Saksi Yehuwa bukanlah saksi Kristus

176

Pendahuluan

Ketika, saya tinggal di Jakarta, suatu hari saya mendengar ketukan pintu rumah. Dan ternyata yang datang berkunjung adalah dua orang wanita, yang tersenyum ramah, serta mengatakan ingin bersaksi tentang kebaikan Allah. Tentu saja saya menyambut baik kedatangan mereka. Mereka memperkenalkan diri mereka, bahwa mereka adalah anggota Saksi Yehova. Dan seperti biasa yang pernah saya dengar, mereka mulai mempertanyakan keadaan dunia ini yang terlihat menyedihkan dengan begitu banyak penderitaan dan kejahatan. Mereka telah mempersiapkan brosur yang berisi kegiatan dan pengajaran dari Saksi Yehovah, termasuk mendiskusikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Ini sungguh menyedihkan, namun di dalam hati, saya sungguh memuji kesungguhan hati mereka untuk mewartakan ajaran-ajaran yang dipercaya oleh kelompok Saksi Yehovah ini. Di sisi yang lain, saya merasa bahwa pewartaan yang tidak mewartakan kebenaran secara penuh, atau malah bertentangan dengan kebenaran, bukanlah pewartaan Kabar Gembira yang sejati. Mewartakan dimensi manusia dari Kristus tanpa mewartakan dimensi Ilahi-Nya adalah tidak lengkap dan bertentangan dengan kebenaran. Hal ini juga diperparah dengan ajaran lain yang menyimpang dari akal budi, prinsip keadilan, dan Alkitab, seperti ajaran tentang: tujuan akhir manusia, konsep antropologi yang salah, dll. Dalam tulisan ini, kita akan melihat sejarah berdirinya sekte ini, pengajaran mereka, dan memaparkan bahwa beberapa prinsip ajaran mereka adalah tidak benar.

Tentang Saksi Yehova

Pada tahun 1872, Charles Taze Russell (1852-1916) mendirikan satu sekte yang dinamakan Saksi Yehova atau Saksi Yehuwa (Jehovah’s witnesses). Charles T. Russell mempunyai latar belakang aliran Protestan (Congregationalism), dan kemudian dia mengikuti aliran Adventisme (Adventism), sebelum akhirnya mendirikan the Watchtower Bible and Tract Society, yang mengontrol perkembangan dan pengajaran dari Saksi Yehova, yang berpusat di Brooklyn, USA. Dari latar belakang ini, maka dapat dimengerti kalau beberapa doktrin yang dianutnya adalah dari Protestan dan juga dari Adventisme.[1] Beberapa doktrin Protestan yang dianut oleh Saksi Yehova adalah: penolakan terhadap beberapa pengajaran Katolik, seperti Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat, Api Penyucian, Perantaraan Para Kudus, dll. Silakan melihat beberapa artikel bagaimana mempertanggung-jawabkan iman Katolik di topik apologetik (silakan klik) dan di beberapa artikel dan arsip tanya jawab apologetik Kristen (silakan klik). Pengaruh dari Adventisme  dapat terlihat dari beberapa ajaran Saksi Yehuwa, seperti akhir jaman, Roh Kudus bukan pribadi, Yesus bukan Tuhan namun Malaikat Mikael – yang lebih rendah dari Allah, dll. Mari sekarang kita membahas beberapa pengajaran pokok dari Saksi Yehuwa yang sebenarnya bertentangan dengan Kitab Suci, akal budi, dan prinsip keadilan.

  1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.
  2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menempatkan Pencipta menjadi ciptaan.
  3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.
  4. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.
  5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.
  6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.
  7. Pengajaran bahwa tidak ada neraka yang kekal menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.

Salah satu pengajaran dari Saksi Yehuwa yang sungguh berbeda dibandingkan dengan pengajaran agama Kristen adalah mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Bagi mereka Tuhan adalah Yehuwa, dan bukan Trinitas – Satu Tuhan dalam tiga pribadi. Kalau ditelusuri, sebenarnya ajaran ini telah diajarkan oleh Arius, yang pada tahun 318 mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Dan para Bapa Gereja akhirnya dapat memusnahkan ajaran sesat ini pada tahun 325 melalui konsili Nicea, walaupun pengaruh ajaran Arius masih terus berlangsung sampai kurang lebih abad ke- 5. Di dalam kunjungan mereka ke rumah-rumah, biasanya, pada awalnya, mereka tidak terlalu membahas tentang identitas Yesus yang bukan Tuhan (dalam pengertian pribadi ke-2 dalam Trinitas). Mereka akan menceritakan tentang Yesus yang sungguh-sungguh memberikan jalan dan pengajaran yang begitu luar biasa kepada manusia, bahkan kadang-kadang mereka mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Namun, kalau ditanya lebih lanjut, apakah Yesus adalah Allah dalam pengertian Trinitas, Satu Allah dalam tiga pribadi, di mana Yesus adalah pribadi yang ke-dua, maka mereka akan mengatakan tidak. Saksi-saksi Yehuwa memberitakan setengah kebenaran, yaitu kemanusiaan Yesus, tanpa memberitakan kebenaran yang lain, yaitu ke-Allahan Yesus. Di dalam sejarah kekristenan, ajaran sesat yang berhubungan dengan kristologi, senantiasa menekankan sisi yang satu tanpa melihat sisi yang lain.[2] Untuk menjawab keberatan mereka tentang ke-Allah Yesus, maka silakan untuk membaca beberapa artikel tentang Kristologi yang telah ditulis oleh katolisitas.org:

Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia. Dan Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.

Berikut ini adalah beberapa pembuktian dari tulisan di atas, yang membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Pernyataan Yesus ini dilakukan dengan berbagai cara dan dalam berbagai kesempatan:

  1. Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
  2. Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
  3. Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
  4. Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi, sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
  5. Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner, mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
  6. Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
  7. Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
  8. Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
  9. Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
  10. Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
  11. Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
    • Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
    • Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
    • Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
    • Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
    • Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
    • Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.
    • Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    • Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
  12. Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
  13. Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
  14. Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
  15. Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
  16. Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menjadikan Pencipta menjadi seorang ciptaan.

Kalau bukan Tuhan, bagaimana Saksi Yehuwa mempercayai Yesus? Mereka mempercayai bahwa Yesus, Adam ke-dua, adalah penghulu malaikat Mikael.[3] Ajaran ini kalau ditelurusi merupakan suatu modifikasi dari ajaran agama gereja Mormon, yang percaya bahwa malaikat Mikael adalah Adam[4] Kalau kita dapat membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ajaran bahwa Yesus adalah malaikat Mikael adalah tidak mempunyai dasar. Oleh karena itu, silakan melihat beberapa artikel Kristologi dan argumentasi di atas. Kalau Yesus adalah Tuhan, maka tidak mungkin dia berhenti menjadi Tuhan, dan kemudian menjadi malaikat, mahluk yang diciptakan.

3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.

Salah satu pengaruh dari Adventisme kepada Saksi -saksi Yehuwa adalah meramalkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan akhir dunia. Mari kita melihat beberapa ramalan yang diberikan, yang saya ambil dari site Catholic Answer (silakan klik):

  • 1889: “Peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa (Why 6:14), dimana akan berakhir di tahun 1914 ..” (Studies, Vol. 2,1908 edition, 101) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1891: “Dengan berakhirnya tahun 1914, apa yang Tuhan sebut Babilonia, dan apa yang orang-orang sebut Chistendom, akan berlalu, seperti yang telah ditunjukkan dalam nubuat” (Studies, Vol. 3, 153)
  • 1894: “Akhir dari tahun 1914 bukanlah hari untuk permulaan, namun untuk berakhirnya masa kesukaran” (WT Reprints, 1-1-1894, 1605 and 1677)
  • 1897: “Tuhan kita sekarang hadir, sejak Oktober 1874” (Studies, Vol. 4, 1897 edition, 621)
  • 1916: “Enam masa 1000 tahun yang bermula dari Adam telah berakhir, dan masa hari ke tujuh, 1000 tahun dari pemerintahan Kristus telah dimulai di tahun 1873” (Studies, Vol. 2, p. 2 of foreword)
  • 1917: “Alkitab … membuktikan bahwa kedatangan Kristus ke dua telah terjadi di musim gugur 1874” (Studies, Vol. 7, 68)
  • 1918: “Oleh karena itu, dengan penuh keyakinan kita boleh berharap bahwa 1925 akan menandai kembalinya Abraham, Isak, Yakub, dan nabi-nabi yang setia dari masa dulu” (Millions Now Living Will Never Die, 89) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1922: “Tahun 1925 adalah tahun yang lebih diindikasikan oleh Alkitab secara lebih nyata daripada tahun 1914” (WT, 9-1-1922, 262).
  • 1923: “Tahun 1925 secara pasti telah ditegaskan di dalam Alkitab. Seperti kepada nabi Nuh, umat Kristen sekarang mempunyai sesuatu yang lebih untuk mendasarkan imannya daripada yang dipunyai oleh nabi Nuh ketika dia mendasarkan imannya akan kedatangan banjir besar” (WT, 4-1-1923, 106).
  • 1925: “Tahun 1925 telah tiba…. umat kristen seharusnya tidak terlalu kuatir tentang apa yang mungkin terjadi tahun ini” (WT, 1-1-1925, 3).
  • 1931: “Ada bukti kekecewaan dari anggota Yehuwa di dunia tentang tanggal [prediksi]1914, 1918 dan 1925, dimana kekecewaan hanya sementara. Kemudian para pengikut belajar bahwa tanggal-tanggal tersebut telah ditetapkan secara pasti di dalam Alkitab; dan mereka juga telah belajar untuk tidak menentukan tanggal yang pasti….” (Vindication, 388, 389). [catatan: nubuat akhir jaman yang diramalkan tahun 1914, 1918, 1925 tidaklah terbukti]
  • 1939: “Bencana dari Armagedon sudah dekat” (Salvation, 361).
  • 1941: “Armagedon pasti telah dekat … segera… dalam beberapa tahun” (Children, 10).
  • 1946: “Armagedon… akan terjadi sebelum 1972” (They Have Found a Faith, 44). [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1966: “Enam ribu tahun dari saat manusia diciptakan akan berakhir di tahun 1975, dan periode ke tujuh dari seribu tahun dari sejarah manusia akan dimulai di tahun 1975” (Life Everlasting in Freedom of the Sons of God, 29).
  • 1968: “Akhir dari enam ribu tahun dari sejarah manusia di musim gugur tahun 1975 bukanlah [bersifat]sementara, namun diterima sebagai suatu tanggal yang pasti” (WT, 1-1-1968, 271). [catatan: Hal ini tidak terbukti]

Dari sini, kita melihat bahwa ramalan-ramalan yang dilakukan oleh Saksi Yehuwa tidaklah terbukti, seperti ramalan-ramalan tentang akhir dunia dan armagedon. Dan kita tahu bahwa seorang nabi yang perkataannya tidak terbukti bukanlah nabi yang benar, seperti yang dikatakan di dalam Kitab Ulangan “apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ul 18:22; lihat juga Yer 23:16; 28:9). Dan ramalan tentang akhir dunia yang dibuat oleh Saksi Yehuwa tidak terjadi, bahkan bukan hanya gagal sekali, namun berkali-kali. Kalau Saksi Yehuwa membuat kesalahan doktrin tentang akhir jaman, maka pertanyaannya, bagaimana kita dapat percaya akan doktrin-doktrin yang lain?

5. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.

Ajaran pokok yang lain dari Saksi Yehuwa adalah hanya 144,000 orang yang dapat masuk dalam Kerajaan Sorga.[5] Yang termasuk dalam kelompok 144,000 orang ini disebut “yang diurapi” (the anointed), sedangkan orang-orang lain yang dibenarkan oleh Allah disebut “domba yang lain” (the other sheep). Kelompok yang diurapi dipercaya mulai dari para rasul sampai tahun 1935. Ini berarti orang-orang kudus di dalam Perjanjian Lama tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga, namun hanya akan hidup di dalam dunia yang penuh kebahagiaan, seperti yang dipercayai oleh Saksi Yehuwa. Mereka mendasarkan pengajaran ini dari Wahyu 7:1-8 dan Wahyu 14:1-5. Dikatakan “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” (Why 7:4) dan “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya” (Why 14:1). Dan mereka mengajarkan bahwa jumlah 144,000 harus diartikan secara harafiah/literal. Mari kita membahas, bahwa sebenarnya pengajaran ini sesungguhnya tidak masuk di akal dan tidaklah Alkitabiah.

  1. Kalau kita melihat di Wahyu 14:3-4 “3 Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. 4  Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.
  2. Kalau mereka ingin konsisten dengan pengertian harafiah 144,000 di ayat 3, maka seharusnya mereka juga mengartikan ayat empat secara harafiah. Karena ayat 4 mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan, maka 144,000 orang yang masuk Sorga adalah laki-laki yang hidup selibat. Namun yang terjadi adalah mereka mengatakan jumlahnya harus diartikan secara harafiah, namun siapa yang masuk Sorga dapat diartikan secara simbolik (tidak hanya laki-laki yang hidup selibat). Oleh karena itu, penafsiran ini menjadi tidak konsisten.
  3. Hal ini juga terjadi pada penafsiran berikut ini “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” (Why 7:4). Terlihat bahwa Saksi Yehuwa tidak konsisten dalam menafsirkan ayat ini, karena jumlah 144,000 diartikan secara harafiah, namun suku keturunan Israel diartikan secara simbolik, yakni tidak terbatas pada suku Israel saja – termasuk anggota Saksi-saksi Yehuwa dari bangsa Amerika.
  4. Anggaplah bahwa ajaran tentang Saksi Yehuwa adalah benar, bahwa hanya 144,000 orang saja yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga, mulai dari para rasul sampai tahun 1935. Yang perlu dipertanyakan di sini adalah, bagaimana mereka memperhitungkan jemaat perdana yang meninggal karena mempertahankan iman mereka dan menjadi martir, seperti pada jaman pemerintahan Nero (begitu banyak jumlah martir), Diocletian (20,000 martir), Shapur II (1,200 martir), Henry VIII (72,000), Nazi di Polandia (3,000), Tokugawa Leyasu di Jepang (37,000), dan masih  begitu banyak daftar martir-martir yang meninggal karena mempertahankan iman kekristenan mereka, bukan hanya ribuan, namun ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang. Bagaimana dengan para santa-santo, yang kurang lebih berjumlah 10,000 orang. Kalau benar-benar hanya 144,000 orang yang masuk dalam kerajaan Sorga, maka mungkin tidak ada anggota Saksi Yehuwa yang masuk Sorga, karena Saksi Yehuwa baru didirikan pada tahun 1872 dan Sorga telah terisi dengan para martir dan santa-santo yang telah meninggal sebelum tahun 1872. Kita tahu bahwa para martir telah melaksanakan perintah Yesus yang terutama “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39). Dan kehilangan nyawa untuk mempertahankan iman hanyalah mungkin kalau didasari oleh kasih yang tulus. Mungkin ada baiknya kita semua merenung, apakah kita semua – termasuk anggota Saksi Yehuwa – mempunyai kasih kepada Allah dalam derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan para martir?
  5. Anggaplah bahwa hanya 144,000 orang saja (yang anggotanya mulai dari para rasul sampai tahun 1935) adalah benar, seperti yang diajarkan oleh Saksi Yehuwa. Pertanyaannya adalah bagaimanakah nasib para nabi di dalam Perjanjian Lama, seperti Abraham, Musa, Elia, Henokh, dan banyak nabi lai sebelum Kristus – termasuk Yohanes Pemandi? Apakah mereka tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah Abraham yang menjadi bapa orang beriman (lih. Rm 4:16), sahabat Allah (Yak 2:23) tidak dapat masuk Sorga? Apakah Musa yang berbicara dengan Tuhan muka dengan muka, sebagaimana layaknya seorang teman (lih Kel 33:11) dan berbicara dengan Yesus pada peristiwa transfigurasi, tidak dapat masuk Sorga? Apakah Henokh yang berkenan kepada Allah, tidak meninggal dan diangkat ke Sorga tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga (lih. Ib 11:5). Apakah Elia yang diangkat ke Sorga (lih. 2 Raj 2:11) dan yang berbicara dengan Yesus pada transfigurasi (lih. Mat 17:3-4; Mrk 9:4; Lk 9:30) tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah Yohanes Pembaptis yang kedatangannya telah dinubuatkan sebelumnya (lih. Yes 40:3; Mal 4:5-6), yang mempersiapkan kedatangan Tuhan (lih. Mt 3;1-3; Mk 1:4; Lk 3:2-3; Yoh 1:6-8) tidak juga dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah semua nabi yang disebutkan di atas kurang iman dan suci dibandingkan dengan pendiri dan umat dari Saksi Yehuwa?

Mari sekarang kita melihat Wahyu 7 dan 14. Di atas telah dijelaskan bagaimana Saksi Yehuwa tidak konsisten dalam menginterpretasikan Alkitab. Mari sekarang kita melihat lebih mendalam tentang Kitab Wahyu ini. Saksi Yehuwa mengatakan bahwa 144,000 adalah orang-orang yang berada di Sorga. Namun, kalau kita melihat Wahyu 7:1-8, maka sebenarnya jumlah 144,000 orang ini berada di dunia. Dikatakan “Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.” (Why 7:1). Dan kemudian di ayat 4 dikatakan “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa jumlah 144,000 berada di dunia. Kalau demikian, berapakah jumlah yang masuk dalam Kerajaan Sorga? Wahyu 7:9 menyebutkan “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” Oleh karena itu, yang berada di Sorga adalah tidak terhitung banyaknya, dan bukan hanya 144,000.

5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.

Saksi Yehuwa mengajarkan bahwa hanya 144,000 yang diurapi[6], yang tentu saja adalah anggota dari Saksi Yehuwa, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga dan memerintah bersama dengan Tuhan. Anggota Saksi Yehuwa yang lain, yang disebut kumpulan besar (great crowd) akan menikmati kebahagiaan di dunia, sama seperti kebahagiaan Adam dan Hawa di Taman Eden. Namun doktrin ini sungguh tidak dapat dipertanggungjawabkan, dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tidak ada pembatasan jumlah orang yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Mt 5:11-12 mengatakan “11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Lebih lanjut rasul Paulus menegaskan “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” (Fil 3:20) Dari sini kita tahu bahwa tidak ada pembatasan jumlah umat beriman yang dapat masuk dalam kerajaan Sorga.
  2. Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah untuk dapat melihat Allah muka dengan muka (lih. 1 Kor 13:12) adalah merupakan kebahagiaan yang sempurna, yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan kebahagiaan kita di dunia ini – walaupun dengan kondisi seperti Taman Firdaus. Oleh karena itu, kebahagiaan di dunia yang dijanjikan oleh Saksi Yehuwa di luar 144,000 orang, tetaplah tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan di Sorga. Karena orang-orang yang mempunyai kebahagiaan di dunia tidaklah mungkin sebahagia mereka yang di Sorga, maka kebahagiaan di dunia adalah kebahagiaan yang tidak sempurna, kebahagiaan kelas dua. Lebih lagi, karena penentuan kebahagiaan ini adalah berdasarkan tahun kelahiran (karena yang menjadi bilangan dari 144,000 adalah dari jaman para rasul sampai tahun 1935), maka hal ini benar-benar menyalahi prinsip keadilan. Bagaimana mungkin, karena seseorang dilahirkan setelah tahun 1935, maka orang tersebut tidak dapat masuk dalam Kerajaan Sorga, walaupun orang tersebut adalah orang kudus, martir, dll. Bayangkan bahwa Bunda Teresa dari Kalkuta tidak dapat masuk sorga, sedangkan anggota Saksi Yehuwa sebelum tahun 1935 dapat masuk ke Sorga, meskipun kehidupan mereka kurang kudus dibandingkan dengan Bunda Teresa dari Kalkuta.
  3. Sungguh sulit dimengerti bahwa ada orang yang mau untuk melepaskan kewarganegaraan di Sorga (lih. Fil 3:20) dan hanya cukup dengan menikmati kebahagiaan abadi di dunia ini. Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Tesalonika – yang berfikir bahwa orang yang meninggal sebelum kedatangan Kristus yang kedua tidak beruntung – bahwa sebenarnya semua umat beriman, baik yang meninggal sebelum atau sesudah kedatangan Kristus yang kedua akan diangkat dan memperoleh kebahagiaan di dalam Kerajaan Sorga.

Membedakan tujuan akhir dari manusia – di Sorga berjumlah 144,000 dan di dunia yang beranggotakan umat Saksi Yehuwa – adalah seperti sistem kasta berdasarkan tahun, yaitu tahun dari para rasul sampai 1935. Dan sungguh sulit dimengerti bagaimana manusia yang seharusnya mempunyai kewarganegaraan di Sorga dapat menerima dan menukar kebahagiaan Sorga dengan kebahagiaan duniawi.

6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.

Saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa manusia tidak bersifat spiritual dan kekal, namun jiwa manusia adalah badan. Oleh karena itu, pada waktu seseorang meninggal, maka jiwanya juga lenyap. Dan pada akhir zaman, maka jiwa manusia diciptakan kembali dari sesuatu yang tidak ada untuk masuk ke Sorga maupun kebahagiaan di dunia. Kita dapat membuktikan bahwa jiwa manusia adalah kekal berdasarkan filosofi dan juga Alkitab.

  1. Kalau kita mengamati, maka ada begitu banyak aktivitas manusia yang dilakukan bukan sebatas aktivitas tubuh atau material, seperti: berfikir, menginginkan, melakukan pemeriksaan batin, menyadari keberadaannya, keinginan bebas, dll. Semua ini bukanlah aktivitas tubuh, namun lebih bersifat spiritual. Sesuatu yang bersifat spiritual (bukan material) tidak mungkin dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat material, namun harus dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat spiritual.Sesuatu yang bersifat material, seperti tubuh kita, terdiri dari bagian (part). Dan pada waktu mati, maka bagian-bagian itu menjadi terpisah dan terurai. Namun, sesuatu yang bersifat spiritual (seperti jiwa kita) tidak mungkin mati, karena sesuatu yang spiritual tidak mempunyai bagian.  Oleh karena itu, sesuatu yang bersifat spiritual menjadi kekal dan tidak mungkin mati.
  2. Alkitab juga menyediakan bukti-bukti bahwa jiwa manusia adalah bersifat kekal dan tidak mungkin mati.[7]
    • Kej 1:27 menceritakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah. Karena Allah adalah murni bersifat spiritual (lih. Jn 4:24), maka pasti ada elemen dari manusia yang bersifat spiritual.
    • 1 Sam 28 menceritakan bagaimana Samuel yang telah meninggal menampakkan diri kepada Saul. Ini berarti roh Samuel tidak musnah, namun masih tetap hidup.
    • Mt 10:28 menegaskan bahwa tentang jiwa yang kekal dan badan yang bersifat sementara, karena Yesus mengatakan bahwa tidak perlu kuatir kepada manusia yang dapat membunuh tubuh, namun bukan jiwa.
    • Mt 17:1-8 menggambarkan peristiwa transfigurasi, dimana Yesus bercakap-cakap dengan Musa dan Elia. Karena Musa diceritakan telah meninggal (lih. Ul 34:5), maka kematian tidak membuat Musa menghilang.
    • Lk 16 menceritakan bahwa Abraham, Lazarus dan orang kaya telah meninggal, namun diceritakan masih hidup di dunia yang lain.
    • Why 6:9-10 menyatakan tentang jiwa-jiwa yang telah dibunuh, namun masih hidup dan bercakap-cakap dengan Penguasa yang Kudus.

7. Pengajaran bahwa tidak adanya neraka menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

Selain jiwa manusia tidak bersifat kekal, Saksi-saksi Yehuwa juga percaya bahwa tidak ada neraka kekal. Kalau demikian, apa yang terjadi dengan jiwa-jiwa yang jahat maupun setan? Saksi-saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa-jiwa tersebut dimusnahkan dan tidak ada lagi. Hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan dan bertentangan dengan Alkitab dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tuhan telah menciptakan jiwa manusia maupun malaikat, yang bersifat kekal, seperti yang telah di bahas pada point di atas. Kalau Tuhan telah menciptakan jiwa yang kekal dan kemudian memusnahkannya dan membuatnya tidak ada, maka sebenarnya Tuhan mengkontradiksi rencana-Nya sendiri. Karena Tuhan tidak mungkin mengkontradiksi Diri-Nya sendiri, maka tidak mungkin jiwa yang bersifat kekal dimusnahkan dan menjadi tidak ada.
  2. Kita juga melihat bahwa ajaran tidak ada neraka sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab.
    • Mt 3:12 mengatakan “Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (lih. juga Lk 3:17). Api yang tak terpadamkan ini mengacu kepada neraka yang abadi.
    • Mk 9:43 menegaskan “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan” (lih. juga Mt 18:8). Ayat ini juga mengacu kepada neraka, dimana lebih baik kita kehilangan semua hal yang bersifats sementara daripada mendapatkan hukuman abadi di neraka dan dimasukkan ke dalam api yang tak terpadamkan.
    • Mt 25:46 mengatakan “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” Dari ayat ini, kita menyadari bahwa bagi mereka yang benar akan masuk dalam hidup yang kekal, sebaliknya orang-orang yang tidak benar akan mendapatkan siksa abadi di neraka.

Dari ekpresi yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut di atas, seperti: api yang tak terpadamkan, siksaan yang kekal, maka kita mengetahui bahwa neraka adalah sesuatu yang nyata. Dan kenyataan ini bukan hanya sementara, namun berlangsung untuk selamanya. Kalau di ayat Mt 25:46 dibandingkan antara kehidupan kekal dan siksaan kekal, maka akan menjadi tidak konsisten kalau kita mau menerima konsep kehidupan kekal namun tidak mau menerima adanya konsep siksaan kekal. Kalau seseorang percaya akan kehidupan kekal dari Alkitab, maka seseorang juga harus percaya akan siksaan kekal, yang juga diwahyukan oleh Allah kepada manusia.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka banyak ajaran dari Saksi-saksi Yehuwa yang bertentangan dengan Alkitab, akal budi, dan bahkan bertentangan dengan keadilan. Memberitakan Kristus yang bukan Tuhan, bukanlah ajaran Kristen, karena kekristenan mendasarkan iman, pengharapan dan kasih pada Kristus yang adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia. Kalau Kristus bukan Tuhan dan ‘hanya’ malaikat Mikael, maka sia-sialah pengharapan kita, karena kita hanya berharap pada ciptaan dan bukan pada Pencipta. Kalau kita tidak mempunyai tujuan ke Sorga dan bersatu dengan Tuhan untuk selama-lamanya di dalam Kerajaan Sorga, maka sia-sialah semua yang dilakukan di dunia ini. Kalau tidak ada pengadilan terakhir dan tidak ada neraka, maka keadilan yang seadil-adilnya tidak dapat ditegakkan. Kalau ada yang mau kita pelajari dari Saksi Yehuwa, maka kita tidak boleh percaya akan pengajaran mereka, namun kita harus meniru semangat mereka untuk memberitakan Injil. Bahkan pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), Mother Angelica mengatakan “Berikan kepadaku 10 orang Katolik, yang mempunyai semangat seperti Saksi Yehuwa, dan aku dapat merubah dunia.” Mari, kita semua, yang menjadi umat Gereja Katolik – Gereja mempunyai kepenuhan kebenaran -, kita harus dengan giat dan penuh semangat memberitakan kebenaran Kristus dan Gereja-Nya. Semoga Roh Kudus memberikan kebijaksanaan kepada kita semua, agar kita dapat mempertahankan kebenaran dan bertumbuh terus di dalam kebenaran.

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39).

CATATAN KAKI:
  1. Adventisme mengacu kepada gerakan keagamaan yang sangat kuat di sekitar tahun 1800-an, seperti the Mormons, the Seventh Day Adventists / Tujuh Hari Adven []
  2. Ajaran yang menolak kemanusiaan Yesus: Docetism, Gnosticism, Manichaeism, Apollinarism, Monophisitism. Ajaran yang menolak ke-Allahan Yesus: Adoptionism, Arianism. []
  3. lih. Aid to Bible Understanding, p. 1152, yang mengatakan “Michael the Archangel, the first creation of Jehovah, before He came to earth and returned to the identity of Michael after his ressurection.“; lihat juga United in Worship, p. 29 yang mengatakan “Michael the Archangel is no other than the only begotten son of God, now Jesus Christ. That Jehovah directly created only one thing, Michael the arch angel and that Michael created all other things.“ []
  4. Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 3, mengambil sumber dari Brigham Young, Journal of Discourse []
  5. Reasoning from the Scriptures (Reasoning) [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1985], 166 []
  6. Insight on the Scriptures (Insight), 2 vols. [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1988], 786 []
  7. Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 14-15 []
Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

176 Comments

  1. Selamat sore, teman-teman seiman!

    saya Hiero mhsiswa Unv Trisakti Jakarta yg sedang menyusun tugas akhir dan pada kesempatan ini saya mau bertanya mengenai ajaran dari saksi yehuwa yang tidak sesuai dengan gereja katholik roma itu apa saja?

    terima kasih atas bantuannya dari teman-teman!

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel di atas, silakan klik; dan artikel ini, silakan klik]

  2. sunu saptono on

    Dari buahnyalah engkau mengetahui, sepotong ungkapan Yesus yang saya sampaikan ini membantu saya untuk meneliti secara teliti, cara hidup dari semua umat, para pemimpinnya dan mana yang pegang komitmen tinggi terhadap standart Alkitab, saya jumpai hanya di kalangan saksi Yehuwa, yang berlaku salah akan didisiplin sebagai contoh yang melakukan zinah akan dipecat (karena najis akan mengotori jemaat) tetapi bagaimana dengan gereja Katholik? Di tahun 2011 ada kasus perselingkuhan iman (pastor) dan jemaat (di Yogyakarta) apa tindakan gereja? Hanya dimutasi. Di kancah dunia (hanya karena membela negara yg mereka tempati) mereka mau membunuh saudaranya sesama Katholik yang tinggal di negara yg kebetulan sedang berselisih (contohnya Inggris lawan Argentina, suku Hutu dan Tutzi di Afrika), apa tindakan gereja? Gereja melalui para pastornya memberkati alat2 perangnya saat mau maju ke medan perang, begitukan ciri pengikut Yesus, kesimpulannya ” AJARAN YANG SALAH MEMBUAHKAN PENGERTIAN YANG SALAH (MEMBINGUNGKAN) DI PIHAK UMATNYA, HASILNYA KEKACAUAN, KEKERASAN DI ANTARA MEREKA BAHKAN DI ANTARA PARA PEMIMPINNYA ” kalau kita cocokkan dengan perumpamaan yg Yesus katakan maka tepatlah (Gandum dan Lalang) dua tanaman ini bisa hidup bersama tapi pengaruh dari pertumbuhannya (cepat banyak) lebih besar lalang dr pd gandum dan sangat mengganggu tanaman yg diupayakan petani, hasil dari lalang tdk ada (tdk enak) itulah yang dihasilkan ajaran yg membingungkan. Hidup dengan menerapkan standar Alkitab kami terlindungi dari pengaruh sistem yg jahat ini.

    • Shalom Sunu,

      Kalau anda ingin berdiskusi secara doktrinal, maka kita dapat diskusikan. Namun, kalau anda ingin berdiskusi tentang kasus-kasus yang dilakukan oknum-oknum tertentu, maka saya tidak perlu menanggapi, karena tidak akan membawa dialog yang sehat. Secara prinsip, kita menilai agama seseorang dari buah-buah orang yang memang menjalankan apa-apa yang diajarkan oleh agama tersebut. Kalau anda ingin melihat buah-buah dari agama Gereja Katolik dan yang sungguh menjalankan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, maka silakan melihat kehidupan santa-santo dalam sejarah Gereja, termasuk Bunda Teresa dari Kalkuta. Jangan menilai agama dari oknum-oknum yang tidak menjalankan apa yang diajarkan oleh agama tersebut. Kalau anda ingin melihat apa yang terjadi dengan gereja anda, maka anda dapat juga google tentang abuse yang juga terjadi di dalam saksi-saksi Yehuwa. Silakan melihatnya dalam beberapa site dalam bahasa Inggris. Jadi, mari kita kembali kepada diskusi yang lebih substansial, yaitu diskusi doktrinal. Semoga hal ini dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. Syalom team katolisitas yang terkasih dalam Kristus….
    menyangkut pembahasan tentang saksi yehuwa saya mau bertanya, seperti doa Bapa Kami dalam Matius 6:9 “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu”, nah menurut mereka kata2 “NamaMu” di situ adalah Yehuwa. Jadi pengertiannya nama Bapa itu sendiri adalah Yehuwa, dan bagaimana menurut pandangan kita orang Katolik ??? Terima kasih sebelumnya

    Berkah Dalem

    • Shalom Mike,

      Kristus mengajarkan doa ‘Bapa Kami’ adalah untuk kita manusia. Tentu saja Bapa merujuk kepada Allah Bapa. Lebih lanjut “perkataan kami” adalah untuk menunjukan bahwa manusia dapat menyebut Allah sebagai Bapa hanya di dalam Yesus. Kristus sendiri menunjukkan perbedaan antara keputeraan-Nya dari keputeraan murid-murid-Nya, karena Ia tidak pernah mengatakan, “Bapa kita/ Bapa kami” (Bdk. Mat 5:48, 6:8; 7:21; Luk 11:13), kecuali untuk menugaskan mereka: “kamu harus berdoa demikian: Bapa kami” (Mat 6:9). Ya, Ia menyatakan perbedaan dengan jelas: “Bapa-Ku dan Bapamu” (Yoh 20:17)”Ketika para pendakwa-Nya bertanya, “Jadi Engkau Putera Allah?”, maka Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah” (Luk 22:70, bdk. Mat 26:64; Mrk 14:61).

      Namun, kalau ayat Mat 6:9 dijadikan bukti bahwa Kristus tidak sehakekat dengan Bapa karena Kristus memuliakan Bapa, maka ini tidak menjadi dasar yang kuat, karena Bapa juga memuliakan Anak, seperti: “Permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” (Yoh 17:1); atau ” Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. apakah saksi yehuwa itu adalah ajaran sesat atau bs diblg gereja setan??
    klu bnr ajarannya sesat atau gereja setan apakah simbol atau ciri dr gereja saksi yehuwa??
    krn yg prnh sya dngr seperti simbol “666” atau “salib ter’balik”

    tolong di jawab yh…
    trims..

    • Shalom Tha,

      Yang dapat kami katakan adalah aliran Saksi Yehuwa mengajarkan ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Kristiani, karena mereka tidak percaya bahwa Kristus adalah Tuhan. Namun demikian, Saksi Yehuwa bukan gereja setan, karena biar bagaimanapun pusat ibadah mereka bukan setan. Simbol mereka adalah menara pelihat (watchtower), dan mereka menentang simbol salib, karena menurut mereka Yesus tidak wafat di salib. Tentang topik ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Tentang simbol 666, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, dan tentang Vicarius Filii Dei, silakan klik;
      sedangkan tentang makna salib terbalik, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, silakan membaca point 1.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Dear,
    Penulis-yang-saya-hormati

    Saya ada pertanyaan mengenai ajaran Saksi Yehuwa dan juga Katolik dan Kristen. Dimana semuanya bersumber dari Alkitab. Memang Saksi Yehuwa menggunakan “alkitab” yang sepertinya agak berbeda dalam hal terjemahan dibanding “alkitab” Katolik (saya kurang tahu dgn “alkitab” Kristen; apakah ada perbedaan juga).

    Ada hal yang masih saya pertanyakan; bagaimana cara mengetahui terjemahan mana yang benar2 “benar” ?
    Karena perbedaan kecil saja, misal huruf besar / kecil ; terjemahan bahasa ; etc dapat berpotensi perbedaan pemahaman.

    Hal ini juga saya tanyakan pada Saksi Yehuwa yang sempat mampir ke rumah; darimana kita tahu mana Alkitab yang benar2 memuat pesan sesungguhnya dari apa yg diilhamkan Allah ?

    Jika saya baca sekilas diatas ada yang menyebut bahwa ajaran Saksi Yehuwa mengalami perubahan dari waktu ke waktu; dan di lain sisi, saya pernah melihat bahwa nama Tuhan adalah “Yehuwa” masih disebutkan dalam Alkitab Katolik / Kristen (alkitab yang sudah benar2 tua dan juga terbitan Batak); namun dalam terbitan yang lebih baru nama “Yehuwa” tsb sudah hilang; namun masih ada di Appendix di belakang.

    Itu salah satu contoh yang menimbulkan pertanyaan : bagaimana cara kita bisa menemukan / memahami “alkitab” mana yang benar2 bisa didalami / dipelajari yang isinya benar2 ilham dari Allah yg diterjemahkan tanpa ada kecacatan yg bisa berpotensi menimbulkan missleading ? Riset semacam apa yg bisa dilakukan / diikuti untuk melakukan hal tsb ?

    Salam,
    V

    [dari katolisitas: silakan memakai Kitab Suci yang mendapatkan persetujuan dari KWI (Konperensi Waligereja Indonesia). Namun, dalam beberapa hal yang menyangkut doktrinal, kita dapat melihat apa yang telah diajarkan oleh Gereja Katolik, baik melalui Katekismus Gereja Katolik, ensiklik, konsili, maupun dokumen Gereja yang lain.]

    • Dear,
      Penulis

      Terima kasih atas response nya; namun sepertinya belum memuaskan keingintahuan saya ttg Alkitab yg saya tanyakan :
      – Mengapa harus menggunakan KWI ?
      – Apakah bisa di guarantee Alkitab terbitan tsb yang berisi ilham yg benar dengan terjemahan yg benar2 tepat ?
      – Maksud saya, bagaimana cara mengetahui Alkitab terjemahan mana yg benar2 tepat dengan tidak ada (at least hampir tidak ada) kesalah-interpretasi yg dapat mengkibatkan missleading ?

      Tambahan; membaca kutipan Anda mengenai hal2 doktrinal :
      – Mengapa harus mengacu ke katekismus Katolik, ensiklik, konsili, dll ?
      – Apakah semua hal itu benar2 mengacu dan berdasar dari Alkitab ?

      Satu lagi mengenai nama Allah :
      – Apakah benar bahwa nama Allah adalah Yehuwa atau biasa ditulis YHWH. Karena saya penggemar barang antik, banyak sekali tertulis nama YHWH di barang2 kuno (termasuk Alkitab) yg mengacu kepada Allah ?
      – Namun di Alkitab Katolik nama tsb dihapus ?

      Mohon maklum dengan pertanyaan2 saya yg belum mengerti apa2 mengenai Alkitab scr mendalam, Katolik, Kristianiti. Saya minta pencerahan dari Anda.

      Salam,
      V

      • Shalom Vintages,

        Untuk jawaban point 1 s/d 4 dibawah ini, saya mengambil jawaban dari Rm. Indra Sanjaya Pr., salah satu pakar Kitab Suci di tanah air. [Terima kasih atas bantuan Rm. Indra]. Sedangkan untuk point 5, saya menjawabnya dari apa yang saya ketahui menurut ajaran Gereja Katolik. Berikut ini jawaban kami:

        1. Tentang keterangan KWI di Kitab Suci

        Keterangan ‘Terjemahan ini diterima dan diakui oleh Konferensi Waligereja Indonesia’ sebenarnya hanya merupakan penegasan dari KWI bahwa terjemahan tersebut bisa dipakai oleh umat Katolik. Dengan kata lain, umat Katolik tidak perlu ragu menggunakan Kitab Suci yang mencantumkan keterangan itu. Maklum umat Katolik seringkali ‘cari aman'; hanya mau menerima jika memang diterima atau diakui oleh Gereja. Jangan dilupakan bahwa terjemahan itu dikerjakan oleh sebuah tim yang terdiri dari banyak ahli dari pelbagai denominasi.
        Bahwa KWI turut campur dalam terjemahan saya kira wajar saja. Gereja Katolik berhak menerjemahkan sendiri Kitab Suci untuk kepentingan umat. Tetapi sejak tahun 1968 sudah dicapai kesepakatan bahwa KWI (= Gereja Katolik waktu itu MAWI) akan menggunakan terjemahan yang sudah dikerjakan oleh LAI. Hal ini sejalan dengan kerja sama yang sudah dibina oleh Vatikan dalam hal ini Sekretariat untuk Kesatuan Umat Kristiani dengan United Bible Societies.

        2. Bagaimana cara mengetahui Alkitab terjemahan mana yang benar-benar tepat?

        Kalau ingin mengetahui terjemahan mana yang benar-benar tepat, maka jalan satu-satunya adalah membandingkannya dengan teks asli (bahasa Ibrani untuk Perjanjian Lama dan bahasa Yunani untuk Perjanjian Baru). Bagaimana pun, menerjemahkan itu berarti menafsirkan. Dan tidak ada seorang pun yang mampu memindahkan ‘muatan’ secara utuh – tidak kurang dan tidak lebih – dari suatu bahasa (bahasa asli) ke dalam bahasa sasaran. Selalu ada pilihan kemungkinan menerjemahkan: ‘ini’ atau ‘itu’. Kitab Suci yang kita miliki merupakan hasil kerja dari berbagai pihak, para ahli Kitab Suci dari berbagai denominasi. Dalam proses penerjemahan, membanding-bandingkan dengan sebanyak mungkin teks, terutama versi kuno seperti LXX (Septuaginta), Vulgata dan Peshita merupakan langkah yang harus dilewati. Ini semua merupakan sebuah usaha untuk sedapat mungkin mendekatkan karya terjemahan dengan teks aslinya. Terjemahan ini terus disempurnakan. Oleh karena itu, setiap kira-kira 25-30 tahun sebuah karya terjemahan perlu direvisi lagi.

        3. Apakah benar bahwa nama Allah adalah Yehuwa atau biasa ditulis YHWH.

        Kita tidak tahu persis bagaimana Tetragrammaton (YHWH) itu diucapkan, karena sebagaimana kita tahu, bahasa Ibrani tidak menggunakan vokal. Yang jelas, diterima di kalangan para ahli bahwa ucapan ‘Yehuwa’ adalah keliru. Ucapan yang mirip dengan ini, Yehova, adalah penafsiran kristiani dari abad 13 (Raymundus Martin dalam tulisannya Pugio Fidei) dan kemudian ‘disahkan’ oleh Petrus Galatinus pada tahun 1518. Diperkirakan, ucapan yang paling tepat adalah Yahweh (bdk. dengan kata Halelu-Yah).

        4. Namun di Alkitab Katolik nama tersebut dihapus ?

        Sedikit ralat pada pertanyaan Anda: bukan Alkitab/ Kitab Suci Katolik, tetapi Kitab Suci versi LAI yang diterima oleh KWI dan sebagian besar gereja-gereja non Katolik. Masalahnya: nama YHWH bukan dihapus tetapi diganti dengan kata TUHAN (huruf besar semua). Mengapa demikian? Ini adalah kebijaksanaan LAI yang mengacu pada kebijaksanaan United Bible Societies. Untuk lebih jelasnya silakan membaca artikel yang berjudul, “Mengapa kata ‘Allah’ dan ‘TUHAN’ dipakai dalam Alkitab kita?” yang terdapat di website Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan alamat: http://www.alkitab.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=69&Itemid=2

        5. Mengapa harus mengacu ke Katekismus Katolik, ensiklik, konsili, dll ? Apakah semua hal itu benar-benar mengacu dan berdasar dari Kitab Suci?

        Gereja Katolik menyampaikan seluruh Wahyu Ilahi, baik yang tertulis maupun tidak tertulis, yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul-Nya, dan diteruskan oleh para penerus mereka. Nah ajaran ini termaktub dalam Kitab Suci, Tradisi Suci dan ajaran Magisterium Gereja, dan ketiga hal ini adalah pilar kebenaran Gereja, silakan klik di sini dan di sini. (Dan tentang Magisterium, klik di sini). Maka, baik Tradisi Suci maupun ajaran Magisterium, keduanya sesuai dengan ajaran Kitab Suci dan tidak pernah bertentangan dengan Kitab Suci. Konsili-konsili termasuk dalam Tradisi Suci, sebagaimana diajarkan oleh Magisterium yang mengambil dasar dari Kitab Suci; demikian pula ensiklik-ensiklik, yang ditulis oleh Bapa Paus. Sedangkan Katekismus Gereja Katolik merupakan rangkuman ajaran Gereja Katolik, yang dasarnya adalah Kitab Suci, Tradisi Suci dan ajaran Magisterium (seperti ajaran para Bapa Gereja, hasil konsili-konsili, ensiklik-ensiklik maupun dokumen resmi Gereja lainnya).

        Jadi kita umat Katolik mengacu kepada Katekismus, konsili dan ensiklik, karena melalui semua itu, ajaran Kristus dan para rasul-Nya disampaikan kepada kita dengan seutuhnya. Sebab yang disampaikan di sana bukan interpretasi pribadi tetapi apa yang sudah menjadi iman Gereja sejak awal, yang terbukti dari tulisan ajaran- ajaran para Bapa Gereja yang cukup konsisten sejak abad- abad awal, yang tentu juga mengambil dasar dari Kitab Suci. Silakan Anda membaca Katekismus Gereja Katolik, hasil konsili ataupun surat ensiklik para Paus, dan temukan di sana begitu banyak referensi/ acuan ayat-ayat Kitab Suci yang mendasarinya. Justru dengan membaca ajaran Gereja sebagaimana tertulis dalam dokumen-dokumen Gereja Katolik, kita dapat memperoleh interpretasi yang otentik dari ayat- ayat Kitab Suci tersebut, yang tidak tergantung dari pemahaman pribadi Paus tertentu atau uskup tertentu di zaman tertentu; karena para Paus hanya mengacu kepada ajaran iman yang sudah hidup di dalam Gereja sejak awal, atau yang sudah pernah diajarkan oleh para pendahulu mereka; dan jika perlu, mereka menjelaskannya kembali agar menjadi semakin relevan dalam korelasinya dengan kehidupan Gereja dan dunia pada zamannya.

        Demikian tanggapan kami, semoga bermanfaat.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

        • Salam Ms. Ingrid,

          Sudah lama sekali sejak pertanyaan saya terakhir. Dan terima kasih sudah dijelaskan panjang lebar atas pertanyaan2 sy sebelumnya.

          Dari semua penjelasan tsb saya baru sempat riset lagi untuk pertanyaan terakhir #5 ttg ajaran2 diluar Kitab Suci dalam hal ini seperti tradisi, dan konsili2 yg secara tdk langsung berhubungan dengan #1. Kebetulan sy sempat diberkati utk mengunjungi Italia dan Vatican sehingga memberi sy waktu lebih utk mempelajari byk hal disana.
          Diluar dua pertanyaan dan response #1 dan #5, sy masih perlu waktu untuk memahami dan menelaah lebih jauh.

          Untuk mempersingkat, bahwa salah satu konsili yang boleh dibilang paling terkenal yaitu Konsili Nicea yg menetapkan dan melegalisir bahwa Yesus adalah Tuhan.
          Sy ada bbrp hal yang belum paham sbb:
          – Mengapa ke-Tuhan-an Yesus perlu dilegalisir ? Menurut sejarah, sejalan dgn waktu, muncul byk pandangan2 yg berbeda dari yg diajarkan dari rasul2 sebagai penerus Yesus menyebarkan ajarannya. Bukan kah hal itu menunjukan Tradisi yg diturunkan, mungkin saja melenceng (baik sebagian atau semua atau malah tidak sama sekali; masih hanya berupa kemungkinan) ? Bagaimana kita bisa meriset tradisi mana yg sejalan ? Dalam hal ini bukankah hanya dengan Kitab Suci ? Apakah boleh sy mengambil kesimpulan Kitab Suci sajalah sumber pengetahuan yg benar (terutama utk org2 yg mencari aman seperti kata Ms. Ingrid) ?

          – Melanjut dari pertanyaan diatas dan hasil pengamatan sy, bahwa Konsili Nicea tsb menimbulkan pertanyaan (dan jujur saja) prasangka, terutama motifnya. Bahwa pemimpin konsili tsb adalah pemimpin politik (kita sebut saja Kaisar Konstantin 1) yg secara “kebetulan” mengadakan konsili tsb pada saat kondisi kerajaan Romawi “terlalu luas untuk disatukan” (kemungkinan besar salah satu penyebabnya karena pemecahan kerajaan Romawi yg awalnya otokrasi menjadi 2 kekaisaran oleh kaisar sebelumnya Gaius Diocletianus).
          terutama karena perbedaan keyakinan antara org Kristiani awal dan aliran berhala/pemuja dewa2; sedangkan Kaisar Konstantin adalah pemuja dewa2, dan menurut bbrp lektur museum Roma bahwa Konstantin baru dibaptis setelah mendekati wafatnya.
          Hasil dari Konsili tsb mempunyai dampak yg luar biasa baik untuk Konstantin setelahnya, yaitu menyatunya Romawi dikarenakan adanya agama tunggal yg diterima (sebagian besar) oleh kedua belah aliran, makanya Konstantin disebut Kaisar Kristen yg pertama. Apalagi jabatan Konstantin sbg pontifex maximus juga membuat dia mempunyai wewenang menetapkan bbrp hal yg kita sebut “tradisi” sampai saat ini.
          Kenapa pemimpin politik yg memuja dewa bisa menjadi pemimpin tertinggi keagamaan Kristiani, menetapkan tradisi2 keagamaan, pemakaian simbol2 sehingga diterima oleh Kristiani dan aliran berhala ? Dan terlebih lagi posisi Yesus ditetapkan melalui voting2 para pemimpin agama dan disahkan oleh Konstantin yg notabene bukan Kristiani.

          Apakah hal ttg tradisi tsb dan konsili itu adalah salah satu hal yg diikuti oleh Katolik saat ini ? Apakah karena itu merupakan turunan dari agama yg dibentuk kaisar Romawi yg kemudian terbentuknya Vatikan di thn2 akhir 1800 dan awal 1900, yg kita tahu sekarang sebagai pusat agama Katolik ?

          Sebenarnya masih byk catatan2 yg ingin saya bagikan dan tanyakan, namun karena waktu dan keterbatasan menulis sy, tdk mengijinkan saat ini.

          Salam,
          V

          [dari katolisitas: Silakan melihat beberapa artikel tentang kekristenan yang sering diajukan oleh umat non-Kristen di sini – silakan klik. Sebelum abad 4, umat Allah mengakui Yesus adalah Tuhan, yang menjadi Pribadi kedua dari Trinitas – silakan klik]

  6. Apa yang Yesus Ajarkan tentang Neraka?
    ”Kalau matamu menyebabkan engkau berdosa,” kata Yesus, ”cungkillah mata itu! Lebih baik engkau masuk Dunia Baru Allah tanpa satu mata, daripada engkau dengan kedua belah matamu dibuang ke dalam neraka. Di sana api tidak bisa padam dan ulat tidak bisa mati.”—MARKUS 9:47, 48, Bahasa Indonesia Masa Kini.
    Pada kesempatan lain, Yesus berbicara tentang suatu masa penghukuman ketika ia akan mengatakan kepada orang-orang fasik, ”Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.” Ia juga mengatakan bahwa orang-orang ini akan ”masuk ke tempat siksaan yang kekal”.—MATIUS 25:41, 46, TB.
    SEKILAS, kata-kata Yesus di atas tampaknya mendukung ajaran api neraka. Pastilah, Yesus tidak bermaksud menentang Firman Allah, yang jelas-jelas menyatakan, ”Orang yang mati tak tahu apa-apa.”—Pengkhotbah 9:5, TB.
    Kalau begitu, apa yang Yesus maksudkan ketika ia menyebut tentang orang yang dicampakkan ”ke dalam neraka”? Apakah ”api yang kekal” yang diingatkan Yesus bersifat harfiah atau lambang? Dalam arti apa orang-orang fasik ”masuk ke tempat siksaan yang kekal”? Mari kita periksa pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu.
    Apa yang Yesus maksudkan ketika ia berbicara tentang orang yang dicampakkan ”ke dalam neraka”? Kata Yunani asli yang diterjemahkan menjadi ”neraka” di Markus 9:47 adalah Ge′en‧na. Kata ini berasal dari kata Ibrani Geh Hin‧nom′, artinya ”Lembah Hinom”. Lembah Hinom terletak persis di luar Yerusalem kuno. Pada zaman raja-raja Israel, lembah itu digunakan untuk pengorbanan anak—praktek menjijikkan yang dikutuk Allah. Allah mengatakan bahwa Ia akan menghukum orang-orang yang melakukan tindakan ibadat palsu demikian. Maka, Lembah Hinom disebut ”Lembah Pembunuhan”, di mana ”mayat bangsa ini” tidak akan dikuburkan. (Yeremia 7:30-34, TB) Dengan demikian, Yehuwa menubuatkan bahwa Lembah Hinom akan menjadi tempat, bukan untuk penyiksaan korban yang masih hidup, melainkan untuk pembuangan mayat secara massal.
    Pada zaman Yesus, penduduk Yerusalem menggunakan Lembah Hinom sebagai tempat pembuangan sampah. Mereka membuang mayat beberapa penjahat yang keji ke dalam tempat pembuangan ini dan membuat apinya terus menyala di sana untuk membakar sampah serta mayat-mayat.
    Ketika Yesus berbicara tentang ulat-ulat yang tidak bisa mati dan api yang tak terpadamkan, ia tampaknya menunjuk ke Yesaya 66:24. Mengenai ”bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada [Allah]”, Yesaya mengatakan bahwa ”ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam”. (TB) Yesus dan para pendengarnya tahu bahwa kata-kata di Yesaya ini menunjuk ke cara orang-orang memperlakukan mayat yang tidak layak dikuburkan.
    Karena itu, Yesus menggunakan Lembah Hinom, atau Gehena, sebagai lambang yang cocok untuk kematian tanpa harapan kebangkitan. Ia menjelaskan hal ini ketika ia mengingatkan bahwa Allah ”dapat membinasakan jiwa dan tubuh di Gehena”. (Matius 10:28, The New American Bible) Gehena adalah lambang kematian kekal, bukan siksaan kekal.
    Apakah ”api yang kekal” yang Yesus sebutkan bersifat harfiah atau lambang? Perhatikan bahwa ”api yang kekal” yang disebutkan oleh Yesus dan dicatat di Matius 25:41 (TB) telah dipersiapkan bagi ”Iblis dan malaikat-malaikatnya”. Apakah menurut Anda api harfiah bisa membakar makhluk-makhluk roh? Atau, apakah Yesus menggunakan istilah ”api” secara lambang? Pastilah, ”domba” dan ”kambing” yang disebut dalam khotbah yang sama tidak bersifat harfiah; itu adalah ungkapan yang menggambarkan dua tipe orang. (Matius 25:32, 33) Api kekal yang Yesus sebutkan membakar habis orang fasik dalam arti kiasan.
    Dalam arti apa orang fasik ”masuk ke tempat siksaan yang kekal”? Meskipun kebanyakan terjemahan menggunakan kata ”siksaan” di Matius 25:46, makna dasar dari kata Yunani ko′la‧sin adalah ”menghambat pertumbuhan pohon”, atau memangkas, memotong cabang-cabang yang tidak perlu. Maka, orang yang seperti domba menerima kehidupan abadi, sedangkan orang yang seperti kambing yang tidak bertobat menderita ”siksaan yang kekal”, mati untuk selamanya bagaikan cabang yang dipotong.
    Bagaimana Menurut Anda?
    Yesus tidak pernah mengajarkan bahwa manusia memiliki jiwa yang tak berkematian. Namun, ia memang sering mengajarkan mengenai kebangkitan orang mati. (Lukas 14:13, 14; Yohanes 5:25-29; 11:25) Mengapa Yesus mengatakan bahwa orang mati akan dibangkitkan seandainya ia percaya bahwa jiwa mereka tidak mati?
    Yesus tidak mengajarkan bahwa Allah dengan penuh kebencian akan menyiksa orang fasik untuk selamanya. Sebaliknya, Yesus mengatakan, ”Allah demikian mengasihi dunia, sehingga Ia rela memberikan Putra-Nya yang tunggal, agar semua orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi mempunyai hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16, Kitab Suci Komunitas Kristiani) Mengapa Yesus menyiratkan bahwa orang yang tidak percaya kepadanya akan mati? Jika ia memang memaksudkan bahwa mereka akan hidup selamanya, menderita kesengsaraan dalam neraka yang bernyala-nyala, tidakkah ia akan mengatakannya?
    Doktrin bahwa neraka adalah tempat penyiksaan tidak didasarkan atas Alkitab. Sebaliknya, itu merupakan kepercayaan kafir yang disamarkan menjadi ajaran Kristen. (Lihat kotak ”Sejarah Singkat tentang Neraka”, di halaman 6.) Tidak, Allah tidak menyiksa manusia untuk selamanya di neraka. Apa pengaruh mengetahui kebenaran tentang neraka atas sikap Anda terhadap Allah?
    [Kotak di hlm. 6]
    SEJARAH SINGKAT TENTANG NERAKA
    BERPANGKAL PADA AJARAN KAFIR: Orang Mesir zaman dahulu percaya akan neraka yang bernyala-nyala. The Book Ȧm-Ṭuat, tertanggal 1375 SM, mengulas tentang orang-orang yang ”akan dicampakkan ke dalam lubang api; dan . . . tidak akan luput dari sana, dan . . . tidak akan bisa lari dari nyala api”. Filsuf Yunani bernama Plutarkh (±46-120 M) menulis tentang orang-orang yang ada di dunia di bawah, ”[Mereka] meneriakkan ratapan sementara mereka mengalami siksaan yang mengerikan dan deraan yang memalukan dan sangat menyakitkan.”
    SEKTE-SEKTE YUDAISME TERPENGARUH: Sejarawan Yosefus (37-±100 M) melaporkan bahwa kaum Eseni, sebuah sekte Yahudi, percaya bahwa ”jiwa tidak berkematian, dan hidup selamanya”. Ia menambahkan, ”Ini seperti pendapat orang Yunani . . . Mereka berpikir bahwa jiwa-jiwa yang jahat dikurung di liang yang gelap dan seram, dihukum tanpa henti.”
    MASUK KE DALAM ”KEKRISTENAN”: Pada abad kedua M, buku apokrifa Apocalypse of Peter mengatakan mengenai orang fasik, ”Bagi mereka tersedia api yang tak terpadamkan.” Dikatakan juga, ”Ezrael, malaikat kemurkaan, membawa pria maupun wanita yang separuh tubuh mereka terbakar dan melemparkan mereka ke dalam tempat yang gelap, neraka bagi manusia; dan suatu makhluk roh kemurkaan mendera mereka.” Pada kurun waktu yang sama, penulis Teofilus dari Antiokhia mengutip ramalan nabiah Yunani bernama Sibyl mengenai hukuman atas orang fasik, ”Ke atas kalian api yang bernyala-nyala akan menimpa, dan selama-lamanya kalian akan dibakar setiap hari.” Inilah antara lain kata-kata yang Teofilus katakan adalah ”benar, dan bermanfaat, dan adil, dan menguntungkan bagi semua manusia”.
    API NERAKA DIGUNAKAN UNTUK MEMBENARKAN KEKERASAN PADA ABAD PERTENGAHAN: Mary I, ratu Inggris (1553-1558), yang dikenal sebagai ”Mary si Penumpah Darah” karena membakar kira-kira 300 penganut Protestan di tiang, dilaporkan mengatakan, ”Karena jiwa para bidah akan dibakar selamanya di neraka, tidak ada yang lebih patut bagi saya selain meniru pembalasan Ilahi dengan membakar mereka di bumi.”
    DEFINISI BARU-BARU INI: Pada tahun-tahun belakangan ini, beberapa sekte telah merevisi ajaran mereka tentang neraka. Misalnya, Komisi Doktrin Gereja Kristen di Inggris mengatakan pada tahun 1995, ”Neraka bukan siksaan kekal, melainkan pilihan haluan hidup yang terakhir dan tidak dapat ditarik kembali yang benar-benar menentang Allah secara mutlak sehingga satu-satunya akhir adalah kemusnahan total.”
    [Kotak/Gambar di hlm. 7]
    APA ”LAUTAN API” ITU?
    Wahyu 20:10 mengatakan bahwa si Iblis akan dicampakkan ke dalam ”lautan api” dan ”disiksa siang malam untuk selama-lamanya”. (TB) Seandainya si Iblis akan disiksa selama-lamanya, Allah harus memelihara dia tetap hidup, tetapi Alkitab mengatakan bahwa Yesus akan ”memusnahkan dia”. (Ibrani 2:14, TB) Lautan api lambang itu memaksudkan ”kematian yang kedua”. (Wahyu 21:8, TB) Ini bukan kematian yang pertama kali disebutkan dalam Alkitab—kematian akibat dosa Adam—kematian dengan kemungkinan dibangkitkan. (1 Korintus 15:21, 22) Karena Alkitab tidak mengatakan bahwa ”lautan api” mengeluarkan orang-orang yang berada di dalamnya, ”kematian yang kedua” harus mengartikan kematian jenis lain, kematian yang sudah tidak bisa dibatalkan.
    Dalam arti apa orang-orang yang berada di ”lautan api” disiksa selama-lamanya? Kadang-kadang, ”menyiksa” dapat berarti ”menahan” seseorang. Suatu kali, sewaktu Yesus berhadapan dengan para hantu, mereka berteriak, ”Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami [menahan kami dalam jurang tidak terduga dalamnya] sebelum waktunya?” (Matius 8:29; Lukas 8:30, 31; TB) Maka, semua yang berada dalam ”lautan” itu akan menderita ”siksaan” berupa penahanan abadi, atau ”kematian yang kedua”.

    Semoga artikel diatas ini ada manfaatnya bagi : Stefanus,;Machmud ; Fxe; George dan yang lainnya.

    Shalom.

    [dari katolisitas: Tentang jiwa yang kekal – silakan klik dan tentang neraka – silakan klik]

  7. chisbuloh huda on

    Saya mau menanyakan, apa itu Kristen Unitarian dan apa itu Kristen Trinitas,..??? Dari keduanya, mana yang benar2 ajaran Yesus..?? Tk

    • Shalom Chisbulloh,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang Kristen Unitarian. Secara prinsip, Kristen Unitarian mempercayai bahwa Tuhan hanya mempunyai satu Pribadi, yang dikontraskan dengan Tuhan yang mempunyai tiga Pribadi namun dalam satu Hakekat. Kalau kita mengikuti perkembangan sejarah, benih-benih pandangan sesat ini telah ada. Dan pandangan ini mulai berkembang dengan cukup pesat mulai tahun 1540. Silakan anda melihat sumbernya di sini – silakan klik.

      Orang yang tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan sebenarnya tidak dapat menamakan dirinya Kristen karena inti kekristenan adalah mengikuti kebenaran yang mengambil nama Yesus Kristus (Jesus Christ), yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Kalau anda ingin tahu lebih jauh tentang hal ini, silakan membaca beberapa artikel tentang Kristologi di bawah ini:

      Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.

      Dengan demikian, unitarian sebenarnya termasuk dalam pengajaran yang tidak sesuai dengan inti dari kekristenan. Semoga jawaban singkat ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • shalom,Stefanus Tay
      ma’af sebelumnya ttg pertanyaanku,..

      mengenai ini ;
      Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.

      adakah pernyataan di atas sesuai dgn Alkitab,..???
      terima kasih,…damai selalu menyertai

      [dari katolisitas: kalau anda tahu ada yang salah, silakan memberikan masukan. Terima kasih]

  8. shalom…. saya sekarang benar2 dikuatkan dengan adanya diskusi ini begitu banyak yg menjadi pertimbangan saya ketika saya berteman dengan beberapa SSY di daerah saya. mereka memang sangat ramah dan sabar menghadapi segala reaksi yg diberikan oleh orang lain. mereka jg tidak hanya mendatangi orang2 Kristen atau Khatolik, tetapi jg orang Muslim. beberapa kenalan saya yang Muslim jg sering bertanya kepada saya tentang perbedaan SSY dengan Kristen. dan menanggapi hal itu saya sedkit bingung, karena saya termasuk orang yg tidak mendalami Alkitab sepenuhnya. tetapi demi melihat begitu banyak pertanyaan yg diajukan oleh kenalan Muslim saya, tentang siapa Yesus, mengapa kita menyebut Yesus sebagai Tuhan dan lain sebagainya, saya mulai tergugah untuk lebih mendalami isi Alkitab… dan terima kasih untuk forum ini karena sdh memberi jawaban atas pertanyaan2 tersebut, bukan hanya saya menjadi lebih mengerti, tetapi jg saya bisa memberi pengertian kepada orang2 yang menanyakan hal2 tersebut kepada saya. semoga selalu dapat menjadi pencerah untuk orang2 seperti saya… Amin…

  9. ShaLoom, salam seJahTra….
    MOHon Maaf sbLumnya, saudara2ku yg Terkasih….
    Sy Hanya inGin ShaRing…
    Sy Juga Prnh diDtgi oLeh 2 oRg yg DaRi SakSi2 YehoVaH, menaNyakan Apakah sy pernah kehilangan(MeninggaL) SeseoRg dalam kehidupan sy dan mulai membahas ttg LasaRus Yg DiBangkikan Tuhan…
    KemuDian, krna kebeTuLan sy Beberapa Tahu ter’akhir banyak mempelajari ttg AlkiTab, sy kemudian menguRaikan apa yg ada dalam aLkiTab ttg Lasarus…
    kelihatannya mreka cukup terkejut dgn pernyataan saya. Krna Tdk sempat masuk dlm Rumah Mreka hanya menitipkan Buku ArTikel ttg kebangkitan setelah kematian seperti lasarus dibangkitkan. Sy membaca buku itu dan memang isinya menjelaskan bahwa aDa kebangkiTan seTelah kematian.
    SePinTas memang TerLihaT Benar Dan aLkiTabiah. TTapi sy menangkap aDa keGanjiLan yg Tdk sesuai dgn apa yg slama iNi Sy dapatkan ketika dkat dengan Tuhan Yesus.Dalam artikel itu,PemBaca seoLah2 diGiRing unTuk Mempercayai kebangkitan SEMUA ORG seTelah MaTi. Jadi, oRg Akan Berfikir bahwa, “Tdak apa2 Hidup Seenaknya, Hidup bersantai2 atau penuh Dosa, Toh seTelah Mati kita Juga akan dibangkitkan kembali koq”…
    Terus Terang sy Sngat sedih…….
    Bukankah Hanya Orang PerCaya dan yg Tetap mengerjakan keselamatan yg dianugrahkan oLeh TUHAN YESUS KrisTus yg SElamat??? dan BUKAN SEMUA ORANG???????????

    Jadi Kesimpulannya saudara-saudaraku yg ku kasihi dlm Nama Tuhan Yesus KrisTus: Luangkanlah wakTu Anda Tiap2 Hari Untuk berdo’a, bersekutu, dan membaca Firman spaya Kita TaHu Kebenaran Yg Sejati dan KehenDak TuHan sebab Kebenaran itu asalnya hanya daRi DIA, dan BUkan PIKIRAN MANUSIA…..

    MaRi KITa BerDo’a BersaMa2 supaya Tuhan menyingkapkan kebenaran-Nya KePada Kita, juga kepada Mereka, Bahkan Kepada Semua org., sebab………..
    ALLAH adalah KASIH, dan DIA mengasihi semua org………………
    ^Amin^

  10. stephanus kusnugroho adi on

    yang penting kita tetap berpegang pada pendirian Allah sungguh amat baik…. Kalau Allah membatasi penghuni surga secara kuantitas… maka perlulah kita pertanyakan : Apakah Allah itu Baik?? 250 Juta Orang saja boleh tinggal di Indonesia…. masak Allah kalah sama Pemerintah RI.
    Kalau kita berpikir secara wajar dan sederhana – sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk masuk surga.
    Yang penting jalani hidup dengan semangat, berserah pada kehendak Allah, dan selalu berusaha membahagiakan orang sebanyak – banyaknya. Tidak menyakiti hati orang lain.
    Mengapa Sih harus mikir mumet2 ????
    Allah kok dipikir…???
    Mari bantu Saudara yang masih kekurangan, kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan cacat.

    [dari katolisitas: Tentang apakah hidup baik cukup untuk dapat masuk Sorga, dapat dilihat di tanya jawab ini – silakan klik]

  11. shaloom :)

    saya dulunya seorang Katolik dari bayi yang sudah dibaptis namun sejak saya mempelajari Alkitab bersama-sama Saksi-saksi Yehuwa (usia 31 thn saat ini dan baru 2 bulan saya belajar) saya merasa sangat beryukur dan malu krn selama ini saya hanya tahu injil saja itupun di dalam kebaktian di gereja katolik juga hanya diberika kertas yang sudah tersedia ayat-ayat dari Alkitab., jarang disuruh bawa Alkitab.

    saya tidak akan banyak berdebat… saya hanya ingin sebaiknya kita dengan rendah hati menyelidiki kitab suci. Jangan ‘membeo’ dan ‘iya-iya’ saja dengan perintah/perkataan pastor dan pendeta. Selidikilah Alkitab tentunya karena anda meragukan isi Alkitab, mintalah kepada Saksi-saksi Yehuwa untuk membimbing anda. Seperti yang saya alami para Saksi Yehuwa tidak pernah memaksa kita untuk dibaptis. kalaupun sudah belajar dan anda tidak ingin dibaptis, para Saksi tidak akan memaksa. Karena saya mengalaminya dan saat ini saya memang belum terbaptis.

    kita akan malu sendiri dengan kebenaran Alkitab. Jangan mengagungkan tradisi dan kepercayaan takhayul yang tidak mendasar pada kebenaran Alkitab. Kita tidak akan bisa menerima kebenaran Alkitab jika kita masih mengakui kekuasaan dunia fasik ini. Karena sudah jelas kebenaran Alkitab tidak sama dengan keinginan duniawi.

    Saya bahkan terkejut, bahwa risalah, lektur digratiskan bahlan Alkitab juga. Para saksi Yehuwa juga tidak pernah meminta-minta dana sumbangan melalui kertas-kertas dari rumah ke rumah. Sumbangan sukarela didapat dari sumbangan pribadi jemaat di Balai Kerajaan (gereja). yang membuat saya aneh adalah mengapa mereka (para Saksi Yehuwa) bisa memproduksi aneka risalah, lektur dengan kualitas kertas yang sangat baik dan gratis dibagikan kepada mereka yang ingin belajar. Bayangkan! Darimana keuntungannya, darimana datangnya uang sebanyak itu? Allah benar-benar memelihara umat-Nya :)

    saya juga baru tahu bahwa para penatua atau pemimpin sidang (seperti pastor/pendeta) tidak menerima uang santunan ataupun gaji. Anehnya mereka mau mengemban tugas tersebut. Mereka yang mengabar dari rumah ke rumah juga bersifat sukarela, tidak ada imbalan uang untuk mereka. Mereka lebih hebat dari para pebisnis MLM dunia! Luar biasa bagi saya mengetahui hal ini.

    Silakan mengakses http://watchtower.org dan pilih bahasa Indonesia, anda bisa membaca sendiri dan mempelajari Alkitab secara online. Buang rasa ego dan kesombongan kita… setelah kita tahu isi kebenaran Alkitab, seperti yang saya alami, saya menangis dan malu, betapa saya ternyata jauh dari kebenaran Alkitab selama ini.

    Salam kasih,
    Elizabeth – Manado

    • Shalom Elizabeth,

      Terima kasih atas sharing anda. Yang menjadi masalah adalah ada sebagian umat Katolik yang kurang rajin dalam membaca Alkitab. Namun, kalau kita ikut kegiatan pendalaman Alkitab di dalam Gereja Katolik, maka kita juga akan dapat menemukan kekayaan iman Katolik yang terekam di dalam Kitab Suci. Bahkan kalau kita mengikuti bacaan harian dari Gereja Katolik yang terbagi tahun A,B,C (untuk bacaan hari Minggu) dan tahun I dan II (untuk bacaan harian), maka secara garis besar, kita telah membaca pesan Kitab Suci secara keseluruhan. Kalau kita ke Gereja Katolik, maka seharusnya umat Katolik membaca bacaan pada hari itu. Dan pada waktu liturgi Sabda, maka semua orang dapat lebih menghayati dan meresapi Sabda Allah dengan baik.

      Saya ingin anda melihat dari sisi yang berbeda akan pernyataan anda “saya tidak akan banyak berdebat… saya hanya ingin sebaiknya kita dengan rendah hati menyelidiki kitab suci.” Yang sulit diterima dari pernyataan ini adalah bahwa setiap denominasi Kristen mengatakan bahwa kita harus dengan rendah hati menyelidiki Kitab Suci. Namun, Kitab Suci yang sama dapat diinterpretasikan secara berlainan. (lih. 2Pet 1:20) Kalau anda mempunyai interpretasi yang berlainan dengan teman anda, maka bagaimana anda dapat mengetahui secara pasti interpretasi yang benar? Sebagai contoh, apakah anda mempercayai bahwa yang masuk Sorga adalah 144 ribu seperti yang diajarkan oleh pendiri Saksi Yehuwa? Silakan melihat ulasan tentang hal ini di sini – silakan klik. Kalau anda ingin membaca diskusi panjang tentang topik ini, silakan membacanya di sini – silakan klik. Kalau anda beranggapan bahwa Gereja Katolik hanya mengagungkan tradisi dan tahayul dan tidak mempunyai dasar kebenaran Alkitab, maka silakan untuk memilih satu topik tentang ajaran Gereja Katolik, dan kita dapat mendiskusikannya lebih mendalam. Harapan saya adalah, sama seperti anda dengan serius belajar Alkitab dengan bimbingan dari Saksi Yehuwa, semoga anda juga memberi kesempatan yang sama untuk dapat belajar iman Katolik yang dapat ditelusuri kebenarannya dari Kitab Suci? Kalau anda mau, kita dapat berdiskusi tentang berbagai topik tentang iman Katolik yang anda anggap menjadi satu ganjalan. Semoga dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Saya adalah seorang Katolik, saya pernah mendapat pengajaran dari banyak saksi saksi Yehuwa, penetua, dan sering mengikuti kebaktian di balai kerajaan Allah. Awal dari ketertarikan saya dan mulai rajin mempelajari saksi saksi Yehuwa adalah ketika saya berkenalan dengan seorang teman, dia adalah seorang saksi saksi Yehuwa yang taat (mungkin sebagian besar Saksi saksi Yehuwa adalah seorang yang taat kepada keyakinannya) dari seringnya berdiskusi tentang Alkitab. Saya mulai ingin belajar tentang cara beribadahnya, mungkin waktu itu ada kebimbangan dalam hati saya tentang iman Katolik yang saya percayai karena saya mulai membandingkan tentang Alkitab yang saya pelajari dengan penafsiran oleh saksi saksi Yehuwa. Secara hafalan ayat2 di Alkitab mungkin teman2 saksi Yehuwa lebih pintar dari saya, apapun yang saya tanyakan sepertinya fasih sekali dengan jawabannya dan sepertinya cocok sekali dengan ayat2 nya. Mulailah hati saya benar benar membuka diri terhadap ajaran saksi saksi Yehuwa, dan saya belajar dari hari ke hari lebih mendalam. Mungkin dalam doaku setiap hari ingin selalu mencari Tuhan, mencari kebenaran karena kebenaran itu Allah makanya saya ingin belajar. Ketika itu saya bersikap netral dalam keyakinan saya. Dari awal saya belajar saya mendapat artikel2 tentang keorganisasian saksi saksi Yehuwa, “Menara Pengawal”. Artikel ini banyak membantu untuk saya lebih mengenal tata cara ibadat di dalam perhimpunan. Mungkin saya benar benar merasa senang saya dapat diterima oleh saksi saksi Yehuwa dan penetua2nya, di dalam balai saya merasa ada kebersamaan di antara saksi saksi Yehuwa, tata cara pengajaran yang menurut saksi saksi Yehuwa adalah seperti cara Yesus mengajar memang cukup berkenan. Penetua yang dipercaya saksi saksi Yehuwa penuh hikmat ketika menjadi seperti seorang guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya. Dengan berjalannya waktu dengan belajar dari iman yang dipercayai saksi saksi Yehuwa, ketika di balai ada sedikit kata yang terlontar dari Penetua (risetlah untuk mencari Tuhan) mungkin kata -kata ini yang memacu saya untuk benar benar mencari kebenaran. Saya mulai kembali belajar tentang sejarah awal perjalanan saksi saksi Yehuwa, keorganisasian awal Watch Tower, artikel2 nya saya pelajari kembali. Ketika saya belajar mengulang kembali dengan banyak temuan2 yang ganjil , mulai dari situ mungkin ada sedikit keraguan walaupun ada dalam pikiran saya untuk mencari kebenaran dalam ajaran ini tidak berhenti begitu saja. Semakin saya mencari kebenaran di dalam ajaran saksi saksi Yehuwa semakin bertambah keraguan saya tentang iman saksi saksi Yehuwa. Dari mulai itu saya kembali membandingkan temuan2 saya antara yang diimani saksi saksi Yehuwa dan Iman Katolik yang saya percayai walaupun pernah goyah. Dari banyak temuan2 sejarah para ahli2 dan membaca dan belajar Kitab Suci dengan kerendahan hati…kutemukan Kasih Tuhan yang nyata..ialah cinta sang Juru Selamat Yesus Kristus. Dialah pembimbing sejati untuk menemukan kebenaran Allah. Tuhan Yesus adalah Allah …yang mungkin oleh saksi saksi Yehuwa yang sulit dipahami karena mereka berusaha berpikir secara manusia, dengan otak kepintaran mereka, mereka seperti ahli2 Taurat yang akan sulit sekali dibukakan pikirannya walaupun pintar dalam hafalan ayat2 alkitab. Tuhan benar Engkau sungguh baik Kau menunjukkan jalan yang benar kepadaku bukan jalan kebinasaan.Terima kasih Tuhan Yesus kau mengundang aku menjadi seorang Katolik kembali, Demi Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

      [Dari Katolisitas: Terima kasih atas sharing pengalaman anda; semoga tulisan ini berguna dan menguatkan bagi para pembaca situs katolisitas.org.]

    • Ehem, untuk ibu Elizabeth. Begini bu, saya ingin menjawab pandangan anda secara simpel,

      saya ga perlu mendengar ajaran Alkitab dari saksi Yehova untuk diri saya.
      Pengalaman hidup saya selama 21 tahun ini dengan Yesus Kristus dalam suka, duka, senang, sedih, saya merasa sangat terberkati dengan adanya Yesus Kristus dalam hidup saya, dan saya tidak berminat sama sekali untuk pindah haluan karena saya benar benar percaya kepada Yesus Kristus.

      Mengapa? Karena kekuatan sebenarnya dari umat Kristen ialah Yesus.
      Sama seperti Abraham,yang meyakini bahwa Tuhan ada, demikian juga Yesus berharap bahwa setiap dombanya sama seperti Abraham, mampu mengenaliNya.
      Bukankah yang “membenarkan”Abraham hanyalah “keyakinannya” tersebut? Yang disebut dengan ” iman”. Abraham bukanlah pribadi sempurna. Dia pernah berbohong,dia memiliki sifat pengecut dgn membiarkan isterinya direbut orang, tetapi yang membuatnya ” berbeda “dan “dibenarkan” hanyalah :

      “IMAN”.

      Dan sekarang pertanyaan saya kepada anda, apakah anda mau merasakan pengalaman yang saya rasakan dengan Tuhan saya Yesus Kristus? God Bless You, kembalilah ke jalan yang benar : )

  12. Ini postingan saya yang kedua.
    Saya baru membaca keseluruhan dari komen di artikel ini..
    dan saya hanya merasa sangat dikuatkan dengan artikel ini…

    Pertanyaannya kenapa agama yang sekecil ini diserang oleh banyak orang? Bukan hanya di Indonesia saja. Di mana pun ajaran ini berada, mereka selalu ditekan. Karena apa?? Ya Yesus dan rasul” nya juga mengalami hal yang sama, ditekan oleh orang” Farisi dan akhirnya Yesus dan beberapa rasulnya mati karena kabar baik itu, oleh karena itu Yesus berkata…
    ”Kamu akan menjadi sasaran kebencian semua bangsa oleh karena namaku.” (Matius 24:9)

    Terimakasih atas artikel ini karena saya semakin mengetahui bahwa memang sempitlah jalan menuju kehidupan dan sedikit orang yang menemukannya…

    he..he..he
    di posting ya…
    jangan ndak loh..

    ^_^

    oh ya banyak belajar Alkitab dengan baik ya… banyak merenung dan berdoa yaa…
    jangan pakai istilah-istilah yang aneh-aneh lah..
    pakai bahasa indonesia yang baik aja biar enak.. biar sama” ngerti… oke..
    GBU..

    • Shalom Senyum,

      Syukurlah kalau anda merasa dikuatkan dengan artikel ini.

      Namun nampaknya ada perbedaan di antara kita dalam menyikapi beberapa ayat yang dibahas di dalamnya. Sebab sesungguhnya, hal ‘dibenci semua bangsa’ karena nama Kristus, itu digenapi di sepanjang sejarah Gereja. Sudah sejak abad awal, para murid dan pengikut Kristus dikejar- kejar, dianiaya dan dibunuh. Bahkan semua rasul dibunuh sebagai martir, kecuali Rasul Yohanes yang wafat di usia lanjut di tempat pengasingan. Hal penganiayaan umat Kristen di jaman kaisar Nero (64-68), sudah menjadi salah satu fakta yang dicatat dalam sejarah. Daftar para martir yang dibunuh oleh karena iman mereka akan Tuhan Yesus, dapat anda baca di link ini, silakan klik. Wikipedia mencatat, bahwa di abad 20 ini, umat Kristen mengalami penganiayaan, terutama di Korea Utara, Iran dan Saudi Arabia. Dari 100 orang yang terbunuh karena pertikaian agama, 75 orang di antaranya adalah umat Kristen.

      Maka janganlah terlalu melihat bahwa penganiayaan itu ditujukan kepada kelompok anda, sebab kenyataannya keseluruhan umat Kristen di dunia mengalaminya. Mari kita berdoa, agar fakta ini tidak membuat kita berkecil hati, namun agar kita mempunyai semangat untuk tetap setia beriman kepada-Nya, seperti disebutkan dalam Kitab Suci, “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat 10:22). Sebab Kristus mengajar demikian, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:11-12).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Korea Utara negara berbasis komunis…
        Iran dan Saudi Arabia pasti anda tau sendiri mengapa??

        Tapi bukannya agama Muslim di negara Kristen juga mengalami tentangan??

        • Salam Senyum,

          Saya terus terang tidak mengerti arah dari argumentasi yang coba anda berikan di sini. Kalau anda merasa bahwa agama anda – Saksi-saksi Yehuwa mendapatkan tekanan dan hal ini menjadi bukti bahwa agama yang anda anut adalah yang benar, maka tentu saja dalam hal ini, kita tidak sepaham. Namun, kalau anda merasa dan percaya bahwa agama yang anda anut adalah satu kebenaran, mari kita berdiskusi tentang dogma dan doktrin telah anda mulai dan telah saya jawab di sini – silakan klik. Saya percaya bahwa anda tulus dalam mencari kebenaran. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menggali dan menelaah kebenaran yang kita percayai. Semoga hal ini dapat diterima.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  13. Kita hanya manusia, menentukan siapa yang benar dan salah bukanlah hak kita…
    Apakah anda menjadi orang yang layak untuk menentukan bahwa orang lain adalah salah??

    Atau anda merasa diri hebat??

    TUHAN saja masih berdiam diri dan menanti saatnya tiba untuk menghakimi semuanya….
    Apakah anda siap untuk itu?
    Apakah anda sudah yakin bahwa agama anda adalah yang benar…
    sempit jalan menuju kehidupan, dan hanya sedikit yang menemukannya…
    dan berarti tidak semua mendapat kesempatan untuk memperolehnya…

    Bacalah Alkitab dengan perenungan….
    Berdoa kepada Allah yang benar untuk diberikan hikmad…

    Karena inilah akhirnya…

    Yesus mengatakan, ”Bukan setiap orang yang mengatakan kepadaku, ’Tuan, Tuan’, akan masuk ke dalam kerajaan surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di surga.” Maka, untuk mendapat perkenan Allah, kita harus belajar apa yang Allah minta dari kita dan melakukannya. Yesus menyebut orang-orang yang tidak melakukan kehendak Allah sebagai ”orang-orang yang melanggar hukum”. (Matius 7:21-23) Seperti uang palsu, agama palsu tidak benar-benar bernilai.

    Matius 7:16, 17 Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Pohon yang buruk akan menghasilkan yang buruk juga.. lihatlah buah” yang dihasilkan oleh ibadat anda… jika ada skandal seperti yang ada di atas berarti buahnya buruk…

    • Shalom Senyum,

      Terus terang saya kurang paham maksud anda, mengapa anda menuliskan komentar sedemikian kepada kami. Karena kami, sama dengan anda, juga mengamini ayat yang anda tuliskan, ”Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik …. Bukan setiap orang yang mengatakan kepadaku, ’Tuan, Tuan’, akan masuk ke dalam kerajaan surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di surga.” (Mat 7:17- 21).

      Nah konteks dari perikop ini adalah Yesus memperingatkan para murid-Nya akan adanya nabi- nabi palsu (Mat 7:15). Nabi- nabi palsu itu ciri- cirinya adalah seperti yang disebutkan dalam 1 Yoh 4:1-3, yaitu:

      “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah….” (1 Yoh 4:1-3)

      Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus adalah Putera Allah yang Tunggal yang menjelma menjadi manusia (lih Yoh 3:16) sehingga Ia adalah sungguh manusia, namun juga sungguh Allah. Kodrat ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus diajarkan oleh Kristus sendiri, dan ajaran ini diteruskan kepada para Rasul dan sampai sekarang dilerstarikan oleh Gereja Katolik. Pembahasan tentang hal ini, silakan klik di sini. Dengan melestarikan ajaran ini, para pemimpin Gereja Katolik tidak dapat dikatakan sebagai nabi palsu, sebab justru mereka berpegang pada keseluruhan ajaran Kristus yang dipercayakan kepada para rasul.

      Selanjutnya, tentang skandal seks yang terjadi di Gereja Katolik, itu memang memprihatinkan dan syukurlah bahwa ini telah menjadi perhatian pihak Vatikan, yang telah mengeluarkan guidelines tentang penanganan kasus- kasus tersebut, silakan klik. Namun fakta menunjukkan bahwa skandal semacam itu juga terjadi di luar Gereja Katolik, termasuk di kalangan Saksi Yehuwa. Silakan anda klik di google, dengan kata kunci ‘Jehovah’s Witnesses sex scandal’, dan anda akan menemukan banyak berita tentang hal itu. Nampaknya kita masing- masing harus lebih banyak berdoa bagi para pemimpin kita (dan juga bagi diri kita sendiri), agar jangan sampai berbuat kesalahan yang dapat menjadi batu sandungan buat orang lain. Oleh karena itu, janganlah semata menilai suatu ajaran dari skandal yang terjadi, namun dari buah keseluruhan ajarannya. Sebab skandal yang ditunjukkan oleh seorang Rasul yang bernama Yudas Iskariot, tidak membatalkan semua ajaran Kristus. Untuk melihat segala sesuatunya dengan lebih obyektif, silakan melihat banyaknya buah yang baik yang dihasilkan oleh Gereja Katolik, yang dapat dilihat dalam kehidupan para orang kudus yang mempersembahkan hidup mereka untuk Tuhan dan sesama, seperti dalam kehidupan Mother Teresa dari Kalkuta, Padre Pio, St. Fransiskus Asisi, St. Yohanes don Bosco, St. Antonius dari Padua, St. Vincentius,  St. Gemma Galgani, St. Elizabeth Ann Seton, dan masih banyak lagi.

      Mari kita jangan terlalu cepat berpikir negatif dan bernada menyalahkan orang lain. Lebih baik kita memeriksa diri, dan melihat apakah ada dari diri kita sendiri yang dapat terus kita perbaiki, supaya semakin layak disebut sebagai murid- murid Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Sdr senyum menulis demikian di atas:

      Kita hanya manusia, menentukan siapa yang benar dan salah bukanlah hak kita…
      Apakah anda menjadi orang yang layak untuk menentukan bahwa orang lain adalah salah??

      [edit]

      TUHAN saja masih berdiam diri dan menanti saatnya tiba untuk menghakimi semuanya….
      Apakah anda siap untuk itu?
      Apakah anda sudah yakin bahwa agama anda adalah yang benar…
      sempit jalan menuju kehidupan, dan hanya sedikit yang menemukannya…
      dan berarti tidak semua mendapat kesempatan untuk memperolehnya…

      Komentar saya;
      Saya adalah Katolik dari umur 12 tahun dibaptis. Saya tidak menutup mata saya terhadap agama lain, tapi dengan semakin saya melihat agama lain, termasuk saksi saksi ini , saya semakin melihat kebenaran dalam Gereja Katolik. Setiap bulan saya membaca edaran Sedarlah dan Menara Pengawal sdr. dari bertahun tahun lalu. Saya tahu persis apa isinya di sana. Tulisan sdr di atas seharusnya anda tanyakan sendiri buat diri anda dan organisasi saksi (saya tidak memakai nama diri Allah, sebab tidak layak dan pantas saya gunakan, saya cukup menyebut kalian sebagai saksi saksi saja dan aku telah putuskan demikian dan alkitabiah). Banyak sekali dan sangat sering sekali tulisan tulisan dalam dua majalah organisasi anda yang MENGHAKIMI GEREJA KATOLIK ( saya tulis besar besar supaya anda ingat baik-baik bahwa tulisan yang anda tulis TERJADI dalam organisasi anda. Bukan hanya Gereja Katolik yang kalian cerca tapi semua gereja (yang kalian istilahkan dengan “gereja Susunan Kristen”). Ribuan artikel telah saya baca dan saya telah menyaksikan ribuan artikel menghina dan menghakimi Gereja Katolik . [edit]
      Saya sering diajak dengan embel embel menelaah Alkitab, dan selalu saya tolak, sebab bagaimana saya mau menelaah kalau semua gereja di dunia baik Katolik dan Protestan memakai Alkitab yang sama, hanya agama saksi yang mengklaim punya terjemahan yang benar. Sangat tidak masuk akal dan tidak mungkin pernah saya akan ikut ke dalam pelajaran Alkitab itu, sebab kalian yang “aneh” sendiri dengan memakai alkitab sendiri yang disusun untuk mendukung teori dan doktrin kalian.
      Dan lagi, ajaran yang benar tidak pernah berubah ubah…dulu saya membaca artikel “Sedarlah” (sekitar tahun 90an) menyebut Yesus dengan sebutan TUHAN, sementara edisi sekarang menjadi TUAN. Suatu posisi yang sangat penting bisa berubah dengan perubahan waktu. Sungguh mengerikan…..[edit]
      Mungkin saja…alangkah bahayanya….. saya pernah melihat foto artikel di majalah yg sama edisi lama…mereka masih menggunakan simbol kayu salib palang pada gereja mereka di Brooklyn USA, namun dgn berlalunya waktu mereka para saksi malah mengolok-olok simbol salib dan mengatakan Yesus mati di atas satu tiang lurus…..Sungguh sangat mengerikan ajaran iman yang berubah-ubah sesuai dengan penafsiran para pimpinannya dalam jaman yang berbeda…… Inikah yang benar? Gereja Katolik mengajarkan YESUS ADALAH TUHAN dari dulu sekarang dan sampai selama lamanya kekal TIDAK BERUBAH……

      [edit]

      Karena inilah akhirnya…

      Yesus mengatakan, ”Bukan setiap orang yang mengatakan kepadaku, ’Tuan, Tuan’, akan masuk ke dalam kerajaan surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di surga.” Maka, untuk mendapat perkenan Allah, kita harus belajar apa yang Allah minta dari kita dan melakukannya. Yesus menyebut orang-orang yang tidak melakukan kehendak Allah sebagai ”orang-orang yang melanggar hukum”. (Matius 7:21-23) Seperti uang palsu, agama palsu tidak benar-benar bernilai. (ini PR besar buat anda dan organisasi saksi yang selalu menjudge semua gereja di dunia SESAT dan PALSU, di lain pihak sdr menulis dari Alkitab bahwa hanya Tuhan Yesus yg punya hak itu-SANGAT TIDAK KONSISTEN)

      Matius 7:16, 17 Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Pohon yang buruk akan menghasilkan yang buruk juga.. lihatlah buah” yang dihasilkan oleh ibadat anda… jika ada skandal seperti yang ada di atas berarti buahnya buruk…(kamu tidak pernah tahu kalau Charles T Russel sampai punya istri ke dua???-Apakah pemimpinmu sudah benar sesuai dengan prinsip Kristus: satu istri satu suami tanpa poligami dan perceraian?)

      EFATA, TERBUKALAH MATA SAUDARA SENYUM

      • Under atack…
        ^_^

        Gak perlu pakai penegasan…
        saya tidak akan menjelaskan mengapa terjadi banyak perubahan, karena pasti di majalah yang anda baca tersebut memiliki penjelasan mengenai hal itu.

        Mengenai pemimpin kami, pemimpin kami hanyalah Yesus kamu tidak mengagung-agungkan Carles Ttaze Russel. Tapi jika anda ingin memperhatikan kesalahan, apakah ada kesalahan lain setelah itu?? Dan seandainya hal itu benar apakah ia melakukannya sebelum atau sesudah menjadi siswa-siswa Alkitab?

        Dan bagaimana dengan pemimpin” anda?

        Perang Salib Pertama dilancarkan pada 1095 oleh Paus Urban II
        Perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III
        Paus Innosensius III berhasil menjadi Paus pada 1198, dan penyeruan Perang Salib baru menjadi tujuan dari kepausannya.
        Perang salib kelima (1218-1221) diumumkan oleh Paus Innocentius dan Konzil Lateran IV,
        Paus Honorius III mengorganisir Tentara Salib yang dipimpin oleh Leopold VI dari Austria dan Andrew II dari Hongaria, dan sebuah serangan terhadap Yerusalem

        Kebanyakan baca sendiri aja mengenai para pemimpin” itu yang backgroundnya mungkin sudah anda ketahui (link to id.wikipedia.org) ada beberapa seri loh…
        Bukannya dasar iman Kristen adalah kasih?? Atau mereka mungkin blon baca Alkitab sampai Perjanjian Baru?? Masih pakai sistem Perjanjian Lama (mengenai perang)??

        Kalau jaman moderen contoh nya???
        Ya… gimana ya, anda sendiri yang tau bagai mana dalamnya…

        Corruption has plagued the Catholic Church since its origin. Regardless of how much publicity
        this corruption is given, individual followers of the Church seem indifferent to the embezzlement of
        church funds, threats of excommunication to influence people in positions of political power, and
        sexual abuse of minors. Though the Church tells its followers to be selfless, loving, and honest, it rarely
        follows its own advice. This hypocrisy should revoke the right of the Church to tell people how to live
        their lives because internal corruption interferes with the Church’s title as a Holy Authority.

        versi indonesia :
        Korupsi telah menjangkiti Gereja Katolik sejak asalnya. Terlepas dari berapa banyak publisitas
        korupsi ini diberikan, individu pengikut Gereja tampaknya acuh tak acuh terhadap penggelapan
        dana gereja, ancaman ekskomunikasi untuk mempengaruhi orang dalam posisi kekuasaan politik, dan
        penyalahgunaan seksual anak di bawah umur. Meskipun Gereja memberitahu pengikutnya untuk menjadi tanpa pamrih, mencintai, dan jujur​​, jarang
        berikut saran sendiri. Kemunafikan ini harus mencabut hak Gereja untuk memberitahu orang bagaimana untuk hidup
        mereka hidup karena korupsi internal mengganggu dengan judul Gereja sebagai Otoritas Kudus.

        Similar to the widespread and frequent embezzling in the Church, sexual abusers exist in
        virtually all parts of the world. Between 1995 and 2002 over 5,000 cases of child abuse by Catholic
        clergy were reported. The media has reports of sexual abuse from Argentina, Australia, Brazil, Canada,
        Chile, China, Colombia, France, Ireland, Italy, Mexico, New Zealand, the Philippines, Poland, South
        Africa, the United Kingdom, and many more countries (Morello).

        versi indonesia
        Serupa dengan menggelapkan luas dan sering di Gereja, pelaku seksual ada di
        hampir semua bagian dunia. Antara 1995 dan 2002 lebih dari 5.000 kasus penganiayaan anak oleh Katolik
        pendeta dilaporkan. Media memiliki laporan pelecehan seksual dari Argentina, Australia, Brasil, Kanada,
        Chili, Cina, Kolombia, Perancis, Irlandia, Italia, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Polandia, Selatan
        Afrika, Inggris, dan negara-negara lebih banyak (Morello).

        Baca selengkapnya di : (link to scribd.com)
        Jadi apakah salah yang dicatat di dalam Menara Pengawal dan Sedarlah tsb??
        Anda sendiri yang menilainya..
        :D

        • Shalom Johanes dan Senyum,

          Berbicara tentang kasus per kasus, maka tidak akan ada habisnya. Tentang perang salib, tidaklah semudah itu fakta sejarahnya. Kalau anda mau membaca dari sisi Gereja Katolik, maka anda dapat membacanya di sini – silakan klik. Sejarah perang salib adalah begitu panjang dan kompleks, yang tidak mungkin dibahas secara singkat, karena menyangkut politik, agama, dll. Dan ini bukanlah topik bahasan kita. Tentang abuse yang terjadi di dalam Gereja Katolik memang itu adalah sesuatu yang salah dan tidak ada yang perlu dibela, walaupun perlu ditelaah satu persatu, karena media sekular banyak yang tidak memberikan berita secara seimbang. Di satu sisi, abuse seperti ini juga terjadi di agama manapun, hanya memang banyak media memfokuskan pemberitaan negatif pada Gereja Katolik. Di sisi yang lain, apakah banyak hal positif yang dilakukan oleh Gereja Katolik? Tentu saja banyak, sebagai contoh pelayanan sekolah, rumah sakit, juga panti jompo, dll, seperti yang dilakukan oleh yang terberkati Bunda Teresa. Kita juga dapat melihat dalam abad pertengahan, universitas, seni dan teknologi berkembang karena dukungan Gereja Katolik melalui ordo Benediktus, ordo Dominikan, dll. Kalau mau menilai Gereja, nilailah dari orang-orang yang menjalankan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik dan bukan menilai dari orang-orang yang justru tidak menjalankan pengajaran Gereja Katolik. Saya yakin, iman anda juga tidak bergantung pada individu-individu, namun dari kebenaran yang anda pegang secara teguh dari Kitab Suci. Dan inilah yang seharusnya menjadi topik bahasan kita.

          Apakah dengan adanya kasus-kasus negatif tersebut, maka Gereja Katolik mengajarkan sesuatu yang salah? Kami percaya bahwa Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan sesuatu yang salah. Bahkan kalau kita melihat, selama hidup beberapa Paus yang dipandang tidak benar, mereka tidak pernah memberikan pengajaran yang bertentangan satu sama lain. Dan semua pengajaran Gereja Katolik dapat ditelusuri dari pengajaran Kristus dan para rasul. Saya telah memberikan artikel tentang Saksi Yehuwa di atas dan menguraikan beberapa prinsip yang dipercayai oleh Saksi Yehuwa – silakan klik, yang saya pandang justru bertentangan dengan Kitab Suci. Kalau anda merasa bahwa Saksi Yehuwa tidak mengajarkan hal-hal seperti yang saya tuliskan di atas, silakan untuk memberikan koreksi. Saya mengharapkan diskusi dapat berjalan lebih baik, yaitu diskusi tentang doktrinal. Semoga dapat diterima.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • Dear Stef,

            Untuk kali ini saya mohon tulisan saya ini tidak diedit lagi karena sangat penting…sebab dalam komentar saya terdahulu, dihapus alias tidak ditampilkan dan saya merasa sayang sekali. Mohon ditampilkan dan kita mau memperlihatkan kepada sdr Senyum [dari katolisitas: Redaksi memandang bahwa ada beberapa kalimat yang perlu diedit, karena tidak berkaitan dengan diskusi tentang dogma dan dokrin. Mohon dapat dimengerti.]

            Mengenai Charles T Russel…anda silahkan berkelit bahwa dia bukan pemimpin agamamu. Tapi sejarah mencatat bahwa Charles T Russel adalah pendiri agama saksi. Hal hal yang dicatat oleh sejarah yang dibuat oleh Charles T Russel:(silahkan cari di google atau baca di internet)
            [edit]
            3. KESALAHANNYA TERBESAR (sama dengan kesalahan membuat roti dengan adonan yang salah yang tidak mungkin akan bisa menjadi roti-inilah ajaran saksi yang dikoreksi terus menerus oleh pemimpin berikutnya) ADALAH: Meramalkan akhir dunia dan kedatangan Yesus thn 1914 yang terus dikoreksi berkali kali tapi tidak pernah terjadi dan akhirnya menyatakan dalam ajarannya bahwa thn 1914 adalah tahun dimana Yesus Kristus sebagai Raja di Surga. (Pertanyaannya apakah Kristus menjadi Raja harus di maklumkan oleh pengumuman Charles T Russel. Siapakah dia?yang mengatur Tuhankah?. Berikut saya kutib dari majalah Sedarlah tgl 8 Juni 1995 halaman 8:

            “……Sebelum bagian akhir dari tahun 1914, banyak orang Kristen(johanes:disini mereka menyebut diri Kristen, tapi yang mengaminkan 1914 sebagai kedatangan Yesus adalah ramalan ajaran Charles T Russel-orang Katolik dan Protestan lain- kecuali pendiri adventis-tidak pernah menentukan kapan Yesus datang lagi sesuai dengan alkitab. Lihatlah bagaimana pintarnya ajaran saksi ini membungkus kesalahan ramalan pendirinya dengan membawa nama KRISTEN secara umum, ditempat lain mereka menyudutkan Kristen dengan sebutan Gereja Susunan Kristen baik itu Katolik maupun Protestan) mengharapkan Kristus akan kembali pada waktu itu dan membawa mereka ke surga. Maka, dalam suatu khotbah yang diberikan pada tanggal 30 September 1914, A.H. Macmillan, seorang Siswa Alkitab menyatakan: “Ini mungkin ceramah umum terakhir yang akan saya sampaikan sebab kita akan segera pulang (ke surga)”. Jelaslah, Macmillan keliru, namun itu bukanlah satu satunya pengharapan yang tidak digenapi yang ia miliki maupun yang dimiliki rekan rekan Siswa Siswa Alkitabnya. (komentar johanes:Macmillan seorang siswa siawa Alkitab sekaligus berarti juga seorang murid dan sekaligus pendeta -sebab dia berkotbah dan pengikut setia [edit] Charles T Russel -Lihatlah bagaimana organisasi saksi ini meminjam nama AH. Macmillan [edit])

            komentar Johanes: Mereka , para penceramah di depan umum dan para pengkotbah MENYESATKAN banyak orang dengan ramalan Charles T Russel ini. Bagaimana pokok iman yang penting ini menjadi barang mainan yang seenaknya saja bisa dipermainkan dan diganti ganti dengan berlalunya waktu?. [edit]

            Siswa siswa Alkitab, yang dikenal sejak tahun 1931 sebagai Saksi Saksi Yehuwa, juga mengharapkan bahwa tahun 1925 nubuat nubuat Alkitab yang menakjubkan akan tergenap. Mereka menduga bahwa pada waktu itu kebangkitan di bumi akan dimulai ,yang akan mengembalikan pria pria yang setia di zaman dahulu seperti Abraham, Daud, dan Daniel. Belum lama ini, banyak saksi-saksi mengira bahwa peristiwa peristiwa yang berhubungan dengan permulaan dai Pemerintahan Milenium Kristus mungkin akan mulai terjadi pada tahun 1975. Pengharapan mereka berdasarkan pada pengertian bahwa milenium ketujuh dari sejarah umat manusia akan dimulai pada waktu itu……..dst…….dst” (Dikutip dari Brosur Sedarlah edisi 8 Juni 1995) (komentar johanes: Lihatlah bagaimana dari tahun 1914, 1925, 1975…..mereka meramalkan dengan ramalan yang meleset. ini membuktikan TUHAN berkuasa diatas semua kesalahan pengajaran para saksi saksi Yehuwa…..Masihkan ini membuat orang orang percaya [edit] bahwa ajaran ajaran saksi yang lain (misalnya ttg kemanusiaan Yesus , ALLAH non Tri tunggal, 144.000 yang ke surga, dll) tetap benar?. Siapakah yang menjamin?? dari ajaran pokok iman yang SANGAT PENTING karena menyangkut kehidupan kita kelak saja , mereka para pendiri saksi TIDAK BISA MEMPERTANGGUNGJAWABKAN secara moral kepada para pengikutnya….Bagaimana dengan ajaran ajaran lainnya? ? ?Malahan brosur Sedarlah ini masih meninabobokan para pembacanya dengan menulis : Memang, janji-janji Allah dapat dipercaya! Manusialah yang cenderung melakukan kesalahan. Karena itu, orang -orang Kristen sejati akan mempertahankan sikap menunggu, menanti perintah Yesus(johanes : ataukah menanti ramalan ramalan pemimpin saksi berikutnya??) (Brosur Sedarlah edisi 8 Juni 1995 halaman 9)..Komentar : Bagaimana dengan gampangnya mengatakan manusia membuat kesalahan untuk suatu hal penting yang menyangkut ajaran iman yang benar kepada ALLAH? Adakah ALLAH bisa dipermainkan? dan diatur oleh manusia?
            [edit]

            [edit]

            jangan percayakan keselamatan saudara kepada dalil iman yang main main yang bisa berubah ubah dari waktu ke waktu. saya mengatakan ini karena saya mengasihi saudara. Teruslah belajar dan mintalah hikmat dan kebijaksaan Tuhan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar.

            Tuhan memberkati

  14. saya dari kecil sudah mengenal agama katolik dan lulus dari SMP dan SMA juga dari katolik. dulu semasih SMP saya mengenal seorang suster yang sangat saya sukai karena lembut ternyata setelah saya keluar dari SMP mendengar bahwa suster tsb melakukan tindakan amoral dengan tukang kayu. saya kaget dan lemas mmendengar kabar tsb. akhirnya saya tinggalkan agama katolik yang ajarannya tidak sesuai dengan Alkitab. masa bunda maria yang seorang manusia biasa di sembah dan kayu tiang salib harus dicium. bukankah Alkitab mengatakan sembahlah Allahmu bukan patung atau kayu yang harus kamu sembah. Saya juga pernah membaca buku kisah Paus Paulus yang ke… (maaf saya lupa) hanya memerintah tidak lama dan meninggal karena diracun oleh orang dalam. Koq bisa ….??. maaf saya hanya menumpahkan rasa kecewa saja dan kalau ada yang menuding Saksi Yehuwa mengajar orang tidak berdasarkan Alkitab itu salah dan justru sebaliknya mereka sangat takut mengajarkan kabar Injil Kerajaan Allah tidak berdasarkan Alkitab. terima Kasih.

    • Shalom Bambang,

      Memang adakalanya, jika terjadi suatu skandal, maka hal itu dapat mempengaruhi iman orang- orang tertentu, terutama jika mereka belum berakar kuat dalam pemahaman yang benar akan imannya. Sebab iman kita harusnya tidak semata tergantung dari contoh hidup manusia pengikutnya, tetapi tergantung kepada apa yang diajarkan oleh Allah sendiri. Sebab jika kita hanya melihat kepada manusianya, kita akan lekas putus asa, sebab ada banyak manusia, yang gagal melakukan apa yang diajarkan oleh Tuhan.

      Manusia boleh gagal melaksanakan perintah Tuhan, namun itu tidak mengakibatkan ajaran Gereja yang mengajarkannya menjadi salah. Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah, melalui kehidupan beberapa Paus yang memang tidak sesuai dengan ajaran Kristus, seperti yang sudah panjang lebar dipaparkan di sini, silakan klik. Kenyataan ini memang memprihatinkan, namun sekaligus juga semakin meneguhkan, bahwa Allah sungguh hadir dan menyertai Gereja Katolik. Sebab jika bukan karena campur tangan Allah, Gereja Katolik sudah bubar sejak lama. Namun justru karena janji Kristus sendiri yang tak pernah diingkari-Nya (lih. Mat 16:18-19, 28:19-20), maka Gereja Katolik tetap eksis sampai saat ini.

      Anda masuk ke dalam situs Katolik, dan tentu saja anda membaca pandangan Gereja Katolik tentang suatu topik ajaran. Anda tidak dapat memaksakan pandangan anda kepada kami, seperti kamipun tak dapat memaksakan pandangan kami kepada anda. Walaupun kami salut terhadap semangat para saksi Yehuwa dalam mewartakan apa yang mereka percayai, tetapi itu tidak mengubah suatu kenyataan bahwa apa yang mereka wartakan tidak sesuai dengan ajaran Injil seperti yang diajarkan Kristus dan para rasul, yang dengan setia sampai sekarang dilestarikan oleh Gereja Katolik, dan secara prinsip juga diajarkan dalam beberapa gereja- gereja non-Katolik utama (mainstream). Yaitu bahwa kami semua disebut Kristiani, justru karena kami mengimani Kristus yang adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia. Kristus adalah Tuhan, Sang Sabda, yang menjelma menjadi manusia, tanpa berhenti menjadi Allah. Silakan jika anda tertarik, untuk membaca artikel- artikel di bawah ini, yang merupakan ajaran Gereja Katolik tentang Kristus yang bersumber pada Kitab Suci:

      Yesus sungguh Allah sungguh manusia
      Kristus yang kita imani= Yesus menurut sejarah
      Apakah selama hidup-Nya Yesus bukan Allah
      Beberapa keberatan dari Alkitab akan ke-Tuhanan Yesus

      Demikian tanggapan saya, semoga dapat menjadi masukan bagi anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  15. salam semua…
    tanggapan tentang saksi-saksi Yehuwa…memang beragam…tetapi yang paling murni dalm mendiskusikan adalah dengan metode penggunaan Alkitab dengan sbenarnya…bukan dengan menurut saya..atau menyampingkan ayat dengan hal yang umum…

    halnya Neraka.Surga.Yesus.Yehuwa…kita semua bisa membacanya dengan cermat dan dengan rendah hati minta Hikmat.dari Allah…agar kita bisa mempunyai keinginan memperoleh kebenaran..yang di landasi oleh Alkitab….

    Neraka dipahami oleh banyak agama hampir sama tempat siksaan yang kekal…Alkitab tidak pernah menyebutnya /menjelaskan siksaan yang kekal untuk manusia yang mati …tetapi istilah kematian kekal ada

    Surga dipahami untuk orang-orang yang baik …seperti yang umum kita dengar,namun..sekali lagi yesus,tidak pernah menjanjikan kepada orang lain selain hanya kepada murid-muridnya…pada saat itu namun penjelasan Alkitab memang sudah di tetapkan 144.000 orang..
    namun yang menarik.. bagaimana dengan umat manusia yang lain…
    Alkitab menjawab dengan janji spt yang di Yesaya 65:17-25…kitab Wahyu…juga menjelaskan hal yang sama…Allah yang bernama Yehuwa (sesuai )Alkitab…menjanjikan Bumi dan Pemerintahan yang baru dengan Yesus sebagai Raja yang di Urapi….bukankah ini lebih menarik kita untuk meraihnya…

    secara umum Saksi-saksi Yehuwa adalah umat yang berasal dari berbagai golongan agama,ras,profesi…namun netral secara politik..mereka mengikuti Yesus sebagai panutan dalam tingkah laku…meskipun belum sempurna karena memang kita semua tidak semp[una…tetapi pola yang Yesus ajarkan menjadi pencuci jubah kita semua yang rusak karena dosa adam dan hawa…
    bukankah… hal ini lebih menarik daripada kita hanya mencemooh hal -hal yang tidak perlu…sebaliknya kita dengan rendah hati membaca Alkitab dan merenungkan apa yang Allah ilhami…kata-kata nubuatnya ..semoga kita semua memperoleh kebenaran yang dilandasi Alkitab sebagai sumber yang murni…salam kami untuk rekan -rekan yang ikut serta salam diskusi ini…..

    • Shalom Richard,

      Terima kasih atas tanggapannya. Dalam tanggapan anda, maka anda ingin berdiskusi tentang neraka dan Sorga. Mari kita mendiskusikan tentang hal ini.

      I. Tentang Neraka.

      Anda mengatakan “Neraka dipahami oleh banyak agama hampir sama tempat siksaan yang kekal…Alkitab tidak pernah menyebutnya /menjelaskan siksaan yang kekal untuk manusia yang mati …tetapi istilah kematian kekal ada” Berikut ini adalah jawaban yang saya copy dan paste dari artikel yang saya buat:

      a. Tuhan telah menciptakan jiwa manusia maupun malaikat, yang bersifat kekal, seperti yang telah di bahas pada point di atas. Kalau Tuhan telah menciptakan jiwa yang kekal dan kemudian memusnahkannya dan membuatnya tidak ada, maka sebenarnya Tuhan mengkontradiksi rencana-Nya sendiri. Karena Tuhan tidak mungkin mengkontradiksi Diri-Nya sendiri, maka tidak mungkin jiwa yang bersifat kekal dimusnahkan dan menjadi tidak ada.

      b. Kita juga melihat bahwa ajaran tidak ada neraka sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab.

      Mt 3:12 mengatakan “Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (lih. juga Lk 3:17). Api yang tak terpadamkan ini mengacu kepada neraka yang abadi.

      Mk 9:43 menegaskan “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan” (lih. juga Mt 18:8). Ayat ini juga mengacu kepada neraka, dimana lebih baik kita kehilangan semua hal yang bersifat sementara daripada mendapatkan hukuman abadi di neraka dan dimasukkan ke dalam api yang tak terpadamkan.

      Mt 25:46 mengatakan “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” Dari ayat ini, kita menyadari bahwa bagi mereka yang benar akan masuk dalam hidup yang kekal, sebaliknya orang-orang yang tidak benar akan mendapatkan siksa abadi di neraka.

      Mat 8:12sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Apakah yang dimaksud dengan ratap dan kertak gigi?

      Mat 13:41-4241 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. 42. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” Bukankah ayat ini menceritakan tentang pengadilan terakhir, karena malaikat-malaikat mengumpulkan semua orang yang melakukan kejahatan dan kemudian akan dihukum – dicampakkan ke dalam dapur api dan hanya ada ratapan dan kertakan gigi?

      Dari ekpresi yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut di atas, seperti: api yang tak terpadamkan, siksaan yang kekal, maka kita mengetahui bahwa neraka adalah sesuatu yang nyata. Dan kenyataan ini bukan hanya sementara, namun berlangsung untuk selamanya. Kalau di ayat Mt 25:46 dibandingkan antara kehidupan kekal dan siksaan kekal, maka akan menjadi tidak konsisten kalau kita mau menerima konsep kehidupan kekal namun tidak mau menerima adanya konsep siksaan kekal. Kalau seseorang percaya akan kehidupan kekal dari Alkitab, maka seseorang juga harus percaya akan siksaan kekal, yang juga diwahyukan oleh Allah kepada manusia.

      II. Tentang Sorga

      Anda mengatakan “Surga dipahami untuk orang-orang yang baik …seperti yang umum kita dengar,namun..sekali lagi yesus,tidak pernah menjanjikan kepada orang lain selain hanya kepada murid-muridnya…pada saat itu namun penjelasan Alkitab memang sudah di tetapkan 144.000 orang..
      namun yang menarik.. bagaimana dengan umat manusia yang lain…
      Alkitab menjawab dengan janji spt yang di Yesaya 65:17-25…kitab Wahyu…juga menjelaskan hal yang sama…Allah yang bernama Yehuwa (sesuai )Alkitab…menjanjikan Bumi dan Pemerintahan yang baru dengan Yesus sebagai Raja yang di Urapi….bukankah ini lebih menarik kita untuk meraihnya…

      a. Kalau memang Sorga hanya diperuntukkan bagi para murid-muridnya, maka apakah para muridnya ini adalah termasuk pendiri dan petinggi dari Saksi-saksi Yehuwa? Apakah para rasul, para kudus, para martir sebelum Saksi-saksi Yehuwa berdiri adalah termasuk dari bilangan 144,000 yang masuk ke dalam Sorga? Apakah ada kemungkinan sebelum Saksi-saksi Yehuwa berdiri, jatah 144,000 ini sudah habis?

      b. Bagaimana dengan argumentasi yang saya berikan dalam artikel di atas?

      1. Tidak ada pembatasan jumlah orang yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Mt 5:11-12 mengatakan “11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Lebih lanjut rasul Paulus menegaskan “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” (Fil 3:20) Dari sini kita tahu bahwa tidak ada pembatasan jumlah umat beriman yang dapat masuk dalam kerajaan Sorga.

      2. Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah untuk dapat melihat Allah muka dengan muka (lih. 1 Kor 13:12) adalah merupakan kebahagiaan yang sempurna, yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan kebahagiaan kita di dunia ini – walaupun dengan kondisi seperti Taman Firdaus. Oleh karena itu, kebahagiaan di dunia yang dijanjikan oleh Saksi Yehuwa di luar 144,000 orang, tetaplah tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan di Sorga. Karena orang-orang yang mempunyai kebahagiaan di dunia tidaklah mungkin sebahagia mereka yang di Sorga, maka kebahagiaan di dunia adalah kebahagiaan yang tidak sempurna, kebahagiaan kelas dua. Lebih lagi, karena penentuan kebahagiaan ini adalah berdasarkan tahun kelahiran (karena yang menjadi bilangan dari 144,000 adalah dari jaman para rasul sampai tahun 1935), maka hal ini benar-benar menyalahi prinsip keadilan. Bagaimana mungkin, karena seseorang dilahirkan setelah tahun 1935, maka orang tersebut tidak dapat masuk dalam Kerajaan Sorga, walaupun orang tersebut adalah orang kudus, martir, dll. Bayangkan bahwa Bunda Teresa dari Kalkuta tidak dapat masuk sorga, sedangkan anggota Saksi Yehuwa sebelum tahun 1935 dapat masuk ke Sorga, meskipun kehidupan mereka kurang kudus dibandingkan dengan Bunda Teresa dari Kalkuta.

      3. Sungguh sulit dimengerti bahwa ada orang yang mau untuk melepaskan kewarganegaraan di Sorga (lih. Fil 3:20) dan hanya cukup dengan menikmati kebahagiaan abadi di dunia ini. Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Tesalonika – yang berfikir bahwa orang yang meninggal sebelum kedatangan Kristus yang kedua tidak beruntung – bahwa sebenarnya semua umat beriman, baik yang meninggal sebelum atau sesudah kedatangan Kristus yang kedua akan diangkat dan memperoleh kebahagiaan di dalam Kerajaan Sorga.

      Membedakan tujuan akhir dari manusia – di Sorga berjumlah 144,000 dan di dunia yang beranggotakan umat Saksi Yehuwa – adalah seperti sistem kasta berdasarkan tahun, yaitu tahun dari para rasul sampai 1935. Dan sungguh sulit dimengerti bagaimana manusia yang seharusnya mempunyai kewarganegaraan di Sorga dapat menerima dan menukar kebahagiaan Sorga dengan kebahagiaan duniawi.

      Kiranya diskusi ini dapat berguna bagi kita semua.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Paulus Sutikno Panuwun on

        Pak Stef yang tercinta .

        membahas soal sorga dan neraka rasanya sangat menggairahkan . Saya mohon penjelasan dari anda mengenai apa yang saya simak dari Film Christian identity ( saya lihat baru 2 ini di BBC Knowledge ).

        Harap anda periksa kebenarannya .

        Terus terang saya tertarik dan cenderung menyetujui apa yang dikatakan oleh Paus Yohannes Paulus II yang pada tahun 1999 mengatakan : Sorga , Neraka , Limbo ( api pencucian ) intinya bukanlah suatu Tempat , tetapi lebih dekat dengan ” State of Live ” ; mungkin saya terjemahkan ” situasi kondisi kehidupan kita ; seolah beliau berkata : kalau hidup kita baik dan kita mempunyai Kasih , mempunyai Damai Sejahtera Allah & memang Tuhan hadir dalam kehidupan kita ( meskipun kita belum mati ) itulah berarti kita ada dalam sorga dan manakala hati nurani kita sudah padam , meskipun kita masih hidup , tapi boleh jadi kita sudah ada dalam neraka ( jadi Zombie atau walking dead ) . Tolong anda periksa kebenaran dari film dokumenter ini dan pemikiran/ tafsiran saya .

        Terus terang , mendengarkan hal tsb saya senang dan rasanya jauh lebih pas daripada bahasan bertele tele soal sorga dan neraka ; bukankah apa yang dikatakan seksi Yehova itu juga banyak kali terdengar pada mereka 2 yang beragama kristen ( fundamentalis kali ) atau lainnya . Dan kita biasanya menjadi pengikut Kristus kebanyakan tujuannya cuma mau masuk Surga , dan masuk Neraka cuma jadi sumber kekawatiran kita sehingga kita langsung percaya dan menjadi anggota Gereja . Tetapi kita kebanyakan percaya , tapi gagal melakukan yang diminta Tuhan , yang jelas tampak pada kekawatiran 2 kita sehingga kita melarikan diri pada soal 2 liturgi , puji 2 an dan syukur , pelayanan kepada Tuhan ; seolah kita hendak membayar Kerajaan Allah dengan hal itu .
        Bukankah Dia mengatakan : Kerajaan Allah ada dalam hatimu .

        Saya cenderung lebih senang dengan apa yang dikatakan The Beatles dalam Imagine , mudah 2 an tidak ada sorga diatas sana dan tidak ada neraka dibawah kita ; karena sorga ada dibawah kaki Ibu .

        Terima kasih .

        Paulus Sutikno

        • Shalom Paulus,

          Khotbah Paus Yohanes Paulus II tentang Surga, Neraka dan Api Penyucian, dapat dibaca di sini, silakan klik

          Memang di sana Bapa Paus tidak mengatakan bahwa Surga adalah suatu ‘Tempat’ seperti dalam pengertian tempat yang mempunyai dimensi ruang dan waktu, seperti tempat- tempat di dunia ini; namun demikian, Paus mengajarkan bahwa Surga itu benar- benar ada, sebagai tujuan akhir hidup manusia, yaitu persekutuan yang sempurna antara kita dengan Tuhan (KGK 1023-1025)

          Demikian saya mengutip sedikit tulisannya tentang Surga:

          “1. When the form of this world has passed away, those who have welcomed God into their lives and have sincerely opened themselves to his love, at least at the moment of death, will enjoy that fullness of communion with God which is the goal of human life.

          As the Catechism of the Catholic Church teaches, “this perfect life with the Most Holy Trinity this communion of life and love with the Trinity, with the Virgin Mary, the angels and all the blessed is called “heaven’. Heaven is the ultimate end and fulfilment of the deepest human longings, the state of supreme, definitive happiness” (n.1024).

          Metaphorically speaking, heaven is understood as the dwelling-place of God, who is thus distinguished from human beings (cf. Ps 104:2f.; 115:16; Is 66:1). He sees and judges from the heights of heaven (cf. Ps 113:4-9) and comes down when he is called upon (cf. Ps 18:9, 10; 144:5). However the biblical metaphor makes it clear that God does not identify himself with heaven, nor can he be contained in it (cf. 1 Kgs 8:27); and this is true, even though in some passages of the First Book of the Maccabees “Heaven” is simply one of God’s names (1 Mc 3:18, 19, 50, 60; 4:24, 55)…..

          This final state, however, can be anticipated in some way today in sacramental life, whose centre is the Eucharist, and in the gift of self through fraternal charity. If we are able to enjoy properly the good things that the Lord showers upon us every day, we will already have begun to experience that joy and peace which one day will be completely ours. We know that on this earth everything is subject to limits, but the thought of the “ultimate” realities helps us to live better the “penultimate” realities. We know that as we pass through this world we are called to seek “the things that are above, where Christ is seated at the right hand of God” (Col 3:1), in order to be with him in the eschatological fulfilment, when the Spirit will fully reconcile with the Father “all things, whether on earth or in heaven” (Col 1:20).

          Maka menurut Paus, Surga itu tetap pasti ada, walaupun pengertiannya tidak sama seperti pengertian kita akan keberadaan sebuah ‘tempat’ secara fisik. Ini berbeda dengan maksud lirik lagu grup the Beatles, yang mengatakan, Imagine that there’s no heaven….. Paus Yohenes Paulus II tidak mengajarkan bahwa tidak ada surga! Surga, Neraka dan Api Penyucian itu adalah suatu keadaan yang nyata dan pasti ada. Hanya, Paus mengajarkan akan makna Surga yang sesungguhnya, demikian juga dengan makna neraka dan Api Penyucian, agar ketiganya tidak dimaknai sebagai tempat dalam arti fisik.

          Persisnya seperti apa, agak sulit dikisahkan dengan rinci, tetapi tentang surga, kita membaca demikian, “…tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” (1 Yoh 3:2) Dan juga, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9).

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  16. SAYA RASA SAKSI-SAKSI YAHUWA ITU BENAR ADANYA .MEREKA RELA PANAS-PANAS-HUJAN-HUJAN DEMI MEMBERITAKAN APA YANG MERAKA PERCAYAI BENAR.MEREKA MEMBERIKAN SUATU KESELAMATAN BAGI KITA,KARNA BELUM TENTU APA YANG MEREKA DISKUSIKAN CAPE-CAPE KAYA GITU MEREKA MEMENTINGKAN DIRI MEREKA SENDIRI ITU KAN SUATU PENGORBANAN YANG BESAR,MEREKA RAMAH KOK…..BUKTIKAN DENGAN PERBUATAN,TAPI MAAF GEREJA SAYA TIDAK MENGAJARKAN APA YANG NEREKA AJARKAN.BAHKAN SAYA KECEWA SEWAKTU PEMIMPIN AGAMA SAYA(PENDETA)TIDAK MEMBERIKAN TELADAN BAGI UMATNYA MASA MABUK,JUDI,DAN PECINTA WANITA LAGI………

    • Shalom Turi,

      Terima kasih atas masukannya tentang Saksi-saksi Yehuwa. Dalam beberapa tulisan, saya justru memuji semangat mereka untuk menyebarkan kabar gembira, serta mencoba hidup kudus. Tentu saja, ada banyak dari antara mereka yang melakukan semua ini bukan atas dasar kepentingan pribadi, namun berdasarkan niat yang murni. Namun, yang saya soroti adalah niat yang murni saja tidak cukup dalam melakukan evangelisasi, karena niat murni juga harus didasari akan iman yang benar. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang sungguh-sungguh bersemangat dalam menyebarkan Injil, saya ingin menegaskan bahwa ada yang salah dalam pengajaran mereka, terutama tentang Kristologi, yang tentu saja akan berakibat pada kesalahan doktrini Trinitas, serta pandangan mereka akan kehidupan kekal. Kalau anda mau berdialog tentang doktrin ini, silakan mencermati artikel di atas, dan kemudian silakan bertanya atau memberikan argumentasi lebih lanjut.

      Kekecewaan kita terhadap oknum-oknum yang tidak memberikan kesaksian yang baik, seharusnya tidak boleh membuat kita untuk keluar dari iman yang benar. Sama seperti di agama Katolik atau Kristen Non-Katolik ada orang-orang yang tingkah lakunya tidak mencerminkan ajaran Kristus, maka saya yakin anda akan menjumpai ada umat dari Saksi-saksi Yehuwa yang juga hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Jadi, marilah kita mencoba untuk meneliti doktrin dari agama yang kita pegang, dan kemudian mari kita mencari kebenaran dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolitas.org

      PS: Mohon lain kali tidak menuliskan pesan dengan huruf besar semua, karena di dalam internet sama saja seperti berteriak. Dan saya yakin, anda ingin menyampaikan pesan anda dengan baik.

      • Mohon ningbrum:
        setuju dengan Sdr Stef. Kebenaran Iman tidak bisa dinilai dari orangnya sebab kebenaran itu adalah absolut dan pengikut saksi ini juga tidak menjadi “manusia kudus hidup” yang seperti ditampilkan oleh mereka. Terkadang bungkusan luar itu bisa sangat menipu.
        Saya memiliki pengalaman dengan seorang penatua mereka(saksi Yehova) di kantor saya. Dari penampilan sih kelihatan baik, sopan, dan pastinya seperti mempraktekkan iman mereka. Tapi ternyata di belakang saya , dia tidak ubahnya seperti srigala.karena pekerjaan yang tengah saya lakukan ternyata di sabot dan disalib dia dari belakang. Tapi Tuhan itu sangat adil. Ternyata apa yang dia kerjakan GAGAL! Sampai sekarang kalau bertemu tidak pernah berani memandang muka saya.Maluuuu…..Ternyata penampilan dan ajaran yang dari luar kulit kelihatan bagus, tidak sebagus dalam pelaksanaannya dalm kehidupan….Nah lho????
        Bahkan ada satu teman saya seorang saksi Yehuwa juga sampai malas datang ke perhimpunan mereka karena rekan pengabar nya memanipulasi uang yang seharusnya disetorkan ke organisasi mereka, malahan teman saya di fitnah dengan sebaliknya.
        Betulkan ? seperti kata iklan “Tidak seindah warna aslinya”

        Tambahan: Mereka terkadang sangat suka membangga banggakan diri mereka tentang kerapian berbusana, kebersihan, kesopanan,dll. Cuma pertanyaan saya: kog mereka yg menilai diri mereka sendiri? dan kalau pun memang begitu, tidak perlu membanggakan diri sampai ke langit…biarlah orang lain yang menilai kita…

        [dari katolisitas: di satu sisi, memang ada dari mereka yang mencoba hidup kudus. Namun, hal tersebut tidak dapat mengubah bahwa doktrin yang mereka percayai adalah salah.]

        • Paulus Sutikno Panuwun on

          Dear Yohannes , Dik Richard dan semua teman Katolisitas .

          Saya jelas orang Katolik dari kecil , kebetulan saya punya adik bungsu dengan istrinya adalah dari Seksi Yehova , hubungan kita baik 2 saja , kadang 2 berdiskusi kalau ketemu , tapi tidak soal dogma atau ajaran , sampai sekarang saya tidak begitu ngerti soal perbedaan , dan kebetulan saya juga tidak kepingin tahu .

          Saya lebih concern apakah adik saya dan keluarganya hidup dengan happy , meskipun hidup pas pas an tapi punya kedamaian hati begitulah pesan dari Ibu saya .

          Saya agak tidak setuju dengan diskusi yang memberi contoh soal kejelekan / menunjuk pada kelakuan orang per orang , adakah dari antara kita yang Katolik maupun yang Seksi Yehova bisa membanggakan dirinya tidak punya dosa ? .

          Lebih lanjut berdiskusi mestinya tidak perlu menunjukkan kemarahan ( atau sebel , kecewa dst ) , ini kan kurang enak dan hanya menunjukkan bahwa diri kita tidak punya Damai sejahtera yang dari Allah ( atau Bapak Yahwe ).

          Saya teringat , ibu saya Elisabeth Panuwun yang katolik ,pada saat kita berkunjung , beliau selalu memimpin doa ; doa yang sederhana : Beliau menyebut satu demi satu anaknya , mantunya , cucu nya , hingga cicitnya dan minta 1 hal saja pada Bapak Yahwe , pada Tuhan Yesus dan pada Bunda Maria , agar semuanya diberi ketentraman hati .

          Biasanya mendengar ini membuat saya menangis .

          Terima kasih .

          Paulus

          • Shalom Paulus,

            Diskusi di situs ini berfokus pada ajaran dan bukan kepada kelakuan orang/ kelompok. Jika ada komentar tentang kelakuan, itu adalah masukan dari pembaca, yang mungkin berkaitan dengan pengalaman pribadi yang dialaminya. Kami tidak dapat menanggapinya, dan memang selayaknya tidak ditanggapi, karena dapat menjadi subyektif. Namun demikian, kami tetap memegang komitmen untuk menyampaikan ajaran Gereja Katolik, dan karena itu kami menolak ajaran yang tidak sesuai dengannya, seperti yang telah diuraikan di artikel di atas.

            Tuhan telah mempercayakan kepada kita talenta sesuai dengan kemampuan kita, termasuk dalam talenta untuk memahami ajaran iman. Dalam hal ini memang yang menjadi patokan adalah, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Luk 12:48) Maka jika kepada kita dipercayakan kemampuan untuk mencari dan mempelajari iman kita, kita dituntut oleh Tuhan untuk memperdalam iman kita. Hal ini harus membuat kita semakin mau belajar, dan bukannya tidak usah peduli atau “tidak kepingin tahu“. Sebab jika demikian sikap kita, kita sama seperti seseorang yang menguburkan talenta yang dipercayakan kepadanya (lih. Mat 25:18).

            Mari kita melaksanakan bagian kita, dalam hal mempelajari iman kita, sebab hanya dengan demikian iman kita akan bertumbuh, dan kasih kita kepada Tuhan juga akan bertumbuh seiring dengan pertumbuhan iman kita itu. Prinsip “Tak kenal maka tak sayang”, juga berlaku dalam hal iman. Mari kita berjuang untuk semakin mengenal iman kita agar kita semakin mengasihi dan bertumbuh di dalamnya.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

             

    • kami rasa kita perlu membesar-besarkan kekecewaan anda..
      kita memang tidak semprna …tetapi kita berupaya untuk menjadi manusia yang lebih baik..

      sekedar penjelasan :

      Saksi-saksi yehuwa rela panas-panasan ,seperti yang anda komentari…di atas karena sesuai dengan komitmen mereka dalam penerapan kasih kepada Bapa yehuwa,yesus dan sesama…tentang ajaran siapa yang benar atau salah …kita bisa mendapatkan banyak informasi detail dengan membuka Alkitab…
      karenadengan perbantahaan soal ke4asalahan ajaran memang bisa menjadi pergunjingan dan kekacauan yang menjadi perpecahan..ada banyak contoh…kita bisa melihat di TV, koran /media lainya
      agama seharusnya menjadi sarana untuk menjadikan perdamaian antar umat manusia menjadi lebih baik .
      Namun sebaliknya menjadi mesin pembunuh no 1 di dunia…
      dimana posisi kita …?
      kembali ke komentar anda…tentang saksi-saksi Yehuwa…sekali lagi apa yang di komentari di atas anda bisa membandingkanya dengan Alkitab yang anda punya …dimanakah letak kesalahan nya….
      apakah yang di percayai saksi-saksi Yehuwa melenceng dari Alkitab…

      slam kami…

      • Shalom Richard,

        Terima kasih atas komentar anda. Artikel di atas tidak ada hubungannya dengan kekecewaan, namun lebih kepada menelaah ajaran dari Saksi-saksi Yehuwa yang dipandang tidak mengajarkan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Kristus dan oleh karena itu menjadi bertentangan dengan Alkitab. Saya telah memberikan beberapa pengajaran dari Saksi-saksi Yehuwa yang dipandang tidak sesuai dengan Alkitab dengan memaparkan beberapa ayat dan prinsip dalam Alkitab. Kalau anda merasa bahwa ada yang tidak benar dari artikel tersebut, maka silakan untuk memberikan argumentasi, sehingga kita dapat mendiskusikannya dengan lebih mendalam.

        Tentang komitmen dari anggota-anggota Saksi-saksi Yehuwa memang patut diacungi jempol. Namun, tidak berarti bahwa pengajaran yang disampaikan oleh Saksi-saksi Yehuwa adalah benar. Jadi, saya melihat bahwa mungkin mereka mempunyai niat yang tulus untuk membagikan pengajaran dari Kitab Suci, namun sayangnya pengajaran yang mereka bagikan adalah salah. Dimanakah kesalahannya? Silakan membaca artikel di atas – silakan klik. Diskusi tentang berbedaan pengajaran adalah hal yang biasa dan perlu disikapi secara bijaksana dan bahkan kita harus senantiasa siap sedia untuk memberikan pertanggungjawaban iman yang kita percayai, namun dilakukan dengan hormat dan lemah lembut (lih. 1Pet 3:15). Kekerasan agama tidak dapat dibenarkan, sama seperti kekerasan di dalam dunia sekular juga tidak dapat dibenarkan. Kalau anda mengatakan bahwa jumlah korban karena kekerasan agama adalah paling besar, maka silakan anda membandingkan antara kekerasan yang timbul karena agama dan karena sekular. Berikut ini adalah data tentang kekerasan sekular:

        Kita melihat bahwa dalam pemerintahan atheis (yang tidak beragama) telah terjadi begitu banyak pelanggaran, seperti: 40 juta orang meninggal dalam masa pemerintahan Stalin di Rusia. 80 juta orang meninggal di Cina karena revolusi komunis dan 2 juta di Kamboja. Silakan anda bandingkan data-data tersebut dengan kematian akibat agama.

        Dengan demikian, mari kita berfokus pada diskusi doktrinal. Kita dapat membahas tentang ke-Allahan Kristus maupun tentang akhir zaman atau sorga dan neraka. Saya telah membahasnya pada artikel di atas – silakan klik. Silakan memberikan tanggapan. Semoga dapat diterima.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  17. Halo Katolisitas.
    Langsung saja saya mau bertanya:
    1. Ada beberapa orang Kristen Uni-apalah namanya- yang tidak mengakui Yesus sebagai Allah, tetapi hanya Tuhan.. apa bedanya Allah dengan Tuhan? mereka mengutip Yohanes 14:28 sebagai buktinya.. ini sangat mengoncang iman saya..
    2. Apa artinya Halleluya dan Hossana?
    trims.

    Hanya mau sharing ke tim katolisitas, ini ada aplikasi alkitab java yang ada deuterakanonikanya..
    link to klinikrohani.com

    Salam damai Kristus.

    • Shalom Ndo,

      1. Tentang gereja Unitarian/ Unitarianisme.

      Gereja Unitarian adalah sebuah denominasi gereja Protestan yang tidak mempercayai doktrin Allah Tritunggal. Maka benar, bahwa mereka menolak ke- Tuhanan Yesus. Sebenarnya kepercayaan ini menyerupai heresi/ bidaah Arianisme di abad ke-4. Sesungguhnya jika seseorang tidak percaya bahwa Kristus itu Tuhan, ia tidak layak disebut Kristen, sebab iman Kristiani adalah iman yang didasari atas iman kepada Kristus yang adalah Tuhan.

      2. Tentang Allah dan Tuhan.

      Hal ini sudah pernah dibahas di sini:

      Tentang sebutan Tuhan, Allah dan Yahweh, samakah?, silakan klik
      Apakah Tuhan sama dengan Allah?, silakan klik

      3. Tentang Yoh 14:28

      Jawab Yesus, “Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.” (Yoh 14:28)

      Ayat ini harus dipahami sebagai perkataan Yesus dalam keadaannya sebagai manusia, yang sebentar lagi akan menderita sengsara, wafat dan bangkit; yaitu dalam kodratnya sebagai manusia. Namun paham Arianisme (dan Unitarianisme maupun Saksi Yehuwa) mengartikannya lain, dan menganggapnya sebagai bukti bahwa Yesus bukan Allah.

      Demikian kutipan yang saya sarikan dari Haydock Commentary:

      St. Yohanes Krisostomus mengatakan jika mau dikatakan Bapa ‘lebih besar’ itu adalah karena sebagai Pribadi yang pertama dalam Trinitas, Bapa-lah yang melahirkan Allah Putera (seperti disebutkan dalam syahadat), namun tidak berarti bahwa Ia lebih besar atau lebih baik ataupun lebih sempurna daripada Allah Putera, sebab Keduanya satu hakekatnya.

      St. Basil Agung dan St. Agustinus mengatakan, “Mereka yang menentang ke-Allahan Yesus berpikir bahwa mereka menang sebab mereka menemukan pengakuan Yesus sendiri bahwa Ia lebih kecil dari Bapa. Tetapi jika mereka membedakan adanya dua kodrat Kristus, maka argumen mereka akan jatuh berantakan. Yesus Kristus sebagai manusia… lebih kecil dari Bapa-Nya, tetapi sebagai Tuhan, Yesus, di dalam segala hal, Ia sama dengan Allah Bapa.

      Silakan melihat bahwa di banyak ayat yang lain dalam Kitab Suci, Kristus membuktikan bahwa Ia sehakekat dengan Bapa. Silakan anda membaca artikel ini untuk mengetahui dasar Kitab Suci tentang ke-Allahan Yesus, sehingga pemahaman anda tentang Pribadi Yesus menjadi lebih lengkap dan tidak hanya didasari oleh ayat-ayat tertentu saja, tetapi atas keseluruhan ayat- ayat dalam Kitab Suci.

      Yesus, sungguh Allah sungguh manusia
      Yesus, Tuhan yang Dinubuatkan Para Nabi
      Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah
      Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?

      Akhirnya, Ndo, jika boleh saya menyarankan, janganlah terlalu tergesa mengucapkan “ini sangat menggoncangkan iman saya“. Sebab jika kita mempelajari iman kita dengan sungguh- sungguh, maka tidak akan mudah terguncang, karena justru kita melihat bahwa ajaran iman Katolik justru memiliki dasar yang kuat, karena berpegang pada keseluruhan ayat- ayat Kitab Suci (tanpa hanya memilih satu/ beberapa, dan tidak mengindahkan ayat yang lain), dan pada pengajaran para Bapa Gereja yang melestarikan pengajaran para rasul.

      4. Alleluia dan Hosanna

      Alleluia adalah ungkapan tertinggi rasa syukur, terima kasih, suka cita dan kejayaan yang ditujukan kepada Allah. Silakan membaca lebih lanjut tentang artinya, di sini, silakan klik.

      Hosanna juga merupakan ungkapan pujian ataupun penyembahan kepada Tuhan. Silakan membaca lebih lanjut tentang artinya, di link ini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  18. Syalom…
    Dear Katolisitas

    Ada tiga pertanyaan yg ingin saya sampaikan :
    -1- Tentang saksi yeuwah ,dimana mereka tdk percaya adanya neraka.dgn alasan salah satunya tak munkin Allah yg maha kasih akan menghukum manusia didalam neraka krn manusia yg hanya beroleh umur rata-rata 70..thn akan Dia hukum selamanya di api neraka, sekejam itulah Allah (sumber dari selebaran renungan harian sy)

    -2- Alasannya apa gereja katolik sering memakai tempat2 winggit atau angker di ubah jd gua maria(memang tdk semua)
    -3- Dimana saya bisa membaca artikel diskusi katolisitas dgn ‘hamba Tuhan”krn saya penasaran jg kalo memang maksud sihamba Tuhan td mirip dgn saudara terkasih Frans donalt,sebab saya jg baca bukunya

    Salam Damai…
    Aramco port of jeddah redsea

    • Shalom C. Sigrit S,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan terhadap beberapa pertanyaan yang anda ajukan:

      1. Tentang Saksi Yehuwa yang tidak percaya akan neraka, dapat dibaca di artikel ini – silakan klik, secara khusus bagian ini – silakan klik.

      2. Tentang lokasi gua Maria, tidak ada alasan pemilihan lokasi karena tempat tersebut adalah tempat yang angker. Beberapa lokasi gua Maria, seperti: Lourdes, Fatima – adalah merupakan tempat Bunda Maria menampakkan diri.

      3. Diskusi dengan hamba Tuhan dapat dibaca di sini – silakan klik dan ini – silakan klik.

      Semoga informasi di atas dapat berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  19. Dear Ingrid Listiati,
    Salam damai Kristus buat anda.
    Saya mempunya isteri yang dulunya non katolik (Anglican). Sejak kami bernikah kami telah diterima dalam gereja katolik sehingga sekarang. Keluarga kami belatarbelakangkan sebuah keluarga yang serba sederhana, dikurniakan 3 orang anak dan rasanya kami mempunyai sebuah keluarga yang bahgia. Namun pada akhir akhir ini isteri saya sering membaca article dari Jehovah Withness yang dikirimkan oleh kakaknya. Nampaknya dia begitu terpengaruh dengan article article tersebut sehingga dia tidak mahu lagi membuat tanda salib semasa doa makan. Apabila anak kami bertanya mengapa mama tidak buat tanda salib, dia seakan akan benci dengan pertanyaan sebegitu. Jadi, sebelum keadaan jadi semakin teruk apakan solusi yang terbaik mengikut buah fikiran anda?

    Saya sering ikuti kotbah dari rancangan U Channel TV. Apakah ia sesuai untuk saya?

    Sekian terima kasih.

    • Shalom Nik,

      Saya mengundang anda untuk membaca artikel di atas tentang Saksi Yehuwa (Jehovah Witness), silakan klik. Ya, salah satu yang tidak dipercayai oleh mereka, adalah kematian Yesus di kayu salib, sehingga mereka menentang tanda salib. Namun ada banyak bukti dari Kitab Suci dan catatan sejarah bahwa Tuhan Yesus benar- benar mati di kayu salib dan bukan ‘hanya’ mati di tiang kayu. Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Umumnya paham bahwa Yesus wafat di tiang ini diajarkan oleh para Saksi Yehuwa/ Jehovah witnesses.

      Sedangkan untuk makna Tanda Salib, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Silakan juga membaca renungan tentang makna salib sebagai tanda kasih Allah di sini, silakan klik.

      Sungguh dalamlah makna tanda salib dan bahwa Tuhan Yesus sungguh telah wafat di kayu salib. Begitu dalam dan tak terselami-lah hal ini, sehingga banyak orang bahkan memilih untuk tidak mempercayainya. Saat para rasul memberitakan Kristus yang wafat disalibkan demi menyelamatkan manusia, banyak orang Yahudi dan orang Yunani tidak percaya, karena Yesus yang sedemikian tidak sesuai dengan gambaran yang mereka inginkan tentang Penyelamat dunia. Rasul Paulus mengatakan:

      “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan, dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” (1 Kor 1:22-24)

      Namun, walaupun mengalami pertentangan dari orang- orang yang tidak percaya, para Rasul tetap memberitakan kebenaran tentang Kristus yang tersalib, sambil memperingatkan jemaat untuk waspada akan adanya “injil” yang lain daripada Injil yang telah diberitakan oleh mereka. Rasul Paulus berkata:

      “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus….(lih. Gal 1: 6-10)

      Sebab bahkan di abad pertama, sudah ada orang- orang yang tidak dapat menerima bahwa Yesus Kristus Sang Putera Allah itu sungguh- sungguh telah wafat disalib. Lalu mereka mengajarkan Injil menurut pemahaman mereka sendiri, bahwa yang tersalib itu bukan Kristus, ataupun bahwa Kristus itu bukan Allah Putera yang menjelma menjadi manusia. Ajaran- ajaran sesat di abad awal ini dikenal dengan nama Gnosticism dan Docetism, namun saat ini ajaran tersebut timbul lagi dengan nama yang berbeda. Kita sebagai murid- murid Kristus memang memiliki pilihan, apakah kita mau percaya pada pemberitaan Injil seperti yang diajarkan oleh para rasul, ataukah pemberitaan injil yang “lain” itu, yang berasal bukan dari Allah tetapi dari manusia (lih. Gal 1:10).

      Semoga Roh Kudus membimbing kita untuk setia kepada pengajaran Kristus dan para rasul.

      Akhirnya, tentang khotbah di TV. Saya menganjurkan agar jika anda ingin mengenal iman Katolik dengan lebih baik, agar melihat tayangan di EWTN (Eternal World Television Network) via internet. Ikutilah beberapa programnya yang menarik, seperti Mother Angelica, Life on the Rock, Journey Home silakan klik di link ini, yaitu program wawancara yang mengisahkan kesaksian banyak orang yang oleh pimpinan Roh Kudus dapat menemukan kepenuhan kebenaran di Gereja Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  20. setiap kepercayaan adalah hak pribadi.
    anda tidak percaya, urusan anda! emangnya anda yakin bahwa apa yg anda katakan itu, benar-benar yang sebenarnya?
    setiap manusia tidak punya hak untuk menghakimi siapapun tentang apa yg diercayainya.
    sadar ya…!

    thank’s

    • Shalom Risa,
      Terima kasih atas komentarnya. Memang benar ,bahwa setiap kepercayaan adalah hak pribadi. Namun, di satu sisi menjadi hak pribadi juga untuk mewartakan kepercayaannya dengan kasih. Dan hal ini juga dilakukan oleh para saksi-saksi Yehuwa yang berjalan dari rumah ke rumah dengan memberikan brosur-brosur yang berisikan pengajaran dari Saksi Yehuwa. Ini adalah bentuk pewartaan. Dan bentuk pewartaan yang sama, dengan metode yang berbeda dilakukan oleh katolisitas.org, yang memberikan informasi tentang iman Katolik. Kalau anda memang tidak setuju dengan artikel dan tanya jawab di sini, maka itu memang menjadi hak anda. Dan anda mempunyai kesempatan untuk menyatakan ketidaksetujuan anda. Dan menjadi hak katolisitas.org untuk menanggapinya, sehingga terjadi diskusi yang baik. Semoga hal ini dapat diterima.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,stef – katolisitas.org

      • saya setuju degn risa , kepercayaan adalah hak pribadi orang dan kalau anda tidak percaya coba lawan saksi yehuwa menggunakan alkitab , anda pasti malu sendiri !!!!!

        • Shalom Elisa,

          Terima kasih atas tanggapannya. Seperti yang saya katakan kepada Risa, bahwa kami terbuka untuk berdialog. Oleh karena itu, kalau anda tidak setuju dengan artikel yang ada, maka anda dapat memberikan tanggapan, sehingga kita dapat membahasnya secara lebih mendalam. Semoga hal ini dapat diterima.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

        • Aneh sekali argumen elisa ini. Tidak logis. Siapa yang malu? Saksi Yehuva telah dibekukan oleh kejaksaan agung RI. Namun hanya karena kebaikan presiden Gus Dur maka boleh beroperasi lagi di bawah bimbingan Bimas protestan kementrian Agama RI. Namun syaratnya tidak membuat resah. Kalau membuat resah, akan dibekukan lagi. Tapi teman yang di kantor bimas protestan semarang bilang, susah ngurusin sekte yang satu ini. Orangnya ngeyelan tanpa dasar selain asal beda/waton suloyo. [edit]. Salam: isa inigo.

          • salam untuk semuanya..

            memang saat itu saksi-saksi Yehuwa..di bekukan …karena memang tidak di dapati kesalahan apapun
            dan yang yang bisa membuat mereka di bekukan ,bahkan seluruh dunia mengakui agama saksi-saksi Yehuwa..benar-benar menerapkan hal-hal yang tertulis di Alkitab…meskipun secara perorangan ada yang gagal menerapkan hal-hal yang baik…

            tetapi secara progresif mereka menerapkan firman Allah Alkitab…dan kasih mereka terhadap Allah Yehuwa pencipta kita begitu besar..bukankah kita seharusnya menerapkan hal yang sama untuk mengasihi Allah kita Yehuwa..bukanya menyembunyikan di nama NYA yang besar di balik Alkitab (kamus)
            betapa sedihnya Yesus ,karena Yesus datang ke dunia selain untuk penebusan dosa umat manusia Ia ingin kita memuliakan Bapaknya seperti yang di catat dalam mat 6:9.

            [dari katolisitas: silakan melanjutkan diskusi tentang dogma dan doktrin di sini – silakan klik]

            • dari nama pengikut aliran ini saja sudah rada aneh untuk didengar: Saksi Saksi Yehuwa

              Yehuwa(terjemahan yang benar seharusnya menurut bahasa Indonesia adalah YAHWEH,YHWH disuarakan menjadi ADONAI, ELOHIM oleh umat Israel kuno) adalah nama diri ALLAH. Ya. ALLAH YAHWEH adalah Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub, nenek moyang dari turuan Israel Baru (baca: Gereja). Gereja Katolik mengajarkannya demikian. Tapi nama diri ALLAH ini begitu kudusnya sehingga tidak diucapkan dengan sembarangan. bahkan ditulis dalam 4 huruf mati saja: YHWH dalam perjanjian lama.
              Yesus datang memberitakan BAPA dan mengajarkan kita berdoa BAPA KAMI dalam doanya: DIMULIAKANLAH NAMAMU (bukan dimuliakanlah nama ALLAH YHWH, apalagi ALLAH YAHWEH, YEHOVAH,YEHUWA) Tidak ada disebutkan nama diri ALLAH dalam DOA BAPA KAMI karena nama ini luar biasa dihormati dan dikuduskan. Doa Yesus adalah Doa Bapa Kami, bukan Doa ALLAH YAHWEH atau Doa ALLAH YEHUWA…….tolong dicermati….!!

              Para pengikut aliran ini menamakan dirinya dengan nama ALLAH.Saat kIta memanggil orang tua kita dengan menyebut namanya saja sudah sangat tidak sopan. Coba anda memanggil nama bapak atau ibu anda dengan nama mereka.Beranikah kita? Diimbuhkan dengan panggilan sapaan Bapak Anu atau Ibu Anu untuk memanggil Bapak atau Ibu kita saja sudah sangat tidak sopan, apalagi ini memanggil ALLAH YANG MAHA KUASA melebihi kuasanya Bapak dan Ibu anda semua para Saksi Saksi Yehuwa…!!!! Jadi haruskah kita memanggil ALLAH dengan ALLAH YAHWEH atau ALLAH YHWH? Apa kata TUhan Yesus? Panggilah ALLAH dengan sebutan BAPA KAMI YANG ADA DI SORGA……Inilah yang Yesus ajarkan……..Kita memanggil sejawat kita dengan nama mereka : Agus sekelas (bersama dikelas yang sama) dengan saya, Budi seumur (berumur yang sama) dengan saya, Irene sepermainan (bermain bersama) kecil dengan saya. Memanggil ALLAH YANG MAHA KUASA dengan sebutan namaNYA yang kudus adalah salah satu bentuk penistaan diri ALLAH dan sekaligus menyamakan kedudukan anda semua dengan ALLAH. Samakah dirimu sekalian dengan ALLAH ,hai para saksi? Siapakah dirimu? menyamakan dirimu sebanding dengan Allah? Biarlah St Mikael , malaikat agung mengajarkan kalian untuk tidak menyamakan diri kalian dengan ALLAH YANG MAHA KUASA. Renungkanlah ini baik baik….Masih ada waktu untuk bertobat……

        • Linda Maria on

          Shalom Elisa,

          Saya sudah lakukan itu, dan ternyata dua orang SY tersebut malah masuk Katolik juga.
          Puji Tuhan!

          Salam Kasih

          Linda Miriam

          • kalau boleh mohon shering dari kedua teman tadi, sebagai penguat iman bagi saudara saudara kita yang bimbang, terima kasih. Tuhan Memberkati kita semua.