Tentang bayi tabung

12

Pertanyaan:

saya sangat senang dengan website ini dan sungguh membantu sekali, bagaimana kalo ini disebarluaskan melalui berita-berita paroki agar bisa menyentuh semua lapisan masyarakat karena ini emang sangat dibutuhkan apalagi di masa sekarang ini…saya mau tanya juga pada romo..bagaimana pandangan gereja kepada bayi tabung? terima kasih..God Bless

Jawaban:

Shalom Chmel,

Terima kasih atas dukungan anda terhadap website ini.
Sebelum membahas soal bayi tabung, mari kita lihat pengertian berikut ini:

  1. Pada saat sel telur dibuahi oleh sperma, maka kehidupan manusia dimulai. Sel telur yang dibuahi disebut zygote, dan pada saat zygote itu bertumbuh, disebut embryo. Pada tahap lanjut, embryo disebut sebagai fetus. Jadi istilah zygote, embryo dan fetus itu sebenarnya menjabarkan tahap-tahap perkembangan anak; sehingga ketiga istilah itu adalah nama lain dari bayi.
  2. In-vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung itu menjelaskan proses pembuahan itu. In-vitro artinya ‘di dalam gelas/ tabung’, sehingga artinya proses pembuahan sel telur oleh sperma dilakukan di dalam tabung. Di dalam tabung ini pula embryo diberi zat-zat makanan sampai saatnya ia dimasukkan di dalam rahim sang wanita. Proses pemindahan ini disebut embryo transfer (ET). Sel- sel telur diambil dari ibunya dengan laparascopy, sedangkan sperma diambil dengan cara masturbasi.
    Umumnya sel-sel telur ini dibuahi, dan dipilih yang paling sehat; dan embryo itu yang dimasukkan kedalam rahim wanita itu. Sedangkan sel-sel embryo yang tidak sehat itu dibuang, (ini adalah aborsi!). Kadang sel telur yang dibuahi dimasukkan ke dalam freezer, untuk dipakai di waktu mendatang. IVF dan ET dilakukan jika sang wanita tidak dapat mengadung dengan cara yang normal, atau kalau ia tidak dapat mengandung karena alasan kesehatan, dan karenanya meminta seorang wanita lain untuk mengandung anaknya (ibu angkat).

Melihat penjabaran ini, maka kita dapat melihat bahwa praktek IVF /bayi tabung dan ET itu tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, karena beberapa alasan:

  1. Umumnya IVF melibatkan aborsi, karena embryo yang tidak berguna dihancurkan/ dibuang.
  2. IVF adalah percobaan yang tidak mempertimbangkan harkat sang bayi sebagai manusia, melainkan hanya untuk memenuhi keinginan orang tua. Bayangkan bagaimana embryo tersebut dibekukan/ ‘frozen’.
  3. Pengambilan sperma dilakukan dengan masturbasi. Masturbasi selalu dianggap sebagai perbuatan dosa, dan tidak pernah dibenarkan. KGK 2352 menyebutkan:
    “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban”, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apa pun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”.
  4. Persatuan sel telur dan sperma dilakukan di luar hubungan suami istri yang normal. IVF/ bayi tabung jelas meniadakan aspek ‘persatuan/ union’ antara suami dengan istri. Aspek pro-creation juga disalah gunakan, karena dilakukan secara tidak normal. Jadi kedua aspek hubungan suami istri yang disebutkan dalam Humanae Vitae 12, tidak dipenuhi dengan normal (Silakan baca artikel Humanae Vitae itu benar!, silakan klik disini)
  5. Praktek IVF atau bayi tabung menghilangkan hak sang anak untuk dikandung dengan normal, melalui hubungan perkawinan suami istri. Jika melibatkan ‘ibu angkat’, ini juga berarti menghilangkan haknya untuk dikandung oleh ibunya yang asli.

Mungkin, yang paling jelas adalah ajaran Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya Evangelium Vitae 14/ The Gospel of Life yang mengatakan demikian:

Bermacam teknik reproduksi buatan [seperti bayi tabung]yang kelihatannya seolah mendukung kehidupan, dan yang sering dilakukan untuk maksud demikian, sesungguhnya membuka pintu ancaman terhadap kehidupan. Terpisah dari kenyataan bahwa hal tersebut tidak dapat diterima secara moral, karena hal itu memisahkan pro-creation dari konteks hubungan suani istri, teknik-teknik yang demikian mempunyai tingkat kegagalan yang cukup tinggi: tidak hanya dalam hal pembuahan (fertilisasi) tetapi juga dari segi perkembangan embryo, yang mempunyai tingkat resiko kematian yang tinggi, umumnya di dalam jangka waktu yang pendek. Lagipula, jumlah embryo yang dihasilkan sering lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk implantasi ke dalam rahim wanita itu, dan “spare-embryo” [embryo cadangan]ini lalu dihancurkan atau digunakan untuk penelitian yang dengan dalih ilmu pengetahuan atau kemajuan ilmu kedokteran, pada dasarnya merendahkan kehidupan manusia pada tingkat “materi biologis” semata yang dapat dibuang begitu saja.

Maka kita mengetahui bayi tabung/ IVF yang merupakan teknik reproduksi buatan bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik.

Memang, mungkin para pasangan yang tidak dapat mengandung anak secara normal mengalami kenyataan yang cukup menyakitkan. Jika mereka sungguh merindukan kehadiran anak-anak di tengah mereka, mungkin adopsi anak adalah jalan keluarnya. Memang kerinduan untuk membesarkan anak adalah suatu keinginan yang mulia, namun kita harus tetap berpegang bahwa tujuan yang baik (mempunyai anak) itu harus tidak diperoleh dengan jalan yang tidak sesuai dengan ajaran Tuhan, seperti IVF/ bayi tabung.

Demikian, semoga informasi di atas dapat menjelaskan tentang prinsip pengajaran Gereja Katolik menanggapi hal bayi tabung.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

12 Comments

  1. Pengasuh Katolisitas Yth,
    Saya ingin minta saran mengenai cara evangelisasi yang baik terhadap manusia – manusia yang ada (baca: terlahir) di dunia ini oleh teknologi yang dilarang penggunaannya oleh Gereja Katolik seperti IVF, dkk.

    Tanpa teknologi tersebut mereka tidak akan ada di dunia ini. Tapi nyatanya mereka sekarang ada di dunia ini dan tentunya Allah juga mencintai mereka dan menginginkan keselamatan jiwa mereka.

    Tetapi mereka akan menganggap Gereja Katolik munafik karena melarang penggunaan teknologi tersebut, namun kemudian menyatakan bahwa Allah juga mencintai mereka.

    Mohon pengajarannya.

    Salam,
    Edwin ST

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Edwin,

      Terima kasih untuk pertanyaan ini. Anda benar, Allah adalah kasih, dan dari kasih-Nya serta karena kasih-Nya itu pula, Allah menciptakan kehidupan, termasuk kehidupan manusia, sebagai mahluk yang secitra dengan-Nya dan sangat dikasihi-Nya. Oleh karena itu, kasih Allah yang dihayati oleh Gereja-Nya, tidak pernah menolak kehidupan, tetapi sangat menghargainya dan ingin selalu melindungi dan menjaga kehidupan sejak awal terjadinya hingga kesudahannya secara alami. Maka sesungguhnya tidak ada yang munafik di sini, tetapi justru Gereja sebagai perwujudan kasih Allah di dunia selalu konsisten mendukung dan mencintai kehidupan. Walaupun terbentuknya melalui proses yang tidak diajarkan dan tidak direstui oleh hukum kasih yang diajarkan Allah melalui Gereja-Nya, kehidupan itu sendiri selalu sangat berharga di mata Allah dan Gereja-Nya. Maka manusia yang lahir melalui proses IVF (bayi tabung) juga mempunyai hakekat manusia yang sama dengan manusia lainnya yang hadir melalui proses yang alamiah. Yang harus dihindari adalah metode IVF-nya, bukan kehidupan yang terjadi karena proses itu. Sekali kehidupan itu terjadi, kehidupan itu harus dijaga dan dihormati. Sebab apapun proses yang terlibat karena campur tangan manusia, kehidupan hanya bisa ada karena ijin Allah. Oleh karena itu kehidupan yang berhasil terjadi adalah buah karya Allah dan kehidupan itu harus dijaga dan dihormati sebagaimana kehidupan yang lain. Termasuk melakukan evangelisasi kepada mereka dan lain-lain sebagaimana kepada sesama yang lain.

      Sebenarnya jika kita meninjau kembali apa yang terjadi dalam proses IVF, alasan mengapa metode itu ditolak oleh Gereja juga karena penghargaan terhadap kehidupan. Dengan alasan apapun, kehidupan tidak boleh dibuang. Proses IVF ini, selain mengingkari prinsip union (persatuan) alamiah suami isteri dengan pemberian diri satu sama lain melalui hubungan suami isteri dalam kasih yang penuh dan utuh, juga berpotensi besar membuang kehidupan. Sel telur dan sperma yang sudah dipilih kualitas yang terbaik, kemudian dipertemukan di cawan petri. Setelah berkembang menjadi morula, yaitu suatu tahap awal dari perkembangan embrio manusia (yang artinya sudah mempunyai kehidupan, karena kedua sel sudah bertemu menjadi sel manusia awal dan sudah membelah tanda perkembangannya) kemudian diamati dan dilakukan proses seleksi. Morula yang tidak prima menurut standar (grade) yang sudah ditetapkan, tidak dapat dilanjutkan untuk ditanam dalam rahim, tetapi dibuang. Yang lulus seleksi tetapi terlalu banyak jumlahnya untuk ditanamkan bersama-sama di dalam rahim, disimpan dalam pendingin untuk ditanam lagi kapan-kapan bila suami isteri itu menghendaki. Atau kalau sudah berhasil terjadi kelahiran normal dan embrio-embrio itu sudah tidak diperlukan lagi, maka terserah pihak rumah sakit akan dipakai sebagai percobaan atau dibuang dan sebagainya. Tak terbayang berapa jumlah kehidupan manusia yang harus dikorbankan dengan metode ini untuk memuaskan kebutuhan manusia, sebelum kehidupan itu diberikan kesempatan yang layak dan cukup untuk berkembang sepenuhnya.

      Katolisitas sudah pernah membahas mengenai bayi tabung ini, yaitu di artikel di atas, silahkan klik.

      Semoga semua sharing ini menjawab pertanyaan Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

      Triastuti – katolisitas.org

  2. wah, berarti saya bikin dosa, ya?…
    in vitro saya semi alami. Cuma dapat satu telur. Tidak berharap kembar sama sekali, eh, malah puji Tuhan dikasih kembar. Kalaupun pake metode suntikan saya dapat banyak telur, saya akan lahirkan semua…tapi kelihatannya, Tuhan mengerti kegundahan hati saya karena saya tidak ingin melakukan sesuatu yang basically, Dia tidak suka. Meski saya lahirkan semua tapi siapa tahu, kan, ada hal2 lainnya yang Dia tidak suka (seperti pembekuan embrio atau melahirkan tidak dalam 1 satuan waktu atau lainnya…)…bukan maksudnya saya mau musnahkan embrionya.
    Dua macam suntikan tidak ada yang berhasil…yang berhasil malah telur dibiarkan ada secara alami, shingga cuma dihasilkan 1. Saya hanya diberi obat buat memperbagus kualitas sel telur tapi bukan memperbanyak atau lainnya. Udah, cuma memperbagus saja. Obatnya 1, suntikan juga cuma 2 apa 3 kali, cuma buat dalam rangka mau pengambilan telur…

    Soal masturbasi…maap, tapi, suami saya itu benci sekali melakukannya di rumah sakit. Saya pasti disuruh keluar. Dia juga tidak nyaman. Nonton video buat memacu malah ketawa. Akhirnya, malah ‘berusaha’ sendiri. “Masturbasi” itu buah dr pikiran. Saya yakin, suami saya tidak berpikiran “mesum” saat melakukan itu; wong dia tidak nyaman (kebayang, kan? nonton videonya aja dia bisa mau ketawa…)

    Bukannya saya membenarkan 100% in vitro tapi saya juga keberatan kalau anak2 kembar identik di perut saya ini dikatakan seolah hasil perbuatan dosa yang tidak dikehendaki Tuhan.

    Sperma, sperma suami, telur telur saya, rahim rahim saya. Kita juga tidak mau, kok, kalau istilahnya ‘numpang’: numpang sperma orang lain, numpang telur orang lain, numpang rahim orang lain, dll dll dll dll. Saya juga tidak mau, kok, rahim saya dipinjam2…

    Soal dipertemukan di luar, saya, sih, simple, aja. Saya berobat setahunan kurang buat benerin badan. Kalau memang Tuhan tidak mau, tidak mau saja. 2 Bulan sebelumnya, saya gagal, lho ambil telur padahal siklus alami. Tidak tahu kenapa. Dan bulan2 sebelumnya, saya malah badannya kacau balau karena disuntik. Justru, saat saya akhirnya, ya, sudahlah, iseng-iseng saja berhadiah. Saya malah santai, siap angkat koper lagi kalo gagal (seperti orang tidak beriman saja, kan?)…entah kenapa, malah satu persatu jalannya lancar…

    Dokter saya amazed karena katanya, kembar identik (di ivf) ini kejadiannya 1:100.000. Seumur2, dia baru ketemu ini. Tidak hanya saya, dokter pun bengong waktu melihat ada dua bayi sampai ditanya: kemaren masukin embrionya berapa? Saya heran karena saya ini termasuk pasien yang badannya angin-anginan dan dia ingat saya tapi kok masih tanya (mungkin dia juga tidak percaya)…saya bilang,”lho, kan, satu, dok? kenapa, dok?” saya panik banget takut kenapa-napa. Dia bilang,”kok, ada dua?”…Buat memastikan itu kembar gimana, saya disuruh screening di dokter lain yang lebih senior dan benar. Kembar identik.

    Buat iman saya? saya rasanya ingin mimpi bertemu Tuhan lalu berlutut dan bilang,”saya ini apa, Tuhan? sampai Tuhan begitu baik sama saya (dan suami)? Saya malah sempat kehilangan harapan pada Tuhan…”

    Anyway, ini pilihan saya. Jika saya dosa, itu dosa saya. Pilihan anda, pilihan anda. Cerita ini hanya untuk berbagi dari sisi yang lain. Memang kelihatannya, gampang kalau bicara ‘berdoa, berdoa, berdoa’…kita berdoa terus, lho…Ya, mungkin dikasih caranya lain? Harus dengan bantuan science and please, IVF itu butuh rejeki gede, lho. Saya bolak balik jakarta mulu, sempat gagal di kota saya tapi tidak ada penyelesaian yang jelas atas ‘tubuh’ saya…

    Tanpa membenarkan diri saya sendiri (saya bukan Tuhan), saya percaya, manusia dibuat bukan untuk hari sabat tapi sebaliknya. Begitu pula pengetahuan/science…dan saya juga percaya, manusia itu ditakdirkan untuk berusaha juga, tidak sekedar berdoa. Saya percaya keajaiban. Rejeki yang diberi Tuhan buat IVF itu 99%keajaiban Tuhan, 1% usaha kami…tapi kembar identik ini?…bagi saya yang pernah dinyatakan hormonnya seperti orang mau menopause, rasanya lebih dari mukjizat…ini yang benar-benar 100% bulat keajaiban Tuhan buat kami.

    Tiap saya berdoa (sebelum tau kembar), saya selalu menyebut ‘anak’ dalam doa saya. Jadi, saya memang tahunya 1 saja. Begitu dinyatakan ada 1 lagi, saya rasanya…Ya, Tuhan…ini keajaiban apaaa?…yang satu lagi, datang dari mana?…Sampai sekarang, saya dan suami masih tidak percaya sehingga kami masih melihat hasil usg terus….bagi saya, 1 anak saja bisa saya kandung, itu sudah 100% keajaiban…apalagi 2?…speechless…ucapan syukur rasanya tidak akan pernah cukup…

    Dosa atau tidak, biarlah Tuhan yang menentukan…Saya sudah cukup senang kalau anak2 saya bisa membawa harapan dan kebahagiaan bukan buat saya saja tapi bagi sesama yang belum dikaruniai anak sampai bertahun2 pernikahan (saya 8 tahun nikah) dan selalu gagal, entah mereka itu katolik atau kristen, atau muslim…

    PS: saya juga tidak mau adopsi karena maaf, saya tidak bisa membesarkan anak orang lain. Bisa dosa saya kalau saya ‘maksain’ diri seperti itu karena malah bisa saya terlantarkan anak itu. Saya jujur dari awal sama diri sendiri dan Tuhan soal kesanggupan dan keikhlasan saya.

    Just sharing.

    • Shalom Dini,

      Saya dapat memahami rasa syukur anda bahwa akhirnya anda dapat mengandung, bahkan memperoleh anak kembar. Walaupun prosesnya tidak natural/ alami, namun tidak mengubah kebenaran bahwa Tuhanlah yang menciptakan jiwa anak- anak itu. Jadi tidak benar bahwa anak itu seolah hasil ‘kecelakaan’ dan tidak dikehendaki Tuhan. Kenyataan bahwa anak itu hidup, artinya anak itu tetap diciptakan oleh Tuhan, sebab biar bagaimanapun kehidupan tetap datang dari Tuhan. Syukurlah bahwa di dalam prosesnya tidak terjadi pembuangan embryo, karena anda hanya melakukan pembuahan dari satu telur saja.

      Namun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa karena teknik IVF (bayi tabung) yang dilakukan itu berhasil, maka proses tersebut dapat dibenarkan secara moral. Sebab Gereja Katolik mengajarkan demikian:

      Prokreasi manusia mensyaratkan kolaborasi yang bertanggungjawab dari pihak pasangan dengan kasih Allah yang berbuah; (lih. Pastoral Constitution Gaudium et Spes, 50) karunia hidup manusia harus direalisasikan di dalam perkawinan dengan hukum- hukum yang tertanan di dalam kepribadian mereka dan persatuan mereka (lih. Cf. Pastoral Constitution Gaudium et Spes, 51:  Maka, bila soalnya bagaimana menyelaraskan cinta kasih suami-isteri dengan penyaluran kehidupan secara bertanggung jawab, moralitas cara bertindak tidak hanya tergantung dari maksud yang tulus atau penilaian alasan-alasannya saja. Moralitas itu harus ditentukan berdasarkan norma-norma yang objektif, kriterianya diperoleh dari kodrat pribadi manusia serta tindakan-tindakannya; dan norma-norma itu menghormati arti sepenuhnya yang ada pada saling penyerahan diri dan pada prokreasi manusia, dalam konteks cinta kasih yang sejati (seperti diterjemahkan dan dikutip dari Donum Vitae, CDF, Instruction on Respect for Human Life in its Origin and on the Dignity of Procreation, 5)

      Maka problema yang ada pada kasus anda adalah bahwa proses pembentukan embryo, karena tidak terjadi menurut ketentuan yang dikehendaki oleh Tuhan (yaitu melalui hubungan suami istri) namun melalui masturbasi dan pencampuran di tabung oleh para petugas medis di laboratorium. Cara pencampuran ini secara obyektif tidak sesuai dengan norma obyektif yang melibatkan hubungan kasih penyerahan diri yang total antara suami dan istri. Itulah sebabnya, seperti anda akui sendiri, suami andapun melakukannya tidak dengan senang hati (anda mengatakannya, “suami saya itu benci sekali melakukannya di rumah sakit. Saya pasti disuruh keluar. Dia juga tidak nyaman….“) Ini bertentangan dengan yang seharusnya terjadi dalam hubungan suami istri yang normal, yang merupakan ekspresi kasih penyerahan diri, sehingga tidak melibatkan rasa benci ataupun tidak nyaman, bagi suami istri yang saling mengasihi.

      Dini, yang kami sampaikan di Katolisitas ini bukan pandangan kami pribadi tetapi ajaran Gereja Katolik. Anda bisa saja tidak suka, tetapi inilah ajaran Gereja Katolik. Jika pada saat anda melakukannya anda tidak mengetahui bahwa proses bayi tabung tersebut dilarang oleh Gereja Katolik, maka walaupun perbuatan ini tidak dibenarkan secara moral (dan karena itu dosa), namun tentu bobotnya tidak seberat jika anda sudah tahu bahwa itu salah, namun anda tetap melakukannya juga. Adalah tanggungjawab kita selanjutnya, bahwa jika kita ingin melakukan suatu tindakan yang berhubungan dengan iman dan moral, kita wajib mencari tahu informasinya terlebih dahulu apakah sesuai atau tidak dengan ajaran Gereja Katolik.

      Jadi masalah dosa atau tidak dalam kasus bayi tabung ini, memang yang menentukan adalah Tuhan, melalui Magisterium Gereja-Nya. Karena Magisterium inilah para penerus rasul yang diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk “mengikat dan melepaskan” (Mat 16:19, 18:18) dalam hal pengajaran iman dan moral, yaitu ajaran manakah yang mengikat dan ajaran manakah yang tidak mengikat bagi umat beriman, yang akan diperhitungkan di surga kelak. Jika anda Katolik, saya mengajak anda untuk setidaknya melihat hal ini dengan sikap yang positif. Yang sudah lewat, sudah tidak dapat diubah, namun diperlukan sikap kerendahan hati untuk menerima bahwa yang anda dan suami lakukan di dalam proses bayi tabung tersebut sesungguhnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Fakta bahwa anda tetap diberkati dengan keturunan adalah sungguh berkat Tuhan yang patut disyukuri, namun hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa di dalam prosesnya melibatkan tindakan- tindakan yang menyalahi ketentuan prokreasi manusia yang seharusnya diperoleh merupakan hubungan seksual suami dan istri atas dasar kasih pemberian diri yang total antara keduanya.

      Semoga dapat diterima. Saya turut bersyukur atas karunia yang anda terima, semoga bayi kembar anda dapat lahir normal dan anda yang melahirkan juga sehat tak kurang suatu apapun.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

    • Shalom Imel,
      Pertanyaan serupa sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Kalau masih ada yang kurang jelas, silakan bertanya di sana.
      Selanjutnya, jika anda mempunyai pertanyaan sehubungan dengan topik- topik tertentu, silakan anda memeriksanya pada bagian Arsip, dan semoga anda menemukan topik yang ingin ditanyakan; atau anda menggunakan fasilitas pencarian di sisi kanan atas mainpage, dengan mengetik kata kuncinya. Semoga anda menemukan pembahasannya di sana. Jika belum ada, silakan bertanya, dan kami akan berusaha menjawabnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. salam buat semuanya,

    saya baru aja mendapatkan website ini dari temanku beberapa hari yang lalu. Dan aku baru aja membuka dan membaca banyak artikel yang tertera dalam web ini; sungguh semua artikel di sini membuat aku lega karena saya bisa menambah wawasan keyakinan iman katolik- ku, aku merasa aku lebih bersyukur menjadi seorang anak yang di lahirkan dalam keluarga Katolik, dan itu suatu anugerah yang terbesar dalam hidup saya karena meski orang tua saya buta huruf dan hanya tahu Mereka adalah Katolik tapi tidak mengerti semua hal katolisitas, namun aku kini menjadi katolik yang punya Prinsip yang kuat meski banyak hal yang belum aku pelajari.

    Moderator yang baik hati, di sini aku juga ingin bertanya,
    Ada seorang Teman aku yang hamil di luar nikah. suatu hari dia datang kepada ku dengan rencana ingin meminta bantuan aku untuk mengugurkan bayi itu karena dia belum siap menjadi seorang ibu, disisi lain semua keluarganya ikut mendukung rencana jahat itu karena mereka tidak suka dengan laki-laki itu. Pada waktu dia datang kepadaku, kakaknya sudah beri thau aku bahwa aku harus mambantu dia utk gugurkan anak itu namun aku tolak denagan alasan aku tidak punya hak sama sekali untuk mencabut nyawa seseorang. Tapi aku masih sempat bawa dia kerumah sakit untuk di cek dan USG, sebelumnya aku sudah kasih tahu Dokter apa rencan temanku itu jadi Dokterpun menolak dan memberi nasihat kalau perbuatan bukan kehendak Allah. WAKTU DI usg, DOKTER bilang anak itu sehat dan tinggal satu setengah bulan sudah dilahirkan, maka aku memeberi saran utk temanku itu agar dia tinggal bersamaku dan aku akan mencari jalan agar orang2 tidak tahu tentang kelahiran anak itu. Aku konsultasi ke salah satu Teman Missionary yang ikut membantu aku mencari jalan agar kami bisa menyelamatkan bayi itu, dan sepertinya titk terang ada bahwa ada seorang suster yang akan membantu kami untuk mengadopsi anak itu ke salah satu keluarga yang tak punya anak. Aku setuju sekali karena
    Dia bisa kembali sekolah setelah bayi itu lahir, namun di tengah kebahagiaanku utk menyelamatkan bayi itu, temanku itu berbohong sama aku kalau orangtuanya sudah menetujui untk melahirkan ank itu jadi dia harus kembali kerumahnya di kampung. sebenarnya aku keberatan sekali dan ragu tapi dia bersikeras dan kakaknya juga ikut menyetujuinya maka dia pulang kembali. Setelah satu bulan aku mendapat informasi bahwa bayi itu sudah di gugurkan, aku shok dan merasa bersalah kalau aku tidak dapat menyelamatkan bayi itu, sampai sekarang pun aku masih merasakn itu meski sudah 3 tahun berlalu.

    pertanyaan saya adalah apakah aku juga ikut berdosa karena aku tidak bisa menyelamatkan bayi itu? Apakah arwah bayi itu akan menyalahkan aku?

    Terima kasih banyak sebelumnya. Mohon Penjelasan. Salam Damai Kristus..!!

    • Shalom Vennysa,
      Jika anda sungguh telah berusaha semampu anda untuk menyelamatkan bayi teman anda itu tetapi akhirnya tidak berhasil, karena teman anda sendiri yang membohongi anda, maka saya pikir anda tidak bersalah. Sebab pada akhirnya, kita tidak dapat memaksakan orang lain untuk menerima maksud baik kita. Teman anda itu juga punya kehendak bebas untuk menentukan keputusan, walaupun sayangnya ia memutuskan hal yang sangat keliru, karena berakhir dengan digugurkannya kandungannya.
      Kalau Vennysa masih sering teringat akan kejadian itu, tidak ada salahnya, anda mempersembahkan ujud misa untuk mendoakan arwah bayi teman anda itu, dan juga mendoakan ibunya (teman anda). Semoga Tuhan yang Maha Pengasih dan Pengampun berkenan berbelas kasih kepada jiwa anak itu dan mengampuni dosa aborsi yang dilakukan oleh teman anda itu.
      Ada baiknya anda berkonsultasi dengan Pastor, mengaku dosa dalam sakramen Tobat, jika masih ada yang mengganjal. Dengarkan saran dari pastor dan sesudahnya, berdamailah dengan diri sendiri, sebab Tuhan yang mengetahui segala isi hati, mengetahui segala maksudmu dan Ia menawarkan pengampunan dan kelegaan bagi kita semua yang datang kepada-Nya (lih. Mat 11: 28).
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  4. saya sangat senang dengan website ini dan sungguh membantu sekali, bagaimana kalo ini disebarluaskan melalui berita – berita paroki agar bisa menyentuh semua lapisan masyarakat karena ini emang sangat dibutuhkan apalagi di masa sekarang ini…saya mau tanya juga pada romo..bagaimana pandangan gereja kepada bayi tabung? terima kasih..God Bless
    [dari katolisitas: telah dijawab di sini - silakan klik]

    • salam mbak Inggrid….
      saya tertarik dengan pencerahan mengenai bayi tabung ini dan saya ingin tahu apakah inseminasi buatan juga termasuk disini, karena saya pernah melakukan inseminasi buatan walaupun pada akhirnya saya mengalami keguguran.
      terima kasih , Berkah Dalem

      • Shalom Agnes,
        Saya sudah pernah menjawab tentang inseminasi yang termasuk dari variasi tehnik fertilisasi di sini, silakan klik.
        Pada dasarnya, inseminasi tidak dibenarkan oleh Gereja Katolik, meskipun antara suami istri sendiri, dan apalagi jika melibatkan donor sperma yang bukan sperma suami, atau rahim pinjaman, yang bukan rahim istri.
        Inseminasi antara suami istri tidak dibenarkan karena terjadi pelanggaran aspek “union” dalam hakekat hubungan suami istri, karena di sini yang aspek persatuan itu tidak dilakukan oleh suami istri itu sendiri tetapi oleh dokter. Silakan membaca lebih lanjut di link yang saya sertakan di atas.
        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply