Artikel ini membahas dasar-dasar teologis hubungan Sakramen Ekaristi dan keluarga, yang menjadi tema Adven 2011.
Gereja Katolik, melalui Anjuran Apostolik- Familiaris Consortio telah memberikan arahan agar keluarga-keluarga Katolik dapat bertahan terhadap ancaman kemerosotan moral, dengan menjadikannya sarana untuk menguduskan para anggotanya. Sudahkah kita melaksanakannya?
Sudahkah kita, para orang tua menyadari dan menjalankan tugas sebagai pendidik utama anak-anak yang dititipkan Tuhan kepada kita?
Tulisan ini memaparkan prinsip-prinsip perkawinan Katolik yang dikontraskan dengan prinsip perkawinan dunia, sehingga pasangan suami istri Katolik dapat terdorong untuk membangun perkawinan seperti yang diinginkan oleh Allah.
Dalam pendidikan kristiani itu harus terjadi pemberian diri timbal balik antara orang tua dan anak-anak, yakni dengan mengkomunikasikan kemanusiaan masing-masing. Pemberian diri terjadi karena cinta kasih. Maka pendidikan merupakan sebagian dari peradaban kasih, dan sekaligus membangun peradaban kasih itu sendiri.
Keluarga, paroki dan sekolah bahu-membahu dalam membentuk kepribadian anak berdasarkan iman Katolik, sehingga mereka dapat mengasihi Allah dan sesama.
Semua orang dipanggil untuk hidup dalam kemurnian, termasuk mereka yang sudah menikah. Mengapa, dan apa maksudnya?
Bagian ini menceritakan konsep kemurnian secara umum dan penerapannya sebelum pernikahan.
Apakah Magisterium Gereja mempunyai kuasa untuk mengatur kehidupan seks dan perkawinan?
Bagaimana orang-tua menggunakan otoritas yang diberikan Tuhan untuk membimbing anak-anak masuk dalam Kerajaan Sorga?
Benarkah KB alamiah tidak akurat? Cobalah metoda lendir Creighton ini yang dapat diterapkan untuk pengaturan kelahiran anak, baik bagi yang mengharapkan keturunan maupun yang ingin membatasi jumlah keturunan.