Kriteria seorang diberi gelar Santo/Santa

56

1. Jalan panjang untuk menerima gelar santa/santo

Secara umum, mereka yang diberi gelar Santo/ a adalah mereka yang hidupnya ditandai oleh pelaksanaan kebajikan yang mencapai titik heroik, dan kekudusan mereka ini harus dapat dibuktikanoleh argumen-argumen dan disertai juga oleh mukjizat-mukjizat dari Tuhan yang diperoleh melalui perantaraan doa orang kudus itu, untuk membuktikan bahwa ia adalah benar sahabat Allah. Maka proses kanonisasi dan beatifikasi bukan proses 'pembuatan' seseorang menjadi Santo/ santa, namun hanya merupakan deklarasi bahwa orang itu adalah orang yang hidup kudus bahkan sejak sebelum proses kanonisasi dimulai.

Proses penentuan pernyataan seseorang menjadi Santo/ Santa dalam Gereja Katolik memakan waktu yang panjang dan memerlukan bukti yang kuat berupa mukjizat-mukjizat yang harus ada, bahkan setelah orang tersebut sudah meninggal, untuk membuktikan bahwa Allah berkenan kepada perantaraan doa orang tersebut. Prosesnya, silakan lihat di link ini (silakan klik) dan di sini (silakan klik):
Maka dari sini terlihat, sebenarnya bukan uskup atau Paus yang menentukan seseorang menjadi kudus, apalagi ‘membuat’ seseorang menjadi Santo/ Santa. Paus hanya menyatakan seseorang menjadi Santa/ Santo setelah melalui proses penyelidikan panjang. Prosesnya itu sendiri melibatkan banyak orang, dan harus dibuktikan dengan mukjizat (minimal 2), dan mukjizatnyapun harus diperiksa secara objektif oleh dokter yang ahli. Proses kanonisasi bukan sesuatu yang mudah, umumnya memakan waktu bertahun-tahun. Namun justru dalam proses itulah terlihat apakah sungguh Tuhan berkenan menyatakan seseorang tersebut sebagai orang kudus-Nya, melalui mukjizat-mukjizat yang disyaratkan terjadi pada saat orang itu telah bertahun-tahun meninggal dunia, yaitu melalui permohonan doa syafaat orang kudus tersebut. Secara garis besar, prosesnya adalah sebagai berikut:

"Servant of God": Proses yang dimulai di level keuskupan. Uskup (atau ordinaris) bukan menentukan, tetapi membuka kesempatan penyelidikan ‘calon’ para kudus itu, yaitu  dalam hal kebajikannya, sebagai respons dari permohonan kaum beriman. Penyelidikan umumnya dilakukan setelah lima tahun orang tersebut meninggal dunia, walaupun untuk kasus tertentu, Paus dapat mempercepat proses ini, seperti dalam kasus Ibu Teresa dan Paus Yohanes Paulus II. Setelah informasi lengkap, uskup mempresentasikannya kepada Roman Curia, lalu kemudian ditunjuk seorang postulator (umumnya dari kongregasi- jika itu dari kalangan religius) untuk sungguh-sungguh menyelidiki informasi selanjutnya tentang kehidupan sang "Servant of God" ini.

"Declaration ‘Non Cultus’, Pada suatu saat dapat diizinkan untuk memeriksa jenazah sang "Servant of God", dan pernyataan bahwa tidak adanya tahayul/ pemujaan yang ditujukan pada sang pelayan Tuhan ini.

"Venerable/Heroic in Virtue", Setelah segala informasi yang diperlukan terkumpul, Bapa Paus mengumumkan teladan kebajikan dari pelayan Tuhan ini (yaitu yang berhubungan kebajikan ilahi dengan iman, pengharapan dan kasih, dan juga kebajikan pokok, yaitu, kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan pengendalian diri, hingga sampai pada tingkat yang heroik.
Pada saat ini dapat dicetak kartu doa yang dibagikan pada umat, sehingga umat dapat memohon doa perantaraan mereka, mohon agar mukjizat dapat diperoleh dari perantaraan doa mereka, sebagai tanda persetujuan Tuhan, untuk menyatakan pelayan Tuhan tersebut sebagai orang kudus.

"Blessed" Beatifikasi adalah pernyataan dari Gereja yang menyatakan bahwa kita dapat percaya bahwa sang pelayan Tuhan tersebut berada di surga. Tahap berikutnya tergantung dari apakah ia seorang martir, atau bukan (konfesor). Jika martir, tidak diperlukan mukjizat lebih lanjut, namun jika non-martir, maka diperlukan sebuah mukjizat melalui doa yang ditujukan dengan perantaraan sang Venerable ini, untuk membuktikan bahwa ia benar-benar telah berada di surga, danTuhan menjawab doa syafaatnya dengan memberikan mukjizat. Sekarang ini yang dapat dianggap mukjizat yang termudah adalah yang melibatkan: 1) pasien yang sakit, 2) yang tidak diketahui bagaimana cara penyembuhannya, 3) doa ditujukan agar Venerable mendoakan kesembuhan pasien, 4) pasien tersebut disembuhkan, 5) Kesembuhannya spontan, instan/ pada saat itu, menyeluruh, dan "lasting"/ tidak berubah, 6) dokter tidak dapat menjelaskan penjelasan normal.

"Saint", Untuk menjadi Santo/ Santa diperlukan lagi satu mukjizat. Kanonisasi adalah pernyataan dari Gereja, bahwa sang Santa/ Santo tersebut telah berada di surga, dan memandang Allah dalam Beatific Vision. Pesta nama Santa/ Santo tersebut ditentukan, dan boleh dirayakan.

Para orang kudus (Santo, Santa) adalah orang-orang yang semasa hidupnya meneladani Kristus sampai ke titik yang heroik, demikian pula martir, yang bahkan mencontoh Kristus sampai kepada menyerahkan hidupnya demi iman mereka kepada Kristus. Oleh karena itulah, maka gelar Santa- Santo dan martir itu dapat dikatakan diperoleh karena hubungan mereka yang dengan Kristus, dan yang telah menerima kepenuhan misteri Paska Kristus, yaitu wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga.

Para nabi pada Perjanjian Lama memang dapat juga disebut sebagai orang kudus, namun memang secara obyektif dapat diakui bahwa karena mereka hidup sebelum Kristus, maka mereka tidak mengalami kepenuhan misteri Paska Kristus. Dan karena maksudnya para kudus itu adalah untuk menjadi teladan bagi kita dalam hal kekudusan setelah kita dibaptis, maka banyak orang Katolik mengambil nama Baptis dari para orang kudus itu, yang kekudusannya telah diakui sebagai buah dari hidup mereka di dalam Kristus, setelah mereka [para kudus itu]dibaptis di dalam Kristus. Dengan memilih nama seorang  Santo/a sebagai nama Baptis/ Pelindung, maka artinya kita memohon agar Santo/ Santa itu berdoa bagi kita agar kitapun dapat bertumbuh di dalam kekudusan, dan dilindungi dari pengaruh kejahatan.

