Tentang Teori Manusia Purba

7

Sejak Charles Darwin meluncurkan bukunya The Origin of Species di tahun 1859, paham tentang evolusi berkembang. Pemikiran Darwin dianggap sebagai dasar bagi ilmu pengetahuan tentang evolusi, bahwa terbentuknya berbagai kelompok organisme adalah dari perubahan secara terus menerus dari kelompok organisme lain yang lebih rendah/ sederhana. Banyak orang tidak menyadari bahwa teori Darwin ini masih menantikan bukti -bukti dari fakta penemuan fosil. Sebab sejauh ini, bukti fosil menunjukkan sebaliknya: mayoritas fosil menunjukkan keadaan yang: 1) statis: bahwa species tidak menunjukkan perubahan ciri yang signifikan semasa hidupnya di dunia, dan 2) kemunculan yang tiba-tiba: species tidak muncul secara bertahap melalui perubahan yang  terus menerus, namun muncul secara tiba-tiba dalam bentuk yang sempurna (lih. Stephen J Gould, The Panda’s Thumb, 1980, p. 181-182).

Namun demikian, kini di banyak buku sains, evolusi disajikan seolah-olah sudah menjadi suatu fakta, bahkan dengan menampilkan gambar-gambarnya. Termasuk juga gambaran peralihan dari semacam kera menjadi manusia (umum disebut: manusia purba), yang salah satunya konon bahkan ditemukan di pulau Jawa di tahun 1891, sehingga disebut Java man atau Pithecanthropus erectus. Namun di balik klaim penemuan-penemuan tersebut, terlihat adanya keterlibatan asumsi sang peneliti, sehingga dapat terjadi klaim penemuan seorang ilmuwan kemudian dibantah oleh ilmuwan yang lain, atau bahkan dikoreksi sendiri oleh sang penemu. Sayangnya, hal ini nampaknya tidak diketahui secara meluas oleh publik, sehingga klaim penemuan fosil manusia purba sepertinya sudah dianggap sebagai bukti kunci yang mendukung teori evolusi.

Tulisan berikut ini tidak dimaksudkan untuk menjadi referensi ilmiah untuk menumbangkan argumen tentang manusia purba, sebab ada atau tidaknya manusia purba tidak mempengaruhi ajaran iman Katolik. Sebab meskipun suatu hari, fosil manusia purba secara meluas ditemukan di seluruh bumi, hal ini tidak menumbangkan prinsip ajaran iman Kristiani, bahwa Allahlah yang menciptakan manusia. Tidak masalah, jika ilmu pengetahuan dapat membuktikan secara meyakinkan, bahwa memang terjadi proses evolusi tersebut, sepanjang diakui adanya campur tangan sang “Intelligent Designer” (yaitu Allah) dalam proses peralihan itu. Sebab hanya oleh campur tangan Allahlah dapat terbentuk tubuh manusia yang sempurna untuk disatukan dengan jiwa manusia yang langsung diciptakan oleh Tuhan. Seleksi alam tidak mungkin menjelaskan proses peralihan yang terjadi secara drastis antara kera dan manusia, sebab menurut perhitungan matematis dibutuhkan waktu yang hampir tak terhingga, untuk perubahan karena seleksi alam itu, dan hal ini yang tidak cocok dengan kenyataan. George Salet menulis, “…ilmu pengetahuan menemukan fungsi DNA, duplikasinya dan perkembangannya memberi dasar bagi spekulasi matematika bahwa, … periode geologis harus dikalikan dengan 10 diikuti dengan ber-ratus atau ber-ribu-ribu nol, untuk memberikan waktu bagi terbentuknya sebuah organ baru, walaupun organ yang paling sederhana sekalipun.” (diterjemahkan dari George Salet, “Hasard et certitude. Le transformisme devant la biologie actualle, Paris, 1972, p. x)

Sekarang pertanyaannya, mengapa sejauh ini Gereja tidak menyetujui teori makro-evolusi Darwin? Sekilas tentang hal itu, sudah pernah dibahas di artikel Hubungan Evolusi dengan Iman, klik di sini. Sekarang, mari kita melihat sekilas beberapa klaim tentang manusia purba:

1. Piltdown Man

Fosil ini ditemukan di Piltdown tahun 1912 oleh Charles Dawson, Arthur Smith Woodward dan Fr. Teilhard de Chardin. Dikatakan bahwa pertama kali yang ditemukan adalah bagian atas tengkorak manusia dan di dekatnya, rahang yang menyerupai rahang kera, namun gigi gerahamnya hilang. Gigi tersebut konon ditemukan 8 bulan sesudahnya, dan sesudah itu diperolehlah gambaran tentang Piltdown man. Seorang anthtropologis terkemuka pada zaman itu, Marcellin Boule, meragukan penemuan itu. Konon di tahun 1915 ditemukan kembali fosil serupa di radius 2 mil dari Piltdown, dan Piltdown man dianggap sebagai manusia Inggris purba, yang hidup sekitar 500,000 tahun yang lalu (prediksi ini kemudian terus turun sampai hanya 500 tahun yang lalu).

Piltdown man ini diyakini sebagai kebenaran selama 40 tahun, sebelum kemudian terbukti sebagai penipuan. Sebab ternyata tengkorak itu milik manusia modern, dan rahang kera itu ternyata milik kera yang belum lama mati. Gigi yang dipasangkan pada rahang  menunjukkan adanya tanda abrasif (tanda dikikis), dibuat agar menyerupai gigi manusia.

Piltdown man dinyatakan sebagai palsu/ forgery, hal ini ditulis di the New York Times, 21 November 1953, “Piltdown Man Hoax is Exposed.”

2. Australopithecines

Australopithecines ditemukan di Afrika tahun 1924, oleh Dr. Raymond Dart, dan dilanjutkan oleh Robert Broom dan J.T. Robinson. Australopithecines digambarkan sebagai mahluk yang berahang besar, ber-otak kecil, tinggi 4 kaki, berjalan menyerupai manusia, seolah merupakan mahluk yang kemudian ber- evolusi menjadi manusia. Namun kenyataannya, bukti fosil species ini sangatlah sedikit. Tak jarang hasil rekonstruksi tulang ini diperoleh dari “preconceived idea” dari ilmuwan yang meneliti, agar cocok dengan teori evolusi. Tahun 1954, Solly Zuckerman (Chief Scientific Advisor pemerintah Inggris), yang mengadakan penyelidikan semua fosil tulang ini mengumumkan hasil studinya, bahwa fosil binatang tersebut tidak menunjukkan bukti sebagai sesuatu yang kemudian ber-evolusi menjadi manusia. Tahun 1975, Dr. Charles Oxnard dari Chicago University mengumumkan hasil studinya, bahwa Australopithecines berbeda dari manusia dan dari kera modern, dan lebih menyerupai orangutan.

Fosil manusia purba yang serupa konon juga ditemukan di Afrika tahun 1950, oleh Dr. Louis Leakey dan istrinya. Ditemukan 400 bagian tulang, yang kemudian direkonstruksikan menjadi tengkorak. Rahang yang hilang ditambahkan berdasarkan atas penemuan rahang di tempat lain oleh anaknya. Hasilnya disebut sebagai manusia purba Zinjanthropus atau Zinj, yang diperkirakan hidup 1.75 juta tahun yang lalu. Namun kemudian, klaim ini dikoreksi oleh Leakeys sendiri, dengan mengatakan bahwa Zinj ternyata bukan manusia, namun hanya sejenis hewan Australopithecines.

Di tahun 1964, Dr. Leakey kemudian mengajukan kandidat lain yaitu Homo habilis, dengan tulang-tulang dan kapasitas tengkorak 670cc yang dianggap lebih menyerupai manusia. Namun berdasarkan bukti yang sedikit itu, banyak kaum evolutionists tidak sepaham dengan pandangan Dr. Leakey. Sebab saat itu telah berkembang ide urutan evolusi manusia, dari Australopithecines, Homo habilis, Homo erectus menuju ke Homo sapiens. Urutan ini dikacaukan dengan hasil penemuan Dr. Leakey yang melaporkan bahwa ia menemukan fosil Australopithecines, Homo habilis dan Homo erectus dalam jangka waktu yang sama di Bed II, Olduvai Gorge. Beberapa hari sebelum Dr. Louis Leakeys wafat, anaknya, Richard Leakeys, menunjukkan penemuan fossil tengkorak ER 1470, yang nampaknya mendukung perkiraan ayahnya bahwa genus Homo mempunyai sejarahnya sendiri, dan bukan turunan dari Australopithecines.

3. Java Man

Java man yang diklasifikasikan sebagai Homo erectus, ditemukan tahun 1891 oleh Dr. Eugene Dubois di Trinil, Jawa. Tahun 1895, Dubois kembali ke Eropa dan menunjukkan fosil temuannya di International Congress of Zoologists: sebuah tengkorak dengan gigi yang nampaknya milik seekor kera; dan fosil yang ditemukannya setahun kemudian (1892) berjarak 50 feet dari temuan pertama, yaitu tulang paha yang mirip tulang manusia. Dubois menyimpulkan bahwa keduanya adalah milik satu species yang sama, atas dasar asumsi bahwa manusia purba tersebut baru saja berpindah ke Jawa. Demikianlah terbentuk rekonstruksi Java man (Pithecanthropus erectus).

Namun kisah ini menyimpan misteri. Sebab 30 tahun kemudian (1921) terjadi fakta yang cukup mencengangkan, sebab ternyata Dubois masih menyimpan dua tengkorak manusia (dikenal dengan nama Wadjak skulls) yang menunjukkan tengkorak manusia yang sesungguhnya. Maka artinya manusia (real man) sudah hidup bersama-sama dengan Java man (manusia purba/ ape-man) di Jawa di jangka waktu yang sama. Marcellin Boule, seorang ahli fosil (paleontologist) yang mempunyai otoritas pada saat itu, menolak Java man, dan mengatakan bahwa fosilnya adalah milik seekor gibbon atau kera. Akhirnya, di tahun 1938, Dr. Dubois sendiri merevisi pernyataannya tentang Java man, dengan mengatakan bahwa setelah penyelidikan yang panjang akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa temuannya itu adalah gibbon raksasa. Namun para evolutionists tetap menempatkan Java man dalam rantai evolusi manusia, dalam klasifikasi Homo erectus.

4. Peking Man

Dr. Davidson Black di tahun 1914 membantu dalam penemuan Piltdown man. Tahun 1926 Piltdown man masih diakui di Inggris. Black kemudian ditugaskan ke China untuk meneliti fosil di sana, ia dibantu oleh Dr. Pei dan Fr. Teilhard de Chardin. Tahun 1927, Black menemukan sebuah gigi geraham, yang diyakininya sebagai milik mahluk separuh kera dan separuh manusia, yang diberi nama Sinanthropus pekinensis, atau, Peking man. Menarik untuk disimak, bahwa kesimpulan akan adanya species ini didasari hanya oleh sebuah gigi.

Tahun 1929, ditemukan fosil menyerupai tengkorak yang konon menyerupai tengkorak kera yang besar. Teilhard yang saat itu membantu Black mengatakan bahwa temuan itu menyerupai tengkorak kera yang besar. Namun Black kemudian membuat rekonstruksi tengkorak itu, berdasarkan rekaannya sendiri (bukan berdasarkan atas cast dari tengkorak yang ditemukan itu) dan terciptalah gambar Sinathropus.  Cara rekonstruksi yang sedemikian ditentang oleh para ahli fosil lainnya yaitu Fr. Patrick O’Connell dan Malcolm Bowden yang sama-sama meneliti Peking man. Menurut gambaran itu, kerangka otaknya adalah 960 cc (yang termasuk ukuran otak manusia), jauh melampaui kapasitas tengkorak kera yang dilaporkan oleh Teilhard. Di samping itu, terdapat hal yang mencurigakan sehubungan dari lokasi ditemukannya fosil itu. Di lokasi ditemukan dua tingkat tumpukan abu yang luar biasa besar. Panjangnya seukuran panjang lapangan sepak bola, lebarnya setengah lapangan sepak bola dengan tinggi dua lantai bangunan. Di tumpukan itu terkandung pecahan tengkorak kera, namun hampir tidak ada tulang-tulang kera lainnya yang dapat membuktikan postur tubuh. Namun dari fakta ini, Black dan Teilhard menyimpulkan bahwa yang ditemukan adalah fosil manusia kera yang tinggal di gua-gua, yang berjalan tegap seperti manusia. Padahal karena banyaknya tumpukan abu itu, tak semuanya sempat diperiksa ataupun diidentifikasi.

Di tahun 1931, seorang arkeolog dan anthropolog terkemuka di dunia saat itu, Prof. Breuil, mengunjungi lokasi. Ia melihat fosil itu, dan bertanya-tanya apakah mungkin hanya dari tengkorak kera dapat dihasilkan sisa fosil sebanyak itu. Sekembalinya ke Perancis, Prof. Brueil menerbitkan artikel yang kontroversial, berdasarkan pengamatannya. Ia menyebutkan bahwa bukti yang disebut “traces of fire” itu sebenarnya adalah sisa dari tungku api yang besar yang terus menyala dalam waktu yang panjang. Tumpukan abu berasal dari pembakaran batu yang dibawa ke lokasi. Di tumpukan abu itu, selain terdapat sisa tengkorak kera, terdapat juga fosil tulang manusia modern. Maka Prof. Breuil memperkirakan fosil manusia tersebut berasal dari orang-orang yang bekerja di industri batu kapur tersebut, berkaitan dengan pembangunan kota tua Cambaluc/Cambriolet dekat Peking. Namun Black, Teilhard dan Pei tidak memperhitungkan penemuan Brueil. Mereka tidak menyampaikan adanya keberadaan industri tersebut dalam buku mereka, “Fossil man in China“.

Bagaimana dengan temuan tengkorak-tengkorak monyet yang tercampur dalam abu itu? Marcellin Boule, yang mengunjungi lokasi dan memeriksa tumpukan fosil itu mengemukakan bahwa sisa tengkorak kera itu kemungkinan adalah sisa makanan dari para buruh yang bekerja di industri tersebut (mengingat bahwa orang Cina memang mengkonsumsi otak monyet -dijadikan sup- sebagai makanan). Namun, pandangan Boule tidak sesuai dengan pandangan para evolutionists dan media pada saat itu, yang berkepentingan untuk menemukan missing link bagi evolusi manusia. Oleh karena pandangannya, Boule dikecam oleh para evolutionists. Penggalian terus berlangsung sampai tahun 1934, sampai akhirnya memang ditemukan fosil tulang-tulang manusia modern yang mati akibat tanah longsor. Fosil tersebut dibawa kepada Dr. Black untuk diperiksa. Di salah satu hari tersebut di bulan Maret 1943, Black ditemukan wafat di antara fosil tulang-tulang manusia tersebut.

Teilhard menulis surat ke Perancis dan melaporkan tentang keberadaan tengkorak dan tulang-tulang manusia itu, walaupun anehnya, tiga tahun kemudian ia mengirimkan laporan kedua yang menyatakan bahwa tidak ditemukan jejak tulang manusia yang sesungguhnya. Posisi Black kemudian digantikan oleh Prof. Weidenrieich, yang menerbitkan laporan 5 tahun kemudian tentang penemuan sisa tulang-tulang manusia di lokasi tersebut, termasuk foto-fotonya.

Namun kemudian secara misterius semua fosil Peking man menghilang. Ada beberapa dugaan: 1) Fosil ini dibawa oleh kapal Amerika setelah perang; 2) atau dihancurkan oleh Jepang yang menjajah Cina; 3) Dr. Pei, seorang peneliti berkebangsaan Cina yang membantu Black dan Teilhard menghancurkan bukti ini. Fr. O’Connel menulis, “Maka tengkorak-tengkorak tersebut dihancurkan sebelum pemerintah Cina kembali ke Peking untuk menghilangkan bukti penipuan dalam skala besar itu. Setelah pemerintah komunis mengambil alih pemerintahan, Dr. Pei menggunakan model Peking man untuk mengajar bangsa China, bahwa mereka berasal dari kera.

5. Skull 1470

Perubahan besar terjadi di tahun 1972. Richard Leakey, anak Dr. Leakey, menemukan tengkorak dan beberapa tulang kaki di Kenya, dan menamai tengkorak tersebut, Skull 1470. Kapasitas otaknya 800 cc, batas ter-rendah untuk Homo sapiens. Leakey mengklaim tengkorak itu milik manusia, yang hidup sekitar 2.8 juta tahun yang lalu.

Klaim ini mengakibatkan krisis: bagaimana tengkorak dan tulang yang termasuk dalam katagori manusia dapat ditemukan di zaman yang lebih purba daripada zaman moyang manusia? (Sebab zaman Australopithecus yang dianggap moyang manusia yang lebih tua, berasal dari 1.75 juta tahun lalu). Jika benar, maka penemuan Skull 1470 menggagalkan kesimpulan semua penemuan manusia purba sebelumnya.

6. Ramapithecus

Maka mata rantai moyang yang tak terpengaruh oleh penemuan Skull 1470 adalah Ramapithecus. Sebelum ditemukan Skull 1470, species ini tidak penting, sebab dianggap terlalu jauh di masa lalu, sekitar 11 juta tahun lalu. Namun, dengan ditemukannya Skull 1470, Ramapithecus menjadi satu-satunya penghubungan manusia dengan moyang kera, menurut teori evolusi.

Namun bukti bagi keberadaan Ramapithecus sangatlah sedikit: pecahan tulang rahang dan gigi yang seluruhnya dapat dimasukkan dalam kotak rokok. Karena begitu sedikitnya, maka dapat disusun dan diperkirakan entah sebagai kera atau manusia, tergantung dari kecondongan penelitinya. Sangatlah sulit dibayangkan bahwa para ahli menerima keberadaan Ramapithecus hanya dengan bukti rahang dan sedikit gigi. Belum lagi penemuan fossil menunjukkan bahwa di masa yang sama diperoleh fosil kera (baboons) di Ethiopia, dengan rahang dan gigi yang mirip dengan yang dimiliki Ramapithecus, sehingga species ini dapat digolongkan sebagai kera, daripada hominid. Tak heran, G.E Lewis, penemu fosil Ramapithecus ini tidak menganggap temuannya sebagai moyang manusia.

Penemuan penting lainnya terjadi tahun 1978, ketika David Pilbeam menemukan tulang rahang yang lengkap dari Ramapithecus, yang memang menunjukkan golongan kera. Pilbeam mengatakan bahwa temuan ini dan data-data lainnya menunjukkan bahwa kisah tentang asal usul manusia membutuhkan pemikiran kembali.

7. Laetoli (Tanzania)

Tahun 1974, istri Dr. Leakey, Mary Leakey, yang juga seorang paleontologist, menemukan fosil rahang mirip rahang manusia, yang menurutnya berumur 3.5 juta tahun. Tahun 1976, ia juga menemukan jejak kaki manusia modern di debu volkanis yang membatu, juga berumur 3.5 juta tahun. Fakta ini membuat para evolutionists bertanya-tanya, mengapa dapat terjadi, ada jejak manusia modern di atas batu yang usianya sangat purba.

8. Hadar (Ethiopia)

Tahun 1974, Dr. Donald Johanson dan Dr. Maurice Taieb menemukan bagian-bagian dari tulang rahang bawah, sebagian rahang atas, dan rahang atas dengan 16 gigi. Mereka mengklasifikasikan specimen sebagai manusia, yang hidup 4 juta tahun yang lalu.

Tahun 1975, Johanson menemukan sisa dua orang anak dan 4 atau 5 orang dewasa, dan menyebutnya sebagai keluarga pertama dari manusia zaman awal. Foto-foto sisa tulang menggambarkan tulang tangan yang menyerupai tangan manusia, rahang yang berbentuk U bukan V seperti milik Austraopithecines. Maka diyakini specimen tersebut sebagai fosil manusia, dari zaman 3.5 juta tahun yang lalu.

Di tahun yang sama, Johanson menemukan temuan baru, hampir setengah dari keseluruhan tulang, dan memperkirakannya berasal dari 3 juta tahun yang lalu. Ia menamai temuannya, Lucy. Ia yakin bahwa Lucy adalah kera, tingginya kurang dari 4 kaki, rahang bawahnya berbentuk V, seperti yang ada pada Australopithecus. Namun nampaknya para ilmuwan tidak sepakat tentang apakah Lucy dapat berjalan tegak seperti manusia. Majalah Time melaporkan bahwa Lucy berjalan tegak, sedangkan Dr. Owen Lovejoy mengatakan bahwa lutut Lucy jelas menunjukkan lutut kera, yang jauh berbeda dengan lutut manusia, sehingga tidak dapat dipastikan bahwa Lucy dapat berjalan tegak.

Maka di sini terjadi perbedaan pendapat antara Leakeys, Johanson dan Taieb tentang specimen temuan mereka, yaitu apakah temuan mereka yang pertama dan kedua itu termasuk katagori manusia (Homo) di masa 3.5 sampai 4 juta tahun lalu, sedangkan Lucy yang termasuk kera/ Australophitecus berasal dari zaman yang lebih akhir dari zaman Homo tersebut (yaitu 3 juta tahun lalu).

9. The Koobi Fora Skulls

Di tahun 1975 Richard Leakey menemukan tengkorak yang hampir lengkap di Koori Fora, dekat dengan di mana ia menemukan Skull 1470. Ia mengatakan bahwa tengkorak ini menyerupai Homo erectus (seperti Java man dan Peking man) dengan kapasitas otak 900 cc, yang hidup 1-1.5 juta tahun yang lalu. Maka ia menurunkan tingkatan Skull 1470 dalam golongan Homo habilis.  Selanjutnya, Richard Leakey mengajukan proposal “Pohon manusia”, yang dimulai dari Homo habilis, Homo erectus dan kemudian berevolusi ke Homo sapiens.

10. Afarensis

Pada tahun 1979, atas pengaruh Dr. Tim White, Johanson mengubah klasifikasi temuan sebelumnya, yang tadinya ia golongkan sebagai manusia (Homo), menjadi sejenis Lucy (Australopithecus), yang kemudian ia beri nama Afarensis. Afarensis ini dijadikannya orang tua bersama dari kedua cabang turunan: 1) Australopithecines: yaitu Africanus, Robustus, Boisei (atau Zijanthropus); 2) Homo habilis, Homo erectus, Homo sapiens. Baik Richard maupun Mary Leakey menolak kesimpulan ini, demikian pula beberapa ahli lainnya. Nyatanya, penemuan fosil selanjutnya merusak status Afarensis dan semua yang lain.

11. Boisei (atau Zijanthropus)

Di bulan Juli 1986, teman sejawat Richard Leakey yaitu Dr. Alan Walker menemukan Australopithecus boisei yang diperkirakan hidup 2-2.5 juta tahun yang lalu, dan umur ini hampir sama dengan Lucy (1.75 juta tahun lalu). Artinya: 1) Boisei tidak mungkin merupakan turunan dari Afarensis (Lucy), karena jangka waktu hidup mereka tak berbeda jauh untuk memberi jangka waktu evolusi; 2) Jika demikian, Africanus dan Robustus juga bukan turunan dari Afarensis; 3) Afarensis menjadi tidak penting, hanya merupakan salah satu dari jenis Australopithecines, tanpa diketahui siapa moyangnya; 4) Moyangnya Homo habilis juga tidak diketahui, sebab ia berasal di zaman waktu yang sama dengan Australopithecines; 5) Rangkaian “hominid evolution” menjadi terhapus.

Dalam majalah Discover (September 1986) terpampang gambar tengkorak Boisei dengan tulisan, “Tengkorak istimewa berumur 2.5 juta tahun yang ditemukan di Kenya telah menjungkirbalikkan semua gambaran tentang evolusi manusia purba. Kita tidak lagi tahu siapa melahirkan siapa -mungkin juga bahkan tidak tahu bagaimana, atau kapan, kita terbentuk [sebagai manusia].” Evaluasi ini disusun oleh paleontologist Pat Shipman, istri Alan Walker yang menemukan specimen tersebut (p. 86-93). Shipman mengatakan bahwa tidak ada cukup waktu bagi Afarensis untuk ber-evolusi menurunkan empat turunan hominid yang berbeda. “… Faktanya, kita bahkan tidak tahu seperti apakah species moyang yang kita cari… Seperti gempa bumi, tengkorak baru ini meruntuhkan bagan [evolusi]yang sudah teratur ini menjadi hipotesa baru yang janggal dan runcing.” (p.92)

12. Homo habilis

Kontroversi tentang Homo habilis dimulai sejak 1960, saat ia ditemukan oleh D.r Louis Leakey. Dengan kapasitas otak 650 cc status Homo diperdebatkan, sebab sejumlah ahli menggolongkannya sebagai Australopithecines. Saat menemukan Skull 1470 dengan kapasitas otak 800 cc, Richard Leakey menyatakannya sebagai fossil manusia, namun 5 tahun kemudian, ia dan temannya Alan Walker menurunkan klasifikasinya, hanya mereka tidak sepakat di tingkatan yang mana. Di majalah Scientific American (Agustus 1978) di hal 54, mereka menyatakan, “Kami sendiri tidak  sepakat tentang klasifikasi KNM-ER 1470. Satu di antara kita (Leakey) cenderung menempatkannya di genus Homo, sedangkan yang lain (Walker) di golongan Australopithecus.” Semua ini menambah peliknya Homo habilis, tanpa kejelasan mata rantai sebelumnya ataupun sesudahnya.

13. Homo erectus

Sebelumnya di sini termasuk Java man dan Peking man, namun keduanya sudah dianggap palsu. Di tahun 1975, Richard Leakey memasukkan fosil yang ditemukannya di Koobi Fora sebagai Homo erectus (KNM-ER 3733), dengan kapasitas otak 850/900 cc. Demikian juga temuan berikutnya (KNM-ER 3883). Namun Dr. Duane Gish mengatakan bahwa adalah mungkin, fosil- fosil tersebut yang digolongkan sebagai Homo erectus, sesungguhnya adalah Neanderthal man. Mereka digolongkan sebagai Homo erectus karena dianggap terlalu tua bagi Neanderthal man. (lih. Surat Dr. Gish kepada A.W Mehlert di Brisbane, 24 Maret 1978). Fakta ini menunjukkan bahwa penentuan klasifikasi ditentukan oleh suatu kriteria yang telah dibuat terlebih dahulu, sedangkan kriteria yang menjadi acuannya itu sendiri nampaknya tidak disepakati oleh semua ilmuwan.

14. The Boy

The Boy (milik seorang anak laki-laki berumur sekitar 12 tahun) ditemukan tahun 1984 oleh Richard Leakey dan Alan Walker. Ia ditemukan di Kenya, di lapisan debu vulkanis di zaman 1.6 juta tahun lalu. Konon, ini adalah temuan tulang-tulang yang paling lengkap yang pernah ditemukan sebagai moyang manusia. Walker mengatakan, “Ia (the Boy) kelihatan mirip sekali dengan manusia. Saya tak yakin apakah ahli patologi akan dapat melihat perbedaannya dari manusia modern…. ia  kelihatan sangat mirip dengan Neanderthal.The Washington Post menuliskan bahwa temuan ini menunjukkan bahwa orang-orang di zaman kuno mempunyai tubuh yang sesungguhnya tidak dapat dibedakan dengan tubuh kita sekarang (19 Oktober 1984, p. A1, A11). Ini adalah suatu pernyataan yang tidak mendukung bahwa terjadi evolusi dalam waktu 1.6 juta tahun, jika sejak zaman itu-pun mereka sudah mempunyai struktur tubuh seperti kita sekarang.

15. The Talgai Skull

Talgai Skull ditemukan di Queensland tahun 1886, dilaporkan di kongres sains di Sydney tahun 1914, namun baru dikemukakan kembali di tahun 1948, ketika N.W.G MacIntosh memeriksanya kembali. Science News (April 20, 1968, p. 381) menulis bahwa karena ciri-cirinya, “The Talgai Skull dimasukkan dalam katagori Homo erectus … namun fosil itu adalah milik seorang anak laki-laki Aborigin yang berusia 14 tahun, yang hidup dan mati sekitar 13,000 tahun yang lalu, [yang menurut klasifikasi jangka waktu], termasuk golongan Homo sapiens…. Penemuan ini menunjukkan bahwa Homo erectus dan Homo sapiens dapat merupakan species yang sama.”

16. Kow Swamp

Beberapa tahun setelah laporan tentang Talgai skull diterbitkan, A.G. Thorne dan P.G. Macumber menemukan sisa fosil tulang 30 orang di Kow Swamp, Victoria, Australia. Maka tahun 1972, Nature (238:316) memberikan detail penemuan itu, dan menuliskan bahwa fosil itu menunjukkan sisa tulang manusia, namun juga menunjukkan ciri tengkorak zaman purba, sehingga menunjukkan bahwa Homo erectus bertahan di Australia sampai sekitar 10,000 tahun yang lalu. Dengan bukti penemuan ini, Dr. Gish menyimpulkan bahwa tulang-tulang Homo erectus dapat saja serupa dengan tulang-tulang manusia di Kow Swamp. Memang dalam hal ini masih terdapat perbedaan pendapat dari antara para ahli, sebab jika dibandingkan dengan tulang-tulang manusia modern, tulang-tulang Kow Swamp memiliki kemiripan dengan Homo erectus, namun menurut para ahli lainnya, tulang-tulang ini masih berada di luar batas katagori Homo erectus. Keadaan ini tidak dengan tuntas menjelaskan bahwa dimungkinkan terjadinya percampuran variasi, dan bahwa klasifikasi yang ditentukan oleh para ilmuwan itu sendiri mengambil acuan dari sesuatu yang belum tentu pasti benar, sebab ciri acuan Homo erectus yaitu Java man dan Peking man, sesungguhnya menyimpan misteri akan keterlibatan adanya hipotesa, bahkan rekayasa.

17. The Castenedolo Skull, Cambrian fossil, Texan fossil

Adalah relevan untuk mengingat dua penemuan ini, yang sepertinya diabaikan, karena tidak sesuai dengan teori evolusi Darwin. The Castenedolo Skull ditemukan oleh Prof. Ragazzoni di tahun 1860 di Italia, di strata Pliocene, yang menurut klasifikasi waktu para evolutionist berasal dari zaman 5.3 juta (bahkan ada yang mengklasifikasikannya 15 juta tahun) sampai 2.5 juta tahun yang lalu. Fosil ini menunjukkan tengkorak manusia modern. Melihat fakta ini, orang yang netral (tidak mempunyai pra-konsepsi teori evolusi) akan dapat menerima bahwa manusia dengan kerangka tubuh seperti sekarang, sudah ada sejak zaman dulu kala. Namun memang hal ini tidak dengan mudah diterima oleh mereka yang sudah sejak awal mempunyai pra-konsepsi tentang evolusi. Dengan pra-konsepsi evolusi, tak mengherankan, mereka mengabaikan temuan ini, atau memperdebatkan data geologisnya untuk menghubungkan temuan fosil itu dengan zaman yang lebih modern.

Namun sesungguhnya ada lagi fakta yang juga lebih kuat menentang evolusi. Penemuan fosil di bebatuan Cambrian di Utah, Amerika Serikat (diperkirakan berasal dari 400 juta tahun), di tahun 1969, juga menunjukkan jejak tapak kaki manusia, dengan ukuran manusia modern. Penemuan berikutnya adalah beratus-ratus jejak kaki manusia yang ditemukan di antara jejak Dinosaurus di Paluxy River, Glen Rose, Texas, yang berasal dari bebatuan Cretaceous (sekitar 100 juta tahun lalu).

Melihat kenyataan ini, tidaklah dapat dikatakan bahwa semua ahli sepakat tentang teori evolusi, ataupun teori manusia purba yang dianggap sebagai penghubung manusia dengan moyangnya yaitu kera. Maka adalah fakta, bahwa tak semua paleontologist setuju bahwa penemuan fosil mendukung teori evolusi:

“Kemunculan yang tiba-tiba dari jenis-jenis organisme tertentu yang beradaptasi, sebagaimana terlihat dari penampakan yang tiba-tiba dari rekaman fosil dari keluarga species dan kelompok, terus menerus memberikan masalah [bagi teori evolusi]…. Sedikit paleontolog bahkan dewasa ini berpegang pada ide bahwa jeda (gaps) ini akan tertutup dengan pengumpulan penemuan-penemuan selanjutnya, yaitu bahwa temuan-temuan itu adalah hasil sample yang terjadi secara kebetulan. Tetapi kebanyakan [dari mereka]menganggap diskontinuitas ini sebagai sesuatu yang nyata, dan telah mencari penjelasan tentang hal-hal itu. (D. Dwight Davis, Genetics, Paleontology, and Evolution, Princeton University Press, 1949, p. 74.)

“Tak peduli seberapa jauh kita kembali ke rekaman fosil tentang kehidupan binatang di masa silam di dunia, kita tidak akan menemukan jejak bentuk binatang yang merupakan peralihan antara bermacam grup species …. Kelompok-kelompok binatang major [seperti kelompok serangga, ikan, amfibi, reptil, burung, mamalia, dst]tidak bercampur antara satu dengan lainnya. Mereka adalah tetap dan telah tetap (fixed) sejak awal…. Tak ada binatang yang diketahui bahkan dari bebatuan yang paling awal, yang tidak dapat langsung diklasifikasikan dalam kelompok organisme yang major tersebut.” (Dr. A.H. Clark, The New Evolution, Zoogenesis, Williams and Wilkinds, Baltimore, 1930, p. 129f.)

“Maka kita melihat bahwa rekaman fosil, sejarah aktual dari kehidupan binatang di dunia, meneguhkan asumsi bahwa pada saat kemunculan pertama kehidupan binatang secara umum pada dasarnya sama dengan apa yang sekarang kita ketahui … Tak ada bukti sekecil apapun bahwa suatu kelompok organisma tertentu berasal dari kelompok lainnya. (Dr. A. H. Clark, Quarterly Review of Biology, Dec., 1928., p. 539.)

Gereja Katolik melihat pandangan-pandangan ilmuwan ini sebagai beberapa hipotesa dari segi sains untuk menjelaskan tentang asal usul manusia. Gereja meyakini bahwa tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dengan iman. Maka Gereja terbuka akan fakta yang disampaikan oleh penemuan-penemuan ilmu pengetahuan, asalkan tanpa melibatkan unsur rekayasa ataupun sekedar asumsi. Sejauh ini, sebagaimana disampaikan di atas, nampaknya penemuan fosil tidak secara meyakinkan menunjukkan adanya bukti peralihan tersebut. Namun jika seandainya suatu hari penemuan fosil menunjukkan sebaliknya, hal ini juga tidak akan mengganggu kebenaran ajaran iman Kristiani, sebab terjadinya tubuh manusia yang sempurna untuk menerima jiwa manusia -pada sepasang manusia pertama- hanya diciptakan oleh campur tangan Tuhan, Sang “Intelligent Designer“. Hanya Allah-lah, dan bukan kebetulan semata ataupun seleksi alam, yang memungkinkan penciptaan tubuh manusia dengan kompleksitas unit bagian tubuh dan keindahannya yang mengagumkan, dan demikian juga, hanya Allah-lah yang menciptakan jiwa manusia dari ketiadaan.

Sumber:

Wallace Johnson, The Death of Evolution, (Rockford, Illinois: TAN books and Publishers, 2000)

Phillip E. Johnson, Darwin on Trial, (Illinois, InterVarsity Press, 1993)

Leakey L.S.B., By the evidence: memoirs, 1932-1951, (New York: Harcourt Brace Jovanovitch, 1974).

Morell V., Ancestral passions: the Leakey family and the quest for humankind’s beginnings, (New York: Simon & Schuster, 1995).

National Geographic, April 1979, p. 446-456

Scientific American, December 1974, p.64.

National Geographic, December 1976.

The Washington Post, October, 19, 1984, p. A1, A11

Science News, (April 20, 1968, p. 381)

http://www.veritas-ucsb.org/library/battson/stasis/2.html
http://www.cartage.org.lb/en/themes/sciences/lifescience/physicalanthropology/evolutionfact/apemen/apemen.htm
http://www.oocities.org/campuschristians_sjc/articles/diffevol.html

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

7 Comments

  1. yusup sumarno on

    Bagi saya manusia dan alam semesta pastilah diciptakan oleh Tuhan.
    Bagaimana Ia menciptakan itu akan tetap menjadi misteri selamanya (selama manusia masih hidup).
    Misteri artinya boleh tahu namun tidak akan tahu atau tersibak semuanya.
    Namun iman/keyakinan bahwa Tuhan adalah Sang pencipta segalanya tidak akan tergeser. So, bagi saya biarlah para pecinta teori evolusi (termasuk evolusi makro) memaparkan seluruh pengetahuannya sampai di suatu titik menyadari bahwa ternyata semua ini belumlah sampai pada suatu fakta yang 100% benar, alias semua ini masih tetap menjadi misteri dan akan tetap menjadi misteri.

  2. paulus prana on

    Saya sependapat dengan tulisan diatas,
    yaitu bahwa:

    1. Teori Evolusi belum sampai pada kesimpulan definitif bahwa memang manusia berevolusi dari kera, walaupun probabilitas hipotesis-nya cukup besar; serta bila diperbandingkan dengan kasus evolusi untuk mahkluk hidup lain (seperti burung dan ikan), maka Teori ini cukup masuk akal.

    2. Bahwa andaikatapun memang benar bahwa Manusia berasal dari kera, saya amat setuju bahwa TIDAK MENGURANGI atau MENAMBAH Core Belief Keimanan Kristiani kita

    3. Karena, imo, bukankah Tuhan sebagai sang primera causa juga yang mengijinkan semua development di atas bumi ini, tentu termasuk evolusi makhluk hidup

    4. Sejauh mampu saya pahami, Alkitab MEMANG BUKANLAH DOKUMEN HISTORIS apalagi REFERENSI SAINTIFIK, sehingga Alkitab MEMANG TIDAK dibuat untuk menjawab keingintahuan manusia akan evolusi, bumi yang bulat, kosmologi, DNA, komputer, internet, dan sebagainya.

    5. Sehingga, imo juga, Alkitab hendaklah DI-POSISIkan pada TEMPAT-nya yaitu sebagai GUIDANCE hidup manusia, yang BUKAN S.O.P apalagi ENSIKLOPEDIA.

    Salam,

  3. Artikel yang sangat bagus, menambah wawasan saya.

    Selama ini saya selalu mengira bahwa memang manusia berevolusi dari kera karena itu yang diajarkan di sekolah. Dengan membaca artikel anda, saya jadi tau bahwa fosil2 manusia purba yang diajarkan di sekolah ternyata terbukti palsu. Semoga semakin banyak orang yang tau tentang hal ini dan semoga sekolah2 berhenti mengajarkan ilmu yang salah.

    [Dari Katolisitas: Biarlah ilmu pengetahuan sendiri yang membuktikan apakah memang teori makro-evolusi itu benar, melalui penemuan-penemuan yang masih terus akan berlangsung. Namun seandainya-pun terbukti benar, hal ini tidak mempengaruhi doktrin Kristiani, sebagaimana pernah di ulas di sini, silakan klik]

    • Shalom Antonius,

      Pertama-tama baik dipahami, bahwa sejauh ini terdapat setidaknya 3 pandangan tentang asal usul kosmos, kehidupan dan manusia: 1) penciptaan secara instan; 2) penciptaan secara bertahap dengan keterlibatan Allah/ theistic evolution; 3) evolusi secara seleksi alam/ kebetulan/ atheistic evolution. Pandangan pertama percaya bahwa segala sesuatunya diciptakan oleh Allah secara tiba-tiba, secara langsung oleh Allah, umumnya ini dikenal sebagai posisi kaum creationist. Pandangan kedua: segala sesuatu berkembang dari bentuk sebelumnya tetapi proses ini terjadi di bawah bimbingan Tuhan, dikenal sebagai posisi mereka yang mengakui adanya “Intelligent Designer/ Divine Intelligence”. Pandangan ketiga: segala sesuatu berkembang karena kekuatan seleksi alam secara acak/ random saja, dikenal sebagai posisi kaum evolutionist yang berkembang menjadi posisi kaum atheist. 

      Nah, para ilmuwan terbagi dalam 3 pandangan ini, namun secara obyektif, mayoritas mereka menempati posisi ke 2 dan 3. Sejauh ini, beberapa klaim penemuan fosil manusia di zaman purba nampaknya mendukung hipotesa terjadinya evolusi, namun jika kita teliti kisahnya, kita ketahui bahwa dalam proses perumusan kesimpulannya, melibatkan faktor asumsi/ hipotesa ilmuwan penelitinya, sehingga dengan demikian, masih diperlukan konfirmasinya melalui penemuan-penemuan selanjutnya. Namun adalah suatu fakta bahwa sekalipun masih merupakan teori yang mengandung unsur hipotesa, namun promosi teori ini di mass media sudah demikian kuatnya, sehingga bahkan buku-buku pelajaran anak-anak sekolah sudah memuat teori ini seolah sudah merupakan suatu fakta. Oleh karena itu klaim yang menentang teori evolusi ini, seolah dianggap sebagai sesuatu yang aneh, karena menentang opini publik tentang evolusi (dalam hal ini evolusi makro).

      Dalam konteks ini kita memahami mengapa penemuan Castenedolo Skull dianggap sebagai “joke”. Castenedolo Skull adalah fosil tengkorak manusia yang ditemukan di Castenedolo, oleh Prof Giuseppe Ragazzoni (1860), seorang anthropologist yang cukup terkemuka di Italia pada zamannya. Fosil tersebut ditemukan di lapisan Pliocene yang konon berasal dari zaman 5-15 juta tahun yang lalu. Namun kemudian penemuan tersebut dipertanyakan, dan bahkan kemudian tidak dipandang sebagai fosil manusia pada zaman itu, tetapi disimpulkan sebagai fosil manusia modern. Argumennya adalah karena ahli anatomis Giuseppe Sergi yang mengunjungi lokasi 23 tahun sesudahnya, dan memeriksa fosil tengkorak yang ditemukan di daerah itu, menyimpulkan bahwa kerangka itu berasal dari kuburan abad pertengahan. Namun sejujurnya, tetaplah ada sesuatu yang tak jelas di sini, sebab kesimpulan Sergi bukan diperoleh dari pemeriksaan fosil yang ditemukan oleh Ragazzoni, tetapi dari fosil lain yang ditemukan 23 tahun sesudahnya. Lalu dikatakan juga di sana bahwa Sergi tidak berhasil mengidentifikasikan batas kuburan, sehingga tidak dapat dipastikan bahwa kerangka yang ditemukan Ragazzoni juga berasal dari kuburan yang sama tersebut. (Sebab kalau tidak dari kubur itu, maka dapat terjadi, sesungguhnya klaim Ragazzoni tersebut adalah valid, yaitu bahwa ditemukan fosil manusia dengan kerangka manusia modern di zaman purba). Terlepas dari segala kontroversi yang ada, faktanya adalah ditemukan kerangka manusia modern di bebatuan Pliocene (usia 5-15 juta tahun yang lalu) di Castenedolo, dekat Brescia, Italia di tahun 1860.

      Reaksi serupa juga terjadi terhadap klaim penemuan fosil akibat Cambrian Explosion yang terjadi sekitar 550 juta tahun yang lalu. Sejak saat itu terciptalah berbagai jenis kehidupan yang tak dikenal sebelumnya. Argumen ini menentang teori evolusi yang berpegang bahwa keberagaman mahluk hidup tercipta karena proses perubahan secara perlahan yang dimulai dari satu sel sederhana, atas seleksi alam yang terjadi secara kebetulan/ random semata.

      Akhirnya, mari kita sadari bahwa di atas kontroversi ini, seandainya toh evolusi makro terbukti di kemudian hari, hal itu tetap tidak bertentangan dengan ajaran iman Katolik, sepanjang dipegang prinsip ini: 1) peralihan dari mahluk yang lebih rendah menjadi mahluk yang lebih tinggi hanya dapat terjadi karena intervensi Tuhan, termasuk di sini adalah peralihan menuju tubuh sepasang manusia pertama, sehingga tubuh tersebut layak menerima jiwa manusia. 2) penciptaan jiwa manusia itu hanya dilakukan oleh Tuhan, dari ketiadaan (jadi tidak terjadi dengan sendirinya).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Terima kasih bu Ingrid mengarahkan saya pada halaman ini, berdasarkan pengalaman beberapa kali berdiskusi dengan anda, hal terutama yang saya pengen tau adalah sumber/referensi sains anda, dan ok… ternyata refensinya:

    Wallace Johnson (seorang creationist Australia)
    Phillip E. Johnson (newcreationist, seorang professor hukum, yang jelas bukan ilmuwan biologi)
    artikel-artikel sains yang sudah lama (tahun 60-an, tahun 70-an)

    mudah2an anda akan menulis ulang artikelnya dengan sumber yang lebih valid dan update :) kalo sumbernya kayak gini, mau baca aja males.

    tapi saya kasih salah satu link yang update:
    link to news.nationalgeographic.com

    • Shalom Joko,

      Terima kasih atas saran Anda. Kami akan juga berusaha mengikuti perkembangan penemuan sains. Namun artikel di atas kami sampaikan juga untuk membuka wawasan bahwa apa yang selama ini sudah dianggap sebagai kebenaran tentang manusia purba, sesungguhnya juga melibatkan faktor rekonstruksi dan asumsi dari ilmuwan penelitinya. Waktu sendiri akan membuktikan apakah teori bahwa manusia berevolusi dari kera adalah suatu fakta atau bukan.

      Referensi yang kami ambil di sana bervariasi, dari sekitar tahun 1970-an sampai 2000, namun bukan berarti bahwa yang disampaikan itu tidak benar. Artikel dalam link yang Anda sertakan itu, walaupun ditulis baru-baru ini, juga tidak menyatakan sesuatu yang baru, karena pandangan bahwa seluruh mahluk hidup berasal dari satu sel, itu memang merupakan salah satu inti pandangan evolusi makro, yang sudah disebutkan oleh Darwin di tahun 1859. Namun demikian dalam artikel itu jelas yang dibicarakan semua juga masih dalam taraf hipotesa, walaupun hipotesa tersebut disusun setelah melalui studi. Salah satu kesimpulan penting yang dikatakan di sana, juga masih ditulis dalam taraf “hipotesa”, “It turns out that probability is much higher if you use the hypothesis that [humans and E. coli] are actually related.” Kesimpulan ini diambil dengan melihat adanya kemiripan polimerasi DNA (protein) pada manusia dan polimerasi DNA pada E.coli. Nah memang pertanyaan selanjutnya, apakah kemiripan tersebut dapat dijadikan tanda bahwa keduanya berhubungan keturunan secara genetik? Ini yang nampaknya tidak semudah itu dapat disimpulkan.

      Akhirnya, tak apa jika Anda tidak mau membaca uraian di atas. Kami percaya bahwa ada pembaca yang lain yang akan menarik manfaatnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply