Apakah Yang Harus Diperbaiki Dalam Proses Katekese?

126

rosary Pernahkah kita berpikir, mengapa cukup banyak orang Katolik yang meninggalkan Gereja Katolik walaupun hampir semua telah mengalami proses katekese atau pelajaran agama selama satu tahun? Data di Amerika menunjukkan bahwa sekitar 10% orang Katolik meninggalkan Gereja Katolik. Mungkin data di Indonesia tidak jauh berbeda. Lalu, bagaimanakah kita menyikapi hal ini?

Kami, dari tim katolisitas.org ingin mengundang semua teman-teman dan pengunjung katolisitas.org untuk membagikan pengalaman, atau masukan apa yang harus diperbaiki dalam proses katekese, sehingga umat Katolik yang telah mengikuti proses katekese ini dapat benar-benar menjadi umat Katolik yang mengetahui dan mengasihi iman Katolik. Bagian dari proses katekese manakah yang harus diperbaiki? Apakah dari segi bahannya? Apakah cara pengajarannya? Ataukah sistemnya? Silakan memberikan sumbang saran anda, sehingga kita bersama-sama dapat membangun Gereja Katolik yang kita kasihi.

Terima kasih atas semua sumbangan saran, kritik yang membangun, dan pengalaman menjalani proses katekese ataukah pengalaman mengajar katekumen.

Tuhan memberkati.
Tim katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

126 Comments

  1. Dear Tim Katolisitas,

    Pertama2 saya sangat senang dengan keberadaan web ini yg sudah membantu saudari saya menemukan alasan yg kuat mengapai dia harus menjadi Katolik dan tetap Katolik.
    Untuk katekese dewasa saya ada usul buat tim Katolisitas agar membuatkan seri katekese dlm bentuk vcd, karena saya anggap untuk saat ini rata2 kita di Indonesia budaya membaca masih belum ada artinya jika umat kita diajak untuk menggali lewat membaca tentu hasilnya tidak maksimal, kemudian bila diajak untuk ikut pertemuan lingkungan biasanya waktunya tidak dapat dimaksimalkan karna pertemuannya yg terbatas, maka dari itu saya melihat bahwa yang ada untuk saat ini yaitu budaya menonton tapi berhubung tontonan yg paliing banyak siaran tv terutama sinetron yg isinya sungguh mempihatinkan. Siaran EWTN bagus tapi kendalanya tidak semua umat kita bisa berbahasa inggris. Ini sedikit usul saya. Terimakasih.

    Salam Kasih, selamat bertugas.
    Lorentnc.

    [dari katolisitas: Beberapa pembaca katolisitas juga mengusulkan hal yang sama. Mohon doanya semoga kerinduan ini dapat terwujud.]

  2. Yth, Katolisitas
    Saya mau menanyakan masalah anak sambut baru, kenapa digereja katolit itu begitu ribet dan mempersulit anak2 yg mau sambut baru (komuni pertama)
    Di paroki saya ada absen yg harus dipenuhi, 3x tidak datang, gugur

    [Dari Katolisitas: Mari melihat dari sisi lainnya. Karena peristiwa menerima Komuni pertama itu adalah sangat penting dan sangat dalam maknanya maka harus dipersiapkan dengan baik. Maka ketentuan dibuat agar mencapai tujuan itu, jadi sesungguhnya baik tujuannya. Jika Anda ada suatu keperluan mendesak yang sangat genting misalnya ada anggota keluarga yang meninggal, ada bencana, ada yang sakit parah, dst sehingga ketentuan ini tidak dapat dipenuhi, silakan membicarakannya dengan pastor paroki Anda, yang kemungkinan besar akan dapat mamahaminya dan memberikan jalan keluar bagi Anda.]

    Terlambat mendaftar, nggak diberi kesempatan utk ikut pelajaran sambut baru, disuruh ikut tahun berikutnya. Padahal yg harus mendaftarkan atau mengantar kan orang tua dan bagaimana bila orang tua si anak lalai menjalankan tugasnya? Kenapa anaknya yg harus menerima hukuman dilarang ikut sambut baru? Bukankah ini rahmat? Kenapa paroki sering mempersulit anak2?

    [Dari Katolisitas: Benar, ini adalah rahmat, maka dari itu, baik anak maupun orang tua harus dipersiapkan untuk proses ini, bukan sembarangan saja. Sebab bahkan sudah dijelaskan dengan benar saja, masih banyak orang tidak mengerti dan menangkap maksud Komuni kudus, apalagi jika penjelasan tidak lengkap]

    Apakah hanya untuk mendisiplinkan anggotanya harus melupakan kasih?.

    [Dari Katolisitas: Kasih kepada Tuhan juga akan membuat seseorang tidak mengeluh dan marah jika harus mempersiapkan batin untuk menerima rahmat Tuhan. Sebab kasih akan membuat kita melihat betapa banyak yang Tuhan sudah lakukan untuk kita, berkurban hingga wafat di salib. Masakah hanya dengan harus mengikuti pengajaran sekian minggu saja kita sudah mengeluh dan bersungut-sungut? ]

    Haruskah anak sambut baru mendapat alkitab baru utk hadiah? Bukankah biaya ini dibebankan ke ortu? Bagaimana dgn ortu yg tidak mampu? Kan boleh alkitab yg sdh dimiliki kita kemas ulang walaupun alkitab tsb sdh pernah diberkati? Kan boleh juga tanpa hadiah alkitab? krn rata2 setiap keluarga katolik sdh memilikinya sesuai jumlah keluarganya namun jarang dibaca.

    [Dari Katolisitas: Silakan bicarakan hal ini dengan pihak panitia dan pastor paroki, jika benar-benar Anda tidak sanggup membeli Kitab Suci baru. Namun idenya mungkin adalah agar anak mempunyai perasaan memiliki Kitab Suci itu sehingga mau membacanya sendiri, karena itu adalah miliknya, (bukan milik bersama/ milik orang tua).]

    Kenapa saat anak mendapat pelajaran sambut baru, ortu juga ikut mendapat pelajaran? Memang bagus, tapi apakah gereja tidak memikirkan kl ortu tsb mungkin punya pekerjaan yg harus diselesaikan atau ada anak lainnya yg harus diurus dirumah?

    [Dari Katolisitas: Ini mungkin adalah pengorbanan dari pihak orang tua yang harus dicari jalan keluarnya. Mungkin teman sekomunitas/ selingkungan atau sahabat atau saudara dapat dilibatkan untuk membantu sementara waktu, jika Anda membutuhkan bantuan. Jika tidak ada silakan bicarakan dengan panitia, semoga ada jalan keluar]

    Belum lagi biaya sambut baru yg lumayan harus dipenuhi, mungkin utk ukuran org mampu ini tidak masalah, tp kenapa gereja tidak memikirkan ortu yg tidak mampu, kadang Rp.100.000 saja susah buat mereka. Kenapa ortu tidak dibikinkan seminar sehari saja? Kenapa anak yg terlambat mendaftar tidak diberi kesempatan? Kan bisa pakai nilai agama disekolah? Kalaupun ada anak yg tidak bisa bikin tanda salib (ini ada terjadi), kenapa anak yg sudah pintar tidak digandengkan dengan yg belum bisa, bukankah ini kasih? Jadi mereka bisa belajar dari awal. Kenapa langsung ditolak?.

    [Dari Katolisitas: Silakan membicarakannya dengan panitia/ pastor agar jika benar terjadi demikian dapat diusahakan subsidi dari seksi sosial di paroki. Persiapan Komuni tidak sama dengan pelajaran agama di sekolah. Tujuannyapun berbeda, maka tak dapat disamakan.]

    Sedikit kesaksian saya,
    Maaf, sy awalnya non katolik dan jadi katolikpun krn ikut suami ( keluarga kami berdua non katolik), saat mendaftarkan pernikahan kamipun dipersulit. Hanya masalah adm sektor/paroki. Maaf..kami berdua tidak tau dan tidak mengerti. Kami dioper dari gereja satu ke gereja lainnya (sangat dipersulit). Namun Tuhan masih berkenan kami menikah di gereja katolik krn akhirnya ada pasangan yg baik hati mau membantu. Dan sejak awal saya sdh berkomitmen utk tidak mau aktif di gereja (awalnya kami hanya ikut misa saat natal saja). Walaupun ada doa disebelah rumah kami, kami tidak mau hadir. Saya mengeraskan hati utk tidak mau aktif mengingat sedikit ejekan org2 sektor saat itu, “alah, pas mau nikah aja mohon2 daftar sektor, kl sdh selesai nikah, mana mau aktif”. Keaktifan di sektor atau komunitas gereja koq dipaksakan?. Kenapa org gereja tidak menyelesaikan saja tugasnya mereka dan biarkan Tuhan menyelesaikan sisanya. 9 tahun pernikahan saya baru sy aktif digereja, aktif pelayanan, itu juga krn begitu banyak kebaikan dan kemurahatian Tuhan. Sy dgn suami berjanji jika sampai kami masuk sektor/paroki, kami akan menghilangkan birokrasi.

    [Dari Katolisitas: Peraturan dibuat adalah untuk kebaikan bersama. Silakan membicarakan dengan Romo Paroki yang adalah Ketua Dewan Paroki.]

    Hal sambut baru sempat mau sy sampaikan ke romo paroki, tapi berhubung romo sdh tua dan sakit2an, sy mengurungkan niat saya. Tapi masalah sambut baru dll masih sangat rumit. Kemana saya harus menyampaikan hal ini ? Selain romo dan anggota paroki? Krn anggota paroki sdh tidak ada kasih dihati mereka. Malah saya disarankan utk belajar tutup mata dan telinga selama 3,5 bulan ini (anak saya saat ini ikut pelajaran sambut baru) ikuti aturan, selesai. Saya berbicara disini bukan atas nama anak saya, krn saya dan anak saya mengikuti semua aturan yg ada. Saya berbicara atas anak diluar sana yg mendapat kemurahan hati Tuhan dan dihalang2i oleh lembaga gereja. Kemana hal ini hrs saya sampaikan? Saya bisa mengumpulkan data anak yg dipersulit dari tahun 80an. Banyak dari mereka yg menjauh akhirnya. Sangat disayangkan.

    Terimakasih atas perhatiannya

    [Dari Katolisitas: Sesungguhnya jika Anda melihat proses ini sebagai proses mempersiapkan hati anak untuk menerima Tuhan Yesus dalam Komuni Kudus, dan hati Anda sendiri untuk menjadi pendamping anak dalam menghayati peristiwa iman yang besar dan penting ini, selayaknya Anda tidak perlu menuduh bahwa Gereja menghalang-halangi rahmat Tuhan bagi anak-anak. Bahwa mungkin di paroki Anda ada sesuatu yang dapat diperbaiki, sehubungan dengan sikap panitia terhadap mereka yang bermasalah dalam hal keuangan, namun ini tidak menjadikan bahwa semua proses persiapan itu harus ditiadakan atau dipersingkat. Sebab faktanya, walau menurut ajaran iman Katolik, pengajar iman utama adalah orang tua, namun pada kenyataannya banyak orang tua yang sampai anak berusia 7 tahun belum mengajarkan anak berdoa sederhana, bahkan membuat tanda salib. Maka masa persiapan Komuni pertama menjadi masa yang penting untuk menutupi kekurangan itu.]

    [Dari Katolisitas: Komentar ini digabungkan karena masih satu topik]

    Maaf, ketinggalan, sy ada beberapa ide yg mau sy tuangkan dlm proposal utk perubahan cara pengajaran sambut baru. Bukan utk mendepak yg lama, hanya utk mengkoreksi sedikit, semua jadi berperan tanpa menyerahkan hal ini mutlak pada gereja. Gereja hanya membantu dan peran aktif ortu juga bisa digunakan tanpa menyita banyak waktu ortu dan juga anak2 yg belum bisa dapat di partnerkan dgn yg sdh bisa agar tidak terjadi kesombongan dan rasa rendah diri pada si anak. Terimakasih

    [Dari Katolisitas: Benar, bahwa orang tua adalah guru iman yang pertama bagi anak, tetapi silakan dilihat, berapa banyak orang tua yang sungguh sudah melakukan hal ini? Sudah mengajari anak berdoa dan membacakan Kitab Suci sejak usia dini (2 tahun) misalnya? Maka bukan maksud Gereja untuk menyita waktu orang tua. Jika orang tua sudah melakukan tugasnya dengan baik, dan anak sudah fasih berdoa (doa-doa dasar) dan mengenal ajaran Kitab Suci dan ajaran iman Katolik sejak awal, maka saya percaya proses persiapan Komuni pertama bisa dibuat lebih singkat. Jika Anda terpanggil untuk memperbaiki sistem, silakan adakan pembaharuan untuk menggiatkan pasangan muda untuk mulai mengajarkan anak berdoa, membaca Kitab Suci dan iman Katolik kepada anak sejak usia dini. Ini akan sangat membantu, baik bagi paroki Anda meupun juga bagi pertumbuhan rohani Anda sendiri. Sebab ketika sambil Anda menggiatkan mereka, Anda juga menerapkan peran Anda sebagai pengajar iman yang utama bagi anak Anda di rumah. Dan lihatlah, jika Anda tekun melaksanakan hal ini, Anda sendiri yang akan memetik buahnya.

    Mari mengingat pepatah: Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.]

  3. Mulianta Marcelles on

    Terimakasih sebelumnya atas keberadaan website ini sangat membuka “cakrawala” baru untuk keimanan katolik dan saya baru menemukannya.
    Untuk hal katekese sebenarnya sudah cukup bagus dan standard walaupun masing-masing orang mempunyai “style” tersendiri untuk pengajarannya dan ini sangat lumrah krn setiap orang punya background yang unik dan berbeda. Hanya ada SATU yang hilang yaitu CINTA, mengajarkan katekese dengan cinta kasih bukan sbg “GURU” bukan sbg “LEBIH TAHU” bukan sbg “SENIOR” dan bukan sbg PENGENDALI”. Jadi saran saya : setiap pengajar katekese harus menjalani retret atau “regresi” masa lalunya ( berdamai dengan masa lalunya ) dan masa depannya dulu. Agama mengajarkan kerajaan Allah dan katekese bagiannya. Kita sering tejebak dengan membawa cara-cara “dunia” untuk mengajarkan kerajaan Allah (baca katekese), padahal rumusnya sudah jelas : kerajaan Allah berbanding terbalik dengan (kerajaan) dunia. Apalagi di tempat tetentu saya perhatikan dalam mengajar katekese ada “rewards” & “punishment”.

    [Dari Katolisitas: Terima kasih atas masukan Anda. Memang tanggungjawab seorang katekis cukup berat, yaitu bahwa ia harus terlebih dahulu mengamalkan sendiri apa yang dikatakan/ diajarkannya. Maka menjadi penting di sini ialah para katekis harus pertama-tama mengetahui dengan sungguh ajaran iman Katolik yang benar, bukan hanya 'kata orang' atau 'menurut pendapat saya', agar dapat mengamalkannya dengan baik. Nah, setelah para katekis mengetahui ajaran iman Katolik yang benar, sebagaimana diajarkan oleh Kristus dan para rasul dan yang sampai sekarang dilestarikan oleh Gereja Katolik, langkah berikutnya adalah mereka perlu menyampaikannya dengan bijak dan rendah hati, dengan santun dan hormat, dan dengan motivasi kasih, kepada para pendengarnya. Semoga Tuhan memberkati dan membimbing dengan Roh Kudus-Nya, semua orang yang mengambil bagian dalam tugas katekese umat.]

  4. Methode Katekese.
    Salom Katolisitas.
    Puji Tuhan, saya menemukan web ini yang sebenarnya telah lama mencari-cari web katolik dan trimakasih beberapa pertanyaan saya telah terjawab bahkan saya telah mendapatkan pencerahan yang sangat luas dan mendalam.
    Saya punya pengalaman sama dengan Bp Sumadi yang diskusinya saya baca di web ini yang prihatin karena merasa pengajaran iman yang didapat dari gereja katolik minim. Untuk meningkatkan katekese tidak lepas dari teori, metode dan teknik psikologi pendidikan. Untuk memenuhi harapan tim katolisitas saya menyarankan untuk memanfaatkan keahlian saudara-saudara kita yang ada di lembaga pendidikan seperti Sanata Dharma Ygyakarta atau para ahli pendidikan yang tergabung pada ISKA. Saya yakin mereka akan dengan senang hati membantu.
    frans.

  5. antonius_wenang on

    Yth Katolisitas.org,

    Menurut saya, Gereja harus mewajibkan setiap Paroki :

    1) Mengadakan kegiatan kelompok pendalaman & bimbingan Kitab Suci yg rutin setiap minggu kepada umat. Kewajiban tidak hanya di tingkat Keuskupan saja, tapi harus di setiap Paroki. Dibuka dalam 2 kelompok umur (30 thn). Manfaat yg didapat selain umat mendapatkan pedoman ayat2 KS, merekapun mjd lebih dkt dgn Gereja. Sekaligus prtmuan tsb bisa mjd landasan Apologetik bg umat.

    2) Untuk gerakan Katolik Karismatik, harus dilakukan diluar hari Minggu & tidak diberlakukan Sakramen Ekaristi utk Ibadat tsb + Penyembuhan yg berpura-pura.

    Terima kasih.

    • Shalom Antonius Wenang,

      Terima kasih atas masukannya. Memang seharusnya di setiap paroki harus ada kelompok pendalaman Kitab Suci, yang diselenggarakan secara rutin dan bukan hanya pada bulan-bulan tertentu yang digariskan oleh keuskupan. Dan Misa untuk kelompok kategorial tertentu memang perlu dipikirkan lebih lanjut, apakah benar-benar dapat membantu umat agar dapat menghayati liturgi dengan lebih baik, dan membantu umat untuk semakin berfokus pada misteri Paskah Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • antonius_wenang on

        Yg terakhir betul tuh Pak Stef.

        FYI ttg Karismatik; pernah kejadian sewaktu saya masih studi, selama setahun penuh sy mgikuti ibadah2 dari macam2 denom “tempat ibadah” di daerah saya (ttp pd hari minggu sy tetap masuk Gereja juga). Beberapa kali sy diundang teman, ada juga karena sy pingin bergaul aja.. Tiap kali hadir di satu denom, sy lgsg diajak ke depan katanya akan dibacakan jampi2 XDDDD WTF utk menghilangkan dosa2 sy (sy sblmnya sdh tau ritual2 beginian sblmnya). Setelah mereka berkomat kamit dgn mantranya sy mmg tau bhw prosesnya si objek harus jatuh ke blkg. Pglman pertamanya sih sy gugup swktu mdkti giliran sy, soalny sy gak jatuh2 stlh merekanya komat kamit, sy tau sdh ada org di blkg yg siap mmgang sy… ehhh koq tiba2 jidat sy di dorong sialan. Akhirny sy pura2 jatuh aja, tapi sy bikin malu mereka, sblmnya sy bergerak mau duduk dulu baru sy tidur XDDDDD. Begitulah strusnya yg trjd pd t4-2 ibadah lainnya juga. Sy prihatin, Ajaran yg baik ttg penyembuhan sdh mereka salah gunakan utk mdptkan penganut & materi. Semoga saja Gereja tidak mempraktekan hal tipu2 tsb dlm ajaran Katolik Karismatik, Amin.

        Duc in altum,
        Antonius

        [dari katolisitas: Di mana-mana ada kasus yang memang tidak mengenakkan. Walaupun demikian, kita juga melihat ada buah-buah positif dari gerakan ini. Silakan melihat diskusi ini - silakan klik.]

    • Thomas More on

      Permasalahan utama pasti bukanlah di umat, mohon para imam & hirarki gereja menyadarinya.

      Kita tidak usah malu atau trauma dgn sejarah gereja, para imam & hirarki gereja sebaiknya menyatakan ulang dgn tegas disiplin iman & hidup kudus, daripada umat mereka2 sehingga menyesat jiwa mereka.

      Kekurangan tenaga para imam memang menjadi suatu kendala, tetapi saya yakin semakin kudus (dgn mengutamakan pelayanannya pada umat) kehidupan seorg imam/pejabat hirarki gereja maka dgn sendirinya akan membangkitkan semangat umat utk mendedikasikan diri memenuhi panggilan memjadi imam/biarawan/biarawati, terutama dari kaum muda. Lagi2 kembali kepada para imam itu sendiri.

      Terima kasih, maaf jika ada yg tidak berkenan.

      [dari katolisitas: Masing-masing dari kita harus mengintrospeksi, baik hirarki maupun awam. Di satu sisi ada yang perlu ditingkatkan dari para immam, namun di sisi yang lain, kita juga melihat bahwa kaum awam juga dalam kapasitas masing-masing harus turut membantu untuk menyelesaikan permasalahan. Sebagai contoh: sebagai katekis paruh waktu, maka harus benar-benar mempelajari imannya dengan baik, sehingga dapat semakin baik untuk mengajar. Jadi, mari kita juga bertanya pada diri kita sendiri, apa yang dapat saya sumbangkan untuk dapat membangun Gereja yang kita kasihi.]

      • betul sekali mas thomas more ini.,…kritikan yg cerdas.Tetapi hal itu sangat suylit trewujud…. biar alam yg akan menyewleksi. Jangan – jangan Yesus dah bosan mendekat ke katolik. tapi berganti ke kaum yg miskin.

        [Dari Katolisitas: Yang pasti Yesus tidak pernah mengingkari janji-Nya, yaitu Ia akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20), sehingga karena janji ini, kita tahu bahwa sampai akhir zaman Yesus akan terus menyertai Gereja Katolik, yaitu Gereja yang didirikan-Nya sendiri di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:16-19). Gereja Katolik tidak pernah meninggalkan kaum miskin. Bahwa memang selalu masih ada yang harus dan dapat dilakukan untuk semakin meningkatkan pelayanan terhadap kaum miskin, itu benar, tetapi sampai kapanpun Gereja Katolik tidak dapat dipertentangkan dengan kaum miskin. Sebab kaum miskin justru menjadi titik perhatian utama Gereja, sebagaimana diajarkan oleh Kristus sendiri (lih. Mat 25:40; Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, 8,23; Gaudium et Spes, 69]

  6. Efrem More Meto on

    katekese merupakan sebuah sarana komunikasi iman. karena itu proses katekese harus disadari sebagai kesempatan Allah yang berkomunikasi dengan umat-Nya. maka dalam berkatekese saya kira kita mesti memakai kerangka komunikasi yakni:
    1. message: pesan yakni karya keselamatan Allah: bisa disampaikan lewat gambar, foto, video, dll
    2. Sender: Kristus sebagai komunikator utama (kita adalah alter christi)
    3. reciver: mesti tahu siapa penerima pesan
    4. effect: sasarannya apa? pertobatan, hidup baru,dll?
    5. situation:

Add Comment Register



Leave A Reply