Apakah Hukum Taurat Dibatalkan Yesus?

73

Banyak orang yang bingung tentang apakah Yesus membatalkan atau menggenapi Hukum Taurat. Mat 5:17 menuliskan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Mat 5:17 menuliskan bahwa Yesus tidak membatalkan Hukum Taurat namun Ef 2:15 menyatakan bahwa Yesus membatalkan Hukum Taurat, dengan menuliskan “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.” Untuk mengerti tentang hal ini, maka kita melihat terlebih dahulu 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama. St. Thomas Aquinas (ST, I-II, q. 98-108) mengatakan bahwa ada 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama, yaitu:

  1. Moral Law atau hukum moral: Hukum moral adalah bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom 2:15). Contoh dari hukum ini adalah yang tertulis di 10 perintah Allah, dimana terdiri dari dua loh batu, yang mencerminkan kasih kepada Allah (perintah 1-3) dan juga kasih kepada sesama (perintah 4-10). Hukum kodrati ini adalah hukum yang tetap mengikat (bahkan sampai sekarang) dan digenapi dengan kedatangan Kristus, karena hukum kodrati ini adalah merupakan partisipasi di dalam hukum Tuhan.
    Dalam pengertian inilah maka memang Tuhan Yesus tidak mengubah satu titikpun, sebab segala yang tertulis dalam hukum moral ini (sepuluh perintah Allah) masih berlaku sampai sekarang. Dengan prinsip ini kita melihat bahwa menguduskan hari Sabat dan memberikan persembahan perpuluhan, sesungguhnya adalah bagian dari hukum moral/ kodrat, di mana umat mempersembahkan waktu khusus (Sabat) dan hasil jerih payah (perpuluhan) kepada Allah.
  2. Ceremonial law atau hukum seremonial: sebagai suatu ekpresi untuk memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi yang juga berdasarkan prinsip hukum kodrat, seperti: hukum persembahan kurban (Im 1-12),  termasuk sunat (Kel 17:10, Im 12:3), perpuluhan (Mal 3:6-12), tentang kesakralan, proses penyucian untuk persembahan, tentang makanan, pakaian, sikap, dll. Dengan kedatangan Kristus, hukum seremonial ini tidak diberlakukan sama dengan ketentuan hukum di zaman Musa, karena sudah digenapi di dalam Kristus. Maka yang masih tetap sama adalah jiwa/  maksud utama hukum  itu diadakan, namun cara melakukannya diperbaharui oleh Kristus. Sebab Kristus sendiri adalah persembahan yang sempurna, Kristus menjadi Anak Domba Allah yang dikurbankan bagi keselamatan umat manusia. Maka persembahan yang paling berkenan kepada Allah adalah kurban kita yang dipersatukan dengan korban Kristus, dan ini dinyatakan dalam sakramen-sakramen Gereja terutama Ekaristi kudus. Demikian pula, sunat yang diperbaharui oleh Kristus dalam PB adalah sunat rohani (Rom 2:29) yaitu sakramen Baptis, dan bukan sunat jasmani.
    Penekanan kerohanian ini juga nampak dalam pengaturan persembahan; sebab persembahan perpuluhan PL disempurnakan oleh perintah untuk memberi persembahan kepada Allah dengan suka cita sesuai dengan kerelaan hati (lih. 2 Kor 9:7). Dengan demikian, maka Allah tidak lagi memberikan patokan mutlak sepuluh persen dalam hal persembahan. Pada orang-orang tertentu, “kerelaan hati dan sukacita” ini malah melebihi dari sepuluh persen. Kita ketahui dari kisah hidup para kudus, dan juga pada para imam dan biarawan dan biarawati, yang sungguh mempersembahkan segala yang mereka miliki untuk Tuhan.  Dengan demikian mereka mengikuti teladan hidup Kristus yang memberikan Diri-Nya secara total kepada Allah Bapa dan manusia.
    Demikianlah, hukum seremonial PL digenapi dalam PB oleh Kristus dan Gereja-Nya. Hukum seremonial itu tidak serta merta dibatalkan, namun dipenuhi dengan cara yang berbeda, seturut dengan kehendak Kristus yang menurunkannya kepada Gereja.
    Selanjutnya, Gereja Katolik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan juga para rasul (Petrus dan Paulus) juga tidak mempermasalahkan makanan-makanan persembahan, karena bukan yang masuk yang najis, namun yang keluar. Ulasan ini dapat melihat di jawaban ini (silakan klik ini, dan juga klik ini). Kalau kita mau terus menjalankan hukum seremonial secara konsisten, maka kita harus juga menjalankan peraturan tentang makanan yang lain, seperti larangan untuk makan babi hutan, jenis binatang di air yang tidak bersisik (ikan lele), katak, dll. (Lih Im 11).
  3. Judicial law atau hukum yudisial: Ini adalah merupakan suatu peraturan yang menetapkan hukuman/ sanksi sehingga peraturan dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, maka peraturan ini sangat rinci, terutama untuk mengatur hubungan dengan sesama, seperti: peraturan untuk penguasa, bagaimana memperlakukan orang asing, dll. Contoh dari hukum yudisial: kalau mencuri domba harus dikembalikan empat kali lipat (Kel 22:1); hukum cambuk tidak boleh lebih dari empat puluh kali (Ul 25:3); mata ganti mata, gigi ganti gigi (Kel 21:24, Im 24:20, Ul 19:21); sanksi jika hukum perpuluhan dilanggar (lih. Bil 18:26,32). Setelah kedatangan Kristus, maka judicial law ini tidak berlaku lagi. Sebab jika kita beranggapan demikian, kalau kita mau konsisten, kita juga harus menjalankan hukuman rajam, hukum cambuk, dll. Menarik bahwa Yesus tidak mengajarkan hukum yudisial, karena hal itu telah diserahkan kepada kewenangan otoritas pada saat itu. Yesus sendiri tunduk kepada kewenangan otoritas pemerintahan di zaman-Nya, yang akhirnya memutuskan untuk menyalibkan Dia.
    Di masa sekarang, hukum yudisial ditetapkan oleh penguasa/ pemerintah negara yang bersangkutan sebagai perwakilan dari Tuhan, sehingga hukum dapat ditegakkan untuk kepentingan bersama. Penggenapan PL oleh Kristus mengakibatkan dikenalnya nilai-nilai Injil secara universal di seluruh dunia. Maka prinsip martabat hak-hak azasi manusia ditegakkan secara umum di negara manapun, oleh pihak otoritas pemerintahan setempat.
    Sedangkan kewenangan disiplin di dalam kawanan Kristus diserahkan kepada Gereja, sebab Kristus telah memberikan kuasa untuk mengatur Gereja kepada para rasul (lih. Mat 18:18). Disiplin untuk mengatur Gereja ini dapat berubah sejalan dengan perkembangan waktu dan keadaan. Ini juga yang mendasari perubahan Kitab Hukum Gereja  1917 ke 1983, yang berisikan  segala ketentuan hukum yudisial ini adalah berdasarkan ajaran Kristus. Dengan Kristus sebagai penggenapan Hukum Taurat, maka tidak lagi dikenal prinsip denda, ‘mata ganti mata dan gigi ganti gigi’ (Kel 21:24, Mat 5:58) namun kembali ke pengajaran asal mula ‘kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri’ (Mat 22:39), yang disempurnakan Kristus menjadi, ‘kasihilah musuhmu’ (Mat 5:44). Pemahaman kita akan perintah kasih yang diajarkan oleh Yesus ini akan dapat lebih kita hayati setelah pertama- tama mengetahui bahwa kita harus melakukan prinsip keadilan seperti yang sangat ditekankan di dalam PL. Baru setelah kita menerapkan prinsip keadilan, kita mengetahui bahwa ajaran Kasih Kristus di PB  ternyata jauh melampaui prinsip keadilan itu.

Dengan adanya penjelasan dari St. Thomas ini, maka, kita mengetahui bahwa memang Kristus merupakan penggenapan Hukum Taurat Musa. Dan dengan peranNya sebagai penggenapan, maka Kristus tidak mengubah hukum moral, namun hukum seremonial dan yudisial yang dulu tidak berlaku lagi, karena hukum- hukum tersebut hanya merupakan ‘persiapan’ yang disyaratkan Allah agar umat-Nya dapat menerima dan menghargai kesempurnaan yang diberikan oleh Kristus.  Di sinilah arti bagaimana penggenapan Hukum Taurat memberikan kepada kita hukum kasih yang baru. Yesus tidak membatalkan hukum Taurat, sebab dengan mengenal hukum Taurat, kita akan dapat lebih memahami Hukum Kasih yang diberikan oleh Kristus. Yesus menggenapi hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, namun penggenapannya dalam Perjanjian Baru tidak harus sama persis dengan apa yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama tersebut.

Mari kita bersama membaca Kitab Suci dengan selalu memperhatikan kesatuan antara Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Jangan lupa, sekitar 2/3 Kitab Suci terdiri dari Perjanjian Lama; maka terdapat pengajaran-pengajaran di PL yang memang masih sangat relevan bagi kita untuk dikaitkan dengan PB, sehingga kita dapat semakin lebih menghargai dan menghayati penggenapannya di dalam diri Kristus Yesus Tuhan kita. Dengan pengertian ini maka Yesus memang tidak menginginkan seorangpun untuk menghilangkan satu titikpun dari hukum Taurat (lih. Mat 5:17-19), sebab Ia ingin agar kita dapat melihat secara utuh penggenapan dan penyempurnaan hukum Taurat itu dalam diri-Nya.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

73 Comments

  1. martinus_kds on

    Pak Stef dan bu Ingrid yang saya hormati,
    Berulang-ulang saya membaca tulisan di atas, tentang Penggenapan / Pembatalan hukum Taurat. Terus terang masih ada kesulitan saya untuk memahaminya.
    Apakah pengertian Penggenapan / Pembatalan hukum Taurat yang diringkas menjadi 3 macam hukum ( Hukum Moral, Hukum Seremonial dan Hukum Yudisial) justru membuat Gereja terpecah menjadi bermacam-macam denominasi? Contoh : Pengertian tentang persembahan perpuluhan, menjaga hari Sabat, tentang makanan haram dan halal dan lain sebagainya.
    Mohon kalau bisa lebih diperjelas lagi uraian tentang Hukum Moral, Hukum Seremonial dan Hukum Yudisial.

    • Shalom Martinus,

      Perpecahan gereja bukan disebabkan karena tiga macam hukum yang ada di dalam Perjanjian Lama, melainkan karena otoritas. Ketika manusia membuang otoritas, maka sungguh sulit mengetahui pokok-pokok iman yang sungguh-sungguh benar, karena ada begitu banyak subyektifitas dalam menginterpretasikan Kitab Suci. Mohon dijelaskan di bagian mana yang masih membingungkan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. Selamat siang, Admin Katolisitas.
    Saya ingin menanggapi artikel ini.

    1. Pembagian hukum taurat menjadi 3 jenis ini merupakan hasil pemikiran St. Aquinas, seseorang dari abad ke-13. Apakah memang pada awalnya hukum taurat dibagi menjadi tiga jenis seperti itu? Bisa tolong tunjukkan ayat-ayat Alkitab perjanjian lama yang menunjukkan hal itu?

    2. Apakah Yesus sendiri juga mengajarkan hukum taurat terbagi-bagi? Sepertinya saya tidak menemukan satu ayat pun perkataan Yesus yang membagi-bagi hukum taurat menjadi tiga bagian seperti di atas.

    3. Pada Matius 5: 19 Yesus berkata; “Siapa yang meniadakan salah satu hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian, ia akan menduduki tempat paling rendah di Sorga.” saya rasa ayat ini mengatakan bahwa hukum taurat tidak boleh dikurang-kurangi satu pun. Lebih lanjut lagi, ketika Yesus menegur para ahli farisi pada Matius 23: 23, Yesus berkata “yang satu harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan.” Bagaimana tanggapan anda?

    4. Kontraskan dengan pernyataan Paulus pada Efesus 2: 15; “sebab dengan mati-Nya di salib, Dia telah membatalkan hukum taurat dan segala ketentuannya”. Pada ayat ini Paulus mengatakan segala ketentuannya. Dia tidak bicara soal pembagian hukum taurat sebagaimana ditulis di atas. Bagaimana tanggapan anda?

    Terima kasih sebelumnya.

    • Shalom Bogoro,

      1. Pembagian hukum taurat menjadi 3 jenis ini adalah hasil pemikiran St. Thomas di abad ke 13? Apakah sejak awalnya memang terbagi sedemikian? Mana bukti ayatnya?

      Pembagian hukum Taurat menjadi tiga kelompok ini memang adalah pemikiran dari St. Thomas Aquinas, namun pemikiran ini bukannya tanpa dasar. Sebab pada saat diberikannya dalam Kitab Suci, memang sudah terdapat adanya pengelompokan ini, walaupun tidak disebutkan secara eksplisit. St. Thomas hanya memperjelas pengelompokan ini, sehingga Gereja dapat semakin melihat korelasinya dengan penggenapan hukum Taurat di dalam Yesus Kristus yang menjadi benang merah dari segala ketentuan yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Sebab apapun yang diajarkan oleh para nabi semuanya mengarah kepada Kristus (Kis 10:43), sebagai penggenapannya.

      Kitab Suci menunjukkan bahwa hukum moral tidak pernah berubah, yaitu Sepuluh Perintah Allah. Hukum Sepuluh Perintah Allah yang mendasari hukum Taurat, ini diberikan dalam kelompok yang tersendiri (lih. Kel 20; dan Ul 5), yang terpisah dengan aturan-aturan lainnya. Kitab Suci juga menuliskan Kesepuluh Perintah Allah ini dalam suatu perikop tersendiri, yang diberi judul “Kesepuluh Firman”, sebagaimana disebutkan dalam Kel 34:28. Walaupun pembagian ayat dan perikop Kitab Suci baru diadakan di sekitar abad 16, hal ini tidak mengubah fakta bahwa sang pengarang Kitab Suci sejak awalnya telah mengelompokkan hukum Taurat ini dengan menggunakan istilah “firman” yang mengacu kepada Sepuluh Perintah Allah; dan istilah “peraturan-peraturan”, yang mengacu kepada peraturan-peraturan lain yang mengikuti kesepuluh firman itu. Peraturan-peraturan lain itu merupakan: 1) penjabaran dari prinsip yang sudah disebutkan dalam kesepuluh firman, ataupun 2) aturan tentang sanksi, jika ketentuan itu dilanggar (lih. Kel 21-23:1-13) ataupun 3) penjabaran tentang bagaimana penyembahan/ penghormatan kepada Allah ditunjukkan dalam ibadat (hal-hal seremonial) (lih. Kel 23:14-33; Kel 24- 31; Im 1-12).

      Maka Gereja sejak awal sudah mengenali adanya pembedaan kesepuluh perintah Allah ini dari berbagai ketentuan lainnya. Memang, adalah fakta bahwa dalam Kitab Suci tidak disebutkan secara eksplisit penomoran Kesepuluh Firman itu, sehingga para Bapa Gereja mempunyai cara pengelompokan yang berbeda. Gereja Katolik dan Lutheran mengikuti pengelompokan yang diajarkan oleh St. Agustinus, sedangkan gereja-gereja non-Katolik lainnya mengikuti rumusan Origen. Gereja Katolik berpegang kepada prinsip ajaran St. Agustinus, karena lebih konsisten dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci.

      Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Terlepas dari apapun rumusan yang dijadikan sebagai acuan, dalam kesepuluh hukum moral ini, tidak disebutkan adanya detail persyaratan ibadat (yang kemudian disebut oleh St. Thomas sebagai hukum seremonial) maupun detail persyaratan sanksi/ hukuman atas pelanggaran (yang kemudian disebut oleh St. Thomas sebagai hukum yudisial). Kesepuluh Firman inilah yang kemudian dirangkum oleh Yesus sendiri menjadi hanya dua perintah utama, yaitu: Kasihilah Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia (lih. Mat 22:37; Mrk 12:30; Luk 10:27).

      2. Apakah Yesus mengajarkan hukum Taurat terbagi-bagi, menjadi tiga bagian?

      Yesus itu adalah Sang Firman Allah yang menjadi manusia (lih. Yoh 1:14), oleh karena itu, Yesus itu mengatasi hukum Taurat, dan kedatangan-Nya bukan untuk menjabarkan ulang hukum Taurat secara rinci, melainkan untuk menggenapinya. Penggenapan ini ditunjukkan dengan bahwa Yesus sendiri menaati hukum Taurat, namun juga dengan Ia merangkumnya, menjadi dua perintah utama, yaitu perintah untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama (lih. Mat 22:37; Mrk 12:30; Luk 10:27); ataupun dengan menjabarkannya dalam rumusan yang berbeda, seperti dalam Delapan Sabda Bahagia (lih. Mat 5). Maka, selain menjelaskan inti utama dari hukum Taurat (yaitu hukum kasih), Yesus juga mengajarkan kesempurnaan penerapannya, yaitu dengan pemberian diri seutuhnya, sebagaimana diajarkannya kepada orang muda yang kaya (Mat 19:21), ajaran tentang persembahan janda miskin (Mrk 12:44), dan terutama dengan teladan pemberian diri-Nya di kayu salib. Jadi yang diajarkan oleh Yesus dalam Perjanjian Baru, memang bukan semata mengulangi pengajaran sepuluh perintah Allah ataupun menekankan aturan-aturan selanjutnya, melainkan menyampaikan inti yang menjiwai seluruh perintah Allah, yaitu hukum kasih dalam kesempurnaannya.

      Maka Anda benar, memang Yesus tidak menyebutkan  secara eksplisit pengelompokan hukum Taurat menjadi tiga bagian. Namun demikian, Yesus sekilas menyebutkan sejumlah perintah taurat yang utama (lih. Mat 19:18-19). Di ayat-ayat itu, Yesus kurang lebih mengacu kepada sejumlah perintah dalam kesepuluh perintah Allah. Sedangkan tentang peraturan- peraturan lain di luar sepuluh perintah Allah, seperti tentang hal seremonial (tentang kurban penyembahan di bait Allah dst) maupun hal sanksi pelanggaran hukum seperti yang tertulis dalam Perjanjian Lama, memang tidak diajarkan secara eksplisit oleh Yesus. Yesus tidak berkhotbah tentang persyaratan kurban di bait Allah, yang secara rinci sekali disebutkan dalam kitab Imamat, misalnya. Sebaliknya, malah Yesus mengecam penerapan persembahan perpuluhan selasih dan berbagai sayuran, jika azas keadilan dan belas kasih Allah yang lebih penting, malah diabaikan (lih. Mat 23:23; Luk 11:42). Dari sini kita mengetahui bahwa Yesus sendiri mengelompokkan hukum Taurat: ada hukum yang prinsip/ terpenting, yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan, dan ada hukum turunannya, yang mengalir dari prinsip itu, (seperti perpuluhan, larangan bekerja pada hari Sabat, ketentuan merayakan hari raya Yahudi, dst.), yang tidak setara tingkatannya dengan hukum prinsip tersebut.

      Demikian juga mengenai sanksi/ hukuman atas pelanggaran. Dapat dikatakan bahwa Yesus tidak mengajarkan kembali aturan sanksi/ hukuman seperti yang berlaku dalam Perjanjian Lama. Yesus tidak mengajarkan “mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Kel 21:24, Mat 5:38), melainkan agar kita memberikan pipi kiri jika ditampar pipi kanan. Maksudnya, agar kita tidak membalas orang yang berbuat jahat kepada kita, namun agar kita mengasihi orang-orang yang membenci kita (Mat 5:44). Juga atas prinsip belas kasihan, Yesus tidak mengajarkan agar perempuan yang kedapatan berzinah untuk dihukum rajam, namun Yesus mengampuninya, dengan memperingati agar ia tidak berbuat dosa lagi (lih. Yoh 8:11). Dengan ayat-ayat ini, Kristus mengajarkan bagaimana Ia memperbaharui peraturan-peraturan tentang sanksi/ hukuman yang berlaku dalam Perjanjian Lama. Yesus menghendaki kita pertama-tama mengutamakan belas kasihan, walaupun juga terus mengusahakan keadilan. Yesus mengajarkan tentang jiwa yang menghidupi sebuah peraturan dan bukan semata apa yang tertulis secara hurufiah dalam peraturan. Sebab jika jiwanya dipahami, maka apa yang hurufiah tertulis menjadi dapat dilakukan.

      3 & 4. Bagaimana menjelaskan perkataan Yesus, “Siapa yang meniadakan salah satu hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian, ia akan menduduki tempat paling rendah di Sorga” (Mat 5:19). Dan juga, “yang satu harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan.” (Mat 23:23) Sedangkan dalam suratnya Rasul Paulus mengajarkan, “sebab dengan mati-Nya di salib, Dia telah membatalkan hukum taurat dan segala ketentuannya.” (Ef 2:19).

      Silakan membaca tanggapan terhadap pertanyaan ini, di artikel ini yang baru saja ditayangkan, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Mian Panggabean SSSP on

    * Ayat2 dibawah ini, menunjukkan bahwa HUKUM TAURAT yang DIGENAPI adalah NUBUATAN tentang Yesus, yang SEMUANYA PASTI AKAN TERJADI.

    Matius 5:17-18 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan HUKUM TAURAT atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk MENGGENAPInya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari HUKUM TAURAT, SEBELUM SEMUANYA TERJADI

    Lukas 24:44 Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus DIGENAPI semua yang ada tertulis TENTANG AKU dalam kitab TAURAT MUSA dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”

    * Hukum Taurat itu kudus,tetapi didalam daging manusia, KUASA DOSA menjajah HUKUM tersebut sehingga TIDAK MUNGKIN manusia melakukannya.

    Galatia 3:10-11 “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”
    Galatia 5:4 Kamu LEPAS DARI KRISTUS, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh HUKUM TAURAT; kamu hidup di luar KASIH KARUNIA.

    *Yesus menyebut Ajaran Farisi (Hukum Taurat) dengan Ragi :
    Matius 16:6 Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.”
    I Korintus 5:6-7 Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru,
    Lukas 12:1 ……Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. (hukum Taurat menyebabkan kemunafikan)

    * Mencampurkan RAGI Hukum Taurat kedalam Iman Kristen menyebabkan orang Kristen tidak mampu melakukan seluruh Kehendak Allah, karena KUASA DOSA tetap hadir di dalam hatinya.

    Roma 6:6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya TUBUH DOSA KITA HILANG KUASANYA, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.
    6:14 Sebab kamu TIDAK AKAN DIKUASAI lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah HUKUM TAURAT, tetapi di bawah KASIH KARUNIA.

    May GOD BLESS us

    • Shalom Mian,

      Ya, benar, bahwa Sabda Tuhan dalam Injil maupun surat-surat para Rasul mengatakan bahwa hukum Taurat itu digenapi di dalam Kristus. Kristus merupakan penggenapan nubuat-nubuat para nabi dan kitab Mazmur. Itulah sebabnya Rasul Paulus kerap kali mengkontraskan antara hukum Taurat dan iman akan Kristus, dengan mengatakan bahwa yang menyelamatkan kita adalah iman akan Kristus dan bukan karena perbuatan melakukan hukum Taurat (lih. Gal 2:16). Dengan demikian aturan sunat jasmaniah dalam hukum Taurat digenapi dengan sunat rohaniah (lih. Rm 2:29); dan makna sunat itu sendiri digenapi dalam Pembaptisan, sebab yang ditanggalkan bukan hanya kulit jasmani, namun keseluruhan manusia lama, untuk bangkit sebagai manusia baru dengan kehidupan ilahi di dalam Kristus (lih. Rom 6:1-11, Rom 8:10-11). Demikian pula makna hari Sabat digenapi dengan makna hari Tuhan pada hari Minggu untuk memperingati Kebangkitan Kristus, sebab melalui wafat dan kebangkitan Kristus tergenapilah rencana keselamatan Allah, di mana kita semua yang mengimani Dia, diciptakan secara baru di dalam Kristus, sehingga dapat hidup dalam tuntunan kasih karunia Allah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Syalom,

    Sebelumnya saya ingin berterima kasih atas artikel dalam website ini, karena telah banyak membantu membangun pemahaman saya yang lebih mendalam mengenai iman Katolik.
    Dalam kesempatan ini perkenankan saya juga memohon ijin untuk mengutip (sekalipun telah ditulis dalam pojok kanan bawah setiap halaman web ini) artikel – artikel dalam website ini untuk keperluan buletin bulanan Recharge yang diterbitkan komunitas muda – mudi kami untuk didistribusikan di area Keuskupan Surabaya.
    Sedikit koreksi dari saya, terkait penggunaan kata “sangsi”, akan lebih tepat untuk diganti dengan “sanksi”.
    Terima kasih dan semoga Saudara – Saudara semakin semangat dalam pelayanan ini. Tuhan memberkati.

    [Dari Katolisitas: Terima kasih atas masukan Anda. Ya, sudah kami perbaiki. Salam kami untuk adik-adik muda-mudi Keuskupan Surabaya.]

    Salam,

    Erwin

  5. agustinus dw on

    Mat 5:17 menuliskan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Mat 5:17 menuliskan bahwa Yesus tidak membatalkan Hukum Taurat namun Ef 2:15 menyatakan bahwa Yesus membatalkan Hukum Taurat, dengan menuliskan “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.”

    pertanyaannya :
    1. siapakah paulus?, koq berani mengajarkan berbeda dengan yang Yesus ajarkan?
    2. dari siapa ajaran paulus?, paulus bukan salah satu dari 12 rasul, karena paulus(saulus) menyatakan kepercayaanya setelah yesus wafat
    3. paulus mengajarkan pengertiannya sendiri, bukan ajaran Yesus?

    [dari katolisitas: Silakan melihat latar belakang Rasul Paulus di sini - silakan klik. Tidak ada perbedaan antara apa yang diajarkan Yesus dengan Rasul Paulus dalam hal hukum Taurat, selama kita dapat mengerti ada 3 jenis hukum Taurat.]

  6. Dear Katolisitas,

    mengapa Rasul Paulus tampak anti terhadap hukum Taurat? Bahkan dibilang dalam hukum Taurat tidak ada keselamatan (Gal 2:21).

    Terima kasih,
    Robert

    • Shalom Robert,

      Gal 2:21, dalam bahasa Inggrisnya berbunyi:

      I do not nullify the grace of God; for if justification were through the law, then Christ died to no purpose.” (Gal 2:21, RSV)

      Jadi lebih tepatnya maksudnya adalah: jika justifikasi/ pembenaran adalah melalui Hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus. Sebab memang kita dibenarkan/ memperoleh keselamatan oleh karena kasih karunia Allah, dan bukan karena melakukan perbuatan-perbuatan yang disyaratkan oleh hukum Taurat. Hukum Taurat itu memang diberikan Allah pada zaman Perjanjian Lama, untuk mempersiapkan umat pilihan-Nya menerima Kristus Sang Penyelamat dalam Perjanjian Baru. Melalui hukum Taurat ini, manusia mengenal adanya dosa, yaitu pelanggaran akan hukum Tuhan (kesepuluh perintah Allah). Dengan demikian, manusia semakin dapat menghargai betapa besar kasih Allah yang dinyatakan-Nya dengan mengutus Putera Tunggal-Nya untuk menjadi manusia, yang menderita sengsara, wafat dan bangkit, demi menyelamatkan kita dari belenggu dosa tersebut. Jadi memang keselamatan itu tidak diperoleh manusia atas jasanya sendiri melakukan hukum Taurat, namun karena kasih karunia Allah, oleh iman (Ef 2:8-9), yang bekerja oleh kasih (Gal 6:5).

      Maka ayat Gal 2:21 tidak untuk diartikan bahwa Kristus, melalui Rasul Paulus, membatalkan semua hukum Taurat (termasuk kesepuluh perintah Allah). Yang dimaksudkan Paulus di sini adalah, untuk mengajarkan kepada kita, keselamatan kita tidak kita peroleh sendiri melalui perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tanpa iman. Iman akan Kristus yang kita peroleh dari kasih karunia Allah itu tetaplah yang menyelamatkan kita. Iman ini dinyatakan dengan Pembaptisan, pertobatan yang terus menerus di sepanjang hidup, dan perbuatan kasih sebagai bukti dari iman yang hidup (lih Yak 2:24,26).

      Jika Anda tertarik dengan topik ini, silakan membaca dokumen seri, sekilas tentang justifikasi, menurut Lutheran dan Katolik, di situs ini, silakan klik di judul berikut:

      Deklarasi bersama Lutheran dan Katolik tentang Doktrin Justifikasi
      Deklarasi Bersama Lutheran dan Katolik tentang Doktrin Justifikasi 25 Juni 1998
      Tanggapan Gereja Katolik terhadap Deklarasi Bersama Gereja Katolik dan Federasi Lutheran Sedunia tentang Doktrin Justifikasi

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      PS: Mohon maaf atas keterlambatan jawaban kami.

  7. Saya ingin menanggapi pernyataan dari sdr.budi darmawan
    ‘Sebuah agama yang baik bisa dilihat dari buah ajarannya’
    Memang benar seperti itu tp mari kita lihat sejarah ke belakang
    indonesia di jajah belanda berapa tahun?mayoritas agama apa bangsa belanda?katolik masuk indonesia lewat siapa?bagaimana penyebarannya?
    Mayoritas agama apa bangsa perancis,inggris,portugis yang sekarang menduduki negeri yang di katakan amerika?tanahnya siapa itu?ada surat jual belikah dengan bangsa indian?bagaimana bangsa indian waktu itu?
    australia yang mayoritas orang inggris,agama apakah mereka?mana surat jual beli dengan suku aborigin?
    kasihilah musuhmu”’masih ingatkah anda dengan nagasaki dan hiroshima?bangsa yang punya agamakah yang melakukan itu?
    Ingatkah anda irak tahun 2003 yang porak poranda sampai sekarang?dengan tuduhan yang tidak terbukti!siapakah yang melakukan itu,mayoritas agama apakah mereka?bagaimana dengan afghanistan?pakistan?
    Bagaimana perasaan bangsa palestina,?siapakah yang mendanai yahudi?agama apakah mayoritas bangsa itu?
    Iran yang mau hidup mandiri menjadi target selanjutnya dengan tuduhan yang macam macam,
    Bagaimana dengan penyakit aids yang tidak ada obatnya?
    Penembakan di sekolah?
    Bayi bayi yang lahir tanpa bapak(kendatipun ada bapak tapi tak mengakui)?
    Aborsi?
    Kecelakaan di jalan karena mabuk?
    Meninggal karena narkotika?
    Dll
    Kalau mereka melakukan itu dibilang karena individu saya kira tidak karena ini negara atau hukum negara yang tidak tegas,,bisa jadi,,terus bagaimana?
    Menurut hemat saya,,
    Adanya agama adalah aturan,mengatur manusia hidup damai,,bagaimana supaya hidup damai?apakah yang salah di maafkan,,memang tp kalau kesalahan terus terus?maafkan lagi,,bagaimana kalau mayoritas yang melakukan kesalahan?saya kira harus ada hukum yang tegas sehingga tatanan kehidupan bisa berjalan baik,hukum menurut manusia?saya kira hukum menurut tuhan yang paling baik,karena apa?manusia diliputi hawa nafsu kalau bikin hukum bisa jadi untuk melindungi nafsunya,cinta kasih bisa didapat kalau hukum jelas,kalau semua manusia sudah cinta kasih sebenarnya hukum tidak perlu,tapi hukum ada karena menuntun orang kepada cinta kasih,,kasihilah musuhmu itu sikap iman paling tinggi belum tentu semua orang bisa meraih iman seperti itu sehingga ada kiat kiat khusus agar orang bisa meraihnya,dengan aturan yang jelas,pelaksanaan yang jelas dan kepada siapa semua itu kembali.

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Bima,

      Apakah Anda bisa menyebutkan “hukum Tuhan” itu di dunia ini saat ini yang sungguh-sungguh berhasil membuat keadilan di dunia? Manakah “hukum Tuhan” yang secara efektif membuat manusia selama masih di dunia ini taat tunduk padanya tanpa merampas sedikitpum kebebasannya sebagai manusia?

      Menurut ajaran Katolik, Allah menganugerahi manusia dengan kebebasan atau kehendak bebas dan daya kesadaran diri. Inilah yang membuat manusia berbeda dari makhluk ciptaan lain. Manusia memiliki kebebasan untuk menolak 100 persen Allah dan ajaran agama maupun bebas untuk menerimanya 100 persen. Allah tidak represif. Memang, justeru dengan kesadaran akan kasih sayang Allah yang sedemikian besar itu, seharusnya manusia mengarahkan kebebasannya untuk mengabdi Allah. Namun Allah sendiri justru karena kasihNya yang agung, memberikan kebebasan kepada manusia juga jika ada kemungkinan manusia menyalahgunakan kebebasannya. Ia tidak memaksakan kehendakNya atas manusia. Ia menawarkan dengan kuat namun lembut penuh kasih melalui para nabi dan bahkan akhirnya melalui SabdaNya yang menjadi manusia: Yesus.

      Di antara rentang penolakan 100 persen dan penerimaan 100 persen itu, manusia bergulat dengan kebebasannya. Ada yang penerimaannya baru mencapai 25 persen, 50 persen, 60 persen dsb. Sering kali penerimaan kognitif atas ajaran agama tidak sinkron dengan perilakunya. Mengaku beragama namun perilaku tidak sesuai dengan ajaran agama sering terjadi dari zaman ke zaman. “Seharusnya” perilaku kaum beragama klop dengan penerimaan yang 100 persen atas ajaran agama misalnya perilaku kasih, suka cita, damai, pengampunan, kelemahlembutan, penguasaan diri, takut akan Allah, dan semacamnya. Namun de facto, kehendak manusia yang bebas sering tidak sejalan dengan maksud Allah dan peraturan agama. Hal ini bukan berarti Allah dan ajaran agamanya yang salah, melainkan orang-orangnya yang dengan kebebasannya memang mampu menolak kebenaran ilahi. Jika dilakukan rutin dan dalam rombongan besar, penyelewengan kebebasan itu bisa membentuk perilaku yang salah dan sistemik selama beberapa lama oleh sejumlah besar orang, dan biasanya yang menjadi penggeraknya ialah sejumlah orang yang punya kekuasaan politik dan ekonomi.
      Dalam proses sinkronisasi antara ajaran dan perilaku itulah manusia terbentur-terbentuk. Terbentur pada kenyataan bahwa perilakunya membuat susah orang atau bangsa lain, dan sebagainya. Benturan ini membentuk kesadaran baru.

      Gereja Katolik dengan pemimpin dan anggotanya dari berbagai bangsa semilyar lebih ini, dari abad I hingga tahun ini, mengalami pula proses pendewasaan dan pembelajaran agar perilaku menjadi makin mendekati 100 persen klop dengan ajaran yang bagus-bagus tertulis dalam dokumen-dokumen ajarannya itu. Ajarannya bagus, namun orang-orangnya jatuh, gagal, bahkan berdosa berat. Dalam alur sejarah, kegagalan pemimpin dan anggota Gereja Katolik dalam mengarahkan kebebasannya kepada kehendak Allah itu, membuat Gereja mawas diri, bertobat, belajar selalu merefleksikan diri agar selalu memperbaharui diri makin menyesuaikan diri dengan Allah yang adalah kasih. Hal ini terjadi dengan aneka kritik yang tajam.

      Seperti halnya yang terjadi pada Gereja Katolik, saya yakin bahwa para pemimpin agama-agama dan negara-negara pun mengalami pembelajaran. Dalam sejarah agama dan negara, proses belajar baik sebagai pribadi maupun sebagai agama dan negara tampak pada akhir-akhir ini. Bukankah di situ Allah sendiri membimbing dengan sabar sejarah dunia manusia ini? Lihatlah walau belum sempurna, muncul kesadaran atau “pertobatan”. Pemerintah Australia meminta maaf pada kaum Aborigin. Pemerintah Belanda pernah membentuk lembaga bantuan bagi Indonesia sebagai bentuk “ganti rugi” dan sebagainya.
      Bangsa kita pun belajar. Sebelum menjadi bangsa modern, kerajaan-kerajaan kita dulu merampas dan memerangi kerajaan lain sesama Nusantara, sebelum dan selama Pemerintah Hindia Belanda menjajah. Sisa-sisa watak kekerasan itu masih ada pula di bangsa kita apapun agama kita sebagai warga negara Indonesia. Maka kita belajar menjadi Indonesia yang makin bermartabat, bukan?

      Kini kesadaran mulai merata bahwa diperlukan hukum yang mengangkat martabat manusia, hukum internasional yang tegas atas pelanggaran kemanusiaan antar bangsa, dan hukum nasional yang tegas atas perilaku warganya. Namun Gereja Katolik yang mengatasi negara-negara, mengajarkan bahwa hukum sejati ialah hukum yag mendidik hati nurani manusia agar dengan kebebasannya akhirnya memutuskan dengan rela untuk menjadi lebih benar dan baik. Karena pribadi manusia dan masyarakat saling tergantung, maka jika hukum ditegakkan demi perbaikan martabat korban, dan demi keadilan bagi semua, maka hal itu akan mempengaruhi sikap pribadi seorang warga dalam memperlakukan sesamanya. Di sinilah hukum mesti mengatasi etika individualis. Hukum yang disarankan oleh Gereja Katolik ialah hukum yang mengormati martabat manusia, bukan hukum dendam. Kesesatan tetap kita tolak, namun orangnya yang sesat harus diberi hukuman yang setimpal dengan tujuan mendidik.

      “Adapun lembaga-lembaga manusiawi, hendaknya berusaha melayani martabat serta tujuan manusia, seraya sekaligus berjuang dengan gigih nelawan setiap perbudakan sosial maupun politik, setta mengabdi kepada hak-hak asasi manusia di bawah setiap pemerintahan. Bahkan lembaga-lembaga semacam itu lambat laun harus menanggapi kenyataan-kenyataan rohani, yg melampaui segala-galanya, juga kalau ada kalanya diperlukan waktu cukup lama untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan” (Gaudium et Spes 29 alinea keempat).

      Namun Sdr Bima, saya setuju, bahwa akhirnya hanya hukum Tuhan yang memenangkan situasi kacau manusia ini. Namun Ia memerlukan kita untuk bekerjasama dengan Dia, yaitu dengan mengusahakan peraturan bersama dan ketegasan yang menghormati martabat manusia, sesuai kehendakNya. Mari kita laksanakan dengan bermartabat sebagaimana kita ini adalah citra- Nya yang menghargai kebebasan sesama.
      Kita berusaha dengan mohon kekuatan dan kesabaran dari Allah sendiri, juga jika “hukum Tuhan” itu baru terlaksana sepenuhnya di surga.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

Add Comment Register



Leave A Reply