Agama berdasarkan wahyu: Yahudi, Islam, dan Kristen

Pertanyaan:

hai,saya orang Malaysia dan Katolik.saya baru berkenalan dengan web ini,sangat menarik.terima kasih.saya sering tertanya-tanya 1. adakah Jews,Kristian dan Islam agama yang betul2 diwahyukan oleh Tuhan? 2.jika diwahyukan kenapa setelah jews dilahirkannya Kristian dan selepas Kristian dilahirkan Islam? 3. Adakah Jews dan Kristian itu tidak sempurna sehingga dilahirkannya agama Islam?
terima kasih. – Semang

Jawaban:

Shalom Semang,
Alamak, senangnya dapat kunjungan dari Malaysia! Selamat datang di http://Katolisitas.org.
Mengenai pertanyaan anda, inilah yang dapat saya jawab:

  1. Agama Yahudi (Jews)dan Kristen memang berakar dari wahyu Allah, namun keduanya tidak sama. Karena agama Yahudi mengambil kitab-kitab dari Perjanjian Lama namun tidak mempercayai kitab-kitab Perjanjian Baru, karena mereka tidak percaya kepada Yesus Kristus sebagai pemenuhan Perjanjian Lama. Hal ini kita lihat misalnya pada kutipan yang diambil oleh Paus Benedict XVI dalam bukunya “Jesus of Nazareth“, p.108-109, mengutip buku karangan Rabbi Neusner, yang membayangkan suatu dialogue antara dirinya dengan seorang Rabbi kuno Yahudi tentang ajaran Yesus. Ia membandingkan ajaran Yesus dengan teks Talmud Babylonia untuk mencari kebenaran Hukum Tuhan. Rabbi itu bertanya kepada Neusner:He: ”So, is this what the sage, Jesus, had to say?” (Jadi inikah yang dikatakan Yesus, sang saga?)
    I: “Not exactly, but close.” (Tidak persis, tapi hampir mendekati)
    He: “What did He leave out?” (Apa yang tidak disebutkan-Nya?)
    I: “Nothing.” (Tidak ada)
    He: “Then what did He add?” (Jadi, apa yang ditambahkan-Nya?)
    I: “Himself”… (Diri-Nya sendiri)
    He: “Well, why so troubled this evening?” (Lalu, kenapa engkau gundah sore ini?)
    I: “Because I really believe there is a difference between “You shall be holy, for the Lord your God am holy” and “If you would be perfect, go, sell all you have and come, follow me.” (Sebab saya percaya ada perbedaan antara “Engkau harus menjadi kudus, sebab Aku Tuhanmu adalah kudus” dengan “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan datanglah, ikutlah aku.)
    He: “I guess then, it really depends on who the ‘me’ is.” (Saya pikir, itu tergantung dari siapa sang ‘aku’ itu)
  2. Dari percakapan ini kita ketahui bahwa orang Yahudi memiliki gambaran tersendiri untuk seorang Mesias, yaitu haruslah seorang yang mematuhi dan mengajarkan Kitab Torah (Lima kitab Taurat Musa), seperti para Nabi terdahulu. Mereka tidak dapat menerima bahwa Yesus Kristus sendiri adalah “The Living Torah” , yaitu “Taurat Allah yang hidup”, pemenuhan dari Taurat itu sendiri, sehingga ajaran Yesus bukan menunjuk kepada buku/ kitab tertentu, melainkan menunjuk kepada Diri-Nya. Sebab Ia berkata, “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 14:6), bahwa tak ada seorangpun yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Dia. Kristuslah ‘meterai’ Perjanjian Baru dan kekal antara Allah dan manusia. Perjanjian Lama telah diperbaharui oleh Kristus dalam Perjanjian Baru, yang tidak dapat diperbaharui lagi. Namun, sayangnya kaum Yahudi tidak melihat demikian.
  3. Di sinilah bedanya pemahaman tentang Alkitab, bagi umat Kristen, kaum Yahudi, dan Muslim. Karena, bagi mereka yang non-Kristen, mereka memegang pengajaran dari buku/ Alkitab: kaum Yahudi dengan Tanakh (Kitab Ibrani) yang berisi Torah, Talmud,dan teks lainnya, dan kaum Muslim dengan Kitab Al Qur’an. Sedangkan, pada umat Kristen, sumber pengajaran adalah dari Pribadi Yesus sendiri, dari apa yang diajarkan dan dilakukan-Nya. Maka, Alkitab Kristen terdiri dari 2 bagian, Perjanjian Lama, yang hampir sama dengan Kitab kaum Yahudi, sedangkan Perjanjian Baru, yang merupakan kitab ajaran Yesus, tidak dituliskan sendiri oleh Yesus, (karena Kristus Sang Sabda tidak membatasi ajaran-Nya dengan ‘apa yang tertulis di buku’) melainkan oleh para murid-Nya dengan inspirasi dari Roh Kudus yang menuliskan tentang kehidupan dan ajaran Kristus tersebut. Dalam hal ini, Gereja Katolik dengan tuntunan Roh Kudus, berperan untuk menentukan kitab-kitab mana yang sungguh terinspirasi oleh Roh Kudus, untuk dimasukkan di dalam Kitab Perjanjian Baru yang merupakan Wahyu Allah yang dinyatakan oleh Kristus.
  4. Dalam sejarah perkembangan Gereja, kita mengetahui adanya perkembangan ajaran skisma yang menyimpang sejak dari abad awal. Misalnya Gnosticsm, yang menentang segala yang berupa materi dan tubuh, sehingga tidak percaya akan Tuhan yang menjelma mengambil rupa ‘tubuh’ manusia. Atau Arianism, yang juga tidak percaya akan ke-Allahan Yesus. Nah dalam perjalanan waktu memang di Arabia pada abad ke 6-7 berkembang banyak ajaran skisma, misalnya Monophysitism (yang merupakan pengembangan Apollinarism) dan Monothelism, yang pada dasarnya mengajarkan bahwa Yesus bukan sepenuhnya manusia, dan Ia hanya mempunyai satu kehendak saja dari Bapa sehingga tidak sungguh-sungguh manusia seperti kita. Padahal ajaran Gereja jelas menyatakan Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Hal ini ternyata tidak mudah diterima, sebab manusia mempunyai kecenderungan untuk menyederhanakan konsep Allah agar dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Oleh karena itu, maka berkembanglah ajaran-ajaran lain (bahkan oleh orang Kristen sendiri) yang membuat pengertian yang menyimpang tentang ke-Kristenan. Pada saat itulah, agama Islam muncul, dengan ajaran mereka yang sederhana, bahwa Allah itu satu, dan tidak ada inkarnasi atau Allah yang menjelma menjadi manusia. Kesederhanaan inilah yang mungkin banyak menarik orang untuk menjadi Islam.
  5. Penyederhanaan konsep Allah ini tidak sejalan dengan ajaran Gereja, sebab justru wahyu Allah yang telah dinyatakan sepanjang sejarah manusia adalah Allah Tritunggal Mahakudus, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus (silakan baca/ kilk di sini Yesus, Tuhan yang dinubuatkan oleh para Nabi, dan Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi). Iman Kristiani tidak terlepas dari karya Penyelamatan Allah Bapa, dengan mengirimkan Putera-Nya untuk menjelma menjadi manusia Yesus Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Wahyu Allah yang dinyatakan oleh Kristus ini merupakan kepenuhan Wahyu Allah, sehingga tidak akan ada lagi Wahyu yang lain lagi. Hal ini disebutkan di dalam Katekismus Gereja Katolik #65 -67, & 73, yang saya kutip berikut ini: (penegasan/ cetak tebal adalah dari saya)KGK 65: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr 1:1-2). Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, adalah Sabda Bapa yang tunggal,  yang sempurna, yang tidak ada taranya. Dalam Dia Allah mengatakan segala-galanya, dan tidak akan ada perkataan lain lagi. Hal ini ditegaskan dengan jelas oleh santo Yohanes dari salib dalam uraiannya mengenai Ibrani 1:1-2:

    “Sejak Ia menganugerahkan kepada kita Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya, Allah tidak memberikan kepada kita sabda yang lain lagi. Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang satu itu…. Karena yang Ia sampaikan dahulu kepada para nabi secara sepotong-sepotong, sekarang ini Ia sampaikan dengan utuh, waktu Ia memberikan kita seluruhnya yaitu Anak-Nya. Maka barang siapa sekarang masih ingin menanyakan kepada-Nya atau menghendaki dari-Nya penglihatan atau wahyu, ia tidak hanya bertindak tidak bijaksana, tetapi ia malahan mempermalukan Allah; karena ia tidak mengarahkan matanya hanya kepada Kristus sendiri, tetapi merindukan hal-hal lain atau hal-hal baru” (Carm 2,22)

    KGK 66: “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (Dei Verbum 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristien, supaya dalam peredaran zaman lama-kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.

    KGK 67: Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja.
    Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

    KGK 73:
    Allah mewahyukan Diri secara penuh dengan mengutus Putera-Nya sendiri; di dalam Dia Ia mengadakan perjanjian untuk selama-lamanya. Kristus adalah Sabda Bapa yang definitif, sehingga sesudah Dia tidak akan ada wahyu lain lagi.

Dengan pengajaran di atas, maka kita sebagai orang Katolik percaya bahwa kepenuhan dan kesempurnaan Wahyu Allah sudah diberikan di dalam dan oleh Kristus sendiri.  Oleh karena itu kita menganggap wahyu Allah sebelum Kristus sebagai wahyu yang menunjuk kepada Kristus, sedangkan wahyu-wahyu lain sesudah Kristus, apalagi yang bertentangan dengan ajaran Kristus, tidak dapat kita anggap sebagai Wahyu Allah.

Demikian jawaban saya, semoga dapat menjawab pertanyaan Semang.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – http://katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

13 Komentar to Agama berdasarkan wahyu: Yahudi, Islam, dan Kristen

  1. Wolfrannus Haryo Yudhanto October 24, 2011 at 12:20 pm

    Berkah Dalem Gusti,

    Saya pernah membaca artikel tentang Kota Suci, yaitu Yerusalem, dalam artikel tersebut dikatakan ” YERUSALEM ADALAH KOTA SUCI YANG MENJADI AJANG PEREBUTAN LIMA AGAMA SAMAWI ”

    Yang ingin saya tanyakan dan terus terang saya tidak paham adalah ” LIMA AGAMA SAMAWI ”
    Mohon pencerahan dan terima kasih.

    Salam,

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 9, 2011 at 9:25 am

      Salam Wolfrannus Haryo Yudhanto,

      Yang disebut agama-agama “samawi” ialah agama-agama “langit” atau yang berdasarkan perwahyuan Allah, yaitu Yahudi, Kristen, Islam.

      Agama samawi disebut juga agama Abrahamik, bersumber dari iman Abraham akan perwahyuan Allah. Ada yang menyebut agama Baha’i juga termasuk agama samawi arena menekankan Allah yang Maha Esa. Silahkan klik http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Abrahamik . Jika disebut lima agama samawi, maka saya belum menemukan yang satu. Atau jika Kristen dipahami sebagai Katolik dan Protestan, mungkin dari situlah agama abrahamik atau samawi menjadi 5 agama.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

      • Wolfrannus Haryo Yudhanto November 9, 2011 at 1:23 pm

        Romo Yohanes Dwi Harsanto Pr.

        Terima kasih atas penjelasan-nya , hal tersebut akan menambah wawasan saya untuk berdialog dengan warga dalam lingkungan saya.

        Tuhan selalu memberkati.
        Salam
        why.

  2. Pak J.Manurung ( Mrg ) August 18, 2011 at 12:04 pm

    Yth. Ibu Ingrid . Mohon maaf, komentar saya tertanggal 15 – 8 – 2011, batal tak usah dijawab, waktu penulisan, komputer eror. Yang benar komentar tanggal 16, Terima kasih.

    Sebagai tambahan, saya ingin mengomentari pertanyaan dari Sdr. Semang dari Malaesya , prihal :
    Apakah Agama Kristen dan Islam diwahyukan Allah ? Setelah Kristen mengapa Islam masih di
    lahirkan ? Apakah Kristen tidak sempurna ?

    Jawaban saya : Menurut saya, Wahyu adalah hakekat atau perwujudan Firman atau Sabda Allah
    yang dinyatakan kepada setiap orang pilihannya. Sedangkan Agama adalah segala bentuk hubu
    ngan Manusia kepada siapa dianggapnya Suci / Maha gaib, yang dapat dimintanya pertolongan, ke
    kuatan, keselamatan dirinya dll.

    Mengapa Islam diturunkan Allah pada hal Kristen yang melanjutkan karya Jesus Kristus di Bumi ?
    Apakah Kristen itu tidak sempurna ?
    Jawabannya sbb : Allah Bapak dan Jesus Kristus maha kasih dan maha adil. Karena kasihnya ke pada umat manusia, Allah Bapak dan Jesus Kristus memberi kesempatan kepada Manusia yang tidak percaya kepada Jesus Putra Allah yang diutus untuk menebus dosa dunia dari dosa Adam.
    Karena dosa Adam, Surga tertutup bagi manusia, dan oleh Jesus Surga itu dibuka Allah kembali.
    Firman Jesus ada tertulis ( lupa di mana tertulis ) : Bahwa di luar domba pilihannya, masih ada
    domba lain akan dimasukkan dalam bilangan dombanya. Siapa yang dimaksud Jesus , memang
    masih mistery, dan walaupun tidak pasti, siapa tahu yang dimaksudkan itu adalah umat Islam dan
    orang2 saleh lainnya yang berusaha mensucikan dirinya dari hal dosa. Karena salah satu syarat masuk Surga dan Neraka, sudah disebutkan Jesus dalam Mat. 25 : 31-46. prihal pengadilan terakhir. Karena maha adilnya Allah dan Jesus Kristus, maka penghakiman itu layak mutlak, apabila
    Hukum Kasih itu sudah sampai ke semua orang. Jesus bijaksana, Dia mau memberikan alternatif bagi orang / bangsa lain, asalkan mereka melaksanakan Hukum Kasih.

    Salam,

    • Shalom P. Manurung,

      Hal tentang siapakah ‘domba- domba lain’ dalam Yoh 10:16 sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Kitab Suci menunjukkan bahwa kawanan domba Kristus adalah kawanan yang dipercayakan kepada Rasul Petrus (lih. Yoh 21:15-19, Mat 16:18) dan Kristus menghendaki agar kawanan ini selalu bersatu (Yoh 17:20-21)  dengan satu gembala, menjadi pemersatu semua bangsa (lih Yoh 11:52). Maka di sini kata kuncinya adalah: satu kawanan dan satu gembala. Kita dapat melihat dalam sejarah Gereja, bahwa kawanan tersebut adalah Gereja Katolik, yang bersatu di bawah satu pimpinan, yaitu Paus sebagai penerus Rasul Petrus. Maka ‘domba- domba lain’ yang dimaksud di sini adalah mereka yang berada di luar Gereja Katolik, termasuk yang non- Kristen, yang kemudian dituntun oleh Kristus agar mendengarkan suara-Nya, dan akhirnya dapat tergabung dalam Gereja-Nya. Contoh yang menarik di sini baru- baru ini adalah kembalinya sebagian gereja Anglikan ke pangkuan Gereja Katolik, di mana mereka kembali mengakui Bapa Paus sebagai pemimpin Gereja di dunia, sebab Paus adalah penerus Rasul Petrus yang kepadanya Kristus telah mempercayakan kawanan domba-Nya.

      Perikop tentang pengadilan terakhir Mat 25:31-46 mengajarkan pada kita tentang pentingnya mewujudkan iman kita dalam perbuatan kasih, dan bukan untuk mengatakan bahwa yang penting hanya perbuatan saja atau hanya perbuatan kasih saja yang menyelamatkan. Sebab yang diajarkan dalam Kitab Suci adalah bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia oleh iman (lih Ef 2:8) dan iman ini bekerja oleh kasih (lih. Gal 5:6). Maka mari kita menangkap keseluruhan yang diajarkan oleh Sabda Tuhan dalam Kitab Suci, dan tidak hanya mengambil sebagian dan mengabaikan ayat- ayat lainnya.

      Maka kita percaya bahwa Tuhan menyelamatkan kita dengan kita mengimani Kristus, namun karena iman ini juga timbul dari pengetahuan/ pendengaran oleh firman Kristus (Rom 10:17), maka jika seseorang yang bukan karena kesalahan sendiri tidak pernah mendengar/ mengetahui tentang firman Kristus dan Gereja-Nya, maka di saat penghakiman ia tidak akan dipersalahkan karenanya. Dalam hal ini Katekismus mengajarkan demikian:

      KGK 846    “…. seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:

      “Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).

      KGK 847    Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
      “Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (Lumen Gentium 16, Bdk. DS 3866 – 3872).

      Agaknya dalam hal iman, yang berlaku adalah ketentuan dalam Luk 12:48, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Maka terhadap mereka yang bukan karena kesalahannya tidak sampai mengenal Tuhan Yesus dan Gereja-Nya (misalnya karena tak tersentuh dengan pemberitaan misi, dan tak pernah mendengar tentang Kristus sama sekali karena tak ada yang memberitahukannya), Tuhan juga tidak menuntut mereka untuk harus mengenal Kristus dan menjadi Katolik. Dalam hal ini, kita percaya bahwa Tuhan dapat menghantar mereka menurut jalan yang diketahui-Nya sendiri kepada keselamatan (lih. KGK 848) seturut kebijaksanaan-Nya. Namun kepada orang- orang yang telah diberi-Nya kesempatan untuk mengenal Dia dan Gereja-Nya tentu parameternya tidak sama. Apalagi kita yang telah diberi karunia iman, maka kita dituntut untuk dapat mewujudkannya dalam perbuatan kasih yang mencerminkan iman kita.

      Semoga Tuhan memampukan kita memahami ajaran ini secara keseluruhan dengan seimbang, dan tidak menekankan ke satu sisi saja dan mengabaikan sisi yang lain.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  3. Pak J.Manurung ( Mrg ) August 16, 2011 at 1:52 pm

    Salam kasih U/ Ibu Ingrid.

    1. Terima kasih atas tanggapannya, tapi saya masih bertanya tanya maksud Ibu dalam hal memahami
    Wahyu , mungkin juga dimaksud Cq. Trinitas, harus diperlukan ada keterbukaan dan kerendahan
    hati. Sikap terhadap Wahyu, saya sangat setuju Ibu, tetapi syarat pikiran dan kemauan juga dibutuhkan. Jika pikiran memastikan “tidak”, atau ” tidak mesti ‘, dengan banyak pertimbangan logis, tentu pikiran akan bertanya, ” Wahyu atau bukan “. Saya kurang setuju jika dalam menanamkan ” Iman ” hanya disuruh percaya tanpa penjelasan logis. Kalaupun harus cara demikian dilakukan, harus mempertimbangkan keadaan masyarakatnya, sudah maju atau tidak.

    2. Masalah Trinitas : Sesungguhnya sebagai seorang Katolik saya bangga dan kagum usaha pemikiran Bapa2 Geraja terdahulu menemukan rumusan Trinitas, Yang pernah saya kritisi hanya masalah kandungannya ada yang berlebihan, sehingga sudah lebih 17 abad masih terus menjadi polemik baik di intern Kristen sendiri lebih lagi menghadapi agama lain yang dijadikannya alat bukti bahwa ajaran Kristen sudah menyimpang dan agamanyalah yang sempurna. Sebenarnya kekawatiran saya adalah memikirkan generasi mendatang jauh ke depan. Mereka semakin kritis dan realistis berfikir. Dapat dibayangkn apa jadinya jika mereka dihadapkan logika berfikir , disini disebut Allah maha Esa, disana disebut ada tiga Allah. Orang lain itu ternyata hapal sekali kesalahan para Bapa2 Gereja masa lalu termasuk ayat2 Alkitab katanya paradok. Pada hal tugas pokok Gereja menurut saya adalah: Menyampaikan kabar gembira dari Jesus Tuhan ke seluruh ujung bumi, mengajarkan hukum cinta kasih, membabtis mereka yang mnerimanya. Harapan saya selaku umat biasa, sudah waktunya ada pemikiran yang terbuka bagi Bapa2 Gereja masa kini merumuskan kembali Trinitas yang mudah dipahami orang banyak. Memperhatikan sebahagian dari isi Konsili Vatikan II (1962) dan Sinode luar biasa (1985 ) peluang kearah peninjawan kembali
    ajaran Trinitas menurut hemat saya masih terbuka, kutipannya sbb :
    # Tugas pokok Konsili Vatikan II yang diberikan Paus Yohanes XXIII , adalah menyusun ajaran Iman dan peraturan Gereja yang baik, agar lebih mudah dipahami Umat dan ” Jangan mengecam ke
    keliruan Zaman Terdahulu “. Diharapkan , agar para Gembala dan Umat dapat menemukan di dalamnya petunjuk untuk ” Pembaharuan Berfikir “, bertindak, susila, moral dan harapan.
    # Pengarahan Paus Paulus II pada Sinode luar biasa , adalah : Menyusun satu Katekismus me- ngenai ” Seluruh ajaran Iman dan Susila Katolik ” Penjelasannya harus bersifat Biblis dan Litur gis, harus menyajikan ajaran yang benar dan yang “Sesuai perkembangan Zaman”.

    3. Perihal Adam :
    # Menurut Ibu, bahwa Adam adalah manusia pertama diciptakan Allah, dan bukan Nabi, karena
    tidak terdapat kriteria kenabian dalam dirinya. Dan yang menganut paham sebaliknya adalah
    penganut Teory Evolusi yang masih diperdebatkan ( Hipotese ).
    = Saya percaya bahwa Adam bukan manusia pertama dicipta Allah, bukan pengaruh teory evolu
    si, tetapi percaya akan cara Allah berkarya dan kemampuan tecknology modern para ilmuwan
    Archaeology dalam penelitian fosil purbakala yang sudah diakui ilmuwan Dunia modern.
    Jika pendapat ibu yakin benar , lalu dengan siapa anak2 Adam mendapatkan jodoh untuk ke
    turunan / generasi mereka ? Apa dengan Ibunya ? Apa dengan saudara perempuannya ?
    Menurut para ahli Archaeolog, manusia purba sebelum Adam, bertabiat Hewani, tidak bermoral
    otak sulit berkembang, telanjang dan tak kenal rasa malu. Adam dan Hawa pun masih sempat
    mengalami telanjang dan tak kenal malu, mereka baru sadar setelah dibangunkan Allah pikiran
    nya ( PL / buah pengetahuan ). Adam dapat dikategorikan adalah Nabi, alasan kuat adalah bahwa
    sejak Adam lah tercatat dalam Alkitab, ada Interaksi berlanjut oleh Allah dengan Manusia hingga
    pada kita sekarang ini. Kesimpulan saya, Allah menciptakan Adam dan Hawa, sebagai Nabi se
    kaligus rencana Allah menyempurnakan Karyanya mengubah manusia lama/manusia purba.

    4, Perihal Jesus Kristus menurut Ibu, bukan diciptakan, tetapi sudah ada bersama Allah sejak awal.
    dengan sumber Yoh. 1 : 1 – 2.

    Jawaban saya : Saya berusaha belajar sendiri dari penjelasan2 yang ada dalam ” Injil cetakan V,
    Th.1968 , Ende, Flores, terjemahan dari bahasa Junani. Dalam penjelasan di se
    butkan bahwa Johanes seorang murid yang paling dikasihi oleh Jesus. Demikian pula Yohanes
    sangat besar perhatiannya mengikuti Jesus, baik tutur kata Jesus, baik segala kuasa menyem
    buhkan orang sakit dan menghidupkan orang yang mati termasuk seluruh isi pengajarannya .
    Yohanes seorang murid yang paling setia, perenungannya terhada Jesus sangat dalam.
    Maka didalam mengungkapkan perasaannya perihal Jesus, Dia melukiskannya dalam tulisannya
    Yoh. 1 : 1 – 18, dalam bentuk Madah Pujian sarat dengan makna.
    Dengan demkian ! Saya pribadi berusaha menangkap pikiran Yohanes yang masih tersembuni,
    mengingat pula banyak ahli Alkitab gelar Doktor Theologi, Filsafat dsb, berkeras bahwa yang di
    maksud ” SABDA ‘ dalam kitab Yohanes, semuanya tertuju untuk Jesus Kristus . Dan ayat2 itu pu
    la dijadikan pembuktian bahwa Jesus adalah Allah dan setara dengan Allah Bapa. Oleh karena
    sudah menjadi polemik yang berkepanjangan, maka saya mencoba mencari jawabannya , sbb :
    1 ), Yoh. 1 : 1, = Pada awal mula Sabda ada.
    # Sabda disini bisa diartikan sebagai kata Benda yang tidak berwujud yang sifatnya kekal.
    = Dan Sabda itu ada pada Allah.
    # Sabda disini menunjukkan milik Allah, melekat dalam diri Allah, dan sebagai alat berkarya
    bagi Allah.
    = Dan Sabda itu adalah Allah.
    # Disini Yohanes melukiskan tidak membedakan Sabda sebagai alat Allah dan Allah sebagai
    pengguna atau pemilik. Karena tanpa ” Sabda ” Allah tidak bisa berbuat apa apa.
    2 ). Yoh. 1 : 2 -3. = Pada awal mula Ia ada pada Allah, segala sesuatu dijadikan olehnya, dan tia
    da dengan dia tak suatupun jadi dari segala yang dijadikan.
    # Dua ayat tersebut diatas merupakan satu rangkaian kalimat. yang menyatakan , bahwa
    Allah dengan Sabdanya tidak bisa terpisahkan . Sekali lagi, tanpa ” Sabda ” Allah tidak
    bisa berbuat sesuatu pun .
    3 ) Yoh.1 : 4 – dst .. Kata ” SABDA ” baru mengarah kepada Jesus Kristus dan Yohanes pemb
    babtis. Untuk tambaha referensi apakah Jesus diciptakan atau tidak perlu juga kita baca
    Yes. 42 : 6 – 8. ……. Aku telah membentuk Engkau ….dst
    4 ) Untuk menjawab Yoh. 10 : 30. ada di Yoh. 17 : 21.

    Demikian semampu saya , Salam.

    • Shalom P. Manurung,

      1. Penjelasan tentang Trinitas

      Saya mengundang anda untuk membaca pengajaran tentang Trinitas, seperti yang pernah dituliskan di sini, silakan klik. Memang tidak mudah untuk memahami konsep Trinitas, tetapi bukan berarti bahwa Trinitas tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Di artikel tersebut dan di tanya jawab di bawahnya, kami sudah berusaha menyampaikan penjelasan tentang ajaran Trinitas, agar dapat diterima oleh akal budi kita. Sebab, sesungguhnya Trinitas dapat diajarkan dengan analogi sederhana, meskipun tidak sempurna, karena tidak ada sesuatupun di dunia yang dapat dipakai untuk menggambarkan Allah. Namun asalkan kita mau merenungkannya, kita akan dapat menangkap maksudnya. Seperti halnya H2O yang dapat dikenal dalam wujud air biasa, es batu atau uap, maka hakekat Tuhan yang satu dan sama, dikenal dalam tiga Pribadi, seperti yang dinyatakan-Nya sendiri dalam Wahyu Ilahi. Sebab di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama sebutan Allah dan Tuhan dapat dipakai bergantian dan mengacu kepada Tuhan Allah yang satu dan sama, demikian pula dalam Perjanjian Baru. Ada banyak sekali contoh ayat dalam hal ini, namun baiklah kita sebut di sini ayat Perjanjian Lama dari Yes 17:6, “…. demikianlah firman Tuhan, Allah Israel“. Dan dari Perjanjian Baru, “Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang….” (Rom 10:12), dan diperjelas oleh Rasul Paulus, “namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Kor 8:6)

      Dengan demikian, kelirulah pandangan yang menyangka bahwa ajaran tentang Trinitas baru timbul di abad ke 4, atau sekitar 3 abad dari jaman para rasul. Sebab prinsip dasar Allah Trinitas sudah diajarkan oleh para rasul dan para penerus mereka. Berikut ini kutipannya- kutipan ajaran para Bapa Gereja sejak abad pertama sampai abad ke- 4:

      1. St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99):
      “Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?” ((St. Clement of Rome, Letter to the Corinthians, chap. 46, seperti dikutip oleh John Willis SJ, The Teachings of the Church Fathers, (San Francisco, Ignatius Press, 2002, reprint 1966), p. 145))

      2. St. Ignatius dari Antiokhia (50-117) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus. ((St. Ignatius of Antiokh, Letter to the Ephesians, Chap 9, Ibid., p. 146))

      “Ignatius, juga disebut Theoforus, kepada Gereja di Efesus di Asia… yang ditentukan sejak kekekalan untuk kemuliaan yang tak berakhir dan tak berubah, yang disatukan dan dipilih melalui penderitaan sejati oleh Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.” ((St. Ignatius, Letter to the Ephesians, 110))

      “Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, telah dikandung oleh Maria seturut rencana Tuhan: dari keturunan Daud, adalah benar, tetapi juga dari Roh Kudus.” ((ibid., 18:2)).

      “Kepada Gereja yang terkasih dan diterangi kasih Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak Dia yang telah menghendaki segalanya yang ada.” ((St. Ignatius, Letter to the Romans, 110))

      3. St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.” ((St. Polycarp, Ibid., 146))

      4. St. Athenagoras (133-190):
      “Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, -Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.” ((St. Athenagoras, A Plea for Christians, Chap. 24, ibid., 148))

      5. Aristides sang filsuf [90-150 AD] dalam The Apology
      “Orang- orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus. ((Aristides, Apology 16 [A.D. 140]))

      6. St. Irenaeus (115-202):
      “Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.” (( St. Irenaeus, Against Heresy, Bk. 4, Chap.20, Ibid., 148))

      “Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan, Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya; dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi, ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi ….” ((St. Irenaeus, Against Heresies, I:10:1 [A.D. 189])).

      “Namun demikian, apa yang tidak dapat dikatakan oleh seorangpun yang hidup, bahwa Ia [Kristus] sendiri adalah sungguh Tuhan dan Allah … dapat dilihat oleh mereka yang telah memperoleh bahkan sedikit bagian kebenaran” ((St. Irenaeus, ibid., 3:19:1)).

      7. St. Clement dari Alexandria [150-215 AD] dalam Exhortation to the Heathen (Chapter 1)
      “Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita -karena Ia ada di dalam Allah- dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita” ((St. Clement, Exhortation to the Greeks 1:7:1 [A.D. 190])).

      “Dihina karena rupa-Nya namun sesungguhnya Ia dikagumi, [Yesus adalah], Sang Penebus, Penyelamat, Pemberi Damai, Sang Sabda, Ia yang jelas adalah Tuhan yang benar, Ia yang setingkat dengan Allah seluruh alam semesta sebab Ia adalah Putera-Nya.” ((ibid., 10:110:1)).

      8. St. Hippolytus [170-236 AD] dalam Refutation of All Heresies (Book IX)
      “Hanya Sabda Allah [yang] adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga Allah, menjadi substansi Allah. ((St. Hippolytus, Refutation of All Heresies 10:33 [A.D. 228]))

      “Sebab Kristus adalah Allah di atas segala sesuatu, yang telah merencanakan penebusan dosa dari umat manusia …. ((ibid., 10:34)).

      9. Tertullian [160-240 AD] dalam Against Praxeas
      “Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.” ((Tertullian, Against Praxeas 13:6 [A.D. 216])).

      10. Origen [185-254 AD] dalam De Principiis (Book IV)
      “Meskipun Ia [Kristus] adalah Allah, Ia menjelma menjadi daging, dan dengan menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah.” ((Origen, The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D. 225])).

      11. Novatian [220-270 AD] dalam Treatise Concerning the Trinity
      “Jika Kristus hanya manusia saja, mengapa Ia memberikan satu ketentuan kepada kita untuk mempercayai apa yang dikatakan-Nya, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Bukankah Ia menghendaki agar diterima sebagai Allah juga? Sebab jika Ia tidak menghendaki agar dipahami sebagai Allah, Ia sudah akan menambahkan, “Dan manusia Yesus Kristus yang telah diutus-Nya,” tetapi kenyataannya, Ia tidak menambahkan ini, juga Kristus tidak menyerahkan nyawa-Nya kepada kita sebagai manusia saja, tetapi satu diri-Nya dengan Allah, sebagaimana Ia kehendaki agar dipahami oleh persatuan ini sebagai Tuhan juga, seperti adanya Dia. Karena itu kita harus percaya, seusai dengan ketentuan tertulis, kepada Tuhan, satu Allah yang benar, dan juga kepada Ia yang telah diutus-Nya, Yesus Kristus, yang, …tidak akan menghubungkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa, jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah juga. Sebab [jika tidak] Ia akan memisahkan diri-Nya dari Dia [Bapa], jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah.” ((Novatian, Treatise Concerning the Trinity 16 [A.D. 235])).

      12. St. Cyprian of Carthage [200-270 AD] dalam Treatise 3
      “Seseorang yang menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait Roh Kudus-Nya …” ((St. Cyprian, Letters 73:12 [A.D. 253])).

      13. Lactantius [290-350 AD] dalam The Epitome of the Divine Institutes
      “Ia telah menjadi baik Putera Allah di dalam Roh dan Putera manusia di dalam daging, yaitu baik Allah maupun manusia. ((Lactantius, Divine Institutes 4:13:5 [A.D. 307]))

      “Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin, ketika kita berkata bahwa kita menyembah hanya satu Tuhan, namun kita menyatakan bahwa ada dua, Allah Bapa dan Allah Putera, di mana penyebutan ini telah menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam kesalahan yang terbesar … [yang berpikir] bahwa kita mengakui adanya Tuhan yang lain, dan bahwa Tuhan yang lain itu adalah yang dapat mati …. [Tetapi] ketika kita bicara tentang Allah Bapa dan Allah Putera, kita tidak bicara tentang Mereka sebagai satu yang lain dari yang lainnya, ataupun kita memisahkan satu dari lainnya, sebab Bapa tidak dapat eksis tanpa Putera dan Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa.” ((Lactantius, (ibid., 4:28–29))

      14. St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda… Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya dengan Putera… tetapi kodreat/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya adalah milik Anak-Nya.” ((St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n. 3:3, in NPNF, 4:395.))

      15. St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal. ” ((St. Augustine, On The Trinity, seperti dikutip oleh John Willis SJ, Ibid., 152.))

      2. Ajaran Trinitas dapat ditinjau kembali?

      Nampaknya keliru pandangan yang menganggap bahwa ajaran tentang Trinitas bisa ditinjau kembali dalam artian diubah, bahwa Yesus Allah Putera itu tidak setara dengan Allah Bapa. Gereja Katolik tidak pernah dapat mengubah ajaran yang sudah berakar dari jaman para rasul, terutama tentang Allah Trinitas, yang menjadi inti dan dasar seluruh kebenaran Kristiani seperti yang kita ucapkan dalam Credo Aku percaya. Yang bisa ditinjau kembali adalah cara mengajarkannya/ penyampaiannya kepada umat. Katekismus Gereja Katolik (KGK) yang dipromulgasikan oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1997, telah berusaha menyampaikannya dengan lebih jelas, silakan membaca KGK no. 198 sampai 747. Tidak ada satupun dari butir Katekismus itu yang mengubah inti ajaran mula- mula yaitu bahwa kita percaya akan satu Allah, dan Allah yang satu dan sama itu adalah Allah Bapa yang mengutus Putera-Nya Yesus Kristus atas kuasa Roh Kudus, untuk menyelamatkan umat manusia.

      3. Tentang manusia pertama

      Teori Adam sebagai manusia pertama tidak bertentangan dengan ditemukannya fosil purbakala oleh para arkeolog. Sebab meskipun dianggap bahwa tubuh manusia ‘berasal’ dari perkembangan tubuh mahluk lain (walau hal ini tetap memerlukan pembuktian lebih lanjut), tetap tidak mengubah prinsipnya bahwa diperlukan intervensi Tuhan untuk mengubah tubuh mahluk lain tersebut untuk dapat menjadi tubuh manusia yang cocok untuk menerima jiwa manusia. Prinsip ini tidak menentang makna yang disampaikan oleh Kitab Kejadian, sebab Tuhan membentuk tubuh manusia juga dari ‘sesuatu materi’ yang sudah ada, yaitu debu tanah (lih. Kej 2:7).

