KKR, Luk 15:11-32, Wahyu pribadi

Pertanyaan:

Salam sejahtera

Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa saya sangat terbantu sekali dengan adanya situs ini untuk memahami Katolik. Saya pribadi belumlah dibaptis, tetapi dari kecil saya selalu mengikuti tata cara Katolik sebagaimana saya dibesarkan.

Saat ini saya ingin sekali mengikuti Yesus dengan lebih dalam lagi, dan berbagai cara saya lakukan diantaranya ikut kebaktian di gereja Katolik maupun Protestan. Semakin jauh saya mengenal keduanya, saya menemukan banyak sekali perbedaan diantara keduanya, yang membuat saya semakin bingung. Beberapa hal yang ingin saya tanyakan adalah:

1. Adakah KKR kesembuhan dalam agama Katolik? Beberapa waktu yang lalu saya datang pada acara KKR kesembuhan dan saya melihat banyak sekali masyarakat yang hadir. Namun terus terang saya tidak melihat sendiri ada benar2 warga yang disembuhkan secara dramatis. Saya sering mendengar bahwa KKR seperti ini sangat populer, terlebih bagi pendeta2 yang sangat terkenal semisal Benny Hin atau Pariadji. Apakah benar ada kesembuhan dari KKR semacam ini? Dan apabila benar kesembuhan itu ada, apakah berasal dari Tuhan? Bagaimana Katolik memandang hal ini, karena setau saya hanya gereja Protestanlah yang mempunyai kegiatan semacam ini?

2. Pada acara KKR tersebut sang pendeta berkotbah tentang perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Pdt tersebut menanggapi tentang bagian dimana si anak sulung merasa iri karena setelah sekian lama dia melayani bapanya, tetapi tidak sekalipun sang bapa pernah mengadakan pesta untuknya. Menurut sang pendeta, hal ini terjadi karena sang anak sulung tidak pernah meminta ayahnya untuk mengadakan pesta untuknya, dan hal semacam inilah yang sering terjadi pada umat Kristen dewasa ini, dimana mereka tekun dan setia melayani Yesus, tetapi tidak memperoleh penghidupan dan keselamatan yang layak (misal banyak hutang, miskin, sakit, dsb). Pak pendeta kemudian menegaskan bahwa hal ini tidak perlu terjadi, karena umat Kristen adalah anak raja yang kaya raya, yang akan diberi jika meminta apapun. Ia juga menegaskan bahwa cara berdoa yang hanya pasrah dan meminta sedikit saja adalah salah karena ini adalah pengaruh iblis yang tidak ingin melihat anak Tuhan kaya raya, sehat, dan bahagia sehingga seharusnya kita meminta sebanyak-banyaknya kepada Yesus, Bapa kita.
Apakah ajaran bahwa umat Kristen harus kaya dan makmur seperti itu adalah benar? Bagaimana pandangan Katolik mengenai ini?

3. Seorang teman Protestan baru-baru ini memberikan sebuah buku yang berisi kesaksian tentang surga dan neraka. Pada salah satu bab tertulis tentang Maria yang sangat memojokkan umat Katolik yang membuat saya terkejut, demikian isinya:

Sebagian Kisah Kesaksian gadis kecil (Janet Balderas Canela) berumur 8 tahun yang ditemui Yesus Kristus. – Penglihatan tentang kesedihan Maria.
——————————————————
Kami menunggang lagi dan tiba pada sebuah pintu yang setengah terbuka, Tuhan berkata, “Hamba kemarilah, sebab dibalik pintu ini adalah Maria. Mendekatlah dan dengar apa yang sedang dikatakannya, supaya kau dapat pergi dan katakan pada Umat-Ku, katakanlah pada mereka bagaimana Maria sedang menderita.” Saya mendekat dan melihat seorang gadis muda, yang sangat cantik, dan sangat elok parasnya. Sedang melihat melalui suatu jendela yang kecil. Dia sedang bertelut dan melihat kebawah memandang bumi, menangis karena kesakitan yang sangat.

Maria berkata, “Mengapa kamu menyembahku? mengapa, Jika aku tidak memiliki Kuasa! Mengapa kamu menyembahku? Aku tidak melakukan sesuatu apapun! Jangan menyembahku! Jangan bertelut padaku! Aku tak dapat menyelamatkanmu! Yang hanya dapat menyelamatkan, yang hanya dapat menebusmu ialah Yesus, yang telah mati untuk semua manusia! Banyak orang mengatakan aku memiliki kuasa, bahwa aku dapat mendatangkan mujizat-mujizat, tetapi semua itu tipu muslihat! aku tidak dapat berbuat apapun! Allah yang Maha Kuasa berkenan denganku dan menggunakan rahimku agar Yesus dapat lahir dan menyelamatkan setiap orang, tetapi aku tidak memiliki kuasa apapun. Aku tak dapat melakukan apapun! Jangan bertelut padaku! Jangan menyembahku! Sebab aku tak layak disembah. Hanya satu Yang layak, yang disembah dan didambahkan adalah Yesus! Dialah satu-satuNya yang menyembuhkan dan menyelamatkan!”

Saya dapat melihat wanita muda itu sedang dalam kesakitan yang sangat, penuh dengan kepedihan dan tangisan. Dia berkata, “Tidak! Tidak! Jangan menyembahku! Mengapa kamu bertelut padaku? Aku tidak melakukan apapun!” Saudara/i terkasih, sangat luarbiasa dapat melihat wanita muda ini, bagaimana dia menangis dengan kepedihan dan kesedihan.
—————————————————————————-
Bagian-bagian lain dari buku itu berisi tentang kesaksian 7 orang muda Kolombia tentang surga dan neraka, serta kesaksian2 yang serupa dari Ricardi Cid, Victoria Nehale, serta Jannet Balderas Canela tersebut. Apakah kesaksian semacam ini benar adanya dan pantas dipercayai? Mengapa saya tidak pernah mendengar kesaksian semacam ini dari Katolik?

Demikianlah beberapa hal yang sangat membingungkan saya dan saya sangat mengharapkan pencerahan mengenai hal ini agar tidak tersesat.

Terima kasih, Syenny

Jawaban:

Shalom Syenny,

1. Adakah KKR dalam Gereja Katolik? Ada. Silakan anda menghubungi Shekinah, jika anda berdomisili di Jakarta, atau jika anda berkesempatan pergi ke Cikanyere, Puncak, di gereja Lembah Karmel (Romo Yohanes Indrakusuma, O Carm) silakan mengikuti Misa Kudus di sana, yang biasanya diikuti dengan doa penyembuhan setelah Misa Kudus.

Dalam Gereja Katolik memang yang diutamakan adalah kesembuhan rohani, walaupun jika Tuhan berkenan, Ia tetap dapat memberikan mukjizat kesembuhan jasmani. Saya pernah mengalami kesembuhan jasmani melalui doa Misa Kesembuhan, itu terjadi di Manila Filipina tahun 2000 yang lalu, sehingga saya dapat mengatakannya. Saya percaya Tuhanlah yang memberikan karunia kesembuhan itu. Jadi bagi yang pernah disembuhkan melalui KKR, tentu saja mereka percaya bahwa kesembuhan itu dari Tuhan, terutama jika secara manusiawi itu hampir mustahil disembuhkan.

Sebagai orang Katolik, saya memang lebih menyarankan bagi umat Katolik untuk mengikuti KKR yang diadakan oleh komunitas Gereja Katolik, untuk mendapatkan  pengajaran yang sesuai dengan pengajaran Magisterium Gereja Katolik.

2. Mengenai Luk 15:11-32 tentang perumpamaan anak yang hilang memang diceritakan kisah si sulung, yang iri hati karena Bapanya tidak pernah mengadakan pesta untuknya. Namun interpretasi yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah bahwa si sulung itu tidak menyadari besarnya belas kasih dari bapanya. Dan saya rasa interpretasi ini lebih tepat, dibandingkan dengan mengartikan bahwa kita harus meminta berkat (‘dipestakan’ pada kasus anak sulung itu), sampai- sampai menganggap bahwa doa yang berpasrah itu adalah salah.

Kita memang boleh dan bahkan harus meminta berkat dan pertolongan Tuhan (Mat 7:7; 1 Tim 2:1), namun kita tidak dapat memaksa Tuhan harus mengabulkan permohonan kita. (Atau dalam kasus si sulung di atas, memaksa/ mendesak Bapa harus mengadakan pesta baginya). Maka dalam kasus kehidupan kita, kita harus berusaha sebagai manusia (misal bekerja keras, berobat, dst), namun tetap menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan. Pada akhirnya, bukti iman yang dewasa adalah jika kita dapat berdoa seperti Yesus, “Bukanlah kehendak-ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (lih. Luk 22:42) atau seperti Bunda Maria, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” (lih. Luk 1: 38) Jika seseorang mengatakan bahwa doa semacam ini salah, artinya ia menganggap ajaran Alkitab – yaitu contoh dari Yesus sendiri- itu salah. Saya pikir tidak seharusnya kita bersikap demikian.

Juga Gereja tidak mengajarkan bahwa kalau menjadi pengikutnya kita harus jadi makmur secara lahiriah. Kita dapat berusaha dan bekerja keras, namun Tuhan tidak menjanjikan bahwa semua yang mengikuti-Nya pasti makmur secara duniawi. Malah yang diajarkan, kita harus berhati-hati agar jangan sampai hati kita terikat pada uang dan kekayaan duniawi, sebab “cinta uang adalah akar dari segala kejahatan.” (1 Tim 6:10). Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya (ay.9), yang sangat jelas mengingatkan kita agar kita tidak mengejar kekayaan duniawi, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” Maka, hidup yang berkelimpahan yang dijanjikan Tuhan (Yoh 10:10) adalah hidup ilahi, dengan melalui Dia sebagai pintu menuju keselamatan kekal (Yoh 10:9).

3. Mengenai wahyu pribadi.
Dewasa ini kita melihat banyak orang meng-klaim telah melihat penglihatan ini dan itu, apalagi yang sehubungan dengan akhir jaman. Kita tidak perlu resah. Gereja Katolik memang sangat berhati-hati dalam mengatakan apakah wahyu itu otentik atau tidak karena masih perlu diuji oleh waktu dan mukjizat-mukjizat yang sungguh-sungguh terjadi, untuk membuktikan bahwa itu sungguh dari Allah.

Maka, saya menganjurkan anda waspada dengan klaim penglihatan-penglihatan semacam itu. Bagi saya sendiri, saya lebih mempercayai apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, karena sudah teruji dan dibuktikan oleh waktu dan fakta. Perlu anda ketahui juga, bahwa Gereja Katolik tidak pernah menyembah Maria. Jika kita berdoa kepada Maria, itu bukannya supaya ia mengabulkan doa kita, namun supaya ia mendoakan kita. Dasarnya adalah bahwa sebagai umat beriman kita dapat saling mendoakan, dan bahwa sebagai umat beriman kita berada dalam persekutuan orang kudus yang ikatannya tak terputuskan oleh maut, sebab maut itu sudah dikalahkan oleh Yesus.

Kita memang menghormati Bunda Maria, sebagai Ibu kita, karena Yesus sendiri telah memberikan Maria untuk menjadi ibu bagi murid yang dikasihi-Nya, yaitu kita semua (Yoh 19: 25-27). Umat Katolik menghormati Maria, karena pertama-tama Allah-lah yang menghormatinya dan memilih-Nya sebagai Ibu Putera-Nya sendiri. Allah tidak begitu saja hanya ‘meminjam’ rahim Bunda Maria. Bunda Maria telah dipilih oleh Tuhan dari sejak awal mula untuk menjadi Ibu Yesus, dan dikuduskan untuk maksud Allah itu. Jika Tuhan sedemikian spesifik dalam menentukan dan menguduskan tabut perjanjian yang berisi dua loh batu 10 Sabda perintah Allah dan roti manna di PL, maka Allah akan lebih lagi secara khusus menguduskan rahim Bunda Maria yang akan menjadi tabut Perjanjian Baru yang menjadi tempat kediaman Putera-Nya sendiri, yang adalah Sabda yang menjelma menjadi daging (Yoh 1:14) dan Sang Roti Hidup (Yoh 6:35)! Bagi saya, apapun yang dikatakan dalam wahyu pribadi harus kembali kita periksa, apakah itu sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Alkitab dan ajaran Gereja Katolik. Hanya dengan cara demikianlah kita mengetahui ke-otentikan nubuat/ penglihatan.

Silakan membaca di situs ini artikel-artikel dan tanya jawab tentang Bunda Maria, persekutuan orang kudus, dan Akhir Jaman menurut pengajaran Gereja Katolik untuk memahami pengajaran tentang hal- hal ini. Semoga anda dapat menemukan kebenaran di dalamnya, yang mendatangkan damai sejahtera.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

18 Komentar to KKR, Luk 15:11-32, Wahyu pribadi

  1. Syalom teman2 yang diberkati oleh Tuhan :-D
    Saya ingin menanyakan sesuatu, di daerah saya ada seorang bruder yg bisa mengobati orang sakit, dengan resep obatnya dengan daun2 herbal yg diracik sendiri. Tetapi yang menjadi pertanyaan saya adalah bruder tersebut sering memberikan benda atau alat yang berupa seperti magnet, dengan tujuan sebagai pegangan dan benda untuk menjaga diri. Biasanya disuruh dibawa dengan dimasukkan di kantong celana.. Apakah ini disetujui oleh gereja Khatolik?
    Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih untuk jawabannya

    • Rm Yohanes Dwi Harsanto, Pr May 16, 2012 at 8:49 am

      Salam Andi,

      Gereja tidak menolak pengobatan sejauh bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Anda bisa bertanya kepada bruder tersebut untuk mendapatkan penjelasan ilmiahnya. Kurang lebih metode kumparan magnet logam tersebut pada hakikatnya merupakan cara untuk menyeimbangkan ion-ion dalam badan manusia atau ion-ion di lingkungan sekitar. Namun untuk lebih jelasnya, Anda bisa bertanya kepada bruder tersebut.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

  2. Nikolas rumpang April 21, 2012 at 9:10 pm

    Salam sejahtra!
    Yg saya ingin tanyakan adalah knp di gereja Katolik tdk ada semacam “KKR” bisa menyembuhkan orang sakit (lumpuh) seketika seperti di Gereja lain. Terima kash

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik.]

  3. Dear Katolisitas,

    Shalom, saya mau bertanya soal gaib tidak tahu harus di-post dimana, jadi saya coba disini saja.
    Di Indonesia banyak pengobatan alternatif, salah satu yang cukup dikenal bahkan sampai manca negara adalah Ibu A di pemalang. Beberapa keluarga saya juga termasuk langganannya, artinya sudah pergi beberapa kali dan tingkat keberhasilan cukup baik (saya tidak berani bilang prosentasenya).

    Cara pengobatan ibu A ini adalah dengan mendekatkan tangan ibu itu ke bagian yang sakit, misalnya jantung atau kanker, kemudian dalam sekejap keluarlah entah kotoran, entah apa, kadang bercampur darah. Dan umumnya sembuhlah dia.

    Belum lama ini seorang keluarga saya pergi berobat kesana. Ia sakit jantung sudah tersumbat cukup parah dan harus dioperasi menurut dokter. Biaya operasi sudah pasti mahal bisa ratusan juta dan ia tidak sanggup dengan biaya itu. Maka alternatif pergi berobat ke pemalang dengan biaya jauh lebih murah dan juga tidak butuh pemulihan lama (jika harus dioperasi jantung) menjadikan suatu pilihan yang sangat menarik. Saudara saya ini beragama Katolik. Dan menurut info ibu ini beragama Muslim. Yang menarik lagi adalah bahwa ada juga Romo Katolik yang berobat kesana, sehingga banyak orang Katolik yang merasa enteng saja pergi berobat kesana.

    Pertanyaan saya:
    1. Menurut pandangan Katolik, apakah dibenarkan pergi berobat ke tempat semacam itu? Apa alasannya? (sepengetahuan saya hampir tidak ada syarat apa-apa untuk berobat ke sana, beragama tidak beragama OK saja, kecuali katanya disarankan untuk tidak makan makanan yang mengandung babi)

    2. Yang saya ketahui menurut seorang teman Muslim, hal ini juga masih dalam perdebatan dalam Islam, bahwa entah kuasa apa di belakang semua itu.

    3. Jika pertanyaan no 1 jawabannya adalah tidak benar, bagaimana menyikapi dengan bijaksana pilihan berobat murah dengan kemungkinan sembuh yang besar dibanding dioperasi tapi tidak punya uang? Bagaimana meyakinkan penderita supaya tetap beriman kepadaNya dengan konsekuensi tidak sembuh? Apakah dengan mengatakan bahwa yang terpenting adalah keselamatan abadi? Bagaimana menyampaikannya sehingga tampak masuk akal?

    Mohon pencerahan,

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr January 25, 2012 at 1:54 pm

      Salam Teddy,

      Pengobatan sendiri ada berbagai macam metode. Ada yang berdasar pengetahuan tradisional ada pula yang berdasar ilmu kedokteran, dan ada yang merupakan kombinasi keduanya. Semua itu merupakan usaha pengobatan dalam rangka memelihara badan sebagai anugerah yang dipercayakan Allah pada kita. Yang menjadi masalah ialah metode di mana setiap metode bisa menghasilkan akibat dan efek yang berbeda. Metode alami dan ilmiah tidak pernah bertentangan dengan ajaran Katolik. Metode pengobatan alternatif seperti yang pernah dilakukan mendiang Rm H. Loogman, MSC yang memakai metode “radiesthesi”, dengan memakai gelombang elektromagnetik, misalnya, merupakan metode yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmu alam. Ada pula orang yang mengobati berdasar karunia penyembuhan dari Allah. Namun metode dengan menggunakan kekuatan lain di luar kehendak Allah,selalu dilarang oleh Gereja. Memakai setan dan kuasa kegelapan dari iblis pasti memiliki akibat samping. Jika akibat samping itu bukan secara fisik, bisa jadi secara spiritual.

      Harus diselidiki dulu gejala-gejala penyembuhan yang seperti yang Anda gambarkan tersebut. Apakah karunia penyembuhan atau bukan, harus diselidiki misalnya: Apakah gaya hidup dan ajaran si penyembuh sesuai dengan kehendak Allah? Jika ya, maka memang metode dan proses penyembuhan itu dari Allah. Walaupun si penyembuh mengutip Doa Katolik dan ayat Kitab Suci Katolik, namun jika gaya hidupnya dan ajarannya tidak sesuai dengan kehendak Allah, maka tetaplah bukan dari Allah. Kita tahu, bahkan setan pun menyebut nama Yesus dan menyebut beliau Anak Allah (Mat 8:29; Mrk 3:11; Luk 8:28). Maka, lihatlah gaya hidupnya. Gaya hidup yang sesuai dengan kehendak Allah ialah beribadah kepada Allah, rendah hati, sederhana, tulus, berderma, atau bisa kita acu pada buah-buah roh yang baik (Gal 5: 22). Jika ia berhubungan dengan sihir tentu saja tidak berasal dari Allah.

      Apakah ia mau diselidiki secara ilmiah? Jika ya, maka ia rendah hati dan ia sendiri merasa kagum dan heran akan kekuatan penyembuhan yang dikaruniakan padanya. Ia sendiri harus ditanya, sebenarnya kekuatan itu bagaimana bisa sampai pada dirinya? Apa penjelasannya mengenai pantangan daging babi dalam metode penyembuhannya? Mengapa daging babi dan mengapa bukan semua daging saja yang dipantang? Jika ia tidak menjawab maka tentu jelas ia menutupi sesuatu. Jika ia menjawab secara tidak masuk akal atau tidak sesuai dengan iman kita, maka pasti kita bisa menyimpulkan sesuatu.

      Kita pun bisa memantau kondisi pasien. Apakah kesembuhannya bertahan tanpa efek samping sekian lama? Apakah secara rohani orang itu dikuatkan, dan makin beribadah? Apakah ia kembali lagi ke si penyembuh itu? Apakah ada syarat-syarat yang dibebankan padanya? Jika semua jawaban menuju ke hal-hal yang dari Allah, maka bisa jadi kekuatan penyembuhannya dari Allah. Namun jika membuat ragu dan mengganggu, maka bisa jadi bukan dari Allah.

      Kita wajib mengingatkan orang yang datang kepada para penyembuh alternatif, paling tidak mengajaknya bersikap kritis seperti dengan mengajukan pertanyaan di atas. Cara mengingatkan ialah dengan cara lugas saja apa adanya namun dengan tetap menghormati kebebasan hati nuraninya untuk memutuskan. Jika merasa berobat secara medik mahal, maka pengobatan lain masih banyak namun harus diperhatikan hal-hal di atas.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto, Pr

  4. Orang Protestan memang selalu salah menilai orang katolik tentang Maria. Sangkanya dengan doa rosario orang katolik menyembah Maria, dan menganggap Maria segalanya. Rupanya harus dijernihkan pemahaman mereka tentang sikap orang katolik akan Maria. Bagi orang katolik Maria itu hanya mengantara yang bisa membantu lewat dia kita sampai pada Yesus. jadi bukan Maria punya kemampuan.Per Mariam ad Jesum.
    saya kiranya yang perlu ditobatkan [dari Katolisitas: mungkin maksud anda: yang perlu 'diubah' adalah] orang Protestan agar belajar memahami Mariologinya orang katolik sebelum memberikan penilaian. salam dan doaku.

  5. antonius yoedha January 12, 2011 at 9:48 pm

    Yth. Bpk/Ibu di Katolisitas
    Salam Damai dalam Kristus…
    Sebelumnya izinkan saya untuk bertanya lewat forum ini karena selama ini katolisitas sangat mencerahkan kehidupan beriman saya sehingga saya menjadi pribadi beriman yang lebih baik..

    Saya ingin mengajukan pertanyaan atau kalau boleh saya sebut konsultasi kepada Bapak Stef atau Ibu Ingrid..
    Begini masalah saya:
    Sekitar tiga bulan yang lalu bapak saya harus rawat inap di ICU karena serangan jantung, sungguh diluar dugaan karena sejak muda bapak saya termasuk orang yang peduli dengan kesehatannya, sehingga memiliki pola hidup dan makan yang sehat. Tapi kami keluarga besar menganggap ini memang kehendak Tuhan, dan setelah seminggu lebih dirawat, akhirnya bapak boleh pulang.
    Oleh dokter bapak disarankan untuk memakai ring, tetapi beliau mencoba pengobatan alternatif.
    Sekitar sebulan kemudian, bapak dan ibu saya menjadi rajin berziarah ke tempat2 yang dianggap memiliki keajaiban kristiani, ada yang mengatakan di tempat A terdapat gambar Yesus tempat B ada Bunda Maria memberi bunga, dan lain sebagainya (sebagai tambahan informasi, kami tinggal di Sleman, Yogya). Setiap ada kesempatan beliau berdua seperti berusaha mencari keajaiban di berbagai tempat yang konon ada TUHAN YANG HADIR NYATA. Lebih aneh lagi Bapak dan ibu saya pergi dengan seorang tetangga yang konon sering di kunjungi Yesus dan Maria, beserta 4-5 pemuda dari mudika wilayah kami. Apabila kami anak2nya ingin mengikuti kepergian beliau pasti berbagai alasan dikemukakan untuk mencegah kami terlibat.
    Selain “ziarah2″ tersebut, bapak dan ibu beserta “timnya (seorang wanita tetangga tadi dan 3-4 cowok mudika)” sering mengadakan ibadat di rumah yang disebut ibadat penyembuhan, tanpa melibatkan orang lain termasuk kami sebagai anaknya. Ibadat ini dipimpin oleh wanita tetangga kami tadi atau orang yang diundang oleh wanita tetangga tadi yang sama2 sering “berjumpa” dengan Yesus dan Maria.
    Saya agak skeptis dalam hal ini, saya memang bukan orang Katolik yang baik, tetapi saya tidak mempercayai hal-hal seperti ini, karena prinsip saya mengatakan bahwa Tuhan tidak bekerja seperti ini atau dengan cara-cara gaib seeperti yang sering dikemukakan oleh ibu2 tetangga kami tadi.
    Menurut bapak dan ibu, bagaimana kiranya yang harus saya lakukan menurut ajaran Katolik, karena saya khawatir terjadi hal2 yang menyimpang ajaran gereja katolik.
    Terima kasih sebelumnya apabila bapak Stefanus dan ibu Ingrid berkenan memberikan solusi atas masalah saya ini.
    Sukses selalu untuk Katolisitas…Terima kasih.

    • Shalom Antonius Yoedha,

      Menurut dugaan saya, kemungkinan bapak dan ibu anda rajin ziarah dan beribadah, karena mengharapkan kesembuhan fisik bapak. Kebetulan mereka berkenalan dengan sekelompok orang yang nampaknya mendukung maksud itu, sehingga klop. Sebenarnya klaim tentang penglihatan/ kunjungan Yesus dan Maria kepada seseorang, itu tergolong sebagai wahyu pribadi, yang belum dapat dipastikan kebenarannya atau tepatnya masih harus diuji kebenarannya. Tentang wahyu pribadi, pernah dibahas di sini, silakan klik. Maka tempat- tempat penampakan tersebut, yang belum mendapat pengakuan dari Gereja, juga belum dapat dipastikan sebagai tempat kehadiran Tuhan yang nyata, seperti anggapan mereka. Sedangkan kehadiran Tuhan Yesus yang nyata, sudah pasti ada di dalam setiap perayaan Ekaristi (lih. KGK 1413). Tidak ada ibadah bagi orang Katolik, yang lebih tinggi dari ibadah perayaaan Ekaristi, sebab Ekaristi adalah ‘sumber dan puncak seluruh kehidupan kristiani’, sebab dalam Ekaristi suci tercakuplah seluruh kekayaan rohani Gereja, yakni Kristus sendiri, Paska kita” (lihat KGK 1074).

      Hal kehadiran Kristus secara nyata dalam Ekaristi ini diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri, dan oleh para rasul sejak Gereja awal sampai sekarang. Maka ibadah kesembuhan yang paling ‘manjur’ adalah ibadah Ekaristi. Banyak orang telah mengalaminya, termasuk saya. Jadi jika saya boleh menyarankan, silakan anda berbicara secara baik- baik kepada orang tua anda, dan sampaikanlah ajaran Gereja Katolik tentang hal ini. Berdoa mohon kesembuhan bersama dengan saudara/i seiman dalam persekutuan itu boleh dilakukan, tetapi ibadat tersebut tidak sama nilainya dengan perayaan Ekaristi, di mana Yesus sungguh sungguh nyata hadir di dalamnya. Kehadiran ini bukan atas dasar perasaaan, perkiraan ataupun pendapat pribadi, tetapi ini adalah ajaran Yesus dan para rasul, yang terus dilestarikan oleh Gereja Katolik. Selanjutnya, silakan anda membaca artikel ini, silakan klik, dan artikel ini, silakan klik. Jadi sesungguhnya kehadiran Yesus secara nyata tidak perlu jauh- jauh dicari, silakan anda mendatangi gereja di paroki anda, dan ikutilah Misa Kudus di sana, dengan disposisi hati yang baik. Anda dapat pula mengajukan intensi Misa Kudus, untuk kesembuhan ayah anda. Anda sekeluarga dapat datang ke Misa bersama- sama dan berdoa demi kesembuhannya. Semoga Tuhan Yesus berkenan menjamah dan menyembuhkan ayah anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Salam Damai Kristus bagi tim katolisitas,

    Terkait dengan pewahyuan pribadi, ada beberapa kasus dan cerita dari para kudus yang dibuang (suspensi) oleh pihak Hirarki karena suatu pewahyuan Allah kepadanya. Saya menghargai Hirarki harus ekstra hati-hati dalam menyikapi fenomena ini, terkait dengan hal tersebut, ada beberapa pertanyaan di benak saya, sbb :
    1. Metode apa yang digunakan oleh pihak Hirarki untuk menganalisa apakah pewahyuan tersebut sungguh-sungguh dari Allah?
    2. Terkait dengan sebuah talenta (clairvoyance, healing, visioner, dsb), adakah landasan yang menyatakan bahwa para awam tidak mungkin dikaruniai karya Roh Kudus ini?
    3. Apakah benar Allah tidak pernah mewahyukan diri secara personal, terlepas ybs awam atau clerus?
    Terima kasih atas kesempatan ini, Caritas Christi Urget Nos.
    Dominus Vobis Cum

    • Shalom Putra,

      Tentang wahyu pribadi:

      1. Beberapa prinsip dasar yang dipegang oleh pihak hirarki Gereja pada saat memeriksa keotentikan tentang wahyu pribadi antara lain adalah:

      a. Apakah hal yang disampaikan oleh pribadi yang menampakkan diri itu sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja? Karena kalau terjadi pertentangan atau ketidak-sesuaian, maka besar kemungkinan wahyu tersebut tidak otentik. Kesesuaian dengan doktrin Gereja inilah yang dipegang oleh Magisterium Gereja Katolik dalam menyikapi wahyu-wahyu pribadi, seperti yang terjadi pada Bernadette Soubirous di Lourdes (1857) atau yang belum lama ini terjadi adalah tanggapan hirarki Gereja Katolik (2005) terhadap Vassula Ryden tentang wahyu pribadinya yang dituliskan dalam bukunya: Hidup sejati dalam Allah (HSDA). Silakan membaca sekilas kisah tanggapan terhadap kesaksian Vassula ini di sini, silakan klik, ataupun link-nya sendiri tentang HSDA di sini, silakan klik.

      b. Adakah saksi lain atau orang yang menyaksikan hal tersebut lebih dari satu orang? Adakah bapa pengakuan (confessor/ spiritual director) yang dapat ditanyai mengenai hal ini? Sebab wahyu pribadi yang otentik umumnya dapat melibatkan saksi lain untuk melihatnya, atau setidaknya melihat manifestasinya, seperti yang terjadi pada St. Maria Magdalena de Pazzi dan St. Bernadette Soubirous di Lourdes.

      c. Apa buah dari pengalaman itu? Apakah ada iman, harapan dan kasih kepada Allah dan sesama yang semakin berkembang? Dan apakah dirasakan/dialami pula buahnya oleh orang lain? Sebab wahyu pribadi yang otentik harusnya membuahkan iman, pengharapan dan kasih, yang juga dapat dirasakan dan dialami oleh orang- orang di sekitar sang penerima wahyu. Buah yang juga harusnya nampak adalah kerendahan hati, yang juga mau mendengarkan dan menerima arahan dari pihak otoritas Gereja. Sebab jika buah kesombongan yang nampak, itu malah menunjukkan bahwa wahyu tersebut hanya berasal dari diri sendiri atau malahan dari Iblis.

      2. Tidak ada landasan yang mengatakan bahwa para awam tidak dapat menerima karunia karismatik dari Roh Kudus, seperti karunia- karunia mengadakan mukjizat, penyembuhan, melayani, memimpin, berkata- kata dalam bahasa Roh, nubuat dan pengetahuan (1 Kor 12:28- 13:2).

      Kita mengetahui bahwa hal- hal ini diberikan juga kepada kaum awam yang tidak tertahbis. Contohnya adalah karunia mengadakan mukjizat dan penyembuhan yang diberikan kepada Sr. Briege Mc Kenna OSC, atas perantaraan doanya di hadapan Sakramen Ekaristi. Sr. Briege telah berkeliling ke seluruh dunia, termasuk juga ke Indonesia untuk melakukan karya kerasulannya ini. Bukunya yang cukup terkenal adalah Miracles do happen -The Inspiring True Story of the World- Famous Healer and the Reality of Miracles. Selanjutnya, karunia pengetahuan dan penglihatan juga diberikan kepada Vassula Ryden yang juga adalah seorang ibu rumah tangga biasa, bahkan ia adalah anggota Gereja Ortodoks. Lalu juga di kalangan komunitas karismatik Katolik, kita juga mengetahui bahwa umat awam dapat memperoleh karunia berdoa dalam Roh dan berkata- kata dalam bahasa Roh.

      Mengenai hal penglihatan ataupun clairvoyance, haruslah diimbagi dengan karunia yang lain yaitu karunia discernment (membeda- bedakan roh); karena terdapat 3 kemungkinan tentang penglihatan ataupun pengetahuan tersebut, yaitu: dari Allah, dari diri sendiri atau dari Iblis. Maka sangatlah penting peran bapa pengakuan (confessor/ spiritual director) yang dapat membimbing untuk mengetahui tentang hal ini.

      3. Dari kisah wahyu pribadi ini, kita mengetahui bahwa Allah (dalam hal ini Kristus Allah Putera) dapat mewahyukan Diri secara personal, seperti yang dialami oleh Sr. Maria Faustina Kowalska, saat menerima pengajaran dari Tuhan Yesus sendiri tentang devosi Kerahiman Ilahi. Demikian juga dengan pengalaman Vassula Ryden dalam HSDA, yang juga mengalami pengalaman penglihatan akan Yesus. Contoh lainnya kita ketahui jika kita membaca riwayat hidup Santo dan Santa, yang banyak di antaranya mengalami wahyu Tuhan secara personal.

      Demikian, semoga uraian singkat di atas dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Bagaimana jika disaat memilih confesor malah beradu pandangan, dan ybs malah menyangkal fakta tersebut?

        • Shalom Putra,
          Pertama- tama memang harus diakui tak mudah untuk mencari pembimbing rohani yang dapat membantu untuk proses discernment suatu wahyu pribadi. Sebab sang pembimbing rohani tersebut juga sebaiknya seseorang yang juga mempunyai kehidupan doa/ rohani yang baik. Alangkah baiknya jika misalnya anda menghubungi para pastor dari ordo Karmel, karena umumnya mereka tekun berdoa.
          Nah, setelah menemukan pembimbing rohani ini, memang diperlukan kerendahan hati untuk menerima arahan darinya. Selalu ada alasan bagi seorang pembimbing rohani dalam proses discerment ini untuk mengatakan sesuatu itu dari Tuhan, dari diri sendiri atau bukan dari Tuhan. Umumnya pembimbing rohani tidak langsung mencap sesuatu sebelum mendengar cerita selengkapnya. Namun jika di dalam proses ditemukan kejanggalan-kejanggalan (seperti yang sudah diutarakan di atas), maka adalah tugasnya untuk mengarahkan orang yang mohon bimbingan dan mengatakan bagaimana menyikapi pengalaman-pengalaman rohani tersebut.
          Jika wahyu itu benar-benar otentik dari Tuhan, maka sang pembimbing rohani juga umumnya dapat mengetahuinya.
          Demikian semoga dipahami.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

          • Terima kasih ibu Ingrid, karena anda sudah menyebut salah satu ordo yang setahu saya tekun dalam kontemplasi, permasalahannya di keuskupan saya ordo tersebut tidak berkarya (atau tidak diberi tempat).
            Tapi saya tetap bersyukur atas arahan yang sudah diberikan kepada saya(kami), Sekiranya karya ini memang sungguh dari Allah toh tidak akan ada yang menghalangi.
            Terima kasih sekali lagi…….

  7. Salam sejahtera
    Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa saya sangat terbantu sekali dengan adanya situs ini untuk memahami Katolik. Saya pribadi belumlah dibaptis, tetapi dari kecil saya selalu mengikuti tata cara Katolik sebagaimana saya dibesarkan.

    Saat ini saya ingin sekali mengikuti Yesus dengan lebih dalam lagi, dan berbagai cara saya lakukan diantaranya ikut kebaktian di gereja Katolik maupun Protestan. Semakin jauh saya mengenal keduanya, saya menemukan banyak sekali perbedaan diantara keduanya, yang membuat saya semakin bingung. Beberapa hal yang ingin saya tanyakan adalah:

    1. Adakah KKR kesembuhan dalam agama Katolik? …………….[Dari Admin Katolisitas: kami edit]
    2. Pada acara KKR tersebut sang pendeta berkotbah tentang perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:11-32). [Dari Admin Katolisitas: kami edit]
    Apakah ajaran bahwa umat Kristen harus kaya dan makmur seperti itu adalah benar? Bagaimana pandangan Katolik mengenai ini?

    3. Seorang teman Protestan baru-baru ini memberikan sebuah buku yang berisi kesaksian tentang surga dan neraka. Pada salah satu bab tertulis tentang Maria yang sangat memojokkan umat Katolik yang membuat saya terkejut, demikian isinya:

    Sebagian Kisah Kesaksian gadis kecil (Jannet Balderas Canela) berumur 8 tahun yang ditemui Yesus Kristus. [Dari Admin Katolisitas: kami edit]

    Demikianlah beberapa hal yang sangat membingungkan saya dan saya sangat mengharapkan pencerahan mengenai hal ini agar tidak tersesat.
    Terima kasih, Syenny

    [Dari Admin Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

    • Salam damai sejahtera

      Dear Syenny

      Ada satu ayat yang sangat indah dan itu sudah saya imani dengan se-baik2nya :

      Carilah Kerajaan Sorga beserta dengan segala KebenaranNya, maka sekaliannya akan dikaruniakan kepadamu.

      Jika Syenny sudah mendapatkan Kerajaan Sorga itu didalam hatimu, maka yang lainnya seperti kesehatan, keuangan dan semua kebutuhan hidupmu akan diberikan sebagai bonus.
      Untuk mendapatkan semuanya itu ada syaratnya : HIDUP BENAR DIHADAPAN ALLAH.
      Allah akan mencukupi segala kebutuhan kita kalau kita hidup berkenan kepadaNya
      Dan jangan lupa uang itu ada RACUNNYA.
      Kalau kita tidak kuat menanggung beban uang yang sudah diberikan, maka pada akhirnya kita akan menjadi seperti anak yang terhilang.
      Allah itu maha tahu, oleh sebab itu kalau se-seorang tidak sanggup untuk dilimpahi dengan uang yang sangat banyak, maka Allah tidak akan memberikan pada orang itu, sebab Allah itu mengasihi setiap umatNya.
      Dia tidak ingin seorangpun binasa, jika seseorang tidak tahan menaggung banyak uang,maka Tuhan tidak akan memberkati dengan limpah, supaya jangan sampai jatuh dalam dosa.
      Tetapi untuk kebutuhan setiap anak-anakNya Tuhan pasti akan mencukupinya.

      Saya pribadi tidak setuju dengan teologi kemakmuran.

      Jika Syenny mendapatkan kesempatan untuk menghadiri KKR, jangan mengharapkan untuk melihat mujizat (seperti kesembuhan) atau yang lainnya, tetapi cobanya untuk merasakan akan hadirat Allah di dalam KKR tersebut.
      Biasanya dalam setiap KKR hadirat Allah sangat terasa, itu bisa saja berupa mujizat kesembuhan atau yang lain, namun yang penting pada kesempatan tsb kita bisa benar2 merasakan hadirat Allah dalam diri kita.
      Tidak semua kesembuhan diterima langsung pada saat itu, tapi kadang2 masih memerlukan waktu sampai penderita menyerahkan segenap hatinya kepada Allah.

      Dan mengenai penglihatan2 seperti yang Syenny sudah dengar , sebaiknya kita mengikuti teladan Maria menyimpan dalam hati dan jika sudah sampai saatnya Rohkudus akan menyatakan segala kebenarannya bagi kita.

      Salam
      mac

      • Shalom Machmud dan Syenny,

        Apa yang dikatakan oleh Machmud memang benar. Bahwa jika kita menghadiri KKR ataupun Misa Kudus, janganlah pertama-tama mengharapkan melihat mukjizat-mukjizat, namun alamilah hadirat Allah di sana. Berdoalah terutama memohon kesembuhan rohani agar anda dapat bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih. Mengenai berkat, rejeki, dan rahmat kesembuhan pasti akan Tuhan berikan, jika itu dipandang-Nya baik bagi pertumbuhan rohani kita. Namun jika Tuhan mengizinkan ada sakit penyakit ataupun pergumulan dalam hidup kita, percayalah bahwa Tuhan tetap memiliki rencana yang indah di balik semua itu buat kita. Mari kita serahkan kepada Tuhan saja, dengan kepercayaan yang penuh bahwa Allah Bapa yang mengasihi kita mengetahui segala yang terbaik bagi kita.

        Justru karena yang terutama bagi kita mengalami hadirat Allah dan bersekutu/ bersatu dengan-Nya, maka memang Gereja Katolik mengajarkan pentingnya Misa Kudus. Jika kita menyambut Ekaristi dengan disposisi hati yang benar, maka sungguh tiada yang lebih indah daripada menyambut Ekaristi, sebab dengan demikian kita menyambut Kristus sendiri ke dalam hati dan tubuh kita. Tuhan yang mengatasi segalanya, merendahkan diri sehabis-habisnya dengan mengambil rupa sepotong roti, agar kita dapat bersatu dengan Dia. Pada saat itulah sesungguhnya seluruh keberadaan kita harus memuji dan menyembah Tuhan, atas kasih-Nya yang begitu besar kepada kita, dengan tiada terkira!
        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

    • Terima kasih sekali atas jawaban yang telah diberikan oleh Bu Ingrid, hal ini sangat membantu menguatkan iman saya. Semula saya sempat ragu ketika mendapatkan pengajaran seperti itu, namun setelah saya mengetahui pandangan Katolik yang sesungguhnya keraguan saya telah hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: