Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi

Doa Pembukaan

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,

Ya Allah Tritunggal Maha Kudus, kami memuji nama-Mu dan keajaiban kasih-Mu yang Engkau nyatakan di dalam Kristus Putera-Mu yang telah wafat dan bangkit bagi kami. Di dalam Kristuslah, kami mengenal kedalaman misteri kehidupan-Mu, yang adalah KASIH ilahi. Berikanlah kepada kami, ya Tuhan, rahmat pengertian akan misteri kasih-Mu itu, agar kami dapat memuliakan Engkau dan menyembah kesatuan Kasih Ilahi-Mu. Semoga oleh kuasa-Mu, hati kami dapat terbuka untuk melihat betapa besar dan dalamnya misteri Kasih itu. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.

Kesalahan persepsi dan tentang Trinitas (Allah Tritunggal Maha Kudus).

Banyak orang yang mempertanyakan ajaran tentang Trinitas, bahkan banyak orang yang bukan Kristen mengatakan bahwa orang Kristen percaya akan tiga Tuhan. Tentu saja hal ini tidak benar, sebab iman Kristiani mengajarkan Allah yang Esa. Namun bagaimana mungkin Allah yang Esa ini mempunyai tiga Pribadi? Untuk memahami hal ini memang diperlukan keterbukaan hati untuk memandang Allah dari sudut pandang yang mengatasi pola berpikir manusia. Jika kita berkeras untuk membatasi kerangka berpikir kita, bahwa Allah harus dapat dijelaskan dengan logika manusia semata-mata, maka kita membatasi pandangan kita sendiri, sehingga kehilangan kesempatan untuk melihat gambaran yang lebih luas tentang Allah. Jika kita berpikir demikian, kita bagaikan, maaf, memakai ‘kacamata kuda’: Kita mencukupkan diri kita dengan pandangan Allah yang logis menurut pikiran kita dan tanpa kita sadari kita menolak tawaran Allah agar kita lebih dapat mengenal DiriNya yang sesungguhnya.

Dari mana kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah Tritunggal?

Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal. Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun pada akhirnya harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”. ((St. Agustinus, sermon. 52, 6, 16, seperti dikutip dalam KGK 230.)) Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti.

Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis. Penjelasan yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun sebenarnya tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.

Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari, segitiga, maupun kopi susu.

Dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Gereja

Yesus menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9). Di dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa (lih. Yoh 17: 21). Dengan demikian Yesus menyatakan Diri-Nya sama dengan Allah: Ia adalah Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri, tentang ke-Allahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, yaitu pada waktu pembaptisan Yesus (lih. Luk 3: 22) dan pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. Mat 17:5).

Yesus juga menyatakan keberadaan Diri-Nya yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia (lih. Yoh 17:5). Kristus adalah sang Sabda/ Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan (Yoh 1:1-3). Tidak mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan Allah sendiri.

Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebutNya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (lih. Yoh 15:26). Roh ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (lih. Yoh 14:6). Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus dalam pesan terakhir-Nya sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Mat 28:18-20).

Selanjutnya, kita melihat pengajaran dari para Rasul yang menyatakan kembali pengajaran Yesus ini, contohnya, Rasul Yohanes yang mengajarkan bahwa Bapa, Firman (yang adalah Yesus Kristus), dan Roh Kudus adalah satu (lih 1 Yoh 5:7); demikian juga pengajaran Petrus (lih. 1 Pet:1-2; 2 Pet 1:2); dan Paulus (lih.  1Kor 1:2-10; 1Kor 8:6; Ef 1:3-14). Rasul Paulus

Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja

Para Rasul mengajarkan apa yang mereka terima dari Yesus, bahwa Ia adalah Sang Putera Allah, yang hidup dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Iman akan Allah Trinitas ini sangat nyata pada Tradisi umat Kristen pada abad-abad awal.

1. St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99):
“Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?” ((St. Clement of Rome, Letter to the Corinthians, chap. 46, seperti dikutip oleh John Willis SJ, The Teachings of the Church Fathers, (San Francisco, Ignatius Press, 2002, reprint 1966), p. 145))

2. St. Ignatius dari Antiokhia (50-117) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus. ((St. Ignatius of Antiokh, Letter to the Ephesians, Chap 9, Ibid., p. 146))

“Ignatius, juga disebut Theoforus, kepada Gereja di Efesus di Asia… yang ditentukan sejak kekekalan untuk kemuliaan yang tak berakhir dan tak berubah, yang disatukan dan dipilih melalui penderitaan sejati oleh Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.” ((St. Ignatius, Letter to the Ephesians, 110))

“Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, telah dikandung oleh Maria seturut rencana Tuhan: dari keturunan Daud, adalah benar, tetapi juga dari Roh Kudus.” ((ibid., 18:2)).

“Kepada Gereja yang terkasih dan diterangi kasih Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak Dia yang telah menghendaki segalanya yang ada.” ((St. Ignatius, Letter to the Romans, 110))

3. St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.” ((St. Polycarp, Ibid., 146))

4. St. Athenagoras (133-190):
“Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, –Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.” ((St. Athenagoras, A Plea for Christians, Chap. 24, ibid., 148))

5. Aristides sang filsuf [90-150 AD] dalam The Apology
“Orang- orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus. ((Aristides, Apology 16 [A.D. 140]))

6. St. Irenaeus (115-202):
“Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.” (( St. Irenaeus, Against Heresy, Bk. 4, Chap.20, Ibid., 148))

“Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan, Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya; dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi, ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi ….” ((St. Irenaeus, Against Heresies, I:10:1 [A.D. 189])).

“Namun demikian, apa yang tidak dapat dikatakan oleh seorangpun yang hidup, bahwa Ia [Kristus] sendiri adalah sungguh Tuhan dan Allah … dapat dilihat oleh mereka yang telah memperoleh bahkan sedikit bagian kebenaran” ((St. Irenaeus, ibid., 3:19:1)).

7. St. Clement dari Alexandria [150-215 AD] dalam Exhortation to the Heathen (Chapter 1)
“Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita -karena Ia ada di dalam Allah- dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita” ((St. Clement, Exhortation to the Greeks 1:7:1 [A.D. 190])).

“Dihina karena rupa-Nya namun sesungguhnya Ia dikagumi, [Yesus adalah], Sang Penebus, Penyelamat, Pemberi Damai, Sang Sabda, Ia yang jelas adalah Tuhan yang benar, Ia yang setingkat dengan Allah seluruh alam semesta sebab Ia adalah Putera-Nya.” ((ibid., 10:110:1)).

8. St. Hippolytus [170-236 AD] dalam Refutation of All Heresies (Book IX)
“Hanya Sabda Allah [yang] adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga Allah, menjadi substansi Allah. ((St. Hippolytus, Refutation of All Heresies 10:33 [A.D. 228]))

“Sebab Kristus adalah Allah di atas segala sesuatu, yang telah merencanakan penebusan dosa dari umat manusia …. ((ibid., 10:34)).

9. Tertullian [160-240 AD] dalam Against Praxeas
“Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.” ((Tertullian, Against Praxeas 13:6 [A.D. 216])).

10. Origen [185-254 AD] dalam De Principiis (Book IV)
“Meskipun Ia [Kristus] adalah Allah, Ia menjelma menjadi daging, dan dengan menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah.” ((Origen, The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D. 225])).

11. Novatian [220-270 AD] dalam Treatise Concerning the Trinity
“Jika Kristus hanya manusia saja, mengapa Ia memberikan satu ketentuan kepada kita untuk mempercayai apa yang dikatakan-Nya, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Bukankah Ia menghendaki agar diterima sebagai Allah juga? Sebab jika Ia tidak menghendaki agar dipahami sebagai Allah, Ia sudah akan menambahkan, “Dan manusia Yesus Kristus yang telah diutus-Nya,” tetapi kenyataannya, Ia tidak menambahkan ini, juga Kristus tidak menyerahkan nyawa-Nya kepada kita sebagai manusia saja, tetapi satu diri-Nya dengan Allah, sebagaimana Ia kehendaki agar dipahami oleh persatuan ini sebagai Tuhan juga, seperti adanya Dia. Karena itu kita harus percaya, seusai dengan ketentuan tertulis, kepada Tuhan, satu Allah yang benar, dan juga kepada Ia yang telah diutus-Nya, Yesus Kristus, yang, …tidak akan menghubungkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa, jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah juga. Sebab [jika tidak] Ia akan memisahkan diri-Nya dari Dia [Bapa], jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah.” ((Novatian, Treatise Concerning the Trinity 16 [A.D. 235])).

12. St. Cyprian of Carthage [200-270 AD] dalam Treatise 3
“Seseorang yang menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait Roh Kudus-Nya …” ((St. Cyprian, Letters 73:12 [A.D. 253])).

13. Lactantius [290-350 AD] dalam The Epitome of the Divine Institutes
“Ia telah menjadi baik Putera Allah di dalam Roh dan Putera manusia di dalam daging, yaitu baik Allah maupun manusia. ((Lactantius, Divine Institutes 4:13:5 [A.D. 307]))

“Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin, ketika kita berkata bahwa kita menyembah hanya satu Tuhan, namun kita menyatakan bahwa ada dua, Allah Bapa dan Allah Putera, di mana penyebutan ini telah menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam kesalahan yang terbesar … [yang berpikir] bahwa kita mengakui adanya Tuhan yang lain, dan bahwa Tuhan yang lain itu adalah yang dapat mati …. [Tetapi] ketika kita bicara tentang Allah Bapa dan Allah Putera, kita tidak bicara tentang Mereka sebagai satu yang lain dari yang lainnya, ataupun kita memisahkan satu dari lainnya, sebab Bapa tidak dapat eksis tanpa Putera dan Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa.” ((Lactantius, (ibid., 4:28–29))

14. St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda… Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya dengan Putera… tetapi kodreat/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya adalah milik Anak-Nya.” ((St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n. 3:3, in NPNF, 4:395.))

15. St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal. ” ((St. Augustine, On The Trinity, seperti dikutip oleh John Willis SJ, Ibid., 152.))

Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan Trinitas, yaitu:
1) seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.
2) trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.
3) ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.

Khusus untuk point yang ketiga ini kita dapat melihat contoh lain sebagai berikut: jika kita mengingat sesuatu, misalnya menyanyikan lagu kesenangan, maka terdapat 3 hal yang terlibat, yaitu, kita mengingat lagu itu dan liriknya dalam memori/ ingatan kita, kita mengetahui atau memikirkan dahulu tentang lagu itu dan kita menginginkan untuk melakukan hal itu (mengingat, memikirkan-nya) karena kita menyukainya. Nah, ketiga hal ini berbeda satu sama lain, namun saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan ada dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa menyanyikan lagu itu, kalau kita tidak mengingatnya dalam memori; atau kalau kita tidak mengetahui lagu itu sama sekali, atau kalau kita tidak ingin mengingatnya, atau tidak ingin mengetahui dan menyanyikannya.

Pengajaran Gereja: Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus

Syahadat ‘Aku Percaya’ menyatakan bahwa rahasia sentral iman Kristen adalah Misteri Allah Tritunggal. Maka Trinitas adalah dasar iman Kristen yang utama ((Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 234, 261.)) yang disingkapkan dalam diri Yesus. Seperti kita ketahui di atas, iman kepada Allah Tritunggal telah ada sejak zaman Gereja abad awal, karena didasari oleh perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kembali oleh para murid-Nya. Jadi, tidak benar jika doktrin ini baru ditemukan dan ditetapkan pada Konsili Konstantinopel I pada tahun 359! Yang benar ialah: Konsili Konstantinopel I mencantumkan pengajaran tentang Allah Tritunggal secara tertulis, sebagai kelanjutan dari Konsili Nicea (325) ((Konsili Nicea (325): Credo Nicea: “…Kristus itu sehakekat dengan Allah Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar …”)), dan untuk menentang heresies (ajaran sesat) yang berkembang pada abad ke-3 dan ke-4, seperti Arianisme (oleh Arius 250-336, yang menentang kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa) dan Sabellianisme (oleh Sabellius 215 yang membagi Allah dalam tiga modus, sehingga seolah ada tiga Pribadi yang terpisah).

Dari sejarah Gereja kita melihat bahwa konsili-konsili diadakan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja (yang sudah berakar sebelumnya) dan menjaganya terhadap serangan ajaran-ajaran sesat/ menyimpang. Jadi yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru. Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya: sebab setiap kali Gereja ‘diserang’ oleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran Yesus kepada para Rasul. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di dalam artikel terpisah, dalam topik Sejarah Gereja.

Berikut ini adalah Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik, yang telah berakar dari jaman jemaat awal:

  1. Tritunggal adalah Allah yang satu. ((Lihat KGK 253)) Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.
  2. Ketiga Pribadi ini berbeda secara real satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan. ((Lihat KGK 254))
  3. Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah. ((Lihat KGK 255))

Jadi bagaimana kita menjelaskan Trinitas?

Kita akan mencoba memahaminya dengan bantuan filosofi. Dengan pendekatan filosofi, maka diharapkan kita akan dapat masuk ke dalam misteri iman, sejauh apa yang dapat kita jelaskan dengan filosofi. Dengan demikian, filosofi melayani teologi. Untuk menjelaskan Trinitas, pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa istilah kunci, yaitu apa yang disebut sebagai substansi/ hakekat/ kodrat dan apa yang disebut sebagai pribadi/ hypostatis. Pengertian kedua istilah ini diajarkan oleh St. Gregorius dari Nasiansa. Kedua, bagaimana menjelaskan prinsip Trinitas dengan argumentasi kenapa hal ini sudah sepantasnya terjadi atau “argument of fittingness.” Ketiga, kita dapat menjelaskan konsep Trinitas dengan argumen definisi kasih. Berikut ini mari kita lihat satu persatu.

Arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’

Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.

Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut.  Dengan demikian,  ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya. ((Lihat KGK 252.))

Argument of fittingness untuk menjelaskan Trinitas

Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi. ((Dalam bukunya “Isagoge“, pengenalan akan kategori menurut Aristoteles, Filsuf Yunani Porphyry, mengemukakan bahwa Aristoteles membagi substansi atau “substance” berdasarkan “genus” yang mengindikasikan esensi dari sesuatu dan “a specific differences” yang merupakan kategory yang lebih detail dari genus tertentu.)) Akal budi yang berada dalam jiwa manusia inilah yang menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Akal budi, yang terdiri dari intelek (intellect) dan keinginan (will) adalah anugerah Tuhan kepada umat manusia, yang menjadikannya sebagai ‘gambaran’ Allah sendiri.

Nah, intelek dan keinginan tersebut memampukan manusia melakukan dua perbuatan prinsip yang menjadi ciri khas manusia, yaitu: mengetahui dan mengasihi. Kemampuan mengetahui sesuatu tidaklah menunjukkan kesempurnaan manusia, karena kita menyadari bahwa komputer-pun dapat ‘mengetahui’ lebih banyak daripada kita, kalau dimasukkan program tertentu, seperti kamus atau ensiklopedia. Namun, yang membuat manusia istimewa adalah kerjasama antara intelek dan keinginan, jadi tidak sekedar mengetahui, tetapi dapat juga mengasihi. Jadi hal ‘mengasihi’ inilah yang menjadikannya sebagai mahluk yang tertinggi jika dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan, apalagi dengan benda-benda mati.

Kita mengenal peribahasa “kalau tak kenal, maka tak sayang“. Peribahasa ini sederhana, namun berdasarkan suatu argumen filosofi, yaitu “mengetahui lebih dahulu, kemudian menginginkan atau mengasihi.” Orang tidak akan dapat mengasihi tanpa mengetahui terlebih dahulu. Bagaimana kita dapat mengasihi atau menginginkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Sebagai contoh, kalau kita ditanya apakah kita menginginkan komputer baru secara cuma-cuma? Kalau orang tahu bahwa dengan komputer kita dapat melakukan banyak hal, atau kalaupun kita tidak memakainya, kita dapat menjualnya, maka kita akan dengan cepat menjawab “Ya, saya mau.” Namun kalau kita bertanya kepada orang pedalaman yang tidak pernah mendengar atau tahu tentang barang yang bernama komputer, maka mereka tidak akan langsung menjawab “ya”. Mereka mungkin akan bertanya dahulu, “komputer itu, gunanya apa?” Di sini kita melihat bahwa tanpa pengetahuan tentang barang yang disebut sebagai komputer, orang tidak dapat menginginkan komputer.

Nah, berdasarkan dari prinsip “seseorang tidak dapat memberi jika tidak lebih dahulu mempunyai” ((Prinsip ini sering disebut sebagai salah satu Prinsip yang tidak perlu dibuktikan (‘self-evident principles’), karena memang demikian halnya.)) maka Tuhan yang memberikan kemampuan pada manusia untuk mengetahui dan mengasihi, pastilah memiliki kemampuan tersebut secara sempurna. Jika kita mengetahui sesuatu, kita mempunyai konsep tentang sesuatu tersebut di dalam pikiran kita, yang kemudian dapat kita nyatakan dalam kata-kata. Maka, di dalam Tuhan, ‘pengetahuan’ akan Diri-Nya sendiri dan segala sesuatu terwujud di dalam perkataan-Nya, yang kita kenal sebagai “Sabda/ Firman”; dan Sabda ini adalah Yesus, Sang Allah Putera.

Jadi, di dalam Pribadi Tuhan terdapat kegiatan intelek dan keinginan yang terjadi secara sekaligus dan ilahi, ((Lihat KGK 259)) yang mengatasi segala waktu, yang sudah terjadi sejak awal mula dunia. Kegiatan intelek ini adalah Allah Putera, Sang Sabda (“The Word“). Rasul Yohanes mengatakan pada permulaan Injilnya, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).

Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka ‘mengasihi’ di sini melibatkan pribadi yang lain, yang menerima kasih tersebut. Kalau hal ini benar untuk manusia pada tingkat natural, maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang ‘terisolasi’ sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (Sang Sabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.

Argumen dari definisi kasih.

Seperti telah disebutkan di atas, kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan betul- betul sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.

Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung pada manusia yang kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah masuk di akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi, dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus berada sebagai Allah Putera, yang dapat memberikan derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini membuahkan Roh Kudus. ((Roh Kudus adalah buah dari operasi kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera. Ini sebabnya bahwa setelah Pentakosta terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib. Bapa mengasihi Putera-Nya, dan Putera-Nya menunjukkan kasih-Nya dengan sempurna di kayu salib. Buah dari pertukaran dan kasih yang mengorbankan diri inilah yang menghasilkan Roh Kudus. Sehingga dalam ibadat iman yang panjang (Nicene Creed), kita melihat pernyataan “….Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putera….“)) Dengan hubungan kasih yang sempurna tesebut kita mengenal Allah yang pada hakekatnya adalah KASIH. Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita, ((John Paul II, Encyclical Letter on The Redeemer Of Man: Redemptor Hominis (Pauline Books & Media, 1979), no. 10 – Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa kasih yang sempurna adalah kasih yang dapat memberikan diri sendiri kepada orang lain. Dengan demikian, adalah “sesuai atau fitting” bahwa Tuhan, melalui Putera-Nya menjadi contoh yang snempurna bagaimana menerapkan kasih. Dengan demikian ini juga membuktikan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang sendirian.)) agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.

Trinitas adalah suatu misteri, dan Tuhan menginginkan kita berpartisipasi di dalam-Nya agar dapat semakin memahami misteri tersebut

Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah suatu misteri ((KGK 237.)), meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada manusia. Namun demikian, kita dapat mulai memahaminya dengan mempelajari dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci, pengajaran para Bapa Gereja dan Tradisi Suci yang ditetapkan oleh Magisterium (seperti hasil Konsili), juga dengan bantuan filosofi dan analogi seperti diuraikan di atas. Selanjutnya, pemahaman kita akan kehidupan Trinitas akan bertambah jika kita mengambil bagian di dalam kasih Trinitas itu, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.

Di sinilah pentingnya peran Sakramen dan doa: Sakramen Pembaptisan merupakan rahmat awal, ‘gerbang’ yang memungkinkan kita mengambil bagian dalam kehidupan ilahi (lihat artikel: Sudahkah kita diselamatkan?). Kemudian, Sakramen Ekaristi mengambil peranan utama, karena di dalamnya kita menyambut Kristus sendiri, dan dengan demikian kita mengambil bagian di dalam kehidupan Allah Tritunggal melalui Yesus (baca artikel: Ekaristi: Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani). Di sinilah juga pentingnya peran penghayatan akan Sakramen Perkawinan, sebab di dalam Perkawinan, kita melihat bagaimana hubungan kasih antara suami dan istri yang direncanakan oleh Allah untuk menjadi gambaran akan kasih Allah Tritunggal (silakan baca: Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik). Demikian pula, kasih Allah Tritunggal pula yang mengilhami Sakramen Tahbisan Suci, karena melalui Tahbisan Suci, para imam dipanggil untuk meniru teladan hidup Yesus, terutama dalam hal mengasihi, yaitu dengan memberikan diri kepada Allah dan sesama secara total. Memang, pada dasarnya sakramen-sakramen adalah ‘sarana’ yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya (mohon dibaca: Sakramen: apa pentingnya dalam kehidupan kita?, terutama pada sub judul: Akibat utama penerimaan Sakramen). Akhirnya, kitapun perlu memeriksa kehidupan doa kita, apakah kita setia dalam menyediakan waktu untuk Tuhan dan menghayati kesatuan denganNya di dalam kehidupan rohani kita? Bagaimana sikap kita terhadap sakramen- sakramen yang dikaruniakan Allah? Adakah kita cukup menghargai dan merindukannya? Pertanyaan ini memang kembali kepada diri kita masing-masing.

Kesimpulan

Melihat begitu dalamnya kehidupan batin Allah, hati kita melimpah dengan ucapan syukur. Sebab kehidupan batin tersebut tidak hanya ‘tertutup’ bagi Allah sendiri, namun Ia ‘membuka’ kehidupan-Nya agar kita dapat mengambil bagian di dalamnya. Ya, Allah sesungguhnya tidak ‘membutuhkan’ kita, sebab kasihNya telah sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Namun justru karena kasih yang sempurna itu, Ia merangkul kita semua, jika kita mau menanggapi panggilan-Nya. Mari bersama kita berjuang, agar lebih menghargai rahmat Allah yang terutama dinyatakan di dalam sakramen-sakramen, terutama sakramen Ekaristi, sehingga kita dapat semakin menghayati persatuan kita dengan Kristus, yang membawa kita kepada persatuan dengan Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dengan persatuan dengan Allah ini, kita mencapai puncak kehidupan spiritualitas, di mana kita dimampukan oleh Allah untuk mengasihi Dia dan sesama.

Doa Penutup

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,

Ya Allah, kami bersyukur untuk misteri kehidupan-Mu dalam Tritunggal Maha Kudus. Di dalam kehidupan batinMu, Engkau telah menyingkapkan kepada kami kedalaman kasih-Mu yang tiada batasnya. Ampunilah kami, jika kami sering tidak menyadari panggilan-Mu untuk mengambil bagian di dalam misteri kasih-Mu itu. Kami mohon, ya Tuhan, bantulah kami dengan rahmat-Mu agar kami dapat untuk turut mengambil bagian di dalam misteri Kasih itu, dengan mengambil bagian di dalam sakramen-sakramen yang Engkau berikan, dan bantulah aku untuk lebih setia di dalam kehidupan doaku, agar dengan kekuatan yang Engkau berikan, Engkau memampukan kami untuk mengasihi Engkau dan sesama kami. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.

Konsili Konstantinopel I (359): menegaskan kembali Credo Nicea. Konsili ini mengembangkan Credo Nicea, yang bersangkutan dengan Roh Kudus, sebagai, “Allah, Pemberi kehidupan, yang berasal dari Bapa, bersama Bapa dan Putera, disembah dan dimuliakan.” Seperti Allah Putera, Roh Kudus adalah satu dan sama hakekatnya (ousia).

4.4 25 votes
Article Rating
227 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Yadi
Yadi
11 years ago

Dear Stef / Inggrid,

Berarti sebelum kedatangan Yesus & peristiwa pentakosta, konsep trinitas belum ada dong? Jadi sebelum itu umat israel hanya mengenal Allah yang mana?

Stefanus Tay
Reply to  Yadi
11 years ago

Shalom Yadi, Terima kasih atas tanggapannya yang menyatakan bahwa sebelum peristiwa Pentekosta, Trinitas tidak ada. Kita perlu untuk membedakan antara sesuatu yang memang tidak ada, dengan sesuatu yang ada namun belum dinyatakan, sehingga belum terlihat manifestasinya sampai sesuatu itu memanifestasikan dirinya. Dan prinsip ini berlaku untuk Allah Putera dan Allah Roh Kudus, yang memang belum memanifestasikan Pribadi Mereka kepada manusia secara nyata. Hal ini tidaklah bertentangan dengan kodrat Trinitas yang memang abadi, tidak berawal dan tidak berakhir. Kita dapat melihat di dalam Perjanjian Lama beberapa ayat yang memberikan suatu gambaran tentang Trinitas. Di dalam Perjanjian Lama, kita sering melihat bahwa… Read more »

robert indargo
robert indargo
11 years ago

Shalom Stefanus
di kitab kejadian ALLAH berfirman :””Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej 1:26).
pertanyaan saya , mengapa disini digunakan kata “KITA” ? apakah ada arti sesuatu ? karena pada saat penciptaan yg lain tidak ada kata KITA . Mohom pemjelasannya .

terima kasih

Stefanus Tay
Reply to  robert indargo
11 years ago

Shalom Robert, Terima kasih atas pertanyaannya tentang kitab Kejadian, dimana dikatakan “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …” (Kej 1:26). Bentuk jamak, yaitu “Kita” adalah menggambarkan Trinitas, yaitu Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi. Beberapa Bapa Gereja menegaskan tentang hal ini, seperti yang terlihat dalam kutipan berikut ini: Irenaeus (189): “It was not angels, therefore, who made us nor who formed us, neither had angels power to make an image of God, nor anyone else. . . . For God did not stand in need of these in order to accomplish what he had himself determined… Read more »

valerianus d a
valerianus d a
12 years ago

salam damai dalam kasih karunia Allah.

maaf pak stef dan bu ingrid. saat ini saya masih bingung mengenai kebenaran kitab suci Alkitab dan Alquran. terutama mengenai ketuhanan Yesus. Dalam iman katolik yang saya anut, dikatakan Jesus adalah Tuhan melalui Konsep Trinitas. Tetapi mungkin seperti yang bpk dan ibu tahu bahwasannya di Alquran disebutkan secara tegas sanggahan2 terhadap konsep tersebut. bagaimana bpk dan ibu menanggapi ayat-ayat Alquran berkenaan dengan pertanyaan saya tadi.

terima kasih.
salam

Ingrid Listiati
Reply to  valerianus d a
12 years ago

Shalom Valerianus, Konsep Trinitas memang baru dapat dipahami, jika kita mau menempatkan apa diwahyukan oleh Tuhan di tempat yang utama, yang melebihi pengertian kita sebagai manusia. Sebagai orang katolik, kita memang menyakini bahwa Yesus adalah Tuhan, sebab memang kedatangan-Nya sudah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya, dan kemudian hal ini diperkuat oleh segala ajaran dan mukjizat-mukjizat-Nya, terutama kebangkitan-Nya dari kematian. Silakan membaca dahulu artikel- artikel ini, yaitu: 1) Mengapa orang Kristen percaya bahwa Kristus adalah Tuhan?, silakan klik 2) Yesus Tuhan yang dinubuatkan oleh para nabi, silakan klik 3) Kristus Allah Immanuel yang menjelma menjadi manusia, silakan klik 4) Kristus yang kita… Read more »

J.Marsello Ginting
J.Marsello Ginting
12 years ago

Dear all, Mengulas tentang Trinitas ( Tritunggal) ini sangat menarik sekali.Kalau kita selidiki literatur, mungkin penjelasan tentang Trinitas sudah lebih tebal dari Alkitab itu sendiri.Saya sendiri pernah terlena sharing berjam-jam menulis dengan persiapan literatur dari sumber bermacam-macam pakar, dari jaman bahulu sampai jaman filsub abad modern.Akhirnya saya bertanya pada diri saya sendiri: Apa yang saya dapat kan dari sharing ini ? Apakah argumen saya menambah iman orang ? Atau apakah membuat orang tambah bingung ? Atau tidak jelas ?Tambah banyak pertanyaan di benak saya…… Dan akhirnya saya teringat akan firman Tuhan ,” bukan yang berkata Tuhan,Tuhan,yang akan masuk dalam kerajaan… Read more »

Stefanus Tay
Reply to  J.Marsello Ginting
12 years ago

Shalom Marcello, Terima kasih atas tanggapannya tentang Trinitas. Menurut saya, tidak ada yang sia-sia dalam usaha mencari kebenaran dan mencoba mengerti kebenaran secara lebih mendalam. Pada waktu kita mencoba mengerti secara benar apa itu Trinitas, serta mencoba mengungkapkannya, maka bukan saja berguna bagi orang lain, namun juga berguna bagi diri sendiri. Dan seharusnya pemahaman akan Trinitas membuat kita semakin menyadari akan hakekat Tuhan, yang adalah kasih, karena Roh Kudus adalah hasil dari pertukaran antara kasih Allah Bapa dan Allah Putera secara terus menerus dan abadi. Dan pengertian ini, maka kita yang diciptakan menurut gambaran Allah (yang berarti menurut gambaran Trinitas)… Read more »

J.Marsello Ginting
J.Marsello Ginting
12 years ago

Dear all,
saya pikir masalah trinitas tidak akan dapat dijelaskan secara tuntas.Bagaimana manusia yang terbatas dapat menjelaskan yang tidak terbatas.Saya sependapat, yang mengatakan trinitas hanya dapat diterima melalui melalui iman.Dalam arti orang beriman kepada Firman ( Sabda) Allah. Firman Tuhan menjadi sumber yang sangat menunjang keimanan tentang trinitas ini.
Salam,
http://www.marselloginting.com

Richard Aloysius Nelwan
Richard Aloysius Nelwan
12 years ago

Saya ingin memberikan pandangan logis saya tentang “Trinitas atau Allah Tritunggal” kepada forum diskusi ini dengan harapan, mudah2-an saudara seiman saya dapat lebih percaya pada dasar iman kita ini yang katanya digali oleh Paulus dan ditetapkan dalam Konsili Nicea setelah melalui perdebatan yang sengit….Saya sendiri berpendapat, bahwa bagaimanapun misterinya Allah Tritunggal seperti yang dikatakan oleh Santo Agustinus, sekurangnya ada dasar logika yang bisa membantu menerangkannya. Mungkin logika yang akan saya uraikan berikut ini adalah bantuan dari Santo Aloysius, Pelindung saya, yang memberikan jalan bagi saya untuk menerangkan pengertian Allah Tritunggal, karena saya setiap kali ditanya oleh teman2 saya Non Kristen… Read more »

Lucius Dalius
Lucius Dalius
12 years ago

Shallom utk saudara Stef,
Di sini saya mempunyai masalah dalam memperjelaskan konsep Trintis atau Tritunggal Mahakudus kepada orang yg ingin memasuki katolik. Mereka ingin meminta saya memberikan contoh bagaimana satu Allah tiga peribadi itu agar mereka dapat mengerti. Bolehkah saudara stef membantu saya?

Stefanus Tay
Reply to  Lucius Dalius
12 years ago

Shalom Lucius,

Terima kasih atas pertanyaannya. Untuk menjawab pertanyaan ini, silakan membaca artikel di atas (silakan klik) dan juga tanya-jawab di artikel ini. Ada juga tambahan tanya jawab disini (silakan klik). Nanti kalau telah membaca dan masih ada yang mau ditanyakan, silakan untuk menanyakannya lagi.
Semoga artikel-artikel dan tanya jawab tersebut dapat membantu Lucius untuk meyakinkan teman Lucius.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan.
stef – http://www.katolisitas.org

Simon
Simon
12 years ago

Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid, Setelah membaca Analogi St. Augustinus tentang Trinitas yang diumpamakan bahwa Allah (mind), Anak (knowledge) dan Roh Kudus (will), saya mengumpamakan proses terjadinya MAKAN. Awalnya pikiran (mind) mau makan, lalu mau makan apa (pengetahuan tentang makanan) selanjutnya pelaksanaan kegiatan makan (will). JIka timbul pikiran mau makan tapi tidak tahu mau makan apa; maka tidak jadi makan. Atau terpikir mau makan dan tau tentang makanan tapi malas mau makan (will) juga nggak jadi makan. Supaya jadi makan maka ketiga unsur tadi harus terpenuhi dan tak terpisahkan. Atau kalau disimpulkan kira-2 begini : Allah (Mind) : Keselamatan… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Simon
12 years ago

Shalom Simon, Sebenarnya analogi apapun yang kita pakai untuk menjelaskan misteri Trinitas kelihatannya tidak sempurna, tetapi setidaknya bisa membantu kita untuk sedikit lebih memahami kesatuan Trinitas tersebut. Dengan contoh yang anda sebutkan, tentang makan, memang mirip dengan prinsip yang diajarkan oleh St. Agustinus, atau dapat juga dikatakan demikian: 1) untuk makan, seseorang perlu mempunyai memori (memory) tentang kegiatan makan tersebut, yaitu, mengambil sesuatu untuk dimasukkan ke mulut dan dikunyah lalu ditelan. 2) Selanjutnya, orang itu perlu mempunyai pengetahuan (knowledge) tentang makanan itu, apakah makanan tersebut dapat dimakan atau tidak. 3) Lalu untuk benar-benar makan, orang itu harus mempunyai keinginan (will)… Read more »

V.P.Kusnadi Sutedjo
V.P.Kusnadi Sutedjo
12 years ago

Dear Stef & Inggrid;

Setelah saya membaca artikel anda ttg Tritunggal Mahakudus,saya berpikir apakah ketiga pribadi itu sama besar atau yg satu lebih besar?.Kalau “perasaan” sepertinya Allah Bapa yg terbesar,lalu Allah Putra baru Allah Roh Kudus.
tetapi dalam Yoh.14:28 kata Yesus “Bapa lebih besar dari pada Aku”.Namun dari 1Kor.1:24 Yesus adalah kekuatan dan hikmat Allah.(kesannya Yesus lebih besar.) Dari KGK254:Ketiga pribadi ini berbeda secara riel satu sama lain,yaitu didalam hal hubungan asalnya……(jadi berbeda,tetapi asalnya bukan besarnya).
Mohon bantuan utk pencerahannya.Terima kasih ,Tuhan menyertai Katolisitas.

kusnadi

Stefanus Tay
Reply to  V.P.Kusnadi Sutedjo
12 years ago

Shalom Kusnadi, Memang Trinitas adalah misteri yang memang sulit untuk dimengerti. Pada saat seseorang mengatakan bahwa yang satu lebih besar daripada yang lain, maka seolah-olah ada bagian yang lebih kecil, dan seolah-olah ada banyak bagian sehingga kita dapat membedakan bahwa yang satu adalah lebih besar dari yang lain. Di dalam dunia material, hal ini memang benar, dimana kita dapat mengindentifikasikan bagian mana yang lebih besar dan bagian mana yang lebih kecil. Namun, kita tidak dapat menerapkannya kepada Allah, karena Allah adalah "pure spirit" dan St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa Allah adalah sederhana (simple), yang berarti tidak ada bagian, tidak ada… Read more »

Stefanus
Stefanus
12 years ago

Salam kenal Saya agak tergelitik untuk sedikit ikutan nimbrung di penjelasan tentang misteri Allah Trinitas khususnya di kitab kejadian yang bunyinya “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita….” Pernah saya ikut seminar “Apakah Adam dan Hawa adalah manusia pertama di muka bumi” – kalau tidak salah begitu kira2 judul seminarnya, yang membawakan Rm Paskalis Edwin Nyoman SVD Inti dari seminar itu kurang lebih begini: 1 manusia pertama memang pasti ada tapi kita tidak akan pernah tahu siapa mereka. Pengunaan nama “Adam” dan “Hawa” sebenarnya untuk merujuk kepada laki2 dan perempuan – yang mana perempuan itu diciptakan dari tualng… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Stefanus
12 years ago

Shalom Stefanus, Terima kasih atas masukannya. Berikut ini adalah tanggapan saya atas point-point yang disampaikan oleh Stefanus. Maaf ya saya tidak tidak bisa terlalu rinci menjawabnya karena terbatasnya waktu. Tetapi kalau ada yang tidak jelas, silakan bertanya lagi. 1) Adam dan Hawa bukan nama asli manusia pertama. Ya, saya setuju. Karena Adam sendiri artinya adalah "manusia laki-laki/ man" dan Hawa adalah "ibu dari yang hidup/ mother of the living". Dengan pengertian ini maka kita dapat berkata bahwa Kristus adalah Adam yang baru, dan Bunda Maria adalah Hawa yang baru. Oleh Adam pertama, manusia memperoleh dosa asal, oleh Adam kedua (Yesus),… Read more »

Ester Hittipiew
Ester Hittipiew
12 years ago

Selama saya di SMAK Santo Paulus, saya selalu mendapat penjelasan dengan perumpamaan. Misalnya Kopi 3 in 1 itu tadi. Jika isinya gula, kopi, dan air, itu sama sekali tidak sama dengan tiga pribadi Tuhan, karena gula tidak sama dengan kopi, juga tidak sama dengan air. Bila konsep kopi terus menerus digunakan, maka orang akan menganggap Bapa, Roh, dan Yesus adalah pribadi yang berbeda kemudian menyatu membentuk pribadi yang baru.

Ingrid Listiati
Reply to  Ester Hittipiew
12 years ago

Shalom Esther, Memang, kami juga setuju dengan Esther, bahwa menjelaskan Allah Trinitas dengan analogi kopi susu (kopi, susu dan gula) itu tidak cukup jelas. Maka kami menuliskan di artikel di atas demikian, Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis.  Penjelasan yang menggunakan… Read more »

antonius
antonius
12 years ago

salam damai bu…saya mau bertanya sedikit dalam katekismus dikatakan : 254 Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah “seakan-akan sendirian” (Fides Damasi: DS 71). “Bapa”, “Putera”, “Roh Kudus”, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena,mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: “Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera”(Sin. Toledo XI 675: DS 530). Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah “Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan” (K.… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  antonius
12 years ago

Shalom Antonius, Untuk menjawab pertanyaan anda, apakah salah kalau kita memanggil Bapa untuk menyebut Yesus,  atau menyebut Roh Kudus untuk menyebut Bapa, atau Bapa untuk menyebut Roh Kudus? Atau mengucapkan doa Bapa Kami dgn mengganti kata Bapa menjadi Yesus atau Roh Kudus? Maka jawabnya adalah salah. Karena meskipun Allah Bapa,  Putera dan Roh Kudus adalah Allah yang satu dalam kesatuan Tritunggal Maha Kudus, namun mereka adalah Tiga Pribadi yang tidak bisa dicampur adukkan satu sama lain. Memang ini merupakan suatu misteri, yaitu walaupun ada Tiga Pribadi namun Satu Allah. Berikut ini adalah yang dikatakan oleh Para Bapa Gereja, yaitu Tertullian,… Read more »

semang
semang
12 years ago

Shalom, 1. Hujung minggu lepas saya nonton kelayakan piala dunia zon Asia Jepun Vs Bahrin dan zon Amerika latin Argentina Vs Venezuala.Pertanyaan saya adalah berkenaan dengan “Tanda Salib”. Dalam pasukan Jepun ada seorang pemainnya yang bernama Julio seolah2 membuat tanda salib(saya katakan seolah2 kerana perbuatannya sangat pantas) dan coach Argentina sendiri Maradona juga membuat ‘Tanda Salib” jadi: -kenapa kebiasaannya atlit2 elit yang Kristian suka membuat tanda Salib? -selain Katolik adakah Kristian lain yang membuat ‘Tanda Salib?’Saya pernah tanya seorang Katekis berkenaan dengan ‘Tanda Salib’ ini adakah gereja Non Katolik juga buat? tapi dia tidak berminat hendak menjawap akhirnya saya pun… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  semang
12 years ago

Shalom Semang, Tradisi membuat tanda salib memang telah berakar sejak lama. Pada abad ke-2 memang tanda salib sudah umum dibuat di dahi, namun padaabad ke-4 tanda salib dibuat seperti yang kita kenal sekarang. Memang setelah jaman Reformasi, banyak gereja Protestan tidak melanjutkan tradisi membuat tanda salib ini, walaupun sebagian gereja tetap ada yang melakukannya, seperti, sebagian gereja Lutheran, gereja Anglikan, dan gereja-gereja Timur dan Orthodox. Untuk lebih lengkapnya informasi tentang Tanda Salib ini, silakan klik di link ini dan link ini. Tanda salib bagi kita orang Katolik, adalah tanda peringatan akan kemenangan salib Kristus yang merupakan karya Tritunggal Mahakudus, yaitu… Read more »

Chandra
Chandra
12 years ago

Shalom P. Stef & B.Ingrid, Maaf ada satu pertanyaan yang agak ‘konyol’, namun pernah ada yang menanyakan kepada saya tentang kata Trinitas dimana diartikan sebagai Satu Allah dalam Tiga Pribadi. Apakah kata “Pribadi” ini sudah tepat? Apakah itu (Satu Allah dalam Tiga Pribadi) berarti sama dengan dalam ilmu psikologi bahwa ada orang yang berkepribadian ganda atau bahkan lebih. Jadi pribadi/jiwa seseorang itu bisa terbelah menjadi beberapa pribadi. Di suatu saat dia (A) bisa merasa sebagai orang lain (B), di saat yang lain lagi dia merasa menjadi orang yang lain lagi (C)? Apakah karena keterbatasan bahasa manusia untuk menterjemahkan Trinitas itu… Read more »

Ingrid Listiati
Reply to  Chandra
12 years ago

Shalom Chandra, Tidak apa-apa bertanya yang kedengarannya ‘konyol’, sebab sesungguhnya malah hal itu dapat menghantar kita kepada pengertian yang lebih mendalam tentang misteri Allah Trinitas. Dengan istilah bahwa Allah kita adalah Allah yang Satu namun terdiri dari tiga Pribadi tidak sama artinya dengan pengertian seperti pada manusia yang dikatakan ‘berkepribadian ganda’, atau yang punya kepribadian lebih dari satu, atau Multi Personality Disorder (MPD). Menurut definisi, MPD ini adalah kelainan psikiatris yang ditandai dengan pemilikan setidaknya satu ‘peralihan’ kepribadian yang mengatur tingkah laku/ perbuatan. Peralihan kepribadian ini terjadi secara spontan/ tak disengaja, dan berfungsi kurang lebih terlepas dari pribadi yang lainnya.… Read more »

Gamaliel
Gamaliel
12 years ago

Salam kasih, Kelemahan yang cukup mendasar dari penjelasan analogis mentari maupun daun shamrock adalah bahwa analogi ini seolah-olah menunjukkan Trinitas itu satu realitas dengan tiga unsur. Matahari terdiri dari cahaya, kehangatan, dan energi, tetapi energi sendiri bukan mentari, cahaya sendiri maupun kehangatan sendiri bukanlah energi. Dalam daun shamrock pun, sehelai itu hanyalah ‘sepertiga’ daun. Nah, Allah Tritunggal tidak demikian. Memang Bapa dan Putera dan Roh Kudus itu satu kesatuan tetapi sekaligus Bapa adalah Allah, Putera adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah, masing-masing unik, kas, dan berbeda tetapi sekaligus masing-masing itu mempunyai kepenuhan Allah (bukan sepertiga keaallahan). Kita ingat dalam… Read more »

John Lewi
John Lewi
12 years ago

Pak Stefanus…
saya cukup terbantu dng penjelasan ini…
namun bagaimana caranya agar saya bisa menjelaskan secara sederhana kepada para katekumen yang baru saja mengenal kata Trinitas

thanks…
John Lewi

Stefanus Tay
Reply to  John Lewi
12 years ago

Shalom John Lewi, Memang misteri Trinitas tidaklah mudah untuk diterangkan. Untuk menerangkan Trinitas kepada Katekumen harus dimulai dari pribadi Yesus. Karena katekumen belajar agama Katolik sekitar satu tahun, maka akan lebih mudah untuk menerangkannya, karena dapat diterangkan tahap demi tahap, seperti: Keberadaan Tuhan: lihat artikel ini (silakan klik). Tentang Kristus (Kristologi): Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang… Read more »

JONI
JONI
12 years ago

salam damai kristus
sebagai orang katolik terus terang saya tidak setuju dengan gambar pada judul diatas yang menggambarkan tentang trinitas, disitu menggambarkan yesus, roh kudus yang berupa burung, dan yang satu lagi saya tidak tau tapi kemungkinan menggambarkan Allah, yesus sebagi manusia dan tuhan bisa saja digambar seperti diatas tapi saya mohon tuhan Allah jagan digambarkan karna belum ada yang melihat wujudnya kecuali tuhan yesus sendiri. trimakasih atas perhatianya mas stefanus
shalom.

Stefanus Tay
Reply to  JONI
12 years ago

Shalom Joni, Terimakasih atas pesannya. Saya menghargai keberatan dari Joni yang tidak mau Tuhan Allah digambarkan. Mari kita melihat keberatan ini. 1. Pribadi Yesus dan wajah Yesus telah digambarkan dalam berbagai macam karya seni, yang kemungkinan besar bersumber pada kain kafan dari Turin. Dan pribadi ketiga dari Trinitas digambarkan sebagai burung merpati, atau juga berupa lidah-lidah api, seperti yang diceritakan di dalam Alkitab. 2. Sedangkan pribadi Allah Bapa, kita mendapatkannya dari kitab Daniel, dimana dikatakan "Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api… Read more »

Abin
Abin
12 years ago

Shaloom P. Stef,
Trinitas memang suatu misteri yang sulit dijabarkan oleh manusia yang terbatas, tetapi memang harus dipahami dengan iman. Saya setuju dengan pernyataan P. Stef bahwa cara paling baik untuk menerangkan Trinitas, adalah mulai dengan pribadi Yesus. Kalau orang tersebut dapat menerima Yesus yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia, maka penjelasan Trinitas akan menjadi lebih mudah.
Namun, bagaimana caranya, yang paling sederhana tentunya, menerangkan Trinitas ini kepada anak kecil?
Terima kasih & GBU

Stefanus Tay
Reply to  Abin
12 years ago

Shalom Abin, Terimakasih atas pertanyaannya yang bagus. Untuk menerangkan Trinitas kepada anak kecil, kita dapat melakukan dengan beberapa cara berikut ini: Alkitab: Kita dapat jelaskan tentang siapa itu Tuhan, yang senantiasa ada dan tidak ada yang menciptakan.Kita juga dapat menjelaskan bahwa Yesus adalah Tuhan, seperti yang dikatakan di: Mat 1:23; Yoh 1:14; Yoh 10:30. Dan setelah Yesus naik ke Surga, Dia menginginkan kita semua untuk dapat menjalankan perintah-Nya. Untuk itulah Dia memberikan Allah Roh Kudus, seperti yang terjadi pada Pentakosta. Roh Kudus inilah yang memimpin kita semua, seperti kalau kita melakukan sesuatu yang salah, maka kita akan menyesal. Kalau kita… Read more »

Abin
Abin
Reply to  Stefanus Tay
12 years ago

Terima kasih P. Stef atas tanggapannya, hampir saja saya re-send he..hee.. bagaimana dengan ujian/testnya, sukses ya…
Ternyata sulit juga ya menerangkan Trinitas itu apalagi ke anak kecil. Seringkali saya kehabisan kata-kata sendiri pada saat menjelaskannya kepada anak kecil, tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya lagi. Apakah saya bisa menjelaskannya dengan analogi seperti ini: Misalkan, saya adalah seorang ayah bagi anak saya, namun saya adalah anak dari orangtua saya dan suami dari istri saya, namun saya adalah satu bukan tiga (tapi koq seperti menceriterakan “peran” saja ya?)
GBU,

Stefanus Tay
Reply to  Abin
12 years ago

Shalom Abin, Puji Tuhan ujiannya dapat berlangsung dengan baik. Memang untuk menerangkan Trinitas tidaklah mudah. Abin juga dapat memakai perumpamaan seorang ayah. Kita perlu menyadari bahwa perumpamaan apapun akan sangat sulit untuk dapat menerangkan tentang Trinitas, kehidupan pribadi Tuhan sendiri. Masing-masing pribadi dari Trinitas hanya berbeda dalam “origin“. Allah Putera dari Allah Bapa dan Allah Roh Kudus dari Allah Bapa dan Allah Putera. Sedangkan tentang peran, ke-Tiga Pribadi melakukan segala sesuatu secara bersama-sama, seperti: penciptaan, pembebasan, pengudusan, dll. Namun kita sering memberikan peran kepada Allah Bapa sebagai Sang Pencipta, Allah Putera sebagai Sang Pembebas, dan Allah Roh Kudus sebagai yang… Read more »

Yohanes K
Yohanes K
Reply to  Stefanus Tay
12 years ago

Shalom Pak Stef,

Saya baru saja baca situs “Saint Patrick’s Shamrock” yang menyinggung doktrin Trinitas. Disitu dikatakan kalau Santo Patrick hidup sekarang, dia tidak akan memakai Shamrock untuk menjelaskan misteri Trinitas. Karena dalam bukunya “The Unveiling of the Trinity” Tom Bosse sudah dapat menjelaskannya. Apa Pak Stef punya buku ini? Kalau punya, apa kapan-kapan bisa dibahas di http://www.katolisitas.org agar banyak umat Katolik dapat menyimaknya.

Terima kasih,

Yohanes K.

Stefanus Tay
Reply to  Yohanes K
12 years ago

Shalom Yohanes K,
St. Patrick menggunakan Shamrock (daun yang membentuk tiga jari, satu ke atas, dan dua ke samping) sebagai suatu analogi. Menurut saya analogi apapun tidak akan dapat secara baik menerangkan misteri Trinitas.
Terimakasih juga atas informasinya tentang buku “The Unveiling of the Trinity”. Dari beberapa review yang ada, saya tidak terlalu menyarankan buku ini, walaupun saya belum pernah membacanya. Ada begitu banyak buku yang dapat menerangkan dengan lebih baik tentang misteri Trinitas, terutama adalah “Summa Theology” dari St. Thomas Aquinas.

Salam kasih dari https://www.katolisitas.org
stef

Gamaliel
Gamaliel
Reply to  Abin
12 years ago

Salam kasih, Menjelaskan Trinitas dengan analogi ayah dengan tiga peran memang lazim dipakai oleh para katekis. Saya juga pernah diajari demikian. Namun, mohon hati-hati dengan penjelasan ini. Analogi ini menunjukkan satu pribadi dengan tiga peran berbeda. Ajaran yang menerangkan kalau Allah itu satu pribadi dengan tiga peran ini pernah dikatakan sebagai bidaah dalam Gereja, yaitu Modalisme. Trinitas itu bukan satu pribadi, melainkan tiga pribadi yang sungguh berbeda. Bapa berbeda dengan Putra dan berbeda pula dengan Roh Kudus. Ketiganya itu khas dan unik, tetapi sekaligus ketiganya ini bersatu secara sempurna. Ada rumus yang perlu dipegang mengenai tiga pribadi Trinitaris itu: kesatuan… Read more »

Stefanus Tay
Reply to  Gamaliel
12 years ago

Shalom Gamaliel,
Terima kasih atas masukannya yang sungguh berharga. Memang menjelaskan Trinitas dengan analogi selalu akan kurang dan tidak sempurna, dan bahkan kalau tidak hati-hati akan terjebak pada pengertian yang salah. Memandang Trinitas hanya dalam “peran” memang adalah ajaran sesat, seperti yang Gamaliel nyatakan, yaitu yang disebut “Sabellian Heresy (Modelism or monarchianism”.
Saya setuju sekali dengan keterangan kasih dalam Trinitas. Memang kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah sempurna secara absolut. Hasil dari pertukaran kasih yang sempurna ini adalah Roh Kudus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef

Yohanes K
Yohanes K
Reply to  Abin
12 years ago

Syaloom Abin, Sebenarnya ada cara sederhana untuk menerangkan konsep Trinitas atau Tritunggal Mahakudus, yaitu menggunakan Daun Semanggi bercabang 3 Daun Shamrock). Bentuk daun itu mirip gambar cengkeh yang ada di kartu 41. Kepada petani Irlandia, Santo Patrick menunjukkan daun shamrock itu dan bertanya, “Ini tiga atau satu?” Jawab para petani: “Ya tiga, ya satu.” Itulah Trintias, kata Santo Patrick. Silahkan Anda mencari “St Patrick” dari Google. Mudah2-an anda menemukannya. Saya heran, banyak Romo masih berpegang pada pendapat St Agustinus yang bilang tidak mungkin memahami Trinitas, sementara St Patrick sudah menemukan cara sederhana k.l. 1500 tahun lalu (k.l. 100 tahun setelah… Read more »

brogio
brogio
12 years ago

Salam Damai dalam nama Tuhan Yesus Kristus!
Saya secara jujur mau mengatakan bahwa penjelasan Bapak tentang Allah Trinitas sungguh menarik dan sangat teologis. Namun, saya temukan dari penjelasan Bapak itu, orang Kristen itu percaya kepada monoteisme abstrak. Saya mengatakan ini karena saya melihat bahwa pemahaman tentang Allah yang esa itu memberikan kesan yang menunjukkan secara tidak tegas bahwa konsep Allah itu esa.Menurut saya, mungkin karena pemahaman konsep Allah Trinitas yang cukup sulit itu, menampakkan lebih banyak permainan kata, sehingga ajaran iman ini (Trinitas) tidak dipahami dengan baik oleh umat kebanyakan, saya sendiri pun mengalami hal yang sama. GBU.

Stefanus Tay
Reply to  brogio
12 years ago

Shalom Brogio, Terimakasih atas pesannya. Namun kesimpulan tentang kepercayaan orang Kristen akan Allah yang satu adalah abstrak perlu diperjelas. Kepercayaan akan Allah yang satu dapat dibuktikan dengan akal budi manusia, seperti yang telah ditulis di artikel: Membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Jadi keberadaan Tuhan dapat dibuktikan secara natural (akal budi manusia). Namun kalau ditanya, Tuhan yang satu, yang seperti apa yang kita percayai? Maka jawabannya juga akan abstrak, karena apapun yang kita pakai untuk menggambarkan keberadaan Tuhan dan sifat-sifatnya adalah sangat terbatas. Sebaik apapun logika dan analogi yang kita pakai akan senantiasa terbatas, karena kata-kata dan pikiran kita terbatas untuk… Read more »

andryhart
andryhart
12 years ago

Shalom,
Penjelasan Bapak tentang Allah Trinitas sangat baik jika dilihat dari sudut pandang Firman Allah dan Ajaran Gereja. Akan tetapi, ketika harus menjelaskannya kepada umat agama non-Kristen, kita dapat menggunakan logika. Saya sendiri kadang-kadang menganalogikan Allah seperti mentari yang memberikan terang, kehangatan dan energi kepada manusia sesuai dengan Injil Yohanes yang mengatakan Yesus sebagai terang yang tidak dikuasai oleh kegelapan (Yohanes 1:4-5). Berdasarkan analogi ini, saya mengatakan bahwa Allah Trinitas telah memberikan karunia penciptaan, penebusan dan pendampingan melalui Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Tuhan memberkati.

Stefanus Tay
Reply to  andryhart
12 years ago

Shalom Andryhart, Terimakasih atas komentarnya. Dalam artikel Trinitas, Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi, saya ingin menekankan bahwa menggunakan logika saja – dalam hal ini menggunakan analogi – seperti matahari, segitiga, kopi susu, tidaklah cukup, karena kurang dapat menerangkan maksud Tritunggal Maha Kudus secara lebih dalam. Saya ingat suatu saat melihat suatu video, dan didalamnya orang tersebut berkata "Saya bertanya tentang Trinitas, namun orang tersebut menjawab dengan menggambarkan segitiga. Dalam hati saya berfikir kenapa hanya segitiga, khan segiempat juga bisa?" Nah, tanggapan seperti inilah yang kita tidak inginkan. Oleh sebab itu, penggunaan analogi tidak akan cukup untuk menerangkan Trinitas, walaupun penggunaan… Read more »

ragil
ragil
Reply to  Stefanus Tay
12 years ago

Tuhan beserta kita,
langsung saja neh.
Apakah tidak ada penjelasan tentang Trinitas selain versi kristen ini?
Kadang saya berfikir mencari tahu apa ada penjelasan tentang trinitas ini dari versi lain.
Saya sadar sepenuhnya bahwa Trinitas ini hanya ada di dalam kristianitas dan di luar itu tidak ada paham semacam ini.
Penjelasan yang ada selalu didasarkan kepada Injil. Sementara di luar agama Kristen ada anggapan bahwa keberadaan injil (mat, mark, luk, dan yoh) telah di modifikasi oleh hirarki.
mohon pejelasannya.
terima kasih

Stefanus Tay
Reply to  ragil
12 years ago

Shalom Ragil, Terimakasih atas pertanyaannya. Dalam tulisan Trinitas yang kami coba sampaikan adalah: Trinitas adalah suatu misteri dari kehidupan interior Allah sendiri, yang kalau Tuhan tidak mewahyukannya kepada manusia, tidak mungkin manusia dapat mengetahuinya. Tidak mungkin manusia mencapai pengetahuan dan pengertian Trinitas hanya dari pemikiran atau akal budi manusia yang terbatas. Karena wahyu Ilahi yang paling jelas adalah dengan menggunakan Alkitab, maka penjelasan Trinitas yang lebih lengkap tidak akan mungkin tanpa menggunakan Alkitab. Permasalahannya adalah bagaimana menjelaskan Trinitas kepada orang yang tidak percaya bahwa Alkitab adalah Sabda Tuhan? Saya mengusulkan, bagi orang yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan, mulailah dengan… Read more »

Agustinus_Lay
Agustinus_Lay
Reply to  Stefanus Tay
11 years ago

Selamat malam Bapak dan Ibu Tsy, saya telah dua bulan ini telusur di Katolisitas.org
Trima-kasih saya telah mendapat banyak tambahan pengetahuan tentang Iman saya.
Selama penjelajahan saya sebenarnya saya mencari topik tentang Matius 12 : 32…… menentang Anak Manusia masih diampuni, menetang Roh Kudus tidak di ampuni di dunia ini maupun di dunia akan datang…….
Atas bantuan Bapak/Ibu saya ucapkan terima-kasih.

Stefanus Tay
Reply to  Agustinus_Lay
11 years ago

Shalom Agustinus Lay,
Terima kasih atas dukungannya terhadap situs ini. Untuk mencari artikel, sebenarnya anda dapat menggunakan pencarian, dengan memasukkan kata kunci “dosa menghujat Roh Kudus”, sehingga anda akan mendapatkan hasil berikut ini (silakan klik). Kemudian anda dapat melihat artikle dan tanya jawab tersebut. Semoga dapat berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org

1 2 3 5
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
227
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x