Baptis selam, baptis anak, baptis ulang

40

Pertanyaan:

Dear katolisitas,

Terima Kasih karena sudah menjawab pertanyaan saya sebelumnya, semoga tidak bosan menjawab pertanyaan saya.
Saya sering berdiskusi dengan teman Gereja lain, hal ini yang menyebabkan banyak sekali pergumulan tentang Gereja Katolik.

Dengan banyak pergumulan itu , saya memutuskan tetap di Gereja katolik sambil mencari tahu. Rasanya tidak adil, memilih pindah Gereja tanpa saya pun mencari tahu dulu apa itu Gereja Katolik
( …beberapa kali terbukti saya nya yang tidak tahu apa-apa, bukan salah Gerejanya ..)

Selain pergumulan, sisi positif dari diskusi ini adalah saya terpacu untuk mengenal lebih mengenal lebih dalam tentang gereja katolik , dan yang paling penting mengarahkan juga untuk mengenal Yesus lebih dekat

Saat ini, pergumulan saya adalah tentang baptis.

Yang menjadi pertanyaan nya adalah
– Baptis selam dan Baptis Percik.
Saya mendapat informasi, bahwa baptis selam alkitabiah – Yesus dibaptis dengan cara itu. Akhirnya timbul pergumulan baru … apakah baptisan katolik alkitabiah. Disisi lainpun saya jadi berpikir – jika Gereja Katolik mengikuti tradisi gereja perdana, mengapa tidak ada baptis selam?

– Baptis anak
Tentang ini, informasi yang saya terima adalah baptis anak kurang tepat , lebih tepatnya disebut “penyerahan anak”. Baptis yang alkitabiah adalah baptis selam, yang biasanya dilakukan pada saat dewasa dan “lahir baru” (menerima Yesus dengan kesadaran penuh … bandingkan dengan anak yang belum bisa “berpikir”).
Yang jadi pergumulan saya .. apakah ini berarti baptis anak jadi tidak “sah”?. Bagaimanapun teman saya tetap menekankan bahwa yang terutama keselamatan itu ditentukan oleh “menerima Tuhan Yesus/tidak”, bukan baptis selam/percik.

– Baptis gereja lain.
Teman saya sebelum menikah adalah jemaat gereja X.
Lalu katekisasi dan dibaptis di Gereja Katolik
Saya pernah membaca bahwa gereja Katolik mengakui baptisan gereja lain.
Nah justru setelah membaca ini , saya justru bingung mengapa teman saya dulu waktu masuk Gereja Katolik dibaptis ulang.
Apakah ada batasan gereja mana saja yang baptisannya diakui Gereja Katolik?

Jika tidak berkeberatan, mohon katolisitas membantu saya menjawab dengan memberikan acuan (alkitab atau lainnya , jika ada)

Tuhan Yesus memberkati – CW

Jawaban:

Shalom Cw,
Berikut ini adalah jawaban pertanyaan anda tentang Pembaptisan:
A. Tentang Baptis Selam dan Baptis Tuang dan Baptis Percik.
Ya, Baptis selam memang adalah cara pembaptisan yang Alkitabiah. Namun Baptis Tuang dengan cara menumpangkan air juga tetap Alkitabiah. Karena yang dipentingkan adalah maknanya yaitu ‘pencelupan’ yang membersihkan seseorang dari dosa. Katekismus mengatakan:

KGK 1214 Orang menamakannya Pembaptisan sesuai dengan inti ritusnya: membaptis [bahasa Yunani "baptizein"]berarti “mencelup”. Pencelupan ke dalam air melambangkan dimakamkannya katekumen ke dalam kematian Kristus, dari mana ia keluar melalui kebangkitan bersama Dia sebagai “ciptaan baru” (2 Kor 5:17; Gal 6:15).

Memang, pembaptisan selam tentu lebih mirip dengan pembaptisan yang disebutkan di dalam Alkitab, namun tidak bisa dikatakan sebagai cara satu-satunya yang sah karena persis sama dengan Baptisan Kristus di sungai Yordan. Sebab jika mau persis sama, pembaptisan juga harus dilakukan di sungai Yordan. Padahal, melihat panjangnya sungai Yordan itu, tidak ada juga yang dapat memastikan di mana persisnya Tuhan Yesus dahulu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (walaupun di sana ada tempat ziarah yang dianggap sebagai tempat Yesus dibaptis).
Maka, Gereja Katolik lebih menekankan kepada makna pembaptisan tersebut, yaitu, pencelupan air/ dituangkan air, yang melambangkan kematian katekumen ke dalam kematian Kristus, dan untuk dibangkitkan bersama Dia sebagai manusia baru oleh kuasa Roh Kudus (lihat KGK 1215).

Kitab Hukum Kanonik menjelaskan tentang Pembaptisan sebagai berikut:
Kan. 849
Baptis, gerbang sakramen-sakramen, yang perlu untuk keselamatan, entah diterima secara nyata atau setidak-tidaknya dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa dengan Kristus oleh meterai yang tak terhapuskan, hanya dapat diterimakan secara sah dengan pembasuhan air sungguh bersama rumus kata-kata yang diwajibkan.
Kan. 854 Baptis hendaknya dilaksanakan entah dengan dimasukkan ke dalam air entah dengan dituangi air, dengan mengindahkan ketentuan-ketentuan dari Konferensi para Uskup.

Dengan demikian, maka kita ketahui bahwa Baptis percik sebenarnya bukan cara yang umum untuk Pembaptisan dalam Gereja Katolik, walaupun untuk keadaan-keadaan mendesak dan dengan alasan tertentu dapat dilakukan atas izin Konferensi para Uskup. Maka jika dijinkan oleh Konferensi Uskup, dikatakan bahwa cara pembaptisan percik demikian sah walaupun tidak licit (sesuai dengan ketentuan umum yang berlaku).

B. Tentang Pembaptisan Bayi dan Anak-anak
Mengenai Topik ini sudah pernah saya tuliskan di sini (silakan klik). Di tulisan itu terdapat penjelasan dasar ayat Alkitab, Tradisi Suci dari pengajaran para Bapa Gereja, Katekismus Gereja Katolik dan Kitab Hukum Kanonik.

C. Tentang Baptisan gereja Lain
Gereja Katolik memang mengakui adanya satu pembaptisan
, dan oleh karena itu mengakui pembaptisan yang dilakukan oleh gereja Protestan sepanjang itu diadakan dengan maksud yang sama dengan Gereja Katolik, dan memenuhi syarat forma-nya yaitu pembaptisan di dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Gereja Katolik memiliki daftar gereja-gereja Protestan yang pembaptisannya diakui oleh Gereja Katolik (ditetapkan oleh KWI), dan ini diketahui oleh pihak pastor paroki. Jadi diakuinya baptisan gereja Protestan itu bukan karena baptis selam atau bukan, tetapi, oleh maksud dan forma-nya. Dasarnya adalah:

KGK 1256 Biasanya pelayan Pembaptisan adalah Uskup dan imam dan, dalam Gereja Latin, juga diaken. Dalam keadaan darurat setiap orang, malahan juga seorang yang belum dibaptis, dapat menerimakan Pembaptisan, asal saja ia mempunyai niat yang diperlukan: Ia harus bersedia melakukan, apa yang dilakukan Gereja, waktu Pembaptisan, dan memakai rumusan Pembaptisan yang trinitaris. Gereja melihat alasan untuk kemungkinan ini dalam kehendak keselamatan Allah yang mencakup semua orang dan perlunya Pembaptisan demi keselamatan.

Gereja Katolik di Indonesia mempunyai daftar gereja-gereja yang baptisannya diakui juga oleh Gereja Katolik, seperti gereja-gereja yang tergabung di dalam PGI (Persekutuan gereja-gereja Indonesia). Daftar PGI dapat dilihat disini (silakan klik). Untuk kepastiannya, silakan untuk menanyakan kepada romo paroki setempat, karena romo juga perlu melihat bukti sertifikat dll.

Demikian uraian saya, semoga dapat berguna bagi anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – http://www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

40 Comments

    • Shalom Hansen,

      Dari istilahnya saja, dapat diketahui secara umum perbedaannya, yaitu Baptisan Anda diberikan kepada anak-anak, yaitu sejak bayi/usia dini; sedangkan Baptisan Dewasa diberikan kepada orang dewasa.

      Yang dikatagorikan sebagai anak-anak, umumnya adalah anak-anak di bawah usia akal budi (age of reason) yaitu berkisar antara 7 – 8 tahun. Dasar pemberian Baptisan Anak adalah iman orang tuanya, atas dasar janji mereka di hadapan Tuhan saat Perkawinannya diberkati, dan tanggungjawab yang mereka peroleh sebagai orang tua untuk menurunkan imannya kepada anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Selanjutnya, tentang mengapa Gereja Katolik membaptis bayi, silakan klik di sini.

      Sedangkan dasar Baptisan Dewasa, adalah pengakuan imannya di hadapan Tuhan, yang nampak dari pengucapan janji Baptis, setelah melalui proses katekumen. Tentang makna sakramen Baptis, silakan klik di sini.

      Baik Baptisan Anak maupun Baptisan Dewasa sama-sama mempunyai makna penghapusan semua dosa, termasuk dosa asal maupun dosa pribadi. Namun karena umumnya anak-anak yang di bawah usia akal budi belum memiliki dosa pribadi, maka pada mereka yang terjadi adalah penghapusan dosa asal. Nah, pemberian Baptisan pada bayi/ anak-anak sedini mungkin, adalah hal terbaik yang dapat diberikan oleh orang tua kepada anaknya, sebab pemberian apakah yang lebih berguna bagi jiwa anak itu, selain daripada rahmat Allah yang dapat membawanya kepada keselamatan kekal? Selain itu, Baptisan yang diterima sejak bayi/ usia dini akan membantu anak tersebut untuk bertumbuh di dalam iman. Namun  setelah Baptisan anak, orang tua bersama wali baptis mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan pendidikan iman kepada anak tersebut. Maka setelah menerima Baptisan, baik anak-anak maupun orang dewasa sama-sama bertanggung jawab untuk menjaga rahmat Baptisannya dengan melaksanakan semua perintah Tuhan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  1. shalom.. saya ingin bertanya bagaimanakah cara baptisan yang benar-benar menurut kehendak Tuhan seperti yang tercatat dalam Alkitab Kristian kita..

    [Dari Katolisitas: Mohon membaca terlebih dahulu artikel di atas, silakan klik]

  2. sungguh luar biasa penjelasan yang saya dapatkan.
    tapi saya ingin bertanya apakah dibolehkan baptisan dua kali dan mengapa pada sekte lain baptisan anak kurang diterima dan melakukan baptisan ulang

    • Shalom Enri,

      Silakan membaca terlebih dahulu artikel di atas, silakan klik.

      Gereja Katolik berpegang pada Kitab Suci, mengakui hanya ada satu Pembaptisan (Ef 4:5), maka jika seorang yang telah dibaptis di gereja Kristen non- Katolik (dan baptisan itu sah diberikan menurut ketentuan Gereja Katolik) ingin menjadi Katolik, ia tidak perlu dibaptis ulang, hanya perlu diteguhkan secara Katolik.

      Tentang dasar ajaran tentang Pembaptisan Anak dan bayi, silakan klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Dear team katolisitas,
    Dalam masalah perkawinan beda agama pada waktu kursus perkawinan ditekankan bahwa pihak katolik boleh menikahi pihak non katolik namun ketika memiliki anak maka anak tersebut harus didik secara katolik dan hal ini sudah diberitahu kepada pihak non katolik. Pertanyaannya:
    1. Bukankah Gereja Katolik menghormati hak azasi yang paling dasar yakni kebebasan beragama, kalau anak tersebut didik secara katolik maka bukankah seolah olah anak tersebut tidak boleh memeluk agama ibunya yang non katolik?
    2. Dalam praktek di lapangan banyak sekali yang ketika di gereja berjanji mendidik secara katolik namun dalam kenyataan di lapangan sanagt banyak yang akhirnya anaknya tidak dibabtis secara katolik , melainkan memeluk agama orang tuanya yang non katolik, bagaimana anda menanggapi fenomena semacam ini?

    • Shalom Dave,

      1. Umumnya, kita tidak protes pada kenyataan bahwa sudah selayaknya orang tua memberikan segala yang terbaik kepada anaknya, baik itu makanan, pakaian, tempat tinggal maupun pendidikan. Jika dalam hal- hal jasmani, tidaklah salah jika orang tua memberikan yang terbaik kepada anaknya, maka ketentuan ini juga berlaku dalam hal- hal rohani. Gereja Katolik berperan sebagai ‘ibu rohani’ bagi kita, karena melaluinya kita memperoleh Baptisan olehnya kita memperoleh hidup ilahi yang menghantar kita menuju kehidupan yang kekal. Nah, dalam kapasitasnya sebagai ‘ibu rohani’ inilah, maka Gereja Katolik mengajarkan bahwa sedapat mungkin orang tua yang Katolik membaptis dan mendidik anak- anaknya secara Katolik, sebab cara itu merupakan jalan yang terbaik bagi sang anak untuk memperoleh keselamatan kekal.

      Silakan anda membaca di artikel ini, mengapa Gereja Katolik membaptis bayi dan anak-anak, silakan klik. Di sana disebutkan dasar- dasarnya dari Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Perlu diketahui bahwa Martin Luther-pun mengajarkan tentang Baptisan bayi/ anak- anak, dan gereja- gereja Lutheran juga masih mempraktekkannya sampai sekarang. Maka jika Gereja Katolik menetapkan persyaratan dalam perkawinan campur agar pihak Katolik mengusahakan dengan sekuat tenaga untuk membaptis dan mendidik anak- anak secara Katolik (lih. Kan. 1125 KHK 1983), itu bukan karena Gereja tidak menghormati hak azasi anak, tetapi justru karena Gereja mengetahui bahwa cara itulah yang terbaik untuk menghantarkan anak- anak menuju kepada keselamatan kekal. Analoginya, jika anak kita sakit dan tidak mau minum obat, maka orang tua tetap tidak melanggar hak azasi anak, jika orang tua tetap memberikan obat yang terbaik demi kesembuhan anak itu.

      2. Dapat terjadi, bahwa setelah berjanji, pihak Katolik gagal melaksanakannya; ternyata anak- anak dalam perkawinan campur itu tidak dibaptis secara Katolik. Ini memang patut disayangkan, namun sesungguhnya hanya Tuhan yang paling mengetahui sejauh mana pihak yang Katolik sudah berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi janjinya di hadapan Tuhan. Untuk hal ini, sebaiknya kita tidak menghakimi mereka, namun lebih baik mendoakan keluarga tersebut. Jika kita mengenal keluarga- keluarga yang sedemikian, maka ada baiknya kita mengajak pihak yang Katolik untuk bergabung dengan komunitas dalam Gereja Katolik. Semoga dengan demikian, imannya dikuatkan dan ia memperoleh kekuatan pula untuk meneruskan imannya kepada anak- anaknya. Bukannya tidak mungkin, akan datang saatnya, jika Tuhan berkenan, maka anak- anak itu akan dapat menerima pengajaran dari orang tuanya yang Katolik dan mau bergabung juga ke dalam Gereja Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Shalom Romo saya ingin bertanya tentang Baptisan. Saya adalah seorang protestan yang ingin mendalami Iman Katolik, tapi saya mempunyai kendala tentang Baptisan. Saya sudah pernah dibaptis percik secara Protestan ketika saya masih duduk dibangku SMA, tetapi pada saat itu pengajaran yang saya terima tentang arti pembatisan masih dibilang kurang mengerti. Saya ikut pengajaran tentang Baptisan kira-kira hanya dua kali pertemuan saja, kemudian saya dibaptis. Ketika memasuki bangku perkuliahan saya mengikuti suatu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kristen di kampus saya, dan pada Tahun ke-2 saya sudah bergabung dengan UKM tersebut menjadi team pelayan, kemudian saya terpilih sebagai seorang panitia retreat. Pada saat retreat tersebut ada sesi pembaptisan, dan saya mengajukan diri untuk dibaptis ulang karena saya beranggapan bahwa baptisan saya ketika SMA tidak sah (karena pengajaran tentang Baptisan ketika SMA belum terlalu saya mengerti, juga ditambah ajaran Karismatik yang mengharuskan dibaptis selam dan bukan di Baptis percik ). Yang menjadi pertnyaan saya adalah :
    1. Apakah saya harus dibaptis lagi jika saya ingin masuk Katolik, sementara saya sudah di Baptis percik secara protestan dan Baptis selam secara Karismatik??
    2. Apakah saya sudah bisa menerima Komuni??

    • Shalom Anta,
      1. Gereja Katolik mengajarkan bahwa jika telah sah diberikan, Pembaptisan hanya dapat dilakukan satu kali saja (lih. Ef 4:5). Dengan demikian, jika anda ingin menjadi Katolik, yang perlu anda ketahui adalah, apakah Baptisan yang telah anda peroleh sudah sah atau belum. Untuk itu, silakan anda mendatangi pastor paroki anda dan tanyakanlah di sana. Gereja Katolik berpegang bahwa Baptisan yang sah adalah baptisan yang dilakukan sesuai dengan intensi/ maksud Gereja, dengan menggunakan forma “dalam nama Allah Bapa Putera dan Roh Kudus” dan menggunakan materia air bersih. Dengan prinsip ini, Gereja Katolik mengakui baptisan yang dilakukan oleh gereja- gereja yang ada di dalam daftar PGI. Jika gereja yang membaptis anda termasuk dalam daftar tersebut, lalu anda ingin menjadi Katolik, maka anda tidak perlu dibaptis ulang, melainkan hanya perlu diteguhkan. Namun umumnya anda tetap harus mengikuti kursus pelajaran agama Katolik (katekumenat).
      2. Jika anda sudah diteguhkan dan dengan demikian diterima di dalam Gereja Katolik, dan anda dalam kondisi rahmat (tidak melakukan dosa berat) maka anda boleh menerima Komuni kudus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Dear Katolisitas,
    saya seorang katolik, sudah dibabtis secara katolik.
    apakah saya boleh di babtis lagi ? dengan babtis selam di gereja lain ? tapi tetap bertumbuh di gereja katolik ?

    • Shalom Surya,
      Sebenarnya, apa maksud anda untuk dibaptis ulang? Sebab sebenarnya, jika seseorang sudah dibaptis secara sah, maka ia tidak perlu dobaptis ulang. Tindakan pembaptisan ulang dari seseorang yang sudah dibaptis secara sah malahan melanggar firman Tuhan, dan meremehkan otoritas Kristus yang telah memerintahkan untuk mengadakan satu Baptisan (lih. Ef 4:5).
      Gereja Katolik menghormati Kristus yang menginginkan adanya satu Baptisan, maka jika seseorang sudah dibaptis secara sah -dengan forma dan materia yang benar, meskipun dibaptis di gereja Protestan [yang ada dalam persekutuan PGI], dan orang itu mau menjadi Katolik, maka orang tersebut tidak perlu dibaptis ulang, hanya diteguhkan untuk menjadi seorang Katolik.

      Maka, terus terang agak aneh bagi saya, jika anda mengatakan akan dibaptis lagi di gereja lain, lalu kembali bertumbuh dalam Gereja Katolik. Mungkin anda perlu membaca makna Sakramen Baptis, yang sudah pernah ditulis di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Shalom Surya,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang baptisan. Kalau anda telah dibaptis secara Katolik, mengapa anda perlu dibaptis ulang? Bahkan pada jaman St. Agustinus, dia berjuang mati-matian agar orang yang telah menghianati imannyapun tidak perlu dibaptis ulang untuk masuk kembali ke Gereja Katolik, karena Baptisan memberikan karakter di dalam jiwa, sehingga tidak mungkin hilang dan tidak mungkin diulang. Jadi, kalau kita telah dibaptis di dalam Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri, mengapa kita perlu dibaptis lagi di gereja lain? Bahkan kalau umat yang telah dibaptis (dengan formula dan intensi yang sesuai) dari gereja lain ingin masuk menjadi Katolik, maka dia tidak perlu dibaptis ulang, karena Gereja Katolik percaya apa yang tertulis di dalam Alkitab “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan” (Ef 4:5). Kalau anda ingin dibaptis di gereja lain, namun tetap ingin bertumbuh di Gereja Katolik, maka apakah yang menghalangi anda untuk tetap berada di Gereja Katolik tanpa perlu dibaptis di gereja lain? Kita harus bersyukur bahwa kita berada di dalam kawanan Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri. Dan kita harus memelihara warisan iman ini. Anda dapat membaca artikel tentang Gereja Katolik di sini – silakan klik. Kalau anda dapat menceritakan alasan anda untuk dibaptis di gereja lain, maka saya bersedia untuk berdiskusi dengan anda secara lebih mendalam.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Dear Stefanus,

        Terima kasih atas pembahasannya. Saya mendapat pencerahan & pemahaman, utk memperkuat iman.
        Kebetulan sekali saat ini saya juga dihadapkan issue tentang ‘penyerahan diri secara sadar terhadap Roh Kudus & Baptis Selam’

        Saya diajak ikut kumpul bersama teman2 non-denominasi (tadinya Tiberias, skrg Duta Injil), dipimpin oleh suami teman saya, mendalami Kitab Suci.
        Saya akui sbg seorang Katolik, belum belajar memahami KS (walaupun diajak ayah ikut KKS atau KEP, saya akui saya agak malas ikutan kegiatan organisasi Katolik yg kadang suka terlalu ‘organisasi’) maka saya ikutan kumpul2 santai dgn teman, sambil belajar KS.
        Tanpa melepaskan iman Katolik saya tentunya.

        Tapi lalu diajak untuk baptis selam, untuk menyerahkan diri kepada Roh Kudus sepenuhnya sebagai org dewasa (bukan bayi yg tidak tau apa2). Persis spt pembahasan di halaman ini.
        Dijelaskan, dgn melakukan baptis selam lagi, bukan menggantikan baptis yg sudah diterima, tapi sebagai pengukuhan atau penggenapan. Percuma kalau menerima Yesus tapi tidak menerima Roh Kudus, krn Yesus tidak bisa datang pada kita, krn Yesus duduk si sisi kanan Bapa saat ini sampai akhir jaman. Dan berani dijamin, setelah baptis saya akan lebih mendengarkan suara Roh Kudus membimbing langkah saya. Lalu diberikan ayat2 KS untuk mendukung pernyataan mereka. Mereka sendiri bilang, jangan fokus pada baptisnya, tapi fokus pada moment penyerahan diri sepenuhnya pada Roh Kudus.

        Lha, saya walaupun di baptis Katolik dari bayi, tapi beranjak dewasa secara sadar saya menerima iman Katolik, dan menerima Bapa, Putera & Roh Kudus sepenuhnya. Untuk apa saya dibaptis lagi? Apakah jika saya tidak baptis selam, maka saya tidak menerima Roh Kudus? Saya juga sudah terima Sakramen Penguatan (ntah mereka tau atau tidak ttg sakramen penguatan)

        Hati saya merasa tidak sreg. Malah dibilang, jika hati berat & kepikiran terus, itu berarti kehendak Tuhan yg harus dilakukan. Sebaiknya jgn konsultasi ke pastor atau umat Katolik lain, tapi konsultasi kepada Yesus sendiri.

        Saya berdoa, renungkan…somehow saya akhirnya melontarkan topik ini di Facebook GK dan akhirnya mendapatkan link2 forum ttg topik ini. Saya percaya Roh Kudus yg bimbing saya.
        Saya rasa saya tidak perlu baptis selam lagi, krn saya percaya Roh Kudus sudah sudah dicurahkan pada saya yang membuka dan menyerahkan diri dlm iman.

        Tinggal bagaimana skrg saya bisa lebih dekat n kenal Tuhan, dan belajar KS dgn benar.
        Apakah saya sebaiknya masih ikut perkumpulan tersebut?

        Terima kasih semua

        God be with us.

        • Shalom Angeline,

          Terima kasih atas sharing anda. Memang, menjadi tugas kita yang telah menjadi anggota Gereja Katolik, untuk terus mempelajari iman kita, sehingga kita dapat mengetahui dan mengasihi iman Katolik. Menurut saya, anda tidak perlu lagi bergabung dalam kelompok Kitab Suci dari agama lain, karena dapat mempengaruhi iman anda. Langkah pertama adalah bergabung dalam kelompok pendalaman Kitab Suci Katolik di paroki anda atau kelompok kategorial yang lain. Langkah ini adalah untuk memberikan pondasi iman Katolik yang kokoh, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh pengajaran-pengajaran yang bertentangan dengan iman Katolik. Kalau anda mau, silakan melihat arsip katolisitas di sini – silakan klik atau anda juga dapat bertanya di situs ini. Semoga dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  6. “karena persis sama dengan Baptisan Kristus di sungai Yordan. Sebab jika mau persis sama, pembaptisan juga harus dilakukan di sungai Yordan. ” Jadi karena tdk bisa melakukan atau mencontoh dari apa yang Tuhan Yesus lakukan jadi gereja bisa memutuskan apa yg benar? Utk sepintar pengurus katolisitas yang dipimpin RohKudus seharusnya bisa memberikan pernyataan yg bijaksana kalau di renungkan Tuhan Yesus memberikan contoh bagaimana babtisan yg benar dan Dia ingin setiap orang mencontoh apa yg Dia lakukan jadi menurut pengurus bantisan yg di lakukan Tuhan Yesus tidak benar?

    Kalo tidak salah dlm firman Tuhan dikatakan utk ikut teladan Tuhan Yesus yg seharusnya di lakukan, dikuti .arti babtisan itu berarti ditengelamkan apakah dipercik atau dituang itu bisa disebut baptis?walo kita menggunakan nama Bapa Putra Roh Kudus?

    • Shalom Kay Roven,

      Yang kami sampaikan di dalam situs ini bukan pendapat pribadi kami sendiri, melainkan ajaran Gereja Katolik, seperti yang tertulis dalam Katekismus Gereja Katolik. Khusus tentang cara pembaptisan, dikatakan demikian:

      KGK 1239 Sesudah itu menyusul ritus inti dari Sakramen ini: pembaptisan yang sebenarnya. Ia menandakan dan benar-benar menyebabkan kematian terhadap dosa serta menghantar masuk ke dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus, karena orang yang dibaptis itu diikutsertakan dalam misteri Paska Kristus. Atas cara yang paling nyata pembaptisan dilaksanakan melalui pencelupan ke dalam air pembaptisan sebanyak tiga kali. Tetapi sudah sejak zaman Kristen purba ia juga dapat diterimakan, dengan menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepala orang yang dibaptis.

      Membaca ajaran di atas, maka pembaptisan dengan pencelupan atau selam, memang tidak dikatakan salah oleh Gereja Katolik, dan dengan demikian Gereja Katolik tidak menyalahkan cara pembaptisan Kristus oleh Yohanes Pembaptis yang dilakukan dengan cara pencelupan dan lalu keluar dari air. Selanjutnya, kita mengetahui secara obyektif cara baptisan persis seperti baptisan Kristus ini, juga tidak mungkin dilakukan, karena tidak dapat semua orang dibaptis di sungai Yordan, tepat di bagian sungai di mana Yesus dibaptis. Oleh karena itu, kita mengetahui bahwa sejak jaman umat Kristen awal, yang dipegang sebagai patokan oleh para rasul adalah prinsip utamanya saja, yaitu 1) pembaptisan dilakukan dengan menggunakan air bersih, entah dengan pencelupan ataupun dengan penuangan, sebagai lambang dari pembersihan/ pencucian dari dosa, yang menjadi makna penting dari pembaptisan, 2) pembaptisan dilakukan dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Maka, tidak menjadi masalah, ketika Filipus membaptis sida- sida di padang gurun, di mana kemungkinan juga tidak ada banyak air di sana, sehingga tidak dapat dibaptis selam, namun demikian baptisan sida-sida tersebut tetap sah (lih. Kis 8:38), karena dilakukan dengan prinsip utama tersebut.

      Memang benar, sedapat mungkin kita sebagai murid Kristus harus mengikuti teladan Kristus. Dan untuk mengikuti teladan Kristus itu, kita melihat kepada pengajaran para rasul, sebab kepada mereka Tuhan Yesus berpesan, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20)

      Nah, maka yang diperintahkan oleh Kristus di sini adalah agar para murid itu membaptis, dan mengajarkan semua perintah- perintah Kristus. Kata “membaptis”/ ‘baptizein’ itu adalah mencelup (KGK 1214). Kelihatannya anda berpendapat bahwa baptisan itu mutlak harus dengan cara selam. Tetapi sesungguhnya cara selam ini tidak mutlak disyaratkan dalam Kitab Suci. St. Thomas Aquinas pernah membahas tentang topik ini, seperti sudah pernah dituliskan di sini, silakan klik. Silakan anda membacanya di sana.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Berarti kita sepakat babtisan artinya di celup, dari kata di celup sudah jelas tidak ada kesamaannya dengan di tuang, percik atau dituang adalah keputusan gereja, sekarang saya mau tanya apakah susahnya gereja menyediakan air yang byk atau kolam utk baptisan kan ngak ada dijaman ini byk gereja yang didirikan di daerah padang pasir Tuhan kasi akal budi seharusnya gereja lebih peka. Dan Tuhan tdk pernah mengatakan di matius 28:19-20 di baptis di sungai yordan tetapi Yesus hanya memerintahkan BAPTISLAH, Kis 8:38-39 dikatakan masuk dan keluar dari air artinya mereka ada disekitar air yang byk. Saya yakin filipus itu rasul menerima hikmat dan pintar dia pasti akan membaptiskan sida2 itu dengan baptisan yang Tuhan Yesus contohkan.

        Ini bukan masalah sah atau tidak, mutlak atau tidak mutlak tentang baptisan ini hanya masalah melakukan HAL YANG BENAR. Kalau mengingat melakukan hal yang benar mana yang lebih dahulu harus dilakukan, bertobat dahulu atau dibaptis dulu supaya selamat?

        • Shalom Kay Roven,

          1. Baptisan artinya dicelup?

          Sebenarnya kata ‘Baptisan’ artinya tidak hanya dicelup, tetapi dikenakan ke air.

          Katekismus Gereja Katolik (Catechism of the Catholic Church), melihat kepada arti dari bahasa aslinya baptizein, mengajarkan demikian:

          CCC 1214 This sacrament is called Baptism, after the central rite by which it is carried out: to baptize (Greek baptizein) means to “plunge” or “immerse”; the “plunge” into the water symbolizes the catechumen’s burial into Christ’s death, from which he rises up by resurrection with him, as “a new creature.”

          Atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sebagai berikut:

          KGK 1214 Orang menamakannya Pembaptisan sesuai dengan inti ritusnya: membaptis [bahasa Yunani "baptizein"] berarti “mencelup”. Pencelupan ke dalam air melambangkan dimakamkannya katekumen ke dalam kematian Kristus, dari mana ia keluar melalui kebangkitan bersama Dia Bdk. Rm. 6:3-4; Kol 2:12. sebagai “ciptaan baru” (2 Kor 5:17; Gal 6:15).

          Jadi dapat dilihat ada keterbatasan dalam terjemahan bahasa di sini, bahwa ‘baptizein‘ itu artinya to ‘plunge‘. Jika kita melihat ke kamus bahasa Inggris (dictionary.com), silakan klik di sini to ‘plunge’ itu artinya:

          - to cast or thrust forcibly or suddenly into something, as a liquid, a penetrable substance, a place, etc.; immerse; submerge
          -
          to bring suddenly or forcibly into some condition, situation, etc.
          -
          to cast oneself, or fall as if cast,
          - to rush or dash with headlong haste

          Dengan demikian, maka memang to plunge bisa diartikan sebagai mencelup, tetapi juga bisa diartikan sebagai membawa dengan cepat kepada sesuatu, atau untuk mencipratkan (dash) pertama- tama di kepala.

          Memang di terjemahan KGK tidak disebutkan dengan rinci beberapa terjemahan kata ‘plunge‘ itu, hanya disebut sebagai dicelup, tetapi sebenarnya artinya lebih luas dari itu.

          Oleh karena itu, ketika Yesus memerintahkan kepada para murid untuk membaptis, Dia tidak secara literal dan rinci mensyaratkan bahwa membaptis itu harus dicelupkan seluruh badan ke dalam air. Memang baptizein itu dapat berarti mencelup ke dalam air, tetapi juga dapat berarti mengenakan kepala ke air dengan cepat; dan dengan pengertian ini maka baptisan dengan cara dituang juga masih sesuai dengan definisi baptizein/ membaptis itu.

          Tentang bagaimana Rasul Filipus membaptis memang tidak diceritakan secara detail dalam Kitab Suci, namun yang dilakukan pastilah memenuhi kriteria di atas. Dengan demikian, Gereja sudah sejak awal mengikuti perintah Yesus tentang pembaptisan dengan benar, sesuai dengan arti kata baptizein itu, yaitu, dicelup, atau dituang. Sedangkan dipercik memang sebenarnya bukan cara yang umum, namun jika kondisinya benar- benar tidak ada air, maka hal itu masih dapat dibenarkan, berdasarkan atas pengertian ‘plunge‘ di atas.

          2. Tentang bertobat dahulu atau dibaptis dahulu?

          Untuk orang dewasa, maka yang berlaku adalah bertobat dahulu baru dibaptis. Pembaptisan sendiri menggambarkan pertobatannya yaitu dikuburnya manusia lama dan bangkitnya ia bersama Yesus menjadi manusia baru. Jadi kesatuan antara rahmat Allah yang diterima, pertobatan, iman yang hidup dan Baptisan itulah yang menghantar seseorang kepada keselamatan. Hal ini sudah pernah dibahas di dialog ini, silakan klik.

          Sedangkan untuk bayi dan anak- anak, maka memang mereka dibaptis terlebih dahulu, atas dasar iman orang tua mereka. Ini juga ada dasar Kitab Suci-nya, seperti pernah dibahas di sini, silakan klik.

          Demikian tanggapan saya, semoga berguna.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Saya yg ngak ngerti atau penjelasannya yang ngak konsisten….
            Ingrid menuliskan babtisan bkan hanya dicelup tetapi dikenakan ke air…. coba ingrid jelaskan lebih rici maksud dari dikenakan ke air….

            Sedangkan Firman Tuhan mengatakan Tuhan Yesus di babtis dengan cara di tenggelamkan dari cerita alkitab saja tidak menyatakan Tuhan Yesus tidak dibabtis dengan cara di kenakan ke air… Firman Tuhan yg dipakai ingrid sudah benar mati dan bangkit bersama Kristus tetapi penjelasannya kok menyeleweng ini alkitab yg salah atau penjelasan GK yg salah.

            Ingrid harus buktikan kalau Tuhan Yesus di babtis dengan cara dikenakan ke air tolong mbak jangan hanya copy-paste pengajaran yg tidak ada kebenarannya dalam Firman Tuhan.

            Tuhan Yesus sendiri memberikan contoh yg benar yg seharusnya dilakukan oleh murid2Nya… Murid2 Yesus pun penuh dengan Roh kudus tidak mungkin mereka tidak melakukan apa yg yang sudah Tuhan Yesus lakukan kalau tidak dikasih contoh yg benar maka akan ada 12 macam babtisan sedangkan babtisan yg di contohkan Tuhan Yesus cuman satu yaitu Selam/celup.

            Menanggapi penjelasan babtisan anak, GK masih meimani bahwa di jaman anugrah ini manusia masih mempunyai dosa awal dari adam dan hawa? Kasian…
            Ini jaman anugrah ” Dengan kematian Tuhan Yesus di salib Dia sudah membayar lunas utk setiap orang tidak ada yg terkecuali ” dosa awal sudah tidak ada yg diperlukan adalah pertobatan dan kembali kepada Yesus. Anak masi membawa dosa awal ” yg bener aja mbak” makanya GK bikin byk uang dari pengajaran bahwa anak harus di babtis utk keselamatan dari dosa awal adam dan hawa.

            Saya punya teman orang Filipine india yang beragama roma katolik sekarang mereka meninggalkan gereja katolik karena selama ini mereka di butakan oleh GK dengan pengajaran2 yg tidak benar

            • Shalom Kay Roven,

              Nampaknya diskusi ini tidak akan membuahkan hasil yang positif jika anda tidak mempunyai keinginan untuk mendengarkan penjelasan dari pihak kami. Tentang Baptisan, kita mengacu kepada kata aslinya, baptizein, “to plunge” yaitu diselam ataupun dicelupkan, atau dikenakan ke air, seperti yang disebutkan di dalam kamus. Itu bukan karangan kami di Katolisitas, itu adalah arti definisi kata baptizein/ “to plunge” yang diterima secara umum di mana- mana. Jadi kalau anda berkeras menentang arti baptizein, sesungguhnya anda bukan menentang ajaran Gereja Katolik saja, tetapi menentang arti kata baptizein/ “to plunge” sesuai dari definisi yang diterima secara umum di dunia.

              Kita dapat mengasumsikan bahwa Yesus dibaptis dengan cara diselam, karena dikatakan, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air” (Mat 3:16; Mrk 1:10) namun demikian, ini tidak mengatakan secara eksplisit bahwa Yesus dibaptis dengan cara ditenggelamkan/ diselam, dan dengan demikian membatasi arti baptisan hanya dengan cara diselam. Sebab pembaptisan Yesus dilakukan di sungai Yordan yang memang untuk dicapai dengan cara turun ke air, dan untuk kembali ke darat/tanah yang kering, Ia harus naik/ keluar dari air. Jadi Kitab Suci sebenarnya tidak pernah menyebutkan secara eksplisit bahwa pembaptisan harus dilakukan dengan cara diselam, dicelup atau dikenakan ke air. Baptisan 3000 orang dalam sehari yang terjadi sebagai akibat dari khotbah Rasul Petrus tidak dikatakan dengan cara diselam (lih. Kis 2:41), demikian juga dengan baptisan Rasul Paulus (lih. Kis 9:18) dan baptisan Kornelius (lih. Kis 10:48)

              Menurut pengajaran para rasul yang tertulis dalam Didache (80-110), pembaptisan dengan cara dicelup/ dituangkan air itu diijinkan. Teksnya berbunyi demikian:

              “…. baptize in the name of the Father and of the Son, and of the Holy Spirit in living (running) water. But, if you have not living water, then baptize in other water, if you are not able in cold, then in warm. But, if you have neither, then pour water on the head thrice in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit.”

              Terjemahannya:

              “…. Baptislah di dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus di air yang mengalir. Tetapi kalau kamu tidak mempunyai air yang mengalir, baptislah di dalam air lain, jika tidak ada air dingin, gunakan air panas. Tetapi jika kamu tidak punya semua itu, tuangkan air ke kepala sebanyak tiga kali, di dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.” ((Didache 7. 1-3))

              Banyak ikon dan bukti- bukti arkeologis yang menunjukkan cara pembaptisan jemaat di abad- abad awal, yaitu para calon baptis berdiri di bawah air mancur dari pipa, yang kemudian airnya mengalir ke kepala. (lih.J.G. Davies, Architectural Setting, pp 25-6) Dengan cara ini makna baptisan/ to plunge, yaitu dicelupkan/dikenakan ke air tetap terpenuhi, walaupun memang diselam merupakan cara yang lebih ekspresif. (lih. KGK 1239)

              Jadi tidak benar tuduhan anda bahwa ajaran Gereja Katolik menyeleweng dari Alkitab. Memang seseorang dapat mengira- ngira bahwa para rasul dulu membaptisnya dengan cara diselam, tetapi bukti tertulis ajaran para rasul tidak mengatakan demikian. Dikatakan di sana (dalam Didache) bahwa diperbolehkan pembaptisan dengan cara dituangkan air ke kepala.

              Tentang dasar ajaran Gereja Katolik tentang adanya dosa asal sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

              Jika ada orang- orang yang meninggalkan Gereja Katolik, itu bukan menandakan bahwa ajaran Gereja Katolik yang keliru. Orang- orang dapat mempunyai alasan tertentu untuk pindah agama atau pindah gereja, namun itu tidak menjadi bukti tentang kebenaran suatu agama tertentu, karena seringkali orang pindah agama karena motif pribadi. Jadi tidak perlu diungkapkan ada berapa banyak teman anda yang meninggalkan Gereja Katolik, karena fakta yang sebaliknya juga banyak sekali terjadi, bahwa ada banyak saudara- saudari yang non- Katolik bergabung ke Gereja Katolik. Lebih baik berfokus untuk mempelajari ajarannya dan bukan kepada orang- orangnya.

              Akhirnya, saya hanya ingin menyampaikan bahwa ini adalah tanggapan saya yang terakhir menanggapi komentar anda, karena dialog kita untuk topik ini sudah masuk putaran yang ketiga, lagipula sudah jelas duduk masalahnya, sehingga topik ini saya tutup. Untuk selanjutnya, jika anda berminat berdialog dengan kami, mohon gunakan kata- kata yang santun (dan tidak asal menuduh, tanpa disertai dengan bukti/ argumen yang jelas). Jika tidak, mohon maaf, kami tidak dapat menayangkan komentar anda lagi.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

              • ingrid yg dikasihi Tuhan…
                saya tidak menentang arti babtisan yg benar hanya jawaban dikenakan ke air adalah jawaban yg klise atau tidak jelas maksudnya kalau dikenakan ke air sampai batas mana? mata kaki atau lutut atau dada atau hanya dengan menyentuh air dengan jari itu sudah bisa di artikan di babtis karena semua ini mempunya arti dikenakan ke air…. kan sudah jelas perbedaan dari di celup/ditenggelamkan dengan di percik/dituang di kepala …ingrid bilang babtisan harus mengena di kepala sedangkan babtisan melambangkan mati dan bangkit bersama Yesus… nah dari arti mati dan bangkit bersama Yesus dalam babptisan ditenggelamkan dan diangkat keluar dari air sedangkan dipercik tidak mempunyai arti mati dan bangkit…. INGAT cara Tuhan Yesus memberikan contoh? apakah murid2-Nya Yesus akan melakukan hal yg berbeda dengan apa yg sudah dicontohkan?
                Bukan masalah agama yg saya poinkan itu bukan topik hangat tetapi dari berapa byk orang katolik pindah tetapi karena mereka di bukakan mata rohani mereka utk bisa melihat kebenaran yg ada di FirmanTuhan kalau non katolik pindah ke katolik itu hanya karena melihat agamanya bukan kebenarannya.

                • Shalom Kay Roven,

                  1. Walau saya sudah ingin menutup, namun karena anda masih bertanya, maka saya jawab. Tetapi saya tidak akan menjawab lebih lanjut setelah ini, dan benar- benar saya tutup.

                  Memang di dalam definisi Baptisan (baptizein) kata “dikenakan ke air” tidak ada penjelasan lebih rinci. Namun di sini dapat dilihat prinsipnya, artinya, harus ada unsur air bersih  dalam Pembaptisan, yang menjadi lambang pembasuhan/ pembersihan dari dosa. Nah, dalam hal pembasuhan ini, Kitab Suci sendiri tidak menyatakan harus mutlak ditenggelamkan. Yehezkiel 36:25 mengatakan, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu…”. Maka, dikatakan di sini bahwa pencurahan (entah dari penuangan air ataupun pemercikan) dengan air-pun sudah dapat menyucikan. Namun demikian, tradisi Gereja sejak awal memakai cara penyelaman, pencelupan dan penuangan dengan air sebagai norma yang umum untuk palaksanaan Pembaptisan.

                  Silakan anda membaca lebih lanjut pengajaran dari St. Thomas Aquinas tentang hal ini di sini, silakan klik.

                  Anda berkeras memegang ‘harus baptis selam’ karena anda meyakini bahwa hal itulah yang diajarkan secara mutlak oleh Tuhan Yesus, padahal Tuhan Yesus tidak pernah secara eksplisit menyatakan demikian. Jangan lupa, bahwa Tuhan Yesus telah menyerahkan juga pengajaran tentang iman dan moral kepada para rasul dan para penerus mereka bahwa apa yang mereka tentukan sebagai sesuatu yang mengikat di dunia akan terikat di surga, dan apa yang dilepaskan di dunia, akan terlepas di surga (lih. Mat 16:19; 18:18). Demikianlah, ajaran tentang pelaksanaan Pembaptisan dilakukan sesuai dengan ajaran para rasul dan para penerus mereka, dengan tetap memegang prinsip ajaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

                  2. Silakan saja jika anda berpandangan bahwa orang Katolik meninggalkan Gereja Katolik karena mencari kebenaran. Bisa jadi memang demikian, sebab pencarian mereka belum selesai sampai saat mereka dipanggil Tuhan; dan bisa jadi suatu saat merekapun kembali pulang ke Gereja Katolik. Adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa ada banyak orang yang mencari kebenaran malah bergabung dengan Gereja Katolik. Silakan anda menyimak Program TV Katolik di Amerika, EWTN (Eternal World Television Network), yang juga dapat diterima oleh banyak negara di dunia, melalui acara seri yang berjudul “Journey Home” terus menerus menyiarkan kesaksian orang-orang yang masuk ke Gereja Katolik, silakan klik. Di program tersebut ditampilkan kesaksian ratusan orang yang tadinya Protestan bahkan banyak di antaranya pendeta, memutuskan untuk menjadi Katolik, justru setelah mempelajari Alkitab, sejarah Gereja, tulisan-tulisan jemaat Kristen awal dan para Bapa Gereja. Nama-nama seperti Scott Hahn, Jeff Cavin, Tim Staples, Dave Amstrong, Marcus Grodi, David Twellman, dan lain-lain adalah beberapa orang di antaranya. Jadi anda keliru jika menyangka bahwa orang pindah ke Gereja Katolik bukan karena kebenaran. Kisah kesaksian mereka yang berpindah ke Gereja Katolik malah menyatakan sebaliknya.

                  Anda juga dapat menyimak beberapa kesaksian di situs ini yang juga menyampaikan kisah yang serupa, seperti kisah kesaksian Rachel, klik di sini, kesaksian Herdian klik di sini

                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                  Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Shalom,

    Saya ada pertanyaan:

    1. Validkah baptisan dewasa dimana air yang dituang hanya menyentuh ujung rambut saja?

    2. Validkah baptisan dimana calon baptis yang menyadari misalnya pada penuangan pertama air tidak menyentuh kulit kepalanya, kemudian *dengan inisiatif sendiri* mendekatkan kepalanya ke air yang dituangkan pada penuangan kedua atau ketiga (ketika diucapkan: “…dan Putera, dan Roh Kudus”) sehingga air bisa membasahi kulit kepalanya.

    Terima kasih

    • Kenneth Yth

      Baptisan harus mengenai tubuh yang dibaptis dan terasakan ada air mengalir atau basah. Kalau berinisiatif seperti yang anda lakukan itu baik dan valid. Tapi kalau hanya menyirami air saja dan tidak terasa ada air di kepala anda saya kira kurang baik (layak) meskipun tindakan itu valid (sah). Pada Pembaptisan, salah satu cara dalam tindakan pembaptis adalah menuangkan air di kepala dan ke dahi selain dengan menenggelamkan. Baca artikel tetang pembaptisan di katolisitas.

      salam
      Rm Wanta

      • albert adrianus on

        shalom…
        Saya albert, mahasiswa IPB… Saya ingin bertanya mengapa Roh kudus dilambangkan oleh merpati atau api dan mengapa Yesus dilambangkan sebagai anak domba Allah? Apakah maknanya???

        • Shalom Albert Adrianus,

          Roh Kudus dilambangkan oleh merpati, karena merpati adalah lambang kasih. Berikut ini adalah kutipan dari makna merpati di Perjanjian Baru, seperti tertulis dalam buku Dictionary of the Bible, oleh John L Mckenzie SJ, (New York:, Simon & Schuster, 1965) p. 203:

          “Di Perjanjian Baru, burung merpati adalah persembahan para orang miskin untuk keselamatan anak sulung (Lk. 2:24), dan dijual di halaman bait Allah untuk keperluan kurban ….(Mat 21:12, Mrk 11:15, Yoh 2:14,16). Merpati adalah simbol kemurnian (Mat 10:16), … tanda yang terlihat bagi Roh Kudus pada saat pembaptisan Yesus (Mat 3:16, Mrk 1:10, Luk 3:22, Yoh 3:22). Bahasa figuratif dari Perjanjian Lama menunjukkan bahwa kekuatan utama dari tanda/ simbol ini adalah kasih, [yaitu] kasih yang diberikan dari Allah Bapa, melalui Putera-Nya yang terkasih, [Yesus Kristus], kepada semua orang yang percaya kepada Putera-Nya.”

          Sedangkan mengapa Yesus dilambangkan sebagai Anak Domba, sudah pernah dibahas di artikel berikut, silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. syaloom, trima kasih sudah mau sharing, sy protestan, tpi masa kecil saya banyak di pengaruhi oleh katolik, namun sekarang lg beribadah di greja pentakosta, namun semua agama kristen pada dasarya adalah sama yaitu Yesus, janganlah kita mengkotak2 sesama orang percaya, sebab nanti ketika rapture telah tiba, malaikat tidak bertanya engkau dari greja mana bukan ? perdebatan antara babtis selam dan percik ini menjadi pokok pikiran sy ketika saya ingin aktif melayani di gereja kini sesuai dengan talenta saya tetapi mereka memberikan persyaratan telah di babtis selam, begitu kecewanya saya, masih ada orang2 yang berpikiran pendek seperti ini, namun saya masih menghargai dan saya ikut kegiatan yang membedah alkitab. di gereja ini ternyata tidak mengakui klo percik itu adalah babtis sebab akar katanya adalah “rantisme” bukan “baptiso” yang berarti selam. jadi apakah selama ini sy belum di babtis dan menerima Yesus ? lagi kata mereka babtis ini di lakukan pada manusia dewasa contoh Yesus di babtis pada usia kurang lebih 30 thn, namun batasan dewasa gereja ini usia setelah akil balik, sy mengerti maksud gereja ini baik agar kita sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab melakukan babtis dengan sadar benar. Sy jadi bingung lagi, apakah yg babtis yg sy lakukan pada masa kecil sah atau tidak ? yg lebih parahnya lagi mereka menyuuruh segenap jemaat agar di babtis lagi, ini2 benar tidak masuk di pikiran sy, siapa mereka berhak memutuskan sah atau tidaknya suatu babtis ? sedangkan d alkitab sendiri tidak menulis tentang metode2 babtis sebab Yesus sendiri tidak membabtis. sy tidak ingin di babtis lagi karena itu berarti sy tidak mengakui tanda yang diberikan pada saya bahwa saya adalah milik Yesus, sebab pada semua babtis yang paling utama adalah air, dan formula Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. yang saya inginkan hanya kebenaran bukan pembenaran. sehingga jika qt sudah tahu kebenaran maka qt harus melakukannya sebab jika tidak melakukannya qt berdosa. So please kawan2 sesama orang percaya sharinglah dengan saya. Akhirnya saya mendapatkan ayat ini Ibrani 6:1-2 ” Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah yaitu ajaran-ajaran tentang pelbagai pembatisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. sehingga tidak mempermasalahkan lagi masalah babtisan tetapi lebih ke arah selanjutnya setelah pertobatan. GBU ALL

    • Shalom Wica,

      Selamat datang di katolisitas.org dan terima kasih atas tanggapannya tentang baptisan. Tentang rapture yang terpisah dengan kedatangan Kristus yang ke-dua tidak sesuai dengan iman Katolik. Untuk itu, anda dapat membaca artikel tentang hal ini di sini – silakan klik. Dan komentar tentang baptisan selam dapat dibaca di sini – silakan klik dan juga di sini – silakan klik. Secara prinsip, Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa baptisan harus dilakukan dengan selam. Tentang baptisan bayi, silakan anda membaca tanya jawab ini – silakan klik. Saya harap anda dapat membaca beberapa link yang saya sebutkan di atas, dan kemudian anda dapat memberikan argumentasi yang lebih spesifik. Semoga dapat diterima dengan baik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  9. Yth Katolisitas,
    untuk baptis selam yang diakui Gereja Katolik, baptis dengan air mengalir, atau dalam kolam? atau semuanya sah? Rumusannya sama ….aku membaptis kamu dalam nama Bapa Putra dan Roh Kudus. Karena sekarang banyak dari Gereja Protestan yang baptisnya di kolam dengan cara dibenamkan. Mohon penjelasannya. Terima kasih.

    • Shalom Christ,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang Sakramen Baptis. Tentang caranya, kita dapat melihat di:

      Kan. 854Baptis hendaknya dilaksanakan entah dengan dimasukkan ke dalam air entah dengan dituangi air, dengan mengindahkan ketentuan-ketentuan dari Konferensi para Uskup.

      Jadi, baik diselam maupun dengan dituang air adalah cara yang dianggap benar. Dan rumusannya adalah dapat dilihat di:

      KGK, 1240 “Dalam Gereja Latin pemberi Pembaptisan berkata : “N. aku membaptis engkau atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus“, sambil mencurahkan air sebanyak tiga kali. Di dalam ritus Gereja Timur katekumen menghadap ke timur dan imam berkata: “Pelayan Allah N. dibaptis atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus“. Dan setiap kali, ia mengucapkan nama seorang dari Tritunggal Mahakudus, ia mencelupkan orang yang dibaptis itu ke dalam air dan mengeluarkannya lagi.

      Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  10. BABTIS berasal dari kata BABTIZO ( Junani ), yang artinya : Diselamkan, ditenggelamkan, dicelupkan. Pengajaran bukan harus dengan perkataan, tetepi Perbuatan. Dengan Dibabtis di sungai Jordan, jelas Yesus meninggalkan teladan bagi Umat-Nya, tentang babtisan yang sah secara Alkitabiah. jangan bodohi Umat… salah-salah nanti jadi Penyesat

    • Shalom Ebyeth,

      Mari, dalam dialog ini kita jangan sampai mengucapkan kata-kata yang kasar, sebab kita adalah satu saudara di dalam Kristus.

      Ya, betul, Gereja Katolik juga mengajarkan juga bahwa Pembaptisan berasal dari kata baptizein (dari kata Yunani), dan ini diajarkan dalam Katekismus Gereja Katolik:
      KGK 1214    Orang menamakannya Pembaptisan sesuai dengan inti ritusnya: membaptis [bahasa Yunani "baptizein"] berarti "mencelup/ membenamkan". Pencelupan ke dalam air melambangkan dimakamkannya katekumen ke dalam kematian Kristus, dari mana ia keluar melalui kebangkitan bersama Dia (Bdk Rm 6:3-4; Kol 2:12) sebagai "ciptaan baru" (2 Kor 5:17; Gal 6:15).

      Walaupun memang cara diselamkan/ dibenamkan lebih baik dalam hal menggambarkan makna pembasuhan dari dosa, namun Gereja Katolik tidak mensyaratkan hal itu sebagai yang mutlak harus dilakukan, sebab yang terpenting di sini adalah makna pembasuhan-nya dan bukan caranya. Gereja Katolik mengambil pengajaran dari St. Thomas Aquinas menyikapi cara Pembaptisan ini. Jika anda ingin mengetahui tentang pengajaran St. Thomas yang juga mengambil dasar dari Kitab Suci tentang Baptisan ini, silakan klik di sini.

      Ya, benar, Kristus memberi contoh bahwa Ia dibaptis di sungai Yordan, dan mungkin dengan cara diselam, namun, Dia tidak mengatakan bahwa semua pengikutnya harus dibaptis dengan cara yang sama dengan Ia dibaptis, misalnya harus diselamlan, harus dibaptis di sungai Yordan di tempat yang persis sama waktu Yesus dibaptis, atau harus oleh imam yang memakai baju dari bulu unta seperti Yohanes Pembaptis. Jika Kristus mensyaratkan hal ini, malah menjadi sulit, dan bahkan tidak mungkin. Soal diselamnya itu bisa, soal di sungai Yordan-nya juga mungkin masih bisa, tetapi itupun tidak bisa di tempat yang persis sama dengan tempat dulu Yesus dibaptis. Karena sekarang ini tidak ada orang yang bisa dengan persis menyebutkan lokasi Yesus dibaptis. [Lokasi tempat ziarah di s. Yordan sekarang juga merupakan perkiraan tempat pembaptisan Yesus]. Apalagi jika imamnya harus berpakaian seperti Yohanes Pembaptis, lebih sulit lagi, terutama pada negara-negara yang bahkan tak ada binatang unta. Maka memang yang terpenting adalah kita menangkap esensinya, yaitu pembersihan jiwa/ rohani dari dosa-dosa akibat manusia yang lama dalam diri kita telah mati, dan kita dibangkitkan bersama Kristus menjadi manusia baru (lihat KGK 1214).

      Di atas semua itu, kita menghormati pengajaran dari para Bapa Gereja, yang kemudian diambil sebagai ajaran yang berlaku dalam Gereja Katolik. Mereka juga mengambil dasar dari Alkitab, dan juga mempertimbangkan perkembangan tradisi dalam kehidupan umat di seluruh dunia. Kebijaksanaan Gereja harus bisa berlaku umum di seluruh dunia, misal baik di Eropa, Amerika yang tidak kurang air, tapi juga di Afrika jumlah airnya terbatas. Atau pembaptisan pada orang sehat tetapi juga pada orang sakit, yang mungkin tak dapat dibaptis selam. Apakah kepada mereka yang tidak bisa dibaptis selam, berarti tidak bisa diberi Pembaptisan? Tentu tidak, bukan. Lagipula seperti disebut di atas, cara pencucian merupakan sesuatu yang ‘accidental’ dan bukan essensial. Sama seperti, anda juga rasanya setuju, jika lokasi pembaptisan (S. Yordan) dan jenis pakaian imam yang membaptis ataupun yang dibaptis juga bukan hal esensial, tapi accidental.

      Maka Gereja Katolik mensyaratkan keabsahan Pembaptisan, jika terdapat 2 hal yang memenuhi syarat: 1) materia/matter, yaitu air jernih, 2) forma/form yaitu perkataan/ ritus Pembaptisan yang memakai formula Trinitarian, yaitu pembaptisan di dalam nama Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus; dengan intensi yang sama seperti yang dilakukan Gereja. (lihat KGK 1256, Kan. 849, Kitab Hukum Kanonik).

      Demikian keterangan dari saya mengenai Pembaptisan. Mari kita memohon pimpinan Roh Kudus, agar Tuhan sendiri memberikan kepada kita Roh Kebijaksanan-Nya dalam menyikapi hal ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  11. Menurut pendapat saya, baptis yang benar adalah yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus yaitu dibabtis atau deselamkan (bukan dipercik) kedalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (bukan kedalam air).
    [Dari Admin Katolisitas: komentar berikut ini kami gabungkan di sini]
    Antara Baptis selam dan Baptis percik sesama Doktor dan Profesor Protestan dan Katolik berbeda pendapat.
    Kalau saya bayangkan saya diselamkan (bukan diperciki) kedalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (bukan kedalam air), sungguh luar biasa.
    Mohon ma’af, saya betul-betul bingung melihat perbedaan pendapat parah Ahli Tafsir Alkitab karena saya sangat haus tetapi tidak tau mencari minuman segar (rohani saya) kemana ????

    • Shalom Parlin,

      Gereja Katolik mendasari ajaran tentang Pembaptisan ini, terutama dari perkataan Yesus sendiri dalam Kitab Suci, yaitu:
      1) Mat 28:19: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
      2) Yoh 3:5: Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

      Yesus tidak pernah mengajarkan secara ekplisit bahwa cara Pembaptisan harus dengan cara diselam. Walaupun memang, dalam Injil Matius dan Markus dikatakan bahwa Yesus "keluar dari air" (lihat Mat 3:16, Mrk 1:10), namun tidak dikatakan bahwa Pembaptisan Yesus dilakukan dengan cara diselamkan. Injil Lukas dan Yohanes tidak menyebutkan secara mendetail cara Pembaptisan. Keempat Injil malah menyebutkan sesuatu yang lebih penting, yaitu turunnya Roh Kudus dalam Pembaptisan itu (lihat Mat 3:16, Mrk 1:10, Luk 3:21-22, Yoh 1:32).

      Oleh karena itu, maka Gereja Katolik mengajarkan bahwa yang terpenting dalam Pembaptisan adalah:
      1) formanya, yaitu Pembaptisan dilakukan dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan
      2) materia-nya, yang dilakukan dengan menggunakan air, yang melambangkan pertobatan dan pembersihan seseorang dari dosa-dosanya, dan kehidupan yang baru di dalam Roh Kudus.
      Sedangkan caranya, diselam, atau dituang tidak menjadi sesuatu yang prinsip, sebab Tuhan Yesus sendiri tidak mengajarkan cara Pembaptisan secara mutlak. Jika seorang berpikir bahwa Yesus dibaptis dengan cara diselam, maka kita harus dibaptis dengan cara yang persis sama baru dapat dikatakan sah, maka, orang itu harus juga dibaptis di sungai Yordan. Tentu ini menimbulkan masalah juga sebab, dimana persisnya di sungai Yordan Yesus dibaptis, juga tidak dapat diketahui dengan pasti. Tempat pembaptisan yang ada sekarang [dijadikan tempat ziarah] juga hanya merupakan perkiraan.

      Maka dalam hal ini, Gereja Katolik tidak mensyaratkan cara Pembaptisan, namun lebih mementingkan hakekat Pembaptisan tersebut, yaitu pertobatan dan pembersihan dari dosa, dan penggabungan seseorang yang dibaptis dengan kehidupan Ilahi (dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Atau dengan kata lain, arti Pembaptisan disebutkan dalam Rom 6: 11: "mati bagi dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus." Dengan demikian, maka pengertian anda bahwa dengan Pembaptisan sesungguhnya kita "diselamkan" di dalam nama Allah Bapa dan Roh Kudus, memang ada benarnya, namun juga selayaknya hal itu tidak dilepaskan dari makna  pembersihan oleh air, yang melambangkan pertobatan dan penghapusan dosa. Sudah sejak awal mula Gereja membaptis dengan air untuk menandai makna rohani penghapusan dosa. Makna penghapusan dosa oleh air ini bahkan telah diajarkan di Perjanjian Lama (lih. Yeh 36:25), kemudian diajarkan kembali oleh Yohanes Pembaptis(Mat 3:11; Mrk 1:4; Luk 3:3; Yoh 1:33), Yesus sendiri (Yoh 3:5), para rasul (Kis 2: 38; 8:38; 10:47) dan para Bapa Gereja, dan diterapkan di sepanjang sejarah Gereja. Maka, selayaknya kitapun tidak melepaskan diri dari Tradisi dan pengajaran para rasul ini.

      Selanjutnya tentang sakramen Baptis menurut ajaran Gereja Katolik dapat dibaca di sini, silakan klik. Ya, kami menyadari bahwa terdapat perbedaan pandangan antara para Teolog Protestan dan Katolik dalam hal Pembaptisan. Adalah suatu berkat bagi umat Katolik dalam hal doktrin, sebab kami berpegang pada pengajaran Magisterium, sehingga memang kami tidak perlu bingung terhadap perbedaaan pandangan dari para Teolog.  Kami di website Katolisitas memang hanya berusaha menyampaikan apa yang kami ketahui sebagai ajaran Gereja Katolik. Kami tidak memaksa semua pembaca untuk menerima pengajaran ini, namun setidak-tidaknya, para pembaca dapat mengetahui apa yang menjadi dasar ajaran Gereja Katolik mengenai Pembaptisan ini.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  12. Shalom Pak Stef & Bu Ingrid,

    Membaca diskusi tentang baptisan katolik dan protestan yang selalu berbeda pandangan, ada pertanyaan dari saya :
    1. Apakah Yesus pernah memerintahkan untuk membaptis dengan cara menyelam (air) dan dimana ayatnya di Alkitab?
    2. Di Alkitab diceritakan bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, kayaknya gak disebutkan di selamkan/ditenggelamkan. Bisa saja Yohanes membaptis dengan air yang diambil dengan tangan/alat lain. Apakah ada penjelasan dari ayat ini?
    3. Menurut saya, sifat air itu sama mau banyak maupun sedikit (hanya kekuatannya yang berbeda) tetap cair dan merupakan satu SARANA. Jika hanya karena jumlah yang lebih sedikit (pakai tuang/siram) dan dinyatakan tidak sah/valid, maka kalau hanya diselamkan di sungai apalagi di bak juga kurang banyak; kenapa tidak ke laut aja sekalian biar banyak gitu? (sorry ini hanya pikiran saya).

    Maaf, atas pertanyaan dan komentar saya.
    Salam,

    Simon

    • Shalom Simon,
      1. Sebenarnya tidak ada ayat di dalam Kitab Suci yang menyebutkan bahwa Pembaptisan harus dilakukan dengan cara diselam. Yesus tidak mengajarkan cara Pembaptisan secara eksplisit. Yang diajarkan oleh Yesus adalah prinsipnya, yaitu:
      – harus dilakukan dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus (lih. Mat 28: 19)
      – mempunyai makna kelahiran kembali dari air dan Roh (Yoh 3:5)
      Oleh karena itu, maka Gereja Katolik melihat yang menentukan sah atau tidaknya Pembaptisan adalah formanya (yaitu harus dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus), dan materia-nya, (yaitu air, yang melambangkan pembersihan seseorang dari dosa). Sedangkan caranya, diselam, atau dituang tidak menjadi sesuatu yang prinsip.
      2. Pada waktu Yesus dibaptis di sungai Yordan, memang dikatakan,
      "Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah …. " (Mat 3:16)
      "Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya." (Mrk 1:10)
      Dari pernyataan ini memang seseorang dapat menyimpulkan hal itu merupakan baptis selam, namun sebenarnya tidak secara eksplisit dikatakan demikian. Lukas dan Yohanes bahkan tidak menyebutkan secara mendetail proses Pembaptisan Yesus, hanya dikatakan:
      "…ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya." (Luk 3:21-22)
      "Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya." (Yoh 1:32)
      Maka, dengan demikian Gereja Katolik mengajarkan bahwa secara prinsip, Pembaptisan merupakan kelahiran kembali di dalam air dan Roh Kudus, dan dengan demikian memberikan Roh Kudus kepada orang yang dibaptis, sedangkan cara Pembaptisan bukan merupakan sesuatu yang prinsip.
      3. Dengan demikian, maka air yang merupakan materia Pembaptisan memang merupakan tanda yang dipakai Allah untuk melambangkan pembersihan dari dosa-dosa, seperti yang bahkan telah dijanjikan sejak jaman Perjanjian Lama, "Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu …." (Yeh 36:25)
      Dengan maksud untuk mencuci atau membersihkan, maka memang cara Pembaptisan yang licit adalah dengan diselam, dicelup, atau dituang, yang prinsipnya dapat melambangkan kegiatan ‘pembersihan.’
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  13. grogorius leo erlando on

    Baptis yang alkitabiah adalah baptis selam, yang biasanya dilakukan pada saat dewasa dan “lahir baru” (menerima Yesus dengan kesadaran penuh … bandingkan dengan anak yang belum bisa “berpikir”).
    apakah dia bisa dinyatakan telah menerima Yesus? sementara anak tersebut belum tau apa-apa!

    • Shalom Grogorius,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang baptisan yang menurut Grogorius adalah harus dengan cara selam dan diterimakan pada waktu dewasa. Berikut ini adalah jawaban saya untuk pertanyaan Grogorius.

      1) Tentang Baptis selam, sebagian orang berkeberatan karena Gereja Katolik tidak membaptis dengan cara diselam. Kembali, dalam setiap hal, kita harus menangkap mana yang “essential” dan mana yang “accidental“. Karena kalau kita tidak menangkap kedua hal tersebut, saya juga dapat berargumentasi bahwa baptisan harus dilakukan di Sungai Yordan, sehingga menjadi lebih Alkitabiah. Kalau Grogorius tidak setuju dengan pernyataan saya, maka secara tidak langsung sebenarnya Grogorius juga setuju bahwa secara esensi yang terpenting dalam hal ini bukan tempatnya, namun materinya, yaitu air. Namun perbedaannya adalah Grogorius tetap melihat bahwa cara selam adalah bagian dari esensi Sakramen Baptis, sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa selam adalah bukan sesuatu yang menjadi esensi dari Sakramen Baptis. Untuk jawaban secara lebih detail, silakan melihat di sini (silakan klik).

      a) Dari jawaban di atas, silakan Grogorius memberikan alasan mengapa Grogorius berpendapat bahwa hanya baptisan selam saja yang yang Alkitabiah?
      Saya juga ingin bertanya, menurut Grogorius, apakah definisi baptisan, bagaimana suatu baptisan dinyatakan sah (valid)? Dan apakah yang diterima oleh seseorang pada waktu dia dibaptis atau apakah efek dari baptisan? Apakah keselamatan seseorang ditentukan oleh baptisan?

      b) Kalau baptisan selam memang yang benar dan merupakan keharusan, bagaimana dalam beberapa situasi yang tidak memungkinkan bagi seseorang untuk dapat dibaptis selam, misalkan: daerah-daerah yang tandus atau orang-orang di Eskimo, orang yang mempunyai penyakit (orang yang dioperasi dan berhafas dari leher, orang baru dioperasi open heart surgery, dll). Apakah dengan demikian mereka tidak mungkin untuk mendapatkan Sakramen Baptis yang valid/sah?

      2) Karena bagi Gereja Katolik Sakramen Baptis adalah gerbang keselamatan, maka bayi-bayi juga dibaptis dan tidak perlu menunggu sampai mereka dewasa. Dan mungkin inilah yang membedakan dengan saudara dari beberapa denominasi Kristen yang sebagian menganggap bahwa baptisan hanyalah suatu simbol. Dan mungkin lebih menekankan pada pengakuan dengan mulut bahwa Yesus adalah juru selamat pribadi (Rm 10:10). Tentu saja pengakuan ini mensyaratkan seseorang untuk dapat menggunakan kehendak bebasnya, dimana seseorang dapat membedakan baik dan buruk (the age of reason).

      a) Sebenarnya kalau kita percaya akan dosa asal (original sin), dan dosa memisahkan manusia dan Tuhan, maka pertanyaannya adalah: kalau seorang bayi atau anak yang meninggal sebelum dapat mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan juru selamat pribadi, maka bagaimanakah nasib dari bayi atau anak ini?
      Karena Gereja Katolik percaya bahwa Sakramen Baptis adalah satu-satunya cara untuk memperoleh keselamatan, maka semua bayi yang terlahir dari keluarga Katolik seharusnya dibaptis. Karena beberapa denominasi Kristen tidak percaya bahwa Sakramen Baptis adalah gerbang keselamatan, maka mereka tidak mensyaratkan akan baptis bayi.

      b) Hal ini sama seperti yang terjadi pada natural order, dimana orang tua akan memberikan obat pada anaknya yang sakit, tidak perduli bahwa anak itu setuju atau tidak, karena orang tua tersebut percaya bahwa obat tersebut menyembuhkan. Demikian juga dalam tingkat supernatural (adi kodrati), dimana orang tua percaya bahwa Sakramen Baptis menghapuskan dosa asal, sehingga bayi tersebut dibaptis dan memperoleh keselamatan.

      3) Dari diskusi ini, saya belum memberikan bukti-bukti dari Alkitab dan Bapa Gereja, namun mencoba melihat apakah yang mendasari perbedaan pendapat di antara kita. Kalau Grogorius ingin mendiskusikan hal ini secara lebih mendalam, silakan membaca terlebih dahulu artikel-artikel yang berhubungan dengan Sakramen Baptis di sini (silakan klik) dan di sini (silakan klik), karena di situ kami telah memberikan semua dasar-dasar dari Alkitab, Bapa Gereja, dan juga pengajaran Gereja Katolik. Untuk tanya jawab tentang dosa asal, Grogorius dapat melihatnya di sini (silakan klik). Setelah itu, silakan Grogorius memberikan beberapa argumentasi tentang topik baptisan bayi atau konsep keselamatan atau yang lain, sehingga kita dapat berdialog dengan lebih terfokus.

      Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya dan semoga jawaban pembuka ini dapat membuka diskusi yang lebih mendalam, sehingga Grogorius tidak salah paham akan apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  14. Shalom cw,
    Saya ingin menambah sedikit masukan untuk cw mengenai baptis bayi dan baptis selam.
    Pada Perjanjian Lama, seseorang di angkat menjadi umat Allah setelah disunat, dalam hal ini bayi orang yahudi disunat pada hari ke-8, sedangkan dalam Perjanjian Baru tanda seseorang menjadi umat Allah/pengikut kristus adalah dibaptis. Jadi untuk bayi yang tidak dibaptis menjadi tanda tanya bayi tersebut menjadi pengikut apa?
    Kalau saudara kita nyakin bahwa kenyakinannya benar dan Yesus dapat membawa keselamatan baginya kenapa dia tidak menginginkan anaknya juga mengimani Yesus? Kalau tidak nyakin, mestinya tidak usah menjadi pengikut Kristus.Kalau boleh tahu dasar alkitab mana yang mengatakan ada penyerahan anak?

    Tentang baptis selam dikatakan juga di Kis 8:36, dimana Filipus membaptis sida-sida. Bagaimana kita mengetahui bahwa pembaptisan sida-sida dengan cara penenggelaman karena hal itu terjadi di jalan yang sepi dari Yerusalem ke Gaza, sedangkan jalan dari Yerusalem ke Gaza melewati daerah padang gurun sehingga air yang melimpah atau kolam yang cukup dalam tentunya sulit di dapat di pada gurun itu.
    Dan perlu ditanyakan kembali kepada saudara kita yang protestan, misalkan ada anggota keluarganya yang belum dibaptis dan suatu saat mengalami sakit keras/luka parah dalam kecelakaan dan ingin dibaptis, apakah orang tersebut tetap baptis dengan ditenggelamkan biar cepat ketemu Yesus (syukur2 ketemu Yesus ya he..he..)
    Gbu
    martha

  15. Dear katolisitas,

    Terima Kasih karena sudah menjawab pertanyaan saya sebelumnya, semoga tidak bosan menjawab pertanyaan saya.
    Saya sering berdiskusi dengan teman Gereja lain, hal ini yang menyebabkan banyak sekali pergumulan tentang Gereja Katolik.

    Dengan banyak pergumulan itu , saya memutuskan tetap di Gereja katolik sambil mencari tahu. Rasanya tidak adil, memilih pindah Gereja tanpa saya pun mencari tahu dulu apa itu Gereja Katolik
    ( …beberapa kali terbukti saya nya yang tidak tahu apa-apa, bukan salah Gerejanya ..)

    Selain pergumulan, sisi positif dari diskusi ini adalah saya terpacu untuk mengenal lebih mengenal lebih dalam tentang gereja katolik , dan yang paling penting mengarahkan juga untuk mengenal Yesus lebih dekat

    Saat ini, pergumulan saya adalah tentang baptis.

    Yang menjadi pertanyaan nya adalah
    – Baptis selam dan Baptis Percik.
    Saya mendapat informasi, bahwa baptis selam alkitabiah – Yesus dibaptis dengan cara itu. Akhirnya timbul pergumulan baru … apakah baptisan katolik alkitabiah. Disisi lainpun saya jadi berpikir – jika Gereja Katolik mengikuti tradisi gereja perdana, mengapa tidak ada baptis selam?

    – Baptis anak
    Tentang ini, informasi yang saya terima adalah baptis anak kurang tepat , lebih tepatnya disebut “penyerahan anak”. Baptis yang alkitabiah adalah baptis selam, yang biasanya dilakukan pada saat dewasa dan “lahir baru” (menerima Yesus dengan kesadaran penuh … bandingkan dengan anak yang belum bisa “berpikir”).
    Yang jadi pergumulan saya .. apakah ini berarti baptis anak jadi tidak “sah”?. Bagaimanapun teman saya tetap menekankan bahwa yang terutama keselamatan itu ditentukan oleh “menerima Tuhan Yesus/tidak”, bukan baptis selam/percik.

    – Baptis gereja lain.
    Teman saya sebelum menikah adalah jemaat gereja X.
    Lalu katekisasi dan dibaptis di Gereja Katolik
    Saya pernah membaca bahwa gereja Katolik mengakui baptisan gereja lain.
    Nah justru setelah membaca ini , saya justru bingung mengapa teman saya dulu waktu masuk Gereja Katolik dibaptis ulang.
    Apakah ada batasan gereja mana saja yang baptisannya diakui Gereja Katolik?

    Jika tidak berkeberatan, mohon katolisitas membantu saya menjawab dengan memberikan acuan (alkitab atau lainnya , jika ada)
    Tuhan Yesus memberkati

    [dari katolisitas: telah dijawab - silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply