Yesus, sungguh Allah sungguh manusia

62

Pendahuluan:

Pada umumnya, kita mengasihi seseorang yang sudah kita kenal sebelumnya. Selanjutnya, jika kita sungguh- sungguh mengasihi orang itu, maka tentu kita ingin mengenalnya lebih dalam. Hal ini juga berlaku dalam hubungan kita dengan Kristus. Siapakah Kristus itu bagi kita? Siapakah Kristus itu sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan serupa ini seharusnya mengantar kita untuk lebih mengenal dan mengasihi Dia. Ia menjadi Penyelamat kita manusia, karena Ia adalah sungguh-sungguh Allah, dan sungguh-sungguh manusia. Karena Kristus adalah Allah, maka Ia sudah ada sebelum dunia ini diciptakan. Namun Ia rela menjelma menjadi manusia, karena mengasihi kita. Pada saat waktunya genap, Ia memilih untuk dilahirkan ke dunia, maka Putera Tunggal Allah yang tak terbatas, masuk ke dalam sejarah manusia. Hakekat ke-Allahan dan ke-manusiaan Kristus ini adalah ciri khas Yesus, yang membuat-Nya berbeda dari para nabi ataupun orang kudus manapun.

Yesus sungguh Allah, sungguh manusia

Bagi orang Katolik, sebutan bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, tidaklah asing. Namun apakah kita sungguh memahaminya? Apakah kita mengetahui dasar-dasarnya mengapa dikatakan bahwa Yesus Kristus adalah  Putera Tunggal Allah yang menjadi manusia, sehingga Ia adalah sungguh-sungguh Allah, dan sungguh-sungguh manusia?

Ya, istilah Teologi yang menjelaskan ciri khas Pribadi Yesus ini adalah "hypostatic union". Ini merupakan misteri Kristus yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami selama kita hidup di dunia ini, namun begitu jelas diajarkan dalam Alkitab. Yesus Kristus adalah Juru Selamat manusia yang menghapuskan dosa-dosa kita. Yesus adalah Pengantara kita yang menghubungkan kita dengan Allah. Sebagai manusia, Yesus dengan kehendak bebas-Nya mempersembahkan kurban penghapus dosa, yaitu diri-Nya sendiri, dan karena Ia adalah Tuhan, maka korban-Nya ini bernilai tak terbatas, sehingga mampu menghapus semua dosa manusia di sepanjang sejarah. Jika Gereja Katolik mempertahankan kebenaran ini, adalah karena kedua hal ini, ke-Allahan Yesus dan kemanusiaan-Nya, adalah "kedua hal yang sama pentingnya dalam karya keselamatan Allah."[1]

Protestant Kenotic Christology: apakah itu?

Pengertian tentang ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus sangatlah penting, jika kita ingin mengenal siapa Yesus yang sesungguhnya. Tanpa pemahaman ini, kita akan mempunyai gambaran yang keliru tentang Yesus Kristus. Dewasa ini kita mengenal teori-teori baru dari para peneliti Alkitab/ exegete modern yang berusaha memisahkan Kristus yang kita imani dengan Yesus menurut sejarah (the Christ of Faith and the Jesus of history). Pandangan ini sesungguhnya berakar dan tidak terlepas dari pendapat yang mengatakan bahwa selama hidup-Nya di dunia (33.5 tahun) Yesus itu 'hanya' manusia biasa, bukan Tuhan [walaupun disertai oleh Allah Bapa dan Roh Kudus secara istimewa]; dan baru setelah kebangkitan-Nya, Yesus adalah Tuhan.

1) Pandangan di atas mengambil dasar utama dari Fil 2: 6-11 yang mengatakan bahwa Kristus Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.... Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib...." Pandangan ini dikenal dengan ajaran Martin Luther,Protestant Kenotic Christology,[2] yang pada dasarnya bukan memahami bahwa Yesus mempunyai 2 kodrat (yaitu Allah dan manusia) dalam satu Pribadi-Nya semasa hidup-Nya di dunia, melainkan membaginya menjadi dua tahapan: tahap pengosongan (state of self- emptying) dan tahap pemuliaan (state of exaltation) sesudah kebangkitan. Dengan demikian, Luther tidak membedakan kodrat dan Pribadi Yesus, sehingga sebenarnya ajarannya mempunyai kemiripan dengan campuran ajaran Arianism dan Monophisitism, ajaran yang menyimpang pada abad ke-3 dan ke-5.

Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa interpretasi yang dipegang oleh Bapa Gereja adalah bahwa yang dimaksud oleh Paulus dalam "pengosongan diri" ini adalah bahwa Pribadi kedua dari Trinitas yaitu Sang Firman Allah, mengambil rupa manusia melalui Inkarnasi, agar dengan demikian Ia dapat menderita dan mati. Maka dikatakan Ia yang "dalam rupa Allah....  mengambil rupa seorang hamba" sehingga di dalam rupa tersebut Ia "merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati ...di kayu salib." Maka disini yang tidak dipertahankan Kristus adalah ketidakterbatasanNya sebagai Allah, bahwa sebagai Allah Ia tidak mungkin menderita dan mati, sedangkan dengan menjelma menjadi manusia Ia dapat menderita dan mati. Maka dari teks itu sendiri sebenarnya tidak menunjukkan bahwa dengan mengambil rupa sebagai manusia, Yesus berhenti menjadi Allah. Sebab dari kodrat-Nya, Allah tidak mungkin berhenti menjadi Allah, ataupun berubah dari yang sempurna -dalam Trinitas- menjadi tidak sempurna -karena pada satu periode Allah tidak berupa Trinitas. Karena kalau demikian, maka Allah mempertentangkan Diri-Nya sendiri dan ini tidak mungkin (lih.2 Tim 2:13). Silakan membaca artikel bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada, silakan klik, untuk melihat dengan akal budi kita, bagaimana Tuhan tidak mungkin berhenti menjadi Tuhan, atau berubah menjadi tidak sempurna. Di atas semua itu, mari kita merenungkan kebenaran yang tertulis dalam Mzm 49:8-9, bahwa seorang manusia  tidak akan bisa memberikan tebusan (dosanya) kepada Allah; maka untuk itu, untuk menjadi tebusan dosa bagi banyak orang, maka Yesus tidak mungkin 'hanya' manusia, Ia harus sekaligus Allah, agar dapat menyelamatkan umat manusia dengan wafat-Nya di kayu salib.

Jika kita memahami kodrat Allah, maka kita mengetahui bahwa Allah tidak dapat menjadi tidak sempurna. Allah Trinitas adalah Allah yang maha sempurna dan kekal, alfa dan omega, dan sungguh tidak terbatas oleh waktu. Maka jika ada yang terbatas dalam diri Yesus itu adalah karena keterbatasan kodrat manusia (yang terbatas oleh ruang dan waktu), sedangkan kuasa-Nya sebagai Allah tetap sempurna. Karena itulah, dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia Ia dapat mengampuni dosa dalam nama-Nya sendiri (Mt 9:2-8; Mk 2:3-12; Lk 5:24, 7:48), melakukan banyak mukjizat dalam nama-Nya (Mat 8: 26; 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), menyembuhkan yang sakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31) dan membangkitkan orang mati dalam nama-Nya sendiri (Luk 7:14; Yoh 11:39-44), dan para malaikatpun melayani Dia (Mat 4:11). Ini tidak mungkin terjadi, jika pada waktu penjelmaan-Nya Ia bukan Allah. Silakan membaca lebih lanjut dalam artikel ini, silakan klik untuk melihat secara obyektif betapa banyaknya bukti yang menunjukan bahwa pada saat hidup-Nya di dunia Yesus itu sungguh-sungguh Allah, dari segala perkataan dan perbuatan yang dilakukan-Nya. Untuk menilai bahwa ucapan dan perbuatan Yesus itu "hanya" perbuatan manusia biasa adalah sikap yang "menutup mata" terhadap kenyataan yang sesungguhnya tidak perlu dibuktikan. Menolak untuk percaya bahwa selama 33.5 tahun hidup-Nya di dunia Yesus bukan Tuhan, adalah suatu bentuk distorsi pengenalan akan Pribadi Yesus. Ini hampir saja serupa bahwa seseorang menolak kenyataan bahwa matahari itu sumber terang, walaupun sudah jelas-jelas cahayanya tersebar ke mana-mana.

Mereka yang menganggap Yesus "hanya" manusia biasa semasa hidupnya, menyetarakan Dia dengan para nabi sebelum Kristus. Padahal, kita mengingat bahwa bahkan para nabi tersebut, tidak pernah mengampuni dosa ataupun melakukan mukjizat dalam nama mereka sendiri, ataupun mengajar dengan otoritas mereka sendiri. Lihat saja bagaimana ungkapan ayat-ayat Alkitab dalam PL, dimana berkali-kali disebutkan, "Berfirmanlah Allah kepada (Musa/ nabi-Nya).... ", sedangkan dalam Injil, Yesus tak terhitung mengatakan, "Tetapi Aku berkata kepadaMu...." Jangan lupa bahwa para nabi bahkan sudah menubuatkan kedatangan hamba Tuhan yang adalah Allah sendiri. Selanjutnya, silakan klik di sini untuk membaca nubuat-nubuat para nabi akan kedatangan Yesus, yang adalah Tuhan.

2) Berikutnya, pandangan ini (Protestant Kenotic Christology) juga mengambil ayat- ayat dari Rom 4:24, 6:4, 8:11; 1Kor 4:14, 1Kor 6:14, Kis 2:24, 3:25, 10:40, yang mengatakan bahwa Yesus itu "dibangkitkan" oleh Allah. Sehingga kesimpulan pendapat ini adalah Yesus bukan Allah sehingga tidak dapat bangkit sendiri melainkan perlu dibangkitkan oleh Allah. Padahal di ayat-ayat yang lain dalam Alkitab juga dikatakan demikian, bahwa Yesus bangkit (bukan dibangkitkan), misalnya di Mat 28:6; Mk 16:6, 9; Luk 24:34.

Apakah ayat-ayat tersebut bertentangan? Tentu tidak! Kuncinya adalah, 1) kita harus memahaminya dengan pemahaman para rasul itu sendiri; 2) kita membaca ayat-ayat tersebut dan juga Flp 2:6-11 dengan kesatuan dengan ayat-ayat Alkitab yang lain. Dengan demikian, kita mengetahui bahwa para rasul percaya bahwa Yesus, semasa hidupNya, adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia. Maka dari kodrat-Nya sebagai manusia Ia dibangkitkan Allah, sedangkan dari kodrat-Nya sebagai Allah, maka Ia bangkit dengan kuasa-Nya sendiri. Ini adalah pemahaman Gereja sejak awal mula dan berkali-kali ditegaskan, namun yang paling jelas dalam Konsili Chalcedon (451), di mana dikatakan:

Kristus mempunyai dua kodrat, yang tidak tercampur baur, tanpa perubahan, tidak dapat dibagi-bagi dan dipisahkan…. Ia menjadi satu Pribadi dan satu hakikat (hypostatis), tidak terbagi menjadi dua pribadi, namun kedua kodrat itu membentuk Pribadi Yesus yang unik, satu dan sama.”[3]

Singkatnya, sudah seharusnya hal 'pengosongan diri' Kristus (Fil 2:6-11) dan perihal kata 'dibangkitkan', jangan dilepaskan konteksnya dengan keseluruhan Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus pada saat hidupnya di dunia itu sungguh- sungguh Allah, walaupun Ia juga sungguh-sungguh manusia. Pandangan yang melepaskan konteks itu sebenarnya bukan merupakan pengajaran para rasul, dan jika diperhatikan juga bukan merupakan maksud Rasul Paulus yang menuliskannya. Silakan membaca tulisan Rasul Paulus yang lain, yang menujukkan bahwa Yesus adalah Allah pada saat penjelmaan-Nya sebagai manusia seperti yang tertulis pada surat kepada jemaat di Kolose dan Ibrani (lihat point no. 6 berikut ini)

Dasar Alkitab

Maka mari dengan kerendahan hati, kita merenungkan ayat-ayat Alkitab berikut ini yang mendasari para Bapa Gereja mengajarkan adanya dua kodrat (yaitu Allah dan manusia) dalam satu Pribadi Yesus. Mari kita memohon rahmat Roh Kudus agar kita dimampukan untuk melihat kedalaman misteri Allah ini, seperti yang diwahyukan-Nya sendiri kepada kita melalui Kitab Suci:

1. Kesaksian dari Rasul Yohanes, murid yang dikasihi Yesus secara istimewa, menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Justru karena kedekatannya dengan Yesus, maka kita selayaknya percaya kepada kebenaran kesaksian Rasul Yohanes tentang Yesus. Yoh 1:1 14: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah..... Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran."

Rasul Yohanes memulai Injilnya dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Sesungguhnya, untuk membuktikan ke- Allahan Yesuslah maka Yohanes menuliskan Injilnya, yang merupakan kitab Injil yang terakhir. Dalam Yoh 20:31 dikatakan, "tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya."

Jadi, karena Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah sendiri, maka artinya, kebersamaan dengan Allah dalam kepenuhannya itu tidak terputuskan oleh penjelmaan-Nya menjadi manusia dalam diri Yesus.

2. Kesaksian Rasul Petrus: Mat 16:16, "Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Rasul Petrus adalah orang yang pertama mengakui dengan mulutnya tentang ke-Allahan Yesus semasa Yesus hidup di dunia. Dan Yesus membenarkan iman Petrus ini, dengan mengatakan bahwa Bapa di sorgalah yang menyatakan hal ini kepadanya (ay.17). Yesus kemudian mempercayakan Gereja-Nya ke dalam pimpinan Petrus (ay. 18) Gereja Katolik dengan setia mengajarkan pengakuan iman Petrus ini, bahwa Yesus Kristus, adalah sungguh Anak Allah yang hidup. Mesias Anak Allah yang hidup ini tidak bisa direduksi menjadi manusia biasa yang bukan Allah, sebab jika demikian, Ia bukan sungguh-sungguh Anak Allah.

Setelah kebangkitan Kristus, Rasul Petrus memberikan kesaksian di hadapan Mahkamah Agama, "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Yesus Kristus], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kis 2:14).

Sebab hanya di dalam nama Tuhan-lah manusia dapat diselamatkan.

3. Kesaksian dari Malaikat Gabriel, yang berkata kepada Bunda Maria, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah." (Luk 1: 35). Maka kita ketahui bahwa oleh Roh Kudus yang turun atas Maria, maka Yesus bukanlah manusia biasa, namun Anak Allah.

4. Perkataan Elisabet yang ditujukan kepada Bunda Maria, dalam Luk 1:42: "Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?" Jika Yesus hanya manusia biasa, tentu Elisabet tidak berkata demikian.

5. Kesaksian Yesus sendiri tentang Diri-Nya Luk 2:49: Perkataan Yesus yang pertama yang dicatat di Alkitab adalah pernyataan-Nya tentang identitas-Nya sebagai Putera Allah, "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" Sedangkan kehidupan publik Yesus dimulai dengan pernyataan Allah Bapa kepada Yesus pada saat Pembaptisan di sungai Yordan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Mat 3:17). Jika yang memberi kesaksian tentang Yesus sebagai Putera Allah adalah Allah Bapa sendiri, maka selayaknya kita percaya bahwa Yesus adalah Allah.

Yoh 8:58: Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia adalah Allah dengan mengatakan bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham, "sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Jika Ia "hanya" manusia biasa, Ia tidak dapat berkata demikian, sebab sebagai manusia biasa Ia tidak mungkin ada sebelum Abraham. Perkataan-Nya ini hanya masuk di akal jika Ia adalah Allah yang keberadaan-Nya tak terbatas oleh waktu, dan kemudian menjadi manusia sehingga dapat mengatakan pernyataan tersebut dengan ucapan mulut manusia dalam diri Yesus.

Yoh 13:13, "Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan." Ini adalah pernyataan yang sangat jelas, yang dikatakan Yesus dalam Perjamuan Terakhir, sebelum kebangkitan-Nya. Maka tidak mungkin bahwa Ia baru menjadi Tuhan setelah kebangkitan-Nya, sebab jika demikian, maka Ia tidak akan berkata demikian kepada para murid-Nya.

Selanjutnya, kita harus dengan jeli melihat bahwa di seluruh Injil, dalam mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Anak Allah, Yesus tidak menyamakan Diri-Nya secara persis dengan kita yang juga disebut anak-anak Allah. Kita yang percaya kepada-Nya adalah anak-anak angkat Allah, sedangkan Kristus adalah Anak Allah yang Tunggal yang sehakekat dengan Allah (istilahnya, homo-ousios, the only begotten Son). Maka tepatlah jika Yesus mengatakan, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa...Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku" (Yoh 14:9, 11) Tidak ada satu nabipun yang dapat berkata demikian; tidak ada seorang manusiapun yang berhak berkata demikian, kalau Ia bukan sekaligus Allah.

6. Sekarang mari kita melihat kesaksian Rasul Paulus dalam surat-suratnya untuk melihat keutuhan pengajaran Rasul Paulus:

Kol 1:15-20: "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan..... karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu..... Ia yang lebih utama dari segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. "

Yesus menjadi "gambar Allah" yang hidup pada saat Ia menjelma menjadi manusia. Dan kepenuhan Allah ini adalah kesempurnaan Allah yang diam di dalam-Nya, sehingga artinya selama hidup-Nya di dunia dan selama-lamanya, Yesus adalah Allah. Jika tidak demikian, tentunya tidak dikatakan "kepenuhan Allah diam di dalam Dia." Selanjutnya, justru karena kodrat-Nya sebagai Allah dan manusia, maka Ia dapat "mengadakan pendamaian" antara Allah dan manusia. Jika Ia hanya manusia biasa saja, maka Ia tidak bisa mendamaikan Allah dan manusia dengan sempurna; sebab Ia hanya seperti nabi-nabi yang lain yang datang sebelum Kristus. Ini tidak sesuai dengan nubuat para nabi, dan bahkan pengajaran Yesus sendiri dalam perumpamaan penggarap kebun anggur (Mat 21:33-46; Luk 20: 9-19). Kalau Ia 'hanya' manusia biasa yang bukan Allah, Ia tentu tidak mengajarkan demikian.

Maka Flp 2:6-7 " Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah..... mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia", selayaknya dibaca berdampingan dengan Kol 1:15-20, yang menyatakan keistimewaan dan keutamaan Kristus yang tidak terdapat dalam manusia yang lain, justru karena Ia adalah Tuhan. Sebab hanya di dalam Tuhanlah segala sesuatu dapat diciptakan. Dan Tuhan yang di dalamNya semua diciptakan ini menjelma menjadi manusia dalam rupa seorang hamba, agar gambaran Allah yang merendahkan Diri dapat diwujudkan. Maka walaupun  "mengosongkan diri" selama hidup-Nya di dunia, Yesus tetaplah Tuhan; hanya saja, Ia mengambil rupa manusia.

Ibr 1: 2-3: "Pada jaman akhir ini, Ia (Allah) telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada..... Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah."

Kita ketahui bahwa "Allah telah berbicara" melalui Yesus kepada para rasul dan pengikut-Nya pada saat Ia menjelma menjadi manusia. Pada saat menjadi manusia itulah Yesus menjadi gambaran Allah yang hidup, yang sebelum penjelmaan-Nya tidak kelihatan. Karena Yesus adalah "cahaya kemuliaan Allah", maka tidak mungkin Ia berhenti menjadi Allah, karena Allah tidak mungkin kelihangan "cahaya kemuliaan-Nya" walaupun hanya 33.5 tahun.

Maka ini sangat cocok dengan perkataan Yesus sendiri pada Yoh 17:4-5, di mana Ia berkata, "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."

Gal 4:4-5: "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak." Maka dari ayat ini terlihat bagaimana Rasul Paulus membedakan Yesus sebagai Anak Allah yang diutus oleh Allah Bapa, sedang kita adalah anak yang 'diangkat' karena ditebus oleh Kristus Anak-Nya yang Tunggal.

Jadi, kita adalah anak-anak angkat Allah di dalam Kristus (Ef 1:5), karena kita baru dapat disebut anak-anak Allah, jika kita mempunyai hidup ilahi yang diberikan oleh Kristus kepada kita, yaitu jika kita menerima Roh Kudus-Nya (lih. Rom 8:11). Hidup ilahi oleh Roh Kudus ini tidak terputuskan, sebab justru Roh Kudus itulah yang menjadikan Yesus, yang menjadi janin dalam rahim Bunda Maria, sebagai Anak Allah yang menjelma menjadi manusia.

Gereja Katolik memang mengajarkan bahwa ketika lahir di dunia, Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia. Ini adalah sesuatu misteri yang tidak akan pernah lagi terulangi terjadi dalam sejarah manusia, bahwa seseorang Pribadi adalah sungguh- sungguh Allah dan sungguh- sungguh manusia. Memang justru karena keunikan-Nya itu, di sepanjang sejarah banyak orang berusaha menyederhanakannya, namun malah akhirnya tidak konsisten dengan ajaran Alkitab itu sendiri.

Communicatio Idiomatum dalam diri Yesus

Maka berdasarkan penjelasan di atas, Gereja Katolik mengajarkan,  dalam satu Pribadi Yesus terdapat dua kodrat yaitu Allah dan manusia, sehingga terdapat predikat-predikat yang dapat ditujukan kepada kedua kodrat itu yang ditujukan pada satu Pribadi Yesus.  Predikat-predikat yang sesuai dengan kedua kodrat ini yang ditujukan pada satu Pribadi Yesus dalam Teologi disebut sebagai "Communicatio Idiomatum." Ini kita lihat jelas dalam ayat-ayat Alkitab, sebagai berikut:

1. Mi 5:1: Mesias adalah seorang yang akan lahir di Betlehem (kemanusiaan Kristus) yang permulaannya sudah sejak purbakala (ke-Allahan Kristus).

2. Yes 9:5: Seorang anak laki-laki akan lahir (kemanusiaan Kristus) yang akan disebut sebagai Allah yang perkasa (ke-Allahan Kristus).

3. Yoh 8:58: Yesus berkata (dalam kemanusiaannya), bahwa sebelum Abraham jadi, Aku ada (ke-Allahan Kristus).

4. Yoh 14:6: Yesus berkata, “Aku adalah jalan (mengacu kepada kemanusiaan-Nya), Kebenaran dan Hidup” (mengacu kepada ke-Allahan-Nya).

5. Fil 2:5-11: Allah mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia dan wafat di kayu salib (kemanusiaan dan ke-Allahan Kristus).

6. 1 Kor 2:8, dikatakan “…kalau sekiranya mereka [penguasa dunia]mengenal-Nya, mereka tidak akan menyalibkan Tuhan yang mulia.” Kristus adalah Tuhan yang mulia dalam ke-Allahan-Nya, yang disalibkan dalam kemanusiaan-Nya. Jika dikatakan dalam Injil, “Yesus mati”, maka yang dikatakan mati di sini adalah Yesus dalam seluruh kepribadiaan-Nya, yang adalah Tuhan dan manusia. Memang secara hakekat, Tuhan tidak bisa mati, namun dalam Pribadi Yesus terdapat juga kodrat manusia selain dari kodrat Tuhan, maka Yesus dapat mati. Namun justru karena hakekat/ kodrat Yesus sebagai Allah, maka Ia dapat bangkit dari kematian-Nya, dan ini menjadi mukjizat yang terbesar yang dilakukan oleh-Nya (Mat 28:1-10; Mk 16:1-8; Luk 24:1-12; Yoh 20:1-10).

Heresi sepanjang sejarah Gereja dan tanggapan para Bapa Gereja

Berikut ini adalah ajaran-ajaran sesat yang yang terjadi di sepanjang sejarah Gereja yang berusaha menyederhanakan misteri ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus berserta dengan tanggapan dari para Bapa Gereja untuk 'meluruskannya', yang jika diringkas demikian:

1. Docetism, Gnosticism, Manichaeism (abad ke- 1-3): menolak kemanusiaan Yesus: Penderitaan Yesus di salib dianggap sebagai "kepura-puraan"/ sham bukan sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi.

Tanggapan para Bapa Gereja:

St. Ignatius dari Antiokhia (35- 110), "Hanya ada satu Tabib yang aktif dalam tubuh dan jiwa.... Tuhan di dalam manusia, hidup sejati dalam kematian, putera Maria dan Putera Allah, yang pertama [sebagai putera Maria]dapat menderita, sedang yang kemudian [ sebagai Putera Allah] tidak dapat menderita, Yesus Kristus, Tuhan kita."[4]. Kesaksian St. Ignatius adalah sangat penting, karena ia adalah murid rasul Yohanes, yang adalah murid yang dikasihi oleh Yesus.

St. Cyril dari Yerusalem (313-386), "Maka percayalah kepada Putera Tunggal Allah yang demi menebus dosa kita turun ke dunia, dan mengambil bagi-Nya kodrat manusia seperti kita, dan dilahirkan oleh Perawan Maria dan dari Roh Kudus, dan menjadi manusia, tidak hanya kelihatannya saja atau hanya seperti sandiwara/ "show", melainkan sungguh-sungguh terjadi; tidak hanya sekedar lewat melalui Perawan Maria seperti melalui sebuah saluran; tetapi daripadanya dibuat menjadi sungguh-sungguh daging, dan [Ia] makan dan minum seperti kita. Sebab jika Inkarnasi hanya sebuah bayangan, maka keselamatan kita hanyalah sebuah bayangan juga. Kristus terdiri dari dua kodrat, Manusia di dalam apa yang terlihat, namun [juga]Tuhan di dalam apa yang tak terlihat. Sebagai manusia [Ia] sungguh-sungguh makan seperti kita,.... namun sebagai Tuhan [Ia] memberi makan lima ribu orang dari lima buah roti (Mat 14:17- dst).[5]

2. Adoptionism (abad ke- 2 dan 3) menolak ke-Allahan Kristus. Kristus dianggap sebagai anak adopsi Allah Bapa, namun sebagai anak yang terbesar.

Tanggapan para Bapa Gereja:

Tertullian (160- 220) dalam menjelaskan Inkarnasi berkata, "Kita melihat dengan jelas dua hal yang menjadi satu, yang tidak tercampur baur, tetapi yang disatukan di dalam satu Pribadi, Yesus Kristus, Tuhan dan manusia .... Kedua kodrat ini bertindak berbeda sesuai dengan karakternya masing-masing, ...."[6]

St. Thomas Aquinas (1225- 1274): "Ada orang-orang, seperti Ebion dan Cerinthus, dan kemudian Paul Samosata dan Photius yang mengakui kemanusiaan Yesus saja. Tetapi, ke-Allahan ada di dalam Dia... dengan semacam partisipasi yang istimewa terhadap kemuliaan ilahi... Pandangan ini [Adoptionism] merusak misteri Inkarnasi, karena menurut pandangan ini, Tuhan tidak mungkin mengambil daging untuk menjadi manusia, tetapi seorang manusia yang kemudian menjadi Allah."[7] Heresi ini [Adoptionism] seolah berkata, "manusia dibuat menjadi Firman" daripada "Firman itu menjadi manusia" (Yoh 1:14). "Jika Kristus bukan sungguh-sungguh Tuhan, bagaimana kita mengartikan perkataan St. Paul, "Ia mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba?" (Flp 2: 6-7, 9).[8]

3. Arianism (abad ke 3 -4) menolak Allah Tritunggal. Kristus dianggap bukan Tuhan, namun sebagai malaikat yang tertinggi (super-angel). Lebih lanjut tentang heresi Arianism ini, silakan klik di sini.

Heresi ini diluruskan oleh:

St. Athanasius (296-373), "Putera Allah ada di dalam Allah Bapa .... Bapa ada di dalam Putera. Mereka adalah satu, tidak terbagi menjadi dua, tetapi mereka [dikatakan]dua karena Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian sebaliknya; dan kodrat mereka [Bapa dan Putera] adalah satu. Allah Putera adalah Tuhan, dalam satu hakekat (homo- ousios) dengan Allah Bapa. Jika Allah Putera mempunyai awal (artinya diciptakan oleh Bapa), maka terdapat suatu waktu di mana Allah tidak mempunyai Sabda atau Kebijaksanaan yang adalah cahaya kemuliaan-Nya (Ibr 1:3); ini bertentangan dengan wahyu Allah maupun akal sehat. Karena Bapa itu tetap selamanya, maka Sabda-Nya dan Kebijaksanaan-Nya pasti juga tetap selamanya."[9]

St. Gregorius Nazianzen (328-389), "...Putera Allah berkenan untuk menjadi dan dipanggil sebagai Anak Manusia, tidak karena Ia mengubah Diri-Nya (karena Ia tidak dapat berubah); tetapi dengan mengambil bagi diri-Nya sesuatu yang bukan Dia (yaitu manusia, sebab Ia penuh dengan kasih kepada manusia), sehingga Yang tak terpahami menjadi dapat dipahami.... Maka Yang tak dapat tercampur menjadi tercampur, Roh dengan daging, Kekekalan dengan waktu,.... Ia yang tak dapat menderita menjadi dapat menderita, yang Kekal dapat menjadi mati. Karena Iblis ....setelah ia menipu kita dengan harapan agar kita menjadi tuhan, ia mendapatkan dirinya sendiri tertipu oleh penjelmaan Tuhan dalam kodrat manusia; sehingga dengan menipu Adam... Ia harus berhadapan dengan Tuhan, maka Adam yang baru [Yesus Kristus] menyelamatkan Adam yang lama....."[10]

Konsili Nicea (325) yang menghasilkan Credo Nicea: Kristus adalah "sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar."

 

4. Apollinarisme (abad ke-4) yang menolak kemanusiaan Yesus dengan mengajarkan bahwa Yesus tidak mempunyai jiwa manusia; ke-Allahan-Nya menggantikan jiwa manusia itu.

Tanggapan para Bapa Gereja:

St Athanasius, St. Basil, St. Gregorius Nazianzen dan St. Gregorius dari Nissa (abad ke-4) yang mengajarkan, bahwa kalau Kristus tidak mempunyai jiwa manusia, maka Ia bukan sungguh-sungguh manusia. Jika Kristus tidak mengangkat/ mengambil baginya jiwa manusia, Ia tidak dapat menebus jiwa manusia.

Konsili Konstantinopel (381) dan Sinode Uskup di Roma (382): Sabda Tuhan tidak menjadi daging untuk menggantikan jiwa manusia, melainkan untuk mengambilnya, menjaganya dari dosa dan untuk menyelamatkannya. Pengajaran Apollinaris dinyatakan sesat.

 5. Nestorianisme (abad ke-4-5) yang menolak keutuhan Pribadi Yesus. Maka Maria dilihat hanya sebagai ibu Yesus sebagai manusia, bukan ibu Yesus yang adalah Tuhan. Yesus dikatakan sebagai hanya "Temple of the Logos" dan bukannya "Logos"/ Sabda itu sendiri.

Tanggapan Bapa Gereja:

St. Cyril dari Alexandria (380-444) menjelaskan bahwa Maria adalah Bunda Allah sebab Kristus adalah Allah: "Saya heran akan pertanyaan yang menanyakan apakah Perawan Suci harus disebut sebagai Bunda Allah, sebab itu hampir sama dengan menanyakan apakah Puteranya Putera Allah atau bukan?"[11]. Ia mengambil baginya kodrat kemanusiaan secara penuh dari Bunda Maria supaya Ia dapat menderita dalam kemanusiaan-Nya bagi kita. "Ia memberikan tubuh-Nya untuk mati [bagi kita], meskipun secara kodrat-Nya [sebagai Allah]Ia adalah hidup dan kebangkitan."[12] Kemudian dalam surat keduanya yang dibacakan dalam Konsili Efesus (431) St. Cyril mengajarkan, "Sang Sabda, setelah menyatukan secara hypostatik dalam Diri-Nya, daging yang dihidupi oleh jiwa manusia yang rasional, Ia menjadi manusia dan disebut sebagai Anak Manusia." Dengan Inkarnasi, maka Putera Allah menjelma menjadi manusia dalam rahim Maria. Ini terjadi dalam saat yang berasamaan, sehingga bukan terjadi manusia terlebih dahulu, baru kemudian Sabda itu turun memenuhinya. Dengan demikian, maka Yesus dapat mengatakan bahwa kelahiran-Nya dalam daging itu sungguh-sungguh adalah kelahiran-Nya. "Maka para Bapa Gereja tidak segan-segan mengatakan bahwa Perawan Suci (Maria) adalah Bunda Allah."[13]

Maka kita dapat mengatakan bahwa pada Yesus terjadi dua macam 'kelahiran', yang pertama adalah sebagai Allah, Ia lahir/ berasal dari Bapa sebelum segala abad, dan yang kedua, Ia lahir sebagai manusia melalui Bunda Maria.

6. Monophisitism (abad ke-5) yang menolak adanya kemanusiaan Kristus, dan adanya dua kodrat dalam diri Yesus (sebagai Allah dan manusia). Dikatakan oleh bidaah ini bahwa sebelum inkarnasi ada dua kodrat, namun setelah inkarnasi hanya satu, yaitu ke-Allahan-Nya.

Tanggapan para Bapa Gereja:

St. Leo Agung (440-461) dengan tulisannya yang terkenal, "Tome of Leo" mengajarkan, "Tanpa kehilangan sifat-sifat yang berkenaan dengan kodrat dan hakekatnya, di dalam Satu Pribadi, kemuliaan mengambil kerendahan, kekuatan mengambil kelemahan, kekekalan mengambil kematian, dan untuk membayar hutang yang menjadi kondisi kita, kodrat yang tidak bisa berubah disatukan dengan kodrat yang bisa berubah, sehingga untuk memenuhi kepentingan kita, satu Pengantara kita antara Allah dan manusia, [yaitu]Manusia Yesus Kristus, dapat mati dengan kodrat-Nya sebagai manusia, namun tidak dapat mati dengan kodrat-Nya sebagai Allah. Maka Allah yang benar sungguh lahir di dalam keseluruhan dan kesempurnaan kodrat manusia, lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai Allah, dan lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai manusia..... Dia mengambil rupa seorang hamba tanpa noda dosa, Ia menaikkan kodrat manusia, tanpa mengurangi kodrat ke-Allahan-Nya: sebab pengosongan Dirinya adalah dengan membuat Yang tak kelihatan menjadi kelihatan, Pencipta dan Tuhan atas segala sesuatu mau menjadi mahluk ciptaan, adalah perendahan Diri bukan karena kegagalan kuat kuasa-Nya namun karena pernyataan belas kasihan-Nya...Kedua kodrat [ke- Allahan dan ke-manusiaan-Nya] tetap mempertahankan karakter yang sesuai tanpa menghilangkan satu sama lain.... ke-AllahanNya tidak menghapuskan karakter hamba, ke-hamba-anNya tidak mengurangi karakter ke-Allahan-Nya...Di dalam kelahiran-Nya yang baru [sebagai manusia]... Ia yang tidak kelihatan dibuat menjadi kelihatan... Allah semesta alam mengambil rupa seorang hamba, menyembunyikan kemuliaan-Nya yang besarnya tak terhingga, ... Ia yang kekal tidak segan untuk tunduk di bawah hukum kematian.... Sebab setiap kodrat melakukan apa yang sesuai dengan kodratnya dengan keterlibatan yang timbal balik dari kodrat lainnya.... Kodrat yang satu [ke-Allahan] berkilau dengan mukjizat-mukjizat, kodrat yang lain [kemanusiaan]jatuh dalam luka-luka. Seperti Sabda yang tidak menarik diri dari kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa yang mulia, maka tubuh-Nya juga tidak membuang kodrat-Nya sebagai manusia. Sebab (dan ini harus disebut lagi dan lagi) Pribadi yang satu dan sama itu adalah sungguh Putera Allah dan sungguh Putera manusia.[14]

Konsili Chalcedon (451):
".... Bahwa Sang Putera, Tuhan Yesus Kristus kita, adalah satu dan sama, sama sempurna di dalam Ke-Allahan-Nya dan sama sempurna di dalam kemanusiaan-Nya, sungguh Allah, sungguh manusia, mempunyai jiwa manusia yang rasional dan sebuah tubuh, sehakekat dengan Bapa di dalam ke-Allahan dan sehakekat dengan kita di dalam kemanusiaan, 'sama dengan kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa' (Ibr 4:15), berasal dari Bapa sebelum segala abad dalam kodrat ke-Allahan-Nya, lahir di dalam waktu bagi kita dan bagi keselamatan kita dari Perawan Maria, Bunda Allah, dalam kodrat kemanusiaan-Nya. Kita mengakui Kristus yang satu dan sama, Sang Putera, Tuhan, yang Tunggal, di dalam dua kodrat, tanpa tercampur baur, tanpa perubahan, tidak dapat dibagi-bagi dan dipisahkan. Perbedaan kodrat tidak pernah dihapuskan dengan persatuannya, melainkan sifat-sifat dari kedua kodrat itu yang tetap tidak terganggu, keduanya bersama-sama membentuk satu Pribadi dan hakekat (hypostasis), tidak terbagi menjadi dua pribadi, tetapi di dalam Putera Tunggal yang satu dan sama, Sabda Ilahi, Tuhan Yesus Kristus...."

 

7. Monothelitism (abad ke-7) yang menolak kemanusiaan Yesus dengan mengatakan bahwa di dalam diri Yesus hanya ada satu keinginan dan satu prinsip tingkah laku/ operasi, yaitu yang dari Allah saja.

 

Tanggapan Bapa Gereja:

St. Paus Agatho (678-681), "..."Sebab kami menolak penghujatan yang membagi-bagi dan yang mencampuradukkan [kedua kodrat dalam Diri Yesus].... Karena Tuhan Yesus Kristus yang sama mempunyai dua kodrat, maka Ia juga mempunyai dua keinginan dan dua operasi, yaitu [menurut]Allah dan manusia: Keinginan dan operasi Ilahinya sesuai dengan hakekat Allah sepanjang segala abad: sedangkan kemanusiaan-Nya, Ia menerima dari kita, mengambil kodrat kita di dalam waktu.... Sesudah Inkarnasi-Nya, maka ke-Allahan-Nya tidak dapat dipikirkan tanpa kemanusiaan-Nya dan kemanusiaan-Nya tanpa ke-Allahan-Nya."[15]

Konsili Lateran (649):
Cann. 10- 11 mengajarkan bahwa Yesus mempunyai dua kehendak dan operasi [Allah dan manusia] yang disatukan secara terus menerus, dan bahwa melalui kehendak bebas-Nya dan operasi-Nya itulah Ia mengerjakan keselamatan kita.

Konsili Konstantinopel III (680-681):
"Dan kami menyatakan adanya dua keinginan di dalam Dia, dan dua prinsip operasi tindakan yang tidak mengalami pembagian, perubahan, keterpisahan, pencampur-adukkan sesuai dengan pengajaran para Bapa Gereja. Dan kedua keinginan tersebut tidak dalam pertentangan, seperti yang dikatakan oleh para bidat, ... tetapi keinginan manusia-Nya mengikuti dan tidak menahan ataupun berebut, melainkan taat kepada keinginan Ilahi yang mahakuasa."

8. Agnoetae (abad ke-6) yang menolak kepenuhan pengetahuan Yesus sebagai manusia sebagai akibat dari persekutuannya dengan Allah (sehubungan dengan akhir jaman Mrk 13:32). Mengenai hal ini sudah pernah saya tuliskan di sini, silakan klik.

Tanggapan Bapa Gereja:

St. Paus Gregorius Agung (540-604):
“Allah Putera yang Mahatahu mengatakan bahwa Ia tidak tahu harinya [akhir jaman, sehingga]Ia tidak menyatakannya, bukan disebabkan oleh sebab Ia sendiri tidak tahu, tetapi karena Ia tidak mengizinkan hal tersebut diketahui sama sekali…. Putera Tunggal Allah yang menjelma menjadi manusia yang sempurna untuk kita, pasti mengetahui hari dan saatnya Penghakiman Terakhir di dalam diriNya sebagai manusia, namun demikian Ia tidak mengetahui hal itu dari kapasitasnya sebagai manusia…. Sebab untuk maksud apa bahwa Ia yang menyatakan DiriNya sebagai Kebijaksanaan Allah yang menjelma, jika ada sesuatu yang tidak diketahui olehNya sebagai Kebijaksanaan Allah? … Juga tertulis bahwa, …. Allah Bapa menyerahkan segala sesuatu ke dalam tanganNya [Yesus Kristus di dalam Yoh 13:3]. Jika disebutkan segala sesuatu, tentu termasuk hari dan saat Penghakiman Terakhir. Siapa yang begitu naif untuk mengatakan bahwa Allah Putera menerima di dalam tangan-Nya sesuatu yang tidak diketahui olehNya?”[16]

St. Maximus (580-662):
Jika para nabi saja dapat mengetahui hal- hal di masa depan yang akan terjadi, betapa lebih lagi Kristus dapat mengetahui semua itu melalui kesatuan-Nya dengan Sang Sabda.[17]

Tanggapan Gereja Katolik terhadap Protestant Kenotic Christology

Sedangkan untuk menanggapi Kristologi Kenotik menurut Protestant, Paus Pius XII dalam memperingati Konsili Chalcedon yang ke 1500, menulis surat ensiklik Sempiternus Rex pada tahun 1951, yang menolak penyalah-artian ayat Filipi 2:7 pada mereka yang berpikir bahwa tidak ada keilahian di dalam Sabda yang menjadi manusia dalam diri Kristus. Menurut Bapa Paus, ini adalah maksud yang keliru, seperti halnya heresi Docetism yang mengklaim sebaliknya (yaitu yang mengecam kemanusiaan Yesus). Ini mengurangi keseluruhan misteri Inkarnasi dan Penebusan ..... Selanjutnya Bapa Paus menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan di dalam The Tome of Leo, "Ia yang sungguh-sungguh Allah telah lahir, lengkap di dalam ke-Allahan-Nya, dan lengkap di dalam kemanusiaan-Nya."[18]

Kesimpulan

Dengan mempelajari dan merenungkan ayat- ayat Alkitab dan juga tulisan para Bapa Gereja, sesungguhnya kita dapat melihat secara obyektif bahwa sejak dari awal sesungguhnya iman para rasul dan para Bapa Gereja adalah: dalam Diri Yesus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, terdapat dua kodrat yaitu Allah dan manusia. Sehingga Yesus Kristus dalam hidupnya di dunia adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Jadi anggapan yang mengatakan bahwa Yesus hanya manusia biasa ketika hidup selama 33.5 tahun di dunia (pandangan Kenotik Protestan) sebenarnya merupakan ajaran yang dipelopori oleh Martin Luther, namun ajaran ini tidak pernah diajarkan oleh para rasul dan para Bapa Gereja. Martin Luther mengajarkan Fil 2:7 dengan melepaskan konteksnya dengan ayat-ayat lainnya di Alkitab, atau tepatnya menggabungkan dengan beberapa ayat lainnya yang kelihatannya mendukung pendapatnya dan menginterpretasikannya kemudian bahwa Putera Allah berhenti menjadi Allah selama 33.5 tahun sewaktu Yesus hidup di dunia.

Sesungguhnya kenyataan ini layak membuat kita semua merenung dan menyadari bahwa dengan merenungkan Alkitab saja, tanpa membaca pengajaran para rasul dan Bapa Gereja dapat menghantar kita pada kesimpulan yang keliru, yang tidak saja tidak sesuai dengan ayat-ayat Alkitab lainnya, namun juga tak sesuai dengan akal sehat. Namun tentu saja, kita tak bisa memaksakan apa yang menjadi ajaran Gereja Katolik kepada mereka yang tidak dapat atau tidak mau menerimanya. Hanya mereka yang mencari kebenaran dan memiliki keterbukaan akan pimpinan Roh Kudus, akan melihat kebenaran dari ajaran para Bapa Gereja yang dijaga dengan setia oleh Magisterium Gereja Katolik.

Memang jika seseorang menutup mata terhadap kenyataan sejarah dan pengajaran para Bapa Gereja, ia dapat menginterpretasikan suatu ayat, sesuai dengan pengertiannya sendiri. Atau bahkan dengan berani mengatakan bahwa yang paling benar adalah pengertiannya sendiri dan semua pengertian para Bapa Gereja (dan bahkan para rasul) itu keliru semua. Jika kita pernah berpikir demikian, mungkin ada baiknya kita menilik ke dalam batin kita, dan mohon kepada Roh Kudus karunia kerendahan hati, untuk jujur melihat ke dalam diri kita. Semoga kita dapat melihat begitu banyaknya keterbatasan yang kita miliki dalam pemahaman Alkitab, dan justru karena itu, kita perlu dengan rendah hati mempelajari dan melihat dengan hati terbuka terhadap semua pengajaran yang diberikan oleh orang- orang yang lebih mendalami Sabda Tuhan daripada kita. Dan semoga kita dapat dengan lapang hati melihat bahwa mereka yang paling mengenal Pribadi Yesus adalah mereka yang pernah hidup, makan, berjalan bersama Yesus, yaitu Bunda Maria Santo Yusuf dan dan para rasul.

Pengajaran para rasul itulah yang diteruskan oleh para Bapa Gereja dan Magisterim Gereja Katolik dengan setia, dan jika kita ingin mengenal dan mengasihi Kristus, maka sudah selayaknya kita belajar dari mereka. Jika mereka mengajarkan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia sewaktu hidup-Nya di dunia, maka siapakah kita untuk mengatakan sesuatu yang lain daripada itu?

"Ya, Tuhan, bimbinglah kami untuk memahami misteri kasih-Mu dalam diri Yesus yang adalah Allah dan manusia. Karuniakanlah kepada kami kerendahan hati untuk menerima pengajaran-Mu, walaupun belum sepenuhnya dapat kami pahami dengan sempurna. Semoga Roh Kudus-Mu memimpin kami agar kami dapat dengan lapang menerima kebenaran yang Kau-nyatakan melalui Sabda-Mu, pengajaran para rasul dan para penerus mereka. Biarlah kasih kami kepada-Mu mengatasi pengertian pribadi kami; dan dengan kasih ini Engkau membimbing kami kepada seluruh Kebenaran.
Amin
."


CATATAN KAKI:
  1. Lihat George D Smith, D.D, PhD. ed., The Teaching of the Catholic Church, A Summary of Catholic Doctrine, (New York: The Macmillan Company, 1960) p. 361 []
  2. Lihat De libertate christiana (Weimar, 1883), vol. 7, p.65 []
  3. Denz. 148; DS 301-2 []
  4. St. Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada jemaat di Efesus, Bab 3 []
  5. St. Cyril dari Yerusalem, Cathecheses, No. 4:9 []
  6. Tertullian, Adversus Praxean, bab 27 []
  7. St. Thomas Aquinas, Summa contra gentiles, ch. 28, nos. 2-5. Trans. by Charles J. O'Neil []
  8. Ibid. []
  9. St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n.3:3, 4, in NPNF, 4:395 []
  10. St. Gregory of Nazianzen, Oration 39 []
  11. St. Cyril of Alexandria, Epistle 1,4 []
  12. Lihat St. Cyril of Alexandria, First Letter to Nestorius, trans. Henry Percival, in Nicene and Post Nicene Fathers, 14: 201-205 []
  13. D 111, St. Cyril of Alexandria, Second Letter to Nestorius, Ibid. []
  14. Denz 143-144 []
  15. St. Pope Agatho, Letter in preparation for the 6th Ecumenical Council, Constantinople III, trans. by Henry R Percival in NPNF, 14:331-333 []
  16. Pope St. Gregory the Great, Denz. 248 []
  17. Lihat Quaestiones et dubia 66 (I, 67), PG 90: 840 []
  18. Lihat Ep. xxviii,3. PL 54: 763. Cf. Serm. xxiii, 2. PL 56:201 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

62 Comments

  1. dear katolisitas

    maaf saya ingin bertanya,mengapa ketika filipus bertanya kepada Tuhan,”Tuhan tunjukkanlah Bapa kepada kami itu sudah cukup bagi kami.” lalu Tuhan menjawab,”bagaimana mungkin engkau berkata:tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” karena Tuhan berkkata di ayat sebelumnya,”barang siapa telah melihat Aku telah melihat Bapa.” kata “bagaimana mungkin” bukan sama saja dengan “tidak mungkin”? jadi kurang lebih secara sederhana Tuhan berkata,”tidak mungkin menunjukkan Bapa karena barang siapa telah melihat Aku telah melihat Bapa.” bukankah Bapa adalah Allah Bapa pribadi yang pertama?mengapa Tuhan Yesus menjawab tidak mungkin menunjukkan?

    • Shalom Christian,

      Di dalam Yoh 14:9 dituliskan “Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” Perkataan “Bagaimana Engkau” adalah mengungkapkan satu pernyataan bahwa seharusnya orang tersebut tahu, tetapi mengapa dia tidak tahu. Dengan kata lain, Yesus mau mengatakan kepada Filipus bahwa setelah sekian lama bersama Filipus, maka Filipus seharusnya tahu bahwa Bapa dan Yesus adalah satu (lih. Yoh 10:30).

      Kalaupun terjemahan yang Anda pakai mengatakan “bagaimana mungkin”, maka pengertiannya adalah sama. Hal ini seperti seseorang mengatakan “Bagaimana mungkin engkau yang telah kelas 6 SD tidak tahu jawaban dari 1+1?” Yang artinya seharusnya anak kelas 6 SD tahu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. iand brebet on

    saat yesus disalib, siapakah ia, manusia atau tuhan?
    saat dia makan dan minum, siapakah ia, manusia atau tuhan?

    apakah dua kodratnya selalu bersama-sama? ataukah silih berganti? (maksudnya, jika kodrat allah muncul, maka pada saat yang bersamaan kodrat manusianya menghilang, atau tenggelam?) begitu pula sebaliknya. menghilang kemana?, atau tenggelam kemana?

    kalau kodrat itu tidak selalu bersama-sama, tapi bergantian, maka mungkin saja saat kodrat allahnya timbul (100% allah) ia bisa menjadi manusia, tetapi tatkala kodrat manusianya yang muncul (100% manusia) dan kodrat allahnya menghilang bagaimana mungkin ia bisa menjadi allah kembali? bukankah dalam kodratnya sebagai manusia, ia berkata: aku tidak bisa berbuat apa-apa ATAS DIRIKU SENDIRI. bagaiman mungkin “yang tidak bisa berbuat apa-apa atas dirinya sendiri ini” bisa menghilangkan kodrat manusianya lalu memunculkan kodrat kealahannya? atau bisa berubah kembali menjadi 100% allah?

    [dari katolisitas: Pada waktu Inkarnasi, Yesus mengambil kodrat manusia tanpa kehilangan kodrat ke-Allahan-Nya. Apakah Anda telah membaca artikel di atas? Di bagian mana dari artikel tersebut yang menurut Anda tidak dapat diterima?]

    • iand brebet on

      saya telah membaca seluruh artikel di atas.

      untuk itulah saya bertanya, kalau yesus memiliki dua kodrat yang tak terpisahkan karena ia adalah putera tunggal alah, dan ia adalah inkarnasi alah, maka pertanyaannya sama saja, pada saat yesus disalib dan mati, sebagai sipakah dia? manusia atau tuhan?
      sebenarnya pertanyaan ini simpel.
      saya mengharapkan jawaban yang tegas, sebagai siapakah ia tatkala ia mati di tiang salib? manusia atau tuhan? karena ini adalah salah satu dasar keimanan, maka perlu penegasan, bukan hanya sekedar teori. kalau matinya sebagai tuhan ya katakan tuhan, kalau sebagai manusia katakanlah manusia.

      ikhtisar:
      – kalau matinya yesus sebagai tuhan, maka kata-kata yesus ini perlu diluruskan, “eli eli lama sabakhtani”, “alah, alah, mengapa engkau meninggalkanku”. kata-kata ini keluar dari mulut yesus sebelum ia mati, maka mustahil ia mati sebagai alah, karena hakekat alahnya sudah pergi sebelum yesus mati, sehingga yang tinggal adalah hakekatnya sebagai manusia.
      – kalau ia mati sebagai manusia, maka konsep penebusan dosa perlu diluruskan, karena satu orang manusia mustahil bisa menebus dosa seluruh manusia. lagi pula banyak manusia yang dengan rela dan ikhlas mengorbankan dirinya untuk manusia lain, tanpa harus mempercayainya terlebih dulu.

      • Shalom Iand Brebet,

        Pertanyaan Anda sepertinya mempertentangkan/ memisahkan kodrat Allah dan kodrat manusia dalam Pribadi Yesus. Selama Anda mempertentangkan keduanya, maka akan sulitlah memahami ajaran iman Kristiani. Sebab para Rasul dan para Bapa Gereja tidak memisahkan kedua kodrat ini dalam diri Yesus. Yang disalibkan itu adalah Pribadi Kristus yang mempunyai kodrat sebagai Allah dan sebagai manusia. Maka yang disalibkan bukan kodrat manusia-Nya saja, atau kodrat Allah-Nya saja. Sebab dalam Pribadi Yesus, kedua kodrat itu tidak terpisahkan. Maka pertanyaan: sebagai Tuhan atau sebagai manusiakah Yesus telah wafat? Ini adalah pertanyaan yang rancu bagi umat Kristen, karena yang wafat adalah Kristus, yang adalah Tuhan dan manusia. Selain itu silakan dipertegas dulu definisi “mati”/ wafat. Sebab kematian yang dimaksud di sini adalah keterpisahan antara tubuh dan jiwa. Maka jika dikatakan bahwa Yesus mati, artinya adalah bahwa Tubuh-Nya terpisah dengan Jiwa-Nya, sedangkan Jiwa-Nya itu sendiri sifatnya kekal dan tidak mati. Pada saat kebangkitan-Nya dari kematian pada hari ketiga, Tubuh-Nya ini kembali bersatu dengan Jiwa-Nya dan kemudian naik ke Surga.

        Maka, ucapan maupun perbuatan Yesus yang dicatat dalam Kitab Suci merupakan perkataan ataupun perbuatan Pribadi Yesus, yang dapat berhubungan dengan kodrat-Nya sebagai Allah maupun kodrat-Nya sebagai manusia. Jadi “Eli, Eli, lama sabakthani”, merupakan perkataan yang mengacu kepada kodrat-Nya sebagai manusia, namun ucapan-Nya ketika melakukan mukjizat-mukjizat maupun mengampuni dosa manusia (lih. Luk 5:20; 7:48), itu mengacu kepada kodrat-Nya sebagai Allah. Dengan disalibkannya Pribadi Yesus yang adalah Allah dan manusia, maka Ia dapat menebus dosa-dosa umat manusia, dan sekaligus mewakili umat manusia untuk melakukan silih terhadap dosa-dosa yang mereka lakukan.

        Silakan membaca penjelasan selanjutnya dari tulisan Paus Leo Agung, dalam Tome of Leo, tentang hal kodrat Allah dan kodrat manusia dalam diri Yesus, silakan klik.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

         

      • saya seorang awam, dari apa yang saya baca dan saya rasakan.
        Yesus adalah manusia dan Tuhan yang tidak terpisahkan. Sebagai pribadi (Anak) yang patuh terhadap perintah dan mengerti apa yang diperintahkan oleh Bapa, Disini Yesus memberikan contoh menjadi Anak dari Bapa karena itu Yesus adalah sulung.
        Dia patuh untuk mati di kayu salib, hal yang sulit diterima akal manusia sama seperti manusia berpikir tidak mungkin melaksanakan hukum taurat secara utuh. Nah Yesus hadir untuk membuktikan kepatuhan tersebut sebagai manusia yang punya kuasa. berapa banyak ornag yang penuh dengan kekuasaan yang mau mengikuti hukum? hampir sulit tapi bukan tidak mungkin kan? kepatuhan dan bukti kasih Tuhan bahwa Tuhan memberikan kebebasan memilih kepada manusia, karena itu saya memilih Yesus sebagai Kakak Sulung saya. dan mengimani Bapa yang penuh kasih karena semuanya ada di hati setiap manusia.
        salam

  3. Sungguh penjelasan yang mendetail, lengkap dan teliti.

    ini yang anda tulis : “……..mengambil rupa seorang hamba” sehingga di dalam rupa tersebut Ia “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati …di kayu salib.”

    1. kepada siapa tuhan mesti MERENDAHKAN dirinya? Layakkah?, ke manakah esensi dari KeMahaTinggiannya?
    2. kepada siapa tuhan mesti TAAT?

    mohon penjelasannya bagi saya yang miskin ilmu ini.
    terima kasih.

    [dari katolisitas: Kalau kita dapat melihat bahwa di dalam diri Kristus ada dua kodrat – Allah dan manusia – maka sesungguhnya kita akan dapat lebih mengerti tentang misteri Inkarnasi. Dalam kemanusiaan-Nya, Kristus tunduk terhadap Hukum Taurat, bahkan Dia rela menderita dan wafat untuk menebus umat manusia. Namun, dalam diri yang sama, Kristus juga mempunyai kodrat Allah, yang dibuktikan-Nya dengan berbagai macam cara, termasuk mengampuni dosa. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa ternyata Allah bukan saja maha tinggi, namun juga Allah yang maha kasih, yang menyertai umat-Nya.]

  4. Terimakasih penjelasannya tentang kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai manusia, Ia telah membuktikan bahwa Ia Tuhan yang tidak melupakan ciptaan-Nya, Ia telah melawat kita. Yesus telah menyatakan bagaimana hati Tuhan yang lembut penuh kasih dan Ia telah sabar menanggung caci maki dari manusia. Tuhan ingin menyatakan kepada kita semua bahwa Tuhan juga menangis melihat kita ditindas, sengsara dibelenggu dosa, Ia juga ingin menyatakan bahwa Ia Tuhan yang tidak semena-mena dan tidak mementingkan diri-Nya.Ia Allah yang Ajaib dan Selalu baik. Tuhan memberkati.

  5. Numpang nanya. Klo yesus 100% mnusia, 100 % Tuhan. Lalu dlm trinitas siapa bapa, siapa putra, yesus sendiri mnyebut bapa sbyk 83x.
    Sesuatu yg tidak msuk akal jika Tuhan bisa mati terkutuk ditiang salib. Apa yg akn terjadi didunia ini, jika tuhan bs mati. Selama ini sy tidak prnh mnemukan satu ayat ttg Yesus adalah Tuhan, maupun minta yesus untuk dsembah.

    • Shalom Whyne,

      Kami memeriksa catatan Admin kami, dan menemukan bahwa bukan sekali ini saja Anda menanyakan topik serupa ini, dan nampak dari pertanyaan Anda, bahwa Anda belum membaca link-link yang pernah kami berikan. Kalau terus demikian, dialog kita tidak akan membawa kita ke mana-mana, sebab memang nampaknya tidak ada keinginan dari pihak Anda untuk berdialog, namun hanya menyampaikan pernyataan- pernyataan sepihak tanpa memperhatikan tanggapan kami. Sebab sesungguhnya, pertanyaan serupa sudah sering ditanyakan dan kami tanggapi.

      Tentang Trinitas, silakan membaca artikel Trinitas, Allah yang satu dengan Tiga Pribadi, silakan klik.

      Di sana dipaparkan bahwa Allah mewahyukan diri-Nya sebagai satu Allah, dengan Pribadi Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Namun pada suatu saat dalam sejarah manusia, Pribadi Putera ini menjelma menjadi manusia oleh kuasa Roh Kudus. Nah, maka dalam keadaan penjelmaan-Nya itu, Yesus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia ini Ia menyebut Allah, sebagai Bapa-Nya, namun sesungguhnya dalam ke-Allahan-Nya, Ia satu dengan Bapa (lih. Yoh 10:30).

      Nah, memang kodrat Allah tidak dapat mati, tetapi yang mati di sini (seperti juga yang lahir) bukan kodrat, tetapi Pribadi. Yang dilahirkan oleh ibu adalah seorang pribadi manusia, dan bukan kodrat manusia. Jika kelak ia mati, maka yang mati adalah pribadi orang tersebut, bukan kodratnya. Harap dipahami bahwa mati di sini artinya adalah keterpisahan antara tubuh dan jiwa, maka pada Yesus itu artinya tubuh manusia-nya tinggal tak bernyawa di kayu salib, dan kemudian dikuburkan, sedang jiwa manusia-Nya dan ke Allahan-Nya tetap hidup. Maka dalam hal ini Allah tetaplah Sang Alfa dan Omega, yang awal dan akhir, keberadaan-Nya tidak terputus oleh kematian Yesus. Itulah sebabnya, oleh kuasa-Nya, Yesus bangkit dari kematian.

      Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Tuhan dengan berbagai cara. Sudah banyak dibahas di situs ini. Tapi kalau Anda mau melihat sedikit ayat, silakan membaca ayat-ayat ini:

      Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia [Yesus] mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. (Yoh 5:18)

      Sesudah Ia [Yesus] membasuh kaki mereka [para murid-Nya], Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia [Yesus] berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan” (Yoh 13:12-13).

      Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:26-29)

      Selanjutnya, silakan membaca di artikel, Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah, klik di sini.

      Jika Anda bukan seorang Kristiani, dan mungkin punya banyak pertanyaan awal tentang ajaran Kristiani, silakan membaca terlebih dahulu link-link berikut ini, sebab kemungkinan besar, pertanyaan Anda sama/ serupa dengan yang sudah pernah ditanyakan dan ditanggapi di sana:

      9 Pertanyaan Kekristenan
      20 Pertanyaan Kekristenan

      Demikianlah Whyne, mohon maaf, jika Anda tidak mau membaca link-link yang kami berikan, maka terpaksa kami tidak dapat menayangkan pertanyaan Anda selanjutnya maupun menanggapinya, karena hanya akan menjadi pengulangan dari apa yang sebenarnya sudah sering disampaikan. Mohon pengertian Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Pada dasrnya kami umat muslim tidak bermaksud mengolok2 agama lain,kami hanya ingin mengingatkan bahwa apa yang anda pegang sebagai jalan keyakinan itu banyak yang bertentangan dan melenceng dari sifat TUHAN Yang Maha Benar,Maha Bijaksana,Maha Mengatahui, dan 0(nol) kesalahan.
    Kalau yesus putra Allah,berarti Maria Ibu Allah.
    Kalau yesus putra Allah,bararti dia juga Tuhan,artinya dia tidak akan bisa mati.
    Kalau yesus putra Allah,artinya dia juga Tuhan,dan dia tidak butuh makan da minum,dan tidak perlu mengalami siklus pencernaan (makan+minuman–>dicerna oleh usus–>sisanya dibuang lewat…). Apakah Tuhan anda seperti itu?
    Kalau yesus putra Allah,seharusnya dia punya kekuatan tidak terbatas, KENAPA yesus tidak bisa lepas dari tiang salib dengan kekuatannya dia sendiri?

    [Dari Katolisitas: Anda mempertanyakan hal itu, karena Anda tidak menerima bahwa pada waktu penjelmaan-Nya di dunia, Tuhan Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia: artinya, Ia mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia. Tentang hal ini sudah dibahas di artikel di atas ini, silakan klik. Maka tak ada yang mengherankan jika sebagai manusia Yesus merasakan dan mengalami apa yang umum dirasakan dan dialami manusia. Ini tidak bertentangan dengan kodrat-Nya sebagai Allah, sebab Allah tetap secara aktif bekerja dalam Diri Kristus, sehingga Ia melakukan banyak hal adikodrati yang tak mungkin dilakukan oleh manusia, terutama kebangkitan-Nya dari kematian. Hal bahwa Kristus wafat di kayu salib, itu bukan karena Ia tak bisa lepas dari salib, tetapi karena Ia dengan kehendak bebas-Nya memilih untuk wafat dengan cara sedemikian, sesuai dengan rencana-Nya, sebagaimana sudah dinubuatkan oleh para nabi, untuk menebus dosa umat manusia. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik dan klik di sini.]

  7. Ignatius Teguh Mulyadi on

    Salam Damai Dalam Kristus…
    Bu Inggrid yg terkasih.
    saya ingin menanyakan tentang Yesus. Ketika Yesus terangkat ke sorga apakah di sorga Yesus wujudnya masih sama seperti saat ia didunia atau wujud roh.
    Terima kasih.
    Salam Kasih Dalam Kristus.

    [Dari Katolisitas:

    Setelah kebangkitan-Nya maka Yesus menampakkan Diri dengan tubuh kebangkitan-Nya. Hal ini kita ketahui dari Injil. Kebangkitan badan inilah yang kita harapkan juga terjadi pada tubuh kita di akhir zaman nanti. Silakan membaca di artikel ini tentang Kebangkitan badan, silakan klik. Maka di surga kini, Ia berada dalam tubuh-Nya yang mulia. Silakan membaca juga artikel Kodrat Yesus sebelum Inkarnasi dan setelah naik ke Sorga

    ]

  8. Karena sering mendengar lagu rohani yang non-Katolik dan mendengar kotbah-kotbah non-Katolik, iman saya jadi bingung akan sebuah pertanyaan.

    Apakah Bapa di surga itu adalah Yesus sendiri?

    Yesus pernah berkata kalau Dia dan Bapa adalah satu, tetapi apakah itu berarti Yesus adalah Bapa itu sendiri?

    ini yang saya tangkap selama ini:
    1. Yesus adalah 100% manusia dan 100% Allah
    2. Pada saat Yesus menjadi manusia, Dia meninggalkan ke-Allah-annya dan menjadi manusia sehingga dia tidak bisa mengetahui hal yang hanya diketahui Allah sementara dia menjadi manusia
    3. Allah adalah satu Tuhan dengan 3 pribadi. Walau kepribadiannya adalah tiga tetapi pada hakikatnya mereka adalah satu, tetapi secara pribadi mereka tetap tiga.

    tapi ada satu lirik lagu dari lagu Abba ya Bapa (symphony Music, Maranatha) yang menggelitik saya:
    “ABBA
    KUPANGGIL ENGKAU YA, BAPA
    KAU LAYAKKAN AKU JADI ANAK-MU
    MEMANGGIL-MU YESUS”

    dan beberapa kotbah-kotbah sepatah-sepatah yang membuat saya menjadi bingung lalu mengganggap bahwa :
    1. Yesus adalah Bapa, pada saat kembali ke surga dia menjadi Bapa kembali. Yesus adalah sebutan untuk Bapa yang menjadi manusia, sehingga kita juga bisa menyebut Bapa sebagai Yesys.
    2. Saat menjadi manusia Yesus berdoa kepada Bapa, pada saat itu sebenarnya berdoa kepada diri-Nya sendiri yang disebut Bapa karena dia meninggalkan ke-Allah-anNya pada saat itu.
    3. Jadi kita berdoa dan membaptis atas nama Yesus sang Bapa, Yesus yang menjadi manusia, dan Allah Roh Kudus
    * Apakah benar iman Katolik seperti itu??? atau itu hanyalah iman yang kebablasan? yang pasti iman saya goyah pada saat ini, mohon bantuannya.

    • Shalom Udil,

      1. Ya, Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, sebagaimana telah dipaparkan di artikel di atas, silakan klik.

      2. Karena Yesus sungguh Allah, maka Ia tidak bisa berhenti menjadi Allah. Maka pada saat menjelma menjadi manusia, Ia tidak meninggalkan ke-Allahan-Nya. Yang mengajarkan bahwa dalam penjelmaan ini Yesus meninggalkan ke-Allahan-Nya (dan dengan demikian berhenti sejenak menjadi Allah) adalah Martin Luther, melalui ajarannya Kenotic Christology. Tentang hal ini sudah pernah kami tuliskan di sini, silakan klik.

      3. Anda benar, bahwa Allah adalah satu Tuhan dengan Tiga Pribadi.

      4. Maka teks lagu yang Anda sampaikan itu memang secara obyektif tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Sebab di sana terdapat kerancuan antara Bapa yang dipanggil Yesus. Padahal walaupun sama hakekatnya sebagai Allah, namun Bapa dan Yesus adalah Pribadi yang berbeda, dan tidak tercampur baur.

      5. Jika dikatakan dalam Injil, “Yesus berdoa”, itu mengacu kepada kodrat-Nya sebagai manusia, sebab selain sungguh Allah, Yesus juga adalah sungguh manusia. Maka, Yesus berdoa dalam kodrat manusia-Nya, namun tidak dalam kodrat ilahi-Nya. Sebagai manusia, Yesus berdoa, dan Ia mengarahkan doa-Nya kepada Pribadi Allah Bapa-Nya. Doa adalah percakapan yang intim dan antar pribadi dengan Allah. Maka Kristus berdoa kepada Pribadi Allah Bapa. Doa Kristus adalah pernyataan kebenaran akan kodrat Yesus sebagai manusia, akan kehendak-Nya sebagai manusia, dan akan adanya perbedaan Pribadi di dalam Allah Trinitas. Dengan kata lain, doa Kristus menyatakan bahwa: 1) Yesus adalah sungguh manusia; 2) ada perbedaan Pribadi dalam kesatuan Allah Trinitas; 3) hubungan kasih antara anak dan Bapa adalah pola contoh hubungan kasih antara seluruh Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus, kepada Allah Bapa. Selain itu, Yesus berdoa, untuk mengajar kita berdoa, maka Ia berdoa untuk kepentingan manusia. Yesus dapat saja berdoa dalam hati, namun Dia ingin menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sebagai manusia kita berdoa, yaitu bahwa kita harus senantiasa tunduk kepada kehendak Allah Bapa, meskipun di dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

      6. Maka tidak benar bahwa rumusan Baptisan adalah dalam nama Yesus saja (yang menyatakan diri sebagai Bapa, Yesus manusia, maupun Roh Kudus). Yang dikatakan oleh Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga adalah agar para murid-Nya membaptis dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus (Mat 28:19-20), dan Ia tidak menyatakan bahwa ketiganya adalah identik dengan diri-Nya.

      Pandangan yang mencampuradukkan Pribadi dalam diri Allah ini sudah pernah terjadi di abad ke-3, dan dikenal dengan sebutan aliran sesat Sabellianisme/ Modalisme/ Patripassian. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Silakan untuk selanjutnya membaca artikel  Trinitas, Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi

      Bawalah pergumulan Anda untuk semakin memahami ajaran iman Anda di dalam doa-doa pribadi Anda. Semoga Roh Kudus membimbing Anda sehingga agar sampai kepada seluruh kebenaran.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  9. sesuatu yang dapat menimbulkan kesalahan, maka sesuatu itu tidak bisa dijadikan pegangan atau dipercayai.

    [Dari Katolisitas: Ya, benar. Oleh karena itu, Gereja melandaskan ajarannya atas Kristus yang adalah Sang Kebenaran (lih. Yoh 14:6), sehingga ajaran tersebut dapat dijadikan pegangan dan dapat dipercaya.]

  10. Shalom Tonwsh,

    Ya, Yesus (Sang Firman Allah) adalah Putera Allah dan Allah itu sendiri. Kitab Suci mengatakan bahwa Sang Firman itu menjelma menjadi manusia (lih. Yoh 1:14), dan mengambil nama Yesus Kristus. Namun dalam penjelmaan-Nya menjadi manusia, Kristus tidak melepaskan kodrat-Nya sebagai Allah. Sehingga dalam kehidupan-Nya di dunia, Yesus Kristus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia. Prinsip ini memberikan konsekuensinya dalam kehidupan Kristus yaitu:

    1) Yesus dapat mengalami apa yang dialami manusia dan melakukan apa yang berhubungan dengan kodrat manusia. Maka Yesus dapat merasa lapar dan haus, dapat merasa sakit dan menderita, dan dapat wafat sebagaimana dialami manusia.

    2) Namun Yesus dapat melakukan apa yang dilakukan Allah, yaitu mengajar dengan penuh kuasa, memberikan hukum Tuhan, mengampuni dosa manusia, melakukan berbagai mukjizat, terutama adalah bangkit dari kematian-Nya sendiri.

    Selanjutnya tentang dua kodrat dalam diri Kristus, silakan membaca artikel di atas, silakan klik.

    3) Penjelmaan Yesus dan wafat-Nya sebagai manusia tidak menjadikan tidak adanya Allah pada masa hidup Yesus di dunia. Sebab meskipun mengambil kodrat manusia, Yesus tidak melepaskan kodrat-Nya sebagai Allah. Kodrat ke-Allahan-Nya tetap ada dalam kesatuan dengan kodrat Allah Bapa dan Roh Kudus untuk menjaga kelangsungan alam semesta dan segala isinya. Maka, pemahaman akan ajaran Inkarnasi (penjelmaan Putera Allah menjadi manusia) selalu berkaitan dengan ajaran tentang Allah Trinitas. Silakan klik di sini, untuk membaca tentang Allah Trinitas, Tuhan yang Satu dengan Tiga Pribadi.

    Sedangkan untuk penjelasan tentang Dosa asal sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
    Ingrid Listiati- katolisitas.org

  11. salam kristus buat ibu. Inggrid dan bp. Stef dan katolisitas.org

    Saya mendapat pertanyaan dari teman saya tentang agama khatolik.
    Sebelum nya saya berdiskusi dengan nya.
    Dan saya memberikan pernyataan

    ‘bahwa agama kristen protestan itu salah, karena memisahkan diri dari agama khatolik. Karena yesus sendiri menghendaki persatuan dalam jemaatnya.harusnya para reformator mencontohi para santo-santa.
    Sebagai contoh:
    Santo (lupa siapa namanya) yang menyadari bahwa ada oknum-oknum dalam gereja yang menyimpang, tapi beliau tetap teguh pada khatolik tanpa mengeluarkan dirinya dari gereja khatolik.’

    terus dia bertanya kepada saya

    ‘jadi bagaimana dengan khatolik, bukan nya yesus sendiri agama yahudi, dan yahudi sendiri agama yang berdasarkan wahyu dari allah yaitu tuhan yesus sendiri yang merupakan kesatuan dari trinitas. Berarti agama khatolik memisahkan diri dari agama yahudi.
    Sedangkan tuhan tidak menghendaki adanya perpecahan melainkan menghendaki adanya persatuan dalam jemaatnya’

    nah saat ditanya begitu saya tak bisa menjawab, apakah pernyataan saya yang salah?
    Kalau pernyataan saya yang salah bagaimana seharusnya?
    Dan kalau pernyataan saya benar. Bagaimana saya harus menjawab pertanyaan teman saya.

    Terimakasih.

    • Shalom Gregorius,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Perbedaan antara Yesus dan para pendiri gereja adalah: Yesus adalah Tuhan yang tidak mungkin salah dan para pendiri agama bukan Tuhan dan bisa salah. Dengan demikian, kita mempercayai bahwa Yesus memberikan kepenuhan kebenaran kepada bangsa Yahudi dan juga kepada semua umat manusia. Dalam konteks ini, maka kita melihat bahwa bangsa Yahudi merupakan gambaran akan umat Allah yang baru di dalam Kristus, yaitu umat Gereja, karena Kristus sendiri yang mendirikan Gereja. Apa yang difirmankan oleh Allah dalam Perjanjian Lama adalah benar. Ini berarti janji kedatangan Mesias dalam PL dan kemudian terpenuhi dalam diri Yesus adalah benar. Jadi, sungguh masuk akal kalau Kristus membawa sesuatu yang baru dalam agama Yahudi dan pada saat yang bersamaan tetap memegang Firman Allah di PL. Sesuatu yang baru yang diberikan oleh Kristus adalah Diri-Nya sendiri, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.

      Salam kasih dalam Kritsus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  12. Selamat malam Sdri Inggrid,
    saya ingin mengomentari bebapa hal sehubungan dengan pandangan sdri / gereja Khatolik.

    (1)Sdri Inggrid Menulis:

    Di atas semua itu, mari kita merenungkan kebenaran yang tertulis dalam Mzm 49:8-9, bahwa seorang manusia tidak akan bisa memberikan tebusan (dosanya) kepada Allah; maka untuk itu, untuk menjadi tebusan dosa bagi banyak orang, maka Yesus tidak mungkin ‘hanya’ manusia, Ia harus sekaligus Allah, agar dapat menyelamatkan umat manusia dengan wafat-Nya di kayu salib.

    Kevin :

    Saya kurang setuju dengan penarikan kesimpulan seperti yang sdri sampaikan.

    1. Di 1 Tim 2:5 Yesus disebut sebagai pengantara Antara Allah dan Manusia.

    1Ti 2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.
    Jadi untuk menjadi pengantara Yesus tidaklah harus Allah.

    2. Yang dihilangkan oleh Adam dan Hawa adalah kehidupan manusia yang sempurna.
    maka Yesus sebagai Manusia yang sempurnalah yang bisa menebus dosa/kesempurnaan yang telah dihilangkan.
    Ibr 4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

    Frasa “sebaliknya sama dengan kita, “ menunjukkan bahwa Yesus adalah manusia, namun
    Frase “hanya tidak berbuat dosa. ” membedakan ke-manusian Yesus dengan kita.

    Jadi argument bahwa Yesus haruslah Allah supaya sempurna, dg demikian dapat menebus dosa adalah argument yang kurang kuat, mengingat tanpa menjadi Allah pun Yesus sudah dapat menebus dosa.

    Bagaimana tanggapan sdri?

    (2)Sdri Inggrid Menulis:

    Karena itulah, dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia Ia dapat mengampuni dosa dalam nama-Nya sendiri (Mt 9:2-8; Mk 2:3-12; Lk 5:24, 7:48), melakukan banyak mukjizat dalam nama-Nya (Mat 8: 26; 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), menyembuhkan yang sakit (Mat 8:1-16, 9:18-38, 14:36, 15: 29-31) dan membangkitkan orang mati dalam nama-Nya sendiri (Luk 7:14; Yoh 11:39-44), dan para malaikatpun melayani Dia (Mat 3:11). Ini tidak mungkin terjadi, jika pada waktu penjelmaan-Nya Ia bukan Allah.

    Kevin :

    Sdri membuktikan bahwa Yesus berhakekat Allah karena :

    1. Ia dapat mengampuni dosa dalam nama-Nya sendiri (Mt 9:2-8; Mk 2:3-12; Lk 5:24, 7:48)
    Kalau sdri membaca Yoh 20:22, 23 Rasul2 pun memiliki kuasa untuk mengampuni/menahan dosa seseorang, Hal ini terlihat di Kis 5:1-6, Petrus menahan pengampunan, sehingga Ananias dan Safira mati (Karena tidak mendapat pengampunan). Jadi tidak mungkin para rasul juga Allah hanya karena mereka memiliki kuasa untuk mengampuni dosa.

    2. Melakukan banyak mukjizat dalam nama-Nya (Mat 8: 26; 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13)

    Saya tidak menemukan bahwa Mukjizat2 yang Yesus lakukan dilakukannya atas nama-Nya sendiri. Misalnya Mat 8:26 Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Tidak ada siratan bahwa Yesus melakukan atas namanya sendiri.

    Sebaliknya di Kisah 2:22, disebutkan sumber dari kuasa untuk melakukan mukjizat itu.

    Kis 2:22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.

    Jadi sumber dari Mukjizat itu adalah Allah. Namun Allah yang dimaksud tentulah Allahnya para rasul, Allah bapak-bapak leluhur mereka, yaitu Yehuwa.

    Dan untuk Mukzijat2 yang lainnya bisa dipahami bahwa dalam hal mukjizat yang Yesus lakukan, Yesus menerima kuasa dari Allah Yehuwa (berupa Roh Kudus/tenaga Aktif Allah Yehuwa) sehingga Yesus bisa melakukan mukjizat2.
    Seperti membangkitkan orang mati, Nabi Elia pun pernah membangkitkan anak seorang Janda.

    3. dan para malaikatpun melayani Dia (Mat 3:11).
    Mungkin maksud Sdri bukan Mat 3:11 tapi Mat 4:11.
    kenyataan bahwa Malaikat melayani Yesus tidaklah cukup kuat untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Allah. Karena melayani berbeda maknanya dengan menyembah. Kalau kita percaya bahwa Yesus adalah Penghulu Malaikat (Mikhael) yang berarti malaikat kepala, itu tidak akan ada masalah ketika dikatakan malaikat2 melayaninya, karena memang Yesus adalah kepala atas malaikat2.

    Sementara itu dulu yang dapat saya komentari, semoga dapat menjadi pertimbangan Sdri Inggrid, dan menambah pemahaman Sdri tentang mengapa Saksi Yehuwa kok tidak meyakini Trinitas. Nanti kalau ada waktu saya akan lanjutkan sanggahan2 saya.

    [dari Katolisitas: pesan berikut ini digabungkan, karena masih satu topik]

    tambahan lagi,

    (3) Sdi Inggrid menulis:
    …. sedangkan dalam Injil, Yesus tak terhitung mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadaMu….” Jangan lupa bahwa para nabi bahkan sudah menubuatkan kedatangan hamba Tuhan yang adalah Allah sendiri. Selanjutnya, silakan klik di sini untuk membaca nubuat-nubuat para nabi akan kedatangan Yesus, yang adalah Tuhan.

    Kevin :
    Mat 5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
    Mat 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

    Kalau Hukum taurat mengatakan Jangan berzina, namun Yesus mengatakan bahwa bahkan niat atau nafsu untuk melakukan perzinahan sebenarnya sudah merupakan perbuatan Zina dalam hati. Jadi perkataan Yesus menunjukkan keunggulan hokum kasih daripada hukum taurat.

    Sebagaimana kita ketahui bahwa lama sebelumnya Hukum Taurat akan ditiadakan dan diganti dengan Hukum kasih. Nah Yesus mengetahui nubuat2 tentang berakhirnya hokum taurat, maka Yesus bisa dengan leluasa membuat pernyataan “aku mengatakan kepadamu”. Namun hal ini tidak menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah karena berkata “aku berkata kepadamu”. Ungkapan itu menunjukkan bahwa Yesuslah sebagai penggenap hokum taurat, makanya Yesus bisa mengatakan seperti itu.

    Kalau banyaknya nubuat yang tergenap pada diri Yesus saya, dan juga SSY lainya setuju. namun ketika dikatakan bahwa karena banyaknya nubuat yang tergenap pada Yesus, maka Yesus adalah setara Allah, itulah yang saya tidak setuju. kita mesti mengujinya dahulu.

    (4). Sdri Inggrid menulis:

    Berikutnya, pandangan ini (Protestant Kenotic Christology) juga mengambil ayat- ayat dari Rom 4:24, 6:4, 8:11; 1Kor 4:14, 1Kor 6:14, Kis 2:24, 3:25, 10:40, yang mengatakan bahwa Yesus itu “dibangkitkan” oleh Allah. Sehingga kesimpulan pendapat ini adalah Yesus bukan Allah sehingga tidak dapat bangkit sendiri melainkan perlu dibangkitkan oleh Allah. Padahal di ayat-ayat yang lain dalam Alkitab juga dikatakan demikian, bahwa Yesus bangkit (bukan dibangkitkan), misalnya di Mat 28:6; Mk 16:6, 9; Luk 24:34.

    Kevin:

    1. Mat 28:6 Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. (lihat penjelasan di no. 3)

    2. Mrk 16:6 tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.

    Mrk 16:9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.

    komentar menganari Markus 16:9 oleh scofield, mengatakan

    “The passage from verse 9 (Mar_16:9) to the end is not found in the two most ancient manuscripts, the Sinaitic and Vatican, and others have it with partial omissions and variations. But it is quoted by Irenaeus and Hippolytus in the second or third century. “

    ternyata ayat markus 16:9-20 itu tidak ditemukan dalam manuskrip tertua. belakangan baru ditambahkan/dikutip pada abad ke2 atau ke-3.
    Jadi alas an untuk meyakini bahwa Yesus bangkit sendiri dengan Mrk 16:9, kurang kuat. dan lagi jika Ireneus dan Hippolytus adalah Trinitarian, sudah tentu mereka akan berusaha untuk membenarkan ajarannya.

    Kalau boleh saya Tahu, sewaktu Sdri mengikuti pendidikan teologi hingga S2 apakah pernah dibahas tentang keautentikan Mrk 16:9-20?
    Saya juga senang mendengarnya.

    3. Luk 24:34 Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”

    Ayat ini pun kurang kuat untuk membenarkan bahwa Yesus bangkit sendiri.
    coba bandingkan dengan Lukas 8:48

    Dengan menggunakan bentuk ungkapan yang sama, di Lukas 8:48 Yesus mengatakan kepada seorang wanita, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Apakah wanita itu menyembuhkan dirinya sendiri? Tidak; kuasa Allah melalui Kristus-lah yang menyembuhkan dia karena ia mempunyai iman. (Luk. 8:46; Kis. 10:38) Demikian juga, dengan ketaatannya yang sempurna sebagai manusia, Yesus memberikan alasan moral kepada Bapaknya untuk membangkitkan dia dari kematian, dengan demikian mengakui Yesus sebagai Putra Allah. Karena haluan hidup Yesus yang setia, dengan sepatutnya dapat dikatakan bahwa Yesus sendiri yang menyebabkan dirinya dibangkitkan.

    Maka seperti yang pernah saya tanyakan di link to katolisitas.org

    ajaran Tritunggal tidaklah sesuai Alkitab (menurut saya).
    hal ini bisa di buktikan bahwa :

    1. Yesus tidak bangkit sendiri, namun Allah Yehuwa lah yang membangkitkannya (Kis 5:30)
    2. Sebenarnya saya tidak bermaksud membagi-bagi Allah Trinitas menjadi 3×1/3 bagian. Namun di Kisah 5:30 jelas sekali bahwa yang membangkitkan adalah Yehuwa dan yang dibangkitkan adalah Yesus.

    a. Jika kita memercayai bahwa Yehuwa adalah satu pribadi yang utuh maka akan sangat masuk akal bahwa Yehuwa (1 pribadi) membangkitkan Yesus (1 pribadi lain).

    b. Namun jika percaya Trinitaas akan sangat sulit untuk memahami ayat Kis 5:30 ini. Yehuwa (yang mencakup Bapak,Yesus, dan roh kudus) membangkitkan Yesus.

    Sdri Inggrid menjelaskan bahwa Yesus bisa bangkit sendiri, namun ayat2 yang sdri lampirkan masih kurang kuat untuk mendukung argument tersebut.

    Kalau saya pribadi akan memilih yang (a), bagaimana menurut sdri? apakah masih memilih yang (b)?

    [Dari Katolisitas: pertanyaan berikut ini digabungkan karena masih satu topik:]

    (5) Sdi Inggrid menulis:

    Dasar Alkitab
    Maka mari dengan kerendahan hati, kita merenungkan ayat-ayat Alkitab berikut ini yang mendasari para Bapa Gereja mengajarkan adanya dua kodrat (yaitu Allah dan manusia) dalam satu Pribadi Yesus. Mari kita memohon rahmat Roh Kudus agar kita dimampukan untuk melihat kedalaman misteri Allah ini, seperti yang diwahyukan-Nya sendiri kepada kita melalui Kitab Suci:

    Kevin:
    saya menanggapi berdasarkan nomor atau point yang sdri berikan

    1. Kesimpulan sdri: “Jadi, karena Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah sendiri, maka artinya, kebersamaan dengan Allah dalam kepenuhannya itu tidak terputuskan oleh penjelmaan-Nya menjadi manusia dalam diri Yesus.

    a. Kalau Yesus pribadi yg setara Allah dan bersama-sama Allah, maka ada berapa Allahnya? (Ulangan 6:4). Sdr mungkin akan berergumen bahwa yg dimaksud Ul 6:4 adalah Esa dalam arti Allah nya yang esa, namun pribadinya jamak. Namun di Pkh 4:9 kata ibrani yang sama juga digunakan disitu yaitu Echad.

    b. Jika Yesus adalah manusia dan juga adalah Allah, maka penebusan yang diberikan Yesus untuk mengganti kesempurnaan yang Adam hilangkan akan jauh lebih tinggi nilainya.
    sedangkan yang dihilangkan hanya ketidaksempurnaan, akan sangat wajar jika Yesus sebagai manusia sempurna menebus ketidaksempurnaan yang telah dihilangkan Adam. Standar keadilan ilahi menuntut sesuatu yang seimbang,

    Kel 21:23 Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa,
    Kel 21:24 mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki,
    Kel 21:25 lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.

    tidak dikatakan kalau mata yang hilang ganti nyawa, atau sebaliknya. maka dapat disimpulkan bahwa jika Yesus adalah Allah sewaktu menjadi korban tebusan, maka standar keadilan Ilahi tidak akan terpenuhi, mengingat yang dihilangkan Adam adalah kehidupan manusianya yang sempurna.

    2. Sdri menarik kesimpulan bahwa karena Alkitab mengatakan bahwa “Yesus adalah Putra Allah” maka Yesus adalah pribadi yang setara Allah.

    mohon perhatikan:
    Manusia manusia memperanakkan = hasilnya anak manusia.=hakekat adalah manusia
    Induk kucing memperanakkan kucing= hasilnya anak kucing.=hakekat adalah binatang
    Allah memperanakkan = hasilnya Putra Allah=hakekat adalah Allah
    mungkin sdri juga setuju dengan penalaran seperti itu?

    namun hal ini tentu tidak dapat dijadikan dasar bahwa Putra Allah adalah setara dengan Allah.

    Misalnya, Ibu sdri memperanakkan sdri. Ya, sdri memang sehakekat dengan Ibu sdri, yaitu sama-sama manusia. Namun apakah karena hakekat sama menunjukkan bahwa umur, pengetahuan atau kuasa Sdri Inggrid sama dengan umur, pengetahuan atau kuasa Ibu sdri? tidak bukan? demikian juga antara hubungan Putra Allah dan Allah.

    3, 4. Lihat no. 2

    5. Yoh 8:58: …. Perkataan-Nya ini hanya masuk di akal jika Ia adalah Allah yang keberadaan-Nya tak terbatas oleh waktu, dan kemudian menjadi manusia sehingga dapat mengatakan pernyataan tersebut dengan ucapan mulut manusia dalam diri Yesus.

    Kevin:
    Saya setuju bahwa Yesus sudah ada sebelum menjadi manusia. Namun jika karena Yesus sudah ada sebelum menjadi manusia maka Yesus adalah Allah, maka itu hal yang saya tidak setuju.
    SY memahaminya, karena Yesus adalah ciptaan Allah yang pertama maka Yesus sudah ada lama sembelum dia menjadi manusia.(Kolose 1:15; Amsal 8:22, 23, 30; Wahyu 3:14.)

    Kemudian Sdri menulis:
    Yoh 13:13, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Ini adalah pernyataan yang sangat jelas, yang dikatakan Yesus dalam Perjamuan Terakhir, sebelum kebangkitan-Nya. Maka tidak mungkin bahwa Ia baru menjadi Tuhan setelah kebangkitan-Nya, sebab jika demikian, maka Ia tidak akan berkata demikian kepada para murid-Nya.

    Kevin:
    Yoh 13:13 (KJV) Ye call me Master and Lord: and ye say well; for so I am.
    kata lord tidak selalu bermakna Tuhan.

    Mat 22:44 Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu.

    Kalau ingin konsisten semestinya TB akan menerjemakan kata “lord” menjadi Tuhan, sperti ini

    Mat 22:44 Tuhan telah berfirman kepada Tuhanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Namun jika itu yang terjadi tentu akan timbul tanda tanya besar, Tuhan berfirman kepada Tuhan? siapa berfirman kepada siapa? Silakan ditanggapi.

    Kemudian Sdri menulis:
    ….Kita yang percaya kepada-Nya adalah anak-anak angkat Allah, sedangkan Kristus adalah Anak Allah yang Tunggal yang sehakekat dengan Allah (istilahnya, homo-ousios, the only begotten Son). Maka tepatlah jika Yesus mengatakan, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh 14:9, 11) Tidak ada satu nabipun yang dapat berkata demikian; tidak ada seorang manusiapun yang berhak berkata demikian, kalau Ia bukan sekaligus Allah.

    Kevin:
    saya setuju (lihat juga no.2) namun perhatikan bahwa Ishak juga disebut sebagai the only begotten son)
    Heb 11:17 KJV By faith Abraham, when he was tried, offered up Isaac: and he that had received the promises offered up his only begotten son,

    Heb 11:17 LITV By faith, being tested, Abraham offered up Isaac; and he receiving the promises was offering up the only begotten,

    Tentu kita setuju bahwa umur,pengetahuan, kuasa Ishak tidaklah sama dengan Bapaknya.
    demikian juga kenyataan bahwa Yesus adalah satu-satunya Putra yang diperanakkan tidak lantas membuat Yesus memiliki kuasa, umur atau pengetahuan yang sama dengan bapaknya. (Bandingkan Mat 24:36).

    berlanjut …

    terimakasih.

    • Shalom Kevin,

      1. 1 Tim 2:5: Apakah sebagai Pengantara, Yesus harus adalah Allah?

      Ayat 1 Tim 2:5 menyatakan Yesus sebagai satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia. Maka ayat itu memang bukan ayat yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Namun, ada banyak ayat- ayat lain dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa  itu adalah Allah sebagaimana telah disebut di artikel di atas (lihat subjudul ‘Dasar Alkitab’).

      Salah satu ayat yang menjelaskan mengapa Yesus -sebagai Pengantara yang menebus dosa manusia itu- adalah Tuhan (tidak mungkin manusia biasa) adalah Mzm 49:8-9:

      “Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya.”

      “Tidak seorangpun” artinya, tidak ada manusiapun yang dapat membebaskan nyawanya, apalagi membebaskan nyawa orang lain. Nah, kalau Yesus itu “hanya” manusia biasa, maka ia tidak dapat menebus umat manusia.

      Namun dasar Kitab Suci bahwa Yesus adalah Allah bukan hanya dilihat dari ayat Mzm 49:8-9 ini, tetapi juga dari ayat-ayat lainnya dari Kitab Suci, yang sudah disebutkan di atas, jadi tak perlu diulangi di sini.

      Sedangkan ayat Ibr 4:15 memang menyatakan kemanusiaan Yesus, itu juga diajarkan oleh Gereja Katolik, sebab memang Yesus itu walaupun sungguh Allah, namun juga Ia sungguh manusia, pada saat Ia menjelma menjadi manusia.

      2. Yesus melakukan mukjizat dalam nama-Nya sendiri?

      Ya, artinya Yesus melakukan mukjizat atas kuasa-Nya sendiri. Di banyak ayat dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Yesus dapat membuat mukjizat tanpa memanggil/ meminta kuasa dari Allah. Kristus dapat langsung menghardik angin ribut, dan angin ribut-pun reda (lih. Mat 8:26); ataupun langsung mengatakan, “Jadilah engkau tahir”, maka tahirlah orang kusta itu (lih. Mat 8:3). Juga pada saat membangkitkan orang mati, Yesus langsung berkata, “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk 7:14) dan anak muda itu langsung bangkit.  Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Kristus melakukan mukjizat atas kuasa-Nya sendiri (di dalam nama-Nya sendiri); sesuatu yang hanya mungkin dilakukan kalau Ia sendiri adalah Allah. Sedangkan para nabi sebelum Yesus melakukan mukjizat dalam nama Tuhan, yang ditandai oleh, 1) entah dari doa Nabi tersebut kepada Tuhan, seperti ketika Nabi Elia hendak membangkitkan anak janda di Sarfat (lih. 1Raj 17:19-23); ketika Nabi Elia hendak mendatangkan hujan (lih 1 Raj 18:36-38); 2) ataupun dari perintah Allah kepada Nabi tersebut, seperti ketika Allah memerintahkan Musa untuk mengangkat tongkat dan mengulurkan tangan ke atas laut Teberau untuk membelah air laut itu; sehingga setelah Musa melakukannya, terbelahlah laut itu (lih. Kel 14:16-22). Demikian juga para rasul melakukan mukjizat, namun mereka tidak melakukannya dalam nama mereka sendiri, tetapi dalam nama Yesus (lih. Kis 3:6, 16).

      Bahwa Yesus dapat melakukan mukjizat atas kuasa-Nya sendiri, itu memang karena ada Roh Kudus di dalam-Nya, karena Yesus adalah Allah maka Roh Kudus yang adalah Roh-Nya sendiri, ada di dalam-Nya. Jadi Anda benar bahwa sumber mukjizat itu adalah Allah. Justru karena Yesus adalah Allah maka Ia dapat melakukan berbagai mukjizat atas kuasa-Nya sendiri.

      3. Para malaikat-pun melayani Dia (Mat 4:11, Mrk 1:13)

      Terima kasih atas koreksi Anda. Ya, seharusnya Mat 4:11, bukan Mat 3:11, sudah saya perbaiki di artikel di atas.

      Ya, salah satu bukti ke-Allahan Yesus adalah para malaikat melayani Dia (lih. Mat 4:11). Ini jelas tertulis secara eksplisit dalam Kitab Suci. Sedangkan tentang asumsi Anda bahwa Yesus sama dengan malaikat Mikael itu, apakah ada ayatnya dalam Kitab Suci yang mengatakan secara eksplisit demikian? 

      Lagipula, Kitab Suci mencatat bahwa salah satu tugas malaikat adalah melayani Allah (lih. Luk 1:19, Tob 12:15), namun tidak dikatakan bahwa bahwa malaikat melayani sesama malaikat, apakah ada ayatnya yang mengatakan secara eksplisit bahwa malaikat- malaikat melayani malaikat Mikael? Silakan Anda menunjukkan ayatnya, sebab saya juga ingin mengetahuinya jika ada.

      4. “Tetapi Aku berkata kepadamu….”

      Dalam Injil ada banyak sekali ayat yang mengatakan Tuhan Yesus mengatakan demikian, “Tetapi Aku berkata kepadamu ….” yang diikuti dengan pengajaran-pengajaran-Nya. Maka yang saya sampaikan di atas bukan untuk membahas satu persatu ajaran yang disebutkan setelah perkataan “Aku berkata kepadamu….”, tetapi apa makna dari perkataan “Aku berkata kepadamu ….” itu sendiri.

      Sebab ada perbedaan antara bagaimana Yesus mengajar dengan para nabi mengajar. Sebagai contohnya: Nabi Musa; saat mengajar ia mengatakan bahwa apa yang dikatakannya adalah perintah Tuhan (bukan dari dirinya sendiri), “Inilah roti yang diberikan Tuhan kepadamu menjadi makananmu. Beginilah perintah Tuhan: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya….. (Kel 16:15-16). Namun Yesus tidak mengatakan demikian, melainkan, “Aku berkata kepadamu…. ” (lihat di perikop Roti hidup Yoh 6:25-59. Di perikop itu, Yesus mengatakan demikian sebanyak lima kali). Artinya, Dia tidak mengacu kepada apa yang dikatakan oleh Allah Bapa, pada saat Ia mengajar, sebab Ia berkuasa mengajar dan mengatakan Sabda/ firman-Nya atas kuasa-Nya sendiri, sebab memang Kristus adalah Sang Sabda/ Sang Firman itu sendiri, yang adalah Allah (lih. Yoh 1:1).

      5. Apakah Mrk 16:9-20 itu ayat-ayat yang otentik?

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa Mrk 16:9-20 adalah ayat-ayat yang otentik, artinya diinspirasikan oleh Roh Kudus. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Perlu diketahui juga bahwa: 1) Injil Markus mencatat bahwa “Yesus bangkit” tidak hanya pada bagian akhir saja (Mat 16:9-20), tetapi juga di ayat Mrk 8:31 dan Mrk 9:9; Mrk 16:6;  2) Ayat-ayat Kitab Suci yang menyatakan bahwa Yesus “bangkit” itu bukan hanya dari Injil Markus, namun juga di banyak ayat yang lain dalam Kitab Suci, seperti di Luk 24:34; Yoh 2:22; 21:14, 1 Tes 4:14, 2 Tim 2:8, Kis 17:3, Rom 6:9; 8:34, Why 1:5. Tentu akan sangat naif jika kemudian seseorang menganggap bahwa semua ayat ini tidak otentik, karena mengatakan bahwa Yesus “bangkit”.

      6. Luk 24:34, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”

      Di sini malah ayat tersebut secara eksplisit menyebut bahwa Yesus adalah Tuhan, dan Ia telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon (Petrus). Argumen Anda untuk membandingkan ayat ini dengan Luk 8:48 menjadi tidak jelas. Sebab di Luk 8:48 kasusnya adalah pada seorang wanita, dan wanita itu tidak disebut Tuhan; tidak seperti Yesus yang disebut Tuhan oleh para murid itu, di Luk 24:34. Lalu di ayat Luk 8:48, kasusnya adalah kesembuhannya dari suatu penyakit, dan bukan kebangkitan dari mati. Untuk kesembuhan dari penyakit, memang seringkali melibatkan iman orang yang bersangkutan, namun untuk orang-orang yang dibangkitkan dari mati yang disebut dalam Kitab Suci, tidak disebutkan adanya keterlibatan iman orang yang dibangkitkan. Yang ada adalah belas kasihan dan kuasa Allah yang membangkitkan orang itu, untuk menunjukkan kemuliaan Allah. Maka ayat Luk 8:48  itu tidak dapat dibandingkan dengan Luk 24:34, sebab konteksnya berbeda.

      7. Ajaran Trinitas tidak dapat dibuktikan karena ada ayat yang menyebutkan bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah Bapa?

      Nah, ini adalah kesimpulan Anda sendiri, kemungkinan karena latar belakang ajaran aliran Anda.

      Memang ada ayat-ayat dalam Kitab Suci yang menyebutkan bahwa Yesus ‘dibangkitkan’ oleh Allah Bapa (lih. Mat 20:19; Kis 2:32; 4:10; 7:37; 10:40; 13:37). Pernyataan ini tetap benar, sebab Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Maka, istilah Yesus ‘bangkit’ mengacu kepada kodrat-Nya sebagai Allah -sehingga Ia dapat bangkit dari mati, sedangkan istilah ‘dibangkitkan’ ini mengacu kepada kodrat-Nya sebagai manusia- sehingga dikatakan, Ia dibangkitkan oleh Allah Bapa.

      Orang yang tidak menerima prinsip dua kodrat yang ada bersama dalam Pribadi Yesus, akan mempunyai masalah/ kebingungan sebagaimana yang Anda tuliskan dalam argumen Anda. Namun jika ia menerima prinsip bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan, jika dalam Kitab Suci ditulis, “Yesus bangkit” dan “Yesus dibangkitkan”.

      8. Yesus sehakekat dengan Allah, apa maksudnya?

      Sehakekat maksudnya sama atau satu hakekatnya. Maka Allah adalah esa hakekat-Nya, tetapi Pribadi-Nya ada tiga. Memang esa artinya satu, sehingga dapat saja kata yang sama itu diterjemahkan sebagai ‘seorang diri’ sebagaimana disebut dalam Pkh 4:9.

      Namun kesamaan hakekat Yesus dengan Allah, nyata dalam Yoh 1:1, “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

      Kita dapat melihat bahwa manusia yang mempunyai anak, maka anaknya juga sama hakekatnya, yaitu manusia. Analogi ini memang dapat sedikit membantu kita memahami bahwa Yesus yang disebut Putera Allah, hakekatnya sama dengan Bapa-Nya yang adalah Allah. Namun demikian, kita tidak dapat membandingkan umur, pengetahuan, dan ciri-ciri lainnya yang ada pada manusia, dan menerapkannya pada Allah. Karena pada manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu, ada tubuh dan karenanya ada pertumbuhan dalam tubuh ini, maka orang tua selalu umurnya lebih banyak dari umur anaknya, keadaan fisiknya lebih bertumbuh daripada keadaan fisik anaknya. Sedangkan Allah itu Roh (Yoh 4:24) yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dan tak terbatas oleh bertubuh. Maka kesempurnaan hakekat Sang Firman Allah pada awal mulanya adalah sama dengan hakekat Allah Bapa. Hanya pada saat Sang Firman tersebut menjelma menjadi manusia, maka kodrat-Nya sebagai manusia itu menunjukkan adanya pertumbuhan tubuh. Tetapi dari kodrat-Nya sebagai Allah, tidak ada yang bertumbuh; Kristus Sang Sabda sudah sejak awalnya sempurna sebagai Allah.

      9. Penebusan Yesus jauh lebih tinggi nilainya dari kesempurnaan yang dihilangkan Adam?

      Silakan klik di sini untuk membaca pembahasan tentang Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah.

      10. Kata “kurios” Mat 22:44

      Kata ‘kurios’ memang mempunyai banyak arti, tidak hanya berarti ‘Tuhan’. ‘Kurios’ bisa berarti ‘tuan’ (lih. Mat 10:24), ataupun tersebut dapat ditujukan kepada suami sebagaimana Sarah memanggil Abraham (lih. 1 Pet 3:6). Namun di banyak ayat dalam Kitab suci kata ‘kurios’ mengacu kepada Tuhan (bukan tuan) sebagaimana pada ayat Mat 21:9; 23:39; Mrk 11:9; Luk 13:35; 19:38; Kis 15:40, dst.

      Maka walaupun dalam Kitab Suci bahasa Indonesia di Mat 22:44 kata ‘kurios’ diterjemahkan sebagai ‘Tuhan’ dan ‘tuan’, tidak membuktikan bahwa bahwa Yesus bukan Tuhan.

      Ayatnya yang berbunyi demikian, “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” (Mat 22:44-45).

      Dari sini, makna yang ingin disampaikan adalah: bahkan Raja Daud yang adalah kakek moyang Yesus, menghormati Yesus dan menyebut-Nya “kurios”/ Tuan/ Tuhan-nya. Dalam Kitab Suci bahasa Inggris, teksnya tertulis demikian, “The Lord said to my Lord, Sit at my right hand, till I put thy enemies under thy feet?” (Mat 22:44) Artinya, bahkan Raja Daud mengetahui bahwa Sang Mesias yang akan lahir adalah dari keturunannya, di mana ia sendiri akan memanggil keturunannya itu sebagai ‘tuan’ atau ‘Tuhan’/ kurios.

      Demikian tanggapan saya, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Sdri Inggrid,

        Sebelumnya saya memang terlihat hanya mengutip ayat2 Alkitab saja tanpa memberikan banyak penjelasan, saya kira Sdri dapat memahami maksud ayat2 yang saya kutipkan, namun sepertinya tidak semua ayat yang saya telah kutipkan Sdri pahami maksud dari saya mengutip ayat tersebut. Untuk itu saya akan memberikan keterrangan pada ayat2 yang telah saya kutip.

        1. a) Peran Yesus sebagai pengantara.
        1Ti 2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,
        Peran Yesus di ayat ini adalah sebagai Pengantara antara Allah dan Manusia. (Allah-Yesus-Manusia)
        yang ingin saya tekankan di sini ialah bahwa Yesus itu adalah manusia sewaktu di bumi. Karena menurut definisi seorang pengantara adalah seorang yang terpisah dari mereka yang membutuhkan pengantara, suatu kontradiksi jika Yesus adalah satu kesatuan dengan salah satu pihak yang ia coba perdamaikan. Itu berarti ia pura-pura menjadi pengantara, padahal bukan.

        Memang di ayat ini disebutkan bahwa Yesus menjadi pengantara antara Allah dan Manusia. Manusia yang dimaksudkan di ayat ini tentulah manusia secara umum yaitu manusia yang mewarisi dosa Adam.(Roma 5:12) Sedangkan Yesus adalah manusia sempurna, yang tanpa dosa. (1 Ptr. 2:22; Ibr. 7:26.).
        Jadi tidak mungkin Yesus adalah Allah (berhakekat Allah) sewaktu hidup di bumi kalau dihubungkan dengan perannya sebagai pengantara.
        Jika percaya Tritunggal maka akan sulit untuk menyelaraskan ayat ini. Dapat kah Anda menyelaraskan ayat 1 Tim 2:15 ini, jika Yesus yang menjadi pengantara juga adalah Allah? Silakan ditanggapi.

        b) Tentang tebusan.
        Mzm 46:7-9 “Tidak seorangpun” artinya, tidak ada manusiapun yang dapat membebaskan nyawanya, apalagi membebaskan nyawa orang lain. Nah, kalau Yesus itu “hanya” manusia biasa, maka ia tidak dapat menebus umat manusia.
        Iya memang tidak seorangpun manusia yang dapat menjadi tebusan bahkan bagi dirinya sendiri karena kenyataannya semua manusia mewarisi dosa Adam.(Roma 5:12) Namun bagaimana dengan Manusia Yesus? Alkitab menjawab secara eksplisit bahwa Yesus adalah seorang manusia, namun berbeda dengan semua manusia lainnya. (1 Ptr 2:22, Ibr 7:26)
        1Pe 2:22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
        Heb 7:26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
        2 ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah manusia yang tidak mewarisi dosa Adam. Bagaimana Mungkin? Ya mengingat Yesus lahir tanpa hubungan Badan Maria dan Yusuf. Jadi Yesus terlahir sebagai manusia yang tidak mewarisi dosa dari orang tuanya. Ya Yesus bukanlah manusia biasa.
        Jadi argument sdri bahwa untuk dapat menebus dosa, maka Yesus haruslah Allah tidaklah kuat.

        2. Yesus melakukan mukjizat dalam nama-Nya sendiri?

        1). Memang kalau kita membaca ayat2 yang sdri lampirkan sepertinya akan terlihat bahwa Yesus lah yang melakukannya atas kuasanya senidiri (atau sdri menyebutnya ‘dalam namanya’ sendiri).
        Namun perhatikan bahwa Rasul Paulus pun pernah membangkitkan seorang pemuda yang sudah mati tanpa meminta kuasa, baik dalam bentuk doa atau apapun dari Allah.
        Kisah 20:7-10

        Act 20:7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.
        Act 20:8 Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu.
        Act 20:9 Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.
        Act 20:10 Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: “Jangan ribut, sebab ia masih hidup.”

        Maka dalam hal ini kita tentu tidak akan dapat mengatakan bahwa Paulus juga Allah bukan? Hanya karena membangkitkan orang mati dengan ‘kuasanya’ sendiri? Mengingat Paulus adalah sungguh manusia bukan Allah. Demikian juga dengan Yesus, Argument sdri tidaklah cukup kuat untuk menyebut Yesus berhakekat Allah hanya karena banyak melakukan mukzijat dalam namanya / kuasanya sendiri.

        kemudian Alkitab pernah menyebutkan secara eksplisit bahwa Yesus pernah meminta kuasa dari Bapanya ketika membangkitkan Lazrus di Yoh 11:41, 42.

        Joh 11:41 Maka mereka menyingkirkan batu itu. Kemudian Yesus menengadah ke langit dan berkata, “Terima kasih, Bapa, karena Engkau telah mendengarkan Aku.
        Joh 11:42 Aku tahu Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi Aku mengatakan ini, untuk orang-orang yang ada di sini; supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku.”

        Hal ini senada seperti yang dilakukan Musa sebelumnya, Musa berdoa meminta Kuasa dari Allah Yehuwa.

        Exo 15:25 Musa berdoa dengan sungguh-sungguh kepada TUHAN, lalu TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu. Kayu itu dilemparkan Musa ke dalam air, lalu air itu menjadi tawar, sehingga dapat diminum. Di tempat itu TUHAN memberi peraturan-peraturan kepada mereka, dan di situ juga Ia mencobai mereka.
        2). Sdri menulis : “Bahwa Yesus dapat melakukan mukjizat atas kuasa-Nya sendiri, itu memang karena ada Roh Kudus di dalam-Nya, karena Yesus adalah Allah maka Roh Kudus yang adalah Roh-Nya sendiri, ada di dalam-Nya. Jadi Anda benar bahwa sumber mukjizat itu adalah Allah. Justru karena Yesus adalah Allah maka Ia dapat melakukan berbagai mukjizat atas kuasa-Nya sendiri.”
        Doktrin Tritunggal memang membuat rancu, tentang identitas kata Allah, terutama dalam kitab2 Yunani Kristen (PB).
        Di Act 2:22 “Saudara-saudara orang-orang Israel! Dengarlah apa yang saya katakan ini: Yesus orang Nazaret itu sudah diberi tugas oleh Allah untuk saudara. Itu nyata sekali pada keajaiban-keajaiban dan hal-hal luar biasa yang Allah “ dengan jelas disebutkan bahwa dari Allah-lah sumber kuasa yang Yesus untuk melakukan Mukzijat2nya. Yang menjadi pertanyaan adalah siapakah Allah yang dimaksud? apakah juga Yesus yang merupakan bagian dari Tritunggal seperti sdri Simpulkan?
        Kalau kita membaca ayat-ayat sebelumnya akan terlihat bahwa sebenarnya Yehuwa lah yang memberinya kuasa.
        Act 2:1 Ketika sudah sampai hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
        Act 2:2 Tiba-tiba terdengar bunyi dari langit seperti angin keras meniup. Rumah di mana orang-orang itu sedang duduk seluruhnya penuh dengan bunyi itu.

        Act 2:5 Pada waktu itu banyak orang Yahudi, dari berbagai-bagai negeri di seluruh dunia, tinggal di Yerusalem. Mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah.

        Act 2:16 Tetapi ini sudah diberitahukan oleh Allah melalui Nabi Yoel:

        Act 2:17 ‘…
        Act 2:21 Pada waktu itu, orang yang berseru kepada Tuhan akan diselamatkan.’
        Act 2:22 Saudara-saudara orang-orang Israel! Dengarlah apa yang saya katakan ini: Yesus orang Nazaret itu sudah diberi tugas oleh Allah untuk saudara. Itu nyata sekali pada keajaiban-keajaiban dan hal-hal luar biasa yang Allah lakukan di tengah-tengah kalian melalui Yesus itu. Semuanya itu saudara sendiri sudah tahu
        Penjelasan :
        ayat 1 : mereka (murid2) berkumpul pada hari Pentakosta.
        ayat 5 : orang2 Yahudi dari berbagai negeri diseluruh dunia datang ke Yerusalem karena mentaati perintah Allah. Perintah yang mana? Itu adalah perintah untuk merayakan hari Pentakosta yang disebutkan Ulangan 16:16, Imamat 23:15-21
        Lev 23:1 TUHAN memberi kepada Musa
        Lev 23:2 peraturan-peraturan tentang perayaan agama, yang harus diumumkan sebagai hari raya untuk beribadat.
        Lev 23:16 Pada hari yang kelima puluh, yaitu hari sesudah Sabat yang ketujuh kamu harus membawa kurban sajian kepada TUHAN
        Lev 23:21 Pada hari itu kamu harus mengadakan pertemuan untuk beribadat dan tak boleh melakukan pekerjaan berat. Peraturan itu harus ditaati oleh keturunanmu untuk selama-lamanya, di mana saja mereka tinggal
        Jadi Allah yang dimaksudkan di buku Kisah pasal 2 tadi adalah TUHAN yang memerintahkan untuk merayakan perayaan pentakosta. Siapakah TUHAN itu? sdr tentu tahu bahwa itu adalah Yehuwa (YHWH).
        Jadi kesimpulannya, yang memberi kuasa adalah Yehuwa. Ingat bukan Allah Bapa. Tapi TUHAN/Yehuwa.
        coba Anda pertimbangkan, Kalau yang memberi kuasa adalah Yehuwa (1 Pribadi) memberi kuasa kepada Yesus (bagian dari Yehuwa) apakah masuk akal?
        Saya sering menanyakan hal ini, namun sdri sepertinya belum menangkap esensi dari pertanyaan/sanggahan saya. Sdri lalu mengganti saja Yehuwa menjadi Allah Bapa padahal sudah jelas yang dimaksud Allah di sini adalah Yehuwa (utuh/ 1 pribadi) bukan Allah Bapa. termasuk Kis 5:30 bahwa yang membangkitkan Yesus adalah Yehuwa, namun sdri menggantinya menjadi Allah Bapa. Bagai mana menurut Sdri?

        3. Para malaikat-pun melayani Dia (Mat 4:11, Mrk 1:13)
        Sdri bertanya :
        apakah ada ayatnya dalam Kitab Suci yang mengatakan secara eksplisit demikian? apakah ada ayatnya yang mengatakan secara eksplisit bahwa malaikat- malaikat melayani malaikat Mikael?

        Saya ingin menjelaskan namun cukup panjang, Silakan Anda mengunjungi di sini Watcthower Online Library – Mikhael.
        Sdri menulis:
        “Lagipula, Kitab Suci mencatat bahwa salah satu tugas malaikat adalah melayani Allah (lih. Luk 1:19, Tob 12:15), namun tidak dikatakan bahwa bahwa malaikat melayani sesama malaikat,
        Kevin :
        dalam hal ini TB menerjemahkan ayat di Lukas 1:19 kurang akurat, kalau kita bandingkan dengan KJV dan Alkitab2 lain yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris.
        (KJV) And the angel answering said unto him, I am Gabriel, that stand in the presence of God; and am sent to speak unto thee, and to shew thee these glad tidings.

        (ITB) Jawab malaikat itu kepadanya: “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.

        (TDB) Sebagai jawaban malaikat itu mengatakan kepadanya, ”Aku Gabriel, yang berdiri dekat di hadapan Allah, dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu dan menyatakan kabar baik mengenai hal-hal ini kepadamu.

        Jadi argument untuk menyatakan keilahian Yesus dengan membandingkan Mat 4:11 dengan Lukas 1:19 tidak lah kuat atau bahkan salah, apalagi dengan kitab Tobit yang tidak kanonik.(yang saya Tau Cuma Khatolik dan orthodox, yang menganggapnya kanonik)

        bukti bahwa Tobit tidak kanonik

        Tob 1:4 Waktu aku masih tinggal di tanah airku, yaitu di tanah Israel, dan ketika aku masih muda, maka seluruh suku Naftali moyangku memberontak terhadap keluarga Daud bapaku dan terhadap Yerusalem, kota yang telah dipilih dari antara semua suku Israel, supaya di sana semua suku mempersembahkan korban. Memang di sanalah Bait Tuhan, yaitu kediaman Allah, telah dibangun dan ditahbiskan untuk segala keturunan sepanjang sekalian abad. Tob 1:5 Tetapi semua saudaraku dan juga rumah bapaku Naftali mempersembahkan korban kepada anak lembu yang telah dibuat Yerobeam, raja Israel, di kota Dan yang terletak di pegunungan Galilea.
        Tob 1:10 Ketika diangkut tertawan dan diasingkan ke negeri Asyur aku pergi ke kota Niniwe. Semua saudaraku dan kaum sekeluarga makan makanan bangsa asing, Tob 1:11 tetapi aku mencegah diriku jangan makan makanan itu. Tob 1:12 Sebab dengan segenap hatiku aku ingat kepada Allah.
        Tob 14:2 Adapun Tobit meninggal dengan tentram waktu berumur seratus dua belas tahun. Ia dikuburkan di Niniwe sebagaimana mestinya. Waktu matanya menjadi rusak ia berumur enam puluh dua tahun dan setelah dapat melihat kembali ia hidup sejahtera dan melakukan kebajikan. Iapun terus memuji Allah dan memuliakan kebesaranNya. Tob 14:3 Ketika tiba ajalnya dipanggilnya anaknya Tobia dan disuruhnya: “Nak, ambillah semua anakmu
        Tob 12:15 Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaikat yang melayani di hadapan Tuhan yang mulia.”

        Penjelasan:
        Cerita ini pada mulanya mungkin ditulis dalam bahasa Aram dan diperkirakan berasal dari sekitar abad ketiga SM. Cerita itu jelas tidak diilhamkan Allah karena dalam narasinya terdapat takhayul dan hal-hal yang tidak benar. Ketidakakuratan yang terdapat di dalamnya antara lain: Kisah itu menyatakan bahwa semasa mudanya, Tobit menyaksikan pemberontakan suku-suku di utara, yang terjadi pada tahun 997 SM setelah kematian Salomo (Tobit 1:4, 5), juga bahwa ia kemudian dideportasi ke Niniwe bersama suku Naftali, pada tahun 740 SM. (Tobit 1:10-12) Itu berarti ia hidup lebih dari 257 tahun, sedangkan Tobias 14:1-3 mengatakan bahwa ia mati pada usia 112 tahun.

        Di Ibrani 1:14 jelas bahwa malaikat bahkan melayani manusia.

        Heb 1:13 Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?”
        Heb 1:14 Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?

        Silakan direnungkan apakah manusia juga Allah [pribadi yang setara dengan Allah] karena dilayani oleh malaikat?

        4. “Tetapi Aku berkata kepadamu….”
        Kalau sdri membaca ulang tulisan saya, sayapun tidak bermaksud membahas satu persatu ajaran yang disebutkan setelah perkataan “Aku berkata kepadamu, namun saya menandaskan maknanya, yaitu bahwa Yesus sudah tahu bahwa dirinya akan menggenapi Hukum Taurat, makanya Yesus bisa berkata demikian. Jadi frase “aku berkata kepadamu” tidaklah membuktikan bahwa Yesus setara Allah

        5. Apakah Mrk 16:9-20 itu ayat-ayat yang otentik?
        Mengingat ayat tersebut menjadi kontroversi, maka menggunakan ayat2 di markus 16:9-20 tidaklah cukup kuat untuk menunjukkan ke-Allahan Yesus.
        Sdri Menulis:
        Perlu diketahui juga bahwa: 1) Injil Markus mencatat bahwa “Yesus bangkit” tidak hanya pada bagian akhir saja (Mat 16:9-20), tetapi juga di ayat Mrk 8:31 dan Mrk 9:9; Mrk 16:6; 2) Ayat-ayat Kitab Suci yang menyatakan bahwa Yesus “bangkit” itu bukan hanya dari Injil Markus, namun juga di banyak ayat yang lain dalam Kitab Suci, seperti di Luk 24:34; Yoh 2:22; 21:14, 1 Tes 4:14, 2 Tim 2:8, Kis 17:3, Rom 6:9; 8:34, Why 1:5. Tentu akan sangat naif jika kemudian seseorang menganggap bahwa semua ayat ini tidak otentik, karena mengatakan bahwa Yesus “bangkit”.
        1) Mrk 8:31 bandingkan dengan peristiwa yang sama di Mat 16:21, 22
        Mrk 8:31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
        Mar 8:32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia

        Mat 16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

        Mat 16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.”

        Dari Mrk 8:31, 32 terlihat bahwa Yesus mengatakan “…lalu dibunug dan bangkit sesudah tiga hari”.

        Namun di Mat 16:21 Yesus mengatakan bahwa “…lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga

        Mengapa bisa berbeda seperti itu? Maka Mana yang benar? apakah Yesus yang salah omong? atau penulis injil Markus dan Matius yang salah catat?

        Untuk menjawabnya kita dapat melihat kesaksian dari Rasul Petrus yang saat itu hadir di sana. (Mrk 8:32 dan Mat 16:22). Rasul Petrus-lah yang mendengar langsung kata2 Yesus tersebut. Maka apa yang Petrus pernah katakan sehubungan dengan kebangkitan Yesus?
        Di Kisah 5:30 Petrus memberikan jawabannya.

        Act 5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

        Act 5:30 Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh.

        Jadi jelas sekali bahwa Yesus itu dibangkitkan oleh Allah Yehuwa bukan Allah Bapa atau Bahkan bukan oleh Yesus sendiri.

        Maka bagaimana menyelaraskan kata2 Yesus bahwa Ia bangkit ?
        di Mrk 8:31 sebenarnya tidak secara eksplisit mengatakan bahwa Yesus bangkit sendiri. Kalau saya memahaminya seperti ini:

        Seperti orang yang sedang menjelaskan apa yang akan dia lakukan secara berturut-turut namun tidak mengatakan siapa yang menyebabkan tindakkannya itu. Mis Si A mengatakan setelah pulang sekolah saya akan makan, mandi, tidur dan bangun.

        ketika mengatakannya Si A tidak menjelaskan siapa yang membangunkannya, apakah dia bangun sendiri atau dibangunkan. dia Cuma bilang bangun saja.

        Demikian halnya, ketika Yesus mengatakan di Markus 8:31 dia tidak menyebutkan siapa yang akan membangkitkannya, dia Cuma bilang bangkit saja. Silakan sdri Tanggapi.

        2) Mrk 9:9 (ayat ini tidak kuat untuk menunjukkan bahwa Yesus bangkit)

        ITB Mar 9:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.
        (IBIS) Waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus memperingatkan mereka, “Jangan memberitahukan kepada siapa pun apa yang kalian lihat tadi sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari kematian.”
        (KJV) And as they came down from the mountain, he charged them that they should tell no man what things they had seen, till the Son of man were risen from the dead.
        bersediakah Sdri menjelaskan mengapa terjadi perbedaan penerjemahan seperti itu? TB:bangkit, IBIS dan KJV :dibangkitkan?
        3) Mar 16:6

        TB Mar 16:6 tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.

        (KJV) And he saith unto them, Be not affrighted: Ye seek Jesus of Nazareth, which was crucified:he is risen; he is not here: behold the place where they laid him.

        Mengapa terjadi perbedaan penerjemahan? TB : bangkit namun KJV:Dia/Yesus dibangkitkan?
        4). Luk 24:34
        (ITB) Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”
        (KJV) Saying, The Lord is risen indeed, and hath appeared to Simon.

        5) Yoh 2:22

        TB Joh 2:22 Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.
        (KJV) When therefore he was risen from the dead, his disciples remembered that he had said this unto them; and they believed the scripture, and the word which Jesus had said.

        Lagi-lagi TB tidak akurat menerjemahkan ayt di atas? Mohon maaf apakah sdri Sudah membandingkan TB dengan versi2 terjemahan Alkitab lainnya?

        6) Yoh 21:14
        TB Joh 21:14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
        (KJV) This is now the third time that Jesus shewed himself to his disciples, after that he was risen from the dead
        Sekali lagi TB tidak akurat. begitu juga dengan ayat2 yg sdri lampirkan seperti 2 Tim 2:8, Roma 6:9, Roma 8:34
        7) 1 Tes 4:14
        TB 1 Th 4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
        (IBIS) Kita percaya bahwa Yesus sudah mati dan hidup kembali. Itu sebabnya kita percaya juga bahwa Allah akan menghidupkan kembali semua orang yang percaya kepada Yesus dan telah meninggal, supaya mereka hidup bersama Dia.
        Ayat ini juga tidak menunjukkan bahwa Yesus bangkit sendiri.
        8)Kis 17:3

        (IBIS) Berdasarkan ayat-ayat Alkitab ia menjelaskan dan membuktikan bahwa Raja Penyelamat yang dijanjikan Allah perlu menderita dan hidup kembali dari kematian. “Yesus yang saya beritakan kepadamu itu, Dialah Raja Penyelamat yang dijanjikan,” kata Paulus.

        (ITB) Ia menerangkannya kepada mereka dan menunjukkan, bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, lalu ia berkata: “Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu.”
        Ayat ini juga tidak sedang mengatakan bahwa Yesus bangkit sendiri. Paulus menerangkan bahwa Yesus bangkit menunjukkan bahwa memang Ia bangkit, namun tidak disebutkan siapa yang membangkitkannya. (lihat no. 1)
        9) Wahyu 1:5
        (IBIS) dan dari Yesus Kristus, saksi yang setia. Dialah yang pertama-tama dihidupkan kembali dari kematian dan Dialah penguasa atas raja-raja dunia. Yesus mengasihi kita, dan dengan kematian-Nya Ia membebaskan kita dari dosa-dosa kita,

        (ITB) dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya–
        Ayat ini tidak menunjukkan bahwa Yesus bangkit sendiri, namun bahwa Yesuslah pribadi yang pertama bangkit dari antara orang mati yang kemudian dikarunia peri tidak berkematian.

        6. Luk 24:34, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”
        Luke 24:34

        (IBIS) Mereka itu berkata, “Memang benar Tuhan sudah hidup kembali! Ia telah memperlihatkan diri-Nya kepada Simon!”

        (ITB) Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”
        (KJV) Saying, The Lord is risen indeed, and hath appeared to Simon.
        Untuk ayat ini pun TB tidak akurat menerjemahkannya.

        7.Sdri Menulis:
        Ajaran Trinitas tidak dapat dibuktikan karena ada ayat yang menyebutkan bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah Bapa?
        Nah, ini adalah kesimpulan Anda sendiri, kemungkinan karena latar belakang ajaran aliran Anda.

        Mengapa sdri mengatakan bahwa saya beranggapan yang membangkitkan Yesus adalah Allah Bapa? Padahal yang pernah saya uraikan terkait Kisah 5:30 bahwa yang membangkitkan adalah Allah Yehuwa, Bukan Allah Bapak. Beda tidak antara Yehuwa (yang terdiri dari 3 Pribadi) dengan Allah Bapa? Izinkan saya bertanya apa perbedaan antara Allah Yehuwa (TUHAN, di TB) dengan Allah Bapa? Kalau saya TUHAN adalah Yehuwa.
        bukankah sudah jelas sekali di Kisah 5:30 yang membangkitkan adalah Allah Yehuwa bukan sekedar Allah Bapa yang merupakan bagian dari Tritunggal.
        Maka yang ingin saya tekankan adalah, Bagaimana bisa dikatakan Yehuwa (ingat Yehuwa bukan Allah Bapa) yang menurut Trinitarian terdiri dari Bapa, Yesus, dan Roh Kudus membangkitkan bagian dari Yehuwa itu yaitu Yesus?
        Saya berharap sekali Sdri dapat mencermati bagian ini baik-baik, karena konsep Tritunggal akan mengalami masalah dengan ayat ini.
        Jika kita percaya bahwa Yehuwa adalah Allah yang Esa, benar2 esa dalam hal pribadi, maka tidak akan ada masalah ketika dikatakan Yehuwa (1 pribadi) membangkitkan Pribadi lainnya yaitu Yesus. Hal ini sudah berulang kali saya tekankan, dan mohon dicermati dengan baik.
        Dalam hal ini saya tidak bingung, sepertinya Sdri lah yang kebingungan dengan konsep Tritunggal yang Sdr imani. Mengapa Sdri merubah ayat yang memaksudkan Yehuwa menjadi Allah Bapa? apa dasarnya? kalau ada dasarnya saya juga ingin mengetahuinya

        8. Yesus sehakekat dengan Allah, apa maksudnya?
        mari kita cermati Ulangan 6:4
        Deu 6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
        TUHAN yang dimaksud adalah YHWH, (selanjutnya saya akan menggunakan kata Yehuwa yang merujuk pada YHWH.)
        kalau kita melihat ayat itu, yang esa itu ke-Allahannya atau ke-pribadiannya?

        jelas sekali bahwa yang esa adalah Pribadinya. “TUHAN itu esa!”
        Jadi tidak lah benar jika Tritnitarian beranggapan kalau Yehuwa hadir dalam 3 pribadi.

        kemudian kalau kita kaitkan dengan Pkh 4:9 terlihat bahwa kata “esa” memang memaksudkan seorang diri.
        Yoh 1:1, “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
        Jika firman itu bersama-sama dengan Allah dan juga setara dengan Allah, maka ada berapa Allahnya? Saya dan Anda yang adalah manusia duduk bersama-sama? ada berapa manusia? 2 bukan?.
        Jika sdri mengatakan pengetahuan Yesus dan Bapak sama, Bagaimana dengan Mat 24:36 yang menunjukkan keterbatasan pengetahuan Yesus dengan Bapaknya?

        9. Penebusan Yesus jauh lebih tinggi nilainya dari kesempurnaan yang dihilangkan Adam?
        Anda menulis di Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah
        “Dan betapa besar harga yang dibayar oleh Kristus untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia! Ia menyerahkan diri-Nya, untuk disalibkan. Rasul Paulus menegaskan bahwa pengorbanan Kristus bukan hanya cukup untuk menanggung dan menebus dosa seluruh umat manusia, namun dipenuhi secara berlimpah (superabundant) karena dilakukan dengan kasih-Nya yang sempurna (lih. Rm 5:15-20). Kasih yang sempurna ini adalah jawaban yang sempurna atas kasih Tuhan yang telah dilanggar oleh manusia pertama, sehingga keselamatan atau kesatuan manusia dengan Tuhan menjadi sesuatu yang mungkin. Kasih inilah yang membuka pintu surga untuk seluruh umat manusia. Inkarnasi adalah jawaban yang sempurna untuk karya keselamatan Allah, karena Yesus turun menjadi manusia, sehingga manusia dapat naik untuk bersatu dengan Tuhan. “

        Sdri Menyimpulkan bahwa Roma 15:15-20 menunjukkan bahwa harga tebusan Yesus jauh lebih tinggi nilanya dari pada dosa Adam. Benarkah demikian? Mai kita melihat ayatnya

        Rom 5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
        Rom 5:16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.
        Rom 5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

        Jadi yang tidak sama itu adalah karunia Allah bukan harga tebusan.
        Dalam hal apa karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam?

        Adam bersalah karena pelanggarannya, dan ia menerima hukuman yaitu kematian. Tetapi, bukan dia saja yang harus mati. Kita membaca,
        ” karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut”.

        Meskipun demikian, kita dapat terhibur karena mengetahui bahwa manusia sempurna, Yesus, dapat memberikan hasil yang berbeda. Hasil apa? Kita melihat jawabannya sewaktu Paulus menyebutkan bahwa ” oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup“

        Rom 5:18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
        Rom 5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.
        Rom 5:20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,

        Itulah yang dimaksud bahwa karunia yang Allah berikan melalui penyelenggaraan tebusan lebih tinggi jika dibandingkan dengan akibat dosa Adam.

        Ringkasnya:
        bayangkan saja melalui dosa Adam seluruh keturunan umat manusia ikut berdosa, namun hanya dengan satu manusia yaitu Yesus, akibat pelanggaran itu tertutupi. Namun harga yang Yesus berikan adalah Tetap. Yang dihilangkan adalah kehidupan manusia yang sempurna diganti oleh kehidupan manusia sempurna Yesus.

        10. Kata “kurios” Mat 22:44
        Kalau yang ini bagai mana? Yoh 4:11
        TB Joh 4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
        (KJV) The woman saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw with, and the well is deep: from whence then hast thou that living water?
        bagaimana mungkin wanita Samaria itu langsung tahu bahwa Yesus adalah Tuhan? sedangkan Ia baru saja bertemu dengan Yesus? TB memang membuat rancu dalam upaya mengenali identitas Yesus yang sebenarnya.
        Di Mat 22:44 ini merupakan kutipan dari Mzm 110:1 yang berbunyi
        TB Psa 110:1 Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.”
        jadi TUHAN yang dimaksud adalah Yehuwa. Berfirman kepada Tuan yang adalah Yesus.
        Bagaimana konsep Tritnitas menjelaskan ayat ini? Yehuwa yang terdiri dari Bapa, Putra dan Roh kudus, berfirman kepada salah satu bagian dari Yehuwa tadi? mohon sdri cermati baik2 bagian ini.

        Sementara ini dulu, sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan namun saya kesulitan mencari waktu luang.

        Semoga bisa menambah pemahaman Sdri dan pembaca situs ini mengapa SY tidak mengimani Tritunggal.

        Salam

        • Shalom Kevin N,

          Ini adalah jawaban terakhir dari saya untuk topik ini, karena memang sudah menjadi kebijakan kami di Katolisitas untuk menampilkan tanya jawab hanya sampai dua kali putaran. Anda sudah menyampaikan pertanyaan, dan tanggapan selama dua kali, terhitung dari pertama kali Anda mengajukan pertanyaan tentang topik ini yang awalnya memang tidak terletak di bawah artikel ini. Anda sudah menyampaikan argumen Anda, dan saya rasa sudah cukup jelas; demikian pula tanggapan kami di Katolisitas. Biarlah pembaca membacanya dan mengambil kesimpulan manakah dari argumen ini yang lebih sesuai dengan ajaran Kristus.

          Secara umum, memang terdapat perbedaan besar antara paham Anda dan ajaran iman Katolik, yang akarnya bersumber dari perbedaan cara menginterpretasikan Kitab Suci. Anda (kemungkinan juga para penganut SY lainnya), tidak memperhitungkan peran Tradisi Suci (ajaran yang diturunkan oleh para rasul) untuk memahami Kitab Suci. Anda membaca Kitab Suci dengan dasar ajaran orang-orang yang terpisah sekian abad dari Kristus dan para rasul (Charles T. Russel, pendiri SY, hidup di tahun 1852-1916) tanpa mengindahkan ajaran-ajaran yang asli berasal dari Yesus dan para rasul. Ke-Tuhanan Yesus adalah hal yang begitu jelas terlihat dalam hidup Yesus dan telah diajarkan oleh para rasul, serta telah diyakini oleh jemaat sejak awal mula. Bukti dari tulisan para Bapa Gereja jelas menunjukkan hal ini, dan kesaksian mereka tak sepatutnya diabaikan, sebab merekalah yang berada lebih dekat kepada zaman Kristus dan para rasul, yang daripada mereka kita menerima kebenaran ajaran iman Kristiani.

          1. a) Peran Kristus sebagai Pengantara.

          Seperti telah kami sampaikan, ajaran iman Kristiani tentang ke-Tuhanan Yesus memang tidak didasarkan atas ayat 1 Tim 2:5. Ayat tersebut terutama menyampaikan, bahwa hanya ada satu Pengantara antara Allah dan manusia, dan karena itu secara implisit disebutkan adanya kekhususan peran Pengantaraan Yesus, yang tidak dapat digantikan oleh seorang/ pihak lain. Sejujurnya, dari ayat itu juga tidak bisa disimpulkan apa yang menjadi definisi Anda tentang seorang pengantara, yaitu bahwa ia harus bukan manusia dan bukan Allah, namun semacam ‘super angel‘/ penghulu malaikat. Pengertian ini sudah ada lebih dahulu dalam benak Anda (atau dalam benak pengajar SY), namun tidak dapat disimpulkan langsung dari teks. Dengan demikian, argumen yang mengatakan bahwa kalau pengantara mempunyai kesatuan dengan salah satu pihak, maka ia (menurut Anda) “pura-pura menjadi pengantara padahal bukan” itu juga bukan argumen yang kuat. Sebab Musa yang adalah benar-benar manusia biasa, dicatat oleh kitab Perjanjian Lama sebagai pengantara (lih. Kis 7:38); dan tentu Musa tidak berpura-pura menjadi pengantara. Musa adalah pengantara antara umat Israel dan Allah (lih. Kel 32:30-34), namun karena keterbatasannya sebagai manusia biasa, maka pengantaraannya ini tidak sempurna. Pengantaraan Musa (dan para nabi dan imam besar) yang tidak sempurna inilah yang disempurnakan oleh Kristus dalam Perjanjian Baru, sebagaimana disebut dalam Ibr 9:24-28.

          Lalu bagaimana menyelaraskan bahwa Yesus adalah Allah dengan ayat 1 Tim 2:5 yang mengatakan, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus…”? Jawabannya sederhana, yaitu karena selain Gereja mengajarkan bahwa Yesus adalah sungguh Allah, Gereja juga mengajarkan bahwa Yesus adalah sungguh manusia, dengan demikian, tidak ada pertentangan dengan ayat ini. Sebab Gereja tidak mendasarkan ajarannya hanya dari satu ayat ini saja, namun dari keseluruhan Sabda Tuhan yang mengajarkan tentang ke-Tuhanan Yesus dan ke-manusia-an Yesus. Ayat 1 Tim 2:5 ini memang menekankan tentang salah satu kodrat Yesus (yaitu sebagai manusia) namun ada banyak ayat lainnya dalam Kitab Suci yang mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah (tentang ini sudah banyak dibahas di artikel-artikel di situs ini, yang link-linknya sudah kami sertakan di jawaban saya sebelumnya, sehingga tidak perlu diulangi di sini). Kita tidak bisa hanya mengambil satu ayat atau beberapa ayat saja dalam Kitab Suci lalu mengabaikan ayat-ayat lainnya, sebab keseluruhan ayat-ayat itu sama-sama menyampaikan kebenaran, dan karena itu tidak selayaknya dipertentangkan.

          1. b) Tentang Tebusan

          Memang sebagai manusia, Yesus tidak mewarisi dosa Adam, maka ayat-ayat yang Anda kutip yang menjelaskan keterpisahan Kristus dari dosa dan dari orang-orang berdosa, juga diterima oleh Gereja Katolik. Mzm 49:7 mengatakan, “Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya….”, dan karena itu memang Yesus bukan hanya manusia biasa. Namun ke-Allahan Yesus nyata dalam banyak ayat lainnya dalam Kitab Suci: Ia adalah Putera Allah, artinya mempunyai kesamaan kodrat dengan Allah. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.” (Yoh 3:16-17). Ini adalah salah satu ayat dari banyak ayat Kitab Suci, yang menjelaskan bahwa Kristus adalah Anak Allah yang Tunggal/ satu-satu-Nya, dan karena itu, mempunyai kesamaan kodrat/ hakekat dengan Allah Bapa yang daripada-Nya Kristus berasal, walaupun keberadaan keduanya sudah ada dalam kekekalan dan tidak ada yang lebih dahulu maupun yang lebih akhir, sebab keduanya tidak terbatas oleh rentang waktu.

          Memang penjelmaan Kristus Sang Putera Allah (Inkarnasi) bukanlah keharusan mutlak, karena sesungguhnya Tuhan dapat juga menyelamatkan manusia dengan cara lain. Namun Allah yang adalah Kasih (1Yoh 4:8) yang sempurna, memilih untuk menyampaikan kasih-Nya secara sempurna kepada manusia. Oleh karena itu, Ia mengutus Putera-Nya sendiri. Maka Inkarnasi ini merupakan keharusan yang relatif (jika dipandang dari sudut Allah yang adalah Kasih yang sempurna), dan tentang hal ini, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

          2. a) Para Rasul mengadakan mukjizat dalam nama mereka sendiri?

          Tentu saja tidak. Tuhan Yesus-lah yang memberikan kuasa kepada para rasul itu, sebagaimana dikatakan-Nya sebelum Ia naik ke surga, yang dicatat dalam Injil Markus:

          “Akhirnya Ia [Yesus] menampakkan diri kepada kesebelas orang itu [para rasul] ketika mereka sedang makan…. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, …. mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Mrk 16:14-18)

          Maka para Rasul baik Rasul Petrus maupun Paulus menyadari sepenuhnya bahwa mukjizat yang terjadi atas penumpangan tangan mereka bukan disebabkan karena kuasa mereka sendiri tetapi oleh kuasa dari Kristus. Inilah beberapa ayat yang menyatakan hal itu:

          “Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis 3:6)

          “…maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati- bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. (Kis 4:10)

          Ketika itu ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya; ia berdoa serta menumpangkan tangan ke atasnya dan menyembuhkan dia. (Kis 28:8)

          Oleh Paulus Allah mengadakan mujizat-mujizat yang luar biasa, bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat. (Kis 19:11)

          Maka, para rasul itu mengetahui bahwa Tuhan sendiri, oleh nama Yesus Kristus-lah, yang memampukan mereka mendatangkan mukjizat. Inilah salah satu contoh doa mereka kepada Allah:

          “Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.” (Kis 4:30)

          Maka, walaupun di ayat Kis 20:10, tentang bagaimana Rasul Paulus membangkitkan Eutikhus yang sudah mati, tidak disebutkan bahwa Rasul Paulus berdoa terlebih dahulu (atau jika ia berdoa dalam hati/ tidak diucapkan), namun kita mengetahui dari ayat-ayat yang lain bahwa semua mukjizat yang dilakukan Rasul Paulus adalah dari Allah, dan bukan atas kuasa Paulus sendiri. Dengan demikian kita tidak bisa menyimpulkan tentang hal mukjizat dari ayat Kis 20:10 itu saja, bahwa karena di sana tidak disebutkan secara eksplisit bahwa Rasul Paulus berdoa, maka Rasul Paulus mengadakan mukjizat atas namanya sendiri, dan karena itu Paulus adalah Tuhan. Seseorang yang dengan jujur membaca keseluruhan Kitab Suci, tidak akan sampai kepada kesimpulan ini. Cara membaca Kitab Suci dengan mengambil sepotong ayat saja, lalu mengambil kesimpulan tanpa memperhitungkan ayat-ayat yang lainnya, akan membawa seseorang kepada kesimpulan yang keliru.

          Nah, sekarang tentang dicatatnya oleh Injil Yohanes bahwa Yesus pernah berdoa kepada Allah Bapa sebelum Ia membangkitkan Lazarus dari mati. Apakah ini membuktikan bahwa Yesus bukan Allah? Mari kita lihat ayatnya:

          “Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang keluar….” (Yoh 11:41-44).

          Mari kita membaca kembali ayat-ayat ini, dan kita simak baik-baik apa yang dikatakan oleh Kristus. Yesus mengucap syukur kepada Bapa, tetapi tidak meminta kuasa dari Allah Bapa. Yesus hanya mengucapkan percakapan-Nya dengan Bapa agar orang-orang yang mengelilingi-Nya itu dapat mendengarnya dan agar mereka percaya bahwa Yesus datang dari Allah Bapa.

          Ini berbeda dengan permohonan Nabi Musa (yang Anda jadikan perbandingan). Walau apa persisnya doa Musa tidak disebutkan dalam Kel 15:25- di sana hanya dikatakan, “Musa berseru-seru kepada Tuhan”- namun kita dapat mengetahui kurang lebih apa yang diserukan oleh Musa kepada Tuhan, yaitu meminta pertolongan Tuhan. Sebab hal serupa terjadi kembali dan dicatat dalam Kel 17:4, bagaimana Musa berkeluh kesah kepada Tuhan, dan dengan demikian meminta pertolongan Tuhan. Hal sedemikian ini tidak diucapkan Yesus, Yesus tidak minta kuasa dari Bapa untuk membuat mukjizat, sebab Ia berkuasa melakukannya sendiri. Maka doa Yesus kepada Allah Bapa tidaklah senada dengan permohonan Nabi Musa atau para nabi lainnya.

          b. Yang memberi kuasa untuk melakukan mukjizat adalah Yahwe bukan Allah Bapa?

          Contoh yang Anda sampaikan adalah Pentakosta. Memang Pentakosta dalam Perjanjian Baru adalah penggenapan makna Pentakosta dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, Allah belum mewahyukan Diri-Nya dalam rupa manusia dalam diri Kristus yang disebut Putera Allah, maka dalam Perjanjian Lama, Allah tidak tertulis sebagai Allah Bapa. Sebutan Allah dalam Perjanjian Lama adalah Allah (entah disebut El, Elohim ataupun Yahwe). Iman Kristiani percaya bahwa Allah yang satu dan sama ini di masa Perjanjian Baru menyatakan diri-Nya dengan lebih jelas dan sempurna, dalam tiga Pribadi, yaitu Allah Bapa yang mengutus Putera-Nya Yesus, atas kuasa Roh Kudus. Setelah wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga, Allah Bapa dan Putera inilah yang mengutus Roh Kudus ke dunia untuk senantiasa menyertai Gereja-Nya. Maka kuasa untuk melakukan mukjizat memang adalah kuasa Allah, yang dalam Perjanjian Lama disebut Yahwe, El, Elohim, Adonai; namun dalam Perjanjian Baru disebut sebagai Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Jika dalam mukjizat kebangkitan Kristus dikatakan bahwa Allah Bapa telah membangkitkan Kristus (lih. Gal 1:1), itu menekankan segi kemanusiaan Yesus sebagai Putera Allah yang menjelma, sehingga Ia dibangkitkan oleh Bapa yang mengutus-Nya. Sedangkan jika dilihat dari sisi ke-Allahan-Nya, Kristus bangkit atas kuasa-Nya sendiri sebagai Allah, dalam kesatuan dengan Bapa-Nya, sebab Yesus mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30)

          Maka di sini nampaknya kebingungan terjadi pada paham yang mencampur-adukkan pengertian hakekat Allah dan Pribadi Allah. Anda berkeras menyatakan bahwa kalau Allah hakekatnya satu, maka Pribadi-Nya juga harus satu. Memang mungkin menurut pengertian manusia demikianlah yang lebih mudah dipahami, namun Allah tidaklah terbatas oleh pemahaman manusia. Kita tidak dapat memaksa agar Allah hanya menyatakan diri-Nya sejauh yang mudah kita pahami. Faktanya adalah, Firman Allah menyatakan bahwa selain ber-Pribadi sebagai Sang Pencipta, Allah juga adalah Sang Firman. Sebab dikatakan bahwa Firman itu sudah ada bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah; dan oleh Firman itulah Allah menciptakan segala sesuatu (lih. Yoh 1:1-3). Firman inilah yang kemudian menjelma menjadi manusia (lih. Yoh 1:14).

          3. a) Para malaikat melayani Dia (Mat 4:11; Mrk 1:13).

          Anda mempermasalahkan terjemahan Luk 1:19 dan mengatakan, seharusnya diterjemahkan bukan ‘melayani Allah’ tapi ‘berdiri di dekat hadapan Allah’/ ‘stand in the presence of God‘ (KJV).

          “Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?” Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?”
          Atau mungkin lebih jelas, adalah dalam bahasa Inggris:
          “But to which of the angels said he at any time: Sit on my right hand, until I make thy enemies thy footstool? Are they not all ministering spirits, sent to minister for them who shall receive the inheritance of salvation?” (DRB)
          “But to what angel has he ever said, “Sit at my right hand, till I make thy enemies a stool for thy feet”? Are they not all ministering spirits sent forth to serve, for the sake of those who are to obtain salvation?” (RSV)
          “But to which of the angels said he at any time, Sit on my right hand, until I make thine enemies thy footstool? Are they not all ministering spirits, sent forth to minister for them who shall be heirs of salvation? (KJV)

          Dari kenyataan ini, kita mengetahui bahwa terdapat perbedaan antara pelayanan yang diberikan malaikat kepada Allah dan kepada manusia. Mat 4:11 dan Mrk 1:13 menyatakan secara implisit bahwa Kristus adalah Allah, sebab pada kedua ayat itu dikatakan bahwa malaikat “melayani”/ “ministered unto” Yesus; sedangkan kita mengetahui kata yang sama dipergunakan untuk menunjukkan pelayanan malaikat kepada Allah (lih. Dan 7:10, Tob 14:3). Sedangkan kepada manusia, malaikat itu diutus oleh Tuhan untuk “melayani”/ “ministered for” artinya, melayani untuk manusia agar mencapai keselamatan.

          3. b) Yesus adalah malaikat Mikael?

          Saya sudah membaca link yang Anda sertakan. Di sana  memang disebut banyak ayat, namun tak satupun disebutkan ayat Kitab Suci yang menyatakan secara eksplisit bahwa Yesus adalah malaikat Mikael. Kesimpulan bahwa Yesus adalah/ sama dengan malaikat Mikael sang penghulu malaikat, adalah kesimpulan pribadi sang penulis artikel dalam link tersebut; yang nampaknya didasari oleh suatu pandangan yang sudah terbentuk sebelum ayat-ayat itu disertakan. Mohon maaf, kami tidak dapat meneruskan diskusi jika dasarnya adalah perkiraan pribadi tanpa dasar yang jelas, baik dari yang jelas disampaikan oleh ayat Kitab Suci maupun ajaran para Rasul dan Bapa Gereja.

          3. c) Tobit tidak kanonik?

          Tentang historisitas kitab Tobit, sudah dibahas di sini, silakan klik.

          Argumen Anda yang menghubungkan kejadian deportasi suku Naftali dengan pemberontakan suku-suku Utara setelah kejatuhan raja Salomo di tahun 997 itu nampaknya keliru. Sebab yang nyata disebut di dalam Kitab Tobit itu bukan kejatuhan Raja Salomo tetapi kejayaan Raja Asyur yang bernama Salmaneser, yang menawan orang-orang Israel, termasuk suku Naftali (lih. Tob 1:1-2). Anggapan Anda itu terlalu jauh menghubungkan dua peristiwa yang tidak berhubungan, yaitu perpecahan bangsa Israel, dengan deportasi suku Naftali di abad 8-7 SM yang dilakukan oleh Raja Asyur tersebut. Tentu saja, dengan asumsi alokasi kisah Tobit dalam jangka waktu sejarah yang tidak tepat, akan menghasilkan banyak pertanyaan- pertanyaan lain yang sepertinya menjadi tidak cocok, seperti tentang umur Tobit. (Dengan asumsi tersebut, Tobit sepertinya berumur lebih dari 257 tahun, padahal ditulis di Tob 13:1-3 bahwa Tobit wafat di usia 112 tahun). Anda kemudian menyimpulkan bahwa kitab Tobit tidak otentik, karena menurut Anda tidak sesuai dengan data sejarah. Padahal sebenarnya, asumsi Anda sendiri yang tidak akurat, karena tidak tepat dalam menghubungkan apa yang tertulis dalam Kitab Tobit, dengan fakta sejarah yang ada. Maka argumen ini keliru, sebab deportasi suku Naftali yang dibicarakan di sini tidak terjadi pada pemberontakan suku-suku utara Israel di zaman setelah kematian Raja Salomo (sekitar abad 10 SM), tetapi terjadi di sekitar dua sampai tiga abad sesudahnya, yaitu di zaman Raja Asyur yang bernama Salmaneser (Enemesarrus), sebagaimana dicatat dalam Kitab Tobit itu, yang mengacu kepada Raja Sargon II. Pada zaman Raja Salmaneser itulah, Tobit dideportasi dari kampung halamannya di Tisbe (di daerah Galilea) ke Niniwe. Nenek Tobit yang bernama Debora, telah mengajar Tobit sejak ia masih kanak-kanak, untuk mentaati hukum Taurat. Maka meskipun seluruh suku Naftali menyembah Baal dan patung banteng emas yang telah dibuat oleh Raja Yeroboam di Dan, Tobit tetap setia berziarah ke Yerusalem.

          Selanjutnya, para ahli Kitab Suci yang beraliran rationalis menolak kitab Tobit, karena melihat bahwa di kitab tersebut dicatat hal-hal yang sifatnya supernatural, seperti adanya malaikat, setan, mukjizat, nubuat, dst. Mereka menganggap hal-hal ini sebagai tahyul sebab tak dapat dibuktikan secara empiris ataupun secara ilmiah; dan karena itu, mereka meragukan historisitas kitab Tobit. Namun sejujurnya, dalam seluruh Kitab Suci hal-hal yang sifatnya supernatural ini (adanya malaikat, setan, mukjizat, nubuat) disebutkan di banyak ayat dan kitab-kitab lainnya dalam Kitab Suci, dan bukan hanya dalam Kitab Tobit. Maka adalah sesuatu yang tidak konsisten, jika kitab Tobit ditolak karena menyebutkan tentang hal-hal ini, sedang kitab-kitab lainnya diterima; sebab jika prinsip ini yang dipakai, seseorang dapat sampai pada keputusan untuk menolak hampir keseluruhan Kitab Suci.

          4. Tentang frasa, “Tetapi Aku berkata kepadamu ….”

          Memang frasa tersebut, tidak secara langsung mengatakan bahwa Yesus itu Allah. Namun kita dapat menyimpulkannya demikian, jika kita melihat perbandingannya dengan begitu banyaknya ayat lain dalam Kitab Suci yang dikatakan oleh para nabi. Tidak ada nabi yang menggunakan frasa: “Tetapi Aku berkata kepadamu….”, yang menunjukkan otoritas sebagai Sang Pemberi Hukum. Para nabi itu umumnya hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh Allah. Sehingga frasa yang umum dicatat dalam kitab Perjanjian Lama: “Berfirmanlah Tuhan kepada …. (nama nabi); lalu nabi itu menyampaikan sabda Tuhan kepada bangsa Israel dengan berkata, “Beginilah firman Tuhan…” Sedangkan Yesus tidak pernah berkata demikian. Dalam menyampaikan ajaran-Nya, Yesus tidak mengatakan, “Beginilah firman Tuhan ….” sebab Yesus sendiri adalah Sang Firman yang adalah Allah (Yoh 1:1). Maka dalam menyampaikan ajaran-Nya, Ia langsung memberikan perintah ataupun penjelasan makna hukum Taurat itu atas kuasa-Nya sendiri, mengacu kepada diri-Nya sendiri. Jadi Yesus tidak mengatakan, “Beginilah firman Tuhan…” tetapi, “Aku berkata kepadamu….”

          Maka makna “Aku berkata kepadamu…. ” tidak semata hanya berarti bahwa Yesus menggenapi hukum Taurat. Memang Yesus menggenapi hukum Taurat, namun dengan frasa tersebut kita mengetahui bahwa tingkatan Kristus lebih tinggi jika dibandingkan dengan para nabi. Lebih tepatnya, Yesus mengatasi para nabi itu, karena mereka hanya manusia biasa, maka hanya dapat menyampaikan apa difirmankan Allah kepada mereka; namun Yesus dapat memberikan firman Allah dan mengatakan firman itu sebagai perkataan-Nya sendiri, sebab Ia adalah Sang Firman Allah yang adalah Allah itu sendiri (lih. Yoh 1:1).

          5&6. Tentang makna kata “Yesus bangkit dari mati”

          Anda mengomentari banyak ayat yang mengatakan bahwa Yesus “bangkit” dari mati, maupun yang “dibangkitkan” oleh Allah, seolah yang diterjemahkan sebagai “bangkit” itu salah diterjemahkan/ tidak tepat terjemahannya, dan seharusnya yang tepat adalah “dibangkitkan”. Silakan Anda simak Kitab Suci versi KJV Anda sendiri, dan temukanlah ada banyak frasa yang jelas menuliskan bahwa Yesus “rose” (bangkit) dan bukan “is risen” (dibangkitkan), seperti yang ada di Rom 14:9; 1 Kor 15:12; 2Kor 5:15; 1 Tes 4:14.

          Lalu Anda sepertinya mensejajarkan kata ‘bangkit’ ini dengan kata ‘bangun’, bahkan makan dan minum. Ya memang jika berdiri sendiri, kata-kata tersebut serupa sebagai contoh kata-kata kerja. Namun kalau sudah digabungkan dengan keadaan yang menjelaskannya tentu artinya tidak sama. Memang ada konteks yang serupa, antara ‘bangkit dari mati’, dan ‘bangun dari tidur’, yaitu adanya otoritas dari orang yang bersangkutan untuk melakukan kontrol atas tubuhnya, sehingga ia dapat bangkit ataupun bangun. Namun kuasa seseorang untuk bangkit dari mati, selalu tidak dapat dibandingkan dengan kuasa seseorang untuk bangun dari tidur. Sebab keadaan yang pertama ini tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa, sedangkan keadaan kedua adalah keadaan yang umum dilakukan oleh manusia biasa, asalkan dia masih hidup dan sehat. Dengan pemahaman ini saja kita mengetahui bahwa kata “bangkit dari mati” ini bukan frasa yang sederhana, yang bisa disejajarkan dengan “bangun dari tidur”.

          Kami umat Katolik menerima semua ayat, baik yang menyatakan bahwa Yesus “bangkit”, ataupun Yesus “dibangkitkan”. Tidak masalah, sebab kami umat Katolik mengakui bahwa Yesus adalah sungguh Allah (maka Ia dapat bangkit dari mati), namun Yesus juga adalah sungguh manusia (maka Ia dibangkitkan oleh Allah).

          7. Yesus dibangkitkan Allah Yehuwa?

          Dikatakan dalam Kis 5:30, “Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus….” Anda menyebut Allah nenek moyang ini sebagai Yehuwa. Kami umat Kristiani menyebut bahwa Allah nenek moyang ini adalah Allah, yang dalam Perjanjian Baru mewahyukan Diri-Nya dalam Pribadi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, sebagaimana nyata dalam banyak ayat dalam Kitab Suci. Allah Bapa mengutus Putera-Nya yang Tunggal, yaitu Kristus Sang Firman yang sudah ada sejak semula bersama-sama dengan Allah dan Ia adalah Allah, untuk menjelma menjadi manusia (lih. Yoh 1:14; Yoh 3:16). Maka pada saat penjelmaan-Nya itu, Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Nah ajaran akan Allah Tritunggal dan Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia ini, merupakan ajaran pokok dalam iman Kristiani. Jika kedua prinsip ini dipahami, maka tidak ada masalah apapun dengan ayat-ayat Kitab Suci, baik yang menyatakan bahwa Kristus ‘dibangkitkan’ ataupun ‘bangkit’. Sebab jika dikatakan Yesus “dibangkitkan”, itu mengacu kepada kodrat kemanusiaan-Nya sehingga Ia dibangkitkan oleh Allah, sedangkan jika dikatakan bahwa Yesus “bangkit” itu mengacu kepada kodrat-Nya sebagai Allah sehingga tidak perlu disebutkan oleh kuasa siapa Ia bangkit, sebab mengacu kepada kuasa-Nya sendiri.

          Tentang adanya dua kodrat (kodrat Allah dan kodrat manusia) dalam diri Yesus Kristus telah diyakini oleh Gereja sejak jemaat perdana, dan dijelaskan secara lebih mendetail dalam Konsili Kalsedon (451) yaitu melalui the Tome of Leo (oleh Paus Leo I/ Leo the Great), yang kutipannya dapat dibaca di sini, silakan klik.

          Maka konsep Trinitas tidak mengalami masalah apapun dengan ayat Kis 5:30. Sebab Allah nenek moyang kita, itu ya Allah Trinitas, jadi bukan hanya Allah Bapa saja, yang terpisah dengan Putera-Nya ataupun Roh Kudus-Nya, sehingga menurut pandangan Anda hanya sepertiga Allah. Pemahaman macam ini tidak diajarkan dalam Kitab Suci, baik tersurat maupun tersirat, jadi hal ini juga bukan ajaran iman Kristiani. Jika dikatakan bahwa Allah Bapa membangkitkan Yesus (lih. Gal 1:1): 1) dilihat dari segi kemanusiaan Kristus adalah Allah membangkitkan dia; 2) sedangkan dari segi ke-Allahan Kristus, kuasa-Nya sebagai Allah dalam kesatuan dengan Bapa-Nya dan Roh Kudus-Nya itulah yang membangkitkan Dia. Maka tidak ada logika “sepertiga Allah membangkitkan satu Allah” seperti pemahaman Anda. Hal ini tidak pernah menjadi ajaran iman Kristiani, dan tidak pernah diajarkan oleh Gereja Katolik.

          8. Yesus sehakekat dengan Allah, apa maksudnya?

          Memang benar dikatakan dalam Ulangan 6:4 bahwa Allah itu esa. Kami umat Katolik juga mengamini ayat ini. Memang Tuhan itu satu. Tetapi ayat itu juga tidak menjabarkan secara mendetail apakah maksudnya Allah yang satu itu. Memang dalam Perjanjian Lama perwahyuan Allah Trinitas tidaklah demikian jelas terlihat, karena Sang Firman yang adalah Allah itu belum mengambil rupa sebagai manusia. Setelah Sang Firman itu menjadi manusia, maka dapatlah dilihat bagaimana Allah yang esa dalam Perjanjian Lama itu kemudian menyatakan diri-Nya.

          Lalu Anda bertanya: “Jika firman itu bersama-sama dengan Allah dan juga setara dengan Allah, maka ada berapa Allahnya? Saya dan Anda yang adalah manusia duduk bersama-sama? ada berapa manusia? 2 bukan?.
          Jika sdri mengatakan pengetahuan Yesus dan Bapak sama, Bagaimana dengan Mat 24:36 yang menunjukkan keterbatasan pengetahuan Yesus dengan Bapaknya?

          Sejujurnya pertanyaan macam ini muncul karena kehendak untuk memaksakan apa yang umumnya terjadi pada manusia, untuk terjadi pada Allah. Karena sepertinya hal “bersama-sama dengan Allah dan setara dengan Allah namun keduanya satu” tidak mungkin terjadi sesuai pemikiran manusia, maka hal itu, menurut Anda, tidak mungkin terjadi pada Allah. Namun siapakah yang membatasi demikian? Manusia itu sendiri, bukan? Sebab yang dilihat oleh manusia sebagai satu atau dua atau tiga dst, adalah sesuatu yang sifatnya materia (berkenaan dengan tubuh yang kelihatan) sedangkan Allah adalah Roh (Yoh 4:24) tidak bertubuh, maka memaksakan cara pandang manusia yang pengamatannya bersifat materia tersebut menjadi tidak pas. Bahwa adalah hak Allah yang adalah Roh, untuk menyatakan diri-Nya sesuai dengan apa yang dipandang-Nya baik dan dapat diwujudkan oleh-Nya, dan ini tidak harus sama dengan pemikiran manusia. Maka adalah kebijaksanaan Allah, bahwa dari hakekat-Nya yang satu itu, Ia menyatakan diri-Nya dalam tiga Pribadi untuk mewujudkan rencana keselamatan-Nya bagi manusia. Yaitu, Ia mengutus salah satu Pribadi-Nya, yaitu Firman-Nya, untuk mengambil rupa manusia (lih. Yoh 1:14), dan ini dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus-Nya (lih. Luk 1:35). Sejak saat itu, kita dapat melihat Allah yang tidak kelihatan itu di dalam diri Yesus, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci, bahwa Kristus “adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, …. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kol 1:15,19). Jadi kalau dikatakan bahwa Yesus tidak sama hakekatnya dengan Allah Bapa, maka malah tidak konsisten dengan ayat ini.

          Sedangkan tentang penjelasan tentang ayat Mat 24:36, yang menyatakan, “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri,” sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Penjelasan para Bapa Gereja tentang ayat tersebut membantu kita untuk memahami apakah sebenarnya maksud ayat tersebut.

          9. Penebusan Yesus jauh lebih tinggi nilainya dari kesempurnaan yang dihilangkan Adam?

          Kesimpulan bahwa harga tebusan Yesus (dan bukan kasih karunia) jauh lebih tinggi dari dosa Adam itu adalah kesimpulan Anda sendiri. Kami tidak pernah menyatakan demikian, sebab bagi kami, penebusan Kristus yang ditempuh dengan mengorbankan nyawa-Nya itu tidak pernah terpisah dari kasih karunia Allah. Yang kami katakan adalah:

          “Dan betapa besar harga yang dibayar oleh Kristus untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia! Ia menyerahkan diri-Nya, untuk disalibkan. Rasul Paulus menegaskan bahwa pengorbanan Kristus bukan hanya cukup untuk menanggung dan menebus dosa seluruh umat manusia, namun dipenuhi secara berlimpah (superabundant) karena dilakukan dengan kasih-Nya yang sempurna (lih. Rm 5:15-20). Kasih yang sempurna ini adalah jawaban yang sempurna atas kasih Tuhan yang telah dilanggar oleh manusia pertama, sehingga keselamatan atau kesatuan manusia dengan Tuhan menjadi sesuatu yang mungkin. Kasih inilah yang membuka pintu surga untuk seluruh umat manusia. Inkarnasi adalah jawaban yang sempurna untuk karya keselamatan Allah, karena Yesus turun menjadi manusia, sehingga manusia dapat naik untuk bersatu dengan Tuhan…”

          Maka tentu saja kami meng-amin-i Rom 5:15, yang mengatakan bahwa kasih karunia Allah jauh lebih besar dari pelanggaran Adam. Kasih karunia Allah ini memang tidak ada ukurannya, atau dengan kata lain, tiada terbatas. Namun kasih ini dapat dibuktikan dengan pengorbanan, seperti dikatakan oleh Yesus sendiri, yaitu: “Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (lih. Yoh 15:13) Maka Allah menggenapi sabda-Nya ini dengan pengorbanan Yesus, yang dengan penjelmaan-Nya menjadi manusia, menjadikan diri-Nya sebagai sahabat manusia, agar Ia dapat memberikan teladan akan kasih yang tiada batasnya itu, yaitu dengan memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya itu, yaitu kita manusia.

          Anda menyatakan dalam kesimpulan Anda, “harga yang Yesus berikan adalah Tetap. Yang dihilangkan adalah kehidupan manusia yang sempurna diganti oleh kehidupan manusia sempurna Yesus.” Dalam argumen kami, kami tidak mempermasalahkan apakah ‘harga’ tebusan Yesus itu tetap atau berubah. Yang disebutkan di atas adalah bahwa ‘harga’ tebusan itu jauh melampaui apa yang harus ditebus, yaitu dosa manusia. Artinya, kalau Tuhan mau, sesungguhnya dapat saja Ia menebus dosa manusia dengan meneteskan setetes darah-Nya saja, atau dengan cara lain yang nampaknya lebih ‘ringan’, namun yang dilakukan oleh Tuhan adalah tanda yang terbesar, sebagaimana yang diajarkan dalam Firman-Nya, yaitu dengan menumpahkan darah-Nya, dengan menyerahkan nyawa-Nya (lih. Yoh 15:13).

          10. Kata “kurios” dalam Mat 22:44

          Anda mempermasalahkan terjemahan Yoh 4:11. Mungkin menurut Anda terjemahan yang tepat adalah, “Tuan (dari kata ‘Sir/ “kurios“), Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?” (Yoh 4:11) dengan mengacu kepada ayat Mat 22:44 dan Mzm 110:1, di mana di sana dikatakan, “Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.”

          Namun sejujurnya, ayat Mat 22:44 dan Mzm 110:1 tidak mendukung argumen Anda bahwa ‘kurios‘ harus diterjemahkan hanya sebagai “tuan” dan bukan “Tuhan”. Sebab nyatanya, dalam terjemahan LAI maupun TB untuk ayat tersebut, dikatakan, “Demikianlah firman TUHAN (kurios) kepada tuan (kurios)-ku …..” atau dalam terjemahan Inggrisnya, baik versi KJV, RSV, NAB maupun DRB, “The Lord said to my Lord…. ” Dari sini kita ketahui bahwa memang ‘kurios‘ itu memang dapat diterjemahkan sebagai ‘Sir‘ ataupun ‘Lord‘;  sebagai ‘tuan’ namun juga sebagai ‘Tuhan’.

          Nah, ‘kurios‘ itu adalah ‘Tuhan’ yang diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa penulisan kitab Perjanjian Baru. Sedangkan Kitab Perjanjian Lama (PL) umumnya ditulis dalam bahasa Ibrani, dan kata “Tuhan” ini dalam bahasa Ibrani adalah “Adonai“. Dalam PL, kata “Adonai” (Tuhan) ini dipakai sebagai kata ganti bagi YHWH (Yahwe), sebagai kata sebutan yang sejajar dengan kata Yehovah (TUHAN) ataupun Elohim (Allah) (lih. Mzm 38:15; Mzm 8:1,9), walaupun kata “adonai” ini memang juga menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba (lih. Kej 24:9,20,12,14,27; Kel 21:4-6) antara suami dan istri (lih. Kej 18:12, Yud 19:27; Mzm 45:12).

          Contohnya:

          “Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15)

          “Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:1,9).

          Di kitab Perjanjian Baru, terdapat ayat-ayat, di mana kata “kurios” diterjemahkan sebagai “Tuhan”, dan mengacu kepada Allah (God), seperti halnya pada Luk 1:32; 2:9, Kis 5:19), dan kata “kurios” ini juga mengacu kepada Yesus (lih. Rom 10:9, 1Kor 12:3; Flp 2:11; Why 19:15); sehingga dengan demikian ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah.

          Di dalam Kitab Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani), kata Yunani “Kurios” dipergunakan sebagai terjemahan kata Ibrani “Adonai” dan “YHWH”. Kitab Suci mengajarkan bahwa, baik kata ‘Kurios‘ dan ‘YHWH’ ini mengacu kepada ‘Allah’ (dalam PL) dan kepada Yesus (dalam PB). Dengan demikian, Kitab Suci mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah. Kata Adonai yang digunakan dalam Perjanjian Lama adalah kata ganti terhadap kata YHWH [Yehovah/ Yahwe], yaitu kata yang penggunaannya terbatas, oleh karena bangsa Yahudi menolak untuk mengucapkan kata tersebut karena takut menyebutkannya dengan tidak hormat, dan dengan demikian melanggar perintah Allah, “Janganlah menyebut nama Tuhan [YHWH/ Yehovah] Allah-mu [Elohim] dengan tidak hormat” (lih. Kel 20: 7). Dengan digunakannya kata “Adonai” ini sebagai kata ganti YHWH (dalam PL), dan Yesus (dalam PB), maka kita sampai pada kesimpulan bahwa Yesus adalah Kurios, dan karena Kurios adalah YHWH/ Allah, maka Yesus adalah Allah.

          Penutup

          Terima kasih atas komentar-komentar Anda yang masuk di situs ini. Tulisan Anda memberikan informasi kepada kami tentang apa yang diyakini oleh Saksi Yehuwa tentang Kristus. Mohon maaf kami tetap tidak dapat setuju dengan argumen Anda. Sebagaimana kamipun tidak memaksa Anda untuk setuju dengan kami, maka kamipun berharap Anda-pun bersikap demikian terhadap kami. Sejauh ini sudah Anda sampaikan argumen-argumen (bahkan sangat panjang) yang menentang ajaran iman Kristiani, dan kami sudah menanggapinya. Saya berharap agar siapapun yang membaca dialog kita dapat melihat manakah yang merupakan kepenuhan kebenaran Kristiani.

          Mungkin ada baiknya direnungkan bersama, dari manakah diperoleh prinsip-prinsip ajaran SY yang diambil dari Watchtower itu. Sebab sebagaimana disebut dalam situs mereka, prinsip-prinsip tersebut diambil atas dasar klaim pendirinya yaitu Charles Taze Russell (1870s), yang hidup terpisah sekian abad dari Kristus. Russell menginterpretasikan ayat-ayat Kitab Suci seturut pemahamannya berdasarkan ‘wahyu pribadi’-nya. Sedangkan Gereja Katolik mendasarkan ajarannya atas ajaran Kitab Suci, Tradisi Suci para rasul dan Magisterium, yang menjaga dengan setia, keseluruhan ajaran Kitab Suci dan interpretasinya sebagaimana diajarkan oleh Kristus dan para rasul. Kesaksian para rasul menjadi penting, sebab merekalah yang hidup bersama dengan Kristus, dan menerima Kabar Gembira secara langsung dari-Nya. Maka kesaksian mereka dan para penerus mereka memiliki nilai yang jauh lebih kuat ketimbang pemikiran pribadi seseorang yang terpisah sekian abad dari Kristus, walaupun dia dapat merasa seolah-olah mendapat inspirasi dari Tuhan sendiri. Terhadapnya Tuhan Yesus tidak pernah berjanji akan melindunginya dari kesesatan, namun terhadap Rasul Petrus dan para rasul lainnya, Yesus pernah menjanjikan perlindungan ini (lih. Mat 16:18-19; 18:18, 28:19-20). Gereja Katolik tidak mendasarkan ajarannya atas wahyu pribadi, yang tidak dapat dipastikan kebenarannya secara obyektif. Namun ajaran iman Katolik mengambil dasarnya dari Wahyu Allah yang disampaikan sebagai Wahyu umum, yang disampaikan baik dalam Kitab Suci maupun Tradisi Suci para rasul, yang dijaga dengan setia oleh para penerus mereka dalam Magisterium Gereja Katolik. Sesungguhnya argumen-argumen yang Anda sampaikan justru memperkuat keyakinan kami umat Katolik, akan pentingnya peran Tradisi Suci dan Magisterium Gereja dalam mengartikan Kitab Suci. Hanya dengan mengandalkan Kitab Suci saja/ Sola Scriptura memang dapat menghasilkan pandangan yang tidak lengkap, dan bahkan keliru, karena pada akhirnya yang menjadi penentu dan fokus utama adalah pemahaman ‘saya sendiri’ (walau sering dengan mengatakan atas ‘tuntunan langsung’ dari Roh Kudus) dan bukan kepada apakah sebenarnya yang disampaikan dalam keseluruhan Kitab Suci dan telah hidup dalam Tradisi Suci Gereja sejak awal mula sampai sekarang.

          Biarlah Roh Kudus, yang adalah Roh Kebenaran menuntun kita kepada seluruh kebenaran (lih. Yoh 16:13), dan biarlah akal sehat dan iman kita berjalan seiring untuk membawa kita ke sana.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply