Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi

Doa Pembukaan

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,

Ya Allah Tritunggal Maha Kudus, kami memuji nama-Mu dan keajaiban kasih-Mu yang Engkau nyatakan di dalam Kristus Putera-Mu yang telah wafat dan bangkit bagi kami. Di dalam Kristuslah, kami mengenal kedalaman misteri kehidupan-Mu, yang adalah KASIH ilahi. Berikanlah kepada kami, ya Tuhan, rahmat pengertian akan misteri kasih-Mu itu, agar kami dapat memuliakan Engkau dan menyembah kesatuan Kasih Ilahi-Mu. Semoga oleh kuasa-Mu, hati kami dapat terbuka untuk melihat betapa besar dan dalamnya misteri Kasih itu. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.

Kesalahan persepsi dan tentang Trinitas (Allah Tritunggal Maha Kudus).

Banyak orang yang mempertanyakan ajaran tentang Trinitas, bahkan banyak orang yang bukan Kristen mengatakan bahwa orang Kristen percaya akan tiga Tuhan. Tentu saja hal ini tidak benar, sebab iman Kristiani mengajarkan Allah yang Esa. Namun bagaimana mungkin Allah yang Esa ini mempunyai tiga Pribadi? Untuk memahami hal ini memang diperlukan keterbukaan hati untuk memandang Allah dari sudut pandang yang mengatasi pola berpikir manusia. Jika kita berkeras untuk membatasi kerangka berpikir kita, bahwa Allah harus dapat dijelaskan dengan logika manusia semata-mata, maka kita membatasi pandangan kita sendiri, sehingga kehilangan kesempatan untuk melihat gambaran yang lebih luas tentang Allah. Jika kita berpikir demikian, kita bagaikan, maaf, memakai ‘kacamata kuda’: Kita mencukupkan diri kita dengan pandangan Allah yang logis menurut pikiran kita dan tanpa kita sadari kita menolak tawaran Allah agar kita lebih dapat mengenal DiriNya yang sesungguhnya.

Dari mana kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah Tritunggal?

Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal. Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun pada akhirnya harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”. ((St. Agustinus, sermon. 52, 6, 16, seperti dikutip dalam KGK 230.)) Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti.

Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis. Penjelasan yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun sebenarnya tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.

Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari, segitiga, maupun kopi susu.

Dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Gereja

Yesus menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9). Di dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa (lih. Yoh 17: 21). Dengan demikian Yesus menyatakan Diri-Nya sama dengan Allah: Ia adalah Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri, tentang ke-Allahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, yaitu pada waktu pembaptisan Yesus (lih. Luk 3: 22) dan pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. Mat 17:5).

Yesus juga menyatakan keberadaan Diri-Nya yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia (lih. Yoh 17:5). Kristus adalah sang Sabda/ Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan (Yoh 1:1-3). Tidak mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan Allah sendiri.

Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebutNya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (lih. Yoh 15:26). Roh ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (lih. Yoh 14:6). Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus dalam pesan terakhir-Nya sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Mat 28:18-20).

Selanjutnya, kita melihat pengajaran dari para Rasul yang menyatakan kembali pengajaran Yesus ini, contohnya, Rasul Yohanes yang mengajarkan bahwa Bapa, Firman (yang adalah Yesus Kristus), dan Roh Kudus adalah satu (lih 1 Yoh 5:7); demikian juga pengajaran Petrus (lih. 1 Pet:1-2; 2 Pet 1:2); dan Paulus (lih.  1Kor 1:2-10; 1Kor 8:6; Ef 1:3-14). Rasul Paulus

Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja

Para Rasul mengajarkan apa yang mereka terima dari Yesus, bahwa Ia adalah Sang Putera Allah, yang hidup dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Iman akan Allah Trinitas ini sangat nyata pada Tradisi umat Kristen pada abad-abad awal.

1. St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99):
“Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?” ((St. Clement of Rome, Letter to the Corinthians, chap. 46, seperti dikutip oleh John Willis SJ, The Teachings of the Church Fathers, (San Francisco, Ignatius Press, 2002, reprint 1966), p. 145))

2. St. Ignatius dari Antiokhia (50-117) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus. ((St. Ignatius of Antiokh, Letter to the Ephesians, Chap 9, Ibid., p. 146))

“Ignatius, juga disebut Theoforus, kepada Gereja di Efesus di Asia… yang ditentukan sejak kekekalan untuk kemuliaan yang tak berakhir dan tak berubah, yang disatukan dan dipilih melalui penderitaan sejati oleh Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.” ((St. Ignatius, Letter to the Ephesians, 110))

“Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, telah dikandung oleh Maria seturut rencana Tuhan: dari keturunan Daud, adalah benar, tetapi juga dari Roh Kudus.” ((ibid., 18:2)).

“Kepada Gereja yang terkasih dan diterangi kasih Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak Dia yang telah menghendaki segalanya yang ada.” ((St. Ignatius, Letter to the Romans, 110))

3. St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.” ((St. Polycarp, Ibid., 146))

4. St. Athenagoras (133-190):
“Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, –Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.” ((St. Athenagoras, A Plea for Christians, Chap. 24, ibid., 148))

5. Aristides sang filsuf [90-150 AD] dalam The Apology
“Orang- orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus. ((Aristides, Apology 16 [A.D. 140]))

6. St. Irenaeus (115-202):
“Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.” (( St. Irenaeus, Against Heresy, Bk. 4, Chap.20, Ibid., 148))

“Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan, Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya; dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi, ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi ….” ((St. Irenaeus, Against Heresies, I:10:1 [A.D. 189])).

“Namun demikian, apa yang tidak dapat dikatakan oleh seorangpun yang hidup, bahwa Ia [Kristus] sendiri adalah sungguh Tuhan dan Allah … dapat dilihat oleh mereka yang telah memperoleh bahkan sedikit bagian kebenaran” ((St. Irenaeus, ibid., 3:19:1)).

7. St. Clement dari Alexandria [150-215 AD] dalam Exhortation to the Heathen (Chapter 1)
“Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita -karena Ia ada di dalam Allah- dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita” ((St. Clement, Exhortation to the Greeks 1:7:1 [A.D. 190])).

“Dihina karena rupa-Nya namun sesungguhnya Ia dikagumi, [Yesus adalah], Sang Penebus, Penyelamat, Pemberi Damai, Sang Sabda, Ia yang jelas adalah Tuhan yang benar, Ia yang setingkat dengan Allah seluruh alam semesta sebab Ia adalah Putera-Nya.” ((ibid., 10:110:1)).

8. St. Hippolytus [170-236 AD] dalam Refutation of All Heresies (Book IX)
“Hanya Sabda Allah [yang] adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga Allah, menjadi substansi Allah. ((St. Hippolytus, Refutation of All Heresies 10:33 [A.D. 228]))

“Sebab Kristus adalah Allah di atas segala sesuatu, yang telah merencanakan penebusan dosa dari umat manusia …. ((ibid., 10:34)).

9. Tertullian [160-240 AD] dalam Against Praxeas
“Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.” ((Tertullian, Against Praxeas 13:6 [A.D. 216])).

10. Origen [185-254 AD] dalam De Principiis (Book IV)
“Meskipun Ia [Kristus] adalah Allah, Ia menjelma menjadi daging, dan dengan menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah.” ((Origen, The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D. 225])).

11. Novatian [220-270 AD] dalam Treatise Concerning the Trinity
“Jika Kristus hanya manusia saja, mengapa Ia memberikan satu ketentuan kepada kita untuk mempercayai apa yang dikatakan-Nya, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Bukankah Ia menghendaki agar diterima sebagai Allah juga? Sebab jika Ia tidak menghendaki agar dipahami sebagai Allah, Ia sudah akan menambahkan, “Dan manusia Yesus Kristus yang telah diutus-Nya,” tetapi kenyataannya, Ia tidak menambahkan ini, juga Kristus tidak menyerahkan nyawa-Nya kepada kita sebagai manusia saja, tetapi satu diri-Nya dengan Allah, sebagaimana Ia kehendaki agar dipahami oleh persatuan ini sebagai Tuhan juga, seperti adanya Dia. Karena itu kita harus percaya, seusai dengan ketentuan tertulis, kepada Tuhan, satu Allah yang benar, dan juga kepada Ia yang telah diutus-Nya, Yesus Kristus, yang, …tidak akan menghubungkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa, jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah juga. Sebab [jika tidak] Ia akan memisahkan diri-Nya dari Dia [Bapa], jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah.” ((Novatian, Treatise Concerning the Trinity 16 [A.D. 235])).

12. St. Cyprian of Carthage [200-270 AD] dalam Treatise 3
“Seseorang yang menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait Roh Kudus-Nya …” ((St. Cyprian, Letters 73:12 [A.D. 253])).

13. Lactantius [290-350 AD] dalam The Epitome of the Divine Institutes
“Ia telah menjadi baik Putera Allah di dalam Roh dan Putera manusia di dalam daging, yaitu baik Allah maupun manusia. ((Lactantius, Divine Institutes 4:13:5 [A.D. 307]))

“Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin, ketika kita berkata bahwa kita menyembah hanya satu Tuhan, namun kita menyatakan bahwa ada dua, Allah Bapa dan Allah Putera, di mana penyebutan ini telah menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam kesalahan yang terbesar … [yang berpikir] bahwa kita mengakui adanya Tuhan yang lain, dan bahwa Tuhan yang lain itu adalah yang dapat mati …. [Tetapi] ketika kita bicara tentang Allah Bapa dan Allah Putera, kita tidak bicara tentang Mereka sebagai satu yang lain dari yang lainnya, ataupun kita memisahkan satu dari lainnya, sebab Bapa tidak dapat eksis tanpa Putera dan Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa.” ((Lactantius, (ibid., 4:28–29))

14. St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda… Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya dengan Putera… tetapi kodreat/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya adalah milik Anak-Nya.” ((St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n. 3:3, in NPNF, 4:395.))

15. St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal. ” ((St. Augustine, On The Trinity, seperti dikutip oleh John Willis SJ, Ibid., 152.))

Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan Trinitas, yaitu:
1) seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.
2) trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.
3) ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.

Khusus untuk point yang ketiga ini kita dapat melihat contoh lain sebagai berikut: jika kita mengingat sesuatu, misalnya menyanyikan lagu kesenangan, maka terdapat 3 hal yang terlibat, yaitu, kita mengingat lagu itu dan liriknya dalam memori/ ingatan kita, kita mengetahui atau memikirkan dahulu tentang lagu itu dan kita menginginkan untuk melakukan hal itu (mengingat, memikirkan-nya) karena kita menyukainya. Nah, ketiga hal ini berbeda satu sama lain, namun saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan ada dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa menyanyikan lagu itu, kalau kita tidak mengingatnya dalam memori; atau kalau kita tidak mengetahui lagu itu sama sekali, atau kalau kita tidak ingin mengingatnya, atau tidak ingin mengetahui dan menyanyikannya.

Pengajaran Gereja: Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus

Syahadat ‘Aku Percaya’ menyatakan bahwa rahasia sentral iman Kristen adalah Misteri Allah Tritunggal. Maka Trinitas adalah dasar iman Kristen yang utama ((Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 234, 261.)) yang disingkapkan dalam diri Yesus. Seperti kita ketahui di atas, iman kepada Allah Tritunggal telah ada sejak zaman Gereja abad awal, karena didasari oleh perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kembali oleh para murid-Nya. Jadi, tidak benar jika doktrin ini baru ditemukan dan ditetapkan pada Konsili Konstantinopel I pada tahun 359! Yang benar ialah: Konsili Konstantinopel I mencantumkan pengajaran tentang Allah Tritunggal secara tertulis, sebagai kelanjutan dari Konsili Nicea (325) ((Konsili Nicea (325): Credo Nicea: “…Kristus itu sehakekat dengan Allah Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar …”)), dan untuk menentang heresies (ajaran sesat) yang berkembang pada abad ke-3 dan ke-4, seperti Arianisme (oleh Arius 250-336, yang menentang kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa) dan Sabellianisme (oleh Sabellius 215 yang membagi Allah dalam tiga modus, sehingga seolah ada tiga Pribadi yang terpisah).

Dari sejarah Gereja kita melihat bahwa konsili-konsili diadakan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja (yang sudah berakar sebelumnya) dan menjaganya terhadap serangan ajaran-ajaran sesat/ menyimpang. Jadi yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru. Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya: sebab setiap kali Gereja ‘diserang’ oleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran Yesus kepada para Rasul. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di dalam artikel terpisah, dalam topik Sejarah Gereja.

Berikut ini adalah Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik, yang telah berakar dari jaman jemaat awal:

  1. Tritunggal adalah Allah yang satu. ((Lihat KGK 253)) Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.
  2. Ketiga Pribadi ini berbeda secara real satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan. ((Lihat KGK 254))
  3. Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah. ((Lihat KGK 255))

Jadi bagaimana kita menjelaskan Trinitas?

Kita akan mencoba memahaminya dengan bantuan filosofi. Dengan pendekatan filosofi, maka diharapkan kita akan dapat masuk ke dalam misteri iman, sejauh apa yang dapat kita jelaskan dengan filosofi. Dengan demikian, filosofi melayani teologi. Untuk menjelaskan Trinitas, pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa istilah kunci, yaitu apa yang disebut sebagai substansi/ hakekat/ kodrat dan apa yang disebut sebagai pribadi/ hypostatis. Pengertian kedua istilah ini diajarkan oleh St. Gregorius dari Nasiansa. Kedua, bagaimana menjelaskan prinsip Trinitas dengan argumentasi kenapa hal ini sudah sepantasnya terjadi atau “argument of fittingness.” Ketiga, kita dapat menjelaskan konsep Trinitas dengan argumen definisi kasih. Berikut ini mari kita lihat satu persatu.

Arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’

Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.

Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut.  Dengan demikian,  ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya. ((Lihat KGK 252.))

Argument of fittingness untuk menjelaskan Trinitas

Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi. ((Dalam bukunya “Isagoge“, pengenalan akan kategori menurut Aristoteles, Filsuf Yunani Porphyry, mengemukakan bahwa Aristoteles membagi substansi atau “substance” berdasarkan “genus” yang mengindikasikan esensi dari sesuatu dan “a specific differences” yang merupakan kategory yang lebih detail dari genus tertentu.)) Akal budi yang berada dalam jiwa manusia inilah yang menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Akal budi, yang terdiri dari intelek (intellect) dan keinginan (will) adalah anugerah Tuhan kepada umat manusia, yang menjadikannya sebagai ‘gambaran’ Allah sendiri.

Nah, intelek dan keinginan tersebut memampukan manusia melakukan dua perbuatan prinsip yang menjadi ciri khas manusia, yaitu: mengetahui dan mengasihi. Kemampuan mengetahui sesuatu tidaklah menunjukkan kesempurnaan manusia, karena kita menyadari bahwa komputer-pun dapat ‘mengetahui’ lebih banyak daripada kita, kalau dimasukkan program tertentu, seperti kamus atau ensiklopedia. Namun, yang membuat manusia istimewa adalah kerjasama antara intelek dan keinginan, jadi tidak sekedar mengetahui, tetapi dapat juga mengasihi. Jadi hal ‘mengasihi’ inilah yang menjadikannya sebagai mahluk yang tertinggi jika dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan, apalagi dengan benda-benda mati.

Kita mengenal peribahasa “kalau tak kenal, maka tak sayang“. Peribahasa ini sederhana, namun berdasarkan suatu argumen filosofi, yaitu “mengetahui lebih dahulu, kemudian menginginkan atau mengasihi.” Orang tidak akan dapat mengasihi tanpa mengetahui terlebih dahulu. Bagaimana kita dapat mengasihi atau menginginkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Sebagai contoh, kalau kita ditanya apakah kita menginginkan komputer baru secara cuma-cuma? Kalau orang tahu bahwa dengan komputer kita dapat melakukan banyak hal, atau kalaupun kita tidak memakainya, kita dapat menjualnya, maka kita akan dengan cepat menjawab “Ya, saya mau.” Namun kalau kita bertanya kepada orang pedalaman yang tidak pernah mendengar atau tahu tentang barang yang bernama komputer, maka mereka tidak akan langsung menjawab “ya”. Mereka mungkin akan bertanya dahulu, “komputer itu, gunanya apa?” Di sini kita melihat bahwa tanpa pengetahuan tentang barang yang disebut sebagai komputer, orang tidak dapat menginginkan komputer.

Nah, berdasarkan dari prinsip “seseorang tidak dapat memberi jika tidak lebih dahulu mempunyai” ((Prinsip ini sering disebut sebagai salah satu Prinsip yang tidak perlu dibuktikan (‘self-evident principles’), karena memang demikian halnya.)) maka Tuhan yang memberikan kemampuan pada manusia untuk mengetahui dan mengasihi, pastilah memiliki kemampuan tersebut secara sempurna. Jika kita mengetahui sesuatu, kita mempunyai konsep tentang sesuatu tersebut di dalam pikiran kita, yang kemudian dapat kita nyatakan dalam kata-kata. Maka, di dalam Tuhan, ‘pengetahuan’ akan Diri-Nya sendiri dan segala sesuatu terwujud di dalam perkataan-Nya, yang kita kenal sebagai “Sabda/ Firman”; dan Sabda ini adalah Yesus, Sang Allah Putera.

Jadi, di dalam Pribadi Tuhan terdapat kegiatan intelek dan keinginan yang terjadi secara sekaligus dan ilahi, ((Lihat KGK 259)) yang mengatasi segala waktu, yang sudah terjadi sejak awal mula dunia. Kegiatan intelek ini adalah Allah Putera, Sang Sabda (“The Word“). Rasul Yohanes mengatakan pada permulaan Injilnya, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).

Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka ‘mengasihi’ di sini melibatkan pribadi yang lain, yang menerima kasih tersebut. Kalau hal ini benar untuk manusia pada tingkat natural, maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang ‘terisolasi’ sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (Sang Sabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.

Argumen dari definisi kasih.

Seperti telah disebutkan di atas, kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan betul- betul sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.

Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung pada manusia yang kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah masuk di akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi, dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus berada sebagai Allah Putera, yang dapat memberikan derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini membuahkan Roh Kudus. ((Roh Kudus adalah buah dari operasi kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera. Ini sebabnya bahwa setelah Pentakosta terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib. Bapa mengasihi Putera-Nya, dan Putera-Nya menunjukkan kasih-Nya dengan sempurna di kayu salib. Buah dari pertukaran dan kasih yang mengorbankan diri inilah yang menghasilkan Roh Kudus. Sehingga dalam ibadat iman yang panjang (Nicene Creed), kita melihat pernyataan “….Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putera….“)) Dengan hubungan kasih yang sempurna tesebut kita mengenal Allah yang pada hakekatnya adalah KASIH. Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita, ((John Paul II, Encyclical Letter on The Redeemer Of Man: Redemptor Hominis (Pauline Books & Media, 1979), no. 10 – Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa kasih yang sempurna adalah kasih yang dapat memberikan diri sendiri kepada orang lain. Dengan demikian, adalah “sesuai atau fitting” bahwa Tuhan, melalui Putera-Nya menjadi contoh yang snempurna bagaimana menerapkan kasih. Dengan demikian ini juga membuktikan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang sendirian.)) agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.

Trinitas adalah suatu misteri, dan Tuhan menginginkan kita berpartisipasi di dalam-Nya agar dapat semakin memahami misteri tersebut

Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah suatu misteri ((KGK 237.)), meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada manusia. Namun demikian, kita dapat mulai memahaminya dengan mempelajari dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci, pengajaran para Bapa Gereja dan Tradisi Suci yang ditetapkan oleh Magisterium (seperti hasil Konsili), juga dengan bantuan filosofi dan analogi seperti diuraikan di atas. Selanjutnya, pemahaman kita akan kehidupan Trinitas akan bertambah jika kita mengambil bagian di dalam kasih Trinitas itu, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.

Di sinilah pentingnya peran Sakramen dan doa: Sakramen Pembaptisan merupakan rahmat awal, ‘gerbang’ yang memungkinkan kita mengambil bagian dalam kehidupan ilahi (lihat artikel: Sudahkah kita diselamatkan?). Kemudian, Sakramen Ekaristi mengambil peranan utama, karena di dalamnya kita menyambut Kristus sendiri, dan dengan demikian kita mengambil bagian di dalam kehidupan Allah Tritunggal melalui Yesus (baca artikel: Ekaristi: Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani). Di sinilah juga pentingnya peran penghayatan akan Sakramen Perkawinan, sebab di dalam Perkawinan, kita melihat bagaimana hubungan kasih antara suami dan istri yang direncanakan oleh Allah untuk menjadi gambaran akan kasih Allah Tritunggal (silakan baca: Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik). Demikian pula, kasih Allah Tritunggal pula yang mengilhami Sakramen Tahbisan Suci, karena melalui Tahbisan Suci, para imam dipanggil untuk meniru teladan hidup Yesus, terutama dalam hal mengasihi, yaitu dengan memberikan diri kepada Allah dan sesama secara total. Memang, pada dasarnya sakramen-sakramen adalah ‘sarana’ yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya (mohon dibaca: Sakramen: apa pentingnya dalam kehidupan kita?, terutama pada sub judul: Akibat utama penerimaan Sakramen). Akhirnya, kitapun perlu memeriksa kehidupan doa kita, apakah kita setia dalam menyediakan waktu untuk Tuhan dan menghayati kesatuan denganNya di dalam kehidupan rohani kita? Bagaimana sikap kita terhadap sakramen- sakramen yang dikaruniakan Allah? Adakah kita cukup menghargai dan merindukannya? Pertanyaan ini memang kembali kepada diri kita masing-masing.

Kesimpulan

Melihat begitu dalamnya kehidupan batin Allah, hati kita melimpah dengan ucapan syukur. Sebab kehidupan batin tersebut tidak hanya ‘tertutup’ bagi Allah sendiri, namun Ia ‘membuka’ kehidupan-Nya agar kita dapat mengambil bagian di dalamnya. Ya, Allah sesungguhnya tidak ‘membutuhkan’ kita, sebab kasihNya telah sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Namun justru karena kasih yang sempurna itu, Ia merangkul kita semua, jika kita mau menanggapi panggilan-Nya. Mari bersama kita berjuang, agar lebih menghargai rahmat Allah yang terutama dinyatakan di dalam sakramen-sakramen, terutama sakramen Ekaristi, sehingga kita dapat semakin menghayati persatuan kita dengan Kristus, yang membawa kita kepada persatuan dengan Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dengan persatuan dengan Allah ini, kita mencapai puncak kehidupan spiritualitas, di mana kita dimampukan oleh Allah untuk mengasihi Dia dan sesama.

Doa Penutup

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,

Ya Allah, kami bersyukur untuk misteri kehidupan-Mu dalam Tritunggal Maha Kudus. Di dalam kehidupan batinMu, Engkau telah menyingkapkan kepada kami kedalaman kasih-Mu yang tiada batasnya. Ampunilah kami, jika kami sering tidak menyadari panggilan-Mu untuk mengambil bagian di dalam misteri kasih-Mu itu. Kami mohon, ya Tuhan, bantulah kami dengan rahmat-Mu agar kami dapat untuk turut mengambil bagian di dalam misteri Kasih itu, dengan mengambil bagian di dalam sakramen-sakramen yang Engkau berikan, dan bantulah aku untuk lebih setia di dalam kehidupan doaku, agar dengan kekuatan yang Engkau berikan, Engkau memampukan kami untuk mengasihi Engkau dan sesama kami. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.

Konsili Konstantinopel I (359): menegaskan kembali Credo Nicea. Konsili ini mengembangkan Credo Nicea, yang bersangkutan dengan Roh Kudus, sebagai, “Allah, Pemberi kehidupan, yang berasal dari Bapa, bersama Bapa dan Putera, disembah dan dimuliakan.” Seperti Allah Putera, Roh Kudus adalah satu dan sama hakekatnya (ousia).

4.4 29 votes
Article Rating
227 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Thomas Soeharto 7 Maret 1950
Thomas Soeharto 7 Maret 1950
10 years ago

Terima kasih & Puji Tuhan untuk Pencetus dan Team Pelaksana “pelayanan interaksi situs” Katolisitas ini.Tritunggal Maha Kudus memang suatu “misteri Ilahi” yang merupakan anugerah Nya kepada siapa yang mengimani. Buat saya adalah “mantra” manakala saya merasa “tidak dapat total berbuat sesuatu” / menjalani perbuatan apapun dengan rasa “kasih” (ada rasa negatif, tidak rela,tidak pantas,enggan dll) , saat itu saya membuat “tanda salib” …dengan nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, Amin….Tanda salib adalah ritual kita ( hanya orang Katolik) yang paling sederhana yang paling sering kita lakukan. Dan ritual yang selalu dipakai sebagai “pembuka” dan “penutup” doa / ibadat. Sangat setuju… Read more »

alexander wang
alexander wang
10 years ago

Pak Stef dan Ibu Inggrid yang saya hormati Saya sangat suka dengan penjelasan Tritunggal menggunakan prinsip Allah adalah Kasih. Menurut pemahamanku ini adalah cara yang paling baik sejauh ini. Memang benar bahwa analogi tidak pernah menggambarkan dengan sempurna Pribadi yang diwakili, ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Jika memang benar hubungan Kasih Allah Bapa dengan Allah Putra begitu sempurna sehingga membuahkan pribadi Ketiga yaitu Roh Kudus, mengapa Allah Bapa tidak mengasihi Roh Kudus sehingga membuahkan Pribadi Ke4. dan kenapa Allah Bapa tidak mengasihi Pribadi Ke4 hingga membuahkan Pribadi Ke5. dan kenapa Allah Bapa tidak mengasihi Pribadi Ke5 membuahkan Pribadi Ke6.… Read more »

Stefanus Tay
Admin
Reply to  alexander wang
10 years ago

Shalom Alexander Wang, Terima kasih atas komentar anda tentang Trinitas. Seperti yang anda juga tuliskan, tidak ada satu analogipun yang secara sempurna dapat menggambarkan kehidupan interior Allah, yaitu dalam Tritunggal Maha Kudus. Kita harus mengingat bahwa ketiga Pribadi ini ada sepanjang segala abad dan ketiganya adalah murni spiritual. Definisi kasih adalah salah satu untuk menjelaskan hubungan ketiga Pribadi ini. Dalam tanya-jawab ini – silakan klik, saya mencoba melihat bahwa dalam hubungan kasih ada tiga hal yang membedakan secara esensial, yaitu: (1) yang memberi, (2) yang menerima, (3) dan apa yang diberi dan apa yang diterima. Dengan penjelasan ini, maka kita… Read more »

byur77
byur77
10 years ago

Dengan hormat. ada sebuah pertanyaan yang masih susah saya jawab sendiri, karena itu mohon bantuannya. Pertanyaan : 1. Apakah Bapa, Kristus dan Roh Kudus saling bergantung atau independen? 1.A. Jika saling bergantung berarti Bapa, Kristus, dan Roh Kudus tidak maha kuasa? Ataukah memang yang satu lebih kuasa dari pada yang lain? (karena ada ayat yang menyatakan yesus memerintahkan Roh Kudus) 1.B. Jika saling Independen, apa yang terjadi jika ada yang tidak sekehendak (se-ide), Misal Bapa ingin api panas tetapi Roh kudus ingin api dingin? 2. Jika Allah Tritunggal, apakah Bapa, Putra dan Roh Kudus punya kemampuan, pengetahuan dan kekuasaan yang… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  byur77
10 years ago

Shalom Byur 77, Agaknya pertanyaan Anda agak rancu, sebab sudah diwarnai oleh praduga bahwa Allah Bapa, Kristus dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi yang terpisah/ berdiri sendiri [sehingga bisa saling bergantung atau saling independen], padahal tidak demikian. Ketiga Pribadi Allah itu adalah Satu Allah, sehingga kehendak-Nya adalah satu dan sama. Tidak ada yang lebih kuasa daripada yang lain, sebab Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah satu hakekatnya. Dalam kesatuan ini, tidak mungkin terjadi seperti analogi yang Anda katakan, “Bapa ingin api panas tetapi Roh kudus ingin api dingin”. Jika dalam perikop doa Yesus di taman Getsemani sebelum sengsara-Nya, Yesus… Read more »

byur77
byur77
Reply to  Ingrid Listiati
9 years ago

dear Katolisitas, jika Allah Bapa, Putera, dan Roh kudus punya kemampuan, pengetahuan dan kekuasaan yang sama, mengapa dalam markus 13:32 Yesus menyatakan bahwa yang tahu tentang kapan hari kiamat adalah Bapa saja, yang lain tidak dan bahkan Yesus (Putera) sendiri juga tidak tahu? mohon penjelasannya. thank b4

[dari katolisitas: Silakan melihat penjelasan ini – silakan klik, yang menjelaskan bahwa Yesus sebenarnya tahu tentang hari dan saatnya.]

Antonius
Antonius
10 years ago

Yth Ibu/Bapak Team Katolisitas.org Saya ingin menanyakan sebuah hal yg menurut sy berbahaya dan mengganggu pikiran saya yg terkait dgn Tri Tunggal Mahakudus kita. Sblmnya mohon maaf bila hal ini sudah pernah ditanyakan. Baru saja sy membaca sebuah forum yg menguraikan bahwa wujud Trinitas dalam Katolik diciptakan dari konsep Trinitas yg mjd ajaran kepercayaan bangsa2 purba dulu, yaitu; Mesir, Yunani, Romawi, India. Forum tsb menjelaskan bahwa Trinitas mmg diciptakan untuk merangkul bangsa2 penyembah dewa matahari tsb. Disitu juga dikatakan bahwa utk merangkul rakyat Babylonia yg meyakini bahwa roh “tuhan” bersemayam dalam pohon cemara lalu pohon tsb disembah, maka ditetapkanlah bahwa… Read more »

Mario Paulus
Mario Paulus
11 years ago

mau tau ajaran tritunggal yang orthodox dong….
makasi

[Dari Katolisitas: Silakan klik di sini untuk membaca tentang ajaran Tritunggal yang orthodoks (sesuai dengan aslinya) menurut Gereja Katolik]

stanli supardi
stanli supardi
11 years ago

Salam Pak Stef sy mau tanya: Apakah Allah Bapa yang menciptakan langit dan bumi sama dengan Tuhan kita Yesus Kristus???

Stefanus Tay
Admin
Reply to  stanli supardi
11 years ago

Shalom Stanli Supardi, Terima kasih atas pertanyaannya tentang penciptaan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa pada waktu penciptaan, maka hanya Allah Bapa saja yang melakukannya. Untuk mengatakan bahwa hanya Allah Bapa yang melakukan penciptaan, Allah Putera penebusan, dan Allah Roh Kudus pengudusan, secara kaku akan menyebabkan seseorang terjerumus pada modalisme. Modalisme (Modalism) adalah bidaah yang dimulai Sabelius (abad 3), yang salah satu prinsipnya adalah mereduksi konsep Trinitas menjadi tiga mode (modes). Oleh karena itu, kita harus melihat bahwa Allah Bapa dan Allah Putera dan Allah Roh Kudus – dalam persatuan abadi Tritunggal Maha Kudus – melakukan penciptaan, penebusan dan pengudusan bersama-sama.… Read more »

Stanli supardi
Stanli supardi
Reply to  Stefanus Tay
11 years ago

Maaf pa. Stef. jawaban Bapa mengenai pertanyaan saya, masih kurang dapat saya pahami, sy baru berumur 15 tahun. Adakah jawaban yang lebih simple untuk dapat saya pahami? Trima kasih .

Stefanus Tay
Admin
Reply to  Stanli supardi
11 years ago

Shalom Stanli, Saya minta maaf, kalau jawabannya belum dapat dimengerti. Secara prinsip, kita harus mengingat bahwa apa yang dilakukan oleh Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus senantiasa dalam konteks Tritunggal Maha Kudus, karena ke-tiga Pribadi tersebut tidak pernah terpisahkan, baik pada waktu penciptaan, penebusan maupun pengudusan. Namun, karena Allah Putera dan Allah Roh Kudus belum dinyatakan secara eksplisit, maka orang sering mengatakan bahwa penciptaan dilakukan oleh Allah Bapa. Namun, kalau kita menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh Allah Bapa juga dilakukan oleh Allah Putera dan Allah Roh Kudus, maka kita juga dapat menyatakan bahwa penciptaan juga dilakukan oleh… Read more »

stanli supardi
stanli supardi
Reply to  Stefanus Tay
11 years ago

Slm Pak Stef.
trimakasih atas jawabannya yang lalu,
skrg saya mau bertanya apakah pembacaan Alkitab setiap hari di Geraja selama 1 tahun telah mencakup seluruh isi kitab suci perjanjian lama dan perjanjian baru??? trimakasih pak Stef

Stefanus Tay
Admin
Reply to  stanli supardi
11 years ago

Shalom Stanli Supardi, Terima kasih atas pertanyaannya. Saya pernah mengulasnya di artikel ini – silakan klik, dimana saya menuliskan: Dalam prakteknya saat ini, setelah pembukaan, dilanjutkan dengan Liturgi Sabda yang terdiri dari: (1) Bacaan I, (2) Mazmur tanggapan, (3) Bacaan II, (4) Alleluya/bait pengantar Injil, (5) Injil, (6) Aklamasi sesudah Injil, (7) Homili, (8) Syahadat, (9) Doa Umat. Pengaturan bacaan dibagi menjadi dua. Untuk bacaan hari Minggu dan hari raya diberikan 3 bacaan (1 bacaan PL, 1 bacaan PB, 1 Injil), yang dibagi menjadi tahun A, B, C. Tahun C dihitung kalau tahun saat ini dapat dibagi 3. Sebagai contoh,… Read more »

Isa Inigo
Isa Inigo
Reply to  Stanli supardi
11 years ago

Salam Stanli Supardi. Coba buka Kitab Sucimu, buka kitab Kejadian . Lihat Bab 1:1-2, bacalah : Allah menciptakan langit dan bumi. Roh Allah ikut di situ. Roh Allah yg kita kenal dg Roh Kudus melayang-layang. Adegan berikutnya, . yak… Allah berFIRMAN… Nah, Siapakah Firman Allah? Kristus. Firman ini kelak menjadi manusia, kan? Itulah Kristus. Naaah… Stanli, saya senang kamu masih remaja tapi sudah mau serius belajar iman Katolik. Semoga Allah memanggilmu menjadi orang berguna bagi Gereja Katolik dan masyarakat. Siapa tahu terpanggil jadi imam, atau jadi tokoh awam seperti Pak Stef. Salam saya, kakek dari Semarang: Isa inigo

Stanli supardi
Stanli supardi
Reply to  Isa Inigo
11 years ago

kakek terimakasih atas penjelasannya. Saya sdh cukup mengerti. kek trimaka kasih juga atas perhatian kakek. Smoga kakek sehat selalu GBU always :D

Aquilino Amaral
Aquilino Amaral
11 years ago

Salam bu Ingrid, saya ada lagi pertanyaan tentang Kristologi. Pertanyaan saya adalah: Yesus bertumbuh di Nazaret dan dibesarkan di sana, dan mengajar segala sesuatu kepada orang Yahudi maupun non-Yahudi. Dan Yesus bersama-sama dengan para muridNya serta hidup bersama dengan mereka sebelum wafat, bangkit dan naik ke surga. Namun selama 40 hari setelah Tuhan Yesus bangkit masih ada didunia ini. Apakah Yesus yang tubuhnya sudah dimuliahkan masih tidur dan makan seperti dulu sebelum Ia wafat, dan bangkit? ataukah setelah Tuhan Yesus bangkit lingkungan mengalami perubahan bukan seperti dulu? Di injil tidak menyebutkan secara detail kehidupan Yesus setelah bangkit. hanya menampakan diri… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Aquilino Amaral
11 years ago

Shalom Aquilino, Silakan anda membaca artikel tentang Kebangkitan Badan, silakan klik. Secara umum para Bapa Gereja mengajarkan bahwa tubuh akan bangkit lagi dengan integritas yang lengkap, bebas dari distorsi, dari bentuk yang buruk maupun cacat. St. Thomas Aquinas mengajarkan, “Orang akan bangkit lagi dengan kemungkinan terbesar akan kesempurnaan alami,” sehingga artinya, [tubuh yang bangkit itu] di tahap usia yang dewasa (Summa Theology, Suppl. 81.1). Integritas dari tubuh setelah kebangkitan juga mensyaratkan organ- organ tubuh, dan pembedaan jenis kelamin. Namun demikian fungsi- fungsi vegetatif (makan dan berkembang biak) tidak ada lagi. Sebab dikatakan dalam Mat 22:30, “Mereka akan menjadi seperti malaikat… Read more »

Budi Darmawan Kusumo
Budi Darmawan Kusumo
11 years ago

Syalom Tim Katolisitas, Kita tahu bahwa selama di Perjanjian Lama itu Tuhan berbicara pada Bangsa Israel, nah yang saya tanyakan itu sebenarnya yang berbicara dengan bangsa Israel adalah Allah Bapa atau Allah Putera ? (berhubung saya tidak punya alkitab bahasa yunani) sering kali saya dengar katanya nama YHWH itu dipake di perjanjian lama sebanyak 5000 kali lebih. Sedangkan di alkitab Bahasa Indonesia, seringkali Tuhan berfirman dengan menggunakan kata – kata ‘demikianlah FIRMAN Tuhan’. Nah kita tahu bahwa Firman Tuhan adalah Yesus sendiri. Kalau menurut pemikiran saya sih, perjanjian lama itu yang ngomong adalah Allah Putera ( sabda dari YHWH )… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Budi Darmawan Kusumo
11 years ago

Shalom Budi Darmawan, Silakan anda terlebih dahulu membaca jawaban Stef atas pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan anda, silakan klik. Dengan penghayatan akan kesatuan Allah Trinitas, maka sesungguhnya kita tidak akan mempertanyakan siapakah di antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, yang kedudukannya “lebih tinggi”. Karena ketiganya Satu hakekatnya, maka tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, atau lebih kudus dan lebih kurang kudus. Allah yang menyebut diri-Nya YHWH adalah sehakekat dengan Sang Firman itu yang adalah Kristus. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu… Read more »

Aquilino Amaral
Aquilino Amaral
11 years ago

Salam bu Inggrid, Saya telah membaca artikel tentang Trinitas, dan telah memahaminy dengan baik walaupun sulit untuk menjelaskan kepada orang lain dengan bahasa yang sama, namun saya dapat menjelaskan dengan bahasa ku sendiri kepada orang lain. Namun saya ingin bertanya, bahwa tentunya sebelum dunia dijadikan Yesus (firman telah ada) yang bersama-sama dengan Allah telah mencipatkan segala sesuatu. Setelah firman itu menjadi manusia dan diam didalam dunia bersama-sama dengan manusia dan naik ke surga. yang menjadi pertanyaan saya adalah, Apakah Tuhan Yesus yang duluNya Sebagai Firman ini setelah naik ke surga akan di sebut sebagai Firman? atau Yesus tidak lagi di… Read more »

Stefanus Tay
Admin
Reply to  Aquilino Amaral
11 years ago

Shalom Aquilino Amaral, Terima kasih atas pertanyaannya. Memang tidak mudah untuk menjelaskan Trinitas. Seperti yang dikatakan di Yoh 1:1 bahwa Firman itu telah ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah serta dari Yoh 8:58 yang mengatakan bahwa sebelum Abraham jadi, Yesus telah ada, maka Yesus telah ada bersama-sama dengan Bapa dan bersama dengan Roh Kudus melakukan segala sesuatunya bersama-sama. Dengan demikian, penciptaan, penebusan dan pengudusan dilakukan secara bersama-sama oleh Tritunggal Maha Kudus. Bagaimana dengan kodrat Yesus setelah naik ke Sorga? Dikatakan di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 668): “Kristus telah-wafat dan hidup kembali,supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas… Read more »

Antonius Widya Sasongko
Antonius Widya Sasongko
11 years ago

Shalom pengelola Katolisitas,
Saya ingin menanyakan perihal ajaran Trinitas, apakah telah dikenal oleh orang-orang Yahudi baik tersirat maupun tersurat sebelum masa Yesus, karena mereka mengenal istilah-istilah “Anak Allah”, “Anak manusia”, ” Mesias”, dimana mereka mempunyai ekspetasi yang tinggi terhadap Mesias dan meragukan Yesus adalah Mesias dan Anak Allah, juga beberapa kali Yesus menyatakan bahwa Dialah “Anak Manusia” istilah yang akrab di telinga orang-orang Yahudi. Mohon maaf kalau pertanyaan ini sudah pernah dibahas. Terima kasih

Ingrid Listiati
Reply to  Antonius Widya Sasongko
11 years ago

Shalom Antonius Widya, Nampaknya orang- orang yang beragama Yahudi (Judaism), baik dahulu maupun sampai sekarang belum mengenal konsep Trinitas, sebab mereka tidak percaya bahwa Kristus adalah Putera/ Anak Allah dan karena itu Yesus adalah Allah sendiri (karena hakekat anak selalu sama dengan hakekat bapanya), dan berada di dalam kesatuan Allah Trinitas. Justru karena orang Yahudi tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah dan menganggap Yesus menghujat Allah karena menyatakan diri-Nya sebagai Putera Allah, maka mereka menjatuhi Yesus dengan hukuman mati di kayu salib. Maka, konsep mereka tentang Mesias juga berbeda dengan konsep Mesias yang diajarkan oleh Yesus. Orang Yahudi mengharapkan Mesias… Read more »

ANDRI SUSILO
ANDRI SUSILO
11 years ago

Tuhan Allah “Segala dari Maha”, salah satunya Maha suci = tidak ada satupun ciptaan-Nya yang bisa berhadapan langsung denga-Nya, Dia adalah Roh / zat. Maha Kuasa = Kun kayafun jadi ; apapun bisa dilakukan Allah meski tidak bisa dilogika manusia karena kesangat terbatasnya akal manusia, kita diberi anugerah berupa iman sebagai wujud karya roh Tuhan sendiri Roh kudus. Maha Kasih, Pengampun & Penyayang : Tuhan sangat mengasihi setiap ciptaan-Nya termasuk manusia. Manusia berdosa, wajib masuk neraka dan tidak layak dihadapan-Nya, tetapi dilayakkan oleh-Nya sendiri melalui perwujudan Tuhan Yesus karena tidak ada yang bisa menebus dosa manusia selain kasih Tuhan Allah… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  ANDRI SUSILO
11 years ago

Shalom Andri, Di dalam kamus “zat” diartikan sebagai 1) “substance” atau esensi/ hakekat, 2) namun zat juga dapat berarti unsur atau bagian yang merupakan pembentuk bagian yang lain. Nah, maka pengertian yang kedua ini tidak dapat digunakan untuk menjelaskan definisi Allah, sebab Allah bukan unsur. Bahwa Kristus dimuliakan di gunung Tabor, tetapi kemudian disalibkan di gunung Golgota, itu bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk dilihat sebagai kesatuan. Dalam hal ini pandangan anda benar. Rasul Pauluspun mengajarkan demikian, sebab baginya kekuatan Allah dinyatakan oleh Kristus yang disalibkan, “…. aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah… Read more »

johnsum
johnsum
Reply to  Ingrid Listiati
11 years ago

Di dalam teologia, Putera Allah berbeda dengan Allah Putera. Di dalam KGK, saya tidak menemukan Allah Putera, yang ada hanya Putera Allah. Mengapa Anda banyak memakai Allah Putera di dalam artikel ini?

Ingrid Listiati
Reply to  johnsum
11 years ago

Shalom Johnsum, Sebenarnya Putera Allah dan Allah Putera keduanya mengacu kepada Yesus Kristus. Di Katekismus memang digunakan istilah ‘Putera Allah’ (Son of God). Sedang penggunaan kata ‘Allah Putera’ (God the Son) juga mengacu kepada Kristus sebagai Putera yang tunggal (the Son), sebagaimana kita menggunakan kata [God] the Father and the Holy Spirit> (Dikatakan dalam Mat 28:19-20: Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus). Jadi penggunaan istilah God the Son ini, hanya untuk menunjukkan keistimewaan Yesus sebagai Putera Tunggal Allah yang sehakekat dengan Allah, jika dibandingkan dengan kita umat beriman, yang melalui baptisan juga menjadi ‘son of God’ (putera Allah). Salam… Read more »

cisko kid
cisko kid
Reply to  Ingrid Listiati
10 years ago

ajaran satu tuhan tiga pribadi bertabrakan dengan

Kis 7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

Stefanus menyaksikan ada dua tuhan yaitu Yesus dan Allah yang sedang berdiri bersebelahan pada saat bersamaan …

[dari katolisitas: Dimanakah pertentangannya? Stefanus mengalami satu Allah dalam tiga Pribadi: Allah Roh Kudus, Allah Bapa dan Allah Putera.]

Cisko Kid
Cisko Kid
Reply to  cisko kid
10 years ago

Stefanus bukan MENGALAMIi satu Allah tiga pribadi tetapi MELIHAT ada dua pribadi berbeda yang sedang berdiri bersebelahan yaitu Tuhan Allah dan Yesus

Kis 7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu MELIHAT kemuliaan Allah dan Yesus BERDIRI DI SEBELAH KANAN Allah.

Apa yang disaksikan Stefanus adalah dua pribadi berbeda yaitu pribadi Tuhan Allah dan pribadi Yesus ….mereka ada DUA pribadi ….bukan SATU

Stefanus Tay
Admin
Reply to  Cisko Kid
10 years ago

Shalom Cisko, Terima kasih atas komentarnya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak ada pertentangan antara Trinitas dan ketika Stefanus mengalami tiga Pribadi dari Trinitas: dua Pribadi dilihatnya, dan satu Pribadi (Roh Kudus dialaminya), seperti yang dituliskan “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.” (Kis 7:55) Umat Kristen mempercayai Trinitas yang adalah tiga Pribadi (three persons) bukan satu; yang satu adalah hakekatnya (one substance). Kalau anda ingin memberikan argumentasi bahwa tiga Pribadi ini bertentangan dengan Satu Tuhan, maka anda harus memberikan argumentasi bahwa “hakekat” adalah sama dengan… Read more »

Bung
Bung
11 years ago

menurut saya dr ketiga unsur trinitas itu, yg berbentuk secara fisik yg di tengah, yaitu kristus, dua yg lain berbentuk abstrak (spiritual), tlg dikoreksi kl salah.

Stefanus Tay
Admin
Reply to  Bung
11 years ago

Shalom Bung,

Ketiga pribadi dalam Trinitas menjalankan fungsi penciptaan, penebusan dan pengudusan secara bersama-sama. Namun, pribadi ke dua – yaitu Allah Putera, Kristus – inilah yang masuk dalam sejarah manusia, mengambil kodrat manusia, sehingga Yesus mempunyai dua kodrat, yaitu sungguh Allah dan sungguh manusia. Karena Yesus mengambil kodrat manusia, maka Dia mempunyai tubuh dan jiwa, sama seperti kita. Bagaimana dengan dua Pribadi yang lain, tentu saja Mereka tidak terpisahkan dengan Kristus sendiri (Pribadi ke-dua), di mana ketiganya mempunyai satu hakekat (essence), yaitu Allah, yang spiritual. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

bung
bung
Reply to  Stefanus Tay
11 years ago

shalom, terima kasih atas penjelasan yg singkat padat dan jelas atas pertanyaan saya tsb. jadi bisa saya jelaskan pada perdebatan dgn keluarga istri saya yg muslim ( saya menikah dgn istri secara muslim, namun saya tetap ‘katolik’, walau saya tdk dpt menerima hosti, maaf).

Ingrid Listiati
Reply to  bung
11 years ago

Shalom Bung, Jika anda rindu untuk menerima Komuni kembali, silakan anda menghadap pastor paroki bersama dengan istri anda agar anda dapat mengadakan Convalidasi perkawinan; yang artinya ikatan perkawinan anda diteguhkan/ disahkan secara Katolik. (Tentu anda perlu mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa sebelumnya, karena telah sekian lama meninggalkan iman Katolik anda). Istri anda tidak harus menjadi Katolik, tetapi tentu kalau ia mau menjadi Katolik itu baik, sehingga anda dapat menerima sakramen perkawinan. Jika istri anda tetap muslim juga tidak apa-apa, namun ia mengetahui dan menyetujui janji anda di hadapan Tuhan untuk tetap teguh memegang iman anda dan komitmen anda untuk… Read more »

Wisnu
Wisnu
11 years ago

Saya kesulitan menjelaskan Trinitas adalah paham MonoTheis (Allah yang Esa)
ketika ada (umat agama lain) yang bertanya mengenai peristiwa pembaptisan Yesus (Mat 3:16-17 dan paralelnya),
di mana setelah pembaptisan di sana nampak 3 pribadi secara bersamaan:
Yesus, Roh Allah (Roh Kudus) dalam rupa Merpati, dan Suara dari Langit (Bapa)…

Di mana pada Peristiwa tersebut terlihat ada lebih dari 1 Allah….
Bagaimana menjelaskan kepada mereka mengenai keEsaan Allah, menanggapi perikop tersebut??

Ingrid Listiati
Reply to  Wisnu
11 years ago

Shalom Wisnu, Allah kita adalah Allah yang Satu tetapi mempunyai tiga Pribadi, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Memang tidak mudah menjelaskan bagaimana tiga Pribadi ini adalah satu Hakekatnya. Kita dapat menjelaskannya dengan contoh sederhana yaitu hakekat air yang mempunyai tiga wujud, yaitu air biasa, es batu dan uap air. Namun demikian, ini bukan contoh yang sempurna- karena sebenarnya Tuhan itu adalah Roh (Yoh 4:24) sehingga tidak berwujud material. Walaupun Allah tidak mempunyai wujud materi, namun pada suatu saat dalam sejarah manusia ketika telah genap waktunya, Allah Bapa memutuskan untuk mengirimkan Allah Putera ke dunia (lih. Rom 4:4) oleh… Read more »

theresia yohana
theresia yohana
11 years ago

saya mau tanya.. saya dr kecil sudah hidup sbg katolik.. saya percaya YESUS.. namun saya sadar bahwa yang saya imani salah, saya mengimani YESUS sebagai PUTERA ALLAH bukan sebagai ALLAH BAPA.. saya percaya YESUS dan ALLAH merupakan 2 pribadi yaitu Bapa dan Putera, karena dalam tiap injil Yesus sering mengatakan bahwa dirinya anak Allah.. sampai dititik saya menyadari bahwa Yesus adalah Allah sendiri.. namun mengapa Yesus mengatakan klo dirinya anak Allah dan doa aku percaya yang menjadi landasan iman katolik pun,, mengatakan Yesus bangkit duduk disebelah kanan Allah? saya semakin tidak mengerti.. tolong dibantu, karena saya percaya pada Yesus, merasakan… Read more »

Stefanus Tay
Admin
Reply to  theresia yohana
11 years ago

Shalom Theresia Yohana, Terima kasih atas pertanyaannya tentang kristologi. Saya menganjurkan agar anda dapat membaca beberapa artikel tentang kristologi berikut ini: Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Tentang Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa,… Read more »

gracia karina
gracia karina
11 years ago

Katolisitas, ada yg ingin sy tanyakan ttg konsep tritunggal. Sbg orang awam dan masih sekolah,sy masih rancu dg konsep ini. Apakah yg dimaksud dg Tritunggal ini mengacu pd 3 pribadi yg kmudian dikenal dg nama Allah yg brsifat mahakuasa? artinya Allah Bapa + Allah Putra + Allah Roh Kudus = bersatu mjd Allah pencipta yg mahakuasa. ataukah yg brsifat mahakuasa hanya Allah Bapa? ( spt dlm syahadat ‘aku prcya akan Allah,Bapa yg mahakuasa,pncipta lngit & bumi…’) jika dmikian Allah Bapa lbh brkuasa drpd prbdi Allah Putra (Yesus) ? lalu,kalimat ini jg membuat sy rancu – ‘dan putraNya yg tunggal,Tuhan kita… Read more »

Stefanus Tay
Admin
Reply to  gracia karina
11 years ago

Shalom Gracia Karina, 1. Terima kasih atas pertanyaannya tentang Trinitas. Mungkin ada baiknya anda membaca artikel tentang Trinitas di atas – silakan klik. Semoga dengan membaca artikel tentang Trinitas, maka anda mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang topik ini. Secara prinsip, Trinitas adalah kehidupan interior dari Allah, yang terdiri dari Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Manusia tidak akan mengetahui hal ini, kalau Allah sendiri tidak memberikan wahyu kepada manusia. Dan Wahyu tentang Allah Bapa dapat kita lihat secara jelas di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Allah Putera dan Allah Roh Kudus digambarkan secara samar-samar dalam PL.… Read more »

krisna
krisna
11 years ago

aq gak tw kolom untuk bertanya…….. emg dimn kolom bwt bertanya???????? aq ingin tau di katolik kita mengenal namanya Allah tritunggal yaitu Allah bapa, Allah putra( yesus), roh kudus, tetapi yang saya mbuat bingung lalu kita meyembah yg mn Allah bapa atau yesus kristus??????? menurut aku sendiri yesus sbgai sang juru slamat yg menuntun kita ke jalan Allah, shingga yesus sbg perantara untuk melihat kepribadian Allah dalam diri Yesus sendiri, agar manusia mengetahui kepribadian Allah yg sesungguhnya, Sehingga saya berpendapat bahwa yg sesungguhnya kita sembah ialah Allah ( bapa). Apakah pendapat aq benar????? saya sebagai umat katolik merasa bingung untuk… Read more »

Joan Heru
Joan Heru
11 years ago

Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid, Saya ingin menanyakan tentang Yesus,dikatakan Mat 1:1 Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, keturunan Daud, keturunan Abraham. Dari Abraham sampai Daud, nama-nama nenek moyang Yesus sebagai berikut: Mat 1:2 Abraham, Ishak, Yakub, Yehuda dan saudara-saudaranya, Peres dan Zerah (ibu mereka bernama Tamar), Hezron, Ram, Aminadab, Nahason, Salmon, Boas (ibunya adalah Rahab), Obed (ibunya ialah Rut), Isai, Sebenarnya yang dimaksudkan apa, ya? Kalo dikatakan bahwa Yesus putra Allah kok ada silsilahnya, .mohon penjelasan..lalu kalo Yesus punya silsilah apa Allah juga punya silsilah… Mat 20:18 “Dengarkan! Kita sekarang menuju Yerusalem. Di sana Anak Manusia akan diserahkan… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Joan Heru
11 years ago

Shalom Joan Heru, Nampaknya kebingungan anda terletak pada bagaimana memahami bahwa Yesus yang adalah sungguh Allah itu, adalah juga sungguh manusia, pada saat penjelmaan-Nya ke dunia sebagai manusia. Jika anda belum membaca silakan anda membaca artikel tentang topik ini, silakan klik. 1. Jika anda sudah dapat menerima ajaran bahwa Yesus itu mempunyai kodrat sebagai sungguh Allah dan sungguh manusia, maka tidak akan menjadi masalah bagi anda untuk memahami bahwa sebagai manusia, maka Ia mempunyai orang tua, dan orang tua-Nya juga mempunyai orang tua lagi, dan seterusnya, seperti yang anda baca dalam Mat 1. 2. Sedangkan istilah “Son of Man” atau… Read more »

Thomas
Thomas
12 years ago

Dear Stef dan Inggrid yang baik,
Menurut saya (mohon dikoreksi bila saya salah) sebagian gereja protestan saya pikir tidak mengimani Trinitas seperti halnya Gereja Katolik.
Misalnya bisa dilihat di:
http://www.akupercaya.com/pengajaran-alkitab/2787-yesus-adalah-yhvh.html
atau di:
http://www.sarapanpagi.org/yesus-kristus-adalah-yhvh-vt41.html#p2668
(Kalo sekiranya tidak perlu link2 diatas tidak perlu ditampilkan).

Akhirnya:

Bapa = Putra = Roh Kudus = Yesus..

Mengapa untuk hal yang substansial dalam kekristenan bisa terjadi pemahaman semacam ini?

Stefanus Tay
Admin
Reply to  Thomas
12 years ago

Shalom Thomas, Terima kasih atas komentarnya. Saya minta maaf, saya tidak dapat membaca link-link yang diberikan, karena keterbatasan waktu. Namun, kalau memang dalam tulisan tersebut mengatakan bahwa Bapa=Putra=Roh Kudus, maka yang perlu dipertanyakan adalah sama dalam hal apa. Mungkin saja sebenarnya mereka mempunyai pengertian yang benar, bahwa ketiga pribadi (Bapa, Putera dan Roh Kudus) mempunyai satu hakekat (essence). Atau mungkin mereka ingin menyoroti bahwa Bapa, Putera dan Roh Kudus melakukan penciptaan, penyelamatan dan pengudusan secara bersama-sama. Jadi, kita harus membaca argumentasi yang diberikan secara teliti dan menyeluruh. Saya yakin bahwa agama Kristen secara umum mempunyai pengertian yang benar akan Trinitas.… Read more »

Wiwid Sumowijoyo (WS)
Wiwid Sumowijoyo (WS)
Reply to  Stefanus Tay
11 years ago

Dari katolisitas.org “Trinitas” di bagian “Arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’ ditulis: Quote: Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Wiwid Sumowijoyo (WS)
11 years ago

Shalom Wiwid Sumowijoyo, Mohon maaf atas keterlambatan jawaban saya. Terus terang, analogi apapun tidak dapat secara tuntas menjelaskan misteri Allah Trinitas. Namun demikian, analogi berguna untuk membantu kita memahami misteri tersebut. Maka tentang analogi yang ada sampaikan saya menanggapi sebagai berikut: 1. Analogi I: tentang “bangsa manusia” Benar bahwa semua umat manusia mempunyai hakekat dan kodrat yang sama (sebagai mahluk rohani yang mempunyai tubuh, yang mempunyai akal budi dan kehendak bebas). Yang membedakan kita adalah “accidents” dan ciri- ciri lahiriah (particular matter) yang membedakan seorang manusia dengan yang lain (seperti jenis kelamin, warna kulit, tinggi badan, rambut lurus/ keriting, tingkat… Read more »

Wiwid Sumowijoyo
Wiwid Sumowijoyo
Reply to  Ingrid Listiati
11 years ago

Terima Kasih Bu Inggrid, penjelasan Ibu cukup membuat kemajuan dalam pemahaman saya.
Saya akan merenungkannya lebih jauh dan mohon pencerahan Roh Kudus agar lebih memahami dari hari ke hari.

Dan semoga saya juga bia bersaksi bila ada yang bertanya kepada saya, terutama anak-anak saya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
wiwid Sumowijoyo

yohanes
yohanes
12 years ago

syaloom….
saya mau nanya…
apakah pada jaman perjanjian lama atau sebelum dunia diciptakan, konsep Trinitas ini sudah ada?
mohon dijelaskan dengan jelas agar saya dapat mengerti. terimakasih

Ingrid Listiati
Reply to  yohanes
12 years ago

Shalom Yohanes, Ya, sebelum dunia diciptakan, Allah Trinitas sudah ada, karena Allah itu kekal, tidak mempunyai awal dan akhir. Kita membaca dalam Kitab Kejadian: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.” (Kej 1:1-3) Di sini Allah Bapa menciptakan dalam kesatuan dengan Roh-Nya dan Firman-Nya. Kita mengetahui bahwa Roh Allah adalah Allah Roh Kudus, dan Firman-Nya adalah Allah Putera (Kristus). Ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya: “Pada mulanya adalah Firman; Firman… Read more »

Dela
Dela
12 years ago

Shalom Pak Stef dan Bu Inggrid. Saya mohon agar bapak dan ibu mau menuliskan secara khusus tentang Allah Roh Kudus. Soalnya banyak sekali orang yg dengan mudah mengatas namakan Roh Kudus untk membenarkan ajarannya. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sesuatu itu karya Roh Kudus atau bukan? Bagiaman kita bisa mengetahui Roh kudus menyertai seseorang dalam pengajarannya? apa bukti otentiknya? Ini penting bagi kita utk diketahui

Terima kasih

Dela

Stefanus Tay
Admin
Reply to  Dela
12 years ago

Shalom Dela, Terima kasih atas permintaannya akan artikel tentang Roh Kudus. Kami memang mempunyai rencana untuk menuliskan artikel tentang Roh Kudus, hanya memang kami mempunyai keterbatasan waktu dan tenaga. Ada orang yang mengatakan “Roh Kudus mengatakan kepada saya bahwa ….” Secara prinsip, hal tersebut dapat dikatakan dari Roh Kudus kalau: 1) tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, 2) tidak bertentangan dengan dogma dan pengajaran Gereja Katolik, 3) tidak bertentangan dengan akal budi. Ketiga hal tersebut tidak mungkin bertentangan, karena ketiganya datang dari sumber yang sama, yaitu Allah. Oleh karena itu, Roh Kudus – yang merupakan pribadi ketiga dari Trinitas – tidak… Read more »

cristoporus
cristoporus
Reply to  Stefanus Tay
10 years ago

shalom katolisitas. saya seorang Katolik sejak lahir, saya mengenal dan mengimani Tritunggal Maha Kudus dengan berbagai analogi yg ada, meskipun analogi2 itu tidak sempurna (ya karna memang keterbatasan kita sebagai manusia yg ingin menjelaskan suatu hal yg adalah Sempurna itu sendiri) .. tp yg membuat saya mengimani kebenaran Tritunggal Maha Kudus adalah karena memang benar Yesus itu Tuhan, so saya tidak kesulitan memahami analogi2 itu. Di samping itu saya ingin oot ne.. saya sebagai Katolik yg jarang ke gereja, dengan berbagai alasan dan kemalasan saya tentu (tetapi saya tdk lupa berdoa lho.. seperti yg diajarkan Tuhan kita Yesus Kristus, jika… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  cristoporus
10 years ago

Salam Cristoporus,

1. Ya. Menerima Ekaristi itu wajib. Menerima Sakramen Tobat itu wajib. Berdoa bersama itu wajib. Karena semua itu diperintahkan oleh Kristus. Dan Kristus memerintahkan itu karena Ia rindu padamu dan pada Gereja-Nya. Tanpa Gereja, Anda tak kenal Kristus.

2. Langsung saja ke gereja paroki terdekat. Jika Anda sudah dibaptis dan pernah menerima komuni, maka temuilah imam, terimalah Sakramen Tobat, dan menyambut komuni, yaitu Kristus dalam Sakramen Mahakudus.

Salam
Yohanes Dwi Harsanto, Pr

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  Yohanes Dwi Harsanto Pr
10 years ago

Cristoporus, saya ingin menambahkan, demi pertumbuhan rohani Anda, silahkan membaca-baca artikel-artikel di website ini mengenai Ekaristi yaitu di artikel “Sudahkah kita pahami pengertian Ekaristi”, klik di sini, kemudian artikel “Sejarah yang mendasari pengajaran tentang Ekaristi, klik di sini, juga artikel “Ekaristi sumber dan puncak spiritualitas Kristiani”, klik di sini.

Juga mengenai Sakramen Tobat di artikel “Masih perlukah Sakramen Pengakuan Dosa”, klik di sini, sampai bagian 4.

Semoga rahmat Allah membuka hati Anda demi makin utuhnya hidup Anda sebagai manusia beriman.

Salam,
Yohanes Dwi Harsanto, Pr

cristoporus
cristoporus
Reply to  Yohanes Dwi Harsanto Pr
10 years ago

Salam Kasih Yohanes, Terimakasih atas tanggapan penuh kasih saudara Yohanes. banyak teman saya yang Katolik termasuk saya tp hanya ke gereja (termasuk Misa harian) sesuka hati aja (dengan berbagai pertimbangan. tp Natal n Paskah pasti ke gereja lo ) kami udah dibaptis dan sebagian teman termasuk saya udah Krisma. Tapi apakah karena ketidakaturan kami pergi ke gereja ( sesuka hati ) dan waktu Natal dan Paskah aja, jadi kita harus terima Sakramen Tobat sebelum ke gereja lagi? mohon maaf sebelumnya atas kebodohan saya dalam bertanya.. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” Terimakasih,… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  cristoporus
10 years ago

Salam Cristoporus,

Tidak harus. Memang Sakramen Tobat diwajibkan diterima setahun sekali, dan bagi yang berdosa berat wajib segera mengakukan dosanya. Namun, sebagai imam, dan juga karena pengalaman, saya menyarankannya untuk Anda.

Sakramen Tobat yang diterima rutin menolong kita makin bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih, serta membuat hidup makin damai penuh berkat dan semangat, juga mengarahkan hati dan budi pada kerahiman dan kasih Allah. Para imam, para uskup, dan Sri Paus sendiri mengaku dosa rutin sebagai bagian dari perjalanan rohani agar makin mengalami kasih Allah.

Salam
Yohanes Dwi Harsanto, Pr

cristoporus
cristoporus
Reply to  Yohanes Dwi Harsanto Pr
10 years ago

Salam Kasih Yohanes n katolisitas, Trimakasih atas tanggapannya dan saran anda yang sangat membangun dan memperkokoh iman. Allah adalah Roh kebaikan (Bapa di surga) merelakan firmannya untuk menjelma menjadi Manusia dan mengajarkan cinta kasih secara langsung dan jadi Juruselamat (Anak) dan mengutus pribadinya yang ketiga yang mengajar/membimbing manusia menuju jalan kebaikan dalam Roh kita (Roh Kudus), dan kesemuanya itu merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dalam ikatan yang Kudus dan Sempurna, mohon maaf atas kebodohan saya dalam mengutarakan Trinitas. Mohon koreksinya jika ada yang tidak sesuai dan kesalahan dalam mengutarakannya. Terimakasih, Yohanes n Katolisitas, Salam Cinta Kasih Tuhan kita Yesus Kristus… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Reply to  cristoporus
10 years ago

Salam Cristoporus,

Kita berjalan menuju Allah dengan tuntunan yang jelas dari Putera-Nya yang mendirikan Gereja dan memberikan sakramen-sakramen tanda nyata cinta-Nya, dalam kehadiran Roh Kudus yang membimbing kita selalu pada Kristus menuju Bapa. Entah paus, uskup, imam, dan umat, semuanya dipanggil menuju Dia. Mari selalu membuka hati memenuhi panggilan-Nya.

Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr.

Cristoporus
Cristoporus
Reply to  Yohanes Dwi Harsanto Pr
10 years ago

Salam Kasih Yohanes n katolisitas,

Trimakasih banyak Romo Yohanes atas kesediaannya menanggapi pertanyaan/pernyataan saya.
Meski dlm kesibukan yg luar biasa masih meluangkan waktunya yg berharga.

Web ini sangat membantu. Semoga Tuhan Beserta kita Sekarang dan Selama-lamanya.

Terimakasih, Yohanes n Katolisitas,
Salam Cinta Kasih Tuhan kita Yesus Kristus
GBU All

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
227
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x