Tentang Gereja Kristen Koptik

21

Pertanyaan:

SYALOM PAK STEF/ IBU INGGRID…..

Damai sejahtera selalu….

Saya baru mengetahui adanya Kristen Koptik, yang saya dapatkan dari email yang mengulas tentang novel berjudul “ayat-ayat Cinta” yang heboh itu. Pertanyaan saya ….
1. Apa ada hubungan dengan Katolik Roma? karena mereka meyakini sebagai mata rantai langsung dari Jemaat Mula Mula.
2. Apakah Baptisannya juga sah menurut Gereja Katolik Roma?
3. Banyak tradisi mereka yang diadopsi oleh agama Islam, kok bisa ya, malah Agama Islam lebih mendominasi?
4. Apa benar ada tradisi syalat (dengan 7 waktu) pada jemaat mula-mula?

Untuk lebih jelasnya saya kutipkan langsung. atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.
Tuhan Yesus memberkati, Georgius

Jawaban:

Shalom Georgius,

Terima kasih untuk pertanyaannya tentang gereja Koptik dan bahkan ulasan tentang cerita “Ayat-ayat Cinta”. (kami menyertakan kutipannya di bawah artikel ini) Kami belum pernah menonton ataupun membaca cerita yang dimaksud, dan baru membaca ringkasannya melalui surat anda. Maka demikianlah tanggapan kami atas pertanyaan anda:

1. Tentang hubungan gereja Koptik dengan Gereja Katolik.

Sejarah mencatat bahwa Gereja Alexandria yang menjadi pusat penyebaran ke Mesir didirikan oleh St. Markus Pengarang Injil. Sampai pada tahun 381 para Patriarkh Alexandria memang mengambil tempat kedua setelah Uskup Roma. Kepemimpinan Patriarkh Alexandria ini mencapai puncaknya pada masa St. Cyril/ Sirilus (412-444) dengan pengajaran yang menjelaskan ke-Allahan Kristus. Namun kemudian penerus St. Cyril yaitu Dioscurus (444-451) mengikuti pengajaran Euthyches menyebabkan gereja Alexandria diguncang oleh bidaah Monophysite yang menentang kemanusiaan Yesus, dengan mengajarkan bahwa hanya ada satu kodrat dalam Kristus, yaitu ke-Allahan-Nya (Menurut bidaah ini, sebelum inkarnasi terdapat dua kodrat, namun setelah inkarnasi hanya satu. Namun ajaran ini: 1) tidak sesuai dengan maksud inkarnasi yaitu Sabda yang menjelma menjadi manusia, dan juga2)  ajaran ini mensyaratkan bahwa sebelum inkarnasi, tubuh dan jiwa Kristus sebagai manusia sudah ada, dan ini tidak mungkin).

Dengan adanya bidaah ini, maka Gereja Alexandria (Koptik) terpisah menjadi dua, yaitu yang Katolik (kemudian dikenal sebagai Melchites), dan yang Monophysites (kemudian dikenal sebagai Jacobites), yang mengikuti bidaah Dioscurus. Pertikaian antara keduanya ini kemudian menjadikan Gereja di sana menjadi lemah. Pada saat inilah yaitu sekitar abad ke-7, agama Islam masuk. Kasus Photius (879) dan Michael Caerularius (1048-58) juga kemudian memperuncing perpecahan gereja Timur Alexandria dengan Gereja Barat/Latin di Roma.

Namun di antara Patriarkh Alexandria tersebut ada yang merujuk kepada Roma, walaupun pada saat itu baik Melchites maupun Jacobites belum ada yang resmi bersatu dengan Roma. Demi usaha persatuan yang dilakukan oleh para patriarkh tersebut inilah maka pada jaman pemerintahan Paus Innocent III (1198-1216) diadakan Patriarkh Latin di Alexandria, yaitu pada tahun 1215 walaupun keberadaannya hanya bertahan sepanjang waktu dominasi Latin di kerajaan Byzantine.

Selanjutnya, pada tahun 1895 Paus Leo XIII mendirikan Patriarkh Koptik dengan pusat Minieh dan Luksor, untuk Gereja-gereja Koptik yang berada dalam persatuan dengan Roma. Gereja inilah yang akhirnya termasuk dalam salah satu dari 22 Gereja-gereja Timur dalam persekutuan dengan Gereja Katolik (Roma), silakan klik di sini untuk melihat lebih lanjut mengenai ke -22 Gereja Timur ini.

Maka, di Mesir sekarang ini, memang terdapat Gereja- gereja yang berada dalam persatuan dengan Gereja Katolik, maupun gereja Orthodox yang tidak mengakui kepemimpinan Roma.

Kami tidak mengetahui,  gereja Koptik yang mana yang diambil sebagai back-ground dalam kisah “Ayat-ayat Cinta” tersebut. Namun apapun gereja yang diambil, sesungguhnya harus tetap diakui bahwa film tersebut merupakan kisah fiktif, dan karenanya penyampaiannya juga bisa distortif. Hal serupa misalnya terjadi pada pengambilan sejarah Gereja yang disampaikan secara distortif pada film Da Vinci Code. Tetapi karena keduanya merupakan kisah fiktif, maka tak ada yang perlu kita risaukan.

2. Apakah Baptisan Gereja Koptik dapat dianggap sah?

Gereja Koptik yang ada dalam persatuan dengan Gereja Katolik merupakan bagian dari Gereja Katolik, sehingga baptisannya sah.

Sedangkan untuk baptisan gereja Koptik yang Ortodox, maka untuk mengetahui sah atau tidaknya, kita memakai rumusan KGK 1256, yaitu sejauh Pembaptisan itu dilakukan dengan intensi/ maksud yang sama dengan Gereja Katolik, dan dilakukan dengan materia dan forma yang benar yaitu: dengan air dan dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, maka baptisan dapat dianggap sah.

3. Tradisi mereka diadopsi oleh agama Islam, dan kemudian malah Islam mendominasi.

Sejarah menunjukkan bahwa pada waktu terjadinya bidah Monophysite, maka kepercayaan umat menjadi ‘simpang siur’, sehingga sulitnya diperoleh pengajaran yang benar, terutama pada kaum awam, karena secara prosentase, kaum yang mengikuti bidaah Monophysite (Jacobites) lebih banyak daripada yang setia kepada pengajaran para rasul (Melchites). Bidaah Monophysites yang mengajarkan bahwa setelah inkarnasi Yesus hanya mempunyai kodrat sebagai Allah, menimbulkan kebingungan kepada umat, yang sebelumnya memperoleh pengajaran bahwa Kristus adalah sungguh- sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Maka dalam kesimpangsiuran ini, pengajaran Islam memperoleh momentum sehingga kemudian mendominasi di sana, yang tentu kita ketahui, bahwa mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Allah.

Sebagai tambahan: Kesimpangsiuran tentang bidaah Monophysite ini sebenarnya telah dijernihkan dalam Konsili di Chacedon 451, di mana pengajaran dari Paus Leo Agung dibacakan, yaitu bahwa Kristus mempunyai dua kodrat, yang tidak tercampur baur, tanpa perubahan, tidak dapat dibagi-bagi dan dipisahkan…. Ia menjadi satu Pribadi dan satu hakikat, tidak terbagi di antara dua pribadi, namun kedua kodrat itu membentuk Pribadi Yesus yang unik, satu dan sama.

Memang untuk mengerti pengajaran ini diperlukan kerendahan hati untuk mengakui misteri Allah di dalam diri Kristus. Yesus Kritus mempunyai anugerah kesatuan hypostatik/ “hypostatic union” antara Allah dan manusia di dalam Pribadi-Nya pada saat Ia menjelma menjadi manusia. Sepanjang sejarah, memang terlihat bagaimana orang ingin menyederhanakan misteri ini, sehingga timbullah bermacam- macam bidah di sepanjang sejarah Gereja.

4. Mengenai tradisi shalat/ berdoa 7 waktu, memang telah menjadi tradisi jemaat mula-mula, yang juga dipraktekkan di dalam biara-biara, dan kebanyakan masih diterapkan sampai saat ini. Silakan klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang hal ini. Namun sekarang berdoa 7 kali ini tidak diharuskan bagi kaum awam, sekalipun tentu saja, jika ada yang mau mengikutinya, ini sungguh merupakan kebiasaan yang sangat baik.

Yang memang dianjurkan oelh Gereja adalah berdoa minimal di pagi dan sore/ malam hari, dan doa sebelum dan sesudah makan. Selanjutnya adalah kebiasaan yang baik, jika dalam doa pagi atau malam hari umat beriman dapat merenungkan Alkitab, berdoa meditasi ataupun devosi, seperti rosario, dst. Juga dianjurkan bagi yang dapat melakukannya, agar mengikuti juga misa harian di gereja, dan mengembangkan kebiasaan berdoa singkat sepanjang hari. Dengan kebiasaan ini, maka hubungan kedekatan dengan Allah yang ingin dicapai dengan berdoa 7 kali tersebut, tetap dapat dipenuhi dengan cara yang lain, yang dapat dilakukan oleh semua orang.

Demikian penjelasan kami tentang pertanyaan anda, semoga ada manfaatnya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid dan Stef- www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

21 Comments

    • Shalom Laizenly,

      Kita boleh menerima Komuni Kudus di Gereja-gereja Timur Katolik, termasuk Gereja Koptik Katolik. Silakan membaca di sini, daftar Gereja-gereja Timur Katolik, silakan klik.

      Gereja Katolik mengakui kesahan sakramen-sakramen yang diberikan oleh Gereja Orthodox (termasuk Koptik Orthodox), namun ketentuannya adalah, hanya jika dalam keadaan yang mendesak, baru seorang Katolik dapat diperbolehkan menerima Komuni Kudus di gereja Timur non-Katolik tersebut, asalkan dihindarkan bahaya kesesatan ataupun sikap meremehkan/ ketidakpedulian (indiferentisme). Keadaan mendesak ini misalnya, jika tidak memungkinkan bagi orang itu menemui imam Katolik untuk menerima Komuni kudus, seperti misalnya ia pergi ke suatu negara/ tempat di mana sukar sekali dijumpai gedung gereja Katolik, atau gereja Katolik terdekat sangat jauh letaknya.

      Ketentuan dari Kitab Hukum Kanonik 1983 tentang hal ini adalah demikian:

      KHK 844    § 1     Para pelayan katolik menerimakan sakramen- sakramen secara licit hanya kepada orang-orang beriman katolik, yang memang juga hanya menerimanya secara licit dari pelayan katolik, dengan tetap berlaku ketentuan § 2, § 3 dan § 4 kanon ini dan Kanon 861 § 2.

      § 2     Setiap kali keadaan mendesak atau manfaat rohani benar-benar menganjurkan, dan asal tercegah bahaya kesesatan atau indiferentisme, orang beriman kristiani yang secara fisik atau moril tidak mungkin menghadap pelayan katolik, diperbolehkan menerima sakramen tobat, Ekaristi serta pengurapan orang sakit dari pelayan-pelayan tidak katolik, jika dalam Gereja mereka sakramen-sakramen tersebut adalah sah.

      § 3    Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.

      § 4     Jika ada bahaya mati atau menurut penilaian Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup ada keperluan berat lain yang mendesak, pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tersebut juga kepada orang-orang kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, dan tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri serta secara sukarela memintanya, asalkan mengenai sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman katolik dan berdisposisi baik.

      § 5     Untuk kasus-kasus yang disebut dalam § 2, § 3 dan § 4, Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup jangan mengeluarkan norma- norma umum, kecuali setelah mengadakan konsultasi dengan otoritas yang berwenang, sekurang-kurangnya otoritas setempat dari Gereja atau jemaat tidak katolik yang bersangkutan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  1. salam damai sejahtera katolisitas.

    apakah pengajaran/kotbah dari bpk Bambang Noorsena merupakan ajaran katolik/sesuai dengan iman katolik-roma?
    karena dilihhat dari beliau berkotbah beliau mengatasnamakan gereja purba, bapa2 greja,konsili2 dll sesuai dengan kekatolikan.
    saya sendiri sih enjoy mendengarnya. tp takutnya tidak sesuai dengan ajaran Greja katolik. {meskipun selama yg saya lihat sih masih selaras dengan kekatolikan-roma}..

    terimakasih,
    semoga Bapa, Putra dan Roh Kudus selalu beserta kita. amin.

    • Shalom Komi,

      Jika kita ingin menilai apakah suatu pengajaran itu sesuai dengan ajaran iman Katolik atau tidak, lihatlah apakah ajaran itu sesuai seluruhnya/sepenuhnya dengan ajaran Magisterium Gereja Katolik. Jika ya, maka ajaran itu adalah ajaran iman Katolik. Kami di Katolisitas tidak dalam kapasitas memberi penilaian akan ajaran yang dilakukan oleh seorang tokoh tertentu. Silakan Anda menilainya sendiri dengan berpegang kepada prinsip di atas. Sebab Gereja Katolik tidak menolak adanya sinar kebenaran yang diajarkan oleh agama-agama lain, namun tetap berpegang bahwa kepenuhan kebenaran ada dalam Gereja Katolik (lih. Konsili Vatikan II, Nostra Aetate 2, Unitatis Redintegratio 3). Dengan demikian, Gereja menganggap bahwa sinar kebenaran yang ada di agama-agama lain atau gereja-gereja lain itu sebagai persiapan bagi seseorang untuk menerima kepenuhannya dalam Gereja Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Maaf saya awam mau tanya sedikit tentang Gereja Koptik (yg bukan dibawah Roma). Saya pernah baca tulisan tentang Gereja Koptik, disitu dituliskan bahwa Gereja Koptik percaya bahwa Yesus bukan Tuhan tapi sebagai Nabi saja, pertanyaan saya apakah gereja Koptik memang percaya seperti ini benar?

    [Dari Katolisitas: Dari situs Coptic Orthodox Church di sini, silakan klik, dikatakan bahwa Gereja Koptik percaya akan Allah Tritunggal Mahakudus, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan bahwa Yesus adalah Sang JuruSelamat dunia. Tepatnya demikianlah yang tertulis di situs tersebut:
    "The Coptic Orthodox Church believes that the Holy Trinity: God The Father, God The Son, and God The Holy Spirit, are equal to each other in one unity; and that Jesus Christ is the only Savior of the world."
    Maka nampaknya tidak benar, kalau dikatakan bahwa gereja Koptik Orthodoks tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.]

  3. Dear Katolisitas,

    Saya membaca di link ini: [dari Katolisitas: link kami hapus]

    link di atas berisi tentang Konsili Yerusalem, dan sejarah Nasrani eseni.
    beberapa point penting:
    1. Kekristenan yg ada sekarang menurut mereka tidak sesuai dengan gereja mula2
    2. kitab Nasrani sesungguhnya pesita (93 kitab) bukan vulgata (66 kitab +deutrokanonika)
    3. jemaat bunda diberikan kepada Yakub Hatzadik bukan Simon Petrus.

    Bagaimana tanggapan Katolisitas tentang ke tiga hal tersebut?

    Salam

    • Shalom Aida Bella,

      Gereja Katolik dengan berpegang kepada Kitab Suci, mengajarkan bahwa Kristus mendirikan hanya satu Gereja, dan Gereja itu didirikan-Nya di atas Rasul Petrus (Mat 16:18). Kami percaya bahwa Kitab Suci menuliskan kebenaran, dan karena itu kami tidak berpegang kepada tulisan- tulisan lainnya yang tidak dapat dibuktikan sebagai tulisan yang otentik berasal dari para rasul. Injil Thoma yang dipakai sebagai dasar dalam argumen Anda, tidak termasuk dalam Kitab Suci Kristiani, maka tidak dapat kami diskusikan di sini, karena kami tidak menerimanya sebagai tulisan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus untuk menjadi pustaka iman (deposit of faith).

      Dengan prinsip ini saya menanggapi secara garis besar tuduhan tersebut:

      1. Kekristenan yang ada sekarang menurut mereka tidak sesuai dengan gereja mula- mula?

      Tergantung dari mana kita melihatnya. Sebab karena konteks zamannya berbeda, maka tentu tidak dapat dikatakan keadaan jemaat Kristen sama antara Gereja zaman sekaranng dan Gereja mula- mula. Pada jaman abad- abad awal, banyak jemaat mengalami penganiayaan dari pihak penguasa, banyak dari mereka dibunuh karena mengimani Kristus. Sekarang, walau penganiayaan itu masih terjadi di negara- negara tertentu, namun di banyak negara, Kekristenan diizinkan eksis tanpa ancaman. Namun dari segi ajaran imannya, sesungguhnya Gereja Katolik merupakan Gereja yang setia mempertahankan ajaran iman dari Kristus dan para rasul, baik ajaran yang tertulis (Kitab Suci), maupun yang tidak tertulis (Tradisi Suci). Prinsip ajaran iman ini tidak berubah dari jemaat awal sampai sekarang.

      2. Kitab Nasrani sesungguhnya pesita (93 kitab) bukan vulgata (66 kitab +deutrokanonika)?

      Nampaknya kelompok yang berpegang kepada lebih banyak kitab ini mengambil kanon PL dari para rabi Yahudi, ataupun mengambil tulisan PB yang lain, yang tidak sama dengan yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik (oleh Paus Damasus I, Konsili Hippo 393 dan Konsili Carthage 397). Gereja Katolik mengakui otoritas Paus sebagai penerus Rasul Petrus, sehingga kami menerima kanon yang ditetapkan oleh Magisterium tersebut dan tidak menerima kanon lain yang ditetapkan oleh kalangan yang lain.

      3. Jemaat bunda diberikan kepada Yakub Hatzadik bukan Simon Petrus?

      Mat 16:18 mengatakan, “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

      Jadi dari ayat ini, kita ketahui bahwa Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus, bukan di atas Rasul yang lain. Tentang mengapa setelah Gereja berdiri di Yerusalem, Rasul Petrus dan Paulus ke Roma (yang menjadi pusat dunia pada saat itu) untuk mendirikan Gereja di sana, itu sehubungan dengan pesan Kristus sendiri dalam Kis 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

      Silakan selanjutnya untuk membaca beberapa artikel di bawah ini tentang keutamaan Rasul Petrus:

      Keutamaan Petrus (1): Menurut Kitab Suci
      Keutamaan Petrus (2): Bukti sejarah tentang keberadaan Rasul Petrus di Roma
      Keutamaan Petrus (3): Tanggapan terhadap mereka yang menentang keberadaan Petrus di Roma
      Keutamaan Petrus (4): Menurut Dokumen paling awal Gereja
      Keutamaan Petrus (5): Dalam Gereja di Lima Abad Pertama

      Tentang ‘Petros’ dan ‘Petra’
      Arti kunci Rasul Petrus dan Kerajaan Surga

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Shalom,

    Lalu, apa benar Koptik ada sebelum Katolik Roma? Apakah benar ia adalah cikal bakal dari gereja Katolik? Melchites atau Katolik Roma dulu yang ada? Tapi jemaat perdana tetap dimulai oleh Yahudi?

    Terima Kasih.

    • Shalom Monic,

      Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18) mulai resmi berdiri pada saat hari raya Pentakosta. Pada awalnya Gereja ini memang hanya satu.

      Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal; atau “lengkap “. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Ini sesuai dengan amanat agung yang dikatakan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga, agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

      Nama ‘Gereja Katolik’ pertama diresmikan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Symrna 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.”  Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus; walaupun sebenarnya asal usul Gereja Katolik, tetaplah adalah Gereja yang Satu dan Sama, yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus yang resmi terbentuk di hari Pentakosta sekitar tahun 30.

      Jadi, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani, bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus. Di sini kata “Katha holos atau katholikos”; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Memang Kristus pertama- tama menugasi para rasul-Nya untuk menjadi saksi-Nya di Yerusalem, di seluruh Yudea, namun akhirnya, sampai ke seluruh dunia (lih Kis 1:8). Karena pusat dunia saat itu ialah Roma, maka Rasul Petrus dan Paulus saat itu sama- sama menuju Roma, untuk memenuhi perintah Kristus ini.

      Sedangkan gereja Koptik di Mesir, pada saat terbentuknya pertama kali oleh Rasul Markus memang merupakan gereja yang ada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik (Gereja yang satu dan sama sejak jaman para rasul). Namun kemudian pada sekitar tahun 450-an terjadi bidaah yang disebut Monophysites yang membelah gereja Koptik menjadi dua, yaitu yang mengikuti/mendekati rumusan dari ajaran bidaah Monophysites (kemudian ini dikenal sebagai Coptic Jacobites) dan yang tetap setia dengan pengajaran para rasul (disebut sebagai Melchites), sebagaimana ditegaskan kembali dalam Konsili Kalsedon (451).

      Menurut catatan ahli sejarah dan ahli Kitab Suci, Gereja Katolik di kota Roma didirikan pertama kali kemungkinan kira- kira pada tahun 42-49, saat Rasul Petrus pertama singgah di Roma. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, silakan klik.

      Namun tentang Gereja Katolik-nya sendiri sudah ada sejak hari Pentakosta (sekitar 30 AD).

      Harus diakui bahwa pada awalnya memang Gereja lahir dari kalangan umat Yahudi di Yerusalem, namun kemudian meluas kepada bangsa- bangsa lain (non- Yahudi) sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan Yesus (lih. Kis 1:8). Hal ini terlihat di jaman Gereja perdana, saat Rasul Petrus membaptis Kornelius (Kis 10); ataupun Rasul Filipus membaptis sida- sida Etiopia (lih. Kis 8: 26-40). Selanjutnya, kita melihat bagaiman Rasul Paulus menjadi rasul yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi rasul yang memberitakan Injil, terutama kepada umat non- Yahudi.

      Demikian, semoga ulasan di atas berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Saya mau tanya kenapa katholik kadang disebut kristen katholik? Apa memang berbeda dengan katholik?
    Bukan nya zaman doeloe hanya ada kata kristen? Terima kasih.

    Salam,
    Hamidi

    • Shalom Hamidi,

      Kadang ada orang yang memakai istilah “Kristen Katolik” dengan maksud membedakannya dengan Kristen yang non-Katolik. Istilah Kristen ini sebenarnya adalah istilah umum yang ditujukan kepada semua pengikut Kristus. Kristen atau “Christian” dipakai untuk menjabarkan para pengikut Kristus/ “the followers/ disciples of Christ” (lih. Kis 11:26). (Dengan demikian maka umat Katolik adalah juga umat Kristen).

      Sedangkan untuk nama Gereja yang dibangun di atas pengajaran Kristus dan para rasul, istilah yang dipakai oleh para jemaat pertama adalah Katha Holos, atau Gereja yang universal / Katolik. Berikut ini adalah sebagian uraiannya, yang pernah saya tuliskan dalam artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, bagian 1, silakan klik untuk membaca lebih lanjut.

      Gereja yang katolik
      (Mat 28:19-20, Why 5:9-10, KGK 830-856, LG 1)

      Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal” atau “lengkap “. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

      Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

      Nama ‘Gereja Katolik’ pertama diresmikan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya,
      “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.”
      Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

      Namun, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[3] bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos”. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Di sini kata “Katha holos atau katholikos” dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

      Maka kita ketahui bahwa umat Katolik adalah juga umat Kristen, yaitu para pengikut Kristus. Seseorang yang menjadi Katolik adalah seseorang yang berusaha mengikuti Kristus sepenuhnya, yaitu dengan menjadi anggota dari Gereja yang didirikan-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  6. Saya rasa kalau ada orang2 yang ingin membaca/belajar tentang sejarah Gereja mula2 dan schisms-nya secara detil, mereka perlu membaca dari buku2/litelature yg mungkin tidak tersedia dalam bahasa indonesia? Soalnya saya pernah mencari buku2 tentang Kekristenan Timur, namun gag ada kata penjualnya. Padahal, untuk mengerti ke-universalan Gereja, perkembangan Gereja dan kekristenan, maupun agar iman semakin teguh, informasi-informasi ini bs berguna.

    Saya rasa Gereja Koptik babtisannya sah, karena mereka mengakui Konsili Nicea-Konstantinopel. Maka mestinya baptisannya pun dgn rumusan Tritunggal.

    Di bukunya Adrian Nichols OP, yang mengutip Adrian Fortecue dll, ttg Rome and the Eastern Churches: A Study of Schism, dia menjelaskan cukup panjang lebar bahwa akar bidaah Monofisit pun berkembang dari 2 sekolah teologi yang berbeda (Alexandria dan Antiokh), dimana linguistic, politik, bahasa, dll bermain peran selain teologi. Dari sini menjadi jelas, namun ruwet, bagaimana peran emperor, paus, patriakh, teologians, etc dalam perkembangan suatu ajaran/bidaah, dan bagaimana akhirnya skisma ini benar2 dapat terjadi. Beda sekali dengan bidaah yang dibawa Martin Luther…

    Interesting bahwa Paus Paulus VI dan Patriarch Mar ignatius Jacob III (Jacobites) setuju bahwa tidak ada perbedaan di dalam iman yang mereka percayai tentang misteri Firman Allah yang menjadi daging/manusia, bahkan apabila telah muncul pergumulan2 selama berabad2 tentang perbedaan dalam EksPreSi teologi yang mereka imani. (DC LXIX 1600 (1972)).

  7. SYALLOM Pak STEF/ Ibu INGGRID…..

    Salam damai… ni Pertama kalinya sy masuk ke web ni & sekiranya sy tersilap kata or pertanyaan, sila tegor ya… sebenarnya sy sememangnya Umat Kristian Roman katolik tetapi sy ada sedikit “Kelemahan” dlm asal usul Hukum-hukum Katolik… Bole kah ajar sy secara mendalam & ni seolan sy yg inginkan ada jawapan :

    1. apakah 5 Hukum Gereja katolik?
    2. apakah 7 Hukum Cintakasih?

    sy brharap Pak & Ibu dapat terangkan soalan sy ni…. terima kasih & Berkat Cintakasih kepada Pak & Ibu

    • Shalom Gabriel,
      1. Lima perintah Gereja adalah berhubungan dengan perintah ke-3 dalam ke 10 perintah Allah yaitu, Kuduskanlah hari Tuhan.
      Kelima perintah Gereja ini adalah:
      1) Rayakan hari raya yang disamakan dengan hari Minggu.
      2) Ikutilah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan pada hari raya yang diwajibkan; dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.
      3) Berpuasa dan berpantanglah pada hari yang ditentukan
      4) Mengaku dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun
      5) Menyambut Tubuh Tuhan pada Masa Paskah

      Sumber : Puji Syukur no 7
      Nihil Obstat : Dr. A.M Sutrisnaatmaka, M.S.F
      Imprimatur : BI Pujaraharja
      2. Sedangkan ketujuh hukum kebajikan (the seven principal virtues) adalah:
      1) Kerendahan hati
      2) Ketaatan
      3) Kesabaran, kelemahlembutan, kedamaian
      4) Kemurahan hati
      5) Kewajaran dalam makan dan minum
      6) Kemurnian
      7) Rajin dalam melakukan apa yang baik.
      Sumber: The Catechism Explained, oleh Sprago-Clarke, (Illinois, USA:TAN Books and Publishers, 1993)
      Nihil Obstat: Arthur J Scanlan STD;
      Imprimatur: Patrick J Hayes, D.D Archbishop of New York
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • maav,, saya bukan seorang katolik, tp sy ingin sedikit bertanya..

        1. Perintah ke-3 dalam Decalogue adalah ” Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat”, dimana telah disepakati bahwa sabat=sabtu, bukan minggu.

        tapi mengapa 2 poin dari 5 hukum gereja katolik ini (1. Rayakan hari raya yang disamakan dengan hari Minggu. 2. Ikutilah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan pada hari raya yang diwajibkan; dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu ) samasekali tidak mengkuduskan hari Sabat?

        terima kasih sebelumnya.

        [dari katolisitas: silakan melihat diskusi ini - silakan klik]
        be blessed..

  8. Julius Santoso on

    Salam Kasih Dalam Tuhan Yesus Kristus.
    Terima kasih atas ulasan tentang Kristen Koptik.
    Didalam Kristen awal ada suatu sekte yang namanya sekte orang Nasrani yang dianggap sering menimbulkan kekacauan bagi orang Yahudi.
    ” Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani”. (Kis 24:5).
    Didalam kitabnya orang Muslim, dibanyak ayat, penganut ajaran Kristus disenut orang Nasrani, sedangkan di Antiokhia orang-orang menyebut Kristen” (Kis 11:26).

    Dapatkan Ibu Inggrid memberikan penjelasan :
    1. Mengapa orang Nasrani pada saat itu sering melakukan kekacauan ?.
    2. Sekte orang Nasrani itu siapa dan mengapa disebut Nasrani?.
    3. Apakah ada bedanya Sekte orang Nasrani dan Kristen ?.

    Terima kasih atas penjelasannya.
    Tuhan memberkati.
    Dari : Julius Santoso

    • Shalom Julius,

      Pertama-tama harus dipahami terlebih dahulu bahwa pemberitaan Injil oleh para rasul di abad-abad pertama memang tidak mudah, dan mengalami pertentangan dari pihak Imam-imam kepala Yahudi. Pertentangan ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa mereka (pihak imam kepala) -lah yang juga berperan kuat dalam penyaliban Yesus yang di mana mereka tidak mempercayai Yesus sebagai Mesias dan Tuhan, namun ‘hanya’ seorang dari Nazareth/ Nazorean/ Nasrani. Maka para Imam kepala tersebut menyebut para rasul dan pengikut Kristus sebagai “sekte” orang Nasrani.

      Nah sekarang, saya menjawab pertanyaan anda:

      1. Mengapa orang Nasrani pada saat itu melakukan kekacauan?

      Jika kita melihat, sebenarnya yang melakukan kekacauan adalah bukan umat Kristen/ orang Nasrani, melainkan orang-orang Yahudi yang iri hati kepada pemberitaan para rasul; sebab banyak orang Yahudi yang menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang telah berabad-abad dinantikan oleh bangsa Yahudi setelah mendengarkan pengajaran para rasul, dan ini membuat gusar orang-orang Yahudi lainnya yang tidak percaya (lih. Kis 17: 1-15), dan merekalah yang membuat keributan dan mengacaukan kota itu (ay. 5).

      Selanjutnya, dapat dimengerti mengapa pengajaran dari para rasul dapat mengakibatkan semacam perbincangan seru di antara para orang Yahudi. Pemberitaan pertama setelah Pentakosta saja mengakibatkan 3000 orang dibaptis, dan ini tentu bukanlah suatu keadaan biasa. Selanjutnya, pemberitaan para rasul juga menimbulkan pertentangan, karena misalnya, kaum Saduki tidak mempercayai adanya kebangkitan badan, sedangkan orang Farisi mempercayainya, maka jelas pada saat pengajaran para rasul, maka terjadilah pertentangan di antara kaum Saduki dan Farisi tersebut. Lalu juga bagaimana Rasul Paulus mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh melalui iman akan Kristus dan bukannya melalui sunat. Maka dapat dimengerti bahwa terdapat pula pertentangan antara jemaat yang mengikuti ajaran Paulus dengan dengan orang-orang Yahudi yang memegang teguh tradisi sunat. Namun jika kita membaca lebih lanjut, kekacauan masyarakat tersebut bukan dilakukan oleh para rasul dan para murid Kristus.

      2. Sekte orang Nasrani yang itu siapa, dan mengapa disebut Nasrani.

      Pertanyaan ini sudah saya jawab dipendahuluan tulisan saya ini, bahwa dalam Kis 24, Imam Besar Ananias dan seorang pengacara yang bernama Tertulus menghadap wali negeri yang bernama Feliks. Imam Besar dan Tertulus itu bukan pengikut Kristus, dan mereka tidak percaya kepada Kristus, sehingga mereka hanya menganggap pengikut Kristus sebagai ‘sekte’ orang Nasrani yaitu para pengikut Yesus dari Nazareth.

      3. Apakah bedanya sekte orang Nasrani dengan Kristen?

      Sebenarnya pengertian bebas dari Nasrani/ Nazorean/ Nazarene adalah “orang dari Nazareth”. Sehingga dengan pengertian ini orang-orang Nasrani dapat berarti para pengikut Yesus dari Nazareth, atau dapat pula diartikan sebagai sekte Kristen Yahudi yang tetap menyebut diri sebagai Nazoreans, ataupun sisa-sisa pengikut Yohanes Pembaptis (yang juga disebut sebagai Mandeans). Sedangkan istilah Kristen dipakai untuk mengidentifikasikan para pengikut Kristus (lih. Kis 11:26).

      Namun, dengan perintah Kristus untuk menjangkau pewartaan Injil ke seluruh dunia maka pengajaran para rasul merangkul kaum Yahudi dan juga kaum non- Yahudi. Dengan demikian, jemaat perdana sejak awal menyebut Gereja/ jemaat Kristus tersebut sebagai Gereja universal, yaitu Gereja yang katolik (ekklesia katha-holos/ katolikos). Katha holos / katolikos ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “jemaat [di] seluruh”. Dalam Kis 9:31, katha holos ini disebutkan, sehingga jika diterjemahkan seharusnya demikian, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  9. Syallom….

    Buat Saudara Inggrid dan Steff,

    Terma kasih banyak atas ulasannya….

    Jika saya renungkan….
    Betapa miskin nya saya selama ini… padahal seharusnya “orang tua” saya (GEREJA) begitu kaya…
    Tiap hari saya kemana-mana berjalan kaki… atau sedikit bergaya “hanya” dengan naik sepeda ontel…
    Kadang saya iri dengan orang lain yang naik sepeda motor, bahkan ada yang naik mobil….
    PADAHAL……
    Orang tua saya begitu kaya raya… seharusnya tidak hanya mobil… pesawat terbang atau helikopter pun punya….

    Saya sangat yakin… saudara2 saya yang lain banyak yang seperti saya… miskin sekali.. (malah ada yang meninggalkan imannya)….. miskin akan PENGETAHUAN IMAN.

    Terima kasih banyak saudaraku…. Tuhan Yesus memberkati Pak Stef dan keluarga..

    Yang pasti, aku tahu SEKARANG AKU KAYA….. TERNYATA AKU KAYA…. HAHAHAHAHA…. (maaf, ini adalah luapan rasa bahagia saya).

    Geeorgus dan keluarga.

  10. SYALLOM PAK STEF/ IBU INGGRID…..

    Damai sejahtera selalu….

    Saya baru mengetahui adanya Kristen Koptik, yang saya dapatkan dari email yang mengulas tentang novel berjudul “ayat-ayat Cinta” yang heboh itu. Pertanyaan saya ….
    1. Apa ada hubungan dengan Katolik Roma? karena mereka meyakini sebagai mata rantai langsung dari Jemaat Mula Mula.
    2. Apakah Baptisannya juga sah menurut Gereja Katolik Roma?
    3. Banyak tradisi mereka yang diadopsi oleh agama Islam, kok bisa ya, malah Agama Islam lebih mendominasi?
    4. Apa benar ada tradisi syalat (dengan 7 waktu) pada jemaat mula-mula?

    Untuk lebih jelasnya saya kutipkan langsung. atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.
    Tuhan Yesus memberkati.

    Kutipannya sbb.:

    SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM AYAT-AYAT CINTA

    [..... dari Admin Katolisitas: kami meng-edit informasi sebelumnya]
    Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA

    1. Catatan Pengantar
    Fenomena sukses film “Ayat-ayat Cinta”, arahan Hanung Brahmantyo ini adalah menarik untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini [1] dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton karena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya “sekedar ingin tahu”, karena penyambutan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

    Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik novel dan film ini? Beberapa orang berkomentar, “ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo”, tetapi ada pula yang serius mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja pribumi di Mesir, sebagai Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan “secara sambil lari” dalam film ini.

    2. Sekilas Film “Ayat-ayat Cinta”
    Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang tidak membaca novel atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo , ini:

    Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame Nafed [2] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari keluarga Kristen Koptik, digambarkan mengagumi Al-Qur’an, karena ayat-ayatnya yang dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengutarakan perasaan hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.

    Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal Indonesia , anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu disiksa “ayahnya”, dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara, karena tuduhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara Jerman. Pendekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebaskan Fahri.

    Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka. Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di bawah tekanan Bahadur, “ayah”nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah kandungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi seorang pelacur. Sementara itu, Maria sedang sakit, karena tekanan batin yang dideritanya karena Fahri telah menemukan “sungai Nil”-nya, dan dia ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria berhasil dihadirkan ke pengadilan. Kedatangannya menolong Fahri, karena ia menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di rumah Nurul, demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.

    Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya. Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia terbaring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia “membagi cinta” dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas restunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan pengorbanan Aisha. Madamme Girgis memeluk erat Aisha, ketika wanita keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit, karena tidak bisa menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras “menjaga hati”. Sementara Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit. “Ajarilah aku shalat”, ucap Maria kepada Fahri, “karena aku ingin shalat bersama kalian”. Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.

    3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir – Selayang Pandang
    Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak awal sejarah Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul Petrus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil Markus [3]. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu Kekristenan berkembang pesat di “Negeri Firaun” itu.

    Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja Ortodoks Syria, yang sejak sebelum zaman Islam sudah menggunakan bahasa Arab, terbukti dari temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria (Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai memakai bahasa Arab, berdampingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam aksara Yunani.

    Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks Koptik, masih dilestarikan tata-cara ibadah dalam penghayatan budaya Kristen mula-mula. Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab’ush shalawat) [4], Shaum al-Kabir (Puasa Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari [5], membaca Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil-yang paralel dengan Tilawat al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Anda bisa menyaksikan seorang pemuda yang komat-kamit membaca Kitab di tangannya sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur’an, tetapi juga pemuda-pemuda Koptik dengan tatto Salib di tangan [6] sedang membaca kitab Agabea. Itulah Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka alpakan, juga ketika mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke kampus.

    Informasi terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Idiom-idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak jarang pula sama atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang Kristen biasanya diawali ungkapan: Intiqala ila Amjadis samawat (Telah berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Rajiun (Sesungguhnya semua karena Allah dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi, misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.

    4. Resensi atas Novel dan Film “Ayat-ayat Cinta”
    Kalau tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang kadang-kadang kurang tepat disampaikan dalam film ini:

    4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya ……[Dari Admin Katolisitas: kami edit]

    4.2. Tradisi Kristen Koptik
    Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayatnya di-“tilawat”- kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh berbeda.

    Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat kedua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam.

    Bedanya, dalam Islam diawali dengan rumusan Basmalah: Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan dalam Kristen dengan membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

    Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada Fahri ketika ia terbaring sakit: “Ajarilah aku shalat!”, mestinya lebih baik diperjelas: “Ajarilah aku shalat secara Islam!”.

    Mengapa? Sebab kata “shalat” saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.

    Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal waktu-waktu shalat yang tujuh kali sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan “shalat jam ketiga” (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus, Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu Lail (tengah-malam). Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.

    Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai dalam bentuk Aram tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan Islam (Subuh, Dhuhr, Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar dengan salat sunnah Dhuha dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk waktu-waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam) sebagai berikut:

    1. “Salat jam pertama” (Shalat as Saat al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari antara orang mati (Markus16:2).

    2. “Salat jam ketiga” (Shalat as-Sa’at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9 pagi, yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Markus 15:25; Kisah 2:15).

    3. “Salat jam keenam” (Shalat as-Sa’at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang, yaitu waktu penyaliban Kristus (Markus 15:33, Kisah 3:30).

    4. “Salat jam kesembilan” (Shalat as-Saat at Tasiah), kira-kira jam 3 petang, untuk mengenang kematian Kristus (Markus 15:33,38; Kisah 3:1);

    5. “Salat Terbenamnya Matahari” (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan jasad Kristus (Markus15:42).

    6. “Salat waktu tidur” (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh Kristus; dan

    7. “Salat Tengah Malam” (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah jam berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya (Wahyu 3:3)[9].

    Salat Tujuh waktu (As-Sab’u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. Mengapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. “Kanonisasi (waktu-waktu) salat” (Shalat al-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam sebuah dokumen gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta’alim ar-Rusul yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M. [10]

    5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa
    Seperti komentar banyak tokoh dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, memang hasil karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa, melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-pesan keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural, sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang selama ini sering di-stigmakan oleh orang Barat.
    Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela Islam. [..... dari Admin Katolisitas: kami edit]
    6. Catatan Reflektif
    Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja. Setiap orang bebas untuk menyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa surga itu hanya “hak orang-orang Muslim”. Kalau anda tertarik dengan tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi pernahkah anda berpikir, apakah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas juga mengutarakan keyakinannya? …… [Dari Admin Katolisitas: kami edit]

    Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah? Sebaliknya, mengapa harus mengelu-elukan “Injil Yudas”, dan “The Da Vinci Code”, tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain yang tidak menyetujuinya? Katakanlah, “berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya” karena publikasi novel dan film itu?”

    Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki “lbunda Dunia” ini. Misalnya, tenda-tenda Maidah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan gratis yang dibuka di jaan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks Koptik sebagai simbol persatuan nasianal (Wihdat al- Wathani).

    Begitu juga, kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara Idul Milad ( Natal ) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling mengucapkan selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen, juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afganistan, Pakistan, dan Indonesia akhir-akhir ini, yang terkadang “lebih Arab ketimbang negara-negara Arab sendiri” [11].

    Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran film “The Fitna”, saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda menyambut film “ayat-ayat Cinta”, izinkanlah saya mengucapkan: Mabruk, (Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan gembira bila anda bergembira.

    *) Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo, Mesir.

    7. Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta Hal. 400 -[.... Dari Admin Katolisitas: kami edit]

    • Julius Santoso on

      Syalom Ibu Inggrid.
      Terima kasih atas penjelasan, namun dibenak kami masih ada ganjalan. Sebutan nasrani kepada pengikut Kristus tidaklah tepat, karena sebutan nasrani hanya suatu plesetan saja untuk sebutan orang Kristen pada jamannya arius. Juga nama Yesus dirubah menjadi Isa, pada hal dalam Alkitab disebutkan : “ .. ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

      Dalam sekte nasrani apakah tidak dimengerti sebutan orang Kristen Yahudi tetapi yang masih tetap memelihara adat istiadat dan memelihara hukum Taurat. Bahkan ada empat orang yang melakukan nazar dan Rasul Paulus mengajarkan keselamatan diperoleh melalui iman akan Kristus dan bukannya melalui sunat. Maka terdapat pula pertentangan antara jemaat yang mengikuti ajaran Paulus dengan dengan orang-orang Yahudi yang memegang teguh tradisi sunat.
      Kis 21:20 Mendengar itu mereka memuliakan Allah. Lalu mereka berkata kepada Paulus: “Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat.
      Kis 21:23 Sebab itu, lakukanlah apa yang kami katakan ini: Di antara kami ada empat orang yang bernazar.
      Kis 21:24 Bawalah mereka bersama-sama dengan engkau, lakukanlah pentahiran dirimu bersama-sama dengan mereka dan tanggunglah biaya mereka, sehingga mereka dapat mencukurkan rambutnya; maka semua orang akan tahu, bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat.

      Jadi menurut pemahaman kami bahwa sebutan nasrani adalah orang Yahudi yang telah menerima Yesus dengan tidak sepenuhnya, karena masih bertahan dan mencampur adukan dengan adat istiadat Yahudi./ Taurat Musa.

      Salam
      dari Julius Santoso.

Add Comment Register



Leave A Reply