<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments for katolisitas.org</title>
	<atom:link href="http://katolisitas.org/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://katolisitas.org</link>
	<description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 03:14:17 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
		<item>
		<title>Comment on Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah by Stefanus Tay</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/09/18/kristus-yang-kita-imani-yesus-menurut-sejarah/#comment-1336</link>
		<dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 16:09:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/kristus-yang-kita-imani-yesus-menurut-sejarah/#comment-1336</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Teddy Senjaya,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pertama, saya ingin menegaskan bahwa ilustrasi yang saya pakai tentang Bill Gates hanyalah untuk membuktikan bahwa dia seorang yang kaya tanpa berkata bahwa dia kaya, karena didukung dengan begitu banyak bukti. Jadi saya tidak mengatakan apa yang dia lakukan &#34;morally&#34; baik, karena kembali ke jawaban saya semula, bahwa tiga hal perlu dipenuhi (&lt;em&gt;object, circumstances, intention&lt;/em&gt;) untuk mengatakan bahwa suatu tindakan dikategorikan sebagai tindakan moral yang baik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tentang pertanyaan apakah Bill Gates termasuk dalam kategori &lt;em&gt;invincible &lt;/em&gt;atau&lt;em&gt; culpable&lt;/em&gt;, ini merupakan suatu hipotesa semata. Kalau melihat latar belakangnya bahwa dia menikah dengan seorang Katolik, ini berarti dia tahu tentang kekatolikan. Apakah istrinya dan lingkungannya dapat memberikan kesaksian yang baik, sehingga dia tertarik untuk menjadi Katolik, saya tidak tahu. Dengan kapasitasnya, sangat sulit untuk mengatakan bahwa dia termasuk dalam kategori invincible ignorance, kalau kita melihatnya hanya dari luar. Namun, kita juga tidak pernah tahu bagaimana latar belakangnya secara persis, pergumulan batinnya, dll, sehingga dia tumbuh seperti sekarang ini dan mempunyai spiritualitas yang dia yakini. Namun perjalanan hidupnya belum selesai, karena bisa saja pada akhir hidupnya, dia bertobat. Jadi yang tahu secara persis apakah seseorang termasuk&lt;em&gt; invincible ignorance&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;culpable ignorance &lt;/em&gt;hanya Tuhan. Itulah sebabnya Gereja tidak pernah tahu secara persis apakah seseorang masuk neraka. Namun Gereja dapat mengatakan secara persis bahwa seseorang masuk surga, yaitu pada saat seseorang dinyatakan sebagai santa atau santo.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga uraian tersebut dapat menjawab pertanyaan Teddy. Mari kita bersama-sama berjuang terus untuk mendapatkan keselamatan kekal dengan cara hidup kudus, sehingga kita tidak menjadi batu sandungan buat orang lain yang ingin mengenal Kristus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Teddy Senjaya,</p>
<p>Pertama, saya ingin menegaskan bahwa ilustrasi yang saya pakai tentang Bill Gates hanyalah untuk membuktikan bahwa dia seorang yang kaya tanpa berkata bahwa dia kaya, karena didukung dengan begitu banyak bukti. Jadi saya tidak mengatakan apa yang dia lakukan &quot;morally&quot; baik, karena kembali ke jawaban saya semula, bahwa tiga hal perlu dipenuhi (<em>object, circumstances, intention</em>) untuk mengatakan bahwa suatu tindakan dikategorikan sebagai tindakan moral yang baik.</p>
<p>Tentang pertanyaan apakah Bill Gates termasuk dalam kategori <em>invincible </em>atau<em> culpable</em>, ini merupakan suatu hipotesa semata. Kalau melihat latar belakangnya bahwa dia menikah dengan seorang Katolik, ini berarti dia tahu tentang kekatolikan. Apakah istrinya dan lingkungannya dapat memberikan kesaksian yang baik, sehingga dia tertarik untuk menjadi Katolik, saya tidak tahu. Dengan kapasitasnya, sangat sulit untuk mengatakan bahwa dia termasuk dalam kategori invincible ignorance, kalau kita melihatnya hanya dari luar. Namun, kita juga tidak pernah tahu bagaimana latar belakangnya secara persis, pergumulan batinnya, dll, sehingga dia tumbuh seperti sekarang ini dan mempunyai spiritualitas yang dia yakini. Namun perjalanan hidupnya belum selesai, karena bisa saja pada akhir hidupnya, dia bertobat. Jadi yang tahu secara persis apakah seseorang termasuk<em> invincible ignorance</em> atau <em>culpable ignorance </em>hanya Tuhan. Itulah sebabnya Gereja tidak pernah tahu secara persis apakah seseorang masuk neraka. Namun Gereja dapat mengatakan secara persis bahwa seseorang masuk surga, yaitu pada saat seseorang dinyatakan sebagai santa atau santo.</p>
<p>Semoga uraian tersebut dapat menjawab pertanyaan Teddy. Mari kita bersama-sama berjuang terus untuk mendapatkan keselamatan kekal dengan cara hidup kudus, sehingga kita tidak menjadi batu sandungan buat orang lain yang ingin mengenal Kristus.</p>
<p>Salam kasih dari <a href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br />
stef</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah by Teddy Senjaya</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/09/18/kristus-yang-kita-imani-yesus-menurut-sejarah/#comment-1335</link>
		<dc:creator>Teddy Senjaya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 07:57:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/kristus-yang-kita-imani-yesus-menurut-sejarah/#comment-1335</guid>
		<description>Shalom Pak Stef,
Terima kasih atas jawaban bapak dan sangat membantu pemahaman saya, tapi ada sedikit tambahan yaitu mengenai Bill Gates sendiri. Apakah bapak dapat memperkirakan dia ada di posisi mana (invisible/culpable ignorance)? Saya sendiri merasa sulit. Di artikel bapak, terkesan dia itu cukup baik dengan aktifitas philantropy-nya, sementara menurut info yang saya tahu: Dia lahir dari keluarga kristen, mungkin kurang taat, istrinya katolik (mungkin juga kurang taat), tapi menikah secara katolik (saya tidak tahu alasannya), dan pernah ditanya " apakah anda percaya adanya Tuhan?" jawabnya: Dia tidak begitu peduli. Dan dia termasuk dalam salah satu tokoh (dari berbagai ilmuwan, politikus, dan selebrities) dalam kampanye atheis (dapat di lihat di youtube, produksi Zak Attack) sekalipun mungkin juga itu tanpa seijin dia. Mohon komentar dari Pak Stef.
Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Pak Stef,<br />
Terima kasih atas jawaban bapak dan sangat membantu pemahaman saya, tapi ada sedikit tambahan yaitu mengenai Bill Gates sendiri. Apakah bapak dapat memperkirakan dia ada di posisi mana (invisible/culpable ignorance)? Saya sendiri merasa sulit. Di artikel bapak, terkesan dia itu cukup baik dengan aktifitas philantropy-nya, sementara menurut info yang saya tahu: Dia lahir dari keluarga kristen, mungkin kurang taat, istrinya katolik (mungkin juga kurang taat), tapi menikah secara katolik (saya tidak tahu alasannya), dan pernah ditanya &#8221; apakah anda percaya adanya Tuhan?&#8221; jawabnya: Dia tidak begitu peduli. Dan dia termasuk dalam salah satu tokoh (dari berbagai ilmuwan, politikus, dan selebrities) dalam kampanye atheis (dapat di lihat di youtube, produksi Zak Attack) sekalipun mungkin juga itu tanpa seijin dia. Mohon komentar dari Pak Stef.<br />
Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik by Bernadus</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-1334</link>
		<dc:creator>Bernadus</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 04:41:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=135#comment-1334</guid>
		<description>Terima kasih atas tanggapannya pak, mengenai kelompok yang saya ceritakan bisa dilihat di http://mariaibuyangbahagia.org
mohon tanggapan, masukan dan saran, terima kasih.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih atas tanggapannya pak, mengenai kelompok yang saya ceritakan bisa dilihat di <a href="http://mariaibuyangbahagia.org" rel="nofollow">http://mariaibuyangbahagia.org</a><br />
mohon tanggapan, masukan dan saran, terima kasih&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Buku Tamu [Guestbook] by Ingrid Listiati</title>
		<link>http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-1333</link>
		<dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 04:33:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/364/#comment-1333</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Shinto, &lt;br /&gt;
Berikut ini adalah tanggapan kami atas komentar anda:&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doa adalah sarana untuk mengingat Tuhan dan menyatukan diri dengan Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Ya, benar, bahwa doa terutama adalah&#34;pengangkatan jiwa kepada Tuhan&#34; (KGK 2559), yang ditujukan juga untuk permohonan demi hal-hal yang baik. Doa yang sempurna sesungguhnya adalah doa Bapa Kami, yang diajarkan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Jika kita renungkan doa Bapa Kami ini, dalam doa meditasi seperti yang diajarkan oleh St. Theresia dari Avila, kita akan sampai pada persatuan dengan Tuhan. Doa Rosario sambil merenungkan peristiwa-peristiwa hidup Yesus juga bermaksud mengantarkan kita kepada permenungan akan misteri kasih Allah sehingga kita dapat mengangkat jiwa kita kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap yang diperlukan dalam doa ini adalah kerendahan hati&lt;/span&gt;, yang membuat kita sadar bahwa sesungguhnya &#34;kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa&#34; (Rom 8:26) sehingga kita selalu dapat menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, dan bukannya seperti orang yang 'memerintah' Tuhan untuk berbuat ini dan itu sesuai dengan permintaan kita. Maka dalam hal ini kita perlu memiliki sikap seperti Bunda Maria, yang percaya sepenuhnya akan rencana kasih Allah pada kita sehingga seperti dia, kita dapat berkata, &#34;Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu&#34; (Luk 1:38). Dengan sikap ini, maka doa kita tidak dipenuhi dengan daftar permintaan, namun lebih kepada doa pujian, penyembahan, dan penyerahan diri kepada Allah, dan memohon terutama untuk hal-hal yang dapat memuliakan Allah.&lt;br /&gt;
&#160;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Iblis bukan teman tapi juga bukan musuh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Jika kita mau mengikuti teladan Yesus, kita harus melihat bahwa pernyataan ini keliru. Di akhir pencobaan di padang gurun, Yesus berkata kepada Iblis itu, &#34;Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis, Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti &#34; (Mat 4: 10). Maka dari sini kita ketahui bahwa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kita harus mengusir Iblis (dan segala pengaruhnya)&#160; dari kehidupan kita&lt;/span&gt;, agar kita sepenuhnya dapat menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya. Janganlah kita lupa bahwa Iblis itu memiliki tipu daya, seperti ketika ia memperdaya Adam dan Hawa. Maka Iblis itu tidak pernah puas pada tanggapan yang netral, ia akan berusaha dengan segala cara agar kita terperangkap oleh tipu dayanya. Maka, Iblis adalah musuh kita, oleh karena itu, sepanjang hidup kita di dunia adalah pergumulan untuk mengalahkan pengaruh kuasa jahat (dari Iblis) untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan. Rasul Petrus mengatakan, &#34;Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lawanlah dia dengan iman yang teguh&lt;/span&gt;... &#34; (1Pet 5:8-9)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Hal benar dan salah hanyalah pendapat orang atas hasil kesepakatan bersama?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Menurut St. Thomas Aquinas, kebenaran adalah sesuatu yang obyektif. Maka manusia yang diciptakan dengan akal budi dapat mengenali kebenaran. Maka, kita mengetahui pula bahwa hanya dengan menggunakan akal budi, setiap manusia sesungguhnya dapat mengetahui bahwa Allah itu ada (silakan baca artikel: &lt;a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/06/10/bagaimana-membuktikan-bahwa-tuhan-itu-ada/" rel="nofollow"&gt;Bagaimana membuktikan bahwa Allah itu ada?&lt;/a&gt; silakan klik).&lt;br /&gt;
Atas dasar ini maka sesungguhnya kebenaran bukan merupakan sesuatu yang relatif berdasarkan kesepakatan bersama. Kebenaran yang ada di jaman dahulu, misalnya, juga harus merupakan kebenaran di jaman sekarang, sebab jika tidak, hal itu bukan kebenaran lagi. Contoh, Kesepuluh Perintah Allah, adalah kebenaran yang mendasar, yang tetap berlaku sampai sekarang. Maka dengan ini sesungguhnya, kita mengetahui bahwa, membunuh itu dari jaman dahulu sampai sekarang berdosa. Maka aborsi, misalnya, tidak seharusnya dibenarkan dan dilegalisasi, meskipun ada kesepakatan beberapa orang yang menyetujui hal itu, seperti yang terjadi di beberapa negara, termasuk Amerika. Menanggapi hal ini, Gereja Katolik selalu menyuarakan kebenaran yang menentang aborsi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Allah Maha Kasih dan Allah Maha Adil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Ya, benar bahwa selain Tuhan Maha Kasih, Ia juga Maha Adil. Namun melukiskan keadilan Tuhan seperti 'satu dibalas dengan satu' seperti demikian juga tidak tepat. Karena Tuhan Yesus memperbaharui hukum 'mata ganti mata, gigi ganti gigi' dengan hukum kasih, bahkan untuk mengasihi musuh (lihat Mat 5:38, 44). Maka kita mengetahui bahwa belas kasihan Tuhan mengatasi keadilan yang kaku, walaupun&#160; &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;tidak&lt;/span&gt; berarti bahwa belas kasihan Tuhan menghapuskan keadilan-Nya. Jadi ajaran yang mengatakan tidak adanya konsekuensi apapun dari dosa, ataupun ajaran 'sekali selamat tetap selamat' sesungguhnya mempertentangkan sikap Allah yang Maha Kasih dan Maha Adil, sebab ajaran itu&#160; mengajarkan bahwa asal kita percaya, walaupun kita hidup dalam dosa berat sekalipun, kita tetap dapat masuk surga. Ajaran ini tidak menunjukkan keadilan Allah (Ajaran ini bukan ajaran Gereja Katolik). Namun demikian, Gereja Katolik bukan semata-mata menekankan keadilan Allah, sebab jika kita semua diadili sesuai dengan keadilan Allah, semua dari kita tidak ada yang dapat bertahan. Maka Gereja mengajarkan kepada kita juga untuk mempercayakan diri kita kepada kerahiman Allah. Contoh yang paling jelas adalah dalam doa devosi Koronka, yang memohon Kerahiman Ilahi. Pada St. Faustina, Kristus mengatakan bahwa kepada siapa yang setia berdoa Koronka, maka Ia akan berdiri sebagai pembela dan bukannya sebagai penuduh pada saat ajal orang itu. Betapa besarnya belas kasihan Allah yang ditujukan-Nya kepada mereka yang mengandalkan Dia. &#34;Yesus, aku mengandalkan Engkau&#34; adalah inti iman kita kepada belas kasihan dan kerahiman Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sesungguhnya, lebih tepat jika dikatakan bahwa sikap 'takut akan Tuhan' seharusnya lebih didasari oleh kasih kepada Allah daripada oleh keadilan Allah. Maksudnya adalah, kita takut menyakiti hati Tuhan dengan melakukan perbuatan dosa kita, daripada kita takut kepada keadilan Tuhan, yang artinya, takut akan hukuman Tuhan atas dosa kita. Dalam spiritualitas kedua jenis 'takut akan Tuhan' ini disebut sebagai '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;servile fear&lt;/span&gt;' (takut akan keadilan Tuhan/ hukuman) dan '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;filial fear&lt;/span&gt;' (takut menyedihkan Tuhan karena kasih kita kepada -Nya). &lt;br /&gt;
Kedua jenis 'takut akan Tuhan' ini menyertai pertumbuhan spiritualitas kita. Pada tahap awal, takut akan Tuhan lebih didominasi oleh takut akan hukuman/ keadilan Tuhan/ '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;servile fear&lt;/span&gt;'. Hal ini bukannya buruk, tetapi tidak sempurna. Semakin bertumbuh rohani kita, maka pada akhirnya, kesempurnaan hubungan kita dengan Tuhan adalah menuju kepada '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;filial fear&lt;/span&gt;', tanpa menghapuskan keberadaan '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;servile fear&lt;/span&gt;'. Maksudnya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;takut akan Tuhan yang didasari oleh kasih kita kepada-Nya, tanpa melupakan keadilan-Nya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian tanggapan saya, semoga dapat menjadi bahan permenungan bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
Ingrid Listiati&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Shinto, <br />
Berikut ini adalah tanggapan kami atas komentar anda:<br />
<span style="font-weight: bold;">A.</span> <span style="font-weight: bold;">Doa adalah sarana untuk mengingat Tuhan dan menyatukan diri dengan Tuhan</span><br />
Ya, benar, bahwa doa terutama adalah&quot;pengangkatan jiwa kepada Tuhan&quot; (KGK 2559), yang ditujukan juga untuk permohonan demi hal-hal yang baik. Doa yang sempurna sesungguhnya adalah doa Bapa Kami, yang diajarkan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Jika kita renungkan doa Bapa Kami ini, dalam doa meditasi seperti yang diajarkan oleh St. Theresia dari Avila, kita akan sampai pada persatuan dengan Tuhan. Doa Rosario sambil merenungkan peristiwa-peristiwa hidup Yesus juga bermaksud mengantarkan kita kepada permenungan akan misteri kasih Allah sehingga kita dapat mengangkat jiwa kita kepada Tuhan.<br />
<span style="font-weight: bold;">Sikap yang diperlukan dalam doa ini adalah kerendahan hati</span>, yang membuat kita sadar bahwa sesungguhnya &quot;kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa&quot; (Rom 8:26) sehingga kita selalu dapat menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, dan bukannya seperti orang yang &#8216;memerintah&#8217; Tuhan untuk berbuat ini dan itu sesuai dengan permintaan kita. Maka dalam hal ini kita perlu memiliki sikap seperti Bunda Maria, yang percaya sepenuhnya akan rencana kasih Allah pada kita sehingga seperti dia, kita dapat berkata, &quot;Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu&quot; (Luk 1:38). Dengan sikap ini, maka doa kita tidak dipenuhi dengan daftar permintaan, namun lebih kepada doa pujian, penyembahan, dan penyerahan diri kepada Allah, dan memohon terutama untuk hal-hal yang dapat memuliakan Allah.<br />
&nbsp;<br />
<span style="font-weight: bold;">B. Iblis bukan teman tapi juga bukan musuh?</span><br />
Jika kita mau mengikuti teladan Yesus, kita harus melihat bahwa pernyataan ini keliru. Di akhir pencobaan di padang gurun, Yesus berkata kepada Iblis itu, &quot;Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis, Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti &quot; (Mat 4: 10). Maka dari sini kita ketahui bahwa <span style="font-weight: bold;">kita harus mengusir Iblis (dan segala pengaruhnya)&nbsp; dari kehidupan kita</span>, agar kita sepenuhnya dapat menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya. Janganlah kita lupa bahwa Iblis itu memiliki tipu daya, seperti ketika ia memperdaya Adam dan Hawa. Maka Iblis itu tidak pernah puas pada tanggapan yang netral, ia akan berusaha dengan segala cara agar kita terperangkap oleh tipu dayanya. Maka, Iblis adalah musuh kita, oleh karena itu, sepanjang hidup kita di dunia adalah pergumulan untuk mengalahkan pengaruh kuasa jahat (dari Iblis) untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan. Rasul Petrus mengatakan, &quot;Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. <span style="font-weight: bold;">Lawanlah dia dengan iman yang teguh</span>&#8230; &quot; (1Pet 5:8-9)</p>
<p><span style="font-weight: bold;">C. Hal benar dan salah hanyalah pendapat orang atas hasil kesepakatan bersama?</span><br />
Menurut St. Thomas Aquinas, kebenaran adalah sesuatu yang obyektif. Maka manusia yang diciptakan dengan akal budi dapat mengenali kebenaran. Maka, kita mengetahui pula bahwa hanya dengan menggunakan akal budi, setiap manusia sesungguhnya dapat mengetahui bahwa Allah itu ada (silakan baca artikel: <a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/06/10/bagaimana-membuktikan-bahwa-tuhan-itu-ada/" rel="nofollow">Bagaimana membuktikan bahwa Allah itu ada?</a> silakan klik).<br />
Atas dasar ini maka sesungguhnya kebenaran bukan merupakan sesuatu yang relatif berdasarkan kesepakatan bersama. Kebenaran yang ada di jaman dahulu, misalnya, juga harus merupakan kebenaran di jaman sekarang, sebab jika tidak, hal itu bukan kebenaran lagi. Contoh, Kesepuluh Perintah Allah, adalah kebenaran yang mendasar, yang tetap berlaku sampai sekarang. Maka dengan ini sesungguhnya, kita mengetahui bahwa, membunuh itu dari jaman dahulu sampai sekarang berdosa. Maka aborsi, misalnya, tidak seharusnya dibenarkan dan dilegalisasi, meskipun ada kesepakatan beberapa orang yang menyetujui hal itu, seperti yang terjadi di beberapa negara, termasuk Amerika. Menanggapi hal ini, Gereja Katolik selalu menyuarakan kebenaran yang menentang aborsi. </p>
<p><span style="font-weight: bold;">D. Allah Maha Kasih dan Allah Maha Adil</span><br />
Ya, benar bahwa selain Tuhan Maha Kasih, Ia juga Maha Adil. Namun melukiskan keadilan Tuhan seperti &#8217;satu dibalas dengan satu&#8217; seperti demikian juga tidak tepat. Karena Tuhan Yesus memperbaharui hukum &#8216;mata ganti mata, gigi ganti gigi&#8217; dengan hukum kasih, bahkan untuk mengasihi musuh (lihat Mat 5:38, 44). Maka kita mengetahui bahwa belas kasihan Tuhan mengatasi keadilan yang kaku, walaupun&nbsp; <span style="text-decoration: underline;">tidak</span> berarti bahwa belas kasihan Tuhan menghapuskan keadilan-Nya. Jadi ajaran yang mengatakan tidak adanya konsekuensi apapun dari dosa, ataupun ajaran &#8217;sekali selamat tetap selamat&#8217; sesungguhnya mempertentangkan sikap Allah yang Maha Kasih dan Maha Adil, sebab ajaran itu&nbsp; mengajarkan bahwa asal kita percaya, walaupun kita hidup dalam dosa berat sekalipun, kita tetap dapat masuk surga. Ajaran ini tidak menunjukkan keadilan Allah (Ajaran ini bukan ajaran Gereja Katolik). Namun demikian, Gereja Katolik bukan semata-mata menekankan keadilan Allah, sebab jika kita semua diadili sesuai dengan keadilan Allah, semua dari kita tidak ada yang dapat bertahan. Maka Gereja mengajarkan kepada kita juga untuk mempercayakan diri kita kepada kerahiman Allah. Contoh yang paling jelas adalah dalam doa devosi Koronka, yang memohon Kerahiman Ilahi. Pada St. Faustina, Kristus mengatakan bahwa kepada siapa yang setia berdoa Koronka, maka Ia akan berdiri sebagai pembela dan bukannya sebagai penuduh pada saat ajal orang itu. Betapa besarnya belas kasihan Allah yang ditujukan-Nya kepada mereka yang mengandalkan Dia. &quot;Yesus, aku mengandalkan Engkau&quot; adalah inti iman kita kepada belas kasihan dan kerahiman Allah. </p>
<p>Jadi sesungguhnya, lebih tepat jika dikatakan bahwa sikap &#8216;takut akan Tuhan&#8217; seharusnya lebih didasari oleh kasih kepada Allah daripada oleh keadilan Allah. Maksudnya adalah, kita takut menyakiti hati Tuhan dengan melakukan perbuatan dosa kita, daripada kita takut kepada keadilan Tuhan, yang artinya, takut akan hukuman Tuhan atas dosa kita. Dalam spiritualitas kedua jenis &#8216;takut akan Tuhan&#8217; ini disebut sebagai &#8216;<span style="font-style: italic;">servile fear</span>&#8216; (takut akan keadilan Tuhan/ hukuman) dan &#8216;<span style="font-style: italic;">filial fear</span>&#8216; (takut menyedihkan Tuhan karena kasih kita kepada -Nya). <br />
Kedua jenis &#8216;takut akan Tuhan&#8217; ini menyertai pertumbuhan spiritualitas kita. Pada tahap awal, takut akan Tuhan lebih didominasi oleh takut akan hukuman/ keadilan Tuhan/ &#8216;<span style="font-style: italic;">servile fear</span>&#8216;. Hal ini bukannya buruk, tetapi tidak sempurna. Semakin bertumbuh rohani kita, maka pada akhirnya, kesempurnaan hubungan kita dengan Tuhan adalah menuju kepada &#8216;<span style="font-style: italic;">filial fear</span>&#8216;, tanpa menghapuskan keberadaan &#8216;<span style="font-style: italic;">servile fear</span>&#8216;. Maksudnya, <span style="font-weight: bold;">takut akan Tuhan yang didasari oleh kasih kita kepada-Nya, tanpa melupakan keadilan-Nya. </span></p>
<p>Demikian tanggapan saya, semoga dapat menjadi bahan permenungan bersama.</p>
<p>Salam kasih dari <a href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br />
Ingrid Listiati</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik by Stefanus Tay</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-1332</link>
		<dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 04:21:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=135#comment-1332</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Bernadus,&lt;br /&gt;
Terimakasih atas pertanyaannya. Kita memang harus bangga dan bersyukur atas karunia iman sehingga kita menjadi anggota Gereja Katolik, dimana kepenuhan kebenaran ada di dalam-Nya. Namun, pada saat yang bersamaan, ini menjadi suatu tantangan agar kita berjuang untuk hidup seperti, mengikuti ajaran Kristus. Mari kita membahas pertanyaan Bernadus:&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Setiap orang Katolik tidak harus ikut Karismatik untuk dapat diselamatkan. Keselamatan adalah berkat dari Tuhan semata yang diwujudkan dalam Sakramen Baptis sebagai jawaban &#34;ya&#34; kita atas rahmat Tuhan. Dan untuk diselamatkan, kita perlu hidup kudus, seperti yang diajarkan oleh Kristus. Silakan membaca rangkaian artikel tentang kekudusan:&lt;br /&gt;
	Kekudusan itu sangat penting dalam kehidupan rohani kita, karena &lt;a href="http://katolisitas.org/?p=96" rel="nofollow"&gt;kekudusan adalah kehendak Tuhan untuk semua orang&lt;/a&gt;. Kekudusan menjadi tanda yang nyata bagi kita sebagai pengikut Kristus, dan kekudusan adalah sesuatu yang diperhitungkan pada saat akhir hidup kita (&lt;a href="http://katolisitas.org/?p=93" rel="nofollow"&gt;Apa itu Kekudusan?&lt;/a&gt;). Marilah kita memeriksa diri sendiri, sudahkah kita hidup kudus (&lt;a href="http://katolisitas.org/?p=108" rel="nofollow"&gt;Refleksi praktis tentang Kekudusan&lt;/a&gt;), dan mulai mempraktekkannya dengan belajar untuk lebih rendah hati (&lt;a href="http://katolisitas.org/?p=171" rel="nofollow"&gt;Kerendahan hati Dasar dan Jalan menuju Kekudusan&lt;/a&gt;).&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Bahkan seseorang Katolik yang baik harus bertumbuh terutama dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Seseorang yang mengikuti kelompok karismatik namun meninggalkan sakramen-sakramen dapat dikatakan salah jalan. Sakramen Ekaristi adalah bentuk doa dan penyembahan yang tertinggi, dan tidak dapat digantikan oleh bentuk doa apapun(silakan klik:  &lt;a href="http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/" rel="nofollow"&gt;1&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/" rel="nofollow"&gt;2&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://katolisitas.org/2008/10/26/cara-mempersiapkan-diri-menyambut-ekaristi/" rel="nofollow"&gt;3&lt;/a&gt;).&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Tentang kelompok Ibu Agnes, saya belum pernah mendengarnya. Namun untuk kasus wahyu pribadi, saya pernah menjawabnya disini (&lt;a href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-453" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;) dan di sini (&lt;a href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-512" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;) dimana saya mengatakan:
	&lt;ul&gt;
		&lt;li&gt;Umat beriman terikat oleh wahyu umum, seperti yang diberitakan lewat Kitab Suci, Tradisi Suci. Dan Magisterium yang menginterpretasikan wahyu-wahyu umum tersebut. Dan sebagai orang Katolik, kita harus mengikutinya.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Wahyu pribadi tidak mengikat umat beriman untuk mengikutinya&lt;/span&gt;. Ada yang telah diakui oleh Gereja, seperti penampakan di Lourdes dari St. Bernadette Soubirous, stigmata yang dialami oleh Padre Pio, devosi kerahiman Ilahi yang diberikan melalui St. Faustina Kowalska, dll. Namun ada juga yang belum diakui dan tidak diakui oleh pihak Gereja.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Biasanya kebenaran dari wahyu-wahyu pribadi akan terlihat dengan perjalanan waktu. Dan oleh sebab itu Gereja benar-benar berhati-hati untuk sampai menyetujui bahwa wahyu pribadi tersebut otentik (benar) dan tidak bertentangan dengan pesan Kristus.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Karena wahyu umum telah selesai (KGK 65-67) dan wahyu pribadi tidak bersifat mengikat, maka &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;umat boleh percaya atau tidak percaya terhadap wahyu pribadi&lt;/span&gt;. Umat tidaklah berdosa kalau mengatakan &#34;Saya tidak percaya akan wahyu ini.&#34;&lt;/li&gt;
	&lt;/ul&gt;
	&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Bernadus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Bernadus,<br />
Terimakasih atas pertanyaannya. Kita memang harus bangga dan bersyukur atas karunia iman sehingga kita menjadi anggota Gereja Katolik, dimana kepenuhan kebenaran ada di dalam-Nya. Namun, pada saat yang bersamaan, ini menjadi suatu tantangan agar kita berjuang untuk hidup seperti, mengikuti ajaran Kristus. Mari kita membahas pertanyaan Bernadus:</p>
<ol>
<li>Setiap orang Katolik tidak harus ikut Karismatik untuk dapat diselamatkan. Keselamatan adalah berkat dari Tuhan semata yang diwujudkan dalam Sakramen Baptis sebagai jawaban &quot;ya&quot; kita atas rahmat Tuhan. Dan untuk diselamatkan, kita perlu hidup kudus, seperti yang diajarkan oleh Kristus. Silakan membaca rangkaian artikel tentang kekudusan:<br />
	Kekudusan itu sangat penting dalam kehidupan rohani kita, karena <a href="http://katolisitas.org/?p=96" rel="nofollow">kekudusan adalah kehendak Tuhan untuk semua orang</a>. Kekudusan menjadi tanda yang nyata bagi kita sebagai pengikut Kristus, dan kekudusan adalah sesuatu yang diperhitungkan pada saat akhir hidup kita (<a href="http://katolisitas.org/?p=93" rel="nofollow">Apa itu Kekudusan?</a>). Marilah kita memeriksa diri sendiri, sudahkah kita hidup kudus (<a href="http://katolisitas.org/?p=108" rel="nofollow">Refleksi praktis tentang Kekudusan</a>), dan mulai mempraktekkannya dengan belajar untuk lebih rendah hati (<a href="http://katolisitas.org/?p=171" rel="nofollow">Kerendahan hati Dasar dan Jalan menuju Kekudusan</a>).</li>
<li>Bahkan seseorang Katolik yang baik harus bertumbuh terutama dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Seseorang yang mengikuti kelompok karismatik namun meninggalkan sakramen-sakramen dapat dikatakan salah jalan. Sakramen Ekaristi adalah bentuk doa dan penyembahan yang tertinggi, dan tidak dapat digantikan oleh bentuk doa apapun(silakan klik:  <a href="http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/" rel="nofollow">1</a>, <a href="http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/" rel="nofollow">2</a>, <a href="http://katolisitas.org/2008/10/26/cara-mempersiapkan-diri-menyambut-ekaristi/" rel="nofollow">3</a>).</li>
<li>Tentang kelompok Ibu Agnes, saya belum pernah mendengarnya. Namun untuk kasus wahyu pribadi, saya pernah menjawabnya disini (<a href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-453" rel="nofollow">silakan klik</a>) dan di sini (<a href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-512" rel="nofollow">silakan klik</a>) dimana saya mengatakan:
<ul>
<li>Umat beriman terikat oleh wahyu umum, seperti yang diberitakan lewat Kitab Suci, Tradisi Suci. Dan Magisterium yang menginterpretasikan wahyu-wahyu umum tersebut. Dan sebagai orang Katolik, kita harus mengikutinya.</li>
<li><span style="text-decoration: underline;">Wahyu pribadi tidak mengikat umat beriman untuk mengikutinya</span>. Ada yang telah diakui oleh Gereja, seperti penampakan di Lourdes dari St. Bernadette Soubirous, stigmata yang dialami oleh Padre Pio, devosi kerahiman Ilahi yang diberikan melalui St. Faustina Kowalska, dll. Namun ada juga yang belum diakui dan tidak diakui oleh pihak Gereja.</li>
<li>Biasanya kebenaran dari wahyu-wahyu pribadi akan terlihat dengan perjalanan waktu. Dan oleh sebab itu Gereja benar-benar berhati-hati untuk sampai menyetujui bahwa wahyu pribadi tersebut otentik (benar) dan tidak bertentangan dengan pesan Kristus.</li>
<li>Karena wahyu umum telah selesai (KGK 65-67) dan wahyu pribadi tidak bersifat mengikat, maka <span style="text-decoration: underline;">umat boleh percaya atau tidak percaya terhadap wahyu pribadi</span>. Umat tidaklah berdosa kalau mengatakan &quot;Saya tidak percaya akan wahyu ini.&quot;</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Bernadus.</p>
<p>Salam kasih dari <a href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br />
stef</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Thank You Jesus, I am Home by Francis Yuen</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/11/08/thank-you-jesus-i-am-home/#comment-1331</link>
		<dc:creator>Francis Yuen</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 04:15:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/11/08/thank-you-jesus-i-am-home/#comment-1331</guid>
		<description>Hi Lia,

I have just read your heartfelt testimony here, in your mother tongue.  I give thanks to almighty God with His Will, for your return back to Holy Mother Church.

I can see that you are a true lover of God and His Holy Will.

If you have time, I would urge you to seek out the life and sacred writings of Servant of God Luisa Piccarreta (1865-1947).  My life in Christ have not been the same since I discovered her sacred writings in 1997.  Your prayer life will be changed forever, for the greater glory of God, nay, for the perfect glory of God.

May almighty God bless and keep you and all your loved ones.

Francis Yuen (Auckland, New Zealand)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hi Lia,</p>
<p>I have just read your heartfelt testimony here, in your mother tongue.  I give thanks to almighty God with His Will, for your return back to Holy Mother Church.</p>
<p>I can see that you are a true lover of God and His Holy Will.</p>
<p>If you have time, I would urge you to seek out the life and sacred writings of Servant of God Luisa Piccarreta (1865-1947).  My life in Christ have not been the same since I discovered her sacred writings in 1997.  Your prayer life will be changed forever, for the greater glory of God, nay, for the perfect glory of God.</p>
<p>May almighty God bless and keep you and all your loved ones.</p>
<p>Francis Yuen (Auckland, New Zealand)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah by Stefanus Tay</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/09/18/kristus-yang-kita-imani-yesus-menurut-sejarah/#comment-1330</link>
		<dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 04:06:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/kristus-yang-kita-imani-yesus-menurut-sejarah/#comment-1330</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Teddy Senjaya,&lt;br /&gt;
Terima kasih atas pertanyaannya. Saya telah menjawab pertanyaan sehubungan dengan hal tersebut di sini (&lt;a href="http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-1161" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;) di point III.&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;&lt;b&gt;Apakah seorang atheis dapat diselamatkan&lt;/b&gt;? Jawabannya bisa &lt;b&gt;ya&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;tidak&lt;/b&gt;. Dapat diselamatkan kalau &lt;br /&gt;
	&#34;&lt;i&gt;orang-orang yang, &lt;b&gt;bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus&lt;/b&gt;, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi&lt;/i&gt;&#34;.&#160; Keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.
	&lt;ul&gt;
		&lt;li&gt;Bukan kesalahan mereka sendiri tidak mengenal Kristus dapat diartikan sebagai &lt;i style="font-weight: bold;"&gt;invincible ignorance&lt;/i&gt;, yaitu kesalahan yang dikarenakan oleh &lt;i&gt;ignorance&lt;/i&gt; (ketidaktahuan) yang tidak terhindari, namun orang ini telah benar-benar berusaha untuk menemukan kebenaran dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatannya. Dan seandainya ada orang yang dapat menerangkan kepadanya dengan baik tentang kebenaran, maka orang tersebut sebenarnya dapat berubah dan menjadi percaya kepada Kristus. Ini berarti orang tersebut menempatkan kebenaran di atas kepentingannya pribadi. Oleh karena itu, orang tersebut dapat diselamatkan.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Kelompok yang lain adalah atheis atau orang yang tidak mengenal Kristus, namun karena &lt;strong&gt;&lt;em&gt;culpable&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ignorance&lt;/span&gt;, yang disebabkan karena kelalaian sendiri, misalnya: orang tersebut mempunyai kesempatan untuk mencari kebenaran, namun dia&#160; tidak menggunakannya dengan baik. Atau sebenarnya tidak ada alasan bagi orang tersebut untuk tidak mengenal Kristus. Ini dapat diumpamakan seseorang tetap salah dan dihukum kalau karena kelalaiannya tidak mempelajari peraturan lalu lintas, namun dia nekat untuk mengendarai mobil. Kelompok ini mempunyai resiko kehilangan keselamatan mereka.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Jadi bagaimana dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mahatma Gandhi&lt;/span&gt;? &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Invincible ignorance&lt;/span&gt;&#34; bukan berarti bahwa dia sama sekali tidak pernah mendengar tentang Kristus, namun walaupun dia pernah mendengar tentang Kristus, dan dia telah berusaha dengan segenap pikiran, hati, dan kekuatan, untuk mencoba namun tidak sampai untuk menjadi murid Kristus. Jangan lupa, bahwa orang-orang yang menjadi batu sandungan bagi Mahatma Gandhi turut berpartisipasi dalam dosa, karena menjadi batu sandungan bagi dia untuk menjadi murid Kristus. Beliau mengatakan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalau semua orang di India dapat menerapkan ajaran Kristus, maka tidak ada lagi orang Hindu di India&lt;/span&gt;. Jadi orang-orang saleh yang tidak mengenal Kristus, dapat masuk surga, namun hanya Tuhan yang tahu persis apakah &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ignorance&lt;/span&gt;&#34; yang mereka lakukan karena &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;invincible ignorance&lt;/span&gt;&#34; atau &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;culpable ignorance&lt;/span&gt;&#34;.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Kita jangan lupa, bahwa ada beberapa tingkatan atheist. Pada tingkatan yang paling parah, dimana benar-benar orang tersebut membenci Tuhan, maka orang ini dapat kehilangan keselamatannya. Namun pada tingkatan lain, orang yang &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;morally good&lt;/span&gt;&#34; tidak dapat &#8216;membenci&#8217; orang sedemikian rupa, atau membenci Tuhan, ia hanya tidak atau belum mengenali Tuhan.&#160; Padahal keberadaan Tuhan dapat dibuktikan dengan akal budi, juga termasuk oleh seorang atheis - silakan melihat artikel &#34;Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada&#34; (&lt;a href="http://katolisitas.org/2008/06/10/bagaimana-membuktikan-bahwa-tuhan-itu-ada/" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;).&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Tentu saja bagi yang tidak percaya akan Tuhan, tidak dapat menerapkan hukum kasih yang bersifat supernatural, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama untuk Tuhan. Maka akan jauh legih sulit bagi orang yang tidak kenal Tuhan untuk menerapkan hukum kasih ini untuk masuk surga. Silakan melihat pembahasan tentang hal ini di jawaban ini (&lt;a href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-716" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;).&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Digerakkan oleh Rahmat Ilahi adalah suatu berkat yang membantu, atau dalam istilah teologi adalah &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;actual grace&lt;/span&gt;&#34;. Actual grace ini merupakan gerakan dari Roh Kudus untuk membawa orang ini kepada pertobatan. Dan pada saat orang ini menanggapi dan kemudian menerima pembaptisan, maka orang tersebut menerima &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sanctifying grace&lt;/span&gt;&#34; atau berkat kekudusan, yang membuat seseorang menjadi anak Allah.&lt;br /&gt;
		Karena Tuhan adalah maha adil, maka kita meyakini bahwa berkat dari Tuhan adalah cukup dan berlimpah bagi setiap orang. Jadi gerakan Roh Kudus ini adalah yang membawa orang pada pertobatan dan perbuatan kasih. Rasul Yohanes mengatakan &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia&lt;/span&gt;.&#34; (1 Yoh 4:16).&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Secara prinsip, seorang yang benar-benar kristen dan menerapkan ajaran Kristus pasti akan lebih baik dari orang yang bukan Kristen. Dalam membandingkan, kita harus membandingkan apel dengan apel dan tidak bisa apel dengan jeruk. Kita harus bandingkan seorang Katolik yang baik dengan seorang atheis yang baik. Bandingkan atheis yang terbaik dengan para santa-santo, seperti yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta yang menolong orang karena kasihnya kepada Tuhan, atau St. Maximillian Kolbe yang rela menyerahkan dirinya untuk dibunuh menggantikan nyawa sesama tawanan NAZI.&lt;/li&gt;
	&lt;/ul&gt;
	&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Dari keterangan tersebut di atas, maka kita mengambil resiko yang begitu besar untuk kehilangan keselamatan kekal, kalau kita menjadi atheis. Bagi kita yang telah mengenal Kristus, kita tidak mempunyai alasan untuk menjadi atheis. Kita harus bersyukur akan karunia iman akan Kristus yang memberikan pengharapan dan kasih.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Philanthropy atau perbuatan baik, seperti menyumbang, dll tidak dapat membawa kita kepada keselamatan, karena keselamatan adalah suatu rahmat. Perbuatan baik adalah perwujudan dari kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Sesuatu dapat dikategorikan mempunyai &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;tindakan moral yang baik&lt;/span&gt;, kalau memenuhi tiga syarat, yaitu: 1) &#34;Object&#34; atau obyek dari perbuatan itu sendiri baik, 2) &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;circumstances&lt;/span&gt;&#34; atau situasi, dan 3) &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;intention&lt;/span&gt;&#34; atau intensi dari perbuatan baik tersebut. &lt;br /&gt;
	Kalau intensi dari perbuatan baik adalah hanya agar menjadi terkenal, maka perbuatan tersebut tidaklah dikategorikan sebagai perbuatan yang mempunyai nilai moral yang baik. Dan yang mengetahui intensi atau maksud dari perbuatan baik seseorang adalah Tuhan sendiri, karena Dia melihat hati dari setiap orang.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;Semoga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan Teddy.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Teddy Senjaya,<br />
Terima kasih atas pertanyaannya. Saya telah menjawab pertanyaan sehubungan dengan hal tersebut di sini (<a href="http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-1161" rel="nofollow">silakan klik</a>) di point III.</p>
<ol>
<li><b>Apakah seorang atheis dapat diselamatkan</b>? Jawabannya bisa <b>ya</b> dan <b>tidak</b>. Dapat diselamatkan kalau <br />
	&quot;<i>orang-orang yang, <b>bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus</b>, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi</i>&quot;.&nbsp; Keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.</p>
<ul>
<li>Bukan kesalahan mereka sendiri tidak mengenal Kristus dapat diartikan sebagai <i style="font-weight: bold;">invincible ignorance</i>, yaitu kesalahan yang dikarenakan oleh <i>ignorance</i> (ketidaktahuan) yang tidak terhindari, namun orang ini telah benar-benar berusaha untuk menemukan kebenaran dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatannya. Dan seandainya ada orang yang dapat menerangkan kepadanya dengan baik tentang kebenaran, maka orang tersebut sebenarnya dapat berubah dan menjadi percaya kepada Kristus. Ini berarti orang tersebut menempatkan kebenaran di atas kepentingannya pribadi. Oleh karena itu, orang tersebut dapat diselamatkan.</li>
<li>Kelompok yang lain adalah atheis atau orang yang tidak mengenal Kristus, namun karena <strong><em>culpable</em></strong> <span style="font-style: italic; font-weight: bold;">ignorance</span>, yang disebabkan karena kelalaian sendiri, misalnya: orang tersebut mempunyai kesempatan untuk mencari kebenaran, namun dia&nbsp; tidak menggunakannya dengan baik. Atau sebenarnya tidak ada alasan bagi orang tersebut untuk tidak mengenal Kristus. Ini dapat diumpamakan seseorang tetap salah dan dihukum kalau karena kelalaiannya tidak mempelajari peraturan lalu lintas, namun dia nekat untuk mengendarai mobil. Kelompok ini mempunyai resiko kehilangan keselamatan mereka.</li>
<li>Jadi bagaimana dengan <span style="font-weight: bold;">Mahatma Gandhi</span>? &quot;<span style="font-style: italic;">Invincible ignorance</span>&quot; bukan berarti bahwa dia sama sekali tidak pernah mendengar tentang Kristus, namun walaupun dia pernah mendengar tentang Kristus, dan dia telah berusaha dengan segenap pikiran, hati, dan kekuatan, untuk mencoba namun tidak sampai untuk menjadi murid Kristus. Jangan lupa, bahwa orang-orang yang menjadi batu sandungan bagi Mahatma Gandhi turut berpartisipasi dalam dosa, karena menjadi batu sandungan bagi dia untuk menjadi murid Kristus. Beliau mengatakan bahwa <span style="font-style: italic;">kalau semua orang di India dapat menerapkan ajaran Kristus, maka tidak ada lagi orang Hindu di India</span>. Jadi orang-orang saleh yang tidak mengenal Kristus, dapat masuk surga, namun hanya Tuhan yang tahu persis apakah &quot;<span style="font-style: italic;">ignorance</span>&quot; yang mereka lakukan karena &quot;<span style="font-style: italic;">invincible ignorance</span>&quot; atau &quot;<span style="font-style: italic;">culpable ignorance</span>&quot;.</li>
<li>Kita jangan lupa, bahwa ada beberapa tingkatan atheist. Pada tingkatan yang paling parah, dimana benar-benar orang tersebut membenci Tuhan, maka orang ini dapat kehilangan keselamatannya. Namun pada tingkatan lain, orang yang &quot;<span style="font-style: italic;">morally good</span>&quot; tidak dapat &lsquo;membenci&rsquo; orang sedemikian rupa, atau membenci Tuhan, ia hanya tidak atau belum mengenali Tuhan.&nbsp; Padahal keberadaan Tuhan dapat dibuktikan dengan akal budi, juga termasuk oleh seorang atheis - silakan melihat artikel &quot;Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada&quot; (<a href="http://katolisitas.org/2008/06/10/bagaimana-membuktikan-bahwa-tuhan-itu-ada/" rel="nofollow">silakan klik</a>).</li>
<li>Tentu saja bagi yang tidak percaya akan Tuhan, tidak dapat menerapkan hukum kasih yang bersifat supernatural, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama untuk Tuhan. Maka akan jauh legih sulit bagi orang yang tidak kenal Tuhan untuk menerapkan hukum kasih ini untuk masuk surga. Silakan melihat pembahasan tentang hal ini di jawaban ini (<a href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-716" rel="nofollow">silakan klik</a>).</li>
<li>Digerakkan oleh Rahmat Ilahi adalah suatu berkat yang membantu, atau dalam istilah teologi adalah &quot;<span style="font-style: italic;">actual grace</span>&quot;. Actual grace ini merupakan gerakan dari Roh Kudus untuk membawa orang ini kepada pertobatan. Dan pada saat orang ini menanggapi dan kemudian menerima pembaptisan, maka orang tersebut menerima &quot;<span style="font-style: italic;">sanctifying grace</span>&quot; atau berkat kekudusan, yang membuat seseorang menjadi anak Allah.<br />
		Karena Tuhan adalah maha adil, maka kita meyakini bahwa berkat dari Tuhan adalah cukup dan berlimpah bagi setiap orang. Jadi gerakan Roh Kudus ini adalah yang membawa orang pada pertobatan dan perbuatan kasih. Rasul Yohanes mengatakan &quot;<span style="font-style: italic;">Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia</span>.&quot; (1 Yoh 4:16).</li>
<li>Secara prinsip, seorang yang benar-benar kristen dan menerapkan ajaran Kristus pasti akan lebih baik dari orang yang bukan Kristen. Dalam membandingkan, kita harus membandingkan apel dengan apel dan tidak bisa apel dengan jeruk. Kita harus bandingkan seorang Katolik yang baik dengan seorang atheis yang baik. Bandingkan atheis yang terbaik dengan para santa-santo, seperti yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta yang menolong orang karena kasihnya kepada Tuhan, atau St. Maximillian Kolbe yang rela menyerahkan dirinya untuk dibunuh menggantikan nyawa sesama tawanan NAZI.</li>
</ul>
</li>
<li>Dari keterangan tersebut di atas, maka kita mengambil resiko yang begitu besar untuk kehilangan keselamatan kekal, kalau kita menjadi atheis. Bagi kita yang telah mengenal Kristus, kita tidak mempunyai alasan untuk menjadi atheis. Kita harus bersyukur akan karunia iman akan Kristus yang memberikan pengharapan dan kasih.</li>
<li>Philanthropy atau perbuatan baik, seperti menyumbang, dll tidak dapat membawa kita kepada keselamatan, karena keselamatan adalah suatu rahmat. Perbuatan baik adalah perwujudan dari kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Sesuatu dapat dikategorikan mempunyai <span style="text-decoration: underline;">tindakan moral yang baik</span>, kalau memenuhi tiga syarat, yaitu: 1) &quot;Object&quot; atau obyek dari perbuatan itu sendiri baik, 2) &quot;<span style="font-style: italic;">circumstances</span>&quot; atau situasi, dan 3) &quot;<span style="font-style: italic;">intention</span>&quot; atau intensi dari perbuatan baik tersebut. <br />
	Kalau intensi dari perbuatan baik adalah hanya agar menjadi terkenal, maka perbuatan tersebut tidaklah dikategorikan sebagai perbuatan yang mempunyai nilai moral yang baik. Dan yang mengetahui intensi atau maksud dari perbuatan baik seseorang adalah Tuhan sendiri, karena Dia melihat hati dari setiap orang.</li>
</ol>
<p>Semoga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan Teddy.</p>
<p>Salam kasih dari <a href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br />
stef</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Buku Tamu [Guestbook] by Stefanus Tay</title>
		<link>http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-1329</link>
		<dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:50:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/364/#comment-1329</guid>
		<description>Shalom Riko,
Salam kenal juga dari kami. Kami juga mendengar tentang Riko yang sangat aktif di komisi kepemudaan. Dan kami berterima kasih, karena di tengah-tengah semua kesibukan, Riko mempunyai dedikasi yang tinggi dalam melayani Tuhan.
Untuk permintaan Riko tentang artikel-artikel yang berhubungan dengan Roh Kudus akan kami perhatikan dan kami akan menuliskannya di kemudian hari.
Mari kita bersama-sama melayani Tuhan dengan hati yang dipenuhi sukacita.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef &#038; ingrid</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Riko,<br />
Salam kenal juga dari kami. Kami juga mendengar tentang Riko yang sangat aktif di komisi kepemudaan. Dan kami berterima kasih, karena di tengah-tengah semua kesibukan, Riko mempunyai dedikasi yang tinggi dalam melayani Tuhan.<br />
Untuk permintaan Riko tentang artikel-artikel yang berhubungan dengan Roh Kudus akan kami perhatikan dan kami akan menuliskannya di kemudian hari.<br />
Mari kita bersama-sama melayani Tuhan dengan hati yang dipenuhi sukacita.<br />
Salam kasih dari <a href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br />
stef &#038; ingrid</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik by Stefanus Tay</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-1328</link>
		<dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:42:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=135#comment-1328</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Julius,&lt;br /&gt;
Terima kasih atas pertanyaannya. Saya pernah menjawab pertanyaan tersebut di jawaban ini: (&lt;a href="http://katolisitas.org/2008/11/08/thank-you-jesus-i-am-home/#comment-1208" rel="nofollow"&gt;klik ini&lt;/a&gt;, dan juga &lt;a href="http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-1161" rel="nofollow"&gt;klik ini&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;
Dimana di salah satu jawaban tersebut, saya mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline; font-weight: bold;"&gt;Point II. 5:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;ul&gt;
	&lt;li&gt;Jadi kesimpulannya, kita tidak dapat mengatakan bahwa orang yang tidak di&lt;u&gt;&lt;strong&gt;baptis air&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt; (secara sakramen) &lt;u&gt;&lt;b&gt;pasti &lt;/b&gt;&lt;/u&gt;masuk neraka, sebab ada kondisi-kondisi lain (yang telah disebutkan di atas) yang diperhitungkan. Namun, &lt;u&gt;&lt;strong&gt;satu-satunya keselamatan hanya melalui Kristus dan melalui pembabtisan&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;. Jadi bagi orang-orang seperti yang disebutkan di atas, yang dalam kondisi &#34;bukan karena kesalahannya sendiri&#34; tidak dapat mengenal Kristus dan Gereja-Nya, dan juga mereka berbuat kasih dan mengalami pertobatan, orang tersebut sebetulnya mengalami &#34;&lt;u&gt;&lt;strong&gt;baptism of desire&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;&#34; (lih KGK, 1258-1259). Dan bagi orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, mereka juga dapat diselamatkan karena mereka telah menerima &#34;&lt;u&gt;&lt;strong&gt;Baptisan darah&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;&#34; (KGK, 1258). Dengan penggabungan faktor-faktor tersebut di atas, maka kita juga dapat mengatakan bahwa orang yang tidak dibaptis tidak dapat masuk surga atau dikatakan bahwa Gereja tidak mengenal cara lain selain pembaptisan untuk masuk surga (KGK, 1257). Dan bagi orang yang telah dibaptis namun tidak menjalankan kasih juga dapat kehilangan keselamatannya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;IV. Kontradiksi konsep keselamatan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Lumen Gentium, 14 mengatakan &lt;br /&gt;
	&#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;i&gt;rang-orang yang, &lt;b&gt;bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus&lt;/b&gt;, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi&lt;/i&gt;.&#34; &lt;br /&gt;
	Jadi bagi orang yang bukan kesalahannya sendiri dapat masuk surga sejauh keadaan tidak mengenal Kristus adalah sebagai akibat dari &#34;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;invincible ignorance&lt;/span&gt;&#34; (ketidak tahuan yang tak dapat dihindari) seperti yang telah dijelaskan di atas.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Hal ini tidaklah bertentangan dengan &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan&lt;/span&gt;.&#34;&lt;br /&gt;
	Hal ini dikarenakan bahwa orang yang benar-benar tahu bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik namun tidak masuk di dalamnya berarti dia &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mendahulukan kepentingan pribadi di atas pencarian kebenaran&lt;/span&gt;.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Dan juga tidak bertentangan dengan:&lt;br /&gt;
	&#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang &#8220;dengan badan&#8221; memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak &#8220;dengan hatinya&lt;/span&gt;&#8221;.&lt;br /&gt;
	Ini berarti bahwa orang Katolik yang mempunyai &#34;kepenuhan kebenaran&#34; harus benar-benar dapat menerapkan ajaran kasih. Bagi orang Katolik tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan dan sesama, karena semua telah diberi berkat yang berlimpah dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memampukan seseorang untuk hidup kudus setelah menerima Sakramen Baptis.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Kita kembali kepada prinsip di awal, bahwa Tuhan adalah maha adil dan kasih. Juga rahmat Tuhan adalah cukup bagi semua orang untuk bersatu dengan Tuhan. Oleh karena hal ini adalah sangat masuk akal, bahwa semuanya mempunyai resiko dan tugas masing-masing untuk mendapatkan keselamatan. Keselamatan adalah suatu proses yang berakhir pada saat kita meninggal. Orang yang tidak mengenal Kristus, yang mengenal Kristus di luar Gereja Katolik, dan anggota Gereja Katolik, semuanya mempunyai resiko kehilangan keselamatan. Yang menjadi perbedaan adalah Gereja Katolik mempunyai &#34;kepenuhan kebenaran&#34;, gereja yang lain tidak mempunyai kepenuhan kebenaran, dan agama-agama lain mempunyai beberapa unsur kebenaran, yang harus dilihat sebagai persiapan untuk menerima pesan Injil (lih. Lumen Gentium, 16).&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Gereja Katolik percaya bahwa keselamatan adalah suatu yang telah (past), sedang (present), dan akan datang (future)&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;:
	&lt;ul&gt;
		&lt;li&gt;Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5).&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9).&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).&lt;/li&gt;
	&lt;/ul&gt;
	&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Baca juga tentang konsep keselamatan di sini: &lt;a href="http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/#comment-228" rel="nofollow"&gt;klik ini&lt;/a&gt;, dan&lt;a href="http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/#comment-430" rel="nofollow"&gt; juga ini&lt;/a&gt;, serta &lt;a href="http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/" rel="nofollow"&gt;artikel ini&lt;/a&gt;.&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;
	&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;Semoga keterangan tersebut dapat memperjelas konsep keselamatan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Julius,<br />
Terima kasih atas pertanyaannya. Saya pernah menjawab pertanyaan tersebut di jawaban ini: (<a href="http://katolisitas.org/2008/11/08/thank-you-jesus-i-am-home/#comment-1208" rel="nofollow">klik ini</a>, dan juga <a href="http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-1161" rel="nofollow">klik ini</a>).<br />
Dimana di salah satu jawaban tersebut, saya mengatakan:<br />
<span style="text-decoration: underline; font-weight: bold;">Point II. 5:</span></p>
<ul>
<li>Jadi kesimpulannya, kita tidak dapat mengatakan bahwa orang yang tidak di<u><strong>baptis air</strong></u> (secara sakramen) <u><b>pasti </b></u>masuk neraka, sebab ada kondisi-kondisi lain (yang telah disebutkan di atas) yang diperhitungkan. Namun, <u><strong>satu-satunya keselamatan hanya melalui Kristus dan melalui pembabtisan</strong></u>. Jadi bagi orang-orang seperti yang disebutkan di atas, yang dalam kondisi &quot;bukan karena kesalahannya sendiri&quot; tidak dapat mengenal Kristus dan Gereja-Nya, dan juga mereka berbuat kasih dan mengalami pertobatan, orang tersebut sebetulnya mengalami &quot;<u><strong>baptism of desire</strong></u>&quot; (lih KGK, 1258-1259). Dan bagi orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, mereka juga dapat diselamatkan karena mereka telah menerima &quot;<u><strong>Baptisan darah</strong></u>&quot; (KGK, 1258). Dengan penggabungan faktor-faktor tersebut di atas, maka kita juga dapat mengatakan bahwa orang yang tidak dibaptis tidak dapat masuk surga atau dikatakan bahwa Gereja tidak mengenal cara lain selain pembaptisan untuk masuk surga (KGK, 1257). Dan bagi orang yang telah dibaptis namun tidak menjalankan kasih juga dapat kehilangan keselamatannya.</li>
</ul>
<p><span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">IV. Kontradiksi konsep keselamatan?</span></p>
<ol>
<li>Lumen Gentium, 14 mengatakan <br />
	&quot;<span style="font-style: italic;">O</span><i>rang-orang yang, <b>bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus</b>, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi</i>.&quot; <br />
	Jadi bagi orang yang bukan kesalahannya sendiri dapat masuk surga sejauh keadaan tidak mengenal Kristus adalah sebagai akibat dari &quot;<span style="font-style: italic; font-weight: bold;">invincible ignorance</span>&quot; (ketidak tahuan yang tak dapat dihindari) seperti yang telah dijelaskan di atas.</li>
<li>Hal ini tidaklah bertentangan dengan &quot;<span style="font-style: italic;">Andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan</span>.&quot;<br />
	Hal ini dikarenakan bahwa orang yang benar-benar tahu bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik namun tidak masuk di dalamnya berarti dia <span style="font-weight: bold;">mendahulukan kepentingan pribadi di atas pencarian kebenaran</span>.</li>
<li>Dan juga tidak bertentangan dengan:<br />
	&quot;<span style="font-style: italic;">Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang &ldquo;dengan badan&rdquo; memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak &ldquo;dengan hatinya</span>&rdquo;.<br />
	Ini berarti bahwa orang Katolik yang mempunyai &quot;kepenuhan kebenaran&quot; harus benar-benar dapat menerapkan ajaran kasih. Bagi orang Katolik tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan dan sesama, karena semua telah diberi berkat yang berlimpah dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memampukan seseorang untuk hidup kudus setelah menerima Sakramen Baptis.</li>
<li>Kita kembali kepada prinsip di awal, bahwa Tuhan adalah maha adil dan kasih. Juga rahmat Tuhan adalah cukup bagi semua orang untuk bersatu dengan Tuhan. Oleh karena hal ini adalah sangat masuk akal, bahwa semuanya mempunyai resiko dan tugas masing-masing untuk mendapatkan keselamatan. Keselamatan adalah suatu proses yang berakhir pada saat kita meninggal. Orang yang tidak mengenal Kristus, yang mengenal Kristus di luar Gereja Katolik, dan anggota Gereja Katolik, semuanya mempunyai resiko kehilangan keselamatan. Yang menjadi perbedaan adalah Gereja Katolik mempunyai &quot;kepenuhan kebenaran&quot;, gereja yang lain tidak mempunyai kepenuhan kebenaran, dan agama-agama lain mempunyai beberapa unsur kebenaran, yang harus dilihat sebagai persiapan untuk menerima pesan Injil (lih. Lumen Gentium, 16).</li>
<li><b><u>Gereja Katolik percaya bahwa keselamatan adalah suatu yang telah (past), sedang (present), dan akan datang (future)</u></b>:
<ul>
<li>Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5).</li>
<li>Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9).</li>
<li>Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).</li>
</ul>
</li>
<li>Baca juga tentang konsep keselamatan di sini: <a href="http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/#comment-228" rel="nofollow">klik ini</a>, dan<a href="http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/#comment-430" rel="nofollow"> juga ini</a>, serta <a href="http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/" rel="nofollow">artikel ini</a>.<b><u><br />
	</u></b></li>
</ol>
<p>Semoga keterangan tersebut dapat memperjelas konsep keselamatan.</p>
<p>Salam kasih dari <a href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br />
stef</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan? by Stefanus Tay</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/06/13/mengapa-orang-kristen-percaya-bahwa-yesus-kristus-adalah-tuhan/#comment-1327</link>
		<dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:34:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=117#comment-1327</guid>
		<description>&lt;p&gt;Salam damai Olala,&lt;br /&gt;
Terima kasih atas pesannya. Mari kita membahas dan berdialog tentang topik ini dengan hormat.&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;I. Teori Evolusi dan Big Bang:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Saya ingin menegaskan bahwa dalam jawaban saya terdahulu, saya tidak mengatakan bahwa saya mempercayai teori Evolusi atau Big Bang. Saya tidak tahu mengapa Olala dapat mengambil kesimpulan demikian. Dalam jawaban saya terdahulu saya ingin menegaskan bahwa yang paling penting adalah seseorang mengakui bahwa tidak mungkin semuanya terjadi secara kebetulan dan hanya merupakan seleksi alam belaka tanpa ada campur tangan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;II. Giordano Bruno:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Untuk kasus Giordano Bruno, silakan membaca lebih lengkap di New Advent (&lt;a rel="nofollow" href="http://www.newadvent.org/cathen/03016a.htm" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;). Giordano Bruno sebelumnya pernah memasuki ordo St. Dominic dan ditahbiskan menjadi iman tahun 1572. Namun dia mempunyai pandangan theologis yang bertentangan dengan Gereja Katolik, dan pada akhirnya dikecam sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;heretic &lt;/span&gt;atau bidaah.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Setelah beberapa kali dihadapkan pada persidangan agama, dia tetap tidak mau merubah pandangannya. Bahkan dia menerbitkan buku yang menyerang agama Katolik, yaitu &#34;The&lt;!--k03=xxyyyk.htm--&gt;Expulsion&lt;!--u44--&gt; of the Triumphant &lt;!--k03=xxyyyk.htm--&gt;Beast&lt;!--u44--&gt; &#34; di tahun 1584. Hidupnya berpindah dari satu kota ke kota lain. Bukan hanya dicap bidaah oleh Katolik, namun dia juga dianggap bidaah oleh Calvinist dan Lutherans.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Di tahun 1599, Giordano Bruno disidangkan di pengadilan agama di Roma dan pada akhirnya dinyatakan sebagai bidaah secara publik pada bulan Januari 1600 dan kemudian diserahkan kepada pengadilan negara (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;secular power&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;
	Dan oleh &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;pengadilan negara &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;secular power &lt;/span&gt;(&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;bukan pengadilan agama Katolik di Roma atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; text-decoration: underline;"&gt;Roman Inquisition&lt;/span&gt;), Giordano Bruno dihukum bakar.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Giordano Bruno dianggap bidaah bukan karena teori alam semesta yang disebutkan oleh Olala, namun dikarenakan kesalahan theologis, seperti: Kristus bukanlah Tuhan namun ahli sihir yang luar biasa, Roh Kudus adalah jiwa dari dunia, dan malaikat yang jahat akan diselamatkan, dll.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;III. Galileo Galilei:&lt;/span&gt; saya telah menjawabnya di sini (&lt;a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-680" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;).   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;III. Sikap Gereja:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Mari sekarang kita melihat bagaimana sikap Gereja Katolik. Paus Yohanes Paulus II, telah meminta maaf kepada dunia akan sikap dari putera dan puteri Gereja Katolik dalam sejarah Gereja Katolik yang menyebabkan penderitaan. Saya menganjurkan agar Olala dapat membaca buku &#34;Luigi Accattoli, and Jordan Aumann, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;When a Pope Asks Forgiveness&lt;/span&gt;, 1st ed. (Alba House, 1998)&#34;, dimana Luigi mencatat ada sekitar 94 kali, Paus Yohanes Paulus II meminta maaf dalam berbagai kesempatan, dan yang memuncak pada tanggal 12 Maret 2000, Minggu Pertama Prapaskah. Keterangan lengkap dapat dibaca disini ( &lt;a rel="nofollow" href="http://198.62.75.1/www1/ofm/pope/50/51/51culpa2.html" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;) dan juga di sini (&lt;a rel="nofollow" href="http://www.vatican.va/jubilee_2000/jubilevents/events_day_pardon_en.htm" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;).&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Ini adalah suatu sikap, dimana walaupun Gereja Katolik adalah kudus, karena Kristus adalah Kepala-Nya, namun terdiri dari para pendosa, sehingga Gereja harus senantiasa memeriksa batin dan mengadakan pertobatan yang terus menerus.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Permintaan maaf dan memaafkan adalah suatu tindakan kasih yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Cobalah melihat dari sisi yang lain, apakah ada tindakan serupa yang dilakukan oleh agama lain?&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;Demikian jawaban yang dapat saya berikan kepada Olala dan semoga dapat menjawab pertanyaan dan keberatan Olala.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam damai Olala,<br />
Terima kasih atas pesannya. Mari kita membahas dan berdialog tentang topik ini dengan hormat.<br />
<span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">I. Teori Evolusi dan Big Bang:</span><br />
Saya ingin menegaskan bahwa dalam jawaban saya terdahulu, saya tidak mengatakan bahwa saya mempercayai teori Evolusi atau Big Bang. Saya tidak tahu mengapa Olala dapat mengambil kesimpulan demikian. Dalam jawaban saya terdahulu saya ingin menegaskan bahwa yang paling penting adalah seseorang mengakui bahwa tidak mungkin semuanya terjadi secara kebetulan dan hanya merupakan seleksi alam belaka tanpa ada campur tangan Tuhan.<br />
<span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">II. Giordano Bruno:</span></p>
<ol>
<li>Untuk kasus Giordano Bruno, silakan membaca lebih lengkap di New Advent (<a rel="nofollow" href="http://www.newadvent.org/cathen/03016a.htm" rel="nofollow">silakan klik</a>). Giordano Bruno sebelumnya pernah memasuki ordo St. Dominic dan ditahbiskan menjadi iman tahun 1572. Namun dia mempunyai pandangan theologis yang bertentangan dengan Gereja Katolik, dan pada akhirnya dikecam sebagai <span style="font-style: italic;">heretic </span>atau bidaah.</li>
<li>Setelah beberapa kali dihadapkan pada persidangan agama, dia tetap tidak mau merubah pandangannya. Bahkan dia menerbitkan buku yang menyerang agama Katolik, yaitu &quot;The<!--k03=xxyyyk.htm-->Expulsion<!--u44--> of the Triumphant <!--k03=xxyyyk.htm-->Beast<!--u44--> &quot; di tahun 1584. Hidupnya berpindah dari satu kota ke kota lain. Bukan hanya dicap bidaah oleh Katolik, namun dia juga dianggap bidaah oleh Calvinist dan Lutherans.</li>
<li>Di tahun 1599, Giordano Bruno disidangkan di pengadilan agama di Roma dan pada akhirnya dinyatakan sebagai bidaah secara publik pada bulan Januari 1600 dan kemudian diserahkan kepada pengadilan negara (<span style="font-style: italic;">secular power</span>).<br />
	Dan oleh <span style="text-decoration: underline;">pengadilan negara </span>atau <span style="font-style: italic;">secular power </span>(<span style="text-decoration: underline;">bukan pengadilan agama Katolik di Roma atau </span><span style="font-style: italic; text-decoration: underline;">Roman Inquisition</span>), Giordano Bruno dihukum bakar.</li>
<li>Giordano Bruno dianggap bidaah bukan karena teori alam semesta yang disebutkan oleh Olala, namun dikarenakan kesalahan theologis, seperti: Kristus bukanlah Tuhan namun ahli sihir yang luar biasa, Roh Kudus adalah jiwa dari dunia, dan malaikat yang jahat akan diselamatkan, dll.</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">III. Galileo Galilei:</span> saya telah menjawabnya di sini (<a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-680" rel="nofollow">silakan klik</a>).   </p>
<p><span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">III. Sikap Gereja:</span></p>
<ol>
<li>Mari sekarang kita melihat bagaimana sikap Gereja Katolik. Paus Yohanes Paulus II, telah meminta maaf kepada dunia akan sikap dari putera dan puteri Gereja Katolik dalam sejarah Gereja Katolik yang menyebabkan penderitaan. Saya menganjurkan agar Olala dapat membaca buku &quot;Luigi Accattoli, and Jordan Aumann, <span style="font-style: italic;">When a Pope Asks Forgiveness</span>, 1st ed. (Alba House, 1998)&quot;, dimana Luigi mencatat ada sekitar 94 kali, Paus Yohanes Paulus II meminta maaf dalam berbagai kesempatan, dan yang memuncak pada tanggal 12 Maret 2000, Minggu Pertama Prapaskah. Keterangan lengkap dapat dibaca disini ( <a rel="nofollow" href="http://198.62.75.1/www1/ofm/pope/50/51/51culpa2.html" rel="nofollow">silakan klik</a>) dan juga di sini (<a rel="nofollow" href="http://www.vatican.va/jubilee_2000/jubilevents/events_day_pardon_en.htm" rel="nofollow">silakan klik</a>).</li>
<li>Ini adalah suatu sikap, dimana walaupun Gereja Katolik adalah kudus, karena Kristus adalah Kepala-Nya, namun terdiri dari para pendosa, sehingga Gereja harus senantiasa memeriksa batin dan mengadakan pertobatan yang terus menerus.</li>
<li>Permintaan maaf dan memaafkan adalah suatu tindakan kasih yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Cobalah melihat dari sisi yang lain, apakah ada tindakan serupa yang dilakukan oleh agama lain?</li>
</ol>
<p>Demikian jawaban yang dapat saya berikan kepada Olala dan semoga dapat menjawab pertanyaan dan keberatan Olala.</p>
<p>Salam kasih dari <a href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br />
stef</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Buku Tamu [Guestbook] by Shinto</title>
		<link>http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-1286</link>
		<dc:creator>Shinto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 02:24:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/364/#comment-1286</guid>
		<description>[&lt;em&gt;Dari admin: saya gabungkan empat pesan menjadi satu&lt;/em&gt;]
A). Sembahyang adalah sarana untuk mengingat Tuhan dengan cara mengulang-ulang bacaan "doa" seperti doa rosario. Berdoa adalah duduk diam di kaki Tuhan dan mendengarkan apa yang Tuhan ucapkan. Dan didalam doa sudah tidak ada permintaan yang bermacam-macam dari seorang hamba karena ia sudah bersatu (manunggal)dengan Tuhan. Jadi bila orang sudah di alam doa (keheningan), ia tidak akan banyak meminta-minta.
B). Iblis itu bukan temanku tapi aku juga tidak memusuhinya, iblis juga bukan musuhku tapi aku juga tidak bersahabat dengannya. Dia bukan siapa-siapaku tapi dia selalu berada didiriku dan bersama dengan Tuhan serta malaikat. Berkat iblis, imanku senantiasa terbentur,teruji dan terasah dengan merasakan jatuh bangunnya terkena dosa. Semakin tinggi pemahaman iman seseorang akan misteri Ilahi maka semakin tinggi pula level sang iblis penggoda, contoh saat Yesus mendapatkan "pencerahan" setelah berpuasa selama 30 hari, ia langsung "di test" oleh Allah benarkah Ia yang terpilih. Jadi semakin "tinggi" level pemahaman imanmu akan misteri Ilahi bila "jatuh" maka akan terasa sangat sakit. Jika kamu merasa takut sakit saat jatuh maka jadilah seorang yang slalu kalah. Iblis dan malaikat adalah salah satu wujud contoh keadilan Tuhan. Dan itu semua adalah kehendak Tuhan yang Maha Baik, Maha Benar, Maha Sempurna.
C) Benar dan Salah, itu semua adalah pendapat orang dan hasil kesepakatan bersama. Jika orang menyebut kuda dengan sebutan macan, maka ia akan disalahkan orang. Jika ia berbuat kesalahan yang dianggap melanggar kebenaran menurut orang lain maka ia akan disalahkan orang.Dikatakan salah jika tidak sesuai dengan keinginan orang, dikatakan benar jika sesuai dengan keinginan orang. Tuhan tidak menganggap benar atau salah. Benar dan salah, Baik atau buruk, itu bukanlah tujuan hidup.
D). Tuhan itu Maha Kasih dan Maha Memberi Ampun tapi jangan lupa Tuhan itu juga Maha Adil. 
Wujud keadilan Tuhan adalah sebesar biji sesawi kebaikan yang kamu tanam, maka sebesar biji sesawi pula balasan Tuhan. Begitu pula jika sebesar biji sesawi keburukan yang kamu tanam, maka sebesar biji sesawi pula balasan Tuhan. 
Kita memperoleh ampunan Tuhan jika kita berbuat kesalahan dengan diberi kesempatan untuk masih hidup dan bertobat, tapi kita juga akan menerima sebuah "balasan" atas kesalahan yang kita buat, entah kapan kita menerima balasan Tuhan karena semua sudah tercatat.
Keadilan Tuhan.....itulah yang perlu kita takutkan bukan dosa.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[<em>Dari admin: saya gabungkan empat pesan menjadi satu</em>]<br />
A). Sembahyang adalah sarana untuk mengingat Tuhan dengan cara mengulang-ulang bacaan &#8220;doa&#8221; seperti doa rosario. Berdoa adalah duduk diam di kaki Tuhan dan mendengarkan apa yang Tuhan ucapkan. Dan didalam doa sudah tidak ada permintaan yang bermacam-macam dari seorang hamba karena ia sudah bersatu (manunggal)dengan Tuhan. Jadi bila orang sudah di alam doa (keheningan), ia tidak akan banyak meminta-minta.<br />
B). Iblis itu bukan temanku tapi aku juga tidak memusuhinya, iblis juga bukan musuhku tapi aku juga tidak bersahabat dengannya. Dia bukan siapa-siapaku tapi dia selalu berada didiriku dan bersama dengan Tuhan serta malaikat. Berkat iblis, imanku senantiasa terbentur,teruji dan terasah dengan merasakan jatuh bangunnya terkena dosa. Semakin tinggi pemahaman iman seseorang akan misteri Ilahi maka semakin tinggi pula level sang iblis penggoda, contoh saat Yesus mendapatkan &#8220;pencerahan&#8221; setelah berpuasa selama 30 hari, ia langsung &#8220;di test&#8221; oleh Allah benarkah Ia yang terpilih. Jadi semakin &#8220;tinggi&#8221; level pemahaman imanmu akan misteri Ilahi bila &#8220;jatuh&#8221; maka akan terasa sangat sakit. Jika kamu merasa takut sakit saat jatuh maka jadilah seorang yang slalu kalah. Iblis dan malaikat adalah salah satu wujud contoh keadilan Tuhan. Dan itu semua adalah kehendak Tuhan yang Maha Baik, Maha Benar, Maha Sempurna.<br />
C) Benar dan Salah, itu semua adalah pendapat orang dan hasil kesepakatan bersama. Jika orang menyebut kuda dengan sebutan macan, maka ia akan disalahkan orang. Jika ia berbuat kesalahan yang dianggap melanggar kebenaran menurut orang lain maka ia akan disalahkan orang.Dikatakan salah jika tidak sesuai dengan keinginan orang, dikatakan benar jika sesuai dengan keinginan orang. Tuhan tidak menganggap benar atau salah. Benar dan salah, Baik atau buruk, itu bukanlah tujuan hidup.<br />
D). Tuhan itu Maha Kasih dan Maha Memberi Ampun tapi jangan lupa Tuhan itu juga Maha Adil.<br />
Wujud keadilan Tuhan adalah sebesar biji sesawi kebaikan yang kamu tanam, maka sebesar biji sesawi pula balasan Tuhan. Begitu pula jika sebesar biji sesawi keburukan yang kamu tanam, maka sebesar biji sesawi pula balasan Tuhan.<br />
Kita memperoleh ampunan Tuhan jika kita berbuat kesalahan dengan diberi kesempatan untuk masih hidup dan bertobat, tapi kita juga akan menerima sebuah &#8220;balasan&#8221; atas kesalahan yang kita buat, entah kapan kita menerima balasan Tuhan karena semua sudah tercatat.<br />
Keadilan Tuhan&#8230;..itulah yang perlu kita takutkan bukan dosa.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Buku Tamu [Guestbook] by riko</title>
		<link>http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-1316</link>
		<dc:creator>riko</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 02:00:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/364/#comment-1316</guid>
		<description>Hi salam kenal, nama saya Riko [&lt;em&gt;dari admin: saya hapus keterangan nama tempat&lt;/em&gt;]

Saya telah mengunjungi situs ini sejak tahun lalu waktu baru dimulai, dan sangat impressed dengan content-nya. Thank you for your very passionate apostolate seperti ini.

Apakah mungkin juga disediakan artikel/bahan-bahan tentang Pneumatology? Gereja Katolik punya banyak sekali resources on Christology, Ecclesiology, dan sebagainya, tapi sepertinya agak minim dalam membahas Pneumatology.

Once again thank you so much for your generous sharing through this website.


in HIS love,
Riko.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hi salam kenal, nama saya Riko [<em>dari admin: saya hapus keterangan nama tempat</em>]</p>
<p>Saya telah mengunjungi situs ini sejak tahun lalu waktu baru dimulai, dan sangat impressed dengan content-nya. Thank you for your very passionate apostolate seperti ini.</p>
<p>Apakah mungkin juga disediakan artikel/bahan-bahan tentang Pneumatology? Gereja Katolik punya banyak sekali resources on Christology, Ecclesiology, dan sebagainya, tapi sepertinya agak minim dalam membahas Pneumatology.</p>
<p>Once again thank you so much for your generous sharing through this website.</p>
<p>in HIS love,<br />
Riko.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan? by Stefanus Tay</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/06/13/mengapa-orang-kristen-percaya-bahwa-yesus-kristus-adalah-tuhan/#comment-1326</link>
		<dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 01:59:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=117#comment-1326</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Olala,&lt;br /&gt;
Terima kasih atas beberapa pesan yang diberikan. Dari beberapa pesan, saya melihat gaya bahasa Olala yang kurang santun (maaf, saya bicara apa adanya) dan Olala tidak menyatakan argumentasi secara langsung. Saya minta maaf, kalau beberapa pesan yang saya anggap kasar tidak dapat saya masukkan dalam website ini.&lt;br /&gt;
Namun untuk komentar ini, mari kita berdiskusi dengan penuh hormat dan kelemahlembutan. Masing-masing kita tahu, bahwa memang ada perbedaan-perbedaan di antara kita dan adalah hal yang wajar untuk mempunyai perbedaaan pendapat. Mari kita bersama-sama belajar untuk menyampaikan kebenaran dengan baik tanpa menggunakan kata-kata yang kasar dan juga tanpa bermanis-manis yang mungkin hanya mengaburkan kebenaran itu sendiri. Saya akan postkan pesan Olala selanjutnya, dengan kondisi yang saya sebutkan di atas. Kalau Olala masih menggunakan kata-kata yang kasar, maka dengan sangat menyesal, saya tidak akan dapat mempostkan komentar Olala di website ini.&lt;br /&gt;
Mari sekarang kita mulai dengan dialog tentang dosa asal.&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;Argumentasi Olala:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Olala tidak setuju bahwa Yesus menebus dosa seluruh umat manusia, yang bersumber dari pendapat bahwa tidak ada dosa asal, karena:
	&lt;ul&gt;
		&lt;li&gt;Yehezkiel 18:20 mengatakan &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.&lt;/span&gt;&#34;.&lt;/li&gt;
	&lt;/ul&gt;
	&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Yesus tidak pernah merubah hukum Agama Musa, yang dapat dilihat di:
	&lt;ul&gt;
		&lt;li&gt;Mat 5:17-19 &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga&lt;/span&gt;&#34;.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Mat 22:40 &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi&lt;/span&gt;.&#34;&lt;/li&gt;
	&lt;/ul&gt;
	&lt;ul&gt;
		&lt;li&gt;Karena Yesus tidak pernah merubah hukum Musa (mungkin lebih baik hukum di dalam Perjanjian Lama), maka apa yang dikatakan oleh Yehezkiel 18:20 - tentang: seseorang harus bertanggung jawab akan dosa yang diperbuatnya sendiri - tetap berlaku.&lt;/li&gt;
	&lt;/ul&gt;
	&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Paulus dikatakan merubah konsep dosa asal, yang menurut Olala sebenarnya tidak ada di dalam Alkitab.
	&lt;ul&gt;
		&lt;li&gt;Olala meragukan kredibilitas Paulus, karena Paulus bukanlah termasuk murid Kristus dan Yesus telah meninggal pada saat Paulus mulai diceritakan di dalam Alkitab. Alkitab hanya menceritakan bahwa Paulus hanya melihat seberkas cahaya yang diragukan kebenarannya.&lt;/li&gt;
	&lt;/ul&gt;
	&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;Dari argumentasi Olala di atas, maka inilah yang dapat saya sampaikan:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;I. Konsep tentang dosa asal dari Kitab Suci dan Tradisi Suci.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Pada masa Gereja awal ada beberapa golongan yang menolak konsep &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dosa asal&lt;/span&gt;&#34;, seperti Pelagians, Gnostics dan Manichaeans, yang tidak sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Berikut ini adalah kutipan dari beberapa ayat di Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan tidak terbatas hanya pada Yehezkiel dan surat rasul Paulus.
	&lt;ol&gt;
		&lt;li&gt;Manusia pertama telah berbuat dosa:
		&lt;ul&gt;
			&lt;li&gt;Dalam kitab Kejadian dinyatakan bahwa Adam dan Hawa telah berdosa dan oleh karena itu, maka Adam dan Hawa dan seluruh keturunannya harus menanggung dosa. (lih Kej 2).&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;&#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.&lt;/span&gt;&#34; (Keb 2:24).&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;&#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.&lt;/span&gt;&#34; (2 Kor 11:3; 1 Tim 2:14; Rm 5:12; Yoh 8:44).&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;Dosa manusia pertama adalah dosa kesombongan (lih. Rm 5:19; Tob 4:14; Sir 10:14-15).&#160;&lt;/li&gt;
		&lt;/ul&gt;
		&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Akibat dari dosa asal adalah: (untuk lebih lengkapnya, silakan melihat jawaban ini - &lt;a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-616" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;).
		&lt;ul&gt;
			&lt;li&gt;Manusia kehilangan berkat kekudusan dan terpisah dari Allah. (Lih Kej 3).&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;Manusia kehilangan &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the gift of integrity&lt;/span&gt;&#34;, sehingga manusia dapat menderita dan meninggal (lih. Kej 3:16).&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;Manusia terbelenggu oleh dosa dan kejahatan (lih. Kej 3:15-16; Yoh 12:31; 14:30; 2 Kor 4:4; Ib 2:14; 2 Pet 2:19).&lt;/li&gt;
		&lt;/ul&gt;
		&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Dosa asal ini diturunkan kepada semua manusia:
		&lt;ul&gt;
			&lt;li&gt;&#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, &lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline; font-style: italic;"&gt;dalam dosa aku dikandung ibuku&lt;/span&gt;&#34; (Mz 51:7).&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;&#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;najis&lt;/span&gt;? Seorangpun tidak!&lt;/span&gt;&#34; (Ay 14:4).&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;&#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tetapi karena dengki setan maka &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;maut masuk ke dunia&lt;/span&gt;, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.&lt;/span&gt;&#34;(Keb 2:24).&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;&#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;From the woman came the beginning of sin, and by her we all die.&lt;/span&gt;&#34; (LXX/ Septuagint - Sir 25:33).&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;Dan kemudian rasul Paulus memberikan penegasan dengan memberikan perbandingan antara Adam, manusia pertama yang jatuh ke dalam dosa kesombongan, dan Kristus yang membebaskan manusia dari dosa dengan ketaatan kepada Allah (Rom 5:12-21, lihat juga Rom 5:12-19, 1 Kor 15:21, dan Ef 2:1-3).&lt;/li&gt;
		&lt;/ul&gt;
		&lt;/li&gt;
	&lt;/ol&gt;
	&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Dan konsep tentang dosa asal juga didukung oleh bapa Gereja, seperti Santo Agustinus (De Nupt. et concupt. II 12,25). St. Cyprian juga memperkuat doktrin dosa asal dengan memberikan alasan bahwa dosa asal merupakan doktrin yang memang telah ada sejak awal mula, yang dibuktikan dengan permandian bayi untuk penghapusan dosa (lih. St. Cyprian, Ep. 64, 5). Kemudian doktrin ini diperkuat dari pernyataan Konsili Trente (D.790).&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Dari hal tersebut di atas, maka doktrin tentang dosa asal bersumber kepada dari Alkitab, juga dari Tradisi Suci, yang diperkuat oleh Bapa Gereja dan Konsili.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;II. Yesus tidak pernah merubah hukum Musa?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Dalam hal ini mungkin lebih tepat bahwa Yesus memang tidak datang untuk merubah hukum Taurat (dalam Perjanjian Lama), seperti yang disebutkan oleh Olala dengan mengutip Mat 5:17-19. &lt;br /&gt;
	Dan oleh karena doktrin dosa asal bersumber pada Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru seperti yang saya telah sebutkan di atas, maka keduanya tidak saling bertentangan, dan dengan demikian semakin memperkuat bahwa Yesus tidak pernah menghapuskan doktrin dosa asal.&lt;br /&gt;
	Yesus adalah pemenuhan dari Perjanjian Lama dan hal yang baru yang diajarkan oleh Yesus adalah &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diri-Nya Sendiri&lt;/span&gt;&#34;, bukan hanya hukum-hukum, namun Sang Pembuat Hukum; bukan hanya peraturan namun disposisi hati yang bersumber pada kasih kepada Tuhan.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Bagaimana dengan argumentasi dari Yeh 18:20?
	&lt;ol&gt;
		&lt;li&gt;Dari penjelasan di atas (point I), maka kita melihat bahwa ada dosa asal, dosa yang diturunkan oleh Adam kepada seluruh manusia, yang membuat manusia mempunyai &#34;kecenderungan berbuat dosa atau &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;concupiscence&lt;/span&gt;&#34; dan kehilangan &#34;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the gift of integrity&lt;/span&gt;&#34; (silakan melihat jawaban ini - &lt;a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-616" rel="nofollow"&gt;silakan klik&lt;/a&gt;). Ini adalah dosa yang tidak dapat dihindari, karena sejak lahir semua manusia mempunyai dosa asal.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Namun, karena manusia tidak seluruhnya rusak dan dengan keinginan bebas manusia - walaupun dia mempunyai dosa asal -, dia tetap dapat berkata &#34;tidak&#34; atau &#34;ya&#34; terhadap dosa. Dalam konteks inilah nabi Yehezkiel mengatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap dosanya masing-masing. Jadi misalnya, kalau ayahnya adalah penghianat dan dihukum mati, maka anaknya belum tentu penghianat dan tidak perlu dihukum mati.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Hal ini dapat diterangkan dalam kehidupan sehari-hari. Umat Katolik percaya bahwa dosa asal dapat hilang dengan Sakramen Baptis, sehingga manusia menjadi berkenan di hadapan Allah. Namun kecenderungan untuk berbuat dosa atau concupiscense tidak terhapuskan oleh Sakramen Baptis, sehingga membuat manusia harus berjuang dalam hidup kudus. Ini juga menjadi kesempatan bagi manusia untuk membuktikan kasihnya kepada Allah. Nah, setiap orang yang telah dibaptis, yang telah hilang dosa asalnya, harus berjuang setiap hari untuk berkata 'tidak' terhadap dosa.&lt;/li&gt;
	&lt;/ol&gt;
	&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;III. Kredibilitas Paulus:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Kalau memang Olala meragukan kredibilitas Paulus, bagaimana Olala membuktikan bahwa Rasul Paulus perlu diragukan? Satu-satunya cara untuk membuktikan hal ini adalah kalau Olala dapat memberikan data-data bahwa Paulus menyelewengkan ajaran Kristus.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Kalau kita mempelajari secara lebih teliti, sebetulnya kita tidak perlu meragukan kredibilitas Paulus, karena:
	&lt;ol&gt;
		&lt;li&gt;Tidak ada ajaran Kristus yang diselewengkan oleh rasul Paulus, bahkan Tuhan memilih Paulus sendiri sebagai rasul non-Yahudi (Kis 22:14-21; Kis 26:16-18; Rom 1:1; 1 kor 1:1; 1 Kor 9:1-2; 1 Kor 15:9; Gal 1:1; Gal 1:15-16; Ef 1:1; Kol 1:1; 1Ti 1:1; 1Ti 2:7; 2Ti 1:1; 2Ti 1:11; Tit 1:1; Tit 1:3).&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Rasul Paulus diterima dengan baik oleh para rasul, seperti yang ditunjukkan di konsili Yerusalem (Kis 9:26-29).&lt;br /&gt;
		Kalau apa yang diajarkan oleh rasul Paulus bertentangan dengan ajaran Kristus, pasti rasul-rasul yang lain akan menentang rasul Paulus. Namun hal ini tidaklah terjadi.&lt;/li&gt;
		&lt;li&gt;Jadi bagaimana dengan pertobatan rasul Paulus yang dianggap sebagai mimpi oleh Olala? Silakan membaca referensi berikut ini: Kis 9:3-22; Kis 22:4-19; Kis 26:9-15; 1 Kor 9:1; 1 Kor 15:8; Gal 1:13; 1Tim 1:12-13.
		&lt;ol&gt;
			&lt;li&gt;Kalau Tuhan sendiri menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia, apa sulitnya bagi Tuhan untuk memberikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;vision&lt;/span&gt; kepada rasul Paulus, sehingga dia dapat mengerti begitu banyak akan pengetahuan Allah?&lt;/li&gt;
			&lt;li&gt;Kalau vision ini tidak dapat diterima oleh Olala, bagaimana menceritakan rasul Paulus yang dahulu sebagai orang Yahudi yang taat, belajar di bawah Rabi Gamaliel, kemudian dapat menjadi pengikut Kristus dengan pengetahuan tentang Kristus yang luar biasa?&lt;/li&gt;
		&lt;/ol&gt;
		&lt;/li&gt;
	&lt;/ol&gt;
	&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;IV. Beberapa pertanyaan untuk Olala:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kalau memang, Olala tidak menyetujui akan konsep dosa asal, saya ingin menanyakan tentang hal-hal berikut ini:&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Apakah Olala mempercayai bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa secara sempurna?&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Kalau memang demikian, mengapa manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa? Apakah dengan demikian maka Tuhan tidak menciptakan manusia baik adanya?&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Darimanakah asalnya kematian? Apakah manusia diciptakan pada awalnya dengan sifat yang sementara? Mengapa Tuhan tidak menciptakan manusia pada awalnya dengan sifat yang tetap dan tetap bersatu dengan pencipta-Nya untuk selama-lamanya?&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;Semoga jawaban dan pertanyaan tersebut di atas dapat semakin membuat Olala dan saya sendiri untuk semakin merenungkan akan topik ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Olala,<br />
Terima kasih atas beberapa pesan yang diberikan. Dari beberapa pesan, saya melihat gaya bahasa Olala yang kurang santun (maaf, saya bicara apa adanya) dan Olala tidak menyatakan argumentasi secara langsung. Saya minta maaf, kalau beberapa pesan yang saya anggap kasar tidak dapat saya masukkan dalam website ini.<br />
Namun untuk komentar ini, mari kita berdiskusi dengan penuh hormat dan kelemahlembutan. Masing-masing kita tahu, bahwa memang ada perbedaan-perbedaan di antara kita dan adalah hal yang wajar untuk mempunyai perbedaaan pendapat. Mari kita bersama-sama belajar untuk menyampaikan kebenaran dengan baik tanpa menggunakan kata-kata yang kasar dan juga tanpa bermanis-manis yang mungkin hanya mengaburkan kebenaran itu sendiri. Saya akan postkan pesan Olala selanjutnya, dengan kondisi yang saya sebutkan di atas. Kalau Olala masih menggunakan kata-kata yang kasar, maka dengan sangat menyesal, saya tidak akan dapat mempostkan komentar Olala di website ini.<br />
Mari sekarang kita mulai dengan dialog tentang dosa asal.<br />
<span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">Argumentasi Olala:</span></p>
<ol>
<li>Olala tidak setuju bahwa Yesus menebus dosa seluruh umat manusia, yang bersumber dari pendapat bahwa tidak ada dosa asal, karena:
<ul>
<li>Yehezkiel 18:20 mengatakan &quot;<span style="font-style: italic;">Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.</span>&quot;.</li>
</ul>
</li>
<li>Yesus tidak pernah merubah hukum Agama Musa, yang dapat dilihat di:
<ul>
<li>Mat 5:17-19 &quot;<span style="font-style: italic;">Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga</span>&quot;.</li>
<li>Mat 22:40 &quot;<span style="font-style: italic;">Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi</span>.&quot;</li>
</ul>
<ul>
<li>Karena Yesus tidak pernah merubah hukum Musa (mungkin lebih baik hukum di dalam Perjanjian Lama), maka apa yang dikatakan oleh Yehezkiel 18:20 - tentang: seseorang harus bertanggung jawab akan dosa yang diperbuatnya sendiri - tetap berlaku.</li>
</ul>
</li>
<li>Paulus dikatakan merubah konsep dosa asal, yang menurut Olala sebenarnya tidak ada di dalam Alkitab.
<ul>
<li>Olala meragukan kredibilitas Paulus, karena Paulus bukanlah termasuk murid Kristus dan Yesus telah meninggal pada saat Paulus mulai diceritakan di dalam Alkitab. Alkitab hanya menceritakan bahwa Paulus hanya melihat seberkas cahaya yang diragukan kebenarannya.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Dari argumentasi Olala di atas, maka inilah yang dapat saya sampaikan:</p>
<p><span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">I. Konsep tentang dosa asal dari Kitab Suci dan Tradisi Suci.</span></p>
<ol>
<li>Pada masa Gereja awal ada beberapa golongan yang menolak konsep &quot;<span style="font-style: italic;">dosa asal</span>&quot;, seperti Pelagians, Gnostics dan Manichaeans, yang tidak sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik.</li>
<li>Berikut ini adalah kutipan dari beberapa ayat di Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan tidak terbatas hanya pada Yehezkiel dan surat rasul Paulus.
<ol>
<li>Manusia pertama telah berbuat dosa:
<ul>
<li>Dalam kitab Kejadian dinyatakan bahwa Adam dan Hawa telah berdosa dan oleh karena itu, maka Adam dan Hawa dan seluruh keturunannya harus menanggung dosa. (lih Kej 2).</li>
<li>&quot;<span style="font-style: italic;">Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.</span>&quot; (Keb 2:24).</li>
<li>&quot;<span style="font-style: italic;">Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.</span>&quot; (2 Kor 11:3; 1 Tim 2:14; Rm 5:12; Yoh 8:44).</li>
<li>Dosa manusia pertama adalah dosa kesombongan (lih. Rm 5:19; Tob 4:14; Sir 10:14-15).&nbsp;</li>
</ul>
</li>
<li>Akibat dari dosa asal adalah: (untuk lebih lengkapnya, silakan melihat jawaban ini - <a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-616" rel="nofollow">silakan klik</a>).
<ul>
<li>Manusia kehilangan berkat kekudusan dan terpisah dari Allah. (Lih Kej 3).</li>
<li>Manusia kehilangan &quot;<span style="font-style: italic;">the gift of integrity</span>&quot;, sehingga manusia dapat menderita dan meninggal (lih. Kej 3:16).</li>
<li>Manusia terbelenggu oleh dosa dan kejahatan (lih. Kej 3:15-16; Yoh 12:31; 14:30; 2 Kor 4:4; Ib 2:14; 2 Pet 2:19).</li>
</ul>
</li>
<li>Dosa asal ini diturunkan kepada semua manusia:
<ul>
<li>&quot;<span style="font-style: italic;">Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, </span><span style="text-decoration: underline; font-style: italic;">dalam dosa aku dikandung ibuku</span>&quot; (Mz 51:7).</li>
<li>&quot;<span style="font-style: italic;">Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang <span style="text-decoration: underline;">najis</span>? Seorangpun tidak!</span>&quot; (Ay 14:4).</li>
<li>&quot;<span style="font-style: italic;">Tetapi karena dengki setan maka <span style="text-decoration: underline;">maut masuk ke dunia</span>, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.</span>&quot;(Keb 2:24).</li>
<li>&quot;<span style="font-style: italic;">From the woman came the beginning of sin, and by her we all die.</span>&quot; (LXX/ Septuagint - Sir 25:33).</li>
<li>Dan kemudian rasul Paulus memberikan penegasan dengan memberikan perbandingan antara Adam, manusia pertama yang jatuh ke dalam dosa kesombongan, dan Kristus yang membebaskan manusia dari dosa dengan ketaatan kepada Allah (Rom 5:12-21, lihat juga Rom 5:12-19, 1 Kor 15:21, dan Ef 2:1-3).</li>
</ul>
</li>
</ol>
</li>
<li>Dan konsep tentang dosa asal juga didukung oleh bapa Gereja, seperti Santo Agustinus (De Nupt. et concupt. II 12,25). St. Cyprian juga memperkuat doktrin dosa asal dengan memberikan alasan bahwa dosa asal merupakan doktrin yang memang telah ada sejak awal mula, yang dibuktikan dengan permandian bayi untuk penghapusan dosa (lih. St. Cyprian, Ep. 64, 5). Kemudian doktrin ini diperkuat dari pernyataan Konsili Trente (D.790).</li>
<li>Dari hal tersebut di atas, maka doktrin tentang dosa asal bersumber kepada dari Alkitab, juga dari Tradisi Suci, yang diperkuat oleh Bapa Gereja dan Konsili.</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">II. Yesus tidak pernah merubah hukum Musa?</span></p>
<ol>
<li>Dalam hal ini mungkin lebih tepat bahwa Yesus memang tidak datang untuk merubah hukum Taurat (dalam Perjanjian Lama), seperti yang disebutkan oleh Olala dengan mengutip Mat 5:17-19. <br />
	Dan oleh karena doktrin dosa asal bersumber pada Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru seperti yang saya telah sebutkan di atas, maka keduanya tidak saling bertentangan, dan dengan demikian semakin memperkuat bahwa Yesus tidak pernah menghapuskan doktrin dosa asal.<br />
	Yesus adalah pemenuhan dari Perjanjian Lama dan hal yang baru yang diajarkan oleh Yesus adalah &quot;<span style="font-style: italic;">Diri-Nya Sendiri</span>&quot;, bukan hanya hukum-hukum, namun Sang Pembuat Hukum; bukan hanya peraturan namun disposisi hati yang bersumber pada kasih kepada Tuhan.</li>
<li>Bagaimana dengan argumentasi dari Yeh 18:20?
<ol>
<li>Dari penjelasan di atas (point I), maka kita melihat bahwa ada dosa asal, dosa yang diturunkan oleh Adam kepada seluruh manusia, yang membuat manusia mempunyai &quot;kecenderungan berbuat dosa atau &quot;<span style="font-style: italic;">concupiscence</span>&quot; dan kehilangan &quot;<span style="font-style: italic;">the gift of integrity</span>&quot; (silakan melihat jawaban ini - <a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-616" rel="nofollow">silakan klik</a>). Ini adalah dosa yang tidak dapat dihindari, karena sejak lahir semua manusia mempunyai dosa asal.</li>
<li>Namun, karena manusia tidak seluruhnya rusak dan dengan keinginan bebas manusia - walaupun dia mempunyai dosa asal -, dia tetap dapat berkata &quot;tidak&quot; atau &quot;ya&quot; terhadap dosa. Dalam konteks inilah nabi Yehezkiel mengatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap dosanya masing-masing. Jadi misalnya, kalau ayahnya adalah penghianat dan dihukum mati, maka anaknya belum tentu penghianat dan tidak perlu dihukum mati.</li>
<li>Hal ini dapat diterangkan dalam kehidupan sehari-hari. Umat Katolik percaya bahwa dosa asal dapat hilang dengan Sakramen Baptis, sehingga manusia menjadi berkenan di hadapan Allah. Namun kecenderungan untuk berbuat dosa atau concupiscense tidak terhapuskan oleh Sakramen Baptis, sehingga membuat manusia harus berjuang dalam hidup kudus. Ini juga menjadi kesempatan bagi manusia untuk membuktikan kasihnya kepada Allah. Nah, setiap orang yang telah dibaptis, yang telah hilang dosa asalnya, harus berjuang setiap hari untuk berkata &#8216;tidak&#8217; terhadap dosa.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">III. Kredibilitas Paulus:</span></p>
<ol>
<li>Kalau memang Olala meragukan kredibilitas Paulus, bagaimana Olala membuktikan bahwa Rasul Paulus perlu diragukan? Satu-satunya cara untuk membuktikan hal ini adalah kalau Olala dapat memberikan data-data bahwa Paulus menyelewengkan ajaran Kristus.</li>
<li>Kalau kita mempelajari secara lebih teliti, sebetulnya kita tidak perlu meragukan kredibilitas Paulus, karena:
<ol>
<li>Tidak ada ajaran Kristus yang diselewengkan oleh rasul Paulus, bahkan Tuhan memilih Paulus sendiri sebagai rasul non-Yahudi (Kis 22:14-21; Kis 26:16-18; Rom 1:1; 1 kor 1:1; 1 Kor 9:1-2; 1 Kor 15:9; Gal 1:1; Gal 1:15-16; Ef 1:1; Kol 1:1; 1Ti 1:1; 1Ti 2:7; 2Ti 1:1; 2Ti 1:11; Tit 1:1; Tit 1:3).</li>
<li>Rasul Paulus diterima dengan baik oleh para rasul, seperti yang ditunjukkan di konsili Yerusalem (Kis 9:26-29).<br />
		Kalau apa yang diajarkan oleh rasul Paulus bertentangan dengan ajaran Kristus, pasti rasul-rasul yang lain akan menentang rasul Paulus. Namun hal ini tidaklah terjadi.</li>
<li>Jadi bagaimana dengan pertobatan rasul Paulus yang dianggap sebagai mimpi oleh Olala? Silakan membaca referensi berikut ini: Kis 9:3-22; Kis 22:4-19; Kis 26:9-15; 1 Kor 9:1; 1 Kor 15:8; Gal 1:13; 1Tim 1:12-13.
<ol>
<li>Kalau Tuhan sendiri menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia, apa sulitnya bagi Tuhan untuk memberikan <span style="font-style: italic;">vision</span> kepada rasul Paulus, sehingga dia dapat mengerti begitu banyak akan pengetahuan Allah?</li>
<li>Kalau vision ini tidak dapat diterima oleh Olala, bagaimana menceritakan rasul Paulus yang dahulu sebagai orang Yahudi yang taat, belajar di bawah Rabi Gamaliel, kemudian dapat menjadi pengikut Kristus dengan pengetahuan tentang Kristus yang luar biasa?</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;">IV. Beberapa pertanyaan untuk Olala:</span></p>
<p>Kalau memang, Olala tidak menyetujui akan konsep dosa asal, saya ingin menanyakan tentang hal-hal berikut ini:</p>
<ol>
<li>Apakah Olala mempercayai bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa secara sempurna?</li>
<li>Kalau memang demikian, mengapa manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa? Apakah dengan demikian maka Tuhan tidak menciptakan manusia baik adanya?</li>
<li>Darimanakah asalnya kematian? Apakah manusia diciptakan pada awalnya dengan sifat yang sementara? Mengapa Tuhan tidak menciptakan manusia pada awalnya dengan sifat yang tetap dan tetap bersatu dengan pencipta-Nya untuk selama-lamanya?</li>
</ol>
<p>Semoga jawaban dan pertanyaan tersebut di atas dapat semakin membuat Olala dan saya sendiri untuk semakin merenungkan akan topik ini.</p>
<p>Salam kasih dari <a href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br />
stef</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan? by Ingrid Listiati</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/06/13/mengapa-orang-kristen-percaya-bahwa-yesus-kristus-adalah-tuhan/#comment-1325</link>
		<dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 01:50:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=117#comment-1325</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Ferdy, &lt;br /&gt;
Pertama-tama, saya mohon maaf karena baru dapat menjawab pertanyaan anda sekarang.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I. Apakah nubuat dan ramalan berbeda arti&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;
Ya, ada perbedaan arti antara nubuat dan ramalan. Nubuat berarti pengetahuan akan hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, walaupun kadang dapat pula berarti pengetahuan akan hal yang lampau yang tidak diingat, atau akan hal rahasia yang terjadi sekarang, yang tidak dapat diketahui melalui akal budi. Dalam 1 Kor 14, Rasul Paulus tidak membatasi nubuat pada pengetahuan akan hal-hal yang akan datang, tetapi termasuk juga dorongan-dorongan Ilahi tentang sesuatu yang rahasia/ misteri, baik yang terjadi saat ini maupun saat nanti. Maka, menurut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;New Advent Catholic Encyclopedia&lt;/span&gt;, nubuat merupakan:&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Pengetahuan akan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hal-hal yang akan datang&lt;/span&gt; ataupun &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pernyataan akan sesuatu misteri/ rahasia pada saat ini&lt;/span&gt;;&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Pengetahuan tersebut haruslah merupakan sesuatu yang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;supernatural&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;diberikan langsung oleh Tuhan&lt;/span&gt; ('&lt;span style="font-style: italic;"&gt;infused by God&lt;/span&gt;'), dan merupakan sesuatu yang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di luar batas kemampuan alamiah dari akal budi&lt;/span&gt;;&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Pengetahuan tersebut harus dinyatakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dalam bentuk tanda ataupun perkataan agar dapat dimengerti&lt;/span&gt; oleh orang lain, sebab karunia &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;nubuat diberikan terutama untuk kebaikan orang lain&lt;/span&gt;/ membangun jemaat. Adalah karena terang ilahi, maka Tuhan menyatakan akan hal yang akan terjadi pada para nabi, dan mereka bertugas untuk menyatakannya.Maka seorang nabi bertugas untuk membawa jemaat kepada Allah melalui karunia nubuat yang diberikan kepadanya.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;Contoh yang paling mengagumkan dari nubuat dalam kitab suci adalah nubuat tentang Yesus Kristus oleh para nabi berabad-abad sebelum kelahiran Yesus, yang menggambarkan ciri-ciri Yesus sang Mesias, dari kelahiranNya, sampai kematian-Nya (silakan membaca artikel&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt; &lt;/span&gt;Yesus &lt;a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/18/yesus-tuhan-yang-dinubuatkan-para-nabi/" rel="nofollow"&gt;- Tuhan yang dinubuatkan para nabi &lt;/a&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;silakan klik)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menurut Kitab Suci, nubuat adalah salah satu dari karunia Roh Kudus (lihat 1Kor 12:10) yang digunakan untuk membangun umat Allah. Karunia nubuat ini sesungguhnya perlu diuji dan dibawa terus di dalam doa, karena mungkin saja terjadi seseorang berpikir ia menerima karunia nubuat, padahal gambaran yang diperoleh datang dari dirinya sendiri. Maka jika nubuat itu benar datang dari Allah, maka hal itu akan terjadi, sedangkan jika datang dari sendiri, hal itu bisa tidak terjadi atau salah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di sinilah bedanya nubuat dengan ramalan, sebab:&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Ramalan merupakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;perkiraan akan sesuatu yang akan terjadi&lt;/span&gt;, dan tidak menyingkapkan akan misteri/ rahasia pada saat ini.&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Perkiraan tersebut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dapat mencakup segala hal&lt;/span&gt;, seperti ramalan cuaca, ramalan kondisi ekonomi, ataupun ramalan politik, dsb; yang dapat menjadi di dalam batas kemampuan alamiah akal budi. Karena sifatnya perkiraan, maka dapat pula ramalan ini tidak terjadi/ salah. Seseorang dapat mengandalkan diri sendiri ataupun roh-roh dunia untuk meramal, namun ramalan semacam ini tidak berasal dari Allah, dan bertentangan dengan Roh Allah (lihat pengalaman rasul Paulus pada Kis 16:16-18).&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;Ramalan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tidak ditujukan untuk membangun jemaat&lt;/span&gt;, malah seringkali sebaliknya peramal malah memperlemah iman jemaat kepada Tuhan, karena orang menjadi lebih percaya kepada peramal daripada Tuhan.&#160;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;Maka di sini kita melihat bahwa ramalan tidak sama dengan nubuat. Nubuat yang sungguh-sungguh dari Allah akan terjadi, sesuai dengan yang dinyatakan Allah, kecuali jika Allah memang menyatakan nubuat tersebut untuk semata-mata memberi peringatan keras demi pertobatan, seperti nubuat yang disampaikan oleh nabi Yunus kepada orang-orang Niniwe. Dapat pula terjadi bahwa nubuat itu sungguh benar dari Tuhan, namun manusia yang menginterpretasikannya yang membuat kekeliruan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, nubuat para nabi yang tercantum dalam Kitab suci berasal dari Allah, dan sungguh terpenuhi dalam Kristus. Contoh lain tentang nubuat misalnya pada penampakan Bunda Maria di Fatima tahun 1917, Bunda Maria menyebutkan nubuat tentang kehancuran komunisme Rusia, terpenuhi pada tahun 1989, diikuti dengan diruntuhkannya tembok Berlin tanggal 9 Nov 1989. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. Mengapa jumlah rasul Yesus hanya 12 orang&lt;/span&gt;?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sedikitnya terdapat dua alasan utama yang dapat menjelaskan jumlah rasul Yesus yang terdiri dari 12 orang tersebut, yaitu:&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;
	&lt;li&gt;Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru merupakan pemenuhan Perjanjian Lama, sehingga yang dilakukan oleh Yesus juga memiliki kaitan dengan yang terjadi pada Perjanjian Lama. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keduabelas rasul Yesus melambangkan keduabelas suku Israel&lt;/span&gt;, yaitu bangsa pertama yang dipilih Allah untuk menerima janji keselamatan. Keduabelas rasul inilah yang dipilih Yesus, yang diberi tugas untuk menjadi penjala manusia (Mrk 1:17), dan yang pada akhirnya,&#160; diberi hak untuk menghakimikeduabelas suku Israel (Luk 22: 29-30).&lt;/li&gt;
	&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Allah menyatakan rencana keselamatan manusia dengan menggunakan prinsip &#34;Pengantaraan/&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Mediation&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&#34;&lt;/span&gt;. Setelah manusia pertama Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, dan karenanya diusir dari Firdaus, maka setelah itu Allah tak henti-hentinya memberikan pertolongan kepada manusia secara bertahap dalam sejarah manusia. Tujuan Allah adalah untuk membentuk sebuah bangsa pilihan yang akan mengenal-Nya dan menyembah-Nya dalam kekudusan. Dimulai dari penciptaan manusia pertama, yaitu suami istri (Adam dan Hawa), Allah kemudian membuat perjanjian dengan keluarga (keluarga Nabi Nuh, keluarga Abraham), kemudian membentuk suku bangsa (dari 12 anak- anak Yakub/ Israel yang menjadi Patriarkh dari keduabelas suku Israel) sampai kepada bangsa (yaitu bangsa Israel pada zaman Nabi Musa). Dan di tengah-tengah ketidaksetiaan bangsa Israel, Allah tetap setia kepada janji keselamatan-Nya, sampai Ia mengutus Putera-Nya yang lahir sebagai putera bangsa pilihan tersebut, dalam garis keturunan Raja Daud (2 Sam 7: 12-16). Janji keselamatan yang pada awalnya disampaikan kepada bangsa Israel ini, kemudian disampaikan kepada seluruh bangsa. &#34;Semua raja akan sujud menyembah kepadanya [Mesias], dan segala bangsa menjadi hambanya.&#34; (Mzm 72: 11). Hal ini juga nyata pada penyebaran jemaat Kristen pertama, yang mulai dari Yerusalem, seluruh Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi (Kis 1:8), sesuai dengan pesan Yesus sendiri sebelum kenaikan-Nya ke surga untuk menyampaikan Kabar Gembira kepada seluruh bangsa (Mat 28:19-20). Rasul Paulus berkali-kali menyampaikan rencana keselamatan Allah ini yang dimulai dengan bangsa Yahudi, namun yang kemudian ditujukan pada bangsa-bangsa lain/ '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the Gentiles&lt;/span&gt;' (diterjemahkan dalam Alkitab Indonesia sebagai bangsa Yunani, lihat Rom 1:16, 2:9; 2:10).&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	Maka &lt;strong&gt;bangsa Israel/ Yahudi yang dipimpin oleh Nabi Musa pada Perjanjian Lama menjadi gambaran akan Gereja yang didirikan oleh Kristus pada Perjanjian Baru&lt;/strong&gt;. Gereja sebagai bangsa baru pilihan Allah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the New People of God&lt;/span&gt;) ini terdiri dari bangsa Yahudi maupun bangsa-bangsa lain yang dipersatukan oleh Pembaptisan. Hal ini dijelaskan dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lumen Gentium&lt;/span&gt; 9 (bab II), Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja. Di sinilah kita melihat peran &#34;pengantara&#34; untuk menyampaikan rencana keselamatan Allah itu, mulai dari para nabi yang menunjuk pada Kristus, Kristus sendiri (sebagai Pengantara yang esa -1 Tim 2:5), kemudian peran pengantara ini dilanjutkankan oleh para rasul dan para penerus mereka untuk melanjutkan karya penyelamatan Kristus di dunia, yang nyata terlihat dalam Gereja Katolik sampai sekarang.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;p&gt;Demikian jawaban saya atas pertanyaan Ferdy.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
Ingrid Listiati&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Ferdy, <br />
Pertama-tama, saya mohon maaf karena baru dapat menjawab pertanyaan anda sekarang.<span style="font-weight: bold;"></p>
<p>I. Apakah nubuat dan ramalan berbeda arti</span>?<br />
Ya, ada perbedaan arti antara nubuat dan ramalan. Nubuat berarti pengetahuan akan hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, walaupun kadang dapat pula berarti pengetahuan akan hal yang lampau yang tidak diingat, atau akan hal rahasia yang terjadi sekarang, yang tidak dapat diketahui melalui akal budi. Dalam 1 Kor 14, Rasul Paulus tidak membatasi nubuat pada pengetahuan akan hal-hal yang akan datang, tetapi termasuk juga dorongan-dorongan Ilahi tentang sesuatu yang rahasia/ misteri, baik yang terjadi saat ini maupun saat nanti. Maka, menurut <span style="font-style: italic;">New Advent Catholic Encyclopedia</span>, nubuat merupakan:</p>
<ol>
<li>Pengetahuan akan <span style="font-weight: bold;">hal-hal yang akan datang</span> ataupun <span style="font-weight: bold;">pernyataan akan sesuatu misteri/ rahasia pada saat ini</span>;</li>
<li>Pengetahuan tersebut haruslah merupakan sesuatu yang <span style="font-weight: bold;">supernatural</span>, dan <span style="font-weight: bold;">diberikan langsung oleh Tuhan</span> (&#8217;<span style="font-style: italic;">infused by God</span>&#8216;), dan merupakan sesuatu yang <span style="font-weight: bold;">di luar batas kemampuan alamiah dari akal budi</span>;</li>
<li>Pengetahuan tersebut harus dinyatakan <span style="font-weight: bold;">dalam bentuk tanda ataupun perkataan agar dapat dimengerti</span> oleh orang lain, sebab karunia <span style="font-weight: bold;">nubuat diberikan terutama untuk kebaikan orang lain</span>/ membangun jemaat. Adalah karena terang ilahi, maka Tuhan menyatakan akan hal yang akan terjadi pada para nabi, dan mereka bertugas untuk menyatakannya.Maka seorang nabi bertugas untuk membawa jemaat kepada Allah melalui karunia nubuat yang diberikan kepadanya.</li>
</ol>
<p>Contoh yang paling mengagumkan dari nubuat dalam kitab suci adalah nubuat tentang Yesus Kristus oleh para nabi berabad-abad sebelum kelahiran Yesus, yang menggambarkan ciri-ciri Yesus sang Mesias, dari kelahiranNya, sampai kematian-Nya (silakan membaca artikel<span style="text-decoration: underline;"> </span>Yesus <a rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/18/yesus-tuhan-yang-dinubuatkan-para-nabi/" rel="nofollow">- Tuhan yang dinubuatkan para nabi </a><span style="text-decoration: underline;">(</span><span style="text-decoration: underline;">silakan klik)</span></p>
<p>Menurut Kitab Suci, nubuat adalah salah satu dari karunia Roh Kudus (lihat 1Kor 12:10) yang digunakan untuk membangun umat Allah. Karunia nubuat ini sesungguhnya perlu diuji dan dibawa terus di dalam doa, karena mungkin saja terjadi seseorang berpikir ia menerima karunia nubuat, padahal gambaran yang diperoleh datang dari dirinya sendiri. Maka jika nubuat itu benar datang dari Allah, maka hal itu akan terjadi, sedangkan jika datang dari sendiri, hal itu bisa tidak terjadi atau salah.</p>
<p>Di sinilah bedanya nubuat dengan ramalan, sebab:</p>
<ol>
<li>Ramalan merupakan <span style="font-weight: bold;">perkiraan akan sesuatu yang akan terjadi</span>, dan tidak menyingkapkan akan misteri/ rahasia pada saat ini.</li>
<li>Perkiraan tersebut <span style="font-weight: bold;">dapat mencakup segala hal</span>, seperti ramalan cuaca, ramalan kondisi ekonomi, ataupun ramalan politik, dsb; yang dapat menjadi di dalam batas kemampuan alamiah akal budi. Karena sifatnya perkiraan, maka dapat pula ramalan ini tidak terjadi/ salah. Seseorang dapat mengandalkan diri sendiri ataupun roh-roh dunia untuk meramal, namun ramalan semacam ini tidak berasal dari Allah, dan bertentangan dengan Roh Allah (lihat pengalaman rasul Paulus pada Kis 16:16-18).</li>
<li>Ramalan <span style="font-weight: bold;">tidak ditujukan untuk membangun jemaat</span>, malah seringkali sebaliknya peramal malah memperlemah iman jemaat kepada Tuhan, karena orang menjadi lebih percaya kepada peramal daripada Tuhan.&nbsp;</li>
</ol>
<p>Maka di sini kita melihat bahwa ramalan tidak sama dengan nubuat. Nubuat yang sungguh-sungguh dari Allah akan terjadi, sesuai dengan yang dinyatakan Allah, kecuali jika Allah memang menyatakan nubuat tersebut untuk semata-mata memberi peringatan keras demi pertobatan, seperti nubuat yang disampaikan oleh nabi Yunus kepada orang-orang Niniwe. Dapat pula terjadi bahwa nubuat itu sungguh benar dari Tuhan, namun manusia yang menginterpretasikannya yang membuat kekeliruan.</p>
<p>Namun, nubuat para nabi yang tercantum dalam Kitab suci berasal dari Allah, dan sungguh terpenuhi dalam Kristus. Contoh lain tentang nubuat misalnya pada penampakan Bunda Maria di Fatima tahun 1917, Bunda Maria menyebutkan nubuat tentang kehancuran komunisme Rusia, terpenuhi pada tahun 1989, diikuti dengan diruntuhkannya tembok Berlin tanggal 9 Nov 1989. </p>
<p><span style="font-weight: bold;">II. Mengapa jumlah rasul Yesus hanya 12 orang</span>?</p>
<p>Sedikitnya terdapat dua alasan utama yang dapat menjelaskan jumlah rasul Yesus yang terdiri dari 12 orang tersebut, yaitu:</p>
<ol>
<li>Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru merupakan pemenuhan Perjanjian Lama, sehingga yang dilakukan oleh Yesus juga memiliki kaitan dengan yang terjadi pada Perjanjian Lama. <span style="font-weight: bold;">Keduabelas rasul Yesus melambangkan keduabelas suku Israel</span>, yaitu bangsa pertama yang dipilih Allah untuk menerima janji keselamatan. Keduabelas rasul inilah yang dipilih Yesus, yang diberi tugas untuk menjadi penjala manusia (Mrk 1:17), dan yang pada akhirnya,&nbsp; diberi hak untuk menghakimikeduabelas suku Israel (Luk 22: 29-30).</li>
<li><span style="font-weight: bold;">Allah menyatakan rencana keselamatan manusia dengan menggunakan prinsip &quot;Pengantaraan/</span><span style="font-style: italic; font-weight: bold;"> Mediation</span><span style="font-weight: bold;">&quot;</span>. Setelah manusia pertama Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, dan karenanya diusir dari Firdaus, maka setelah itu Allah tak henti-hentinya memberikan pertolongan kepada manusia secara bertahap dalam sejarah manusia. Tujuan Allah adalah untuk membentuk sebuah bangsa pilihan yang akan mengenal-Nya dan menyembah-Nya dalam kekudusan. Dimulai dari penciptaan manusia pertama, yaitu suami istri (Adam dan Hawa), Allah kemudian membuat perjanjian dengan keluarga (keluarga Nabi Nuh, keluarga Abraham), kemudian membentuk suku bangsa (dari 12 anak- anak Yakub/ Israel yang menjadi Patriarkh dari keduabelas suku Israel) sampai kepada bangsa (yaitu bangsa Israel pada zaman Nabi Musa). Dan di tengah-tengah ketidaksetiaan bangsa Israel, Allah tetap setia kepada janji keselamatan-Nya, sampai Ia mengutus Putera-Nya yang lahir sebagai putera bangsa pilihan tersebut, dalam garis keturunan Raja Daud (2 Sam 7: 12-16). Janji keselamatan yang pada awalnya disampaikan kepada bangsa Israel ini, kemudian disampaikan kepada seluruh bangsa. &quot;Semua raja akan sujud menyembah kepadanya [Mesias], dan segala bangsa menjadi hambanya.&quot; (Mzm 72: 11). Hal ini juga nyata pada penyebaran jemaat Kristen pertama, yang mulai dari Yerusalem, seluruh Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi (Kis 1:8), sesuai dengan pesan Yesus sendiri sebelum kenaikan-Nya ke surga untuk menyampaikan Kabar Gembira kepada seluruh bangsa (Mat 28:19-20). Rasul Paulus berkali-kali menyampaikan rencana keselamatan Allah ini yang dimulai dengan bangsa Yahudi, namun yang kemudian ditujukan pada bangsa-bangsa lain/ &#8216;<span style="font-style: italic;">the Gentiles</span>&#8216; (diterjemahkan dalam Alkitab Indonesia sebagai bangsa Yunani, lihat Rom 1:16, 2:9; 2:10).
<p>	Maka <strong>bangsa Israel/ Yahudi yang dipimpin oleh Nabi Musa pada Perjanjian Lama menjadi gambaran akan Gereja yang didirikan oleh Kristus pada Perjanjian Baru</strong>. Gereja sebagai bangsa baru pilihan Allah (<span style="font-style: italic;">the New People of God</span>) ini terdiri dari bangsa Yahudi maupun bangsa-bangsa lain yang dipersatukan oleh Pembaptisan. Hal ini dijelaskan dalam <span style="font-style: italic;">Lumen Gentium</span> 9 (bab II), Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja. Di sinilah kita melihat peran &quot;pengantara&quot; untuk menyampaikan rencana keselamatan Allah itu, mulai dari para nabi yang menunjuk pada Kristus, Kristus sendiri (sebagai Pengantara yang esa -1 Tim 2:5), kemudian peran pengantara ini dilanjutkankan oleh para rasul dan para penerus mereka untuk melanjutkan karya penyelamatan Kristus di dunia, yang nyata terlihat dalam Gereja Katolik sampai sekarang.</li>
</ol>
<p>Demikian jawaban saya atas pertanyaan Ferdy.</p>
<p>Salam kasih dari <a href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br />
Ingrid Listiati</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan? by Ferdy</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/06/13/mengapa-orang-kristen-percaya-bahwa-yesus-kristus-adalah-tuhan/#comment-1282</link>
		<dc:creator>Ferdy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 00:12:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=117#comment-1282</guid>
		<description>apakah nubuat dan ramalan berbeda arti ?
mengapa murid Tuhan Yesus hanya berjumlah 12 orang ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>apakah nubuat dan ramalan berbeda arti ?<br />
mengapa murid Tuhan Yesus hanya berjumlah 12 orang ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik by Julius Santoso</title>
		<link>http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-1291</link>
		<dc:creator>Julius Santoso</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 23:50:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=135#comment-1291</guid>
		<description>Syalom Bpk. Stefanus Tay.

Dalam kitab Wahyu  dikatakan, bahwa :"Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu" (Why 20:15). 
1. Gereja Katolik percaya bahwa Sakramen Baptis adalah mutlak untuk keselamatan, bahkan dikatakan bahwa Gereja tidak tahu ada cara lain selain Baptisan yang membuat orang dapat masuk ke kehidupan kekal di surga.

Berarti bahwa  agar tidak dilemparkan ke dalam lautan api, namanya harus tertulis dalam kitab kehidupan dan Gereja Katolik tidak mengetahui cara lain selain Baptisan agar dapat masuk  ke kehidupan kekal.

2. Namun disisi lain seseorang, bukan kesengajaannya  tidak mengenal Kristus  karena  bukan  kesalahan mereka,  dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi".  

Apakah hal tersebut no. 1 dan 2 diatas tidak bertentangan ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Syalom Bpk. Stefanus Tay.</p>
<p>Dalam kitab Wahyu  dikatakan, bahwa :&#8221;Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu&#8221; (Why 20:15).<br />
1. Gereja Katolik percaya bahwa Sakramen Baptis adalah mutlak untuk keselamatan, bahkan dikatakan bah