Shalom Saudara Stef dan Inggrid, yang diberkati TUHAN
Sejak awal situs ini dibuka sy selalu menyimaknya sampai hari ini, situs ini sangat berarti bagi saya pribadi dan semoga demikian juga bagi siapa saja yang membacanya. Amin
Mohon pencerahan dari saudara berdua; Sebenarnya hal apa saja yang bisa disebut “PROFAN” , apa dasarnya hal tersebut dikatakan ‘profan’ (Alkitab, Ajaran Gereja).
Misalnya saja, acara tiup lilin ulang tahun ‘di depan’ altar gereja walaupun bukan dalam acara misa (dlm acara persekutuan doa), bagi sy hal tersebut tidak layak dan tidak boleh dilakukan, tetapi imam / pastor tampaknya tidak keberatan, jadi sebenarnya dan seharusnya bagaimana ?
Sebelum dan sesudahnya sy sampaikan banyak terima kasih atas pencerahannya.
GBU, Henry H
Shalom Henry,
Definisi “Profanitas/ profanity” (menurut New Catholic Encyclopedia, vol XI, The Catholic University of America, Washington DC, 1967, reprint 1981, p. 828):
“the irreverent use of names, or irreverent reference to attributes or qualities of God or holy persons or things held in esteem because of their relationship to God.”
Terjemahannya:
“penggunaan nama-nama yang kurang sopan atau referensi yang kurang sopan terhadap sifat-sifat dan ciri-ciri Tuhan atau orang-orang kudus atau barang-barang yang dihargai karena hubungan mereka dengan Tuhan.”
Profanity berasal dari kata Latin Pro- fanum, yang menandai sebuah sifat sesuatu yang berada di luar tempat suci, yang karenanya dimengerti sebagai sesuatu yang tidak suci.
Sedangkan menurut Kitab Suci, umat memprofan-kan nama Tuhan yang kudus jika: 1) mereka bertindak dengan cara yang tidak layak bagi kekudusan Tuhan, 2) mereka gagal untuk mengakui kekudusan-Nya, 3) mereka menghalangi orang lain untuk mengakui kekudusan Tuhan. Di dalam PL, profanitas umumnya ditimbulkan dari kebiasaan orang Israel untuk mencampur adukkan penyembahan kepada Allah dengan persembahan berhala-berhala kepada allah lain, dan ini sungguh tidak berkenan bagi Allah (lihat Im 20:3; 22:2 Yeh 36:20). Dalam kasus yang ditanyakan Henry, memang tidak ada persembahan berhala, namun prinsip utama harus dipegang, bahwa gedung gereja sebagai rumah Tuhan selayaknya hanya dipergunakan untuk memuji/ menyembah Tuhan, dan bukan acara/ kegiatan lain.
Maka dalam kasus merayakan ulang tahun di depan altar dengan memotong kue ulang tahun, saya pribadi memang merasa hal itu tidak tepat, terutama jika sebenarnya di paroki terdapat ruang aula/ ruang pertemuan yang dapat dipergunakan untuk acara tersebut, dan rasanya lebih tepat. Karena jika hal itu dilakukan, maka walaupun tanpa disengaja, orang dapat bersikap kurang menghormati tempat kudus Tuhan, yaitu altar dan tabernakel-Nya, entah dengan riuh rendah bertepuk tangan atau bersorak untuk sesuatu yang bukan ditujukan kepada Tuhan sendiri. Padahal seharusnya, jika kita berada di dalam gedung gereja di mana Kristus sendiri hadir dalam tabernakel, maka seharusnya, fokus utama umat adalah kepada Kristus yang hadir di tabernakel tersebut (dan bukan kepada kue ulang tahun).
Alangkah baiknya, jika sebelum diadakan acara tersebut diadakan pertemuan dengan Romo untuk membahas mengenai hal ini, tentu dengan semangat kasih, berembuk agar diperoleh solusi yang baik, supaya umat dapat menghargai “rumah Allah dan tabernakel-Nya” dengan penghormatan yang semestinya. Jika sudah terlanjur, ya mungkin bisa untuk lain kali diperbaiki.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org
Shalom Inggrid L,
Terima kasih untuk pencerahannya, saya semakin percaya / yakin bahwa apa yang saya lakukan tidaklah mengada-ada dan tanpa alasan. Semoga apa yang telah saudara paparkan ini bisa menjadi referensi yang berguna dan ke depan hal tersebut tidak terjadi lagi. Thanks
Salam untuk saudaraku Steph .
GBU, Henry H
Salam damai sejahtera
Setahu saya di dalam Alkitab yang pernah merayakan ulang tahun dan ditulis di Injil hanya Herodes
Sedangkan Ayub malah mengutuki hari jadinya sendiri
Salam
Mac
Shalom Machmud,
Walaupun dalam Alkitab tidak spesial secara khusus menuliskan tentang ulang tahun (kecuali ulang tahun Herodes), namun bukan berarti kita sebagai manusia tidak perlu mensyukuri rahmat ulang tahun. Hidup adalah rahmat Tuhan yang harus senantiasa kita syukuri. Dalam kisah Ayub memang Ayub pernah mengutuki hari- hari umurnya, dan bahkan bertanya kepada Tuhan, mengapa Tuhan menyebabkan ia lahir (lih. Ayb 10:18), oleh sebab besarnya sengsara yang harus ditanggungnya. Ayub mem-protes kebijaksanaan Allah karena ia tidak menangkap bahwa tujuan sengsara adalah pertobatan (lih. Ayb 36). Maka Tuhan menegurnya (lih. Ayb 38-42), dan pada saat itu Ayub bertobat dan berkata demikian kepada Allah, "Sesungguhnya aku ini terlalu kecil, jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak tidak akan kulanjutkan." (Ayb 39: 36-38). Dan sekali lagi, "Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." (Ayb 42: 6). Maka mengutuki hari ulang tahun kita, atau mengutuki hari kelahiran kita bukanlah sesuatu yang baik. Sebaliknya, kita harus melihat kehidupan sebagai rahmat. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, bahkan Injil yang kita wartakan dinamakan Injil Kehidupan (The Gospel of Life, atau Evangelium Vitae). Berikut ini saya tuliskan pembukaan dari surat ensiklik dari Bapa Paus, (EV 1):
1."INJIL KEHIDUPAN adalah berada di jantung hati pesan Yesus. [Pesan ini] diterima hari demi hari oleh Gereja, dan ini harus diwartakan dengan kesetiaan yang tak kenal takut sebagai "kabar gembira" kepada bangsa-bangsa dari segala masa dan budaya. Pada masa menjelang keselamatan, adalah Kelahiran seorang Putera yang diwartakan sebagai kabar gembira: "…Aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Luk 2:10-11). Sumber kabar kesukaan besar/ Kabar Gembira Injil adalah Kelahiran Penyelamat dunia. Namun demikian, hari Natal juga menyatakan makna kelahiran yang penuh tentang setiap kelahiran manusia, dan karena itu kesukaan yang menyertai Kelahiran sang Mesias merupakan dasar dan pemenuhan suka cita pada setiap kelahiran anak manusia ke dunia (lih. Yoh:21)."
Semoga kita semua dapat lebih mensyukuri dan menghargai karunia kehidupan yang diberikan kepada kita. Dan semoga kita dapat mewartakan Injil Kehidupan ini kepadasesama kita.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Shalom
Saudara Stef dan Inggrid, yang diberkati TUHAN
Sejak awal situs ini dibuka sy selalu menyimaknya sampai hari ini, situs ini sangat berarti bagi saya pribadi dan semoga demikian juga bagi siapa saja yang membacanya. Amin
Mohon pencerahan dari saudara berdua; Sebenarnya hal apa saja yang bisa disebut “PROFAN” , apa dasarnya hal tersebut dikatakan ‘profan’ (Alkitab, Ajaran Gereja).
Misalnya saja, acara tiup lilin ulang tahun ‘di depan’ altar gereja walaupun bukan dalam acara misa (dlm acara persekutuan doa), bagi sy hal tersebut tidak layak dan tidak boleh dilakukan, tetapi imam / pastor tampaknya tidak keberatan, jadi sebenarnya dan seharusnya bagaimana ?
Sebelum dan sesudahnya sy sampaikan banyak terima kasih atas pencerahannya.
GBU, Henry
[Dari admin Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]