[Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan berikut adalah tanggapan Lisa yang mewakili pandangan dari saudara/i kita dari gereja Protestan, yang mengajukan keberatan mereka terhadap ajaran Bapa Gereja dan Gereja Katolik]
Pertanyaan:
kalau demikian juga Yudas Iskariot adalah Murid Tuhan YESUS, atau rasul Dan Gehazi adalah bujang Elia Namun apa yang menjamin “status” mereka? Keduanya bukan hanya salah, melainkan mengambil keuntungan dari statusnya
Daud, kurang dekat apa lagi sama TUHAN? bisa jatuh dalam dosa? Alkitab menyatakan bisa Sepanjang itu manusia, tanpa mengurangi rasa hormat Hanya Tuhan Yesuslah yang menjadi DASAR PONDASI IMAN KRISTIANI
Paulus sendiri menegaskan demikian
1Co 1:12 Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan KRISTUS.
1Co 1:13 Adakah KRISTUS terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?
Mengenai pandangan Bapak Gereja yang sudah coba telaah dari Firman Tuhan, bukan bermaksud kurang ajar, tapi saya hanya membahasnya dari Kebenaran Firman Tuhan. Dan “kritik” saya terhadap Bapak Gereja itu, adalah pencitraan Bunda Maria, hampir sama seperti Tuhan, padahal dia adalah manusia biasa, sama seperti saya dan semua orang yang pernah dilahirkan dari benih manusia. Dan mengenai tugas pengembalaan yg diberikan , apaka termasuk termasuk untuk mencitrakan Bunda Maria seperti Tuhan? Kalau tidak seperti Tuhan mengapa berdoa kepada nya? (masa manusia berdoa kepada sesama manusia?)
Disalah satu tulisan di situs ini yg menuliskan tentang Tradisi dan Megisterium tertulis demikian:
Tulisan para Bapa Gereja inilah yang dijadikan dasar oleh Magisterium Gereja Katolik untuk mengartikan bahwa ayat Luk 10:16 tersebut secara khusus mengacu kepada para rasul dan para penerusnya, yaitu para Uskup, yang kemudian dibantu oleh para imam dan diakon.
Walau ketiga misi KRISTUS sebagai imam, nabi (yang mengajar), dan raja (yang memimpin dengan melayani) diberikan kepada semua umat oleh rahmat Pembaptisan, dan ini disebut sebagai peran imamat bersama; namun secara khusus, KRISTUS juga menginginkan adanya peran imamat tertahbis. Hal ini kita ketahui dari Kitab Suci dan ajaran para rasul dan para Bapa Gereja tersebut. Dalam peran imamat bersama, memang semua umat beriman harus melaksanakannya, namun hal imamat tahbisan bukanlah menjadi “hak” semua orang, namun hanya kepada orang-orang tertentu yang kepadanya dipercayakan panggilan ini dan yang dengan kesediaan penuh melaksanakannya.
Tanggapan saya:
Misi KRISTUS tidak pernah sebagai nabi, kenabian pada waktu itu diperankan oleh Yohanes Pembabtis, kemudian apa yang KRISTUS sampaikan berasal dari DIRINYA sendiri, sedangkan nabi menyampaikan pesan TUHAN kepada umat. Karena KRISTUS adalah TUHAN, tidak mungkin dalam ketuhanan-Nya ia menjadi nabi. Kitab Suci iya, ajaran Rasul tentang KRISTUS iya, tetapi para Bapak Gereja yang mengajarkan “pencitraan” Bunda Maria, secara Alkitabiah masih perlu dikualifikasikan. Alkitab adalah KEBENARAN TUHAN, mengenai KRISTUS YESUS saja, tidak ada tentang citra Bunda Maria diajarkan di Alkitab.
Tulisan yang lain menuliskan begini:
Gereja sebagai Tonggak Kebenaran terdiri dari tiga unsur, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium
Untuk memberitahukan rencana keselamatanNya, Allah berbicara pada GerejaNya melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiga hal ini adalah karunia Allah yang tidak terpisahkan untuk menyampaikan kebenaran melalui GerejaNya. Perlu kita ingat bahwa Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15).
Tanggapan saya:
Rencana keselamatanNya, bukan hanya diberitahukan, melainkan sudah digenapi
Dan dalam KEBENARAN FIRMAN tidak disebut mengenai Tradisi Suci dan Magisterium, sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran. Ketiga hal tersebut bisa dipisahkan, mana yang dari Tuhan, mana yang “buatan” manusia. Karena itu inti dari PROTEST-AN
Dilain tulisan mengenai hal yg sama dituliskan begini:
Di dalam Gereja, wahyu Allah dinyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Karena Kitab Suci dan Tradisi Suci berasal dari Allah, kita harus menerima dan menghormati keduanya dengan hormat yang sama.“Dengan demikian maka Gereja, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya (baik Tradisi maupun kitab suci) harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (Dei Verbum, 9). Jika kita membaca Kitab Suci, terutama di dalam hal iman dan moral, kita harus menempatkan pemahaman Magisterium Gereja di atas pemahaman pribadi, karena kepada merekalah telah dipercayakan tugas mengartikan Wahyu Allah secara otentik. Namun hal ini janganlah sampai mengurangi semangat kita untuk membaca Kitab Suci, karena Gereja mengajarkan kita agar kita rajin membaca Kitab Suci dan mempelajarinya, sebab melalui Kitab Suci kita dibawa pada ”pengenalan yang mulia akan KRISTUS” (Fil 3:8). St. Jerome mengatakan, bahwa jika kita tidak mengenal Kitab Suci, maka kita juga tidak mengenal KRISTUS.
Tanggapan saya:
Tradisi suci apa yang dari TUHAN YESUS?
Perjamuan kudus?
Luk 22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
Tradisi suci? Maksudnya tradisi yang menyucikan? Atau tradisi yang disucikan?
Atau baptisan?
Act 18:25 Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang YESUS, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes
Baptisan pertobatan?
Atau
Joh 1:33 Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
Baptisan Roh Kudus?
Apa semuanya itu bentuk tradisi suci?
Adalagi yang menuliskan begini:
adi, sebagai Tonggak Kebenaran, Gereja memiliki tiga unsur, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiganya merupakan pemenuhan janji Allah yang selalu mendampingi GerejaNya sampai kepada ’seluruh kebenaran’ (Yoh 16:12-13), yang senantiasa bertahan sampai akhir jaman. Mari kita bersyukur untuk pemenuhan janji Tuhan ini.
Tanggapan saya:
Tradisi suci tidak ada di Alkitab, Magisterium kalau untuk pencitraan Bunda Maria secara berlebihan, harusnya dapat mengacu kembali kepada Firman
Begini saja sis
Jika ada autokreksi dalam ketiga hal itu, mana yang akan digunakan sebagai kalibrasi koreksi?
Apakah Kitab Suci? Apakah Tradisi Suci? Apakah Magisterium?
Mari kita telaah satu persatu
Apakah kalau ada unsur “kesalahan” interprestasi atau manifestasi pada Kitab Suci? Apa yang
bisa mengkoreksinya?
Apakah tradisi suci? Bagaimana tradisi suci bisa mengkoreksinya?
Apakah Magisterium? Bagaimana Magisterium bisa mengkoreksinya?
Apakah tidak Kitab Suci yang dapat mengkoreksi “kesalahan” tersebut, karena kesalahan penafsiran terjadi akibat dari penafsiran Kitab Suci itu sendiri. Lalu bagaimana mengenai Tradisi Suci? Apakah Tradisi Suci bisa mengkoreksi dirinya sendiri? Apa harus dikoreksi oleh Magisterium? Bukankah Tradisi itu timbul dari penafsiran dari Kitab Suci? Berarti hanya Kitab Suci yang bisa mengkoreksi manifestasi yang keliru mengenai Tradisi Suci.
Begitu pula Magisterium, bukankan hanya Kitab Suci yang bisa mengkoreksi Magisterium
Apa Kitab Suci tidak bisa salah secara absolut? Ya karena berasal dari FIRMAN, yang tertuang di Kitab Suci. Apa Tradisi Suci tidak bisa salah secara absolut? Tidak, karena Tradisi Suci adalah “Turunan” dari Kitab Suci. Apa Magisterium tidak bisa salah secara absolut? Tidak, karena Magisterium adalah “Turunan” dari Kitab Suci berdasarkan interprestasi, ketika mencitrakan Bunda Maria secara berlebihan, disitu pangkal soalnya
Satulagi ditulis oleh situs ini mengenai Sola Scriptura:
Apakah Hanya Kitab Suci saja pegangan satu-satunya dalam iman kita Sola Scriptura ?
Pandangan yang mengutamakan “hanya Kitab Suci saja” (Sola Scriptura) atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, adalah pandangan yang menolak Tradisi Suci dan otoritas Gereja, dan hal ini tidak sesuai dengan pengajaran KRISTUS dan para rasul.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God) dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan secara lisan dari KRISTUS dan Roh Kudus kepada para rasul.((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9))Pengajaran yang bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri.
Tanggapan Saya:
sepertinya terjadi ambigu posisi sebagai penerima dan penyampai Firman atau sebagai penerima dan pelaku Firman
Saya contohkan begini
Seperti yang dialami Hosea
Hos 1:2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: “Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN.”
Apakah Firman itu untuk di sampaikan kembali untuk diikuti, sebagai insipirasi masif? Bukan kan, Firman itu merupakan perintah khusus hanya pada Hosea, sebagai suatu simbolisasi, bahwa persundalan kita sebagai orang percaya pun, tidak akan “mematahkan “ kesetiaan Tuhan. Namun persundalan itu akan membawa kutuk dan maut kelak, jika tidak kembali setia kepada Tuhan
Dalam hal ini, Apa yang harus disampaikan Lisan oleh Roh Kudus, sudah lengkap pada Alkitab, karena itulah untuk kasus per kasus peran Roh Kudus, adalah Inspirasi Khusus yang tidak bisa digeneralisasi
Kalau digeneralisasi menjadi sinkritisme dan mistis
Didalah katekismus yg dikutip oleh situs ini dituliskan:
Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:
Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).
Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.
Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci
Jika “Sola Scriptura” adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita baca dari Kitab Suci:
1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
Tanggapan saya:
Pengajaran rasul-rasul tentang apa? Tentang mereka sendiri yang harus dituruti? Tentang tradisi suci? (belum disepakati saat itu) Tentang Magisterium? (belum ada saat itu). Tentang Bunda Maria? (masih hidup pada saat itu) Tidak tentang semua diatas itu. Tetapi tentang pengajaran KRISTUS YESUS. Karena itu Sola Srciptura adalah sangat sesuai dengan Ajaran Kitab Suci. Yang tidak ada mengajarkan tradisi suci, magisterium dan bunda Maria. Karena tidak perlu, yang perlu dan penting; Hanya YESUS KRISTUS saja
Tentang Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan:
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)
2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran KRISTUS terekam dalam Kitab Suci.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh YESUS, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
Tanggapan saya:
pengertian ayat itu secara logika umum masuk akal
Mengapa?
Jangankan Tuhan YESUS Saya ambil contoh Gus Dur aja deh
Biografi Gus Dur, kalau mau ditulis detik demi detik, menit demi menit, bisa berjuta halaman
Kalau semua yang dilakukan Gus Dur dicatat secara presisi Karena itu Biografi Gus Dur hanya memuat hal2 yang penting, unik menurut penulisnya Alkitab bukanlah buku biografi Tuhan YESUS
Melainkan Buku Kehidupan karena dan oleh Tuhan YESUS Yang sangat penting2 saja yang ditulis
Kemudian tentang baik secara lisan yang diajarkan itu Pasti tentang KRISTUS YESUS
Bukan tentang Maria, Tradisi Suci dan Magisterium, yang baru muncul belakangan
Kalaupun hal tersebut dianggap penting Seperti yang sis katakan Roh Kudus akan secara eksplisit menyatakan di Alkitab, bahwa kita bisa berdoa kepada Bunda Maria yang adalah Bunda Allah
Tetapi tidak ada sama sekali ayat itu di Perjanjian Baru
Situs ini menulis:
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan YESUS yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.
Tanggapan saya:
Act 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan YESUS, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”
Ibu Ingrid..
Ayat itu berbicara contoh kepada jemaat, Contoh apa?
Act 20:34 Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.Contoh untuk tidak hanya berkumpul memuji Tuhan terus dan mengantungkan hidup dan kebutuhan keseharian pada jemaat lain yang kaya
Artinya apa ; ayat itu menegur jemaat untuk bekerja memenuhi kebutuhan sehari-harinya, dan membantu orang lain Bukan soal Tradisi Suci Walaupun mungkin perbuatan menolong orang lain itu ditradisikan, tapi sekali lagi bukan tradisi suci.
Situs ini menuliskan Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya :
Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa YESUS adalah sungguh- sungguh Tuhan.
Tanggapan saya:
Mengenai otoritas untuk menginterprestasikannya tidak terbatas pada rasul-rasul saja, namun konteksnya berbicara tentang kedewasaan rohani
Heb 5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
Untuk golongan yang masih butuh “susu” jelas mereka memang harus dibimbing agar suatu saat nanti bisa untuk “makanan keras”
Dan otoritas itu bukan bersifat primodial, dari Murid ke Murid ke Murid. Kalau begitu namanya bukan Kerajaan KRISTUS, melainkan Kerajaan Murid KRISTUS sebagaimana Rasul Paulus dulunya “rasul” dari seberang namun dipilih menjadi Rasul KRISTUS
Situs ini menulis KRISTUS memberikan otoritas kepada Gereja:
KRISTUS memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan KRISTUS oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, KRISTUS memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.
Tanggapan saya:
Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.Batu karang ini bagi Protest-an Adalah KRISTUS bukan Petrus
(ini sudah pernah dan sedang dibahas bukan?)
Dan tidak tertuang dengan jelas mengenai Magisterium
Joh 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, Penolong yang lain adalah Roh Kudus
Dan kalau magisterium itu bertentangan dengan Firman Tuhan bagaimana?
Situs ini menuliskan Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat: contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan KRISTUS sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut KRISTUS (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh KRISTUS dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran KRISTUS.
Tanggapan saya:
kalau mengenai Sunat bagi bangsa non Yahudi sudah dijelaskan oleh Rasul Paulus, tidak perlu, kan menjadi kasus besar sampai krisis, berarti ada mis koneksi di jemaat tersebut terhadap apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus
Dan kasus tersebut tidak bisa menjadi generalisasi bagi tegaknya magisterium,
apalagi mengenai pencitraan berlebihan kepada Bunda Maria, sampai dengan surat Apalagi penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa)
Situs ini menuliskan Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15) KRISTUS mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh KRISTUS untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.
Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan. KRISTUS itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (”when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.
Tanggapan saya:
KRISTUS tidak pernah mempercayakan gereja untuk mengajar dan menafsirkan semua Firman-Nya, gereja itu adalah jemaat atau mempelai KRISTUS. Karena itu KRISTUS sendiri yang mengajar mempelai-Nya melalui peran penolong lain yaitu Roh Kudus. The Word of God bukan tradisi tetapi FIRMAN ALLAH itu sendiri.
Situs ini menuliskan Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja: Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.
Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan KRISTUS dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damaskus pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthage (397) dan Chalcedon (451).
Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.
YESUS tidak mendirikan gereja yang berdasarkan pada Alkitab melainkan sebaliknya Gereja adalah Bunda dari Alkitab. YESUS yang memilih sendiri para rasul dan siapa yang akan memimpin gereja-Nya, Mat 16:18-19, YESUS memberikan kunci kerajaan surga kepada Petrus dan YESUS berjanji untuk menyertai gereja- Nya hingga akhir jaman (Mat 28:20).
Tanggapan saya:
Sekali lagi Ibu Inggrid yang baik, KRISTUS datang ke bumi bukan untuk mendirikan Gereja, gereja itu adalah kumpulan jemaat yang secara “dua arah” mengelola dirinya berdasarkan Roh & Kebenaran
Tradisi suci itu, tidak ada sebelum KRISTUS datang, adanya setelah berpuluhpuluh tahun ketika generasi Rasul KRISTUS tiada, karena bapak2 Gereja. Itu yang di protest oleh LUTHER. Sola Scriptura memang tidak sesuai dengan sejarah Gereja. Karena kalau mengikuti sejarah gereja. Yang sempat gelap itu. Saya setuju Karena Sola Scriptura melebihi sejarah Gereja yang sempat gelap itu sendiri.
Dan hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa Magisterium dan Tradisi Suci, melakukan penyimpangan yang tercatat pada sejarah Gereja. Dengan menghukum mati orang-orang demi kekuasaan atas nama Magisterium dan Tradisi Suci, yang mengatakan pengetahuan2 baru, karena takut kekuasaannya beralih. Dan magisterium membuka celah yang lebar untuk “monopoli” oleh gereja, bahwa jemaat awam tidak boleh membaca Alkitab secara langsung. Sejarah gereja yang gelap itu telah terukir, bukan karena tidak berdayanya Roh Kudus, namun karena manusia punya kecenderungan;
Power tends to corrupt, absolute power absolute corrupt. Karena itulah magisterium membuka celah bagi oknum gereja untuk mengukir sejarah “penyimpangan gereja”. Sehingga harus dicerahkan oleh kaum Protestan dan Humanis
Dan saya ingin menanggapi jg tulisan yang saya baca yg berbunyi demikian:
Karena gereja lah yang mengkanon KS, tentu gereja mengerti dan mengetahui konteks keseluruhan KS mulai dari kitab Kejadian s/d kitab Wahyu. Logika meneriakkan dalam diri setiap pembaca Kitab Suci bahwa bila kita percaya akan keuTuhan dan kebenaran isi KS sebagai Firman Tuhan, maka kita telah menaruh kepercayaan kepada yang mengadakan dan mengkanonkan Kitab Suci yaitu Gereja Katolik.
Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja
Doktrin sola scriptura sendiri tidak terdapat dalam Alkitab dan tidak pernah dikenal sebelum Martin Luther memperkenalkannya. Bagaimana mungkin mempercayai sebuah doktrin yang percaya penuh hanya kepada Alkitab bila doktrin seperti itu sendiri tidak terdapat dalam Alkitab ? Ini menyatakan bahwa ajaran tersebut telah berkontradiksi di dalam dirinya sendiri dan tidak dapat dipercaya. Suatu ajaran yang benar dan tertanam di dalam Alkitab dapat dipercaya, dan yang terjadi adalah sebaliknya. Alkitab sendiri telah membantah tuntutan doktrin sola scriptura dengan sangat tegas dan pasti, dan malah menunjukkan bahwa sola scriptura adalah buatan manusia ( Martin Luther ) dan tidak terdapat dalam Alkitab
Tangapan saya:
Saya sarankan sis untuk nonton DVD Marthin Luther
Tidak bisa sepihak saja kan. Justru buat saya pribadi Kontribusi Rasul Marthin Luther, membawa Kekristenan kepada “jalur-Nya”. Karena Rasul Marthin Luther, orang yang takut akan Tuhan, saleh dan diilhami untuk mengembalikan ajaran KRISTUS seperti semula. Mengenai perpecahan gereja tidak bisa disalahkan kepada Rasul Marthin Luther menginggat sejarah mencatan prilaku gereja waktu itu. Sepertinya justru gerejalah yang memecah diri nya dari KRISTUS
Sedangkan Rasul Martin Luther mengajak umat Kristen untuk mengembalikan diri kepada KRISTUS. Dengan Protesnya kepada ajaran Gereja yang semakin menyimpang. Apalagi penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa) ….
Suatu kekejian bagi kebenaran Firman Tuhan. Dan Rasul Martin Luther adalah suara Kenabian disaat yang gelap itu. Seperti nabi Elia ditenggah nabi-nabi Izebel.
Demikan segala pertanyaan datang dari saudara Protestan kepada Ibu, sebagai seorang Katolik bisakah ibu menjelaskan dan menjawab pertanyaan2 saya dan keberatan2 saya. Semua ini bukan maksud menguji iman Ibu atau menyerang Gereja Katolik tetapi didasari semangat untuk berbagi kebenaran. Saya ingin ibu dapat menjelaskan atau mempertanggungjawabkan ke Katolikan ibu kepada saya jika ibu berkenan. Mohon maaf yah ibu kalau2 tulisan ini dirasakan menyerang iman ibu. Tetapi saya akan berdoa bagi ibu agar ibu dapat menemukan kebenaranan sejati dalam TUHAN setelah diskusi bersama saya.
Salam Kasih
Jawaban:
Shalom Lisa,
Berikut ini saya menanggapi pernyataan anda (kutipan langsung pernyataan anda saya cetak dalam warna biru):
1. Anda mengatakan bahwa murid Yesus bisa salah dengan mengambil contoh Yudas Iskariot; atau orang yang terdekat dengan Tuhan- pun bisa salah seperti Nabi Daud. Ya memang benar demikian, Gereja Katolik juga mengakuinya. Maka, demikian juga halnya dengan Petrus dan para rasul lainnya: Ya benar mereka juga berdosa, namun Tuhan Yesus telah berjanji kepada Rasul Petrus, bahwa Ia akan mendirikan Gereja-Nya atas rasul Petrus, dan akan menjaganya sendiri sehingga alam maut tidak menguasainya, sehingga tidak mungkin sesat sampai akhir jaman (lih. Mat 16:18. Mat 28:19-20). Kepada Petrus, Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk menentukan apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan dalam hal iman dan moral, yang menjadi arti dari istilah “apa yang kauikat di dunia akan terikat di surga, apa yang kau lepas di dunia akan terlepas di surga.” (Mat 20: 19). Maka “hal tidak mungkin salah” ini hanya bersangkutan ketika Petrus (dan para penerusnya) mengajar dalam hal iman dan moral, dan tidak untuk diartikan bahwa sebagai manusia mereka tidak mungkin salah/ berdosa. Silakan membaca mengenai topik Infalibilitas ini di sini, silakan klik.
Mengenai ayat 1 Kor 1:12-13: memang benar pada saat itu Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus yang terpecah-pecah, tetapi ayat itu tidak untuk mengecilkan Kefas (Petrus) sebagai pemimpin Gereja yang ditunjuk oleh Yesus. Sebab faktanya, saat Paulus ber-kontak dengan Gereja para Rasul, yang dikunjunginya adalah Rasul Petrus, yang disebutnya sebagai Kefas (lih. Gal 1:16-19), sebab Rasul Paulus mengenali kedudukan istimewa Rasul Petrus yang ditandai dengan namanya.
2. Dan “kritik” saya terhadap Bapak Gereja itu, adalah pencitraan Bunda Maria, hampir sama seperti Tuhan, padahal dia adalah manusia biasa, sama seperti saya dan semua orang yang pernah dilahirkan dari benih manusia. Dan mengenai tugas pengembalaan yg diberikan, apakah termasuk untuk mencitrakan Bunda Maria seperti Tuhan? Kalau tidak seperti Tuhan mengapa berdoa kepada nya?
Sepengetahuan saya, tidak ada tulisan Bapa Gereja yang mencitrakan Bunda Maria sama seperti Tuhan. Silakan anda mengutip tulisan mana yang dimaksud, agar dapat kita diskusikan di sini. Sebab Gereja Katolik tidak pernah menganggap Bunda Maria sebagai Tuhan atau sama dengan Tuhan. Ini adalah anggapan yang sangat keliru. Maka tugas penggembalaan dari para Bapa Gereja tidak mungkin untuk mencitrakan Bunda Maria seperti Tuhan, sebab yang dikatakan oleh Bapa Gereja semua tentang Bunda Maria adalah untuk menunjukkan kebesaran Tuhan, (dan bukan malah mengurangi kemuliaan-Nya), dengan tindakannya untuk menguduskan ciptaan-Nya untuk melahirkan Kristus. Maria menjadi teladan/ model bagi kita semua, sebab kita dengan cara yang berbeda dipanggil juga untuk menghadirkan Kristus ke dunia. Maka kitapun dipanggil untuk hidup kudus seperti Bunda Maria, dan jika kita tahan uji dan setia mengasihi Tuhan, maka Tuhan menjanjikan bahwa kitapun akan beroleh mahkota kehidupan (lih. Yak 1:12), seperti Bunda Maria. Jadi Bunda Maria bukannya di-tuhankan, tetapi Tuhan mau menunjukkan kepada kita manusia, akan apa yang akan dikaruniakannya kepada kita (tentu dengan derajat yang berbeda dengan Bunda Maria) jika kita setia beriman kepada-Nya.
Beberapa contoh pengajaran Bapa Gereja tentang Maria adalah antara lain bahwa Maria adalah Hawa yang baru (terutama diajarkan oleh St. Irenaeus), Maria adalah Bunda Allah karena Yesus yang dilahirkannya adalah sungguh manusia namun juga sungguh Allah (St. Gregorius Nazianza dan St. Cyril dari Yerusalem), Maria dikandung tanpa noda (St. Ephraem, St. Agustinus), Maria adalah tetap perawan (St. Irenaeus, Tertullian, St. Agustinus, St. Jerome, St. Petrus Kristologus, St. Leo Agung, St. Yohanes Damaskus). Dari pengajaran ini manakah yang mencitrakannya sebagai Tuhan? Anda dapat saja mengkritik para Bapa Gereja, namun kalau saya boleh bertanya pada anda, kira-kira siapa yang dapat mengetahui lebih baik ajaran Kristus dan para rasul: kita yang hidup terpisah sekian generasi dengan para rasul ataukah para Bapa Gereja itu yang mempunyai hubungan dengan para rasul, entah sebagai murid mereka atau sebagai murid dari penerus mereka? Kita yang menafsirkan sendiri Alkitab berdasar pemahaman kita, atau para penerus Rasul Petrus yang kepadanya Kristus telah berjanji akan menghindari dari kesesatan, jika kita percaya, baik kita maupun para rasul sama-sama dibimbing Roh Kudus?
Mengenai definisi doa, Gereja Katolik mengambil definisi dari pengajaran St. Therese kanak-kanak Yesus, yang mengatakan (lihat KGK 2558-2559): “Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan“.
Dan karena Gereja Katolik mengajarkan bahwa di Surga, Allah dikelilingi oleh para kudus-Nya (lihat Why 4, 7) dan termasuk juga Bunda Maria sebagai Bunda Kristus dan Bunda Gereja (karena telah diberikan oleh Kristus sebagai Bunda kita semua para pengikut Kristus (lih. Yoh 19: 26-27)), maka dengan pandangan ke Surga ini, kita dapat memohon dukungan doa dari Bunda Maria agar kitapun dapat sampai ke surga. Kita mengetahui bahwa di surga para kudus mendoakan kita yang masih berziarah di dunia, dan Tuhan memang mengizinkan mereka untuk mendoakan kita, karena pada dasarnya ikatan kasih persaudaraan umat beriman dalam Kristus tidak terputus oleh maut (lih. Rom 8:38-39), karena Kristus telah mengalahkan kuasa maut. Namun tentu, pengantaraan doa Maria dan para kudus itu tidak dapat berdiri sendiri di luar Pengantaraan Kristus yang satu-satunya (1 Tim 2:4), dan selalu ada dalam kesatuan dengan Pengantaraan Kristus dan mendukung Pengantaraan Kristus kepada Allah Bapa. Sebab kita semua orang beriman adalah anggota Tubuh Kristus (Ef 5:22-33, 1 Kor 12:12), sehingga seperti Tubuh yang selalu dalam kesatuan dengan Kepalanya dan mendukung Kepalanya, maka demikianlah persekutuan para orang kudus selalu mendukung Kristus. Jadi kedudukan mereka tidak pernah sama dengan Tuhan Yesus, dan yang mengabulkan doa tetaplah Tuhan saja. Namun, para kudus itu memang dapat mendukung doa-doa kita, karena mereka adalah orang-orang yang sudah dibenarkan Tuhan dan telah bersatu dengan Tuhan di surga, dan karenanya, doa mereka besar kuasanya (Yak 5:16).
3. Anda tidak setuju akan ketiga misi Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja, mungkin karena anda memisahkan antara ketiganya, seolah Kristus adalah (hanya) Nabi saja atau Imam saja atau Raja saja. Sebab jika demikian, memang benar, Kristus tidak mungkin hanya Nabi, sebab Ia adalah Putera Allah. Namun sebagai Putera Allah bukan berarti Kristus tidak dapat menjalankan peran kenabi-an, bahkan sebaliknya, Ia melakukannya sampai ke tingkat yang sempurna. Maka yang dibicarakan di sini adalah misi-Nya sebagai gabungan sekaligus antara peran Nabi, Imam dan Raja dalam arti yang sempurna, tertinggi dan terbesar. Peran Yesus sebagai Nabi yang terbesar (lih. Luk 7:16) di sini maksudnya adalah Kristus memberitakan Kabar-Gembira Kerajaan Allah (lih. Luk 4:18-21), sebab Ia sendiri adalah penggenapan Kabar Gembira tersebut yang telah dinubuatkan para nabi (lih. Luk 4:21). Sebab Kristus tidak saja merangkum kesepuluh perintah Allah dalam perintah kasih kepada Allah dan sesama (lih. Mat 22:34-40; Mrk 12: 28-34; Luk 10:25-28), maupun delapan Sabda Bahagia (lih Mat 5:1-12, Luk 6:20-23), namun juga memberitakan kebenaran tentang Diri-Nya sendiri sebagai “jalan, kebenaran dan hidup” yang oleh-Nya semua orang sampai kepada Allah Bapa (Yoh 14:6). Peran Imam Agung di sini adalah peran Kristus sebagai penghubung/ Pengantara antara Allah dan manusia, untuk menguduskan umat-Nya, yang mencapai puncaknya dengan kurban diri-Nya sendiri di kayu salib untuk mendamaikan menusia dengan Allah (lih. Ibr 2:17; 3:14-16; 5:5-10; Ibr 7 dan 8). Dan peran Raja di sini maksudnya adalah Kristus yang menjadi Raja/ pemimpin atas segala sesuatu baik di surga maupun di bumi (lih. Luk 19:38; 1 Kor 15:28; Yoh 12:32; Flp 2:10), yang kemuliaan-Nya diperoleh dari merendahkan Diri-Nya menjadi manusia, dalam rupa seorang hamba, yang taat sampai mati di kayu salib. Maka misi Kristus sebagai Nabi, Iman dan Raja mempunyai dasar Alkitabiah.
Setelah kenaikan-Nya ke surga, ketiga peran Kristus ini memang dibagikan kepada para murid-Nya, yaitu kita semua. Sebagai ‘nabi’, kita dipanggil untuk menerima Injil, dan mewartakannya dengan perkataan dan perbuatan, dan untuk menyinari kehidupan kita sehari-hari dengan terang Injil. Sebagai ‘imam’, kita dipanggil untuk mempersembahkan segala doa dan perbuatan kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan. Dan sebagai ‘raja’, kita dipanggil untuk selalu berjuang untuk melawan kuasa dosa, dan untuk melayani sesama seperti teladan Kristus.
Jadi harap dimengerti di sini bahwa misi kenabian Yesus bukan untuk diartikan bahwa Yesus hanyalah seorang nabi. Ini pengertian yang keliru! Gereja Katolik mengajarkan bahwa sebagai Putera Allah, Kristus menjalankan ketiga peran sebagai Nabi, Imam, dan Raja dalam tingkat yang sempurna, dan ketiga peran ini tidak untuk dilihat terpisah satu sama lain, tetapi bersama-sama membentuk satu kesatuan misi Kristus.
4. Alkitab adalah KEBENARAN TUHAN, mengenai KRISTUS YESUS saja, tidak ada tentang citra Bunda Maria diajarkan di Alkitab….. Rencana keselamatanNya, bukan hanya diberitahukan, melainkan sudah digenapi. Dan dalam KEBENARAN FIRMAN tidak disebut mengenai Tradisi Suci dan Magisterium, sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran. Ketiga hal tersebut bisa dipisahkan, mana yang dari Tuhan, mana yang “buatan” manusia. Karena itu inti dari PROTEST-AN.
Kalau anda percaya akan Alkitab, anda seharusnya percaya akan ayat yang saya sampaikan bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1Tim 3:15). Alkitab di sini jelas menyatakannya bahwa yang menjadi dasar kebenaran bukan Alkitab itu sendiri melainkan Gereja. Sebab oleh Gereja-lah Alkitab itu ada. Maka kita tidak dapat menutup diri akan kebenaran ini bahwa Gereja sudah ada lebih dahulu dari Alkitab, dan Alkitab tidak terpisahkan dari Gereja. Alkitab diberikan kepada Gereja, dan Gereja-lah yang berhak untuk menginterpretasikannya. Itulah sebabnya jika Alkitab diberikan kepada orang lain yang tak beriman kepada Yesus, mereka dapat menginterpretasikannya dengan sangat keliru, walau mereka membaca Alkitab yang sama.
Maka di sini peran Tradisi Suci dan Magisterium adalah penting dan tak terpisahkan dari Kitab Suci. Tradisi Suci itu ada dalam Kitab Suci, yaitu ketika Rasul Paulus mengajarkan, “sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” (2 Tes 2:15). Ajaran lisan dari para rasul inilah yang yang disebut sebagai Tradisi Suci. Memang perkataan eksplisit Tradisi Suci tidak ada dalam Alkitab, tetapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa pengertian tersebut ada dan diajarkan dalam Kitab Suci, seperti halnya kata Inkarnasi dan Trinitas tidak ada di dalam Kitab Suci namun kita mengetahui maksudnya dan prinsip ajarannya tertulis di dalam Alkitab.
Sedang Magisterium yang artinya adalah Wewenang Mengajar itu juga diajarkan di dalam Kitab Suci, di mana Kristus mempercayakan para rasul-Nya untuk mengajar, dan menggembalakan kawanan umat-Nya; dan terutama perintah ini diberikan kepada Petrus yang ditunjuk Kristus sebagai batu karang tempat Ia mendirikan Gereja-Nya (Mat 16:18; Yoh 21:15-19). Secara khusus topik ini akan saya bahas di artikel terpisah. Namun untuk pengertian umum Magisterium, silakan klik di sini.
5. Tradisi suci apa yang dari TUHAN YESUS?
Maka mengambil pengertian dari 2 Tes 2:15 tersebut, maka Tradisi Suci adalah pengajaran lisan para rasul yang mereka peroleh dari Kristus ataupun dari Roh Kudus. Termasuk beberapa yang penting adalah:
1. Perjamuan Kudus (yang disebut Ekaristi) dan kehadiran Yesus yang nyata di dalam Ekaristi. Tentu dasarnya adalah Kitab Suci seperti yang disebutkan dalam Mat 26:20-29; Mrk 14:17-25; Luk 22:14-23; 1 Kor 11:23-25; Yoh 6:25-59), namun tata cara ibadahnya diperoleh dari ajaran para Bapa Gereja, yang mereka terima dari para rasul. Namun jika kita mempelajari tulisan Bapa Gereja kita akan tahu bahwa bahkan urutan ibadah jemaat awal itu sangat menyerupai Misa Kudus di dalam Gereja Katolik yang sekarang. Silakan anda membaca sejarah tentang Ekaristi, silakan klik, dan pengertian Ekaristi, silakan klik.
2. Pembaptisan, makna dan pentingnya bagi keselamatan. Diskusi mengenai Pembaptisan ini sudah pernah dibahas panjang lebar di situs ini, silakan klik.
3. Persekutuan orang kudus yang tak terpisahkan oleh maut. Diskusinya pernah dituliskan di sini, silakan klik dan di sini, silakan klik
4. Peran Bunda Maria dalam rencana keselamatan, yang dapat dibaca di artikel-artikel:
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria mengambil peran istimewa di dalam Keselamatan manusia, sebab ia bekerja sama dengan Allah untuk mendatangkan Kristus Sang Penyelamat di dunia. Untuk tujuan ini, Allah mempersiapkan Bunda Maria secara khusus: Ia dikandung tanpa noda, ia tetap perawan selamanya, karena tugasnya sebagai Bunda Allah. Setelah Bunda Maria menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, Ia diangkat ke surga, jiwa dan raganya untuk masuk ke dalam kemuliaan surga. Ia menjadi teladan iman kita dan mendukung Pengantaraan Kristus untuk membawa manusia kepada Allah
dan Tanya Jawab di situs ini:
Tanggapan mengenai ajaran Bapa Gereja tentang Maria= Hawa baru – Jan 15, 2010
Sekali lagi kesalahpahaman tentang Bunda Maria – Jan 15, 2010
Apakah umat Katolik harus berdoa melalui Bunda Maria? – Dec 7, 2009
Tentang Maria diangkat ke Sorga dan Maria adalah Ratu Sorga – Sep 16, 2009
Sejak kapan Protestan percaya bahwa Bunda Maria adalah orang kudus? – Aug 19, 2009
Pertanyaan sdr/i Protestan tentang ajaran Katolik mengenai Bunda Maria – Jun 17, 2009
Apa dasar ajaran Gereja Katolik: Bunda Maria diangkat ke surga? – Jun 9, 2009
Apakah ajaran Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja ada dalam Alkitab? – Jun 5, 2009
Bunda Maria sama saja dengan tokoh Alkitab yang lain? – May 30, 2009
Maria adalah perempuan yang disebutkan di dalam Kitab Kejadian – Dec 27, 2008
Bagaimana mungkin Maria dikandung tanpa noda? – Dec 27, 2008
Penghormatan terhadap Maria, Santa dan Santo – Dec 23, 2008
5. Purgatory/ Api Penyucian, dasar Alkitabnya dan pengajaran Bapa Gereja, silakan klik
6. Kristus mendirikan GerejaNya di atas Rasul Petrus, (mohon kesabarannya untuk artikel khusus mengenai hal ini) sebagai sakramen keselamatan.
7. Sakramen- sakramen yang diinstitusikan oleh Tuhan Yesus, seperti yang sudah pernah dibahas di situs ini.
Liturgi tak perpisahkan dengan sakramen. Ada 7 sakramen dalam Gereja Katolik. Dari tujuh sakramen Gereja, 3 yang pertama – Baptis, Ekaristi (1, 2, 3), Penguatan – adalah sakramen inisiasi yang menjadi sakramen-sakramen dasar bagi kehidupan orang Kristen. Sakramen Urapan Orang Sakit dan Sakramen Tobat (bagian 1, 2, 3, 4), diberikan untuk kesembuhan baik fisik maupun rohani. Dan akhirnya, Sakramen Perkawinan (bagian 1, 2) dan Imamat diberikan untuk menguatkan kita dalam menjalankan misi di dunia ini dalam mencapai tujuan akhir, yaitu Kristus.
6. …Bukankah Tradisi itu timbul dari penafsiran dari Kitab Suci? Berarti hanya Kitab Suci yang bisa mengkoreksi manifestasi yang keliru mengenai Tradisi Suci Begitu pula Magisterium, bukankan hanya Kitab Suci yang bisa mengkoreksi Magisterium. Apa Kitab Suci tidak bisa salah secara absolut? Ya karena berasal dari FIRMAN, yang tertuang di Kitab Suci. Apa Tradisi Suci tidak bisa salah secara absolut? Tidak, karena Tradisi Suci adalah “Turunan” dari Kitab Suci. Apa Magisterium tidak bisa salah secara absolut? Tidak, karena Magisterium adalah “Turunan” dari Kitab Suci berdasarkan interprestasi, ketika mencitrakan Bunda Maria secara berlebihan, disitu pangkal soalnya
Agaknya pemahaman anda berbeda dengan ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Tradisi Suci adalah “Turunan” dari Kitab suci. Tradisi Suci bukan sesuatu yang ada sebagai akibat dari Kitab Suci, melainkan sebaliknya, Tradisi Suci sudah ada terlebih dahulu dari Kitab Suci, dan inilah yang seharusnya secara obyektif anda ketahui, karena sejarah dan akal sehat menunjukkan demikian. Karena Kitab Suci tidak langsung turun dari surga tetapi dituliskan oleh orang-orang pilihan Allah atas ilham Roh Kudus. Namun pada jaman para rasul banyak sekali orang yang menulis kitab-kitab bahkan yang menyampaikan ajaran yang bertentangan dengan ajaran Kristus, seperti ajaran Gnostik dan Docetisme. Oleh karena itu, Tradisi Suci yang disampaikan oleh Bapa Gereja-lah yang menentukan keempat Injil: yaitu yang ditulis oleh Rasul Kristus (Matius dan Yohanes) dan murid dari Rasul Kristus (Markus- murid Petrus, dan Lukas- murid Paulus). Tradisi Suci pulalah yang menentukan kitab-kitab lainnya, yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, untuk dijadikan bagian dari Kitab Suci. Jadi di sini, jelas oleh Tradisi Sucilah, Kitab Suci dilahirkan. Kalau Tradisi Suci adalah sumber tulisan para Bapa Gereja, Magisterium adalah orang-orangnya yang menentukan, yaitu Paus dan para Uskup dalam kesatuan dengannya.
Saya sudah memberikan ketiga definisi (Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium) pada artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan bagian 3, sesungguhnya jelas bahwa ketiganya berpusat pada Kristus. Tradisi Suci memang diperlukan untuk melengkapi penjelasan Kitab Suci, namun bukan berarti kurang penting dari Kitab Suci. Sedangkan Magisterium itu ada untuk melayani Kitab Suci, yaitu agar umat dapat memperoleh pengertian yang benar tentang ajaran yang ada dalam Kitab Suci.
7. Mengomentari definisi Tradisi Suci sebagai ajaran lisan dari Kristus dan para rasul, anda berkata demikian: Sepertinya terjadi ambigu posisi sebagai penerima dan penyampai Firman atau sebagai penerima dan pelaku Firman. Anda mengambil kasus Hosea 1:2 sebagai contoh.
Terus terang saya tidak mengerti mengapa anda mengambil contoh tersebut untuk menjelaskan keberatan anda. Tentang Hosea 1:2, umat Katolik-pun setuju, itu adalah kisah nabi Hosea, yang diperintahkan oleh Tuhan untuk mengajar umat Israel dengan menjadikan dirinya dan wanita sundal yang dinikahinya sebagai contoh yang mewakili Tuhan dan bangsa Israel yang ‘sundal’ di mata Tuhan. Maka Tuhan memerintahkan Nabi Hosea untuk menjadi suami yang setia, meskipun istrinya mengkhianati, untuk mengajarkan bahwa Tuhan selalu setia, walaupun bangsa pilihan-Nya mengkhianatinya. Namun yang disampaikan secara lisan di sini adalah perkataan Tuhan sendiri kepada Hosea, dan bukan ini maksud dari Tradisi Suci. Tradisi Suci adalah ajaran lisan dari Kristus Sang Sabda, yang perkataan dan teladan-Nya tak terbatas oleh buku (lih. Yoh 21:25). Pengajaran dan teladan Kristus inilah yang diajarkan secara lisan dan tulisan oleh para rasul: ajaran yang tertulis termasuk dalam Kitab Suci, sedangkan yang tidak tertulis termasuk dalam Tradisi Suci.
8. Dari pertanyaan anda, anda mempertentangkan Tradisi Suci dan Magisterium dengan Kitab Suci, dan bahkan memperkirakan bahwa para Bapa Gereja itu ‘mengarang’ tentang diri mereka sendiri, dan ini tidak benar. Anda menulis: Pengajaran rasul-rasul tentang apa? Tentang mereka sendiri yang harus dituruti? Tentang tradisi suci? (belum disepakati saat itu) Tentang Magisterium? (belum ada saat itu) Tentang Bunda Maria? (masih hidup pada saat itu) Tidak tentang semua diatas itu. Tetapi tentang pengajaran KRISTUS YESUS. Karena itu Sola Scriptura adalah sangat sesuai dengan Ajaran Kitab Suci. Yang tidak ada mengajarkan tradisi suci, magisterium dan bunda Maria. Karena tidak perlu, yang perlu dan penting; hanya YESUS KRISTUS saja.
Tradisi Suci ada saat Yesus mulai mengajar, karena Tradisi Suci itu artinya ajaran lisan dari Yesus maupun dari para rasul. Tentang Magisterium juga sudah ada sejak Rasul Petrus ditunjuk oleh Yesus sebagai batu karang tempat Gereja-Nya didirikan, dan ia diberi wewenang untuk mengajar (Mat 16:18-19) yang dimanifestasikan pada hari Pentakosta pada saat Rasul Petrus mulai memimpin dan mengajar Gereja (lih. Kis 2:14-).
Mengenai Kis 20:35 yang saya kutip sebagai contoh peran Tradisi Suci maksudnya adalah karena perkataan lisan Yesus yang dikutip di sana: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” itu tidak tertulis di ke- empat Injil. Jadi hal itu menunjukkan bahwa ada ajaran Yesus yang tidak sempat ditulis di Injil, namun yang kemudian diteruskan oleh para rasul, dan inilah definisi dari Tradisi Suci. Jadi maksudnya bukan “perbuatan memberi” itu yang disebut Tradisi Suci, tetapi perkataan Yesus yang lisan itu yang tidak tertulis di Injil itulah yang disebut Tradisi Suci. Bahwa kemudian ajaran lisan ini dituliskan dan menjadi bagian dari Kitab Suci dalam Kisah para Rasul, itu menyatakan bahwa: 1) Ada perkataan- perkataan lisan Yesus yang tidak tertulis dalam Injil, dan baru diajarkan kemudian oleh para rasul; 2) dengan demikian Kitab Suci itu tidak terpisahkan dari Tradisi Suci demikian pula sebaliknya.
9. Mengenai otoritas untuk menginterprestasikannya tidak terbatas pada rasul-rasul saja, namun konteksnya berbicara tentang kedewasaan rohani (Heb 5:12) Untuk golongan yang masih butuh “susu” jelas mereka memang harus dibimbing agar suatu saat nanti bisa untuk “makanan keras.”
Dari ucapan ini, sepertinya tersirat bahwa anda mengatakan bahwa otoritas menginterpretasikan Kitab Suci hanya diperlukan bagi umat yang masih ‘minum susu’ dan belum bisa makan ‘makanan keras’. Jadi kalau mau ditarik lebih jauh, seolah anda ingin mengatakan bahwa yang “sudah bisa makan makanan keras” tidak perlu otoritas, atau yang masih perlu otoritas adalah yang masih “lemah”. Ini sebenarnya tidak benar, sebab jika anda bandingkan sendiri, otoritas Gereja Katolik, yang justru demi mempertahankan ajaran Kitab Suci dan pengajaran para rasul, mengajarkan ajaran moral yang ‘keras’, contohnya seperti larangan kontrasepsi, larangan aborsi untuk alasan apapun, larangan perkawinan sesama jenis, larangan euthanasia. Sekarang sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian gereja-gereja Protestan mulai memperbolehkan hal- hal tersebut, terutama di Amerika.
10. Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Batu karang ini bagi Protest-an adalah KRISTUS bukan Petrus.
Gereja Katolik berdasarkan pengajaran Bapa Gereja mengajarkan bahwa Batu Karang itu dapat diartikan sebagai keduanya: Petrus (arti literal) dan iman Petrus (arti figuratif/alegoris) yang menyebabkan Tuhan Yesus memilihnya. Jika kita membaca tulisan Bapa Gereja, kedua arti ini muncul, dan para Bapa Gereja yang mengartikan figuratif juga tidak pernah menolak arti literalnya, bahwa “Batu Karang/ Kefas” tersebut tetap ditujukan kepada Rasul Petrus. Jadi memilih arti figuratifnya saja tanpa menerima arti literal/ harafiahnya sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran para Bapa Gereja. Padahal interpretasi demikian begitu konsisten diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak abad- abad awal, dan sesuai dengan bukti sejarah yang ada. Menolak interpretasi ini sama saja menganggap bahwa ajaran para rasul dan Bapa Gereja itu salah, dan menolak fakta sejarah. Sekali lagi, diperlukan kerendahan hati untuk memeriksa diri, adakah kita lebih memahami daripada para rasul dan Bapa Gereja dalam hal ini?
Saya akan menuliskan sendiri mengenai topik ini di artikel terpisah.
11. Yoh 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, Penolong yang lain adalah Roh Kudus. Dan kalau magisterium itu bertentangan dengan Firman Tuhan bagaimana?
Jika anda mempelajari ajaran Magisterium Gereja Katolik dengan sikap yang lebih terbuka, maka anda akan mengetahui bahwa Magisterium Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Silakan melihat pengajaran Konsili Vatikan II yang kami sediakan di situs ini, dan anda akan melihat banyaknya acuan ayat Kitab Suci yang dipakai sebagai dasar ajaran Magisterium Gereja Katolik, dan tidak ada pertentangan di dalamnya. Silakan anda membacanya.
12. Kalau mengenai Sunat bagi bangsa non Yahudi sudah dijelaskan oleh Rasul Paulus, tidak perlu, kan menjadi kasus besar sampai krisis, berarti ada mis koneksi di jemaat tersebut terhadap apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus. Dan kasus tersebut tidak bisa menjadi generalisasi bagi tegaknya magisterium, apalagi mengenai pencitraan berlebihan kepada Bunda Maria, sampai dengan surat Apalagi penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa).
Jika anda hidup pada jaman para rasul, anda akan mengetahui bahwa kasus sunat pada saat itu merupakan kasus yang besar dan penting. Keadaan Gereja awal memang tidak bisa disamakan dengan keadaan Gereja sekarang, namun pada saat itu, konflik yang terjadi tentang perlu tidaknya umat bangsa lain (non- Yahudi) disunat, itu merupakan sesuatu yang penting untuk ditentukan. Dan fakta menunjukkan bahwa Rasul Petruslah yang mengakhiri soal tersebut dengan perkataannya di Sidang Yerusalem yang menyatakan tidak perlu-nya sunat bagi bangsa-bangsa lain yang mau menjadi pengikut Kristus (lih. Kis 15). Ini adalah bukti bahwa di dalam Kitab Suci, Magisterium (yaitu Petrus dan para uskup dalam persekutuan dengannya) mempunyai wewenang mengajar dalam Gereja.
Mengenai pengajaran mengenai Maria, telah saya sebutkan link-nya di atas, dan tentang Indulgensi pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Seandainya anda menerima otoritas pengajaran Bapa Gereja, maka tidak sulit untuk menerima ajaran mereka, sebab semua ada dasarnya dari Kitab Suci.Mengenai penjualan surat Indulgensia, itu sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
13. KRISTUS tidak pernah mempercayakan gereja untuk mengajar dan menafsirkan semua Firman-Nya, gereja itu adalah jemaat atau mempelai KRISTUS. Karena itu KRISTUS sendiri yang mengajar mempelai-Nya melalui peran penolong lain yaitu Roh Kudus. The Word of God bukan tradisi tetapi FIRMAN ALLAH itu sendiri.
Jika anda merenungkan kembali ayat Mat 28:19-20, maka anda akan mengetahui bahwa tugas mengajarkan segala perintah-perintah-Nya kepada segala bangsa dipercayakan oleh Kristus kepada para rasul, dan itulah awal mula Gereja. Jadi tidak benar pernyataan anda bahwa Kristus tidak pernah mempercayakan Gereja untuk mengajar dan menafsirkan Firman-Nya. Benar bahwa Gereja adalah mempelai Kristus dan Tubuh Kristus. Dan memang Kristus mengajar mempelai-Nya dengan kuasa Roh Kudus. Namun justru untuk menjaga agar Tubuh-Nya selalu ada dalam kesatuan dengan-Nya, maka Kristus memberikan otoritas kepada Magisterium yang dipimpin oleh Roh Kudus-Nya, untuk ‘mengikat dan melepaskan’ (lih. Mat 16:19) dalam hal iman dan moral, sesuai dengan ajaran-Nya. Jika anda menolak Magisterium, itu seolah anda mau mengatakan bahwa Magisterium itu tidak dipimpin oleh Roh Kudus, dan tiap orang yang menafsirkan Kitab Suci seturut pemahaman pribadi-nya itulah ‘yang dibimbing oleh Roh Kudus’. Namun faktanya, private interpretation ini menghasikan begitu banyaknya denominasi dalam gereja Protestan. Suatu permenungan adalah apakah dengan demikian pemahaman tiap-tiap orang itu sungguh dari Roh Kudus? Sebab mengapa jika Roh Kudusnya sama, pemahamannya berbeda-beda?
The Word of God itu Firman Allah, Gereja Katolik juga mengajarkan demikian. Namun penyampaiannya kepada kita adalah dengan dua cara: tertulis oleh inspirasi Roh Kudus, seperti yang ada dalam Kitab Suci; dan secara lisan, yaitu yang dikatakan oleh Yesus dan para rasul yang kemudian diteruskan (secara tertulis) oleh para Bapa Gereja oleh terang Roh Kudus.
14. KRISTUS datang ke bumi bukan untuk mendirikan Gereja, gereja itu adalah kumpulan jemaat yang secara “dua arah” mengelola dirinya berdasarkan Roh & Kebenaran. Tradisi suci itu, tidak ada sebelum KRISTUS datang, adanya setelah berpuluhpuluh tahun ketika generasi Rasul KRISTUS tiada, karena bapak2 Gereja. Itu yang di protest oleh LUTHER.
Anda rupanya mempunyai definisi dan pengertian yang berbeda tentang Gereja dan Tradisi Suci. Yang membentuk Gereja adalah Kristus sendiri (lih Mat 16:18), walaupun anggotanya adalah semua umat beriman. Maka Gereja adalah pertama-tama karunia pemberian dari Allah dan terbentuk atas inisiatif Allah, dan bukannya manusia sendiri yang bisa mendirikannya, lalu mengatakan itu dari Tuhan. Justru karena didirikan pertama-tama oleh Allah, maka kita harus berusaha mengikuti kehendak Allah dan bukannya menjadikan Gereja sesuai dengan kehendak kita sendiri. Oleh karena itu, St. Agustinus mengajarkan bahwa Gereja yang sejati dikenali dari jalur apostolik, karena itu membuktikan kesetiaan mereka terhadap Tradisi para rasul yang mereka terima dari Kristus.
Tradisi Suci adalah ajaran lisan dari Yesus dan para rasul yang kemudian diteruskan oleh para Bapa Gereja dan Magisterium Gereja Katolik. Jadi tidak benar bahwa Tradisi Suci itu tidak ada sebelum Kristus datang. Para Bapa Gereja itulah yang menghubungkan kita dengan pengajaran para rasul, sehingga kita tidak dapat menyepelekan ajaran mereka. Ibaratnya kalau anda ingin mengenal kakek moyang anda dengan lebih baik, cara yang terbaik adalah dengan mencari informasi dari orang-orang yang mengenal kakek moyang anda yang hidup pada saat ia masih hidup, atau kepada orang- orang terdekatnya yang menuliskan tentang dia dalam surat/ buku harian mereka, daripada anda yang terpisah sekian generasi menutup diri dari semua informasi tersebut, dan mencoba ngira-ngira sendiri apakah yang pernah diajarkannya berdasarkan berita sejarah keluarga yang sampai kepada anda.
15. Sola Scriptura memang tidak sesuai dengan sejarah Gereja …… Karena Sola Scriptura melebihi sejarah Gereja yang sempat gelap itu sendiri. Dan hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa Magisterium dan Tradisi Suci, melakukan penyimpangan yang tercatat pada sejarah Gereja.
Jika ada penyimpangan di masa lalu, itu adalah karena penyimpangan pelaksanaan dari ajaran Magisterium, namun bukan dari ajaran Magisterium-nya atau Tradisi Suci-nya yang salah. Silakan anda menyebutkan topiknya yang anda pikir menyimpang, mari kita diskusikan lebih lanjut tentang hal ini secara terpisah. Sola Scriptura/ “Kitab Suci saja” bukan merupakan ajaran Kristus dalam Kitab Suci, sebab tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang menyatakan demikian. Agaknya kita harus membedakan di sini, bahwa Tradisi Suci dan Kitab Suci bukan sejarah, dan karenanya memang tidak untuk disejajarkan dengan sejarah.
16. Rasul Martin Luther, membawa Kekristenan kepada “jalur-Nya”. Karena Rasul Marthin Luther, orang yang takut akan Tuhan, saleh dan diilhami untuk mengembalikan ajaran KRISTUS seperti semula. Mengenai perpecahan gereja Tidak bisa disalahkan kepada Rasul Martin Luther menginggat sejarah mencatat prilaku gereja waktu itu, Sepertinya justru gerejalah yang memecah diri nya dari KRISTUS….
Pandangan bahwa Martin Luther membawa Kekristenan ke jalur-Nya adalah pandangan anda sebagai umat Protestan. Namun ini tidak menjadi pandangan Gereja Katolik. Sebab sesungguhnya, pembaharuan Gereja tetap dapat dilakukan dari dalam Gereja, seperti yang ditunjukkan oleh banyak para Santo dan Santa, dan bukannya dengan cara memisahkan diri dari kesatuan Gereja. Gereja mempunyai dimensi ilahi/rohani dan jasmani, sebagai Tubuh Mistik Kristus (yang tak kelihatan) namun juga terlihat dalam struktur/ hirarki yang terdiri dari orang- orang yang berdosa. Maka dari sisi ilahinya, Gereja itu kudus karena Kepalanya, Yesus, adalah kudus. Walau dari sisi jasmaninya, Gereja memerlukan pertobatan yang terus menerus, karena terdiri dari orang- orang yang berdosa. Dalam sejarah memang Gereja tidak selalu mulus, karena faktor orang-orang yang berdosa yang ada di dalamnya, namun itu tidak berarti bahwa Gereja memisahkan diri dari Kristus. Gereja Katolik ada karena Kristus yang mengadakan-Nya, dan kenyataannya walau sudah mengalami saat-saat yang sangat sulit sekalipun namun masih bertahan sampai sekarang (2000 tahun), itu adalah pemenuhan janji Kristus sendiri (Mat 16:18).
Sayangnya, kita tidak dapat mengubah fakta sejarah, karena kenyataannya Luther telah melepaskan diri dari kesatuan penuh dengan Gereja Katolik di abad ke 16. [Dalam hal ini, biarlah Tuhan yang paling memahami situasi pada saat itu, yang menilai pihak-pihak yang tidak bijak dalam hal ini]. Dan setelah Luther, ada banyak orang lain yang mengikuti jejaknya dan mendirikan gereja- gereja mereka sendiri. Ini adalah suatu fakta yang memprihatinkan, oleh karena itu kita perlu terus berdoa untuk persatuan Gereja, seperti yang menjadi doa Yesus sendiri sesaat sebelum sengsara-Nya (lih. Yoh 17).
Demikian komentar saya. Saya mengusulkan jika anda ingin mengajukan argumen, pilihlah satu topik saja, supaya terlalu panjang dan menjadi tidak fokus. Saya rasa itu akan menjadi bahan diskusi yang lebih baik daripada terlalu melebar kemana- mana. Mari kita selalu mengingat bahwa di samping perbedaan-perbedaan kita, kita memiliki persatuan yang jauh lebih penting, sebab kita sama-sama mengimani Tuhan Yesus Kristus, Juru Selamat dan Penebus kita.
Shallom… sy mgkn plg junior d sni krn msh 17 thn, jd sy sblmnya mohon maaf jika ad pkataan atau komentar sy yg kurang tpat.
sy mrasa ttarik dgn situs ini meski situs ini adalah situs katolik smentara sy sndiri dilahirkan d keluarga protestan yg sy jg mrasa sdikit byk berbeda dgn denominasi kristen yang lainnya, krn dlm cukup byk hal mndekati katolik tmasuk ajaran dan tata cara, kecuali ttg Bunda Maria, Persekutuan Orang Kudus, Api Penyucian, dsb yg sy sndri jg baru tau dari situs ini. Dan dr situs ini pula, kerinduan sy utk ingin tau ttg macam2 kbenaran dan jawaban atas ptanyaan2 yg muncul d benak sy sejak lama.
Dan yg ingin sy sampaikan adlah, stelah membaca sekian banyak diskusi ttg pbdaan katolik dgn protestan,sy mengakui bahwa memang mnurut akal dan hati saya bahwa katolik memiliki versi lengkap dr kebnaran yg slama ini sy dpat, misalnya ttg Bapa gereja, Tradisi Suci dan Alkitab, dsb. Krn ad bmacam2 ajaran dan tfsiran tp sy mrasa sharusnya kmbali pada yg mula2 yg langsung Yesus ajarkan. Selain memang sy sndri mperhatikan ajaran dr kristen denominasi yg lain (pentakosta) ada bbrapa yg mengganjal dmana lebih mengutamakan sisi emosi tnpa keseimbangan dgn pengetahuan yg bnar.
Tp sy pun juga ad bbrapa kbratan yg juga tidak kalah mengganjalnya berhubungan dengan katolik, dlm hal umatnya dan beberapa kasus yg scara umum dr luar menggambarkan katolik yg (maaf, mnrt pnilaian sy) spt orang farisi / petinggi2 agama Yahudi yg seolah berkata kasih namun hmpir tdak bisa dilihat wujudnya. Entah itu kbetulan gereja katolik yg disekitar sy saja spt itu atau kebanyakan dr umat katolik memang spt itu. Misalnya tentang birokrasinya yg tkesan mempersulit (sampai ortu sy pindah dr katolik ke kristen krn kesulitan dlm membabtiskan sy dulu), ajarannya yg terkesan dingin, scr umum tdak mendalami alkitab spt rata2 yg dtekankan di kristen, dan satu lagi yg saya tidak setuju ketika kbanyakan oknum katolik yg sy pnah jumpai mengatakan “semua agama sama, hanya caranya saja yg berbeda-beda” yg menurut sy sudah mengaburkan kebenaran skalipun alasannya adlah kerukunan umat beragama, sehingga sy juga melihat sekilas iman kristiani pd umat katolik kabur dan terbungkus dlm rangkaian2 formalitas sedemikian rupa tnpa ada penghayatan makna yg bnar. Dan itu sy tangkap dr orang2 katolik yg ad disekitar sy bahkan tmasuk shabat sy yg katolik tp tnyata mengakunya slama ini hanya formalitas belaka (krn sy sekolah di lingkungan katolik)
Smentara d denominasi sy, sy msh mndapatkan bbrpa pengajaran/doktrin spt dr katolik tp dengan semangat dan penghayatan spt dr pentakosta/karismatik. Sehingga sy mrasakan sesuatu yang pas di dominasi sy sampai sy mbaca artikel2 di situs ini yg intinya bahwa gereja yg memisahkan diri dr katolik tdk mengalami kesatuan yg utuh dalam Tubuh Kristus, meski akhirnya mslah bidah, skisma, dsb nya adlah individual. Sy scr individu menghormati akan kepemimpinan Rasul Petrus dan penerus2nya.
Jadi mohon tanggapannya dr kakak2 sekalian sbg saudara seiman walau beda agama apa yg hrs sy lakukan berkenaan dgn kondisi sy dan mslah keberatan2 sy td.
Terimakasih atas kesediannya menanggapi. Shallom…
Submitted on 2012/04/13 at 1:06 am
Dan satu hal lagi, tentang penyimpangan katolik di abad ptengahan tentang indulgensi, yg slah satunya jg ada dalam 95 dalil Martin Luther, nah bukankah tentang penerapan dr indulgensi juga atas sepengetahuan Paus, dan kalau tidak salah Paus dkatakan tidak mungkin salah dalam hal iman dan moral krn Yesus sendiri yang akan menyertainya ya? Nah apakah ini sebenarnya memang sebuah kesalahan atau bagaimana? Lalu juga sy pernah dengar tentang hukuman mati bagi beberapa orang2 dalam sejarah yg bertentangan dengan katolik, spt Galileo Galilei, dan beberapa ilmuwan-ilmuwan lain. Apakah yg sbnarnya terjadi? apakah bnar demikian?
Dan apakah memang tidak ada sarana atau kesempatan bagi umat untuk melakukan protes spt Martin Luther tentang praktek2 gereja sehingga harus memisahkan diri dan membentuk gereja sendiri? Bukankah jika demikian terkesan “diktator yg akan menyingkirkan yg btentangan” drpada melakukan pengajaran dengan kasih.
terima kasih
Shalom Rico,
Selamat datang di situs ini dan terima kasih atas sharing dan pertanyaan anda. Bersyukurlah bahwa dalam usia yang dini, anda benar-benar telah secara serius mencari dan menggali iman anda. Kalau anda telusuri website katolisitas.org, maka anda akan mendapatkan sumber yang sama, yang akan dipakai secara terus-menerus, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Ketiga hal ini tidak terpisah satu sama lain, sama seperti jalinan benang yang membentuk satu ikatan yang kuat – lihat artikel ini – silakan klik.
Karena latar belakang anda dari Kristen non-Katolik, saya dapat mengerti kalau anda mempunyai keberatan tentang beberapa pengajaran dari Gereja Katolik. Mari sekarang kita membahas apa yang menjadi keberatan anda.
1. Katolik seperti kaum Farisi
Pertama, saya minta maaf, kalau anda mempunyai pengalaman yang jelek dengan oknum-oknum dari Gereja Katolik yang kurang mencerminkan apa yang diajarkan oleh Kristus. Gereja sendiri sebagai tubuh Kristus sebenarnya adalah Kudus, karena Kepala dari Gereja, yaitu Kristus adalah kudus dan sama seperti Mempelai Pria (Kristus) menguduskan mempelai wanita atau Gereja. Namun, Gereja Kudus yang sedang mengembara di dunia ini mempunyai anggota para kudus dan juga para pendosa. Kita harus mengingat bahwa 1 dari 12 rasul yang dipilih sendiri oleh Kristus juga berdosa dan berkhianat. Pendosa dapat menjadi batu sandungan dan sebaliknya para kudus dapat membangun Gereja. Untuk menilai agama, maka kita harus melihat orang-orang yang menjalankan agama tersebut dan bukan melihat orang-orang yang tidak menjalankan perintah dari agama tersebut. Sama seperti kita menilai seorang dokter yang baik dari pasien yang menjalankan apa yang diperintahkan dokter tersebut, termasuk makan obat, diet, dll. Bukan kesalahan dari dokter tersebut kalau pasien tersebut tidak sembuh, karena sang pasien tidak mau makan obat dan tidak mau diet. Dengan demikian, kita harus menilai Gereja Katolik dari orang-orang yang menjalankan apa yang diperintahkan oleh Gereja Katolik. Orang-orang yang menjalankan perintah Gereja Katolik dapat kita lihat dari kaum awam, para pastor dan para suster, dan terutama pada santa-santo sepanjang sejarah Gereja Katolik. Anda dapat menilai Gereja Katolik, ketika anda melihat Bunda Teresa dari Kalkuta, yang mengabdikan dirinya secara total untuk orang-orang yang tertindas dan termiskin.
Namun demikian, tentu saja masih banyak hal yang perlu diperbaiki dari Gereja Katolik, terutama dari sisi manajemen, birokrasi, sisi komunitas, dll. Bicara tentang birokrasi, sebenarnya, kita harus melihat bahwa birokrasi adalah untuk melindungi seluruh umat beriman. Sebagai contoh, kalau orang tua anda kesulitan untuk membaptis anda secara Katolik, maka sesungguhnya orang tua anda dapat menghadap kepada pastor paroki. Bahkan di dalam Hukum Gereja, dituliskan bahwa kalaupun orang tua bermasalah (misal: masalah perkawinan), selama ada saksi yang baik, maka seorang anak dapat dipermandikan secara Katolik. Karena saya tidak tahu secara persis apa yang terjadi, maka saya tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut.
2. Ajaran Katolik terkesan dingin
Anda berkomentar bahwa ajaran Gereja Katolik terkesan dingin. Saya menganjurkan, kalau anda benar-benar serius untuk mengetahui apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik, maka silakan membeli buku Katekismus Gereja Katolik di toko buku obor, Jl. Gunung Sahari atau mungkin juga dapat ditemukan di kantin-kantin rohani Gereja Katolik di paroki-paroki maupun di toko buku Gramedia. Dari buku ini, maka anda akan mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Dari buku pengajaran resmi Gereja Katolik, maka anda dapat juga membaca bahwa tidak pernah Gereja mengatakan bahwa semua agama sama saja atau ada keselamatan di luar Kristus dan Gereja-Nya. Silakan anda melihat dokumen Konsili Vatikan II tentang Gereja di sini – silakan klik, terutama silakan membaca artikel 14-16. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa ajaran Gereja Katolik tentang keselamatan sesungguhnya adalah sangat jelas, karena keselamatan hanya melalui Kristus (lih. Yoh 14:6) dan Gereja-Nya – karena Kristus sebagai mempelai pria tidak pernah terpisah dengan Gereja sebagai mempelai wanita.
Bahwa ada umat Katolik yang tidak mendalami ajaran seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik yang bersumber pada Kitab Suci dan Tradisi Suci adalah benar. Namun, di satu sisi, sama benarnya, bahwa ada juga jemaat Kristen non-Katolik yang walaupun membaca Kitab Suci, namun menginterpretasikannya dengan tidak benar, yang pada akhirnya menimbulkan pemahaman yang salah dan simpang siur.
Jadi, dalam situasi yang anda hadapi, menjadi sangat penting untuk mencari apakah Kristus benar-benar mendirikan Gereja Katolik atau sebenarnya Dia mendirikan banyak gereja tanpa memandang denominasi-denominasi. Silakan memulai diskusi dari artikel “Mengapa kita memilih Gereja Katolik” di sini – silakan klik. Semoga diskusi ini dapat menjadi diskusi yang membangun iman kita semua. Dan kita bersama-sama membawa dialog ini di dalam doa, sehingga Roh Kudus juga turut bekerja.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Saya adalah penganut agama Katolik. Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan seorang pendeta Kristen (tidak tahu apa alirannya) pada saat jenazah sepupu saya disemayamkan. Sepupu saya ini sebelumnya juga pengikut agama Katolik namun sudah agak lama pindah ke Kristen. Di dalam perbincangan dengan si pendeta ini, saya dikejutkan dengan statement yang diberikan kepada saya setelah mengetahui bahwa saya adalah org Katolik.
1) Dia mengatakan, di gereja Anda (maksudnya Katolik) banyak terdapat patung2. Tahukah Anda bahwa Alkitab melarang kita berdoa kepada patung2 kecuali kepada Yesus sendiri. Saya menjawab bahwa saya tidak berdoa kepada patung2, patung2 itu hanya media untuk membantu kita berkonsentrasi pada saat berdoa tetapi pada akhirnya doa saya adalah kepada Tuhan bukan kepada patung. Tetapi si pendeta ini dengan agresif mengatakan bahwa organisasi Katolik itu salah besar kerena memperbolehkan umatnya berdoa kepada patung2. Saya tidak mau berdebat dengan dia tetapi di dalam hati saya merasa kesal, mengapa dia menjelek2an agama Katolik sementara agama Katolik sendiri tidak pernah setau saya menjelek2an agama lain.
2) Didalam kotbahnya pada waktu ibadat penghiburan sepupu saya, dia mengatakan bahwa didalam alkitab ada tertulis siapa yang percaya Yesus dan mengikuti dia, akan hidup bersama Yesus selama 1000 tahun damai ketika orang ini meninggal. Dan dunia ini akan diciptakan kembali. Apakah ini benar?
3) Dia juga mengatakan bahwa sesudah orang meninggal, ada 2 “terminal” di bawah bumi ini.. terminal 1 adalah untuk org yang percaya Tuhan dan mengikuti ajarannya dan terminal 2 adalah untuk orang2 yang tidak percaya. Dia mengatakan bahwa sepupu saya sudah berada di terminal 1 dan ada dipangkuan Abraham seperti tertulis di alkitab. Apakah yang dia katakan itu benar?
4) Saya juga bertanya kepada si pendeta ini, lalu apa nasib orang yang bukan Kristen/Katolik, apa dia ketika meninggal, langsung masuk ke ‘terminal 2 (untuk org yang tidak percaya Kristus)? Dia mengatakan Ya betul. Tapi menurut saya ini tidak benar. Kalau misalnya org itu penganut agama lain tetapi selama hidupnya dia berbuat baik dan hidup seperti yang dikehendaki oleh Tuhan, masa iya dia tidak akan diselamatkan ketika dia meninggal, hanya karena tidak beragama Kristen/Katolik?
Demikian pertanyaan saya, semoga saya bisa diberi penerangan.
Salam!
Shalom Stella,
Terima kasih atas pertanyaannya yang diberikan tentang beberapa topik. Sebenarnya ada banyak dari yang ditanyakan telah dijawab dalam artikel maupun tanya jawab. Dalam berdiskusi dengan umat dari agama lain, kita tidak boleh kesal, namun justru sebaliknya harus memacu kita untuk mempelajari iman Gereja Katolik, sehingga pada saat diperlukan kita dapat mempertanggungjawabkan iman kita dengan baik (lih. 1 Pet 3:15). Berikut ini adalah jawaban dan link-link yang dapat saya berikan:
1) Tentang tuduhan bahwa Gereja Katolik menyembah patung: silakan membaca jawabannya di sini (silakan klik).
2) Pengertian tentang kerajaan 1000 tahun antara Gereja Katolik dan gereja-gereja lain tidaklah sama. Oleh karena itu, silakan untuk membaca beberapa artikel tentang akhir zaman berikut ini:
• Rapture menurut sudut pandang ajaran Gereja Katolik
• Akhir Jaman menurut Ajaran Gereja Katolik (bagian ke-2)
• Akhir Jaman menurut Ajaran Gereja Katolik (bagian ke-1)
• Dan silakan untuk melihat tanya jawab tentang kerajaan 1000 tahun di sini (silakan klik).
3) Penjelasan pendeta tersebut tentang dua terminal yang diperuntukkan bagi orang percaya dan yang tidak percaya berbeda dengan pengajaran dari Gereja Katolik. Gereja Katolik mengenal Sorga, yang diperuntukkan bagi orang-orang percaya yang hidup sesuai dengan kehendak Allah, dan mati tidak dalam keadaan dosa berat. Sedangkan nerakan adalah siksaan abadi bagi orang-orang yang dengan sengaja menolak kasih dan pengampunan Allah. Tempat ketiga disebut Api Penyucian, yaitu tempat orang-orang percaya yang meninggal tidak dalam kondisi dosa berat, namun masih harus membayar siksa dosa sementara. Penjelasan tentang hal ini dapat dibaca di artikel ini (silakan klik).
4) Melanjutkan diskusi tentang keselamatan, maka kita harus mengerti konsep ini secara benar. Gereja Katolik mempercayai bahwa keselamatan hanya melalui Kristus lewat Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik. Namun, konsep ini harus dimengerti secara benar. Pertanyaannya adalah apakah orang tersebut harus menjadi anggota secara struktural? Nah, inilah yang membuat diskusi menjadi cukup panjang. Untuk itu, silakan membaca beberapa tanya jawab berikut ini:
Buat apa mempelajari agama kita? – Jan 26, 2010
Penjelasan tentang Deklarasi Dominus Iesus – Jan 11, 2010
Bagaimanakah kehidupan suami-istri di Sorga? – Jan 6, 2010
Dosa berat dalam hubungannya dengan keselamatan – Dec 16, 2009
Sesudah selamat lalu apa? – Oct 27, 2009
Keselamatan dan hubungannya dengan Baptisan – Sep 21, 2009
Mengapa Yesus disunat, kita tidak? – Sep 15, 2009
Kasih dan keadilan Allah yang dimanifestasikan melalui pengorbanan Kristus – Aug 31, 2009
Apakah keselamatan yang sudah diperoleh melalui Pembaptisan dapat hilang? – Aug 25, 2009
Mengapa Yesus memilih salib untuk menebus dosa manusia? – Aug 24, 2009
Keselamatan adalah anugerah Allah? – Aug 18, 2009
Apakah yang diselamatkan hanya orang Katolik dan yang lainnya pasti masuk neraka? – Aug 4, 2009
Apakah hukum dosa dan hukum maut? – Jun 26, 2009
Keselamatan: theosentris, kristosentris, eklesiosentris? – Jun 25, 2009
Bagaimanakah nasib bayi yang belum dibaptis? – Jun 1, 2009
Apa itu “Implicit desire for Baptism?” – Jun 1, 2009
Apakah orang Katolik dijamin pasti selamat? – May 26, 2009
Baptisan rindu menurut St. Thomas – May 21, 2009
Dosa menghujat Roh Kudus – dosa yang tak terampuni – May 1, 2009
Iman tanpa perbuatan adalah mati – Feb 17, 2009
Paus Benediktus XVI dan Sola Fide – Feb 16, 2009
Dosa menghujat Roh Kudus dan dosa berat – Feb 12, 2009
Mengapa Gereja Katolik membaptis bayi? – Jan 19, 2009
Tidak ada keselamatan kecuali melalui Yesus – Jan 5, 2009
Tidak cukup menerima Yesus di hati saja – Dec 27, 2008
Sekali selamat tetap selamat – tidak Alkitabiah – Dec 22, 2008
Siapa saja yang dapat diselamatkan? – Dec 17, 2008
Apakah agama membuat orang masuk Sorga? – Dec 15, 2008
Apakah orang yang tidak dibaptis masuk neraka? – Nov 24, 2008
Apakah Yudas Iskariot berjasa dalam karya keselamatan manusia? – Nov 22, 2008
Adakah Keselamatan di luar Tuhan Yesus/ Gereja Katolik? – Aug 20, 2008
Kalau setelah membaca beberapa link di atas, Stella masih mempunyai pertanyaan, silakan bertanya kembali. Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Saya membaca lengkap diskusi ini dan menjadi sedih. Betapa banyak orang yang merasa begitu tahu dan menempatkan diri sebagai ‘pengajar yang paling tahu’ dan ‘berperan sebagai manusia kudus’, tetapi kata-katanya dan argumennya hanya ‘melontarkan protes’ tetapi kurang menelaah jawaban. Saya sangat setuju dengan ibu Ingrid untuk berdiskusi dengan fokus, topik per-topik, tidak loncat-loncat. Ibu ingrid dan Pak Stef terima kasih selalu, dari saya dan pembaca situs ini.
Salam jumpa kembali bersama ibu ingrid atau jg dengan Bapak Stev. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih atas kesediaannya untuk berdiskusi tentang iman kita akan Yesus yang sama2 kita yakini sebagai TUHAN dan penyelamat kita. Berikut ini ada beberapa tanggapan saya atas jawaban2 Ibu dan Bapak ada beberapa keberatan yang akan saya ajukan di bawah ini. Jawaban, atau sanggahan2 saya ini saya satukan juga dengan Topik2 yang lain semoga pertanyaan2 dari topik2 yang berbeda dapat juga dijawab disini. Adapun tanggapan2 saya adalah sbb:
Ibu menuliskan:
Gereja Katolik memperoleh pengajaran tentang keistimewaan Bunda Maria melalui pengajaran yang memang sudah dituliskan sejak abad- abad awal oleh para Bapa Gereja. Figur Bunda Maria memang tidak dominan dijabarkan dalam Alkitab, karena memang fokus Alkitab adalah YESUS sendiri.
Tanggapan saya:
Jika ibu juga mempelajari sejarah gereja Khatolik sendiri, pertanyaan mendasar, sejak kapan ajaran pengkultusan Maria itu di ajarkan?
Dari situ dapat dilihat bahwa tidak semua pemuka-pemuka jemaat KRISTUS itu, mengajarkan demikian,
Dan ibu benar saya hanya mengakui Bapa Di Sorga, kalau sesama manusia harus diakui sebagai Bapa, saya memilih tidak demikian.
——————————
Ibu menuliskan:
Dari pengajaran para Bapa Paus ini, yang tidak dapat mereka terima adalah Immaculate Conception (Maria dikandung tanpa noda) dan Asumption of Mary (Maria diangkat ke surga, sebab menurut mereka hal ini tidak Alkitabiah. Memang, perkataan ‘Asumption of Mary’ atau ‘Immaculate Conception’ tidak ditemukan di dalam Alkitab, sama seperti perkataan “Trinity” ataupun “Bible” tidak ada dalam Alkitab.
Namun prinsipnya ada diajarkan di dalam Alkitab. Alasan pertama Bunda Maria dikandung tanpa noda ini berhubungan dengan peran istimewanya sebagai Ibu Tuhan YESUS. Jadi, walaupun benar Maria manusia biasa, ia bukan manusia ‘kebanyakan’ seperti kita. Sebab, memang rencana keselamatan itu terbuka untuk semua orang (Yoh 3:16), tetapi Ia hanya memilih satu orang untuk menjadi ibu-Nya, yaitu Maria. Kita tahu bahwa Allah adalah Kudus, sempurna dan tak ada dosa di dalam Dia, maka sudah sangat layaklah bahwa ketika memutuskan untuk dilahirkan di dunia, YESUS menguduskan terlebih dahulu seseorang yang melaluinya Ia akan dilahirkan. Mungkin hal ini tidak terbayangkan oleh kita, karena kita manusia tidak bisa melakukannya. Kita tidak bisa memilih ibu kita sendiri, apalagi membuat dia kudus dan sempurna sebelum kita lahir. Tetapi, Allah bisa, dan itulah yang dilakukan-Nya. Mengapa Tuhan melakukan ini? Karena Ia tidak dapat mengingkari jati DiriNya sebagai Allah yang Kudus.
Tanggapan saya:
Bukankah ini menjadi napak tilas ke belakang?
Mengenai MAria sebagai “wadah” yang Kudus
Kalau Maria dikandung tanpa noda, maka Ibu Maria juga dikandung tanpa noda, maka Nenek Maria dikandung tanpa noda, maka
Nenek ibu Maria juga dikandung tanpa noda, maka Nenek Nenekny Maria dikandung tanpa noda, maka……dsb
Apa seperti itu?
Mengenai Bunda Maria itu hanya mitos, sama dengan halnya saya juga “berkeyakinan” mungkin ada buyutnya buyut saya diangkat ke Sorga oleh Tuhan
Apa seperti itu?
——————————
Ibu menuliskan:
Diperlukan keterbukaan hati untuk melihat bahwa memang hanya kepada Bunda Maria lah satu-satunya kesempatan diberikan, bahwa seorang ciptaan dapat melahirkan Pencipta-Nya (yaitu Firman yang menjadi manusia). Tokoh Alkitab yang lainnya tak ada yang dapat memiliki kesempatan untuk melahirkan KRISTUS. Maka Maria disebut sebagai Tabut Perjanjian Baru, yang membawa di dalam tubuhnya, KRISTUS sendiri, sebagai tanda dari Perjanjian Baru. Jika Allah begitu spesifik pada saat menentukan persyaratan tabut Perjanjian Lama (lih. Kel 25-31), dengan menentukan ukurannya (dengan angka-angka yang sangat detail), bahannya, bentuknya, warnanya, bahkan senimannya, ‘hanya’ untuk menjadikan tabut itu tempat menyimpan Kitab Taurat Musa, tongkat Harun dan roti manna, sebagai lambang Perjanjian Lama; betapa kita selayaknya menerima, betapa Allah juga akan mensyaratkan kesempurnaan dari Tabut Perjanjian Baru yang akan mengandung Putera-Nya sendiri! Ia yang adalah pemenuhan hukum Taurat Musa, dan Ia yang adalah Sang Imam Agung dan Sang Roti Hidup. Justru karena kekhususan peran Maria inilah maka memang ia tidak termasuk dalam ayat yang mengatakan bahwa ‘semua orang berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah’ (Rom 3:23). Ini bukannya mengatakan bahwa keistimewaan Maria membatalkan ayat-ayat Alkitab di atas. Sebab memang konteks ayat-ayat tersebut adalah untuk menunjukkan kontras akan umat manusia yang secara umum baik bangsa Yahudi maupun bangsa –bangsa lain jatuh dalam dosa, dan hanya dapat dibenarkan jika percaya kepada YESUS. Maka dalam ayat Rom 3:23 ini gaya bahasa yang dipergunakan adalah hiperbolisme.
Tanggapan saya:
Sejak kapan gaya bahasa di Alkitab mengaburkan esensinya Bu?
Kalau demikian ayat Rom 3:23, perlu diberikan catatan kaki, yg membuat gaya bahasa yg dipergunakan hiperbola?
Mengapa jadi manusia yang jadi penentu ayat Alkitab? Bukan sebaliknya?
Rom 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,
Saya cukup prihatin dengan Ibu mengatakan ayat tersebut mengunakan gaya bahasa hiperbola, Rasul Paulus tidak mengunakan gaya bahasa melainkan hikmat dari Tuhan
2Co 1:12 Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.
Maka jelas bahwa tidak ada ayat di Alkitab yang mengunakan gaya bahasa hiperbola, mohon tidak menurunkan kadar kebenaran Firman Tuhan yang jelas dilihami oleh Roh Kudus
—————-
Ibu menuliskan:
Menurut gereja Protestan, pengantaraan ini terbatas/eksklusif diberikan hanya kepada YESUS, sedangkan, menurut Gereja Katolik, Pengantaraan YESUS ini melibatkan anggota-anggota Tubuh-Nya yang lain, yaitu para kudus-Nya, dan secara khusus adalah Bunda Maria. Namun pengantaraan dari para kudus tersebut hanya mungkin terjadi karena Pengantaraan KRISTUS, jadi memang tidak pernah terlepas dari KRISTUS sang Kepala (lih. 1 Kor 12). Ini membawa implikasi yang sangat besar, dalam pengertian kita jika kita berdoa dengan melibatkan para kudus dan Bunda Maria. Kita berdoa memohon agar mereka mendoakan kita, sama seperti kita memohon kepada Pastor atau Pendeta mendoakan kita. Pada akhirnya, yang mengabulkan doa kita hanya Tuhan saja. Namun besarlah peran mereka (para kudus) tersebut, karena mereka orang-orang yang telah dibenarkan Allah dan telah bersatu dengan Allah di surga.
tanggapan saya:
Pertanyaan saya sederhana, berdoa itu untuk apa?
Kepada siapa kita berdoa?
Boleh berdoa kepada bukan Tuhan?
Apa orang percaya termasuk saya bukan orang-orang kudus yg dikuduskan Tuhan?
Jadi saya bisa berdoa kepada diri saya sendiri?
Kalau doa itu relasi, masa bisa berelasi kepada orang yg sudah mati?
Kalau doa itu permohonan, masa memohon kepada sesama manusia? Yang sudah mati pula?
Lebih lanjut apa darah Bunda Maria dan para Kudus, yang menebus orang percaya?
Minta didukung dalam doa kepada sesama manusia adalah saling mendoakan, bukan berdoa kepada
Jas 5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Hendaklah kamu, itu untuk manusia yang masih hidup di bumi, bukan manusia yg sudah meninggal
Agak jauh dari konteks jika saling mendoakan sama dengan berdoa kepada Bunda Maria
Penghormatan ? dengan berdoa kepada orang yang dihormati? Saya sangat menghormati orang tua saya, tapi apa boleh saya berdoa kepada orang tua saya?
Point 5 ; Joh 2:5 Tetapi ibu YESUS berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
Relevansinya dengan, membawa orang banyak kepada YESUS apa yah? bukankan karena urapan Roh Kudus, kotbah Petrus menobatkan beribu orang? Semua orang percaya punya tugas itu bukan hanya Bunda Maria seorang
Ibu menuliskan bahwa Bunda Maria adalah masterpiecenya Tuhan namun bukan hanya Bunda Maria saja yang Masterpiecenya Tuhan, saya dan sis, dan semua manusia
Bahkan Yudas Iskariot juga masterpiecenya Tuhan, namun sebagai masterpiece semua orang diberikan pilihan untuk mewujudkan rencana Tuhan atau tidak
Tuhan tidak akan menciptakan “barang rusak”, yang merusak adalah manusia itu sendiri
Saya tidak sama sekali ingin memahami Bunda Maria, untuk menjadi Khatolik, karena apa yang saya hidupi sekarang menurut saya jauh lebih baik dari apa yang bisa ditawarkan oleh “Agama” manapun juga
Dan kalau demikian jika Yudas Iskariot menjadi murtad dan bunuh diri, apakah saya juga harus melakukan hal yang sama?
Mari secara proposional, meletakan konteks dan kontens
Kalau ini sekedar kesaksian, saya berikan kesaksian bahwa Gereja saya hampir sebagian besar jemaatnya dari Khatolik, menjadi buyarlah kesaksian Ibu.
Pengalaman seseorang yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan tidak perlu dicontoh kan?
Masa ada orang bertobat dari Kristen? Menjadi Khatolik?
Dan benar Bunda Maria, kalau masih hidup akan bersedih melihat dirinya disembah sebagai hampir sama dengan Tuhan, dimana orang berdoa kepadanya
Sayangnya Bunda Maria sudah tiada, jadi tidak ada “urusan” dengan manusia yang masih “ada”
————————–
Demikian Ibu pertanyaan dan sanggahan2 saya terhadap topik2 bahasan kita. Ada beberapa yang berasal dari topik lain tetapi saya satukan pertanyaannya pada topik ini. Saya mengajak Ibu agar dengan segala kerendahan hati dapat menemukan kebenaran hanya dalam diri Yesus saja bukan yang lain selain dia. Saya harap diskusi kita ini dapat berjalan dalam semangat kasih dan saya harap ibu bisa menjawab pertanyaan ataupun sanggahan2 saya yang terkadang saya ungkapkan dengan agak keras, meskipun demikian semua saya lakukan agar ibu dapat menemukan kebenaran. Terima kasih atas waktunya dan saya menantikan jawaban2 dari ibu. Semoga Tuhan selalu memberkati Ibu.
Shalom Lisa,
Saya akan membatasi dialog kita satu kali putaran lagi, karena melihat bahwa beberapa argumen anda merupakan pengulangan dari apa yang sudah pernah anda tulis dalam pernyataan anda yang terdahulu. Maka kali ini saya akan menyampaikan jawaban saya, jika anda masih mempunyai argumen yang berbeda dari yang pernah anda sampaikan, silakan disampaikan. Selanjutnya, mari kita kembali ke hati nurani masing- masing, dan kita persilakan para pembaca untuk menilai sesuai dengan hati nurani mereka.
1. Anda bertanya, "Jika ibu juga mempelajari sejarah gereja Khatolik sendiri, pertanyaan mendasar, sejak kapan ajaran pengkultusan Maria itu di ajarkan?"
Sekali lagi saya persilakan anda memberi definisi apa itu pengkultusan? Karena kalau maksudnya menjadikan Maria sejajar dengan Allah, itu tidak pernah diajarkan oleh Gereja Katolik. Namun kalau maksudnya penghormatan kepada Maria, itu sudah diajarkan dari awal mula, dimulai dari saat Bunda Maria menerima salam dari Malaikat Gabriel, yang menyampaikan perkataan Allah sendiri, yaitu "Hail, full of grace" (Vulgate, RSV) atau diterjemahkan, "Salam, hai engkau yang dikaruniai"/ penuh rahmat. (Luk 1: 28) Allah sendiri memberi salam kepada Maria dan menyatakan bahwa ia dipenuhi oleh rahmat-Nya. Maka kalau Allah sendiri menghormati Bunda Maria dan memilihnya untuk menjadi Ibu Yesus Sang Allah Putera, maka Gereja Katolik juga menghormati Maria.
Silakan anda menyebutkan para pemuka jemaat Kristus yang mana yang tidak menghormati Bunda Maria, dan apa ajaran mereka. Karena kalau anda membaca tulisan para pendiri Gereja Protestan (Luther, Calvin dan Zwingli) mereka semua mengakui dan menghormati kekudusan Maria. Hanya saja, mungkin penerapan cara menghormatinya yang berbeda.
2. Anda mengatakan, "Saya hanya mengakui Bapa Di Sorga, kalau sesama manusia harus diakui sebagai Bapa, saya memilih tidak demikian."
Sebagai umat Katolik, kami juga memberikan penghormatan tertinggi kepada Bapa di surga, namun tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengakui seseorang sebagai bapa di dunia. Buktinya kitapun menghormati bapa/ ayah kita sendiri (bapa jasmani), dan adalah perintah Tuhan sendiri supaya kita menghormati ibu dan bapa kita. Demikian pula kita dapat menghormati bapa rohani kita, yaitu mereka yang membimbing kita secara rohani di dunia ini, termasuk para Bapa Gereja, dan pemimpin Gereja. Mengenai mengapa kita memanggil pastor dengan panggilan Romo/ Father/ bapa, atau Paus yang artinya "bapa" dijelaskan dengan begitu baiknya oleh Fr. Ray Suriani, di link ini, silakan klik. Pada dasarnya, kita harus melihat konteksnya yang benar pada saat kita membaca Mat 23:9. Karena larangan Yesus untuk menyebut siapapun sebagai bapa di bumi ini adalah untuk memperingatkan kepada umat bahwa 1) hanya ada satu saja yang dapat kita anggap sebagai Allah Bapa; 2) janganlah seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang senang dihormati dan dipanggil sebagai rabbi dan bapa oleh semua orang.
Sebab di perikop yang lain, Yesus juga menyebut orang tua sebagai bapa dan ibu, (lih. Mat 10:35; 19:29) Jika Ia sungguh melarangnya, maka Ia tidak mungkin menyebutkan sendiri panggilan ini. Lalu, Abraham disebut sebagai “bapa Abraham” bapa leluhur kita (Luk 16:24, Kis 7:2; Rom 4:1, Yak 2:21), dan Rasul Paulus menyebutkan dirinya sebagai bapa bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan bapa rohani bagi Timotius (1 Tim 1:2, 2 Tim 1:2), dan bagi Titus (Tit 1:4). Rasul Yohanes juga berkhotbah kepada para bapa (1 Yoh 2:14) Tentunya rasul Paulus, Yakobus dan Yohanes memiliki maksud pada saat menuliskan ayat-ayat itu. Yaitu bahwa di dalam hidup kita ini memang ada orang-orang tertentu yang diberi tugas sebagai bapa untuk berperan sebagai orang tua bagi anak-anak, mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Dan secara rohani, tugas kebapakan itu diberikan kepada para pemimpin umat, yaitu para pastor, seperti teladan Rasul Paulus. Para pastor itu berperan dalam kelahiran kita semua umat Katolik secara rohani. Mereka (para pastor) itu yang membaptis kita, mengajar kita, membimbing kita dan memberi teladan kepada kita bagaimana mengasihi, seperti Allah Bapa mengasihi kita.
3. Anda bertanya, "Mengenai Maria sebagai “wadah” yang Kudus. Kalau Maria dikandung tanpa noda, maka Ibu Maria juga dikandung tanpa noda, maka Nenek Maria dikandung tanpa noda, maka Nenek ibu Maria juga dikandung tanpa noda, maka Nenek Neneknya Maria dikandung tanpa noda, maka……dsb. Apa seperti itu? Mengenai Bunda Maria itu hanya mitos, sama dengan halnya saya juga “berkeyakinan” mungkin ada buyutnya buyut saya diangkat ke Sorga oleh Tuhan. Apa seperti itu?"
Saya sering mendengar argumentasi seperti ini. Namun ini adalah argumen yang keliru, karena argumen ini seolah mensejajarkan Maria dengan Yesus. Sebab alasan Maria disucikan oleh Tuhan (dikandung tanpa noda) adalah karena peran Maria untuk menjadi Bunda Allah yang menjelma. Maka tidak mungkin nenek Maria juga praktis harus dikuduskan dari noda dosa karena melahirkan Maria. Maria bukan Tuhan, maka ibu yang mengandungnya tidak menerima rahmat yang sama dengan Maria yang diberi peran untuk melahirkan Yesus.
Silakan anda menjelaskan kembali mengapa anda mengatakan Maria hanya mitos. Dan silakan saja jika anda mempunyai keyakinan bahwa buyut-buyut anda diangkat ke sorga, namun yang pasti hal itu tidak diajarkan oleh para rasul dan para Bapa Gereja.
4. Anda mengutip ayat Rom 3:23, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." Saya cukup prihatin dengan Ibu mengatakan ayat tersebut mengunakan gaya bahasa hiperbola, Rasul Paulus tidak mengunakan gaya bahasa melainkan hikmat dari Tuhan. …. (lih. 1 Kor 2:12). Maka jelas bahwa tidak ada ayat di Alkitab yang mengunakan gaya bahasa hiperbola, mohon tidak menurunkan kadar kebenaran Firman Tuhan yang jelas dilihami oleh Roh Kudus.
Saya mengatakan demikian juga ada dasarnya, bukan hanya karena pandangan saya sendiri. Gereja Katolik mengajarkan agar Kitab Suci dibaca dengan semangat yang sama dengan ketika kitab itu dituliskan, sehingga di sini kita harus juga melihat konteksnya.
Sebelum Rom 3:23, di ayat 9 dan 10 Rasul Paulus mengatakan, “mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Sebenarnya di sini Rasul Paulus mengutip Mazmur 14, khususnya ayat 3, “Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Mazmur 14 ini ditulis Raja Daud yang menyampaikan ratapannya tentang besarnya pemberontakan bangsa Israel. Sebab musuh Raja Daud pada saat Mazmur itu ditulis, tidak lagi hanya bangsa-bangsa non Yahudi, tetapi bangsa Yahudi itu sendiri, bahkan orang terdekat dan anggota keluarganya sendiri, Saul dan Absolom. Maka Raja Daud menggunakan kata “semua” adalah dalam konteks menyatakan semua golongan, baik Yahudi maupun non Yahudi- dan bukannya bermaksud untuk menyatakan semua orang. Kita ketahui demikian, karena segera sesudah menyebutkan “semua orang melakukan kejahatan”, Raja Daud menyebutkan “umat-Ku” (ay. 4) dan “angkatan yang benar” (ay.5). Kalau semua orang (dalam arti setiap orang tanpa kecuali) adalah jahat seperti yang disebutkan pada ayat 3 tersebut, siapa yang disebut Raja Daud sebagai “angkatan yang benar” tersebut? Sama konteksnya dengan perkataan Raja Daud, Rasul Paulus juga mengatakan “semua” dalam ayat Rom 3:23 dalam arti semua golongan telah berdosa terhadap Tuhan, tidak hanya orang-orang non- Yahudi, namun orang Yahudi juga. Jadi yang ingin disampaikan di sini adalah, tidak adanya beda antara orang yang bersunat dan tidak bersunat, kedua kelompok itu mempunyai dosa- dosa yang dilakukan oleh pribadi- pribadi di dalamnya, dan keduanya memerlukan kasih karunia Allah untuk dibenarkan di dalam iman akan Yesus Kristus.
Jadi perikop ini tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa” dalam arti mutlak. Sebab Yesus adalah perkecualiannya, dan anak- anak yang di bawah umur (under the age of reason) juga demikian. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria juga termasuk kekecualian dalam hal ini. Dengan demikian, gaya bahasa yang digunakan di sini adalah hiperbolisme, dengan pesan utama yang hendak disampaikan, bahwa secara umum manusia dari segala golongan, telah berbuat dosa.
5. Anda bertanya, berdoa itu untuk apa? Kepada siapa kita berdoa? Boleh berdoa kepada bukan Tuhan? Apa orang percaya termasuk saya bukan orang-orang kudus yg dikuduskan Tuhan?
Jadi saya bisa berdoa kepada diri saya sendiri? Kalau doa itu relasi, masa bisa berelasi kepada orang yg sudah mati? Kalau doa itu permohonan, masa memohon kepada sesama manusia? Yang sudah mati pula? Lebih lanjut apa darah Bunda Maria dan para Kudus, yang menebus orang percaya?
Harap anda pahami di sini, bahwa umat Katolik tidak berdoa kepada (kalau seandainya istilah ini digunakan) Bunda Maria sama seperti berdoa kepada Tuhan. Sebab konteksnya kata "kepada" di sini hanya untuk mengatakan bahwa di dalam doa kita "berbicara" kepada Bunda Maria, namun dalam pembicaraan itu tidak ada penyembahan, hanya ungkapan hormat saja dari anak kepada sang ibu. Sebab hanya kepada Allah saja umat Katolik memberikan pujian dan penyembahan tertinggi, seperti yang diberikan dalam perayaan Ekaristi, yang menjadi puncak dan sumber kehidupan Kristiani. Sedang kepada Bunda Maria, kata "kepada" itu seandainya digunakan, artinya adalah umat Katolik hanya memohon didoakan, karena kami percaya bahwa kuasa doa Bunda Maria sangat besar, sebagai seorang yang telah dibenarkan Allah (Yak 5:16). Oleh karena itu, dokumen-dokumen ajaran Gereja Katolik umumnya menganjurkan agar umat berdoa memohon dukungan doa dari Bunda Maria dan bukannya berdoa kepada Bunda Maria.
Masalahnya, anda menganggap mereka yang sudah meninggal dunia dalam Kristus adalah orang-orang "mati", sedangkan Gereja Katolik melihat sebaliknya, yaitu orang-orang yang meninggal dalam Kristus apalagi yang sepanjang hidupnya menjadi teladan kekudusan bagi umat beriman dan yang kini sudah berada di surga, adalah orang-orang yang "hidup", dan persekutuan kita sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus tidak terputus oleh maut, sebab Kristus telah mengatasi maut itu. Selanjutnya silakan baca diskusi di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik.
6. Anda menulis, "Ibu menuliskan bahwa Bunda Maria adalah masterpiecenya Tuhan namun bukan hanya Bunda Maria saja yang Masterpiecenya Tuhan, saya dan sis, dan semua manusia bahkan Yudas Iskariot juga masterpiecenya Tuhan….. Tuhan tidak akan menciptakan “barang rusak”, yang merusak adalah manusia itu sendiri. Dan kalau demikian jika Yudas Iskariot menjadi murtad dan bunuh diri, apakah saya juga harus melakukan hal yang sama?"
Memang kita semua diciptakan secara unik oleh Tuhan, tetapi sepantasnya kita juga menerima bahwa karunia yang diberikan kepada kita masing-masing berbeda- beda, sesuai dengan kemampuan kita. Ini kita ketahui dalam pengajaran Kristus tentang perumpamaan talenta (Mat 25:15). Jika kita dipercayakan banyak, maka diharapkan kita melakukan lebih banyak daripada yang diberi sedikit (lih. Luk 12:48). Dalam konteks inilah Gereja Katolik mengatakan bahwa Bunda Maria adalah ciptaan yang istimewa (masterpiece) karena tugasnya yang istimewa untuk melahirkan dan membesarkan Kristus Tuhan Penyelamat dunia.
Gereja Katolik juga tidak pernah mengajarkan bahwa Allah menciptakan "barang rusak", sebab semua orang diciptakan sesuai dengan gambaran Allah (Kej 1: 16), sebagai mahluk yang berakal budi dan berkehendak bebas. Yudas Iskariot itu memang diciptakan baik adanya, hanya saja karena kehendakbebasnya, ia memilih untuk mengkhianati Yesus. Maka saya rasa pertanyaan anda sangat aneh, jika anda ingin mengikuti Yudas yang murtad dan bunuh diri itu. Karena kita mengetahui bahwa yang dilakukannya itu adalah salah dan dosa, buat apa kita ikuti? Kita mempunyai akal budi untuk mengetahui bahwa hal yang dilakukan Yudas adalah dosa, dan kita mempunyai kehendak bebas untuk tidak melakukannya.
7. Anda mengatakan, "Saya tidak sama sekali ingin memahami Bunda Maria untuk menjadi Khatolik, karena apa yang saya hidupi sekarang menurut saya jauh lebih baik dari apa yang bisa ditawarkan oleh “Agama” manapun juga. Kalau ini sekedar kesaksian, saya berikan kesaksian bahwa Gereja saya hampir sebagian besar jemaatnya dari Khatolik, menjadi buyarlah kesaksian Ibu. Pengalaman seseorang yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan tidak perlu dicontoh kan? Masa ada orang bertobat dari Kristen menjadi Khatolik? Dan benar Bunda Maria, kalau masih hidup akan bersedih melihat dirinya disembah sebagai hampir sama dengan Tuhan, dimana orang berdoa kepadanya. Sayangnya Bunda Maria sudah tiada, jadi tidak ada “urusan” dengan manusia yang masih “ada”
Bukan menjadi bagian saya untuk mempengaruhi anda untuk menjadi Katolik, dan silakan saja jika anda memutuskan untuk tidak menjadi Katolik. Tidak ada yang memaksa anda di sini. Kalau jemaat gereja anda banyak yang dari Katolik, itu juga tidak mengaburkan kesaksian kami dan website ini. Karena besar kemungkinan mereka yang pindah dari Katolik ke gereja lain adalah mereka yang dulunya sewaktu menjadi Katolik tidak sungguh- sungguh memahami ajaran Gereja Katolik. Silakan anda membaca artikel ini, Mengapa memilih Gereja Katolik, silakan klik.
Menjadi Katolik sebenarnya adalah keputusan untuk menjadi seorang Kristen yang sepenuhnya dengan menjadi anggota dari Gereja yang didirikan Kristus. Maka tidak mungkin seorang yang menjadi Katolik malah "bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan". Jika anda membaca banyak kesaksian dari para tokoh yang tadinya Protestan dan kemudian menjadi Katolik, anda akan melihat kenyataan ini: semakin seseorang membaca Alkitab dan membaca ajaran para Bapa Gereja, mereka semakin dihantar ke Gereja Katolik dan menemukan kepenuhan Kebenaran di dalamnya. Banyak dari mereka malah adalah pendeta, yang semakin mempelajari Alkitab dan fakta sejarah, semakin mereka melihat Kebenaran dalam Gereja Katolik.
Silakan anda membaca buku-buku seperti Rome Sweet Home, karangan Scott Hahn dan Kimberly Hahn, atau Born Fundamentalist, Born Again Catholic (Mengapa saya berpindah ke Katolik) karangan David Currie. Atau Surprised by Truth jilid 1 dan 2 yang diedit oleh Patrick Madrid, Journey Home karangan Marcus Grodi, Crossing the Tiber, karangan Stephen Ray, hanya merupakan beberapa contohnya.
Kalau anda membaca pesan- pesan penampakan Bunda Maria, anda akan mengetahui bahwa kesedihan Bunda Maria disebabkan karena banyaknya manusia yang berdosa namun tidak bertobat. Jadi tidak seperti perkiraan anda, bahwa penghormatan kepadanya malah membuatnya berduka. Bunda Maria sepenuhnya menyadari bahwa umat Katolik menghormatinya karena mereka menghormati Kristus dan bahwa umat Katolik tidak pernah mensejajarkan dirinya dengan Kristus. Maria hanya menyadari perannya sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja yang masih berziarah di dunia ini, sehingga meskipun Bunda Maria kini sudah berada di sorga, namun Ia masih tetap menyertai Gereja sampai sekarang dengan doa- doanya. Mungkin anda tidak mengalaminya, tetapi saya dan sebagian besar umat Katolik di dunia mengalaminya. Maka tidak benar anggapan anda yang mengatakan bahwa Maria "tidak ada urusan" dengan anak-anaknya yang masih berziarah di dunia.
8. Anda mengatakan, "Saya mengajak Ibu agar dengan segala kerendahan hati dapat menemukan kebenaran hanya dalam diri Yesus saja bukan yang lain selain dia. Saya harap diskusi kita ini dapat berjalan dalam semangat kasih dan saya harap ibu bisa menjawab pertanyaan ataupun sanggahan2 saya yang terkadang saya ungkapkan dengan agak keras, meskipun demikian semua saya lakukan agar ibu dapat menemukan kebenaran."
Lisa, saya berterima kasih atas maksud baik anda, tetapi sungguh, saya sudah menemukan Kebenaran di dalam Gereja Katolik. Namun demikian, saya menyadari pengetahuan saya belum sempurna, dan baru akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak. Sudah menjadi perjuangan saya (dan saya percaya juga semua pembaca) untuk selalu tinggal dalam kerendahan hati. Justru dengan menjadi Katolik saya belajar banyak dalam hal kerendahan hati ini, yaitu untuk tidak menempatkan pemahaman pribadi saya di tempat teratas dalam hal iman dan moral. Sebagai umat Katolik, kerendahan hati dan ketaatan iman tersebut memang kami nyatakan dengan menerima sepenuhnya pengajaran Magisterium Gereja Katolik, yang berdasarkan atas Kitab Suci dan Tradisi Suci. Saya percaya Tuhan Yesus telah mendirikan Gereja Katolik untuk maksud ini, yaitu untuk menghantar umat manusia ke surga, dengan membimbing mereka dalam hal ajaran iman dan moral, dan membagikan rahmat Allah secara khusus melalui sakramen-sakramen. Melalui Gerejalah kami umat Katolik menerima rahmat ilahi dan ajaran-ajaran Kristus dan para rasul dalam kepenuhannya.
Saya perlu berterima kasih kepada anda karena melalui tanya jawab ini, saya percaya para pembaca yang Katolik akan menjadi semakin mantap dengan iman Katolik mereka.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Shalom saudari Lisa,
saya mengucapkan banyak terima kasih atas pertanyaan – pertanyaan yang telah diberikan pada saudari Lisa, karena saya semakin banyak belajar akan kebenaran – kebenaran di dalam Gereja Katolik, justru pertanyaan yang terkadang tidak pernah saya pikir juga sudah ditanyakan, namun saya tertarik untuk memberikan tanggapan akan beberapa pernyataan saudari Lisa :
1.Saya tidak sama sekali ingin memahami Bunda Maria, untuk menjadi Khatolik, karena apa yang saya hidupi sekarang menurut saya jauh lebih baik dari apa yang bisa ditawarkan oleh “Agama” manapun juga
2.Masa ada orang bertobat dari Kristen? Menjadi Khatolik?
Tanggapan :
1.Memang dari situs ini yang saya lihat adalah TIDAK adanya usaha untuk menjaring jiwa ke Gereja Katolik, karena kita masing – masing mempunyai kehendak bebas untuk mengikuti YESUS dalam jalan yang benar atau jalan yang salah ( saya tidak memihak baik Gereja Katolik maupun Gereja Kristen untuk pernyataan diatas ). Yang saya amati adalah orang lain bertanya, kenudian situs ini menjawab dengan dasar – dasar alkitabiah, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Sudah titik. jadi yang diharapkan dari penulis adalah pembaca memahami kebenaran di dalam Gereja Katolik (cuman paham, tanpa ada usaha untuk mengajak masuk ke Gereja Katolik, kalaupun pembaca memutuskan masuk ke gereja Katolik maka itu hak pembaca, bukan penulis). Jadi kita bisa saling memahami satu sama lain tanpa ada rasa menjaring jiwa atau berusaha rebutan jema’at ( toh itu ya biar Roh Kudus yang menjaring jiwa dan membukakan hati mereka akan KEBENARAN SEJATI ), saya percaya saudari ingrid dan stefpun menghargai ( menghargai dalam konteks tidak setuju, bukan usaha untuk MERUBAH ) apa yang diajarkan Kristen, karena itu juga hak agama Kristen sendiri.
di nomer 1 juga ada tulisan “menurut saya”, kalau MISALNYA kebenarannya ternyata di ISLAM dan “menurut anda”, anda jauh lebih baik di Kristen, maka akankah membawa ke keselamatan ?menemukan kebenaran tidak boleh menggunakan aku “nyaman” / “menurut saya” di gereja tertentu, tapi berdoa dulu meminta bimbingan roh kudus lalu “mengkosongkan cangkir” anda, karena jika anda mencari kebenaran tapi sudah ada “bekal” / didikan / pengajaran sebelumnya dari pendeta anda, itu berarti anda sudah tidak obyektif lagi dalam melihat segala hal. jadi anggaplah diri anda sebagai anak kecil yang mau belajar segala hal dan ingin tahu segala hal, nanti Roh Kudus yang akan menuntun anda.
Sharing singkat saya :
Kalau saya pribadi, saya waktu mempelajari ISLAM & KATOLIK, saya cukup takut kalau ternyata ISLAMlah atau KATOLIKlah agama yang benar ( takut dalam konteks meninggalkan zona nyaman, jangan – jangan yang saya imani selama ini adalah salah, karena saya Kristen super fanatik dan radikal), tapi TUHAN maha baik karena saya berdoa dulu sebelum belajar agama ISLAM & KATOLIK, dan TUHAN membukakan kebenaran di Gereja Katolik, ketika pertama saya melangkah di KATOLIK saya cukup takut kalau tambah masuk ke gereja yang sesat, saya benar – benar minta bimbingan TUHAN kalau KATOLIK sesat berilah tanda atau halangan untuk menuju ke pembabtisan KATOLIK, nah disini herannya ternyata jalannya mulus untuk ke KATOLIK dan perlahan demi perlahan semua keraguanku akan KATOLIK di jawab oleh cara – cara yang luar biasa dan malahan iman saya semakin mantab, ahkirnya saya menemukan DAMAI SEJAHTERA di Gereja Katolik.
Kesaksian saya ini bukan mengajak anda untuk ke Katolik, malahan kalau anda ke Katolik karena sharing saya saja malah saya menganjurkan anda tetap di Gereja Kristen saja, tapi yang ingin saya tekankan adalah keluar dari zona nyaman untuk mencari kebenaran sejati itu harus melawan rasa takut “jangan – jangan agama saya ini salah” adalah perlu pengorbanan
TAPI
kalau anda tidak merasakan hal yang saya sharingkan diatas, juga tidak apa – apa, jangan terlalu danggap serius, saya ingin cuman sharing masalah keluar dari zona nyaman untuk curiga apa benar ada KEBENARAN yang SEJATI diluar kebenaran yang saya percayai sekarang, bukan masalah PINDAH AGAMA.
saya cukup heran ketika anda mengatakan,”Saya tidak sama sekali ingin memahami Bunda Maria”. karena hal ini kalau dilihat secara obyektif akan berbahaya. karena sebelum kita memutuskan mau masuk ke gereja mana (memilih KEBENARAN SEJATI di antara “kebenaran”2 yang lain)? maka alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan belajar agama kristen dan seluruh doktrinnya ( kalau perlu sekolah sampai tingkatan professor ), lalu pelajari agama Katolik dan seluruh doktrinnya serta pengajarannya ( kalau perlu juga sekolah sampai tingkat professor ) lalu membuat keputusan mau masuk agama apa. nah disini baru saya yakin anda akan menemukan KEBENARAN SEJATI. kalaupun anda sudah melakukan hal – hal diatas dan anda menemukan KEBENARAN SEJATI DI KRISTEN ya saya juga tidak apa – apa ( free will anda ) dan toh ya tidak akan ada orang yang meyakinkan anda untuk masuk ke Gereja Katolik. Dan selama pembelajaran tersebut selalu gunakanlah perspektif dari masing – masing agama yang sedang anda pelajari, jadi jangan ketika belajar gereja katolik anda menggunakan buku – buku dari Kristen dan perspektif kristen, begitupula sebaliknya ketika mempelajari kristen jangan menggunakan buku – buku katolik atau perspektif katolik. sehingga anda akan memahami dari kedua belah pihak dan akan menemukan kebenaran tersebut. Pada intinya gunakan praduga tak bersalah dulu dalam mempelajari segala sesuatu.
2.kalo anda bilang “masa ada”? mungkin karena kesaksian – kesaksian di Gereja Kristen di tampilkan sehingga terkesan “banyak” ( dan kalaupun banyak juga tidak apa – apa ), sedangkan di Gereja Katolik tidak ada kesaksian kecuali di Persekutuan Doa yang sebenarnya banyak juga. Saya pernah mendengar dari Gereja Kristen ( saya lupa denominasinya ) bahwa dia masih berjuang mengalahkan jumlah pembabtisan dari Gereja Katolik, karena jumlah pembabtisan Gereja Katolik lebih banyak dari Kristen ( tentu saya tidak langsung menerima hal ini, maka sampai sekarang saya mencari badan statistikanya untuk kebenaran tersebut, nanti kalau ada saya lampirkan ). jadi kalo dibilang adakah orang dari Kristen pindah ke Katolik ? ya bisa dibilang juga BANYAK. tapi mungkin selama ini anda di Gereja anda sendiri, kalo anda ke denominasi yang lain contohnya A. maka di denominasi A anda tanyai “apakah banyak orang dari gereja kristen yang lain pindah ke denominasi A?”, ya mungkin jawabannya juga sama, yaitu BANYAK. Jadi kalo mau tahu banyak coba mungkin anda pindah gereja dulu dari denominasi ke denominasi.
Sekian penjelasan saya, saya ucapkan banyak terima kasih atas argumentasi – argumentasi yang membangun iman Katolik. Anda jauh lebih terhormat daripada percakapan Kevin dan Valen (kalau anda menemukan di situs ini juga) dalam berargumentasi. saya sangat hargai hal ini. TUHAN YESUS selalu memberkati anda.
Shalom Lisa,
Saya tergugah untuk turut berkomentar mengenai pertanyaan Ibu Lisa pada bagian “Masa ada orang bertobat dari kristen menjadi katolik?” Saya percaya dari tulisan ibu bahwa pertanyaan itu bukan suatu penghinaan melainkan suatu ungkapan jujur untuk mencari kebenaran. Walaupun kata bertobat saya pikir kurang tepat, karena tidak banyak orang protestan yang paham betul ajaran Gereja katolik tapi tetap menyangkal kebenaranNya. Perlu diketahui bahwa ada ciri gereja katolik yang agak low profile dalam urusan konversi ini, sekalipun para pemimpin Gereja Katolik yakin bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan sendiri oleh Kristus. Kalau mengambil istilah sepakbola, Gereja katolik saat ini lebih banyak bertahan daripada menyerang dalam hal apologetik.
Kalau bicara di Indonesia, betul saya rasa (saya tidak punya data statistiknya) lebih banyak yang pindah dari katolik ke protestan. Dari pengalaman teman-teman saya yang pindah ke protestan lebih banyak yang karena alasan emosi belaka seperti lebih diperhatikan, ngga ngantuk dsb dari pada alasan teologis. Saat ini saya juga tidak mau berargumen masalah teologis dengan ibu Lisa, Pak Stef dan Ibu Inggrid lebih kompeten dalam hal itu. Saya hanya mau memberi informasi bahwa sungguh banyak umat kristiani yang pindah dari protestan ke katolik terutama di Amerika Serikat.
Lima contoh buku yang disebutkan ibu Inggrid itu hanya sebagian saja, masih banyak lagi dan jika ibu tertarik untuk mengetahui lebih banyak saya sarankan mengunjungi website http://www.chnetwork.org/library/conversion stories. Dari lima buku yang disebutkan ada dua buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu: Rome Sweet Home karya Scott Hahn terbitan Dioma, dan Born Fundamentalist, Born again Catholic, karya David Curie terbitan Ides. Sedikit informasi mengenai Scott Hahn sebelum ibu membaca karya-karyanya, Ia sebelum pindah ke katolik adalah seorang pendeta muda Gereja Presbyterian yang diutus untuk “mempertobatkan” orang-orang katolik karena ia diajarkan bahwa orang-orang katolik itu sesat.
Setelah Scott Hahn berjuang bertahun-tahun mencari-cari kesalahan ajaran Gereja Katolik, yang terjadi adalah sebaliknya, ia justru pindah menjadi katolik karena menemukan kebenaran di Gereja katolik. Kepindahannya bukan perkara mudah, melainkan lewat pergumulan hebat termasuk dengan istrinya, Kimberly yang anak pendeta. Bisa ibu bayangkan seorang pendeta dengan karir yang cemerlang tiba-tiba harus pindah agama? Cerita konversi Scott Hahn ini sudah lama terjadi yaitu tahun 1986, dan Ia mendapat julukan tidak resmi “Luther in Reverse” karena sejak kepindahannya beribu-ribu umat protestan pindah atau kembali menjadi katolik, termasuk istrinya yang baru pindah 4 tahun kemudian. Yang pindah tidak sedikit yang sudah menjadi pendeta. Salah satu topik sulit bagi Hahn dan kebanyakan orang protestan adalah mengenai Maria, maka tidak heran kalau Ibu Lisa pun demikian. Sekarang malah Scott juga menulis buku mengenai Maria.
Tuhan memberkati,
Teddy
maaf ikutan ningbrum….
Dari kesaksian kesaksian orang orang yang dari Protestan pindah ke Katolik (contohnya Scott Hahn, David B. Curry,dan masih banyak lagi teolog dan profesor yang pindah ke Katolik) dan orang-orang Katolik yang pindah ke Protestan yang menurut kata bu Lisa di gerejanya kebanyakan orang mantan Katolik saya menarik satu benang merah seperti ini:
” Para teolog dan profesor pindah ke Katolik karena mereka melek Alkitab dari awal dan buta terhadap Gereja Katolik (bisa “buta” dari lahir atau “dibutakan” pada saat perjalanan hidupnya), tetapi banyak orang Katolik karena buta Alkitab( dan tradisi suci, dan magisterium gereja) meninggalkan Katolik karena mereka semakin “dibutakan” oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab.
Perbedaannya adalah satu pihak “melek alkitab” justru oleh Alkitablah yang mengantar mereka pulang ke pangkuan Gereja Katolik dan pihak lainnya “buta alkitab” justru oleh karena kebutaannya akan Alkitab di bawa oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk meninggalkan Gereja Katolik. sungguh ironis besar.
Dari benang merah ini kita melihat kebenaran Alkitab. Semakin orang buta Alkitab (dan tradisi suci, dan magisterium gereja) semakin membawa orang itu jauh dari gereja Katolik dan sebaliknya…….
Jadi ada di pihak manakah kita? “Buta”? “Melek”? “Membuat orang lain buta”?”Dibutakan orang lain”?”Membantu orang orang buta”?. silahkan jawab pertanyaan ini dalam hati anda semua dengan jujur.
saya sangat yakin sdr. Stef dan Ingrid dalam kapasitasnya berperan “membantu orang orang buta” menemukan kembali kebenaran sejati dalam GerejaNya.
[dari katolisitas: kita juga menyadari bahwa sering umat Protestan yang membawa umat Katolik ke gereja mereka karena mempunyai niat yang tulus untuk “menyelamatkan” umat Katolik, yang dianggap belum selamat. Namun sungguh memprihatinkan ada banyak umat Katolik yang kurang mendalami ajaran Gereja Katolik, sehingga mudah untuk diombang-ambingkan oleh ajaran yang bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik yang benar.]
Terimakasih atas jawaban2 Ibu Ingrid Listiati. Ijinkan saya membaca terlebih dahulu seluruh jawaban ibu, nanti sekiranya masih ada yg akan saya tanggapi akan saya berikan tanggapan di lain waktu. Tetapi yang perlu Ibu ketahui saya berharap kerja ibu tidak menjadi sia-sia. Yg saya maksudkan disini adalah waktu yg ibu luangkan untuk menjawab pertanyaan atau sanggahan dari umat Protestan yang meskipun pertanyaan yg terlalu remeh ibu masih mau menjawabnya, dan itu tidak akan sia-sia. Karena jawaban yang ibu berikan bukan saja akan bermanfaat bagi si penanya dalam hal ini saya, tetapi juga bermanfaat bagi yg lain yg ikut membacanya. GBU!
Salam Kasih
Lisa
Salam kenal bu Lisa, salam damai dalam kasih Kristus.
Saya baru menemukan situs yg diasuh oleh pak Stef dan bu Ingrid ini kira2 2 bulan yang lalu. Dan sejak itu saya beberapa kali membaca artikel2 maupun tanya jawab. Saya merasa terbantu sekali dalam memahami sejarah, keimanan, kebenaran, maupun rencana Allah dengan lebih baik.
Saya yakin hal2 yang seperti sy rasakan diatas itulah yang memang diharapkan oleh pengasuh situs ini. Jadi ibu Lisa tidak usah khawatir bu Inggrid akan meremehkan prtanyaan anda. Bukankah begitu bu Inggrid?
Oh, iya… untuk bu Lisa saya usulkan supaya sebelum mengajukan pertanyaan lagi, anda coba memahami dulu dengan logika, “keyakinan” anda tentang ” Tradisi Suci dan Alkitab”.
Cara ini mungkin bisa membantu, saat sedang membaca alkitab, saya selalu berusaha untuk menerapkan Lectio Divina meskipun tidak dengan metode lengkap (ada 4 tahap). Mula2 saya membaca(lectio), merenungkan(meditatio), menarik kesimpulan/mendapatkan pengertian ….[dalam persatuan dengan Tuhan (comtemplatio)…. dari Admin Katolisitas: kami edit]. Nah saat merenungkan itu biasanya saya terbayang masa2 zaman para rasul. Dan yang selalu saya rasakan adalah bahwa semua kejadian di dalam kitab suci perjanjian baru, ditulis selama dan sesudah masa para rasul hidup (contoh: Lukas 1:1-4). Jadi tidak mungkin khan kalau Tradisi suci itu ada sesudah Alkitab? Justru sebagian besar isi perjanjian baru itulah yang ditulis berdasarkan Tradisi atau sejarah. Selamat mencoba bu.
Shalom, Sunjoyo.
iya… saya juga heran dengan teman saya yg protestan yg menganggap bahwa alkitab sudah ada sebelum katolik ada. padahal sejarah menunjukan bahwa alkitab baru ada sekitar abad ke 3 atau ke 4. sedangkan Gereja Katolik sudah ada sejak tahun 30-an.
kalau demikian juga Yudas Iskariot adalah Murid Tuhan YESUS, atau rasul Dan Gehazi adalah bujang Elia Namun apa yang menjamin “status” mereka? Keduanya bukan hanya salah, melainkan mengambil keuntungan dari statusnya……..
[Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan ini diedit karena sudah disertakan dan dijawab di atas, silakan klik]
maaf saya tidak sehebat anda berdua (saudari Lisa dan Inggrid)
ada sedikit pertanyaan untuk saudari Lisa. Saudari Inggrid boleh jg menanggapinya.
@ Lisa :
di bagian akhir-akhir pertanyaan saudari Lisa, saya melihat ada kata-kata “Rasul Martin Luther” kenapa menggunakan kata-kata rasul? apakah dasar alkitab untuk mengatakan bahwa martin luther adalah rasul? apakah ada di alkitab?
menurut saya… mungkin… protestan perlu menambahi alkitabnya dengan tulisan-tulisan para bapa gereja protestan (martin luther, john calvin, dst) jadi… di alkitab protestan nantinya ada bagian apokrif-nya.
maaf jika pendapat saya ini terlalu konyol.
saya setuju dengan saudara Alexander pontoh. dalam Alkitab hanya disebut dua belas rasul, dan rasul itu adalah pilihan Yesus sendiri, paulus pun hanya mengklaim dirinya sebagai rasul, dan murid-murid Yesusu saat itu juga tidak mengakui paulus sebagai rasul. maf jika jawaban saya sangat berbeda.
Shalom Petrus,
Rasul Paulus ditunjuk oleh Kristus menjadi Rasul-Nya untuk mewartakan Injil kepada orang- orang non- Yahudi, seperti yang disebutkan Paulus dalam suratnya kepada Timotius (1 Tim 2:7 dan 2 Tim 1:11). Rasul Paulus mengatakan bahwa ia menjadi rasul bukan karena ditunjuk oleh manusia, melainkan oleh Yesus Kristus (lih. Gal 1:1). Dalam suratnya kepada umat di Korintus, Rasul Paulus juga menyampaikan pergumulannya dan penderitaannya sebagai seorang rasul, yang juga berjuang keras menyebarkan Injil, seperti para rasul lainnya (lih 2 Kor 11:1- 12:13). Penunjukan Paulus sebagai rasul dan pengajar yang dimaksud di sini berkaitan dengan pengalaman rohani dan penugasan yang diterimanya dari Kristus sendiri, pada perjalanan nya ke Damsyik (lih. Kis 9).
Bahwa pada awalnya para murid takut kepadanya, itu memang dikisahkan dalam Kis 9:26. Namun setelah Barnabas menerima Paulus, dan setelah rasul- rasul yang lain melihat keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus, maka para rasul yang lain menjadi percaya akan kesungguhannya, dan bahkan melindungi Paulus ketika orang- orang Yahudi berusaha membunuhnya. Para rasul itulah yang membawa Paulus ke Kaisarea dan membantunya pergi ke Tarsus, agar ia lolos dari usaha pembunuhan kaum Yahudi (Kis 9:27-30). Rasul Petrus-pun menerima Paulus, dan menyebutnya sebagai “saudara kita yang terkasih” pada saat mengisahkan surat- surat Paulus (2 Pet 3:15).
Selanjutnya kesaksian para jemaat pertama dan tulisan para Bapa Gereja memberi menunjukkan bahwa kedua rasul tersebut Petrus dan Paulus, bekerja bersama- sama untuk membangun Gereja di Roma, yang pada saat itu dikatakan sebagai pusat dunia. Ini dilakukan mereka untuk menuruti pesan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga, agar murid- murid-Nya pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil (lih. Mat 28:19-20; Kis 1:8). Silakan membaca juga pada artikel ini, silakan klik
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Comments are closed.