Apakah berfantasi seks itu dosa?

Pertanyaan:

Helo, Saya hendak bertanya satu soalan…saya rasa ini sesuatu yang memalukan bagi saya sendiri..harap beri pedoman dan penjelasan saudari. saya selalu melakukan fantasi seks yang saya anggap kurang ajar bagi diri saya sendiri…saya kira ini adalah satu dosa tetapi saya tidak melakukan seks dengan orang hanya anggapan ini berada dalam fikiran kotor saya….saya ingin berhenti melakukan hal ini kerana saya tahu saya berdosa bagi diri say sendiri….saya selalu berdoa supaya perkara ini tidak diulangi lagi…

pertanyaan saya adalah adakah dosa saya adalah dosa yang berat atau ringan? Saya selalu minta ampun dengan tuhan atas segala dosa saya dan adakah ianya berbaloi untuk mendaptkan pengampunan terus dari tuhan atau melalui paderi supaya saya dapat melakukan indulgensi.

Hamba Berdosa – Esther

Jawaban:

Shalom Esther,

Terima kasih atas kunjungannya ke situs katolisitas.org dan juga atas keterbukaannya untuk membagikan pengalaman Esther. Pertama-tama, perlu disadari bahwa semua orang berjuang untuk dapat hidup dalam kekudusan. Setiap orang juga mempunyai kelemahan masing-masing dan kelemahan-kelemahan ini dipakai oleh iblis untuk membuat kita berputus asa dan tak berdaya. Namun, kelemahan-kelemahan ini juga dipakai oleh Kristus untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Dan hal ini hanya dapat terjadi, kalau kita mempunyai hubungan yang baik dengan Yesus serta terus bekerjasama dengan rahmat Tuhan untuk bertumbuh dalam kekudusan.

Rahmat Tuhan dapat menjadi “efficacious” (memberikan efek) dan bisa juga “inefficacious” (tidak memberikan efek). Hal ini dikarenakan kita sebagai manusia sering untuk berusaha memerangi dosa dengan kekuatan kita sendiri. Dan hal inilah yang dialami oleh St. Agustinus dari Hippo. Semakin kita ingin memerangi dosa dengan kekuatan sendiri, maka semakin kita terjatuh dalam lumpur keputusasaan, karena kita akan gagal. Kalau dosa adalah ketidakadaan kasih, maka dosa hanya dapat ditangani dengan cara mengisinya dengan kasih. Dan kasih ini hanya didapatkan dari Kristus, yang terlebih dahulu mengasihi kita. Jadi, cara untuk mengatasi keterikatan kita akan dosa adalah dengan mempunyai hubungan yang baik dengan Kristus, melalui doa pribadi, sakramen (terutama Ekaristi dan sakramen pengakuan) dan devosi kepada Bunda Maria.

Pada saat fantasi sex datang, maka hal ini belum termasuk dosa. Namun pada saat kita secara sadar melayani fantasi sex ini, maka kita mulai berdosa, dalam kategori dosa ringan. Kalau hal ini terus dipupuk, maka kita harus berhati-hati, karena tinggal tunggu waktu, maka dosa yang ada di dalam pikiran akan membuahkan maut, seperti melakukan masturbasi, dll. Dan pada saat kita melakukan dosa ini, maka kita melakukan dosa berat (mortal sin). Pembahasan lebih terperinci tentang perkembangan dosa, silakan untuk melihat artikel “Pengakuan Dosa – bagian 1″, terutama bagian “bagaimana proses dosa berkembang” (silakan klik).

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2352) mengatakan “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban”, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apa pun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai “tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang sebenarnya” (CDF, Perny. “Persona humana” 9).
Supaya membentuk satu penilaian yang matang mengenai tanggung jawab moral dari mereka yang bersalah dalam hal ini, dan untuk menyusun bimbingan rohani supaya menanggapinya, orang harus memperhatikan ketidakmatangan afektif, kekuatan kebiasaan yang sudah mendarah daging, suasana takut, dan faktor-faktor psikis atau kemasyarakatan yang lain, yang dapat mengurang?kan kesalahan moral atau malahan menghilangkannya sama sekali.

Bagaimana untuk memperbaikinya? Berikut ini adalah beberapa usulan yang mungkin dapat dijalankan.

1) Mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, melalui doa pribadi, sakramen-sakramen, devosi terhadap Bunda Maria. Dosa dan doa senantiasa berbanding terbalik. Kalau kita terus bertekun dan setia dalam doa, maka biasanya kita tidak akan melakukan dosa berat. St. Teresa dari Avila mengatakan bahwa salah satu – dosa berat atau doa – harus menyerah dan tidak mungkin kedua-duanya berjalan bersamaan.

2) Pada saat fantasi itu datang, berdoalah dan mohon kekuatan dari Tuhan dan berdoalah juga agar Bunda Maria membantu. Bunda Maria, wanita tersuci akan membantu kita untuk mengatasi dosa ketidaksucian. Ucapkan doa yang pendek, namun berulang-ulang, seperti “Jesus, have mercy on me” atau “Yesus, kasihanilah aku“. Dan setelah itu, lanjutkan dengan aktifitas yang lain. Kita juga harus mencoba untuk menghindari situasi yang dapat membangkitkan fantasi seksual, misalkan, website yang tidak benar, buku bacaaan yang tidak benar, dll.

3) Pada saat kita gagal dan kembali pada dosa yang sama, maka secepatnya kita harus datang kepada romo untuk menerima Sakramen Tobat. Dan mulai lagi dari awal, dan jangan berputus asa. Dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin) akan membutuhkan waktu untuk dipatahkan. Hanya berkat Tuhan dan kerjasama dari kita, yang dapat mengalahkannya. Alangkah baiknya kalau anda dapat mempunyai pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang sama, sehingga dia dapat membantu anda untuk mengatasi masalah ini. Habitual sin ini hanya dapat dikalahkan dengan “virtue” (kebajikan). Karena kebajikan adalah “the habit of the soul to perform good action with easiness and competent“, maka diperlukan suatu latihan untuk mengerjakan kebajikan tersebut secara berulang-ulang, sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan/habit Pada saat yang bersamaan, kita dapat minta kepada Tuhan untuk memberikan kebajikan tertentu – dalam hal ini kebajikan kemurnian – , karena hanya Tuhan yang dapat masuk ke dalam jiwa kita dan memberikan rahmat yang diperlukan untuk mendapatkan kebajikan yang kita minta.

Semoga jawaban singkat di atas dapat membantu anda. Jangan berputus asa, karena sesungguhnya kesadaran akan kesalahan itu berasal dari  karya Roh Kudus yang dapat membawa seseorang kepada pertobatan dan kerendahan hati. Mari kita bersama-sama berjuang untuk hidup kudus, dengan mengandalkan rahmat Allah yang berlimpah. Dan percayalah senantiasa pada belas kasihan Allah.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

74 Komentar to Apakah berfantasi seks itu dosa?

  1. Ave,

    Saya ada pertanyaan mengenai diri saya, berhubung ini tentang fantasi saya, maka saya menulisnya di forum ini (mohon maaf kalo saya salah). Saya mempunyai kegemaran, kegemaran itu adalah membaca komik kepahlawanan yang tokohnya setengah telanjang ( seperti komik tarzan dan sebagainya). Dan saya berfantasi menjadi tokoh itu bahkan mencontoh apa yang dilakukan tokoh komik di cerita itu ( saya hanya melakukan seorang diri ). Percaya tidak percaya, setelah saya berfantasi dan meniru cerita tersebut, saya mengeluarkan sperma dari alat kelamin saya. Dan saya merasakan (mungkin) seperti perasaan saat masturbasi.

    Pertanyaan saya, dosakah itu, karena keluarnya sperma itu bukan karena pikiran pornografi?

    Terima Kasih atas jawabannya.

    • Shalom Robertus,

      Terima kasih atas keterbukaan anda dalam pertanyaan yang anda ajukan tentang seksualitas. Anda mengatakan bahwa dengan melakukan apa yang dilakukan oleh tokoh seperti komik tarzan (setengah telanjang), maka anda dapat mengalami perasaan seperti masturbasi dan bahkan dapat mencapai klimaks. Dari apa yang anda gambarkan maka sebenarnya telah terjadi penyimpangan seksual dalam bentuk masturbasi, yang didefinisikan sebagai berikut dalam Katekismus Gereja Katolik:

      KGK 2352    Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang tidak berubah maupun perasaan susila umat beriman telah tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat menyimpang”. “Penggunaan kemampuan seksual dengan sengaja, dengan alasan apa pun, yang dilakukan di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”.  Sebab di sini, kenikmatan seksual dicari di luar “hubungan seksual yang diatur oleh hukum moral/ kesusilaan dan yang di dalamnya dicapai arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga suatu pembuahan manusiawi di dalam cinta yang sejati”.

      Walaupun ada pandangan psikologis yang menyetujui masturbasi sebagai suatu cara ‘penyaluran’ dorongan seksual, namun Gereja tidak pernah membenarkan tindakan tersebut. Masturbasi adalah tindakan didasari motif mengagungkan kenikmatan seksual di atas segalanya, dan ini dapat beresiko menjadikan seseorang kecanduan seksual, di mana seseorang menempatkan kenikmatan badani sebagai tuhannya. Maka harus dicari jalan yang positif untuk menyalurkan dorongan- dorongan seksual, agar fokusnya bukan menyalurkan dorongan tersebut dengan melakukan aktivitas seksual, tetapi mengarahkannya kepada aktivitas lain yang membangun tubuh dan jiwa.

      Dari keterangan di atas, maka saya melihat bahwa tindakan yang anda lakukan (sesuai dengan apa yang anda gambarkan) adalah satu tindakan dosa. Walaupun pada waktu itu anda mencapai klimaks dengan pikiran yang menjurus ke pornografi, namun faktanya adalah anda secara aktif melakukan seperti yang dilakukan oleh tokoh di dalam komik, yang anda tahu bahwa itu akan menjurus kepada kepuasaan seksual seperti yang terjadi dalam masturbasi. Dalam kondisi seperti ini, maka kita harus benar-benar mengandalkan rahmat Tuhan untuk memperbaiki diri dan pada saat yang bersamaan kita bekerjasama dengan rahmat Tuhan. Jadi, mintalah ampun kepada Tuhan dalam doa pribadi dan kemudian menghadap pastor dalam Sakramen Tobat. Bertekunlah juga dalam Sakramen Ekaristi. Kalau bacaan komik dapat membawa anda kepada percobaan, maka jauhilah bacaan tersebut dan cobalah membaca buku-buku lain, seperti Kitab Suci, riwayat para kudus, dll. Janganlah berputus ada dalam proses memperbaiki diri. Yakinlah bahwa Allah menginginkan agar kita dapat bertumbuh terus dalam kekudusan, karena inilah yang akan mengantar kita kepada keselamatan kekal. Apa yang kita korbankan – termasuk kesenangan daging – tidaklah seberapa dengan kebahagiaan yang akan kita dapatkan di dalam Kerajaan Sorga. Kesenangan daging hanyalah bersifat sementara dan dapat membuat kita menjadi budak dosa, sedangkan kekudusan dapat mengantar kita kepada kebahagiaan sejati untuk selama-lamanya. Mari, kita yang bersama-sama ditebus oleh Kristus, yang telah menerima Sakramen Permandian – yang membuat kita menjadi anak-anak Allah – dapat menghasilkan buah-buah Roh, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. Apakah klw kt ingin bertobat hrs melalui sakramen pengakuan dosa?
    Klw kt bertobat dgn berdoa kpd Tuhan,dan tdk melalui sakramen pengakuan dosa,
    dosa kita tdk akan diampuni oleh Tuhan?

  3. syalom,
    saya ingin bertanya mengenai seksualitas, saat ini saya masih kuliah di salah satu PTS di Yogyakarta. sudah lama saya bergulat dengan kecenderungan dalam diri saya yang terkait dengan seksualitas. saya termasuk yang memiliki dorongan nafsu tinggi, mungkin juga menghadapi biseksual, saya ingin berubah dan jadi laki-laki normal tapi sangat sulit. ada beberapa pertanyaan:
    1. dosakah Onani jika itu dilakukan untuk menghindari perzinahan?
    2. bagaimana dengan onani bersama dengan orang lain, dengan anak-anak?
    3. adakah hukum gereja yang mengatur tentang seksualitas?
    4. apa yang musti saya lakukan untuk bertobat?

    • Shalom Wibawa,
      Terima kasih atas pertanyaannya tentang seksualitas. Memang setiap orang mempunyai kecenderungan berbuat dosa. Rasul Yohanes menyebutkan adanya tiga hal yang harus diwaspadai, yaitu: keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup (lih. 1Yoh 2:16). Kelemahan terhadap penyimpangan seksualitas adalah termasuk dalam keinginan daging, dan rasul Yohanes menggarisbawahi bahwa hal ini bukanlah berasal dari Bapa melainkan dari dunia ini. Dan kalau penyimpangan-penyimpangan ini diteruskan, maka akan membawa kita kepada kehancuran. Dengan demikian, kita mohon belas kasih Allah, sehingga kita dimampukan untuk melawan godaan ini dengan terus bekerjasama dengan rahmat Allah. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan atas pertanyaan anda:
      1. Anda bertanya “dosakah Onani jika itu dilakukan untuk menghindari perzinahan?” Saya pernah menjawab pertanyaan ini di sini – silakan klik. Secara prinsip, moral obyek dari tindakan “onani” adalah salah. Pertanyaan tersebut adalah sama, seperti apakah boleh korupsi sedikit daripada korupsi banyak? Tentu saja, karena tindakan korupsi tersebut adalah salah, maka dalam kadar sedikit maupun banyak tetap salah. Atau seseorang menanyakan “dapatkah saya mencontek daripada dapat nilai jelek?” Tentu saja kita akan mengatakan bahwa mencontek itu salah. Jadi, kuncinya adalah kita harus dapat melihat bahwa tindakan onani adalah merupakan suatu penyimpangan.
      2. Onani bersama dengan orang lain yaitu dengan anak-anak, merupakan dosa yang sungguh berat. Beratnya dosa ini dikarenakan, orang ini menyeret anak-anak yang seharusnya mempunyai hak untuk diajarkan baik dan salah, ke dalam kehancuran. Dengan perbuatan ini, orang ini sebenarnya dapat menyesatkan anak-anak. Dan kita harus mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” (Mt 18:6). Kalau hal ini diteruskan, sungguh perbuatan ini akan membawa pada hukuman kekal atau neraka pada orang yang melakukannya. Orang ini, sudah selayaknya mohon agar Roh Kudus memberikan pertobatan yang benar dan kekuatan untuk dapat berbalik dari jalan yang salah ini secepatnya.
      3. Tentang seksualitas, anda dapat membaca artikel tentang kemurnian di luar perkawinan di sini – silakan klik dan kemurnian di dalam perkawinan di sini – silakan klik. Kalau setelah membaca dua link tersebut dan masih ada pertanyaan, silakan ditanyakan kembali.
      4. Bagaimana untuk bertobat? Silakan membaca jawaban dari pertanyaan yang hampir sama di sini – silakan klik.
      Yang penting harus kita ingat adalah Tuhan Maha Kasih namun juga Dia adalah Maha Adil. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi Tuhan untuk diampuni, sejauh orang tersebut benar-benar mau bertobat dan berbalik dari jalan yang sesat. Namun, pada saat yang bersamaan, Tuhan adalah maha adil, yang juga akan mengadili kita berdasarkan perbuatan-perbuatan kita. Jadi, setiap kali kita berbuat dosa, kita harus mengingat bahwa kita harus berbalik kepada Tuhan secepatnya, yaitu dengan menerima Sakramen Tobat, sehingga kita mendapatkan pengampunan. Masa Prapaskah ini adalah masa yang baik untuk pertobatan. Mari kita bersama-sama mengadakan pertobatan di masa Prapaskah ini, sehingga korban salib Kristus tidak menjadi sia-sia. Kita saling mendoakan.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,stef – katolisitas.org

    • Shalom Wibawa,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang seksualitas. Memang setiap orang mempunyai kecenderungan berbuat dosa. Rasul Yohanes menyebutkan adanya tiga hal yang harus diwaspadai, yaitu: keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup (lih. 1Yoh 2:16). Namun kecenderungan untuk berbuat dosa ini tidak dapat memberikan justifikasi terhadap kita untuk melakukan dosa tersebut. Kalau seseorang mempunyai kecenderungan untuk marah, maka bukan berarti bahwa orang tersebut dapat mengumbar kemarahannya kepada semua orang. Kelemahan terhadap penyimpangan seksualitas adalah termasuk dalam keinginan daging, dan rasul Yohanes menggarisbawahi bahwa hal ini bukanlah berasal dari Bapa melainkan dari dunia ini. Dan kalau penyimpangan-penyimpangan ini diteruskan, maka akan membawa kita kepada kehancuran. Dengan demikian, kita mohon belas kasih Allah, sehingga kita dimampukan untuk melawan godaan ini dengan terus bekerjasama dengan rahmat Allah. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan atas pertanyaan anda:

      1. Anda bertanya “dosakah Onani jika itu dilakukan untuk menghindari perzinahan?” Saya pernah menjawab pertanyaan ini di sini – silakan klik. Secara prinsip, moral obyek dari tindakan “onani” adalah salah. Pertanyaan tersebut adalah sama, seperti apakah boleh korupsi sedikit daripada korupsi banyak? Tentu saja, karena tindakan korupsi tersebut adalah salah, maka dalam kadar sedikit maupun banyak tetap salah. Atau seseorang menanyakan “dapatkah saya mencontek daripada dapat nilai jelek?” Tentu saja kita akan mengatakan bahwa mencontek itu salah. Jadi, kuncinya adalah kita harus dapat melihat bahwa tindakan onani adalah merupakan suatu penyimpangan.

      2. Onani bersama dengan orang lain yaitu dengan anak-anak, merupakan dosa yang sungguh berat. Beratnya dosa ini dikarenakan, orang ini menyeret anak-anak yang seharusnya mempunyai hak untuk diajarkan baik dan salah, ke dalam kehancuran. Dengan perbuatan ini, orang ini sebenarnya dapat menyesatkan anak-anak. Dan kita harus mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” (Mt 18:6). Kalau hal ini diteruskan, sungguh perbuatan ini akan membawa pada hukuman kekal atau neraka pada orang yang melakukannya. Orang ini, sudah selayaknya mohon agar Roh Kudus memberikan pertobatan yang benar dan kekuatan untuk dapat berbalik dari jalan yang salah ini secepatnya.

      3. Tentang seksualitas, anda dapat membaca artikel tentang kemurnian di luar perkawinan di sini – silakan klik dan kemurnian di dalam perkawinan di sini – silakan klik. Kalau setelah membaca dua link tersebut dan masih ada pertanyaan, silakan ditanyakan kembali.

      4. Bagaimana untuk bertobat? Silakan membaca jawaban dari pertanyaan yang hampir sama di sini – silakan klik.

      Yang penting harus kita ingat adalah Tuhan Maha Kasih namun juga Dia adalah Maha Adil. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi Tuhan untuk diampuni, sejauh orang tersebut benar-benar mau bertobat dan berbalik dari jalan yang sesat. Namun, pada saat yang bersamaan, Tuhan adalah maha adil, yang juga akan mengadili kita berdasarkan perbuatan-perbuatan kita. Jadi, setiap kali kita berbuat dosa, kita harus mengingat bahwa kita harus berbalik kepada Tuhan secepatnya, yaitu dengan menerima Sakramen Tobat, sehingga kita mendapatkan pengampunan. Masa Prapaskah ini adalah masa yang baik untuk pertobatan. Mari kita bersama-sama mengadakan pertobatan di masa Prapaskah ini, sehingga korban salib Kristus tidak menjadi sia-sia. Kita saling mendoakan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Halo team Katolisitas.org,

    Ada beberapa pertanyaan nih;

    Pertama, dari penjelasan komentar2 yang saya baca, saya menangkap bahwa masturbasi adalah dosa karena menggunakan alat kelamin di luar tujuan yang diberikan Tuhan. Masturbasi juga dosa karena melanggar konsep kasih yang sesungguhnya, di mana seharusnya kita menggunakan apa yang ada untuk mengasihi pasangan kita, bukan sekedar mengejar kepuasan pribadi.

    Pertanyaan pertama; apakah setiap organ di tubuh kita harus terikat pada 1-2 fungsi spesifik yang digariskan Alkitab? (Bukan berarti saya mencari celah2, tetapi saya ingin mendengar penjelasan logis tentang ini) Dan apakah ini berarti kepuasan pribadi (bukan hanya dalam konteks seksual, tapi juga dalam konteks2 lain misalnya sebuah achievment) dilarang?

    Kedua, di kitab Kejadian, Tuhan memang menginstruksikan manusia untuk “berkembang biak”, tapi ini bukan berarti perkembang biakan bisa dibiarkan seenaknya terjadi (bumi bisa penuh). Maka manusia pun menemukan cara2 untuk mengatur perkembang biakan ini, antara lain melalui KB. Nah, bagian mana dari Alkitab yang menjelaskan tentang pelarangan KB ini? Adakah ayat2 spesifik yang bisa saya baca tentang ini?

    Salam, dan terima kasih sebelumnya.

    • Shalom Thom,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang masturbasi. Saya pernah menjawab pertanyaan yang serupa di sini – silakan klik. Cobalah membaca tanya jawab tersebut terlebih dahulu. Tentang KB, silakan anda membaca artikel tentang Humanae Vitae di sini – silakan klik dan kemurnian di dalam perkawinan di sini – silakan klik. Setelah anda membaca 3 link tersebut dan masih mempunyai pertanyaan, silakan menyampaikannya kembali. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  5. Tim katolisitas yth,
    Sy mempunyai masalah. Sy ibu dengan 3 anak yg sdh dewasa. 11 thn yl suami sy berselingkuh dan sdh 3 thn ini bekerja di jkt dan selingkuhannya beserta anak (dari suami yg pertama). selingkuhannya sdh bercerai. Suami sy kadang msh plg, tp tdr di rmh ibunya (ayahnya sdh meninggal). Ini atas permintaan ibunya. Suami sdh tdk mau bicara dengan sy selama 11 thn itu. kadang sms sy dibalas, tp lbh bnyk tdk. Sy dianjurkan untuk berdoa bagi dia, sy jg aktif mengikuti persekutuan2 doa dan lingkungan. Dari awal menikah, sy tdk diperkenankan bekerja oleh suami dan tidak boleh memakai pembantu. Padahal prestasi sy selama sekolah sangat baik. Setelah perselingkuhan ini, sy mulai bekerja. Akhrnya krn kejenuhan sy, 5 thn yl sy jatuh dlm perselingkuhan dg tmn kerja. Mmg sy tahu itu dosa tp hdp sy menjd sangat berwarna dan sy menemukan org untk berbagi masalah. Dia jg sdh berkeluarga dan mempunyai anak. Selama dlm dosa, sy berhenti dg segala kegiatan rohani, tetap ke ger. Doa2 sy menjadi kering. Berkali-kali sy ingin berhenti, tapi tidak tega melihat dia menangis dan meminta sy tetap bersama. Sekarang pasangan selingkuh sy telah dipanggil Tuhan secara mendadak. Dia belum sempat mengaku dosa walau sdh terima sakramen pengurapan org skt. Sy sdh mengaku dosa dan sy sdh aktif kembali dlm kegiatan2 rohani juga doa2 sy lbh terasa intens. Yang mau sy tanyakan apakah yg dpt sy bantu bagi teman selingkuh sy td, krn sy merasa sangat bersalah kl dia sampai ada di neraka ? Apakah org meninggal tp belum sempat bertobat dan msh membawa dosa perzinahan akan masuk di neraka atau api pencucian ? Saat ini apa yg dapat sy perbuat untuk pemulihan hub dengan suami? suami tdk percaya dengan segala macam hal2 rohani walau dia katolik ( kayaknya sdh lama tdk ke gereja lagi)
    Terima kasih dan Gbu

    • Shalom Maria,

      Anda mengatakan bahwa ia sempat menerima sakramen Pengurapan orang sakit? Sebab umumnya dalam sakramen Pengurapan tersebut ada juga pengakuan dosa. Jika ini yang terjadi, yaitu kalau ia sempat mengaku dosa di hadapan imam akan dosa selingkuh itu, maka kemungkinan jiwanya dapat diselamatkan, walaupun mungkin masih perlu dimurnikan di Api Penyucian.

      Namun jika saat menerima Pengurapan itu dia sudah tidak sadar, maka memang harapannya adalah semoga sesaat sebelum kesadarannya hilang, ia sempat bertobat secara sempurna, sehingga dosanya yang berat dapat diampuni Tuhan, walaupun belum sempat mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan. Syarat pertobatan sempurna adalah ia harus bertobat atas dasar bukan takut dihukum Allah, tetapi karena takut menyakiti hati Allah, dan bahwa ia harus berkehendak untuk segera mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan dosa setelah ia pulih/ sembuh dari sakit. Hal ini diajarkan dalam Katekismus:

      KGK 1452 Kalau penyesalan itu berasal dari cinta kepada Allah, yang dicintai di atas segala sesuatu, ia dinamakan “sempurna” atau “sesal karena cinta” [contritio]. Penyesalan yang demikian itu mengampuni dosa ringan; ia juga mendapat pengampunan dosa berat, apabila ia dihubungkan dengan niat yang teguh, secepat mungkin melakukan pengakuan sakramental (Bdk. Konsili Trente: DS 1677. 1822).

      Masalahnya adalah jika ia benar- benar belum sempat bertobat di hadapan Allah; sebab Katekismus mengajarkan bahwa seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan dosa berat dan tidak bertobat memang memasukkan dirinya sendiri ke dalam neraka/ keterpisahan kekal dengan Tuhan karena semasa hidupnya memang sudah memilih untuk menolak Tuhan dengan memilih untuk berdosa berat. Namun tentang hal ini hanya Tuhan yang mengaetahui sebab hanya Ia yang memahami kedalaman hati seseorang, termasuk di hati teman selingkuhan anda itu. Katekismus mengajarkan:

      KGK 1861 Dosa berat, sama seperti kasih, adalah satu kemungkinan radikal yang dapat dipilih manusia dalam kebebasan penuh. Ia mengakibatkan kehilangan kebajikan ilahi, kasih, dan rahmat pengudusan, artinya status rahmat. Kalau ia tidak diperbaiki lagi melalui penyesalan dan pengampunan ilahi, ia mengakibatkan pengucilan dari Kerajaan Kristus dan menyebabkan kematian abadi di dalam neraka karena kebebasan kita mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan keputusan yang definitif dan tidak dapat ditarik kembali. Tetapi meskipun kita dapat menilai bahwa satu perbuatan dari dirinya sendiri merupakan pelanggaran berat, namun kita harus menyerahkan penilaian mengenai manusia kepada keadilan dan kerahiman Allah.

      Maka, jika anda sudah mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan, silakan juga anda mendoakan jiwa teman anda itu, dengan mengajukan ujud Misa Kudus. Silakan anda bertanya ke kantor pastoran, jika anda belum pernah melakukannya.

      Untuk pemulihan hubungan dengan suami anda, saya rasa memang pertama dimulai dari anda sendiri terlebih dahulu. Doa dan puasa memang dapat dilakukan, namun yang tak kalah penting adalah perbuatan anda yang nyata untuk mengusahakan keutuhan/ kesatuan keluarga anda kembali. Silakan jika perlu, anda melibatkan anak- anak anda dalam hal ini. Silakan tunjukkan perhatian dan kasih kepada suami, [untuk ini anda mungkin lebih mengetahui tentang cara yang paling tepat], entah via sms, telpon, mengirim makanan kesukaannya dst., atau jika mungkin makan bersama, pertemuan keluarga dengan anak- anak dan ibu mertua, dst. Mohon rahmat Tuhan agar anda bisa sungguh- sungguh mengampuni suami anda, mengingat bahwa andapun memerlukan pengampunan dari Tuhan. Anggaplah usaha anda untuk mengasihi suami anda kembali sebagai langkah pertobatan anda yang nyata dan tulus, serta ucapan syukur kepada Tuhan yang telah menyadarkan anda, sehingga anda dapat kembali ke jalan Tuhan.

      Teriring doa, semoga Tuhan membukakan jalan untuk mempersatukan anda kembali dengan suami dan anak- anak.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Bertanya :
    JIka pasangan hidup tidak lagi merespon bolehkah laki2 onani? Adakah dosa di dalamnya?

    • Shalom Hendra,

      Suatu perbuatan secara moral dapat dipertanggungjawabkan jika memenuhi tiga hal berikut ini: (1) Obyek moral (moral object), yang merupakan objek fisik yang berupa tujuan yang terdekat (proximate end) dari sesuatu perbuatan tertentu (sifat dasar perbuatan) di dalam terang akal sehat. (2) Keadaan (circumstances) yaitu keadaan di luar perbuatan tersebut, tetapi yang berhubungan erat dengan perbuatan tersebut, seperti kapan dilakukan, di mana, oleh siapa, berapa banyak, bagaimana dilakukannya, dan dengan bantuan apa. (3) Maksud/tujuan (intention) yaitu tujuan yang lebih tinggi yang menjadi akhir dari perbuatan tersebut.

      Bagaimana dengan dosa onani atau masturbasi? Katekismus Gereja Katolik mengatakan:

      2352. Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban (disordered action / tindakan yang menyimpang)”, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apa pun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai “tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang sebenarnya” (CDF, Perny. “Persona humana” 9).Supaya membentuk satu penilaian yang matang mengenai tanggung jawab moral dari mereka yang bersalah dalam hal ini, dan untuk menyusun bimbingan rohani supaya menanggapinya, orang harus memperhatikan ketidakmatangan afektif, kekuatan kebiasaan yang sudah mendarah daging, suasana takut, dan faktor-faktor psikis atau kemasyarakatan yang lain, yang dapat mengurangkan kesalahan moral atau malahan menghilangkannya sama sekali.

      2396. Masturbasi, percabulan, pornografi, dan praktek homoseksual termasuk dosa-dosa yang sangat melanggar kemurnian.

      Dengan demikian, obyek moral dari masturbasi/onani adalah salah dan merupakan tindakan yang menyimpang dan melanggar kemurnian. Walaupun keadaan anda sulit dan mungkin dengan tujuan yang terlihat baik – yaitu menghindari dosa yang lebih berat, namun tidak berarti dapat memberikan justifikasi terhadap perbuatan dosa onani atau masturbasi, karena secara intrisik tindakan ini adalah merupakan tindakan penyimpangan yang berat. Walaupun keadaan tertentu dapat mengurangi bobot dosa, namun, tidak dapat memberikan justifikasi terhadap suatu dosa. Kita tidak dapat mengatakan bahwa pencurian yang dilakukan oleh orang miskin adalah tidak apa-apa, karena walaupun situasi dan tujuannya mungkin baik, namun obyek moralnya adalah salah.

      Memang harus diakui bahwa anda menghadapi situasi yang berat dan tidak mungkin dihadapi sendiri. Oleh karena itu, berjuanglah bersama dengan Kristus. Panggullah salib bersama dengan Kristus, sehingga Dia akan memberikan rahmat-Nya kepada anda untuk menghadapi semua ini. Setiap orang harus berjuang untuk hidup kudus, dan mungkin situasi ini adalah merupakan suatu perjuangan bagi anda untuk menuju pada kekudusan. Setiap saat anda jatuh, cepat-cepatlah menerima Sakramen Tobat dan kemudian berjuang lagi. Bertekun di dalam doa dan menerima Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi sesering mungkin menjadi kunci dalam menghadapi percobaan ini. Ini merupakan bukti kasih anda kepada Tuhan yang paling murni. Kami turut mendoakan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Yth Romo,
    Saya seorang duda, 7 bulan yang lalu istri saya yang sangat saya cintai meninggal dunia karena kanker. Kami dikaruniai 3 anak, yang bungsu kelas 10, yang sulung baru masuk univ. Walaupun demikian saya merasa sangat kesepian, terutama pada malam hari. Saya memang tidak berniat menikah lagi, karena akan menambah pelik persoalan (antara anak dan ibu tiri nya nanti) dan juga saya sudah berjanji pada istri saya sebelum meninggal, bahwa saya tidak akan menikah lagi.
    Sebagai seorang lelaki, saya masih ada keinginan seks, dan saya melakukan masturbasi. Kedudukan istri dalam hati saya tidak mungkin tergantikan, saya masih tetap mencintainya. Bagaimana saya bisa melanjutkan hidup ini, romo? Masturbasi dalam hal ini, dosakah? Tks kalau romo berkenan menjawab masalah saya ini.

    • Steve yth

      Memang hidup sendiri itu tidaklah mudah dan karena sudah terbiasa dengan istri sebagai pendamping kini anda mengalami kesepian. Dorongan seks tentu alami dan normal manusiawi namun bisa dikendalikan dan tidak harus dituruti. Karena sudah berjanji dengan istri maka harus bisa menerima konsekuensi untuk hidup sendiri dan mendidik anak anak. Lakukan kegiatan sosial dan di dalam aktivitas Gereja sehingga dorongan seks bisa tersalurkan melalui kegiatan yang positif. Semoga Tuhan memberkati

      Salam
      Rm Wanta

  8. Salam untuk pengasuh Katolisitas.org,

    Saya seorang kristen Protestan dan belum benar-benar bisa mengerti alasan mengapa masturbasi itu dosa. Saya membaca berbagai artikel di internet, termasuk posting-posting di katolisitas.org karena saya respek dengan ajaran katolik. Kebanyakan menyatakan masturbasi itu dosa, namun dengan alasan yang beragam. Sebagian kecil artikel bahkan yang ditulis oleh Kristen mengatakan masturbasi BUKANLAH dosa.

    Saya berulang kali mencoba untuk tidak melakukan masturbasi, setidaknya dalam seminggu. Tapi berulang kali saya mendapati bahwa masturbasi benar-benar efektif melepaskan diri dari stres dan rasa capai yang sangat.

    Saya mohon dijelaskan terkait hal-hal ini:
    1). Organ seks diciptakan untuk tujuan reproduksi, itu tentu benar. Tapi kenapa membatasinya seolah-olah hanya 1 saja fungsinya? Kenapa penggunaannya diluar hubungan seks yang wajar itu dosa?

    2). Terkait KGK, 2352, data statistik menunjukkan sebagian besar (9x%?), kalau tidak semuanya, laki-laki pernah bermasturbasi dan kebanyakan perempuan juga. Saya kira ketika menginjak pubertas, secara alamiah anak muda akan mengeksplorasi/ alat kelaminnya yang secara anatomis dan fisiologis berubah. Kalau masturbasi itu dosa, kenapa kenyataannya hampir semua manusia pada usia pubertas “jatuh” ke dalam dosa itu?

    3). Saya tidak ingin berpantang pada sesuatu yang – katakanlah – sebenarnya bukan dosa tapi secara umum dianggap dosa. Saya awam dalam tradisi Katolik, tapi sekilas saya baca di situs ini bahwa “Ajaran bapa gereja dapat salah, tapi ajaran magisterium tidak dapat salah”. Apakah katekismus dan magisterium itu? tolong sediakan link

    4). Apakah masturbasi untuk melepas rasa penat dan stres tidak bisa dibenarkan? Dengan kata lain, apakah masturbasi itu berdosa untuk alasan apapun?

    5). Dari KGK 2352, saya menyimpulkan bahwa masturbasi itu berdosa karena alasan yang telah disebutkan, dan BUKAN karena membuang/menyia-nyiakan air mani. Apakah saya benar?

    Interpretasi saya terhadap kisah Onan, dia dihukum Tuhan karena tidak mau memenuhi tanggungjawabnya meneruskan garis keturunan kakaknya, bukan karena mengeluarkan mani di luar.

    Terima kasih untuk bantuan penjelasannya.

    • Shalom Lukas,

      Terima kasih atas pertanyaannya mengapa masturbasi itu berdosa. Memang ada banyak artikel sekular yang membahas dari sisi psikologi bahwa masturbasi adalah baik untuk melepaskan stress dan depresi. Dan memang ada sebagian umat Kristen yang juga menulis bahwa masturbasi adalah tidak berdosa. Untuk mengerti bahwa masturbasi adalah berdosa, maka kita harus mengerti seksualitas seperti apa yang diinginkan Tuhan. Untuk itu, silakan anda membaca beberapa artikel sehubungan dengan hal ini, yaitu kemurnian di luar perkawinan – silakan klik, dan kemurnian di dalam perkawinan – silakan klik.

      1. Gereja Katolik mengajarkan “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang tidak berubah maupun perasaan susila umat beriman telah tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat menyimpang”. “Penggunaan kemampuan seksual dengan sengaja, dengan alasan apa pun, yang dilakukan di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”. Sebab di sini, kenikmatan seksual dicari di luar “hubungan seksual yang diatur oleh hukum moral/ kesusilaan dan yang di dalamnya dicapai arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga suatu pembuahan manusiawi di dalam cinta yang sejati”[9].” (Katekismus Gereja Katolik, 2352)

      Jadi, secara prinsip, Tuhan tidak pernah menciptakan organ seksual dengan tujuan untuk kenikmatan belaka. Namun, lebih daripada itu, Tuhan memberikan organ seksual sehingga manusia dapat berkembang biak (lih. Kej 1:28). Dan lebih lanjut, Tuhan menginginkan bahwa hubungan suami istri adalah menjadi gambaran akan kasih dalam Trinitas serta pernyataan kasih antara Kristus dan Gereja-Nya (lih. Ef 5). Dalam konteks ini, maka seksualitas menjadi sangat dangkal kalau dipandang sebagai pemuas libido tanpa ada dasar kasih. Kasih yang benar adalah memberikan diri untuk orang yang dikasihinya, sama seperti Kristus mengorbankan diri untuk umat-Nya.

      Dengan pengertian di atas, maka sungguh sangat sulit untuk mengatakan bahwa masturbasi tidaklah apa-apa, karena tindakan tersebut telah mencoreng apa yang diinginkan Tuhan dalam seksualitas manusia. Lebih lanjut, tidak ada ekspresi kasih (pemberian diri) dalam masturbasi, kecuali untuk memuaskan diri sendiri.

      2. Kalau ada banyak orang yang melakukan masturbasi, maka bukan berarti bahwa masturbasi adalah benar. Inilah sebabnya orang tua harus memberikan pengertian kepada anak-anak akan masalah seksual, sehingga anak-anak dapat melihat seksualitas dalam kacamata iman, sebagaimana yang Tuhan inginkan. Mengapa banyak orang yang jatuh dalam dosa ini? Lihatlah artikel kemurnian di luar pernikahan bagian dosa asal – silakan klik, yang menerangkan bahwa manusia kehilangan “the gift of integrity“, yang mengakibatkan keinginan daging berontak terhadap akal budi. Namun, bukan berarti manusia tidak mempunyai daya untuk membebaskan diri dari hal ini, karena rahmat Tuhan mampu untuk mengubah manusia dari dalam, sehingga manusia dapat terus berjuang di dalam kekudusan. Santa-santo dalam sejarah Gereja telah membuktikan bahwa kalau manusia terus bekerjasama dengan rahmat Tuhan, maka manusia dapat hidup dalam kekudusan dan kemurnian.

      3/4. Jadi, secara gamblang, Gereja Katolik mengatakan bahwa masturbasi adalah berdosa, yaitu melawan kebajikan kemurnian. Dengan demikian, sudah sepantasnya kita harus mohon kekuatan dan rahmat Tuhan, sehingga kita dapat terhindar dari dosa ini. Masturbasi dengan alasan untuk melepaskan stress tidak dapat dibenarkan, sama seperti tidak dibenarkan untuk berbuat cabul dalam pikiran dengan alasan apapun (lih. Mt 5:28). Orang yang terbiasa bermasturbasi akan sangat sulit untuk mengasihi pasangannya dengan tulus, karena telah terbiasa untuk memuaskan diri tanpa memberikan diri secara total. Dan dosa ini dapat mengakibatkan seseorang untuk terbiasa melihat wanita/pria bukan sebagai ciptaan Allah yang sungguh baik, yang adalah seseorang yang dikasihi Allah, namun melihat mereka sebagai sebuah obyek, yaitu obyek pemuas nafsu. Dan ini adalah suatu penyimpangan dan dosa.

      5. Masturbasi menyimpang dengan alasan-alasan yang telah diterangkan di atas. Namun, membuang atau menyia-nyiakan air mani adalah salah satu manifestasi dari dosa ini. Kalau Yesus mengatakan bahwa melihat dan menginginkan wanita di dalam pikiran telah berdosa, apalagi sampai pada manifestasi dosa, yaitu membuang sperma dalam masturbasi untuk alasan pemuasan nafsu diri. Dan kalau anda mau melihat lagi lebih dalam tentang hubungan suami istri, maka dalam pengajaran Gereja Katolik, ada dua unsur yang harus tetap ada dalam setiap HSI, yaitu ungkapan kasih (union) dan terbuka terhadap kelahiran (procreation). Dengan demikian, apa yang terjadi pada Onan adalah merupakan pelanggaran terhadap dua unsur ini, karena dengan intensinya yang salah (tidak mau memberikan keturunan), dia telah melanggar kasih yang seharusnya diberikan kepada istrinya, dan dengan membuang spermanya, dia tidak terbuka terhadap kelahiran.

      Semoga penjelasan di atas dapat membantu. Selama kita dapat melihat bahwa Tuhan menginginkan agar kita dapat memuliakan Tuhan dengan tubuh kita, maka kita juga akan berusaha untuk mempergunakan tubuh kita menjadi bait Allah yang kudus. Dan tidak ada cara lain, selain kita menjaga kemurnian tubuh dan jiwa, baik di dalam perkawinan maupun di luar perkawinan. Mari, dengan rahmat Allah yang begitu besar yang mengalir dalam Sakramen Baptis, kita bersama-sama berjuang dalam kekudusan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Ya, penjelasan di atas sungguh sangat membantu, Pak Stef.
        Terima kasih, karna telah membuat saya semakin mengerti.
        Salam,
        Lukas Cung

      • Terima kasih atas penjelasan dari Katolitas.org

        Saat saya membaca reply atas pertanyaan saya, saya takut untuk menanggapinya bahwa masturbasi itu berdosa karena saya takut saya akan kembali jatuh ke dosa tersebut.

        Sampai sekarangpun saya -seperti dulu – berusaha untuk menjauhi pikiran kotor dan masturbasi namun kini dengan kepastian, tidak ragu-ragi lagi, bahwa masturbasi benar-benar suatu dosa. Dulu kadang saya berdalih dalam hati “tentang masturbasi itu dosa atau tidak masih belum pasti, … …” dengan berbagai alasan yang menurut saya logis.

        Dari posting 12.1 di bawah, bagaimana jika seorang yang berdosa berat (termasuk masturbasi) tidak mengikuti sakramen tobat di gereja katolik tapi mengaku dosa dalam doa? karena saya bukanlah seorang katolik.

        • Shalom Lukas,

          Terima kasih atas pertanyaan anda. Memang banyak para psikolog sekular mengatakan bahwa masturbasi tidaklah berdosa. Namun, pengajaran Gereja Katolik sangat jelas dan menyatakan bahwa masturbasi adalah berdosa. Orang sering memberikan justifikasi dengan mengatakan bahwa lebih baik melakukan masturbasi daripada melakukan dosa yang lebih besar lagi. Namun, pernyataan seperti itu adalah suatu bentuk keputusasaan, bahwa kita tidak dapat menghindari dosa ini. Memang dengan kekuatan sendiri akan sangat sulit menghindari dosa ini. Namun, kita harus percaya akan rahmat yang mengalir dari Sakramen Baptis, yang menjadikan kita anak-anak Allah, yang menerima rahmat pengudusan, tiga kebijakan ilahi: iman, pengharapan dan kasih. Bentuk keputusasaan ini menjadi suatu bentuk penipuan, bahwa kodrat kita adalah sudah seperti ini, yang tidak mampu untuk berjuang dalam kekudusan. Dengan meyakini bahwa masturbasi dosa, sulit untuk menghindari dosa ini, dan hal ini bertentangan dengan perintah Allah, maka dengan penuh kerendahan hati umat Katolik menerima Sakramen Pengampunan Dosa, sehingga dikuatkan oleh rahmat pengampunan untuk dapat berjuang terus dalam kekudusan.

          Dalam pengajaran Gereja Katolik, dosa-dosa berat hanya dapat dihapuskan oleh pengampunan dari Sakramen Tobat, karena memang Yesus sendiri memberikan kuasa kepada Paus dan penerusnya (lih. Mt 16:16-19) dan kepada para rasul dan penerusnya – yaitu para uskup dibantu para pastor (lih. Yoh 20:21-23). Anda tetap dapat datang kepada pastor untuk mengakukan dosa anda dan pastor akan memberikan nasehat, namun itu bukanlah sakramen. Menurut hemat saya, cobalah menggali lagi iman Katolik lebih dalam lagi. Dan kalau anda menemukan kebenaran di dalamnya serta yakin dengan kebenaran tersebut, mulailah untuk melangkah satu step lagi, yaitu berfikir untuk bergabung dalam Gereja Katolik. Dengan demikian, anda dapat berpartisipasi dalam sakramen-sakramen – seperti: Sakramen Ekaristi , Sakramen Penguatan, Sakramen Tobat. Kalau masih ada keraguan, maka silakan bertanya lebih lanjut.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • Budi Darmawan Kusumo January 24, 2011 at 11:18 am

            Syalom Pak Stef,

            Dosa masturbasi itu’kan sebenarnya diakibatkan ketika kita melakukan masturbasi PASTI KITA MEMIKIRKAN hal – hal berbau pornografi. Sehingga masturbasi itu dosanya karena “menginginkan” wanita lain. Nah teman saya ada yang bercanda mengatakan bahwa, bagaimana kalo saya masturbasi tanpa berpikir apa – apa, apakah saya berdosa ?

            Tuhan Yesus memberkati & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA

            • Shalom Budi,

              Masturbasi berdosa bukan hanya karena menginginkan wanita lain, namun juga karena menggunakan organ seksual hanya dengan tujuan kenikmatan tanpa mengekspresikannya sebagai manifestasi dari kasih (union) dan sebagai partisipasi dalam karya penciptaan Allah (procreation). KGK, 2352 menuliskan:

              KGK 2352 Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang tidak berubah maupun perasaan susila umat beriman telah tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat menyimpang”. “Penggunaan kemampuan seksual dengan sengaja, dengan alasan apa pun, yang dilakukan di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”. Sebab di sini, kenikmatan seksual dicari di luar “hubungan seksual yang diatur oleh hukum moral/ kesusilaan dan yang di dalamnya dicapai arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga suatu pembuahan manusiawi di dalam cinta yang sejati“.

              Semoga jawaban ini dapat membantu. Anda dapat juga melihat artikel tentang kemurnian di luar perkawinan di sini – silakan klik.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

  9. sebenernya mau nanya, tapi bingung mau tanya apa? aku punya kendala mengenai dosa, aku punya dosa kebiasaan nonton film porno, sering kali aku lepas. tp gak bisa banyak media2 yang buat aku jatuh lagi. tolong sarannya ya.

    • Shalom Hendra,

      Saya mengundang anda untuk membaca artikel di atas, dan juga tanya jawab dibawah ini, terutama jawaban ini, silakan klik.

      Cara untuk melepaskan diri dari dosa yang sama (habitual sin), adalah dengan melawannya dengan kebajikan yang sebaliknya, tentu dengan rahmat Tuhan. Maka yang pertama- tama, datanglah dahulu dengan kerendahan hati untuk mengaku dosa di hadapan-Nya dalam sakramen Tobat, agar anda memperoleh dari Tuhan rahmat-Nya yang akan memampukan anda untuk berkata ‘tidak’ kepada dosa ini. Jika anda gagal, jangan putus asa, datang lagi ke hadirat Tuhan, tentu dengan tobat yang tulus, dan niat yang lebih besar untuk berjuang mengatasi kelemahan anda ini. Sesudah itu hindarilah kesempatan atau keadaan yang dapat membuat anda terjatuh dalam dosa ini. Pilihlah komunitas/ teman- teman yang dapat mendukung anda untuk bertumbuh di dalam kemurnian. Hindari kesempatan menyendiri yang dapat mendorong anda mempunyai fantasi yang negatif. Hindari pergi ke tempat- tempat yang menggoda anda untuk membeli/ meminjam film- film ini. Isi waktu anda dengan kegiatan yang lebih berguna dan membangun iman. Jika ini anda lakukan dengan setia, saya percaya, Tuhan dapat membebaskan anda dari keterikatan terhadap dosa yang melanggar kemurnian ini. Berjuanglah bersama Tuhan, dan sedapat mungkin terimalah Kristus dalam Ekaristi kudus setiap hari. Semoga anda dimampukan oleh-Nya untuk “mati bagi dosa, dan hidup bagi Allah di dalam Kristus Yesus (Rom 6:11).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. paulus stefanus ary k September 4, 2010 at 4:31 am

    shalom bpk Stef dan ibu Inggrid
    saya ary, katholik sejak kecil, berumur 20th dan belum menikah
    saya m bertanya, apakah kalo saya membaca langkah-langkah membesarkan alat kelamin serta melakukannya atau membaca buku panduan yang bersifat seksual, itu merupakan dosa ringan atau berat?
    niat saya agar menjadi bekal dalam membina keluarga dikemudian hari.
    terimakasih atas jawaban dan sarannya.

    • Paulus Ary Yth

      Tuhan menciptakan manusia baik adanya dan tentu secara anatomi yang utuh juga baik adanya. Karena itu usaha untuk mengubah pemberian Tuhan sang pencipta misalnya dengan membesarkan alat kelamin, mengubah warna kulit merupakan pertentangan dengan kehendak Tuhan, tidak menerima apa adanya dari Tuhan. Bagi saya itu dosa. Oleh sebab itu jika anda memasuki perkawinan tidak perlu melakukan yang aneh-aneh dengan mengubah anatomi tubuh anda, karena semua ada maksudnya sesuai dengan ukuran tubuh yang telah Tuhan ciptakan. Menerima dan mesyukuri tubuh yang diciptakan Tuhan adalah baik dan benar. Bekal membina keluarga dalam perkawinan bukan dengan cara membesarkan atau mengecilkan merubah dll apa yang telah diciptakan Tuhan. Bekal menuju perkawinan adalah kesiapan hati dan mental, pengenalan pasangan lebih dalam dan utuh serta ekonomi bagi zaman sekarang untuk membangun keluarga yang harmonis dan sejahtera adalah tepat. Soal seks dan seksualitas perkawinan dengan sendirinya diketahui dan bisa membaca buku buku panduan yang sehat dari sisi moral kristiani.

      salam
      Rm Wanta

  11. Hai, salam kenal,
    Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kesetiaan dan kesabaran rekan-rekan semua dalam memelihara situs ini, saya mendapatkan banyak sekali pengajaran dan manfaat terutama mengenai iman Katolik…… ^______^

    Yang hendak saya tanyakan adalah : di film-film, terutama film barat yang romantis, terkadang ada adegan-adegan yang dapat dikategorikan sebagai adegan semi-porno… Nah, bagaimana kalau pada saat kita menonton suatu film, kita benar-benar tidak tahu kalau ternyata di tengah-tengah film di dalamnya ada adegan yang seperti itu? Padahal pada awalnya kita benar-benar tidak bermaksud untuk menonton hal itu? Apakah hal ini termasuk dosa melawan kemurnian? Jika iya, apakah termasuk dosa yang berat ataukah dosa ringan?

    Terima kasih atas jawabannya…… Semoga Katolisitas semakin berkembang dan setia dalam melayani umat….. =D

    — Teresa —-

    • Shalom Teresa,

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

      KGK 1859 “Dosa berat menuntut pengertian penuh dan persetujuan penuh. Ia mengandaikan pengetahuan mengenai kedosaan dari suatu perbuatan, mengenai kenyataan bahwa ia bertentangan dengan hukum Allah. Dosa berat juga mencakup persetujuan yang dipertimbangkan secukupnya, supaya menjadi keputusan kehendak secara pribadi. Ketidaktahuan yang disebabkan oleh kesalahan dan ketegaran hati tidak mengurangi kesukarelaan dosa, tetapi meningkatkannya“.

      Dalam Apostolic Exhortation “Reconciliatio et Paenitentia / Reconciliation and Penance“, 17, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa yang masuk dalam kategori dosa berat adalah dosa yang “obyek“-nya adalah termasuk berat, orang tersebut benar-benar tahu (full knowledge) bahwa itu adalah melawan perintah Allah, dan dengan kesadaran penuh orang tersebut memilih untuk melakukannya juga (consent of the will).

      Artinya, seseorang dikatakan melakukan dosa berat, jika obyek [dan efek-nya] berat, sudah tahu bahwa itu perbuatan dosa, namun dengan penuh kesengajaan ia tetap melakukannya juga. Maka dalam kasus yang anda sebut, agaknya yang harus dijawab dengan jujur adalah apakah orang yang menonton benar- benar tidak mengetahui bahwa di dalam film- film itu terdapat adegan- adegan yang tidak pantas. Jika ia benar- benar tidak tahu ada adegan tersebut, dan pada saat adegan itu terjadi maka ia memutuskan untuk tidak melihatnya/ tidak memperhatikannya, maka ia tidak melakukan dosa berat. Namun adakalanya adalah, walaupun pertama- tama ia tidak tahu ada adegan tersebut, namun kemudian ketika adegan tersebut ada malah ia memperhatikannya dengan sungguh- sungguh, dan sesudahnya malah menjadi terpengaruh dan berpikir tidak pantas atau bahkan juga berbuat yang serupa dengan adegan tersebut, ataupun kemudian menjadi kecanduan untuk menonton film- film sejenisnya. Jika ini yang terjadi, maka ia melakukan dosa berat, sebab ini sudah melibatkan ketiga syarat yang disebutkan di atas (obyeknya berat, sudah tahu itu dosa, tetapi tetap melakukannya juga). Dosa berat yang dilanggar di sini adalah dosa melawan kemurnian, melanggar perintah ke- 6 ataupun ke-9 dalam kesepuluh perintah Allah.

      Sikap yang lebih selektif dalam memilih film- film yang akan kita tonton merupakan sikap yang bijaksana. Atau yang lebih bijaksana adalah, gunakan waktu yang ada untuk kegiatan yang lebih berguna untuk menumbuhkan iman dan membangun cinta kasih persaudaraan dalam komunitas umat beriman.

      Demikian tanggapan saya atas pertanyaan anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. Shallom, saya seorang suami dengan istri yang sedang hamil. Saya ingin tahu bagaimana pandangan/aturan gereja mengenai hubungan seks dengan istri yang sedang hamil, mengingat salah astu tujuan seks adalah untuk prokreasi,sedangkan sekarang istri saya sudah hamil. Bagaimana dengan OS yang dilakukan istri seandainya dia sedang tidak memungkinkan untuk bersenggama dalam waktu yang cukup lama?
    Terima kasih atas jawabannya.

    • Shalom Yuda,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Secara prinsip hubungan suami istri (HSI) dapat tetap dilakukan, walaupun istri dalam kondisi hamil, asal dilakukan dengan hati-hati. Untuk penjelasan lebih detail, silakan bertanya kepada dokter kandungan yang biasa anda kunjungi. Semoga dapat membantu. Terima kasih juga anda dapat melihat bahwa terbuka terhadap kelahiran adalah merupakan bagian dari HSI. Semoga keterangan singkat ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Terimakasih atas jawabannya. Saya masih punya pertanyaan mengenai HSI. Apakah setiap HSI harus diakhiri dengan persenggamaan? Bagaimana seandainya dalam foreplay istri sudah merasa lelah karena sedang hamil? Apakah boleh dilanjutkan atau diselesaikan dengan OS atau yang lain? Terimakasih

        • Shalom Yuda,

          Terima kasih atas pertanyannya. Intinya setiap HSI harus mempunyai dua unsur, yaitu prounion dan procreation. Dengan demikian, HSI yang menghalangi unsur procreation tidak dapat dibenarnya, entah dengan pemakaian kontrasepsi, maupun dengan cara yang lain. Jadi, kalau memang istri lelah setelah foreplay karena sedang hamil, maka pada kondisi seperti ini, kasih seorang suami diuji. Kalau memang istri sedang lelah, maka seorang suami yang benar-benar ingin memberikan dirinya secara total dalam HSI harus juga mau mengerti kondisi istri dan kemudian tidak memaksakan kehendaknya sendiri dengan OS maupun cara yang lain. Dengan demikian, jalan yang terbaik adalah mencoba kembali di lain waktu, dan pergunakanlah waktu tersebut untuk mengekspresikan kasih dengan cara yang lain. Semoga dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  13. Tim Katolisitas Yth,

    Saya sedang bingung memikirkan hal ini, bolehkan saya terima komuni apabila sebelumnya secara tidak sengaja saya melihat gambar2 yg kotor/asusila. Sebetulnya, kejadian ini tidak saya sengaja, saya sedang mengumpulkan gambar2 3 dimensi, tetapi ternyata dari ratusan gambar2 tsb ada beberapa gambar dlm posisi pasangan yg sdg berhubungan intim – gambarnya memang tidak jelas krn kita hanya melihat spt gambar skets saja. Jujur saja, sudah sekian tahun saya tidak pernah melihat gambar2 kotor semacam itu krn saya selalu berusaha menghindar, tapi hari ini, entah iblis dari mana yg sudah menghancurkan jiwa saya shg saya kesasar melihat gambar itu. Satu lagi, bhw saya tidak merasa terangsang melihat gambar2 itu, justru saat ini saya benci dg sikap saya yg tidak keras terhadap diri saya sendiri. Hari ini biasanya kami pergi ke Misa, bolehkan saya mengambil bagian dalam komuni kudus? Saya ingin mengaku dosa, tapi saya merasa sgt malu terhadap romonya, krn beliau satu2nya romo di paroki kami, tdk ada romo yg lain. Jadi bagaimana? saya minta nasihat dari tim katolisitas, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih banyak.

    salam dan doa,
    Mega

    • Shalom Mega,

      Terima kasih atas komentarnya. Secara prinsip, kalau anda melakukan dosa ringan, maka anda dapat menerima komuni, dan rahmat dari Ekaristi justru akan membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan. Kalau anda berdosa berat, maka anda harus mengaku dosa terlebih dahulu. Jadi permasalahannya adalah apakah yang anda lakukan adalah termasuk dalam dosa ringan atau dosa berat. Kalau anda tidak tahu bahwa gambar sketch tersebut berisi gambar-gambar kotor dan kemudian secara spontan anda tutup, maka sebenarnya anda tidaklah berdosa – kalaupun ada dosa ringan disebabkan oleh kekuranghati-hatian dalam mengumpulkan gambar-gambar. Namun, kalau setelah anda menyadari bahwa sketch tersebut berisi gambar-gambar kotor, dan kemudian anda terjerumus pada pemikiran kotor dan menikmatinya walaupun tahu bahwa hal tersebut salah, maka sebenarnya tindakan ini telah dikategorikan berdosa. Dalam kondisi pertama, anda tidak perlu mengaku dosa, walaupun anda juga menceritakannya kepada pastor, serta anda dapat menerima komuni. Dalam kondisi kedua, maka anda dapat mengaku dosa terlebih dahulu. Dalam kondisi seperti ini, janganlah terlalu kesal dengan diri sendiri, namun bersyukurlah bahwa Roh Kudus menggerakkan anda untuk dapat memeriksa batin anda secara lebih mendalam. Semoga keterangan ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Yth Bpk Stefanus Tay,

        Terimakasih atas jawaban dan tanggapan yg telah diberikan kpd saya, sekarang, hati saya cukup lega. Hari kemarin itu (Rabu), saat Misa, saya tdk berani menyambut komuni. Apabila hari Minggu mendatang, saya akan menyambut Komuni lagi, saya memang menantikan jawaban dari tim Katolisitas. Sekali lagi terimasih krn pertanyaan saya dg cepat terbalas.

        Salam dan doa
        Mega

  14. Salam para pengurus katolisitas yang mau meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan2, semoga nggak bosan2nya menjawab pertanyaan saya.

    Masturbasi khan termasuk pelanggaran berat karena dilakukan sendiri, kl misal lg foreplay trus masturbasiin istri boleh nggak ? [edit: kalau dalam foreplay, sperma suami sampai keluar bagaimana?], in the end coitus tetap berlangsung alamiah.

    Lalu kl misal coitus interuptus gimana ? nggak pake kontrasepsi tapi sperma nya dibuang keluar, gak masturbasi juga… lalu gimana juga misal suami mengendalikan ejakulasinya, jadi dipisahkan antara puncak dengan ejakulasi sehingga penyemprotan tidak terjadi atau hanya terjadi di akhir hubungan. Lalu gimana dengan hubungan seks yang dilakukan tapi ntah si suami lg bosen atau gimana, gak bisa sampe puncak atau ejakulasi nggak terjadi, sementara sang istri mungkin ntah dah brapa kali orgasme.

    Sori kl pertanyaannya agak vulgar. semoga bisa dibantu dijawab.

    • Shalom Anonymous,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang seksualitas. Masturbasi memang termasuk dosa berat. Untuk menjawab pertanyaan selanjutnya, maka kita harus melihat definisi dari masturbasi:

      KGK, 2352 “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban”, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apa pun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya“. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai “tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang sebenarnya” (CDF, Perny. “Persona humana” 9).Supaya membentuk satu penilaian yang matang mengenai tanggung jawab moral dari mereka yang bersalah dalam hal ini, dan untuk menyusun bimbingan rohani supaya menanggapinya, orang harus memperhatikan ketidakmatangan afektif, kekuatan kebiasaan yang sudah mendarah daging, suasana takut, dan faktor-faktor psikis atau kemasyarakatan yang lain, yang dapat mengurangkan kesalahan moral atau malahan menghilangkannya sama sekali.”

      Dengan pengertian di atas, maka kita melihat bahwa hubungan seksual adalah hubungan yang sakral, dimana bukan kenikmatan seksual yang dinomorsatukan, namun berpartisipasi dalam penciptaan bersama Allah (yaitu dengan melahirkan keturunan) dan juga merupakan manifestasi dari penyerahan diri dan kasih yang total antara suami dan istri. Dengan demikian, kita harus melihat ada dua unsur utama dalam seksualitas, yaitu “prounion” dan “procreation“. Dua unsur ini harus ada dalam melakukan hubungan seksual. Prounion, hanyalah mungkin dilakukan oleh pasangan suami istri yang saling mengasihi dan procreation membuat pasangan suami istri terbuka terhadap kelahiran.

      a) Jadi, pada saat terjadi hubungan suami istri, maka harus dilakukan secara sempurna (coitus) atas dasar kasih, sehingga unsur prounion dan procreation terpenuhi. Foreplay harus mengarah kepada hubungan suami istri secara lengkap, sehingga tetap terbuka terhadap kelahiran. Dengan demikian sperma suami tidak dapat terbuang atau dibuang di luar dari hubungan lengkap bersama dengan sang istri, karena sperma inilah yang membuahi sel telur dari istri. Sebaliknya, memuaskan istri sebelum atau setelah hubungan lengkap suami-istri dapat dibenarkan, dengan syarat hal tersebut terjadi dalam konteks hubungan lengkap suami istri.

      b) Namun, coitus interuptus tidak dapat dibenarkan, karena menghilangkan dimensi procreation, serta dimensi prounion juga dipertanyakan. Pertanyaan tentang pengendalian ejakulasi dalam konteks hubungan lengkap suami istri dapat dibenarkan, selama sperma tidak terbuang dan diakhiri dengan coitus yang normal.

      c) Kondisi di mana seorang istri telah orgasme beberapa kali dan suami akhirnya tidak dapat ejakulasi tidaklah salah (walaupun harus dihindari), sejauh intensi awal pasangan suami istri tersebut ingin melakukan hubungan suami-istri secara lengkap (coitus). Kalau hal ini pernah terjadi sebelumnya, maka selanjutnya pasangan suami-istri tersebut harus berusaha untuk menghindari kondisi ini, sehingga pasangan suami-istri dapat saling memberi dan menerima kasih.

      Semoga jawaban ini dapat membantu. Saya menyadari bahwa hal ini memang tidaklah mudah untuk dilakukan. Namun, kalau pasangan suami istri mencoba untuk melakukan hubungan suami-istri dengan unsur prounion dan procreation, maka kasih di antara suami istri dapat lebih terbina, karena pasangan bukanlah menjadi obyek seksual, namun menjadi seseorang yang mempunyai harkat untuk dikasihi secara total. Dan tentu saja, kita harus mohon rahmat Tuhan, sehingga pasangan suami istri Katolik dapat melakukan hal ini dengan sukacita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  15. Salam Sejahtera,
    Saya smp3,saya mempunyai masalah dengan ini
    Setiap saya kali *masturbasi* dan sejenisnya , saya selalu merasa saya sangat berdosa
    dan pastinya. Dan setelah itu nilai2 ulangan saya selalu menjadi jelek
    Saya selalu memohon kepda bunda Maria dan berdoa novena tiga kali salam maria
    Tetapi ,tanpa dan dengan sadar saya selalu mengulanginya terus
    Saya tidak tahu harus bagaimana lagi
    Tetapi tolong ..saya minta bantuannya. Terima Kasih

    • Shalom Agung,
      Pertama- tama bersyukurlah terlebih dahulu kepada Tuhan, yang telah bekerja dalam hati Agung, sehingga anda dapat menyadari bahwa apa yang anda perbuat
      (masturbasi) itu adalah dosa di hadapan Tuhan. Perjuangan meninggalkan kebiasaan buruk itu memang tidak mudah, namun Tuhan Yesus berjanji, bahwa kuasa-Nya cukup untuk memampukan kita semua menolak dosa. Dalam hal ini Agung harus yakin dan percaya bahwa jika anda mengandalkan kekuatan dari Tuhan, maka anda akan mempu mengatakan “tidak” pada masturbasi. Namun sekarang pertanyaannya, apakah yang sudah anda lakukan untuk menolak dosa tersebut? Memang baik jika Agung sudah berdoa novena Tiga Salam Maria, namun doa saja tidak cukup, jika tidak dibarengi dengan usaha anda yang nyata untuk menghindari dosa tersebut. Berikut ini adalah yang mungkin dapat anda lakukan:

      1. Periksalah batin anda, mengapa sampai anda melakukan dosa masturbasi itu. Lalu teliti, apakah sebabnya atau apa kondisinya yang mendorong anda melakukan masturbasi. Berapa kali frekuensi anda melakukan masturbasi? Jika anda telah dengan jujur melihat semua kenyataan ini, berdoalah mohon ampun kepada Tuhan Yesus, dan temuilah pastor paroki untuk mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa.
      Lakukan lagi hal yang sama, setiap kali anda jatuh dalam dosa ini, temuilah pastor dan mengaku dosalah dengan jujur, dengarkanlah saran pastor untuk menghindari dosa ini di kemudian hari.
      2. Hindarilah kesempatan/ situasi yang mendorong anda melakukan masturbasi. Hindari waktu anda melamun sendiri, hindari melihat gambar/ film yang mendorong anda melakukan masturbasi.
      3. Berdoalah sambil berlutut dengan memohon kekuatan dari Tuhan, setiap godaan itu datang. Akuilah kelemahan anda, namun pada saat yang bersamaan mohonlah dengan penuh keyakinan akan kuasa Yesus untuk membebaskan anda dari belenggu dosa masturbasi tersebut.
      4. Arahkan pikiran dan perhatian anda kepada hal- hal yang lebih bermanfaat dan membangun iman. Gunakan waktu anda untuk hal- hal yang lebih positif; bacalah dan renungkanlah Sabda Tuhan, perhatikanlah orang-orang di sekeliling anda yang membutuhkan pertolongan, dan siap sedialah untuk menolong, jika anda dapat melakukannya. Dengan demikian, fokus pikiran anda tidak ditujukan pada diri sendiri tetapi kepada Tuhan dan sesama. Bergabunglah dalam kegiatan/ komunitas mudika yang sehat, seperti Persekutuan Doa ataupun Legio Mariae, di mana anda dapat menumbuhkan iman anda.
      5. Setialah berdoa sepanjang hari, dengan doa- doa yang pendek, “Tuhan Yesus, kasihanilah aku, bebaskanlah aku dari dosa masturbasi”, katakan hal itu dengan tulus sesering mungkin sepanjang hari.

      Semoga Masa Prapaska ini menghantar Agung ke dalam hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus, yang memampukan anda meninggalkan kehidupan anda yang lama untuk hidup yang baru bersama Tuhan Yesus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  16. Shalom, saya baru pertama datang ke situs ini. dan saya sungguh mengucap syukur atas isi dari situs ini yang bisa menjadi berkat bagi saya dan semua umat katolik.

    Saya ingin sharing sedikit : kembali ke pertanyaan awal diatas, memang menurut pengalaman dosa itu selalu datang dari pikiran dan semakin lama dilayani pikiran itu akan semakin kuat dan akhirnya mendorong tubuh kita untuk melakukan hal yang lebih lagi yang menurut kita ‘enak’ seperti masturbasi, mabuk dan obat-obatan.

    Suatu waktu pada pengakuan dosa, seorang imam berkata pada saya bagaimana cara mengatasi godaan itu. Katanya, ketika godaan di pikiran itu datang, cobalah alihkan dengan hal yang lain. misal bila anda sedang tidur2an menikmati pikiran itu, bangkitlah segera dan lakukan tindakan yang lain yang dapat mengalihkan pikiran itu, entah membaca, entah menonton tv, pokoknya lakukan sebuah tindakan…

    Hal ini juga mengingatkan saya akan cerita dari pengalaman seorang pemabuk yang tak pernah lepas dari anggur (sebuah kisah di buku’Perjalanan seorang Peziarah’). Ketika besar hasratnya untuk meminum anggur, maka ia segera mengambil kitab suci dan membaca 1 perikop. bila godaan itu masih ada, ia akan membaca 1 perikop lagi dan begitu seterusnya sampai godaan itu hilang. Dan kini ia sudah lepas dari jerat anggur dan kemabukan.
    Dan yang terpenting pastinya doa. Cobalah untuk berdoa Yesus (menyebut nama Yesus berkali-kali dan menyesuaikannya dengan tarikan nafas kita) atau 1 kali salam maria setiap kali pikiran itu muncul.

    Semoga pengalaman kecil ini bisa membantu saudara-saudari yang sedang dalam pergumulan seperti diatas. Tentunya juga tidak mudah bagi kita semua untuk merubah kebiasaan buruk , maka marilah kita saling mendoakan satu sama lain.

    Tuhan memberkati.

  17. Permisi mau numpang nanya, setelah membaca artikel ini ada beberapa pertanyaan yang masih terngiang ngiang di benak saya.
    Bila ketidakmurnian adalah dosa berat, apakah itu berarti bila saya berkata kasar atau kotor maka saya harus mengaku dosa terlebih dahulu sebelum diizinkan untuk menerima komuni?

    Terima kasih

    • Shalom Abcde,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang berkata kasar atau kotor. Untuk mengerti apakah hal ini termasuk dosa berat atau ringan, diperlukan pengertian tentang apakah dosa berat. Katekismus 1856 mengutip apa yang dituliskan oleh St. Thomas Aquinas “Kalau kehendak memutuskan untuk melakukan sesuatu yang dalam dirinya bertentangan dengan kasih, yang mengarahkan manusia kepada tujuan akhir, maka dosa ini adalah dosa berat menurut obyeknya…. entah ia melanggar kasih kepada Allah seperti penghujahan Allah, sumpah palsu, dan sebagainya atau melawan kasih terhadap sesama seperti pembunuhan, perzinaan, dan sebagainya… Sedangkan, kalau kehendak pendosa memutuskan untuk membuat sesuatu yang dalam dirinya mencakup satu kekacauan tertentu, tetapi tidak bertentangan dengan kasih Allah dan sesama, seperti umpamanya satu perkataan yang tidak ada gunanya, tertawa terlalu banyak, dan sebagainya, maka itu adalah dosa ringan” (Tomas Aqu.,s.th. 1-2,88,2).

      Dari definisi di atas, maka kita dosa berat membuat manusia berbelok begitu jauh dari tujuan akhir. Atau parameter lain apakah suatu perbuatan adalah dosa berat kalau memenuhi 3 hal: a) obyek yang berat (grave matter), b) mempunyai pengetahuan yang penuh tentang dosa tersebut (full knowledge), dan c) melakukannya dengan sadar (full consent).

      Dari definisi ini, maka berkata kasar dan kotor dapat termasuk dosa berat maupun dosa ringan. Kalau kita berkata kasar dan didengar oleh anak kita, maka telah berdosa ringan, karena telah memberikan contoh yang buruk kepada anak tersebut. Namun kalau contoh ini terus berlangsung terus-menerus dan membentuk karakter sang anak menjadi kasar dan tak terkendali, sebenarnya kita telah menyesatkan anak tersebut, yang mungkin dapat dikategorikan sebagai dosa berat. Contoh lain, kalau kita berkata kasar pada istri, sehingga menyebabkan perkawinan menjadi hancur, maka ini termasuk dosa berat. Kalau kita tahu bahwa istri kita akan sakit hati dengan kata-kata kasar yang kita ucapkan, namun kita tetap dengan sengaja melakukannya maka ini menjadi dosa berat. Suatu kebiasaan jelek, tidak mengurangi dosa, namun menambahkan intensitas dosa. Kalau kata-kata kasar digunakan dalam bahasa pergaulan, maka ini menjadi dosa ringan. Dalam hal ini, kita gagal untuk menjadi saksi Kristus yang baik. Dan kalau hal ini menjadi suatu kebiasaan yang berlangsung terus-menerus yang dapat menyebabkan skandal, dan kita telah tahu bahwa ini salah, maka yang tadinya dosa ringan akan berkembang menjadi dosa berat.

      Ada baiknya kita berfokus pada kesempurnaan atau “perfection“, sehingga kita mencoba menghindari dosa ringan maupun dosa berat. Oleh karena itu, pengakuan dosa secara teratur (misal: 1 atau 2 x sebulan), baik dosa ringan maupun dosa berat, dapat membantu kita untuk bertumbuh di dalam kekudusan.

      Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • Terima kasih atas penjelasan nya.
        Sekarang sudah Clear…

        Keep up good work ^ ^

      • “bertentangan dengan kasih, yang mengarahkan manusia kepada tujuan akhir” apakah ini mengacu kepada Hukum Cinta kasih yang isinya adalah kasihilah sesamamu manusia ……. ??

        Terima kasih

        • Shalon Abcde,
          Terima kasih atas pertanyaannya. Semua dosa – baik dosa ringan maupun berat – akan senantiasa berlawanan dengan kasih. Karena Tuhan adalah kasih, maka dosa – yang adalah perlawanan terhadap Tuhan – menjadi bertentangan dengan kasih. Semakin kuat suatu dosa, maka semakin kuat pertentangannya dengan kasih dan semakin kuat membelokkan manusia dari tujuan akhir. Itulah sebabnya Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa dosa berat menghancurkan kasih dan dosa ringan memperlemah kasih (lih. KGK, 1855). Dan karena dosa mempunyai dimensi horisontal dan vertikal, maka dosa akan bertentangan dengan kasih terhadap sesama dan kasih terhadap Tuhan. Semoga dapat memperjelas.
          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – http://www.katolisitas.org

  18. agustinus agung w August 10, 2009 at 1:59 am

    Salam damai Kristus,

    Perkenalkan saya wawan ( nama panggilan ).
    Langsung saja, sekarang saya sedang mengahadapi masalah hutang yang sungguh diluar batas kemampuan saya. Tapi saya mencoba tetap bertekun dalam doa, meskipun mungkin terkadang ketika berdoa pikiran saya masih “melayang” memikirkan maslaah tersebut, sehingga kurang konsentrasi. Apakah jika demikian doa saya tidak didengar Allah Bapa ?.
    Mohon bantuannya juga untuk masalah saya ini.

    terimakasih.

    • Shalom Wawan,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Saya turut prihatin atas masalah yang dihadapi oleh Wawan. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan Wawan sampai terjerat hutang. Mungkin ada baiknya kalau Wawan dapat menghubungi paroki terdekat Wawan, dan kemudian meminta bantuan SSP (Seksi Sosial Paroki). Dan untuk berdoa, kalau pikiran melayang memikirkan masalah ini, mungkin ada baiknya di dalam doa, Wawan dapat mempersembahkan masalah ini dihadapan Tuhan. Mungkin perjalanan ini akan memakan waktu, namun diperlukan kesabaran Wawan untuk menghadapi semua ini.

      Ada baiknya juga dalam kesempatan yang memang sulit ini, Wawan dapat mengadakan pemeriksaan batin. Kalau memang ada kesalahan yang dilakukan Wawan, maka silakan mengakukan dosa kepada pastor dalam Sakramen Tobat. Dan setelah itu, bertekunlah dalam doa, mohon kepada Tuhan untuk memberikan rahmat, sehingga Wawan dapat memperbaiki kesalahan, dan memulainya lagi dari awal.

      Semoga saran di atas dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • agustinus agung w August 12, 2009 at 9:04 pm

        Terimakasih atas replaynya.

        Memang awalnya dari keserakahan saya. Saya mendapat email kalo saya mendapat hadiah sekian ratus dollar dari sebuah negara.
        Untuk persyaratannya saya harus membayar ini sekian juta.Saya tanpa pikir panjang membayar.Kemudian mereka meminta lg bayaran, dengan alasan ini itu.
        Saat itu yang saya pikirkan hanyalah, jika itu memang benar dan nyata, saya bisa memakmurkan kehidupan ortu saya dan juga anak istriku.
        Mungkin juga ini adalah hukuman dan peringatan dari Tuhan, karena hampir 5 tahun saya jarang kegereja.
        Total hutang saya sekitar 60 jutaan, apakah SSP bisa memberi bantuan ?
        Saya sudah mencoba berserah diri kepadaNya, what will be happen, ya happen aja.
        Saya mencoba realistis, ini kesalahan saya, saya harus menanggungnya.
        Mungkin rencanaNya memang lain dengan yang kita harapkan.
        Mohon replaynya.

        salam damai

        • Shalom Wawan,
          Cobalah untuk menghubungi SSP, siapa tahu mereka dapat membantu sebagian. Dan sambil berusaha, tetaplah berdoa. Mungkin langkah awal, silakan datang ke pastor dan mengaku dosa. Semoga Tuhan memberikan jalan.
          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – http://www.katolisitas.org

          • agustinus agung w August 13, 2009 at 1:39 am

            Salam Damai Kristus,

            Dear Bp Stef,

            Terimakasih atas jawabannya. Saat ini saya masih tetap mencoba dan semoga bisa untuk mendekatkan diri kepadaNya.
            Memang saya akui beberapa saat lalu saya kalah oleh godaan setan, tapi saat ini saya mencoba untuk berbalik lagi kepadaNya.
            SUdah beberapa hari ini saya mencoba mengikuti misa harian, tujuannya agar hati saya tenteram.
            Saya juga browsing situs keagamaan.
            Semoga Allah Bapa berkenan kepadaku.
            Amien.

            Salam,

            Terimakasih

  19. Hi Mba Inggrid/Pak Stef dan semuanya,

    saya mau nanya..apa bila kita melakukan masturbasi/onani dan sering nonton blue film, tp setiap minggu kita masih sering kegereja dan menerima komuni kudus seperti biasa..apakah ini termasuk dosa ringan atau berat?? dan apakah keadaan seperti ini di perbolehkan atau tidak (maksut saya adalah..apakah kita tetap pantas untuk menerima komuni?)

    • Shalom Belarminus,

      Untuk menjawab pertanyaan anda, mari kita melihat definisi dosa berat (mortal sin) dan melihat apakah masturbasi dan menonton blue film termasuk dosa berat tersebut. Sebab jelas jika seseorang berdosa berat, maka seseorang tidak dapat menerima komuni, dan ini sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus (lih. 1 Kor 11:26-28; dan dituliskan dalam Katekismus)

      KGK 1385     Untuk menjawab undangan ini, kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang begitu agung dan kudus. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan pemeriksaan batin: "barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya" (1 Kor 11:27-29) Siapa yang sadar akan sebuah dosa besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.

      Sekarang, mari kita lihat pengertian dosa berat (mortal sin):

      KGK 1857 Supaya satu perbuatan merupakan dosa berat harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan: "Dosa berat ialah dosa yang mempunyai materi berat sebagai obyek dan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan persetujuan yang telah dipertimbangkan" (RP 17).
      KGK 1859     Dosa berat menuntut pengertian penuh dan persetujuan penuh. Ia mengandaikan pengetahuan mengenai kedosaan dari suatu perbuatan, mengenai kenyataan bahwa ia bertentangan dengan hukum Allah. Dosa berat juga mencakup persetujuan yang dipertimbangkan secukupnya, supaya menjadi keputusan kehendak secara pribadi. Ketidaktahuan yang disebabkan oleh kesalahan dan ketegaran hati (Bdk. Mrk 3:5-6; Luk 16:19-31. tidak mengurangi kesukarelaan dosa, tetapi meningkatkannya.

      Untuk menentukan "materi berat" kita melihat pertama-tama adalah kesepuluh Perintah Allah seperti tertulis dalam Kel 20, dan apa yang dikatakan Gereja sebagai 7 macam dosa yang mematikan/ deadly sin, karena dapat menyebabkan tumbuhnya dosa yang lain dan, secara bersamaan, 7 kebijakan yang mengalahkannya, yaitu: (sumber: Spirago- Clarke, The Cathecism Explained, (Illinois: TAN books and Publishers, inc, 1993, p. 479-508)

      1. Kesombongan, dilawan dengan kerendahan hati         
      2. Ketidaktaatan, dilawan dengan ketaatan.
      3. Kemarahan, dilawan dengan kesabaran, kelemahlembutan, kedamaian
      4. Keserakahan, dilawan dengan kemurahan hati
      5. Hawa nafsu tak sehat terhadap makanan dan minuman, dilawan dengan pengendalian diri.
      6. Ketidakmurnian/ percabulan, dilawan dengan kemurnian.
      7. Kemalasan, dilawan dengan semangat untuk melakukan yang baik.

      Dengan demikian kita ketahui bahwa jika dilakukan dengan pengetahuan dan kesengajaan, maka masturbasi dan menonton blue film adalah dosa berat yang melawan kemurnian, atau dosa ke 6 dalam ke-10 Perintah Allah. Pengertian ketidakmurnian ini mencakup:  bermacam pikiran, perkataan ataupun perbuatan yang merusak kemurnian. Orang-orang yang tidak murni tidak memiliki rahmat pengudusan yang berasal dari Roh Kudus. (Atau tepatnya mereka sendiri membuang rahmat pengudusan ini yang mereka terima saat Pembaptisan). Mereka akan menerima ganjarannya baik di dunia, dan di kehidupan kekal [jika tak bertobat] akan mengalami kebinasaan kekal. Untuk menghindari dosa ini, seseorang perlu pergi menghindari cobaan itu. Hal ini kita ketahui dari kisah Yusuf (Kej 39) dan juga pengajaran Rasul Paulus (1Kor 6:18). Hindarilah situasi yang sering menimbulkan godaaan-godaan tersebut. Misalnya, hindari pergaulan yang tidak sehat, hindari percakapan yang ‘ngeres’, hindari mengunjungi situs-situs porno, hindari bacaan yang tidak sehat, dst. Pakailah waktu untuk sesuatu yang lebih berguna dan menumbuhkan iman. Kembangkan hobby yang lebih bermanfaat. Kunjungilah dan hiburlah teman/ saudara yang sedang dalam kesusahan.
      Jangan lupa, pergilah mengaku dosa dalam Sakramen Tobat. Tidak hanya atas dosa ketidakmurnian ini, tetapi juga dosa karena walaupun sudah melakukan dosa tersebut, anda masih menerima Komuni. Jika anda mengaku dosa dalam sakramen Tobat dengan teratur dan dengan sikap batin yang baik, dengan kerinduan untuk sungguh-sungguh bertobat, maka percayalah, anda akan dapat dilepaskan dari keterikatan dosa ketidakmurnian ini. Rahmat Tuhan Yesus lebih besar dan lebih berkuasa dari dosa apapun, sebab Ia telah mengalahkan kuasa dosa dan maut dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya, silakan bertumbuh dalam iman yang benar, yang didasari atas kasih kepada Tuhan yang melebihi segala sesuatu, melebihi kehendak sendiri, apalagi kehendak kedagingan yang tidak teratur. Mohonlah agar Tuhan Yesus sendiri memberikan kasih itu di dalam hati anda, agar anda mampu mengasihi Dia dan bertumbuh di dalam kekudusan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • Hallo Mba Inggrid,

        Terima kasih atas penjelasannya yang sangat details. Dan satu pertanyaan lagi, seperti kita ketahui bersama bahwa sebelum perayaan ekaristi di mulai kita sudah mempersiapkan diri kita untuk terlebih dahulu menyesali segala dosa2 yang telah kita perbuat lewat doa pribadi kita dan di tambah pemeriksaan batin pada saat perayaan ekaristi (saya mengaku…….).
        apakah itu masih tidak cukup untuk melayakan diri kita menerima komuni kudus??

        thanks.

        • Shalom Belarminus,
          Doa “Tuhan Kasihanilah” dan “Saya mengaku …… dst hanyalah diperuntukkan untuk dosa ringan, sedangkan untuk dosa berat harus diakui di dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Dan memang Ekaristi menghapuskan dosa ringan (lihat KGK 1394), namun tidak menghapus keharusan bagi kita untuk mengaku dosa-dosa berat dapam sakramen Pengakuan Dosa.
          Untuk itu, memang kita perlu mengetahui apakah kita mempunyai dosa berat atau dosa ringan, agar dapat menentukan apa yang harus kita lakukan jika kita sungguh bertobat, dan layakkah kita dengan keadaan kita menyambut Ekaristi. Silakan klik di sini untuk mengetahui pengertian dosa, dosa berat dan dosa ringan dan Silakan klik di sini untuk membaca lebih lanjut tentang perlunya membedakan dosa berat dan dosa ringan.
          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

    • Halo, mohon tanya
      masturbasi itu termasuk dosa ya? just wonder why?
      sebab saya belum berhasil pahaminya:

      1. Sperma yg terbuang (onani) kan bukannya membunuh calon bayi? sama halnya dengan bila terbuang alami melalui air seni.

      2. Masturbasi pada wanita malahan tidak membuang sel ovum nya sama sekali.

      3. Memang bila masturbasi dilakukan saat menyetir mobil / di tempat umum / yang aneh-aneh dapat menimbulkan efek negatif bagi manusia lain –> dapat dianggap dosa. Tapi bila bukan kondisi yg tadi?

      4. Dgn Analogi Kasar: Mastubasi mirip dengan kalau kita nonton film romantic, dan terbawa perasaan jadi ikutan terharu / nangis / gembira / jatuh cinta, dll; yg intinya menggunakan daya imajinasi manusia (yang dikaruniakan Tuhan) untuk hal-hal yang “relatif” tidak beresiko bagi orang lain

      Mohon pencerahannya. Terima kasih

      • Shalom Paulus,

        Menurut KGK 2352, seperti yang telah disebutkan di atas, masturbasi itu dosa, karena berhubungan dengan penyalahgunaan pemberian Tuhan; yang sebenarnya ditujukan untuk ekspresi penyerahan diri yang total dan timbal balik antara pria dan wanita dalam perkawinan, namun jadi ditujukan untuk membangkitkan kenikmatan seksual bagi dirinya sendiri. Jadi ada penyimpangan makna di sini: sebab seharusnya alat kelamin diberikan Tuhan untuk maksud yang mulia: yaitu untuk melibatkan manusia yang saling memberikan diri dalam persatuan suami istri- dalam karya penciptaan-Nya untuk mendatangkan kehidupan yang baru. Maka alat kelamin tidak sama sekali dimaksudkan oleh Tuhan untuk dirangsang demi pemuasan nafsu sendiri. Kemampuan seksual dimaksudkan Allah yang menciptakannya, untuk makna yang luhur: untuk maksud pro- union and pro-creation antara suami dan istri. Jadi jika manusia memisahkan keduanya, atau bahkan mendefinisikan sendiri makna yang lain dari kedua makna di atas, maka sebenarnya ia menggunakan kemampuan seksualnya untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana Allah.

        Maka, masturbasi yang dilakukan oleh kaum pria (onani) ataupun oleh wanita memang tidak secara langsung membunuh calon bayi, tetapi di sini ada penyimpangan dalam penggunaan alat kelamin yang tidak sesuai dengan hukum Allah atau maksud Tuhan memberikannya. Inilah yang menyebabkan perbuatan ini sebagai dosa, karena salah satu definisi dosa adalah sebagai berikut:

        KGK 1871 Dosa adalah "perkataan, perbuatan, atau satu keinginan yang bertentangan dengan hukum abadi" (Agustinus, Faust. 22,27- Dikutip oleh Tomas Aquinas, Summa Theologica 1-2,71,6, obj. 1: sc.) Satu penghinaan terhadap Allah. Ia membangkang terhadap Allah dalam ketidaktaatan, yang berlawanan dengan ketaatan Kristus.

        Dengan demikian, walaupun dosa masturbasi ini tidak dilakukan di depan umum, atau bahkan di tempat tersembunyi, tetaplah merupakan dosa, karena masturbasi merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah. Dengan seksualitasnya, manusia diciptakan untuk menggambarkan kasih Allah yang luhur dan mulia. Maka seksualitas memiliki dimensi rohani, dan tidak sekedar hanya jasmani. Itulah sebabnya dengan penyalahgunaan seksualitas untuk nafsu pribadi, manusia merendahkan martabatnya, sebab hanya memfokuskan dirinya dengan kepuasan jasmani semata.

        Analogi kasar yang anda sampaikan bahwa masturbasi mirip dengan menonton film yang membawa perasaan/ emosi, seperti menangis, gembira, dst, tidaklah relevan; karena aktivitas menonton atau mendengarkan lagu-lagu yang membawa emosi tersebut tidak mempunyai kapasitas pro-creation, di mana manusia dapat mengambil bagian dalam suatu misteri Allah yang luhur yaitu penciptaan manusia yang lain. Maka aktivitas menonton film/ menangis tidak dapat disejajarkan dengan aktivitas seksual.

        Aktivitas seksual yang tidak sesuai dengan maksud Tuhan, dapat menjadikan manusia menjadi "budak" kesenangan seksual, sehingga dapat menjurus ke hal "pendewaan" kenikmatan seksual, yang menggeserkan tempat Tuhan di dalam hati orang tersebut. Inilah adalah suatu bentuk ‘berhala’ yang baru pada jaman ini. Hal ini juga merupakan bentuk pelanggaran yang serupa dengan dosa Adam dan Hawa yang memakan buah pohon pengetahuan, karena ingin menentukan sendiri hal yang baik dan buruk sesuai dengan kehendak hati mereka, dan bukannya mematuhi kehendak Tuhan.

        Kita sebagai umat beriman seharusnya mematuhi kehendak Tuhan dan bukannya mengartikan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan pengertian kita sendiri. Pada akhirnya, dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita sebagai mahluk ciptaan selayaknya tunduk kepada rencana Allah yang menciptakan kita, termasuk dalam hal seksualitas.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  20. Helo,

    Saya hendak bertanya satu soalan…saya rasa ini sesuatu yang memalukan bagi saya sendiri..harap beri pedoman dan penjelasan saudari. saya selalu melakukan fantasi seks yang saya anggap kurang ajar bagi diri saya sendiri…saya kira ini adalah satu dosa tetapi saya tidak melakukan seks dengan orang hanya anggapan ini berada dalam fikiran kotor saya….saya ingin berhenti melakukan hal ini kerana saya tahu saya berdosa bagi diri say sendiri….saya selalu berdoa supaya perkara ini tidak diulangi lagi…

    pertanyaan saya adalah adakah dosa saya adalah dosa yang berat atau ringan? Saya selalu minta ampun dengan tuhan atas segala dosa saya dan adakah ianya berbaloi untuk mendaptkan pengampunan terus dari tuhan atau melalui paderi supaya saya dapat melakukan indulgensi.

    Hamba Berdosa
    Esther
    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

    • Damai Kristus,
      Setelah membaca pertanyaan Esther pada July 13, 2009 at 3:47 am dan jawaban Bp. Stef pada Jul 16th, 2009, saya ingin sekali memberikan sharing berikut ini.

      Puji Tuhan, saya menemukan website yang sangat bagus ini. Website ini telah sangat membantu saya memahami bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak spiritualitas Kristiani. Untuk itu, sayapun berusaha keras untuk semakin menghayati Ekaristi.

      Kemudian, saya menemukan, Bp. Stef menulis: Kekudusan adalah kehendak Allah untuk kita semua sebagai orang Kristen – bahwa hanya orang yang hidupnya kudus yang bisa masuk surga.
      Sayapun tertegun dan berpikir: “Saya punya dosa-dosa yang saya ulangi terus selama ini. Berarti, penghayatan saya terhadap Ekaristi hanya sebatas liturgis di gereja saja.”

      Saya segera pergi kepada seorang pastor untuk mengaku dosa. Saya akui dosa-dosa yang terus saya ulangi selama ini. Dan, saya percaya, dosa-dosa saya diampuni.

      Tak lama kemudian, kembali saya melakukan dosa-dosa yang sama. Saya segera kembali lagi kepada pastor yang sama untuk mengaku dosa-dosa yang telah saya ulangi. Dan, sayapun diampuni dari dosa-dosa saya.

      Terjadi berkali-kali: mengulangi dosa-dosa yang sama lagi – pergi kepada pastor yang sama untuk mengaku – kemudian diampuni… Sampai suatu saat saya mendengar cerita Bp. Andrie Wongso dalam CD Audio-nya yang berjudul “Bibit yang tidak bisa Bertunas”. Di akhir kisah, Bp. Andrie Wongso bercerita, “Hai kalian 7 pemuda yang tidak jujur. Kalian pantas dihukum, karna berani menipu Baginda!”

      Saya terkejut. Saya pikir, membohongi raja saja tak boleh dilakukan. Raja tersebut langsung menghukum orang yang telah membohonginya. Sedangkan kepada Tuhanku ….Sudah saya bohongi berkali-kali, tetapi DIA masih bersedia mengampuniku dalam Sakramen Tobat. Saya memutuskan tidak boleh lagi membohongi Tuhanku dengan mengatakan akan bertobat, tetapi kenyataannya tidak demikian. Kasihan Tuhanku, saya bohongi terus…
      Saya segera kembali kepada pastor yang sama untuk mengaku dosa-dosa yang telah saya ulangi. Saya terharu. Setelah berulang kali mengakui dosa-dosa yang sama, tetap saja saya mendapatkan pengampunan, tetap saja saya disambut dengan sikap yang sangat kebapaan. Sungguh, sangat kebapaan! Saya jadi malu sendiri.

      Syukur kepada Allah. Saya tidak lagi mengulangi dosa-dosa itu.

      Pengakuan sebulan sekali tetap akan saya lakukan, karna rahmatnya sangat besar. Rupanya, pengakuan yang rutin saya lakukan telah mendatangkan rahmat, sehingga saya dapat bertobat dari dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin). Bukankah begitu, Bp. Stef?
      Ternyata, untuk lebih merasakan keistimewaan Ekaristi, saya harus meninggalkan cara hidup saya yang lama.

      Semoga bermanfaat.

      Dan, ada banyak point dari Bp. Stef yang sangat berpengaruh kepada saya, seperti:
      • Sebagai umat Katolik, kita harus tetap berakar pada Sakramen Ekaristi, karena Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan kristiani. Dan dengan semakin setia mengikuti Ekaristi yang disertai dengan sikap hati yang benar (sadar, aktif, dan berpartisipasi), maka Roh Kudus dapat lebih aktif bekerja di dalam kehidupan kita.
      • Kekudusan adalah kehendak Allah untuk kita semua sebagai orang Kristen
      • Sebenarnya Gereja memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap doa kontemplasi dan doa hening (KGK 2709).
      • Karunia-karunia Roh Kudus yang tidak mengarah kepada kekudusan dapat membahayakan kehidupan spiritual.

      Terima kasih Bp. Stef atas point-point yang sangat bermanfaat ini.

      Bunda Maria memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: