Home Blog Page 196

Larangan Kontrasepsi adalah dari Hikmat Manusia?

23

Pertanyaan:

Dear Katolisitas, mohon tanggapannya atas artikel ini yang didalamnya banyak mengutip ayat2 injil dan membenarkan penggunaan Kontrasepsi. Bagaimana tanggapan Katolisitas?

Salahkah Menggunakan Kontrasepsi?

BAGAIMANA menurut Anda? Salahkah bila pasangan yang sudah menikah menggunakan kontrasepsi? Jawaban Anda kemungkinan besar bergantung pada keyakinan agama Anda. Gereja Katolik mengajarkan bahwa upaya apa pun yang dirancang untuk menghambat dihasilkannya keturunan ”pada dasarnya jahat”. Dogma Katolik mendukung gagasan bahwa setiap hubungan seks antara suami dan istri tidak boleh menutup kemungkinan terjadinya kehamilan. Maka, bagi Gereja Katolik, kontrasepsi ”tidak bisa dibenarkan secara moral”.

Banyak orang merasa bahwa sudut pandang ini sulit diterima. Menurut laporan sebuah artikel di Pittsburgh Post-Gazette mengenai pokok tersebut, ”lebih dari 75% orang Katolik di Amerika Serikat mengatakan bahwa gereja seharusnya mengizinkan penggunaan kontrasepsi. . . . Dan, setiap hari jutaan orang tidak menggubris larangan itu”. Salah seorang di antara mereka, Linda, ibu tiga anak, terus terang mengakui bahwa ia menggunakan kontrasepsi. Namun, ia mengatakan, ”Menurut hati nurani saya, sejujurnya saya tidak percaya bahwa saya telah berdosa.”

Apa yang diajarkan Firman Allah mengenai hal ini?

Kehidupan Itu Berharga
Allah menganggap kehidupan seorang anak berharga, bahkan pada tahap-tahap paling awal perkembangannya. Raja Daud dari Israel menulis di bawah ilham, ”Engkau menaungi aku dalam perut ibuku. . . . Matamu melihat bahkan ketika aku masih embrio, dan semua bagiannya tertulis dalam bukumu.” (Mazmur 139:13, 16) Pada saat pembuahan, mulailah suatu kehidupan yang baru, dan menurut Hukum Musa, orang bisa dimintai pertanggungjawaban karena mencederai anak yang masih dalam kandungan. Malah, Keluaran 21:22, 23 menyatakan secara spesifik bahwa jika seorang wanita yang hamil atau anaknya yang belum lahir mengalami kecelakaan fatal akibat perkelahian dua pria, masalah itu harus disampaikan kepada hakim-hakim yang terlantik. Mereka harus mempertimbangkan keadaan dan tingkat kesengajaannya, tetapi hukumannya bisa ”jiwa ganti jiwa”, atau kehidupan ganti kehidupan.

Prinsip tersebut berlaku untuk kontrasepsi karena ada metode keluarga berencana (KB) yang ternyata mengakibatkan keguguran. Metode kontrasepsi itu tidak selaras dengan prinsip ilahi tentang merespek kehidupan. Namun, kebanyakan kontrasepsi tidak mengakibatkan keguguran. Bagaimana dengan penggunaan metode KB semacam itu?

Tidak ada ayat Alkitab yang memerintahkan orang Kristen untuk beranak cucu. Kepada pasangan manusia pertama dan keluarga Nuh, Allah berfirman, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi.” Namun, perintah ini tidak diulangi kepada orang Kristen. (Kejadian 1:28; 9:1) Karena itu, pasangan yang sudah menikah bisa memutuskan sendiri apakah mau mempunyai keturunan, berapa banyak anak yang diinginkan, dan kapan ingin mempunyai anak. Alkitab juga tidak mengutuk KB. Jadi, dari sudut pandang Alkitab, pasangan suami istri itulah yang harus memutuskan apakah akan menggunakan suatu metode kontrasepsi atau tidak. Namun, mengapa Gereja Katolik mengutuk penggunaan kontrasepsi?

Hikmat Manusia versus Hikmat Ilahi
Menurut sumber-sumber Katolik, baru pada abad kedua M, orang yang mengaku Kristen untuk pertama kalinya mengadopsi sebuah aturan Stoa bahwa satu-satunya tujuan yang sah untuk hubungan seks dalam perkawinan adalah menghasilkan keturunan. Jadi, pandangan ini didasarkan atas penalaran filosofis dan bukan penalaran Alkitab. Dasarnya bukanlah hikmat ilahi, melainkan hikmat manusia. Falsafah ini terus bertahan selama berabad-abad dan dikembangkan oleh para teolog Katolik. Akan tetapi, ajaran ini mencetuskan gagasan bahwa hubungan seks untuk kenikmatan seksual semata adalah dosa dan, karena itu, hubungan seks yang menutup kemungkinan untuk menghasilkan keturunan adalah amoral. Namun, gagasan ini tidak diajarkan Alkitab.

Dengan bahasa puitis, buku Amsal dalam Alkitab menggambarkan keintiman seksual yang patut antara suami dan istri, ”Minumlah air dari perigimu sendiri, dan aliran kecil dari dalam sumurmu sendiri. . . . Biarlah sumber airmu diberkati, dan bersukacitalah dengan istri masa mudamu, rusa betina yang menimbulkan perasaan kasih dan kambing gunung yang memesonakan. Biarlah buah dadanya memabukkan engkau pada segala waktu. Dengan cintanya, semoga engkau senantiasa memiliki perasaan yang meluap-luap.”—Amsal 5:15, 18, 19.

Hubungan seks antara suami dan istri adalah karunia dari Allah. Namun, tujuannya bukan semata-mata untuk menghasilkan keturunan. Hubungan seks juga memungkinkan pasangan yang sudah menikah untuk menyatakan kelembutan dan cinta kasih. Jadi, jika ada pasangan suami istri yang memutuskan untuk mencegah kehamilan dengan menggunakan suatu bentuk kontrasepsi, itu adalah hak mereka, dan tidak ada yang boleh menghakimi mereka.—Roma 14:4, 10-13.

[Catatan Kaki]
Baru pada abad ke-13, Gregorius IX memberlakukan apa yang New Catholic Encyclopedia sebut sebagai ”undang-undang universal pertama yang dikeluarkan oleh seorang paus yang melarangkan kontrasepsi”.

PERNAHKAH ANDA BERTANYA-TANYA?
▪ Apakah hubungan seks antara suami dan istri adalah dosa?—Amsal 5:15, 18, 19.
▪ Apa yang harus diingat orang Kristen jika mereka menggunakan kontrasepsi?—Keluaran 21:22, 23.
▪ Bagaimana orang-orang lain hendaknya menyikapi pasangan suami istri yang menggunakan kontrasepsi?—Roma 14:4, 10-13.

[Blurb di hlm. 11]
Kepada pasangan manusia pertama dan keluarga Nuh, Allah berfirman, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi.” Namun, perintah ini tidak diulangi kepada orang Kristen

Sumber : majalah Sedarlah Bulan September 2007 halaman 10 – 11.

Mohon tanggapan dari pengasuh Katolisitas, Tuhan memberkati!
Dela

Jawaban:

Shalom Dela,

Pertama- tama harus dipahami terlebih dahulu bahwa sampai sekitar tahun 1930 semua Gereja, baik Katolik maupun non- Katolik, menyetujui bahwa penggunaan alat kontrasepsi, walaupun itu tidak mengakibatkan pengguguran, merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan secara moral. Baru pada sekitar tahun 1930, didahului dengan konferensi Lambeth (1920), gereja- gereja non- Katolik mulai memperbolehkannya, dimulai dari gereja Anglikan.

Pertanyaannya, apakah sampai sekitar 1920 seluruh gereja disesatkan oleh hikmat manusia? Saya rasa tidak. Justru fakta ini menunjukkan bahwa manusia modernlah yang berusaha untuk “menyesuaikan” praktek ini menurut hikmatnya sendiri dengan memperhatikan segi kepraktisan dan keinginan mereka, sehingga mulai memilih- milih ayat yang dipandangnya mendukung pemahamannya dan tidak mengindahkan ayat- ayat yang lain yang nampaknya sulit dan menentang kehendaknya. Sebab ajaran yang melarang pemakaian alat kontrasepsi itu sudah ada sejak abad- abad awal, dan diajarkan oleh para Bapa Gereja, seperti pernah diulas di artikel ini, yaitu di no. IX.2, silakan klik. Para pendukung pemakaian alat kontrasepsi kerap memberikan argumen bahwa larangan kontrasepsi diperoleh dari pengaruh ajaran Stoa (Stoicism) yaitu aliran filosofi Yunani, yang mendasarkan ajaran atas kodrat akal budi manusia, dan karena itu dianggap bukan hikmat ilahi. Anggapan ini keliru, sebab pandangan ini mempertentangkan antara kodrat akal budi dan iman, seolah- olah keduanya bertolak belakang. Padahal baik akal budi maupun iman berasal dari Allah, maka pemahaman akan keduanya akan saling melengkapi dan saling mendukung satu sama lain. Bahwa ajaran Stoicism yang berkembang di abad ke-3 sebelum Masehi sudah melarang kontrasepsi, justru semakin memperkuat bahwa sejak dahulu manusia sudah dapat memahami bahwa penggunaan kontrasepsi itu bertentangan dengan akal sehat dan kodrat manusia. Baru setelah Kristus datang ke dunia, ajaran tersebut semakin diperjelas, dengan dimensi iman, yaitu bahwa perkawinan itu harus merupakan gambaran pemberian diri yang total antara suami kepada istrinya sebagaimana pemberian diri Kristus yang total kepada Gereja (lih. Ef 5:22-33). Kasih yang total ini tidak menahan sebagian, atau menolak sebagian pemberian diri pasangan, dalam hal ini adalah karunia kesuburan (the gift of fertility) pasangan. Katekismus mengajarkan:

KGK 1643    “Cinta kasih suami isteri mencakup suatu keseluruhan. Di situ termasuk semua unsur pribadi: tubuh beserta naluri-nalurinya, daya kekuatan perasaan dan afektivitas, aspirasi roh maupun kehendak. Yang menjadi tujuan yakni: kesatuan yang bersifat pribadi sekali; kesatuan yang melampaui persatuan badani dan mengantar menuju pembentukan satu hati dan satu jiwa; kesatuan itu memerlukan sifat tidak terceraikan dan kesetiaan dalam penyerahan diri secara timbal balik yang definitif, dan kesatuan itu terbuka bagi kesuburan. Pendek kata: itulah ciri-ciri normal setiap cinta kasih kodrati antara suami dan isteri, tetapi dengan makna baru, yang tidak hanya menjernihkan serta meneguhkan, tetapi juga mengangkat cinta itu, sehingga menjadi pengungkapan nilai-nilai yang khas Kristen” (Familiaris Consortio 13).

Jadi, adalah keliru jika kita menyangka Gereja Katolik hanya menekankan aspek pro-kreasi dalam hubungan suami dan istri. Tidak demikian. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 1601     “Perjanjian Perkawinan, dengan mana pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-isteri serta pada kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan Perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat Sakramen” (KHK kan. 1055, 1).

Oleh karena itu, ada dua aspek yang tidak terpisahkan dalam hubungan suami istri, yaitu aspek union (persatuan suami istri) dan pro-creation (kemungkinan menghasilkan keturunan), sebab memang demikianlah sejak awal mula ditentukan Tuhan. Hubungan seksual suami istri yaitu persatuan total yang melibatkan bersatunya tubuh suami dan istri direncanakan Allah sedemikian, selain untuk mempererat kasih mereka, namun juga untuk melibatkan mereka dalam karya penciptaan-Nya. Dengan demikian, Gereja Katolik tidak menentang keintiman suami istri seperti yang dilukiskan dalam Ams 5:18-19; maka hubungan seksual antara suami dan istri bukanlah perbuatan dosa. Namun pada saat yang sama, Gereja Katolik tetap mengakui perintah Allah agar manusia beranak cucu dan menaklukkan bumi (Kej 1:28); dan tidak mengatakannya bahwa itu bukan pesan untuk umat Kristen. Perintah untuk berkembang biak masih merupakan perintah yang valid sampai sekarang, karena anak- anak merupakan berkat bagi orang tua (lih. Mzm 127:4) dan dengan keturunan-lah suatu bangsa akan tetap eksis di dunia ini dan memberikan kontribusinya untuk menaklukkan bumi. Maka, jika dilakukan menurut kehendak Tuhan, yaitu sebagai ungkapan kasih yang total dan terbuka untuk kelahiran, hubungan suami istri bukan hanya tidak merupakan dosa, melainkan merupakan suatu yang kudus, sebab hubungan itu membuka kesempatan bagi Tuhan untuk melaksanakan salah satu karya-Nya yang termulia, yaitu menganugerahkan kehidupan manusia yang baru sebagai buah kasih yang total itu. Dengan demikian, kesatuan suami istri menjadi gambaran yang semakin menyerupai kesatuan ketiga Pribadi dalam Allah Tritunggal, di mana kasih yang total antara Allah Bapa dan Putera, menghembuskan Roh Kudus.

Jadi jika Gereja Katolik mengajarkan larangan penggunaan kontrasepsi itu bukannya karena memberikan aturan baru dari manusia, tetapi melestarikan ajaran yang memang sudah diajarkan oleh Gereja sejak awal mula. Magisterium Gereja yaitu Paus dan para Uskup, selaku penerus para rasul memang bertugas mengajar umat Tuhan (lih. Mat 16:19, 18:18); dan yang harus diajarkan adalah segala sesuatu yang diperintahkan Yesus (lih. Mat 28:19-20). Dengan demikian, sudah sejak awal mula para Bapa Gereja melaksanakan perintah ini, antara lain dengan mengajarkan tentang larangan penggunaan kontrasepsi, yang selain bertentangan dengan akal sehat dan hukum kodrat, juga bertentangan dengan hakekat kasih yang total antara suami istri, sebagaimana diajarkan oleh Kristus.

Selanjutnya, tidak kontekstual untuk menghubungkan ayat Rom 14:4, 10-13 dengan ajaran Gereja Katolik tentang larangan kontrasepsi. Gereja Katolik melalui Magisterium mempunyai tugas untuk mengajar umat Tuhan, dan bahkan seluruh bangsa (lih. Mat 28:29-20). Tugas Magisterium itu seumpama wasit dalam pertandingan, ia bertanggungjawab untuk memimpin pertandingan dengan menyatakan mana yang benar dan salah. Maka keberadaannya justru untuk menegakkan kebenaran, agar tidak terjadi kekacauan karena masing- masing pihak menginterpretasikan sendiri peraturan pertandingan. Pada akhirnya, keputusan memang ada di tangan para suami istri itu sendiri, tetapi jika mereka mempunyai kerendahan hati, tentunya mereka bisa melihat keotentikan ajaran Gereja Katolik. Sebab sejak alat kontrasepsi marak digunakan (mungkin sekitar tahun 1960-an), yang terjadi bukan buah- buah positif bagi pasangan, melainkan buah- buah negatif dan bahkan buah negatif ini meluas ke masyarakat dan dunia. Setelah satu generasi berlalu buah negatif ini makin nyata: Angka perceraian bertambah, semakin banyaknya istri yang merasa tidak dikasihi sebagai pribadi, namun hanya sebagai obyek pemuasan kebutuhan suami, bertambahnya aneka jenis penyakit sehubungan dengan organ reproduksi terutama bagi kaum perempuan, meningkatnya jumlah aborsi, merosotnya nilai- nilai moral dalam masyarakat, terutama yang disebabkan oleh seks bebas, yang dilakukan bahkan oleh anak- anak remaja, dan turunnya angka kelahiran dalam negara- negara maju, sampai ke level memprihatinkan sehingga mereka terancam punah dalam 50-100 tahun ke depan, jika keadaan tidak diubah. Silakan membaca selanjutnya dalam artikel Humanae Vitae itu benar!, silakan klik.

Jika kita memakai rumus yang diajarkan oleh Kristus sendiri dalam Mat 7:16- 20, maka kita akan mengenal manakah ajaran yang berasal dari hikmat manusia, dan mana yang sungguh otentik berasal dari Allah, dengan melihat buahnya. Pendapat dunia menghalalkan segala bentuk kenikmatan daging, sedangkan Tuhan mengajarkan kita untuk mengatasinya, dengan penguasaan diri. Dalam perkawinan penguasaan diri dinyatakan oleh suami dan istri dengan menghilangkan rasa saling mementingkan diri sendiri -’musuh’ dari cinta sejati- dan memperdalam rasa tanggung jawab (HV 21). Gereja Katolik tidak melarang suami istri untuk menyatakan kasih mereka, namun silakan menyatakannya dengan cara yang wajar dan tidak menentang kodrat. Juga, jika diperlukan, Gereja Katolik memperbolehkan pengaturan kelahiran, namun pelaksanaannya harus secara alamiah, dan tidak melanggar prinsip pemberian diri yang total antara suami dan istri. Tentang metodanya, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Dengan demikian, pasangan suami istri memperlakukan tubuh mereka sesuai dengan kehendak Tuhan, dan bukan atas kehendak mereka sendiri. Ini adalah bukti bahwa mereka memuliakan Tuhan dengan tubuh mereka (lih. 1 Kor 6:19-20), sebab setelah ditebus oleh Kristus maka tubuh kita bukan milik kita sendiri lagi, tetapi milik Tuhan, sehingga kita harus memperlakukan tubuh kita sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika pasangan suami istri melaksanakan prinsip yang diajarkan oleh Gereja Katolik, yaitu menjaga kemurnian kasih di antara mereka, dengan tidak memisahkan kedua tujuan dalam hubungan suami istri (union dan procreation), maka buahnya adalah kasih kerukunan, kesetiaan, dan kebahagiaan sejati di dalam keluarga, walaupun jalannya mungkin sulit dan membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit dari pihak orang tua (suami dan istri tersebut). Melalui kasih dan pengorbanan itu, suami istri dibentuk menjadi semakin menyerupai Kristus, dan semakin menemukan makna hidup yang sesungguhnya.

Akhirnya Dela, tak perlu risau. Ajaran Gereja Katolik tentang larangan penggunaan alat kontrasepsi mempunyai dasar yang kuat. Memang ada alat kontrasepsi yang sifatnya abortif, dan ada yang tidak, namun pada prinsipnya alat kontrasepsi yang arti harafiahnya adalah “anti konsepsi/ anti kehidupan” tidak pernah sesuai dengan pesan Injil yang merupakan Injil kehidupan (the Gospel of life) sebab Kristus sendiri adalah Sang Hidup (Yoh 14:6). Pilihlah kehidupan, maka kita akan hidup (lih. Ul 30:19), pilihlah berkat dan bukan kutuk. Ajaran ini adalah Sabda Tuhan, yang walaupun tertulis di Kitab Perjanjian Lama (Kitab Ulangan) namun masih berlaku bagi kita umat Kristen di jaman sekarang.

Selanjutnya tentang dasar ajaran Gereja Katolik tentang Kemurnian di dalam Perkawinan, silakan klik di sini.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Kis 7:49-50: Tempat Kediaman Allah

0

Pertanyaan:

Salam Damai Kristus.
Ibu Ingrid, tolong kupaskan ayat pada (KIS 7:49.50), Langit adalah TahtahKU,dan bumi adalah tumpuan kaki-KU. Rumah apakah yang akan kau dirikan bagi KU, demikian firman Tuhan, tempat apakah yang akan menjadi perhentian-KU. Bukankah tangan-KU sendiri yang membuat semuanya ini?
Fransiskus Dany

Jawaban:

Shalom Fransiskus,

Kis 7:49-50 merupakan ayat yang mengutip ayat Perjanjian Lama, yaitu Yes 66:1-2:

“Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku.”

Penjelasan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard OSB, ed., adalah sebagai berikut:

Ayat ini merupakan nubuatan bahwa suatu saat bangunan bait Allah tidak akan ada lagi… Nabi Yesaya mengacu kepada kembalinya para tawanan … mereka memuji diri sendiri dengan ide untuk membangun bait Allah yang megah. Namun bukan itu yang diindahkan Allah, karena mereka mengikuti kehendak dan keangkuhan mereka sendiri. Allah berkenan kepada kesalehan para pelayan-Nya yang dapat ditunjukkan di manapun, walaupun bait Allah adalah tempat yang paling layak. Setelah Injil diwartakan para Rasul, maka persembahan korban sesuai dengan hukum Taurat tidak lagi disyaratkan [sebab telah digenapi secara sempurna dalam korban Kristus dalam perayaan Ekaristi].

Ayat Kis 7:49-50 juga mengingatkan kita akan keinginan dari Raja Daud untuk mendirikan rumah bagi Allah, namun akhirnya anak-nyalah, yaitu Raja Salomo, yang dipilih oleh Tuhan untuk mendirikan bait-Nya. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan yang empunya langit dan bumi, Ia-lah yang menentukan syarat- syarat pendirian rumah bagi Diri-Nya sendiri (lih 1 Taw 28:3-6). Bangunan rumah Tuhan memang merupakan tempat yang khusus untuk menyembah Tuhan, namun bangunan tersebut bukanlah yang terutama yang menjadi tempat kediaman-Nya, sebab Allah yang menciptakan langit dan bumi mengatasi semuanya itu. Allah berkenan tinggal dan hadir di tengah umat pilihan-Nya, yaitu di dalam setiap orang yang telah dikuduskan dengan Roh Kudus-Nya, sehingga tubuh mereka menjadi tempat kediaman-Nya (lih. 1 Kor 3:16; 1 Kor 6:19-20). Oleh karena itu, adalah penting untuk menjaga kekudusan tubuh kita demi penghormatan kita kepada Allah yang tinggal di dalamnya. Secara khusus, kita menerima Kristus sendiri dan menjadi tempat kediaman-Nya setiap kali kita menyambut Ekaristi/ Komuni kudus. Semoga penghayatan ini membuat kita semakin lebih lagi menghargai Ekaristi dan mempersiapkan diri dengan sungguh- sungguh untuk menerima-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Bukti Suksesi Apostolik dari St. Petrus ke St. Klemens

2

Pertanyaan:

Dear Katolisitas,

Saya ingin menanyakan dimana surat bapa gereja yang menyatakan bahwa peralihan tahta Paus dari St. Petrus ke St. Linus lalu Anakletus dan kemudian St. Clement ?

karena untuk menjelaskan hal suksesi apostolik Paus pertama dan seterusnya kepada Protestan harus disertai dengan bukti2 tulisan bapa gereja mengenai hal ini.

terima kasih,

CaesarAndra

Jawaban:

Shalom Caesarandra,

Bapa Gereja yang dikenal sebagai pencatat suksesi Apostolik adalah St. Irenaeus (175-190) dan Eusebius dari Caesarea (260-340).

1. Catatan St. Irenaeus (175-180)

St. Irenaeus (di tahun 175-190), dari St. Petrus sampai dengan Eleutherius (St. Irenaeus, Against Heresies III.3.2-3, untuk membacanya klik di link ini)

“….tradisi yang diperoleh dari para rasul, dari Gereja yang paling besar, paling tua, dan paling dikenal secara universal didirikan dan dipimpin di Roma oleh dua rasul yang termulia, Petrus dan Paulus; … yang diturunkan kepada jaman kita dengan suksesi para uskup. Sebab adalah hal yang terpenting bahwa setiap Gereja harus setuju dengan Gereja ini [Gereja Roma], karena otoritasnya yang mengatasi semua, yaitu semua umat beriman di manapun, sebagaimana tradisi telah dilestarikan terus oleh orang- orang tersebut yang ada di mana- mana…

3. “Oleh karena itu, para Rasul yang terberkati, setelah mendirikan dan membangun Gereja, menyerahkan jabatan episkopat ke tangan Linus. Tentang Linus, Rasul Paulus menyebutkannya dalam surat kepada Timotius. Setelah dia, Anacletus meneruskan, dan setelah dia di tempat ketiga dari para rasul itu, Klemens mengambil tempat keuskupan. Orang ini, karena telah melihat para rasul dan berbicara dengan mereka, dapat dikatakan mempunyai pengajaran para rasul yang masih menggema [di telinganya], dan tradisi di depan matanya. Ia tidak sendirian [dalam hal ini] sebab masih banyak orang yang masih hidup yang telah menerima instruksi dari para rasul. Pada masa Klemens ini, pertikaian yang tidak kecil telah terjadi di jemaat di Korintus, dan Gereja Roma mengeluarkan surat yang paling berkuasa kepada gereja di Korintus, mendesak mereka agar berdamai, memperbaharui iman mereka dan menyatakan tradisi yang telah diterimanya dari para rasul, menyatakan Tuhan yang satu, Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, Pencipta manusia, yang membawa keluar dari air bah, dan memanggil Abraham, yang memimpin umat-Nya dari tanah Mesir, berbicara dengan Nabi Musa, memberikan hukum Taurat, mengutus para nabi … Dari dokumen ini, siapapun yang mau, dapat mengetahui bahwa Ia, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, diwartakan oleh Gereja-gereja, dan dapat juga memahami tradisi Gereja, sebab surat ini adalah lebih tua daripada orang- orang ini yang sekarang sedang menyebarkan kesesatan, dan yang percaya akan adanya tuhan yang lain yang melampaui Sang Pencipta dan Pembuat segala yang ada. Setelah Klemens ini, diteruskan oleh Evaristus. Alexander mengikuti Evaristus; lalu yang keenam dari para rasul, Sixtus ditunjuk; dan setelahnya Telephorus, yang dengan mulia wafat sebagai martir; lalu Hyginus; setelah dia, Pius; lalu setelahnya, Anicetus. Soter, setelah meneruskan Anicetus, Eleutherius meneruskannya sekarang, di tempat keduabelas dari para rasul, memegang warisan episkopat. Di dalam urutan dan oleh suksesi ini, tradisi gerejawi dari para rasul, dan pewartaan kebenaran, telah diturunkan kepada kita. Dan ini adalah bukti yang paling berlimpah bahwa ada iman yang menghidupkan, yang satu dan sama, yang telah dilestarikan di dalam Gereja sejak para rasul sampai sekarang, dan diturunkan di dalam kebenaran.”

2. Catatan Eusebius dari Caesarea (260- 341)

Demikian juga, suksesi Paus ditulis oleh Eusebius Pamphili (260- 341), Uskup Caesarea di Palestina. Eusebius dikenal sebagai Bapa Sejarah Gereja, karena ia yang pertama kali mencatat sejarah Gereja dengan urutan kronologis, dengan maksud mencatat suksesi para rasul yang kudus, dan juga waktu di masa Tuhan Yesus hidup sampai pada masanya sendiri; dan untuk menghubungkan banyak kejadian penting yang terjadi sepanjang sejarah Gereja, dan untuk menyebutkan nama- nama mereka yang telah memimpin dan mengepalai Gereja, dan mereka yang di setiap generasi telah mewartakan Sabda Tuhan entah melalui perkataan, maupun melalui tulisan. Juga menjadi tujuan penulisannya, adalah memberikan sejumlah nama dan masanya yang karena mencintai inovasi telah jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan yang besar, dan dengan mewartakan diri sendiri sebagai penemu ilmu pengetahuan yang salah seperti disebutkan dalam 1 Tim 6:20 telah menjadi serigala yang ganas yang telah mencerai-beraikan kawanan Kristus. Untuk keseluruhan tulisan Eusebius tentang Sejarah Gereja dapat dibaca di link ini, silakan klik. Buku Sejarah Gereja tersebut dibagi menjadi 10 buku, dan semua dapat dibaca dengan meng-klik nomor buku yang ingin dibaca di link tersebut.

Berikut ini adalah kutipan terjemahan catatan yang anda tanyakan, yaitu tentang suksesi kepemimpinan Rasul Petrus sebagai pemimpin Gereja Roma [mohon dilihat bahwa urutan uskup dihitung setelah St. Petrus]

Sejarah Gereja (Buku II)
Bab. 2. Penerus pertama St. Petrus di Roma

1. Setelah kematian Paulus dan Petrus sebagai martir, Linus adalah yang pertama untuk memperoleh episkopat Gereja di Roma. Paulus menyebutkan dia [Linus] ketika menulis kepada Timotius dari Roma dalam kata salam penutup di akhir suratnya [lih. 2Tim 4:21].

Sejarah Gereja (Buku III)
Bab 13. Anencletus (Anekletus), Uskup Roma yang kedua

Setelah Vespasian telah memerintah selama sepuluh tahun, Titus, puteranya, meneruskan dia. Di tahun kedua kepemimpinannya, Linus, yang telah menjabat sebagai uskup Gereja Romo selama dua belas tahun, memberikan kepemimpinannya kepada Anencletus (Anekletus). Tetapi Titus diteruskan oleh saudaranya Domitian setelah ia telah memimpin selama dua tahun lebih beberapa bulan.

Bab 15. Clement (Klemens), Uskup Roma yang ketiga

Di tahun keduabelas kepemimpinannya, Clement meneruskan Anencletus (Anekletus) setelah ia telah menjadi uskup di Gereja Roma selama duabelas tahun. Rasul [Paulus] dalam suratnya kepada jemaat di Filipi memberitahukan kepada kita bahwa Clement (Klemens) ini adalah rekan sekerjanya. Perkataan Paulus adalah demikian: “… bersama- sama dengan Klemens dan kawan- kawanku sekerja yang lain, yang namanya tercantum dalam kitab kehidupan” [Flp 4:3]

Selanjutnya di buku Church History (CH)/ Sejarah Gereja karangan Eusebius juga memuat suksesi Paus (uskup Roma) setelah Klemens, yaitu Evarestus (lih. CH, III, 34), Alexander (lih. CH IV, 1), Xystus (lih. CH IV, 4), Telesphorus (lih. CH IV, 5, 5), Hyginus (lih. CH IV, 10), Pius (lih. CH IV, 11), Anicetus (lih. CH IV, 19), Soter (lih. CH IV, 22,  3), Eleutherus (lih.ibid., Rangkuman urutandari Rasul Petrus sampai Eleutherus, CH V, 6), Victor (lih. CH V, 22), Zephyrinus, (lih. CH VI,13,10), Callistus, Urbanus  (lih. CH VI, 21), Pontain/ Pontianus (lih. CH VI, 23, 3), Anterus, Fabian (lih. CH VI, 29), Cornelius, Lucius, Stephen (lih. CH VII, 2), Sixtus II (lih. CH VII, 9), Dionysius (lih. CH VII, 27), Felix I (lih. CH VII, 30, 23), Eutychianus, Caius (lih. CH VII, 32).

Dari catatan- catatan ini, dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan Rasul Petrus atas seluruh Gereja terus dilestarikan oleh para penerusnya yang menjadi uskup Roma. Kepemimpinan ini terus berlangsung sampai sekarang di dalam Gereja Katolik oleh Bapa Paus. Sekarang ini adalah Paus Benediktus XVI, di urutan 266, atau 265 setelah Rasul Petrus. Daftar keseluruhannya dapat dibaca di link ini, silakan klik.

Demikian tanggapan kami atas pertanyaan anda, semoga bermanfaat.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Apa arti full of grace/ kecharitomene?

25

Pertanyaan:

Ada teman Protestan yang menuliskan pendapatnya tentang Bunda Maria sebagai berikut, bagaimana saya harus menjawabnya?

Tidak ada sedikitpun ajaran Alkitab mengajarkan harus mengangkat Maria sebagai ratu sorga, sumber berkat, perantara Allah dan manusia, dan menyembahnya seperti Allah ….karena dia hanya dipilih Tuhan dan kandungannya dipakai Tuhan untuk inkarnasi ke dunia.

Yang dilahirkan Maria hanya kemanusiaan YESUS bukan keilahiannya.

Mengatakan Tuhan dilahirkan saja sudah berarti penghujatan karena Tuhan adalah kekal.

Melahirkan YESUS tidak menyelamatkan manusia, melainkan hanya melalui darah YESUS saja manusia ditebus dan diselamatkan.

YESUS hanya satu tidak ada yang lain tetapi orang seperti Maria ada berjuta-juta Tuhan bisa memilih dan memakainya sebagai alat ditangan-Nya.

Bukan saja saya tetapi YESUS sendiri dan para Rasul juga tidak pernah menganggap Maria seperti yang gereja anda tinggikan secara kebablasan itu.

Makanya kenapa pula kita harus mengiakan semua ajaran dusta yang terjadi.

Saya mengatakan: siapakah yg lebih mengenal YESUS dari pada bunda Maria??? Coba anda bayangkan Maria merawat YESUS dari kecil, memandikannya, menyusuinya, Maria bersama Tuhan selama hidupnya.

Dia menjawab: Maria lebih banyak mengenal kemanusiaan YESUS tetapi sering berlaku lancang dan lupa akan keilahian YESUS sehingga di Alkitab tercatat hanya dua kali Maria berbicara dengan YESUS dan keduanya ia kena tegur karena tidak mengenal siapa sebenarnya YESUS.

Jadi anda persis seperti Maria yang hanya mengenal YESUS sebagai manusia tetapi tidak sadar siapa sebenarnya Dia itu.

Makanya giatlah mendalam Kitab Suci agar tidak menyeleweng terus kerjanya.

Saya mengutip Injil LUKAS:(28) Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Dia menjawab: Semua anak anak Tuhan juga mendapat berkat dan karunia keselamatan dari Tuhan dan ROH KUDUS selamanya menyertainya juga.

YESUS juga mengatakan bahwa Dia juga menyertai semua orang percaya.

Matius 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

KESIMPULAN:

Ajaran mak telah kebablasan dengan mengangkatnya tidak lumrah manusia lagi melainkan seperti ilahi. Tidak ada sedikitpun keharusan mengistimewakan Maria di atas semua orang orang yang agung di dalam Kitab Suci.

Saya mengutip lagi: (42) lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.

Dia menjawab: Ayat ini jelas mengatakan diberkati “di antara” bukan “di atas” semua perempuan.

Istilah “Full of Grace” yang dalam bahasa Yunaninya “”plaras karitos” hanya terdapat di dalam dua tempat di PB (KJV),dan tidak satupun ditujukan kepada Maria yaitu :

1.And the Word became flesh, and dwelt among us, and we beheld His glory, glory as of the only begotten from the Father, full of grace and truth (John 1:14).

2.And Stephen, full of grace and power, was performing great wonders and signs among the people (Acts 6:8).

Yang pertama menyangkut diri YESUS dan kedua Stepanus. Dalam hal ini Stepanus tidak pernah ditinggikan sedemikian rupa seperti yang diperlakukan kepada Maria.

Lukas 1:28 And the angel came in unto her, and said, Hail, thou that art highly favoured, the Lord is with thee: blessed art thou among women.

Yang ada di Katekismus gereja RK istilah full of grace diterjemahkan dengan istilah “ave gratia plena” (hail full of grace) adalah terjemahan bahasa Latin dari PB (Vulgata) yang dibuat oleh Jerome. Terjemahan Vulgata ini sering keliru.

Istilah “highly favoured” dalam bahasa Yunaninya adalah “kexaritomena”, dan ini tidak sama artinya dengan full of grace.

kexaritomena = highly favored, make accepted. make graceful.

Berbicara mengenai pemberian karunia dari Tuhan adalah biasa di dalam Alkitab, ada banyak orang yang mendapat bermacam-macam karunia dari Tuhan tetapi tidak satupun yang ditinggikan sedemikian rupa sehingga menjadikan mereka status tidak berdosa,dll seperti yang diberikan kepada Maria.

Hakim hakim 5:24 Diberkatilah Yael, isteri Heber, orang Keni itu, melebihi perempuan-perempuan lain, diberkatilah ia, melebihi perempuan-perempuan yang di dalam kemah.

Di sini Yael juga mendapat berkat melebihi perempuan lain tetapi tidak merubah statusnya menjadi Ratu Surga misalnya.

KESIMPULAN:

Berkat kepada Maria hanya berkat kepada manusia biasa saja, tidak ada bedanya dengan yang lain, sehingga meninggikan Maria seperti ilahi hanyalah ajaran yang sudah kebablasan saja dan penuh kepalsuan.

Aida

Jawaban:

Shalom Aida,

1.  Maria adalah Ratu Surga?

Dasar ajaran Katolik tentang Maria adalah Ratu Surga, silakan klik di sini.

Memang tidak ada ayat di Kitab Suci yang mengajarkan kita untuk menyembah Maria seperti menyembah Allah. Namun Kitab Suci mengajarkan kita untuk menghormati ayah dan ibu kita (lih. Kel 20: 12); oleh karena itu kita menghormati Bunda Maria, karena ia adalah ibu Tuhan Yesus dan ibu kita juga -karena Tuhan Yesus memberikannya untuk menjadi ibu kita (lih. Yoh 19:26-27). Silakan klik di sini untuk memahami dasarnya, mengapa Gereja Katolik menghormati Bunda Maria.

2. Yang dilahirkan Maria hanya kemanusiaan Yesus dan bukan keilahian-Nya?

Setiap perempuan yang melahirkan, melahirkan seorang pribadi, dan bukan hanya melahirkan ‘kemanusiaan’- nya saja. Maka sangat tidak masuk akal jika dikatakan bahwa Bunda Maria melahirkan hanya kemanusiaan Yesus saja. Yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang selain manusia, Ia juga adalah sungguh- sungguh Allah. Oleh karena itu Maria disebut sebagai “Bunda Allah”, karena yang dilahirkannya adalah Yesus yang adalah Tuhan. Itulah sebabnya bahkan ayat- ayat dalam Kitab Suci juga menyebut Maria sebagai Bunda Tuhan (lih. Luk 1:43), atau menyebutkan Maria sebagai seorang perempuan yang melahirkan Putera Allah (lih. Mat 1:23, Luk 1:35, Gal 4:4).

Jadi memang yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah Tuhan Yesus pada saat Ia menjelma menjadi manusia, namun menurut kekekalan, saat Ia sudah ada bersama- sama dengan Allah Bapa di awal mula dunia, memang bukan Bunda Maria yang melahirkan-Nya, namun asalnya adalah dari Allah Bapa sendiri, sebagaimana diucapkan dalam kalimat syahadat Nicea:

“Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putera Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad.
Allah dari Allah,
Terang dari terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
Sehakikat dengan Bapa,
Segala sesuatu dijadikan oleh-Nya….”

Nampaknya pemahaman teman anda itu agak rancu, karena ia tidak menerima penjelasan para Bapa Gereja tentang bagaimana memahami ajaran bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia, seperti yang pernah dibahas di sini, silakan klik.

Karena pemahamannya keliru, maka ia menuduh yang bukan- bukan; bahkan menuduh seolah penghormatan kepada Bunda Maria adalah ‘ajaran dusta‘ ataupun penghujatan kepada Allah. Padahal kalau kita melihat apa yang terjadi dalam sejarah Gereja, justru pemahaman teman anda itu yang tidak benar, dan menyerupai ajaran sesat Nestorius di abad ke 4-5 yang dikecam oleh para Bapa Gereja, karena tidak menyampaikan seluruh kebenaran seperti yang diajarkan oleh para rasul.

3. Teman anda mengatakan bahwa ‘Bunda Maria lancang‘?

Pandangan bahwa Bunda Maria lancang, adalah suatu pandangan yang luar biasa keliru. Tuduhan bahwa Tuhan Yesus menegur Bunda Maria ketika Maria berbicara kepadanya, juga adalah interpretasi yang salah. Hal jawaban Tuhan Yesus terhadap perkataan Maria, yang sering disalahtafsirkan sebagai penyangkalan, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Selayaknya kita tidak dengan cepat menghakimi sesama, apalagi menghakimi orang yang dipilih Allah untuk melahirkan Kristus Putera-Nya, yaitu Bunda Maria. Bunda Maria tidak pernah lancang, dan marilah kita mendoakan orang- orang yang dalam ketidaktahuan mereka, menghakiminya sedemikian.

4. Kitab Suci tidak mengajarkan keharusan mengistimewakan Maria?

Memang tidak ada kata literal yang menyatakan “istimewakanlah Maria” dalam Kitab Suci, tetapi Kitab Suci mengajarkan tentang keistimewaan Bunda Maria, demikian:

1) Tidak ada satu tokohpun dalam Kitab Suci dan dalam sejarah manusia sepanjang segala abad, selain dari Bunda Maria, yang dipercaya oleh Tuhan untuk mengandung dan melahirkan Kristus Putera Allah yang Tunggal (lih. Luk 1:35). Maka perannya ini sangat unik dan istimewa.

2) Kitab Suci sendiri menyebutkan tentang Maria, bahwa segala keturunan akan menyebutnya berbahagia (Luk 1:48).

3) Kepada Bunda Maria saja, malaikat Tuhan mengatakan, “Kecharitomene“/ “hail, full of grace“, atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atas dasar edisi Vulgata terjemahan St. Jerome, “Salam, hai engkau yang penuh rahmat (telah dipenuhi rahmat)” (lih. Luk 1:28).

5. Apa arti sebenarnya dari “kecharitomene“?

Untuk memahami arti kecharitomene dalam Luk 1:28, kita melihat kepada kata kerja dalam kalimat tersebut, yaitu kata “charitoo“. Kata kerja ini juga digunakan dalam Ef 1:6 dalam bentuk yang berbeda yaitu echaritosen, yang artinya ia mengaruniai rahmat/ “he graced” or bestowed grace.

“supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” (Ef 1:6)

Di sini, echaritosen mengacu kepada kegiatan yang terjadi sesaat, sebuah kegiatan yang telah berlalu (Blass and DeBrunner, Greek Grammar of the New Testament, p. 166). Sedangkan, kecharitomene adalah charito dalam bentuk pasif sempurna/ perfect passive participle, menunjukkan suatu kesempurnaan dengan hasil yang permanen. Kecharitomene menunjukkan adanya kontinuitas dari suatu kegiatan yang telah selesai sempurna (H. W. Smyth, Greek Grammar [Harvard Univ Press, 1968], p. 108-109, sec 1852:b; also Blass and DeBrunner, p. 175). “Highly favoured” (kecharitomene) di sini merupakan bentuk perfect passive participle dari kata kerja charitoo, yang artinya dikaruniai dengan rahmat (charis) seperti yang disebut dalam Ef 1:6

Sedangkan dalam konteks Yoh 1:14 dan Kis 6:8, kata asli rahmat dalam “full of grace” adalah dalam bentuk kata benda, charis (bukan dalam bentuk past participle dari kata kerja ‘charitoo‘). Kedua ayat tersebut menyebutkan adanya keadaan ‘penuh rahmat’ tanpa menekankan prosesnya/ keadaan sebelumnya: 1) Yesus yang menjelma menjadi manusia adalah penuh rahmat/ kasih karunia (Yoh 1:14) dan 2) Stefanus yang penuh rahmat/ karunia saat melakukan mukjizat dan tanda- tanda. Maka kedua ayat tersebut memang mengatakan “penuh rahmat” namun kata aslinya memang bukan charitoo/ “kecharitomene” seperti pada Luk 1:28 tersebut, yang kalau diterjemahkan secara literal seharusnya adalah “engkau yang telah dikaruniai rahmat dengan sempurna”/ “you who have been made full of grace/ highly favoured.”

Untuk memahami makna suatu kata kerja dalam bahasa Yunani kita perlu melihat adanya faktor “tenses” (ada 7 tenses dalam bahasa Yunani: aorist, present, imperfect, future, pluperfect dan future perfect). Menurut J. Gresham Machen, seorang pakar bahasa Yunani, “Perfect tense dalam bahasa Yunani menjelaskan adanya keadaan saat ini sebagai hasil dari suatu perbuatan di masa lalu’ (J. Gresham Machen, New Testament Greek for Beginners, p. 187). Contoh tentang perfect tense ini adalah perkataan Yesus kepada Iblis dalam Mat 4:4,7,10, di mana dikatakan, “Ada tertulis”, yang kalau diterjemahkan secara literal adalah: “Ada tertulis di masa lalu dan sekarang masih berlaku”. Contoh lainnya adalah dalam Luk 1:28, dalam perkataan malaikat kepada Bunda Maria, yang menyatakan bahwa ia ‘sudah dipenuhi rahmat di masa yang lalu sampai saat ini’. Keadaan Maria ‘dipenuhi rahmat dengan sempurna di masa lalu  (karena bentuk perfect tense dari kata kerja ‘dikaruniai’) inilah yang membuat para Bapa Gereja  mengartikan bahwa Bunda Maria telah dikuduskan oleh Allah Bapa sejak awal mula.

Itulah sebabnya banyak para Bapa Gereja, terutama mereka yang berbahasa Yunani, mengajarkan bahwa Bunda Maria itu sudah disucikan Allah sebelum menerima kabar gembira dari malaikat, contohnya: Gregorius Thaumaturgus (205-270), Yohanes Sang Teolog (400), dan Theodotus dari Ancyra (awal abad 5). Theodotus mengajarkan: “Perawan yang tak berdosa, tidak bernoda, tanpa cacat, tanpa tersentuh, tanpa cela, kudus dalam tubuh dan jiwa, seperti bunga lili yang mekar di antara semak duri …. Bahkan sebelum kelahiran Kristus, ia telah dikuduskan bagi Allah … Murid yang kudus, … bijaksana di dalam pikiranmu, bersatu dengan Tuhan di dalam hatimu, perkataanmu layak dipuji, tetapi terlebih lagi perbuatanmu…. (Theodotus, Homily 6:11 dalam Fr. Luigi Gambero, Mary and the Fathers of the Church, p. 268)

5. Maria tidak ada bedanya dengan Yael, isteri Heber?

Jika kita memahami arti kecharitomene, maka kita mengetahui bahwa Yael tidak dapat disetarakan dengan Bunda Maria, sebab kepada Yael tidak pernah dikatakan bahwa ia adalah “kecharitomene“/ ‘yang telah dikaruniai rahmat dengan penuh/sempurna oleh Allah.’

Yael dikatakan terberkati karena ia dengan keberaniannya ‘meminjamkan’ tangannya untuk mengalahkan musuh bangsa Israel sesuai dengan rencana Allah (lih Hak. 4:17-22). Bunda Maria, juga dengan keberanian ‘meminjamkan’ rahimnya agar Allah dapat melaksanakan rencana-Nya untuk mengalahkan musuh seluruh umat manusia, yaitu dosa dan maut, dengan mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, agar menjelma menjadi manusia. Dengan demikian,  Yael dipuji dalam Kitab Suci dan disebut sebagai “diberkatilah” ia melebihi perempuan- perempuan yang di dalam kemah (lih. Hak 5:24); sedangkan Bunda Maria dipuji di antara semua perempuan (lih. Luk 1:42). Maka penghormatan kepada Maria ini jelas lebih tinggi daripada penghormatan kepada Yael.

Di sini Kitab Suci mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak dapat menyamakan Bunda Maria dengan semua manusia, karena memang hanya ia saja – di sepanjang sejarah manusia, tidak ada seorangpun yang lain- yang dipilih oleh Tuhan sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Kristus Sang Putera Allah. Oleh karena itu, dari kidung pujian Magnificat, kita membaca, “Sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku [Maria] berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan- perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Luk 1:48-49)

Demikianlah maka untuk memahami Kitab Suci, kita perlu melihat kaitan ayat- ayat antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, dan jangan memilih- milih ayat sesuai dengan pemahaman sendiri, sebab jika demikian maka tidak dipahami keseluruhan makna yang ingin disampaikan. Jika kita saja lebih menghormati ibu kita (yang mengandung dan melahirkan kita) daripada perempuan yang lain, maka tentu Tuhan Yesus juga lebih menghormati ibu-Nya daripada kepada semua perempuan yang lain. Maka jika kita umat Katolik menghormati Bunda Maria, itu pertama- tama karena: 1) kita mengikuti teladan Allah Bapa sendiri yang telah terlebih dahulu menghormati Maria dengan memilihnya untuk melahirkan Kristus Sang Putera Allah dan 2) kita mengikuti teladan Yesus dan pesan-Nya untuk menerima Maria sebagai ibu kita (lih. Yoh 19:26-27). Bukankah jika kita mengasihi seseorang dengan sungguh, maka kita juga ikut mengasihi ibu dari orang itu? Maka, jika ada orang- orang yang tidak menerima ajaran ini, kita tidak perlu memaksa mereka, namun juga pandangan mereka tidak perlu membuat kita goyah, sebab penghormatan kepada Bunda Maria justru menunjukkan bahwa kita sungguh mengasihi Allah, sebab kita melakukan apa yang sudah dilakukan Allah sendiri kepada Bunda Maria, seperti yang tertulis juga dalam Kitab Suci. Maka tidak ada ajaran yang kebablasan ataupun palsu, seperti yang dituduhkan oleh teman anda itu.

Semoga uraian di atas semakin menumbuhkan kasih dan penghormatan kita kepada Bunda Maria sebagai tanda kasih kita kepada Allah yang telah memilihnya secara istimewa untuk melahirkan Kristus Sang Penyelamat kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Mat 5:22: “Raka”= kafir?

0

Pertanyaan:

Syalom katolisitas

Terima kasih karena teleh memberikan wawasan yang mendalam tentang keimanan kita.,
Saya ingin bertanya, apakah definisi dari kafir itu?
Saya agak tersinggung dengan saudara saudara kita di sebelah yang dengan mudahnya meng”kafir”kan keyakinan kita.
padahal dari agama kita sendiri sesuai dengan Matius 5: 22 kita dilarang keras untuk mengkafirkan orang lain.
apakah ada hukuman bagi kita umat Katolik apabila kita secara sengaja ataupun tidak sengaja mengkafirkan orang lain?

terima kasih atas jawabannya
Jesus Love Us
Alloysius Danan

Jawaban:

[Dari Katolisitas: Terima kasih kepada Romo Indra Sanjaya, Pr. yang telah membantu menjawab pertanyaan ini]

Shalom Alloysius,

Beberapa catatan di bawah ini mungkin bisa membantu memahami teks Mat 5:22.

Yang dipertanyakan adalah kata raka dan mōros.

1.  Kata “raka”

Kata yang pertama (raka) memang merupakan transliterasi dari kata Aram aq’yre rēqā<. Di dalam Perjanjian Baru, kata ini hanya dipakai di sini saja. Apa arti kata ini? Beberapa leksikon memberi makna empty-headed, fool (term of strong abuse). Yang jelas kata ini merupakan sebuah kata-kata untuk menghina orang lain. Kemungkinan kata ini sebenarnya adalah sebuah onomatope (kata yang menirukan bunyi) dari bunyi orang yang mengeluarkan riak dari tenggorokan dan siap untuk meludahkannya ke wajah orang lain. Meludah ke wajah orang lain tentulah suatu tindakan penghinaan yang luar biasa. Oleh karena itu beberapa versi Inggris tetap mempertahankan atau tidak menerjemahkan kata tersebut agar nuansa penghinaannya tetap kentara (GNV, Vulgata, KJV dll).

Untuk terjemahan Indonesia, mari kita lihat teks-teks di bawah ini. Saya sengaja menampilkan beberapa teks untuk melihat bagaimana selama ini, teks tersebut diterjemahkan.

GNT Matthew 5:22 evgw. de. le,gw u`mi/n o[ti pa/j o` ovrgizo,menoj tw/| avdelfw/| auvtou/ e;nocoj e;stai th/| kri,sei\ o]j dV a’n ei;ph| tw/| avdelfw/| auvtou/( ~Raka,( e;nocoj e;stai tw/| sunedri,w|\ o]j dV a’n ei;ph|( Mwre,( e;nocoj e;stai eivj th.n ge,ennan tou/ puro,jÅ

Terjemahan Lama (1954):

5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa tiap-tiap orang yang marah akan saudaranya, ia akan terkena hukum; dan barangsiapa yang berkata kepada saudaranya: Hai jahil! ia akan dihukumkan oleh majelis besar; dan barangsiapa yang berkata: Hai gila! ia akan terkena hukum masuk api neraka.

TB 1 (1974):

5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

TB 2 (1997):

5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Alkitab dalam BIS

5:22 Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu, barangsiapa marah * kepada orang lain, akan diadili; dan barangsiapa memaki orang lain, akan diadili di hadapan Mahkamah Agama. Dan barangsiapa mengatakan kepada orang lain, ‘Tolol,’ patut dibuang ke dalam api neraka.

*barangsiapa marah: beberapa naskah kuno: barangsiapa marah tanpa sebab.

Kitab Suci Komunitas Kristiani

Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu, barang siapa yang marah kepada saudaranya, akan dihadapkan kepada pengadilan. Barang siapa yang menghina saudaranya akna dihadapkan kepada sidang majelis, dan barang siapa yang mempermalukan saudaranya akan dibuang ke dalam api neraka.

Perjanjian Baru versi Arnoldus-Ende 1968

Akan tetapi Aku bersabda kepadamu: Barang siapa jang memarahi saudaranja, iapun harus dihadapkan kepada madjelis pengadilan. Dan barang siapa jang mengatai saudaranja “kau djahil” harus dihadapkan kepada madjelis agung, dan jang berkata “kau gila” harus dihukum masuk naraka.

[Untuk perbandingan lebih luas lagi, silakan lihat di http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=matius&chapter=5&verse=22]

Silakan diperhatikan bahwa kata ‘kafir’ sebagai terjemahan raka, sebenarnya hanya terdapat dalam TB 1 (1974), versi yang dimiliki oleh sebagian besar dari kita. Dalam edisi revisi yang terbit tahun 1997, kata tersebut sudah tidak ada. Sebagai gantinya muncul rumusan yang lebih luwes ‘siapa yang mencaci maki saudaranya’. Saya tidak tahu mengapa TB 1974 memilih kata ‘kafir’ karena TL 1954 juga tidak menggunakan kata tersebut (yang dipakai malahan ‘jahil’).

2. Kata “moros”

Kata kedua adalah kata mōros. Ini adalah kata asli Yunani, bukan berasal dari tempat lain. Biasanya kata ini diterjemahkan dengan kata ‘bodoh.’ Lihat misalnya Mat 23:17. Tim penerjemah LAI, memilih kata ‘jahil’ untuk menerjemahkan kata mōros. Masalahnya, kata ‘jahil’ secara spontan seringkali dianggap sama dengan kata ‘usil’. Namun kalau kita melihat Kamus Bahasa Indonesia (2008), kata kata ‘jahil’ mempunyai 2 arti:

  1. bodoh; tidak tahu (terutama tt ajaran agama)
  2. suka mengganggu (menggoda, dsb), nakal, jail.

Dengan kata lain, kata ‘jahil’ sebenarnya sama dengan kata ‘bodoh’ (fool) dalam hal keagamaan.

Bagi saya, terjemahan versi Indonesia memang tidak amat tepat. Mungkin malah terjemahan BIS lebih memadai. Tetapi biarlah demikian….

3. Istilah ‘mengkafirkan’

Soal berikutnya adalah yang berkaitan dengan ‘mengkafirkan’. Di sini kita harus hati-hati, karena amat mudah pembicaraan akan melenceng. Sudah saya katakan di atas bahwa kata raka, sebenarnya tidak mempunyai nuansa sebagaimana sekarang kita memahami kata tersebut. Oleh karena itu, berbicara tentang ‘kafir’ dan ‘mengkafirkan’ sebenarnya tidak perlu dikaitkan dengan Mat 5:22.

Kata ‘kafir’ biasanya mempunyai makna dasar ‘tidak percaya kepada Allah (dan Rasul-Nya)’. Kata ini sebenarnya justru lebih dekat dengan makna kata moros, yang acapkali diterjemahkan dengan kata ‘bodoh’. Orang bodoh adalah orang yang tidak mau menerima kenyataan adanya Allah. Dalam Mzm 14:1 dikatakan bahwa ‘Orang dungu berkata dalam hati, “Tidak ada Allah”. Mengatakan orang lain ‘bodoh’ (fool) sebenarnya merupakan penghinaan yang luar biasa.

4. Apakah ada hukuman kalau kita mengkafirkan sesama

Terhadap pertanyaan apakah ada hukuman kalau kita mengkafirkan sesama…Yang jelas, aturannya tidak perlu dikaitkan dengan Mat 5:22 ini. Namun apa perlunya sih mengkafirkan orang lain?

Demikian catatan kecil saya. Semoga ada manfaatnya.

Salam,
Rm. Indra Sanjaya Pr.

[Tambahan dari Katolisitas]

Mengacu kepada penjelasan St. Agustinus tentang ayat ini seperti dikutip oleh St. Thomas Aquinas dalam Catena Aurea,

Di sini ada 3 tingkatan kemarahan, kemarahan, suara yang mencerminkan kemarahan dan kata-kata kebencian, “Jahil”. Maka ada 3 tingkatan kemarahan: 1)  marah di hati, 2) marah dengan mengeluarkan bunyi marah (spt mengeluarkan riak, diterjemahkan “raka” yang bunyinya menyerupai orang mengeluarkan riak dari tenggorokan); dan 3) marah dengan kata-kata kasar. Jika tiga proses itu sudah dilewati, artinya lepas sudah pengendalian diri, dan di situ lah letak dosa beratnya. Tanpa pertobatan, maka dosa semacam ini dapat menghantar seseorang ke neraka. Tetapi jika ia bertobat, Allah dapat mengampuninya dan ia terhindar dari siksa neraka.

Mengapa Bunda Maria disebut Ratu surga?

1

Gelar Bunda Maria sebagai Ratu surga berhubungan dengan gelar Bunda Maria yang lainnya, yaitu bahwa Bunda Maria adalah Bunda Kristus yang adalah Sang Raja di atas segala raja di bumi ini (lih. Why 1:5).

1. Kitab Suci mengajarkan bahwa para kudus di surga akan menerima mahkota kehidupan, terlebih Bunda Maria yang adalah orang kudus yang terbesar.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa Tuhan memberikan mahkota kebenaran kepada orang- orang yang telah mengakhiri pertandingan dalam kehidupan ini dengan baik dengan memelihara iman (lih 2 Tim 4:8). Jika ini berlaku untuk Rasul Paulus, hal ini pastilah lebih lagi berlaku untuk Bunda Maria, yang ketaatan imannya terus terpelihara sejak mengandung Tuhan Yesus sampai mendampingi-Nya di kaki salib-Nya. Kesetiaan Bunda Maria yang bertahan sampai akhir, mendatangkan mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan (lih. Yak 1:12, 1 Pet 5:4, Why 2:10). Janji mahkota kehidupan bagi orang beriman ini digenapi secara istimewa dalam diri Bunda Maria, seorang yang sungguh beriman dan telah lebih dahulu dipilih Allah untuk melahirkan Kristus Putera-Nya. Di dalam Maria dipenuhi janji Tuhan yang memberikan, “kerajaan yang mulia dan mahkota yang indah dari tangan Tuhan” kepada orang-orang yang benar (Keb 5:16).

2. Sabda Tuhan menggambarkan Bunda Maria sebagai Perempuan yang bermahkota dua belas bintang

Kitab Wahyu 12 menyebutkan penglihatan Rasul Yohanes akan surga di mana terlihat Sang Tabut Perjanjian, yaitu seorang perempuan yang berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan bermahkotakan dua belas bintang” (lih. Why 11: 19- Why 12: 1). Tanda besar di langit itu, yaitu perempuan tersebut, adalah Bunda Maria, sebab Anak laki- laki yang dilahirkannya dan yang akan menggembalakan semua bangsa itu adalah Kristus.

3. Dalam Kitab Suci, disebutkan bahwa ratu kerajaan yang duduk di sebelah kanan raja adalah bunda sang raja

Dalam Perjanjian Lama, ratu kerajaan bukanlah istri sang raja, namun adalah ibu sang raja, yang disebut geḇiyrāh (ibu suri). Sebab di masa itu raja dapat mempunyai lebih dari satu istri, sedang ia hanya mempunyai satu ibu. Geḇiyrāh ini dihormati bersama raja (lih. Yer 13:18), dan namanya dicantumkan bersama dengan setiap raja Yehuda (1 Raj 14:21, 15:9-10, 22:42; 2 Raj 12:2; 14:2; 15:2; 15:33; dst), yang merupakan keturunan Raja Daud.

Dalam kitab Raja- raja yang pertama, dikatakan bahwa Ratu Batsyeba menghadap Raja Salomo dan Raja memberikan tempat duduk/ tahta kepada bundanya di sebelah kanan-Nya (lih. 1 Raj 2:19). Kitab Mazmur juga mengisahkan adanya permaisuri yang berpakaian emas, berada di sebelah kanan sang Raja, yang mengacu kepada Kristus (lih. Mzm 45:10), yang tahtanya tetap untuk selama- lamanya (Mzm 45:7; lih. Luk 1:32-33). Dengan demikian gelar Bunda Maria sebagai Ratu Surga berhubungan dengan perannya yang istimewa dalam sejarah keselamatan, yaitu sebagai Bunda yang melahirkan Kristus Sang Raja Penyelamat umat manusia (lih. Luk 1:31-32).

Maka gelar ‘Ratu Surga’ (gebirah) yang mengacu kepada Bunda Maria tidak sama dengan istilah ratu surga (meleḵeṯ:) yang disebut dalam Yer 7:18, 44:17. Sebab, gebirah mengacu kepada ibu sang raja dari keturunan Yehuda, sedangkan meleḵeṯ: mengacu kepada dewi kesuburan bangsa-bangsa Semit, yaitu Astoret atau Astarte.

Dasar Kitab Suci

  • Why 12:1: Seorang perempuan berselubungkan matahari dan bermahkotakan dua belas bintang.
  • 1 Raj 2:19: Raja Salomo memberikan tempat kepada Batsyeba, ibu-Nya, di sebelah kanannya; demikian pula Kristus, kepada Bunda-Nya.
  • Neh 2:6: Bunda Sang Raja sebagai Ratu, duduk di sisi Raja.
  • Mzm 45:10: Permaisuri berpakaian emas dari Ofir berdiri di sebelah kanan Sang Raja- [yang adalah Kristus]
  • 2 Tim 4:7-8: Rasul Paulus mengatakan bahwa baginya telah tersedia mahkota kebenaran, karena telah memelihara iman.
  • Yak 1:12: Mereka yang bertahan sampai kesudahannya akan menerima mahkota kehidupan.
  • 1 Pet 5:4: Gembala Agung akan memberikan kamu mahkota yang tidak dapat layu.
  • Why 2:10: Yesus akan memberikan mahkota kehidupan kepada umat beriman.
  • Keb 5:16: Orang- orang benar akan menerima mahkota yang indah dari tangan Allah.

Dasar Tradisi Suci

  • St. Athanasius (296-373): “Jika Sang Anak adalah Raja, maka ibu yang melahirkan-Nya adalah layak dan sungguh pantas disebut sebagai Ratu dan yang berkuasa.” (seperti dikutip oleh St. Alfonsus Liguori, dalam The Glories of Mary, ch. 1.i)
  • St. Ephraim (306-373 AD): “Wanita Mulia dan Surgawi, Majikan, Ratu, lindungi dan jagalah saya di bawah sayapmu, supaya jangan Setan, penabur kehancuran, berkuasa atasku, supaya jangan musuh jahatku berjaya atasku.” (Diterjemahkan dari St. Ephraim, Oratio ad Ssmam Dei MatremOpera omnia, Ed. Assemani, t. III (graece), Romae, 1747, p. 546.)
  • St. Andreas dari Krete (abad ke 7): “Bunda-Nya yang tetap perawan yang dari rahimnya, Tuhan mengambil rupa manusia, kini dipindahkan oleh-Nya dari tempat tinggalnya di dunia menjadi Ratu umat manusia.” (St. Andrew of Crete, Homily 2 on the Dormition of the Blessed Mother of God, PG 97,1079b, dikutip oleh Paus Pius XII dalam Ad Caeli Reginam.) Selanjutnya ia berkata, “Ratu dari segenap umat manusia, setia terhadap arti dari namanya itu, yang ditinggikan di atas segalanya, walau tidak menjadi di atas Tuhan sendiri.” (Homily 3 on the Dormition, Ibid.)
  • St. Bernardinus dari Siena (1380-1444): “Ketika Maria setuju untuk menjadi Bunda dari Sabda Ilahi, maka oleh persetujuannya ia memperoleh gelar Ratu bagi dunia dan semua ciptaan.” (seperti dikutip oleh St. Alfonsus Liguori, dalam The Glories of Mary, ch. 1.i)
  • St. Louis de Montfort (1673-1716): “Tuhan menjadikan Maria ratu surga dan bumi; pemimpin pasukan-Nya …. pembagi rahmat-Nya, pekerja mukjizat-mukjizat-Nya, penghancur musuh-Nya dan penolong yang setia di dalam pekerjaan- pekerjaan-Nya dan kemenangan-Nya.”…. “Betapa tepatnya, ketika St. Albertus Agung menghubungkan sejarah Ratu Ester dari Kitab Ester sebagai gambaran Ratu Maria kita!…. Ia [Ester] berdiri di hadapan Raja Ahasuerus dan memohon bagi bangsanya: “Jika engkau berkenan kepadaku, O Raja, kabulkanlah permohonanku demi bangsaku.” Lalu, karena kasihnya kepada Ester, Ahasuerus mengabulkan permohonannya dan mendekritkan keselamatan bagi bangsa Yahudi. Maka, bagaimana Tuhan dapat menolak Bunda Maria, yang dikasihi-Nya dengan limpah, ketika ia memohon bagi bangsanya, yaitu para pendosa yang mempercayakan diri mereka kepadanya?” (St. Alfonsus Liguori, The Glories of Mary, ed. Msgr Charles Dollen, (New York: Alba house, 1988) p. 4-5)

Dasar Magisterium

  • Paus Pius XII (1876- 1958) dalam Ad Caeli Reginam:

“Ia, Sang Putera Allah, memantulkan kemuliaan, keagungan dan kekuasaan kerajaan-Nya kepada Bunda Surgawi-Nya, sebab setelah dihubungkan dengan Sang Raja dari para Martir di dalam karya Penebusan umat manusia sebagai Bunda dan kawan sekerja (Co- operatix), ia [Bunda Maria] tetap selamanya diasosiasikan dengan Dia, dengan kuasa yang hampir tak terbatas, di dalam pembagian rahmat Allah yang mengalir dari Penebusan Kristus. Yesus adalah Raja sepanjang kekekalan, oleh karena kodratnya maupun haknya sebagai Pemenang: melalui Dia, dengan Dia dan di bawah Dia, Maria adalah Ratu oleh karena rahmat Tuhan, oleh hubungan ilahi, oleh haknya sebagai pemenang dan oleh pemilihan yang sifatnya khusus…. (Homily 2 on the Dormition of the Blessed Mother of God, PG 97,1079b, quoted by Pius XII in Ad Caeli Reginam ).

  • Paus Pius XII dalam Konstitusi Apostolik, Munificentissimus Deus (1950)

“Sering ada teolog dan pengkhotbah yang mengikuti jejak Bapa Gereja yang suci (lih. St. John Damascene, op. cit., Hom. II, n. 11;  St. Modestus, the Encomium) telah dengan bebas menggunakan kejadian dan ekspresi yang diambil dari Kitab Suci untuk menjelaskan iman mereka tentang diangkatnya Maria ke surga…. beberapa menggunakan perkataan dari Kitab Mazmur: “Bangunlah O Tuhan ke tempat peristirahatan-Mu, Engkau dan tabut yang telah kau kuduskan (lih. Mzm 131:8); dan telah melihat Tabut Perjanjian yang dibangun atas kayu yang tidak rusak dan ditempatkan di Bait Allah, sebagai gambaran dari tubuh Perawan Maria yang termurni, yang dijaga dan dibebaskan dari segala kerusakan kubur dan diangkat kepada kemuliaan surgawi…. mereka juga menjabarkan ia [Maria] sebagai Sang Ratu yang masuk dengan kemuliaan ke dalam ruang- ruang surga dan duduk di sisi kanan Sang Penebus Ilahi…. (MD 26)

“..Keserupaan antara Bunda Allah dan Putera Ilahinya, dalam hal kemuliaan dan martabat tubuh dan jiwanya – keserupaan yang mencegah kita untuk berpikir bahwa sang Ratu surga terpisah dari Sang Raja surga- membuat  suatu keharusan bahwa Maria “harus berada hanya di mana Kristus berada”. (St. Bernardine of Siena, In Assumptione B. Mariae Virginis, Sermo 11.) Lagipula, adalah suatu yang masuk akal dan layak bahwa tidak hanya jiwa dan tubuh laki- laki saja, tetapi juga jiwa dan tubuh perempuan harus memperoleh kemuliaan surgawi….” (MD 33)

“Oleh karena itu, Bunda Tuhan yang terhormat, dari segala kekekalan digabungkan secara tersembunyi dengan Yesus Kristus …. akhirnya memperoleh sebagai puncak tertinggi dari segala haknya yang istimewa, bahwa ia harus dijaga agar bebas dari kerusakan kubur dan bahwa seperti Puteranya, setelah mengalahkan maut, ia dapat diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga, di mana sebagai Ratu, ia duduk di dalam kemegahan di sisi kanan Putera-Nya, Raja segala masa yang kekal (lih. 1 Tim 1:17, MD 40)

  • Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium:

“Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di Sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (LG 59)

  • Katekismus Gereja Katolik 966:
    KGK 966    “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG 59) Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.

Diskusi lebih lanjut

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab