Perjamuan Kudus di Gereja Protestan

33

Pertanyaan:

Gereja Protestan juga mengartikan bahwa roti dan anggur yang diterima waktu di kebaktian, adalah simbol belaka untuk mengenang Kristus, tanpa ada arti yang lebih lanjut. Jika ada gereja yang beranggapan demikian tidak berarti semua gereja Protestan demikian karena saya pernah mengikuti Perjamuan Kudus di GKI dan GRII di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa ini adalah benar-benar darah dan daging Yesus sesuai yang tertulis dalam Alkitab dan memang demikianlah yang benar.
Salam – Samuel.

Jawaban:

Shalom Samuel,

Untuk lebih jelasnya mengenai Ekaristi menurut ajaran Gereja Katolik, silakan membaca juga tulisan “Sudahkah engkau pahami tentang Ekaristi?” dan Ekaristi sumber dan puncak spiritualitas Kristiani (silakan klik)

Terdapat dua hal mendasar yang membedakan makna Ekaristi dengan Perjamuan Kudus yang diadakan di gereja-gereja Protestan, meskipun ada gereja Protestan yang juga percaya bahwa roti dan anggur tersebut telah diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus, yaitu:

  1. Apostolic Succession (Jalur Apostolik): Gereja Katolik, menerapkan apa yang telah menjadi Tradisi Suci Gereja sejak awal, mensyaratkan adanya sakramen Imamat untuk dapat menjadikan sakramen Ekaristi sebagai sakramen yang sah. Artinya, perkataan konsekrasi atau “kata-kata/ doa Yesus untuk merubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus oleh kekuatan Roh Kudus” harus dilakukan oleh imam yang ditahbiskan oleh Uskup yang mempunyai jalur apostolik, yang kalau ditelusuri maka rahmat tahbisan yang diperoleh dari penumpangan tangan ini adalah berasal dari para rasul, yang menerima mandat dari Yesus sendiri. Dengan demikian, Gereja Katolik tidak dapat mengakui keabsahan Ekaristi dari gereja lain, kecuali dari Gereja Timur Ortodox yang juga mempunyai tahbisan yang sah (mempunyai jalur apostolik), sehingga sakramen yang dilakukan dalam gereja mereka juga sah. Gereja Anglikan, juga gereja Protestan kehilangan jalur apostolik ini, sehingga Gereja Katolik tidak mengakui keabsahan sakramen Ekaristi mereka.
    Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

    KGK 1400    Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, “terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya” (UR 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini. “Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan” (UR 22).

  2. Transubstantiation (Trans-substansiasi) dan Consubstantiation (Konsubstansiasi): Gereja Katolik mengajarkan bahwa roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus setelah konsekrasi (disebut: trans-substansiasi). Ini artinya, bahwa yang termakan atau sisa dari Roti yang sudah dikonsekrasi adalah benar-benar Tubuh Kristus. Ini menyebabkan Gereja Katolik menyimpannya dalam tabernakel, dan juga ada doa Adorasi, yaitu doa di depan Sakramen Maha Kudus. Beberapa gereja Protestan mengakui konsubstansiasi, yang berarti roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus setelah dikonsekrasi dan dimakan/diminum. Jadi bagi gereja Protestan, sisa roti dan anggur yang tidak termakan/terminum bukanlah tubuh dan darah Kristus, namun hanya roti dan anggur biasa.

Adalah suatu kenyataan yang memang layak kita renungkan bersama, mengapa sampai terjadi banyak perbedaan yang cukup esensial dalam hal ajaran di antara gereja-gereja Protestan. Dalam hal ini memang secara obyektif pula kita lihat pentingnya peran kepemimpinan yang memegang kata akhir, yang di dalam Gereja Katolik dipegang oleh Bapa Paus yang merupakan penerus Rasul Petrus. Beliaulah yang menjadi wakil Rasul Petrus, yang berbicara atas nama Gereja. Beliau memiliki tanggung jawab yang sangat besar di hadapan Allah, karena tidak dapat mengubah segala sesuatu yang sudah ditentukan oleh Kristus dan para rasul sejak semula ataupun menyesuaikannya dengan kehendak pribadi atau tuntutan jaman. Oleh kepemimpinan Paus inilah maka Gereja Katolik dapat mempertahankan keutuhan ajaran Yesus sebagaimana yang diturunkan kepada para rasul.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

33 Comments

  1. Shalom,

    Teman saya yang kristen bukan katolik bertanya mengapa orang Katolik dapat ikut perayaan Ekaristi dan menerima Hosti kudus setiap minggu bahkan setiap hari. Memang ikut Perayaan Ekaristis pada setiap hari minggu ada pada salah satu dari lima perintah Gereja. Apakah dasarnya hujan roti yang turun dari sorga (Kel 16:4 ,35)? Bagaimana memberi penjelasan yang lebih mendasar, lengkap dan bisa diterima?
    Terima kasih.

    Salam,
    Febu

    [dari katolisitas: Bagaimana kalau mulai dari artikel ini – silakan klik]

  2. Shalom pak stef dan bu ingrid

    Saya baru mengetahui adanya web ini, terima kasih sangat membantu saya sekali.
    Saya mempunyai teman, saat ini dia sudah bukan di gereja katolik lagi (denominasi) dengan alasan bahwa misa hanya menjadi pembatasan dalam kedekatan dengan Tuhan karena dia bilang katolik itu kaku dan kurang ekspresif. Saya juga bingung mengapa dia bilang misa menjadi batasan? Memang kalo dibandingkan dengan gereja kristen non katolik yang puji2an begitu ramai dan meriah membuat perbandingan bahwa kita (katolik) menjadi kurang ekspresif.
    Bagaimana tanggapan bapak/ibu mengenai pendapat mereka? Apa benar orang katolik kurang ekspresif? Dan sebenarnya apa arti misa yang setiap minggu kita rayakan setiap minggu itu? Siapa yang membuat misa pertama kali?

    Terimakasih. Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita

    • Shalom Marsell,

      Sejujurnya, kalau seseorang sudah memahami makna perayaan Ekaristi/ Misa yang sesungguhnya, maka ia tidak akan mengatakan demikian. Adalah menjadi suatu kecenderungan manusia untuk mencari segala sesuatu yang sifatnya lebih sensasional, meriah, ekspresif, dan lebih dapat menyentuh emosi dan perasaan. Namun Kristus menghendaki kita mengenang-Nya dalam kesederhanaan, bahkan dalam keheningan, agar justru dalam keadaan sedemikian, Ia dapat dengan bebas berbicara dan menyentuh hati umat-Nya. “Diam dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” (Mzm 46:10).

      Dapat terjadi, sejumlah orang dapat terbantu dengan pujian yang meriah, untuk mengangkat hati kepada Tuhan, namun pada akhirnya, perjumpaan dengan Tuhan terjadi dalam keheningan batin. Dalam keheningan perayaan Ekaristi inilah, kita diajak untuk memandang dengan mata hati, Tuhan Yesus yang tersalib, yang rela menderita, wafat dan bangkit, untuk menyelamatkan kita yang berdosa. Kita diundang untuk menerima Kristus seutuhnya, dalam tubuh dan jiwa kita dalam Komuni kudus. Jika hal ini masih dianggap kurang dan membatasi, nampaknya problemnya bukan pada Kristus ataupun Gereja yang merayakannya, tetapi kepada diri pribadi orang tersebut, yang karena satu dan lain hal, belum menangkap makna Ekaristi.

      Karena fokusnya adalah Kristus sendiri, maka memang perayaan Ekaristi bukan ajang untuk mengekspresikan diri, apalagi menjadikannya seperti ajang pertunjungan musik dan tari. Yang kita rayakan dalam Ekaristi adalah Misteri Paska Kristus, yaitu penderitaan, wafat, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga, sehingga sikap batin yang sesuai memang diperlukan, agar seseorang dapat menerima buah-buahnya bagi kehidupan. Yang pertama kali membuat perayaan Ekaristi tentu adalah Kristus sendiri dalam Perjamuan Terakhir, dan inilah yang dilestarikan oleh para Rasul, sebab Kristus berpesan, “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Daku!” (Luk 22:19;1Kor 11:24-25). Perayaan Ekaristi sendiri mengambil bentuk dasarnya dari apa yang dilakukan oleh Yesus saat menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya di perjalanan ke Emaus (lih. Luk 24:13-35): Kristus menerangkan makna Kitab Suci (Liturgi Sabda) dan memecah roti (Liturgi Ekaristi).

      Saya mengundang Anda untuk membaca beberapa artikel di situs ini, semoga dapat membantu Anda sendiri untuk menghayatinya, sebelum Anda dapat membagikan penghayatan ini kepada orang lain, (silakan klik di judul berikut):

      Sudahkah kita pahami pengertian Ekaristi?
      Mengapa Ekaristi?
      Ekaristi adalah Komuni kudus
      Apa artinya menjadi Katolik?
      Sejarah yang mendasari pengajaran tentang Ekaristi
      Perayaan Ekaristi di Jemaat Perdana
      Sekilas Makna Liturgi dan beberapa pelanggaran Liturgi
      Kenapa tidak ada tari-tarian dan sorak sorai dalam liturgi?
      Cara mempersiapkan diri menyambut Ekaristi

      Akhirnya, bukan berarti bahwa umat Katolik tidak dapat berekspresi dalam memuji Tuhan. Jika seseorang tergerak untuk memuji Tuhan dengan cara demikian, silakan bergabung dalam kegiatan persekutuan doa karismatik Katolik. Bahwa perayaan Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani, memiliki ciri khasnya sendiri, tidak berarti bahwa itu untuk membatasi umat. Ketentuan itu ada, justru untuk menyadarkan kita bahwa perayaan Ekaristi, adalah suatu perayaan yang berfokus pada Kristus, sehingga dirayakan sesuai dengan apa yang menjadi kehendak-Nya, sebagaimana dinyatakan-Nya kepada para murid dan Gereja sejak awal mula. Adalah bagian kita untuk berusaha menghayatinya, dan bukan sebaliknya, menghendaki Tuhan Yesus menyesuaikan diri dengan cara yang kita kehendaki.

      Mari dengan kerendahan hati kita memohon kepada Tuhan agar membantu kita memahami dan menghayati perayaan Ekaristi, sebab dengan penghayatan ini kita dapat semakin mensyukuri dan menghidupi karunia iman yang Tuhan berikan kepada kita, demi keselamatan kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Dear Katolisitas,

    Saya mau bertanya soal Perjamuan Kudus (komuni)
    1. Mengapa komuni umat Katolik hanya dapat Roti saja, Anggur khusus utk Imam.?
    2. Saya melihat Perjamuan Kudus di Kristen non-Katolik, caranya berbeda dengan yg Katolik punya. Roti dan anggur dibagikan dulu ke umat, baru diberkati oleh Imam. Bagaimana ajaran Katolik melihat cara ini.? Saya melihat di Injil memang harusnya roti dan anggur diberkati dulu oleh Imam, baru dibagikan, dan hanya Imam yg memberkati roti dan anggur tsb.
    3. Bila ada teman saya dari Kristen non-Katolik yg cukup baik juga orangnya tapi dia percaya bahwa Roti Perjamuan itu adalah benar Tubuh Tuhan, bolehkah dia ikut Perjamuan di Katolik?

    Terima kasih.

    • Shalom Robert,

      1. Silakan membaca artikel: Mengapa Komuni satu rupa maknanya sama dengan makna Komuni dua rupa?

      2. Gereja Katolik melaksanakan Perjamuan Ekaristi berdasarkan apa yang diajarkan oleh Yesus sendiri dan para Rasul. Perjamuan Ekaristi ini telah dilakukan oleh Gereja sejak zaman Gereja perdana. Salah satu Bapa Gereja, yaitu St. Yustinus Martir di awal abad ke-2, telah menuliskan tentang perayaan Ekaristi, yang sampai sekarang dilestarikan oleh Gereja Katolik, silakan klik di sini untuk membacanya. Sedangkan tentang Perayaan Ekaristi di Gereja perdana, klik di sini.

      Gereja Katolik mengimani, sebagaimana diajarkan oleh Yesus, bahwa roti dan anggur yang telah diberkati dengan doa Konsekrasi (yang diambil dari Sabda Tuhan sendiri), akan diubah oleh kuasa Roh Kudus, menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Maka urutannya, sebagaimana dicontohkan oleh Yesus sendiri adalah: Kristus (atau imam tertahbis yang berperan sebagai Kristus), mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada umat (lih. Luk 24:30).

      Namun di sejumlah gereja non-Katolik, roti dan anggur itu hanya dianggap sebagai lambang/ tanda saja, dan bukan sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Yesus, maka kemungkinan itulah sebabnya, mereka membagikannya dulu baru diberkati.

      3. Syarat untuk mengambil bagian dalam Komuni Kudus dalam Gereja Katolik bukan saja mengimani bahwa Ekaristi itu adalah sungguh-sungguh Tubuh dan darah Tuhan. Sebab makna Komuni kudus bukan hanya persekutuan dengan Tubuh Tuhan dalam Ekaristi, tetapi juga persekutuan dengan Gereja Katolik, sebagai Tubuh Mistik Kristus, dan segala ajaran-Nya. Hal ini yang tidak ada dalam diri mereka yang tidak dalam persekutuan yang penuh dengan Gereja Katolik. Selain itu, Komuni kudus juga harus disambut dengan disposisi batin yang baik, artinya tidak sedang dalam keadaan berdosa berat. Jika ada dosa berat, maka yang bersangkutan perlu mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan dosa terlebih dahulu sebelum menerima Komuni kudus.

      Selanjutnya, Katekismus Gereja Katolik juga menekankan perbedaan antara makna Perjamuan Ekaristi dengan Perjamuan di gereja-gereja Kristen non-Katolik, yaitu dalam ketiadaan suksesi apostolik di komunitas mereka (tentang topik ini, klik di sini):

      KGK 1400    Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, “terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya” (UR 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini. “Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan” (UR 22).

      Dengan demikian, mohon dipahami bahwa ketentuan tentang Perjamuan Ekaristi ketentuan peringatan Perjamuan kudus dalam gereja-gereja Kristen non- Katolik. Komuni maknanya adalah persekutuan yang sempurna, maka sebagaimana tidak pada tempatnya kita yang Katolik mengambil bagian dalam Perjamuan yang non-Katolik, maka juga tidak pada tempatnya mereka yang tidak mengimani Katolik untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Ekaristi dalam Gereja Katolik. Mari kita saling menghormati perbedaan ini, sambil terus mendoakan agar suatu saat nanti dapat tercapai persekutuan yang sejati antara semua orang yang percaya kepada Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Shalowm, sy pernah satu kali menyambut komuni dua rupa, yakni saat misa di sekolah dasar. Apakah memungkinkan bagi umat utk menyambut komuni dua rupa, kalau ada, bagaimana/dimana? Mohon pencerahannya, krn hal ini kadang menjadi kerinduan juga.

      Terimakasih.

      [Dari Katolisitas: Silakan menanyakannya kepada pastor paroki Anda, karena ada kebiasaan bahwa romo paroki umumnya memberikan Komuni dua rupa pada perayaan Ekaristi yang dilakukan di dalam kelompok kecil, seperti kalau ada misa lingkungan atau wilayah. Silakan mengikuti perayaan Ekaristi dalam kelompok kecil tersebut, sebab Komuni dua rupa dapat diberikan pada kesempatan tersebut. Tentang cara menyambutnya, silakan membaca di sini, silakan klik]

    • Shalom Eva,

      Sebagai umat Katolik, kita jangan mengikuti perjamuan Kudus dari Gereja lain, karena ktia seolah-olah mengiyakan iman mereka, yang sebagian besar hanya menganggap Perjamuan Kudus sebagai simbol. Tentang hal ini, dokumen Vatikan II tentang Ekumenisme, Unitatais Redintegratio, art.8 menuliskan sebagai berikut:

      … Akan tetapi kebersamaan merayakan Sakramen-Sakramen (Comunicatio in sacris) janganlah dianggap sebagai upaya yang boleh digunakan secara acak-acakan untuk memulihkan kesatuan umat kristen. Kebersamaan dalam perayaan itu terutama tergantung dari dua prinsip, yakni : mengungkapkan kesatuan gereja, dan mengikutsertakan pihak lain dalam upaya-upaya rahmat. Ditinjau dari sudut mengungkapkan kesatuan, kebanyakan kebersamaan itu dilarang. Rahmat yang dapat diperoleh kadang-kadang menganjurkannya. Hendaklah mengenai cara bertindak konkrit, sambil mengindahkan segala situasi masa, tempat dan pribadi-pribadi, keputusan diambil dengan bijaksana oleh kewibawaan Uskup setempat, kecuali bila ditetapkan lain oleh konferensi Uskup menurut Anggaran Dasarnya, atau oleh Takhta suci.

      Semoga keterangan ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. m. herman-wib on

    Shalom para pengasuh Katolisitas.org.

    Ini hanya sekedar pertanyaan yg timbul setelah membaca ulasan anda, (dan tentunya banyak berandai-andainya).

    Karena GK Roma mengakui jalur apostolik Gereja Timur Orthodox (GTO), maka apakah ini berarti kita, umat Katolik Roma, boleh merayakan ekaristi dlm GTO? (Tentu saja dgn catatan di wilayah tsb tdk ada Pastor/paroki Katolik).
    Terima kasih sebelumnya untuk penjelasannya.

    • Shalom Herman,

      Dalam keadaan biasa, maka umat Katolik menerima Sakramen Ekaristi dari pelayan Gereja Katolik di dalam Gereja Katolik. Namun, kalau dalam keadaan mendesak, yang secara fisik dan moril tidak dapat menerimanya dari pelayan Katolik dan tidak menimbulkan bahaya kesesatan, maka mereka dapat menerima sakramen Tobat, Ekaristi, Perminyakan dari pelayan non-Katolik, jika gereja-gereja tersebut dapat secara sah menyelenggarakan sakramen-sakramen tersebut – dan gereja Ortodoks adalah termasuk di dalamnya. Tentang hal ini, diatur di dalam Kitab Hukum Gereja, 844 sebagai berikut:

      844     § 1     Para pelayan katolik menerimakan sakramen- sakramen secara licit hanya kepada orang-orang beriman katolik, yang memang juga hanya menerimanya secara licit dari pelayan katolik, dengan tetap berlaku ketentuan § 2, § 3 dan § 4 kanon ini dan Kanon 861 § 2.
            § 2     Setiap kali keadaan mendesak atau manfaat rohani benar-benar menganjurkan, dan asal tercegah bahaya kesesatan atau indiferentisme, orang beriman kristiani yang secara fisik atau moril tidak mungkin menghadap pelayan katolik, diperbolehkan menerima sakramen tobat, Ekaristi serta pengurapan orang sakit dari pelayan-pelayan tidak katolik, jika dalam Gereja mereka sakramen-sakramen tersebut adalah sah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  5. Lucas Margono on

    Mau bertanya:

    Orang Katolik mengikuti ibadah/ kebaktian non Katolik dan menganggap sama dengan mengikuti perayaan Ekaristi, bagaimana hukumnya?

    • Shalom Lucas,

      Makna kebaktian tidak sama dengan perayaan Ekaristi Kudus. Dalam kebaktian, umumnya yang ada adalah pembacaan Kitab Suci dan penjelasan/ pengajaran dan tidak ada perjamuan kudus. Namun, sekalipun ada perayaan perjamuan kudus dalam kebaktian non- Katolik, tetap artinya tidak sama dengan perayaan Ekaristi dalam Gereja Katolik. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Umat Katolik yang sudah dibaptis seharusnya menaati ketentuan Gereja Katolik [dan bukan menentukan sendiri ketentuan seturut kehendak hatinya]. Perintah pertama dari kelima perintah Gereja, yang berdasarkan atas perintah Tuhan Yesus sendiri, adalah agar umatnya menghadiri perayaan Ekaristi setiap hari Minggu. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

      KGK 2042    Perintah pertama (“Engkau harus mengikuti misa kudus dengan khidmat pada hari Minggu dan hari raya”) menuntut umat beriman supaya mengambil bagian dalam Ekaristi, manakala persekutuan Kristen berkumpul pada hari peringatan kebangkitan Tuhan (Bdk. KHK, kann. 1246-1248; CCEO, kan. 881, 1.2.4).

      Silakan klik di sini untuk membaca lebih lanjut tentang kelima perintah Gereja tersebut.

      Jadi tidak benar bahwa dengan menghadiri kebaktian ataupun persekutuan doa di hari Minggu artinya sama dengan telah memenuhi kewajiban kita memenuhi perintah mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu, sebab makna perayaan Ekaristi berbeda dengan kebaktian maupun persekutuan doa. Melalui Ekaristi, Kristus hadir secara nyata di tengah anggota-anggota Tubuh-Nya (Gereja-Nya), dalam rupa roti dan anggur, dan hal ini tidak diimani oleh mereka yang non-Katolik. Kalaupun diimani, hal suksesi apostolik tidak ada di sana, demikian juga, makna persekutuan dengan Tubuh mistik Kristus (Gereja-Nya) juga tidak sama dengan penghayatan Gereja Katolik, sehingga tidak dapatlah disamakan maknanya.

      Silakan membaca lebih lanjut tentang makna Ekaristi di artikel berikut ini:

      Sudahkah Kita Pahami Pengertian Ekaristi
      Ekaristi Sumber dan Puncak Kehidupan Kristiani

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Shalom,

    Sebenarnya saya suka berpikir kalau sampai kapanpun orang2 yg Kristen Non-Katolik tidak akan pernah mendapatkan Hosti yang benar2 Tubuh dan Darah Kristus sebelum mereka kembali ke Gereja Katolik,

    Tp saya kadang suka berpikir kalau mereka melakukan Perjamuan Kudus dengan paham Transubtansi tetapi tidak mao kembali ke gereja Katolik, apakah Tuhan mao hadir secara khusus ke Hosti mereka? Dan saya berkeras hati tidak mungkin. tetapi saya ingat Tuhan Maha Rahim dan kalau saya berpikir begitu bukankah saya sama saja dengan orang Farisi dan Ahli Taurat yang sombong.

    Bagaimana ya agar saya tidak bingung2 masalah ini? Saya tau mungkin saya bisa memikirkan hal ini karena saya ada sisa2 dengki dengan mereka. Jadi tidak rela mereka dpat Daging Kristus kalau mereka tidak sadar dan kembali ke gereja Katolik. Dan ini yang saya sadari, walaupun sudah saya doakan agar kebencian ini hilang tetapi saya seperti tidak ada kepastian jawaban bagaimana saya harus berpikir dan menyikapi hal ini, Urusan saya kan sebenarnya percaya kepada Tuhan beserta gereja Nya dan mengabarkan Injil dan yakin cm gereja Apostolik yang mendapatkan itu. Dan adalah urusan Tuhan mao hadir atau tidak di perjamuan mereka yg setelah mereka melakukan Transubtansi.

    Harap di beri wejangan

    Terima Kasih

    GBU all

    • Shalom Richard,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Secara prinsip, kita harus melihat bahwa Kristus menginstitusikan Ekaristi pada saat Perjamuan Terakhir bersama dengan para rasul, yang diteruskan oleh para uskup dan dibantu oleh para imam. Gereja Katolik, menerapkan apa yang telah menjadi Tradisi Suci Gereja sejak awal, mensyaratkan adanya sakramen Imamat untuk dapat menjadikan sakramen Ekaristi sebagai sakramen yang sah. Artinya, perkataan konsekrasi atau “kata-kata/ doa Yesus untuk merubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus oleh kekuatan Roh Kudus” harus dilakukan oleh imam yang ditahbiskan oleh Uskup yang mempunyai jalur apostolik, yang kalau ditelusuri maka rahmat tahbisan yang diperoleh dari penumpangan tangan ini adalah berasal dari para rasul, yang menerima mandat dari Yesus sendiri.

      Dengan demikian, Gereja Katolik tidak dapat mengakui keabsahan Ekaristi dari gereja lain, kecuali dari Gereja Timur Ortodox yang juga mempunyai tahbisan yang sah (mempunyai jalur apostolik), sehingga sakramen yang dilakukan dalam gereja mereka juga sah. Gereja Anglikan, juga gereja Protestan kehilangan jalur apostolik ini, sehingga Gereja Katolik tidak mengakui keabsahan sakramen Ekaristi mereka.

      Jadi, apakah mungkin kalau gereja-gereja non-Katolik mengadakan perjamuan suci dan mempercayai transubstantiation, maka Kristus dapat hadir secara nyata (tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan)? Berdasarkan pengajaran di atas, selama gereja tersebut mempunyai jalur apostolik (apostolic succession), seperti gereja ortodoks, maka Kristus akan hadir secara nyata dalam Sakramen Ekaristi. Sedangkan gereja-gereja non-Katolik lain yang tidak mempunyai jalur apostolik, kita dapat mengatakan bahwa Kristus tidak hadir dalam perayaan Ekaristi mereka. Dan, mungkin jemaat yang hadir pada tersebut juga akan sangat sulit memperoleh kepastian akan kehadiran Kristus dalam rupa roti dan anggur. Di dalam Gereja Katolik, kepastian kehadiran Kristus ada, selama forma dan materi dalam Sakramen Ekaristi tersebut adalah sah. Dan inilah inti dari Sakramen, bahwa yang tidak terlihat menjadi terlihat, sehingga kita memperoleh kepastian akan rahmat Allah yang mengalir dalam setiap sakramen.

      Apakah Roh Kudus dapat berkarya di dalam gereja-gereja non Katolik? Tentu saja bisa. Dalam Konsili Vatikan II, Lumen Gentium art. 15 dituliskan sebagai berikut [penekanan dari saya]:

      Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibaptis mengemban nama kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan dibawah Pengganti Petrus. Sebab memang banyaklah yang menghormati Kitab suci sebagai tolak ukur iman dan kehidupan, menunjukkan semangat keagamaan yang sejati, penuh kasih beriman akan Allah Bapa yang mahakuasa dan akan Kristus, Putera Allah dan Penyelamat, ditandai oleh baptis yang menghubungkan mereka dengan Kristus, bahkan mengakui dan menerima sakramen-sakramen lainnya juga di Gereja-Gereja atau jemaat-jemaat gerejani mereka sendiri. Banyak pula di antara mereka yang mempunyai Uskup-uskup, merayakan Ekaristi suci, dan memelihara hormat bakti kepada Santa Perawan Bunda Allah. Selain itu ada persekutuan doa-doa dan kurnia-kurnia rohani lainnya; bahkan ada suatu hubungan sejati dalam Roh Kudus, yang memang dengan daya pengudusan-Nya juga berkarya di antara mereka dengan melimpahkan anugerah-anugerah serta rahmat-rahmat-Nya, dan menguatkan beberapa di kalangan mereka hingga menumpahkan darahnya. Demikianlah Roh membangkitkan pada semua murid Kristus keinginan dan kegiatan, supaya semua saja dengan cara yang ditetapkan oleh Kristus secara damai dipersatukan dalam satu kawanan di bawah satu Gembala. Untuk mencapai tujuan itu Bunda Gereja tiada hentinya berdoa, berharap dan berusaha, serta mendorong para puteranya untuk memurnikan dan membaharui diri, supaya tanda Kristus dengan lebih cemerlang bersinar pada wajah Gereja.

      Jadi, kita dipanggil untuk mengasihi umat Kristen non-Katolik, dan juga semua umat manusia. Oleh karena itu, kalau anda mempunyai kebencian terhadap mereka, maka sudah seharusnya kebencian ini dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perintah Tuhan dan apa yang diserukan oleh Gereja Katolik agar umatnya dapat berjuang dalam kekudusan – yang berarti mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Kita tetap mengabarkan apa yang kita percayai tanpa menaruh kebencian kepada mereka. Kebencian justru bertolak belakang dengan pewartaan yang kita lakukan. Jadi, mari kita mohon rahmat Tuhan, agar kita dapat melakukan pewartaaan dengan sukacita, atas dasar kasih, dan dilakukan dengan bijaksana. Kita harus tetap mewartakan kebenaran, dan biarlah kebenaran yang akan membuka mata semua orang. Kita tidak dapat mengubah hari orang, karena perkara mengubah hati orang adalah pekerjaan Roh Kudus. Kita dapat berdoa, berusaha, namun kita percayakan semuanya kepada Roh Kudus dan membiarkan Roh Kudus untuk berkarya dengan bebas. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Rm.I.Y.Sumarno on

    Semoga Media Katolisitas ini memberi “pencerahan” bagi kembanyakan Umat dan menyegarkan kembali bagi para Imam. Maju terus Rm Stef. Lanjutkan…Gbu

    [dari Stefanus Tay: Terima kasih atas dukungannya Romo Sumarno, Pr. Saya mau klarifikasi, bahwa saya bukan klerus, namun awam. Bersama dengan istri saya, Ingrid, kami berkarya lewat karya kerasulan katolisitas.org. Mohon doanya Romo, agar karya kerasulan ini dapat berguna.]

  8. Aquilino Amaral on

    Salam bu Ingrid,

    dalam web tanya jawab ini, saya ingin bertanya kepada ibu, dimana saya kesulitan menjawab pertanyaan dari Teman Protestan, (bukan kritik) dari satu pekerjaan dia dari Japan. Begini ceritanya, pada hari besok (11/06/2011) ada funeral sala saty ayah Wakil Menteri di Timor Leste. oleh karena ini menyankut hubungan luar negeri, diplomat di kedutaan Japan termasuk Dubes ikut serta merayakan dengan pergi ke Gereja. Karena tidak tempat gerejanya maka saya diminta untuk menemai dia pergi melihat gereja sebelum hari jadi. dan ketika di dalam gereja dia (1) bertanya saya untuk menerima komuni, dan saya bilang mungkin tidak bisa, tapi kalau bapa mau bisa aja terima komuni. jawabnya demikian. dan saya mengajar cara menerima komuni (dua cara, menerima dengan melalui mulut atau dengan melalui tangan, tangan kiri diletakkan diatas telapak tangan kanan.) (2) kletika pulang, dalam perjalanan dia bertanya kenapa kalian tidak menerima anggur, dan siapa yang menerima? dan saya menjawab bilang anggur karena keterbatasannya, hanya seorang imam saja, dan umat tidak perlu. karena anggur yang diminum dalam terbatas, sehingga tidak akan dibagikan kepada para umatnya.

    dan saat itu saya mengalami kesulitan untuk menjawabnya, dan apakah mungkin bagi kaum protestan untuk menerima komuni?

    Salam damai dalam Kristus Yesus!
    Aquilino Amaral

    • Shalom Aquilino Amaral,

      1. Dalam kondisi umum, seorang Protestan tidak dapat menerima Komuni dalam Gereja Katolik, karena pemahaman mereka tentang makna Komuni Kudus berbeda dengan pemahaman Gereja Katolik. Maka sebenarnya rekan anda itu tidak dapat menerima Komuni besok dalam Misa. Silakan anda membaca artikel yang menjelaskan tentang hal ini, silakan klik.

      Silakan membaca pula jawaban saya kepada Wahyudi (jawaban no. 3.1 di bawah artikel tersebut) untuk membaca nomor Kanon dalam Kitab Hukum Kanonik yang mengatur tentang hal ini, silakan klik.

      Karena rekan anda yang Protestan ini tidak dalam kondisi bahaya maut atau dalam kondisi berat/ mendesak lainnya, maka ia tidak dapat menerima sakramen Ekaristi dari Gereja Katolik, apalagi tidak dapat diketahui apakah ia mempunyai disposisi hati yang baik dan mengimani sama seperti yang diimani oleh Gereja Katolik tentang Komuni Kudus.

      2. Tentang mengapa Komuni diterima dalam satu rupa (hosti saja) sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Aquilino, nampaknya anda perlu merevisi dan melengkapi jawaban anda kepada teman anda itu. Mohonlah karunia hikmat dari Roh Kudus, agar anda dapat menjelaskannya kepada teman anda itu dengan baik, dan semoga Tuhan melembutkan hatinya, agar dapat menerima penjelasan anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. Syalom,

    Team Katolisitas….
    Jika ada seseorang yang beragama Kristen non Katolik, menghadiri misa… trus karena dia juga percaya bahwa hosti adalah tubuh dan darah Yesus, dia merasa berhak juga untuk menerimanya. Bagaimana menanggapi permasalahan ini? mohon dijelaskan, terima kasih.

    damai sejahtera selalu,

    Wahyudi n Fam

    • Shalom Wahyudi,

      Silakan anda membaca jawaban di atas, untuk mengetahui perbedaan makna Perjamuan Kudus di gereja Protestan dengan perayaan Ekaristi dalam Gereja Katolik.

      Selanjutnya, Kitab Hukum Kanonik mengajarkan:

      1) Kan. 844 – § 1. Para pelayan katolik menerimakan sakramen-sakramen secara licit hanya kepada orang-orang beriman katolik, yang memang juga hanya menerimanya secara licit dari pelayan katolik, dengan tetap berlaku ketentuan § 2, § 3 dan § 4 kanon ini dan kan. 861, § 2.

      § 3. Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota-anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
      § 4. Jika ada bahaya mati atau menurut penilaian Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup ada keperluan berat lain yang mendesak, pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tersebut juga kepada orang-orang kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, dan tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri serta secara sukarela memintanya, asalkan mengenai sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman katolik dan berdisposisi baik.
      § 5. Untuk kasus-kasus yang disebut dalam § 2, § 3 dan § 4, Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup jangan mengeluarkan norma-norma umum, kecuali setelah mengadakan konsultasi dengan otoritas yang berwenang, sekurang-kurangnya otoritas setempat dari Gereja atau jemaat tidak katolik yang bersangkutan.

      2) Dari kanon tersebut di atas, maka tidak benar bahwa orang-orang Kristen non-Katolik dapat menerima komuni. Hal ini dikarenakan orang-orang Kristen yang lain tidak dalam bahaya mati atau ada keperluan berat lain yang mendesak, walaupun mereka mempunyai disposisi hati yang baik (lih. Kan 844 § 4. di atas). Jadi Misa di dalam kelompok doa Ekumene, harus diumumkan bahwa hanya umat yang telah dibaptis dan beragama Katolik saja yang dapat menerima Ekaristi. Kalau mau, Romo dapat mendoakan umat Kristen yang lain setelah komuni atau setelah Misa.

      3) Persyaratan untuk menerima komuni bukan hanya disposisi hati yang percaya/ mengimani bahwa hosti tersebut (setelah konsekrasi) adalah Tubuh Kristus. Sebab komuni di sini bukan hanya berarti Komuni/ persatuan dengan Tubuh Kristus dalam hosti kudus, namun juga komuni/ persatuan dengan Tubuh Mistik Kristus yaitu Gereja Katolik, di bawah pimpinan Bapa Paus. Hal yang kedua inilah yang mungkin tidak diimani oleh banyak orang Kristen Protestan, karena mereka tidak mengakui kepemimpinan Bapa Paus. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menerima Komuni dalam Perayaan Misa, karena mereka pengertian mereka tentang Komuni tidak sama dengan pengertian Gereja Katolik. Demikian semoga menjadi lebih jelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Syalom sdri Inggrid,
        Terima kasih penjelasannya ya…
        Penjelasan tersebut adalah menurut paham kita, gereja Katolik… akan tetapi menurut pemahaman dia bahwa dia pun merasa berhak… so, ini yang membuat kita merasakan dilema.. tidak dilarang kita tahu, melarangpun dengan cara apa???!!! Jadi saya hanya bisa memasrahkan ke Atas.. menurut saya, jika Hosti tersebut diterima dengan maksud yang salah maka dengan sendirinya akan menjadi hambar..
        Dan bila memang Hosti tersebut memberikan berkat baginya (saya berharap juga demikian), tentunya dia nantinya akan mendapatkan pemahaman yang benar dari Roh Kudus..
        Apakah hal ini bisa dibenarkan???

        Demikian yang menjadi ganjalan saya, terima kasih.

        Damai Sejahtera Selalu,

        Wahyudi n Fam

        • Shalom Wahyudi,
          Sama seperti jika kita hadir dalam perjamuan Kudus dalam gereja Protestan maka kita juga tidak selayaknya mengambil bagian di dalamnya, demikian juga jika mereka datang ke Misa dalam Gereja Katolik. Ini adalah wajar, karena pengertian/ penghayatan tentang Perjamuan Kudus yang berbeda antara pemahaman gereja Protestan dan Gereja Katolik. Seperti layaknya kita bertamu, ada aturan tuan rumah sendiri- sendiri, dan tamu tidak dapat mengatakan berhak mengubah ketentuan tuan rumah. Maka kita bertugas dan berhak memberitahu mereka, namun kalau mereka berkeras, ya itu sudah bukan tanggung jawab kita lagi. Yang penting kita sudah memberitahu, dan jika perlu, mengingatkan imam yang memimpin Misa sebelum Misa dimulai, agar jangan memperbolehkan semua yang hadir untuk mengambil bagian dalam Komuni, karena memang ketentuan Gereja Katolik tidak memperbolehkan umat non- Katolik untuk mengambil bagian dalam Komuni Kudus. [Kekecualian hanya diberikan kepada mereka yang dalam sakrat maut, dan itupun jika tidak ada kemungkinan baginya untuk menghubungi pemimpin gerejanya, dan jika ia mempunyai disposisi hati yang baik dan sesuai dengan pemahaman Gereja Katolik].

          Saya tidak berhak mengatakan yang lain selain daripada yang telah ditentukan oleh Gereja Katolik, sehingga hanya inilah yang dapat saya sampaikan. Saya mengundang anda juga untuk mematuhinya, dan tidak mengartikannya sesuai pemahaman pribadi. Perihal bagaimana pengaruhnya dalam jiwa seseorang jika ia tidak mematuhinya, itu bukan dalam kuasa kita lagi, namun kita mengetahui apa yang seharusnya dilakukan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Menurut saya, kaum protestan dilarang terima komuni, juga jika merasa berhak, karena bahkan orang Katolik juga ada yang tak boleh komuni kok , yaitu yang berdosa berat. Seorang imam di Semarang mengatakan: dalam tindakan menerima komuni itu, orang Katolik mengakui Kristus yg mendirikan Gereja yaitu Tubuh Kristus yg kelihatan di dunia, Hirarki (Paus-Uskup), menghormati Bunda Maria, Para Kudus, dan Tradisi Para Rasul. Nah, apakah orang protestan tahu soal ini, jadi harusnya tidak cukup dengan mengatakan merasa berhak atau percaya bahwa itu Tubuh Kristus lalu sambut. Itu melecehkan dan tak pantas. Lagipula protestan sudah memisahkan diri dari Gereja Kristus yang satu ,kudus, katolik, apostolik sejak abad 16. Salam dari Semarang: Isa Inigo.

            [dari katolisitas: silakan melihat artikel ini – klik ini.]

  10. Yth Katolisitas,

    Membaca kasus seperti ini jadi ingat kejadian beberapa tahun lampau. Saat itu saya masih kuliah di sebuah Kolese. Sudah menjadi tradisi untuk mahasiswa tingkat akhir ada acara retret. Perlu diketahui, mahasiswa di sini beragam (Katolik, Protestan, Moslem, dll). Materi retret memang sangat umum bukan membahas secara khusus tentang Kekristenan. Untuk peserta sendiri juga dipisah. Katolik & Protestan disatukan, sedang non Kristen dipisah. Nah, pada penutupan acara retret ada Misa Kudus. Yang ikut adalah peserta Katolik & Protestan. Yang mengejutkan saya (saya tahunya saat ini setelah membaca artikel di atas. Sebelumnya tidak berpikiran macam2), saat penerimaan komuni pastor mengatakan kurang lebih sbb:
    ” Yang boleh menerima komuni adalah yg Katolik dan sudah babtis. Untuk yang Protestan diperbolehkan menerima tetapi dengan syarat mengakui bahwa hosti yg diterimanya benar-benar tubuh Kristus sendiri & bukan sekedar simbol.” Yah, akhirnya ada beberapa teman saya yang Protestan ikut juga menerima komuni kudus.
    Bagaimana pandangan Katolisitas? Apakah hal ini diperbolehkan karena pastor sendiri yang mengatakannya?

    Terima kasih.


    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban ini – silakan klik]

  11. [Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan ini kami pindahkan dari artikel yang lain, karena topiknya lebih sesuai dengan tanya jawab di atas]

    Salam Katolisitas,

    Dari topil-topik yang sudah ada dalam forum ini, saya tau bahwa Perjamuan Kudus dalam Gereja Protestan tidak diakui keabsahannya oleh Gereja Katolik.
    Namun yang ingin saya tanyakan, apakah seorang Katolik bersalah bila ikut serta dalam Perjamuan Kudus Protestan tersebut? (maksudnya ikut memakan hosti dan meminum anggurnya).

    Pacar saya beragama Protestan dan kadang-kadang saya menemani dia kebaktian di Gereja Protestan. Dia pun menemani saya mengikuti misa di Gereja Katolik. Masalahnya adalah saya tidak tau bagaimana seharusnya saya bersikap pada saat menghadiri Perjamuan Kudus Protestan. Selama ini saya selalu menolak untuk mengambil hosti dan anggur yang dibagikan karena saya tidak tau apa konsekuensi yang akan saya tanggung dan saya juga tidak tau bagaimana pandangan Gereja Katolik terhadap Perjamuan Kudus Protestan tsb.

    Kalau dalam Katolik, aturannya jelas, orang yang belum dibaptis secara Katolik dan belum menerima Komuni Pertama dilarang untuk menerima Komuni. Namun dalam Protestan aturannya hanya telah berusia 12 tahun ke atas dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat.
    Apakah secara hukum Gereja Katoik saya boleh menerima Perjamuan Kudus itu?

    Terima kasih sebelumnya atas jawaban dan penjelasan yang diberikan.
    —–
    Saya senang sekali bisa menemukan situs ini karena isinya yang begitu bermanfaat. Banyak informasi dan pengetahuan yang saya dapatkan dari situs ini, dan membuat saya menyadari betapa minimnya pengetahuan saya akan agama saya sendiri. Terima kasih atas kehadiran situs ini dan dedikasi para pengurusnya.

    Salam,
    Paulina

    • Shalom Paulina,

      Jika anda belum membaca artikel di atas, saya mengajak anda untuk membacanya terlebih dahulu, silakan klik.

      Memang harus diakui bahwa terdapat perbedaan pemahaman makna antara Perjamuan Kudus di gereja Protestan dan Perjamuan Ekaristi di Gereja Katolik. Dan karena kita hidup berdasarkan iman Katolik, maka sudah selayaknya kita menilai segala sesuatu berdasarkan iman kita. Gereja Katolik mengajarkan bahwa hanya melalui Perjamuan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Gereja Katolik, dan yang dipersembahkan oleh imam Katolik-lah kita menerima Tubuh dan Darah Kristus. Makna Ekaristi bagi umat Katolik adalah persatuan kita dengan Tuhan Yesus, dengan kita menyambut Tubuh-Nya. Nah, Tubuh Kristus ini tidak hanya Tubuh-Nya yang dalam rupa hosti, tetapi juga Tubuh Mistik-Nya yaitu Gereja Katolik dan seluruh ajaran-ajaran-Nya.

      Umat Protestan dapat saja percaya bahwa dalam Perjamuan Kudus mereka menerima Tubuh dan Darah Kristus, tetapi pemahaman mereka tetap berbeda dengan kita umat Katolik. Perbuatan mereka mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus adalah sesuai dengan pemahaman mereka akan maknanya (yang tidak melibatkan adanya Tahbisan suci yang mengaitkan umat dengan para rasul). Pemahaman kita umat Katolik berbeda dengan pemahaman mereka. Oleh karena itu, kita sebagai umat Katolik memang tidak selayaknya mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus dalam gereja Protestan, karena hal ini tidak sesuai dengan iman Katolik.

      Katekismus Gereja Katolik mengatakan:

      KGK 1400 Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, “terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya” (Unitatis Redintegratio 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini. “Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan” (Unitatis Redintegratio 22).

      Paulina, kita umat Katolik memang dipanggil untuk hidup dalam kasih, namun kasih ini tidak boleh sampai mengaburkan kebenaran. Di dalam Gereja Katolik, kita telah mengalami dan menerima kepenuhan kebenaran, seperti yang diajarkan oleh Yesus dan para rasul dan diteruskan oleh para penerus mereka, (terutama dalam hal Perjamuan Kudus/ Ekaristi ini). Tidak selayaknya kita setuju untuk ‘mengurangi ataupun menawar’ kebenaran ini sesuai dengan pemahaman pribadi kita sendiri. Bagi jemaat Protestan yang tidak mengetahui ajaran mengenai Ekaristi, tentu mereka tidak bersalah pada saat mereka mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus; namun bagi kita umat Katolik yang sudah mengetahui ajaran yang sebenarnya dari Tuhan Yesus sendiri tentang Ekaristi, maka kita tidak dapat ‘menyesuaikannya’ dengan kehendak kita sendiri, atau menyesuaikan dengan pandangan gereja lain. Karena jika demikian, artinya kita tidak hidup sesuai dengan iman kita.

      Dengan mempunyai kekasih yang berbeda gereja, anda memiliki kesempatan untuk memperkenalkan iman Katolik kepadanya. Inilah kesempatan bagi anda untuk semakin memperdalam iman Katolik anda, supaya anda dapat membagikannya kepada pasangan anda. Semoga, dengan penjelasan anda yang baik dan yang disampaikan dengan kasih, maka pasangan anda dapat memahami kepenuhan kebenaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Terima kasih banyak, Bu Ingrid, atas penjelasannya. Sekarang saya jadi tahu sikap yang harus saya ambil karena selama ini saya memang ragu apakah saya boleh ikut terlibat dalam Perjamuan Kudus itu.
        Berkat penjelasan Ibu, saya bersyukur bahwa selama ini saya menolak untuk mengambil hosti dan anggur dalam Perjamuan Kudus itu.

        Salam,
        Paulina

        • soegiharto BP on

          Shalom Paulina…
          Izinkankah saya berkomentar sedikit disini, sebab saya juga menjumpai hal yang sama dengan Paulina..
          Kepada Katolisitas, saya serahkan sepenuhnya hak tayangnya apabila isinya dianggap menyimpang dari ajaran Gereja Katolik.

          Saya juga bergaul akrab dgn seorang Protestan, saat2 menemaninya ke gereja tak jarang mereka minta saya untuk meneriman Perjamuan Kudus di gereja mereka, pada awalnya, hati yang ingin bersekutu dgn Tuhan namun bagaimanapun di hati yang paling dalam menolak persekutuan tsb, dan sekalipun saya tidak pernah menerima Perjamuan Kudus di gereja Protestan (sebab terjadi sebuah penolakan yang tidak bisa saya utarakan dgn kata2 disini). Saat dari masa kemasa yang menimbulkan pergumulan itu..saya belum menemukan situs Katolisitas tsb, sehingga pergumulan berlangsung cukup lama.. dan Puji Tuhan, suatu hari saya ketemukan situs ini, semua yang tadinya menjadi pertanyaan semuanya terjawab, hal2 yang tidak jelas menjadi terang, sungguh luar biasa dan sungguh mulia pekerjaan team katolisitas ini…

          Tentang perjamuan kudus di gereja Protestan, setiap dari mereka menerima roti dan anggur secara symbolic, hanya dengan iman ‘percaya’ persekutuan dgn Tuhan terjadi (hal ini pengakuan dari umat Protestan sendiri)…Ini sangat berbeda sekali dengan Perjamuan Kudus yang kita terima di Gereja Katolik, dimana Kristus sungguh2 hadir di dalam Misa Ekaristi..kita diundang langsung oleh Kristus sendiri.. kemudian kita di Kuduskan oleh persekutuan dgn Kristus..jadi maknanya sangat..sangat bebeda sekali.

          Saya sangat bersyukur bawa kekasih anda bersedia juga mengunjungi Misa di Gereja Katolik, sehingga akan terbuka kesempatan untuk memperkenalkan yang di ajarkan Gereja Katolik (seperti Sakramen2, Liturgi Sabda, Allah Tritunggal, Pengampunan Dosa, Arti Pertobatan), semoga semuanya dilakukan dalam kapasitas saling menghormati di dalam kasih Kristus, Sehingga dengan penjelasan anda yang baik, memberikan pemahaman yang tepat, maka pasangan anda dapat memahami kepenuhan kebenaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik.

          Salam sejahtera
          Soegiharto

          • Syaloom semua,

            Apa yang dialami oleh Paulina dan Soegiharto sangat mirip dengan saya, saya menemani pacar saya ke gereja dia yang non-Katolik. Saya bingung dalam menyikapi komuni di gereja dia walaupun mereka hormat dengan Hostinya mereka dan ada pemahaman berbeda, walaupun saya dibaptis di gereja Protestan. Saya tidak mau menerima Komuni dari gereja lain kecuali dari Gereja Katolik.

            Entahlah, saya merasa itu bukan Tubuh dan Darah Kristus, dan ga mau saya ambil biar ditawarin. Lalu muncullah pergumulan di diri saya, saya merasa sombong dan mengeksklusifkan agama Katolik. Saya pernah dijelaskan di situs ini kalau hanya melalui jalur apostolik baru bisa terjadi konsekrasi.

            Saya bertanya pada diri sendiri, kalau pihak gereja akhirnya sadar tentang transubstansiasi dan menerapkan di gereja mereka tanpa kembali ke pangkuan gereja Katolik, apakah Tuhan hadir ke gereja mereka? Saya jadi merasa apakah ini hak yang ngga dikasih Tuhan ke gereja non-apostolik?

            Padahal kita adalah sama-sama anak-anak Allah, satu Baptisan yaitu dalam Nama Bapa,Putra, dan Roh Kudus. Masa ada hak spesial hanya untuk jemaat gereja apostolik. Yang mau saya tanyakan adalah

            Saya sampai pada kesimpulan, Tuhan Maha Pemurah, di perumpamaan anak hilang (Luk 15:11-22) dan pekerja di kebun anggur (Mat 20:1-16). Betapa belas kasih dan kemurahan Tuhan kepada kita, jadi mungkin saja kalau gereja2 non-apostolik menghayati dan percaya perjamuan kudus mereka seperti umat Katolik Tuhan bisa hadir di Hosti mereka dan sisanya adalah mereka mau kembali ngga ke gereja Katolik yang konsisten mengajarkan Perjamuan Kudus yang benar dan mereka sadar ngga arti kata komuni adalah persatuan..kalau mereka masih ngga mau, Tuhan adalah murah hati dan penyayang itu tetap mau hadir di Komuni mereka. Walaupun ini bertentangan dengan logika saya (logika saya kalau tidak harus melalui jalur apostolik, saya juga bisa donk roti di rumah saya doakan jadi Tubuh Kristus, lalu kalau Tuhan hadir di hosti mereka seakan2 Tuhan merestui perpecahan gereja), tetapi kasih Tuhan melampaui akal manusia. Jadi teori hanya melalui jalur apostolik, saya rasa apakah itu sombong dan eksklusif? Saya merasa diri saya seperti itu, jadi mohon doa dan petunjuknya. Karena saya sadar harus sebagai orang yang sudah ada di Gereja yang didirikan Kristus harusnya tuh rendah hati bukan merasa eksklusif. Tapi pergumulan di atas ini saya ngga bisa ngga pikirin. Dan saya juga ngga mau merasa benar. Saya mau serahkan ke Tuhan saja, semoga Tuhan memakai pihak Katolisitas menjelaskan kepada saya.

            Terima Kasih

            • Shalom Leonard,

              Terima kasih atas sharingnya. Sebenarnya kalau kita meneliti pernyataan anda bahwa kalau pihak Kristen non-Katolik suatu saat sadar bahwa ternyata Kristus benar-benar hadir dalam Sakramen Ekaristi, maka sebagai akibatnya, mereka juga mempertanyakan kalau dalam doktrin yang begitu penting ini mereka dapat salah, maka apakah mungkin mereka juga salah dalam doktrin yang lain, termasuk tentang ekklesiologi dan otoritas? Tidak ada hak spesial tentang Gereja apostolik, yang ada hanyalah tanggung jawab untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Kristus sendiri, termasuk untuk merayakan misteri Paskah Kristus dalam Sakramen Ekaristi yang dilakukan oleh para imam tertahbis. Silakan anda melihat fakta sejarah, bahwa memang dalam sejarah kekristenan, kita melihat adanya uskup dan imam tertahbis dan tentu saja Paus sebagai pimpinan tertinggi, yang salah satu fungsinya adalah mempersembahkan Korban Ekaristi. Bahkan dalam PL, kita juga dapat melihat sistem korban yang dipersembahkan oleh para imam.

              Tentang mempercayai baptisan yang satu, maka sebenarnya Gereja Katolik justru melaksanakannya dengan baik, yang dibuktikan dengan tidak membaptis ulang umat kristen non-Katolik yang telah dibaptis dengan materi (air) dan forma (Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus), serta mempunyai intensi sesuai dengan intensi Gereja. Namun, kalau umat Katolik berpindah ke gereja Kristen non-Katolik, kemungkinan besar umat Katolik tersebut akan dibaptis ulang.

              Kembali ke Sakramen Ekaristi, memang Kristus menginstitusikan Sakramen Ekaristi kepada para rasul yang diteruskan olah penerusnya, yaitu para uskup yang dibantu oleh para imam. Jalur apostolik ini tidak terputus dari para rasul sampai kepada para uskup dan para imam saat ini dan sampai berakhirnya dunia. Memang kita tidak dapat membatasi kuasa Kristus untuk dapat hadir di mana saja. Namun, faktanya Kristus telah memilih Sakramen Ekaristi dan jalur apostolik untuk menghadirkan misteri Paskah Kristus secara khusus dalam Sakramen Ekaristi, yang juga dapat dilihat dari sejarah Gereja dari awal. Kalau Kristus telah memilih cara ini, maka siapakah kita yang kemudian hendak mengubahnya? Dan kalau jalur apostolik ini ada di dalam Gereja Katolik (dan juga gereja Ortodoks), maka ini bukanlah satu kesombongan, namun satu tanggung jawab untuk terus meneruskan tradisi apostolik ini, sehingga kita mempunyai kepastian iman akan kehadiran Kristus dalam setiap perayaan Ekaristi. Tanpa kepastian iman ini, maka sungguh sangat sulit untuk mempercayai kehadiran Kristus dalam setiap perayaan Ekaristi. Semoga dapat memperjelas.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

              • Syaloom,

                Bukan hak tetapi tanggung jawab? Iya apa yang anda katakan adalah benar, sudah diberi maka harus bertanggung jawab.

                Mungkin saya saja yang sombong dan mengeksklusifkan Katolik, sehingga pikiran saya mengarah ke arah yang negatif..

                Terima kasih

                Tuhan berkati

      • Yth Katolisitas,

        Saya ingin tanya ini ada teman saya Protestan ingin sekali menerima komuni, dia mengakui bahwa yang dia sambut adalah benar-benar Tubuh Kristus,bukan sebagai simbol. Sementara ada teman saya Katolik mengatakan untuk yang Protestan, diizinkan menerima communion asalkan secara explicite menyatakan mempercayai bahwa yg diterimanya adalah sungguh Tubuh & Darah Kristus & bukan hanya symbol, but in this case, dari pihak Gereja Katolik gak boleh mengasumsikan org tsb. percaya, but harus diminta oleh pihak Protestants. Nah saya bingung mau jawab boleh atau tidak, mohon penjelasannya. terima kasih.

        • Shalom Chris,

          Terima kasih atas pertanyaannya tentang apakah umat Protestan boleh menerima komuni di Gereja Katolik. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

          1) Kan. 844 – § 1. Para pelayan katolik menerimakan sakramen-sakramen secara licit hanya kepada orang-orang beriman katolik, yang memang juga hanya menerimanya secara licit dari pelayan katolik, dengan tetap berlaku ketentuan § 2, § 3 dan § 4 kanon ini dan kan. 861, § 2.
          § 3. Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota-anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
          § 4. Jika ada bahaya mati atau menurut penilaian Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup ada keperluan berat lain yang mendesak, pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tersebut juga kepada orang-orang kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, dan tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri serta secara sukarela memintanya, asalkan mengenai sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman katolik dan berdisposisi baik.
          § 5. Untuk kasus-kasus yang disebut dalam § 2, § 3 dan § 4, Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup jangan mengeluarkan norma-norma umum, kecuali setelah mengadakan konsultasi dengan otoritas yang berwenang, sekurang-kurangnya otoritas setempat dari Gereja atau jemaat tidak katolik yang bersangkutan.

          2) Dari kanon tersebut di atas, maka tidak benar bahwa orang-orang Kristen non-Katolik dapat menerima komuni dalam keadaan normal. Hal ini dikarenakan orang-orang Kristen yang lain tidak dalam bahaya mati atau ada keperluan berat lain yang mendesak, walaupun mereka mempunyai disposisi hati yang baik (lih. Kan 844 § 4. di atas). Jadi Misa di dalam kelompok doa Ekumene, harus diumumkan bahwa hanya umat yang telah dibaptis dan beragama Katolik saja yang dapat menerima Ekaristi. Kalau mau, Romo dapat mendoakan umat Kristen yang lain setelah komuni atau setelah Misa.

          3) Persyaratan untuk menerima komuni bukan hanya disposisi hati yang percaya/ mengimani bahwa hosti tersebut (setelah konsekrasi) adalah Tubuh Kristus. Sebab komuni di sini bukan hanya berarti Komuni/ persatuan dengan Tubuh Kristus dalam hosti kudus, namun juga komuni/ persatuan dengan Tubuh Mistik Kristus yaitu Gereja Katolik, di bawah pimpinan Bapa Paus. Hal yang kedua inilah yang mungkin tidak diimani oleh banyak orang Kristen Protestan, karena mereka tidak mengakui kepemimpinan Bapa Paus. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menerima Komuni dalam Perayaan Misa, karena mereka pengertian mereka tentang Komuni tidak sama dengan pengertian Gereja Katolik.

          Semoga jawaban di atas dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – http://www.katolisitas.org