2. Santa/santo adalah sahabat Allah

Maka Santa/ Santo Pelindung itu bukan untuk menyaingi Allah sebagai Pelindung (Yes 1:24; Mzm 31:2; 62:7) dan Perisai kita (Mzm 3:3). Allah tetaplah sebagai Pelindung kita, namun Ia melibatkan para orang kudus-Nya untuk melindungi kita dengan doa-doa mereka. Maka peran mereka melindungi kita hanya dimungkinkan oleh Allah. Prinsip persekutuan orang kudus inilah yang membedakan pengertian Pengantaraan, antara pemahaman Protestan dengan Katolik. Bagi umat Protestan, Yesus adalah satu-satunya Pengantara, dan pengantaraan-Nya ini bersifat eksklusif. Sedang bagi Gereja Katolik, Pengantaraan Kristus yang satu-satunya (lih. 1 Tim 2:5) ini bersifat inklusif, yaitu melibatkan juga orang-orang kudus-Nya, sebab semua orang kudus itu adalah kawan sekerja Allah (1 Kor 3:9). Bahwa seorang yang kudus, dapat mendoakan sesamanya (berdoa syafaat) bagi sesamanya (lih. 1 Tim 2:1), dan Tuhan dapat mengabulkan doa ini yang dipanjatkan atas Pengantaraan Yesus. Maka, pengantaraan orang kudus ini hanya mungkin karena Pengantaraan Kristus, dan bergantung dari Pengantaraan-Nya. Jadi pengantaraan ataupun perlindungan orang kudus ini harus selalu dilihat sebagai kesatuan dengan perlindungan Kristus: selalu mendukung dan selalu bersama dengan Pengantaraan dan Perlindungan dari Tuhan Yesus. Oleh karena di surga yang ada adalah persekutuan para orang kudus dengan Kristus sebagai Kepala, maka Gereja Katolik percaya bahwa Pengantaraan Kristus melibatkan pengantaraan para kudus sebagai anggota-anggotaNya, dan bahwa pengantara anggota-anggota-Nya dapat diberikan karena kesatuan mereka yang sempurna dengan Kristus.

Kalau ada yang bertanya, kalau mereka-pun tergantung pada Pengantaraan Yesus, mengapa kita berdoa mohon perantaraan mereka? Jawabnya, memang kita tidak harus berdoa memohon pengantaraan mereka, namun jika kita melakukannya, itu berguna bagi kita sendiri, karena itu melatih kita untuk bertumbuh dalam kerendahan hati. Karena kita melihat kepada para orang kudus itu sebagai teladan, agar kita terpacu untuk hidup seperti mereka. Ini seperti layaknya adik kelas yang belajar dari kakak kelas/ atau mereka yang sudah lebih dahulu lulus. Kita bisa belajar langsung dari dosen/ profesor kita, tetapi bisa juga disamping belajar dari dosen, kita belajar dari kakak kelas. Tidak ada keharusan kita belajar dari kakak kelas, namun tentu baik bagi yang mau melakukannya, karena akan sangat banyak manfaatnya.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

56 Comments

  1. Lidwina Irene on

    Salam kasih,
    Boleh minta informasi tentang siapa saja perempuan yang diberi gelar pujangga Gereja? Kalau yang laki-laki sih banyak, yang perempuan sepertinya tidak banyak kan? Lalu, kalau boleh juga, apa latar belakangnya perempuan-perempuan itu mendapat gelar pujangga Gereja. Soalnya kita mengenal istilah Bapa-bapa Gereja, tetapi Ibu-ibu Gereja, saya tidak pernah mendengarnya?
    Terima kasih atas informasinya! Salam kasih!

    [dari katolisitas: Silakan mencari di google empat wanita yang tergabung dalam pujangga gereja ini: St. Hildegard of Bingen, St. Therese of Lisieux, St. Catherine of Siena, St. Teresa of Avila]

  2. dominus vobiscum
    hallo admin,,, saya minta referensi dan biografi dari santo pedro gonzales … kami OMK dari paroki kakaskasen di sulawesi utara… kami baru menggunakan nama pelindung pedro gonzales…. jadi kami ingin bantuan dari admin untuk itu, terima kasih Tuhan memberkati ^_^

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca di link ini, silakan klik. Bahasa Inggrisnya tidak sulit, dan kisahnya cukup sederhana, sehingga mestinya dapat dipahami.]

  3. Selamat siang dan salam sejahtera dalam Tuhan Kita Yesus Kristus.
    Dear Katolisitas.org Team.

    Terima kasih atas kesediaan untuk saya bergabung dengan Tiem Katolisitas ini.
    saya mau mau menanyakan apakah tim katolisitas bisa memberikan saya nama2 santo yang ada karena saya mau memberikan nama kepada Anak saya yang baru laihr kemarin tanggal 28 April 2014.

    terima kasih atas bantuan tiem katolisitas atas bantuanya…
    Salam Bunda..

    [dari katolisitas: Silakan browsing link ini – silakan klik]

  4. Yustinus Hendro on

    Hari ini peringatan St Katarina dr Siena. Bu Ingrid, mhn penjelasan bila ada, apa spiritualitas dia sehingga dia digelari Pujangga Gereja? trim ksh.
    salam,
    Y Hendro

    • Shalom Yustinus,

      Kisah riwayat hidup St. Katarina dari Siena, dapat dibaca di link ini, silakan klik. Mohon maaf kami belum dapat menerjemahkannya untuk Anda, berhubung dengan masih banyaknya pertanyaan lain yang masuk ke redaksi, yang perlu dijawab.

      St. Katarina dikenal sebagai salah satu Pujangga Gereja, berhubungan dengan banyaknya tulisannya yang sangat indah yang menyampaikan pandangan Kristen. Karyanya yang paling terkenal adalah The Dialogue of Divine Providence (yang mengisahkan sebuah percakapan antara jiwa yang ‘naik kepada’ Tuhan dan Tuhan sendiri) demikian pula sekitar 400 surat-suratnya dan sejumlah doa yang disusunnya.

      Dengan bijaksana, St. Katarina menulis surat kepada Paus Gregorius XI, agar mengusahakan perdamaian dan agar Paus kembali dari Avignon ke Roma dan mengusahakan reformasi kaum klerus dan administrasi kepausan. Setelah Paus Gregorius wafat, St. Katarina turut berperan menjembatani perdamaian antara para penerusnya, yaitu Urban VI yang didukung oleh para kardinal Roma dan Clement VII dari para kardinal Avignon (Perancis). St. Katarina mengusahakan pemulihan hubungan dengan memperolehkan dukungan bagi Urban VI yang merupakan penerus Paus yang sah/ legitim. Paus Urban sendiri mendengarkan anjuran St. Katarina. Dalam beberapa kesempatan banyak teolog terkemuka di Siena, Avignon dan Genoa berdialog dengan St. Katarina dan mereka mengakui kebijaksanaan pandangan/ tanggapannya. Bakatnya sebagai penulis mensejajarkannya dengan penulis sebangsanya, Dante dan Petrarch. Namun di samping itu, teladan hidupnya, yang peduli kepada kaum miskin dan para penderita sakit, serta teladan kesalehannya, menjadikan St. Katarina sebagai sosok yang menginspirasi bagi banyak orang.

      St. Katarina wafat dalam usia 33 tahun, tanggal 21 April 1380. Paus Pius II meng-kanonisasinya tahun 1461.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Mikael Adrian on

    Mohon penjelasan untuk “equivalent canonization/ equipollent canonization”. Sepertinya belum ada penjelasan dalam Bahasa Indonesia untuk proses kanonisasi ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

    • Shalom Mikael,

      Equivalent Canonization adalah salah satu cara untuk mengkanonisasi seorang (blessed) bukan dengan menunggu mukjizat yang terjadi, namun dengan mempertimbangkan bahwa penghormatan terhadap calon santo-santa sebenarnya telah berakar dalam tradisi. Karena satu hal, proses kanonisasi belum dilakukan, walaupun tradisi penghormatan terhadap orang tersebut telah berakar dalam masyarakat. Oleh karena penghormatan telah ada, maka tidak ada lagi upacara di Vatikan. Proses ini dimulai oleh Pope Urban VIII  pada tahun 1632. Beberapa contoh santo-santa dengan proses ini adalah: St. Hildegard dari Bingen, St. Bruno, St. Margaret dari Skotlandia, St. Stefanus dari Hungaria, St. Wenceslaus. 

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. Shalom katolisitas
    Saya ingin bertanya, beberapa denominasi Kristen seperti lutheran dan anglican mengakui Santo santa , apakah kriteria mereka? Yang saya tahu gereja anglican pun menggunakan rosario, apakah penggunaannya sama seperti di Katolik?
    Pertanyaan selanjutnya , beberapa gereja lutheran menganggap Paus Yohanes xxiii dan St Fransiskus Xaverius sebagai Santo bagaimana tanggapan gereja Katolik mengenai hal ini? Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati karya kalian .

    • Shalom Giovani, 

      Fokus situs Katolisitas, hanyalah untuk menyampaikan pengajaran iman Katolik, sehingga jika Anda ingin mengetahui tentang ajaran dari gereja-gereja non-Katolik, silakan Anda mengunjungi situs-situs dari gereja-gereja yang bersangkutan.

      Sepengetahuan kami, gereja Lutheran sendiri mempunyai beberapa aliran, yang tidak sama satu sama lain, dan tiap-tiap aliran mempunyai pemimpinnya sendiri. Maka apa yang diakui oleh suatu kelompok Lutheran, belum tentu diterima oleh kelompok Lutheran yang lain. Jika benar bahwa sebagian dari gereja Lutheran menganggap Paus Yohanes XXIII dan Fransiskus Xaverius sebagai Santo/ Orang Kudus, menurut hemat kami, itu menunjukkan bahwa nilai-nilai kekudusan (yaitu kesempurnaan kasih kepada Allah dan sesama) merupakan nilai-nilai universal. Jika kita membaca riwayat hidup para orang kudus itu, yang mencontoh Kristus dengan memberikan diri mereka sepenuhnya untuk mengasihi Tuhan dan sesama, kita akan dapat mengakui adanya karya Allah yang luar biasa dalam hidup mereka. Kekudusan memang adalah rahmat Allah, namun juga rahmat Allah itu ditanggapi dengan kerjasama yang sungguh-sungguh oleh para orang kudus itu. Inilah yang terpancar keluar dengan sendirinya dari teladan hidup para orang kudus, sehingga semua orang (baik Katolik maupun non- Katolik) yang dengan tulus hati membaca kesaksian hidup mereka dan merenungkannya, akan mengakui kebesaran rencana Allah dalam kehidupan manusia. Kita bersyukur kepada Allah atas rencana keselamatan-Nya yang melibatkan pihak manusia, baik para orang kudus itu maupun kita semua, walaupun dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan keadaan kita masing-masing.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Maria Rosa on

    anakku babtisnya Rosenna, sy mohon cerita komplitnya tentang santa Rosenna untuk keperluan tugas agamanya, terima kasih Berkah Dalem

    [Dari Katolisitas: Kemungkinan yang dimaksud adalah St. Rosanna/ St. Humility/ St. Humilitas, silakan membaca di sini, silakan klik, atau di link Wikipedia]

    • Shalom Palmira,

      St. Priscilla dan suaminya Aquila adalah pasangan misionaris di abad pertama, yang disebutkan dalam surat Rasul Paulus, yang disebutnya sebagai sesama pekerja di dalam Kristus Yesus (Rom 16:3-4). Mereka adalah para pengajar iman (lih. Kis 18:26).

      Silakan membaca selanjutnya tentang St. Priscilla, di link ini, silakan klik.

      Sedangkan katakomba, yang umum dikenal di zaman abad-abad awal di Roma, adalah ruang bawah tanah, umumnya berupa gua-gua, yang digunakan sebagai kubur jemaat Kristen awal, dan juga bagi para jemaat untuk beribadah (merayakan Ekaristi) dan bersembunyi/ berlindung dari penganiayaan tentara Romawi. Selanjutnya tentang katakomba, silakan membaca di link ini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Ketika Gereja memperbolehkan umat dari Gereja Timur untuk menghormati Santo/a mereka dengan alasan bahwa santo/a itu mengajarkan hal yang positif dan ajaran santo/a yang bertentangan itu lebih dikarenakan ketidaktahuan, apakah itu berarti Gereja juga mengakui bahwa santo/a itu telah berada di Surga?

    • Shalom Skors,

      Pernyataan/ pengakuan resmi Gereja Katolik akan keberadaan seorang di Surga, itu dinyatakan melalui pernyataan beatifikasi dan kanonisasi, kecuali pada para kudus/ martir di abad-abad awal, di mana proses pengujian beatifikasi dan kanonisasi belum dapat dilakukan sesuai dengan prosedur yang dikenal sekarang (Itulah sebabnya pada tahun 1969 pihak Vatikan mengadakan cultus suppressed, kepada para Santa/o di abad-abad awal yang biografinya kurang dapat diverifikasi. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik). Memang sepanjang sejarah Gereja, terdapat perkembangan prosedur norma untuk menguji para Santa/o tersebut sebagai seorang yang telah dibenarkan oleh Allah di Surga dan karena itu dapat dirayakan dalam kalender liturgi Gereja. Namun bahwa terdapat kriteria-kriteria tertentu bagi seseorang untuk dapat diakui secara lokal oleh Gereja setempat dan kemudian secara universal sebagai Santo/a, itu sudah ada sejak abad-abad awal, sebagaimana terlihat melalui tulisan St. Siprianus (w 258) dan St. Agustinus (w 430). Tanpa pernyataan tersebut, Gereja secara umum tetap memperbolehkan umatnya untuk menghormati sesama umat beriman yang telah meninggal dunia, terutama jika teladan hidupnya dapat dijadikan contoh teladan iman dan kekudusan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Kalau yang terjadi adalah bahwa seorang santo/a hanyalah seseorang yang layak untuk dihormati, maka itu tidak menjadi masalah ketika umat dari Gereja Timur menghormatinya, sedangkan tidak pada Gereja Barat. Akan tetapi, bukankah kita percaya bahwa yang disebut santo/a adalah seseorang yang telah mencapai surga? Jika demikian adanya, ketika Gereja memperbolehkan umat Gereja Timur untuk menghormatinya bukan hanya sebagai pahlawan iman, tetapi juga sebagai santo/a (yang artinya adalah bahwa orang tersebut telah mencapai surga), apakah itu artinya Gereja Katolik mengakui orang tersebut telah mencapai surga, meskipun sebelum Gereja Timur itu bersatu, orang tersebut belum pernah dikanonisasi oleh Gereja Katolik?

        Saya menanyakan hal ini karena bila dengan bersatunya komunitas Gereja Timur dengan Gereja Katolik memungkinkan mereka untuk menghormati pahlawan iman mereka sebagai santo/a yang tidak dikenal oleh Gereja Katolik tetapi Gereja Katolik tidak mengakui mereka berada di surga, ini berarti ada kontradiksi dimana Gereja Timur tersebut memercayai bahwa santo/a mereka berada di surga sedangkan Gereja Katolik tidak memercayainya.

        • Shalom Skors,

          Nampaknya harus diakui bahwa ada perbedaan pengertian yang diyakini oleh Gereja Katolik dan Orthodox tentang bagaimana seseorang dapat dinyatakan sebagai Santo/ Santa. Bagi Gereja Katolik, seseorang dinyatakan Santo/a, setelah melalui proses beatifikasi dan kanonisasi, yang sudah pernah diulas di sini, silakan klik. Setelah melalui proses penyelidikan yang panjang, yang diiringi oleh bukti-buktinya yang supernatural/ adikodrati, para pelayan Allah itu dapat dinyatakan secara resmi oleh Magisterium Gereja Katolik sebagai orang kudus/ Santo/Santa yang sudah berada di Surga. Sedangkan bagi Gereja Orthodox, proses kanonisasi ini tidak diadakan dengan langkah-langkah seperti yang diadakan oleh Gereja Katolik. Bagi mereka proses ini (yang dikenal dengan proses glorifikasi) adalah proses penyelidikan dari uskup terkait di mana Santo/a tersebut berdomisili selama hidupnya di dunia, untuk memeriksa apakah Tuhan berkarya dalam hidup orang tersebut. Maka hasil glorifikasi itu merupakan pernyataan resmi Gereja setempat, bahwa orang tersebut layak dijadikan teladan iman, dan bahwa melalui hidup mereka Tuhan telah menyatakan karya-Nya.

          Silakan Anda klik di Wikipedia ataupun situs gereja Orthodox, tentang pemahaman mereka tentang kanonisasi, demikian saya cut and paste:

          Canonization does not make anybody a saint. Canonization recognizes that someone already was, in his own lifetime, a saint. Having recognized that the Church encourages its members to follow the example, the model, provided by the life of the holy person, to pray to him, to keep his memory alive.…”

          Jadi memang ada perbedaan makna yang dihayati antara proses kanonisasi dan glorifikasi tersebut. Berangkat dari pemahaman ini, maka tidak menjadi masalah jika kelak ada komunitas Gereja Timur Orthodox yang mau bersatu dengan Gereja Katolik. Mereka tetap dapat menghormati pahlawan iman mereka, seturut dengan penghayatan mereka.

          Sebagaimana telah disebutkan di jawaban saya sebelumnya, selain tokoh-tokoh yang telah jelas mengakibatkan skisma, ada banyak orang kudus yang dihormati oleh Gereja Orthodox yang selama hidupnya memang menunjukkan teladan iman dan kasih. Maka umat Katolik dapat turut menghormati orang-orang tersebut, walaupun Gereja Katolik tidak/ belum menjalankan proses kanonisasinya. Perlu kita ketahui ada banyak juga Santo/a di abad-abad awal yang juga tidak pernah melalui proses kanonisasi, namun Gereja sejak awal sudah meyakini bahwa mereka adalah orang-orang kudus, entah dari teladan iman mereka, mukjizat-mukjizat yang terjadi, ataupun dari kemartiran mereka.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. Salam kasih dalam Kristus Tuhan

    Mohon maaf sebelumnya mau bertanya, apakah nama Santo Doroteus termasuk dalam daftar nama Santo/Santa dalam Gereja Katolik?

    Sangat terima kasih untuk perhatiannya.

    [Dari Katolisitas: Ya, Pesta namanya dirayakan tanggal 5 Juni. Silakan Anda membaca di link ini untuk informasinya, silakan klik]

  10. Pemberian gelar santo/a itu infalible kan yah? Bagaimana kalo misalnya suatu waktu Gereja Orthodox atau Anglikan atau lainnya yang masih percaya sama adanya santo/a memilih untuk bergabung secara resmi dengan Gereja Katolik. Apakah santo/a mereka harus dibuang atau langsung diakui atau harus dikanonisasi ulang atau bagaimana?

    seperti contohnya Gregorius Palamas, dia itu santo dari gereja Orthodox dan ga diakui di Gereja Katolik pada awalnya, tapi ketika ada sebagian hierarki Gereja Orthodox yang memilih untuk bersatu dengan Gereja Katolik, jadinya dia juga tetap diakui di Gereja Katolik Timur. Apakah sesederhana itu, ketika bergabung, santo/a mereka langsung diakui? bagaimana kalo santo/a mereka itu ada yang anti Katolik, apakah tetap harus diakui?

    trus, sebagai Katolik Roma, boleh ga pake nama baptis dari santo/a dari Gereja Katolik Timur?

    makasih

    • Shalom Skors,

      Ya, mayoritas teolog berpegang bahwa keputusan/ pernyataan Paus tentang dekrit kanonisasi seorang Santo, itu sifatnya infallible. Namun sesungguhnya Paus hanya mengeluarkan pernyataan dekrit tersebut, setelah terpenuhinya persyaratan-persyaratan tertentu, termasuk mukjizat-mukjizat yang ada atas perantaraan doa mereka, sehingga memang pernyataan tersebut bukan merupakan suatu pernyataan pribadi dari Paus. Paus hanya menyampaikan pernyataan sehubungan dengan bukti-bukti dan teladan iman orang kudus tersebut yang memang sudah terjadi dalam Gereja, yang dimulai dari Gereja setempat di mana sang Santo/a hidup/ berkarya. Silakan membaca selanjutnya di link ini, silakan klik.

      Gereja Anglikan mengakui sejumlah Santa/o yang dikanonisasi oleh Gereja Katolik sebelum masa reformasi Protestan. Sesudah masa reformasi, gereja Anglikan memang mempunyai daftar “heroes”/ pahlawan yang mereka hormati sebagaimana Gereja Katolik menghormati para Santa/o. Demikian pula dalam Gereja Orthodox. Sebelum perpisahannya dengan Gereja Katolik, yang dipelopori oleh Photius (867) dan Michael Cerularius (1054), para Santa/o Gereja Orthodox umumnya juga adalah para Santa/o yang diakui oleh Gereja Katolik. Nah, memang setelah perpisahan Gereja Orthodox tahun 1054, Gereja Orthodox mempunyai juga Santa/o yang ditentukan melalui proses glorification, semacam kanonisasi menurut Gereja Katolik. St. Gregorius Palamas (wafat 1359) merupakan Santo dari Gereja Orthodox setelah gereja tersebut memisahkan diri dari Gereja Katolik.

      Pada saat salah satu komunitas gereja Anglikan atau Orthodox bergabung dengan Gereja Katolik, maka mereka diperbolehkan mempertahankan tradisi mereka, termasuk perayaan liturgis mereka. Sejauh ini saya belum menemukan proses kanonisasi ulang para Santa/o modern dari Gereja Anglikan maupun dari Gereja Orthodox.

      Dari yang saya ketahui, memang terdapat banyak pandangan tentang Gregorius Palamas ini. Gereja Orthodox dan beberapa Gereja Timur Katolik merayakannya dalam liturgi mereka, di tanggal 14 November maupun di Minggu ke 2 Masa Prapaska. Namun, di salah satu buku Santo/a yang terlengkap, karangan Butler yang kami miliki, nama Palamas tidak tercantum. Jika kita membaca riwayat hidupnya, kita mengetahui bahwa Palamas sangat aktif mengajarkan tentang Hesychasm, dan beberapa pokok ajaran sehubungan dengan hesychasm tersebut memang nampaknya menjadi bahan perbincangan yang hangat di antara para teolog. Sejumlah teolog menganggap bahwa apa yang disampaikan oleh Palamas berseberangan dengan apa yang diyakini oleh Gereja Latin (Roma), namun sejumlah teolog yang lain tidak menganggapnya demikian. Tentang Hesychasm sendiri, pernah kami ulas sekilas di sini, silakan klik.

      Perayaan St. Gregorius Palamas tidak ada dalam Kalender Liturgi Roma, namun memang pihak Vatikan memperbolehkan perayaannya pada Gereja- gereja Timur dalam persekutuan dengan Gereja Katolik. Maka kasus St. Gregorius Palamas berbeda dengan misalnya Photius dari Konstantinopel, yang jelas telah memperoleh sangsi ekskomunikasi dari Paus Nicholas I tahun 863, atau Michael Cerularius, yang menerima sangsi ekskomuniasi dari Paus St. Leo IX, tahun 1054. Izin penghormatan kepada St. Gregorius Palamas, sejalan dengan kenyataan bahwa memang ada beberapa orang kudus yang juga dihormati oleh Gereja- gereja lokal, namun tidak oleh seluruh Gereja universal. Fakta bahwa ketika beberapa Gereja Timur masuk dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, pihak Vatikan memperbolehkan mereka untuk tetap merayakan perayaan St. Gregorius, selayaknya dilihat sebagai upaya tulus dari Gereja Katolik Roma, untuk merangkul Gereja- gereja Timur. Gereja Katolik tetap mengakui adanya hal- hal yang positif dari pengajaran Palamas; dan dapat saja ajaran- ajarannya dan komentar- komentar keras yang dinyatakannya kepada Gereja Katolik, lebih merupakan material heresy daripada formal heresy. Silakan melihat perbedaannya di sini, silakan klik, lihat point 4a.

      Sehubungan dengan penghormatan orang kudus dari Gereja Katolik Timur, dan menggunakan nama mereka sebagai nama Baptis, sepanjang hal itu dapat semakin mendekatkan Anda kepada Kristus dan Gereja, serta Anda dapat menjadikan mereka sebagai teladan iman dan kebajikan, silakan saja dilakukan, sebab sepanjang pengetahuan saya, hal itu tidak dilarang. Namun adalah bijaksana, jika tidak mengambil nama-nama dari orang-orang yang jelas- jelas anti Katolik atau yang telah menerima sangsi ekskomunikasi dari Gereja Katolik. Nampaknya diperlukan kebijaksanaan/ prudence untuk menyikapi hal ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org