Perbedaan tubuh, jiwa dan roh

Pertanyaan:

Shalom, moderator katolisitas yang terkasih, sehubungan dengan peringatan arwah pada tanggal 02 November, saya ada sedikit pertanyaan yang agak menggangu, konsep kemanusiaan adalah terdiri dari 3 bagian, tubuh, jiwa dan roh. menurut pandangan umum bahwa setelah manusia meninggal badannya akan membusuk yang akhirnya menyatu dengan tanah, roh nya akan kembali kepada Sang Pencipta, bagaimana dengan jiwanya ? karena sebagaimana pengertian dalam kharismatik bahwa jiwa itu adalah perasaan atau emosional, contoh orang gila disebut sakit jiwa, karena umumnya mereka tidak lagi memiliki perasaan sebagaimana orang waras. bagaimana jiwa itu tetap hidup ketika seseorang itu meninggal, berarti mereka mereka yang meninggal masih memiliki perasaan / emosional, sedangkan dalam pengertian kristiani bahwa seseorang yang meninggal sudah tidak lagi memiliki hubungan emosional lagi; contoh-Lukas 20:29-35.
Mohon pencerahan, Tuhan memberkati, (Bong Felix)

Jawaban:

Shalom Felix,
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan Felix, dalam beberapa butir berikut ini:

1) Manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh?
Menurut  Gereja Katolik, yang mengambil pengajaran dari St. Thomas Aquinas, manusia terdiri tubuh dan jiwa. Namun jiwanya di sini adalah jiwa spiritual (rohani); yang menyebabkan manusia sebagai mahluk rational/ berakal budi. Sedangkan binatang mempunyai juga tubuh dan jiwa, namun jiwanya bukan rohani, sehingga disebut sebagai mahluk irrational/ tidak berakal budi. Jiwa binatang ini tidak abadi, jadi jiwanya mati jika tubuhnya mati. Nah, jiwa di dalam tubuh manusia merupakan “prinsip utama yang memberikan kehidupan” (Summa Theologica I, q. 75, a.1), sehingga jika jiwa ini tidak ada lagi di dalam tubuh maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh manusia. Ini yang terjadi pada kita meninggal.
Ayat surat kepada jemaat di Ibrani yang mengatakan bahwa firman Allah itu “hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua sekalipun; ia dapat menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh…” (Ibr 4:12) itu bukan untuk mengatakan bahwa kita punya jiwa dan roh yang berbeda satu sama lain; tetapi merupakan ekspresi yang menyatakan efek ‘ketajaman’ firman Allah yang memang dapat menegur kita dan mengetahui segala sesuatu, membedakan pertimbangan dan pikiran kita.

2) Apa yang terjadi dengan jiwa kita jika kita meninggal?
Jiwa spiritual kita tetap hidup (sebab jiwa kita bernilai abadi), sedangkan tubuh kita mati. Katekismus Gereja Katolik 997, 1005 mengajarkan bahwa pada saat kita mati, jiwa kita terpisah dari tubuh, tubuh akan mengalami kehancuran, sedangkan jiwa melangkah menuju Allah dan menunggu saat di mana kelak akan dipersatukan kembali dengan tubuh. Persatuan antara tubuh dan jiwa ini terjadi pada akhir jaman (Yoh 6:39-40; 44,54; 11:24; Lumen Gentium 48, KGK 1001).

3) Jiwa= perasaan?
Walaupun kedengarannya benar, namun dengan pengertian dalam point 1, jiwa memiliki nilai yang lebih dalam dari sekedar perasaan, dan dengan demikian perasaan dapat dikatakan merupakan bagian dari jiwa.

4) Bagaimana dengan orang yang sakit jiwa?
Manusia yang normal memiliki ratio/ akal budi dan kehendak bebas; yang ditandai dengan kemampuannya untuk mengetahui sesuatu dan mengasihi seseorang (knowing and loving). Untuk mengetahui sesuatu, manusia membentuk konsep sesuatu di dalam pikirannya, dan ini mensyaratkan adanya otak yang berfungsi dengan baik. Pada orang yang sakit jiwa/ gila,  kita mengetahui bahwa mereka tetap memiliki akal budi dan kehendak bebas, namun otak mereka tidak berfungsi dengan semestinya. Maka, orang yang sakit jiwa tersebut, tetap memiliki martabat sebagai manusia, walaupun otaknya tidak normal, dan karenanya ia tidak dapat berpikir/ mengetahui sesuatu dengan baik.

5) Seseorang yang meninggal sudah tidak mempunyai perasaan? Pada Luk 20:29-35: dikatakan dalam kebangkitan orang mati di surga orang-orang ‘tidak kawin dan dikawinkan’.
Kita mengetahui bahwa Tuhan merencanakan perkawinan manusia sebagai lambang akan “Perjamuan kawin Anak Domba” antara Allah dan manusia di surga (Silakan baca: Indah dan dalamnya makna sakramen Perkawinan Katolik). Maka setelah orang sampai di surga dan bersatu dengan Allah sendiri, maka lambang yang menunjuk ke surga tidak diperlukan lagi. Yohanes Paulus dalam Theology of the Body mengatakan, “When Jesus say men and women will not be given to marriage in the resurrection, it is as if he is saying, “You no longer need a sign to point you to heaven, when you are in heaven“.”(TOB 66: 2)
Pada saat kita bersatu dengan Tuhan di surga, kita bersatu juga dengan orang-orang yang kita kasihi, dan juga dengan semua orang yang bersatu dengan Tuhan; dalam suatu persekutuan kasih yang tidak dapat dilukiskan lagi dengan kata-kata. Dengan demikian maka tidak ada lagi orang kawin/ dikawinkan di surga dalam pengertian kawin/ dikawinkan ala dunia. Di surga tidak ada lagi keinginan badan seperti di dunia. Yang ada hanya kasih yang meraja di dalam Tuhan yang adalah Kasih. Jadi kalau perasaan di sini diartikan sebagai naluri duniawi, tentu perasaan ini tidak ada lagi di surga, tetapi jika perasaan di sini diartikan perasaan mengasihi, wah, malah di surga perasaan kasihlah yang utama dan sempurna! Oleh sebab ini kita orang Katolik percaya bahwa kita dapat memohon agar para kudus di surga mendoakan kita; karena mereka sungguh telah dibenarkan oleh Allah karena kasih mereka, dan kini mereka bersatu dengan Tuhan dalam KasihNya, sehingga doa mereka besar kuasanya (Yak 5:16).

Demikian uraian saya, semoga dapat menjawab pertanyaan Felix.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

17 Komentar to Perbedaan tubuh, jiwa dan roh

  1. Salam Damai Kristus,

    Saya punya pendapat pribadi yg berdasarkan pengalaman spiritual saya :
    Saya sendiri lebih cocok kalau pembagian secara dikotomi, tetapi tdk setuju bila pembagiannya adalah tubuh dan jiwa, tetapi seharusnya tubuh dan roh, adalah sbb :
    1. Tubuh dan Jiwa itu adalah satu kesatuan karena jiwa adalah bagian tubuh yang ada di otak (sifatnya kasat mata). Sewaktu-waktupun bisa sakit atau cacat seperti tubuh yang lain … kalau meninggalpun jiwa itu hilang. Seperti amnesia, gangguan kesadaran, gangguan motorik, gangguan syaraf pengindraan, Ketika mati, tentu saja akan lenyap semua
    2. Roh adalah sesuatu yg tidak kasat mata. .dan sifatnya kekal.
    Kalau menurut saya ini lebih ke alam bawah sadar.
    Ketika puasa — > tubuh dan jiwa menjadi lemas, tetapi roh makin kuat.

    Pendapat saya agak aneh, tapi kalau bagi yg sudah pernah punya pengalaman spiritual dan supranatural, ini tdklah aneh. Mohon moderator menanggapinya …

    Salam,

    Antonius

    • Shalom Antonius,

      Terima kasih atas komentarnya tentang tubuh, jiwa dan roh. Sebelum masuk ke dalam diskusi yang lebih jauh, silakan mendefinisikan secara persis: tubuh, jiwa dan roh. Apakah anda mempercayai bahwa jiwa dan roh bersifat spiritual? Bagaimana anda menjelaskan dua hal yang bersifat spiritual pada saat yang bersamaan hadir dalam satu tubuh? Apakah anda mempercayai bahwa hal yang spiritual lebih kuat dari material? Kalau demikian, bagaimana kita membayangkan dua hal (jiwa dan roh) yang lebih kuat ada di dalam satu hal yang lebih lemah (tubuh)? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin dapat membantu kita untuk melihat topik ini dari sisi yang lain.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef- katolisitas.org

  2. saya pernah baca di buku “iman katolik” bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh penjelasan anda yang telah saya baca hanya membicarakan tubuh dan jiwa, bagaimana dengan roh apakah jiwa dan roh sama saja mohon penjelasan. terimakasih.

    [dari katolisitas: silakan melihat diskusi ini - silakan klik]

  3. Alexander Pontoh January 21, 2011 at 12:28 am

    apakah penjelasan di http://id.wikipedia.org/wiki/Roh_(Kristen) benar?
    Submitted on 2011/01/20 at 11:58pm
    Definisi Roh itu apa sih? (Roh manusia)

    [dari katolisitas: silakan melihat diskusi ini - silakan klik]

    • Alexander Pontoh January 22, 2011 at 2:10 am

      Membaca diskusi itu… saya tidak mengerti… malah semakin bingung…

      [dari katolisitas: di bagian mana bingungnya?]

      • Alexander Pontoh January 23, 2011 at 8:00 pm

        saya hanya ingin definisi roh (manusia) itu apa. tapi di diskusi itu… (saya nangkapnya) manusia hanya terdiri dari tubuh dan jiwa…. benar? pengajaran Gereja Katolik hanya tubuh dan jiwa, bukan tubuh, jiwa dan roh…. benar?

        [dari katolisitas: mungkin artikel ini dapat membantu - silakan klik.]

  4. Dedi Christianto Taaweran December 2, 2010 at 4:07 pm

    Boleh tidak saya tahu apa hubungan antara roh, kematian, dan dunia ilahi?

    • Shalom Dedi,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Diskusi tentang roh, jiwa dan tubuh dapat dibaca di sini – silakan klik. Tubuh manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, yang merupakan kesatuan yang tak terpisahkan membentuk satu pribadi yang unik. Pada saat seseorang mengatakan manusia mempunyai roh, maka sebenarnya hal tersebut mengacu kepada jiwa yang bersifat spiritual. Pembahasan tentang hal ini dapat dilihat pada artikel tentang perbedaan manusia, binatang dan tumbuhan di sini – silakan klik. Karena tubuh manusia adalah bersifat material, maka tubuh manusia juga bersifat sementara, yang keberadaannya diakhiri dengan kematian, yang berarti ada keterpisahan sementara antara tubuh dan jiwa. Walaupun tubuh manusia mengalami kematian, namun jiwa manusia bersifat kekal, karena kodrat dari sesuatu yang bersifat spiritual adalah kekal. Dan berdasarkan wahyu Allah, maka jiwa dan tubuh manusia akan bersatu kembali pada saat terjadi kebangkitan badan, di mana seluruh manusia akan mengalami pengadilan umum (general judgment). Saya tidak tahu persis apa yang ingin anda ketahui tentang dunia ilahi. Menjadi lebih baik kalau anda dapat menerangkan apa yang anda maksud dengan “dunia ilahi”. Pada saat terjadinya pengadilan umum, maka seluruh umat manusia yang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan akan bersatu dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga. Di dalam Kerajaan Sorga, manusia melihat Allah muka dengan muka, atau melihat Tritunggal Maha Kudus sebagaimana adanya, atau manusia berpartisipasi secara sempurna dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus, di mana kasihlah yang meraja. Dan itulah kebahagiaan yang sempurna dan kekal. Mari kita bersama-sama berjuang untuk mencapai tujuan akhir kita, yaitu Sorga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  5. Karismatik oh Karismatik, betapa daku telah disesatkan olehnya, brapa banyak lagi orang yang akan disesatkan ? sekarang saya kudu audit semua ajaran iman yang saya dapat dari karismatik…

    Terima kasih katolisitas terutama ke pak stefanus, bu inggrid dan romo wanta, kalian menerangi jalanku yang gelap ini

    • Shalom Anonymous,
      Terima kasih atas dukungannya kepada karya kerasulan ini. Mungkin sering di persekutuan doa karismatik diterangkan bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Dan seringkali hal ini membingungkan umat. Jadi, masalahnya bukan pada karismatiknya, namun pada pembicaranya. Untuk diskusi tentang efek negatif dan positif dari gerakan karismatik, silakan membacanya di sini (silakan klik).

      Salam kasih dalam Krisstus Tuhan,
      stef – ww.w.katolisi

  6. sedikit komentar untuk no.(4):
    “Pada orang yang sakit jiwa/ gila, kita mengetahui bahwa mereka tetap memiliki akal budi dan kehendak bebas, namun otak mereka tidak berfungsi dengan semestinya.”.
    Saya kira ada sakit jiwa yg disebabkan pengalaman traumatik, pengalaman ini melukai emosi orang tersebut, sehingga mempengaruhi pikiran dan kehendaknya. Mungkin otaknya berfungsi baik, tapi dibawah kendali emosional yang tidak teratur. Jadi bukan tubuh tetapi jiwanya yg luka?

    Orang dgn jiwa normal tetapi ada dalam tubuh yang tidak normal, seperti orang yg lumpuh total, sakit, termasuk “gila” sebagai penyakit , tentunya dia masih mempunyai kodrat manusia.

    Orang dgn tubuh normal tetapi dengan jiwa terluka shg gagal reasoning, bagaimana kodrat manusianya?
    Kalau anak-anak seblm reasoning-ages dapat dibaptis, bagaimna dengan orang dengan kasus di atas?
    Juga, dapatkah membaptis orang-tua yang sudah pikun?

    • Shalom Fxe,
      Terima kasih atas pertanyaannya yang unik.
      Ya memang, baik orang normal ataupun orang yang kurang normal/ kurang waras, keduanya tetap manusia, dan orang yang tidak waras tidak kehilangan kodratnya sebagai manusia. Perlu juga diketahui bahwa batas untuk menentukan seseorang waras atau kurang waras juga sesungguhnya melibatkan gradasi, sehingga para pakarpun tidak dapat memberikan garis yang jelas, batas kewarasan atau sedikit kurang waras. Biasanya segalanya terlihat jika memang jelas telihat bedanya. Mengenai hal ini, silakan membaca lebih lanjut di link ini, silakan klik

      Maka tentang kasus apakah orang yang tidak waras itu dapat atau tidak dibaptis, sumber di atas mengatakan:

      Adults who have always been insane can receive baptism, since, as in the case of infants, the Church’s intention supplies what is lacking. If they have ever been sane, they can be baptized when in danger of death or if incurable, provided they had when sane a desire for the sacrament. The insane cannot be sponsors at baptism. They may receive confirmation. Communion should not be given to those who have always been insane. Those who, before becoming insane, were pious and religious, should be given Communion when in danger of death. When there are lucid intervals, Communion may then be administered. The same applies to extreme unction.

      Jadi, kesimpulannya, begini:
      1. Jika orang itu sudah dari lahirnya memang kurang waras, maka orang itu dapat dibaptis.
      2. Namun jika orang itu tidak waras, tetapi dulunya pernah waras, maka ia dapat dibaptis, jika ia mendekati ajal atau jika ketidakwarasannya ini tidak dapat disembuhkan, asalkan sewaktu dia waras dia menunjukkan keinginan untuk dibaptis.
      3. Dengan prinsip yang sama, maka orang yang tua yang pikun juga dapat dibaptis, jika ia mendekati ajal, asalkan sewaktu sebelum pikun, ia menunjukkan keinginan untuk dibaptis.

      Demikian masukan saya, semoga bermanfaat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  7. Salam damai sejahtera

    Tanggapan atas :

    TUBUH JIWA ROH

    Alkitab membagi manusia dalam 2 cara yaitu :

    DIBAGI 3 (Trichotomi) : Tubuh,Jiwa & Roh
    1Tes 5 : 23 (…………. semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna ………………)

    DIBAGI 2 (Dichotomi) : Manusia lahiriah & Manusia batiniah
    2Kor 4 : 16 (…………….. manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah …………………)

    Dengan mata jasmani kita hanya dapat melihat tubuh atau manusia lahiriah saja, kita tidak dapat melihat roh atau jiwanya.
    Tetapi kalau kita mulai bergaul, dari kata2, sikap dan perbuatannya, kita dapat merasakan dan mengetahui banyak tentang jiwa dan rohnya.
    Ef 3 : 16 (Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,)
    1Pet 3 : 4 (tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

    Kita melihat kadang2 Alkitab memakai trichotomi misalnya dalam 1Tes 5 : 23 / Alkatib 12 : 7, tapi kadang2 juga memakai dichotomi misalnya dalam Rom 8 : 13

    Juga Paulus memakai kedua macam pembagian ini dalam surat2nya, kadang2 trichotomi , kadang2 juga dichotomi, tergantung dari kebutuhan pokok pembicaraan atau konteksnya, misalnya :
    Dichotomi : 2Kor 4 : 16 / Ef 3 : 16 / Ef 4 : 30
    Trichotomi : 1Tes 5 : 23 / Ibr 4 : 12 / Ef 2 : 1

    PENGERTIAN ALKITAB TIDAK BOLEH DICAMPUR DENGAN PENGERTIAN UMUM ATAU MENURUT ILMU JIWA , sebab orang dunia pada umumnya tidak dapat mengerti tentang orang baru dan bagian2nya.
    1Kor 2 : 14-15 (Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.)

    Mereka tidak dApat menangkap pengertian2 tentang orang baru, itu menjadi kebodohan bagi mereka, sebab mereka tidak dapat membuktikannya secara ilmiah.
    Perkara2 rohani itu hanya dapat dimengerti dengan peri rohani, dimensinya lain.
    Misalnya gelombang suara radio di udara itu ada, tetapi dengan telinga kita tidak dapat menangkapnya, harus dengan alat khusus yaitu radio.
    Begitu juga kalau seorang tidak lahir baru, ia tidak dapat mengerti perkara2 Allah yang dalam2 / rohani; kita memerlukan suatu alat / cara khusus dari Tuhan, yaitu lahir baru dan pengurapan Roh Kudus
    1Kor 2 : 10 (Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.)

    Di dalam Alkitab istilah “JIWA” mempunyai banyak arti dan banyak diantaranya yang tidak dapat dimengerti dengan pikiran duniawi.
    Mereka (orang dunia) tidak dapat membedakannya sebab untuk memisahkan antara roh dan jiwa , diperlukan Firman Tuhan (Ibr 4 : 12)
    Didunia tidak ada dokter roh yang ada dokter jiwa sebab menurut mereka roh dan jiwa itu sama, padahal sangat berbeda !

    Roh orang dunia (orang lama) itu mati, artinya putus hubungan dengan Allah
    Ef 2 : 1 (Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.)
    sehingga mereka tidak mengerti tentang roh.
    Pakailah Firman Tuhan, sebab Firman Tuhan itulah kebenaran Yoh 17 : 17 (Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.)
    Jangan Alkitab dan ilmiah dicampur, nanti kacau, menyesatkan dan mematikan iman

    APAKAH TUBUH ITU ?
    Tubuh adalah materi yang nampak pada diri manusia.
    Pada mulanya tubuh ini dibuat dari tanah oleh Allah.
    Pada waktu seorang mati, maka tubuh ini menjadi rusak , namun bekas tubuh ini tetap mempunyai nilai khusus, sebab pada hari kebangkitan orang mati, bekas2 tubuh orang benar akan diubahkan menjadi tubuh kemuliaan yang kekal.

    APAKAH JIWA ITU ?
    Kej :9 : 4 (Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.)
    Jiwa atau hidup itu ada di dalam darah.
    Sesudah manusia jatuh dalam dosa, rohnya mati (putus hubungan dengan Allah) dan jiwanya rusak oleh dosa, menjadi sama seperti jiwa binatang.
    Jiwa seperti ini selalu menuruti naluri2 manusiawi, bahkan dikuasai olehnya .
    Dalam bahasa Alkitab tubuh dan jiwa itu dapat diidentifiser sebagai daging.
    Kalau dosa terus menerus berkuasa atas manusia, maka pada waktu mati dan hari kebangkitan, seluruh tubuh,jiwa dan rohnya tetap tercerai dari Allah untuk kekal.
    Allah itu roh adanya, begitu juga manusia itu roh adanya, sebab itu manusia adalah makluk yang kekal.
    Tetapi di dalam rencana Allah, selama hidup didunia manusia itu ditempatkan dalam wadah tubuh dosa ini, supaya roh kita dapat diolah, dilatih dan tumbuh menjadi sempurna.

    JIWA MANUSIA PADA WAKTU MATI.
    Alkatib 12 : 7 (dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.)
    Pada waktu mati 3 bagian tubuh ini tercerai berai satu sama lain, sisa 2 bagian
    ROH orang beriman kembali kepada Tuhan, tetapi roh orang berdosa kembali kepada bapanya setan (Yoh 8 : 44 )
    TUBUH kembali menjadi tanah sesuai apa yang dikatakan Tuhan dalam Kej 3 : 19 (dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.)
    JIWA manusia kemana ? Tidak disebutkan !
    Jiwa ini adalah hidup, pada waktu mati, hidup ini berakhir, jadi jiwa ini hilang, lenyap, berakhir

    PADA WAKTU MEMBANGKITKAN ORANG MATI
    Luk 8 : 55 (Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan).

    Bagaimana proses kebangkitan itu terjadi ?
    Tubuhnya masih ada disitu
    Rohnya kembali karena dipanggil Anak Manusia dengan iman
    Dimana jiwanya ?
    Mengapa Anak Manusia tidak memanggil jiwanya ?
    Apakah untuk membentuk seorang manusia yang utuh tidak diperlukan 3 unsur seperti yang ada pada semua orang yang hidup ? Ternyata tidak !
    Hanya dengan 2 unsur, yaitu tubuh dan roh, maka anak itu dibangkitkan kembali.
    Sesudah bangkit, anak itu hidup dan jiwanya pun tiba2 ada didalamnya.
    Pada waktu roh itu masuk kedalam materi tubuh, maka materi itu menjadi hidup dan hidup di dalam materi tubuh itu dinamakan jiwa.
    Jadi waktu roh masuk dalam tubuh yang mati timbul kehidupan yaitu jiwa.
    Jiwa yang hilang pada waktu mati, itu terbentuk kembali dengan sendirinya pada waktu roh itu masuk dalam tubuh yang mati itu

    PADA WAKTU PENCIPTAAN MANUSIA.
    Kej 2 : 7 (ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.)
    Pada waktu Allah menciptakan manusia, hanya dipakai 2 unsur saja, yaitu :
    Patung tanah liat = tubuh
    Nafas Allah yaitu = roh

    Sesudah roh yang berasal dari Allah masuk, timbullah jiwa artinya timbul kehidupan dalam patung tanah liat itu, sehingga menjadi tubuh yang hidup, tubuh yang ada jiwanya.
    Jadi sesudah patung tanah liat itu hidup menjadi manusia yang bernafas, barulah terjadi 3 unsur, yaitu roh,jiwa tubuh

    TUMBUHAN DAN BINATANG
    Dengan Firman Tuhan maka timbul kehidupan yaitu tumbuhan dan binatang, sehingga dari tidak ada menjadi ada (Kej 1 : 9-12 & 20-25)
    Ibr 11 : 3 (Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.)
    Sebab itu tumbuhan dan binatang terdiri dari tubuh dan jiwa saja, tidak diberi roh oleh Allah
    Dalam tumbuhan dan binatang, meskipun tidak ada roh, timbul kehidupan.
    Pada waktu tumbuhan & binatang mati semua berakhir dan habis tanpa sisa.
    Sebab itu tumbuhan & binatang tidak mempunyai kelanjutan dalam hidup kekal yang akan datang, tetapi setiap manusia mempunyainya.
    Apa yang kita perbuat selama kita hidup di dunia ini mempunyai akibat yang langsung dalam hidup yang akan datang, tetapi tumbuhan & binatang tidak mempunyai akibat apa2 dari perbuatannya dalam dunia sekarang

    Dari keterangan ayat2 diatas kini menjadi jelas, bahwa pada waktu mati, jiwa itu lenyap, hilang dan pada waktu kebangkitan atau penciptaan, jiwa itu muncul dengan sendirinya, sesudah roh dan tubuh itu bersatu.
    Jadi jiwa manusia itulah “KEHIDUPAN” dan ada pada waktu manusia hidup dan kalau kehidupan itu berakhir, maka jiwa itu juga lenyap

    Jadi Alkitab tidak menyatakan bahwa Jiwa dan Roh itu sama, juga tidak menyebutkan bahwa jiwa itu pada saat manusia mati akan kembali kepada Allah. Yang kembali adalah rohnya.

    Bagaimana tanggapan anda

    Salam
    Mac

    • Shalom Machmud,

      Terima kasih atas tanggapannya tentang tubuh, jiwa, dan roh.

      Diskusi tentang hal ini telah dilakukan sejak lama, seperti yang dilakukan oleh Plato, Aristoteles, dll. untuk mengerti kodrat manusia. Dalam hal ini, para teolog kristen terbagi menjadi dua, yaitu dichotomy dan trichotomy. Yang menganut pengertian dichotomy berpendapat bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa dan Trichotomi mengatakan bahwa manusia terdiri dari: tubuh (body), jiwa (soul / psyche), dan roh (spirit / pneuma). Konsep trichotomy – yang diajarkan oleh Plato, gnostics, manichaeans, apollinarians, dan pada jaman modern ini diajarkan oleh Gunter – ditolak oleh Gereja Katolik. (Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma (Tan Books & Publishers, 1974), p.96-97). Kita tidak dapat mengatakan bahwa dua-duanya benar, karena ke-dua konsep tersebut berbeda. Mari kita melihat satu-persatu dari teori ini dari Alkitab.

      I. Mengapa Gereja Katolik mengajarkan dichotomy:

      1) Dalam Alkitab kata "jiwa" dan "roh" sering dipakai bergantian, seperti: Yoh 12:27 "Sekarang jiwa-Ku terharu (my soul troubled) dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini." Yoh 13:21 "Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu (He was troubled in spirit), lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."
      Para ahli Alkibab mengatakan bahwa contoh di atas merupakan "Hebrew parallelism", yang merupakan cara menyatakan ide secara puitis, dimana ide yang sama diulang dengan memakai kata yang berbeda. Sebagai contoh Lk 1:46-47 "46 Lalu kata Maria: "Jiwaku (soul) memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku (spirit) bergembira karena Allah, Juruselamatku,"

      Machmud sendiri mengatakan "Kita melihat kadang2 Alkitab memakai trichotomi misalnya dalam 1Tes 5 : 23 / Alkatib 12 : 7, tapi kadang2 juga memakai dichotomi misalnya dalam Rom 8 : 13". Secara definisi trichotomy adalah mengakui kodrat manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, sedangkan dichotomy percaya bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Kita tidak dapat mengatakan bahwa keduanya benar, karena, yang satu manusia terdiri dari 3 bagian, sedangkan yang lain percaya bahwa manusia terdiri dari 2 bagian (tubuh dan jiwa).

      2) Kej 2:7 "ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas (spirit) hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (living soul)." Kalau memang manusia terdiri dari tiga bagian, mengapa dalam kisah penciptaan, manusia diceritakan dibentuk dari debu tanah (sesuatu yang bersifat material, dalam hal ini menjadi tubuh) dan nafas hidup (sesuatu yang bersifat non-material/spiritual)? Di sini tidak dikatakan bahwa setelah ada dua unsur (debu tanah dan nafas hidup), maka manusia mempunyai jiwa, namun dikatakan bahwa: manusia menjadi mahluk yang hidup (living soul). Living soul dalam hal ini adalah "the whole man", yang terdiri dari tubuh dan jiwa.

      Jadi, apa yang membuat manusia menjadi mahluk yang hidup? debu tanah dan nafas hidup atau tubuh dan jiwa spiritual, yang membentuk kehidupan manusia, yang membuat manusia adalah manusia dengan kodrat yang ada saat ini. Karena jiwa spiritual ini diciptakan oleh Tuhan (lih. Kej 2.7) dengan menghembuskan nafas, maka jiwa yang bersifat immaterial ini adalah immortal / abadi.

      3) Mt 10:28 mengatakan "Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka."

      Membunuh dan membinasakan jiwa dan tubuh di sini bukannya berarti membuat tubuh dan jiwa lenyap, namun membuat tubuh dan jiwa mengalami penderitaan abadi di neraka.

      4) Lebih lanjut 1 Kor 5:3; 7:34 mengatakan "3 Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku–sama seperti aku hadir–telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. 34 dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya."

      II. Menyanggah teori trichotomy:

      1) Ib 4:12 "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."

      Perhatikan bahwa rasul Paulus membandingkan antara jiwa-roh dan sendi-sendi-sumsum dan pertimbangan-pikiran. Secara sekilas, kita akan melihat bahwa jiwa dan roh adalah dua hal yang berbeda, namun kalau kita melihat perbandingan setara, maka rasul Paulus membandingkan jiwa dan roh seperti sendi-sendi dan sumsum, dimana sumsum dan sendi adalah satu kesatuan; atau pertimbangan dan pikiran, di mana orang tidak dapat membuat pertimbangan tanpa adanya pemikiran maupun sebaliknya. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa jiwa dan roh adalah satu hal yang satu, karena jiwa kita bersifat spiritual.

      2) 1 Thes 5:23 "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita."

      Seperti yang diterangkan di atas, ini ayat ini adalah "Hebrew parallelism", untuk menekankan sesuatu dengan menggunakan kata yang berbeda. Kita melihat di Mk 12:30 "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu." Kalau kita menggunakan logika trichotomy, maka kita akan melihat bahwa manusia bukan hanya terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, namun juga hati.

      3) Secara definisi, jiwa adalah "the principle of life" dan jiwa adalah bersifat immaterial/spiritual. Kalau memang roh terpisah dari jiwa dan juga bersifat spiritual, maka seolah-olah ada dua immaterial yang berbeda, dalam satu tubuh. Dan akan sulit membayangkan ada 2 immaterial di dalam 1 material (tubuh).

      a) Pertanyaannya adalah siapa yang menciptakan jiwa (bersifat immaterial) dan siapakah yang menciptakan roh (bersifat immaterial). Karena immaterial lebih tinggi tingkatannya dari material dan yang rendah tidak dapat menciptakan yang lebih tinggi, maka jiwa (dan atau) roh tidak dapat diciptakan oleh tubuh yang bersifat material.

      III. Pengajaran Resmi Gereja Katolik tentang manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa (KGK 362-367).

      362     Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani. Teks Kitab Suci mengungkapkan itu dalam bahasa kiasan, apabila ia mengatakan: "Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej 2:7). Manusia seutuhnya dikehendaki Allah.

      363     Dalam Kitab Suci istilah jiwa sering berarti kehidupan manusia (Bdk. Mat 16:25-26; Yoh 15:13.) atau seluruh pribadi manusia (Bdk. Kis 2:41.). Tetapi ia berarti juga unsur terdalam pada manusia (Bdk. Mat 26:38; Yoh 12:27.), yang paling bernilai padanya (Bdk. Mat 10:28; 2 Mak 6:30.), yang paling mirip dengan citra Allah: "Jiwa" adalah prinsip hidup rohani dalam manusia.

      364     Tubuh manusia mengambil bagian pada martabat keberadaan "menurut citra Allah": ia adalah tubuh manusiawi karena ia dijiwai oleh jiwa rohani. Pribadi manusiawi secara menyeluruh sudah ditentukan menjadi kenisah Roh dalam Tubuh Kristus (Bdk. 1 Kor 6:19-20; 15:44-45.).
      "Manusia, yang satu jiwa maupun raganya, melalui kondisi badaniahnya sendiri menghimpun unsur-unsur dunia jasmani dalam dirinya, sehingga melalui dia unsur-unsur itu mencapai tarafnya tertinggi, dan melambungkan suaranya untuk dengan bebas memuliakan Sang Pencipta. Oleh karena itu manusia tidak boleh meremehkan hidup jasmaninya; tetapi sebaliknya, ia wajib memandang baik serta layak dihormati badannya sendiri, yang diciptakan oleh Allah dan harus dibangkitkan pada hari terakhir" (GS 14, 1).

      365     Kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam, sehingga jiwa harus dipandang sebagai "bentuk" badan , artinya jiwa rohani menyebabkan, bahwa badan yang dibentuk dari materi menjadi badan manusiawi yang hidup. Dalam manusia, roh dan materi bukanlah dua kodrat yang bersatu, melainkan kesatuan mereka membentuk kodrat yang satu saja.

      366     Gereja mengajarkan bahwa setiap jiwa rohani langsung diciptakan Allah (Bdk. Pius XII. Ens. "Humani generis" 1950: DS 3896; SPF 8.) – ia tidak dihasilkan oleh orang-tua – dan bahwa ia tidak dapat mati (Bdk. Konsili Lateran V 1513: DS 1440.): ia tidak binasa, apabila pada saat kematian ia berpisah dari badan, dan ia akan bersatu lagi dengan badan baru pada hari kebangkitan.

      367     Kadang kata jiwa dibedakan dengan roh. Santo Paulus berdoa demikian: "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus" (1 Tes 5:23). Gereja mengaiarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua (Bdk. Konsili Konstantinopel IV, 870: DS 657.). Dengan "roh" dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodratinya (Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3005; GS 22,5.) dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah (Bdk. Pius XII, Ens. "Humani generis" 1950: DS 3891). karena rahmat.

      IV. Mempertanyakan komentar Machmud:

      1) Pengertian Alkitab tidak boleh dicampur dengan pengertian umum. Saya tidak tahu apakah Machmud dapat menyetujui bahwa dengan filsafat, terutama metaphysics (study being as being) dapat membantu seseorang untuk memahami misteri iman. Tuhan memberikan kita akal budi, dimana kalau digunakan semestinya, maka akan mengantar kita kepada kebenaran.

      2) Tentang tubuh. Tidak ada perbedaan.

      3) Tentang jiwa.  Seringkali jiwa (soul) dan roh (spirit) dipakai secara bergantian. Kalau ditelusuri, maka perkataan jiwa akan mempunyai konotasi yang begitu banyak, seperti: self, the seat of appetites, the seat of emotions, desire, the soul can refresh, identify as person, dan masih begitu banyak yang lain. Silakan mencari di Alkitab dengan nepes / soul / jiwa (Ibrani) dan psyche atau soul / jiwa (Yunani). Oleh karena itu artinya tidak hanya "jiwa atau hidup ada di dalam darah" seperti yang disebutkan oleh Machmud.

      Sesudah manusia jatuh ke dalam dosa, Machmud mengatakan bahwa rohnya mati dan jiwanya rusak oleh dosa, dan menjadi sama seperti binatang. Pertanyaannya adalah:

      a) Kalau begitu, orang-orang sebelum kedatangan Kristus dan juga orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus, maka tidak mempunyai roh? Bagaimana Tuhan mengembalikan roh tersebut kepada manusia?

      b) Setelah manusia berdosa Machmud mengatakan bahwa jiwa manusia rusak oleh dosa dan menjadi sama seperti binatang. Dalam hal ini, pengertian Gereja Katolik berbeda, karena setelah manusia pertama berdosa, manusia tidaklah rusak total (total depravity), namun masih mempunyai jiwa yang bersifat spiritual. Inilah sebabnya manusia mempunyai kodrat untuk mengenal dan mengasihi penciptanya. Oleh karena itu, manusia tetap mempunyai keinginan bebas, dan mempunyai kemampuan untuk memilih yang baik. Kita dapat melihat ada orang yang belum mengenal Kristus, namun dapat berbuat baik, walaupun sulit dan mungkin tidak dapat tercapai pada tingkatan yang diinginkan oleh Kristus. Namun, tidak benar kalau mengatakan bahwa setelah dosa, manusia menjadi sama seperti binatang, karena jiwanya tetap spiritual.

      4) Jiwa manusia setelah mati. Machmud mengatakan bahwa setelah mati, maka tubuh, jiwa, dan roh tercerai berai.

      a) Lebih lanjut dikatakan, bahwa roh orang beriman kembali kepada Tuhan, dan roh orang berdosa kembali kepada setan. Kalau begitu, menurut Machmud siapa yang menciptakan roh? Dan menurut Machmud, apakah sebelum orang meninggal, roh manusia dapat berubah-ubah, kadang menjadi roh Tuhan dan kadang menjadi roh setan? Apakah ada dua roh yang saling bertentangan? Dan dengan mengatakan bahwa roh orang beriman kembali kepada Tuhan, apakah Machmud mengatakan bahwa manusia mempunyai partikel Tuhan, seperti paham Pantheism?

      b) Kemudian setelah mati, Machmud mengatakan bahwa jiwanya tidak tahu kemana. Kalau jiwa bersifat immaterial (spiritual atau bukan bersifat materi), dan immortal (tidak dapat mati), maka jiwa tidak dapat lenyap. Mungkin pengertian dan definisi "jiwa" yang digunakan Machmud dan saya berbeda?

      5) Setelah dibangkitkan. Machmud mengatakan bahwa jiwanya tiba-tiba muncul pada saat roh bersatu dengan tubuh.

      a) Jadi, siapa yang menciptakan jiwa? Apakah roh yang menciptakan jiwa? Dan kalau roh ini adalah roh manusia, apakah berarti Machmud mengatakan bahwa roh manusia mampu menciptakan jiwa manusia?

      6) Tumbuhan dan binatang. Memang tumbuhan dan binatang mempunyai tubuh dan jiwa, namun jiwa mereka bukanlah spiritual. Jiwa mereka tidak bersifat kekal, namun jiwanya akan mati pada saat tubuhnya mati. Berbeda dengan manusia, yang jiwanya diciptakan langsung oleh Tuhan, maka binatang dan tumbuhan, jiwanya diciptakan langsung oleh orang tua dari tumbuhan atau binatang tersebut.

      Demikianlah, Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa yang bersifat spiritual, yang mampu mengetahui dan mengasihi Allah. Dan dengan semua argumentasi di atas, Gereja Katolik menolak teori trichotomy yang percaya bahwa manusia terdiri dari tiga unsur: tubuh, jiwa, dan roh.

      Semoga keterangan tersebut dapat memperjelas.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • george konduyow July 20, 2010 at 1:55 pm

        Stefanus Tay,

        Salam sejahtera Tuhan Yesus Kristus berserta kita, saya adalah Katolik awam. Saya amat terkejut pada kesimpulan di atas. Namun terima kasih juga atas penjelasan.

        berbunyi:
        “Demikianlah, Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa yang bersifat spiritual, yang mampu mengetahui dan mengasihi Allah. Dan dengan semua argumentasi di atas, Gereja Katolik menolak teori trichotomy yang percaya bahwa manusia terdiri dari tiga unsur: tubuh, jiwa, dan roh.”

        Saya beberapa kali mendengar katekisis sebelum Sakramen Pembaptisan dan Sakramen Penguatan (Krisma) tentang penekanan 3 unsur (Tubuh- Jiwa-Roh) daripada guru2 pembimbing katolik di paroki. Di perkuatkan lagi ceramah2 dalam Seminar2.

        Setelah membaca penerangan di atas KGK – Stefanus Tay. saya tersedar begitu lalai membaca KGK selama ini. Keadaan perasaan saya skrg agak kesal, namun bersyukur.

        Namun bagaimana…. apakah menjadi kesalahan bagi umat Katolik terus mempercayai manusia berunsurkan ‘ tubuh-jiwa-roh’ dan berterusan mengajarkan perkara ini?

        Terima kasih.

        • Shalom George,

          Terima kasih atas tanggapannya. Memang sebaiknya ketika kita belajar dalam proses katekese, kita harus melihat dokumen Gereja, sehingga terlihat dengan jelas apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Dengan demikian, kita harus mengajarkan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Kalau menemui pengajar yang mengajarkan hal yang berbeda, silakan memberikan jawaban dari KGK dan kalau jawaban dari katolisitas dapat membantu, silakan diberikan kepada mereka. Memegang prinsip 2 hal (jiwa dan roh) yang ada di dalam satu tubuh memberikan banyak kebingungan dan pertentangan, seperti yang telah dijabarkan di atas. Secara prinsip, kita dapat mengatakan bahwa jiwa dan roh adalah satu, karena jiwa manusia bersifat spiritual. Dan inilah yang membedakan antara jiwa manusia dan jiwa dari binatang. Semoga dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  8. Shalom, moderator katolisitas yang terkasih, sehubungan dengan peringatan arwah pada tanggal 02 November, saya ada sedikit pertanyaan yang agak menggangu, konsep kemanusiaan adalah terdiri dari 3 bagian, tubuh, jiwa dan roh. menurut pandangan umum bahwa setelah manusia meninggal badannya akan membusuk yang akhirnya menyatu dengan tanah, roh nya akan kembali kepada Sang Pencipta, bagaimana dengan jiwanya ? karena sebagaimana pengertian dalam kharismatik bahwa jiwa itu adalah perasaan atau emosional, contoh orang gila disebut sakit jiwa, karena umumnya mereka tidak lagi memiliki perasaan sebagaimana orang waras. bagaimana jiwa itu tetap hidup ketika seseorang itu meninggal, berarti mereka mereka yang meninggal masih memiliki perasaan / emosional, sedangkan dalam pengertian kristiani bahwa seseorang yang meninggal sudah tidak lagi memiliki hubungan emosional lagi; contoh-Lukas 20:29-35.
    Mohon pencerahan, Tuhan memberkati, (Bong Felix)

    [dari katolisitas: telah dijawab - silakan klik]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: