Paus Benediktus XVI dan Sola Fide

24

Pertanyaan:

tolong bantu saya mengklarifikasi atau mengerti maksud pesan ini, pesan yang tertulis berikut merupakan kiriman saudara seiman beda gereja

(FWD MESSAGE)
After Nearly 500 Years Pope Admits Luther was Right: Salvation is by Faith Alone

by Jeff Fountain (Protestant leader within the International Prayer Movement ), Christian Today Australia/Internati onal Prayer Council

ROME ITALY – Luther would have been amazed at the efforts of the Vatican today to put the Bible back into the heart of the Roman Catholic Church. In October last, bishops from around the world were called to Rome for a three-week synod to discuss how to promote prayerful reading, understanding and proclamation of God’s Word. Pope Benedict XVI himself kicked off the synod with a round-the-clock Bible reading marathon lasting a whole week, by reading the opening verses of Genesis. Twelve hundred readers took part, including Orthodox and Evangelical leaders.

Last week, briefly passing through Rome, my wife and I stood in an empty Saint Peter’s Square, where the chairs were still laid out for the 20,000 who had attended the pope’s weekly public audience on the Wednesday before. On our return to Holland, we read in the newspaper what the faithful had been told that day. The headline read: Pope quotes Luther: Sola Fide. Luther, the pope had told his audience, had been right to insist in sola fide, that a believer was justified by faith alone!

Disagreement over this doctrine had been at the heart of the Reformation in the 16th century, splitting Christianity in western Europe. Yet, said the pope, it was indeed biblical to say, as did Luther, that it was the faith of a Christian, not his works, that saved him. Such faith however could not be separated from love for God and for neighbour, he qualified. Paul wrote about this balance in his letters, especially the letter to the Philippians, he added.

The pope defined faith as ‘identification with Christ expressed in love for God and neighbour’. Such love fulfilled the law. Being justified meant simply being with Christ and in Christ. Christ alone was sufficient. Living by faith had radical consequences for the Apostle Paul after his conversion on the road to Damascus, explained the pope. Prior to that, his life had been regulated by all sorts of Jewish rules and commandments. Paul’s new lifestyle, based on faith in Christ alone, surfaced in his various letters, especially his letter to the Romans.

Luther had correctly translated Paul’s words as ‘justified by faith alone’, the well-known sola fide, Benedict affirmed, as reported in the newspaper. Some have blamed the widespread lack of biblical knowledge among Italians, on the Catholic Church due to its monopoly on the teaching of the Bible. The Italian newspaper, La Stampa, responded to a recent survey showing that only 14% of Italians questioned were able to answer questions about the Bible correctly, with the headline: ‘In the beginning was the Word – but the Italians don’t read it’.

Only one in four Italians had read a passage from the Bible in the past year, the survey revealed, compared to three out of four in the USA. Few even knew whether or not the Gospels were part of the Bible. Philosophy graduates confused Paul with Moses and thought that Jesus wrote Genesis, according to the survey. This despite the encouragement of the Second Vatican Council (1962-65) for the faithful to rediscover Scripture as the primary source of spiritual life.

So now Benedict is personally leading the way to encourage Catholics to engage with Scripture. The theme of the synod was The Word of God in the Life and Mission of the Church. The pope told the gathered bishops that true reality was to be found in the Word of God. Many had put their trust in money as the true reality, observed the pope, but this was evaporating in the current global financial crisis.

The Bible Society of the UK has been assisting the Vatican to promote the reading of Scripture through the Lectio Divina Project. This new resource for Catholics provides notes and prayers to go with weekly lectionary readings of the Sunday Mass. I flew to Switzerland last week for an interconfessional gathering of Together for Europe. Talk of the synod there prompted someone to quote Cardinal Kaspers’ recent statement: ‘The Word divided us; the Word must unite us’.

We began to dream about how Christians in Europe could celebrate the 500th anniversary of the Reformation in 2017 – less than nine years away – as a prophetic statement by Catholics and Protestants together that the Word that once divided us is now uniting us again. That would be a giant step toward the fulfilment of Luther’s original dream of a Bible-centered Church!

(THE END OF THE MESSAGE)

Pesan ini benar atau tidak? Jika benar, bukankah agak kontradiktif dengan yang selama ini diajarkan Gereja Katholik?
Jika tidak maupun si penulis pesan salah menangkap maksud Paus, harap memberi tahu semua saudara Katholik agar jangan mudah percaya atau tidak salah mengerti. Terima kasih. Tuhan memberkati. Agatha

Jawaban:

Shalom Agatha,

Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI dalam khotbah umum tgl 19 Nov 2008, tentang “Be Just Means Simply to Be With Christ and in Christ” itu bukan hal baru yang bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik selama ini. (Khotbah itu selengkapnya ada di link ini, silakan klik). Memang di khotbah itu disinggung pengertian ‘Sola Fide’ (Faith alone) yang lebih sering kita dengar sebagai prinsip pengajaran gereja Protestan, namun kali ini Bapa Paus menjelaskan istilah tersebut dalam pandangan Gereja Katolik:

  1. Sola Fide itu benar, jika ‘faith’/ iman yang dimaksud di sini tidak dipisahkan dengan hukum kasih (charity/ holiness), yaitu kasih kepada Tuhan dan sesama. Paus mengatakan demikian,”That is why Luther’s expression “sola fide” is true if faith is not opposed to charity, to love. Faith is to look at Christ, to entrust oneself to Christ, to be united to Christ, to be conformed to Christ, to his life. And the form, the life of Christ, is love; hence, to believe is to be conformed to Christ and to enter into his love. That is why, in the Letter to the Galatians, St. Paul develops above all his doctrine on justification; he speaks of faith that operates through charity (cf. Galatians 5:14).
  2. Maka dalam hal ini benar jika dikatakan bahwa oleh iman saja kita diselamatkan, asal kita juga percaya bahwa iman itu tidak terlepas dari perbuatan kasih seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi, dan Galatia. Hal inilah yang diajarkan oleh Bapa Paus. Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman dan perbuatan kasih adalah satu kesatuan, karena kasih berasal dari iman kita kepada Kristus. Bapa Paus mengatakan:”Paul knows that in the double love of God and neighbor the whole law is fulfilled. Thus the whole law is observed in communion with Christ, in faith that creates charity. We are just when we enter into communion with Christ, who is love. “
  3. Dengan menekankan bahwa iman tidak dapat dipisahkan dari perbuatan, Bapa Paus merujuk pada Bacaan Injil pada hari raya Kristus Raja yang menceritakan Pengadilan Terakhir, dalam Mat 25, yang mendasari pengajaran Gereja Katolik bahwa perbuatan kasihlah yang terpenting yang menghantar kita pada keselamatan, “….sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. ” (Mat 25:40). Bapa Paus berkata,”We are just when we enter into communion with Christ, who is love. We will see the same in next Sunday’s Gospel for the solemnity of Christ the King. It is the Gospel of the judge whose sole criterion is love. What I ask is only this: Did you visit me when I was sick? When I was in prison? Did you feed me when I was hungry, clothe me when I was naked? So justice is decided in charity. Thus, at the end of this Gospel, we can say: love alone, charity alone. However, there is no contradiction between this Gospel and St. Paul. It is the same vision, the one according to which communion with Christ, faith in Christ, creates charity. And charity is the realization of communion with Christ. Thus, being united to him we are just, and in no other way.”Maka di sini kita ketahui bahwa kita dimampukan berbuat kasih seperti yang tertulis dalam Mat 25, jika kita beriman di dalam Kristus, ada dalam persekutuan dengan Kristus. Perbuatan kasih merupakan akibat nyata persatuan kita dengan Kristus. Dalam artian inilah kita dapat berkata, bahwa kita dibenarkan oleh iman saja, atau tepatnya, ‘hanya oleh iman yang hidup’ kita diselamatkan, yaitu iman yang disertai dengan kasih. Jadi ini tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik selama ini yang mengatakan bahwa tanpa perbuatan kasih, iman adalah mati (Yak 2:17). Dan bahwa manusia dibenarkan oleh perbuatan kasih, bukan hanya karena iman (Yak 2:24).

Nah, memang dalam khotbahnya Bapa Paus tidak membahas apa yang menjadi perbedaan pengertian Gereja Katolik dengan pengertian “Sola Fide” menurut Luther.  Bapa Paus hanya menekankan kesatuan antara iman dan kasih, dan bahwa keduanya tak terpisahkan dan tak dapat dipertentangkan, dan keduanya mengantar kita pada keselamatan kekal. Namun, ada baiknya jika kita melihat perbedaan pengertian Luther dan Gereja Katolik dalam istilah “Sola Fide” yang berkaitan dengan pengertian “justification”/ diselamatkan/ dibenarkan oleh Allah, agar kita dapat memahami lebih lanjut ajaran Gereja Katolik dalam hal ini:

  1. Konsep keselamatan menurut Luther adalah meskipun kita berdosa berat, kita tetap “diselimuti oleh jubah keselamatan Kristus”, sehingga dibenarkan Tuhan. Jadi dalam hal ini pengertian “Sola Fide/ Faith alone” menurut Luther adalah benar-benar iman saja, tidak termasuk perbuatan baik, atau perbuatan baik tidak dianggap sebagai kesatuan dengan iman. Maka “Justification” menurut Luther adalah kita dibenarkan karena kita diselubungi Kristus, sehingga Allah tidak melihat dosa kita, tetapi melihat Kristus yang menyelubungi kita. Jadi di sini tidak ada perubahan kondisi sebelum atau sesudah dibenarkan oleh Tuhan: kita tetap berdosa. Biarpun berdosa, tetapi dibenarkan. Sekali dibenarkan, tetap dibenarkan, dan diselamatkan, atau “once saved, always saved”. Meskipun sehabis menerima Kristus sebagai Juru Selamat, kita jatuh di dalam dosa, maka kita tak perlu kuatir dan bertobat, sebab kita pasti tetap diselamatkan oleh Tuhan.Dalam suratnya kepada Melancthon tanggal August 1, 1521, (translated by Erika Bullmann Flores for Project Wittenberg); online at http://www.iclnet.org/pub/resources/text/wittenberg/luther/letsinsbe.txt , lihat nomor 13, Luther mengatakan, “…Be a sinner, and let your sins be strong, but let your trust in Christ be stronger…. No sin can separate us from Him, even if we were to kill or commit adultery thousands of times each day…”Pernyataan ini tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik yang mensyaratkan iman dan pertobatan, hidup dalam Kristus, dan melaksanakan kasih, baru manusia dapat diselamatkan.
  2. Gereja Katolik mengatakan bahwa Justification harus melibatkan pertobatan yang mengubah kita menjadi sepenuhnya baru. Artinya kita harus meninggalkan manusia lama dan segala dosa-dosa kita, untuk hidup sebagai manusia baru yang hidup dalam persekutuan dengan Kristus (lihat Ef 4:17). Manusia baru di dalam Kristus ini adalah manusia yang berbuat kasih, karena Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8), dan Kristus adalah perwujudan kasih Allah yang sempurna, sehingga hidup dalam Kristus = hidup dalam kasih. Dengan demikian kita dibenarkan, karena rahmat Tuhan sungguh- sungguh mengubah kita menjadi kudus. Efek inilah yang sesungguhnya kita peroleh setelah Pembaptisan kita. Kita bukan hanya diselubungi, tetapi sungguh-sungguh diubah menjadi kudus oleh Tuhan sendiri, dan selanjutnya sesudah pembaptisan, kita harus terus berjuang untuk hidup kudus, memenuhi hukum kasih, agar kita dapat diselamatkan. Maka konsekuaensinya, jika setelah dibaptis kita kembali hidup dalam dosa, maka kita tidak dapat diselamatkan.Dengan demikian, maka, Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa kita boleh berdosa terus. Sebab dosa bertentangan dengan hukum kasih dan dosa-lah yang memisahkan kita dari Allah. Maka iman, menurut Gereja Katolik tidak pernah dipertentangkan dengan hukum kasih, melainkan harus menjadi kesatuan. Jika kita tidak mengasihi, sesungguhnya kita tidak beriman, dan karenanya kita tidak dapat diselamatkan. Namun jika kita mengasihi Allah dan sesama, atas dasar iman kita kepada Kristus, maka kita diselamatkan.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan sehubungan dengan pengajaran Bapa Paus yang berkaitan dengan ‘Sola Fide’ menurut Gereja Katolik. Marilah kita juga jangan terlalu memusatkan perhatian pada perbedaan antara Gereja Katolik dan Protestan namun lebih melihat apa yang mempersatukan kita sebagai pengikut Kristus. Iman kepada Kristus memang harus kita pandang sebagai hal yang sangat penting, supaya jangan sampai kita berpendapat, “asal hidup baik dan mengasihi, maka kita tak perlu beriman, sebab jika kita hidup baik, pasti masuk surga”. Anggapan ini keliru, karena sesungguhnya kita tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi (kasih yang tidak mementingkan diri sendiri dan kasih yang rela berkorban) tanpa iman. Dalam hal ini Gereja Katolik setuju dengan Luther, bahwa imanlah yang menyelamatkan kita. Dengan catatan: Ya, memang karena iman kita kepada Yesus-lah kita diselamatkan, namun iman ini harus selalu disertai kasih, sebab jika tidak, iman kita adalah iman yang mati. Maka agar dapat diselamatkan/ dibenarkan Allah, kita harus beriman dan mengasihi, hidup dalam persekutuan/ komuni dengan Yesus Kristus. Ini adalah pengajaran Gereja Katolik dari dulu sampai sekarang yang tidak berubah. Dan karena itulah Perjamuan Ekaristi/ Komuni Kudus menjadi sangat penting dalam kehidupan rohani kita, karena melalui Ekaristi, kita bersatu dengan Kristus, sehingga kita dikuatkan dalam iman, dan kita dimampukan untuk berbuat kasih dan bertumbuh dalam kekudusan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

24 Comments

  1. Salam kasih,

    Dear kakak pembimbing saya mau bertanya. Saat saya merenungkan Yoh5:24 dan Yoh5:29, saya melihat kesinambungan antara iman dan perbuatan baik. Apakah iman dan perbuatan baik itu terpisah atau tidak dalam konteks apa yang dibutuhkan manusia untuk selamat? Terima kasih mohon bimbingannya

    • Shalom Arliando,

      Benar, bahwa ada kesinambungan, atau tepatnya, ada kesatuan antara iman dan perbuatan baik, agar dapat menghantar kepada keselamatan. Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman dan perbuatan baik tidak terpisahkan, dan keduanya diperlukan agar seseorang dapat diselamatkan. Maka keselamatan diperoleh pertama-tama oleh kasih karunia/ rahmat Allah oleh iman (Ef 2:8), dan iman yang dimaksud di sini adalah iman yang bekerja oleh kasih (lih. Gal 5:6). Dengan iman yang bekerja oleh kasih inilah seseorang dibenarkan dan diselamatkan oleh Allah:

      KGK 1794    Hati nurani yang baik dan murni diterangi oleh iman yang benar, karena cinta kasih Kristen timbul sekaligus “dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan iman yang tulus ikhlas” (1Tim 1:5, Bdk. I Tim 3:9; 2 Tim 1:3; 1 Ptr3:21, Kis 24:16).
      “Oleh karena itu, semakin besar pengaruh hati nurani yang cermat, semakin jauh pula pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok menghindar dari kemauan yang membabi-buta, dan semakin mereka berusaha untuk mematuhi norma-norma kesusilaan yang obyektif” (GS16).

      KGK 2001    Persiapan manusia untuk menerima rahmat sudah merupakan karya rahmat. Rahmat itu perlu untuk menampilkan dan menopang kerja sama kita pada pembenaran melalui iman dan pada pengudusan melalui kasih. Allah menyelesaikan apa yang sudah dimulai-Nya di dalam kita, “karena Ia mulai dengan menyebabkan, bahwa kita mau; Ia menyelesaikan dengan bekerja sama dengan kehendak kita yang telah ditobatkan” (Agustinus, grat. 17).

      KGK 1697    …. karena oleh rahmat kita diselamatkan dan hanya oleh rahmat, perbuatan-perbuatan kita dapat menghasilkan buah untuk kehidupan abadi.   

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Ini satu pertanyaan salah atau benar atau terserah anda bila saya mengatakan “jati diriku tertinggi adalah allah” Dasar pemikiran saya adalah Keluaran (“…mari kita ciptakan manusia serupa dengan …”). Dalam injil (saya tidak hafal ayatnya) ” Bapa ada dalam aku (Kristus) , aku ada dalam Bapa, aku ada pada engkau” Kemudian “Kau selalu bersama Aku, semua milikKu, milikmu juga” Kemudian sebelum naik ke sorga Yesus berkata “Aku akan menyertai engkau sampai akhir jaman.
    Minta bantuan penjelasannya.

    [dari katolisitas: Kalau Anda ingin membuktikan bahwa Kristus adalah TUhan, maka silakan melihat artikel ini - silakan klik]

  3. yusup sumarno on

    Buat para “sola fideer” yang punya pacar/kekasih/suami/istri/anak,

    Bisakah saudara semua mengatakan “aku percaya dan mencintaimu kekasihku/istriku/anakku/suamiku…” dan saudara tidak berbuat sesuatu apapun yang dapat menunjukkan kepercayaan dan cinta saudara itu?

    Jika saudara lakukan itu (hanya percaya dan mencintai) namun tidak berbuat apa apa, pastilah cepat atau lambat orang yang anda cintai itu akan mengatakan, “cintamu adalah cinta yang mati….!!!!!!”

    semudah itulah untuk meyakini bahwa hanya dengan iman dan perbuatan kita dapat diselamatkan oleh Kristus. Iman saja, no way….

  4. Thomas Veri Vernando on

    Mengenai Paus B16, bila membaca secara keseluruhan, tentu orang akan tahu maksudnya. Bagaimanapun, dia berkata bahwa sola fide, tida bertentangan dengan karya amal, jadi tetap harus melakukan kasih, yang perlu untuk keselamatan. ini bertentangan dengan konsep protestan yang mengajarkan prinsip imputansi.
    Paus mengajarkan sola fide+kasih, dll, dan dengan ini menyatakan bahwa sola, bukan lagi sola lagi, dan ini sangat alkitabiah, karena memang iman yang sempurnapun, belum tentu memiliki kasih (1Kor13:2b).
    salam

  5. mengenai tulisan Luther, sepertinya klo lihat bahasa inggrisnya, yang dimaksudkan adalah perbuatan jahat sebelum beriman. Luther tidak mengatakan bahwa setelah dia beriman, masih bisa berbuat seperti itu.
    salam.

    • Shalom Snyder,

      Surat Luther kepada Melancthon yang berjudul ‘Let Your Sins be Strong‘ (Biarlah kuat Dosamu), klik di sini, sebenarnya membicarakan sekurang-kurangnya 3 hal, yaitu: 1) Pandangannya tentang selibat para imam; 2) Pandangannya tentang kedua elemen dalam Perjamuan Kudus; 3) Pandangannya tentang belas kasihan Tuhan yang mengatasi segala dosa, dan karena itu, “jadilah pendosa”.

      1. Pandangan Luther tentang selibat para imam (paragraf no.1-7)

      Tentang hal ini, Luther mengambil dasar ayat 1 Tim 4:1- namun interpretasinya berbeda dengan yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Gereja Katolik mendasarkan ajarannya dengan memperhatikan keseluruhan ayat dalam Kitab Suci yang jelas mengajarkan tentang hidup selibat untuk Kerajaan Allah, sebagaimana diajarkan oleh Kristus sendiri (lih. Mat 19:12). Maka 1 Tim 4 tidak dapat dijadikan dasar untuk menentang ajaran Kristus. Sebab konteks ayat-ayat  1Tim 4:1-16 adalah, Rasul Paulus meminta kepada Timotius agar memperingatkan jemaat supaya jangan terpengaruh oleh ajaran para pengajar sesat (yaitu ajaran Gnosticism) yang berkembang pada abad awal itu. Para Gnostics membenci tubuh, dan menganggap tubuh dan segala sesuatu yang berupa materi adalah dosa. Sehingga perkawinan yang dianggap sebagai cara ‘mendatangkan tubuh/ bayi’ yang baru, dianggap sebagai perbuatan dosa. Maka para Gnostics ‘membenci’ perkawinan. Hal ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Kristus, karena perkawinan malah dijadikan oleh Kristus sebagai lambang kasihNya kepada Gereja-Nya (Ef 5:22-32).

      Selanjutnya tentang dasar ajaran Gereja Katolik tentang imamat dan hidup selibat untuk Kerajaan Allah, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, dan jawaban ini, silakan klik

      2. Pandangan Luther tentang kedua elemen dalam Perjamuan Kudus (paragraf 9-11)

      Luther berpandangan bahwa Perjamuan Kudus harus terdiri dari dua rupa, dan menganggap jika diterima hanya satu rupa maka itu dosa.

      Gereja Katolik tidak mengajarkan demikian. Karena Yesus secara sakramental hadir dalam setiap rupa (baik dalam rupa roti maupun anggur) maka, Komuni hanya dalam satu rupa saja tidak mengurangi rahmat Ekaristi. Untuk alasan- alasan pastoral Komuni satu rupa ini menjadi cara yang sah diterapkan di ritus Latin. Namun demikian Gereja mengajarkan bahwa “tanda komuni/persekutuan lebih lengkap ketika diberikan dalam dua rupa, sebab dengan cara itu tanda perjamuan Ekaristi tampak menjadi lebih jelas” (KGK 1390).

      Selanjutnya tentang topik Komuni Satu Rupa Maknanya Sama dengan Dua Rupa, klik di sini

      3. Perkataan Luther, “Jadilah pendosa…/Be a sinner….” (paragraf 13)

      Sebagai penutup surat itu, Luther menulis demikian:

      13. If you are a preacher of mercy, do not preach an imaginary but the true mercy.  If the mercy is true, you must therefore bear the true, not an imaginary sin.  God does not save those who are only imaginary sinners.  Be a sinner, and let your sins be strong, but let your trust in Christ be stronger, and rejoice in Christ who is the victor over sin, death, and the world.  We will commit sins while we are here, for this life is not a place where justice resides.  We, however, says Peter (2. Peter 3:13) are looking forward to a new heaven and a new earth where justice will reign.  It suffices that through God’s glory we have recognized the Lamb who takes away the sin of the world. No sin can separate us from Him, even if we were to kill or commit adultery thousands of times each day.  Do you think such an exalted Lamb paid merely a small price with a meager sacrifice for our sins?  Pray hard for you are quite a sinner.

      Terjemahannya:

      “13. Jika kamu adalah pengkhotbah tentang belas kasih, jangan berkhotbah tentang belas kasih yang hanya bayang-bayang (imajiner), tetapi tentang belas kasih yang sejati. Oleh karena itu, jika belas kasihan itu benar-benar/ sejati, kamu harus menanggung dosa yang benar-benar, bukan dosa imajiner. Tuhan tidak menyelamatkan mereka yang hanya pendosa imajiner. Jadilah pendosa, dan biarlah dosamu kuat, tetapi biarlah kepercayaanmu di dalam Kristus menjadi lebih kuat, dan bersukalah di dalam Kristus yang adalah pemenang atas dosa, maut dan dunia. Kita akan berbuat dosa-dosa selagi kita berada di sini, sebab hidup ini bukanlah tempat di mana keadilan bersemayam. Namun demikian, kita, seperti kata Rasul Petrus (2Pet 3:13) mengharapkan surga dan bumi yang baru di mana keadilan akan berjaya. Adalah cukup bahwa melalui kemuliaan Tuhan kita telah mengenali Sang Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Tidak ada dosa yang memisahkan kita dari-Nya, bahkan jika kita membunuh atau melakukan perzinahan ribuan kali sehari. Apakah kamu berpikir bahwa Sang Anak Domba Allah yang ditinggikan membayar harga yang kecil dengan sebuah pengorbanan yang seadanya? Berdoalah dengan tekun sebab kamu adalah sungguh seorang pendosa.”

      Membaca keseluruhan paragraf ini, kita secara obyektif mengetahui beberapa hal:

      1. Luther menuliskan surat itu kepada muridnya Melancthon, di tahun 1521, saat ia telah memisahkan diri dari Gereja Katolik, maka ajarannya tidak mewakili ajaran Gereja Katolik.

      2. Luther menuliskan pesannya dengan “present tense” artinya saat ini, bukan kejadian yang lalu untuk menggambarkan keadaan sebelum Pembaptisan. Jika maksudnya kejadian yang lalu sebelum orang beriman/ bertobat, maka sesungguhnya ia dapat menuliskannya dalam bentuk “past tense” [masa lampau] -seperti misalnya ketika di paragraf 10, ia menuliskan tentang Donatus martir. Jika demikian, maka mungkin benar interpretasi Anda bahwa Luther mengajarkan bahwa setelah beriman jangan berbuat dosa lagi.

      3. Namun kenyataannya, Luther malah menekankan sebaliknya, dengan mengatakan, “Jadilah pendosa, dan biarlah dosamu kuat, tetapi biarlah kepercayaanmu di dalam Kristus menjadi lebih kuat…. Kita akan berbuat dosa-dosa selagi kita berada di sini, sebab hidup ini bukanlah tempat di mana keadilan bersemayam…. Tidak ada dosa yang memisahkan kita dari-Nya, bahkan jika kita membunuh atau melakukan perzinahan ribuan kali sehari.”

      Kalimat ini problematik. Sebab Luther tidak mengatakan bahwa ‘masa menjadi pendosa’ adalah masa lalu sebelum bertobat, tetapi masa yang masih berlangsung sampai sekarang [present tense], bahkan ditekankan dengan pernyataannya bahwa selagi kita masih hidup di dunia ini kita akan berbuat dosa-dosa, bahkan dosa-dosa yang berat. Dengan kalimat sebelumnya, orang dapat mengartikan bahwa yang diajarkan adalah bukan untuk menghindari dosa di masa mendatang, tetapi malah agar kita semakin kuat berdosa. Atau, asalkan kita percaya/ beriman, maka tak apa berbuat dosa, bahkan dosa yang berat sekalipun, bahkan jika dilakukan beribu kali sehari.

      4. Dengan demikian Luther memisahkan antara iman dan perbuatan, seolah iman saja cukup, walau tidak disertai dengan perbuatan yang menunjukkan pertobatan dan imannya.

      Gereja Katolik tidak memisahkan antara iman dan perbuatan; sebagaimana disampaikan oleh Paus Benediktus XVI di atas. Artinya, jika kita beriman akan Yesus, maka perbuatan kita harus menunjukkan/ membuktikan iman itu. Ajaran yang memisahkan iman dengan perbuatan sesungguhnya tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci secara keseluruhan. Rasul Paulus sendiri menekankan pentingnya kita yang sudah dibaptis untuk menjadi ‘manusia baru’ (lih. Ef 4:17-18) yang “mati bagi dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah… untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Rom 6:11-14)

      Atau mungkin seruan Rasul Paulus yang lebih jelas di sini, “Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali- kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?…. supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati…., demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom 6:1-4).

      Nampaknya seseorang yang memisahkan iman dan perbuatan, perlu merenungkan kembali pemahamannya, sebab Rasul Paulus tidak memisahkan keduanya. Rasul Paulus mengajarkan bahwa iman akan Kristus dinyatakan dengan pertobatan dan baptisan, yang melambangkan ‘kematian terhadap dosa untuk hidup baru di dalam Kristus’ agar dapat menjadi manusia baru yang melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran, yaitu terutama adalah perbuatan kasih (1 Kor 13:13).

      Demikianlah tanggapan saya, semoga ulasan di atas berguna untuk kita semua.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • yusup sumarno on

        Oooooooh begitu yang pandangan/saran marthin luther…
        sangat disayangkan.
        menurut saya dia sudah keblinger/tersesat terlalu jauh.
        menurut saya dia itu hanya suka mencari pembenaran/rasionalisasi dari apa yang ia akan lakukan.
        contohnya, dia sudah tidak kuat selibat dan ingin menikah, makanya ia mengecam selibat (mendeskriditkan Katolik). nah supaya dia bisa kawin dan dapat berbuat seenaknya, dia juga menyarankan jadilah pendosa….
        Tidaklah mengherankan jika buah buahnya adalah perpecahan (18.000 denominasi) karena ajarannya sangat aneh..nyleneh..menyimpang jauh dari ajaran Yesus Kristus
        [dari katolisitas: Kita tidak tahu secara persis apakah dia keluar dari Gereja Katolik karena ingin menikah dan tidak mau hidup selibat. Sedangkan tentang pengertian "Iman saja", nampaknya memang sudah ada pergeseran atas apa yang diajarkan oleh Luther dengan apa yang diyakini oleh para pengikutnya (kaum Lutheran) sekarang. Ini dapat dilihat dari dokumen yang menyatakan deklarasi bersama tentang doktrin justification antara gereja Lutheran dan Gereja Katolik.
        Silakan membaca tiga dokumen berikut :
        1. Joint Declaration on the Doctrine of Justification (by The Lutheran World Federation and the Catholic Church)- Preamble, klik di sini
        Terjemahannya dalam bahasa Indonesia, klik di sini.
        2. Joint Declaration on the Doctrine of Justification (by The Lutheran World Federation and the Catholic Church)- Presentation to the Vatican 25 June 1998, silakan klik
        Terjemahannya dalam bahasa Indonesia, klik di sini.
        3. Response of the Catholic Church to the Joint Declaration the Catholic Church and the Lutheran World Federation and the Catholic Church)on the Doctrine of Justification, silakan klik.
        Terjemahannya dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

        Sesungguhnya jika kita membaca pernyataan itu, semakin jelaslah tentang apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, yang memang mengambil dasar dari Kitab Suci, bahwa baik iman maupun perbuatan, keduanya penting agar seseorang dapat dibenarkan/ diselamatkan; dan bahwa keduanya ini tidak terlepas dari rahmat/ kasih karunia Allah.]

        • m. herman-wib on

          Shalom,

          Jika direnungkan, berani sekali pak Marthin Luther bicara spt itu. Dalam Mat. 7:21-23 Tuhan Jesus kan sudah memperingatkan dgn keras orang2 yg sok suci, yg merasa pasti punya kavling di surga krn sudah bernubuat, mengusir setan, membuat mujizat! Nah, peringatan macam apalagi yg akan dikemukakan Tuhan bagi orang yg bangga dan tutup mata dgn “jubah” dosanya krn merasa sudah dijamin akan diselamatkan karena “cuma bermodalkan” percaya saja.

          [Dari Katolisitas: Mari kita jangan menghakimi Luther. Sebab kita juga tidak tahu apakah sesaat sebelum wafatnya ia masih berkeras memegang pandangannya ini. Jika sesaat sebelum wafatnya ia mengakui bahwa pemahamannya keliru, maka Tuhan Yesus dapat pula mengampuninya. Lagipula sekarang para pengikutnya sekarang tidak memiliki pemahaman yang persis sama dengan Luther dalam hal ini, sebagaimana telah disampaikan dalam:

          1. Joint Declaration on the Doctrine of Justification (by The Lutheran World Federation and the Catholic Church)- Preamble, klik di sini
          2. Joint Declaration on the Doctrine of Justification (by The Lutheran World Federation and the Catholic Church)- Presentation to the Vatican 25 June 1998, silakan klik
          3. Response of the Catholic Church to the Joint Declaration the Catholic Church and the Lutheran World Federation and the Catholic Church)on the Doctrine of Justification, silakan klik]

        • yusup sumarno on

          Dear katolisitas,

          Banyak terima kasih.
          Sedikit tambahan dari saya, dalam kalimat yang berbeda, iman memiliki 2 dimensi/sisi/aspek (yang tidak bisa dipisahkan,seperti halnya 2 sisi mata uang) yaitu: keyakinan iman (iman itu sendiri) dan ungkapan iman (perbuatan).
          Jadi, mereka yang suka dengan “iman saja” adalah ibarat orang yang mau menghilangkan salah satu sisi dari 1 keping mata uang. ini adalah kemustahilan dan tidaklah masuk akal. dan mereka itu juga suka aneh aneh. contohnya, sudah jelas/eksplisit dinyatakan dalam KS bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati”, tapi masih aja mendewakan iman saja. ……[edit]

          • m. herman-wib on

            Selamat malam katolisitas dan sidang pembaca yg budiman,

            Terima kasih telah menunjukkan referensi di atas.
            Secara selintas saya baca Deklarasi Bersama tsb dan juga inti dari Doctrine of Justification (saya kutip) yaitu:
            1. The SOURCE of our Justification is by His GRACE.
            2. The GROUND of our Justification is by His BLOOD.
            3. The MEANS of our Justification is by FAITH IN HIM.
            4. The EVIDENCE of our Justification is by our WORKS.

            Rupanya butir no. 4 ini yg sering “terlewatkan” oleh kita, para pengikut Kristus. Padahal, seperti yg dikemukakan pak J.Sumarno (a/d Yak. 2:14-26), iman tanpa perbuatan adlh iman yg mati.

            Lebih jauh lagi, Tuhan Jesus menuntut dgn tegas agar SAYA dan kita tidak tergelincir hanya berkarya (WORKS) demi karya itu sendiri agar tidak dikecam Tuhan (dlm Mat. 7:21-23) melainkan “bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga” (Luk 10:20), yg boleh saya artikan bahwa kebisaan kita dlm berkarya adlh bukan untuk kemuliaan kita.

            NB:
            Pertama, mohon maaf bila saya dinilai menghakimi orang lain, tapi kesan itulah (“Let your sins be strong”) yg terlihat menonjol pada (tdk sedikit) orang2 yg bertemu dalam kehidupan saya. Tentunya saya tdk ingin dihakimi Nya dgn ukuran yg (pernah) saya tetapkan untuk orang lain. Yg kedua, rupanya makin banyak tahu rasanya makin rumit! Mungkin itulah maksud Tuhan Jesus agar kita percaya dan menerima Dia spt halnya anak2 kecil yg percaya penuh kepada bapak-ibunya.

            Salam damai dalam kasih Tuhan Jesus.

            • Shalom m. herman-wib,

              Saya mohon maaf, sebab saya tidak dapat menemukan secara eksplisit ke-empat butir tersebut dirumuskan sebagaimana yang Anda tulis, dalam deklarasi bersama antara Lutheran dan Gereja Katolik dalam Doctrine of Justification yang link-nya saya sebutkan dalam jawaban kepada Sdr. Yusup Sumarno. Jika Anda menemukannya di dalam dokumen tersebut atau di dokumen yang lain, dapatkah Anda menyebutkan persisnya di mana, dan bagaimana kalimatnya?

              Sebab hal sumber dari justifikasi memang adalah kasih karunia Allah (the source of our justification is God’s grace), namun caranya adalah dengan kita mengimani-Nya, yang dinyatakan melalui Baptisan, dan kemudian iman tersebut dihidupi dalam kasih. Nah kalau dikatakan “the means of our justification is by faith ini Him“, di mana Baptisannya? Lalu kalau dikatakan bahwa kasih itu adalah bukti dari iman yang hidup, itu benar, namun harus tetap diingat bahwa iman dan kasih ini tidak terpisahkan. Selanjutnya memang darah Kristus/ pengorbanan Kristus menjadi cara yang dipilih Allah untuk menyelamatkan manusia, namun saya tidak melihat digunakannya istilah “ground of justification is by His blood” dalam dokumen tersebut.

              Tentang kasih sebagai kesatuan dengan iman dan menjadi bukti dari iman, memang selayaknya kita laksanakan dalam kehidupan kita, sebab dengan menerapkan kasih inilah kita dapat sungguh hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai anak-anak Allah.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom bu Ingrid yg t’kasih..

        Menanggapi p’jelasan bu ini sya amat t’tarik. Nmun sya ad 1 soaln. Sbnarnya ni dr saudara sya yg non katolik ktika kmi b’bncang ttg soal “sola fide” ini suatu ktika dlu.

        Bliau m’jelas’n pd sya bhwa umat katolik sering slah anggap ttg pngertian “sola fide” ni. Bg mreka “salvation comes by faith alone; but the faith is not alone”… Dgn kata lain, iman itu scara sndiri mmpu m’buka jlan kpd p’buatan kasih & hdup kdus mnurut khendakNya. Ertinya apbila kta m’pnyai iman, kita akn scara x lngsung b’usaha utk m’capai khidupan dlm Kristus. Yg x dperstujui olh mreka dlm greja katolik ni ialh ritual2 yg spertinya x prlu dlm m’cari kselmatan & kurang b’kait dgn iman kpd Yesus…

        I think he got his point, bu.

        Ap pndangan bu Ingrid..?
        Thanx in advance
        God bless

        • Shalom John,

          Sejujurnya, apa yang dikatakan oleh saudara Anda tentang sola fide itu, memang menyerupai apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Sebab memang Gereja Katolik tidak pernah memisahkan iman dari perbuatan kasih, jika iman itu mau disebut sebagai iman yang menyelamatkan. Yang memisahkan iman dan perbuatan kasih adalah mereka yang secara ekstrim mengartikan sola fide, yaitu asalkan punya iman, maka tak peduli apapun perbuatan kita, pasti Tuhan menyelamatkan, seperti yang dituliskan oleh Martin Luther kepada muridnya Melancthon, sebagaimana telah diuraikan di jawaban ini, silakan klik, lihat point.3.

          Nah, syukurlah, nampaknya sekarang banyak umat Kristen non-Katolik, tidak lagi berpandangan seperti itu. Jika kita membaca pernyataan bersama antara Gereja Katolik dan Federasi Lutheran sekarang, terlihat bahwa keduanya mempunyai pandangan yang mirip tentang justifikasi. Silakan membaca ketiga dokumen ini untuk melihat di manakah persamaannya dan di manakah perbedaannya.

          1. Joint Declaration on the Doctrine of Justification (by The Lutheran World Federation and the Catholic Church)- Preamble, klik di sini
          Terjemahannya dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

          2. Joint Declaration on the Doctrine of Justification (by The Lutheran World Federation and the Catholic Church)- Presentation to the Vatican 25 June 1998, silakan klik
          Terjemahannya dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

          3. Response of the Catholic Church to the Joint Declaration the Catholic Church and the Lutheran World Federation and the Catholic Church)on the Doctrine of Justification, silakan klik. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

          Gereja Katolik, mengambil dasar dari Kitab Suci, mengajarkan bahwa baik iman maupun perbuatan, keduanya penting agar seseorang dapat dibenarkan/ diselamatkan; dan bahwa keduanya ini tidak terpisahkan dan tidak terlepas dari rahmat/ kasih karunia Allah.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati-katolisitas.org

  6. Syaloom

    Jadi apakah tepat untuk bilang perbuatan kasih seharusnya adalah dampak dari iman yang diberikan kepada kita?

    Saya berpikir seperti itu karena harusnya ” karena kita diselamatkan maka kita berbuat bukan kita berbuat agar kita diselamatkan”
    Kalau iman adalah salah satu syarat untuk selamat dan perbuatan kasih adalah salah satu syarat juga. Bukannya menjadi seperti “kita berbuat untuk diselamatkan”

    Terima Kasih

    • Shalom Leonard,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang kasih dan iman. Pada tahap awal, silakan membaca defini dan hubungan antara iman, kasih dan pengharapan di tanya jawab ini – silakan klik. Tentu saja agar kita dapat mengasihi dengan benar, maka kita harus mengetahui kebenaran iman dengan benar. Yang berarti kasih mensyaratkan pengetahuan iman. Namun, di satu sisi, kasih juga mengarahkan iman dan juga pengharapan. Silakan membaca link yang saya berikan terlebih dahulu.

      Pertanyaan anda tentang keselamatan akan lebih dapat diurai dengan baik kalau anda dapat melihat bahwa keselamatan bukanlah satu kali kejadian, namun merupakan sesuatu yang lewat, sekarang dan masa datang. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa keselamatan bagi kita adalah suatu proses. Dengan demikian, maka iman, pengharapan dan kasih  juga sejalan dengan proses ini, yang berarti sejalan dengan kesempurnaan kasih, maka kita akan semakin mendekati keselamatan. Namun, kita juga harus menyadari bahwa keselamatan adalah rahmat Tuhan, karena Tuhanlah yang menjadi penggerak utama dalam proses keselamatan. Iman memang menjadi syarat keselamatan, karena tidak ada seorangpun yang berkenan di hadapan Allah tanpa iman. (lih. Heb 11:6) Namun, pada saat yang bersamaan kita juga akan diadili menurut perbuatan kita. (lih. 1Pet 1:17; 2Tim 4:14; Rom 2:6) Keselamatan kita memang bukan karena perbuatan kita, namun karena rahmat Allah. Kalau anda mau benar-benar mendalami topik ini, silakan membaca diskusi panjang tentang keselamatan di sini – silakan klik. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Budi Darmawan Kusumo on

    Syalom Katolisitas, ini adalah percakapan saya dengan saudara paulus :

    Paulus :
    #
    Very nice article. Cuma ada satu yg sy krg setuju di bagian akhir. Iman kristen adalah Manusia diselamatkan hanya oleh Iman, bukan kebaikan/amal. Satu sen pun kebaikan/amal kita tidak ada pengaruhnya. Karna keselamatan yg kita peroleh dengan cuma2 itu
    February 7 at 3:20pm · LikeUnlike
    #
    Paulus Borang Very nice article. Cuma ada satu yg sy krg setuju di bagian akhir. Iman kristen adalah Manusia diselamatkan hanya oleh Iman, bukan kebaikan/amal. Satu sen pun kebaikan/amal kita tidak ada pengaruhnya. Karna keselamatan yg kita peroleh dengan cuma2 itu, maka kita melakukan kebaikan sebagai respon anugrah cuma2 itu.

    Budi :
    Kalau menurut saya, kita diselamatkan oleh iman & perbuatan kasih ( dimana iman dan perbuatan kasih itu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan ), kalau hanya dengan iman saja maka banyak orang – orang kristiani yang bebas membunuh, merampok dan berbuat jahat yang lain ( tapi tetap percaya pada TUHAN ) dengan jaminan bahwa mereka pasti masuk surga. Keselamatan memang HANYA anugerah dari Tuhan ( iman ), tapi Tuhan juga menuntut kita untuk merespon anugerah iman yang diberikannya dengan kebaikan yang kita lakukan.

    Paulus :
    #
    Iman tanpa perbuatan adalah mati.
    February 14 at 10:10am · LikeUnlike · 1 personLoading…
    #
    Perbuatan adalah respon yang HARUS nya muncul ketika seseorang menerima Kristus sebagai Juruselamat, tapi tetap bukan sebagai syarat masuk surga. Ketika seseorang “katanya” menerima Kristus tapi tidak ada satupun perubahan dalam tingkah laku dan kasihnya (perbuatan baik) dalam hidupnya berarti dia BELUM menerima Kristus secara pribadi. GBU

    Budi :
    Oleh karena itu ada 2 hal yaitu Iman & Perbuatan dimana keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, kalau seseorang TANPA IMAN & hanya melakukan perbuatan baik saja, maka orang itu belum dapat diselamatkan.

    Paulus :
    ada pertanyaan nih.. kalo seandainya ada sesorang yg selalu berbuat baik dalam hidup nya, TAPI dia tidak percaya Kristus sbg Tuhan. Ketika dia mati apakah masuk surga?

    Budi :
    Menjelaskan konsep keselamatan itu sangatlah PANJANG, tapi saya akan coba jelaskan.
    Kita tahu bahwa di 1 Tim 2:4 “Allah menghendaki supaya SEMUA orang (termasuk orang beragama di luar kristiani) diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan k…ebenaran.” Tapi bagaimana dengan orang-orang yang beragama Budha,BERPERILAKU BAIK & TIDAK PERNAH mendengar Yesus seumur hidupnya ? Apakah dia DITAKDIRKAN masuk ke neraka ? ( alangkah kejamnya&tidak adilnya TUHAN ). Dan ini BERTENTANGAN dengan 1 Tim 2:4. Maka Jawaban dari anda bisa IYA & TIDAK.
    IYA = bahwa orang-orang yang, BUKAN karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, DAPAT juga diselamatkan, asalkan mereka MENGIKUTI HATI NURANI mereka dan MEMPRAKTEKAN HUKUM KASIH, dimana mereka juga DIGERAKKAN OLEH RAHMAT ILAHI (Rom 2:15). Namun keselamatan mereka TETAP datang dari Yesus Kristus. Sebagai contoh dari “bukan karena kesalahan mereka sendiri” adalah orang-orang yang hidup SEBELUM Kristus, dan juga orang-orang yang TIDAK TERJANGKAU oleh pemberitaan tentang Kristus. Namun kita juga dapat memasukkan disini adalah ORANG – ORANG DARI AGAMA LAIN, yang walaupun telah dijangkau oleh pemberitaan Kristus namun pemberitaan ini tidak memberikan “motive of credibility” (penjelasan dasar yang meyakinkan) yang baik terhadap kekristenan, sehingga orang dari agama lain, BUKAN karena kesalahannya, tidak dapat percaya akan pesan Kristus.
    Bagaimana cara diselamatkannya? ( padahal jelas bahwa keselamatan SALAH SATU syaratnya adalah IMAN kepada YESUS ) Adalah melalui “proses pemurnian” setelah kematian ( 1 Pet 4 : 6 & 1 Pet 3 : 18 – 20 ) yang dikatakan dengan jelas bahwa INJIL DIBERITAKAN PADA ORANG – ORANG MATI.
    TIDAK = Jika seseorang TAHU akan kebenaran & bahwa Gereja itu didirikan oleh YESUS, namun tidak mau masuk ke dalamnya, maka orang itu TIDAK dapat diselamatkan meskipun seumur hidupnya melakukan perbuatan baik saja. Sehingga TANPA IMAN tidak akan diselamatkan. Semoga bisa membantu. AMIN.

    Paulus :
    Efesus 2:8 & 9

    2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
    2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

    …Berarti Alkitab salah dong? Dengan jelas Firman Tuhan mengatakan tidak satupun usaha kita dapat membuat kita selamat.
    Menurut saya sih kita tidak bisa langsung meng-claim org yg berbuat
    baik tapi tidak mengenal Kristus PASTI masuk neraka.. karena kita
    tidak tahu akhir hidupnya. Itu semua kedaulatan Allah untuk menyelamatkan mereka. Keselamatan adalah anugrah yg cuma2. Manusia
    tidak dapat melakukan apa2 untuk memperoleh keselamatan itu. Kita
    hanya harus mengerjakan keselamatan itu.
    Itu menurut pandangan saya.

    Budi :
    Sebelumnya maaf jika ada huruf besar, karena hal itu saya gunakan untuk menekankan saja (bukan teriak,karena di facebook tidak bisa “bold”) Saya akan jelaskan DARI SISI ORANG YANG MENGENAL KRISTUS TERLEBIH DAHULU. Pertama – tama Terima kasi…h atas pandangannya Paulus,Saya juga setuju jika iman itu HANYA BERASAL DARI TUHAN & SEGALA PERBUATAN KITA tidak akan membuat kita bisa memperoleh IMAN ITU ( BUKAN memperoleh keselamatan ), karena itu anugerah cuma – cuma dari TUHAN. tapi saya akan coba jelaskan lebih lanjut. Sebenarnya saya tertarik memberikan komentar ketika anda mengatakan “Iman kristen adalah Manusia diselamatkan HANYA OLEH IMAN, bukan kebaikan/amal” (sola fide). Dan saya kurang setuju akan hal ini. Kenapa ? jika ayat yang anda berikan (Efesus 2:8 & 9) tidak disertai dengan (Yakobus 2:26) maka akan memberikan pengertian yang berbeda bagi para pembaca.Jika hanya Efesus 2:8-9 saja, maka setelah kita bertobat lalu kita seenaknya berbuat jahat maka kita PASTI masuk surga ( karena syaratnya HANYA IMAN tanpa perbuatan) dan ini bertentangan dengan Matius 7:22 (yang ahkirnya ayat ini akan menentang kembali di Efesus 2:8-9).Apakah alkitabnya salah ? PASTI TIDAK, karena diperlukan pemahaman kita yang harus lebih teliti lagi dalam membaca alkitab dimana kita harus membaca alkitab perjanjian baru dengan terang perjanjian lama dan sebaliknya ( alias tidak bisa dibaca 1 ayat SAJA dan itu menjadi acuan ). Ketika anda mengatakan bahwa “Kita hanya harus MENGERJAKAN keselamatan itu” ( maka disini DIPERLUKAN PERBUATAN DARI KEHENDAK / KEMAUAN KITA SENDIRI & tidak hanya iman saja ). Jadi diperlukan IMAN & PERBUATAN (dimana kedua hal ini menjadi 1 kesatuan yang tidak dipisahkan).
    Penjelasan anda bisa diberikan bagi mereka yang berpikir, “aku gak agama – agamaan, seng penting aku berbuat baik nanti aku pasti selamat”. Nah itu baru cocok, kalau keselamatan diperoleh melalui iman yang diberikan TUHAN. Tapi bagi kita yang beragama kristiani, beriman saja tidak cukup, tapi diperlukan perbuatan ( alias TUHAN menghendaki RESPON kita akan keselamatan yang dia berikan, karena kita bukan robot yang tidak memiliki kehendak bebas )
    Anda mengatakan “Menurut saya sih kita tidak bisa langsung meng-claim org yg berbuat
    baik tapi tidak mengenal Kristus PASTI masuk neraka.. karena kita tidak tahu akhir hidupnya. Itu semua kedaulatan Allah untuk menyelamatkan mereka”.
    Terus yang menjadi pertanyaan saya ke anda. Bagaimana jika ada orang yang SEUMUR HIDUPNYA berbuat baik dan TIDAK PERNAH MENGENAL KRISTUS SAMA SEKALI sampai dia meninggal, bahkan kalau perlu di ahkir hidupnya pun dia tetap berbuat baik ? anggap saja orang dari Dinasti Chin ( sebelum masehi ) yang tinggal jauh dari Bangsa Israel ( karena pada saat itu Bangsa Israel masih dituntun TUHAN di daerah timur tengah) ? Apakah dia masuk surga / neraka ?

    Paulus :
    Saya juga menggunakan huruf besar.. hehe. Ga masalah kok.

    Saya pikir dan kalau saya bisa ilustrasikan diskusi kita, kita sedang
    berjalan ke Mall A, tapi melalui jalan/rute yang berbeda.
    sama2 punya tujuan yang sama. Kita berusaha menjelaskan r…ute yg kita
    lewati.. tapi sebenarnya kita mempunyai maksud yang sama. :)

    Saya tidak pernah untuk menyangkal atau memisahkan Iman & perbuatan baik.
    Saya hanya bermaksud bahwa IMAN adalah di atas perbuatan baik. Kita
    diselamatkan hanya oleh iman maksud nya begini:
    1. Perbuatan Baik adalah HASIL dari pertobatan yang sungguh2. Jika seseorang YANG KATANYA sudah menerima Kristus tapi TIDAK SAMA SEKALI melakukan
    perbuatan baik BERARTI dia adalah Hypocrite/Munafik/Bohong atau dia BELUM menerima Kristus sebagai Juruselamat.
    2. Jika seseorang YANG KATANYA sudah menerima Kristus tapi masih melakukan perbuatan yg buruk JANGAN langsung kita sebut Pembohong tapi kita harus
    melihat apakah dia sadar akan perbuatan nya itu, dan apakah
    intensitas/frekuensi dalam melakukan itu dosa itu semakin menurun atau
    tidak? Perubahan memerlukan proses, ada yang langsung ada yg butuh waktu. Perlahan tapi pasti. (manusia tidak luput dari dosa).
    3. Perbuatan baik tidak menyumbang apa2 dalam anugrah keselamatan. Jika ada, maka penjahat yg bertobat di atas kayu salib TIDAK dapat masuk surga. Karena setelah menerima Yesus dia tidak sempat berbuat baik. Tapi kata Yesus, dia
    akan bersama-sama dengan Yesus di Firdaus ketika dia percaya pada saat itu.

    Untuk Dinasti Chin atau manusia apapun sebelum bangsa israel Itu adalah
    RAHASIA ALLAH. Menurut saya, (bisa setuju atau tidak) Kita tidak bisa
    mengatakan mereka masuk surga/neraka. Siapa tahu mereka berbuat baik karena Tuhan sudah lebih dulu datang kepada mereka, maybe yes maybe no.. :) atau
    bisa juga bermacam2 opini yg timbul. lebih baik mari kita sama2 tanya waktu
    kita di surga nanti.. :).

    Yang penting kita sudah menerima Kristus dan bertumbuh di dalam nya. Jika
    Roh kudus sudah dalam hati, kita pasti akan diberikan kepekaan untuk tidak berbuat dosa, tapi lebih banyak berbuat/meneladani Yesus.

    “Motivasi perbuatan baik orang yang sudah diselamatkan BEDA dengan org yang belum diselamatkan, Orang yg sudah diselamatkan berbuat baik sebagai rasa
    syukur atas anugrah keselamatan yg diterima dengan cuma cuma, sedangkan yg
    belum diselamatkan berbuat baik supaya diselamatkan (berharap untuk masuk surga/selamat).”

    Bagaimana menurut tim katolisitas ? apakah perbuatan baik diatas IMAN atau IMAN di atas perbuatan baik ?

    Tuhan Yesus memberkati & Bunda maria selalu menuntun anda pada putranya.

    • Shalom Budi,

      Nampaknya, prinsip utama yang harus dipegang di sini adalah: iman yang menyelamatkan itu adalah iman yang menjadi kesatuan dengan perbuatan kasih/ perbuatan baik. Jadi di sini keduanya tidak dapat dipisahkan. Kasih dan perbuatan kasih/ perbuatan baik juga merupakan satu kesatuan, sebab orang baru dapat dikatakan sebagai ‘mengasihi’, jika ia menyatakannya dalam perbuatannya.

      Jika mulai ditanyakan: manakah yang lebih di atas, iman atau perbuatan kasih, maka seolah- olah keduanya dipisahkan, atau yang lebih tinggi dianggap sebagai satu- satunya syarat keselamatan dan dengan demikian mengabaikan/ menomorduakan yang lain. Inilah yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik- yang sebenarnya juga tidak sesuai dengan Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci. Iman harus bekerja/ dinyatakan oleh kasih (Gal 5:6). Dan juga, iman, pengharapan dan kasih adalah kebajikan Kristiani yang diajarkan oleh Rasul Paulus sebagai tiga hal yang kita bawa kelak ke hadapan Tuhan, dan yang paling besar dari ketiganya adalah kasih (lih. 1 Kor 13:13).

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang kaitan iman, kasih dan perbuatan baik, sebagai berikut:

      KGK 1814 Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman “manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah” (DV 5). Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rm 1:17); Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6).

      KGK 1815 Anugerah iman tinggal di dalam dia yang tidak berdosa terhadapnya. (Bdk. Konsili Trente: DS 1545). Tetapi “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:26). Iman tanpa harapan dan kasih tidak sepenuhnya mempersatukan orang beriman dengan Kristus dan tidak menjadikannya anggota yang hidup dalam Tubuh-Nya.

      KGK 1853 … Seperti Tuhan ajarkan, akar dosa terletak di dalam hati manusia, di dalam kehendaknya yang bebas: “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujah. Itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:19-20). Di dalam hati ada juga kasih, asal perbuatan baik dan suci. Kasih inilah yang dilukai oleh dosa.

      Dengan demikian, mari kita tidak memisah- misahkan antara iman, pengharapan, kasih, perbuatan baik, (juga kasih karunia Allah, pertobatan dan Baptisan) karena semuanya itu diperlukan bagi keselamatan kita. Perbuatan baik saja tidak menyelamatkan, seperti telah dibahas di sini, silakan klik, namun iman saja yang tidak disertai perbuatan kasih, juga tidak menyelamatkan. Sebab iman yang menyelamatkan tidak dapat dipisahkan dari kasih dan perbuatan baik yang dihasilkan oleh kasih itu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Budi Darmawan Kusumo on

        Syalom Bu Ingrid,

        Terima kasih atas penjelasannya. Memang sedari awal saya sudah MENEKANKAN bahwa perbuatan kasih tidak bisa dilepaskan dari iman. Namun pembicaraannya lama – lama mengarah ke pemisahan antara Iman & Perbuatan.

        Oya ada yang ingin saya tanyakan :

        Kenapa disebut Rabu ABU ? Kok tidak KAMIS ABU, JUMAT PUTIH dan sebagainya ?

        Terima kasih atas pencerahannya. ( email pribadi saya kapan hari sudah ibu terima ? )

        Tuhan YESUS memberkati & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA

        • Shalom Budi,

          Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaska, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paska. Angka “40” selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan. Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (lih. 1 raj 19:8). Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (lih. Mat 4:2).

          1. Mengapa hari Rabu?

          Nah, Gereja Katolik menerapkan puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung), maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu ditambah 4 hari. Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. (Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, jatuh hari Rabu)

          2. Mengapa Rabu “Abu”?

          Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6). Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”

          Demikianlah mengapa disebut Rabu Abu, dan mengapa tidak Kamis Abu. Lalu tentang Jumat Agung (Good Friday) disebut demikian karena pada hari Jumat tersebut terjadilah peristiwa yang paling agung dalam sejarah keselamatan kita, yaitu sengsara dan wafat Tuhan Yesus di kayu salib demi menebus dosa umat manusia. Pengorbanan Yesus ini tiada terpisahkan dari kebangkitan-Nya atas maut yang kita rayakan pada hari Raya Paskah. Kristus yang tersalib itu adalah yang diwartakan oleh Rasul Paulus (lih. 1 Kor 2:2), sebab tanpa salib, tidak ada kebangkitan.

          Demikian tanggapan saya, semoga berguna.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. kak ingrid, saya mau tanya tentang bagaimana pandangan katolik mengenai keselamatan diluar kepercayaan/iman kita kepada Yesus. misalnya bagi umat2 non kristen ( baik katolik atau protestan) jika kita diselamat kan oleh iman saja. terima kasih.

    • Shalom Sang JMV,

      Jika anda membaca kembali tulisan ulasan di atas, anda akan mengetahui bahwa Gereja Katolik tidak mengajarkan Sola Fide dengan pengertian yang sama dengan Sola Fide yang diajarkan oleh para pengajar Kristen non- Katolik. Sebab Sola Fide/ “iman saja” yang diajarkan oleh Gereja Katolik di sini adalah iman akan Kristus dalam kesatuan dengan perbuatan kasih dan rahmat Allah yang diterima melalui sakramen- sakramen, terutama Pembaptisan dan Ekaristi. [Sedangkan Sola Fide menurut saudara- saudari kita yang non- Katolik adalah iman saja, tanpa perbuatan, dan tanpa sakramen]

      Gereja Katolik tetap mengajarkan bahwa jika seseorang diselamatkan, itu adalah karena jasa Kristus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup, yang melaluiNya seseorang dapat sampai kepada Allah Bapa (Yoh 14:6). Memang jalan yang umum bagi keselamatan adalah, seseorang mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamatnya, dan ini dinyatakan lewat kesediaannya untuk dibaptis. Maka pembaptisan adalah pintu gerbang utama untuk mencapai keselamatan, seperti yang diajarkan oleh Kristus sendiri (Yoh 3:5). Namun demikian, selain Pembaptisan yang umum kita kenal (dengan air dan forma yang sah), terdapat dua jenis baptisan yang lain, yaitu Baptisan darah dan Baptisan rindu (implicit desire for Baptism, tentang ini telah ditulis di sini, silakan klik). Baptisan darah itu contohnya dialami oleh orang- orang yang belum sempat dibaptis (misalnya para katekumen) namun telah wafat sebagai martir demi membela iman Kristiani. Sedangkan tentang Baptisan rindu, telah pernah dibahas di artikel ini, Baptisan rindu menurut St. Thomas, silakan klik.

      Penjelasan lebih lanjut tentang apakah ada keselamatan bagi orang- orang yang non- Katolik, sudah pernah dibahas panjang lebar artikel- artikel berikut ini (silakan klik di judul berikut)

      Apakah yang diselamatkan hanya orang Katolik dan yang lainnya pasti masuk neraka?
      Adakah Keselamatan di luar Tuhan Yesus/ Gereja Katolik?
      Tidak ada keselamatan kecuali melalui Yesus
      Siapa saja yang dapat diselamatkan?

      Silakan membaca dahulu artikel- artikel tersebut, dan jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya kembali.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. tolong bantu saya mengklarifikasi atau mengerti maksud pesan ini, pesan yang tertulis berikut merupakan kiriman saudara seiman beda gereja

    (FWD MESSAGE)
    After Nearly 500 Years Pope Admits Luther was Right: Salvation is by Faith Alone

    by Jeff Fountain (Protestant leader within the International Prayer Movement ), Christian Today Australia/Internati onal Prayer Council

    ROME ITALY – Luther would have been amazed at the efforts of the Vatican today to put the Bible back into the heart of the Roman Catholic Church. In October last, bishops from around the world were called to Rome for a three-week synod to discuss how to promote prayerful reading, understanding and proclamation of God’s Word. Pope Benedict XVI himself kicked off the synod with a round-the-clock Bible reading marathon lasting a whole week, by reading the opening verses of Genesis. Twelve hundred readers took part, including Orthodox and Evangelical leaders.

    Last week, briefly passing through Rome, my wife and I stood in an empty Saint Peter’s Square, where the chairs were still laid out for the 20,000 who had attended the pope’s weekly public audience on the Wednesday before. On our return to Holland, we read in the newspaper what the faithful had been told that day. The headline read: Pope quotes Luther: Sola Fide. Luther, the pope had told his audience, had been right to insist in sola fide, that a believer was justified by faith alone!

    Disagreement over this doctrine had been at the heart of the Reformation in the 16th century, splitting Christianity in western Europe. Yet, said the pope, it was indeed biblical to say, as did Luther, that it was the faith of a Christian, not his works, that saved him. Such faith however could not be separated from love for God and for neighbour, he qualified. Paul wrote about this balance in his letters, especially the letter to the Philippians, he added.

    The pope defined faith as ‘identification with Christ expressed in love for God and neighbour’. Such love fulfilled the law. Being justified meant simply being with Christ and in Christ. Christ alone was sufficient. Living by faith had radical consequences for the Apostle Paul after his conversion on the road to Damascus, explained the pope. Prior to that, his life had been regulated by all sorts of Jewish rules and commandments. Paul’s new lifestyle, based on faith in Christ alone, surfaced in his various letters, especially his letter to the Romans.

    Luther had correctly translated Paul’s words as ‘justified by faith alone’, the well-known sola fide, Benedict affirmed, as reported in the newspaper. Some have blamed the widespread lack of biblical knowledge among Italians, on the Catholic Church due to its monopoly on the teaching of the Bible. The Italian newspaper, La Stampa, responded to a recent survey showing that only 14% of Italians questioned were able to answer questions about the Bible correctly, with the headline: ‘In the beginning was the Word – but the Italians don’t read it’.

    Only one in four Italians had read a passage from the Bible in the past year, the survey revealed, compared to three out of four in the USA. Few even knew whether or not the Gospels were part of the Bible. Philosophy graduates confused Paul with Moses and thought that Jesus wrote Genesis, according to the survey. This despite the encouragement of the Second Vatican Council (1962-65) for the faithful to rediscover Scripture as the primary source of spiritual life.

    So now Benedict is personally leading the way to encourage Catholics to engage with Scripture. The theme of the synod was The Word of God in the Life and Mission of the Church. The pope told the gathered bishops that true reality was to be found in the Word of God. Many had put their trust in money as the true reality, observed the pope, but this was evaporating in the current global financial crisis.

    The Bible Society of the UK has been assisting the Vatican to promote the reading of Scripture through the Lectio Divina Project. This new resource for Catholics provides notes and prayers to go with weekly lectionary readings of the Sunday Mass. I flew to Switzerland last week for an interconfessional gathering of Together for Europe. Talk of the synod there prompted someone to quote Cardinal Kaspers’ recent statement: ‘The Word divided us; the Word must unite us’.

    We began to dream about how Christians in Europe could celebrate the 500th anniversary of the Reformation in 2017 – less than nine years away – as a prophetic statement by Catholics and Protestants together that the Word that once divided us is now uniting us again. That would be a giant step toward the fulfilment of Luther’s original dream of a Bible-centered Church!

    (THE END OF THE MESSAGE)

    Pesan ini benar atau tidak? Jika benar, bukankah agak kontradiktif dengan yang selama ini diajarkan Gereja Katholik?
    Jika tidak maupun si penulis pesan salah menangkap maksud Paus, harap memberi tahu semua saudara Katholik agar jangan mudah percaya atau tidak salah mengerti. Terima kasih. Tuhan memberkati.

    [dari katolisitas: telah dijawab di artikel di atas - silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply