Yesus, sungguh Allah sungguh manusia

62

Pendahuluan:

Pada umumnya, kita mengasihi seseorang yang sudah kita kenal sebelumnya. Selanjutnya, jika kita sungguh- sungguh mengasihi orang itu, maka tentu kita ingin mengenalnya lebih dalam. Hal ini juga berlaku dalam hubungan kita dengan Kristus. Siapakah Kristus itu bagi kita? Siapakah Kristus itu sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan serupa ini seharusnya mengantar kita untuk lebih mengenal dan mengasihi Dia. Ia menjadi Penyelamat kita manusia, karena Ia adalah sungguh-sungguh Allah, dan sungguh-sungguh manusia. Karena Kristus adalah Allah, maka Ia sudah ada sebelum dunia ini diciptakan. Namun Ia rela menjelma menjadi manusia, karena mengasihi kita. Pada saat waktunya genap, Ia memilih untuk dilahirkan ke dunia, maka Putera Tunggal Allah yang tak terbatas, masuk ke dalam sejarah manusia. Hakekat ke-Allahan dan ke-manusiaan Kristus ini adalah ciri khas Yesus, yang membuat-Nya berbeda dari para nabi ataupun orang kudus manapun.

Yesus sungguh Allah, sungguh manusia

Bagi orang Katolik, sebutan bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, tidaklah asing. Namun apakah kita sungguh memahaminya? Apakah kita mengetahui dasar-dasarnya mengapa dikatakan bahwa Yesus Kristus adalah  Putera Tunggal Allah yang menjadi manusia, sehingga Ia adalah sungguh-sungguh Allah, dan sungguh-sungguh manusia?

Ya, istilah Teologi yang menjelaskan ciri khas Pribadi Yesus ini adalah “hypostatic union“. Ini merupakan misteri Kristus yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami selama kita hidup di dunia ini, namun begitu jelas diajarkan dalam Alkitab. Yesus Kristus adalah Juru Selamat manusia yang menghapuskan dosa-dosa kita. Yesus adalah Pengantara kita yang menghubungkan kita dengan Allah. Sebagai manusia, Yesus dengan kehendak bebas-Nya mempersembahkan kurban penghapus dosa, yaitu diri-Nya sendiri, dan karena Ia adalah Tuhan, maka korban-Nya ini bernilai tak terbatas, sehingga mampu menghapus semua dosa manusia di sepanjang sejarah. Jika Gereja Katolik mempertahankan kebenaran ini, adalah karena kedua hal ini, ke-Allahan Yesus dan kemanusiaan-Nya, adalah “kedua hal yang sama pentingnya dalam karya keselamatan Allah.”[1]

Protestant Kenotic Christology: apakah itu?

Pengertian tentang ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus sangatlah penting, jika kita ingin mengenal siapa Yesus yang sesungguhnya. Tanpa pemahaman ini, kita akan mempunyai gambaran yang keliru tentang Yesus Kristus. Dewasa ini kita mengenal teori-teori baru dari para peneliti Alkitab/ exegete modern yang berusaha memisahkan Kristus yang kita imani dengan Yesus menurut sejarah (the Christ of Faith and the Jesus of history). Pandangan ini sesungguhnya berakar dan tidak terlepas dari pendapat yang mengatakan bahwa selama hidup-Nya di dunia (33.5 tahun) Yesus itu ‘hanya’ manusia biasa, bukan Tuhan [walaupun disertai oleh Allah Bapa dan Roh Kudus secara istimewa]; dan baru setelah kebangkitan-Nya, Yesus adalah Tuhan.

1) Pandangan di atas mengambil dasar utama dari Fil 2: 6-11 yang mengatakan bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia…. Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib….” Pandangan ini dikenal dengan ajaran Martin Luther,Protestant Kenotic Christology,[2] yang pada dasarnya bukan memahami bahwa Yesus mempunyai 2 kodrat (yaitu Allah dan manusia) dalam satu Pribadi-Nya semasa hidup-Nya di dunia, melainkan membaginya menjadi dua tahapan: tahap pengosongan (state of self- emptying) dan tahap pemuliaan (state of exaltation) sesudah kebangkitan. Dengan demikian, Luther tidak membedakan kodrat dan Pribadi Yesus, sehingga sebenarnya ajarannya mempunyai kemiripan dengan campuran ajaran Arianism dan Monophisitism, ajaran yang menyimpang pada abad ke-3 dan ke-5.

Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa interpretasi yang dipegang oleh Bapa Gereja adalah bahwa yang dimaksud oleh Paulus dalam “pengosongan diri” ini adalah bahwa Pribadi kedua dari Trinitas yaitu Sang Firman Allah, mengambil rupa manusia melalui Inkarnasi, agar dengan demikian Ia dapat menderita dan mati. Maka dikatakan Ia yang “dalam rupa Allah….  mengambil rupa seorang hamba” sehingga di dalam rupa tersebut Ia “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati …di kayu salib.” Maka disini yang tidak dipertahankan Kristus adalah ketidakterbatasanNya sebagai Allah, bahwa sebagai Allah Ia tidak mungkin menderita dan mati, sedangkan dengan menjelma menjadi manusia Ia dapat menderita dan mati. Maka dari teks itu sendiri sebenarnya tidak menunjukkan bahwa dengan mengambil rupa sebagai manusia, Yesus berhenti menjadi Allah. Sebab dari kodrat-Nya, Allah tidak mungkin berhenti menjadi Allah, ataupun berubah dari yang sempurna -dalam Trinitas- menjadi tidak sempurna -karena pada satu periode Allah tidak berupa Trinitas. Karena kalau demikian, maka Allah mempertentangkan Diri-Nya sendiri dan ini tidak mungkin (lih.2 Tim 2:13). Silakan membaca artikel bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada, silakan klik, untuk melihat dengan akal budi kita, bagaimana Tuhan tidak mungkin berhenti menjadi Tuhan, atau berubah menjadi tidak sempurna. Di atas semua itu, mari kita merenungkan kebenaran yang tertulis dalam Mzm 49:8-9, bahwa seorang manusia  tidak akan bisa memberikan tebusan (dosanya) kepada Allah; maka untuk itu, untuk menjadi tebusan dosa bagi banyak orang, maka Yesus tidak mungkin ‘hanya’ manusia, Ia harus sekaligus Allah, agar dapat menyelamatkan umat manusia dengan wafat-Nya di kayu salib.

Jika kita memahami kodrat Allah, maka kita mengetahui bahwa Allah tidak dapat menjadi tidak sempurna. Allah Trinitas adalah Allah yang maha sempurna dan kekal, alfa dan omega, dan sungguh tidak terbatas oleh waktu. Maka jika ada yang terbatas dalam diri Yesus itu adalah karena keterbatasan kodrat manusia (yang terbatas oleh ruang dan waktu), sedangkan kuasa-Nya sebagai Allah tetap sempurna. Karena itulah, dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia Ia dapat mengampuni dosa dalam nama-Nya sendiri (Mt 9:2-8; Mk 2:3-12; Lk 5:24, 7:48), melakukan banyak mukjizat dalam nama-Nya (Mat 8: 26; 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), menyembuhkan yang sakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31) dan membangkitkan orang mati dalam nama-Nya sendiri (Luk 7:14; Yoh 11:39-44), dan para malaikatpun melayani Dia (Mat 4:11). Ini tidak mungkin terjadi, jika pada waktu penjelmaan-Nya Ia bukan Allah. Silakan membaca lebih lanjut dalam artikel ini, silakan klik untuk melihat secara obyektif betapa banyaknya bukti yang menunjukan bahwa pada saat hidup-Nya di dunia Yesus itu sungguh-sungguh Allah, dari segala perkataan dan perbuatan yang dilakukan-Nya. Untuk menilai bahwa ucapan dan perbuatan Yesus itu “hanya” perbuatan manusia biasa adalah sikap yang “menutup mata” terhadap kenyataan yang sesungguhnya tidak perlu dibuktikan. Menolak untuk percaya bahwa selama 33.5 tahun hidup-Nya di dunia Yesus bukan Tuhan, adalah suatu bentuk distorsi pengenalan akan Pribadi Yesus. Ini hampir saja serupa bahwa seseorang menolak kenyataan bahwa matahari itu sumber terang, walaupun sudah jelas-jelas cahayanya tersebar ke mana-mana.

Mereka yang menganggap Yesus “hanya” manusia biasa semasa hidupnya, menyetarakan Dia dengan para nabi sebelum Kristus. Padahal, kita mengingat bahwa bahkan para nabi tersebut, tidak pernah mengampuni dosa ataupun melakukan mukjizat dalam nama mereka sendiri, ataupun mengajar dengan otoritas mereka sendiri. Lihat saja bagaimana ungkapan ayat-ayat Alkitab dalam PL, dimana berkali-kali disebutkan, “Berfirmanlah Allah kepada (Musa/ nabi-Nya)…. “, sedangkan dalam Injil, Yesus tak terhitung mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadaMu….” Jangan lupa bahwa para nabi bahkan sudah menubuatkan kedatangan hamba Tuhan yang adalah Allah sendiri. Selanjutnya, silakan klik di sini untuk membaca nubuat-nubuat para nabi akan kedatangan Yesus, yang adalah Tuhan.

2) Berikutnya, pandangan ini (Protestant Kenotic Christology) juga mengambil ayat- ayat dari Rom 4:24, 6:4, 8:11; 1Kor 4:14, 1Kor 6:14, Kis 2:24, 3:25, 10:40, yang mengatakan bahwa Yesus itu “dibangkitkan” oleh Allah. Sehingga kesimpulan pendapat ini adalah Yesus bukan Allah sehingga tidak dapat bangkit sendiri melainkan perlu dibangkitkan oleh Allah. Padahal di ayat-ayat yang lain dalam Alkitab juga dikatakan demikian, bahwa Yesus bangkit (bukan dibangkitkan), misalnya di Mat 28:6; Mk 16:6, 9; Luk 24:34.

Apakah ayat-ayat tersebut bertentangan? Tentu tidak! Kuncinya adalah, 1) kita harus memahaminya dengan pemahaman para rasul itu sendiri; 2) kita membaca ayat-ayat tersebut dan juga Flp 2:6-11 dengan kesatuan dengan ayat-ayat Alkitab yang lain. Dengan demikian, kita mengetahui bahwa para rasul percaya bahwa Yesus, semasa hidupNya, adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia. Maka dari kodrat-Nya sebagai manusia Ia dibangkitkan Allah, sedangkan dari kodrat-Nya sebagai Allah, maka Ia bangkit dengan kuasa-Nya sendiri. Ini adalah pemahaman Gereja sejak awal mula dan berkali-kali ditegaskan, namun yang paling jelas dalam Konsili Chalcedon (451), di mana dikatakan:

Kristus mempunyai dua kodrat, yang tidak tercampur baur, tanpa perubahan, tidak dapat dibagi-bagi dan dipisahkan…. Ia menjadi satu Pribadi dan satu hakikat (hypostatis), tidak terbagi menjadi dua pribadi, namun kedua kodrat itu membentuk Pribadi Yesus yang unik, satu dan sama.”[3]

Singkatnya, sudah seharusnya hal ‘pengosongan diri’ Kristus (Fil 2:6-11) dan perihal kata ‘dibangkitkan’, jangan dilepaskan konteksnya dengan keseluruhan Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus pada saat hidupnya di dunia itu sungguh- sungguh Allah, walaupun Ia juga sungguh-sungguh manusia. Pandangan yang melepaskan konteks itu sebenarnya bukan merupakan pengajaran para rasul, dan jika diperhatikan juga bukan merupakan maksud Rasul Paulus yang menuliskannya. Silakan membaca tulisan Rasul Paulus yang lain, yang menujukkan bahwa Yesus adalah Allah pada saat penjelmaan-Nya sebagai manusia seperti yang tertulis pada surat kepada jemaat di Kolose dan Ibrani (lihat point no. 6 berikut ini)

Dasar Alkitab

Maka mari dengan kerendahan hati, kita merenungkan ayat-ayat Alkitab berikut ini yang mendasari para Bapa Gereja mengajarkan adanya dua kodrat (yaitu Allah dan manusia) dalam satu Pribadi Yesus. Mari kita memohon rahmat Roh Kudus agar kita dimampukan untuk melihat kedalaman misteri Allah ini, seperti yang diwahyukan-Nya sendiri kepada kita melalui Kitab Suci:

1. Kesaksian dari Rasul Yohanes, murid yang dikasihi Yesus secara istimewa, menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Justru karena kedekatannya dengan Yesus, maka kita selayaknya percaya kepada kebenaran kesaksian Rasul Yohanes tentang Yesus. Yoh 1:1 14: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah….. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Rasul Yohanes memulai Injilnya dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Sesungguhnya, untuk membuktikan ke- Allahan Yesuslah maka Yohanes menuliskan Injilnya, yang merupakan kitab Injil yang terakhir. Dalam Yoh 20:31 dikatakan, “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”

Jadi, karena Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah sendiri, maka artinya, kebersamaan dengan Allah dalam kepenuhannya itu tidak terputuskan oleh penjelmaan-Nya menjadi manusia dalam diri Yesus.

2. Kesaksian Rasul Petrus: Mat 16:16, “Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Rasul Petrus adalah orang yang pertama mengakui dengan mulutnya tentang ke-Allahan Yesus semasa Yesus hidup di dunia. Dan Yesus membenarkan iman Petrus ini, dengan mengatakan bahwa Bapa di sorgalah yang menyatakan hal ini kepadanya (ay.17). Yesus kemudian mempercayakan Gereja-Nya ke dalam pimpinan Petrus (ay. 18) Gereja Katolik dengan setia mengajarkan pengakuan iman Petrus ini, bahwa Yesus Kristus, adalah sungguh Anak Allah yang hidup. Mesias Anak Allah yang hidup ini tidak bisa direduksi menjadi manusia biasa yang bukan Allah, sebab jika demikian, Ia bukan sungguh-sungguh Anak Allah.

Setelah kebangkitan Kristus, Rasul Petrus memberikan kesaksian di hadapan Mahkamah Agama, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Yesus Kristus], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 2:14).

Sebab hanya di dalam nama Tuhan-lah manusia dapat diselamatkan.

3. Kesaksian dari Malaikat Gabriel, yang berkata kepada Bunda Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk 1: 35). Maka kita ketahui bahwa oleh Roh Kudus yang turun atas Maria, maka Yesus bukanlah manusia biasa, namun Anak Allah.

4. Perkataan Elisabet yang ditujukan kepada Bunda Maria, dalam Luk 1:42: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Jika Yesus hanya manusia biasa, tentu Elisabet tidak berkata demikian.

5. Kesaksian Yesus sendiri tentang Diri-Nya Luk 2:49: Perkataan Yesus yang pertama yang dicatat di Alkitab adalah pernyataan-Nya tentang identitas-Nya sebagai Putera Allah, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Sedangkan kehidupan publik Yesus dimulai dengan pernyataan Allah Bapa kepada Yesus pada saat Pembaptisan di sungai Yordan, Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:17). Jika yang memberi kesaksian tentang Yesus sebagai Putera Allah adalah Allah Bapa sendiri, maka selayaknya kita percaya bahwa Yesus adalah Allah.

Yoh 8:58: Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia adalah Allah dengan mengatakan bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham, sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Jika Ia “hanya” manusia biasa, Ia tidak dapat berkata demikian, sebab sebagai manusia biasa Ia tidak mungkin ada sebelum Abraham. Perkataan-Nya ini hanya masuk di akal jika Ia adalah Allah yang keberadaan-Nya tak terbatas oleh waktu, dan kemudian menjadi manusia sehingga dapat mengatakan pernyataan tersebut dengan ucapan mulut manusia dalam diri Yesus.

Yoh 13:13, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Ini adalah pernyataan yang sangat jelas, yang dikatakan Yesus dalam Perjamuan Terakhir, sebelum kebangkitan-Nya. Maka tidak mungkin bahwa Ia baru menjadi Tuhan setelah kebangkitan-Nya, sebab jika demikian, maka Ia tidak akan berkata demikian kepada para murid-Nya.

Selanjutnya, kita harus dengan jeli melihat bahwa di seluruh Injil, dalam mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Anak Allah, Yesus tidak menyamakan Diri-Nya secara persis dengan kita yang juga disebut anak-anak Allah. Kita yang percaya kepada-Nya adalah anak-anak angkat Allah, sedangkan Kristus adalah Anak Allah yang Tunggal yang sehakekat dengan Allah (istilahnya, homo-ousios, the only begotten Son). Maka tepatlah jika Yesus mengatakan, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh 14:9, 11) Tidak ada satu nabipun yang dapat berkata demikian; tidak ada seorang manusiapun yang berhak berkata demikian, kalau Ia bukan sekaligus Allah.

6. Sekarang mari kita melihat kesaksian Rasul Paulus dalam surat-suratnya untuk melihat keutuhan pengajaran Rasul Paulus:

Kol 1:15-20: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan….. karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu….. Ia yang lebih utama dari segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. ”

Yesus menjadi “gambar Allah” yang hidup pada saat Ia menjelma menjadi manusia. Dan kepenuhan Allah ini adalah kesempurnaan Allah yang diam di dalam-Nya, sehingga artinya selama hidup-Nya di dunia dan selama-lamanya, Yesus adalah Allah. Jika tidak demikian, tentunya tidak dikatakan “kepenuhan Allah diam di dalam Dia.” Selanjutnya, justru karena kodrat-Nya sebagai Allah dan manusia, maka Ia dapat “mengadakan pendamaian” antara Allah dan manusia. Jika Ia hanya manusia biasa saja, maka Ia tidak bisa mendamaikan Allah dan manusia dengan sempurna; sebab Ia hanya seperti nabi-nabi yang lain yang datang sebelum Kristus. Ini tidak sesuai dengan nubuat para nabi, dan bahkan pengajaran Yesus sendiri dalam perumpamaan penggarap kebun anggur (Mat 21:33-46; Luk 20: 9-19). Kalau Ia ‘hanya’ manusia biasa yang bukan Allah, Ia tentu tidak mengajarkan demikian.

Maka Flp 2:6-7 ” Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah….. mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia”, selayaknya dibaca berdampingan dengan Kol 1:15-20, yang menyatakan keistimewaan dan keutamaan Kristus yang tidak terdapat dalam manusia yang lain, justru karena Ia adalah Tuhan. Sebab hanya di dalam Tuhanlah segala sesuatu dapat diciptakan. Dan Tuhan yang di dalamNya semua diciptakan ini menjelma menjadi manusia dalam rupa seorang hamba, agar gambaran Allah yang merendahkan Diri dapat diwujudkan. Maka walaupun  “mengosongkan diri” selama hidup-Nya di dunia, Yesus tetaplah Tuhan; hanya saja, Ia mengambil rupa manusia.

Ibr 1: 2-3: “Pada jaman akhir ini, Ia (Allah) telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada….. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.”

Kita ketahui bahwa “Allah telah berbicara” melalui Yesus kepada para rasul dan pengikut-Nya pada saat Ia menjelma menjadi manusia. Pada saat menjadi manusia itulah Yesus menjadi gambaran Allah yang hidup, yang sebelum penjelmaan-Nya tidak kelihatan. Karena Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah”, maka tidak mungkin Ia berhenti menjadi Allah, karena Allah tidak mungkin kelihangan “cahaya kemuliaan-Nya” walaupun hanya 33.5 tahun.

Maka ini sangat cocok dengan perkataan Yesus sendiri pada Yoh 17:4-5, di mana Ia berkata, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”

Gal 4:4-5: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Maka dari ayat ini terlihat bagaimana Rasul Paulus membedakan Yesus sebagai Anak Allah yang diutus oleh Allah Bapa, sedang kita adalah anak yang ‘diangkat’ karena ditebus oleh Kristus Anak-Nya yang Tunggal.

Jadi, kita adalah anak-anak angkat Allah di dalam Kristus (Ef 1:5), karena kita baru dapat disebut anak-anak Allah, jika kita mempunyai hidup ilahi yang diberikan oleh Kristus kepada kita, yaitu jika kita menerima Roh Kudus-Nya (lih. Rom 8:11). Hidup ilahi oleh Roh Kudus ini tidak terputuskan, sebab justru Roh Kudus itulah yang menjadikan Yesus, yang menjadi janin dalam rahim Bunda Maria, sebagai Anak Allah yang menjelma menjadi manusia.

Gereja Katolik memang mengajarkan bahwa ketika lahir di dunia, Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia. Ini adalah sesuatu misteri yang tidak akan pernah lagi terulangi terjadi dalam sejarah manusia, bahwa seseorang Pribadi adalah sungguh- sungguh Allah dan sungguh- sungguh manusia. Memang justru karena keunikan-Nya itu, di sepanjang sejarah banyak orang berusaha menyederhanakannya, namun malah akhirnya tidak konsisten dengan ajaran Alkitab itu sendiri.

Communicatio Idiomatum dalam diri Yesus

Maka berdasarkan penjelasan di atas, Gereja Katolik mengajarkan,  dalam satu Pribadi Yesus terdapat dua kodrat yaitu Allah dan manusia, sehingga terdapat predikat-predikat yang dapat ditujukan kepada kedua kodrat itu yang ditujukan pada satu Pribadi Yesus.  Predikat-predikat yang sesuai dengan kedua kodrat ini yang ditujukan pada satu Pribadi Yesus dalam Teologi disebut sebagai “Communicatio Idiomatum.” Ini kita lihat jelas dalam ayat-ayat Alkitab, sebagai berikut:

1. Mi 5:1: Mesias adalah seorang yang akan lahir di Betlehem (kemanusiaan Kristus) yang permulaannya sudah sejak purbakala (ke-Allahan Kristus).

2. Yes 9:5: Seorang anak laki-laki akan lahir (kemanusiaan Kristus) yang akan disebut sebagai Allah yang perkasa (ke-Allahan Kristus).

3. Yoh 8:58: Yesus berkata (dalam kemanusiaannya), bahwa sebelum Abraham jadi, Aku ada (ke-Allahan Kristus).

4. Yoh 14:6: Yesus berkata, “Aku adalah jalan (mengacu kepada kemanusiaan-Nya), Kebenaran dan Hidup” (mengacu kepada ke-Allahan-Nya).

5. Fil 2:5-11: Allah mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia dan wafat di kayu salib (kemanusiaan dan ke-Allahan Kristus).

6. 1 Kor 2:8, dikatakan “…kalau sekiranya mereka [penguasa dunia]mengenal-Nya, mereka tidak akan menyalibkan Tuhan yang mulia.” Kristus adalah Tuhan yang mulia dalam ke-Allahan-Nya, yang disalibkan dalam kemanusiaan-Nya. Jika dikatakan dalam Injil, “Yesus mati”, maka yang dikatakan mati di sini adalah Yesus dalam seluruh kepribadiaan-Nya, yang adalah Tuhan dan manusia. Memang secara hakekat, Tuhan tidak bisa mati, namun dalam Pribadi Yesus terdapat juga kodrat manusia selain dari kodrat Tuhan, maka Yesus dapat mati. Namun justru karena hakekat/ kodrat Yesus sebagai Allah, maka Ia dapat bangkit dari kematian-Nya, dan ini menjadi mukjizat yang terbesar yang dilakukan oleh-Nya (Mat 28:1-10; Mk 16:1-8; Luk 24:1-12; Yoh 20:1-10).

Heresi sepanjang sejarah Gereja dan tanggapan para Bapa Gereja

Berikut ini adalah ajaran-ajaran sesat yang yang terjadi di sepanjang sejarah Gereja yang berusaha menyederhanakan misteri ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus berserta dengan tanggapan dari para Bapa Gereja untuk ‘meluruskannya’, yang jika diringkas demikian:

1. Docetism, Gnosticism, Manichaeism (abad ke- 1-3): menolak kemanusiaan Yesus: Penderitaan Yesus di salib dianggap sebagai “kepura-puraan”/ sham bukan sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi.

Tanggapan para Bapa Gereja:

St. Ignatius dari Antiokhia (35- 110), “Hanya ada satu Tabib yang aktif dalam tubuh dan jiwa…. Tuhan di dalam manusia, hidup sejati dalam kematian, putera Maria dan Putera Allah, yang pertama [sebagai putera Maria]dapat menderita, sedang yang kemudian [ sebagai Putera Allah] tidak dapat menderita, Yesus Kristus, Tuhan kita.”[4]. Kesaksian St. Ignatius adalah sangat penting, karena ia adalah murid rasul Yohanes, yang adalah murid yang dikasihi oleh Yesus.

St. Cyril dari Yerusalem (313-386), “Maka percayalah kepada Putera Tunggal Allah yang demi menebus dosa kita turun ke dunia, dan mengambil bagi-Nya kodrat manusia seperti kita, dan dilahirkan oleh Perawan Maria dan dari Roh Kudus, dan menjadi manusia, tidak hanya kelihatannya saja atau hanya seperti sandiwara/ “show“, melainkan sungguh-sungguh terjadi; tidak hanya sekedar lewat melalui Perawan Maria seperti melalui sebuah saluran; tetapi daripadanya dibuat menjadi sungguh-sungguh daging, dan [Ia] makan dan minum seperti kita. Sebab jika Inkarnasi hanya sebuah bayangan, maka keselamatan kita hanyalah sebuah bayangan juga. Kristus terdiri dari dua kodrat, Manusia di dalam apa yang terlihat, namun [juga]Tuhan di dalam apa yang tak terlihat. Sebagai manusia [Ia] sungguh-sungguh makan seperti kita,…. namun sebagai Tuhan [Ia] memberi makan lima ribu orang dari lima buah roti (Mat 14:17- dst).[5]

2. Adoptionism (abad ke- 2 dan 3) menolak ke-Allahan Kristus. Kristus dianggap sebagai anak adopsi Allah Bapa, namun sebagai anak yang terbesar.

Tanggapan para Bapa Gereja:

Tertullian (160- 220) dalam menjelaskan Inkarnasi berkata, “Kita melihat dengan jelas dua hal yang menjadi satu, yang tidak tercampur baur, tetapi yang disatukan di dalam satu Pribadi, Yesus Kristus, Tuhan dan manusia …. Kedua kodrat ini bertindak berbeda sesuai dengan karakternya masing-masing, ….”[6]

St. Thomas Aquinas (1225- 1274): “Ada orang-orang, seperti Ebion dan Cerinthus, dan kemudian Paul Samosata dan Photius yang mengakui kemanusiaan Yesus saja. Tetapi, ke-Allahan ada di dalam Dia… dengan semacam partisipasi yang istimewa terhadap kemuliaan ilahi… Pandangan ini [Adoptionism] merusak misteri Inkarnasi, karena menurut pandangan ini, Tuhan tidak mungkin mengambil daging untuk menjadi manusia, tetapi seorang manusia yang kemudian menjadi Allah.”[7] Heresi ini [Adoptionism] seolah berkata, “manusia dibuat menjadi Firman” daripada “Firman itu menjadi manusia” (Yoh 1:14). “Jika Kristus bukan sungguh-sungguh Tuhan, bagaimana kita mengartikan perkataan St. Paul, “Ia mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba?” (Flp 2: 6-7, 9).[8]

3. Arianism (abad ke 3 -4) menolak Allah Tritunggal. Kristus dianggap bukan Tuhan, namun sebagai malaikat yang tertinggi (super-angel). Lebih lanjut tentang heresi Arianism ini, silakan klik di sini.

Heresi ini diluruskan oleh:

St. Athanasius (296-373), “Putera Allah ada di dalam Allah Bapa …. Bapa ada di dalam Putera. Mereka adalah satu, tidak terbagi menjadi dua, tetapi mereka [dikatakan]dua karena Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian sebaliknya; dan kodrat mereka [Bapa dan Putera] adalah satu. Allah Putera adalah Tuhan, dalam satu hakekat (homo- ousios) dengan Allah Bapa. Jika Allah Putera mempunyai awal (artinya diciptakan oleh Bapa), maka terdapat suatu waktu di mana Allah tidak mempunyai Sabda atau Kebijaksanaan yang adalah cahaya kemuliaan-Nya (Ibr 1:3); ini bertentangan dengan wahyu Allah maupun akal sehat. Karena Bapa itu tetap selamanya, maka Sabda-Nya dan Kebijaksanaan-Nya pasti juga tetap selamanya.”[9]

St. Gregorius Nazianzen (328-389), “…Putera Allah berkenan untuk menjadi dan dipanggil sebagai Anak Manusia, tidak karena Ia mengubah Diri-Nya (karena Ia tidak dapat berubah); tetapi dengan mengambil bagi diri-Nya sesuatu yang bukan Dia (yaitu manusia, sebab Ia penuh dengan kasih kepada manusia), sehingga Yang tak terpahami menjadi dapat dipahami…. Maka Yang tak dapat tercampur menjadi tercampur, Roh dengan daging, Kekekalan dengan waktu,…. Ia yang tak dapat menderita menjadi dapat menderita, yang Kekal dapat menjadi mati. Karena Iblis ….setelah ia menipu kita dengan harapan agar kita menjadi tuhan, ia mendapatkan dirinya sendiri tertipu oleh penjelmaan Tuhan dalam kodrat manusia; sehingga dengan menipu Adam… Ia harus berhadapan dengan Tuhan, maka Adam yang baru [Yesus Kristus] menyelamatkan Adam yang lama…..”[10]

Konsili Nicea (325) yang menghasilkan Credo Nicea: Kristus adalah “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.”

 

4. Apollinarisme (abad ke-4) yang menolak kemanusiaan Yesus dengan mengajarkan bahwa Yesus tidak mempunyai jiwa manusia; ke-Allahan-Nya menggantikan jiwa manusia itu.

Tanggapan para Bapa Gereja:

St Athanasius, St. Basil, St. Gregorius Nazianzen dan St. Gregorius dari Nissa (abad ke-4) yang mengajarkan, bahwa kalau Kristus tidak mempunyai jiwa manusia, maka Ia bukan sungguh-sungguh manusia. Jika Kristus tidak mengangkat/ mengambil baginya jiwa manusia, Ia tidak dapat menebus jiwa manusia.

Konsili Konstantinopel (381) dan Sinode Uskup di Roma (382): Sabda Tuhan tidak menjadi daging untuk menggantikan jiwa manusia, melainkan untuk mengambilnya, menjaganya dari dosa dan untuk menyelamatkannya. Pengajaran Apollinaris dinyatakan sesat.

 5. Nestorianisme (abad ke-4-5) yang menolak keutuhan Pribadi Yesus. Maka Maria dilihat hanya sebagai ibu Yesus sebagai manusia, bukan ibu Yesus yang adalah Tuhan. Yesus dikatakan sebagai hanya “Temple of the Logos” dan bukannya “Logos“/ Sabda itu sendiri.

Tanggapan Bapa Gereja:

St. Cyril dari Alexandria (380-444) menjelaskan bahwa Maria adalah Bunda Allah sebab Kristus adalah Allah: “Saya heran akan pertanyaan yang menanyakan apakah Perawan Suci harus disebut sebagai Bunda Allah, sebab itu hampir sama dengan menanyakan apakah Puteranya Putera Allah atau bukan?”[11]. Ia mengambil baginya kodrat kemanusiaan secara penuh dari Bunda Maria supaya Ia dapat menderita dalam kemanusiaan-Nya bagi kita. “Ia memberikan tubuh-Nya untuk mati [bagi kita], meskipun secara kodrat-Nya [sebagai Allah]Ia adalah hidup dan kebangkitan.”[12] Kemudian dalam surat keduanya yang dibacakan dalam Konsili Efesus (431) St. Cyril mengajarkan, “Sang Sabda, setelah menyatukan secara hypostatik dalam Diri-Nya, daging yang dihidupi oleh jiwa manusia yang rasional, Ia menjadi manusia dan disebut sebagai Anak Manusia.” Dengan Inkarnasi, maka Putera Allah menjelma menjadi manusia dalam rahim Maria. Ini terjadi dalam saat yang berasamaan, sehingga bukan terjadi manusia terlebih dahulu, baru kemudian Sabda itu turun memenuhinya. Dengan demikian, maka Yesus dapat mengatakan bahwa kelahiran-Nya dalam daging itu sungguh-sungguh adalah kelahiran-Nya. “Maka para Bapa Gereja tidak segan-segan mengatakan bahwa Perawan Suci (Maria) adalah Bunda Allah.”[13]

Maka kita dapat mengatakan bahwa pada Yesus terjadi dua macam ‘kelahiran’, yang pertama adalah sebagai Allah, Ia lahir/ berasal dari Bapa sebelum segala abad, dan yang kedua, Ia lahir sebagai manusia melalui Bunda Maria.

6. Monophisitism (abad ke-5) yang menolak adanya kemanusiaan Kristus, dan adanya dua kodrat dalam diri Yesus (sebagai Allah dan manusia). Dikatakan oleh bidaah ini bahwa sebelum inkarnasi ada dua kodrat, namun setelah inkarnasi hanya satu, yaitu ke-Allahan-Nya.

Tanggapan para Bapa Gereja:

St. Leo Agung (440-461) dengan tulisannya yang terkenal, “Tome of Leo” mengajarkan, “Tanpa kehilangan sifat-sifat yang berkenaan dengan kodrat dan hakekatnya, di dalam Satu Pribadi, kemuliaan mengambil kerendahan, kekuatan mengambil kelemahan, kekekalan mengambil kematian, dan untuk membayar hutang yang menjadi kondisi kita, kodrat yang tidak bisa berubah disatukan dengan kodrat yang bisa berubah, sehingga untuk memenuhi kepentingan kita, satu Pengantara kita antara Allah dan manusia, [yaitu]Manusia Yesus Kristus, dapat mati dengan kodrat-Nya sebagai manusia, namun tidak dapat mati dengan kodrat-Nya sebagai Allah. Maka Allah yang benar sungguh lahir di dalam keseluruhan dan kesempurnaan kodrat manusia, lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai Allah, dan lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai manusia….. Dia mengambil rupa seorang hamba tanpa noda dosa, Ia menaikkan kodrat manusia, tanpa mengurangi kodrat ke-Allahan-Nya: sebab pengosongan Dirinya adalah dengan membuat Yang tak kelihatan menjadi kelihatan, Pencipta dan Tuhan atas segala sesuatu mau menjadi mahluk ciptaan, adalah perendahan Diri bukan karena kegagalan kuat kuasa-Nya namun karena pernyataan belas kasihan-Nya…Kedua kodrat [ke- Allahan dan ke-manusiaan-Nya] tetap mempertahankan karakter yang sesuai tanpa menghilangkan satu sama lain…. ke-AllahanNya tidak menghapuskan karakter hamba, ke-hamba-anNya tidak mengurangi karakter ke-Allahan-Nya…Di dalam kelahiran-Nya yang baru [sebagai manusia]… Ia yang tidak kelihatan dibuat menjadi kelihatan… Allah semesta alam mengambil rupa seorang hamba, menyembunyikan kemuliaan-Nya yang besarnya tak terhingga, … Ia yang kekal tidak segan untuk tunduk di bawah hukum kematian…. Sebab setiap kodrat melakukan apa yang sesuai dengan kodratnya dengan keterlibatan yang timbal balik dari kodrat lainnya…. Kodrat yang satu [ke-Allahan] berkilau dengan mukjizat-mukjizat, kodrat yang lain [kemanusiaan]jatuh dalam luka-luka. Seperti Sabda yang tidak menarik diri dari kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa yang mulia, maka tubuh-Nya juga tidak membuang kodrat-Nya sebagai manusia. Sebab (dan ini harus disebut lagi dan lagi) Pribadi yang satu dan sama itu adalah sungguh Putera Allah dan sungguh Putera manusia.[14]

Konsili Chalcedon (451):
“…. Bahwa Sang Putera, Tuhan Yesus Kristus kita, adalah satu dan sama, sama sempurna di dalam Ke-Allahan-Nya dan sama sempurna di dalam kemanusiaan-Nya, sungguh Allah, sungguh manusia, mempunyai jiwa manusia yang rasional dan sebuah tubuh, sehakekat dengan Bapa di dalam ke-Allahan dan sehakekat dengan kita di dalam kemanusiaan, ‘sama dengan kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa’ (Ibr 4:15), berasal dari Bapa sebelum segala abad dalam kodrat ke-Allahan-Nya, lahir di dalam waktu bagi kita dan bagi keselamatan kita dari Perawan Maria, Bunda Allah, dalam kodrat kemanusiaan-Nya. Kita mengakui Kristus yang satu dan sama, Sang Putera, Tuhan, yang Tunggal, di dalam dua kodrat, tanpa tercampur baur, tanpa perubahan, tidak dapat dibagi-bagi dan dipisahkan. Perbedaan kodrat tidak pernah dihapuskan dengan persatuannya, melainkan sifat-sifat dari kedua kodrat itu yang tetap tidak terganggu, keduanya bersama-sama membentuk satu Pribadi dan hakekat (hypostasis), tidak terbagi menjadi dua pribadi, tetapi di dalam Putera Tunggal yang satu dan sama, Sabda Ilahi, Tuhan Yesus Kristus….”

 

7. Monothelitism (abad ke-7) yang menolak kemanusiaan Yesus dengan mengatakan bahwa di dalam diri Yesus hanya ada satu keinginan dan satu prinsip tingkah laku/ operasi, yaitu yang dari Allah saja.

 

Tanggapan Bapa Gereja:

St. Paus Agatho (678-681), “…”Sebab kami menolak penghujatan yang membagi-bagi dan yang mencampuradukkan [kedua kodrat dalam Diri Yesus]…. Karena Tuhan Yesus Kristus yang sama mempunyai dua kodrat, maka Ia juga mempunyai dua keinginan dan dua operasi, yaitu [menurut]Allah dan manusia: Keinginan dan operasi Ilahinya sesuai dengan hakekat Allah sepanjang segala abad: sedangkan kemanusiaan-Nya, Ia menerima dari kita, mengambil kodrat kita di dalam waktu…. Sesudah Inkarnasi-Nya, maka ke-Allahan-Nya tidak dapat dipikirkan tanpa kemanusiaan-Nya dan kemanusiaan-Nya tanpa ke-Allahan-Nya.”[15]

Konsili Lateran (649):
Cann. 10- 11 mengajarkan bahwa Yesus mempunyai dua kehendak dan operasi [Allah dan manusia] yang disatukan secara terus menerus, dan bahwa melalui kehendak bebas-Nya dan operasi-Nya itulah Ia mengerjakan keselamatan kita.

Konsili Konstantinopel III (680-681):
“Dan kami menyatakan adanya dua keinginan di dalam Dia, dan dua prinsip operasi tindakan yang tidak mengalami pembagian, perubahan, keterpisahan, pencampur-adukkan sesuai dengan pengajaran para Bapa Gereja. Dan kedua keinginan tersebut tidak dalam pertentangan, seperti yang dikatakan oleh para bidat, … tetapi keinginan manusia-Nya mengikuti dan tidak menahan ataupun berebut, melainkan taat kepada keinginan Ilahi yang mahakuasa.”

8. Agnoetae (abad ke-6) yang menolak kepenuhan pengetahuan Yesus sebagai manusia sebagai akibat dari persekutuannya dengan Allah (sehubungan dengan akhir jaman Mrk 13:32). Mengenai hal ini sudah pernah saya tuliskan di sini, silakan klik.

Tanggapan Bapa Gereja:

St. Paus Gregorius Agung (540-604):
“Allah Putera yang Mahatahu mengatakan bahwa Ia tidak tahu harinya [akhir jaman, sehingga]Ia tidak menyatakannya, bukan disebabkan oleh sebab Ia sendiri tidak tahu, tetapi karena Ia tidak mengizinkan hal tersebut diketahui sama sekali…. Putera Tunggal Allah yang menjelma menjadi manusia yang sempurna untuk kita, pasti mengetahui hari dan saatnya Penghakiman Terakhir di dalam diriNya sebagai manusia, namun demikian Ia tidak mengetahui hal itu dari kapasitasnya sebagai manusia…. Sebab untuk maksud apa bahwa Ia yang menyatakan DiriNya sebagai Kebijaksanaan Allah yang menjelma, jika ada sesuatu yang tidak diketahui olehNya sebagai Kebijaksanaan Allah? … Juga tertulis bahwa, …. Allah Bapa menyerahkan segala sesuatu ke dalam tanganNya [Yesus Kristus di dalam Yoh 13:3]. Jika disebutkan segala sesuatu, tentu termasuk hari dan saat Penghakiman Terakhir. Siapa yang begitu naif untuk mengatakan bahwa Allah Putera menerima di dalam tangan-Nya sesuatu yang tidak diketahui olehNya?”[16]

St. Maximus (580-662):
Jika para nabi saja dapat mengetahui hal- hal di masa depan yang akan terjadi, betapa lebih lagi Kristus dapat mengetahui semua itu melalui kesatuan-Nya dengan Sang Sabda.[17]

Tanggapan Gereja Katolik terhadap Protestant Kenotic Christology

Sedangkan untuk menanggapi Kristologi Kenotik menurut Protestant, Paus Pius XII dalam memperingati Konsili Chalcedon yang ke 1500, menulis surat ensiklik Sempiternus Rex pada tahun 1951, yang menolak penyalah-artian ayat Filipi 2:7 pada mereka yang berpikir bahwa tidak ada keilahian di dalam Sabda yang menjadi manusia dalam diri Kristus. Menurut Bapa Paus, ini adalah maksud yang keliru, seperti halnya heresi Docetism yang mengklaim sebaliknya (yaitu yang mengecam kemanusiaan Yesus). Ini mengurangi keseluruhan misteri Inkarnasi dan Penebusan ….. Selanjutnya Bapa Paus menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan di dalam The Tome of Leo, “Ia yang sungguh-sungguh Allah telah lahir, lengkap di dalam ke-Allahan-Nya, dan lengkap di dalam kemanusiaan-Nya.”[18]

Kesimpulan

Dengan mempelajari dan merenungkan ayat- ayat Alkitab dan juga tulisan para Bapa Gereja, sesungguhnya kita dapat melihat secara obyektif bahwa sejak dari awal sesungguhnya iman para rasul dan para Bapa Gereja adalah: dalam Diri Yesus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, terdapat dua kodrat yaitu Allah dan manusia. Sehingga Yesus Kristus dalam hidupnya di dunia adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Jadi anggapan yang mengatakan bahwa Yesus hanya manusia biasa ketika hidup selama 33.5 tahun di dunia (pandangan Kenotik Protestan) sebenarnya merupakan ajaran yang dipelopori oleh Martin Luther, namun ajaran ini tidak pernah diajarkan oleh para rasul dan para Bapa Gereja. Martin Luther mengajarkan Fil 2:7 dengan melepaskan konteksnya dengan ayat-ayat lainnya di Alkitab, atau tepatnya menggabungkan dengan beberapa ayat lainnya yang kelihatannya mendukung pendapatnya dan menginterpretasikannya kemudian bahwa Putera Allah berhenti menjadi Allah selama 33.5 tahun sewaktu Yesus hidup di dunia.

Sesungguhnya kenyataan ini layak membuat kita semua merenung dan menyadari bahwa dengan merenungkan Alkitab saja, tanpa membaca pengajaran para rasul dan Bapa Gereja dapat menghantar kita pada kesimpulan yang keliru, yang tidak saja tidak sesuai dengan ayat-ayat Alkitab lainnya, namun juga tak sesuai dengan akal sehat. Namun tentu saja, kita tak bisa memaksakan apa yang menjadi ajaran Gereja Katolik kepada mereka yang tidak dapat atau tidak mau menerimanya. Hanya mereka yang mencari kebenaran dan memiliki keterbukaan akan pimpinan Roh Kudus, akan melihat kebenaran dari ajaran para Bapa Gereja yang dijaga dengan setia oleh Magisterium Gereja Katolik.

Memang jika seseorang menutup mata terhadap kenyataan sejarah dan pengajaran para Bapa Gereja, ia dapat menginterpretasikan suatu ayat, sesuai dengan pengertiannya sendiri. Atau bahkan dengan berani mengatakan bahwa yang paling benar adalah pengertiannya sendiri dan semua pengertian para Bapa Gereja (dan bahkan para rasul) itu keliru semua. Jika kita pernah berpikir demikian, mungkin ada baiknya kita menilik ke dalam batin kita, dan mohon kepada Roh Kudus karunia kerendahan hati, untuk jujur melihat ke dalam diri kita. Semoga kita dapat melihat begitu banyaknya keterbatasan yang kita miliki dalam pemahaman Alkitab, dan justru karena itu, kita perlu dengan rendah hati mempelajari dan melihat dengan hati terbuka terhadap semua pengajaran yang diberikan oleh orang- orang yang lebih mendalami Sabda Tuhan daripada kita. Dan semoga kita dapat dengan lapang hati melihat bahwa mereka yang paling mengenal Pribadi Yesus adalah mereka yang pernah hidup, makan, berjalan bersama Yesus, yaitu Bunda Maria Santo Yusuf dan dan para rasul.

Pengajaran para rasul itulah yang diteruskan oleh para Bapa Gereja dan Magisterim Gereja Katolik dengan setia, dan jika kita ingin mengenal dan mengasihi Kristus, maka sudah selayaknya kita belajar dari mereka. Jika mereka mengajarkan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia sewaktu hidup-Nya di dunia, maka siapakah kita untuk mengatakan sesuatu yang lain daripada itu?

Ya, Tuhan, bimbinglah kami untuk memahami misteri kasih-Mu dalam diri Yesus yang adalah Allah dan manusia. Karuniakanlah kepada kami kerendahan hati untuk menerima pengajaran-Mu, walaupun belum sepenuhnya dapat kami pahami dengan sempurna. Semoga Roh Kudus-Mu memimpin kami agar kami dapat dengan lapang menerima kebenaran yang Kau-nyatakan melalui Sabda-Mu, pengajaran para rasul dan para penerus mereka. Biarlah kasih kami kepada-Mu mengatasi pengertian pribadi kami; dan dengan kasih ini Engkau membimbing kami kepada seluruh Kebenaran.
Amin
.”


CATATAN KAKI:
  1. Lihat George D Smith, D.D, PhD. ed., The Teaching of the Catholic Church, A Summary of Catholic Doctrine, (New York: The Macmillan Company, 1960) p. 361 []
  2. Lihat De libertate christiana (Weimar, 1883), vol. 7, p.65 []
  3. Denz. 148; DS 301-2 []
  4. St. Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada jemaat di Efesus, Bab 3 []
  5. St. Cyril dari Yerusalem, Cathecheses, No. 4:9 []
  6. Tertullian, Adversus Praxean, bab 27 []
  7. St. Thomas Aquinas, Summa contra gentiles, ch. 28, nos. 2-5. Trans. by Charles J. O’Neil []
  8. Ibid. []
  9. St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n.3:3, 4, in NPNF, 4:395 []
  10. St. Gregory of Nazianzen, Oration 39 []
  11. St. Cyril of Alexandria, Epistle 1,4 []
  12. Lihat St. Cyril of Alexandria, First Letter to Nestorius, trans. Henry Percival, in Nicene and Post Nicene Fathers, 14: 201-205 []
  13. D 111, St. Cyril of Alexandria, Second Letter to Nestorius, Ibid. []
  14. Denz 143-144 []
  15. St. Pope Agatho, Letter in preparation for the 6th Ecumenical Council, Constantinople III, trans. by Henry R Percival in NPNF, 14:331-333 []
  16. Pope St. Gregory the Great, Denz. 248 []
  17. Lihat Quaestiones et dubia 66 (I, 67), PG 90: 840 []
  18. Lihat Ep. xxviii,3. PL 54: 763. Cf. Serm. xxiii, 2. PL 56:201 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

62 Comments

  1. Saya secara jujur merasa ngeri melihat pahaman kenotic christology yang dipegang oleh kaum Luther dan yang seangkatan dengannya. Dari penjelasan Ingrid tidakkah para pembaca yang Katolik sadar akan betapa pentingnya untuk kita mengenal inti dan ajaran Katolik yang MEMPERTAHANKAN kebenaran ajaran Kristus bahkan bersaksi tentang Kristus sejak dari zaman bapa gereja sehingga ke hari ini. Pahaman kenotic christology itu adalah pahaman baru yang baru muncul di zaman Luther dan tidak dipegang oleh mana mana bapak gereja yang awal. Makanya, saya ingin katakan kepada saudara Machmud, terima kasih atas sharing anda dan usaha anda dalam mepertahankan kenotic christology anda namun saya sebagai katolik lebih percaya dan beriman kepada Kristus yang dikabarkan oleh para rasul dan para bapak gereja dan bukan Kristus yg lahir dari tafsiran yg kabur yang merendah rendahkan dan melecehkan hakikat, peribadi, sifat dan kodrat Kristus.

    [Dari Katolisitas: Kita tidak dapat memaksakan pandangan kita kepada orang lain. Semoga Tuhan berkenan mengutus Roh Kudus-Nya untuk membimbing siapa saja yang dengan tulus mencari kebenaran, untuk menemukan kepenuhan kebenaran sebagaimana dikehendaki oleh-Nya. Oleh sebab kebenaran akan berbicara tentang dirinya sendiri (truth will speak for itself) maka suatu kebenaran tak perlu ditutupi. Orang yang sungguh mencarinya akan menemukannya; dan bagi umat Katolik, kepenuhan kebenaran itu telah bersinar dengan terangnya melalui ajaran Gereja Katolik.]

    • Linda Maria on

      Buat Tim,
      Terima kasih atas tanggapan pihak tim terhadap tulisan saya. Saya banyak belajar dan mengenal Tuhan dan gerejanya lewat website ini. Saya bersyukur kepada Allah atas karunia iman ini..jujur saya sungguh bersyukur kerana saya terpanggil untuk mengimani apa yang diimani oleh para rasul dan yang diteruskan oleh gerejaNya yang mana Tuhan sendiri telah berjanji akan menjaganya daripada api neraka.Ya Tuhan, tidak terucapkan rasa syukur atas panggilan dan karuniaMu ke atas diri saya dalam karunia iman yang suci ini. Doa saya juga buat para tim katolisitas supaya semakin dipenuhi oleh Roh Kudus dan menjadi pengabar pengabar Injil yang setia. Tuhan memberkati.

  2. Pengentobat on

    Bertaubatlah anda dari murtad yg nyata bagimu..!!!
    Allahu Akbar..!!!
    Jika kristen adl AGAMA,,mengapa setiap proses pmurtadan dikasi uang oleh VATIKAN..???
    hal yg aneh..

    [dari katolisitas: Silakan memberikan bukti bahwa Vatikan memberikan uang untuk urusan seperti ini.]

    • [Dari Katolisitas: diedit,..... Saya suka gaya Anda] tapi kita juga harus menghormati apa yang menjadi hak setiap manusia untuk menentukan hidupnya sendiri termasuk agama yang diyakininya toh nantinya yang nanggung dia sendiri di hadapan Tuhan benarkan kita gak perlu rewel mengurusi agama orang lain.

  3. Syalom team katolisitas, dalam penjelasan Paus Agato, Konsili Latheran, dan Konsili Konstantinopel III diatas.. Saya menarik kesimpulan bahwa selama Tuhan Yesus hidup hingga di Salibkan, setiap hari dalam kehidupanNya terjadi proses 2 kehendak (ilahi dan manusia), 2 keinginan (ilahi dan manusia).. Namun yg dilakukan oleh Yesus selalu memenangkan kehendak dan keinginan ilahiNya.

    Atau dalam bahasa rohani sekarang “discerment” adalah gaya hidup yang melekat dalam keseharian Tuhan Yesus? Dengan kata singkatnya setiap tindakan,perbuatan,keinginan, atau sampai dalam keadaan extrem “Nafsu” Tuhan Yesus sebagai manusia selalu di “discerMent”kan/ di timbang2 dengan kehendak ke IlahianNya? Dan selama masa hidupNya kehendakNya sebagai manusia selalu diletakkan belakangan/dikalahkan? Walau dlm kasus bait Allah, tindakkan Yesus sebagai manusia lebih menonjol..

    Apakah kesimpulan yg saya dapatkan dari penjelasan itu sdh benar?

    Maaf saya sedang mencari pemahaman dari ayat Ibr 4:15, sekiranya kesimpulan yg sy tarik itu benar dari pengajaran di atas, kiranya cocok untuk menjelaskan pengertian ttg ayat ini.

    Mohon bantuannya, terima kasih.

    • Shalom Christian,

      Secara prinsip, kita harus melihat dua kodrat di dalam Kristus sebagaimana masing-masing kodrat menjalankan fungsinya dengan sempurna, namun pada yang bersamaan, kita tidak dapat membagi-bagi dua kodrat tersebut, karena dua kodrat tersebut ada dalam satu Pribadi, yang diikat dalam kesatuan yang tak terpisahkan (hypostatic union). Katekismus Gereja katolik mengajarkan konsep ini demikian:

      KGK, 467.    ‘Monofisitisme’ mengatakan bahwa kodrat manusiawi terlebur dalam Kristus, ketika kodrat itu diterima oleh Pribadi ilahi-Nya, oleh Putera Allah. Konsili ekumenis keempat yang berkumpul di Kalsedon pada tahun 451 menjelaskan melawan bidah ini:
      “Sambil mengikuti para bapa yang kudus kami semua sepakat untuk mengajarkan, untuk mengakui Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Putera yang satu dan sama; yang sama itu sempurna dalam ke-Allah-an dan yang sama sempurna dalam kemanusiaan; yang sama itu sungguh Allah dan sungguh manusia dari jiwa yang berakal budi dan dari tubuh; yang sama menurut ke-Allah-an-Nya sehakikat dengan Bapa dan menurut kemanusiaan-Nya sehakikat dengan kita, ‘sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa’ (Ibr 4:15). Yang sama pada satu pihak menurut ke-Allah-an-Nya dilahirkan dari Bapa sebelum segala waktu, di lain pihak menurut kemanusiaan-Nya dalam hari-hari terakhir karena kita dan demi keselamatan kita, dilahirkan dari Maria, perawan [dan] Bunda Allah.

      Yang satu dan sama itu adalah Kristus, Putera tunggal dan Tuhan, yang diakui dalam dua kodrat, tidak tercampur, tidak berubah, tidak terpisah dan tidak mungkin dibagi-bagikan, di mana perbedaan kodrat tidak dihilangkan karena persatuan, tetapi kekhususan dari tiap kodrat itu dipertahankan dan mempersatukan diri dalam satu pribadi dan dalam satu hipostasis” (DS 301-302).

      Kita dapat mengatakan bahwa seluruh akal dan kehendak ilahi di dalam Yesus senantiasa terlaksana. Namun, pada saat yang bersamaan, kita juga tidak boleh menempatkan akal dan kehendak-Nya di dalam kodrat-Nya sebagai manusia seolah-olah bertentangan dengan akal dan kehendak di dalam kodrat-Nya sebagai Allah. Bahkan persatuan dua kodrat ini demikian kuat, sehingga apa yang dilakukan oleh Yesus adalah senantiasa melakukan kehendak Bapa (lih. Yoh 8:42). Walaupun kehendak-Nya sebagai manusia menginginkan agar kalau mungkin piala tersebut berlalu, namun dalam kehendak-Nya sebagai manusia juga, maka Dia juga menginginkan agar kehendak Bapa saja yang terjadi (lih. Mat 26:39, 42). Dengan demikian, Kristus selain menunjukkan keinginan bebas-Nya, namun juga mengajarkan kepada manusia bagaimana menggunakan keinginan bebas ini untuk melakukan kehendak Bapa. 

      Untuk dapat mengerti kodrat manusia dari Kristus secara benar, maka kita harus membayangkan bahwa Kristus mempunyai kondisi spiritual manusia sempurna – tanpa dosa, yang juga termasuk tunduknya kedagingan kepada akal budi. Dengan demikian, dalam Kristus tidak ada nafsu-nafsu yang tidak teratur. Sedangkan tentang kemarahan yang diakibatkan karena melihat ketidakadilan adalah bukan kejahatan, bahkan sudah seharusnya. Silakan melihat ulasan ini – silakan klik.

      Ibrani 4:15 menuliskan “sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Dalam hal ini maksudnya turut merasakan kelemahan-kelemahan manusia: termasuk di dalamnya adalah kelemahan fisik (dapat sakit dan meninggal), mempunyai rasa takut, dll. Namun, dalam kelemahan-kelemahan ini, Kristus menunjukkan bahwa Dia tetap tidak berdosa. Semoga tambahan keterangan ini dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. agus riyadi on

    Bu inggrid saya mau menanyakan sesuatu, sebenarnya ini pertanyaan temen saya yg muslim kepada saya, dan kebetulan sekarang ini masa pekan suci, jadi saya kira pas waktunya untuki menanyakan, pertanyaan temen saya itu adalah kalau “Yesus wafat dan terus bangkit 3 hari kemudian, lalu siapa yg menjaga alam semesta selama 3 hari tersebut?” demikian bu inggrid, kiranya ibu bisa memberikan jawaban dan penjelasan, sebelumnya saya ucapkan terima kasih, berkah Dalem

    salam
    Agus Riyadi

    • Shalom Agus,

      Kebingungan macam itu terjadi karena tidak dipahami bahwa Yesus adalah sungguh Allah namun juga sungguh manusia. Pada saat penjelmaan-Nya menjadi manusia, Yesus tidak berhenti menjadi Allah dan Ia tetap berada dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Dalam segala sesuatu yang dilakukan Yesus di masa hidup-Nya di dunia, kedua kodrat ini (kemanusiaan dan ke-Allahan-Nya) bersama- sama melakukan sesuai dengan sifat kodrat yang bersangkutan. Maka karena kemanusiaan-Nya, Yesus dapat merasa lapar, haus, lelah, sakit dan bahkan wafat. Sedangkan karena ke-Allahan-Nya, Ia dapat melakukan hal- hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, yaitu mengampuni dosa, mengetahui segala sesuatu dan melakukan berbagai mukjizat, termasuk bangkit dari kematian. Ketika disalibkan, Yesus memang wafat. Dalam kemanusiaan-Nya, Ia memang wafat seperti manusia yang lain, namun dalam ke-Allahan-Nya Ia ‘turun ke tempat penantian’ untuk melepaskan jiwa- jiwa orang benar yang telah wafat sebelum penjelmaan-Nya menjadi manusia; dan Ia bangkit dari kematian dengan mulia. Jiwa-jiwa orang benar tersebut menantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk menjemput mereka dan membawa mereka ke Surga, sebab Kristuslah yang sulung dari segala ciptaan, Ia-lah pertama bangkit dari alam maut dan yang membuka pintu surga bagi umat manusia (lih Kol 1:15-20). Hal ini terjadi, karena di samping Yesus adalah sungguh manusia, Ia juga sungguh Allah, yang karena kodrat-Nya sebagai Allah, selalu ada dan tidak berhenti ‘menjaga’ alam semesta.

      Dengan demikian, walaupun disebut Yesus wafat, namun kedua kodrat-Nya (sebagai Allah dan manusia) melakukan apa yang sesuai dengan kodratnya masing- masing.

      Lebih lanjut tentang topik Yesus sungguh Allah sungguh manusia, klik di sini; dan tentang pernyataan Paus Leo Agung tentang kedua kodrat dalam diri Yesus Kristus, klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Sebelumnya salam kenal untuk saudara-saudara sekalian dalam situs katolisitas.org ini. Terus terang saya sungguh tertarik dengan diskusi saudara machmud tentang Doktrin Keilahian dan Keinsanian Yesus Kristus atau dalam Istilah kami sebagai Penganut Protestant (Reformed Calvinis/Presbyterian) disebut sebagai Kristologi. kenapa saya amat tertarik?karena Kristologi yang dibahas disini amat berkaitan erat dengan doktrin-doktrin lainnya yang diajarkan dalam Kekristenan itu sendiri, yang bersumber dari Ajaran Al-kitab (Ajaran Yesus Kristus dan Para Rasul pada Perjanjian Baru serta Para Nabi Perjanjian Lama), dan yang kedua adalah berasal dari ajaran para bapa gereja dan ajaran para bapak Reformasi Protestan (untuk point ini secara khusus dipahami secara inklusif dikalangan denominasi Protestan, lebih khusus Reformed Calvinis yang saya akui dan imani bahwa kebenarannya memang benar dan selaras dengan ajaran al-kitab). Ketika anda saudara Machmud berbicara mengenai “Kristologi” anda jangan hanya melihat secara parsial dari perjanjian baru saja tetapi anda juga harus membandingkannya secara integral dan menyeluruh juga dari Perjanjian Lama juga, tidak hanya dalam bahasa indonesia saja tetapi juga dalam bahasa aslinya dan juga dalam konteks apa ayat itu digunakan. Karena ketika anda bicara Tentang inkarnasi Sang Putra Allah Yesus Kristus menjadi manusia dalam kekristenan berarti anda juga harus bicara tentang alasan kenapa Yesus Kristus diutus dalam dunia manusia guna menjadi Pengantara dan Juruselamat manusia yang terangkum didalam kitab Perjanjian Lama dan Baru..dan juga implikasi turunnya Yesus Kristus dalam dunia bagi hidup manusia yang percaya kepada-Nya…. Jadi Kekristenan Tidak hanya melulu bicara Kristologi menurut anda dan pemahaman anda, tetapi alangkah lebih bijaksananya jika anda melihat Kristologi dalam pasal atau ayat Al-kitab sebagai dasarnya sesuai dengan konteks yang dibicarakan dalam AL-KITAB itu sendiri, atau anda juga bisa gunakan tafsiran-tafsiran alkitab yang disusun oleh para teolog-teolog guna mendapatkan informasi yang akurat dan pasti tentang pasal atau ayat yang anda baca..Jadi menurut saya dengan berbekal al-kitab saja ditangan itu tidak akan cukup untuk dicari maknanya ketika anda menggali hakikat kebenaran dari suatu pasal atau ayat Al-kitab yang anda baca dan gali makna terdalamnya, jadi saya tegaskan sekali lagi bahwa Iman KRISTEN tidak hanya berdiri sendiri dari Konteks Perjanjian Baru saja tapi Juga berasal dari Perjanjian Lama dan dengan demikian menghasilkan suatu Teologia yang kokoh dan tak tergoyahkan KEBENARANNYA…. untuk pemahaman hakekat Kristologi yang anda tanyakan silahkan buka link dibawah ini :

    link to golgothaministry.org

    situs ini dibuat oleh Team IT GKRI GOLGOTHA dengan gembala sidangnya yaitu pendeta budi asali yang mempunyai spesifikasi pendidikan bidang Teologia, mendapatkan gelar M.div (Master Divinity dari Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America.)Sebagaimana telah disampaikan diatas beliau merupakan gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Golgotha-surabaya… dan saya adalah salah satu jemaatnya… Adapun halaman web terdepannya adalah

    http://www.golgothaministry.org.

    demikian yang dapat saya sampaikan salam hormat dan salam kenal dari saya terhadap segenap team katolisitas.org dan terlebih khusus terhadap saudara mahmud.. salam Kasih dan damai sejahtera dari Tuhan Yesus Kristus….

  6. Salam team Katolisitas,

    saya berbeda pandangan dengan iman katolik yang mengakui Yesus 100% TUHAN dan 100% manusia sebab. Allah sebagai Allah, ‘tidak bisa’ mengampuni dosa manusia begitu saja, sebab pengampunan dosa ini berarti pendamaian manusia yang berdosa dengan Diri Allah.

    Untuk pendamaian ada 3 cara :

    1. Manusia yang mendekati Allah

    Pada pendekatan ini, Allah memberikan prasyarat yaitu hukum taurat yg harus dilakukan dg zero defect — pelaksanaan tanpa cacat cela.

    2. Allah yang mendekati manusia , ada 2 pilihan (bila mau disebut demikian)

    a. Allah ikut berbuat dosa lalu mati dan bersatu dengan manusia yang berdosa dan mati — maka terjadi pendamaian

    Jelas pilihan ini tidak mungkin, sebab Allah tidak bisa mati

    b. Manusia yang berdosa dan mati, dihidupkan.

    Untuk menghidupkan manusia, maka perlu nyawa manusia, bukan nyawa binatang, juga bukan nyawa yang lain, ternasuk nyawa Allah.

    Nyawa ini ada dalam darah manusia.

    Maka pilihan inilah yang diambil Allah dengan cara inkarnasi — Firman yang menjadi daging (carnate) — Firman yang menjadi manusia.

    Penebusan dosa manusia ini harus dilihat dalam bentuk :

    1. Manusia mati yang kehilangan nyawa, menerima nyawa baru hasil pemberian, maka manusia ini menjadi hidup, karena manusia sudah hidup, ia bisa mendatangi kembali Allah yang Hidup.

    Orang mati itu tempatnya di kuburan, orang hidup itu tempatnya di rumah tinggal.
    Manusia mati itu tempatnya di dunia (rang mati), Allah yang hidup itu tinggalnya dirumah

    Istri secantik apapun, suami seganteng apapun, anak2 secakep dan seganteng sebaik apapun, sebersih apapun, kalau dia/mereka mati — maka tempatnya adalah di kuburan.

    Namun, Istri/suami/anank2 sejelek sedekil sekotor apappun, tetapi hidup, maka dia hrs tinggal didalam rumah, bukan dikuburan, cuma saja sebelum masuk rumah, dia/mereka hrs dibersihkan dulu

    2. Manusia yang mati , menerima nyawa baru hanya akan dimungkinkan bila ada manusia lain yang memberikan nyawanya. Manusia yang memberikan nyawanya tidaklah mungkin akan hidup, sebab ketika ia memberikan nyawanya, maka dia harus kehilangan nyawanya.

    YESUS memberikan nyawanya, bukan sekedar darahNya, jadi proses pemberian nyawa ini tidak bisa melalui prosedur donor darah, namun darah YESUS harus benar2 ditumpahkan.

    Mengapa manusia YESUS bisa memberikan nyawanya sedangkan manusia lain tidak?

    Sebab manusia YESUS itulah satu2nya manusia yang memiliki hidup (tidak berdosa) — sedangkan manusia2 lain telah mati (berdosa).

    Mengapa satu nyawa manusia YESUS bisa menghidupkan milyaran manusia mati dari awal – akhir jaman?

    Yoh 12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

    Satu nyawa satu anak Manusia bernama YESUS, cukup untuk pendamaian ini — pendamaian manusia dengan Allah ditimpakan dalam diri manusia YESUS, bukan pada Allah YESUS

    Isa 53
    1 Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? 2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. 4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Isa 53:1-5, ITB)

    Demikian semoga bisa menjadi refrensi bagi umat TUHAN jg

    • Shalom Hesti,

      Terima kasih atas komentar anda tentang ke-Allahan Kristus. Sebelum saya menanggapi diskusi tentang rencana keselamatan Allah, maka saya ingin bertanya kepada anda terlebih dahulu. Apakah anda mempercayai bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah? Apakah anda melihat bahwa di dalam Kitab Suci, ada ayat-ayat yang membuat kita dapat menarik kesimpulan bahwa Yesus adalah Tuhan? Kalau ada apakah implikasinya? Saya tidak menolak ada ayat-ayat yang memberikan bukti akan kemanusiaan Yesus. Jadi, sebelum kita melihat dari sisi rencana keselamatan, maka silakan menjawab pertanyaan di atas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Saya kurang setuju dgn pernyataan yg mengatakan bahwa Yesus bangkit atas kuasanya sendiri melainkan atas Roh dan Kuasa Alllah.
    Silahkan baca 1 Korintus.

    Kalau Yesus jg bangkit atas kuasa Allah,berarti sama donk dgn Maria.
    Mohon tanggapannya

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di artikel di atas - silakan klik]

  8. Shalom admint

    jika Yesus adalah Tuhan:
    1. Mengapa ketika mengampuni manusia dg cara mengorbnkan dirinya untuk disalib?
    2. Jika disalib demi kabikan untuk manusia berarti yg menyalip dpt pahala apa tdk ?
    3. lalu mengapa gereja tdk memberi penghargaan pd mereka yg menyalib, bukankah karena perbuatan mereka semua manusia mendapat ampunan?
    4. Jika Yesus benar Tuhan lalu mengapa dlm kristen sedniri tdk kompak, yaitu ada beberapa aliran yg menyatakan bahwa beliau adalah nabi/utusan?

    Salam kasih dalam Kristus Tuhan

    • Shalom Xarel,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang ke-Allahan Yesus. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

      1. Anda bertanya “Mengapa ketika mengampuni manusia dg cara mengorbnkan dirinya untuk disalib?” Karena dosa adalah melawan Allah dan semua manusia telah berdosa, serta upah dosa adalah maut, maka adalah adil kalau seluruh manusia mendapatkan hukuman abadi di neraka. Namun, karena Allah adalah kasih, maka Allah menginginkan agar semua manusia diselamatkan. Karena upah dosa adalah maut dan untuk menyambung kembali hubungan yang terputus dengan Allah mensyaratkan keadilan, maka untuk menyelamatkan manusia, Allah menjadi manusia dan mengorbankan Diri-Nya, sehingga kuasa dosa dapat dipatahkan. Dengan pengorbanan ini, maka karya keselamatan Allah menjadi manifestasi dari keadilan dan kasih Allah. Silakan melihat artikel “Kesempurnaan rancangan keselamatan Allah” di sini – silakan klik.

      2 & 3. Anda bertanya “Jika disalib demi kabikan untuk manusia berarti yg menyalip dpt pahala apa tdk ? lalu mengapa gereja tdk memberi penghargaan pd mereka yg menyalib, bukankah karena perbuatan mereka semua manusia mendapat ampunan?” Tidak. Atribut Allah yang terutama adalah Dia dapat mendatangkan sesuatu yang baik dari sesuatu yang jahat atau kejadian yang tidak baik. Dengan demikian, sesuatu yang baik terjadi dari sesuatu yang tidak baik adalah karena Allah dan bukan jasa dari orang yang mengakibatkan sesuatu yang tidak baik. Ini berarti, bukan orang yang melakukan kejahatan akan mendapat pahala. Kalau seseorang menjadi pahlawan, karena dalam perampokan bank, dia berani melawan dan akhirnya melumpuhkan kawanan perampok serta menyelamatkan semua sandera, maka orang yang menyelamatkan akan mendapatkan penghargaan, dan kita akan menerima bahwa orang yang merampok akan mendapatkan hukuman. Apakah dalam kasus ini, kita dapat mengatakan bahwa kawanan perampok ini layak mendapatkan penghargaan karena dengan kejadian ini, muncul seorang pahlawan?

      4. “Jika Yesus benar Tuhan lalu mengapa dlm kristen sedniri tdk kompak, yaitu ada beberapa aliran yg menyatakan bahwa beliau adalah nabi/utusan?” Perpecahan dalam gereja tidak diinginkan oleh Kristus. Namun, perpecahan ini tidak membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan, sama seperti adanya ateis tidak membuktikan bahwa tidak ada Tuhan. Perpecahan membuktikan bahwa ada sebagian pengikut Kristus tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Kristus dalam Yoh 17 – untuk menjaga persatuan. Namun, kalau anda meneliti, maka Gereja Katolik mempunyai empat tanda, yaitu: satu, kudus, katolik dan apostolik. Artikel lengkap tentang hal ini dapat anda baca di sini – silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  9. pertanyaan::
    “Eli, Eli lama sabakhtani”
    kenapa sebelum mati
    Tuhan berkata seperti itu??
    sedangkan menurut penjelasan diatas bahwa dia adalah Allah??

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di sini - silakan klik]

  10. Syalom pak stef dan bu ingrid

    Saya hanya ingin menanyakan akan kebenaran penyebutan nama Tuhan kita.
    Bulan kemarin saya mengikuti acara penyegaran rohani di tempa saya bekerja(semacam retreat).

    Pembicara yang diundang adalah seorang pendeta dari protestan.
    Beliau mengatakan agar kita tidak menyebut nama Tuhan dengan kata Allah,Bapa,Yahwe dsb selain dengan sebutan Yesus.
    Alasan utama beliau mengatakan hal demikian kaerna Tuhan begitu peduli nya dengan nama Yesus tersebut(*ayat alkitab yang menyebutkan kepada maria agar menamai ia Yesus).
    Sehingga beliau sangat tidak suka dengan sebutan lain selain Yesus, dan semua syair lagu” pujian yang menyebut Tuhan diganti dengan kata Yesus dan yang menarik adalah hubungannya dengan Allah Tritunggal, menurut beliau tidak ada Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam makna kata yang sebenarnya, namun merupakan satu diantara ketiganya yaitu Yesus, beliau menyebutkan juga, jika ada Bapa, maka Yesus itu adalah anaknya, berarti Bapa itu menikah(mungkin beliau mengartikan secara harafiah yang berhubungan dengan hidup jasmani). Dan dari share2 berikut yang disampaikan beliau saya menarik kesimpulan bahwa Beliau tidak mengakui adanya Allah Tritunggal dalam pengertian Katolik, yang memang merupakan satu kesatuan seperti di artikel yang sudah saya baca pada halaman web ini.

    Terimakasih

    • Shalom Andry,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang kodrat Yesus. Kalau kita melihat sepanjang sejarah kekristenan, maka bidaah yang berkaitan dengan kristologi adalah karena terlalu menekankan ke-Allahan Yesus dan mengesampingkan kemanusiaan Yesus atau terlalu menekankan kemanusiaan Yesus sampai lupa pada kodrat Allah yang terdapat dalam diri Yesus. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mengingat kodrat Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia.

      Apa yang pendeta itu sampaikan tidak sesuai dengan iman Katolik bahkan juga bertentangan dengan iman Kristen secara umum. Dengan penyampaiannya, maka dia tidak mempercayai Trinitas, dan menekankan pada Yesus serta menghilangkan dimensi Trinitas. Mungkin ayat-ayat ini dapat ditanyakan “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 6:38) dan juga “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Mt 28:19). Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  11. Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid,
    di bawah ini adalah pertanyaan berikut kunci jawaban dari “The World’s Toughest Catholic Quiz” yg saya temukan di http://www.catholic.com:

    15. At the Crucifixion
    a. Jesus’ human nature died on the cross.
    b. Only the human person of Jesus, not the divine person of Jesus, died on the cross.
    c. God died on the cross.
    d. Jesus’ human and divine natures both died on the cross, but the universe was kept going by the Father and the Holy Spirit until Jesus’ Resurrection.
    e. None of the above.

    Question 15
    a. Wrong, because natures aren’t put to death–persons are. When you die, it is not your human nature which dies, but you as a distinct person.

    b. Wrong, because there is no human person in Jesus. There is only one Person, the divine, who already (by definition) had a divine nature and who took on a human nature.

    c. Correct, because the Person who died on the cross was a divine Person, commonly called the Son of God. Since that Person is God, it is proper to say God died on the cross, even though that sounds odd and may make some unthinking people conclude that it means that God ceased to exists, which, of course, was not the case. (If you were sure this answer could not be right, don’t fret–you’re in good company. Most people miss this question because the correct answer “just doesn’t sound right.”)

    d. Wrong, first because natures don’t die, persons do, and second because the answer suggest Jesus couldn’t keep the universe going, as though he ceased to be God between the time of his death and his Resurrection.

    e. Wrong, because 15c is correct.

    Jujur saja, saya salah menjawab pertanyaan ini dan kunci jawabannya membuat kening berkerut. Mohon penjelasan dari katolisitas, apakah jawaban itu benar? Jika salah mohon diluruskan, dan jika benar, mohon dijelaskan apa yang sebenarnya dimaksud dengan “God died on the cross” ini, karena selama ini saya selalu yakin bahwa Tuhan itu kekal dan tidak akan mati ^_^

    Irena

    • Shalom Irena,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang kodrat Allah yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Secara prinsip, inti dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh catholic.com adalah untuk menyadarkan kita bahwa kita harus membedakan antara kodrat (nature) dan pribadi (person). Yang sering membuat orang bingung adalah karena Yesus adalah satu Pribadi yang mempunyai dua kodrat (Allah dan manusia) dan kedua kodrat ini adalah tak terpisahkan dalam persatuan hypostatic (tak terpisahkan). Pada saat seseorang lahir, meninggal, maka yang dibicarakan adalah sebuah pribadi. Kalau mau spesifik, kita tidak dapat mengatakan bahwa yang meninggal adalah seorang laki-laki, karena laki-laki tersebut dapat juga seorang ayah, atau seorang suami, dll. Namun, kita dapat mengatakan bahwa yang meninggal adalah Pak Petrus, yang mempunyai atribut: laki-laki, seorang suami, seorang ayah dari 6 anak, dll. Oleh karena itu, pada waktu Yesus meninggal, yang meninggal bukanlah kodrat-Nya sebagai manusia dan Tuhan, namun pribadi Yesus sendiri. Mungkin banyak orang terjebak dalam pertanyaan (c), mengapa Tuhan dapat meninggal. Disini Tuhan tidak merujuk kepada kodrat Yesus, yang sungguh Allah, namun merujuk kepada pribadi Yesus sendiri yang adalah Tuhan. Dengan demikian, adalah benar kalau dikatakan bahwa Tuhan mati di kayu salib, karena Yesus (sebuah pribadi), yang adalah Tuhan, memang meninggal di kayu salib. Semoga keterangan tambahan ini dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  12. umatx jga nggak bener….apa ada dalilx mengkristenkan manusia dgn cara membayar org trsbut,ngasih pekerjaan atw menanggung biaya hidup dlsb……
    bagaimana pendapat anda…..?

    • Shalom Erick,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang tindakan mengkristenkan orang lain. Mungkin saya ingin menjelaskan bahwa di Indonesia kita mengenal agama Kristen Protestan dan agama Kristen Katolik. Karena ini adalah situs Katolik, maka saya hanya akan menjawab dari sisi apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik. Untuk menjawab tuduhan anda, maka saya akan mengutip dokumen Gereja, dari Konsili Vatikan II – dokumen pernyataan tentang kebebasan beragama (Dignitatis Humanae), 11, dimana dikatakan:

      Para Rasul belajar dari sabda dan teladan Kristus, serta menempuh jalan yang sama. Sejak masa awal Gereja para murid Kristus berusaha, supaya orang-orang bertobat dan mengakui Kristus Tuhan, bukan dengan tindakan memaksa atau dengan siasat-siasat yang tak layak bagi Injil, melainkan pertama-tama dengan kekuatan sabda Allah[22]. Dengan berani mereka mewartakan kepada semua orang rancana Allah Penyelamat, “yang menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1Tim 2:4). Tetapi sekaligus para murid Tuhan menghormati mereka yang lemah, juga bila sedang sesat; dan dengan demikian mereka menunjukkan , bagaimana “setiap orang diantara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya kepada Allah” (Rom 14:12)

      Kalau anda mau, anda dapat melihat dokumennya secara lengkap di sini (silakan klik). Jadi, Gereja Katolik tidak pernah memaksakan imannya kepada orang lain. Namun, sesuai dengan prinsip kebebasan beragama, maka Gereja Katolik dan juga agama-agama yang lain bebas untuk mewartakan apa yang dipercayainya, dengan cara yang baik dan tidak dengan paksaan.

      Dengan demikian tuduhan anda yang pertama, yaitu “umatx jga nggak bener” perlu dibuktikan terlebih dahulu. Kemudian tentang tuduhan anda untuk mengkristenkan, maka kita harus mendefinisikan terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan kata mengkristenkan. Kalau maksudnya menyebarkan agama Kristen dengan benar tanpa paksaan, maka saya pikir tidak ada yang salah, sama seperti umat dari agama lain ingin menyebarkan agama mereka masing-masing. Gereja Katolik senantiasa mewartakan Injil, namun tidak pernah memaksakan iman Katolik kepada orang lain, karena tahu bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih, termasuk untuk memilih agama. Memaksakan agama kepada orang lain dimana orang tersebut sebenarnya tidak mau untuk masuk ke dalam agama Katolik, justru bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Jadi kembali ke kasus yang anda kemukakan, menolong seseorang, memberikan pekerjaan bagi yang berbeda agama adalah tidak salah, bahkan merupakan tindakan kasih. Bukankah hal ini juga diajarkan oleh agama yang anda anut? Namun, kalau sampai pertolongan tersebut disertai dengan tindakan yang memaksa orang yang ditolong untuk masuk agama tertentu, maka hal ini tidak dapat dibenarkan. Demikian jawaban yang dapat saya berikan. Mari kita berdiskusi dengan hormat dan lemah lembut, tanpa mengaburkan kebenaran, sebagaimana layaknya umat beriman.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  13. Salam jumpa kembali bersama ibu ingrid atau jg dengan Bapak Stev. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih atas kesediaannya untuk berdiskusi tentang iman kita akan Yesus yang sama2 kita yakini sebagai TUHAN dan penyelamat kita. Berikut ini ada beberapa tanggapan saya atas jawaban2 Ibu dan Bapak ada beberapa keberatan yang akan saya ajukan di bawah ini.

    Ibu menuliskan:
    Memang jika seseorang menutup mata terhadap kenyataan sejarah dan pengajaran para Bapa Gereja, ia dapat menginterpretasikan suatu ayat, sesuai dengan pengertiannya sendiri. Atau bahkan dengan beranimengatakan bahwa yang paling benar adalah pengertiannya sendiri dan semua pengertian para Bapa Gereja (dan bahkan para rasul) itu keliru semua. Jika kita pernah berpikir demikian, mungkin ada baiknya kita menilik ke dalam batin kita, dan mohon kepada Roh Kudus karunia kerendahan hati, untuk jujur melihat ke dalam diri kita. Semoga kita dapat melihat begitu banyaknya keterbatasan yang kita miliki dalam pemahaman Alkitab, dan justru karena itu, kita perlu dengan rendah hati mempelajari dan melihat dengan hati terbuka terhadap semua pengajaran yang diberikan oleh orang- orang yang lebih mendalami Sabda Tuhan daripada kita. Dan semoga kita dapat dengan lapang hati melihat bahwa mereka yang paling mengenal Pribadi YESUS adalah mereka yang pernah hidup, makan, berjalan bersama YESUS, yaitu Bunda Maria Santo Yusuf dan dan para rasul.

    Tanggapan saya:
    Ada suatu kekeliruan besarlah kalau demikian, Kalau hanya pernah hidup, makan, sebagai pondasi, bagaimana jika Rasul Yudas Iskariot menulis kitab, sebelum mengantung dirinya, apa kita mau percaya kitab itu? Apa kemudian Mazmur Daud tidak ada bobot ilahinya, karena Raja Daud tidak hidup, tidak makan bersama Tuhan YESUS?

    2Ti 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

    Bapa Gereja itu juga kan tidak jelas siapa saja?
    Buat Protestan, Bapa Gereja itu adalah KRISTUS YESUS sendiri, bukan rasul yang adalah sesama manusia, yang bisa salah dan keliru juga

    ———————

    Ibu menuliskan:
    Pengajaran para rasul itulah yang diteruskan oleh para Bapa Gereja dan Magisterim Gereja Katolik dengan setia, dan jika kita ingin mengenal dan mengasihi KRISTUS, maka sudah selayaknya kita belajar dari mereka. Jika mereka mengajarkan bahwa YESUS adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia sewaktu hidup-Nya di dunia, maka siapakah kita untuk mengatakan sesuatu yang lain daripada itu?

    Tanggapan saya:
    Pengajaran yang mana yang diteruskan? Di Injil tidak terdapat pengajaran pengkultusan atau berdoa kepada Bunda Maria atau orang2 suci lainnya

    Kalau pengajaran tentang KRISTUS YESUS, ya dan amin

    Diluar itu, tidak
    —————————————–

    Ibu menuliskan doa seperti ini:
    “Ya, Tuhan, bimbinglah kami untuk memahami misteri kasih-Mu dalam diri YESUS yang adalah Allah dan manusia. Karuniakanlah kepada kami kerendahan hati untuk menerima pengajaran-Mu, walaupun belum sepenuhnya dapat kami pahami dengan sempurna. Semoga Roh Kudus-Mu memimpin kami agar kami dapat dengan lapang menerima kebenaran yang Kau-nyatakan melalui Sabda-Mu, pengajaran para rasul dan para penerus mereka. Biarlah kasih kami kepada-Mu mengatasi pengertian pribadi kami; dan dengan kasih ini Engkau membimbing kami kepada seluruh Kebenaran.
    Amin.”

    Tanggapan saya:

    Kasih karunia KRISTUS bukanlah suatu misteri, itu sudah dinyatakan pada Sali KRISTUS, tidak pernah ditemukan dalam Alkitab bahwa kasih KRISTUS itu misteri

    Kalau kasih KRISTUS itu masih “menjadi” misteri, mungkin dapat ditanyakan kepada hati nurani, mengapa masih misteri? Apa yang “menyelubungi” kasih KRISTUS, padahal sudah sangan terang kasih KRISTUS dinyatakan kepada setiap manusia

    Lisa

    • Shalom Lisa,

      Pertanyaan- pertanyaan anda berikut ini memang kami bagi, dan sebagian kami pindahkan ke topik ini, karena pertanyaan anda adalah mengomentari artikel ini. Untuk lain kali, lebih baik anda menulis di bawah artikel yang ingin anda komentari dan tidak menjadikan satu/ mencampur dengan pertanyaan -pertanyaan yang lain, sehingga diskusi menjadi lebih fokus.

      1. Saya tidak mengatakan bahwa hidup dan makan bersama Yesus merupakan pondasi bahwa kita harus menghormati pengajaran para rasul; sebab yang terpenting adalah karena para rasul itu adalah orang-orang yang telah dipilih secara khusus oleh Kristus untuk mewartakan Injil, membaptis dan mengajarkan kepada kita semua perintah-Nya (Mat 28:19-20). Dengan demikian, sudah selayaknya kita menerima pengajaran para rasul tersebut, sebab Tuhan Yesus sendirilah yang memilih mereka dan melengkapi mereka dengan kuasa Roh Kudus-Nya untuk mengajar segala perintah-Nya kepada segala bangsa. Bahwa perintah ini berlaku bagi kita juga, bahwa kitapun perlu mewartakan Injil, itu tidak mengubah kenyataan bahwa pertama kali Yesus memberikan perintah ini kepada para rasul-Nya dan janji bahwa Kristus akan menyertai sampai akhir jaman itu juga diberikan secara khusus kepada para rasul dalam Gereja-Nya yang didirikan di atas Rasul Petrus (Mat 16:18).

      Hal hidup bersama dengan Yesus itu adalah alasan yang berikutnya mengapa kita selayaknya belajar dari para rasul. Sebab jika Roh Kudus-nya sama antara yang kita terima dengan yang mereka terima, kita harus dengan lebih rendah hati mengakui bahwa mereka lebih mengenal Kristus dan teladan-Nya daripada kita yang terpisah sekian generasi dengan Kristus. Karena mereka menerima langsung pengajaran Kristus, hingga ke detail-nya, yang tak terekam sepenuhnya dalam tulisan. Melalui merekalah kita memperoleh Injil dan memperoleh pengetahuan tentang Kristus dan ajaran-Nya, sehingga sudah selayaknya kita belajar dari mereka tentang apa maksudnya dari pengajaran Kristus itu. Mungkin pada saat para rasul mendengar ajaran Yesus pertama kalinya, mereka belum memahami sepenuhnya, namun setelah kebangkitan Yesus dan Pentakosta, mereka melihat penggenapannya, dan pengertian inilah yang mereka teruskan kepada para murid mereka, secara lisan dan tulisan.

      Anda menuliskan tentang Rasul Yudas sebagai contohnya, mengapa kita tidak seharusnya percaya kepada ajaran para rasul. Namun contoh yang anda berikan tidak relevan, karena rasul Yudas tidak menulis Injil (Injil Yudas yang ada bukan ditulis oleh Yudas, tapi oleh pengikut ajaran sesat Gnosticsm). Kita mengetahui yang menulis Injil adalah Matius, Yohanes, Markus (murid dari Rasul Petrus) dan Lukas (murid Rasul Paulus). Kepada keempat penulis Injil inilah kita percaya bahwa Roh Kudus secara istimewa mengilhami mereka saat mereka menuliskan Injil. Kita mengetahui bahwa penulisan Injil dilakukan setelah peristiwa Pentakosta, di mana Roh Kudus sendiri telah turun atas mereka, yang menjadikan mereka manusia yang baru, yang tidak sama dengan sebelumnya (Maka di sini anda tidak dapat membandingkan mereka dengan Yudas). Hal ini secara khusus kita lihat dalam diri Petrus yang tadinya sempat menyangkal Yesus 3 kali, namun setelah Pentakosta, ia menjadi Rasul yang berani mewartakan Kristus; demikian pula dengan Rasul Paulus, dan kita mengetahui keduanya wafat sebagai martir di Roma.

      Lisa, fakta ini adalah sesuatu yang obyektif. Mereka yang hidup bersama dengan Yesus, terutama Maria dan Yusuf yang pernah hidup di bawah satu atap dengan Yesus, dan para rasul yang pernah mendengarkan pengajaran langsung dari Yesus tentulah lebih mengenal Tuhan Yesus daripada kita. Sahabat anda yang pernah tinggal bersama dengan anda selama sekian tahun, tentulah akan lebih mengenal anda daripada orang-orang lain yang tidak pernah hidup bersama anda. Demikian pula selayaknya kita melihat kepada para rasul terhadap Yesus, apalagi setelah itu Tuhan memberikan karunia Roh Kudus kepada mereka.

      Maka Injil tidak untuk dibandingkan dengan Mazmur Daud. Sebab Gereja Katolik juga tetap menerima Mazmur sebagai Kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, sebab jika tidak demikian Gereja Katolik tidak memasukkannya ke dalam kanon Kitab Suci. Gereja Katolik mempunyai penghormatan terhadap Kitab Mazmur, dan ini terlihat dari ibadat harian yang didoakan oleh Gereja Katolik setiap harinya merupakan kumpulan doa dari kitab Mazmur. Mazmur selalu dibacakan/ dikumandangkan dalam perayaan Ekaristi. Namun tentu saja, peran raja Daud tidak sama dengan peran para rasul, itupun harus diakui secara obyektif. Raja Daud membuka jalan bagi lahirnya Kristus, karena Kristus adalah keturunan Daud, sedangkan para rasul melanjutkan karya Kristus.

      Para Bapa Gereja pada abad- abad awal adalah mereka yang mempunyai hubungan dengan para rasul, entah sebagai murid mereka atau murid dari murid mereka. Namun kemudian, kita mengetahui bahwa ajaran ini secara turun temurun diajarkan kepada para murid sesudah generasi mereka. Jika anda beranggapan bahwa para Bapa Gereja ini bisa salah, sebenarnya hal yang sama juga berlaku pada kita, bahwa kitapun bisa salah, sehingga sesungguhnya kitapun tak berhak menghakimi mereka bahwa mereka "salah mengajar", padahal mereka lebih dekat kepada sumber ajarannya.

      2. Anda mempertanyakan ajaran apa yang diteruskan oleh para Bapa Gereja dan Magisterium Gereja Katolik dengan setia. Anda berkata: "Di Injil tidak terdapat pengajaran pengkultusan atau berdoa kepada Bunda Maria atau orang2 suci lainnya"

      Pertama-tama anda perlu mendefinisikan dulu, apakah yang anda sebut sebagai "pengkultusan" Bunda Maria dan orang-orang suci? Sebab kelihatannya kita tidak sepaham dalam hal ini. Kedua, seperti yang pernah saya uraikan panjang lebar dalam jawaban dan artikel-artikel di situs ini, Gereja Katolik tidak menganggap bahwa Injil sebagai satu-satunya sumber pengajaran iman. Namun ada Tradisi Suci yaitu yang berdasarkan pengajaran Kristus dan para rasul yang lisan, namun yang kemudian dituliskan oleh para Bapa Gereja. Nah, ajaran tentang Bunda Maria dan persekutuan orang kudus inilah yang secara konsisten diajarkan oleh mereka sebagai contohnya. Nampaknya anda tidak menerima ajaran Gereja Katolik tentang penghormatan kepada orang-orang kudus ini, karena anda berpikir bahwa dengan menghormati Maria dan orang-orang kudus maka Gereja Katolik "mengambil"/ mengurangi kemuliaan Tuhan untuk diberikan kepada mereka. Namun ini adalah pandangan yang keliru. Sebab prinsip yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah penghormatan kepada Maria dan para orang kudus tidaklah terpisah dari penghormatan kita kepada Allah yang menciptakan mereka. Kita sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus hanya turut bersukacita jika ada anggota- anggota Tubuh yang lain dimuliakan (lih. 1 Kor 12:26), karena mereka telah bekerjasama dengan rahmat Allah secara istimewa. Kalau anda mau berdiskusi tentang topik ini secara lebih mendalam, silakan berdiskusi di sini (silakan klik).

      Anda menganggap bahwa Kristus/ para rasul tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang di luar Kristus; dan ini memang benar, sebab apa yang dikatakan oleh anggota Tubuh, tidak akan pernah terpisah dari Tubuh, demikian pula kenyataan bahwa Kepala tidak terpisah dari Tubuh. Sebab dalam Alkitab sendiri dikatakan bahwa Tubuh Kristus mempunyai banyak anggota (1 Kor 12:12, 20). Maka jika ada penghormatan kepada salah satu anggota Tubuh Kristus, itu tidak berarti mencuri penghormatan kepada Sang Kepala, namun penghormatan kepada seluruh Tubuh-Nya, termasuk Kepala-Nya yaitu Kristus. Dengan demikian, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan umat Katolik untuk menghormati Bunda Maria terlepas dari menghormati Kristus, sebab penghormatan kepada Bunda Maria justru disebabkan karena kita menghormati Kristus Sang Penyelamat yang dilahirkannya.

      3. Anda mengatakan demikian, Kasih karunia KRISTUS bukanlah suatu misteri, itu sudah dinyatakan pada Salib KRISTUS, tidak pernah ditemukan dalam Alkitab bahwa kasih KRISTUS itu misteri. Kalau kasih KRISTUS itu masih “menjadi” misteri, mungkin dapat ditanyakan kepada hati nurani, mengapa masih misteri? Apa yang “menyelubungi” kasih KRISTUS, padahal sudah sangat terang kasih KRISTUS dinyatakan kepada setiap manusia.

      Anda mengatakan demikian untuk menanggapi perkataan saya dalam doa yang saya tuliskan demikian, "Ya, Tuhan, bimbinglah kami untuk memahami misteri kasih-Mu dalam diri YESUS yang adalah Allah dan manusia…." Agaknya anda tidak mempunyai pemahaman yang sama dengan saya tentang definisi "misteri" ("mystery"- RSV yang diterjemahkan di dalam Alkitab Indonesia, sebagai "rahasia"). Karena kasih Allah yang dinyatakan kepada kita lewat Kristus di salib-Nya memang sesuatu yang nyata, jelas dan terang, seperti kata anda, tetapi hal itu tidak berarti bahwa sudah tidak ada lagi yang dapat kita ketahui tentang kasih Allah ini. Kasih Allah itu tak terbatas, yang memang dapat kita lihat melalui pengorbanan Kristus yang membebaskan kita dari dosa dan maut, namun itu bukan akhir dari kasih-Nya. Sebab, oleh pengorbanan Kristus ini kita masuk ke dalam kasih Allah yang lebih dalam lagi, yaitu kita dapat memperoleh hidup ilahi yang membawa kita kepada persatuan dengan Allah sendiri, dan inilah yang masih merupakan "misteri" bagi kita, yang baru dapat kita pahami sepenuhnya di surga kelak. Sebab misteri persatuan kita dengan Allah di dalam Kristus ini juga merupakan bagian dari misteri Allah Tritunggal yang tak sepenuhnya terselami oleh akal budi manusia.

      Demikianlah yang dikatakan dalam Kitab Suci:

      "Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya." (Ef 1:9-12)

      ""Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya, untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat…. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat." (Ef 5: 32)

      Maka di sini terlihatlah bahwa korban Salib Kristus merupakan bukti kasih Kristus kepada jemaat/ Gereja-Nya, untuk menguduskannya. Kasih yang mempersatukan antara kita sebagai anggota- anggota Tubuh dengan Kristus sebagai Kepala inilah yang dikatakan sebagai "rahasia"/ misteri, karena walaupun sudah dinyatakan melalui korban Kristus, [dan bagi umat Katolik, persatuan kasih ini diterima setiap kali menerima Ekaristi], namun penggenapan sampai kepada kesempurnaannya baru dapat kita alami di surga. Sebab di surgalah kita akan dipersatukan oleh Kristus, di saat kita akan melihat dan mengenal Dia dengan sempurna, seperti dikatakan demikian:

      "Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." (1 Kor 13:12)

      "Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya." (1 Yoh 3:2)

      Maka misteri/ rahasia inilah yang diakui oleh umat Katolik, bahwa sepanjang hidup kita di dunia adalah perjalanan iman untuk lebih memahami kasih Tuhan, yang walau sudah jelas dinyatakan oleh salib Kristus, tetap menyimpan kedalaman makna yang tak terselami, sampai akhirnya kita mengalami penggenapannya di surga, dimana kita dipersatukan dengan Kristus dan semua umat manusia, dimana "Allah menjadi semua di dalam semua" (1 Kor 15:8). Jadi permasalahannya bukan "apa yang menyelubungi kasih Kristus" tetapi bahwa kesempurnaan hidup ilahi kita baru tercapai di surga. Oleh karena di bumi ini kita hanya mengalaminya sebagai gambaran yang samar-samar jika dibandingkan dengan kesempurnaan surgawi, maka kita dapat mengatakan bahwa kasih Allah masih menyimpan rahasia yang besar yang akan terus menerus dibukakan kepada kita sepanjang hidup kita di dunia, sampai kelak kita sampai ke surga.

      Demikian penjelasan dari saya, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  14. m. imron pribadi on

    Yesus sungguh Allah sungguh manusia, yesus adalah Allah yang menjelma pada manusia, ini adalah sebuah keyakinan dan keimanan pada yesus. iman itu dalam hati, jika hati kita benar-benar bersih maka dengan sebenarnya kita akan dapat melihat kebenaran apa yang sebenarnya terjadi pada yesus.

  15. Salam damai sejahtera

    Dear Stef & Ingrid

    Saya masih punya satu pertanyaan lagi tentang YESUS, bagaimana tanggapan anda tentang 2 ayat berikut ini.

    2 Yohanes 7 : Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.

    Jika kita tidak mengakui Yesus sebagai manusia bukankah kita adalah si penyesat dan antikris ?

    Ibrani 2 : 9 : Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

    Mungkinkah Yesus (yang 100% Allah dan 100% manusia) dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat ?
    Kalau Yesus untuk waktu yang singkat (33,5 tahun) menjadi manusia 100% itu baru mungkin sedikit lebih rendah dari malaikat.
    Malaikat itu ciptaan Allah, bagaimana mungkin Allah lebih rendah dari malaikat ?

    Salam
    mac

    • Shalom Machmud,

      1. Ayat 2 Yoh 7 menyebutkan adanya anti-kristus yang tidak percaya bahwa Yesus telah datang sebagai manusia. Konteks ayat ini ditujukan pada mereka yang tidak percaya bahwa Kristus adalah Putera Allah yang menjelma menjadi manusia. Maka memang, jika kita tidak percaya bahwa Kristus telah datang sebagai manusia, maka kita sesat.

      Gereja Katolik percaya bahwa Yesus Kristus adalah Putera Allah telah datang sebagai manusia, sehingga di dalam satu Pribadi-Nya, Ia adalah sungguh- sungguh Allah dan sungguh- sungguh manusia. Maka karena umat Katolik percaya bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh manusia (walaupun Ia juga sungguh-sungguh Allah) maka umat Katolik bukan anti-Kristus. Semoga anda dapat memahami di sini bahwa Gereja Katolik tidak pernah menyangkal kemanusiaan Yesus. Justru kalau anda melihat sejarah, yang saya paparkan di artikel di atas, Gereja Katolik selalu mempertahankan ajaran kemanusiaan Yesus, walaupun ini dilakukan tanpa mengorbankan ajaran tentang ke-Allahan-Nya.

      2. Dalam Ibrani 2:9 dikatakan:

      "Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia."

      Di ayat ini kita melihat dua kondisi:

      a) Dia (Yesus) dibuat lebih rendah dari malaikat; ini adalah ungkapan yang ditujukan untuk kodrat kemanusiaan Yesus, dan bukan pada kodrat ke-Allahan-Nya. "Lebih rendah" di sini mengacu kepada sifat kemanusiaan Yesus, yang terbatas oleh tubuh, dapat merasa lapar dan haus, dapat merasa lelah dan sakit, dan dapat mati.

      b) Namun ini tidak mengubah kenyataan bahwa Yesus adalah sungguh Allah, sehingga Ia dapat mengalahkan maut. Sebab kebangkitan Yesus tidak terpisah dari wafat-Nya. Ia dimahkotai di surga karena ketaatan dan pengorbanan-Nya di kayu salib yang dijalani-Nya saat Ia menjadi manusia. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa ada dua realitas yang terpisah, Yesus hidup dan wafat sebagai manusia, namun bisa bangkit sebagai Tuhan. Justru karena Ia Tuhan, maka Ia bisa bangkit dari wafat-Nya.

      Kelihatannya di sini Machmud membayangkan bahwa ungkapan ‘sungguh Tuhan dan sungguh manusia’ sebagai suatu campuran yang ‘menghasilkan’ sosok yang lebih tinggi dari malaikat. Padahal yang dimaksud di sini bukan mencampurkan sebagai suatu ‘confusion‘ antara Allah dan manusia, sehingga keduanya tidak bisa dibedakan. Menurut pengajaran Bapa Gereja, misteri dua kodrat (ke-Allahan dan kemanusiaan) dalam Pribadi Yesus ini, tidak untuk dicampur adukkan sehingga tidak bisa dibedakan satu sama lain. Sebab dikatakan dalam artikel di atas, bahwa tiap kodrat tetap mempertahankan ciri-ciri dan sifat-sifat-Nya tersendiri namun tetap dalam kesatuan dalam Pribadi Yesus. Maka harusnya perkataan  ‘lebih rendah dari malaikat’ itu ditujukan kepada kemanusiaan Yesus, namun tentu, dalam kodrat ke-Allahan-Nya Yesus tidak lebih rendah dari para malaikat. Itulah sebabnya, bahkan sewaktu ia menjelma menjadi manusia, para malaikat menghormati-Nya dan bahkan melayani-Nya. Ini terlihat jelas pada saat pemberitaan kelahiranNya (Luk 2:13-14), pada saat Ia selesai mengalahkan godaan di padang gurun (lih. Luk 4:11).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

    • Shalom Peter,
      I think, wisdom is in all those who believe in God and in His Truth that is revealed in Christ His Son. “To believe in God” in the full sense of the word, refers to “the obedience of faith”, which means: to give a full submission of our intellect and will to God who reveals His Truth. (cf. Dei Verbum 5) Thus we do not rely on our own understanding, but rather, on God’s revelation. This attitude requires humility, which to me, is a living proof of the gift of the Holy Spirit in us, namely, the fear of the Lord (Is 11:2-3).
      And this ‘fear of the Lord’ is the beginning of wisdom (Ps 111:10).
      May God’s Wisdom, that is, Christ Himself (cf.1 Cor 2: 6-9), be in us all.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati -www,katolisitas.org

  16. Salam damai sejahtera

    Dear Ingrid & Stef

    Terima kasih atas uraiannya yang panjang lebar.

    Saya tidak bisa menyatakan pendapat saya seperti yang anda sampaikan , sebab saya memang hanya mengerti sedikit saja tentang Alkitab dan tidak pernah belajar tentang Magisterium atau yang lainnya, saya hanya belajar dari Alkitab yang anda katakan tidak cukup harus ditambah dengan pengajaran para Bapa Gereja Katolik, tetapi saya sangat meyakini bahwa pendapat saya tentang kemanusia Yesus adalah benar.

    Mungkin anda berpendapat bahwa pengorbanan Kristus untuk umat manusia hanya sampai ke menyelamatkan manusia dan bisa masuk ke sorga, tapi saya melihat Yesus sebagai contoh akan rencana Allah bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan, yaitu menjadi Kristus dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa.

    Berikut uraian saya :

    PUTRA MANUSIA YESUS ALLAH ATAU MANUSIA ?

    Bingung ?
    TUHAN YESUS SEBAGAI APA ?
    1. Sebagai manusia ada tanggal lahirnya, bertumbuh dari bayi menjadi dewasa dan akhirnya mati
    2. Sebagai Allah kekal (Yes 9 : 5 )
    Kalau kita mengerti kita tidak akan bingung.

    PUTRA MANUSIA YESUS :
    Allah yang datang ke dunia sebagai manusia (1Yoh 4 : 2 – 2Yoh 7)
    Apakah Putra Manusia itu Allah ? —- BUKAN , tetapi
    Allah yang menjadi Manusia, ini yang ditekankan dalam ( 1 Tim 3 : 16)
    INI TIDAK SAMA !
    1. Pil 2 : 7 Mengosongkan diri
    2. Rencana Allah yang tampak pada kita
    3. Manusia bisa menjadi seperti Dia
    4. Yoh 5 : 19 Berhubungan dengan Bapa sebagai Putra tetapi tetap hidup sebagai manusia

    KELAHIRANNYA MELALUI SEORANG PERAWAN
    1. Maria belum bersuami (Luk 1 : 34)
    2. Malaikat memberi tanda yang mustahil ( Yes 7 : 14)
    3. Bagaimana Allah melahirkan Tuhan Yesus ?
    • Putra Allah adalah Roh, mula2 tidak mempunyai tubuh manusia (Yoh 4 : 24)
    • Bapa mengirim PutraNya (Yoh 3 : 16)
    • Semua keilahianNya ditinggal di Surga (Pil 2 : 7), sudah kosong, tidak berdaya, harus dibantu Bapa dan Rohkudus untuk lahir dalam dunia
    • Menyerahkan RohNya kepada Bapa, penyerahan pertama sebagai Putra manusia (terakhir Luk 23 : 46)
    • Rohkudus dan Bapa mengerjakan (Luk 1 : 35) , Bapa memberi tubuh manusiawi (Ibr 10 : 5)
    • Lahir Putra manusia Yesus tanpa pernikahan (Yoh 1 : 13)

    PUTRA MANUDIA YESUS
    1. Sama dengan semua manusia (Ibr 2 : 17 – Ibr 4 : 15)
    2. Bedanya dengan manusia , Dia tidak bisa brdosa, menjadi korban tebusan (Yoh 1 : 29)
    3. Dia berasal dari atas (Yoh 8 : 23), sebagai Adam terakhir dan manusia jenis ke : II (1Kor 15 : 45 & 47)

    HIDUP DI DUNIA SEBAGAI MANUSIA PENUH
    Bukan sebagai “Dewa”
    1. Ia bisa menjadi contoh dan jalan menuju kepada Bapa
    2. Dia hidup sama seperti kita dalam semua segi hidupNya (Ibr 4 : 15 — 1Kor 11 : 1)
    3. Dalam pertumbuhanNya jelas sebagai manusia dari :
    a. Bayi yang tidak berdaya menjadi
    b. Anak yang harus diasuh oleh orang tuanya
    c. Dicari dan dibimbing (Luk 2 : 44-46 & 51)

    MENGENAL TUHAN YESUS dari arah keilahianNya atau dari arah kemanusianNya, ini sangat penting supaya kita bisa melihat rencana Allah bagi kita dengan lengkap sebab :
    1. Iman kita akan tumbuh untuk bisa hidup seperti Kristus
    2. Dalam pergumulan hidup tidak mudah putus asa (Maz 37 : 24 — Mika 7 : 8)
    3. Kagum , heran seperti keledai Isakhar, timbul gairah (Kej 49 : 14 – 15)
    BISA BERTUMBUH SEPERTI KRISTUS
    a. Mencapai ukuran yang penuh (Ef 4 : 13)
    b. Menjadi sama seperti Dia (1Yoh 3 : 2)
    c. Menjadi allah-allah seperti Kristus (Yoh 10 : 35)
    d. Menjadi mempelai Kristus (Ef 5 : 27 & 31)
    e. Terhias bagi suaminya (Wah 22 : 1)

    Jika tidak bisa melihat kemanusiaan Tuhan Yesus, maka akan sulit untuk mengerti kesempurnaan Allah (dianggap sesat), tetapi jika bisa mengerti kemanusiaan Yesus , dengan kunci Immanuel, maka bisa tumbuh seperti Kristus sehingga timbul gairah

    KEMATIAN DAN KEBANGKITANNYA.
    MATI
    = Ternyata Ia bisa mati
    = Pilatus terkejut (Mark 15 : 44)
    = Cocok menjadi korban tebusan, sebab darahNya mengalir (Ibr 9 : 22)
    BANGKIT
    = Tidak bisa bangkit sendiri
    = Bapa dan Rohkudus yang membangkitkan Rom 6 : 4 & Rom 8 : 11)
    = Mendapat tubuh kemuliaan (Pil 3 : 21)

    Tuhan Yesus + tubuh manusia —– Tubuh kemuliaan + Roh Allah
    Manusia + Roh Allah —– Tubuh kemuliaan + Roh Allah

    TUHAN YESUS MENGOSONGKAN DIRINYA
    1. Menjadi manusia sama seperti kita (Pil 2 : 7)
    2. Dijamah oleh segala kelemahan manusiawi
    3. Bisa menolong manusia, dan menjadi jalan manusia untuk sampai kepada Bapa (Ibr 2 : 17 – 18 )

    BERASAL DARI ATAS (Yoh : 8 : 23)
    Apa bedanya ?
    DARI BAWAH :
    Turunan Adam I
    Dikuasai hukum dosa dan maut (Rom 7 : 14)
    DARI ATAS :
    Turunan Adam terakhir, manusia II
    Dikuasai hukum Roh sehingga bisa hidup suci, bebas dari dosa
    Akan kembali ke atas (Ibr 11 : 15-16 & 2Kor 5 : 1)
    PINDAH DARI BAWAH KE ATAS :
    Dengan kelahiran baru (Yoh 3 : 3)
    Menjadi orang atas, dibenci orang bawah (Yoh 15 : 18 – 19)

    NAMANYA IMMANUEL (Mat 1 : 23)
    Putra manusia Yersus berbuat banyak mujijat, ajaib, kuasa karena :1. Ia adalah Immanuel (Yoh 3 : 2)
    Putra Allah lahir dari atas —– manusia jenis ke : II
    Manusia lahir dari bawah —– manusia dosa —– dengan lahir baru yaitu lahir dari atas —– Manusia jenis ke : II
    Manusia jenis ke: II + Rohkudus = Immanuel —– seperti Allah

    PUTRA MANUSIA YESUS DI KANAN ALLAH BAPA
    Putra Manusia Yesus di dunia :
    a. Biasanya sebagai manusia (1Yoh 4 : 2)
    b. Pernah minta kemuliaan Ilahi (Yoh 17 : 5)
    c. Tetap bersatu dengan Bapa Surgawi (Yoh 10 : 30)
    d. Satu kali kembali ke Bapa (Yoh 6 : 62)

    Mengapa di kanan Allah Bapa ?
    a. Putra Allah menjadi manusia (1Yoh 4 : 2)
    b. Menjadi korban tebusan, taat sampai mati (Pil 2 : 8)
    c. Ditinggikan Bapa (Pil 2 : 9 – 11)
    d. Duduk di kanan Allah Bapa (Ibr 10 : 12)
    Ini semua dibuat untuk JALAN bagi kita orang tebusan yang taat, bisa sampai disini (Wah 14 : 4 — Yoh 17 : 24 – 26 )

    KESIMPULAN :
    1. Tuhan Yesus datang sebagai manusia (1Yoh 4 : 2)
    2. Tuhan Yesus Allah yang menjadi manusia
    3. Menjadi manusia yang sama dengan kita, sebab itu kita bisa menjadi seperti Kristus
    4. Asalnya dari atas, Adam terakhir, manusia jenis ke : II
    5. Kalau bisa melihat Putra manusia Yesus dari kemanusiaanNya, maka bisa melihat rencana Allah yang lengkap
    6. Rencana Allah, manusia menjadi Allah seperti Kristus
    7. sampai duduk di sebelah kanan Allah Bapa.

    Salam
    Mac

    • Shalom Machmud
      Adalah suatu yang baik jika kita mempunyai semangat untuk mempelajari Kitab Suci. Hal ini memang saya lihat terjadi pada Machmud, dan ini sebenarnya adalah contoh yang baik bagi umat Katolik, yang mungkin banyak malah tidak memiliki semangat sebesar semangat anda. Namun demikian, bagi umat Katolik, membaca dan merenungkan Alkitab harus disertai juga dengan maksud untuk mengetahui makna Alkitab keseluruhan, dan bahwa tidak bisa kita hanya memperhatikan beberapa ayat saja yang kelihatannya mendukung pengertian kita, lalu mengabaikan ayat-ayat yang lain. Menurut pengamatan saya, inilah yang terjadi pada Machmud (dan sebenarnya juga Martin Luther), pada saat mengambil kesimpulan bahwa Yesus selama hidup-Nya di dunia bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa, namun di dalamnya ada Allah Bapa dan Roh Kudus. Ini adalah pandangan yang mencampur adukkan antara hakekat Allah dan manusia. Pandangan ini malah tidak sesuai dengan ayat- ayat Alkitab yang lain, seperti yang telah saya sampaikan di atas, yang jelas menyebutkan bahwa selama hidup-Nya di dunia Yesus itu sungguh Tuhan, walaupun juga sungguh manusia.

      Dengan mengajarkan bahwa Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia, Gereja Katolik bukannya menolak kemanusiaan Yesus. Maka saya tidak berkeberatan memuat ayat-ayat yang anda tuliskan yang menyatakan kemanusiaan Yesus. Memang benar demikian halnya, bahwa Yesus adalah Tuhan Allah Putera yang menjelma menjadi manusia. Namun Gereja Katolik mengajarkan bahwa pada saat menjadi manusia, Yesus tidak berhenti menjadi Allah. Maka kodrat ke-Allahan dan kemanusiaan ada dalam Pribadi Yesus dalam keutuhannya masing-masing. Maka jika ada istilah Yesus ‘dibangkitkan’ ini mengacu kepada kemanusiaan Yesus, sedangkan pada pernyataan Yesus ‘bangkit’, ini mengacu kepada ke-Allahan Yesus. Ke-Allahan Yesus inilah yang memampukan Yesus memberikan hidup ilahi-Nya kepada kita melalui korban salib dan kebangkitan-Nya. Kalau Ia manusia biasa (‘hanya’ seperti nabi), maka Ia tidak dapat melakukan hal itu. Prinsip dasarnya adalah: seseorang tidak bisa memberi sesuatu kepada orang lain, kalau ia sendiri tidak punya.

      Sedangkan jika mengambil prinsip yang Machmud katakan bahwa Allah Bapa dan Roh Kudus ada di dalam Yesus yang adalah manusia biasa, itu malah bertentangan dengan pernyataan anda bahwa Yesus adalah manusia biasa. Sebab manusia biasa memiliki tubuh manusia dan roh manusia, tetapi yang anda katakan di sini seolah-olah Yesus mempunyai tubuh manusia namun roh-Nya adalah Allah Bapa dan Roh Kudus. Dengan demikian maka Yesus tidak bisa dikatakan sebagai manusia biasa, sebab manusia biasa tidak mempunyai Roh Allah (yang menggantikan roh kemanusiaannya). Jika anda mempelajari sejarah, ini adalah prinsip heresi Monophisitism di abad ke-5, yang mencampur adukkan tubuh manusia dengan roh Allah dalam diri Yesus, atau jika anda mau mundur sedikit lagi, ini mirip juga dengan heresi Arianism, yang menganggap Yesus bukan manusia biasa, tetapi semacam superangel, sebab memiliki Roh Allah. Sedangkan, Gereja Katolik selalu mengajarkan hal yang sama dari masa awal sampai sekarang, yaitu Yesus Kristus dalam hidupNya di dunia adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, artinya memiliki tubuh manusia dengan roh manusia, namun kodrat kemanusiaan-Nya ini bersatu secara ‘hypostatik’ dengan kodrat ke-Allahan-Nya. Sehingga, kedua kodrat memiliki sifat-sifat yang layak bagi masing-masing, yang tidak saling tercampur aduk, namun juga keduanya tidak dapat dipisahkan; dan kedua kodrat ini membentuk Satu Pribadi Yesus.

      Hanya dengan memahami bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia pada hidup-Nya di dunia, maka kita dapat memahami arti "Immanuel" yang artinya adalah Allah menyertai kita. (Mat 1:23) "Kita"di sini bukan saja manusia Yesus, tetapi seluruh umat manusia. Karena maksudnya adalah Allah Putera mengambil rupa manusia dalam Diri Yesus Kristus, untuk menyatukan dan mendamaikan manusiadengan Allah.  Inilah arti Immanuel menurut Alkitab, jadi bukannya Allah Bapa dan Roh Kudus menyertai manusia Yesus, seperti yang Machmud sampaikan.

      Juga, dengan memahami bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia maka kita bisa mengatakan, ‘….aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku….. hidup oleh Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."  (Gal 2:20) Maka pada saat menyerahkan Diri-Nya di kayu salib, Yesus adalah [tetap] Anak Allah yang sungguh-sungguh Allah. Inilah yang menyebabkan Ia dapat mengatakan Diri-Nya adalah Roti Hidup yang turun dari Surga, "Barang siapa yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam Dia." (Yoh 6:56). Oleh karena itu kita bisa mengatakan Ia hidup di dalam kita (Yoh 6:57).

      Benar jika dikatakan bahwa Yesus adalah sungguh manusia. Dengan demikian kita bisa mengikuti teladan-Nya. Namun kita juga kita tetap mengakui ke- Allahan-Nya, sebab jika tidak, Ia tidak dapat memberikan hidup Ilahi-Nya pada kita, yang dilakukannya justru pada saat Ia hidup di dunia sebagai manusia, yaitu saat ia menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib. Berdasarkan prinsip: seseorang tidak bisa memberikan sesuatu kepada orang lain kalau ia sendiri tidak punya, maka Yesus pastilah memiliki hidup ilahi-Nya pada saat hidup-Nya di dunia, dan itulah yang diberikan-Nya pada kita melalui pengorbanan-Nya. Misteri Paskah-Nya (wafat dan kebangkitan-Nya) adalah karya Allah yang paling luhur dalam sejarah keselamatan manusia. Paskah/ Kebangkitan tidak mungkin terjadi tanpa korban salib Kristus, dan selayaknya dilihat sebagai kesatuan dengan korban salib-Nya. Misteri inilah yang selalu dirayakan dalam sakramen-sakramen Gereja Katolik, yang menggabungkan umat beriman dengan kehidupan Ilahi di dalam Kristus.

      Keselamatan yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah dimulai dari langkah pertobatan dan hidup di dalam Roh Kudus [melalui Pembaptisan] yang menuntun kita menuju kepada persatuan dengan Allah di surga. Melalui Pembaptisan, Penguatan oleh Roh Kudus dan terutama Ekaristi, kita mengambil bagian dalam hidup Ilahi, karena kita menyambut Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan Kristus. Namun ini tidak semata-mata menjadikan kita Allah/ Kristus. Pengajaran bahwa seseorang manusia dapat menjadi Allah karena mengandung semacam ‘partikel’ Allah itu adalah ajaran Pantheism, yang marak sekarang diajarkan dalam New Age Movement, namun sebenarnya itu bukan ajaran Kristiani.

      Sedangkan persatuan kita dengan Kristus yang diajarkan oleh Gereja Katolik yang berdasarkan Alkitab adalah persatuan menjadi "keseluruhan Kristus", di mana Kristus menjadi Kepala dan kita semua menjadi anggota Tubuh-Nya (lih. Ef 5:23), yaitu Gereja-Nya. Jadi memang, di surga kita akan menjadi seperti Kristus, namun bukan identik persis dengan Kristus/ Allah. Sebab, biar bagaimanapun kita tidak akan dapat menggantikan peran Yesus sebagai Kepala Tubuh. Namun demikian, Kristus sebagai Kepala akan membawa kita (dan seluruh ciptaan) kepada persatuan dengan Allah, di mana Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28). Silakan membaca lebih lanjut di tulisan ini, silakan klik, akan makna ayat tersebut menurut Gereja Katolik.

      Maka tanggapan saya yang berdasarkan ajaran Gereja Katolik, terhadap kesimpulan yang anda ambil adalah [Pernyataan anda saya beri warna biru]:
      1. Tuhan Yesus datang sebagai manusia (1Yoh 4 : 2)
      Ya benar.

      2. Tuhan Yesus Allah yang menjadi manusia
      Ya benar, namun Ia tidak berhenti menjadi Allah, sebab kodrat Allah adalah tetap kekal selamanya.

      3. Menjadi manusia yang sama dengan kita, sebab itu kita bisa menjadi seperti Kristus
      Ya benar, karena Ia adalah manusia, maka kita dapat meniru teladan-Nya. Namun jika anda mengatakan bahwa Allah Bapa dan Roh Kudus menggantikan roh manusia dalam diri Yesus, maka sebenarnya Yesus bukan manusia biasa, sehingga malah tidak mungkin kita tiru. Sebab kita manusia biasa mempunyai tubuh manusia dan roh manusia. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus dalam hidup-Nya di dunia adalah manusia biasa karena mempunyai tubuh dan jiwa manusia, namun kodrat kemanusiaan-Nya ini bersatu dengan kodrat ke-Allahan-Nya. Justru karena Ia adalah manusia dengan roh manusia seperti kita, maka kita bisa meniru teladan-Nya. Jika anda mengatakan bahwa Yesus mempunyai roh manusia yang disertai Roh Allah, anda harus mendefinisikan kembali maksud anda: apa bedanya Ia dengan kita: mengapa Ia disebut Putera Allah yang dapat memberi hidup Ilahi/ kekal, karena tidak mungkin manusia biasa yang bukan Allah dapat memberikan hidup ilahi dan mendamaikan manusia dengan Allah dengan sempurna. Jika ini mungkin, maka Allah tak perlu mengutus Putera-Nya, cukuplah bagi-Nya untuk mengutus para nabi. Pandangan ini sebenarnya menurunkan makna misteri Inkarnasi dan Penyelamatan.

      4. Asalnya dari atas, Adam terakhir, manusia jenis ke : II
      Ya, benar, karena Yesus berasal dari Allah, dikandung dari Roh Kudus (Luk 1:35)

      5. Kalau bisa melihat Putra manusia Yesus dari kemanusiaanNya, maka bisa melihat rencana Allah yang lengkap
      Kita bisa melihat rencana yang lengkap dari Allah jika kita melihat Yesus sebagai sungguh Allah dan sungguh manusia.

      6. Rencana Allah, manusia menjadi Allah seperti Kristus
      Rencana Allah adalah supaya kita bersatu dengan Allah melalui Kristus. Persatuan ini diartikan bahwa bersama Kristus kita menjadi "keseluruhan Kristus," dengan Kristus sebagai Kepala dan kita adalah anggota-anggota-Nya. Namun persatuan ini tidak menjadikan kita identik dengan Allah.

      7. sampai duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
      Persatuan dengan Allah ini menjadikan Allah di dalam semua (1Kor 15:28). Dengan persatuan dengan Kristus, maka dimanapun Ia berada, di situpun pula kita.

      Akhirnya, mari kita saling menghargai akan ajaran yang kita imani. Harus diakui tidak mudah untuk menyatukannya karena memang berbeda, antara pandangan Machmud dengan ajaran Gereja Katolik; walaupun harus juga diakui terdapat persamaan yang besar di antara kita, dengan melihat Kristus sebagai Penyelamat kita. Suatu saat nanti, pada saat kita sampai ke surga, kita akan mengetahui hal yang sebenarnya mengenai ini semua. Namun, sebelum sampai ke sana, mari kita memohon terang Roh Kudus, agar menuntun kita kepada seluruh kebenaran itu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  17. Salam damai sejahtera

    Dear Ingrid

    Benar kata Ingrid : kita sama-sama melihat perbedaan yang ada, semoga dengan kejujuran dan bimbingan Roh Kudus, maka kita dapat sampai kepada kebenaran, yang memang baru dapat kita lihat kesempurnaannya di saat kita sampai di surga.

    Pil 2 : 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

    Pil 2: 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

    Dua ayat diatas sangat jelas menyatakan bahwa Yesus telah meninggalkan ke-ilahiannya dan menjadi Putra Manusia Yesus yang 100 % manusia.

    Pada waktu kematiannya diatas kayu salib dan dikuburkan , lalu setelah 3 hari bangkit kembali.
    Jika memang Yesus 100% manusia dan 100% Allah , maka sebagai Allah pasti Dia bisa bangkit sendiri.
    Tetapi kenyataannya Dia dibangkitkan oleh Allah dan roh Kudus, Dia tidak dapat bangkit sendiri dan hal itu tertulis dalam Roma 6 : 4 dan Roma 8 : 11.

    Masih banyak ayat2 lain yang menyebutkan bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah seperti : Roma 4 : 24 – 1Kor 4 : 14 – 1Kor 6 : 14 – Kis 2 : 24 – Kis 3 : 15 – Kis 10 : 40.

    Memang disini Putra Manusia Yesus sendiri tidak berfungsi, sebab dalam hal ini Dia sendiri yang mengalami kematian itu sebagai manusia dan semua keilahianNya sudah ditinggalkan di sorga.
    Sebab itu Ia tidak menggunakan hak dan kemampuanNya sebagai Allah, Ia tergantung dari Bapa dan Rohkudus yang sudah membangkitkan Dia, sesudah Ia taat sampai mati dan menyelesaikan tugasNya dengan tuntas dan sempurna.
    Putra Manusia Yesus bangkit tetap sebagai Putra Manusia, bukan sebagai Allah (yang tidak bisa mati, sebab itu tidak pernah bangkit).
    Jadi yang bangkit adalah Putra Allah yang menjelma menjadi manusia, tetap sebagai manusia, lalu duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
    Putra Manusia Yesus ditinggikan oleh Bapa lebih dari semuanya Pil 2 : 9-11.
    Jadi yang ditinggikan juga Putra Manusia Yesus; sebab sebagai Allah, Tuhan Yesus sudah Maha Tinggi, lebih dari semua, tetapi sebagai Putra Manusia, Ia menjalani hidup mulai dari yang paling rendah (dari bayi yang tidak mengerti apa2, tidak bisa berbuat apa2), terus tumbuh dan akhirnya menjadi sempurna, menyelesaikan tugasNya, lalu Putra Manusia ini ditinggikan Allah Bapa lebih dari semua mahluk lain.

    Salam
    Mac

    • Shalom Machmud,
      Pernyataan anda ini saya tanggapi dengan artikel di atas. Di artikel tersebut, saya menyampaikan secara obyektif apa yang menjadi ajaran Gereja Katolik mengenai Yesus yang adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, selama Ia hidup di dunia ini. Pengajaran ini memang berlainan dengan pendapat anda yang mengatakan bahwa Yesus adalah manusia yang bukan Allah selama hidup-Nya di dunia selama 33.5 tahun.
      Memang dalam hal ini kita berbeda. Saya tidak memaksa anda menerima ajaran Gereja Katolik, namun saya juga sungguh tidak dapat setuju dengan pendapat anda, sebab itu tidak sesuai dengan pesan keseluruhan Alkitab dan pengajaran para Bapa Gereja.

      Salam kasih dalam Kristus Yesus,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Yohanes Paulus on

        Dear Machmud ytk

        Sebetulnya semua pertanyaan Machmud sudah terjawab dengan artikelnya Inggrid. Semua yg dibicarakan di atas adalah mengenai iman Gereja Katolik. Iman bukan science, walaupun iman itu membutuhkan pertanggung jawaban. Namun sampai titik tertentu akal budi kita tidak mampu lagi memenuhi keinginan kita. Jika semuanya jelaa itu bukan iman, bukan Allah yg kita imani ( meminjam istilah Mgr Suharyo ).

        Tulisan Kitab Suci dipengaruhi oleh faktor kepada siapa Sabda ini akan disampaikan. Bagi kalangan Yahudi jika seseorang meninggal dalam usia muda, apalagi dengan cara disalib, itu menandakan Allah tidak berkenan kepada orang tsb. ( Walaupun para Nabi sudah menubuatkan hal tsb, namun paham tsb sudah membutakan mereka ). Bagi mereka tidak mungkin Mesias yg mereka nantikan harus mengalami nasib seperti itu, maka tidak heran banyak orang Yahudi yg belum menerima Yesus sebagai Mesias. Jadi bagi penulis Kitab Suci untuk mengabarkan kabar gembira tsb menggunakan istilah ” Allah membangkitan Yesus ” karena hanya Allah lah yang mampu memulihkan Yesus yang disalib sebagai akibat dari paham Yahudi di atas. Namun dibagian lain dari Alkitab tertulis Yesus bangkit. Misteri Trinitas adalah misteri terdalam dari kehidupan Ilahi demikian juga misteri karya penyelamatan-Nya.

        Itulah sebabnya Sdri Inggrid menulis bahwa dalam memahami Kitab Suci, perlu dilihat pesan keseluruhan Alkitab dan pengajaran para Bapa Gereja.

        Mudah-mudahan sharing ini dapat membantu, walaupun saya skeptis terhadap harapan tsb. Kepada Sdri Inggrid, jika ada kesalahan dalam pemahaman saya tolong dikoreksi.

        Shalom
        Yohanes Paulus

        • Salam damai sejahtera

          Dear Yohanes Paulus

          Terima kasih atas masukannya .
          Apa yang saya diskusikan dengan Ingrid di situs ini mengenai kemanusiaan Yesus , disini kita berbeda pendapat dan masing2 bersikukuh memegang apa yang sudah diimani.
          Oleh sebab kami masing2 mempunyai argumen2 yang saling berbeda.

          Kalau boleh saya bertanya kepada anda arti dari imanuel itu apa ?
          Alkitab menulis artinya Allah beserta, jadi kalau nama dari Yesus salah satunya adalah Imanuel, bukankah itu berarti Allah Bapa & Allah Rohkudus menyertai Yesus selama hidupnya didunia (33,5 tahun).
          Oleh karenanya Yesus (atau saya biasa menyebutNya Putra Manusia Yesus) bisa membuat segala mujijat, bahkan membangkitkan orang mati dengan kuasa Allah Bapa dan Allah Rohkudus.

          Jika Yohanes Paulus diberi kuasa dan Allah Bapa serta Allah Rohkudus ada di dalam diri anda , apakah susahnya anda untuk membuat mujijat dan membangkitkan orang mati.
          Siapa yang mengerjakan semuanya itu ? Allah Bapa dan Allah Rohkudus yang ada di dalam diri anda.
          Dan apakah Yohanes Paulus itu Allah ? Pasti bukan.
          Demikian juga dengan Putra Manusia Yesus

          Rencana Allah bagi umat manusia bukan saja untuk menyelamatkan dari siksaan api Neraka dan memasukkannya ke dalam Sorga, tetapi lebih dari itu untuk menjadikan manusia yang bisa hidup suci dan taat sampai mati ,sama seperti Dia (sempurna dan didudukkan di sebelah kanan Allah).
          Jika Putra Manusia Yesus itu Allah (atau orang kebanyakan mengatakan “DEWA”) bagaimana kita meniru teladanNya (seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus : Tirulah teladanku sepertia aku meniru teladan Kristus).
          Tidak mungkin manusia meniru apa yang sudah dilakukan oleh Yesus (jika Dia sebagai Allah)
          Oleh sebab Dia adalah 100% manusia maka kita bisa meniru Dia.
          Dia sudah membuat jalan di dunia untuk manusia supaya bisa mencapai keselamatan dan masuk ke Sorga, dan jalan tersebut diteruskan/ diselesaikan sampai ke akherat, supaya manusia yang mau hidup suci dan taat sampai mati bisa menjadi sempurna seperti Dia dan duduk di sebelah kanan Allah.
          Suatu rahasia besar yang mungkin belum pernah anda bayangkan jika seorang manusia menjadi Allah, tetapi itu yang dijanjikan oleh Allah dan sudah dikerjakan oleh Putra Manusia Yesus dan ini menjadi contoh buat kita.

          Semoga sedikit keterangan dari saya ini bisa membantu anda mengerti akan rencana Allah yang begitu besar dan mulia bagi umat manusia. Renungkanlah.

          Semua ayat-2nya sudah saya sampaikan pada Ingrid, mudah2an tidak lama lagi akan bisa anda baca di situs ini.

          Salam
          Mac

          • Shalom Machmud dan Yohanes Paulus,

            Saya telah memposkan surat tanggapan Machmud dengan ayat-ayat Alkitab yang menjadi acuan pandangan-nya  yang mengatakan bahwa Yesus ‘hanya’ manusia, dan bukan Tuhan pada saat menjelma menjadi manusia. (Silakan membaca di jawaban saya kepada Machmud di atas, silakan klik). Dalam menyikapi perbedaan memang diperlukan kebijaksanaan dan keterbukaan akan pimpinan Roh Kudus. Dalah hal ini memang saya melihat perbedaan antara pandangan Machmud dan ajaran Gereja Katolik. Mari kira serahkan saja kepada hati nurani kita masing-masing, dan juga para pembaca, untuk melihat kebenaran, berdasarkan dasar ayat- ayat Alkitab yang diambil, baik oleh pengajaran Gereja Katolik maupun oleh pengertian Machmud, yang berakar dari Kristologi Kenotik Protestan oleh Martin Luther.

            Saya ingin mengakhiri diskusi ini. Mohon maaf ya. Sebab semuanya sudah sangat jelas, dan pada akhirnya kita serahkan kepada Roh Kudus untuk membimbing kita untuk melihat kebenaran.

            (Bagi Yohanes Paulus, silakan membaca surat tanggapan saya kepada Machmud di pertanyaan di atas, jika anda ingin membaca keseluruhan mengenai diskusi ini).

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply