<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for katolisitas.org</title>
	<atom:link href="http://katolisitas.org/comments/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://katolisitas.org</link>
	<description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 08:25:25 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>Comment on Perkawinan sah-kanonik jika salah satu tidak terbaptis by Ingrid Listiati</title>
		<link>http://katolisitas.org/951/perkawinan-sah-kanonik-jika-salah-satu-tidak-terbaptis-khk-1059-1060/comment-page-3#comment-50496</link>
		<dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 08:25:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2009/03/01/perkawinan-sah-kanonik-jika-salah-satu-tidak-terbaptis-khk-1059-1060/#comment-50496</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Mike,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seorang yang Katolik namun menikah tidak secara Katolik, maka sesungguhnya ia tidak menaati ketentuan tentang perkawinan menurut hukum Gereja Katolik. Maka sesungguhnya ikatan tersebut cacat kanonik, artinya perkawinan tersebut dilaksanakan dengan tidak memenuhi persyaratan yang disyaratkan Gereja sebagai perkawinan yang sah. Perkawinan adalah ikatan yang sungguh sakral di mata Tuhan dan Gereja, dan karena itu, Gereja atas nama Kristus sendiri, menetapkan ketentuan-ketentuannya. Silakan Anda membaca terlebih dahulu di artikel Indah dan Dalamnya Makna Perkawinan Katolik, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/257/indah-dan-dalamnya-makna-sakramen-perkawinan-katolik&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;. Adalah wajar jika di dalam keluarga, ada aturan-aturan yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya- terutama dalam hal-hal yang dianggap penting dalam keluarga itu. Demikian pula dalam keluarga besar Gereja Katolik, ada aturan yang harus diikuti oleh anggota-anggotanya, jika memang mereka masih ingin menjadi anggota Gereja Katolik- terutama dalam hal perkawinan, sesuatu yang sungguh penting di mata Gereja; karena menjadi gambaran akan kasih Kristus sendiri kepada Gereja-Nya, gambaran kasih Allah kepada umat-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jika seseorang tidak mengindahkan ketentuan Gereja Katolik tentang perkawinan ini, apalagi jika ia sampai meninggalkan iman Katoliknya agar dapat diberkati menurut agama lain, maka sesungguhnya ia sendiri yang dengan perbuatannya mencerminkan bahwa ia tidak berkehendak untuk tetap Katolik. Dengan demikian, maka ia tidak dapat menerima Komuni, karena Komuni itu maknanya adalah persatuan dengan Kristus dan Gereja-Nya, yang juga mensyaratkan ia menaati perintah-perintah-Nya, sebagaimana diajarkan oleh Gereja. Jika ia tidak menaatinya, maka sesungguhnya tidak &quot;menghidupi&quot; makna Komuni itu sendiri. Bagaimana mau menguduskan hidup pasangannya kalau ia sendiri tidak mengikuti ketentuan yang Tuhan Yesus inginkan dalam kehidupannya? Lagipula harus dipahami bahwa yang dapat menguduskan sesungguhnya hanya Tuhan sendiri. Jika dikatakan bahwa istri yang beriman menguduskan suaminya yang tidak beriman, ataupun sebaliknya, itu adalah karena yang beriman itu hidup seturut ajaran imannya, dan karenanya hidup di dalam Kristus dan dikuduskan oleh Kristus. Namun ia tidak hidup sesuai dengan ajaran imannya, namun menurut pemahamannya sendiri -tentang perkawinan ini- maka tidak dapat dikatakan bahwa ia berada dalam kondisi rahmat, sehingga dalam keadaan ini ia tidak dapat menerima Komuni Kudus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maka jika yang bersangkutan ingin menerima Komuni kudus, silakan mengaku dosa terlebih dahulu dalam sakramen Tobat, dan kemudian menghubungi pastor paroki untuk mengadakan konvalidasi perkawinan, dan silakan melaksanakan ketentuan- ketentuan yang disyaratkan sebagaimana nanti dijelaskan oleh Pastor.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;Ingrid Listiati- katolisitas.org&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Mike,</p>
<p>Seorang yang Katolik namun menikah tidak secara Katolik, maka sesungguhnya ia tidak menaati ketentuan tentang perkawinan menurut hukum Gereja Katolik. Maka sesungguhnya ikatan tersebut cacat kanonik, artinya perkawinan tersebut dilaksanakan dengan tidak memenuhi persyaratan yang disyaratkan Gereja sebagai perkawinan yang sah. Perkawinan adalah ikatan yang sungguh sakral di mata Tuhan dan Gereja, dan karena itu, Gereja atas nama Kristus sendiri, menetapkan ketentuan-ketentuannya. Silakan Anda membaca terlebih dahulu di artikel Indah dan Dalamnya Makna Perkawinan Katolik, <a href="http://katolisitas.org/257/indah-dan-dalamnya-makna-sakramen-perkawinan-katolik" rel="nofollow">silakan klik</a>. Adalah wajar jika di dalam keluarga, ada aturan-aturan yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya- terutama dalam hal-hal yang dianggap penting dalam keluarga itu. Demikian pula dalam keluarga besar Gereja Katolik, ada aturan yang harus diikuti oleh anggota-anggotanya, jika memang mereka masih ingin menjadi anggota Gereja Katolik- terutama dalam hal perkawinan, sesuatu yang sungguh penting di mata Gereja; karena menjadi gambaran akan kasih Kristus sendiri kepada Gereja-Nya, gambaran kasih Allah kepada umat-Nya.</p>
<p>Jika seseorang tidak mengindahkan ketentuan Gereja Katolik tentang perkawinan ini, apalagi jika ia sampai meninggalkan iman Katoliknya agar dapat diberkati menurut agama lain, maka sesungguhnya ia sendiri yang dengan perbuatannya mencerminkan bahwa ia tidak berkehendak untuk tetap Katolik. Dengan demikian, maka ia tidak dapat menerima Komuni, karena Komuni itu maknanya adalah persatuan dengan Kristus dan Gereja-Nya, yang juga mensyaratkan ia menaati perintah-perintah-Nya, sebagaimana diajarkan oleh Gereja. Jika ia tidak menaatinya, maka sesungguhnya tidak &#8220;menghidupi&#8221; makna Komuni itu sendiri. Bagaimana mau menguduskan hidup pasangannya kalau ia sendiri tidak mengikuti ketentuan yang Tuhan Yesus inginkan dalam kehidupannya? Lagipula harus dipahami bahwa yang dapat menguduskan sesungguhnya hanya Tuhan sendiri. Jika dikatakan bahwa istri yang beriman menguduskan suaminya yang tidak beriman, ataupun sebaliknya, itu adalah karena yang beriman itu hidup seturut ajaran imannya, dan karenanya hidup di dalam Kristus dan dikuduskan oleh Kristus. Namun ia tidak hidup sesuai dengan ajaran imannya, namun menurut pemahamannya sendiri -tentang perkawinan ini- maka tidak dapat dikatakan bahwa ia berada dalam kondisi rahmat, sehingga dalam keadaan ini ia tidak dapat menerima Komuni Kudus.</p>
<p>Maka jika yang bersangkutan ingin menerima Komuni kudus, silakan mengaku dosa terlebih dahulu dalam sakramen Tobat, dan kemudian menghubungi pastor paroki untuk mengadakan konvalidasi perkawinan, dan silakan melaksanakan ketentuan- ketentuan yang disyaratkan sebagaimana nanti dijelaskan oleh Pastor.</p>
<p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br />Ingrid Listiati- katolisitas.org</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Berpuasa dan berpantang menurut Gereja Katolik by ferdy</title>
		<link>http://katolisitas.org/1914/berpuasa-dan-berpantang-menurut-gereja-katolik/comment-page-2#comment-50491</link>
		<dc:creator>ferdy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 07:56:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1914#comment-50491</guid>
		<description>dikatakan bahwa hari puasa adalah Rabu Abu dan Jumat Agung. Apakah boleh berpuasa sepanjang hari di masa Prapaskah?

&lt;strong&gt;&lt;em&gt;[Dari Katolisitas: Yang disebutkan dalam Kitab Hukum Kanonik adalah persyaratan minimum, sehingga jika Anda mau melakukan puasa dan pantang selama 40 hari, tentu saja diperbolehkan. Namun tentu bukan puasa sepanjang hari sampai tidak makan dan minum, sebab puasa menurut ajaran Gereja Katolik adalah makan satu kali kenyang dalam sehari (jadi dua kali lainnya menjadi optional, jika Anda mau makan 2 kali lagi, maka itu bukan makan sampai kenyang. Jika Anda tidak makan di luar makan satu kali kenyang, atau hanya makan sekali lagi; dan Anda dapat melakukannya, tentu itu dapat dilakukan. Di atas semua itu, pahamilah mengapa kita berpantang dan berpuasa, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/906/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik di sini&lt;/a&gt; untuk membacanya.]&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dikatakan bahwa hari puasa adalah Rabu Abu dan Jumat Agung. Apakah boleh berpuasa sepanjang hari di masa Prapaskah?</p>
<p><strong><em>[Dari Katolisitas: Yang disebutkan dalam Kitab Hukum Kanonik adalah persyaratan minimum, sehingga jika Anda mau melakukan puasa dan pantang selama 40 hari, tentu saja diperbolehkan. Namun tentu bukan puasa sepanjang hari sampai tidak makan dan minum, sebab puasa menurut ajaran Gereja Katolik adalah makan satu kali kenyang dalam sehari (jadi dua kali lainnya menjadi optional, jika Anda mau makan 2 kali lagi, maka itu bukan makan sampai kenyang. Jika Anda tidak makan di luar makan satu kali kenyang, atau hanya makan sekali lagi; dan Anda dapat melakukannya, tentu itu dapat dilakukan. Di atas semua itu, pahamilah mengapa kita berpantang dan berpuasa, <a href="http://katolisitas.org/906/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa" rel="nofollow">silakan klik di sini</a> untuk membacanya.]</em></strong></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Buku Tamu by VICTOR EMANUEL</title>
		<link>http://katolisitas.org/buku-tamu/comment-page-27#comment-50484</link>
		<dc:creator>VICTOR EMANUEL</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 04:46:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/364/#comment-50484</guid>
		<description>KEHADIRAN KATOLIKSITAS.ORG SANGAT MEMBANTU KAMI UMAT YANG MASIH AWAM SEKALI UNTUK MEMAHAMI, MENGETAHUI SELUK -BELUK YANG TERKAIT DENGAN AJARAN IMAN KATOLIK.

Victor Emanuel
d/a. Stasi Jerora 2
     Paroki Kristus Raja
     Katedral
     Keuskupan sintang - kalbar.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>KEHADIRAN KATOLIKSITAS.ORG SANGAT MEMBANTU KAMI UMAT YANG MASIH AWAM SEKALI UNTUK MEMAHAMI, MENGETAHUI SELUK -BELUK YANG TERKAIT DENGAN AJARAN IMAN KATOLIK.</p>
<p>Victor Emanuel<br />
d/a. Stasi Jerora 2<br />
     Paroki Kristus Raja<br />
     Katedral<br />
     Keuskupan sintang &#8211; kalbar.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Inkulturasi dan kejawen by Yohanes Dwi Harsanto Pr</title>
		<link>http://katolisitas.org/1923/inkulturasi-dan-kejawen/comment-page-1#comment-50481</link>
		<dc:creator>Yohanes Dwi Harsanto Pr</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 04:12:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1923#comment-50481</guid>
		<description>Salam Vivi,

Kejawen menyatakan asal dan tujuan manusia adalah Sang Pencipta. Ia mengajarkan harmoni antara manusia, alam lingkungan, makhluk-makhluk halus dan Sang Pencipta. Di situlah arti keselamatan, yaitu harmoni. Hal ini dicapai dengan prinsip hormat terhadap sesama ciptaan dan Sang Pencipta dengan cara-cara atau &quot;laku&quot; tertentu seperti sikap menghargai sesama, menjalankan ritual-ritual. Contoh ritual ialah puasa, pantang, bertapa, dan semacamnya. Jika orang melanggar prinsip hormat tersebut, maka ia harus mengembalikan suasana harmoni keselamatan itu dengan minta maaf. Caranya dengan ritual tertentu. 

Perbedaannya dengan ajaran Gereja Katolik, dalam kejawen tidak ada konsep Allah sebagai pribadi yang mengasihi manusia dan alam ciptaan, yang menebus dosa melalui Yesus Kristus Putra-Nya dalam Roh Kudus. Gereja Katolik mengajarkan karena imannya, bahwa Yesus Kristus yang bangkit dalam alam maut itu mendirikan Gereja, dan hadir penuh dalam Gereja yang satu kudus katolik apostolik yang Ia dirikan. Yesua Kristus hadir dalam perayaan-perayaan iman Gereja. Bagi Gereja Katolik, keselamatan dicapai dengan beriman kepada Yesus Kristus dalam Gereja-Nya serta berbuat kasih yang dilakukan karena iman akan Yesus yang mengasihi dan menebus umat manusia. 

Gereja Katolik tidak menyatakan ajaran agama dan kepercayaan lain sesat. Gereja Katolik hanya selalu menyatakan dan menyebarkan Kebenaran iman Katolik. Pernyataan sesat atas suatu ajaran, dilakukan Gereja justru terhadap orang Katolik sendiri ketika orang Katolik tersebut mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran iman Gereja Katolik. 

Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Vivi,</p>
<p>Kejawen menyatakan asal dan tujuan manusia adalah Sang Pencipta. Ia mengajarkan harmoni antara manusia, alam lingkungan, makhluk-makhluk halus dan Sang Pencipta. Di situlah arti keselamatan, yaitu harmoni. Hal ini dicapai dengan prinsip hormat terhadap sesama ciptaan dan Sang Pencipta dengan cara-cara atau &#8220;laku&#8221; tertentu seperti sikap menghargai sesama, menjalankan ritual-ritual. Contoh ritual ialah puasa, pantang, bertapa, dan semacamnya. Jika orang melanggar prinsip hormat tersebut, maka ia harus mengembalikan suasana harmoni keselamatan itu dengan minta maaf. Caranya dengan ritual tertentu. </p>
<p>Perbedaannya dengan ajaran Gereja Katolik, dalam kejawen tidak ada konsep Allah sebagai pribadi yang mengasihi manusia dan alam ciptaan, yang menebus dosa melalui Yesus Kristus Putra-Nya dalam Roh Kudus. Gereja Katolik mengajarkan karena imannya, bahwa Yesus Kristus yang bangkit dalam alam maut itu mendirikan Gereja, dan hadir penuh dalam Gereja yang satu kudus katolik apostolik yang Ia dirikan. Yesua Kristus hadir dalam perayaan-perayaan iman Gereja. Bagi Gereja Katolik, keselamatan dicapai dengan beriman kepada Yesus Kristus dalam Gereja-Nya serta berbuat kasih yang dilakukan karena iman akan Yesus yang mengasihi dan menebus umat manusia. </p>
<p>Gereja Katolik tidak menyatakan ajaran agama dan kepercayaan lain sesat. Gereja Katolik hanya selalu menyatakan dan menyebarkan Kebenaran iman Katolik. Pernyataan sesat atas suatu ajaran, dilakukan Gereja justru terhadap orang Katolik sendiri ketika orang Katolik tersebut mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran iman Gereja Katolik. </p>
<p>Salam<br />
Yohanes Dwi Harsanto Pr</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Eksorsisme, Pengalaman yang Tak Terlupakan by Yohanes Dwi Harsanto Pr</title>
		<link>http://katolisitas.org/5698/eksorsisme-pengalaman-yang-tak-terlupakan/comment-page-19#comment-50480</link>
		<dc:creator>Yohanes Dwi Harsanto Pr</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 04:10:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=5698#comment-50480</guid>
		<description>Salam Steve JK,

Serahkanlah kasus ini pada imam eksorsis di keuskupan di mana Anda atau ibu Anda berdomisili. Jika Anda belum tahu siapa beliau, maka Anda mesti menananyakan informasi tentang nama dan kontaknya ke Keuskupan tempat Anda atau Ibu Anda berdomisili. 

Untuk sementara, mohonlah doa dan berkat (air berkat, garam berkat) dari imam paroki terdekat untuk ibu Anda. Ajaklah ibu Anda menerima sakramen tobat, menerima ekaristi, puasa dan pantang, serta berkanjang di hadapan Sakramen Mahakudus. Doakanlah doa-doa pergumulan melawan kuasa kegelapan dalam kolom doa di web ini, dan doa rosario serta doa-doa Katolik lainnya yang ada dalam buku doa. Ibu Anda sendiri mesti berniat kuat untuk terbebas.

Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Steve JK,</p>
<p>Serahkanlah kasus ini pada imam eksorsis di keuskupan di mana Anda atau ibu Anda berdomisili. Jika Anda belum tahu siapa beliau, maka Anda mesti menananyakan informasi tentang nama dan kontaknya ke Keuskupan tempat Anda atau Ibu Anda berdomisili. </p>
<p>Untuk sementara, mohonlah doa dan berkat (air berkat, garam berkat) dari imam paroki terdekat untuk ibu Anda. Ajaklah ibu Anda menerima sakramen tobat, menerima ekaristi, puasa dan pantang, serta berkanjang di hadapan Sakramen Mahakudus. Doakanlah doa-doa pergumulan melawan kuasa kegelapan dalam kolom doa di web ini, dan doa rosario serta doa-doa Katolik lainnya yang ada dalam buku doa. Ibu Anda sendiri mesti berniat kuat untuk terbebas.</p>
<p>Salam<br />
Yohanes Dwi Harsanto Pr</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Band sebagai alat musik di misa, bolehkah? by Ingrid Listiati</title>
		<link>http://katolisitas.org/3420/band-sebagai-alat-musik-di-misa-bolehkah/comment-page-1#comment-50476</link>
		<dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 03:04:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=3420#comment-50476</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Ioannes,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebenarnya, jika kita membaca dokumen- dokumen liturgi Gereja, kita mengetahui bahwa prinsip yang perlu dipegang adalah, fungsi koor/ paduan suara dalam liturgi adalah 1) untuk membantu umat mengarahkan hati kepada Tuhan, 2) membawakan lagu-lagu pujian (penyembahan, syukur ataupun tobat) yang merupakan ungkapan iman Gereja kepada Tuhan; 3) mendorong partisipasi umat secara aktif dalam liturgi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dengan prinsip ini kita melihat kepada arransemen lagu &lt;em&gt;As the deer&lt;/em&gt;, maka pertanyaannya adalah: 1) sejauh mana arransemen itu sudah mengubah &lt;em&gt;mode&lt;/em&gt; lagu sehingga berkesan menjadi lagu sekular? Memasukkan melodi suatu lagu sekular ke dalam lagu liturgi seharusnya tidak dilakukan (menurut dokumen &lt;em&gt;Tra le Sollicitudini&lt;/em&gt;) sebab jika demikian malah hati umat tidak terarah kepada apa yang dirayakan di dalam liturgi, tetapi malah mengingat kepada asosiasi lagu sekular tersebut (entah film, pengarangnya, kisah atau kenangan sehubungan dengan lagu sekular itu); 2) Apakah lirik lagu juga sudah diubah? Sebab kalau tidak diubah, maka dari liriknya, nampaknya lagu &lt;em&gt;As the deer &lt;/em&gt;memenuhi syarat lagu liturgi karena diambil dari kitab Mazmur 42; 3) Sudahkah lagu itu dipahami umat? Sebab kalau lagu itu dinyanyikan di Amerika, Eropa atau Australia, Singapura dst yang masyarakatnya umum menggunakan bahasa Inggris, dan lagu &lt;em&gt;As the deer &lt;/em&gt;itu sudah diterima sebagai lagu liturgi, maka lagu tersebut boleh saja dinyanyikan. Tetapi jika dinyanyikan di Indonesia, maka memerlukan pertimbangan khusus, misalnya silakan diberikan juga teksnya kepada umat, atau diberikan teks dalam bahasa Indonesia di sebelahnya, agar dapat dipahami artinya. Silakan membicarakannya dengan Romo yang mempersembahkan Misa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kasus ini menjadi berbeda dengan lagu Bandung Selatan dipakai menjadi lagu Bapa Kami. Sebab melodinya jelas total menjadikan lagu tersebut sama dengan melodi lagu sekular, dan kata-kata lagu Bapa Kami-nya pun sudah dirombak total/ tidak sesuai dengan teks lagu Bapa Kami.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dengan prinsip yang sama, silakan Anda memeriksa lagu- lagu yang dipilih untuk perayaan Misa Kudus, apakah sudah memenuhi ketentuan dasar tersebut. Tentang pembahasan topik ini, silakan membaca lebih lanjut di artikel ini: Lagu pop dinyanyikan di misa?, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/3938/lagu-pop-dinyanyikan-di-misa&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;Ingrid Listiati- katolisitas.org&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&#160;&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Ioannes,</p>
<p>Sebenarnya, jika kita membaca dokumen- dokumen liturgi Gereja, kita mengetahui bahwa prinsip yang perlu dipegang adalah, fungsi koor/ paduan suara dalam liturgi adalah 1) untuk membantu umat mengarahkan hati kepada Tuhan, 2) membawakan lagu-lagu pujian (penyembahan, syukur ataupun tobat) yang merupakan ungkapan iman Gereja kepada Tuhan; 3) mendorong partisipasi umat secara aktif dalam liturgi.</p>
<p>Dengan prinsip ini kita melihat kepada arransemen lagu <em>As the deer</em>, maka pertanyaannya adalah: 1) sejauh mana arransemen itu sudah mengubah <em>mode</em> lagu sehingga berkesan menjadi lagu sekular? Memasukkan melodi suatu lagu sekular ke dalam lagu liturgi seharusnya tidak dilakukan (menurut dokumen <em>Tra le Sollicitudini</em>) sebab jika demikian malah hati umat tidak terarah kepada apa yang dirayakan di dalam liturgi, tetapi malah mengingat kepada asosiasi lagu sekular tersebut (entah film, pengarangnya, kisah atau kenangan sehubungan dengan lagu sekular itu); 2) Apakah lirik lagu juga sudah diubah? Sebab kalau tidak diubah, maka dari liriknya, nampaknya lagu <em>As the deer </em>memenuhi syarat lagu liturgi karena diambil dari kitab Mazmur 42; 3) Sudahkah lagu itu dipahami umat? Sebab kalau lagu itu dinyanyikan di Amerika, Eropa atau Australia, Singapura dst yang masyarakatnya umum menggunakan bahasa Inggris, dan lagu <em>As the deer </em>itu sudah diterima sebagai lagu liturgi, maka lagu tersebut boleh saja dinyanyikan. Tetapi jika dinyanyikan di Indonesia, maka memerlukan pertimbangan khusus, misalnya silakan diberikan juga teksnya kepada umat, atau diberikan teks dalam bahasa Indonesia di sebelahnya, agar dapat dipahami artinya. Silakan membicarakannya dengan Romo yang mempersembahkan Misa.</p>
<p>Kasus ini menjadi berbeda dengan lagu Bandung Selatan dipakai menjadi lagu Bapa Kami. Sebab melodinya jelas total menjadikan lagu tersebut sama dengan melodi lagu sekular, dan kata-kata lagu Bapa Kami-nya pun sudah dirombak total/ tidak sesuai dengan teks lagu Bapa Kami.</p>
<p>Dengan prinsip yang sama, silakan Anda memeriksa lagu- lagu yang dipilih untuk perayaan Misa Kudus, apakah sudah memenuhi ketentuan dasar tersebut. Tentang pembahasan topik ini, silakan membaca lebih lanjut di artikel ini: Lagu pop dinyanyikan di misa?, <a href="http://katolisitas.org/3938/lagu-pop-dinyanyikan-di-misa" rel="nofollow">silakan klik</a>.</p>
<p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br />Ingrid Listiati- katolisitas.org</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi by Stefanus Tay</title>
		<link>http://katolisitas.org/563/trinitas-satu-tuhan-dalam-tiga-pribadi/comment-page-3#comment-50475</link>
		<dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 02:44:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/10/06/trinitas-satu-tuhan-dalam-tiga-pribadi/#comment-50475</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Johanes Xin,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas komentar anda. Untuk ulasan medis, kami serahkan kepada yang memang ahli di bidangnya. Yang menjadi fokus kami adalah menjabarkan iman Katolik, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik sebatas pengetahuan kami. Berikut ini adalah beberapa point tanggapan yang dapat saya berikan:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, tidak ada yang menyangkal adanya mukjizat, baik yang dilakukan di jemaat perdana sampai sekarang. Jadi, kalau anda dan istri diberi karunia untuk menyembuhkan, bersyukurlah dan saya yakin anda berdua dapat membangun umat Allah dengan lebih baik. Dan biarlah, lewat karunia ini, maka wajah Yesus dan Gereja-Nya dapat semakin bersinar. Kita semua dipanggil untuk membangun Gereja Katolik yang kita kasihi dari dalam.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, dalam jawaban saya terdahulu, saya memberikan penekanan bahwa kebenaran iman kita tidaklah tergantung dari mukjizat, penglihatan, namun mempercayai siapa yang memberikan kesaksian. Kita dapat mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan kesaksian, yang kesempurnaannya terpenuhi dalam diri Kristus. Dan karena Kristus sendiri mendirikan Gereja serta memberikan kuasa kepada Gereja untuk mengajar dan melindungi dari kehancuran (lih. Mat 16:16-19), maka iman kita mempunyai dasar yang kuat karena mempercayai ajaran Gereja yang telah diberi kuasa oleh Kristus sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;, kita harus menempatkan kebenaran iman yang telah diberikan oleh Gereja Katolik - berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci - lebih tinggi dari pengertian pribadi maupun penglihatan atau wahyu pribadi yang lain. Kalau kita melihat perjalanan santa-santo, maka banyak dari antara mereka yang juga diberi karunia untuk melakukan mukjizat, dapat membaca kedalaman hati seseorang, dapat melihat masa depan, dll. Namun, mereka semua dengan kerendahan hati tetap tunduk terhadap ajaran iman dari Gereja Katolik. Dengan demikian, dimungkinkan wahyu pribadi dan ajaran Gereja berjalan beriringan sejauh kita menempatkan ajaran Gereja lebih tinggi dari wahyu pribadi. Saya tidak pernah mengatakan bahwa apa yang anda alami adalah dari setan maupun dari pribadi, atau dari Tuhan, karena kesimpulan itu hanya bisa didapatkan dengan proses &lt;em&gt;discernment&lt;/em&gt;. Yang saya ingin tekankan adalah, pada saat seseorang mengalami wahyu pribadi dan mempunyai pertentangan dengan ajaran Gereja, maka sudah sepantasnya, ajaran Gereja ditempatkan lebih tinggi daripada wahyu pribadi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;, bagi umat Allah yang diberi berbagai macam karunia, memang sudah selayaknya mensyukurinya. Namun, di satu sisi, dengan penuh kerendahan hati dan senantiasa berjaga-jaga, melihat dan meneliti apakah wahyu pribadi yang diberikan benar-benar berasal dari Tuhan atau bukan atau dapat terjadi adalah gabungan dari keduanya. Cara melihat otentisitas dari wahyu pribadi adalah dengan tidak melihat adanya pertentangan dengan ajaran dari Gereja Katolik. Kalau Roh Kudus adalah jiwa dari Gereja dan Roh Kudus tidak dapat mempertentangan Diri-Nya sendiri, maka sudah seharusnya setiap pertentangan yang menyangkut dogma dan doktrin harus dicermati lebih lanjut.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kelima&lt;/strong&gt;, kita dapat memberikan contoh kasus yang begitu banyak. Namun, kalau ada kesalahan dalam kasus-kasus, maka yang harus dibenahi adalah orang-orang yang melakukan kesalahan, baik umat awam maupun para klerus. Dengan demikian, kita dapat memilah-milah, apakah ada kesalahan dalam dogma atau kesalahan pada kasus-kasus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dengan prinsip-prinsip di atas, silakan anda menelaah sendiri apa yang anda alami. Kalau anda ingin berdiskusi tentang iman, apa yang menjadi dasar keyakinan dari iman, maka anda dapat membaca artikel ini - &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/7700/aku-percaya&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;. Silakan melihat definisi iman di artikel tersebut. Mukjizat tidaklah bertentangan dengan iman. Namun, kalau orang mendasarkan imannya pada mukjizat saja, maka sebenarnya imannya dalam tanda petik &quot;kurang dewasa&quot;. Seseorang dapat mempunyai iman yang benar, baik dia mengalami mukjizat atau tidak mengalami mukjizat. Dengan kata lain, iman tidak tergantung dari mukjizat. Kalau anda ingin tahu riwayat kehidupan kami berdua, anda dapat membacanya di sini - &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/7455/rancanganku-bukanlah-rancanganmu&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menurut saya, komentar anda sebagai berikut: &quot;&lt;span style=&quot;color: #333399;&quot;&gt;Dahulu, sdr. Slamet juga bersikap dan berpikir seperti Pak Stef dan ibu  Ingrid. Dia sangat yakin pada Ajaran Tritunggal itu, tapi hasilnya  seperti yang dialami ibu diatas. Apa yang dia percayai itu tidak  menghasilkan Mujizat apa-apa sama sekali&lt;/span&gt;.&quot; kurang tepat. Dalam komentar ini, seolah-olah iman Tritunggal yang dipercayai oleh Gereja tidak menghasilkan mukjizat dan mukjizat menjadi parameter akan kebenaran dari iman. Di atas, saya telah memberikan argumentasi, bahwa iman kita tidak tergantung dari mukjizat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Silakan anda membaca sekali lagi komentar yang saya berikan sebelumnya. Saya ingin memberikan penekanan bahwa kalau seseorang mendapatkan wahyu pribadi dan bertentangan dengan ajaran Gereja, maka kita harus berpegang pada ajaran Gereja. Saya tidak memberikan tuduhan kepada anda bahwa wahyu pribadi yang anda terima adalah berasal dari Tuhan, diri sendiri atau setan. Yang saya ingin tekankan bahwa semua wahyu pribadi &lt;strong&gt;dapat&lt;/strong&gt; berasal dari Tuhan, dari diri sendiri dan dari setan. Dan semua santa-santo dalam Gereja Katolik ketika menerima wahyu pribadi kemudian mengujinya, berbicara dengan pembimbing rohani, membandingkannya dengan dogma Gereja, dll. Jadi, silakan anda mengujinya sendiri, karena saya tidak tahu wahyu pribadi apa yang istri anda dan anda alami.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari beberapa komentar, terlihat anda mencoba menyamakan bahwa iman adalah bergantung pada mukjizat dan penglihatan. Seseorang dapat mempunyai iman yang benar walaupun dia tidak memperoleh penglihatan maupun mukjizat. Dan akhirnya, saya ingin memberikan penekanan bahwa situs ini adalah memang didirikan untuk memaparkan iman Katolik. Dengan kata lain, semua komentar yang masuk, akan kami coba tanggapi dari kacamata iman Katolik. Akhirnya, mari kita bersama-sama membangun Gereja Katolik yang kita kasihi dengan kapasitas dan talenta masing-masing, sesuai dengan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - katolisitas.org&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Johanes Xin,</p>
<p>Terima kasih atas komentar anda. Untuk ulasan medis, kami serahkan kepada yang memang ahli di bidangnya. Yang menjadi fokus kami adalah menjabarkan iman Katolik, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik sebatas pengetahuan kami. Berikut ini adalah beberapa point tanggapan yang dapat saya berikan:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, tidak ada yang menyangkal adanya mukjizat, baik yang dilakukan di jemaat perdana sampai sekarang. Jadi, kalau anda dan istri diberi karunia untuk menyembuhkan, bersyukurlah dan saya yakin anda berdua dapat membangun umat Allah dengan lebih baik. Dan biarlah, lewat karunia ini, maka wajah Yesus dan Gereja-Nya dapat semakin bersinar. Kita semua dipanggil untuk membangun Gereja Katolik yang kita kasihi dari dalam.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dalam jawaban saya terdahulu, saya memberikan penekanan bahwa kebenaran iman kita tidaklah tergantung dari mukjizat, penglihatan, namun mempercayai siapa yang memberikan kesaksian. Kita dapat mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan kesaksian, yang kesempurnaannya terpenuhi dalam diri Kristus. Dan karena Kristus sendiri mendirikan Gereja serta memberikan kuasa kepada Gereja untuk mengajar dan melindungi dari kehancuran (lih. Mat 16:16-19), maka iman kita mempunyai dasar yang kuat karena mempercayai ajaran Gereja yang telah diberi kuasa oleh Kristus sendiri.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, kita harus menempatkan kebenaran iman yang telah diberikan oleh Gereja Katolik &#8211; berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci &#8211; lebih tinggi dari pengertian pribadi maupun penglihatan atau wahyu pribadi yang lain. Kalau kita melihat perjalanan santa-santo, maka banyak dari antara mereka yang juga diberi karunia untuk melakukan mukjizat, dapat membaca kedalaman hati seseorang, dapat melihat masa depan, dll. Namun, mereka semua dengan kerendahan hati tetap tunduk terhadap ajaran iman dari Gereja Katolik. Dengan demikian, dimungkinkan wahyu pribadi dan ajaran Gereja berjalan beriringan sejauh kita menempatkan ajaran Gereja lebih tinggi dari wahyu pribadi. Saya tidak pernah mengatakan bahwa apa yang anda alami adalah dari setan maupun dari pribadi, atau dari Tuhan, karena kesimpulan itu hanya bisa didapatkan dengan proses <em>discernment</em>. Yang saya ingin tekankan adalah, pada saat seseorang mengalami wahyu pribadi dan mempunyai pertentangan dengan ajaran Gereja, maka sudah sepantasnya, ajaran Gereja ditempatkan lebih tinggi daripada wahyu pribadi.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, bagi umat Allah yang diberi berbagai macam karunia, memang sudah selayaknya mensyukurinya. Namun, di satu sisi, dengan penuh kerendahan hati dan senantiasa berjaga-jaga, melihat dan meneliti apakah wahyu pribadi yang diberikan benar-benar berasal dari Tuhan atau bukan atau dapat terjadi adalah gabungan dari keduanya. Cara melihat otentisitas dari wahyu pribadi adalah dengan tidak melihat adanya pertentangan dengan ajaran dari Gereja Katolik. Kalau Roh Kudus adalah jiwa dari Gereja dan Roh Kudus tidak dapat mempertentangan Diri-Nya sendiri, maka sudah seharusnya setiap pertentangan yang menyangkut dogma dan doktrin harus dicermati lebih lanjut.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, kita dapat memberikan contoh kasus yang begitu banyak. Namun, kalau ada kesalahan dalam kasus-kasus, maka yang harus dibenahi adalah orang-orang yang melakukan kesalahan, baik umat awam maupun para klerus. Dengan demikian, kita dapat memilah-milah, apakah ada kesalahan dalam dogma atau kesalahan pada kasus-kasus.</p>
<p>Dengan prinsip-prinsip di atas, silakan anda menelaah sendiri apa yang anda alami. Kalau anda ingin berdiskusi tentang iman, apa yang menjadi dasar keyakinan dari iman, maka anda dapat membaca artikel ini &#8211; <a href="http://katolisitas.org/7700/aku-percaya" rel="nofollow">silakan klik</a>. Silakan melihat definisi iman di artikel tersebut. Mukjizat tidaklah bertentangan dengan iman. Namun, kalau orang mendasarkan imannya pada mukjizat saja, maka sebenarnya imannya dalam tanda petik &#8220;kurang dewasa&#8221;. Seseorang dapat mempunyai iman yang benar, baik dia mengalami mukjizat atau tidak mengalami mukjizat. Dengan kata lain, iman tidak tergantung dari mukjizat. Kalau anda ingin tahu riwayat kehidupan kami berdua, anda dapat membacanya di sini &#8211; <a href="http://katolisitas.org/7455/rancanganku-bukanlah-rancanganmu" rel="nofollow">silakan klik</a>.</p>
<p>Menurut saya, komentar anda sebagai berikut: &#8220;<span style="color: #333399;">Dahulu, sdr. Slamet juga bersikap dan berpikir seperti Pak Stef dan ibu  Ingrid. Dia sangat yakin pada Ajaran Tritunggal itu, tapi hasilnya  seperti yang dialami ibu diatas. Apa yang dia percayai itu tidak  menghasilkan Mujizat apa-apa sama sekali</span>.&#8221; kurang tepat. Dalam komentar ini, seolah-olah iman Tritunggal yang dipercayai oleh Gereja tidak menghasilkan mukjizat dan mukjizat menjadi parameter akan kebenaran dari iman. Di atas, saya telah memberikan argumentasi, bahwa iman kita tidak tergantung dari mukjizat.</p>
<p>Silakan anda membaca sekali lagi komentar yang saya berikan sebelumnya. Saya ingin memberikan penekanan bahwa kalau seseorang mendapatkan wahyu pribadi dan bertentangan dengan ajaran Gereja, maka kita harus berpegang pada ajaran Gereja. Saya tidak memberikan tuduhan kepada anda bahwa wahyu pribadi yang anda terima adalah berasal dari Tuhan, diri sendiri atau setan. Yang saya ingin tekankan bahwa semua wahyu pribadi <strong>dapat</strong> berasal dari Tuhan, dari diri sendiri dan dari setan. Dan semua santa-santo dalam Gereja Katolik ketika menerima wahyu pribadi kemudian mengujinya, berbicara dengan pembimbing rohani, membandingkannya dengan dogma Gereja, dll. Jadi, silakan anda mengujinya sendiri, karena saya tidak tahu wahyu pribadi apa yang istri anda dan anda alami.</p>
<p>Dari beberapa komentar, terlihat anda mencoba menyamakan bahwa iman adalah bergantung pada mukjizat dan penglihatan. Seseorang dapat mempunyai iman yang benar walaupun dia tidak memperoleh penglihatan maupun mukjizat. Dan akhirnya, saya ingin memberikan penekanan bahwa situs ini adalah memang didirikan untuk memaparkan iman Katolik. Dengan kata lain, semua komentar yang masuk, akan kami coba tanggapi dari kacamata iman Katolik. Akhirnya, mari kita bersama-sama membangun Gereja Katolik yang kita kasihi dengan kapasitas dan talenta masing-masing, sesuai dengan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita.</p>
<p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br />stef &#8211; katolisitas.org</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Dalam Kitab Ayub, Mengapa Iblis Bercakap-cakap dengan Allah? by Ingrid Listiati</title>
		<link>http://katolisitas.org/8179/dalam-kitab-ayub-mengapa-iblis-bercakap-cakap-dengan-allah/comment-page-1#comment-50474</link>
		<dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 02:31:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=8179#comment-50474</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Ioannes,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mungkin yang perlu dipahami adalah diletakkannya kata &#039;jika tidak&#039;, &quot;........ &lt;em&gt;jika tidak&lt;/em&gt;, bukanlah menjadi menyimpang jika ......&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya coba mengambil contoh yang lain, misalnya demikian: Sudah jelas &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;kita tidak boleh mencuri&lt;/span&gt;, &lt;em&gt;jika tidak&lt;/em&gt;, bukanlah menjadi salah kalau &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;kita mengambil milik orang lain yang bukan menjadi hak kita&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perhatikanlah frasa kata yang diberi garis bawah: &#039;mencuri&#039; dan &#039;mengambil milik orang lain yang bukan hak kita&#039; adalah hal yang sama, dan itu adalah salah. Maka &#039;&lt;em&gt;jika tidak&lt;/em&gt;&#039; di sini mau mengatakan demikian: Kita tidak boleh mencuri, sebab &lt;em&gt;jika tidak demikian &lt;/em&gt;(artinya jika kita boleh mencuri) maka bukanlah menjadi salah kalau kita mengambil milik orang lain yang bukan menjadi hak kita. Di sini tentu St. Thomas tidak bermaksud memperbolehkan orang untuk mengambil milik orang lain yang bukan menjadi hak kita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sekarang kita terapkan pada pengajaran St. Thomas Aquinas tersebut:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;&quot;it is clear that &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;the good things which we do are not referred to earthly prosperity as a reward&lt;/span&gt;; otherwise, it would not be a perverse intention if &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;someone were to serve God because of temporal prosperity&lt;/span&gt;.&quot; (lihat juga di sana kata yang digunakan adalah &quot;&lt;em&gt;otherwise&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;it would not be&lt;/em&gt; ....&quot; bukan kalimat pertanyaan,&#160; would it not be....?&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;Terjemahannya:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;&quot;.... jelaslah bahwa &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya&lt;/span&gt;; &lt;em&gt;jika tidak&lt;/em&gt;, bukanlah menjadi maksud yang menyimpang jika &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;orang melayani Tuhan untuk maksud memperoleh kemakmuran duniawi&lt;/span&gt;.&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lihat frasa yang digaris bawah yaitu: 1) Perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya, dan 2) orang melayani Tuhan untuk maksud memperoleh kemakmuran duniawi. Maka maksudnya: Perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak boleh ditujukan untuk mengharapkan ganjaran kemakmuran, sebab&lt;em&gt; jika tidak demikian &lt;/em&gt;(artinya bahwa jika kita dapat berbuat baik untuk mengharapkan kemakmuran) maka bukanlah salah kalau kita melayani untuk maksud memperoleh kemakmuran. Namun karena perbuatan baik itu memang tidak untuk ditujukan untuk mengharapkan kemakmuran, maka adalah menyimpang jika kita melayani untuk maksud memperoleh kemakmuran.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga menjadi lebih jelas. Adalah menjadi ciri khas gaya penulisan St. Thomas Aquinas ini yang seringnya memang menjadikan para pembacanya berpikir keras untuk maksud yang hendak disampaikannya. Namun begitu prinsipnya kita tangkap, kita dapat lebih memahami akan apa yang hendak disampaikannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati- katolisitas.org&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Ioannes,</p>
<p>Mungkin yang perlu dipahami adalah diletakkannya kata &#8216;jika tidak&#8217;, &#8220;&#8230;&#8230;.. <em>jika tidak</em>, bukanlah menjadi menyimpang jika &#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Saya coba mengambil contoh yang lain, misalnya demikian: Sudah jelas <span style="text-decoration: underline;">kita tidak boleh mencuri</span>, <em>jika tidak</em>, bukanlah menjadi salah kalau <span style="text-decoration: underline;">kita mengambil milik orang lain yang bukan menjadi hak kita</span>.</p>
<p>Perhatikanlah frasa kata yang diberi garis bawah: &#8216;mencuri&#8217; dan &#8216;mengambil milik orang lain yang bukan hak kita&#8217; adalah hal yang sama, dan itu adalah salah. Maka &#8216;<em>jika tidak</em>&#8216; di sini mau mengatakan demikian: Kita tidak boleh mencuri, sebab <em>jika tidak demikian </em>(artinya jika kita boleh mencuri) maka bukanlah menjadi salah kalau kita mengambil milik orang lain yang bukan menjadi hak kita. Di sini tentu St. Thomas tidak bermaksud memperbolehkan orang untuk mengambil milik orang lain yang bukan menjadi hak kita.</p>
<p>Sekarang kita terapkan pada pengajaran St. Thomas Aquinas tersebut:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;it is clear that <span style="text-decoration: underline;">the good things which we do are not referred to earthly prosperity as a reward</span>; otherwise, it would not be a perverse intention if <span style="text-decoration: underline;">someone were to serve God because of temporal prosperity</span>.&#8221; (lihat juga di sana kata yang digunakan adalah &#8220;<em>otherwise</em>, <em>it would not be</em> &#8230;.&#8221; bukan kalimat pertanyaan,&nbsp; would it not be&#8230;.?</p>
<p style="padding-left: 30px;">Terjemahannya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;&#8230;. jelaslah bahwa <span style="text-decoration: underline;">perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya</span>; <em>jika tidak</em>, bukanlah menjadi maksud yang menyimpang jika <span style="text-decoration: underline;">orang melayani Tuhan untuk maksud memperoleh kemakmuran duniawi</span>.&#8221;</p>
<p>Lihat frasa yang digaris bawah yaitu: 1) Perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya, dan 2) orang melayani Tuhan untuk maksud memperoleh kemakmuran duniawi. Maka maksudnya: Perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak boleh ditujukan untuk mengharapkan ganjaran kemakmuran, sebab<em> jika tidak demikian </em>(artinya bahwa jika kita dapat berbuat baik untuk mengharapkan kemakmuran) maka bukanlah salah kalau kita melayani untuk maksud memperoleh kemakmuran. Namun karena perbuatan baik itu memang tidak untuk ditujukan untuk mengharapkan kemakmuran, maka adalah menyimpang jika kita melayani untuk maksud memperoleh kemakmuran.</p>
<p>Semoga menjadi lebih jelas. Adalah menjadi ciri khas gaya penulisan St. Thomas Aquinas ini yang seringnya memang menjadikan para pembacanya berpikir keras untuk maksud yang hendak disampaikannya. Namun begitu prinsipnya kita tangkap, kita dapat lebih memahami akan apa yang hendak disampaikannya.</p>
<p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br />Ingrid Listiati- katolisitas.org</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Thank You Jesus, I am Home by one</title>
		<link>http://katolisitas.org/602/thank-you-jesus-i-am-home/comment-page-3#comment-50453</link>
		<dc:creator>one</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 14:13:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/11/08/thank-you-jesus-i-am-home/#comment-50453</guid>
		<description>semuanya akan terbukti ketika nafas terhenti....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>semuanya akan terbukti ketika nafas terhenti&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Apakah Yang Harus Diperbaiki Dalam Proses Katekese? by Petrus Danan Widharsana</title>
		<link>http://katolisitas.org/1115/apakah-yang-harus-diperbaiki-dalam-proses-katekese/comment-page-3#comment-50451</link>
		<dc:creator>Petrus Danan Widharsana</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 13:10:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?page_id=1115#comment-50451</guid>
		<description>KATEKESE YANG
HAMBAR DAN MEMBOSANKAN
Petrus Danan Widharsana *)

Salah satu hasil dari Sidang KWI yang diselenggarakan pada bulan November 2011 adalah sebuah pesan pastoral tentang Katekese. Di dalam pesan pastoral tersebut disadari kembali pentingnya katekese dalam kehidupan Gereja. Dikatakan “Gereja mempunyai tugas utama untuk mewartakan, sesuai perintah Kristus: &quot;.... pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu&quot; (Mat 28:19-20). Perintah Kristus ini menjadi dasar perutusan Gereja dalam karya katekese.” 

Sungguh menggembirakan bahwa para pimpinan Gereja menekankan kembali pentingnya katekese dalam kehidupan Gereja. Tentu hal ini tidak lepas dari kenyataan di lapangan yang sering menempatkan katekese pada posisi yang “hambar dan membosankan”. Seperti disinyalir oleh para Bapa Uskup  “Isi katekese seringkali dirasakan kurang memadai. Di satu pihak, katekese yang memberi tekanan pada tanggapan iman atas hidup sehari-hari seringkali kurang memberi tempat pada aspek doktrinal, sehingga umat seringkali canggung dan takut ketika berhadapan dengan orang-orang yang mempertanyakan iman mereka. Di lain pihak, ketika katekese lebih memberi perhatian pada unsur-unsur doktriner, katekese dirasakan menjadi terlalu sulit bagi umat dan kurang bersentuhan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Katekese yang kurang menyentuh hati dan memenuhi harapan ini rupanya merupakan salah satu alasan yang mendorong sejumlah orang katolik, khususnya anak-anak dan orang muda yang pindah dan lebih tertarik cara doa dan pembinaan Gereja-gereja lain yang dirasakan lebih menarik.” Ada nada keprihatinan dalam Pesan Pastoral ini. Tak dapat disangkal, kemunduran kegiatan katekese berarti kemunduran Gereja. Namun, betapa sering hal ini kurang mendapatkan perhatian serius baik di kalangan para pastor, maupun umat. Yang memprihatinkan, kegiatan katekese sering dikalahkan oleh kegiatan mencari dana, pembangunan ini dan itu, bahkan kegiatan pesta-pesta paroki, yang memang jauh lebih menarik dan membanggakan daripada kegiatan katekese. 

Masalah Isi dan Matode Katekese

Berbicara tentang isi katekese tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari pokok-pokok iman sesuai dengan Ajaran Gereja. Dalam hal ini sebenarnya tidak banyak perubahan. Sebagian besar doktrin Gereja tidak berubah dari awal berdirinya hingga sekarang. Sahadat iman kita tetap. “Credo” yang diyakini sebagai ringkasan iman kita dan diikrarkankan sejak abad-abad pertama hingga sekarang tidak berbeda sama sekali. 

Kalau para Bapa Uskup menyatakan pentingnya menghubungkan aspek doktrinal dengan kehidupan sehari-hari, masalahnya tentu bukan pada isi melainkan pada metode. Di sinilah pada umumnya letak “hambar dan membosankan”-nya kegiatan katekese. Mengapa? Karena pokok-pokok iman itu diajarkan sebagai suatu dogma yang harus diterima, kalau bisa dihafal, dan tidak perlu dipertanyakan. Orang harus berbuat ini dan itu, harus tunduk ini dan itu, harus hidup seperti ini dan itu, tanpa memperhatikan sikap kritis manusia, kondisi konkrit manusia dan kebutuhan manusia untuk memahami pokok iman tersebut secara lebih dalam. Contoh: zaman sekarang tidak cukup kita mengajarkan Doa “Salam Maria” hanya sebagai doa yang harus dihafalkan. Orang Katolik sendiri banyak yang mempertanyakan mengapa kita harus berdoa “Salam Maria”. Ini menuntut suatu penjelasan yang sangat mendasar, yang tidak cukup dijawab dengan beberapa kalimat saja. Perlu dipersiapkan dengan matang suatu pengajaran yang didasarkan pada Alkitab, Tradisi Gereja dan praktek-praktek liturgi. Perlu dibahas satu per satu keberatan-keberatan dari Gereja lain yang sering diajukan berkaitan dengan penghormatan kepada Maria. Penjelasan yang alkitabiah, jelas dan tuntas sangat diperlukan. Contoh lain: zaman sekarang tidak cukup kita mengajarkan “Tritunggal Mahakudus” sebagai dogma saja, sebab di luar orang berhadapan dengan umat dari agama lain yang mempertanyakan dogma tersebut. Ini menuntut penjelasan yang dapat diterima oleh pihak lain, baik dari sisi alkitab maupun rasionalitas. Kebanyakan orang Katolik merasa “mentok” pada “inilah dogma Gereja”. Jika tidak ada suatu penjelasan yang bisa meyakinkan orang Katolik sendiri mustahil katekese menjadi sesuatu yang menarik, sebab katekese tidak menambah apapun bagi pemahaman iman mereka. Bagaimana mungkin ini diterjemahkan dan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari? Inilah salah satu tugas penting katekese pada zaman ini. 

Pentingnya sensitivitas dan kreativitas

Dalam pesan pastoralnya itu, para Uskup juga menyatakan: “Kenyataan ini menantang kita untuk lebih bersungguh-sungguh menciptakan dan mengembangkan model katekese yang bermutu dan menanggapi harapan.” Ungkapan ini menuntut sensitivitas dan kreativitas pihak-pihak yang bertanggungjawab di bidang katekese, khususnya para pelaksana katekese di lapangan di bawah pimpimnan para pastor paroki. Dewasa ini banyak para katekis yang berjalan sendiri. Mungkin mereka diberi buku referensi oleh para pastornya, tetapi mereka tidak dibekali dengan suatu pembaruan, baik di bidang iman maupun metode pengajaran. Akhirnya kegiatan katekese yang mereka jalankan kembali ke praktek dogmatis yang hambar dan membosankan. 

Kalau kita jeli sebenarnya tersedia banyak cara untuk melakukan pembaruan di bidang katekese. Zaman dulu para katekis biasa menggunakan sebuah terbitan yang disebut “Katekismus Jerman” yang pasti tidak relevan lagi untuk zaman sekarang. Namun jangan salah, pada tahun 1985 Konferensi Uskup Jerman telah menerbitkan “Katekismus Jerman” yang baru, sebagai buku panduan untuk para katekis dan katekumen “Katolischer Erwachsenen Katechismus: Das Glaubensbekenntnis der Kirche” (&quot;Katekismus Katolik untuk Orang Dewasa: Pengakuan Iman Gereja&quot;), yang benar-benar berusaha menjawab kerinduan umat Katolik akan pemahaman yang mendasar tentang iman mereka. Buku-buku seperti ini bisa banyak memberi inspirasi untuk membuat katekese kita bermutu dan menaggapi kerinduan umat. 

Multimedia, khususnya internet, memberikan sumber-sumber tak terbatas tentang berbagai permasalahan iman dan jawaban yang bisa kita berikan. Jika kita bisa memanfaatkan sumber-sumber tersebut dengan baik, banyak inspirasi yang bisa kita dapatkan untuk menjawab berbagai macam permasalahan iman di kalangan umat. Di samping itu, produk-produk audio-visual yang bersumber pada kisah-kisah Alkitab, juga menawarkan suatu sarana menarik yang bisa digunakan dalam katekese. Saat ini Injil Lukas, Matius dan Yohanes sudah dibuat filmnya. Demikian juga kisah-kisah alkitabiah yang lain. Dengan program komputer sederhana, kita bisa mengedit bahan-bahan tersebut sedemikian rupa, misalnya mencuplik dan menggabungkan kisah Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, sehingga bisa menjadi alat bantu mengajar yang sangat menarik. Zaman ini manusia dibanjiri dengan berbagai sarana audio-visual, seperti TV, CD/DVD, Internet, dsb. Mengapa kita tidak juga memanfaatkan sarana itu dalam kegiatan katekese? Semakin banyak indera yang dirangsang, semakin banyak dan lama bahan pengajaran itu tertanam di hati kita. Sebagai alat bantu mengajar, sarana-sarana tersebut akan menjadikan katekese menyentuh hati. Apalagi kalau isi dari katekese itu sendiri sudah disusun sedemikian rupa sehigga  bermutu dan menanggapi harapan umat. 

Mungkin ada yang berpendapat bahwa bahan-bahan seperti tersebut di atas tentu sangat mahal. Dewasa ini, perlengkapan seperti tersebut di atas tidak lagi dianggap sebagai barang mewah. Tambahan pula para Uskup dalam Pesan Pastoralnya juga mengatakan: “Salah satu tanda bahwa karya katekese merupakan prioritas utama dalam Gereja ditampakkan dalam dukungan finansial bagi program-program katekese maupun bagi pembinaan dan penghidupan para petugas pastoral yang berkarya di bidang katekese.”

Nah, apakah kita mau memahami bahwa katekese adalah prioritas utama dalam kehidupan Gereja dan dengan demikian juga mau membenahi dan memperbarui katekese kita?

NB: Tulisan ini dimuat di Majalah Hidup, tanggal 11 Desember 2011
*) Pengajar Katekese di Stasi St. Albertus, Paroki St. Mikael Kranji.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;[dari katolisitas: Silakan juga melihat katekese dewasa dari katolisitas di sini - &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/7722/program-katekese-dewasa&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;]&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>KATEKESE YANG<br />
HAMBAR DAN MEMBOSANKAN<br />
Petrus Danan Widharsana *)</p>
<p>Salah satu hasil dari Sidang KWI yang diselenggarakan pada bulan November 2011 adalah sebuah pesan pastoral tentang Katekese. Di dalam pesan pastoral tersebut disadari kembali pentingnya katekese dalam kehidupan Gereja. Dikatakan “Gereja mempunyai tugas utama untuk mewartakan, sesuai perintah Kristus: &#8220;&#8230;. pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu&#8221; (Mat 28:19-20). Perintah Kristus ini menjadi dasar perutusan Gereja dalam karya katekese.” </p>
<p>Sungguh menggembirakan bahwa para pimpinan Gereja menekankan kembali pentingnya katekese dalam kehidupan Gereja. Tentu hal ini tidak lepas dari kenyataan di lapangan yang sering menempatkan katekese pada posisi yang “hambar dan membosankan”. Seperti disinyalir oleh para Bapa Uskup  “Isi katekese seringkali dirasakan kurang memadai. Di satu pihak, katekese yang memberi tekanan pada tanggapan iman atas hidup sehari-hari seringkali kurang memberi tempat pada aspek doktrinal, sehingga umat seringkali canggung dan takut ketika berhadapan dengan orang-orang yang mempertanyakan iman mereka. Di lain pihak, ketika katekese lebih memberi perhatian pada unsur-unsur doktriner, katekese dirasakan menjadi terlalu sulit bagi umat dan kurang bersentuhan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Katekese yang kurang menyentuh hati dan memenuhi harapan ini rupanya merupakan salah satu alasan yang mendorong sejumlah orang katolik, khususnya anak-anak dan orang muda yang pindah dan lebih tertarik cara doa dan pembinaan Gereja-gereja lain yang dirasakan lebih menarik.” Ada nada keprihatinan dalam Pesan Pastoral ini. Tak dapat disangkal, kemunduran kegiatan katekese berarti kemunduran Gereja. Namun, betapa sering hal ini kurang mendapatkan perhatian serius baik di kalangan para pastor, maupun umat. Yang memprihatinkan, kegiatan katekese sering dikalahkan oleh kegiatan mencari dana, pembangunan ini dan itu, bahkan kegiatan pesta-pesta paroki, yang memang jauh lebih menarik dan membanggakan daripada kegiatan katekese. </p>
<p>Masalah Isi dan Matode Katekese</p>
<p>Berbicara tentang isi katekese tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari pokok-pokok iman sesuai dengan Ajaran Gereja. Dalam hal ini sebenarnya tidak banyak perubahan. Sebagian besar doktrin Gereja tidak berubah dari awal berdirinya hingga sekarang. Sahadat iman kita tetap. “Credo” yang diyakini sebagai ringkasan iman kita dan diikrarkankan sejak abad-abad pertama hingga sekarang tidak berbeda sama sekali. </p>
<p>Kalau para Bapa Uskup menyatakan pentingnya menghubungkan aspek doktrinal dengan kehidupan sehari-hari, masalahnya tentu bukan pada isi melainkan pada metode. Di sinilah pada umumnya letak “hambar dan membosankan”-nya kegiatan katekese. Mengapa? Karena pokok-pokok iman itu diajarkan sebagai suatu dogma yang harus diterima, kalau bisa dihafal, dan tidak perlu dipertanyakan. Orang harus berbuat ini dan itu, harus tunduk ini dan itu, harus hidup seperti ini dan itu, tanpa memperhatikan sikap kritis manusia, kondisi konkrit manusia dan kebutuhan manusia untuk memahami pokok iman tersebut secara lebih dalam. Contoh: zaman sekarang tidak cukup kita mengajarkan Doa “Salam Maria” hanya sebagai doa yang harus dihafalkan. Orang Katolik sendiri banyak yang mempertanyakan mengapa kita harus berdoa “Salam Maria”. Ini menuntut suatu penjelasan yang sangat mendasar, yang tidak cukup dijawab dengan beberapa kalimat saja. Perlu dipersiapkan dengan matang suatu pengajaran yang didasarkan pada Alkitab, Tradisi Gereja dan praktek-praktek liturgi. Perlu dibahas satu per satu keberatan-keberatan dari Gereja lain yang sering diajukan berkaitan dengan penghormatan kepada Maria. Penjelasan yang alkitabiah, jelas dan tuntas sangat diperlukan. Contoh lain: zaman sekarang tidak cukup kita mengajarkan “Tritunggal Mahakudus” sebagai dogma saja, sebab di luar orang berhadapan dengan umat dari agama lain yang mempertanyakan dogma tersebut. Ini menuntut penjelasan yang dapat diterima oleh pihak lain, baik dari sisi alkitab maupun rasionalitas. Kebanyakan orang Katolik merasa “mentok” pada “inilah dogma Gereja”. Jika tidak ada suatu penjelasan yang bisa meyakinkan orang Katolik sendiri mustahil katekese menjadi sesuatu yang menarik, sebab katekese tidak menambah apapun bagi pemahaman iman mereka. Bagaimana mungkin ini diterjemahkan dan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari? Inilah salah satu tugas penting katekese pada zaman ini. </p>
<p>Pentingnya sensitivitas dan kreativitas</p>
<p>Dalam pesan pastoralnya itu, para Uskup juga menyatakan: “Kenyataan ini menantang kita untuk lebih bersungguh-sungguh menciptakan dan mengembangkan model katekese yang bermutu dan menanggapi harapan.” Ungkapan ini menuntut sensitivitas dan kreativitas pihak-pihak yang bertanggungjawab di bidang katekese, khususnya para pelaksana katekese di lapangan di bawah pimpimnan para pastor paroki. Dewasa ini banyak para katekis yang berjalan sendiri. Mungkin mereka diberi buku referensi oleh para pastornya, tetapi mereka tidak dibekali dengan suatu pembaruan, baik di bidang iman maupun metode pengajaran. Akhirnya kegiatan katekese yang mereka jalankan kembali ke praktek dogmatis yang hambar dan membosankan. </p>
<p>Kalau kita jeli sebenarnya tersedia banyak cara untuk melakukan pembaruan di bidang katekese. Zaman dulu para katekis biasa menggunakan sebuah terbitan yang disebut “Katekismus Jerman” yang pasti tidak relevan lagi untuk zaman sekarang. Namun jangan salah, pada tahun 1985 Konferensi Uskup Jerman telah menerbitkan “Katekismus Jerman” yang baru, sebagai buku panduan untuk para katekis dan katekumen “Katolischer Erwachsenen Katechismus: Das Glaubensbekenntnis der Kirche” (&#8220;Katekismus Katolik untuk Orang Dewasa: Pengakuan Iman Gereja&#8221;), yang benar-benar berusaha menjawab kerinduan umat Katolik akan pemahaman yang mendasar tentang iman mereka. Buku-buku seperti ini bisa banyak memberi inspirasi untuk membuat katekese kita bermutu dan menaggapi kerinduan umat. </p>
<p>Multimedia, khususnya internet, memberikan sumber-sumber tak terbatas tentang berbagai permasalahan iman dan jawaban yang bisa kita berikan. Jika kita bisa memanfaatkan sumber-sumber tersebut dengan baik, banyak inspirasi yang bisa kita dapatkan untuk menjawab berbagai macam permasalahan iman di kalangan umat. Di samping itu, produk-produk audio-visual yang bersumber pada kisah-kisah Alkitab, juga menawarkan suatu sarana menarik yang bisa digunakan dalam katekese. Saat ini Injil Lukas, Matius dan Yohanes sudah dibuat filmnya. Demikian juga kisah-kisah alkitabiah yang lain. Dengan program komputer sederhana, kita bisa mengedit bahan-bahan tersebut sedemikian rupa, misalnya mencuplik dan menggabungkan kisah Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, sehingga bisa menjadi alat bantu mengajar yang sangat menarik. Zaman ini manusia dibanjiri dengan berbagai sarana audio-visual, seperti TV, CD/DVD, Internet, dsb. Mengapa kita tidak juga memanfaatkan sarana itu dalam kegiatan katekese? Semakin banyak indera yang dirangsang, semakin banyak dan lama bahan pengajaran itu tertanam di hati kita. Sebagai alat bantu mengajar, sarana-sarana tersebut akan menjadikan katekese menyentuh hati. Apalagi kalau isi dari katekese itu sendiri sudah disusun sedemikian rupa sehigga  bermutu dan menanggapi harapan umat. </p>
<p>Mungkin ada yang berpendapat bahwa bahan-bahan seperti tersebut di atas tentu sangat mahal. Dewasa ini, perlengkapan seperti tersebut di atas tidak lagi dianggap sebagai barang mewah. Tambahan pula para Uskup dalam Pesan Pastoralnya juga mengatakan: “Salah satu tanda bahwa karya katekese merupakan prioritas utama dalam Gereja ditampakkan dalam dukungan finansial bagi program-program katekese maupun bagi pembinaan dan penghidupan para petugas pastoral yang berkarya di bidang katekese.”</p>
<p>Nah, apakah kita mau memahami bahwa katekese adalah prioritas utama dalam kehidupan Gereja dan dengan demikian juga mau membenahi dan memperbarui katekese kita?</p>
<p>NB: Tulisan ini dimuat di Majalah Hidup, tanggal 11 Desember 2011<br />
*) Pengajar Katekese di Stasi St. Albertus, Paroki St. Mikael Kranji.</p>
<p><em><strong>[dari katolisitas: Silakan juga melihat katekese dewasa dari katolisitas di sini - <a href="http://katolisitas.org/7722/program-katekese-dewasa" rel="nofollow">silakan klik</a>]</strong></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa kita berpantang dan berpuasa? by maria</title>
		<link>http://katolisitas.org/906/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa/comment-page-2#comment-50449</link>
		<dc:creator>maria</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 12:44:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=906#comment-50449</guid>
		<description>salam sdr Ocavianus

sy mw sharing kisah sy.sy pnya penyakit maaq.lumayan parah.dulu krn alasan itu sy tdk mampu utk berpuasa tp mungkin krn dorongan Roh Kudus sy mencoba belajar puasa.awal cukup berat bukan krn tdk kuat menahan lapar tp krn waktu makan perut sy tdk bs menerima mknan,kepala pusing,perut mual.walaupun mknan msuk tp sy akn menderita sepanjang mlm.stamina drop begitu jg dg ketahanan tubuh turun.sy tdk putus asa,sy hrs mengalahkn penyakit ini.awalnya sy cb sehari puasa,sehari recovery begitu seterusnya smp paskah.mungkin krn Roh Kudus jg smp sekarang sy mampu berpuasa 2x seminggu dn saat prapaskah sy mampu puasa spti yg lainnya walaupun tdk full 40 hr tp sy berusaha utk lebih baik dr sebelumnya.sekrg sy mampu 3hr berturut2 puasa tnpa kesakitan spti dl.untuk itu setiap mw mengakhiri puasa sy bersyukur kpd Tuhan krn tlh dibantu dn disertai selm puasa.dmk pengalaman sy.smoga tahun ini sy mampu menjalani puasa lebih baik dr sebelumnya
terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam sdr Ocavianus</p>
<p>sy mw sharing kisah sy.sy pnya penyakit maaq.lumayan parah.dulu krn alasan itu sy tdk mampu utk berpuasa tp mungkin krn dorongan Roh Kudus sy mencoba belajar puasa.awal cukup berat bukan krn tdk kuat menahan lapar tp krn waktu makan perut sy tdk bs menerima mknan,kepala pusing,perut mual.walaupun mknan msuk tp sy akn menderita sepanjang mlm.stamina drop begitu jg dg ketahanan tubuh turun.sy tdk putus asa,sy hrs mengalahkn penyakit ini.awalnya sy cb sehari puasa,sehari recovery begitu seterusnya smp paskah.mungkin krn Roh Kudus jg smp sekarang sy mampu berpuasa 2x seminggu dn saat prapaskah sy mampu puasa spti yg lainnya walaupun tdk full 40 hr tp sy berusaha utk lebih baik dr sebelumnya.sekrg sy mampu 3hr berturut2 puasa tnpa kesakitan spti dl.untuk itu setiap mw mengakhiri puasa sy bersyukur kpd Tuhan krn tlh dibantu dn disertai selm puasa.dmk pengalaman sy.smoga tahun ini sy mampu menjalani puasa lebih baik dr sebelumnya<br />
terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Apakah gereja-gereja non-Katolik adalah bidah dan skisma? by Stefanus Tay</title>
		<link>http://katolisitas.org/2770/apakah-gereja-gereja-non-katolik-adalah-bidah-dan-skisma/comment-page-1#comment-50439</link>
		<dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 09:26:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=2770#comment-50439</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Acong,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kalau gambaran dari kelompok mezbah adalah seperti yang anda gambarkan: eksklusif, tertutup dan tidak ada pastor yang menjadi pembimbing, maka sebaiknya kita tidak perlu mengikuti kelompok ini. Dan kalau ternyata benar bahwa kelompok ini bukanlah termasuk kelompok kategorial dari Gereja Katolik, maka kita tidak perlu mengikutinya. Namun, karena saya tidak pernah mengikuti atau mendengar kelompok ini, maka saya tidak dapat memberikan jawaban yang pasti tentang hal ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - katolisitas.org&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Acong,</p>
<p>Kalau gambaran dari kelompok mezbah adalah seperti yang anda gambarkan: eksklusif, tertutup dan tidak ada pastor yang menjadi pembimbing, maka sebaiknya kita tidak perlu mengikuti kelompok ini. Dan kalau ternyata benar bahwa kelompok ini bukanlah termasuk kelompok kategorial dari Gereja Katolik, maka kita tidak perlu mengikutinya. Namun, karena saya tidak pernah mengikuti atau mendengar kelompok ini, maka saya tidak dapat memberikan jawaban yang pasti tentang hal ini.</p>
<p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br />stef &#8211; katolisitas.org</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 2) ? by Romo Wanta, Pr.</title>
		<link>http://katolisitas.org/222/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/comment-page-1#comment-50431</link>
		<dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 07:59:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=222#comment-50431</guid>
		<description>Theresha yth
 
Para Pastor/imam katolik terikat pada janji/sumpah imamat dan dalam KHK 1983 para imam dilarang menyampaikan kepada publik isi pengakuan dosa dari umat. Bahkan melakukan pelanggaran sakramen pengakuan dosa dengan pihak peniten dikenakan sangsi otomatis latae setentiae artinya tanpa proses hukum pidana melainkan langsung. Oleh karena itu jawabannya tidak bisa, lebih mati dibunuh dari pada melanggar sumpah di hadapan Allah dan jabatan imamat.
 
salam
rm wanta</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Theresha yth</p>
<p>Para Pastor/imam katolik terikat pada janji/sumpah imamat dan dalam KHK 1983 para imam dilarang menyampaikan kepada publik isi pengakuan dosa dari umat. Bahkan melakukan pelanggaran sakramen pengakuan dosa dengan pihak peniten dikenakan sangsi otomatis latae setentiae artinya tanpa proses hukum pidana melainkan langsung. Oleh karena itu jawabannya tidak bisa, lebih mati dibunuh dari pada melanggar sumpah di hadapan Allah dan jabatan imamat.</p>
<p>salam<br />
rm wanta</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Bergabungnya umat Anglikan sesuai Anglicanorum coetibus by Ingrid Listiati</title>
		<link>http://katolisitas.org/3340/bergabungnya-umat-anglikan-sesuai-anglicanorum-coetibus/comment-page-1#comment-50430</link>
		<dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 07:13:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=3340#comment-50430</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Aria,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bergabungnya lima orang Uskup Anglikan ke dalam Gereja Katolik sejalan dengan ajakan Bapa Paus Benediktus XVI yang juga telah mengeluarkan dokumen yang mengatur tentang bergabungnya umat Anglikan ke dalam Gereja Katolik, sehubungan dengan permohonan dari pihak gereja Anglikan. Menurut keterangan Wikipedia, terdapat sekitar 400 imam Anglikan yang telah bergabung ke dalam Gereja Katolik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dokumen tersebut, yang berjudul &lt;em&gt;Anglicanorum coetibus&lt;/em&gt;, dikeluarkan tanggal 4 November 2009. Lima orang uskup Anglikan di London itu mengumumkan akan bergabung dengan Gereja Katolik setahun sesudahnya, yaitu pada tanggal 9 November 2010. Sekilas tentang dokumen &lt;em&gt;Anglicanorum coetibus&lt;/em&gt;, dapat dibaca di atas, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/3340/bergabungnya-umat-anglikan-sesuai-anglicanorum-coetibus&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sedangkan di Amerika, gereja Anglikan (di Amerika disebut sebagai gereja Episcopalian) pertama yang sudah bergabung dengan Gereja Katolik adalah gereja St. Luke di Maryland, beritanya sekilas sudah pernah dituliskan di sini, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/7435/paroki-gereja-episkopal-st-luke-di-maryland-usa-bergabung-dalam-kesatuan-dengan-gereja-katolik-melalui-ordinariat&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kita sebagai murid-murid Kristus patut mensyukuri hal ini dan terus mendoakan agar proses persatuan Gereja dapat terwujud, sebagaimana dikehendaki oleh Kristus sendiri (lih. Yoh 17:20-21).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;Ingrid Listiati- katolisitas.org&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Aria,</p>
<p>Bergabungnya lima orang Uskup Anglikan ke dalam Gereja Katolik sejalan dengan ajakan Bapa Paus Benediktus XVI yang juga telah mengeluarkan dokumen yang mengatur tentang bergabungnya umat Anglikan ke dalam Gereja Katolik, sehubungan dengan permohonan dari pihak gereja Anglikan. Menurut keterangan Wikipedia, terdapat sekitar 400 imam Anglikan yang telah bergabung ke dalam Gereja Katolik.</p>
<p>Dokumen tersebut, yang berjudul <em>Anglicanorum coetibus</em>, dikeluarkan tanggal 4 November 2009. Lima orang uskup Anglikan di London itu mengumumkan akan bergabung dengan Gereja Katolik setahun sesudahnya, yaitu pada tanggal 9 November 2010. Sekilas tentang dokumen <em>Anglicanorum coetibus</em>, dapat dibaca di atas, <a href="http://katolisitas.org/3340/bergabungnya-umat-anglikan-sesuai-anglicanorum-coetibus" rel="nofollow">silakan klik</a>.</p>
<p>Sedangkan di Amerika, gereja Anglikan (di Amerika disebut sebagai gereja Episcopalian) pertama yang sudah bergabung dengan Gereja Katolik adalah gereja St. Luke di Maryland, beritanya sekilas sudah pernah dituliskan di sini, <a href="http://katolisitas.org/7435/paroki-gereja-episkopal-st-luke-di-maryland-usa-bergabung-dalam-kesatuan-dengan-gereja-katolik-melalui-ordinariat" rel="nofollow">silakan klik</a>.</p>
<p>Kita sebagai murid-murid Kristus patut mensyukuri hal ini dan terus mendoakan agar proses persatuan Gereja dapat terwujud, sebagaimana dikehendaki oleh Kristus sendiri (lih. Yoh 17:20-21).</p>
<p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br />Ingrid Listiati- katolisitas.org</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Dalam Kitab Ayub, Mengapa Iblis Bercakap-cakap dengan Allah? by Ioannes</title>
		<link>http://katolisitas.org/8179/dalam-kitab-ayub-mengapa-iblis-bercakap-cakap-dengan-allah/comment-page-1#comment-50429</link>
		<dc:creator>Ioannes</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 06:20:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=8179#comment-50429</guid>
		<description>Salam,

Menanggapi pertanyaan Junior, saya juga menangkap pengertian yang sama dengan Junior setelah membaca kalimat terjemahan tersebut :

&quot;Padahal, jelaslah bahwa perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya; jika tidak, bukanlah menjadi maksud yang menyimpang jika orang melayani Tuhan untuk maksud memperoleh kemakmuran duniawi.&quot;

Memang penjelasan St. Thomas Aquinas semestinya ingin menunjukkan bahwa mengejar kemakmuran duniawi merupakan motivasi yang salah dalam berbuat kebaikan. Akan tetapi, jika boleh kita menyusun ulang tanpa menghilangkan maksud per frasa, kalimat tersebut seolah berkata,

&quot;Perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya. Jika perbuatan-perbuatan baik yang orang lakukan memiliki maksud memperoleh kemakmuran duniawi sebagai ganjaran, hal tersebut bukanlah maksud yang menyimpang.&quot;

Hal ini yang menjadikan kalimat tersebut aneh dan terlihat kontradiktif. Mohon bantuan bu Inggrid untuk menjelaskan karena saya rasa pikiran saya kurang dapat menghubungkan antara maksud sebenarnya yang ingin dijelaskan St. Thomas Aquinas dengan arti yang pikiran saya tangkap dalam kalimat tersebut.

Pacem,
Ioannes</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam,</p>
<p>Menanggapi pertanyaan Junior, saya juga menangkap pengertian yang sama dengan Junior setelah membaca kalimat terjemahan tersebut :</p>
<p>&#8220;Padahal, jelaslah bahwa perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya; jika tidak, bukanlah menjadi maksud yang menyimpang jika orang melayani Tuhan untuk maksud memperoleh kemakmuran duniawi.&#8221;</p>
<p>Memang penjelasan St. Thomas Aquinas semestinya ingin menunjukkan bahwa mengejar kemakmuran duniawi merupakan motivasi yang salah dalam berbuat kebaikan. Akan tetapi, jika boleh kita menyusun ulang tanpa menghilangkan maksud per frasa, kalimat tersebut seolah berkata,</p>
<p>&#8220;Perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya. Jika perbuatan-perbuatan baik yang orang lakukan memiliki maksud memperoleh kemakmuran duniawi sebagai ganjaran, hal tersebut bukanlah maksud yang menyimpang.&#8221;</p>
<p>Hal ini yang menjadikan kalimat tersebut aneh dan terlihat kontradiktif. Mohon bantuan bu Inggrid untuk menjelaskan karena saya rasa pikiran saya kurang dapat menghubungkan antara maksud sebenarnya yang ingin dijelaskan St. Thomas Aquinas dengan arti yang pikiran saya tangkap dalam kalimat tersebut.</p>
<p>Pacem,<br />
Ioannes</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Dalam Kitab Ayub, Mengapa Iblis Bercakap-cakap dengan Allah? by Ingrid Listiati</title>
		<link>http://katolisitas.org/8179/dalam-kitab-ayub-mengapa-iblis-bercakap-cakap-dengan-allah/comment-page-1#comment-50426</link>
		<dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 04:49:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=8179#comment-50426</guid>
		<description>&lt;p&gt;Shalom Junior,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terjemahannya sudah benar. Mari kita melihat ke teks aslinya, yang lebih lengkap, (silakan klik di sini untuk membaca keseluruhan penjelasan St. Thomas Aquinas tentang Kitab Ayub), demikian bunyinya:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;&quot;&lt;a name=&quot;012&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Because God makes all things by his speaking, the blessing of God gives goodness to things. Thus God blesses someone’s works when he brings them to good to attain a fitting end. Because some goods come to a man without his effort and intention, he adds, “and his possessions have increased on the earth.” So Satan unjustly deprecates the deeds of blessed Job as though he did them from the intention of earthly goodness. So &lt;strong&gt;it is clear that the good things which we do are not referred to earthly prosperity as a reward; &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;otherwise, it would &lt;em&gt;not&lt;/em&gt; be&lt;/span&gt; a perverse intention if someone were to serve God because of temporal prosperity. The contrary is likewise true. Temporal adversity is not the proper punishment of sins, and this question will be the theme dealt with in the entire book&lt;/strong&gt;.&quot;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;(Di sana ditulis &quot;it would not be&quot;, dan &lt;strong&gt;bukan&lt;/strong&gt; &quot;would it not be....?&quot;)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maka, saya menyadurnya demikian:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;Maka Iblis menuduh bahwa perbuatan-perbuatan Ayub yang baik hanya  dilakukannya dengan maksud agar memperoleh kebaikan/ berkat duniawi. &lt;strong&gt; Padahal, jelaslah bahwa perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak  mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya; &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;jika tidak, bukanlah  menjadi&lt;/span&gt; maksud yang menyimpang jika orang melayani Tuhan untuk maksud  memperoleh kemakmuran duniawi. Namun keadaan kebalikannya juga benar:  Kesulitan/ pencobaan duniawi bukanlah hukuman atas dosa-dosa. Hal ini  menjadi topik yang dibahas di keseluruhan kitab Ayub&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi St. Thomas mengajarkan (bukan mempertanyakan), bahwa jika kita melayani Tuhan, motivasinya bukan agar kita memperoleh kemakmuran duniawi. Sebab jika melayani Tuhan dengan maksud mengejar kemakmuran duniawi, itu adalah maksud yang menyimpang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;Ingrid Listiati- katolisitas.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Junior,</p>
<p>Terjemahannya sudah benar. Mari kita melihat ke teks aslinya, yang lebih lengkap, (silakan klik di sini untuk membaca keseluruhan penjelasan St. Thomas Aquinas tentang Kitab Ayub), demikian bunyinya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">&#8220;<a name="012" rel="nofollow">Because God makes all things by his speaking, the blessing of God gives goodness to things. Thus God blesses someone’s works when he brings them to good to attain a fitting end. Because some goods come to a man without his effort and intention, he adds, “and his possessions have increased on the earth.” So Satan unjustly deprecates the deeds of blessed Job as though he did them from the intention of earthly goodness. So <strong>it is clear that the good things which we do are not referred to earthly prosperity as a reward; <span style="text-decoration: underline;">otherwise, it would <em>not</em> be</span> a perverse intention if someone were to serve God because of temporal prosperity. The contrary is likewise true. Temporal adversity is not the proper punishment of sins, and this question will be the theme dealt with in the entire book</strong>.&#8221;</a></p>
<p>(Di sana ditulis &#8220;it would not be&#8221;, dan <strong>bukan</strong> &#8220;would it not be&#8230;.?&#8221;)</p>
<p>Maka, saya menyadurnya demikian:</p>
<p style="padding-left: 30px;">Maka Iblis menuduh bahwa perbuatan-perbuatan Ayub yang baik hanya  dilakukannya dengan maksud agar memperoleh kebaikan/ berkat duniawi. <strong> Padahal, jelaslah bahwa perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan tidak  mengacu kepada kemakmuran sebagai ganjarannya; <span style="text-decoration: underline;">jika tidak, bukanlah  menjadi</span> maksud yang menyimpang jika orang melayani Tuhan untuk maksud  memperoleh kemakmuran duniawi. Namun keadaan kebalikannya juga benar:  Kesulitan/ pencobaan duniawi bukanlah hukuman atas dosa-dosa. Hal ini  menjadi topik yang dibahas di keseluruhan kitab Ayub</strong>.</p>
<p>Jadi St. Thomas mengajarkan (bukan mempertanyakan), bahwa jika kita melayani Tuhan, motivasinya bukan agar kita memperoleh kemakmuran duniawi. Sebab jika melayani Tuhan dengan maksud mengejar kemakmuran duniawi, itu adalah maksud yang menyimpang.</p>
<p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br />Ingrid Listiati- katolisitas.org</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengapa kita berpantang dan berpuasa? by Ingrid Listiati</title>
		<link>http://katolisitas.org/906/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa/comment-page-2#comment-50423</link>
		<dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 04:21:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=906#comment-50423</guid>
		<description>Shalom Ocavianus, 

Saya tidak tahu sebagaimana parahnya penyakit tersebut. Jika memang sudah benar- benar parah sehingga tidak orang yang bersangkutan harus makan tiga kali dengan jumlah yang tidak bisa dikurangi, maka silakan mencari cara matiraga yang lain. Seperti misalnya, tidak nonton TV kalau memang senangnya nonton TV; tidak browsing internet (kecuali untuk pekerjaan/ sekolah), tidak shopping; tidak jalan-jalan ke mall ataupun nonton bioskop, tidak gossip/ membicarakan orang lain; tidak duduk bersandar; tidak makan snack/ ngemil; tidak dengar musik; tidak marah; tidak komplain, dst, masih banyak pantang yang lain yang bisa dicoba, yang bahkan sering lebih sukar daripada pantang makanan. Demikian juga, silakan tetap melakukan derma dan doa sebab memang kedua hal itu tidak terpisahkan dari pantang dan puasa menurut iman Katolik.
Sedangkan kalau sebenarnya penyakit itu tidak terlalu parah, sebenarnya puasa dengan makan satu kali kenyang, itu sesungguhnya tidak terlalu berat. Jika memang tidak bisa &quot;skip&quot; makan, maka masih dapat makan 3 kali hanya saja dalam dua kali makan, jumlah makanannya dikurangi. Sedang satu kali makan dapat tetap makan kenyang. 
Silakan ditimbang menurut &quot;&lt;em&gt;prudence&lt;/em&gt;&quot;/ kebijaksanaan orang yang bersangkutan, sebab motivasi utama puasa dan pantang adalah untuk mengungkapkan tobat. Selanjutnya, silakan membaca artikel, Mengapa kita Berpantang dan Berpuasa?, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/906/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Ocavianus, </p>
<p>Saya tidak tahu sebagaimana parahnya penyakit tersebut. Jika memang sudah benar- benar parah sehingga tidak orang yang bersangkutan harus makan tiga kali dengan jumlah yang tidak bisa dikurangi, maka silakan mencari cara matiraga yang lain. Seperti misalnya, tidak nonton TV kalau memang senangnya nonton TV; tidak browsing internet (kecuali untuk pekerjaan/ sekolah), tidak shopping; tidak jalan-jalan ke mall ataupun nonton bioskop, tidak gossip/ membicarakan orang lain; tidak duduk bersandar; tidak makan snack/ ngemil; tidak dengar musik; tidak marah; tidak komplain, dst, masih banyak pantang yang lain yang bisa dicoba, yang bahkan sering lebih sukar daripada pantang makanan. Demikian juga, silakan tetap melakukan derma dan doa sebab memang kedua hal itu tidak terpisahkan dari pantang dan puasa menurut iman Katolik.<br />
Sedangkan kalau sebenarnya penyakit itu tidak terlalu parah, sebenarnya puasa dengan makan satu kali kenyang, itu sesungguhnya tidak terlalu berat. Jika memang tidak bisa &#8220;skip&#8221; makan, maka masih dapat makan 3 kali hanya saja dalam dua kali makan, jumlah makanannya dikurangi. Sedang satu kali makan dapat tetap makan kenyang.<br />
Silakan ditimbang menurut &#8220;<em>prudence</em>&#8220;/ kebijaksanaan orang yang bersangkutan, sebab motivasi utama puasa dan pantang adalah untuk mengungkapkan tobat. Selanjutnya, silakan membaca artikel, Mengapa kita Berpantang dan Berpuasa?, <a href="http://katolisitas.org/906/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa" rel="nofollow">silakan klik</a>.</p>
<p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br />
Ingrid Listiati- katolisitas.org</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 2) ? by Teresha Avila</title>
		<link>http://katolisitas.org/222/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/comment-page-1#comment-50414</link>
		<dc:creator>Teresha Avila</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 01:38:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=222#comment-50414</guid>
		<description>shalom........
Yang ingin saya tanyakan, apakah dosa-dosa yang diakui dihadapan pastor akan tetap dirahasikana oleh pastor?? Bagaimana jika dosa yang diakui itu berkaitan dengan masalah publik.. Misalnya seseorang mengakui bahwa dirinya sesungghuhnya adalah pembunuh bayaran namun orang lain telah menjalani hukuman pidana karena kesalahan pemeriksaan oleh pihak yang berwenang.. Dalam kasus ini apakah pastor dapat melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian atau kepada pihak-pihak lain yang berwenang?
Terima kasih...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>shalom&#8230;&#8230;..<br />
Yang ingin saya tanyakan, apakah dosa-dosa yang diakui dihadapan pastor akan tetap dirahasikana oleh pastor?? Bagaimana jika dosa yang diakui itu berkaitan dengan masalah publik.. Misalnya seseorang mengakui bahwa dirinya sesungghuhnya adalah pembunuh bayaran namun orang lain telah menjalani hukuman pidana karena kesalahan pemeriksaan oleh pihak yang berwenang.. Dalam kasus ini apakah pastor dapat melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian atau kepada pihak-pihak lain yang berwenang?<br />
Terima kasih&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Apakah gereja-gereja non-Katolik adalah bidah dan skisma? by acong</title>
		<link>http://katolisitas.org/2770/apakah-gereja-gereja-non-katolik-adalah-bidah-dan-skisma/comment-page-1#comment-50394</link>
		<dc:creator>acong</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 15:56:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=2770#comment-50394</guid>
		<description>Maaf lama menanggapinya...

Mengenai mezbah keluarga itu adalah nama kelompok. Mereka memakai cara karismatik. Dimana hubungan dalam komunitas mereka hanya dari orang ke orang. Jad tidak banyak yg tahu atau dengar. Komunitas ini say bilang tertutup karena cuma hubungan antar ke orang saja yg mengetahuinya baru jarang ada pengumuman resmi di gereja kalau ad kegiatan kayak kelompok karismatik, choice, KTM, JSM dll. Baru say juga heran kalau bertanya tentang info dan kegiatan ini kepada anggotanya. Mereka kayak tertutup n tanya mau apa disana. Saya pernah bertanya kepada beberapa orang yang mengetahuinya ada yg bilang ini masih komunitas katolik dan ada bilang sudah bukan katolik tapi masuk komunitas f*******a / denom lain..

Mengenai acara kerasukan, say tidak pernah melihatnya karena ini say dapat cerita dari teman say yg jug pemain musik disana. Dimana waktu dia main masuk dan lagi kayak pemujaan gaya karismatik. Tiba2 ada seorang umat yg memukul gitar teman say dan mengatakan: &quot;kok kamu ribut sekali, hentikan it&quot;. Teman sy yg mengakui dirix penakut akhirx main sambil tutup mata. Kemudian salah seorang dari mereka, entah itu leader atau umatx bilang yg mukul ini kerasukkan setan. Akhirnya ramai2lah org menumpangkan tangan untuk menyembuhkan orang tersebut. Soal cerita orang yg ditolak oleh komunitas tersebut disebabkan karena dia-nya ada belajar tenaga dalam dan ada dapat warisan dari leluhurnya, maksudx turunan n otomatis didapat utk turunan selanjutnya. Dimana kalau dia pergi ke acara tersebut, leadernya ga bis tidur karena sering berjumpa dengan wanita tua. Teman sy jg bilang dia jg biasa dihantui klu malam2. Karena dia lihat dalam mimpinya ada wanita tua di kamar mandix sejak kedatangan temannya. Akhirnya temannya tidak jad masuk..

Mengenai ap ada pastor pembimbing dalam komunitas tersebut. Sy kurang tahu karena say bukan orang komunitas tersebut. Tp teman say bilang dlu pernah ad pastor n dtg 2 kali. Pastorx sy kenal dan belum sy tanya. Pastor2 lain di gereja say jg tidak thu ad komunitas tersebut. Untuk sementara sy lag menyelidiki benar atau tidaknya mengingat sulitx akses masuk ke komunitas tersebut..Salam damai</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf lama menanggapinya&#8230;</p>
<p>Mengenai mezbah keluarga itu adalah nama kelompok. Mereka memakai cara karismatik. Dimana hubungan dalam komunitas mereka hanya dari orang ke orang. Jad tidak banyak yg tahu atau dengar. Komunitas ini say bilang tertutup karena cuma hubungan antar ke orang saja yg mengetahuinya baru jarang ada pengumuman resmi di gereja kalau ad kegiatan kayak kelompok karismatik, choice, KTM, JSM dll. Baru say juga heran kalau bertanya tentang info dan kegiatan ini kepada anggotanya. Mereka kayak tertutup n tanya mau apa disana. Saya pernah bertanya kepada beberapa orang yang mengetahuinya ada yg bilang ini masih komunitas katolik dan ada bilang sudah bukan katolik tapi masuk komunitas f*******a / denom lain..</p>
<p>Mengenai acara kerasukan, say tidak pernah melihatnya karena ini say dapat cerita dari teman say yg jug pemain musik disana. Dimana waktu dia main masuk dan lagi kayak pemujaan gaya karismatik. Tiba2 ada seorang umat yg memukul gitar teman say dan mengatakan: &#8220;kok kamu ribut sekali, hentikan it&#8221;. Teman sy yg mengakui dirix penakut akhirx main sambil tutup mata. Kemudian salah seorang dari mereka, entah itu leader atau umatx bilang yg mukul ini kerasukkan setan. Akhirnya ramai2lah org menumpangkan tangan untuk menyembuhkan orang tersebut. Soal cerita orang yg ditolak oleh komunitas tersebut disebabkan karena dia-nya ada belajar tenaga dalam dan ada dapat warisan dari leluhurnya, maksudx turunan n otomatis didapat utk turunan selanjutnya. Dimana kalau dia pergi ke acara tersebut, leadernya ga bis tidur karena sering berjumpa dengan wanita tua. Teman sy jg bilang dia jg biasa dihantui klu malam2. Karena dia lihat dalam mimpinya ada wanita tua di kamar mandix sejak kedatangan temannya. Akhirnya temannya tidak jad masuk..</p>
<p>Mengenai ap ada pastor pembimbing dalam komunitas tersebut. Sy kurang tahu karena say bukan orang komunitas tersebut. Tp teman say bilang dlu pernah ad pastor n dtg 2 kali. Pastorx sy kenal dan belum sy tanya. Pastor2 lain di gereja say jg tidak thu ad komunitas tersebut. Untuk sementara sy lag menyelidiki benar atau tidaknya mengingat sulitx akses masuk ke komunitas tersebut..Salam damai</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Berpuasa dan berpantang menurut Gereja Katolik by fonny (sabah,Malaysia)</title>
		<link>http://katolisitas.org/1914/berpuasa-dan-berpantang-menurut-gereja-katolik/comment-page-2#comment-50390</link>
		<dc:creator>fonny (sabah,Malaysia)</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 12:26:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1914#comment-50390</guid>
		<description>Salam damai Katolitas,

saya mau menanya mengenai hal puasa spjg prapaskah. apakah minum air juga tmasuk puasa 1x kenyang 1hari?

terima kasih, ^-^

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;[Dari Katolisitas: Minum air tidak dilarang pada Masa Puasa dan pantang menurut hukum Gereja Katolik. Sebab puasa dan pantang menurut iman Katolik bukan semata menahan lapar dan haus, namun sebagai ungkapan tobat dan mempersatukan sedikit mati raga kita dengan penderitaan Kristus. Selanjutnya, silakan membaca artikel Mengapa kita berpantang dan berpuasa, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/906/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam damai Katolitas,</p>
<p>saya mau menanya mengenai hal puasa spjg prapaskah. apakah minum air juga tmasuk puasa 1x kenyang 1hari?</p>
<p>terima kasih, ^-^</p>
<p><em><strong>[Dari Katolisitas: Minum air tidak dilarang pada Masa Puasa dan pantang menurut hukum Gereja Katolik. Sebab puasa dan pantang menurut iman Katolik bukan semata menahan lapar dan haus, namun sebagai ungkapan tobat dan mempersatukan sedikit mati raga kita dengan penderitaan Kristus. Selanjutnya, silakan membaca artikel Mengapa kita berpantang dan berpuasa, <a href="http://katolisitas.org/906/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa" rel="nofollow">silakan klik</a>.]</strong></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

