Mengapa ada nama baptis?

73

Pertanyaan:

Penulis mungkin bisa membantu saya. 1. Mengapa orang Katolik setelah dibabtis harus mengunakan embel-embel nama babtis yang diabil dari orang-orang suci? Contoh : Nama saya Santoso setelah dibabtis ditambah nama Julius. 2. Sejak kapan pengunaan nama babtis?. 3. Penggunaan nama babtis apakah termasuk tradisi?. 4. Latar belakang pengunaan nama babtis?.
Trima kasih, smg Roh Tuhan berkarya dalam diri kita. – Julius Santoso

Jawaban:

Shalom Santoso,

1. Nama baptis sebenarnya mengingatkan orang yang dibaptis bahwa ia tergabung dengan Kristus sebagai anggota-Nya dan ia didorong untuk hidup sesuai dengan panggilannya sebagai anak angkat Allah, sebagaimana telah ditunjukkan oleh teladan orang kudus yang namanya diambilnya melalui Pembaptisan itu.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 2156 Sakramen Pembaptisan diberikan “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Di dalam Pembaptisan, nama Tuhan menguduskan manusia dan seorang Kristen mendapat namanya di dalam Gereja. Nama itu boleh dari orang kudus, artinya seorang murid Yesus yang telah hidup dalam kesetiaan kepada Tuhannya. Pelindung adalah satu contoh kasih Kristen dan menjanjikan doa syafaatnya. Nama baptis dapat juga menyatakan satu misteri Kristen atau satu kebajikan Kristen. “Orang-tua, wali baptis, dan pastor paroki hendaknya menjaga agar jangan diberikan nama yang asing dari semangat kristiani” (KHK, Kan. 855).

Dikatakan di sana, nama baptis ‘boleh’ diambil dari nama orang kudus, namun tidak dikatakan ‘harus’.

Demikian juga, menurut Hukum Kanonik Gereja 1983 yang berlaku sekarang, orang Katolik tidak diharuskan mempunyai nama baptis yang diambil dari orang kudus.

KHK Kanon #855 Hendaknya orangtua, wali baptis dan pastor paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.

Jadi dari pernyataan ini, baik Katekismus maupun Hukum Kanonik Gereja tidak mengharuskan nama santo/santa, namun yang harus dijaga adalah, jangan sampai dipakai nama yang ‘melawan’ kekristenan, contohnya saja diberi nama ‘Hitler’ atau ‘Lenin’.
Namun demikian, harus diakui bahwa pemakaian nama orang kudus sebagai nama baptis sangatlah bermakna dalam, dan karenanya sangat baik dan dianjurkan oleh Gereja, untuk beberapa alasan:

  • Pemberian nama baru pada saat pembaptisan sesuai dengan maksud dari Pembaptisan itu sendiri, yaitu ‘lahir’ sebagai manusia baru.
  • Pemberian nama santo/ santa mengingatkan kita akan adanya persekutuan orang kudus sehingga harta rohani mereka dapat mereka bagikan kepada kita. Lihat KGK 947 dan 952.
  • Para orang kudus di surga tidak berpangku tangan saja, melainkan tak henti-hentinya berdoa bagi kita di hadapan Yesus, sehingga kelemahan kita dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara. (Lumen Gentium 49, KGK 956)
  • Santo/ santa pelindung kita yang kita ambil namanya, dapat menjadi teladan bagi kita, sehingga kita dapat meniru contoh kehidupannya dan mereka membantu kita mengamalkan cinta kasih agar kita semakin mendekati Kristus (lihat KGK 957).

2. Sejarah penggunaan nama baptis sesungguhnya telah berlangsung sejak zaman abad pertama. Beberapa contoh yang dapat saya kutip misalnya:

  • Menurut tradisi Gereja awal, Raja Fulvian yang membunuh Rasul Matius, akhirnya menjadi Kristen. Sesaat sebelum dibaptis, konon terdengarlah suara dari langit yang dinyatakan kepada Uskup yang akan membaptisnya, “Jangan memanggil dia Fulvian, tetapi Matius.” Kemudian Raja itu diberi nama baptis, “Matius” yang diambil dari nama Rasul Matius. (Cerita ini dimasukkan olah St. Dmitri Rostov di dalam bukunya, “Collection of the Lives of the Saints, diterbitkan di Moskow 1914).
  • St. Ev(u)stathios, yang sebelumnya bernama Placidas, diberi nama “Evstathios” pada Pembaptisannya pada tahun 80 AD. Ia dibunuh sebagai martir pada tahun 100 AD. Istrinya, Theopiste, juga diberi nama baptis, demikian juga kedua anaknya Agapios dan Theopistos. Cerita ini dikompilasi pada abad ke 11 oleh St. Symeon Metaphrastes.
  • Di buku Ekklesiastike Historia, karangan Eusebius, abad ke 4, kita menemukan sejarah pemberian nama-nama Rasul kepada anak-anak yang dibaptis (Buku ke VII, bab 25).
  • Dalam “Homilia enkomiastike eis ton en Hagiois Patera hemon Meletion…,” St. Yohanes Krisostomus (abad ke 4) mengajarkan agar umat Kristen menamai anak-anak mereka dengan nama para orang kudus (Santo/ Santa).

3. Penggunaan nama baptis bukan merupakan Tradisi (dengan huruf besar) yang setara dengan Kitab suci, melainkan hanya tradisi(dengan huruf kecil)kebiasaan Gereja. Tradisi/ Sacred Tradition (dengan huruf besar) yang dimaksud di sini adalah yang berhubungan dengan pengajaran lisan dari Kristus dan Para Rasul-Nya, yang kemudian diturunkan oleh para penerus Para Rasul tersebut oleh tugas wewenang mengajar (Sacred Magisterium). Lebih lanjut tentang Tradisi dan Magisterium silakan baca Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan bagian ke -3.

4. Latar belakang pemberian nama baptis: saya rasa sudah terjawab dari point 1-2.

5. Sebagai tambahan, jika St. Julius yang menjadi nama baptis Santoso diambil dari Paus Julius I, berikut ini riwayat singkat hidupnya:

Paus St. Julius I (337-352). Ia adalah penerus Paus St. Mark Arcus, dan diangkat menjadi Paus pada tanggal 6 Feb 337. Selama tugas pontifikatnya, ia dikenal sebagai Paus yang tegas dalam menolak ajaran sesat Arianisme (ajaran yang mengatakan bahwa Yesus Kristus bukan Allah).

Ia wafat pada tanggal 12 April, 352, dan dikubur di Katakomb Calepodius, namun kemudian dipindahkan ke gereja St. Maria di Trastevere. Segera setelah wafatnya, ia dinobatkan menjadi Santo. Pesta namanya dirayakan tgl 12 April.

Semoga teladan St. Julius selalu mendorong Santoso untuk menjadi seorang pembela kebenaran.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – http://www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

73 Comments

  1. Syalom ibu Ingrid,

    Banyak orang bilang nama baptis harus ada.

    Teman saya ketika anaknya mau dibaptis di salah satu gereja katolik/paroki di Australia, karena bingung memilih nama santo pelindung yang mana, Pastor setempat yang membaptisnya mengatakan: tidak usah pakai nama santo.

    Artikel di atas ibu menulis: “Hukum Kanonik Gereja 1983 yang berlaku sekarang, orang Katolik tidak diharuskan mempunyai nama baptis yang diambil dari orang kudus”.
    1. Boleh tahu isi lengkap dari Hukum Kanonik Gereja 1983 dan KGK yang mendukungnya?
    2. Kalau pakai nama baptis apakah harus yang sudah bergelar santo/santa atau boleh yang masih beato/beata untuk dijadikan teladan?

    Terima kasih atas perhatiannya
    Salam,
    Febu

    • Shalom Febu,

      Terima kasih atas pertanyaan Anda, dan saya telah melengkapi artikel tentang nama Baptis, silakan membaca kembali artikel di atas, silakan klik.

      1. Tentang nama baptis
      Kitab Hukum Kanonik 1983 mengatakan:

      KHK Kan. 855    Hendaknya orangtua, wali baptis dan pastor paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.

      Sedangkan Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

      KGK 2156    Sakramen Pembaptisan diberikan “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Di dalam Pembaptisan, nama Tuhan menguduskan manusia dan seorang Kristen mendapat namanya di dalam Gereja. Nama itu boleh dari orang kudus, artinya seorang murid Yesus yang telah hidup dalam kesetiaan kepada Tuhannya. Pelindung adalah satu contoh kasih Kristen dan menjanjikan doa syafaatnya. Nama baptis dapat juga menyatakan satu misteri Kristen atau satu kebajikan Kristen. “Orang-tua, wali baptis, dan pastor paroki hendaknya menjaga agar jangan diberikan nama yang asing dari semangat kristiani” (KHK, Kan. 855).

      2. Bolehkah mengambil nama Beato/ Beata?
      Dengan ketentuan ini, maka kita ketahui bahwa memang tidaklah menjadi suatu keharusan bahwa ada nama baptis yang diambil dari nama orang kudus (Santa/ Santo), walaupun tentulah sangat baik jika hal itu dilakukan, mengingat manfaat secara rohani yang dapat diambil oleh orang yang dibaptis tersebut (silakan membaca kembali artikel di atas). Karena tidak menjadi keharusan harus mengambil nama Santa/ Santo, maka diperbolehkan untuk mengambil nama Beata/ Beato, sebagai nama baptis (maka dapat diambil nama [Yang terberkati] Yohanes Paulus II, [Yang terberkati] Teresa dari Kalkuta). Lagipula Beata/ Beato (Yang Terberkati) artinya juga sudah diakui oleh Gereja bahwa mereka telah berada di surga, dan karena itu Gereja sudah mengakui besarnya kuasa doa syafaat mereka (lih. Yak 5:16).

      Silakan selanjutnya membaca proses kanonisasi dan beatifikasi, silakan klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Syalom ibu Ingrid,

        Ada bagian dari pertanyaan yang masih belum terjawab. Artikel di atas tertulis: “Demikian juga, menurut Hukum Kanonik Gereja 1983 yang berlaku sekarang, orang Katolik tidak diharuskan mempunyai nama baptis yang diambil dari orang kudus.”
        Pengertian saya karena “… tidak diharuskan mempunyai nama baptis…” jadi orang yang dibaptis boleh tidak perlu punya nama baptis.
        Saya pernah katakan ini kepada teman yang mau dibaptis, apalagi ada sharing yang mendukung dari teman yang dibaptis di Australia – lihat pertanyaan saya di kolom atas. Bukankah ajaran Katolik berlaku universal. Mohon dikoreksi kalau saya salah.

        Terima kasih
        Salam,
        Febu

        • Shalom Febu,

          Ketentuannya tetap sama dan universal, yaitu bahwa memang tidak merupakan keharusan mutlak bahwa orang yang dibaptis mengambil nama Santa ataupun Santo, tetapi Gereja menganjurkannya (lih. KGK 2156, KHK kan. 855). Sebab jika menggunakan nama Santa ataupun Santo, dan menjadikan orang kudus itu sebagai pelindung orang yang dibaptis dan pendoa syafaat baginya, maka yang memperoleh keuntungan rohani adalah orang yang dibaptis itu sendiri. Oleh karena itu Gereja menganjurkannya. Maka hal penggunaan nama Santa dan Santo untuk baptis selayaknya dipandang sebagai adalah suatu ‘kebaikan’ yang ditawarkan oleh Gereja, yang selayaknya diterima dan tidak ditolak. Kalau seseorang memilih tidak mengambil nama Santa dan Santo sebagai nama baptis, pertanyaannya adalah, mengapa menolak hal yang baik ini? Jika karena satu dan lain hal, misalnya karena keadaan darurat, atau karena tidak ada orang yang memberi tahu tentang hal kebaikan ini kepada orang tua (dalam kasus baptisan bayi) atau kepada katekumen itu sendiri, maka hal ini dapat dimengerti, dan biar bagaimanapun Baptisan tersebut tetap sah (tidak membatalkan Baptisan itu sendiri). Namun jika orang tua/ katekumen tersebut dapat dipersiapkan sebelumnya maka keadaan yang baik ini -yaitu mengambil mana Santa/Santo sebagai nama baptis- adalah sesuatu hal yang baik yang selayaknya diterapkan; dan inilah yang umum dilakukan di Pembaptisan di manapun di Gereja Katolik.

          Mari, dalam hal iman, kita mengusahakan yang terbaik yang sudah dianjurkan oleh Gereja, dan tidak berpegang pada pemikiran ‘pokoknya tidak dilarang’ atau berpuas pada apa yang minimal disyaratkan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Ibu Ingrid,
            Saya kenal baik dengan satu romo Jesuit yang punya nama baptis Emmanuel, penjelasan dia sama seperti KHK di atas, “Tidak harus nama Santo/Santa”. Tetapi kalau demikian rugi dong ya si romo karena tidak ada pendoa syafaatnya? Atau karena Emmanuel itu sebutan untuk Yesus jadi Yesus pendoa syafaatnya?

            Salam,
            Edwin

            • Shalom Edwin,

              Nama ‘Emmanuel/ Imanuel’ memang merupakan salah satu sebutan dari Tuhan Yesus, yang artinya Allah menyertai kita (Mat 1:23). Namun demikian, Emmanuel juga adalah nama beberapa orang kudus:

              1) St. Emmanuel, yang wafat sebagai martir di tahun 304, pada zaman penganiayaan Diocletian.
              2) St. Emmanuel Trieu, seorang imam Vietnam yang juga dibunuh sebagai martir di tahun 1798
              3) St. Emmanuel Phung, juga seorang martir dari Vietnam, yang wafat tahun 1859.

              Maka kita percaya, bahwa para kudus itu juga akan mendoakan Romo Emmanuel SJ, tersebut, di samping juga, sebagai seorang imam, ia memperoleh dukungan khusus dari Tuhan Yesus sendiri dan dukungan doa dari Bunda Maria, sebagai bunda para imam, serta secara istimewa juga dari St. Ignatius dari Loyola yang merupakan pendiri ordo SJ (Society of Jesus), yang di dalamnya Rm. Emmanuel SJ menjadi anggotanya.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

               

  2. Shalom, bagi pengasuh website katolisitas

    1. Sewaktu saya sedang browsing di internet, saya menemukan tentang “home altar”. Apakah yang dimaksud dengan “home altar” ini? Mohon penjelasannya.
    2. Saya menerima Sakramen Baptis pada umur 1 tahun. Kebetulan orang tua saya pada saat itu kurang begitu mengenal dengan baik nama-nama santo/a yang ada di dalam Gereja Katolik. Sehingga orang tua saya memutuskan untuk menanyakan langsung nama baptis yang sesuai untuk saya kepada pastor yang akan membaptis saya pada waktu itu. Akhirnya, pastor tersebut memberikan nama “Valerius” sebagai nama baptis saya. Baru saat ini (setelah sekitar 20 tahun berlalu), saya mulai mencari nama “St. Valerius” mana yang dijadikan nama baptis saya dan kebetulan ketika saya melakukan pencarian, ada banyak santo dengan nama “Valerius”. Saya sudah pernah menanyakan kepada orang tua saya, “St. Valerius” mana yang menjadi nama baptis saya, namun mereka tidak mengetahuinya. Saya juga sudah mencoba mencari tahu dengan mencoba menanyakan langsung kepada pastor yang membaptis saya, namun ia sudah lama dipindahtugaskan ke luar daerah.
    Yang ingin saya tanyakan adalah, bisakah saya memilih sendiri salah satu dari antara para santo dengan nama “Valerius” sebagai nama baptis saya?

    Semoga Kristus selalu menyertai.
    Terima kasih.

    • Shalom Valerius,

      1. “Home Altar”

      Nampaknya, istilah ‘home altar‘ yang Anda tanyakan itu sebetulnya adalah pojok doa (‘prayer corner/ prayer spot’) yang diletakkan di dalam rumah keluarga/ umat Katolik, berupa sebuah meja yang di atasnya diletakkan benda-benda religius. Sebab ‘altar’ dalam arti yang benar, sesungguhnya hanya ada di dalam gedung gereja, di mana padanya dirayakan kurban Ekaristi.

      Tentang ‘pojok doa’ ini memang baik dimiliki di dalam setiap keluarga Katolik, mengingat ajaran Gereja agar setiap keluarga berdoa bersama setiap hari. Maka dengan adanya pojok doa ini, keluarga dapat berdoa bersama di sekeliling meja doa ini, di mana terletak di atasnya, crucifix, Kitab Suci, gambar Kerahiman Ilahi atau Hati Kudus Yesus, maupun benda-benda rohani lainnya. Doa dapat dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Suci sesuai dengan bacaan liturgis pada hari itu, dan sedikit permenungannya.

      Perletakan ruang doa di dalam rumah kita juga menjadi penting, sebab itu merupakan salah satu tanda kita mengakui bahwa Tuhan-lah yang menjadi Tuan rumah di dalam keluarga kita. Jangan sampai kita mempunyai rumah yang layak dan indah, tetapi lupa memberikan tempat khusus bagi keluarga untuk berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan atas semua berkat dan kasih-Nya.

      2. Tentang nama baptis.

      Ya, dalam keadaan Anda, Anda dapat memilih sendiri St. Valerius yang menjadi Santo pelindung Anda. Sebab memang demikian maksudnya diberikan nama baptis, yaitu agar Anda dapat belajar dari teladan iman St. Valerius.

      Silakan membaca seterusnya makna pemberian nama baptis, di artikel di atas, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Vonny Sri Sundari on

    Selamat sore, saya sedang mencari kisah hidup Santo Santa yg saya & anak2 pakai sebagai nama baptis.
    St.Valentinus & St.Josephine sudah ketemu.
    Tinggal nama saya yg belum, Laurensia.
    Di mana saya bisa menemukan riwayat St. Laurensia?
    Terimakasih.
    Salam damai =))

    [dari Katolisitas: Jika St Laurensia yang menjadi pelindung Anda diambil dari nama St Laurensius yang pestanya diperingati setiap tanggal 10 Agustus, Anda dapat membaca kisahnya misalnya di situs Yesaya berikut ini, klik di sini]

  4. Saya mau tanya.

    1. apakah bila seorang laki-laki dibaptis harus menggunakan nama santo dan tidak boleh santa? Misalnya seorang pria yang secara pribadi lebih menghormati Santa Maria daripada santo2 lain dan ingin hidupnya bisa meneladani kesetiaan dan kesabaran Bunda Maria.

    2. di paroki saya pernah diadakan katekumen umat untuk calon pengajar (dan kebetulan saya menyusup karena saya belum dibaptis). Pengajar itu mengatakan bahwa kalau nama baptis itu tidak boleh difeminimkan maupun dimaskulinkan. Dalam artian, kalau menggunakan nama Michael jangan dijadikan Michaela, kecuali Michaela yang dimaksud merujuk pada santa mikaela (entah ada atau tidak) dan bukan Michael malaikat. Atau nama Maria jangan dijadikan Mario kecuali merujuk pada santo Mario (entah ada atau tidak).

    Terimakasih buat perhatiannya.

    • Rm Yohanes Dwi Harsanto, Pr on

      Salam Christian,

      Pemberian nama baptis harus memperhatikan KHK kan 855: “Orang-tua, wali baptis, dan pastor paroki hendaknya menjaga agar jangan diberikan nama yang asing dari semangat kristiani”.

      Kemudian KGK 2156 menyatakan: “Pelindung adalah satu contoh kasih Kristen dan menjanjikan doa syafaatnya”.

      Hanya itu saja, maka haruslah jelas orang kudus yang dimaksud dengan nama itu. Berdasarkan dokumen tersebut nama baptis seorang lelaki haruslah nama orang kudus lelaki, nama pelindung seorang Katolik perempuan haruslah nama orang kudus perempuan, namun juga tidak salah jika sebaliknya, bahwa nama pelindung seorang lelaki ialah seorang kudus perempuan atau seorang lelaki mendapatkan nama seorang pelindung perempuan, asalkan orang kudus itu sungguh nyata, bukan nama fiktif.
      Pendapat katekis tersebut tidak salah namun kita harus melihat ajaran Gereja mengenai nama baptis sehingga pandangan kita seperti pandangan Gereja pula, bukan pandangan pribadi saja..

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

      Tambahan dari Rm Boli / Ingrid:

      1. Prinsipnya, umumnya memang nama Santa untuk nama pelindung wanita, dan Santo untuk pria; tapi tidak menutup kemungkinan pria mengambil nama Santa untuk menjadi pelindungnya, demikian pula wanita mengambil nama Santo. Contoh: Yohanes Maria Vianney, Jose Maria Escriva, dst.

      2. Tidak ada ketentuan larangan mengubah nama baptis, jadi bisa difeminimkan atau dimaskulinkan, tetapi mengacu kepada nama orang kudus yang ada, bukan fiktif. Jadi diperkenankan mengambil nama baptis Mikael yang diubah menjadi Mikaela.

      Tambahan dari Rm Wanta:

      Nama baptis memiliki arti pelindung agar pribadi santo atau santa yang melekat pada nama seseorang menjadi pelindung dan berperan dalam hidupnya. Maka seorang lelaki atau perempuan dapat mengambil nama santo atau santa namun harus diubah sesuai siapa yang menggunakannya. Michael itu Malaikat tapi yang menggunakan perempuan misalnya menjadi Michaela. Pelindungnya Malaikat Michael lelaki tidak apa untuk perempuan. Atau para suster sering menggunakan santo Yosef maka berubah menjadi suster Yosefa misalnya. Demikian penjelasannya.

      salam
      Rm wanta

  5. Fransisca Pradnya on

    Shalom…

    Saat ini saya sedang mencari nama baptis untuk anak perempuan saya. Saya bermaksud menamainya Gwen. Apakah nama Gwen adalah nama salah satu santa dan apakah boleh dipergunakan sebagai nama baptis?

    Terimakasih banyak atas jawabannya.

    • Shalom Fransisca,

      Menurut informasi yang saya peroleh dari internet, Gwen adalah nama seorang Santa, yang hidup di akhir abad ke-5 sampai awal abad ke-6. Ia adalah seorang putri Raja Budic II dari Brittany. St. Gwen dikenal di Perancis sebagai St. Blanche. Ia wafat sebagai martir di tangan bangsa pagan Saxon. Silakan Anda cari di google dengan kata kunci St. Gwen; dan Anda akan menemukan informasinya, yang walaupun tidak banyak, tetapi menyatakan bahwa Gwen adalah memang nama seorang martir, dan dengan demikian dapat saja digunakan sebagai nama baptis.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Franzeska Mariana on

      Shalom…

      Saat ini saya sedang mengandung anak pertama, dan saya sedang mencari nama baptis untuk calon anak saya (perempuan). Saya sudah mendapatkan beberapa alternatif nama yang saya dapatkan dari Ensiklopedi Orang Kudus dan berbagai sumber lainnya yang mungkin saya pakai.
      Namun ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan :
      1. Apakah penulisan huruf yang ada adalah baku? (misal : Renate –> saya ubah menjadi Renata, Katarina –> Catharina )
      2. Di buku Ensiklopedi Orang Kudus, saya melihat banyak nama yang merupakan nama panggilan ataupun singkatan (misal : Ilona –>panggilan dari Helena, Lora –>singkatan dari Eleonora), apakah nama panggilan ataupun singkatan itu bisa dipakai sebagai nama baptis?
      3. Adakah referensi lain yang bisa digunakan sebagai nama baptis?

      Terima kasih sebelumnya atas jawabannya

      Tuhan memberkati

      Ana

      • Yohanes Dwi Harsanto, Pr on

        Salam Franzeska Mariana,

        1. Silakan, asalkan jelas pribadi orang kudus yang dimaksudkan itu. Di berbagai bahasa, nama bisa diterjemahkan berbeda. Saint Lawrence dalam bahasa Inggris bisa menjadi San Lorenzo dalam bahasa Italia atau Portugal, Santo Laurentius dalam bahasa Latin, dan Santo Laurensius dalam bahasa Indonesia. Dan sebagainya. Santa Maria bisa menjadi Sint Mary, bisa menjadi Santa Mariyam bisa menjadi Maryam, dan sebagainya. Syaratnya: harus jelas individu pribadi orang kudus yang dimaksud.
        2. Sama seperti jawaban nomer 1.
        3. Lihat buku “Orang Kudus Sepanjang Tahun” susunan Mgr. Schneider CICM, terbitan OBOR.

        Salam
        Yohanes Dwi Harsanto Pr

  6. Syallom Pak Stef & Ibu Ingrid,
    Kami baru menikah setahun yang lalu secara Katolik & saat ini istri saya sedang mengandung anak kami yang pertama. Setelah di USG ternyata laki2, menurut rencana anak kami lahir di bulan Februari 2012 & saat ini masih belum ada nama yang tepat buat kami karena tentunya kami mau kelak anak kami mengikuti dan meneladani sikap/sifat dari nama seperti orang kudus tersebut.
    Menurut bapak/ibu, apakah dalam pemberian nama harus disesuaikan dengan tanggal dari org2 kudus? Adakah nama yang tepat buat kami? Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih.
    Tuhan memberkati!

    Hadi

    • Shalom Hadi,

      Selamat untuk Anda dan istri Anda, yang sedang menantikan kelahiran anak Anda berdua di bulan Februari mendatang. Umumnya pemberian nama yang disesuaikan dengan nama orang kudus adalah nama baptis. Tetapi tentu saja, Anda sebagai orang tua, boleh saja memberikan nama kepada anak Anda yang mengambil inspirasi dari nama orang kudus, di samping nama baptisnya kelak; atau nama itu juga yang kelak dipakai sebagai nama baptisnya. Silakan Anda membaca di situs Yesaya, klik di sini, untuk membaca riwayat hidup para orang kudus. Menurut pengetahuan saya, tidak ada ketentuan tertentu bagi orang tua untuk memilih nama bagi anaknya, maka Anda dan istri dapat memilihnya sendiri. Memang ada pasangan yang mencocokkan hari kelahiran anak dengan hari perayaan Santo tertentu, namun ini bukan ketentuan baku ataupun keharusan. Mungkin di saat penantian kelahiran ini, dapat Anda berdua isi dengan membaca riwayat para Santo, dan membawanya di dalam doa. Saya percaya nanti akan ada persetujuan antara Anda dan istri Anda akan nama anak Anda, dan silakan memberikan nama tersebut kepada anak Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Dear Tim Katolisitas,
    Saya mau bertanya :
    1. nama baptis sebaiknya diberikan pada saat bayi lahir & ditulis dalam akte kelahiran atau pada saat dibaptis?
    2. tulisan yang benar untuk nama baptis yang menggunakan nama Santo “Vinsensius” atau “Vincentius” ?
    3. apakah nama “Mikaylo” merupakan nama Santo atau orang kudus?
    Mohon pencerahannya….Terima kasih….GBU

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Shanthi,

      1. Nama baptis sebaiknya dituliskan di akta kelahiran.
      2. Keduanya benar. Vincentius ialah tulisan versi Latin, Vinsensius ialah tulisan bahasa Indonesia. Tinggal pilih salah satu.
      3. Prinsipnya, pilih secara valid, dengan mengandalkan nama-nama yang sah dan ada orangnya. Saya sendiri belum menemukan nama yang Anda maksud. Mungkin saja itu ialah Yang Terberkati Mykola Charnetsky. Kisahnya dapat disimak di link to catholic.org

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

      • Terima kasih banyak Pak Yohanes…[dari Katolisitas: ijinkan kami edit: Romo Yohanes, Pr, atau lebih dikenal sebagai Romo Santo]

        Salam,
        Shanthi

        • Sedikit menambahkan, nama Mikaylo mungkin yang dimaksud adalah modifikasi dari nama Mikael.
          Mungkin Anda mendapat nama tersebut dari buku bayi, biasanya di buku bayi memang banyak modifikasi-modifikasi dari satu nama tertentu.
          Mikael yang saya maksud adalah Malaikat Agung Mikael yang nama Mikael sendiri berarti “Siapa seperti Allah?”
          link to en.wikipedia.org

          Terima Kasih

          • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

            Salam Arief,

            Sebaiknya nama-nama malaikat dan orang kudus yang akan dipakai sebagai nama diri baptis tidak dimodifikasi, karena nama menunjuk pribadi yang unik dan dikasihi Allah. Kita pun akan tidak enak hati jika nama kita diplesetkan.

            Namun, jika nama tersebut bukan nama diri malaikat atau orang kudus, dan hanya kedengaran mirip, sebaiknya tidak usah dijadikan nama baptis, tetapi dijadikan nama pribadi yang bersangkutan saja.

            Salam
            Yohanes Dwi Harsanto, Pr

            • Terima kasih Romo Santo,

              Saya sependapat dengan Romo, semoga penggunaan nama baptis bukan menjadi ajang keren-kerenan, tetapi bisa dihayati teladan hidup santo-santa yang namanya kita gunakan.

              Terima Kasih

  8. Shendy Calista Sembiring on

    Shalom,

    Sblmnya sy seorang Nasrani yg akan dibaptis Katolik pd tgl 7 Januari 2012 setelah mengikuti Katekumen sejak bln October lalu. Kira2 nama baptis apa yg cocok utk sy, sy lahir tgl 4 bulan Januari.

    Kalau Brigita itu artinya apa ya, cocok tidak utk dijadikan nama baptis. Dan kalau Jerome apa itu khusus utk laki2 ?

    Mohon jawabannya,
    Trimakasih.

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Shendy,

      Pertama-tama kami ucapkan selamat atas pelajaran katekumen yang sebentar lagi akan dituntaskan, semoga rahmat Allah Bapa membimbing Shendy hingga hari pembaptisan di bulan Januari nanti, untuk mengalami karunia Allah Bapa sepenuhnya dan dikuduskan dalam Gereja-Nya.

      Bila ingin mengambil nama baptis sesuai tanggal lahir, mungkin bisa menggunakan nama Santa Elizabeth Ann-Seton yang pestanya dirayakan 4 Januari, silakan mengikuti kisahnya di sini, link to indocell.net

      Anda juga bisa menemukan kisah hidup santo santa lainnya di situs yesaya tersebut atau di situs link to catholic.org

      Nama Santa Brigita tentu juga bisa menjadi nama baptis, bisa diikuti kisahnya di sini link to indocell.net

      Santo Jerome memang nama laki-laki, dalam nama Indonesia adalah Santo Hieronimus, kisahnya silakan dibaca di sini link to indocell.net

      Selain sesuai dengan tanggal kelahiran, Anda juga dapat memilih nama baptis dari Para Kudus yang kisah hidupnya sangat menyentuh hati Anda dan membawa Anda semakin dekat kepada teladan kasih dan iman kepada Allah Bapa di Surga. Semoga dalam bimbingan kasih-Nya Anda dapat menemukan nama baptis yang paling sesuai.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Triastuti – katolisitas.org

  9. Raymond Kurnia on

    Ketika putera saya masih bayi dibaptis, saya mendapatkan satu nama dari suatu buku, yakni GRATIANUS, yang saya pikir cukup unik dan mencerminkan rasa bersyukur kami, lalu saya pergunakan sebagai nama baptis anak itu. Tetapi belakangan saya cari2 dari sumber lain, ternyata nama ini tidak terdapat di dalam nama kudus atau nama dari seorang santo. Bulan Januari 2012 anak tsb sudah akan mulai mengikuti kursus utk menerima komuni pertama.
    Mohon sarannya apa yang sebaiknya saya lakukan sekarang terhadap nama baptis yang bukan nama kudus itu, dan apakah cukup pantas utk seorang Katolik? Terima kasih.

    • Shalom Raymond Kurnia,

      Gratian/ Gratianus adalah nama Santo, yaitu St. Gratianus dari Perugia. Ia adalah seorang serdadu Romawi yang dibunuh sebagai martir di Perugia, Italia, pada tahun 250, di zaman penganiayaan oleh Kaisar Decius. Relikwi St. Gratianus ditempatkan di Arona dekat Milan, Italia, pada tahun 979. Hari pesta peringatannya adalah 1 Juni.

      Jadi tidak usah ragu, nama tersebut dapat dipakai sebagai nama baptis, namun Anda dapat pula mengajarkan anak Anda agar mempunyai devosi kepada Santo/ orang kudus lainnya, tidak menjadi masalah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  10. Tri Handoyo on

    shalom bapak Stef dan ibu Inggrid.

    saya mau tanya tentang nama baptis saya yang hanya tercantum Fransiskus, dan ternyata Santo yang bernama Fransiskus ada 4 (klo tidak salah), yaitu :
    1. St. Fransiskus dari Assisi
    2. St. Fransiskus dari Paola
    3. St. Fransiskus dari Sales
    4. St. Fransiskus Xaverius
    Apakah tidak masalah jika tidak lengkap penulisan nama pelindung?
    Karena ini sangat penting bagi saya terutama dalam hal meneladani orang kudus yang dengan setia dan taat dapat meneladani Yesus sendiri yang adalah Tuhan…

    Saya sangat berharap penggunaan nama pelindung dapat digunakan seoptimal mungkin oleh para orang tua, karena nama pelindung dapat menjadi teladan bagi pribadi seseorang anak yang menggunakannya.
    Salah satu cara yang saya rasa cukup berpengaruh yaitu dengan membacakan kisah hidup yang dialami dan bagaimana pribadi pelindung anak2 mereka sebagai cerita penghantar tidur, pengganti donggeng…

    terima kasih tim katolisitas…
    Tuhan Yesus menyertai kita…

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Tri Handoyo,

      Kesalahan penulisan nama baptis sering terjadi pada pengurusan KTP, SIM, Paspor, Akta kelahiran. Jika Anda mantap harus direvisi, revisilah ke kantor yang mengurus surat identitas tersebut.
      Katekismus mengajarkan bahwa nama itu sangat penting. Allah sendiri menyerahkan nama-Nya pada manusia (KGK 2142 – 2155, 2166 – 2164). Nama baptis sangat bermakna (KGK 2156-2158).

      Salam,
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

  11. Shalom tim katolisitas,
    saya ingin bertanya, apakah boleh merubah nama baptis yang telah dipakai ketika pembaptisan dilakukan?
    Apakah Samson juga merupakan nama santo yang bisa dipakai untuk nama baptis?
    Terima kasih atas jawaban tim katolisitas.
    Gbu

    • Shalom Reta,

      Terus terang saya belum pernah mendengar ada orang yang mengubah nama baptis. Maka yang perlu dipertanyakan adalah, kenapa sampai ingin mengubah nama baptis? Sebab seharusnya sebelum memilih nama baptis, mestinya sudah dipertimbangkan dahulu, dengan melihat/ mempelajari teladan hidup Santa/ santo yang bersangkutan.

      Ya, nama Samson adalah nama orang kudus, dan dapat digunakan sebagai nama baptis. Sekilas tentang St. Samson Xenodochius, klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Alexander Billy on

        Shalom Bu Inggrid,

        pertanyaan saya kurang lebih sama dengan Reta.
        saya sudah dibabtis dan saya juga sudah menerima sakramen Krisma.
        akan tetapi setelah menerima sakramen Krisma, saya masih belum menjalankan hidup sesuai dengan ajaran Katholik. Bahkan saat memilih nama Krisma pun saya hanya memilih nama yang saya suka tanpa mendalami makna dari nama tersebut. Namun belakangan ini, entah karena hal apa saya juga kurang tahu, tetapi saya memiliki suatu rasa kerinduan. Rindu akan Kristus. Lalu saya mulai pergi ke gereja, dan di sana, saya menemukan suatu nama “Immanuel”. Apakah bisa jika saya ingin mengganti nama Krisma saya dengan Immanuel?
        terima kasih atas penjelasannya.
        GBU

        • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

          Salam Alexander Billy,

          Nama yang sudah diterima ialah abadi untuk selamanya (KGK 2159). Tidak usah diganti. Di dalam Kerajaan Surga, sifat yang unik dan penuh rahasia tiap pribadi yang ditandai dengan nama Allah akan bersinar secara penuh. “Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan batu putih yang di atasnya tertulis nama baru yang tidak diketahui oleh siapapun selain oleh yang menerimanya (Why 2:17). Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh ribu orang; dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya” (Why 14:1). Karena itu, nama tidak perlu diganti. Yang tertulis tetaplah tertulis. Namun kita bisa saja berdevosi secara pribadi dengan Santo-Santa selain Santo/Santa nama pelindung kita. Namun, Santo/Santa, orang kudus yang kita pakai dan sudah dimeteraikan dalam baptis itu pasti mendoakan kita, walaupun kita tidak suka pada namanya, atau kita sudah berdevosi kepada Santo/Santa lain. Sakramen Pembaptisan diberikan dalam nama, yaitu nama Bapa Putra dan Roh Kudus, nama Allah sendiri (KGK 2156, Mat 28:19). Dalam pembaptisan, nama Tuhan menguduskan manusia dan seorang Kristen mendapat namanya dalam Gereja. Nama itu boleh dari seorang kudus, artinya seorang murid Yesus yang telah hidup dalam kesetiaan kepada Tuhannya. Pelindung ialah satu contoh kasih Kristen dan menjanjikan doa syafaatnya. Nama baptis dapat juga menyatakan suatu misteri Kristen atau kebajikan Kristen. “Orangtua, wali baptis dan pastor paroki hendaknya menjaga agar jangan diberikan nama yang asing dari semangat Kristen” (KGK 2156, Kitab Hukum Kanonik, kan. 855).

          Salam
          Yohanes Dwi Harsanto, Pr

      • Berkenaan dengan pertanyaan sdri Reta, jujur saya juga terbersit pertanyaan yang sama sejak lama. Mengapa ingin mengganti, karena waktu memilih nama ini, orang tua saya belum Katolik dan saya memilihnya sendiri bersama dengan teman saya. Kebanyakan dari sisi keindahan nama itu (bahkan yg nama Krisma, saya tidak terlalu yakin apakah ada d nama2 santo santa, bukan sepenuhnya dari sisi santo santa yang menjadi rhema bagi saya. Saya ingin menggantinya dengan santa yang sangat menginspirasi saya, tp saya berpikir apakah mungkin untuk menggantinya

        [dari Katolisitas: silakan mengikuti jawaban Rm Santo kepada Alexander Billy untuk pertanyaan yang serupa di link ini, silakan klik

        • alexander billy on

          Salam Pak Yohanes,

          Nama krisma yang saya pakai adalah Angelo. Pada waktu itu saya memakai nama ini hanya karna terdengar bagus. Apakah Angelo termasuk nama santo atau santa?
          Lalu apakah baik jika saya menambahkan nama Immanuel di dalam nama saya?
          Mohon penjelasannya.
          Terima kasih.

          • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

            Salam Alexander,

            “Angelus” (Lat) berarti “malaikat”.  Angelo bukan merujuk ke nama seorang kudus melainkan malaikat. Tentu saja selain malaikat pelindung Anda, Anda bisa berdevosi pada salah satu malaikat agung seperti Michael, Rafael, Gabriel. Nama “angelo”-nya sendiri tidak masalah. Salah satu mantan Sekretaris Negara Vatikan bernama baptis Angelo, yaitu kardinal Angelo Sodano, silakan membaca tentang beliau di website Vatikan ini, klik di sini.

            Ada kota dan keuskupan serta katedral yang didekasikan kepada Santo Angelo, dengan nama “Santo Angelo”, silakan klik mengenainya di situs Wikipedia berikut ini, klik di sini

            Saya rasa jika nama itu sudah tercantum di dalam Buku Baptis, Akta Kelahiran, KTP, Paspor, SIM, maka Anda bisa menambahkan usulan penambahan nama: “Imanuel” dengan  menghubungi instansi-instansi yang berwenang. Jika tidak ditambahkan pun tidak apa-apa. Karena yang penting, Anda tunduk taat kepada Sang Imanuel yakni “Allah yang beserta kita”, Yesus Kristus sendiri, yang mengutus malaikat untuk menjaga Anda. Karena malaikat taat pada Sang Imanuel, maka Anda hendaknya taat pada Kristus seperti malaikat. 

            Salam
            Yohanes Dwi Harsanto, Pr

  12. Romo mau nanya tentang nama babtis saya, yeremias…bisa kasih tau latar belakang santo yeremias…!!!
    karena mungkin nama babtis berpengaruh dalam kehidupan sehari hari..

    [Dari Katolisitas: Silakan anda membaca di sini tentang St. Jeremias (Nabi Yeremia), silakan klik. Mohon maaf karena banyaknya pertanyaan lain yang harus dijawab, kami tidak dapat menerjemahkannya]

  13. Antonius Arief on

    Salam sejahtera tim katolisitas,

    walaupun tanya jawab mengenai hal ini telah berlangsung lama, tapi ada hal-hal yang baru ingin saya ketahui mengenai pemberian nama baptis ini.
    Setahu saya orang Katolik Roma mengambil nama baptis dari santo-santa yang telah diakui oleh Katolik Roma.
    1. Darimanakah asalnya tradisi ini?
    2. Mengapa kalau saya lihat di Indonesia (saya tidak tahu kalau di luar Indonesia), saudara-saudara kita dari Kristen lebih banyak mengambil nama dari Perjanjian Lama?
    3. Apakah kita umat Katolik Roma mengambil nama dari nabi-nabi Perjanjian Lama? Sebab saya belum pernah lihat teman2 Katolik Roma yag mengambil nama dari Perjanjian Lama.
    Terimakasih sebelumnya untuk penjelasannya.

    [dari katolisitas: silakan melihat tanya jawab ini – silakan klik]

  14. Hadi Susanto on

    Bu Ingrid,
    Saya masih belum menemukan jawaban mengenai pertanyaan saya apakah boleh merubah nama santo pria menjadi nama wanita, contoh St. Michael, dirubah jadi Michaela untuk nama baptis anak wanita ?

    Tks

    • Shalom Hadi Susanto,
      Karena nama baptis bukan sesuatu yang hakiki yang menentukan keabsahan Baptisan, maka diperbolehkan saja untuk menyesuaikan nama Santo ke dalam nama anak perempuan, seperti St. Clemens, jadi Clementine, atau St. Michael jadi Mikaela. Yang terlebih penting adalah melihat teladan iman/ kekudusan dari Santo yang dipilih sebagai Santo pelindung tersebut agar dapat menjadi contoh hidup beriman bagi anak tersebut.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  15. Hadi Susanto on

    Syalom,
    Saya mau tanya tentang nama baptis untuk anak perempuan saya yaitu Santa Laurensia dan Santa Jovita.
    Pertanyaan saya apakah nama-nama diatas sah ?? Krn saya coba browsing di internet tidak bisa menemukan artikel tentang santa laurensia maupun santa jovita, dan yang ada cuman santo laurentius dan santo jovita.
    Mohon pencerahannya.

    Terima kasih

    • Shalom Hadi,

      St. Laurentia (klik di sini)

      St. Laurentia adalah martir yang dibunuh pada jaman penindasan jemaat Kristen pada masa pemerintahan Kaisar Diocletian (244-311). Menurut tradisi, Laurentia dibunuh bersama- sama dengan majikannya yaitu seorang wanita terhormat yang bernama Palatias, yang tinggal di kota Ancona, Italia. Setelah Palatias menjadi pengikut Kristus, ia kemudian ditangkap bersama dengan pembantunya, Laurentia, dan keduanya dibunuh di Fermo, dekat Ancona.

      St. Jovita (klik di sini)

      St. Jovita dan Faustinus, keduanya adalah martir. Mereka adalah kakak beradik (brothers), lahir di Brescia. Menurut tradisi, mereka ditangkap karena mereka dengan berani berkhotbah tentang Kristus ketika uskup mereka bersembunyi. Keberanian mereka mengundang kemarahan orang- orang yang tidak percaya, yang menangkap mereka dan menghadapkan mereka kepada tuan mereka yang bernama Julian. St. Jovita dan Faustinus disiksa dan diseret ke Milan, Roma dan Naples, dan dibawa kembali ke Brescia. Kaisar Hadrian (117-138) yang kebetulan lewat di Brescia akhirnya memerintahkan untuk memenggal kepala mereka.

      Memang nampaknya Jovita adalah nama Santo, tetapi sebenarnya tak menjadi masalah jika anda mengambilnya untuk nama pelindung anak anda yang perempuan, ini sama seperti nama baptis Clementine yang diambil dari St. Clement, atau Petra dari St. Petrus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Hadi Susanto on

        Syalom bu Ingrid,

        Terima kasih atas replynya. Saya mau tanya lagi untuk pemakaian nama baptis Laurensia apakah itu betul cara penulisannya mengingat nama santa yang menjadi referensi adalah Laurentia.

        Kemarin di paroki saya petugas katekis menjelaskan bahwa ada nama2 yang salah misal St Michael diambil untuk nama baptis wanita Michaela, apakah memang diperbolehkan untuk merubah nama Santo (pria) menjadi nama wanita ?? Ataukah kita harus memberi nama baptis wanita dengan memakai acuan nama Santa (bukan nama Santo yang dirubah ke wanita).

        Tks

        • Shalom Hadi Susanto,

          Sebenarnya yang membuat sah atau tidaknya Baptisan adalah forma yang dipergunakan (dibaptis dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) dan materia (yaitu air bersih). Jadi hal nama Baptis walaupun penting, tetapi tidak menjadi hal yang mutlak. Maksud pemberian nama baptis sendiri sudah pernah dibahas di sini, silakan klik di sini.

          Jadi hal apakah nama baptisnya Laurensia atau Laurentia, tidak menjadi masalah, karena yang terpenting adalah anda dan anak itu (nantinya) mengetahui kepada Santa yang mana, anda memohon dukungan doa, dan menjadikannya sebagai teladan iman. Sebab soal penulisan nama tidaklah menjadi terlalu penting, sebab nama Santo/a bisa berbeda- beda ejaannya, di negara yang satu tidak sama dengan negara yang lain. Contoh saja, St. Jerome (di Indonesia disebut Hieronimus), St. Therese (di Indonesia disebut Teresia), dst. Umumnya atau idealnya, nama Santa/o yang diambil sesuai dengan jenis kelamin anak, maksudnya tentu agar mempermudah anak itu untuk menjadikan orang kudus itu sebagai teladan hidupnya. Namun jika ternyata orang kudus yang dipilih tidak sama jenis kelaminnya, itu juga tidak apa-apa, karena toh anak juga masih akan tetap akan dapat meniru teladan iman orang kudus itu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

        • Hadi yth,

          Sampai sekarang saya belum menemukan suatu pedoman resmi tentang kemungkinan merobah-tidaknya nama pelindung orang kudus sesuai dengan jenis kelamin penyandang nama. Dalam kenyataan ada nama santa yang tetap dipertahankan sebagai pelindung untuk laki-laki, seperti Maria dalam nama2 orang kudus: Yohanes Maria Vianney (4 Agustus), Antonius Maria Claret (24 Oktober), Antonius Maria Zakaria (5 Juli). Bisa jadi nama santo Marius (19 Januari) mulanya merupakan modifikasi nama Maria untuk laki-laki. Demikian pula nama santa Yohanna F.Fremio de Chantal (12 Desember) adalah penyesuaian nama santo Yohanes sebagai pelindung untuk perempuan, atau nama santa Paula (26 Januari) adalah nama perempuan dari santo Paulus sebagai pelindungnya. Jadi bila belum ada santa Michaela, maka menggunakan nama Michaela berarti menjadikan Malaekat Agung Michael sebagai nama pelindung. Semoga bermanfaat.

          Salam dan doa. Gbu.
          Pst. Bernardus Boli Ujan, SVD.

  16. Petrus Suryadi on

    Shalom,

    Saat ini saya sedang mencarikan nama baptis utk anak pertama saya ( laki-laki ), yang ingin saya tanyakan ;
    1. Apakah nama Lionel termasuk dalam nama orang kudus/santo dalam ajaran Katholik ?
    2. Jika Ya, bolehkah dipergunakan sebagai nama babtis ? Dan mohon info tentang biografinya.

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
    Shalom,
    Petrus & Keluarga

    • Shalom Petrus,

      Silakan anda membaca di link ini, silakan klik, untuk nama- nama Santo yang menyerupai Lionel. Yang ada adalah St. Leonard, Leonianus, Leonides, Leontius. Silakan membaca di sana untuk sekilas biografinya (silakan klik di nama yang bersangkutan di link tersebut).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  17. Terima kasih atas artikel ini. Cuma saya ada pertanyaan lagi di Gereja Katolik selain nama baptis juga ada nama krisma (penguatan). Nah yang ingin saya tanyakan, aturan penggunaan nama baptis dan krisma itu seperti apa? Apakah nama baptis dipakai di depan nama krisma? Ataukah sebaliknya, nama krisma dipakai di depan nama baptis?

    Mohon jawabannya. Terima kasih.

    • Shalom Christyanto,
      Saya mengutip kembali apa yang telah saya sampaikan di atas, demikian:
      Sebenarnya menurut Hukum Kanonik Gereja 1983 yang berlaku sekarang, orang Katolik tidak diharuskan mempunyai nama baptis yang diambil dari orang kudus. Kanon #855 berkata:

      Hendaknya orangtua, wali baptis dan pastor paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.

      Jadi dari pernyataan ini, Hukum Kanonik Gereja tidak mengharuskan nama santo/santa. Yang harus dijaga adalah, jangan sampai dipakai nama yang ‘melawan’ kekristenan, contohnya saja diberi nama ‘Hiltler’ atau ‘Lenin’.

      Jadi sebenarnya tidak ada keharusan, tetapi tentu jika diberi nama baptis dari nama Santa/ Santo tentu lebih baik. Silakan membaca kembali artikel di atas, karena saya telah menuliskan alasannya, seperti tertulis pada point 1.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  18. Hai Pak Stefanus dan Bu Inggrid. Bolehkah umat Katolik menggunakan nama Yesus untuk nama baptis dirinya? Karena saya heran, kok di Filipina dan di Eropa dan di Amerika ada banyak orang bernama “Jesus”. Saya bukan bilang yang di Israel. Di Israel, saya tau bahwa nama Yesus memang banyak dipakai.

    Terima kasih atas jawabannya.

    • Shalom Andreas,
      Sepanjang pengetahuan saya, tidaklah ada ketentuan tertulis untuk menentukan nama baptis. Ketentuan yang ada hanyalah menyebutkan agar nama baptis yang dipilih harus sesuai dengan cita rasa Kristiani. Kanon #855 berkata:

      Hendaknya orangtua, wali baptis dan pastor paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.

      Maka semuanya terpulang kepada kebijaksanaan orang tua, bagaimana menyikapi ketentuan ini.

      Mungkin maksud orang tuanya mengambil nama Yesus bagi anaknya adalah supaya ia dapat meneladani Yesus. Namun, kalau menurut saya pribadi, memang lebih bijaksana untuk tidak memakai nama Yesus. Karena walaupun berharap agar anak kita meneladani Yesus itu adalah hal yang baik, tetapi kita harus juga melihat kemungkinan, jika sampai ia gagal melaksanakannya [karena tak seorangpun yang dapat persis mengetahui akan keadaan anaknya kelak] agar jangan sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain, jika ternyata anak tersebut tidak dapat mengikuti teladan Yesus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  19. Julius Santoso on

    Penulis mungkin bisa membantu saya. 1. Mengapa orang Katolik setelah dibabtis harus mengunakan embel-embel nama babtis yang diabil dari orang-orang suci? Contoh : Nama saya Santoso setelah dibabtis ditambah nama Julius. 2. Sejak kapan pengunaan nama babtis?. 3. Penggunaan nama babtis apakah termasuk tradisi?. 4. Latar belakang pengunaan nama babtis?.
    Trima kasih, smg Roh Tuhan berkarya dalam diri kita.

      • Julius Santoso on

        Puji Tuhan untuk Ingrid Listiati.
        Trima kasih atas jawaban yang sangat bagus dan luar biasa. Saya sangat tersanjung sekali dengan jawaban yang cepat dan mudah dimengerti. Saya jarang sekali mendapatkan jawaban yang memuaskan seperti ini. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
        Kalau boleh saya isi lengkap dalam :KGK 947 dan 952, Lumen Gentium 49, KGK 956 dan KGK 957.
        Tanya jawab atau pesan agar dipertahankan tetap ditampilkan di situs link to katolisitas.org sehingga pertanyaan dan jawaban dari orang lain juga untuk menambah pengetahuan / wawasan dan sebagai penguat iman saya.

        • Shalom Santoso,
          Berikut ini isi lengkap kutipan dari
          KGK 947:
          “Karena semua kaum beriman membentuk satu Tubuh saja, maka harta milik dari yang satu disampaikan kepada yang lain… Dengan demikian orang harus percaya… bahwa di dalam Gereja ada pemilikan bersama… Yang paling utama dari semua anggota Gereja adalah Kristus, karena Ia adalah Kepala… Jadi milik Kristus dibagi-bagikan kepada semua anggota, dan pembagian ini terjadi oleh Sakramen-sakramen Gereja (Thomas Aquinas, symb. 10). “Kesatuan Roh, yang olehnya (Gereja) dibimbing, mengakibatkan bahwa apa yang telah ia terima, menjadi milik bersama semua orang” (Catech. R., 1, 10, 24).

          KGK 952:
          Segala sesuatu adalah milik mereka bersama” (Kis 4:32): “Seorang Kristen yang benar tidak mempunyai sesuatu apa pun, yang tidak ia anggap sebagai milik bersama dari semua orang; karena itu orang-orang Kristen harus selalu rela meringankan kemalangan orang-orang yang berkekurangan” (Catech. R. 1, 10, 27). Seorang Kristen adalah bendahara harta pusaka Tuhan (bdk Luk 16:1,3).

          KGK 956:
          Doa syafaat para kudus. “Sebab karena para penghuni surga bersatu lebih erat dengan Kristus, mereka lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan pelbagai cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya. Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan, karena Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, tidak pernah berhenti menjadi pengantara kita di hadirat Bapa, sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia, melalui Pengantaraan tunggal antara Allah dan manusia yakni: Kristus Yesus. Demikianlah kelemahan kita amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara” (Lumen Gentium 49)

          “Jangan menangis, sesudah saya mati saya akan lebih berguna bagi kamu dan akan menyokong kamu secara lebih baik daripada selama saya hidup” (Dominikus, dalam sakratul maut kepada sama saudara seserikat). Bdk Jordan Sachsen, lib.93.

          “Saya akan mengisi kehidupan saya di surga dengan melakukan yang baik di dunia” (St. Teresia Kanak-kanak Yesus, verba)

          KGK 957:
          Persekutuan dengan para orang kudus. “Kita merayakan kenangan para penghuni surga bukan hanya karena teladan mereka. Melainkan lebih supaya persatuan segenap Gereja dalam Roh diteguhkan dengan mengamalkan cinta kasih persaudaraan. Sebab seperti persekutuan kristiani antara para musafir mengantarkan kita untuk mendekati Kristus, begitu pula keikutsertaan dengan para kudus menghubungkan kita dengan Kristus, yang bagaikan Sumber dan Kepala mengalirkan segala rahmat dan kehidupan Umat Allah sendiri.” (Lumen Gentium 50)

          “Kita menyembah Kristus karena Ia adalah Putera Allah. Tetapi para saksi iman, kita kasihi sebagai murid dan peniru Tuhan dan karena penyerahan diri yang tidak ada tandingannya kepada Raja dan Guru mereka. Semoga kita juga menjadi teman dan sesama murid mereka” (Polikarpus, mart. 17)

          Semoga kutipan teks Katekismus Gereja Katolik di atas dapat menjelaskan kedalaman arti persekutuan kita dengan para orang kudus di surga, sehingga kita semakin terdorong untuk meniru teladan hidup mereka; dan oleh doa-doa mereka kita bertumbuh di dalam iman untuk semakin mendekati Kristus.

          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          Ingrid Listiati