Sekilas Makna Liturgi dan Beberapa Pelanggaran Liturgi

244

[Berikut ini adalah artikel tentang Liturgi, yang ditulis berdasarkan atas korespondensi/ diskusi dengan Rm. Boli Ujan SVD, seorang pakar Liturgi di tanah air, dan salah satu pembimbing situs katolisitas.org. Apa yang tertulis di sini telah disetujui oleh beliau].

Arti liturgi

Liturgi (leitourgia) pada awalnya berarti “karya publik”. Dalam sejarah perkembangan Gereja, liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Di dalam liturgi, Kristus melanjutkan karya Keselamatan di dalam, dengan dan melalui Gereja-Nya.[1] Dalam kitab Perjanjian Baru, yaitu Surat kepada Jemaat di Ibrani, kata leitourgia dan leitourgein disebut 3 kali (lih. Ibr 8:6; 9:21; 10:11) yang mengacu kepada pelayanan imamat Kristus.

Maka, liturgi merupakan wujud pelaksanaan tugas Kristus sebagai Imam Agung, di mana Kristus menjadi Pengantara satu-satunya antara manusia kepada Allah Bapa, dengan mengorbankan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya (lih. Ibr 9:12; 1 Tim 2:5). Korban Kristus yang satu-satunya inilah yang dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus, dalam perayaan Ekaristi. Dengan demikian, liturgi merupakan penyembahan Kristus kepada Allah Bapa di dalam Roh Kudus, dan dalam melakukan penyembahan ini, Kristus melibatkan TubuhNya, yaitu Gereja. Karena itu, liturgi merupakan karya bersama antara Kristus-Sang Kepala, dan Gereja yang adalah Tubuh Kristus,[2] sehingga tidak ada kegiatan Gereja yang lebih tinggi nilainya daripada liturgi karena di dalam liturgi terwujudlah persatuan yang begitu erat antara Kristus dengan Gereja sebagai ‘Mempelai’-Nya dan Tubuh-Nya sendiri.[3]

Jadi definisi liturgi, menurut Paus Pius XII dalam surat ensikliknya tentang Liturgi Suci, Mediator Dei, menjabarkan definisi liturgi sebagai berikut:

“Liturgi adalah ibadat publik yang dilakukan oleh Penebus kita sebagai Kepala Gereja kepada Allah Bapa dan juga ibadat yang dilakukan oleh komunitas umat beriman kepada Pendirinya [Kristus], dan melalui Dia kepada Bapa. Singkatnya, liturgi adalah ibadat penyembahan yang dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus secara keseluruhan, yaitu Kepala dan anggota-anggotanya.”[4]

atau menurut Rm. Emanuel Martasudjita, Pr, “Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah di dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.”[5]

Partisipasi aktif dan sadar

Karena liturgi merupakan perayaan karya keselamatan yang dilakukan oleh Kristus dalam kesatuan dengan Gereja-Nya, maka kita yang adalah anggota- anggota-Nya harus turut mengambil bagian secara aktif di dalam liturgi. Mengapa? Karena liturgi dimaksudkan sebagai karya Kristus dengan melibatkan kita anggota- anggota-Nya, yaitu karya keselamatan Allah yang diperoleh melalui Misteri Paska Kristus, yaitu: wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga. Kita disatukan dalam Misteri Paska Kristus ini, dengan membawa persembahan hidup kita ke hadapan Allah, dan dengan inilah kita menjalankan martabat Pembaptisan kita sebagai umat pilihan Allah.

Redemptionis Sacramentum (RS) 36     Perayaan Misa, sebagai karya Kristus serta Gereja, merupakan pusat seluruh hidup Kristiani, baik untuk Gereja universal maupun untuk Gereja partikular, dan juga untuk tiap-tiap orang beriman, yang terlibat di dalamnya “pada cara-cara yang berbeda-beda sesuai dengan keanekaragaman jenjang, pelayanan dan partisipasi nyata.” Dengan cara ini umat Kristiani, “bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang kudus, milik Allah sendiri”, menunjukkan jenjang-jenjangnya menurut susunan hirarki yang rapih. “Adapun imamat umum kaum beriman dan imamat jabatan atau hirarkis, kendati berbeda hakekatnya dan bukan hanya tingkatannya, saling terarahkan. Sebab keduanya dengan cara khasnya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus.”

RS 37     Maka itu partisipasi kaum beriman awam dalam Ekaristi dan dalam perayaan-perayaan gerejawi lain, tidak boleh merupakan suatu kehadiran melulu, apalagi suatu kehadiran pasif, sebaliknya harus sungguh dipandang sebagai suatu ungkapan iman dan kesadaran akan martabat pembaptisan.

Partisipasi secara aktif dan sadar ini terlihat dari keikutsertaan umat dalam aklamasi-aklamasi yang diserukan oleh umat, jawaban-jawaban tertentu, lagu-lagu mazmur dan kidung, gerak-gerik penghormatan, menjaga keheningan yang suci pada saat-saat tertentu, dan adanya rubrik-rubrik untuk peranan umat. Di samping itu peluang partisipasi umat dapat diwujudkan dalam pemilihan lagu-lagu, doa-doa, pembacaan teks Kitab Suci, dan dekorasi gereja. Keikutsertaan umat ini tujuannya adalah untuk semakin meningkatkan penghayatan akan sabda Allah dan misteri Paska Kristus yang sedang dirayakan (lih. RS 39). Namun demikian, di atas semua itu, partisipasi aktif dan sadar ini menyangkut sikap batin, yang semakin menghayati dan mengagumi makna perayaan Ekaristi:

RS 40   Akan tetapi, meskipun perayaan liturgis menuntut partisipasi aktif semua orang beriman, belum tentu berarti bahwa setiap orang harus melakukan kegiatan konkrit lain di samping tindakan dan gerak-gerik umum, seakan-akan setiap orang wajib melakukan satu tugas khusus dalam perayaan Ekaristi. Sebaliknya, melalui instruksi katekis harus diusahakan dengan tekun untuk memperbaiki pendapat-pendapat serta praktek-praktek yang dangkal itu, yang selama beberapa tahun terakhir ini sering terjadi. Katekese yang benar akan menanam kembali dalam hati seluruh orang Kristiani kekaguman akan mulianya serta agungnya misteri iman, yakni Ekaristi…. seluruh hidup Kristiani yang mendapat kekuatan daripadanya dan sekaligus tertuju kepadanya….

Tentang sikap batin ini, Redemptionis Sacramentum mengajarkan:

“Maka, haruslah menjadi jelas buat semua, bahwa Tuhan tidak dapat dihormati dengan layak kecuali pikiran dan hati diarahkan kepada-Nya…. (RS 26) Oleh karena itu, ….. semua umat harus sadar bahwa untuk mengambil bagian di dalam kurban Ekaristi adalah tugas dan martabat mereka yang utama. Dan maka bahwa bukan dengan cara yang pasif dan asal-asalan/malas, melantur dan melamun, tetapi dengan cara penuh perhatian dan konsentrasi, mereka dapat dipersatukan dengan se-erat mungkin dengan Sang Imam Agung, sesuai dengan perkataan Rasul Paulus, “Hendaklah kamu menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5) Dan bersama dengan Dia dan melalui Dia hendaklah mereka membuat persembahan, dan di dalam kesatuan dengan Dia, biarlah mereka mempersembahkan diri mereka sendiri (RS 80). “….menaruh pikiran yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” mensyaratkan bahwa semua orang Kristen harus mempunyai, sedapat mungkin secara manusiawi, sikap batin yang sama dengan yang telah terdapat pada Sang Penebus ilahi ketika Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai korban. Artinya mereka harus mempunyai sikap kerendahan hati, memberikan penyembahan, hormat, pujian dan syukur kepada Tuhan yang Maha tinggi dan maha besar. Selanjutnya, artinya mereka harus mengambil sikap seperti halnya sebagai kurban, [yaitu]bahwa mereka menyangkal diri mereka sendiri sebagaimana diperintahkan di dalam Injil, bahwa mereka dengan sukarela dan dengan kehendak sendiri melakukan pertobatan dan tiap-tiap orang membenci dosa-dosanya dan membayar denda dosanya. Dengan kata lain mereka harus mengalami kematian mistik dengan Kristus di kayu salib, sehingga kita dapat menerapkan kepada diri kita sendiri perkataan Rasul Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus” (Gal 2:19) (RS, 81)

“…. Jelaslah penting bahwa ritus kurban persembahan yang diucapkan secara kodrati, menandai penyembahan yang ada di dalam hati. Kini kurban Hukum yang Baru menandai bahwa penyembahan tertinggi di mana Sang Kepala yang mempersembahkan diri-Nya, yaitu Kristus, dan di dalam kesatuan dengan Dia dan melalui Dia, semua anggota Tubuh Mistik-Nya memberi kepada Tuhan penghormatan dan sembah sujud yang layak bagi-Nya. (RS 93)…. Agar persembahan di mana umat beriman mempersembahkan Kurban ilahi di dalam kurban ini kepada Bapa Surgawi memperoleh hasil yang penuh, adalah penting bahwa orang-orang menambahkan…. persembahan diri mereka sendiri sebagai kurban (RS 98). Maka semua bagian liturgi, akan menghasilkan di dalam hati kita keserupaan dengan Sang Penebus ilahi melalui misteri salib, menurut perkataan Rasul Paulus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Aku hidup namun bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:19-20) Jadi kita menjadi kurban…. bersama dengan Kristus, untuk semakin memuliakan Bapa yang kekal.” (RS 102)

Penyesuaian liturgi bertujuan untuk meningkatkan peran serta para peraya secara aktif

Liturgi, sebagai karya Gereja (karya Kristus dan anggota-anggota-Nya) mengalami perkembangan dan penyesuaian; dan hal ini kita lihat dalam sejarah Gereja. Sebab bagaimanapun, liturgi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja, dan karena itu segala bentuk penyesuaiannya harus semakin mendorong partisipasi umat di dalamnya dan mengarahkan umat kepada peningkatan penghayatan akan maknanya yang luhur.

Romo Boli Ujan SVD, seorang pakar liturgi di tanah air dan salah seorang narasumber di situs ini, pernah menulis di artikel tentang Penyesuaian dan Inkulturasi liturgi, silakan klik, demikian:

“Arah penyesuaian liturgi dari pihak para peraya sekaligus mengingatkan kita akan tujuan dari penyesuaian liturgi yaitu agar para peraya dapat dengan mudah dan jelas serta aktif mengambil bagian dalam perayaan. Dengan demikian kita lebih mampu memahami tindakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. …. Liturgi adalah perayaan pertemuan antara Allah dengan manusia dan antara anggota persekutuan satu sama lain yang disatukan dalam Allah. Kehadiran Allah dalam liturgi ini merupakan hal pokok yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Inilah yang membuat keseluruhan suasana perayaan menjadi kudus dan berbeda dengan suasana profan…..

[Namun] Sering penyesuaian liturgi dipandang sebagai kegiatan satu arah saja yaitu upaya dari pihak Allah dan para petugas khusus untuk membuat liturgi itu menjadi relevan dan sesuai dengan para peraya. Padahal liturgi merupakan pertemuan antara Allah dan manusia, dalamnya terjadi dialog bukan monolog. Liturgi sebagai karya Allah ditanggapi oleh para peraya. Maka penyesuaian dari pihak Allah dan para petugas khusus dalam liturgi perlu ditanggapi oleh semua peraya. Dalam liturgi manusia harus berusaha menyesuaikan diri dengan Allah serta rencana-rencana-Nya, dan menyesuaikan diri dengan pedoman-pedoman liturgi terutama pedoman umum mengenai hal-hal pokok dan penting yang dipandang sebagai unsur pembentuk liturgi. Arah penyesuaian terakhir sering kurang mendapat perhatian dalam pembicaraan mengenai pokok ini, sebab yang lebih diutamakan dalam diskusi dan proses penyesuaian liturgi adalah segala upaya membuat liturgi itu sesuai atau cocok untuk para peraya. Kalau demikian penyesuaian liturgi menjadi pincang.”

Beberapa Pelanggaran Liturgi dalam Perayaan Ekaristi

Setelah kita mengetahui pengertian tentang liturgi, mari kita lihat bersama adanya pelanggaran-pelanggaran yang umum terjadi di dalam liturgi Perayaan Ekaristi, yang biasanya didasari oleh kekurangpahaman ataupun ketidakseimbangan dialog antara pihak Allah dan pihak peraya. Dewasa ini, ada kecenderungan untuk terlalu mengikuti kehendak para peraya, sampai mengesampingkan apa yang sebenarnya menjadi hal prinsip yang menjadi kehendak Allah, atau yang selayaknya diberikan kepada Allah sebagai ungkapan penghargaan kita akan Misteri Paska yang kita rayakan dalam liturgi. Kekurangpahaman ataupun ketimpangan penyesuaian dalam liturgi ini melahirkan banyak pelanggaran-pelanggaran, dan berikut ini adalah beberapa contohnya:

Pelanggaran sehubungan dengan persiapan batin sebelum mengikuti Misa Kudus:

1. Tidak berpuasa sedikitnya sejam sebelum menerima Komuni

Seharusnya:

KHK Kan. 919

§ 1 Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.

Maksud puasa sebelum Komuni tentu adalah untuk semakin menyadarkan kita bahwa yang akan kita santap dalam Ekaristi adalah bukan makanan biasa, namun adalah Tuhan sendiri: yaitu Kristus Sang Roti Hidup, yang dapat membawa kita kepada kehidupan kekal (lih. Yoh 6:56-57)

2. Menggunakan pakaian yang tidak/ kurang sopan ke gereja, datang terlambat, ngobrol, berBBM/ SMS di gereja, makan dan minum di dalam gereja, terutama anak- anak, anggota koor yang minum sebelum/ sesudah bertugas, umat saat menunggu dimulainya perayaan Ekaristi.

Seharusnya:

KGK 1387 ….Di dalam sikap (gerak-gerik, pakaian) akan terungkap penghormatan, kekhidmatan, dan kegembiraan yang sesuai dengan saat di mana Kristus menjadi tamu kita. (CCC 1387 …. Bodily demeanor (gestures, clothing) ought to convey the respect, solemnity, and joy of this moment when Christ becomes our guest)

Sudah sewajarnya dan sepantasnya jika kita memberikan penghormatan kepada Allah yang kita jumpai di dalam liturgi. Jika sikap seenaknya tidak kita lakukan jika kita sedang bertemu bapak Presiden, maka selayaknya kita tidak bersikap demikian kepada Tuhan yang kita jumpai di gereja.

3. Tidak memeriksa batin, namun tetap menyambut Komuni meskipun dalam keadaan berdosa berat

Seharusnya:

RS 81    Kebiasaan sejak dahulu kala menunjukkan bahwa setiap orang harus memeriksa batinnya dengan mendalam, dan bahwa setiap orang yang sadar telah melakukan dosa berat tidak boleh menyambut Tubuh Tuhan kalau tidak terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat, kecuali jika ada alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan untuk mengaku dosa; dalam hal itu ia harus ingat bahwa ia harus membuat doa tobat sempurna, dan dalam doa ini dengan sendirinya tercantum maksud untuk mengaku dosa secepat mungkin (lih. KGK 1385, KHK Kan 916, Ecclesia de Eucharistia, 36) 

Dosa berat memisahkan kita dari Kristus, dan karena itu untuk bersatu dengan-Nya kita harus meninggalkan dosa tersebut, dan mengakukannya di dalam sakramen Tobat. Contoh dosa berat ini misalnya jika hidup dalam perkawinan yang tidak sah menurut hukum Gereja Katolik, atau hidup dalam perzinahan/ percabulan, atau dalam keadaan kecanduan obat-obatan, dst. Kekecualian akan “adanya alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan mengaku dosa”, contohnya adalah bahaya maut, atau jika tinggal di daerah terpencil di mana Komuni dibagikan oleh seorang asisten imam dalam waktu sekian minggu sekali.

Pelanggaran dalam bagian- bagian Misa Kudus:

1. Mazmur Tanggapan digantikan dengan lagu rohani lainnya

Seharusnya:

Redemptoris Sacramentum (RS) 62    “Tidak juga diperkenankan meniadakan atau menggantikan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sudah ditetapkan, atas inisiatif sendiri, apalagimengganti bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi Sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Kitab Suci.” (lih. juga PUMR 57)

Katekismus mengajarkan bahwa kehadiran Kristus dalam Perayaan Ekaristi nyata dalam: 1) diri imamnya; 2) secara khusus dalam rupa roti dan anggur; 3) dalam sabda Allah (bacaan-bacaan Kitab Suci); 4) dalam jemaat yang berkumpul (lih. KGK 1088). Nah sabda Allah yang dimaksud di sini adalah bacaan di dalam Liturgi Sabda, dan ini termasuk bacaan Mazmur pada hari itu.

Selanjutnya tentang pembahasan topik ini, klik di sini.

2. Ordinarium digantikan dengan lagu- lagu lain dengan teks yang berbeda, yang tidak sama dengan yang sudah disahkan KWI.

RS 59    Di sana-sini terjadi bahwa Imam, Diakon atau umat dengan bebas mengubahkan atau menggantikan teks-teks liturgi suci yang harus mereka bawakan. Praktek yang amat tidak baik ini harus dihentikan. Karena dengan berbuat demikian, perayaan Liturgi Suci digoyahkan dan tidak jarang arti asli liturgi dibengkokkan.

Seharusnya:

PUMR 393    Perlu diperhatikan pentingnya nyanyian dalam Misa sebagai bagian utuh dari liturgi. Konferensi Uskuplah yang berwenang mengesahkan lagu-lagu yang serasi, khususnya untuk teks-teks Ordinarium, jawaban dan aklamasi umat, dan untuk ritus-ritus khusus yang diselenggarakan dalam kurun tahun liturgi….

Rumusan Ordinarium merupakan pernyataan iman Gereja yang sifatnya baku, sehingga tidak selayaknya diubah-ubah atas kehendak pribadi.

3. Kurangnya saat hening.

Seharusnya:

PUMR 45    Beberapa kali dalam Misa hendaknya diadakan saat hening. Saat hening juga merupakan bagian perayaan, tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Sebelum pernyataan tobat umat mawas diri, dan sesudah ajakan untuk doa pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang didengar. Sesudah komuni umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati.
Bahkan sebelum perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat.

PUMR 56    Liturgi Sabda haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mendorong umat untuk merenung. Oleh karena itu, setiap bentuk ketergesa-gesaan yang dapat mengganggu permenungan harus sungguh dihindari. Selama Liturgi Sabda, sangat cocok disisipkan saat hening sejenak, tergantung pada besarnya jemaat yang berhimpun. Saat hening ini merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah, dengan dukungan Roh Kudus, dan untuk menyiapkan jawaban dalam bentuk doa. Saat hening sangat tepat dilaksanakan sesudah bacaan pertama, sesudah bacaan kedua, dan sesudah homili.

4. Diizinkannya seorang awam untuk berkhotbah/ memberikan kesaksian di dalam homili  (misalnya untuk mengisi homili Minggu Panggilan, homili di misa requiem, ataupun kesempatan khusus lainnya).

Seharusnya:

RS 64    Homili yang diberikan dalam rangka perayaan Misa Kudus, dan yang merupakan bagian utuh dari liturgi itu “pada umumnya dibawakan oleh Imam perayaan. Ia dapat menyerahkan tugas ini kepada salah seorang imam konselebran, atau kadang-kadang, tergantung situasi, kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang awam….”

RS 66    Larangan terhadap orang awam untuk berkhotbah dalam Misa, berlaku juga untuk para seminaris, untuk mahasiswa teologi dan untuk orang yang telah diangkat dan dikenal sebagai “asisten pastoral”; tidak boleh ada kekecualian untuk orang awam lain, atau kelompok, komunitas atau perkumpulan apa pun.

RS 74    Jika dipandang perlu bahwa kepada umat yang berkumpul di dalam gereja, diberi instruksi atau kesaksian tentang hidup Kristiani oleh seorang awam, maka sepatutnya hal ini dibuat di luar Misa. Akan tetapi jika ada alasan kuat, maka dapat diizinkan bahwa suatu instruksi atau kesaksian yang demikian disampaikan setelah Doa sesudah Komuni. Namun hal ini tidak boleh menjadi kebiasaan. Selain itu, instruksi atau kesaksian itu tidak boleh bercorak seperti sebuah homili, dan tidak boleh homili dibatalkan karena ada acara dimaksud.

RS 67 Perlulah diperhatikan secara khusus, agar homili itu sungguh berdasarkan misteri-misteri penebusan, dengan menguraikan misteri-misteri iman serta patokan hidup Kristiani, bertitik tolak dari bacaan-bacaan Kitab Suci serta teks-teks liturgi sepanjang tahun liturgi, dan juga memberi penjelasan tentang bagian umum (Ordinarium) maupun bagian khusus (Proprium) dala Misa ataupun suatu perayaan gerejawi lain…..

5. Pemberian Salam Damai yang dilakukan terlalu meriah dan panjang, sampai imam turun dari panti imam.

Seharusnya:

RS 71    Perlu mempertahankan kebiasaan seturut Ritus Romawi, untuk saling menyampaikan salam damai menjelang Komuni. Sesuai dengan tradisi Ritus Romawi, kebiasaan ini bukanlah dimaksudkan sebagai rekonsiliasi atau pengampunan dosa, melainkan mau menyatakan damai, persekutuan dan cinta sebelum menyambut Ekaristi Mahakudus. Segi rekonsiliasi antara umat yang hadir lebih diungkapkan dalam upacara tobat pada awal Misa, khususnya dalam rumus pertama.

RS 72    “Salam damai hendaknya diberikan oleh setiap orang hanya kepada mereka yang terdekat dan dengan suatu cara yang pantas.” “Imam boleh memberikan salam damai kepada para pelayan, namun tidak meninggalkan panti imam agar jalannya perayaan jangan terganggu….”

Salam Damai perlu dipertahankan, hanya hal dinyanyikan atau tidak, itu tidak secara eksplisit dinyatakan di dalam dokumen Gereja. Bagi yang memilih untuk menyanyikannya, dasarnya karena menganggap bahwa nyanyian itu merupakan cara menyampaikan damai. Sedangkan yang tidak menyanyikannya, kemungkinan menganggap bahwa hal dinyanyikannya Salam Damai tidak eksplisit disyaratkan dalam dokumen Gereja, dan karena jika dinyanyikan malah dapat mengganggu pusat perhatian saat itu yang seharusnya difokuskan kepada Kristus. Jika kelak ingin diseragamkan, maka pihak KWI-lah yang berwenang untuk menentukan apakah Salam Damai ini akan dinyanyikan atau tidak dinyanyikan.

Pelanggaran dalam hal penerimaan Komuni:

1. Umat mencelupkan sendiri Hosti ke dalam piala anggur.

Seharusnya:

RS 94     Umat tidak diizinkan mengambil sendiri- apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus.

RS 104     Umat yang menyambut, tidak diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya…..

PUMR 160     Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut atau sambil berdiri, sesuai dengan ketentuan Konferensi Uskup…

Pada hakekatnya Komuni adalah sesuatu yang “diberikan” oleh Kristus: “Terimalah dan makanlah inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi-Mu…. Terimalah dan minumlah, inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagimu….”. Jadi bukan sesuatu yang dapat diambil sendiri.

2. Pengantin saling menerimakan Komuni.

Seharusnya, tidak boleh:

RS 94     Umat tidak diizinkan mengambil sendiri- apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus. Dalam konteks ini harus ditinggalkan juga penyimpangan di mana kedua mempelai saling menerimakan Komuni dalam misa perkawinan.

Ekaristi kudus adalah kurban Kristus, dan diberikan oleh Kristus (melalui imam ataupun petugas pembagi Komuni tak lazim yang diberi tugas tersebut), sehingga bukan untuk saling diterimakan oleh umat sendiri.

3. Umat yang menerima Komuni dengan tangan, tidak melakukan sikap penghormatan sebelum menerimanya.

Seharusnya:

PUMR 160    ….Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh (dan Darah) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah- kaidah mengenai komuni.

Adalah baik jika sesaat sebelum menyambut Komuni umat menundukkan kepala, tanda penghormatan kepada Kristus Tuhan yang hadir di dalamnya.

4. Patena sudah jarang digunakan.

Seharusnya:

RS 93    Patena Komuni untuk umat hendaknya dipertahankan, demi menghindarkan bahaya jatuhnya hosti kudus atau pecahannya.

5. Umat tidak menjawab “Amin” pada perkataan Romo, “Tubuh Kristus” sebelum menerima hosti.

Seharusnya:

PUMR 287    Kalau komuni dua rupa dilaksanakan dengan mencelupkan hosti ke dalam anggur, tiap penyambut, sambil memegang patena di bawah dagu, menghadap imam yang memegang piala. Di samping imam berdiri pelayan yang memegang bejana kudus berisi hosti. Imam mengambil hosti, mencelupkan sebagian ke dalam piala, memperlihatkannya kepada penyambut sambil berkata: Tubuh dan Darah Kristus. Penyambut menjawab: Amin, lalu menerima hosti dengan mulut, dan kemudian kembali ke tempat duduk.

6. Petugas Pembagi Komuni Tak Lazim (atau dikenal umat dengan istilah pro-diakon) membagi Komuni, Pastor malah duduk.

Seharusnya:

RS 154    Seperti  sudah dinyatakan, “pelayan yang selaku pribadi Kristus dapat melaksanakan sakramen Ekaristi, hanyalah Imam yang ditahbiskan secara sah” (lih. KHK Kan 900, 1) Karena itu, istilah “pelayan Ekaristi: hanya dapat diterapkan pada seorang Imam. Di samping itu, berdasarkan pentahbisan suci, pelayan-pelayan yang lazim untuk memberi komuni adalah Uskup, Imam dan Diakon….

RS 151    Hanya kalau sungguh perlu, boleh diminta bantuan pelayan-pelayan tak lazim dalam perayaan liturgi. Permohonan akan bantuan yang demikian bukannya dimaksudkan demi menunjang partisipasi umat, melainkan, karena kodratnya, bersifat pelengkap dan darurat…..

RS 152    Jabatan- jabatan yang semata- mata pelengkap ini jangan dipergunakan untuk menjatuhkan pelayanan asli oleh para Imam demikian rupa…..

RS 157    ….Tidak dapat dibenarkan kebiasaan para Imam yang, walaupun hadir pada perayaan itu, tidak membagi komuni dan menyerahkan tugas ini kepada orang-orang awam.

Pelanggaran dalam hal musik liturgis:

1. Dinyanyikannya lagu-lagu pop rohani dalam perayaan Ekaristi

Seharusnya:

Tra le Sollecitudini  1    Musik liturgis (sacred music)… mengambil bagian dalam ruang lingkup umum liturgi, yaitu kemuliaan Tuhan, pengudusan dan pengajaran umat beriman. Musik liturgis memberi kontribusi kepada keindahan dan keagungan upacara gerejawi, dan karena tujuan prinsipnya adalah untuk melingkupi teks liturgis dengan melodi yang cocok demi pemahaman umat beriman, tujuan utamanya adalah untuk menambahkan dayaguna-nya kepada teks, agar melaluinya umat dapat lebih terdorong kepada devosi dan lebih baik diarahkan kepada penerimaan buah-buah rahmat yang dihasilkan oleh perayaan misteri-misteri yang paling kudus tersebut.

Tra le Sollecitudini  2     Karena itu musik liturgis (sacred music) … harus kudus, dan harus tidak memasukkan segala bentuk profanitas, tidak hanya di dalam musik itu sendiri, tetapi juga di dalam cara pembawaannya oleh mereka yang memainkannya.

Tra le Sollecitudini  5    Gereja telah selalu mengakui dan menyukai kemajuan dalam hal seni, dan menerima bagi pelayanan agama semua yang baik dan indah yang ditemukan oleh para pakar yang ada sepanjang sejarah — namun demikian, selalu sesuai dengan kaidah- kaidah liturgi. Karena itu musik modern juga diterima Gereja, sebab musik tersebut menyelesaikan komposisi dengan keistimewaan, keagungan dan kedalaman, sehingga bukannya tak layak bagi fungsi-fungsi liturgis. Namun karena musik modern telah timbul kebanyakan untuk melayani penggunaan profan, maka perhatian yang khusus harus diberikan sehubungan dengan itu, agar komposisi musik dengan gaya modern yang diterima oleh Gereja tidak mengandung apapun yang profan, menjadi bebas dari sisa-sisa motif yang diangkat dari teater, dan tidak disusun bahkan di dalam bentuk- bentuk teatrikal seperti cara menyusun lagu- lagu profan.

Harus dibedakan bahwa untuk lagu-lagu liturgis, lagu bukan hanya sebagai ungkapan perasaan tetapi ungkapan iman (lex orandi lex credendi).

2. Adanya tari- tarian yang menyerupai pertunjukan/ performance diadakan dalam perayaan Ekaristi, kemudian diikuti dengan tepuk tangan umat.

Seharusnya:

RS 78     … Perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak kehilangan artinya yang otentik.

Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi 17    …. Di kalangan sejumlah suku, nyanyian secara naluriah terkait dengan tepuk tangan, gerak tubuh secara ritmis, dan bahkan tarian. Ini semua adalah bentuk lahiriah dari gejolak batin dan merupakan bagian dari tradisi suku ….Jelas, itu hendaknya menjadi ungkapan tulus doa jemaat dan tidak sekedar menjadi tontonan…

Paus Benediktus XVI dalam The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), p. 198: “Adalah suatu kekacauan untuk mencoba membuat liturgi menjadi “menarik” dengan memperkenalkan tarian pantomim (bahkan sedapat mungkin ditarikan oleh grop dansa ternama), yang sering kali (dan benar, dari sudut pandang profesionalisme) berakhir dengan applause -tepuk tangan. Setiap kali tepuk tangan terjadi di tengah liturgi yang disebabkan oleh semacam prestasi manusia, itu adalah tanda yang pasti bahwa esensi liturgi  telah secara total hilang, dan telah digantikan dengan semacam pertunjukan religius. Atraksi sedemikian akan memudar dengan cepat- ia tak dapat bersaing di arena pertunjukan untuk mencapai kesenangan (leisure pursuits), dengan memasukkan tambahan berbagai bentuk gelitik religius.”

Kardinal Arinze menjelaskannya demikian: bahwa pada budaya- budaya tertentu (yaitu di Afrika dan Asia), tarian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cara penyembahan, namun gerakan ini adalah ‘graceful movement‘ untuk menunjukkan suka cita dan penghormatan, dan bukan ‘performance‘. Dalam budaya ini, gerakan tersebut dapat diadakan dalam prosesi perayaan Ekaristi, namun bukan sebagai pertunjukan. Sedangkan di tempat- tempat lain di mana tarian tidak menjadi bagian dari penyembahan/ penghormatan (seperti di Eropa dan Amerika) maka memasukkan tarian ke dalam perayaan Ekaristi menjadi tidak relevan. Untuk mendengarkan penjelasan Kardinal Arinze tentang hal ini, silakan klik.

3. Band masuk gereja dan digunakan sebagai alat musik liturgi.

Seharusnya:

Tra le Sollecitudini 19    Penggunaan alat musik piano tidak diperkenankan di gereja, sebagaimana juga alat musik yang ribut atau berkesan tidak serius (frivolous), seperti drum, cymbals, bells dan sejenisnya.

Tra le Sollecitudini 20    Dilarang keras menggunakan alat musik band di dalam gereja, dan hanya di dalam kondisi- kondisi khusus dengan persetujuan Ordinaris dapat diizinkan penggunaan alat musik tiup, yang terbatas jumlahnya, dengan penggunaan yang bijaksana, sesuai dengan ukuran tempat yang tersedia dan komposisi dan aransemen yang ditulis dengan gaya yang sesuai, dan sesuai dalam segala hal dengan penggunaan organ.

Maka diperlukan izin khusus untuk menggunakan alat-alat musik lain, terutama jika alat tersebut dapat memberikan efek ribut/ keras, dan berkesan profan/ tidak serius.

Beberapa Pertanyaan tentang Liturgi:

1. Mengenai musik liturgi, apa seharusnya alat musik yang digunakan? Bolehkah menggunakan organ dengan tambahan suara alat musik lain?
Bila mengacu kepada Sacrosanctum Concilium 120, alat musik yang sebaiknya digunakan adalah organ pipa. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan penggunaan alat musik lain, sepanjang disetujui oleh pihak otoritas Gereja, dan asalkan sesuai untuk digunakan dalam musik sakral.

SC 120    “Dalam Gereja Latin orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional, yang suaranya mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan, dan mengangkat hati Umat kepada Allah dan ke surga. Akan tetapi, menurut kebijaksanaan dan dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, sesuai dengan kaidah art. 22 (2), 37 dan 40, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat suci, sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan Umat beriman.”

Paus Pius XII mengeluarkan dokumen tentang Musik Liturgis yang berjudul Musicae Sacrae (MS), dan secara khusus menyebutkan tentang hal ini demikian:

MS 59    “Selain organ, alat-alat musik lain dapat digunakan untuk memberikan bantuan besar dalam mencapai maksud yang tinggi dari musik liturgi, asalkan mereka tidak memainkan apapun yang profan, yang berisik atau hingar bingar dan tidak bertentangan dengan pelayanan sakral atau martabat tempat kudus. Di antara alat-alat musik ini, biola dan alat-alat musik lainnya yang menggunakan cekungan (bow) adalah baik sebab ketika dimainkan sendiri atau dengan alat musik senar lainnya, alat- alat musik ini mengekspresikan perasaan suka cita dan dukacita dalam jiwa dengan kekuatan yang tak dapat dilukiskan…”

Sedangkan tentang hal alat musik ini, Rm. Bosco da Cunha dari Komisi Liturgi KWI mengatakan:

“KWI masih dalam proses berusaha mengaktualisasi dokumen Sacrosanctum Concilium Konsili Vatikan II; KWI tidak gegabah. Usaha penelitian dan percobaan alat musik tradisional aneka suku bangsa sudah mulai dengan “Pusat Musik Liturgi” Yogyakarta dipimpin Romo Karl Edmund Prier SJ sejak 1980an namun masih berlangsung”.

Beliau menyarankan bagi yang berminat mengetahui lebih lanjut untuk mengunjungi PML Yogyakarta di Jl. Abubakar Ali Kotabaru Yogyakarta untuk mengetahui studio dan showroom karya-karya musik liturgi inkulturatif.

2. Bila dikaitkan dengan adaptasi-adaptasi yang muncul di Sacrosanctum Concilium, bagaimana batasan-batasannya agar tidak mengontradiksi dokumen-dokumen Gereja lainnya (dalam hal penentuan musik liturgi)?

Musicae Sacrae 60    “Sebab jika musik itu tidak profan atau bertentangan dengan kesakralan tempat dan fungsi dan tidak berasal dari keinginan untuk mencapai efek-efek yang luar biasa dan tidak lazim, maka gereja-gereja kita harus menerimanya, sebab mereka dapat menyumbangkan dalam cara yang tidak kecil terhadap keagungan upacara-upacara sakral, dapat mengangkat pikiran kepada hal-hal yang lebih tinggi dan dapat menumbuhkan devosi yang sejati dari jiwa.” (lih. MD 193)

Maka, nampaknya yang perlu dijadikan patokan adalah prinsipnya, yaitu:

1) Tidak memasukkan unsur profanitas dalam musik liturgis;
2) Musik itu tidak menghasilkan efek suara yang luar biasa dan tak lazim
3) Musik itu dapat membantu mengangkat pikiran kepada hal- hal yang lebih tinggi:
Apakah membantu ke-empat hal ini: penyembahan (worship/ adoration), syukur (thanksgiving), pertobatan (contrition),     permohonan (supplication).
4) Menggunakan musik-musik yang sudah mendapat persetujuan dari otoritas Gereja (ada Nihil Obstat dan Imprimatur);
5) Mengacu kepada ketentuan yang sudah pernah secara eksplisit ditentukan oleh otoritas Gereja.

3. Bolehkah choir (koor) terdiri dari perempuan?
Walaupun di dokumen yang dikeluarkan oleh Paus Pius X, Tra le Sollecitudini 13,14 (1903) dikatakan bahwa untuk koor anggotanya harus laki-laki- mungkin karena hal ini merupakan tradisi Gereja sejak zaman dulu; namun ketentuan ini kemudian diperbaharui di dokumen berikutnya tentang Musik Liturgi yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII, Musicae Sacrae, demikian:

MS 74     Ketika tidak mungkin diperoleh sekolah paduan suara (Scholae Cantorum) atau di mana tidak ada cukup anak laki-laki untuk koor, diperbolehkan bahwa “kelompok pria dan wanita atau anak-anak perempuan, yang ditempatkan di luar tempat kudus (sanctuary) yang terpisah untuk penggunaan kelompok ini secara khusus, dapat menyanyikan teks-teks liturgi pada saat Misa Agung, sepanjang para pria dipisahkan dari para wanita dan anak- anak perempuan dan segala yang tidak pantas dihindari….

4. Perlukah kita ikut membungkuk setiap saat seorang imam membungkuk dalam Perayaan Ekaristi?
Tidak perlu. Yang ditulis dalam Tata Perayaan Ekaristi adalah, umat membungkuk pada waktu Ritus Pembuka ketika Imam dan Pelayan lain menghormati Altar, dan pada sesudah kata-kata Konsekrasi atas roti dan anggur, ketika Imam berlutut; dan pada saat Credo (syahadat) yaitu pada perkataan, “[Yesus Kristus] yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”.

5. Bolehkah imam menambah hanya beberapa kata atau bagian dalam sebuah Perayaan Ekaristi?
Jika ada titik-titik (….) boleh disebutkan nama orang yang didoakan (doa bagi orang yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal) seperti dalam Doa Syukur Agung pertama.

RS 51    ….”Tidak ada toleransi terhadap imam-imam yang merasa berhak menyusun Doa Syukur Agungnya sendiri” atau mengubahkan teks-teks yang sudah disahkan oleh Gereja atau memperkenalkan teks-teks lain, yang telah dikarang oleh pribadi-pribadi tertentu.

6. Bagaimana seharusnya kostum pelayan altar? Apakah betul pelayan altar putri seharusnya mengenakan alba dan mengapa?
Apakah wanita ideal untuk menjadi pelayan altar walaupun diperbolehkan?

PUMR 339    Akolit, lektor dan pelayan awam lain boleh mengenakan alba atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gerejawi yang bersangkutan.
RS 47    Sangat dianjurkan untuk mempertahankan kebiasaan yang luhur yakni pelayanan altar oleh anak laki-laki atau pemuda, biasanya disebut pelayan Misa, suatu tugas yang dilaksanakannya seturut cara akolit. Hendaknya mereka diberi katekese tentang fungsi mereka sesuai dengan daya tangkap mereka. Perlu diingat bahwa berabad-abad lamanya dari amat banyak anak seperti ini telah muncul banyak pelayan tertahbis….. Anak perempuan atau ibu-ibu boleh diterima untuk melayani altar, sesuai dengan kebijakan Uskup diocesan dan dengan memperhatikan norma-norma yang sudah ditetapkan.

7. Apakah inkulturasi liturgi memperbolehkan penggunaan berbagai macam alat musik di luar organ pipa?

Hal ini dimungkinkan. Pimpinan Gereja yang mengambil keputusan untuk menggunakan alat- alat musik lain, hendaknya dalam proses adaptasi- inkulturasi membuat penelitian untuk mengetahui apakah alat musik tersebut digunakan dalam ibadat religius menurut budaya setempat dan sungguh membantu umat beriman mengangkat hati kepada Tuhan untuk memuji dan menyembahnya? Bisa saja alat musik yang sama digunakan baik dalam upacara keagamaan dan dalam perayaan profan, tetapi harus diperhatikan perbedaan dalam cara menggunakannya. Ada nada dan melodi yang khas dalam upacara keagamaan dan dalam acara profan. Seperti pada alat tifa dalam budaya orang Papua Selatan, ada bunyi dan cara memukul yang khas dalam ibadat religius, yang berbeda dengan bunyi dan cara memukul tifa tersebut jika digunakan untuk kegiatan- kegiatan yang profan saja.

PUMR 393     …. Demikian pula, Konferensi Uskuplah yang berwenang memutuskan gaya musik, melodi, dan alat musik yang boleh digunakan dalam ibadat ilahi; semua itu sejauh serasi, atau dapat diserasikan dengan penggunaannya yang bersifat kudus.

Kesimpulan: Mengapa perlu memperhatikan norma-norma Liturgi dan menghindari penyelewengannya?

Adalah penting kita ketahui bersama, bahwa “Norma-norma liturgi Ekaristi dimaksudkan untuk mengungkapkan dan melindungi misteri Ekaristi dan juga menjelaskan bahwa Gerejalah yang merayakan sakramen dan pengorbanan yang agung. Sebagaimana yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, “Norma-norma ini adalah ungkapan konkret dari kodrat gerejawi otentik mengenai Ekaristi; inilah maknanya yang terdalam. Liturgi tak pernah menjadi milik perorangan, baik dari selebran maupun komunitas, tempat misteri-misteri dirayakan.”[6] Ini berarti bahwa “… para imam yang merayakan Misa dengan setia seturut norma-norma liturgi, dan komunitas-komunitas yang mengikuti norma-norma itu, dengan tenang namun lantang memperagakan kasih mereka terhadap Gereja.[7]

Adanya penyelewengan-penyelewengan yang terjadi dalam liturgi seringkali berhubungan dengan salah persepsi tentang makna ‘kebebasan’; dan hal ini tidak menuju kepada pembaharuan sejati yang diharapkan oleh Konsili Vatikan II. Karena penyimpangan ini dapat mengakibatkan merosotnya/ hubungan yang perlu antara hukum doa dengan hukum iman, yaitu bahwa doa harus merupakan ungkapan iman (lex orandi, lex credendi).

Akhirnya, marilah kita berpartisipasi secara aktif dan sadar setiap kali kita mengikuti perayaan liturgi, dan juga dengan memperhatikan dan melaksanakan ketentuan- ketentuannya, sebagai tanda bukti bahwa kita mengasihi Kristus dan Gereja-Nya.


CATATAN KAKI:
  1. lih. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1069 []
  2. lih. Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concillium 7 []
  3. lih. KGK 1070, SC 7 []
  4. Paus Pius XII, Mediator Dei 20 []
  5. Rm. Emanuel Martasudjita, Pr., Liturgi, Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), p.22 []
  6. Ecclesia de Eucharistia, 52 []
  7. Ibid., lih. Redemptoris Sacramentum, Lampiran, 2 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

244 Comments

  1. Lidwina Irene on

    Salam kasih,
    Adakah link untuk mendownload PUMR? Terima kasih, tim Katolisitas.

    [Dari Katolisitas: Kami tidak mengetahui link yang menyediakan teks PUMR. Apakah ada pembaca yang mengetahuinya?]

  2. Lidwina Irene on

    Terima kasih, Romo. Namun saya masih mau bertanya lagi.Mudah-mudahan Romo tidak bosan melayani pertanyaan-pertanyaan saya. Kali ini soal doa Salam Maria, Kemuliaan, dst. dalam perayaan ekaristi. Apakah tepat jika kita mendoakan Salam Maria (3x misalnya) pada waktu setelah nyanyian komuni dan sebelum doa sesudah komuni, dengan ujub tertentu atau pun tanpa ujub tertentu seakan-akan ingin mengisi kekosongan saat itu? Pernah terjadi justru imam yang mengajak berdoa itu (tidak dengan ujub apa pun) setelah koor menyanyikan lagu komuni, sementara imamnya sendiri sedang beres-beres di altar (untuk piala dll.). Bukankah memang baik jika hening sesudah menerima komuni? Bagaimana menurut Romo? Terima kasih atas tanggapannya. Tuhan memberkati.

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Lidwina,

      benar, lebih baik kalau setelah koor menyanyikan lagu komuni, semua hening untuk merasakan dan mengalami hadirnya Tuhan dalam diri. Kita perlu sadari pentingnya saat hening pada kesempatan ini untuk lebih meresapi kesatuan yang erat mesra dengan Tuhan Yesus (komunio).

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

  3. Lidwina Irene on

    Terima kasih lagi atas tanggapan Romo. Saya masih mau bertanya lagi. Kali ini soal perarakan masuk. Bagaimana aturannya, apakah tidak boleh ada misdinar yang membawakan lilin bernyala? Selama ini di paroki kami, jika perarakan masuk panjang (melalui pintu depan gereja), dalam perarakan itu ada misdinar yang membawa lilin bernyala (2 buah). Terakhir saya mendengar dari misdinar bahwa mereka sudah diberi tahu oleh pelatihnya bahwa tidak ada lagi misdinar yang membawa lilin bernyal. Memang hal ini baru disampaikan oleh koster, bukan romo paroki langsung. Yang benar bagaimana? Terima kasih. Tuhan memberkati.

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Lidwina,

      menurut tradisi, dalam perarakan masuk meriah (pada Hari Minggu dan Hari Raya), lilin bernyala dibawa oleh dua misdinar yang mengapiti pembawa salib. Lihat Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) no 119-120 dan 188. Jadi pada Misa harian atau votif biasa, dengan perarakan masuk yang sederhana, tidak ada misdinar pembawa salib dan tidak ada juga misdinar pembawa lilin bernyala yang mengapiti pembawa salib.

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

  4. haryo yudhanto on

    Berkah Dalem,

    Pada Ibadat Jumat Agung tahun 2013, salah seorang Pastor membuat kebijakan bahwa pada saat ” Penciuman Salib ” hanya SATU SALIB yang boleh dihormati/dicium, karena kalau beberapa Salib itu sudah melanggar tatanan Liturgi yang ada . Pertanyaan saya sebagi orang awam :

    1. Kenapa di Vatikan, salib yang dicium lebih dari 100 Salib ?
    2. Kenapa di Gereja lain juga sama tidak satu(1) Salib yang dicium ?
    3. Apakah ada aturan baku dari Bapa Uskup ?

    Mohon penjelasan karena beberapa Umat sudah mulai resah dan menanyakan kepada saya. Terima kasih.

    Wolf.haryo Yudhanto.

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam,

      Berikut ini adalah tanggapan tentang rubrik penghormatan salib pada perayaan Jumat Agung, sebagaimana disampaikan oleh Rm. Bosco da Cunha, Komisi Liturgi KWI :

      Terdapat dua pilihan sehubungan dengan penghormatan Salib:
      1. Hanya digunakan satu salib/crucifix untuk penghormatan salib
      2. Kalau jumlah umat terlalu banyak dan tidak memungkinkan bagi semua umat menghormati satu crucifix itu secara perorangan/ bergiliran, maka penghormatan dilakukan secara serentak bersama-sama, dengan Romo mengangkat salib di depan altar lalu umat menyembah salib dalam keheningan.

      Silakan dipilih, alternatif yang pertama atau kedua, dengan mempertimbangkan aspek pastoral.

      Ketentuan ini dikutip dari Missale Romanum, “Rubrics for Good Friday” (GF) sebagaimana tertulis di situs USCCB, klik di sini:

      The personal adoration of the cross is an important feature in this celebration and every effort should be made to achieve it. The rubrics remind us that “only one cross” should be used for adoration. If the numbers are so great that all can not come forward, the priest, after some of the clergy and faithful have adored the cross, can take the cross and stand in the center before the altar. In a few words he invites the people to adore the Cross. He then elevates the cross higher for a brief period of time while the faithful adore it in silence (GF, no. 19). Pastorally, it should be kept in mind that when a sufficiently large cross is used even a large community can reverence it in due time. The foot of the cross as well as the right and left arm can be approached and venerated. Coordination with ushers and planning the flow of people beforehand can allow for this part of the liturgy to be celebrated with decorum and devotion.

      Salam
      RD. Y. Dwi Harsanto

  5. Lidwina Irene on

    Salam damai dalam kasih Kristus untuk tim katolisitas dan Rm. Boli,
    Bagaimana sesungguhnya sikap liturgis yang tepat bagi para anggota koor dalam ekaristi. Apakah berdiri, dengan alasan bisa menyanyi dengan baik, atau mengikuti sikap liturgis umat (berdiri, berlutut, dan duduk sesuai dengan masing-masing bagian dalam perayaan ekaristi seperti ada dalam TPE)? Terima kasih atas jawabannya. Tuhan memberkati.

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Lidwina,

      ya, dari segi teknik menyanyi, katanya jauh lebih mudah menyanyi dalam sikap berdiri. Oleh karena itu sikap koor dalam Ekaristi sebaiknya berdiri. Demi menghindarkan kesan menghalangi peraya lain, maka baiklah dicari tempat untuk anggota koor dalam gedung gereja yang sesuai agar tidak terlalu mengganggu peraya lain bila mereka membawakan nyanyian dalam sikap berdiri, sementara peraya lain harus duduk atau berlutut bersama.

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli

      • Lidwina Irene on

        Salam Romo,
        Masih soal sikap anggota koor ketika membawakan nyanyian dalam misa. Apakah hal ini ada diatur di dalam PUMR? Jika tidak, saya dan teman-teman dalam tim liturgi paroki kami tetap mengambil sikap untuk membiasakan anggota koor mengikuti sikap liturgis umat lain, yakni berdiri, berlutut, dan duduk juga ketika bernyanyi. Sungguh amat mengganggu jika anggota koor berdiri terus setiap kali membawakan nyanyian, sekalipun sudah di tempat khusus – kecuali di balkon. Pengalaman saya pribadi sebagai anggota koor, tidak masalah kok bernyanyi dengan sikap duduk atau berlutut, tidak harus berdiri pun tetap bisa bernyanyi dengan baik. Justru sikap itu membantu penghayatan terhadap lagu yang dinyanyikan. Terima kasih atas tanggapan Romo. Tuhan memberkati.

        • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

          Salam Lidwina,

          ya, memang tidak ditulis dalam PUMR bahwa anggota koor harus berdiri setiap kali membawakan lagu. Kalau mereka bisa bernyanyi dengan sama baik juga dalam sikap duduk atau berlutut, saya setuju kalau anggota koor bersikap seperti umat yang lain setiap kali mereka menyanyi.

          Salam dan doa. Gbu.
          Rm Boli.

          • Lidwina Irene on

            Salam kasih Romo Boli,
            Kali ini saya ingin bertanya soal aturan untuk lagu antarbacaan sesudah bacaan I. Untuk misa-misa perkawinan atau misa-misa di komunitas/lingkungan, bagaimana aturannya? Kalau harus menggunakan mazmur tanggapan, bagaimana memilih mazmur yang tepat? Terima kasih. Tuhan memberkati.

            • Shalom Lidwina,

              Sambil menunggu jawaban dari Romo Boli, izinkan saya menanggapi. Jika nanti jawaban Romo Boli berbeda dengan yang saya sampaikan, silakan memegang jawaban Romo Boli, yang lebih ahli dalam hal ini.

              Sebenarnya, demikianlah ketentuannya tentang Mazmur Tanggapan, menurut PUMR:

              61. Sesudah bacaan pertama menyusul mazmur tanggapan yang merupakan unsur pokok dalam Liturgi Sabda. Mazmur Tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas sabda Allah.

              Mazmur tanggapan hendaknya diambil sesuai dengan bacaan yang bersangkutan dan biasanya diambil dari Buku Bacaan Misa (Lectionarium).

              Dianjurkan bahwa mazmur tanggapan dilagukan, sekurang-kurangnya bagian ulangan yang dibawakan oleh umat. Pemazmur melagukan ayat-ayat mazmur dari mimbar atau tempat lain yang cocok. Seluruh jemaat tetap duduk dan mendengarkan; dan sesuai ketentuan, umat ambil bagian dengan melagukan ulangan, kecuali kalau seluruh mazmur dilagukan sebagai satu nyanyian utuh tanpa ulangan. Akan tetapi, untuk memudahkan umat berpartisipasi dalam mazmur tanggapan, disediakan juga sejumlah mazmur dengan ulangan yang dapat dipakai pada masa liturgi atau pesta orang kudus. Bila dilagukan, mazmur tersebut dapat dipergunakan sebagai pengganti teks yang tersedia dalam buku Bacaan Misa (Lectionarium). Kalau tidak dilagukan, hendaknya mazmur tanggapan didaraskan sedemikian rupa sehingga membantu permenungan sabda Allah…. “

              Dengan demikian, memang ketentuan umumnya adalah Mazmur Tanggapan hendaknya dipilih sesuai dengan bacaan-bacaan Kitab Suci yang bersangkutan (dari Bacaan Pertama dan Bacaan Injil). Untuk Misa pemberkatan perkawinan dapat dipilih misalnya:

              1. Mzm 33:5, 12, 18, 20-21,22: Bumi penuh dengan kasih setia Tuhan
              (atau ulangan: bisa diambil dari PS 837, Tuhan rajaku, agunglah nama-Mu).

              2. Mzm 34:2-3, 4-5, 6-7, 8-9: Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu
              (atau ulangan: bisa diambil dari PS 829, Aku hendak memuji).

              3. Mzm 103: 1-2, 8, 13, 17-18: Pujilah Tuhan hai jiwaku
              (atau ulangan: bisa diambil dari PS 835, Puji jiwaku, nama Tuhan).

              4. Mzm 112: 1-2, 3-4, 5-7, 7-8, 9: Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan
              (atau ulangan: bisa diambil dari PS 833, Kita memuji Allah, atau 847 Tuhan penjaga).

              5. Mzm 128: 1-2, 3, 4-5: Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan
              (atau ulangan: bisa diambil dari PS 839, Aku mengasihi Tuhan, atau 846, Tuhan memberkati umat-Nya)

              6. Mzm 145:8-9, 10, 15, 17-18: Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku
              (atau ulangan: bisa diambil dari PS 834, Nama Tuhan hendak kuwartakan)

              7. Mzm 148:1-2, 3-4, 9-10, 11-12, 13-14: Pujilah Tuhan di Sorga
              (atau ulangan: bisa diambil dari PS 832: Betapa megah nama-Mu)

              Sedangkan untuk nada pada ayat-ayatnya, dapat mengikuti panduan nada pada buku Mazmur Tanggapan (warna merah, yang dikeluarkan Komisi Liturgi KWI). Silakan Anda meminta bantuan kepada para petugas yang biasa menyanyikan Mazmur di perayaan Ekaristi, sehingga dapat dipersiapkan sebelumnya, baik teks maupun nada-nadanya. Atau kemungkinan lain, silakan menyanyikan lagu dengan syair yang menyatakan kata-kata Mazmur, namun bukan lagu lain, dengan syair yang bukan dari Sabda Tuhan, sebab pada hakekatnya Mazmur Tanggapan masih termasuk dalam rangkaian Liturgi Sabda, sehingga juga menyampaikan Sabda Tuhan.

              Prinsip yang sama berlaku juga pada Misa di komunitas ataupun di lingkungan. Jika tidak ada perayaan khusus, maka yang dibacakan adalah Mazmur pada hari itu menurut penanggalan Liturgi. Untuk lagu ulangan/ refrennya, silakan dipilih dari PS no 801-869, lalu disiapkan nada pada ayat-ayatnya menurut panduan dari buku Mazmur Tanggapan itu. Jika karena satu dan lain hal, Mazmur Tanggapan tidak dapat dinyanyikan, maka silakan dibacakan.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Salam Kasih Kristus

    Untuk romo dn tim katolisitas

    D paroki sy akir” ini terjadi bbrp permasalahan m’enai tata liturgi dsb nya,yg
    1.Panti imam ada 2(d atas altar d bgn lg panti imam-sperti panggung tmp romo duduk)jd klo mau konsekrasi romo berjalan dlu menuju meja altar-hal itu sudah d tentang dn mmg melanggar tata liturgis(mnrt rm pmbantu)namun pastor paroki ttp pada pendirian nya,bgmn hal ini mnrt pandangan romo dn tim katolisitas?
    2.Pada perayaan misa imlek nanti akan d + kan prosesi tarian pd waktu romo masuk ke gereja,m’gunakan prosesi tarian” cina,apa hal itu d perkenan kan?dan bagaimana seharus nya
    Trima kasi
    Berkah Dalem

    • Shalom Michael,

      1. Sejujurnya saya kurang paham akan apa yang Anda sampaikan karena Anda menulis dengan bahasa singkatan, dan informasi yang Anda tulis kurang jelas dan lengkap. Mengapa Anda sebutkan ada dua panti imam? Sebab panti imam adalah daerah di mana ditempatkan altar dan ambo. Apakah jika Anda mengatakan ada dua panti imam maka artinya ada dua altar dan dua ambo? Sebab jika demikian, memang itu adalah pelanggaran. Tetapi kalau maksudnya adalah ada satu panti imam (satu altar dan satu ambo), tetapi di daerah panti imam itu ada perbedaan level/ ketinggian untuk tempat duduk imam, maka itu belum tentu pelanggaran, sebab harus dilihat dahulu, apakah kursi imam, meja altar, ambo dan tabernakel telah diletakkan sesuai dengan ketentuan.

      2. Pada dasarnya jika yang dilakukan itu prosesi, itu masih dapat dibenarkan. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, silakan klik. Namun jika itu untuk prosesi, maka jelas itu bukan tarian untuk pertunjukan, dan juga gerakannya-pun harus menunjukkan sikap penghormatan kepada Allah, saat menghantar barisan menuju altar. Selanjutnya, perlu dilihat agar simbol-simbol yang digunakan tidak mengambil simbol yang tidak sesuai dengan citarasa Kristiani.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Salam Katolisitas

        Trima kasi bu Inggrid atas penjelasannya, dan maaf karna bahasa saya yang sedikit amburadul dengan singkatan”nya membuat anda bingung

        1. Atas penjelasan bu Inggrid di gereja saya seperti yang bu Inggrid tulis, 1 meja Altar 3 ambo malah, kemarin saya ikut beresin gua natal, dan sembari mengamati, jadi d samping meja altar ada 2 ambo trus d belakang meja tepat adalah tabernakel dan d samping tabernakel ada panggung kecil untuk kursi romo + 1 ambo lagi untuk romo kadang berhomili di tempat itu, demikian saya jelaskan
        2.Untuk tarian bagaimana semisal kita dari OMK mendapat tugas untuk membuat tarian pada saat ibadat eukemene bersama dengan para umat Kristen non Katolik yang Jumat 24 Januari besok akan beribadat di Gereja kami, apa hal itu diperkenankan?

        Trima kasi

        Berkah Dalem

        • Shalom Michael,

          1. Sebagaimana telah dijelaskan di artikel di atas, ketentuannya adalah satu Ambo dan satu meja Altar sesuai dengan adanya dua macam liturgi dalam perayaan Ekaristi, yaitu liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi. Tempat komentator/ pengantar tidak setara dengan Ambo. Maka sebaiknya tidak ditempatkan di panti imam. Namun, baik juga kalau tempat komentator diletakkan sedemikian, sehingga dapat dilihat oleh umat. Sedangkan tempat untuk menaruh buku Misa untuk kursi imam, itu memang ada, dapat didesain sedemikian rupa, sehingga tidak terkesan seadanya tetapi juga tidak sama dengan desain Ambo. Ambo adalah tempat dibacakannya Sabda Tuhan (bacaan pertama, Mazmur, bacaan kedua- jika ada- bacaan Injil dan homili) dalam liturgi Sabda, termasuk doa umat (atau, doa umat juga dapat dibacakan di tempat lain asalkan cukup terlihat oleh umat).

          2. Romo Boli mengatakan bahwa sebaiknya pelaksanaan ibadat ekumene dilaksanakan di aula dan bukan di dalam gereja. Mohon maaf atas keterlambatan jawaban ini, sebab terdapat gangguan koneksi internet dengan Romo Boli di Ledalero, NTT.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Salam tim Katolisitas

            Trima kasi bu Inggrid dn Rm Boli atas jwbannya,semoga ke depan saya bisa memberi masukan untuk gereja saya agar lebih baik lagi

            Untuk ibadat Ekumene sudah terlanjur diselenggarakan di gereja kami oleh pastor kepala paroki, mungkin tahun depan bisa dijadikan masukan untuk saran yang romo berikan…

            Sy tunggu jawaban romo ato tim katolisitas mengenai visualisasi bolehkah dilaksanakan pada saat ibadat Jumat Agung?

            Trima Kasi

            Berkah Dalem

            [dari moderator: pertanyaan di bawah ini kami gabungkan karena menanyakan hal yang sama:]

            Salam Katolisitas

            Trima kasi skali lagi untuk penjelasannya bu inggrid…
            Nah kali ini saya ingin mengajukan pertanyaan sekitar balada (visualisasi) kisah sengsara Yesus, bagaimana kalo visualisasi tersebut disisipkan di tengah Misa pada Jumat Agung? Bolehkan? Klo boleh apa harus di awal sbelum Misa? Mohon penjelasannya, karena sebentar lagi OMK kami akan segera membentuk panitia kecil untuk visualisasi

            Berkah Dalem

            • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

              Salam Michael,

              mengenai pertanyaan tentang drama kisah sengsara Yesus Kristus dalam perayaan Jumat Agung, sebaiknya tidak dibuat dalam Perayaan Kenangan Sengsara dan Kematian Yesus Kristus karena ada pemakluman yang agung dari kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus yang biasanya dinyanyikan oleh tiga orang. Drama itu sebaiknya dibuat pada pagi-siang hari atau menjelang Perayaan Kenangan Sengsara dan Kematian Yesus Kristus.

              Salam dan doa. Gbu
              Rm Boli

              • Salam Kasih Kristus

                Trima kasi romo Boli atas penjelasannya, sekarang sy dn OMK di gereja saya smakin mantab melaksanakan visualisasi pd jumat pagi, mohon doa romo smoga visualisasi yang akan kami rencanakan dn laksanakan pd Jumat Agung nanti berjalan lancar (‾ʃƪ‾)

                Romo saya mau tanya juga, soal misa imlek, bagaimana tata liturginya? Apa seperti misa harian atau ada liturgi khususnya, lalu apa umat katolik keturunan tionghoa di perkenankan berdoa menggunakan hio atau yung-sua ketika berdoa untuk leluhur (sy menggunakannya tapi tata cara doanya sy persembahkan hio tsb untuk Tuhan Yesus, bolehkah?)
                Demikian romo, trima kasi banyak

                Berkah Dalem

                [Dari Katolisitas: Setiap perayaan Ekaristi, pada dasarnya adalah perayaan Ekaristi yang sama. Imlek bukan perayaan liturgis Gereja, sehingga perayaan Ekaristi pada hari itu mengacu pada perayaan Ekaristi harian biasa, kecuali jika Imlek bertepatan dengan hari Minggu, maka mengikuti perayaan Ekaristi dan bacaan-bacaan pada hari Minggu itu. Silakan membaca terlebih dahulu artikel ini, silakan klik. Sedangkan tentang bolehkah berdoa dengan memegang hio, silakan membaca tanya jawab serupa di sini, silakan klik]

                • Salam Katolisitas

                  Saya mau bertanya mengenai sikap dan posisi liturgi umat pada saat doa pembuka, doa penutup dan berkat dr romo?
                  Lalu apa perbedaan makna misa ekaristi harian dan mingguan?

                  Trima Kasi

                  Berkah Dalem

                  • Shalom Michael,

                    Menurut PUMR:

                    “43. Umat hendaknya berdiri:

                    a. dari awal nyanyian pembuka atau selama perarakan masuk menuju altar sampai dengan doa pembuka selesai;

                    b. pada waktu melagukan bait pengantar Injil (dengan atau tanpa alleluia);

                    c. pada waktu Injil dimaklumkan;

                    d. selama syahadat;

                    e. selama doa umat;

                    f. dari ajaran  Berdoalah, Saudara…., sebelum doa persiapan persembahan sampai akhir perayaan Ekaristi, kecuali pada saat-saat yang disebut di bawah ini:

                    Umat hendaknya duduk:

                    a. selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama Mazmur Tanggapan;

                    b. selama homili

                    c. selama persiapan persembahan

                    d. selama saat hening sesudah Komuni

                    Umat berlutut pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengizinkan, entah karena banyaknya umat yang hadir, entah karena sebab-sebab lain. Mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi hendaknya membungkuk khidmat pada saat imam berlutut sesudah konsekrasi.

                    Akan tetapi, sesuai dengan ketentuan hukum, Konferensi Uskup boleh menyerasikan tata gerak dan sikap tubuh dalam Tata Perayaan Ekaristi, dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat. Namun, hendaknya Konferensi Uskup menjamin penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian  perayaan Ekaristi yang bersangkutan. Kalau umat sudah terbiasa berlutut sejak sesudah Kudus sampai dengan akhir Doa Syukur Agung, kebiasaan ini seyogyanya dipertahankan.

                    Demi keseragaman tata gerak dan sikap tubuh selama perayaan, umat hendaknya mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh diakon, pelayan awam, atau imam, selaras dengan petunjuk buku-buku liturgis.”

                    Dengan ketentuan di atas, maka sikap umat yang ditentukan oleh PUMR pada saat doa pembuka oleh imam dan doa penutup dan berkat, adalah umat berdiri. Sikap ini adalah sikap liturgis umat secara bersama-sama saat Misa dimulai dan diakhiri. Namun sebelum Misa dimulai dan sesudah Misa diakhiri, sikap doa umat secara pribadi tidak ditentukan (maka dapat dilakukan dengan berlutut ataupun duduk, asal dengan sikap hormat).

                    Selanjutnya, silakan membaca artikel ini, silakan klik, yang membahas Macam-macam istilah Misa, termasuk misa hari Minggu dan Harian.

                    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                    Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Lidwina Irene on

    Salam kasih,

    Saya ingin bertanya Bu atau Romo, bagaimana mendaraskan mazmur (madah pujian setelah komuni)? Di TPE, tidak ada “kemuliaan” pada akhir mazmur, sementara pendarasan mazmur (seperti dalam ibadat harian) biasanya diakhiri dengan “kemuliaan”. Terima kasih.

  8. Shalom team Katolisitas dan Romo

    Apakah bisa dimasukin ke dalam satu artikel tentang Tata Perayaan Ekaristi yang benar dan arti dari masing2 bagian dalam Perayaan Ekaristi agar kita dapat memahami dan mengerti setiap bagian dari Perayaan Ekaristi

    Salam Kasih dalam Kristus Tuhan

    [Dari Katolisitas: Artikel tentang Ekaristi sudah cukup banyak diulas di situs ini. Silakan gunakan fasilitas pencarian, ketik kata kunci Ekaristi atau kurban Ekaristi, lalu enter. Pembahasan khusus tentang TPE, setiap bagian-bagian perayaan Ekaristi memang belum secara detail diulas. Silakan Anda membaca buku karangan Scott Hahn, the Lamb Supper, yang juga mengulas tentang hal ini. Mungkin suatu saat kami dapat mengulasnya juga, mohon kesabarannya. Namun sekilas ulasan untuk mempersiapkan diri menerima Ekaristi, silakan klik di sini.]

  9. Kilbenni Dabukke on

    Dear Katolisitas dan para Romo,

    Saya kaget baca yg ini:

    MS 74 Ketika tidak mungkin diperoleh sekolah paduan suara (Scholae Cantorum) atau di mana tidak ada cukup anak laki-laki untuk koor, diperbolehkan bahwa “kelompok pria dan wanita atau anak-anak perempuan, yang ditempatkan di luar tempat kudus (sanctuary) yang terpisah untuk penggunaan kelompok ini secara khusus, dapat menyanyikan teks-teks liturgi pada saat Misa Agung, sepanjang para pria dipisahkan dari para wanita dan anak- anak perempuan dan segala yang tidak pantas dihindari….

    Apakah tempat duduk umat dalam missa juga harus dipisahkan seperti Islam dan yahudi? Ada blok cewek, ada blok cowok. Mohon dijelaskan.

    Terima kasih.

    Benni.

    • Shalom Kilbenni,

      Saya mengacu kepada penjelasan di situs ini, silakan klik.

      Paus Pius X tidak bermaksud menunjukkan sikap diskriminasi dalam hal koor ini; namun ketentuan tersebut berasal dari pandangan umum saat itu menurut gerakan Cecilian, bahwa koor menunjukkan golongan klerikus di dalam liturgi, dan karena itu harus menunjukkan semirip mungkin dengan apa yang menjadi ciri-ciri kaum kerik. Gerakan Cecilian ini meyakini bahwa para penyanyi hendaknya laki-laki, karena panggilan imamat terbatas hanya kepada laki-laki… Kaum Cecilian berharap untuk meningkatkan peran musik ini menjadi bagian dari struktur liturgi dan bukan hanya sebagai elemen tambahan saja. Untuk mendukung ide ini maka mereka menghubungkan ide klerikal dengan koor ini…

      Acuan kepada kaum klerikus inilah yang juga berpengaruh kepada ketentuan pakaian anggota koor (memakai alba, seperti halnya petugas liturgi lainnya). Vatikan sendiri yang mempertahankan koornya yang hanya terdiri dari kaum pria dan anak-anak laki-laki, juga mencerminkan tradisi yang sudah lama berlangsung, yang tidak berkaitan dengan norma-norma doktrinal. Paus XII kemudian memperbolehkan para wanita untuk menjadi anggota koor, namun aturan ini tidak banyak mengubah praktek di Vatikan, yang sampai sekarang masih secara umum mempertahankan koor dengan anggota pria.

      Agaknya ketentuan yang Anda tanyakan itu berhubungan dengan kebiasaan koor pada waktu itu, yang diharapkan merefleksikan sikap kaum klerik, sehingga dituliskan ketentuan sedemikian. Adapun ketentuan ini hanya berlaku untuk kelompok koor, untuk alasan tersebut di atas, dan tidak berlaku untuk umat secara umum. Gereja mengajarkan agar keluarga sebagai Gereja rumah tangga (ecclesia domestica) mengikuti perayaan Ekaristi bersama-sama, sebagai kesempatan untuk suami dan istri memperbaharui/ meneguhkan janji perkawinan dan komitmen untuk membesarkan dan mendidik anak-anak secara Katolik, dan dengan demikian mengisyaratkan kebersamaan dalam mengikuti perayaan Ekaristi, tanpa pemisahan, bagi tiap-tiap keluarga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Shalom Katolisitas

    ada yang ingin saya tanyakan kembali dalam hal Liturgi Perayaan Ekaristi

    Apakah pada saat Doa Bapa Kami, prodiakon di perbolehkan naik ke panti iman sambil bergandengan tangan di belakang Romo / Pastur ? adakah ketentuan dari Otoritas Gereja Katolik mengenai hal ini ? Karena hal ini, jujur sangat mengganggu pandangan saya pada saat menyanyikan dan berdoa Doa Bapa Kami

    Amoro Misericordioso

    • Shalom Win,
      Ketentuannya sesungguhnya disebutkan dalam PUMR 162:

      162. Imam-imam lain yang kebetulan hadir dalam perayaan Ekaristi dapat membantu melayani komuni umat. Kalau imam-imam seperti itu tidak ada, padahal jumlah umat yang menyambut besar sekali, imam dapat memanggil pelayan komuni tak lazim untuk membantu:…..
      Pelayan-pelayan seperti ini hendaknya tidak menghampiri altar sebelum imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan. Mereka selalu menerima dari tangan imam bejana kudus yang berisi Tubuh atau Darah Kristus untuk dibagikan kepada umat beriman.

      Jadi memang sebenarnya bukan pada saat doa Bapa Kami mereka boleh naik ke altar.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Bu Ingrid,

        bagaimana kalau hal tersebut tetap terjadi? dan seolah Romo membiarkan saja karena sudah menjadi kebiasaan sejak dahulu kala, malah dahulu prodiakon duduk di sebelah kanan dan kiri Romo pada saat misa di panti imam dan semenjak Romo baru menjabat jadi Pastur Kepala Paroki, kebiasaan prodiakon duduk di sebelah kanan dan kiri Romo di tiadakan, tapi tetap pada saat Doa Bapa Kami, prodiakon nya naik lagi ke altar..

        Salam kasih dalam Kristus

        • Shalom Erwin,

          Patokannya sesungguhnya tetap adalah PUMR 162.

          Demikianlah tanggapan Romo Boli, ketika saya mengirimkan pertanyaan lanjutan Anda ini kepadanya:

          PUMR 162, bisa ditafsirkan demikian: para pelayan komuni tak lazim maju pada saat atau sesudah imam menyantap Ttubuh dan Darah Kristus. Kalau mereka maju pada saat Komuni imam, gerakan mereka bisa menghilangkan saat khusuk Komuni imam, kalau sesudah Komuni imam keheningan Komuni imam terjamin tetapi butuh kesabaran dari umat dan imam. Bagi saya paling ideal kemungkinan kedua itu, sesudah Komuni imam untuk turut memberi contoh pentingnya kekhusukan mengalami anugerah Komuni. Kalau pedoman ini kurang diperhatikan oleh imam perlu disampaikan agar diperbaiki. Semoga ditemukan jalan untuk menyampaikannya juga kepada imam “yang kurang sabar”.
          Doa dan Gbu.
          Rm Boli.

          Nampaknya dibutuhkan kesabaran dan juga kerendahan hati untuk bersama-sama menerapkan ketentuan liturgi dalam perayaan Ekaristi. Adapun ketentuan-ketentuan liturgi dimaksudkan untuk membantu kita agar semakin khusuk merayakan Ekaristi dan menghayatinya. Maka diperlukan juga keterbukaan dari pihak kita, baik umat maupun imam untuk menerima dan melaksanakan ketentuan tersebut, sebagaimana telah ditetapkan oleh pihak Vatikan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  11. Salam dalam kasih Kristus,
    Ada sebuah pengalaman yang terasa ganjil bagi saya, sering dilakukan oleh seorang Romo setiap perayaan Ekaristi yaitu diabaikannya doa sebelum Doa Syukur Agung. Yang saya maksud adalah ajakan Imam: “Berdoalah saudara-saudari supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa. Umat :Semoga persembahan ini diterima …dst”
    Apakah juga termasuk pelanggaran?
    Terima kasih.

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Remigio,

      Ajakan imam pada kesempatan ini dan tanggapan umat dalam bentuk doa bersama sebelum imam merangkumnya dalam doa pemimpin, sebenarnya meembentuk satu kesatuan Doa Persiapan Persembahan, yang memiliki kekhasan sebagai doa pemimpin dibandingkan dengan Doa Pembuka dan Doa Sesudah Komuni. Dalam doa pemimpin lainnya, ajakan imam: “Marilah berdoa… ” lebih singkat dan tidak ditanggapai secara lantang oleh umat tetapi dengan berdiam diri dan berdoa dalam hati lalu dirangkum oleh pemimpin dalam doa yang diucapkan secara lantang seorang diri sebagai pemimpin. Tidak bagus kalau kekhasan Doa Persiapan Persembahan ini dihilangkan begitu saja oleh imam karena kemauan sendiri.

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

  12. Selamat sore Pastor,

    Di paroki saya di saat Perayaan Ekaristi seringkali terjadi hal2 yang bertentangan dengan seperti yang pastor terangkan dalam jawaban2 pastor terdahulu seperti di waktu penerimaan Hosti, awam dipersilakan mengambil dan mencelupkan hosti tersebut ke dalam piala berisi anggur, tepuk tangan yang meriah dll.
    Meskipun ada seorang bapak yang dengan gigih (sampai2 dianggap meng-ada2) selalu mengeritik tindakan2 tersebut melalui media FB dll, tetapi sepertinya romo2 di paroki saya cuek saja. Pertanyaan saya : Harus ke mana melaporkan kejadiaan2 ” aneh ” tsb ???
    Terima kasih.

    Billy

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Billy,

      Perlu kesabaran dalam upaya membuat perbaikan. Perlu bertanya mengapa perbaikan tidak segera dilaksanakan. Perhatikan cara menyampaikan usul saran perbaikan. Bisa saja maksud baik dan luhur dari usul-saran perbaikan kita tidak tercapai, bahkan dicuekin, karena cara penyampaian kita menimbulkan reaksi kontra. Bila dialog dalam suasana persaudaraan dengan penanggungjawab liturgi (termasuk imam) tidak membawa hasil, barulah disampaikan kepada pimpinan Gereja setempat bila pelanggaran itu menyangkut hal/unsur penting.

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

  13. Pastor Boli Ujan atau Ibu Ingrid Listiati,
    Di gerejaku tabernakel letaknya di samping mimbar altar namun masih di bagian panti imam, di antara altar dan ambo. Bila awam hendak naik panti imam (setahu saya di luar Indonesia, awam tidak pernah naik panti imam, lha wong namanya saja sudah panti imam), penghormatan apakah ditujukan kepada altar/selebran atau terarah ke tabernakel. Mana yang tepat dengan berlutut atau dengan menundukkan kepala saja? Terima kasih. Salam, hendra.

    [pertanyaan ini kami gabungkan karena sama:]

    Submitted on 2013/07/22 at 8:56 pm

    Pastor Boli dalam kasih Kristus,
    Mana yang benar menurut tata cara liturgi, bila hendak naik panti imam oleh awam (di luar Indonesia, saya tidak pernah melihat awam naik panti imam)? Berlutut mengarahkan diri kepada altar/pastor selebran, atau mengarahkan diri ke tabernakel. Di gereja parokiku tabernakel terletak agak disamping kiri, Terima kasih pastor atas penjelasannya.
    salam,
    hendra

    • Shalom Hendra,

      Sementara menunggu jawaban dari Rm Boli, izinkan saya menanggapi pertanyaan Anda.

      Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) tidak melarang penempatan mimbar Sabda (ambo) di Panti Imam (sanctuary), tempat di mana altar diletakkan. PUMR memang menjabarkan bahwa baik altar dan ambo menjadi pusat perhatian, namun keduanya tidak sama ataupun bersaing:

      299. …. Altar hendaknya dibangun pada tempat yang sungguh-sungguh menjadi pusat perhatian, sehingga perhatian seluruh umat beriman dengan sendirinya terarah ke sana….

      309. Keagungan Sabda Allah menuntut agar dalam gereja ada tempat yang serasi untuk pewartaan Sabda, yang dengan sendirinya menjadi pusat perhatian umat selama Liturgi Sabda…. …. hendaknya mimbar itu ditempatkan sedemikian rupa, sehingga pembaca dapat dilihat dan didengar dengan mudah oleh umat beriman.
      Mimbar adalah tempat untuk membawakan bacaa-bacaan dan mazmur tanggapan serta Pujian Paskah. Untuk menjaga keagungan mimbar, hendaknya hanya pelayan sabda yang melaksanakan tugas di sana.

      Maka walau sama-sama disebut sebagai ‘pusat perhatian’ namun ambo disebutkan menjadi pusat perhatian selama Liturgi Sabda, sedangkan altar dikatakan ‘sungguh-sungguh menjadi pusat perhatian’ tanpa tambahan keterangan, sehingga mengisyaratkan bahwa ia menjadi pusat perhatian secara umum dalam keseluruhan perayaan Ekaristi. Itulah sebabnya, sering altar diposisikan di pusat/ di tengah Panti Imam, bahkan direncanakan dengan posisi ketinggian lantai yang sedikit lebih tinggi dari ketinggian lantai ambo.

      Nah memang idealnya pembacaan Kitab Suci dilakukan oleh Lektor yang dilantik, tetapi kalau lektor itu tidak ada, maka pembacaan Kitab Suci dapat dilakukan oleh awam yang secara khusus diberi tugas untuk itu. PUMR mengatakan:

      59. Menurut tradisi, pembacaan [Kitab Suci] bukanlah tugas pemimpin perayaan, melainkan tugas pelayan yang terkait. Oleh karena itu, bacaan-bacaan hendaknya dibawakan oleh lektor, sedangkan Injil dimaklumkan oleh diakon atau imam lain yang tidak memimpin perayaan. Akan tetapi kalau tidak ada diakon atau imam lain, maka Injil dimaklumkan oleh imam selebran sendiri….

      101. Kalau lektor yang dilantik tidak hadir, umat awam lainnya dapat diberi tugas memaklumkan bacaan-bacaan dari Alkitab. Mereka harus sungguh terampil dan disiapkan secara cermat untuk melaksanakan tugas ini….

      Dengan ketentuan ini maka dimungkinkan kaum awam diberi tugas untuk membaca Sabda/ Kitab Suci pada perayaan Ekaristi, dan karena pembacaan Sabda tersebut dilakukan di ambo. Oleh kerena itu diperbolehkan, kaum awam yang memang bertugas, untuk naik ke panti imam agar dapat membaca di ambo.

      Selanjutnya, mari mengacu kepada penjelasan Fr. Edward McNamara, profesor Liturgi di universitas Regina Apostolorum, Roma (selengkapnya klik di link ini):

      Monsignor (sekarang Uskup) Peter Elliot menjabarkan tentang penghormatan yang dilakukan oleh pembaca/ lektor….: “Pembaca/ Lektor (datang ke Panti Imam) dan membuat kebiasaan penghormatan; yang pertama, menghormat dengan khidmat terarah ke altar …, dan menghormat kepada imam selebran, sebelum menuju ke ambo…”.

      Maka di sini disebutkan dua jenis penghormatan: yaitu 1) terarah ke altar (dan tabernakel) dan 2) terarah ke imam selebran. Nah penghormatan ke arah altar (dan tabernakel) dapat dilakukan dengan berlutut, ataupun dengan membungkukkan badan; sedangkan penghormatan kepada imam selebran dilakukan dengan menundukkan kepala.

      Ketentuan tentang penghormatan dengan berlutut dan membungkuk, disebut dalam PUMR demikian:

      274. Berlutut, yakni tata gerak yang dilakukan dengan menekuk lutut kanan sampai menyentuh lantai, merupakan tanda sembah sujud. Oleh karena itu, berlutut dikhususkan untuk menghormati sakramen Mahakudus dan Salib Suci yang digunakan dalam Liturgi Jumat Agung mengenang Sengsara Tuhan. Salib ini dihormati dengan berlutut mulai dari penghormatan meriah dalam Liturgi Jumat Agung sampai sebelum memasuki Misa Malam Paskah…..

      Kalau di panti imam ada tabernakel dengan sakramen Mahakudus di dalamnya, maka imam, diakon dan pelayan-pelayan lain selalu berlutut pada saat mereka tiba di depan altar dan pada saat akan meninggalkan panti imam. Tetapi dalam Misa sendiri mereka tidak perlu berlutut….

      275. Di samping berlutut, ada juga tata gerak membungkuk dan menundukkan kepala…

      a. menundukkan kepala dilakukan waktu mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama Santo/ Santa yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan.

      b. membungkukkan badan atau membungkuki dengan khidmat dilakukan waktu: 1) menghormati altar 2) sebelum [imam] memaklumkan Injil, waktu mengucapkan doa Sucikanlah hati dan budiku, ya Allah…. 3) dalam syahadat, waktu mengucapkan kata-kata, Ia yang dikandung dari Roh Kudus …dan menjadi manusia; 4) dalam persiapan persembahan, waktu [imam] mengucapkan doa “Dengan rendah hati dan tulus… 5) dalam Kanon Romawi [DSA 1] pada kata-kata Allah yang mahakuasa, utuslah malaikat-Mu …. Membungkuk juga dilakukan oleh diakon waktu minta berkat kepada imam sebelum mewartakan Injil. Kecuali itu, imam juga membungkuk sedikit waktu mengucapkan kata-kata Tuhan pada saat konsekrasi: “Terimalah ….”

      Demikian tanggapan kami, semoga menjawab pertanyaan Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Hendra,

      saya menambahkan saja, selama perayaan Ekaristi, kalau awam naik panti imam, hendaknya di depan altar tunduk ke altar/imam. Kalau waktu masuk gereja untuk memulai perayaan Ekaristi dan waktu meninggalkan panti imam setelah selesai Ekaristi, penghormatan di depan altar dilaksanakan dengan berlutut karena ada tabernakel di panti imam.

      Tks, salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

  14. Dear katolisitas and Rm. Boli,

    Di sebuah gereja paroki, ketika misa ada misdinar membawa salib. Setelah sampai di depan, salib dibawa ke ruang samping panti imam. Di paroki lain, salib dipacang persis di samping altar. Akhirnya, ada 3 salib: salib utama di dinding yang menghadap umat, salib altar yang menghadap imam, dan salib misdinar yang menghadap umat.

    Pertanyaan saya, bagaimana sebenarnya ketentuan yang resmi? Terus terang, saya sedikit terganggu kalau salib yang dibawa misdinar diletakkan di samping altar. Mohon pencerahan!

    Salam

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Brian,

      Perasaan terganggu dari Brian dapat saya pahami, karena bila sudah ada salib di altar, tak perlu lagi salib perarakan ditempatkan di dekat/samping altar, tetapi dibawa ke tempat lain di luar panti imam, maka kebiasaan di gereja paroki pertama yang Brian sebut itu lebih baik. Bila tidak ada salib altar (yang mengarah ke imam) maka salib perarakan dapat ditempatkan di samping altar dalam posisi sedemikian agar dapat dengan mudah dipandang imam karena bagi umat sudah ada salib utama menghadap mmereka (biasanya imam tidak dapat memandang salib utama itu selama ia menghadap umat). Namun bila tidak ada salib utama di belakang dan di atas altar maka salib perarakan itu ditempatkan di dekat altar dalam posisi sedemikian agar dapat dilihat baik oleh umat maupun imam (agak menyamping posisinya), jadi berfungsi ganda menggantikan salib utama dan salib altar.

      Dalam PUMR 122, 350 ditulis sbb:
      122: Kalau dalam perarakan ini dibawa salib, maka salib itu dipajang di dekat altar sehingga berfungsi sebagai salib altar, dan hanya salib itulah yang harus digunakan; kalau ada salib lain, lebih baik salib perarakan ini dipajang di tempat lain (di luar panti imam).

      350: Di samping itu, barang-barang yang langsung terkait dengan altar dan perayaan Ekaristi, misalnya salib altar dan salib perarakan, hendaknya sungguh diperhatikan.

      Semoga dengan ini menjadi lebih jelas. Tks dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

      • terima kasih Romo pencerahannya, banyak paroki yang mengalami seperti itu, ada tiga salib, salib utama, salib di meja altar dan salib yang diarak misdinar dan ditempatkan pada posisi persis di samping meja altar.

  15. Dhidie Poluan on

    Salam dalam kasih Kristus,
    Terima kasih atas jawabannya. Memang maksud posisi dari tempat yang agak naik sedikit tinggi itu letaknya 2 sampai 3 meter membelakangi meja altar. Di tempat tersebut tersedia 3 kursi, 1 kursi di tengah untuk imam, sementara 2 kursi lainnya untuk ajuda/misdinar. Dari tempat itu imam membuka Perayaan Ekaristi dengan tanda salib sampai doa pembuka sambil berdiri. Bagian ibadah sabda: dari bacaan pertama imam duduk di tempat itu. Setelah bacaan Injil (jika tidak ada diakon) imam menuju ambo untuk membaca Injil sampai kotbah. Setelah itu imam kembali ke tempat semula dan mengajak umat untuk ucapkan credo dan doa umat. Saat persembahan imam menuju altar untuk ibadah korban dan seterusnya. Setelah selesai pengaturan altar imam kembali ke tempat itu untuk doa penutup sampai berkat dan kembali ke sakristi. Sebagai tambahan, tabernakel berada di samping dekat altar. Terima kasih, berka dalem katolisitas.org

    • Kursi imam

      Shalom Dhidie,

      Jika benar maksud Anda bahwa kursi imam di gereja Anda diletakkan di depan altar dan sehingga posisi kursi-kursi imam tersebut membelakangi altar, maka memang sepertinya tata letaknya tidak terlalu ideal, jika kita berpegang kepada PUMR.

      PUMR menyebutkan ketentuan tentang kursi imam, demikian:

      PUMR 310 Kursi imam selebran harus melambangkan kedudukan imam sebagai pemimpin jemaat dan mengungkapkan tugasnya sebagai pemimpin doa. Oleh karena itu, tempat yang paling sesuai untuk kursi imam selebran ialah berhadapan dengan umat dan berada di ujung panti imam, kecuali kalau tata bangun gereja atau sebab lain tidak mengizinkannya; misalnya saja kalau dengan demikian jarak antara umat dan imam terlalu jauh, sehingga mempersulit komunikasi; atau kalau tabernakel dibangun di belakang altar persis di garis belakang panti imam. Kursi imam selebran sama sekali tidak menyerupai tahta….

      Sedangkan untuk letak tabernakel, Ekshortasi Apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis:

      69. …. Penempatan yang benar dari tabernakel akan memberikan kontribusi bagi pengenalan akan kehadiran Kristus yang nyata di dalam Sakramen Mahakudus. Karena itu, tempat di mana Ekaristi disimpan, ditandai oleh lampu tempat kudus, harus mudah terlihat dari siapapun yang memasuki gereja. Maka menjadi penting untuk diperhatikan dalam arsitektur bangunan: di gereja-gereja yang tidak mempunyai kapel Sakramen Mahakudus, dan ketika altar tinggi [high altar pada gereja-gereja tua] dengan tabernakelnya masih di sana, adalah layak untuk tetap menggunakan struktur ini untuk penyimpanan dan adorasi Ekaristi, asalkan jangan menempatkan kursi imam selebran di depannya. Di gereja-gereja baru, adalah baik untuk menempatkan kapel Sakramen Mahakudus dekat dengan panti imam; ketika ini tidak memungkinkan, adalah lebih baik (preferable) untuk menempatkan tabernakel di panti imam, di tempat yang cukup ditinggikan, pada bagian tengah/ as di bagian ujung pengakhiran gereja, atau ditempat lain yang sama-sama menyolok/ mudah terlihat. Perhatian kepada pertimbangan-pertimbangan ini akan memberikan kontribusi martabat kepada tabernakel yang harus selalu diperhatikan dari sudut pandang artistik…..”

      Berpegang atas ketentuan ini, pada gereja-gereja yang tidak mempunyai kapel Sakramen Mahakudus, tabernakel diletakkan di area panti imam. Jika memungkinkan, tabernakel diletakkan di tengah/ as gedung, dengan posisi tabernakel ditinggikan, agar jika kursi imam diletakkan di depannya, maka tidak menutupi tabernakel. Posisi kursi imam harus sedemikian sehingga berhadapan dengan umat, memudahkan komunikasi dengan umat. Memang tidak dilarang jika posisi tabernakel diletakkan di sisi samping, agar tidak terhalang kursi imam, namun kalau melihat dari dokumen Gereja, tetap yang lebih ideal (preferable) adalah lokasi tabernakel di tengah, dengan level yang ditinggikan sedemikian, sehingga mudah dilihat dari segala arah, dan tidak tertutupi oleh imam yang mempersembahkan Ekaristi kudus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Dhidie,

      Berdasarkan PUMR no 310, “yang paling sesuai untuk kursi imam selebran ialah berhadapan dengan umat dan berada pada ujung panti imam, kecuali kalau tata bangun gereja atau suatu sebab lain tidak mengizinkannya; … Kursi imam selebran sama sekali tidak boleh menyerupai takhta”. Bdk Instruksi Pelaksana 1, Inter Oecumenici, no 92. Bisa dinilai apakah yang terjadi itu sesuai dengan pedoman.

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

  16. Shalom,
    Saya ingin menanyakan, bolehkah ke dua tangan kita terbuka waktu menyanyikan lagu Bapa Kami? Saya pernah dengar katanya tdk diperbolehkan, yg boleh mealakukan hanya romo, tp kenyataannya di gereja katolik yg di pontianak, semua umat waktu menyanyikan lagu Bapa Kami tangannya terbuka, terima kasih..

    • Shalom Wandy,

      Yang tertulis dalam PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi) tentang sikap doa imam selebran pada saat mendoakan Bapa Kami, yaitu demikian:

      PUMR 237 Kemudian, sambil mengatupkan tangan, selebran utama mengajak umat membawakan doa Bapa Kami; sesudah itu, sambil merentangkan tangan ia melambungkan Bapa Kami bersama para konselebran, yang juga merentangkan tangan, dan bersama umat.

      Ketentuan PUMR di atas tidak menyebutkan secara eksplisit tentang bagaimanakah ketentuan sikap umat pada saat mendoakan Bapa Kami (kecuali tentu, berdiri). Maka apa yang tidak dirumuskan secara eksplisit, mari, tidak usahlah kita jadikan sebagai rumusan keharusan. Maka boleh saja, jika umat mau bergandengan tangan, atau menadahkan tangan, atau mengatupkan tangan, namun tidak diperkenankan jika suatu postur tertentu diharuskan (prescribed), ditambahkan ke dalam teks liturgi (seperti penyebutan “…. Marilah kita saling bergandengan tangan…..” dst, ini tidak diperkenankan). Demikianlah kurang lebih jawaban Kardinal Arinze, mewakili Kongregasi tentang Liturgi (CDW) dari Vatikan, tentang sikap umat pada saat mendoakan Bapa Kami. Silakan mendengarkan jawaban beliau, di video klip ini, silakan klik, tepatnya di menit 6.47.

      Namun walaupun tidak ada ketentuan tertulis di sini, dan dengan demikian umat dapat memilih sikap doa yang kondusif baginya, namun adalah baik jika dipahami bahwa posisi merentangkan tangan yang dilakukan oleh imam selebran itu, salah satu maksudnya adalah melambangkan peran in persona Christi yang dilakukan oleh imam dalam perayaan Ekaristi. Itulah sebabnya ketentuan postur diakon -yang diatur oleh rubrik- tidak memperbolehkan diakon untuk merentangkan tangan pada saat doa Bapa Kami (lih. Instruction on Collaboration, 1997, 6 § 2). Oleh karena itu, memang ada baiknya, jika mengingat hal ini, umat juga tidak merentangkan tangan pada saat doa Bapa Kami di Misa Kudus, agar mendukung makna simbolisme sikap imam dalam perayaan Ekaristi tersebut, agar semakin kita sadari bahwa kita sebagai umat menyatukan doa kita sebagai Gereja dalam kesatuan dengan imam yang berperan sebagai Kristus Sang Kepala, kepada Allah Bapa. Tentu di luar perayaan Ekaristi, sikap doa apapun diperbolehkan asalkan dilakukan dengan hormat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  17. Dhidie Poluan on

    Salam kasih dalam Yesus Kristus,
    Saya ingin menanyakan, ada beberapa gedung gereja yang panti imamnya, selain tentu memiliki altar untuk kurban misa, tetapi ada juga tempat yang agak naik sedikit, membelakangi altar, yang sering dipergunakan mulai dari Tanda salib sampai doa umat, sedangkan ibadat korban imam menuju altar, dan kembali ke tempat semula sesudah komuni sampai berkat penutup. Apakah ini dibenarkan secara liturgi? Terima kasih katolisitas.

    • Shalom Dhidie,

      Menurut ketentuan liturgis memang di Panti Imam terdapat dua meja, yaitu ambo (Meja Sabda Allah) dan altar (Meja Ekaristi), ini menggambarkan adanya dua liturgi dalam perayaan Ekaristi, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi.

      Tentang meja Sabda/ Mimbar ketentuannya menurut PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi) adalah:

      309. Keagungan Sabda Allah menuntut agar dalam gereja ada tempat yang serasi untuk pewartaan sabda, yang dengan sendirinya menjadi pusat perhatian umat selama Liturgi Sabda.

      Sebaiknya tempat pewartaan sabda itu berupa mimbar (ambo) yang tetap, bukannya ‘standar’ yang dapat dipindah-pindahkan. Sesuai dengan bentuk dan ruang gereja masing-masing, hendaknya mimbar itu ditempatkan sedemikian rupa, sehingga pembaca dapat dilihat dan didengar dengan mudah oleh umat beriman.

      Mimbar adalah tempat untuk membawakan bacaan-bacaan dan mazmur tanggapan serta Pujian Paskah. Juga homili dan doa umat dapat dibawakan dari mimbar. Untuk menjaga keagungan mimbar, hendaknya hanya pelayan sabda yang melaksanakan tugas di sana.

      Seyogyanya sebelum digunakan untuk keperluan liturgi, mimbar baru diberkati menurut tata tacara yang diuraikan dalam buku Rituale Romanum.

      Sekilas dari penuturan Anda, saya berkesan bahwa tempat yang naik sedikit yang Anda sebutkan itu, yang digunakan sejak awal Misa (Tanda salib) sampai doa umat, adalah ambo. Namun, saya tidak paham dengan maksud Anda yang mengatakan bahwa ambo tersebut ditempatkan membelakangi altar. Umumnya ambo memang ditempatkan di sisi altar (bisa di sisi kiri atau kanan) dan posisinya bisa sedikit lebih maju dari altar, tetapi tidak persis di depan altar, sehingga membelakangi altar. Mungkin Anda mempunyai fotonya, jika benar ambo ini diletakkan persis di depan altar? Umumnya memang altar ditempatkan sedemikian sehingga tidak terhalang oleh apapun, sehingga umat dapat dengan segera melihat altar, demikian juga dengan tabernakel.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Anastasia Rafaela on

      Salam kasih sdr Dhidie Poluan,

      Sebagaimana yang saudara jelaskan, sepertinya hal itu sama dengan di Gereja Paroki kami (NSW-Australia). Tempat yang agak “naik sedikit” yang membelakangi altar itu terdapat kursi imam. Menurut pengamatan saya, posisi tempat itu serasi dari sudut padang dimana umat duduk karena antara lain:
      •Saat imam duduk, maka posisi tubuhnya akan terlihat dalam ketinggian yang serasi dengan meja altar, seolah-olah imam duduk tepat di belakang meja perjamuan walau sesunguhnya ada jarak ca.2-3 m antara altar dan kursi imam. Dan wajah imam juga akan terlihat jelas oleh umat yang duduk krn tidak terhalang oleh tingginya altar.
      •Saat imam berdiri dan harus membaca teks, maka posisi si assistant imam yang berarti lebih rendah sedikit itu dan berada sedikit kesamping depan imam, mengakat ke atas bukunya sambil menundukan kepala, akan terlihat serasi krn imam akan dapat membaca dengan posisi yang baik dan wajah imam tidak terhalang buku maupun ketinggian tubuh si assistant imam.
      Demikian sekilas yang dapat saya mengerti.

      Peace and Best Wishes
      Anastasia Rafaela

      • Shalom Anastasia dan Dhidie,
        Nampaknya perlu diperjelas di sini, apakah tempat yang naik sedikit itu: 1) “membelakangi” altar (artinya terletak di depan altar), atau 2) terletak “di belakang” meja altar?

        Sebab kalau menurut uraian Anda, Anastasia, saya berkesan bahwa tempat yang naik sedikit terletak di belakang altar dan bukan membelakangi altar, sebab Anda mengatakan, “… Saat imam duduk, maka posisi tubuhnya akan terlihat dalam ketinggian yang serasi dengan meja altar, seolah-olah imam duduk tepat di belakang meja perjamuan…. ”

        Posisi yang sedikit naik tersebut, boleh saja. Yang penting ada dua meja (mimbar) di Panti imam, yaitu mimbar Sabda (ambo) dan mimbar Ekaristi (altar).

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

        • Anastasia Rafaela on

          Salam kembali Bu Ingrid dan sdr Dhidie,

          Sebelumnya mohon maaf atas kekeliruan saya dalam menggunakan kata “membelakangi” secara tidak tepat hingga justru menjadi kontra.

          Kondisi yang saya maksudkan di sini adalah adanya 3 level area, yaitu
          Level 1: terdapat bangku-bangku umat.
          Level 2: terdapat mimbar Sabda (ambo) dan mimbar Ekaristi (altar).
          Level 3: dengan area yg tidak luas terdapat kursi imam.
          Yang artinya ialah antara level 1 & 2 terdapat anak tangga memanjang yang terletak di sekitar depan altar dan ambo, dan antara level 2 & 3 juga terdapat anak tangga yang berjarak ca. 2-3 meter di belakang meja altar.

          Berdasarkan pengamatan saya sepertinya jumlah dan tingginya anak tangga serta posisi anak tangga itu berada sudah dipertimbangkan dan diperhitungkan dengan baik dan benar. Demikian pula seperti halnya tata penataan kaca-kaca yang mengijinkankan sinar matahari masuk ke dalam gedung gereja yang menghasilkan kilauan pantulan cahaya secara alami dari Tabernakel sehingga terlihat sangat indah dan mempesona.

          Semoga hal ini dapat memperjelas.

          Peace and Best Wishes
          Anastasia Rafaela

Add Comment Register



Leave A Reply