Perbedaan utama gereja Orthodox dengan Gereja Katolik

28

Pertanyaan:

Salam bu Ingrid dan Pak Stef

Dalam forum tanya jawab ini, saya hanya ingin mengemukakan perbedaan pandangan antara Gereja Katolik Orthodox dan Gereja Katolik Roma.

Katak Ortho= Lurus, benar
Doxa= Aliran, doktrin, Jadi Orthodoxa = Aliran yang lurus, ini tentu untuk menjawab aliran-aliran sesat yang muncul pada waktu itu. dan nama “Katolik Roma” muncul pada akhir abad X/XI kalau tidak salah. gereja Katolik Orthodoxa mempertanhankan nilai-nilai kebenaran rasulia, dan doktrin-doktrin gereja purba. Gereja Katolik Orthodoxa ini juga disebut sebagai Gereja Katolik alur utama atau Gereja Orthodoxa Kalsedion.
dan Gereja itu sekarang ada di Indonesia, dan mereka mengakui konisili dari I- VII dan mengakui sakramen-sakramen.

Lalu pertanyaan saya, apa yang membedakan antara Gereja Katolik Orthodoxa dan Gereja Katolik Roma? apa alasan mereka.
Di Indonesia gereja Katolik Orthodoxa alur utama atau Kalsedion beredar di Indonesia.
Aquilino Amaral

Jawaban:

Shalom Aquilino Amaral,

Pertama- tama harus dipahami terlebih dahulu hal apa yang memisahkan antara gereja yang menamakan diri sebagai gereja Katolik Orthodox Chalcedon (Kalsedon), dengan Gereja Katolik. Namun sebelumnya mari kita lihat dahulu apa sebenarnya yang disebut Gereja- gereja yang mengikuti ajaran Kalsedon dan mana yang tidak. Untuk itu mari melihat pada sejarah Gereja:

1. Konsili Kalsedon pada tahun 451

Kita ketahui dari sejarah bahwa di abad- abad awal telah terdapat ajaran- ajaran yang berusaha untuk menyederhanakan misteri ke-Tuhanan dan kemanusiaan Yesus, pada saat Ia menjelma menjadi manusia. Ajaran- ajaran sesat tersebut, memberikan pengajaran yang terlalu menekankan sisi ke-manusiaan Yesus, sehingga mengatakan Yesus bukan Tuhan; atau sebaliknya menekankan sisi ke-Tuhanan Yesus sampai ‘menelan’ sisi kemanusiaan-Nya, sehingga Yesus dianggap bukan sungguh manusia. Atau, ada pula ajaran yang mencampur adukkan kedua kodrat ini.

Nah untuk meluruskan hal ini, para uskup berkumpul pada konsili Kalsedon (451), yang menetapkan bahwa pada saat penjelmaan-Nya, Yesus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia, yang keduanya bersatu secara hypostatik: artinya masing- masing dapat mempunyai ciri- cirinya sendiri, tidak dapat dicampuradukkan, tidak terpisahkan, dan tidak terbagi- bagi. Konsili Kalsedon sekaligus mengecam ajaran- ajaran sesat Nestorius (yang memisahkan kedua kodrat dalam diri Yesus), Arians (yang menolak ke-Tuhanan Yesus), Monophysites (yang mengatakan bahwa keilahian dan kemanusiaan Yesus tergabung dalam satu kodrat), dst. Silakan klik di sini untuk membaca lebih lanjut tentang topik ini.

Setelah Konsili Kalsedon, terdapatlah dua kelompok besar dalam Kristianitas, yaitu mereka yang menerima pengajaran Konsili Kalsedon; yang disebut Chalcedonian Christianity, yaitu gereja- gereja dalam persekutuan dengan Gereja Katolik Roma, Gereja Konstantinopel dan Gereja Orthodox Yunani (Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem). Sedangkan gereja- gereja yang menolak Konsili Kalsedon bergabung dalam gereja- yang menyebut diri sebagai gereja Orthodox Oriental, termasuk di sini gereja- gereja Armenia, Syria, Koptik dan Ethiophia. Menarik untuk dilihat bahwa kata ‘Orthodox’ itu sama- sama diklaim oleh gereja- gereja Timur yang menerima pengajaran Konsili Kalsedon dan juga oleh gereja- gereja yang menolak ajaran Kalsedon. Maka, sesungguhnya kita dapat bertanya, manakah yang benar- benar ‘orthodox’/ ‘lurus’ di sini.

2. Gereja- gereja Orthodox Yunani = gereja- gereja Timur Orthodox.

Gereja- gereja Timur Orthodox ini menerima hasil Konsili Kalsedon (451) namun mereka tidak menerima otoritas Bapa Paus. Oleh karena itu, walaupun gereja -gereja Timur Orthodox menyebut diri mereka sendiri sebagai Gereja Katolik Orthodox, namun mereka sesungguhnya tidak tergabung secara penuh dengan Gereja Katolik (meskipun mereka menerima ketujuh Konsili yang dilakukan dari abad ke-4 sampai ke-8). Menarik untuk diketahui bahwa penolakan akan otoritas Paus ini baru efektif berlangsung setelah skisma di tahun 1054, sebab sebelumnya Bapa Paus di Roma tetap diakui sebagai uskup/ penatua jemaat yang pertama di antara para uskup lainnya/ “first among equals“.

3. Pemisahan antara Gereja Orthodox dan Gereja Katolik di tahun 1054.

Sebenarnya pemisahan ini bukan disebabkan oleh suatu kejadian sesaat, tetapi karena akumulasi dari banyak kejadian, yang memang telah bertubi- tubi terjadi melanda Gereja Timur (dengan pusatnya Konstantinopel) dan Barat (Roma). Harap diketahui bahwa di abad- abad awal, banyak ajaran sesat yang terjadi di Gereja- gereja Timur (Arianisme, Nestorian, Apolloniarism, Monophysites, Ebionite, Monothelistism, dst), meskipun daerah tersebut lebih ‘dekat’ dengan tempat asal Kristus dan para rasul. Gereja Roma, yang dipimpin oleh penerus rasul Petrus selalu tampil sebagai penegak doktrin, jika terjadi semacam kesimpangsiuran pengajaran. (Ini sesungguhnya merupakan penggenapan dari Sabda Allah, bahwa Paus yang berbicara atas nama Rasul Petrus, melakukan kuasa “mengikat dan melepaskan”, dan Tuhan menjanjikan bahwa apa yang ditetapkannya tidak mungkin salah/ tidak mungkin dikuasai oleh maut Mat 16:18-19). Namun, kenyataannya, hal ini sedikit banyak memicu adanya semacam ‘persaingan’ politis antara Gereja Timur dan Barat. Selanjutnya, Gereja Timur ingin memasukkan pengaruh bahasa/ budaya Yunani, sedangkan Gereja Barat, budaya Latin.

Persaingan ini mencapai puncaknya pada dua hal. Pertama, tentang hal ‘Filioque‘, yang sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, lihat point 3.

Kedua, tentang hal “roti tak beragi”. Ketika pasukan perang salib dimulai tahun 1090, para patriarkh Byzantin yang singgah di Konstantinopel menyerang gereja- gereja Latin yang sudah ada di sana sejak jaman kaisar Konstantin. Mereka mengatakan bahwa Ekaristi mereka tidak sah karena menggunakan roti tidak beragi,-sesuatu yang memang telah dilakukan oleh Gereja Barat, dan Gereja Armenia sejak awal, untuk mengikuti teladan Kristus yang menggunakan roti tak beragi pada Perjamuan Terakhir. Namun para patriarkh Byzantin itu (dipimpin Michael Cerularius) ingin memaksakan ritus Byzantin -yang menggunakan roti beragi untuk perjamuan- kepada umat Roma yang tinggal di Konstantinopel tersebut. Cerularius membuka tabernakel dan membuang Hosti yang sudah dikonsekrasikan itu ke jalan. Oleh sebab itu, Gereja Roma kemudian mengecam tindakan patriarkh Cerularius tersebut. Setelah kejadian itu, Gereja Roma mengutus delegasi yang dipimpin oleh Cardinal Humbertus untuk mengusahakan perdamaian. Namun sayangnya, karena faktor kelemahan manusia (dalam hal ini emosi yang meledak- ledak dari kedua belah pihak), perundingan diakhiri dengan ekskomunikasi dari kedua belah pihak kepada kedua belah pihak; sesuatu yang berakibat terlalu jauh dan sebenarnya tidak diinginkan oleh kedua belah pihak. Sebab ekskomunikasi itu sebenarnya hanya berlaku terhadap sang individu, dan bukan terhadap semua orang dalam komunitas. Lebih lanjut tentang apa itu ekskomunikasi, silakan klik di sini.

Berikut ini adalah kutipan deklarasi yang disetujui bersama antara Paus Paulus VI dengan Patriarkh Konstantinopel Athenagoras I (1965):

Among the obstacles along the road of the development of these fraternal relations of confidence and esteem, there is the memory of the decisions, actions and painful incidents which in 1054 resulted in the sentence of excommunication leveled against the Patriarch Michael Cerularius and two other persons by the legate of the Roman See under the leadership of Cardinal Humbertus, legates who then became the object of a similar sentence pronounced by the patriarch and the Synod of Constantinople.

Thus it is important to recognize the excesses which accompanied them and later led to consequences which, insofar as we can judge, went much further than their authors had intended and foreseen. They had directed their censures against the persons concerned and not the Churches. These censures were not intended to break ecclesiastical communion between the Sees of Rome and Constantinople. (terjemahannya: …. ekses- ekses yang mengikutinya dan sesudahnya mengarah kepada akibat- akibat yang, menurut hemat kami, pergi jauh dari apa yang dimaksud dan diduga oleh para pengarangnya [dalam hal ini Cerularius dan Kardinal Humbertus yang diutus oleh Paus]. Mereka mengarahkan sangsi kepada orang- orang yang terlibat dan bukan kepada Gereja- gereja. Sangsi ini tidak dimaksudkan untuk memecahkan persekutuan antara Tahta Suci Roma dan Konstantinopel.”

4. Gereja Katolik Roma baru ada abad ke 7/8?

Tentu jawabannya tidak. Istilah Gereja “Katolik” sudah ada sejak abad awal, walau pertama kali diresmikan pada tahun 107 ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Nah Gereja Katolik yang dimaksud di sini adalah Gereja Katolik yang mengakui otoritas uskup Roma, sebagai penerus rasul Petrus. Silakan membaca di sini, silakan klik, untuk mengetahui ke-empat ciri- ciri Gereja yang didirikan Kristus, yang mengajarkan doktrin yang lengkap dan benar/ lurus.

5. Kesimpulan:

Gereja ‘Katolik’ Orthodox Kalsedon tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, dan karena itu keduanya tidak sama. Perbedaannya, gereja Orthodox tidak mengakui otoritas Bapa Paus. Gereja Orthodox ini tidak sama dengan ke-22 Gereja- gereja Timur yang ada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, yang namanya dapat anda baca di sini, silakan klik.

Walaupun gereja Orthodox mengajarkan ajaran para rasul, mereka tidak mengajarkan keseluruhan Tradisi para rasul, yang sejak awal mengakui otoritas kepemimpinan uskup Roma (yaitu Paus). Bukti tentang keutamaan Petrus dan para penerusnya (yaitu Paus), sudah pernah ditulis dalam serial artikel Keutamaan Petrus bagian 1 sampai dengan 5, yang sudah ditayangkan di situs ini (bagian 6-nya menyusul).

Namun meskipun Gereja- gereja Orthodox tersebut tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, mereka mempunyai hubungan yang erat dengan Gereja Katolik, sebab mereka juga mengakui ketujuh sakramen, dan mempunyai jalur apostolik. Dalam kondisi darurat (misalnya karena di ambang maut), seseorang dari gereja Orthodox dapat meminta imam dari Gereja Katolik agar memberikan sakramen Minyak suci (Urapan orang sakit), Ekaristi dan Pengakuan dosa.

Demikian yang dapat saya sampaikan untuk pertanyaan anda, semoga bermanfaat.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

28 Comments

  1. Agung Prasetyo on

    shalom katolisitas,saya selama ini sudah sering mengikuti artikel katolisitas saya sangat diberkati dengan artikel artikel katolisitas sendiri meskipun terkadang saya tidak sependapat/berbeda pendapat dengan artikel dari katolisitas sendiri dan saya sangat tertarik dengan artikel artikel tentang sejarah gereja mula mula menurut Gereja Katolik, saya ingin bertanya kepada katolisitas:
    1. Apakah ada artikel tentang St.yakobus patriark jerusalem pertama?
    2. Kenapa Bapa suci Paus menghapus gelar patriark dari Gereja Katolik? saya ingin tahu apakah gelar kebesaran?! dari lima patriark?(saya sempat baca kalau tidak salah gereja ortodoks konstantinopel gelarnya patriark eukumenis pertama diantara yang setara)kalau dari Katolik Roma dan ke 3 lainnya apa ya?
    3.Apakah ada artikel yang memuat isi tentang perdebatan antara Helvedius?! dan St.Yerome?
    4.Apakah memang benar bahwa tentara salib pernah masuk ke Hagia sophia dan membuang Hosti yang telah di konsekrasikan oleh patriark Konstantinopel?apaalasannya kalau boleh tahu?
    5.Apakah di vatikan ada pusat penelitian tentang bermacam macam ilmu sihir dari seluruh dunia dan cara menangkalnya tolong dijawab jujur ya soalnya saya penasaran? (saya pernah membaca ada orang indonesia yang ke vatikan/ikut utusan dan belajar cara menangkal ilmu ilmu sihir dari seluruh dunia)
    Terimakasih Katolisitas ,Tolong dijawab ya soalnya saya penasaran ,terimakasih banyak

    • Shalom Agung,

      1. Tentang St. Yakobus Uskup Yerusalem

      St. Yakobus yang menjadi Uskup/ Patriarkh Yerusalem yang pertama adalah St. Yakobus Muda, atau yang dikenal dengan sebutan St. James the Less. Orang sering salah paham dengan menyangkanya sama dengan Rasul Yakobus saudara Rasul Yohanes. Sekilas tentang keduanya, klik di sini dan tentang beberapa nama Yakobus, klik di sini. Sedangkan tentang riwayat tentang Rasul Yakobus Muda, silakan membaca di link ini.

      Kisah para Rasul Bab 15 mengisahkan adanya konsili pertama di Yerusalem, yang membahas tentang perlu atau tidaknya sunat bagi orang-orang Kristen non-Yahudi. Di Konsili itu, Rasul Petrus, sebagai pemimpin para Rasul memutuskan bahwa sunat tidak merupakan keharusan (lih. Kis 15: 7-11), dan ini ditegaskan kembali oleh Rasul Yakobus, selaku Uskup Yerusalem.

      2. Tentang gelar Patriarkh

      Gelar Patriarkh dalam Gereja Timur ataupun gelar Uskup dalam Gereja Barat/ Latin, mengisyaratkan adanya peran kepemimpinan dalam jemaat.

      Dalam Kitab Suci, istilah kepemimpinan ini dinyatakan dalam kata ‘penatua’/ presbuteros (1Pet 5:1) ataupun ‘penilik jemaat’/ episkopos (1 Tim 3:1-2).

      Nah, istilah Patriarkh memang secara obyektif memiliki arti yang luas, karena arti harafiahnya adalah bapa atau kepala suku/ kepala keluarga (lih. 1 Taw 24:31;27:22; 2 Taw 23:20). Dalam Ibr 7:4, istilah ini ditujukan kepada Abraham sebagai bapa banyak bangsa (Kej 17:4), Daud (Kis 2:29) dan ke 12 anak Yakub (Kis 7:8-9).

      Pada saat Gereja perdana, kata yang lebih umum digunakan untuk kepemimpinan jemaat adalah Uskup, memiliki arti yang lebih spesifik, yaitu mengacu kepada istilah penilik jemaat, sebagaimana disebutkan dalam 1 Tim 3:1-2. Baru pada abad-abad berikutnya, kata ‘Patriarkh’ kemudian digunakan untuk mengacu kepada pemimpin para uskup, sebagaimana dikatakan oleh St. Gregirius Nazianza (Orat, XLII, 23). Abad 8 dan 9 kata Patriarkh mulai umum digunakan, untuk menyatakan kepemimpinan sejumlah Uskup di daerah  besar/ metropolitan, yang menjadikan mereka pemimpin atas daerah tersebut, dan hanya tunduk kepada Patriark utama di Roma.

      Maka Gereja Katolik tidak menghapuskan Patriarkh. Sejarah mencatat terbentuknya 3 kepatriarkhatan, yang kemudian berkembang menjadi 5. Silakan untuk membaca sekilas tentang hal tersebut, di artikel ini, silakan klik. Sejarah mencatat juga bahwa sejak tahun 1054 sejumlah besar gereja-gereja di bawah kepatriarkhatan tersebut memisahkan diri dari kesatuan dengan Gereja Katolik, sehingga sejak saat itu kata Patriarkh sering dihubungkan dengan kepemimpinan gereja-gereja Timur Orthodox. Namun sebenarnya, kata Patriarkhat tetap digunakan oleh 22 Gereja-gereja Timur yang ada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, sebagaimana tertulis di sini, silakan klik.

      3. Tentang perdebatan antara Helvidius dengan St. Hieronimus

      Helvidius adalah seorang penulis di abad ke 4 (sebelum tahun 383) yang menentang ajaran bahwa Bunda Maria tetap Perawan. Menurut Helvidius, kata “saudara-saudari Yesus” dalam Kitab Suci membuktikan bahwa Bunda Maria mempunyai anak-anak lain setelah Yesus, dan dengan demikian tidak mungkin tetap perawan. St. Hieronimus (St. Jerome) menulis sebuah traktat yang berjudul The Perpetual Virginity of Blessed Mary untuk menanggapi pandangan Helvidius yang keliru ini.

      St. Hieronimus menentang Helvidius dalam tiga proposisi:

      1. Bahwa Yusuf hanyalah disebut sebagai suami Maria, namun sesungguhnya Yusuf bukan suami Maria dalam artian bahwa keduanya melakukan hubungan suami istri.

      2. Bahwa kata “saudara-saudara” Yesus artinya adalah kerabat Yesus, dan bukan saudara-saudara kandung Yesus.

      3. Bahwa hidup tidak menikah/ selibat bagi Kerajaan Allah adalah lebih baik daripada menikah.

      Selanjutnya tentang hal ini, silakan membaca terjemahan traktat St. Hieronimus ini, di link ini atau link ini. Maaf, kami belum dapat menerjemahkannya untuk Anda, karena panjangnya tulisan tersebut, dan masih banyaknya pertanyaan yang masuk ke redaksi Katolisitas. Namun demikian sebenarnya, apa yang dibahas di sana kurang lebih sudah pernah dibahas di artikel-artikel di Katolisitas, demikian pula dalam tanya jawab di bawahnya. Silakan membaca terlebih dahulu artikel-artikel tersebut di bawah ini, di mana beberapa argumennya diambil dari tulisan St. Hieronimus, dan juga pengajaran para Bapa Gereja lainnya, yang juga didasari ayat-ayat dalam Kitab Suci:

      Apakah Yesus mempunyai saudara- saudari kandung?
      Yesus dan sanak saudara-Nya Luk 8:19-21
      Bagaimana mungkin Bunda Maria Tetap Perawan?

      4. Hosti yang dikonsekrasikan oleh patriarkh dibuang tentara Perang salib?

      Sejujurnya tidak menemukan catatan tentang hal itu dalam buku-buku sejarah Gereja yang saya miliki. Yang saya temukan adalah catatan tentang penjarahan Konstantinopel (The Sack of Constantinople in 1204), apakah mungkin hal itu yang Anda maksudkan. Silakan Anda membaca di sini, silakan klik. Tidak disebutkan di sana bahwa tentara Perang Salib melakukan desekrasi hosti, namun bahwa tentara tersebut mengikuti contoh Kaisar muda Alexius IV (Kaisar Byzantine/Konstantinopel sendiri) yang mengambil benda-benda emas dan perak dari gereja-gereja Konstantinopel, untuk membayar hutang kepada para tentara Perang Salib itu, yang turut berjasa mengusungnya menjadi Kaisar. Kasiar Alexius IV melakukan hal itu karena pamannya Alexius III telah melarikan diri dengan membawa kabur kekayaan kerajaan. Selanjutnya untuk kisah itu, silakan membaca di link ini, silakan klik.

      Nah, maka kalau disebutkan bahwa kejadian The Sack of Constantinople (1204) itu memprihatinkan, nampaknya perlu dilihat dengan sudut pandang yang lebih lebar. Karena sejarah mencatat bahwa kejadian itu tidak berdiri sendiri. Ada banyak kejadian yang mendahuluinya, dan bahkan kejadian yang sebaliknya, yaitu di mana terjadi pembunuhan besar-besaran/ massacre yang dilakukan oleh tentara Byzantin terhadap umat Gereja Barat di Konstantinopel yang terjadi  di tahun- tahun sebelumnya, yaitu 1171, 1182, 1188. Kejadian- kejadian tersebut juga diakui oleh para ahli sejarah sekular maupun ahli dari gereja Orthodox sendiri.

      Lagipula, sejarah mencatat bahwa sekitar satu setengah abad sebelumnya, Patriarkh Byzantin yang bernama Michael Cerularius pernah berusaha memaksakan ritus Byzantin kepada semua umat Latin yang tinggal di Konstantinopel. Ritus yang dimaksud adalah terutama agar Gereja Latin menggunakan roti yang beragi dan bukan hosti yang tidak beragi, untuk perayaan ibadatnya. Untuk maksud ini, Cerularius mengerahkan prajurit bersenjata untuk memasuki gereja-gereja Latin di Konstantinopel, dan mereka membuka semua Tabernakel dan membuang semua Hosti yang telah dikonsekrasikan itu ke tengah jalan- jalan kota. Hal ini dicatat dalam buku-buku sejarah, seperti oleh Kallistos Ware dan Mayendorff. Padahal saat itu, di Roma, Uskup Roma (Paus) tidak pernah melarang umat Byzantin untuk melakukan ibadat menurut ritus mereka dengan roti yang beragi. Nah, maka yang dicatat dalam sejarah telah melakukan desekrasi Hosti yang sudah dikonsekrasikan, adalah tentara suruhan Cerularius. Oleh karena perbuatan Cerularius itu, Paus mengeluarkan bulla ekskomunikasi kepada Cerularius di tahun 1054.

      Selanjutnya untuk kisah itu, silakan membaca di link ini, silakan klik. Atau lebih jelasnya tentang siapa Michael Cerularius, silakan membaca di link ini, silakan klik.

      Agaknya untuk memahami sejarah, kita perlu membaca sumber yang lebih lengkap, agar tidak terjebak kepada pemahaman yang sempit. Memang hal skisma antara Gereja Timur dan Barat (Latin) sangatlah memprihatinkan. Namun karena kita tidak hidup di zaman itu, maka yang bisa kita ketahui adalah hanya melalui tulisan sejarah. Dari situlah, kita kurang lebih dapat mengetahui alur ceritanya. Namun untuk memahaminya, kita perlu membaca juga suatu kejadian dalam kaitannya dengan kejadian-kejadian lain yang mendahuluinya; dan sedapat mungkin untuk membaca suatu kejadian yang sama-sama diakui/ ditulis oleh pihak yang bertikai.

      Lebih lanjut tentang skisma antara Gereja Timur Orthodox dengan Gereja Katolik Latin, silakan membaca di artikel ini, silakan klik.

      5. Penelitian ilmu sihir di Vatikan?

      Nampaknya yang Anda maksud ini adalah semacam pengajaran tentang pelaksanaan eksorsisme. Eksorsisme tidak membahas tentang ilmu sihir, namun menyangkut tentang doa-doa untuk mengusir setan/ kuasa jahat, dalam hal ini adalah kasus- kasus yang serius, seperti kasus kerasukan roh jahat. Dalam Gereja Katolik, eksorsisme untuk kasus-kasus yang serius hanya dilakukan oleh Uskup ataupun imam yang diberi kuasa oleh Uskup, yang telah dipersiapkan secara rohani untuk tugas tersebut. Pengajaran yang disertai juga dengan pelatihan tersebut di Vatikan, kemungkinan menyangkut tentang hal eksorsisme ini, ataupun pengajaran untuk melakukan doa- doa pelepasan dari kuasa jahat.

      Tentang eksorsisme, silakan membaca di sini, silakan klik.
      Sedangkan tentang doa pelepasan dari kuasa jahat, silakan klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  2. Salam damai. Sekedar info. Gereja Orthodox Indonesia (Bukan Orthodox Timur) memberikan pengajaran baru tentang ”Sholat”. Mereka mengklaim bahwa Umat Katolik dan Protestan tidak pernah Sholat. Pernyataan yang lucu dan aneh. Padahal jika mereka mau jujur SHOLAT/SHOLOH=PRAYING=BERDOA. Dengan demikian mereka beramsumsi bahwa Katolik dan Protestan hanya doa=memohon permintaan. Padahal dalam budaya Kristiani Arabiya/Timur. Seorang Katolik atau Protestan yang masuk kamar lalu mengunci, dan disitu dia berkomunikasi dengan Allah yang di dalamnya ada bersyukur, memuji, memuliakan, menyembah, memohon ampunan/permintaan, berserah, percaya, maka seorang Katolik atau Protestan itu juga dikatakan sedang SHOLAT/SHOLOH/PRAYING/BERDOA. Karena sebagai umat Kristen Katolik dan Protestan kita tidak cuma hanya memohon permintaan saja. Yang menjadi perbedaan sebenarnya hanya SHOLATNYA/PRAYINGNYA orang orthodox itu memakai prostration/gerak tubuh.
    Mengapa Sholoh/Sholat, Berdoa, Praying itu adalah hal yang sama sekali sama?? Karena memang itulah kenyataannya. Karena dalam berdoa kita tidak cuma hanya memohon ampunan atau permintaan, tapi dalam komunikasi antara manusia dengan Allah as-Tsalusil-Quddus (Allah Sang Tritunggal Maha Kudus) itu ada memuji TUHAN, memuliakan, mengagungkan, bersyukur, menyembah, percaya, menyerahkan diri, berharap, dll. Sebab setiap orang beriman pasti ada komunikasi dengan Tuhannya secara pribadi, dan itulah yang namanya berdoa/Sholoh/Praying. Karena dalam kultur Kristiani Arabia tidak hanya waktu pakai gerakan dan doa pada jam tertentu yang dinamakan Sholoh, tapi banyak kesempatan ketika mereka (Romo) sedang mengajak umat berkomunikasi dengan Allah, maka itu pun disebut Sholoh. Saya mendukung kehadiran Gereja Koptik, saya cinta budaya Koptik, saya cinta Mendiang Bapa Shenouda III, karena cintanya pada Yesus luar biasa dalam imannya yang hidup.Tapi janganlah kelak kita membawa mutiara Koptik sebagai pembedaan padahal sesungguhnya adalah sama, itu semua cuma berbeda cara dan penyampaian. Apalagi hubungan Koptik dan Katolik menjadi lebih baik disaat Bapa Paus Tawadros II mengunjungi Bapa Paus Fransiskus I di Vatikan. Dengan perbincangan saya dengan Mas Leonardo Winarto ada kesetujuan bahwa Katolik dan Protestan pun juga Sholoh yang bermaksud Berdoa. Ini jawaban Beliau,’’Kan menurut definisi Gereja Koptik dalam buku Agpeya, SHOLOH/SHOLAT adalah Hiya asy-syukru wa ad-du’a wa munajatu al-Khaliq wa tasbihuhu, artinya SHOLAT itu adalah ucapan syukur, dialog, permohonan, dan pujian kepada Sang Pencipta.’’ Jadi marilah kita dewasa dalam iman dan jangan menghakimi Gereja lain. Karena belum tentu kita menghakimi itu lebih baik. Karena YESUS/YESHUA AL-MASSIAH telah nyata menyertai Gereja-Gereja asalkan disana ada ketulusan, kasih, iman yang hidup, dll buah ruh kepada-Nya. Robbana Yeshua Al Massiah kiranya memberkati kita dan mendewasakan iman kita. Ammiin.

    Dominus vobiscum.

    • Shalom Zakaria,

      Demikianlah definisi doa menurut Katekismus Gereja Katolik:

      KGK 2558     Besarlah “rahasia iman”. Gereja mengakuinya dalam simbolum para Rasul (Bagian I) dan merayakannya dalam liturgi Sakramen-sakramen (Bagian II), supaya kehidupan umat beriman dalam Roh Kudus ditata menjadi serupa Kristus demi kehormatan Allah Bapa (Bagian III). Umat beriman harus percaya kepada rahasia ini, merayakannya dan hidup darinya dalam satu hubungan yang hidup dan pribadi dengan Allah yang hidup dan benar. Hubungan ini adalah doa.

      APA ITU DOA?
      “Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan” (Teresia dari Anak Yesus, ms. autob. 25r).

      KGK 2559        “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik” (Yohanes dari Damaskus, f.o.3,24). Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis (Bdk. Agusfinus, Serm. 56,6,9)

      KGK 2560        “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah” (Yoh 4:10). Mukjizat doa justru menunjukkan diri di sana, di pinggir sumur, tempat kita mengambil air. Di sana Kristus bertemu dengan setiap orang; Ia mencari kita, sebelum kita mencari Dia, dan Ia meminta: “Berilah Aku minum!” Yesus kehausan; permohonan-Nya datang dari kedalaman Allah yang merindukan kita. Entah kita tahu atau tidak, di dalam doa kehausan Allah menemui kehausan kita. Allah merasa haus akan kehausan kita akan Dia (Bdk. Agusfinus, quaest. 64,4).

      KGK 2561     Niscaya engkau meminta kepada-Nya, dan Ia memberi kepadamu air hidup” (Yoh 4:10). Doa permohonan kita adalah satu jawaban atas cara yang penuh rahasia – jawaban atas Keluhan Allah yang hidup: “mereka meninggalkan Aku sumber air yang hidup untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air” (Yer 2:13). Doa adalah tanggapan iman terhadap janji keselamatan yang diberikan secara cuma-cuma (Bdk. Yoh 7:37-39; Yes 12:3; 51:1); jawaban penuh cinta terhadap kehausan Putera Allah yang tunggal (Bdk. Yoh 19:28; Za 12:10; 13:1).

      KGK 2562    Dari mana datangnya doa manusia? Bagaimanapun bentuk kegiatan dan kata-kata, dengannya doa mengungkapkan diri, yang berdoa itu selalu seluruh manusia. Tetapi untuk melukiskan tempat asalnya doa, Kitab Suci kadang-kadang berbicara tentang jiwa atau roh. Tetapi paling sering – lebih dari seribu kali – tentang hati. Hatilah yang berdoa. Jika hati itu jauh dari Allah, doa pun tidak mempunyai arti.

      KGK 2563    Hati adalah rumah di mana aku berada dan tempat aku tinggal (dalam gaya bahasa semitis atau biblis: di mana aku “turun” [dari kendaraan]). Inilah pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain. Hanya Roh Allah dapat menyelami dan mengetahuinya. Dalam kedalaman cita-cita kita, hati adalah tempat keputusan. Ia adalah tempat kebenaran, di mana kita memilih antara hidup dan mati. Ia adalah tempat pertemuan karena kita hidup dalam hubungan dengan citra Allah. Hati adalah tempat perjanjian.

      KGK 2564    Doa Kristen adalah hubungan perjanjian antara Allah dan manusia di dalam Kristus. Ia adalah tindakan Allah dan tindakan manusia. Ia berasal dari Roh Kudus dan dari kita. Dalam persatuan dengan kehendak manusiawi Putera Allah terjelma, doa mengarahkan diri sepenuhnya kepada Bapa.

      KGK 2565    Dalam Perjanjian Baru, doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Rahmat Kerajaan Allah adalah “persatuan seluruh Tritunggal Mahakudus dengan seluruh jiwa” manusia (Gregorius dari Nasiansa, or. 16,9). Dengan demikian, kehidupan doa berarti bahwa kita selalu berada dalam hadirat Allah yang tiga kali kudus dan dalam persekutuan dengan Dia. Persekutuan hidup ini memang selalu mungkin, karena melalui Pembaptisan kita sudah menjadi satu dengan Kristus (Bdk. Rm 6:5). Doa itu Kristen, sejauh ia merupakan persekutuan dengan Kristus dan menyebar luas di dalam Gereja, Tubuh Kristus. Ia merangkum segala sesuatu, sama seperti cinta kasih Kristus (Bdk. Ef 3:18-21).

      Maka doa, menurut ajaran iman Katolik, pada dasarnya merupakan pengangkatan jiwa kepada Tuhan. Kata-kata ataupun sikap tubuh dalam doa, maksudnya adalah untuk tujuan pengangkatan hati ini kepada Tuhan. Dengan demikian, meskipun penting, kata-kata dan sikap tubuh, bukan yang terutama, sebab yang terutama adalah hati, yang dekat dan mengasihi Allah.

      Marilah kita lebih memusatkan perhatian kepada apa yang utama dalam doa, supaya dapat diperoleh rasa saling menghormati, antara sesama murid Kristus, entah dari Gereja Katolik, ataupun Orthodox.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. [dari Katolisitas: diedit]
    Saya ingin bertanya :

    1. bukankah sebelum tahun 1054 Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks masih bersatu, tetapi mengapa banyak sekali perbedaan tata cara liturgi?

    2. tolong ceritakan kepada saya mengapa gereja ortodoks masih melalukan solat sedangkan Gereja Katolik tidak melakukan solat?

    3. Apakah yang menjadi penyebab perbedaan tata cara liturgi Gereja Katolik dengan Gereja Ortodoks?

    4. Apakah Gereja Katolik ritus timur, juga melakukan solat seperti Gereja Ortodoks?

    Thanks

    Iman Katolik saya tidak akan tergoncang, karena saya hanya taat kepada Paus tetapi saya hanya penasaran saja dan cukup kaget tentang solat di agama kristiani…

    • Shalom Krisna,

      1&3. Mengapa banyak perbedaan tata cara liturgi antara Gereja Katolik dan Gereja Orthodoks, dan apakah sebabnya?

      Sesungguhnya, perayaan liturgi (baik bagi Gereja Katolik maupun Orthodoks) adalah perayaan yang berpusat pada Misteri Paska Kristus. Perbedaan yang ada lebih berhubungan kepada tradisi budaya Barat dan Timur, namun makna utama dan ke-sah-an sakramennya sama, sebab gereja-gereja Orthodoks-pun memiliki jalur apostolik. Jika kita melihat catatan sejarah, perbedaan tata cara liturgi itu kemungkinan sudah ada sejak abad pertama/ kedua, di zaman St. Polycarpus (69- 155) dan St. Irenaeus (+202).

      Dalam suratnya kepada Victor dari Roma, St. Irenaeus menjelaskan bahwa ketika St. Polycarpus ke Roma pada masa Paus Anicetus, mereka tidak setuju tentang hal- hal sehubungan dengan cara perayaan Paskah. Namun mereka segera berdamai dan tidak bertengkar. Polycarpus memutuskan untuk mengikuti tradisi dari Rasul Yohanes, sedangkan Anicetus mempertahankan tradisi yang diturunkannya dari Rasul Petrus. Keduanya saling menghargai dan memelihara perdamaian dengan seluruh Gereja (St. Irenaeus, Letter to Victor of Rome, quoted in Eusebius 5, 24, 16-17, NPNF 2, 1:243-244). St. Polycarpus yang datang ke Roma dan bertemu Paus Anicetus, tidak dapat mempengaruhi Paus Anicetus untuk menerima tradisi Rasul Yohanes [dalam memperingati Paska] sebab Paus memilih untuk melestarikan apa yang sudah diterimanya dari para pendahulunya [yaitu para penerus rasul Petrus].

      Dengan demikian kita ketahui bahwa memang ada perbedaan cara perayaan litugis antara Gereja Barat dan Gereja Timur sejak awal, namun sudah terjadi saling pengertian antara kedua Gereja untuk mempertahankan tradisi masing-masing yang mereka terima dari pendahulu mereka, yaitu St. Polycarpus mempertahankan tradisi dari Rasul Yohanes, dan Paus St. Anicetus dari Rasul Petrus. Selain itu ada pengaruh budaya setempat di mana kedua Gereja berakar, yaitu Gereja Barat memasukkan budaya/ bahasa Latin, sedangkan Gereja Timur memasukkan budaya/ bahasa Yunani, tentu saja, yang dapat mendukung perayaan liturgi sesuai dengan iman Kristiani sebagaimana diajarkan oleh para Rasul.

      2&4. Gereja Orthodoks masih melakukan sholat dan Gereja Katolik tidak? Bagaimana dengan Gereja Katolik Timur?

      Sholat, memang kini dikonotasikan sebagai doa umat muslim. Namun jika diartikan bebas sebagai “doa”/ ibadat, sebenarnya tradisi berdoa tujuh kali sehari, itu pertama kali diambil oleh Ordo Benediktin yang didirikan oleh St. Benediktus dari Nursia tahun 529. Ordo Benediktin yang berdiri abad ke-6 ini memang menjadi salah satu Ordo yang paling berpengaruh dalam kebudayaan Eropa pada umumnya (dan Gereja Katolik Roma pada khususnya), sebagaimana pernah diulas di artikel ini, silakan klik.

      Salah satu ketentuannya Ordo tersebut adalah berdoa tujuh kali sehari, yang tepatnya berbunyi demikian:

      “Perkataan dalam Kitab Mazmur adalah: “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau” (Mzm 119:127). Kita hendaknya menggenapi angka tujuh yang sakral itu, pada saat-saat: Lauds (doa di menjelang fajar), Prime (doa pagi), Terce (doa antara pagi dan siang), Sext (doa tengah hari), None (doa antara siang dan sore ), Vespers (doa sore), Compline (doa malam), kita melaksanakan tugas pelayanan kepada Tuhan, sebab tentang jam-jam ini sepanjang hari, kitab Mazmur berkata: “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau.” (Terjemahan The Rule of St. Benedict, Ch. 16).

      Maka tradisi berdoa tujuh kali sehari berasal dari Kitab Mazmur, dan sejak abad 6 telah mulai dilakukan sebagai ketentuan Ordo oleh para rahib Benediktin yang kemudian tersiar ke seluruh Gereja, baik Gereja Barat maupun Timur. Kita ketahui Ordo Benediktin ini yang mempunyai semboyan “Ora et Labora” (Bekerja sambil berdoa) dengan berdoa selama 8 jam sehari. Tradisi doa sepanjang hari inilah yang masih diterapkan dalam biara-biara di Gereja Katolik, walaupun banyak biara yang telah menyesuaikannya menjadi lima kali/ enam kali, dengan memperhitungkan situasi hidup zaman sekarang. Teks doa Ibadah Harian/ Doa brevier (The Liturgy of the Hour/ the Divine Office) dapat dibaca di situs ini, silakan klik (silakan memilih di sana teks doa Lauds/ Vespers/ atau saat lainnya yang diinginkan). Ibadah ini merupakan doa liturgis yang dilakukan setiap hari oleh komunitas-komunitas religius Gereja Katolik di seluruh dunia sampai saat ini. Maka doa tujuh kali sehari ini juga bukan doa yang asing bagi Gereja Katolik Timur.

      Konsili Vatikan II menyarankan kepada seluruh umat Katolik juga untuk turut mendoakan doa Ibadah Harian ini, sekurang-kurangnya di awal/pagi hari (Lauds) dan di sore hari (Vespers).

      “Berdasarkan Tradisi kristiani yang kuno Ibadat Harian disusun sedemikian rupa, sehingga seluruh kurun hari dan malam disucikan dengan pujian kepada Allah. Adapun bila nyayian pujian yang mengagumkan itu dilaksanakan dengan baik oleh para imam dan orang-orang lain, yang atas ketetapan Gereja ditugaskan untuk maksud itu, atau oleh Umat beriman, sambil berdoa bersama dengan Imam memakai bentuk yang telah disahkan, pada saat itu sungguh merupakan suara Sang Mempelai sendiri, yang berwawancara dengan Mempelai Pria, bahkan juga doa Kristus beserta Tubuh-Nya kepada Bapa….” (Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium/ SC, 84)

      “Maka dari itu semua orang yang mendoakan Ibadat Harian, menunaikan tugas Gereja, maupun ikut serta dalam kehormatan tertinggi Mempelai Kristus…. (SC 85)

      “Tujuan Ibadat Harian yakni pengudusan seluruh hati. Maka pembagian waktu ibadat yang kita waris hendaknya ditata kembali sedemikian rupa, sehingga ibadat-ibadat sedapat mungkin dilaksanakan pada saat yang tepat, sekaligus juga diperhitungkan situasi hidup zaman sekarang, terutama bagi mereka yang bertekun menjalankan karya-karya kerasulan.” (SC 88)

      “Maka penataan kembali Ibadat Harian hendaknya dilaksanakan menurut kaidah-kaidah berikut:
      a) menurut tradisi mulia Gereja semesta, Laudes atau Ibadat Pagi dan Vesper atau Ibadat Sore harus dipandang dan dirayakan sebagai poros rangkap Ibadat Harian, sebagai dua Ibadat yang utama….” (SC 89)

      Walaupun kita sebagai umat awam tidak diharuskan oleh Gereja untuk berdoa tujuh kali sehari, namun prinsip utama yang melatarbelakangi himbauan untuk berdoa tujuh kali itu, tetap diajarkan. Yaitu agar kita mempersembahkan hati dan pekerjaan kita kepada Allah sebagai kesatuan dengan doa, agar dengan demikian kita berdoa tanpa henti (1 Tes 5:17). Dengan ditentukannya Ibadat Pagi (Laudes) dan Ibadat Sore (Vesper) sebagai poros doa, maka kaum awam seperti kita juga diundang untuk mengambil bagian di dalam doa Gereja ini dalam kesatuan dengan para religius dan awam yang juga mendoakannya di seluruh dunia.

      Demikian tanggapan saya, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Fransisca Indrawati on

    Dear pak Stefanus dan bu Inggrid,

    Mohon dijelaskan tentang persamaan dan perbedaan antara gereja Katolik Roma dengan gereja Katolik Orthodox. Bagaimana sejarahnya? Apakah umat Katolik Roma boleh belajar dari pengajaran-pengajaran mereka?

    Terima kasih.

    Salam,
    sisca

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca terlebih dahulu artikel di atas, silakan klik. Untuk selanjutnya, silakan menggunakan fasilitas pencarian di sisi kanan homepage: ketik kata kunci Topik yang ingin Anda ketahui, lalu enter. Semoga Anda sudah dapat menemukan pembahasannya di sana. Hanya jika belum ada, silakan menanyakannya kepada kami dan kami akan berusaha menjawabnya. Mohon pengertian dan kerjasama Anda. Terima kasih.
    Jika Anda Katolik, silakan menimba pengetahuan iman Anda di Gereja Katolik.]

    • Fransisca,

      Mohon dimengerti bahwa sebutan “Katolik Ortodoks” itu bukanlah sebutan resmi. Sebutan itu merujuk kepada Gereja-gereja Ortodoks Timur seperti Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Ortodoks Rusia, dsb yang di Indonesia dipopulerkan dengan nama “Katolik Ortodoks”. Tentu yang lebih resmi menjadi label Gereja-gereja Ortodoks Timur adalah “Ortodoks” saja, seperti yang saya temukan di paroki-paroki Ortodoks seperti: “Gereja Ortodoks St. Barnabas”, “Gereja Ortodoks St. Elia”, “Katedral Ortodoks Yunani Annunsiasi”, dan sebagainya. Bahkan seminari Ortodoks pun menggunakan nama seperti: “Seminari Ortodoks St. Vladimir”, “Seminari Ortodoks Salib Suci”, dan sebagainya. Jadi jangan sampai ada yang salah paham dengan sebutan “Katolik Ortodoks”. Itu bukanlah Gereja Katolik yang mempunyai Paus Roma sebagai kepalanya.

      Gereja Katolik sendiri, yang Latin maupun Timur juga selalu menggunakan nama “Katolik” seperti ini: “Gereja Katolik Roma St. Ignasius”, “Gereja Katolik Yunani-Melkit Kebangkitan Suci”, “Gereja Katolik Bisantin St. Yohanes Krisostomus”, dan sebagainya.

      Jadi jelas bahwa label-label yang dipakai merujuk kepada Gereja masing-masing, tidak rancu.

      Semoga ini jelas.

  5. Monk Malone on

    Dear Katolisitas.org , saya ingin bertanya. Apakah saya dari Katholik-Roma boleh menjadi Katholik-Orthodox…?????

    Bisa disebutkan apa perbedaan antara Katholik-Roma dan Katholik-Orthodox…?????

    Terima Kasih…

    Shalom Alecheim…

    • Shalom Monk Malone,

      Nampaknya ada kerancuan istilah di sini. Sebab gereja-gereja Timur Orthodoks tidak berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, sehingga sesungguhnya penggunaan istilah Gereja Katolik Orthodoks tidaklah tepat. Gereja Katolik hanya satu, yang berbeda hanyalah ritusnya, Gereja-gereja Barat umum disebut ritus Latin, sedangkan Gereja-gereja Timur Katolik mempunyai beberapa ritusnya sendiri. Gereja-gereja Timur yang dalam persekutuan dengan Gereja Katolik, dapat dilihat daftarnya di sini, silakan klik.

      Sedangkan perbedaan mendasar antara gereja-gereja Orthodoks dengan Gereja Katolik, klik di sini.

      Pada akhirnya, yang menentukan apakah seseorang mau tetap tinggal dalam pangkuan Gereja Katolik, atau meninggalkannya, adalah dirinya sendiri. Sejujurnya, alangkah baik jika sebelum menentukan sikap, ia mempelajari terlebih dahulu ajaran iman Katoliknya. Sebab jangan sampai keputusan dibuat bukan untuk mencari kepenuhan kebenaran, melainkan alasan-alasan lainnya yang tidak esensial. Untuk itu silakan membaca terlebih dahulu: Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik?

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Salam,

    Sedih juga membaca artikel ini, karena di sisi penjelasan “agak bagus”, hanya saja “sepertinya” sang penulis tidak mau jujur, entahkah dia memahami sejarah dalam konteks akademis ataukah hanya memahami sejarah gereja sebagai alat pembenaran iman yang menurutnya disukai?

    Harusnya dipahami bahwa GEREJA dari awal tidak memiliki bagian yang terpisah, tetapi satu kesatuan yang utuh yakni Gereja Kristus yang ada di seluruh Kekaisaran Romawi dan kemudian melahirkan kekaisaran baru di Timur yakni Kekaisaran Byzantium.

    Dari sejak awal GEREJA senantiasa berkumpul untuk membicarakan masalah yang muncul baik di dalam maupun yang muncul diluar. Para Bapa Gereja yakni yang kemudian kita kenal dengan para Uskup, baik di Timur dan Barat, akan mengadakan Rapat Besar atau Konsili.

    Mestilah dipahami bahwa sedari dulu wilayah-wilayah metropolis utama seperti Yerusalem, Antiokhia, Alexandria, Roma dan Konstantinopel merupakan pertemuan berbagai budaya dan kemudian menjadi tempat dimana Kekristenan beerkembang begitu hebatnya sehingga menjadikan wilayah sebagai tempat-tempat utama Kekristenan.

    Jikalau dikatakan bahwa Roma menjadi tempat utama bagi Santo Petrus, ini sedikit agak tendensius, kenapa? Karena seperti kita ketahui, Santo Petrus pada awalnya mengabarkan Injil di metropolis Antiokhia dan menjadi Kepala bagi umat Kristen disana, lalu kemudian Santo Petrus melakukan perjalanan ke kota Roma.

    Nah, bagi umat Kristen di Timur yang pusatnya kemudian berada di Konstantinopel, kita telah ketahui bersama bahwa saudara Santo Petrus yakni Santo Andreas yang kemudian menjadi patron disana.

    Oleh sebab itu, saya secara pribadi, sangat menyayangkan jikalau kita sebagai umat Kristen yang “kanonik” tidak menjelaskan dengan baik dan jujur terhadap sejarah masa lalu yang kelam baik di Barat maupun di Timur.

    Demikian dari saya, salam hormat dan marilah kita senantiasa memahami keindahan dan kekayaan Iman Katholik Yang Kudus dan Suci dari Gereja Kristus yang KANONIK sekalipun kesedihan akibat perpecahan diantara Timur dan Barat.

    Kristus di tengah-tengah kita, dan Sang Theotokos Tersuci senantiasa melindungi kita semua. Amin!

    • Shalom Rinus,

      Mohon dipahami bahwa artikel di atas memang tidak dimaksudkan untuk menjelaskan keseluruhan sejarah Gereja. Artikel di atas hanya ditujukan untuk menjawab tentang apakah perbedaan utama antara gereja- gereja Orthodoks dengan Gereja Katolik. Maka di artikel itu kami tidak menyampaikan keseluruhan sejarah Gereja. Namun demikian, kami juga tidak mengatakan bahwa sudah sejak awal Gereja terpisah. Tidak ada dari artikel kami yang menyatakan demikian. Jika Anda menemukan kalimatnya, silakan memberitahu kami, dan kami akan merevisinya. Sebab sejak awalnya Gereja memang satu, sebab Kristus hanya mendirikan satu Gereja, yaitu Gereja yang didirikan di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18). Selanjutnya, Kitab Sucilah yang menulis bahwa Yesus memerintahkan agar para murid menjadi saksi mulai dari Yerusalem, lalu meluas ke Yudea dan Samaria, dan kemudian sampai ke ujung bumi (lih. Kis 2:8). Perintah ini dilaksanakan oleh para murid, dan terlihat dari terbentuknya Gereja- gereja di daerah- daerah tersebut; dan untuk maksud pewartaan ke seluruh dunia inilah, maka Rasul Petrus dan Paulus menuju kota Roma, yang menjadi pusat dunia pada saat itu. Hal keberadaan Rasul Petrus dan Paulus di Roma diketahui dari bukti- bukti sejarah, sebagaimana pernah diulas di sini, silakan klik.

      Dengan demikian, tidak ada maksud dari kami di Katolisitas untuk ‘tidak mau jujur‘ seperti anggapan Anda. Tidak ada maksud ‘pembenaran iman‘ yang suka-suka/ asal saja dari pihak kami, sebab yang kami sampaikan di sini adalah fakta obyektif dari yang dapat diketahui dari catatan sejarah tentang keutamaan Rasul Petrus, tanpa mengecilkan peran para rasul yang lain, sebab kami juga mengakui adanya jalur apostolik dari gereja-gereja Orthodoks. Kami juga mengakui bahwa sebelum ke Roma, Rasul Petrus mengabarkan Injil di Antiokhia. Jadi hal ini tidak kami tutup-tutupi.

      Selanjutnya sekilas tentang topik persatuan dengan gereja-gereja Timur, silakan klik di sini. Tentang Keutamaan Gereja Roma (Primus Inter Pares), silakan klik.

      Ya, mari kita berdoa agar persatuan Gereja antara gereja-gereja Timur (termasuk gereja Orthodoks) dan Gereja Katolik (yang sering disebut Gereja Barat karena berpusat di Roma) dapat segera terwujud.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. PERSATUAN GEREJA ORTODOX INDONESIA

    Jika Anda Katolik Roma, gereja Anda berbagi warisan doktrinal apostolik yang kaya dan yang sama sebagai Gereja yang Ortodoks untuk seribu tahun pertama dalam sejarah, karena selama milenium pertama mereka adalah satu dan Gereja yang sama dengan Gereja yang Orthodox. Pada tahun 1054, Paus Roma menyatakan memisahkan diri dari 4 Kepatriarkhan Gereja Apostolik lainnya (Patriarkh Konstantinopel, Patriarkh Alexandria, Paus Antiokhia dan Patriarkh Yerusalem), dengan cara merusak Credo / Syahadat Iman Asli Gereja, dan mempertimbangkan dirinya untuk menjadi yang paling sempurna. Dengan demikian gereja anda berdiri sendiri sejak 1.000 tahun yang lalu.

    Jika Anda seorang Kristen Orthodox, agama Anda didirikan pada tahun 33 oleh Yesus Kristus, Anak Allah. Hal ini tidak berubah sejak saat itu. Gereja kami sekarang hampir 2.000 tahun berdiri. Dan untuk alasan inilah, bahwa Gereja Ortodoks, Gereja dari para Rasul dan para Bapa dianggap benar “Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.” Ini adalah warisan terbesar yang kita dapat turunkan pada orang-orang muda dari milenium baru.
    ( kutipan ini sy ambil dri page PGOI di face Book, Feb, 01st 2012 )

    Dear,
    Team Katolisitas

    Mohon penjelasannya tentang pernyataan mereka diatas terutama kalimat “ merusak Credo/ syahadat Iman asli Grj “.

    Trimakasih, Tuhan Yesus menyertai.

    [dari Katolisitas: Silakan membaca artikel tentang Filioque, silakan klik]

  8. Selamat siang Katolisitas. Maaf saya ingin bertanya, mengapa dalam Gereja Katolik ritus Latin tidak ada sholat seperti di Katolik Timur maupun Orthodox?
    Mohon pencerahannya.
    Trimakasih.
    Christum Dominum Nostrum.

    • Salam Aryana,

      Maaf, saya tidak dapat informasi tentang sholat di Katolik Timur dan Orthodox. Apakah sholat yang dimaksud adalah doa lima kali sehari dengan gerakan/sikap tubuh yang mirip sikap sholat saudara-saudara kita yang Muslim? Sekedar informasi singkat, Gereja (Katolik) mempunyai kebiasaan doa harian mencontohi Yesus. Pada abad IV berkembanglah tradisi Ibadat Harian Katedral yang membiasakan umat untuk membuat ibadat utama: Ibadat Pagi dan Ibadat Sore, dan ada juga Vigili atau Jaga Malam sambil berdoa dan membaca-mendengarkan dan merenungkan Kitab Suci.

      Pada masa yang kurang lebih sama berkembanglah tradisi Ibadat Harian Biara: ada yang mempunyai kebiasaan doa 3 kali sehari, lima kali sehari, tujuh atau delapan kali sehari. Dalam Ibadat Harian Katedral dan Ibadat Harian Biara, semua anggota persekutuan beriman mengambil bagian dalam doa. Jadi Ibadat Hariannya adalah ibadat bersama di katedral (uskup dan para klerusnya, biarawan-biarawati di wilayah katedral, dan umat beriman) dan di biara (anggota-anggota dan pemimpin biara). Sikap tubuhnya agak bervariasi, tetapi umumnya pada waktu mendoakan Mazmur: duduk, waktu “kemuliaan”: berdiri dan membungkuk, waktu doa diam: berdiri dan merentangkan tangan, atau berdiri lalu membungkuk dan berlutut atau tiarap, waktu bacaan: duduk.

      Khusus untuk pendarasan Mazmur dikenal tradisi “impositio” yang berarti satu kesatuan doa Mazmur yang terdiri dari: ayat Mazmur (duduk), kemuliaan (berdiri), tunduk atau tertiarap, doa (lantang oleh pemimpin: berdiri). Dalam abad pertengahan, kebiasaan doa bersama dalam Ibadat Harian Katedral menghilang, dan buku Ibadat Harian dipakai hanya oleh kaum klerus. Umat yang lain berdoa 150x Bapa Kami atau 150x Salam Maria mengganti 150 mazmur dan dibiasakan berdoa 3x sehari dengan mendoakan “Malaikat Allah” (Angelus).

      Konsili Vatikan II menegaskan kembali bahwa Ibadat Harian sebagai kegiatan liturgis adalah doa semua umat beriman, bukan hanya doa para klerus. Ibadat Harian sekarang terdiri dari: Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore, Ibadat Penutup dan Ibadat Bacaan (jadi 5x ibadat tiap hari).

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm B.Boli Ujan, SVD.

  9. Agung Swiyanto on

    Diatas disebutkan bahwa sebelum skisma tahun 1054, gereja Barat dipimpin oleh penerus-penerus Petrus. Kalau demikian, siapa yang waktu itu memimpin gereja Timur? Apakah tidak ada penerus Petrus yang ada di daerah timur?

    Sebenarnya saya agak bingung.. :) 22 gereja Katolik Timur yang ada di daftar tersebut apakah mengakui otoritas Paus dalam hal iman dan doktrin? Kalau ya, apa perbedaannya dengan gereja Katolik Roma?

  10. Marcellus Rudy on

    Saya ada pertanyaan dr teman ortodox saya, dia memberikan kata2 ini u menyatakan Paus Roma salah karena menyamai Tuhan.. Berikut cuplikan: ‘Selanjutnya, kami menyatakan,

    kami mewartakan, dan kami mendefinisikan bahwa adalah sangat perlu bagi semua orang
    untuk keselamatan mereka, tunduk kepada kekuasaan Paus Roma.’ – Unam Sanctam, Pope
    Bonifaci VIII –

    Dia tanya,apakah keselamatan tunduk pada
    Kekuasaan Paus???

    Karena sy tdk pny akses ke surat yg dimaksud jd saya tanyakan ke anda. Tks bantuanx. GBU

    • Shalom Marcellus Rudy,

      Silakan anda membaca langsung teks lengkap Unam Sanctam yang ditulis oleh Paus Bonifacius VIII, di link ini , silakan klik.

      Dokumen tersebut sebenarnya mau menegaskan kembali tentang Gereja yang satu, kudus, katolik dan Apostolik yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus, dan bahwa Tuhan menyelamatkan umat manusia melalui Gereja-Nya itu yang berada kesatuan dengan Kristus sebagai Kepala-Nya. Paus menyatakan bahwa Gereja sebagai Tubuh itu Satu, demikian juga dengan Kepala-Nya, yaitu Kristus yang berada dalam kesatuan dengan wakil-Nya yaitu Paus sebagai penerus Rasul Petrus. Dengan jelas Paus Bonifasius VIII mengatakan demikian:

      “Therefore, of the one and only Church there is one body and one head, not two heads like a monster; that is, Christ and the Vicar of Christ, Peter and the successor of Peter, since the Lord speaking to Peter Himself said: ‘Feed my sheep‘ [Jn 21:17], meaning, my sheep in general, not these, nor those in particular, whence we understand that He entrusted all to him [Peter]. Therefore, if the Greeks or others should say that they are not confided to Peter and to his successors, they must confess not being the sheep of Christ, since Our Lord says in John ‘there is one sheepfold and one shepherd.'”

      Terjemahannya:
      “Maka, dari satu dan satu-satunya Gereja ada satu tubuh dan satu kepala, bukan dua kepala seperti monster; yaitu Kristus dan wakil Kristus, [yaitu] Petrus dan penerus Petrus, sebab Tuhan yang berbicara kepada Petrus mengatakan: “Gembalakanlah domba-domba-Ku (Yoh 21:17) artinya domba-domba secara umum, bukan [sejumlah] ini atau itu secara khusus, dari situlah kita pahami bahwa Ia mempercayakan semuanya kepadanya [Petrus]. Oleh karena itu, kalau orang-orang Yunani atau lainnya berkata bahwa mereka tidak dipercayakan kepada Petrus dan para penerusnya, mereka harus mengakui tidak menjadi domba-domba Kristus, sebab Tuhan kita bersabda dalam Injil Yohanes, ‘hanya ada satu kawanan dan satu gembala.’ ”

      Jadi kita tidak dapat menganggap bahwa Paus adalah saingan Kristus, seolah- olah Gereja mempunyai dua kepala, seperti monster, demikian kata Paus. Paus, sebagai penerus Rasul Petrus itu berada dalam kesatuan dengan Kristus, dan dengan demikian ketaatan kepada Paus adalah ketaatan kepada Kristus sendiri yang telah mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus dan menyerahkan kepemimpinan Gereja-Nya di dunia ini atas Rasul Petrus dan para penerusnya. Jadi kelirulah pandangan orang yang mensejajarkan Paus dengan Tuhan. Paus adalah, selain sebagai pemimpin Gereja yang diberi mandat oleh Tuhan Yesus, ia juga adalah pelayan Tuhan, jadi tidak pernah setara dengan Tuhan. Namun Tuhan telah memilih pelayan-Nya ini untuk memimpin umat-Nya, dan karena itulah sebagai umat kita perlu menaati ajaran Bapa Paus yang berasal dari Tuhan, sebab Allah menghendakinya demikian.

      Demikianlah kita memahami konteks kalimat yang terakhir yang anda tanyakan, “…. we declare, we proclaim, we define that it is absolutely necessary for salvation that every human creature be subject to the Roman Pontiff.” Sebab ketaatan kepada Paus merupakan ketaatan kepada Kristus yang memberikan kuasa kepadanya. Di dunia, orang tidak mempunyai sesulitan untuk setuju bahwa jika seorang pemimpin perusahaan pergi ke luar kota dan menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada wakilnya, maka seluruh pekerja harus taat kepada wakil pimpinan itu. Demikianlah juga yang terjadi pada Gereja di dunia, sebab sebelum kenaikan-Nya ke surga, Kristus telah mempercayakan Petrus untuk menggembalakan domba- domba-Nya (Yoh 21:17). Maka jika seseorang tidak menghormati Bapa Paus, sebenarnya ia juga tidak menghormati Kristus yang telah menunjuk Rasul Petrus sebagai wakil-Nya di dunia.

      Semoga kita semua dapat melihat bahwa sudah menjadi kehendak Allah, bahwa sebagai umat kita perlu tunduk kepada pihak pimpinan Gereja, yang sudah ditunjuk Allah untuk memimpin Gereja, agar kesatuan Gereja dapat tetap dipertahankan, sampai akhir jaman.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  11. caesarandra on

    Yth Bu Inggrid & Pak Stef,

    Lalu apa perbedaan antara Gereja Orthodoks yang dijelaskan diatas dengan Gereja Orthodoks Syria ( KOS ) yang ada di Indonesia ini …. […… dari Katolisitas: kami edit] karena saya dengan doktrin mereka kok banyak perbedaannya sekali ya ? bahkan yg saya dengan mereka tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan melainkan hanya utusan seperti muhammad ?

    bisa dijelaskan lebih detail ? terima kasih

    • Shalom Caesandra,
      Jika gereja Orthodoks Syria yang anda sebutkan itu dalam kesatuan ajaran dengan Syriac Orthodox Church, maka kita ketahui bahwa gereja Orthodox ini termasuk salah satu dari gereja- gereja yang tidak menerima hasil Konsili Kalsedon (451), sehingga dikenal sebagai gereja non-Kalsedon. Seperti telah disebutkan di atas, Konsili Kalsedon mendefinisikan doktrin Kristologi yang penting, yaitu bahwa saat penjelmaan-Nya, Kristus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia, yang keduanya bersatu secara hypostatik: artinya masing- masing mempunyai ciri- cirinya sendiri, tidak dapat dicampuradukkan, tidak terpisahkan, dan tidak terbagi- bagi. Konsili Kalsedon sekaligus mengecam ajaran- ajaran sesat Nestorius (yang memisahkan kedua kodrat dalam diri Yesus), Arius (yang menolak ke-Tuhanan Yesus), Monophysites (yang mengatakan bahwa keilahian dan kemanusiaan Yesus terlebur dalam satu kodrat).
      Sebenarnya, gereja Orthodox Syria tidak mengajarkan bahwa Yesus bukan Allah, atau hanya utusan Allah. Ajaran yang demikian adalah ajaran sesat Arianisme. Maka jika gereja Orthodox Syria yang di Indonesia itu berada dalam kesatuan dengan gereja Orthodox Syria lainnya di dunia, maka mereka mestinya sepaham dengan ajaran Syriac Orthodox Church, seperti yang disebutkan dalam situs mereka. Di situs itu dikatakan bahwa Syriac Orthodox Church mengimani Kristus sebagai sungguh Allah namun juga sungguh manusia, namun keduanya ini ada dalam satu kodrat [jadi bukan dua kodrat yang bersatu secara hypostatik, seperti hasil Konsili Kalsedon], walaupun mereka juga mengajarkan bahwa di dalam satu kodrat ini, ke- Allahan dan kemanusiaan Yesus tidak terpisahkan dan tidak tercampur aduk. Jadi sebenarnya, pada dasarnya, secara prinsip doktrin yang diajarkan oleh Gereja Katolik dan gereja Orthodox Syria ini sama, hanya saja pengungkapan dalam istilah theologisnya berbeda.
      Maka, cukup menarik jika kita membaca deklarasi gabungan yang ditandatangani oleh patriarkh Ya’qub (Jacob III) dari gereja Othodox Syria dengan Paus Paulus VI dari Gereja Katolik di Vatikan, 27 Oktober 1971, sebagai berikut:

      “Paus (Paulus VI) dan Patriarkh (Ignatius Jacob III) telah menyadari persekutuan rohani yang mendalam yang telah ada di antara Gereja- gereja mereka. Perayaan sakramen- sakramen Tuhan, pernyataan iman di dalam Tuhan Yesus Kristus, Sabda Tuhan yang menjelma menjadi manusia demi keselamatan umat manusia, tradisi apostolik yang membentuk sebagian sejarah bersama antara kedua Gereja, para Bapa Gereja dan Pujangga Gereja…. semua ini memberi kesaksian tentang karya Roh Kudus yang telah terus bekerja di dalam Gereja- gereja mereka, bahkan ketika terjadi kelemahan dan kegagalan manusia. Masa saling menuduh dan mengecam telah memberikan tempat bagi keinginan untuk saling bertemu bersama dalam usaha- usaha yang tulus untuk menerangi dan akhirnya menghilangkan beban sejarah yang masih membebani umat Kristen dengan berat.
      Kemajuan sudah dibuat dan Paus Paulus VI dan Patriarkh Ignatius Jacob III setuju bahwa tidak ada perbedaan di dalam iman yang mereka akui tentang misteri Sabda Allah yang menjelma dan menjadi sungguh- sungguh manusia, meskipun selama berabad- abad kesulitan- kesulitan telah muncul karena [adanya] perbedaan ekspresi- ekspresi theologis yang didalamnya iman ini dinyatakan. Oleh karena itu, mereka mendorong para klerus dan umat dari Gereja- gereja mereka kepada usaha- usaha yang lebih besar untuk menghilangkan penghalang yang masih menghalangi persekutuan yang penuh di antara mereka. Hal ini harus dilakukan dengan kasih, dengan keterbukaan akan dorongan Roh Kudus, dan dengan saling menghormati kepada setiap orang dan kepada setiap Gereja. Mereka secara khusus mendesak para kaum terpelajar dari Gereja- gereja mereka, dan dari seluruh komunitas Kristen, untuk masuk lebih dalam lagi kepada misteri Kristus dengan kerendahan hati dan kesetiaan kepada tradisi Apostolik sehingga buah- buah permenungan mereka dapat membantu Gereja di dalam pelayanannya kepada dunia yang telah ditebus oleh Allah Putera yang menjelma menjadi manusia……”

      Juga relevan di sini, jika kita membaca pernyataan yang dikatakan oleh para teolog, baik dari Gereja- gereja yang menerima ataupun yang menolak hasil Konsili Kalsedon (1967):

      “Sejak abad kelima, kita telah mempergunakan rumusan yang berbeda untuk menyatakan pengakuan iman kita bersama di dalam Tuhan Yesus Kristus yang satu, Tuhan yang sempurna dan Manusia yang sempurna. Beberapa dari kita menyatakan dua kodrat [kodrat ke- Allahan dan kodrat kemanusiaan Yesus], dua keinginan dan dua energi yang bersatu secara hypostatik di dalam Tuhan Yesus Kristus yang Satu. Beberapa dari kita menyatakan satu kodrat yang menyatu antara ke-Allahan dan kemanusiaan, satu keinginan dan satu energi di dalam Kristus yang sama. Namun, kedua belah pihak mengatakan tentang sebuah kesatuan tanpa pencampur- adukkan, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan. Keempat ciri ini adalah milik tradisi bersama. Kedua pihak [Orthodox dan Katolik] menegaskan tentang kesatuan dinamis antara ke-Tuhanan dan kemanusiaan, dengan semua sifat- sifat kodrati dan kemampuan- kemampuan yang dimiliki oleh ke Tuhan-an dan kemanusiaan, di dalam Kristus yang satu. Mereka yang memakai istilah “dua” tidak membagi ataupun memisahkan. Mereka yang memakai istilah “satu” tidak mencampur atau mengacaukan [antara keduanya]. Kata “tanpa perubahan, tanpa pencampur-adukkan”, harus secara khusus digarisbawahi oleh mereka yang mengatakan “satu”, agar kita dapat memahami satu sama lain.”

      Dilanjutkan lagi dengan pernyataan pada tahun 1973:

      “Bersama kita mengakui iman kita bahwa Ia yang adalah Pribadi Allah yang Kedua, dalam rencana keselamatan, menjadi Manusia seperti kita di dalam segala hal kecuali dalam hal dosa. Allah Putera menjelma dan menjadi Anak Manusia, supaya kita anak- anak manusia dapat menjadi anak- anak Allah oleh rahmat Tuhan. Besarlah misteri Tuhan-Manusia, tidak ada akal budi yang diciptakan, dapat dengan sepenuhnya memahami misteri bahwa Ke- Tuhanan dan kemanusiaan menjadi satu di dalam Tuhan Yesus Kristus yang satu. Pula tidak ada kata- kata manusia yang dapat memberikan pernyataan yang memadai tentang itu. Kami menyadari keterbatasan setiap usaha filosofis dan theologis untuk menangkap misteri ini di dalam konsep pemikiran dan mengekspresikannya dengan kata- kata…..
      Masalah terminologi tetap ada pada kita. Bagi sebagian kita di dalam tradisi Barat, untuk mendengar ‘satu kodrat’ Kristus dapat menjadi ‘misleading‘ karena itu dapat disalahmengerti sebagai penyangkalan terhadap kemanusiaan Yesus. Bagi sebagian kita dalam gereja- gereja Orthodox Oriental, untuk mendengar ‘dua kodrat’ dapat menjadi ‘misleading‘ karena dapat disalahartikan seperti menyatakan ada dua kepribadian di dalam Kristus. Tetapi kita semua setuju dalam hal penolakan terhadap ajaran Eutychianism and Nestorianism. Kami setuju dalam pengakuan kami tentang Tuhan Yesus yang satu, sungguh- sungguh Tuhan, yang berasal dari Allah Bapa sebelum segala abad, yang lahir [ke dunia] melalui Perawan Maria, tumbuh di dalam kebijaksanaan dan tumbuh secara fisik sebagai manusia yang sesungguhnya, menderita sengsara, wafat, dikuburkan, dan bangkit kembali pada hari ketiga dan naik ke Surga, dan akan kembali lagi sebagai hakim dan penguasa atas semua yang hidup dan yang mati.”

      Pernyataan iman bersama ini menjelaskan sedikit banyak posisi Gereja Katolik dan gereja Orthodox Syria, tentang pemahaman mereka dalam hal Kristologi. Memang ada perbedaan istilah theologis yang dipakai oleh kedua pihak, namun jika diteliti dengan sungguh- sungguh, sebenarnya perbedaannya hanya pada istilah yang digunakan, dan bukan kepada prinsip imannya, bahwa Yesus adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia, pada saat penjelmaan-Nya di dunia. Oleh karena itu, benarlah bahwa sesungguhnya Gereja Katolik mempunyai kedekatan yang istimewa dengan Gereja- gereja Timur, termasuk gereja Orthodox. Marilah berdoa bagi persatuan Gereja sehingga dapat terpenuhi kehendak Kristus agar semua murid-Nya dapat menjadi satu (Yoh 17:20-21), dalam satu kawanan dengan satu gembala.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. Dico Sinuraya on

    Lalu mengapa pada saat Gereja Ortodox masuk ke Indonesia,dan menginginkan agar mereka berada di bawah Bimas Katolik di Depag ditolak oleh Gereja Katolik melalui Bimasnya di Depag??Sehingga mereka berada di bawah Bimas Kristen saat ini.Inikan bisa semakin memperuncing perseteruaan/perbedaan bahkan kebencian yang sudah ada selama ini.
    Padahal Gereja Katolik dan Gereja Ortodox merupakan saudara kandung.

    Apakah Gereja Katolik menganggap Gereja Ortodox itu sebagai saingannya??

    • Shalom Dico Sinuraya,

      Mungkin yang anda maksudkan di sini adalah gereja Orthodox yang tidak (atau belum) berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik. Karena jika yang masuk ke Indonesia adalah salah satu dari ke 22 Gereja- gereja Timur yang ada dalam kesatuan penuh dalam Gereja Katolik, maka tentu dapat tergabung dalam Bimas Katolik di Depag. Tentang daftar nama ke- 22 Gereja Timur tersebut, silakan klik di sini.

      Namun jika yang masuk ke Indonesia adalah salah satu gereja Orthodox yang tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, maka memang sudah selayaknya mereka tidak berada di bawah Bimas Katolik di Depag. Bukan karena Gereja Katolik menolaknya, tetapi karena hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

      Gereja Katolik tidak pernah menganggap gereja- gereja non Katolik sebagai saingannya. Gereja Katolik menganggap mereka yang telah dibaptis secara sah di gereja- gereja non Katolik, sebagai saudara- saudari dalam Kristus. Hanya saja kesatuan kita dengan mereka tidak sempurna, justru karena mereka tidak mengakui kepemimpinan Bapa Paus (penerus Rasul Petrsu) sebagai pemimpin tertinggi Gereja di dunia, seperti yang dikehendaki Kristus (lih. Mat 16:18). Maka hal perseteruan atau kebencian tidak ada pada pihak Gereja Katolik. Semoga hal ini dapat dipahami.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Eduardo Sinuraya on

    Lalu mengapa Paus meminta maaf kepada Gereja Ortodox?
    Dan mengapa Gereja Ortodox sepertinya begitu antipati terhadap gereja Katolik Roma?

    Dan bisakah anda berikan artikel/penjelasan mengenai Apa sebab Gereja2 Katolik ortodox ritus Timur yang berjumlah 22 itu lebih memilih bersekutu kepada Gereja Katolik Roma dari pada ke Ortodox?

    • Shalom Eduardo Sinuraya,

      1. Menurut hemat saya, permintaan maaf Paus Yohanes Paulus II kepada gereja Orthodox berkaitan dengan sejarah masa lalu. Kita ketahui puncak pemisahan gereja Orthodox dari Gereja Katolik Roma antara lain disebabkan oleh perselisihan dari Patriarkh Michael Cerularius (dari gereja Orthodox) dan Kardinal Humbert yang diutus oleh Bapa Paus Leo IX (pihak Gereja Katolik Roma). Kekerasan kedua belah pihak inilah yang akhirnya mengakibatkan perpisahan antara gereja Orthodox dan Gereja Katolik.

      Maka jika Paus Yohanes Paulus II meminta maaf, dasarnya adalah niatan baik dan kerendahan hati Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik, yang mengakui adanya kesalahan di pihak putra anggota Gereja Katolik di masa lalu. Hal ini menarik untuk direnungkan, karena sebetulnya dalam perselisihan ini, terdapat juga kesalahan di pihak gereja Orthodox, yang telah melakukan penghinaan terhadap Ekaristi/ hosti yang sudah dikonsekrasikan dalam Gereja Katolik ritus latin tersebut.

      Tidak ada yang salah dalam sikap meminta maaf terlebih dahulu kepada pihak yang berselisih dengan kita, tanpa menunggu mereka meminta maaf dahulu kepada kita dan tanpa mensyaratkan mereka juga harus meminta maaf kepada kita.

      2. Kita tidak perlu membalas jika kita melihat adanya pihak yang begitu antipati terhadap Gereja Katolik. Yang perlu kita lakukan adalah mendoakan mereka. Mengapa mereka bersikap demikian? Kami di Katolisitas tidak dapat menjawabnya, silakan anda tanyakan kepada mereka yang antipati tersebut.

      3. Gereja- gereja ritus Timur yang memilih untuk bersekutu dengan Gereja Katolik tentu memiliki alasan yang kuat untuk tetap bersekutu ataupun kembali bersekutu dengan Gereja Katolik. Fakta sejarah sesungguhnya cukup jelas membuktikan keutamaan Rasul Petrus dan para penerusnya dalam sejarah kepemimpinan Gereja. Maka jika Gereja- gereja Timur tersebut memilih untuk bersekutu dengan Gereja Katolik, tentunya adalah karena mereka mengamini kehendak Kristus agar semua murid-Nya bersatu (lih Yoh 17:20-22), dan persatuan ini ada di dalam Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Shalom Dico Sinuraya,

      Permohonan maaf Bapa Paus Yohanes Paulus II itu berkaitan dengan adanya kesalahan yang dilakukan oleh putera- puteri anggota Gereja di sepanjang sejarah. Hal ini tentu harus kita lihat dalam konteks yang positif, sebab artinya, Bapa Paus sebagai pemimpin Gereja, mengakui bahwa di sepanjang sejarah manusia, terjadi hal- hal yang tidak ideal, yang disebabkan oleh perbuatan dari beberapa orang anggota Gereja Katolik. Sejarah umat manusia tak jarang diisi oleh perselisihan, dan umumnya perselisihan itu selalu melibatkan kesalahan dari kedua belah pihak. Dalam hal ini, Gereja katolik mengambil inisiatif untuk memohon maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh pihak anggota Gereja Katolik.

      Dalam kasus perpecahan Gereja Orthodox 1054 yang dipimpin oleh Michael Cerularius, pemisahan yang terjadi berkaitan dengan perbedaan pandangan tentang roti yang digunakan dalam ibadah Perjamuan Kudus. Sayangnya, baik pihak Cerularius maupun utusan dari Paus yaitu Kardinal Humbert tidak dapat menyelesaikan perbedaan ini dengan baik. Keduanya terlibat emosi, sehingga masalah ini tidak dapat diakhiri dengan baik- baik, melainkan dengan pemisahan diri. Hal ini kemudian disesali oleh kedua belah pihak, seperti yang telah saya sampaikan dalam jawaban saya terdahulu. Antara lain, untuk menyikapi hal inilah, Paus Yohanes Paulus II mengambil inisiatif untuk memohon maaf. Meminta maaf adalah suatu sikap yang baik dan perlu kita teladani; dan kita tidak perlu menunggu pihak lain untuk juga meminta maaf kepada kita, ataupun memusatkan perhatian kepada kesalahan yang diperbuat oleh pihak yang lain terhadap kita. Meminta maaf adalah salah satu bukti kerendahan hati, yang mengakui bahwa kita sebagai kesatuan umat beriman perlu untuk senantiasa bertobat dan memperbaiki diri agar dapat bertumbuh di dalam kekudusan.

      Salam kasih dalam Kristus Yesus,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  14. Aquilino Amaral on

    Salam bu Ingrid dan Pak Stef

    Dalam forum tanya jawab ini, saya hanya ingin mengemukakan perbedaan pandangan antara Gereja Katolik Orthodox dan Gereja Katolik Roma.

    Kata Ortho= Lurus, benar
    Doxa= Aliran, doktrin, Jadi Orthodoxa = Aliran yang lurus, ini tentu untuk menjawab aliran-aliran sesat yang muncul pada waktu itu. dan nama “Katolik Roma” muncul pada akhir abad X/XI kalau tidak salah. gereja Katolik Orthodoxa mempertanhankan nilai-nilai kebenaran rasulia, dan doktrin-doktrin gereja purba. Gereja Katolik Orthodoxa ini juga disebut sebagai Gereja Katolik alur utama atau Gereja Orthodoxa Kalsedion.
    dan Gereja itu sekarang ada di Indonesia, dan mereka mengakui konisili dari I- VII dan mengakui sakramen-sakramen.

    Lalu pertanyaan saya, apa yang membedakan antara Gereja Katolik Orthodoxa dan Gereja Katolik Roma? apa alasan mereka.
    Di Indonesia gereja Katolik Orthodoxa alur utama atau Kalsedion beredar di Indonesia.
    Aquilino Amaral

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]