Apakah Hukum Taurat Dibatalkan Yesus?

88

Banyak orang yang bingung tentang apakah Yesus membatalkan atau menggenapi Hukum Taurat. Mat 5:17 menuliskan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Mat 5:17 menuliskan bahwa Yesus tidak membatalkan Hukum Taurat namun Ef 2:15 menyatakan bahwa Yesus membatalkan Hukum Taurat, dengan menuliskan “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.” Untuk mengerti tentang hal ini, maka kita melihat terlebih dahulu 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama. St. Thomas Aquinas (ST, I-II, q. 98-108) mengatakan bahwa ada 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama, yaitu:

  1. Moral Law atau hukum moral: Hukum moral adalah bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom 2:15). Contoh dari hukum ini adalah yang tertulis di 10 perintah Allah, dimana terdiri dari dua loh batu, yang mencerminkan kasih kepada Allah (perintah 1-3) dan juga kasih kepada sesama (perintah 4-10). Hukum kodrati ini adalah hukum yang tetap mengikat (bahkan sampai sekarang) dan digenapi dengan kedatangan Kristus, karena hukum kodrati ini adalah merupakan partisipasi di dalam hukum Tuhan.
    Dalam pengertian inilah maka memang Tuhan Yesus tidak mengubah satu titikpun, sebab segala yang tertulis dalam hukum moral ini (sepuluh perintah Allah) masih berlaku sampai sekarang. Dengan prinsip ini kita melihat bahwa menguduskan hari Sabat dan memberikan persembahan perpuluhan, sesungguhnya adalah bagian dari hukum moral/ kodrat, di mana umat mempersembahkan waktu khusus (Sabat) dan hasil jerih payah (perpuluhan) kepada Allah.
  2. Ceremonial law atau hukum seremonial: sebagai suatu ekspresi untuk memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi yang juga berdasarkan prinsip hukum kodrat, seperti: hukum persembahan kurban (Im 1-12),  termasuk sunat (Kel 17:10, Im 12:3), perpuluhan (Mal 3:6-12), tentang kesakralan, proses penyucian untuk persembahan, tentang makanan, pakaian, sikap, dll. Dengan kedatangan Kristus, hukum seremonial ini tidak diberlakukan sama dengan ketentuan hukum di zaman Musa, karena sudah digenapi di dalam Kristus. Maka yang masih tetap sama adalah jiwa/  maksud utama hukum  itu diadakan, namun cara melakukannya diperbaharui oleh Kristus. Sebab Kristus sendiri adalah persembahan yang sempurna, Kristus menjadi Anak Domba Allah yang dikurbankan bagi keselamatan umat manusia. Maka persembahan yang paling berkenan kepada Allah adalah kurban kita yang dipersatukan dengan korban Kristus, dan ini dinyatakan dalam sakramen-sakramen Gereja terutama Ekaristi kudus. Demikian pula, sunat yang diperbaharui oleh Kristus dalam PB adalah sunat rohani (Rom 2:29) yaitu sakramen Baptis, dan bukan sunat jasmani.
    Penekanan kerohanian ini juga nampak dalam pengaturan persembahan; sebab persembahan perpuluhan PL disempurnakan oleh perintah untuk memberi persembahan kepada Allah dengan suka cita sesuai dengan kerelaan hati (lih. 2 Kor 9:7). Dengan demikian, maka Allah tidak lagi memberikan patokan mutlak sepuluh persen dalam hal persembahan. Pada orang-orang tertentu, “kerelaan hati dan sukacita” ini malah melebihi dari sepuluh persen. Kita ketahui dari kisah hidup para kudus, dan juga pada para imam dan biarawan dan biarawati, yang sungguh mempersembahkan segala yang mereka miliki untuk Tuhan.  Dengan demikian mereka mengikuti teladan hidup Kristus yang memberikan Diri-Nya secara total kepada Allah Bapa dan manusia.
    Demikianlah, hukum seremonial PL digenapi dalam PB oleh Kristus dan Gereja-Nya. Hukum seremonial itu tidak serta merta dibatalkan, namun dipenuhi dengan cara yang berbeda, seturut dengan kehendak Kristus yang menurunkannya kepada Gereja.
    Selanjutnya, Gereja Katolik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan juga para rasul (Petrus dan Paulus) juga tidak mempermasalahkan makanan-makanan persembahan, karena bukan yang masuk yang najis, namun yang keluar. Ulasan ini dapat melihat di jawaban ini (silakan klik ini, dan juga klik ini). Kalau kita mau terus menjalankan hukum seremonial secara konsisten, maka kita harus juga menjalankan peraturan tentang makanan yang lain, seperti larangan untuk makan babi hutan, jenis binatang di air yang tidak bersisik (ikan lele), katak, dll. (Lih Im 11).
  3. Judicial law atau hukum yudisial: Ini adalah merupakan suatu peraturan yang menetapkan hukuman/ sanksi sehingga peraturan dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, maka peraturan ini sangat rinci, terutama untuk mengatur hubungan dengan sesama, seperti: peraturan untuk penguasa, bagaimana memperlakukan orang asing, dll. Contoh dari hukum yudisial: kalau mencuri domba harus dikembalikan empat kali lipat (Kel 22:1); hukum cambuk tidak boleh lebih dari empat puluh kali (Ul 25:3); mata ganti mata, gigi ganti gigi (Kel 21:24, Im 24:20, Ul 19:21); sanksi jika hukum perpuluhan dilanggar (lih. Bil 18:26,32). Setelah kedatangan Kristus, maka judicial law ini tidak berlaku lagi. Sebab jika kita beranggapan demikian, kalau kita mau konsisten, kita juga harus menjalankan hukuman rajam, hukum cambuk, dll. Menarik bahwa Yesus tidak mengajarkan hukum yudisial, karena hal itu telah diserahkan kepada kewenangan otoritas pada saat itu. Yesus sendiri tunduk kepada kewenangan otoritas pemerintahan di zaman-Nya, yang akhirnya memutuskan untuk menyalibkan Dia.
    Di masa sekarang, hukum yudisial ditetapkan oleh penguasa/ pemerintah negara yang bersangkutan sebagai perwakilan dari Tuhan, sehingga hukum dapat ditegakkan untuk kepentingan bersama. Penggenapan PL oleh Kristus mengakibatkan dikenalnya nilai-nilai Injil secara universal di seluruh dunia. Maka prinsip martabat hak-hak azasi manusia ditegakkan secara umum di negara manapun, oleh pihak otoritas pemerintahan setempat.
    Sedangkan kewenangan disiplin di dalam kawanan Kristus diserahkan kepada Gereja, sebab Kristus telah memberikan kuasa untuk mengatur Gereja kepada para rasul (lih. Mat 18:18). Disiplin untuk mengatur Gereja ini dapat berubah sejalan dengan perkembangan waktu dan keadaan. Ini juga yang mendasari perubahan Kitab Hukum Gereja  1917 ke 1983, yang berisikan  segala ketentuan hukum yudisial ini adalah berdasarkan ajaran Kristus. Dengan Kristus sebagai penggenapan Hukum Taurat, maka tidak lagi dikenal prinsip denda, ‘mata ganti mata dan gigi ganti gigi’ (Kel 21:24, Mat 5:58) namun kembali ke pengajaran asal mula ‘kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri’ (Mat 22:39), yang disempurnakan Kristus menjadi, ‘kasihilah musuhmu’ (Mat 5:44). Pemahaman kita akan perintah kasih yang diajarkan oleh Yesus ini akan dapat lebih kita hayati setelah pertama- tama mengetahui bahwa kita harus melakukan prinsip keadilan seperti yang sangat ditekankan di dalam PL. Baru setelah kita menerapkan prinsip keadilan, kita mengetahui bahwa ajaran Kasih Kristus di PB  ternyata jauh melampaui prinsip keadilan itu.

Dengan adanya penjelasan dari St. Thomas ini, maka, kita mengetahui bahwa memang Kristus merupakan penggenapan Hukum Taurat Musa. Dan dengan peranNya sebagai penggenapan, maka Kristus tidak mengubah hukum moral, namun hukum seremonial dan yudisial yang dulu tidak berlaku lagi, karena hukum- hukum tersebut hanya merupakan ‘persiapan’ yang disyaratkan Allah agar umat-Nya dapat menerima dan menghargai kesempurnaan yang diberikan oleh Kristus.  Di sinilah arti bagaimana penggenapan Hukum Taurat memberikan kepada kita hukum kasih yang baru. Yesus tidak membatalkan hukum Taurat, sebab dengan mengenal hukum Taurat, kita akan dapat lebih memahami Hukum Kasih yang diberikan oleh Kristus. Yesus menggenapi hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, namun penggenapannya dalam Perjanjian Baru tidak harus sama persis dengan apa yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama tersebut.

Mari kita bersama membaca Kitab Suci dengan selalu memperhatikan kesatuan antara Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Jangan lupa, sekitar 2/3 Kitab Suci terdiri dari Perjanjian Lama; maka terdapat pengajaran-pengajaran di PL yang memang masih sangat relevan bagi kita untuk dikaitkan dengan PB, sehingga kita dapat semakin lebih menghargai dan menghayati penggenapannya di dalam diri Kristus Yesus Tuhan kita. Dengan pengertian ini maka Yesus memang tidak menginginkan seorangpun untuk menghilangkan satu titikpun dari hukum Taurat (lih. Mat 5:17-19), sebab Ia ingin agar kita dapat melihat secara utuh penggenapan dan penyempurnaan hukum Taurat itu dalam diri-Nya.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

88 Comments

  1. martinus_kds on

    Pak Stef dan bu Ingrid yang saya hormati,
    Berulang-ulang saya membaca tulisan di atas, tentang Penggenapan / Pembatalan hukum Taurat. Terus terang masih ada kesulitan saya untuk memahaminya.
    Apakah pengertian Penggenapan / Pembatalan hukum Taurat yang diringkas menjadi 3 macam hukum ( Hukum Moral, Hukum Seremonial dan Hukum Yudisial) justru membuat Gereja terpecah menjadi bermacam-macam denominasi? Contoh : Pengertian tentang persembahan perpuluhan, menjaga hari Sabat, tentang makanan haram dan halal dan lain sebagainya.
    Mohon kalau bisa lebih diperjelas lagi uraian tentang Hukum Moral, Hukum Seremonial dan Hukum Yudisial.

    • Shalom Martinus,

      Perpecahan gereja bukan disebabkan karena tiga macam hukum yang ada di dalam Perjanjian Lama, melainkan karena otoritas. Ketika manusia membuang otoritas, maka sungguh sulit mengetahui pokok-pokok iman yang sungguh-sungguh benar, karena ada begitu banyak subyektifitas dalam menginterpretasikan Kitab Suci. Mohon dijelaskan di bagian mana yang masih membingungkan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • martinus_kds on

        Pak Stef, terima kasih atas tanggapannya.
        Bagian yg masih membuat saya bingung adalah dalam penjelasan Hukum Moral. Dalam Hukum Moral dikatakan sebagai hukum kodrati dan tetap mengikat, diantaranya adalah menghormati hari sabat dan perpuluhan.
        Namun di gereja kita tidak mewajibkan perpuluhan dan menghormati hari sabat layaknya orang yahudi. Hal ini bisa saya mengerti karena ada penjelasannya di situs katolisitas.org. Pdahal penjelasan tentang Hukum Moral ini ditulis oleh St. Thomas Aquinas, dan dikatakan sebagai hukum kodrati dan tetap mengikat. Inilah yg membuat saya bingung.
        Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatian pak Stef terhadap pertanyaan-pertanyaan saya.

        • Shalom Martinus,

          Hukum moral memang hukum yang mengikat, karena dituliskan di dalam hati nurani manusia. (lih. Rom 2:15), yang dapat disarikan sebagai mengasihi Allah dan sesama. Bentuk mengasihi Allah dalam PL adalah beribadah hari Sabat dan pada PB adalah beribadah pada hari Minggu – hari Kebangkitan Kristus. Dengan kata lain, hukum moral tetap mengikat, yaitu kuduskanlah hari Tuhan. Demikian juga dengan perpuluhan. Hukum moralnya adalah mengasihi sesama, yang diwujudkan dengan pemberian harta kita, yang kalau memang diperlukan Gereja Katolik dapat menentukan besarannya. Jadi, hukum moralnya adalah sama, yaitu kita ingin mengasihi sesama, dengan cara berbagi. Diskusi tentang perpuluhan dapat dilihat di sini – silakan klik. Semoga keterangan singkat ini dapat memperjelas.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

      • Diskusi Lanjutan Tentang Tiga Jenis Hukum Versi Thomas Aquinas
        1. Ada benarnya bahwa perpecahan dalam gereja merupakan akibat dari “pembuangan” otoritas. Namun di lain pihak dari sejarah objektif , nampaknya perpecahan gereja juga disebabkan oleh karena gereja mengutamakan hukum seremonial yang temporer pada abad ke 16, misalnya soal simoni.
        Apakah kesan ini benar?
        2. Apakah dapat dikatakan bahwa gereja katolik mempunyai juga hukum seremonial yang merupakan aplikasi dari hukum seremonial perjanjian lama? Hal ini terlihat dalam berbagai berbagai pernak pernik aturan liturgi, yang diambil dari kitab suci? Contoh konkrit : pendupaan yang oleh saudara seiman non katolik mungkin dianggap aneh dan menjadi semacam “penyembahan berhala” oleh mereka?
        3. Dalam kaitan dengan hukum judisial, bagaimana memosisikan KUH Pidana, KUH Acara Pidana, KUH Perdata yang berlaku di Indonesia?
        4. Apakah ada studi khusus yang dilakukan gereja dalam mengevaluasi berbagai isi KUH-KUH yang dimaksud di atas dengan berdasarkan sinar hukum moral kitab suci?
        5. Di lain pihak , pernah ada seorang Romo dalam diskusi siaran langsung lewat radio, yang mengatakan hukum moral (sepuluh perintah Allah) tidak cukup bagi umat katolik. Bagaimana memahami pernyataan Romo tersebut?

        • Shalom Herman Jay,

          1. Apakah Gereja mengutamakan hukum seremonial maka terjadi perpecahan di abad ke-16?

          Anda menyebutkan simoni sebagai salah satu contoh hukum seremonial tersebut. Sejujurnya saya tidak sepaham dengan penggunaan istilah ‘simoni’ sebagai contoh hukum seremonial. Sebab menurut Katekismus, simoni mempunyai konotasi negatif, sebab berkaitan dengan jual beli barang-barang/ hal-hal yang bersifat rohani:

          KGK 2121    Simoni terdiri dari penjualan atau pembelian barang-barang rohani. Kepada Simon tukang sihir, yang hendak membeli kekuasaan rohani yang menurut penglihatannya bekerja di dalam para Rasul, santo Petrus berkata: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang” (Kis 8:20). Ia berpegang pada kata-kata Yesus: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8, Bdk. Yes 55:1). Orang tidak dapat mencaplok barang-barang rohani dan berbuat seakan-akan ialah pemilik dan tuannya, karena mereka berasal dari Allah. Orang hanya dapat menerimanya sebagai hadiah dari Allah.

          Maka, tidak benar jika Gereja Katolik mengajarkan simoni. Gereja tidak memperkenankan adanya jual beli holy oil, ataupun rosario yang sudah diberkati, misalnya. Demikian juga perayaan Ekaristi tidak boleh diadakan demi uang. Namun bahwa umat diperkenankan untuk turut berbuat amal kasih dengan menyumbang demi keperluan Gereja, itu sudah nyata sejak zaman Gereja awal. Kristus sendiri memuji janda miskin yang menyumbangkan nafkahnya di bait Allah (Mk 12:41-44; Lk 21:1-4). Dengan demikian, memberi sumbangan adalah salah satu jenis perbuatan amal kasih yang diperbolehkan dan bahkan diajarkan oleh Kristus dan para rasul (lih. 2Kor 9:7). Selanjutnya, kita juga mengetahui bahwa adalah hak para pelayan Allah untuk dapat hidup dari pelayanannya itu (lih. 1Kor 9: 13-14). Maka praktek memberikan stipendium kepada imam, yang kira-kira bernilai satu kali makan malam, adalah sesuatu yang wajar untuk diberikan kepada imam setiap kali ia memimpin perayaan Ekaristi. Ini bukan praktek simoni, tetapi hanya memberikan apa yang memang menjadi hak dari pelayan Tuhan, sebagaimana diizinkan dalam Kitab Suci.

          Nah, maka nampaknya yang dipermasalahkan oleh sejumlah orang mungkin adalah tentang indulgensi. Memang saat itu (tahun 1517) gencar dikhotbahkan tentang indulgensi di Jerman, yang konon dimaksudkan untuk memperoleh dana bagi pembangunan basilika St. Petrus di Roma. Tentang dasar pengajaran tentang Indulgensi, silakan klik di sini. Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa indulgensi dapat dibeli ataupun diperoleh dengan uang. Namun Gereja mengajarkan bahwa seorang umat beriman mendapatkan indulgensi dengan: 1) perbuatan kasih, 2) perbuatan baik: doa, berpuasa, dan memberikan sedekah/ derma, yang semuanya harus dilakukan dengan disposisi hati yang benar. Maka, hanya dengan memberi sejumlah uang, seseorang tidak dapat memperoleh indulgensi. Namun jika ia memberi uang atas dasar kasih, ia dapat memperoleh indulgensi. Sebab derma (almsgiving) menjadi salah satu ungkapan perbuatan kasih (lih. Mat 6:2). Sebagaimana telah disebut di atas, Yesus sendiri memuji persembahan janda miskin, bukan karena janda itu memberikan uang, namun karena disposisi hatinya. Maka persyaratan perolehan indulgensi yang disyaratkan oleh Gereja adalah “disposisi hati yang benar”.

          Sayangnya, sepertinya penekanan kepada disposisi hati yang benar ini kurang ditekankan. Ini nampak dari kesalahpahaman Luther tentang indulgensi, yang nampak dalam ke- 95 theses yang ditulisnya. Sesaat sebelum Luther protes, pengkhotbah Dominikan, Johann Tetzel yang diutus berkhotbah di Juterbog, Jerman, membuat pantun yang memang dapat membuat orang salah paham, yang intinya seperti ini, “Begitu terdengar bunyi koin di kotak sumbangan, bangkitlah jiwa menuju surga.” Maka kesannya seolah-olah orang didorong untuk menyumbang supaya dapat masuk surga. Padahal, jika kita membaca tentang ajaran indulgensi, terlihat bahwa yang dihapuskan dengan indulgensi itu adalah siksa dosa temporal dari dosa-dosa yang sudah diampuni (melalui Sakramen Tobat) dan bukan membebaskan seseorang dari siksa dosa dari dosa yang belum terjadi. Juga, ajaran indulgensi tidak mengajarkan bahwa dengan hanya menyumbang, tanpa sikap batin yang baik, maka jiwa orang yang telah meninggal yang didoakan otomatis langsung masuk ke surga. Maka, di sini yang mungkin kurang tepat adalah penggunaan pantun itu dalam khotbah Tetzel, namun ajaran tentang Indulgensi-nya tidak salah. Gereja Katolik tetap mengajarkan bahwa Yang mengampuni dosa tetaplah Kristus, melalui para imam-Nya, dan perbuatan apapun tidak dapat menggantikan peran Kristus itu untuk mengampuni dan menyelamatkan seseorang. Yang diperoleh dari indulgensi ‘hanyalah’ penghapusan siksa dosa yang harus ditanggung seseorang, dari dosa yang sudah diampuni oleh Tuhan Yesus. 

          Dari kesalahpahaman terhadap khotbah Tetzel ini, dan kemungkinan juga adanya penyimpangan di lapangan sehubungan dengan penerapan ajaran indulgensi inilah, Martin Luther mengeluarkan protesnya. Dalam 95 thesis yang diletakkan di pintu gereja tersebut tak lama setelah Tetzel datang, thesis no.27 Luther memprotes pantun Tetzel, dan thesis no. 50 dan 86 memprotes pembangunan basilika St. Petrus. Namun Luther sendiri sebenarnya tidak menolak prinsip pengajaran tentang indulgensi; ia hanya menentang penerapannya. Thesis no. 49 membuktikan hal ini di mana Luther mengatakan bahwa indulgensi sebenarnya “berguna”. (Sumber: Martin Luther, Disputation of Doctor Martin Luther on the Power and Efficacy of Indulgences, 1517, Project Wittenberg, 2 July 2008). Dan kemudian beberapa konsili, the Councils of Fourth Lateran [1215], Lyons [1245 and 1274] and Vienne [1311-1312]. Kemungkinan untuk menghapuskan kesalahpahaman serupa, maka di Konsili Trente [1545-1563], Paus Pius V membatalkan segala peraturan indulgensi yang melibatkan transaksi keuangan. Maka sampai sekarang, derma tidak termasuk dalam perbuatan yang disyaratkan untuk memperoleh indulgensi. Namun demikian, Gereja tetap mempunyai kuasa untuk melepaskan umat dari siksa dosa temporal akibat dari dosa-dosa yang sudah diakui dalam Sakramen Pengakuan Dosa.

          Jadi indulgensi tidak pernah diperjualbelikan/ “for sale” seperti yang dituduhkan. Meskipun indulgensi pada jaman Paus Leo X dapat diperoleh dengan menyumbang, namun jangan lupa bahwa hati yang bertobat, dan segala persyaratan religius lainnya harus ditepati agar indulgensi tersebut dapat sah diberikan. Jadi bukan semacam membeli surat dan setelah itu dosa diampuni. Sebab sebelum menerima indulgensi, seseorang harus tetap mengaku dosa dan menerima sakramen Tobat, dan juga memenuhi persyaratan religius lainnya. Maka, indulgensi bukan untuk menggantikan peran sakramen Pengakuan Dosa maupun silih dosa/ penance yang diberikan kepada umat pada sakramen tersebut oleh imam.

          Selanjutnya tentang bagaimana untuk memperoleh Indulgensi, silakan klik di sini. Dan sekilas tentang bagaimana sampai Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik, silakan klik di sini.

          2. Apakah hukum seremonial Perjanjian Lama ada dalam Gereja Katolik?

          Telah disampaikan di atas, bahwa Kristus telah menggenapi Perjanjian Lama, dan bahwa penggenapan-Nya tetap hidup di sepanjang segala abad melibatkan Gereja-Nya. Maka prinsip seremonial dalam Perjanjian Lama tetap ada walaupun digenapi dalam Perjanjian Baru dengan cara yang berbeda, yaitu melalui sakramen-sakramen Gereja. Dalam sakramen itu, khususnya dalam Ekaristi, Kristus bertindak sebagai Imam dan Kurban bagi keselamatan umat manusia. Tentang penggambaran Ekaristi dalam Perjanjian Lama, silakan klik. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa perayaan sakramen telah mempunyai gambarannya dalam Perjanjian Lama.

          Nah, tentang penggunaan ukupan sebagai salah satu ungkapan penyembahan ataupun doa kepada Allah, itu disebutkan tidak hanya dalam kitab Perjanjian Lama, tetapi juga dalam Kitab Wahyu, yang menggambarkan tentang bagaimana para orang kudus di Surga juga berdoa dengan menggunakan ukupan. Maka berdoa dengan menggunakan ukupan tidak berkonotasi menyembah berhala, sebab jika demikian tentu hal ini tidak dicatat sebagai cara doa para orang kudus di di hadapan tahta Allah. Selanjutnya tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

          3&4. Berkaitan dengan hukum yudisial, bagaimana memposisikan KUH yang berlaku di Indonesia? Apakah ada studi khusus tentang evaluasi hukum-hukum tersebut berdasarkan hukum moral Kitab Suci?

          Seperti telah disampaikan di atas, Kristus melalui teladan hidup-Nya menunjukkan ketaatan-Nya kepada pihak penguasa negeri. Demikianlah Rasul Paulus mengajarkan agar kita taat kepada tuan/ pemerintah kita di dunia dan mendoakan mereka (lih. Rom 13:1-7; Ef 6:5, 1Tim 2:1-2). St. Thomas Aquinas kemudian mengajarkan prinsip bahwa sejauh peraturan hukum dibuat oleh pihak otoritas yang sah dan peraturan itu sesuai dengan ajaran iman kita, maka kita wajib taat terhadap peraturan-peraturan tersebut.

          Nah, saya bukan ahli hukum, sehingga saya tidak bisa memberikan review tentang isi KUH di Indonesia jika dibandingkan dengan Kitab Suci. Namun mari kita pegang prinsipnya, yaitu bahwa hukum moral yang tercantum dalam kesepuluh perintah Allah merupakan hukum kodrat yang sebenarnya telah diukir Allah dalam hati manusia. Maka adalah wajar, jika prinsip keadilan dan perlindungan terhadap martabat manusia, yang diajarkan oleh hukum moral Kesepuluh Perintah Allah itu melandasi penetapan aturan-aturan- aturan KUH.

          Namun untuk studi detail perbandingan tentang satu-persatu butir hukum KUH terhadap hukum moral (Kesepuluh perintah Allah), saya belum pernah mengetahuinya. Silakan bertanya kepada pihak yang lebih memahami tentang hal ini.

          5. Hukum moral (sepuluh perintah Allah) tidak cukup bagi umat Katolik?

          Hukum moral dalam Sepuluh Perintah Allah merupakan hukum kodrat yang kemudian dirangkum oleh Kristus menjadi dua perintah utama, yaitu kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu manusia (lih. Mat 22: 37-39; Mrk 12:30-31; Luk 10:27). Kedua hukum kasih ini digenapi secara sempurna oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Maka kita umat Katolik melihatnya begini: yaitu bahwa sepuluh perintah Allah adalah dasar bagi hukum moral, namun dengan digenapinya hukum moral itu secara sempurna oleh Kristus maka kita tetap harus mengacu kepada teladan Kristus untuk dapat melaksanakan perintah Allah tersebut. Dalam artian inilah, menurut hemat saya, Romo tersebut mengatakan bahwa hukum moral (Sepuluh Perintah Allah) tidak cukup. Sebab toh pada kenyataannya, sesudah memberikan Sabda-Nya di atas loh batu itu, Allah sendiri memutuskan agar Sang Sabda itu menjadi manusia, di dalam diri Kristus. Ini adalah suatu fakta bahwa Allah sendiri menganggap bahwa Kesepuluh Perintah Allah itu merupakan suatu Sabda yang masih harus digenapi, agar dapat semakin dapat dipahami dan dilaksanakan oleh kita umat-Nya. Dan agar Sabda Allah bukan hanya tinggal sebagai huruf- huruf untuk ditaati tetapi agar Sang Sabda itu dapat menjelma menjadi manusia oleh kuasa Roh Kudus-Nya. Dan setelah wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga, oleh kuasa Roh Kudus yang sama, Sang Sabda itu dapat selalu hadir dalam rupa roti dan anggur, sebagai santapan rohani bagi kita umat-Nya. Dan dengan menyambut Sang Sabda dan Roti Hidup ini, kita dapat beroleh hidup yang kekal sebagaimana dijanjikan-Nya (lih Yoh 6: 54).

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Selamat siang, Admin Katolisitas.
    Saya ingin menanggapi artikel ini.

    1. Pembagian hukum taurat menjadi 3 jenis ini merupakan hasil pemikiran St. Aquinas, seseorang dari abad ke-13. Apakah memang pada awalnya hukum taurat dibagi menjadi tiga jenis seperti itu? Bisa tolong tunjukkan ayat-ayat Alkitab perjanjian lama yang menunjukkan hal itu?

    2. Apakah Yesus sendiri juga mengajarkan hukum taurat terbagi-bagi? Sepertinya saya tidak menemukan satu ayat pun perkataan Yesus yang membagi-bagi hukum taurat menjadi tiga bagian seperti di atas.

    3. Pada Matius 5: 19 Yesus berkata; “Siapa yang meniadakan salah satu hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian, ia akan menduduki tempat paling rendah di Sorga.” saya rasa ayat ini mengatakan bahwa hukum taurat tidak boleh dikurang-kurangi satu pun. Lebih lanjut lagi, ketika Yesus menegur para ahli farisi pada Matius 23: 23, Yesus berkata “yang satu harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan.” Bagaimana tanggapan anda?

    4. Kontraskan dengan pernyataan Paulus pada Efesus 2: 15; “sebab dengan mati-Nya di salib, Dia telah membatalkan hukum taurat dan segala ketentuannya”. Pada ayat ini Paulus mengatakan segala ketentuannya. Dia tidak bicara soal pembagian hukum taurat sebagaimana ditulis di atas. Bagaimana tanggapan anda?

    Terima kasih sebelumnya.

    • Shalom Bogoro,

      1. Pembagian hukum taurat menjadi 3 jenis ini adalah hasil pemikiran St. Thomas di abad ke 13? Apakah sejak awalnya memang terbagi sedemikian? Mana bukti ayatnya?

      Pembagian hukum Taurat menjadi tiga kelompok ini memang adalah pemikiran dari St. Thomas Aquinas, namun pemikiran ini bukannya tanpa dasar. Sebab pada saat diberikannya dalam Kitab Suci, memang sudah terdapat adanya pengelompokan ini, walaupun tidak disebutkan secara eksplisit. St. Thomas hanya memperjelas pengelompokan ini, sehingga Gereja dapat semakin melihat korelasinya dengan penggenapan hukum Taurat di dalam Yesus Kristus yang menjadi benang merah dari segala ketentuan yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Sebab apapun yang diajarkan oleh para nabi semuanya mengarah kepada Kristus (Kis 10:43), sebagai penggenapannya.

      Kitab Suci menunjukkan bahwa hukum moral tidak pernah berubah, yaitu Sepuluh Perintah Allah. Hukum Sepuluh Perintah Allah yang mendasari hukum Taurat, ini diberikan dalam kelompok yang tersendiri (lih. Kel 20; dan Ul 5), yang terpisah dengan aturan-aturan lainnya. Kitab Suci juga menuliskan Kesepuluh Perintah Allah ini dalam suatu perikop tersendiri, yang diberi judul “Kesepuluh Firman”, sebagaimana disebutkan dalam Kel 34:28. Walaupun pembagian ayat dan perikop Kitab Suci baru diadakan di sekitar abad 16, hal ini tidak mengubah fakta bahwa sang pengarang Kitab Suci sejak awalnya telah mengelompokkan hukum Taurat ini dengan menggunakan istilah “firman” yang mengacu kepada Sepuluh Perintah Allah; dan istilah “peraturan-peraturan”, yang mengacu kepada peraturan-peraturan lain yang mengikuti kesepuluh firman itu. Peraturan-peraturan lain itu merupakan: 1) penjabaran dari prinsip yang sudah disebutkan dalam kesepuluh firman, ataupun 2) aturan tentang sanksi, jika ketentuan itu dilanggar (lih. Kel 21-23:1-13) ataupun 3) penjabaran tentang bagaimana penyembahan/ penghormatan kepada Allah ditunjukkan dalam ibadat (hal-hal seremonial) (lih. Kel 23:14-33; Kel 24- 31; Im 1-12).

      Maka Gereja sejak awal sudah mengenali adanya pembedaan kesepuluh perintah Allah ini dari berbagai ketentuan lainnya. Memang, adalah fakta bahwa dalam Kitab Suci tidak disebutkan secara eksplisit penomoran Kesepuluh Firman itu, sehingga para Bapa Gereja mempunyai cara pengelompokan yang berbeda. Gereja Katolik dan Lutheran mengikuti pengelompokan yang diajarkan oleh St. Agustinus, sedangkan gereja-gereja non-Katolik lainnya mengikuti rumusan Origen. Gereja Katolik berpegang kepada prinsip ajaran St. Agustinus, karena lebih konsisten dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci.

      Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Terlepas dari apapun rumusan yang dijadikan sebagai acuan, dalam kesepuluh hukum moral ini, tidak disebutkan adanya detail persyaratan ibadat (yang kemudian disebut oleh St. Thomas sebagai hukum seremonial) maupun detail persyaratan sanksi/ hukuman atas pelanggaran (yang kemudian disebut oleh St. Thomas sebagai hukum yudisial). Kesepuluh Firman inilah yang kemudian dirangkum oleh Yesus sendiri menjadi hanya dua perintah utama, yaitu: Kasihilah Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia (lih. Mat 22:37; Mrk 12:30; Luk 10:27).

      2. Apakah Yesus mengajarkan hukum Taurat terbagi-bagi, menjadi tiga bagian?

      Yesus itu adalah Sang Firman Allah yang menjadi manusia (lih. Yoh 1:14), oleh karena itu, Yesus itu mengatasi hukum Taurat, dan kedatangan-Nya bukan untuk menjabarkan ulang hukum Taurat secara rinci, melainkan untuk menggenapinya. Penggenapan ini ditunjukkan dengan bahwa Yesus sendiri menaati hukum Taurat, namun juga dengan Ia merangkumnya, menjadi dua perintah utama, yaitu perintah untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama (lih. Mat 22:37; Mrk 12:30; Luk 10:27); ataupun dengan menjabarkannya dalam rumusan yang berbeda, seperti dalam Delapan Sabda Bahagia (lih. Mat 5). Maka, selain menjelaskan inti utama dari hukum Taurat (yaitu hukum kasih), Yesus juga mengajarkan kesempurnaan penerapannya, yaitu dengan pemberian diri seutuhnya, sebagaimana diajarkannya kepada orang muda yang kaya (Mat 19:21), ajaran tentang persembahan janda miskin (Mrk 12:44), dan terutama dengan teladan pemberian diri-Nya di kayu salib. Jadi yang diajarkan oleh Yesus dalam Perjanjian Baru, memang bukan semata mengulangi pengajaran sepuluh perintah Allah ataupun menekankan aturan-aturan selanjutnya, melainkan menyampaikan inti yang menjiwai seluruh perintah Allah, yaitu hukum kasih dalam kesempurnaannya.

      Maka Anda benar, memang Yesus tidak menyebutkan  secara eksplisit pengelompokan hukum Taurat menjadi tiga bagian. Namun demikian, Yesus sekilas menyebutkan sejumlah perintah taurat yang utama (lih. Mat 19:18-19). Di ayat-ayat itu, Yesus kurang lebih mengacu kepada sejumlah perintah dalam kesepuluh perintah Allah. Sedangkan tentang peraturan- peraturan lain di luar sepuluh perintah Allah, seperti tentang hal seremonial (tentang kurban penyembahan di bait Allah dst) maupun hal sanksi pelanggaran hukum seperti yang tertulis dalam Perjanjian Lama, memang tidak diajarkan secara eksplisit oleh Yesus. Yesus tidak berkhotbah tentang persyaratan kurban di bait Allah, yang secara rinci sekali disebutkan dalam kitab Imamat, misalnya. Sebaliknya, malah Yesus mengecam penerapan persembahan perpuluhan selasih dan berbagai sayuran, jika azas keadilan dan belas kasih Allah yang lebih penting, malah diabaikan (lih. Mat 23:23; Luk 11:42). Dari sini kita mengetahui bahwa Yesus sendiri mengelompokkan hukum Taurat: ada hukum yang prinsip/ terpenting, yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan, dan ada hukum turunannya, yang mengalir dari prinsip itu, (seperti perpuluhan, larangan bekerja pada hari Sabat, ketentuan merayakan hari raya Yahudi, dst.), yang tidak setara tingkatannya dengan hukum prinsip tersebut.

      Demikian juga mengenai sanksi/ hukuman atas pelanggaran. Dapat dikatakan bahwa Yesus tidak mengajarkan kembali aturan sanksi/ hukuman seperti yang berlaku dalam Perjanjian Lama. Yesus tidak mengajarkan “mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Kel 21:24, Mat 5:38), melainkan agar kita memberikan pipi kiri jika ditampar pipi kanan. Maksudnya, agar kita tidak membalas orang yang berbuat jahat kepada kita, namun agar kita mengasihi orang-orang yang membenci kita (Mat 5:44). Juga atas prinsip belas kasihan, Yesus tidak mengajarkan agar perempuan yang kedapatan berzinah untuk dihukum rajam, namun Yesus mengampuninya, dengan memperingati agar ia tidak berbuat dosa lagi (lih. Yoh 8:11). Dengan ayat-ayat ini, Kristus mengajarkan bagaimana Ia memperbaharui peraturan-peraturan tentang sanksi/ hukuman yang berlaku dalam Perjanjian Lama. Yesus menghendaki kita pertama-tama mengutamakan belas kasihan, walaupun juga terus mengusahakan keadilan. Yesus mengajarkan tentang jiwa yang menghidupi sebuah peraturan dan bukan semata apa yang tertulis secara hurufiah dalam peraturan. Sebab jika jiwanya dipahami, maka apa yang hurufiah tertulis menjadi dapat dilakukan.

      3 & 4. Bagaimana menjelaskan perkataan Yesus, “Siapa yang meniadakan salah satu hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian, ia akan menduduki tempat paling rendah di Sorga” (Mat 5:19). Dan juga, “yang satu harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan.” (Mat 23:23) Sedangkan dalam suratnya Rasul Paulus mengajarkan, “sebab dengan mati-Nya di salib, Dia telah membatalkan hukum taurat dan segala ketentuannya.” (Ef 2:19).

      Silakan membaca tanggapan terhadap pertanyaan ini, di artikel ini yang baru saja ditayangkan, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Terima kasih sudah menanggapi, Bu. Namun saya masih kurang puas dengan tanggapan Ibu. Maka dari itu, saya ingin menanggapi sebagai berikut:

        1. Penjelasan mengenai penggenapan hukum taurat dan pembagian hukum taurat menjadi 3 jenis sudah sangat jelas bagi saya. Namun Ibu belum menjelaskan maksud dari nats Matius 23:23 yang menyatakan “yang satu harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan”. Menurut pemahaman saya, frasa “yang satu” dari ayat itu merujuk pada hukum seremonial, sedangkan frasa “yang lain” merujuk pada hukum kodrati. Saya berpikir demikian karena pada ayat tersebut Yesus mengkritik orang Farisi yang cuma menerapkan persepuluhan (hukum seremonial) tetapi tidak melakukan keadilan (hukum kodrati). Memang dari sini dapat dilihat bahwa ada perbedaan antara hukum kodrati dengan hukum seremonial. Tetapi atas hukum seremonial itu Yesus berkata “yang satu harus dilakukan”. Bukankah itu artinya Yesus sendiri memerintahkan pengikutnya untuk tetap melakukan hukum seremonial?

        2. Ibu juga belum secara rinci menjelaskan makna nats Matius 5:19. Apakah dapat dipastikan frasa “yang paling kecil” pada nats tersebut adalah salah satu dari dekalog dan bukan merujuk pada hukum seremonial atau yudisial? Kalau memang frasa “yang paling kecil” tersebut merujuk pada salah satu dekalog, hukum mana dari dekalog tersebut yang paling kecil? Mohon sambil ditunjukkan bukti ayatnya.

        3. Ibu menyimpulkan bahwa pada Efesus 2:15 Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa Yesus berniat membatalkan seluruh hukum taurat, tetapi hanya hukum seremonial dan yudisial saja. Apakah ibu bisa menunjukkan pada saya ayat-ayat tulisan Paulus yang menyatakan bahwa dia masih mengakui adanya hukum kodrati? Apakah Paulus juga mengajarkan secara rinci mengenai hukum seremonial dan hukum yudisial?

        Demikan dulu tanggapan dari saya. Saya juga memohon agar Ibu dapat menjelaskan sedetil-detilnya agar saya dapat merasa jelas dengan topik ini dan dapat melanjutkan dengan topik lainnya. Tidak masalah apabila Ibu menjawab dengan sangat panjang. Saya pasti akan mempelajarinya.

        Terima kasih.

        • Shalom Bogoro,

          1. Mat 23:23 menyatakan: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

          Dalam bahasa Inggris (RSV), dikatakan demikian: “Woe to you, scribes and Pharisees, hypocrites! for you tithe mint and dill and cummin, and have neglected the weightier matters of the law, justice and mercy and faith; these you ought to have done, without neglecting the others.

          Dalam A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard, dijelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah, bahwa Tuhan Yesus mengharuskan hal-hal yang lebih penting dari hukum Taurat, yaitu keadilan, belas kasih dan kesetiaan, tanpa mengabaikan hukum lainnya. (Sebab kata ‘these‘ itu mengacu kepada hal yang baru saja disebutkan sebelumnya, yaitu, ‘the weightier matters of the law, justice and mercy and faith‘). Maka dalam hal ini, Yesus mengajarkan bahwa yang harus dilakukan pertama-tama adalah hukum moral -yang berdasarkan prinsip keadilan, belas kasih dan kesetiaan- namun tanpa mengabaikan hukum seremonial.

          Nah, setelah wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga, hukum Taurat Perjanjian Lama (PL) diperbaharui dalam hukum Perjanjian Baru (PB). Hukum moral atas dasar keadilan, belas kasih dan iman, tetap berlaku, namun hukum seremonial dan yudisial tidak lagi dipenuhi dengan cara yang sama dengan ketentuan PL. Sebab hukum seremonial PL dimaksudkan sebagai hukum yang mempersiapkan bangsa Israel untuk dapat menerima penggenapannya dalam diri Kristus, sebagai satu-satunya Kurban yang sempurna, dan Imam Agung yang Tertinggi, yang memperbaharui cara penyembahan yang sempurna kepada Allah. Sedangkan hukum yudisial PL dimaksudkan sebagai hukum yang mempersiapkan umat-Nya untuk menerima prinsip hukum yang adil yang kemudian dipercayakan Tuhan kepada para pemimpin negara – untuk masalah-masalah umum kemasyarakatan- dan kepada para pemimpin Gereja untuk masalah-masalah yang menyangkut hal internal Gereja.

          Dengan demikian, Yesus tidak mengajarkan untuk mengabaikan hukum seremonial. Pada saat Yesus belum memperbaharuinya dengan wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga, memang hukum seremonial tetap berlaku seperti ketentuan PL. Itulah sebabnya, Yesus-pun tetap disunat, dan Yesus tetap turut merayakan hari-hari raya bangsa Israel dengan ketentuannya dan Ia tidak menentang orang-orang melakukan persembahan persepuluhan maupun kurban di bait Allah. Namun setelah wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga, hukum seremonial PL digenapi dengan cara yang lebih sempurna, sebab segala kurban PL telah disempurnakan di dalam Kristus. Kristus adalah Sang Korban yang sempurna, Sang Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Kristus juga adalah Sang Imam Agung yang Sempurna, yang tidak seperti imam-imam besar pada zaman PL.

          Surat kepada jemaat Ibrani mengatakan,

          “Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.” (Ibr 7:26-28)

          Sebab pelayanan para imam PL hanyalah merupakan gambaran dan bayangan akan apa yang ada di Sorga, yang digenapi dalam Kristus:

          “…. kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. Sekiranya Ia di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan menurut hukum Taurat. Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: “Ingatlah,” demikian firman-Nya, “bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.” Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi. Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua… Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.” (Ibr 8:1-7,13)

          Demikianlah, maka sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga, menunjukkan bagaimana Kristus memperbaharui Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru; di mana Ia menjadi Korban Penebus dosa umat manusia, sekaligus sebagai Imam Besar yang mempersembahkan Korban tersebut. Setelah kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke Surga, Kristus menggenapi peran perantaraan para imam PL, sebab Kristus adalah Pengantara satu-satu-Nya kepada Allah Bapa (1 Tim 2:5). Penggenapan hukum seremonial dalam PB, yang berkaitan dengan korban dan imam, secara nyata terlihat dalam perayaan Ekaristi, di mana Kristus sebagai Kepala melaksanakan peran Pengantaraan yang satu-satu-nya itu, dalam kesatuan dengan anggota- anggota-Nya. Oleh kuasa Roh Kudus, Korban Kristus yang satu-satunya itu dihadirkan kembali, melalui perkataan Sabda Allah yang diucapkan oleh imam-Nya; untuk mendatangkan buah-buahnya demi keselamatan umat manusia. Di dalam korban Kristuslah, segala korban Perjanjian Lama – baik korban hewan, maupun korban selasih dan jintan-memperoleh penggenapan makna yang sesungguhnya. Sebab Kristus menghendaki bahwa umat-Nya mempersembahkan kurban -sebagaimana dulu mereka mempersembahkan kurban, termasuk persembahan selasih dan jintan- untuk dipersatukan dengan Korban Diri-Nya, dalam Korban Ekaristi, agar mereka memperoleh buah-buahnya demi keselamatan.

          2. Mat 5:18-19: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”

          Ayat Mat 5:19, seyogyanya dibaca dalam kesatuan dengan ayat sebelumnya, yaitu Mat 5:18. Memang tidak dikatakan di ayat-ayat tersebut, bahwa ‘perintah hukum Taurat yang paling kecil’ itu mengacu kepada hukum moral, seremonial ataupun yudisial. Menurut St. Thomas Aquinas, Rabanus yang Terberkati mengajarkan bahwa dengan menyebutkan ‘iota’, Yesus secara samar-samar mengacu kepada Dekalog (Sepuluh perintah Allah), sebab iota dalam bahasa Yunani mewakili angka sepuluh. Silakan membaca kembali artikel ini, silakan klik. Namun meskipun diartikan demikian, tidak dapat dikatakan bahwa bagian terkecil dari perintah hukum Taurat (ay. 19), itu hanya terbatas kepada hukum moral/ Dekalog. Sebab Kristus memang tidak meniadakan hukum seremonial maupun yudisial, namun dengan wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga, Ia menggenapi hukum tersebut dengan cara yang berbeda dengan ketentuan PL. Hukum seremonial yang tadinya memisahkan bangsa Yahudi dari bangsa lainnya, kini diubah menjadi hukum yang menyatukan bangsa Yahudi dengan bangsa-bangsa lain. Maka Rasul Paulus berkata, “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.” (Ef 2:15).

          Maka kata kunci untuk memahami maksud Mat 5:18-19, nampaknya bukan hanya frasa “yang paling kecil”, namun juga “meniadakan”. Sebab Kristus memang tidak meniadakan hukum Taurat namun menggenapi semua hukum Taurat itu, walaupun dengan cara yang berbeda dengan ketentuan PL. Dengan kurban salib-Nya, Kristus menggenapi ketentuan yang terpenting yang mendasari seluruh hukum Taurat, yaitu “keadilan, belas kasih dan kesetiaan” (Mat 23:23). Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa Kristus menggenapi seluruh hukum Taurat sampai sekecil-kecilnya, dan bahwa satu iotapun dari hukum Taurat itu tidak ditiadakan.

          3. Ef 2:15 tidak terpisahkan dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, yang mengisahkan adanya hukum Taurat yang memisahkan antara bangsa Yahudi dengan bangsa-bangsa lain, secara khusus adalah hukum sunat (lih. Ef 2:11). Nah, hukum sunat jasmani ini kemudian diperbaharui dalam PB dengan Baptisan, yang bermakna sebagai sunat rohani, sebab makna sunat yang sesungguhnya adalah bukan hanya penanggalan kulit jasmani, melainkan penanggalan keseluruhan manusia lama dengan dosa-dosanya, agar dapat turut dibangkitkan di dalam Kristus:

          “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati…” (Kol 2:11-12)

          Berikut ini adalah tanggapan saya terhadap pertanyaan Anda:

          Apakah ibu bisa menunjukkan pada saya ayat-ayat tulisan Paulus yang menyatakan bahwa dia masih mengakui adanya hukum kodrati?

          Rasul Paulus tetap mengajarkan hukum kodrati/ hukum moral sebagaimana tertulis dalam Dekalog, walaupun ia tidak merumuskannya dengan cara dan urutan yang sama, contohnya:

          1. Gal 5:19-24: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -seperti yang telah kubuat dahulu- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” 

          1 Kor 6:9-10:

          “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

          Ef 4:25:”Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.”

          Ef 4:28: “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi….”

          Di ayat-ayat di atas, disebutkan beberapa prinsip dari Dekalog: perintah ke-1, ke-5, ke-6, ke-7, ke-8, ke-9, ke-10.

          2. Ef 6:1-2:

          “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu -ini adalah suatu perintah yang penting…” 

          Ini menyebutkan perintah ke-4 dalam Dekalog.

          3. Kis 20:7:

          “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ …”

          Ini mengacu kepada perintah ke-3 dalam Dekalog, di mana jemaat berkumpul di hari pertama dalam minggu (yaitu hari Minggu) untuk menguduskan hari Tuhan dengan memecah-mecahkan roti.

          4. 2 Kor 1:23:

          “Tetapi aku memanggil Allah sebagai saksiku -Ia mengenal aku- bahwa sebabnya aku tidak datang ke Korintus ialah untuk menyayangkan kamu.”

          Gal 1:20:

          “Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta.”

          Ini mengacu kepada perintah ke-2 dalam Dekalog, yang melarang orang menyebut nama Allah/ bersumpah (memanggil Allah sebagai saksi) dengan sembarangan. Namun dalam hal ini, untuk meneguhkan apa yang dituliskan dalam surat-suratnya sebagai kebenaran, Rasul Paulus memanggil Allah sebagai saksi, untuk memberikan contoh kepada jemaat, bahwa dalam perkara tertentu yang benar dan legitim, sumpah menggarisbawahi hubungan antara perkataan manusia dengan kebenaran Tuhan.

          Apakah Paulus juga mengajarkan secara rinci mengenai hukum seremonial dan hukum yudisial?

          Telah diuraikan di atas, bahwa hukum seremonial dan yudisial telah diperbaharui oleh wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga. Kuasa untuk menentukan bagaimana menerapkan hukum ini telah diberikan Kristus kepada para Rasul-Nya (lih. Mat 16:18-20; 18:18). Ini nyata dari keputusan Sidang para Rasul (Konsili) di Yerusalem yang membahas tentang perlu atau tidaknya sunat bagi orang-orang bukan Yahudi yang mau menjadi Kristen. Para Rasul dalam Konsili tersebut, yang diwakili oleh Rasul Petrus, akhirnya memutuskan bahwa sunat tidak menjadi keharusan/ syarat bagi orang-orang non-Yahudi tersebut yang ingin menjadi Kristen (lih. Kis 15).

          Sedangkan untuk hukum yudisial, Rasul Paulus mengajarkan bahwa kita harus taat kepada para pemimpin, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” (Ibr 13:17) Sebab pemberian sangsi/ hukum yudisial merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dari pihak para pemimpin untuk menjaga keadilan dan ketertiban dalam keseluruhan anggota yang dipercayakan kepada mereka.

          Demikianlah maka pemimpin Gereja yang merupakan penerus dari para Rasul itu, diberi kuasa oleh Kristus untuk memutuskan hal-hal seremonial dan yudisial, berdasarkan prinsip-prinsip hukum moral. Ini terlihat dalam perayaan sakramen-sakramen, maupun dalam hukum Gereja, yang semuanya mengalir dari prinsip utama yang diajarkan oleh Kristus, yaitu prinsip keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Sedangkan hukum moral sendiri, memang tetap berlaku, sebagaimana tertulis dalam Dekalog, dan juga dalam banyak ayat-ayat dalam PB.

          Semoga penjelasan ini menjawab pertanyaan Anda.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Terima kasih atas tanggapannya, Bu Ingrid. Tanggapan Ibu benar-benar telah membuat saya mengerti. Namun sebelum melangkah ke topik selanjutnya, ijinkan saya bertanya beberapa hal demi memastikan bahwa jawaban Ibu punya dasar yang kuat. Dalam penjelasan di atas, Ibu mengatakan:

            “Sebab hukum seremonial PL dimaksudkan sebagai hukum yang mempersiapkan bangsa Israel untuk dapat menerima penggenapannya dalam diri Kristus, sebagai satu-satunya Kurban yang sempurna, dan Imam Agung yang Tertinggi, yang memperbaharui cara penyembahan yang sempurna kepada Allah.”
            Bisa tolong berikan dasar ayat perjanjian lama atas pernyataan ini? Karena apabila pernyataan ini hanya didasarkan pada perjanjian baru, bisa saja itu hanya akal-akalan para Rasul.

            “Sedangkan hukum yudisial PL dimaksudkan sebagai hukum yang mempersiapkan umat-Nya untuk menerima prinsip hukum yang adil yang kemudian dipercayakan Tuhan kepada para pemimpin negara – untuk masalah-masalah umum kemasyarakatan- dan kepada para pemimpin Gereja untuk masalah-masalah yang menyangkut hal internal Gereja.”
            Begitu juga dengan pernyataan ini. Bisa tolong berikan dasar ayat perjanjian lamanya?
            Terima kasih, sebelumnya.

            • Shalom Bogoro,

              Ayat Perjanjian Lama yang samar-samar menyampaikan nubuatan tentang Kristus, sebagai Kurban yang kudus yang akan dipersembahkan oleh bangsa-bangsa (artinya termasuk bangsa- bangsa non Yahudi), adalah dari Kitab Maleakhi, demikian:

              “Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam.” (Mal 1:11)

              Di sini dikatakan/ dinubuatkan bahwa setiap hari dari terbitnya matahari sampai terbenamnya (artinya selamanya, sampai akhir zaman, selama matahari masih terbit dan terbenam) akan dipersembahkan kurban yang tahir bagi nama Tuhan, sebab nama-Nya besar di antara bangsa- bangsa, artinya tidak saja bagi bangsa Yahudi. Dan Kurban yang tahir itu sempurna tergenapi di dalam Kristus Sang Anak Domba Allah yang tiada bernoda dan tiada bercacat (lih. 1Ptr 1:19). Gambaran ini digenapi dalam kurban Ekaristi yang dipersembahkan oleh Gereja Katolik di seluruh dunia, sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya. Oleh kuasa Roh Kudus, Gereja menghadirkan kembali kurban Kristus yang satu-satunya itu untuk mendatangkan buah keselamatan bagi umat-Nya.

              Selanjutnya tentang gambaran mengenai Ekaristi yang telah samar-samar dinyatakan dalam Perjanjian Lama, silakan membaca artikel ini, silakan klik.

              Dalam Perjanjian Lama, memang hukum yudisial diberlakukan, untuk mengatur sangsi bagi pelanggaran hukum moral sebagaimana dikenal sebagai hukum Taurat. Penegakan hukum, termasuk hukum sangsi dilaksanakan oleh para pemimpin. Dalam prakteknya, peran kepemimpinan bangsa Israel dilakukan oleh Nabi Musa dan ketujuhpuluh tua-tua Israel (Bil 11:24-30), Yosua, dan kemudian oleh hakim-hakim (1Taw 17:10) dan para nabi, sebagaimana dikehendaki Allah, seperti Eli, Samuel (1 Sam 7:15), dan seterusnya. Peran imamat dilaksanakan oleh Harun dan keturunannya (Kel 29), dan suku Lewi dikhususkan oleh Allah untuk melayani di bait Allah (Bil 1:50-51). Peran imamat ini tergenapi sempurna di dalam Yesus Kristus, yang disebut, ‘Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek’ (Mzm 110:4). Sedangkan kepemimpinan Yesus atas bangsa-bangsa, dan bahwa para raja dan pembesar/penguasa akan menghormati Dia,

              “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi. Beginilah firman TUHAN, Penebus Israel, Allahnya yang Mahakudus, kepada dia yang dihinakan orang, kepada dia yang dijijikkan bangsa-bangsa, kepada hamba penguasa-penguasa: “Raja-raja akan melihat perbuatan-Ku, lalu bangkit memberi hormat, dan pembesar-pembesar akan sujud menyembah, oleh karena TUHAN yang setia oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang memilih engkau.” (Yes 49:6-7)

              Demikianlah bahwa dari ayat ini, tergambar secara samar- samar akan Sang Hamba Allah yang kemudian menjadi Terang bagi bangsa-bangsa. Ia akan dihormati oleh para raja dan penguasa bangsa-bangsa. Raja-raja dan penguasa akan melihat perbuatan Allah dan menghormati-Nya oleh karena Ia telah memilih Hamba-Nya (yaitu Kristus). Artinya, nilai-nilai ajaran Kristus dapat diterima oleh bangsa-bangsa. Dengan demikian tergenapilah sabda Allah yang menyatakan bahwa Allah akan menanamkan hukum-Nya, atau sabda-Nya ke dalam hati manusia. “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” (Yeh 31:33) Dengan demikian, hukum Taurat (nilai-nilai hukum moral dalam ke10 perintah Allah) itu tidak semata menjadi hukum yang tertulis di loh batu, namun terpatri di dalam hati manusia sebagai hukum kodrat, yang dapat dimiliki setiap manusia. Itulah sebabnya, hati nurani manusia secara umum dapat mengenali Sang Pencipta dan terdorong untuk berbakti kepada-Nya; di manapun manusia terdorong untuk menghormati orang tua, dan mengetahui bahwa membunuh, mencuri ataupun berzinah adalah perbuatan yang salah.

              Demikianlah, memang kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada Kristus (Mat 28:18). Dan kemudian kuasa kepemimpinan Kristus itu, yaitu kuasa untuk mengajar, untuk ‘melepaskan dan mengikat’ memang diberikan oleh Kristus kepada para Rasul, sebagaimana dikatakan oleh Kristus sendiri (lih. Mat 16:18-19, 18:18). Sebab apa yang dikatakan para Rasul itu Kristus berasal dari Kristus, dan kalau kita tidak mendengarkan para Rasul, artinya kita tidak mendengarkan Kristus. Bukankah Kristus mengatakan, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku”? (Luk 10:16). Maka, jika kita percaya kepada Kristus, seharusnya kita tidak dapat mencurigai para Rasul untuk mengajarkan apa-apa yang hanya menjadi “akal-akalan” para Rasul, seperti yang Anda katakan. Perjanjian Baru ada sebagai penggenapan Perjanjian Lama. Kitab Perjanjian Baru memang berasal dari para Rasul, dan kita menerima keseluruhan Kitab Suci dari penerus Rasul (Kanon Kitab Suci ditetapkan oleh Paus Damasus di tahun 382). Maka adalah tidak logis sebenarnya, jika kita menerima Kitab Suci-nya, tetapi tidak mau menerima otoritas yang oleh-nya kita menerima keseluruhan Kitab Suci. Sebab kepemimpinan Gereja memang telah diberikan Kristus kepada para Rasul, dan para penerus mereka, sebab penyertaan Kristus kepada Gereja-Nya tidak berakhir sampai zaman para Rasul saja, tetapi sampai kepada akhir zaman (lih Mat 28:18-20). Maka mari kita menerima juga segala sesuatu yang diajarkan oleh para Rasul, baik lisan maupun tertulis (lih. 2Tes 2:15), sebab dengan demikian kita menerima keseluruhan pengajaran Kristus.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

              • Terima kasih atas jawaban dari Bu Inggrid.

                Saya sudah mendapatkan gambaran bahwa hukum seremonial bertujuan untuk mempersiapkan diri agar setiap orang dapat menerima penggenapan dari Kristus.
                Namun saya rasa kalimat Ibu yang menyatakan “Sedangkan hukum yudisial PL dimaksudkan sebagai hukum yang mempersiapkan umat-Nya untuk menerima prinsip hukum yang adil …” belum memiliki dasar yang kuat.
                Saya mengatakan ini karena Yesus sendiri malah mengubah beberapa hukum yudisial. Yesus membatalkan hukum mata ganti mata dan gigi ganti gigi, Yesus membatalkan hukum lempar batu terhadap orang yang berzinah. Jadi, bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa hukum yudisial mempersiapkan umat menerima prinsip yang adil dari Yesus? Yesus sendiri saja menganjurkan untuk tidak melakukan hukum-hukum itu.
                Nah, apa bila di Perjanjian Lama ada ayat yang mendukung pernyataan Ibu tersebut, tentunya akan lebih mudah untuk dimengerti.

                Demikian tanggapan dari saya.
                Terima kasih sebelumnya.

                • Shalom Bogoro,

                  Kitab Perjanjian Lama memang tidak mengklasifikasikan secara eksplisit adanya ketiga jenis hukum pada hukum Taurat Musa. Sebagaimana telah disampaikan di atas, ketiga klasifikasi tersebut dijabarkan oleh St. Thomas Aquinas, agar kita lebih memahami kesinambungan hukum tersebut, dengan penggenapannya di dalam Kristus dalam Perjanjian Baru. Maka klasifikasi itu dimaksudkan untuk membantu pemahaman kita, tanpa mengubah apapun yang telah disampaikan dalam Perjanjian Lama.

                  Dalam kitab Musa sendiri, Nabi Musa menubuatkan tentang Kristus sebagai Seseorang yang menyampaikan segala yang diperintahkan oleh Tuhan, dan dengan demikian menyatakan secara implisit bahwa kelak segala perintah Tuhan akan dinyatakan: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan… Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: … seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” (Ul 18:15,18)

                  Nubuat nabi Musa ini, bersama-sama dengan nubuat dari kitab-kitab para nabi lainnya, menyampaikan gambaran akan Kristus. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

                  Nah, telah diuraikan di atas, bahwa hukum moral Perjanjian Lama (yaitu Sepuluh Perintah Allah) tetap berlaku dan digenapi secara sempurna dalam kedua hukum Kristus, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama (Mat 22:37-40; Mrk 12:30-31). Sedangkan hukum seremonial dan yudisial PL digenapi dengan cara yang berbeda dalam PB. Yesus menekankan keadilan yang didasarkan atas kasih, yang menjiwai hukum tersebut. Dengan memahami prinsip kasih, maka kita diajak oleh Yesus untuk tidak semata menilai segala sesuatu dari apa yang nampak, namun kepada maksud/ prinsip keadilan dan kasih yang melatarbelakangi suatu tindakan. Contohnya adalah ketika Ia menjelaskan mengapa jika Ia menyembuhkan pada hari Sabat, Ia sesungguhnya tidak melanggar hukum (lih. Yoh 7:22-24), sebab prinsip keadilan sejati yang ingin dicapai oleh hukum itulah yang justru sedang dilakukan oleh-Nya. Yaitu sebagai Putera Allah yang mempunyai kuasa untuk menyembuhkan orang sakit, Kristus berkewajiban dan berhak untuk menyembuhkan mereka yang sangat membutuhkan kesembuhan.

                  Nah, maka Kristus memang datang untuk memperbaharui hukum Taurat Musa (Perjanjian Lama). Itulah sebabnya ada Perjanjian Baru. Secara lebih rinci kita mengetahui bagaimana Kristus memperbaharui hukum tersebut saat khotbah di bukit, dalam Delapan Sabda Bahagia dan sejumlah ketentuan lainnya, yang didasari atas prinsip keadilan dan kasih (lih. Mat 5-7). Sejujurnya, apa yang diajarkan oleh Kristus lebih mendalam daripada yang secara literal tertulis dalam hukum Taurat. Contohnya, tentang zinah. Zinah menurut hukum Musa adalah jika seseorang telah melakukan perbuatan zinah (lih. Im 20:10). Namun Yesus mengajarkan bahwa zinah itu bahkan dimulai sejak di pikiran, yaitu pada saat seseorang menginginkan seorang perempuan di dalam hatinya (lih. Mat 5:27-28). Dengan demikian, ketentuan tentang zinah dalam PL diperbaharui oleh Yesus dalam PB. Ketentuan PL diperlukan, agar umat Allah mengetahui bahwa perzinahan adalah suatu pelanggaran yang berat dan serius. Namun ketentuan PB tentang perzinahan mengajarkan kepada kita maksud yang lebih sempurna dari ketentuan PL, yaitu bahwa perzinahan itu sudah dimulai di dalam hati/ di pikiran, sehingga untuk menghindarinya, diperlukan langkah yang lebih awal, yaitu mengusahakan agar keinginan itu tidak bertumbuh di pikiran/ hati. Karena itu, bahkan Yesus menyebutkan di ayat berikutnya agar jika mata kanan menyesatkan, lebih baik mata itu dicungkil, yang merupakan ungkapan kiasan, yang menyatakan bahwa kehendak yang jahat harus ditumpas sejak awal. St. Paus Yohanes Paulus II dalam penjelasannya tentang Teologi Tubuh menjelaskan bahwa larangan tentang zinah yang disampaikan oleh Yesus dalam Mat 5:27-28, dimaksudkan agar suami dapat mengasihi istrinya dengan kasih sejati, yaitu kasih yang tidak dibagikan kepada seorang wanita yang lain, atau bahkan jika ditujukan kepada istrinya sendiri, kasih sejati itu tidak boleh hanya demi menginginkan tubuh istrinya saja. Sebab kesatuan kasih suami istri itu bukan hanya jasmani namun melibatkan keseluruhan pribadi, termasuk kesatuan jiwa (rohani) dan seluruh aspirasi dan kehendak keduanya.

                  Demikian pula selanjutnya dalam khotbah di bukit, Yesus menjelaskan maksud yang menjiwai suatu peraturan/ ketentuan, agar kita dapat memahami prinsip keadilan dan kasih yang sempurna yang dimaksudkan oleh Allah, dalam memberikan ketentuan itu. Prinsip keadilan atas dasar kasih inilah yang kemudian diterapkan oleh Gereja dalam prinsip hukumnya. Yaitu bahwa pihak yang kuat wajib menolong/ menopang yang lemah. Dan dalam pemberian sangsi berikutnya selalu diperhitungkan hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terkait, dan dengan sedapat mungkin memberikan kesempatan kepada pihak yang bersalah untuk memperbaiki diri. Kristus selanjutnya mempercayakan kepada Gereja pengaturan penerapan hukum ini, sebab kepada Gerejalah Kristus memberikan kuasa untuk mengikat dan melepaskan (lih. Mat 16:18-19), yang dapat diartikan sebagai kuasa mengajar, mengampuni dosa dan menentukan hukum mana yang mengikat atau tidak mengikat bagi jemaat. 

                  Nah, maka semoga kita dapat melihat di sini, bahwa walaupun sangsi yang ditetapkan di zaman ini tidak sama dengan sangsi yang ditetapkan di zaman Nabi Musa, namun tidak berarti bahwa prinsip ketentuan PL diabaikan. Sebab hal perzinahan, hal perbuatan jahat, hal sumpah palsu dst, adalah pelanggaran hukum moral yang tetap berlaku. Selanjutnya, Tuhan Yesus bahkan menyempurnakan hukum PL hingga ke titik yang lebih sulit untuk dilaksanakan, seperti berbuat baik kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita, mengampuni dan mengasihi musuh dan mendoakan mereka, dan agar kita berbuat baik kepada semua orang tanpa pandang bulu, sebab dengan demikian kita menjadi semakin sempurna seperti Allah Bapa di Surga (lih. Mat 5:38-48).

                  Kasih dan keadilan bagi semua orang ini menjadi prinsip ajaran sosial Gereja, yang dapat dibaca secara lebih rinci dalam banyak dokumen Gereja, secara khusus adalah Caritas in Veritate (Kasih dan Kebenaran), silakan klik.

                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                  Ingrid Listiati- katolisitas.org

                  • Terima kasih atas jawabannya, Bu Inggrid.
                    Saya masih memiliki beberapa tanggpan.

                    Apabila Yesus memang menekankan keadilan, yaitu setiap orang harus menerima sanksi yang setimpal dengan perbuatannya, bagaimana mungkin Yesus mengganti “hukum mata ganti mata gigi ganti gigi” dengan “berilah pipi kananmu apabila pipi kirimu ditampar”?
                    Mata ganti mata gigi ganti gigi jelas-jelas sangat adil. Tapi mengapa Yesus menghilangkan hukum yudisial itu?
                    Lalu kalau Yesus memang menekankan keadilan, mengapa pula Yesus menghapuskan hukum melempari pezinah? Bukankah hukum di perjanjian lama memang sudah dianggap adil?

                    Demikian tanggapan dari saya.

                    • Shalom Bogoro,

                      Fakta adanya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang tercatat dalam Kitab Suci menunjukkan adanya tahapan Wahyu ilahi yang dinyatakan Allah kepada manusia. Allah secara berangsur mempersiapkan umat-Nya yang berhati lamban dan keras, agar dapat menerima prinsip keadilan-Nya. Yaitu bahwa selalu ada konsekuensi dari segala perbuatan kita. Dalam Perjanjian Lama hal konsekuensi ini ditekankan kepada hal membayar ‘ganti rugi’ -yang diwujudkan secara lahiriah/ material- dan ini merupakan langkah awal untuk menumbuhkan rasa keadilan di tengah umat-Nya. Namun dalam Perjanjian Baru, Allah menyatakan bahwa keadilan-Nya sesungguhnya tak terpisahkan dengan kasih-Nya, dan mengarah kepada perwujudan kasih-Nya yang memuncak di dalam kurban Kristus di kayu salib, untuk menebus dosa -dosa kita. Hanya dengan memandang kepada cinta kasih Allah di dalam Kristus inilah, kita dapat sampai kepada pertobatan yang sejati dan mempunyai kekuatan untuk menolak/ membenci dosa.

                      KGK 1432    Hati manusia itu lamban dan keras. Allah harus memberi kepada manusia satu hati baru (Bdk. Yeh 36:26-27). Pertobatan itu pertama-tama adalah karya rahmat Allah, yang membalikkan hati kita kembali kepada-Nya: “Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya Tuhan, maka kami akan kembali” (Rat 5:21). Allah memberi kita kekuatan untuk mulai baru. Kalau hati kita menemukan kebesaran dan cinta Allah, ia akan diguncangkan oleh kejijikan akan dosa dan oleh beban yang disebabkan dosa. Ia mulai merasa takut, untuk mempermalukan Allah dengan dosa dan dengan demikian dipisahkan dari-Nya. Hati manusia bertobat, apabila ia melihat kepada Dia yang ditembusi dosa-dosa kita (Bdk. Yoh 19:37;Za 12:10).
                      “Marilah kita memandang darah Kristus dan mengakui, betapa bernilai itu untuk Bapa-Nya; karena dicurahkan demi keselamatan kita, ia membawa rahmat pertobatan untuk seluruh dunia” (Klemens dari Roma, Kor. 7,4).

                      Maka dalam Perjanjian Baru, hal ‘ganti rugi’ diperbaharui dan disempurnakan dengan dimensi rohaniah, yaitu pertobatan, yang menjadi tujuan sejati dari maksud diberlakukannya sanksi dari perbuatan dosa. Sebab pada hakekatnya segala pelanggaran dan dosa itu mempunyai akibat merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama. Dan untuk memperbaikinya, bukan semata denda lahiriah yang diperlukan, tetapi pertama-tama adalah perubahan hati, ‘metanoia‘, yaitu: berbalik arah kepada Tuhan. Atau dikenal sebagai rekonsiliasi dengan Allah. Kita memperolehnya dalam sakramen Pengakuan Dosa, yang memberikan kepada kita pengampunan (absolusi) dan silih/ penitensi.

                      Nah, maka prinsip ‘mata ganti mata’ dan ‘gigi ganti gigi’ sesungguhnya hanya merupakan langkah yang mengarah kepada prinsip keadilan yang lebih sempurna, yaitu keadilan dengan maksud membuahkan pertobatan. Dengan kata lain, pertobatan hati menjadi yang utama, walaupun tanpa mengabaikan langkah perubahan yang harus diambil untuk kebaikan manusia, dengan kaidah-kaidah keadilan.

                      KGK 1888    Karena itu kekuatan rohani dan susila manusia harus ditantang, dan perlu diingatkan, bahwa manusia secara terus-menerus harus memperbaharui diri secara batin, mendatangkan perubahan-perubahan kemasyarakatan yang benar-benar mengabdi kepada pribadi manusia. Pertobatan hati harus diutamakan. Namun itu tidak membatalkan, tetapi menguatkan kewajiban untuk menyehatkan lembaga dan situasi dunia yang merangsang perilaku ke arah dosa sedemikian rupa, sehingga semuanya disesuaikan dengan kaidah-kaidah keadilan dan lebih mengembangkangkan kebaikan daripada menghalang-halanginya (Bdk. LG 36).

                      Atas dasar inilah kita melihat bahwa dalam Perjanjian Baru, yang ditekankan adalah ‘pertobatan’ yang menjadi maksud diberlakukannya sanksi bagi pelanggaran. Maka Gereja mendukung diberlakukannya sanksi baik menurut ketentuan hukum sipil maupun hukum gerejawi, asalkan itu diadakan seturut kaidah keadilan, dan demi mendorong pertobatan bagi yang melakukan pelanggaran, dan demi mengusahakan perubahan ke arah perbaikan dalam Gereja dan masyarakat.

                      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                      Ingrid Listiati- katolisitas.org

                    • Terima kasih atas jawabannya, Bu Inggrid.

                      “Maka dalam Perjanjian Baru, hal ‘ganti rugi’ diperbaharui dan disempurnakan dengan dimensi rohaniah, yaitu pertobatan, yang menjadi tujuan sejati dari maksud diberlakukannya sanksi dari perbuatan dosa. ”

                      Saya rasa jawaban ibu ini tidak cocok apabila dikaitkan dengan perkataan Yesus. Yesus berkata “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Apabila Yesus memang menekankan pertobatan, seharusnya kalimatnya bukan “berilah pipi kirimu.” Gimana orang yang berdosa bisa bertobat kalau kita cuma disuruh untuk rela disiksa terus menerus sama pendosa-pendosa yang menjahati kita? Kalau memang mau membuat orang bertobat, hukum taurat mata ganti mata itu sudah sangat tepat. Cuma hukuman yang dapat membuat orang dapat menyesal.

                    • Shalom Bogoro,

                      Kemungkinan Anda beranggapan demikian, sebab Anda hanya menaruh perhatian kepada kehidupan manusia di dunia, dan kecenderungan umum pada manusia. Tetapi Tuhan Yesus yang mengajarkan kesempurnaan, menaruh perhatian kepada kehidupan kekal yang dapat diberikan kepada manusia, jika manusia mengejar kesempurnaan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.

                      Nah, maka hal mengampuni orang yang bersalah kepada kita, memang secara akal manusia mungkin sangat terlihat tidak adil, dan bahkan mustahil dilakukan, jika yang dijadikan dasar adalah perasaan pihak yang sudah disakiti. Dan, kalau hal perasaan dan kecenderungan manusia saja yang diikuti, maka memang yang terjadi adalah saling membalas tanpa akhir, seperti yang terjadi sampai sekarang di kawasan Yerusalem (Holy Land).

                      Tuhan Yesus mengetahui kecenderungan ini, dan Ia yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup, mengajarkan hukum kasih yang mengatasi prinsip ‘mata ganti mata’ ini. Ia sendiri memberikan teladan penggenapannya, dengan tidak membalas dan mengampuni semua orang yang telah menyalibkan Dia, dan ini termasuk semua dosa- dosa kita yang membuat-Nya harus menanggung salib itu. Teladan Yesus inilah yang memampukan para murid-Nya, para martir, para orang kudus, dan sejumlah umat beriman lainnya, untuk berbuat serupa. Bukankah hal itu dilakukan juga oleh para martir yang mendoakan para penganiaya mereka, dan itu membuahkan pertobatan para penganiaya mereka? Paus Yohanes Paulus II juga mengampuni Mehmet Ali Agca, seorang yang telah mencoba membunuhnya. Walaupun tidak banyak dikisahkan bagaimana hidup Agca sekarang, namun kita ketahui ia sudah keluar dari penjara, dan konon -menurut Wikipedia- ia telah menjadi seorang pengikut Kristus.

                      Kisah serupa juga kita dengar hari ini di acara Kick Andy, di Metro TV 23 Nov 2014, tentang beberapa orang yang berhasil mengampuni pembunuh ibunya dan juga seorang lainnya mengampuni pembunuh suaminya. Ini menunjukkan kebenaran hakiki akan makna pengampunan yang dapat menghantar orang yang telah berbuat jahat kepada pertobatan. Hal yang tidak mungkin terjadi jika kejahatan yang diterima dibalas lagi dengan kejahatan berikutnya. Kejahatan hanya bisa dihentikan oleh kasih dan jiwa besar, dan Kristus yang Maha Sempurna dan Maha mengetahui segalanya, mengajarkan hal ini kepada kita. Memang negara sebagai penegak otoritas hukum berhak menjatuhkan hukuman/ sanksi yang adil terhadap kejahatan yang telah dilakukan, namun itu tidak meniadakan kewajiban pihak yang disakiti ataupun yang dirugikan untuk memberikan pengampunan.

                      Mari kita mohon agar Roh Allah memampukan kita melihat kebenaran yang diajarkan oleh Kristus, dan melaksanakannya, walaupun nampak sulit dan bertentangan dengan kecenderungan manusiawi: yaitu mengampuni semua orang yang telah berbuat jahat kepada kita, dan mendoakan mereka. Dengan bantuan rahmat Tuhan, semoga Tuhan memampukan kita.

                      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Mian Panggabean SSSP on

    * Ayat2 dibawah ini, menunjukkan bahwa HUKUM TAURAT yang DIGENAPI adalah NUBUATAN tentang Yesus, yang SEMUANYA PASTI AKAN TERJADI.

    Matius 5:17-18 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan HUKUM TAURAT atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk MENGGENAPInya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari HUKUM TAURAT, SEBELUM SEMUANYA TERJADI

    Lukas 24:44 Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus DIGENAPI semua yang ada tertulis TENTANG AKU dalam kitab TAURAT MUSA dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”

    * Hukum Taurat itu kudus,tetapi didalam daging manusia, KUASA DOSA menjajah HUKUM tersebut sehingga TIDAK MUNGKIN manusia melakukannya.

    Galatia 3:10-11 “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”
    Galatia 5:4 Kamu LEPAS DARI KRISTUS, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh HUKUM TAURAT; kamu hidup di luar KASIH KARUNIA.

    *Yesus menyebut Ajaran Farisi (Hukum Taurat) dengan Ragi :
    Matius 16:6 Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.”
    I Korintus 5:6-7 Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru,
    Lukas 12:1 ……Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. (hukum Taurat menyebabkan kemunafikan)

    * Mencampurkan RAGI Hukum Taurat kedalam Iman Kristen menyebabkan orang Kristen tidak mampu melakukan seluruh Kehendak Allah, karena KUASA DOSA tetap hadir di dalam hatinya.

    Roma 6:6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya TUBUH DOSA KITA HILANG KUASANYA, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.
    6:14 Sebab kamu TIDAK AKAN DIKUASAI lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah HUKUM TAURAT, tetapi di bawah KASIH KARUNIA.

    May GOD BLESS us

    • Shalom Mian,

      Ya, benar, bahwa Sabda Tuhan dalam Injil maupun surat-surat para Rasul mengatakan bahwa hukum Taurat itu digenapi di dalam Kristus. Kristus merupakan penggenapan nubuat-nubuat para nabi dan kitab Mazmur. Itulah sebabnya Rasul Paulus kerap kali mengkontraskan antara hukum Taurat dan iman akan Kristus, dengan mengatakan bahwa yang menyelamatkan kita adalah iman akan Kristus dan bukan karena perbuatan melakukan hukum Taurat (lih. Gal 2:16). Dengan demikian aturan sunat jasmaniah dalam hukum Taurat digenapi dengan sunat rohaniah (lih. Rm 2:29); dan makna sunat itu sendiri digenapi dalam Pembaptisan, sebab yang ditanggalkan bukan hanya kulit jasmani, namun keseluruhan manusia lama, untuk bangkit sebagai manusia baru dengan kehidupan ilahi di dalam Kristus (lih. Rom 6:1-11, Rom 8:10-11). Demikian pula makna hari Sabat digenapi dengan makna hari Tuhan pada hari Minggu untuk memperingati Kebangkitan Kristus, sebab melalui wafat dan kebangkitan Kristus tergenapilah rencana keselamatan Allah, di mana kita semua yang mengimani Dia, diciptakan secara baru di dalam Kristus, sehingga dapat hidup dalam tuntunan kasih karunia Allah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Syalom,

    Sebelumnya saya ingin berterima kasih atas artikel dalam website ini, karena telah banyak membantu membangun pemahaman saya yang lebih mendalam mengenai iman Katolik.
    Dalam kesempatan ini perkenankan saya juga memohon ijin untuk mengutip (sekalipun telah ditulis dalam pojok kanan bawah setiap halaman web ini) artikel – artikel dalam website ini untuk keperluan buletin bulanan Recharge yang diterbitkan komunitas muda – mudi kami untuk didistribusikan di area Keuskupan Surabaya.
    Sedikit koreksi dari saya, terkait penggunaan kata “sangsi”, akan lebih tepat untuk diganti dengan “sanksi”.
    Terima kasih dan semoga Saudara – Saudara semakin semangat dalam pelayanan ini. Tuhan memberkati.

    [Dari Katolisitas: Terima kasih atas masukan Anda. Ya, sudah kami perbaiki. Salam kami untuk adik-adik muda-mudi Keuskupan Surabaya.]

    Salam,

    Erwin

  5. agustinus dw on

    Mat 5:17 menuliskan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Mat 5:17 menuliskan bahwa Yesus tidak membatalkan Hukum Taurat namun Ef 2:15 menyatakan bahwa Yesus membatalkan Hukum Taurat, dengan menuliskan “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.”

    pertanyaannya :
    1. siapakah paulus?, koq berani mengajarkan berbeda dengan yang Yesus ajarkan?
    2. dari siapa ajaran paulus?, paulus bukan salah satu dari 12 rasul, karena paulus(saulus) menyatakan kepercayaanya setelah yesus wafat
    3. paulus mengajarkan pengertiannya sendiri, bukan ajaran Yesus?

    [dari katolisitas: Silakan melihat latar belakang Rasul Paulus di sini – silakan klik. Tidak ada perbedaan antara apa yang diajarkan Yesus dengan Rasul Paulus dalam hal hukum Taurat, selama kita dapat mengerti ada 3 jenis hukum Taurat.]

  6. Dear Katolisitas,

    mengapa Rasul Paulus tampak anti terhadap hukum Taurat? Bahkan dibilang dalam hukum Taurat tidak ada keselamatan (Gal 2:21).

    Terima kasih,
    Robert

    • Shalom Robert,

      Gal 2:21, dalam bahasa Inggrisnya berbunyi:

      I do not nullify the grace of God; for if justification were through the law, then Christ died to no purpose.” (Gal 2:21, RSV)

      Jadi lebih tepatnya maksudnya adalah: jika justifikasi/ pembenaran adalah melalui Hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus. Sebab memang kita dibenarkan/ memperoleh keselamatan oleh karena kasih karunia Allah, dan bukan karena melakukan perbuatan-perbuatan yang disyaratkan oleh hukum Taurat. Hukum Taurat itu memang diberikan Allah pada zaman Perjanjian Lama, untuk mempersiapkan umat pilihan-Nya menerima Kristus Sang Penyelamat dalam Perjanjian Baru. Melalui hukum Taurat ini, manusia mengenal adanya dosa, yaitu pelanggaran akan hukum Tuhan (kesepuluh perintah Allah). Dengan demikian, manusia semakin dapat menghargai betapa besar kasih Allah yang dinyatakan-Nya dengan mengutus Putera Tunggal-Nya untuk menjadi manusia, yang menderita sengsara, wafat dan bangkit, demi menyelamatkan kita dari belenggu dosa tersebut. Jadi memang keselamatan itu tidak diperoleh manusia atas jasanya sendiri melakukan hukum Taurat, namun karena kasih karunia Allah, oleh iman (Ef 2:8-9), yang bekerja oleh kasih (Gal 6:5).

      Maka ayat Gal 2:21 tidak untuk diartikan bahwa Kristus, melalui Rasul Paulus, membatalkan semua hukum Taurat (termasuk kesepuluh perintah Allah). Yang dimaksudkan Paulus di sini adalah, untuk mengajarkan kepada kita, keselamatan kita tidak kita peroleh sendiri melalui perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tanpa iman. Iman akan Kristus yang kita peroleh dari kasih karunia Allah itu tetaplah yang menyelamatkan kita. Iman ini dinyatakan dengan Pembaptisan, pertobatan yang terus menerus di sepanjang hidup, dan perbuatan kasih sebagai bukti dari iman yang hidup (lih Yak 2:24,26).

      Jika Anda tertarik dengan topik ini, silakan membaca dokumen seri, sekilas tentang justifikasi, menurut Lutheran dan Katolik, di situs ini, silakan klik di judul berikut:

      Deklarasi bersama Lutheran dan Katolik tentang Doktrin Justifikasi
      Deklarasi Bersama Lutheran dan Katolik tentang Doktrin Justifikasi 25 Juni 1998
      Tanggapan Gereja Katolik terhadap Deklarasi Bersama Gereja Katolik dan Federasi Lutheran Sedunia tentang Doktrin Justifikasi

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      PS: Mohon maaf atas keterlambatan jawaban kami.

  7. Saya ingin menanggapi pernyataan dari sdr.budi darmawan
    ‘Sebuah agama yang baik bisa dilihat dari buah ajarannya’
    Memang benar seperti itu tp mari kita lihat sejarah ke belakang
    indonesia di jajah belanda berapa tahun?mayoritas agama apa bangsa belanda?katolik masuk indonesia lewat siapa?bagaimana penyebarannya?
    Mayoritas agama apa bangsa perancis,inggris,portugis yang sekarang menduduki negeri yang di katakan amerika?tanahnya siapa itu?ada surat jual belikah dengan bangsa indian?bagaimana bangsa indian waktu itu?
    australia yang mayoritas orang inggris,agama apakah mereka?mana surat jual beli dengan suku aborigin?
    kasihilah musuhmu”’masih ingatkah anda dengan nagasaki dan hiroshima?bangsa yang punya agamakah yang melakukan itu?
    Ingatkah anda irak tahun 2003 yang porak poranda sampai sekarang?dengan tuduhan yang tidak terbukti!siapakah yang melakukan itu,mayoritas agama apakah mereka?bagaimana dengan afghanistan?pakistan?
    Bagaimana perasaan bangsa palestina,?siapakah yang mendanai yahudi?agama apakah mayoritas bangsa itu?
    Iran yang mau hidup mandiri menjadi target selanjutnya dengan tuduhan yang macam macam,
    Bagaimana dengan penyakit aids yang tidak ada obatnya?
    Penembakan di sekolah?
    Bayi bayi yang lahir tanpa bapak(kendatipun ada bapak tapi tak mengakui)?
    Aborsi?
    Kecelakaan di jalan karena mabuk?
    Meninggal karena narkotika?
    Dll
    Kalau mereka melakukan itu dibilang karena individu saya kira tidak karena ini negara atau hukum negara yang tidak tegas,,bisa jadi,,terus bagaimana?
    Menurut hemat saya,,
    Adanya agama adalah aturan,mengatur manusia hidup damai,,bagaimana supaya hidup damai?apakah yang salah di maafkan,,memang tp kalau kesalahan terus terus?maafkan lagi,,bagaimana kalau mayoritas yang melakukan kesalahan?saya kira harus ada hukum yang tegas sehingga tatanan kehidupan bisa berjalan baik,hukum menurut manusia?saya kira hukum menurut tuhan yang paling baik,karena apa?manusia diliputi hawa nafsu kalau bikin hukum bisa jadi untuk melindungi nafsunya,cinta kasih bisa didapat kalau hukum jelas,kalau semua manusia sudah cinta kasih sebenarnya hukum tidak perlu,tapi hukum ada karena menuntun orang kepada cinta kasih,,kasihilah musuhmu itu sikap iman paling tinggi belum tentu semua orang bisa meraih iman seperti itu sehingga ada kiat kiat khusus agar orang bisa meraihnya,dengan aturan yang jelas,pelaksanaan yang jelas dan kepada siapa semua itu kembali.

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Bima,

      Apakah Anda bisa menyebutkan “hukum Tuhan” itu di dunia ini saat ini yang sungguh-sungguh berhasil membuat keadilan di dunia? Manakah “hukum Tuhan” yang secara efektif membuat manusia selama masih di dunia ini taat tunduk padanya tanpa merampas sedikitpum kebebasannya sebagai manusia?

      Menurut ajaran Katolik, Allah menganugerahi manusia dengan kebebasan atau kehendak bebas dan daya kesadaran diri. Inilah yang membuat manusia berbeda dari makhluk ciptaan lain. Manusia memiliki kebebasan untuk menolak 100 persen Allah dan ajaran agama maupun bebas untuk menerimanya 100 persen. Allah tidak represif. Memang, justeru dengan kesadaran akan kasih sayang Allah yang sedemikian besar itu, seharusnya manusia mengarahkan kebebasannya untuk mengabdi Allah. Namun Allah sendiri justru karena kasihNya yang agung, memberikan kebebasan kepada manusia juga jika ada kemungkinan manusia menyalahgunakan kebebasannya. Ia tidak memaksakan kehendakNya atas manusia. Ia menawarkan dengan kuat namun lembut penuh kasih melalui para nabi dan bahkan akhirnya melalui SabdaNya yang menjadi manusia: Yesus.

      Di antara rentang penolakan 100 persen dan penerimaan 100 persen itu, manusia bergulat dengan kebebasannya. Ada yang penerimaannya baru mencapai 25 persen, 50 persen, 60 persen dsb. Sering kali penerimaan kognitif atas ajaran agama tidak sinkron dengan perilakunya. Mengaku beragama namun perilaku tidak sesuai dengan ajaran agama sering terjadi dari zaman ke zaman. “Seharusnya” perilaku kaum beragama klop dengan penerimaan yang 100 persen atas ajaran agama misalnya perilaku kasih, suka cita, damai, pengampunan, kelemahlembutan, penguasaan diri, takut akan Allah, dan semacamnya. Namun de facto, kehendak manusia yang bebas sering tidak sejalan dengan maksud Allah dan peraturan agama. Hal ini bukan berarti Allah dan ajaran agamanya yang salah, melainkan orang-orangnya yang dengan kebebasannya memang mampu menolak kebenaran ilahi. Jika dilakukan rutin dan dalam rombongan besar, penyelewengan kebebasan itu bisa membentuk perilaku yang salah dan sistemik selama beberapa lama oleh sejumlah besar orang, dan biasanya yang menjadi penggeraknya ialah sejumlah orang yang punya kekuasaan politik dan ekonomi.
      Dalam proses sinkronisasi antara ajaran dan perilaku itulah manusia terbentur-terbentuk. Terbentur pada kenyataan bahwa perilakunya membuat susah orang atau bangsa lain, dan sebagainya. Benturan ini membentuk kesadaran baru.

      Gereja Katolik dengan pemimpin dan anggotanya dari berbagai bangsa semilyar lebih ini, dari abad I hingga tahun ini, mengalami pula proses pendewasaan dan pembelajaran agar perilaku menjadi makin mendekati 100 persen klop dengan ajaran yang bagus-bagus tertulis dalam dokumen-dokumen ajarannya itu. Ajarannya bagus, namun orang-orangnya jatuh, gagal, bahkan berdosa berat. Dalam alur sejarah, kegagalan pemimpin dan anggota Gereja Katolik dalam mengarahkan kebebasannya kepada kehendak Allah itu, membuat Gereja mawas diri, bertobat, belajar selalu merefleksikan diri agar selalu memperbaharui diri makin menyesuaikan diri dengan Allah yang adalah kasih. Hal ini terjadi dengan aneka kritik yang tajam.

      Seperti halnya yang terjadi pada Gereja Katolik, saya yakin bahwa para pemimpin agama-agama dan negara-negara pun mengalami pembelajaran. Dalam sejarah agama dan negara, proses belajar baik sebagai pribadi maupun sebagai agama dan negara tampak pada akhir-akhir ini. Bukankah di situ Allah sendiri membimbing dengan sabar sejarah dunia manusia ini? Lihatlah walau belum sempurna, muncul kesadaran atau “pertobatan”. Pemerintah Australia meminta maaf pada kaum Aborigin. Pemerintah Belanda pernah membentuk lembaga bantuan bagi Indonesia sebagai bentuk “ganti rugi” dan sebagainya.
      Bangsa kita pun belajar. Sebelum menjadi bangsa modern, kerajaan-kerajaan kita dulu merampas dan memerangi kerajaan lain sesama Nusantara, sebelum dan selama Pemerintah Hindia Belanda menjajah. Sisa-sisa watak kekerasan itu masih ada pula di bangsa kita apapun agama kita sebagai warga negara Indonesia. Maka kita belajar menjadi Indonesia yang makin bermartabat, bukan?

      Kini kesadaran mulai merata bahwa diperlukan hukum yang mengangkat martabat manusia, hukum internasional yang tegas atas pelanggaran kemanusiaan antar bangsa, dan hukum nasional yang tegas atas perilaku warganya. Namun Gereja Katolik yang mengatasi negara-negara, mengajarkan bahwa hukum sejati ialah hukum yag mendidik hati nurani manusia agar dengan kebebasannya akhirnya memutuskan dengan rela untuk menjadi lebih benar dan baik. Karena pribadi manusia dan masyarakat saling tergantung, maka jika hukum ditegakkan demi perbaikan martabat korban, dan demi keadilan bagi semua, maka hal itu akan mempengaruhi sikap pribadi seorang warga dalam memperlakukan sesamanya. Di sinilah hukum mesti mengatasi etika individualis. Hukum yang disarankan oleh Gereja Katolik ialah hukum yang mengormati martabat manusia, bukan hukum dendam. Kesesatan tetap kita tolak, namun orangnya yang sesat harus diberi hukuman yang setimpal dengan tujuan mendidik.

      “Adapun lembaga-lembaga manusiawi, hendaknya berusaha melayani martabat serta tujuan manusia, seraya sekaligus berjuang dengan gigih nelawan setiap perbudakan sosial maupun politik, setta mengabdi kepada hak-hak asasi manusia di bawah setiap pemerintahan. Bahkan lembaga-lembaga semacam itu lambat laun harus menanggapi kenyataan-kenyataan rohani, yg melampaui segala-galanya, juga kalau ada kalanya diperlukan waktu cukup lama untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan” (Gaudium et Spes 29 alinea keempat).

      Namun Sdr Bima, saya setuju, bahwa akhirnya hanya hukum Tuhan yang memenangkan situasi kacau manusia ini. Namun Ia memerlukan kita untuk bekerjasama dengan Dia, yaitu dengan mengusahakan peraturan bersama dan ketegasan yang menghormati martabat manusia, sesuai kehendakNya. Mari kita laksanakan dengan bermartabat sebagaimana kita ini adalah citra- Nya yang menghargai kebebasan sesama.
      Kita berusaha dengan mohon kekuatan dan kesabaran dari Allah sendiri, juga jika “hukum Tuhan” itu baru terlaksana sepenuhnya di surga.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto