Bagaimana menanggapi film Angels and Demons

9

Pertanyaan:

Bagaimana sikap kita melihat film “Angels & Demons” yang “katanya” mulai heboh di seluruh dunia, saya sendiri tidak tahu apa isi film tersebut. – Chris

Jawaban:

Shalom Chris,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang bagaimana menyikapi film Angels and Demons. Saya minta maaf, karena menunda menjawab pertanyaan ini cukup lama, karena menyelesaikan tugas akhir, serta begitu banyak pertanyaan yang masuk ke katolisitas.org.
Saya sendiri terus terang belum menonton film ini. Link yang memberikan review tentang film ini adalah USCCB (silakan klik) dan juga ini (silakan klik), ini (silakan klik). Secara prinsip film ini adalah film yang tidak membahayakan iman dan gereja, seperti yang diberitakan di L’Osservatore Romano. Tidak seperti film Da Vinci Code yang menyerang pokok iman Katolik, maka film Angels and Demons mencoba mempertentangkan antara ilmu pengetahuan dan Gereja. Namun sesungguhnya tidak ada yang bertentangan, karena Gereja Katolik sendiri tidak anti akan ilmu pengetahuan, malah sebaliknya mendukung ilmu pengetahuan sejauh tidak bertentangan dengan iman.
Dikatakan bahwa film ini menyajikan data-data histori yang tidak akurat. Jadi sejauh kita beranggapan bahwa film ini adalah film fiksi, maka sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah orang-orang yang sama yang melatarbelakangi pembuatan film sebelumnya, yang bertentangan dengan iman Katolik.

Berikut ini adalah kutipan dari vatican paper yang saya cut and paste  – [penekanan adalah dari saya]

Vatican paper: ‘Angels & Demons’ film is harmless
May 6, 2009

VATICAN CITY (AP) — Reviewers at the Vatican’s newspaper have passed judgment on “Angels & Demons,” finding the religious thriller commercial and inaccurate, but concluding it is “harmless” entertainment and not a danger to the church.

L’Osservatore Romano ran a review and an editorial in Wednesday’s edition, critiquing the movie based on the Dan Brown best-selling novel of the same name.

“Angels & Demons” had its world premiere Monday in Rome, after director Ron Howard charged that the Vatican interfered with getting film permits to shoot scenes in the city — a contention the Vatican said was a publicity stunt.

The newspaper wrote that the movie was “a gigantic and smart commercial operation” filled with “stereotyped characters.” The paper suggested moviegoers could make a game out of finding the many historical inaccuracies in the plot.

However, L’Osservatore praised Howard’s “dynamic direction” and the “magnificent” reconstruction of locations like St. Peter’s Basilica and the Sistine Chapel. Much of the film was shot on sets that painstakingly recreated church landmarks.

The film offers “more than two hours of harmless entertainment, which hardly affects the genius and mystery of Christianity,” L’Osservatore’s reviewer wrote. It’s “a videogame that first of all sparks curiosity and is also, maybe, a bit of fun.”

“Angels & Demons” features Harvard symbologist Robert Langdon of “The Da Vinci Code” fame, played by Tom Hanks. In the film, the Vatican turns to Langdon after an ancient secret brotherhood called the Illuminati kidnap four cardinals considered front-runners to be the next pope, and threaten to kill one an hour and then explode a bomb at the Vatican.

On Sunday, Howard said the Vatican had interfered with his efforts to get permits to shoot some scenes. A Vatican spokesman said the statement was designed purely to drum up publicity for the film.

Top church officials strongly objected to “The Da Vinci Code” because it was based on the idea that Jesus married and fathered children and depicted the conservative Catholic movement, Opus Dei, as a murderous cult.

Semoga dapat berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

9 Comments

  1. saya ingin menanyakan 3 pertanyaan ini ditunggu jawabannya:

    1. apakah ada tekanan epistimologi dalam film ANGELS & DEMONS. Jelaskan dan di bagian yg mana!
    2. tolong ungkapkan aliran rasionalisme, empirisme, intuisi, dan hermeneutika dalam film angel n demons ini!
    3. menurut anda dapat sampaikah 4 aliran tersebut pada Tuhan, dan apakah akhirnya sang profesor beragama atau tidak!

    TERIMA KASIH

    [Dari Katolisitas: Mohon maaf, fokus utama kami di Katolisitas adalah menjelaskan tentang ajaran iman Katolik, dan bukan membahas film-film fiksi seperti film Angels and Demons ini. Film- film fiksi ini tidak mendasarkan kisahnya atas fakta sesungguhnya apalagi mengambil ajaran iman Katolik sebagai titik tolaknya, melainkan dari imajinasi penulisnya. Oleh karena itu, film tersebut tidak relevan untuk dibahas di situs ini. Mohon dipahami.]

    • Shalom Alexander Pontoh,
      Terima kasih atas pertanyaannya. Maksudnya “sejauh tidak bertentangan dengan iman” dalam tanya jawab di atas adalah Gereja tidak menentang ilmu pengetahuan sejauh ilmu pengetahuan tidak bertentangan dengan hukum moral. Sebagai contoh, adalah stem cell research:

      1) Pengobatan dengan Embrionic stem cell merupakan tindakan tidak bermoral, sebab walaupun objek moralnya adalah tindakan pengobatan, dan maksud tujuannya baik yaitu untuk mengobati demi kehidupan, tetapi keadaan/ circumstancesnya tidak dapat diterima, karena hal ‘bagaimana’ dilakukannya itu adalah dengan pembunuhan embryo/ janin. Dalam moral Theologi, tujuan tidak dapat menghalalkan segala cara/ “ends do not justify the means”.

      2) Pengobatan dengan Adult stem cell merupakan tindakan bermoral, karena objek moral adalah tindakan pengobatan, maksud dan tujuan untuk pengobatan demi kehidupan, dan caranya tidak bertentangan dengan moral.

      Semoga keterangan tambahan ini dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

    • Shalom Stefanie,
      Pertama- tama film Angels and Demons adalah film fiksi, dan apa yang diceritakan di dalamnya tidak berdasarkan fakta, walaupun ada nama-nama tertentu, yang sepertinya diambil dari sejarah. Misalnya, adanya organisasi Illuminati. Illuminati adalah nama sebuah organisasi rahasia yang didirikan oleh Adam Weishaupt di tahun 1776. Weishaupt (1748- 1830) adalah seorang rasionalistik dari Bavaria yang mendapat pendidikan dari sekolah Jesuit . Ia terinspirasi oleh Freemasons dan menjadi anggotanya pada tahun 1774, namun kemudian memisahkan diri dari Freemasonry, dan mendirikan "Illuminates Freemasons" bersama seorang Freemason yang lain yang bernama Frieherr von Knigge. Prinsip yang dianutnya adalah menomorsatukan science, sehingga melihat keselamatan manusia dicapai melalui "kebebasan dan persamaan", melalui "illumination"/ penerangan, kasih, persaudaraan dan toleransi, yang bertujuan menghapuskan perbedaan bangsa dan agama.
      Keanggotaan Illuminati meluas di tahun 1783, namun tahun 1784, Knigge meninggalkan Weishaupt karena tidak dapat menerima gaya Weishaupt yang dominan. Setelah tahun 1787, Weishaupt tidak lagi aktif dalam kegiatannya rahasianya di Illuminati, dan kembali mendekatkan diri pada Gereja. Ia wafat tgl 18 November 1830, setelah kembali ke Gereja Katolik.
      Selengkapnya, silakan membaca tentang organisasi Illuminati ini di link ini, silakan klik. Jika anda ingin membaca mengenai sekilas tentang Freemason, silakan klik di jawaban ini.
      Maka, jika melihat penjabarannya, walaupun memang terkesan ide Weishaupt ini adalah ide Mesianis yang distortif, namun kenyataannya bahwa Weishaupt ini meninggal dengan kembali ke pangkuan Gereja Katolik, maka tidak dapat dikatakan bahwa Weishaupt ini adalah Anti-kristus.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

    • Mengikuti topik ini, saya ingin bertanya apakah tujuan dibangunnya banyak obelisk di Vatikan – salah satunya yang sangat menonjol adalah yang berada di tengah lapangan St. Peter? Karena setau saya, obelisk pada zaman Mesir atau Bizantium kuno obelisk dibangun untuk menghormati dewa matahari.

      • Shalom Syenny,

        Seorang ahli sejarah Mesir di Universitas New York, namanya Patricia Blackwell mempunyai hipotesa, bahwa obelisk yang didirikan oleh orang Mesir mengambil inspirasi dari fenomena alam yang terjadi pada waktu matahati terbit. tenggelam, yang berupa “pilar matahari”. Mungkin oleh sebab itu, pada jaman dahulu orang Mesir mengkaitkannya dengan Dewa Matahari.

        Selanjutnya kita ketahui secara objektif bahwa pembangunan ‘tugu’ obelisk ini bukan hanya monopoli orang Mesir, dan maksud pembangunannya-pun bukan untuk menghormati dewa matahari. Banyak sekali kota-kota di dunia yang juga mempunyai tugu semacam ini, termasuk juga di antaranya Tugu Monas di Jakarta.

        Maka walaupun Roma terkenal dengan tugu-tugu -termasuk diantaranya yang di lapangan gereja St. Petrus- tentu tidak berarti bahwa Gereja Katolik menyembah dewa matahari, sama seperti juga bangsa Indonesia punya Monas, tidak berarti kita menyembah dewa matahari. Yang ingin disampaikan kemungkinan adalah prinsip bahwa tugu obelisk ini mengingatkan kita akan makna “simbol terang”, yang pada bangsa Mesir kuno dihubungkan dengan matahari. Bagi Gereja Katolik, Terang yang ingin disampaikan sudah jelas adalah Terang Kristus. Inilah yang menjadi pesan dalam kalimat pertama Lumen Gentium 1, (Konsili Vatikan ke II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja):

        “TERANG PARA BANGSALAH Kristus itu. Maka Konsili suci ini, yang terhimpun dalam Roh Kudus, ingin sekali menerangi semua orang dalam cahaya Kristus, yang bersinar pada wajah Gereja, dengan mewartakan Injil kepada semua makhluk (Lih. Mrk 16:15)…..”

        Maka keberadaan tugu “obelisk” di Roma, tidak berkaitan dengan makna obelisk menurut kebudayaan Mesir, karena sudah diberi makna baru, yaitu untuk mengingatkan bahwa Kristus adalah Terang Dunia, dan Gereja Katolik, melanjutkan karya Kristus di dunia, untuk membawa Terang Kristus itu kepada dunia.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply