Membersihkan lantai yang kotorPada waktu saya masih SD, saya sering bermain-main bersama-sama dengan teman-teman satu kampung. Karena saya tinggal di sebuah dusun yang kecil, maka permainan dengan teman-teman juga permainan dusun, yang notabene adalah permainan yang melibatkan permainan fisik, yang seringkali diakhiri dengan kaki, tangan, dan badan yang penuh lumpur. Suatu hari, dengan kaki yang penuh lumpur saya pulang ke rumah. Tanpa saya tahu, sebenarnya mama saya baru saja mengepel lantai rumah. Ketika saya berjalan untuk menuju kamar mandi, saya tidak menyadari bahwa saya meninggalkan jejak lumpur di lantai. Ketika ketika mama memarahi saya, maka dengan perasaan menyesal, saya meminta maaf akan kekotoran yang diakibatkan oleh kecerobohan saya. Mama memaafkan saya, namun lumpur tetap meninggalkan noda di lantai yang baru saja dipel oleh mama. Akhirnya, mama menyuruh saya untuk mempertanggungjawabkan kesalahan saya dengan mengepel lantai yang kotor. Dari contoh sederhana ini, kita melihat bahwa akibat dari kesalahan yang saya perbuat, maka ada dua hal yang saya terima, yaitu: hukuman (siksa dosa) dan dosa (guilt)[1] Dosa (kesalahan) saya telah dimaafkan oleh mama saya, namun saya tetap harus menanggung hukuman – dengan mengepel lantai yang kotor – akibat kesalahan yang saya lakukan.
Gereja Katolik mengenal adanya dua tipe dosa, yaitu 1) dosa ringan dan 2) dosa berat. Karena kodrat dari dua tipe dosa tersebut berbeda, maka hukuman dari dua tipe dosa tersebut juga berbeda. Memang setiap dosa menyedihkan hati Tuhan, namun tidak semua dosa membawa konsekuensi hukuman maut (Lih 1 Yoh 5:16-17).[2]. Kita bisa melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, di mana dalam beberapa hal, kita dapat membedakan tingkatan dosa dengan cukup mudah. Berikut ini adalah beberapa perbedaaan antara dosa berat dan dosa ringan:
1) Secara nalar dosa berat dan dosa ringan berbeda, misalkan: mencubit lengan seseorang lebih ringan dosanya dibanding dengan memukul kepala seseorang dengan kayu. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh seseorang adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.
2) Dari efek yang mempengaruhi tujuan akhir: dosa berat membuat seseorang berbelok dari tujuan akhir, sedang dosa ringan hanya membuat seseorang tidak terfokus pada tujuan akhir namun tidak sampai berbelok dari tujuan akhir. Atau dengan kata lain, dosa berat menghancurkan tatanan dan menghancurkan kasih, sedang dosa ringan memperlemah kasih.
3) Keseriusan (gravity) dari dosa yang membawa konsekuensi yang berbeda, dimana orang berdosa berat tanpa bertobat dapat masuk neraka, sedang dosa ringan membawa hukuman sementara, baik di dunia atau di Api Penyucian.
4) Cara pertobatan yang berbeda. Karena dosa berat menghancurkan tatanan untuk sampai ke tujuan akhir, maka hanya kekuatan Tuhan saja yang dapat membawa kembali orang ini ke tatanan yang baik, contohnya: bagi yang belum dibaptis melalui Sakramen Baptis, dan bagi yang telah dibaptis dapat melalui Sakramen Tobat. Sedang dosa ringan, karena tidak berbelok dari tujuan akhir, maka dapat diperbaiki dengan lebih mudah.
5) Obyek (object) dan kategori (genus) antara dosa berat dan dosa ringan berbeda. Dosa berat dimanifestasikan sebagi perlawanan terhadap Tuhan, seperti: hujatan, sumpah palsu, penyembahan berhala, kemurtadan, dan juga melawan hukum kasih terhadap sesama, seperti: membunuh, berzinah, dll. Sedang dosa ringan tidak secara langsung melawan kasih terhadap Tuhan dan sesama, yang mungkin dapat diwujudkan dalam: perkataan yang sia-sia, dll.
Kita melihat bahwa dosa ringan dan dosa berat mempunyai obyek, kategori dan cara penanganan yang berbeda. Oleh karena itu, efek atau akibat yang ditimbulkan juga berbeda. Dosa berat berakibat pada siksa dosa abadi di neraka, sedangkan dosa ringan membawa siksa dosa sementara di purgarorium (api penyucian).[3] Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1472) mengatakan:
“Supaya mengerti ajaran [yaitu: purgatorium] dan praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai akibat ganda. Dosa berat merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini dinamakan “siksa dosa abadi“. Di lain pihak, setiap dosa, malahan dosa ringan, mengakibatkan satu hubungan berbahaya dengan makhluk, hal mana membutuhkan penyucian atau di dunia ini, atau sesudah kematian di dalam apa yang dinamakan purgatorium (api penyucian). Penyuciaan ini membebaskan dari apa yang orang namakan “siksa dosa sementara“. Kedua bentuk siksa ini tidak boleh dipandang sebagai semacam dendam yang Allah kenakan dari luar, tetapi sebagai sesuatu yang muncul dari kodrat dosa itu sendiri. Satu pertobatan yang lahir dari cinta yang bernyala-nyala, dapat mengakibatkan penyucian pendosa secara menyeluruh, sehingga tidak ada siksa dosa lagi yang harus dipikul“. Banyak ayat-ayat di Alkitab yang mendukung adanya siksa dosa abadi (eternal punishment). Dalam kitab Daniel dikatakan “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal“(Dan 12:2). Kita juga mengingat akan pengadilan terakhir, dimana yang tidak menerapkan hukum kasih akan dicampakkan ke dalam api yang kekal (Mt 25:41).
Mungkin ada percaya bahwa keselamatan adalah urusan masing-masing pribadi dengan Tuhan. Namun, kalau kita melihat, ada dimensi sosial dari karya keselamatan Kristus. Rasul Paulus menegaskan tentang hal ini dalam beberapa suratnya. Rasul Paulus mengatakan “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.“(Rm 15:1). Dan rasul Paulus menegaskan bahwa kita semua adalah kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. (Ef 2:19) Kalau di dalam keluarga kita ada yang menderita, maka seluruh keluarga akan bekerjasa untuk meringankan penderitaan anggota keluarga. Sebaliknya, kalau salah satu anggota keluarga ada yang sukses, maka seluruh anggota bergembira dan mengecap kebagiaan tersebut.
Persatuan kita di dalam keluarga Kristus yang diikat oleh kasih Kristus bersifat adi-kodrati (supernatural), dan persatuan ini tidak dapat dilenyapkan dengan apapun karena diikat oleh kasih Allah, yang dibayar dengan darah-Nya yang tertumpah di kayu salib. Rasul Paulus menegaskan “38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39). Persatuan keluarga yang diikat dalam kasih Kristus adalah Gereja. Gereja Katolik mempercayai bahwa Gereja adalah Tubuh mistik Kristus (Ef 5:23). Sama seperti perkawinan kudus, yang mempunyai satu mempelai pria dan satu mempelai wanita, maka Kristus adalah Kepala dari satu Tubuh mistik Kristus. Satu Tubuh mistik Kristus ini terdiri dari tiga kondisi, yaitu: 1) Gereja yang sedang mengembara di dunia ini, 2) Gereja yang sedang menderita di Api Penyucian (Purgatorium), dan 3) Gereja yang jaya, di Sorga. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 954) mengatakan “Tiga status Gereja.
“Hingga saatnya Tuhan datang dalam keagungan-Nya beserta semua malaikat, dan saatnya segala sesuatu takluk kepada-Nya sesudah maut dihancurkan, ada di antara para murid-Nya, yang masih mengembara di dunia, dan ada yang telah meninggal dan mengalami penyucian, ada pula yang menikmati kemuliaan sambil memandang ‘dengan jelas Allah Tritunggal sendiri sebagaimana ada-Nya’”. “Tetapi kita semua, kendati pada taraf dan dengan cara yang berbeda, saling berhubungan dalam cinta kasih yang sama terhadap Allah dan sesama, dan melambungkan madah pujian yang sama ke hadirat Allah kita. Sebab semua orang, yang menjadi milik Kristus dan didiami oleh Roh-Nya, berpadu menjadi satu Gereja dan saling erat berhubungan dalam Dia” (LG 49).
Oleh karena tiga status Gereja (mengembara, dimurnikan, dimuliakan) diikat oleh kasih Kristus, sedangkan pengertian kasih adalah menginginkan yang baik terjadi pada orang yang dikasihi, maka semua status Gereja tersebut saling bekerja sama atas dasar kasih untuk bersatu dalam kesatuan abadi di Sorga, dan menjadi persembahan yang murni dan tak bercela. (lih. Ef 5:27). Kalau kita mengatakan bahwa kita yang berada di dunia ini tidak dapat berhubungan dengan orang-orang yang telah memasuki Sorga atau sebaliknya, maka sama saja dengan kita mengatakan bahwa tempat dan status memisahkan kita dari kasih Kristus, yang berarti bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh oleh rasul Paulus. Sebaliknya rasul Paulus mengatakan “38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39)
Dari ayat ini, akan sangat sulit untuk membayangkan bahwa para kudus di Sorga berpangku tangan melihat begitu banyak penderitaan di dunia ini maupun di Api Penyucian, atau sebaliknya Gereja yang sedang mengembara di dunia ini hanya berpangku tangan melihat penderitaan anggota keluarga Gereja di Api Penyucian. Oleh karena itu, masing-masing status Gereja tidak hanya berpangku tangan, karena bertentangan dengan kasih. Yesus mengatakan “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” (Yoh 5:17) Dan di dalam Kitab Wahyu dikatakan “Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.” (Why 5:8). Dari sini kita melihat bahwa Yesus tidak akan duduk diam di dalam Sorga. Para kudus juga tidak akan tinggal diam dan menikmati kebahagiaan Sorga tanpa secara aktif turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Oleh karena itu, masing-masing status Gereja saling membantu, dimana Gereja yang telah jaya di Sorga membantu Gereja yang menderita dan Gereja yang sedang mengembara. Sedangkan Gereja yang sedang mengembara di dunia dapat juga membantu Gereja yang sedang dimurnikan. Dan inilah yang disebut harta milik Gereja. Katekismus Gereja Katolik mengatakan:
KGK, 955 “Persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan para saudara yang sudah beristirahat dalam damai Kristus, sama sekali tidak terputus. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi diteguhkan karena saling berbagi harta rohani” (LG 49).“
KGK, 974 “Karena semua kaum beriman membentuk satu Tubuh saja, maka harta milik dari yang satu disampaikan kepada yang lain… Dengan demikian orang harus percaya… bahwa di dalam Gereja ada pemilikan bersama… Yang paling utama dari semua anggota Gereja adalah Kristus, karena Ia adalah Kepala… Jadi milik Kristus dibagi-bagikan kepada semua anggota, dan pembagian ini terjadi oleh Sakramen-Sakramen Gereja” (Tomas Aqu., symb. 10). “Kesatuan Roh, yang olehnya [Gereja] dibimbing, mengakibatkan bahwa apa yang telah ia terima, menjadi milik bersama semua orang” (Catech. R. 1, 10,24).”
Bagaimana masing-masing status Gereja (mengembara, dimurnikan, dimuliakan) dapat saling membantu? Gereja yang telah dimuliakan, yang terdiri dari orang-orang kudus, dapat membantu dengan doa-doa mereka, karena doa orang yang benar adalah besar kuasanya (Yak 5:16). Sedangkan Gereja yang sedang mengembara di dunia ini dapat membantu anggota Gereja yang masih mengembara di dunia dan anggota yang sedang dimurnikan, sehingga dapat bersatu dengan Gereja yang telah dimuliakan. Untuk tugas inilah, Kristus sendiri telah memberikan kuasa kepada Gereja. Pertama Kristus memberikan kuasa-Nya kepada Petrus dan penerusnya, dengan mengatakan “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.“(Mt 16:19). Dan kepada para murid-Nya yang diteruskan oleh para imam, Kristus mengatakan “22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.“”(Yoh 20:22-23). Semua kuasa-kuasa ini diberikan oleh Kristus kepada Gereja-Nya, sebagai Tubuh Mistik Kristus, sehingga Gereja dapat mengantar seluruh anggota Gereja pada persatuan abadi. Oleh karena itu, Gereja juga diberikan kuasa untuk mengatur seluruh kuasa yang diberikan oleh Kristus. Kekuasaan yuridiksi ini diberikan oleh Gereja untuk mengatur harta kekayaan rohani.
Pengaturan harta kekayaan Rohani ini adalah bersumber pada Kristus dan para kudus. Seperti yang kita ketahui, bahwa kurban Kristus di kayu salib, bukan hanya cukup untuk menebus dosa manusia, namun merupakan penebusan yang berlimpah.[4] Rahmat berlimpah dari Kristus tidaklah kurang untuk memberikan rahmat kepada seluruh umat manusia, namun rasul Paulus menekankan seluruh umat beriman untuk turut berpartisipasi dalam sengsara Kristus, dengan mengatakan “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Col 1:24). Para santa-santo menjawab panggilan ini dengan sempurna mengikuti apa yang dilakukan oleh Kristus. Oleh karena itu, harta kekayaan rohani yang bersumber pada Kristus dan kekudusan dari para santo-santa, mengalir secara melimpah kepada seluruh anggota Gereja. Dan distribusi kekayaan harta rohani ini dilakukan oleh Gereja, yaitu dengan indulgensi. Dengan indulgensi, Gereja memohon kepada Tuhan agar mengangkat siksa dosa sementara (seluruhnya atau sebagian) bagi orang yang berada di dunia ini maupun yang berada di Api Penyucian, berdasarkan akan harta kekayaan Gereja dan kuasa yang diberikan oleh Kristus kepada Gereja-Nya.
Dari pemikiran di atas, mari sekarang kita masuk dalam definisi indulgensi. Secara jelas, Gereja mendefinisikan indulgensi sebagai berikut:
KGK, 1471: “Indulgensi adalah (1) penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk (2) dosa-dosa yang sudah diampuni. (3) Warga beriman Kristen (4) yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan (5) bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif”. “Ada indulgensi (6) sebagian atau seluruhnya, bergantung dari apakah ia membebaskan dari siksa dosa temporal itu untuk sebagian atau seluruhnya.” Indulgensi dapat diperuntukkan (7) bagi orang hidup dan orang mati (Paulus VI, Konst. Ap. “Indulgentiarum doctrina” normae 1-3). (KGK, 1471)
KHK, 992: “Indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah hukuman-hukuman sementara untuk dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh oleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi persyaratan tertentu yang digariskan dan dirumuskan, diperoleh dengan pertolongan Gereja yang sebagai pelayan keselamatan, secara otoritatif membebaskan dan menerapkan harta pemulihan Kristus dan para Kudus.”
Dari definisi di atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa hal berikut ini:
1) Penghapusan siksa dosa temporal: berarti bahwa indulgensi tidak dapat merubah keputusan Tuhan bagi orang-orang yang berada di siksa dosa abadi atau neraka. Oleh karena itu, indulgensi hanya dapat diterapkan bagi orang-orang yang masih hidup di dunia ini dan juga yang masih berada di api penyucian. Dengan indulgensi, orang-orang yang masih hidup di dunia ini dapat menghindari siksa dosa sementara (di Api Penyucian)
2) Dosa-dosa yang sudah diampuni: berarti indulgensi mensyaratkan dosa-dosa yang sudah diampuni dan bukan dosa yang akan datang. Ini berarti pada waktu kita mendapatkan indulgensi dan kemudian berdosa lagi, maka kita juga perlu untuk mendapatkan indulgensi lagi untuk menghapuskan siksa dosa temporal.
3) Warga beriman Kristen: dalam hal ini adalah umat yang telah dibaptis. Kita tahu bahwa Sakramen Baptis adalah gerbang untuk semua sakramen dan berkat-berkat yang lain. Persyaratan yang lain adalah tidak terkena ekskomunikasi, dan dalam kondisi rahmat pada waktu melaksakan indulgensi yang ditetapkan.[5]
4) Yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang jelas: Ini berarti Gereja tidak mengharuskan seseorang untuk menerima indulgensi. Namun Gereja memberikan kesempatan yang begitu banyak, sehingga umat beriman dapat menarik manfaatnya dari berkat ini. Dan Gereja juga memberikan persyaratan yang jelas tentang bagaimana untuk memperoleh indulgensi.
5) Dengan bantuan Gereja: Telah dibahas di atas bahwa Yesus sendiri yang memberikan kuasa kepada Gereja untuk memberikan indulgensi kepada umat Allah melalui Gereja. Indulgensi ini hanya dapat diberikan oleh Paus dan orang-orang yang mempunyai kuasa oleh hukum yang diberikan oleh Paus.[6]
6) Sebagian atau seluruhnya: Lama dari siksa dosa sementara di purgatorium tidak dapat ditentukan jangka waktunya. Gereja Katolik hanya memberikan indulgensi kepada umat sebagian atau seluruhnya, dimana sebagian berarti mengurangi waktu yang harus dijalankan di purgatorium, sedangkan seluruhnya berarti dibebaskan dari purgatorium.
(7) bagi orang hidup dan orang mati, artinya indulgensi dapat diberikan kepada orang yang mendoakan (yang masih hidup di dunia) dan orang mati (yang didoakan, yang sudah meninggal dunia, dan sedang mengalami proses pemurnian di Api Penyucian).
Karena begitu pentingnya indulgensi dalam mencapai tujuan akhir, maka Gereja mengharuskan seluruh umat beriman untuk percaya akan dogma indulgensi. Konsili trente mengatakan “Terkutuklah kepada siapa yang mengatakan bahwa indulgensi adalah tidak berguna atau mengatakan bahwa Gereja tidak mempunyai kuasa untuk memberikannya.”[7]
Perkembangan dari indulgensi dapat ditelusuri sejalan dengan perkembangan dari Sakramen Pengakuan Dosa. Pada awal perkembangannya, umat beriman harus mengaku dosa di depan umum dan kemudian uskup setempat memberikan suatu hukuman yang berat. Sebagai contoh orang yang melakukan dosa kemurtadan dapat dihukum selama tujuh tahun. Dan selama periode itu, orang tersebut harus melakukan penitensi, yang berat, seperti: berpantang dan berpuasa, berlutut dan berdoa di depan gereja, tidak diperkenankan untuk menerima Tubuh Kristus di dalam perayaan Ekaristi, dll. Namun, orang beriman yang lain dapat turut berpartisipasi untuk turut melakukan penitensi bagi orang tersebut, sehingga hukuman tersebut dapat diperingan. Hal ini juga diperkuat dengan para rahib yang dengan sukarela membantu orang-orang yang sedang sakit namun harus menjalankan penitensi. Semua ini membuktikan akan adanya ikatan dalam satu keluarga Tuhan.
Di abad 11, Paus Urban II pada tahun 1095, memberikan indulgensi bagi orang-orang yang memperjuangkan tanah suci. Dan di abad ke 15, Paus Callistus III (1457) dan Paus Sixtus IV (1476) memberikan indulgensi kepada orang yang telah meninggal, yang masih berada di Api Penyucian.[8] Para teolog skolastik mendukung adanya kemungkinan untuk menerapkan indulgensi pada orang yang telah meninggal.[9] Kita telah melihat di atas, bahwa persatuan umat Allah tidak dapat dipisahkan oleh maut sekalipun. Oleh karena itu, adalah hal yang logis, kalau indulgensi bukan hanya diperuntukkan untuk orang yang masih hidup, namun juga orang yang telah meninggal, yang tetap menjadi bagian dari Gereja yang menderita, di Api Penyucian.
Mari, sekarang kita melihat, bagaimana seseorang dapat menerima indulgensi. Indulgensi dapat diberikan kepada seorang Katolik yang berada dalam kondisi rahmat (in a state of grace). Karena indulgensi adalah pengampunan yang diberikan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, maka orang yang menerimanya harus berada di dalam Gereja-Nya. Kondisi rahmat diperlukan karena tanpa rahmat Tuhan, maka semua perbuatan yang dilakukan tidak mungkin berkenan di hadapan Allah. Dan sama seperti orang yang ingin mendapatkan pengampunan harus menyatakannya di hadapan Tuhan, maka orang yang ingin mendapatkan indulgensi harus mempunyai intensi untuk mendapatkannya dan melakukan apa yang harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang digariskan di dalam indulgensi.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, indulgensi dapat berupa indulgensi penuh dan indulgensi sebagian. Untuk mendapatkan indulgensi penuh, secara umum seseorang harus melakukan 1) pengakuan dosa, 2) berpartisipasi dalam Ekaristi Kudus, 3) berdoa untuk intensi Paus, 4) melakukan apa yang ditentukan dalam ketentuan indulgensi dan melakukannya dengan hati yang menyesal, 5) bebas dari keterikatan akan dosa – bukan hanya dosa berat, namun juga dosa ringan. Kondisi terakhir inilah yang memang paling sulit untuk dilakukan. Jika hal ini tidak dipenuhi, maka seseorang akan mendapatkan indulgensi sebagian.
Beberapa hal di bawah ini adalah cara untuk mendapatkan indulgensi sebagian menurut the Handbook of Indulgences (New York: Catholic Book Publishing, 1991)
1) Doa (spiritual communion) yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
2) Doa meditasi (mental prayer) yang dilakukan dengan teratur dan sungguh-sungguh.
3) Doa rosario yang dilakukan di gereja atau kapel atau dilakukan dalam keluarga, komunitas religius, atau komunitas yang lain.
4) Membaca Alkitab dengan penuh devosi dan hormat karena Alkitab adalah Sabda Tuhan dan sebagai bacaan spiritual. Kalau membaca Alkitab dilakukan secara teratur minimal setengah jam, maka seseorang akan mendapatkan indulgensi penuh, jika kondisi yang lain juga dipenuhi.
5) Membuat tanda salib dengan sungguh-sungguh.
Berikut ini mungkin adalah beberapa keberatan yang sering diajukan mengenai dogma indulgensi.
Keberatan (1): Upah dosa adalah maut, oleh karena itu tidak ada api penyucian, yang ada hanyalah surga dan neraka.
Karena umat Kristen non-Katolik percaya bahwa hanya ada dua alternatif setelah kematian, maka indulgensi tidaklah diperlukan dan tidak berguna. Bagi orang yang telah masuk surga tidak memerlukan doa dan pengampunan, sedangkan bagi orang yang masuk neraka maka doa tidak akan mengubah keadaan mereka. Untuk menjawab keberatan ini, tidak ada cara lain kecuali mencoba menerangkan dari konsep dosa, yang memang terbagi menjadi dua seperti yang diajarkan oleh Alkitab. Pembahasan lengkap tentang hal ini, silakan membaca artikel tentang “Masih perlukah Sakramen Pengakuan Dosa – Bagian 1” (silakan klik). Dan dari pengertian akan dosa yang tidak membawa maut, maka Gereja Katolik mengenal adanya dogma “Api Penyucian“. Untuk menerangkan tentang dogma Api Penyucian, silakan untuk membaca artikel “Bersyukurlah, ada Api Penyucian!” (silakan klik).
Keberatan (2): Kristus telah membayar seluruh dosa kita, sehingga kita tidak perlu untuk membayarnya.
Dengan indulgensi seolah-olah penebusan Kristus tidaklah cukup untuk membayar seluruh dosa umat manusia. Lebih lanjut, karena umat Kristen percaya akan “hanya iman saja yang menyelamatkansola fide)” (lih. Rm 3:28; Rm 4:3-5; Rm 5:1-9, Ef 2:8), maka akan sulit menerima konsep indulgensi. Untuk menjawab keberatan ini, maka harus dimengerti bahwa indulgensi bukanlah membebaskan seseorang dari siksa dosa abadi atau neraka, namun dari siksa dosa sementara di purgatorium. Dan semua jiwa yang ada di purgatorium pasti masuk surga, hanya jiwa-jiwa tersebut perlu membersihkan diri mereka. Dan kalaupun kita masuk ke dalam Surga, maka semuanya itu adalah merupakan berkat dari Tuhan.
Keberatan (3): Indulgensi membuat pengorbanan Kristus seolah-olah tidak cukup.
Untuk memahami keberatan ini, maka ada suatu konsep mendasar yang berbeda antara Gereja Katolik dan non-Katolik, yaitu konsep mediasi (pengantaraan) dan partisipasi. Gereja Katolik, sama seperti gereja yang lain percaya bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib bukan hanya cukup namun sungguh berlimpah, karena dilakukan oleh Kristus dengan didasari kasih yang sempurna. Prinsip mediasi dan partisipasi merupakan suatu prinsip bahwa seluruh bagian dari Tubuh Mistik Kristus berpartisipasi di dalam karya keselamatan Allah. Pada waktu kita dibaptis, kita sebenarnya juga menerima mandat dari Kristus untuk menjadi nabi, imam dan raja. Mandat ini merupakan partisipasi di dalam Kristus, tanpa mengurangi peran Kristus sendiri. Inilah sebabnya rasul Paulus mengatakan “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat [=ekklesia/Gereja]” (Kol 1:24).
Kita tahu bahwa tidak ada yang kurang dalam penderitaan Kristus, karena penebusan Kristus adalah sempurna. Namun rasul Paulus mengatakan bahwa dia turut berpartisipasi dalam membangun tubuh Kristus, yaitu Gereja. Bukan karena penebusan Kristus kurang sempurna, namun Kristus sendiri yang menginginkan agar kita semua turut berpartisipasi dalam karya penyelamatan. Tubuh Mistik Kristus atau Gereja adalah Gereja yang satu – yang terdiri dari Gereja yang mengembara di dunia ini, Gereja yang menderita di purgatorium, dan Gereja yang jaya di Surga – dimana semuanya terikat dalam kasih untuk membangun Gereja.[5. Lihat Lumen Gentium, 49] Oleh karena itu, indulgensi yang melepaskan seseorang dari siksa dosa sementara di purgatorium adalah merupakan perbuatan kasih yang begitu nyata. Gereja yang sedang mengembara di dunia ini dan Gereja yang jaya dapat turut mendoakan Gereja yang sedang menderita di Purgatorium, sehingga karena belas kasih Allah, maka mereka dapat diangkat ke Surga.
Bukankah kalau ada salah satu anggota dari keluarga kita ada yang kesulitan, maka seluruh anggota keluarga juga turut membantu?
Keberatan (4): Indulgensi seolah-olah hanya memperhatikan sesuatu yang sifatnya lahiriah.
Mungkin ada yang berkeberatan dengan indulgensi karena dianggap bertentangan dengan Alkitab, dimana rasul Paulus menekankan untuk tidak mempercayai hal-hal yang bersifat lahiriah (Flp 3:1-11). Untuk menjawab keberatan ini, mungkin kita perlu melihat definisi dari indulgensi sendiri yang menekankan akan persyaratan untuk menerima indulgensi, yaitu “untuk dosa-dosa yang sudah diampuni“. Ini berarti bahwa tindakan yang terlihat seperti yang diberikan dalam indulgensi adalah merupakan suatu ekspresi dari apa yang ada di dalam hati. Bukankah kalau seseorang menyanyi dengan sukacita bagi Tuhan, adalah suatu ekspresi apa yang ada di dalam hati, yaitu hati yang ingin memuji Tuhan?
Atau kalau seseorang mempunyai dosa mencuri dan kemudian orang itu tertangkap oleh polisi, maka walaupun orang tersebut telah meminta ampun kepada Tuhan, dia tetap harus menjalankan hukuman, misalkan didenda atau dipenjara. Proses ini sama seperti indulgensi, dimana umat Katolik meminta ampun kepada Tuhan dalam Sakramen Tobat, dan kemudian indulgensi adalah untuk membayar siksa dosa sementara.
Keberatan (5): Gereja tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni siksa dosa sementara.
Ada yang berpendapat bahwa Gereja tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa maupun mengampuni siksa dosa sementara. Namun pendapat ini tidaklah tepat, karena Gereja sebenarnya diberi mandat oleh Kristus sendiri untuk mengampuni dosa (Yoh 20:23), mengikat dan melepaskan dosa (Mt 16:19). Kalau kita memperhatikan, sebenarnya hampir semua gereja beranggapan bahwa dengan dibaptis, maka seseorang menerima pengampunan dosa. Dalam hal ini maka gereja-gereja tersebut sebenarnya mengambil konsep mediasi, dimana Gereja menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengampuni dosa orang yang dibaptis. Kalau kita setuju bahwa Tuhan memberikan kuasa yang lebih besar untuk mengampuni dosa lewat Gereja dan Gereja Katolik diberikan kuasa untuk mengikat dan melepaskan dosa, maka adalah sangat wajar jika ini juga termasuk kuasa yang lebih kecil, yaitu untuk mengampuni akibat dosa lewat indulgensi.
Dari semua pemaparan di atas, kita melihat bahwa kita sebenarnya harus bersyukur atas harta kekayaan rohani Gereja, yaitu rahmat yang mengalir dari misteri Paskah Kristus kepada anggota-anggota Tubuh-Nya. Dan kita juga mensyukuri rahmat para kudus, yang berpartisipasi dalam penderitaan Kristus, sehingga dapat menambah harta kekayaan rohani Gereja. Pada saat yang bersamaan, kita semua juga dipanggil untuk mengisi pundi-pundi kekayaan rohani Gereja dengan hidup kudus, seperti yang dikehendaki oleh Kristus sendiri. Dan rahmat yang berlimpah ini dipercayakan oleh Kristus kepada Gereja agar dibagikan kepada umat Allah, sehingga dapat membawa umat kepada persatuan abadi dengan Allah di Sorga. Selanjutnya, Gereja menggunakan wewenang yang dipercayakan oleh Kristus, dengan indulgensi. Mari, kita bersama-sama mensyukuri dan menggunakan indulgensi ini dengan sebaik-baiknya.
Shallom..
boleh saya bertanya? Kenapa di dalam gereja Katolik ada indulgensi sedangkan di dalam gereja Protestan indulgensi tidak ada?
Dan juga kenapa gereja Katolik harus berdoa lewat perantara para kudus?
Bukankah mereka yang telah mati sudah tidak mengurusi perkara dunia dan sudah ada bersama dengan Tuhan?
[dari katolisitas: Silakan melihat artikel indulgensi di atas - silakan klik. Tentang perantaraan para kudus - silakan klik dan klik ini. Semoga dapat membantu]
Shalom Pak Stef,
Saya mau bertanya mengenai cara mendapatkan indulgensi penuh utk org yg sudah meninggal. Kalau tidak salah dengar dan ingat, kata pastor dalam kotbahnya bahwa kita mendoakan satu arwah per satu doa dalam masa 1 minggu atau 1 bulan pada bulan November. Apakah betul demikian secara de fide atau hal itu merupakan wahyu pribadi dari seseorang yg diperoleh dari penampakan Tuhan Yesus? Jika merupakan de fide, maka alangkah baiknya hal ini diungkapkan secara lebih nyata kepada seluruh umat betapa pentingnya membantu saudara2 yg telah meninggal utk sesegera mungkin mendapatkan indulgensi penuh dan mencapai Surga.
Terima kasih atas jawabannya. Tuhan memberkati
Glenn
Shalom Glenn,
Ajaran yang mendetail tentang indulgensi tidak termasuk artikel iman ‘de fide’. Artikel ‘de fide’ yang berhubungan dengan ajaran tentang Indulgensi adalah:
1. Kristus mendirikan Gereja Katolik agar dapat melanjutkan karya penebusan-Nya sepanjang waktu. (de fide)
[Oleh karena itu Gereja diberi kuasa oleh Yesus untuk mebagi-bagikan rahmat yang diperlukan agar umat Tuhan dapat sampai kepada keselamatan, antara lain dengan sakramen-sakramen dan indulgensi].
2. Paus mempunyai kuasa yuridis penuh dan tertinggi atas seluruh Gereja Katolik, tak hanya dalam hal iman dan moral, tetapi juga di dalam hal disiplin Gereja dan pengaturan Gereja (de fide)
[Oleh karena itu Paus mempunyai kuasa untuk menentukan norma-norma/ disiplin yang harus dipenuhi agar rahmat Tuhan dapat diberikan kepada umat-Nya. Ketentuan yang cukup rinci tentang Indulgensi yang kita kenal sekarang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI melalui Sacred Apostolic Penitentiary, Joseph Cardinal Ferretto, sebagai kelanjutan dari Konstitusi Apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI, yang teksnya bisa dibaca selengkapnya di link ini, silakan klik].
3. Umat beriman yang masih hidup dapat membantu jiwa-jiwa di dalam Api Penyucian melalui doa-doa syafaat/ permohonan mereka.
[Oleh karena itu umat yang masih hidup dapat memohon bagi keselamatan jiwa sesama yang sudah meninggal dunia, yang masih dimurnikan dalam Api Penyucian].
Sedangkan tentang detail ketentuan hal-hal yang berkaitan dengan syarat untuk memperoleh indulgensi, tidak termasuk butir de fide yang sifatnya mengikat dan harus ditaati oleh semua umat beriman. Karena indulgensi pada dasarnya adalah rahmat Tuhan yang dibagikan kepada umat-Nya, setelah pertobatan umat, maka sifatnya melibatkan kerjasama dari pihak umat.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Salam mbak Ingrid,
mengenai indulgensia atau pengampunan, salah satunya melalui pengakuan dosa, sekarang disebut juga konsultasi, kepada imam, banyak sekali umat yg tdk mau masuk ruang pengakuan dosa kepd imam dan memilih berdoa dan mohon pengampunan melalui YESUS atau kepada ALLAH,…mengapa banyak umat yg sdh enggan masuk ruang pengakuan? Trims mbak Ingrid dan katolisitas.
Shalom Simon,
Indulgensi tidak sama dengan pengampunan. Indulgensi diberikan setelah dosa-dosa diaku-i dalam Sakramen Pengakuan dosa, jadi Indulgensi tidak menggantikan pengakuan dosa, dan tidak sama artinya dengan pengampunan. Mohon dibaca kembali artikel di atas. Juga, sakramen Pengakuan Dosa juga tidak sama dengan konsultasi dengan imam. Seseorang menerima rahmat pengampunan Tuhan lewat Sakramen Pengakuan dosa, sedangkan konsultasi tidak mendatangkan rahmat pengampunan dari Tuhan. Mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan dosa adalah cara yang dikehendaki oleh Kristus sendiri bagi kita, agar kita dapat memperoleh rahmat pengampunan Allah, dan hal ini jelas diajarkan Kristus dalam Yoh 20:21-23. Silakan membaca selanjutnya di artikel seri tentang Pengakuan Dosa di situs ini, terutama bagian 2 dan 3 (silakan klik di judul berikut):
Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 1)
Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 2)
Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 3)
Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 4- selesai)
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Salam Robertus,
Ajaran mengenai indulgensi [penghapusan siksa dosa] dan penggunaannya di dalam Gereja, terkait erat sekali dengan daya guna Sakramen Pengakuan (KGK # 1471). Indulgensi ialah penghapusan siksaan termporal akibat dosa yang sudah diampuni di hadapan Allah. Contoh: Saya memukul teman sampai giginya tanggal. Saya menyesal, mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, menerima absolusi, menjalankan penitensi. Saya sudah diampuni. Saya pun meminta maaf ke teman itu dan sudah dimaafkan. Saya belikan dia gigi palsu. Namun, akibat dosa yang saya lakukan, tetap ada, yaitu temanku ompong. Saya merasa bahwa meskipun sudah diampuni, goresan luka dalam hati saya sendiri masih ada ketika melihat temanku yang bergigi palsu gara-gara pernah saya pukul. Rasanya tetap tersiksa. Siksa itu terhapus semua atau sebagian berkat indulgensi penuh atau sebagian.
Agar mengerti dengan lebih baik ajaran mengenai indulgensi, kita harus mengerti Siksa Dosa. Dosa memiliki akibat ganda. Dosa berat merampas kita dari persekutuan dengan Allah, membuat kita tidak layak untuk hidup abadi. Perampasan ini disebut “siksa dosa abadi”. Di sisi lain, setiap dosa (juga yang ringan), mengakibatkan hubungan retak, dan berbahaya bagi makhluk, yang mana membutuhkan penyucian baik di dunia maupun sesudah mati (kalau sesudah mati dilakukan dalam purgatorium). Penyucian ini disebut membebaskan dari “siksa dosa sementara”. Kedua bentuk siksa itu, baik siksa abadi maupun siksa sementara itu bukanlah semacam dendam Allah yang dikenakan kepada manusia dari luar, namun sebagai bentuk pertobatan dari dalam diri dan kodrat manusia itu sendiri. Suatu bentuk “siksaan” karena cinta yang menyala dan rindu keselamatan kekal. Suatu pertobatan yang lahir dari cinta yang menyala dapat mengakibatkan penyucian secara menyeluruh, sehingga tak ada siksa dosa lagi yang harus ditanggung. (bdk. KGK # 1472).
Pengampunan dosa dan pemulihan persekutuan dengan Allah mengakibatkan pembebasan dari siksa dosa abadi. Tetapi siksa dosa temporal tetap tinggal. Warga Kristen harus menerima siksa dosa sementara ini sebagai rahmat dengan menerima penderitaan itu dengan sabar dan kalau saatnya tiba, menerima kematian dengan tulus. Juga harus berusaha untuk meninggalkan “manusia lama” dan “mengenakan manusia baru” dengan perbuatan belas kasih, doa, dan aneka mati raga. (KGK # 1473).
Nah, dalam arti itulah indulgensi. Saya akan dipulihkan oleh karena indulgensi anugerah Gereja. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerima indulgensi, dengan persyaratan yang jelas (mis. menyesali dosa, mengaku dosa, menjalankan penitensi, menerima komuni, mendoakan intensi sri paus), memperolehnya berkat bantuan Gereja. Gereja sebagai pelayan pengudusan, secara otoritatif membagi-bagikan indulgensi dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus. Indulgensi diperuntukkan bagi orang yang masih di dunia maupun yang sudah meninggal dunia (Paus Paulus VI, konst. Ap. “Indulgentiarum doctrina” normae 1-3). Jadi, indulgensi ditetapkan oleh keputusan Gereja dalam waktu tertentu, baik indulgensi penuh maupun sebagian. Misalnya, saat World Youth Day, Hari Raya Peringatan Semua Orang Beriman tanggal 2 November, dsb. (lihat KGK # 1471). Indulgensi diberikan oleh Gereja, yang berkat wewenangnya untuk mengikat dan melepaskan yang diterimanya dari Yesus Kristus, membela warga Kristen yang bersangkutan dan memberikan kepadanya kekayaan jasa Kristus dan para kudus, supaya ia dapat menerima dari Bapa yang maha belas kasih, penghapusan atas siksa-siksa sementara yang harus ditanggung untuk dosa-dosanya. Gereja membantu warga Kristen dengan cara ini, dan mengajak mereka melakukan karya-karya amal, kesalehan dan pertobatan. (KHK # 1478).
Oleh karena umat beriman yang telah meninggal yang masih di jalan penyucian adalah juga anggota persekutuan para kudus ini, maka kita antara lain dapat membantu mereka memperoleh indulgensi. Dengan demikian dihapuskanlah siksa dosa sementara yang ditanggungnya dalam purgatorium. (KGK # 1479).
Jadi, indulgensi diperuntukkan bagi orang beriman yang ada di dunia dan di purgatorium. Oleh indulgensi, orang beriman dapat memperoleh penghapusan siksa akibat dosa yang sudah diampuni untuk diri sendiri, sesama maupun jiwa-jiwa di tempat penyucian (KGK # 1498).
Yang di neraka tidak bisa ditolong dengan cara apapun karena mereka sendiri tidak mau/ menolak ditolong Allah, karena tidak mengakui kasih dan kuasa-Nya secara definitif. Dengan kata lain, menghujat/menolak Roh Kudus (bdk. Luk 12:10). Di situlah para iblis yang menolak Allah secara definitif dan hanya mengalami kebencian kekal. Dalam arti itu, doa dan indulgensi untuk mereka sia-sia.
Namun demikian, kita tidak bisa men”cap” seseorang yang berdosa yang belum sempat bertobat sebagai “penghuni neraka” setelah kematian mereka. Dengan semangat kasih, kita, Gereja, tetap mendoakan semua orang beriman yang telah meninggal dan memohonkan indulgensi demi kerahiman Allah melalui Kristus dalam Roh Kudus. Doa-doa kita selain berguna juga bagi jiwa orang lain, juga berguna bagi jiwa kita sendiri.
Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Shalom mbak Ingrid,
Saya mempunyai sedikit pertanyaan tentang Indulgensi ini.
Dahulu, saya mempunyai seorang teman (seorang Kristen juga) yang hidupnya kurang benar. Setelah melakukan pembunuhan, dia meninggal di dalam penjara karena keracunan minuman keras oplosan. Yang saya sayangkan, dia meninggal dalam keadaan dosa berat (mungkin, dalam keadaan belum bertobat). Sering saya bawa nama teman saya tersebut dalam doa. Tetapi setelah membaca artikel anda, timbul pertanyaan dalam hati saya;
a. Apakah Indulgensi tidak bisa diperuntukkan bagi mereka yang ada di neraka (bukan di api pencucian) ?
b. Sia-siakah doa yang saya kirimkan untuk teman saya ‘SEANDAINYA’ memang teman saya masuk neraka?
Terima kasih atas tanggapan yang mbak Ingrid berikan.
Tuhan Yesus memberkati …