satu daging di sini ditafsirkan scr kias (krn mustahil 2 org jd 1 daging diartikan harafiah), tp kata2 Yesus yg “aku & Bapa adalah satu” itu ditafsirkan harafiah, shg mjd dasar bhw Yesus adalah Tuhan?

    - Yoh 14:24, “Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.” (TB) // “Orang yang tidak mengasihi Aku, tidak menuruti ajaran-Ku. Ajaran yang kalian dengar itu, bukan dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.” (BIS). Yesus sendiri mengatakan bahwa firman/ ajaran yg dikatakanNYa berasal dari Bapa yg mengutusNya.

    Kemudian ada ayat2 lain lagi, sbb:

    - Yoh 14:28, “….Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.” Yesus mengakui Bapa lebih besar drpd Yesus. MUNGKIN Anda, atau bbrp org bs memberikan argumen bahwa Yesus mengatakan hal itu dalam keadaan jd manusia, shg tentu saja manusia kedudukannya lbh rendah drpd Allah di Surga. Tp spt ayat yg Anda kutip di Yoh 14:9 tentang kesetaraan Yesus dgn Bapa, itu jg Dia katakan dlm keadaan sbg manusia.

    - Yoh 7:16-18, “Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.(16) Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri. (17) Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.(18) ” . Yesus mengakui ajaranNya bkn dr diriNya sendiri.

    - Yoh 17:3, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
    Yesus sedang berdoa kepada Allah Bapa, dan Ia sendiri mengatakan bahwa BapaNya adl satu2nya Allah yg benar, Yesus adl pribadi yg Allah utus.

    - Yoh 1:18, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
    Dikatakan tidak seorang pun pernah melihat Allah. Jika Yesus adalah Allah, berarti ada banyak org di jaman Yesus yg sudah melihat Allah, krn Yesus itu Allah. Musa, ketika menghadap kpd Allah di g.Sinai sampai tersungkur & tdk bs melihat Allah krn Allah terlalu mulia utk dilihat mata telanjang manusia. Kel 33:20, “Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Tidak ada seorangpun yg bisa melihat Allah & tetap hidup.

    - 1 Kor 8:6, “namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.”(TB)
    “yet for us there is one God, the Father, of whom are all things, and we for Him; and one Lord Jesus Christ, through whom are all things, and through whom we live.” (NKJV)
    Dikatakan bhw untuk umat Kristen hny ada satu Allah saja yaitu Bapa. Ada kata2 “satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus”. Bgmn bs ada satu Allah dan satu Tuhan, pdhl Tuhan itu esa? Saya tdk tahu apa ini mgkn masalah penerjemahan, krn jika dilihat dr ayat versi NKJV, Yesus diberi gelar “Lord” yg bisa diartikan “Tuan” kalo utk jaman skrg. Saya cek di Wikipedia, tertulis etimologi kata Lord adl sbb: “According to the Oxford Dictionary of English, the etymology of the word can be traced back to the Old English word hlāford which originated from hlāfweard meaning ‘bread keeper’ or ‘loaf-ward’, reflecting the Germanic tribal custom of a chieftain providing food for his followers.” Jd pd awalnya kata Lord tidak dimaksudkan utk God / Tuhan.

    - Flp 2:9, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana bisa Yesus ditinggikan oleh Allah Bapa, krn Tuhan adalah kedudukan tertinggi? MUNGKIN Anda memberikan argumen bhw ditinggikan itu krn Yesus sempat dlm keadaan manusia yg kedudukannya lebih rendah drpd Tuhan, krn itu Ia dpt ditinggikan. Tapi setelah Yesus bangkit & akhirnya naik ke Surga, seharusnya scr otomatis kedudukan Yesus kembali lagi sebagai Tuhan. Lalu setelah itu Dia ditinggikan lagi oleh Allah, apakah itu masuk akal?

    MUNGKIN Anda memberikan argumen dgn ayat Flp 2:6, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,” / “Who, being in the form of God, thought it not robbery to be equal with God” (KJV) . Bgmn mentafsirkan kata2 “dalam rupa Allah/ form of God”? Apakah ditafsirkan bhw Yesus adalah Allah, atau Yesus memiliki rupa/bentuk yg sama spt Allah, yaitu ROH, bukan jasmani spt manusia?

    Kemudian sekedar ralat utk sejarah Saksi Yehuwa, pd waktu jaman Charles T. Russel, ia tidak membentuk kelompok Saksi Yehuwa, tapi kelompok siswa Alkitab, krn kegiatannya mempelajari Alkitab. Nama Saksi Yehuwa br digunakan belakangan (sy lupa tahunnya). Bisa di-cek di Wikipedia, search aja “Jehovah Witness”.

    Kemudian ttg nubuat yg dibuat oleh SY & semua meleset, kita semua pasti setuju bahwa itu adalah bagian dari masa lalu SY. Jika membicarakan masa lalu, sejarah Katolik jujur saja, secara fakta, juga sangat kelam. Itu adalah fakta sejarah & umat Katolik mengakuinya, tp mrk tdk mempermasalahkan hal itu krn itu adl masa lalu. SY sebenarnya jg sering membahas sejarah Katolik yg kelam di artikel majalahnya, tp sy scr pribadi tdk terlalu mempermasalahkan hal itu, krn itu adalah masa lalu. Jadi mgkn Anda bs mempertimbangkan bhw kedua agama ini (Katolik & SY) sama2 memiliki masa lalu yg kurang baik dari segi perbuatan orang2nya, krn itu mgkn sejarah SY tdk bs jd patokan utk menyatakan bahwa SY ini sesat. Apalagi skrg SY jg tidak lg membuat nubuat2 yg mencantumkan tahun. Di salah satu majalah Menara Pengawal jg pernah dicantumkan artikel kecil yg berjudul: “Apakah Saksi Yehuwa pernah salah?” Artikel ini membahas ttg kesalahan SY dahulu yg sering menyatakan nubuat. Tapi pd akhirnya tidak lagi krn mengingat kata2 Yesus yg intinya “tidak ada seorang pun yg tahu hari maupun jamnya, Putra jg tdk, kecuali Bapak”, maka SY tdk mempermasalahkan tanggal/tahun pastinya, tp mereka tetap tekun memberitakan bhw akhir itu semakin dekat & berusaha membuat org2 sadar & tdk semakin tenggelam dlm khdpn dunia yg amoral ini.

    Demikian komentar saya & trima kasih atas perhatiannya.

    • Shalom Liani,

      Terima kasih atas tanggapan Anda. Sebenarnya dengan membaca beberapa link yang saya berikan, maka minimal Anda mencoba mengerti apa yang sebenarnya dipercaya oleh umat Katolik. Berikut ini adalah tanggapan yang saya berikan atas beberapa pertanyaan Anda.

      1. Apakah Tuhan Yesus adalah Yahweh? Prinsip dari Trinitas adalah tiga Pribadi (Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus) namun adalah Allah yang satu hakekat. Saya telah mencoba menjawab keberatan-keberatan yang diajukan dalam traktat Saksi-saksi Yehuwa di sini – silakan klik. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa Kristus yang masuk dalam sejarah manusia dalam peristiwa Inkarnasi, memang telah ada sebelum segala abad, yang dikatakan dalam Kitab Suci “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh 8:58). Jadi, bagi Allah, yang keberadaan-Nya adalah kekal, maka tiga Pribadi juga adalah kekal. Namun, bagi manusia, kita mengalami manifestasi dari ketiga Pribadi di dalam waktu.

      2. Tentang Mat 28:18-20: “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Perkataan “diberikan” memang mempunyai implikasi bahwa ada yang memberi. Namun, kita jangan melupakan kodrat Yesus yang adalah sungguh manusia. Dengan kata lain, dalam kemanusiaan-Nya, Dia menerima segala sesuatunya dari Allah Bapa. Atau kita juga dapat melihatnya bahwa Kristus adalah dari Allah Bapa. Ada perbedaan hubungan asal dalam kekekalan. Penjelasan tentang hal ini ada di sini – silakan klik. Kesetaraan antara Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus ini terlihat dari ayat berikutnya, yaitu ayat 19. Dalam ayat 19 ini, Kristus memberikan perintah untuk membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.

      3. Tentang Mat 5. Ada banyak ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus, seperti yang Anda kutip: Yoh 14:10, 24, 28; Yoh 7:16-18, 3; Yoh 1:18; 1Kor 8:6; Flp 2:9; dll. Itulah sebabnya umat Katolik juga mengakui kemanusiaan Yesus. Namun, selain ayat-ayat yang membuktikan kemanusiaan Yesus, Kitab Suci yang sama juga mencatat ke-Allahan Yesus. Ke-Allahan-Nya dapat dibuktikan dengan kedatangan-Nya yang dinubuatkan oleh para nabi dari generasi ke generasi: Kelahiran-Nya (lih. Mik 5:2), kehidupan-Nya yang membuat banyak mukjizat (lih. Yes 29:18, 35:5-6, 61:1; bdk. Mat 11:5; Luk 4:18; Mat 15:30), penderitaan dan kematian-Nya (lih. Yes 42, 49, 50, 53). Yesus menyatakan ke-Allahan-Nya juga dengan mengajar dan memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri -bukan dengan mengatakan “Beginilah firman Tuhan…. ” (Kel 4:22; 5:1; Yos 24:2; Hak 6:8; 1Sam 10:18, dst) seperti dikatakan oleh para nabi, namun Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu…” (lih. Mat 5-6). Dengan perkataan-Nya, Yesus menyatakan diri-Nya bahwa Ia adalah Tuhan. “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan… ” (Yoh 13:13). Yesus juga menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan dengan menyatakan bahwa Ia berdiam di dalam hati setiap orang, terutama dalam mereka yang miskin, sakit dan terpinggirkan, dan bahwa semua orang kelak akan dihakimi atas dasar perbuatannya terhadap mereka yang miskin, sakit dan terpinggirkan itu, sebab dengan perbuatan tersebut mereka memperlakukan Dia (lih. Mat 25:31-46). Yesus juga melakukan begitu banyak mukjizat seperti menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41), menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19). Yesus juga menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah karena Yesus berkuasa untuk mengampuni dosa (lih. Mat 9:2-8; Mrk 2:3-12; Luk 5:24, Luk 7:48); Kristus juga mengatakan bahwa Dia mampu memberikan hidup yang kekal (lih. Yoh 10:28) dan bahwa Ia dan Bapa adalah satu (lih. Yoh 10:30). Dengan cara-Nya sendiri Yesus menyatakan diri-Nya adalah Sang Yahweh, terutama dengan mengatakan bahwa diri-Nya adalah, “Aku adalah Aku/ I am who am”, yang adalah sinonim/ persamaan arti kata ‘Yahweh’ itu sendiri. Karena klaim ke-Allahan inilah, maka Yesus hendak dibunuh dan dilempari batu oleh orang-orang Yahudi (lih. Yoh 10:33). Selanjutnya, Yesus sendiri tidak menolak ketika Rasul Tomas mengatakan, “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28) dan tidak menolak ketika Dia disembah oleh para murid (lih. Mat 28:16-17). Dan akhirnya dalam Kitab Wahyu digambarkan bahwa Yesus bertahta dalam kemuliaan dan seluruh ciptaan menyembah-Nya (lih. Why 5:13-14). Nah, permasalahannya, apakah Anda juga menerima ayat-ayat ini?

      4. Tentang nubuat: Adalah sungguh berbeda kesalahan dalam pengajaran dan kesalahan dalam penerapan yang dilakukan oleh oknum. Dengan kata lain, kalau Anda melihat dalam sejarah, Gereja Katolik mempunyai pengajaran yang sama dari zaman ke zaman. Ajaran ini hanya bisa diperjelas, namun tidak bisa diubah. Namun, pernyataan tentang akhir zaman dari Charles T. Russel justru mengalami perubahan dari waktu ke waktu dan memang terbukti salah. 

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. Jesus' heir on

    kisah di 1 Samuel 28 menurut saya roh Samuel yg menampakkan diri bukanlah Samuel yg sbnrnya,karena menurut Alkitab,org yg sudah meninggal tidak bisa berurusan dgn masalah duniawi,dan lagi yg memanggil adalah dukun,yg sdh pati tidak kenal Tuhan

    [Dari Katolisitas: Umat Katolik tidak mendasarkan interpretasi Kitab Suci atas pemahaman pribadi. Tentang perikop 1 Samuel 28, interpretasi yang diizinkan oleh Gereja, telah pernah dibahas di artikel ini, menurut pengajaran St. Thomas Aquinas silakan klik.Tradisi Katolik mengizinkan bahwa perikop ini dapat diinterpretasikan sebagai :1) kejadian deskripsi naratif dari penampakan diri jiwa Samuel yang sesungguhnya, atau 2) penampakan itu dihasilkan oleh setan (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
    Tidak semua penampakan adalah pekerjaan setan. Meskipun beberapa penampakan adalah pekerjaan setan (ST II-II q. 85 a. 3), Tuhan kadang-kadang mengizinkan penampakan yang ajaib dari orang-orang yang sudah meninggal kepada mereka yang masih hidup dengan dispensasi yang istimewa, demi maksud penyelamatan-Nya yang seluruhnya bijaksana (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).]

  7. Benar sekali Kasih (saya salah tulis cinta). Mengenai ziarah makam sudah sangat jelas di Alkitab. Maria Magdalena serta Maria yg lain menziarahi makam Yesus pagi2 benar; menjelang fajar ;ketika hari masih gelap, mendahului yg lain (Maria ibu Yesus & para murid) dengan persiapan (direncanakan sebelumnya) berupa barang bawaan rempah2. Mereka ini adalah manusia beriman benar yg bisa mengakhiri kontroversi boleh tidaknya orang berziarah ke makam keluarga. Andai Yesus tdk berkenan makamnya diziarahi, pastilah akan menitip pesan sebelum wafat.

  8. Tolok ukur masuk surga yg utama pastilah IMAN, CINTA, dan PENGHARAPAN, sesuai ajaran katolik. Ketiganya tak terpisahkan seperti kesatuan mesra Bapa, Putra, & Roh Kudus, Amin. Iming-iming duit/gratifikasi & program cuci otak tdk menampakkan Iman Cinta & Pengharapan, hanya kosong belaka.

    [Dari Katolisitas: Pewartaan Injil yang sejati adalah pewartaan tentang iman, harapan dan kasih, yang berpusat pada Kristus. Maka memang tidak seharusnya ada unsur pemaksaan, apalagi dengan unsur uang.]

  9. Yesus dari lahir hingga wafat berada di wil Israel, shg tunduk pada aturan Musa ttg rambut kaum nazir. Sedangkan rasul Paulus setelah bertobat dipakai Yesus untuk jd dutanya kpd semua ras diluar suku israel yg mau percaya. Dia menulis: bukankah suatu kehinaan jika pria berambut panjang, bukan ditujukan kpd orang israel, tetapi seluruh dunia diluar israel, karena Paulus sdh paham semua aturan Musa. Paulus menulis demikian dibimbing Roh kebenaran. Kalau Yesus berambut pendek, maka sejak awal pasti sudah diadili, bahkan dirajam, krn melanggar hukum kenaziran & nubuat ttg cara Yesus wafat meleset total. Seandainya Paulus tdk menulis masalah rambut, maka referensinya cuma satu yaitu aturan Musa yg akan jd rujukan bg pendeta kristen & pastor katolik. Pastor & Pendeta masa kini tdk akan cukur rambut hingga pengabdiannya selesai, gondrong semua, ada banyak yg mirip perempuan dari belakang, nanti akan ada yg coba2 meniru gaya rambut Yesus.

    [Dari Katolisitas: Mari, janganlah terlalu mempersoalkan hal-hal yang tidak secara langsung berhubungan dengan ajaran iman. Hal berambut panjang atau pendek lebih mengarah kepada hal-hal disipliner, dan bukan doktrinal; lebih mengarah kepada praktek devosional, daripada artikel iman. Kami menutup segala pembicaraan tentang hal ini. Mohon maaf kami tidak dapat melanjutkannya. Mohon pengertian Anda.]

  10. Ada jenis2 patung yg disembah: patung terafim; patung dagon; patung dewa molokh; patung anak lembu emas buatan harun, semua bisa dilihat di wikipedia. Ada jenis patung yg tdk disembah, referensinya Bil21:4-9 Allah memerintahkan Musa membuat patung ular tembaga; Kel 25:18 Allah memberi arahan utk membuat 2buah patung kerub dr emas tempaan utk tutup tabut perjanjian; Kel37:7 2patung kerub emas tsb dibikin. 1Raj6:23 Salomo membuat 2patung kerub raksasa dr kayu minyak & disalut emas untuk ruang belakang bait Allah; 1Raj7:25 Salomo membuat 12 patung lembu dr tembaga utk bag luar dr bait Allah; 1Raj10:20 Salomo membuat 12 patung singa dr emas utk hiasan istananya. Saudara kita SSY tdk pernah mengajarkan referensi patung yg tdk disembah. Kita tdk usah alergi patung, selama kita tdk akan pernah menyembah patung

    [Dari Katolisitas: Anda benar. Kami juga sudah menyampaikan hal serupa dalam beberapa artikel dan tanya jawab di situs ini, seperti di artikel ini, silakan klik dan ini, silakan klik]

  11. Ytk pak Stef dan Ibu Inggrid,
    Saya pernah mendapatkan pelajaran bahwa Allah itu mahakasih sehingga Dia tidak akan menjebloskan roh manusia yang diciptakan-Nya ke dalam neraka. Mereka yang masuk neraka disebabkan oleh keinginan sendiri yang tidak mau bertobat dan mengasihi Allah serta terus mengumpat-Nya meskipun sudah berada di pintu neraka. Jadi bukan Allah yang menjebloskan sang pendosa ke dalam neraka tetapi sang pendosa itu sendiri yg menjebloskan dirinya ke dalam neraka. Bagaimana pandangan bapak Stef dan Ibu Inggrid tentang ajaran seorang suster dari Medjugorje ini yg katanya berdasarkan kesaksian anak-anak yg diajak oleh Bunda Maria untuk melihat surga dan neraka.

    Tuhan memberkati,

    Andryhart

    • Shalom Andryhart,

      Allah yang mahakasih memang tidak secara aktif menjebloskan manusia ke neraka, namun manusia itu sendiri yang memilih untuk masuk ke neraka, yang artinya adalah keterpisahan total dengan Allah. Paus Yohanes Paulus II dalam katekese tentang Neraka, menjelaskan demikian:

      “The images of hell that Sacred Scripture presents to us must be correctly interpreted. They show the complete frustration and emptiness of life without God. Rather than a place, hell indicates the state of those who freely and definitively separate themselves from God, the source of all life and joy. This is how the Catechism of the Catholic Church summarizes the truths of faith on this subject: “To die in mortal sin without repenting and accepting God’s merciful love means remaining separated from him for ever by our own free choice. This state of definitive self-exclusion from communion with God and the blessed is called ‘hell’” (n. 1033).

      “Eternal damnation”, therefore, is not attributed to God’s initiative because in his merciful love he can only desire the salvation of the beings he created. In reality, it is the creature who closes himself to his love. Damnation consists precisely in definitive separation from God, freely chosen by the human person and confirmed with death that seals his choice for ever. God’s judgement ratifies this state.”

      Keputusan manusia untuk memilih keterpisahan dengan Tuhan adalah dengan ketidakmauannya untuk bertobat dari dosa berat, karena dengan demikian ia lebih memilih dosa daripada Tuhan. Jika Tuhan mengizinkannya, itu adalah karena Ia menghormati kehendak bebas orang tersebut.

      Semoga kita selalu mempunyai sikap pertobatan sepanjang hidup, agar jika Tuhan memanggil kita, kita ada dalam keadaan berdamai dengan Tuhan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. shalom katolisitas.
    sebelumnya sy ucapkan terimakasih atas artikel-artikelnya sungguh ini sangat bermanfaat bagi saya. dan semua pertanyaan sejak sy kecil terjawab disitus ini.baru-baru ini sy didatangi oleh saksi yahuwa, saya sangat beruntung dangan adanya situs ini.apa lg selama ini sy punya kerinduan untuk memahami kitab suci dan ajaran gereja katolik.satu keyakinan sy bahwa agama didunia ini berbeda demikian Tuhannya menurt masing2..dan saya pastikan dengan hatinurani saya bahwa yesus adalah Tuhan..saya punya prinsip bahwa sy tidak memilih orang dalam hal mendengar apalagi yang berkata baik dengan cara2 yang baik pula..setelah saya membaca artikel ini saya melihat apa yang menjidi perbedaan dasar yang tidak bisa dikompromi antara ajaran katolik dengan saksi yehuwa…saya yakin ajaran mereka menurut pemahaman saya tidak lkitabiah dan memaksakan kehendak pribadi.. sudah 2 kali mereka mendatangi saya dan sy berusa menyambut baik dan menerima alkitab dan buku mereka tp sama skali sy tidak baca dan sy tidak mencari sesuatu dalam buku karena saya sudah yakin mereka kurang benar…pertanyaan sy apa sy salah menerima alkitab mereka meskipun sytidak mempercayainya??? apakah saya salah melayani mereka meskipun saya sudah yakin dengan ajaran katolik? apakah saya salah kalo berdiskusi dengan mereka?? terimaksaih atas jwabanya..salam damai dari segala sumber damai.

    [Dari Katolisitas: Menerima pemberian orang lain dapat saja dilakukan, walaupun tidak berarti kita harus mempercayai keyakinan mereka. Melayani kedatangan mereka (umat SY) dan berdiskusi dengan mereka, juga bukan sesuatu yang salah. Yang terpenting, berusahalah untuk memahami ajaran iman Anda dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka dalam berdiskusi Anda akan tetap dapat menampakkan kasih dan kebenaran secara utuh.]

  13. Shalom, slam damai dlm Kristus…

    Sya prnah m’dpat 1 risalah yg diedar’n para mision saksi yhwah ini. Mmg bila m’bcanya ad yg tdk s’jalan dgn ap yg diajar’n alkitab, rasul mahupn Kristus sndri.
    Namun ad 1 bhagian yg m’narik, bila dkatakan:

    tdak ad api neraka yg kekal & p’nyiksaan yg kekal. Yg ada hnya K’MATIAN YG KEKAL BG YG TDK M’DPAT HDUP KEKAL D SYURGA. Mngapa tdk ad p’nyiksaan kekal d api neraka? KRANA ALLAH TIDAK SEKEJAM ITU…

    Wah! Msuk akal ya? Krana Allah itu kn adlah kasih… X mugkin Dia skejam itu m’yiksa ciptaan-Nya slma ribuan tahun, malah KEKAL..?

    Apa pndangan pak Stef & ibu Ingrid? Thanx in advance…

    [dari katolisitas: Silakan membaca terlebih dahulu artikel di atas di bagian ini - silakan klik]

  14. Yesus Adalah Tuhan dialah Awal dan Akhir, semua sudah di tuliskan dalam Kitab Suci mengenai ajaran ajaran sesat maka mari kita lebih dekat lagi kepadaNYA, sehingga kita tidak disesatkan oleh nabi nabi palsu.

    Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Add Comment Register



Leave A Reply