Apa dasar ajaran Gereja Katolik: Bunda Maria diangkat ke surga?

27

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga, berdasarkan Tradisi Suci yang sudah diimani oleh Gereja sejak lama, namun baru ditetapkan menjadi Dogma melalui pengajaran Bapa Paus Pius XII tanggal 1 November 1950, yang berjudul Munificentimtissimus Deus. Selengkapnya silakan klik di sini. Doktrin ini berhubungan dengan Dogma Immaculate Conception/ Maria dikandung tanpa noda, yang diajarkan oleh Bapa Paus Pius IX, 8 Desember 1854. Untuk topik Maria dikandung tanpa noda, silakan klik di sini.
Umat Kristen non- Katolik banyak yang mempertanyakan hal ini, dan berpikir bahwa Gereja Katolik ‘menciptakan’ Dogma yang tidak berdasarkan Kitab Suci. Sebab bagi mereka sumber Wahyu Ilahi hanyalah Kitab Suci. Namun bagi orang Katolik, Wahyu Ilahi juga diperoleh dari Tradisi Suci yang telah berakar dan tumbuh di dalam Gereja Katolik,di mana Tradisi Suci ini tidak terpisahkan dari Kitab Suci. Maka hal Maria diangkat ke Surga juga memiliki dasar Kitab Suci, walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit. Jadi jika Gereja Katolik mengumumkan suatu doktrin, itu sebenarnya hanya mengumumkan apa yang sudah lama diimani oleh Gereja, dan bukannya sesuatu yang baru tiba-tiba ditambahkan. Sebagai contohnya, pada waktu Gereja Katolik mengumumkan pengajaran tentang Allah Trinitas pada tahun 325 pada Konsili Nicea, adalah bukan berarti sebelumnya tidak ada pengajaran Allah Trinitas ini. Tulisan-tulisan pengajaran para Bapa Gereja menjadi saksi yang hidup atas pengajaran tentang Trinitas ini. Demikian juga pada saat Gereja Katolik menetapkan Kanon Alkitab yaitu pada Konsili Hippo tahun 393 dan Konsili Carthage tahun 397 bukan berarti Gereja Katolik baru ‘menciptakan’ Kitab Suci pada saat itu. Sebelumnya kitab-kitab yang menjadi bagian Alkitab itu sudah ada, namun baru pada saat itu ditetapkan sebagai kanon Alkitab/ kitab-kitab yang diakui sebagai ‘diilhami oleh Roh Kudus’, untuk membedakannya dengan kitab-kitab lain yang hanya merupakan karya tulis biasa.
Dengan pengertian yang sama maka Dogma Maria dikandung tanpa noda dan Dogma Maria diangkat ke surga merupakan pengajaran yang telah lama ada dan diimani oleh Gereja, yang nyata ada dalam tulisan para Bapa Gereja.

Munificentissimus Deus

Dalam pembukaan Munificentissimus Deus (MD, 3) yang menyatakan dogma Bunda Maria diangkat ke Surga, Bapa Paus Pius XII mengatakan bahwa dalam sejarah keselamatan, Bunda Maria mengambil tempat istimewa dan unik. Ini mengacu pada ayat Gal 4:4, di mana dikatakan, “…Setelah genap waktunya”, bahwa dalam pemenuhan rencana keselamatan Allah ini, Allah dengan keMahakuasaan-Nya memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria, agar nyatalah segala kemurahan hati-Nya yang dinyatakan kepada Bunda Maria, dalam keseimbangan yang sempurna.
Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Bunda Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa (karena tidak seperti manusia lainnya, ia tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa/ concupiscentia), maka selanjutnya, adalah setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.

Demikian pula dengan pengajaran bahwa Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Baru, karena dengan mengandung Yesus ia menjadi tempat kediaman Sabda Allah yang menjadi manusia, Sang Roti Hidup [kontraskan dengan tabut Perjanjian Lama yang isinya kitab Taurat Musa dan roti manna], maka Bunda Maria mengalami persatuan dengan Yesus. Mzm 132:8, mengatakan, “Bangunlah ya Tuhan, dan pergilah ketempat perhentian-Mu, Engkau beserta tabut kekuatan-Mu.” Dan dalam Perjanjian Baru tabut ini adalah Bunda Maria. Bunda Maria-lah juga yang disebut sebagai ‘permaisuri berpakaian emas dari Ofir (Mzm 45: 10,14). Hal ini sejalan dengan penglihatan Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu 12, dan tentu, Luk 1:28, 42Hail, full of grace, the Lord is with you, blessed are you among women.” (Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau, diberkatilah engkau di antara semua perempuan) [lihat MD 26, 27]

Bahwa pengangkatan Bunda Maria ke surga merupakan pemenuhan janji Allah bahwa seorang perempuan (Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis [dan kuasanya, yaitu maut](lihat Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (lihat Rom 5-6, 1 Kor 15:21-26; 54-57), di mana kematian akan ditelan dalam kemenangan (1 Kor 15:54).

Nubuat Simeon tentang Bunda Maria juga menunjukkan jalan kehidupan Bunda Maria, yang melalui penderitaan, dan bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya (Luk 2:35) dan ini terpenuhi dengan penderitaannya melihat Yesus Puteranya disiksa sampai wafat di hadapan matanya sendiri. Penderitaan tak terlukiskan ini mempersatukannya dengan Kristus, dan karenanya layaklah ia menerima janji yang disebutkan oleh Rasul Paulus, “… jika kita menderita bersama-sama dengan Dia…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17). Dan karena Bunda Maria adalah yang pertama menderita bersama Yesus dengan sempurna, maka layaklah bahwa Tuhan Yesus memenuhi janji-Nya ini dengan mengangkat Bunda Maria dengan sempurna, tubuh dan jiwa ke dalam kemuliaan surga, segera setelah wafat-Nya.

Namun dasar yang kuat dari pengangkatan Bunda Maria ke Surga adalah karena Maria adalah Bunda Allah (lih. MD 6,14,21,22,25). Sebab “kemuliaan seseorang terletak dalam menghormati bapanya, dan malu anak ialah ibu ternista” (Sir 3:11). Maka fakta bahwa Kristus mengasihi Bunda-Nya Maria, dan mempersatukannya di dalam misteri kehidupan-Nya, menjadikannya layak bahwa perempuan yang diciptakannya tidak bernoda dan perawan yang dipilih-Nya untuk menjadi ibu-Nya, menjadi seperti Dia, menang dengan jaya atas kematian melalui pengangkatannya ke surga sebagaimana Kristus telah menang atas dosa dan maut melalui Kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga.

Demikian juga, yang tak kalah penting adalah karena sebagaimana yang disimpulkan dari Kitab Suci dan sudah diajarkan oleh para Bapa Gereja, Maria adalah Hawa yang baru (lih. MD 27,30, 39). Sebab karena kesalahan satu orang maka umat manusia jatuh dalam dosa, sedangkan karena ketaatan satu orang umat manusia dibenarkan (lih. Rom 5:18-19). Maka sebagaimana Hawa dahulu mengambil bagian dalam ketidaktaatan Adam, demikian pula Maria sebagai Hawa yang baru mengambil bagian dalam ketaatan Kristus sebagai Adam yang baru. Dengan ketidaktaatannya, Hawa yang pertama membawa kematian bagi umat manusia, sedangkan Bunda Maria, dengan ketaatannya membawa hidup bagi umat manusia, karena ia mengandung Sang Hidup yang menebus dan memberikan kehidupan kekal kepada manusia. Maria secara istimewa menyatu dan bekerja sama dengan Kristus, tidak saja dengan melahirkan-Nya tetapi juga di dalam fase- fase penting dalam kehidupan-Nya selanjutnya: saat Ia dipersembahkan ke bait Allah, saat mukjizat-Nya yang pertama, saat Ia disalibkan, saat kenaikan-Nya ke surga dan saat Pentakosta. Maka jika kasih Adam kepada Hawa memimpinnya kepada dosa, kasih Kristus kepada Bunda Maria memimpinnya untuk “mengambil bagian di dalam pertentangan-Nya melawan Iblis dan kepada hasil akhirnya” (MD 39), yaitu kemenangan total di dalam tubuh dan jiwa atas dosa dan maut.

Di sepanjang sejarah Gereja, sudah banyak sekali gereja dibangun dengan tema Bunda Maria diangkat ke surga (MD 15) Dalam doa-doa Liturgi Gereja Katolik, sudah banyak doa-doa yang menunjukkan iman bahwa Bunda Maria ini diangkat ke surga setelah wafatnya. Hal ini kita ketahui dari Sacramentarium Gregorianum, yang mengatakan, “Sangat terberkatilah hari ini O Tuhan, di mana Bunda Allah menderita wafat, namun tidak terikat oleh belenggu kematian, sebab ia telah melahirkan Sang Putera Allah yang menjelma dalam [tubuh]nya.” (MD 17) Dan juga dalam Menaei Totiu Anni, “Tuhan, Raja semesta Alam, telah memberikan kepadamu [Maria] rahmat yang mengatasi kodrat. Seperti Ia menjagamu tetap perawan saat melahirkan, maka Ia telah menjaga tubuhmu takkan rusak di kubur, dan telah memuliakan tubuhmu dengan perbuatan-Nya yang ilahi, mengangkatnya dari dalam kubur.” (MD 18)

Liturgi memang tidak menyebabkan/ menjadi sumber iman Katolik, tetapi merupakan hasil/ disebabkan oleh iman Katolik. Jadi liturgi di sini adalah seperti buah yang dihasilkan dari pohon (lihat MD 20). Maka di sini diketahui bahwa iman Gereja tentang pengangkatan Bunda Maria ke surga, telah lama berakar dalam Gereja. Para kudus yang mengajarkan hal ini antara lain adalah: St. Yohanes Damaskus (676-754), St. Antonius Padua, (1195-1231), (1206-1280), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St Albert Agung, St. Benardinus (1380-1404), St. Robertus Belarminus (1542-1621), St. St. Petrus Kanisius (1520-1597), Alphosus Liguori (1696-1787). [lihat uraian MD 26-36].

Berikut ini adalah bunyi Dogma ini adalah, “…. by the authority of our Lord Jesus Christ, of the Blessed Apostles Peter and Paul, and by our own authority, we pronounce, declare and define it to be a divinely revealed dogma: that the Immaculate Mother of God, the ever Virgin Mary, having completed the course of her earthly life, was assumed body and soul into heavenly glory.” (MD 44)

Terjemahannya:

“…. dengan otoritas dari Tuhan kita Yesus Kristus, dari Rasul Petrus dan Paulus yang Terberkati, dan oleh otoritas kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikannya sebagai sebuah dogma yang diwahyukan Allah: bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” (MD 44)

Pada saat Paus Pius XII mengumumkan Dogma ini, ia menggunakan wewenangnya sebagai Magisterium, dan ia bertindak atas nama Kristus untuk mengajar umatnya. Selanjutnya tentang Magisterium, dalam kesatuan dengan Kitab Suci dan Tradisi Suci silakan klik di sini, dan lebih lanjut tentang Magisterium, silakan klik.

Perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri. Bagi orang Katolik, peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga adalah peringatan akan pengharapan kita akan kebangkitan badan di akhir zaman, di mana kita sebagai orang beriman, jika hidup setia dan taat kepada Allah sampai akhir, maka kitapun akan mengalami apa yang dijanjikan Tuhan itu: bahwa kita akan diangkat ke surga, tubuh dan jiwa untuk nanti bersatu dengan Dia dalam kemuliaan surgawi. Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.

Dengan diangkatnya Bunda Maria ke surga, maka ia yang telah bersatu dengan Yesus akan menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini dengan doa-doanya. Karena berpegang bahwa doa orang benar besar kuasanya (Yak 5:16), maka betapa besarlah kuasa doa Bunda Maria yang telah dibenarkan oleh Allah, dengan diangkatnya ke surga.

Beberapa tulisan Bapa Gereja tentang Maria diangkat ke surga:

1. Pseudo- Melito (300): Oleh karena itu, jika hal itu berada dalam kuasaMu, adalah nampak benar bagi kami pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit dengan mulia, maka Engkau seharusnya mengangkat tubuh Bundamu dan membawanya dengan-Mu, dengan suka cita ke dalam surga. Lalu kata Sang Penyelamat [Yesus]: “Jadilah seperti perkataanmu”.[1]

2. Timotius dari Yerusalem (400)
Oleh karena itu Sang Perawan [Maria] tidak mati sampai saat ini, melihat bahwa Ia yang pernah tinggal di dalamnya memindahkannya ke tempat pengangkatannya.[2]

3. Yohanes Sang Theolog (400)
Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dan dari Roh Kudus. Setiap jiwa yang memanggil namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belas kasihan dan ketenangan dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di dunia yang akan datang, di dalam kehadiran Bapa-Ku di Surga”… Dan dari saat itu semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan yang berharga itu telah dipindahkan ke surga[3]

4. Gregorius dari Tours (575)
Para Rasul mengambil tubuhnya  [jenazah Maria]dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, mengharapkan Tuhan [Yesus] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu diangkat di awan ke surga: dimana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para terpilih Tuhan …[4]

5. Theoteknos dari Livias (600)
Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak, diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia untuk sementara dan diangkat ke surga dengan kemuliaan, dengan jiwanya yang menyenangkan Tuhan[5]

6. Modestus dari Yerusalem (sebelum 634)
Sebagai Bunda Kristus yang termulia… telah menerima kehidupan dari Dia [Kristus], ia telah menerima kekekalan tubuh yang tidak rusak, bersama dengan Dia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya kepada Diri-Nya dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya[6]

7. Germanus dari Konstantinopel (683)
Engkau adalah ia, …. yang nampak dalam kecantikan, dan tubuhmu yang perawan adalah semuanya kudus, murni, keseluruhannya adalah tempat tinggal Allah, sehingga karena itu dibebaskan dari penguraian menjadi debu. Meskipun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam kehidupan surgawi yang tidak dapat musnah, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan mengambil bagian dalam kehidupan yang sempurna[7]

8. Yohanes Damaskinus (697)
Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya. Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya, dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan.[8].

9. Gregorian Sacramentary (795)
Terhormat bagi kami, O Tuhan, perayaan hari ini, yang memperingati Bunda Allah yang kudus yang meninggal dunia untuk sementara waktu, namun tetap tidak dapat dijerat oleh maut, yang telah melahirkan Putera-Mu, Tuhan kami yang menjelma dari dirinya.[9]


CATATAN KAKI:
  1. Pseudo- Melito-The Passing of the Virgin 16:2-17 []
  2. St. Timothy of Jerusalem, Homily on Simeon dan Anna, 400 []
  3. John the Theologian, The Dormition of Mary []
  4. Gregory of Tours, Eight Books of Miracles 1:4 []
  5. Theoteknos, Homily on the Assumption []
  6. Modestus, Encomium in dormitionnem Sanctissimae Dominae nostrae Deiparae semperque Virginis Mariae []
  7. Germanus, Sermon I []
  8. John Damascene, Dormition of Mary []
  9. Gregorian Sacramentary, Veranda, ante 795 []
Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

27 Comments

  1. Siapapun dapat berargumen tantang hal ini, tetapi apakah semua argumen ini telah dibuktikan kebenarannya????? Firman (Yesus) adalah KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA jika kita percaya kepada Firman maka kita akan hidup.
    selanjutnya,..apakah hubungan Maria dengan begitu banyak PATUNG yang ada dalam Gereja Katolik, sedangkan Firman menyatakan bahwa; JANGAN MEMBUAT BAGIMU PATUNG MENYERUPAI BENTUK APAPUN BAIK YANG ADA DI LANGIT DI ATAS MAUPUN DI BUMI DI BAWAH,….Tolong penjelasannya..
    Thanks,..Shaloom !!

    [dari Katolisitas: kami mengundang Anda membaca uraian yang kami paparkan di artikel-artikel berikut ini, silakan klik pada judulnya:

    Orang Katolik tidak menyembah patung

    Apakah umat Katolik yang berdoa di depan patung menyembah berhala?

    Apa itu devosi kepada Bunda Maria?

    Diskusi kami dengan dua pembaca mengenai menyembah berhala/patung, silakan klik pada masing-masing judul:

    Dialog dengan Shirley

    Dialog dengan Indah

    Semoga dapat menjadi jelas bagi Anda.]

  2. icalsebastian on

    Berkah dalem,mohon petunjuk ada teman yang menanyakan kapan bunda maria lahir,dan silsilah bunda maria.
    Terimakasih.Berkah dalem

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel ini, terutama subjudul berikut, lihat point.3, silakan klik. Sejauh pengetahuan kami, tidak ditemukan catatan sejarah yang mencatat secara persis tahun berapa kelahiran Bunda Maria, namun dapat diperkirakan sekitar 12-14 tahun sebelum kelahiran Yesus, sebab menurut tradisi Yahudi, sekitar umur 12-14 tahun umumnya seorang perempuan muda Yahudi bertunangan/ menikah.
    Gereja Katolik merayakan hari kelahiran Bunda Maria tanggal 8 September, tepat 9 bulan setelah perayaan hari Bunda Maria dikandung tak bernoda, 8 Desember. Sekilas kisah tentang kehidupan Maria dicatat dalam kitab Protoevangelium of James, klik di sini. Namun perlu diketahui bahwa kitab tersebut bukan kitab kanonik, dan baru ditulis sekitar tahun 150, sehingga belum tentu dapat dipastikan bahwa semua yang tertulis di sana otentik/ pasti benar.]

  3. Lody Kolatlena on

    Dear Katolisitas,
    Dalam link ini link to wayoflife.org banyak yang menuduh Gereja Katolik telah melakukan penghujatan besar-besar karena Maria digambarkan duduk di sebelah kanan Yesus, Maria juga turut di salib dengan Yesus. Ada juga sebuah patung Maria yang prominen yang diberi nama “Maria Ratu Damai.” Di luar basilika itu, bahkan ada patung MARIA SEDANG TERSALIB BERSAMA YESUS! Sebenarnya apa makna dari patung-patung Maria tersalib bersama Yesus…

    Terimakasih

    • Shalom Lody,

      Sebenarnya, kalau kita mengerti peran Maria dalam karya keselamatan Allah, maka kita dapat melihat karya-karya seni yang ada dalam proporsi yang tepat. Selama kita melihat bahwa Maria adalah Hawa yang kedua yang taat, yang menemani Adam yang kedua (Kristus) dalam menyelamatkan manusia, maka kita akan dapat menempatkan Bunda Maria sebagaimana mestinya. Sebagai contoh:

      1. Maria digambarkan menerima mahkota di Sorga, karena memang Maria adalah yang pertama kali berjalan dalam iman akan Kristus dan telah menyelesaikan tugasnya di dunia ini dengan sempurna, sehingga pada akhirnya dia menerima mahkota di Sorga. Bukankah rasul Yakobus dan Rasul Petrus menekankan bahwa kita juga akan menerima mahkota di Sorga (lih. Yak 1:12; 1Pet 5:4)?

      2. Maria digambarkan sebagai tabut perjanjian Allah yang baru. Tidak ada yang aneh dengan karya seni ini, karena memang Maria mengandung Kristus yang adalah imam, nabi dan raja. Lihat pembahasan ini – silakan klik. Maria digambarkan sebagai ratu damai, karena dia telah melahirkan Kristus, Sang Raja Damai.

      3. Maria digambarkan bersama dengan Kristus di salib. Tidak ada yang aneh dengan gambaran ini, karena semua pengikut Kristus sudah seharusnya memikul salib, menyangkal diri dan mengikuti Kristus (lih. Mat 16:24). Bukankah kita juga yang telah dibaptis juga telah menyalibkan dosa-dosa kita sehingga kita dapat bangkit bersama-sama dengan Kristus?

      Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Maximillian Reinhart on

    Dear Ingrid.
    Aku paham, bahwa Yesus sungguh Allah sungguh manusia, kedua kodrat itu MENYATU TAK TERPISAHKAN (hypostatis union).
    Jadi, aku kira Ingrid sudah memahami kelanjutan tulisanku.
    Mohon lebih dijelaskan…
    Salam Kasih.
    Max

    [Dari Katolisitas: Mohon membaca terlebih dahulu artikel Yesus Sungguh Allah Sungguh Manusia, silakan klik]

  5. Maximillian Reinhart on

    Dear Katolisitas.

    Perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri.

    Lukas 9:51 Ketika hampir genap waktunya Yesus DIANGKAT ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,

    Bisa tolong dijelaskan?

    Terima kasih.

    • Shalom Maximillian Reinhart,

      Kita perlu mengingat ajaran Gereja yang mendasarinya yaitu bahwa saat penjelmaan-Nya sebagai manusia, Yesus adalah sungguh Allah namun juga sungguh manusia. Artinya ada dua kodrat dalam diri Yesus, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia.

      Maka jika ada ayat-ayat dalam Kitab Suci yang mengatakan bahwa Yesus ‘dibangkitkan’ Allah (lih. Kis 2:32; 7:37; 10:40; 13:37) dan ‘diangkat’ ke surga (Luk 9:51), itu mengacu kepada kodrat-Nya sebagai manusia. Sebaliknya, jika ayat-ayat Kitab Suci mengatakan bahwa Yesus ‘bangkit’ (lih. Mrk 16:6,9; Yoh 2:22; Kis 17:3; Rom 8:34; 1 Tes 4:12; 2Tim 2:8) dan  Ia ‘naik’ ke surga (Kis 1:11; 1 Ptr 3:22; Yoh 3:13), itu mengacu kepada kodratnya sebagai Allah (maka Ia dapat bangkit dari kematian dan naik ke Sorga dengan kuasa-Nya sendiri).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Shalom Nicolaus,

      Sepanjang pengetahuan saya, para teolog mempunyai pandangan yang berbeda tentang akhir hidup Bunda Maria di dunia. Ada yang berpandangan bahwa Bunda Maria tidak mengalami kematian, namun langsung diangkat tubuh dan jiwanya oleh Allah ke surga. Namun ada pula yang berpandangan bahwa, seperti halnya Yesus Puteranya yang mengalami kematian, Bunda Maria pun wafat, tetapi kemudian diangkat tubuh dan jiwanya ke surga. Magisterium Gereja Katolik, dalam mendefinisikan Dogma Bunda Maria diangkat ke Surga, tidak menyebutkan secara eksplisit apakah Bunda Maria wafat atau tidak sebelumnya. Dikatakan demikian:

      “…. dengan otoritas dari Tuhan kita Yesus Kristus, dari Rasul Petrus dan Paulus yang Terberkati, dan oleh otoritas kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikannya sebagai sebuah dogma yang diwahyukan Allah: bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” (Munificentissimus Deus 44)

      Kami pernah mengulas tentang topik Bunda Maria diangkat ke surga, silakan klik di sini, dan klik di sini, dan tentang apakah pengangkatan Bunda Maria hanya pengkiasan, silakan klik.

      Selanjutnya untuk membaca tulisan lain tentang pengangkatan Bunda Maria ke surga, silakan membaca di link ini, silakan klik

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Bu Inggrid. Dari buku yg pernah saya baca di yerusalem ada makam Bunda Maria. Bgmn mungkin diangkat kalau jasadnya masih di bumi kecuali rohnya diangkat itu benar spt nanti kita juga rohnya diangkat ke surga.Juga Maria masih melahirkan adik2 Yesus dari suami Yusuf sampai akhirnya Yusuf meninggal dunia Maria tidak kawin lg.Maria juga adalah istri ketiga atau keemoat dari Yusuf. Bgmn mungkin dia adalah perawan, kalau melahirkan Yesus mungkin krn dari Roh Kudus. GBU

        • Shalom Budi Yoga,

          Sebenarnya, tidak ada pertentangan antara dogma Maria diangkat ke Sorga dengan keberadaan makam Bunda Maria di Yerusalem, sama seperti tidak ada pertentangan antara Yesus yang wafat, dimakamkan dan kemudian naik ke Sorga. Gereja Katolik tidak pernah mendefinisikan apakah Bunda Maria meninggal terlebih dahulu atau tidak sebelum diangkat ke Sorga. Banyak teolog – termasuk St. Thomas Aquinas – yang mengatakan bahwa Bunda Maria wafat terlebih dahulu mengikuti jejak Puteranya. Namun, yang jelas setelah habis masa tugasnya di dunia ini dan atas jasa Putera-Nya, maka tubuh dan jiwa Maria diangkat ke Sorga.

          Tentang topik yang lain, yaitu keperawanan Maria, Anda dapat membacanya di sini – silakan klik. Silakan membaca link yang saya berikan terlebih dahulu, sebelum Anda mempunyai kesimpulan yang terlalu jauh, yaitu menempatkan Bunda Maria sebagai istri ketiga atau keempat dari St. Yusuf. Maria tetap perawan walaupun melahirkan Yesus, karena Yesus bukan lahir dari benih laki-laki namun Roh Kudus sendiri yang turun dan kuasa Allah yang Maha Tinggi menaungi Maria (lih. Luk 1:35). Semoga dapat diterima.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  6. Dear Katolisitas
    Saya ingin bertanya apakah tulisan di blog ini: link to newadvent.org adalah benar tulisan Rasul Yohanes mengingat tidak masuk dalam kanon serta penanggalan thn 400, dimana sangat kecil kemungkinan Rasul Yohanes sendiri masih hidup pada saat itu, mengingatkan saya kepada beberapa kitab2 apokrif seperti kitab Barnabas, yang tertanggal sktr 1000 thn setelah Barnabas meninggal. Justru yang masuk kanon adalah Injil Yohanes, yang sama sekali tidak menyebut peristiwa pengangkatan Maria. Hanya ada dua kemungkinan: Peristiwa itu (pengangkatan Maria) dianggap tidak penting atau tidak pernah terjadi.
    JBU

    [Dari Katolisitas: Pesan ini digabungkan karena masih satu topik]

    Tambahan lagi:

    Yang ingin saya tanyakan menurut TRADISI SUCI (Katolik): Tahun berapa Maria (ibu Tuhan YESUS) diangkat naik ke sorga? Sebab yang ditulis dengan tahunnya hanya pendapat para tokoh Katolik, dan tokoh-tokoh itupun tidak dikenal dari dalam Alkitab.

    Kemudian mengenai blog ini: link to newadvent.org
    Kita baca Narasumbernya:
    Source. Translated by Alexander Walker. From Ante-Nicene Fathers, Vol. 8. Edited by Alexander Roberts, James Donaldson, and A. Cleveland Coxe. (Buffalo, NY: Christian Literature Publishing Co., 1886.) Revised and edited for New Advent by Kevin Knight. .

    Pernahkah kita menemukan kata “the Holy Mother of God” dalam bible?

    “Holy Father” ada, itupun mungkin hanya satu.
    Umumnya KJV gunakan istilah Heavenly Father, sebab istilah ini lebih jelas dan tidak rancu dengan bapa-bapa lainnya.

    John 17:11 And now I am no more in the world, but these are in the world, and I come to thee. Holy Father, keep through thine own name those whom thou hast given me, that they may be one, as we are.

    Kemudian:
    Gregorius dari Tours (575)
    Para Rasul mengambil tubuhnya [jenazah Maria] dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, mengharapkan Tuhan [YESUS] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu diangkat di awan ke surga: dimana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para terpilih Tuhan …

    Apakah Maria diangkat bukan masa ia masih hidup atau setelah dia meninggal?
    Sebab Gregorius mengatakan jenazah Maria — bukankah ini mengatakan dia sudah mati.

    Mungkin tentang ini saja ada berbagai pendapat yang saling bertentangan.

    JBU

    • Shalom Fonda,

      1. Tentang dasar ajaran Maria diangkat ke surga

      Ajaran tentang Bunda Maria diangkat ke surga tidak semata- mata tergantung dari tulisan apokrif tentang pengangkatan Bunda Maria sebagaimana dituliskan oleh St. Yohanes Sang Teolog yang baru ditemukan tahun 400-an.

      Dasar yang kuat dari pengangkatan Bunda Maria ke Surga (yang secara implisit dapat disimpulkan dari Kitab Suci dan  diajarkan oleh para Bapa Gereja) adalah bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru (lih. MD 27,30, 39). Tentang mengapa Maria disebut sebagai Hawa yang baru, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Sebab karena kesalahan satu orang maka umat manusia jatuh dalam dosa, sedangkan karena ketaatan satu orang umat manusia dibenarkan (lih. Rom 5:18-19). Maka sebagaimana Hawa dahulu mengambil bagian dalam ketidaktaatan Adam, demikian pula Maria sebagai Hawa yang baru mengambil bagian dalam ketaatan Kristus sebagai Adam yang baru. Dengan ketidaktaatannya, Hawa yang pertama membawa kematian bagi umat manusia, sedangkan Bunda Maria, dengan ketaatannya membawa hidup bagi umat manusia, karena ia mengandung Sang Hidup yang menebus dan memberikan kehidupan kekal kepada manusia. Maria secara istimewa menyatu dan bekerja sama dengan Kristus, tidak saja dengan melahirkan-Nya tetapi juga di dalam fase- fase penting dalam kehidupan-Nya selanjutnya: saat Ia dipersembahkan ke bait Allah, saat mukjizat-Nya yang pertama, saat Ia disalibkan, saat kenaikan-Nya ke surga dan saat Pentakosta. Maka jika kasih Adam kepada Hawa memimpinnya kepada dosa, kasih Kristus kepada Bunda Maria memimpinnya untuk “mengambil bagian di dalam pertentangan-Nya melawan Iblis dan kepada hasil akhirnya” (MD 39), yaitu kemenangan total di dalam tubuh dan jiwa atas dosa dan maut.

      Demikian juga fakta bahwa Maria adalah Bunda Allah, merupakan alasan  teologis yang kuat terhadap pengangkatan Maria ini (lih. MD 6,14,21,22,25). Sebab “kemuliaan seseorang terletak dalam menghormati bapanya, dan malu anak ialah ibu ternista” (Sir 3:11). Maka fakta bahwa Kristus mengasihi Bunda-Nya Maria, dan mempersatukannya di dalam misteri kehidupan-Nya, menjadikannya layak bahwa perempuan yang diciptakannya tidak bernoda dan perawan yang dipilih-Nya untuk menjadi ibu-Nya, menjadi seperti Dia, menang dengan jaya atas kematian melalui pengangkatan-nya ke surga sebagaimana Kristus telah menang atas dosa dan maut melalui Kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Kristus tidak akan membiarkan tubuh ibunya yang tak berdosa menjadi rusak (corrupted) di kubur, sebagaimana umum terjadi pada manusia akibat dosa; sebab Kristus sudah menguduskan ibu-Nya dan membebaskannya dari segala dosa.

      Maka tidak menjadi terlalu penting, kapankah tahun persisnya Bunda Maria diangkat ke Sorga, sebab bahkan tahun kelahiran dan kebangkitan Yesus-pun sampai sekarang masih mengundang perdebatan para ahli sejarah dan Kitab Suci, namun kita tetap yakin bahwa peristiwa- peristiwa tersebut sungguh terjadi. Kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus pasti terjadi dalam sejarah manusia, berdasarkan kesaksian Kitab Suci dan Tradisi Suci; demikian pula, pengangkatan Bunda Maria ke surga, sesuai yang diajarkan Tradisi Suci yang mengambil dasar dari Kitab Suci. Umat Kristen non- Katolik memang mungkin tidak menghargai Tradisi Suci, tetapi kami umat Katolik memberikan penghormatan yang sama, kepada baik Tradisi Suci maupun Kitab Suci, karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Kristus dan para rasul. Sebab Kitab Suci sendiri mengajarkan demikian, yaitu agar kita berpegang kepada pengajaran lisan para rasul, maupun ajaran tertulis (lih. 2 Tes 2:15). Kitab suci sendiri lahir dari Tradisi Suci (pengajaran lisan para rasul dan para penerus mereka) yang dituliskan. Sebagai contohnya yang paling jelas adalah Injil Markus ditulis dari khotbah- khotbah Rasul Petrus yang dituliskan (karena Markus adalah penerjemah dari Rasul Petrus) sedangkan Injil Lukas dituliskan dari khotbah- khotbah Rasul Paulus (karena Lukas adalah rekan sekerja Rasul Paulus). Hal ini kita ketahui dari tulisan Bapa Gereja yaitu St. Irenaeus (180) yang adalah murid St. Polycarpus yang adalah murid Rasul Yohanes (lihat buku karangan St. Irenaeus, Against the Heresies, Buku III, bab 1,1)

      Jadi jika para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga, itu tidak mungkin karena ajaran mereka sendiri yang tidak ada dasarnya dari Kitab Suci/ pengajaran para rasul. Rasul Yohanes telah menuliskan tentang hal ini dalam Kitab Wahyu saat menyebutkan adanya seorang perempuan berselubungkan matahari yang bermahkotakan dua belas bintang (Why 12), yang melahirkan seorang Anak yang menggembalakan seluruh bangsa. Walau perempuan ini dapat diinterpretasikan secara simbolis sebagai Gereja ataupun kota Yerusalem baru, namun arti literal dari perempuan ini adalah Bunda Maria, mengingat bahwa arti literal dari Sang Anak yang dilahirkannya adalah Kristus dan arti literal dari sang naga merah adalah Iblis. Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      2. Tentang perkataan “the Holy Mother of God”

      Memang perkataan ini tidak tertulis secara eksplisit dalam Kitab Suci, tetapi istilah ini ada berdasarkan dari perkataan yang tertulis secara eksplisit dalam Kitab Suci yaitu, “kecharitomene” (Luk 1:28), yang jika diterjemahkan adalah “engkau yang telah dipenuhi dengan rahmat”. (Selanjutnya tentang makna kecharitomene, silakan klik di sini). Kepenuhan rahmat Allah dalam diri Maria inilah yang menjadikannya kudus. Sebab memang Anak yang dilahirkannya dalah Kudus, Anak Allah (lih. Luk 1:35), sehingga memang sudah selayaknya, jika Allah sungguh menguduskan Tabut yang mengandung-Nya; sebagaimana dahulu dalam Perjanjian Lama, Allah begitu menguduskan Tabut Perjanjian untuk menyimpan tanda- tanda perjanjian-Nya, yaitu kedua loh batu Sabda/ perintah Allah, roti manna dan tongkat imam Harun (Ibr 9:4). Ketiga tanda perjanjian itu digenapi di dalam diri Kristus, yang adalah Sabda Allah yang menjelma (Yoh 1:14), Roti hidup (Yoh 6:35) dan Imam Agung (Ibr 8:1). Tentang Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru, sudah pernah ditulis di sini, silakan klik.

      Sedangkan perkataan “Mother of God” (Bunda Allah) itu disebutkan dalam ayat Luk 1:43, dan tersirat dalam ayat- ayat lainnya, seperti penah dibahas di sini, silakan klik.

      3. Apakah Bunda Maria mengalami kematian atau tidak sebelum diangkat ke surga?

      Dalam pernyataan dogmatik tentang pengangkatan Bunda Maria, frasa yang digunakan adalah, “setelah selesai tugasnya dalam kehidupannya di dunia”, yang memang tidak menyebutkan secara spesifik dan eksplisit apakah Bunda Maria wafat atau tidak sebelum diangkat ke surga. Kedua pandangan diperbolehkan, walaupun secara umum para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria memang wafat sebelum diangkat ke surga. Bagi Bunda Maria kematian bukan disebabkan karena ia berdosa -sebab ia sendiri tidak berdosa sepanjang hidupnya- namun kematian itu disebabkan karena tubuhnya yang secara kodrati bersifat sementara (mortal), sehingga patutlah ia wafat, seperti halnya Puteranya Yesus, yang juga wafat (lih. Fundamentals of Catholic Dogma, Ludwig Ott, Book III, Pt 3, Ch.2, §6).

      Demikianlah bunyinya ajaran/ dogma itu, yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950, tepat 61 tahun yang lalu:

      “Dengan kuasa dari Tuhan kita Yesus Kristus dan dari para Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati, dan dengan kuasa kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikan hal ini sebagai dogma yang diwahyukan Allah: bahwa Bunda Allah yang tiada bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan tugasnya dalam kehidupannya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” (Konstitusi Apostolik, Munificentissimus Deus, 44)

      Maka apakah Bunda Maria wafat atau tidak sebelum diangkat ke surga, tidaklah menjadi utama, sebab yang ingin dinyatakan adalah bahwa di akhir hidupnya di dunia Bunda Maria diangkat ke surga, tubuh dan jiwa-nya, oleh Kristus. Pengangkatan ini merupakan karunia Allah bagi Bunda Maria yang selama hidupnya tidak berdosa, dan selalu bekerja sama dengan rahmat Allah dalam mewujudkan rencana keselamatan-Nya.

      Demikianlah tanggapan saya atas pertanyaan Anda, semoga dapat menjadi masukan bagi Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Dear Tim Katolisitas,

    Tiba-tiba kepikiran saja kemarin malam ketika lagi Rosario. Setau saya Bunda Maria kan tinggal bersama Rasul Yohanes. Adakah tulisan dari Rasul Yohanes ttg peristiwa dinaikkannya Bunda Maria?

    Terima Kasih

    • Shalom Leonard,

      1. Rasul Yohanes menuliskan tentang keberadaan Bunda Maria di Surga dalam penglihatannya yang dituliskan dalam Kitab Wahyu, demikian:

      “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.”

      Tabut Perjanjian yang ada di bait suci itu adalah sang perempuan, yang melahirkan Anak laki-laki  yang menggembalakan segala bangsa. Para Bapa Gereja mengajarkan beberapa interpretasi tentang perempuan ini, dan salah satunya adalah bahwa perempuan ini adalah Bunda Maria; karena secara literal Sang Anak Laki-laki yang mempimpin segala bangsa adalah Tuhan Yesus; dan secara literal sang naga merah itu adalah Iblis, maka secara literal sang perempuan itu adalah Bunda Maria.

      Silakan membaca lebih lanjut di sini, silakan klik.

      2. Sedangkan khusus untuk hal Maria diangkat ke surga, tulisan Rasul Yohanes adalah sebagai berikut, silakan klik.
      Mohon maaf, kami belum dapat menerjemahkannya, mengingat masih banyaknya pertanyaan lain yang harus dijawab.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Stefanus freydy on

    Maaf..boleh saya share diskusi ini??
    Saya ingin jelaskan kepada seorang saudara Protestan saya yang sangat bebal dan tidak percaya tentang ajaran Katolik… dan menganggap bahwa apapun yang terjadi di Katolik, adalah sebuah kebohongan.. saya sudah putus asa bagaimana membuat saudara saya mengerti.. terutama tentang Bunda Maria.. =(
    Trims ibu Ingrid

    • Shalom Stefanus,
      Silakan anda membagikan informasi yang ada di situs ini, jika anda pandang berguna, silakan anda sebutkan sumbernya dari katolisitas.org. Ada banyak artikel dan Tanya Jawab tentang Bunda Maria di situs ini. Ada juga FAQ (Frequently Asked Questions), tentang topik Bunda Maria, yang walaupun belum lengkap, namun sudah cukup banyak informasinya. Tentang dasar ajaran Bunda Maria diangkat ke surga, silakan klik di sini.
      Namun di atas semua itu, yang terpenting adalah mendoakan saudara anda, semoga Roh Kudus menuntunnya agar ia mempunyai sikap keterbukaan hati untuk membaca dan melihat kebenaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Hal menerimanya atau tidak memang masih tergantung dari keputusan pribadinya, namun setidaknya ia dapat melihat bahwa ajaran Gereja Katolik mempunyai dasar yang kuat, baik dari Kitab Suci maupun Tradisi Suci para rasul yang diteruskan oleh para Bapa Gereja.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Stefanus freydy on

        Terima kasih ibu, saya sungguh sedih.. sedikit kesaksian pendeta saja sudah membuatnya percaya, sekalipun itu mungkin palsu.. tetapi ketika saya memberikan kesaksian hidup santo/a, jangankan membacanya, mendengar namanya saja ia tidak mau.. sungguh sulit buat saya meyakinkannya.

        [Dari Katolisitas: Memang demikianlah yang terjadi. Mungkin lebih baik kita mendoakan mereka ini, dan juga berdoa agar jangan sampai kita sendiri terombang ambing oleh banyaknya kesaksian- kesaksian yang tidak benar]

  9. Syalom Bu.Inggrid,

    Saya mengutip tulisan Bu.Inggrid sbg berikut:

    “Bunda Maria-lah juga yang disebut sebagai ‘permaisuri berpakaian emas dari Ofir Mzm 45: 10,14″
    Berikut bunyi Mzm 45: 9 “Di antara mereka yg disayangi terdapat putri-putri raja, di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir”

    Pertanyaannya:
    – Apa dasarnya Gereja Katolik menafsirkan bahwa permaisuri berpakaian emas dari ofir itu adalah Bunda Maria???
    – Apa arti dari berpakaian emas???
    – Apa arti Ofir???
    – Apa arti disebelah kanan???

    • Shalom Michael Angello,
      Tafsiran bahwa Bunda Maria adalah permaisuri berpakaian emas dari Ofir (Mz 45:10, 14) diajarkan oleh para Bapa Gereja, terutama St. Yohanes Damaskus, dalam Homili II, 11; dan St. Modestus, Encomium. Ajaran ini yang dikutip oleh Bapa Paus IX ketika menjelaskan Dogma Maria diangkat ke surga, yaitu dalam tulisannya, Munificentissimus Deus (MD), 26. Silakan klik di sini, untuk menemukan pernyataan tersebut di dalam dokumen Gereja tersebut. Di sana yang tertulis adalah Mzm 44:10, 14, karena sisitem penomoran ayat Mzm-nya sedikit berbeda dengan Alkitab yang kita pakai di Indonesia, namun ayat yang dimaksud adalah ayat Mzm 45:10, 14.

      Maksudnya adalah untuk menunjukkan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada Bunda Maria sebagai Ratu Surga, karena perannya sebagai ibu yang melahirkan Tuhan Yesus. Sebab dengan Yesus yang menjelma menjadi manusia di dalam tubuh Maria, maka Bunda Maria menjadi Tabut Perjanjian yang baru, kenisah Allah yang hidup. Sama seperti tabut perjanjian lama (yang berisi loh batu sepuluh perintah Allah, 5 kitab taurat Musa, dan roti manna) dilapisi emas, maka layaklah bahwa Tabut Perjanjian Baru ini yaitu Bunda Maria dimuliakan di surga, dengan berpakaian emas. Emas Ofir adalah emas yang terbaik, dan termasuk sangat langka, (lih. Yes Yes 13:12). Duduk di sebelah kanan melambangkan kedekatan Bunda Maria dengan Tuhan Yesus. Kisah yang disampaikan dalam Mzm 45:10, 14 menggambarkan Perkawinan Raja, yaitu Perkawinan Anak Domba (Tuhan Yesus) dengan Mempelai-Nya, yaitu Gereja-Nya, di mana Bunda Maria menjadi anggota dan teladan utama.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  10. [quote] Namun bagi orang Katolik, Wahyu Ilahi juga diperoleh dari Tradisi Suci yang telah berakar dan tumbuh di dalam Gereja Katolik, dan sebenarnya ada dasar Alkitabnya, walaupun mungkin tidak dinyatakan secara eksplisit. Maka jika Gereja Katolik mengumumkan suatu doktrin, itu sebenarnya hanya mengumumkan apa yang sudah lama diimani oleh Gereja, dan bukannya sesuatu yang baru tiba-tiba ditambahkan [unquote]

    amat menarik sekali statemen : [quote] Wahyu Ilahi juga diperoleh dari Tradisi Suci yang telah berakar dan tumbuh di dalam Gereja Katolik, [unquote]
    Saya memahami kitab suci bukan wahyu ilahi – wahyu Ilahi adalah Yesus Kristus, dan bukan teks atau kebiasaan sekelompok orang yang berkembang menjadi tradisi
    mohon koreksi dan terima kasih

    • Shalom Skywalker,

      Terima kasih atas tanggapannya. Saya pernah menjawab tentang apakah Alkitab adalah wahyu Ilahi disini (silakan klik).
      Katekismus Gereja Katolik (KGK 101-103) mengatakan:

      101 "Untuk mewahyukan Diri kepada manusia, Allah berbicara dalam kebaikan-Nya kepada manusia dengan bahasa manusiawi: "Sabda Allah yang diungkapkan dengan bahasa manusia, telah menyerupai pembicaraan manusiawi, seperti dahulu Sabda Bapa yang kekal, dengan Mengenakan daging kelemahan manusiawi, telah menjadi serupa dengan manusia" (DV 13)."
      102 "Melalui kata-kata Kitab Suci, Allah hanya mengatakan satu kata: Sabda-Nya yang tunggal, dan di dalam Dia Ia mengungkapkan Diri seutuhnya: (Bdk. Ibr 1:1-3.) "Sabda Allah yang satu dan sama berada dalam semua Kitab; Sabda Allah yang satu dan sama bergaung dalam mulut semua penulis Kitab yang suci. Dan karena sejak awal Ia adalah Allah pada Allah, Ia tidak membutuhkan suku-suku kata, karena Ia tidak bergantung pada waktu" (Agustinus, Psal. 103,4,1)."
      103 "Dari sebab itu Gereja selalu menghormati Kitab-Kitab Suci sama seperti Tubuh Kristus sendiri. Gereja tak putus-putusnya menyajikan kepada umat beriman roti kehidupan yang Gereja terima baik dari meja Sabda Allah, maupun dari meja Tubuh Kristus Bdk. DV 21."

      Semoga dapat menjawab pertanyaan Skywalker.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

    • Shalom Skywalker,
      Arti Wahyu Ilahi/ Wahyu Allah ini dijelaskan dalam Katekismus Gereja Katolik, sebagai berikut:
      KGK 50     Dengan bantuan budi kodratinya, manusia dapat mengenal Allah dengan pasti dari segala karya-Nya. Namun masih ada lagi satu tata pengetahuan, yang tidak dapat dicapai manusia dengan kekuatannya sendiri: yakni wahyu ilahi Bdk. Konsili Vat I: DS 3015. Melalui keputusan yang sama sekali bebas, Allah mewahyukan dan memberikan Diri kepada manusia, dan menyingkapkan rahasia-Nya yang paling dalam, keputusan-Nya yang berbelas kasih, yang Ia rencanakan sejak keabadian di dalam Kristus untuk semua manusia. Ia menyingkapkan rencana keselamatan-Nya secara penuh, ketika Ia mengutus Putera-Nya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus dan Roh Kudus.
      KGK 75    "Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu Allah yang Maha tinggi (lih. 2 Kor 1:30; 3:16-4:6), memerintahkan kepada para Rasul, supaya Injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-Nya serta dimaklumkan-Nya sendiri, mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagi-bagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka" (Dei Verbum 7).
      Dalam Seksi I Aku Percaya, Bab II: Allah menyongsong manusia, artikel 1 dan 2 menjabarkan tentang Wahyu Allah/ Wahyu Ilahi ini. Di sana disebutkan bahwa Kristus adalah kepenuhan seluruh wahyu Allah, sebab di dalam Kristus, Allah memberikan Diri-Nya kepada manusia. Wahyu Ilahi ini merupakan keseluruhan rencana keselamatan-Nya yang terpenuhi dan mencapai puncaknya melalui perutusan Kristus Yesus yang menjelma menjadi manusia oleh kuasa Roh Kudus. Rencana keselamatan ini sudah dimulai sejak awal mula, dari jaman Nabi Nuh, Abraham dan Musa, sampai akhirnya dipenuhi oleh Kristus dalam Injil yang dimaklumkan oleh Kristus sendiri.

      Selanjutnya, rencana keselamatan Allah dalam Injil inilah yang disampaikan kepada kita dengan dua cara:
      KGK 76   Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:    
      * – secara lisan "oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari";
      * – secara tertulis "oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan" (Dei Verbum 7).

      Dei Verbum 9: "Jadi Tradisi suci dan Kitab suci berhubungan erat sekali dan berpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama. Sebab Kitab suci itu pembicaraan Allah sejauh itu termaktub [tertulis] dengan ilham Roh ilahi. Sedangkan oleh Tradisi suci sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia. Dengan demikian Gereja menimba kepastian tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui kitab suci. Maka dari itu keduanya (baik Tradisi maupun Kitab suci) harus diterima dan dihormati dengan cita-rasa kesalehan dan hormat yang sama[13]

      Maka kita ketahui bahwa Kitab Suci adalah Wahyu Ilahi yang tertulis, sedangkan Tradisi Suci adalah Wahyu Ilahi yang disampaikan secara lisan, karena keduanya menjabarkan rencana keselamatan Allah yang terpenuhi dalam diri Kristus Yesus. Jadi baik Kitab Suci dan Tradisi Suci bersumber dari Kristus, dan diilhami Roh Kudus. Dengan demikian kita juga mengetahui bahwa Tradisi Suci bukan hanya sekedar kebiasaan sekelompok orang tertentu. Tradisi suci (dengan huruf kapital) tidak sama dengan tradisi manusia biasa, yang mengarah kepada pola kebiasaan tertentu. Tradisi suci (dengan huruf kapital) di sini mengacu pada Tradisi Para rasul yang bersumber pada Kristus sendiri, yang kemudian diturunkan kepada pengganti para rasul untuk dilaksanakan dengan setia oleh umat beriman sepanjang jaman.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati – http://www.katolisitas.org

  11. Dear Ingrid

    Mohon maaf saya masih belum bisa meyakinkan hati dan fikiran saya tentang Bunda Maria diangkat ke Sorga, saya yakin sekali kalau Bunda Maria berada di Surga,tapi tidak diangkat ke Surga dan berdoa syafaat .

    Yang berdoa syafaat itu setahu saya hanya Yesus

    Yang saya tahu hanya 2 orang saja yang diangkat hidup2 ke Surga yaitu Henokh dan Elia dan Yesus setelah kebangkitannya juga naik ke Surga , sebab Dia juga adalah Allah Trinitas.

    Salam
    Machmud

    • Shalom Machmud,
      Saya rasa, anda tidak perlu memohon maaf kepada saya karena anda belum bisa menyakinkan hati dan fikiran anda tentang pengajaran Bunda Maria diangkat ke Sorga. Sungguh, saya tidak memaksa anda untuk begitu saja percaya. Silakan anda merenungkannya dalam hati, dan memohon agar Roh Kudus membimbing anda ke arah kebenaran. Di sini saya hanya menyampaikan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, yang saya yakini sebagai kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan.

      Sebenarnya pengajaran bahwa Maria diangkat ke surga, itu berkaitan dengan pengajaran tentang Bunda Maria lainnya, yang pernah juga saya tuliskan di sini, yaitu: Bunda Maria dikandung tanpa noda: apa maksudnya? (silakan klik), Bunda Maria tetap Perawan: mungkinkah? (silakan klik) dan Maria, Bunda Allah (silakan klik).
      Semua dari pengajaran itu mengambil dasar dari Kitab Suci dan pengajaran dari para Bapa Gereja. Namun memang, tidak bisa dipungkiri, bahwa interpretasi yang saya jabarkan itu berdasarkan pengajaran Magisterium Gereja Katolik, yang belum tentu diterima oleh saudara/i kita yang Kristen non-Katolik.

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa semua orang beriman dapat berdoa syafaat. Ini sesungguhnya berdasarkan Alkitab, yaitu bahwa kita harus saling menolong dan saling mendoakan. Kita melihat, bagaimana Allah menginginkan kita agar kita saling menolong dalam menanggung beban (Gal 6:2) dan agar kita menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang (1 Tim 2:1). Nah, doa syafaat ini tidak berhenti/ terputus jika orang beriman itu wafat. Sebab umet Katolik percaya bahwa para orang kudus yang sudah berpulang ke rumah Tuhan, akan terus berdoa syafaat untuk mendoakan sesama umat beriman yang masih berziarah di dunia ini, sebab tidak ada sesuatupun [baik maut maupun hidup] yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rom 8:38-39) yang mempersatukan kita sebagai satu saudara.

      Walaupun demikian, doa syafaat para kudus tersebut tidak terlepas dengan doa syafaat yang dilakukan oleh Yesus, sebab Yesus-lah yang menjadi satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia (1 Tim 2:5). Di sinilah letak perbedaan interpretasi tentang ‘Pengantara’ menurut Gereja Katolik dan gereja Protestan. Bagi jemaat Protestan, Pengantaraan itu hanya ekslusif/ terbatas dilakukan oleh Yesus, sedangkan menurut Gereja Katolik, Pengantaraan Yesus yang satu-satunya itu melibatkan anggota-anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya dalam kesatuan dengan-Nya sebagai Sang Kepala (lihat 1 Kor 12). Maka pada perayaan Misa dalam Gereja Katolik, ada yang disebut ‘doa umat’, atau juga sesungguhnya kebaktian di gereja Protestan, terdapat apa yang disebut sebagai doa syafaat. Semua doa-doa ini sebenarnya kita lakukan, sebagai doa kita orang beriman, yang mendoakan sesama yang membutuhkan, untuk kita bawa kepada Yesus Sang Pengantara kita yang satu-satu-nya itu, agar Ia menghantar doa-doa itu ke hadirat Allah Bapa. Jadi tentu kita yang mendoakan tidak mengambil tempat Yesus sebagai Pengantara satu-satunya itu, melainkan kita ‘menggabungkan’/ menghantar doa-doa kita kepada Yesus. Selanjutnya, hanya Tuhanlah yang memutuskan mengenai hal pengabulan doa-doa tersebut.

      Demikianlah juga sesungguhnya, jika orang-orang Katolik memohon agar Bunda Maria mendoakan mereka.
      Bukan Bunda Maria yang mengabulkan doa, melainkan Allah; namun Gereja Katolik percaya, karena kedekatan Bunda Maria dengan Yesus, maka dalam proses doa tersebut, Bunda Maria dapat membimbing umat kepada Yesus, dan jika Yesus berkenan, maka Ia akan mengabulkan doa seseorang yang dipanjatkan bersama dengan doa Ibu-Nya sendiri.
      Namun, jika seorang menolak untuk berdoa bersama Bunda Maria, tentu saja tidak menjadi masalah, sebab Tuhan Yesus tentu tetap dapat mengabulkan doa orang tersebut, terutama yang dinaikkan dengan ketulusan hati. Walaupun tentu saja, secara objektif dapat dikatakan, orang tersebut tidak mempergunakan cara yang sesungguhnya ditawarkan oleh Gereja demi kebaikan orang itu sendiri. Ibaratnya, Bunda Maria adalah ‘pemberian’ Yesus kepada kita, untuk kita jadikan sebagai Ibu rohani kita (Yoh 19:27), dan memang terserah pada kita akankah kita menerimanya dalam rumah hati kita atau tidak.

      Alkitab memang menyatakan bahwa Enokh dan Elia diangkat ke surga. Juga sebetulnya tradisi Yahudi mengatakan bahwa, Musa juga diangkat ke surga, sebab meskipun dikatakan dalam Ul 34:6 bahwa ia dikuburkan, namun tak seorangpun dapat menemukan tempat Musa dikuburkan. Maka pada saat transfigurasi/ Yesus dimuliakan di atas gunung, Elia dan Musa adalah dua nabi yang menampakkan diri di sisi Yesus (lih. Mat 17:3).
      Di sini kita melihat bahwa memang Alkitab tidak memuat segala sesuatu dengan sedetail-detailnya, sebab seperti kata Rasul Yohanes, "Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat Yesus, tetapi jikalau semua itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu." (Yoh 21:25). Maka, salah satu yang diperbuat oleh Yesus yang tidak ditulis dalam Alkitab, menurut Tradisi Suci para rasul, adalah bahwa Ia mengangkat Bunda Maria, ibu-Nya, tubuh dan jiwa ke sorga. Maka seperti Maria adalah anggota Gereja pertama yang percaya kepada Sang Firman, sehingga dapat terpenuhilah janji Allah bahwa Sang Firman itu bisa menjelma menjadi manusia (Yoh1: 14), maka dalam Maria pula-lah janji Tuhan akan kebangkitan badan dipenuhi, bahwa Tuhan akan membangkitkan jiwa dan badan para orang beriman pada akhir zaman. Oleh karena peran dan ketaatan-nya yang istimewa sebagai Ibu Tuhan dan hamba Allah, Bunda Maria diangkat ke surga, sebagai yang pertama dari anggota Gereja, untuk menerima janji kesempurnaan yang diberikan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya dan yang hidup melakukan kehendak-Nya (lih. Mrk 3:35).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  12. Dear Ingrid
    Mohon tanya dimana ayatnya :
    Dan setelah Bunda Maria wafat dan diangkat ke surga, , ia masih menyertai Gereja dengan doa-doanya.
    Terima kasih
    Machmud
    [Dari Admin: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]