Perbedaan tubuh, jiwa dan roh

43

Pertanyaan:

Shalom, moderator katolisitas yang terkasih, sehubungan dengan peringatan arwah pada tanggal 02 November, saya ada sedikit pertanyaan yang agak menggangu, konsep kemanusiaan adalah terdiri dari 3 bagian, tubuh, jiwa dan roh. menurut pandangan umum bahwa setelah manusia meninggal badannya akan membusuk yang akhirnya menyatu dengan tanah, roh nya akan kembali kepada Sang Pencipta, bagaimana dengan jiwanya ? karena sebagaimana pengertian dalam kharismatik bahwa jiwa itu adalah perasaan atau emosional, contoh orang gila disebut sakit jiwa, karena umumnya mereka tidak lagi memiliki perasaan sebagaimana orang waras. bagaimana jiwa itu tetap hidup ketika seseorang itu meninggal, berarti mereka mereka yang meninggal masih memiliki perasaan / emosional, sedangkan dalam pengertian kristiani bahwa seseorang yang meninggal sudah tidak lagi memiliki hubungan emosional lagi; contoh-Lukas 20:29-35.
Mohon pencerahan, Tuhan memberkati, (Bong Felix)

Jawaban:

Shalom Felix,
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan Felix, dalam beberapa butir berikut ini:

1) Manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh?
Menurut  Gereja Katolik, yang mengambil pengajaran dari St. Thomas Aquinas, manusia terdiri tubuh dan jiwa. Namun jiwanya di sini adalah jiwa spiritual (rohani); yang menyebabkan manusia sebagai mahluk rational/ berakal budi. Sedangkan binatang mempunyai juga tubuh dan jiwa, namun jiwanya bukan rohani, sehingga disebut sebagai mahluk irrational/ tidak berakal budi. Jiwa binatang ini tidak abadi, jadi jiwanya mati jika tubuhnya mati. Nah, jiwa di dalam tubuh manusia merupakan “prinsip utama yang memberikan kehidupan” (Summa Theologica I, q. 75, a.1), sehingga jika jiwa ini tidak ada lagi di dalam tubuh maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh manusia. Ini yang terjadi pada kita meninggal.
Ayat surat kepada jemaat di Ibrani yang mengatakan bahwa firman Allah itu “hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua sekalipun; ia dapat menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh…” (Ibr 4:12) itu bukan untuk mengatakan bahwa kita punya jiwa dan roh yang berbeda satu sama lain; tetapi merupakan ekspresi yang menyatakan efek ‘ketajaman’ firman Allah yang memang dapat menegur kita dan mengetahui segala sesuatu, membedakan pertimbangan dan pikiran kita.

2) Apa yang terjadi dengan jiwa kita jika kita meninggal?
Jiwa spiritual kita tetap hidup (sebab jiwa kita bernilai abadi), sedangkan tubuh kita mati. Katekismus Gereja Katolik 997, 1005 mengajarkan bahwa pada saat kita mati, jiwa kita terpisah dari tubuh, tubuh akan mengalami kehancuran, sedangkan jiwa melangkah menuju Allah dan menunggu saat di mana kelak akan dipersatukan kembali dengan tubuh. Persatuan antara tubuh dan jiwa ini terjadi pada akhir jaman (Yoh 6:39-40; 44,54; 11:24; Lumen Gentium 48, KGK 1001).

3) Jiwa= perasaan?
Walaupun kedengarannya benar, namun dengan pengertian dalam point 1, jiwa memiliki nilai yang lebih dalam dari sekedar perasaan, dan dengan demikian perasaan dapat dikatakan merupakan bagian dari jiwa.

4) Bagaimana dengan orang yang sakit jiwa?
Manusia yang normal memiliki ratio/ akal budi dan kehendak bebas; yang ditandai dengan kemampuannya untuk mengetahui sesuatu dan mengasihi seseorang (knowing and loving). Untuk mengetahui sesuatu, manusia membentuk konsep sesuatu di dalam pikirannya, dan ini mensyaratkan adanya otak yang berfungsi dengan baik. Pada orang yang sakit jiwa/ gila,  kita mengetahui bahwa mereka tetap memiliki akal budi dan kehendak bebas, namun otak mereka tidak berfungsi dengan semestinya. Maka, orang yang sakit jiwa tersebut, tetap memiliki martabat sebagai manusia, walaupun otaknya tidak normal, dan karenanya ia tidak dapat berpikir/ mengetahui sesuatu dengan baik.

5) Seseorang yang meninggal sudah tidak mempunyai perasaan? Pada Luk 20:29-35: dikatakan dalam kebangkitan orang mati di surga orang-orang ‘tidak kawin dan dikawinkan’.
Kita mengetahui bahwa Tuhan merencanakan perkawinan manusia sebagai lambang akan “Perjamuan kawin Anak Domba” antara Allah dan manusia di surga (Silakan baca: Indah dan dalamnya makna sakramen Perkawinan Katolik). Maka setelah orang sampai di surga dan bersatu dengan Allah sendiri, maka lambang yang menunjuk ke surga tidak diperlukan lagi. Yohanes Paulus dalam Theology of the Body mengatakan, “When Jesus say men and women will not be given to marriage in the resurrection, it is as if he is saying, “You no longer need a sign to point you to heaven, when you are in heaven“.”(TOB 66: 2)
Pada saat kita bersatu dengan Tuhan di surga, kita bersatu juga dengan orang-orang yang kita kasihi, dan juga dengan semua orang yang bersatu dengan Tuhan; dalam suatu persekutuan kasih yang tidak dapat dilukiskan lagi dengan kata-kata. Dengan demikian maka tidak ada lagi orang kawin/ dikawinkan di surga dalam pengertian kawin/ dikawinkan ala dunia. Di surga tidak ada lagi keinginan badan seperti di dunia. Yang ada hanya kasih yang meraja di dalam Tuhan yang adalah Kasih. Jadi kalau perasaan di sini diartikan sebagai naluri duniawi, tentu perasaan ini tidak ada lagi di surga, tetapi jika perasaan di sini diartikan perasaan mengasihi, wah, malah di surga perasaan kasihlah yang utama dan sempurna! Oleh sebab ini kita orang Katolik percaya bahwa kita dapat memohon agar para kudus di surga mendoakan kita; karena mereka sungguh telah dibenarkan oleh Allah karena kasih mereka, dan kini mereka bersatu dengan Tuhan dalam KasihNya, sehingga doa mereka besar kuasanya (Yak 5:16).

Demikian uraian saya, semoga dapat menjawab pertanyaan Felix.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

43 Comments

  1. vincentius hargono on

    Admin katolisitas yth,

    Terimakasih banyak saya ucapkan atas layanan saudara2 dan saya sangat terbantu sekali dengan layanan ini.

    Ťûђàή menciptakan manusia laki2 dan wanita, dan manusia terdiri dari jiwa dan tubuh.
    Ada sesuatu yang menggelitik dalam benak saya, apakah status laki2 dan wanita itu juga di miliki oleh jiwa. Maksud saya apakah dalam ajaran iman katolik ada menyebutkan bahwa jiwa itu memiliki jenis kelamin..? Atau jenis kelamin itu hanya terbatas pada tubuh saja..? Karena ada beberapa saudara seiman yang maaf “kaum homosex” merasa memiliki jiwa laki2 tapi terjebak pada tubuh wanita dan sebaliknya merasa wanita yang terjebak dalam tubuh laki2.

    Mohon pencerahannya, dan sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk semua admin katolisitas, terus berkarya, Ťûђàή selalu memberkati kita..

    אָמֵן, ἀμήν, آمين, Amin

    • Shalom Vincentius,

      Mari berpegang kepada Katekismus Gereja Katolik:

      KGK 2332    Seksualitas menyentuh segala aspek manusia dalam kesatuan tubuh dan jiwanya. Ia terutama menyangkut kehidupan perasaannya, kemampuan untuk mencintai, dan untuk melahirkan anak, dan lebih umum, kemungkinan untuk mengikat tali-tali persekutuan dengan orang lain.

      Dengan demikian, Gereja Katolik tidak memisahkan jiwa dan tubuh seolah-olah keduanya adalah entity yang terpisah. Manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa. Maka jiwa kita bukan ‘menempati’ tubuh kita, tetapi jiwa kita ‘memberikan hidup’ kepada jiwa kita sebagai prinsip kehidupan dari tubuh.

      Seorang apologist Katolik yang cukup handal, Dr. Peter Kreeft, pernah menjelaskannya demikian:

      “Identitas seksual kita mencakup jiwa kita, kepribadian kita… Maka terdapat sebuah pikiran feminin dan pikiran maskulin, sebagaimana terdapat pada tubuh, sebab kita adalah kesatuan psikosomatik (kesatuan antara jiwa dan tubuh). Berpikir bahwa jiwa seseorang tidak bersifat maskulin ataupun feminin adalah memisahkan tubuh dan jiwa secara artifisial, seperti paham Gnostics; dan juga, berpikir bahwa jiwa seperti ‘roh dalam mesin’ yang tak berjenis kelamin, dan bahwa hal maskulin dan feminin hanya sebagai hal yang bersifat material, kedagingan semata, dan bukan sebaliknya, yaitu jiwa sebagai hidup dan bentuk bagi tubuh…” (Dr. Peter Kreeft, Catholic Christianity (San Francisco: Ignatius Press, 2001), p. 244.)

      Dengan demikian kita tidak dapat mengatakan bahwa dalam tubuh dan jiwa dapat terjadi identitas seksual yang berbeda, seperti jiwa perempuan dalam tubuh laki-laki ataupun sebaliknya. Sebab Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia terdiri dari kesatuan tubuh dan jiwa, dan dalam kesatuan inilah ia berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Dear Katolisitas.. mau nanya..
    Maksudnya roh di sini apa ya?
    Ciptaan atau sang Pencipta?
    Yoh 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

    • Shalom Dianne,

      Penjelasan ayat Yoh 6:63, menurut The Jerusalem Bible (New York, Double Day, 1966) p. NT, p.161:

      “Perkataan Kristus tentang Roti dari Surga, menyatakan sesuatu yang nyata dan ilahi, yang hanya dapat dijelaskan pemahamannya oleh Roh Kudus (lih. Yoh 1:33, Yoh 24:26), yang adalah sumber kehidupan bagi umat manusia.”

      Sedangkan penjelasan dari The Navarre Bible tentang ayat tersebut adalah:

      “Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat menerima misteri [Tentang Roti Hidup] jika kita memikirkannya dengan cara pikir manusiawi belaka; dengan kata lain, jika mengikuti keinginan indera kita atau dengan terlalu terikat pada pandangan-pandangan duniawi. Hanya mereka yang mendengarkan Sabda-Nya dan menerima Sabda tersebut sebagai wahyu Allah, yang adalah “roh dan hidup”, yang dapat menerima ajaran ini.”

      Dengan demikian Yoh 6:63 memang tidak berdiri sendiri, namun dimaksudkan untuk menjelaskan ayat-ayat sebelumnya, yang mengajarkan tentang Roti Hidup. Ajaran ini hanya dapat dijelaskan oleh Roh Kudus yaitu Roh Kristus sendiri. ‘Daging’ di sini adalah segala yang berhubungan dengan keinginan indera dan duniawi semata, dan ini dikontraskan dengan keilahian perkataan Yesus yang memberikan kesaksian akan Dia. Sebab dikatakan bahwa Roh Kuduslah yang memberi kesaksian akan Kristus, karena Roh adalah kebenaran (1 Yoh 5:6). Roh Kebenaran inilah yang dijanjikan Kristus akan menyertai Gereja-Nya selama-lamanya (lih. Yoh 14:15); dan Roh inilah yang memberikan kepada kita hidup ilahi, dan telah memerdekakan kita dalam Kristus dari hukum dosa dan maut (lih. Rom 8:2). Jadi yang dimaksudkan dengan Roh dalam Yoh 6:63 adalah Roh Kudus, Roh Allah sendiri, yaitu Roh Sang Pencipta, yang memberi hidup kepada kita manusia ciptaan-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • mohon penjelasan teman2 disini: ( BISAKAH KALAU DUA ROH DISATUKAN KE DALAM WUJUD MANUSIA ) dimana penjelasanya agar bisa diterima akalku yang kurang paham ini.terima kasih atas tanggapanya

        [dari katolisitas: Secara umum, tidak dapat dua hal yang bersifat spiritual ada dalam satu badan. Itulah sebabnya Gereja Katolik menjelaskan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, di mana jiwa ini bersifat spiritual.]

  3. Tubuh, jiwa dan Roh, semua adalah anugerah Allah. Tubuh kita ibarat daya atau kekuatan bersifat fisik (terlihat). Jiwa ibarat daya atau kekuatan yang memiliki kebebasan sendiri, terpisah dari daya atau kuasa Allah. Roh yang dimaksudkan disini adalah daya atau kuasa Allah itu sendiri, sering disebut Roh Kudus, karena Dia adalah Allah itu sendiri. Jadi, jiwa manusia akan selamat dan dapat kembali kepada Bapa (Allah), jika dalam perjalanannya di dunia mengikuti ajaran, perintah dan saran Roh (Roh Kudus). Pada kenyataannya, jiwa kita sering salah langkah atau tidak sejalan dengan kehendak Bapa (Allah) itu sendiri, itu semua karena tubuh ini dapat menyimpan daya atau kekuatan lain yang disebut PIKIRAN, sama sama tidak terlihat tetapi masuk karena lima pintu indera manusia sendiri. Semua yang baik, buruk, bersih, kotor, suci dan berdosa dapat masuk lewat Panca Indera kita, kemudian disimpan didalam gudangnya, PIKIRAN…Karena itu, jika manusia berharap pada pikirannya, itulah kesesatan bisa dimulai. Tetapi jika manusia berharap pada Roh (Roh Kudus) yang juga ada didalam dirinya sendiri, dia tidak akan salah jalan. Jadi disini terbukti Tubuh dan Jiwa manusia dapat dikuasai pikiran, yang semuanya masuk kedalam diri manusia dari dunia, lingkungan tempat ia hidup…..intinya kalau kita tidak dapat percaya ROH Allah ada didalam diri kita, berarti kita meyakini keberadaan Allah ada diluar diri kita, keduniawian. Tapi, ya silakan, itu kebebasan iman setiap orang…

    • Shalom Dody,

      Terima kasih atas tanggapannya. Silakan memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan yang saya berikan ini untuk memperdalam topik ini:

      (1) Apakah definisi tubuh, jiwa dan roh; (2) Apakah hubungan antara ketiganya; (3) Apakah roh manusia adalah bagian dari Roh Kudus?; (4) Apakah jiwa dan roh adalah bersifat spiritual dan apakah kekal?; (5) Bagaimanakah menerangkan bahwa ada dua kekuatan spiritual ada dalam satu material?; (6) Apakah ada kemungkinan jiwa dan roh saling bertentangan dan apakah yang menentukan bahwa salah satu dari mereka dapat menang?; (7) Setelah manusia meninggal, maka apakah yang terjadi dengan jiwa dan rohnya?; (8) Apakah setelah di Sorga, maka manusia tetap mempunyai jiwa dan roh dan apakah masih mungkin bertentangan?

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Shalom….

    saya termasuk yg percaya trikotomi

    tubuh = debu tanah => makanannya nasi
    roh = nafas Allah => makanannya Firman
    Jiwa = ? => makanannya ilmu pengetahuan

    kalo menurut saya, jiwa adalah upah dari dosa saat adam memakan buah pengetahuan yg baik dan yg jahat. adam menjadi pintar dan punya perasaan malu setelah makan buah tsb, malu ternyata dia telanjang sehingga Allah memberikan pakaian kepadanya sekaligus menyuruh adam mencari makanannya sendiri karena sudah menjadi pintar, yg tadinya serba tersedia sekarang harus mengusahakannya sendiri.

    jiwa adalah otak/pikiran manusia (keinginan daging) cenderung untuk melakukan yg jahat-jahat, hal ini wajar karna memang bukan berasal dari Allah, beda dengan roh yg berasal dari nafas Allah, yg selalu menginginkan kebaikan. contoh, ketika kita ingin melakukan perbuatan jahat, suara hati selalu melarang tetapi otak tetap merancang untuk pembenaran kejahatannya. makanya ada tertulis dalam firman keinginan daging selalu bertolak belakang dengan keinginan roh. karna memang sampai kapanpun roh kita akan tetap selalu kudus karna berasal dari Allah beda dgn jiwa yg berasal dari dosa.

    saat manusia mati, tubuh akan kembali ke tanah, dan roh kita akan kembali ke nafas Allah sekaligus akan bersaksi bersama-sama dgn Roh Kudus bahwa kita adalah anak-anak Allah. utuk apa? yaitu untuk menghakimi jiwa.

    jadi menurut saya tubuh roh dan jiwa adalah ketiga unsur yg berbeda.

    [dari katolisitas: Coba Anda mulai dengan mendefinisikan “JIWA” dan “ROH”. Kalau jiwa adalah akibat dari dosa dan membuat manusia menjadi pintar, apakah sebelum berdosa manusia tidak pintar? Kalau setelah mati, jiwa dan tubuh kembali ke tanah, lalu apakah yang terjadi pada waktu kebangkitan badan? Apakah jiwanya tiba-tiba kembali lagi bersatu dengan badan? Apakah jiwa adalah material atau spiritual? Kalau spiritual, bagaimana menjelaskan ada dua hal yang spiritual dalam satu tubuh? Silakan menjawab beberapa pertanyaan ini.]

  5. dimas kelly on

    maaf saya ingin bertanya mengenai Raga, Jiwa dan Roh

    * Matius 27:46,
    Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”\g

    * Mazmur 22:2
    Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.

    Yohanes 4:24
    Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

    = Melihat ke tiga kutipan ayat di Atas dalam presepsi saya adalah

    1. Allah adalah ROH, ROH YANG KUDUS.
    2. Menjelang wafatnya Yesus, disitu saya melihat bahwa Jiwa dan Raga Yesuslah yang berbicara kepada ROHNYA, yg tidak lain adalah ROH ALLAH YANG KUDUS, Karena Kalau jiwa=roh, maka ketika Roh/Jiwa meninggalkan Raga Yesus, Raga itu tidak dapat berkata-kata lagi.

    dan asumsi saya terhadap trikotomi adalah

    1 Tesalonika 5:23
    Terjemahan Baru (TB), Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

    2 Ibrani 4:12
    Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum,; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

    di 2 kutipan tadi memisahkan antara Jiwa dan ROH

    juga mengingat St Thomas Aquinas yg mengikuti Aristoteles yang pernah keliru mengasumsikan Pusat Tata surya, yang juga diakui gereja dengan mengembalikan nama baik galileo
    Demikian mohon tanggapannya

    • Shalom Dimas,

      Katekismus Gereja Katolik (KGK 367) menuliskan

      KGK 367     Kadang kata jiwa dibedakan dengan roh. Santo Paulus berdoa demikian: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus” (1 Tes 5:23). Gereja mengajarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua (Bdk. Konsili Konstantinopel IV, 870: DS 657). Dengan “roh” dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodratinya (Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3005; GS 22,5) dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah (Bdk. Pius XII, Ens. “Humani generis” 1950: DS 3891) karena rahmat.”

      Memang dalam beberapa ayat yang Anda berikan, sepertinya ada pemakaian kata Roh dan jiwa. Namun, bukan berarti ada perbedaan antara roh dan jiwa dalam pengertian bahwa roh atau jiwa adalah merupakan prinsip kehidupan dari manusia, sehingga manusia dapat mengetahui dan mengasihi, mempunyai akal budi dan keinginan. Itulah sebabnya jiwa manusia adalah jiwa yang spiritual, yang diciptakan oleh Allah kekal adanya dan mempunyai kodrat untuk mengetahui dan mengasihi penciptanya.

      Kalau kita ingin membahas tentang perbedaan roh dan jiwa, maka yang perlu dilakukan adalah menjawab beberapa pertanyaan seperti: manusia terdiri dari apa? apa itu roh dan apa itu jiwa? Apakah keduanya bersifat kekal atau sementara? Apakah mungkin dalam satu tubuh material mempunyai dua spiritual?

      Selanjutnya beberapa ayat yang Anda kutip telah dijelaskan di atas – silakan klik. Silakan membaca penjelasan di atas terlebih dahulu. Tentang Galileo Galilee, silakan melihat tanya jawab ini – silakan klik. Semoga keterangan singkat ini dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • dimas kelly on

        Yth Stefanus Tay

        – sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas jawabannya dan saya menangkap tentang dicotomi itu bahwa pengertian roh termasuk dalam bagian jiwa spiritual.

        untuk itu saya bertanya lagi

        – Apakah mungkin kalimat2 yg ada Injil, Kitab suci kata ROH digantikan dengan kata Jiwa

        – dan dalam berkehidupan dengan masyarakat mereka sering mempertanyakan mosok Tuhan berdoa kepada Tuhan, dengan ada pengertian Roh pernyataan seperti itu mudah dijawab

        bagaimana menurut anda ?

        • Shalom Dimas,

          Kitab Suci sering menggunakan kata roh dan jiwa dengan maksud yang sama, yaitu dalam pengertian jiwa sebagai prinsip kehidupan manusia. Jadi dua kata tersebut dapat digunakan dengan maksud yang sama. Tentang mengapa Yesus berdoa kalau Dia adalah Tuhan, maka telah dijelaskan dalam artikel ini – silakan kik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

      • dimas kelly on

        Yth Katoliksitas

        dalam mateus dan markus 14.38 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; d roh memang penurut, tetapi daging lemah.

        Yesus mengatakan tentang roh, roh manusia, bukan jiwa manusia mengapa

        [dari katolisitas: Karena jiwa dan Roh sering digunakan secara berganti-ganti dalam konteks yang sama.]

        • Saya tertarik dengan issue ini, saya katolik sudah sejak 5 SD.

          Menurut saya keterangan sdr. Stephanus terlalu dangkal, yang hanya mengatakan sering digunakan berganti-ganti dalam konteks yang sama.

          Saya sebagai orang katolik ingin mendapatkan jawaban yang benar-benar bisa dipertahankan dan dipertanggung-jawabkan bukan hanya sekedar mengikuti KGK sebagai hukum mati.

          Mohon diberikan pencerahan yang lebih mendalam, sehingga kita bisa lebih mengerti dan menyakini kebenaran dari ajaran dan jawaban tersebut.

          Terimakasih.
          GBU all.

          [dari katolisitas: Kami menjawab berdasarkan pertanyaan. Kalau Anda ingin benar-benar mengetahui topik ini, mungkin link ini- silakan klik dan klik ini dapat membantu. Kalau Anda masih menemukan bahwa keterangan dalam link tersebut masih dangkal, silakan menyampaikannya beserta dengan argumentasinya]

      • dimas kelly on

        di dalam buku pelajaran agama katolik yg ditemukan di internet tertulis :
        B. Aku Memiliki Roh, Jiwa, dan Raga, yang Berkemampuan Memiliki Pikiran, Perasaan, Kehendak.

        Pribadi manusia tidak hanya fisik, tetapi juga jiwa dan roh. Kita mempunyai pikiran, perasaan, kehendak dan tindakan. Hal inilah yang menjadikan manusia seseorang yang bermartabat.

        1. Struktur Dasar Manusia: Roh, Jiwa, dan Raga link to unang76.blogspot.com

        [dari katolisitas: Mungkin yang perlu kita sadari, referensi yang benar-benar dapat dijadikan rujukan adalah dokumen Gereja resmi, termasuk Katekismus Gereja Katolik]

  6. Yth katolisitas:

    Mungkin baik dan perlu dijelaskan juga mengenai kata “roh” ini. Umumnya ketika kita berbicara tentang “roh” kita mengaitkan dengan adanya “Roh Kudus” yang adalah Roh Allah sendiri, lalu “roh jahat” yang adalah setan. Dan lalu orang berkesimpulan dalam diri manusia ketika manusia hendak atau mengerjakan sesuatu: ada tiga hal yg bisa mempengaruhinya: yakni apakah ia menuruti Roh Allah (Roh Kudus berarti bisa diam di dalam dirinya), atau roh jahat (berarti roh jahat juga bisa berdiam di dalam dirinya) dan sering kemudian ditambahkan bhwa ia di pengaruhi oleh rohnya sendiri (yg disebut egoisme/kepentingan diri).

    Dari pengertian itu: dapatkah kita simpulkan bahwa “roh” itu menunjuk pada “makhluk” (Roh Kudus dan Setan, juga makhluk² halus)? dan dengan demikian tepatlah kalau manusia memang tidak terdiri dari tubuh, jiwa dan “makhluk/roh”, dan selanjutnya perlu juga penjelasan mengenai “cara kerja” Roh Kudus, yg kita terima entah melalui sakramen baptis maupun sakramen krisma, sekaligus juga pengertian tentang pencurahan roh, yg selama ini sering kita dengar istilahnya dlm persekutuan doa karismatik.

    Terimakasih sebelumnya. Semoga kita semua makin tercerahkan dengan penjelasan mengenai hal ini.

    Salam.

    • Shalom Triatmojo,

      1. Definisi Roh

      Roh (Spirit dalam bahasa Inggris) berasal dari kata Latin spiritus, spirare (to breathe); atau pneuma dalam bahasa Yunani. Maka roh sering diartikan sebagai penyebab prinsip kehidupan yang digambarkan sebagai nafas. Pernafasan adalah suatu gejala hidup yang paling jelas, sehingga berhentinya nafas diartikan sebagai tanda kematian.

      Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Allah menciptakan malaikat dan manusia menurut gambaran-Nya: Malaikat diciptakan-Nya sebagai mahluk rohani yang murni (tidak bertubuh), sedangkan manusia, diciptakan sebagai mahluk rohani yang mempunyai tubuh. Maka di sinilah letak perbedaannya.

      1. Roh Kudus adalah Tuhan sendiri, yaitu pribadi ketiga dari Trinitas. Maka Roh Kudus itu bukan mahluk, (sebab ‘mahluk’ mengisyaratkan sebagai suatu ciptaan); sedangkan Roh Kudus adalah Allah sendiri yang menciptakan kehidupan.

      2. Setan/Iblis adalah juga roh, karena Iblis/ setan asalnya adalah malaikat yang jatuh dalam dosa. Dalam hal ini Setan, walaupun ia juga roh, tidak dapat disamakan tingkatannya dengan Roh Allah; sebab Allah adalah Pencipta, sedangkan Setan adalah mahluk ciptaan Allah, yang pada awalnya diciptakan baik adanya, tetapi kemudian memilih kehancurannya sendiri, karena menolak Allah. Pemimpin para malaikat yang menolak Allah dikenal dengan sebutan Lucifer, dan para pengikutnya (setan/ demons/ evil spirits) adalah para malaikat yang juga jatuh dalam dosa tersebut.

      3. Jiwa manusia yang rohani. Di sini perkataan ‘roh’ manusia tidak terpisahkan dari jiwa manusia, yaitu yang menjadi prinsip kehidupan dalam tubuh manusia. Sebab jiwa manusia di sini bukan hanya berupa kehendak, akal budi, pikiran atau perasaan, tetapi semua kerohanian manusia, (yang tidak bersifat jasmani)  sehingga jiwa rohani ini dapat bersatu dengan Tuhan yang adalah roh, dan mempunyai kesamaan kehendak dan pikiran dengan dengan kehendak dan pikiran Tuhan.

      Ajaran Gereja Katolik tidak memisahkan antara jiwa dan roh manusia, karena pada kenyataannya jiwa dan roh manusia ini selalu ada dalam kesatuan. Dalam kematian, yang mati adalah tubuh manusia, sedangkan jiwanya yang rohani ini tetap hidup. Tidak dapat dikatakan bahwa setelah kematian, hanya roh manusianya saja yang hidup namun jiwa dan tubuhnya mati (jika di sini jiwa hanya diartikan sebagai kehendak, pikiran, akal budi, dst), sebab dengan demikian artinya roh yang tetap hidup itu tidak mempunyai akal budi, kehendak, dst. Ini tidak mungkin, sebab mereka yang sudah beralih dari dunia ini dan bersatu dengan Allah surga, adalah mereka yang telah mengenal Allah dengan sempurna (lih. Kis 13:12), bahkan Rasul Yohanes menulis, kita akan menjadi seperti Allah, karena kita akan mengenal Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (lih. 1 Yoh 3:2). Pengenalan yang sempurna akan Allah ini mensyaratkan adanya akal budi, sehingga akal budi, pikiran dst (yang sering disamakan dengan jiwa) tidak mungkin tertinggal di kubur bersama dengan tubuh. Oleh karena itu, yang tetap hidup adalah jiwa manusia yang rohani (atau segenap kerohanian manusia, termasuk segala akal budi, pikiran, perasaan dst), sehingga di surga, manusia dapat mengenal Allah dengan sempurna, dan memuji Allah bersama para malaikat (lih. Why 19:1,6-7).

      2. Tentang Pentakosta, Baptis dan Krisma dan pencurahan Roh Kudus

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa melalui sakramen Baptis kita menerima Roh Kudus, yang memberikan kehidupan ilahi kepada kita yang dibaptis. Melalui Baptisan kita digabungkan dalam kehidupan ilahi Allah sendiri, yaitu kehidupan di dalam Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Nah, Roh Kudus yang telah kita terima dalam Pembaptisan ini diteguhkan dalam Sakramen Penguatan, sebagaimana dahulu para Rasul diteguhkan pada saat Pentakosta, untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Maka kedua sakramen ini (Baptis dan Penguatan/Krisma) keduanya memberikan meterai di jiwa orang-orang yang menerimanya, menjadi milik Allah. Selanjutnya orang yang sudah menerima Pembaptisan dan Krisma ini tetap dapat menerima pencurahan Roh Kudus melalui doa-doa pribadi maupun komunitas, dan melalui sakramen-sakramen lainnya.

      Selanjutnya tentang Pentakosta, Roh Kudus yang kita terima dalam sakramen Baptis dan Krisma dan pencurahan Roh Kudus, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Salam kasih dari Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Yth. Katolisistas

        Terimakasih pada Ibu Ingrid atas penjelasannya.

        Semoga katolisitas, kehadirannya menjangkau wilayah dan umat yang semakin luas lagi dan semakin banyak orang menikmati manfaatnya bagi perkembangan dan kemajuan iman.

        Salam dan doa.

      • Bu Inggrid,
        Saya membaca tulisan ibu mengenai tubuh dan jiwa disatu pihak menjadi jelas dengan konsep dichotomy yang dianut gereja kita. Hanya dipikiran saya timbul sebuah pertanyaan, mudah-mudahan ibu tidak keberatan untuk menjawabnya.

        Seringkali kita mendengar barang berjiwa, maksudnya binatang-binatang termasuk dalam kategori barang berjiwa bukan. Apa berjiwa di sini tidak sama dengan jiwa yang telah ibu bicarakan di atas ( budi, kehendak dll)? Atau itu hanya menyangkut konotasi karena ada darahnya.?

        Kemudian St. Yakobus, saat membahas tentang sunat, mengingatkan untuk tidak makan makanan yang berasal dari darah (misal darah ayam , darah sapi dll) bukankah itu makanan yang bagi kita orang indonesia termasuk makanan enak. Tapi kenapa dilarang? Apakah ada penjelasannya? Atau sebenarnya itu hanya masalah bahasa. Bagaimana dengan definisi nyawa? Apakah itu jiwa atau roh ? Atau tidak ada bedanya?

        Thx b4

        • Shalom Saulus,

          Silakan Anda membaca artikel ini, mungkin akan menjadi lebih jelas bagi Anda:
          Perbedaan antara Tumbuhan, Binatang dan Manusia, silakan klik.

          Dari artikel di atas, benar jika dikatakan baik tumbuhan, dan binatang juga mempunyai jiwa. Jiwa di sini adalah yang disebut prinsip kehidupan, yaitu prinsip yang membuat mereka dapat makan, bertumbuh dan berkembang biak. Bagi binatang, kemampuan ini ditambah lagi dengan kemampuan rasa (instinct), tetapi tidak lebih dari itu. Jadi jiwa yang dimiliki oleh tumbuhan dan binatang bukan jiwa yang rohani, sebab mereka bukan mahluk yang berakal budi dan berkehendak bebas, yang mampu mengenali dan mengasihi Sang Pencipta. Dengan demikian jiwa tidak sama dengan darah. Bahwa pada zaman dahulu orang mengidentikkan darah dengan jiwa, itu disebabkan karena peradaban mereka pada saat itu, yang memandang darah sebagai sesuatu yang mengandung kehidupan, karena tanpa darah, maka manusia tidak dapat bergerak, makan, bertumbuh dan berkembang biak. Namun sebenarnya, memang darah adalah materinya, sedang prinsip kehidupan itu sendiri lebih luas dari darah.

          Perihal sunat, sudah dengan panjang lebar dibahas di artikel ini, silakan klik. Sedangkan tentang apakah boleh makan darah, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

          Maka jiwa itu adalah prinsip kehidupan yang ada dalam tubuh. Jiwa ini ada yang sifatnya hanya terbatas pada pergerakan jasmani (seperti pada tumbuhan dan binatang), namun ada juga yang bersifat rohani, seperti pada manusia. Sedangkan istilah ‘nyawa’, kalau kita membaca dalam Kamus bahasa Indonesia, artinya mengacu kepada pengertian 1) pemberi hidup kepada badan, 2) jiwa, roh. Maka nyawa di sini dapat berarti jiwa yang rohani, yang memberikan hidup pada manusia. Jika dikatakan ia ‘menyerahkan nyawanya’, artinya ia menyerahkan hidupnya. Inilah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi kita untuk menyelamatkan kita.

          Semoga ulasan singkat ini membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Terima Kasih Bu Ingrid atas jawabannya. Saya belum bisa menangkapnya sekaligus, harus saya baca ulang lagi. Namun sebagian besar yang saya ingin ketahui sudah terjawab.

    • Shalom Aleixo,

      Menyambung penjelasan di atas, maka manusia sebenarnya terdiri dari tubuh dan jiwa, di mana jiwa manusia adalah bersifat spiritual. Tubuh berbeda dengan jiwa, karena tubuh adalah bersifat material dan sementara, sedangkan jiwa adalah bersifat spiritual dan kekal. Jiwa menjadi prinsip kehidupan (principle of life) dari manusia, karena seluruh pergerakan (aktifitas dari dalam) manusia adalah dari jiwa. Berbeda dengan jiwa hewan yang musnah seiring dengan kemusnahan tubuh binatang, maka jiwa manusia bersifat kekal dan tidak akan musnah. Namun, manusia bukanlah makhluk yang murni spiritual – seperti malaikat – namun manusia digolongkan sebagai rational animal, yang terdiri dari tubuh dan jiwa yang rasional. Silakan melihat penjelasannya di sini – silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Syalom Katolisitas,

        Mohon tanya apa bedanya Jiwa dan Roh ?
        Apakah keduanya sama, hanya cara menyebutnya saja yang berbeda ?
        Apakah manusia itu terdiri dari Tubuh , Jiwa dan Roh atau hanya tubuh dan jiwa saja ?
        Jika jiwa dan roh itu tidak sama, apakah pada orang gila itu jiwanya atau rohnya yang sakit ? (orang gila biasanya disebut sakit jiwa, bukan sakit roh)
        Sedangkan doa disebut doa dalam roh dan kebenaran, bukan doa dalam jiwa dan kebenaran.

        Terima kasih
        Salam / Machmud

        [dari katolisitas: Bukankah kita pernah berdiskusi tentang hal ini di sini – silakan klik?]

  7. Salam Damai Kristus,

    Saya punya pendapat pribadi yg berdasarkan pengalaman spiritual saya :
    Saya sendiri lebih cocok kalau pembagian secara dikotomi, tetapi tdk setuju bila pembagiannya adalah tubuh dan jiwa, tetapi seharusnya tubuh dan roh, adalah sbb :
    1. Tubuh dan Jiwa itu adalah satu kesatuan karena jiwa adalah bagian tubuh yang ada di otak (sifatnya kasat mata). Sewaktu-waktupun bisa sakit atau cacat seperti tubuh yang lain … kalau meninggalpun jiwa itu hilang. Seperti amnesia, gangguan kesadaran, gangguan motorik, gangguan syaraf pengindraan, Ketika mati, tentu saja akan lenyap semua
    2. Roh adalah sesuatu yg tidak kasat mata. .dan sifatnya kekal.
    Kalau menurut saya ini lebih ke alam bawah sadar.
    Ketika puasa — > tubuh dan jiwa menjadi lemas, tetapi roh makin kuat.

    Pendapat saya agak aneh, tapi kalau bagi yg sudah pernah punya pengalaman spiritual dan supranatural, ini tdklah aneh. Mohon moderator menanggapinya …

    Salam,

    Antonius

    • Shalom Antonius,

      Terima kasih atas komentarnya tentang tubuh, jiwa dan roh. Sebelum masuk ke dalam diskusi yang lebih jauh, silakan mendefinisikan secara persis: tubuh, jiwa dan roh. Apakah anda mempercayai bahwa jiwa dan roh bersifat spiritual? Bagaimana anda menjelaskan dua hal yang bersifat spiritual pada saat yang bersamaan hadir dalam satu tubuh? Apakah anda mempercayai bahwa hal yang spiritual lebih kuat dari material? Kalau demikian, bagaimana kita membayangkan dua hal (jiwa dan roh) yang lebih kuat ada di dalam satu hal yang lebih lemah (tubuh)? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin dapat membantu kita untuk melihat topik ini dari sisi yang lain.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef- katolisitas.org

      • dimas kelly on

        Bagaimana dengan orang yang kerasukan Roh Jahat Pak stefi,

        Markus 5:10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.
        5:11 Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan,
        5:12 lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!”

        Submitted on 2012/09/07 at 1:32 pm | In reply to Stefanus Tay.

        Baiklah saya mundur tahapan
        ROH spirit atau materi atau bukan materi namun ada ?
        ROH Jahat, ada dibuktikan dengan Yesus mengusir ROh jahat di pindahkan ke babi ?
        itu dulu ya

        Submitted on 2012/09/07 at 8:41 am | In reply to dimas kelly.

        dalam mateus dan markus 14.38 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; d roh memang penurut, tetapi daging lemah.

        pak stefanus, roh memang penurut, sedang daging adalah lemah disini saya melihat 3 unsur, yaitu roh (yang berasal dari Tuhan karena Allah adalah ROH, ROH yang KUDUS (abadi), Daging, (raga manusia) dan kemauan daging (yang membuat daging mempunyai kemauan) bagaimana menurut bapak

        [dari katolisitas: Intinya adalah anda tidak setuju kalau manusia terdiri dari tubuh dan jiwa dan Anda berpendapat bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Kalau Anda mau berdiskusi, silakan menjawab beberapa pertanyaan yang saya berikan di atas – silakan klik dan juga menanggapi artikel di atas. Dengan demikian diskusi dapat berjalan dengan baik. Silakan menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut dan artikel di atas sebelum memberikan komentar lebih lanjut. Semoga dapat diterima.]

        • dimas kelly on

          Bukan setuju dan tidak setuju pak stef meyakinkan diri sya itu lah jadi sebabnya, maaf ya pak

          [Dari Katolisitas: Hal meyakinkan diri tidaklah menjadi masalah, jika Anda memiliki kesediaan untuk menerima bahwa Magisterium Gereja Katolik mempunyai kuasa/ wewenang mengajar yang diberikan oleh Kristus sendiri dalam hal-hal yang menyangkut ajaran iman dan moral (lih. Mat 16:19, 18:18), dalam hal ini adalah pengajaran bahwa manusia adalah mahluk ciptaan yang diciptakan menurut gambaran Allah, dan yang diciptakan mempunyai tubuh dan jiwa rohani.]

  8. saya pernah baca di buku “iman katolik” bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh penjelasan anda yang telah saya baca hanya membicarakan tubuh dan jiwa, bagaimana dengan roh apakah jiwa dan roh sama saja mohon penjelasan. terimakasih.

    [dari katolisitas: silakan melihat diskusi ini – silakan klik]

      • Alexander Pontoh on

        saya hanya ingin definisi roh (manusia) itu apa. tapi di diskusi itu… (saya nangkapnya) manusia hanya terdiri dari tubuh dan jiwa…. benar? pengajaran Gereja Katolik hanya tubuh dan jiwa, bukan tubuh, jiwa dan roh…. benar?

        [dari katolisitas: mungkin artikel ini dapat membantu – silakan klik.]

    • Shalom Dedi,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Diskusi tentang roh, jiwa dan tubuh dapat dibaca di sini – silakan klik. Tubuh manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, yang merupakan kesatuan yang tak terpisahkan membentuk satu pribadi yang unik. Pada saat seseorang mengatakan manusia mempunyai roh, maka sebenarnya hal tersebut mengacu kepada jiwa yang bersifat spiritual. Pembahasan tentang hal ini dapat dilihat pada artikel tentang perbedaan manusia, binatang dan tumbuhan di sini – silakan klik. Karena tubuh manusia adalah bersifat material, maka tubuh manusia juga bersifat sementara, yang keberadaannya diakhiri dengan kematian, yang berarti ada keterpisahan sementara antara tubuh dan jiwa. Walaupun tubuh manusia mengalami kematian, namun jiwa manusia bersifat kekal, karena kodrat dari sesuatu yang bersifat spiritual adalah kekal. Dan berdasarkan wahyu Allah, maka jiwa dan tubuh manusia akan bersatu kembali pada saat terjadi kebangkitan badan, di mana seluruh manusia akan mengalami pengadilan umum (general judgment). Saya tidak tahu persis apa yang ingin anda ketahui tentang dunia ilahi. Menjadi lebih baik kalau anda dapat menerangkan apa yang anda maksud dengan “dunia ilahi”. Pada saat terjadinya pengadilan umum, maka seluruh umat manusia yang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan akan bersatu dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga. Di dalam Kerajaan Sorga, manusia melihat Allah muka dengan muka, atau melihat Tritunggal Maha Kudus sebagaimana adanya, atau manusia berpartisipasi secara sempurna dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus, di mana kasihlah yang meraja. Dan itulah kebahagiaan yang sempurna dan kekal. Mari kita bersama-sama berjuang untuk mencapai tujuan akhir kita, yaitu Sorga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  9. Karismatik oh Karismatik, betapa daku telah disesatkan olehnya, brapa banyak lagi orang yang akan disesatkan ? sekarang saya kudu audit semua ajaran iman yang saya dapat dari karismatik…

    Terima kasih katolisitas terutama ke pak stefanus, bu inggrid dan romo wanta, kalian menerangi jalanku yang gelap ini

    • Shalom Anonymous,
      Terima kasih atas dukungannya kepada karya kerasulan ini. Mungkin sering di persekutuan doa karismatik diterangkan bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Dan seringkali hal ini membingungkan umat. Jadi, masalahnya bukan pada karismatiknya, namun pada pembicaranya. Untuk diskusi tentang efek negatif dan positif dari gerakan karismatik, silakan membacanya di sini (silakan klik).

      Salam kasih dalam Krisstus Tuhan,
      stef – ww.w.katolisi

  10. sedikit komentar untuk no.(4):
    “Pada orang yang sakit jiwa/ gila, kita mengetahui bahwa mereka tetap memiliki akal budi dan kehendak bebas, namun otak mereka tidak berfungsi dengan semestinya.”.
    Saya kira ada sakit jiwa yg disebabkan pengalaman traumatik, pengalaman ini melukai emosi orang tersebut, sehingga mempengaruhi pikiran dan kehendaknya. Mungkin otaknya berfungsi baik, tapi dibawah kendali emosional yang tidak teratur. Jadi bukan tubuh tetapi jiwanya yg luka?

    Orang dgn jiwa normal tetapi ada dalam tubuh yang tidak normal, seperti orang yg lumpuh total, sakit, termasuk “gila” sebagai penyakit , tentunya dia masih mempunyai kodrat manusia.

    Orang dgn tubuh normal tetapi dengan jiwa terluka shg gagal reasoning, bagaimana kodrat manusianya?
    Kalau anak-anak seblm reasoning-ages dapat dibaptis, bagaimna dengan orang dengan kasus di atas?
    Juga, dapatkah membaptis orang-tua yang sudah pikun?

    • Shalom Fxe,
      Terima kasih atas pertanyaannya yang unik.
      Ya memang, baik orang normal ataupun orang yang kurang normal/ kurang waras, keduanya tetap manusia, dan orang yang tidak waras tidak kehilangan kodratnya sebagai manusia. Perlu juga diketahui bahwa batas untuk menentukan seseorang waras atau kurang waras juga sesungguhnya melibatkan gradasi, sehingga para pakarpun tidak dapat memberikan garis yang jelas, batas kewarasan atau sedikit kurang waras. Biasanya segalanya terlihat jika memang jelas telihat bedanya. Mengenai hal ini, silakan membaca lebih lanjut di link ini, silakan klik

      Maka tentang kasus apakah orang yang tidak waras itu dapat atau tidak dibaptis, sumber di atas mengatakan:

      Adults who have always been insane can receive baptism, since, as in the case of infants, the Church’s intention supplies what is lacking. If they have ever been sane, they can be baptized when in danger of death or if incurable, provided they had when sane a desire for the sacrament. The insane cannot be sponsors at baptism. They may receive confirmation. Communion should not be given to those who have always been insane. Those who, before becoming insane, were pious and religious, should be given Communion when in danger of death. When there are lucid intervals, Communion may then be administered. The same applies to extreme unction.

      Jadi, kesimpulannya, begini:
      1. Jika orang itu sudah dari lahirnya memang kurang waras, maka orang itu dapat dibaptis.
      2. Namun jika orang itu tidak waras, tetapi dulunya pernah waras, maka ia dapat dibaptis, jika ia mendekati ajal atau jika ketidakwarasannya ini tidak dapat disembuhkan, asalkan sewaktu dia waras dia menunjukkan keinginan untuk dibaptis.
      3. Dengan prinsip yang sama, maka orang yang tua yang pikun juga dapat dibaptis, jika ia mendekati ajal, asalkan sewaktu sebelum pikun, ia menunjukkan keinginan untuk dibaptis.

      Demikian masukan saya, semoga bermanfaat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  11. Salam damai sejahtera

    Tanggapan atas :

    TUBUH JIWA ROH

    Alkitab membagi manusia dalam 2 cara yaitu :

    DIBAGI 3 (Trichotomi) : Tubuh,Jiwa & Roh
    1Tes 5 : 23 (…………. semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna ………………)

    DIBAGI 2 (Dichotomi) : Manusia lahiriah & Manusia batiniah
    2Kor 4 : 16 (…………….. manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah …………………)

    Dengan mata jasmani kita hanya dapat melihat tubuh atau manusia lahiriah saja, kita tidak dapat melihat roh atau jiwanya.
    Tetapi kalau kita mulai bergaul, dari kata2, sikap dan perbuatannya, kita dapat merasakan dan mengetahui banyak tentang jiwa dan rohnya.
    Ef 3 : 16 (Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,)
    1Pet 3 : 4 (tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

    Kita melihat kadang2 Alkitab memakai trichotomi misalnya dalam 1Tes 5 : 23 / Alkatib 12 : 7, tapi kadang2 juga memakai dichotomi misalnya dalam Rom 8 : 13

    Juga Paulus memakai kedua macam pembagian ini dalam surat2nya, kadang2 trichotomi , kadang2 juga dichotomi, tergantung dari kebutuhan pokok pembicaraan atau konteksnya, misalnya :
    Dichotomi : 2Kor 4 : 16 / Ef 3 : 16 / Ef 4 : 30
    Trichotomi : 1Tes 5 : 23 / Ibr 4 : 12 / Ef 2 : 1

    PENGERTIAN ALKITAB TIDAK BOLEH DICAMPUR DENGAN PENGERTIAN UMUM ATAU MENURUT ILMU JIWA , sebab orang dunia pada umumnya tidak dapat mengerti tentang orang baru dan bagian2nya.
    1Kor 2 : 14-15 (Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.)

    Mereka tidak dApat menangkap pengertian2 tentang orang baru, itu menjadi kebodohan bagi mereka, sebab mereka tidak dapat membuktikannya secara ilmiah.
    Perkara2 rohani itu hanya dapat dimengerti dengan peri rohani, dimensinya lain.
    Misalnya gelombang suara radio di udara itu ada, tetapi dengan telinga kita tidak dapat menangkapnya, harus dengan alat khusus yaitu radio.
    Begitu juga kalau seorang tidak lahir baru, ia tidak dapat mengerti perkara2 Allah yang dalam2 / rohani; kita memerlukan suatu alat / cara khusus dari Tuhan, yaitu lahir baru dan pengurapan Roh Kudus
    1Kor 2 : 10 (Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.)

    Di dalam Alkitab istilah “JIWA” mempunyai banyak arti dan banyak diantaranya yang tidak dapat dimengerti dengan pikiran duniawi.
    Mereka (orang dunia) tidak dapat membedakannya sebab untuk memisahkan antara roh dan jiwa , diperlukan Firman Tuhan (Ibr 4 : 12)
    Didunia tidak ada dokter roh yang ada dokter jiwa sebab menurut mereka roh dan jiwa itu sama, padahal sangat berbeda !

    Roh orang dunia (orang lama) itu mati, artinya putus hubungan dengan Allah
    Ef 2 : 1 (Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.)
    sehingga mereka tidak mengerti tentang roh.
    Pakailah Firman Tuhan, sebab Firman Tuhan itulah kebenaran Yoh 17 : 17 (Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.)
    Jangan Alkitab dan ilmiah dicampur, nanti kacau, menyesatkan dan mematikan iman

    APAKAH TUBUH ITU ?
    Tubuh adalah materi yang nampak pada diri manusia.
    Pada mulanya tubuh ini dibuat dari tanah oleh Allah.
    Pada waktu seorang mati, maka tubuh ini menjadi rusak , namun bekas tubuh ini tetap mempunyai nilai khusus, sebab pada hari kebangkitan orang mati, bekas2 tubuh orang benar akan diubahkan menjadi tubuh kemuliaan yang kekal.

    APAKAH JIWA ITU ?
    Kej :9 : 4 (Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.)
    Jiwa atau hidup itu ada di dalam darah.
    Sesudah manusia jatuh dalam dosa, rohnya mati (putus hubungan dengan Allah) dan jiwanya rusak oleh dosa, menjadi sama seperti jiwa binatang.
    Jiwa seperti ini selalu menuruti naluri2 manusiawi, bahkan dikuasai olehnya .
    Dalam bahasa Alkitab tubuh dan jiwa itu dapat diidentifiser sebagai daging.
    Kalau dosa terus menerus berkuasa atas manusia, maka pada waktu mati dan hari kebangkitan, seluruh tubuh,jiwa dan rohnya tetap tercerai dari Allah untuk kekal.
    Allah itu roh adanya, begitu juga manusia itu roh adanya, sebab itu manusia adalah makluk yang kekal.
    Tetapi di dalam rencana Allah, selama hidup didunia manusia itu ditempatkan dalam wadah tubuh dosa ini, supaya roh kita dapat diolah, dilatih dan tumbuh menjadi sempurna.

    JIWA MANUSIA PADA WAKTU MATI.
    Alkatib 12 : 7 (dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.)
    Pada waktu mati 3 bagian tubuh ini tercerai berai satu sama lain, sisa 2 bagian
    ROH orang beriman kembali kepada Tuhan, tetapi roh orang berdosa kembali kepada bapanya setan (Yoh 8 : 44 )
    TUBUH kembali menjadi tanah sesuai apa yang dikatakan Tuhan dalam Kej 3 : 19 (dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.)
    JIWA manusia kemana ? Tidak disebutkan !
    Jiwa ini adalah hidup, pada waktu mati, hidup ini berakhir, jadi jiwa ini hilang, lenyap, berakhir

    PADA WAKTU MEMBANGKITKAN ORANG MATI
    Luk 8 : 55 (Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan).

    Bagaimana proses kebangkitan itu terjadi ?
    Tubuhnya masih ada disitu
    Rohnya kembali karena dipanggil Anak Manusia dengan iman
    Dimana jiwanya ?
    Mengapa Anak Manusia tidak memanggil jiwanya ?
    Apakah untuk membentuk seorang manusia yang utuh tidak diperlukan 3 unsur seperti yang ada pada semua orang yang hidup ? Ternyata tidak !
    Hanya dengan 2 unsur, yaitu tubuh dan roh, maka anak itu dibangkitkan kembali.
    Sesudah bangkit, anak itu hidup dan jiwanya pun tiba2 ada didalamnya.
    Pada waktu roh itu masuk kedalam materi tubuh, maka materi itu menjadi hidup dan hidup di dalam materi tubuh itu dinamakan jiwa.
    Jadi waktu roh masuk dalam tubuh yang mati timbul kehidupan yaitu jiwa.
    Jiwa yang hilang pada waktu mati, itu terbentuk kembali dengan sendirinya pada waktu roh itu masuk dalam tubuh yang mati itu

    PADA WAKTU PENCIPTAAN MANUSIA.
    Kej 2 : 7 (ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.)
    Pada waktu Allah menciptakan manusia, hanya dipakai 2 unsur saja, yaitu :
    Patung tanah liat = tubuh
    Nafas Allah yaitu = roh

    Sesudah roh yang berasal dari Allah masuk, timbullah jiwa artinya timbul kehidupan dalam patung tanah liat itu, sehingga menjadi tubuh yang hidup, tubuh yang ada jiwanya.
    Jadi sesudah patung tanah liat itu hidup menjadi manusia yang bernafas, barulah terjadi 3 unsur, yaitu roh,jiwa tubuh

    TUMBUHAN DAN BINATANG
    Dengan Firman Tuhan maka timbul kehidupan yaitu tumbuhan dan binatang, sehingga dari tidak ada menjadi ada (Kej 1 : 9-12 & 20-25)
    Ibr 11 : 3 (Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.)
    Sebab itu tumbuhan dan binatang terdiri dari tubuh dan jiwa saja, tidak diberi roh oleh Allah
    Dalam tumbuhan dan binatang, meskipun tidak ada roh, timbul kehidupan.
    Pada waktu tumbuhan & binatang mati semua berakhir dan habis tanpa sisa.
    Sebab itu tumbuhan & binatang tidak mempunyai kelanjutan dalam hidup kekal yang akan datang, tetapi setiap manusia mempunyainya.
    Apa yang kita perbuat selama kita hidup di dunia ini mempunyai akibat yang langsung dalam hidup yang akan datang, tetapi tumbuhan & binatang tidak mempunyai akibat apa2 dari perbuatannya dalam dunia sekarang

    Dari keterangan ayat2 diatas kini menjadi jelas, bahwa pada waktu mati, jiwa itu lenyap, hilang dan pada waktu kebangkitan atau penciptaan, jiwa itu muncul dengan sendirinya, sesudah roh dan tubuh itu bersatu.
    Jadi jiwa manusia itulah “KEHIDUPAN” dan ada pada waktu manusia hidup dan kalau kehidupan itu berakhir, maka jiwa itu juga lenyap

    Jadi Alkitab tidak menyatakan bahwa Jiwa dan Roh itu sama, juga tidak menyebutkan bahwa jiwa itu pada saat manusia mati akan kembali kepada Allah. Yang kembali adalah rohnya.

    Bagaimana tanggapan anda

    Salam
    Mac

    • Shalom Machmud,

      I. Tentang manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, dapat dilihat di sini – silakan klik:

      II. Mempertanyakan komentar Machmud:

      1) Pengertian Alkitab tidak boleh dicampur dengan pengertian umum. Saya tidak tahu apakah Machmud dapat menyetujui bahwa dengan filsafat, terutama metaphysics (study being as being) dapat membantu seseorang untuk memahami misteri iman. Tuhan memberikan kita akal budi, dimana kalau digunakan semestinya, maka akan mengantar kita kepada kebenaran.

      2) Tentang tubuh. Tidak ada perbedaan.

      3) Tentang jiwa.  Seringkali jiwa (soul) dan roh (spirit) dipakai secara bergantian. Kalau ditelusuri, maka perkataan jiwa akan mempunyai konotasi yang begitu banyak, seperti: self, the seat of appetites, the seat of emotions, desire, the soul can refresh, identify as person, dan masih begitu banyak yang lain. Silakan mencari di Alkitab dengan nepes / soul / jiwa (Ibrani) dan psyche atau soul / jiwa (Yunani). Oleh karena itu artinya tidak hanya "jiwa atau hidup ada di dalam darah" seperti yang disebutkan oleh Machmud.

      Sesudah manusia jatuh ke dalam dosa, Machmud mengatakan bahwa rohnya mati dan jiwanya rusak oleh dosa, dan menjadi sama seperti binatang. Pertanyaannya adalah:

      a) Kalau begitu, orang-orang sebelum kedatangan Kristus dan juga orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus, maka tidak mempunyai roh? Bagaimana Tuhan mengembalikan roh tersebut kepada manusia?

      b) Setelah manusia berdosa Machmud mengatakan bahwa jiwa manusia rusak oleh dosa dan menjadi sama seperti binatang. Dalam hal ini, pengertian Gereja Katolik berbeda, karena setelah manusia pertama berdosa, manusia tidaklah rusak total (total depravity), namun masih mempunyai jiwa yang bersifat spiritual. Inilah sebabnya manusia mempunyai kodrat untuk mengenal dan mengasihi penciptanya. Oleh karena itu, manusia tetap mempunyai keinginan bebas, dan mempunyai kemampuan untuk memilih yang baik. Kita dapat melihat ada orang yang belum mengenal Kristus, namun dapat berbuat baik, walaupun sulit dan mungkin tidak dapat tercapai pada tingkatan yang diinginkan oleh Kristus. Namun, tidak benar kalau mengatakan bahwa setelah dosa, manusia menjadi sama seperti binatang, karena jiwanya tetap spiritual.

      4) Jiwa manusia setelah mati. Machmud mengatakan bahwa setelah mati, maka tubuh, jiwa, dan roh tercerai berai.

      a) Lebih lanjut dikatakan, bahwa roh orang beriman kembali kepada Tuhan, dan roh orang berdosa kembali kepada setan. Kalau begitu, menurut Machmud siapa yang menciptakan roh? Dan menurut Machmud, apakah sebelum orang meninggal, roh manusia dapat berubah-ubah, kadang menjadi roh Tuhan dan kadang menjadi roh setan? Apakah ada dua roh yang saling bertentangan? Dan dengan mengatakan bahwa roh orang beriman kembali kepada Tuhan, apakah Machmud mengatakan bahwa manusia mempunyai partikel Tuhan, seperti paham Pantheism?

      b) Kemudian setelah mati, Machmud mengatakan bahwa jiwanya tidak tahu kemana. Kalau jiwa bersifat immaterial (spiritual atau bukan bersifat materi), dan immortal (tidak dapat mati), maka jiwa tidak dapat lenyap. Mungkin pengertian dan definisi "jiwa" yang digunakan Machmud dan saya berbeda?

      5) Setelah dibangkitkan. Machmud mengatakan bahwa jiwanya tiba-tiba muncul pada saat roh bersatu dengan tubuh.

      a) Jadi, siapa yang menciptakan jiwa? Apakah roh yang menciptakan jiwa? Dan kalau roh ini adalah roh manusia, apakah berarti Machmud mengatakan bahwa roh manusia mampu menciptakan jiwa manusia?

      6) Tumbuhan dan binatang. Memang tumbuhan dan binatang mempunyai tubuh dan jiwa, namun jiwa mereka bukanlah spiritual. Jiwa mereka tidak bersifat kekal, namun jiwanya akan mati pada saat tubuhnya mati. Berbeda dengan manusia, yang jiwanya diciptakan langsung oleh Tuhan, maka binatang dan tumbuhan, jiwanya diciptakan langsung oleh orang tua dari tumbuhan atau binatang tersebut.

      Demikianlah, Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa yang bersifat spiritual, yang mampu mengetahui dan mengasihi Allah. Dan dengan semua argumentasi di atas, Gereja Katolik menolak teori trichotomy yang percaya bahwa manusia terdiri dari tiga unsur: tubuh, jiwa, dan roh.

      Semoga keterangan tersebut dapat memperjelas.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • george konduyow on

        Stefanus Tay,

        Salam sejahtera Tuhan Yesus Kristus berserta kita, saya adalah Katolik awam. Saya amat terkejut pada kesimpulan di atas. Namun terima kasih juga atas penjelasan.

        berbunyi:
        “Demikianlah, Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa yang bersifat spiritual, yang mampu mengetahui dan mengasihi Allah. Dan dengan semua argumentasi di atas, Gereja Katolik menolak teori trichotomy yang percaya bahwa manusia terdiri dari tiga unsur: tubuh, jiwa, dan roh.”

        Saya beberapa kali mendengar katekisis sebelum Sakramen Pembaptisan dan Sakramen Penguatan (Krisma) tentang penekanan 3 unsur (Tubuh- Jiwa-Roh) daripada guru2 pembimbing katolik di paroki. Di perkuatkan lagi ceramah2 dalam Seminar2.

        Setelah membaca penerangan di atas KGK – Stefanus Tay. saya tersedar begitu lalai membaca KGK selama ini. Keadaan perasaan saya skrg agak kesal, namun bersyukur.

        Namun bagaimana…. apakah menjadi kesalahan bagi umat Katolik terus mempercayai manusia berunsurkan ‘ tubuh-jiwa-roh’ dan berterusan mengajarkan perkara ini?

        Terima kasih.

        • Shalom George,

          Terima kasih atas tanggapannya. Memang sebaiknya ketika kita belajar dalam proses katekese, kita harus melihat dokumen Gereja, sehingga terlihat dengan jelas apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Dengan demikian, kita harus mengajarkan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Kalau menemui pengajar yang mengajarkan hal yang berbeda, silakan memberikan jawaban dari KGK dan kalau jawaban dari katolisitas dapat membantu, silakan diberikan kepada mereka. Memegang prinsip 2 hal (jiwa dan roh) yang ada di dalam satu tubuh memberikan banyak kebingungan dan pertentangan, seperti yang telah dijabarkan di atas. Secara prinsip, kita dapat mengatakan bahwa jiwa dan roh adalah satu, karena jiwa manusia bersifat spiritual. Dan inilah yang membedakan antara jiwa manusia dan jiwa dari binatang. Semoga dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  12. Bong Felix.H on

    Shalom, moderator katolisitas yang terkasih, sehubungan dengan peringatan arwah pada tanggal 02 November, saya ada sedikit pertanyaan yang agak menggangu, konsep kemanusiaan adalah terdiri dari 3 bagian, tubuh, jiwa dan roh. menurut pandangan umum bahwa setelah manusia meninggal badannya akan membusuk yang akhirnya menyatu dengan tanah, roh nya akan kembali kepada Sang Pencipta, bagaimana dengan jiwanya ? karena sebagaimana pengertian dalam kharismatik bahwa jiwa itu adalah perasaan atau emosional, contoh orang gila disebut sakit jiwa, karena umumnya mereka tidak lagi memiliki perasaan sebagaimana orang waras. bagaimana jiwa itu tetap hidup ketika seseorang itu meninggal, berarti mereka mereka yang meninggal masih memiliki perasaan / emosional, sedangkan dalam pengertian kristiani bahwa seseorang yang meninggal sudah tidak lagi memiliki hubungan emosional lagi; contoh-Lukas 20:29-35.
    Mohon pencerahan, Tuhan memberkati, (Bong Felix)

    [dari katolisitas: telah dijawab – silakan klik]