Saya senang membaca artikel2 Katolisitas. Tapi belum smua sy baca memang. Tapi lumayan, buat pencerahan. Saya seorang Hypnotherapis/Hypnotist. Saya Katolik tulen, sejak lahir didunia ini. Bagaimana pendapat Katolisitas tentang hipnosis/hipnoterapi? Tmks. Sukses slalu Katolisitas. Salam Joss…
Shalom Yoseph,
1. Berikut ini kutipan pengajaran dari The Holy Office, Vatikan, 4 Agustus 1956; 26 Juli, 1899, yang saya kutip dari situs EWTN dan Catholic Answers, yang menjabarkan tentang Hipnotis sebagai berikut:
“The phenomenon of artificially induced sleep, which renders the victim abnormally open to suggestion. The subject of hypnosis tends to be dominated by the ideas and suggestions of the hypnotist while under the induced spell and later on. According to Catholic principles, hypnotism is not wrong in itself, so that its use under certain circumstances is permissible. But since it deprives the subject of the full use of reason and free will, a justifying cause is necessary for allowing it to be practiced. Moreover, because hypnotism puts the subject’s will in the power of the hypnotist, certain precautions are necessary to safeguard the subject’s virtue, and to protect him or her and others against the danger of being guilty of any injurious actions. For grave reasons, e.g., to cure a drunkard or one with a suicide complex, it is licit to exercise hypnotism, given the precaution that it is done in the presence of a trustworthy witness by a competent and upright hypnotist. The consent, at least presumed, of the subject must also be had. Several documents of the Holy See set down the norms to be followed in the use of hypnotism.”
Terjemahannya:
“Fenomena yang menyebabkan tidur secara buatan, yang mengakibatkan sang korban secara tidak normal dapat terbuka untuk mengikuti saran. Subyek hipnotism cenderung untuk didominasi oleh ide-ide dan saran-saran dari yang meng-hipnotis, ketika di bawah masa sakitnya atau sesudahnya. Menurut prinsip- prinsip Katolik, hipnotism sendiri tidak salah, sehingga penggunaannya di dalam kondisi-kondisi tertentu diijinkan. Namun karena hipnotism mencabut sang subyek/ pasien dari penggunaan akal budi dan keinginan bebasnya secara penuh, [maka] diperlukan sebuah sebab yang dapat dipertanggungjawabkan untuk memperbolehkan hipnotis ini dipraktekkan. Lagipula, sebab hipnotism meletakkan keinginan subyek/ pasien di dalam kuasa dari yang menghipnotis, maka diperlukan tindakan-tindakan pencegahan untuk menjaga kebajikan subyek/ pasien, dan untuk melindunginya dan orang lain terhadap bahaya menjadi bersalah karena tindakan-tindakan yang dapat melukai. Untuk alasan-alasan yang genting, seperti untuk menyembuhkan seorang pemabuk atau seseorang dengan kelainan yang kompleks ingin bunuh diri, adalah lisit untuk menerapkan hipnotism, asalkan dengan tindakan pencegahan bahwa hal itu diadakan dengan kehadiran seorang saksi yang dapat dipercaya, dengan seorang ahli hipnotis yang sungguh-sungguh kompeten dan jujur/ tulus. Ijin, setidak-tidaknya dianggap/ diperhitungkan, dari subyek/ pasien juga harus ada. Beberapa dokumen dari the Holy See menentukan norma-norma yang harus diikuti di dalam penggunaan hipnotism.”
2. Maka kita ketahui bahwa ada 4 hal yang harus ada sehingga hipnotis/ hipnoterapi dapat secara lisit dilakukan, yaitu: 1) adanya alasan yang genting; 2) adanya ijin dari orang yang bersangkutan; 3) diadakan tindakan precaution/ pencegahan untuk mengantisipasi hal-hal negatif yang mungkin bakal terjadi, yaitu dengan kehadiran saksi yang dapat dipercaya, dan 4) dilakukan oleh seorang yang benar- benar ahli dengan integritas yang tinggi, jujur dan tulus.
Pertama, alasan genting di sini misalnya, untuk menolong seseorang yang insomnia berat, pemabuk, kleptomania, penyakit kecanduan lainnya ataupun gejala-gejala histeria yang menyebabkan frigiditas, impotensi, dst. Jadi di sini, alasan entertainment bukanlah alasan yang lisit untuk praktek hipnotis. Kedua, ijin dari pasien di sini diperlukan karena pada dasarnya tidak seorangpun berhak menarik seseorang dari kemampuannya mengontrol keinginan dan akal budinya. Jadi pemaksaan penggunaan hipnotis adalah pelanggaran hak-hak dari subyek/ pasien. Dalam kasus orang yang kurang waras dan anak-anak kecil, maka dokter harus meminta persetujuan dari orang tua atau orang yang bertanggung jawab untuk mengasuh/ memelihara pasien tersebut. Ketiga, tindakan pencegahan adalah bahwa pelaku hipnotis/ hypnotherapist-nya adalah seseorang yang secara medis memenuhi syarat (medically qualified) untuk melakukan hipnotis. Jika yang menghipnotis tidak ahli, maka ia dapat mendatangkan efek negatif terhadap kondisi mental pasien. Dalam hal ini maka dokter ahli dapat mencegah efek negatif yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan hipnotis. Syarat kedua adalah bahwa harus ada saksi yang diberi kuasa, yang harus mempunyai karakter yang baik, yang berperan untuk melindungi baik pasien maupun dokternya.
3. Jika dilihat dari definisinya hipnosis, yaitu: “kondisi sementara dari pengalihan/ perubahan perhatian yang dapat diakibatkan kepada seseorang oleh orang lain dan di mana berbagai reaksi/ fenomena dapat timbul, baik secara spontan atau sebagai tanggapan atas perkataan atau stimulus lainnya.” (New Catholic Encyclopedia, The Catholic University of America, vol VII, p. 304).
Fenomena di sini terdiri dari perubahan dalam hal kesadaran dan ingatan, peningkatan kecenderungan untuk mendengarkan saran-saran dan penghasilan bermacam tanggapan dan ide yang tidak familiar bagi pasien. Mengingat fenomena akibat yang dapat terjadi, maka terdapat beberapa bahaya, jika hipnoterapi sebagai alat terapi ini dilakukan tidak dengan semestinya. Beberapa pendapat medis merangkum bahaya hipnotism, sebagai berikut: 1) karena yang diterapi adalah gejala, maka penyakitnya sendiri tidak terobati, karena penyebabnya tidak dihilangkan dengan hipnoterapi; 2) ketika hipnoterapi menangani gejala emosional dan bukannya penyebabnya, maka dapat berpengaruh negatif pada kepribadian; 3) hipnoterapi tersebut dapat mengarah kepada khayalan/ angan-angan dan keterpisahan dari realitas, meskipun kelihatannya pasien sedang ‘sadar’; 4) pasien dapat mempunyai kecenderungan abnormal menjadi cepat mengantuk/ tidur; 5) sekali-kali kehilangan ingatan dan keseimbangan mental; 6) perkataan-perkataan pasien menjadi in-koheren/ tidak cocok.
Maka di sini, peran hypnotherapist menjadi sangat dominan, sebab ia dapat mempengaruhi pikiran pasien. Hypnotherapist dapat memasukkan hal-hal positif maupun negatif ke dalam pikiran pasien, sehingga di sinilah peran integritas moral para hypnotherapist untuk hanya memberikan saran-saran yang positif bagi kebaikan pasien. [Karena anda adalah seorang hypnotherapist, ini mungkin kesempatan bagi anda untuk memberikan saran-saran yang berdasarkan ajaran Tuhan Yesus].
