Apakah Galileo Galilei dibunuh Gereja Katolik?

74

Ada banyak orang yang salah paham dengan mengatakan bahwa Galileo dihukum mati oleh Gereja Katolik, karena ia mengajarkan tentang teori heliosentris dan menolak paham geosentris yang saat itu diterima oleh masyarakat luas, termasuk Gereja. Namun hal ini tidaklah benar. Mari kita melihatnya satu persatu faktanya:

  1. Ada banyak teori/ paham berkaitan dengan kasus Galileo. Namun secara obyektif, kita melihat ada kesalahan yang dilakukan oleh pihak Galileo dan juga oleh Gereja.
  2. Sebelum Galileo, Nicolaus Copernicus (1473-1543) telah mempresentasikannya kepada Gereja Katolik tentang teori “heliocentric”. Bahkan Vatikan sendiri membantu untuk mempublikasikannya, setelah melalui proses editing, dan membantu publikasinya dengan bantuan Cardinal Schonberg dan Tiedemann Giese, uskup dari Culm dengan persetujuan Paus Paul III. Hanya dalam publikasi tersebut dikatakan bahwa teori itu masih berupa ” hipotesa“. Tidak ada yang menentang hipotesa ini, termasuk Paus. Malah reaksi keras tentang teori ini datang dari teolog Protestan. Untuk lengkapnya, dapat dilihat di: New Advent – Nicolaus Copernicus. Jadi dari sini kita melihat bahwa Gereja Katolik tidak anti science, namun malah mendorong kemajuan science, yang diteruskan sampai sekarang. Sungguh sangat disayangkan bahwa banyak orang beranggapan bahwa Gereja menentang science dan menyembunyikan science dari manusia untuk mempertahankan kekuasaan.
  3. Galileo Galileo (1564-1642) yang tertarik dan mendukung teori heliocentric dari Copernicus, mencoba membuktikan bahwa teori heliocentric adalah benar, dengan beberapa argumentasi yang tidak memenuhi standard science pada waktu itu. Namun dengan keadaan tersebut, Galileo tetap berkeras bahwa teori yang dikemukakannya adalah benar. Hal inilah yang menjadikan pertentangan dengan Gereja Katolik pada saat itu. Dan hal ini menimbulkan kebingungan di kalangan umat. Kemudian Galileo menghadap tim investigasi di Roma dan dari penyelidikan tim tersebut, dinyatakan bahwa teori heliocentric tidak dapat dibuktikan sesuai dengan standard science pada waktu itu, sehingga dinyatakan salah, juga bidaah dan anti Kitab Suci. Galileo harus mencabut pernyataannya, dan Galileo berjanji tidak akan mengajarkan teori ini lagi.
  4. Galileo benar ketika dia mengatakan bahwa Kitab Suci ditujukan untuk mengajarkan manusia bagaimana untuk mencapai surga. Bahkan Kardinal Bellarminus yang mempunyai pengaruh besar pada waktu itu mengatakan, “Saya katakan bahwa jika sebuah bukti yang konkrit ditemukan bahwa matahari tetap dan tidak berputar mengelilingi bumi, tetapi bumi mengelilingi matahari, maka menjadi sangat penting, secara hati-hati, untuk melakukan penjelasan dari beberapa ayat di Kitab Suci yang terlihat bertentangan, dan kita lebih baik mengatakan bahwa kita telah salah menginterpretasikan semua ini daripada mengumumkan bahwa hal itu adalah salah seperti yang telah dibuktikan”. Hal ini berarti bahwa Gereja Katolik mempunyai sikap bahwa kalau teori tersebut dapat dibuktikan sesuai dengan standard pembuktian science pada waktu itu, dan terbukti benar, maka Gereja akan berfikir bagaimana menginterpretasikan Kitab Suci, sehingga tidak bertentangan dengan kebenaran tersebut. Di sinilah Galileo benar, bahwa Alkitab bukanlah buku science, namun mengajarkan orang untuk mencapai surga.
  5. Walaupun Galileo telah berjanji mentaati untuk tidak mengajarkan teori tersebut, namun Galileo mengingkarinya dengan menerbitkan buku di tahun 1632. Dan kemudian Galileo dihadapkan pada tim investigasi dan kemudian Galileo menjalani tahanan rumah sambil melakukan penitensi. Namun sungguh sangat salah kalau dikatakan seolah-olah Galileo tidak diperlakukan tidak manusiawi, karena baik selama proses investigasi dan tahanan rumah, Galileo mendapatkan fasilitas yang sangat baik. Pada tahun 1642, dia meninggal dan 5 tahun sebelum meninggal dia mengalami kebutaan. Paus Urban VIII memberikan berkat khusus buat Galileo, dan jenasahnya dikuburkan di dalam Gereja Santa Croce di Florence. Hal ini dapat dibaca di New Advent – Galileo Galilei.
  6. Dari hal ini, sejarah membuktikan bahwa Gereja Katolik tidak membunuh Galileo. Apakah ada kesalahan yang dibuat oleh Gereja Katolik? Ya, terutama adalah tim investigasi pada waktu itu, yang mungkin kurang bijaksana menyikapi kasus ini. Di sisi yang lain, Galileo sendiri tidak dapat membuktikan kebenaran teorinya sesuai dengan standard science pada waktu itu dan tetap memaksakan sesuatu yang belum terbukti sebagai suatu kebenaran. Dari sinilah Cardinal Ratzinger mengutip Paul Feyerabend, seorang filsuf dari Austria yang mengatakan ” Pada jaman Galileo, Gereja lebih setia terhadap akal budi dibandingkan dengan Galileo sendiri“. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa “Pada akhir dari milenium ke dua, kita harus mengadakan pemeriksaan batin bagaimana kita sekarang, bagaimana Kristus telah membawa kita, dan bagaimana kita telah menyimpang dari Injil”. Dan memang Gereja yang masih mengembara harus terus memurnikan diri, karena walaupun Gereja itu Kudus (karena Kepala dari Gereja, Kristus, adalah kudus), namun mempunyai anggota yang berdosa (KGK, 827).

Berikut ini adalah sekilas kisahnya tentang Galileo dan mengapa ia dihadapkan pada tim investigasi Gereja:

Hal ini akan lebih dapat dipahami jika kita berusaha memahami keadaan masyarakat pada zaman abad pertengahan sampai pada abad 17, di mana peran Gereja sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sebab para imam/ biarawan terutama kaum Jesuit pada saat itu banyak yang menjadi ahli dalam ilmu pengetahuan, seperti matematika, biologi, kedokteran, metalurgi, dst, termasuk astronomi. Pada saat itu sikap para ilmuwan adalah mengembangkan ataupun menyelaraskan apa yang mereka pelajari dengan apa yang mereka ketahui sebagai Wahyu Ilahi yang dinyatakan dalam Kitab Suci.

Berikut ini kami menyarikan informasi yang netral dari Wikipedia, dan juga dari sumber- sumber lainnya:

Dalam hal astronomi khususnya prinsip heliosentris (matahari sebagai pusat yang statis, sedangkan bumi, bulan dan planet-planet yang berputar mengelilinginya) yang diajarkan oleh Galileo Galilei, menjadi sangat menarik, karena seolah- olah, hal ini berlainan dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci dan yang diyakini masyarakat umum dan Gereja pada saat itu, yang menyatakan bahwa sepertinya bumi-lah yang menjadi pusatnya (geosentris), seperti tertulis dalam Mzm 93:1, 96:10 dan 1 Taw 16:30 yang mengatakan, “Sungguh tegak dunia (bumi), tidak bergoyang” (lihat juga ayat Mzm 104:5, Pkh 1:5). Galileo berargumen, bahwa sesungguhnya ayat- ayat ini harus dianggap sebagai puisi, dan tidak harus diinterpretasikan secara literal. Nah untuk inilah pihak Gereja membutuhkan pembuktian dari Galileo, sebelum dapat menyetujui interpretasi ayat- ayat tersebut, karena pada umumnya, cara interpretasi Kitab Suci yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah, pertama- tama harus diterima arti literalnya terlebih dahulu; baru kemudian arti spiritualnya; kecuali jika pengartian secara literal itu sama sekali tidak mungkin/ tidak masuk akal.

Pada saat teleskop ditemukan sekitar 1608, sehingga Galileo menggunakannya (1610) untuk mengamati tata surya, maka ia melihat adanya 4 satelit/ bulan yang mengitari planet Yupiter, dan ini membuktikan bahwa tidak semua planet bergerak mengitari bumi. Namun penemuan teleskop itu tidak bisa secara meyakinkan menjelaskan secara empiris bahwa semua planet, termasuk bumi bergerak mengitari matahari. Inilah permasalahannya. Sebab ada juga teori lain saat itu- yang dipelopori oleh Tycho de Brahe, yang mengatakan bahwa semua planet bergerak mengitari matahari, dan bersama-sama dengan matahari, semuanya mengitari bumi.

Selanjutnya, pada tahun 1616, Galileo menyampaikan bukti teori heliosentris kepada Kardinal Orsini, yaitu adanya pasang air laut, yang menurut Galileo disebabkan oleh perputaran bumi pada porosnya dan perputaran bumi terhadap matahari. Memang teori ini memberikan dasar pemikiran akan pentingnya bentuk dasar lautan dalam hal ukuran dan waktu terjadinya pasang. Namun sebagai alasan terjadinya pasang, teorinya ini keliru. Sebab jika teori ini benar, maka akan hanya terjadi satu kali saja pasang yang tinggi setiap harinya, padahal kenyataannya di Venesia, contohnya, terdapat dua kali pasang, dengan jeda sekitar 12 jam. Terhadap pernyataan Galileo ini ilmuwan Albert Einstein mengatakan, bahwa Galileo mengembangkan “argumen yang mengagumkan” ini tanpa dikritisi, karena keinginannya menemukan bukti fisik tentang pergerakan bumi.

Pada tahun yang sama, Galileo bertemu dengan Kardinal Bellarminus, dan ia menyampaikan teori heliosentris tersebut. Awalnya Kardinal Bellarminus tidak menolak hipotesa tersebut, namun setelah beliau mengetahui bahwa bukti- bukti yang disampaikan Galileo tidak memadai, maka ia kemudian mengeluarkan dekrit yang melarang publikasi teori tersebut.

Ilmuwan yang pertama-tama menentang Galileo dengan menggunakan Kitab Suci adalah seorang bernama Lodovico delle Colombe, yang kemudian mendapat dukungan dari imam Dominikan, Tommaso Caccini (1614), walaupun pada saat itu banyak tokoh Gereja Katolik malah sebenarnya mendukung percobaan Galileo, terutama kaum Jesuit. Pandangan Gereja Katolik yang resmi akhirnya disampaikan oleh Kardinal Robertus Bellarminus, yang mengatakan demikian:

I say that if there were a true demonstration that the sun was in the center of the universe and the earth in the third sphere, and that the sun did not go around the earth but the earth went around the sun, then it would be necessary to use careful consideration in explaining the Scriptures that seemed contrary, and we should rather have to say that we do not understand them than to say that something is false which had been proven.” (Letter of Cardinal Bellarmine to Foscarini.)

terjemahannya:

“Saya berkata jika ada pembuktian yang benar bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi di lingkaran ke tiga, dan bahwa matahari tidak berputar mengelilingi bumi tetapi bumi mengitari matahari, maka adalah penting untuk menggunakan pertimbangan yang hati- hati dalam menjelaskan Kitab Suci yang kelihatannya sebaliknya, dan kita seharusnya mengatakan bahwa kita tidak mengetahuinya daripada mengatakan sesuatu yang salah, seperti yang telah dibuktikan.” (Surat Kardinal Belarminus kepada Foscarini).

Karena bukti yang dapat mendukung teori ini tidak cukup memadai, maka Gereja tidak dapat mendukung teorinya. Maka pada tahun 1616, pihak Gereja Katolik mengeluarkan dekrit bahwa teori heliosentris tersebut adalah teori yang salah dan bertentangan dengan Kitab Suci. Perlu kita ketahui bahwa bukan hanya Gereja Katolik yang menolak teori Copernicus yang dipegang oleh Galileo, tetapi gereja Protestan juga menolaknya. Bahkan Martin Luther termasuk barisan pertama yang menentang teori heliosentris, bersama-sama dengan muridnya Melancthon dan para teolog Protestan lainnya. Mereka mengecam karya Copernicus. Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya demikian “an ass who wants to pervert the whole of astronomy and deny what is said in the book of Joshua, only to make a show of ingenuity and attract attention”.[1]  Atau Melancthon yang menyebut semua pengikut Copernicus (termasuk Galileo) sebagai ‘tidak jujur dan merusak’.[2]  Maka tidak benar bahwa pada saat itu yang menentang Galileo hanya Gereja Katolik, sebab Luther dan para tokoh gereja Protestan juga menentang teori heliosentris yang diyakininya.

Galileopun untuk sementara waktu tunduk pada larangan ini, sampai pada tahun 1623 saat Kardinal Maffeo Barberini, seorang pengagumnya, menjadi Paus, dengan nama Paus Urban VIII. Pada tahun ini, Galileo diijinkan oleh Paus untuk melanjutkan penelitian atas hipotesanya, asalkan 1) memberi argumen- argumen tentang hal- hal yang mendukung dan menentang teori heliosentrism, 2) agar pandangannya tentang hal ini dimasukkan dalam buku tersebut. Galileo hanya memenuhi permintaan yang kedua dalam bukunya yang diberi judul Dialogue Concerning the Two Chief World Systems. Namun, sengaja atau tidak, Galileo memasukkan pandangan Paus itu dalam tokoh Simplicio, sebagai pendukung teori geosentris-nya Aristoteles, yang dibuatnya menjadi tokoh yang bodoh/ pandir. Maka Galileo bukannya menampilkan hal pro dan kontra secara netral, tetapi cenderung untuk membela pandangannya yang pro terhadap heliosentris ini- walaupun ia belum dapat memberikan bukti yang meyakinkan secara ilmiah untuk mendukung teorinya. Oleh karena itu, Galileo kehilangan dukungan dari Paus yang merasa dilecehkan olehnya, dan juga oleh para astronom Jesuit. Akhirnya Galileo dikenakan tahanan rumah sampai ia diadili oleh Pengadilan Inkuisisi tahun 1633, atas tuduhan mengajarkan teori yang bertentangan Kitab Suci, yaitu bahwa matahari tidak bergerak sebagai pusat jagad raya. Namun atas kebaikan Uskup Agung Siena, akhirnya Galileo diperbolehkan pulang ke villanya di dekat Florence tahun 1634 sampai wafatnya di tahun 1642, setelah menderita demam dan serangan jantung, di usia yang ke 77.

Maka sebenarnya kita ketahui bahwa pihak otoritas Gereja Katolik mempunyai pikiran yang terbuka terhadap teori Galileo, seandainya ia dapat membuktikannya. Namun sayangnya Galelio tidak dapat membuktikannya, tapi ia berkeras agar Gereja memperhitungkan cara baru untuk menginterpretasikan Kitab Suci. Sebenarnya, jika Galileo hanya mendiskusikan mengenai pergerakan planet, maka ia dapat terus mengajarkan konsep heliosentris ini sebagai proposal teori dengan aman, tetapi rupanya Galileo berkeras untuk mengatakan hal ini sebagai kebenaran, walaupun ia tidak mempunyai bukti yang mendukung pada saat itu. Bukti yang diperlukan, yaitu data/ informasi mengenai jalur pergeseran paralel dari bintang-bintang karena pergeseran orbit bumi mengelilingi matahari, tidak dapat diamati dengan teknologi pada saat itu. Konfirmasi stellar parallax ini baru ditemukan di tahun 1838 oleh Friedrich Wilhelm Bessel.

Seperti telah diuraikan di point 1, teori heliosentris yang diajarkan oleh Galileo berhubungan dengan cara menginterpretasikan Kitab Suci. Magisterium Gereja Katolik berpegang kepada Tradisi Suci mengajarkan bahwa Kitab Suci pertama- tama harus diartikan secara literal, dan baru kemudian secara spiritual. Dengan kata lain, hanya jika suatu ayat tidak mungkin diartikan secara literal, baru dapat dinyatakan bahwa ayat itu hanya untuk diinterpretasikan secara spiritual. Untuk mengubah interpretasi menjadi arti spiritual saja pada ayat- ayat tersebut (Mzm 93:1, 96:10 dan 1 Taw 16:30), nampaknya masih merupakan perdebatan saat itu, karena pihak Gereja menghendaki buktinya terlebih dahulu. Penjelasan ini diperlukan, sebab jika tidak, orang dapat menyangka bahwa apa yang ditulis dalam Kitab Suci adalah salah, padahal sebenarnya yang salah adalah interpretasinya. Tetapi untuk sampai pada kesimpulan ini, Gereja membutuhkan kepastian terlebih dahulu, bahwa ayat itu memang tidak dapat diartikan secara literal.

Maka urusan Galileo ini tidak ada hubungannya dengan Infalibilitas Bapa Paus. Sebab karisma Infalibilitas Bapa Paus (Paus yang tidak dapat sesat) ini hanya dapat berlaku dalam 3 syarat[3]: 1) Bapa Paus harus berbicara dalam kapasitasnya sebagai penerus Rasul Petrus; 2) pada saat Bapa Paus mengajarkan secara definitif tentang iman dan moral; 3) Ketika Bapa Paus mendefinisikan doktrin yang harus dipegang oleh Gereja secara universal. Dalam kasus Galileo ini, ketiga syarat ini tidak terpenuhi. Klaim yang dapat dikatakan dalam hal ini adalah bahwa Gereja pada saat itu mengeluarkan disiplin yang non-infallible terhadap seorang scientist yang mengajarkan teori yang belum bisa dibuktikan, dan yang menuntut Gereja mengubah interpretasi Kitab Suci untuk dapat menerima teorinya ini.

Adalah baik bahwa Gereja Katolik tidak terburu-buru untuk menyetujui teori Galileo ini, sebab sekarang kita ketahui bahwa teori Galileo ini tidak sepenuhnya benar. Galileo berpegang bahwa matahari tidak hanya pusat tata surya tetapi pusat seluruh jagad raya. Sekarang kita ketahui bahwa matahari bukan pusat dari seluruh jagad raya, dan matahari juga sebenarnya bergerak mengitari galaksi Milky Way. Maka Galileo ‘benar’ dengan menyatakan bahwa bumi bergerak, tetapi ‘salah’ dengan menyatakan matahari tidak bergerak. Sebaliknya para opponent Galileo ‘benar’ dalam mengatakan bahwa matahari bergerak, namun ‘salah’ dengan menyatakan bumi tidak bergerak.

Terlepas dari bermacam kontroversi Galileo ini, kenyataannya, Gereja Katolik juga telah berusaha mengembalikan nama baik Galileo. Paus Yohanes Paulus II pernah membuat permintaan maaf secara formal pada tahun 1992. Sekarang malah direncanakan Vatikan akan meletakkan patung Galileo di kompleks Vatikan, yaitu kebun di dekat apartemen tempat Galileo ditahan ketika menunggu pengadilan tahun 1633. Namun jauh sebelumnya melalui surat ensikliknya Providentissimus Deus (1893), Paus Leo XIII telah mendorong pendekatan/ approach Galileo untuk menyelaraskan antara iman dan ilmu pengetahuan, sebab keduanya sebenarnya tak mungkin bertentangan. Alkitab memang bukan buku science/ ilmu pengetahuan. Jika ada ayat-ayat yang kelihatannya bertentangan dengan science, itu adalah karena penyampaiannya dengan gaya bahasa fenomenologis, dan yang termasuk dalam salah satu gaya bahasa yang harus diperhatikan dalam menginterpretasikan Kitab Suci, yang diajarkan oleh Gereja Katolik, seperti yang pernah disampaikan di artikel ini, silakan klik.

 


CATATAN KAKI:
  1. Herbert Butterfield, The Origins of Modern Science (New York: the Free Press, 1957), p. 69 []
  2. P. Melancthon, “Initia doctrinae physicae,” Corpus Reformatorum, ed. Bretschneider, XIII, p. 216. []
  3. lih. Lumen Gentium, 25, KHK Kan. 748, 1 []
Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

74 Comments

  1. Ketidaksesatan Magisterium Yang Ternyata Sesat
    Sekalipun Paus dianggap tidak dapat salah, ternyata dalam sejarah, Paus pernah salah dalam kasus menghukum Galileo Galilei.
    Mengapa infallibilitas Paus tetap dipertahankan, sedangkan dalam perjalanan sejarah Paus dapat saja tergelincir dalam kesalahan yang lain?

    [Dari Katolisitas: Silakan untuk membaca terlebih dahulu artikel di atas, silakan klik.
    Maka urusan Galileo ini tidak ada hubungannya dengan Infalibilitas Bapa Paus. Sebab karisma Infalibilitas Bapa Paus (Paus yang tidak dapat sesat) ini hanya dapat berlaku dalam 3 syarat: 1) Bapa Paus harus berbicara dalam kapasitasnya sebagai penerus Rasul Petrus; 2) pada saat Bapa Paus mengajarkan secara definitif tentang iman dan moral; 3) Ketika Bapa Paus mendefinisikan doktrin yang harus dipegang oleh Gereja secara universal. Dalam kasus Galileo ini, ketiga syarat ini tidak terpenuhi. Selanjutnya tentang apa itu infalibilitas Paus, silakan klik di sini.]

    • Herman Jay, saya menyarankan jika anda tidak tahu tentang Infallibilitas atau Rahmat Nirsesat sebaiknya anda mempelajarinya lebih dulu sehingga tak membuat diri anda pada posisi yang memalukan.
      Infallibilitas tidak melekat pada pribadi seorang manusia yang menjadi Paus. Infallibilitas terjadi JIKA DAN HANYA JIKA seorang Uskup Roma mengajarkan hal yang berkaitan dengan POKOK IMAN DAN MORAL yang DITERIMA GEREJA DALAM KESETIAAN TERHADAP TRADISI RASULI SEJAK DIDIRIKANNYA GEREJA DI ATAS PETRUS OLEH TUHAN YESUS DAN DIJAMIN OLEH SEGEL KEKAL (MAT.16: 18) dan MANAKALA PENGAJARAN ITU DILAKUKAN SECARA RESMI (EX CATHEDRA/DARI TAHTA) DALAM KAPASITAS SEBAGAI GEMBALA GEREJA UNIVERSAL.
      Dan semua uskup yang berhimpun dalam kesatuan dengan Uskup Roma juga ikut berpartisipasi dalam Rahmat Nirsesat itu manakala juga mengajarkan dalam kapasitas sebagai pengajar Gereja dalam Dioses/keuskupannya dan manakala yang bersangkutan tetap dalam kebersatuan yang layak (in good standing) dengan Uskup Kota Roma (Paus).

      Jadi saya menyarankan dengan amat sangat kepada saudara Herman untuk mau berendah hati belajar lebih lengkap agar mampu menyajikan argumentasi secara layak dan terhormat seturut standar logika yang sehat.

      • Setiap pertanyaan pada dasarnya menunjukkan ketidaktahuan penanya ketika dia bergulat dengan dirinya sendiri mengenai hal yang belum mampu dijawabnya sendiri.
        Oleh karena itu pertanyaan selayaknya diterima sebagai upaya untuk mendapatkan jawaban yang lebih tepat dari persoalan yang dihadapinya.
        Tidak layak menganggap seseorang yang bertanya tentang hal yang tidak dipahaminya dengan jelas dan sempurna, sebagai sesuatu yang memalukan.
        Bahkan komentar anda justru menunjukkan keangkuhan rohani anda terhadap seorang yang justru belum menguasai sesuatu masalah.
        Ruang katolisitas merupakan ruang diskusi dan bukan ruang untuk menganggap diri lebih hebat dalam hal pengetahuan kegerejaan.

        Submitted on 2014/04/05 at 12:01 am.
        Sebagai tambahan , kiranya moderator Katolisitas menyortir kata-kata peserta yang tidak layak, khususnya yang berisi “argumentum ad hominem”. Kata-kata demikian hanya mengajak orang untuk berantem dan tidak mendidik .
        HJK dan Herman Jay kan tidak saling mengenal. Apa untungnya HJK menyerang pribadi orang yang anda tidak kenal?
        Kalau tidak salah di negara-negara barat, para siswa sangat dihargai dan didorong untuk bertanya, sekali pun suatu pertanyaan mungkin bagi pihak lain dianggap bodoh.
        Memberi kesempatan kepada orang untuk bertanya merupakan peluang bagi penjawab untuk lebih kreatif dan berkembang / mengembangkan pedalaman atas apa yang diketahuinya.
        Justru dalam tanya jawab, maka penjawab ( cq Katolisitas dan peserta) mengalami “pengasahan”. Daya nalar mereka terus diasah sehingga jawaban makin tajam . Pendalaman pengetahuan penjawab makin bertambah, karena setiap “kasus” bersifat spesifik dan membutuhkan pendekatan penjelasan yang berbeda-beda.
        Demikian pula tanya jawab dapat memberi inspirasi kepada para peserta lainnya untuk mendapatkan wawasan baru.
        Pertanyaan yang diajukan walaupun dianggap oleh HJK sebagai memalukan, tidak otomatis dapat dijawab dengan mantap oleh peserta lain. Bahkan peserta lain kemungkinan besar tidak terpikir akan munculnya pertanyaan semacam itu.
        Penanya yakin banyak peserta lain yang merasa dibantu dengan diskusi tentang infalibilitas, sekalipun pertanyaan yang diajukan dianggap pertanyaan memalukan oleh HJK.
        Bukankah pertanyaan bodoh tetap menantang penjawab untuk lebih kreatif dalam menjawab. Bukankah jawaban yang diberikan bukan merupakan rumus baku yang sudah ada sebelumnya dan tinggal ditayangkan?
        Dari sekian ribu pertanyaan yang diajukan ke katolisitas selama hampir enam tahun, tentu banyak pertanyaan mengagetkan yang tidak otomatis dapat dijawab langsung oleh pengasuh katolisitas.

        • Yth Herman Jay,
          Dengan gaya yang sepertinya cerdas, namun ceroboh, anda memosisikan diri sebagai victim terhadap tanggapan saya.
          Seolah-olah anda menempatkan diri anda sebagai orang yang tak tahu menahu dalam persoalan yang anda tangkap sehingga seolah-olah anda layak mendapat jawaban.

          Namun demikian, ternyata sesungguhnya anda makin meyakinkan saya bahwa anda bukanlah orang yang tak tahu menahu akan persoalan itu namun terlalu sok tau.

          Anda menyatakan:
          [Setiap pertanyaan pada dasarnya menunjukkan ketidaktahuan penanya ketika dia bergulat dengan dirinya sendiri mengenai hal yang belum mampu dijawabnya sendiri.
          Oleh karena itu pertanyaan selayaknya diterima sebagai upaya untuk mendapatkan jawaban yang lebih tepat dari persoalan yang dihadapinya.
          Tidak layak menganggap seseorang yang bertanya tentang hal yang tidak dipahaminya dengan jelas dan sempurna, sebagai sesuatu yang memalukan.
          Bahkan komentar anda justru menunjukkan keangkuhan rohani anda terhadap seorang yang justru belum menguasai sesuatu masalah.]

          Persoalannya adalah, JIKA anda memang BERTANYA, tentu anda tak akan menuliskan kalimat bernada MENYIMPULKAN seperti yang anda tulis:
          [Ketidaksesatan Magisterium Yang Ternyata Sesat
          Sekalipun Paus dianggap tidak dapat salah, ternyata dalam sejarah, Paus pernah salah dalam kasus menghukum Galileo Galilei.]

          Apakah redaksional kalimat semacam itu dapat diposisikan sebagai sebuah PERTANYAAN?

          Bukankah kalimat anda itu justru merupakan PERNYATAAN/STATEMENT yang cenderung berbau insinuatif dan tendensius menyerang Lembaga Kepausan?

          Jika anda memang bertanya dengan ketulusan, tentu anda akan lebih memilih kalimat yang tidak bernada accusation atau tuduhan. Dan dengan fakta bahwa anda memilih kalimat bernada tuduhan seperti itu, maka terbukti bahwa justru andalah yang lebih dulu memakai metoda AD HOMINEM terhadap figur Paus ataupun lembaga Kepausan.

          Jadi saya harap anda juga berlega hati menerima tanggapan saya seperti di atas.
          Jika anda tidak siap menuai tanggapan ad hominem, jangan menyemai PERNYATAAN ad hominem.
          Buah yang akan anda tuai tentu tidak berbeda dari benih yang anda tabur lebih dulu.

          Semoga anda lebih dapat berdamai dengan Gereja Kristus dan para pekerja yang dipilih-Nya (yaitu Sri Paus dan para Uskup yang bersatu dengannya).

          • Shalom Herman Jay dan HJK,

            Saya ingin menyarankan agar Anda berdua tidak lagi memperpanjang masalah ini. Saya tahu bahwa Herman Jay memang sering bertanya di katolisitas. Saya tidak tahu apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut Anda yang menyusun sendiri atau mungkin ada yang bertanya kepada Anda. Kalau ada yang bertanya kepada Anda, mungkin ada baiknya Anda dapat menyusun kembali pertanyaan-pertanyaan tersebut, sehingga tidak berkesan konfrontatif, padahal Anda juga seorang Katolik dan Anda juga berusaha taat kepada pengajaran Magisterium Gereja. Di satu sisi, mari kita juga tidak perlu menilai motif dibelakang orang yang bertanya atau menilainya sok tahu. Mari, kita berfokus pada diskusi yang sehat, yang dapat membawa kita pada diskusi yang membangun. Mohon maaf, komentar lanjutan terhadap diskusi ini tidak dapat saya masukkan ke dalam website. Semoga dapat dimengerti.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            stef – katolisitas.org

  2. tuhan itu apa?
    tuhan itu berapa?
    ajaran benar itu apa?
    adakah tuhan di atas tuhan?

    [dari katolisitas: Jawaban singkatnya: Tuhan itu Roh yang kekal, asal dari segala sesuatu dan segala sesuatu diciptakan oleh-Nya; Tuhan itu satu; Ajaran yang benar adalah yang sesuai dengan Firman Allah, karena Allah adalah kebenaran itu sendiri; Tidak ada Tuhan selain Tuhan]

  3. - kenapa isi dari alkitab bisa bertentangan dengan kebenaran fenomena alam semesta? seperti dikatakan bahwa ‘bumi sebagai pusat tata surya, matahari mengelilingi bumi’ padahal sebaliknya mataharilah pusat tata surya kita.
    - setahu saya memang pada mulanya saat pertama kali menyampaikan kebenaran pada gereja galileo memang kurang bukti, terus pihak gereja membuat perjanjian yang isinya bahwa galileo tidak boleh mengajarkan ajarannya kepada siapapun karena ajaran tersebut dinilai sesat karena bertentangan dengan kepercayaan mereka yang didukung oleh paham aristoteles yang waktu itu dianggap benar dan dengan terpaksa galileo menanda tanganinya. namun beberapa tahun kemudian setelah ditemukannya teropong di belanda dan kemudian disempurnakan oleh galileo akhirnya bukti-bukti yang falid sudah ditangan galileo melalui pengamatannya dengan teropong tsb. kemudian galileo ke roma dengan bukti tersebut dan berharap paus yang baru (yang telah ia kenal sejak masih jadi kardinal karena galileo juga orang yg taat ke gereja), dan disitu galileo boleh menuliskan pemikirannya kedalam sebuah buku namun dengan konsekuensi bahwa buku tersebut harus melihat 2 sudut pandang (gereja dan sains karena gereja juga tidak mau disalahkan)namun karena galileo seorang ilmuan kebenaran sains secara gamblang diceritakan (membuktikan bahwa gereja keliru), hal inilah yang membuat pihak gereja menyidangnya karena dianggap terlalu ekstrim (pada waktu itu). semula pihak gereja menjatuhinya hukuman penjara seumur hidup karena terbukti sesat namun karena kebaikan dari paus yang mengenalnya dan umur galileo yang sudah tua maka hukumannya diubah menjadi tahanan rumah. waktu dalam tahanan rumah sebelum dia meninggal dia mewariskan beberapa lembar buah karyanya yang belum dibukukan (karena dilarang) kepada asistennya yang sekaligus muridnya sejak awal. galileo meminta agar dibukukan namun asistennya menolak karena hal tsb ilegal waktu itu. galileo pun menyuruhnya agar dibukukan di negara lain dengan harapan bisa dibukukan. akhirnya asistennya berhasil menyelinap dan membawa salinan kertas2 tsb sampai ke belanda disana dia mengunjungi ilmuan lain dan disana akhirnya buku itu bisa dibukukan dan menjadi cikal bakal lahirnya ilmu pengetahuan tentang astronomi yang akhirnya digunakan sebagai pedoman oleh newton,dan albert einstein. disinilah kesalahan terbesar pihak gereja, padahal menurut galileo ilmu pengetahuan tidak bertentangan dengan agama. untuk membayar kesalahannya akhirnya gereja mencabut setatusnya dari orang sesat menjadi ilmuan dan bukunya boleh diterbitkan dan makam galileo saat ini berada disalah satu gereja di roma

    • Shalom Rohan,

      1. Kitab Suci adalah kitab yang mengisahkan perjalanan iman, sehingga bukan merupakan kitab ilmu pengetahuan. Maka apa yang disampaikan oleh Kitab Suci, tidak harus disamakan ataupun dianggap sebagai patokan ilmu pengetahuan. Walaupun ditulis atas ilham Roh Kudus, namun Kitab Suci itu disampaikan/ dituliskan dalam bahasa manusia, sehingga berperan di sini hal gaya bahasa dan cara pikir/ cara pandang manusia pengarangnya pada saat itu. Maka untuk menginterpretasikan dengan benar, diperlukan pengetahuan akan beberapa prinsipnya, secara khusus gaya bahasa penulis, dan tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik, lihat sub point 4. gaya bahasa fenomenologi.

      2. Sejujurnya, memang ada banyak kisah Galileo, dan jika kita dapat menemukan berbagai versi yang berbeda-beda. Versi Anda salah satunya. Namun apa yang kami sampaikan di atas, itu kami pandang lebih koheren dengan data-data lainnya. Sebab penemuan teropong, itu sama sekali bukan bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Sebab dengan teropong/ teleskop yang Galielo hanya dapat membuktikan adanya 4 satelit yang mengitari planet Yupiter. Nah maka yang dibuktiklan dari teleskop itu adalah tidak semua planet bergerak mengitari bumi, tapi ini belum dapat membuktikan bahwa semua planet bergerak mengitari matahari. Bukti yang diperlukan untuk menyimpulkan bahwa semua planet mengitari matahari (matahari adalah pusat tata surya) adalah adanya jalur pergeseran stellar parallax (jalur pergeseran paralel dari bintang-bintang karena pergesaran orbit bumi mengelilingi matahari); dan ini baru ditemukan oleh Friedrich Wilhelm Bessel di tahun 1838. Bessel sendiri adalah seorang ahli matematika Jerman, dan bukan seorang Belanda, seperti jika teori/ skenario yang Anda pegang itu benar.

      Demikianlah tanggapan saya. Terlepas dari seputar kisah Galileo, namun pihak Gereja Katolik sendiri berusaha untuk menghargai penemuannya, yang memang secara obyektif membuka jalan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut hemat kami tidak ada manfaatnya untuk menuding siapakah yang bersalah dalam hal ini, karena kejadiannyapun sudah berlalu, dan pihak-pihak yang terlibatpun sudah meninggal dunia. Yang lebih penting adalah dengan melihat fakta sejarah, seperti dalam kasus Galileo, kita dapat belajar lebih bijak menyikapi kehidupan, untuk menyelaraskan iman dan akal budi, faith and reason, karena keduanya berasal dari Allah.

      Kami di Katolisitas sudah berusaha menyampaikan apa yang kami ketahui tentang Galileo, dan selanjutnya memang terpulang kepada para pembaca bagaimana menyikapinya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      PS: Menurut pengetahuan kami, kubur Galileo ada di Basilika Santa Croce, Florence, bukan di Roma.

    • Raden Satriyo on

      Menurut saya, jika salah satu ayat dlm kitab suci suatu agama (ayat yg terkait dg keberadaan jagat raya seisinya) bertentangan dengan sains maka ayat itu yg salah, karena eksistensi alam semesta seisinya melalui proses yg amat panjang (menurut ukuran manusia) yg terkait dengan SEBAB-AKIBAT (SAINS).

      • Shalom Raden,

        Dua hal disebut kontradiksi, kalau yang satu “menjadi” dan yang lain “tidak menjadi” dengan cara yang sama dan dalam waktu yang sama. Jadi, tidak ada pertentangan kalau ilmu pengetahuan menuliskan bahwa karena bumi mengelilingi matahari dan perputaran pada porosnya, maka ada bagian dari bumi yang mengalami siang dan bagian lain mengalami malam. Sedangkan dalam bahasa sehari-hari, maka kita mengalami bahwa matahari terbit dari sebelah Timur. Yang satu memberikan bukti secara ilmu pengetahuan dan yang lain memberikan bukti dari apa yang dialami oleh manusia. Jadi, dalam mengartikan Kitab Suci, maka kita harus melihat gaya bahasa yang digunakan, menggali arti (literal, spiritual) yang ingin disampaikan. Sekali lagi, yang ingin disampaikan adalah Kitab Suci bukanlah buku ilmu pengetahuan, namun dituliskan agar manusia dapat sampai ke Sorga.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

      • Jessica Celinne Kusnadi on

        Ytk. Pak Raden.

        Kitab Suci diberikan kepada manusia untuk dan demi Keselamatan manusia.
        Apa yang tertulis di dalam Kitab Suci merupakan sebuah permenungan bagaimana manusia begitu dikasihi Allah yang Maha Kuasa pencipta langit dan bumi.
        Kitab Suci bukan Kitab Sekuler.
        Bahwa terjadi pertentangan di dalamnya, tergantung sudut pandang kita di dalam menginterpretasikannya.

        Salam dan terbuka untuk dikoreksi.

  4. Bila sebuah Firman yang murni isinya tidak akan berbenturan yang satu dengan yang lainnya.Jika kita Nasrani sejati,kaji injil lebih dalam dan bandingkan dengan AL-quran.Tentang teori ini…

    [Dari Katolisitas: Anda benar, bahwa dalam Firman yang adalah Kebenaran, tidak akan ada pertentangan. Hal inilah yang kami yakini ada dalam ajaran iman kami. Bukan fokus kami di Katolisitas untuk memperbandingkan agama-agama, namun yang kami sampaikan di sini adalah ajaran iman Katolik. Kami menghormati iman Anda, dan semoga Anda dapat juga menghormati ajaran iman kami.]

    • Jessica Celinne Kusnadi on

      Bila sebuah Firman yang murni isinya tidak akan berbenturan yang satu dengan yang lainnya.Jika kita Nasrani sejati,kaji injil lebih dalam dan bandingkan dengan AL-quran.Tentang teori ini…

      Ijinkan Celinne mengomentari…

      Firman yang murni mengajarkan tuntunan Jalan menuju Keselamatan BUKAN mengajarkan bagaimana bumi itu terbentuk.

      Mohon direnungkan.

  5. Kunci Iman itu adalah jujur dan mengungkapkan kebenaran meskipun itu pahit rasanya…Galileo galilei di bunuh karena teorinya tidak sesuai dengan ajaran injil.Karena menerangkan Bumi itu bulat sedangakan injil menerangakan bumi itu datar.Karena Firman Tuhan itu tidak bisa berubah-ubah.Kalo kita tidak ingin tersesat kajilah kitab-kitab suci yang ada di dunia ini = injil,Al-quran,weda,dan tripitaka..dimanakah agama Tuhan yang murni dan sebenarnya…,yakinlah..kita pasti akan mendapatkan kebenaran itu…

    [dari katolisitas: Kalau Anda ingin benar-benar jujur, silakan mempelajari fakta tentang kematian Galileo Galilei, apakah sungguh dibunuh oleh Gereja Katolik atau tidak. Kalau Anda ingin benar-benar mengungkapkan kebenaran, silakan mempelajari topik yang didiskusikan oleh Galileo Galilei, apakah tentang bumi bulat/datar atau heliosentris / geosentris. Setelah itu, mungkin Anda bisa memberikan kesimpulan yang lain.]

  6. tapi katanya Feyerabend juga menolak nilai-nilai kemapanan agama, semua yang dianggap menjamin kebenaran absolut bagi Feyerabend adalah bentuk penyelewengan akal budi, dan Gereja hari itu juga termasuk di antaranya…. coba baca lagi buku “Against Methods” Feyerabend, beberapa di antaranya dia mengeritik Gereja yang terlalu naif selama berabad-abad zaman Dark Age, naif karena mengatas-namakan Tuhan sementara umat Gereja tidak mengenal Tuhan itu sendiri, kecuali Gereja (extra ecclesiam nulla salus)…. dengan judul yang menggemparkan dunia ilmiah (Against Methods), kritiknya tidak hanya dihadapkan pada agama pada umumnya, tapi juga tesis-tesis ilmiah yang dinilai semuanya subyektif, karena walaupun penelitian sebuah hipotesis dilakukan secara obyektif, tetap definisi-definisi subyektif telah dipakai (seperti misalnya telaah teori sebelumnya, penelitian sebelumnya, obyek data, uji-uji asumsi, dll, didasarkan pada suatu bentuk metodologi yang status quo sifatnya)….

    [Dari Katolisitas: Kami tidak mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Feyerabend semuanya benar. Namun apa yang dikatakannya tentang fakta Galileo itu masuk akal. Tentang pandangannya yang lain, seperti tentang Dark Age, EENS dan sebagainya, tentu itu adalah pandangannya secara pribadi, dan karenanya tidak dapat dibandingkan dengan ajaran Gereja]

  7. Terlalu banyak gagasan yg ku baca,
    Tak sedikitpun memberi kejelasan dasar.

    ” Apabila tidak ada galileo dengan teorinya, lalu apa kalian sampai saat ini akan percaya kalau bumi ini datar ? ”

    - Lalu jika gereja mendukung galileo kenapa sampai ada sejarah yang tersebar lebih kuat tentang pembunuhan oleh gereja pada galileo ?

    - Jika paus utusan tuhan, dia bakal tau donk kalo bumi ini bulat, tapi kok dia TIDAK tahu ? lebih tahu galileo ?

    - Kontroversi Teori GG ini hanya sebagian kecil dari contoh KESALAHAN Dalam mempercayai sesuatu…Komentar2 kalian seolah2 hanya bersifat SELF DEFENCE , menyalahkan gereja tanpa mau mengambil pelajaran>

    lalu .. apa pernah terbesit di hati&pikiran kalian …

    BEGITU BANYAK BUKTI YANG KALIAN SANGKAL DAN GANTI

    • Shalom Nico,

      Untuk pertanyaan pertama, teori yang dikemukakan Galileo Galilei bukan mengenai apakah bumi datar atau bulat, tetapi apakah bumi itu adalah pusat tata surya (geosentris) atau bukan. Silakan membaca kembali penjelasan kami di artikel di atas, khususnya silakan Anda baca di link tanya jawab ini, silakan klik.

      Untuk pertanyaan Anda yang kedua, yang menyalahkan Gereja Katolik adalah orang-orang yang gencar menyebarkan berita yang tidak benar tentang Galileo dengan memojokkan Gereja Katolik. Adalah kewajiban moral bagi setiap orang beriman yang sungguh mengasihi kebenaran, untuk meluruskan berita ini, dan itulah yang sedang kami lakukan di Katolisitas. Kami tidak dapat dan tidak perlu mengomentari perbuatan sejumlah orang yang entah sengaja atau tidak sengaja menuliskan berita yang tidak benar sehubungan dengan kasus Galileo. Biarlah nanti mereka sendiri yang mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan.

      Untuk pertanyaan ketiga dari Anda, kuasa yang diberikan oleh Kristus kepada Rasul Petrus dan para penerusnya (yaitu Paus) tidak dalam kapasitas mengajar sains tetapi hal iman dan moral. Maka jika itu berkenaan dengan iman dan moral, sifatnya adalah infallible (tidak dapat salah). Kami telah menuliskan uraian mengenai infalibilitas itu dalam artikel “Ajaran Bapa Gereja dapat salah tapi ajaran Magisterium tidak dapat salah

      Nah, maka memang bukan bagian Paus untuk mengajarkan tentang hal ilmu pengetahuan. Dalam kasus Galileo, pihak Gereja hanya mensyaratkan pembuktian yang memadai agar dapat menerima teori Galileo (yaitu teori heliosentris) yang sepertinya bertentangan dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Bahwa ternyata dalam prosesnya hal ini tidak berjalan mulus, bahkan sampai melibatkan pemeriksaan ataupun penahanan, sehingga seolah Gereja terlalu jauh mencampuri urusan sains, ini memang yang patut disayangkan. Maka Paus Yohanes Paulus II-pun telah meminta maaf karena hal ini. Namun sejujurnya, kesalahan tidak hanya ada pada pihak Gereja, namun juga pada pihak Galileo. Maka penjabaran kisah Galileo di artikel di atas tidak dimaksudkan sebagai self-defense, namun sebagai penyampaian suatu fakta agar kita dapat menilai segala sesuatunya dengan kacamata yang obyektif. Dalam dialog yang jujur, kita perlu melihat permasalahan dari sudut pandang masing-masing pihak, baru kita dapat saling memahami. Kami percaya, upaya melihat dari sisi Galileo, itulah yang telah dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II, sehingga ia mewakili Gereja, mau dengan tulus hati meminta maaf atas kekurangan Gereja dalam penanganan kasus Galileo.

      Selanjutnya tentang tuduhan Anda bahwa kami menyangkal bukti atau mengganti bukti, silakan Anda tunjukkan, jika memang Anda mengetahuinya, dan mohon sebutkan dari mana sumbernya, sehingga dapat kami periksa. Dalam dialog yang saling menghormati, mari menggunakan azas saling menghargai, dan tidak mengeluarkan tuduhan tanpa dasar. Semoga dapat diterima. Mari berdialog atas dasar kasih, sebagaimana layaknya bagi orang beriman.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati – katolisitas.org

    • Jessica Celinne Kusnadi on

      Dear Nico.
      Semakin banyak kamu membaca dengan semangat yang tidak bijaksana, di sanalah kegalauan akan terjadi.
      Semakin banyak kamu membaca dengan semangat yang bijaksana, di sanalah kenyamanan dan kedamaian sejati akan kamu terima.
      Salam.

  8. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan. Sumber Wikipedia

    • Shalom Timotius,

      Menjelang tahun Yubelium 2000, memang Paus Yohanes Paulus II membuat banyak pernyataan permohonan maaf atas nama putera puteri Gereja yang di masa lalu membuat kesalahan dalam sejarah umat manusia. Harus diakui, bahwa banyak peristiwa negatif yang terjadi di masa lalu yang antara lain disebabkan karena keterlibatan para anggota Gereja. Untuk hal inilah Paus, selaku pemimpin tertinggi Gereja meminta maaf atas nama mereka, demi mengusahakan proses rekonsiliasi menjelang tahun rahmat Tuhan (Yubelium) 2000. Dalam rangka mengusahakan rekonsiliasi inilah, antara lain, Paus Yohanes Paulus II di tanggal 4 November 1992, mengeluarkan pernyataan tentang kasus Galileo yang dimaksudkan agar terdapat saling pengertian yang lebih baik antara para ilmuwan dan teolog, yang di abad ke-17 telah pernah secara tragis bertentangan dan yang menyisakan luka yang dalam di kultur Barat sampai saat ini. Paus ingin menyatakan bahwa ilmu pengetahuan mempunyai ranahnya sendiri, yang mempunyai kebebasan yang sah, yang pada zaman Galileo, dicampuri oleh pihak otoritas Gereja. 

      Secara obyektif, memang terdapat kesalahan yang dilakukan oleh pihak tribunal Gereja yang menjatuhkan sangsi tahanan kepada Galileo atas tuduhan menyebarkan ajaran sesat (heresi) yang menentang ajaran Kitab Suci. Heresi yang dimaksud di sini adalah teori Galileo bahwa matahari adalah pusat jagad raya dan tidak bergerak (bumilah yang bergerak). Terlepas dari bahwa Galileo tidak dapat memberikan bukti yang memenuhi standar ilmu saat itu dan bahwa akhirnyapun teori Galileo ini tidak sepenuhnya benar (untuk membaca penjelasannya, silakan di sini), namun fakta bahwa sikap para hakim tribunal yang dengan kukuh mengambil patokan interpretasi literal Kitab Suci untuk mengadili Galileo, adalah sikap yang keliru (lih. Pope John Paul II,  L’Osservatore Romano N. 44, November 4, 1992, “The error of the theologians of the time, when they maintained the centrality of the Earth, was to think that our understanding of the physical world’s structure was, in some way, imposed by the literal sense of Sacred Scripture….“). Paus Yohanes Paulus II mengemukakan bahwa dalam kasus Galileo, terdapat hal-hal tragis di kedua belah pihak yang melampaui pemahaman kita (“tragic mutual incomprehension“). Hal ini memang tidak seharusnya terjadi sebab jika dipahami dengan benar, tidak mungkin ada pertentangan antara iman dan ilmu pengetahuan/ akal budi, sebab baik iman maupun akal budi sama-sama berasal dari Tuhan. Teks lengkap pernyataan Paus Yohanes Paulus II tentang hal ini, silakan klik di link ini.

      Sekitar dua tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1990, Cardinal Ratzinger (sekarang menjadi Paus Benediktus XVI) memberikan konferensi di universitas La Sapienza, dan ia mengutip frasa dari ilmuwan Paul Feyerabend dengan mengatakan, “At the time of Galileo, the Church remained more faithful to reason than Galileo himself. The trial of Galileo was reasonable and just…” Ada banyak orang yang salah paham dengan pernyataan ini, dan menyangka Paus Benediktus XVI seakan hanya mau membela posisi Gereja. Namun yang mau dikatakan di sini adalah bahwa pada masa Galileo, ilmu pengetahuan seperti kehilangan jati diri, sebab dari sejarah kita ketahui bahwa saat itu para ilmuwan sendiri saling berbeda pendapat, sehingga terjadi pendapat yang berganti-ganti terhadap kasus Galileo. Dalam krisis ini, masing-masing ilmuwan tentu mempunyai dasar teori/pemikirannya sendiri, namun kekerasan Galileo untuk mengemukakan pandangannya, tanpa melengkapinya dengan bukti-bukti yang memadai (sebab bukti yang memadai -yaitu pola stellar paralax- baru dapat diketahui di abad ke 19) menunjukkan kelemahan Galileo sendiri.

      Kini, ilmu pengetahuan membuktikan bahwa matahari adalah pusat tata surya, dan dengan demikian teori heliosentrism yang dianut oleh Galileo terbukti mengandung kebenaran. Paus Benediktuspun mengakui hal ini. Menjelang peringatan 400 tahun penggunaan teleskop oleh Galileo, Paus Benediktus XVI turut merayakannya di Vatikan, bertepatan dengan perayaan tahun astronomi internasional. Paus Benediktus XVI mengatakan, “I take this occasion to express my gratitude not only for the careful studies which have clarified the precise historical context of Galileo’s condemnation, but also for the efforts of all those committed to ongoing dialogue and reflection on the complementarity of faith and reason in the service of an integral understanding of man and his place in the universe.”  (Teks selengkapnya, klik di sini)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply