Bu Ingrid,
Bagaimana ajaran katolik mengenai pemahaman meditasi dan kontemplasi, dan bagaimana pula perbedaannya karena akhir-akhir ini kita mengenal meditasi Kristiani dari Fr John Main OSB, seorang rahib Benedictin? Menurut Guigo (the ladder of monk), meditasi merupakan upaya memahami atau merenungkan karunia Allah sedangkan kontemplasi merupakan upaya merasakan indahnya karunia tersebut. Definisi lain mengatakan bahwa meditasi yang berasal dari kata meditare (“stare in medio”) berarti “berada di pusat,” sedangkan kontemplasi berarti bersama Allah di dalam hati kita.
Saya juga ingin bertanya tentang posisi manusia terhadap Allah menurut ajaran Katolik. Apakah manusia berhadapan dengan Allah seperti seorang hamba yang bertelut di hadapan sang Raja ataukah manusia boleh menjadi satu dengan-Nya seperti ajaran Alm Rm Dick Hartoko SJ, “manunggaling kawulo-gusti”? Dalam Alkitab kita memang menemukan ayat-ayat yang mendukung kedua pandangan tersebut. Dalam Lukas 10:42, Yesus mengatakan Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya karena Maria telah duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya. Sementara di dalam Yohanes 14:20, Yesus mengatakan, “Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”
Tuhan memberkati,
Andryhart
Shalom Andryhart,
1) Jika kita melihat meditasi dan kontemplasi dalam tradisi doa Gereja Katolik, maka kita dapat melihat pengertian meditasi- kontemplasi yang anda sampaikan menurut Fr. John Main dan Guigo adalah benar. Dalam tradisi doa Karmelit, seperti yang diajarkan oleh St. Teresa dari Avila, dan diteruskan oleh Padre Tomas de Jesus (1587), maka terlihat meditasi dan kontemplasi merupakan dua metoda doa yang saling berkaitan. Ketujuh bagian dalam metoda doa Karmelit adalah: persiapan, pembacaan dari Alkitab/ bacaan rohani, meditasi, kontemplasi, ucapan syukur, permohonan, dan penutup.
Memang meditasi menurut St. Teresa dari Avila, sebaiknya diikuti oleh Prayer of recollection, yang artinya mengumpulkan semua usaha dari jiwa, yaitu, baik memori, imajinasi, intelek/ pemikiran, ataupun keinginan untuk dapat dipusatkan dan masuk dalam hadirat Allah. Langkah selanjutnya dari Prayer of recollection ini adalah Prayer of Quiet, yang menjadi awal dari kontemplasi. Di dalam bukunya “Puri Batin/ Interior Castle“, St. Teresa mengumpamakan sebuah ‘istana kristal’ yang berlapis-lapis yang ada dalam hati kita. Pada pusatnya hadirlah Yesus dengan terang-Nya yang memancar. Namun untuk sampai ke sana kita harus melalui lapisan-lapisan ‘bilik/ mansion‘ tersebut, yang totalnya berjumlah 7 lapisan. Pada lapisan awal itu terdapat banyak ‘binatang melata’ yang mengganggu kita, yaitu pikiran-pikiran yang mengganggu konsentrasi kita sewaktu berdoa. Nah, untuk menepiskan gangguan ini, menurut St. Teresa, seseorang harus mengumpulkan segenap kemampuan jiwanya, agar ia dapat terus memusatkan diri kepada Yesus yang ada pada lapisan yang terakhir (bilik yang ketujuh). Pada lapisan terakhir inilah kita mengalami persatuan dengan Allah yang menjadi tujuan kontemplasi. Maka terlihat di sini bahwa meditasi dan prayer of recollection tersebut merupakan langkah/ jalan menuju kontemplasi. Mungkin suatu saat nanti Katolisitas akan menuliskan apa saja ketujuh tahapan menurut St. Teresa tersebut, sehingga bersama kita akan dapat semakin memahami perjalanan doa menuju kontemplasi.
Nah, melihat pola tingkatan ini, maka ajaran Fr. John Main OSB dengan memperkenalkan cara meditasi dengan mantra Kristiani, ataupun ajaran Romo Yohanes O Carm tentang doa Yesus dengan ritme tarikan/ hembusan nafas, dapat dikatakan tidak bertentangan dengan tradisi doa meditasi Katolik. Dengan catatan, jika mau menggunakan ‘mantra’ untuk membantu, kata itu haruslah yang umum kita kenal dan kita ketahui artinya dalam tradisi Kristiani. Jika demikian, tentu hal ini dapat saja dilakukan, karena itu hanya merupakan cara memusatkan hati dan pikiran. Jika kita sudah terbiasa dengan ritme tersebut, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menggunakan imajinasi atau pikiran kita untuk merenungkan tentang Allah. Jadi prinsipnya mirip dengan yang diajarkan oleh St. Teresa, bahwa kita perlu memusatkan segenap hati dan pikiran kepada Tuhan di dalam doa-doa kita. Ini sungguh merupakan perjuangan, karena memang tak jarang, begitu kita mulai berdoa, ada banyak pikiran yang dapat mengganggu konsentrasi kita. St. Teresa mengandaikan tahap pemula ini sebagai seorang petani yang harus bersusah payah menimba air sumur untuk mengairi sawahnya, sedangkan lama kelamaan jika tidak terlalu banyak usaha yang diperlukan, itu seumpama petani yang mengairi sawahnya dengan mengarahkan air dari sungai/ mata air.
Jika kita dengan disiplin melatih rohani kita dengan meditasi/ prayer of recollection, maka ada saatnya dimana doa bukan menjadi sesuatu yang sangat sulit/ merupakan perjuangan keras [untuk mengalahkan pikiran yang berkecamuk] namun hati yang terarah kepada Tuhan akan lebih mudah tercapai. Di sini, perlu kita ketahui bahwa ada dua jenis kontemplasi, yang pertama disebut acquired contemplation yaitu kontemplasi yang diperoleh dengan ‘usaha’ dari pihak kita, dan kedua, disebut sebagai infused contemplation, yaitu kontemplasi yang sungguh diberikan dari Allah sendiri. Tentu kedua tahap ini mensyaratkan disposisi hati yang baik di dalam doa dan kehidupan rohani kita. Menurut St. Teresa, pure contemplation adalah infused contemplation, yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri.Di akhir kontemplasi ini adalah pengalaman persatuan dengan Tuhan, dimana hanya kasih Allah yang begitu besar yang mengatasi segalanya, sehingga tidak dapat lagi diuraikan dengan kata-kata. St. Teresa mengandaikan hal ini sebagai seorang petani yang tidak perlu lagi mengairi sawahnya, karena hujan yang begitu deras telah turun dari surga dengan limpahnya, dan sang petani hanya menikmati siraman air kehidupan tersebut dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Perlu juga diketahui, bahwa St. Teresa tidak merendahkan makna doa vokal/ dengan kata-kata. Sebab jika didoakan dengan sepenuh hati, maka doa vokal ini dapat pula menghatar seseorang kepada kontemplasi.
2) Melihat pengertian di atas, maka hubungan kita dengan Tuhan di dunia ini sesungguhnya meliputi kedua sisi yang anda sampaikan. Yaitu kita harus belajar bertumbuh dalam kerendahan hati untuk duduk di kaki Tuhan seperti Maria (Luk 10:42), dan mempunyai hati sebagai seorang hamba, yang mau dengan segenap jiwa dan tenaga berusaha melaksanakan kehendak-Allah. Namun, kita juga percaya, bahwa di tengah-tengah perjalanan hidup kita di dunia ini, Tuhan menyertai kita dan tinggal di tengah kita. Inilah yang secara khusus kita rayakan dan kita alami dalam Ekaristi Kudus. Walaupun, kita juga menyadari bahwa persatuan kita dengan Allah secara sempurna hanya terjadi di Surga, namun sementara hidup kita di dunia, Tuhan telah mengizinkan kita untuk mulai mengalami rahmat persatuan itu, melalui dan di dalam Gereja Katolik. Lumen Gentium 1 dan KGK 776 mengatakan, Gereja adalah sarana keselamatan bagi semua orang, “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.”
Memang pada akhirnya, jika kita sampai di surga nanti, yang ada tinggal persatuan kita yang sempurna dengan Tuhan, atau disebut juga dengan kontemplasi yang sempurna (beatific vision), di mana kita memandang Allah di dalam Dia dalam keadaan yang sebenarnya (1Yoh 3:3), karena kita telah dipersatukan dengan Kristus. Dalam hal ini, tepatlah apa yang disampaikan oleh Alm Rm Dick Hartoko SJ, “manunggaling kawulo-gusti”. Namun perlu kita ingat dalam persatuan antara kita dengan Allah ini tidak menjadikan kita manusia sebagai Allah. Setiap manusia akan tetap mempunyai identitasnya sendiri-sendiri, namun semuanya tergabung dalam kesatuan yang sempurna dalam kesatuan Umat Allah, sebagai satu Tubuh Kristus, yang dibangun sebagai Bait Roh Kudus, di mana Allah meraja di dalam semua (lih. 1Kor 15:28). Inilah tujuan akhir dari Gereja yang jaya di surga kelak.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org
dear , katolisitas
saya ingin menanyakan mengenai meditasi katolik ,
- saya pernah mengikuti meditasi katolik yang diadakan oleh gereja ,
1. kami peserta di beri pengetahuan tentang cara masuk dalam keheningan , yaitu dengan membuka cakra – cakra manusia , kalau tidak salah dari aliran tertentu yang saya lupa namanya
2. setelah itu kita berdoa secara katolik , dan mulai mengambil posisi duduk yang relax dan mulai mengambil nafas teratur dari hidung dan dimasukan ke ulu hati dan ditekan terus sampai kepusar , dan di teruskan sampai ke cakra dibawah , (maaf ) , diantara dubur dan kelamin , semua itu kita latih dalam beberapa sesi dan setiap pencapaian cakra , kita dilatih untuk merasakan adanya aliran tenaga dan energi tersebut lama kelamaan akan terasa dan menembus cakra mahkota dan energi akan berputar putar di cakra mahkota , disitulah kita nanti di katakan mengalami suatu keheningan kontemplasi bersama tuhan
3. di dalam mengatur nafas kita boleh menyebut nama tuhan atau mantra ayat kitab suci seperti : menyebut maranatha , yesus , dsb
4. dan saat telah memasuki kontemplasi , peserta akan di tanya mendapat pengalaman apa : seperti ada peserta yang bertemu Tuhan Yesus dan becakap cakap dengan Tuhan Yesus
- saya akhirnya tidak menyelesaikan karena hal tsb saya anggap tidak benar , karena saya juga pernah belajar reiki , dimana yang ikut juga dari berbagai agama dan ada beberapa suster katolik juga , tetapi saya tidak selesaikan juga , sebab ada sesi tertentu yang membayangkan roh kita melihat tubuh kita , dan disitu saya merasakan roh saya hampir keluar / meraga sukma , dan batin saya berteriak , jangan diteruskan , semua itu adalah ilmu sihir dan pada teori reikipun peserta bisa menyembuhkan orang pada hari masa lampau , misal hari ini tanggal 13 oktober 2011 , kita bisa menyembuhkan seseorang pada tanggal 1 oktober 2011
- saya memang sangat menyayangkan begitu banyak penipuan meditasi yang berdalih katolik , terutama tanpa pendampingan romo yang kompeten , dan dari ulasan diatas memang tidak ada aturan baku tentang meditasi sehingga bisa dicampur aduk ajaran / sihir dsb , meskipun banyak umat katolik berpikir , asal berdoa secara katolik , sebut nama Tuhan segala sesuatu dimungkinkan untuk dibenarkan
- saya lebih setuju semacam doa yesus , yaitu tanpa suatu variasi tertentu , hanya menyebut mantra Tuhan Yesus saja , dan tanpa berpikir yang lain , hanya tujukan pada yesus saja , tanpa menginginkan gaib / energi yang terjadi , apa yang terjadi terjadilah , asal sesuai ajaranMu Tuhan
- jadi bagaimanakah sebetulnya patokan baku yang benar , yang bisa jadi pengangan bila ada seseorang mengajak meditasi katolik , untuk mencapai kontemplasi dan mengalami kasih Tuhan didalamnya , sebab banyak juga umat yang rindu akan meditasi dan kontemplasi dan apakah berdoa rosario juga bisa disebut meditasi dan kontemplasi
- terimakasih bila ada penjelasan dari team
GBU
Shalom Yongky,
Sepanjang pengetahuan saya tidak ada dokumen Gereja ataupun tradisi Katolik yang mengajarkan meditasi dengan membuka cakra ataupun menutup cakra. Maka memang memperihatinkan jika sampai ada meditasi semacam itu dilakukan oleh paroki/ diperbolehkan untuk dilakukan di kompleks gedung gereja Katolik. Anda benar, bahwa meditasi Katolik yang benar hanya memfokuskan diri kepada Pribadi Yesus [dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus]. Maka doa Yesus ataupun pengulangan suatu ayat dalam Kitab Suci dapat dilakukan untuk maksud itu. Sedangkan hal energi ataupun cakra tidak berasal dari tradisi Katolik. Ajaran yang mengatakan bahwa roh bisa meninggalkan badan pada saat meditasi, juga bukan berasal dari tradisi Katolik.
Maka, jika Anda mau bermeditasi dan berdoa kontemplasi, pilihlah doa yang yang sesuai dengan ajaran iman Katolik. Anda dapat berdoa Jalan Salib, ataupun doa Rosario sambil merenungkan peristiwa- peristiwa hidup Yesus. Atau, meniru teladan St. Teresa dari Avila, Anda dapat merenungkan Doa Bapa Kami, yang sesungguhnya maknanya sangat dalam. St. Teresa kerap mencapai kontemplasi hanya dengan merenungkan makna kata “Bapa”. Mari kita belajar dari St. Teresa dan para orang kudus lainnya yang berdoa dengan cara yang sederhana, sebab kepada orang- orang yang kecil dan sederhana Tuhan berkenan menyatakan kehendak-Nya (lih. Mat 11:25).
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Selamat pagi, bapak-ibu yang diberkati Tuhan. Sebelumnya, saya mengucapkan terimakasih atas web ini. Sungguh! Sungguh sangat berguna dalam perjalanan iman saya. Saya pribadi semakin mencintai ajaran katolik dan sangat terdorong menekuni ajaran katolik karena web ini. Semoga kita semakin menyerupai Yesus.
Dalam kesempatan ini, saya ingin bertanya mengenai:
- metode meditasi yang saya temukan dalam kumpulan artikel di alamat web ini:
http://gerejastanna.org/category/renungan/meditasi/
Apakah Meditasi Mengenal Diri yang dibahas di sana sesuai dengan ajaran katolik?
Karena sepemahaman saya, yang saya baca di kumpulan artikel di sana, sepertinya mirip dengan meditasi zen.
- apakah pengalaman kontemplasi Bernadette Roberts sesuai dengan ajaran katolik? Saya mendapatkan ebook dan membaca ebooknya dari web itu juga, tepatnya inilah alamatnya:
http://gerejastanna.org/pengalaman-tanpa-diri-oleh-bernadette-roberts/
Terima Kasih sebelumnya.
Tuhan Yesus memberkati
Shalom Tommy Gunawan,
Terus terang, saya tidak mendalami mengenai meditasi ala Bernadette Roberts, sehingga kemungkinan jawaban saya tidak memuaskan anda. Tetapi dari sekilas yang saya baca tentang kutipan- kutipannya, saya juga mempunyai kesan bahwa meditasi -kontemplasi yang diajarkannya memang tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang saya ketahui diajarkan oleh para mistik Katolik, seperti St. Teresa Avila dan St. John the Cross (Yohanes Salib), terutama karena Bernadette Roberts mengklaim bahwa akhir dari kontemplasinya itu seolah satu langkah lebih maju daripada yang diajarkan oleh baik St. Teresa maupun St. Yohanes Salib. Berbeda dari para kudus yang memulai langkah spiritual dari tahap purgative (pemurnian), illuminative (penerangan), dan unitive (persatuan) maka Bernadette memulainya langsung di tahap unitive (persatuan dengan Allah), lalu ke tahap no-self (tidak ada “aku”) lagi, seperti yang dipaparkan dalam bukunya The Experience of No-Self.
Nah yang agak ‘aneh’ bagi saya adalah sewaktu ia mengatakan bahwa dengan pengalaman ‘tidak ada aku’ itu artinya juga adalah ‘tidak ada Tuhan’ (“Where there is no personal self, there is no personal God.”-p.24) Padahal Gereja Katolik berdasarkan, berdasarkan Wahyu Ilahi bahwa Allah itu tetap ada, tidak pernah bisa tidak ada. Tuhan juga ada dalam Tiga Pribadi (yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus). Jadi Tuhan adalah Tuhan yang Personal/ Pribadi, bukannya hanya Sesuatu. Lalu bahwa akhir dari perjalanan spiritual ini adalah ‘kekosongan total’/ ‘absolute nothingness‘ (p. 81), sehingga seolah menjadi mirip dengan ajaran Buddhism.
Saya jadi teringat pada tulisan yang dikeluarkan oleh Cardinal Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) sewaktu menjabat sebagai Prefect Congregation of the Doctrine of the Faith (CDF), tentang pernyataan pihak Vatikan sehubungan dengan tulisan- tulisan Pastor Anthony de Mello, yang sebagian di antaranya dikatakan sebagai ‘tidak sesuai dengan iman Katolik dan membahayakan’. (incompatible with the Catholic faith and can cause harm):
Melihat adanya kemiripan prinsip yang diajarkan oleh Bernadette Roberts dan tulisan dari Father Anthony de Mello ini, maka jika saya boleh mengusulkan, silakan anda berhati- hati dalam melakukan/ menerapkan meditasi ala Bernadette Roberts ini. Sebab meditasinya itu sendiri sebenarnya baik karena meningkatkan kesadaran akan diri sendiri dan kesadaran akan Tuhan; tetapi jika yang menjadi tujuan adalah “pure void“/ absolute nothingness, ini tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik. Menurut hemat saya, perjalanan menuju Unitive way (persatuan) dengan Tuhan ini bukanlah hal yang mudah, sehingga langsung mengandaikan diri bahwa seseorang sudah mencapai tingkat ‘unitive way‘ ini menurut saya agak tergesa- gesa. Sebab jika kita membaca perjalanan spiritual ala St. Teresa dan Yohanes Salib, persatuan dengan Tuhan ini tidak dapat dicapai secara instan dan menetap sifatnya. Saya tidak cukup mengenal Bernadette Roberts sehingga saya tidak mengetahui apakah hidupnya di luar kehidupan spiritualnya juga mencerminkan persatuan dengan Tuhan yang total itu? Sebab persatuan dengan Tuhan yang sempurna, juga membawa akibat kepada kehidupan nyata sehari- hari (tidak hanya terbatas pada pengalaman rohani saja); sehingga dalam diri orang yang mengalaminya terdapat gabungan antara sikap Maria dan Martha, berdoa dan bekerja dalam persatuan sempurna dengan Kristus. Sesungguhnya, ini bukan hal sederhana, dan menurut pengalaman para kudus, merupakan perjuangan keras yang harus diusahakan secara terus menerus. Sebab seseorang yang sudah mencapai tahap yang persatuan itu sekalipun, harus berjuang untuk mempertahankannya agar ia tidak ‘jatuh’ ke tingkat pemula/ yang lebih rendah.
Demikian tanggapan saya, semoga berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Syalom bu Inggrid…
dikatakan menurut Bapa Paus Benediktus XVI (sewaktu kardinal Ratzinger) tentang ajaran Pater Anthony de Mello sbb:
“Especially in his early writings, Father de Mello, while revealing the influence of Buddhist and Taoist spiritual currents, remained within the lines of Christian spirituality. In these books, he treats the different kinds of prayer: petition, intercession and praise, as well as contemplation of the mysteries of the life of Christ, etc.
But already in certain passages in these early works and to a greater degree in his later publications, one notices a progressive distancing from the essential contents of the Christian faith.
Bolehkah ibu memberikan kami buku2 mana yang sekiranya sudah menyimpang dari ajaran Kristiani sehingga kami sebagai umat awam menjadi ‘aware’ .
Terima kasih sebelumnya.
Berkah Dalem
Shalom Yosafat,
Saya juga sudah membaca tulisan-tulisan R. Anthony de Mello, memang ada banyak yang baik. Tetapi jika kita terus membaca karya-karyanya, lama kelamaan secara implisit kita dapat menangkap, seolah-olah pencerahan itu dapat diperoleh sendiri secara pribadi dalam keheningan, dan bukan melalui Kristus. Saya tidak ingat secara persis di judul yang mana, karena saya membaca buku- bukunya dua puluhan tahun yang lalu. Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) pernah secara khusus menulis komentar tentang karya R. Mello, pada tahun 1998,yang ada di link http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_19980624_demello_en.html
Kardinal Ratzinger mengatakan bahwa di awal karyanya R. Mello memang masih setia dengan pengajaran Katolik, tapi lama kelamaan cenderung menyimpang, dengan memperkenalkan sosok Tuhan sebagai ‘pure void’/ ‘kosong’, yang bukan berupa ‘Pribadi Ilahi’. Dengan demikian spiritualitas yang diajarkan R. Mello meninggalkan konsep Allah Tritunggal (Allah yang satu dengan tiga Pribadi); figur Kristus-pun disejajarkan dengan tokoh agama lain; lalu agama dipandang sebagai penghalang untuk menemukan kebenaran. Hal-hal ini yang bertentangan dengan Spiritualitas Katolik.
Pada akhirnya, kekatolikan kita dinyatakan jika kita mempunyai Roh dan semangat Kristus, menerima dengan taat pengajaranNya yang disampaikan oleh Gereja Katolik (Lumen Gentium 14). Jadi, suara Gereja tentang tulisan R. de Mello harusnya mengarahkan sikap kita terhadap tulisan-tulisan beliau. Kita menerima dengan rendah hati pandangan Gereja, yang pasti telah didahului dengan segala penelitian akan semua karya-karya R. Mello. Sedangkan yang kita baca mungkin hanya sebagian saja.
Maka anda benar jika dalam sebagian karya-karya R. de Mello ini ada yang membingungkan seolah mengatakan agama tidak penting, atau bahkan Kristus tidak penting. Dan inilah yang dianggap menyimpang oleh pihak Magisterium. Maka kita sebagai umat Katolik harus waspada saat kita membaca karya-karya beliau, agar kita dapat memilah: yang baik boleh kita terima, namun yang tidak sesuai dengan ajaran Katolik, tentu tidak kita terima.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Terima kasih atas tanggapannya Bu Inggrid.
Jadi saya menarik kesimpulan, untuk buku-buku yg sudah ada imprimatur & nihil obstat [dari Katolisitas: imprimatur dan nihil obstat adalah filter pertama, setidaknya secara umum buku tersebut tidak membahayakan/ bertentangan dengan ajaran iman Katolik. Namun selanjutnya, silakan terus melihat kaitannya/ hubungannya dengan ajaran iman yang sudah jelas disampaikan oleh Magisterium Gereja Katolik] saya tidak akan ragu akan kebenarannya bahwa apa yang ditulis sudah sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Sedangkan untuk buku-buku yang diterbitkan tanpa hal tersebut walaupun ditulis oleh biarawan/ biarawati maupun religius Katolik saya akan lebih berhati-hati dalam membacanya.
Berkah Dalem,
Yosafat
syallom bu Iggrid, saya baru bergabung dgn meditasi di gereja saya yg dibimbing oleh seorang suster, ada beberapa yg ingin saya tanyakan bu
1. mantra maranatha apa kah diucapkan dgn bersuara(sampai ke telinga kita) atau cukup diucapkan di batin saja ?
2. waktu pertama kali ikut, malamnya saya buang buang air sampai 4 kai bu ( tapi saya tidak lemas, tidak seperti orang diare krn salah makan atau krn virus), apa memang di meditasi ada proses detoks bu?
3. saat meditasi tubuh saya seperti bergoyang kesamping dan kebelakang,apa memang bisa seperti itu bu? padahal sy hanya duduk rileks dan tegap
4. saat meditasi pernah tangan kiri saya pelan pelan dengan lembut mengarah ke kaki kiri saya, lalu seperti gerakan mengusap usap sangat lembut sekali ke kaki kiri saya (memang kaki kiri saya ada masalah bu) sedangkan saat meditasi sedikitpun saya tidak fokus ke kaki kiri saya, kenapa bs seperti itu bu?
5. saat meditasi saya selalu di dalam pikiran saya menampilkan wajah Yesus (yang ada di dalam foto Hati Kudus Yesus) apa boleh seperti itu bu? atau harus kosong sama sekali?
tks
Shalom Dewi,
1. Apakah Maranatha itu diucapkan atau diulang di dalam hati saja?
Menurut pengetahuan saya, tujuan meditasi adalah untuk masuk dalam keheningan bersama Allah, maka jika pada intinya kata- kata doa yang diulang tersebut diucapkan di dalam hati. Namun bisa terjadi, ada kelompok meditasi yang mengucapkan bersama- sama kata- kata doa itu pada awalnya. Tetapi saya rasa pada akhirnya karena tujuannya keheningan, maka ada saatnya di mana pengulangan itu berhenti, untuk dilanjutkan sendiri dalam keheningan bersama Allah.
2. Meditasi adalah proses detoks?
Meditasi Katolik yang dilakukan dalam suasana doa pada dasarnya adalah salah satu bentuk doa kepada Tuhan. Maka jika kemudian sesudah meditasi anda mengalami perubahan di dalam tubuh yang mendatangkan kesembuhan bagi penyakit anda, pertama- tama anda patut bersyukur kepada Tuhan yang telah menjamah dan menyembuhkan anda. Jadi berfokuslah kepada Allah yang dituju dalam doa, dan bukan kepada cara berdoanya (meditasi).
3. Dorongan tertentu pada saat meditasi
Fokus meditasi pada saat kita berdoa adalah Tuhan. Lalu dorongan- dorongan yang ada sebaiknya kita lihat dalam konteks tersebut. Jika memang anda mempunyai masalah penyakit sesuatu pada tubuh anda, silakan membawa pergumulan anda itu ke hadirat Tuhan, tanpa memusatkan diri kepada penyakitnya, tetapi kepada Tuhan Yesus, Sang Tabib di atas segala tabib. Jika hal ini sudah dilakukan, maka hal berikutnya dapat terjadi berbeda- beda pada setiap orang, dan ini merupakan pengalaman rohani orang yang bersangkutan. Namun satu hal yang perlu selalu diteliti: jika dorongan itu dari Roh Kudus, maka akan membuahkan damai sejahtera, tetapi jika tidak membuahkan ketidakdamaian, entah rasa takut, ‘aneh’, ataupun gugup. Silakan anda mengetesnya dengan berkata kepada diri sendiri, jika ini dari Tuhan, biarlah terjadi, namun jika tidak silakan berhenti. Sebab biar bagaimanapun dorongan yang dari Roh Kudus selalu tidak membuat kita kehilangan kontrol atas diri sendiri, karena salah satu buah Roh Kudus adalah pengendalian/ penguasaan diri (Gal 5:23)
4. Saat meditasi bolehkah menampilkan wajah Yesus di dalam pikiran?
Ya, saya rasa, inilah yang membedakan meditasi Kristiani dengan meditasi non- Kristiani. Menurut yang saya ketahui tujuan meditasi Kristiani adalah untuk membawa yang berdoa kepada kesadaran akan diri sendiri dalam hubungannya dengan Allah yang menciptakannya dan menebusnya. Dengan demikian, fokus meditasi Kristiani bukanlah semata diri sendiri, tetapi selalu dalam kaitannya dengan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Selanjutnya tentang meditasi dan kontemplasi, silakan anda membaca artikel di atas, silakan klik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Terima-kasih Ingrid atas semua keterangan yang diberikan tentang meditasi dan kontemplasi Katolik. Tolong diberitahu jika ada tulisan2 mutakhir tentang meditasi dan kontemplasi, dan sekali lagi terima-kasih.
iya mba inggrid yang di atas saya mengerti.
Yang saya permasalahan di sini bila:
1.ada praktek doa seperti halnya doa syafaat versi protestan,atau ada sautan umat pada saat pemimpin doa membawakan doa.
2.ada prakter pemimpin doa membawakan doa pada saat peserta yang lain menyanyikan lagu pujian.
dalam prakteknya 2 point di atas ada pada saat saya mengikuti sesi meditasi lingkungan,bagaimana…?
dan sebenarnya nyanyian pujian yang di bawakan sumbernya dari mana,lagu2 katolik kah atau bebas saja…?
Terimakasih.
Shalom Flavianus,
1. Doa syafaat yang ada sahutannya dapat saja dilakukan oleh umat Katolik. Itu serupa dengan bentuk Doa Umat, yang ada di setiap perayaan Ekaristi, yang disambut dengan “Kami mohon, kabulkanlah doa kami ya, Tuhan”. Jadi dalam doa meditasi lingkungan, jika sahutan doa itu diganti kata-katanya, tidak apa-apa.
2. Pemimpin membawakan doa, saat peserta lain menyanyikan pujian juga tidak apa-apa. Umumnya pada doa meditasi, peserta bersenandung, atau ada permainan alat musik, sementara pemimpin meditasi memimpin doa/ mengarahkan umat untuk berdoa.
3. Selama lagu- lagu yang dipilih sesuai dengan iman Katolik dan mendukung suasana doa, maka silakan saja lagu-lagu itu dipergunakan dalam doa lingkungan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Bu Ingrid,
Bagaimana ajaran katolik mengenai pemahaman meditasi dan kontemplasi, dan bagaimana pula perbedaannya karena akhir-akhir ini kita mengenal meditasi Kristiani dari Fr John Main OSB, seorang rahib Benedictin? Menurut Guigo (the ladder of monk), meditasi merupakan upaya memahami atau merenungkan karunia Allah sedangkan kontemplasi merupakan upaya merasakan indahnya karunia tersebut. Definisi lain mengatakan bahwa meditasi yang berasal dari kata meditare (“stare in medio”) berarti “berada di pusat,” sedangkan kontemplasi berarti bersama Allah di dalam hati kita.
Saya juga ingin bertanya tentang posisi manusia terhadap Allah menurut ajaran Katolik. Apakah manusia berhadapan dengan Allah seperti seorang hamba yang bertelut di hadapan sang Raja ataukah manusia boleh menjadi satu dengan-Nya seperti ajaran Alm Rm Dick Hartoko SJ, “manunggaling kawulo-gusti”? Dalam Alkitab kita memang menemukan ayat-ayat yang mendukung kedua pandangan tersebut. Dalam Lukas 10:42, Yesus mengatakan Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya karena Maria telah duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya. Sementara di dalam Yohanes 14:20, Yesus mengatakan, “Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”
Tuhan memberkati,
meditasi Kristiani dari Fr John Main OSB,urutannya seperti apa..?
Shalom Flavianus,
Demikian yang diajarkan oleh Fr. John Main OSB:
Duduklah dengan tegak dan tetap, selama 20-30 menit. Tutuplah mata, dan katakanlah sebuah frasa kata, yang bisa diambil dari ayat Kitab Suci, dan ulangi terus. Katakan terus ayat tersebut, dengarkan suara anda sendiri saat anda mengatakannya. Jangan pikirkan apapun. Jika terjadi pelanturan/ pikiran melayang, kembalilah ke perkataan ayat itu. Dengan demikian, lama- kelamaan anda meninggalkan segala sesuatu: Anda tidak lagi berkata-kata kepada Tuhan, tetapi duduk di hadirat Tuhan, bersama Tuhan, dan membiarkan hadirat-Nya memenuhi hati anda, dan mengubah diri anda.
Fr. Main menyarankan, yang dipakai adalah ayat, “Maranatha” yaitu kata Aram yang artinya, “Datanglah Tuhan” (seperti dalam I Kor 16:22 and Why 22:20.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Hanya itu…?
Kalau ada penambahan di luar itu bagaimana,adakah hukum Gereja yang mendukung cara yang beliau utarakan ini…?
Apakah ada keterikatan yang mesti di ikuti dalam uraian meditasi itu..?
Bagaimana kedudukan cara yang di ungkapkan oleh Fr John Main ini di mata Gereja?
Terimakasih.
Shalom Flavianus,
Hukum Gereja tidak mengatur urusan yang berhubungan dengan doa.
Apakah yang anda maksud dengan “keterikatan” yang musti diikuti dalam meditasi? Sebab meditasi itu sebenarnya sangat sederhana, yang lebih sulit untuk para pemula dan umat kebanyakan adalah untuk menenangkan diri dan pikiran, untuk berfokus pada Tuhan/ ayat Kitab suci yang dijadikan rhema itu.
Cara meditasi dengan merenungkan ayat Kitab Suci tentu diperbolehkan oleh Gereja. Cara yang diajarkan oleh Fr. Main sebenarnya bukan hal yang baru, dan meditasi ini juga sudah lama dipraktekkan oleh para orang kudus, secara khusus adalah St. Teresa dari Avila dan St. Yohanes Salib di abad pertengahan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Maksudnya begini mba ingrid,
Adakah acuan yang jelas dalam pelaksanaan meditasi ini,karena yang pernah aku dengar ada penambahan doa atau pujian yang justru menjadi melenceng dari pengertian meditasi Katolik.
Misal dalam satu meditasi ada tambahan cara2 doa protestan.
Dan aku melihat dari katekismus bahwa Gereja pun mengatur bagaimana harusnya kita ber meditasi,KHK 2707-2708:
2707 Metode-metode meditasi sangat beragam seperti halnya guru-guru rohani. Seorang Kristen harus bermeditasi secara teratur. Kalau tidak, ia akan menyerupai jalan atau tanah yang berbatu-batu atau yang penuh dengan duri-duri, sebagaimana dikatakan dalam perumpamaan penabur . Tetapi satu metode hanyalah merupakan satu penuntun; yang terpenting ialah maju bersama Roh Kudus menuju Yesus Kristus, jalan doa satu-satunya. 2690, 2664
2708 Meditasi memakai pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Usaha ini penting untuk memperdalam kebenaran iman, untuk menggerakkan pertobatan hati dan memperkuat kehendak guna mengikuti Kristus. Doa Kristen terutama berusaha untuk bermeditasi tentang “misteri Kristus”, sebagaimana terjadi waktu pembacaan Kitab Suci, “lectio divina”, dan pada doa rosario. Bentuk renungan doa ini mempunyai nilai yang besar; tetapi doa Kristen harus mengejar lebih lagi: perkenalan Yesus Kristus penuh cinta dan persatuan dengan Dia. 516, 2678
Terimakasih.
Shalom Flavianus,
Setahu saya cara meditasi Fr. Main ini sangat sederhana, seperti yang juga dituliskan di website ini, silakan klik.
Maka kalau diikuti cara yang diajarkannya, saya pikir tidak ada yang menyimpang. Silakan anda sebutkan kiranya apakah yang anda pikir menyimpang, karena kalau hanya mengulang- ulang suatu ayat Kitab Suci itu tidak apa-apa.
Katekismus 2707 sendiri menyebutkan bahwa metoda meditasi itu sangat beragam, tergantung yang mengajarkannya. Maka tidak heran, dari cara meditasi Fr. Main ini lalu dapat dikembangkan dengan tambahan lagu- lagu pujian.
Jika anda tertarik dengan meditasi dengan merenungkan Kitab Suci “Lectio Divina” (yang disebut dalam KGK 2708), saya sudah pernah menuliskannya di artikel ini silakan klik. Di sana saya juga sudah menyebutkan langkah-langkahnya, yang dapat anda lakukan sendiri atau berkelompok.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
aku sudah baca-baca lectio divina dana Fr Main ini,yang aku permasalahkan gini loh mba inggrid:
1.Penambahan-penambahan yang mungkin saja terjadi pada saat sesi meditasi atau kontemplasi,adakah acuannya..?
2.Jika dalam pelaksanaannya mencampur aduk kan dengan praktek-praktek non katolik itu bagaimana..?
aku bertanya seperti ini karena kebetulan aku baru saja mengikuti satu sesi meditasi dan di dalamnya ada rangkaian yang terdapat unsur protestannya(setidaknya aku tidak pernah melihat cara ini di dalam kebiasaan doa katolik),misal:
1.Saat pemimpin doa membawakan doa permohonan ada ucapan-ucapan yang keluar dari mulut peserta seperti menyahut atau mengimbangi ucapan dari si pemimpin doa.
2.Saat peserta bernyanyi,si pemimpin doa membawakan doa permohonan.
atau apakah 2 point di atas sebenarnya juga bagian dari tata cara kebiasaan katolik..?
Terimakasih.
Shalom Flavianus,
1. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada acuan yang pasti tentang apa yang anda sebut sebagai “penambahan- penambahan” meditasi ini.
2. Anda bertanya akan penambahan sebagai berikut:
a. Saat pemimpin doa membawakan doa permohonan ada ucapan-ucapan yang keluar dari mulut peserta seperti menyahut atau mengimbangi ucapan dari si pemimpin doa.
Sebenarnya prinsip sahut- menyahut ini sudah lama ada di Gereja Katolik, walaupun tidak sama persis. Di tradisi Gereja Katolik doa sahut menyahut terdapat di doa umat di Misa Kudus, pada saat umat menyambut dengan “kabulkanlah doa kami, ya Tuhan”, atau misalnya dalam doa rosario dan doa litani. Di situ ada bagian yang bersahut- sahutan. Mungkin bedanya adalah sahutan yang anda maksudkan berupa sahutan yang spontan. Menurut hemat saya, ini tidaklah menjadi masalah, sebab bukankah yang penting dalam berdoa adalah doa yang keluar dari hati?
b. Saat peserta bernyanyi, si pemimpin doa membawakan doa permohonan.
Dengan prinsip: bernyanyi memuji Tuhan dengan baik adalah berdoa dua kali (menurut St. Agustinus), maka tidak ada masalah juga jika di tengah- tengah nyanyian ada pemimpin doa membawakan permohonan. Yang terpenting di sini adalah bahwa dengan adanya nyanyian dan doa- doa tersebut, maka hati umat yang berdoa terangkat kepada Tuhan (lih. KGK 2559), dan dapat memuji Tuhan dengan lebih baik.
Maka tidak apa- apa, Flavianus, silakan berdoa dengan cara demikian, jika anda merasa terbantu dengan doa tersebut.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Yth : Stefanus Tay & Inggrid Listiati
Perihal meditasi yg sudah sampai di Lingkungan saya (aliran ‘x’ bukan dari Gereja Katolik) tapi sangat disosialisasikan oleh beberapa oknum senior Lingkungan dengan alasan untuk penyembuhan.
Bahkan salah satu seksi di gereja memanggil masternya dari Philipina yang notabene beragama Katolik ?
Tetapi yang aneh Ajaran/Prinsip Dasarnya aliran ‘x’ itu adalah ‘hitam dan putih adalah sama/seimbang !
Terus saya bertanya, klo atas dasar pengajaran seperti itu dapat berarti Tuhan Yesus dan Raja Setan itu seimbang dong ?
Sepengetahuan saya itu,sudah bertentangan dengan Injil(Sabda Tuhan) deh…dan banyak umat yang tertarik ajaran meditasi tersebut.
Salam dalam Kasih Yesus Kristus,
Gendut
Shalom Gendut,
Kami prihatin dengan adanya banyak orang Katolik yang tertarik mengikuti meditasi non-Katolik yang mengajarkan ‘keseimbangan antara hitam (kejahatan) dan putih (kebaikan)’. Kelihatannya meditasi semacam ini adalah semacam aliran New Age yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa kekuatan baik seimbang dengan kekuatan yang jahat, apalagi mensejajarkan Kristus dengan Iblis. Hal ini sungguh tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Saya pernah menuliskan tanggapan Gereja Katolik mengenai aliran New Age ini, dalam tulisan ini (silakan klik).
Jadi memang sebaiknya kita waspada terhadap aliran-aliran meditasi semacam ini. Jangan sampai, demi mengejar kesembuhan, kita tidak lagi mengandalkan Tuhan "Sang Tabib di atas segala tabib’ namun malah menjerumuskan diri di dalam kekuatan roh-roh dunia (lihat Kol 2:8). Sebagai orang Katolik, mari kita kembali kepada iman kita, kembali kepada Sakramen Ekaristi yang mengandung Kristus sendiri. Tidak ada yang lebih berkuasa menyembuhkan, daripada Tuhan sendiri, yang mampu menyembuhkan, tidak saja jasmani kita namun lebih dari itu, rohani kita. Hanya dengan bersandar pada Kristus, kita akan menerima kesembuhan yang sejati, terutama kesembuhan rohani kita, yang mempersiapkan dan mengantar kita pada kehidupan kekal.
Selamat menjadi saksi Kristus, Gendut, untuk membawa saudara- saudari di lingkungan anda untuk kembali mengandalkan Tuhan. Namun di atas semuanya itu, jangan lupa, sampaikanlah ajakan untuk bertindak sesuai dengan iman kita ini dengan lemah lembut dan hormat (lihat 1 Pet 3:15), demikian juga dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ada. Dengan niat yang tulus dan dengan diiringi oleh doa, kami percaya, Gendut dapat melaksanakan peran anda untuk menyampaikan terang Kristus di tengah-tengah lingkungan anda yang mungkin mulai ‘redup’.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid dan Stefanus
Peri hal meditasi. Kalau dalam meditasi kita arahkan untuk mencari “keperkasaan, kekuatan”, jelas meditasi seperti tidak boleh. Tetapi kalau kita mau meditasi di mana Kitab Suci sebagai sumber inspirasi dan pegangan hidup, maka itu malah dianjurkan. Meditasi Kitab Suci yang berbasiskan “lectio divina”, yang merupakan tradisi gereja perdana, menurut saya saya sangat dianjurkan dewasa ini. Lectio divina sampai saat ini banyak dilakukan tidak hanya oleh biarawan-biarawati, tetapi juga oleh awam yang kini mulai diminati oleh umat. Jika orang mengalami krisis iman, mari kembali kepda “lectio divina”.
Tuhan berkati.
Jus S