4. Perlu dicermati juga adalah praktek New Age tentang hipnotis ini, yang seolah-olah ingin membawa seseorang ke dalam alam kehidupan sebelumnya, karena aliran ini mempercayai re-inkarnasi. Praktek yang demikian sangat bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Fakta menunjukkan bahwa kasus Virginia Tighe dari Colorado, USA, yang sering disebut-sebut sebagai contoh ternyata merupakan fiksi, dan setelah diselidiki (dan dicocokkan dengan fakta sejarah/ kenyataan di masa lampau tentang deskripsi pasien) ternyata hal itu tidak benar. Silakan klik di link ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kisah Tighe ini.
5. Kesimpulannya, walaupun hipnotism diijinkan, karena pada dasarnya hal itu sendiri tidak dinilai Gereja sebagai perbuatan jahat, namun karena dapat disalahgunakan atau jika tidak dilakukan secara benar dapat mengancam kesehatan mental pasien, maka Gereja menganjurkan agar umat berhati-hati terhadap praktek hipnotism ini.
Silakan melihat dasar yang digunakan Gereja Katolik untuk menilai suatu perbuatan sebagai perbuatan baik/ bermoral atau perbuatan jahat/ tak bermoral di tulisan ini, silakan klik. Dalam kasus hipnoterapi, maka 1) objek moral yaitu terapi yang melibatkan perubahan perhatian pasien tidak dengan sendirinya “evil“/ jahat, namun tergantung 2) circumstance/ keadaan pelaksanaannya dan 3) maksudnya. Kalau keadaan dan maksudnya tidak baik, maka hipnotism merupakan tindakan tidak baik secara moral, sedangkan jika kedua hal tersebut (2 dan 3) dipenuhi dengan baik, maka dapat dikatakan hypnoterapi dapat diterima secara moral.
Contoh: Keadaan pelaksanaannya dikatakan baik/ dapat diterima secara moral, kalau dilakukan atas ijin dari pasien, dan dilakukan oleh terapist yang bermoral dan kompeten, dengan adanya saksi yang juga bermoral. Intensi/ maksud dikatakan baik/ legitim, jika ditujukan untuk menolong seseorang yang dalam keadaan genting ( in grave reasons), atas usulan pihak medis.
Demikian uraian singkat tentang hipnotism menurut sudut pandang Gereja Katolik. Semoga bermanfaat bagi anda. Saya berharap anda adalah seorang hypnotherapist yang menjalankan tugas anda dalam keadaan medis yang sungguh-sungguh genting, dan bukan untuk sekedar entertainment. Dengan definisi di atas (dengan alasan yang genting, ijin dari yang dihipnotis, harus ada saksi yang dapat dipercaya dan harus dilakukan oleh pakar yang berintegrasi tinggi) maka tidak dibenarkan penggunakan hipnoterapi jika tidak dipenuhi semua syarat di atas, misalnya dengan mendengarkan CD hipnotis sendirian, atau ikut-ikutan menjalani hipnoterapi tanpa tahu persis apakah terapi tersebut benar-benar diperlukannya. Sebab yang diijinkan Gereja adalah hipnoterapi untuk menolong pasien dan bukan untuk ‘main-main’ atau ‘coba-coba’ apalagi hiburan/ bahan tertawaan. Gereja-pun sangat berhati-hati dalam hal ini, sehingga mengingatkan umatnya akan resiko- resiko negatif nya jika hipnoterapi ini tidak dilakukan dengan semestinya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org
Shalom Bu ingrid
Saya baru melihat ada diskusi soal hipnoterapi di sini.
Saya ada informasi bahwa hipnoterapi bisa menyembuhkan luka batin dan trauma masa lalu, bisa menghilangkan kebiasaan merokok, bisa mengubah orang yang malas menjadi rajin. Bisa mengubah anak yang bodoh menjadi pintar. Bisa menyembuhkan kelemahan-kelemahan.
Semua dilakukan dengan ahli hipnoterapi yang terpercaya.
Saya juga ada informasi bahwa Katolik juga ada tenaga dalam THS dan THM, yang menjadi gurunya adalah Romo juga.
Bagaimana tanggapannya ya Bu ?
Shalom Darhan,
Yang kami sampaikan di situs ini adalah pandangan yang mengambil dasar dari pengajaran resmi dari Gereja Katolik sebagaimana tertulis di atas. Gereja Katolik tidak menganjurkan hipnoterapi, mengingat adanya resiko yang besar jika tidak dilakukan oleh orang yang berkompetensi dan mempunyai integritas yang tinggi. Maka yang diberikan adalah batasan- batasan syarat di mana hipnoterapi masih dapat diterima, namun tidak dikatakan Gereja mendukung praktek hipnoterapi tersebut. Kami di Katolisitas tidak dalam kapasitas untuk mengatakan sesuatu yang berbeda dari yang telah dikatakan oleh dokumen Gereja.
Sepanjang pengetahuan kami, THS THM tidak melibatkan hipnoterapi, namun lebih kepada seni bela diri. Tentang bela diri sekilas sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Syallom,
Salam damai dalam Yesus Kristus, saya mau menanyakan perihal tentang penyembuhan mental dengan hypnotherapi apakah secara Katholik diperbolehkan ?
Karena saya pernah mengalami trauma di masa kecil yang sampai sekarang terbawa terus sampai saya dewasa. Mohon pencerahannya.
Terima kasih,
Ardie
[dari Katolisitas: pertanyaan serupa telah dibahas dalam artikel yang menjadi induk rangkaian tanya jawab ini, silahkan klik]
shalom……
saya hanya ingin bertanya sedikit, apakah ada seorang pelayan yg pernah memakai metode ini dlm pelayanan konseling? baik itu dlm ajaran Katolik / Kristen Protestan??? trimakasih. Salam Damai Kristus…!!!!!
Shalom Dian Natalia,
Sepanjang pengetahuan kami, hipnoterapi bukan merupakan metoda yang umum dilakukan dalam konseling di Gereja Katolik. Ini dapat dimengerti, karena secara umum Gereja Katolik tidak menganjurkan/ mendukung dilakukannya hipnoterapi, melainkan menyarankan agar umat berhati- hati menyikapinya. Maka seandainya ada sekalipun, harus dipenuhi syarat- syaratnya seperti yang telah diuraikan di artikel di atas.
Mengenai apakah hipnoterapi dilakukan dalam konseling di gereja- gereja non- Katolik, kami tidak dapat menjawabnya. Silakan anda menanyakannya kepada pihak yang lebih berkompeten mengenai hal ini.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Shalom Bu Inggrid dan Katolisitas.
Saya pernah membaca buku karangan Dr. Michael Newton yang berjudul Journey of Souls dan The Destiny of Souls. Dr. Newton adalah seorang Hypnoterapist. Secara garis besar buku itu menceriterakan tentang praktek hipnoterapi dengan menggunakan konsep Past Life Regression dalam mentherapy pasien-pasien dari Dr. Newton.
Setelah saya membacanya, saya menarik beberapa kesimpulan tentang Hipnoterapy oleh Dr. Newton sbb :
1. Menggunakan konsep Past Life Regression ( Regressi Kehidupan Masa lalu pasien ).
2. Menggunakan Hipnotisme.
3. Dr. Newton percaya penuh dengan adanya Reinkarnasi dan atau The Transmigration of Souls.
4. Dr. Newton mewawancarai “sesuatu” yang merasuk ( Trance ) pada diri pasien yang tidak sadarkan
diri pasca dihipnotis
5. Dr. Newton menihilkan eksistensi setan dan kejahatan.
6. Pikiran bisa diprogram ( Konsep Mind Control ).
Saya penasaran dan terus mencari tahu :
1. Siapa yang diwawancarai oleh Dr. Newton
2. Katanya para pasien sembuh, tapi apa yang akan terjadi pada mereka suatu saat nanti ?
3. Apa Tujuan utama dari Mind Control dalam case ini.
Saat saya cari tahu tentang siapa Dr. Newton, saya sangat terkejut. Dia memang banyak menulis buku. Buku-buku yang dia tulis banyak bertopik tentang “dunia roh”. Dan kedua buku diatas masuk dalam daftar buku Top 100 New Age Reference, bareng dengan buku buku The Secret, dan buku-buku karangan Shirley Mclaine dan banyak New Ager Lainnya.
Selanjutnya, Hipnotis merupakan bagian dari praktek-praktek okultisme yang dilakukan oleh para penganut ajaran New Age Movement ( Lihat dalam The Brief Dictionary of New Age Terminology ).
Lalu saya mencoba mencari tahu dalam Alkitab, saya cari mulai dari Perjanjian Lama, Deuterokanonika sampai ke Perjanjian Baru. Hasilnya, Tidak Satupun saya menemukan ayat dimana Tuhan mengijinkan Praktek Hipnotis. Dan para nabi, rasul sampai kepada Tuhan Yesus sendiri tidak pernah menggunakan hipnotisme. Semuanya orang mengikuti nabi-nabi, rasul-rasul dan Tuhan Yesus sendiri karena Kuasa Tuhan, dengan Wibawa Roh Kudus untuk mengikuti perintah dan nasihat, untuk mengusir setan dan roh-roh jahat, untuk membalut luka hati dan kesedihan, untuk membangun optimisme dan semangat serta harapan dan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dan yang lebih hebat lagi, yaitu untuk menebus dosa dan membawa kita ke sorga. Semua nubuat dalam Alkitab telah terbukti, telah terjadi dan akan digenapi terus.
Lalu dengan kuasa apa hipnotis mempengaruhi kehendak dan sifat orang dan menyembuhkan penyakit ?
Saya selidiki terus dan ternyata, dalam sebuah sumber lainnya yang saya dapatkan, saat Dr. Newton sedang mewawancarai suatu “roh” yang berbicara dalam diri pasiennya, ada sebuah pengakuan dari si “roh” tersebut bahwa “roh” tersebut mengaku sebagai DEMON!. Saya sangat terkejut. berarti “roh”t tersebut telah berbohong yang katanya ia adalah roh pasien itu pada kehidupan lain di masa lalu.
Lalu, saya cek lagi, bahwa beberapa hipnotherapist sangat intens untuk menciptakan pasukan anak indigo. Beberapa lagi mempraktekkan Astral Project ( dalam ilmu-ilmu kejawen namanya ilmu Lepas roh atau merogo sukmo )
Saya mengambil kesimpulan bahwa Dr. Newton adalah seorang NECROMANCER. Saya ingat, Tuhan bicara dalam kitab Perjanjian Lama bahwa Tuhan akan menentang orang-orang yang mencoba kontak dengan orang mati.
Ada beberapa teman kuliah yang juga katholik mengaku pernah mengikuti praktek Hipnoterapi, katanya dia merasa mendapat pencerahan. Tapi apa jadinya sekarang bu, mereka sekarang telah berubah, menjadi pribadi yang lain. Ada yang minggat dari rumah karena bentrok dengan orang tua dan masalah-masalah mental lainnya. Ada yang sikapnya ketus dan menjadi tidak peduli dengan orang lain. Pokoknya menjadi berubah yang tidak enak, tidak baik lagi.
Bu, inggrid, pernah selepas misa saya membaca pengumuman di Mading Paroki, ada pelayanan Hipnotherapy di aula gereja. Saya teringat Dr. Michael Newton, saya jadi ngeri dan sedih.
Please Bu, Saya cinta pada gereja katholik dan umat katholik. Jangan sampai umat katholik terlibat hipnotisme, karena saya yakin ini bukan dari Tuhan, dan Tuhan pasti menentang praktek-praktek Hipnotisme.
Dahulu Franz Anton Mezmer pernah mengklaim bahwa dia menemukan suatu bidang ilmu yang bernama Hipnotisme dan bersifat ilmiah. Padahal sejak zaman mesir kuno, praktik-praktik ini telah dilakukan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, Allahnya Bapa Abraham, Ishak dan Yakub.
Demikian komentar saya yang panjang banget ini, moga ada gunanya. Thanks. God Bless U.
Shalom Rini,
Jika anda membaca kembali artikel di atas, anda mengetahui bahwa Gereja Katolik-pun sangat berhati- hati dalam hal hipnoterapi ini, artinya, tidak menyetujui semua bentuk hipnoterapi. Ada empat syarat yang semuanya harus dipenuhi, agar tindakan tersebut dapat diijinkan, seperti yang telah dijabarkan di atas (yaitu: alasan yang benar- benar genting, adanya ijin dari pasien, adanya tindakan precaution untuk mengantisipasi hal- hal negatif dengan kehadiran saksi, dan harus dilakukan oleh seseorang yang benar- benar ahli dan berintegritas tinggi). Sedangkan hipnoterapi ala Dr. Michael Newton atau siapapun lainnya, yang menggunakan konsep Past Life Regression, reinkarnasi, perpindahan jiwa (transmigration of souls), menihilkan eksistensi setan, dan konsep lain yang tidak sesuai dengan ajaran Kristiani, jelas tidak dapat diterima oleh Gereja Katolik. Konsep ajaran- ajaran semacam ini berhubungan dengan ajaran New Age Movement, dan jelas ditentang oleh Gereja Katolik, seperti yang sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Apalagi jika dalam prosesnya sang hypnotherapist mengadakan pemanggilan arwah dan sebagainya, ini jelas bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
Jadi jangan kuatir, Gereja Katolik tidak akan merestui hipnoterapi ala Dr. Newton ini.
Namun demikian, hipnoterapi yang dilakukan atas dasar ilmu psikologi murni, masih dapat diterima, tentu dengan batasan- batasan seperti yang telah disebutkan di atas. Prinsipnya adalah, ilmu pengetahuan diciptakan demi kebaikan manusia, sehingga jika memang ilmu pengetahuan dapat meningkatkan kebaikan (kesehatan) bagi manusia, hal itu dapat diijinkan, tentu tanpa mengorbankan prinsip ajaran iman Katolik. Walaupun sudah berakar lama dalam sejarah peradaban manusia, psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang manusia dan perilakunya, baru berkembang pesat pada sekitar abad 19. Oleh karena itu hipnoterapi sebagai teknik ilmu psikologi baru ditemukan pada abad ke-19, dan karena itu, hipnoterapi tidak dapat disejajarkan dengan kebiasaan bangsa yang tidak mengenal Allah. Jika di dalam proses hipnoterapi yang dilakukan adalah pemanggilan arwah/ roh/ dewa- dewi, maka memang mungkin ini dapat dihubungkan ke sana, tetapi jika yang dilakukan adalah murni teknik ilmu psikologi, maka tidak ada hubungannya dengan budaya bangsa yang tidak mengenal Allah. Karena ilmu psikologi, seperti juga ilmu kedokteran, juga datang dari Allah.
Di atas semua itu, harap dipahami bahwa Gereja Katolik sebenarnya tidak pernah mengajurkan hipnoterapi, malah sebaliknya, mengajurkan umat untuk waspada dan berhati- hati terhadap praktek hipnoterapi ini, karena mempunyai resiko yang tinggi. Karena jika tidak dilakukan oleh hipnoterapist yang benar- benar ahli dan mempunyai integritas iman dan moral yang tinggi, maka tindakan ini dapat mengakibatkan efek negatif pada jiwa pasiennya.
Saya pribadi cenderung untuk tidak terlibat dalam kegiatan hipnoterapi ataupun sejenisnya; apalagi jika sesungguhnya masih terdapat banyak jalan untuk mengobati suatu penyakit tertentu. Namun demikian, saya tunduk kepada keputusan Gereja Katolik, yang tidak melarang hipnoterapi walaupun juga tidak menganjurkannya. Adapun alasan Gereja Katolik tidak melarangnya, adalah karena Gereja Katolik mendukung kesejahteraan manusia, oleh karena itu segala bentuk ilmu pengetahuan ataupun kedokteran yang mendukung tercapainya kesejahteraan manusia, dapat diterima, sepanjang masih berada dalam koridor iman (tidak mengandalkan kuasa gelap/ sejenisnya dan tidak bertentangan dengan ajaran iman Katolik).
Maka mengenai seminar hipnoterapi dan sejenisnya yang mendukung agar orang menyebarluaskan hipnoterapi, bahkan menghipnotis diri sendiri, atau menjadi teknik ini sebagai eksperimen, apalagi menjadikannya sebagai tontonan dan dikomersialkan, memang memprihatinkan. Alangkah lebih baik, jika paroki mengadakan seminar yang lebih membangun iman Katolik, ketimbang seminar yang cenderung mengundang sensasi, atas topik ini yang sebenarnya perlu diwaspadai. Mari kita mohon rahmat kebijaksanaan dari Tuhan, agar dapat membedakan mana yang dari Allah dan mana yang bukan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Syalom…
pertama kali saya membuka web ini karena ingin bertanyata tentang hypnoterapi.
saya ingin tanya
apakah Hypnoterapi benar-benar diperbolehkan oleh gereja katolik?
kalau diperbolehkan,
mengapa hal instant seperti hypnoterapi bisa di perbolehkan?
jujur.
saya sendiri tidak setuju dengan hypnoterapi.
karena hal instant itu mencurigakan.
mohon dijelaskan pertanyaan saya.
GBU…
Shalom Raynald,
Gereja Katolik tidak pernah menganjurkan hypnoterapi dan malah menganjurkan umat untuk mewaspadainya. Namun demikian, jika diperoleh alasan yang kuat. Gereja Katolik memperbolehkannya, jika dipenuhi 3 syarat ini: 1) adanya alasan yang genting; 2) adanya ijin dari orang yang bersangkutan; 3) diadakan tindakan precaution/ pencegahan untuk mengantisipasi hal-hal negatif yang mungkin bakal terjadi, yaitu dengan kehadiran saksi yang dapat dipercaya, dan jika hypnoterapi dilakukan oleh seorang yang benar- benar ahli dengan integritas yang tinggi, jujur dan tulus.
Jadi jika sampai diperbolehkan, itu karena memang hypnoterapi pada dasarnya adalah salah satu terapi psikologis. Maka jika ada alasan yang genting, misalnya untuk kasus insomnia yang akut, yang sudah mencoba segala cara namun tidak berhasil, maka hypnoterapi ini diperbolehkan, jika orang yang bersangkutan menginginkannya, dan jika terapi ini dilakukan oleh seorang ahli yang berintegritas tinggi. Prinsipnya, ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk melayani kepentingan manusia, tetapi dalam penggunaannya manusia harus waspada, agar jangan sampai menghancurkan dirinya sendiri.
Dewasa ini kita menyadari bahwa hypnotis ini memang dapat digunakan untuk kepentingan lain kecuali terapi, sebab bahkan di jalur entertainment, hypnotis ini dapat dijadikan semacam tontonan. Hal ini tidak sesuai dengan ketiga syarat tersebut, karena tidak ada faktor “kegentingan” yang disyaratkan, dan juga diragukan integritas orang yang melakukannya, karena belum tentu bermaksud menolong/ mengobati dan umumnya ada unsur komersialitas di sini.
Hypnoterapi memang merupakan sesuatu yang perlu diwaspadai karena jika tidak dilakukan oleh orang yang benar- benar ahli, maka keseimbangan jiwa pasien menjadi taruhannya. Oleh sebab itu maka, tepatlah jika Gereja Katolik menghimbau agar umat waspada menyikapinya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Salam bu Inggrid,
Bagaimana dengan self hypnosis? Saya sering menggunakan rekaman sugesti untuk menghilangkan kebiasaan buruk.
Terima kasih.
Shalom Santiago,
Melihat definisi yang disebutkan di atas, “self -hypnosis sebenarnya” tidak dibenarkan dan sesungguhnya tidak mungkin dilakukan. Lain halnya dengan meditasi yang sifatnya merupakan pemeriksaan batin untuk memotivasi diri sendiri untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan untuk memperbaiki diri. Hal ini diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Agaknya kembali kepada definisi dan pengertian “hypnosis” itu sendiri. Jika pengertian hypnosisnya adalah terapi yang melibatkan tidur buatan, agar di bawah sadar orang dapat menerima saran-saran dari pihak yang menghipnotis, maka sesungguhnya itu tidak dapat dilakukan oleh diri sendiri. Namun penekanan-penekanan sikap yang dibuat di dalam pikiran sendiri, itu dapat dilakukan, dan ini tidak memerlukan proses tidur buatan dan tidak memerlukan pembawaan diri ke alam bawah sadar.
Semoga dapat dipahami.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Salam Cemerlang…
Menarik sekali diskusi tentang hipnotherapi ini, pertanyaannya sejauh mana kita mengetahui definisi tentang hipnosis dan hipnotherapi? Sejauh mana perkembangannya sekarang ini? Bagaimana proses seorang hipnotherapi dalam melayani klien? Terima kasih
Shalom Danang,
Secara sederhana, definisi hipnoterapi adalah terapi psikologis yang menggunakan hipnosis. Sedangkan definisi hipnosis sudah disampaikan di artikel di atas. Perkembangannya dewasa ini memang saya dengar cukup marak, dan karena itu Gereja Katolik memperingatkan agar umat waspada dalam menyikapinya. Proses hipnoterapi berbeda- beda tergantung dari sang pelaku hipnosis. Kami di Katolisitas tidak dalam posisi untuk menjelaskan di sini karena hal tersebut sudah tidak dalam ranah iman Katolik. Kami hanya menuliskan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik untuk menyikapi hipnoterapi tersebut, seperti yang sudah kami nyatakan di artikel di atas.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Shalom Inggrid,
Terima kasih atas tanggapannya, Tentu kita harus waspada dengan praktik-praktik hipnosis yang ada di masyarakat, karena memang ada yang menerapkan hipnosis untuk hal-hal yang negatif. dan pastinya banyak juga yang menerapkannya untuk kebaikan sesama. salah satu bentuk kewaspadaan yang bisa kita lakukan adalah dengan mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang hipnosis dan penerapannya. Itulah mengapa walaupun sepertinya tidak berada dalam ranah Iman Katolik, saya mengusulkan untuk menampilkan wacana tentang hipnosis dan penerapannya, supaya kita sebagai umat beriman bisa lebih bijak dan obyektif dalam menyikapi fenomena hipnoterapi. Jika kita melihat dari satu sisi bisa saja kita terjebak dalam pemahaman yang keliru. Hipnosis tidak sekedar membuat orang tertidur, lalu sang terapis dengan mudahnya bisa melakukan apa pun terhadap subyek/klien. bahkan tanpa harus tertidur pun seseorang bisa berada dalam kendali sang pelaku hipnosis. dan jika hipnosis adalah soal mempengaruhi, maka mungkin secara tidak sadar kita pernah melakukannya, menjadi seorang hipnotic talker.
jika diperkenankan mungkin di lain waktu waktu, saya akan mengulas lebih banyak lagi mengenai hal ini, dan tentunya berkaitan dengan pengembangan Iman Kristiani kita. Terima kasih… Tuhan Memberkati.
Shalom Danang,
Saya hanya berpegang pada pengajaran Gereja Katolik yang sudah dikeluarkan. Dan penjelasan itu adalah bahwa umat silakan berhati-hati dan waspada dalam hal hipnoterapi ini. Saya juga mengetahui bahwa pada kenyataannya, ada teknik-teknik hipnosis yang tidak melibatkan pasien tertidur, dan justru karena ini, menjadi semakin tidak kentara, dan semakin perlu diwaspadai, terutama jika dilakukan oleh terapis yang tidak bertanggung jawab. Namun maaf, fokus kami dalam situs ini adalah yang langsung berhubungan dengan iman Katolik, dan jika Gereja tidak mengajurkannya maka kami tidak dapat membuat rubrik khusus untuk mengulasnya.
Dalam hal iman, hal “mempengaruhi” orang lain untuk hal yang baik itu juga bukan semata- mata karena kemampuan psikologis sang pembicara. Kita percaya Roh Kudus dapat memberi kharisma kepada orang-orang tertentu untuk mengajar, dan kemampuan ini tidak dapat disamakan dengan teknik-teknik psikologis tertentu.
Sekali lagi, saya mohon maaf dan mohon pengertian anda, bahwa kami di Katolisitas tidak akan membahas hipnotis ini lagi secara lebih mendetail. Silakan, jika anda tertarik dengan topik ini, untuk menghubungi situs lainnya yang sepaham dengan anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Ingin menanggapi bapak alexander pontoh.saya pernah melihat di tv-rommy rafael sebagai ahli hipnotis.Yang dilakukannya, tampaknya hal yang sederhana, orang yg terhipnotis diberikan serangkaian kata.Dari rangkaian kata yang diucapkan tidak ada satu angkapun yg disebut, tetapi jika dari kata ada satu atau lebih huruf di hilangkan maka akan tercipta angka.misalnya saja:….. tEMPAT yang diTUJU Harap…ketika dibangunkan, orang tersebut diminta menyebutkan angka yg terpikirkan untuk pertama kali.Dan orang tersebut menyebutkan 47.
Pada saat saya melihat itu, saya ngeri membayangkan bagaimana jika teknik itu diterapkan dan tanpa kita sadari kita dipengaruhi serangkaian kata2 yang membuat kita sesat jalan.
Bukannya tidak menyetujui teknik ini, tapi perlu dilihat kepentingannya dan siapa yg memberikan. jika masih mampu diselesaikan dengan akal sehat, sebaiknya anugrah itu dimanfaatkan dengan optimal.
setuju jika kita harus melihat siapa yang memberikan. karena itu saya sendiri sangat berhati-hati dalam memilih seorang terapis.
soal ngeri membayangkan teknik itu diterapkan… saya rasa kita semua secara tidak sadar sudah kena teknik itu. tapi panjang kalo saya ceritakan. maaf… saya blm ada waktu untuk menceritakan pendapat saya.
Halo Inggrid
thanks a lot atas artikel ini, saya jadi yakin selama ini menolak menyebarluaskan tawaran2 “hypnoparenting” yg kalau melihat patokan2 diatas tentunya jelas bukan termasuk kategori yg direstui.
Ini penyakit orang jaman sekarang ya, maunya serba instan, maunya ‘bisa seperti Yesus’ semua masalah bisa diatasi dengan instan tp tidak mau ‘menjadi seperti Yesus’ dulu -:)
FYI ini salas satu contoh iklan2 yg berkedok ‘mendidik anak’ menyembuhkan anak autis, adhd, dll.
Moga2 bisa share agar banyak ortu juga waspada dan bisa memanage ekspektasinya.
Syalom!
Cisca
HYPNOPARENTING ROADSHOW
Jakarta – Cirebon – Semarang-Solo- Surabaya-Malang-Madiun-Bali – Medan – Pekanbaru – Palembang- Balikpapan – Banjarmasin
Suatu Terobosan dalam dunia Pendidikan bagi Orangtua untuk meraih kesuksesan mendidik anak
Menjadi Orang Tua yang Efektif seringkali kita dengar. Namun di workshop kali ini, orang tua tidak hanya belajar bagaimana menjadi orang tua yang efektif, namun juga menjadi orang tua yang memiliki perspektif baru terhadap pola asuh terhadap pendidikan dan perkembangan anaknya. Para orangtua perlu belajar bahwa dalam mendidik anak dibutuhkan kerja sama yang baik antara ayah dan ibu. Begitu banyak orangtua merasa bertanggungjawab untuk memecahkan masalah anak tanpa menyadari bahwa ada seperangkat nilai yang akan hilang dalam diri anak. Selain Itu, orang tua akan belajar bahwa betapa penting membangunkeharmonisan dalam keluarga demi tercapainya sukses anak-anak.
Pernahkah Anda merasa frustasi, pusing, khawatir, bingung harus bagaimana dan bertanya-tanya apa yang sebaiknya dilakukan dalam menghadapi permasalahan anak seperti :
Malas belajar, Kecanduan game, Tidak mau sekolah, Minder / tidak percaya diri, Pemalu dan tertutup, tidak mau bergaul, Phobia dalam banyak hal, Sulit tidur, Sering takut dalam melakukan banyak hal, Suka melawan orangtua, Suka menganggu saudara atau anak lain, Sering ngomel atau marah-marah, Mau menang sendiri, Tidak disiplin dan perilaku negatif lainnya, Atau anda memiliki anak berkebutuhan khusus..
JIKA YA JAWABANNYA,ANDA WAJIB HADIR DALAM WORKSHOP INI & TEMUKAN SOLUSINYA !!!!!
Kami percaya setiap orangtua ingin anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, punya kepandaian, punya moral yang baik, percaya diri, rajin, disiplin, punya motivasi dan semangat untuk maju, memiliki pengendalian diri yang baik, jujur, sabar, punya toleransi, suka menolong sesama dan inilah impian setiap orangtua.
Namun pada kenyataannya anak menjadi tidak seperti yang diharapkan dan tahukah Anda bahwa sumber sumber perilaku negatif ini adalah saat mereka dididik waktu masih kecil karena pikiran orang dewasa hampir 90% terbentuk saat masih anak-anak.
Dalam worskshop ini, Anda akan belajar bagaimana membuat diri Anda menjadi orang tua yang dapat bersikap positif walau perilaku Anak Anda tidak baik (menurut pandangan Anda). Anda juga akan belajar bagaimana membuat negosiasi dengan anak anda sehingga anak anda mengerti akan konsekuensi perilaku yang dijalaninya.
Hipnosis untuk anak-anak sebenarnya telah dikenal sejak masa lampau, banyaknya tradisi-tradisi dan budaya-budaya yang ada sebenarnya telah menerapkan metode hipnosis dalam menumbuh kembangkan anak, seperti tembang-tembang para orang tua yang dinyanyikan pada saat menidurkan anak, secara otomatis dapat menciptakan sebuah fenomena hipnosis (trance) khususnya pada anak-anak (Child Trance Condition).
Di era modern ini, metode hipnosis untuk anak-anak telah lama dilakukan oleh Dr Franz Mesmer dengan teknik magnetismenya, walaupun hasil penelitian yang dilakukan oleh Franklin tentang Mesmer pada tahun 1784 menyimpulkan bahwa “efek klinis†yang ada pada teknik magnetisme bukanlah karena magnetisme itu sendiri, namun efek klinis tersebut dihasilkan dari â€imaginasiâ€, yang dilakukan oleh pasien.
Namun apakah benar bahwa anak-anak dapat dihipnotis seperti layaknya orang dewasa?
Manfaat Workshop:
Psikologi Anak dan perkembangannya di era globalisasi
Strategi Menanamkan Sugesti & Anchor yang praktis.
Mekanisme terbentuknya Tindakan & Pikiran anak
Teknik membangun rapport dengan anak
Pembentukan sikap mental dan masa depan anak.
Teknik relaksasi dan pemrograman pikiran bawah sadar
Terapi Hypnosis dalam mengatasi problem anak
Cara marah positif pada anak
Conversational Hypnosis
Hypnosis language Pattern (Pola Bahasa Hypnosis)
Mampu memberikan terapi kepada anak
PLUS , Anda Akan Mempelajari:
• EFT (Emotional Freedom Technique) dan Bagaimana Meng Integrasikan dengan Hypnosis , EFT adalah teknik therapy sederhana dan tercepat yang telah dikenal diseluruh penjuru dunia,
• Menguasai Artful Suggestion – Bagaimana Seni Mensugesti dengan Sangat Efektif, sehingga apapun saran anda akan diterima baik oleh diri anda sendiri maupun orang lain
Lunch, Coffee Break, Seminar kit, Sertifikat, PIN Peduli Anak, membership Peduli Anak, BONUS Buku karangan Bunda Lucy dengan judul: “Mendidik sesuai Minat dan Bakat Anak†disertai bonus CD software untuk mengenali minat dan Bakat Anda maupun anak Anda.
xxx
Shalom Cisca,
Terima kasih atas masukannya tentang hypnoparenting. Ya, harus diakui bahwa sekarang ini terdapat kecenderungan penyalahgunaan hypnotism ini, sehingga tidak lagi sesuai dengan yang masih dapat diterima oleh Gereja Katolik.
Semoga kita dapat waspada atas semua gejala yang terjadi di sekeliling kita, dan semoga kita dapat terus berpegang kepada ajaran iman kita.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Syalom…
Dengan praktek hypnotheraphy, yg saya pribadi tidak setuju…
Mau tanya lbh jauh tentang hypnotheraphy dalam seminar motivasi dengan tujuan meningkatkan kualitas karakter sebagai pebisnis…apakah ini masih bisa dikatakan atau dimasukkan dalam taraf penyembuhan atau ini hanyalah topeng tipu belaka? Maksud saya, menipu diri sendiri?
Kemudian, ada yang diminta untuk mendengarkan cd motivasi yang katanya membawa kita ke alam bawah sadar kita? Apakah ini masih bisa diijinkan dalam gereja katolik?
Ini berasal hanya dari kebingungan saya dan rasa ingin tahu karena kekhawatiran saya adalah, di jaman seperti ini, banyak cara yang dilakukan dari tipu muslihat iblis…
Maaf jika pertanyaan saya terlalu frontal..
Lanjut menanggapi bahasan ini…
Bagaimana jika saya mengatakan bahwa hypnotheraphy itu adalah suatu praktek yang tidak menghargao proses di mana dalam proses tersebut adanya jalan sebagai manusia menyerahkan, berserah dan percaya….
Kalau langsung “sembuh” begitu saja, apakah sampai ke akarnya?
Toh, jika ada masalah apapun itu, yang perlu kita lakukan adalah konseling dengan maksud kita bersama mencari tahu apa akar permasalahannya dan rekonsiliasi dengan diri berkaitan dengan masalah itu sendiri…
Hanya ingin tukar pikiran…terimakasih.
Tuhan berkati..
Shalom Surya,
Saya ingin menyatakan kembali di sini bahwa sebenarnya secara umum Gereja Katolik tidak mendorong dilakukannya Hypnotheraphy. Sebaliknya, Gereja Katolik mengingatkan agar umat Katolik berhati-hati dalam menyikapinya. Jika sampai ingin dilakukan, 3 hal yang harus ada sehingga hipnotis/ hipnoterapi dapat secara lisit dilakukan, adalah: 1) adanya alasan yang genting; 2) adanya ijin dari orang yang bersangkutan; 3) diadakan tindakan precaution/ pencegahan untuk mengantisipasi hal-hal negatif yang mungkin bakal terjadi, yaitu dengan kehadiran saksi yang dapat dipercaya, dan hipnoterapi dilakukan oleh seorang yang benar- benar ahli dengan integritas yang tinggi, jujur dan tulus.
Maka dengan melihat definisi ini, menurut hemat saya, praktek hipnotis untuk menaikkan kinerja kerja, tidaklah termasuk di sini, itu bukan termasuk alasan yang genting. Sebab terdapat banyak cara lain untuk meningkatkan kinerja kerja/ kualitas pebisnis, dan bukan dengan hipnotis. Demikian pula bahwa bukan berarti kalau tidak dilakukan hipnoterapi maka perusahaan tidak berfungsi/ berjalan, sehingga keadaan ini tidak dapat dikatakan “alasan yang genting”. Belum lagi jika terjadi pemaksaan, bahwa semua yang bekerja harus mengikuti hipnoterapi ini. Jika demikian, ini pelanggaran butir yang ke 2. Apalagi jika hipnoterapi ini dilakukan demi keuntungan bisnis orang yang memberikan hipnoterapi.
Terus terang, saya setuju dengan pendapat anda bahwa hipnoterapi dengan menggunakan CD adalah tindakan “abuse” karena mengandung resiko yang tinggi. Sebab jika didengarkan di sembarang tempat, tanpa adanya saksi yang bisa menolong jika terjadi efek-efek tertentu, maka tindakan ini membahayakan keseimbangan jiwa pasien. Lain halnya dengan praktek meditasi, itu tidak membahayakan jiwa.
Benar, memang lebih baik kita mencari penyembuhan batin yang sampai ke akar-akarnya, yaitu hubungan yang mendalam dengan Kristus, yang dimulai dengan pertobatan kita. Seandainyapun dilakukan konseling ataupun hipnoterapi untuk alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, pertobatan dan membina hubungan yang pribadi dengan Kristus tetaplah harus dilakukan. Sebab tanpa iman dan hubungan yang pribadi dengan Kristus, maka tidak dapatlah kita mencapai kesembuhan yang sejati.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Bu Inggrid… saya bingung dengan definisi hypnosis dari pengajaran dari The Holy Office, Vatikan, 4 Agustus 1956; 26 Juli, 1899
kenapa menggunakan definisi dari The Holy Office? melihat tanggal diterbitkannya yaitu 1956, mungkin definisinya kurang ‘update’
saya pernah sekali mencoba di hypnoterapi oleh seorang terapis yg cukup kompeten. tetapi saya tidak mengalami “mencabut sang subyek/ pasien dari penggunaan akal budi dan keinginan bebasnya secara penuh”
saya masih bisa menolak apa yg disugestikan oleh sang terapis. saya masih sadar, malah sangat sadar.
saya selama ini membaca-baca buku ttg hypnosis karangan Adi W. Gunawan. (beliau orang surabaya, dan mengajar di fakultas psikologi jenjang S2 di Universitas Surabaya) situs pribadi pak Adi bisa anda lihat di http://www.adiwgunawan.com/awg.php
dari buku
Hypnosis – The Art of Subconscious Communication
Meraih Sukses dengan Kekuatan Pikiran
ditulis oleh Adi W. Gunawan diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama
beberapa definisi hypnosis (halaman 3) adalah :
1. Suatu kondisi di mana perhatian menjadi sangat terpusat sehingga tingkat sugestibilitas meningkat sangat tinggi.
2. Seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya, yang dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak.
3. Seni eksplorasi alam bawah sadar.
4. kondisi kesadaran yang meningkat.
5. suatu kondisi pikiran yang dihasilkan oleh sugesti.
dibuku-buku pak Adi yg selanjutnya (saya lupa dibukunya yg mana) definisi hypnosis kemudian menjadi lebih singkat. seperti yg ada disitus ini (http://www.hypnosis45.com/definisi_hypnosis.htm) yaitu “Hypnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau sugesti”.
pokoknya setahu saya, dimana saya pernah dihypnoterapi. Tidak ada pencabutan penggunaan akal budi dan keinginan bebasnya secara penuh.
Saya setuju dgn kesimpulan bu inggrid bahwa hypnosis diperbolehkan. Menurut saya, hypnoterapi seperti suatu alat. bisa digunakan untuk kebaikan, tapi bisa digunakan untuk kejahatan. Seperti pisau, bisa digunakan untuk membunuh, tapi bisa digunakan untuk mengolah makanan.
Shalom Alexander,
Holy Office adalah nama lain dari Congregation for the Doctrine of the Faith (CDF). CDF ini kalau mau memberikan definisi, selalu mengerahkan staf tenaga ahli di bidangnya, untuk meneliti terlebih dahulu. Sehingga definisi ataupun penjelasan yang keluar dari CDF ini dapat dipertanggungjawabkan. Lagipula hypnosis sebagai topik ilmiah, sudah ditemukan dan dibahas oleh Athanasius Kircher pada tahun 1602- 1680, jadi hypnoterapi ini bukan ilmu yang sama sekali baru.
Harus diakui bahwa terdapat banyak cara hipnotis atau hipnoterapi, dan bukannya tidak mungkin antara satu pakar yang satu dengan yang lain berbeda. Justru karena hal itu Gereja Katolik menganjurkan agar umat hati-hati dan wapada, sebab jika dilakukan oleh orang yang tidak ahli dan tidak bertanggungjawab, akibatnya bisa kurang baik atau bahkan tidak baik bagi pasiennya. Saya pernah menyaksikan kasus-kasus hipnotis yang dilakukan di panggung hiburan, yang konon juga bisa memberi relaksasi, namun itu sungguh mengambil penggunaan akal budi orang yang dihipnotis. Sehingga saya rasa, anjuran Gereja Katolik agar umat waspada menyikapi hypnoterapi, itu sungguh sangat masuk akal.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Salam.
Sebelumnya terima kasih atas jawaban dari pertanyaan saya sebelumnya.
Saya mau tanya sekarang mengenai hipnoterapi/hipnotis. Saya masih tdk mengerti dgn praktek tersebut, karena yang saya tahu praktek tersebut mirip ilmu gendam. Apakah ada hubungan? Dan bagaimana mungkin seseorang bisa menguasai pikiran orang lain dan mengontrolnya. Apakah hipnoterapi ini berasal dari ilmu hitam?
Terima kasih sebelumnya.
Shalom Fendy,
Jika dilakukan oleh ahli yang bertanggungjawab, maka hipnotis sesungguhnya dapat digunakan sebagai terapi psikologis. Dengan demikian hipnotis sebenarnya tidak berhubungan dengan ilmu hitam. Namun tidak dapat dipungkiri, justru karena dapat dipergunakan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab, maka hal ini dapat berkonotasi buruk. Maka hipnotis yang diizinkan oleh Gereja Katolik hanya terbatas pada hipnoterapi yang digunakan untuk ‘menyembuhkan’ kelainan psikologis/ penyakit tertentu; sedangkan hipnotis yang untuk entertainment atau maksud negatif lainnya, tidak dibenarkan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Shalom Bu Ingrid
Menurut saya, hipnotis ini sama dengan ilmu gendam / tenaga dalam.
Karena saya sendiri dulu punya tenaga dalam, dan bersyukur kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria saya telah dibebaskan. Sewaktu saya punya ilmu tenaga dalam, saya adalah orang baik, saya menolong orang mengangkat beban berat dengan tenaga dalam saya. Saya juga bisa menyembuhkan diri saya sendiri jika saya sakit, saya pernah menyembuhkan jari saya yang bengkok dengan tenaga dalam, saya pernah menyembuhkan kaki saya yang keseleo dengan tenaga dalam. Dan saya juga bisa menyembuhkan badan saya jika demam dengan tenaga dalam. Saya bisa melakukan semuanya dengan tenaga dalam.
Saya tidak pernah mencelakan orang dengan tenaga dalam.
Tapi saya bersyukur kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, bahwa saya diberikan teman-teman yang memberitahu bahwa dengan tenaga dalam berarti SAYA MENGANDALKAN KEKUATAN SAYA SENDIRI, BUKAN MENGANDALKAN TUHAN YESUS. DAN TERKUTUKLAH SAYA KARENA TELAH MENGANDALKAN KEKUATAN SAYA SENDIRI, seperti dalam YEREMIA 17 : 5.
Dari hal ini, saya menarik kesimpulan, lalu apa bedanya dengan hipnotis.
Banyak yang bilang bahwa tenaga dalam yang mereka miliki bukan dari setan, tapi dari Tuhan namun apa yang dikatakan di dalam Yeremia 17 : 5. Alkitab tidak menulis bahwa manusia diberi karunia tenaga tambahan atau tenaga dalam, tapi manusia diberi kekuatan sebagai manusia biasa, dan tidak semua manusia adalah Samson.
Banyak yang bilang bahwa kemampuan hipnotis mereka bukan dari setan, lalu dari siapa. Alkitab tidak menulis bahwa manuisa diberi kemampuan hipnotis oleh Tuhan.
Ada yang bilang bahwa dengan hipnotis mereka bisa lebih konsentrasi dalam berdoa, lebih fokus. Lalu apa gunanya Tuhan, bukankah Tuhan yang bisa memberikan kemampuan untuk berdoa dan fokus kepada Dia. Ini sama saja menusia dengan kekuatannya sendiri berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan dengan karunia Tuhan.
Ada yang bilang bahwa dengan hipnotis bisa menyembuhkan luka batin, bisa memberikan semangat dalam bekerja. Lalu apa gunanya Tuhan.
Laki-laki bejat dengan kemampuan hipnotis bisa membuat seorang wanita menyerahkan keperawanannya tanpa dipaksa. Manusia dengan kemampuan hipnotis bisa membuat seseorang menyerahkan harta dan nyawanya sekaligus.
Manusia adalah mahluk yang lemah, yang punya kecenderungan berbuat jahat lebih besar daripada berbuat baik. Roh memang penurut, tapi daging lemah.
Mohon maaf, jika saya begitu bersemangat atau emosi.
Saya melihat bahwa manusia sedang berusaha mencari pembenaran dirinya sendiri, saya pun sering berusaha mencari pembenaran diri saya sendiri di hadapan Tuhan dan sesama.
Saya hanya berusaha agar Gereja bisa lebih kritis dalam hal ini.
Hipnotis bisa menyembuhkan, tapi hipnotis juga sangat mencelakakan. Kecenderungan manusia untuk berbuat jahat lebih besar daripada berbuat jahat.
Seorang Ayah dengan kemampuan hipnotis bisa membuat keluarganya bahagia dengan memberikan penghidupan yang baik, karena dia bisa bekerja dengan rajin dan baik dengan kemampuan hipnotisnya. Tapi Ayah yang sama dengan kemampuan hipnotisnya, juga bisa menghipnotis istrinya dan anaknya untuk mentaati segala perintahnya, dan menjadikan anak dan istrinya menjadi budaknya.
Seorang laki-laki dengan kemampuan hipnotis bisa menolong temannya yang sedang dihadang banyak penjahat dengan menghipnotis penjahat-penjahat tersebut untuk pergi meninggalkan temannya, tapi laki-laki yang sama bisa menghipnotis teman-teman wanitanya untuk menyerahkan keperawanannya dan melakukan apa saja yang dia inginkan.
SEORANG MANUSIA YANG BAIK, SEKALIPUN DIA SEORANG IMAM, SUSTER, BIARAWAN, BIARAWATI. TAPI JIKA DIA PUNYA KEKUATAN HIPNOTIS, SUATU SAAT DIA BISA BERUBAH MENJADI IBLIS.
Tuhan telah mengaruniakan kita kemampuan yang jauh lebih hebat dari tenaga dalam dan hipnotis, yaitu DOA.
Matius 26:41 : Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”
Shalom Andreas,
Mohon dipahami ya, bahwa Gereja Katolik dalam pernyataannya tidak menganjurkan hipnoterapi, malahan Gereja mengingatkan kepada umat untuk waspada menyikapi hipnoterapi, justru karena mudah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun apakah hipnoterapi ini sama dengan ilmu gedam, itu juga sesungguhnya tidak benar, karena jika berpegang pada definisinya, maka pada prinsipnya, hipnoterapi hanya merupakan proses relaksasi yang membuat pasien tidur/ tidak sadar yang kemudian cenderung untuk mengikuti apa yang disarankan kepadanya. Mengambil dasar ini, maka sesungguhnya ini memang tidak langsung “jahat”, sebab proses relaksasi yang membuat seseorang tidur itu adalah proses yang sesungguhnya netral. Yang bisa membuatnya menjadi negatif adalah proses sesudahnya, di mana peran orang yang meng-hipnotis ini bisa mempunyai semacam kontrol untuk mempengaruhi orang yang dihipnotis. Dan untuk inilah maka Gereja Katolik menganjurkan umat untuk berhati-hati dan waspada. Karena tidak semua hipnoterapi ini dilakukan oleh orang yang berpengalaman dan berintegrasi tinggi, sedang resiko yang dapat terjadi adalah hal kejiwaan orang yang sedang dihipnotis.
Maka, pernyataan anda yang mengatakan bahwa semua orang, sekalipun seorang religius, yang mempunyai kekuatan menghipnotis “suatu saat bisa berubah menjadi Iblis”, itu tidak benar. Jika kemudian ia menghipnotis untuk suatu hal yang buruk/ dosa, ataupun untuk tujuan sembarangan dan merusak keseimbangan jiwa seseorang, maka ia berbuat jahat/ dosa. Namun sebaliknya, tidak bisa dikatakan bahwa semua orang yang dapat melakukan hipnoterapi pasti jahat/ bekerjasama dengan Iblis atau suatu saat menjadi Iblis (Iblis dan manusia itu tidak sama). Sebab jika dilakukan dengan berhati-hati dan bertanggungjawab, pada kondisi yang tepat, maka hipnoterapi dapat dianggap sebagai salah satu terapi psikologis.
Saya bukan seorang hipnoterapist dan bukan seorang yang pro- hipnoterapi. Menurut saya pribadi, terapi yang terbaik tetaplah doa dan konseling Kristiani, tanpa melakukan hipnotis. Namun, di situs ini kami berusaha menyampaikan apa yang menjadi pandangan Gereja Katolik, dan bukan pandangan pribadi. Apa yang saya sampaikan adalah hanya berdasarkan pernyataan Gereja Katolik, yang saya percayai telah didahului oleh penelitian- penelitian terlebih dahulu. Gereja Katolik melihat hipnoterapi ini secara obyektif, dan sepanjang dapat dibuktikan secara ilmu pengetahuan, Gereja tidak dapat melarangnya dan mencapnya sebagai ilmu gaib atau tenaga dalam atau gedam. Perihal bahwa ada penyalahgunaan selanjutnya oleh oknum-oknum tertentu, maka Gerejapun sudah memperingatkan umat-Nya, dan inilah yang saya nilai sebagai sesuatu yang lebih penting di masa sekarang ini. Ya, benar kita harus waspada. Jangan sampai kita bermain-main dengan hipnotis ini sebab keseimbangan jiwa menjadi taruhannya. Dan begitu besarlah tanggungjawab orang yang melakukan hipnoterapi ini di hadapan Tuhan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Yesus sebelum menyembuhkan, sedang menyembuhkan dan sesudah menyembuhkan, mengasihi pasiennya. Yesus berkenan menyembuhkan karena kasih dan tergerak oleh belas kasihan-Nya, bukan karena upah, pujian, hadiah dan reward2 yang lain. Yesus menyembuhkan untuk memuliakan Bapa-Nya di surga.
Nah, kalau terapeutis yang kebetulan seorang ahli hipnotis ingin menyembuhkan subjek/pasien, adakah ia memiliki dan berintensi seperti Yesus? Kalau ya, silakan lakukan. Tuhan pasti tidak berkeberatan. Dalam 1Petr 4:10-11, Hendaknya kita saling melayani sesuai dengan karunia…kita ditugaskan membagikan rahmat… untuk memuliakan Allah. Dan jangan lupa mohon petunjuk imam / magisterium. Rahmat ketaatan harus kita pegang.
Tmks untuk jawaban atas pertanyaan saya. Saya sungguh diperkaya dengan jawaban dan informasi tersebut. Skali lag terima kasih. Salam Joss….
Yoseph Tien.
Dear Ibu Ingrid,
Mohon pendapat apakah gereja katolik punya pendapat atas buku the secret of secret yang teorinya menggunakan affirmasi affirmasi diri yang mengandalkan the power of human bukan the power of God.
Adakah statement dari gereja katolik atas aliran aliran bernuansa motivator? terima kasih atas penjelasannya.GBU
Shalom Mea,
Jika maksud anda tentang buku “The secret”- The law of attraction, sudah pernah saya jawab di sini, silakan klik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org