      Masalahnya sekarang, banyak fosil ditemukan, yang diyakini sebagian orang berasal dari semacam ‘kera’/ apes yang berevolusi menjadi manusia. Namun fosil yang menunjukkan perubahan pelan- pelan antara kera menjadi manusia itu tidak pernah ditemukan. Maka para ahli mengatakan fosil peralihan antara ‘kera’ menjadi manusia yang tidak ditemukan tersebut sebagai ‘the missing link‘ (rantai yang hilang).  Namun demikian, jika kita mendasarkan pada prinsip logika berpikir, kita akan dapat menerima, bahwa ‘rantai yang hilang’ ini bukannya hilang, tetapi tidak ada. Sebab tidak mungkin mahluk yang lebih rendah bisa berubah jadi mahluk yang lebih tinggi, atas dasar prinsip: ‘sesuatu tidak dapat memberi, jika sebelumnya ia tidak punya’. Maka kalau pada kera tidak ada akal budi dan kehendak bebas seperti pada manusia, maka tidak mungkin mereka dapat disebut sebagai ‘orang tua’ manusia. Dengan kata lain, tanpa campur tangan Tuhan, suatu mahluk hidup yang di bawah derajat manusia tidak dapat berubah pelan- pelan/ berevolusi menjadi manusia. Sekalipun diyakini terjadi perubahan, perubahan itu hanya mungkin karena campur tangan Tuhan, sehingga terjadi perubahan drastis yang tidak lagi menyerupai kera, tetapi sungguh menjadi tubuh manusia yang layak menjadi kediaman jiwa manusia. Di saat itulah (jika saja teori ini benar) Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, manusia pertama yang menjadi orang tua pertama bagi umat manusia.

      Gereja Katolik, berdasarkan Kitab Suci mengajarkan bahwa Adam dan Hawa adalah sepasang orang tua pertama, dan dari mereka seluruh umat manusia berasal. Maka konsekuensinya, pada jaman awal mula, memang terjadi perkawinan sesama saudara (incest), dalam hal ini antara sesama anak- anak dari Adam dan Hawa, sebab Kitab Suci mencatat bahwa Adam dan Hawa tidak hanya memiliki 2 anak (Kain dan Habel), tetapi juga Set dan anak-anak laki-laki dan perempuan (Kej 5:4) yang jumlahnya dan namanya tidak dituliskan di dalam Kitab Suci. Maka pada saat itu memang terjadi pernikahan antar saudara, yaitu antara anak-anak Adam dan Hawa, walaupun kemudian setelah jumlah umat manusia berkembang, hal ini tidak lagi diperbolehkan oleh Tuhan (lih. Im 18:6-18). Larangan ini cocok dengan kenyataan bahwa kode genetik manusia dapat mengalami “defect”/ cacat yang dapat bertambah besar sehubungan dengan regenerasi manusia. Maka jika pada generasi pertama-tama, efek resesif sangat minimal namun semakin ke bawah generasinya, efek ini makin besar. Oleh sebab itu Allah akhirnya melarang perkawinan sesama saudara.

      Prinsip Adam sebagai manusia pertama, yang darinya turunlah semua umat manusia, dan oleh karena ketidaktaatannya ia berdosa, dan karena itu semua orang turut berdosa dan menerima maut sebagai akibatnya; adalah penting; sebab Kristus justru diutus oleh Allah untuk memulihkan keadaan ini dengan keadaan kebalikannya. Yaitu Kristus sebagai Adam yang baru, dengan ketaatan-Nya menghancurkan kuasa dosa dan maut. (lih. Rom 5:12-21)

      4. Tentang Yesus sebagai Sang Sabda

      Anda benar jika mengatakan bahwa tanpa Sabda, Allah tidak dapat berbuat sesuatupun. Padahal Allah adalah Tuhan yang Maha segalanya, maka Ia tidak mungkin tidak dapat berbuat sesuatu. Dengan demikian Sabda itu selalu bersama- sama dengan Allah, dan tidak ada saat, walau sekejap-pun, di mana Sabda itu tidak bersama- sama dengan Allah. Oleh karena itu dikatakan dalam Injil Yohanes, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yoh 1:1). Segala sesuatu dijadikan oleh Sang Firman (lih. Yoh 1:2-3), dan karena itu Sang Firman adalah Allah, sebab kalau bukan Allah sendiri, maka tak seorangpun dapat menjadikan segala sesuatu. Nah, maka Firman ini sudah ada sejak awal mula, bersama- sama dengan Allah, namun pada suatu saat  yaitu pada saat telah genap waktunya (lih. Gal 4:4)- Firman ini menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14) dan kita mengenal-Nya dengan nama Yesus Kristus, yang adalah sungguh Allah (karena Ia adalah Sang Firman yang tetap selamanya), namun juga sungguh manusia. Tentang topik Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia, klik di sini.

      5. Tentang Yes 42:6

      Sekarang mari kita lihat ayat Yes 42:6 yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan demikian, “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa…. “

      Sesungguhnya bahasa asli dari kata yang diterjemahkan ‘membentuk’ adalah:  נַצר nāṣar (yang artinya adalah menjaga, melindungi, mengamati), yang dalam bahasa Inggris adalah demikian:

      I the Lord have called thee in justice, and taken thee by the hand, and preserved thee. And I have given thee for a covenant of the people, for a light of the Gentiles; ” (Douay Rheims version)

      I am the LORD, I have called you in righteousness, I have taken you by the hand and kept you; I have given you as a covenant to the people, a light to the nations;” (Revised Standard Version)

      I am the LORD, I have called You in righteousness, I will also hold You by the hand and watch over You, And I will appoint You as a covenant to the people, As a light to the nations, (New American Bible version)

      I the LORD have called thee in righteousness, and will hold thine hand, and will keep thee, and give thee for a covenant of the people, for a light of the Gentiles;” (King James Version)

      Jadi nampaknya ayat Yes 42:6 yang anda tunjukkan tidak menjadi dasar bahwa Kristus -yang menjadi penggenapan ayat tersebut- ‘dibentuk’ oleh Allah. Sebab terjemahan yang lebih tepat adalah Allah ‘menjaga/ melindungi’. Namun sekalipun diartikan ‘membentuk’ sebenarnya juga ada benarnya, sebab Allah memang membentuk tubuh Kristus sebagai manusia di dalam rahim Maria, namun bukan ke-Allahan-Nya.

      6. Tentang Yoh 10:30 dan Yoh 17:21

      Yesus memang menyatakan bahwa Ia dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30) sebab Ia ada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia (lih. Yoh 10:38); dan kesatuan inilah yang Yesus inginkan ada pada semua orang yang percaya kepada-Nya (lih. Yoh 17:21); yaitu dalam arti kesatuan jiwa (yang tidak kelihatan) dan kesatuan tubuh (yang kelihatan) sebagaimana diperlihatkan dalam Ekaristi, supaya seluruh dunia tahu bahwa Kristuslah yang telah diutus oleh Allah Bapa, dan bahwa Allah sungguh hadir di dunia.

      Demikianlah yang dapat saya sampaikan sebagai tanggapan dari pertanyaan dan pernyataan anda. Saya di sini hanya berusaha menunjukkan dasar- dasar ajaran tentang Trinitas, seperti yang disampaikan oleh Gereja Katolik. Anda bisa saja tidak setuju, tetapi jika anda Katolik, ada baiknya anda merenungkan ajaran ini yang mengambil dasar dari ajaran Kristus dan para rasul, yang diteruskan dengan setia oleh para penerus mereka. Adalah lebih baik mempelajari dahulu dan berusaha memahami ajaran Trinitas, daripada berkeras pada pandangan ‘ajaran itu harus diubah karena sulit dipahami’. Sebab sesungguhnya untuk sampai kepada pengetahuan akan Allah, kitalah yang harus ‘naik’ untuk berusaha memahami apa yang sudah dinyatakan sendiri oleh Allah, dan bukannya mensyaratkan agar Allah menyatakan Diri-Nya sedemikian agar sesuai dengan pemikiran dan pemahaman kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Pak J.Manurung ( Mrg ) July 25, 2011 at 12:15 pm

    Salam Kasih !
    Ibu Ingrid, mungkin karena saya tidak ahli dalam theologi, falsafah, dan sastra (Ibr & Jun), maka dari menyaksikan perdebatan agama baik sesama Kristen maupun Kristen dengan Islam, saya merasa khawatir, bahwa kita Kristenpun karena emosional dan betapa besar cinta kita kepada Jesus, maka tidak tertutup kemungkinan Bapa2 Gereja awal bisa jadi telah membuat penafsiran keberadaan Jesus berlebihan atau ada kelemahan. Contoh gampang, hingga sekarangpun walau para ilmuwan membuktikan, bahwa Adam bukan manusia pertama diciptakan Tuhan(Allah), Kristen & Islam masih tidak mau menerimanya. Saya pribadi yakin Adam bukan manusia pertama tetapi nabi pertama. Kemudian, Jesus dipercaya adalah Allah Bapa yang menjelma jadi manusia dengan alasan berbagai ayat2 Firman dalam Alkitab. Di sisi lain kita diajari bahwa Allah itu Esa, Allah itu menciptakan segala sesuatu yang ada di alam raya ini termasuk Jesus dengan SabdaNya. Sekarang ini berkembang ajaran Kristen bahwa Jesus setara dengan Allah Bapa, Jesus ikut menciptakan segala sesuatu yang ada. Mengapa kita orang Kristen tidak cukup bersandar pada pengakuan Petrus atas pertanyaan Jesus menurut mereka siapa Jesus, yang jawabannya ” Engkaulah Kristus, anak Allah yang hidup?” Kita orang Kristen percaya bahwa Allah tidak mau menghakimi umat manusia karena ketidaktahuan umat manusia. Oleh sebab itulah Allah mengutus para nabiNya mengingatkan umat supaya percaya dan setia kepada Allah. Karena kasih Allah yang tidak terbatas, Allah mengutus putranya Jesus.

    Pertanyaan kita sekarang, dengan ajaran, doktrin yang sukar dipahami oleh umat lalu dia pergi meninggalkan Jesus dan mencari penyelamat lain alias murtad, siapakah yang salah ?

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini digabung karena masih satu topik/ merupakan kelanjutan dari pertanyaan di atas]

    Ibu Ingrid yang baik
    Maaf ya Ibu, saya tidak pandai menggunakan laptop, begitu juga Theologi, hanya terdorong oleh perkembangan pemahaman Trinitas yang terus polemik baik diantara umat (Kristen) lebih lagi menghadapi agama lain. Saya mempunyai beberapa buku dan vcd yang isinya tentang banyak sudah umat Kristen jadi murtad karena tidak percaya lagi, bahwa agama Kristen Cq Jesus, bukan lagi jalan kebenaran. Perasaanku sangat sedih. Mereka kebanyakan murtad karena kalah berdialog dengan orang beragama lain. Sebahagian memang karena hal hal duniawi. Dari bukunya James Yee, seorang mantan Perwira AD-US, judul buku For God and Country, katanya lebih 6000 tentara US di Timteng dan Afganistan masuk Islam hanya karena terpojok, tidak bisa menjawab soal : Trinitas, Jesus anak Allah, malah sudah disebut setara dengan Allah bahkan sudah Allah. Demikian juga yang terjadi di Indonesia kita ini, seperti Antonius Widuri sekeluarga dan Irene Handoko, dll, kasusnya hampir sama. Merenungkan kasus-kasus tersebut, saya berusaha memahami mereka, dan jawabannya, memang pihak lawan ada benarnya walau lebih banyak tidak benarnya. Kita Kristen pun terutama Bapa2 Gereja yang melahirkan Dogma Gereja, sepertinya tidak luput dari unsur otoriterisme yang didukung oleh semangat berlebihan, atau oleh doktrin keputusan Gereja adalah keputusan Jesus, tidak terbantahkan. Saya mensinyalir ada sikap otoriter, karena pada saat merumuskan Trinitas ada pro dan kontra. Yang kontra dianggap bidaah, musuh Gereja dan diasingkan.
    Pertanyaan saya Ibu, apa tidak cukup Jesus itu kita sebut : Anak Allah, Kristus, Mesias, Tuhan (dalam arti tidak sama dengan Allah, kecuali kata “Allah” tidak nama pribadi). Dengan demikian kita tidak mempersekutukan Allah Bapa, tidak menimpang dari Hukum Allah yang pertama dan ucapan Jesus atas dirinya.
    S a l a m.

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini digabungkan karena masih merupakan kelanjutan dari pertanyaan yang sudah ditulis di atas]

    Benar atau tidak ya pemikiran saya, bahwa Allah Bapa dalam karya2nya, tidaklah dilakukan sekaligus tuntas sempurna, tetapi sengaja dilakukan bertahap menuju kesempurnaan. Bukti nyata menurut pandangan saya bahwa: 1. Alam Raya diciptakan Allah dalam 6 periode, dan setiap periode memakan waktu miliaran tahun ( PL: 6 hari ). 2. Manusia dengan akal budinya, juga diciptakan Allah bertahap jutaan tahun, mulai dari primitif, lalu mengalami perkembangan akal budi, kemudian kini sudah menguasai technologi super tinggi. 3. Demikian juga Allah menciptakan utusan2nya di Bumi ini, juga secara bertahap kearah kesempurnaan sebagai berikut :
    a. Nabi pertama Adam diciptakan Allah dari ” debu”. Adam jatuh ke dalam dosa karena Dia tidak setia menuruti larangan Allah.
    b. Para nabi berikutnya yaitu Musa dll, diciptakan Allah dari darah dan daging manusia melalui hubungan biologis. Periode mereka, dapat dikatakan hubungan kesetian kepada Allah mengalami pasang surut (umat Israel).
    c. Mesias yang dijanjikan Allah yaitu Jesus Kristus, diciptakan Allah melalui kuasa “Sabda”nya. Bukan dari “Debu”, bukan dari “Biologis”, tetapi dari ” S a b d a “. Dalam Jesus sempurna sudah, Dia telah menggantikan kurban darah Ishak dan kurban bakaran Bani Israel di kayu salib, Dialah yang menyampaikan Firman Allah secara langsung tanpa perantara Malaekat Allah seperti sebelumnya. Kesetiaannya kepada Allah Bapa, demi penebusan dosa2 dunia, telah dibayarnya dengan lunas di atas kayu salib.
    Jika pemikiran saya diatas dapat dibenarkan, tentu kesimpulannya, Jesus itu adalah diciptakan Allah, bukanlah sudah ada bersama sama Allah sebelum dunia tercipta, seperti iman yang dikembangkan kita Kristen. (Mohon maaf u/semua, bukan niat melawan, hanya renungan hal Trinitas yang terus jadi polemik berkepanjangan). Karena polemik yang bekepanjangan tersebut, timbullah pikiran bertanya, “Mengapa Bapa2 Gereja mempertahankan ajaran iman yang sulit buat umat ? Bukankah Allah maha pengasih buat manusia yang terbatas nalarnya ? Sulitkah bagi Bapa2 Gereja meneliti kembali kandungan “Trinitas” hasil pemikiran pendahulunya ? Bolehkah disalahkan mereka yang murtad karena kebingungan ajaran ?

    Salam dan mohon maaf atas kesensitifanku.

    P. J Manurung

    • Shalom P. Manurung,

      Sejujurnya, jika kita ingin memahami Wahyu Allah, yang pertama-tama dibutuhkan adalah sikap keterbukaan dan kerendahan hati. Sebab tanpa kerendahan hati, kita akan cenderung ‘ngeyel‘ terhadap pemahaman kita sendiri, dan akhirnya, malah tidak dapat memahami apa sebenarnya yang Tuhan nyatakan kepada kita. Beruntunglah kita sebagai umat Katolik, bahwa kita memiliki Magisterium (Wewenang Mengajar) Gereja, yang dengan setia mengajarkan pengajaran dari para rasul dan para penerus mereka, dan bahwa kuasa mengajar ini dijamin oleh Kristus sendiri tidak akan sesat (lih. Mat 16:18-19, 18:18, 28:19-20), sehingga dengan demikian kita memiliki pegangan yang pasti dan benar. Memang dapat terjadi seseorang mempertanyakan pengajaran para rasul maupun Bapa Gereja, atau menganggapnya keliru, sementara menganggap pandangannya sendiri lebih benar dari ajaran mereka. Tetapi apakah dasarnya pemikiran ini? Bukankah lebih baik jika kita mempelajari terlebih dahulu dasar ajaran para Bapa Gereja itu, dan melihat pula apakah prinsip ajaran mereka dapat diterima akal sehat, dan apakah di atas semua itu sesuai dengan Kitab Suci?

      1. Adam manusia pertama atau bukan?

      Sebenarnya jika dikatakan “para ilmuwan membuktikan“, itu tidak tepat. Sebab yang disodorkan oleh para ilmuwan itu juga sesungguhnya masih hipotesa, yaitu bahwa segala mahluk hidup asalnya hanya dari satu sel yang lalu ber-evolusi, atau teori big bang, atau teori ‘banyak manusia pertama’ atau bahkan manusia asalnya dari kera. Sejujurnya, semua itu juga masih hipotesa, karena yang disebutkan oleh mereka sebagai “bukti- bukti” sesungguhnya masih dapat didiskusikan atau tepatnya dipertanyakan. Saya tidak tahu apakah anda sudah pernah membaca ulasan di situs ini tentang Evolusi, dan Hubungannya dengan Iman, jika belum, silakan klik di sini.

      Jika anda yakin bahwa Adam bukan manusia pertama, ijinkan saya bertanya, “Apakah dasar ataupun buktinya mengapa anda berpandangan demikian?” Tentang Adam sebagai manusia pertama (‘Adam’ sendiri sebenarnya artinya adalah ‘manusia’) memang sebenarnya adalah realita, jika kita percaya bahwa Allah-lah yang menciptakan manusia pertama sesuai dengan gambaran-Nya (lih. Kej 1:26).

      Selanjutnya, jika kita berpegang kepada definisi nabi sebagai seseorang ‘penerjemah dan jurubicara bagi Allah’ kepada umat-Nya, maka nampaknya Adam bukanlah nabi. Orang pertama dalam Perjanjian Lama yang disebut nabi adalah Bapa Abraham, yang disebut sebagai Bapa orang beriman.

      2. Yesus dipercaya sebagai Allah Bapa yang menjelma menjadi manusia?

      Ini pandangan yang keliru. Di abad ke 2-3 pandangan macam ini diajarkan oleh Sabellius, dan ajaran ini dikenal dengan nama Monarchianism, Modalism, Patripassianism atau mengikuti nama pelopornya, Sabellianism. Ajaran ini mengajarkan bahwa yang menjelma menjadi manusia adalah Allah Bapa sendiri, sehingga yang menderita sengsara (mengalami passio) sampai wafat adalah Allah Bapa (Pater), dan oleh karena itu paham ini disebut Patri-passianism. Paham ini berasal dari prinsip pemahaman bahwa Tuhan yang satu itu menjalankan tugasnya dalam tiga peran (maka disebut Modalism) yaitu peran penciptaan oleh Allah Bapa, lalu peran penyelamatan oleh Allah Bapa yang sama yang menjelma menjadi manusia, dan peran pengudusan yaitu Allah Bapa yang sama yang menjadi Roh Kudus. Seseorang hanya perlu membaca dan merenungkan kembali apa yang tertulis dalam Kitab Suci, untuk mengetahui bahwa pandangan ini tidak benar. Sebab Kitab Suci jelas menuliskan bahwa Sang Firman (yang adalah Kristus) sudah ada sejak awal mula penciptaan dunia: “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama- sama dengan Allah dan Firman itu [Kristus] adalah Allah” (Yoh 1:1); dan dengan demikian Sabda/ Firman itu bukan ‘sesuatu’ yang diciptakan Allah di kemudian hari.

      Maka bahwa Allah adalah Esa/satu (Ul 6:4, Mal 2:10, 1 Kor 12:6, Gal 3:20), itu benar, sebab memang demikianlah yang dinyatakan Allah tentang Diri-Nya dalam Kitab Suci. Namun hakekatnya yang satu itu tidak terbatas dengan satu Pribadi, sebab Rasul Paulus mengatakan, “bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Kor 8:6). Hanya dengan bimbingan Roh Kuduslah kita dapat menerima dan memahami bahwa Allah atau Tuhan yang satu itu adalah Bapa, namun Tuhan itu juga Kristus, Sang Firman. Agaknya untuk memahami hal ini, kita harus melepaskan ‘ide’/ pemahaman kita tentang ke-esaan Allah menurut pengertian kita sebagai manusia, yaitu bahwa satu hakekat umumnya bersangkutan dengan satu pribadi- dan dengan demikian mengakui bahwa bagi Tuhan bukannya tidak mungkin bahwa walaupun hakekatnya Satu, namun Ia dapat mempunyai Pribadi lebih dari satu dan misteri inilah yang membedakan-Nya dengan manusia yang serba terbatas dalam banyak hal.

      3. Mengapa orang Kristen tidak cukup bersandar pada Pengakuan Petrus?

      Anda bertanya, “Mengapa kita orang Kristen tidak cukup bersandar pada pengakuan Petrus atas pertanyaan Yesus menurut mereka siapa Yesus, yang jawabannya, ”Engkaulah Kristus, Anak Allah yang hidup?

      Nampaknya saya yang perlu bertanya kepada anda, apa maksud pertanyaan ini. Sebab kita umat Kristiani justru menerima dan bersandar pada pengakuan Rasul Petrus ini, yaitu bahwa Kristus memang adalah Anak Allah yang hidup (lih. Mat 16:18). Oleh karena pengakuan iman inilah Rasul Petrus (yang tadinya bernama Simon) diberi identitas baru oleh Kristus sebagai Batu Karang (Kefas/ Petros) yang atasnya Kristus mendirikan Gereja-Nya. Nah, kita ketahui bahwa ‘anak’ mempunyai hakekat yang sama dengan orang tuanya. Contoh: dari kucing akan lahir kucing juga, dan bukan anjing. Maka jika Allah mengatakan, “Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal” (lih. Yoh 3:16), maka maksudnya adalah Allah telah mengaruniakan Sang Anak-Nya yang Tunggal, yang juga adalah Allah, kepada manusia. Dengan prinsip yang sama, maka jika Petrus mengatakan bahwa Kristus adalah Anak Allah, maka secara implisit Petrus mengakui bahwa Kristus adalah Allah. Dan Kristus memuji pernyataan iman Petrus ini dan mengatakan bahwa pemahaman tersebut dinyatakan oleh Allah Bapa kepada Petrus. Maka memang pernyataan ini tidak datang dari manusia, tetapi dari Allah sendiri. Untuk memahami bahwa dalam ke-Esaan-Nya, Allah Bapa mengutus Putera-Nya yang adalah Allah yang satu dan sama, kita harus meninggalkan pola pikir kita yang terbatas oleh ‘apa yang umumnya terjadi pada kita manusia’, tetapi melihat bahwa Tuhan yang tidak terbatas dan mengatasi kita dalam segala hal, dapat melakukan apapun di luar dari apa yang umum terjadi pada manusia; karena tiada yang tidak mungkin bagi Allah. Nah seseorang dapat memiliki kesulitan untuk berpikir ‘outside the box‘/ di luar batas dari apa yang umum dipahami; sehingga dengan demikian menyamakan konsep hakekat dan Pribadi Tuhan seperti yang ada pada manusia. Dengan pemahaman ini, maka ada banyak orang yang menolak paham Trinitas, karena dipandang tidak mungkin karena sulit dipahami. Padahal hal Trinitas sudah dinyatakan sendiri oleh Allah, namun untuk memahaminya, kita harus tidak berkeras kepada pemahaman kita sendiri.

      4. Orang Kristen yang berpindah keyakinan

      Hal banyaknya orang Kristen yang kemudian berpindah keyakinan, ini adalah realita yang memprihatinkan, namun selayaknya tidak membuat kita berputus asa ataupun menghakimi mereka. Sebab roda kehidupan terus berputar, dan tentulah Allah mempunyai banyak cara untuk membawa orang- orang tersebut untuk kembali ke dalam kawanan-Nya, jika itu memang adalah kehendak-Nya. Kita tidak dapat tahu akan hal itu, tetapi Tuhan yang mengetahui kedalaman hati setiap orang mengetahui segalanya, dan biarlah hal ini kita serahkan ke dalam kebijaksanaan Tuhan. Adalah sesuatu yang memprihatinkan jika seseorang meninggalkan iman Kristiani-nya, sebelum ia sempat mempelajari dan memahami imannya dengan sungguh- sungguh. Sebab sesungguhnya iman tentang Trinitas tidak menyimpang dari Hukum Allah, dan bahkan sungguh sesuai dengan perkataan Yesus sendiri bahwa Ia dan Bapa adalah Satu (Yoh 10:30; 1 Yoh 5:7).

      5. Sikap otoriter Gereja yang berlebihan dalam merumuskan Trinitas

      Pandangan ini keliru. Tidak ada yang berlebihan di sini, sebab yang dilestarikan oleh Gereja adalah ajaran Kristus dan para rasul yang sudah mereka terima sejak awal mula. Trinitas adalah ajaran inti iman Kristiani seperti dijabarkan dalam Katekismus:

      KGK 234     Misteri Tritunggal Maha Kudus adalah rahasia sentral iman dan kehidupan Kristen. Itulah misteri kehidupan batin ilahi, dasar pokok segala misteri iman yang lain dan cahaya yang meneranginya. Itulah yang paling mendasar dan hakiki dalam “hierarki kebenaran iman”. (DCG 43). “Seluruh sejarah keselamatan tidak lain dari sejarah jalan dan upaya, yang dengan perantaraannya Allah yang satu dan benar – Bapa, Putera, dan Roh Kudus – mewahyukan Diri, memperdamaikan diri-Nya dengan manusia yang berbalik dari dosa, dan mempersatukan mereka dengan diri-Nya” (DCG 47).

      Maka sebenarnya seseorang yang tidak mengimani Allah Trinitas tidak dapat disebut sebagai umat Kristen. Karena misteri penebusan Kristus hanya dapat terjadi dan menghasilkan efeknya sampai sekarang, karena Kristus adalah Tuhan. Kepada Kristus yang adalah Tuhan inilah para martir rela mengurbankan nyawa mereka demi mempertahankan iman mereka. Silakan jika anda tertarik untuk membaca lebih lanjut tentang topik ini di artikel- artikel berikut ini (silakan klik di judul berikut):

      Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Kristus Adalah Tuhan
      Yesus Sungguh Allah Sungguh manusia
      Kristus yang Kita Imani = Yesus menurut Sejarah
      Kristus Tuhan yang Dinubuatkan oleh Para Nabi

      Trinitas, Tuhan yang Satu dalam Tiga Pribadi

      Jadi kelirulah anggapan yang mengira bahwa ajaran Trinitas itu baru diajarkan di abad ke 4 melalui Konsili Nicea (325), apalagi jika dikatakan adanya pro-dan kontra yang sedemikian, sehingga seolah- olah ajaran itu tidak jelas dari awalnya. Silakan membaca di sini, silakan klik tentang tulisan para Bapa Gereja jemaat perdana sebelum abad ke-4 yang melestarikan apa yang diajarkan dalam Kitab Suci, yaitu bahwa Kristus adalah Tuhan, dan karena itu menunjukkan bahwa Pribadi Allah bukan hanya Allah Bapa, namun juga Kristus Sang Putera Allah.

      Maka perumusan Trinitas di tahun 325 itu diadakan bukan karena sebelumnya ajaran itu tidak ada atau tidak diyakini oleh Gereja. Ajaran tersebut sudah ada, hanya ditegaskan kembali, karena pada masa itu ada seorang bernama imam Alexandria bernama Arius yang mengajarkan ajaran yang menyimpang dari ajaran para Rasul. Arius bermaksud menyederhanakan misteri Trinitas, dan mengajarkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Nah, ajaran ini telak ditentang oleh para Uskup yang adalah para penerus Rasul di Konsili Nicea. Dari 300 uskup yang hadir hanya 2 uskup yang menolak dan ditambah dengan Arius sendiri. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, silakan klik. Setelah kalah di Konsili Nicea kemudian Arius melaksanakan taktiknya yang lain, yaitu mempengaruhi pihak kekuasaan Romawi untuk mendukung pandangannya. Di sinilah terjadi pro dan kontra yang sedemikian karena campur tangan penguasa, dan kita membaca dalam catatan sejarah Gereja, tentang besarnya peran St. Athanasius untuk menegakkan ajaran para rasul seperti yang telah ditetapkan dalam Konsili Nicea tersebut.

      6. Allah berkarya secara bertahap?

      Ya, anggapan ini benar. Dalam mewujudkan rencana-Nya, Allah juga melaksanakannya secara bertahap. Hal ini kita ketahui dari membaca keseluruhan kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan dikatakan juga dalam Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium, 2-4.

      7. Benarkah bahwa Mesias yang dijanjikan Allah yaitu Jesus Kristus, diciptakan Allah melalui kuasa “Sabda”nya?

      Pernyataan ini tidak seluruhnya benar. Sebab memang Kristus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah Bapa, namun Kristus ini tidak ‘diciptakan’ oleh Allah Bapa melalui Sabda-Nya. Sebab Sang Sabda ini adalah Allah sendiri, dan ini dikatakan jelas di Yoh 1:1-2, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah….” Maka Sang Firman/ Sang Sabda yang adalah Yesus itu sudah ada sejak awal mula bersama dengan Allah Bapa; hanya pada suatu waktu tertentu dalam sejarah manusia, Sang Sabda itu mengambil rupa sebagai manusia oleh kuasa Roh Kudus (lih. Luk 1:35) melalui Perawan Maria. Oleh kuasa Roh Kudus, Sang Putera Allah yang Tunggal menjelma menjadi manusia dan diam di antara kita (lih. Yoh 1:14), tanpa berhenti menjadi Allah. Karena ke-Allahan-Nya itulah Kristus dapat melakukan banyak mukjizat atas kuasa-Nya sendiri: menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, meredakan angin ribut, mengampuni dosa, dst, mengatakan kepada orang banyak tentang keberadaannya yang melampaui waktu, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58) dan di atas semua itu, Kristus dapat bangkit dari kematian-Nya, sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika Ia sendiri bukan Tuhan.

      8. Mengapa para Bapa Gereja mempertahankan ajaran iman yang sulit buat umat ?

      Anda kemudian bertanya, “Mengapa Bapa-bapa Gereja mempertahankan ajaran iman yang sulit buat umat? Bukankah Allah maha pengasih buat manusia yang terbatas nalarnya? Sulitkah bagi Bapa-bapa Gereja meneliti kembali kandungan “Trinitas” hasil pemikiran pendahulunya? Bolehkah disalahkan mereka yang murtad karena kebingungan ajaran?

      Jika anda telah membaca apa yang disampaikan oleh Gereja, maka anda akan dapat menjawab sendiri pertanyaan- pertanyaan ini. Para Bapa Gereja mempertahankan ajaran iman tentang Trinitas karena inilah Kebenaran Allah yang disampaikan oleh Kristus. Demi kasih mereka kepada Allah-lah para rasul, para martir dan para Bapa Gereja mau mempertahankan ajaran ini. Allah memang adalah Allah yang Maha Pengasih kepada manusia yang serba terbatas, namun tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha untuk memahami kebenaran yang disampaikan oleh-Nya. Jika kita kurang memahami apa yang diwahyukan-Nya, langkah yang perlu kita lakukan adalah memohon karunia Roh Kudus agar membantu akal budi kita yang terbatas ini, untuk dapat memahaminya, dan bukan sebaliknya, berkeras mempertahankan pemahaman sendiri.

      Para Bapa Gereja mengajar berdasarkan apa yang diterima oleh para pendahulu mereka. Mereka tidak mempunyai kuasa untuk mengubah ajaran menurut pemahaman mereka sendiri tentang apa yang sudah disampaikan kepada mereka oleh para pendahulu mereka yang mendapat pengajaran dari Kristus sendiri dan para rasul. Sebab para Bapa Gereja mengetahui bahwa kuasa Wewenang Mengajar diberikan oleh Kristus kepada Rasul Petrus dan para Rasul (lih. Mat 16:18-19; 18:18) dan oleh karena ketaatan mereka kepada Kristus dan para Rasul ini, mereka tidak ‘meneliti untuk mengubahnya’, namun ‘meneliti untuk menjelaskannya’ kepada jemaat. Sekali lagi, adalah sungguh keliru anggapan yang mengira bahwa ‘Trinitas’ adalah hasil pemikiran para pendahulu Bapa Gereja. Pengajaran tentang Trinitas itu sudah diajarkan oleh Kristus sendiri, walau pada saat mengajarkannya, Kristus tidak memakai istilah ‘Trinitas’ secara eksplisit. Namun prinsip bahwa Allah Bapa mengutus Putera-Nya yaitu Kristus yang adalah Tuhan, oleh kuasa Roh Kudus, itu sudah tertuang di dalam teks- teks Kitab Suci. Jika ada orang- orang yang tidak dapat menerima ajaran ini, kita tidak usah menghakimi mereka. Namun juga, kenyataan ini tidak boleh menyurutkan keyakinan kita akan Allah Trinitas, sebab kita menerima semua yang diajarkan oleh Sabda-Nya, walaupun mungkin belum dapat kita pahami dengan sempurna sampai setuntasnya dalam kehidupan kita di dunia. Namun kita percaya, pada saat kita menerimanya, Tuhan akan menambahkan pemahaman kita, sampai kepada pemahaman yang sempurna di surga kelak, saat “kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh 3:2).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Shalom,
    Saya ingin bertanya,apakah alasannya orang yahudi tidak percaya YESUS adalah TUHAN.Saya pernah membaca mereka mempersoalkan ayat yg tertulis dalam Kitab Matius(saya lupa ayatnya).
    Terimakasih.

    • Shalom Maruli Sinaga,

      Harus diakui hal mengimani Kristus sebagai Juru Selamat itu terjadi karena rahmat Allah, yang disambut dengan keterbukaan hati dari orang yang menerimanya. Kita ketahui bahwa sejak semula yaitu sejak jaman Yesus sendiri, walaupun ada banyak orang Yahudi yang melihat Yesus dan segala mukjizat-Nya, mendengarkan pengajaran-Nya, menjadi saksi akan wafat dan kebangkitan-Nya, namun tak serta merta  semua orang Yahudi percaya kepada Kristus. Ada hal- hal yang menghalangi bagi mereka untuk percaya, dan ini memang sudah disebutkan juga di dalam Injil dan surat- surat para rasul.

      Di antaranya, memang yang tercatat di Injil Matius. Untuk membuat agar orang- orang Yahudi tidak percaya kepada kebangkitan Kristus, maka serdadu- serdadu yang menjaga kubur Yesus dibayar oleh imam- imam kepala dan tua- tua Yahudi, agar mereka mengatakan bahwa jenazah Yesus diambil/ dicuri oleh para murid-Nya pada waktu malam sewaktu para serdadu itu tertidur. Dan kisah itulah yang beredar di kalangan Yahudi sampai sekarang (lih. Mat 28: 11-15).

      Alasan lainnya adalah karena orang Yahudi mengharapkan Mesias sebagai figur raja yang jaya secara duniawi seperti raja Daud di masa PL, yang membantu bangsa Israel melawan penjajah dan membawa bangsa Israel kembali kepada kejayaannya. Mereka tidak mau membuka hati untuk menerima Wahyu Allah, bahwa Mesias yang dimaksud Allah pada PB adalah Kristus Tuhan yang membebaskan mereka bukan dari penjajahan dunia, namun penjajahan dosa dan maut. Hal inilah yang diberitakan oleh para rasul, dan ini tidak dengan mudah diterima oleh orang- orang Yahudi. Rasul Paulus menulis demikian:

      “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah…. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (1 Kor 1:22-29)

      Marilah kita mensyukuri karunia iman yang Tuhan berikan kepada kita, sehingga kita dapat mengimani Kristus, yang dengan pengorbanan-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari mati, membuka jalan bagi kita yang percaya kepada kehidupan kekal di Surga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. thx buat penjelasannya yg sangat detail. like this. :D
    Ad Maiorem Dei Gloriam! GBU! :D

  7. hai,saya orang Malaysia dan Katolik.saya baru berkenalan dengan web ini,sangat menarik.terima kasih.saya sering tertanya-tanya 1. adakah Jews,Kristian dan Islam agama yang betul2 diwahyukan oleh Tuhan? 2.jika diwahyukan kenapa setelah jews dilahirkannya Kristian dan selepas Kristian dilahirkan Islam? 3. Adakah Jews dan Kristian itu tidak sempurna sehingga dilahirkannya agama Islam?
    terima kasih.

    [dari katolisitas: telah dijawab - silakan klik]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: