Persembahan Perpuluhan

60

Pertanyaan:

Kawan saya yang protestan sering menekankan pentingnya persembahan persepuluhan.. bahkan mereka menunjukan ayat yang mendukung itu misalnya “…ujilah Aku…Aku akan membuka tingkap tingkap langit..dst (wah lupa lengkapnya). Jadi mereka merelakan 10% dari penghasilannya untuk gereja karena bagian tersebut wajib dikembalikan kepada Tuhan.

Bagaimana prakteknya pada Katolik… seorang romo pada homili pernah menegaskan bahwa gereja Katolik tidak mengharuskan persembahan persepuluhan, yang terpenting adalah keikhlasan dari persembahan, karena nilai dari persembahan tersebut adalah relatif… bagi si kaya mungkin persepuluhan adalah sesuatu yang mudah.. tetapi bagaimana dengan umat yang hidup pas-pasan, 10%? …,mana tahan…. tetapi persepuluhan ini juga alkitabiah…

Bagaimana kita menyikapi hal ini… kami serahkan tanggapannya pada forum ini… terima kasih
Tormento.

Jawaban:

Shalom Tormento,

Terimakasih atas pertanyaannya yang mungkin sering menjadi pertanyaan umat Katolik. Memang saya juga sering mendengar tentang ayat yang dipakai untuk menekankan pentingnya persembahan persepuluhan. Maka marilah kita melihat bersama-sama meneliti tentang hal ini.

I. Definisi:

Persembahan yang diberikan kepada imam karena dedikasi mereka kepada urusan keagamaan dan juga pelayanan kasih mereka. Dan ini juga menunjuk kepada persembahan kepada Tuhan, sebagai penguasa atas manusia, yang biasanya persembahan ini diberikan kepada para pelayan Tuhan.

II. Dasar dari Kitab Suci di Perjanjian Lama tentang persepuluhan:

Ada beberapa ayat yang dapat kita lihat tentang persembahan persepuluhan, seperti: Abraham memberikan persembahan persepuluhan kepada imam agung Melkizedek (Kej 14:20). Juga menjadi dikatakan bahwa persembahan tersebut adalah sebanyak sepersepuluh (1 Sam 8:15; 1 Sam 8:17), yang menjadi suatu ekpresi akan pengakuan bahwa semua berkat berasal dari Tuhan (Kej 28:22). Dan peraturan ini juga ditegaskan di dalam kitab Imamat 27:30.
Sepersepuluh juga dapat berupa hasil bumi (Im 27:30), hasil ternak (Im 27:32); persembahan kepada Tuhan (2 Taw 31:6).
Dan akhirnya dipertegas di kitab Maleakhi 3:6-12, dimana di ayat 10 dikatakan “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

III. Bagaimana kita mengartikan Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru.

  1. St. Thomas Aquinas (ST, I-II, q. 98-108) mengatakan bahwa ada 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama, yaitu:
    • Moral Law: Moral Law atau hukum moral adalah menjadi bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom 2:15). Contoh dari hukum ini adalah yang tertulis di 10 perintah Allah, dimana terdiri dari dua loh batu, yang mencerminkan kasih kepada Allah (perintah 1-3) dan juga kasih kepada sesama (perintah 4-10). Hukum kodrati ini adalah hukum yang tetap mengikat (bahkan sampai sekarang) dan dipenuhi dengan kedatangan Kristus, karena hukum kodrati ini adalah merupakan partisipasi di dalam hukum Tuhan.
    • Ceremonial law atau hukum seremonial: sebagai suatu ekpresi untuk memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi yang juga berdasarkan prinsip hukum kodrat, seperti: hukum persembahan, tentang kesakralan, proses penyucian untuk persembahan, tentang makanan, pakaian, sikap, dll. Hukum ini tidak lagi berlaku dengan kedatangan Kristus, karena Kristus sendiri adalah persembahan yang sempurna, Kristus menjadi Anak Domba yang dikurbankan. Itulah sebabnya di Gereja Katolik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan juga para rasul (Petrus dan Paulus) tidak mempermasalahkan makanan-makanan persembahan, karena bukan yang masuk yang najis, namun yang keluar. Ulasan ini dapat melihat di jawaban ini (silakan klik ini, dan juga klik ini). Kalau kita mau terus menjalankan hukum seremonial secara konsisten, maka kita harus juga menjalankan peraturan tentang makanan yang lain, seperti larangan untuk makan babi hutan, jenis binatang di air yang tidak bersisik (ikan pari), katak, dll. (Lih Ima 11).
    • Judicial law: Ini adalah merupakan suatu peraturan yang menetapkan hukuman sehingga peraturan dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, maka peraturan ini sangat rinci, terutama untuk mengatur hubungan dengan sesama, seperti: peraturan untuk penguasa, bagaimana memperlakukan orang asing, dll. Contoh dari judicial law: kalau mencuri domba harus dikembalikan empat kali lipat (Kel 22:1), hukum cambuk tidak boleh lebih dari empat puluh kali (Ul 25:3). Setelah kedatangan Kristus, maka judicial law ini tidak berlaku lagi. Kalau kita mau konsisten, kita juga harus menjalankan hukuman rajam, hukum cambuk, dll.  Judicial law ditetapkan oleh penguasa sebagai perwakilan dari Tuhan, sehingga hukum dapat ditegakkan untuk kepentingan bersama. Menarik bahwa Yesus tidak mengajarkan judicial law, karena judicial law diserahkan kepada kewenangan otoritas pada saat itu. Dan kewenangan disiplin di dalam kawanan Kristus diserahkan kepada Gereja, dimana disiplin ini dapat berubah sejalan dengan perkembangan waktu dan keadaan. Ini juga yang mendasari perubahan Kitab Hukum Gereja 1917 ke 1983.
  2. Dari pengertian di atas, maka perpuluhan dalam pengertian yang luas dapat masuk dalam ketiga kategori di atas. Perpuluhan dapat menjadi bagian dari judicial law kalau setiap orang harus memberikan kontribusi kepada penyembahan secara publik sesuai dengan cara yang dipilihnya. Namun di dalam hukum Musa, perpuluhan di atur dengan cara yang begitu khusus sebagai manifestasi dari penghormatan dan persembahan kepada Tuhan. Dalam pengertian yang luas, perpuluhan dapat menjadi moral law, karena mengatur persembahan kepada Tuhan. Namun, pengaturan tentang hari persembahan, dengan cara bagaimana persembahan tersebut diberikan, masuk dalam kategori ceremonial law. Dan pengaturan bagi pelanggaran perpuluhan masuk dalam kategori judicial law.

IV. Ajaran Gereja Katolik

  1. Dalam Perjanjian Baru:Rasul Paulus mengatakan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7)
    Rasul Paulus tidak mengatakan sepuluh persen, namun menekankan kerelaan hati dan sukacita.
    Yesus mengatakan “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23)
    Yesus menekankan akan hakekat dari pemberian, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Yesus tidak menekankan akan persepuluhan, namun apa yang menjadi dasar perpuluhan.
  2. Kitab Hukum Gereja: Kan. 222 – § 1. Kaum beriman kristiani terikat kewajiban untuk membantu memenuhi kebutuhan Gereja, agar tersedia baginya yang perlu untuk ibadat ilahi, karya kerasulan dan amal-kasih serta sustentasi yang wajar para pelayan.
    § 2. Mereka juga terikat kewajiban untuk memajukan keadilan sosial dan juga, mengingat perintah Tuhan, membantu orang-orang miskin dengan penghasilannya sendiri.
    Kan. 1262
    – Umat beriman hendaknya mendukung Gereja dengan bantuan-bantuan yang diminta dan menurut norma-norma yang dikeluarkan oleh Konferensi para Uskup.
    Kan. 1263
    – Adalah hak Uskup diosesan, sesudah mendengarkan dewan keuangan dan dewan imam, mewajibkan untuk membayar pajak yang tak berlebihan bagi kepentingan-kepentingan keuskupan, badan-badan hukum publik yang dibawahkan olehnya, sepadan dengan penghasilan mereka; bagi orang-perorangan dan badan-badan hukum lain ia dapat mewajibkan pungutan luar biasa dan tak berlebihan hanya dalam kebutuhan
    Jadi tidak ada yang mengatakan spesifik sepersepuluh bagian.

V. Kesimpulan

Dari dua dasar di atas, maka Gereja tidak perlu mendefinisikan seberapa besar sumbangan yang harus diberikan, namun lebih kepada pemberian sesuai dengan kemampuan dan juga dengan kerelaan hati dan sukacita. Namun itu tidak berarti bahwa bagi yang mampu untuk memberikan lebih dari sepuluh persen kemudian hanya memberikan bagian yang sedikit. Bagi yang mampu, seharusnya bukan hanya sepuluh persen, namun malah lebih pada itu, jika diperlukan. Bagi kaum miskin yang memang tidak mampu untuk memberikan sepuluh persen, mereka dapat memberikan sesuai dengan kemampuan mereka. Persembahan juga tidak hanya berupa uang, namun juga bakat dan waktu. Yang terpenting, semua persembahan harus dilakukan berdasarkan kasih kita kepada Tuhan sehingga kita dapat mengasihi sesama dengan lebih baik.

Itulah jawaban yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Tormento. Mari kita mengasihi Tuhan dengan mempersembahkan apa yang ada di dalam diri kita, baik uang, waktu dan talenta.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

60 Comments

  1. Mempersembahkan kepada Tuhan kok cuma 10%. Apa bukan menghina Tuhan tuh. Mustinya, dianugerahi 100% ya dipersembahkan 100%. Apa artinya mempersembahkan 100%?
    Pakai setiap sen yang dianugerahkan untuk membangun jiwa raga sebagai putera-puteri Tuhan. Biar hidupnya suci, sehat, sosial, sukses dunia akherat.
    Bayangin: 10% untuk perpuluhan (lepas dari tangan pribadi, diserahkan kepada Gereja untuk mengelola), 30% untuk pulsa dan internet, 20% untuk merokok…. yang lain ya untuk rumah tangga dan sosial … hiiii… ngeri donggg….

    Lha terus, untuk pembangunan iman pribadi? membangun iman keluarga? membangun iman bersama sebagai lingkungan/wilayah/paroki/kelompok kategorial? Kalau emang gak dirancang ya gak heran kalau di rumah, buku doa/renungan gak ada. adanya alkitab thok. sarana untuk berdoa juga tak tersedia. kebiasaan doa bersama yang kadang perlu juga tambah pernak pernik seperti lilin, salib juga gak ada. bahkan doa bersama yang dilanjutkan dengan makanan kecil dan makan bersama juga gak jalan. lha gak ada budgetnya…
    kalau untuk pribadi/keluarga sudah gak ada budget samasekali, bagaimana dengan lingkungan dan paroki?

    • Shalom Welly,

      Gereja Katolik memang tidak membuat patokan 10 % sebagai persyaratan baku persembahan kepada Tuhan. Sebab memang benar, sebagaimana yang Yesus ajarkan, dalam persembahan janda yang miskin yang mempersembahkan segala miliknya kepada Tuhan: bahwa persembahan kepada Tuhan tidak mengenal batas, dan selayaknya menyangkut keseluruhan diri kita.

      Namun jangan terlalu lekas menilai bahwa orang yang mempersembahkan perpuluhan itu -secara jasmani- pasti tidak mempersembahkan diri mereka secara rohani kepada Tuhan. Sebab tentang hal ini, hanya Tuhan yang mengetahuinya. Adalah tantangan bagi kita agar kita memiliki kemurahan hati untuk memberi dalam bentuk persembahan kolekte, ataupun bentuk pelayanan kasih lainnya, dari segi waktu, bakat dan harta, dan ini tidak untuk dibatasi hanya 10 persen saja cukup.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Tithes & Offerings

    These two words are often spoken in the same breath…but what’s the difference between them? “Tithe” literally means “tenth” or 10 percent. A tithe is the first 10% of your income. An offering is anything you give in addition to 10%. The Bible says in Deuteronomy 14:23 (Living Bible): “The purpose of tithing is to teach you always to put God first in your lives…”Tithing is a reminder that God is the supplier of everything we have. It is also God’spersonal invitation to experience an outpouring of his blessing in each of our lives. InMalachi 3:10, God essentially says:“Go

    Dear stef..

    Teman protestan saya meyakini tentang perpuluhan dengan ayat diatas ..betulkah demikian.. mohon penjelasan . Terima kasih atas pencerahannya.

    Dear stef..
    Teman
    ahead. I dare you. See if you can out-give me!”

    • Shalom Heru,

      Ketentuan tentang persepuluhan memang kita jumpai dalam sejumlah ayat dalam Perjanjian Lama. Ketentuan itu saling melengkapi, yaitu bahwa persembahan persepuluhan itu untuk diberikan kepada Allah dan juga bahwa persembahan itu untuk diberikan kepada kaum imam dari suku Lewi (lih. Ul 14:22-29, Bil 18:26-28). Maka sebenarnya persepuluhan itu sebenarnya juga termasuk dalam persembahan kepada Allah, termasuk untuk memenuhi perintah-Nya bahwa umat mendukung para imam-imam-Nya. Demikianlah, maka kita membaca di Perjanjian Lama, bahwa persembahan kepada Allah itu dinyatakan dengan persembahan persepuluhan (yang diberikan kepada imam Lewi) dan berbagai jenis persembahan korban-korban bakaran yang disyaratkan untuk ibadah kepada Allah.

      Namun demikian, setelah segala korban bakaran dalam Perjanjian Lama digenapi di dalam Korban Kristus dalam Perjanjian Baru, maka tidak ada lagi korban bakaran (lembu, domba, dst) yang relevan untuk dibicarakan sebagai persembahan umat Kristiani. Dalam hal ini maka persembahan kepada Tuhan adalah persembahan keseluruhan diri kita, yang melampaui ketentuan 10 % secara jasmani. Hal ini diajarkan oleh Kristus sendiri, saat Ia memuji persembahan janda miskin (lih. Luk 21:4; Mrk 12:44), dan saat Ia menekankan hal keadilan dan kasih yang harus dilaksanakan (lih. Luk 11:24), sehingga ketentuan persembahan bukanlah semata-mata ketentuan 10 %. Para Rasul juga mengajarkan bahwa persembahan itu harus diberikan dengan suka cita, dan bukan karena paksaan (lih. 2 Kor 9:7).

      “Sebab itu aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya, agar nanti tersedia sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan. Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (2 Kor 9:5-8)

      Dalam Kisah Para Rasul 15, ketentuan persepuluhan juga tidak disebutkan sebagai suatu ketentuan yang mengikat jemaat. Di konsili/ sidang pertama di Yerusalem itu para Rasul berkumpul untuk menentukan apakah jemaat diharuskan mengikuti hukum sunat dan hukum Musa. Sebagai kesimpulan, sidang itu memutuskan bahwa sunat tidak merupakan keharusan, dan hukum persepuluhan (sebagai salah satu hukum Musa) juga tidak disebutkan sebagai hukum yang harus dilakukan. Disebutkan dalam konsili tersebut, “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.” (Kis 15:20).

      Demikianlah maka kita membaca, bahwa Gereja awal memberikan persembahan sesuai dengan kemampuannya dengan kerelaan/ suka cita, sebagaimana dapat dibaca di surat kepada jemaat di Korintus, “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing -sesuai dengan apa yang kamu peroleh/ (what it shall well please him- DRB, yaitu apa yang menyenangkan hatinya/hatimu) menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah…” (1 Kor 16:2), dan sesuatu yang disisihkan dengan hari yang rela ini, kemudian akan dikumpulkan oleh para Rasul untuk diberikan kepada jemaat di Yerusalem.

      Atas dasar ajaran Kristus dan para Rasul inilah maka Gereja Katolik tidak menuntut jumlah yang tertentu bagi persembahan tiap-tiap orang. Sebab dalam mempersembahkan kepada Tuhan diperlukan sikap kerelaan hati dan bukan keterpaksaan. Jangan kita lupa, bahwa segala hukum Musa telah digenapi di dalam diri Kristus. Kita diselamatkan bukan karena melakukan hukum Taurat Musa, namun pertama-tama karena rahmat karunia Allah yang kita terima di dalam Kristus. Rahmat inilah yang harusnya membuat kita mampu untuk melakukan yang lebih utama dari ketentuan hukum Musa dengan persyaratan lahiriah. Adalah perjuangan bagi setiap umat Kristiani, untuk dapat melakukan apa yang dikehendaki oleh Kristus yaitu mempersembahkan diri kita seutuhnya untuk karya keselamatan Allah. Artinya, kita merasul melalui segala yang kita lakukan di dalam hidup kita, maka ini tidak terbatas dari hanya memberikan sejumlah persembahan uang. Maka tak seorangpun layak berkata, bahwa jika ia sudah memberikan 10% kepada Allah, artinya sudah selesailah tugasnya. Namun sebaliknya, jika karena kondisi yang begitu sulit, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk memberikan 10% dari pendapatannya kepada Allah, ia tetap dapat memberikan kepada Allah sesuai dengan kemampuannya, tanpa mengabaikan bahwa ia tetap dapat memberikan dirinya kepada Allah melalui waktu dan talenta yang dipercayakan kepadanya, yang tidak terukur dengan uang. Sebab Allah tidak melihat apa yang terlihat dari luar, tetapi melihat ke dalam hati setiap orang. Allah mengetahui sejauh mana dan seberapa tuluskah kita mengasihi Dia.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply