Salam bu Ingrid dan Pak Stef
Dalam forum tanya jawab ini, saya hanya ingin mengemukakan perbedaan pandangan antara Gereja Katolik Orthodox dan Gereja Katolik Roma.
Katak Ortho= Lurus, benar
Doxa= Aliran, doktrin, Jadi Orthodoxa = Aliran yang lurus, ini tentu untuk menjawab aliran-aliran sesat yang muncul pada waktu itu. dan nama “Katolik Roma” muncul pada akhir abad X/XI kalau tidak salah. gereja Katolik Orthodoxa mempertanhankan nilai-nilai kebenaran rasulia, dan doktrin-doktrin gereja purba. Gereja Katolik Orthodoxa ini juga disebut sebagai Gereja Katolik alur utama atau Gereja Orthodoxa Kalsedion.
dan Gereja itu sekarang ada di Indonesia, dan mereka mengakui konisili dari I- VII dan mengakui sakramen-sakramen.
Lalu pertanyaan saya, apa yang membedakan antara Gereja Katolik Orthodoxa dan Gereja Katolik Roma? apa alasan mereka.
Di Indonesia gereja Katolik Orthodoxa alur utama atau Kalsedion beredar di Indonesia.
Aquilino Amaral
Shalom Aquilino Amaral,
Pertama- tama harus dipahami terlebih dahulu hal apa yang memisahkan antara gereja yang menamakan diri sebagai gereja Katolik Orthodox Chalcedon (Kalsedon), dengan Gereja Katolik. Namun sebelumnya mari kita lihat dahulu apa sebenarnya yang disebut Gereja- gereja yang mengikuti ajaran Kalsedon dan mana yang tidak. Untuk itu mari melihat pada sejarah Gereja:
Kita ketahui dari sejarah bahwa di abad- abad awal telah terdapat ajaran- ajaran yang berusaha untuk menyederhanakan misteri ke-Tuhanan dan kemanusiaan Yesus, pada saat Ia menjelma menjadi manusia. Ajaran- ajaran sesat tersebut, memberikan pengajaran yang terlalu menekankan sisi ke-manusiaan Yesus, sehingga mengatakan Yesus bukan Tuhan; atau sebaliknya menekankan sisi ke-Tuhanan Yesus sampai ‘menelan’ sisi kemanusiaan-Nya, sehingga Yesus dianggap bukan sungguh manusia. Atau, ada pula ajaran yang mencampur adukkan kedua kodrat ini.
Nah untuk meluruskan hal ini, para uskup berkumpul pada konsili Kalsedon (451), yang menetapkan bahwa pada saat penjelmaan-Nya, Yesus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia, yang keduanya bersatu secara hypostatik: artinya masing- masing dapat mempunyai ciri- cirinya sendiri, tidak dapat dicampuradukkan, tidak terpisahkan, dan tidak terbagi- bagi. Konsili Kalsedon sekaligus mengecam ajaran- ajaran sesat Nestorius (yang memisahkan kedua kodrat dalam diri Yesus), Arians (yang menolak ke-Tuhanan Yesus), Monophysites (yang mengatakan bahwa keilahian dan kemanusiaan Yesus tergabung dalam satu kodrat), dst. Silakan klik di sini untuk membaca lebih lanjut tentang topik ini.
Setelah Konsili Kalsedon, terdapatlah dua kelompok besar dalam Kristianitas, yaitu mereka yang menerima pengajaran Konsili Kalsedon; yang disebut Chalcedonian Christianity, yaitu gereja- gereja dalam persekutuan dengan Gereja Katolik Roma, Gereja Konstantinopel dan Gereja Orthodox Yunani (Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem). Sedangkan gereja- gereja yang menolak Konsili Kalsedon bergabung dalam gereja- yang menyebut diri sebagai gereja Orthodox Oriental, termasuk di sini gereja- gereja Armenia, Syria, Koptik dan Ethiophia. Menarik untuk dilihat bahwa kata ‘Orthodox’ itu sama- sama diklaim oleh gereja- gereja Timur yang menerima pengajaran Konsili Kalsedon dan juga oleh gereja- gereja yang menolak ajaran Kalsedon. Maka, sesungguhnya kita dapat bertanya, manakah yang benar- benar ‘orthodox’/ ‘lurus’ di sini.
Gereja- gereja Timur Orthodox ini menerima hasil Konsili Kalsedon (451) namun mereka tidak menerima otoritas Bapa Paus. Oleh karena itu, walaupun gereja -gereja Timur Orthodox menyebut diri mereka sendiri sebagai Gereja Katolik Orthodox, namun mereka sesungguhnya tidak tergabung secara penuh dengan Gereja Katolik (meskipun mereka menerima ketujuh Konsili yang dilakukan dari abad ke-4 sampai ke-8). Menarik untuk diketahui bahwa penolakan akan otoritas Paus ini baru efektif berlangsung setelah skisma di tahun 1054, sebab sebelumnya Bapa Paus di Roma tetap diakui sebagai uskup/ penatua jemaat yang pertama di antara para uskup lainnya/ “first among equals“.
Sebenarnya pemisahan ini bukan disebabkan oleh suatu kejadian sesaat, tetapi karena akumulasi dari banyak kejadian, yang memang telah bertubi- tubi terjadi melanda Gereja Timur (dengan pusatnya Konstantinopel) dan Barat (Roma). Harap diketahui bahwa di abad- abad awal, banyak ajaran sesat yang terjadi di Gereja- gereja Timur (Arianisme, Nestorian, Apolloniarism, Monophysites, Ebionite, Monothelistism, dst), meskipun daerah tersebut lebih ‘dekat’ dengan tempat asal Kristus dan para rasul. Gereja Roma, yang dipimpin oleh penerus rasul Petrus selalu tampil sebagai penegak doktrin, jika terjadi semacam kesimpangsiuran pengajaran. (Ini sesungguhnya merupakan penggenapan dari Sabda Allah, bahwa Paus yang berbicara atas nama Rasul Petrus, melakukan kuasa “mengikat dan melepaskan”, dan Tuhan menjanjikan bahwa apa yang ditetapkannya tidak mungkin salah/ tidak mungkin dikuasai oleh maut Mat 16:18-19). Namun, kenyataannya, hal ini sedikit banyak memicu adanya semacam ‘persaingan’ politis antara Gereja Timur dan Barat. Selanjutnya, Gereja Timur ingin memasukkan pengaruh bahasa/ budaya Yunani, sedangkan Gereja Barat, budaya Latin.
Persaingan ini mencapai puncaknya pada dua hal. Pertama, tentang hal ‘Filioque‘, yang sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, lihat point 3.
Kedua, tentang hal “roti tak beragi”. Ketika pasukan perang salib dimulai tahun 1090, para patriarkh Byzantin yang singgah di Konstantinopel menyerang gereja- gereja Latin yang sudah ada di sana sejak jaman kaisar Konstantin. Mereka mengatakan bahwa Ekaristi mereka tidak sah karena menggunakan roti tidak beragi,-sesuatu yang memang telah dilakukan oleh Gereja Barat, dan Gereja Armenia sejak awal, untuk mengikuti teladan Kristus yang menggunakan roti tak beragi pada Perjamuan Terakhir. Namun para patriarkh Byzantin itu (dipimpin Michael Cerularius) ingin memaksakan ritus Byzantin -yang menggunakan roti beragi untuk perjamuan- kepada umat Roma yang tinggal di Konstantinopel tersebut. Cerularius membuka tabernakel dan membuang Hosti yang sudah dikonsekrasikan itu ke jalan. Oleh sebab itu, Gereja Roma kemudian mengecam tindakan patriarkh Cerularius tersebut. Setelah kejadian itu, Gereja Roma mengutus delegasi yang dipimpin oleh Cardinal Humbertus untuk mengusahakan perdamaian. Namun sayangnya, karena faktor kelemahan manusia (dalam hal ini emosi yang meledak- ledak dari kedua belah pihak), perundingan diakhiri dengan ekskomunikasi dari kedua belah pihak kepada kedua belah pihak; sesuatu yang berakibat terlalu jauh dan sebenarnya tidak diinginkan oleh kedua belah pihak. Sebab ekskomunikasi itu sebenarnya hanya berlaku terhadap sang individu, dan bukan terhadap semua orang dalam komunitas. Lebih lanjut tentang apa itu ekskomunikasi, silakan klik di sini.
Berikut ini adalah kutipan deklarasi yang disetujui bersama antara Paus Paulus VI dengan Patriarkh Konstantinopel Athenagoras I (1965):
Among the obstacles along the road of the development of these fraternal relations of confidence and esteem, there is the memory of the decisions, actions and painful incidents which in 1054 resulted in the sentence of excommunication leveled against the Patriarch Michael Cerularius and two other persons by the legate of the Roman See under the leadership of Cardinal Humbertus, legates who then became the object of a similar sentence pronounced by the patriarch and the Synod of Constantinople.
Thus it is important to recognize the excesses which accompanied them and later led to consequences which, insofar as we can judge, went much further than their authors had intended and foreseen. They had directed their censures against the persons concerned and not the Churches. These censures were not intended to break ecclesiastical communion between the Sees of Rome and Constantinople. (terjemahannya: …. ekses- ekses yang mengikutinya dan sesudahnya mengarah kepada akibat- akibat yang, menurut hemat kami, pergi jauh dari apa yang dimaksud dan diduga oleh para pengarangnya [dalam hal ini Cerularius dan Kardinal Humbertus yang diutus oleh Paus]. Mereka mengarahkan sangsi kepada orang- orang yang terlibat dan bukan kepada Gereja- gereja. Sangsi ini tidak dimaksudkan untuk memecahkan persekutuan antara Tahta Suci Roma dan Konstantinopel.”
Tentu jawabannya tidak. Istilah Gereja “Katolik” sudah ada sejak abad awal, walau pertama kali diresmikan pada tahun 107 ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Nah Gereja Katolik yang dimaksud di sini adalah Gereja Katolik yang mengakui otoritas uskup Roma, sebagai penerus rasul Petrus. Silakan membaca di sini, silakan klik, untuk mengetahui ke-empat ciri- ciri Gereja yang didirikan Kristus, yang mengajarkan doktrin yang lengkap dan benar/ lurus.
Gereja ‘Katolik’ Orthodox Kalsedon tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, dan karena itu keduanya tidak sama. Perbedaannya, gereja Orthodox tidak mengakui otoritas Bapa Paus. Gereja Orthodox ini tidak sama dengan ke-22 Gereja- gereja Timur yang ada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, yang namanya dapat anda baca di sini, silakan klik.
Walaupun gereja Orthodox mengajarkan ajaran para rasul, mereka tidak mengajarkan keseluruhan Tradisi para rasul, yang sejak awal mengakui otoritas kepemimpinan uskup Roma (yaitu Paus). Bukti tentang keutamaan Petrus dan para penerusnya (yaitu Paus), sudah pernah ditulis dalam serial artikel Keutamaan Petrus bagian 1 sampai dengan 5, yang sudah ditayangkan di situs ini (bagian 6-nya menyusul).
Namun meskipun Gereja- gereja Orthodox tersebut tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, mereka mempunyai hubungan yang erat dengan Gereja Katolik, sebab mereka juga mengakui ketujuh sakramen, dan mempunyai jalur apostolik. Dalam kondisi darurat (misalnya karena di ambang maut), seseorang dari gereja Orthodox dapat meminta imam dari Gereja Katolik agar memberikan sakramen Minyak suci (Urapan orang sakit), Ekaristi dan Pengakuan dosa.
Demikian yang dapat saya sampaikan untuk pertanyaan anda, semoga bermanfaat.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Salam,
Sedih juga membaca artikel ini, karena di sisi penjelasan “agak bagus”, hanya saja “sepertinya” sang penulis tidak mau jujur, entahkah dia memahami sejarah dalam konteks akademis ataukah hanya memahami sejarah gereja sebagai alat pembenaran iman yang menurutnya disukai?
Harusnya dipahami bahwa GEREJA dari awal tidak memiliki bagian yang terpisah, tetapi satu kesatuan yang utuh yakni Gereja Kristus yang ada di seluruh Kekaisaran Romawi dan kemudian melahirkan kekaisaran baru di Timur yakni Kekaisaran Byzantium.
Dari sejak awal GEREJA senantiasa berkumpul untuk membicarakan masalah yang muncul baik di dalam maupun yang muncul diluar. Para Bapa Gereja yakni yang kemudian kita kenal dengan para Uskup, baik di Timur dan Barat, akan mengadakan Rapat Besar atau Konsili.
Mestilah dipahami bahwa sedari dulu wilayah-wilayah metropolis utama seperti Yerusalem, Antiokhia, Alexandria, Roma dan Konstantinopel merupakan pertemuan berbagai budaya dan kemudian menjadi tempat dimana Kekristenan beerkembang begitu hebatnya sehingga menjadikan wilayah sebagai tempat-tempat utama Kekristenan.
Jikalau dikatakan bahwa Roma menjadi tempat utama bagi Santo Petrus, ini sedikit agak tendensius, kenapa? Karena seperti kita ketahui, Santo Petrus pada awalnya mengabarkan Injil di metropolis Antiokhia dan menjadi Kepala bagi umat Kristen disana, lalu kemudian Santo Petrus melakukan perjalanan ke kota Roma.
Nah, bagi umat Kristen di Timur yang pusatnya kemudian berada di Konstantinopel, kita telah ketahui bersama bahwa saudara Santo Petrus yakni Santo Andreas yang kemudian menjadi patron disana.
Oleh sebab itu, saya secara pribadi, sangat menyayangkan jikalau kita sebagai umat Kristen yang “kanonik” tidak menjelaskan dengan baik dan jujur terhadap sejarah masa lalu yang kelam baik di Barat maupun di Timur.
Demikian dari saya, salam hormat dan marilah kita senantiasa memahami keindahan dan kekayaan Iman Katholik Yang Kudus dan Suci dari Gereja Kristus yang KANONIK sekalipun kesedihan akibat perpecahan diantara Timur dan Barat.
Kristus di tengah-tengah kita, dan Sang Theotokos Tersuci senantiasa melindungi kita semua. Amin!
Shalom Rinus,
Mohon dipahami bahwa artikel di atas memang tidak dimaksudkan untuk menjelaskan keseluruhan sejarah Gereja. Artikel di atas hanya ditujukan untuk menjawab tentang apakah perbedaan utama antara gereja- gereja Orthodoks dengan Gereja Katolik. Maka di artikel itu kami tidak menyampaikan keseluruhan sejarah Gereja. Namun demikian, kami juga tidak mengatakan bahwa sudah sejak awal Gereja terpisah. Tidak ada dari artikel kami yang menyatakan demikian. Jika Anda menemukan kalimatnya, silakan memberitahu kami, dan kami akan merevisinya. Sebab sejak awalnya Gereja memang satu, sebab Kristus hanya mendirikan satu Gereja, yaitu Gereja yang didirikan di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18). Selanjutnya, Kitab Sucilah yang menulis bahwa Yesus memerintahkan agar para murid menjadi saksi mulai dari Yerusalem, lalu meluas ke Yudea dan Samaria, dan kemudian sampai ke ujung bumi (lih. Kis 2:8). Perintah ini dilaksanakan oleh para murid, dan terlihat dari terbentuknya Gereja- gereja di daerah- daerah tersebut; dan untuk maksud pewartaan ke seluruh dunia inilah, maka Rasul Petrus dan Paulus menuju kota Roma, yang menjadi pusat dunia pada saat itu. Hal keberadaan Rasul Petrus dan Paulus di Roma diketahui dari bukti- bukti sejarah, sebagaimana pernah diulas di sini, silakan klik.
Dengan demikian, tidak ada maksud dari kami di Katolisitas untuk ‘tidak mau jujur‘ seperti anggapan Anda. Tidak ada maksud ‘pembenaran iman‘ yang suka-suka/ asal saja dari pihak kami, sebab yang kami sampaikan di sini adalah fakta obyektif dari yang dapat diketahui dari catatan sejarah tentang keutamaan Rasul Petrus, tanpa mengecilkan peran para rasul yang lain, sebab kami juga mengakui adanya jalur apostolik dari gereja-gereja Orthodoks. Kami juga mengakui bahwa sebelum ke Roma, Rasul Petrus mengabarkan Injil di Antiokhia. Jadi hal ini tidak kami tutup-tutupi.
Selanjutnya sekilas tentang topik persatuan dengan gereja-gereja Timur, silakan klik di sini. Tentang Keutamaan Gereja Roma (Primus Inter Pares), silakan klik.
Ya, mari kita berdoa agar persatuan Gereja antara gereja-gereja Timur (termasuk gereja Orthodoks) dan Gereja Katolik (yang sering disebut Gereja Barat karena berpusat di Roma) dapat segera terwujud.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
PERSATUAN GEREJA ORTODOX INDONESIA
Jika Anda Katolik Roma, gereja Anda berbagi warisan doktrinal apostolik yang kaya dan yang sama sebagai Gereja yang Ortodoks untuk seribu tahun pertama dalam sejarah, karena selama milenium pertama mereka adalah satu dan Gereja yang sama dengan Gereja yang Orthodox. Pada tahun 1054, Paus Roma menyatakan memisahkan diri dari 4 Kepatriarkhan Gereja Apostolik lainnya (Patriarkh Konstantinopel, Patriarkh Alexandria, Paus Antiokhia dan Patriarkh Yerusalem), dengan cara merusak Credo / Syahadat Iman Asli Gereja, dan mempertimbangkan dirinya untuk menjadi yang paling sempurna. Dengan demikian gereja anda berdiri sendiri sejak 1.000 tahun yang lalu.
Jika Anda seorang Kristen Orthodox, agama Anda didirikan pada tahun 33 oleh Yesus Kristus, Anak Allah. Hal ini tidak berubah sejak saat itu. Gereja kami sekarang hampir 2.000 tahun berdiri. Dan untuk alasan inilah, bahwa Gereja Ortodoks, Gereja dari para Rasul dan para Bapa dianggap benar “Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.” Ini adalah warisan terbesar yang kita dapat turunkan pada orang-orang muda dari milenium baru.
( kutipan ini sy ambil dri page PGOI di face Book, Feb, 01st 2012 )
Dear,
Team Katolisitas
Mohon penjelasannya tentang pernyataan mereka diatas terutama kalimat “ merusak Credo/ syahadat Iman asli Grj “.
Trimakasih, Tuhan Yesus menyertai.
[dari Katolisitas: Silakan membaca artikel tentang Filioque, silakan klik]
Selamat siang Katolisitas. Maaf saya ingin bertanya, mengapa dalam Gereja Katolik ritus Latin tidak ada sholat seperti di Katolik Timur maupun Orthodox?
Mohon pencerahannya.
Trimakasih.
Christum Dominum Nostrum.
Salam Aryana,
Maaf, saya tidak dapat informasi tentang sholat di Katolik Timur dan Orthodox. Apakah sholat yang dimaksud adalah doa lima kali sehari dengan gerakan/sikap tubuh yang mirip sikap sholat saudara-saudara kita yang Muslim? Sekedar informasi singkat, Gereja (Katolik) mempunyai kebiasaan doa harian mencontohi Yesus. Pada abad IV berkembanglah tradisi Ibadat Harian Katedral yang membiasakan umat untuk membuat ibadat utama: Ibadat Pagi dan Ibadat Sore, dan ada juga Vigili atau Jaga Malam sambil berdoa dan membaca-mendengarkan dan merenungkan Kitab Suci.
Pada masa yang kurang lebih sama berkembanglah tradisi Ibadat Harian Biara: ada yang mempunyai kebiasaan doa 3 kali sehari, lima kali sehari, tujuh atau delapan kali sehari. Dalam Ibadat Harian Katedral dan Ibadat Harian Biara, semua anggota persekutuan beriman mengambil bagian dalam doa. Jadi Ibadat Hariannya adalah ibadat bersama di katedral (uskup dan para klerusnya, biarawan-biarawati di wilayah katedral, dan umat beriman) dan di biara (anggota-anggota dan pemimpin biara). Sikap tubuhnya agak bervariasi, tetapi umumnya pada waktu mendoakan Mazmur: duduk, waktu “kemuliaan”: berdiri dan membungkuk, waktu doa diam: berdiri dan merentangkan tangan, atau berdiri lalu membungkuk dan berlutut atau tiarap, waktu bacaan: duduk.
Khusus untuk pendarasan Mazmur dikenal tradisi “impositio” yang berarti satu kesatuan doa Mazmur yang terdiri dari: ayat Mazmur (duduk), kemuliaan (berdiri), tunduk atau tertiarap, doa (lantang oleh pemimpin: berdiri). Dalam abad pertengahan, kebiasaan doa bersama dalam Ibadat Harian Katedral menghilang, dan buku Ibadat Harian dipakai hanya oleh kaum klerus. Umat yang lain berdoa 150x Bapa Kami atau 150x Salam Maria mengganti 150 mazmur dan dibiasakan berdoa 3x sehari dengan mendoakan “Malaikat Allah” (Angelus).
Konsili Vatikan II menegaskan kembali bahwa Ibadat Harian sebagai kegiatan liturgis adalah doa semua umat beriman, bukan hanya doa para klerus. Ibadat Harian sekarang terdiri dari: Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore, Ibadat Penutup dan Ibadat Bacaan (jadi 5x ibadat tiap hari).
Salam dan doa. Gbu.
Rm B.Boli Ujan, SVD.
Diatas disebutkan bahwa sebelum skisma tahun 1054, gereja Barat dipimpin oleh penerus-penerus Petrus. Kalau demikian, siapa yang waktu itu memimpin gereja Timur? Apakah tidak ada penerus Petrus yang ada di daerah timur?
Sebenarnya saya agak bingung.. :) 22 gereja Katolik Timur yang ada di daftar tersebut apakah mengakui otoritas Paus dalam hal iman dan doktrin? Kalau ya, apa perbedaannya dengan gereja Katolik Roma?
Shalom Agung Swiyanto,
1. Gereja Katolik adalah Gereja yang mempunyai jalur apostolik, yang jika ditelusuri akan sampai kepada kepemimpinan Rasul Petrus di Gereja/ jemaat di Roma. Sebelum tahun 1054 Gereja Barat dan Gereja Timur bersatu dalam Gereja Katolik. Gereja- gereja timur juga mempunyai jalur Apostolik, karena Gereja- gereja tersebut memang didirikan oleh para rasul, dan memang ada yang juga mempunyai jalur apostolik sampai ke Rasul Petrus, karena Rasul Petrus tidak saja mendirikan Gereja di Roma tetapi juga di Antiokhia. Namun demikian, keutamaan tetap ada di Gereja Roma, seperti telah diuraikan di sini:
Keutamaan Petrus, bagian 1: menurut Kitab suci
Keutamaan Petrus, bagian 2: Bukti sejarah ttg keberadaan Petrus di Roma
Keutamaan Petrus, bagian 3: Tanggapan terhadap mereka yang menentang keberadaan Petrus di Roma
Keutamaan Petrus, bagian 4: Menurut Dokumen paling awal Gereja
(Keutamaan Petrus, bagian 5 dan 6 masih belum selesai ditulis)
2. Ke 22 Gereja Timur yang ada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik adalah Gereja- gereja Timur yang mengakui otoritas bapa Paus di Roma. Perbedaannya dengan Gereja Barat adalah dalam hal ritus (Gereja Barat memakai ritus Latin, sedangkan Gereja-gereja Timur memakai ritus dari tradisi Gereja mereka) yang tercermin dalam perayaan- perayaan liturgi. Namun demikian, esensi pengajarannya sama.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Saya ada pertanyaan dr teman ortodox saya, dia memberikan kata2 ini u menyatakan Paus Roma salah karena menyamai Tuhan.. Berikut cuplikan: ‘Selanjutnya, kami menyatakan,
kami mewartakan, dan kami mendefinisikan bahwa adalah sangat perlu bagi semua orang
untuk keselamatan mereka, tunduk kepada kekuasaan Paus Roma.’ – Unam Sanctam, Pope
Bonifaci VIII -
Dia tanya,apakah keselamatan tunduk pada
Kekuasaan Paus???
Karena sy tdk pny akses ke surat yg dimaksud jd saya tanyakan ke anda. Tks bantuanx. GBU
Shalom Marcellus Rudy,
Silakan anda membaca langsung teks lengkap Unam Sanctam yang ditulis oleh Paus Bonifacius VIII, di link ini , silakan klik.
Dokumen tersebut sebenarnya mau menegaskan kembali tentang Gereja yang satu, kudus, katolik dan Apostolik yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus, dan bahwa Tuhan menyelamatkan umat manusia melalui Gereja-Nya itu yang berada kesatuan dengan Kristus sebagai Kepala-Nya. Paus menyatakan bahwa Gereja sebagai Tubuh itu Satu, demikian juga dengan Kepala-Nya, yaitu Kristus yang berada dalam kesatuan dengan wakil-Nya yaitu Paus sebagai penerus Rasul Petrus. Dengan jelas Paus Bonifasius VIII mengatakan demikian:
Jadi kita tidak dapat menganggap bahwa Paus adalah saingan Kristus, seolah- olah Gereja mempunyai dua kepala, seperti monster, demikian kata Paus. Paus, sebagai penerus Rasul Petrus itu berada dalam kesatuan dengan Kristus, dan dengan demikian ketaatan kepada Paus adalah ketaatan kepada Kristus sendiri yang telah mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus dan menyerahkan kepemimpinan Gereja-Nya di dunia ini atas Rasul Petrus dan para penerusnya. Jadi kelirulah pandangan orang yang mensejajarkan Paus dengan Tuhan. Paus adalah, selain sebagai pemimpin Gereja yang diberi mandat oleh Tuhan Yesus, ia juga adalah pelayan Tuhan, jadi tidak pernah setara dengan Tuhan. Namun Tuhan telah memilih pelayan-Nya ini untuk memimpin umat-Nya, dan karena itulah sebagai umat kita perlu menaati ajaran Bapa Paus yang berasal dari Tuhan, sebab Allah menghendakinya demikian.
Demikianlah kita memahami konteks kalimat yang terakhir yang anda tanyakan, “…. we declare, we proclaim, we define that it is absolutely necessary for salvation that every human creature be subject to the Roman Pontiff.” Sebab ketaatan kepada Paus merupakan ketaatan kepada Kristus yang memberikan kuasa kepadanya. Di dunia, orang tidak mempunyai sesulitan untuk setuju bahwa jika seorang pemimpin perusahaan pergi ke luar kota dan menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada wakilnya, maka seluruh pekerja harus taat kepada wakil pimpinan itu. Demikianlah juga yang terjadi pada Gereja di dunia, sebab sebelum kenaikan-Nya ke surga, Kristus telah mempercayakan Petrus untuk menggembalakan domba- domba-Nya (Yoh 21:17). Maka jika seseorang tidak menghormati Bapa Paus, sebenarnya ia juga tidak menghormati Kristus yang telah menunjuk Rasul Petrus sebagai wakil-Nya di dunia.
Semoga kita semua dapat melihat bahwa sudah menjadi kehendak Allah, bahwa sebagai umat kita perlu tunduk kepada pihak pimpinan Gereja, yang sudah ditunjuk Allah untuk memimpin Gereja, agar kesatuan Gereja dapat tetap dipertahankan, sampai akhir jaman.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Yth Bu Inggrid & Pak Stef,
Lalu apa perbedaan antara Gereja Orthodoks yang dijelaskan diatas dengan Gereja Orthodoks Syria ( KOS ) yang ada di Indonesia ini …. [...... dari Katolisitas: kami edit] karena saya dengan doktrin mereka kok banyak perbedaannya sekali ya ? bahkan yg saya dengan mereka tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan melainkan hanya utusan seperti muhammad ?
bisa dijelaskan lebih detail ? terima kasih
Shalom Caesandra,
Jika gereja Orthodoks Syria yang anda sebutkan itu dalam kesatuan ajaran dengan Syriac Orthodox Church, maka kita ketahui bahwa gereja Orthodox ini termasuk salah satu dari gereja- gereja yang tidak menerima hasil Konsili Kalsedon (451), sehingga dikenal sebagai gereja non-Kalsedon. Seperti telah disebutkan di atas, Konsili Kalsedon mendefinisikan doktrin Kristologi yang penting, yaitu bahwa saat penjelmaan-Nya, Kristus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia, yang keduanya bersatu secara hypostatik: artinya masing- masing mempunyai ciri- cirinya sendiri, tidak dapat dicampuradukkan, tidak terpisahkan, dan tidak terbagi- bagi. Konsili Kalsedon sekaligus mengecam ajaran- ajaran sesat Nestorius (yang memisahkan kedua kodrat dalam diri Yesus), Arius (yang menolak ke-Tuhanan Yesus), Monophysites (yang mengatakan bahwa keilahian dan kemanusiaan Yesus terlebur dalam satu kodrat).
Sebenarnya, gereja Orthodox Syria tidak mengajarkan bahwa Yesus bukan Allah, atau hanya utusan Allah. Ajaran yang demikian adalah ajaran sesat Arianisme. Maka jika gereja Orthodox Syria yang di Indonesia itu berada dalam kesatuan dengan gereja Orthodox Syria lainnya di dunia, maka mereka mestinya sepaham dengan ajaran Syriac Orthodox Church, seperti yang disebutkan dalam situs mereka. Di situs itu dikatakan bahwa Syriac Orthodox Church mengimani Kristus sebagai sungguh Allah namun juga sungguh manusia, namun keduanya ini ada dalam satu kodrat [jadi bukan dua kodrat yang bersatu secara hypostatik, seperti hasil Konsili Kalsedon], walaupun mereka juga mengajarkan bahwa di dalam satu kodrat ini, ke- Allahan dan kemanusiaan Yesus tidak terpisahkan dan tidak tercampur aduk. Jadi sebenarnya, pada dasarnya, secara prinsip doktrin yang diajarkan oleh Gereja Katolik dan gereja Orthodox Syria ini sama, hanya saja pengungkapan dalam istilah theologisnya berbeda.
Maka, cukup menarik jika kita membaca deklarasi gabungan yang ditandatangani oleh patriarkh Ya’qub (Jacob III) dari gereja Othodox Syria dengan Paus Paulus VI dari Gereja Katolik di Vatikan, 27 Oktober 1971, sebagai berikut:
Juga relevan di sini, jika kita membaca pernyataan yang dikatakan oleh para teolog, baik dari Gereja- gereja yang menerima ataupun yang menolak hasil Konsili Kalsedon (1967):
Dilanjutkan lagi dengan pernyataan pada tahun 1973:
Pernyataan iman bersama ini menjelaskan sedikit banyak posisi Gereja Katolik dan gereja Orthodox Syria, tentang pemahaman mereka dalam hal Kristologi. Memang ada perbedaan istilah theologis yang dipakai oleh kedua pihak, namun jika diteliti dengan sungguh- sungguh, sebenarnya perbedaannya hanya pada istilah yang digunakan, dan bukan kepada prinsip imannya, bahwa Yesus adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia, pada saat penjelmaan-Nya di dunia. Oleh karena itu, benarlah bahwa sesungguhnya Gereja Katolik mempunyai kedekatan yang istimewa dengan Gereja- gereja Timur, termasuk gereja Orthodox. Marilah berdoa bagi persatuan Gereja sehingga dapat terpenuhi kehendak Kristus agar semua murid-Nya dapat menjadi satu (Yoh 17:20-21), dalam satu kawanan dengan satu gembala.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Lalu mengapa pada saat Gereja Ortodox masuk ke Indonesia,dan menginginkan agar mereka berada di bawah Bimas Katolik di Depag ditolak oleh Gereja Katolik melalui Bimasnya di Depag??Sehingga mereka berada di bawah Bimas Kristen saat ini.Inikan bisa semakin memperuncing perseteruaan/perbedaan bahkan kebencian yang sudah ada selama ini.
Padahal Gereja Katolik dan Gereja Ortodox merupakan saudara kandung.
Apakah Gereja Katolik menganggap Gereja Ortodox itu sebagai saingannya??
Shalom Dico Sinuraya,
Mungkin yang anda maksudkan di sini adalah gereja Orthodox yang tidak (atau belum) berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik. Karena jika yang masuk ke Indonesia adalah salah satu dari ke 22 Gereja- gereja Timur yang ada dalam kesatuan penuh dalam Gereja Katolik, maka tentu dapat tergabung dalam Bimas Katolik di Depag. Tentang daftar nama ke- 22 Gereja Timur tersebut, silakan klik di sini.
Namun jika yang masuk ke Indonesia adalah salah satu gereja Orthodox yang tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, maka memang sudah selayaknya mereka tidak berada di bawah Bimas Katolik di Depag. Bukan karena Gereja Katolik menolaknya, tetapi karena hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Gereja Katolik tidak pernah menganggap gereja- gereja non Katolik sebagai saingannya. Gereja Katolik menganggap mereka yang telah dibaptis secara sah di gereja- gereja non Katolik, sebagai saudara- saudari dalam Kristus. Hanya saja kesatuan kita dengan mereka tidak sempurna, justru karena mereka tidak mengakui kepemimpinan Bapa Paus (penerus Rasul Petrsu) sebagai pemimpin tertinggi Gereja di dunia, seperti yang dikehendaki Kristus (lih. Mat 16:18). Maka hal perseteruan atau kebencian tidak ada pada pihak Gereja Katolik. Semoga hal ini dapat dipahami.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Lalu mengapa Paus meminta maaf kepada Gereja Ortodox?
Dan mengapa Gereja Ortodox sepertinya begitu antipati terhadap gereja Katolik Roma?
Dan bisakah anda berikan artikel/penjelasan mengenai Apa sebab Gereja2 Katolik ortodox ritus Timur yang berjumlah 22 itu lebih memilih bersekutu kepada Gereja Katolik Roma dari pada ke Ortodox?
Shalom Eduardo Sinuraya,
1. Menurut hemat saya, permintaan maaf Paus Yohanes Paulus II kepada gereja Orthodox berkaitan dengan sejarah masa lalu. Kita ketahui puncak pemisahan gereja Orthodox dari Gereja Katolik Roma antara lain disebabkan oleh perselisihan dari Patriarkh Michael Cerularius (dari gereja Orthodox) dan Kardinal Humbert yang diutus oleh Bapa Paus Leo IX (pihak Gereja Katolik Roma). Kekerasan kedua belah pihak inilah yang akhirnya mengakibatkan perpisahan antara gereja Orthodox dan Gereja Katolik.
Maka jika Paus Yohanes Paulus II meminta maaf, dasarnya adalah niatan baik dan kerendahan hati Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik, yang mengakui adanya kesalahan di pihak putra anggota Gereja Katolik di masa lalu. Hal ini menarik untuk direnungkan, karena sebetulnya dalam perselisihan ini, terdapat juga kesalahan di pihak gereja Orthodox, yang telah melakukan penghinaan terhadap Ekaristi/ hosti yang sudah dikonsekrasikan dalam Gereja Katolik ritus latin tersebut.
Tidak ada yang salah dalam sikap meminta maaf terlebih dahulu kepada pihak yang berselisih dengan kita, tanpa menunggu mereka meminta maaf dahulu kepada kita dan tanpa mensyaratkan mereka juga harus meminta maaf kepada kita.
2. Kita tidak perlu membalas jika kita melihat adanya pihak yang begitu antipati terhadap Gereja Katolik. Yang perlu kita lakukan adalah mendoakan mereka. Mengapa mereka bersikap demikian? Kami di Katolisitas tidak dapat menjawabnya, silakan anda tanyakan kepada mereka yang antipati tersebut.
3. Gereja- gereja ritus Timur yang memilih untuk bersekutu dengan Gereja Katolik tentu memiliki alasan yang kuat untuk tetap bersekutu ataupun kembali bersekutu dengan Gereja Katolik. Fakta sejarah sesungguhnya cukup jelas membuktikan keutamaan Rasul Petrus dan para penerusnya dalam sejarah kepemimpinan Gereja. Maka jika Gereja- gereja Timur tersebut memilih untuk bersekutu dengan Gereja Katolik, tentunya adalah karena mereka mengamini kehendak Kristus agar semua murid-Nya bersatu (lih Yoh 17:20-22), dan persatuan ini ada di dalam Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18).
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Jikalau memang benar penjelasan diatas,lalu mengapa Paus meminta maaf atas kesalahan Gereja Katolik dimasa lalu?
Shalom Dico Sinuraya,
Permohonan maaf Bapa Paus Yohanes Paulus II itu berkaitan dengan adanya kesalahan yang dilakukan oleh putera- puteri anggota Gereja di sepanjang sejarah. Hal ini tentu harus kita lihat dalam konteks yang positif, sebab artinya, Bapa Paus sebagai pemimpin Gereja, mengakui bahwa di sepanjang sejarah manusia, terjadi hal- hal yang tidak ideal, yang disebabkan oleh perbuatan dari beberapa orang anggota Gereja Katolik. Sejarah umat manusia tak jarang diisi oleh perselisihan, dan umumnya perselisihan itu selalu melibatkan kesalahan dari kedua belah pihak. Dalam hal ini, Gereja katolik mengambil inisiatif untuk memohon maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh pihak anggota Gereja Katolik.
Dalam kasus perpecahan Gereja Orthodox 1054 yang dipimpin oleh Michael Cerularius, pemisahan yang terjadi berkaitan dengan perbedaan pandangan tentang roti yang digunakan dalam ibadah Perjamuan Kudus. Sayangnya, baik pihak Cerularius maupun utusan dari Paus yaitu Kardinal Humbert tidak dapat menyelesaikan perbedaan ini dengan baik. Keduanya terlibat emosi, sehingga masalah ini tidak dapat diakhiri dengan baik- baik, melainkan dengan pemisahan diri. Hal ini kemudian disesali oleh kedua belah pihak, seperti yang telah saya sampaikan dalam jawaban saya terdahulu. Antara lain, untuk menyikapi hal inilah, Paus Yohanes Paulus II mengambil inisiatif untuk memohon maaf. Meminta maaf adalah suatu sikap yang baik dan perlu kita teladani; dan kita tidak perlu menunggu pihak lain untuk juga meminta maaf kepada kita, ataupun memusatkan perhatian kepada kesalahan yang diperbuat oleh pihak yang lain terhadap kita. Meminta maaf adalah salah satu bukti kerendahan hati, yang mengakui bahwa kita sebagai kesatuan umat beriman perlu untuk senantiasa bertobat dan memperbaiki diri agar dapat bertumbuh di dalam kekudusan.
Salam kasih dalam Kristus Yesus,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Salam bu Ingrid dan Pak Stef
Dalam forum tanya jawab ini, saya hanya ingin mengemukakan perbedaan pandangan antara Gereja Katolik Orthodox dan Gereja Katolik Roma.
Kata Ortho= Lurus, benar
Doxa= Aliran, doktrin, Jadi Orthodoxa = Aliran yang lurus, ini tentu untuk menjawab aliran-aliran sesat yang muncul pada waktu itu. dan nama “Katolik Roma” muncul pada akhir abad X/XI kalau tidak salah. gereja Katolik Orthodoxa mempertanhankan nilai-nilai kebenaran rasulia, dan doktrin-doktrin gereja purba. Gereja Katolik Orthodoxa ini juga disebut sebagai Gereja Katolik alur utama atau Gereja Orthodoxa Kalsedion.
dan Gereja itu sekarang ada di Indonesia, dan mereka mengakui konisili dari I- VII dan mengakui sakramen-sakramen.
Lalu pertanyaan saya, apa yang membedakan antara Gereja Katolik Orthodoxa dan Gereja Katolik Roma? apa alasan mereka.
Di Indonesia gereja Katolik Orthodoxa alur utama atau Kalsedion beredar di Indonesia.
Aquilino Amaral
[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]